P. 1
Kum Pulan Jurnal Scientia

Kum Pulan Jurnal Scientia

|Views: 1,085|Likes:
Published by Surahman Bio

More info:

Published by: Surahman Bio on Feb 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/01/2013

pdf

text

original

SCIENTIA VOL. 1 NO.

1 2010 ISSN : 2087-5045

Volume 1, Nomor 1

Tahun 2010

ISSN : 2087-5045

0

DAFTA R I SI
ANALISA KANDUNGAN FLAVONOID DAN AKTIFITAS ANTIOKSIDAN DARI REMPAH TUMBUHAN OBAT SUMATERA BARAT Deddi Prima Putra dan Verawati 1 -7

ISOLATION OF Vibrio parahaemolyticus FROM BEEF MARKETED 8 -1 3 IN PADANG, to xR TARGETED IDENTIFICATION, AND AMP LIFICATION OF tdh AND trh GENES ON ISOLATES USING POLIMERASE CHAIN REACT ION Eka Fitrianda, Marlina dan M. Husni Mukhtar EFEKT IFITAS BROMELAIN KASAR DARI BATANG NENAS (Ananas Comosus L. Merr) SEBAGAI ANTIPLAK DALAM PASTA GIGI Fif i Harmely, Henny Lucida dan M. Husni Mukhtar FOR MULASI KRIM E KSTRAK ETANOL DAUN UBI JALAR ( Ipomea Batatas.L.)UNTUK PENGOBATAN LUKA BAKAR Farida Rahim, Mimi Aria dan Nurwani P.A AKTIFIT AS EKSTRAK ETANOL BIJI JINTAN HITAM (Nigella sati va Linn.) TERHADAP TITER ANTIBODI DAN JUMLAH SEL LEUKOSIT PADA MENCIT PUTIH JANTAN Suhatri dan Yufri Aldi PENETAPAN POLA RESISTENSI ANTIBIOTIKA (Vib rio Parahaemolyticus) HASI L ISOLASI DARI CUMI-CUMI ( Loligo vulgaris) DAN KEPITING BAKAU (Scylla serratta) Ria Afrianti, Marlina dan M. Husni Mukhtar AKTIVITAS ANTI INFLAMASI DAR I EKSTRAK ETANOL DAUN BUNGA KEMBANG BULAN (Tithonia diversifolia A. Gray) TERHADAP MENCIT PUTIH BETINA Verawati, Mimi Aria dan Novicaresa M PENGARUH LAMA PENYIMPANAN PADA SUHU KAMAR DAN LEMARI PENDINGIN TERHADAP KANDUNGAN PROTEIN PADA DADIH KERBAU DENGAN METODA KJELDAHL Regina Andayani , Revi Yenti dan Wi wit Gustiva PENGARUH PERBANDINGAN ETANOL AIR SEBAGAI PE LARUT EKSTRAKSI TERHADAP PEROLEHAN KADAR FENOLAT DAN DAYA ANTIOKSIDAN HERBA MENIRAN (Phylantus niruri.L.) Harrizul Riva’i dan Martinus PROFIL PENGGUNAAN KOMBINASI ANTI DIABETIKA ORAL DENGAN INSULIN PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 DI SMF PENYAKIT DALAM RSUD Dr. ACHMAD MOCHTAR BUKITTINGGI Radjuddin Dahlan dan Hansen Nasif PENGARUH ASUPAN PROTEIN DAN MIKRONUTRIEN (Zat Besi Vit. C dan Vit. A) TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN Erina Masri Scientia, V ol. 1, N o. 1, 2010 ; halaman 1 – 58 ISSN : 2087-5045 Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STIFI) Perintis Padang 14-19

20-25

26-33

34-38

39-45

46-51

52-59

60-65

66-73

SC IENT IA
JURNAL FARMASI DAN KESEHATAN
TERBIT DUA KALI SE TAHUN SETIAP BULAN FEBRUARI DAN AGUSTUS

D E W AN RE D A K SI
Penanggung Jawab : Prof. H. Syahriar Harun, Apt Pemimpin Umum : DR.H.M. HusniMukhtar,MS, DEA, Apt Redaktur Pelaksana : Verawati, M.Farm, Apt Eka Fitrianda, M.Farm, Apt Sekretariat : Afdhil Arel, S.Farm, Apt Khairul Dewan Penyunting : Prof.H. Syahriar Harun,Apt Prof.DR.H. Amri Bakhtiar,MS,DESS,Apt Prof.DR.H. Almahdy, MS, Apt DR.H.M. Husni Mukhtar, MS, DEA, Apt Drs.H. Radjudin Dahlan, M.Pharm, Apt DR.Hj. Marlina, MS, Apt Drs. Yufri Aldi, MSi, Apt Hansen Nasif, SSi, Sp.FRS, Apt Drs. B.A. Martinus , MSi Hj. Fifi Harmely, M.Farm ,Apt Farida Rahim, M.Farm, Apt Revi Yenti, M.Si, Apt Verawati, M.Farm, Apt Ria Afrianti, M.Farm ,Apt Eka Fitrianda, M.Farm, Apt

Penerbit : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STIFI) Perintis Padang ISSN : 2087-5045 Alamat Redaksi/Tata Usaha STIFI Perintis Jl. Adinegoro Km. 17 Simp. Kalumpang Lubuk Buaya Padang Telp. (0751)482171, Fax. (0751)484522
e-mail : stifi_perintis@yahoo.com website : www.stifi-padang.ac.id

Scientia, V ol. 1, N o. 1, 2010 ; halaman 1 – 58 ISSN : 2087-5045 Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STIFI) Perintis Padang

1 2010 ISSN : 2087-5045 ANALISA KANDUNGAN FLAVONOID DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI REMPAH TUMBUHAN OBAT SUMATERA BARAT 1 Deddi Prima Putra1. 1 NO. 109. Oleh karena itu bahan obat asli Indonesia perlu distandarisasi. Rempah sudah lama dikenal di Indonesia. Pengolahan obat asli Indonesia masih sederhana dengan menyeduh bahan tumbuhan kering atau segar dengan air panas. Verawati2 Fak. pala hidrofil.67 µ g/ml for pala total. Pala (Myristica fragrans Houut). kemudian air seduhan ini di minum. atau bahan mineral.08. 1994).54.85. Radikal bebas dalam kehidupan sehari-hari dapat dijumpai seperti akibat metabolisme yang 1 . kunyit hidrofil. Reaksi rantai ini dapat menimbulkan pengrusakan sel yang berujung pada mutasi sel dan apabila merusak organ yang memiliki fungsi tertentu dapat menimbulkan penyakit degeneratif. Pemicu timbulnya penyakit ini salah satunya adalah adanya radikal bebas (Rungkat.77 µg/g respectively (quercetin equivalent). Quercetin was used as standard compound.62. Senyawa ini bersifat tidak stabil dan sangat reaktif. Kencur (Kaemferia galanga Linn ). 19. sehingga manfaat dan keamanannya dapat dipertanggungjawabkan. 50. Kunyit (Curcuma domestica Val). Farmasi Universitas Andalas 2 STIFI Perintis ABSTRACT Antioxidant activity and total flavonoid content of five medicinal plant and species of West Sumatera have been measured.SCIENTIA VOL. 47.35. Rempah tumbuhan obat ini berpotensi besar memerangi sederet panjang penyakit dan masalah kesehatan seperti kanker. Radikal bebas ini adalah senyawa kimia yang mempunyai satu atau lebih elektron tidak berpasangan. 0. Keywords : Antioxidant. medicinal plants PENDAHULUAN Obat asli Indonesia merupakan obat yang berasal dari tumbuhan. Antioxidant activity and total flavonoid were measured by Spectrophotometer UV-Visible using DPPH reagent for antioxidant activity and Alumunium Chloride for total flavonoid. There are Jahe (Zingiber officinale Rosc). Makanan sehari-hari kita mengandung paling tidak satu jenis rempah. 1981).09 µ g/ml for kunyit total. and Pala (Myristica fragrans Houtt). Untuk mencapai kestabilan. molekul harus mencari elektron lain sebagai pasangan.21. Lengkuas (Alpinia Galanga Linn). Kunyit (Curcuma domestica Val). 68. 71. 0. jantung. hewan. dan arterosklerosis. Flavonoid. Pada umumnya obat asli Indonesia belum mempunyai data klinik dan penggunaannya berdasarkan pengalaman. jahe hidrofil . Dengan demikian tumbuhan obat asli Indonesia dapat dikembangkan menjadi obat fitofarmaka (Depkes. jahe lipofil. tapi rempah juga sebagai tumbuhan obat. liphofilic fraction and hydrophilic fraction) against DPPH 20 µ g/ml 80. There were total flavonoid of Jahe (Zingiber officinale Rosc). Rempah punya arti lebih dari sekedar penambah rasa hidangan.98 µg/ml for jahe total. The result showed that three of plants have highest antioxidant activity with IC50 ( total ethanol extract. diabetes melitus. 69.

bahan kimia beracun. Aquadest. Erlemeyer berbagai ukuran.SCIENTIA VOL. Houtt). dan dari tanaman famili Myristicaceae seperti buah Pala (Myristica fragrans. rimpang jahe (Zingiber officinale rhizoma. antioksidan dapat menyelamatkan sel-sel tubuh dari kerusakan. Berdasarkan potensi rempah tersebut sebagai obat dan adanya kandungan flavonoid di dalamnya maka dilakukan penelitian untuk menentukan kadar flavonoid total dalam rempah secara spektrofotometer dengan menggunakan Alumunium klorida kolorimetri dan penentuan aktivitas antioksidan menggunakan metode radikal DPPH (Zhinshen. Rosc). Youngson. Silalahi. Linn. Pembuatan Ekstrak Sampel Serbuk sampel sebanyak 5 g diekstraksi dengan menggunakan pelarut yang berbeda sehingga diperoleh 3 macam ekstrak yaitu : a. botol. 2001. Aquadest. 1 2010 ISSN : 2087-5045 berlebihan atau berasal dari lingkungan seperti asap rokok. Natrium asetat 1 M. (Rukmana. Rosc). pipet tetes. Linn). Bahan Bahan yang digunakan adalah rempah-rempah seperti rimpang kunyit (Curcuma domestica. timbangan digital. pipet mikro. Antioksidan alam lebih disukai karena efek sampingnya kurang. tabung reaksi. rotary Evaporator (BUCHI ®). 2005). 1997). spatel. 2004). Linn. akibat serangan radikal bebas (Karyadi. radiasi sinar UV (Raharjo. rimpang lengkuas (Alpinia galanga rhizoma. Untuk menanggulangi efek dari radikal bebas ini. polusi udara. val). Rukmana. alumunium foil. etanol 96 %. val). rimpang lengkuas (Alpinia galanga. rimpang jahe (Zingiber officinale. 2 . Molyneux. label. 1994. Pembuatan ekstrak etanol total (ekstrak total) yaitu 5 gram sampel di ekstrak dengan etanol 96% sebanyak 25 ml selama 2 x 24 jam. Willd). Houtt). vial. Dengan kata lain. Quersetin. kapas. 1995). Antioksidan dapat berasal dari alam dan sintetik. Pembuatan ekstrak heksan (ekstrak lipofil) yaitu 5 gram sampel di ekstrak dengan heksan 96% b. spektrofotometri UVVis Pharmaspec 1700 (shimadzu ®). rimpang kencur (Kaemferia galanga. DPPH. Linn) dan buah pala (Myristica fragrans. corong. METODE PENELITIAN Alat dan Bahan Alat Alat yang digunakan berupa seperangkat alat maserasi. metanol. pisau. rak tabung reaksi. mesin penghalus ( Brook Crompton®). 1 NO. Salah satu sumber antioksidan alam yang terdapat pada tanaman adalah flavonoid. heksan 96%. Seperti beberapa tanaman dari Famili Zingiberaceae seperti rimpang kunyit (Curcuma domestica rhizoma. labu rotary. 1992. Kegunaan utama dari antioksidan adalah menghentikan atau memutuskan reaksi berantai dari radikal bebas dengan cara menyediakan dirinya bereaksi dengan radikal bebas itu sendiri. secara alami tubuh mempunyai benteng yang dapat mencegah serangan radikal bebas tersebut yaitu enzim (katalase) ataupun antioksidan yang berasal dari luar tubuh yang umumnya berasal dari makanan. rimpang kencur (Kaemferia galanga rhizoma. 1999. pestisida. Willd). AlCl3 10%. Kemudian maserat disaring dan filtrat dikentalkan dengan rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak kental total.

c. kontrol Dengan menggunakan persamaan linear dari data stándar maka dapat dihitung IC50 stándar kuersetin sedangkan IC50 sampel dihitung dengan metoda analisa probit menggunakan finney. Aktivitas Antioksidan Penentuan Total Kandungan Flavonoid Penentuan Sampel Kandungan flavonoid total ditentukan dengan metode kolorimetri menggunakan Aluminium klorida.1. 2004).SCIENTIA VOL.4. 0. 40.1 ml Na asetat 1M dan 2. Kemudian maserat disaring dan filtrat dikentalkan dengan rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak kental lipofil. Kocok homogen lalu biarkan selama 30 menit. Pembuatan ekstrak etanol setelah heksan (ekstrak hidrofil) yaitu ampas dari hasil ekstraksi dengan heksan di ekstraksi lagi dengan etanol 96% sebanyak 25 ml selama 2 x 24 jam. Ketiga rempah ini ditentukan IC50 nya yakni konsentrasi sampel yang mampu merangkap radikal DPPH sebesar 50%.6 µg/ml) di dalam vial. 80. 100. 1 2010 ISSN : 2087-5045 sebanyak 25 ml selama 2 x 24 jam. 50 dan 25 µg/ml) atau larutan stándar kuersetin (0. kontrol – Abs.8 ml air suling. 0.2. kunyit.1 ml AlCl3 10 %. HASIL DAN PEMBAHASAN Aktivitas antioksidan ditentukan dengan metode DPPH (Molyneux.2 ml larutan sampel (1 mg/ml. Aktivitas antioksidan sampel dinyatakan sebagai persentase inhibisi dihitung dengan rumus : Abs. Semakin kecil nilai IC50 maka semakin aktif sampel tersebut sebagai antioksidan. kencur. 0. 10. 3 . Serapan diukur pada panjang gelombang maksimum DPPH yaitu 517 nm. Ukur serapan pada panjang gelombang 415 nm. 0. 60. Sebanyak 2 ml dari larutan ekstrak(1mg/ml) ataupun larutan standar kuersetin (100. 20. Kemudian maserat disaring dan filtrat dikentalkan dengan rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak kental hidrofil. kunyit dan pala. 0. Campuran larutan dihomogenkan dan dibiarkan selama 30 menit di tempat gelap. Setelah dilakukan penelitian mengenai analisa kandungan flavonoid total dan aktivitas antioksidan dari tanaman obat dan rempah Sumatera Barat didapatkan hasil bahwa dari 5 macam sampel rempah (jahe. 5 µg/ml) ditambah 0.dan pala) didapatkan tiga sampel memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi yaitu jahe. ditambah 3. Absorban kontrol yaitu DPPH (20 µg/ml) dalam metanol juga diukur. Total kandungan flavonoid sampel dinyatakan sebagai kesetaraan gram kuersetin/100 gram sampel kering. Sampel x 100 % Abs. 1 NO.8 ml larutan DPPH (20 µg/ml). lengkuas.

Nilai IC50 sampel No 1 Nama sample Jahe. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Tabel I.92 Kunyit.67 Jahe.Hidrofil 79.45 22.Lipofil 81.95 78.SCIENTIA VOL.04 89.76 42.81 36.97 3 Pala.44 4 .41 69.26 28.54 52.BS.BS.85 43.Hidrofil 47.72 29.Bkt.Total 32.27 60.58 58.59 65.Lipofil 57.56 Jahe.98 Jahe.09 92.51 Kunyit.08 35.Ap.Hidrofil 46.58 58.48 73. 1 NO.50 8.31 49.27 Kunyit.total 54.89 47.81 Kunyit.Ap.Ap.95 57.09 30.18 15.Ap.12 23.61 29.83 50.14 21.Lipofil 68.Ap.06 63.4 Jahe.09 49.Total Konsentrasi 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 % Inhibisi 52.22 39.82 21.62 Jahe.Total 90.36 49.Hidrofil 140.Total 60.72 28.44 Kunyit.Bkt.54 17.BS.BS.63 39.51 69.4 76.93 26.96 36.59 21.18 IC50 90.24 32.Bkt.Total 74.38 44.BS.72 25.Bkt.12 85.68 Jahe.Hidrofil 46.66 2 Kunyit.Total 97.Bkt.3 Jahe.9 59.

simpangan baku 0.62 69. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Pala. Tabel II.82 154.39 156. batas deteksi – 0. batas kuantisasi 4.016 + 0.55 Pala.Bkt.BS.47 57.81 36. Jahe 0.70 µg/g diikuti kencur 0.67 Aktivitas antioksidan 1g ekstrak setara mg kuersetin (mg) 182. total 1 Jahe. lipofil Pala.92 µg/g.SCIENTIA VOL.38 23. lengkuas 0.216 µg/ml.52 µg/g.017x dengan koefisien korelasi 0.114942 µg/ml.09 16. 1 NO.21 47.Bkt. lipofil Kunyit hidrofil Pala.06 71.69 Pala.8 Dari data IC50 sampel dan IC50 stándar kuersetin.0.26 162. maka diperoleh suatu nilai jumlah sampel yang akan memberikan aktivitas antioksidan yang setara dengan 1 mg kuersetin.Hidrofil 50 25 100 50 25 100 50 25 43. Pada pengukuran flavonoid total tiap gram sampel kering setara kuersetin diperoleh kadar flavonoid total dari masing-masing sampel dimana kadar paling tinggi adalah pada ekstrak etanol kunyit 19.999.85 58.84 µ g/g.54 µ g/g.Total 45. 5 .Hidrofil Keterangan : AP BS Bkt : Alahan Panjang : Batu Sangkar : Bukit tinggi 81.09 50. pala 0. hidrofil Pada pengukuran absorban flavonoid total untuk penentuan kurva kalibrasi kuersetin pada panjang gelombang 415 nm di dapat persamaan regresi y = .45 61.16 Jahe.32 106. total 2 Kunyit. hidrofil Kunyit.35 109.9 248.56 31. total 3 Pala.0106371.53 113. lipofil Jahe. Aktivitas Antioksidan dari Sampel Setara mg Kuersetin No Nama sampel Nilai IC50 aktivitas antioksidan terukur (µg/ml) 80.98 68.72 88.

67 124.41 0.70 0.76 0.Total Pala.66 19.52 ± 0.BS.Bkt.60 0.AP.37 0.64 11.Bkt.71 8.50 ± 0.BS.02 6.Bkt.1 10.92 ± 0.53 9.Total Rata-rata ± SD Lengkuas.AP.Total Lengkuas.Total Kunyit.27 ± 2. 1 NO.Bkt.84 ± 0.55 71.Total Lengkuas.99 142.54 ± 0.42 4.Total Rata-rata ± SD Kunyit.91 0.AP.62 8.Total Jahe.03 9.49 0.96 4.70 ± 7.Total Rata-rata ± SD Pala.Total Rata-rata ± SD Kencur.84 0.07 ± 45.Total Rata-rata ± SD 6 .03 11.14 0. Kandungan Flavonoid total sampel Konsentrasi Flavonid (µg/ml) 10.27 5. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Tabel III.43 22.BS.93 0.Total Kencur.09 0.85 ± 1.078 Nama Sampel Jahe.AP.51 157.BS.Total Kencur.13 25.05 4.83 9.Bkt.Total Kunyit.5 8.BS.SCIENTIA VOL.26 0.39 ± 1.21 0.85 1.64 Kadar Flavonoid tiap 5 g serbuk kering (µg/g) 0.60 4.Total Jahe.

1 2010 ISSN : 2087-5045 Dari penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui dari data IC50 aktivitas antioksidan dan penentuan kadar flavonoid total bahwa ekstrak yang kadar flavonoidnya tinggi mempunyai aktivitas antioksidan yang tinggi. 1992. Rungkat. 26(2). The Journal of Indonesian Medical Association : II (5). M. Jadi kemungkinan senyawa yang mempunyai aktivitas antioksidan yang tinggi adalah golongan flavonoid yang terdapat pada ekstrak polar atau fraksi hidrofil terutama pada jahe. Karyadi.. 0.com/intisari /1997/juni/antioksidan.htm Molyneux. Yogyakarta. 1-13. Rukmana. Kanisius.. The Use of Stable Free Radical Diphenylpicrylhydrazyl (DPPH) for Estimating Antioxidant Activity. kunyit dan pala. F. R. 2005. 1994. http//www. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa dari 5 tanaman yang berasal dari 3 daerah.. J.0.SCIENTIA VOL. Free Radicals and antioxidant Vitamin in Degenerative Disease. J. Tecnol. 64: 555559. 211-219. Sci. Temulawak Tanaman Rempah Oba. Zhinshen. R. Dampak terhadap Kesehatan dan Penangkalan. Modifikasi Peraturan Perundang – undangan Obat Tradisional. Jakarta. jahe dan pala setara kuersetin berturut-turut : 19. R. 1 NO. 7 . Raharjo. Antioxidant : Vitamin C dan E For Health. Food Chem. Bogor. DAFTAR PUSTAKA Direktorat Pengawasan Obat Tradisional Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan RI. Jianming. E. Resep Sehat dan Umur Panjang.77. 1995. T. 1981. Jakarta.indomedia.. Proseding Seminar : Senyawa Radikal dalam Sistem Pangan : Reaksi Biomolekuler. Youngson. Kanisius. Ekstrak hidrofilik memberikan aktivitas antioksidan lebih tinggi dibandingkan ekstrak lipofilik. Jakarta. Rukmana. Penebar Swadaya. 2004. 2001.. Yogyakarta.85. p. Antioksidan. kadar flavonoid yang tinggi terdapat pada kunyit.54 µg/g terhadap sampel kering. Kencur. diterjemahkan oleh Susi Purwoko. 1994. Silalahi. The determination of flavonoid contents in mulberry and their scavenging effects on superoxide radicals. J. Mengcheng and W. 1999. Tanaman Berkhasiat Antioksidan. “Radikal Bebas dan Patofisiologi Penyakit”.

trh. "TDH-related hemolysin" (TRH). Most strains of clinical V. parahaemolyticus was first isolated in food poisoning outbreak in Japan in the early 1950s. The main clinical manifestation of infection due to V. Based on the Shirai et al (1990) report. 1 NO. V. nausea and vomiting. namun tidak ada satu isolat pun yang memiliki gen pengkode toksin hemolisin baik tdh maupun trh. Currently. trh INTRODUCTION V. parahaemolyticus is a marine bacterium that has long been associated with diarrhea after eating raw or not cooked perfectly seafood. in which the main symptoms include abdominal cramps. AND AMPLIFICATION OF tdh AND trh GENES ON ISOLATES USING POLIMERASE CHAIN REACTION 1 Eka Fitrianda1. or both) with the ability to cause disease. parahaemolyticus has become one of food contaminant pathogens with the highest prevalence in Asian countries (Pan et al. Terhadap 40 isolat tersebut dilakukan identifikasi dengan metoda Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk mengamplifikasi gen toxR.SCIENTIA VOL. parahaemolyticus produce major virulence factor that is a thermostable direct hemolysin (TDH) and showed βhemolysis activity on Wagatsuma agar (KP positive strains). Marlina2. parahaemolitycus telah berhasil diisolasi dari sejumlah sampel daging sapi mentah yang dikoleksi di Pasar Raya Padang. V. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa seluruh isolat V. Although V. 1997). parahaemolyticus. Therefore. M. parahaemolyticus is one of bacterias actively studied in various parts of the world because of it’s ability in causing diarrhea. Husni Mukhtar2 STIFI Perintis Padang. In V. molecular epidemiological studies show a close relationship between the hemolysin coding genes in these bacteria (tdh. parahaemolyticus terbukti memiliki gen tox-R. Key words: Vibrio parahaemolyticus. Selanjutnya. but 8 . Gen tersebut merupakan gen yang sangat spesifik pada spesies V. 2 Fakultas Farmasi Universitas Andalas Padang ABSTRAK Sebanyak 40 isolat V. Another virulence factor. 1 2010 ISSN : 2087-5045 ISOLATION OF Vibrio parahaemolyticus FROM BEEF MARKETED IN PADANG. toxR TARGETED IDENTIFICATION. the genes are referred to as the important virulence coding genes in V. toxR. parahaemolyticus. parahemolyticus. parahaemolyticus is gastroenteritis. "thermostable direct hemolysin" (TDH) and the "TDH-related hemolysin" (TRH). 1989). whose production is encoded by the tdh and trh are the important virulence factors for the development of gastroenteritis. usually associated with KP negative strains or with urease positive strains (Kelly and Stroh. Isolasi dilakukan dengan menggunakan medium CHROMagarTM Vibrio. dengan metoda yang sama juga dilakukan amplifikasi terhadap gen pengkode produksi toksin hemolisin (tdh dan trh) yang merupakan faktor virulen utama pada bakteri tersebut. tdh.

V. The isolated strains are known to carry hemolysin toxin-producing genes (tdh and trh) which are the major virulence factors of V. Luria Bertani (LB). V. samples were taken in a way directly entered by the merchant into sterile containers. In this study we isolated V. immediately stored in containers and taken to the laboratory for testing. The method used to identify and amplify tox-R. distilled water. tris-borateEDTA (TBE). To avoid contamination. transilluminator. parahaemolyticus from beef samples and identified them by examining on their toxR gene. parahaemolyticus. 1 2010 ISSN : 2087-5045 some recent researches showed that V. GoTaq DNA polymerase. We also detected their virulent factors coding genes by amplificating tdh and trh genes on these isolates. Luria Bertani (LB) Broth. Eppendorf tubes. 2. colony counter (Stuart scientific ®). micro pipette (Eppendorf ®). ethidium bromide. the test sample. laminar air flow (Esco ®).). Polymerase Chain Reaction (PCR) is a major breakthrough in molecular diagnostics. 100 bp ladder. NaCl. tdh and trh genes is "Polymerase Chain Reaction" (PCR). Another study conducted by Zulkifli et al (2009) on the cockles collected from rivers in Padang showed similar result.SCIENTIA VOL. polaroid film. rotary shaker incubator (Bigger Bill Digital ®). 10X Ex Taq buffer solution. this is due to the high sensitivity level of this method. incubator (Gallenkamp ®). parahaemolyticus Isolation 10 gram sample was added in to 100 ml Salt Polimixin Broth (SPB) media and incubated at 37°C for 24 hours. parahaemolyticus. parahaemolyticus AQ3815 (positive control for tdh gene.5 mM dNTP solution. 1 NO. Sampling The test samples in this study were 15 raw beef samples. 5X Colorless GoTaq Reaction. Research conducted by Marlina et al (2007) for example. Parahaemolyticus AQ4037 (positive control for the toxR and trh genes). Samples were taken from traders in Pasar Raya Padang. has successfully isolated these bacteria from pensi (Corbicula moltkiana prime) collected in lake Singkarak. a blue dye. agarose. V. TRH R2: 5'GGCTCAAAATGGTTAAGCG-3' and TRH R6: 5'CATTTCCGCTCTCATATGC-3' for detection of trh gene. TDH D3: 5'CCACTACCACTCTCATATGC-3’ and TDH D5: 5'GGTACTAAATGGCTGACATC-3' for detection of tdh gene. CHROMagarTM Vibrio (CHROMagarTM). According to Gelfand et al (1998). parahaemolyticus has also found on food samples which are not seafood categories. Salt Polimixin Broth (SPB). These cultures were inoculated using a needle loop onto surfaces of CHROMagarTM Vibrio previously been 9 . and three pairs of primers. and lately has been widely used to identify genes from different species of bacteria including V. namely: toxR-4: 5'GTCTTCTGACGCAATCGTTG-3' and toxR-7: 5'ATACGAGTGGTTGCTGTCATG-3' for the detection of toxR gene. MATERIALS AND METHODS Equipments and materials PCR machine (Eppendorf Mastercyclergradient ®). vortex (Mixer ® VM-1000). centrifugator (Eppendorf Minispin ®). the elektrophoresis device.

Stage for tdh and trh genes amplification (33 cycles) Temperatur Time Stage e (minute) o ( C) Predenaturation 96 5 Denaturation 94 1 Annealing 55 1 Extention 72 2 Elongation 72 7 After all of the stages in the PCR process were completed. 1 2010 ISSN : 2087-5045 poured and allowed to solidify in a petri dish. the supernatant removed. parahaemolyticus were done using PCR method.000 rpm for 1 min. PCR components Component Buffer solutiona 2. DNA template preparation Before the amplification of genes using PCR method. while the sediment was added with 500 mL sterile distilled water and then suspended using vortex.0c 2.5d 2. Subsequently centrifuged at 12. The type and amount of each PCR components as shown in table below: Table 1.0 5x Colorless GoTaq Reaction Buffer for the detection of tdh and trh genes. toxR. Electrophoresis was performed at 100 V voltage for 20 minutes with 1 x TBE as the mobile phase. the results of this amplification were colored using blue dye and then separated along electrophoresis process on 1% agarose gel in 1x TBE. 1 NO.5 7 Table 3.0 1. purple colonies formed were suspected as colonies of V. DNA of control and testing bacteria were extracted using boil cell extraction (BCE) method. Stage for tox-R gene amplification (23 cycles) Stage Predenaturation Denaturation Annealing Extention Elongation Temperature ( oC ) 96 94 63 72 72 Time (minute) 5 1 1. After incubated for 24 hours at 37°C. tdh and trh genes in V.0 15. The suspension formed was heated for 10 minutes in boiling water and immediately put into the refrigerator with a temperature of -20ºC for 10 minutes. 10x Ex Taq buffer solution for the detection of toxR gene b Primer pairs are suitable for each gene c For the detection of tdh and trh genes d For the detection of toxR gene Eppendorf tube is then inserted into the PCR machine and amplification was performed using program which is suitable for detection of each gene as shown in table below: Table 2.1 1.SCIENTIA VOL. parahaemolyticus.5 mM dNTP Amount(µl) 5.4d 0. The 100 bp ladder was used as a 10 . 1 ml LB broth culture centrifuged at 12. The supernatant were the DNA template to be used for amplification of genes by PCR method.5 1.0 Primer 1b Primer 2b Aquadest GoTaq DNA Polymerase DNA Template a 1. Each single suspected colony was inoculated into the Luria Bertani (LB) Broth containing 3% NaCl and incubated in a rotary shaker incubator at 37°C for 24 hours.0c 17. DNA template which had been prepared previously inserted into the Eppendorf tube for PCR machine and combined with other PCR components.000 rpm for 3 minutes and the supernatant were transferred into a new Eppendorf tube. tdh and trh genes amplification Identification of toxR.

Generally. The PCR method to detect this gene has been reported (Lee et al. parahemolyticus species. Figure 2. all (100%) showed toxR positive results. 1997). The presence of suspected V. After the electrophoresis process was completed. 251 bp and 250 bp respectively. Results were then documented by polaroid film. Electrophoresis gel of toxR positive V. parahaemolyticus is more sensitive than biochemical identification. Dileep et al (2003) also states that the detection of toxR gene by PCR method to detect V. parahaemolyticus from seawater in Peninsular. 1 NO. Electrophoresis result which was observed by UV transilluminator will form separate bands which were distinguished by the number of their base pairs (bp). Size estimation of each product was done through comparison with 100 bp ladder. parahaemolyticus in samples characterized by the formation of purple colonies on the surface of CHROMAgarTM Vibrio medium. Suspected V. parahaemolyticus colonies from 3 samples. The size of toxR. 1 2010 ISSN : 2087-5045 marker for determining the size of amplification product. The same result have been reported by Zulqifli et al (2009). parahaemolyticus. Previously. From 3 of 15 samples which were examined. non-clinical V.5 mL/ml). 1995) as a very useful method to confirm the presence of this species in samples. we successfully isolated 40 suspected V. parahaemolyticus isolates also been isolated from coastal waters of western United States (Okuda et al. tdh and trh amplification product were 368 bp. Tanil et al (2005) succeeded in isolating V. toxR positive isolates showed 368 bp band in electrophoresis gel. parahaemolyticus from shrimp samples in Malaysia. A study recently conducted by Sujeewa et al (2009) succeeded in isolating V. agarose gel was stained with ethidium bromide solution (0. parahaemolyticus isolates: lane 1-11 were positive toxR isolates. targeting on toxR gene was performed to all of these isolates using PCR method. lane 13 was 100 bp ladder. RESULTS AND DISCUSSION Of 15 raw beef samples which were examined. parahaemolyticus with a higher level of differentiation compared to TCBS medium (Kudo et al. In this study. 2001). V. we successfully isolated suspected V. out of total of 40 tested isolates. V.SCIENTIA VOL. all of CHROMagar™ Vibrio isolates from cockles gave positive results on testing of toxR using PCR method. Figure 1. parahaemolyticus has been isolated from various places around the world. Identification 11 . parahaemolyticus colonies on ChromagarTM Vibrio CHROMagar ™ Vibrio is a selective media for identification of V. Malaysia. toxR gene is a gene that is very specific to the V. lane 12 was positive control.

or is the result of cross-contamination when samples are marketed in the market. Kanagawanegatif Vibrio parahaemolyticus from patients and the environment in the Pacific 12 . Lett Appl Microbiol 36:423–7. Marlina et al. where the overall toxR positive isolates have no tdh or trh gene (Zulkifli et al. Applicationof polymerase chain reaction for detection of Vibrio parahaemolyticus associated with tropical seafoods and coastal environment. Kaysner. and New York (1997 and 1998). 1 2010 ISSN : 2087-5045 parahaemolyticus were isolated from marine waters or food samples from the sea. As a result. 2009. parahaemolyticus in samples is the result of bacterial adaptation capabilities on low-salt environment. In this study. Bowers and D. Environmental investigations of Vibrio parahaemolyticus in oysters after outbreaks inWashington. Academic Press. H. studies are necessary to investigate whether the presence of V. According to Nishibuchi and Kaper (1995). parahaemolyticus isolates carrying the virulent genes (tdh or trh). 1 NO.SCIENTIA VOL. parahaemolyticus is a bacteria that normally lives in this habitat (DePaola et al. 2000). none of the isolates has tdh or trh gene.. a species which lives in lake Singkarak. parahaemolyticus isolates was isolated from cockles live in rivers around Padang. In contrast. but none of them has tdh or trh gene. parahaemolyticus are tdh and trh. and they are called virulent isolates. Indonesia (Zulkifli et al. Y. Gelfand.. S. 40 toxR positive isolates were detected for the present of tdh and trh genes by amplification using PCR method. T. Kumar. Cook. The presence of these genes represent the level of pathogenicity of V. This such result also seen in V. only few V. because V. Furthermore. 2000. Innis. New York. other studies seem to successfully detect the presence of these virulence genes in environmental samples (Sujeewa et al. D. 1998. other publication also showed that V. Nishibuchi and I. C. Kumar. T. parahaemolyticus previously isolated from cockle samples in Padang. BIBLIOGRAPHY DePaola. CONCLUSION All of 40 V. It makes the results of this research is interesting for further explored. M. J. 2003. A. Similar results have also found in other study (Marlina et al. 2000). parahaemolyticus isolates isolated from beef samples marketed in Pasar raya Padang were having toxR gene. A. 1989. parahaemolyticus isolates carrying tdh gene were isolated from Corbicula moltkiana. Kelly. parahaemolyticus isolates. Karunasagar. more than 90% of V. M. 2007). Texas. M. M. J. Major virulence factor coding genes in V. Appl Environ Microbiol 66:4649–54 Dileep. H. parahaemolyticus isolated from nonclinical samples are rarely detected. parahaemolyticus isolates were isolated in samples which were not derived from the sea environment. parahaemolyticus isolates from clinical samples have tdh or trh gene (DePaola et al. Urease-positif. This suggests that V. J. parahaemolyticus isolates in this study are not virulent isolates. 2007). where a number of V. because V. J. Similarly. V.. PCR protocols: A guide to methods and amplifications. 2009). However. Sninsky. The existence of these genes in V. White. 2009). A. W. Stroh. and E.

Infect. Food-borne disease outbreaks due to bacteria in Taiwan. Marlina. Mutalib. H. Prevalence of toxic genes of Vibrio parahaemolyticus in shrimps (Penaeus monodon) and culture environment. International Food Research Journal 16: 289296 13 .. Ito. 58: 3568–3573. Norrakiah and M. Hirayama. B. M. Sujeewa. 4. R. W. Applied and Environmental Microbiology 61: 1311-1317. Wang. Radu. Analysis of the Thermostable Direct Hemolysin (tdh) Gene and the tdh-Related Hemolysin (trh) Genes in Urease-Positive Strains of Vibrio parahaemolyticus Isolated on the West Coast of the United States. Microbiol. Laina. 1995. T. H. Alitheen. Clin. Characterization of vibrio parahaemolyticus isolated from coastal seawater in peninsular Malaysia. Pan and C. 36 No. Zunita Zakaria. Janda and M. Immun. J. Zulkifli. T. Southeast Asian J Trop Med Public Health. Nakamoto. M. A. Kumagai. Chen. Sequence of a cloned pR72H fragments and its use for detection of Vibrio parahaemolyticus in shell fish with PCR. Kqueen. Journal of Clinical Microbiology. J. 35: 1965–1971 Pan. A. Y.SCIENTIA VOL. 1997. Immun. Detection of tdh and trh genes in Vibrio parahaemolyticus isolated from Corbicula moltkiana prime in West Sumatera Indonesia. 1990. Gunsala. Clin.. C. S. Nakabayashi. J. Lee. L. S. Napis... W. 2007. A. Nishibuchi.. K. A. K. Okuda. S. Raha. S. C. Radu. 1986 to 1995.. Horng.. M. Napis. 2009. and J. Lesley and A. Molecular epidemiologic evidence for association of thermostable direct hemolysin (TDH) and TDH-related hemolysin of Vibrio parahaemolyticus with gastroenteritis. Identification of Vibrio parahaemolyticus isolates by PCR targeted to the toxR gene and detection of virulence genes. 2009.Y. Thermostable direct hemolysin gene of Vibrio parahaemolyticus: a virulence gene acquired by a marine bacterium. S. 1 NO. Maurice and J. Chien. Kaper.R. S. M. W. 27: 2820-2822 Lee. Abbott. Radu. T. B. Rahim. and C. N. 63:2093–2099. L.F. B. N. Nishibuchi. B. 35: 1260-1262 Shirai. Ishibashi. K. and M. Nishibuchi. Y. Southeast Asian J Trop Med Public Health. C. Nishibuchi. M. H. K. 1995. M. Y. 1997. and M. 38:349-355. S. Microbiol. 2005. S. Takeda. G. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Northwest. Nishibuchi. Infect. J. S. Yeap. Y. S. International Food Research Journal 16: 8995 Tanil. B. S.

The crude bromelain 5% in toothpaste has antiplaque effectivity noteqivalent with control (p<0. Queen ). Hal ini juga dipertegas dengan adanya intruksi oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan untuk menarik seluruh produk pasta gigi untuk anakanak yang masih mengandung fluorida di atas 500 ppm. Hasil Survei Kesehatan Nasional 2002 menunjukkan. 1982). Husni Mukhtar2) 1) Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STIFI) Padang.0 ( Darwis dan Sakara. Munurut Pakaj (2004) pasta gigi yang mengandung fluorida tidak cocok untuk anak-anak di bawah 4 tahun.( Wilkinson. penderita gigi berlubang jumlahnya tidak sedikit. antiplaque effectivity PENDAHULUAN Di Indonesia.584 unit/mg equivalent 98. Jika plak tidak dibersihkan. toothpaste. Fauzi dan Krisna. Berdasarkan laporan pemakaian pasta gigi yang mengandung fluorida mempunyai efek samping perlu dicari alternatif mendapatkan formula pasta gigi dari bahan alam. 1 2010 ISSN : 2087-5045 EFEKTIFITAS BROMELAIN KASAR DARI BATANG NENAS (Ananas comosus L. 2008). Merr var. karbohidrat 13 – 17 % . Lapisan lembut ini akan membentuk suatu matriks pada gigi dimana bakteri dapat melekat. proteolytic activity. Proses ekstraksi bromelain dilakukan secara maserasi dalam larutan buffer posfat pH 7. yang berarti dari sepuluh orang enam diantaranya menderita gigi berlubang (Nugraha. M. Merr) SEBAGAI ANTIPLAK DALAM PASTA GIGI Fifi Harmely1).05) and significant with basis formula ( p >0. 2) Fakultas Farmasi Universitas Andalas Padang ABSTRACT The effectivity of crude bromelain from steam pineapple have been done as antiplaque by plaque control record methods. lipid 10 – 14 % dan abu 10 % dan komponen mineral seperti kalsium dan posfor. salah satunya adalah bromelain dari nenas ( Ananas comosus L. yang dihitung dari berat kering plak.SCIENTIA VOL.1982). 1990. Untuk kesehatan dan mencegah kerusakan gigi dibutuhkan suatu zat antiplak dalam pasta gigi yang saat ini erat kaitannya dengan kandungan fluorida. 1990). prevalensi gigi berlubang di Indonesia berkisar 60 %. Plak tersusun oleh 80% air dan 20 % sisanya terdiri dari beberapa komponen seperti protein 40 – 50 %. 1 NO. Henny Lucida2). Keyword: crude bromelain. maka lama-kelamaan mikroorganisme yang berkontak pada permukaan gigi akan menyebabkan karang gigi ( kalkulus ) dan menimbulkan karies pada gigi (Cracken. Plak gigi adalah lapisan lunak yang terbentuk dari campuran sisa-sisa makanan serta bakteri yang diperantarai oleh saliva yang melekat pada permukaan gigi.84 % (F3C). 14 .05). Ramli. The formula of toothpaste was crude bromelain 5% and abrasive 40% with proteolytic activity 6.

Pelaksanaan Penelitian Pembuatan Pasta Gigi Bromelain Kasar Formula Pasta Gigi Bromelain (Lieberman 1989. dan digunakan untuk memantau kontrol plak pada pasien dan juga banyak digunakan pada klinik – klinik gigi ( Dalimunthe 2008). Metoda yang digunakan untuk pengujian anti plak adalah metoda rekam kontrol plak yang diperkenalkan oleh O’Leary dkk. dental plague disclosing gel (Global Care) dan air suling. 1 NO. timbangan analitik (Pioneer™). Wilkinson 1982) Pasta gigi bromelain dibuat dengan konsentrasi bromelain 5% dan abrasive kalsium karbonat 40% seperti terlihat pada tabel di bawah ini: 15 . Berdasarkan hal tersebut. Untuk pengukuran terlebih dahulu gigi–geligi diwarnai dengan perwarna plak (disclosing solution. lumpang dan alu. Sebelum perlakuan kepada sukarelawan terlebih dahulu diberikan penjelasan tentang tujuan penelitian dan informasi lain yang terkait dengan pemakaian pasta gigi. METODE PENELITIAN Alat Alat-alat gelas standar laboratorium(Pyrex®). Dextran merupakan produk metabolit dari bakteri. Sukarelawan Sukarelawan dalam penelitian ini sebanyak 15 orang berumur antara 18 – 24 tahun dan diminta kesediaannya untuk menggunakan sediaan pasta gigi selama penelitian dengan mengisi blanko dan menandatangani surat pernyataan sebagai sukarelawan. (Wilkinson . spektrofotometer UV-Vis (UVmini1240). kaca mulut. pemeriksaan gigi sebelum dan setelah pemakaian pasta gigi dilakukan oleh dokter gigi. perlu dilakukan pengujian efektifitas antiplak bromelain kasar dan dibandingkan dengan formula basis dan sediaan pembanding kepada sukarelawan. bromelain standar ( Bernofarm).SCIENTIA VOL. karbohidrat dan lipid dari makanan. Bahan Bromelain kasar.1982). Suatu produk bermerek dagang yang sudah beredar adalah pasta gigi Enzim ®. adanya zat ini memegang peranan penting dalam membentuk plak pada gigi. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Penggunaan enzim di dalam pasta gigi ditujukan untuk membantu pemecahan protein. bahan tambahan formulasi (Brataco Chemika). Untuk menilai keadaan plak gigi. disclosing gel atau disclosing tablet) yang dicatat adalah ada atau tidaknya deposit yang terwarnai pada batas dentogingiva pada empat permukaan (Dalimunthe 2008 ).

3 100 formula (g) 5. menggunakan pasta gigi 3 kali sehari pada pagi. Oleum menthae piperitae dimasukkan terakhir. diaduk homogen (massa 1). Untuk pelaksanaan pengujian ini digunakan gel pink tua dental plague disclosing gel yang dipakai sebelum menggunakan pasta gigi dan setelah menggunakan pasta gigi selama 1 minggu.0 40 18 10 1.0 0.3 100 Cara Pembuatan Bromelain Kasar Pasta Gigi Na CMC ditabur diatas air panas (15 x jumlah Na CMC). tidak menggunakan larutan penyegar mulut atau larutan pencuci mulut lainnya. dimasukkan ke dalam massa 3. ditambahkan larutan sorbitol 70 % dan diaduk homogen ( massa 2). Sakarin dan natrium benzoat dilarutkan dalam sisa air. ditambah bromelain digerus ditambah gliserol diaduk homogen. kemudian dihitung nilai selisih skor plak sebelum dan sesudah pemakaian pasta gigi bromelain dengan menggunakan rumus : Nilai selisih = Skor Plak sebelum – Skor Plak sesudah 16 .1 1 0. 1 NO. aduk homogen. digerus homogen. Selama pengamatan akan dipantau oleh dokter gigi sampai selesai perlakuan. rumus perhitungan Plak Indeks : Skor RKP = Jumlah Permukaan gigi dengan plak x 100 % Jumlah seluruh permukaan gigi Uji Efektifitas Anti Plak Pasta Gigi Bromelain dengan Metode Rekam Kontrol Plak (RKP) (Delimunthe 2008) Pengujian ini dilakukan untuk menilai efek pemakaian pasta gigi sebagai anti plak dengan cara Setelah skor plak didapat. Parameter yang diamati kemampuan menghilangkan plak setelah menggunakan pasta gigi. diaduk homogen sampai terbentuk massa pasta.SCIENTIA VOL. Kalsium karbonat digerus.0 0. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Tabel 1. Formula pasta gigi bromelain Komposisi Formula Bromelain Kasar Kalsium karbonat Gliserol Larutan sorbitol 70 % Natrium Karboksimetil sellulosa Sakarin Natrium benzoat Natrium lauryl sulfat Oleum menthae piperitae Air suling sampai Basis (g) 40 18 10 1. didiamkan selama 15 menit. Pengujian ini dilakukan terhadap 5 orang panelis untuk setiap formula pasta gigi bromelain dengan syarat panelis tidak menggunakan pasta gigi lain.1 1 0. Natrium lauryl sulfat ditambahkan ke dalam massa 3. Massa 1 ditambahkan ke massa 2 diaduk sampai homogen (massa 3). sore dan pada malam hari. diaduk sampai homogen dan kemudian dimasukkan ke dalam tube.2 0.2 0.

626 %KV= 7. Hasil pengujian efektifitas antiplak pasta gigi bromelain kasar % RKP No Panelis X (%) Formula Sebelum Sesudah 1 F0 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 65.17 3 P 8. Menurut Hidayah (2000) bromelain dapat memecah ikatan glutamin-alanin dan arginin.5 62.5 69.9 69.1 68.5 65.9%± 1. Hasil ini memperlihatkan bahwa plak dapat berkurang dengan menggunakan basis pasta yang mengandung abrasif kalsium karbonat dan surfaktan natrium lauril sulfat yang ada dalam formula.72 % dan 8.3 8.90 % untuk formula basis ( F0 ). 1 2010 ISSN : 2087-5045 Analisis Data Untuk menilai efektifitas antiplak bromelain dalam pasta dianalisis menggunakan statistik analisis varian satu arah yaitu antara basis pasta. 8.8 9.1 9.90%).3 65.6 57.7 52.SCIENTIA VOL. Proses pengurangan plak juga dipengaruhi oleh frekwensi.8 59. pasta gigi bromelain ( F3 ) dan pasta gigi pembanding ( P ) secara berturut-turut. HASIL DAN PEMBAHASAN Uji antiplak pasta gigi bromelain kasar dilakukan selama 7 hari. 1 NO.1 70.4 61.4 8.1 7 Χ 3.4 3.3 3 3.6 65.1 70. (Tarigan . Daya anti plak disebabkan adanya kemampuan bromelain untuk mengurangi dan menghilangkan plak yang terbentuk.384 %KV= 15.5 62.3 62.1 8.04 %. pasta gigi bromelain kasar dan sediaan pembanding enzim ®. Parameternya adalah % RKP sebelum dan setelah perlakukan.7 8. Makanan sangat berpengaruh sekali terhadap jumlah plak yang terbentuk. Proses pengurangan plak dari pasta gigi bromelain kasar diduga karena kemampuannya untuk memecah atau menguraikan protein saliva disamping juga terjadi secara fisik dengan adanya abrasif dalam pasta.2 56.55 17 . 2000).1 60. Dari hasil perhitungan rata-rata persentase Rekam Kontrol Plak ( RKP ) adalah 3.9 8. Proses pengurangan plak ini terjadi secara fisika dengan persentase penurunan plak yang rendah.1 69.72% ± 0.3 65 62.72 % ) dan mendekati pasta gigi pembanding (8. Penelitian dilakukan pada gigi tiruan resin akrilik . Dugaan lain adalah bromelain dapat memutuskan ikatan protein dari sisa makanan yang menempel pada gigi.alanin yang merupakan asam -asam amino penyusun protein.1 2.391 %KV=12.9 66.1 60 62 62.4 57.3 66. 1990) Tabel 2. lama dan cara menggosok gigi (Ariningrum.9 62 62 59.5 3.5 9.6 10.04%± 0.86 2 F3 8. Pada sediaan uji pasta gigi bromelain diperoleh persentase penurunan (RKP) yang lebih tinggi ( 8.

Diterjemahkan oleh Farida Ibrahim. C 1989.000.9000 1. 1974. The National Formulary. Jakarta. Farmakope Indonesia. SASARAN Kepada peneliti selanjutnya disarankan untuk mengembangkan formula pasta gigi dan menguji stabilitas pasta gigi bromelain kasar sehingga pada akhirnya dapat DAFTAR PUSTAKA Anonim. N 5 5 5 Subset for alpha = . Anonim. Jakarta. Anonim. Anonim.05) dan berbeda nyata dengan formula basis pada p > 0. Jakata. Uses Harmonic Mean Sample Size = 5.05 1 2 3. Jakata. 1994. 18 . dan persentase plak Duncan a tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara pasta gigi bromelain ( F3 ) dengan pasta gigi pembanding ( P ) pada p < 0. 2007. Materia Medika Indonesia. edisi III. Anonim. Formularium Kosmetika Indonesia. cetakan pertama . 1 2010 ISSN : 2087-5045 Keterangan : F0 F3 P X X KV : : : : : : Basis pasta gigi formula C konsentrasi abrasif 40 % Formula pasta gigi bromelain konsentrasi 5 % Pasta gigi pembanding ( Enzim® ) Nilai selisih Rekam Kontrol Plak (RKP) Rata – rata nilai selisih Rekam Kontrol Plak (RKP) Koefisien variansi Hasil uji statistik dengan analisis varian satu arah memperlihatkan terdapat perbedaan yang bermakna antara formula basis ( F0 ) dengan pasta gigi bromelain ( F3C) dan pasta gigi pembanding ( P ) pada p > 0. USA.759 Means for groups in homogeneous subsets are displayed. Anonim. USP 30/ NF 25. perlakuan F0 F3 pembanding Sig. Hasil uji statistik dapat dilihat pada tabel di bawah ini.05. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi edisi IV. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.0400 8. Ansel. Jakarta. 1 NO.000 . Penerbit Universitas Indonesia. 1979. Vol III. 1989.05. 1985.7200 8. Ekstra Pharmakope Indonesia. Jakarta. KESIMPULAN Dari penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut Bromelain kasar 5% dalam pasta gigi mempunyai efektifitas antiplak yang tidak berbeda nyata dengan sediaan pembanding ( p< 0. Departemen Kesehatan Republik Indonesia . Farmakope Indonesia. edisi IV. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.SCIENTIA VOL.05. a. H.

. Jogjakarta: 1-5. S. Universitas Indonesia press. Medan. Nenas Budidaya dan Pasca Panen.. 1989. Pocher’s Perfumes Cosmetics and Soap.Artini. 1992.. Charpman and Hall. 40 : 129-134 . Sci . Hipokrates. in septis in chidren. Cracken.Enzim Bromelain dari Bongkol Nenas sebagai Bahan Pembersih Gigi Tiruan Resin –Akrlirik.. 2002. 1982. 2008. W. 1990 . Lincoln. Hidayah . Rev. Jakarta.. T. Pertanika 13(1) . Harry’s Cosmetology.2006. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Balsam. pharmacology and medical use. Kelly G. Hirose T. dan S. Mori S. Steptoccus mutans Si Plak Dimana-mana.12.H.S. 2002. Schiess W 2002. Daliemunthe.19(3) :147153. E. Vol 1. George Goodwin HC. Tarigan. Apr 50527-31.W. Vol III.. 219 – 228. and R. Assoc Physicians India.SCIENTIA VOL. Nugraha. M and Sagarin. 2nd ed.1982 Clinical and Oral Microbiology. Shanbag P. 75 – 77.edisi III. Maurer HR. Hayati. Life . Pendidikan Kesehatan Gigi. Daftary GV. Effects of Sucrose Concentration on Crude Bromelain Production of in Vitro Culture of Pineapple ( Ananas comosus var.. Fakultas Farmasi USD. 1990. New York. S. 1985.L Kaning . FKG Universitas Sumatera Utara. Science and Technology. Hemisphere Publishing Corp. Karies Gigi. Teori dan Praktek Farmasi Industri. J. A. L. Mutta. 58 (9). Butler. HA. Reinvestigation of Fractionation and Some Properties of Proteolitically Active Components of Steam and Fruit Bromelain. 1985.113-121 Rukmana. 2008. 1992. Ngampanya B. 1996 . 1: 405-410 Lachman.N. Periodonsia.. 1 NO. S Indriani..S.. Kasetsart J... A. London. Biochem. Yogyakarta. Kundra M. SasakiT. Nat. Jakarta. Ota. London. Yogyakarta. Noerono. Acta Obstet Gynaecol Jpn. Bandung. M. and. Isolasi dan Karakterisasi Ekstrak Kasar Enzim Bromelain Dari Batang Nenas (Ananas comosus L. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember.( 1972) The clinical effect of proteolytic enzyme containing bromelain and trypsin on urinary tract infection evaluated by double blind method . Turakhia NH.2000.Bromelain : a literature review and discussion of its therapeutic applications. D.. Proses Penghasilan Bromelin Daripada Batang Nenas. 1994.. Voight. E. 98. Med.Moore. J Penel. and S Phongtongpasuk . Kanisius. Ojima Y. S.Wijaya dan Sulistyaningsih. Cell Mol. R.Khrisna.Fauzi. New York. Altern. Diterjemahkan oleh S. Suyatmi. 1996 . Herdyastuti.. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi edisi V. J and R. Lieberman and J. R. Biochemistry. Shahid SK. Glider WV and MS Hargrove... Cosmetics. 2001. Sci. S E. Cowson. H. Bromelain..Using Bromelain in Pineapple Juice to Investigte Enzym Function. 2006. Efficacy and safety of phiogezym-aprotease formulation. Ramli W. Merr). Diterjemahkan oleh S. 2Pattavia ). Hashimoto Y. 19 . R.J. N. Wilkinson. A. EGC. Universitas Gadjah Mada Press.A. Herijulianti.

skin irritation test and effects on burns. L. type of cream. ) UNTUK PENGOBATAN LUKA BAKAR Farida Rahim. VCO memiliki sederet manfaat dan khasiat baik medis maupun kosmetik. dan kontaminan lainnya.1997). which the value of F count treatment is smaller than the F table at α 0. salah satunya digunakan sebagai bahan obat (Rukman. lemak. zat besi. vitamin B1. karbohidrat. vitamin C (Rukmana. 1 2010 ISSN : 2087-5045 FORMULASI KRIM EKSTRAK ETANOL DAUN UBI JALAR ( Ipomoeae batatas. vitamin A. Keywords: Ipomoeae batatas. Kandungan dari VCO salah satunya adalah asam lemak rantai tak jenuh berperan sebagai agen antimikrobial yang hebat. sayur-sayuran dan tanaman pangan. fosfor. 2008). VCO juga memiliki tekstur krim alami. 1 NO. 20 . Banyak sekali tanaman di Indonesia yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara komersil. pH.Padang ABSTRACT Formulation of cream for treatment of burns has been studied. cream. fungsinya adalah menolak pembentukan radikal bebas dan kemampuan mempertahankan sistem kekebalan membuat minyak ini bermanfaat untuk mencegah dan mengobati berbagai gangguan kesehatan. Nurwani Purnama Aji STIFI Perintis . From the statistical calculation using one-way analysis of variation (ANOVA) we found that sweet potato leaf ethanol extract containing cream provide healing on burns. The evaluation results showed that ethanol extract of sweet potato leaves can be formulated in creams which are physicaly stable and provide a healing effect on burns. which were tested on animals. vitamin B2.05. Salah satu jenis tumbuhan yang digunakan sebagai obat tradisional adalah ubi jalar (Ipomoea batatas L.) dari famili Convolvulaceae. 2006). Cream formula consisting of 3% ethanol extract of sweet potato leaves as an active ingredient. The results showed that the F1B formula has the fastest healing effect on burns (7 days). tanaman holtikultural. flavonoid. Virgin coconut oil merupakan minyak yang berasal dari buah kelapa (Cocos nucifera) tua segar yang diperoleh pada suhu rendah (<60 0C) yang terbentuk setelah santan didiamkan dalam beberapa hari (Setiaji. VCO. burns PENDAHULUAN Negara Indonesia merupakan salah satu negara agraris yang memiliki potensi untuk mengembangkan buahbuahan tropis. kalsium. susunan molekular kecilnya memudahkan penyerapan serta memberi tekstur yang lembut dan halus pada kulit (Hadibroto. Cream bases used in this study were variated with and without Virgin Coconut Oil (VCO). particle size distribution. 2006) tanpa proses pemutihan sehingga menghasilkan minyak murni. polifenol dan umbinya mengandung beberapa senyawa seperti protein. 1997. The formulas was evaluated for their organoleptic. homogeneity. bebas dari pestisida. Mimi Aria. Argomedia.. Bagian tumbuhan ubi jalar yang digunakan adalah daun yang mengandung beberapa senyawa seperti saponin.SCIENTIA VOL.

desikator. Formula Krim Ekstrak Etanol daun ubi jalar Nama Bahan Ekstrak etanol daun ubi jalar Basis Krim ad F1A 3% 100 F1B 3% 100 Keterangan : F1A = Krim dengan konsentrasi Ekstrak Etanol daun ubi jalar 3% tanpa VCO F1B = Krim dengan konsentrasi Ekstrak Etanol daun ubi jalar 3% dengan VCO Krim dibuat dengan cara: ditimbang ekstrak etanol daun ubi jalar 3% digerus dalam lumpang ditambahkan 21 . digerus sampai dingin dan terbentuk masa krim yang homogen. waterbath. Fase minyak dipindahkan kedalam lumpang dan ditambahkan fase air (pencampuran dilakukan pada suhu 60oC – 70oC). kemudian fase minyak dipindahkan dalam cawan penguap. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Dari penjelasan di atas dicoba membuat formula ekstrak etanol daun ubi jalar dan Virgin Coconut Oil (VCO) dalam bentuk krim untuk pengobatan luka bakar. nipagin. timbangan digital. etanol 96%. krus porselin. mudah dicuci setelah dioleskan. krim dapat digunakan pada kulit dengan luka yang basah.1 0. Tabel 1. nipasol.5 3 5 20 0. trietanolamin. oven. asam stearat. paraffin liquid. 1 NO. dan terdistribusi merata. Basis krim dibuat dengan cara: Semua bahan yang diperlukan ditimbang. pinset.SCIENTIA VOL. Alat yang digunakan adalah alatalat gelas standar laboratorium. Selanjutnya digunakan hewan percobaan untuk menguji aktifitasnya untuk pengobatan luka bakar. Ekstrak kental yang diperoleh dievaluasi organoleptis. penetapan kandungan air.05 100 F0B 14. batang pengaduk. botol semprot. stamper. Krim dipilih karena sediaan ini mempunyai keuntungan diantaranya mudah dioleskan pada kulit. Tabel 2. kelarutan. mortir. kandungan kimia. kaca arloji. aquadest. botol marserasi. Ekstrak daun ubi jalar dibuat dengan cara maserasi selama lima hari menggunakan etanol 96%. buret.5 1. pemeriksaan pH.1 0. pH meter Inolab. Formula Basis Krim Nama Bahan Asam stearat Trietanolamin adeps lanae Paraffin liquidum Virgin Coconut Oil (VCO) Nipagin Nipasol Aquadest ad F0A 14. Virgin Coconut Oil (VCO). kertas perkamen. pipet tetes.5 3 25 0. kadar abu. oven vakum. rotary evaporator.05 100 Keterangan : F0A = Krim tanpa Virgin Coconut Oil (VCO) F0B = Krim dengan Virgin Coconut Oil METODA PENELITIAN Bahan yang digunakan adalah daun ubi jalar putih. cawan penguap. dipanaskan diatas waterbath dengan suhu 70oC sampai lebur. adeps lanae. plat tetes. corong.5 1. Fase air di panaskan di atas waterbath pada suhu 70oC sampai lebur. lemari pendingin. hewan percobaan yang digunakan adalah mencit putih.

daya tercuci krim dan uji iritasi kulit. sepatel tersebut ditempelkan pada kulit punggung mencit yang sudah dirontokkan bulunya selama ± 5 detik. tipe krim. Pemeriksaan basis krim dan krim meliputi organoleptis. homogenitas. yang dilakukan setiap minggu selama 8 minggu. 1 2010 ISSN : 2087-5045 sedikit demi sedikit basis krim ad 100 g digerus pelan-pelan sampai homogen. pemeriksaan ini dilakukan setiap minggu selama 8 minggu pengamatan. pH. Pada pemeriksaan organoleptis formula basis krim dan krim ekstrak etanol daun ubi jalar tidak menunjukkan adanya perubahan bentuk. Krim Ekstrak Etanol Daun Ubi Jalar (Ipomoea Minggu ke IV V SP SP P P BK BK SP SP Hi Hi BK BK SP SP P P BK BK SP SP Hi Hi BK BK II SP P BK SP Hi BK SP P BK SP Hi BK III SP P BK SP Hi BK SP P BK SP Hi BK VI SP P BK SP Hi BK SP P BK SP Hi BK VII SP P BK SP Hi BK SP P BK SP Hi BK VIII SP P BK SP Hi BK SP P BK SP Hi BK : Basis krim tanpa Virgin Coconut Oil ( VCO ) : Basis krim dengan Virgin Coconut Oil ( VCO ) : Krim Ekstrak Etanol Daun Ubi Jalar 3 % tanpa VCO : Krim Ekstrak Etanol Daun Ubi Jalar 3 % dengan VCO : Hijau : Putih : Setengah Padat : Bau khas 22 . Spatel dibakar dengan nyala api ± 60 detik. Pada kulit yang melepuh atau mengalami luka bakar tersebut dioleskan formula krim secara tipis dan merata 3 kali sehari untuk masingmasing formula. F1B Bentuk SP Warna Hi Bau BK Keterangan : F0A F0B FIA FIB Hi P SP BK Pada pengujian efek ini digunakan Lanakeloid-E ® sebagai pembanding. 1 NO. distribusi ukuran partikel. pemeriksan tipe krim. F1A Bentuk SP Warna P Bau BK 4. warna dan bau. L) No Formula Organoleptis I 1. masing-masing kelompok 3 ekor. Uji efek luka bakar dilakukan dengan menggunakan hewan percobaan mencit 15 ekor untuk 5 kelompok. HASIL DAN PEMNBAHASAN Ekstrak etanol daun ubi jalar dan VCO diformula dalam bentuk krim.SCIENTIA VOL. F0A Bentuk SP Warna P Bau BK 2. F0B Bentuk SP Warna Hi Bau BK 3. Kemudian dilakukan pengamatan setiap hari untuk melihat efeknya sampai terjadi penyembuhan total. dengan konsentrasi ekstrak 3%. Parameter yang diamati adalah hilangnya vesikel dan perubahan warna kulit dari pucat menjadi pucat hilang. Pada pemeriksaan homogenitas basis krim dan krim ekstrak etanol daun ubi jalar menunjukkan bahwa semua sediaan telah homogen dan terdispersi merata. pH krim. Tabel III. Hasil Pemeriksaan Organoleptis batatas. Basis krim dan krim yang dibuat di evaluasi meliputi pemeriksaan organoleptis. homogenitas.

27 8. Hasil pemeriksaan uji iritasi dilakukan langsung pada manusia dengan cara uji tempel tertutup dimana sediaan uji 0.84 7. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Hasil pemeriksaan tipe krim. Sedangkan FoA memberikan waktu penyembuhan selama 11 hari.61 VII 8. F1A = 6. F1A dan Lanakloid-E memberikan waktu penyembuhan 8 hari.53 7. L) Minggu ke IV V 8. kemudian ditutup dengan kain kasa.02 7.SCIENTIA VOL.81 7.81 8.86 8. hasil yang didapat masih memenuhi syarat karena dalam literatur dinyatakan ukuran partikel yang stabil secara fisik antara 1. Pada uji efek basis krim dan krim ekstrak etanol daun ubi jalar dan basis krim yang mengandung VCO dan yang tidak mengandung VCO terhadap pengobatan luka bakar.12 7. 4.53 7. 1 NO. Formula FOA FOB F1A F1B I 7. dimana saponin ini mempunyai kemampuan sebagai pembersih sehingga dapat membantu mempercepat penyembuhan luka terbuka. tipe krim adalah minyak dalam air. Hal ini menunjukkan bahwa basis krim dan krim ektrak etanol daun ubi jalar dapat digunakan untuk penyembuhan luka bakar.78 7.22 7.26 – 8. Tabel IV. sedangkan polifenol berkhasiat sebagai adstringen jika dioleskan pada jaringan hidup. Daun ubi jalar yang digunakan mengandung flavonoid. saponin dan polifenol. 2.991 µ m.837 µ m. flavonoid yang terkandung didalam daun ubi jalar dapat digunakan sebagai pencegahan terhadap infeksi luka karena mempunyai daya antiseptik (Harborne.783 µ m.69 7. Hasil pengamatan distribusi ukuran partikel basis krim dan krim ekstrak etanol daun ubi jalar menunjukan rata-rata ukuran panjang kecil dari 10 µ m.56 7.70 7. FoB memberikan waktu penyembuhan selama 9 hari.74 7.48 7.41 VIII 8.62 7. pemeriksaan tipe krim dilakukan dengan menggunakan zat warna yaitu metilen blue memperlihatkan penyebaran metilen blue yang merata setelah diteteskan pada selapis krim diatas kaca objek. Hasil Pemeriksaan pH Krim Ekstrak Etanol Daun Ubi Jalar ( Ipomoea batatas. F1B = 4.51 7.69 No 1.65 7. Setelah 24 jam diamati gejala yang timbul.78 7.57 8. ternyata memberikan sedikit variasi waktu penyembuhan. FOB = 4.92 8.45 Pada pemeriksaan distribusi ukuran partikel diperoleh rata-rata ukuran panjang FOA = 4. 1987).17 7. 8095 µm.26 Ratarata 8. Pemeriksaan ini dilakukan terhadap 5 orang sukarelawan pada masing-masing formula. pemeiksaan pH dilakukan terhadap basis krim dan krim ekstrak etanol daun ubi jalar dan hasil pemeriksaan pH krim diperoleh ph berkisar antara 7.98 7. Hasil pemeriksaan uji iritasi pada 5 orang sukarelawan menunjukkan tidak ada satupun formula basis krim dan krim ekstrak etanol daun ubi jalar yang mengakibatkan iritasi pada kulit panelis. Hasil pemeriksaan pH dilakukan dengan menggunakan alat pH meter inolab.21 7. 3.50 µ m. Krim ekstrak etanol daun ubi jalar dengan menggunakan basis krim yang mengandung Virgin Coconut Oil (VCO) mampu memberikan efektifitas lebih cepat dibandingkan dengan formula lainnya.56. Formula yang memberikan waktu penyembuhan paling cepat adalah formula F1B dimana waktu yang diperlukan untuk penyembuhan selama 7 hari.04 VI 8. polifenol 23 .15 7.19 7.1 gr dioleskan pada lengan atas bagian dalam dengan luas 4 cm 2 .06 III 8.0 II 8.73 7.

Ed. Anonim. Anonim. H.. 1989. Jakarta. Jakarta Anonim.C. Jakarta. Penerbit Universitas Indonesia. Dari perhitungan uji statistik analisa variasi satu arah (ANOVA) diketahui bahwa krim ekstrak etanol daun ubi jalar dapat memberikan penyembuhan terhadap luka bakar. Ed. Farmakope Indonesia. United States of America. 2005). M. Jakarta. Farmasetika. Anonim. 2006. Jakarta.3. Ilmu Meracik Obat. 1979. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1990. Jakarta. Jakarta. Dimana nilai F hitung perlakuan lebih kecil dari pada F tabel pada α 0. Ditjen POM Depkes RI. Ekstrak etanol daun ubi jalar dan Virgin Coconut Oil (VCO) dapat diformulasi dalam bentuk krim yang stabil secara fisika dan kimia selama 8 minggu penyimpanan. Gaja Mada University Press. 1 2010 ISSN : 2087-5045 dalam pengobatan berkhasiat sebagai antiseptik yang berfungsi sebagai pelindung pada kulit dan bermanfaat untuk regenerasi jaringan.. alih bahasa oleh Farida Ibrahim. 1 NO. Formulasi Gel Ekstrak Etanol Daun Ubi Jalar 24 . Anonim.05 SARAN Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk memformula ekstrak etanol daun ubi jalar dalam bentuk sediaan dan uji efektifitas farmakologi yang lain. H. Dari perhitungan uji statistik analisa variasi satu arah (ANOVA) diketahui bahwa krim ekstrak etanol daun ubi jalar dapat memberikan penyembuhan terhadap luka bakar. Ditjen POM Depkes RI.. 1986. Formula krim ekstrak etanol daun ubi jalar (Ipomoea batatas . Ekstrak Farmakope Indonesia. Anief.SCIENTIA VOL. M. 1995. Ditjen POM Depkes RI. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi.05. 2008. Materia Medika Jilid V. Yogyakarta. Gaja Mada University Press. Argomedia Pustaka. 4. 1982. Farmakope Indonesia. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. DAFTAR PUSTAKA Ancel. Fomularium Kosmetik Indonesia. Anief. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. 2007. 2. 2000. Ed. Jakarta. 3.4. Anonim. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. VCO yang digunakan mampu mempercepat penyembuhan luka bakar karena merupakan minyak yang mengandung asam lemak jenuh rantai sedang yang mendukung penyembuhan dan perbaikan jaringan tubuh (Gani.. Buku Pintar Tanaman Obat.L) dengan basis krim yang mengandung VCO (F1B) memberikan efek penyembuhan luka bakar yang paling cepat yaitu 7 hari. dimana nilai F hitung perlakuan lebih kecil dari pada F tabel pada α 0. Sediaan Galenika. Jakarta. et al. Anonim. USP 30/ NF 25 Volume III. Asrahyuni. 1994. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. redaksi. Yogyakarta. 1972. Argomedia. 1991. Anonim.

Z. 1990. Metoda Fitokimia Penentuan Cara Modern Menganalisa Tumbuhan. [5 Juni 2010] Rahim. New York. Padmawinata. 1995.. and Gilman. Editor 2006. Yogyakarta. Penerbit Buku Kedoteran. 1 2010 ISSN : 2087-5045 (ipomoea batatas L. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Rukmana. M. alih bahasa oleh S. Jakarta. 2006. PT Samindra Utama. 1998. Hadibroto. A. Editor.. Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi.. 2.3.. Yogyakarta. 2005. 1987.H. Luka Bakar Pengetahuan Klinis Praktis.F. Formulasi Krim Minyak Kelapa Murni Untuk Penyubur Rambut. Jakarta. Skripsi.S. Universitas Gajah Mada Press. Kanisius. Syamsuni. Laporan Penelitian Dosen Muda. F. Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Yayasan Perintis. 2006. Ed. PT.L Kaning. Lieberman and J. R.S. Jakarta. Ubi Jalar Budi Daya dan Pasca Panen.. Padda. Jakarta. Cetakkan ke-1. D.5..http//:etd... Jellinek. Yogyakarta. php/inf-sehat/292-daun-ular-obatdbd-paling-ampuh-?format=pdf Lachman.com/indek.B. Herlinawati. S. Puspa Swara. 4th Edition. Physical pharmacy. J. 1998. 2th Edition.Pdf. Martin. Pennsyluania. 1962. The Structure and Fuction of the Skin.. A. New York. Pharmacologycal Basis of Edition. Dede.Isu. Mantagha. Phenolic Composition And Antioxidant Activity Of Sweet Potatoes.2000.http://ekasi. London.H. Goodman. Kanisius. Gani. Mack Publishing Comp. R. Gramedia. Harbone. Jakarta. B. Ed. B. 1 NO. Cetakan ke-2. Bebas Segala Penyakit dengan VCO.A. 1995. Remigton Pharmaceutical Sciense. W.). Fakultas Farmasi. Formulation and Fundaction of Cosmetics. Diet VCO. Willey Intercienci. alih bahasa oleh Kosasih. 2006.. Bandung. Gramedia. L. A. 2005. Lea and Febiger. Padang. Membuat VCO Berkualitas Tinggi.. L. 1997. Juanda. Waluyo. Teori dan Praktek Farmasi Industri II. F. Penebar Swadaya. et al. Penerbit Universitas Indonesia. Y.N. Martin. H. 15th edition..2009. 2006. 25 . Jakarta.. Moenajad. Osol.2004. Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Yayasan Perintis. PT. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Serial. Yogyakarta.. alih bahasa oleh S. Setiaji.J. Ubi Jalar Budidaya dan Analisis Usaha Tani. Voight. 8th Pergamos Press. Terapheutic.. Terapi Minyak Nabati Keampuhan VCO dan 16 Minyak Ajaib. Prentice hall International. Jakarta.. 1974.. Inc.SCIENTIA VOL. Cherry. Kanisius. Mursito..Suyami. Parameter Pasien Luka Bakar. M. Effendi. Khristianto.. Easton. C. Hariana. 1975. Srikandi. Philadelphia. 2001. Penebar Swadaya. 1991. New York.edu/docs/av ailable/etd-04062006085455/unrestricted/paddadis. Y. Penyakit Kulit.Noer... Jakarta.. Yogyakarta. H. Ed. Terbitan ITB. Jakarta.. 1994. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Fundamental of Anatomy and Phsiologi. Harahap. Padang. Sehat Diusia Lanjut Dengan Ramuan Tradisional..

alkaloid isokuinolin. Khasiat dari biji jintan hitam adalah untuk mengobati aneka penyakit seperti menguatkan sistem kekebalan tubuh. monosit. memperbaiki saluran pencernaan. oleat.01). anti tumor. titer antibody. From result of the research show that extract who give it at the dose 50 mg/kg BW. dan Timur Tengah untuk mengobati berbagai macam penyakit. 2009).) yang merupakan rempah– rempah yang telah digunakan sebagai tanaman obat. mutu. diabetes.) dapat menghasilkan efek stimulator pada sistem imun tubuh. Pakistan. nigellamine-n-oxide. 14th day and given extract on to 15th day up to 20th day. 1 2010 ISSN : 2087-5045 AKTIFITAS EKSTRAK ETANOL BIJI JINTAN HITAM (Nigella sativa Linn. dan linolenat (Hendrik.SCIENTIA VOL. Jintan hitam ini 26 . Kandungan kimia dari jintan hitam (Nigella sativa Linn. anti histamin atau anti alergi.) for the titers antibody and amount of leucosit cell to the mice. and limfosit cell (P<0. Penggunaan jintan hitam sebagai obat atau yang berkhasiat obat adalah pada bagian bijinya. 2009). the mice who has given induction anti-gen (Goat Eritrosit 5%) for the 1th. Rempah ini berbentuk biji hitam yang telah dikenal ribuan tahun yang lalu dan digunakan secara luas oleh masyarakat India. minyak lemak. dan aktivitas sel–sel imun tubuh. 1983). 7th. Jenis tanaman ini telah disebut–sebut sebagai tanaman obat dalam perkembangan awal agama Islam (Hendrik. meningkatkan produksi air susu ibu. leucosit PENDAHULUAN Pemakaian obat tradisional masih banyak digunakan dalam meningkatkan kesehatan masyarakat di Indonesia meski sekarang sudah banyak orang menggunakan obat–obatan modern sebagai pelengkap tetapi obat tradisional masih mempunyai kedudukan khusus dalam masyarakat.) merupakan tanaman yang dapat merangsang dan memperkuat sistem imun tubuh manusia melalui peningkatan jumlah. 200 mg/kg BW can improvement the titers antibody. Jintan hitam (Nigella sativa Linn.) TERHADAP TITER ANTIBODI DAN JUMLAH SEL LEUKOSIT PADA MENCIT PUTIH JANTAN Suhatri dan Yufri Aldi Fakultas Farmasi Universitas Andalas ABSTRACT The research about Activity of Given Extract Jintan Hitam seed (Nigella sativa Linn. menjaga elastisitas kulit. steroid. Pengobatan secara tradisional berdasarkan pada upaya untuk mengembalikan dan memperkuat penyembuhan secara alami (Donatus. asama. senyawa golongan alkaloid. 100 mg/kg BW. Protein–protein yang terkandung dalam ekstrak jintan hitam (Nigella sativa Linn. bronkhitis. Salah satu tanaman tradisional yang digunakan adalah Jintan Hitam (Nigella sativa Linn. Keywords: Nigella sativa. minyak atsiri. The amount bar neutrofil cell.) ini mengandung nigellienine. saponin. anti oksidan. 1 NO. menurunkan kolesterol dan meningkatkan kinerja jantung. kanker. anti bakteri.

27 . Bahan terlarut yang disekresi dapat berupa antibodi. rak tabung reaksi. mekanisme pertahanan ini merupakan bawaan (innate) artinya pertahanan tersebut secara alamiah ada dan tidak adanya dipengaruhi secara intrinsik oleh kontak dengan agen infeksi sebelumnya (Bratawijaya. dan sel NK). dan sitokin. botol maserasi. air suling. eusinofil. 2002). metanol murni. 1988). vial. tabung reaksi. Prosedur Kerja Pembuatan Sampel 1 kg Biji jintan hitam diekstraksi dengan etanol 96 % kemudian pelarutnya diuapkan secara vakum sehingga diperoleh ekstrak kental sebanyak 29. eritrosit kambing. Pertahanan non spesifik meliputi kulit dan membran mukosa.) terhadap sistem imun non spesifik dengan menghitung jumlah antibodi menggunakan metoda titer antibodi. plat tetes. Berdasarkan hal diatas maka peneliti telah melakukan pengujian aktivitas ekstrak etanol biji jintan hitan (Nigella sativa Linn. gelas ukur. heparin (D34209 Melsungen Germany). komplemen. Respon imun diperantarai oleh berbagai sel dan molekul terlarut yang diseksresikan oleh sel-sel tersebut. dan trombosit). Mekanisme pertahanan ini berperan sebagai garis pertahanan pertama dan menghambat kebanyakan patogen potensial sebelum menjadi infeksi yang tampak (Subowo. 1 NO. METODOLOGI PENELITIAN Alat Alat-alat yang digunakan adalah seperangkat alat destilasi vakum. yaitu pertahanan non spesifik dan spesifik. dan mikroskop. jarum suntik. menghitung bobot relatif limfa mencit putih jantan dan menghitung jumlah sel leukosit dengan metoda hapusan darah pada mencit putih jantan. NaCl fisiologis. monosit dan magrofag). gunting.SCIENTIA VOL. sel fagosit (neutrofil. Terhadap ekstrak kental ini dilakukan standarisasi ekstrak seperti kandungan metabolit sekunder dan susut pengeringan.85 g. rotary evaporator. yaitu menghasilkan reaksi spesifik pada setiap agen infeksi yang dikenali karena telah terjadi paparan terhadap mikroba tersebut sebelumnya.1993). mediator radang. etanol 96%. 1988). sel mast. timbangan. sel asesori (basofil. spatel. minyak emersi. Sel– sel utama yang terlibat dalam reaksi imun adalah limfosit (sel B. Bahan Bahan-bahan yang digunakan adalah biji jintan hitam. sel–sel jaringan. 1993. Mekanisme pertahanan ini dibagi menjadi dua kelompok fungsional. sel T. Sistem pertahanan ini sangat efektif dalam memberantas infeksi serta mengingat agen infeksi tertentu sehingga dapat mencegah terjadinya penyakit dikemudian hari (Tizar. lumpang dan alu. Tizar. Sistem pertahanan ini bersifat adaptif dan didapat. Mekanisme pertahanan spesifik meliputi sistem imunitas humoral yaitu dengan produksi antibodi oleh sel B dan sistem imunitas seluler oleh sel T. 1993). Sel – sel lain dalam jaringan walaupun bukan merupakan bagian utama dari respon imun juga dapat berperan serta dengan memberi isyarat pada limfosit atau berespon terhadap sitokin yang dilepaskan oleh limfosit atau makrofag (Wahab. 1 2010 ISSN : 2087-5045 bekerja sebagai imunomodulator yaitu yang bekerja dengan cara melakukan modulasi (perbaikan) terhadap sistem imun (Bellanti. pewarna Giemsa (D6 100-darstadt). kaca objek.

ambil darah dengan cara memotong vena bagian leher. kocok sampai homogen.2 ml suspensi eritrosit kambing 5% pada hari 1 secara intra peritoneal. ¼. kemudian digerus dan ditambahkan kedalam ekstrak yang telah ditimbang. 200 mg/kg BB dengan berat ekstrak masing-masing 0.2 gram untuk volume 10 ml. 1/32. Gunakan cara yang sama untuk dosis 100. ulangi 3 kali dengan menambahkan 5 ml NaCl fisiologis setiap pengulangan. lalu keringkan. 1 NO. buang supernatannya. Angka titer dihitung dengan rumus : 2 Log Pengenceran Menghitung Jumlah Sel Leukosit dari Metode Hapusan Darah Darah segar diteteskan pada gelas objek satu tetes.kemudian disentrifus dengan kecepatan 2000 rpm selama 15 menit.2 ml serum. Tambahkan satu tetes larutan Giemsa yang telah diencerkan dengan aquadest (1:20).) dengan 50 mg Na CMC yang dikembangkan dengan air panas 1 ml. 100 mg/kg BB. 1 /128. Sentrifus dengan kecepatan 2000 rpm selama 5 menit. lalu tipiskan dan ratakan dengan gelas objek lain sehingga diperoleh lapisan darah yang homogen (hapusan darah). kemudian kocok sampai homogen. buang 0.2 ml pada masing-masing tabung. biarkan selama 20 menit. sehingga menutupi seluruh hapusan darah. lalu disentrifus dengan kecepatan 2000 rpm selama 15 menit. Setelah kering tetesi dengan metanol. biarkan 5 menit. amati penggumpalan yang terjadi. Pipet 0.1 dan 0. setelah kering lihat di mikroskop. neutrofil segmen. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Pembuatan antigen Darah kambing dicuci dengan larutan NaCl fisiologis (1:1) masing– masing sebanyak 5 ml aduk homogen. dan 1/1024. dan monosit pada perbesaran 1000 X dengan 28 . Masukkan 0. Kemudian hitung jumlah sel eusinofil. siapkan 10 buah tabung reaksi. Pada tabung kesepuluh. kemudian lakukan pembosteran dengan 0. neutrofil batang. Pembuatan larutan uji Larutan uji dengan dosis 50 mg/kg BB dibuat dengan cara mensuspensikan 50 mg ekstrak etanol biji jintan hitam (Nigella sativa Linn. biarkan selama 30 menit. Sensititasi Hewan Hewan percobaan yang telah diaklimatisasi kemudian disensitisasi (pemberian antigen pertama) dengan 0.SCIENTIA VOL.2 ml larutan.2 ml eritrosit kambing lalu cukupkan dengan NaCl fisiologis hingga volume suspensi 4 ml). 1/16 . Ambil bagian serumnya. Setelah didapatkan eritrosit kambing kemudian buat suspensi 5% (ambil 0. 1/64.2 ml larutan pada tabung kedua dan pindahkan kedalam tabung ketiga. 200 mg/kg BB.2 ml larutan pada tabung pertama pindahkan kedalam tabung kedua kemudian kocok dan pipet 0. masukkan larutan NaCl fisiologis 0.1 ml suspensi eritrosit kambing 5% secara subkutan pada hari ke 7 dan 14. limfosit. Lakukan hal ini sampai pada tabung reaksi kesepuluh. Penentuan Titer Antibodi Pada hari ke 21 mencit dibunuh. 2008). 1 /512.1 ml suspensi eritrosit kambing 5 % kedalam masing-masing tabung reaksi tersebut. 1/8. gerus homogen dan cukupkan volume dengan aquadest sampai volume 10 ml. 1/256. Pada tabung pertama ditambahkan 0. sehingga hasil pengenceran dari serum yaitu ½. Cuci dengan aquadest. Suspensi ekstrak diberikan pada hari ke 15 sampai hari ke 20 secara oral dengan dosis 50 mg/kg BB. Angka titer ditentukan dengan pengenceran tertinggi yang masih dapat beraglutinasi dengan eritrosit kambing (Sadikin.

Aglutinasi yang terjadi dipengaruhi oleh komplemen. timbang bobot relatifnya satu persatu. Bobot limfa dosis × 100% Bobot mencit 2. Hasil susut pengeringan ini dijadikan faktor konversi terhadap penimbangan dosis yang akan digunakan. 1997). Penimbangan bobot limfa relatif Setelah darah mencit diambil untuk pengujian titer antibodi. preparat yang telah difiksasi. 1 NO. lalu letakkan pada kaca objek dan biarkan mengering. komplek imun dan sebagainya. 1 2010 ISSN : 2087-5045 menggunakan minyak (Supandiman.4 gerus sampai halus dan homogen. tetapi sewaktu-waktu dapat diaktifkan oleh berbagai bahan seperti antigen. Encerkan dengan pewarna Giemsa denga dapar pospat. dengan perbandingan (1:20). steroid dan saponin dengan nilai susut pengeringan adalah sebesar 27. Bobot limfa relatif terhadap kontrol dihitung dengan rumus : HASIL DAN PEMBAHASAN Ekstrak etanol jintan hitam mengandung metabolit sekunder alkaloid. emersi Pengolahan Data (Schefler.18 %. diwarnai dengan cara meneteskan pewarna Giemsa sebanyak 10 tetes biarkan selama 5 menit.SCIENTIA VOL. Persen kenaikan sel dihitung dengan rumus : limfosit Jumlah sel limfosit dosis × 100 % Jumlah sel limfosit kontrol 29 . timbang 50 mg limfa kemudian suspensikan dalam 2 ml larutan dapar pospat pH 7. 1998) Pada penelitian ini data yang diperoleh diolah secara analisis statistik dengan menggunakan metode ANOVA satu arah. . Pipet sebanyak 20 µl larutan limfa. kemudian mencit dibedah dan diambil limfanya. setelah itu difiksasi dalam metanol selama 2 menit kemudian dibilas dengan aquadest dan kering anginkan. Angka titer ditentukan pada pengenceran tertinggi dari serum mencit yang masih dapat beraglutinasi dengan sel darah merah kambing (Subowo. Penghitungan jumlah sel limfosit Setelah didapatkan bobot relatif limfa. Angka titer dapat dicari dengan rumus 2log 4 maka angka titernya adalah 2. menunjukkan bahwa dengan peningkatan dosis pemberian ekstrak etanol biji jintan hitam dapat meningkatkan angka titer antibodi yang merupakan respon imun spesifik. 1993). Komplemen yaitu salah satu enzim serum yang berasal dari sistem imun non spesifik yang larut dalam keadaan tidak aktif. kemudian bilas dengan air suling dan kering anginkan. Sedangkan pada kontrol positif aglutinasi terjadi 2log 16 maka angka titernya adalah 4. Hitung jumlah sel limfositnya dibawah mikroskop menggunakan minyak emersi dengan perbesaran 1000 X. Tabel I. Perhitungan Jumlah Sel Limfosit pada Limfa 1.

00 37.33± 1.76 21.00 7.00 9.00 37.00 9.00 7.88 33.40 112.67 23 ∑ Dari hasil uji statistik analisa varian satu arah dan dilanjutkan ke uji berjarak Duncan.00 41.00 1.67± 2.00± 0.00 8.00 1.00± 1.00 33.02 136.00 28.00 4.00 45.41 25.00 46.00 9.22 22.00 32.00 48.75 18.00 ± 1.47 126. 1 NO.00 2.58 55.67 14 2 2 2 IV log 64 6 log 256 8 log 128 7 7 21 2 2 2 V log 256 8 log 128 7 log 256 8 7.00 35.00 38.00 4.00 37.00 10.00 41.) Netrofil Netrofil Kelompok Hewan Eusinofil Limfosit Monosit Batang Segmen I 1 2.) dapat meningkatkan jumlah sel leukosit darah yang merupakan sistem imun alamiah (non spesifik).33± 2.67 11 2 2 2 III log 16 4 log 32 5 log 32 5 4.00 1.00 7.00 45.33± 6.00 5.00 45.00 41.00 49.00 2.00 31.00 7.00 38.00 1 2 3 3.00 5.58 4.67± 2.00 49.00 3 3.00 2.67± 1.00 7.00 50.00 58.00 32. Tabel II.00 10.67± 3.00 32.00 1 2 3 4.00 1.00 5.34 17.00 29.00 10.00 1. Maka pemberian ekstrak etanol biji jintan hitam (Nigella sativa Linn.00± 2. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Tabel I.00 56.00 47.00 11.00 12.00 11.00 6.74 116.00 2. Titer Antibodi dari Serum Mencit Putih Jantan setelah Diinduksi Antigendan Pemberian Ekstrak Etanol Biji Jintan Hitam (Nigella Sativa Linn. Hasil Perhitungan Sel Leukosit Pada Darah Mencit Putih Jantan setelah Diinduksi Antigen dan Pemberian Ekstrak Etanol Biji Jintan Hitam (Nigella Sativa Linn.52 31.00 9.75 103.00 34.00 14.00 53.00 2.00 7.00 30.64 x ± SD ∑x III x ± SD ∑x IV x ± SD ∑x V x ± SD 30 .87 139.00 7.00 1.33± 0.25 7.00 ± SD x ∑x II 1 2 3 8.00± 2. monosit dan tidak signifikan terhadap sel eusinofil dan neutrofil batang.33± 2.00 8.00 5.00 5.SCIENTIA VOL.00 36.00 53.82 4.33± 2.00 1 2 3 3.00 1.33± 2.00 43.33± 167.67± 0.00 2 3. didapatkan pengaruh dosis sangat signifikan terhadap jumlah sel netrofil segmen.00 6.65 6.00 42.00 8.00 9.00± 1.67 ± 0.00 12.67± 93.67± 1.00 39.00 11.00 7.33± 3.) 1 2 3 2 2 2 No x log Angka log Angka log Angka x Pengenceran Titer Pengenceran Titer Pengenceran Titer 2 2 2 I log 4 2 log 4 2 log 4 2 2 6 2 2 2 II log 8 3 log 16 4 log 16 4 3.00 50.00 42.00 36.00 2.00 9.00 7.00 10.33± 1.00 2.69 7.00 6.00 5. limfosit.33± 0.50 31.

08 0.11±0.22 92.87 76.00 1 2 3 27.00 ∑x 5.00 0.13 0.33±0.52 0. Bobot Relatif Limfa Mencit Putih Jantan setelah Diinduksi Antigen dan Pemberian EkstrakEtanol Biji Jintan Hitam (Nigella sativa Linn.02 0.SCIENTIA VOL. 1 2010 ISSN : 2087-5045 1. Tabel III.67±2.15 0. 1 NO.46 0.55 0.00 0.05 1.00 29. dan poliferasi limfosit.00 26.50 1 2 3 27.00 0.00 27.00 24.00 Penentuan bobot limfa relatif mencit.19 0.13 0.17 0.50±0.03 ±SD x ∑x II 1 2 3 87.10 0.31 0.37 0.43 1.50 82.54 0.38±0.00 0.02 0.54±0. Berdasarkan hasil kenaikan bobot limfa relatif maka dilakukan perhitungan sel limfosit pada limfa.03 1.12±0. sehingga terjadi pembesaran pada limfa.52 80.15 0.) Bobot Bobot Bobot Kelompok Hewan Limfa Relatif Mencit (gr) Limfa (gr) (%) I 1 30.14 0.02 0.15 0.00 27.01 0.52 0.52 3 28.10 0.00 0.44 0.50 28.00 152.00±1.40 0.33 0.00 25.36 0.40±0.76 82. Kenaikan sel limfosit dan bobot relatif disebabkan karena pada limfa terjadi. untuk melihat pengaruh antigen dan ekstrak yang diberikan apakah mengalami perubahan.57 2 29.15 0.00 2.00 27.07 1.00 26.11 0.58 x ±SD ∑x III x ±SD ∑x IV x ±SD ∑x V x ±SD ∑x 31 .12 0.50 28.50±0.06 1.41 0.47 0.54 29.15 0.16±0.10 0.34 28.63 0.10±0.37 0. Dari data dapat dilihat bahwa kenaikan bobot limfa relatif juga diikuti dengan kenaikan sel limfosit pada limfa.14±0.01 0.13 0.53±0.00 21.48±0.50 1 2 3 25.50 25.00 27.41 0. diverensiasi.49 0.33 0.50 26.

00 2.67±5.00 0.00 57. 100 mg/kg BB.00 30.00 1.00 1.00 2.00 1.00 0.33±2.00 2.00 22.00 1.67±0.00 70. Maka penggunaan ekstrak etanol biji jintan hitam sangat efektif imun.00 25.33±4.58 2.00 3.00 Monosit 1.51 184.69 173.00 25.00 Netrofil Batang 3.).51 112.00 52.21 167.00 55.00 1.00 1.00 61.SCIENTIA VOL.67±0.00 1.00 2.00 56.58 5.00 1 2 3 2.00 2.00 2.00 0.00 Netrofil Segmen 38.00 71.33±5.) dapat meningkatkan titer antibodi pada dosis 50 mg/kg BB.73 3.00 72. Jumlah Persentase Sel Limfosit Pada Limfa Mencit Putih Jantan setelah Diinduksi Antigen dan Pemberian Ekstrak Etanol Biji Jintan Hitam (Nigella sativa Linn.00 1.00 58.00 64.00 1.00 66.00 5.00 1.00 61.67±3.51 101.00 6.00 42.00 0.33±0. dan 200 mg/kg BB dan dapat meningkatkan jumlah limfosit.00 1.00 3. 1 NO.00 0.00 69.00±2.00 26.33±0.00 77. dan monosit sangat signifikan (P<0.00 1 2 3 1.) Kelompok I Hewan 1 2 3 Eusinofil 1.00 37.00 3.00 40.15 5.00 1.00 1 2 3 1.00 2.33±5.33±1. Kedua sistem imun diatas berperan penting dalam melindungi tubuh dari serangan mikroorganisme.00 73.00±3.00 20. dapat meningkatkan antibodi yang merupakan sistem imun dapatan (non spesifik) dan jumlah sel leukosit yang merupakan sistem imun alamiah (spesifik) dan ekstrak etanol biji jintan hitam (Nigella sativa Linn.00 37.00 1.16 217.00 0.00 30.00 3.00 0.53 4.00±1.67±0.00 71.33±3.58 5.00 40. menurunkan jumlah neutrofil segmen 32 .03 76.00 0.00 53.33±1.00 37.) ini juga bersifat imunostimulan.00 1.67±1.00 56.00 1.00 0.00 1.61 210.00 32.00 2.00 67.00 2.00 1.33±0.58 4.00 1.53 7.67±3.00 43.00 1 2 3 1.00±0.00 1.00 1.00 2.00 4.00±1.00 3.00 x ±SD ∑x II x ±SD ∑x III x ±SD ∑x IV x ±SD ∑x V x ±SD ∑x Dari empat parameter yang diamati.00 Limfosit 57.58 1.00 29. pemberian ekstrak etanol biji jintan hitam (Nigella sativa Linn.01).00±0.33±5.00 25.00 3.00±1. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Tabel VI.00 1.58 7.00 1.00 34.00 1.52 7.00 2.00 120.00 2.00 2.00 0. untuk meningkatkan sistem KESIMPULAN Dari penelitian ini dapat diperoleh kesimpulan bahwa pemberian ekstrak etanol biji jintan hitam (Nigella sativa Linn.00 33.00 2.00 3.51 76.

2.. Subowo. Risalah Simposium Penelitian Tumbuhan Obat III. Bandung.SCIENTIA VOL. Soerapto. 2002. Pedoman Terapi Haematologi Onkologi. Jakarta. Airlangga Universitas Press. Jogjakarta. 33 . 1993. Diterjemahkan oleh A. G. 1 2010 ISSN : 2087-5045 sangat signifikan (P<0. Imunobiologi Klinik. Imunobiologi. dan N. 1998. DAFTAR PUSTAKA Donatus..W. I. Imunisasi dan Penyakit Imun.A. sedangkan sel eusinofil dan neutrofil batang tidak signifikan. Wahab. Gajah Mada Press. Pustaka Iltazam. Pedoman Periklanan Obat Tradisional. 1988. Widya Medika.01). Wahab. 1993. I. Penerbit alumni.com. oleh Husin. Immunologi III. S. Supandiman. Fakultas Farmasi Gajah Mada. R. 2009. Habbatus Sauda’... Penerbit Angkasa. Surabaya. J. Statistika Untuk Biologi. Edisi 1. Pengantar Imunologi Veteriner. Farmasi. Peranan Farmakologi Dalam Pengembangan Obat Tradisional. 1983. Bellanti. Penerjemah Soehardjo Hardjosworo. Sistem Imin. Bratawijaya. Subowo.google.C. Tizar. Edisi III. diakses dari http :www. edisi ke-6. Sadikin. Jakarta. K. . 1988. M. I. diterjemahkan oleh Suroso. Angkasa Bandung. Jakarta.. 1993.A dan Julia M. Cetakan ke-1. Imunogi Dasar. dkk. 2008 Antibodies Titers in Rat Immunized Agains Sheep Red Blood Cell (SRBC). Penerbit ITB. M. Schefler. Bandung. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Depkes RI. Yogyakarta.A. 2004. 1997. S. Direktorat Jendral POM vol 15. Hendrik. Solo. Jakarta. 1 NO. Bandung. No. Kedokteran dan Ilmu Bertautan.

1 NO. keram perut.86 %.05 %.38 %.5% NaHCO3 dan 0. Antibiotics resistances.19 %.19 % respectively.19 %. gentamicin. 2 Fakultas Farmasi Universitas Andalas 1 ABSTRACT The characteristics of Vibrio parahaemolyticus resistances were observed from Squid (Loligo vulgaris) and mangrove crab (Scylla serratta) in Padang using differential medium CHROMAgar Vibrio. 92. 1 2010 ISSN : 2087-5045 PENETAPAN POLA RESISTENSI ANTIBIOTIKA (Vibrio parahaemolyticus) HASIL ISOLASI DARI CUMI-CUMI (Loligo vulgaris) DAN KEPITING BAKAU (Scylla serratta) Ria Afrianti1. sulfametoxazol. Bakteri yang telah resisten memiliki gen untuk melindungi dirinya dari efek bakterisida suatu antibiotika. fakultatif anaerob. 19. and toward tetracycline were 76. 1988). berbentuk koma. mempunyai flagela polar. diberikan antibiotika seperti tetrasiklin. The percentage of Vibrio parahaemolyticus resistances ampicillin. 0. chloramphenicol. dan siprofloksazin (Doyle. 1980). 1988. tumbuh baik pada medium dengan kadar NaCl 1-8 % sehingga termasuk bakteri halofilik. erythromycin. penggunaan antibiotika yang tidak diawasi mengakibatkan suatu sifat tidak terganggunya aktifitas sel bakteri pada pemberian antibiotika. 1989).SCIENTIA VOL. 26. menetap di dalam sel epitel usus dan memperbanyak diri (Postnova. demam (Gerard. Penyakit yang ditimbulkannya adalah gastroenteritis dengan gejala-gejala diare. mual. muntah. Scylla serratta PENDAHULUAN Vibrio parahaemolyticus adalah bakteri gram negatif. Mier 1996). Resistensi sel bakteri terhadap suatu antibiotika yang terjadi di rumah sakit 34 . seperti pemberian larutan 0. 1996). Perkembangan resistensi merupakan proses alamiah yang dilakukan bakteri guna mengembangkan toleransi terhadap keadaan lingkungan yang baru (Pelczar et al.46. Masa inkubasinya 4-96 jam dengan rata-rata 15 jam. Untuk dapat menimbulkan infeksi. Pada serangan akut. value of Multiple Antibiotics Resistances (MAR) was 0. Loligo vulgaris.1% KCl ke dalam pembuluh darah (Boyd. Gen resistensi dari bakteri yang telah resisten terhadap suatu antibiotika dapat dipindahkan ke bakteri lain melalui mekanisme transformasi. Barrow 1993. Husni Mukhtar2 STIFI Perintis.5% NaCl. 1982. bakteri harus melalui tahap kontak dengan permukaan mukosa usus. 26. Sifat ini dikenal dengan istilah resistensi sel bakteri (Ganiswarna. transduksi ataupun konjugasi selama berlangsungnya pengobatan menggunakan antibiotika (Pelczar et al. Antibiotic resistances were tested on fourty two cultures of Vibrio parahaemolyticus by Krumperman diffusion method toward six kinds of antibiotic. ampisilin. Marlina2. 2000). M. penetrasi ke dalam mukosa usus. Tetapi. Keywords : Vibrio parahaemolyticus. 52. 1995). Waturangi. Pengobatan dilakukan dengan mengganti cairan elektrolit tubuh yang hilang akibat diare.

Sampel. jangka sorong. cawan petri. beaker glass.parahaemolyticus. pinset. media Mueller Hinton (Merck®). Lalu inkubasi lagi pada suhu 37°C selama 24 jam.parahaemolticus yang diisolasi dari Scylla serratta dan Loligo vulgaris. Isolasi bakteri parahaemolyticus Vibrio METODE PENELITIAN Alat dan Bahan Jarum ose. pot salep. kemudian diidentifikasi di Laboratorium Ekologi Hewan Jurusan Biologi FMIPA. Setelah di inkubasi kemudian dilakukan pengenceran mulai dari 101 sampai 105 dengan cara memipet 0. parahaemolyticus yang diisolasi dari sampel Cumi-cumi (Loligo vulgaris) dan kepiting bakau (Scylla serratta) di kota Padang terhadap beberapa antibiotika. Beranjak dari penelitian tersebut maka dilakukan penelitian mengenai sifat resistensi bakteri V. Pengambilan sampel Sampel dibeli dari penjual cumicumi dan kepiting dipinggir pantai purus. media Luria Burtani (LB) broth. 1 NO. laminar air flow. pipet mikro. spatel. 2002). 1 2010 ISSN : 2087-5045 cukup tinggi (Radu. khususnya bakteri V. 2004). Universitas Andalas Padang. lampu spiritus. Oleh karena itu. lampu UV. aquadest steril.SCIENTIA VOL. erlenmeyer. Pada penelitian terdahulu telah dilakukan suatu kajian tentang sifat resistensi bakteri Vibrio cholerae yang diisolasi dari feses balita penderita diare dan limbah cair di rumah sakit terhadap beberapa antibiotika (Harta.9 ml media SPB dalam tabung ependof untuk pengenceran 101 . vortex. Biakan dalam cawan Petri akan memberikan koloni ungu yang menandakan adanya bakteri V.9 ml media SPB dalam tabung ependorf untuk pengenceran 102 demikian seterusnya sampai pengenceran 105. incubator. effendorf. disk antibiotika (BBL™). selanjutnya 0. Media CHROMagar Vibrio (CHROMagarTM). water bath.1 ml dari pengenceran 101 dimasukan kedalam 0. Setelah masingmasing pengencean ditanam pada media CHROMAgar™ Vibrio dalam cawan Petri. kota Padang. batang pengaduk. hot plate. Ditimbang 10 g sampel yang telah dihaluskan kemudian dimasukan dalam erlemeyer dan ditambahkan Salt Poymixin Broth ( SPB) hingga 100 ml.1 ml sampel induk dimasukan kedalam 0. lemari pendingin. etanol 70%. kapas lidi. sentrifugator. timbangan digital (Mettler PM 200®). Biakan yang telah diremajakan dalam 35 . autoklaf. parahaemolyticus. Rotary shaker inkubator. Inkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam. perlu dilakukan suatu penelitian untuk mengamati penetapan resistensi bakteri terhadap antibiotika. Uji resistensi bakteri Vibrio parahaemolyticus terhadap antibiotika Cakram antibiotika yang digunakan dengan konsentrasi yang telah ditetapkan sebagai berikut: Golongan Penisilin Kloramfenikol Eritromisin Aminoglikosida Sulfonamida Tetrasiklin Antibiotik Ampisilin Kloramfenikol Eritromisin Gentamisin Sulfametoksazol Tetrasiklin Konsentrasi (µg ) 10 30 10 15 5 30 Uji resistensi antibiotik dilakukan terhadap beberapa kultur V.

vulgaris) dan yaitu media pengaya SPB yang kepiting bakau (S. dimana bakteri V. Walaupun demikian.2. terapi dengan ditambahkan 3% NaCl yang bertujuan antibiotik dapat mengurangi durasi diare untuk meningkatkan jumlah dan ekskresi serta mengontrol V.SCIENTIA VOL. Analisa Data Persentase resistensi bakteri terhadap antibiotika dihitung untuk setiap jenis antibiotika dengan menggunakan persamaan: % Re sistensi Jumlah kultur yang resisten x 100 % Jumlah kultur yang diuji Perhitungan Nilai MAR dengan menggunakan persamaan Krumperman: MAR = x y Keterangan : = Multiple Antibiotics Resistance = Jumlah bagian yang resisten terhadap antibiotika dari satu kultur yang digunakan y =Jumlah antibiotika yang digunakan vibrio halofilik dan menekan keberadaan Resistensi suatu koloni bakteri spesies lain. 1 2010 ISSN : 2087-5045 LB broth diambil dengan pipet mikro sebanyak 100 µl dan di tanam pada medium Mueller hinton Agar dengan meratakanya pada permukaan media menggunakan lidi kapas steril. Daerah hambatan yang terlihat sebagai wilayah bening disekitar disk antibiotik diukur diameternya dan karakter resistensi dari bakteri tersebut terhadap antibiotik dibandingkan terhadap tabel standard. V. sedangkan intravena. terapi pertumbuhan spesies vibrio lainya dengan antibiotik juga penting karena dihambat. kemudian di inkubasi pada suhu HASIL DAN PEMBAHASAN 37°C selama 24 jam.parahaemolyticus. Pada media SPB harus dalam beberapa kasus. penambahan ini sesuai terhadap antibiotika dikatakan tinggi dengan kadar optimal untuk jika memiliki nilai Multiple Antibiotics pertumbuhan V. dan Terapi utama untuk mengatasi masih memiliki aktifitas terhadap dehidrasi pada penyakit gastroenteritis spesies vibrio yang lainya. Biakan diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37ºC. medium spesifik CHROMAgar™ vibrio. sehingga adalah penggantian cairan dan elektrolit pertumbuhan V.serratta) ada mengandung antibiotik Polymixin B.parahaemlyticus resisten terhadap antibiotik ini. Terbentuknya Media yang digunakan untuk warna ungu menandakan pada kedua isolasi bakteri Vibrio parahaemolyticus sampel yaitu cumi-cumi (L. Disk antibiotik ditaruh hati-hati diatas biakan bakteri dan ditekan perlahan dengan pinset steril supaya benar-benar kontak dengan bakteri. Kultur pada media SPB ditanam pada Resistance (MAR) ≥ 0.parahaemoyticus sebagai spesies MAR x 36 . parahaemolyticus akan baik secara oral maupun secara tetap berlangsung. Jarak Disk dengan tepi cawan Petri 15 mm dan jarak antar Disk 24 mm. 1 NO.parahaemolyticus.

Bakteri V. 1995). pada konsentrasi tinggi kadang-kadang bersifat bakterisid.parahaemolyticus. Antibiotik ini bersifat bakteriostatik terhadap bakteri gram positif dan gram negatif. 1 2010 ISSN : 2087-5045 penyebaran penyakit ini.. Hal ini berarti antibiotik ini masih dapat digunakan sebagai terapi. Dari hasil. Y. ternyata sulfametoksazol mempunyai tingkat pola resistensi yang tinggi. Dari hasil diperoleh (26.46. parahaemolyticus terhadap antibiotik sangat penting untuk pemilihan antibiotik yang tepat (Ganiswara. Eritromisin termasuk golongan makrolida yang bersifat bakteriostatik tapi dapat juga bersifat bakterisida dalam konsentrasi yang tinggi terhadap organisme yang rentan.parahaemolyticus mempunyai tingkat resistensi yang cukup tinggi terhadap antibiotik yang digunakan.38% kultur resisten terhadap antibiotik ini. Dari penelitian ini diperoleh hasil 19. Resistensi suatu bakteri gram negatif dinyatakan tinggi jika mempunyai nilai Multiple Antibiotics Resistence ( MAR) > 0. 2007). Dari sekian banyak pola resistensi antibiotik terhadap isolat. antibiotik ini masih peka dengan V. Ampisilin bekerja dengan menghambat sintesa dinding sel bakteri. diperoleh 52. 2006). dari hasil diperoleh 92. Resistensi pada kloramfenikol dapat muncul bila bakteri mampu membentuk enzim klorampenikolasetil tranferase yang mampu merusak aktifitasnya. Kloramfenikol adalah salah satu obat alternatif untuk diare (Ganiswara.05% kultur resisten terhadap kloramfenikol. Umumnya bersifat bakteriostatik. Kombinasinya akan berupa efek yang sinergis.parahaemolyticus resisten terhadap sulfametoksazol (Handayani. Ampisilin merupakan senyawa prototipe golongan aminopenisilin. Timbulnya resistensi terhadap tetrasiklin (26. Gentamisin merupakan senyawa aminoglikosida pilihan utama karena harganya murah dan aktivitasnya yang diandalkan terhadap semua infeksi kecuali terhadap bakteri aerob gram negatif yang paling resisten. Tetrasiklin bersifat bakteriostatik dan bekerja menghambat sintesa protein bakteri pada ribosomnya yaitu berikatan dengan ribosom 30S dan menghalangi masuknya kompleks tRNA asam amino pada lokasi asam amino (Ganiswara. Dari penelitian ini diperoleh nilai MAR rata-rata adalah 0. resisten dapat timbul karena penyebaran resisten yang diperantarai oleh plasmid. Antibiotik ini bekerja menghambat enzim petidil transperase yang berperan sebagai katalisator untuk membentuk ikatan peptida pada proses sintesis protein bakteri. 37 .3. Sulfametoksazol pada umumnya dikombinasikan dengan trimetoprim merupakan senyawa antibiotik yang efektif secara klinis. 1 NO. namun penggunaan antibiotik ini harus diperhatikan karena memiliki efek samping yang berbahaya yakni dapat menimbulkan nefrotoksik (Goodman & Gilman.SCIENTIA VOL.19 %) terjadi karena proteksi melalui ribosom oleh protein sitoplasma. Uji resistensi terhadap antibiotik pada penelitian ini menggunakan metode difusi krumpermen karena metoda ini merupakan metoda yang sederhana tetapi efektif memberi informasi untuk pengujian sifat resisten bakteri terhadap beberapa antibiotik. sehingga hasil pengujian sifat resisten V. 1995).19 % kultur resisten terhadap antibiotik ini.86% kultur yang resisten terhadap sulfametoksazol. namun pada penelitian ini digunakan Sulfametoksazol. Dari hasil. resisten dapat timbul karena resistensi silang. 1995). diperoleh 76. Hal ini menunjukan bahwa bakteri V.19%).

SCIENTIA VOL. 1 NO. 1 2010 ISSN : 2087-5045

KESIMPULAN Dari penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : • Hasil uji resistensi dari 42 kultur murni V.parahaemolyticus menunjukkan bahwa 76,19 % kultur resisten terhadap ampisilin, 19,05 % kultur resisten terhadap kloramfenikol, 52,38 % resisten terhadap eritromisin, 26,19 % resisten terhadap gentamisin, 92,86 % resisten terhadap sulfametoksazol, 26,19 % resisten terhadap tetrasiklin. • Nilai Multiple Antibiotics Resistence (MAR) yang diperoleh berkisar antara 0,3 – 0,8 dengan nilai MAR rata-rata adalah 0,46. Hal ini menunjukan bahwa bakteri V.parahaemolyticus mempunyai tingkat resistensi terhadap antibiotik yang cukup tinggi.

DAFTAR PUSTAKA Gerard, 1982, Mikrobiologi Kedokteran, PT. Gramedia, Jakarta Barrow, G.I, 1993, Cowan and Steel’s Manual for the Identification of Medical Bacteria, 3rd Ed, Cambridge Univercity Press. Postnova, T., O.G. Gomez-duarte and K. Richardson, 1996, ”Motility Mutants of Vibrio cholerae 01 have Reduced Adherence in vitro to Human Small Intestinal Epithelial Cells as Demonstrated by ELISA”, Microbiol, 142, 27672776 Mier, R.M., I.L. Pepper and C.P. Gerba, 1996,Environmental Microbiology, 5th Ed, International Thompson Publishing, California

Boyd, F.R. and J.J. Mar., 1980, Medical Microbiology, Little Brown and Company, Boston Doyle, M, 1989, Foodborne Bacterial Pathogens, Marcell Dekker Inc., New York Ganiswarna, G.S., dkk., 1995, Farmakologi dan Terapi, UI-Press, Jakarta Pelczar, M. J., dan E. C. S. Chan, 1988, Dasar-Dasar Mikrobiologi, Jilid II, diterjemahkan oleh Ratna. S. H, dkk, UI-Press, Jakarta, Radu, S., M. Vincent., K. Apun., R.A. Rahim., P.G. Benjamin., Yuherman and G. Rusul., 2002, “Molecular Characterization of Vibrio cholerae O1 Outbreak Strain in Miri, Sarawak (Malaysia)”, Acta Tropica, 83, , 169-176 Waturangi, D.E., 2000, ”Keanekaragaman Genetik serta Uji Resistensi Antibiotik Escherichia coli yang Diisolasi dari Feses Farunus spp”, http://www.hayati.ipb.com Goodman & Gilman, 2007. Farmakologi Dan Terapi. EDISI ke-10. Vol 2. ITB. Jakarta

38

SCIENTIA VOL. 1 NO. 1 2010 ISSN : 2087-5045

AKTIVITAS ANTI INFLAMASI EKSTRAK ETANOL DAUN KEMBANG BULAN ( Tithonia diversifolia. A. Gray ) TERHADAP MENCIT PUTIH BETINA Verawati, Mimi Aria, Novicaresa M. Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STIFI) Perintis ABSTRACT The effect anti inflammatory of leaves aethanolic extract of the kembang bulan (Tithonia diversifolia A.Gray) by topically on female white mice by using modification methode between making edema and granuloma pouch. Inductioned by injection of carragenin 2 % b/v in NaCl fisiologis subcutaneously.The extract was given topically as ointment for 4 days in various concentration they are 1 %, 2,5% and 5 %. The parameter were observed edema volume, totally of leucocytes cell on edema and blood on white female mice. The result of research showed that leaves aethanolic extract of the kembang bulan (Tithonia diversifolia A.Gray) gives topically anti inflammatory effect by increasing the concentration it can reduced the edema volume and gives effect on decreased of leucocytes cell on oedema and can increased neutrofil cells and limpocyt cells on blood significantly (P<0,05). The maximal effect of anti inflammatory was given by concentration 5 % with the lowest edema volume 0,03 ml more than effect anti inflammatory of hidrocortison acetat 2,5 % with edema volume 0,08 ml. Keywords : Tithonia diversifolia, anti-inflammatory, edema

PENDAHULUAN Tumbuhan adalah gudang bahan kimia yang memiliki berbagai manfaat termasuk untuk obat berbagai penyakit. Oleh karena itu saat ini banyak para peneliti berusaha untuk mengisolasi senyawa kimia dari tumbuh-tumbuhan tersebut guna dimanfaatkan dalam bidang pengobatan. Penggunaan tumbuh-tumbuhan sebagai obat tradisional mempunyai keunggulan antara lain dalam hal khasiat yang lebih baik serta efek samping yang lebih kecil dari pada obat berbahan kimia murni. Saat ini tanaman obat tradisional masih berperan sebagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan dasar penduduk di bidang kesehatan (Wijaya et al, 1995; Donatus, 1983). Tumbuhan yang merupakan bahan baku obat tradisional tersebut tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia, baik itu tumbuhan asli Indonesia, maupun tumbuhan asli

luar negeri yang tumbuh dan dikembangkan di Indonesia. Salah satu tumbuhan tersebut adalah bunga kembang bulan (Tithonia diversifolia A. Gray) atau secara tradisional dikenal sebagai Bunga Busuk, Bunga Kipait, dari Family: Asteraceae (Hanum, 2002). Selain itu dari penelitian sebelumnya diketahui bahwa tumbuhan T.diversifolia aktif sebagai anti bakteri ( Dewi,2010 ), seperti kita ketahui salah satu sebab inflamasi bisa disebabkan oleh bakteri. Bagian yang dimanfaatkan dari tumbuhan T. diversifolia sebagai sumber zat kimia, yang digunakan untuk pengobatan tradisional biasanya adalah bagian daun, tapi dapat juga menggunakan kulit akar dan batang. Daun dari tumbuhan T. diversifolia ini mengandung senyawa alkaloid, terpenoid, flavonoid, saponin, tanin, serta polifenol. Manfaat dari daun T.

39

SCIENTIA VOL. 1 NO. 1 2010 ISSN : 2087-5045

diversifolia ini secara tradisional biasanya digunakan sebagai obat sakit perut, kembung, diare dan digunakan sebagai obat luka dan anti radang(antiinflamasi) (Dalimartha, 2000). Berdasarkan penggunaan daun T. diversifolia secara tradisional sebagai anti-inflamasi dan penelitian sebelumnya mengenai antibakteri, maka perlu dilakukan penelitian secara ilmiah dengan menguji aktivitas anti inflamasi ekstrak daun T. diversifolia terhadap mencit putih betina dengan menggunakan metode modifikasi antara metode edema buatan dengan “granuloma pouch” (Gryglewsky, 1997; Domer, 1971). Parameternya adalah pengukuran volume edema buatan pada bagian punggung mencit putih dan penentuan jumlah sel leukosit pada tempat terjadinya inflamasi dan darah (Winter, 1962).

Ekstraksi sampel Sebanyak 1,5 kg daun kembang bulan segar dicuci bersih kemudian dilakukan pengeringan tanpa sinar matahari (kering angin). Setelah kering dilakukan penyerbukan dengan cara pemblenderan dan dimaserasi dengan etanol 70 % selama 3x3 hari dan disaring. Filtrat diuapkan secara vakum sehingga diperoleh ekstrak kental etanol. Pembuatan Sediaan Uji Ekstrak daun kembang bulan ditimbang sesuai dengan konsentrasi yang akan dibuat lalu digerus halus dalam lumpang,kemudian tambahkan vaselin flava sedikit demi sedikit sambil digerus sehingga didapatkan massa yang homogen. Sediaan uji terdiri atas 3 macam konsentrasi yaitu 1 % b/b; 2,5 % b/b dan 5 % b/b. Pembanding yang digunakan adalah hidrokortison asetat dengan konsentrasi 2,5 % b/b.

METODOLOGI PENELITIAN Alat

Pembuatan Larutan Penginduksi Alat- alat yang digunakan yaitu : rotary evaporator, botol maserasi, jarum suntik 5 ml, jarum suntik 1 ml, gunting bedah, timbangan hewan, lumpang dan stamfer, gelas ukur, alat cukur, spidol, kandang hewan, dan lainlain. Bahan Bahan yang digunakan yaitu daun kembang bulan, etanol 70%, air suling, vaselin flava, NaCl fisiologis, karagen, krim perontok bulu dan hidrokortison asetat (serbuk). Hewan yang digunakan adalah mencit putih betina dengan berat 20-30 g sebanyak 25 ekor, dimana masing – masingnya dibagi menjadi 5 kelompok Timbang karagen sebanyak 1 gram, lalu gerus halus dalam lumpang kemudian sedikit demi sedikit ditambah NaCl fisiologis 50 ml sambil digerus homogen, maka konsentrasi karagen yang diperoleh adalah 2% . Penginduksian Udem a. Mencit dicukur bulu bagian punggungnya dengan diameter ± 3 cm,. Mulanya dipotong dengan gunting, selanjutnya untuk menghilangkan bulu yang masih tersisa dioleskan krim perontok bulu, sehingga bulunya betul-betul hilang. Biarkan selama 24 jam. b. Pada bahagian punggung yang dicukur disuntikkan dengan udara sebanyak 5 ml secara subkutan sehingga terbentuk kantong udara

40

1 ml karagen 2 % dalam NaCl fisiologis c. dan sel monosit. biarkan 5 menit. limfosit. Tambahkan satu tetes larutan Giemsa yang telah diencerkan dengan air suling (1 : 20) dan biarkan selama 20 menit. 1 2010 ISSN : 2087-5045 dan sekaligus disuntikkan juga 0. a. 1 NO. eusinofil. Penghitungan jumlah sel leukosit dalam hapusan darah dan cairan eksudat. Pengukuran Dilakukan Parameter yang darah. Pada kelompok kontrol hanya diberikan vaselin flava saja. Selanjutnya ditambahkan larutan karagen 2 % dalam NaCl fisiologis sebanyak 0. b.SCIENTIA VOL. keringkan dan lihat dibawah mikroskop. Darah atau cairan eksudat segar ditetesi pada gelas objek satu tetes dan ratakan dengan gelas objek yang lain sehingga diperoleh lapisan darah yang homogen (hapusan darah). Pemberian Sediaan Uji Sediaan uji diberikan dengan cara mengoleskan secara merata pada daerah yang terbentuk kantong udara (daerah yang dicukur) sebanyak 200 mg (dalam bentuk salep) dengan diameter ± 3 cm segera setelah pemberian karagen 2% dalam NaCl fisiologis sebanyak 0. Pengukuran volume radang Pada hari ke lima eksudat diambil dengan jarum suntik lalu diukur volumenya. Selanjutnya obat diberikan lagi setiap hari selama 3 hari setelah pemberian pertama (obat diberikan selama 4 hari). Hitung jumlah sel neutrofil. Setelah 24 jam kantong udara terbentuk dihisap udaranya dengan jarum suntik 5 ml sehingga kantong udara tersebut jadi kempes. Cuci dengan air suling. lalu dikeringkan. Analisa Data Untuk menganalisa data hasil penelitian yang diperoleh dari semua parameter akan digunakan analisa variansi (ANOVA) satu arah. sehingga melapisi seluruh lapisan 41 . Setelah kering tetesi dengan metanol.2 ml.2 ml pada tempat yang ada kantong udara tersebut.

03 0.20 2.SCIENTIA VOL.07 0.39 0.80 2.80 1.5 % 1 2 3 4 5 Rata-rata SD 5% 1 2 3 4 5 Rata-rata SD Hidrokortison 1 42 .894 3 2 1 1 1 1.40 4.068337 Hk as 2.5 5 0.60 0.50 0.00 0.09100 0.60 1.Gray secara topikal Volume eksudat (ml) Konsentrasi (%) 1 2.278 55 51 53 54 56 53.673 3 Monosit 20 21 12 21 25 19.828 20 Limposit 41 40 46 45 42 42.40 0.04 0.074 13 Eosinofil 1 1 2 1 1 1.588 30 29 30 31 34 30.05 0.588 29 25 26 28 30 27. 1 2010 ISSN : 2087-5045 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Tabel I.51 0.924 35 36 32 31 37 34.517 63 Neutrofil batang 3 2 1 1 1 1.013416 0.01 0.673 5 2 1 1 3 2.08600 0.324 6 7 13 13 3 8.15 0.085 0.36 0.00 2.5 0.06 0.000 1 1 2 2 1 1.80 4.60 2. Hasil pengukuran volume eksudat dari radang punggung mencit putih betina setelah pemberian ekstrak daun Tithonia diversifolia A.60 3.07320 0.08 0.60 0.Gray.04 0.924 59 60 61 63 60 60.08 0.056667 0.40 0.012247 Perlakuan 1 2 3 4 5 Rata-rata SD 0 0. secara topikal Jumlah Sel Konsentrasi 0% No 1 2 3 4 5 Neutrofil segmen 35 36 39 32 31 34.20 0.80 4.08 0.60 1.11 0.03 0.05 0.447 2 2 1 1 1 1.80 1.40 0.40 1.03000 0.548 1 Rata-rata SD 1% 1 2 3 4 5 Rata-rata SD 2.09 0.40 4.43200 0. 1 NO.209 40 49 48 49 51 47.894 3 5 1 1 3 2.450 6 12 10 6 6 8. Hasil perhitungan sel leukosit dari eksudat punggung mencit betina setelah pemberian ekstrak daun Tithonia diversifolia A.09 0.764 25 18 20 18 13 18.011402 Tabel II.548 1 1 1 1 1 1.1 0.1 0.11 0.

60 3.387 3 2 1 3 2 2 1 1 1 1 1.771 2 1 1 2 1.00 2.SCIENTIA VOL.00 0.362 15 17 20 21 17.894 2.894 23 20 18 26 25 22.5 % 1 2 3 4 5 Neutrofil segmen 50 49 52 53 50 50.447 Rata-rata SD 43 .80 6.40 5.837 17 21 19 26 20.20 0.20 0.80 1.643 8 2 2 3 4.837 1 1 1 1 1 1.128 62 60 65 76 61 64.20 3.80 1.271 68 69 77 70 70 70.868 Eosinofil 1 1 0 2 2 1.00 0.5 % 2 3 4 5 Rata-rata SD 65 60 59 60 59.707 5 3 2 10 1 10 1 5 0 6 1.80 1.20 0.924 3.40 4. 1 2010 ISSN : 2087-5045 asetat 2.40 3.60 0.837 0.924 25 27 25 26 25 25.80 4.535 Limposit 31 30 32 27 29 29.20 0.20 0.80 3.Gray secara topikal Jumlah Sel Neutrofil Monosit batang 1 17 2 18 0 16 1 17 2 17 1.00 4.80 6. 1 NO.643 66 60 63 67 68 64.80 0.837 5 5 2 1 1 2 2.20 17.80 3.40 5.894 0.447 1 1 1 2 1 1.80 0.20 1.362 19 25 20 18 13 19.301 27 29 30 20 33 27.550 Konsentrasi 0% No 1 2 3 4 5 Rata-rata SD 1% 1 2 3 4 5 Rata-rata SD 2.114 3 5 1 8 1 3 1 2 1 3 1.00 0.5 % 1 2 3 4 5 Rata-rata SD 5% 1 2 3 4 5 Rata-rata SD Hidrokortison asetat 2. Hasil perhitungan sel leukosit dari darah mencit putih betina setelah pemberian ekstrak daun Tithonia diversifolia A.347 1 1 1 1 1.564 75 70 75 78 84 76.000 1 2 1 1 1 1.60 1.000 Tabel III.447 1 1 2 1 1 1.

Hasil perhitungan jumlah sel leukosit dari uji statistik dengan analisa varian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun T. fagosit aktif dan mampu mematikan serta mencerna berbagai agen penyebab inflamasi pada jaringan yang rusak. bahwa semakin besar konsentrasi ekstrak semakin efektif mengurangi volume edema.5% dan 5% terhadap kontrol memberikan perbedaan yang sangat bermakna (p < 0. diversifolia mempengaruhi persentase jumlah sel leukosit. Ini berarti. kembali Sel leukosit yang memegang peranan penting dalam proses fagositosis pada jaringan yang rusak adalah neutrofil dan monosit. Setelah pemberian ekstrak etanol daun T. diversifolia secara topikal sesuai dosis. Dimana volume eksudat rata-rata mengalami penurunan sesuai dengan peningkatan dosis yang diberikan dibandingkan dengan kontrol positif yang hanya menggunakan vaselin flava saja. Ditinjau dari hasil penelitian yang telah dilakukan dan analisa data secara statistik ternyata ekstrak daun T. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Pembahasan Pemberian sediaan uji dengan dosis konsentrasi 1% ternyata telah memberikan efek anti-inflamasi. diversifolia dapat mempengaruhi jumlah sel leukosit secara bermakna dengan peningkatan dosis dibandingkan dengan kontrol negatif. Dari tiga dosis yang digunakan efek maksimum diberikan oleh dosis konsentrasi 5% yang ditandai dengan kecilnya volume eksudat yang didapatkan. keluar melalui pembuluh limfe dan dihilangkan dari radang.5%. Hasil perhitungan jumlah sel leukosit pada cairan eksudat radang dan uji statistik dengan analisa varian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun T. sehingga aliran cairan terhenti. baik itu dalam eksudat maupun dalam darah. Sedangkan efek pada konsentrasi 2.5% terhadap penurunan derajat inflamasi menunjukkan efek yang lebih baik dibandingkan pembanding 2. diperoleh suatu korelasi yang menunjukkan hubungan antara volume eksudat (ml) terhadap konsentrasi ekstrak (%). diversifolia pada konsentrasi 1% dapat mengurangi dan menekan derajat inflamasi yang terjadi pada hewan percobaan. dan terjadi pula penghentian migrasi leukosit. Monosit dalam eksudat disebut makrofag yang merupakan sel yang bergerak aktif memberi respon secara kemotaksis. Eksudat merupakan cairan yang tertimbun dalam jaringan atau ruangan karena bertambahnya permeabelitas pembuluh darah. dimana menyebabkan kenaikan jumlah sel leukosit dalam eksudat radang. Sedangkan pada jumlah sel eosinofil. Cairan yang sebelumnya telah dieksudasi diserap oleh pembuluh limfa dan sel-sel fagositik mengalami desintegrasi. 1 NO.01). diversifolia memberikan efek anti inflamasi melalui kemampuannya menghambat dan mengurangi volume 44 . 2. monosit dan limposit mengalami penurunan yang disebabkan karena pembuluh darah di daerah radang memperoleh permeabelitasnya kembali.SCIENTIA VOL. sehingga persentase jumlah sel leukosit dalam darah mendekati jumlah normal. Hidrokortison asetat dalam bentuk salep yang digunakan sebagai pembanding yang merupakan salah satu sediaan obat anti inflamasi yang bayak digunakan untuk mengobati reaksi peradangan pada kulit ternyata menunjukkan efek yang hampir sebanding dengan ekstrak daun T. Dimana terjadi peningkatan jumlah sel neutrofil segmen dibandingkan dengan kontrol negatif. Dari hasil uji analisa varian dapat dilihat bahwa pada konsentrasi zat uji 1%.

p. Fridah & van der Masen.W Nuss. Auxiliary Plants.. Hal ini dilihat dari penurunan volume eksudat pada radang punggung mencit putih betina yang di berikan secara topikal. Aktifitas Anti mikroba dari Elephantropus scober L.A.R.297-298. Poland. Winter. J. Risley. diversifolia ) memiliki aktifitas anti inflamasi. Ekstrak etanol daun kembang bulan ( T. Risalah Simposium Penelitian Tumbuhan Obat III.. Copernicus Academy of Medicine. 45 . Padang.. Pemberian ekstrak etanol daun kembang bulan ( T. 1997. I. 1 NO. I. IIIonis. Jakarta. Trubus Agriwidya. Proceding A Society For Experimental Biology and Medicine III. Thomas Publiser. Wirian. 1 2010 ISSN : 2087-5045 edema pada daerah radang.SCIENTIA VOL. Jilid III. Tagetes erecta L. CarrageninInduced Edema in Hind Paw of Rat Asam Assay For anti Inflamantory Days. USA. 2. diversifolia ) secara topikal ternyata dapat meningkatkan jumlah sel leukosit baik dalam cairan eksudat maupun dalam darah. Jakarta. Skripsi.544547..Prod p. semakin bertambah pula aktifitas anti inflamasinya.Gray. S. Dewi. 1983 Pengembangan Farmakologi Dalam Pengembangan Obat Tradisional. F.H.A and G. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia.2002. A.H. Animal Experiment in Pharmacological Basis of Therapeutic. Domer. LIG..M... M. 2000.. 1995 Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia. diversifolia memiliki aktifitas sebagai anti inflamasi secara topikal. C. S. Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Indonesia. KESIMPULAN Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. 258. Donatus. Cracow. dan mempengaruhi migrasi serta jumlah sel leukosit pada darah dan eksudat.. Tithonia diversifolia A. Springfield. Gryglewsky. E. Oleh Husin.. 2010. Charles C.R. Departemen of Pharmacology. Wijaya K. Fakultas Farmasi Gajah Mada. Some Experimental Models for the Study of Inflamation and Anti Inflamatory Drugs. Pustaka Kartini. Dengan bertambahnya konsentrasi ekstrak.S. R. Yogyakarta.Nat.Dalimartha dan A. J. 1971. 1962. Hanum. DAFTAR PUSTAKA Dalimartha. maka dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun T.

Komponen fisik dan kimia bambu yang meliputi sifat permeabilitas. plastik dan ada yang tidak ditutup sama sekali. Padang ABSTRACT The research about the influence of duration time in room temperature and refrigerator to protein consentration a” dadih” by Kjeldahl method had been done. dadih.E. The research showed that protein concentration in room temperature and refrigenerator reduced. Wiwit Gustiva 2) 1) Fakultas Farmasi Universitas Andalas. Tube of B.4 and 6 days). 2004. 1986. anak-anak. hal ini akan menurunkan mutu dari dadih tersebut. Protein juga berfungsi sebagai pengatur dalam metabolisme tubuh. Fresh milk (A) was frut into two bamboo tubes ( tube of B and tube of C ) until becomed as ” dadih”.4 and 6 days. Dadih merupakan produk susu fermentasi tradisional khas Minangkabau Sumatra Barat yang proses pembuatannya sangat sederhana. Grinda.. M. Dadih ini banyak dijual dipasar tradisional namun berdasarkan pengamatan. berperan dalam menentukan mutu dadih (Susilorini. Keywords : Protein. was kept in room temperature and tube of C was kept in refrigenerator for 2. aroma. ibu hamil. S. maka dilakukan penelitian tentang pengaruh lama penyimpanan pada suhu kamar dan lemari pendingin terhadap kadar protein pada dadih kerbau dengan metoda 46 . D. 1 NO. 2007. Sugianto. Sawitri dan Muharlien. kadar air. Padang 2) Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Perintis.. Analysis of one ANOVA showed that there was a significance value ( P < 0. Revi Yenti2). A.05) on each days (2. 2008. Salah satu sumber protein hewani yang sering dikonsumsi adalah dadih. dadih banyak disimpan ditempat terbuka bahkan terkena cahaya matahari. 1 2010 ISSN : 2087-5045 PENGARUH LAMA PENYIMPANAN PADA SUHU KAMAR DAN LEMARI PENDINGIN TERHADAP KANDUNGAN PROTEIN PADA DADIH KERBAU DENGAN METODA KJELDAHL Regina Andayani1).E. Berdasarkan hal di atas. Susu kerbau yang diperah langsung dimasukkan kedalam tabung bambu sebagai wadahnya kemudian ditutup dengan daun pisang.SCIENTIA VOL.. 2006). Kondisi ini didiamkan secara alami selama 2 hari dalam suhu ruang sampai terbentuk gumpalan.4 and 6 days method of t-Test. Masyarakat dalam memenuhi kebutuhan protein lebih banyak mengkonsumsi sumber protein hewani karena mengandung protein yang tinggi. Selain itu protein juga merupakan komponen pembentuk antibodi untuk mempertahankan daya tahan tubuh (Detama. A. ibu menyusui dan orang yang baru sembuh dari penyakit. metode Kjeldahl PENDAHULUAN Protein dalam tubuh berguna sebagai zat pembangun atau pertumbuhan karena protein merupakan pembentuk jaringan baru dalam tubuh terutama pada bayi. zat warna dan garam anorganik yang terdapat pada jaringan bambu. skemed that concentration for protein in room temperature and refrigerator were significance difference (P < 0. 2001). Usman.05) of protein concentration be tween 2. Almatsier.. T.

campuran selenium (serbuk SeO2. Ambil 1 ml sampel tambahkan 1 ml NaOH 10 %. gelas ukur.5 ml H2SO4 pekat. larutan merah metil. 1. Tahap Destruksi Ditimbang sebanyak 0. natrium tetraborat (Na2 B4O7). Ninhidrin dan Xanthoprotein. 3. CuSO45H2O). Alat Labu Kjeldhal 100 ml. Metoda Ninhidrin Disiapkan masing-masing larutan sampel 2 % dalam air.. asam klorida p.M. A. Pengolahan sampel Sampel A susu kerbau segar diperiksa kadar proteinnya. Sampel tabung B dadih yang disimpan pada suhu kamar dan sampel tabung C dadih yang disimpan pada lemari pendingin. Reaksi positif ditunjukan dengan terbentuknya endapan putih yang segera menjadi kuning (Grinda. J.51 gram sampel masukkan dalam labu Kjeldahl 100 ml. Disiapkan masing-masing larutan sampel 2 % dalam air. Ambil 1 ml asam nitrat pekat kemudian dipanaskan. A.. Kemudian dibiarkan selama 2 x 24 jam sampai menjadi dadih. seperangkat alat destilasi. 1999). seperangkat alat titrasi dan mikroburet.1% kocok. NaOH.. 2004). K2SO4. D. Metoda xanthoprotein Disiapkan masing-masing larutan sampel 2 % dalam air. aquadest. Ninhidrin dan Xanthoprotein Uji kualitatif protein dilakukan pada susu segar dan dadih dengan menggunakan metode Biuret. 1 NO. fenolftalein. kemudian tambahkan beberapa tetes larutan CuSO4 0. Reaksi positif ditunjukkan dengan terbentuknya warna biru ( Grinda. T. Metoda Biuret METODA PENELITIAN Bahan Susu kerbau diambil dari tempat pemerahan susu di daerah Air Dingin Solok pada satu ekor kerbau. 1986). indikator campuran (larutan bromocresol green.. De Man. kemudian dimasukkan ke dalam 2 buah tabung bambu (tabung B dan tabung C) masingmasingnya 250 ml. pipet gondok. 1986. pereaksi ninhidrin. Labu Kjedhal dipanaskan diatas pemanas listrik 47 . ke 4 dan ke 6 setelah menjadi dadih. tambahkan 1 gram campuran selenium dan 12. erlenmeyer 250.SCIENTIA VOL. neraca analitik. spatel. A. Uji kualitatif dengan menggunakan metoda Biuret.a (Merck). Reaksi positif ditunjukkan dengan terbentuknya warna ungu (Robinson. CuSO4. pemanas listrik atau pembakar. Uji kuantitatif dengan menggunakan metoda Kjeldahl Cara kerja untuk masing-masing sampel sebagai berikut (SNI 01-2891-1992) : a. Metoda Kjeldahl merupakan metoda yang umum digunakan untuk menentukan kadar protein pada makanan (Detama. Masing-masing tabung diperiksa kadar proteinnya pada hari ke 2. 2. asam nitrat pekat (HNO3) dan asam sulfat (H2SO4). alkohol). 1995). asam borat (H3BO3). tabung bambu dengan panjang 20 cm dan daun pisang. Ambil 1 ml sampel tambahkan 1 ml pereaksi Ninhidrin kemudian dipanaskan. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Kjeldahl sehingga dapat diketahui perubahan kuantitas protein dadih tersebut..

Desrtuksi disini berlangsung selama 2 jam.1 N menggunakan mikroburet.014 x fp x 100 W = % N x faktor 6. Ninhidrin dan Xanthoprotein menunjukkan hasil bahwa pada susu segar dan dadih terdapat protein. Penyulingan diakhiri jika hasil destilasi sudah tak bersifat basa lagi. 48 . Pengolahan Data Penentuan kadar protein dapat dihitung setelah diketahui persentase kadar nitrogen yang terdapat dalam sampel dan dikalikan dengan faktor konversi: (SNI 01-2891-1992) (V1 . sebagai penampung gunakan 25 ml asam borat 2 % yang telah ditetesi indikator campuran. dimana sampel diganti dengan aquadest. Labu destilasi dipasang dan dihubungkan dengan kondensor dan ujung kondensor %N % protein Keterangan : V1 V2 N W Fp = harus terbenam dalam cairan penampung. Ujung kondensor dibilas dengan aquadest. Didalam kondensor uap akan mengalir menuju penampung. 1 2010 ISSN : 2087-5045 mula-mula pada suhu 40oC kemudian suhu dinaikkan secara perlahan-lahan sampai 280oC.38 = = = = = Volume HCL 0. kemudian tambahkan 30 ml NaOH 30 % dan beberapa tetes indikator PP. tepatkan sampai tanda batas.1 N untuk titrasi larutan Blangko (ml) Normalitas HCL Bobot sampel ( gram ) Faktor pengenceran ( 5 kali ) HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil uji kualitatif dari susu segar dan dadih dengan menggunakan metode Biuret. 1 NO. Hasil uji kualitatif dapat dilihat pada tabel1. maka ditambahkan H2O2 30% sebanyak 2 tetes destruksi dilanjutkan sampai didapat cairan jernih kehijauhijauan. Periksa dengan kertas lakmus. Hasil akhir destruksi didinginkan kemudian encerkan dan masukkan ke dalam labu ukur 250 ml. Untuk blangko dilakukan dengan cara yang sama. Tahap Titrasi Hasil destilasi dipindahkan dalam erlemeyer. Kemudian lakukan titrasi dengan HCl 0. c. b. Tahap Destilasi Larutan hasil destruksi dipipet 50 ml masukkan kedalam labu destilasi. Destilasi ini dilakukan sebanyak 3 x pengulangan.1 N untuk titrasi larutan sampel (ml) Volume HCL 0. Kemudian sulingkan selama lebih kurang 10 menit.V2) x N x 0. Setelah destruksi berlangsung selama 30 menit belum didapatkan cairan hijau jernih.SCIENTIA VOL. Titik akhir ditandai dengan perubahan warna hijau menjadi merah muda.

Hasil uji anova satu arah diperoleh nilai P yaitu 0.5608 0. 4 dan 6 hari demikian juga dengan penyimpanan pada lemari pendingin juga diperoleh nilai P yaitu 0.5079 %. Setelah diketahui persentase nitrogen yang terdapat pada sampel.9240 ± 0.5408 0.0581 49 . 1994). Sedangkan kadar protein dadih yang disimpan hari ke 2.0613 3.0391 ± 0. penyimpanan setelah 4 hari diperoleh nilai P yaitu 0. Pada uji T terdapat perbedaan yang bermakna. 6 pada lemari pendingin dan suhu kamar mengalami penurunan. Sidarmadji.007 ( P<0.6331 05888 0.5358 % Protein 4. Uji Kualitatif Sampel Susu Segar dan Dadih Sampel Susu segar Metoda Biuret Xantoprotein Ninhidrin Biuret Xantoprotein Ninhidrin Hasil Ungu Endapan putih Biru Ungu Endapan putih Biru Pengamatan Ungu Endapan putih Biru Ungu Endapan putih Biru Dadih Penelitian ini menggunakan metoda Kjeldahl karena umumnya metoda ini digunakan untuk penentuan analisis protein pada makanan.05).000 ( P<0. 1984. Anggorodi. A.7065 0.6150 0. 1986. untuk susu yaitu 6.5829 0. kadar protein dadih yang disimpan pada suhu kamar dan lemari pendingin pada penyimpanan setelah 2 hari diperoleh nilai P yaitu 0. 4 dan 6 hari berbeda secara bermakna.6019 0.7562 ± 0.6190 %N 0.4188 ± 0.000 ( P<0. Kadar protein yang diperoleh pada susu segar adalah 4. Metoda ini mempunyai kelemahan dimana unsur N yang terdapat pada protein juga ikut teranalisis sehingga kadar protein yang diperoleh adalah kadar protein kasar (Crud protein) dan bukan protein murni (Grinda.9858 ± 0.468 0.05) dengan nilai tersebut terdapat perbedaan yang bermakna kadar protein dadih pada penyimpanan suhu kamar setelah 2.38 (SNI 01-2891-1992.0610 3.002(P <0. gambar 1 dan gambar 2.5914 0.048 ( P<0.0392 3.5079 ± 0.05) .5885 0. Persentase Kadar Protein pada Susu Segar. Tabel 2.0357 3.05) yang berarti kadar protein dadih yang disimpan selama 2. Data yang diperoleh juga dilakukan uji statistik dengan anova satu arah dan uji T student.0467 4. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Tabel 1. Hasil persentase kadar protein pada susu segar. Anggorodi. 4. 1994). 1 NO.SCIENTIA VOL. untuk menentukan kadar protein dikalikan dengan faktor konversi.0939 4.2741 ± 0.4509 ± 0. Dadih yang Disimpan pada Suhu Kamar dan Dadih yang Disimpan pada Lemari Pendingin Sampel Sampel A susu segar Setelah menjadi dadih Setelah 2 hari pada suhu kamar Setelah 4 hari pada suhu kamar Setelah 6 hari pada suhu kamar Setelah 2 hari pada lemari pendingin Setelah 4 hari pada lemari pendingin Setelah 6 hari pada lemari pendingin Berat Sampel (gr) 0. dadih yang disimpan pada suhu kamar dan dadih yang disimpan pada lemari pendingin dapat dilihat pada tabel 2.5797 0.6699 0.05) dan penyimpanan setelah 6 hari diperoleh nilai P yaitu 0.0842 2.6603 0..

K. Zurriyati Y. R. bakteri asam laktat lactobacillus. pada mekanisme perubahan tersebut biasanya akan menghasilkan air dan secara otomatis konsentrasi protein dalam produk fermentasi akan menurun (Bucle. Pada data yang didapat terlihat bahwa susu segar kerbau mempunyai kadar proteinnya lebih tinggi dari pada dadih. dan M.SCIENTIA VOL. G. Penurunan kadar protein ini terjadi karena selama proses fermentasi. Semakin lama waktu .H. Wooton. 1987). Grafik kadar protein pada dadih yang disimpan dalam lemari pendingin Dari data dan grafik yang didapat terlihat jelas bahwa semakin lama penyimpanan maka kadar protein semakin menurun. Tetapi pada kenyataannya orang 50 lebih banyak mengkonsumsi dadih dari pada susu segarnya disebabkan karena aroma susu yang khas dapat menimbulkan rasa mual maka perlu dibuat susu fermentasi sehingga terjadi perubahan fisik dan kimiawi susu.A. Grafik kadar protein pada dadih yang simpan pada suhu kamar Gambar 2.. D. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Gambar 1. glukosa dan galaktosa (Sisriyenni. KESIMPULAN DAN SARAN Kadar protein dadih sangat dipengaruhi oleh lama dan tempat penyimpanan. 1 NO. streptococcus dan lactococus aktif melakukan proses proteolitik dan lepolitik menjadi substansi yang bisa dimanfaatkan oleh bakteri misalnya energi.. 2004). Tidak semuanya orang dapat mencerna susu dengan baik karena gangguan pencernaan yang timbul setelah mengkonsumsi susu karena tidak terpecahnya laktosa (gula susu) menjadi komponen-komponen sederhana yang dapat diserap oleh tubuh yaitu monosakarida.A. Edwards. Fleet..

1987. Sudarmadji. 1995. Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Departemen Perindustrian.. Buckle. Prinsip Dasar Ilmu Gizi .VI.SCIENTIA VOL. Vol 5. Jakarta. II. Sisriyenni. hal ini disebabkan karena dadih pada suhu kamar mudah terkontaminasi dengan mikroorganisme lain selain bakteri penghasil asam laktat sehingga dapat mempengaruhi kadar protein. Grindra. K. Gramedia Pustaka Utama. Anggorodi. Penerbit Penebar Swadaya. Ed. Biokimia I .2006. 1986. Susilorini. Bandung. Dadih / dadiah. Ilmu Pangan. Edwards. T. T. UI Press. Zurriyati. A. M. 2004. 2004 Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi. No 2. Pengolahan Dadih Sebagai Makanan Probiotik Spesifik Sumatera Barat. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. 2007. Usman. A. Muharlien. 1984. 2001. Pusat Standarisasi Industri. Cara Uji Makanan dan Minuman. 1 NO. M. Budi Daya 22 Ternak Potensial. 1 2010 ISSN : 2087-5045 penyimpanan maka kadar protein pun semakin menurun. Vol 2. H. 1999. Prosedur Analisa untuk Bahan Makanan dan Pertanian. Jakarta. Ilmu Makanan Ternak Umum.. Penerbit Dian Rakyat. litbang deptan. Y. j. Jilid I. 51 . SNI 01-2891-1992. Penerbit PT... Jakarta. Sawitri. A. Fleet dan M Wooton. Bandung. Jakarata. R. Gramedia. De Man. D. Artikel. Jakarta. Yogyakarta. No 2. Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Dadih yang disimpan pada lemari pendingin lebih tinggi kadar proteinnya dari pada dadih yang disimpan pada suhu kamar. Detama. Jurnal Natur. Susu Kerbau Fermentasi Mampu Menurunkan Kolesterol. E. S. 2008. Kajian kualitas dadih susu kerbau didalam tabung bambu dan tabung plastik. Jakarta. Robinson. Kimia Makanan. D. A.. Ed. DAFTAR PUSTAKA Almatsier. E.. 1994. G. Penerbit Institut Teknologi Bandung. Penerbit Liberty. Sugianto.. Penerbit ITB..

Salah satu bahan baku simplisia yang akan dipakai untuk membuat fitofarmaka ini adalah herba meniran (Phyllanthus niruri L. K. dan mineral terutama kalium (Joshi. nitretalin. N. 1987). phenolic content and antioxidant activity (p<0. sedangkan obat herbal yang terstandar adalah yang sudah lulus uji pra klinis. 1986. 52 . peluruh dahak. terpen (cymene. rutine. bahan baku dan produk jadinya telah distandarisasi. astragalin. tanin. 4-metoxy-norsecurinine. 2006. anti radang. Among the ethanol:water ratio tested. peluruh kencing. 1 2010 ISSN : 2087-5045 PENGARUH PERBANDINGAN ETANOL AIR SEBAGAI PELARUT EKSTRAKSI TERHADAP PEROLEHAN KADAR FENOLAT DAN DAYA ANTIOKSIDAN HERBA MENIRAN (Phyllanthus niruri L. obat herbal terstandar. Keywords : Phyllanthus niruri L. 1 NO. peluruh haid. alkaloid (norsecurinine. nirathin. pereda demam. 70:30. phyltetralin. Than. The ethanol:water ratio tested were 100:0. Obat-obatan yang terbuat dari bahan alam dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu jamu. menerangkan penglihatan dan penambah nafsu makan (Heyne. herbs to obtain phenolic compound which has antioxidant activity. lintretalin. Badan Pengawasan Obat). Results revealed that ethanol:water ratio gave significant effect on extracted material. Herba meniran mengandung senyawa flavonoid (quarcetin. niruriside).) (Nurkhasana. niruri. 2) Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Perintis Padang ABSTRAK Effect of ethanol:water ratio as extraction solvent on obtaining of extractive material. isoquercitin.SCIENTIA VOL. Martinus 2) Fakultas Farmasi Universitas Andalas Padang. Jamu adalah ramuan tradisional yang belum teruji secara klinis. lupeol).05). dan fitofarmaka. 80:20. Herba meniran berkhasiat membersihkan hati. 60:40 and 50:50. hypophyllanthine. phenolic PENDAHULUAN Pengembangan bahan obat alam meliputi pengembangan budidayanya sehingga menghasilkan simplisia dengan kualitas yang unggul serta pengembangan cara produksi dan bentuk-bentuk sediaan dari obat-obat tradisional. Sementara fitofarmaka adalah suatu sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan uji klinik. 1988. herbs have been investigated. quercitrin. limonene. antioxidant. the best result was obtained by ethanol:water ratio 60:40 as extraction solvent for Pyhllanthus niruri L. lignan (phyllanthine. Satyanarayana. nirphylline. phyllochrysine). 2005).) 1) Harrizul Riva’I 1). etnosecurinina. physetinglucosid). N. damar. phenolic content and antioxidant activity in Phyllanthus niruri L.

60:40. Natrium Carbonat (Merck). Hitung kadar ekstraktif sampel. Larutan Natrium Karbonat 1 M (Mosquera. aquadest. Pembuatan Ekstrak Sampel 5 g herba meniran yang telah diserbuk direndam dengan 50 mL etanol-air dengan perbandingan 100:0.1-diphenyl-2picrylhydrazyl) 35 µg/mL (Keinanen. spatel. 1996) Ditimbang 10 mg DPPH masukkan dalam labu ukur 100 mL. Bahan – bahan Bahan yang digunakan adalah tanaman herba meniran (Pyllanthus niruri L. diamkan selama dua hari. sampel yang akan dianalisa adalah bagian tumbuhan meniran yang berada di atas tanah (Pyhlanthus niruri L. Penentuan Kadar Ekstraktif Larutan Sampel Dari larutan sampel dipipet sebanyak 10 mL. cawan penguap. Semua maserat dikumpulkan.1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) p. 1 NO. dalam botol meserasi yang berwarna gelap.). b.a (Merck). Blender.SCIENTIA VOL. spektrofotometer UV-Visible mini 1240 (Shimadzu®). 1 2010 ISSN : 2087-5045 METODOLOGI PENELITIAN Alat – alat Alat yang digunakan adalah Rotary Evaporator (RVO6-ML kika werke). Identifikasi Sampel Identifikasi sampel dilakukan di Herbarium Universitas Andalas (ANDA) dengan nomor koleksi FT-001. 50:50.a (Merck). dibersihkan kemudian dikering anginkan sampai kering kemudian diserbuk. aluminium foil. metanol p. masukkan dalam cawan penguap yang sudah ditara. beaker glass. maserat dipisahkan dan sisanya dimaserasi lagi beberapa kali dengan jenis dan jumlah pelarut yang sama. 2007) Ditimbang 5. lalu tambahkan metanol sampai tanda batas kemudian dipipet 17. DPPH (1.a (Merck). aduk hingga homogen. kemudian keringkan dalam oven pada suhu 105 0C selama 1 jam kemudian setelah dingin ditimbang. pipet gondok. Uapkan larutan sampel di water bath. 1978. erlenmeyer.). Badan Pengawasan Obat. sampai cairan terakhir tidak berwarna. sebelum dianalisa ekstrak dilarutkan dengan campuran etanol dan air suling sama banyak (1:1) dalam labu ukur 50 mL (Harbone. reagen Fenol folin-Ciocalteu (Merck). % Ekstraktif = Berat Ekstrak x 100% Sampel diambil di sepanjang jalan Bypass Padang. diendaptuangkan. pipet mikro.5 mL larutan DPPH masukkan dalam labu ukur 50 53 . Pengambilan sampel selama 24 jam. batang pengaduk. 80:20. gelas ukur. timbangan digital analitik (Denver Instrument Company). asam galat. 70:30. sambil sekalisekali diaduk. Larutan DPPH (1. corong. etanol p. cairan atas diambil kemudian diuapkan dengan rotary evaporator pada suhu 40 0C dan ditimbang. 2004).1.3 g Na2CO3 dilarutkan dalam aquadest sampai 50 mL. Kertas saring Whatman No. labu ukur. biarkan Berat Sampel Pembuatan Reagen a.

Masing-masing ke dalam vial larutan sampel dengan 50. Pipet larutan induk asam galat (5 mg/mL) sebanyak 1 ml ke dalam labu ukur 50 mL lalu diencerkan dengan campuran metanol dan air suling (1:1) sampai tanda batas. a. Penentuan Kadar Senyawa Fenolat Total Dengan Metoda Folin-Ciocalteu Larutan sampel dipipet 0. masukkan dalam vial dan ditambahkan 2 mL campuran air suling dan metanol (1:1). Pemeriksaan IC50 Larutan Sampel Dibuat konsentrasi 40. Pipet 0.5 mL dan dimasukkan ke dalam vial.75. Penentuan Panjang Gelombang Serapan Maksimum Asam Galat. 0. 50.25. biarkan selama 30 menit ditempat yang gelap. tambahkan 2. Serapan larutan diukur dengan spektrofotometer UV-Visible pada panjang gelombang 400-800 nm.5 mL ekstrak herba meniran kemudian masukkan kedalam vial. 2007. 75. 1 dan 1.25 mL. 70. diencerkan dengan campuran metanol:aquadest (1:1) dalam labu ukur 50 mL sampai tanda batas sehingga didapatkan konsentrasi 25. Pourmorad. Penentuan Kadar Senyawa Fenolat Dengan Metoda Folin-Ciocalteu (Mosquera. tambahkan 5 mL reagen fenol FolinCiocalteu yang telah diencerkan dalam air suling 1:10 dan tambahkan 4 mL natrium karbonat 1 M. 2007.5 mL etanol 96% lalu tambahkan dengan air suling sampai tanda batas. Uji Aktivitas Antioksidan Sampeldengan Metoda DPPH (Mosquera. ukur serapan maksimum pada panjang gelombang maksimum dengan spektorfotometer UV-Visibel yang akan memberikan komplek warna biru. 1 2010 ISSN : 2087-5045 mL.125 g asam galat masukkan dalam labu ukur 25 mL.5 mL diencerkan dengan etanol:air suling (1:1) dalam labu ukur 25 mL sampai tanda batas. Diamkan selama 15 menit. Pembuatan Asam Galat Kurva Kalibrasi karbonat 1 M biarkan selama 15 menit. 100 dan 125 µ g/mL asam galat.Pourmorad.5 mL kemudian dicampur dengan 5 mL pereaksi Folin-Ciocalteu yang sudah diencerkan 1:10 dengan aquadest. lalu tambahkan metanol sampai tanda batas sehingga diperoleh larutan konsentrasi 35 µg/mL. biarkan selama 15 menit. 1 NO. 2006) a. c. ukur serapan dengan spektrofotometer UV-Visibel dan buat kurva kalibrasi sehingga persamaan regresi liniernya dapat dihitung. 2006) a.5. kemudian ukur serapan pada panjang gelombang 400-800 nm dengan spektrofotometer UV-Visebel. 60. 2005) Ditimbang 0. tambahkan 4 mL larutan natrium 54 . lakukan 3x pengulangan sehingga kadar fenolat yang didapat ekivalen dengan mg asam galat /g berat ekstrak kental herba meniran. Kemudian dipipet 0. kocok homogen. kemudian ditambahkan 5 mL pereaksi Folin-Ciocalteu yang sudah diencerkan 1:10 dengan aquadest dan 4 ml larutan natrium karbonat 1M. b.SCIENTIA VOL. dipipet sebanyak 2 mL lalu tambahkan 4 mL Dari larutan induk asam galat dipipet 0. Masingmasing konsentrasi larutan dipipet 0. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum DPPH Pipet sebanyak 4 mL larutan DPPH 35 µg/mL. 80 mg/mL. 0. Larutan asam galat 5 mg/mL (Sigma.

05 mL larutan induk asam galat (5 mg/mL) yang HASIL DAN PEMBAHASAN kemudian dilarutkan dengan campuran metanol dan air (1:1) dalam labu ukur Hasil 50 mL sampai tanda batas. 3. sampel x 100 % Abs. sehingga diperoleh persamaan regresi linier yang telah diperoleh. Data hasil penelitian akan diuji secara statistik menggunakan Analisa b. 2. 1. 4. Hitung % inhibisi dengan menggunakan rumus : % inhibisi = Abs.SCIENTIA VOL.01. 0. Campuran dihomogenkan dibiarkan selama 30 menit di tempat gelap.04 dan 0. dibiarkan selama 30 menit di tempat gelap. Kadar Pembanding Asam Galat fenolat total yang diperoleh dari beberapa konsentrasi pelarut ekstraksi Dibuat larutan pembanding etanol diuji dengan Analisa Variasi asam galat dengan konsentrasi 1. Penentuan IC50 Larutan Variansi (Anova) satu arah. 0. Hasil penentuan panjang gelombang maksimum larutan panjang gelombang maksimun. dan 5 µg/mL dengan cara memipet 0. standar asam galat dengan metoda Hitung % inhibisi masingFolin-Ciocalteu yang diukur masingnya lalu buat kurva antara dengan spektrofotometer UVkonsentrasi larutan pembanding asam Visibel diperoleh serapan galat dan % inhibisi sehingga diperoleh maksimum pada panjang persamaan regresi liniernya. 1 2010 ISSN : 2087-5045 larutan DPPH 35 µ g/mL.4% µg/mL. regresi liniernya. kontrol − Abs. kontrol Keterangan : Abs Kontrol : Serapan larutan radikal DPPH dengan metanol-air (tanpa ekstrak) pada panjang gelombang maksimum. (Anova) satu arah. Campuran dihomogenkan (Lampiran 5 Tabel 1).02. tambahkan 4 ml larutan DPPH 35 12. 15. 1 NO. IC50 larutan sampel adalah konsentrasi larutan sampel yang memberikan inhibisi sebesar 50% yang Pengolahan Data Secara Anova satu dapat dihitung menggunakan persamaan arah regresi linier yang telah diperoleh.2%. IC50 asam 55 . galat adalah kosentrasi larutan pembanding asam galat yang Lalu buat kurva antara memberikan inhibisi sebesar 50% yang konsentrasi larutan sampel dan % dapat dihitung menggunakan persamaan inhibisi. 16. Serapan larutan diukur dengan spektrofotometer UV Visible pada 2.54% dan 9.03. Pada perhitungan kadar ekstraktif dari beberapa perbandingan pelarut Pipet sebanyak 2 mL masingmasing dimasukkan ke dalam vial lalu etanol:air 100:0. 60:40 dan 50:50 adalah 8. Serapan larutan diukur dengan spektrofotometer UV Visible pada panjang gelombang maksimun.01%. 70:30. Abs Sampel : Serapan sampel ditambah DPPH dikurangi dengan serapan sampel blanko (sampel+metanol-air) tanpa DPPH pada panjang gelombang maksimum. 0.04%. 80:20.

5 nm dengan serapan 0. Hasil penentuan panjang gelombang maksimum larutan DPPH 35 µg/ml yang diukur dengan spektrofotometer UVVisibel diperoleh serapan maksimum pada panjang gelombang 518. batas deteksi 11. 51.2804 µg/mL (Lampiran 8 Tabel VI. setelah dingin ekstrak yang dianalisa dan dilarutkan dengan campuran etanol dan air suling sama banyak (1:1) dalam labu ukur 50 mL. Tabel X. Gambar 16.SCIENTIA VOL. Gambar 17.654. 53. 60:40. Sampel yang telah kering di rendam dengan pelarut etanol:air dengan berbagai konsentrasi 100:0. 60:40 dan 50:50 adalah 50. Lampiran 10 Tabel VIII). Semua maserat dikumpulkan. Ekstraksi dilakukan dengan mengunakan pelarut etanol 96% karena senyawa fenolat adalah senyawa yang polar dan merupakan pelarut yang relatif tidak toksik. diamkan selama dua hari dan diendaptuangkan.82. 46. Metoda ini dipilih karena 56 . bagian diambil cairan bagian atas kemudian diuapkan dengan rotary evaporator pada suhu 40 0 C dan ditimbang. 43. Tabel XI. 5. Gambar 14). 60:40 dan 50:50 adalah 38. 50:50.733.0158+0.44. 70:30. Pembahasan Pada penelitian ini sampel yang digunakan adalah tanaman herba meniran.21 mg/mL (Lampiran 17 Tabel XV. 80:20. Penentuan kadar senyawa fenolat total dengan metoda FolinCiocalteu.947 µ g/mL (Lampiran 16 Tabel XIV.635 (Lampiran 7 Gambar 9). Hasil perhitungan IC50 pada penentuan daya antioksidan dari larutan ekstrak herba meniran pada konsentrasi pelarut etanol:air 100:0. 3. Selanjutnya daun yang telah kering dihaluskan dengan cara digrinder. Tabel XIII.65 dan 51. 80:20.0238. Timbang berat sampel dan dari data penimbangan didapatkan hasil presentase kadar air yang kecil dari 10%. dan batas kuantisasi 37.17. Pada penentuan kadar senyawa fenolat total dari herba meniran dengan perbandingan pelarut etanol:air 100:0.140 mg setara asam galat per gram sampel kering (Lampiran 12 Tabel IX). 80:20. sampel ditimbang sebanyak 2 gram dan masukkan ke dalam cawan penguap kemudian dimasukkan kedalam oven suhu 105 °C selama 1 jam. Gambar 20). 1 NO. 1 2010 ISSN : 2087-5045 gelombang 748 nm dengan serapan 0. 70:30. Tabel XII. 42.828 (Lampiran 15 Gambar 13). 7. Gambar 12). Penentuan bobot konstan ditentukan dari kadar air. Lampiran 9 Tabel VII. Gambar 18. Gambar19. 55. 6.1842 µg/mL. Hasil analisa data secara statistik pada penentuan kadar senyawa fenolat total menunjukkan bahwa pemkaian beberapa perbandingan pelarut ekstraksi etanol:air memberikan perbedaan yang signifikan terhadap kadar senyawa fenolat total herba meniran (Lampiran 13. 8.258 dan 37.561. Pada pengukuran absorban untuk penentuan kurva kalibrasi asam galat didapat persamaan regresi y = 0. Sebelum diekstraksi tanaman herba meniran ini dikeringkan terlebih dahulu dengan cara kering angin hingga bobot konstan. Hasil perhitungan IC50 larutan standar asam galat diperoleh 0.006384x dengan simpangan baku 0. 70:30. Gambar 10. satu kali 24 jam dengan tiga kali pengulangan. 4.

Dari kadar senyawa fenolat yang didapat maka dilakukan pengolahan data secara statistik dengan menggunakan metoda Anova satu arah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh perbandingan konsentrasi pelarut etanol:air terhadap perolehan kadar senyawa fenolat pada sampel.21 57 . 50.561. diukur absorban untuk penentuan kurva kalibrasi asam galat pada konsentrasi 25. Semakin rendah serapan maka semakin tinggi daya antioksidan dari larutan sampel. sensitif terhadap senyawa fenol dan menggunakan reagen dalan jumlah yang sedikit serta dapat bereaksi dalam waktu yang singkat. 3. Reaksi ini menyebabkan perubahan warna larutan DPPH dari ungu menjadi kuning.5 nm dengan absorban 0.17.025x.559 + 11. sehingga didapat persamaan regresi y=0.258. sehingga diperoleh persamaan regresi y = 39. dan 80 mg/ml. Pada penentuan kadar senyawa fenolat total ini digunakan asam galat yang panjang gelombangnya didapat adalah 748 nm dengan absorban 0. Pada konsentrasi ini diperoleh panjang gelombang maksimum 518. dan 5 µg/mL. Senyawa yang mempunyai aktifitas antioksidan akan bereaksi dengan DPPH melalui pemberian elektron dari senyawa antioksidan kepada DPPH yang mempunyai elektron sunyi. Pada larutan sampel diukur pada konsentrasi 40. ini menunjukan bahwa pemakaian beberapa konsentrasi pelarut ekstraksi etanol:air memberikan perbedaan yang signifikan terhadap kadar senyawa fenolat total sampel. Daya antioksidan dapat ditentukan dari nilai IC50 yaitu konsentrasi senyawa antioksidan yang memberikan inhibisi sebesar 50%.65 dan 51. 55. Sesuai dengan prinsip kerja spektrofotometwer UV-Visibel yang mengabsorbsi larutan warna pada panjang gelombang 400-800 nm. batas deteksi 11.SCIENTIA VOL. yang berarti bahwa pada konsentrasi tersebut antioksidan dapat menghambat radikal bebas sebesar 50%. 50. 70. absorban ini digunakan sebagai kontrol.1842 µ g/mL dan batas kuantitasi 37.140 mg/g. Dari persamaan regresi ini dapat ditentukan kadar senyawa fenolat dari larutan sampel. 4. 1 2010 ISSN : 2087-5045 merupakan metoda yang spesifik. 37. 100 dan 125 µg/mL. 70:30. Sebagai pembanding digunakan larutan asam galat dengan konsentrasi 1. Pada pengolahan data secara statistik menggunakan anova satu arah diperoleh nilai significant 0. Metoda ini dipilih karena mudah. Perbandingan pelarut ekstraksi etanol:air 100:0.947 µ g/mL. peka dan hanya memerlukan sedikit sampel. Setelah didapatkan panjang gelombang maksimum.006384x dan juga didapatkan simpang baku 0.44. 75.0238. 51. 50:50 didapatkan kadar senyawa fenolat 38.000. 1 NO. 43.0158+0. 60. Daya antioksidan dapat ditentukan dengan menggunakan metoda DPPH. 46. 60:40.654. 42.828. maka larutan komplek biru tua inilah yang akan ditentukan nilai absorbannya dengan panjang gelombang yang sesuai sehingga kadar dari larutan sampel dapat diketahui.2807 µg/mL.635. 80:20. sehingga elektron tersebut menjadi berpasangan.733. dari absorban yang didapat maka dapat dihitung persen inhibisi DPPH. Dari persamaan ini dapat dihitung nilai IC50 asam galat yaitu 0. 2. Hasil IC50 pada tiap-tiap kosentrasi pelarut etanol:air didapatkan 50. cepat. Perubahan inilah yang akan diukur serapannya dengan menggunakan spektrofotometer UV-Visibel. 53.82. Reagen Folin-Ciocalteu ini akan membentuk larutan kompleks berwarna biru tua jika direaksikan dengan larutan sampel yang telah ditambahkan dengan natrium karbonat. Untuk pengujian daya antioksidan senyawa fenolat digunakan DPPH dengan konsentrasi 35 µg/mL.

Antioxidant Activity of Twenty five Plants from Colombian Biodiversity. Titto. Analisa data menggunakan metoda anova satu arah menunjukan nilai signifikan P<0. Food Chem. Dapat dilihat bahwa cara pemakaian pelarut dengan berbagai konsentrasi dapat memberikan pengaruh terhadap perolehan kadar senyawa fenolat dan pengukuran aktivitas antioksidan walaupun tidak memberikan perbedaan yang begitu besar. Hal 86-89.SCIENTIA VOL. Hal 82. Isolation and Structure (x-ray analysis) of Ent-norsecurinine. Terbitan kedua. M and R. Joshi. 2007. S and William Pelletier. an alkaloid from Phyllanthus niruri.1384. 3. Metoda Fitokimia : Penuntun Cara Menganalisis Tumbuhan. Journal of Natural Products. Badan POM Republik Indonesia. UKM Bangi.. KESIMPULAN 1. no. 49. 1978. Jakarta.00. Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka.05 yang berarti bahwa pemakaian beberapa perbandingan pelarut ekstraksi etanol:air yang dilakukan memberikan perbedaan yang signifikan terhadap kadar senyawa fenolat sampel. Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia. Mem Inst Oswaldo Cruz. 58 . Diterjemahkan oleh K. Dilip H.65 mg/mL. Bahan Obat Alam Sumber Pendapatan Pembangunan.Padmawinata dan I. Balawants. No : HK. 1986. 4. Daya antioksidan yang paling kuat ditunjukkan oleh sampel pada campuran etanol:air 60:40 yang menggunakan ekstraksi dengan cara maserasi dapat dilihat dari nilai IC50 yang diperoleh yaitu 42. J. 2006. Keinanen. 1 2010 ISSN : 2087-5045 mg/mL. 26-27. Nilai IC50 yang semakin rendah menunjukkan daya antioksidan yang semakin kuat. Diana C Buitrago and Jaime Nino. Effect of Sampel Preparation Method on Birch (Betula Pendula Roth) Leaft Phenolics. Kadar ekstraktif yang diperoleh paling tinggi pada perbandingan etanol:air 60:40 yaitu 16. 1 NO.54%. Bandung. K. 614-620. Heyne. Nurkhasanah. 2004 Harbone.05.O. 4. Vol. 1987. Kriteria dan Tatalaksana Pendaftaran Obat Tradisional. Pada sampel dengan konsentrasi pelarut etanol:air 60:40 memperlihatkan kadar senyawa fenolat yang tinggi dan daya aktivitas antioksidan yang paling kuat dibandingkan dengan konsentrasi yang lain. 2. Tumbuhan Berguna Indonesia. 1996. Rio de Janeiro.41. 44:2724-2727. J. Prosiding Persidangan Antarabangsa Pembangunan Aceh.Soediro. jilid II.258 mg/g setara asam galat per gram sampel kering. ITB. Semakin besar kadar senyawa fenolat seamakin tinggi pula aktivitas antioksidan yang dihasilkannya DAFTAR PUSTAKA Departemen Kesehatan. Monografi Ekstrak Tumbuhan Obat Indonesia. Yayasan Sarana Wana Jaya. Gawad. B. Finland. Jakarta Mosquera M. Kadar senyawa fenolat yang paling tinggi diperoleh pada perbandingan etanol:air 60:40 yaitu 55. Yaned M Correa. Agric. cetakan ke-1. J. vol 102(5) : 631-634. pp.

and H.. diambil dari http://www. a new antioxidant Flavone Sulfonic Acid from Phyllanthus niruri.. J.Shahabimajd. Hosseinimerh and N. Fosto. 59 . Z.pp. S. 1 NO. Poeggeler. B. 1-4 (2006). Antioxidant Activity. 1142-1145. Sigma-Aldrich. 2006. Phenol and Flavonoid contents of some selected Iranian medical plants. African Journal of Biotechnology. diakses : tgl 5 Februari 2005 Than N. 2005.Sigma –aldrich. Laatsch. S. Naturforsch. F.com. Folin&Ciocalteu’s Phenol Reagent. received November 2. N. Hardeland. Sigma Prod No F-9252. vol. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Pourmorad.SCIENTIA VOL. Niruriflavone. R. 61b. 5 (11).

pada tahun 2006 jumlah penderita diabetes melitus di Indonesia meningkat tajam menjadi 14 juta orang. Penelitian dilakukan secara retrospektif dengan menggunakan data rekam medik selama tahun 2006 dan 2007. lemak dan protein. Achmad Mochtar Bukittinggi. terdapat sekitar 5.16%. descriptive-retrospective study. PENDAHULUAN Tingkat prevalensi diabetes melitus cukup tinggi. Telah dilakukan penelitian tentang profil penggunaan kombinasi antidiabetika oral dengan insulin pada penderita diabetes melitus tipe 2 di SMF penyakit dalam RSUD Dr. Keywords : Drug utilization study. seperti di Indonesia. dimana baru 50% yang sadar mengidapnya dan di antara mereka baru sekitar 30% yang datang berobat teratur. Diabetes melitus adalah suatu penyakit kronis yang di karakterisasikan oleh kelainan metabolisme karbohidrat. sedangkan pada penderita diabetes 60 .SCIENTIA VOL. Hasil penelitian menunjukkan dari 24 rekam medik pasien terdapat penggunaan 2 kombinasi yaitu: sulfonilurea + insulin 33. 3 kombinasi yaitu: sulfonilurea + biguanida + insulin 50%. Hansen Nasif 2) Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Perintis Padang. 2)Fakultas Farmasi Universitas Andalas Padang ABSTRAK Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang disebabkan antara lain oleh defisiensi insulin yang dapat menimbulkan berbagai komplikasi sehingga memerlukan manajemen terapi yang intensif. 1). Di sebabkan oleh defisiensi absolute atau relative dalam kerja insulin dan mungkin jumlah yang tinggi secara tidak normal dari glukagon “counter regulatory hormones” lain.6 juta penduduk Indonesia yang mengidap diabetes melitus.34%. 1 2010 ISSN : 2087-5045 PROFIL PENGGUNAAN KOMBINASI ANTI DIABETIKA ORAL DENGAN INSULIN PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 DI SMF PENYAKIT DALAM RSUD Dr. 1 NO. biguanida + insulin 8. Hal ini mungkin disebabkan minimnya informasi di masyarakat tentang diabetes melitus terutama gejala-gejalanya. dan mulai menonjol sebagai salah satu sebab morbiditas dan mortalitas di negara yang sedang berkembang. Pada tahun 2000 yang lalu saja. type 2 diabetes mellitus.34%. inhibitor α glukosidase + insulin 4. amin-amin simpatomimetik dan kortikosteroid. ACHMAD MOCHTAR BUKITTINGGI 1) Radjudin Dahlan. Namun. Menurut WHO Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah penderita diabetes melitus di dunia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mempelajari jenis antidiabetika oral dan insulin yang digunakan dalam terapi kombinasi di rumah sakit. sulfonilurea + inhibitor α glukosidase + insulin 4. antidiabetic oral with insulin combination. Sekresi insulin pada pasien penderita diabetes melitus tipe 1 adalah kurang dan sampai tidak ada sama sekali.16%. seperti hormon pertumbuhan.

SCIENTIA VOL. Penyakit ini berhubungan dengan suatu keadaan kekurangan insulin absolut atau relatif. Lingkungan dan faktor sosial ekonomi masyarakat sangat berpengaruh terhadap penyakit ini. Achmad Mochtar Bukittinggi Prosedur Kerja 1. Pengambilan Sampel Sampel penelitian dikumpulkan dari data rekam medik pasien diabetes melitus tipe 2 yang dirawat di SMF penyakit dalam RSUD Dr. 3. dan akan naik sekitar 5. Prevalensi diabetes melitus naik bersama bertambahnya umur.(ISFI. maka kadar glukosa darah akan naik 1-2 % per tahun pada saat puasa. selama tahun 2006 dan 2007. Penyakit ini tidak menular tapi menahun.(Sulaiman.(Tandra. Menurut WHO setelah seseorang mencapai umur 30 tahun. Mencatat identitas pasien dan obat yang digunakan. Tanpa pengobatan yang baik diabetes melitus akan menyerang banyak organ penting dalam tubuh. bahkan bisa berakibat fatal. 1991) Insulin adalah hormon yang dihasilkan oleh pankreas yang bertanggung jawab dalam merpertahankan kadar gula darah yang normal. 1987) Umur merupakan salah satu factor yang sangat penting dalam pengaruhnya terhadap prevalensi diabetes melitus. Pada penderita diabetes melitus glukosa sulit masuk ke dalam sel karena insulin yang ada di dalam tubuh sedikit atau tidak ada sama sekali. sedangkan kekurangan insulin relatif terjadi jika produksi insulin tidak sesuai dengan kebutuhannya. Menghitung persentase penggunaan obat. Achmad Mochtar Bukittinggi.6-13 % pada 2 jam setelah makan. Depkes RI 2006). akibatnya kadar glukosa dalam darah menjadi tinggi. 2008. Insulin memasukkan gula ke dalam sel sehingga bisa menghasilkan energi atau disimpan sebagai cadangan energi. Pengambilan data dari rekam medik pasien yang menggunakan kombinasi antidiabetika oral dengan insulin. 2008) METODOLOGI PENELITIAN Alat dan Bahan Alat tulis. Analisa Data Data diperoleh dan dicatat kemudian dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus: P= S x 100 % N 61 . tinggi atau rendah. Kekurangan insulin absolut terjadi jika pankreas tidak berfungsi lagi untuk mensekresi insulin. 1 2010 ISSN : 2087-5045 melitus tipe 2 sekresi insulin dapat saja normal. 1 NO.(Mutschler. 2. Rekam medik pasien Jenis Penelitian Penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif retrospektif Sumber Data Sumber data adalah diperoleh dari rekam medik pasien pengguna kombinasi antidiabetika oral dengan insulin pada penderita diabetes melitus tipe 2 di SMF penyakit dalam RSUD Dr.

34% c. Terapi kombinasi antidiabetika oral dengan insulin diberikan pada pasien diabetes melitus tipe 2 yang gagal mendapatkan efek terapi maksimum pada terapi oral. Golongan inhibitor α glukosidase + insulin = 4. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Keterangan: P = Persentase penggunaan kombinasi antidiabetika oral dengan insulin. Sulfonilurea yang diberikan pada pasien diabetes melitus tipe 2 dapat meningkatkan sekresi insulin dari 62 . HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Setelah dilakukan penelitian didapatkan hasil sebanyak 24 data. Kombinasi insulin dan sulfonilurea telah digunakan pada pasien diabetes melitus tipe 2. Biguanida tidak menyebabkan peningkatan berat badan. karena tidak merangsang atau menghambat perubahan glukosa menjadi lemak. Sulfonilurea digunakan untuk mengendalikan hiperglikemia pada pasien diabetes melitus tipe 2 yang tidak dapat mencapai kontrol yang sesuai pada perubahan pola diet saja. dan durasi singkat diabetes melitus diperkirakan akan memberikan respon yang baik. Hasil pada pasien diabetes melitus tipe 2 menunjukkan perbaikan kontrol metabolisme. Golongan sulfonilurea + biguanida + insulin = 50% b. Golongan sulfonilurea + insulin = 33. Golongan sulfonilurea + inhibitor α glukosidase + insulin = 4. Golongan biguanida yang diberikan tunggal atau kombinasi dengan sulfonilurea dapat memperbaiki kontrol glikemia dan konsentrasi lipid pada pasien yang merespon kurang baik terhadap diet atau sulfonilurea saja. Penelitian pada pasien diabetes melitus tipe 1 tidak memberikan bukti apapun bahwa kontrol glukosa diperbaiki oleh terapi kombinasi. Pada penderita diabetes melitus yang gemuk ternyata pemberian biguanida dapat menurunkan berat badan dan oleh terapi apapun (insulin atau senyawa oral) dapat menyebabkan berkurangnya komplikasi mikrovaskular. S = Jumlah pasien pemakai kombinasi antidiabetika oral dengan insulin. Golongan biguanida yang dikombinasikan dengan insulin juga bermanfaat pada terapi resistensi insulin. Sulfonilurea juga dapat meningkatkan kadar insulin dengan cara mengurangi bersihan hormon dihati. Persentase penggunaan kombinasi antidiabetika oral dengan insulin pada penderita diabetes melitus tipe 2: pankreas.SCIENTIA VOL.16% 2. N = jumlah sampel keseluruhan.16% Pembahasan Penggunaan obat kombinasi ini bertujuan untuk pencapaian efek obat yang sinergis dan lebih optimal dalam mengontrol kadar gula darah serta dapat menurunkan efek samping obat yang tidak diinginkan. Golongan biguanida + insulin = 8.34% b. 1. Metformin merupakan satu-satunya senyawa terapeutik golongan biguanida yang terbukti menurunkan kejadian makrovaskular pada pasien diabetes melitus tipe 2. Kombinasi 2 obat a. 1 NO. Kombinasi 3 obat a. namun semua pasien sangat penting untuk melanjutkan diet yang ketat untuk memaksimalkan khasiat sulfonilurea ini. Pencapaian efek manfaat terapi kombinasi adalah aktivitas residual sel beta.

inhibitor α glukosidase juga dikombinasikan dengan senyawa antidiabetes oral lainnya dan atau insulin. pada pasien dengan hiperglikemia ringan hingga sedang. Kedua golongan obat ini memiliki efek terhadap sensitivitas reseptor insulin. biguanida menurunkan produksi glukosa di hati dan membantu hati sehingga lebih sensitif terhadap insulin dan insulin dapat bekerja dengan baik. Namun. potensi penurunan glukosa oleh inhibior α glukosidase adalah sekitar 30%-50% diantara senyawa antidiabetes oral lainnya. diare. metformin bahkan kadang dapat menurunkannya. efek samping dari penggunaan kombinasi ini adalah gangguan perut seperti mual. sehingga tidak menyebabkan hipoglikemia. 1 NO. Inhibitor α glukosidase tidak menstimulasi pelepasan insulin. Akarbose dan miglitol termasuk golongan inhibitor α glukosidase. Sulfonilurea akan mengawali dengan merangsang sekresi pankreas yang memberikan kesempatan untuk senyawa biguanida bekerja aktif. pada pasien diabetes melitus tipe 2 hiperglikemia yang parah. sehingga kombinasi keduanya mempunyai efek yang saling menunjang. Pemakaian kombinasi ini memang efektif melihat cara kerja obat yang sinergis. Sulfonilurea bekerja merangsang sekresi insulin pada pankreas. Metformin dari golonga biguanida juga tidak menaikkan berat badan. kadang juga bisa timbul hipoglikemia. Kesalahan ini disebabkan karena tidak ada atau kurangnya komunikasi anatara farmasis dengan dokter. Namun. Sebagian besar dikombinasikan lagi dengan insulin untuk pencapaian efek maksimum. Kombinasi sulfonilurea dan insulin dapat menurunkan glukosa darah. karena obat ini bekerja mencegah pemecahan sukrosa dan karbohidrat kompleks pada usus halus sehingga memperpanjang waktu absorbsi karbohidrat. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Penyerapan biguanida di usus sangat baik. yaitu sulfonilurea + insulin sebanyak 33. Dari hasil penelitian ditemukan penggunaan kombinasi paling banyak adalah: kombinasi 3 obat yaitu golongan sulfonilurea + biguanida + insulin sebanyak 50%. Bila insulin dapat menaikkan berat badan. Kombinasi 3 obat ini digunakan karena bekerja saling menguntungkan. Sebagian besar penderita diabetes melitus yang gagal diobati dengan sulfonilurea dapat ditolong dengan biguanida. Senyawa ini dapat dipertimbangkan sebagai terapi tunggal untuk pasien lanjut usia atau terutama pasien hiperglikemia setelah makan. Kombinasi 2 obat golongan biguanida + insulin yaitu 63 . apabila dikombinasikan dengan insulin tentu akan memperparah keadaan. Selain itu. kedua senyawa ini menurunkan kadar glukosa darah setelah makan. Kombinasi kedua golongan ini efektif pada banyak penderita diabetes melitus yang sebelumnya tidak bermanfaat bila dipakai sebagai terapi tunggal. Penggunaan kombinasi ini kurang efektif melihat efek samping yang ditimbulkan sulfonylurea yaitu hipoglikemia. sehingga obat ini dapat diberikan dalam kombinasi dengan insulin atau sulfonilurea.34%. Kemudian kombinasi 2 obat. Suntikan insulin dibutuhkan karena insulin yang dihasilkan oleh pankreas belum dapat mengendalikan kadar glukosa darah.SCIENTIA VOL. Efek kombinasi ini bisa memperbaiki dan menambah kerja insulin. Inhibitor α gukosidase dapat memiliki efek yang besar terhadap kadar haemoglobin. disamping itu sulfonilurea juga dapat meningkatkan berat badan dan resiko komplikasi juga dapat meningkat. Terapi kombinasi yang umum adalah antara golongan sulfonilurea dengan biguanida.

infark miokard dan patah tulang terutama pada manula akibat golongan tiazolidinedion. untuk gangguan hepar dipilih meglitinida.34%. metformin membantu hati sehingga lebih sensitif terhadap insulin dan insulin bisa bekerja dengan lebih baik. sulfonilurea. menurunkan glukoneogenesis di hati sehingga kebutuhan insulin untuk mengangkut glukosa dari darah masuk ke sel berkurang dan glukosa darah menjadi turun. Namun perlu diwasapadai efek samping yang lebih serius yang akut adalah hipoglikemia terutama oleh insulin. Untuk gangguan ginjal. dan agar penatalaksanaan penyakit ini berhasil dibutuhkan kerjasama yang erat dan terpadu dari penderita dan keluarga dengan para tenaga kesehatan. Penggunaan kombinasi paling banyak adalah kombinasi 3 obat yaitu golongan sulfonilurea + biguanida + insulin sebanyak 50%. untuk obesitas dipilih metformin dan akarbosa. Kombinasi ini efektif untuk mengontrol kadar glukosa darah karena mekanisme kerja obat yang saling menunjang. iritasi lambung yang bersifat ringan. apalagi jika sudah terjadi resistensi insulin dan terapi dengan antidiabetika oral saja belum dapat mengontrol kadar glukosa darah. Sulfonilurea dapat menaikkan berat badan sedangkan metformin tidak menaikkan berat badan. 1 NO. maka insulin sebagai pilihan. Keamanan obat diabetes melitus biasannya terkait dengan efek samping yang ditimbulkan. maka metformin mempunyai keuntungan yang melebihi sulfonilurea untuk mengobati hiperglikemia. Efek lain yang serius adalah pada gagal jantung. Insulin juga menjadi pilihan pada diabetes melitus tipe 2 apabila kadar glukosa darah seseorang pada diagnosa pertama kali di atas 300 mg/dl. untuk pasien diabetes mellitus tipe 1 insulin merupakan pilihan utama. sehingga kombinasi ini lebih menguntungkan terutama bagi pasien gemuk. Adapun mekanisme kerja obat ini ada 4 yaitu: menstimulasi glikolisis pada jaringan secara langsung dengan meningkatkan pengangkutan glukosa dari darah. meglitinida dan insulin. meglitinida. dan meningkatkan sensitivitas insulin. Bila insulin dapat menaikkan berat badan. memperlambat absorbsi glukosa dari saluran cerna dengan cara meningkatkan konversi glukosa menjadi laktat oleh entrocytes. Kombinasi ini juga bisa mengurangi dosis pemakaian insulin. diare. 1 2010 ISSN : 2087-5045 8. akarbosa dan insulin. Metformin sering diberikan pada pasien obesitas dimana hiperglikemia di sebabkan oleh kerja insulin yang tidak efektif atau resistensi insulin. Alasan penggunaan metformin disini adalah karena metformin merupakan suatu agen hemat insulin (insulin-sparing) dan tidak menaikkan berat badan atau menyebabkan hipoglikemia. jadi berat badan sangat penting untuk diperhatikan dan merupakan salah satu factor yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan obat. seperti mual. tidak dipilih metformin dan sulfonilurea. sedangkan untuk diabetes melitus tipe 2 pilihan utama nya adalah metformin atau kombinasi dengan insulin. KESIMPULAN 1. 64 . metformin bisa menurunkan berat badan. muntah.SCIENTIA VOL. tapi dipilih tiazolidinedion. oleh karena itu metformin efektif pada pasien gemuk maupun kurus. Pada penatalaksanaan penyakit ini diperlukan peran farmasis atau apoteker sebagai ahli obat. Disamping itu.

Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Diabetes Mellitus. Dinamika Obat. Jilid I. Balai Penerbit FKUI. 1991. 65 . A. Sulaiman. E. 2008. Tranformasi Ilmu dan Teknologi Dalam Praktek Kefarmasian. Segala Sesuatu Yang Harus Anda Ketahui Tentang Diabetes. seharusnya metformin merupakan pilihan utama pada diabetes melitus tipe 2. Jakarta. Bandung. Metformin bukan menjadi pilihan utama pada pasien diabetes melitus tipe 2. 1 2010 ISSN : 2087-5045 2. Penerbit ITB. Ed 2. ISFI.SCIENTIA VOL. 1 NO. Jakarta.B Widianto dan A. Tandra. Yogyakarta. Ilmu Penyakit Dalam. Mutschler. Kongres Ilmiah XVI. Ed 5. Jakarta. Direktorat jendral bina kefarmasian dan alat kesehatan. 2008. 2006 ISFI. 2008. Terjemahan M. 1987. PT. Hans. Gramedia pustaka utama.S Ranti. DAFTAR PUSTAKA Departemen kesehatan RI.

dan bila terjadi pada anak sekolah akan mengurangi kapasitas dan kemampuan belajar.vitamin A. iron. Dalam rangka penanggulangan anemia gizi besi beberapa zat gizi lain penting untuk dipertimbangkan. yang disebabkan karena kekurangan zat besi. gondok endemik dan kretin serta anemia gizi. vitamin A. vitamin A and vitamin C influence Hemoglobyn level. Secara umum tingginya prevalensi anemia gizi besi antara lain disebabkan oleh beberapa faktor yaitu: kehilangan darah secara kronis.5%. anak usia sekolah47. dan lainnya (Morgan. menurunnya kemampuan kognitif. Vitamin A prevent infection that inhibition transferrin syntecis as transporter of iron.5%. sedangkan pada wanita hamil 50. micronutrient (iron. 1998). Anemia gizi merupakan masalah gizi yang paling utama di Indonesia. Beberapa zat gizi tersebut antara lain asam folat. Di Indonesia prevalensi Anemia Gizi Besi (AGB) menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Tahun 1995 masih tinggi. terutama zat-zat gizi yang berkaitan dengan proses penyerapan dan utilitasi besi. Protein. dimana haem adalah yang memberi warna merah pada darah dan 66 . 6-14 tahun 12gr/100 ml. dan untuk usia dewasa laki-laki 14 gr/100 ml. 2004). asupan zat besi tidak cukup. wanita 12 gr/100 ml serta wanita hamil 11 gr/100 ml. vitamin C) PENDAHULUAN Masalah gizi utama di Indonesia yaitu Kurang Kalori Protein (KKP). protein. yaitu pada anak Balita sebesar 40. Iron is urgent component for syntesis hemoglobyn. vitamin B12.9% (Kodyat dkk. yang disebut sebagai anemia gizi besi (Solon. MW 1998). et al. vitamin C. Sekitar 90% penyebab anemia adalah akibat kekurangan besi. Anemia gizi besi ditandai dengan menurunya kadar hemoglobin dibawah normal. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa pemberian suplementasi besi yang dikombinasikan unsur vitamin dapat meningkatkan bioavailabilitas besi dan lebih efektif meningkatkan kadar hemoglobin dibandingkan dengan hanya suplementasi besi saja (Bloem. Kurang Vitamin A (KVA).SCIENTIA VOL. Hemoglobin Hemoglobin adalah struktur darah yang terdiri dari Haem dan Globin. Protein and vitamin C verry important for iron metabolism.2%. Berdasarkan klasifikasi batas normal kadar Hb. Key word: Hemoglobyn. 2003). 1 2010 ISSN : 2087-5045 PENGARUH ASUPAN PROTEIN DAN MIKRONUTRIEN (Zat Besi Vitamin C dan Vitamin A) TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN Erina Masri ( Staf Pengajar Prodi Gizi STIKes Perintis Padang ) ABSTRACT Decrease of hemoglobyn level cause anemia. PEMBAHASAN 1. anak umur 10 -14 tahun 51. kelompok anak usia 6 bulan -6 tahun 11gr /100 ml. Anemia gizi besi dapat menyebabkan seseorang mudahterserang infeksi. 1 NO. penyerapan yang tidak adekuat dan peningkatan kebutuhan akan zat besi (Arisman. 1995). seng . 1999). Konsekwensi logis dari tingginya masalah anemia gizi besi adalah penurunan kualitas sumber daya manusia Indonesia (DepkesRI.

. Pada usia 10 tahun kadar normalnya sekitar 12-14 gr/dl untuk wanita sedangkan laki-laki 14-18 gr/dl. 1999). tetapi cadangan besi hilang yang ditandai dengan turunnya konsentrasi serum ferritin. 2. Menurut Gibson (2005) ada tiga tingkatan di dalam defisiensibesi. Kadar normal hemoglobin dalam darah akan bervariasi tergantung pada usia seseorang dan juga jenis kelamin. yang terakumulasi dalam sel darah merah ketika suplai besi tidak cukup untuk sintesis hem. 1 NO.1999 Kelompok Anak Hemoglobin 11 gr/ 100 ml 12 gr/ 100 ml 14 gr/ 100 ml 12 gr/ 100 ml 11 gr/ 100 ml Anemia gizi besi ditandai dengan ukuran eritrosit yang kecil serta kadar hemoglobin yang rendah. Pada bayi yang baru lahir kadar hemoglobinnya tinggi diatas orang dewasa yaitu 17 – 23 gr/dl. Kadar hemoglobin menurun sedikit. Anemia Gizi Besi Anemia adalah suatu keadaan kadar Hemoglobin (Hb) yang lebih rendah dari keadaan normal. 3)Besi Defisiensi Anemia (Iron deficiency anemia) Tahap ketiga atau tahap akhir dari defisiensi besi adalah menurunnya sirkulasi besi yang ditandai dengan turunnya kadar hemoglobin dalam sel darah merah. tetapi pada umumnya masih tetap dalam keadaan normal selama erythropoeisis berlangsung.Batas Normal Kadar Hemoglobin Umur 6 bulan-6 tahun 6 -14 tahun Dewasa Laki-laki Wanita Wanita hamil Sumber: Depkes Ri. Pada tahap ini tingkat transport besi dan hemoglobinnormal. Kadar hemoglobin ini akan menurun setelah bayi berumur 2 bulan yaitu sekitar 9-14 gr/dl. Faktor utama penyebab anemia gizi besi adalah 67 . yaitu: 1) Hilangnya Besi (Iron depletion).SCIENTIA VOL. Selain kedua faktor tersebut ketinggian suatu tempat juga berpengaruh terhadap kadar hemoglobin serta dipengaruhi juga oleh faktor makanan. Anemia dapat juga berarti suatu kondisi ketika terdapat defisiensi ukuran / jumlah eritrosit atau kandungan hemoglobin (Wirakusumah. Batas normal kadar hemoglobin menurut kelompok umur dan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 1. Tahap ini ditandai dengan pengurangan jumlah cadangan besi dalam hati. Gejala klinis dari tahap ini adalah perbandingan antara hematokrit dan sel darah merah dengan Mean Cell Volume (MCV) kurang dari 80 fL. disebut sebagai anemia mikrositik hypokronik (Gibson. 2005). Keadaan ini merupakan tahap lanjut dari defisiensi besi dan muncul setelah kekurangan besi yang berlangsung lama. Pada orang yang normal. Erytrosit protoporpyrin merupakan prekusor dari hem. konsentrasi hemoglobin pada orang yang tinggal di daerah yang tinggi akan lebih tinggi kadar hemoglobinnya dari pada orang yang tinggal didaerah rendah. Angka normal ini akan menurun pada usia diatas 50 tahun Anemia Gizi Besi. 1 2010 ISSN : 2087-5045 globin adalah protein darah. 2) Besi Defisiensi Erytropoiesis (Iron deficient erythropoiesis) Tahap kedua ini ditandai dengan habisnya seluruh cadangan sebagai hasilnya besi plasma yang mensuplai proses erytropoiesis menurun drastis dan terjadinya peningkatan transferin saturasi. sebaliknya terjadi peningkatan konsentrasi erytrosit protoporpyrin. hal ini berhubungan dengan kadar oksigen di udara. Tabel 1.

1999). 3. Penundaan terjadi sampai jumlah DNA yang diperlukan tercapai. yaitu antara lain penyakit TBC. dan faktor genetik (penyakit talasemia) juga sangat mempengaruhi rendahnya kadar hemoglobin di dalam darah (Wirakusumah. Hal ini terutama dapat terjadi pada orang yang mengkonsumsi makanan kurang beragam. produksi sel darah merah diperlukan 1) Besi untukmetabolisme hemoglobin. 2001). disisi lain proses pembentukkan hemoglobin dalam sitoplasma sel berjalan terus. 1 NO. 3) Vitamin B12 untuk daur ulang koenzim folat dan. kehilangan akibat dari perdarahan misalnya karena kecelakaan dan operasi. Pembentukan DNA memerlukan katalisator vitamin B12 dan asam folat. protoporfirin dibentuk di sekitar mitokondria. Selain itu. pola konsumsi serta keadaan ekonomi juga berdampak pada ketidakmampuan keluarga menyediakan makanan sumber besi. dan sitokrom. infeksi cacing atau malaria sehingga selain penanggulangan pada anemianya. harus dilakukan pengobatan terhadap penyakit-penyakit tersebut. mioglobin. sehingga terjadi sel eritrosit berukuran besar (abnormal) masuk dalam sirkulasi darah disebut anemia makrositosis (MCV <100fL) (Gibson. 1999 . Bila pembentukan DNA terhambat akan berakibat mitosis tidak terjadi meskipun pembentukan hemoglobin dalam plasma telah cukup. terutama pada bayi. Pembentukan Sel Darah Merah Pembentukan sel darah merah berasal dari eritroblast di sumsum tulang. Kebutuhan meningkat akibat pertumbuhan. Pada permukaan sel darah merah berinti terdapat reseptor transferin. 2) Asam folat untuk metabolisme purin / pirimidin. diawali terbentuk dua pasang kromosom oleh DNA. anak-anak. Hemoglobin terdiri dari protoporfirin. infeksi parasit (kecacingan). Keadaan infeksi terutama pada penyakit kronis (penyakit malaria. globin. 4) Vitamin C sebagai antioksidan dan untuk mengoptimalkan absorpsi besi (Parakkasi. dan besi berasal dari transferin. atau rendahnya tingkat absorpsi besi dan adanya penghambat sehingga tidak dapat diserap secara optimal sehingga tidak memenuhi kebutuhan tubuh. Inti sel sebelum mitosis. 1992). dan besi. WHO.SCIENTIA VOL. Gangguan pengikatan besi 68 . dan remaja yang membutuhkan besi dalam jumlah relatif lebih besar karena pertumbuhan yang pesat pada bayi dan anak-anak. Begitu juga remaja wanita yang sudah mengalami haid dimana saat itu cukup banyak mengeluarkan darah. 2005). Globin dibentuk di sekitar ribosom. berarti jumlah besi yang hilang dari tubuh juga cukup besar. 1 2010 ISSN : 2087-5045 kurangnya konsumsi besi makanan. Proses pembentukan sel darah merah diawali dengan pembentukan deoxyribonucleic acid (DNA) dalam inti sel dan berikutnya proses pembentukan hemoglobin dalam plasma eritrosit. Upaya pencegahan dan penanggulangan anemia pada dasarnya adalah mengatasi penyebabnya. Pada anemia berat (kadarHb < 8 gr %) biasanya pada penyakit yang melatarbelakangi.dll). Kekurangan vitamin B12 dan asam folat berakibat berkurangnya mitosis sel. TBC. Hal ini juga berpengaruh pada tidak terpenuhinya kebutuhan tubuh akan besi (Wirakusumah.

Ditinjau dari bioavailabilitas besi dari makanan dapat dibagi 3 tipe ( MacPhail. Besi berperan dalam sintesis hemoglobin dalam sel darah merah dan mioglobin dalam sel otot. Sel darah merah berinti maupun retikulosit hanya memiliki reseptor transferin bukan reseptor besi. Pembentukan sel darah merah baru akan terganggu apabila zat gizi yang diperlukan tidak mencukupi. katalase. 1 2010 ISSN : 2087-5045 untuk membentuk hemoglobin berakibat terbentuknya eritrosit dengan sitoplasma yang kecil (mikrositer) dan kurang mengandung hemoglobin (hipokromasia). Padahal umur sel darah merah hanya 120 hari dan jumlah sel darah merah. dan komponen lain pada sistem enzim pernafasan seperti sitokrom oksidase. Terganggunya pembentukan sel darah merah bisa disebabkan makanan yang dikonsumsi kurang mengandung zat gizi. Kecukupan besi ditentukan berdasarkan bioavailabilitas besi dari golongan makanan (Kartono J dan Soekatri M. di dalam darah harus selalu dipertahankan cukup banyak. sedangkan sisanya disimpan disebut besi nonessensial (Wardhini S dan Dewoto H R. Peristiwa ini terjadi saat kadar besi dalam darah rendah dan rendahnya transferin dalam darah. terutama zat-zat gizi penting seperti besi. Kecukupan besi yang direkomendasikan adalah jumlah minimum besi yang berasal dari makanan yang dapat menyediakan cukup besi untuk setiap individu yang sehat pada 95% populasi. adapun pada bayi baru lahir lebih kurang 250 mg dari jumlah tersebut (60-70%) dinamakan besi fungsional. sehingga dapat terhindar kemungkinan anemia kekurangan besi. memegang peranan penting dalam proses oksidasi menghasilkan Adenosin TriPhosphat (ATP) yang merupakan molekul berenergi tinggi. sehingga anemia gizi besi akan menyebabkan terbentuknya sel darah merah yang lebih kecil dan kandungan hemoglobin yang rendah. 1995). Besi elemental adalah besi yang dapat terikat oleh transferin untuk membentuk 1 ml packed red cells diperlukan 1 mg besielemental (Reksodiputro. 1994). 1999). jagung atau umbi-umbian. Tipe bioavailabilitas menengah (beras dan jagung dengan sejumlah daging dan vitamin C dengan penyerapannya antara 5-15%). karena berefek pada fungsi tubuh. flavoprotein.Sehingga apabila tubuh mengalami anemia gizi besi maka terjadi penurunan kemampuan bekerja (WHO. Mioglobin ikut dalam transportasi oksigen menerobos sel-sel membran masuk ke dalam sel-sel otot. ikan dan vitamin C dengan penyerapan besi tipe ini kurang dari 5%). kurang mengandung unsur daging. asam folat. protein. dan senyawa-senyawa mitokondria yang mengandung besi lainnya. 1 NO. untuk dieksresikan ke dalam udara pernafasan. sitokrom.5 g besi yang hampir seluruhnya dalam bentuk ikatan kompleks dengan protein. Peran Zat Besi terhadap Peningkatan Kadar Hemoglobin 3. Tubuh manusia sehat mengandung 69 .SCIENTIA VOL. 4. 2001). 2004). dan peroksidase. Besi juga merupakan mikronutrien essensil dalam memproduksi hemoglobin yang berfungsi mengantar oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh. Sitokrom. vitamin C dan zat gizi penting lainnya (Wirakusumah. Kurang lebih 4% besi di dalam tubuh berada sebagai mioglobin dan senyawa-senyawa besi sebagai enzim oksidatifseperti sitokrom dan flavoprotein. Walaupun jumlahnya sangat kecil namun mempunyai peranan yang sangat penting. 2000 ) yaitu Tipe bioavailabilitas rendah (besi dari bahan makanan pokok beras. Tipe Besi dibutuhkan untuk produksi hemoglobin. vitamin B12.

1 NO. keju dan telur tidak dapat meningkatkan penyerapan besi nonhem. yaitu Retinol Binding Protein (RBP) dan transferin. (Almatsier. Dengan demikian jelas bahwa status vitamin A yang tidak adekuat akan berdampak pada metabolisme besi dan eritropoeisis yang gilirannya akan menurunkan kadar hemoglobin. Beberapa penelitian membuktikan bahwa vitamin A mempunyai peranan yang penting dalam meningkatkan kadar hemoglobin. dibandingkan dengan yang hanya diberikan suplemen besi Vitamin A adalah zat gizi esensial yang larut dalam lemak dan dibutuhkan untuk kelangsungan berbagai fungsi tubuh yang penting. dan melalui membran sel ke dalam sel-sel. Apabila asupan vitamin A diberikan dalam jumlah cukup. 2003).60 ĩmol/L) dapat meningkatkan hemoglobin dan transferrin saturasi (Bloem. misalnya protein pengikat retinol yang hanya mengangkut vitamin A. besi yang semula ditahan makrofag akan dilepas kembali ke sirkulasi dan diangkut transferin untuk kepentingan eritropoeisis (Turnham. hati. Terutama protein hewani. Vitamin A juga berperan dalam pembentukan sel darah merah. sama-sama diangkut oleh negative phase protein. 6. 1993). 1990). Akibatnya sintesis retinol binding protein dan transferin kembali normal. Faktor yang menyebabkan kenaikan penyerapan besi lebih dikenal sebagai MFP (meat. atau dapat mengangkut beberapa jenis zat gizi seperti besi sebagai transferin (Almatsier. dari darah ke jaringan-jaringan. kambing. Sebagai alat angkut. Namun protein yang berasal dari susu sapi. maka dengan kemampuan vitamin A melawan infeksi. Protein seluler yang berasal dari daging sapi. 1999). 2003). 2002). Kondisi ini memungkinkan besi retinol yang semula terjebak di tempat penyimpanan dapat dimobilisasi kembali. Sintesis kedua protein ini tertekan bila ada infeksi. 1 2010 ISSN : 2087-5045 bioavailabilitas tinggi (makanan yang banyak mengandung daging dan vitamin C dengan penyerapan besi lebih dari 15%). Interelasi Protein dengan Kadar Hemoglobin Protein memegang peranan esensial dalam mengangkut zat-zat gizi dari saluran cerna melalui dinding saluran cerna ke dalam darah. walaupun tidak semua.SCIENTIA VOL. 5. 2003). Retinol tampaknya berpengaruh terhadap pertumbuhan dan diferensiasi 70 . poultry) factor (Wirakusumah. Ion besi diangkut dalam plasma darah oleh transferin dan disimpan dalam hati sebagai kompleks dengan ferritin (Winarno. Interelasi Vitamin Hemoglobin A dengan seluler yang berdampak pada perkembangan epitel yang mensekresi mukosa atau pada sistem kekebalan tubuh (Almatsier. Suplementasi besi yang dikombinasi dengan vitamin A selama 2 bulan pada anak-anak yang menderita anemia mempunyaipengaruh yang lebih besar pada peningkatan kadar hemoglobin dan transferin saturasi. akan terjadi penurunan derajat infeksi. Retinol dan besi. Pemberian suplemen vitamin A 110 mg pada anak yang kekurangan vitamin A (retinol < 0. juga dapat mendorong penyerapan besi nonhem. domba. kemungkinan melalui interaksi dengan besi. Dengan menghilangnya infeksi. Protein sebagai alat angkut dan penyimpanan terhadap hemoglobin yaitu mengangkut oksigen dalam eritrosit sedangkan mioglobin mengangkut oksigen dalam otot. fish. dan ayam menunjang penyerapan besi nonhem. protein ini dapat bertindak secara khusus.

diantara anak pra sekolah di India pada studi ini menunjukkan kadar hemoglobin lebih rendah pada mereka yang mempunyai serum retinol di bawah 20 ĩg/dL. Ibu hamil yang anemia dengan kadar retinal <1. Suplementasi vitamin A pada anak yang defisiensi meningkat secara signifikan pada kadar hemoglobin. Beberapa hasil penelitian cross sectional menyimpulkan bahwa peningkatan asupan vitamin A dapat mendorong ke arah peningkatan status vitamin A dan status besi (Schultink dan Gross. 1 2010 ISSN : 2087-5045 atau vitamin A saja (Meijia and Chew.4 mg) mempunyai perubahan yang lebih besar pada peningkatan kadar hemoglobin dan transferin saturasi. Dalam reaksi tersebut vitamin C mempunyai 2 (dua) peranan : (1) sebagai sumber elektron untuk mereduksi oksigen. Vitamin C dapat juga terlibat dalam mobilisasi simpanan besi terutama hemosiderin dalam limpa (Parakkasi. tetapi dalam keadaan larut vitamin C mudah rusak karena bersentuhan dengan udara (oksidasi) terutama bila terkena panas Vitamin C tidak stabil dalam larutan alkali. 1988). Penelitian lainnya telah menemukan suatu korelasi signifikan antara serum retinol dan kosentarsi hemoglobin. (Almatsier. 50. hematokrit dan besi serum. 1998). dibandingkan dengan yang mempunyai kadar hemoglobin normal. 1995 . Beberapa reaksi enzim membutuhkan vitamin vitamin C seperti proses hidrosilasi yang menggunakan molekul oksigen dan sering mempunyai kofaktor besi atau tembaga. serum besi dan transferin saturasi (Bloem. 2003). 1994). Vitamin C diperlukan untuk meningkatkan penyerapan besi di dalam tubuh. 3. Dalam metabolisme besi. Vitamin A berpengaruh terhadap transferin saturasi. Observasi ini menunjukkan bahwa defisiensi vitamin A bisa memberikan kontribusi terhadap anemia dan akan mepunyai efek positif pada status besi (IVACG. Interelasi Vitamin Hemoglobin C dengan Vitamin C adalah kristal putih yang mudah larut dalam air. 1998). dibandingkan dengan kelompok yang hanya mendapat suplementasi besi atau vitamin A saja (Suharno. Dalam keadaan kering vitamin C cukup stabil. Mekanisme yang pasti tentang peranan vitamin A terhadap status besi belum jelas benar. tetapi tidak mempengaruhi penyerapan dalam intestinal terhadap besi dalam makanan sehari-hari (Roodenburg.100 dan 250 mg dapat memperbesar penyerapan besi sebesar 2. 1 NO.SCIENTIA VOL. tetapi cukup stabil dalam larutan asam. terutama mempercepat penyerapan besi usus dan pemindahannya ke dalam darah. tetapi tidak berpengaruh pada peningkatan cadangan besi dalam tubuh. 1993). Diperkirakan bahwa kekurangan vitamin A dapat menghambat penggunaan kembali cadangan besi yang disimpan dalam hati (Bloem. Vitamin C mempunyai peranan yang sangat penting dalam penyerapan besi terutama dari besi nonhem yang 71 . (2) sebagai zat pelindung untuk memelihara status reduksi besi. 1999). 1992). hematokrit. dan 5 kali (Wirakusumah.000 IU pada anak yang menderita xerossis conjuctival setelah dua minggu ternyata dapat meningkatkan hemoglobin. Pemberian dosis tunggal vitamin A 200. 4. Peningkatan konsumsi vitamin C sebanyak 25. Penelitian pada tikus menunjukkan bahwa kekurangan vitamin A marginal mengganggu eritropoeisis. Hasil penelitian yang dilakukan terhadap ibu hamil di Indonesia menghasilkan kesimpulan yang sama. Schultink dan Gross. Vitamin C adalah vitamin yang paling labil. 1998).1 ĩmol/L yang diberikan suplementasi vitamin A dan besi (besi 60 mg dan vitaminA 2. 1995). 7.

dari darah ke jaringan-jaringan. Vitamin C berperan dalam memindahkan besi dari transferin di dalam plasma ke ferritin (Almatsier.5% .SCIENTIA VOL. Absorpsi besi dalam bentuk nonhem meningkatkan empat kali lipat bila ada vitamin C. Hasil penelitian Saidin dan Sukati. 72 . 1 NO. Penyerapan besi nonhem dapat ditingkatkan dengan kehadiran zat pendorong penyerapan seperti vitamin C dan faktor-faktor pendorong lain seperti daging. 1 2010 ISSN : 2087-5045 banyak ditemukan dalam makanan nabati. jagung dan tiwul. 1995). sehingga anemia gizi besi akan menyebabkan terbentuknya sel darah merah yang lebih kecil dan kandungan hemoglobin yang rendah. 1998 melaporkan bahwa dengan pemberian vitamin C dalam bentuk tablet maupun dalam bentuk bahan makanan (buah pepaya) dapat meningkatkan penyerapan besi ibu hamil. Protein memegang peranan esensial dalam mengangkut zat-zat gizi dari saluran cerna melalui dinding saluran cerna ke dalam darah. ikan (Berdanier.2%. 2003) Vitamin C menghambat pembentukan hemosiderin yang sukar dimobilisasi untuk membebaskan besi bila diperlukan. penambahan asam askorbat selanjutnya relatif kurang efektif (Hallberg. sedangkan pemberian vitamin A yang adekuat dapat melawan infeksi sehingga dapat menormalkan sintesis transferin. KESIMPULAN Zat besi dibutuhkan untuk produksi hemoglobin. Sintesis trnasferin sebagai alat transpor zat besi akan terhambat jika terjadi infeksi. dapat meningkatkan kadar hemoglobin yang tertinggi dibandingkan dengan kelompok lain. 1997 tentang pemberian tablet besi dengan penambahan vitamin C terhadap perubahan kadar Hb dan ferritin serum membuktikan bahwa pemberian tablet besi dan vitamin C 150 mg. Jadi zat protein vitamin C dan vitamin A bekerja sama melalui perannya masingmasing untuk meningkatkan sintesis hemoglobin. 1998). Besi berperan dalam sintesis hemoglobin dalam sel darah merah dan mioglobin dalam sel otot. 2003).0% pada bumil dengan makanan pokok beras. Hasil penelitian Saidin. Sedangkan dengan pemberian vitamin C dalam bentuk bahan makanan (250 g buah pepaya)meningkatkan penyerapan 42 – 54. Pengaruh vitamin C atau asam askorbat adalah dose related dan signifikan pada semua jenis makanan (Svanberg. Vitamin C bertindak sebagai enhancer yang kuat dalam mereduksi ion ferri menjadi ion ferro. Pemberian tablet vitamin C 100 mg meningkatkan penyerapan besi 37.46. Vitamin C diperlukan untuk meningkatkan penyerapan besi di dalam tubuh. ayam. dan melalui membran sel ke dalam sel-sel. 1989). Hubungan secara tidak langsung ini memberikan pengaruh utama pada pemberian pertama 25-50 mg asam askorbat dalam makanan. Besi juga merupakan mikronutrien essensil dalam memproduksi hemoglobin yang berfungsi mengantar oksigen dari paruparu ke jaringan tubuh. sehingga mudahdiserap dalam pH lebih tinggi dalam duodenum dan usus halus (Almatsier. Bahan makanan yang mengandung besi hem yang mampu diserap sebanyak 37% sedangkan bahan makanan golongan besi nonhem hanya 5% yang dapat diserap oleh tubuh.

Rossander. Brune. RS 2005.443 . MW 1995. Jakarta Departemen Kesehatan RI 1999. Georgia. A dkk. Penuntasan Masalah Gizi Kurang. Yu. CE.WHO. Food Nutrition. Jakarta : Gramedia Bloem. L 1989. Pedoman Penanggulangan Anemia Gizi di Indonesia. RS Dr. S 2003. 1990. Professor. by CRC press. Mekanisme Anemia Defisiensi Besi. Comparison between time-dependent changes in iron metabolism of rats as induced by marginal deficiency of either vitamin A or iron.140-4. DH Widya Medika. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Roodenburg. Sub. AC 1994. Reksodiputro. Beynen. S. Br J Nutr 73 . MW et al. Fakultas Kedokteran UI.SCIENTIA VOL. Ditjen. Advanced Nutrition Micronutrients. p. 154 – 160. Binkesmas. Oxford University Press new york. Diterjemahkan oleh Ronardy.Jakarta Indonesia Departemen Kesehatan RI 1996. Jakarta. Benny. M.453.Jenewa. A. Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi VI Tahun 1998. CD 1998. Am J ClinNutr 49 : p. 1 NO.755. Interdependence of vitamin A and iron : an Important association for programmess of anemia control Proc Nutr Soc Bloem. Pedoman Pemberian Besi Bagi Petugas. Jakarta Gibson. Direktorat Bina Gizi Masyarakat. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. West. 1 2010 ISSN : 2087-5045 DAFTAR PUSTAKA Almatsier. L. massive dose on iron metabolism. Pencegahan dan Pengawasan Anemia Defisiensi Besi. Iron absorption in man : Ascorbic acid and dose dependent inhibition by phytate. Vitamin A Intervention : Short-term effects of a single. Hallberg. AJC. Jakarta hal. oral. Bagian HematologyOnkologi Medik bagian Ilmu Penyakit Dalam. Haryanto 1994. University of Georgia Athens. 1998. Kodyat. Am J Clin Nutr (51). Cipto Mangunkusumo.LCC De Maeyer 1993. hal. Berdanier. Principles of Nutritional Assessment.

maka abstrak ditulis dalam bahasa Inggris. baik berupa review maupun sintesis. maka abstrak ditulis dalam bahasa Indonesia. judul artikel. Kalumpang Km. Naskah belum pernah dan tidak akan pernah dipublikasikan pada media lain. nama lengkap penulisan dan lembaga b. volume. 17 Lubuk Buaya Padang-25173 e-mail : stifi_perintis@yahoo. tahun. tahun. Hasil dan Pembahasan f. Naskah berupa hasil penelitian atau karya ilmiah dari bidang Ilmu Farmasi dan Kesehatan. Metode Penelitian e. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Petunjuk Penulisan Pada Jurnal Scientia 1. Bila naskah dalam bahasa Inggris. Pada bagian akhir naskah dicantumkan riwayat hidup penulis 10. Abstrak c. kota terbit. Naskah akan dikembalikan jika dilengkapi perangko secukupnya 8. Adinegoro/Simp. dengan jumlah halaman maksimal 10 halaman kertas ukuran kuarto (A4) dengan spasi ganda. 3. judul jurnal. penerbit. Abstrak tidak lebih dari 250 kata yang diketik dengan jarak 1 spasi.SCIENTIA VOL. 1 NO.com (khusus softcopy) . Redaksi berhak merubah naskah tanpa mengurangi isi dan maksud naskah 7. Sistematika penulisan disusun sebagai berikut : a. Naskah & softcopy dapat dikirimkan ke : Alamat : Jl. 2. Kesimpulan atau saran g. 4. Judul. Daftar Pustaka (kutipan dari buku dengan susunan : nama penulis. sebaliknya bila naskah dalam bahasa Indonesia. Naskah diketik menggunakan komputer. ditambah literatur pendukung yang relevan d. nomor halaman) 5. judul buku (tulis tebal). Pendahuluan : berisi latar belakang masalah. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Tabel dan gambar harus diberi judul dan keterangan yang jelas 6. Nama penulis ditulis lengkap dengan gelar dan lembaga/instansi tempat penulis bekerja 9. kutipan dari jurnal dengan susunan : nama penulis. Naskah 1 rangkap beserta softcopy (dalam bentuk CD) dikirim ke redaksi. Redaksi berhak menolak naskah yang kurang layak untuk dipublikasikan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->