SCIENTIA VOL. 1 NO.

1 2010 ISSN : 2087-5045

Volume 1, Nomor 1

Tahun 2010

ISSN : 2087-5045

0

DAFTA R I SI
ANALISA KANDUNGAN FLAVONOID DAN AKTIFITAS ANTIOKSIDAN DARI REMPAH TUMBUHAN OBAT SUMATERA BARAT Deddi Prima Putra dan Verawati 1 -7

ISOLATION OF Vibrio parahaemolyticus FROM BEEF MARKETED 8 -1 3 IN PADANG, to xR TARGETED IDENTIFICATION, AND AMP LIFICATION OF tdh AND trh GENES ON ISOLATES USING POLIMERASE CHAIN REACT ION Eka Fitrianda, Marlina dan M. Husni Mukhtar EFEKT IFITAS BROMELAIN KASAR DARI BATANG NENAS (Ananas Comosus L. Merr) SEBAGAI ANTIPLAK DALAM PASTA GIGI Fif i Harmely, Henny Lucida dan M. Husni Mukhtar FOR MULASI KRIM E KSTRAK ETANOL DAUN UBI JALAR ( Ipomea Batatas.L.)UNTUK PENGOBATAN LUKA BAKAR Farida Rahim, Mimi Aria dan Nurwani P.A AKTIFIT AS EKSTRAK ETANOL BIJI JINTAN HITAM (Nigella sati va Linn.) TERHADAP TITER ANTIBODI DAN JUMLAH SEL LEUKOSIT PADA MENCIT PUTIH JANTAN Suhatri dan Yufri Aldi PENETAPAN POLA RESISTENSI ANTIBIOTIKA (Vib rio Parahaemolyticus) HASI L ISOLASI DARI CUMI-CUMI ( Loligo vulgaris) DAN KEPITING BAKAU (Scylla serratta) Ria Afrianti, Marlina dan M. Husni Mukhtar AKTIVITAS ANTI INFLAMASI DAR I EKSTRAK ETANOL DAUN BUNGA KEMBANG BULAN (Tithonia diversifolia A. Gray) TERHADAP MENCIT PUTIH BETINA Verawati, Mimi Aria dan Novicaresa M PENGARUH LAMA PENYIMPANAN PADA SUHU KAMAR DAN LEMARI PENDINGIN TERHADAP KANDUNGAN PROTEIN PADA DADIH KERBAU DENGAN METODA KJELDAHL Regina Andayani , Revi Yenti dan Wi wit Gustiva PENGARUH PERBANDINGAN ETANOL AIR SEBAGAI PE LARUT EKSTRAKSI TERHADAP PEROLEHAN KADAR FENOLAT DAN DAYA ANTIOKSIDAN HERBA MENIRAN (Phylantus niruri.L.) Harrizul Riva’i dan Martinus PROFIL PENGGUNAAN KOMBINASI ANTI DIABETIKA ORAL DENGAN INSULIN PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 DI SMF PENYAKIT DALAM RSUD Dr. ACHMAD MOCHTAR BUKITTINGGI Radjuddin Dahlan dan Hansen Nasif PENGARUH ASUPAN PROTEIN DAN MIKRONUTRIEN (Zat Besi Vit. C dan Vit. A) TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN Erina Masri Scientia, V ol. 1, N o. 1, 2010 ; halaman 1 – 58 ISSN : 2087-5045 Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STIFI) Perintis Padang 14-19

20-25

26-33

34-38

39-45

46-51

52-59

60-65

66-73

SC IENT IA
JURNAL FARMASI DAN KESEHATAN
TERBIT DUA KALI SE TAHUN SETIAP BULAN FEBRUARI DAN AGUSTUS

D E W AN RE D A K SI
Penanggung Jawab : Prof. H. Syahriar Harun, Apt Pemimpin Umum : DR.H.M. HusniMukhtar,MS, DEA, Apt Redaktur Pelaksana : Verawati, M.Farm, Apt Eka Fitrianda, M.Farm, Apt Sekretariat : Afdhil Arel, S.Farm, Apt Khairul Dewan Penyunting : Prof.H. Syahriar Harun,Apt Prof.DR.H. Amri Bakhtiar,MS,DESS,Apt Prof.DR.H. Almahdy, MS, Apt DR.H.M. Husni Mukhtar, MS, DEA, Apt Drs.H. Radjudin Dahlan, M.Pharm, Apt DR.Hj. Marlina, MS, Apt Drs. Yufri Aldi, MSi, Apt Hansen Nasif, SSi, Sp.FRS, Apt Drs. B.A. Martinus , MSi Hj. Fifi Harmely, M.Farm ,Apt Farida Rahim, M.Farm, Apt Revi Yenti, M.Si, Apt Verawati, M.Farm, Apt Ria Afrianti, M.Farm ,Apt Eka Fitrianda, M.Farm, Apt

Penerbit : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STIFI) Perintis Padang ISSN : 2087-5045 Alamat Redaksi/Tata Usaha STIFI Perintis Jl. Adinegoro Km. 17 Simp. Kalumpang Lubuk Buaya Padang Telp. (0751)482171, Fax. (0751)484522
e-mail : stifi_perintis@yahoo.com website : www.stifi-padang.ac.id

Scientia, V ol. 1, N o. 1, 2010 ; halaman 1 – 58 ISSN : 2087-5045 Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STIFI) Perintis Padang

Lengkuas (Alpinia Galanga Linn). pala hidrofil. 71. Keywords : Antioxidant. Kunyit (Curcuma domestica Val). tapi rempah juga sebagai tumbuhan obat. diabetes melitus. 1981). molekul harus mencari elektron lain sebagai pasangan. hewan. 47. 1994).77 µg/g respectively (quercetin equivalent). 19. Verawati2 Fak.SCIENTIA VOL. Senyawa ini bersifat tidak stabil dan sangat reaktif. kunyit hidrofil. jahe lipofil. 69. There were total flavonoid of Jahe (Zingiber officinale Rosc). 1 NO. medicinal plants PENDAHULUAN Obat asli Indonesia merupakan obat yang berasal dari tumbuhan. 1 2010 ISSN : 2087-5045 ANALISA KANDUNGAN FLAVONOID DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI REMPAH TUMBUHAN OBAT SUMATERA BARAT 1 Deddi Prima Putra1. jahe hidrofil . Radikal bebas dalam kehidupan sehari-hari dapat dijumpai seperti akibat metabolisme yang 1 . 109. jantung. Rempah punya arti lebih dari sekedar penambah rasa hidangan.21.08. Kencur (Kaemferia galanga Linn ).67 µ g/ml for pala total. Untuk mencapai kestabilan. Antioxidant activity and total flavonoid were measured by Spectrophotometer UV-Visible using DPPH reagent for antioxidant activity and Alumunium Chloride for total flavonoid.54. atau bahan mineral. dan arterosklerosis. Dengan demikian tumbuhan obat asli Indonesia dapat dikembangkan menjadi obat fitofarmaka (Depkes. Rempah tumbuhan obat ini berpotensi besar memerangi sederet panjang penyakit dan masalah kesehatan seperti kanker. There are Jahe (Zingiber officinale Rosc). sehingga manfaat dan keamanannya dapat dipertanggungjawabkan.98 µg/ml for jahe total. Flavonoid. Radikal bebas ini adalah senyawa kimia yang mempunyai satu atau lebih elektron tidak berpasangan.62. Quercetin was used as standard compound. 0. liphofilic fraction and hydrophilic fraction) against DPPH 20 µ g/ml 80. and Pala (Myristica fragrans Houtt). Kunyit (Curcuma domestica Val). The result showed that three of plants have highest antioxidant activity with IC50 ( total ethanol extract. Farmasi Universitas Andalas 2 STIFI Perintis ABSTRACT Antioxidant activity and total flavonoid content of five medicinal plant and species of West Sumatera have been measured.09 µ g/ml for kunyit total. 0. Rempah sudah lama dikenal di Indonesia. 50. Reaksi rantai ini dapat menimbulkan pengrusakan sel yang berujung pada mutasi sel dan apabila merusak organ yang memiliki fungsi tertentu dapat menimbulkan penyakit degeneratif. Pengolahan obat asli Indonesia masih sederhana dengan menyeduh bahan tumbuhan kering atau segar dengan air panas. Pala (Myristica fragrans Houut). Oleh karena itu bahan obat asli Indonesia perlu distandarisasi.85. kemudian air seduhan ini di minum. Pada umumnya obat asli Indonesia belum mempunyai data klinik dan penggunaannya berdasarkan pengalaman. Makanan sehari-hari kita mengandung paling tidak satu jenis rempah. 68. Pemicu timbulnya penyakit ini salah satunya adalah adanya radikal bebas (Rungkat.35.

tabung reaksi. pestisida. 1999. Seperti beberapa tanaman dari Famili Zingiberaceae seperti rimpang kunyit (Curcuma domestica rhizoma. Aquadest. rimpang lengkuas (Alpinia galanga rhizoma. alumunium foil. Berdasarkan potensi rempah tersebut sebagai obat dan adanya kandungan flavonoid di dalamnya maka dilakukan penelitian untuk menentukan kadar flavonoid total dalam rempah secara spektrofotometer dengan menggunakan Alumunium klorida kolorimetri dan penentuan aktivitas antioksidan menggunakan metode radikal DPPH (Zhinshen. Houtt). mesin penghalus ( Brook Crompton®). labu rotary.SCIENTIA VOL. kapas. radiasi sinar UV (Raharjo. Rosc). antioksidan dapat menyelamatkan sel-sel tubuh dari kerusakan. Untuk menanggulangi efek dari radikal bebas ini. Pembuatan ekstrak heksan (ekstrak lipofil) yaitu 5 gram sampel di ekstrak dengan heksan 96% b. 1997). secara alami tubuh mempunyai benteng yang dapat mencegah serangan radikal bebas tersebut yaitu enzim (katalase) ataupun antioksidan yang berasal dari luar tubuh yang umumnya berasal dari makanan. polusi udara. label. 1 NO. timbangan digital. Molyneux. akibat serangan radikal bebas (Karyadi. Willd). Linn). Willd). dan dari tanaman famili Myristicaceae seperti buah Pala (Myristica fragrans. Kegunaan utama dari antioksidan adalah menghentikan atau memutuskan reaksi berantai dari radikal bebas dengan cara menyediakan dirinya bereaksi dengan radikal bebas itu sendiri. Silalahi. rotary Evaporator (BUCHI ®). Linn. pipet mikro. rimpang kencur (Kaemferia galanga. botol. Houtt). heksan 96%. Erlemeyer berbagai ukuran. vial. 1995). bahan kimia beracun. Linn. Natrium asetat 1 M. Rosc). rak tabung reaksi. 1994. Pembuatan ekstrak etanol total (ekstrak total) yaitu 5 gram sampel di ekstrak dengan etanol 96% sebanyak 25 ml selama 2 x 24 jam. AlCl3 10%. rimpang lengkuas (Alpinia galanga. 2004). rimpang jahe (Zingiber officinale rhizoma. corong. spatel. val). Youngson. (Rukmana. Bahan Bahan yang digunakan adalah rempah-rempah seperti rimpang kunyit (Curcuma domestica. metanol. 1 2010 ISSN : 2087-5045 berlebihan atau berasal dari lingkungan seperti asap rokok. val). pipet tetes. Dengan kata lain. DPPH. 2 . rimpang kencur (Kaemferia galanga rhizoma. pisau. 2005). 2001. Pembuatan Ekstrak Sampel Serbuk sampel sebanyak 5 g diekstraksi dengan menggunakan pelarut yang berbeda sehingga diperoleh 3 macam ekstrak yaitu : a. Antioksidan dapat berasal dari alam dan sintetik. Rukmana. Quersetin. Antioksidan alam lebih disukai karena efek sampingnya kurang. rimpang jahe (Zingiber officinale. Salah satu sumber antioksidan alam yang terdapat pada tanaman adalah flavonoid. spektrofotometri UVVis Pharmaspec 1700 (shimadzu ®). etanol 96 %. METODE PENELITIAN Alat dan Bahan Alat Alat yang digunakan berupa seperangkat alat maserasi. Linn) dan buah pala (Myristica fragrans. Aquadest. 1992. Kemudian maserat disaring dan filtrat dikentalkan dengan rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak kental total.

kontrol – Abs.2. 3 . 80. 100. 0. Sebanyak 2 ml dari larutan ekstrak(1mg/ml) ataupun larutan standar kuersetin (100. c. 0.SCIENTIA VOL.1. Total kandungan flavonoid sampel dinyatakan sebagai kesetaraan gram kuersetin/100 gram sampel kering. ditambah 3. kunyit.4. kencur. Serapan diukur pada panjang gelombang maksimum DPPH yaitu 517 nm. 20. 0.1 ml AlCl3 10 %. lengkuas. 60. 2004). 0.8 ml larutan DPPH (20 µg/ml). Ketiga rempah ini ditentukan IC50 nya yakni konsentrasi sampel yang mampu merangkap radikal DPPH sebesar 50%.2 ml larutan sampel (1 mg/ml. HASIL DAN PEMBAHASAN Aktivitas antioksidan ditentukan dengan metode DPPH (Molyneux.dan pala) didapatkan tiga sampel memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi yaitu jahe. Kemudian maserat disaring dan filtrat dikentalkan dengan rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak kental lipofil. Semakin kecil nilai IC50 maka semakin aktif sampel tersebut sebagai antioksidan. 40. Aktivitas Antioksidan Penentuan Total Kandungan Flavonoid Penentuan Sampel Kandungan flavonoid total ditentukan dengan metode kolorimetri menggunakan Aluminium klorida. Ukur serapan pada panjang gelombang 415 nm. Pembuatan ekstrak etanol setelah heksan (ekstrak hidrofil) yaitu ampas dari hasil ekstraksi dengan heksan di ekstraksi lagi dengan etanol 96% sebanyak 25 ml selama 2 x 24 jam. 1 NO. 0. Sampel x 100 % Abs. 1 2010 ISSN : 2087-5045 sebanyak 25 ml selama 2 x 24 jam. Absorban kontrol yaitu DPPH (20 µg/ml) dalam metanol juga diukur. 50 dan 25 µg/ml) atau larutan stándar kuersetin (0. Aktivitas antioksidan sampel dinyatakan sebagai persentase inhibisi dihitung dengan rumus : Abs. 5 µg/ml) ditambah 0. Campuran larutan dihomogenkan dan dibiarkan selama 30 menit di tempat gelap. Kemudian maserat disaring dan filtrat dikentalkan dengan rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak kental hidrofil.1 ml Na asetat 1M dan 2. kunyit dan pala. 10.8 ml air suling.6 µg/ml) di dalam vial. Setelah dilakukan penelitian mengenai analisa kandungan flavonoid total dan aktivitas antioksidan dari tanaman obat dan rempah Sumatera Barat didapatkan hasil bahwa dari 5 macam sampel rempah (jahe. kontrol Dengan menggunakan persamaan linear dari data stándar maka dapat dihitung IC50 stándar kuersetin sedangkan IC50 sampel dihitung dengan metoda analisa probit menggunakan finney. Kocok homogen lalu biarkan selama 30 menit.

97 3 Pala.Bkt.54 17.Bkt.58 58.Ap.14 21.67 Jahe.95 57.95 78.51 69.Total 32.63 39.36 49.09 30.BS.22 39.SCIENTIA VOL.50 8.Ap.85 43.BS.06 63.Bkt.18 IC50 90.96 36.62 Jahe.83 50.Hidrofil 46. 1 NO.Bkt.58 58.3 Jahe.98 Jahe.82 21.4 76.59 21.72 25.72 29.Hidrofil 79.Total Konsentrasi 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 % Inhibisi 52.Lipofil 68.68 Jahe.Ap.31 49.72 28.BS.59 65.89 47.Bkt.54 52.total 54.9 59.Lipofil 81.09 92.Hidrofil 46.08 35.Ap.Total 74.26 28.27 Kunyit.Total 97.27 60.41 69.48 73.BS.12 85.18 15.44 4 .Hidrofil 140.38 44.76 42.56 Jahe.92 Kunyit.Lipofil 57.BS.45 22.66 2 Kunyit.61 29.81 36.09 49. Nilai IC50 sampel No 1 Nama sample Jahe.81 Kunyit.51 Kunyit.93 26.Ap.12 23.Total 60.Total 90.04 89. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Tabel I.24 32.44 Kunyit.Hidrofil 47.4 Jahe.

lipofil Pala.017x dengan koefisien korelasi 0. Aktivitas Antioksidan dari Sampel Setara mg Kuersetin No Nama sampel Nilai IC50 aktivitas antioksidan terukur (µg/ml) 80.67 Aktivitas antioksidan 1g ekstrak setara mg kuersetin (mg) 182. Jahe 0.21 47.47 57.52 µg/g.Bkt. pala 0.SCIENTIA VOL.38 23.114942 µg/ml. Tabel II.Hidrofil 50 25 100 50 25 100 50 25 43. simpangan baku 0. lengkuas 0. Pada pengukuran flavonoid total tiap gram sampel kering setara kuersetin diperoleh kadar flavonoid total dari masing-masing sampel dimana kadar paling tinggi adalah pada ekstrak etanol kunyit 19.32 106.54 µ g/g.Hidrofil Keterangan : AP BS Bkt : Alahan Panjang : Batu Sangkar : Bukit tinggi 81.98 68. 5 .216 µg/ml.62 69.72 88.09 50.39 156.45 61.92 µg/g.55 Pala.999. hidrofil Kunyit. lipofil Kunyit hidrofil Pala.Bkt.06 71.0. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Pala. batas kuantisasi 4. hidrofil Pada pengukuran absorban flavonoid total untuk penentuan kurva kalibrasi kuersetin pada panjang gelombang 415 nm di dapat persamaan regresi y = .84 µ g/g.Total 45. batas deteksi – 0.53 113.BS.26 162.56 31.09 16.8 Dari data IC50 sampel dan IC50 stándar kuersetin. total 2 Kunyit.9 248. 1 NO.0106371.16 Jahe.016 + 0.69 Pala. total 1 Jahe. total 3 Pala. maka diperoleh suatu nilai jumlah sampel yang akan memberikan aktivitas antioksidan yang setara dengan 1 mg kuersetin.82 154.70 µg/g diikuti kencur 0.85 58.81 36. lipofil Jahe.35 109.

70 ± 7.84 ± 0.BS. 1 NO.66 19.43 22.42 4.AP.02 6.52 ± 0.85 ± 1.91 0.1 10.64 11.Total Rata-rata ± SD Kunyit.SCIENTIA VOL.41 0.53 9.64 Kadar Flavonoid tiap 5 g serbuk kering (µg/g) 0.93 0.Bkt.07 ± 45.55 71.Total Rata-rata ± SD Kencur.85 1.AP.BS.84 0.Total Lengkuas. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Tabel III.37 0.62 8.Total Lengkuas.Total Jahe.21 0.99 142.83 9.Bkt.Total Kencur.27 ± 2.51 157.67 124.Total Pala.Total Kunyit.60 4.Bkt.Bkt.Total Kencur.078 Nama Sampel Jahe.27 5.54 ± 0.96 4.BS.Total Rata-rata ± SD Lengkuas.26 0.09 0.Bkt.BS.AP.70 0.60 0.Total Rata-rata ± SD Pala.03 9.Total Kunyit.50 ± 0.13 25.BS.Total Jahe.49 0.92 ± 0.39 ± 1.5 8.76 0.AP.05 4. Kandungan Flavonoid total sampel Konsentrasi Flavonid (µg/ml) 10.71 8.Total Rata-rata ± SD 6 .14 0.03 11.

J. Antioksidan. 1995. Ekstrak hidrofilik memberikan aktivitas antioksidan lebih tinggi dibandingkan ekstrak lipofilik. 1-13.54 µg/g terhadap sampel kering. Sci.SCIENTIA VOL. 1994. Proseding Seminar : Senyawa Radikal dalam Sistem Pangan : Reaksi Biomolekuler. jahe dan pala setara kuersetin berturut-turut : 19. Rukmana. Rungkat. p.htm Molyneux. Bogor. 211-219. M. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa dari 5 tanaman yang berasal dari 3 daerah. kunyit dan pala. Yogyakarta. E.. Mengcheng and W. The Journal of Indonesian Medical Association : II (5). Yogyakarta. 7 . Rukmana. The Use of Stable Free Radical Diphenylpicrylhydrazyl (DPPH) for Estimating Antioxidant Activity.. 2004. J.0. 1981. Kanisius. Zhinshen. http//www. Resep Sehat dan Umur Panjang. kadar flavonoid yang tinggi terdapat pada kunyit.77. Jakarta. F. diterjemahkan oleh Susi Purwoko. 1 NO. Kanisius. Jakarta. 0. Antioxidant : Vitamin C dan E For Health. Temulawak Tanaman Rempah Oba. Youngson. J.85. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Dari penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui dari data IC50 aktivitas antioksidan dan penentuan kadar flavonoid total bahwa ekstrak yang kadar flavonoidnya tinggi mempunyai aktivitas antioksidan yang tinggi. Karyadi. Raharjo. 1994. Tecnol. Kencur. Modifikasi Peraturan Perundang – undangan Obat Tradisional. 64: 555559. 26(2). “Radikal Bebas dan Patofisiologi Penyakit”. 1992.com/intisari /1997/juni/antioksidan..indomedia. The determination of flavonoid contents in mulberry and their scavenging effects on superoxide radicals.. Free Radicals and antioxidant Vitamin in Degenerative Disease. Penebar Swadaya. 2005. Jakarta. R. R. DAFTAR PUSTAKA Direktorat Pengawasan Obat Tradisional Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan RI. Dampak terhadap Kesehatan dan Penangkalan. Jadi kemungkinan senyawa yang mempunyai aktivitas antioksidan yang tinggi adalah golongan flavonoid yang terdapat pada ekstrak polar atau fraksi hidrofil terutama pada jahe.. Tanaman Berkhasiat Antioksidan. Food Chem. R. Silalahi. 1999. T. 2001. Jianming.

Key words: Vibrio parahaemolyticus. toxR. parahaemolyticus terbukti memiliki gen tox-R. Isolasi dilakukan dengan menggunakan medium CHROMagarTM Vibrio. parahaemolyticus. the genes are referred to as the important virulence coding genes in V. parahaemolyticus. 1 NO. "thermostable direct hemolysin" (TDH) and the "TDH-related hemolysin" (TRH). Currently. parahaemolyticus is one of bacterias actively studied in various parts of the world because of it’s ability in causing diarrhea. nausea and vomiting. whose production is encoded by the tdh and trh are the important virulence factors for the development of gastroenteritis. The main clinical manifestation of infection due to V. Most strains of clinical V. AND AMPLIFICATION OF tdh AND trh GENES ON ISOLATES USING POLIMERASE CHAIN REACTION 1 Eka Fitrianda1. toxR TARGETED IDENTIFICATION. usually associated with KP negative strains or with urease positive strains (Kelly and Stroh. tdh. Another virulence factor. Based on the Shirai et al (1990) report. parahaemolyticus was first isolated in food poisoning outbreak in Japan in the early 1950s. parahaemolyticus is a marine bacterium that has long been associated with diarrhea after eating raw or not cooked perfectly seafood. trh. dengan metoda yang sama juga dilakukan amplifikasi terhadap gen pengkode produksi toksin hemolisin (tdh dan trh) yang merupakan faktor virulen utama pada bakteri tersebut. Marlina2. Therefore. parahemolyticus. In V. Selanjutnya. Gen tersebut merupakan gen yang sangat spesifik pada spesies V. in which the main symptoms include abdominal cramps. or both) with the ability to cause disease. V. parahaemolyticus is gastroenteritis. molecular epidemiological studies show a close relationship between the hemolysin coding genes in these bacteria (tdh. namun tidak ada satu isolat pun yang memiliki gen pengkode toksin hemolisin baik tdh maupun trh. Husni Mukhtar2 STIFI Perintis Padang. Terhadap 40 isolat tersebut dilakukan identifikasi dengan metoda Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk mengamplifikasi gen toxR. 1989). Although V. trh INTRODUCTION V.SCIENTIA VOL. V. 1997). 1 2010 ISSN : 2087-5045 ISOLATION OF Vibrio parahaemolyticus FROM BEEF MARKETED IN PADANG. 2 Fakultas Farmasi Universitas Andalas Padang ABSTRAK Sebanyak 40 isolat V. M. "TDH-related hemolysin" (TRH). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa seluruh isolat V. parahaemolitycus telah berhasil diisolasi dari sejumlah sampel daging sapi mentah yang dikoleksi di Pasar Raya Padang. parahaemolyticus produce major virulence factor that is a thermostable direct hemolysin (TDH) and showed βhemolysis activity on Wagatsuma agar (KP positive strains). parahaemolyticus has become one of food contaminant pathogens with the highest prevalence in Asian countries (Pan et al. but 8 .

tdh and trh genes is "Polymerase Chain Reaction" (PCR). V. We also detected their virulent factors coding genes by amplificating tdh and trh genes on these isolates. colony counter (Stuart scientific ®). In this study we isolated V. distilled water. The isolated strains are known to carry hemolysin toxin-producing genes (tdh and trh) which are the major virulence factors of V. GoTaq DNA polymerase. and lately has been widely used to identify genes from different species of bacteria including V. 10X Ex Taq buffer solution. has successfully isolated these bacteria from pensi (Corbicula moltkiana prime) collected in lake Singkarak. samples were taken in a way directly entered by the merchant into sterile containers. ethidium bromide. tris-borateEDTA (TBE). rotary shaker incubator (Bigger Bill Digital ®). TRH R2: 5'GGCTCAAAATGGTTAAGCG-3' and TRH R6: 5'CATTTCCGCTCTCATATGC-3' for detection of trh gene. Sampling The test samples in this study were 15 raw beef samples. 100 bp ladder. parahaemolyticus from beef samples and identified them by examining on their toxR gene. and three pairs of primers. the test sample. transilluminator. namely: toxR-4: 5'GTCTTCTGACGCAATCGTTG-3' and toxR-7: 5'ATACGAGTGGTTGCTGTCATG-3' for the detection of toxR gene. V. centrifugator (Eppendorf Minispin ®). parahaemolyticus Isolation 10 gram sample was added in to 100 ml Salt Polimixin Broth (SPB) media and incubated at 37°C for 24 hours. NaCl. parahaemolyticus has also found on food samples which are not seafood categories. These cultures were inoculated using a needle loop onto surfaces of CHROMagarTM Vibrio previously been 9 . micro pipette (Eppendorf ®). 5X Colorless GoTaq Reaction. 1 NO. Salt Polimixin Broth (SPB). TDH D3: 5'CCACTACCACTCTCATATGC-3’ and TDH D5: 5'GGTACTAAATGGCTGACATC-3' for detection of tdh gene. Luria Bertani (LB) Broth. parahaemolyticus AQ3815 (positive control for tdh gene. immediately stored in containers and taken to the laboratory for testing. Polymerase Chain Reaction (PCR) is a major breakthrough in molecular diagnostics. CHROMagarTM Vibrio (CHROMagarTM). this is due to the high sensitivity level of this method. parahaemolyticus. incubator (Gallenkamp ®). laminar air flow (Esco ®).5 mM dNTP solution. According to Gelfand et al (1998). The method used to identify and amplify tox-R. 2.SCIENTIA VOL. a blue dye. Another study conducted by Zulkifli et al (2009) on the cockles collected from rivers in Padang showed similar result. parahaemolyticus. Luria Bertani (LB). Research conducted by Marlina et al (2007) for example. agarose. Samples were taken from traders in Pasar Raya Padang. V. Eppendorf tubes. polaroid film.). MATERIALS AND METHODS Equipments and materials PCR machine (Eppendorf Mastercyclergradient ®). 1 2010 ISSN : 2087-5045 some recent researches showed that V. To avoid contamination. the elektrophoresis device. vortex (Mixer ® VM-1000). Parahaemolyticus AQ4037 (positive control for the toxR and trh genes).

5d 2. parahaemolyticus were done using PCR method. DNA template preparation Before the amplification of genes using PCR method.000 rpm for 1 min.0 1. After incubated for 24 hours at 37°C.5 1. 1 NO.0c 17. 1 ml LB broth culture centrifuged at 12. purple colonies formed were suspected as colonies of V.000 rpm for 3 minutes and the supernatant were transferred into a new Eppendorf tube. DNA template which had been prepared previously inserted into the Eppendorf tube for PCR machine and combined with other PCR components. while the sediment was added with 500 mL sterile distilled water and then suspended using vortex. tdh and trh genes in V. parahaemolyticus. Subsequently centrifuged at 12. Electrophoresis was performed at 100 V voltage for 20 minutes with 1 x TBE as the mobile phase. DNA of control and testing bacteria were extracted using boil cell extraction (BCE) method.5 7 Table 3.0 15.0 Primer 1b Primer 2b Aquadest GoTaq DNA Polymerase DNA Template a 1. The supernatant were the DNA template to be used for amplification of genes by PCR method. toxR. PCR components Component Buffer solutiona 2.SCIENTIA VOL. Each single suspected colony was inoculated into the Luria Bertani (LB) Broth containing 3% NaCl and incubated in a rotary shaker incubator at 37°C for 24 hours. The 100 bp ladder was used as a 10 .0c 2.1 1.4d 0.0 5x Colorless GoTaq Reaction Buffer for the detection of tdh and trh genes. the supernatant removed. tdh and trh genes amplification Identification of toxR. the results of this amplification were colored using blue dye and then separated along electrophoresis process on 1% agarose gel in 1x TBE. 10x Ex Taq buffer solution for the detection of toxR gene b Primer pairs are suitable for each gene c For the detection of tdh and trh genes d For the detection of toxR gene Eppendorf tube is then inserted into the PCR machine and amplification was performed using program which is suitable for detection of each gene as shown in table below: Table 2. Stage for tox-R gene amplification (23 cycles) Stage Predenaturation Denaturation Annealing Extention Elongation Temperature ( oC ) 96 94 63 72 72 Time (minute) 5 1 1. The type and amount of each PCR components as shown in table below: Table 1.5 mM dNTP Amount(µl) 5. The suspension formed was heated for 10 minutes in boiling water and immediately put into the refrigerator with a temperature of -20ºC for 10 minutes. Stage for tdh and trh genes amplification (33 cycles) Temperatur Time Stage e (minute) o ( C) Predenaturation 96 5 Denaturation 94 1 Annealing 55 1 Extention 72 2 Elongation 72 7 After all of the stages in the PCR process were completed. 1 2010 ISSN : 2087-5045 poured and allowed to solidify in a petri dish.

The size of toxR.SCIENTIA VOL. lane 13 was 100 bp ladder. targeting on toxR gene was performed to all of these isolates using PCR method. 1997). lane 12 was positive control. parahaemolyticus colonies from 3 samples. all of CHROMagar™ Vibrio isolates from cockles gave positive results on testing of toxR using PCR method. parahaemolyticus from shrimp samples in Malaysia. In this study. parahaemolyticus. Generally. we successfully isolated 40 suspected V. The PCR method to detect this gene has been reported (Lee et al. 1 2010 ISSN : 2087-5045 marker for determining the size of amplification product. non-clinical V. Tanil et al (2005) succeeded in isolating V. Identification 11 . Figure 1. out of total of 40 tested isolates. parahaemolyticus colonies on ChromagarTM Vibrio CHROMagar ™ Vibrio is a selective media for identification of V. parahaemolyticus from seawater in Peninsular. all (100%) showed toxR positive results. parahaemolyticus in samples characterized by the formation of purple colonies on the surface of CHROMAgarTM Vibrio medium. parahaemolyticus is more sensitive than biochemical identification. Suspected V. From 3 of 15 samples which were examined. RESULTS AND DISCUSSION Of 15 raw beef samples which were examined. Electrophoresis gel of toxR positive V. A study recently conducted by Sujeewa et al (2009) succeeded in isolating V. V. After the electrophoresis process was completed. parahaemolyticus isolates: lane 1-11 were positive toxR isolates. parahaemolyticus isolates also been isolated from coastal waters of western United States (Okuda et al. Malaysia. parahaemolyticus with a higher level of differentiation compared to TCBS medium (Kudo et al. toxR gene is a gene that is very specific to the V. The same result have been reported by Zulqifli et al (2009).5 mL/ml). we successfully isolated suspected V. 2001). The presence of suspected V. Results were then documented by polaroid film. tdh and trh amplification product were 368 bp. V. Size estimation of each product was done through comparison with 100 bp ladder. agarose gel was stained with ethidium bromide solution (0. Electrophoresis result which was observed by UV transilluminator will form separate bands which were distinguished by the number of their base pairs (bp). Dileep et al (2003) also states that the detection of toxR gene by PCR method to detect V. 1 NO. toxR positive isolates showed 368 bp band in electrophoresis gel. parahaemolyticus has been isolated from various places around the world. parahemolyticus species. Figure 2. 251 bp and 250 bp respectively. Previously. 1995) as a very useful method to confirm the presence of this species in samples.

The presence of these genes represent the level of pathogenicity of V. Urease-positif. 2007). J. because V. As a result.. and they are called virulent isolates. none of the isolates has tdh or trh gene. where the overall toxR positive isolates have no tdh or trh gene (Zulkifli et al. 2000). Y. M. Kumar. parahaemolyticus isolates from clinical samples have tdh or trh gene (DePaola et al. Kanagawanegatif Vibrio parahaemolyticus from patients and the environment in the Pacific 12 . S. 2000). 2009). parahaemolyticus isolates carrying tdh gene were isolated from Corbicula moltkiana. A. CONCLUSION All of 40 V. 40 toxR positive isolates were detected for the present of tdh and trh genes by amplification using PCR method. New York. Major virulence factor coding genes in V. White. According to Nishibuchi and Kaper (1995). because V. Applicationof polymerase chain reaction for detection of Vibrio parahaemolyticus associated with tropical seafoods and coastal environment. parahaemolyticus isolates isolated from beef samples marketed in Pasar raya Padang were having toxR gene. T. more than 90% of V. a species which lives in lake Singkarak. or is the result of cross-contamination when samples are marketed in the market. Kelly. parahaemolyticus in samples is the result of bacterial adaptation capabilities on low-salt environment. and E. 2003. M. Furthermore. 2000. M. Academic Press. 2007). Similar results have also found in other study (Marlina et al. C. Similarly.SCIENTIA VOL. M. Environmental investigations of Vibrio parahaemolyticus in oysters after outbreaks inWashington. J. Nishibuchi and I. parahaemolyticus isolates was isolated from cockles live in rivers around Padang. where a number of V. Kumar. D. H. other studies seem to successfully detect the presence of these virulence genes in environmental samples (Sujeewa et al. 2009. V. parahaemolyticus is a bacteria that normally lives in this habitat (DePaola et al. Karunasagar. Indonesia (Zulkifli et al. parahaemolyticus isolates were isolated in samples which were not derived from the sea environment. but none of them has tdh or trh gene. Sninsky. parahaemolyticus isolates carrying the virulent genes (tdh or trh).. The existence of these genes in V. T. In this study. H. parahaemolyticus isolates in this study are not virulent isolates. other publication also showed that V. PCR protocols: A guide to methods and amplifications. 2009). 1 2010 ISSN : 2087-5045 parahaemolyticus were isolated from marine waters or food samples from the sea. and New York (1997 and 1998). Appl Environ Microbiol 66:4649–54 Dileep. 1 NO. A. A. parahaemolyticus isolated from nonclinical samples are rarely detected. However. Texas. J. Stroh. studies are necessary to investigate whether the presence of V. parahaemolyticus previously isolated from cockle samples in Padang. BIBLIOGRAPHY DePaola. Gelfand. Cook. Marlina et al. Innis. This such result also seen in V.. Bowers and D. In contrast. parahaemolyticus isolates. W. J. only few V. parahaemolyticus are tdh and trh. This suggests that V. 1998. Kaysner. 1989. It makes the results of this research is interesting for further explored. Lett Appl Microbiol 36:423–7.

. C. C. M. 27: 2820-2822 Lee. B. L.. W. Infect. Yeap. Ishibashi. A. Nishibuchi. and J. 35: 1965–1971 Pan. Sequence of a cloned pR72H fragments and its use for detection of Vibrio parahaemolyticus in shell fish with PCR. T. K. Y. 1 NO. Zunita Zakaria. N. and C.R. H. Microbiol. L. Characterization of vibrio parahaemolyticus isolated from coastal seawater in peninsular Malaysia. Immun. 4. 2005. B.F. M. 38:349-355. Napis. M. B. T. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Northwest. Kumagai. Clin. Nishibuchi. J. Laina. Y. Ito. S. Takeda. Nishibuchi. N. S. R. Rahim. 1986 to 1995. Prevalence of toxic genes of Vibrio parahaemolyticus in shrimps (Penaeus monodon) and culture environment. Y. Southeast Asian J Trop Med Public Health. 1997. Norrakiah and M.. Immun. S. Y. M. 63:2093–2099.Y. M.. 2009.. Nakabayashi. S. Mutalib. Clin. H. Gunsala. T. Radu. W. Zulkifli. Radu. M. and M. B. Lee. W. Identification of Vibrio parahaemolyticus isolates by PCR targeted to the toxR gene and detection of virulence genes. Sujeewa. Food-borne disease outbreaks due to bacteria in Taiwan. Microbiol. Okuda. 2009. Kqueen. H.. 58: 3568–3573. Wang. Analysis of the Thermostable Direct Hemolysin (tdh) Gene and the tdh-Related Hemolysin (trh) Genes in Urease-Positive Strains of Vibrio parahaemolyticus Isolated on the West Coast of the United States. G. Nishibuchi.SCIENTIA VOL. Lesley and A. A. Raha. 1995. S. International Food Research Journal 16: 289296 13 . Alitheen. 1997. K. Maurice and J. International Food Research Journal 16: 8995 Tanil. and M. Horng. C. S. J. J. S. Nishibuchi. J. Kaper. Pan and C. K. S. 1990. Detection of tdh and trh genes in Vibrio parahaemolyticus isolated from Corbicula moltkiana prime in West Sumatera Indonesia. S. 36 No. Radu. Infect. Chen. S. Nakamoto. 35: 1260-1262 Shirai. Molecular epidemiologic evidence for association of thermostable direct hemolysin (TDH) and TDH-related hemolysin of Vibrio parahaemolyticus with gastroenteritis.. Thermostable direct hemolysin gene of Vibrio parahaemolyticus: a virulence gene acquired by a marine bacterium. K. B. Chien. Journal of Clinical Microbiology. Abbott. Napis. Hirayama. Applied and Environmental Microbiology 61: 1311-1317. 2007. Janda and M. Marlina. Southeast Asian J Trop Med Public Health. A. 1995. S. A.

1990.1982).SCIENTIA VOL. 1990).84 % (F3C). The formula of toothpaste was crude bromelain 5% and abrasive 40% with proteolytic activity 6. Plak tersusun oleh 80% air dan 20 % sisanya terdiri dari beberapa komponen seperti protein 40 – 50 %. 2) Fakultas Farmasi Universitas Andalas Padang ABSTRACT The effectivity of crude bromelain from steam pineapple have been done as antiplaque by plaque control record methods. Hasil Survei Kesehatan Nasional 2002 menunjukkan. yang dihitung dari berat kering plak. 1982). 14 . Merr) SEBAGAI ANTIPLAK DALAM PASTA GIGI Fifi Harmely1).0 ( Darwis dan Sakara. 2008). Plak gigi adalah lapisan lunak yang terbentuk dari campuran sisa-sisa makanan serta bakteri yang diperantarai oleh saliva yang melekat pada permukaan gigi. antiplaque effectivity PENDAHULUAN Di Indonesia. maka lama-kelamaan mikroorganisme yang berkontak pada permukaan gigi akan menyebabkan karang gigi ( kalkulus ) dan menimbulkan karies pada gigi (Cracken.05) and significant with basis formula ( p >0. Keyword: crude bromelain. The crude bromelain 5% in toothpaste has antiplaque effectivity noteqivalent with control (p<0. lipid 10 – 14 % dan abu 10 % dan komponen mineral seperti kalsium dan posfor. Lapisan lembut ini akan membentuk suatu matriks pada gigi dimana bakteri dapat melekat. proteolytic activity. toothpaste.584 unit/mg equivalent 98. Untuk kesehatan dan mencegah kerusakan gigi dibutuhkan suatu zat antiplak dalam pasta gigi yang saat ini erat kaitannya dengan kandungan fluorida.( Wilkinson. Fauzi dan Krisna. prevalensi gigi berlubang di Indonesia berkisar 60 %. penderita gigi berlubang jumlahnya tidak sedikit. M. Merr var. Hal ini juga dipertegas dengan adanya intruksi oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan untuk menarik seluruh produk pasta gigi untuk anakanak yang masih mengandung fluorida di atas 500 ppm. Queen ). Berdasarkan laporan pemakaian pasta gigi yang mengandung fluorida mempunyai efek samping perlu dicari alternatif mendapatkan formula pasta gigi dari bahan alam. 1 NO. Proses ekstraksi bromelain dilakukan secara maserasi dalam larutan buffer posfat pH 7. Jika plak tidak dibersihkan. Henny Lucida2). karbohidrat 13 – 17 % . Husni Mukhtar2) 1) Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STIFI) Padang.05). yang berarti dari sepuluh orang enam diantaranya menderita gigi berlubang (Nugraha. Munurut Pakaj (2004) pasta gigi yang mengandung fluorida tidak cocok untuk anak-anak di bawah 4 tahun. 1 2010 ISSN : 2087-5045 EFEKTIFITAS BROMELAIN KASAR DARI BATANG NENAS (Ananas comosus L. salah satunya adalah bromelain dari nenas ( Ananas comosus L. Ramli.

dental plague disclosing gel (Global Care) dan air suling. METODE PENELITIAN Alat Alat-alat gelas standar laboratorium(Pyrex®). Sebelum perlakuan kepada sukarelawan terlebih dahulu diberikan penjelasan tentang tujuan penelitian dan informasi lain yang terkait dengan pemakaian pasta gigi. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Penggunaan enzim di dalam pasta gigi ditujukan untuk membantu pemecahan protein. Bahan Bromelain kasar. bromelain standar ( Bernofarm).1982). pemeriksaan gigi sebelum dan setelah pemakaian pasta gigi dilakukan oleh dokter gigi. Suatu produk bermerek dagang yang sudah beredar adalah pasta gigi Enzim ®. disclosing gel atau disclosing tablet) yang dicatat adalah ada atau tidaknya deposit yang terwarnai pada batas dentogingiva pada empat permukaan (Dalimunthe 2008 ). dan digunakan untuk memantau kontrol plak pada pasien dan juga banyak digunakan pada klinik – klinik gigi ( Dalimunthe 2008). 1 NO. Sukarelawan Sukarelawan dalam penelitian ini sebanyak 15 orang berumur antara 18 – 24 tahun dan diminta kesediaannya untuk menggunakan sediaan pasta gigi selama penelitian dengan mengisi blanko dan menandatangani surat pernyataan sebagai sukarelawan. Berdasarkan hal tersebut. kaca mulut. timbangan analitik (Pioneer™). spektrofotometer UV-Vis (UVmini1240). bahan tambahan formulasi (Brataco Chemika). karbohidrat dan lipid dari makanan. Untuk menilai keadaan plak gigi. Dextran merupakan produk metabolit dari bakteri. adanya zat ini memegang peranan penting dalam membentuk plak pada gigi. Metoda yang digunakan untuk pengujian anti plak adalah metoda rekam kontrol plak yang diperkenalkan oleh O’Leary dkk. lumpang dan alu. Untuk pengukuran terlebih dahulu gigi–geligi diwarnai dengan perwarna plak (disclosing solution.SCIENTIA VOL. (Wilkinson . Pelaksanaan Penelitian Pembuatan Pasta Gigi Bromelain Kasar Formula Pasta Gigi Bromelain (Lieberman 1989. Wilkinson 1982) Pasta gigi bromelain dibuat dengan konsentrasi bromelain 5% dan abrasive kalsium karbonat 40% seperti terlihat pada tabel di bawah ini: 15 . perlu dilakukan pengujian efektifitas antiplak bromelain kasar dan dibandingkan dengan formula basis dan sediaan pembanding kepada sukarelawan.

diaduk homogen (massa 1).0 0. Selama pengamatan akan dipantau oleh dokter gigi sampai selesai perlakuan. sore dan pada malam hari. 1 NO. Oleum menthae piperitae dimasukkan terakhir. Parameter yang diamati kemampuan menghilangkan plak setelah menggunakan pasta gigi. Massa 1 ditambahkan ke massa 2 diaduk sampai homogen (massa 3). Pengujian ini dilakukan terhadap 5 orang panelis untuk setiap formula pasta gigi bromelain dengan syarat panelis tidak menggunakan pasta gigi lain.3 100 Cara Pembuatan Bromelain Kasar Pasta Gigi Na CMC ditabur diatas air panas (15 x jumlah Na CMC). menggunakan pasta gigi 3 kali sehari pada pagi. ditambah bromelain digerus ditambah gliserol diaduk homogen.1 1 0. rumus perhitungan Plak Indeks : Skor RKP = Jumlah Permukaan gigi dengan plak x 100 % Jumlah seluruh permukaan gigi Uji Efektifitas Anti Plak Pasta Gigi Bromelain dengan Metode Rekam Kontrol Plak (RKP) (Delimunthe 2008) Pengujian ini dilakukan untuk menilai efek pemakaian pasta gigi sebagai anti plak dengan cara Setelah skor plak didapat. Sakarin dan natrium benzoat dilarutkan dalam sisa air. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Tabel 1. diaduk homogen sampai terbentuk massa pasta. kemudian dihitung nilai selisih skor plak sebelum dan sesudah pemakaian pasta gigi bromelain dengan menggunakan rumus : Nilai selisih = Skor Plak sebelum – Skor Plak sesudah 16 . tidak menggunakan larutan penyegar mulut atau larutan pencuci mulut lainnya.0 0.3 100 formula (g) 5. Kalsium karbonat digerus. digerus homogen.2 0. Natrium lauryl sulfat ditambahkan ke dalam massa 3. dimasukkan ke dalam massa 3.0 40 18 10 1.SCIENTIA VOL.2 0. Formula pasta gigi bromelain Komposisi Formula Bromelain Kasar Kalsium karbonat Gliserol Larutan sorbitol 70 % Natrium Karboksimetil sellulosa Sakarin Natrium benzoat Natrium lauryl sulfat Oleum menthae piperitae Air suling sampai Basis (g) 40 18 10 1. didiamkan selama 15 menit.1 1 0. aduk homogen. diaduk sampai homogen dan kemudian dimasukkan ke dalam tube. ditambahkan larutan sorbitol 70 % dan diaduk homogen ( massa 2). Untuk pelaksanaan pengujian ini digunakan gel pink tua dental plague disclosing gel yang dipakai sebelum menggunakan pasta gigi dan setelah menggunakan pasta gigi selama 1 minggu.

3 8.4 3. Daya anti plak disebabkan adanya kemampuan bromelain untuk mengurangi dan menghilangkan plak yang terbentuk.17 3 P 8.8 59.384 %KV= 15. Proses pengurangan plak juga dipengaruhi oleh frekwensi.1 60 62 62.1 70. Pada sediaan uji pasta gigi bromelain diperoleh persentase penurunan (RKP) yang lebih tinggi ( 8.SCIENTIA VOL.8 9.1 2.1 60.3 3 3.72% ± 0.4 8.72 % dan 8.9 62 62 59. Proses pengurangan plak ini terjadi secara fisika dengan persentase penurunan plak yang rendah.86 2 F3 8. Makanan sangat berpengaruh sekali terhadap jumlah plak yang terbentuk.626 %KV= 7.7 8.5 9. HASIL DAN PEMBAHASAN Uji antiplak pasta gigi bromelain kasar dilakukan selama 7 hari.5 3. Parameternya adalah % RKP sebelum dan setelah perlakukan.5 65.5 62.55 17 .4 57.1 8. lama dan cara menggosok gigi (Ariningrum. 2000).1 7 Χ 3.3 66. 1 NO. Hasil ini memperlihatkan bahwa plak dapat berkurang dengan menggunakan basis pasta yang mengandung abrasif kalsium karbonat dan surfaktan natrium lauril sulfat yang ada dalam formula. Dari hasil perhitungan rata-rata persentase Rekam Kontrol Plak ( RKP ) adalah 3. pasta gigi bromelain kasar dan sediaan pembanding enzim ®.6 10.90 % untuk formula basis ( F0 ). Proses pengurangan plak dari pasta gigi bromelain kasar diduga karena kemampuannya untuk memecah atau menguraikan protein saliva disamping juga terjadi secara fisik dengan adanya abrasif dalam pasta.72 % ) dan mendekati pasta gigi pembanding (8. 1990) Tabel 2.1 70. 8. Menurut Hidayah (2000) bromelain dapat memecah ikatan glutamin-alanin dan arginin. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Analisis Data Untuk menilai efektifitas antiplak bromelain dalam pasta dianalisis menggunakan statistik analisis varian satu arah yaitu antara basis pasta.4 61. pasta gigi bromelain ( F3 ) dan pasta gigi pembanding ( P ) secara berturut-turut.1 69.6 57.1 68.5 69.alanin yang merupakan asam -asam amino penyusun protein.9 8.2 56.3 65.9 66.5 62. (Tarigan .04%± 0. Penelitian dilakukan pada gigi tiruan resin akrilik .9 69.3 62.7 52.90%).9%± 1.1 9.3 65 62.391 %KV=12.6 65. Hasil pengujian efektifitas antiplak pasta gigi bromelain kasar % RKP No Panelis X (%) Formula Sebelum Sesudah 1 F0 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 65.04 %. Dugaan lain adalah bromelain dapat memutuskan ikatan protein dari sisa makanan yang menempel pada gigi.

Ekstra Pharmakope Indonesia. Materia Medika Indonesia. Jakata. edisi III. Jakarta. Formularium Kosmetika Indonesia. Farmakope Indonesia. Anonim. Jakata. 2007. The National Formulary. edisi IV. Diterjemahkan oleh Farida Ibrahim. C 1989. 1985. Anonim. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. USP 30/ NF 25.0400 8. KESIMPULAN Dari penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut Bromelain kasar 5% dalam pasta gigi mempunyai efektifitas antiplak yang tidak berbeda nyata dengan sediaan pembanding ( p< 0. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Keterangan : F0 F3 P X X KV : : : : : : Basis pasta gigi formula C konsentrasi abrasif 40 % Formula pasta gigi bromelain konsentrasi 5 % Pasta gigi pembanding ( Enzim® ) Nilai selisih Rekam Kontrol Plak (RKP) Rata – rata nilai selisih Rekam Kontrol Plak (RKP) Koefisien variansi Hasil uji statistik dengan analisis varian satu arah memperlihatkan terdapat perbedaan yang bermakna antara formula basis ( F0 ) dengan pasta gigi bromelain ( F3C) dan pasta gigi pembanding ( P ) pada p > 0. 18 . Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi edisi IV. 1974. dan persentase plak Duncan a tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara pasta gigi bromelain ( F3 ) dengan pasta gigi pembanding ( P ) pada p < 0. 1979. Anonim.05. Jakarta. a. Jakarta. N 5 5 5 Subset for alpha = .05) dan berbeda nyata dengan formula basis pada p > 0. Penerbit Universitas Indonesia.000. Departemen Kesehatan Republik Indonesia . Ansel.7200 8. SASARAN Kepada peneliti selanjutnya disarankan untuk mengembangkan formula pasta gigi dan menguji stabilitas pasta gigi bromelain kasar sehingga pada akhirnya dapat DAFTAR PUSTAKA Anonim. 1 NO. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.05 1 2 3.05. perlakuan F0 F3 pembanding Sig. USA.05.9000 1. Vol III. Uses Harmonic Mean Sample Size = 5.SCIENTIA VOL. Jakarta. Hasil uji statistik dapat dilihat pada tabel di bawah ini. cetakan pertama .759 Means for groups in homogeneous subsets are displayed. Farmakope Indonesia. Anonim. Anonim.000 . 1994. H.

and. Wilkinson.S. 1990. 19 . Kelly G. S E. Sci . A. Voight. W. Efficacy and safety of phiogezym-aprotease formulation. 1996 . Pertanika 13(1) . J and R. Noerono..Using Bromelain in Pineapple Juice to Investigte Enzym Function.12.. Maurer HR. Herijulianti.. dan S. Shanbag P. Jakarta. Lieberman and J. Herdyastuti.Enzim Bromelain dari Bongkol Nenas sebagai Bahan Pembersih Gigi Tiruan Resin –Akrlirik.. 1996 . Isolasi dan Karakterisasi Ekstrak Kasar Enzim Bromelain Dari Batang Nenas (Ananas comosus L.. Hashimoto Y. Daftary GV. London. SasakiT. Steptoccus mutans Si Plak Dimana-mana. Ojima Y. H. Shahid SK. S. Sci. 1990 . Diterjemahkan oleh S. M and Sagarin. 219 – 228. Periodonsia. Vol 1. FKG Universitas Sumatera Utara.19(3) :147153. Ngampanya B. Biochem..L Kaning . and S Phongtongpasuk .. Lincoln. Hayati. A. Bandung. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Balsam. 1985. Cell Mol. Altern. E. pharmacology and medical use. Cracken. Nat. Hidayah .N..Bromelain : a literature review and discussion of its therapeutic applications. Ota. Acta Obstet Gynaecol Jpn. 1982.W. Mori S.H. Pendidikan Kesehatan Gigi. Cosmetics. Tarigan. 2nd ed.SCIENTIA VOL. George Goodwin HC. Nenas Budidaya dan Pasca Panen. 2006. J.113-121 Rukmana. 1994.. Daliemunthe.. Hirose T. 1985. 2008. Vol III. in septis in chidren. Turakhia NH. R. 1: 405-410 Lachman. Jakarta.Fauzi.1982 Clinical and Oral Microbiology.. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi edisi V. Harry’s Cosmetology. 2001. Rev.( 1972) The clinical effect of proteolytic enzyme containing bromelain and trypsin on urinary tract infection evaluated by double blind method . R. Pocher’s Perfumes Cosmetics and Soap. Apr 50527-31. 75 – 77. 2008... 2002. S Indriani. M. T. Life . Yogyakarta. Karies Gigi. 2Pattavia ). Diterjemahkan oleh S. Glider WV and MS Hargrove. 1992. New York. Ramli W. 40 : 129-134 . L. S. Assoc Physicians India. New York. Suyatmi..Khrisna. Universitas Gadjah Mada Press. Proses Penghasilan Bromelin Daripada Batang Nenas. 1989. A.Moore. N. Merr). D. Jogjakarta: 1-5. and R. Butler. Med.. Hipokrates. Reinvestigation of Fractionation and Some Properties of Proteolitically Active Components of Steam and Fruit Bromelain. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember. E. Bromelain.. HA. Charpman and Hall. London. Schiess W 2002.Wijaya dan Sulistyaningsih.S. Kundra M. Hemisphere Publishing Corp. 1 NO. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Mutta. Effects of Sucrose Concentration on Crude Bromelain Production of in Vitro Culture of Pineapple ( Ananas comosus var. S..Artini. Fakultas Farmasi USD. Kasetsart J. R. Yogyakarta. Medan.. Cowson.edisi III. Science and Technology. Biochemistry.2006. 98. Nugraha.J. EGC. J Penel. 2002.A. 1992. 58 (9). Kanisius.2000. Universitas Indonesia press.

Argomedia. karbohidrat.) dari famili Convolvulaceae. Cream formula consisting of 3% ethanol extract of sweet potato leaves as an active ingredient. Salah satu jenis tumbuhan yang digunakan sebagai obat tradisional adalah ubi jalar (Ipomoea batatas L. fosfor. which the value of F count treatment is smaller than the F table at α 0. Keywords: Ipomoeae batatas.1997). The results showed that the F1B formula has the fastest healing effect on burns (7 days).05. tanaman holtikultural. skin irritation test and effects on burns. 1997. vitamin A. 2008). burns PENDAHULUAN Negara Indonesia merupakan salah satu negara agraris yang memiliki potensi untuk mengembangkan buahbuahan tropis. bebas dari pestisida. 2006). vitamin B1. which were tested on animals. type of cream. Virgin coconut oil merupakan minyak yang berasal dari buah kelapa (Cocos nucifera) tua segar yang diperoleh pada suhu rendah (<60 0C) yang terbentuk setelah santan didiamkan dalam beberapa hari (Setiaji. dan kontaminan lainnya. L. lemak. vitamin B2. homogeneity. pH. fungsinya adalah menolak pembentukan radikal bebas dan kemampuan mempertahankan sistem kekebalan membuat minyak ini bermanfaat untuk mencegah dan mengobati berbagai gangguan kesehatan. Nurwani Purnama Aji STIFI Perintis . zat besi. 1 NO. salah satunya digunakan sebagai bahan obat (Rukman. 20 . flavonoid. The evaluation results showed that ethanol extract of sweet potato leaves can be formulated in creams which are physicaly stable and provide a healing effect on burns. particle size distribution. VCO memiliki sederet manfaat dan khasiat baik medis maupun kosmetik. Bagian tumbuhan ubi jalar yang digunakan adalah daun yang mengandung beberapa senyawa seperti saponin.SCIENTIA VOL. VCO. The formulas was evaluated for their organoleptic.Padang ABSTRACT Formulation of cream for treatment of burns has been studied. Cream bases used in this study were variated with and without Virgin Coconut Oil (VCO).. 2006) tanpa proses pemutihan sehingga menghasilkan minyak murni. From the statistical calculation using one-way analysis of variation (ANOVA) we found that sweet potato leaf ethanol extract containing cream provide healing on burns. vitamin C (Rukmana. polifenol dan umbinya mengandung beberapa senyawa seperti protein. VCO juga memiliki tekstur krim alami. Kandungan dari VCO salah satunya adalah asam lemak rantai tak jenuh berperan sebagai agen antimikrobial yang hebat. Mimi Aria. cream. Banyak sekali tanaman di Indonesia yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara komersil. susunan molekular kecilnya memudahkan penyerapan serta memberi tekstur yang lembut dan halus pada kulit (Hadibroto. kalsium. 1 2010 ISSN : 2087-5045 FORMULASI KRIM EKSTRAK ETANOL DAUN UBI JALAR ( Ipomoeae batatas. ) UNTUK PENGOBATAN LUKA BAKAR Farida Rahim. sayur-sayuran dan tanaman pangan.

1 0. kandungan kimia. aquadest.5 1.5 1. rotary evaporator. corong. hewan percobaan yang digunakan adalah mencit putih. penetapan kandungan air. krus porselin. paraffin liquid. timbangan digital. pipet tetes.5 3 25 0. plat tetes. Virgin Coconut Oil (VCO). Fase minyak dipindahkan kedalam lumpang dan ditambahkan fase air (pencampuran dilakukan pada suhu 60oC – 70oC). pemeriksaan pH. mortir. pH meter Inolab.5 3 5 20 0.1 0. kertas perkamen. kelarutan. oven. lemari pendingin. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Dari penjelasan di atas dicoba membuat formula ekstrak etanol daun ubi jalar dan Virgin Coconut Oil (VCO) dalam bentuk krim untuk pengobatan luka bakar. Selanjutnya digunakan hewan percobaan untuk menguji aktifitasnya untuk pengobatan luka bakar. krim dapat digunakan pada kulit dengan luka yang basah. Tabel 1. botol semprot. dan terdistribusi merata. Fase air di panaskan di atas waterbath pada suhu 70oC sampai lebur. Formula Krim Ekstrak Etanol daun ubi jalar Nama Bahan Ekstrak etanol daun ubi jalar Basis Krim ad F1A 3% 100 F1B 3% 100 Keterangan : F1A = Krim dengan konsentrasi Ekstrak Etanol daun ubi jalar 3% tanpa VCO F1B = Krim dengan konsentrasi Ekstrak Etanol daun ubi jalar 3% dengan VCO Krim dibuat dengan cara: ditimbang ekstrak etanol daun ubi jalar 3% digerus dalam lumpang ditambahkan 21 . cawan penguap. Alat yang digunakan adalah alatalat gelas standar laboratorium. asam stearat. oven vakum. dipanaskan diatas waterbath dengan suhu 70oC sampai lebur. adeps lanae. Krim dipilih karena sediaan ini mempunyai keuntungan diantaranya mudah dioleskan pada kulit. botol marserasi. batang pengaduk. buret. Basis krim dibuat dengan cara: Semua bahan yang diperlukan ditimbang. etanol 96%. waterbath. Formula Basis Krim Nama Bahan Asam stearat Trietanolamin adeps lanae Paraffin liquidum Virgin Coconut Oil (VCO) Nipagin Nipasol Aquadest ad F0A 14.05 100 F0B 14. kaca arloji. nipasol. pinset. 1 NO. Ekstrak daun ubi jalar dibuat dengan cara maserasi selama lima hari menggunakan etanol 96%. stamper. Ekstrak kental yang diperoleh dievaluasi organoleptis. Tabel 2.05 100 Keterangan : F0A = Krim tanpa Virgin Coconut Oil (VCO) F0B = Krim dengan Virgin Coconut Oil METODA PENELITIAN Bahan yang digunakan adalah daun ubi jalar putih. trietanolamin. desikator.SCIENTIA VOL. mudah dicuci setelah dioleskan. kadar abu. nipagin. kemudian fase minyak dipindahkan dalam cawan penguap. digerus sampai dingin dan terbentuk masa krim yang homogen.

pH. Krim Ekstrak Etanol Daun Ubi Jalar (Ipomoea Minggu ke IV V SP SP P P BK BK SP SP Hi Hi BK BK SP SP P P BK BK SP SP Hi Hi BK BK II SP P BK SP Hi BK SP P BK SP Hi BK III SP P BK SP Hi BK SP P BK SP Hi BK VI SP P BK SP Hi BK SP P BK SP Hi BK VII SP P BK SP Hi BK SP P BK SP Hi BK VIII SP P BK SP Hi BK SP P BK SP Hi BK : Basis krim tanpa Virgin Coconut Oil ( VCO ) : Basis krim dengan Virgin Coconut Oil ( VCO ) : Krim Ekstrak Etanol Daun Ubi Jalar 3 % tanpa VCO : Krim Ekstrak Etanol Daun Ubi Jalar 3 % dengan VCO : Hijau : Putih : Setengah Padat : Bau khas 22 . Hasil Pemeriksaan Organoleptis batatas. yang dilakukan setiap minggu selama 8 minggu. Pada kulit yang melepuh atau mengalami luka bakar tersebut dioleskan formula krim secara tipis dan merata 3 kali sehari untuk masingmasing formula. Parameter yang diamati adalah hilangnya vesikel dan perubahan warna kulit dari pucat menjadi pucat hilang.SCIENTIA VOL. pemeriksan tipe krim. homogenitas. F1A Bentuk SP Warna P Bau BK 4. Pemeriksaan basis krim dan krim meliputi organoleptis. sepatel tersebut ditempelkan pada kulit punggung mencit yang sudah dirontokkan bulunya selama ± 5 detik. 1 2010 ISSN : 2087-5045 sedikit demi sedikit basis krim ad 100 g digerus pelan-pelan sampai homogen. F0B Bentuk SP Warna Hi Bau BK 3. F0A Bentuk SP Warna P Bau BK 2. Tabel III. Kemudian dilakukan pengamatan setiap hari untuk melihat efeknya sampai terjadi penyembuhan total. warna dan bau. masing-masing kelompok 3 ekor. dengan konsentrasi ekstrak 3%. L) No Formula Organoleptis I 1. pH krim. Pada pemeriksaan homogenitas basis krim dan krim ekstrak etanol daun ubi jalar menunjukkan bahwa semua sediaan telah homogen dan terdispersi merata. 1 NO. Spatel dibakar dengan nyala api ± 60 detik. Pada pemeriksaan organoleptis formula basis krim dan krim ekstrak etanol daun ubi jalar tidak menunjukkan adanya perubahan bentuk. tipe krim. pemeriksaan ini dilakukan setiap minggu selama 8 minggu pengamatan. homogenitas. distribusi ukuran partikel. Uji efek luka bakar dilakukan dengan menggunakan hewan percobaan mencit 15 ekor untuk 5 kelompok. Basis krim dan krim yang dibuat di evaluasi meliputi pemeriksaan organoleptis. HASIL DAN PEMNBAHASAN Ekstrak etanol daun ubi jalar dan VCO diformula dalam bentuk krim. F1B Bentuk SP Warna Hi Bau BK Keterangan : F0A F0B FIA FIB Hi P SP BK Pada pengujian efek ini digunakan Lanakeloid-E ® sebagai pembanding. daya tercuci krim dan uji iritasi kulit.

L) Minggu ke IV V 8.SCIENTIA VOL. Hasil Pemeriksaan pH Krim Ekstrak Etanol Daun Ubi Jalar ( Ipomoea batatas.53 7.12 7. Hasil pemeriksaan uji iritasi pada 5 orang sukarelawan menunjukkan tidak ada satupun formula basis krim dan krim ekstrak etanol daun ubi jalar yang mengakibatkan iritasi pada kulit panelis.19 7.22 7.69 7.81 8.81 7.73 7.78 7. pemeiksaan pH dilakukan terhadap basis krim dan krim ekstrak etanol daun ubi jalar dan hasil pemeriksaan pH krim diperoleh ph berkisar antara 7.0 II 8.92 8. Hasil pemeriksaan pH dilakukan dengan menggunakan alat pH meter inolab. sedangkan polifenol berkhasiat sebagai adstringen jika dioleskan pada jaringan hidup. 1 NO. polifenol 23 .04 VI 8.57 8.53 7. 8095 µm. Hasil pengamatan distribusi ukuran partikel basis krim dan krim ekstrak etanol daun ubi jalar menunjukan rata-rata ukuran panjang kecil dari 10 µ m. F1A = 6. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Hasil pemeriksaan tipe krim. 1987).06 III 8. dimana saponin ini mempunyai kemampuan sebagai pembersih sehingga dapat membantu mempercepat penyembuhan luka terbuka.86 8. 4.50 µ m. F1A dan Lanakloid-E memberikan waktu penyembuhan 8 hari. Pada uji efek basis krim dan krim ekstrak etanol daun ubi jalar dan basis krim yang mengandung VCO dan yang tidak mengandung VCO terhadap pengobatan luka bakar. Sedangkan FoA memberikan waktu penyembuhan selama 11 hari.1 gr dioleskan pada lengan atas bagian dalam dengan luas 4 cm 2 . Tabel IV.69 No 1. F1B = 4. Daun ubi jalar yang digunakan mengandung flavonoid.27 8.56 7.78 7. Hasil pemeriksaan uji iritasi dilakukan langsung pada manusia dengan cara uji tempel tertutup dimana sediaan uji 0.15 7. 3. ternyata memberikan sedikit variasi waktu penyembuhan.26 Ratarata 8.837 µ m.65 7.21 7. FOB = 4. Formula yang memberikan waktu penyembuhan paling cepat adalah formula F1B dimana waktu yang diperlukan untuk penyembuhan selama 7 hari.991 µ m.26 – 8.98 7.783 µ m. hasil yang didapat masih memenuhi syarat karena dalam literatur dinyatakan ukuran partikel yang stabil secara fisik antara 1. Pemeriksaan ini dilakukan terhadap 5 orang sukarelawan pada masing-masing formula. pemeriksaan tipe krim dilakukan dengan menggunakan zat warna yaitu metilen blue memperlihatkan penyebaran metilen blue yang merata setelah diteteskan pada selapis krim diatas kaca objek. Hal ini menunjukkan bahwa basis krim dan krim ektrak etanol daun ubi jalar dapat digunakan untuk penyembuhan luka bakar. tipe krim adalah minyak dalam air.84 7.56. flavonoid yang terkandung didalam daun ubi jalar dapat digunakan sebagai pencegahan terhadap infeksi luka karena mempunyai daya antiseptik (Harborne. Formula FOA FOB F1A F1B I 7.51 7. 2.02 7.41 VIII 8. Setelah 24 jam diamati gejala yang timbul.17 7. Krim ekstrak etanol daun ubi jalar dengan menggunakan basis krim yang mengandung Virgin Coconut Oil (VCO) mampu memberikan efektifitas lebih cepat dibandingkan dengan formula lainnya. saponin dan polifenol.74 7.48 7.61 VII 8.70 7. FoB memberikan waktu penyembuhan selama 9 hari.45 Pada pemeriksaan distribusi ukuran partikel diperoleh rata-rata ukuran panjang FOA = 4. kemudian ditutup dengan kain kasa.62 7.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Ed. et al. alih bahasa oleh Farida Ibrahim. 1995. 2006. Gaja Mada University Press. Jakarta. Argomedia Pustaka.05 SARAN Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk memformula ekstrak etanol daun ubi jalar dalam bentuk sediaan dan uji efektifitas farmakologi yang lain. Farmakope Indonesia. Jakarta. Jakarta. Gaja Mada University Press. Jakarta.4. 2000. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Yogyakarta. Dari perhitungan uji statistik analisa variasi satu arah (ANOVA) diketahui bahwa krim ekstrak etanol daun ubi jalar dapat memberikan penyembuhan terhadap luka bakar. 2008. Ed. Anonim. 1986. Ditjen POM Depkes RI. H. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.L) dengan basis krim yang mengandung VCO (F1B) memberikan efek penyembuhan luka bakar yang paling cepat yaitu 7 hari. Penerbit Universitas Indonesia. Anonim. United States of America. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta.. Ekstrak etanol daun ubi jalar dan Virgin Coconut Oil (VCO) dapat diformulasi dalam bentuk krim yang stabil secara fisika dan kimia selama 8 minggu penyimpanan. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. 1 NO. 1972. Ilmu Meracik Obat.3. Formulasi Gel Ekstrak Etanol Daun Ubi Jalar 24 . Anonim. Jakarta. VCO yang digunakan mampu mempercepat penyembuhan luka bakar karena merupakan minyak yang mengandung asam lemak jenuh rantai sedang yang mendukung penyembuhan dan perbaikan jaringan tubuh (Gani. Asrahyuni. Ditjen POM Depkes RI. Anief. Dari perhitungan uji statistik analisa variasi satu arah (ANOVA) diketahui bahwa krim ekstrak etanol daun ubi jalar dapat memberikan penyembuhan terhadap luka bakar.. M. 1991. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Dimana nilai F hitung perlakuan lebih kecil dari pada F tabel pada α 0. Ekstrak Farmakope Indonesia. Farmasetika..C. H. 1994. Fomularium Kosmetik Indonesia.05. Materia Medika Jilid V. Anonim. M. Anonim. 4. Buku Pintar Tanaman Obat. 2005). Ditjen POM Depkes RI. 1982. 3. USP 30/ NF 25 Volume III. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. DAFTAR PUSTAKA Ancel. redaksi. 1989. Anief. 1979.. Farmakope Indonesia. dimana nilai F hitung perlakuan lebih kecil dari pada F tabel pada α 0. Jakarta. Anonim. 2007. Argomedia. Sediaan Galenika. Formula krim ekstrak etanol daun ubi jalar (Ipomoea batatas . Ed. 1990. 2. Jakarta. Anonim.SCIENTIA VOL. 1 2010 ISSN : 2087-5045 dalam pengobatan berkhasiat sebagai antiseptik yang berfungsi sebagai pelindung pada kulit dan bermanfaat untuk regenerasi jaringan. Yogyakarta. Jakarta Anonim.

A... Terapheutic.. Yogyakarta.. Fakultas Farmasi. Penyakit Kulit. Sehat Diusia Lanjut Dengan Ramuan Tradisional. W. 8th Pergamos Press. 2006. 1 2010 ISSN : 2087-5045 (ipomoea batatas L. Jakarta.).N. 1975. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Fundamental of Anatomy and Phsiologi. 2th Edition. Serial. Dede. PT. A. F.edu/docs/av ailable/etd-04062006085455/unrestricted/paddadis. 25 . Effendi. M. L. 2001. Bebas Segala Penyakit dengan VCO. Osol. 1987. Yogyakarta. Cetakkan ke-1.. M. Bandung. alih bahasa oleh S.. Lea and Febiger. J. Editor. Ed. 2. New York. Y. Padang. Harbone. Padda. R. Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Yayasan Perintis.. Phenolic Composition And Antioxidant Activity Of Sweet Potatoes. Moenajad. Skripsi.. Yogyakarta. Z. Juanda. 1997.2000. Pharmacologycal Basis of Edition. Srikandi. et al. Puspa Swara.B. Inc. 1998. Martin.2009. Easton. F.. Ubi Jalar Budi Daya dan Pasca Panen. L. 2006. 1994. Mack Publishing Comp. Goodman.S. and Gilman. New York. Jakarta. Formulation and Fundaction of Cosmetics. Philadelphia. Syamsuni. Hariana. H. Teori dan Praktek Farmasi Industri II. 2005. Harahap... S. Mursito. Penebar Swadaya.http://ekasi. Gramedia. Luka Bakar Pengetahuan Klinis Praktis. 4th Edition. Lieberman and J. Laporan Penelitian Dosen Muda. Membuat VCO Berkualitas Tinggi.http//:etd. Herlinawati. 1998. alih bahasa oleh S. New York. 1 NO. Pennsyluania. Metoda Fitokimia Penentuan Cara Modern Menganalisa Tumbuhan.Noer. Voight. Yogyakarta. Jellinek..com/indek. Kanisius.SCIENTIA VOL.. Editor 2006. Cetakan ke-2.. Rukmana. Khristianto.Suyami. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Y.S. 1962. The Structure and Fuction of the Skin. Ed. Formulasi Krim Minyak Kelapa Murni Untuk Penyubur Rambut. 1974. 2005. Kanisius. 2006..Isu.. PT Samindra Utama. Jakarta. Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi. Padang. C. Remigton Pharmaceutical Sciense. Padmawinata. Jakarta.L Kaning. Penerbit Universitas Indonesia.. A. 1995. 15th edition. R. Kanisius. 1990. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Physical pharmacy. Jakarta.J. 2006.Pdf.. Diet VCO. Parameter Pasien Luka Bakar.. Penerbit Buku Kedoteran. Setiaji.. Ed. B. H. B. D.2004. Mantagha. Terbitan ITB. Penebar Swadaya. Prentice hall International.F. Hadibroto. Ubi Jalar Budidaya dan Analisis Usaha Tani.. Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Yayasan Perintis. PT. Jakarta. Jakarta. Terapi Minyak Nabati Keampuhan VCO dan 16 Minyak Ajaib. php/inf-sehat/292-daun-ular-obatdbd-paling-ampuh-?format=pdf Lachman. London. Jakarta. Gramedia. Willey Intercienci. 1995. 1991. Yogyakarta. alih bahasa oleh Kosasih. Waluyo... Cherry.A.5. Universitas Gajah Mada Press.3.H. [5 Juni 2010] Rahim. Gani..H. Martin. Jakarta.

meningkatkan produksi air susu ibu.SCIENTIA VOL. anti oksidan. anti tumor. diabetes. asama.) for the titers antibody and amount of leucosit cell to the mice. menurunkan kolesterol dan meningkatkan kinerja jantung. dan Timur Tengah untuk mengobati berbagai macam penyakit. kanker. Salah satu tanaman tradisional yang digunakan adalah Jintan Hitam (Nigella sativa Linn. Penggunaan jintan hitam sebagai obat atau yang berkhasiat obat adalah pada bagian bijinya. steroid. and limfosit cell (P<0. Jintan hitam ini 26 . bronkhitis. minyak lemak.) ini mengandung nigellienine. 200 mg/kg BW can improvement the titers antibody. mutu. dan aktivitas sel–sel imun tubuh. Protein–protein yang terkandung dalam ekstrak jintan hitam (Nigella sativa Linn. monosit. Khasiat dari biji jintan hitam adalah untuk mengobati aneka penyakit seperti menguatkan sistem kekebalan tubuh.) TERHADAP TITER ANTIBODI DAN JUMLAH SEL LEUKOSIT PADA MENCIT PUTIH JANTAN Suhatri dan Yufri Aldi Fakultas Farmasi Universitas Andalas ABSTRACT The research about Activity of Given Extract Jintan Hitam seed (Nigella sativa Linn. leucosit PENDAHULUAN Pemakaian obat tradisional masih banyak digunakan dalam meningkatkan kesehatan masyarakat di Indonesia meski sekarang sudah banyak orang menggunakan obat–obatan modern sebagai pelengkap tetapi obat tradisional masih mempunyai kedudukan khusus dalam masyarakat. Pengobatan secara tradisional berdasarkan pada upaya untuk mengembalikan dan memperkuat penyembuhan secara alami (Donatus. 1 2010 ISSN : 2087-5045 AKTIFITAS EKSTRAK ETANOL BIJI JINTAN HITAM (Nigella sativa Linn. dan linolenat (Hendrik. Jintan hitam (Nigella sativa Linn. From result of the research show that extract who give it at the dose 50 mg/kg BW. 2009). menjaga elastisitas kulit.01). 14th day and given extract on to 15th day up to 20th day. oleat. 100 mg/kg BW.) yang merupakan rempah– rempah yang telah digunakan sebagai tanaman obat. 1 NO. 2009). 7th. Kandungan kimia dari jintan hitam (Nigella sativa Linn. anti bakteri. 1983). memperbaiki saluran pencernaan. The amount bar neutrofil cell. senyawa golongan alkaloid. the mice who has given induction anti-gen (Goat Eritrosit 5%) for the 1th.) dapat menghasilkan efek stimulator pada sistem imun tubuh. Keywords: Nigella sativa. Rempah ini berbentuk biji hitam yang telah dikenal ribuan tahun yang lalu dan digunakan secara luas oleh masyarakat India. minyak atsiri. Pakistan. anti histamin atau anti alergi. Jenis tanaman ini telah disebut–sebut sebagai tanaman obat dalam perkembangan awal agama Islam (Hendrik.) merupakan tanaman yang dapat merangsang dan memperkuat sistem imun tubuh manusia melalui peningkatan jumlah. alkaloid isokuinolin. titer antibody. nigellamine-n-oxide. saponin.

kaca objek. Mekanisme pertahanan ini dibagi menjadi dua kelompok fungsional. heparin (D34209 Melsungen Germany). Sistem pertahanan ini bersifat adaptif dan didapat. gelas ukur. komplemen. sel–sel jaringan.1993). spatel. Terhadap ekstrak kental ini dilakukan standarisasi ekstrak seperti kandungan metabolit sekunder dan susut pengeringan. plat tetes. METODOLOGI PENELITIAN Alat Alat-alat yang digunakan adalah seperangkat alat destilasi vakum. pewarna Giemsa (D6 100-darstadt). 1988).SCIENTIA VOL. NaCl fisiologis. lumpang dan alu. eusinofil. dan sel NK). 1993). Mekanisme pertahanan ini berperan sebagai garis pertahanan pertama dan menghambat kebanyakan patogen potensial sebelum menjadi infeksi yang tampak (Subowo. vial. timbangan. air suling. yaitu pertahanan non spesifik dan spesifik. jarum suntik. minyak emersi. Mekanisme pertahanan spesifik meliputi sistem imunitas humoral yaitu dengan produksi antibodi oleh sel B dan sistem imunitas seluler oleh sel T. monosit dan magrofag).) terhadap sistem imun non spesifik dengan menghitung jumlah antibodi menggunakan metoda titer antibodi. Sistem pertahanan ini sangat efektif dalam memberantas infeksi serta mengingat agen infeksi tertentu sehingga dapat mencegah terjadinya penyakit dikemudian hari (Tizar. mediator radang. Bahan terlarut yang disekresi dapat berupa antibodi. sel mast. 27 . 2002). rak tabung reaksi. 1 2010 ISSN : 2087-5045 bekerja sebagai imunomodulator yaitu yang bekerja dengan cara melakukan modulasi (perbaikan) terhadap sistem imun (Bellanti. sel T. Tizar. metanol murni. yaitu menghasilkan reaksi spesifik pada setiap agen infeksi yang dikenali karena telah terjadi paparan terhadap mikroba tersebut sebelumnya. rotary evaporator. menghitung bobot relatif limfa mencit putih jantan dan menghitung jumlah sel leukosit dengan metoda hapusan darah pada mencit putih jantan. mekanisme pertahanan ini merupakan bawaan (innate) artinya pertahanan tersebut secara alamiah ada dan tidak adanya dipengaruhi secara intrinsik oleh kontak dengan agen infeksi sebelumnya (Bratawijaya. Sel – sel lain dalam jaringan walaupun bukan merupakan bagian utama dari respon imun juga dapat berperan serta dengan memberi isyarat pada limfosit atau berespon terhadap sitokin yang dilepaskan oleh limfosit atau makrofag (Wahab. dan mikroskop. eritrosit kambing. 1993. etanol 96%. Berdasarkan hal diatas maka peneliti telah melakukan pengujian aktivitas ekstrak etanol biji jintan hitan (Nigella sativa Linn. tabung reaksi. 1988). Prosedur Kerja Pembuatan Sampel 1 kg Biji jintan hitam diekstraksi dengan etanol 96 % kemudian pelarutnya diuapkan secara vakum sehingga diperoleh ekstrak kental sebanyak 29. botol maserasi. Pertahanan non spesifik meliputi kulit dan membran mukosa. sel fagosit (neutrofil. Bahan Bahan-bahan yang digunakan adalah biji jintan hitam.85 g. Sel– sel utama yang terlibat dalam reaksi imun adalah limfosit (sel B. gunting. 1 NO. dan sitokin. dan trombosit). Respon imun diperantarai oleh berbagai sel dan molekul terlarut yang diseksresikan oleh sel-sel tersebut. sel asesori (basofil.

lalu keringkan.2 ml larutan pada tabung pertama pindahkan kedalam tabung kedua kemudian kocok dan pipet 0. gerus homogen dan cukupkan volume dengan aquadest sampai volume 10 ml. kemudian lakukan pembosteran dengan 0. 1 /128. 1/64.1 dan 0. Pembuatan larutan uji Larutan uji dengan dosis 50 mg/kg BB dibuat dengan cara mensuspensikan 50 mg ekstrak etanol biji jintan hitam (Nigella sativa Linn. neutrofil batang. Sensititasi Hewan Hewan percobaan yang telah diaklimatisasi kemudian disensitisasi (pemberian antigen pertama) dengan 0.1 ml suspensi eritrosit kambing 5 % kedalam masing-masing tabung reaksi tersebut. Setelah didapatkan eritrosit kambing kemudian buat suspensi 5% (ambil 0. 1/8. ¼. Lakukan hal ini sampai pada tabung reaksi kesepuluh.2 gram untuk volume 10 ml. Gunakan cara yang sama untuk dosis 100.2 ml serum. Pada tabung kesepuluh.) dengan 50 mg Na CMC yang dikembangkan dengan air panas 1 ml. kocok sampai homogen. Angka titer ditentukan dengan pengenceran tertinggi yang masih dapat beraglutinasi dengan eritrosit kambing (Sadikin. Setelah kering tetesi dengan metanol. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Pembuatan antigen Darah kambing dicuci dengan larutan NaCl fisiologis (1:1) masing– masing sebanyak 5 ml aduk homogen. Suspensi ekstrak diberikan pada hari ke 15 sampai hari ke 20 secara oral dengan dosis 50 mg/kg BB.kemudian disentrifus dengan kecepatan 2000 rpm selama 15 menit. 100 mg/kg BB. dan monosit pada perbesaran 1000 X dengan 28 .SCIENTIA VOL. kemudian kocok sampai homogen. Kemudian hitung jumlah sel eusinofil.2 ml larutan.2 ml eritrosit kambing lalu cukupkan dengan NaCl fisiologis hingga volume suspensi 4 ml). ambil darah dengan cara memotong vena bagian leher. 2008).2 ml larutan pada tabung kedua dan pindahkan kedalam tabung ketiga. 200 mg/kg BB. 1/16 . Pada tabung pertama ditambahkan 0. ulangi 3 kali dengan menambahkan 5 ml NaCl fisiologis setiap pengulangan. 1/32.2 ml suspensi eritrosit kambing 5% pada hari 1 secara intra peritoneal. biarkan 5 menit. buang 0. Cuci dengan aquadest. biarkan selama 20 menit. sehingga menutupi seluruh hapusan darah. 1/256. lalu tipiskan dan ratakan dengan gelas objek lain sehingga diperoleh lapisan darah yang homogen (hapusan darah).2 ml pada masing-masing tabung. Ambil bagian serumnya. amati penggumpalan yang terjadi. 1 /512. Angka titer dihitung dengan rumus : 2 Log Pengenceran Menghitung Jumlah Sel Leukosit dari Metode Hapusan Darah Darah segar diteteskan pada gelas objek satu tetes. buang supernatannya. masukkan larutan NaCl fisiologis 0. Penentuan Titer Antibodi Pada hari ke 21 mencit dibunuh. biarkan selama 30 menit. Tambahkan satu tetes larutan Giemsa yang telah diencerkan dengan aquadest (1:20). Pipet 0. neutrofil segmen.1 ml suspensi eritrosit kambing 5% secara subkutan pada hari ke 7 dan 14. sehingga hasil pengenceran dari serum yaitu ½. kemudian digerus dan ditambahkan kedalam ekstrak yang telah ditimbang. 200 mg/kg BB dengan berat ekstrak masing-masing 0. dan 1/1024. Sentrifus dengan kecepatan 2000 rpm selama 5 menit. Masukkan 0. lalu disentrifus dengan kecepatan 2000 rpm selama 15 menit. siapkan 10 buah tabung reaksi. setelah kering lihat di mikroskop. limfosit. 1 NO.

4 gerus sampai halus dan homogen. Hasil susut pengeringan ini dijadikan faktor konversi terhadap penimbangan dosis yang akan digunakan. 1993). 1997). Pipet sebanyak 20 µl larutan limfa. timbang bobot relatifnya satu persatu. Bobot limfa dosis × 100% Bobot mencit 2. diwarnai dengan cara meneteskan pewarna Giemsa sebanyak 10 tetes biarkan selama 5 menit. steroid dan saponin dengan nilai susut pengeringan adalah sebesar 27. lalu letakkan pada kaca objek dan biarkan mengering. Sedangkan pada kontrol positif aglutinasi terjadi 2log 16 maka angka titernya adalah 4. 1 NO. Angka titer dapat dicari dengan rumus 2log 4 maka angka titernya adalah 2. dengan perbandingan (1:20). menunjukkan bahwa dengan peningkatan dosis pemberian ekstrak etanol biji jintan hitam dapat meningkatkan angka titer antibodi yang merupakan respon imun spesifik. Bobot limfa relatif terhadap kontrol dihitung dengan rumus : HASIL DAN PEMBAHASAN Ekstrak etanol jintan hitam mengandung metabolit sekunder alkaloid. timbang 50 mg limfa kemudian suspensikan dalam 2 ml larutan dapar pospat pH 7. 1 2010 ISSN : 2087-5045 menggunakan minyak (Supandiman. kemudian mencit dibedah dan diambil limfanya.18 %. komplek imun dan sebagainya. Persen kenaikan sel dihitung dengan rumus : limfosit Jumlah sel limfosit dosis × 100 % Jumlah sel limfosit kontrol 29 . kemudian bilas dengan air suling dan kering anginkan. . Penimbangan bobot limfa relatif Setelah darah mencit diambil untuk pengujian titer antibodi. Tabel I. Penghitungan jumlah sel limfosit Setelah didapatkan bobot relatif limfa. Komplemen yaitu salah satu enzim serum yang berasal dari sistem imun non spesifik yang larut dalam keadaan tidak aktif. Aglutinasi yang terjadi dipengaruhi oleh komplemen. emersi Pengolahan Data (Schefler. preparat yang telah difiksasi. Encerkan dengan pewarna Giemsa denga dapar pospat. setelah itu difiksasi dalam metanol selama 2 menit kemudian dibilas dengan aquadest dan kering anginkan. 1998) Pada penelitian ini data yang diperoleh diolah secara analisis statistik dengan menggunakan metode ANOVA satu arah. tetapi sewaktu-waktu dapat diaktifkan oleh berbagai bahan seperti antigen. Hitung jumlah sel limfositnya dibawah mikroskop menggunakan minyak emersi dengan perbesaran 1000 X.SCIENTIA VOL. Perhitungan Jumlah Sel Limfosit pada Limfa 1. Angka titer ditentukan pada pengenceran tertinggi dari serum mencit yang masih dapat beraglutinasi dengan sel darah merah kambing (Subowo.

67± 93.00 42.00 37.75 103.00± 0.00± 1.00 5.00 37.00 9.00 1 2 3 3.00± 2.00 5.00 1.47 126.33± 167.00 8.00 7.) 1 2 3 2 2 2 No x log Angka log Angka log Angka x Pengenceran Titer Pengenceran Titer Pengenceran Titer 2 2 2 I log 4 2 log 4 2 log 4 2 2 6 2 2 2 II log 8 3 log 16 4 log 16 4 3.00 2.00 7.00 7. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Tabel I.00 9.33± 0.00 12.58 4.00 41.00 5.00± 1.00 4.SCIENTIA VOL.40 112.00 6.00 ± 1.00 9.00 1.00 2 3.00 30.00 32.00 37.74 116.33± 2.00 53.) dapat meningkatkan jumlah sel leukosit darah yang merupakan sistem imun alamiah (non spesifik).00 50.) Netrofil Netrofil Kelompok Hewan Eusinofil Limfosit Monosit Batang Segmen I 1 2.41 25.00 1. didapatkan pengaruh dosis sangat signifikan terhadap jumlah sel netrofil segmen.00 50.52 31.00 ± SD x ∑x II 1 2 3 8.00 5.69 7.76 21.00 48.00± 2.00 10.00 11. Maka pemberian ekstrak etanol biji jintan hitam (Nigella sativa Linn.00 1.00 43.00 41. Titer Antibodi dari Serum Mencit Putih Jantan setelah Diinduksi Antigendan Pemberian Ekstrak Etanol Biji Jintan Hitam (Nigella Sativa Linn. limfosit.00 11.00 4.33± 3.00 47.00 41.00 28.00 12.00 53.22 22.00 2.67± 3.00 7.00 1.00 8.00 7.50 31.00 2.00 7.00 8.33± 0.00 38. monosit dan tidak signifikan terhadap sel eusinofil dan neutrofil batang.00 49.00 1 2 3 3.33± 2.33± 2.82 4.33± 1.00 2.00 34.67 23 ∑ Dari hasil uji statistik analisa varian satu arah dan dilanjutkan ke uji berjarak Duncan.00 36.00 9.00 1 2 3 4.00 31.58 55.00 1.00 10.67 11 2 2 2 III log 16 4 log 32 5 log 32 5 4.00 2.00 9.00 6.00 46.65 6.67 ± 0.00 11.34 17.88 33.00 9.87 139.75 18. Tabel II. Hasil Perhitungan Sel Leukosit Pada Darah Mencit Putih Jantan setelah Diinduksi Antigen dan Pemberian Ekstrak Etanol Biji Jintan Hitam (Nigella Sativa Linn.00 45.00 10.67± 0.00 56. 1 NO.64 x ± SD ∑x III x ± SD ∑x IV x ± SD ∑x V x ± SD 30 .00 35.00 32.67± 2.00 58.00 33.33± 1.25 7.00 3 3.00 1.02 136.00 36.00 39.00 5.00 32.00 7.00 5.67± 2.00 7.67 14 2 2 2 IV log 64 6 log 256 8 log 128 7 7 21 2 2 2 V log 256 8 log 128 7 log 256 8 7.67± 1.00 45.00 45.33± 6.00 14.00 10.33± 2.00 2.00 29.00 49.67± 1.00 2.00 7.00 6.00 38.00 42.

00 24.54±0.31 0.50 1 2 3 27. Berdasarkan hasil kenaikan bobot limfa relatif maka dilakukan perhitungan sel limfosit pada limfa.63 0.33 0.50 25.03 1.02 0.14 0.15 0.13 0.17 0.00 0. Tabel III.13 0.48±0. 1 NO.14±0.41 0.00±1.44 0.SCIENTIA VOL. sehingga terjadi pembesaran pada limfa.46 0. untuk melihat pengaruh antigen dan ekstrak yang diberikan apakah mengalami perubahan.50±0.50 28.01 0.00 29.00 27.00 27.33 0.43 1.33±0.00 26.00 0.05 1.52 0.00 0.49 0.15 0. 1 2010 ISSN : 2087-5045 1.00 1 2 3 27.01 0.02 0.00 0. Kenaikan sel limfosit dan bobot relatif disebabkan karena pada limfa terjadi.00 26.54 29.10 0.52 0.12±0.58 x ±SD ∑x III x ±SD ∑x IV x ±SD ∑x V x ±SD ∑x 31 .67±2.13 0.15 0.10 0.15 0.41 0.00 2.11 0.00 25.00 ∑x 5.00 21.) Bobot Bobot Bobot Kelompok Hewan Limfa Relatif Mencit (gr) Limfa (gr) (%) I 1 30.16±0. diverensiasi.19 0.36 0.11±0.08 0.53±0.37 0.40 0.55 0.02 0.50 82.00 27.50 1 2 3 25. dan poliferasi limfosit.00 152.12 0.50 26.50±0.38±0.10 0.87 76.50 28.40±0.37 0.06 1. Bobot Relatif Limfa Mencit Putih Jantan setelah Diinduksi Antigen dan Pemberian EkstrakEtanol Biji Jintan Hitam (Nigella sativa Linn.00 Penentuan bobot limfa relatif mencit.47 0.03 ±SD x ∑x II 1 2 3 87.76 82.52 3 28.00 27.00 0.10±0.54 0.52 80.34 28.57 2 29.15 0. Dari data dapat dilihat bahwa kenaikan bobot limfa relatif juga diikuti dengan kenaikan sel limfosit pada limfa.07 1.22 92.

58 2.00±1.00 40.00 3.33±0.00 0.33±1.00 0.00±1.00±0.00 1.00 1.00 55.00 x ±SD ∑x II x ±SD ∑x III x ±SD ∑x IV x ±SD ∑x V x ±SD ∑x Dari empat parameter yang diamati.00 1.00 2.00 3.00 58.00 25.00 22.00 3.00 37.58 4. untuk meningkatkan sistem KESIMPULAN Dari penelitian ini dapat diperoleh kesimpulan bahwa pemberian ekstrak etanol biji jintan hitam (Nigella sativa Linn.67±0.00 120.00 56.00 1.00 3.00 70.00 1 2 3 2.51 101.00 71.67±5.00 71.67±1.00 1.33±5.00±1.00 29.00 1.69 173.00 1.00 2.00 0.00 61.33±5.33±1.00 1.00 2.00 5. 1 NO.58 5.00 1.16 217. dan 200 mg/kg BB dan dapat meningkatkan jumlah limfosit.00 1.00 73.00 64.33±0.61 210.) dapat meningkatkan titer antibodi pada dosis 50 mg/kg BB.00 0.00 1 2 3 1.00 2.00 0.33±2.00 67.00 2.00±3.53 4.67±3.) Kelompok I Hewan 1 2 3 Eusinofil 1.00 2.00 42.00 0.00 0.00 1 2 3 1.67±3.00 2.00 1.52 7.00 30. Kedua sistem imun diatas berperan penting dalam melindungi tubuh dari serangan mikroorganisme.00 1.00 32.33±5.00 3.00 77.58 5.00 1 2 3 1.00 37.00 69.00 66.00 3.67±0.53 7.51 184.00 25.00 1.00 1.00 1.01).SCIENTIA VOL.00 0.00 40.00 25.00 56.00 2.58 7.00 2.73 3.00 1.00 53.00 43.00 1.00 Limfosit 57.00 Monosit 1.33±0.). pemberian ekstrak etanol biji jintan hitam (Nigella sativa Linn.00 34.00 2.00 57.00 2. 100 mg/kg BB.00 30.00 33.00 2.00 26.00 2.33±4.00 1.00±2.00 1.00 0. dapat meningkatkan antibodi yang merupakan sistem imun dapatan (non spesifik) dan jumlah sel leukosit yang merupakan sistem imun alamiah (spesifik) dan ekstrak etanol biji jintan hitam (Nigella sativa Linn.00 72.00 6.00 1.00 1.00 Netrofil Segmen 38.67±0.00 3.00 1. menurunkan jumlah neutrofil segmen 32 . Jumlah Persentase Sel Limfosit Pada Limfa Mencit Putih Jantan setelah Diinduksi Antigen dan Pemberian Ekstrak Etanol Biji Jintan Hitam (Nigella sativa Linn.00 20.51 76.00 52.00 1.00 61.00±0.) ini juga bersifat imunostimulan.51 112. dan monosit sangat signifikan (P<0.00 37.00 Netrofil Batang 3.00 4. Maka penggunaan ekstrak etanol biji jintan hitam sangat efektif imun.03 76.58 1. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Tabel VI.15 5.00 2.33±3.21 167.00 0.

dkk. Pustaka Iltazam.SCIENTIA VOL. Jakarta. Imunisasi dan Penyakit Imun. Farmasi. DAFTAR PUSTAKA Donatus. Cetakan ke-1. Bandung.google. Penerbit alumni. oleh Husin. 1988. Jakarta. Jakarta. 1 2010 ISSN : 2087-5045 sangat signifikan (P<0. 2004. Edisi III. Imunogi Dasar. 1988.A. Edisi 1.A.A dan Julia M. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Gajah Mada Press. Pengantar Imunologi Veteriner. sedangkan sel eusinofil dan neutrofil batang tidak signifikan. Direktorat Jendral POM vol 15. Kedokteran dan Ilmu Bertautan.C. 1993. K. M. 2002.. Pedoman Periklanan Obat Tradisional. Sadikin. I. Diterjemahkan oleh A. I. Bratawijaya. I. Widya Medika.. Immunologi III. 1998. Imunobiologi Klinik. 2. R. Soerapto. Fakultas Farmasi Gajah Mada. No. diakses dari http :www. Habbatus Sauda’. Solo. 2009. . 1993. Airlangga Universitas Press. Subowo. Supandiman. 1983. Subowo. edisi ke-6. Sistem Imin. S. Jogjakarta. 2008 Antibodies Titers in Rat Immunized Agains Sheep Red Blood Cell (SRBC). Bellanti. M. 33 ..W. S. Surabaya. Depkes RI. Jakarta. Wahab. Hendrik.. Tizar.. dan N. Bandung. Risalah Simposium Penelitian Tumbuhan Obat III. Imunobiologi.com. Bandung. Angkasa Bandung. Statistika Untuk Biologi. Yogyakarta. Schefler. G. 1 NO. Penerbit ITB. Pedoman Terapi Haematologi Onkologi. Wahab. Penerbit Angkasa. Penerjemah Soehardjo Hardjosworo. diterjemahkan oleh Suroso. Peranan Farmakologi Dalam Pengembangan Obat Tradisional. 1997. J. 1993.01).

19 %.38 %. 1995). 1996). Bakteri yang telah resisten memiliki gen untuk melindungi dirinya dari efek bakterisida suatu antibiotika. Pada serangan akut. erythromycin. 1988. Masa inkubasinya 4-96 jam dengan rata-rata 15 jam. sulfametoxazol. Husni Mukhtar2 STIFI Perintis. tumbuh baik pada medium dengan kadar NaCl 1-8 % sehingga termasuk bakteri halofilik. Untuk dapat menimbulkan infeksi. 26. Marlina2. menetap di dalam sel epitel usus dan memperbanyak diri (Postnova.19 %.SCIENTIA VOL. Gen resistensi dari bakteri yang telah resisten terhadap suatu antibiotika dapat dipindahkan ke bakteri lain melalui mekanisme transformasi. Resistensi sel bakteri terhadap suatu antibiotika yang terjadi di rumah sakit 34 . Mier 1996). ampisilin. mual. The percentage of Vibrio parahaemolyticus resistances ampicillin. demam (Gerard.05 %. 1 2010 ISSN : 2087-5045 PENETAPAN POLA RESISTENSI ANTIBIOTIKA (Vibrio parahaemolyticus) HASIL ISOLASI DARI CUMI-CUMI (Loligo vulgaris) DAN KEPITING BAKAU (Scylla serratta) Ria Afrianti1. fakultatif anaerob. mempunyai flagela polar. Antibiotics resistances. Barrow 1993. 26. 1988). Scylla serratta PENDAHULUAN Vibrio parahaemolyticus adalah bakteri gram negatif.86 %.19 % respectively. 2 Fakultas Farmasi Universitas Andalas 1 ABSTRACT The characteristics of Vibrio parahaemolyticus resistances were observed from Squid (Loligo vulgaris) and mangrove crab (Scylla serratta) in Padang using differential medium CHROMAgar Vibrio. berbentuk koma. value of Multiple Antibiotics Resistances (MAR) was 0. gentamicin.5% NaCl.46. penggunaan antibiotika yang tidak diawasi mengakibatkan suatu sifat tidak terganggunya aktifitas sel bakteri pada pemberian antibiotika. Waturangi. chloramphenicol. 2000). bakteri harus melalui tahap kontak dengan permukaan mukosa usus. 0. transduksi ataupun konjugasi selama berlangsungnya pengobatan menggunakan antibiotika (Pelczar et al. Penyakit yang ditimbulkannya adalah gastroenteritis dengan gejala-gejala diare. 1 NO. 92. M. 1980). dan siprofloksazin (Doyle. Antibiotic resistances were tested on fourty two cultures of Vibrio parahaemolyticus by Krumperman diffusion method toward six kinds of antibiotic. Perkembangan resistensi merupakan proses alamiah yang dilakukan bakteri guna mengembangkan toleransi terhadap keadaan lingkungan yang baru (Pelczar et al. Loligo vulgaris. 1982. 1989). penetrasi ke dalam mukosa usus. keram perut. 19. 52. muntah. Sifat ini dikenal dengan istilah resistensi sel bakteri (Ganiswarna.1% KCl ke dalam pembuluh darah (Boyd. Pengobatan dilakukan dengan mengganti cairan elektrolit tubuh yang hilang akibat diare. and toward tetracycline were 76. seperti pemberian larutan 0. diberikan antibiotika seperti tetrasiklin. Keywords : Vibrio parahaemolyticus. Tetapi.5% NaHCO3 dan 0.

pot salep. autoklaf. perlu dilakukan suatu penelitian untuk mengamati penetapan resistensi bakteri terhadap antibiotika.parahaemolyticus. aquadest steril. incubator. 1 2010 ISSN : 2087-5045 cukup tinggi (Radu. Sampel. Setelah di inkubasi kemudian dilakukan pengenceran mulai dari 101 sampai 105 dengan cara memipet 0. Biakan yang telah diremajakan dalam 35 . hot plate. 1 NO. Inkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam. Ditimbang 10 g sampel yang telah dihaluskan kemudian dimasukan dalam erlemeyer dan ditambahkan Salt Poymixin Broth ( SPB) hingga 100 ml.parahaemolticus yang diisolasi dari Scylla serratta dan Loligo vulgaris. vortex. Media CHROMagar Vibrio (CHROMagarTM). kota Padang. water bath. spatel. lampu UV.9 ml media SPB dalam tabung ependorf untuk pengenceran 102 demikian seterusnya sampai pengenceran 105. Biakan dalam cawan Petri akan memberikan koloni ungu yang menandakan adanya bakteri V. Universitas Andalas Padang. Isolasi bakteri parahaemolyticus Vibrio METODE PENELITIAN Alat dan Bahan Jarum ose. kemudian diidentifikasi di Laboratorium Ekologi Hewan Jurusan Biologi FMIPA. effendorf. pipet mikro. media Mueller Hinton (Merck®). pinset. 2004). laminar air flow. Pada penelitian terdahulu telah dilakukan suatu kajian tentang sifat resistensi bakteri Vibrio cholerae yang diisolasi dari feses balita penderita diare dan limbah cair di rumah sakit terhadap beberapa antibiotika (Harta. sentrifugator.1 ml sampel induk dimasukan kedalam 0. Pengambilan sampel Sampel dibeli dari penjual cumicumi dan kepiting dipinggir pantai purus. beaker glass. etanol 70%. 2002). Lalu inkubasi lagi pada suhu 37°C selama 24 jam. lampu spiritus. jangka sorong. Uji resistensi bakteri Vibrio parahaemolyticus terhadap antibiotika Cakram antibiotika yang digunakan dengan konsentrasi yang telah ditetapkan sebagai berikut: Golongan Penisilin Kloramfenikol Eritromisin Aminoglikosida Sulfonamida Tetrasiklin Antibiotik Ampisilin Kloramfenikol Eritromisin Gentamisin Sulfametoksazol Tetrasiklin Konsentrasi (µg ) 10 30 10 15 5 30 Uji resistensi antibiotik dilakukan terhadap beberapa kultur V. parahaemolyticus.9 ml media SPB dalam tabung ependof untuk pengenceran 101 .SCIENTIA VOL. Oleh karena itu. disk antibiotika (BBL™). Beranjak dari penelitian tersebut maka dilakukan penelitian mengenai sifat resistensi bakteri V. erlenmeyer. kapas lidi. timbangan digital (Mettler PM 200®). parahaemolyticus yang diisolasi dari sampel Cumi-cumi (Loligo vulgaris) dan kepiting bakau (Scylla serratta) di kota Padang terhadap beberapa antibiotika. lemari pendingin. khususnya bakteri V. selanjutnya 0. Rotary shaker inkubator.1 ml dari pengenceran 101 dimasukan kedalam 0. Setelah masingmasing pengencean ditanam pada media CHROMAgar™ Vibrio dalam cawan Petri. media Luria Burtani (LB) broth. cawan petri. batang pengaduk.

1 2010 ISSN : 2087-5045 LB broth diambil dengan pipet mikro sebanyak 100 µl dan di tanam pada medium Mueller hinton Agar dengan meratakanya pada permukaan media menggunakan lidi kapas steril. kemudian di inkubasi pada suhu HASIL DAN PEMBAHASAN 37°C selama 24 jam.parahaemolyticus. Daerah hambatan yang terlihat sebagai wilayah bening disekitar disk antibiotik diukur diameternya dan karakter resistensi dari bakteri tersebut terhadap antibiotik dibandingkan terhadap tabel standard. sehingga adalah penggantian cairan dan elektrolit pertumbuhan V.SCIENTIA VOL. Walaupun demikian.serratta) ada mengandung antibiotik Polymixin B. medium spesifik CHROMAgar™ vibrio.parahaemoyticus sebagai spesies MAR x 36 . 1 NO. Kultur pada media SPB ditanam pada Resistance (MAR) ≥ 0.parahaemlyticus resisten terhadap antibiotik ini.parahaemolyticus.vulgaris) dan yaitu media pengaya SPB yang kepiting bakau (S. dan Terapi utama untuk mengatasi masih memiliki aktifitas terhadap dehidrasi pada penyakit gastroenteritis spesies vibrio yang lainya. Terbentuknya Media yang digunakan untuk warna ungu menandakan pada kedua isolasi bakteri Vibrio parahaemolyticus sampel yaitu cumi-cumi (L. sedangkan intravena. terapi dengan ditambahkan 3% NaCl yang bertujuan antibiotik dapat mengurangi durasi diare untuk meningkatkan jumlah dan ekskresi serta mengontrol V. Disk antibiotik ditaruh hati-hati diatas biakan bakteri dan ditekan perlahan dengan pinset steril supaya benar-benar kontak dengan bakteri. dimana bakteri V. V. terapi pertumbuhan spesies vibrio lainya dengan antibiotik juga penting karena dihambat. parahaemolyticus akan baik secara oral maupun secara tetap berlangsung. penambahan ini sesuai terhadap antibiotika dikatakan tinggi dengan kadar optimal untuk jika memiliki nilai Multiple Antibiotics pertumbuhan V. Pada media SPB harus dalam beberapa kasus. Jarak Disk dengan tepi cawan Petri 15 mm dan jarak antar Disk 24 mm.2. Biakan diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37ºC. Analisa Data Persentase resistensi bakteri terhadap antibiotika dihitung untuk setiap jenis antibiotika dengan menggunakan persamaan: % Re sistensi Jumlah kultur yang resisten x 100 % Jumlah kultur yang diuji Perhitungan Nilai MAR dengan menggunakan persamaan Krumperman: MAR = x y Keterangan : = Multiple Antibiotics Resistance = Jumlah bagian yang resisten terhadap antibiotika dari satu kultur yang digunakan y =Jumlah antibiotika yang digunakan vibrio halofilik dan menekan keberadaan Resistensi suatu koloni bakteri spesies lain.

ternyata sulfametoksazol mempunyai tingkat pola resistensi yang tinggi. Dari penelitian ini diperoleh nilai MAR rata-rata adalah 0. 1 NO.parahaemolyticus. Resistensi suatu bakteri gram negatif dinyatakan tinggi jika mempunyai nilai Multiple Antibiotics Resistence ( MAR) > 0. namun pada penelitian ini digunakan Sulfametoksazol.parahaemolyticus mempunyai tingkat resistensi yang cukup tinggi terhadap antibiotik yang digunakan. diperoleh 76. 1995). Kloramfenikol adalah salah satu obat alternatif untuk diare (Ganiswara. Antibiotik ini bersifat bakteriostatik terhadap bakteri gram positif dan gram negatif. 2007). Dari sekian banyak pola resistensi antibiotik terhadap isolat. Kombinasinya akan berupa efek yang sinergis. 1 2010 ISSN : 2087-5045 penyebaran penyakit ini. Hal ini berarti antibiotik ini masih dapat digunakan sebagai terapi. Sulfametoksazol pada umumnya dikombinasikan dengan trimetoprim merupakan senyawa antibiotik yang efektif secara klinis. diperoleh 52.46. Timbulnya resistensi terhadap tetrasiklin (26. Ampisilin bekerja dengan menghambat sintesa dinding sel bakteri. Gentamisin merupakan senyawa aminoglikosida pilihan utama karena harganya murah dan aktivitasnya yang diandalkan terhadap semua infeksi kecuali terhadap bakteri aerob gram negatif yang paling resisten. sehingga hasil pengujian sifat resisten V.3. Dari penelitian ini diperoleh hasil 19. dari hasil diperoleh 92.19%). resisten dapat timbul karena penyebaran resisten yang diperantarai oleh plasmid.19 % kultur resisten terhadap antibiotik ini. Ampisilin merupakan senyawa prototipe golongan aminopenisilin. Hal ini menunjukan bahwa bakteri V. Dari hasil diperoleh (26. Dari hasil. resisten dapat timbul karena resistensi silang. Eritromisin termasuk golongan makrolida yang bersifat bakteriostatik tapi dapat juga bersifat bakterisida dalam konsentrasi yang tinggi terhadap organisme yang rentan. Y. Uji resistensi terhadap antibiotik pada penelitian ini menggunakan metode difusi krumpermen karena metoda ini merupakan metoda yang sederhana tetapi efektif memberi informasi untuk pengujian sifat resisten bakteri terhadap beberapa antibiotik. Bakteri V.SCIENTIA VOL..86% kultur yang resisten terhadap sulfametoksazol. Umumnya bersifat bakteriostatik. parahaemolyticus terhadap antibiotik sangat penting untuk pemilihan antibiotik yang tepat (Ganiswara. Dari hasil.parahaemolyticus resisten terhadap sulfametoksazol (Handayani. 2006). 1995). 37 . Resistensi pada kloramfenikol dapat muncul bila bakteri mampu membentuk enzim klorampenikolasetil tranferase yang mampu merusak aktifitasnya. 1995).05% kultur resisten terhadap kloramfenikol. Antibiotik ini bekerja menghambat enzim petidil transperase yang berperan sebagai katalisator untuk membentuk ikatan peptida pada proses sintesis protein bakteri. antibiotik ini masih peka dengan V.38% kultur resisten terhadap antibiotik ini. Tetrasiklin bersifat bakteriostatik dan bekerja menghambat sintesa protein bakteri pada ribosomnya yaitu berikatan dengan ribosom 30S dan menghalangi masuknya kompleks tRNA asam amino pada lokasi asam amino (Ganiswara. pada konsentrasi tinggi kadang-kadang bersifat bakterisid. namun penggunaan antibiotik ini harus diperhatikan karena memiliki efek samping yang berbahaya yakni dapat menimbulkan nefrotoksik (Goodman & Gilman.19 %) terjadi karena proteksi melalui ribosom oleh protein sitoplasma.

SCIENTIA VOL. 1 NO. 1 2010 ISSN : 2087-5045

KESIMPULAN Dari penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : • Hasil uji resistensi dari 42 kultur murni V.parahaemolyticus menunjukkan bahwa 76,19 % kultur resisten terhadap ampisilin, 19,05 % kultur resisten terhadap kloramfenikol, 52,38 % resisten terhadap eritromisin, 26,19 % resisten terhadap gentamisin, 92,86 % resisten terhadap sulfametoksazol, 26,19 % resisten terhadap tetrasiklin. • Nilai Multiple Antibiotics Resistence (MAR) yang diperoleh berkisar antara 0,3 – 0,8 dengan nilai MAR rata-rata adalah 0,46. Hal ini menunjukan bahwa bakteri V.parahaemolyticus mempunyai tingkat resistensi terhadap antibiotik yang cukup tinggi.

DAFTAR PUSTAKA Gerard, 1982, Mikrobiologi Kedokteran, PT. Gramedia, Jakarta Barrow, G.I, 1993, Cowan and Steel’s Manual for the Identification of Medical Bacteria, 3rd Ed, Cambridge Univercity Press. Postnova, T., O.G. Gomez-duarte and K. Richardson, 1996, ”Motility Mutants of Vibrio cholerae 01 have Reduced Adherence in vitro to Human Small Intestinal Epithelial Cells as Demonstrated by ELISA”, Microbiol, 142, 27672776 Mier, R.M., I.L. Pepper and C.P. Gerba, 1996,Environmental Microbiology, 5th Ed, International Thompson Publishing, California

Boyd, F.R. and J.J. Mar., 1980, Medical Microbiology, Little Brown and Company, Boston Doyle, M, 1989, Foodborne Bacterial Pathogens, Marcell Dekker Inc., New York Ganiswarna, G.S., dkk., 1995, Farmakologi dan Terapi, UI-Press, Jakarta Pelczar, M. J., dan E. C. S. Chan, 1988, Dasar-Dasar Mikrobiologi, Jilid II, diterjemahkan oleh Ratna. S. H, dkk, UI-Press, Jakarta, Radu, S., M. Vincent., K. Apun., R.A. Rahim., P.G. Benjamin., Yuherman and G. Rusul., 2002, “Molecular Characterization of Vibrio cholerae O1 Outbreak Strain in Miri, Sarawak (Malaysia)”, Acta Tropica, 83, , 169-176 Waturangi, D.E., 2000, ”Keanekaragaman Genetik serta Uji Resistensi Antibiotik Escherichia coli yang Diisolasi dari Feses Farunus spp”, http://www.hayati.ipb.com Goodman & Gilman, 2007. Farmakologi Dan Terapi. EDISI ke-10. Vol 2. ITB. Jakarta

38

SCIENTIA VOL. 1 NO. 1 2010 ISSN : 2087-5045

AKTIVITAS ANTI INFLAMASI EKSTRAK ETANOL DAUN KEMBANG BULAN ( Tithonia diversifolia. A. Gray ) TERHADAP MENCIT PUTIH BETINA Verawati, Mimi Aria, Novicaresa M. Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STIFI) Perintis ABSTRACT The effect anti inflammatory of leaves aethanolic extract of the kembang bulan (Tithonia diversifolia A.Gray) by topically on female white mice by using modification methode between making edema and granuloma pouch. Inductioned by injection of carragenin 2 % b/v in NaCl fisiologis subcutaneously.The extract was given topically as ointment for 4 days in various concentration they are 1 %, 2,5% and 5 %. The parameter were observed edema volume, totally of leucocytes cell on edema and blood on white female mice. The result of research showed that leaves aethanolic extract of the kembang bulan (Tithonia diversifolia A.Gray) gives topically anti inflammatory effect by increasing the concentration it can reduced the edema volume and gives effect on decreased of leucocytes cell on oedema and can increased neutrofil cells and limpocyt cells on blood significantly (P<0,05). The maximal effect of anti inflammatory was given by concentration 5 % with the lowest edema volume 0,03 ml more than effect anti inflammatory of hidrocortison acetat 2,5 % with edema volume 0,08 ml. Keywords : Tithonia diversifolia, anti-inflammatory, edema

PENDAHULUAN Tumbuhan adalah gudang bahan kimia yang memiliki berbagai manfaat termasuk untuk obat berbagai penyakit. Oleh karena itu saat ini banyak para peneliti berusaha untuk mengisolasi senyawa kimia dari tumbuh-tumbuhan tersebut guna dimanfaatkan dalam bidang pengobatan. Penggunaan tumbuh-tumbuhan sebagai obat tradisional mempunyai keunggulan antara lain dalam hal khasiat yang lebih baik serta efek samping yang lebih kecil dari pada obat berbahan kimia murni. Saat ini tanaman obat tradisional masih berperan sebagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan dasar penduduk di bidang kesehatan (Wijaya et al, 1995; Donatus, 1983). Tumbuhan yang merupakan bahan baku obat tradisional tersebut tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia, baik itu tumbuhan asli Indonesia, maupun tumbuhan asli

luar negeri yang tumbuh dan dikembangkan di Indonesia. Salah satu tumbuhan tersebut adalah bunga kembang bulan (Tithonia diversifolia A. Gray) atau secara tradisional dikenal sebagai Bunga Busuk, Bunga Kipait, dari Family: Asteraceae (Hanum, 2002). Selain itu dari penelitian sebelumnya diketahui bahwa tumbuhan T.diversifolia aktif sebagai anti bakteri ( Dewi,2010 ), seperti kita ketahui salah satu sebab inflamasi bisa disebabkan oleh bakteri. Bagian yang dimanfaatkan dari tumbuhan T. diversifolia sebagai sumber zat kimia, yang digunakan untuk pengobatan tradisional biasanya adalah bagian daun, tapi dapat juga menggunakan kulit akar dan batang. Daun dari tumbuhan T. diversifolia ini mengandung senyawa alkaloid, terpenoid, flavonoid, saponin, tanin, serta polifenol. Manfaat dari daun T.

39

SCIENTIA VOL. 1 NO. 1 2010 ISSN : 2087-5045

diversifolia ini secara tradisional biasanya digunakan sebagai obat sakit perut, kembung, diare dan digunakan sebagai obat luka dan anti radang(antiinflamasi) (Dalimartha, 2000). Berdasarkan penggunaan daun T. diversifolia secara tradisional sebagai anti-inflamasi dan penelitian sebelumnya mengenai antibakteri, maka perlu dilakukan penelitian secara ilmiah dengan menguji aktivitas anti inflamasi ekstrak daun T. diversifolia terhadap mencit putih betina dengan menggunakan metode modifikasi antara metode edema buatan dengan “granuloma pouch” (Gryglewsky, 1997; Domer, 1971). Parameternya adalah pengukuran volume edema buatan pada bagian punggung mencit putih dan penentuan jumlah sel leukosit pada tempat terjadinya inflamasi dan darah (Winter, 1962).

Ekstraksi sampel Sebanyak 1,5 kg daun kembang bulan segar dicuci bersih kemudian dilakukan pengeringan tanpa sinar matahari (kering angin). Setelah kering dilakukan penyerbukan dengan cara pemblenderan dan dimaserasi dengan etanol 70 % selama 3x3 hari dan disaring. Filtrat diuapkan secara vakum sehingga diperoleh ekstrak kental etanol. Pembuatan Sediaan Uji Ekstrak daun kembang bulan ditimbang sesuai dengan konsentrasi yang akan dibuat lalu digerus halus dalam lumpang,kemudian tambahkan vaselin flava sedikit demi sedikit sambil digerus sehingga didapatkan massa yang homogen. Sediaan uji terdiri atas 3 macam konsentrasi yaitu 1 % b/b; 2,5 % b/b dan 5 % b/b. Pembanding yang digunakan adalah hidrokortison asetat dengan konsentrasi 2,5 % b/b.

METODOLOGI PENELITIAN Alat

Pembuatan Larutan Penginduksi Alat- alat yang digunakan yaitu : rotary evaporator, botol maserasi, jarum suntik 5 ml, jarum suntik 1 ml, gunting bedah, timbangan hewan, lumpang dan stamfer, gelas ukur, alat cukur, spidol, kandang hewan, dan lainlain. Bahan Bahan yang digunakan yaitu daun kembang bulan, etanol 70%, air suling, vaselin flava, NaCl fisiologis, karagen, krim perontok bulu dan hidrokortison asetat (serbuk). Hewan yang digunakan adalah mencit putih betina dengan berat 20-30 g sebanyak 25 ekor, dimana masing – masingnya dibagi menjadi 5 kelompok Timbang karagen sebanyak 1 gram, lalu gerus halus dalam lumpang kemudian sedikit demi sedikit ditambah NaCl fisiologis 50 ml sambil digerus homogen, maka konsentrasi karagen yang diperoleh adalah 2% . Penginduksian Udem a. Mencit dicukur bulu bagian punggungnya dengan diameter ± 3 cm,. Mulanya dipotong dengan gunting, selanjutnya untuk menghilangkan bulu yang masih tersisa dioleskan krim perontok bulu, sehingga bulunya betul-betul hilang. Biarkan selama 24 jam. b. Pada bahagian punggung yang dicukur disuntikkan dengan udara sebanyak 5 ml secara subkutan sehingga terbentuk kantong udara

40

Setelah kering tetesi dengan metanol. limfosit. Setelah 24 jam kantong udara terbentuk dihisap udaranya dengan jarum suntik 5 ml sehingga kantong udara tersebut jadi kempes.2 ml. Penghitungan jumlah sel leukosit dalam hapusan darah dan cairan eksudat. Tambahkan satu tetes larutan Giemsa yang telah diencerkan dengan air suling (1 : 20) dan biarkan selama 20 menit. eusinofil. Pengukuran Dilakukan Parameter yang darah. Pada kelompok kontrol hanya diberikan vaselin flava saja. Pengukuran volume radang Pada hari ke lima eksudat diambil dengan jarum suntik lalu diukur volumenya.2 ml pada tempat yang ada kantong udara tersebut. Darah atau cairan eksudat segar ditetesi pada gelas objek satu tetes dan ratakan dengan gelas objek yang lain sehingga diperoleh lapisan darah yang homogen (hapusan darah). 1 2010 ISSN : 2087-5045 dan sekaligus disuntikkan juga 0. Cuci dengan air suling. dan sel monosit. Analisa Data Untuk menganalisa data hasil penelitian yang diperoleh dari semua parameter akan digunakan analisa variansi (ANOVA) satu arah. biarkan 5 menit. lalu dikeringkan. 1 NO.SCIENTIA VOL.1 ml karagen 2 % dalam NaCl fisiologis c. b. sehingga melapisi seluruh lapisan 41 . Pemberian Sediaan Uji Sediaan uji diberikan dengan cara mengoleskan secara merata pada daerah yang terbentuk kantong udara (daerah yang dicukur) sebanyak 200 mg (dalam bentuk salep) dengan diameter ± 3 cm segera setelah pemberian karagen 2% dalam NaCl fisiologis sebanyak 0. Hitung jumlah sel neutrofil. keringkan dan lihat dibawah mikroskop. Selanjutnya ditambahkan larutan karagen 2 % dalam NaCl fisiologis sebanyak 0. Selanjutnya obat diberikan lagi setiap hari selama 3 hari setelah pemberian pertama (obat diberikan selama 4 hari). a.

20 0.08 0.50 0.40 4.51 0.03 0.39 0.80 1.60 3.03000 0.05 0.80 1.00 2.60 0.60 1.09100 0.450 6 12 10 6 6 8.013416 0.517 63 Neutrofil batang 3 2 1 1 1 1.548 1 Rata-rata SD 1% 1 2 3 4 5 Rata-rata SD 2.324 6 7 13 13 3 8.00 0.209 40 49 48 49 51 47.40 0.08600 0.011402 Tabel II. 1 NO.60 1.04 0.60 0.40 0.588 30 29 30 31 34 30.40 0.5 5 0.20 2.06 0.43200 0.924 59 60 61 63 60 60.11 0.04 0. Hasil perhitungan sel leukosit dari eksudat punggung mencit betina setelah pemberian ekstrak daun Tithonia diversifolia A.673 3 Monosit 20 21 12 21 25 19.05 0.074 13 Eosinofil 1 1 2 1 1 1.08 0.447 2 2 1 1 1 1.764 25 18 20 18 13 18.80 2.40 1.Gray.894 3 2 1 1 1 1.07 0.5 0.60 2.085 0.278 55 51 53 54 56 53.012247 Perlakuan 1 2 3 4 5 Rata-rata SD 0 0.5 % 1 2 3 4 5 Rata-rata SD 5% 1 2 3 4 5 Rata-rata SD Hidrokortison 1 42 .09 0. 1 2010 ISSN : 2087-5045 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Tabel I.828 20 Limposit 41 40 46 45 42 42.01 0.588 29 25 26 28 30 27.80 4.SCIENTIA VOL.673 5 2 1 1 3 2.36 0.000 1 1 2 2 1 1.40 4.924 35 36 32 31 37 34.Gray secara topikal Volume eksudat (ml) Konsentrasi (%) 1 2.80 4.548 1 1 1 1 1 1.09 0.08 0. Hasil pengukuran volume eksudat dari radang punggung mencit putih betina setelah pemberian ekstrak daun Tithonia diversifolia A.068337 Hk as 2.894 3 5 1 1 3 2.15 0. secara topikal Jumlah Sel Konsentrasi 0% No 1 2 3 4 5 Neutrofil segmen 35 36 39 32 31 34.03 0.056667 0.07320 0.11 0.1 0.1 0.

20 0.271 68 69 77 70 70 70.80 1.80 6.20 1.837 17 21 19 26 20. Hasil perhitungan sel leukosit dari darah mencit putih betina setelah pemberian ekstrak daun Tithonia diversifolia A.387 3 2 1 3 2 2 1 1 1 1 1.00 0.60 0.707 5 3 2 10 1 10 1 5 0 6 1.128 62 60 65 76 61 64.80 6.40 5. 1 2010 ISSN : 2087-5045 asetat 2.20 0.924 3.40 3.894 2.000 Tabel III.114 3 5 1 8 1 3 1 2 1 3 1.80 3.00 0.837 5 5 2 1 1 2 2.5 % 1 2 3 4 5 Neutrofil segmen 50 49 52 53 50 50.20 0.447 1 1 1 2 1 1.SCIENTIA VOL.564 75 70 75 78 84 76.837 0.000 1 2 1 1 1 1.60 3. 1 NO.00 0.643 66 60 63 67 68 64.894 23 20 18 26 25 22.Gray secara topikal Jumlah Sel Neutrofil Monosit batang 1 17 2 18 0 16 1 17 2 17 1.5 % 1 2 3 4 5 Rata-rata SD 5% 1 2 3 4 5 Rata-rata SD Hidrokortison asetat 2.837 1 1 1 1 1 1.80 1.80 0.362 19 25 20 18 13 19.447 1 1 2 1 1 1.00 4.5 % 2 3 4 5 Rata-rata SD 65 60 59 60 59.924 25 27 25 26 25 25.80 0.80 3.362 15 17 20 21 17.535 Limposit 31 30 32 27 29 29.20 0.40 4.20 17.80 4.40 5.60 1.20 0.550 Konsentrasi 0% No 1 2 3 4 5 Rata-rata SD 1% 1 2 3 4 5 Rata-rata SD 2.868 Eosinofil 1 1 0 2 2 1.301 27 29 30 20 33 27.20 3.894 0.771 2 1 1 2 1.347 1 1 1 1 1.643 8 2 2 3 4.447 Rata-rata SD 43 .80 1.00 2.

baik itu dalam eksudat maupun dalam darah. Hidrokortison asetat dalam bentuk salep yang digunakan sebagai pembanding yang merupakan salah satu sediaan obat anti inflamasi yang bayak digunakan untuk mengobati reaksi peradangan pada kulit ternyata menunjukkan efek yang hampir sebanding dengan ekstrak daun T. Dimana volume eksudat rata-rata mengalami penurunan sesuai dengan peningkatan dosis yang diberikan dibandingkan dengan kontrol positif yang hanya menggunakan vaselin flava saja. 1 NO. Dari hasil uji analisa varian dapat dilihat bahwa pada konsentrasi zat uji 1%.5% terhadap penurunan derajat inflamasi menunjukkan efek yang lebih baik dibandingkan pembanding 2. Dari tiga dosis yang digunakan efek maksimum diberikan oleh dosis konsentrasi 5% yang ditandai dengan kecilnya volume eksudat yang didapatkan. Monosit dalam eksudat disebut makrofag yang merupakan sel yang bergerak aktif memberi respon secara kemotaksis. Ini berarti. Dimana terjadi peningkatan jumlah sel neutrofil segmen dibandingkan dengan kontrol negatif.5% dan 5% terhadap kontrol memberikan perbedaan yang sangat bermakna (p < 0. diversifolia memberikan efek anti inflamasi melalui kemampuannya menghambat dan mengurangi volume 44 . Eksudat merupakan cairan yang tertimbun dalam jaringan atau ruangan karena bertambahnya permeabelitas pembuluh darah. diversifolia mempengaruhi persentase jumlah sel leukosit.5%. diperoleh suatu korelasi yang menunjukkan hubungan antara volume eksudat (ml) terhadap konsentrasi ekstrak (%). sehingga persentase jumlah sel leukosit dalam darah mendekati jumlah normal. dan terjadi pula penghentian migrasi leukosit. Sedangkan pada jumlah sel eosinofil. sehingga aliran cairan terhenti.01). Ditinjau dari hasil penelitian yang telah dilakukan dan analisa data secara statistik ternyata ekstrak daun T. Cairan yang sebelumnya telah dieksudasi diserap oleh pembuluh limfa dan sel-sel fagositik mengalami desintegrasi.SCIENTIA VOL. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Pembahasan Pemberian sediaan uji dengan dosis konsentrasi 1% ternyata telah memberikan efek anti-inflamasi. bahwa semakin besar konsentrasi ekstrak semakin efektif mengurangi volume edema. Setelah pemberian ekstrak etanol daun T. monosit dan limposit mengalami penurunan yang disebabkan karena pembuluh darah di daerah radang memperoleh permeabelitasnya kembali. dimana menyebabkan kenaikan jumlah sel leukosit dalam eksudat radang. kembali Sel leukosit yang memegang peranan penting dalam proses fagositosis pada jaringan yang rusak adalah neutrofil dan monosit. Hasil perhitungan jumlah sel leukosit dari uji statistik dengan analisa varian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun T. keluar melalui pembuluh limfe dan dihilangkan dari radang. diversifolia secara topikal sesuai dosis. diversifolia pada konsentrasi 1% dapat mengurangi dan menekan derajat inflamasi yang terjadi pada hewan percobaan. 2. fagosit aktif dan mampu mematikan serta mencerna berbagai agen penyebab inflamasi pada jaringan yang rusak. Sedangkan efek pada konsentrasi 2. Hasil perhitungan jumlah sel leukosit pada cairan eksudat radang dan uji statistik dengan analisa varian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun T. diversifolia dapat mempengaruhi jumlah sel leukosit secara bermakna dengan peningkatan dosis dibandingkan dengan kontrol negatif.

E. Proceding A Society For Experimental Biology and Medicine III. M. S. DAFTAR PUSTAKA Dalimartha. 2000..SCIENTIA VOL. Domer. Yogyakarta. KESIMPULAN Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1.. I. Springfield. dan mempengaruhi migrasi serta jumlah sel leukosit pada darah dan eksudat. I. Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Indonesia. J. A. Aktifitas Anti mikroba dari Elephantropus scober L. 1 NO. Dengan bertambahnya konsentrasi ekstrak. 45 . Risley. Jakarta. 1 2010 ISSN : 2087-5045 edema pada daerah radang.. Fridah & van der Masen.297-298. 1983 Pengembangan Farmakologi Dalam Pengembangan Obat Tradisional.M.Nat.H.. 1962. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Pustaka Kartini. Hanum. 1995 Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia. diversifolia ) secara topikal ternyata dapat meningkatkan jumlah sel leukosit baik dalam cairan eksudat maupun dalam darah. diversifolia ) memiliki aktifitas anti inflamasi.. Padang. 2010. maka dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun T. 1971. LIG.R. Jilid III. Tagetes erecta L. Thomas Publiser.H. Trubus Agriwidya. Some Experimental Models for the Study of Inflamation and Anti Inflamatory Drugs. Pemberian ekstrak etanol daun kembang bulan ( T. diversifolia memiliki aktifitas sebagai anti inflamasi secara topikal. Hal ini dilihat dari penurunan volume eksudat pada radang punggung mencit putih betina yang di berikan secara topikal.Dalimartha dan A. Charles C. Wirian. Skripsi. Departemen of Pharmacology. Animal Experiment in Pharmacological Basis of Therapeutic. Cracow. 258. Copernicus Academy of Medicine. CarrageninInduced Edema in Hind Paw of Rat Asam Assay For anti Inflamantory Days. Dewi.p. Auxiliary Plants.A and G. 2.R. 1997. Poland. C. R. Oleh Husin. semakin bertambah pula aktifitas anti inflamasinya. Tithonia diversifolia A.S. Risalah Simposium Penelitian Tumbuhan Obat III..Prod p.. Jakarta. Winter. USA.544547. F.Gray.. S. J. Fakultas Farmasi Gajah Mada. Donatus. Wijaya K.W Nuss..A.2002.. Ekstrak etanol daun kembang bulan ( T. IIIonis. Gryglewsky.

aroma. Protein juga berfungsi sebagai pengatur dalam metabolisme tubuh. Berdasarkan hal di atas. was kept in room temperature and tube of C was kept in refrigenerator for 2. Kondisi ini didiamkan secara alami selama 2 hari dalam suhu ruang sampai terbentuk gumpalan. Padang ABSTRACT The research about the influence of duration time in room temperature and refrigerator to protein consentration a” dadih” by Kjeldahl method had been done.E. Dadih merupakan produk susu fermentasi tradisional khas Minangkabau Sumatra Barat yang proses pembuatannya sangat sederhana. S. ibu menyusui dan orang yang baru sembuh dari penyakit. 2001). ibu hamil. dadih banyak disimpan ditempat terbuka bahkan terkena cahaya matahari.4 and 6 days method of t-Test. maka dilakukan penelitian tentang pengaruh lama penyimpanan pada suhu kamar dan lemari pendingin terhadap kadar protein pada dadih kerbau dengan metoda 46 .4 and 6 days). D. Sawitri dan Muharlien. Wiwit Gustiva 2) 1) Fakultas Farmasi Universitas Andalas. 2004. 1986. Grinda. berperan dalam menentukan mutu dadih (Susilorini. Komponen fisik dan kimia bambu yang meliputi sifat permeabilitas. 1 2010 ISSN : 2087-5045 PENGARUH LAMA PENYIMPANAN PADA SUHU KAMAR DAN LEMARI PENDINGIN TERHADAP KANDUNGAN PROTEIN PADA DADIH KERBAU DENGAN METODA KJELDAHL Regina Andayani1). Padang 2) Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Perintis.. metode Kjeldahl PENDAHULUAN Protein dalam tubuh berguna sebagai zat pembangun atau pertumbuhan karena protein merupakan pembentuk jaringan baru dalam tubuh terutama pada bayi. Keywords : Protein. Salah satu sumber protein hewani yang sering dikonsumsi adalah dadih. hal ini akan menurunkan mutu dari dadih tersebut. skemed that concentration for protein in room temperature and refrigerator were significance difference (P < 0. Tube of B. Almatsier.SCIENTIA VOL. 1 NO. Usman. Analysis of one ANOVA showed that there was a significance value ( P < 0. Fresh milk (A) was frut into two bamboo tubes ( tube of B and tube of C ) until becomed as ” dadih”. Masyarakat dalam memenuhi kebutuhan protein lebih banyak mengkonsumsi sumber protein hewani karena mengandung protein yang tinggi. 2007. kadar air. M. anak-anak. The research showed that protein concentration in room temperature and refrigenerator reduced.. Revi Yenti2).05) of protein concentration be tween 2.. Selain itu protein juga merupakan komponen pembentuk antibodi untuk mempertahankan daya tahan tubuh (Detama. Dadih ini banyak dijual dipasar tradisional namun berdasarkan pengamatan.05) on each days (2. A. zat warna dan garam anorganik yang terdapat pada jaringan bambu. 2008. T. 2006).4 and 6 days. A. Sugianto. Susu kerbau yang diperah langsung dimasukkan kedalam tabung bambu sebagai wadahnya kemudian ditutup dengan daun pisang..E. dadih. plastik dan ada yang tidak ditutup sama sekali.

51 gram sampel masukkan dalam labu Kjeldahl 100 ml. asam nitrat pekat (HNO3) dan asam sulfat (H2SO4). De Man. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Kjeldahl sehingga dapat diketahui perubahan kuantitas protein dadih tersebut. 3.. aquadest. neraca analitik. A. Labu Kjedhal dipanaskan diatas pemanas listrik 47 . pereaksi ninhidrin. Kemudian dibiarkan selama 2 x 24 jam sampai menjadi dadih. 1 NO. larutan merah metil. fenolftalein.a (Merck). indikator campuran (larutan bromocresol green. kemudian tambahkan beberapa tetes larutan CuSO4 0. Disiapkan masing-masing larutan sampel 2 % dalam air. Ninhidrin dan Xanthoprotein. pemanas listrik atau pembakar. Ambil 1 ml sampel tambahkan 1 ml pereaksi Ninhidrin kemudian dipanaskan. Alat Labu Kjeldhal 100 ml.. A. Ambil 1 ml sampel tambahkan 1 ml NaOH 10 %. tambahkan 1 gram campuran selenium dan 12. Reaksi positif ditunjukan dengan terbentuknya endapan putih yang segera menjadi kuning (Grinda. seperangkat alat titrasi dan mikroburet. Tahap Destruksi Ditimbang sebanyak 0. Uji kualitatif dengan menggunakan metoda Biuret. natrium tetraborat (Na2 B4O7). 1. 2004). Sampel tabung B dadih yang disimpan pada suhu kamar dan sampel tabung C dadih yang disimpan pada lemari pendingin. Reaksi positif ditunjukkan dengan terbentuknya warna biru ( Grinda. CuSO4. gelas ukur. campuran selenium (serbuk SeO2. 1999). NaOH. Uji kuantitatif dengan menggunakan metoda Kjeldahl Cara kerja untuk masing-masing sampel sebagai berikut (SNI 01-2891-1992) : a. Ambil 1 ml asam nitrat pekat kemudian dipanaskan.5 ml H2SO4 pekat. 1986.1% kocok. Pengolahan sampel Sampel A susu kerbau segar diperiksa kadar proteinnya. 2. tabung bambu dengan panjang 20 cm dan daun pisang. Masing-masing tabung diperiksa kadar proteinnya pada hari ke 2. asam borat (H3BO3). kemudian dimasukkan ke dalam 2 buah tabung bambu (tabung B dan tabung C) masingmasingnya 250 ml.SCIENTIA VOL.. Metoda Kjeldahl merupakan metoda yang umum digunakan untuk menentukan kadar protein pada makanan (Detama. seperangkat alat destilasi. CuSO45H2O). K2SO4. 1986). J. D. A. Metoda Ninhidrin Disiapkan masing-masing larutan sampel 2 % dalam air. Ninhidrin dan Xanthoprotein Uji kualitatif protein dilakukan pada susu segar dan dadih dengan menggunakan metode Biuret. spatel. erlenmeyer 250.. Metoda Biuret METODA PENELITIAN Bahan Susu kerbau diambil dari tempat pemerahan susu di daerah Air Dingin Solok pada satu ekor kerbau.M. Reaksi positif ditunjukkan dengan terbentuknya warna ungu (Robinson. T.. 1995). pipet gondok. alkohol). asam klorida p. ke 4 dan ke 6 setelah menjadi dadih. Metoda xanthoprotein Disiapkan masing-masing larutan sampel 2 % dalam air.

Desrtuksi disini berlangsung selama 2 jam. Pengolahan Data Penentuan kadar protein dapat dihitung setelah diketahui persentase kadar nitrogen yang terdapat dalam sampel dan dikalikan dengan faktor konversi: (SNI 01-2891-1992) (V1 . kemudian tambahkan 30 ml NaOH 30 % dan beberapa tetes indikator PP.38 = = = = = Volume HCL 0. Labu destilasi dipasang dan dihubungkan dengan kondensor dan ujung kondensor %N % protein Keterangan : V1 V2 N W Fp = harus terbenam dalam cairan penampung. Untuk blangko dilakukan dengan cara yang sama. 48 . Ujung kondensor dibilas dengan aquadest. Titik akhir ditandai dengan perubahan warna hijau menjadi merah muda. Destilasi ini dilakukan sebanyak 3 x pengulangan. b.SCIENTIA VOL. Hasil uji kualitatif dapat dilihat pada tabel1. 1 2010 ISSN : 2087-5045 mula-mula pada suhu 40oC kemudian suhu dinaikkan secara perlahan-lahan sampai 280oC. Didalam kondensor uap akan mengalir menuju penampung.1 N menggunakan mikroburet. dimana sampel diganti dengan aquadest. Penyulingan diakhiri jika hasil destilasi sudah tak bersifat basa lagi. Ninhidrin dan Xanthoprotein menunjukkan hasil bahwa pada susu segar dan dadih terdapat protein. 1 NO. Tahap Destilasi Larutan hasil destruksi dipipet 50 ml masukkan kedalam labu destilasi. Kemudian sulingkan selama lebih kurang 10 menit.1 N untuk titrasi larutan sampel (ml) Volume HCL 0. c.014 x fp x 100 W = % N x faktor 6. Hasil akhir destruksi didinginkan kemudian encerkan dan masukkan ke dalam labu ukur 250 ml. sebagai penampung gunakan 25 ml asam borat 2 % yang telah ditetesi indikator campuran. Setelah destruksi berlangsung selama 30 menit belum didapatkan cairan hijau jernih. maka ditambahkan H2O2 30% sebanyak 2 tetes destruksi dilanjutkan sampai didapat cairan jernih kehijauhijauan.1 N untuk titrasi larutan Blangko (ml) Normalitas HCL Bobot sampel ( gram ) Faktor pengenceran ( 5 kali ) HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil uji kualitatif dari susu segar dan dadih dengan menggunakan metode Biuret. Periksa dengan kertas lakmus. Tahap Titrasi Hasil destilasi dipindahkan dalam erlemeyer.V2) x N x 0. tepatkan sampai tanda batas. Kemudian lakukan titrasi dengan HCl 0.

1986. Tabel 2.05) .7065 0. Uji Kualitatif Sampel Susu Segar dan Dadih Sampel Susu segar Metoda Biuret Xantoprotein Ninhidrin Biuret Xantoprotein Ninhidrin Hasil Ungu Endapan putih Biru Ungu Endapan putih Biru Pengamatan Ungu Endapan putih Biru Ungu Endapan putih Biru Dadih Penelitian ini menggunakan metoda Kjeldahl karena umumnya metoda ini digunakan untuk penentuan analisis protein pada makanan. 1994).0391 ± 0. Kadar protein yang diperoleh pada susu segar adalah 4.SCIENTIA VOL. Setelah diketahui persentase nitrogen yang terdapat pada sampel. 4 dan 6 hari demikian juga dengan penyimpanan pada lemari pendingin juga diperoleh nilai P yaitu 0. Pada uji T terdapat perbedaan yang bermakna.05). 6 pada lemari pendingin dan suhu kamar mengalami penurunan.0581 49 .002(P <0. 4.0613 3.5358 % Protein 4. Anggorodi.5914 0.5608 0.007 ( P<0.6603 0.38 (SNI 01-2891-1992.0610 3.000 ( P<0.000 ( P<0.0357 3.6331 05888 0.6699 0. untuk menentukan kadar protein dikalikan dengan faktor konversi. gambar 1 dan gambar 2. A.05) dan penyimpanan setelah 6 hari diperoleh nilai P yaitu 0.0842 2. kadar protein dadih yang disimpan pada suhu kamar dan lemari pendingin pada penyimpanan setelah 2 hari diperoleh nilai P yaitu 0. 1984. 4 dan 6 hari berbeda secara bermakna. 1994).2741 ± 0. Dadih yang Disimpan pada Suhu Kamar dan Dadih yang Disimpan pada Lemari Pendingin Sampel Sampel A susu segar Setelah menjadi dadih Setelah 2 hari pada suhu kamar Setelah 4 hari pada suhu kamar Setelah 6 hari pada suhu kamar Setelah 2 hari pada lemari pendingin Setelah 4 hari pada lemari pendingin Setelah 6 hari pada lemari pendingin Berat Sampel (gr) 0.5079 %.4509 ± 0.9858 ± 0. Hasil uji anova satu arah diperoleh nilai P yaitu 0.048 ( P<0.0467 4. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Tabel 1.5829 0.5797 0.0939 4.05) yang berarti kadar protein dadih yang disimpan selama 2. untuk susu yaitu 6. Sidarmadji.6019 0.6150 0.6190 %N 0. Sedangkan kadar protein dadih yang disimpan hari ke 2.5408 0.468 0.9240 ± 0.0392 3.5079 ± 0.4188 ± 0.05) dengan nilai tersebut terdapat perbedaan yang bermakna kadar protein dadih pada penyimpanan suhu kamar setelah 2. Anggorodi. Persentase Kadar Protein pada Susu Segar. penyimpanan setelah 4 hari diperoleh nilai P yaitu 0. Hasil persentase kadar protein pada susu segar.7562 ± 0.. Data yang diperoleh juga dilakukan uji statistik dengan anova satu arah dan uji T student. Metoda ini mempunyai kelemahan dimana unsur N yang terdapat pada protein juga ikut teranalisis sehingga kadar protein yang diperoleh adalah kadar protein kasar (Crud protein) dan bukan protein murni (Grinda. 1 NO.5885 0. dadih yang disimpan pada suhu kamar dan dadih yang disimpan pada lemari pendingin dapat dilihat pada tabel 2.

Grafik kadar protein pada dadih yang simpan pada suhu kamar Gambar 2. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Gambar 1. G. K. bakteri asam laktat lactobacillus. Semakin lama waktu .H. Grafik kadar protein pada dadih yang disimpan dalam lemari pendingin Dari data dan grafik yang didapat terlihat jelas bahwa semakin lama penyimpanan maka kadar protein semakin menurun. 2004). KESIMPULAN DAN SARAN Kadar protein dadih sangat dipengaruhi oleh lama dan tempat penyimpanan.. 1 NO. Tetapi pada kenyataannya orang 50 lebih banyak mengkonsumsi dadih dari pada susu segarnya disebabkan karena aroma susu yang khas dapat menimbulkan rasa mual maka perlu dibuat susu fermentasi sehingga terjadi perubahan fisik dan kimiawi susu.. R. Pada data yang didapat terlihat bahwa susu segar kerbau mempunyai kadar proteinnya lebih tinggi dari pada dadih. pada mekanisme perubahan tersebut biasanya akan menghasilkan air dan secara otomatis konsentrasi protein dalam produk fermentasi akan menurun (Bucle.. Fleet. Penurunan kadar protein ini terjadi karena selama proses fermentasi. Tidak semuanya orang dapat mencerna susu dengan baik karena gangguan pencernaan yang timbul setelah mengkonsumsi susu karena tidak terpecahnya laktosa (gula susu) menjadi komponen-komponen sederhana yang dapat diserap oleh tubuh yaitu monosakarida. D. 1987).A. dan M. streptococcus dan lactococus aktif melakukan proses proteolitik dan lepolitik menjadi substansi yang bisa dimanfaatkan oleh bakteri misalnya energi. glukosa dan galaktosa (Sisriyenni. Zurriyati Y.SCIENTIA VOL. Wooton.A. Edwards.

2004. Penerbit Liberty. Muharlien. Gramedia. Vol 2. Edwards. Kajian kualitas dadih susu kerbau didalam tabung bambu dan tabung plastik. E. Prosedur Analisa untuk Bahan Makanan dan Pertanian. Ed. S. Y.. M. D. R.. II. 1 NO. Ed. M.. Vol 5. Zurriyati. Sudarmadji. A. No 2. T.. Pusat Standarisasi Industri. 2007. Dadih yang disimpan pada lemari pendingin lebih tinggi kadar proteinnya dari pada dadih yang disimpan pada suhu kamar. 1994. j. Buckle. 1995. DAFTAR PUSTAKA Almatsier. A.. Jakarta. T. Artikel. Penerbit Gramedia Pustaka Utama. H. Pengolahan Dadih Sebagai Makanan Probiotik Spesifik Sumatera Barat. Sawitri. Penerbit ITB. Grindra. Cara Uji Makanan dan Minuman. 2008. Penerbit Dian Rakyat. 2004 Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi. Jakarta. Susu Kerbau Fermentasi Mampu Menurunkan Kolesterol. 1986. Gramedia Pustaka Utama. Yogyakarta. SNI 01-2891-1992. 1999.. UI Press. Ilmu Pangan. E. 1984. Detama. Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Bandung. Jakarta. Dadih / dadiah. Penerbit Institut Teknologi Bandung. Departemen Perindustrian. Penerbit Penebar Swadaya. Jilid I. Sisriyenni. Jurnal Natur. Usman. Biokimia I . Jakarata. Robinson. A. 1 2010 ISSN : 2087-5045 penyimpanan maka kadar protein pun semakin menurun.. A.VI. hal ini disebabkan karena dadih pada suhu kamar mudah terkontaminasi dengan mikroorganisme lain selain bakteri penghasil asam laktat sehingga dapat mempengaruhi kadar protein. Budi Daya 22 Ternak Potensial. G. Penerbit PT. Susilorini. Fleet dan M Wooton. 1987. Anggorodi. 2001. No 2. Prinsip Dasar Ilmu Gizi . Kimia Makanan.SCIENTIA VOL. Jakarta. K. Sugianto. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. litbang deptan.2006. Jakarta. Bandung.. Ilmu Makanan Ternak Umum. D. De Man. 51 .

obat herbal terstandar. physetinglucosid). phenolic PENDAHULUAN Pengembangan bahan obat alam meliputi pengembangan budidayanya sehingga menghasilkan simplisia dengan kualitas yang unggul serta pengembangan cara produksi dan bentuk-bentuk sediaan dari obat-obat tradisional. pereda demam. Martinus 2) Fakultas Farmasi Universitas Andalas Padang. Obat-obatan yang terbuat dari bahan alam dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu jamu. etnosecurinina. 1 2010 ISSN : 2087-5045 PENGARUH PERBANDINGAN ETANOL AIR SEBAGAI PELARUT EKSTRAKSI TERHADAP PEROLEHAN KADAR FENOLAT DAN DAYA ANTIOKSIDAN HERBA MENIRAN (Phyllanthus niruri L. lupeol). Keywords : Phyllanthus niruri L. antioxidant. 1 NO. terpen (cymene. menerangkan penglihatan dan penambah nafsu makan (Heyne.05). phenolic content and antioxidant activity in Phyllanthus niruri L. peluruh haid. isoquercitin. peluruh kencing. lignan (phyllanthine. astragalin. phenolic content and antioxidant activity (p<0. nirphylline. Herba meniran mengandung senyawa flavonoid (quarcetin. the best result was obtained by ethanol:water ratio 60:40 as extraction solvent for Pyhllanthus niruri L. Salah satu bahan baku simplisia yang akan dipakai untuk membuat fitofarmaka ini adalah herba meniran (Phyllanthus niruri L. K. Than. peluruh dahak. Badan Pengawasan Obat). quercitrin. 60:40 and 50:50. 1987). Sementara fitofarmaka adalah suatu sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan uji klinik. niruriside).) (Nurkhasana. Among the ethanol:water ratio tested. tanin. 2005). Jamu adalah ramuan tradisional yang belum teruji secara klinis. 80:20. dan fitofarmaka. nirathin. 4-metoxy-norsecurinine. niruri. Herba meniran berkhasiat membersihkan hati. rutine. phyltetralin.SCIENTIA VOL.) 1) Harrizul Riva’I 1). dan mineral terutama kalium (Joshi. 1986. The ethanol:water ratio tested were 100:0. Satyanarayana. N. 1988. herbs to obtain phenolic compound which has antioxidant activity. herbs have been investigated. 52 . bahan baku dan produk jadinya telah distandarisasi. nitretalin. hypophyllanthine. limonene. Results revealed that ethanol:water ratio gave significant effect on extracted material. lintretalin. alkaloid (norsecurinine. damar. N. phyllochrysine). anti radang. 2006. 2) Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Perintis Padang ABSTRAK Effect of ethanol:water ratio as extraction solvent on obtaining of extractive material. sedangkan obat herbal yang terstandar adalah yang sudah lulus uji pra klinis. 70:30.

1-diphenyl-2picrylhydrazyl) 35 µg/mL (Keinanen. etanol p. 1 2010 ISSN : 2087-5045 METODOLOGI PENELITIAN Alat – alat Alat yang digunakan adalah Rotary Evaporator (RVO6-ML kika werke). 80:20. Penentuan Kadar Ekstraktif Larutan Sampel Dari larutan sampel dipipet sebanyak 10 mL.a (Merck). dibersihkan kemudian dikering anginkan sampai kering kemudian diserbuk. 1978. cawan penguap. Blender.1.). sambil sekalisekali diaduk. aduk hingga homogen. 2007) Ditimbang 5.1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) p. Pembuatan Ekstrak Sampel 5 g herba meniran yang telah diserbuk direndam dengan 50 mL etanol-air dengan perbandingan 100:0. corong. pipet mikro. beaker glass. diendaptuangkan. sampai cairan terakhir tidak berwarna. 1 NO. lalu tambahkan metanol sampai tanda batas kemudian dipipet 17.). labu ukur. erlenmeyer. % Ekstraktif = Berat Ekstrak x 100% Sampel diambil di sepanjang jalan Bypass Padang. sampel yang akan dianalisa adalah bagian tumbuhan meniran yang berada di atas tanah (Pyhlanthus niruri L. cairan atas diambil kemudian diuapkan dengan rotary evaporator pada suhu 40 0C dan ditimbang. Natrium Carbonat (Merck). DPPH (1.a (Merck).3 g Na2CO3 dilarutkan dalam aquadest sampai 50 mL. sebelum dianalisa ekstrak dilarutkan dengan campuran etanol dan air suling sama banyak (1:1) dalam labu ukur 50 mL (Harbone. Larutan DPPH (1.a (Merck). Pengambilan sampel selama 24 jam. masukkan dalam cawan penguap yang sudah ditara. aquadest. Semua maserat dikumpulkan. Larutan Natrium Karbonat 1 M (Mosquera. timbangan digital analitik (Denver Instrument Company). 2004). 1996) Ditimbang 10 mg DPPH masukkan dalam labu ukur 100 mL. spatel. 60:40. gelas ukur. b. dalam botol meserasi yang berwarna gelap. Identifikasi Sampel Identifikasi sampel dilakukan di Herbarium Universitas Andalas (ANDA) dengan nomor koleksi FT-001. biarkan Berat Sampel Pembuatan Reagen a. Bahan – bahan Bahan yang digunakan adalah tanaman herba meniran (Pyllanthus niruri L. 70:30. Badan Pengawasan Obat. metanol p. aluminium foil. maserat dipisahkan dan sisanya dimaserasi lagi beberapa kali dengan jenis dan jumlah pelarut yang sama. reagen Fenol folin-Ciocalteu (Merck). spektrofotometer UV-Visible mini 1240 (Shimadzu®). batang pengaduk.5 mL larutan DPPH masukkan dalam labu ukur 50 53 . Hitung kadar ekstraktif sampel. diamkan selama dua hari. Uapkan larutan sampel di water bath. Kertas saring Whatman No.SCIENTIA VOL. asam galat. kemudian keringkan dalam oven pada suhu 105 0C selama 1 jam kemudian setelah dingin ditimbang. 50:50. pipet gondok.

lakukan 3x pengulangan sehingga kadar fenolat yang didapat ekivalen dengan mg asam galat /g berat ekstrak kental herba meniran. diencerkan dengan campuran metanol:aquadest (1:1) dalam labu ukur 50 mL sampai tanda batas sehingga didapatkan konsentrasi 25.125 g asam galat masukkan dalam labu ukur 25 mL. lalu tambahkan metanol sampai tanda batas sehingga diperoleh larutan konsentrasi 35 µg/mL. 2007. Diamkan selama 15 menit. 60. Pipet 0. 2006) a.Pourmorad. Penentuan Panjang Gelombang Serapan Maksimum Asam Galat. a. 1 2010 ISSN : 2087-5045 mL.5. b. ukur serapan dengan spektrofotometer UV-Visibel dan buat kurva kalibrasi sehingga persamaan regresi liniernya dapat dihitung. tambahkan 4 mL larutan natrium 54 . biarkan selama 15 menit. Penentuan Kadar Senyawa Fenolat Dengan Metoda Folin-Ciocalteu (Mosquera. kemudian ukur serapan pada panjang gelombang 400-800 nm dengan spektrofotometer UV-Visebel.SCIENTIA VOL. 2006) a. Larutan asam galat 5 mg/mL (Sigma.5 mL diencerkan dengan etanol:air suling (1:1) dalam labu ukur 25 mL sampai tanda batas.5 mL dan dimasukkan ke dalam vial. Kemudian dipipet 0. 0. Penentuan Kadar Senyawa Fenolat Total Dengan Metoda Folin-Ciocalteu Larutan sampel dipipet 0.25. ukur serapan maksimum pada panjang gelombang maksimum dengan spektorfotometer UV-Visibel yang akan memberikan komplek warna biru.75. 75. 100 dan 125 µ g/mL asam galat. c. Serapan larutan diukur dengan spektrofotometer UV-Visible pada panjang gelombang 400-800 nm. 50.5 mL kemudian dicampur dengan 5 mL pereaksi Folin-Ciocalteu yang sudah diencerkan 1:10 dengan aquadest. Pembuatan Asam Galat Kurva Kalibrasi karbonat 1 M biarkan selama 15 menit. 70. Masing-masing ke dalam vial larutan sampel dengan 50. Pemeriksaan IC50 Larutan Sampel Dibuat konsentrasi 40. Masingmasing konsentrasi larutan dipipet 0. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum DPPH Pipet sebanyak 4 mL larutan DPPH 35 µg/mL. 0. 2005) Ditimbang 0. biarkan selama 30 menit ditempat yang gelap.5 mL ekstrak herba meniran kemudian masukkan kedalam vial.5 mL etanol 96% lalu tambahkan dengan air suling sampai tanda batas. tambahkan 5 mL reagen fenol FolinCiocalteu yang telah diencerkan dalam air suling 1:10 dan tambahkan 4 mL natrium karbonat 1 M. kemudian ditambahkan 5 mL pereaksi Folin-Ciocalteu yang sudah diencerkan 1:10 dengan aquadest dan 4 ml larutan natrium karbonat 1M. 2007. Uji Aktivitas Antioksidan Sampeldengan Metoda DPPH (Mosquera. masukkan dalam vial dan ditambahkan 2 mL campuran air suling dan metanol (1:1). tambahkan 2. Pipet larutan induk asam galat (5 mg/mL) sebanyak 1 ml ke dalam labu ukur 50 mL lalu diencerkan dengan campuran metanol dan air suling (1:1) sampai tanda batas. dipipet sebanyak 2 mL lalu tambahkan 4 mL Dari larutan induk asam galat dipipet 0.25 mL. kocok homogen. Pourmorad. 1 dan 1. 1 NO. 80 mg/mL.

Campuran dihomogenkan dibiarkan selama 30 menit di tempat gelap. (Anova) satu arah. sehingga diperoleh persamaan regresi linier yang telah diperoleh. Kadar Pembanding Asam Galat fenolat total yang diperoleh dari beberapa konsentrasi pelarut ekstraksi Dibuat larutan pembanding etanol diuji dengan Analisa Variasi asam galat dengan konsentrasi 1.02.2%. 0. galat adalah kosentrasi larutan pembanding asam galat yang Lalu buat kurva antara memberikan inhibisi sebesar 50% yang konsentrasi larutan sampel dan % dapat dihitung menggunakan persamaan inhibisi. 2. Data hasil penelitian akan diuji secara statistik menggunakan Analisa b. 1 2010 ISSN : 2087-5045 larutan DPPH 35 µ g/mL.SCIENTIA VOL. tambahkan 4 ml larutan DPPH 35 12. 1. Serapan larutan diukur dengan spektrofotometer UV Visible pada 2. Penentuan IC50 Larutan Variansi (Anova) satu arah. 0.03. 4. 60:40 dan 50:50 adalah 8. 80:20. standar asam galat dengan metoda Hitung % inhibisi masingFolin-Ciocalteu yang diukur masingnya lalu buat kurva antara dengan spektrofotometer UVkonsentrasi larutan pembanding asam Visibel diperoleh serapan galat dan % inhibisi sehingga diperoleh maksimum pada panjang persamaan regresi liniernya. kontrol Keterangan : Abs Kontrol : Serapan larutan radikal DPPH dengan metanol-air (tanpa ekstrak) pada panjang gelombang maksimum. Hasil penentuan panjang gelombang maksimum larutan panjang gelombang maksimun.4% µg/mL. 1 NO. IC50 larutan sampel adalah konsentrasi larutan sampel yang memberikan inhibisi sebesar 50% yang Pengolahan Data Secara Anova satu dapat dihitung menggunakan persamaan arah regresi linier yang telah diperoleh.04 dan 0. kontrol − Abs. Pada perhitungan kadar ekstraktif dari beberapa perbandingan pelarut Pipet sebanyak 2 mL masingmasing dimasukkan ke dalam vial lalu etanol:air 100:0. 3. dibiarkan selama 30 menit di tempat gelap.05 mL larutan induk asam galat (5 mg/mL) yang HASIL DAN PEMBAHASAN kemudian dilarutkan dengan campuran metanol dan air (1:1) dalam labu ukur Hasil 50 mL sampai tanda batas.04%. Campuran dihomogenkan (Lampiran 5 Tabel 1). 70:30. 16.01. 15. dan 5 µg/mL dengan cara memipet 0. Serapan larutan diukur dengan spektrofotometer UV Visible pada panjang gelombang maksimun. 0.01%.54% dan 9. sampel x 100 % Abs. IC50 asam 55 . Hitung % inhibisi dengan menggunakan rumus : % inhibisi = Abs. regresi liniernya. Abs Sampel : Serapan sampel ditambah DPPH dikurangi dengan serapan sampel blanko (sampel+metanol-air) tanpa DPPH pada panjang gelombang maksimum.

Tabel XI. Gambar 17. Metoda ini dipilih karena 56 .635 (Lampiran 7 Gambar 9). 60:40.654.947 µ g/mL (Lampiran 16 Tabel XIV. dan batas kuantisasi 37.65 dan 51. setelah dingin ekstrak yang dianalisa dan dilarutkan dengan campuran etanol dan air suling sama banyak (1:1) dalam labu ukur 50 mL.258 dan 37. Pembahasan Pada penelitian ini sampel yang digunakan adalah tanaman herba meniran. 80:20. 1 NO. Pada pengukuran absorban untuk penentuan kurva kalibrasi asam galat didapat persamaan regresi y = 0. 60:40 dan 50:50 adalah 50. 3. Gambar 16. 5. 55. bagian diambil cairan bagian atas kemudian diuapkan dengan rotary evaporator pada suhu 40 0 C dan ditimbang.1842 µg/mL.82.006384x dengan simpangan baku 0.0238. satu kali 24 jam dengan tiga kali pengulangan. 7. 70:30. Ekstraksi dilakukan dengan mengunakan pelarut etanol 96% karena senyawa fenolat adalah senyawa yang polar dan merupakan pelarut yang relatif tidak toksik.140 mg setara asam galat per gram sampel kering (Lampiran 12 Tabel IX). 50:50.21 mg/mL (Lampiran 17 Tabel XV.733. Penentuan kadar senyawa fenolat total dengan metoda FolinCiocalteu. Selanjutnya daun yang telah kering dihaluskan dengan cara digrinder. 51. 1 2010 ISSN : 2087-5045 gelombang 748 nm dengan serapan 0. Hasil analisa data secara statistik pada penentuan kadar senyawa fenolat total menunjukkan bahwa pemkaian beberapa perbandingan pelarut ekstraksi etanol:air memberikan perbedaan yang signifikan terhadap kadar senyawa fenolat total herba meniran (Lampiran 13. 46.5 nm dengan serapan 0. Tabel X.44.0158+0. 70:30. Tabel XII. Gambar 12). Hasil perhitungan IC50 larutan standar asam galat diperoleh 0. Pada penentuan kadar senyawa fenolat total dari herba meniran dengan perbandingan pelarut etanol:air 100:0. Sebelum diekstraksi tanaman herba meniran ini dikeringkan terlebih dahulu dengan cara kering angin hingga bobot konstan. 42. 43. 4. Semua maserat dikumpulkan. Sampel yang telah kering di rendam dengan pelarut etanol:air dengan berbagai konsentrasi 100:0. batas deteksi 11.2804 µg/mL (Lampiran 8 Tabel VI. sampel ditimbang sebanyak 2 gram dan masukkan ke dalam cawan penguap kemudian dimasukkan kedalam oven suhu 105 °C selama 1 jam.17.828 (Lampiran 15 Gambar 13). 70:30. 53. Lampiran 9 Tabel VII. Gambar 18.SCIENTIA VOL. Hasil perhitungan IC50 pada penentuan daya antioksidan dari larutan ekstrak herba meniran pada konsentrasi pelarut etanol:air 100:0.561. 80:20. Lampiran 10 Tabel VIII). Tabel XIII. Gambar 20). Timbang berat sampel dan dari data penimbangan didapatkan hasil presentase kadar air yang kecil dari 10%. 6. 8. Gambar 14). Gambar 10. Gambar19. Hasil penentuan panjang gelombang maksimum larutan DPPH 35 µg/ml yang diukur dengan spektrofotometer UVVisibel diperoleh serapan maksimum pada panjang gelombang 518. diamkan selama dua hari dan diendaptuangkan. 80:20. Penentuan bobot konstan ditentukan dari kadar air. 60:40 dan 50:50 adalah 38.

peka dan hanya memerlukan sedikit sampel. yang berarti bahwa pada konsentrasi tersebut antioksidan dapat menghambat radikal bebas sebesar 50%. dan 5 µg/mL. Semakin rendah serapan maka semakin tinggi daya antioksidan dari larutan sampel. Pada penentuan kadar senyawa fenolat total ini digunakan asam galat yang panjang gelombangnya didapat adalah 748 nm dengan absorban 0. 70.025x. Hasil IC50 pada tiap-tiap kosentrasi pelarut etanol:air didapatkan 50.654.2807 µg/mL. 75.65 dan 51. 53. maka larutan komplek biru tua inilah yang akan ditentukan nilai absorbannya dengan panjang gelombang yang sesuai sehingga kadar dari larutan sampel dapat diketahui. Sebagai pembanding digunakan larutan asam galat dengan konsentrasi 1. diukur absorban untuk penentuan kurva kalibrasi asam galat pada konsentrasi 25. 50.635. 1 NO. Metoda ini dipilih karena mudah. Reagen Folin-Ciocalteu ini akan membentuk larutan kompleks berwarna biru tua jika direaksikan dengan larutan sampel yang telah ditambahkan dengan natrium karbonat. 43. Setelah didapatkan panjang gelombang maksimum.SCIENTIA VOL. 37. 55.0238. Dari persamaan ini dapat dihitung nilai IC50 asam galat yaitu 0. dan 80 mg/ml. Perubahan inilah yang akan diukur serapannya dengan menggunakan spektrofotometer UV-Visibel.258.17. Daya antioksidan dapat ditentukan dengan menggunakan metoda DPPH. 3. 80:20. 70:30.559 + 11.733. Daya antioksidan dapat ditentukan dari nilai IC50 yaitu konsentrasi senyawa antioksidan yang memberikan inhibisi sebesar 50%. Perbandingan pelarut ekstraksi etanol:air 100:0.44. 50:50 didapatkan kadar senyawa fenolat 38. 51. ini menunjukan bahwa pemakaian beberapa konsentrasi pelarut ekstraksi etanol:air memberikan perbedaan yang signifikan terhadap kadar senyawa fenolat total sampel. 42.21 57 . Dari kadar senyawa fenolat yang didapat maka dilakukan pengolahan data secara statistik dengan menggunakan metoda Anova satu arah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh perbandingan konsentrasi pelarut etanol:air terhadap perolehan kadar senyawa fenolat pada sampel.5 nm dengan absorban 0.0158+0. 2. 50.140 mg/g. 60:40. Untuk pengujian daya antioksidan senyawa fenolat digunakan DPPH dengan konsentrasi 35 µg/mL.561.828. sehingga didapat persamaan regresi y=0. dari absorban yang didapat maka dapat dihitung persen inhibisi DPPH.000. sensitif terhadap senyawa fenol dan menggunakan reagen dalan jumlah yang sedikit serta dapat bereaksi dalam waktu yang singkat. Pada konsentrasi ini diperoleh panjang gelombang maksimum 518. Sesuai dengan prinsip kerja spektrofotometwer UV-Visibel yang mengabsorbsi larutan warna pada panjang gelombang 400-800 nm.82. Senyawa yang mempunyai aktifitas antioksidan akan bereaksi dengan DPPH melalui pemberian elektron dari senyawa antioksidan kepada DPPH yang mempunyai elektron sunyi. sehingga diperoleh persamaan regresi y = 39.006384x dan juga didapatkan simpang baku 0. Dari persamaan regresi ini dapat ditentukan kadar senyawa fenolat dari larutan sampel. 1 2010 ISSN : 2087-5045 merupakan metoda yang spesifik.947 µ g/mL. 100 dan 125 µg/mL. Pada larutan sampel diukur pada konsentrasi 40. Reaksi ini menyebabkan perubahan warna larutan DPPH dari ungu menjadi kuning. 4. 60. Pada pengolahan data secara statistik menggunakan anova satu arah diperoleh nilai significant 0. batas deteksi 11. absorban ini digunakan sebagai kontrol. sehingga elektron tersebut menjadi berpasangan. 46.1842 µ g/mL dan batas kuantitasi 37. cepat.

58 . Kriteria dan Tatalaksana Pendaftaran Obat Tradisional. Jakarta. ITB. K. Tumbuhan Berguna Indonesia. 1987. Gawad. Diterjemahkan oleh K. Hal 86-89. vol 102(5) : 631-634. Monografi Ekstrak Tumbuhan Obat Indonesia. Terbitan kedua. 1 2010 ISSN : 2087-5045 mg/mL.05. 26-27. cetakan ke-1. Analisa data menggunakan metoda anova satu arah menunjukan nilai signifikan P<0. 2006. 614-620. Metoda Fitokimia : Penuntun Cara Menganalisis Tumbuhan. Prosiding Persidangan Antarabangsa Pembangunan Aceh.Soediro. Dilip H. M and R. Food Chem. KESIMPULAN 1. J. 3.Padmawinata dan I. Dapat dilihat bahwa cara pemakaian pelarut dengan berbagai konsentrasi dapat memberikan pengaruh terhadap perolehan kadar senyawa fenolat dan pengukuran aktivitas antioksidan walaupun tidak memberikan perbedaan yang begitu besar.258 mg/g setara asam galat per gram sampel kering. J.O. UKM Bangi. 4. Daya antioksidan yang paling kuat ditunjukkan oleh sampel pada campuran etanol:air 60:40 yang menggunakan ekstraksi dengan cara maserasi dapat dilihat dari nilai IC50 yang diperoleh yaitu 42. 2007. Isolation and Structure (x-ray analysis) of Ent-norsecurinine. Bandung. B.41. Effect of Sampel Preparation Method on Birch (Betula Pendula Roth) Leaft Phenolics. 1978. Kadar senyawa fenolat yang paling tinggi diperoleh pada perbandingan etanol:air 60:40 yaitu 55. Titto. pp.SCIENTIA VOL. Semakin besar kadar senyawa fenolat seamakin tinggi pula aktivitas antioksidan yang dihasilkannya DAFTAR PUSTAKA Departemen Kesehatan. 1 NO.05 yang berarti bahwa pemakaian beberapa perbandingan pelarut ekstraksi etanol:air yang dilakukan memberikan perbedaan yang signifikan terhadap kadar senyawa fenolat sampel. Mem Inst Oswaldo Cruz. Nilai IC50 yang semakin rendah menunjukkan daya antioksidan yang semakin kuat. 1986. Finland. 2004 Harbone. Jakarta Mosquera M.54%. S and William Pelletier. Nurkhasanah. Antioxidant Activity of Twenty five Plants from Colombian Biodiversity. no. Heyne. Diana C Buitrago and Jaime Nino. Badan POM Republik Indonesia. 1996. 44:2724-2727. 49. Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka. Balawants. an alkaloid from Phyllanthus niruri. Rio de Janeiro. 4.65 mg/mL. No : HK. Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia. Keinanen. 2. Vol.1384.00. jilid II. Bahan Obat Alam Sumber Pendapatan Pembangunan.. Kadar ekstraktif yang diperoleh paling tinggi pada perbandingan etanol:air 60:40 yaitu 16. Yayasan Sarana Wana Jaya. Hal 82. J. Journal of Natural Products. Yaned M Correa. Agric. Pada sampel dengan konsentrasi pelarut etanol:air 60:40 memperlihatkan kadar senyawa fenolat yang tinggi dan daya aktivitas antioksidan yang paling kuat dibandingkan dengan konsentrasi yang lain. Joshi.

received November 2. vol. Naturforsch.SCIENTIA VOL. B. Sigma-Aldrich. S..com. Z. a new antioxidant Flavone Sulfonic Acid from Phyllanthus niruri. 2005. Antioxidant Activity. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Pourmorad. R.Shahabimajd.pp. N. F. Fosto. J.. Hardeland. Hosseinimerh and N. Phenol and Flavonoid contents of some selected Iranian medical plants. 1 NO.Sigma –aldrich. Poeggeler. African Journal of Biotechnology. Sigma Prod No F-9252. diakses : tgl 5 Februari 2005 Than N. 1-4 (2006). and H. 59 . 5 (11). 61b. 2006. S. Niruriflavone. Laatsch. 1142-1145. diambil dari http://www. Folin&Ciocalteu’s Phenol Reagent.

lemak dan protein. 3 kombinasi yaitu: sulfonilurea + biguanida + insulin 50%. pada tahun 2006 jumlah penderita diabetes melitus di Indonesia meningkat tajam menjadi 14 juta orang. inhibitor α glukosidase + insulin 4. ACHMAD MOCHTAR BUKITTINGGI 1) Radjudin Dahlan. amin-amin simpatomimetik dan kortikosteroid. Diabetes melitus adalah suatu penyakit kronis yang di karakterisasikan oleh kelainan metabolisme karbohidrat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mempelajari jenis antidiabetika oral dan insulin yang digunakan dalam terapi kombinasi di rumah sakit. Menurut WHO Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah penderita diabetes melitus di dunia. descriptive-retrospective study. dan mulai menonjol sebagai salah satu sebab morbiditas dan mortalitas di negara yang sedang berkembang. type 2 diabetes mellitus. 1 NO. sedangkan pada penderita diabetes 60 . Penelitian dilakukan secara retrospektif dengan menggunakan data rekam medik selama tahun 2006 dan 2007. seperti di Indonesia.SCIENTIA VOL. Keywords : Drug utilization study. Achmad Mochtar Bukittinggi. Namun. Di sebabkan oleh defisiensi absolute atau relative dalam kerja insulin dan mungkin jumlah yang tinggi secara tidak normal dari glukagon “counter regulatory hormones” lain.16%. Pada tahun 2000 yang lalu saja. antidiabetic oral with insulin combination.16%. Hal ini mungkin disebabkan minimnya informasi di masyarakat tentang diabetes melitus terutama gejala-gejalanya. Sekresi insulin pada pasien penderita diabetes melitus tipe 1 adalah kurang dan sampai tidak ada sama sekali. sulfonilurea + inhibitor α glukosidase + insulin 4. seperti hormon pertumbuhan. 1). dimana baru 50% yang sadar mengidapnya dan di antara mereka baru sekitar 30% yang datang berobat teratur.34%. Telah dilakukan penelitian tentang profil penggunaan kombinasi antidiabetika oral dengan insulin pada penderita diabetes melitus tipe 2 di SMF penyakit dalam RSUD Dr. 2)Fakultas Farmasi Universitas Andalas Padang ABSTRAK Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang disebabkan antara lain oleh defisiensi insulin yang dapat menimbulkan berbagai komplikasi sehingga memerlukan manajemen terapi yang intensif. biguanida + insulin 8. Hansen Nasif 2) Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Perintis Padang. PENDAHULUAN Tingkat prevalensi diabetes melitus cukup tinggi.6 juta penduduk Indonesia yang mengidap diabetes melitus. terdapat sekitar 5.34%. Hasil penelitian menunjukkan dari 24 rekam medik pasien terdapat penggunaan 2 kombinasi yaitu: sulfonilurea + insulin 33. 1 2010 ISSN : 2087-5045 PROFIL PENGGUNAAN KOMBINASI ANTI DIABETIKA ORAL DENGAN INSULIN PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 DI SMF PENYAKIT DALAM RSUD Dr.

Prevalensi diabetes melitus naik bersama bertambahnya umur. Depkes RI 2006). Lingkungan dan faktor sosial ekonomi masyarakat sangat berpengaruh terhadap penyakit ini.SCIENTIA VOL. selama tahun 2006 dan 2007. Pada penderita diabetes melitus glukosa sulit masuk ke dalam sel karena insulin yang ada di dalam tubuh sedikit atau tidak ada sama sekali. Achmad Mochtar Bukittinggi. sedangkan kekurangan insulin relatif terjadi jika produksi insulin tidak sesuai dengan kebutuhannya.(Tandra. 1987) Umur merupakan salah satu factor yang sangat penting dalam pengaruhnya terhadap prevalensi diabetes melitus.(ISFI. Kekurangan insulin absolut terjadi jika pankreas tidak berfungsi lagi untuk mensekresi insulin. Tanpa pengobatan yang baik diabetes melitus akan menyerang banyak organ penting dalam tubuh. tinggi atau rendah. 2008. 1 2010 ISSN : 2087-5045 melitus tipe 2 sekresi insulin dapat saja normal. Insulin memasukkan gula ke dalam sel sehingga bisa menghasilkan energi atau disimpan sebagai cadangan energi. Achmad Mochtar Bukittinggi Prosedur Kerja 1. Menghitung persentase penggunaan obat. Pengambilan Sampel Sampel penelitian dikumpulkan dari data rekam medik pasien diabetes melitus tipe 2 yang dirawat di SMF penyakit dalam RSUD Dr. Rekam medik pasien Jenis Penelitian Penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif retrospektif Sumber Data Sumber data adalah diperoleh dari rekam medik pasien pengguna kombinasi antidiabetika oral dengan insulin pada penderita diabetes melitus tipe 2 di SMF penyakit dalam RSUD Dr. Analisa Data Data diperoleh dan dicatat kemudian dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus: P= S x 100 % N 61 . Mencatat identitas pasien dan obat yang digunakan. akibatnya kadar glukosa dalam darah menjadi tinggi. 3. 1 NO. maka kadar glukosa darah akan naik 1-2 % per tahun pada saat puasa. Pengambilan data dari rekam medik pasien yang menggunakan kombinasi antidiabetika oral dengan insulin. dan akan naik sekitar 5.(Sulaiman. 2008) METODOLOGI PENELITIAN Alat dan Bahan Alat tulis. Menurut WHO setelah seseorang mencapai umur 30 tahun. Penyakit ini tidak menular tapi menahun. 1991) Insulin adalah hormon yang dihasilkan oleh pankreas yang bertanggung jawab dalam merpertahankan kadar gula darah yang normal.(Mutschler. bahkan bisa berakibat fatal. Penyakit ini berhubungan dengan suatu keadaan kekurangan insulin absolut atau relatif.6-13 % pada 2 jam setelah makan. 2.

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Setelah dilakukan penelitian didapatkan hasil sebanyak 24 data. Golongan biguanida yang diberikan tunggal atau kombinasi dengan sulfonilurea dapat memperbaiki kontrol glikemia dan konsentrasi lipid pada pasien yang merespon kurang baik terhadap diet atau sulfonilurea saja. Hasil pada pasien diabetes melitus tipe 2 menunjukkan perbaikan kontrol metabolisme. Sulfonilurea digunakan untuk mengendalikan hiperglikemia pada pasien diabetes melitus tipe 2 yang tidak dapat mencapai kontrol yang sesuai pada perubahan pola diet saja.34% b. S = Jumlah pasien pemakai kombinasi antidiabetika oral dengan insulin. Golongan biguanida + insulin = 8. Sulfonilurea juga dapat meningkatkan kadar insulin dengan cara mengurangi bersihan hormon dihati. Terapi kombinasi antidiabetika oral dengan insulin diberikan pada pasien diabetes melitus tipe 2 yang gagal mendapatkan efek terapi maksimum pada terapi oral.16% Pembahasan Penggunaan obat kombinasi ini bertujuan untuk pencapaian efek obat yang sinergis dan lebih optimal dalam mengontrol kadar gula darah serta dapat menurunkan efek samping obat yang tidak diinginkan. Golongan sulfonilurea + inhibitor α glukosidase + insulin = 4. Biguanida tidak menyebabkan peningkatan berat badan. karena tidak merangsang atau menghambat perubahan glukosa menjadi lemak. Persentase penggunaan kombinasi antidiabetika oral dengan insulin pada penderita diabetes melitus tipe 2: pankreas. 1. Golongan biguanida yang dikombinasikan dengan insulin juga bermanfaat pada terapi resistensi insulin. Sulfonilurea yang diberikan pada pasien diabetes melitus tipe 2 dapat meningkatkan sekresi insulin dari 62 .SCIENTIA VOL. Golongan inhibitor α glukosidase + insulin = 4. 1 NO.34% c. Golongan sulfonilurea + biguanida + insulin = 50% b. Kombinasi insulin dan sulfonilurea telah digunakan pada pasien diabetes melitus tipe 2. Kombinasi 2 obat a. N = jumlah sampel keseluruhan. Golongan sulfonilurea + insulin = 33. Pencapaian efek manfaat terapi kombinasi adalah aktivitas residual sel beta. dan durasi singkat diabetes melitus diperkirakan akan memberikan respon yang baik. Penelitian pada pasien diabetes melitus tipe 1 tidak memberikan bukti apapun bahwa kontrol glukosa diperbaiki oleh terapi kombinasi. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Keterangan: P = Persentase penggunaan kombinasi antidiabetika oral dengan insulin. Kombinasi 3 obat a. Metformin merupakan satu-satunya senyawa terapeutik golongan biguanida yang terbukti menurunkan kejadian makrovaskular pada pasien diabetes melitus tipe 2. Pada penderita diabetes melitus yang gemuk ternyata pemberian biguanida dapat menurunkan berat badan dan oleh terapi apapun (insulin atau senyawa oral) dapat menyebabkan berkurangnya komplikasi mikrovaskular. namun semua pasien sangat penting untuk melanjutkan diet yang ketat untuk memaksimalkan khasiat sulfonilurea ini.16% 2.

efek samping dari penggunaan kombinasi ini adalah gangguan perut seperti mual. Suntikan insulin dibutuhkan karena insulin yang dihasilkan oleh pankreas belum dapat mengendalikan kadar glukosa darah. Senyawa ini dapat dipertimbangkan sebagai terapi tunggal untuk pasien lanjut usia atau terutama pasien hiperglikemia setelah makan. Pemakaian kombinasi ini memang efektif melihat cara kerja obat yang sinergis. Kombinasi 2 obat golongan biguanida + insulin yaitu 63 . Namun. disamping itu sulfonilurea juga dapat meningkatkan berat badan dan resiko komplikasi juga dapat meningkat. Selain itu. kadang juga bisa timbul hipoglikemia. inhibitor α glukosidase juga dikombinasikan dengan senyawa antidiabetes oral lainnya dan atau insulin. Sulfonilurea akan mengawali dengan merangsang sekresi pankreas yang memberikan kesempatan untuk senyawa biguanida bekerja aktif. Kombinasi sulfonilurea dan insulin dapat menurunkan glukosa darah. Sulfonilurea bekerja merangsang sekresi insulin pada pankreas. Terapi kombinasi yang umum adalah antara golongan sulfonilurea dengan biguanida. Kesalahan ini disebabkan karena tidak ada atau kurangnya komunikasi anatara farmasis dengan dokter. apabila dikombinasikan dengan insulin tentu akan memperparah keadaan. Kombinasi 3 obat ini digunakan karena bekerja saling menguntungkan.34%. Akarbose dan miglitol termasuk golongan inhibitor α glukosidase. karena obat ini bekerja mencegah pemecahan sukrosa dan karbohidrat kompleks pada usus halus sehingga memperpanjang waktu absorbsi karbohidrat. sehingga tidak menyebabkan hipoglikemia. sehingga kombinasi keduanya mempunyai efek yang saling menunjang. Kedua golongan obat ini memiliki efek terhadap sensitivitas reseptor insulin. Penggunaan kombinasi ini kurang efektif melihat efek samping yang ditimbulkan sulfonylurea yaitu hipoglikemia. Bila insulin dapat menaikkan berat badan. Sebagian besar penderita diabetes melitus yang gagal diobati dengan sulfonilurea dapat ditolong dengan biguanida. Namun.SCIENTIA VOL. metformin bahkan kadang dapat menurunkannya. sehingga obat ini dapat diberikan dalam kombinasi dengan insulin atau sulfonilurea. pada pasien dengan hiperglikemia ringan hingga sedang. potensi penurunan glukosa oleh inhibior α glukosidase adalah sekitar 30%-50% diantara senyawa antidiabetes oral lainnya. Metformin dari golonga biguanida juga tidak menaikkan berat badan. Sebagian besar dikombinasikan lagi dengan insulin untuk pencapaian efek maksimum. Kemudian kombinasi 2 obat. yaitu sulfonilurea + insulin sebanyak 33. Efek kombinasi ini bisa memperbaiki dan menambah kerja insulin. 1 NO. biguanida menurunkan produksi glukosa di hati dan membantu hati sehingga lebih sensitif terhadap insulin dan insulin dapat bekerja dengan baik. Kombinasi kedua golongan ini efektif pada banyak penderita diabetes melitus yang sebelumnya tidak bermanfaat bila dipakai sebagai terapi tunggal. Inhibitor α gukosidase dapat memiliki efek yang besar terhadap kadar haemoglobin. Inhibitor α glukosidase tidak menstimulasi pelepasan insulin. diare. pada pasien diabetes melitus tipe 2 hiperglikemia yang parah. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Penyerapan biguanida di usus sangat baik. kedua senyawa ini menurunkan kadar glukosa darah setelah makan. Dari hasil penelitian ditemukan penggunaan kombinasi paling banyak adalah: kombinasi 3 obat yaitu golongan sulfonilurea + biguanida + insulin sebanyak 50%.

SCIENTIA VOL. Insulin juga menjadi pilihan pada diabetes melitus tipe 2 apabila kadar glukosa darah seseorang pada diagnosa pertama kali di atas 300 mg/dl. Sulfonilurea dapat menaikkan berat badan sedangkan metformin tidak menaikkan berat badan. Keamanan obat diabetes melitus biasannya terkait dengan efek samping yang ditimbulkan. metformin bisa menurunkan berat badan. oleh karena itu metformin efektif pada pasien gemuk maupun kurus. seperti mual. Namun perlu diwasapadai efek samping yang lebih serius yang akut adalah hipoglikemia terutama oleh insulin. sulfonilurea. meglitinida. Adapun mekanisme kerja obat ini ada 4 yaitu: menstimulasi glikolisis pada jaringan secara langsung dengan meningkatkan pengangkutan glukosa dari darah. diare.34%. Kombinasi ini efektif untuk mengontrol kadar glukosa darah karena mekanisme kerja obat yang saling menunjang. Penggunaan kombinasi paling banyak adalah kombinasi 3 obat yaitu golongan sulfonilurea + biguanida + insulin sebanyak 50%. untuk pasien diabetes mellitus tipe 1 insulin merupakan pilihan utama. Pada penatalaksanaan penyakit ini diperlukan peran farmasis atau apoteker sebagai ahli obat. 1 NO. Metformin sering diberikan pada pasien obesitas dimana hiperglikemia di sebabkan oleh kerja insulin yang tidak efektif atau resistensi insulin. menurunkan glukoneogenesis di hati sehingga kebutuhan insulin untuk mengangkut glukosa dari darah masuk ke sel berkurang dan glukosa darah menjadi turun. 1 2010 ISSN : 2087-5045 8. Alasan penggunaan metformin disini adalah karena metformin merupakan suatu agen hemat insulin (insulin-sparing) dan tidak menaikkan berat badan atau menyebabkan hipoglikemia. memperlambat absorbsi glukosa dari saluran cerna dengan cara meningkatkan konversi glukosa menjadi laktat oleh entrocytes. Kombinasi ini juga bisa mengurangi dosis pemakaian insulin. muntah. maka metformin mempunyai keuntungan yang melebihi sulfonilurea untuk mengobati hiperglikemia. tapi dipilih tiazolidinedion. Bila insulin dapat menaikkan berat badan. iritasi lambung yang bersifat ringan. 64 . maka insulin sebagai pilihan. Untuk gangguan ginjal. apalagi jika sudah terjadi resistensi insulin dan terapi dengan antidiabetika oral saja belum dapat mengontrol kadar glukosa darah. akarbosa dan insulin. dan agar penatalaksanaan penyakit ini berhasil dibutuhkan kerjasama yang erat dan terpadu dari penderita dan keluarga dengan para tenaga kesehatan. untuk obesitas dipilih metformin dan akarbosa. meglitinida dan insulin. dan meningkatkan sensitivitas insulin. tidak dipilih metformin dan sulfonilurea. infark miokard dan patah tulang terutama pada manula akibat golongan tiazolidinedion. Disamping itu. KESIMPULAN 1. jadi berat badan sangat penting untuk diperhatikan dan merupakan salah satu factor yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan obat. untuk gangguan hepar dipilih meglitinida. Efek lain yang serius adalah pada gagal jantung. metformin membantu hati sehingga lebih sensitif terhadap insulin dan insulin bisa bekerja dengan lebih baik. sehingga kombinasi ini lebih menguntungkan terutama bagi pasien gemuk. sedangkan untuk diabetes melitus tipe 2 pilihan utama nya adalah metformin atau kombinasi dengan insulin.

Penerbit ITB. 2008. 1 2010 ISSN : 2087-5045 2. PT. Bandung. Direktorat jendral bina kefarmasian dan alat kesehatan. Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Diabetes Mellitus. E. Jakarta. ISFI. Jakarta.B Widianto dan A. Tranformasi Ilmu dan Teknologi Dalam Praktek Kefarmasian. Hans. Yogyakarta. Sulaiman. Ed 2. A. 1991. 2006 ISFI. DAFTAR PUSTAKA Departemen kesehatan RI. Balai Penerbit FKUI. 65 . Jakarta.SCIENTIA VOL. Mutschler. Dinamika Obat. Metformin bukan menjadi pilihan utama pada pasien diabetes melitus tipe 2. Terjemahan M. 2008. 2008. Kongres Ilmiah XVI. 1987. Segala Sesuatu Yang Harus Anda Ketahui Tentang Diabetes. Tandra.S Ranti. Jilid I. Ilmu Penyakit Dalam. seharusnya metformin merupakan pilihan utama pada diabetes melitus tipe 2. Ed 5. 1 NO. Gramedia pustaka utama.

terutama zat-zat gizi yang berkaitan dengan proses penyerapan dan utilitasi besi.9% (Kodyat dkk. dimana haem adalah yang memberi warna merah pada darah dan 66 . Konsekwensi logis dari tingginya masalah anemia gizi besi adalah penurunan kualitas sumber daya manusia Indonesia (DepkesRI. dan lainnya (Morgan. iron. 1998). yang disebut sebagai anemia gizi besi (Solon. PEMBAHASAN 1. wanita 12 gr/100 ml serta wanita hamil 11 gr/100 ml. sedangkan pada wanita hamil 50. Hemoglobin Hemoglobin adalah struktur darah yang terdiri dari Haem dan Globin. 2004). Anemia gizi besi dapat menyebabkan seseorang mudahterserang infeksi. vitamin A and vitamin C influence Hemoglobyn level. 1995). vitamin C) PENDAHULUAN Masalah gizi utama di Indonesia yaitu Kurang Kalori Protein (KKP). Kurang Vitamin A (KVA). vitamin B12. anak umur 10 -14 tahun 51. vitamin C. 1 2010 ISSN : 2087-5045 PENGARUH ASUPAN PROTEIN DAN MIKRONUTRIEN (Zat Besi Vitamin C dan Vitamin A) TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN Erina Masri ( Staf Pengajar Prodi Gizi STIKes Perintis Padang ) ABSTRACT Decrease of hemoglobyn level cause anemia.5%. 2003). Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa pemberian suplementasi besi yang dikombinasikan unsur vitamin dapat meningkatkan bioavailabilitas besi dan lebih efektif meningkatkan kadar hemoglobin dibandingkan dengan hanya suplementasi besi saja (Bloem. seng . Protein and vitamin C verry important for iron metabolism. Beberapa zat gizi tersebut antara lain asam folat. Di Indonesia prevalensi Anemia Gizi Besi (AGB) menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Tahun 1995 masih tinggi.vitamin A. Anemia gizi besi ditandai dengan menurunya kadar hemoglobin dibawah normal. MW 1998). anak usia sekolah47. vitamin A. Dalam rangka penanggulangan anemia gizi besi beberapa zat gizi lain penting untuk dipertimbangkan. yaitu pada anak Balita sebesar 40.5%. dan bila terjadi pada anak sekolah akan mengurangi kapasitas dan kemampuan belajar. yang disebabkan karena kekurangan zat besi. gondok endemik dan kretin serta anemia gizi. micronutrient (iron. Sekitar 90% penyebab anemia adalah akibat kekurangan besi. Protein.2%. Secara umum tingginya prevalensi anemia gizi besi antara lain disebabkan oleh beberapa faktor yaitu: kehilangan darah secara kronis. 6-14 tahun 12gr/100 ml. protein. Vitamin A prevent infection that inhibition transferrin syntecis as transporter of iron. Berdasarkan klasifikasi batas normal kadar Hb. dan untuk usia dewasa laki-laki 14 gr/100 ml. Anemia gizi merupakan masalah gizi yang paling utama di Indonesia.SCIENTIA VOL. 1999). et al. asupan zat besi tidak cukup. 1 NO. menurunnya kemampuan kognitif. Key word: Hemoglobyn. kelompok anak usia 6 bulan -6 tahun 11gr /100 ml. Iron is urgent component for syntesis hemoglobyn. penyerapan yang tidak adekuat dan peningkatan kebutuhan akan zat besi (Arisman.

2005).SCIENTIA VOL. Keadaan ini merupakan tahap lanjut dari defisiensi besi dan muncul setelah kekurangan besi yang berlangsung lama. Tahap ini ditandai dengan pengurangan jumlah cadangan besi dalam hati.Batas Normal Kadar Hemoglobin Umur 6 bulan-6 tahun 6 -14 tahun Dewasa Laki-laki Wanita Wanita hamil Sumber: Depkes Ri. Batas normal kadar hemoglobin menurut kelompok umur dan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 1. Anemia dapat juga berarti suatu kondisi ketika terdapat defisiensi ukuran / jumlah eritrosit atau kandungan hemoglobin (Wirakusumah. yang terakumulasi dalam sel darah merah ketika suplai besi tidak cukup untuk sintesis hem. Tabel 1. tetapi cadangan besi hilang yang ditandai dengan turunnya konsentrasi serum ferritin. Menurut Gibson (2005) ada tiga tingkatan di dalam defisiensibesi. Anemia Gizi Besi Anemia adalah suatu keadaan kadar Hemoglobin (Hb) yang lebih rendah dari keadaan normal. Pada orang yang normal.. 1 2010 ISSN : 2087-5045 globin adalah protein darah. tetapi pada umumnya masih tetap dalam keadaan normal selama erythropoeisis berlangsung. Erytrosit protoporpyrin merupakan prekusor dari hem. hal ini berhubungan dengan kadar oksigen di udara. 2) Besi Defisiensi Erytropoiesis (Iron deficient erythropoiesis) Tahap kedua ini ditandai dengan habisnya seluruh cadangan sebagai hasilnya besi plasma yang mensuplai proses erytropoiesis menurun drastis dan terjadinya peningkatan transferin saturasi. 2. yaitu: 1) Hilangnya Besi (Iron depletion). Gejala klinis dari tahap ini adalah perbandingan antara hematokrit dan sel darah merah dengan Mean Cell Volume (MCV) kurang dari 80 fL. 1999). 3)Besi Defisiensi Anemia (Iron deficiency anemia) Tahap ketiga atau tahap akhir dari defisiensi besi adalah menurunnya sirkulasi besi yang ditandai dengan turunnya kadar hemoglobin dalam sel darah merah. Angka normal ini akan menurun pada usia diatas 50 tahun Anemia Gizi Besi. Kadar normal hemoglobin dalam darah akan bervariasi tergantung pada usia seseorang dan juga jenis kelamin. Kadar hemoglobin ini akan menurun setelah bayi berumur 2 bulan yaitu sekitar 9-14 gr/dl. disebut sebagai anemia mikrositik hypokronik (Gibson. Selain kedua faktor tersebut ketinggian suatu tempat juga berpengaruh terhadap kadar hemoglobin serta dipengaruhi juga oleh faktor makanan. Faktor utama penyebab anemia gizi besi adalah 67 .1999 Kelompok Anak Hemoglobin 11 gr/ 100 ml 12 gr/ 100 ml 14 gr/ 100 ml 12 gr/ 100 ml 11 gr/ 100 ml Anemia gizi besi ditandai dengan ukuran eritrosit yang kecil serta kadar hemoglobin yang rendah. Pada bayi yang baru lahir kadar hemoglobinnya tinggi diatas orang dewasa yaitu 17 – 23 gr/dl. konsentrasi hemoglobin pada orang yang tinggal di daerah yang tinggi akan lebih tinggi kadar hemoglobinnya dari pada orang yang tinggal didaerah rendah. Kadar hemoglobin menurun sedikit. Pada tahap ini tingkat transport besi dan hemoglobinnormal. 1 NO. sebaliknya terjadi peningkatan konsentrasi erytrosit protoporpyrin. Pada usia 10 tahun kadar normalnya sekitar 12-14 gr/dl untuk wanita sedangkan laki-laki 14-18 gr/dl.

mioglobin. dan besi berasal dari transferin. Selain itu. 1 NO. Begitu juga remaja wanita yang sudah mengalami haid dimana saat itu cukup banyak mengeluarkan darah. sehingga terjadi sel eritrosit berukuran besar (abnormal) masuk dalam sirkulasi darah disebut anemia makrositosis (MCV <100fL) (Gibson. Gangguan pengikatan besi 68 . 1999 . diawali terbentuk dua pasang kromosom oleh DNA. Proses pembentukan sel darah merah diawali dengan pembentukan deoxyribonucleic acid (DNA) dalam inti sel dan berikutnya proses pembentukan hemoglobin dalam plasma eritrosit. Bila pembentukan DNA terhambat akan berakibat mitosis tidak terjadi meskipun pembentukan hemoglobin dalam plasma telah cukup. Pembentukan DNA memerlukan katalisator vitamin B12 dan asam folat. TBC. disisi lain proses pembentukkan hemoglobin dalam sitoplasma sel berjalan terus. dan besi. terutama pada bayi. 2001). Upaya pencegahan dan penanggulangan anemia pada dasarnya adalah mengatasi penyebabnya. Globin dibentuk di sekitar ribosom. Hal ini juga berpengaruh pada tidak terpenuhinya kebutuhan tubuh akan besi (Wirakusumah. 1999). kehilangan akibat dari perdarahan misalnya karena kecelakaan dan operasi. globin. Inti sel sebelum mitosis. yaitu antara lain penyakit TBC. Kekurangan vitamin B12 dan asam folat berakibat berkurangnya mitosis sel. Hal ini terutama dapat terjadi pada orang yang mengkonsumsi makanan kurang beragam. Pada permukaan sel darah merah berinti terdapat reseptor transferin. Pembentukan Sel Darah Merah Pembentukan sel darah merah berasal dari eritroblast di sumsum tulang. Keadaan infeksi terutama pada penyakit kronis (penyakit malaria. 4) Vitamin C sebagai antioksidan dan untuk mengoptimalkan absorpsi besi (Parakkasi. dan faktor genetik (penyakit talasemia) juga sangat mempengaruhi rendahnya kadar hemoglobin di dalam darah (Wirakusumah. 2005). Penundaan terjadi sampai jumlah DNA yang diperlukan tercapai. 1 2010 ISSN : 2087-5045 kurangnya konsumsi besi makanan. Hemoglobin terdiri dari protoporfirin. Pada anemia berat (kadarHb < 8 gr %) biasanya pada penyakit yang melatarbelakangi. berarti jumlah besi yang hilang dari tubuh juga cukup besar. dan remaja yang membutuhkan besi dalam jumlah relatif lebih besar karena pertumbuhan yang pesat pada bayi dan anak-anak. infeksi cacing atau malaria sehingga selain penanggulangan pada anemianya. WHO. 3) Vitamin B12 untuk daur ulang koenzim folat dan. harus dilakukan pengobatan terhadap penyakit-penyakit tersebut.dll). 1992). infeksi parasit (kecacingan). atau rendahnya tingkat absorpsi besi dan adanya penghambat sehingga tidak dapat diserap secara optimal sehingga tidak memenuhi kebutuhan tubuh. 2) Asam folat untuk metabolisme purin / pirimidin.SCIENTIA VOL. produksi sel darah merah diperlukan 1) Besi untukmetabolisme hemoglobin. protoporfirin dibentuk di sekitar mitokondria. 3. dan sitokrom. Kebutuhan meningkat akibat pertumbuhan. pola konsumsi serta keadaan ekonomi juga berdampak pada ketidakmampuan keluarga menyediakan makanan sumber besi. anak-anak.

Peran Zat Besi terhadap Peningkatan Kadar Hemoglobin 3. asam folat. dan senyawa-senyawa mitokondria yang mengandung besi lainnya. sedangkan sisanya disimpan disebut besi nonessensial (Wardhini S dan Dewoto H R. Kurang lebih 4% besi di dalam tubuh berada sebagai mioglobin dan senyawa-senyawa besi sebagai enzim oksidatifseperti sitokrom dan flavoprotein. 2000 ) yaitu Tipe bioavailabilitas rendah (besi dari bahan makanan pokok beras. Tipe bioavailabilitas menengah (beras dan jagung dengan sejumlah daging dan vitamin C dengan penyerapannya antara 5-15%). kurang mengandung unsur daging. Pembentukan sel darah merah baru akan terganggu apabila zat gizi yang diperlukan tidak mencukupi. adapun pada bayi baru lahir lebih kurang 250 mg dari jumlah tersebut (60-70%) dinamakan besi fungsional. Mioglobin ikut dalam transportasi oksigen menerobos sel-sel membran masuk ke dalam sel-sel otot. Kecukupan besi ditentukan berdasarkan bioavailabilitas besi dari golongan makanan (Kartono J dan Soekatri M. Padahal umur sel darah merah hanya 120 hari dan jumlah sel darah merah. sehingga dapat terhindar kemungkinan anemia kekurangan besi. 2004). 2001). dan peroksidase. untuk dieksresikan ke dalam udara pernafasan. terutama zat-zat gizi penting seperti besi. Peristiwa ini terjadi saat kadar besi dalam darah rendah dan rendahnya transferin dalam darah. ikan dan vitamin C dengan penyerapan besi tipe ini kurang dari 5%).5 g besi yang hampir seluruhnya dalam bentuk ikatan kompleks dengan protein. Ditinjau dari bioavailabilitas besi dari makanan dapat dibagi 3 tipe ( MacPhail. flavoprotein. sitokrom. Besi berperan dalam sintesis hemoglobin dalam sel darah merah dan mioglobin dalam sel otot. dan komponen lain pada sistem enzim pernafasan seperti sitokrom oksidase. Besi juga merupakan mikronutrien essensil dalam memproduksi hemoglobin yang berfungsi mengantar oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh. Sel darah merah berinti maupun retikulosit hanya memiliki reseptor transferin bukan reseptor besi. sehingga anemia gizi besi akan menyebabkan terbentuknya sel darah merah yang lebih kecil dan kandungan hemoglobin yang rendah. 1 2010 ISSN : 2087-5045 untuk membentuk hemoglobin berakibat terbentuknya eritrosit dengan sitoplasma yang kecil (mikrositer) dan kurang mengandung hemoglobin (hipokromasia). memegang peranan penting dalam proses oksidasi menghasilkan Adenosin TriPhosphat (ATP) yang merupakan molekul berenergi tinggi.SCIENTIA VOL. 1994). Terganggunya pembentukan sel darah merah bisa disebabkan makanan yang dikonsumsi kurang mengandung zat gizi. 4. katalase. protein. jagung atau umbi-umbian. Sitokrom. karena berefek pada fungsi tubuh. 1 NO. vitamin B12. Kecukupan besi yang direkomendasikan adalah jumlah minimum besi yang berasal dari makanan yang dapat menyediakan cukup besi untuk setiap individu yang sehat pada 95% populasi. Walaupun jumlahnya sangat kecil namun mempunyai peranan yang sangat penting.Sehingga apabila tubuh mengalami anemia gizi besi maka terjadi penurunan kemampuan bekerja (WHO. Tubuh manusia sehat mengandung 69 . Besi elemental adalah besi yang dapat terikat oleh transferin untuk membentuk 1 ml packed red cells diperlukan 1 mg besielemental (Reksodiputro. di dalam darah harus selalu dipertahankan cukup banyak. 1999). Tipe Besi dibutuhkan untuk produksi hemoglobin. 1995). vitamin C dan zat gizi penting lainnya (Wirakusumah.

Ion besi diangkut dalam plasma darah oleh transferin dan disimpan dalam hati sebagai kompleks dengan ferritin (Winarno. Vitamin A juga berperan dalam pembentukan sel darah merah. 2002). walaupun tidak semua. Pemberian suplemen vitamin A 110 mg pada anak yang kekurangan vitamin A (retinol < 0. Sintesis kedua protein ini tertekan bila ada infeksi. dibandingkan dengan yang hanya diberikan suplemen besi Vitamin A adalah zat gizi esensial yang larut dalam lemak dan dibutuhkan untuk kelangsungan berbagai fungsi tubuh yang penting. Interelasi Protein dengan Kadar Hemoglobin Protein memegang peranan esensial dalam mengangkut zat-zat gizi dari saluran cerna melalui dinding saluran cerna ke dalam darah. Namun protein yang berasal dari susu sapi. Protein sebagai alat angkut dan penyimpanan terhadap hemoglobin yaitu mengangkut oksigen dalam eritrosit sedangkan mioglobin mengangkut oksigen dalam otot. Beberapa penelitian membuktikan bahwa vitamin A mempunyai peranan yang penting dalam meningkatkan kadar hemoglobin. Faktor yang menyebabkan kenaikan penyerapan besi lebih dikenal sebagai MFP (meat. akan terjadi penurunan derajat infeksi. hati. (Almatsier. Apabila asupan vitamin A diberikan dalam jumlah cukup. Dengan menghilangnya infeksi. 2003). kemungkinan melalui interaksi dengan besi. Protein seluler yang berasal dari daging sapi. kambing. 1 NO. atau dapat mengangkut beberapa jenis zat gizi seperti besi sebagai transferin (Almatsier. dan melalui membran sel ke dalam sel-sel. 5. Kondisi ini memungkinkan besi retinol yang semula terjebak di tempat penyimpanan dapat dimobilisasi kembali. poultry) factor (Wirakusumah. 2003).60 ĩmol/L) dapat meningkatkan hemoglobin dan transferrin saturasi (Bloem. keju dan telur tidak dapat meningkatkan penyerapan besi nonhem. Interelasi Vitamin Hemoglobin A dengan seluler yang berdampak pada perkembangan epitel yang mensekresi mukosa atau pada sistem kekebalan tubuh (Almatsier. dari darah ke jaringan-jaringan. Sebagai alat angkut. domba. Retinol tampaknya berpengaruh terhadap pertumbuhan dan diferensiasi 70 . 1999). Dengan demikian jelas bahwa status vitamin A yang tidak adekuat akan berdampak pada metabolisme besi dan eritropoeisis yang gilirannya akan menurunkan kadar hemoglobin. Terutama protein hewani. 1993). protein ini dapat bertindak secara khusus. sama-sama diangkut oleh negative phase protein. yaitu Retinol Binding Protein (RBP) dan transferin. 2003). Suplementasi besi yang dikombinasi dengan vitamin A selama 2 bulan pada anak-anak yang menderita anemia mempunyaipengaruh yang lebih besar pada peningkatan kadar hemoglobin dan transferin saturasi. Retinol dan besi. 6. juga dapat mendorong penyerapan besi nonhem. maka dengan kemampuan vitamin A melawan infeksi. dan ayam menunjang penyerapan besi nonhem. 1 2010 ISSN : 2087-5045 bioavailabilitas tinggi (makanan yang banyak mengandung daging dan vitamin C dengan penyerapan besi lebih dari 15%). 1990). misalnya protein pengikat retinol yang hanya mengangkut vitamin A. besi yang semula ditahan makrofag akan dilepas kembali ke sirkulasi dan diangkut transferin untuk kepentingan eritropoeisis (Turnham. fish.SCIENTIA VOL. Akibatnya sintesis retinol binding protein dan transferin kembali normal.

000 IU pada anak yang menderita xerossis conjuctival setelah dua minggu ternyata dapat meningkatkan hemoglobin. 1988). Dalam reaksi tersebut vitamin C mempunyai 2 (dua) peranan : (1) sebagai sumber elektron untuk mereduksi oksigen. terutama mempercepat penyerapan besi usus dan pemindahannya ke dalam darah. 4. Dalam keadaan kering vitamin C cukup stabil. (Almatsier. dibandingkan dengan yang mempunyai kadar hemoglobin normal. Vitamin C mempunyai peranan yang sangat penting dalam penyerapan besi terutama dari besi nonhem yang 71 .4 mg) mempunyai perubahan yang lebih besar pada peningkatan kadar hemoglobin dan transferin saturasi. dan 5 kali (Wirakusumah. Vitamin C adalah vitamin yang paling labil. Penelitian lainnya telah menemukan suatu korelasi signifikan antara serum retinol dan kosentarsi hemoglobin. Beberapa hasil penelitian cross sectional menyimpulkan bahwa peningkatan asupan vitamin A dapat mendorong ke arah peningkatan status vitamin A dan status besi (Schultink dan Gross. Vitamin C dapat juga terlibat dalam mobilisasi simpanan besi terutama hemosiderin dalam limpa (Parakkasi. Pemberian dosis tunggal vitamin A 200. 1995 . tetapi cukup stabil dalam larutan asam. 3. Beberapa reaksi enzim membutuhkan vitamin vitamin C seperti proses hidrosilasi yang menggunakan molekul oksigen dan sering mempunyai kofaktor besi atau tembaga. Observasi ini menunjukkan bahwa defisiensi vitamin A bisa memberikan kontribusi terhadap anemia dan akan mepunyai efek positif pada status besi (IVACG. 1998). serum besi dan transferin saturasi (Bloem. 1994). 2003). Interelasi Vitamin Hemoglobin C dengan Vitamin C adalah kristal putih yang mudah larut dalam air. hematokrit. tetapi tidak mempengaruhi penyerapan dalam intestinal terhadap besi dalam makanan sehari-hari (Roodenburg. Dalam metabolisme besi. Hasil penelitian yang dilakukan terhadap ibu hamil di Indonesia menghasilkan kesimpulan yang sama. 7. 1998). 1995). Schultink dan Gross. Vitamin A berpengaruh terhadap transferin saturasi.100 dan 250 mg dapat memperbesar penyerapan besi sebesar 2. 1 NO. Penelitian pada tikus menunjukkan bahwa kekurangan vitamin A marginal mengganggu eritropoeisis. (2) sebagai zat pelindung untuk memelihara status reduksi besi.SCIENTIA VOL. 1998). dibandingkan dengan kelompok yang hanya mendapat suplementasi besi atau vitamin A saja (Suharno. hematokrit dan besi serum. Ibu hamil yang anemia dengan kadar retinal <1. 1993). 1 2010 ISSN : 2087-5045 atau vitamin A saja (Meijia and Chew. 1999). Mekanisme yang pasti tentang peranan vitamin A terhadap status besi belum jelas benar. Suplementasi vitamin A pada anak yang defisiensi meningkat secara signifikan pada kadar hemoglobin. diantara anak pra sekolah di India pada studi ini menunjukkan kadar hemoglobin lebih rendah pada mereka yang mempunyai serum retinol di bawah 20 ĩg/dL. Vitamin C diperlukan untuk meningkatkan penyerapan besi di dalam tubuh.1 ĩmol/L yang diberikan suplementasi vitamin A dan besi (besi 60 mg dan vitaminA 2. tetapi dalam keadaan larut vitamin C mudah rusak karena bersentuhan dengan udara (oksidasi) terutama bila terkena panas Vitamin C tidak stabil dalam larutan alkali. 1992). tetapi tidak berpengaruh pada peningkatan cadangan besi dalam tubuh. 50. Peningkatan konsumsi vitamin C sebanyak 25. Diperkirakan bahwa kekurangan vitamin A dapat menghambat penggunaan kembali cadangan besi yang disimpan dalam hati (Bloem.

Jadi zat protein vitamin C dan vitamin A bekerja sama melalui perannya masingmasing untuk meningkatkan sintesis hemoglobin. Vitamin C berperan dalam memindahkan besi dari transferin di dalam plasma ke ferritin (Almatsier. ayam. 1989).0% pada bumil dengan makanan pokok beras. Hubungan secara tidak langsung ini memberikan pengaruh utama pada pemberian pertama 25-50 mg asam askorbat dalam makanan. dan melalui membran sel ke dalam sel-sel. Protein memegang peranan esensial dalam mengangkut zat-zat gizi dari saluran cerna melalui dinding saluran cerna ke dalam darah. sedangkan pemberian vitamin A yang adekuat dapat melawan infeksi sehingga dapat menormalkan sintesis transferin. jagung dan tiwul. Bahan makanan yang mengandung besi hem yang mampu diserap sebanyak 37% sedangkan bahan makanan golongan besi nonhem hanya 5% yang dapat diserap oleh tubuh. Besi berperan dalam sintesis hemoglobin dalam sel darah merah dan mioglobin dalam sel otot. Vitamin C bertindak sebagai enhancer yang kuat dalam mereduksi ion ferri menjadi ion ferro. dari darah ke jaringan-jaringan. 72 . 1 2010 ISSN : 2087-5045 banyak ditemukan dalam makanan nabati. KESIMPULAN Zat besi dibutuhkan untuk produksi hemoglobin. ikan (Berdanier.2%. 2003) Vitamin C menghambat pembentukan hemosiderin yang sukar dimobilisasi untuk membebaskan besi bila diperlukan.5% . 1998 melaporkan bahwa dengan pemberian vitamin C dalam bentuk tablet maupun dalam bentuk bahan makanan (buah pepaya) dapat meningkatkan penyerapan besi ibu hamil. 1997 tentang pemberian tablet besi dengan penambahan vitamin C terhadap perubahan kadar Hb dan ferritin serum membuktikan bahwa pemberian tablet besi dan vitamin C 150 mg. Pengaruh vitamin C atau asam askorbat adalah dose related dan signifikan pada semua jenis makanan (Svanberg. Sedangkan dengan pemberian vitamin C dalam bentuk bahan makanan (250 g buah pepaya)meningkatkan penyerapan 42 – 54. sehingga mudahdiserap dalam pH lebih tinggi dalam duodenum dan usus halus (Almatsier. Penyerapan besi nonhem dapat ditingkatkan dengan kehadiran zat pendorong penyerapan seperti vitamin C dan faktor-faktor pendorong lain seperti daging. Besi juga merupakan mikronutrien essensil dalam memproduksi hemoglobin yang berfungsi mengantar oksigen dari paruparu ke jaringan tubuh.SCIENTIA VOL. Sintesis trnasferin sebagai alat transpor zat besi akan terhambat jika terjadi infeksi. 2003). 1 NO. Hasil penelitian Saidin dan Sukati.46. 1995). Vitamin C diperlukan untuk meningkatkan penyerapan besi di dalam tubuh. Hasil penelitian Saidin. Absorpsi besi dalam bentuk nonhem meningkatkan empat kali lipat bila ada vitamin C. dapat meningkatkan kadar hemoglobin yang tertinggi dibandingkan dengan kelompok lain. penambahan asam askorbat selanjutnya relatif kurang efektif (Hallberg. Pemberian tablet vitamin C 100 mg meningkatkan penyerapan besi 37. 1998). sehingga anemia gizi besi akan menyebabkan terbentuknya sel darah merah yang lebih kecil dan kandungan hemoglobin yang rendah.

oral. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).755. Penuntasan Masalah Gizi Kurang. Vitamin A Intervention : Short-term effects of a single. Roodenburg. RS 2005.WHO. Iron absorption in man : Ascorbic acid and dose dependent inhibition by phytate. Mekanisme Anemia Defisiensi Besi. RS Dr. Comparison between time-dependent changes in iron metabolism of rats as induced by marginal deficiency of either vitamin A or iron. Jakarta : Gramedia Bloem. Principles of Nutritional Assessment. Binkesmas. Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi VI Tahun 1998. Br J Nutr 73 . Yu.Jakarta Indonesia Departemen Kesehatan RI 1996. Ditjen. Georgia. massive dose on iron metabolism. Sub. 154 – 160. Pencegahan dan Pengawasan Anemia Defisiensi Besi. by CRC press. S. Reksodiputro. L. Jakarta Gibson. Cipto Mangunkusumo.SCIENTIA VOL.140-4. Interdependence of vitamin A and iron : an Important association for programmess of anemia control Proc Nutr Soc Bloem. Beynen. Advanced Nutrition Micronutrients. Jakarta. MW et al. West. MW 1995. 1 NO. hal. Benny.453. Direktorat Bina Gizi Masyarakat. Fakultas Kedokteran UI. Pedoman Pemberian Besi Bagi Petugas. Jakarta Departemen Kesehatan RI 1999. A. Brune. CD 1998. AC 1994. M.443 . AJC. p. Berdanier. Food Nutrition. CE. Hallberg. Kodyat. Oxford University Press new york. 1998. S 2003. Diterjemahkan oleh Ronardy. Am J ClinNutr 49 : p. 1 2010 ISSN : 2087-5045 DAFTAR PUSTAKA Almatsier. L 1989. Pedoman Penanggulangan Anemia Gizi di Indonesia. DH Widya Medika. Professor. Jakarta hal.LCC De Maeyer 1993. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. A dkk. University of Georgia Athens. Rossander.Jenewa. Am J Clin Nutr (51). 1990. Bagian HematologyOnkologi Medik bagian Ilmu Penyakit Dalam. Haryanto 1994.

baik berupa review maupun sintesis. judul jurnal. Naskah belum pernah dan tidak akan pernah dipublikasikan pada media lain. maka abstrak ditulis dalam bahasa Inggris. Naskah berupa hasil penelitian atau karya ilmiah dari bidang Ilmu Farmasi dan Kesehatan. Metode Penelitian e. 2.com (khusus softcopy) . nama lengkap penulisan dan lembaga b. nomor halaman) 5. kota terbit. sebaliknya bila naskah dalam bahasa Indonesia. Naskah 1 rangkap beserta softcopy (dalam bentuk CD) dikirim ke redaksi. Nama penulis ditulis lengkap dengan gelar dan lembaga/instansi tempat penulis bekerja 9. maka abstrak ditulis dalam bahasa Indonesia. 4. Hasil dan Pembahasan f. Naskah diketik menggunakan komputer. Redaksi berhak merubah naskah tanpa mengurangi isi dan maksud naskah 7. volume. 3. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Petunjuk Penulisan Pada Jurnal Scientia 1. Pendahuluan : berisi latar belakang masalah. Abstrak tidak lebih dari 250 kata yang diketik dengan jarak 1 spasi. Pada bagian akhir naskah dicantumkan riwayat hidup penulis 10. Daftar Pustaka (kutipan dari buku dengan susunan : nama penulis. Adinegoro/Simp. Abstrak c. kutipan dari jurnal dengan susunan : nama penulis. dengan jumlah halaman maksimal 10 halaman kertas ukuran kuarto (A4) dengan spasi ganda. penerbit. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Naskah akan dikembalikan jika dilengkapi perangko secukupnya 8. 17 Lubuk Buaya Padang-25173 e-mail : stifi_perintis@yahoo. tahun.SCIENTIA VOL. Sistematika penulisan disusun sebagai berikut : a. 1 NO. Redaksi berhak menolak naskah yang kurang layak untuk dipublikasikan. Kesimpulan atau saran g. Bila naskah dalam bahasa Inggris. judul buku (tulis tebal). Tabel dan gambar harus diberi judul dan keterangan yang jelas 6. Naskah & softcopy dapat dikirimkan ke : Alamat : Jl. ditambah literatur pendukung yang relevan d. judul artikel. Judul. Kalumpang Km. tahun.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful