SCIENTIA VOL. 1 NO.

1 2010 ISSN : 2087-5045

Volume 1, Nomor 1

Tahun 2010

ISSN : 2087-5045

0

DAFTA R I SI
ANALISA KANDUNGAN FLAVONOID DAN AKTIFITAS ANTIOKSIDAN DARI REMPAH TUMBUHAN OBAT SUMATERA BARAT Deddi Prima Putra dan Verawati 1 -7

ISOLATION OF Vibrio parahaemolyticus FROM BEEF MARKETED 8 -1 3 IN PADANG, to xR TARGETED IDENTIFICATION, AND AMP LIFICATION OF tdh AND trh GENES ON ISOLATES USING POLIMERASE CHAIN REACT ION Eka Fitrianda, Marlina dan M. Husni Mukhtar EFEKT IFITAS BROMELAIN KASAR DARI BATANG NENAS (Ananas Comosus L. Merr) SEBAGAI ANTIPLAK DALAM PASTA GIGI Fif i Harmely, Henny Lucida dan M. Husni Mukhtar FOR MULASI KRIM E KSTRAK ETANOL DAUN UBI JALAR ( Ipomea Batatas.L.)UNTUK PENGOBATAN LUKA BAKAR Farida Rahim, Mimi Aria dan Nurwani P.A AKTIFIT AS EKSTRAK ETANOL BIJI JINTAN HITAM (Nigella sati va Linn.) TERHADAP TITER ANTIBODI DAN JUMLAH SEL LEUKOSIT PADA MENCIT PUTIH JANTAN Suhatri dan Yufri Aldi PENETAPAN POLA RESISTENSI ANTIBIOTIKA (Vib rio Parahaemolyticus) HASI L ISOLASI DARI CUMI-CUMI ( Loligo vulgaris) DAN KEPITING BAKAU (Scylla serratta) Ria Afrianti, Marlina dan M. Husni Mukhtar AKTIVITAS ANTI INFLAMASI DAR I EKSTRAK ETANOL DAUN BUNGA KEMBANG BULAN (Tithonia diversifolia A. Gray) TERHADAP MENCIT PUTIH BETINA Verawati, Mimi Aria dan Novicaresa M PENGARUH LAMA PENYIMPANAN PADA SUHU KAMAR DAN LEMARI PENDINGIN TERHADAP KANDUNGAN PROTEIN PADA DADIH KERBAU DENGAN METODA KJELDAHL Regina Andayani , Revi Yenti dan Wi wit Gustiva PENGARUH PERBANDINGAN ETANOL AIR SEBAGAI PE LARUT EKSTRAKSI TERHADAP PEROLEHAN KADAR FENOLAT DAN DAYA ANTIOKSIDAN HERBA MENIRAN (Phylantus niruri.L.) Harrizul Riva’i dan Martinus PROFIL PENGGUNAAN KOMBINASI ANTI DIABETIKA ORAL DENGAN INSULIN PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 DI SMF PENYAKIT DALAM RSUD Dr. ACHMAD MOCHTAR BUKITTINGGI Radjuddin Dahlan dan Hansen Nasif PENGARUH ASUPAN PROTEIN DAN MIKRONUTRIEN (Zat Besi Vit. C dan Vit. A) TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN Erina Masri Scientia, V ol. 1, N o. 1, 2010 ; halaman 1 – 58 ISSN : 2087-5045 Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STIFI) Perintis Padang 14-19

20-25

26-33

34-38

39-45

46-51

52-59

60-65

66-73

SC IENT IA
JURNAL FARMASI DAN KESEHATAN
TERBIT DUA KALI SE TAHUN SETIAP BULAN FEBRUARI DAN AGUSTUS

D E W AN RE D A K SI
Penanggung Jawab : Prof. H. Syahriar Harun, Apt Pemimpin Umum : DR.H.M. HusniMukhtar,MS, DEA, Apt Redaktur Pelaksana : Verawati, M.Farm, Apt Eka Fitrianda, M.Farm, Apt Sekretariat : Afdhil Arel, S.Farm, Apt Khairul Dewan Penyunting : Prof.H. Syahriar Harun,Apt Prof.DR.H. Amri Bakhtiar,MS,DESS,Apt Prof.DR.H. Almahdy, MS, Apt DR.H.M. Husni Mukhtar, MS, DEA, Apt Drs.H. Radjudin Dahlan, M.Pharm, Apt DR.Hj. Marlina, MS, Apt Drs. Yufri Aldi, MSi, Apt Hansen Nasif, SSi, Sp.FRS, Apt Drs. B.A. Martinus , MSi Hj. Fifi Harmely, M.Farm ,Apt Farida Rahim, M.Farm, Apt Revi Yenti, M.Si, Apt Verawati, M.Farm, Apt Ria Afrianti, M.Farm ,Apt Eka Fitrianda, M.Farm, Apt

Penerbit : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STIFI) Perintis Padang ISSN : 2087-5045 Alamat Redaksi/Tata Usaha STIFI Perintis Jl. Adinegoro Km. 17 Simp. Kalumpang Lubuk Buaya Padang Telp. (0751)482171, Fax. (0751)484522
e-mail : stifi_perintis@yahoo.com website : www.stifi-padang.ac.id

Scientia, V ol. 1, N o. 1, 2010 ; halaman 1 – 58 ISSN : 2087-5045 Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STIFI) Perintis Padang

jahe lipofil. Pemicu timbulnya penyakit ini salah satunya adalah adanya radikal bebas (Rungkat. atau bahan mineral. molekul harus mencari elektron lain sebagai pasangan. Verawati2 Fak. Kunyit (Curcuma domestica Val). Keywords : Antioxidant. Rempah sudah lama dikenal di Indonesia. Kencur (Kaemferia galanga Linn ). 71. 0. Lengkuas (Alpinia Galanga Linn). kunyit hidrofil. 109. tapi rempah juga sebagai tumbuhan obat. Untuk mencapai kestabilan. Senyawa ini bersifat tidak stabil dan sangat reaktif.SCIENTIA VOL. Antioxidant activity and total flavonoid were measured by Spectrophotometer UV-Visible using DPPH reagent for antioxidant activity and Alumunium Chloride for total flavonoid. 1 NO.21. Rempah punya arti lebih dari sekedar penambah rasa hidangan. There are Jahe (Zingiber officinale Rosc). 1 2010 ISSN : 2087-5045 ANALISA KANDUNGAN FLAVONOID DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI REMPAH TUMBUHAN OBAT SUMATERA BARAT 1 Deddi Prima Putra1. diabetes melitus. Oleh karena itu bahan obat asli Indonesia perlu distandarisasi. Flavonoid. There were total flavonoid of Jahe (Zingiber officinale Rosc). Radikal bebas dalam kehidupan sehari-hari dapat dijumpai seperti akibat metabolisme yang 1 . Dengan demikian tumbuhan obat asli Indonesia dapat dikembangkan menjadi obat fitofarmaka (Depkes. Kunyit (Curcuma domestica Val). 1981). 0. 68. hewan.85. 69. Farmasi Universitas Andalas 2 STIFI Perintis ABSTRACT Antioxidant activity and total flavonoid content of five medicinal plant and species of West Sumatera have been measured. Pengolahan obat asli Indonesia masih sederhana dengan menyeduh bahan tumbuhan kering atau segar dengan air panas.09 µ g/ml for kunyit total. Pala (Myristica fragrans Houut). 47.77 µg/g respectively (quercetin equivalent). jantung. Radikal bebas ini adalah senyawa kimia yang mempunyai satu atau lebih elektron tidak berpasangan.35. Reaksi rantai ini dapat menimbulkan pengrusakan sel yang berujung pada mutasi sel dan apabila merusak organ yang memiliki fungsi tertentu dapat menimbulkan penyakit degeneratif. 50. liphofilic fraction and hydrophilic fraction) against DPPH 20 µ g/ml 80. dan arterosklerosis.98 µg/ml for jahe total. 19.67 µ g/ml for pala total. jahe hidrofil . Makanan sehari-hari kita mengandung paling tidak satu jenis rempah. Pada umumnya obat asli Indonesia belum mempunyai data klinik dan penggunaannya berdasarkan pengalaman. Rempah tumbuhan obat ini berpotensi besar memerangi sederet panjang penyakit dan masalah kesehatan seperti kanker. sehingga manfaat dan keamanannya dapat dipertanggungjawabkan. kemudian air seduhan ini di minum. pala hidrofil.08. medicinal plants PENDAHULUAN Obat asli Indonesia merupakan obat yang berasal dari tumbuhan. The result showed that three of plants have highest antioxidant activity with IC50 ( total ethanol extract. and Pala (Myristica fragrans Houtt). Quercetin was used as standard compound.62. 1994).54.

1992. val). 1 NO. vial. Salah satu sumber antioksidan alam yang terdapat pada tanaman adalah flavonoid. heksan 96%. secara alami tubuh mempunyai benteng yang dapat mencegah serangan radikal bebas tersebut yaitu enzim (katalase) ataupun antioksidan yang berasal dari luar tubuh yang umumnya berasal dari makanan. 2004). Houtt). Kemudian maserat disaring dan filtrat dikentalkan dengan rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak kental total. Natrium asetat 1 M. kapas. Linn. pisau. 1 2010 ISSN : 2087-5045 berlebihan atau berasal dari lingkungan seperti asap rokok. 1995). Kegunaan utama dari antioksidan adalah menghentikan atau memutuskan reaksi berantai dari radikal bebas dengan cara menyediakan dirinya bereaksi dengan radikal bebas itu sendiri. radiasi sinar UV (Raharjo. AlCl3 10%. Quersetin. rimpang jahe (Zingiber officinale rhizoma. METODE PENELITIAN Alat dan Bahan Alat Alat yang digunakan berupa seperangkat alat maserasi. rimpang kencur (Kaemferia galanga. Aquadest. Aquadest.SCIENTIA VOL. val). tabung reaksi. rimpang lengkuas (Alpinia galanga. 2001. corong. DPPH. pipet mikro. Rukmana. Molyneux. Pembuatan ekstrak heksan (ekstrak lipofil) yaitu 5 gram sampel di ekstrak dengan heksan 96% b. bahan kimia beracun. Untuk menanggulangi efek dari radikal bebas ini. labu rotary. timbangan digital. pipet tetes. Youngson. Houtt). Berdasarkan potensi rempah tersebut sebagai obat dan adanya kandungan flavonoid di dalamnya maka dilakukan penelitian untuk menentukan kadar flavonoid total dalam rempah secara spektrofotometer dengan menggunakan Alumunium klorida kolorimetri dan penentuan aktivitas antioksidan menggunakan metode radikal DPPH (Zhinshen. Silalahi. etanol 96 %. 1999. rotary Evaporator (BUCHI ®). Rosc). metanol. botol. pestisida. Willd). Antioksidan dapat berasal dari alam dan sintetik. Erlemeyer berbagai ukuran. Linn. spatel. rimpang jahe (Zingiber officinale. Dengan kata lain. 1997). dan dari tanaman famili Myristicaceae seperti buah Pala (Myristica fragrans. Rosc). akibat serangan radikal bebas (Karyadi. polusi udara. spektrofotometri UVVis Pharmaspec 1700 (shimadzu ®). Seperti beberapa tanaman dari Famili Zingiberaceae seperti rimpang kunyit (Curcuma domestica rhizoma. 1994. antioksidan dapat menyelamatkan sel-sel tubuh dari kerusakan. Linn). Pembuatan ekstrak etanol total (ekstrak total) yaitu 5 gram sampel di ekstrak dengan etanol 96% sebanyak 25 ml selama 2 x 24 jam. (Rukmana. Bahan Bahan yang digunakan adalah rempah-rempah seperti rimpang kunyit (Curcuma domestica. rimpang lengkuas (Alpinia galanga rhizoma. label. mesin penghalus ( Brook Crompton®). Linn) dan buah pala (Myristica fragrans. Willd). alumunium foil. Pembuatan Ekstrak Sampel Serbuk sampel sebanyak 5 g diekstraksi dengan menggunakan pelarut yang berbeda sehingga diperoleh 3 macam ekstrak yaitu : a. 2005). 2 . rimpang kencur (Kaemferia galanga rhizoma. Antioksidan alam lebih disukai karena efek sampingnya kurang. rak tabung reaksi.

1 ml AlCl3 10 %.2. Absorban kontrol yaitu DPPH (20 µg/ml) dalam metanol juga diukur. 80. Setelah dilakukan penelitian mengenai analisa kandungan flavonoid total dan aktivitas antioksidan dari tanaman obat dan rempah Sumatera Barat didapatkan hasil bahwa dari 5 macam sampel rempah (jahe. ditambah 3. Kemudian maserat disaring dan filtrat dikentalkan dengan rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak kental lipofil. 0. 3 . Aktivitas Antioksidan Penentuan Total Kandungan Flavonoid Penentuan Sampel Kandungan flavonoid total ditentukan dengan metode kolorimetri menggunakan Aluminium klorida. 0. Aktivitas antioksidan sampel dinyatakan sebagai persentase inhibisi dihitung dengan rumus : Abs. 2004). c. Semakin kecil nilai IC50 maka semakin aktif sampel tersebut sebagai antioksidan. Sebanyak 2 ml dari larutan ekstrak(1mg/ml) ataupun larutan standar kuersetin (100. 50 dan 25 µg/ml) atau larutan stándar kuersetin (0. 20. Campuran larutan dihomogenkan dan dibiarkan selama 30 menit di tempat gelap.2 ml larutan sampel (1 mg/ml.dan pala) didapatkan tiga sampel memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi yaitu jahe. Sampel x 100 % Abs. lengkuas.8 ml larutan DPPH (20 µg/ml).1 ml Na asetat 1M dan 2. Kemudian maserat disaring dan filtrat dikentalkan dengan rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak kental hidrofil. 1 2010 ISSN : 2087-5045 sebanyak 25 ml selama 2 x 24 jam. 100. kontrol – Abs. 10.8 ml air suling.SCIENTIA VOL. HASIL DAN PEMBAHASAN Aktivitas antioksidan ditentukan dengan metode DPPH (Molyneux.1. 0. 60. Ketiga rempah ini ditentukan IC50 nya yakni konsentrasi sampel yang mampu merangkap radikal DPPH sebesar 50%. kencur. Total kandungan flavonoid sampel dinyatakan sebagai kesetaraan gram kuersetin/100 gram sampel kering. 40. 1 NO. 0. kontrol Dengan menggunakan persamaan linear dari data stándar maka dapat dihitung IC50 stándar kuersetin sedangkan IC50 sampel dihitung dengan metoda analisa probit menggunakan finney. 5 µg/ml) ditambah 0. kunyit. Kocok homogen lalu biarkan selama 30 menit. Ukur serapan pada panjang gelombang 415 nm. Pembuatan ekstrak etanol setelah heksan (ekstrak hidrofil) yaitu ampas dari hasil ekstraksi dengan heksan di ekstraksi lagi dengan etanol 96% sebanyak 25 ml selama 2 x 24 jam.4.6 µg/ml) di dalam vial. kunyit dan pala. Serapan diukur pada panjang gelombang maksimum DPPH yaitu 517 nm. 0.

97 3 Pala.92 Kunyit.95 78.56 Jahe.89 47.50 8.58 58.68 Jahe.Bkt.Ap.06 63.27 60.81 Kunyit.Bkt.51 69.18 IC50 90.Lipofil 81.Bkt.14 21.67 Jahe.38 44.45 22.9 59.SCIENTIA VOL.48 73.63 39.59 65.Total 74.59 21.Hidrofil 47.41 69.Hidrofil 140.62 Jahe.24 32.08 35.Bkt.Total Konsentrasi 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 % Inhibisi 52.12 85.61 29.Ap.66 2 Kunyit.4 Jahe.72 25.Ap.12 23.Hidrofil 79.04 89.44 Kunyit. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Tabel I.31 49.44 4 .98 Jahe.BS. 1 NO.Ap.total 54.81 36.Hidrofil 46.09 92.Total 32.09 30. Nilai IC50 sampel No 1 Nama sample Jahe.BS.09 49.27 Kunyit.Hidrofil 46.76 42.Total 90.Lipofil 57.4 76.72 29.BS.18 15.26 28.82 21.3 Jahe.54 17.93 26.58 58.Ap.Total 97.36 49.Lipofil 68.51 Kunyit.96 36.22 39.Bkt.54 52.83 50.95 57.BS.Total 60.72 28.85 43.BS.

82 154. Jahe 0. pala 0. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Pala.Bkt.06 71.85 58. hidrofil Kunyit.72 88.999.Total 45.45 61.09 16. total 3 Pala.39 156. lengkuas 0.09 50.114942 µg/ml.52 µg/g.32 106.70 µg/g diikuti kencur 0. lipofil Kunyit hidrofil Pala. batas deteksi – 0.Hidrofil 50 25 100 50 25 100 50 25 43. hidrofil Pada pengukuran absorban flavonoid total untuk penentuan kurva kalibrasi kuersetin pada panjang gelombang 415 nm di dapat persamaan regresi y = . total 2 Kunyit.56 31.016 + 0.Bkt.0106371.9 248.62 69.47 57.84 µ g/g.98 68.216 µg/ml. total 1 Jahe.26 162.Hidrofil Keterangan : AP BS Bkt : Alahan Panjang : Batu Sangkar : Bukit tinggi 81. 1 NO.92 µg/g. simpangan baku 0.53 113.55 Pala.BS.35 109.67 Aktivitas antioksidan 1g ekstrak setara mg kuersetin (mg) 182.38 23. Tabel II. Pada pengukuran flavonoid total tiap gram sampel kering setara kuersetin diperoleh kadar flavonoid total dari masing-masing sampel dimana kadar paling tinggi adalah pada ekstrak etanol kunyit 19. batas kuantisasi 4.8 Dari data IC50 sampel dan IC50 stándar kuersetin.0. maka diperoleh suatu nilai jumlah sampel yang akan memberikan aktivitas antioksidan yang setara dengan 1 mg kuersetin.69 Pala.16 Jahe. lipofil Pala.81 36. Aktivitas Antioksidan dari Sampel Setara mg Kuersetin No Nama sampel Nilai IC50 aktivitas antioksidan terukur (µg/ml) 80.21 47.SCIENTIA VOL.54 µ g/g. lipofil Jahe.017x dengan koefisien korelasi 0. 5 .

Total Jahe.60 0.09 0.SCIENTIA VOL.64 Kadar Flavonoid tiap 5 g serbuk kering (µg/g) 0.BS.55 71.84 0.42 4.Bkt. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Tabel III.BS.51 157.26 0.91 0.AP.92 ± 0.Total Jahe.BS.96 4.Total Lengkuas.27 5.Total Rata-rata ± SD 6 .13 25.AP. Kandungan Flavonoid total sampel Konsentrasi Flavonid (µg/ml) 10.Bkt.5 8.AP.83 9. 1 NO.84 ± 0.Bkt.1 10.49 0.60 4.BS.078 Nama Sampel Jahe.76 0.37 0.27 ± 2.Total Rata-rata ± SD Kencur.43 22.Total Rata-rata ± SD Kunyit.05 4.03 11.Bkt.03 9.41 0.BS.Total Lengkuas.71 8.Total Rata-rata ± SD Pala.67 124.66 19.02 6.50 ± 0.Total Rata-rata ± SD Lengkuas.14 0.AP.53 9.64 11.Total Pala.52 ± 0.Total Kencur.21 0.Bkt.07 ± 45.39 ± 1.54 ± 0.62 8.Total Kunyit.85 ± 1.99 142.Total Kunyit.70 0.70 ± 7.Total Kencur.93 0.85 1.

Yogyakarta. J. 1-13. 2005. Jadi kemungkinan senyawa yang mempunyai aktivitas antioksidan yang tinggi adalah golongan flavonoid yang terdapat pada ekstrak polar atau fraksi hidrofil terutama pada jahe. 0. Penebar Swadaya. The Journal of Indonesian Medical Association : II (5).. 1994. J. 1999..indomedia. kunyit dan pala. Kanisius. The Use of Stable Free Radical Diphenylpicrylhydrazyl (DPPH) for Estimating Antioxidant Activity. 64: 555559.. Antioksidan. 1994. diterjemahkan oleh Susi Purwoko.htm Molyneux. Raharjo.0. 1992. F. Bogor. kadar flavonoid yang tinggi terdapat pada kunyit. 211-219..com/intisari /1997/juni/antioksidan. Resep Sehat dan Umur Panjang. Proseding Seminar : Senyawa Radikal dalam Sistem Pangan : Reaksi Biomolekuler. Jakarta. http//www. Tanaman Berkhasiat Antioksidan. Jakarta. “Radikal Bebas dan Patofisiologi Penyakit”.85. Yogyakarta. R. R. p. Tecnol. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa dari 5 tanaman yang berasal dari 3 daerah.. T. Zhinshen. 2004. 1995. R. Youngson. Jianming. Jakarta. 7 . Rungkat. Temulawak Tanaman Rempah Oba. 2001. Antioxidant : Vitamin C dan E For Health. Dampak terhadap Kesehatan dan Penangkalan. Karyadi. Food Chem. Kencur. M. Ekstrak hidrofilik memberikan aktivitas antioksidan lebih tinggi dibandingkan ekstrak lipofilik. Mengcheng and W. 1981. 26(2). jahe dan pala setara kuersetin berturut-turut : 19. 1 NO. Free Radicals and antioxidant Vitamin in Degenerative Disease.54 µg/g terhadap sampel kering. Modifikasi Peraturan Perundang – undangan Obat Tradisional. Silalahi. J. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Dari penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui dari data IC50 aktivitas antioksidan dan penentuan kadar flavonoid total bahwa ekstrak yang kadar flavonoidnya tinggi mempunyai aktivitas antioksidan yang tinggi. Rukmana.SCIENTIA VOL. Rukmana.77. E. Sci. Kanisius. DAFTAR PUSTAKA Direktorat Pengawasan Obat Tradisional Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan RI. The determination of flavonoid contents in mulberry and their scavenging effects on superoxide radicals.

Gen tersebut merupakan gen yang sangat spesifik pada spesies V. parahaemolyticus has become one of food contaminant pathogens with the highest prevalence in Asian countries (Pan et al. Marlina2. dengan metoda yang sama juga dilakukan amplifikasi terhadap gen pengkode produksi toksin hemolisin (tdh dan trh) yang merupakan faktor virulen utama pada bakteri tersebut. parahaemolyticus is a marine bacterium that has long been associated with diarrhea after eating raw or not cooked perfectly seafood. V. Isolasi dilakukan dengan menggunakan medium CHROMagarTM Vibrio. usually associated with KP negative strains or with urease positive strains (Kelly and Stroh. toxR. In V. Currently. "thermostable direct hemolysin" (TDH) and the "TDH-related hemolysin" (TRH). parahaemolyticus produce major virulence factor that is a thermostable direct hemolysin (TDH) and showed βhemolysis activity on Wagatsuma agar (KP positive strains). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa seluruh isolat V. molecular epidemiological studies show a close relationship between the hemolysin coding genes in these bacteria (tdh. Selanjutnya. 1997). toxR TARGETED IDENTIFICATION. parahaemolyticus is one of bacterias actively studied in various parts of the world because of it’s ability in causing diarrhea. parahaemolyticus is gastroenteritis. Another virulence factor. M. 1 NO. parahaemolyticus terbukti memiliki gen tox-R. Although V. Based on the Shirai et al (1990) report. nausea and vomiting. whose production is encoded by the tdh and trh are the important virulence factors for the development of gastroenteritis. parahaemolyticus. Key words: Vibrio parahaemolyticus. in which the main symptoms include abdominal cramps. the genes are referred to as the important virulence coding genes in V. 1989). parahaemolitycus telah berhasil diisolasi dari sejumlah sampel daging sapi mentah yang dikoleksi di Pasar Raya Padang. 1 2010 ISSN : 2087-5045 ISOLATION OF Vibrio parahaemolyticus FROM BEEF MARKETED IN PADANG. 2 Fakultas Farmasi Universitas Andalas Padang ABSTRAK Sebanyak 40 isolat V. or both) with the ability to cause disease. Husni Mukhtar2 STIFI Perintis Padang. "TDH-related hemolysin" (TRH). The main clinical manifestation of infection due to V. trh INTRODUCTION V. namun tidak ada satu isolat pun yang memiliki gen pengkode toksin hemolisin baik tdh maupun trh. V. AND AMPLIFICATION OF tdh AND trh GENES ON ISOLATES USING POLIMERASE CHAIN REACTION 1 Eka Fitrianda1. parahaemolyticus. Most strains of clinical V. parahaemolyticus was first isolated in food poisoning outbreak in Japan in the early 1950s. Terhadap 40 isolat tersebut dilakukan identifikasi dengan metoda Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk mengamplifikasi gen toxR. trh.SCIENTIA VOL. tdh. Therefore. parahemolyticus. but 8 .

V. colony counter (Stuart scientific ®). parahaemolyticus has also found on food samples which are not seafood categories. GoTaq DNA polymerase. CHROMagarTM Vibrio (CHROMagarTM). According to Gelfand et al (1998). Luria Bertani (LB) Broth. These cultures were inoculated using a needle loop onto surfaces of CHROMagarTM Vibrio previously been 9 . 2. 5X Colorless GoTaq Reaction. immediately stored in containers and taken to the laboratory for testing. transilluminator.5 mM dNTP solution. the elektrophoresis device. TRH R2: 5'GGCTCAAAATGGTTAAGCG-3' and TRH R6: 5'CATTTCCGCTCTCATATGC-3' for detection of trh gene. tris-borateEDTA (TBE). Eppendorf tubes. parahaemolyticus. Research conducted by Marlina et al (2007) for example. 1 NO. laminar air flow (Esco ®). namely: toxR-4: 5'GTCTTCTGACGCAATCGTTG-3' and toxR-7: 5'ATACGAGTGGTTGCTGTCATG-3' for the detection of toxR gene. parahaemolyticus AQ3815 (positive control for tdh gene. Sampling The test samples in this study were 15 raw beef samples. We also detected their virulent factors coding genes by amplificating tdh and trh genes on these isolates. centrifugator (Eppendorf Minispin ®). V. 100 bp ladder. MATERIALS AND METHODS Equipments and materials PCR machine (Eppendorf Mastercyclergradient ®). ethidium bromide. Parahaemolyticus AQ4037 (positive control for the toxR and trh genes). parahaemolyticus Isolation 10 gram sample was added in to 100 ml Salt Polimixin Broth (SPB) media and incubated at 37°C for 24 hours. samples were taken in a way directly entered by the merchant into sterile containers. In this study we isolated V. Another study conducted by Zulkifli et al (2009) on the cockles collected from rivers in Padang showed similar result. 10X Ex Taq buffer solution. 1 2010 ISSN : 2087-5045 some recent researches showed that V. parahaemolyticus. has successfully isolated these bacteria from pensi (Corbicula moltkiana prime) collected in lake Singkarak. a blue dye. the test sample. tdh and trh genes is "Polymerase Chain Reaction" (PCR). rotary shaker incubator (Bigger Bill Digital ®). TDH D3: 5'CCACTACCACTCTCATATGC-3’ and TDH D5: 5'GGTACTAAATGGCTGACATC-3' for detection of tdh gene. To avoid contamination. Salt Polimixin Broth (SPB). distilled water. agarose. Luria Bertani (LB). this is due to the high sensitivity level of this method. Polymerase Chain Reaction (PCR) is a major breakthrough in molecular diagnostics. and three pairs of primers.SCIENTIA VOL. micro pipette (Eppendorf ®). vortex (Mixer ® VM-1000). The isolated strains are known to carry hemolysin toxin-producing genes (tdh and trh) which are the major virulence factors of V. polaroid film. The method used to identify and amplify tox-R. parahaemolyticus from beef samples and identified them by examining on their toxR gene. and lately has been widely used to identify genes from different species of bacteria including V. Samples were taken from traders in Pasar Raya Padang. incubator (Gallenkamp ®). V.). NaCl.

SCIENTIA VOL.0 5x Colorless GoTaq Reaction Buffer for the detection of tdh and trh genes. Stage for tox-R gene amplification (23 cycles) Stage Predenaturation Denaturation Annealing Extention Elongation Temperature ( oC ) 96 94 63 72 72 Time (minute) 5 1 1. 10x Ex Taq buffer solution for the detection of toxR gene b Primer pairs are suitable for each gene c For the detection of tdh and trh genes d For the detection of toxR gene Eppendorf tube is then inserted into the PCR machine and amplification was performed using program which is suitable for detection of each gene as shown in table below: Table 2.1 1. 1 ml LB broth culture centrifuged at 12. parahaemolyticus.4d 0.0c 17. 1 2010 ISSN : 2087-5045 poured and allowed to solidify in a petri dish.0 15. toxR. Electrophoresis was performed at 100 V voltage for 20 minutes with 1 x TBE as the mobile phase. the supernatant removed.5d 2.5 mM dNTP Amount(µl) 5. After incubated for 24 hours at 37°C. Stage for tdh and trh genes amplification (33 cycles) Temperatur Time Stage e (minute) o ( C) Predenaturation 96 5 Denaturation 94 1 Annealing 55 1 Extention 72 2 Elongation 72 7 After all of the stages in the PCR process were completed. The supernatant were the DNA template to be used for amplification of genes by PCR method. The 100 bp ladder was used as a 10 . Subsequently centrifuged at 12.0 Primer 1b Primer 2b Aquadest GoTaq DNA Polymerase DNA Template a 1. purple colonies formed were suspected as colonies of V. The suspension formed was heated for 10 minutes in boiling water and immediately put into the refrigerator with a temperature of -20ºC for 10 minutes. 1 NO.0c 2.000 rpm for 3 minutes and the supernatant were transferred into a new Eppendorf tube. while the sediment was added with 500 mL sterile distilled water and then suspended using vortex. tdh and trh genes in V. DNA template preparation Before the amplification of genes using PCR method.5 1.000 rpm for 1 min. Each single suspected colony was inoculated into the Luria Bertani (LB) Broth containing 3% NaCl and incubated in a rotary shaker incubator at 37°C for 24 hours. DNA of control and testing bacteria were extracted using boil cell extraction (BCE) method. DNA template which had been prepared previously inserted into the Eppendorf tube for PCR machine and combined with other PCR components. parahaemolyticus were done using PCR method.5 7 Table 3. PCR components Component Buffer solutiona 2. tdh and trh genes amplification Identification of toxR. the results of this amplification were colored using blue dye and then separated along electrophoresis process on 1% agarose gel in 1x TBE. The type and amount of each PCR components as shown in table below: Table 1.0 1.

Identification 11 . parahaemolyticus from seawater in Peninsular. Results were then documented by polaroid film. Electrophoresis result which was observed by UV transilluminator will form separate bands which were distinguished by the number of their base pairs (bp). Generally. 2001). agarose gel was stained with ethidium bromide solution (0. targeting on toxR gene was performed to all of these isolates using PCR method. we successfully isolated 40 suspected V. Size estimation of each product was done through comparison with 100 bp ladder. parahaemolyticus isolates: lane 1-11 were positive toxR isolates. A study recently conducted by Sujeewa et al (2009) succeeded in isolating V. parahemolyticus species. parahaemolyticus in samples characterized by the formation of purple colonies on the surface of CHROMAgarTM Vibrio medium. toxR gene is a gene that is very specific to the V. all (100%) showed toxR positive results. out of total of 40 tested isolates. The size of toxR. Dileep et al (2003) also states that the detection of toxR gene by PCR method to detect V. all of CHROMagar™ Vibrio isolates from cockles gave positive results on testing of toxR using PCR method. Previously. The PCR method to detect this gene has been reported (Lee et al. Tanil et al (2005) succeeded in isolating V. From 3 of 15 samples which were examined. parahaemolyticus isolates also been isolated from coastal waters of western United States (Okuda et al. we successfully isolated suspected V. tdh and trh amplification product were 368 bp. 1995) as a very useful method to confirm the presence of this species in samples. 1 NO. Figure 2. 1997). In this study. V. parahaemolyticus colonies from 3 samples. parahaemolyticus has been isolated from various places around the world. parahaemolyticus colonies on ChromagarTM Vibrio CHROMagar ™ Vibrio is a selective media for identification of V. Malaysia. Electrophoresis gel of toxR positive V. V. parahaemolyticus from shrimp samples in Malaysia. 251 bp and 250 bp respectively. parahaemolyticus. 1 2010 ISSN : 2087-5045 marker for determining the size of amplification product.5 mL/ml).SCIENTIA VOL. parahaemolyticus is more sensitive than biochemical identification. lane 12 was positive control. parahaemolyticus with a higher level of differentiation compared to TCBS medium (Kudo et al. After the electrophoresis process was completed. The presence of suspected V. RESULTS AND DISCUSSION Of 15 raw beef samples which were examined. non-clinical V. toxR positive isolates showed 368 bp band in electrophoresis gel. Suspected V. Figure 1. The same result have been reported by Zulqifli et al (2009). lane 13 was 100 bp ladder.

M. A. Environmental investigations of Vibrio parahaemolyticus in oysters after outbreaks inWashington. where the overall toxR positive isolates have no tdh or trh gene (Zulkifli et al. parahaemolyticus isolates isolated from beef samples marketed in Pasar raya Padang were having toxR gene. parahaemolyticus isolates. 2000).SCIENTIA VOL. C. Marlina et al. Kaysner. J. 2003. 2007). M. only few V. A. Kanagawanegatif Vibrio parahaemolyticus from patients and the environment in the Pacific 12 . BIBLIOGRAPHY DePaola. Innis. Lett Appl Microbiol 36:423–7. CONCLUSION All of 40 V. Stroh. Academic Press. The presence of these genes represent the level of pathogenicity of V. This such result also seen in V. Gelfand. and E. H. Applicationof polymerase chain reaction for detection of Vibrio parahaemolyticus associated with tropical seafoods and coastal environment. parahaemolyticus are tdh and trh. W. This suggests that V. parahaemolyticus isolates were isolated in samples which were not derived from the sea environment. A. or is the result of cross-contamination when samples are marketed in the market. because V. Similarly. 2007). Major virulence factor coding genes in V. Appl Environ Microbiol 66:4649–54 Dileep. Similar results have also found in other study (Marlina et al. but none of them has tdh or trh gene. parahaemolyticus isolates was isolated from cockles live in rivers around Padang.. According to Nishibuchi and Kaper (1995). Texas. parahaemolyticus isolates carrying the virulent genes (tdh or trh). parahaemolyticus isolates in this study are not virulent isolates. White. V. Urease-positif. 2000). J. M. M. T. parahaemolyticus in samples is the result of bacterial adaptation capabilities on low-salt environment. other publication also showed that V. parahaemolyticus is a bacteria that normally lives in this habitat (DePaola et al.. It makes the results of this research is interesting for further explored. In contrast. and they are called virulent isolates. 2009). 2000. S. Kumar. Kumar. 1989. However. a species which lives in lake Singkarak. D.. As a result. where a number of V. Furthermore. Sninsky. J. parahaemolyticus isolates carrying tdh gene were isolated from Corbicula moltkiana. none of the isolates has tdh or trh gene. 1 2010 ISSN : 2087-5045 parahaemolyticus were isolated from marine waters or food samples from the sea. T. 40 toxR positive isolates were detected for the present of tdh and trh genes by amplification using PCR method. In this study. other studies seem to successfully detect the presence of these virulence genes in environmental samples (Sujeewa et al. parahaemolyticus isolated from nonclinical samples are rarely detected. parahaemolyticus previously isolated from cockle samples in Padang. studies are necessary to investigate whether the presence of V. Karunasagar. 2009. because V. 1 NO. H. The existence of these genes in V. 2009). Cook. and New York (1997 and 1998). Y. parahaemolyticus isolates from clinical samples have tdh or trh gene (DePaola et al. J. 1998. New York. PCR protocols: A guide to methods and amplifications. more than 90% of V. Nishibuchi and I. Bowers and D. Indonesia (Zulkifli et al. Kelly.

1 2010 ISSN : 2087-5045 Northwest.. Alitheen. H. T. Lesley and A. Kaper. Nishibuchi. G. A. Sequence of a cloned pR72H fragments and its use for detection of Vibrio parahaemolyticus in shell fish with PCR. K. L. K. Nishibuchi. Wang. R.. Identification of Vibrio parahaemolyticus isolates by PCR targeted to the toxR gene and detection of virulence genes. S. 38:349-355. Nakamoto. Nishibuchi.. T. Prevalence of toxic genes of Vibrio parahaemolyticus in shrimps (Penaeus monodon) and culture environment. Janda and M. Okuda. Hirayama. and C. Infect.Y. Thermostable direct hemolysin gene of Vibrio parahaemolyticus: a virulence gene acquired by a marine bacterium. 1997. Clin. 1997. 36 No. Napis. B. Analysis of the Thermostable Direct Hemolysin (tdh) Gene and the tdh-Related Hemolysin (trh) Genes in Urease-Positive Strains of Vibrio parahaemolyticus Isolated on the West Coast of the United States. H. Abbott. Gunsala. Kumagai. Raha. W. Chien. A. Rahim. M. M. Southeast Asian J Trop Med Public Health. Radu. N. Marlina. S. Radu. Chen. A.. 63:2093–2099. M. B. Nakabayashi. S. 2009. Nishibuchi. M. International Food Research Journal 16: 289296 13 . T. A. Characterization of vibrio parahaemolyticus isolated from coastal seawater in peninsular Malaysia. 1986 to 1995. 4.F. Molecular epidemiologic evidence for association of thermostable direct hemolysin (TDH) and TDH-related hemolysin of Vibrio parahaemolyticus with gastroenteritis. 1 NO. 27: 2820-2822 Lee. Ishibashi. K. 2009. M.... Laina. L. C. Immun.R. K. Pan and C. and J. Y. Clin. J. J. Norrakiah and M. Microbiol. C. 1995. W. 35: 1965–1971 Pan. Takeda. 58: 3568–3573. Maurice and J. S. and M. Ito. B. C. Kqueen. Napis. H. Immun. and M. S. W. S. Zulkifli. Mutalib. S. 1995. Microbiol. Y. Zunita Zakaria. Y. Horng. B. Journal of Clinical Microbiology. S. 2007. 35: 1260-1262 Shirai. Lee. S. Infect. S. N. J. Detection of tdh and trh genes in Vibrio parahaemolyticus isolated from Corbicula moltkiana prime in West Sumatera Indonesia. B. 1990. 2005. International Food Research Journal 16: 8995 Tanil. J. Southeast Asian J Trop Med Public Health.SCIENTIA VOL. Y. Yeap. Radu. Sujeewa. S. M. Applied and Environmental Microbiology 61: 1311-1317. Food-borne disease outbreaks due to bacteria in Taiwan. Nishibuchi.

Husni Mukhtar2) 1) Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STIFI) Padang. Merr var. yang dihitung dari berat kering plak. 1 2010 ISSN : 2087-5045 EFEKTIFITAS BROMELAIN KASAR DARI BATANG NENAS (Ananas comosus L. Lapisan lembut ini akan membentuk suatu matriks pada gigi dimana bakteri dapat melekat. karbohidrat 13 – 17 % .SCIENTIA VOL. Jika plak tidak dibersihkan. Hal ini juga dipertegas dengan adanya intruksi oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan untuk menarik seluruh produk pasta gigi untuk anakanak yang masih mengandung fluorida di atas 500 ppm. salah satunya adalah bromelain dari nenas ( Ananas comosus L. The formula of toothpaste was crude bromelain 5% and abrasive 40% with proteolytic activity 6.05). Fauzi dan Krisna. 2008).584 unit/mg equivalent 98.05) and significant with basis formula ( p >0. 2) Fakultas Farmasi Universitas Andalas Padang ABSTRACT The effectivity of crude bromelain from steam pineapple have been done as antiplaque by plaque control record methods. maka lama-kelamaan mikroorganisme yang berkontak pada permukaan gigi akan menyebabkan karang gigi ( kalkulus ) dan menimbulkan karies pada gigi (Cracken. 1982). Proses ekstraksi bromelain dilakukan secara maserasi dalam larutan buffer posfat pH 7. Keyword: crude bromelain. toothpaste. Berdasarkan laporan pemakaian pasta gigi yang mengandung fluorida mempunyai efek samping perlu dicari alternatif mendapatkan formula pasta gigi dari bahan alam.1982). antiplaque effectivity PENDAHULUAN Di Indonesia. penderita gigi berlubang jumlahnya tidak sedikit. yang berarti dari sepuluh orang enam diantaranya menderita gigi berlubang (Nugraha. M. Untuk kesehatan dan mencegah kerusakan gigi dibutuhkan suatu zat antiplak dalam pasta gigi yang saat ini erat kaitannya dengan kandungan fluorida. prevalensi gigi berlubang di Indonesia berkisar 60 %. Henny Lucida2).0 ( Darwis dan Sakara. Ramli. Munurut Pakaj (2004) pasta gigi yang mengandung fluorida tidak cocok untuk anak-anak di bawah 4 tahun. Merr) SEBAGAI ANTIPLAK DALAM PASTA GIGI Fifi Harmely1). proteolytic activity.( Wilkinson. 1990. 14 . 1 NO. Plak gigi adalah lapisan lunak yang terbentuk dari campuran sisa-sisa makanan serta bakteri yang diperantarai oleh saliva yang melekat pada permukaan gigi. Hasil Survei Kesehatan Nasional 2002 menunjukkan. The crude bromelain 5% in toothpaste has antiplaque effectivity noteqivalent with control (p<0. Queen ). Plak tersusun oleh 80% air dan 20 % sisanya terdiri dari beberapa komponen seperti protein 40 – 50 %. 1990).84 % (F3C). lipid 10 – 14 % dan abu 10 % dan komponen mineral seperti kalsium dan posfor.

timbangan analitik (Pioneer™). dental plague disclosing gel (Global Care) dan air suling. Metoda yang digunakan untuk pengujian anti plak adalah metoda rekam kontrol plak yang diperkenalkan oleh O’Leary dkk. Sebelum perlakuan kepada sukarelawan terlebih dahulu diberikan penjelasan tentang tujuan penelitian dan informasi lain yang terkait dengan pemakaian pasta gigi. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Penggunaan enzim di dalam pasta gigi ditujukan untuk membantu pemecahan protein.SCIENTIA VOL. (Wilkinson . dan digunakan untuk memantau kontrol plak pada pasien dan juga banyak digunakan pada klinik – klinik gigi ( Dalimunthe 2008).1982). bromelain standar ( Bernofarm). adanya zat ini memegang peranan penting dalam membentuk plak pada gigi. lumpang dan alu. Pelaksanaan Penelitian Pembuatan Pasta Gigi Bromelain Kasar Formula Pasta Gigi Bromelain (Lieberman 1989. 1 NO. Bahan Bromelain kasar. Wilkinson 1982) Pasta gigi bromelain dibuat dengan konsentrasi bromelain 5% dan abrasive kalsium karbonat 40% seperti terlihat pada tabel di bawah ini: 15 . bahan tambahan formulasi (Brataco Chemika). Dextran merupakan produk metabolit dari bakteri. disclosing gel atau disclosing tablet) yang dicatat adalah ada atau tidaknya deposit yang terwarnai pada batas dentogingiva pada empat permukaan (Dalimunthe 2008 ). spektrofotometer UV-Vis (UVmini1240). kaca mulut. Untuk pengukuran terlebih dahulu gigi–geligi diwarnai dengan perwarna plak (disclosing solution. Suatu produk bermerek dagang yang sudah beredar adalah pasta gigi Enzim ®. Untuk menilai keadaan plak gigi. pemeriksaan gigi sebelum dan setelah pemakaian pasta gigi dilakukan oleh dokter gigi. Sukarelawan Sukarelawan dalam penelitian ini sebanyak 15 orang berumur antara 18 – 24 tahun dan diminta kesediaannya untuk menggunakan sediaan pasta gigi selama penelitian dengan mengisi blanko dan menandatangani surat pernyataan sebagai sukarelawan. METODE PENELITIAN Alat Alat-alat gelas standar laboratorium(Pyrex®). karbohidrat dan lipid dari makanan. Berdasarkan hal tersebut. perlu dilakukan pengujian efektifitas antiplak bromelain kasar dan dibandingkan dengan formula basis dan sediaan pembanding kepada sukarelawan.

Natrium lauryl sulfat ditambahkan ke dalam massa 3. sore dan pada malam hari.3 100 Cara Pembuatan Bromelain Kasar Pasta Gigi Na CMC ditabur diatas air panas (15 x jumlah Na CMC). Pengujian ini dilakukan terhadap 5 orang panelis untuk setiap formula pasta gigi bromelain dengan syarat panelis tidak menggunakan pasta gigi lain. aduk homogen. ditambahkan larutan sorbitol 70 % dan diaduk homogen ( massa 2).2 0. diaduk homogen (massa 1). 1 NO. tidak menggunakan larutan penyegar mulut atau larutan pencuci mulut lainnya.0 0.0 40 18 10 1. Selama pengamatan akan dipantau oleh dokter gigi sampai selesai perlakuan. didiamkan selama 15 menit. diaduk homogen sampai terbentuk massa pasta. ditambah bromelain digerus ditambah gliserol diaduk homogen. Parameter yang diamati kemampuan menghilangkan plak setelah menggunakan pasta gigi.2 0. rumus perhitungan Plak Indeks : Skor RKP = Jumlah Permukaan gigi dengan plak x 100 % Jumlah seluruh permukaan gigi Uji Efektifitas Anti Plak Pasta Gigi Bromelain dengan Metode Rekam Kontrol Plak (RKP) (Delimunthe 2008) Pengujian ini dilakukan untuk menilai efek pemakaian pasta gigi sebagai anti plak dengan cara Setelah skor plak didapat. Kalsium karbonat digerus.1 1 0.SCIENTIA VOL.1 1 0. Massa 1 ditambahkan ke massa 2 diaduk sampai homogen (massa 3).0 0. Untuk pelaksanaan pengujian ini digunakan gel pink tua dental plague disclosing gel yang dipakai sebelum menggunakan pasta gigi dan setelah menggunakan pasta gigi selama 1 minggu. Formula pasta gigi bromelain Komposisi Formula Bromelain Kasar Kalsium karbonat Gliserol Larutan sorbitol 70 % Natrium Karboksimetil sellulosa Sakarin Natrium benzoat Natrium lauryl sulfat Oleum menthae piperitae Air suling sampai Basis (g) 40 18 10 1. Sakarin dan natrium benzoat dilarutkan dalam sisa air. kemudian dihitung nilai selisih skor plak sebelum dan sesudah pemakaian pasta gigi bromelain dengan menggunakan rumus : Nilai selisih = Skor Plak sebelum – Skor Plak sesudah 16 . dimasukkan ke dalam massa 3. digerus homogen. Oleum menthae piperitae dimasukkan terakhir. diaduk sampai homogen dan kemudian dimasukkan ke dalam tube. menggunakan pasta gigi 3 kali sehari pada pagi.3 100 formula (g) 5. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Tabel 1.

Hasil pengujian efektifitas antiplak pasta gigi bromelain kasar % RKP No Panelis X (%) Formula Sebelum Sesudah 1 F0 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 65.6 10.5 62. Daya anti plak disebabkan adanya kemampuan bromelain untuk mengurangi dan menghilangkan plak yang terbentuk. Proses pengurangan plak dari pasta gigi bromelain kasar diduga karena kemampuannya untuk memecah atau menguraikan protein saliva disamping juga terjadi secara fisik dengan adanya abrasif dalam pasta. Proses pengurangan plak ini terjadi secara fisika dengan persentase penurunan plak yang rendah.5 62. pasta gigi bromelain kasar dan sediaan pembanding enzim ®.1 69.626 %KV= 7.1 9. 1 NO.72% ± 0.3 66.04%± 0. Dari hasil perhitungan rata-rata persentase Rekam Kontrol Plak ( RKP ) adalah 3. 2000).4 8. Menurut Hidayah (2000) bromelain dapat memecah ikatan glutamin-alanin dan arginin.3 65 62.17 3 P 8.04 %.1 68.alanin yang merupakan asam -asam amino penyusun protein.1 60 62 62.9 66. pasta gigi bromelain ( F3 ) dan pasta gigi pembanding ( P ) secara berturut-turut. Hasil ini memperlihatkan bahwa plak dapat berkurang dengan menggunakan basis pasta yang mengandung abrasif kalsium karbonat dan surfaktan natrium lauril sulfat yang ada dalam formula. Penelitian dilakukan pada gigi tiruan resin akrilik .1 7 Χ 3.5 3.2 56. Pada sediaan uji pasta gigi bromelain diperoleh persentase penurunan (RKP) yang lebih tinggi ( 8.4 57. 1990) Tabel 2.4 61.8 59.72 % dan 8.1 60.55 17 . lama dan cara menggosok gigi (Ariningrum.5 65.3 65. Proses pengurangan plak juga dipengaruhi oleh frekwensi. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Analisis Data Untuk menilai efektifitas antiplak bromelain dalam pasta dianalisis menggunakan statistik analisis varian satu arah yaitu antara basis pasta.391 %KV=12.3 8.6 57.1 70.6 65.1 2.1 70.SCIENTIA VOL.4 3. Parameternya adalah % RKP sebelum dan setelah perlakukan.9 69. (Tarigan .7 52.5 9.9%± 1.3 62.7 8.384 %KV= 15. Makanan sangat berpengaruh sekali terhadap jumlah plak yang terbentuk.9 62 62 59.1 8.8 9. 8. Dugaan lain adalah bromelain dapat memutuskan ikatan protein dari sisa makanan yang menempel pada gigi.72 % ) dan mendekati pasta gigi pembanding (8.3 3 3.9 8.90 % untuk formula basis ( F0 ).5 69. HASIL DAN PEMBAHASAN Uji antiplak pasta gigi bromelain kasar dilakukan selama 7 hari.90%).86 2 F3 8.

0400 8. Farmakope Indonesia. Ansel.759 Means for groups in homogeneous subsets are displayed. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Hasil uji statistik dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi edisi IV.SCIENTIA VOL.000. 1994. Jakata. USA. Anonim. Jakarta. Formularium Kosmetika Indonesia. N 5 5 5 Subset for alpha = .05) dan berbeda nyata dengan formula basis pada p > 0. 1985. 1989. dan persentase plak Duncan a tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara pasta gigi bromelain ( F3 ) dengan pasta gigi pembanding ( P ) pada p < 0. Anonim. edisi IV. C 1989.000 . Ekstra Pharmakope Indonesia. KESIMPULAN Dari penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut Bromelain kasar 5% dalam pasta gigi mempunyai efektifitas antiplak yang tidak berbeda nyata dengan sediaan pembanding ( p< 0. 1979. Jakarta. 18 . Anonim. 1 NO. 2007. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. H. edisi III. cetakan pertama .05. Vol III. a. Materia Medika Indonesia. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Keterangan : F0 F3 P X X KV : : : : : : Basis pasta gigi formula C konsentrasi abrasif 40 % Formula pasta gigi bromelain konsentrasi 5 % Pasta gigi pembanding ( Enzim® ) Nilai selisih Rekam Kontrol Plak (RKP) Rata – rata nilai selisih Rekam Kontrol Plak (RKP) Koefisien variansi Hasil uji statistik dengan analisis varian satu arah memperlihatkan terdapat perbedaan yang bermakna antara formula basis ( F0 ) dengan pasta gigi bromelain ( F3C) dan pasta gigi pembanding ( P ) pada p > 0. Jakarta. Anonim.7200 8. SASARAN Kepada peneliti selanjutnya disarankan untuk mengembangkan formula pasta gigi dan menguji stabilitas pasta gigi bromelain kasar sehingga pada akhirnya dapat DAFTAR PUSTAKA Anonim. Anonim. Departemen Kesehatan Republik Indonesia . Diterjemahkan oleh Farida Ibrahim. USP 30/ NF 25.9000 1.05. perlakuan F0 F3 pembanding Sig. Penerbit Universitas Indonesia.05 1 2 3. Jakata. Jakarta. Farmakope Indonesia.05. 1974. The National Formulary. Uses Harmonic Mean Sample Size = 5.

Yogyakarta. Herijulianti. Hipokrates. 1985. and R. Tarigan. Harry’s Cosmetology. Hidayah . M. N. and. London. 58 (9)..Khrisna. Cell Mol. M and Sagarin.. SasakiT. Daftary GV. Butler. Diterjemahkan oleh S.S... Life .19(3) :147153.W. Shanbag P.H.. 1992. Turakhia NH.1982 Clinical and Oral Microbiology. Proses Penghasilan Bromelin Daripada Batang Nenas. New York.Using Bromelain in Pineapple Juice to Investigte Enzym Function.Enzim Bromelain dari Bongkol Nenas sebagai Bahan Pembersih Gigi Tiruan Resin –Akrlirik.. Jakarta. Diterjemahkan oleh S. Reinvestigation of Fractionation and Some Properties of Proteolitically Active Components of Steam and Fruit Bromelain. Glider WV and MS Hargrove. R. 2002. Pendidikan Kesehatan Gigi. Assoc Physicians India. Cowson. Wilkinson..( 1972) The clinical effect of proteolytic enzyme containing bromelain and trypsin on urinary tract infection evaluated by double blind method . Universitas Indonesia press. Effects of Sucrose Concentration on Crude Bromelain Production of in Vitro Culture of Pineapple ( Ananas comosus var. Yogyakarta. A. Sci . Cosmetics.. New York.J.Fauzi.N. H. 219 – 228. Nugraha. Schiess W 2002. Charpman and Hall. HA. Merr). Medan. Rev. Bromelain.. Kelly G.. Steptoccus mutans Si Plak Dimana-mana. Med. Apr 50527-31. 2nd ed. Karies Gigi. Kundra M. 1996 . Noerono. Daliemunthe.113-121 Rukmana. Mutta.. 1990. L. Kasetsart J. S Indriani. S. Cracken. Kanisius...A.. 1992. S. Jogjakarta: 1-5. London.Wijaya dan Sulistyaningsih. EGC.12. pharmacology and medical use. in septis in chidren. Biochemistry. 2002.Moore.SCIENTIA VOL.2000. A. and S Phongtongpasuk .Bromelain : a literature review and discussion of its therapeutic applications. R. 75 – 77. S. 40 : 129-134 . Nat. Maurer HR. Jakarta. 2001. Mori S. 2Pattavia ). George Goodwin HC. Pocher’s Perfumes Cosmetics and Soap. Hirose T. 1990 . Altern. 2006. Hayati. Acta Obstet Gynaecol Jpn. 1 NO. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Suyatmi.. Shahid SK. dan S. Isolasi dan Karakterisasi Ekstrak Kasar Enzim Bromelain Dari Batang Nenas (Ananas comosus L. Vol III. Ngampanya B. Nenas Budidaya dan Pasca Panen. J Penel. S E. Efficacy and safety of phiogezym-aprotease formulation. Periodonsia. Pertanika 13(1) . Lieberman and J. Lincoln. 98. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi edisi V. E. 1994. 1996 . W. Vol 1. E. FKG Universitas Sumatera Utara.L Kaning . Sci. J. 1982.edisi III. Ojima Y. Bandung. 2008.2006.. 1989. Hashimoto Y. 19 . Herdyastuti.. Fakultas Farmasi USD. A. 2008.Artini. T.S. Hemisphere Publishing Corp. Biochem.. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Balsam. Ota. Universitas Gadjah Mada Press. Voight. R. D. Science and Technology. Ramli W. 1985. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember. 1: 405-410 Lachman. J and R.

2006) tanpa proses pemutihan sehingga menghasilkan minyak murni. salah satunya digunakan sebagai bahan obat (Rukman. Salah satu jenis tumbuhan yang digunakan sebagai obat tradisional adalah ubi jalar (Ipomoea batatas L. Kandungan dari VCO salah satunya adalah asam lemak rantai tak jenuh berperan sebagai agen antimikrobial yang hebat. Mimi Aria. The evaluation results showed that ethanol extract of sweet potato leaves can be formulated in creams which are physicaly stable and provide a healing effect on burns. Argomedia. dan kontaminan lainnya. Cream formula consisting of 3% ethanol extract of sweet potato leaves as an active ingredient. VCO. cream. vitamin A. From the statistical calculation using one-way analysis of variation (ANOVA) we found that sweet potato leaf ethanol extract containing cream provide healing on burns. 1997. burns PENDAHULUAN Negara Indonesia merupakan salah satu negara agraris yang memiliki potensi untuk mengembangkan buahbuahan tropis. VCO juga memiliki tekstur krim alami. The results showed that the F1B formula has the fastest healing effect on burns (7 days). tanaman holtikultural. Banyak sekali tanaman di Indonesia yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara komersil. which the value of F count treatment is smaller than the F table at α 0. 20 . lemak. kalsium. polifenol dan umbinya mengandung beberapa senyawa seperti protein. vitamin B1. 2006). pH. vitamin C (Rukmana.1997). Cream bases used in this study were variated with and without Virgin Coconut Oil (VCO). fungsinya adalah menolak pembentukan radikal bebas dan kemampuan mempertahankan sistem kekebalan membuat minyak ini bermanfaat untuk mencegah dan mengobati berbagai gangguan kesehatan.Padang ABSTRACT Formulation of cream for treatment of burns has been studied. which were tested on animals. flavonoid.05. particle size distribution. VCO memiliki sederet manfaat dan khasiat baik medis maupun kosmetik. fosfor.. sayur-sayuran dan tanaman pangan. 2008). type of cream. vitamin B2. Nurwani Purnama Aji STIFI Perintis . Bagian tumbuhan ubi jalar yang digunakan adalah daun yang mengandung beberapa senyawa seperti saponin. bebas dari pestisida. Keywords: Ipomoeae batatas. Virgin coconut oil merupakan minyak yang berasal dari buah kelapa (Cocos nucifera) tua segar yang diperoleh pada suhu rendah (<60 0C) yang terbentuk setelah santan didiamkan dalam beberapa hari (Setiaji.SCIENTIA VOL. skin irritation test and effects on burns. ) UNTUK PENGOBATAN LUKA BAKAR Farida Rahim. zat besi. homogeneity. The formulas was evaluated for their organoleptic. susunan molekular kecilnya memudahkan penyerapan serta memberi tekstur yang lembut dan halus pada kulit (Hadibroto. L. 1 NO. karbohidrat. 1 2010 ISSN : 2087-5045 FORMULASI KRIM EKSTRAK ETANOL DAUN UBI JALAR ( Ipomoeae batatas.) dari famili Convolvulaceae.

nipagin.05 100 Keterangan : F0A = Krim tanpa Virgin Coconut Oil (VCO) F0B = Krim dengan Virgin Coconut Oil METODA PENELITIAN Bahan yang digunakan adalah daun ubi jalar putih. Krim dipilih karena sediaan ini mempunyai keuntungan diantaranya mudah dioleskan pada kulit. rotary evaporator. Tabel 1. oven vakum. timbangan digital. asam stearat. digerus sampai dingin dan terbentuk masa krim yang homogen.5 1. kaca arloji. Ekstrak daun ubi jalar dibuat dengan cara maserasi selama lima hari menggunakan etanol 96%. Virgin Coconut Oil (VCO).5 3 25 0. lemari pendingin. Fase minyak dipindahkan kedalam lumpang dan ditambahkan fase air (pencampuran dilakukan pada suhu 60oC – 70oC). krim dapat digunakan pada kulit dengan luka yang basah. desikator. kelarutan. penetapan kandungan air. dipanaskan diatas waterbath dengan suhu 70oC sampai lebur. aquadest. nipasol. stamper. Formula Basis Krim Nama Bahan Asam stearat Trietanolamin adeps lanae Paraffin liquidum Virgin Coconut Oil (VCO) Nipagin Nipasol Aquadest ad F0A 14.1 0. pemeriksaan pH. cawan penguap.5 3 5 20 0. botol semprot. kemudian fase minyak dipindahkan dalam cawan penguap.SCIENTIA VOL. waterbath. corong. oven. trietanolamin. plat tetes. kertas perkamen. kadar abu. Formula Krim Ekstrak Etanol daun ubi jalar Nama Bahan Ekstrak etanol daun ubi jalar Basis Krim ad F1A 3% 100 F1B 3% 100 Keterangan : F1A = Krim dengan konsentrasi Ekstrak Etanol daun ubi jalar 3% tanpa VCO F1B = Krim dengan konsentrasi Ekstrak Etanol daun ubi jalar 3% dengan VCO Krim dibuat dengan cara: ditimbang ekstrak etanol daun ubi jalar 3% digerus dalam lumpang ditambahkan 21 .05 100 F0B 14. kandungan kimia. pH meter Inolab. Ekstrak kental yang diperoleh dievaluasi organoleptis. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Dari penjelasan di atas dicoba membuat formula ekstrak etanol daun ubi jalar dan Virgin Coconut Oil (VCO) dalam bentuk krim untuk pengobatan luka bakar. mortir.1 0. adeps lanae. Alat yang digunakan adalah alatalat gelas standar laboratorium. etanol 96%. Fase air di panaskan di atas waterbath pada suhu 70oC sampai lebur. batang pengaduk. buret. hewan percobaan yang digunakan adalah mencit putih. pinset. mudah dicuci setelah dioleskan. botol marserasi.5 1. Basis krim dibuat dengan cara: Semua bahan yang diperlukan ditimbang. 1 NO. Selanjutnya digunakan hewan percobaan untuk menguji aktifitasnya untuk pengobatan luka bakar. paraffin liquid. pipet tetes. dan terdistribusi merata. Tabel 2. krus porselin.

Hasil Pemeriksaan Organoleptis batatas. Spatel dibakar dengan nyala api ± 60 detik. 1 NO. tipe krim. homogenitas. masing-masing kelompok 3 ekor. F1A Bentuk SP Warna P Bau BK 4. yang dilakukan setiap minggu selama 8 minggu. Pada pemeriksaan organoleptis formula basis krim dan krim ekstrak etanol daun ubi jalar tidak menunjukkan adanya perubahan bentuk. F1B Bentuk SP Warna Hi Bau BK Keterangan : F0A F0B FIA FIB Hi P SP BK Pada pengujian efek ini digunakan Lanakeloid-E ® sebagai pembanding. F0B Bentuk SP Warna Hi Bau BK 3. pH. sepatel tersebut ditempelkan pada kulit punggung mencit yang sudah dirontokkan bulunya selama ± 5 detik. Parameter yang diamati adalah hilangnya vesikel dan perubahan warna kulit dari pucat menjadi pucat hilang. Uji efek luka bakar dilakukan dengan menggunakan hewan percobaan mencit 15 ekor untuk 5 kelompok. HASIL DAN PEMNBAHASAN Ekstrak etanol daun ubi jalar dan VCO diformula dalam bentuk krim. Krim Ekstrak Etanol Daun Ubi Jalar (Ipomoea Minggu ke IV V SP SP P P BK BK SP SP Hi Hi BK BK SP SP P P BK BK SP SP Hi Hi BK BK II SP P BK SP Hi BK SP P BK SP Hi BK III SP P BK SP Hi BK SP P BK SP Hi BK VI SP P BK SP Hi BK SP P BK SP Hi BK VII SP P BK SP Hi BK SP P BK SP Hi BK VIII SP P BK SP Hi BK SP P BK SP Hi BK : Basis krim tanpa Virgin Coconut Oil ( VCO ) : Basis krim dengan Virgin Coconut Oil ( VCO ) : Krim Ekstrak Etanol Daun Ubi Jalar 3 % tanpa VCO : Krim Ekstrak Etanol Daun Ubi Jalar 3 % dengan VCO : Hijau : Putih : Setengah Padat : Bau khas 22 . daya tercuci krim dan uji iritasi kulit. pemeriksan tipe krim.SCIENTIA VOL. pemeriksaan ini dilakukan setiap minggu selama 8 minggu pengamatan. warna dan bau. Pemeriksaan basis krim dan krim meliputi organoleptis. distribusi ukuran partikel. F0A Bentuk SP Warna P Bau BK 2. pH krim. Basis krim dan krim yang dibuat di evaluasi meliputi pemeriksaan organoleptis. Pada kulit yang melepuh atau mengalami luka bakar tersebut dioleskan formula krim secara tipis dan merata 3 kali sehari untuk masingmasing formula. L) No Formula Organoleptis I 1. homogenitas. Tabel III. dengan konsentrasi ekstrak 3%. Kemudian dilakukan pengamatan setiap hari untuk melihat efeknya sampai terjadi penyembuhan total. Pada pemeriksaan homogenitas basis krim dan krim ekstrak etanol daun ubi jalar menunjukkan bahwa semua sediaan telah homogen dan terdispersi merata. 1 2010 ISSN : 2087-5045 sedikit demi sedikit basis krim ad 100 g digerus pelan-pelan sampai homogen.

SCIENTIA VOL.81 8. ternyata memberikan sedikit variasi waktu penyembuhan.22 7.56. 8095 µm.57 8. Hasil pemeriksaan uji iritasi pada 5 orang sukarelawan menunjukkan tidak ada satupun formula basis krim dan krim ekstrak etanol daun ubi jalar yang mengakibatkan iritasi pada kulit panelis.98 7. 4.17 7.991 µ m. saponin dan polifenol. 3.783 µ m. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Hasil pemeriksaan tipe krim. Hasil pemeriksaan pH dilakukan dengan menggunakan alat pH meter inolab.53 7.78 7.50 µ m. Formula FOA FOB F1A F1B I 7. Hasil pengamatan distribusi ukuran partikel basis krim dan krim ekstrak etanol daun ubi jalar menunjukan rata-rata ukuran panjang kecil dari 10 µ m. Hal ini menunjukkan bahwa basis krim dan krim ektrak etanol daun ubi jalar dapat digunakan untuk penyembuhan luka bakar. F1B = 4.62 7. polifenol 23 . Krim ekstrak etanol daun ubi jalar dengan menggunakan basis krim yang mengandung Virgin Coconut Oil (VCO) mampu memberikan efektifitas lebih cepat dibandingkan dengan formula lainnya.12 7. tipe krim adalah minyak dalam air.837 µ m.56 7.53 7.41 VIII 8. flavonoid yang terkandung didalam daun ubi jalar dapat digunakan sebagai pencegahan terhadap infeksi luka karena mempunyai daya antiseptik (Harborne. Setelah 24 jam diamati gejala yang timbul.06 III 8.65 7.81 7.26 Ratarata 8. F1A dan Lanakloid-E memberikan waktu penyembuhan 8 hari.1 gr dioleskan pada lengan atas bagian dalam dengan luas 4 cm 2 . hasil yang didapat masih memenuhi syarat karena dalam literatur dinyatakan ukuran partikel yang stabil secara fisik antara 1. Hasil pemeriksaan uji iritasi dilakukan langsung pada manusia dengan cara uji tempel tertutup dimana sediaan uji 0. FoB memberikan waktu penyembuhan selama 9 hari.45 Pada pemeriksaan distribusi ukuran partikel diperoleh rata-rata ukuran panjang FOA = 4. L) Minggu ke IV V 8.70 7. 1 NO. Pada uji efek basis krim dan krim ekstrak etanol daun ubi jalar dan basis krim yang mengandung VCO dan yang tidak mengandung VCO terhadap pengobatan luka bakar. pemeiksaan pH dilakukan terhadap basis krim dan krim ekstrak etanol daun ubi jalar dan hasil pemeriksaan pH krim diperoleh ph berkisar antara 7. Formula yang memberikan waktu penyembuhan paling cepat adalah formula F1B dimana waktu yang diperlukan untuk penyembuhan selama 7 hari.0 II 8. pemeriksaan tipe krim dilakukan dengan menggunakan zat warna yaitu metilen blue memperlihatkan penyebaran metilen blue yang merata setelah diteteskan pada selapis krim diatas kaca objek. sedangkan polifenol berkhasiat sebagai adstringen jika dioleskan pada jaringan hidup. FOB = 4.26 – 8. 2. dimana saponin ini mempunyai kemampuan sebagai pembersih sehingga dapat membantu mempercepat penyembuhan luka terbuka.21 7.15 7.69 No 1.86 8.02 7.51 7.19 7. Daun ubi jalar yang digunakan mengandung flavonoid.69 7.73 7.84 7.27 8.48 7. Hasil Pemeriksaan pH Krim Ekstrak Etanol Daun Ubi Jalar ( Ipomoea batatas. kemudian ditutup dengan kain kasa.74 7. Pemeriksaan ini dilakukan terhadap 5 orang sukarelawan pada masing-masing formula.92 8. F1A = 6.61 VII 8. Tabel IV.04 VI 8.78 7. 1987). Sedangkan FoA memberikan waktu penyembuhan selama 11 hari.

Dimana nilai F hitung perlakuan lebih kecil dari pada F tabel pada α 0. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta Anonim.SCIENTIA VOL. dimana nilai F hitung perlakuan lebih kecil dari pada F tabel pada α 0. Dari perhitungan uji statistik analisa variasi satu arah (ANOVA) diketahui bahwa krim ekstrak etanol daun ubi jalar dapat memberikan penyembuhan terhadap luka bakar. et al. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Ed. Ditjen POM Depkes RI. 1972.L) dengan basis krim yang mengandung VCO (F1B) memberikan efek penyembuhan luka bakar yang paling cepat yaitu 7 hari. Ditjen POM Depkes RI. USP 30/ NF 25 Volume III. Ditjen POM Depkes RI. 1 NO. Argomedia Pustaka. 1995.. Anief. 4.4. DAFTAR PUSTAKA Ancel. Anief.. Jakarta. M. Yogyakarta. 1 2010 ISSN : 2087-5045 dalam pengobatan berkhasiat sebagai antiseptik yang berfungsi sebagai pelindung pada kulit dan bermanfaat untuk regenerasi jaringan. Sediaan Galenika. Formula krim ekstrak etanol daun ubi jalar (Ipomoea batatas . Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. 1994. Fomularium Kosmetik Indonesia. M. Farmakope Indonesia.05 SARAN Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk memformula ekstrak etanol daun ubi jalar dalam bentuk sediaan dan uji efektifitas farmakologi yang lain.05. Ekstrak etanol daun ubi jalar dan Virgin Coconut Oil (VCO) dapat diformulasi dalam bentuk krim yang stabil secara fisika dan kimia selama 8 minggu penyimpanan. VCO yang digunakan mampu mempercepat penyembuhan luka bakar karena merupakan minyak yang mengandung asam lemak jenuh rantai sedang yang mendukung penyembuhan dan perbaikan jaringan tubuh (Gani. Anonim. Formulasi Gel Ekstrak Etanol Daun Ubi Jalar 24 . Jakarta.. Gaja Mada University Press. Anonim. 1986. United States of America. Jakarta.. Buku Pintar Tanaman Obat. Farmakope Indonesia. Anonim. redaksi. Anonim. Materia Medika Jilid V. Ed. 2005). KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1.3. Asrahyuni. 2007. Anonim. 1982. Yogyakarta. Ed. Ilmu Meracik Obat. 1979. 1991. 2006. 2000. Jakarta. 1989. Jakarta. Jakarta. Anonim. 2008. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Ekstrak Farmakope Indonesia. Jakarta. Dari perhitungan uji statistik analisa variasi satu arah (ANOVA) diketahui bahwa krim ekstrak etanol daun ubi jalar dapat memberikan penyembuhan terhadap luka bakar. 1990.C. Gaja Mada University Press. Farmasetika. H. Anonim. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Argomedia. 2. alih bahasa oleh Farida Ibrahim. 3. Jakarta. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. H. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan.

Physical pharmacy. Setiaji. Padda. London. Kanisius.5. Khristianto. Yogyakarta. Effendi. Z... Cetakan ke-2. Jakarta. 2. Jakarta. Mursito. Jellinek.. F. Editor.L Kaning.. Syamsuni. L. Hariana. F. Bebas Segala Penyakit dengan VCO. Padmawinata..SCIENTIA VOL.. and Gilman. Cetakkan ke-1. Gani.. Prentice hall International.B. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. Willey Intercienci. Y. Rukmana. 2006. The Structure and Fuction of the Skin.. B. 2001. Lea and Febiger.. Martin. PT. Jakarta. 1975. Terapheutic. Formulasi Krim Minyak Kelapa Murni Untuk Penyubur Rambut. R. Bandung. J. W. Yogyakarta. Jakarta. 2006.Isu. alih bahasa oleh S. Teori dan Praktek Farmasi Industri II. Laporan Penelitian Dosen Muda. Formulation and Fundaction of Cosmetics. New York. Terapi Minyak Nabati Keampuhan VCO dan 16 Minyak Ajaib. Y..). 4th Edition. Penerbit Buku Kedoteran. Juanda. Moenajad.edu/docs/av ailable/etd-04062006085455/unrestricted/paddadis. Goodman. PT Samindra Utama. Diet VCO.. Membuat VCO Berkualitas Tinggi. 1998. Fakultas Farmasi. A. Cherry. 1994. Padang. Waluyo.com/indek. Hadibroto. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. 1995. H. B.http://ekasi. Srikandi.. Phenolic Composition And Antioxidant Activity Of Sweet Potatoes. A.F.J. Luka Bakar Pengetahuan Klinis Praktis. Terbitan ITB. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 1 NO. Jakarta.. Kanisius. Yogyakarta.2004. Serial. Inc.N.. Ed. 1995. Metoda Fitokimia Penentuan Cara Modern Menganalisa Tumbuhan.. PT. 2005.http//:etd. 2005. Herlinawati.Suyami. 8th Pergamos Press. New York. Gramedia.. 1990. 1 2010 ISSN : 2087-5045 (ipomoea batatas L. Fundamental of Anatomy and Phsiologi. Parameter Pasien Luka Bakar. php/inf-sehat/292-daun-ular-obatdbd-paling-ampuh-?format=pdf Lachman. 15th edition. Ubi Jalar Budidaya dan Analisis Usaha Tani. Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Yayasan Perintis. Jakarta. Ed. Padang. Martin. C.A. 1987. Jakarta. Ed. 1991.Pdf. Lieberman and J. 2006. alih bahasa oleh S.S.3. Harbone.. L. Yogyakarta. Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Yayasan Perintis. et al.2009. Harahap... [5 Juni 2010] Rahim. Mack Publishing Comp. Voight. H. 25 . Dede. Jakarta. Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi. Yogyakarta. A. Penerbit Universitas Indonesia.Noer. Penebar Swadaya. R. Pennsyluania.H. Mantagha. Philadelphia.. Osol. Remigton Pharmaceutical Sciense. 1998. Penyakit Kulit. 1962. New York. Puspa Swara. S. 1974.. Easton. 2th Edition. Pharmacologycal Basis of Edition. D. Gramedia. Kanisius.. Penebar Swadaya. Universitas Gajah Mada Press.S. alih bahasa oleh Kosasih. Editor 2006. Sehat Diusia Lanjut Dengan Ramuan Tradisional..H. 2006.2000. 1997. M. Ubi Jalar Budi Daya dan Pasca Panen.. Skripsi. M.

oleat. Kandungan kimia dari jintan hitam (Nigella sativa Linn. Khasiat dari biji jintan hitam adalah untuk mengobati aneka penyakit seperti menguatkan sistem kekebalan tubuh. dan linolenat (Hendrik. mutu. senyawa golongan alkaloid. memperbaiki saluran pencernaan. menjaga elastisitas kulit. asama. bronkhitis. 200 mg/kg BW can improvement the titers antibody. meningkatkan produksi air susu ibu. Protein–protein yang terkandung dalam ekstrak jintan hitam (Nigella sativa Linn. 14th day and given extract on to 15th day up to 20th day. anti oksidan. anti bakteri. anti histamin atau anti alergi. diabetes.) for the titers antibody and amount of leucosit cell to the mice. 2009). leucosit PENDAHULUAN Pemakaian obat tradisional masih banyak digunakan dalam meningkatkan kesehatan masyarakat di Indonesia meski sekarang sudah banyak orang menggunakan obat–obatan modern sebagai pelengkap tetapi obat tradisional masih mempunyai kedudukan khusus dalam masyarakat. Salah satu tanaman tradisional yang digunakan adalah Jintan Hitam (Nigella sativa Linn. titer antibody.SCIENTIA VOL. Keywords: Nigella sativa. nigellamine-n-oxide. menurunkan kolesterol dan meningkatkan kinerja jantung. 100 mg/kg BW.) TERHADAP TITER ANTIBODI DAN JUMLAH SEL LEUKOSIT PADA MENCIT PUTIH JANTAN Suhatri dan Yufri Aldi Fakultas Farmasi Universitas Andalas ABSTRACT The research about Activity of Given Extract Jintan Hitam seed (Nigella sativa Linn. dan aktivitas sel–sel imun tubuh. minyak lemak. The amount bar neutrofil cell. saponin. Jintan hitam ini 26 . From result of the research show that extract who give it at the dose 50 mg/kg BW. kanker. Rempah ini berbentuk biji hitam yang telah dikenal ribuan tahun yang lalu dan digunakan secara luas oleh masyarakat India. 2009).) merupakan tanaman yang dapat merangsang dan memperkuat sistem imun tubuh manusia melalui peningkatan jumlah. 1 2010 ISSN : 2087-5045 AKTIFITAS EKSTRAK ETANOL BIJI JINTAN HITAM (Nigella sativa Linn. 1983). Pakistan.) yang merupakan rempah– rempah yang telah digunakan sebagai tanaman obat. anti tumor.) dapat menghasilkan efek stimulator pada sistem imun tubuh. monosit. Pengobatan secara tradisional berdasarkan pada upaya untuk mengembalikan dan memperkuat penyembuhan secara alami (Donatus. dan Timur Tengah untuk mengobati berbagai macam penyakit. 1 NO. minyak atsiri. the mice who has given induction anti-gen (Goat Eritrosit 5%) for the 1th.01). 7th. and limfosit cell (P<0. Penggunaan jintan hitam sebagai obat atau yang berkhasiat obat adalah pada bagian bijinya.) ini mengandung nigellienine. Jintan hitam (Nigella sativa Linn. steroid. alkaloid isokuinolin. Jenis tanaman ini telah disebut–sebut sebagai tanaman obat dalam perkembangan awal agama Islam (Hendrik.

metanol murni. 1 2010 ISSN : 2087-5045 bekerja sebagai imunomodulator yaitu yang bekerja dengan cara melakukan modulasi (perbaikan) terhadap sistem imun (Bellanti. METODOLOGI PENELITIAN Alat Alat-alat yang digunakan adalah seperangkat alat destilasi vakum.) terhadap sistem imun non spesifik dengan menghitung jumlah antibodi menggunakan metoda titer antibodi. eusinofil. sel asesori (basofil. Sel – sel lain dalam jaringan walaupun bukan merupakan bagian utama dari respon imun juga dapat berperan serta dengan memberi isyarat pada limfosit atau berespon terhadap sitokin yang dilepaskan oleh limfosit atau makrofag (Wahab. plat tetes. spatel. gunting. dan sitokin. monosit dan magrofag). Sistem pertahanan ini sangat efektif dalam memberantas infeksi serta mengingat agen infeksi tertentu sehingga dapat mencegah terjadinya penyakit dikemudian hari (Tizar. kaca objek. lumpang dan alu. tabung reaksi. Respon imun diperantarai oleh berbagai sel dan molekul terlarut yang diseksresikan oleh sel-sel tersebut. Prosedur Kerja Pembuatan Sampel 1 kg Biji jintan hitam diekstraksi dengan etanol 96 % kemudian pelarutnya diuapkan secara vakum sehingga diperoleh ekstrak kental sebanyak 29. 1988). Berdasarkan hal diatas maka peneliti telah melakukan pengujian aktivitas ekstrak etanol biji jintan hitan (Nigella sativa Linn. eritrosit kambing. jarum suntik. dan sel NK). 1988). Mekanisme pertahanan ini dibagi menjadi dua kelompok fungsional. dan trombosit). menghitung bobot relatif limfa mencit putih jantan dan menghitung jumlah sel leukosit dengan metoda hapusan darah pada mencit putih jantan. heparin (D34209 Melsungen Germany). etanol 96%. Bahan Bahan-bahan yang digunakan adalah biji jintan hitam. Pertahanan non spesifik meliputi kulit dan membran mukosa. 1 NO. Tizar. NaCl fisiologis. Sel– sel utama yang terlibat dalam reaksi imun adalah limfosit (sel B. Terhadap ekstrak kental ini dilakukan standarisasi ekstrak seperti kandungan metabolit sekunder dan susut pengeringan. vial. botol maserasi. 27 . komplemen. rak tabung reaksi. sel fagosit (neutrofil. sel mast. rotary evaporator. 1993).SCIENTIA VOL. Bahan terlarut yang disekresi dapat berupa antibodi. sel–sel jaringan. yaitu menghasilkan reaksi spesifik pada setiap agen infeksi yang dikenali karena telah terjadi paparan terhadap mikroba tersebut sebelumnya. Mekanisme pertahanan ini berperan sebagai garis pertahanan pertama dan menghambat kebanyakan patogen potensial sebelum menjadi infeksi yang tampak (Subowo. minyak emersi. Mekanisme pertahanan spesifik meliputi sistem imunitas humoral yaitu dengan produksi antibodi oleh sel B dan sistem imunitas seluler oleh sel T. 2002).1993). gelas ukur. pewarna Giemsa (D6 100-darstadt). mekanisme pertahanan ini merupakan bawaan (innate) artinya pertahanan tersebut secara alamiah ada dan tidak adanya dipengaruhi secara intrinsik oleh kontak dengan agen infeksi sebelumnya (Bratawijaya. Sistem pertahanan ini bersifat adaptif dan didapat.85 g. timbangan. 1993. yaitu pertahanan non spesifik dan spesifik. mediator radang. dan mikroskop. sel T. air suling.

biarkan selama 30 menit. lalu tipiskan dan ratakan dengan gelas objek lain sehingga diperoleh lapisan darah yang homogen (hapusan darah). Lakukan hal ini sampai pada tabung reaksi kesepuluh. Pipet 0.2 ml eritrosit kambing lalu cukupkan dengan NaCl fisiologis hingga volume suspensi 4 ml). Pada tabung pertama ditambahkan 0.2 ml larutan. 1 /512. masukkan larutan NaCl fisiologis 0. 1/256. Pembuatan larutan uji Larutan uji dengan dosis 50 mg/kg BB dibuat dengan cara mensuspensikan 50 mg ekstrak etanol biji jintan hitam (Nigella sativa Linn. Kemudian hitung jumlah sel eusinofil. 2008). ¼. 1/16 . Sentrifus dengan kecepatan 2000 rpm selama 5 menit. Cuci dengan aquadest. biarkan selama 20 menit. Pada tabung kesepuluh. neutrofil segmen. ambil darah dengan cara memotong vena bagian leher.SCIENTIA VOL. Angka titer ditentukan dengan pengenceran tertinggi yang masih dapat beraglutinasi dengan eritrosit kambing (Sadikin. 200 mg/kg BB. 200 mg/kg BB dengan berat ekstrak masing-masing 0. Tambahkan satu tetes larutan Giemsa yang telah diencerkan dengan aquadest (1:20). Ambil bagian serumnya. sehingga hasil pengenceran dari serum yaitu ½. Suspensi ekstrak diberikan pada hari ke 15 sampai hari ke 20 secara oral dengan dosis 50 mg/kg BB. 1/64. dan monosit pada perbesaran 1000 X dengan 28 .2 ml suspensi eritrosit kambing 5% pada hari 1 secara intra peritoneal. gerus homogen dan cukupkan volume dengan aquadest sampai volume 10 ml. 1/8.2 ml larutan pada tabung kedua dan pindahkan kedalam tabung ketiga. Setelah didapatkan eritrosit kambing kemudian buat suspensi 5% (ambil 0.1 ml suspensi eritrosit kambing 5% secara subkutan pada hari ke 7 dan 14. kemudian lakukan pembosteran dengan 0. setelah kering lihat di mikroskop. kocok sampai homogen. limfosit. lalu keringkan. dan 1/1024. sehingga menutupi seluruh hapusan darah. Sensititasi Hewan Hewan percobaan yang telah diaklimatisasi kemudian disensitisasi (pemberian antigen pertama) dengan 0. 1/32. neutrofil batang. Penentuan Titer Antibodi Pada hari ke 21 mencit dibunuh. buang supernatannya. Setelah kering tetesi dengan metanol. siapkan 10 buah tabung reaksi. Angka titer dihitung dengan rumus : 2 Log Pengenceran Menghitung Jumlah Sel Leukosit dari Metode Hapusan Darah Darah segar diteteskan pada gelas objek satu tetes. Masukkan 0.2 gram untuk volume 10 ml.2 ml serum.1 dan 0. 1 NO.) dengan 50 mg Na CMC yang dikembangkan dengan air panas 1 ml. 1 /128.2 ml larutan pada tabung pertama pindahkan kedalam tabung kedua kemudian kocok dan pipet 0. Gunakan cara yang sama untuk dosis 100. ulangi 3 kali dengan menambahkan 5 ml NaCl fisiologis setiap pengulangan.kemudian disentrifus dengan kecepatan 2000 rpm selama 15 menit. amati penggumpalan yang terjadi.1 ml suspensi eritrosit kambing 5 % kedalam masing-masing tabung reaksi tersebut.2 ml pada masing-masing tabung. buang 0. kemudian kocok sampai homogen. lalu disentrifus dengan kecepatan 2000 rpm selama 15 menit. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Pembuatan antigen Darah kambing dicuci dengan larutan NaCl fisiologis (1:1) masing– masing sebanyak 5 ml aduk homogen. kemudian digerus dan ditambahkan kedalam ekstrak yang telah ditimbang. biarkan 5 menit. 100 mg/kg BB.

komplek imun dan sebagainya. Perhitungan Jumlah Sel Limfosit pada Limfa 1. 1993). Aglutinasi yang terjadi dipengaruhi oleh komplemen. 1 2010 ISSN : 2087-5045 menggunakan minyak (Supandiman. diwarnai dengan cara meneteskan pewarna Giemsa sebanyak 10 tetes biarkan selama 5 menit. Hitung jumlah sel limfositnya dibawah mikroskop menggunakan minyak emersi dengan perbesaran 1000 X. Penghitungan jumlah sel limfosit Setelah didapatkan bobot relatif limfa.SCIENTIA VOL. timbang 50 mg limfa kemudian suspensikan dalam 2 ml larutan dapar pospat pH 7. menunjukkan bahwa dengan peningkatan dosis pemberian ekstrak etanol biji jintan hitam dapat meningkatkan angka titer antibodi yang merupakan respon imun spesifik. setelah itu difiksasi dalam metanol selama 2 menit kemudian dibilas dengan aquadest dan kering anginkan. tetapi sewaktu-waktu dapat diaktifkan oleh berbagai bahan seperti antigen. lalu letakkan pada kaca objek dan biarkan mengering. Persen kenaikan sel dihitung dengan rumus : limfosit Jumlah sel limfosit dosis × 100 % Jumlah sel limfosit kontrol 29 . . timbang bobot relatifnya satu persatu. Sedangkan pada kontrol positif aglutinasi terjadi 2log 16 maka angka titernya adalah 4. Angka titer ditentukan pada pengenceran tertinggi dari serum mencit yang masih dapat beraglutinasi dengan sel darah merah kambing (Subowo. 1 NO. kemudian mencit dibedah dan diambil limfanya. Pipet sebanyak 20 µl larutan limfa.4 gerus sampai halus dan homogen. Hasil susut pengeringan ini dijadikan faktor konversi terhadap penimbangan dosis yang akan digunakan. 1997). Encerkan dengan pewarna Giemsa denga dapar pospat. Bobot limfa relatif terhadap kontrol dihitung dengan rumus : HASIL DAN PEMBAHASAN Ekstrak etanol jintan hitam mengandung metabolit sekunder alkaloid. dengan perbandingan (1:20). Bobot limfa dosis × 100% Bobot mencit 2. emersi Pengolahan Data (Schefler. steroid dan saponin dengan nilai susut pengeringan adalah sebesar 27. Komplemen yaitu salah satu enzim serum yang berasal dari sistem imun non spesifik yang larut dalam keadaan tidak aktif. preparat yang telah difiksasi. Angka titer dapat dicari dengan rumus 2log 4 maka angka titernya adalah 2. kemudian bilas dengan air suling dan kering anginkan.18 %. 1998) Pada penelitian ini data yang diperoleh diolah secara analisis statistik dengan menggunakan metode ANOVA satu arah. Tabel I. Penimbangan bobot limfa relatif Setelah darah mencit diambil untuk pengujian titer antibodi.

67± 2.00 1.00 41.00 11.00 7. monosit dan tidak signifikan terhadap sel eusinofil dan neutrofil batang.33± 2.88 33.67 23 ∑ Dari hasil uji statistik analisa varian satu arah dan dilanjutkan ke uji berjarak Duncan.00 7.00 1 2 3 3.00 56.00 45.33± 3.00 58.00 32.00 49.00 10.00 9.00 4.25 7.00 9.22 22.00 7.33± 0.00± 0.00 10.00 41.67± 3.82 4.33± 2.00 42.00 33.00 9.00 39.00± 2.00 10. limfosit.00 42.00 31.00 7.67 11 2 2 2 III log 16 4 log 32 5 log 32 5 4.) dapat meningkatkan jumlah sel leukosit darah yang merupakan sistem imun alamiah (non spesifik).00 7.40 112.33± 1.00 2.00 32.67± 0.00 7.00 37.00 49.00 12.00 46.00 30.00 1.69 7.00 47.00 14.50 31.75 103.00 50.67± 93.00 9.00 45.00 53.67± 2.00 2.00 11.87 139.00 36.00 7.00± 1.00 36.00 9.00 43.00 1.00 1 2 3 3.47 126.) Netrofil Netrofil Kelompok Hewan Eusinofil Limfosit Monosit Batang Segmen I 1 2.67± 1.00 1.00 37. 1 NO.00 6.58 55. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Tabel I.00 2.00 2 3. Tabel II.00± 1.00 45.00 ± 1.) 1 2 3 2 2 2 No x log Angka log Angka log Angka x Pengenceran Titer Pengenceran Titer Pengenceran Titer 2 2 2 I log 4 2 log 4 2 log 4 2 2 6 2 2 2 II log 8 3 log 16 4 log 16 4 3. Maka pemberian ekstrak etanol biji jintan hitam (Nigella sativa Linn.00± 2.00 2.00 50.00 8.00 34.52 31.58 4.34 17.00 29.00 6.00 ± SD x ∑x II 1 2 3 8.SCIENTIA VOL.00 5.00 9.75 18.00 48.00 5.00 1.00 1 2 3 4.00 28.00 2.67 14 2 2 2 IV log 64 6 log 256 8 log 128 7 7 21 2 2 2 V log 256 8 log 128 7 log 256 8 7.64 x ± SD ∑x III x ± SD ∑x IV x ± SD ∑x V x ± SD 30 .00 53.67± 1.33± 1.33± 167.00 38.00 5.00 32.00 3 3. Titer Antibodi dari Serum Mencit Putih Jantan setelah Diinduksi Antigendan Pemberian Ekstrak Etanol Biji Jintan Hitam (Nigella Sativa Linn.65 6.00 2.00 1.00 5.33± 2.00 2.00 4.33± 6.00 5.00 1.02 136.00 41.76 21.33± 2. Hasil Perhitungan Sel Leukosit Pada Darah Mencit Putih Jantan setelah Diinduksi Antigen dan Pemberian Ekstrak Etanol Biji Jintan Hitam (Nigella Sativa Linn.00 10.00 7.00 8.33± 0.00 37.41 25.00 8.67 ± 0.00 35.74 116. didapatkan pengaruh dosis sangat signifikan terhadap jumlah sel netrofil segmen.00 6.00 38.00 12.00 5.00 11.00 7.

49 0.22 92. untuk melihat pengaruh antigen dan ekstrak yang diberikan apakah mengalami perubahan.06 1.13 0.50 26.) Bobot Bobot Bobot Kelompok Hewan Limfa Relatif Mencit (gr) Limfa (gr) (%) I 1 30.15 0.00 27.00 27.02 0. sehingga terjadi pembesaran pada limfa.48±0.63 0.00 0.19 0.10 0.03 1.00 0.40±0.50 82.57 2 29.52 80.31 0.03 ±SD x ∑x II 1 2 3 87.15 0.08 0.53±0.17 0. diverensiasi.50 28.00 0.11 0.00 Penentuan bobot limfa relatif mencit.10±0.58 x ±SD ∑x III x ±SD ∑x IV x ±SD ∑x V x ±SD ∑x 31 .12±0.13 0.00 24.10 0.01 0.01 0. Kenaikan sel limfosit dan bobot relatif disebabkan karena pada limfa terjadi.00 29.50±0.00 27.43 1.15 0.05 1.52 0.00 27.44 0.50 28.SCIENTIA VOL.47 0.00 21.37 0.36 0.14 0. Berdasarkan hasil kenaikan bobot limfa relatif maka dilakukan perhitungan sel limfosit pada limfa.55 0.33±0.52 3 28.10 0.00 0.00 26.00 2. Dari data dapat dilihat bahwa kenaikan bobot limfa relatif juga diikuti dengan kenaikan sel limfosit pada limfa.15 0.00 ∑x 5.41 0.07 1.33 0.15 0.11±0.14±0.50 1 2 3 25. dan poliferasi limfosit.76 82.41 0. Tabel III.00 0.54 0.00 25.50±0.87 76.00 152.33 0.02 0.46 0.12 0.16±0.52 0.13 0.67±2.00±1.54±0.54 29. 1 2010 ISSN : 2087-5045 1.50 1 2 3 27. Bobot Relatif Limfa Mencit Putih Jantan setelah Diinduksi Antigen dan Pemberian EkstrakEtanol Biji Jintan Hitam (Nigella sativa Linn.38±0. 1 NO.00 1 2 3 27.34 28.50 25.00 26.40 0.02 0.37 0.

dan monosit sangat signifikan (P<0.00 37.00 0.00 1.58 2. 1 NO.00±3.33±5.00 Netrofil Batang 3.00 4.58 4.00 69.53 7. pemberian ekstrak etanol biji jintan hitam (Nigella sativa Linn.67±1.00 3.00 29.00 2.00 57. Jumlah Persentase Sel Limfosit Pada Limfa Mencit Putih Jantan setelah Diinduksi Antigen dan Pemberian Ekstrak Etanol Biji Jintan Hitam (Nigella sativa Linn.00 71.00 0.00 2.67±0.00 1.00 Netrofil Segmen 38.00 2.00±2.00 1.00 0.33±1.00 37.00 30.00 0.67±3.00 1.58 1.00±0.00 22.).00 1.00 55.00 2.00 67. dapat meningkatkan antibodi yang merupakan sistem imun dapatan (non spesifik) dan jumlah sel leukosit yang merupakan sistem imun alamiah (spesifik) dan ekstrak etanol biji jintan hitam (Nigella sativa Linn.67±0.51 112.00 2.00 0.67±0.00 2.00 Limfosit 57. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Tabel VI.00 1 2 3 1.00 3.00 1 2 3 2.33±0.33±4.00 2.00 1.00 1.73 3.01).00 0.00 1 2 3 1.58 7.15 5.00 56.00 34.00 1.00 1. menurunkan jumlah neutrofil segmen 32 . 100 mg/kg BB.33±0.21 167.51 184.00 25.00 20.00 1.00 6.) dapat meningkatkan titer antibodi pada dosis 50 mg/kg BB.51 76.00 2.00 33.00 1.00 61.69 173.00 3. untuk meningkatkan sistem KESIMPULAN Dari penelitian ini dapat diperoleh kesimpulan bahwa pemberian ekstrak etanol biji jintan hitam (Nigella sativa Linn.00 72.00 Monosit 1.) Kelompok I Hewan 1 2 3 Eusinofil 1.00 2.00 1.00 73.00 0.16 217.52 7.00 53.00 0.00 120.00 1 2 3 1.00 2.00 71.00 1.33±5.00 2.51 101.00 1.00 1.00 37.00 0.61 210.00 40.) ini juga bersifat imunostimulan.33±5.00 70.33±2.00 64.00 2.00 3.67±5.00 43.00 77.00 1.00 0.00 3.00 25.00 1.00 1.00 61.00 1.33±0.00 2.00 30.58 5.00 5.00 3.58 5.00 52.67±3.00 32.00±1.00 40.00±1.00 66. Maka penggunaan ekstrak etanol biji jintan hitam sangat efektif imun.00 1.33±3.00 1.00±1.SCIENTIA VOL.53 4.00 25.00 42.00 2.00 1.00 26.00±0.00 1.00 x ±SD ∑x II x ±SD ∑x III x ±SD ∑x IV x ±SD ∑x V x ±SD ∑x Dari empat parameter yang diamati.00 58.00 56.33±1.03 76. Kedua sistem imun diatas berperan penting dalam melindungi tubuh dari serangan mikroorganisme. dan 200 mg/kg BB dan dapat meningkatkan jumlah limfosit.00 3.

Jakarta. dan N.01). Tizar. Sistem Imin. Cetakan ke-1. Gajah Mada Press. 2009. I. Jakarta. Surabaya. Imunogi Dasar. Statistika Untuk Biologi. I. dkk. Fakultas Farmasi Gajah Mada.A. diakses dari http :www. Wahab. edisi ke-6. Farmasi. M. Edisi 1. 1 2010 ISSN : 2087-5045 sangat signifikan (P<0. Penerbit Angkasa. J. Kedokteran dan Ilmu Bertautan. Jogjakarta. 1993.A dan Julia M. S. Direktorat Jendral POM vol 15.. 2004. Bandung. I. Yogyakarta. Hendrik. Subowo. Jakarta. 1983. 1998. S. 1988. M. Bellanti. .W. G. Widya Medika. Depkes RI. No. Edisi III. Habbatus Sauda’. Subowo. Risalah Simposium Penelitian Tumbuhan Obat III.. Imunobiologi Klinik. diterjemahkan oleh Suroso.. Imunobiologi. 2002. Solo. DAFTAR PUSTAKA Donatus. Airlangga Universitas Press. 1997. 2008 Antibodies Titers in Rat Immunized Agains Sheep Red Blood Cell (SRBC). Pengantar Imunologi Veteriner. Peranan Farmakologi Dalam Pengembangan Obat Tradisional. Diterjemahkan oleh A.A. Penerbit alumni.SCIENTIA VOL. oleh Husin. Sadikin. Jakarta. Immunologi III. Soerapto.com.. 1993.C. Angkasa Bandung. Schefler. Bratawijaya. Imunisasi dan Penyakit Imun. Penerbit ITB. Bandung. 1 NO. 2. Penerjemah Soehardjo Hardjosworo. Pustaka Iltazam. sedangkan sel eusinofil dan neutrofil batang tidak signifikan. R.. Bandung. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Pedoman Terapi Haematologi Onkologi.google. 33 . K. 1988. Pedoman Periklanan Obat Tradisional. 1993. Wahab. Supandiman.

menetap di dalam sel epitel usus dan memperbanyak diri (Postnova. 26. 0. bakteri harus melalui tahap kontak dengan permukaan mukosa usus. Masa inkubasinya 4-96 jam dengan rata-rata 15 jam. 2000).86 %. 1989).38 %.5% NaCl. 26. Untuk dapat menimbulkan infeksi. 1996). The percentage of Vibrio parahaemolyticus resistances ampicillin. demam (Gerard. chloramphenicol. Penyakit yang ditimbulkannya adalah gastroenteritis dengan gejala-gejala diare. 1980). penetrasi ke dalam mukosa usus. transduksi ataupun konjugasi selama berlangsungnya pengobatan menggunakan antibiotika (Pelczar et al. mempunyai flagela polar. Bakteri yang telah resisten memiliki gen untuk melindungi dirinya dari efek bakterisida suatu antibiotika. dan siprofloksazin (Doyle. 19. Barrow 1993. ampisilin. 92. M. penggunaan antibiotika yang tidak diawasi mengakibatkan suatu sifat tidak terganggunya aktifitas sel bakteri pada pemberian antibiotika. berbentuk koma. Gen resistensi dari bakteri yang telah resisten terhadap suatu antibiotika dapat dipindahkan ke bakteri lain melalui mekanisme transformasi. muntah.46. 1988. 1 NO. 1982. Waturangi. Husni Mukhtar2 STIFI Perintis. mual.SCIENTIA VOL. Perkembangan resistensi merupakan proses alamiah yang dilakukan bakteri guna mengembangkan toleransi terhadap keadaan lingkungan yang baru (Pelczar et al. Pada serangan akut. value of Multiple Antibiotics Resistances (MAR) was 0. seperti pemberian larutan 0. tumbuh baik pada medium dengan kadar NaCl 1-8 % sehingga termasuk bakteri halofilik. 1 2010 ISSN : 2087-5045 PENETAPAN POLA RESISTENSI ANTIBIOTIKA (Vibrio parahaemolyticus) HASIL ISOLASI DARI CUMI-CUMI (Loligo vulgaris) DAN KEPITING BAKAU (Scylla serratta) Ria Afrianti1. Keywords : Vibrio parahaemolyticus. Antibiotic resistances were tested on fourty two cultures of Vibrio parahaemolyticus by Krumperman diffusion method toward six kinds of antibiotic.05 %. diberikan antibiotika seperti tetrasiklin. 1995). Pengobatan dilakukan dengan mengganti cairan elektrolit tubuh yang hilang akibat diare.1% KCl ke dalam pembuluh darah (Boyd.19 %. erythromycin. 2 Fakultas Farmasi Universitas Andalas 1 ABSTRACT The characteristics of Vibrio parahaemolyticus resistances were observed from Squid (Loligo vulgaris) and mangrove crab (Scylla serratta) in Padang using differential medium CHROMAgar Vibrio. 52. Sifat ini dikenal dengan istilah resistensi sel bakteri (Ganiswarna. Scylla serratta PENDAHULUAN Vibrio parahaemolyticus adalah bakteri gram negatif. and toward tetracycline were 76. Antibiotics resistances.19 %. fakultatif anaerob. Marlina2. Loligo vulgaris. sulfametoxazol.5% NaHCO3 dan 0. Mier 1996). keram perut.19 % respectively. 1988). gentamicin. Resistensi sel bakteri terhadap suatu antibiotika yang terjadi di rumah sakit 34 . Tetapi.

Isolasi bakteri parahaemolyticus Vibrio METODE PENELITIAN Alat dan Bahan Jarum ose. incubator. Lalu inkubasi lagi pada suhu 37°C selama 24 jam. autoklaf. selanjutnya 0.1 ml dari pengenceran 101 dimasukan kedalam 0. Setelah di inkubasi kemudian dilakukan pengenceran mulai dari 101 sampai 105 dengan cara memipet 0. water bath.9 ml media SPB dalam tabung ependof untuk pengenceran 101 . 2004). Ditimbang 10 g sampel yang telah dihaluskan kemudian dimasukan dalam erlemeyer dan ditambahkan Salt Poymixin Broth ( SPB) hingga 100 ml. Inkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam. batang pengaduk. media Luria Burtani (LB) broth. Uji resistensi bakteri Vibrio parahaemolyticus terhadap antibiotika Cakram antibiotika yang digunakan dengan konsentrasi yang telah ditetapkan sebagai berikut: Golongan Penisilin Kloramfenikol Eritromisin Aminoglikosida Sulfonamida Tetrasiklin Antibiotik Ampisilin Kloramfenikol Eritromisin Gentamisin Sulfametoksazol Tetrasiklin Konsentrasi (µg ) 10 30 10 15 5 30 Uji resistensi antibiotik dilakukan terhadap beberapa kultur V. lampu spiritus. etanol 70%. 1 2010 ISSN : 2087-5045 cukup tinggi (Radu. disk antibiotika (BBL™). Setelah masingmasing pengencean ditanam pada media CHROMAgar™ Vibrio dalam cawan Petri. Pada penelitian terdahulu telah dilakukan suatu kajian tentang sifat resistensi bakteri Vibrio cholerae yang diisolasi dari feses balita penderita diare dan limbah cair di rumah sakit terhadap beberapa antibiotika (Harta. pot salep. spatel.parahaemolticus yang diisolasi dari Scylla serratta dan Loligo vulgaris. beaker glass. pipet mikro.SCIENTIA VOL.9 ml media SPB dalam tabung ependorf untuk pengenceran 102 demikian seterusnya sampai pengenceran 105. effendorf. perlu dilakukan suatu penelitian untuk mengamati penetapan resistensi bakteri terhadap antibiotika. kemudian diidentifikasi di Laboratorium Ekologi Hewan Jurusan Biologi FMIPA. Biakan yang telah diremajakan dalam 35 . 2002). laminar air flow. pinset.parahaemolyticus. timbangan digital (Mettler PM 200®). vortex. parahaemolyticus. Beranjak dari penelitian tersebut maka dilakukan penelitian mengenai sifat resistensi bakteri V. hot plate. Rotary shaker inkubator.1 ml sampel induk dimasukan kedalam 0. Pengambilan sampel Sampel dibeli dari penjual cumicumi dan kepiting dipinggir pantai purus. lemari pendingin. parahaemolyticus yang diisolasi dari sampel Cumi-cumi (Loligo vulgaris) dan kepiting bakau (Scylla serratta) di kota Padang terhadap beberapa antibiotika. Biakan dalam cawan Petri akan memberikan koloni ungu yang menandakan adanya bakteri V. kota Padang. sentrifugator. erlenmeyer. khususnya bakteri V. 1 NO. Media CHROMagar Vibrio (CHROMagarTM). cawan petri. kapas lidi. jangka sorong. aquadest steril. Universitas Andalas Padang. media Mueller Hinton (Merck®). lampu UV. Sampel. Oleh karena itu.

SCIENTIA VOL. parahaemolyticus akan baik secara oral maupun secara tetap berlangsung. kemudian di inkubasi pada suhu HASIL DAN PEMBAHASAN 37°C selama 24 jam.2. Walaupun demikian.vulgaris) dan yaitu media pengaya SPB yang kepiting bakau (S. terapi pertumbuhan spesies vibrio lainya dengan antibiotik juga penting karena dihambat.parahaemolyticus. V.parahaemolyticus. Jarak Disk dengan tepi cawan Petri 15 mm dan jarak antar Disk 24 mm. Kultur pada media SPB ditanam pada Resistance (MAR) ≥ 0. 1 NO. penambahan ini sesuai terhadap antibiotika dikatakan tinggi dengan kadar optimal untuk jika memiliki nilai Multiple Antibiotics pertumbuhan V. Analisa Data Persentase resistensi bakteri terhadap antibiotika dihitung untuk setiap jenis antibiotika dengan menggunakan persamaan: % Re sistensi Jumlah kultur yang resisten x 100 % Jumlah kultur yang diuji Perhitungan Nilai MAR dengan menggunakan persamaan Krumperman: MAR = x y Keterangan : = Multiple Antibiotics Resistance = Jumlah bagian yang resisten terhadap antibiotika dari satu kultur yang digunakan y =Jumlah antibiotika yang digunakan vibrio halofilik dan menekan keberadaan Resistensi suatu koloni bakteri spesies lain. Biakan diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37ºC. Disk antibiotik ditaruh hati-hati diatas biakan bakteri dan ditekan perlahan dengan pinset steril supaya benar-benar kontak dengan bakteri. sehingga adalah penggantian cairan dan elektrolit pertumbuhan V. terapi dengan ditambahkan 3% NaCl yang bertujuan antibiotik dapat mengurangi durasi diare untuk meningkatkan jumlah dan ekskresi serta mengontrol V. 1 2010 ISSN : 2087-5045 LB broth diambil dengan pipet mikro sebanyak 100 µl dan di tanam pada medium Mueller hinton Agar dengan meratakanya pada permukaan media menggunakan lidi kapas steril. dimana bakteri V. sedangkan intravena. Pada media SPB harus dalam beberapa kasus.serratta) ada mengandung antibiotik Polymixin B. Daerah hambatan yang terlihat sebagai wilayah bening disekitar disk antibiotik diukur diameternya dan karakter resistensi dari bakteri tersebut terhadap antibiotik dibandingkan terhadap tabel standard.parahaemoyticus sebagai spesies MAR x 36 .parahaemlyticus resisten terhadap antibiotik ini. Terbentuknya Media yang digunakan untuk warna ungu menandakan pada kedua isolasi bakteri Vibrio parahaemolyticus sampel yaitu cumi-cumi (L. medium spesifik CHROMAgar™ vibrio. dan Terapi utama untuk mengatasi masih memiliki aktifitas terhadap dehidrasi pada penyakit gastroenteritis spesies vibrio yang lainya.

Resistensi suatu bakteri gram negatif dinyatakan tinggi jika mempunyai nilai Multiple Antibiotics Resistence ( MAR) > 0. Eritromisin termasuk golongan makrolida yang bersifat bakteriostatik tapi dapat juga bersifat bakterisida dalam konsentrasi yang tinggi terhadap organisme yang rentan. Kombinasinya akan berupa efek yang sinergis. namun pada penelitian ini digunakan Sulfametoksazol. Dari sekian banyak pola resistensi antibiotik terhadap isolat. parahaemolyticus terhadap antibiotik sangat penting untuk pemilihan antibiotik yang tepat (Ganiswara. 1995). resisten dapat timbul karena penyebaran resisten yang diperantarai oleh plasmid.SCIENTIA VOL. Resistensi pada kloramfenikol dapat muncul bila bakteri mampu membentuk enzim klorampenikolasetil tranferase yang mampu merusak aktifitasnya. pada konsentrasi tinggi kadang-kadang bersifat bakterisid.05% kultur resisten terhadap kloramfenikol. Dari penelitian ini diperoleh nilai MAR rata-rata adalah 0. 1995). 2007). Ampisilin merupakan senyawa prototipe golongan aminopenisilin.19 %) terjadi karena proteksi melalui ribosom oleh protein sitoplasma. diperoleh 52.3.38% kultur resisten terhadap antibiotik ini. Dari hasil. Timbulnya resistensi terhadap tetrasiklin (26.86% kultur yang resisten terhadap sulfametoksazol. 1995). Gentamisin merupakan senyawa aminoglikosida pilihan utama karena harganya murah dan aktivitasnya yang diandalkan terhadap semua infeksi kecuali terhadap bakteri aerob gram negatif yang paling resisten.parahaemolyticus resisten terhadap sulfametoksazol (Handayani. ternyata sulfametoksazol mempunyai tingkat pola resistensi yang tinggi. Hal ini berarti antibiotik ini masih dapat digunakan sebagai terapi. Ampisilin bekerja dengan menghambat sintesa dinding sel bakteri. Hal ini menunjukan bahwa bakteri V. 1 2010 ISSN : 2087-5045 penyebaran penyakit ini. Sulfametoksazol pada umumnya dikombinasikan dengan trimetoprim merupakan senyawa antibiotik yang efektif secara klinis. Uji resistensi terhadap antibiotik pada penelitian ini menggunakan metode difusi krumpermen karena metoda ini merupakan metoda yang sederhana tetapi efektif memberi informasi untuk pengujian sifat resisten bakteri terhadap beberapa antibiotik.. Y. 2006). 37 . sehingga hasil pengujian sifat resisten V. diperoleh 76. Tetrasiklin bersifat bakteriostatik dan bekerja menghambat sintesa protein bakteri pada ribosomnya yaitu berikatan dengan ribosom 30S dan menghalangi masuknya kompleks tRNA asam amino pada lokasi asam amino (Ganiswara. Dari penelitian ini diperoleh hasil 19. dari hasil diperoleh 92. Bakteri V. Antibiotik ini bekerja menghambat enzim petidil transperase yang berperan sebagai katalisator untuk membentuk ikatan peptida pada proses sintesis protein bakteri. Antibiotik ini bersifat bakteriostatik terhadap bakteri gram positif dan gram negatif. Dari hasil diperoleh (26. Dari hasil. antibiotik ini masih peka dengan V. 1 NO. namun penggunaan antibiotik ini harus diperhatikan karena memiliki efek samping yang berbahaya yakni dapat menimbulkan nefrotoksik (Goodman & Gilman.parahaemolyticus.parahaemolyticus mempunyai tingkat resistensi yang cukup tinggi terhadap antibiotik yang digunakan. Kloramfenikol adalah salah satu obat alternatif untuk diare (Ganiswara.19 % kultur resisten terhadap antibiotik ini. resisten dapat timbul karena resistensi silang.46.19%). Umumnya bersifat bakteriostatik.

SCIENTIA VOL. 1 NO. 1 2010 ISSN : 2087-5045

KESIMPULAN Dari penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : • Hasil uji resistensi dari 42 kultur murni V.parahaemolyticus menunjukkan bahwa 76,19 % kultur resisten terhadap ampisilin, 19,05 % kultur resisten terhadap kloramfenikol, 52,38 % resisten terhadap eritromisin, 26,19 % resisten terhadap gentamisin, 92,86 % resisten terhadap sulfametoksazol, 26,19 % resisten terhadap tetrasiklin. • Nilai Multiple Antibiotics Resistence (MAR) yang diperoleh berkisar antara 0,3 – 0,8 dengan nilai MAR rata-rata adalah 0,46. Hal ini menunjukan bahwa bakteri V.parahaemolyticus mempunyai tingkat resistensi terhadap antibiotik yang cukup tinggi.

DAFTAR PUSTAKA Gerard, 1982, Mikrobiologi Kedokteran, PT. Gramedia, Jakarta Barrow, G.I, 1993, Cowan and Steel’s Manual for the Identification of Medical Bacteria, 3rd Ed, Cambridge Univercity Press. Postnova, T., O.G. Gomez-duarte and K. Richardson, 1996, ”Motility Mutants of Vibrio cholerae 01 have Reduced Adherence in vitro to Human Small Intestinal Epithelial Cells as Demonstrated by ELISA”, Microbiol, 142, 27672776 Mier, R.M., I.L. Pepper and C.P. Gerba, 1996,Environmental Microbiology, 5th Ed, International Thompson Publishing, California

Boyd, F.R. and J.J. Mar., 1980, Medical Microbiology, Little Brown and Company, Boston Doyle, M, 1989, Foodborne Bacterial Pathogens, Marcell Dekker Inc., New York Ganiswarna, G.S., dkk., 1995, Farmakologi dan Terapi, UI-Press, Jakarta Pelczar, M. J., dan E. C. S. Chan, 1988, Dasar-Dasar Mikrobiologi, Jilid II, diterjemahkan oleh Ratna. S. H, dkk, UI-Press, Jakarta, Radu, S., M. Vincent., K. Apun., R.A. Rahim., P.G. Benjamin., Yuherman and G. Rusul., 2002, “Molecular Characterization of Vibrio cholerae O1 Outbreak Strain in Miri, Sarawak (Malaysia)”, Acta Tropica, 83, , 169-176 Waturangi, D.E., 2000, ”Keanekaragaman Genetik serta Uji Resistensi Antibiotik Escherichia coli yang Diisolasi dari Feses Farunus spp”, http://www.hayati.ipb.com Goodman & Gilman, 2007. Farmakologi Dan Terapi. EDISI ke-10. Vol 2. ITB. Jakarta

38

SCIENTIA VOL. 1 NO. 1 2010 ISSN : 2087-5045

AKTIVITAS ANTI INFLAMASI EKSTRAK ETANOL DAUN KEMBANG BULAN ( Tithonia diversifolia. A. Gray ) TERHADAP MENCIT PUTIH BETINA Verawati, Mimi Aria, Novicaresa M. Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STIFI) Perintis ABSTRACT The effect anti inflammatory of leaves aethanolic extract of the kembang bulan (Tithonia diversifolia A.Gray) by topically on female white mice by using modification methode between making edema and granuloma pouch. Inductioned by injection of carragenin 2 % b/v in NaCl fisiologis subcutaneously.The extract was given topically as ointment for 4 days in various concentration they are 1 %, 2,5% and 5 %. The parameter were observed edema volume, totally of leucocytes cell on edema and blood on white female mice. The result of research showed that leaves aethanolic extract of the kembang bulan (Tithonia diversifolia A.Gray) gives topically anti inflammatory effect by increasing the concentration it can reduced the edema volume and gives effect on decreased of leucocytes cell on oedema and can increased neutrofil cells and limpocyt cells on blood significantly (P<0,05). The maximal effect of anti inflammatory was given by concentration 5 % with the lowest edema volume 0,03 ml more than effect anti inflammatory of hidrocortison acetat 2,5 % with edema volume 0,08 ml. Keywords : Tithonia diversifolia, anti-inflammatory, edema

PENDAHULUAN Tumbuhan adalah gudang bahan kimia yang memiliki berbagai manfaat termasuk untuk obat berbagai penyakit. Oleh karena itu saat ini banyak para peneliti berusaha untuk mengisolasi senyawa kimia dari tumbuh-tumbuhan tersebut guna dimanfaatkan dalam bidang pengobatan. Penggunaan tumbuh-tumbuhan sebagai obat tradisional mempunyai keunggulan antara lain dalam hal khasiat yang lebih baik serta efek samping yang lebih kecil dari pada obat berbahan kimia murni. Saat ini tanaman obat tradisional masih berperan sebagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan dasar penduduk di bidang kesehatan (Wijaya et al, 1995; Donatus, 1983). Tumbuhan yang merupakan bahan baku obat tradisional tersebut tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia, baik itu tumbuhan asli Indonesia, maupun tumbuhan asli

luar negeri yang tumbuh dan dikembangkan di Indonesia. Salah satu tumbuhan tersebut adalah bunga kembang bulan (Tithonia diversifolia A. Gray) atau secara tradisional dikenal sebagai Bunga Busuk, Bunga Kipait, dari Family: Asteraceae (Hanum, 2002). Selain itu dari penelitian sebelumnya diketahui bahwa tumbuhan T.diversifolia aktif sebagai anti bakteri ( Dewi,2010 ), seperti kita ketahui salah satu sebab inflamasi bisa disebabkan oleh bakteri. Bagian yang dimanfaatkan dari tumbuhan T. diversifolia sebagai sumber zat kimia, yang digunakan untuk pengobatan tradisional biasanya adalah bagian daun, tapi dapat juga menggunakan kulit akar dan batang. Daun dari tumbuhan T. diversifolia ini mengandung senyawa alkaloid, terpenoid, flavonoid, saponin, tanin, serta polifenol. Manfaat dari daun T.

39

SCIENTIA VOL. 1 NO. 1 2010 ISSN : 2087-5045

diversifolia ini secara tradisional biasanya digunakan sebagai obat sakit perut, kembung, diare dan digunakan sebagai obat luka dan anti radang(antiinflamasi) (Dalimartha, 2000). Berdasarkan penggunaan daun T. diversifolia secara tradisional sebagai anti-inflamasi dan penelitian sebelumnya mengenai antibakteri, maka perlu dilakukan penelitian secara ilmiah dengan menguji aktivitas anti inflamasi ekstrak daun T. diversifolia terhadap mencit putih betina dengan menggunakan metode modifikasi antara metode edema buatan dengan “granuloma pouch” (Gryglewsky, 1997; Domer, 1971). Parameternya adalah pengukuran volume edema buatan pada bagian punggung mencit putih dan penentuan jumlah sel leukosit pada tempat terjadinya inflamasi dan darah (Winter, 1962).

Ekstraksi sampel Sebanyak 1,5 kg daun kembang bulan segar dicuci bersih kemudian dilakukan pengeringan tanpa sinar matahari (kering angin). Setelah kering dilakukan penyerbukan dengan cara pemblenderan dan dimaserasi dengan etanol 70 % selama 3x3 hari dan disaring. Filtrat diuapkan secara vakum sehingga diperoleh ekstrak kental etanol. Pembuatan Sediaan Uji Ekstrak daun kembang bulan ditimbang sesuai dengan konsentrasi yang akan dibuat lalu digerus halus dalam lumpang,kemudian tambahkan vaselin flava sedikit demi sedikit sambil digerus sehingga didapatkan massa yang homogen. Sediaan uji terdiri atas 3 macam konsentrasi yaitu 1 % b/b; 2,5 % b/b dan 5 % b/b. Pembanding yang digunakan adalah hidrokortison asetat dengan konsentrasi 2,5 % b/b.

METODOLOGI PENELITIAN Alat

Pembuatan Larutan Penginduksi Alat- alat yang digunakan yaitu : rotary evaporator, botol maserasi, jarum suntik 5 ml, jarum suntik 1 ml, gunting bedah, timbangan hewan, lumpang dan stamfer, gelas ukur, alat cukur, spidol, kandang hewan, dan lainlain. Bahan Bahan yang digunakan yaitu daun kembang bulan, etanol 70%, air suling, vaselin flava, NaCl fisiologis, karagen, krim perontok bulu dan hidrokortison asetat (serbuk). Hewan yang digunakan adalah mencit putih betina dengan berat 20-30 g sebanyak 25 ekor, dimana masing – masingnya dibagi menjadi 5 kelompok Timbang karagen sebanyak 1 gram, lalu gerus halus dalam lumpang kemudian sedikit demi sedikit ditambah NaCl fisiologis 50 ml sambil digerus homogen, maka konsentrasi karagen yang diperoleh adalah 2% . Penginduksian Udem a. Mencit dicukur bulu bagian punggungnya dengan diameter ± 3 cm,. Mulanya dipotong dengan gunting, selanjutnya untuk menghilangkan bulu yang masih tersisa dioleskan krim perontok bulu, sehingga bulunya betul-betul hilang. Biarkan selama 24 jam. b. Pada bahagian punggung yang dicukur disuntikkan dengan udara sebanyak 5 ml secara subkutan sehingga terbentuk kantong udara

40

Analisa Data Untuk menganalisa data hasil penelitian yang diperoleh dari semua parameter akan digunakan analisa variansi (ANOVA) satu arah. Tambahkan satu tetes larutan Giemsa yang telah diencerkan dengan air suling (1 : 20) dan biarkan selama 20 menit. dan sel monosit. limfosit. sehingga melapisi seluruh lapisan 41 . Setelah 24 jam kantong udara terbentuk dihisap udaranya dengan jarum suntik 5 ml sehingga kantong udara tersebut jadi kempes. eusinofil.2 ml. a. Pemberian Sediaan Uji Sediaan uji diberikan dengan cara mengoleskan secara merata pada daerah yang terbentuk kantong udara (daerah yang dicukur) sebanyak 200 mg (dalam bentuk salep) dengan diameter ± 3 cm segera setelah pemberian karagen 2% dalam NaCl fisiologis sebanyak 0. Pada kelompok kontrol hanya diberikan vaselin flava saja. Pengukuran Dilakukan Parameter yang darah. keringkan dan lihat dibawah mikroskop.2 ml pada tempat yang ada kantong udara tersebut. Selanjutnya obat diberikan lagi setiap hari selama 3 hari setelah pemberian pertama (obat diberikan selama 4 hari). 1 2010 ISSN : 2087-5045 dan sekaligus disuntikkan juga 0. Pengukuran volume radang Pada hari ke lima eksudat diambil dengan jarum suntik lalu diukur volumenya. lalu dikeringkan. Hitung jumlah sel neutrofil.1 ml karagen 2 % dalam NaCl fisiologis c. Darah atau cairan eksudat segar ditetesi pada gelas objek satu tetes dan ratakan dengan gelas objek yang lain sehingga diperoleh lapisan darah yang homogen (hapusan darah). Penghitungan jumlah sel leukosit dalam hapusan darah dan cairan eksudat. 1 NO. biarkan 5 menit. Cuci dengan air suling. b.SCIENTIA VOL. Selanjutnya ditambahkan larutan karagen 2 % dalam NaCl fisiologis sebanyak 0. Setelah kering tetesi dengan metanol.

43200 0.074 13 Eosinofil 1 1 2 1 1 1.40 0.08 0.08 0.09100 0.07320 0.60 0.36 0.1 0.03 0. 1 NO.05 0.000 1 1 2 2 1 1.517 63 Neutrofil batang 3 2 1 1 1 1.209 40 49 48 49 51 47.068337 Hk as 2.1 0.50 0. secara topikal Jumlah Sel Konsentrasi 0% No 1 2 3 4 5 Neutrofil segmen 35 36 39 32 31 34.5 0.40 4.20 0.04 0.Gray.447 2 2 1 1 1 1.013416 0.324 6 7 13 13 3 8.924 35 36 32 31 37 34.5 5 0.894 3 2 1 1 1 1.40 0.51 0. 1 2010 ISSN : 2087-5045 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Tabel I.80 4.08600 0.548 1 Rata-rata SD 1% 1 2 3 4 5 Rata-rata SD 2.40 1.15 0.07 0.40 0.09 0.04 0.80 4.20 2.588 30 29 30 31 34 30.450 6 12 10 6 6 8.40 4.80 2.894 3 5 1 1 3 2. Hasil pengukuran volume eksudat dari radang punggung mencit putih betina setelah pemberian ekstrak daun Tithonia diversifolia A.828 20 Limposit 41 40 46 45 42 42.60 1.548 1 1 1 1 1 1.60 1.11 0.Gray secara topikal Volume eksudat (ml) Konsentrasi (%) 1 2.11 0.056667 0.05 0.03000 0.924 59 60 61 63 60 60.06 0.011402 Tabel II.08 0.673 5 2 1 1 3 2.SCIENTIA VOL.60 2.09 0.588 29 25 26 28 30 27. Hasil perhitungan sel leukosit dari eksudat punggung mencit betina setelah pemberian ekstrak daun Tithonia diversifolia A.00 2.39 0.80 1.012247 Perlakuan 1 2 3 4 5 Rata-rata SD 0 0.5 % 1 2 3 4 5 Rata-rata SD 5% 1 2 3 4 5 Rata-rata SD Hidrokortison 1 42 .80 1.60 0.085 0.03 0.01 0.278 55 51 53 54 56 53.673 3 Monosit 20 21 12 21 25 19.60 3.00 0.764 25 18 20 18 13 18.

1 NO.80 6.550 Konsentrasi 0% No 1 2 3 4 5 Rata-rata SD 1% 1 2 3 4 5 Rata-rata SD 2.000 Tabel III.00 4.362 19 25 20 18 13 19. Hasil perhitungan sel leukosit dari darah mencit putih betina setelah pemberian ekstrak daun Tithonia diversifolia A.447 Rata-rata SD 43 .347 1 1 1 1 1.80 3.80 0.868 Eosinofil 1 1 0 2 2 1.362 15 17 20 21 17.80 0.20 17.000 1 2 1 1 1 1.00 2.837 1 1 1 1 1 1.40 4.00 0.128 62 60 65 76 61 64.20 0.20 0.301 27 29 30 20 33 27.894 23 20 18 26 25 22.837 0.SCIENTIA VOL.271 68 69 77 70 70 70.Gray secara topikal Jumlah Sel Neutrofil Monosit batang 1 17 2 18 0 16 1 17 2 17 1.20 0.80 6.40 3.00 0.5 % 1 2 3 4 5 Rata-rata SD 5% 1 2 3 4 5 Rata-rata SD Hidrokortison asetat 2.20 3.114 3 5 1 8 1 3 1 2 1 3 1.924 3.894 0.40 5.447 1 1 1 2 1 1.80 3.447 1 1 2 1 1 1.894 2.837 5 5 2 1 1 2 2.5 % 1 2 3 4 5 Neutrofil segmen 50 49 52 53 50 50.60 1.837 17 21 19 26 20.40 5.535 Limposit 31 30 32 27 29 29.924 25 27 25 26 25 25.771 2 1 1 2 1.20 1.20 0.00 0.387 3 2 1 3 2 2 1 1 1 1 1.20 0.80 1. 1 2010 ISSN : 2087-5045 asetat 2.80 1.60 0.707 5 3 2 10 1 10 1 5 0 6 1.643 8 2 2 3 4.643 66 60 63 67 68 64.60 3.5 % 2 3 4 5 Rata-rata SD 65 60 59 60 59.564 75 70 75 78 84 76.80 1.80 4.

Ini berarti. Dimana terjadi peningkatan jumlah sel neutrofil segmen dibandingkan dengan kontrol negatif. diversifolia dapat mempengaruhi jumlah sel leukosit secara bermakna dengan peningkatan dosis dibandingkan dengan kontrol negatif. Hasil perhitungan jumlah sel leukosit dari uji statistik dengan analisa varian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun T. Monosit dalam eksudat disebut makrofag yang merupakan sel yang bergerak aktif memberi respon secara kemotaksis. sehingga persentase jumlah sel leukosit dalam darah mendekati jumlah normal. bahwa semakin besar konsentrasi ekstrak semakin efektif mengurangi volume edema. 2. diperoleh suatu korelasi yang menunjukkan hubungan antara volume eksudat (ml) terhadap konsentrasi ekstrak (%). kembali Sel leukosit yang memegang peranan penting dalam proses fagositosis pada jaringan yang rusak adalah neutrofil dan monosit. diversifolia mempengaruhi persentase jumlah sel leukosit. baik itu dalam eksudat maupun dalam darah. Dari hasil uji analisa varian dapat dilihat bahwa pada konsentrasi zat uji 1%. diversifolia secara topikal sesuai dosis. Sedangkan efek pada konsentrasi 2. keluar melalui pembuluh limfe dan dihilangkan dari radang. Sedangkan pada jumlah sel eosinofil.5%.5% dan 5% terhadap kontrol memberikan perbedaan yang sangat bermakna (p < 0. Dari tiga dosis yang digunakan efek maksimum diberikan oleh dosis konsentrasi 5% yang ditandai dengan kecilnya volume eksudat yang didapatkan. dan terjadi pula penghentian migrasi leukosit.5% terhadap penurunan derajat inflamasi menunjukkan efek yang lebih baik dibandingkan pembanding 2. 1 NO. Setelah pemberian ekstrak etanol daun T. diversifolia pada konsentrasi 1% dapat mengurangi dan menekan derajat inflamasi yang terjadi pada hewan percobaan. fagosit aktif dan mampu mematikan serta mencerna berbagai agen penyebab inflamasi pada jaringan yang rusak. dimana menyebabkan kenaikan jumlah sel leukosit dalam eksudat radang. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Pembahasan Pemberian sediaan uji dengan dosis konsentrasi 1% ternyata telah memberikan efek anti-inflamasi. sehingga aliran cairan terhenti. monosit dan limposit mengalami penurunan yang disebabkan karena pembuluh darah di daerah radang memperoleh permeabelitasnya kembali.SCIENTIA VOL. Eksudat merupakan cairan yang tertimbun dalam jaringan atau ruangan karena bertambahnya permeabelitas pembuluh darah. diversifolia memberikan efek anti inflamasi melalui kemampuannya menghambat dan mengurangi volume 44 . Ditinjau dari hasil penelitian yang telah dilakukan dan analisa data secara statistik ternyata ekstrak daun T.01). Dimana volume eksudat rata-rata mengalami penurunan sesuai dengan peningkatan dosis yang diberikan dibandingkan dengan kontrol positif yang hanya menggunakan vaselin flava saja. Hidrokortison asetat dalam bentuk salep yang digunakan sebagai pembanding yang merupakan salah satu sediaan obat anti inflamasi yang bayak digunakan untuk mengobati reaksi peradangan pada kulit ternyata menunjukkan efek yang hampir sebanding dengan ekstrak daun T. Hasil perhitungan jumlah sel leukosit pada cairan eksudat radang dan uji statistik dengan analisa varian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun T. Cairan yang sebelumnya telah dieksudasi diserap oleh pembuluh limfa dan sel-sel fagositik mengalami desintegrasi.

Springfield. Gryglewsky. Hanum. Animal Experiment in Pharmacological Basis of Therapeutic. diversifolia ) memiliki aktifitas anti inflamasi. diversifolia ) secara topikal ternyata dapat meningkatkan jumlah sel leukosit baik dalam cairan eksudat maupun dalam darah.S. R. semakin bertambah pula aktifitas anti inflamasinya.W Nuss. Departemen of Pharmacology.. Yogyakarta.Gray. Jakarta.Dalimartha dan A. Padang.. 1962.R.. Domer.. KESIMPULAN Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1.SCIENTIA VOL. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia.. J.. Ekstrak etanol daun kembang bulan ( T.297-298. 1995 Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia. 2010. Fakultas Farmasi Gajah Mada. Cracow. Fridah & van der Masen.. Pustaka Kartini. 258.544547. CarrageninInduced Edema in Hind Paw of Rat Asam Assay For anti Inflamantory Days. Oleh Husin.H. USA.R. Poland. Thomas Publiser. 45 . Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Indonesia. 2000.A and G. Wirian.. Tithonia diversifolia A.M. DAFTAR PUSTAKA Dalimartha. 1 2010 ISSN : 2087-5045 edema pada daerah radang. Skripsi. Some Experimental Models for the Study of Inflamation and Anti Inflamatory Drugs. J.p. diversifolia memiliki aktifitas sebagai anti inflamasi secara topikal. A.Prod p. Hal ini dilihat dari penurunan volume eksudat pada radang punggung mencit putih betina yang di berikan secara topikal. S. Aktifitas Anti mikroba dari Elephantropus scober L. Trubus Agriwidya. 1983 Pengembangan Farmakologi Dalam Pengembangan Obat Tradisional. 1997.H. Proceding A Society For Experimental Biology and Medicine III. S. Auxiliary Plants. Jakarta. Winter.2002. 2. Wijaya K. C. I. 1 NO. Risley. I. Risalah Simposium Penelitian Tumbuhan Obat III.A. Dengan bertambahnya konsentrasi ekstrak. 1971. Copernicus Academy of Medicine. LIG. Charles C. Tagetes erecta L.. F.. M.Nat. maka dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun T. Donatus. E. Dewi. dan mempengaruhi migrasi serta jumlah sel leukosit pada darah dan eksudat. IIIonis. Pemberian ekstrak etanol daun kembang bulan ( T. Jilid III.

. Wiwit Gustiva 2) 1) Fakultas Farmasi Universitas Andalas. 2008. Selain itu protein juga merupakan komponen pembentuk antibodi untuk mempertahankan daya tahan tubuh (Detama. was kept in room temperature and tube of C was kept in refrigenerator for 2. zat warna dan garam anorganik yang terdapat pada jaringan bambu. Tube of B. metode Kjeldahl PENDAHULUAN Protein dalam tubuh berguna sebagai zat pembangun atau pertumbuhan karena protein merupakan pembentuk jaringan baru dalam tubuh terutama pada bayi. Sawitri dan Muharlien. Grinda. Revi Yenti2). berperan dalam menentukan mutu dadih (Susilorini.E. Susu kerbau yang diperah langsung dimasukkan kedalam tabung bambu sebagai wadahnya kemudian ditutup dengan daun pisang. A.05) of protein concentration be tween 2.05) on each days (2. S. Dadih ini banyak dijual dipasar tradisional namun berdasarkan pengamatan. plastik dan ada yang tidak ditutup sama sekali. dadih banyak disimpan ditempat terbuka bahkan terkena cahaya matahari. Komponen fisik dan kimia bambu yang meliputi sifat permeabilitas. Kondisi ini didiamkan secara alami selama 2 hari dalam suhu ruang sampai terbentuk gumpalan.4 and 6 days. Analysis of one ANOVA showed that there was a significance value ( P < 0. ibu menyusui dan orang yang baru sembuh dari penyakit. Sugianto. A. Padang ABSTRACT The research about the influence of duration time in room temperature and refrigerator to protein consentration a” dadih” by Kjeldahl method had been done.E. ibu hamil. skemed that concentration for protein in room temperature and refrigerator were significance difference (P < 0. Masyarakat dalam memenuhi kebutuhan protein lebih banyak mengkonsumsi sumber protein hewani karena mengandung protein yang tinggi. The research showed that protein concentration in room temperature and refrigenerator reduced.SCIENTIA VOL. dadih. Keywords : Protein. hal ini akan menurunkan mutu dari dadih tersebut. Berdasarkan hal di atas. Fresh milk (A) was frut into two bamboo tubes ( tube of B and tube of C ) until becomed as ” dadih”. M. 2004.. 1986.. anak-anak. 1 NO. Salah satu sumber protein hewani yang sering dikonsumsi adalah dadih. Padang 2) Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Perintis. D. 2006). 2001). Almatsier. Usman.4 and 6 days method of t-Test. 2007.. Dadih merupakan produk susu fermentasi tradisional khas Minangkabau Sumatra Barat yang proses pembuatannya sangat sederhana. aroma. Protein juga berfungsi sebagai pengatur dalam metabolisme tubuh. T. kadar air.4 and 6 days). maka dilakukan penelitian tentang pengaruh lama penyimpanan pada suhu kamar dan lemari pendingin terhadap kadar protein pada dadih kerbau dengan metoda 46 . 1 2010 ISSN : 2087-5045 PENGARUH LAMA PENYIMPANAN PADA SUHU KAMAR DAN LEMARI PENDINGIN TERHADAP KANDUNGAN PROTEIN PADA DADIH KERBAU DENGAN METODA KJELDAHL Regina Andayani1).

indikator campuran (larutan bromocresol green. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Kjeldahl sehingga dapat diketahui perubahan kuantitas protein dadih tersebut. Ambil 1 ml asam nitrat pekat kemudian dipanaskan.. aquadest. Disiapkan masing-masing larutan sampel 2 % dalam air. De Man.51 gram sampel masukkan dalam labu Kjeldahl 100 ml. A. 1986). Tahap Destruksi Ditimbang sebanyak 0.1% kocok. pereaksi ninhidrin. asam nitrat pekat (HNO3) dan asam sulfat (H2SO4). campuran selenium (serbuk SeO2. Metoda xanthoprotein Disiapkan masing-masing larutan sampel 2 % dalam air. seperangkat alat titrasi dan mikroburet. A. natrium tetraborat (Na2 B4O7). 2. tambahkan 1 gram campuran selenium dan 12. 1. CuSO45H2O). gelas ukur. Alat Labu Kjeldhal 100 ml.M.. Reaksi positif ditunjukkan dengan terbentuknya warna ungu (Robinson. A. K2SO4. spatel. 3. larutan merah metil. kemudian dimasukkan ke dalam 2 buah tabung bambu (tabung B dan tabung C) masingmasingnya 250 ml.a (Merck). Metoda Kjeldahl merupakan metoda yang umum digunakan untuk menentukan kadar protein pada makanan (Detama.. Kemudian dibiarkan selama 2 x 24 jam sampai menjadi dadih. Uji kuantitatif dengan menggunakan metoda Kjeldahl Cara kerja untuk masing-masing sampel sebagai berikut (SNI 01-2891-1992) : a. Ambil 1 ml sampel tambahkan 1 ml NaOH 10 %. 1995). kemudian tambahkan beberapa tetes larutan CuSO4 0. Sampel tabung B dadih yang disimpan pada suhu kamar dan sampel tabung C dadih yang disimpan pada lemari pendingin. asam borat (H3BO3). NaOH.. 1999). pipet gondok. 2004). Labu Kjedhal dipanaskan diatas pemanas listrik 47 . 1 NO. Ninhidrin dan Xanthoprotein Uji kualitatif protein dilakukan pada susu segar dan dadih dengan menggunakan metode Biuret. seperangkat alat destilasi. Pengolahan sampel Sampel A susu kerbau segar diperiksa kadar proteinnya. Masing-masing tabung diperiksa kadar proteinnya pada hari ke 2. ke 4 dan ke 6 setelah menjadi dadih. 1986. erlenmeyer 250. J. T. Metoda Biuret METODA PENELITIAN Bahan Susu kerbau diambil dari tempat pemerahan susu di daerah Air Dingin Solok pada satu ekor kerbau.SCIENTIA VOL. Uji kualitatif dengan menggunakan metoda Biuret. Metoda Ninhidrin Disiapkan masing-masing larutan sampel 2 % dalam air. Ambil 1 ml sampel tambahkan 1 ml pereaksi Ninhidrin kemudian dipanaskan. fenolftalein. alkohol). pemanas listrik atau pembakar.5 ml H2SO4 pekat. Reaksi positif ditunjukan dengan terbentuknya endapan putih yang segera menjadi kuning (Grinda. Ninhidrin dan Xanthoprotein. neraca analitik. D. asam klorida p. tabung bambu dengan panjang 20 cm dan daun pisang. Reaksi positif ditunjukkan dengan terbentuknya warna biru ( Grinda.. CuSO4.

Ninhidrin dan Xanthoprotein menunjukkan hasil bahwa pada susu segar dan dadih terdapat protein. kemudian tambahkan 30 ml NaOH 30 % dan beberapa tetes indikator PP.1 N untuk titrasi larutan sampel (ml) Volume HCL 0.1 N untuk titrasi larutan Blangko (ml) Normalitas HCL Bobot sampel ( gram ) Faktor pengenceran ( 5 kali ) HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil uji kualitatif dari susu segar dan dadih dengan menggunakan metode Biuret. Periksa dengan kertas lakmus.SCIENTIA VOL. Hasil akhir destruksi didinginkan kemudian encerkan dan masukkan ke dalam labu ukur 250 ml. Pengolahan Data Penentuan kadar protein dapat dihitung setelah diketahui persentase kadar nitrogen yang terdapat dalam sampel dan dikalikan dengan faktor konversi: (SNI 01-2891-1992) (V1 . Penyulingan diakhiri jika hasil destilasi sudah tak bersifat basa lagi.38 = = = = = Volume HCL 0.014 x fp x 100 W = % N x faktor 6. 48 . Labu destilasi dipasang dan dihubungkan dengan kondensor dan ujung kondensor %N % protein Keterangan : V1 V2 N W Fp = harus terbenam dalam cairan penampung. Kemudian sulingkan selama lebih kurang 10 menit. Untuk blangko dilakukan dengan cara yang sama. Setelah destruksi berlangsung selama 30 menit belum didapatkan cairan hijau jernih. Didalam kondensor uap akan mengalir menuju penampung. Hasil uji kualitatif dapat dilihat pada tabel1. Tahap Destilasi Larutan hasil destruksi dipipet 50 ml masukkan kedalam labu destilasi. b. Destilasi ini dilakukan sebanyak 3 x pengulangan. Kemudian lakukan titrasi dengan HCl 0.V2) x N x 0. Desrtuksi disini berlangsung selama 2 jam. c. Ujung kondensor dibilas dengan aquadest. sebagai penampung gunakan 25 ml asam borat 2 % yang telah ditetesi indikator campuran. 1 NO. 1 2010 ISSN : 2087-5045 mula-mula pada suhu 40oC kemudian suhu dinaikkan secara perlahan-lahan sampai 280oC. dimana sampel diganti dengan aquadest. Tahap Titrasi Hasil destilasi dipindahkan dalam erlemeyer.1 N menggunakan mikroburet. maka ditambahkan H2O2 30% sebanyak 2 tetes destruksi dilanjutkan sampai didapat cairan jernih kehijauhijauan. tepatkan sampai tanda batas. Titik akhir ditandai dengan perubahan warna hijau menjadi merah muda.

4509 ± 0. kadar protein dadih yang disimpan pada suhu kamar dan lemari pendingin pada penyimpanan setelah 2 hari diperoleh nilai P yaitu 0. 4 dan 6 hari berbeda secara bermakna. Uji Kualitatif Sampel Susu Segar dan Dadih Sampel Susu segar Metoda Biuret Xantoprotein Ninhidrin Biuret Xantoprotein Ninhidrin Hasil Ungu Endapan putih Biru Ungu Endapan putih Biru Pengamatan Ungu Endapan putih Biru Ungu Endapan putih Biru Dadih Penelitian ini menggunakan metoda Kjeldahl karena umumnya metoda ini digunakan untuk penentuan analisis protein pada makanan..6603 0.5797 0.0581 49 .5914 0.5079 ± 0.0610 3.0939 4.6019 0. 1994).38 (SNI 01-2891-1992.0392 3. Dadih yang Disimpan pada Suhu Kamar dan Dadih yang Disimpan pada Lemari Pendingin Sampel Sampel A susu segar Setelah menjadi dadih Setelah 2 hari pada suhu kamar Setelah 4 hari pada suhu kamar Setelah 6 hari pada suhu kamar Setelah 2 hari pada lemari pendingin Setelah 4 hari pada lemari pendingin Setelah 6 hari pada lemari pendingin Berat Sampel (gr) 0. Anggorodi.000 ( P<0.05) dan penyimpanan setelah 6 hari diperoleh nilai P yaitu 0.05).048 ( P<0.6190 %N 0.0391 ± 0.000 ( P<0.6150 0. Kadar protein yang diperoleh pada susu segar adalah 4. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Tabel 1.2741 ± 0. penyimpanan setelah 4 hari diperoleh nilai P yaitu 0.5358 % Protein 4.05) dengan nilai tersebut terdapat perbedaan yang bermakna kadar protein dadih pada penyimpanan suhu kamar setelah 2. Metoda ini mempunyai kelemahan dimana unsur N yang terdapat pada protein juga ikut teranalisis sehingga kadar protein yang diperoleh adalah kadar protein kasar (Crud protein) dan bukan protein murni (Grinda. untuk susu yaitu 6. 4.007 ( P<0. 1 NO. Pada uji T terdapat perbedaan yang bermakna. dadih yang disimpan pada suhu kamar dan dadih yang disimpan pada lemari pendingin dapat dilihat pada tabel 2. Hasil uji anova satu arah diperoleh nilai P yaitu 0.SCIENTIA VOL. 6 pada lemari pendingin dan suhu kamar mengalami penurunan.05) . Data yang diperoleh juga dilakukan uji statistik dengan anova satu arah dan uji T student. 1986.0613 3. Tabel 2. Anggorodi.5608 0.0467 4.5079 %. Sedangkan kadar protein dadih yang disimpan hari ke 2.6331 05888 0. 1984.5885 0.9858 ± 0. gambar 1 dan gambar 2.0842 2.9240 ± 0. Sidarmadji.7562 ± 0.6699 0. Hasil persentase kadar protein pada susu segar.05) yang berarti kadar protein dadih yang disimpan selama 2. untuk menentukan kadar protein dikalikan dengan faktor konversi. A.7065 0. 1994).5829 0.4188 ± 0.468 0.5408 0. 4 dan 6 hari demikian juga dengan penyimpanan pada lemari pendingin juga diperoleh nilai P yaitu 0.0357 3. Setelah diketahui persentase nitrogen yang terdapat pada sampel. Persentase Kadar Protein pada Susu Segar.002(P <0.

1987). 1 NO. glukosa dan galaktosa (Sisriyenni. Tetapi pada kenyataannya orang 50 lebih banyak mengkonsumsi dadih dari pada susu segarnya disebabkan karena aroma susu yang khas dapat menimbulkan rasa mual maka perlu dibuat susu fermentasi sehingga terjadi perubahan fisik dan kimiawi susu. Edwards. K. Semakin lama waktu . D. Tidak semuanya orang dapat mencerna susu dengan baik karena gangguan pencernaan yang timbul setelah mengkonsumsi susu karena tidak terpecahnya laktosa (gula susu) menjadi komponen-komponen sederhana yang dapat diserap oleh tubuh yaitu monosakarida. pada mekanisme perubahan tersebut biasanya akan menghasilkan air dan secara otomatis konsentrasi protein dalam produk fermentasi akan menurun (Bucle.A. 2004).. Fleet. streptococcus dan lactococus aktif melakukan proses proteolitik dan lepolitik menjadi substansi yang bisa dimanfaatkan oleh bakteri misalnya energi. Penurunan kadar protein ini terjadi karena selama proses fermentasi. Pada data yang didapat terlihat bahwa susu segar kerbau mempunyai kadar proteinnya lebih tinggi dari pada dadih. Grafik kadar protein pada dadih yang simpan pada suhu kamar Gambar 2. Grafik kadar protein pada dadih yang disimpan dalam lemari pendingin Dari data dan grafik yang didapat terlihat jelas bahwa semakin lama penyimpanan maka kadar protein semakin menurun. G.A. KESIMPULAN DAN SARAN Kadar protein dadih sangat dipengaruhi oleh lama dan tempat penyimpanan.H. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Gambar 1.. R.SCIENTIA VOL. bakteri asam laktat lactobacillus. Wooton. dan M. Zurriyati Y..

Sisriyenni. 2008. E. Jakarta. 1995. No 2. Kajian kualitas dadih susu kerbau didalam tabung bambu dan tabung plastik. Penerbit Institut Teknologi Bandung. Penerbit Penebar Swadaya. Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Jilid I.. 1986.VI.. Penerbit PT. hal ini disebabkan karena dadih pada suhu kamar mudah terkontaminasi dengan mikroorganisme lain selain bakteri penghasil asam laktat sehingga dapat mempengaruhi kadar protein. Yogyakarta. 2001. 2004. SNI 01-2891-1992. Jakarta. D. 1987. Ed. Ilmu Makanan Ternak Umum. 1984. S. A.. A. Departemen Perindustrian. Artikel. II. Penerbit Liberty. 1 2010 ISSN : 2087-5045 penyimpanan maka kadar protein pun semakin menurun. Bandung.. Kimia Makanan. Susu Kerbau Fermentasi Mampu Menurunkan Kolesterol. Pengolahan Dadih Sebagai Makanan Probiotik Spesifik Sumatera Barat.2006.SCIENTIA VOL. No 2. R. litbang deptan. Grindra. Jakarata. Sudarmadji. E. Jakarta. 1 NO. Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. Penerbit Dian Rakyat. 2004 Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi. 2007. Dadih / dadiah. K. Detama. M. Pusat Standarisasi Industri. T. M. Jakarta. Jurnal Natur.. Buckle. T. Vol 2. 1994. Gramedia Pustaka Utama. Sugianto.. De Man. DAFTAR PUSTAKA Almatsier. j. Sawitri. Zurriyati. Cara Uji Makanan dan Minuman. Susilorini. Muharlien. Robinson. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Usman. Ed. Penerbit ITB. Y. Prinsip Dasar Ilmu Gizi . Anggorodi. G. Bandung.. Fleet dan M Wooton. Ilmu Pangan. Edwards. D. A. Dadih yang disimpan pada lemari pendingin lebih tinggi kadar proteinnya dari pada dadih yang disimpan pada suhu kamar. A. H. UI Press. Prosedur Analisa untuk Bahan Makanan dan Pertanian. 51 . 1999. Budi Daya 22 Ternak Potensial. Biokimia I . Vol 5.. Gramedia. Jakarta.

80:20. obat herbal terstandar. phenolic PENDAHULUAN Pengembangan bahan obat alam meliputi pengembangan budidayanya sehingga menghasilkan simplisia dengan kualitas yang unggul serta pengembangan cara produksi dan bentuk-bentuk sediaan dari obat-obat tradisional. rutine. Than. Salah satu bahan baku simplisia yang akan dipakai untuk membuat fitofarmaka ini adalah herba meniran (Phyllanthus niruri L. lupeol). 60:40 and 50:50. Sementara fitofarmaka adalah suatu sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan uji klinik. N. antioxidant. lignan (phyllanthine. pereda demam. Badan Pengawasan Obat). peluruh haid. phyltetralin. N. Jamu adalah ramuan tradisional yang belum teruji secara klinis. Herba meniran mengandung senyawa flavonoid (quarcetin. dan mineral terutama kalium (Joshi. 4-metoxy-norsecurinine. physetinglucosid). phenolic content and antioxidant activity (p<0. 1986. phenolic content and antioxidant activity in Phyllanthus niruri L. nirathin. damar. anti radang.) (Nurkhasana. 2005). The ethanol:water ratio tested were 100:0. limonene. hypophyllanthine. the best result was obtained by ethanol:water ratio 60:40 as extraction solvent for Pyhllanthus niruri L. terpen (cymene. tanin. 1 2010 ISSN : 2087-5045 PENGARUH PERBANDINGAN ETANOL AIR SEBAGAI PELARUT EKSTRAKSI TERHADAP PEROLEHAN KADAR FENOLAT DAN DAYA ANTIOKSIDAN HERBA MENIRAN (Phyllanthus niruri L. herbs to obtain phenolic compound which has antioxidant activity. 52 . Results revealed that ethanol:water ratio gave significant effect on extracted material.) 1) Harrizul Riva’I 1). niruri. 1987).SCIENTIA VOL. peluruh dahak. Obat-obatan yang terbuat dari bahan alam dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu jamu. Satyanarayana. Herba meniran berkhasiat membersihkan hati. quercitrin. dan fitofarmaka.05). lintretalin. Among the ethanol:water ratio tested. nitretalin. 2006. astragalin. phyllochrysine). menerangkan penglihatan dan penambah nafsu makan (Heyne. etnosecurinina. 1 NO. bahan baku dan produk jadinya telah distandarisasi. 1988. K. alkaloid (norsecurinine. isoquercitin. nirphylline. 70:30. sedangkan obat herbal yang terstandar adalah yang sudah lulus uji pra klinis. 2) Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Perintis Padang ABSTRAK Effect of ethanol:water ratio as extraction solvent on obtaining of extractive material. Keywords : Phyllanthus niruri L. niruriside). herbs have been investigated. peluruh kencing. Martinus 2) Fakultas Farmasi Universitas Andalas Padang.

SCIENTIA VOL. sebelum dianalisa ekstrak dilarutkan dengan campuran etanol dan air suling sama banyak (1:1) dalam labu ukur 50 mL (Harbone. etanol p. pipet gondok.3 g Na2CO3 dilarutkan dalam aquadest sampai 50 mL. batang pengaduk. Badan Pengawasan Obat. pipet mikro. masukkan dalam cawan penguap yang sudah ditara.1-diphenyl-2picrylhydrazyl) 35 µg/mL (Keinanen. 1 NO. biarkan Berat Sampel Pembuatan Reagen a. labu ukur. Blender. 1978. dibersihkan kemudian dikering anginkan sampai kering kemudian diserbuk.5 mL larutan DPPH masukkan dalam labu ukur 50 53 . Penentuan Kadar Ekstraktif Larutan Sampel Dari larutan sampel dipipet sebanyak 10 mL. spatel.1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) p. Natrium Carbonat (Merck). timbangan digital analitik (Denver Instrument Company). Hitung kadar ekstraktif sampel. 1996) Ditimbang 10 mg DPPH masukkan dalam labu ukur 100 mL. sampai cairan terakhir tidak berwarna. sampel yang akan dianalisa adalah bagian tumbuhan meniran yang berada di atas tanah (Pyhlanthus niruri L. DPPH (1. 60:40. erlenmeyer. corong. lalu tambahkan metanol sampai tanda batas kemudian dipipet 17. Bahan – bahan Bahan yang digunakan adalah tanaman herba meniran (Pyllanthus niruri L. aluminium foil.1. Uapkan larutan sampel di water bath. Identifikasi Sampel Identifikasi sampel dilakukan di Herbarium Universitas Andalas (ANDA) dengan nomor koleksi FT-001. gelas ukur.).a (Merck). cairan atas diambil kemudian diuapkan dengan rotary evaporator pada suhu 40 0C dan ditimbang. asam galat.). aduk hingga homogen. beaker glass. Pengambilan sampel selama 24 jam. Pembuatan Ekstrak Sampel 5 g herba meniran yang telah diserbuk direndam dengan 50 mL etanol-air dengan perbandingan 100:0. aquadest. reagen Fenol folin-Ciocalteu (Merck).a (Merck). Kertas saring Whatman No. kemudian keringkan dalam oven pada suhu 105 0C selama 1 jam kemudian setelah dingin ditimbang. diendaptuangkan. maserat dipisahkan dan sisanya dimaserasi lagi beberapa kali dengan jenis dan jumlah pelarut yang sama. sambil sekalisekali diaduk. 1 2010 ISSN : 2087-5045 METODOLOGI PENELITIAN Alat – alat Alat yang digunakan adalah Rotary Evaporator (RVO6-ML kika werke). Larutan Natrium Karbonat 1 M (Mosquera. spektrofotometer UV-Visible mini 1240 (Shimadzu®). cawan penguap. b. Larutan DPPH (1. metanol p. diamkan selama dua hari. dalam botol meserasi yang berwarna gelap. % Ekstraktif = Berat Ekstrak x 100% Sampel diambil di sepanjang jalan Bypass Padang. 70:30. 80:20. 50:50.a (Merck). 2004). Semua maserat dikumpulkan. 2007) Ditimbang 5.

biarkan selama 30 menit ditempat yang gelap. Larutan asam galat 5 mg/mL (Sigma. Kemudian dipipet 0.25. tambahkan 2. 80 mg/mL. Penentuan Kadar Senyawa Fenolat Dengan Metoda Folin-Ciocalteu (Mosquera.Pourmorad. 1 NO. biarkan selama 15 menit. 100 dan 125 µ g/mL asam galat. 2007. 2006) a. diencerkan dengan campuran metanol:aquadest (1:1) dalam labu ukur 50 mL sampai tanda batas sehingga didapatkan konsentrasi 25. kemudian ditambahkan 5 mL pereaksi Folin-Ciocalteu yang sudah diencerkan 1:10 dengan aquadest dan 4 ml larutan natrium karbonat 1M.75. 75. Penentuan Kadar Senyawa Fenolat Total Dengan Metoda Folin-Ciocalteu Larutan sampel dipipet 0. Diamkan selama 15 menit. kemudian ukur serapan pada panjang gelombang 400-800 nm dengan spektrofotometer UV-Visebel. Uji Aktivitas Antioksidan Sampeldengan Metoda DPPH (Mosquera. 2007. dipipet sebanyak 2 mL lalu tambahkan 4 mL Dari larutan induk asam galat dipipet 0. lakukan 3x pengulangan sehingga kadar fenolat yang didapat ekivalen dengan mg asam galat /g berat ekstrak kental herba meniran. 1 2010 ISSN : 2087-5045 mL. 2006) a.5.25 mL.5 mL etanol 96% lalu tambahkan dengan air suling sampai tanda batas. c. a. Masingmasing konsentrasi larutan dipipet 0. Serapan larutan diukur dengan spektrofotometer UV-Visible pada panjang gelombang 400-800 nm. lalu tambahkan metanol sampai tanda batas sehingga diperoleh larutan konsentrasi 35 µg/mL. Pourmorad. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum DPPH Pipet sebanyak 4 mL larutan DPPH 35 µg/mL.5 mL kemudian dicampur dengan 5 mL pereaksi Folin-Ciocalteu yang sudah diencerkan 1:10 dengan aquadest. 50. ukur serapan dengan spektrofotometer UV-Visibel dan buat kurva kalibrasi sehingga persamaan regresi liniernya dapat dihitung. 60. Penentuan Panjang Gelombang Serapan Maksimum Asam Galat.5 mL dan dimasukkan ke dalam vial. Pipet 0. masukkan dalam vial dan ditambahkan 2 mL campuran air suling dan metanol (1:1). tambahkan 4 mL larutan natrium 54 .125 g asam galat masukkan dalam labu ukur 25 mL.5 mL ekstrak herba meniran kemudian masukkan kedalam vial. tambahkan 5 mL reagen fenol FolinCiocalteu yang telah diencerkan dalam air suling 1:10 dan tambahkan 4 mL natrium karbonat 1 M. b. Masing-masing ke dalam vial larutan sampel dengan 50. ukur serapan maksimum pada panjang gelombang maksimum dengan spektorfotometer UV-Visibel yang akan memberikan komplek warna biru. 0. 0.5 mL diencerkan dengan etanol:air suling (1:1) dalam labu ukur 25 mL sampai tanda batas. Pembuatan Asam Galat Kurva Kalibrasi karbonat 1 M biarkan selama 15 menit. kocok homogen. 1 dan 1. Pemeriksaan IC50 Larutan Sampel Dibuat konsentrasi 40.SCIENTIA VOL. 2005) Ditimbang 0. 70. Pipet larutan induk asam galat (5 mg/mL) sebanyak 1 ml ke dalam labu ukur 50 mL lalu diencerkan dengan campuran metanol dan air suling (1:1) sampai tanda batas.

01%. 1 2010 ISSN : 2087-5045 larutan DPPH 35 µ g/mL. 1. 16.05 mL larutan induk asam galat (5 mg/mL) yang HASIL DAN PEMBAHASAN kemudian dilarutkan dengan campuran metanol dan air (1:1) dalam labu ukur Hasil 50 mL sampai tanda batas. 0. Campuran dihomogenkan (Lampiran 5 Tabel 1). Hitung % inhibisi dengan menggunakan rumus : % inhibisi = Abs. 4. Pada perhitungan kadar ekstraktif dari beberapa perbandingan pelarut Pipet sebanyak 2 mL masingmasing dimasukkan ke dalam vial lalu etanol:air 100:0. tambahkan 4 ml larutan DPPH 35 12. 3. Serapan larutan diukur dengan spektrofotometer UV Visible pada 2. regresi liniernya. dibiarkan selama 30 menit di tempat gelap. 0. Penentuan IC50 Larutan Variansi (Anova) satu arah. 70:30.04 dan 0. IC50 asam 55 .2%.4% µg/mL. 0. sampel x 100 % Abs. sehingga diperoleh persamaan regresi linier yang telah diperoleh. galat adalah kosentrasi larutan pembanding asam galat yang Lalu buat kurva antara memberikan inhibisi sebesar 50% yang konsentrasi larutan sampel dan % dapat dihitung menggunakan persamaan inhibisi.54% dan 9. Campuran dihomogenkan dibiarkan selama 30 menit di tempat gelap. kontrol − Abs. 1 NO. Abs Sampel : Serapan sampel ditambah DPPH dikurangi dengan serapan sampel blanko (sampel+metanol-air) tanpa DPPH pada panjang gelombang maksimum. 60:40 dan 50:50 adalah 8.02. Serapan larutan diukur dengan spektrofotometer UV Visible pada panjang gelombang maksimun. 80:20. 2. Hasil penentuan panjang gelombang maksimum larutan panjang gelombang maksimun. (Anova) satu arah. dan 5 µg/mL dengan cara memipet 0. standar asam galat dengan metoda Hitung % inhibisi masingFolin-Ciocalteu yang diukur masingnya lalu buat kurva antara dengan spektrofotometer UVkonsentrasi larutan pembanding asam Visibel diperoleh serapan galat dan % inhibisi sehingga diperoleh maksimum pada panjang persamaan regresi liniernya.SCIENTIA VOL. 15. Data hasil penelitian akan diuji secara statistik menggunakan Analisa b. Kadar Pembanding Asam Galat fenolat total yang diperoleh dari beberapa konsentrasi pelarut ekstraksi Dibuat larutan pembanding etanol diuji dengan Analisa Variasi asam galat dengan konsentrasi 1. kontrol Keterangan : Abs Kontrol : Serapan larutan radikal DPPH dengan metanol-air (tanpa ekstrak) pada panjang gelombang maksimum.01.04%.03. IC50 larutan sampel adalah konsentrasi larutan sampel yang memberikan inhibisi sebesar 50% yang Pengolahan Data Secara Anova satu dapat dihitung menggunakan persamaan arah regresi linier yang telah diperoleh.

Tabel XI. 70:30. bagian diambil cairan bagian atas kemudian diuapkan dengan rotary evaporator pada suhu 40 0 C dan ditimbang. setelah dingin ekstrak yang dianalisa dan dilarutkan dengan campuran etanol dan air suling sama banyak (1:1) dalam labu ukur 50 mL. 60:40 dan 50:50 adalah 50.SCIENTIA VOL. 80:20.65 dan 51. Gambar 17. dan batas kuantisasi 37. satu kali 24 jam dengan tiga kali pengulangan. Timbang berat sampel dan dari data penimbangan didapatkan hasil presentase kadar air yang kecil dari 10%.17. 51.733. Pada pengukuran absorban untuk penentuan kurva kalibrasi asam galat didapat persamaan regresi y = 0. 53.2804 µg/mL (Lampiran 8 Tabel VI. Gambar 18. 42. Sampel yang telah kering di rendam dengan pelarut etanol:air dengan berbagai konsentrasi 100:0. Gambar 20). Penentuan kadar senyawa fenolat total dengan metoda FolinCiocalteu. Tabel XII. Ekstraksi dilakukan dengan mengunakan pelarut etanol 96% karena senyawa fenolat adalah senyawa yang polar dan merupakan pelarut yang relatif tidak toksik. 70:30. 1 NO. 4.828 (Lampiran 15 Gambar 13). Penentuan bobot konstan ditentukan dari kadar air. Selanjutnya daun yang telah kering dihaluskan dengan cara digrinder.1842 µg/mL. Hasil analisa data secara statistik pada penentuan kadar senyawa fenolat total menunjukkan bahwa pemkaian beberapa perbandingan pelarut ekstraksi etanol:air memberikan perbedaan yang signifikan terhadap kadar senyawa fenolat total herba meniran (Lampiran 13. 60:40.258 dan 37. Pada penentuan kadar senyawa fenolat total dari herba meniran dengan perbandingan pelarut etanol:air 100:0. 46. 80:20.006384x dengan simpangan baku 0.654. 8. 6. Gambar 14).0158+0.5 nm dengan serapan 0. Gambar 12). Semua maserat dikumpulkan. 80:20.635 (Lampiran 7 Gambar 9). Tabel XIII.44. Gambar 16. sampel ditimbang sebanyak 2 gram dan masukkan ke dalam cawan penguap kemudian dimasukkan kedalam oven suhu 105 °C selama 1 jam. Gambar19.21 mg/mL (Lampiran 17 Tabel XV. Hasil perhitungan IC50 larutan standar asam galat diperoleh 0. 1 2010 ISSN : 2087-5045 gelombang 748 nm dengan serapan 0.140 mg setara asam galat per gram sampel kering (Lampiran 12 Tabel IX). diamkan selama dua hari dan diendaptuangkan. Gambar 10.947 µ g/mL (Lampiran 16 Tabel XIV. Lampiran 9 Tabel VII. 43. 50:50. Hasil penentuan panjang gelombang maksimum larutan DPPH 35 µg/ml yang diukur dengan spektrofotometer UVVisibel diperoleh serapan maksimum pada panjang gelombang 518. Tabel X. 7. Hasil perhitungan IC50 pada penentuan daya antioksidan dari larutan ekstrak herba meniran pada konsentrasi pelarut etanol:air 100:0. Lampiran 10 Tabel VIII). Pembahasan Pada penelitian ini sampel yang digunakan adalah tanaman herba meniran. batas deteksi 11. 55.0238. Sebelum diekstraksi tanaman herba meniran ini dikeringkan terlebih dahulu dengan cara kering angin hingga bobot konstan. 60:40 dan 50:50 adalah 38.561.82. Metoda ini dipilih karena 56 . 70:30. 3. 5.

0158+0.025x.000. Perubahan inilah yang akan diukur serapannya dengan menggunakan spektrofotometer UV-Visibel. 43.1842 µ g/mL dan batas kuantitasi 37. 80:20.5 nm dengan absorban 0. 51. Reaksi ini menyebabkan perubahan warna larutan DPPH dari ungu menjadi kuning. dari absorban yang didapat maka dapat dihitung persen inhibisi DPPH. 70:30. peka dan hanya memerlukan sedikit sampel. Senyawa yang mempunyai aktifitas antioksidan akan bereaksi dengan DPPH melalui pemberian elektron dari senyawa antioksidan kepada DPPH yang mempunyai elektron sunyi.635. 4. Reagen Folin-Ciocalteu ini akan membentuk larutan kompleks berwarna biru tua jika direaksikan dengan larutan sampel yang telah ditambahkan dengan natrium karbonat. dan 80 mg/ml. Sebagai pembanding digunakan larutan asam galat dengan konsentrasi 1.654. ini menunjukan bahwa pemakaian beberapa konsentrasi pelarut ekstraksi etanol:air memberikan perbedaan yang signifikan terhadap kadar senyawa fenolat total sampel. 60:40. Dari persamaan ini dapat dihitung nilai IC50 asam galat yaitu 0.561.559 + 11.733. Pada penentuan kadar senyawa fenolat total ini digunakan asam galat yang panjang gelombangnya didapat adalah 748 nm dengan absorban 0. 42. 1 2010 ISSN : 2087-5045 merupakan metoda yang spesifik. 55.65 dan 51. Semakin rendah serapan maka semakin tinggi daya antioksidan dari larutan sampel. Setelah didapatkan panjang gelombang maksimum. yang berarti bahwa pada konsentrasi tersebut antioksidan dapat menghambat radikal bebas sebesar 50%. Untuk pengujian daya antioksidan senyawa fenolat digunakan DPPH dengan konsentrasi 35 µg/mL. sehingga elektron tersebut menjadi berpasangan. 50. 3.44. 1 NO. cepat. 100 dan 125 µg/mL. Dari persamaan regresi ini dapat ditentukan kadar senyawa fenolat dari larutan sampel.0238. absorban ini digunakan sebagai kontrol. sehingga diperoleh persamaan regresi y = 39.947 µ g/mL. 37. Pada pengolahan data secara statistik menggunakan anova satu arah diperoleh nilai significant 0. 50:50 didapatkan kadar senyawa fenolat 38. 60.21 57 . 2. Pada larutan sampel diukur pada konsentrasi 40. dan 5 µg/mL.140 mg/g.82. sehingga didapat persamaan regresi y=0. maka larutan komplek biru tua inilah yang akan ditentukan nilai absorbannya dengan panjang gelombang yang sesuai sehingga kadar dari larutan sampel dapat diketahui.2807 µg/mL. Hasil IC50 pada tiap-tiap kosentrasi pelarut etanol:air didapatkan 50.SCIENTIA VOL. Metoda ini dipilih karena mudah.828. batas deteksi 11. 70. Perbandingan pelarut ekstraksi etanol:air 100:0.006384x dan juga didapatkan simpang baku 0. 53. 46. Daya antioksidan dapat ditentukan dari nilai IC50 yaitu konsentrasi senyawa antioksidan yang memberikan inhibisi sebesar 50%.258. 50.17. Sesuai dengan prinsip kerja spektrofotometwer UV-Visibel yang mengabsorbsi larutan warna pada panjang gelombang 400-800 nm. Pada konsentrasi ini diperoleh panjang gelombang maksimum 518. Daya antioksidan dapat ditentukan dengan menggunakan metoda DPPH. diukur absorban untuk penentuan kurva kalibrasi asam galat pada konsentrasi 25. 75. sensitif terhadap senyawa fenol dan menggunakan reagen dalan jumlah yang sedikit serta dapat bereaksi dalam waktu yang singkat. Dari kadar senyawa fenolat yang didapat maka dilakukan pengolahan data secara statistik dengan menggunakan metoda Anova satu arah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh perbandingan konsentrasi pelarut etanol:air terhadap perolehan kadar senyawa fenolat pada sampel.

2007. Diterjemahkan oleh K. Hal 86-89. J.41. Yaned M Correa.05 yang berarti bahwa pemakaian beberapa perbandingan pelarut ekstraksi etanol:air yang dilakukan memberikan perbedaan yang signifikan terhadap kadar senyawa fenolat sampel. Keinanen. Tumbuhan Berguna Indonesia. Badan POM Republik Indonesia. 58 .05. Nurkhasanah. 1986. Balawants.SCIENTIA VOL. Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka. Bahan Obat Alam Sumber Pendapatan Pembangunan. Nilai IC50 yang semakin rendah menunjukkan daya antioksidan yang semakin kuat. pp. 1987. Gawad. Daya antioksidan yang paling kuat ditunjukkan oleh sampel pada campuran etanol:air 60:40 yang menggunakan ekstraksi dengan cara maserasi dapat dilihat dari nilai IC50 yang diperoleh yaitu 42.O. Kadar senyawa fenolat yang paling tinggi diperoleh pada perbandingan etanol:air 60:40 yaitu 55. Dapat dilihat bahwa cara pemakaian pelarut dengan berbagai konsentrasi dapat memberikan pengaruh terhadap perolehan kadar senyawa fenolat dan pengukuran aktivitas antioksidan walaupun tidak memberikan perbedaan yang begitu besar. 49. 4. Dilip H. 26-27.00. 614-620. KESIMPULAN 1. Pada sampel dengan konsentrasi pelarut etanol:air 60:40 memperlihatkan kadar senyawa fenolat yang tinggi dan daya aktivitas antioksidan yang paling kuat dibandingkan dengan konsentrasi yang lain.54%. 2006. Kriteria dan Tatalaksana Pendaftaran Obat Tradisional. Yayasan Sarana Wana Jaya. Heyne. Finland. Monografi Ekstrak Tumbuhan Obat Indonesia.65 mg/mL.1384. 1 NO.258 mg/g setara asam galat per gram sampel kering. J. 2004 Harbone. Isolation and Structure (x-ray analysis) of Ent-norsecurinine. Kadar ekstraktif yang diperoleh paling tinggi pada perbandingan etanol:air 60:40 yaitu 16. J. Titto. an alkaloid from Phyllanthus niruri. Agric. Jakarta. Metoda Fitokimia : Penuntun Cara Menganalisis Tumbuhan. vol 102(5) : 631-634. Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia. Hal 82. 3. B. M and R. Effect of Sampel Preparation Method on Birch (Betula Pendula Roth) Leaft Phenolics. no. Rio de Janeiro. Prosiding Persidangan Antarabangsa Pembangunan Aceh. 44:2724-2727. Terbitan kedua. Vol.. Bandung. No : HK. 1978. K. Jakarta Mosquera M. 2. Antioxidant Activity of Twenty five Plants from Colombian Biodiversity. S and William Pelletier. cetakan ke-1. 1996. Semakin besar kadar senyawa fenolat seamakin tinggi pula aktivitas antioksidan yang dihasilkannya DAFTAR PUSTAKA Departemen Kesehatan. Joshi. UKM Bangi. ITB.Padmawinata dan I. Mem Inst Oswaldo Cruz. jilid II. 1 2010 ISSN : 2087-5045 mg/mL. Food Chem. Journal of Natural Products. Diana C Buitrago and Jaime Nino.Soediro. 4. Analisa data menggunakan metoda anova satu arah menunjukan nilai signifikan P<0.

diakses : tgl 5 Februari 2005 Than N. 1-4 (2006). Hosseinimerh and N. 61b. Niruriflavone. Folin&Ciocalteu’s Phenol Reagent. Hardeland.. F. African Journal of Biotechnology. Sigma-Aldrich. S.Sigma –aldrich. Naturforsch.SCIENTIA VOL. Antioxidant Activity.com. Sigma Prod No F-9252. Laatsch. Phenol and Flavonoid contents of some selected Iranian medical plants.. diambil dari http://www. S. 1 NO.pp. 1142-1145. B. a new antioxidant Flavone Sulfonic Acid from Phyllanthus niruri. R. received November 2. Poeggeler. vol. J. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Pourmorad. N. Fosto.Shahabimajd. 2005. 5 (11). and H. Z. 2006. 59 .

seperti hormon pertumbuhan. terdapat sekitar 5. Keywords : Drug utilization study.6 juta penduduk Indonesia yang mengidap diabetes melitus. dan mulai menonjol sebagai salah satu sebab morbiditas dan mortalitas di negara yang sedang berkembang. Sekresi insulin pada pasien penderita diabetes melitus tipe 1 adalah kurang dan sampai tidak ada sama sekali.16%. Hal ini mungkin disebabkan minimnya informasi di masyarakat tentang diabetes melitus terutama gejala-gejalanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mempelajari jenis antidiabetika oral dan insulin yang digunakan dalam terapi kombinasi di rumah sakit. PENDAHULUAN Tingkat prevalensi diabetes melitus cukup tinggi.34%. type 2 diabetes mellitus. Pada tahun 2000 yang lalu saja. ACHMAD MOCHTAR BUKITTINGGI 1) Radjudin Dahlan. 1 2010 ISSN : 2087-5045 PROFIL PENGGUNAAN KOMBINASI ANTI DIABETIKA ORAL DENGAN INSULIN PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 DI SMF PENYAKIT DALAM RSUD Dr. inhibitor α glukosidase + insulin 4. descriptive-retrospective study. Menurut WHO Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah penderita diabetes melitus di dunia. lemak dan protein. dimana baru 50% yang sadar mengidapnya dan di antara mereka baru sekitar 30% yang datang berobat teratur. Hasil penelitian menunjukkan dari 24 rekam medik pasien terdapat penggunaan 2 kombinasi yaitu: sulfonilurea + insulin 33. sedangkan pada penderita diabetes 60 . Di sebabkan oleh defisiensi absolute atau relative dalam kerja insulin dan mungkin jumlah yang tinggi secara tidak normal dari glukagon “counter regulatory hormones” lain. 1). amin-amin simpatomimetik dan kortikosteroid.16%. Namun. antidiabetic oral with insulin combination. biguanida + insulin 8. sulfonilurea + inhibitor α glukosidase + insulin 4. Achmad Mochtar Bukittinggi. Telah dilakukan penelitian tentang profil penggunaan kombinasi antidiabetika oral dengan insulin pada penderita diabetes melitus tipe 2 di SMF penyakit dalam RSUD Dr. pada tahun 2006 jumlah penderita diabetes melitus di Indonesia meningkat tajam menjadi 14 juta orang.SCIENTIA VOL. 3 kombinasi yaitu: sulfonilurea + biguanida + insulin 50%.34%. 2)Fakultas Farmasi Universitas Andalas Padang ABSTRAK Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang disebabkan antara lain oleh defisiensi insulin yang dapat menimbulkan berbagai komplikasi sehingga memerlukan manajemen terapi yang intensif. Diabetes melitus adalah suatu penyakit kronis yang di karakterisasikan oleh kelainan metabolisme karbohidrat. Hansen Nasif 2) Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Perintis Padang. Penelitian dilakukan secara retrospektif dengan menggunakan data rekam medik selama tahun 2006 dan 2007. seperti di Indonesia. 1 NO.

Mencatat identitas pasien dan obat yang digunakan. Analisa Data Data diperoleh dan dicatat kemudian dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus: P= S x 100 % N 61 . 1 NO.6-13 % pada 2 jam setelah makan. Lingkungan dan faktor sosial ekonomi masyarakat sangat berpengaruh terhadap penyakit ini. 3. bahkan bisa berakibat fatal. 1 2010 ISSN : 2087-5045 melitus tipe 2 sekresi insulin dapat saja normal. Penyakit ini tidak menular tapi menahun. Depkes RI 2006). Menghitung persentase penggunaan obat. Pengambilan Sampel Sampel penelitian dikumpulkan dari data rekam medik pasien diabetes melitus tipe 2 yang dirawat di SMF penyakit dalam RSUD Dr.SCIENTIA VOL. Menurut WHO setelah seseorang mencapai umur 30 tahun. Achmad Mochtar Bukittinggi. 2.(Tandra. Pada penderita diabetes melitus glukosa sulit masuk ke dalam sel karena insulin yang ada di dalam tubuh sedikit atau tidak ada sama sekali.(ISFI. Rekam medik pasien Jenis Penelitian Penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif retrospektif Sumber Data Sumber data adalah diperoleh dari rekam medik pasien pengguna kombinasi antidiabetika oral dengan insulin pada penderita diabetes melitus tipe 2 di SMF penyakit dalam RSUD Dr. Tanpa pengobatan yang baik diabetes melitus akan menyerang banyak organ penting dalam tubuh. akibatnya kadar glukosa dalam darah menjadi tinggi. Insulin memasukkan gula ke dalam sel sehingga bisa menghasilkan energi atau disimpan sebagai cadangan energi. tinggi atau rendah. sedangkan kekurangan insulin relatif terjadi jika produksi insulin tidak sesuai dengan kebutuhannya. 1991) Insulin adalah hormon yang dihasilkan oleh pankreas yang bertanggung jawab dalam merpertahankan kadar gula darah yang normal. Pengambilan data dari rekam medik pasien yang menggunakan kombinasi antidiabetika oral dengan insulin. 2008. maka kadar glukosa darah akan naik 1-2 % per tahun pada saat puasa. Kekurangan insulin absolut terjadi jika pankreas tidak berfungsi lagi untuk mensekresi insulin. 1987) Umur merupakan salah satu factor yang sangat penting dalam pengaruhnya terhadap prevalensi diabetes melitus. 2008) METODOLOGI PENELITIAN Alat dan Bahan Alat tulis. Penyakit ini berhubungan dengan suatu keadaan kekurangan insulin absolut atau relatif. Achmad Mochtar Bukittinggi Prosedur Kerja 1.(Mutschler. selama tahun 2006 dan 2007. dan akan naik sekitar 5. Prevalensi diabetes melitus naik bersama bertambahnya umur.(Sulaiman.

namun semua pasien sangat penting untuk melanjutkan diet yang ketat untuk memaksimalkan khasiat sulfonilurea ini. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Keterangan: P = Persentase penggunaan kombinasi antidiabetika oral dengan insulin. Golongan inhibitor α glukosidase + insulin = 4. Pada penderita diabetes melitus yang gemuk ternyata pemberian biguanida dapat menurunkan berat badan dan oleh terapi apapun (insulin atau senyawa oral) dapat menyebabkan berkurangnya komplikasi mikrovaskular. S = Jumlah pasien pemakai kombinasi antidiabetika oral dengan insulin. Persentase penggunaan kombinasi antidiabetika oral dengan insulin pada penderita diabetes melitus tipe 2: pankreas. Hasil pada pasien diabetes melitus tipe 2 menunjukkan perbaikan kontrol metabolisme. Pencapaian efek manfaat terapi kombinasi adalah aktivitas residual sel beta.16% 2. Kombinasi 3 obat a. 1 NO.34% c. Kombinasi 2 obat a. Sulfonilurea juga dapat meningkatkan kadar insulin dengan cara mengurangi bersihan hormon dihati. Golongan biguanida + insulin = 8. Golongan biguanida yang dikombinasikan dengan insulin juga bermanfaat pada terapi resistensi insulin. karena tidak merangsang atau menghambat perubahan glukosa menjadi lemak. Penelitian pada pasien diabetes melitus tipe 1 tidak memberikan bukti apapun bahwa kontrol glukosa diperbaiki oleh terapi kombinasi. Golongan biguanida yang diberikan tunggal atau kombinasi dengan sulfonilurea dapat memperbaiki kontrol glikemia dan konsentrasi lipid pada pasien yang merespon kurang baik terhadap diet atau sulfonilurea saja.SCIENTIA VOL. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Setelah dilakukan penelitian didapatkan hasil sebanyak 24 data. Metformin merupakan satu-satunya senyawa terapeutik golongan biguanida yang terbukti menurunkan kejadian makrovaskular pada pasien diabetes melitus tipe 2. Terapi kombinasi antidiabetika oral dengan insulin diberikan pada pasien diabetes melitus tipe 2 yang gagal mendapatkan efek terapi maksimum pada terapi oral. Kombinasi insulin dan sulfonilurea telah digunakan pada pasien diabetes melitus tipe 2. Golongan sulfonilurea + insulin = 33.34% b. dan durasi singkat diabetes melitus diperkirakan akan memberikan respon yang baik. Biguanida tidak menyebabkan peningkatan berat badan. Sulfonilurea yang diberikan pada pasien diabetes melitus tipe 2 dapat meningkatkan sekresi insulin dari 62 . Golongan sulfonilurea + inhibitor α glukosidase + insulin = 4.16% Pembahasan Penggunaan obat kombinasi ini bertujuan untuk pencapaian efek obat yang sinergis dan lebih optimal dalam mengontrol kadar gula darah serta dapat menurunkan efek samping obat yang tidak diinginkan. N = jumlah sampel keseluruhan. Golongan sulfonilurea + biguanida + insulin = 50% b. Sulfonilurea digunakan untuk mengendalikan hiperglikemia pada pasien diabetes melitus tipe 2 yang tidak dapat mencapai kontrol yang sesuai pada perubahan pola diet saja. 1.

sehingga tidak menyebabkan hipoglikemia. Kombinasi 2 obat golongan biguanida + insulin yaitu 63 . Penggunaan kombinasi ini kurang efektif melihat efek samping yang ditimbulkan sulfonylurea yaitu hipoglikemia. karena obat ini bekerja mencegah pemecahan sukrosa dan karbohidrat kompleks pada usus halus sehingga memperpanjang waktu absorbsi karbohidrat. Kombinasi 3 obat ini digunakan karena bekerja saling menguntungkan. Dari hasil penelitian ditemukan penggunaan kombinasi paling banyak adalah: kombinasi 3 obat yaitu golongan sulfonilurea + biguanida + insulin sebanyak 50%. Kombinasi sulfonilurea dan insulin dapat menurunkan glukosa darah. Sulfonilurea bekerja merangsang sekresi insulin pada pankreas. Metformin dari golonga biguanida juga tidak menaikkan berat badan. Kesalahan ini disebabkan karena tidak ada atau kurangnya komunikasi anatara farmasis dengan dokter. metformin bahkan kadang dapat menurunkannya. Inhibitor α gukosidase dapat memiliki efek yang besar terhadap kadar haemoglobin. Sebagian besar penderita diabetes melitus yang gagal diobati dengan sulfonilurea dapat ditolong dengan biguanida. yaitu sulfonilurea + insulin sebanyak 33. Selain itu. diare. Inhibitor α glukosidase tidak menstimulasi pelepasan insulin. Namun. Efek kombinasi ini bisa memperbaiki dan menambah kerja insulin. Sulfonilurea akan mengawali dengan merangsang sekresi pankreas yang memberikan kesempatan untuk senyawa biguanida bekerja aktif. Pemakaian kombinasi ini memang efektif melihat cara kerja obat yang sinergis. Kombinasi kedua golongan ini efektif pada banyak penderita diabetes melitus yang sebelumnya tidak bermanfaat bila dipakai sebagai terapi tunggal. Akarbose dan miglitol termasuk golongan inhibitor α glukosidase. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Penyerapan biguanida di usus sangat baik.34%. Bila insulin dapat menaikkan berat badan. inhibitor α glukosidase juga dikombinasikan dengan senyawa antidiabetes oral lainnya dan atau insulin. Namun. biguanida menurunkan produksi glukosa di hati dan membantu hati sehingga lebih sensitif terhadap insulin dan insulin dapat bekerja dengan baik. efek samping dari penggunaan kombinasi ini adalah gangguan perut seperti mual. 1 NO. pada pasien dengan hiperglikemia ringan hingga sedang. apabila dikombinasikan dengan insulin tentu akan memperparah keadaan. Kedua golongan obat ini memiliki efek terhadap sensitivitas reseptor insulin. kedua senyawa ini menurunkan kadar glukosa darah setelah makan. disamping itu sulfonilurea juga dapat meningkatkan berat badan dan resiko komplikasi juga dapat meningkat. sehingga obat ini dapat diberikan dalam kombinasi dengan insulin atau sulfonilurea. sehingga kombinasi keduanya mempunyai efek yang saling menunjang. Kemudian kombinasi 2 obat. Terapi kombinasi yang umum adalah antara golongan sulfonilurea dengan biguanida. kadang juga bisa timbul hipoglikemia. Sebagian besar dikombinasikan lagi dengan insulin untuk pencapaian efek maksimum. Suntikan insulin dibutuhkan karena insulin yang dihasilkan oleh pankreas belum dapat mengendalikan kadar glukosa darah.SCIENTIA VOL. Senyawa ini dapat dipertimbangkan sebagai terapi tunggal untuk pasien lanjut usia atau terutama pasien hiperglikemia setelah makan. pada pasien diabetes melitus tipe 2 hiperglikemia yang parah. potensi penurunan glukosa oleh inhibior α glukosidase adalah sekitar 30%-50% diantara senyawa antidiabetes oral lainnya.

iritasi lambung yang bersifat ringan. maka metformin mempunyai keuntungan yang melebihi sulfonilurea untuk mengobati hiperglikemia. seperti mual. Pada penatalaksanaan penyakit ini diperlukan peran farmasis atau apoteker sebagai ahli obat. jadi berat badan sangat penting untuk diperhatikan dan merupakan salah satu factor yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan obat. untuk gangguan hepar dipilih meglitinida. 1 NO. Untuk gangguan ginjal. untuk obesitas dipilih metformin dan akarbosa. oleh karena itu metformin efektif pada pasien gemuk maupun kurus. muntah. 64 . meglitinida. dan meningkatkan sensitivitas insulin. Adapun mekanisme kerja obat ini ada 4 yaitu: menstimulasi glikolisis pada jaringan secara langsung dengan meningkatkan pengangkutan glukosa dari darah. Kombinasi ini juga bisa mengurangi dosis pemakaian insulin. infark miokard dan patah tulang terutama pada manula akibat golongan tiazolidinedion. Alasan penggunaan metformin disini adalah karena metformin merupakan suatu agen hemat insulin (insulin-sparing) dan tidak menaikkan berat badan atau menyebabkan hipoglikemia. tapi dipilih tiazolidinedion. menurunkan glukoneogenesis di hati sehingga kebutuhan insulin untuk mengangkut glukosa dari darah masuk ke sel berkurang dan glukosa darah menjadi turun. metformin membantu hati sehingga lebih sensitif terhadap insulin dan insulin bisa bekerja dengan lebih baik. Insulin juga menjadi pilihan pada diabetes melitus tipe 2 apabila kadar glukosa darah seseorang pada diagnosa pertama kali di atas 300 mg/dl. Penggunaan kombinasi paling banyak adalah kombinasi 3 obat yaitu golongan sulfonilurea + biguanida + insulin sebanyak 50%. sehingga kombinasi ini lebih menguntungkan terutama bagi pasien gemuk. dan agar penatalaksanaan penyakit ini berhasil dibutuhkan kerjasama yang erat dan terpadu dari penderita dan keluarga dengan para tenaga kesehatan. Disamping itu. sedangkan untuk diabetes melitus tipe 2 pilihan utama nya adalah metformin atau kombinasi dengan insulin. meglitinida dan insulin.34%. diare. Sulfonilurea dapat menaikkan berat badan sedangkan metformin tidak menaikkan berat badan. KESIMPULAN 1.SCIENTIA VOL. untuk pasien diabetes mellitus tipe 1 insulin merupakan pilihan utama. Metformin sering diberikan pada pasien obesitas dimana hiperglikemia di sebabkan oleh kerja insulin yang tidak efektif atau resistensi insulin. Kombinasi ini efektif untuk mengontrol kadar glukosa darah karena mekanisme kerja obat yang saling menunjang. sulfonilurea. maka insulin sebagai pilihan. Keamanan obat diabetes melitus biasannya terkait dengan efek samping yang ditimbulkan. Efek lain yang serius adalah pada gagal jantung. apalagi jika sudah terjadi resistensi insulin dan terapi dengan antidiabetika oral saja belum dapat mengontrol kadar glukosa darah. Namun perlu diwasapadai efek samping yang lebih serius yang akut adalah hipoglikemia terutama oleh insulin. 1 2010 ISSN : 2087-5045 8. memperlambat absorbsi glukosa dari saluran cerna dengan cara meningkatkan konversi glukosa menjadi laktat oleh entrocytes. akarbosa dan insulin. tidak dipilih metformin dan sulfonilurea. metformin bisa menurunkan berat badan. Bila insulin dapat menaikkan berat badan.

seharusnya metformin merupakan pilihan utama pada diabetes melitus tipe 2. 2008. 2008. Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Diabetes Mellitus. Ed 5. E. 65 . Mutschler. Jakarta. Dinamika Obat. 1 2010 ISSN : 2087-5045 2. Direktorat jendral bina kefarmasian dan alat kesehatan. 1987. Tandra. 1 NO. Tranformasi Ilmu dan Teknologi Dalam Praktek Kefarmasian. Metformin bukan menjadi pilihan utama pada pasien diabetes melitus tipe 2. Jakarta. Jilid I. Ed 2. Penerbit ITB. Segala Sesuatu Yang Harus Anda Ketahui Tentang Diabetes.B Widianto dan A. Kongres Ilmiah XVI. Bandung. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta. Hans. Balai Penerbit FKUI. 1991. Gramedia pustaka utama. PT. ISFI. Terjemahan M. A. Yogyakarta. 2006 ISFI.SCIENTIA VOL. Sulaiman.S Ranti. DAFTAR PUSTAKA Departemen kesehatan RI. 2008.

1999). menurunnya kemampuan kognitif. dan bila terjadi pada anak sekolah akan mengurangi kapasitas dan kemampuan belajar. Anemia gizi besi ditandai dengan menurunya kadar hemoglobin dibawah normal. terutama zat-zat gizi yang berkaitan dengan proses penyerapan dan utilitasi besi. protein. 1995).5%.5%. yaitu pada anak Balita sebesar 40. dimana haem adalah yang memberi warna merah pada darah dan 66 .vitamin A. gondok endemik dan kretin serta anemia gizi. vitamin B12. Vitamin A prevent infection that inhibition transferrin syntecis as transporter of iron. 1998). 2004). anak usia sekolah47. vitamin C) PENDAHULUAN Masalah gizi utama di Indonesia yaitu Kurang Kalori Protein (KKP). Secara umum tingginya prevalensi anemia gizi besi antara lain disebabkan oleh beberapa faktor yaitu: kehilangan darah secara kronis. PEMBAHASAN 1. yang disebut sebagai anemia gizi besi (Solon. vitamin A. Beberapa zat gizi tersebut antara lain asam folat. kelompok anak usia 6 bulan -6 tahun 11gr /100 ml.9% (Kodyat dkk. dan lainnya (Morgan. vitamin A and vitamin C influence Hemoglobyn level. et al. Sekitar 90% penyebab anemia adalah akibat kekurangan besi. sedangkan pada wanita hamil 50. MW 1998).SCIENTIA VOL. seng . 1 NO. asupan zat besi tidak cukup. penyerapan yang tidak adekuat dan peningkatan kebutuhan akan zat besi (Arisman. Protein. Anemia gizi merupakan masalah gizi yang paling utama di Indonesia. Konsekwensi logis dari tingginya masalah anemia gizi besi adalah penurunan kualitas sumber daya manusia Indonesia (DepkesRI. yang disebabkan karena kekurangan zat besi. vitamin C.2%. Protein and vitamin C verry important for iron metabolism. dan untuk usia dewasa laki-laki 14 gr/100 ml. Hemoglobin Hemoglobin adalah struktur darah yang terdiri dari Haem dan Globin. iron. anak umur 10 -14 tahun 51. micronutrient (iron. 1 2010 ISSN : 2087-5045 PENGARUH ASUPAN PROTEIN DAN MIKRONUTRIEN (Zat Besi Vitamin C dan Vitamin A) TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN Erina Masri ( Staf Pengajar Prodi Gizi STIKes Perintis Padang ) ABSTRACT Decrease of hemoglobyn level cause anemia. Kurang Vitamin A (KVA). Key word: Hemoglobyn. 2003). Dalam rangka penanggulangan anemia gizi besi beberapa zat gizi lain penting untuk dipertimbangkan. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa pemberian suplementasi besi yang dikombinasikan unsur vitamin dapat meningkatkan bioavailabilitas besi dan lebih efektif meningkatkan kadar hemoglobin dibandingkan dengan hanya suplementasi besi saja (Bloem. Berdasarkan klasifikasi batas normal kadar Hb. Iron is urgent component for syntesis hemoglobyn. Di Indonesia prevalensi Anemia Gizi Besi (AGB) menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Tahun 1995 masih tinggi. 6-14 tahun 12gr/100 ml. Anemia gizi besi dapat menyebabkan seseorang mudahterserang infeksi. wanita 12 gr/100 ml serta wanita hamil 11 gr/100 ml.

Pada bayi yang baru lahir kadar hemoglobinnya tinggi diatas orang dewasa yaitu 17 – 23 gr/dl.Batas Normal Kadar Hemoglobin Umur 6 bulan-6 tahun 6 -14 tahun Dewasa Laki-laki Wanita Wanita hamil Sumber: Depkes Ri. tetapi pada umumnya masih tetap dalam keadaan normal selama erythropoeisis berlangsung. yang terakumulasi dalam sel darah merah ketika suplai besi tidak cukup untuk sintesis hem.. hal ini berhubungan dengan kadar oksigen di udara. Selain kedua faktor tersebut ketinggian suatu tempat juga berpengaruh terhadap kadar hemoglobin serta dipengaruhi juga oleh faktor makanan. Pada usia 10 tahun kadar normalnya sekitar 12-14 gr/dl untuk wanita sedangkan laki-laki 14-18 gr/dl. Gejala klinis dari tahap ini adalah perbandingan antara hematokrit dan sel darah merah dengan Mean Cell Volume (MCV) kurang dari 80 fL. Faktor utama penyebab anemia gizi besi adalah 67 . 2. disebut sebagai anemia mikrositik hypokronik (Gibson. 1 2010 ISSN : 2087-5045 globin adalah protein darah. Batas normal kadar hemoglobin menurut kelompok umur dan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 1.SCIENTIA VOL. Pada orang yang normal. 1 NO. 2005).1999 Kelompok Anak Hemoglobin 11 gr/ 100 ml 12 gr/ 100 ml 14 gr/ 100 ml 12 gr/ 100 ml 11 gr/ 100 ml Anemia gizi besi ditandai dengan ukuran eritrosit yang kecil serta kadar hemoglobin yang rendah. Kadar hemoglobin ini akan menurun setelah bayi berumur 2 bulan yaitu sekitar 9-14 gr/dl. Anemia Gizi Besi Anemia adalah suatu keadaan kadar Hemoglobin (Hb) yang lebih rendah dari keadaan normal. 3)Besi Defisiensi Anemia (Iron deficiency anemia) Tahap ketiga atau tahap akhir dari defisiensi besi adalah menurunnya sirkulasi besi yang ditandai dengan turunnya kadar hemoglobin dalam sel darah merah. Pada tahap ini tingkat transport besi dan hemoglobinnormal. Anemia dapat juga berarti suatu kondisi ketika terdapat defisiensi ukuran / jumlah eritrosit atau kandungan hemoglobin (Wirakusumah. Keadaan ini merupakan tahap lanjut dari defisiensi besi dan muncul setelah kekurangan besi yang berlangsung lama. Tabel 1. Kadar hemoglobin menurun sedikit. Tahap ini ditandai dengan pengurangan jumlah cadangan besi dalam hati. tetapi cadangan besi hilang yang ditandai dengan turunnya konsentrasi serum ferritin. 2) Besi Defisiensi Erytropoiesis (Iron deficient erythropoiesis) Tahap kedua ini ditandai dengan habisnya seluruh cadangan sebagai hasilnya besi plasma yang mensuplai proses erytropoiesis menurun drastis dan terjadinya peningkatan transferin saturasi. Menurut Gibson (2005) ada tiga tingkatan di dalam defisiensibesi. 1999). Erytrosit protoporpyrin merupakan prekusor dari hem. konsentrasi hemoglobin pada orang yang tinggal di daerah yang tinggi akan lebih tinggi kadar hemoglobinnya dari pada orang yang tinggal didaerah rendah. Kadar normal hemoglobin dalam darah akan bervariasi tergantung pada usia seseorang dan juga jenis kelamin. yaitu: 1) Hilangnya Besi (Iron depletion). Angka normal ini akan menurun pada usia diatas 50 tahun Anemia Gizi Besi. sebaliknya terjadi peningkatan konsentrasi erytrosit protoporpyrin.

infeksi cacing atau malaria sehingga selain penanggulangan pada anemianya. 1999 .dll). sehingga terjadi sel eritrosit berukuran besar (abnormal) masuk dalam sirkulasi darah disebut anemia makrositosis (MCV <100fL) (Gibson. protoporfirin dibentuk di sekitar mitokondria. Penundaan terjadi sampai jumlah DNA yang diperlukan tercapai. dan remaja yang membutuhkan besi dalam jumlah relatif lebih besar karena pertumbuhan yang pesat pada bayi dan anak-anak. 4) Vitamin C sebagai antioksidan dan untuk mengoptimalkan absorpsi besi (Parakkasi. dan faktor genetik (penyakit talasemia) juga sangat mempengaruhi rendahnya kadar hemoglobin di dalam darah (Wirakusumah. Pada permukaan sel darah merah berinti terdapat reseptor transferin. 3. WHO. globin. harus dilakukan pengobatan terhadap penyakit-penyakit tersebut. Hal ini terutama dapat terjadi pada orang yang mengkonsumsi makanan kurang beragam. Kebutuhan meningkat akibat pertumbuhan. 2005). Proses pembentukan sel darah merah diawali dengan pembentukan deoxyribonucleic acid (DNA) dalam inti sel dan berikutnya proses pembentukan hemoglobin dalam plasma eritrosit. 3) Vitamin B12 untuk daur ulang koenzim folat dan. yaitu antara lain penyakit TBC. anak-anak. mioglobin. atau rendahnya tingkat absorpsi besi dan adanya penghambat sehingga tidak dapat diserap secara optimal sehingga tidak memenuhi kebutuhan tubuh. 1 2010 ISSN : 2087-5045 kurangnya konsumsi besi makanan. infeksi parasit (kecacingan). Kekurangan vitamin B12 dan asam folat berakibat berkurangnya mitosis sel. Pada anemia berat (kadarHb < 8 gr %) biasanya pada penyakit yang melatarbelakangi. Hemoglobin terdiri dari protoporfirin. 1992). 2) Asam folat untuk metabolisme purin / pirimidin. Pembentukan DNA memerlukan katalisator vitamin B12 dan asam folat. Begitu juga remaja wanita yang sudah mengalami haid dimana saat itu cukup banyak mengeluarkan darah. TBC. Bila pembentukan DNA terhambat akan berakibat mitosis tidak terjadi meskipun pembentukan hemoglobin dalam plasma telah cukup. Upaya pencegahan dan penanggulangan anemia pada dasarnya adalah mengatasi penyebabnya. Selain itu. Hal ini juga berpengaruh pada tidak terpenuhinya kebutuhan tubuh akan besi (Wirakusumah. kehilangan akibat dari perdarahan misalnya karena kecelakaan dan operasi. Keadaan infeksi terutama pada penyakit kronis (penyakit malaria. Pembentukan Sel Darah Merah Pembentukan sel darah merah berasal dari eritroblast di sumsum tulang. 1999). 1 NO. Globin dibentuk di sekitar ribosom.SCIENTIA VOL. dan besi berasal dari transferin. produksi sel darah merah diperlukan 1) Besi untukmetabolisme hemoglobin. Gangguan pengikatan besi 68 . terutama pada bayi. dan sitokrom. berarti jumlah besi yang hilang dari tubuh juga cukup besar. dan besi. diawali terbentuk dua pasang kromosom oleh DNA. pola konsumsi serta keadaan ekonomi juga berdampak pada ketidakmampuan keluarga menyediakan makanan sumber besi. Inti sel sebelum mitosis. 2001). disisi lain proses pembentukkan hemoglobin dalam sitoplasma sel berjalan terus.

Besi juga merupakan mikronutrien essensil dalam memproduksi hemoglobin yang berfungsi mengantar oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh. Sitokrom. 1999). Tubuh manusia sehat mengandung 69 . di dalam darah harus selalu dipertahankan cukup banyak. 1994). untuk dieksresikan ke dalam udara pernafasan. Tipe Besi dibutuhkan untuk produksi hemoglobin. Peristiwa ini terjadi saat kadar besi dalam darah rendah dan rendahnya transferin dalam darah. 2001). Terganggunya pembentukan sel darah merah bisa disebabkan makanan yang dikonsumsi kurang mengandung zat gizi. katalase. sehingga dapat terhindar kemungkinan anemia kekurangan besi. sitokrom. Mioglobin ikut dalam transportasi oksigen menerobos sel-sel membran masuk ke dalam sel-sel otot. Pembentukan sel darah merah baru akan terganggu apabila zat gizi yang diperlukan tidak mencukupi. terutama zat-zat gizi penting seperti besi. Peran Zat Besi terhadap Peningkatan Kadar Hemoglobin 3. karena berefek pada fungsi tubuh. sedangkan sisanya disimpan disebut besi nonessensial (Wardhini S dan Dewoto H R. dan peroksidase. 2000 ) yaitu Tipe bioavailabilitas rendah (besi dari bahan makanan pokok beras. Walaupun jumlahnya sangat kecil namun mempunyai peranan yang sangat penting. flavoprotein. adapun pada bayi baru lahir lebih kurang 250 mg dari jumlah tersebut (60-70%) dinamakan besi fungsional. 2004). Besi berperan dalam sintesis hemoglobin dalam sel darah merah dan mioglobin dalam sel otot. 4. Tipe bioavailabilitas menengah (beras dan jagung dengan sejumlah daging dan vitamin C dengan penyerapannya antara 5-15%). 1 2010 ISSN : 2087-5045 untuk membentuk hemoglobin berakibat terbentuknya eritrosit dengan sitoplasma yang kecil (mikrositer) dan kurang mengandung hemoglobin (hipokromasia).5 g besi yang hampir seluruhnya dalam bentuk ikatan kompleks dengan protein. protein. vitamin C dan zat gizi penting lainnya (Wirakusumah. dan senyawa-senyawa mitokondria yang mengandung besi lainnya. ikan dan vitamin C dengan penyerapan besi tipe ini kurang dari 5%). Kecukupan besi yang direkomendasikan adalah jumlah minimum besi yang berasal dari makanan yang dapat menyediakan cukup besi untuk setiap individu yang sehat pada 95% populasi. memegang peranan penting dalam proses oksidasi menghasilkan Adenosin TriPhosphat (ATP) yang merupakan molekul berenergi tinggi. asam folat. sehingga anemia gizi besi akan menyebabkan terbentuknya sel darah merah yang lebih kecil dan kandungan hemoglobin yang rendah. Ditinjau dari bioavailabilitas besi dari makanan dapat dibagi 3 tipe ( MacPhail. vitamin B12. Padahal umur sel darah merah hanya 120 hari dan jumlah sel darah merah. jagung atau umbi-umbian. dan komponen lain pada sistem enzim pernafasan seperti sitokrom oksidase. Besi elemental adalah besi yang dapat terikat oleh transferin untuk membentuk 1 ml packed red cells diperlukan 1 mg besielemental (Reksodiputro.SCIENTIA VOL. 1 NO. Kurang lebih 4% besi di dalam tubuh berada sebagai mioglobin dan senyawa-senyawa besi sebagai enzim oksidatifseperti sitokrom dan flavoprotein. Kecukupan besi ditentukan berdasarkan bioavailabilitas besi dari golongan makanan (Kartono J dan Soekatri M. Sel darah merah berinti maupun retikulosit hanya memiliki reseptor transferin bukan reseptor besi. 1995). kurang mengandung unsur daging.Sehingga apabila tubuh mengalami anemia gizi besi maka terjadi penurunan kemampuan bekerja (WHO.

besi yang semula ditahan makrofag akan dilepas kembali ke sirkulasi dan diangkut transferin untuk kepentingan eritropoeisis (Turnham. 6. domba. Retinol tampaknya berpengaruh terhadap pertumbuhan dan diferensiasi 70 . 1 2010 ISSN : 2087-5045 bioavailabilitas tinggi (makanan yang banyak mengandung daging dan vitamin C dengan penyerapan besi lebih dari 15%). Pemberian suplemen vitamin A 110 mg pada anak yang kekurangan vitamin A (retinol < 0. akan terjadi penurunan derajat infeksi. Apabila asupan vitamin A diberikan dalam jumlah cukup. Protein seluler yang berasal dari daging sapi.SCIENTIA VOL. hati. Dengan demikian jelas bahwa status vitamin A yang tidak adekuat akan berdampak pada metabolisme besi dan eritropoeisis yang gilirannya akan menurunkan kadar hemoglobin. poultry) factor (Wirakusumah. 5. misalnya protein pengikat retinol yang hanya mengangkut vitamin A. Namun protein yang berasal dari susu sapi. Kondisi ini memungkinkan besi retinol yang semula terjebak di tempat penyimpanan dapat dimobilisasi kembali. Faktor yang menyebabkan kenaikan penyerapan besi lebih dikenal sebagai MFP (meat. Sintesis kedua protein ini tertekan bila ada infeksi. protein ini dapat bertindak secara khusus.60 ĩmol/L) dapat meningkatkan hemoglobin dan transferrin saturasi (Bloem. (Almatsier. juga dapat mendorong penyerapan besi nonhem. Vitamin A juga berperan dalam pembentukan sel darah merah. dibandingkan dengan yang hanya diberikan suplemen besi Vitamin A adalah zat gizi esensial yang larut dalam lemak dan dibutuhkan untuk kelangsungan berbagai fungsi tubuh yang penting. Beberapa penelitian membuktikan bahwa vitamin A mempunyai peranan yang penting dalam meningkatkan kadar hemoglobin. 2003). dari darah ke jaringan-jaringan. dan ayam menunjang penyerapan besi nonhem. Sebagai alat angkut. sama-sama diangkut oleh negative phase protein. 1990). kambing. fish. Ion besi diangkut dalam plasma darah oleh transferin dan disimpan dalam hati sebagai kompleks dengan ferritin (Winarno. Interelasi Protein dengan Kadar Hemoglobin Protein memegang peranan esensial dalam mengangkut zat-zat gizi dari saluran cerna melalui dinding saluran cerna ke dalam darah. keju dan telur tidak dapat meningkatkan penyerapan besi nonhem. Interelasi Vitamin Hemoglobin A dengan seluler yang berdampak pada perkembangan epitel yang mensekresi mukosa atau pada sistem kekebalan tubuh (Almatsier. maka dengan kemampuan vitamin A melawan infeksi. atau dapat mengangkut beberapa jenis zat gizi seperti besi sebagai transferin (Almatsier. Suplementasi besi yang dikombinasi dengan vitamin A selama 2 bulan pada anak-anak yang menderita anemia mempunyaipengaruh yang lebih besar pada peningkatan kadar hemoglobin dan transferin saturasi. 1999). Protein sebagai alat angkut dan penyimpanan terhadap hemoglobin yaitu mengangkut oksigen dalam eritrosit sedangkan mioglobin mengangkut oksigen dalam otot. walaupun tidak semua. 1 NO. kemungkinan melalui interaksi dengan besi. 2002). dan melalui membran sel ke dalam sel-sel. Dengan menghilangnya infeksi. 2003). 2003). Retinol dan besi. Akibatnya sintesis retinol binding protein dan transferin kembali normal. Terutama protein hewani. 1993). yaitu Retinol Binding Protein (RBP) dan transferin.

Ibu hamil yang anemia dengan kadar retinal <1. Vitamin A berpengaruh terhadap transferin saturasi. Penelitian lainnya telah menemukan suatu korelasi signifikan antara serum retinol dan kosentarsi hemoglobin. Mekanisme yang pasti tentang peranan vitamin A terhadap status besi belum jelas benar. Hasil penelitian yang dilakukan terhadap ibu hamil di Indonesia menghasilkan kesimpulan yang sama. Vitamin C adalah vitamin yang paling labil. (2) sebagai zat pelindung untuk memelihara status reduksi besi. Dalam keadaan kering vitamin C cukup stabil. tetapi dalam keadaan larut vitamin C mudah rusak karena bersentuhan dengan udara (oksidasi) terutama bila terkena panas Vitamin C tidak stabil dalam larutan alkali. Dalam metabolisme besi. Vitamin C diperlukan untuk meningkatkan penyerapan besi di dalam tubuh. 50. tetapi tidak berpengaruh pada peningkatan cadangan besi dalam tubuh. tetapi tidak mempengaruhi penyerapan dalam intestinal terhadap besi dalam makanan sehari-hari (Roodenburg. 7. dibandingkan dengan yang mempunyai kadar hemoglobin normal. Vitamin C dapat juga terlibat dalam mobilisasi simpanan besi terutama hemosiderin dalam limpa (Parakkasi. tetapi cukup stabil dalam larutan asam.SCIENTIA VOL. 1995). Beberapa hasil penelitian cross sectional menyimpulkan bahwa peningkatan asupan vitamin A dapat mendorong ke arah peningkatan status vitamin A dan status besi (Schultink dan Gross. 1 2010 ISSN : 2087-5045 atau vitamin A saja (Meijia and Chew. 1988). 1992). Peningkatan konsumsi vitamin C sebanyak 25. serum besi dan transferin saturasi (Bloem. Penelitian pada tikus menunjukkan bahwa kekurangan vitamin A marginal mengganggu eritropoeisis.100 dan 250 mg dapat memperbesar penyerapan besi sebesar 2. Schultink dan Gross. 1 NO. Dalam reaksi tersebut vitamin C mempunyai 2 (dua) peranan : (1) sebagai sumber elektron untuk mereduksi oksigen. hematokrit. dan 5 kali (Wirakusumah. 2003). Diperkirakan bahwa kekurangan vitamin A dapat menghambat penggunaan kembali cadangan besi yang disimpan dalam hati (Bloem.4 mg) mempunyai perubahan yang lebih besar pada peningkatan kadar hemoglobin dan transferin saturasi. hematokrit dan besi serum. 1999). 3. (Almatsier.000 IU pada anak yang menderita xerossis conjuctival setelah dua minggu ternyata dapat meningkatkan hemoglobin. 1995 . 1998). Suplementasi vitamin A pada anak yang defisiensi meningkat secara signifikan pada kadar hemoglobin. Observasi ini menunjukkan bahwa defisiensi vitamin A bisa memberikan kontribusi terhadap anemia dan akan mepunyai efek positif pada status besi (IVACG.1 ĩmol/L yang diberikan suplementasi vitamin A dan besi (besi 60 mg dan vitaminA 2. diantara anak pra sekolah di India pada studi ini menunjukkan kadar hemoglobin lebih rendah pada mereka yang mempunyai serum retinol di bawah 20 ĩg/dL. Beberapa reaksi enzim membutuhkan vitamin vitamin C seperti proses hidrosilasi yang menggunakan molekul oksigen dan sering mempunyai kofaktor besi atau tembaga. dibandingkan dengan kelompok yang hanya mendapat suplementasi besi atau vitamin A saja (Suharno. Vitamin C mempunyai peranan yang sangat penting dalam penyerapan besi terutama dari besi nonhem yang 71 . Interelasi Vitamin Hemoglobin C dengan Vitamin C adalah kristal putih yang mudah larut dalam air. 4. 1998). 1993). Pemberian dosis tunggal vitamin A 200. terutama mempercepat penyerapan besi usus dan pemindahannya ke dalam darah. 1994). 1998).

2003) Vitamin C menghambat pembentukan hemosiderin yang sukar dimobilisasi untuk membebaskan besi bila diperlukan.46.2%. 1 NO. Sintesis trnasferin sebagai alat transpor zat besi akan terhambat jika terjadi infeksi. Bahan makanan yang mengandung besi hem yang mampu diserap sebanyak 37% sedangkan bahan makanan golongan besi nonhem hanya 5% yang dapat diserap oleh tubuh. penambahan asam askorbat selanjutnya relatif kurang efektif (Hallberg. Protein memegang peranan esensial dalam mengangkut zat-zat gizi dari saluran cerna melalui dinding saluran cerna ke dalam darah. Absorpsi besi dalam bentuk nonhem meningkatkan empat kali lipat bila ada vitamin C. dapat meningkatkan kadar hemoglobin yang tertinggi dibandingkan dengan kelompok lain. Pemberian tablet vitamin C 100 mg meningkatkan penyerapan besi 37. Penyerapan besi nonhem dapat ditingkatkan dengan kehadiran zat pendorong penyerapan seperti vitamin C dan faktor-faktor pendorong lain seperti daging. Besi juga merupakan mikronutrien essensil dalam memproduksi hemoglobin yang berfungsi mengantar oksigen dari paruparu ke jaringan tubuh. jagung dan tiwul.5% . sedangkan pemberian vitamin A yang adekuat dapat melawan infeksi sehingga dapat menormalkan sintesis transferin. ikan (Berdanier. Sedangkan dengan pemberian vitamin C dalam bentuk bahan makanan (250 g buah pepaya)meningkatkan penyerapan 42 – 54. Jadi zat protein vitamin C dan vitamin A bekerja sama melalui perannya masingmasing untuk meningkatkan sintesis hemoglobin. 1989). 2003). sehingga anemia gizi besi akan menyebabkan terbentuknya sel darah merah yang lebih kecil dan kandungan hemoglobin yang rendah. dan melalui membran sel ke dalam sel-sel. Hasil penelitian Saidin. 1998 melaporkan bahwa dengan pemberian vitamin C dalam bentuk tablet maupun dalam bentuk bahan makanan (buah pepaya) dapat meningkatkan penyerapan besi ibu hamil.SCIENTIA VOL. 72 . 1998). Besi berperan dalam sintesis hemoglobin dalam sel darah merah dan mioglobin dalam sel otot. Pengaruh vitamin C atau asam askorbat adalah dose related dan signifikan pada semua jenis makanan (Svanberg. 1997 tentang pemberian tablet besi dengan penambahan vitamin C terhadap perubahan kadar Hb dan ferritin serum membuktikan bahwa pemberian tablet besi dan vitamin C 150 mg. Vitamin C berperan dalam memindahkan besi dari transferin di dalam plasma ke ferritin (Almatsier. 1995). Hasil penelitian Saidin dan Sukati. Hubungan secara tidak langsung ini memberikan pengaruh utama pada pemberian pertama 25-50 mg asam askorbat dalam makanan. 1 2010 ISSN : 2087-5045 banyak ditemukan dalam makanan nabati. dari darah ke jaringan-jaringan. KESIMPULAN Zat besi dibutuhkan untuk produksi hemoglobin.0% pada bumil dengan makanan pokok beras. sehingga mudahdiserap dalam pH lebih tinggi dalam duodenum dan usus halus (Almatsier. Vitamin C bertindak sebagai enhancer yang kuat dalam mereduksi ion ferri menjadi ion ferro. Vitamin C diperlukan untuk meningkatkan penyerapan besi di dalam tubuh. ayam.

Jakarta Departemen Kesehatan RI 1999. Am J ClinNutr 49 : p. 1 NO. Reksodiputro. Professor. Vitamin A Intervention : Short-term effects of a single. AJC. Pedoman Penanggulangan Anemia Gizi di Indonesia. Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi VI Tahun 1998. Pedoman Pemberian Besi Bagi Petugas. 1998. RS Dr. Rossander. Am J Clin Nutr (51). Georgia. Br J Nutr 73 . Comparison between time-dependent changes in iron metabolism of rats as induced by marginal deficiency of either vitamin A or iron. Cipto Mangunkusumo. Diterjemahkan oleh Ronardy. p. Binkesmas. MW et al. Brune. AC 1994. 1990.WHO. Jakarta : Gramedia Bloem. hal. massive dose on iron metabolism. Ditjen. Jakarta hal.LCC De Maeyer 1993. S 2003. Berdanier.Jakarta Indonesia Departemen Kesehatan RI 1996.443 . DH Widya Medika.Jenewa. Bagian HematologyOnkologi Medik bagian Ilmu Penyakit Dalam. Haryanto 1994. Benny. M. Roodenburg. Oxford University Press new york. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). 1 2010 ISSN : 2087-5045 DAFTAR PUSTAKA Almatsier. Direktorat Bina Gizi Masyarakat.SCIENTIA VOL. Principles of Nutritional Assessment. Hallberg. L 1989. CD 1998. University of Georgia Athens. S.453.755. Jakarta Gibson. oral. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Iron absorption in man : Ascorbic acid and dose dependent inhibition by phytate. Beynen. Food Nutrition. L. Sub. RS 2005. Interdependence of vitamin A and iron : an Important association for programmess of anemia control Proc Nutr Soc Bloem. Yu. Jakarta.140-4. Fakultas Kedokteran UI. Advanced Nutrition Micronutrients. Kodyat. MW 1995. Mekanisme Anemia Defisiensi Besi. West. 154 – 160. Pencegahan dan Pengawasan Anemia Defisiensi Besi. CE. by CRC press. A. A dkk. Penuntasan Masalah Gizi Kurang.

tahun. Bila naskah dalam bahasa Inggris. Naskah diketik menggunakan komputer. Abstrak tidak lebih dari 250 kata yang diketik dengan jarak 1 spasi. tahun. Naskah akan dikembalikan jika dilengkapi perangko secukupnya 8. Kalumpang Km. Sistematika penulisan disusun sebagai berikut : a. kutipan dari jurnal dengan susunan : nama penulis. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. judul buku (tulis tebal). Tabel dan gambar harus diberi judul dan keterangan yang jelas 6. ditambah literatur pendukung yang relevan d. Kesimpulan atau saran g. 4. Abstrak c. maka abstrak ditulis dalam bahasa Indonesia. Naskah belum pernah dan tidak akan pernah dipublikasikan pada media lain. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Petunjuk Penulisan Pada Jurnal Scientia 1.com (khusus softcopy) . penerbit. Hasil dan Pembahasan f. baik berupa review maupun sintesis. Pendahuluan : berisi latar belakang masalah. Daftar Pustaka (kutipan dari buku dengan susunan : nama penulis. Naskah & softcopy dapat dikirimkan ke : Alamat : Jl. Redaksi berhak merubah naskah tanpa mengurangi isi dan maksud naskah 7. nama lengkap penulisan dan lembaga b. Naskah berupa hasil penelitian atau karya ilmiah dari bidang Ilmu Farmasi dan Kesehatan. Adinegoro/Simp. maka abstrak ditulis dalam bahasa Inggris. Judul. 1 NO. sebaliknya bila naskah dalam bahasa Indonesia. Nama penulis ditulis lengkap dengan gelar dan lembaga/instansi tempat penulis bekerja 9. 3. volume. Metode Penelitian e. nomor halaman) 5. Pada bagian akhir naskah dicantumkan riwayat hidup penulis 10.SCIENTIA VOL. dengan jumlah halaman maksimal 10 halaman kertas ukuran kuarto (A4) dengan spasi ganda. 2. kota terbit. Redaksi berhak menolak naskah yang kurang layak untuk dipublikasikan. Naskah 1 rangkap beserta softcopy (dalam bentuk CD) dikirim ke redaksi. 17 Lubuk Buaya Padang-25173 e-mail : stifi_perintis@yahoo. judul jurnal. judul artikel.