SCIENTIA VOL. 1 NO.

1 2010 ISSN : 2087-5045

Volume 1, Nomor 1

Tahun 2010

ISSN : 2087-5045

0

DAFTA R I SI
ANALISA KANDUNGAN FLAVONOID DAN AKTIFITAS ANTIOKSIDAN DARI REMPAH TUMBUHAN OBAT SUMATERA BARAT Deddi Prima Putra dan Verawati 1 -7

ISOLATION OF Vibrio parahaemolyticus FROM BEEF MARKETED 8 -1 3 IN PADANG, to xR TARGETED IDENTIFICATION, AND AMP LIFICATION OF tdh AND trh GENES ON ISOLATES USING POLIMERASE CHAIN REACT ION Eka Fitrianda, Marlina dan M. Husni Mukhtar EFEKT IFITAS BROMELAIN KASAR DARI BATANG NENAS (Ananas Comosus L. Merr) SEBAGAI ANTIPLAK DALAM PASTA GIGI Fif i Harmely, Henny Lucida dan M. Husni Mukhtar FOR MULASI KRIM E KSTRAK ETANOL DAUN UBI JALAR ( Ipomea Batatas.L.)UNTUK PENGOBATAN LUKA BAKAR Farida Rahim, Mimi Aria dan Nurwani P.A AKTIFIT AS EKSTRAK ETANOL BIJI JINTAN HITAM (Nigella sati va Linn.) TERHADAP TITER ANTIBODI DAN JUMLAH SEL LEUKOSIT PADA MENCIT PUTIH JANTAN Suhatri dan Yufri Aldi PENETAPAN POLA RESISTENSI ANTIBIOTIKA (Vib rio Parahaemolyticus) HASI L ISOLASI DARI CUMI-CUMI ( Loligo vulgaris) DAN KEPITING BAKAU (Scylla serratta) Ria Afrianti, Marlina dan M. Husni Mukhtar AKTIVITAS ANTI INFLAMASI DAR I EKSTRAK ETANOL DAUN BUNGA KEMBANG BULAN (Tithonia diversifolia A. Gray) TERHADAP MENCIT PUTIH BETINA Verawati, Mimi Aria dan Novicaresa M PENGARUH LAMA PENYIMPANAN PADA SUHU KAMAR DAN LEMARI PENDINGIN TERHADAP KANDUNGAN PROTEIN PADA DADIH KERBAU DENGAN METODA KJELDAHL Regina Andayani , Revi Yenti dan Wi wit Gustiva PENGARUH PERBANDINGAN ETANOL AIR SEBAGAI PE LARUT EKSTRAKSI TERHADAP PEROLEHAN KADAR FENOLAT DAN DAYA ANTIOKSIDAN HERBA MENIRAN (Phylantus niruri.L.) Harrizul Riva’i dan Martinus PROFIL PENGGUNAAN KOMBINASI ANTI DIABETIKA ORAL DENGAN INSULIN PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 DI SMF PENYAKIT DALAM RSUD Dr. ACHMAD MOCHTAR BUKITTINGGI Radjuddin Dahlan dan Hansen Nasif PENGARUH ASUPAN PROTEIN DAN MIKRONUTRIEN (Zat Besi Vit. C dan Vit. A) TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN Erina Masri Scientia, V ol. 1, N o. 1, 2010 ; halaman 1 – 58 ISSN : 2087-5045 Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STIFI) Perintis Padang 14-19

20-25

26-33

34-38

39-45

46-51

52-59

60-65

66-73

SC IENT IA
JURNAL FARMASI DAN KESEHATAN
TERBIT DUA KALI SE TAHUN SETIAP BULAN FEBRUARI DAN AGUSTUS

D E W AN RE D A K SI
Penanggung Jawab : Prof. H. Syahriar Harun, Apt Pemimpin Umum : DR.H.M. HusniMukhtar,MS, DEA, Apt Redaktur Pelaksana : Verawati, M.Farm, Apt Eka Fitrianda, M.Farm, Apt Sekretariat : Afdhil Arel, S.Farm, Apt Khairul Dewan Penyunting : Prof.H. Syahriar Harun,Apt Prof.DR.H. Amri Bakhtiar,MS,DESS,Apt Prof.DR.H. Almahdy, MS, Apt DR.H.M. Husni Mukhtar, MS, DEA, Apt Drs.H. Radjudin Dahlan, M.Pharm, Apt DR.Hj. Marlina, MS, Apt Drs. Yufri Aldi, MSi, Apt Hansen Nasif, SSi, Sp.FRS, Apt Drs. B.A. Martinus , MSi Hj. Fifi Harmely, M.Farm ,Apt Farida Rahim, M.Farm, Apt Revi Yenti, M.Si, Apt Verawati, M.Farm, Apt Ria Afrianti, M.Farm ,Apt Eka Fitrianda, M.Farm, Apt

Penerbit : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STIFI) Perintis Padang ISSN : 2087-5045 Alamat Redaksi/Tata Usaha STIFI Perintis Jl. Adinegoro Km. 17 Simp. Kalumpang Lubuk Buaya Padang Telp. (0751)482171, Fax. (0751)484522
e-mail : stifi_perintis@yahoo.com website : www.stifi-padang.ac.id

Scientia, V ol. 1, N o. 1, 2010 ; halaman 1 – 58 ISSN : 2087-5045 Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STIFI) Perintis Padang

1 2010 ISSN : 2087-5045 ANALISA KANDUNGAN FLAVONOID DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI REMPAH TUMBUHAN OBAT SUMATERA BARAT 1 Deddi Prima Putra1. jantung. kemudian air seduhan ini di minum. Reaksi rantai ini dapat menimbulkan pengrusakan sel yang berujung pada mutasi sel dan apabila merusak organ yang memiliki fungsi tertentu dapat menimbulkan penyakit degeneratif. Kunyit (Curcuma domestica Val). Verawati2 Fak. sehingga manfaat dan keamanannya dapat dipertanggungjawabkan. Pemicu timbulnya penyakit ini salah satunya adalah adanya radikal bebas (Rungkat. tapi rempah juga sebagai tumbuhan obat. and Pala (Myristica fragrans Houtt). 71. Radikal bebas dalam kehidupan sehari-hari dapat dijumpai seperti akibat metabolisme yang 1 . 69. Kunyit (Curcuma domestica Val). Makanan sehari-hari kita mengandung paling tidak satu jenis rempah.54. jahe hidrofil . 47. There were total flavonoid of Jahe (Zingiber officinale Rosc).77 µg/g respectively (quercetin equivalent).SCIENTIA VOL. atau bahan mineral. 1981). molekul harus mencari elektron lain sebagai pasangan. 0.08. medicinal plants PENDAHULUAN Obat asli Indonesia merupakan obat yang berasal dari tumbuhan. Keywords : Antioxidant. Antioxidant activity and total flavonoid were measured by Spectrophotometer UV-Visible using DPPH reagent for antioxidant activity and Alumunium Chloride for total flavonoid. 1 NO. Rempah punya arti lebih dari sekedar penambah rasa hidangan. Pengolahan obat asli Indonesia masih sederhana dengan menyeduh bahan tumbuhan kering atau segar dengan air panas. Kencur (Kaemferia galanga Linn ). dan arterosklerosis. Rempah sudah lama dikenal di Indonesia.98 µg/ml for jahe total. There are Jahe (Zingiber officinale Rosc). 1994).35. Untuk mencapai kestabilan. Oleh karena itu bahan obat asli Indonesia perlu distandarisasi.21. 109. kunyit hidrofil. Lengkuas (Alpinia Galanga Linn). 0. Radikal bebas ini adalah senyawa kimia yang mempunyai satu atau lebih elektron tidak berpasangan. 50. jahe lipofil.85. liphofilic fraction and hydrophilic fraction) against DPPH 20 µ g/ml 80. Rempah tumbuhan obat ini berpotensi besar memerangi sederet panjang penyakit dan masalah kesehatan seperti kanker.09 µ g/ml for kunyit total.67 µ g/ml for pala total. Farmasi Universitas Andalas 2 STIFI Perintis ABSTRACT Antioxidant activity and total flavonoid content of five medicinal plant and species of West Sumatera have been measured. Pada umumnya obat asli Indonesia belum mempunyai data klinik dan penggunaannya berdasarkan pengalaman. 19. pala hidrofil. hewan. diabetes melitus. The result showed that three of plants have highest antioxidant activity with IC50 ( total ethanol extract. Flavonoid.62. Senyawa ini bersifat tidak stabil dan sangat reaktif. 68. Pala (Myristica fragrans Houut). Quercetin was used as standard compound. Dengan demikian tumbuhan obat asli Indonesia dapat dikembangkan menjadi obat fitofarmaka (Depkes.

Linn).SCIENTIA VOL. Pembuatan ekstrak heksan (ekstrak lipofil) yaitu 5 gram sampel di ekstrak dengan heksan 96% b. Rukmana. Berdasarkan potensi rempah tersebut sebagai obat dan adanya kandungan flavonoid di dalamnya maka dilakukan penelitian untuk menentukan kadar flavonoid total dalam rempah secara spektrofotometer dengan menggunakan Alumunium klorida kolorimetri dan penentuan aktivitas antioksidan menggunakan metode radikal DPPH (Zhinshen. val). kapas. 2004). pisau. 1 NO. Linn. bahan kimia beracun. Molyneux. Erlemeyer berbagai ukuran. polusi udara. tabung reaksi. Antioksidan alam lebih disukai karena efek sampingnya kurang. rimpang lengkuas (Alpinia galanga. 1 2010 ISSN : 2087-5045 berlebihan atau berasal dari lingkungan seperti asap rokok. timbangan digital. rimpang jahe (Zingiber officinale rhizoma. Quersetin. rimpang jahe (Zingiber officinale. Willd). Untuk menanggulangi efek dari radikal bebas ini. 1997). rimpang kencur (Kaemferia galanga rhizoma. mesin penghalus ( Brook Crompton®). 2 . rak tabung reaksi. akibat serangan radikal bebas (Karyadi. corong. Natrium asetat 1 M. botol. 1995). Houtt). Kegunaan utama dari antioksidan adalah menghentikan atau memutuskan reaksi berantai dari radikal bebas dengan cara menyediakan dirinya bereaksi dengan radikal bebas itu sendiri. 1992. Aquadest. Bahan Bahan yang digunakan adalah rempah-rempah seperti rimpang kunyit (Curcuma domestica. Youngson. Aquadest. heksan 96%. Antioksidan dapat berasal dari alam dan sintetik. Willd). dan dari tanaman famili Myristicaceae seperti buah Pala (Myristica fragrans. rimpang lengkuas (Alpinia galanga rhizoma. Houtt). spatel. rotary Evaporator (BUCHI ®). labu rotary. alumunium foil. spektrofotometri UVVis Pharmaspec 1700 (shimadzu ®). 1994. 2001. metanol. DPPH. Seperti beberapa tanaman dari Famili Zingiberaceae seperti rimpang kunyit (Curcuma domestica rhizoma. pestisida. vial. radiasi sinar UV (Raharjo. rimpang kencur (Kaemferia galanga. etanol 96 %. METODE PENELITIAN Alat dan Bahan Alat Alat yang digunakan berupa seperangkat alat maserasi. Linn) dan buah pala (Myristica fragrans. secara alami tubuh mempunyai benteng yang dapat mencegah serangan radikal bebas tersebut yaitu enzim (katalase) ataupun antioksidan yang berasal dari luar tubuh yang umumnya berasal dari makanan. pipet mikro. Salah satu sumber antioksidan alam yang terdapat pada tanaman adalah flavonoid. Pembuatan Ekstrak Sampel Serbuk sampel sebanyak 5 g diekstraksi dengan menggunakan pelarut yang berbeda sehingga diperoleh 3 macam ekstrak yaitu : a. 1999. val). label. Kemudian maserat disaring dan filtrat dikentalkan dengan rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak kental total. Silalahi. Pembuatan ekstrak etanol total (ekstrak total) yaitu 5 gram sampel di ekstrak dengan etanol 96% sebanyak 25 ml selama 2 x 24 jam. pipet tetes. antioksidan dapat menyelamatkan sel-sel tubuh dari kerusakan. (Rukmana. 2005). AlCl3 10%. Rosc). Dengan kata lain. Linn. Rosc).

kontrol Dengan menggunakan persamaan linear dari data stándar maka dapat dihitung IC50 stándar kuersetin sedangkan IC50 sampel dihitung dengan metoda analisa probit menggunakan finney. kunyit dan pala. kunyit. Setelah dilakukan penelitian mengenai analisa kandungan flavonoid total dan aktivitas antioksidan dari tanaman obat dan rempah Sumatera Barat didapatkan hasil bahwa dari 5 macam sampel rempah (jahe. 5 µg/ml) ditambah 0. 50 dan 25 µg/ml) atau larutan stándar kuersetin (0. 1 NO. Serapan diukur pada panjang gelombang maksimum DPPH yaitu 517 nm.SCIENTIA VOL.1. c.2 ml larutan sampel (1 mg/ml.8 ml air suling. Total kandungan flavonoid sampel dinyatakan sebagai kesetaraan gram kuersetin/100 gram sampel kering. Sampel x 100 % Abs. 0. Aktivitas antioksidan sampel dinyatakan sebagai persentase inhibisi dihitung dengan rumus : Abs. 100. Ketiga rempah ini ditentukan IC50 nya yakni konsentrasi sampel yang mampu merangkap radikal DPPH sebesar 50%. 20. Kocok homogen lalu biarkan selama 30 menit. 10. Kemudian maserat disaring dan filtrat dikentalkan dengan rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak kental lipofil. Kemudian maserat disaring dan filtrat dikentalkan dengan rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak kental hidrofil. 60. 0. kencur. 0.2. 2004).8 ml larutan DPPH (20 µg/ml). lengkuas. 40. Pembuatan ekstrak etanol setelah heksan (ekstrak hidrofil) yaitu ampas dari hasil ekstraksi dengan heksan di ekstraksi lagi dengan etanol 96% sebanyak 25 ml selama 2 x 24 jam.6 µg/ml) di dalam vial. 0.1 ml AlCl3 10 %. Sebanyak 2 ml dari larutan ekstrak(1mg/ml) ataupun larutan standar kuersetin (100. 80. Campuran larutan dihomogenkan dan dibiarkan selama 30 menit di tempat gelap. Semakin kecil nilai IC50 maka semakin aktif sampel tersebut sebagai antioksidan. Ukur serapan pada panjang gelombang 415 nm. HASIL DAN PEMBAHASAN Aktivitas antioksidan ditentukan dengan metode DPPH (Molyneux. 0. Absorban kontrol yaitu DPPH (20 µg/ml) dalam metanol juga diukur.4. kontrol – Abs. Aktivitas Antioksidan Penentuan Total Kandungan Flavonoid Penentuan Sampel Kandungan flavonoid total ditentukan dengan metode kolorimetri menggunakan Aluminium klorida.dan pala) didapatkan tiga sampel memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi yaitu jahe. ditambah 3. 1 2010 ISSN : 2087-5045 sebanyak 25 ml selama 2 x 24 jam. 3 .1 ml Na asetat 1M dan 2.

72 25.61 29.total 54.24 32.Lipofil 57.04 89.48 73.44 Kunyit.Bkt.BS.26 28.Total 32.98 Jahe.4 Jahe.12 23.54 17.63 39.81 Kunyit.36 49.72 29.67 Jahe.82 21.14 21.Ap.Hidrofil 46.56 Jahe.44 4 .54 52.Lipofil 68. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Tabel I.59 21.51 69.72 28. 1 NO. Nilai IC50 sampel No 1 Nama sample Jahe.12 85.89 47.Total 74.Hidrofil 46.51 Kunyit.58 58.59 65.62 Jahe.Ap.9 59.Ap.BS.Total 97.27 60.68 Jahe.Bkt.09 92.09 30.76 42.Bkt.3 Jahe.66 2 Kunyit.95 78.27 Kunyit.50 8.08 35.81 36.97 3 Pala.22 39.Total 90.45 22.SCIENTIA VOL.Ap.93 26.Bkt.18 IC50 90.06 63.41 69.BS.96 36.83 50.92 Kunyit.85 43.18 15.Hidrofil 140.Total 60.Total Konsentrasi 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 % Inhibisi 52.Bkt.4 76.31 49.BS.Ap.Hidrofil 79.58 58.BS.09 49.38 44.Lipofil 81.95 57.Hidrofil 47.

Bkt. maka diperoleh suatu nilai jumlah sampel yang akan memberikan aktivitas antioksidan yang setara dengan 1 mg kuersetin.216 µg/ml.06 71.38 23. total 2 Kunyit.85 58.82 154. total 1 Jahe. Tabel II.999. batas kuantisasi 4. Jahe 0.SCIENTIA VOL. lipofil Jahe.Bkt.55 Pala.017x dengan koefisien korelasi 0.56 31.53 113. Pada pengukuran flavonoid total tiap gram sampel kering setara kuersetin diperoleh kadar flavonoid total dari masing-masing sampel dimana kadar paling tinggi adalah pada ekstrak etanol kunyit 19. batas deteksi – 0.Hidrofil 50 25 100 50 25 100 50 25 43.09 50.21 47.72 88.39 156.16 Jahe.26 162. total 3 Pala.0106371.09 16. simpangan baku 0.81 36. lipofil Kunyit hidrofil Pala.54 µ g/g.32 106.52 µg/g.0. 1 NO.Hidrofil Keterangan : AP BS Bkt : Alahan Panjang : Batu Sangkar : Bukit tinggi 81. pala 0.47 57.8 Dari data IC50 sampel dan IC50 stándar kuersetin.9 248.67 Aktivitas antioksidan 1g ekstrak setara mg kuersetin (mg) 182.84 µ g/g. hidrofil Kunyit.BS.69 Pala.70 µg/g diikuti kencur 0. lengkuas 0. hidrofil Pada pengukuran absorban flavonoid total untuk penentuan kurva kalibrasi kuersetin pada panjang gelombang 415 nm di dapat persamaan regresi y = .Total 45.92 µg/g.62 69.35 109. lipofil Pala.98 68. Aktivitas Antioksidan dari Sampel Setara mg Kuersetin No Nama sampel Nilai IC50 aktivitas antioksidan terukur (µg/ml) 80.016 + 0.45 61. 5 . 1 2010 ISSN : 2087-5045 Pala.114942 µg/ml.

02 6.AP.07 ± 45.Total Kencur.AP.27 ± 2. Kandungan Flavonoid total sampel Konsentrasi Flavonid (µg/ml) 10.53 9.26 0.50 ± 0.51 157.92 ± 0. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Tabel III.27 5.SCIENTIA VOL.85 1.Total Lengkuas.96 4.62 8.AP.83 9.91 0.03 11.AP.99 142.Total Lengkuas.09 0.14 0.42 4.64 Kadar Flavonoid tiap 5 g serbuk kering (µg/g) 0.13 25.Total Pala.Bkt.Total Rata-rata ± SD 6 .66 19.67 124.Bkt.43 22. 1 NO.BS.76 0.52 ± 0.BS.71 8.03 9.Total Rata-rata ± SD Lengkuas.Bkt.49 0.70 0.60 4.60 0.Total Rata-rata ± SD Pala.Total Kunyit.Total Jahe.Bkt.5 8.078 Nama Sampel Jahe.84 ± 0.Total Kencur.Total Jahe.21 0.Total Rata-rata ± SD Kencur.39 ± 1.1 10.85 ± 1.55 71.70 ± 7.93 0.37 0.84 0.BS.BS.Bkt.05 4.41 0.54 ± 0.BS.Total Rata-rata ± SD Kunyit.64 11.Total Kunyit.

Sci.indomedia. Dampak terhadap Kesehatan dan Penangkalan. 1994.. Silalahi.htm Molyneux. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Dari penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui dari data IC50 aktivitas antioksidan dan penentuan kadar flavonoid total bahwa ekstrak yang kadar flavonoidnya tinggi mempunyai aktivitas antioksidan yang tinggi. T. 26(2). J. Zhinshen. p.77. Jakarta. Rukmana.com/intisari /1997/juni/antioksidan. Free Radicals and antioxidant Vitamin in Degenerative Disease.. Bogor. 211-219.0. 1994. 1-13. Kanisius. Kanisius. 1 NO. Modifikasi Peraturan Perundang – undangan Obat Tradisional. 2001. Jadi kemungkinan senyawa yang mempunyai aktivitas antioksidan yang tinggi adalah golongan flavonoid yang terdapat pada ekstrak polar atau fraksi hidrofil terutama pada jahe. Yogyakarta. Rukmana. Kencur. 0. Tanaman Berkhasiat Antioksidan. R. jahe dan pala setara kuersetin berturut-turut : 19. R. Tecnol. Jianming. The determination of flavonoid contents in mulberry and their scavenging effects on superoxide radicals. Jakarta. Mengcheng and W. 64: 555559. J.. Antioksidan. Rungkat. F. Proseding Seminar : Senyawa Radikal dalam Sistem Pangan : Reaksi Biomolekuler. 1995. Antioxidant : Vitamin C dan E For Health. The Use of Stable Free Radical Diphenylpicrylhydrazyl (DPPH) for Estimating Antioxidant Activity. 1981. Ekstrak hidrofilik memberikan aktivitas antioksidan lebih tinggi dibandingkan ekstrak lipofilik. 2005. http//www. 2004. 1999. Youngson. Penebar Swadaya.. The Journal of Indonesian Medical Association : II (5). Raharjo. Temulawak Tanaman Rempah Oba. kadar flavonoid yang tinggi terdapat pada kunyit.. Resep Sehat dan Umur Panjang. diterjemahkan oleh Susi Purwoko. Karyadi. kunyit dan pala. 7 .54 µg/g terhadap sampel kering. “Radikal Bebas dan Patofisiologi Penyakit”. Food Chem. J. R.85. E. Jakarta. 1992. Yogyakarta. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa dari 5 tanaman yang berasal dari 3 daerah. M. DAFTAR PUSTAKA Direktorat Pengawasan Obat Tradisional Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan RI.SCIENTIA VOL.

the genes are referred to as the important virulence coding genes in V. In V. molecular epidemiological studies show a close relationship between the hemolysin coding genes in these bacteria (tdh. Gen tersebut merupakan gen yang sangat spesifik pada spesies V. trh. parahaemolyticus produce major virulence factor that is a thermostable direct hemolysin (TDH) and showed βhemolysis activity on Wagatsuma agar (KP positive strains). M. parahaemolyticus was first isolated in food poisoning outbreak in Japan in the early 1950s. parahaemolyticus. "TDH-related hemolysin" (TRH). nausea and vomiting. dengan metoda yang sama juga dilakukan amplifikasi terhadap gen pengkode produksi toksin hemolisin (tdh dan trh) yang merupakan faktor virulen utama pada bakteri tersebut. parahaemolyticus has become one of food contaminant pathogens with the highest prevalence in Asian countries (Pan et al. The main clinical manifestation of infection due to V. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa seluruh isolat V. Based on the Shirai et al (1990) report. Most strains of clinical V. toxR. parahemolyticus.SCIENTIA VOL. Another virulence factor. Isolasi dilakukan dengan menggunakan medium CHROMagarTM Vibrio. Currently. parahaemolyticus is one of bacterias actively studied in various parts of the world because of it’s ability in causing diarrhea. Key words: Vibrio parahaemolyticus. Marlina2. Selanjutnya. but 8 . parahaemolyticus is gastroenteritis. parahaemolyticus. Therefore. 1 2010 ISSN : 2087-5045 ISOLATION OF Vibrio parahaemolyticus FROM BEEF MARKETED IN PADANG. Terhadap 40 isolat tersebut dilakukan identifikasi dengan metoda Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk mengamplifikasi gen toxR. whose production is encoded by the tdh and trh are the important virulence factors for the development of gastroenteritis. namun tidak ada satu isolat pun yang memiliki gen pengkode toksin hemolisin baik tdh maupun trh. 1989). 1997). toxR TARGETED IDENTIFICATION. usually associated with KP negative strains or with urease positive strains (Kelly and Stroh. parahaemolitycus telah berhasil diisolasi dari sejumlah sampel daging sapi mentah yang dikoleksi di Pasar Raya Padang. V. parahaemolyticus terbukti memiliki gen tox-R. Although V. "thermostable direct hemolysin" (TDH) and the "TDH-related hemolysin" (TRH). Husni Mukhtar2 STIFI Perintis Padang. 1 NO. V. or both) with the ability to cause disease. tdh. parahaemolyticus is a marine bacterium that has long been associated with diarrhea after eating raw or not cooked perfectly seafood. trh INTRODUCTION V. AND AMPLIFICATION OF tdh AND trh GENES ON ISOLATES USING POLIMERASE CHAIN REACTION 1 Eka Fitrianda1. 2 Fakultas Farmasi Universitas Andalas Padang ABSTRAK Sebanyak 40 isolat V. in which the main symptoms include abdominal cramps.

a blue dye. the test sample. 2. Luria Bertani (LB). incubator (Gallenkamp ®).). TRH R2: 5'GGCTCAAAATGGTTAAGCG-3' and TRH R6: 5'CATTTCCGCTCTCATATGC-3' for detection of trh gene. rotary shaker incubator (Bigger Bill Digital ®). MATERIALS AND METHODS Equipments and materials PCR machine (Eppendorf Mastercyclergradient ®). and lately has been widely used to identify genes from different species of bacteria including V. distilled water. In this study we isolated V. Salt Polimixin Broth (SPB). the elektrophoresis device. centrifugator (Eppendorf Minispin ®). Samples were taken from traders in Pasar Raya Padang. GoTaq DNA polymerase. TDH D3: 5'CCACTACCACTCTCATATGC-3’ and TDH D5: 5'GGTACTAAATGGCTGACATC-3' for detection of tdh gene. immediately stored in containers and taken to the laboratory for testing. Polymerase Chain Reaction (PCR) is a major breakthrough in molecular diagnostics. 5X Colorless GoTaq Reaction.SCIENTIA VOL. The isolated strains are known to carry hemolysin toxin-producing genes (tdh and trh) which are the major virulence factors of V. 1 2010 ISSN : 2087-5045 some recent researches showed that V. 1 NO. To avoid contamination. 10X Ex Taq buffer solution. V. Sampling The test samples in this study were 15 raw beef samples. transilluminator. tris-borateEDTA (TBE). samples were taken in a way directly entered by the merchant into sterile containers. micro pipette (Eppendorf ®). this is due to the high sensitivity level of this method. The method used to identify and amplify tox-R. parahaemolyticus. has successfully isolated these bacteria from pensi (Corbicula moltkiana prime) collected in lake Singkarak. These cultures were inoculated using a needle loop onto surfaces of CHROMagarTM Vibrio previously been 9 . namely: toxR-4: 5'GTCTTCTGACGCAATCGTTG-3' and toxR-7: 5'ATACGAGTGGTTGCTGTCATG-3' for the detection of toxR gene. Research conducted by Marlina et al (2007) for example. 100 bp ladder. parahaemolyticus has also found on food samples which are not seafood categories. tdh and trh genes is "Polymerase Chain Reaction" (PCR). V. Parahaemolyticus AQ4037 (positive control for the toxR and trh genes). vortex (Mixer ® VM-1000). parahaemolyticus AQ3815 (positive control for tdh gene. Eppendorf tubes. V. NaCl. parahaemolyticus from beef samples and identified them by examining on their toxR gene. colony counter (Stuart scientific ®). and three pairs of primers. parahaemolyticus. Luria Bertani (LB) Broth. CHROMagarTM Vibrio (CHROMagarTM). polaroid film.5 mM dNTP solution. agarose. We also detected their virulent factors coding genes by amplificating tdh and trh genes on these isolates. laminar air flow (Esco ®). parahaemolyticus Isolation 10 gram sample was added in to 100 ml Salt Polimixin Broth (SPB) media and incubated at 37°C for 24 hours. Another study conducted by Zulkifli et al (2009) on the cockles collected from rivers in Padang showed similar result. According to Gelfand et al (1998). ethidium bromide.

5 mM dNTP Amount(µl) 5.1 1.5 1. Electrophoresis was performed at 100 V voltage for 20 minutes with 1 x TBE as the mobile phase.4d 0. After incubated for 24 hours at 37°C. Stage for tox-R gene amplification (23 cycles) Stage Predenaturation Denaturation Annealing Extention Elongation Temperature ( oC ) 96 94 63 72 72 Time (minute) 5 1 1.000 rpm for 1 min. The type and amount of each PCR components as shown in table below: Table 1. tdh and trh genes amplification Identification of toxR.0c 2. 1 NO.0c 17.5d 2.SCIENTIA VOL.0 Primer 1b Primer 2b Aquadest GoTaq DNA Polymerase DNA Template a 1. 10x Ex Taq buffer solution for the detection of toxR gene b Primer pairs are suitable for each gene c For the detection of tdh and trh genes d For the detection of toxR gene Eppendorf tube is then inserted into the PCR machine and amplification was performed using program which is suitable for detection of each gene as shown in table below: Table 2. purple colonies formed were suspected as colonies of V. toxR. the results of this amplification were colored using blue dye and then separated along electrophoresis process on 1% agarose gel in 1x TBE. 1 2010 ISSN : 2087-5045 poured and allowed to solidify in a petri dish. 1 ml LB broth culture centrifuged at 12. DNA template which had been prepared previously inserted into the Eppendorf tube for PCR machine and combined with other PCR components. parahaemolyticus were done using PCR method. The supernatant were the DNA template to be used for amplification of genes by PCR method. the supernatant removed. DNA template preparation Before the amplification of genes using PCR method.0 1. The suspension formed was heated for 10 minutes in boiling water and immediately put into the refrigerator with a temperature of -20ºC for 10 minutes. parahaemolyticus. while the sediment was added with 500 mL sterile distilled water and then suspended using vortex. Stage for tdh and trh genes amplification (33 cycles) Temperatur Time Stage e (minute) o ( C) Predenaturation 96 5 Denaturation 94 1 Annealing 55 1 Extention 72 2 Elongation 72 7 After all of the stages in the PCR process were completed.5 7 Table 3. PCR components Component Buffer solutiona 2. Each single suspected colony was inoculated into the Luria Bertani (LB) Broth containing 3% NaCl and incubated in a rotary shaker incubator at 37°C for 24 hours. Subsequently centrifuged at 12.000 rpm for 3 minutes and the supernatant were transferred into a new Eppendorf tube. DNA of control and testing bacteria were extracted using boil cell extraction (BCE) method. tdh and trh genes in V. The 100 bp ladder was used as a 10 .0 5x Colorless GoTaq Reaction Buffer for the detection of tdh and trh genes.0 15.

Size estimation of each product was done through comparison with 100 bp ladder. we successfully isolated suspected V. Electrophoresis gel of toxR positive V. parahaemolyticus is more sensitive than biochemical identification. 1 NO. The presence of suspected V. 1997). non-clinical V. 2001). targeting on toxR gene was performed to all of these isolates using PCR method. Figure 2. parahaemolyticus colonies on ChromagarTM Vibrio CHROMagar ™ Vibrio is a selective media for identification of V. toxR gene is a gene that is very specific to the V. Suspected V. Previously. parahaemolyticus with a higher level of differentiation compared to TCBS medium (Kudo et al. The same result have been reported by Zulqifli et al (2009). parahaemolyticus isolates also been isolated from coastal waters of western United States (Okuda et al. RESULTS AND DISCUSSION Of 15 raw beef samples which were examined. Dileep et al (2003) also states that the detection of toxR gene by PCR method to detect V. Generally. In this study. Identification 11 . 251 bp and 250 bp respectively. we successfully isolated 40 suspected V. parahaemolyticus from shrimp samples in Malaysia. Malaysia. lane 13 was 100 bp ladder. V. out of total of 40 tested isolates. all (100%) showed toxR positive results. parahaemolyticus from seawater in Peninsular. Electrophoresis result which was observed by UV transilluminator will form separate bands which were distinguished by the number of their base pairs (bp). Results were then documented by polaroid film. parahaemolyticus in samples characterized by the formation of purple colonies on the surface of CHROMAgarTM Vibrio medium.5 mL/ml). all of CHROMagar™ Vibrio isolates from cockles gave positive results on testing of toxR using PCR method. After the electrophoresis process was completed. tdh and trh amplification product were 368 bp. A study recently conducted by Sujeewa et al (2009) succeeded in isolating V. parahaemolyticus colonies from 3 samples. toxR positive isolates showed 368 bp band in electrophoresis gel. lane 12 was positive control. parahaemolyticus isolates: lane 1-11 were positive toxR isolates. The PCR method to detect this gene has been reported (Lee et al. V.SCIENTIA VOL. The size of toxR. agarose gel was stained with ethidium bromide solution (0. parahaemolyticus has been isolated from various places around the world. Figure 1. 1 2010 ISSN : 2087-5045 marker for determining the size of amplification product. parahaemolyticus. parahemolyticus species. From 3 of 15 samples which were examined. 1995) as a very useful method to confirm the presence of this species in samples. Tanil et al (2005) succeeded in isolating V.

Nishibuchi and I. 1998. parahaemolyticus isolates were isolated in samples which were not derived from the sea environment. PCR protocols: A guide to methods and amplifications. parahaemolyticus is a bacteria that normally lives in this habitat (DePaola et al. Y. and E. because V. Kumar. parahaemolyticus isolates. The presence of these genes represent the level of pathogenicity of V. According to Nishibuchi and Kaper (1995). and they are called virulent isolates. This such result also seen in V. Furthermore. H. A. none of the isolates has tdh or trh gene. H. Texas. Innis. BIBLIOGRAPHY DePaola. only few V. It makes the results of this research is interesting for further explored. parahaemolyticus isolates was isolated from cockles live in rivers around Padang. Kanagawanegatif Vibrio parahaemolyticus from patients and the environment in the Pacific 12 . T. The existence of these genes in V. As a result. In contrast. Bowers and D. 2000). Lett Appl Microbiol 36:423–7. a species which lives in lake Singkarak. other studies seem to successfully detect the presence of these virulence genes in environmental samples (Sujeewa et al. T. J. A. D. New York. Academic Press. Indonesia (Zulkifli et al. 2000. where the overall toxR positive isolates have no tdh or trh gene (Zulkifli et al. other publication also showed that V. parahaemolyticus in samples is the result of bacterial adaptation capabilities on low-salt environment.. 2007). parahaemolyticus previously isolated from cockle samples in Padang.. M. Kaysner. parahaemolyticus isolates carrying the virulent genes (tdh or trh). 1 NO. 1 2010 ISSN : 2087-5045 parahaemolyticus were isolated from marine waters or food samples from the sea. Cook. Stroh. Urease-positif. parahaemolyticus are tdh and trh. Kelly. 1989. parahaemolyticus isolated from nonclinical samples are rarely detected. parahaemolyticus isolates carrying tdh gene were isolated from Corbicula moltkiana.. more than 90% of V. 2009). In this study. White. parahaemolyticus isolates in this study are not virulent isolates. where a number of V. Applicationof polymerase chain reaction for detection of Vibrio parahaemolyticus associated with tropical seafoods and coastal environment. W. parahaemolyticus isolates isolated from beef samples marketed in Pasar raya Padang were having toxR gene. Major virulence factor coding genes in V. However. or is the result of cross-contamination when samples are marketed in the market. C. CONCLUSION All of 40 V. parahaemolyticus isolates from clinical samples have tdh or trh gene (DePaola et al. 2009). Similarly. 2003. J. M. J. Similar results have also found in other study (Marlina et al. 2009. Karunasagar. V. This suggests that V. and New York (1997 and 1998). M. studies are necessary to investigate whether the presence of V. because V. Environmental investigations of Vibrio parahaemolyticus in oysters after outbreaks inWashington. Appl Environ Microbiol 66:4649–54 Dileep.SCIENTIA VOL. Marlina et al. 2000). Kumar. 40 toxR positive isolates were detected for the present of tdh and trh genes by amplification using PCR method. A. M. Sninsky. 2007). Gelfand. J. S. but none of them has tdh or trh gene.

and C. Kaper. 1995. Laina. 35: 1965–1971 Pan. 35: 1260-1262 Shirai. Ishibashi. Food-borne disease outbreaks due to bacteria in Taiwan. Janda and M. Journal of Clinical Microbiology. H. Nishibuchi. Sujeewa. Zulkifli. Y. 2009.Y. 36 No. Radu. Hirayama. G. Infect. International Food Research Journal 16: 8995 Tanil. Clin. J. Y. W. S. J. Ito. Nishibuchi. S. Y. J. Okuda. C. M. Nishibuchi... M. Analysis of the Thermostable Direct Hemolysin (tdh) Gene and the tdh-Related Hemolysin (trh) Genes in Urease-Positive Strains of Vibrio parahaemolyticus Isolated on the West Coast of the United States. Detection of tdh and trh genes in Vibrio parahaemolyticus isolated from Corbicula moltkiana prime in West Sumatera Indonesia. 1 NO. S.. Nishibuchi. 1990. Clin. Napis. and J. T. T. Southeast Asian J Trop Med Public Health. 2005. B. K. 38:349-355. B. Southeast Asian J Trop Med Public Health. 2009. 1995. B. S. Chien. 1997. International Food Research Journal 16: 289296 13 . Molecular epidemiologic evidence for association of thermostable direct hemolysin (TDH) and TDH-related hemolysin of Vibrio parahaemolyticus with gastroenteritis. C. 1986 to 1995. Chen. Rahim. C. L. Yeap. A. Prevalence of toxic genes of Vibrio parahaemolyticus in shrimps (Penaeus monodon) and culture environment. Microbiol. K. H. Lee.SCIENTIA VOL. Napis. K.R. Kqueen. Pan and C. 58: 3568–3573. Identification of Vibrio parahaemolyticus isolates by PCR targeted to the toxR gene and detection of virulence genes. 4. Thermostable direct hemolysin gene of Vibrio parahaemolyticus: a virulence gene acquired by a marine bacterium. S. Alitheen. Kumagai. M. Wang. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Northwest. M.. and M. S. Radu. Abbott. S. N. Microbiol. Radu. Nakabayashi. Infect. Lesley and A. T. S. and M. 1997. M. 63:2093–2099. Raha. A. W. Y. H. Mutalib. Nakamoto. M. Characterization of vibrio parahaemolyticus isolated from coastal seawater in peninsular Malaysia. N. 2007. K. Maurice and J. Nishibuchi. J. Sequence of a cloned pR72H fragments and its use for detection of Vibrio parahaemolyticus in shell fish with PCR.. Marlina. S. A. L. R. Horng. S. Gunsala. W. Immun.F. Norrakiah and M. Zunita Zakaria. 27: 2820-2822 Lee. A. S. Applied and Environmental Microbiology 61: 1311-1317. B. B... Immun. Takeda.

Fauzi dan Krisna. yang berarti dari sepuluh orang enam diantaranya menderita gigi berlubang (Nugraha.05). Jika plak tidak dibersihkan.SCIENTIA VOL. Keyword: crude bromelain. Plak tersusun oleh 80% air dan 20 % sisanya terdiri dari beberapa komponen seperti protein 40 – 50 %. prevalensi gigi berlubang di Indonesia berkisar 60 %. Ramli. maka lama-kelamaan mikroorganisme yang berkontak pada permukaan gigi akan menyebabkan karang gigi ( kalkulus ) dan menimbulkan karies pada gigi (Cracken. Husni Mukhtar2) 1) Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STIFI) Padang. 2) Fakultas Farmasi Universitas Andalas Padang ABSTRACT The effectivity of crude bromelain from steam pineapple have been done as antiplaque by plaque control record methods. M.84 % (F3C). The crude bromelain 5% in toothpaste has antiplaque effectivity noteqivalent with control (p<0. Lapisan lembut ini akan membentuk suatu matriks pada gigi dimana bakteri dapat melekat. Proses ekstraksi bromelain dilakukan secara maserasi dalam larutan buffer posfat pH 7.( Wilkinson. 1982).0 ( Darwis dan Sakara. Hal ini juga dipertegas dengan adanya intruksi oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan untuk menarik seluruh produk pasta gigi untuk anakanak yang masih mengandung fluorida di atas 500 ppm.05) and significant with basis formula ( p >0. yang dihitung dari berat kering plak.584 unit/mg equivalent 98. proteolytic activity. lipid 10 – 14 % dan abu 10 % dan komponen mineral seperti kalsium dan posfor. Untuk kesehatan dan mencegah kerusakan gigi dibutuhkan suatu zat antiplak dalam pasta gigi yang saat ini erat kaitannya dengan kandungan fluorida. salah satunya adalah bromelain dari nenas ( Ananas comosus L. antiplaque effectivity PENDAHULUAN Di Indonesia. Henny Lucida2).1982). Queen ). Munurut Pakaj (2004) pasta gigi yang mengandung fluorida tidak cocok untuk anak-anak di bawah 4 tahun. Merr) SEBAGAI ANTIPLAK DALAM PASTA GIGI Fifi Harmely1). 2008). penderita gigi berlubang jumlahnya tidak sedikit. 1 NO. 1990). toothpaste. Berdasarkan laporan pemakaian pasta gigi yang mengandung fluorida mempunyai efek samping perlu dicari alternatif mendapatkan formula pasta gigi dari bahan alam. Plak gigi adalah lapisan lunak yang terbentuk dari campuran sisa-sisa makanan serta bakteri yang diperantarai oleh saliva yang melekat pada permukaan gigi. karbohidrat 13 – 17 % . The formula of toothpaste was crude bromelain 5% and abrasive 40% with proteolytic activity 6. Merr var. 14 . 1990. 1 2010 ISSN : 2087-5045 EFEKTIFITAS BROMELAIN KASAR DARI BATANG NENAS (Ananas comosus L. Hasil Survei Kesehatan Nasional 2002 menunjukkan.

bahan tambahan formulasi (Brataco Chemika). METODE PENELITIAN Alat Alat-alat gelas standar laboratorium(Pyrex®). Metoda yang digunakan untuk pengujian anti plak adalah metoda rekam kontrol plak yang diperkenalkan oleh O’Leary dkk. adanya zat ini memegang peranan penting dalam membentuk plak pada gigi. spektrofotometer UV-Vis (UVmini1240). Pelaksanaan Penelitian Pembuatan Pasta Gigi Bromelain Kasar Formula Pasta Gigi Bromelain (Lieberman 1989. 1 NO. Untuk pengukuran terlebih dahulu gigi–geligi diwarnai dengan perwarna plak (disclosing solution.1982). Dextran merupakan produk metabolit dari bakteri. dental plague disclosing gel (Global Care) dan air suling. Suatu produk bermerek dagang yang sudah beredar adalah pasta gigi Enzim ®. Sebelum perlakuan kepada sukarelawan terlebih dahulu diberikan penjelasan tentang tujuan penelitian dan informasi lain yang terkait dengan pemakaian pasta gigi. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Penggunaan enzim di dalam pasta gigi ditujukan untuk membantu pemecahan protein. timbangan analitik (Pioneer™). pemeriksaan gigi sebelum dan setelah pemakaian pasta gigi dilakukan oleh dokter gigi. Berdasarkan hal tersebut. lumpang dan alu. Sukarelawan Sukarelawan dalam penelitian ini sebanyak 15 orang berumur antara 18 – 24 tahun dan diminta kesediaannya untuk menggunakan sediaan pasta gigi selama penelitian dengan mengisi blanko dan menandatangani surat pernyataan sebagai sukarelawan. bromelain standar ( Bernofarm). kaca mulut. (Wilkinson . dan digunakan untuk memantau kontrol plak pada pasien dan juga banyak digunakan pada klinik – klinik gigi ( Dalimunthe 2008). Wilkinson 1982) Pasta gigi bromelain dibuat dengan konsentrasi bromelain 5% dan abrasive kalsium karbonat 40% seperti terlihat pada tabel di bawah ini: 15 . disclosing gel atau disclosing tablet) yang dicatat adalah ada atau tidaknya deposit yang terwarnai pada batas dentogingiva pada empat permukaan (Dalimunthe 2008 ). Untuk menilai keadaan plak gigi. Bahan Bromelain kasar. karbohidrat dan lipid dari makanan. perlu dilakukan pengujian efektifitas antiplak bromelain kasar dan dibandingkan dengan formula basis dan sediaan pembanding kepada sukarelawan.SCIENTIA VOL.

0 0.3 100 Cara Pembuatan Bromelain Kasar Pasta Gigi Na CMC ditabur diatas air panas (15 x jumlah Na CMC). menggunakan pasta gigi 3 kali sehari pada pagi.2 0. Parameter yang diamati kemampuan menghilangkan plak setelah menggunakan pasta gigi. ditambah bromelain digerus ditambah gliserol diaduk homogen. sore dan pada malam hari.1 1 0. Massa 1 ditambahkan ke massa 2 diaduk sampai homogen (massa 3). tidak menggunakan larutan penyegar mulut atau larutan pencuci mulut lainnya. dimasukkan ke dalam massa 3.2 0. diaduk homogen sampai terbentuk massa pasta. 1 NO.SCIENTIA VOL. aduk homogen. Formula pasta gigi bromelain Komposisi Formula Bromelain Kasar Kalsium karbonat Gliserol Larutan sorbitol 70 % Natrium Karboksimetil sellulosa Sakarin Natrium benzoat Natrium lauryl sulfat Oleum menthae piperitae Air suling sampai Basis (g) 40 18 10 1. rumus perhitungan Plak Indeks : Skor RKP = Jumlah Permukaan gigi dengan plak x 100 % Jumlah seluruh permukaan gigi Uji Efektifitas Anti Plak Pasta Gigi Bromelain dengan Metode Rekam Kontrol Plak (RKP) (Delimunthe 2008) Pengujian ini dilakukan untuk menilai efek pemakaian pasta gigi sebagai anti plak dengan cara Setelah skor plak didapat. Sakarin dan natrium benzoat dilarutkan dalam sisa air.1 1 0.0 40 18 10 1. kemudian dihitung nilai selisih skor plak sebelum dan sesudah pemakaian pasta gigi bromelain dengan menggunakan rumus : Nilai selisih = Skor Plak sebelum – Skor Plak sesudah 16 . ditambahkan larutan sorbitol 70 % dan diaduk homogen ( massa 2). Kalsium karbonat digerus. Selama pengamatan akan dipantau oleh dokter gigi sampai selesai perlakuan. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Tabel 1.0 0. Untuk pelaksanaan pengujian ini digunakan gel pink tua dental plague disclosing gel yang dipakai sebelum menggunakan pasta gigi dan setelah menggunakan pasta gigi selama 1 minggu. diaduk sampai homogen dan kemudian dimasukkan ke dalam tube. didiamkan selama 15 menit.3 100 formula (g) 5. digerus homogen. Pengujian ini dilakukan terhadap 5 orang panelis untuk setiap formula pasta gigi bromelain dengan syarat panelis tidak menggunakan pasta gigi lain. Oleum menthae piperitae dimasukkan terakhir. Natrium lauryl sulfat ditambahkan ke dalam massa 3. diaduk homogen (massa 1).

384 %KV= 15.3 8.90%).86 2 F3 8. Hasil pengujian efektifitas antiplak pasta gigi bromelain kasar % RKP No Panelis X (%) Formula Sebelum Sesudah 1 F0 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 65.7 8. pasta gigi bromelain kasar dan sediaan pembanding enzim ®. lama dan cara menggosok gigi (Ariningrum.72 % ) dan mendekati pasta gigi pembanding (8.9 66.5 69.1 9. pasta gigi bromelain ( F3 ) dan pasta gigi pembanding ( P ) secara berturut-turut.626 %KV= 7.5 9.8 59.3 65. 2000).5 65.1 70.90 % untuk formula basis ( F0 ).7 52.5 62.6 65.alanin yang merupakan asam -asam amino penyusun protein. Menurut Hidayah (2000) bromelain dapat memecah ikatan glutamin-alanin dan arginin. 8.04 %.9 69.4 3.4 61.72 % dan 8. Hasil ini memperlihatkan bahwa plak dapat berkurang dengan menggunakan basis pasta yang mengandung abrasif kalsium karbonat dan surfaktan natrium lauril sulfat yang ada dalam formula. 1 NO.SCIENTIA VOL.1 70.55 17 .04%± 0.5 62.1 68. Penelitian dilakukan pada gigi tiruan resin akrilik . Proses pengurangan plak dari pasta gigi bromelain kasar diduga karena kemampuannya untuk memecah atau menguraikan protein saliva disamping juga terjadi secara fisik dengan adanya abrasif dalam pasta.1 60. Daya anti plak disebabkan adanya kemampuan bromelain untuk mengurangi dan menghilangkan plak yang terbentuk.1 7 Χ 3.3 62.9%± 1.2 56.9 8.6 57. Dari hasil perhitungan rata-rata persentase Rekam Kontrol Plak ( RKP ) adalah 3. Proses pengurangan plak ini terjadi secara fisika dengan persentase penurunan plak yang rendah.8 9.1 8. Pada sediaan uji pasta gigi bromelain diperoleh persentase penurunan (RKP) yang lebih tinggi ( 8.17 3 P 8.3 65 62.4 57.1 60 62 62.4 8. Parameternya adalah % RKP sebelum dan setelah perlakukan. 1990) Tabel 2. Dugaan lain adalah bromelain dapat memutuskan ikatan protein dari sisa makanan yang menempel pada gigi. Makanan sangat berpengaruh sekali terhadap jumlah plak yang terbentuk. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Analisis Data Untuk menilai efektifitas antiplak bromelain dalam pasta dianalisis menggunakan statistik analisis varian satu arah yaitu antara basis pasta.6 10.3 66.3 3 3. Proses pengurangan plak juga dipengaruhi oleh frekwensi. (Tarigan .5 3.1 69.1 2.9 62 62 59. HASIL DAN PEMBAHASAN Uji antiplak pasta gigi bromelain kasar dilakukan selama 7 hari.72% ± 0.391 %KV=12.

1994. dan persentase plak Duncan a tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara pasta gigi bromelain ( F3 ) dengan pasta gigi pembanding ( P ) pada p < 0. KESIMPULAN Dari penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut Bromelain kasar 5% dalam pasta gigi mempunyai efektifitas antiplak yang tidak berbeda nyata dengan sediaan pembanding ( p< 0.7200 8. USP 30/ NF 25. 18 . Materia Medika Indonesia.05 1 2 3.000 . Departemen Kesehatan Republik Indonesia.05.SCIENTIA VOL. Anonim. Jakarta. Jakarta.05. 1 NO. 1985. 1979. Anonim. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. USA. Jakarta.05. Jakata. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Keterangan : F0 F3 P X X KV : : : : : : Basis pasta gigi formula C konsentrasi abrasif 40 % Formula pasta gigi bromelain konsentrasi 5 % Pasta gigi pembanding ( Enzim® ) Nilai selisih Rekam Kontrol Plak (RKP) Rata – rata nilai selisih Rekam Kontrol Plak (RKP) Koefisien variansi Hasil uji statistik dengan analisis varian satu arah memperlihatkan terdapat perbedaan yang bermakna antara formula basis ( F0 ) dengan pasta gigi bromelain ( F3C) dan pasta gigi pembanding ( P ) pada p > 0. Uses Harmonic Mean Sample Size = 5. Ansel. edisi IV. Jakata. cetakan pertama . Anonim. Departemen Kesehatan Republik Indonesia . Departemen Kesehatan Republik Indonesia. C 1989. N 5 5 5 Subset for alpha = .000. Farmakope Indonesia. Formularium Kosmetika Indonesia. Jakarta. Anonim. H. Anonim. Farmakope Indonesia. perlakuan F0 F3 pembanding Sig. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi edisi IV.9000 1.05) dan berbeda nyata dengan formula basis pada p > 0. Vol III. 1989.759 Means for groups in homogeneous subsets are displayed.0400 8. a. Diterjemahkan oleh Farida Ibrahim. The National Formulary. edisi III. Ekstra Pharmakope Indonesia. 2007. Penerbit Universitas Indonesia. SASARAN Kepada peneliti selanjutnya disarankan untuk mengembangkan formula pasta gigi dan menguji stabilitas pasta gigi bromelain kasar sehingga pada akhirnya dapat DAFTAR PUSTAKA Anonim. 1974. Hasil uji statistik dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

N. Ngampanya B.. Reinvestigation of Fractionation and Some Properties of Proteolitically Active Components of Steam and Fruit Bromelain. Lieberman and J.. Proses Penghasilan Bromelin Daripada Batang Nenas. Biochemistry.. Efficacy and safety of phiogezym-aprotease formulation. Yogyakarta. Ota. 2002. Steptoccus mutans Si Plak Dimana-mana. 1982. 1994. Pendidikan Kesehatan Gigi. 1985. Fakultas Farmasi USD. S. Shanbag P. Kundra M. 1992. J Penel. Merr).Moore.W. E. R. Universitas Gadjah Mada Press. W.Enzim Bromelain dari Bongkol Nenas sebagai Bahan Pembersih Gigi Tiruan Resin –Akrlirik.. Harry’s Cosmetology.. Sci . 1996 . Biochem.. Hashimoto Y. Hemisphere Publishing Corp. Suyatmi. T. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember. J. Schiess W 2002. 2nd ed. Acta Obstet Gynaecol Jpn. J and R. Hidayah . Vol 1.L Kaning . in septis in chidren. 1990 . Nugraha.113-121 Rukmana. Apr 50527-31. Isolasi dan Karakterisasi Ekstrak Kasar Enzim Bromelain Dari Batang Nenas (Ananas comosus L. Rev. EGC. R. Cowson. 98. Pertanika 13(1) .H.A. Cosmetics. 2008. Herijulianti. A.J. E.Wijaya dan Sulistyaningsih.. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Bandung. Charpman and Hall. Glider WV and MS Hargrove. and. and S Phongtongpasuk . Medan. Pocher’s Perfumes Cosmetics and Soap.. Cell Mol. Mutta. S E.12.Khrisna. Sci. 19 . D. 40 : 129-134 ... A. 58 (9). Tarigan.. Kelly G. Shahid SK. Karies Gigi. 1989.Using Bromelain in Pineapple Juice to Investigte Enzym Function.S. A. George Goodwin HC.Fauzi. S. 75 – 77. New York. R. Effects of Sucrose Concentration on Crude Bromelain Production of in Vitro Culture of Pineapple ( Ananas comosus var. FKG Universitas Sumatera Utara. 1990. 2008. H.. Universitas Indonesia press.. 1996 . SasakiT.Artini. Nat. 2002. 219 – 228. Maurer HR. New York. Assoc Physicians India.. Bromelain... 2006.edisi III. Hipokrates. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Balsam. Ojima Y. Nenas Budidaya dan Pasca Panen.S.( 1972) The clinical effect of proteolytic enzyme containing bromelain and trypsin on urinary tract infection evaluated by double blind method . Hirose T. and R.Bromelain : a literature review and discussion of its therapeutic applications.. Jakarta.1982 Clinical and Oral Microbiology. Voight. 1: 405-410 Lachman.19(3) :147153. Life . HA. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi edisi V. 2001. M. Herdyastuti. Jakarta. London. Lincoln. Altern.2000. Jogjakarta: 1-5. 1985. Periodonsia. Kanisius.. N. Daftary GV.2006. M and Sagarin. Turakhia NH. Diterjemahkan oleh S. Cracken. Science and Technology. Kasetsart J. Butler. Diterjemahkan oleh S. dan S. Vol III. Med. Hayati. pharmacology and medical use. Mori S. 1 NO. Wilkinson. Yogyakarta. Noerono. Daliemunthe. S. L. S Indriani. 1992.SCIENTIA VOL. London. 2Pattavia ). Ramli W.

1997. vitamin B1. Kandungan dari VCO salah satunya adalah asam lemak rantai tak jenuh berperan sebagai agen antimikrobial yang hebat. Banyak sekali tanaman di Indonesia yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara komersil. VCO memiliki sederet manfaat dan khasiat baik medis maupun kosmetik.. flavonoid.) dari famili Convolvulaceae. cream. skin irritation test and effects on burns. Virgin coconut oil merupakan minyak yang berasal dari buah kelapa (Cocos nucifera) tua segar yang diperoleh pada suhu rendah (<60 0C) yang terbentuk setelah santan didiamkan dalam beberapa hari (Setiaji. burns PENDAHULUAN Negara Indonesia merupakan salah satu negara agraris yang memiliki potensi untuk mengembangkan buahbuahan tropis. susunan molekular kecilnya memudahkan penyerapan serta memberi tekstur yang lembut dan halus pada kulit (Hadibroto. The evaluation results showed that ethanol extract of sweet potato leaves can be formulated in creams which are physicaly stable and provide a healing effect on burns. Bagian tumbuhan ubi jalar yang digunakan adalah daun yang mengandung beberapa senyawa seperti saponin. vitamin B2. 1 NO. zat besi.05. dan kontaminan lainnya. fosfor. 2008). VCO.1997). kalsium.Padang ABSTRACT Formulation of cream for treatment of burns has been studied. sayur-sayuran dan tanaman pangan. Keywords: Ipomoeae batatas. pH. polifenol dan umbinya mengandung beberapa senyawa seperti protein. 20 . L. tanaman holtikultural. ) UNTUK PENGOBATAN LUKA BAKAR Farida Rahim. Nurwani Purnama Aji STIFI Perintis . 2006). VCO juga memiliki tekstur krim alami. salah satunya digunakan sebagai bahan obat (Rukman. Argomedia. lemak.SCIENTIA VOL. vitamin C (Rukmana. The results showed that the F1B formula has the fastest healing effect on burns (7 days). The formulas was evaluated for their organoleptic. From the statistical calculation using one-way analysis of variation (ANOVA) we found that sweet potato leaf ethanol extract containing cream provide healing on burns. particle size distribution. Salah satu jenis tumbuhan yang digunakan sebagai obat tradisional adalah ubi jalar (Ipomoea batatas L. 2006) tanpa proses pemutihan sehingga menghasilkan minyak murni. Cream bases used in this study were variated with and without Virgin Coconut Oil (VCO). karbohidrat. type of cream. 1 2010 ISSN : 2087-5045 FORMULASI KRIM EKSTRAK ETANOL DAUN UBI JALAR ( Ipomoeae batatas. Cream formula consisting of 3% ethanol extract of sweet potato leaves as an active ingredient. Mimi Aria. bebas dari pestisida. homogeneity. which the value of F count treatment is smaller than the F table at α 0. vitamin A. fungsinya adalah menolak pembentukan radikal bebas dan kemampuan mempertahankan sistem kekebalan membuat minyak ini bermanfaat untuk mencegah dan mengobati berbagai gangguan kesehatan. which were tested on animals.

mudah dicuci setelah dioleskan. krim dapat digunakan pada kulit dengan luka yang basah. waterbath.5 1. kadar abu.05 100 F0B 14. Selanjutnya digunakan hewan percobaan untuk menguji aktifitasnya untuk pengobatan luka bakar. mortir. buret. Ekstrak daun ubi jalar dibuat dengan cara maserasi selama lima hari menggunakan etanol 96%. hewan percobaan yang digunakan adalah mencit putih. nipasol. krus porselin. dan terdistribusi merata.1 0. kertas perkamen. corong. botol semprot. 1 NO. botol marserasi.SCIENTIA VOL. etanol 96%. desikator. nipagin. digerus sampai dingin dan terbentuk masa krim yang homogen. Ekstrak kental yang diperoleh dievaluasi organoleptis. oven. plat tetes. Tabel 1. paraffin liquid. Tabel 2. stamper. trietanolamin.05 100 Keterangan : F0A = Krim tanpa Virgin Coconut Oil (VCO) F0B = Krim dengan Virgin Coconut Oil METODA PENELITIAN Bahan yang digunakan adalah daun ubi jalar putih. Fase air di panaskan di atas waterbath pada suhu 70oC sampai lebur. oven vakum. rotary evaporator. Virgin Coconut Oil (VCO). Formula Basis Krim Nama Bahan Asam stearat Trietanolamin adeps lanae Paraffin liquidum Virgin Coconut Oil (VCO) Nipagin Nipasol Aquadest ad F0A 14. kelarutan. dipanaskan diatas waterbath dengan suhu 70oC sampai lebur. pemeriksaan pH. Fase minyak dipindahkan kedalam lumpang dan ditambahkan fase air (pencampuran dilakukan pada suhu 60oC – 70oC). Basis krim dibuat dengan cara: Semua bahan yang diperlukan ditimbang. Krim dipilih karena sediaan ini mempunyai keuntungan diantaranya mudah dioleskan pada kulit. aquadest.5 1. kandungan kimia. timbangan digital.5 3 5 20 0. pinset. adeps lanae. cawan penguap. pH meter Inolab. Formula Krim Ekstrak Etanol daun ubi jalar Nama Bahan Ekstrak etanol daun ubi jalar Basis Krim ad F1A 3% 100 F1B 3% 100 Keterangan : F1A = Krim dengan konsentrasi Ekstrak Etanol daun ubi jalar 3% tanpa VCO F1B = Krim dengan konsentrasi Ekstrak Etanol daun ubi jalar 3% dengan VCO Krim dibuat dengan cara: ditimbang ekstrak etanol daun ubi jalar 3% digerus dalam lumpang ditambahkan 21 . batang pengaduk. lemari pendingin. pipet tetes. kaca arloji. penetapan kandungan air.5 3 25 0. asam stearat. kemudian fase minyak dipindahkan dalam cawan penguap. Alat yang digunakan adalah alatalat gelas standar laboratorium. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Dari penjelasan di atas dicoba membuat formula ekstrak etanol daun ubi jalar dan Virgin Coconut Oil (VCO) dalam bentuk krim untuk pengobatan luka bakar.1 0.

yang dilakukan setiap minggu selama 8 minggu. F1A Bentuk SP Warna P Bau BK 4. Kemudian dilakukan pengamatan setiap hari untuk melihat efeknya sampai terjadi penyembuhan total. pH. warna dan bau. dengan konsentrasi ekstrak 3%. F0B Bentuk SP Warna Hi Bau BK 3. pemeriksaan ini dilakukan setiap minggu selama 8 minggu pengamatan. homogenitas. Uji efek luka bakar dilakukan dengan menggunakan hewan percobaan mencit 15 ekor untuk 5 kelompok. Spatel dibakar dengan nyala api ± 60 detik. Parameter yang diamati adalah hilangnya vesikel dan perubahan warna kulit dari pucat menjadi pucat hilang. 1 2010 ISSN : 2087-5045 sedikit demi sedikit basis krim ad 100 g digerus pelan-pelan sampai homogen. Tabel III. Hasil Pemeriksaan Organoleptis batatas. Basis krim dan krim yang dibuat di evaluasi meliputi pemeriksaan organoleptis. Pada kulit yang melepuh atau mengalami luka bakar tersebut dioleskan formula krim secara tipis dan merata 3 kali sehari untuk masingmasing formula.SCIENTIA VOL. sepatel tersebut ditempelkan pada kulit punggung mencit yang sudah dirontokkan bulunya selama ± 5 detik. L) No Formula Organoleptis I 1. distribusi ukuran partikel. F1B Bentuk SP Warna Hi Bau BK Keterangan : F0A F0B FIA FIB Hi P SP BK Pada pengujian efek ini digunakan Lanakeloid-E ® sebagai pembanding. Krim Ekstrak Etanol Daun Ubi Jalar (Ipomoea Minggu ke IV V SP SP P P BK BK SP SP Hi Hi BK BK SP SP P P BK BK SP SP Hi Hi BK BK II SP P BK SP Hi BK SP P BK SP Hi BK III SP P BK SP Hi BK SP P BK SP Hi BK VI SP P BK SP Hi BK SP P BK SP Hi BK VII SP P BK SP Hi BK SP P BK SP Hi BK VIII SP P BK SP Hi BK SP P BK SP Hi BK : Basis krim tanpa Virgin Coconut Oil ( VCO ) : Basis krim dengan Virgin Coconut Oil ( VCO ) : Krim Ekstrak Etanol Daun Ubi Jalar 3 % tanpa VCO : Krim Ekstrak Etanol Daun Ubi Jalar 3 % dengan VCO : Hijau : Putih : Setengah Padat : Bau khas 22 . pH krim. 1 NO. Pada pemeriksaan homogenitas basis krim dan krim ekstrak etanol daun ubi jalar menunjukkan bahwa semua sediaan telah homogen dan terdispersi merata. homogenitas. masing-masing kelompok 3 ekor. daya tercuci krim dan uji iritasi kulit. pemeriksan tipe krim. F0A Bentuk SP Warna P Bau BK 2. tipe krim. Pemeriksaan basis krim dan krim meliputi organoleptis. Pada pemeriksaan organoleptis formula basis krim dan krim ekstrak etanol daun ubi jalar tidak menunjukkan adanya perubahan bentuk. HASIL DAN PEMNBAHASAN Ekstrak etanol daun ubi jalar dan VCO diformula dalam bentuk krim.

Krim ekstrak etanol daun ubi jalar dengan menggunakan basis krim yang mengandung Virgin Coconut Oil (VCO) mampu memberikan efektifitas lebih cepat dibandingkan dengan formula lainnya.70 7. FoB memberikan waktu penyembuhan selama 9 hari. Sedangkan FoA memberikan waktu penyembuhan selama 11 hari.56 7.56. L) Minggu ke IV V 8. tipe krim adalah minyak dalam air. 2.0 II 8. 8095 µm.74 7.19 7. Setelah 24 jam diamati gejala yang timbul.991 µ m.50 µ m.92 8.86 8. Hasil pemeriksaan uji iritasi dilakukan langsung pada manusia dengan cara uji tempel tertutup dimana sediaan uji 0. 1987). 1 2010 ISSN : 2087-5045 Hasil pemeriksaan tipe krim. sedangkan polifenol berkhasiat sebagai adstringen jika dioleskan pada jaringan hidup.02 7. Tabel IV.837 µ m.26 – 8. hasil yang didapat masih memenuhi syarat karena dalam literatur dinyatakan ukuran partikel yang stabil secara fisik antara 1.65 7.69 No 1.51 7.SCIENTIA VOL. Formula FOA FOB F1A F1B I 7.1 gr dioleskan pada lengan atas bagian dalam dengan luas 4 cm 2 . kemudian ditutup dengan kain kasa. FOB = 4.48 7.98 7. Hasil pengamatan distribusi ukuran partikel basis krim dan krim ekstrak etanol daun ubi jalar menunjukan rata-rata ukuran panjang kecil dari 10 µ m. Hasil Pemeriksaan pH Krim Ekstrak Etanol Daun Ubi Jalar ( Ipomoea batatas.783 µ m. Hasil pemeriksaan uji iritasi pada 5 orang sukarelawan menunjukkan tidak ada satupun formula basis krim dan krim ekstrak etanol daun ubi jalar yang mengakibatkan iritasi pada kulit panelis.41 VIII 8. F1B = 4. Pemeriksaan ini dilakukan terhadap 5 orang sukarelawan pada masing-masing formula.45 Pada pemeriksaan distribusi ukuran partikel diperoleh rata-rata ukuran panjang FOA = 4. saponin dan polifenol. ternyata memberikan sedikit variasi waktu penyembuhan. 1 NO. F1A = 6.04 VI 8.26 Ratarata 8. pemeiksaan pH dilakukan terhadap basis krim dan krim ekstrak etanol daun ubi jalar dan hasil pemeriksaan pH krim diperoleh ph berkisar antara 7.78 7. dimana saponin ini mempunyai kemampuan sebagai pembersih sehingga dapat membantu mempercepat penyembuhan luka terbuka. F1A dan Lanakloid-E memberikan waktu penyembuhan 8 hari. Daun ubi jalar yang digunakan mengandung flavonoid.57 8.81 7.21 7. polifenol 23 .53 7. Hal ini menunjukkan bahwa basis krim dan krim ektrak etanol daun ubi jalar dapat digunakan untuk penyembuhan luka bakar.12 7. Hasil pemeriksaan pH dilakukan dengan menggunakan alat pH meter inolab.22 7. Formula yang memberikan waktu penyembuhan paling cepat adalah formula F1B dimana waktu yang diperlukan untuk penyembuhan selama 7 hari.73 7.15 7. 3.53 7. flavonoid yang terkandung didalam daun ubi jalar dapat digunakan sebagai pencegahan terhadap infeksi luka karena mempunyai daya antiseptik (Harborne.78 7. pemeriksaan tipe krim dilakukan dengan menggunakan zat warna yaitu metilen blue memperlihatkan penyebaran metilen blue yang merata setelah diteteskan pada selapis krim diatas kaca objek.84 7. Pada uji efek basis krim dan krim ekstrak etanol daun ubi jalar dan basis krim yang mengandung VCO dan yang tidak mengandung VCO terhadap pengobatan luka bakar.06 III 8.17 7.27 8.69 7.62 7.61 VII 8.81 8. 4.

Anonim. USP 30/ NF 25 Volume III. VCO yang digunakan mampu mempercepat penyembuhan luka bakar karena merupakan minyak yang mengandung asam lemak jenuh rantai sedang yang mendukung penyembuhan dan perbaikan jaringan tubuh (Gani. Dimana nilai F hitung perlakuan lebih kecil dari pada F tabel pada α 0. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. United States of America. Ditjen POM Depkes RI. Farmasetika. Farmakope Indonesia. Jakarta. Anonim. Jakarta. Anief. 1 NO. Buku Pintar Tanaman Obat. dimana nilai F hitung perlakuan lebih kecil dari pada F tabel pada α 0. alih bahasa oleh Farida Ibrahim. Anonim. Jakarta. Fomularium Kosmetik Indonesia. Jakarta. 2008.. Ed. Ekstrak Farmakope Indonesia. Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta. 2006. 1995. 1990. 3. Argomedia Pustaka. Dari perhitungan uji statistik analisa variasi satu arah (ANOVA) diketahui bahwa krim ekstrak etanol daun ubi jalar dapat memberikan penyembuhan terhadap luka bakar.L) dengan basis krim yang mengandung VCO (F1B) memberikan efek penyembuhan luka bakar yang paling cepat yaitu 7 hari.05 SARAN Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk memformula ekstrak etanol daun ubi jalar dalam bentuk sediaan dan uji efektifitas farmakologi yang lain. Materia Medika Jilid V. Jakarta. 2005). Yogyakarta. 1 2010 ISSN : 2087-5045 dalam pengobatan berkhasiat sebagai antiseptik yang berfungsi sebagai pelindung pada kulit dan bermanfaat untuk regenerasi jaringan.05. DAFTAR PUSTAKA Ancel. Anonim. Ditjen POM Depkes RI. Dari perhitungan uji statistik analisa variasi satu arah (ANOVA) diketahui bahwa krim ekstrak etanol daun ubi jalar dapat memberikan penyembuhan terhadap luka bakar. 1991. Ed. Ekstrak etanol daun ubi jalar dan Virgin Coconut Oil (VCO) dapat diformulasi dalam bentuk krim yang stabil secara fisika dan kimia selama 8 minggu penyimpanan. Asrahyuni.SCIENTIA VOL. 2000. M. Sediaan Galenika. Anonim. Ed.4. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.. Jakarta Anonim. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Formula krim ekstrak etanol daun ubi jalar (Ipomoea batatas . Formulasi Gel Ekstrak Etanol Daun Ubi Jalar 24 . Gaja Mada University Press. redaksi.3. Ditjen POM Depkes RI. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. et al.. 4. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Anonim. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. Yogyakarta.C. 2. 1994. H. Gaja Mada University Press. 1979. Ilmu Meracik Obat. H. Anonim. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.. Farmakope Indonesia. 1986. 2007. M. Jakarta. 1972. Jakarta. Argomedia. 1982. Anief. 1989.

Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Yayasan Perintis. 2001.2000. Prentice hall International. The Structure and Fuction of the Skin. Cetakan ke-2. Cherry.. alih bahasa oleh S. alih bahasa oleh S. B. 2006.edu/docs/av ailable/etd-04062006085455/unrestricted/paddadis. Z. New York. Jakarta. Gramedia. Easton. D. 2005.com/indek. 1 NO. Physical pharmacy. 1991. et al. Padang.J.F.. J. F.. New York. Penebar Swadaya. Willey Intercienci. Padmawinata.. Bandung. Universitas Gajah Mada Press.. Kanisius.. Sehat Diusia Lanjut Dengan Ramuan Tradisional..N. 8th Pergamos Press. R.H. 2006. Srikandi. Penebar Swadaya. 1998. [5 Juni 2010] Rahim. Yogyakarta. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. B. 1998. S.http//:etd.A. Juanda.Noer... Padang. 1987. Formulasi Krim Minyak Kelapa Murni Untuk Penyubur Rambut. 1974. Penerbit Universitas Indonesia.Suyami. Editor. Yogyakarta. Inc. W. Hadibroto. Diet VCO. Jellinek. Philadelphia.. Pharmacologycal Basis of Edition. Khristianto. 2006. PT. L. Skripsi.. Syamsuni. Osol. Cetakkan ke-1. Penyakit Kulit. 2005. 1997. Mantagha. A. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi.). Voight. Lea and Febiger. Laporan Penelitian Dosen Muda. Y. PT Samindra Utama. Mursito. 1962.2009. Jakarta.H. Formulation and Fundaction of Cosmetics. Kanisius. Fundamental of Anatomy and Phsiologi. Ubi Jalar Budidaya dan Analisis Usaha Tani.S. London. Kanisius. 4th Edition. Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Yayasan Perintis. 15th edition. Jakarta. Mack Publishing Comp. 25 . 1995. Teori dan Praktek Farmasi Industri II. Jakarta.Isu.. Yogyakarta.Pdf. Lieberman and J. Phenolic Composition And Antioxidant Activity Of Sweet Potatoes. A.2004. PT.. L. Pennsyluania. Setiaji. Ed. 1990.B.http://ekasi. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya. M. New York. 1 2010 ISSN : 2087-5045 (ipomoea batatas L. Goodman..3. Terapheutic. Martin. Hariana. Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi. Serial. Terbitan ITB. Dede. R. Martin. Ed... Jakarta. 1994. H. 2.SCIENTIA VOL. H... php/inf-sehat/292-daun-ular-obatdbd-paling-ampuh-?format=pdf Lachman. Rukmana. Ed. Jakarta. and Gilman. Herlinawati. Effendi. Yogyakarta. 2th Edition. Yogyakarta. M. Jakarta. alih bahasa oleh Kosasih..S. 2006.. C. Jakarta.L Kaning. Padda. Gani.5. Ubi Jalar Budi Daya dan Pasca Panen. Terapi Minyak Nabati Keampuhan VCO dan 16 Minyak Ajaib. Luka Bakar Pengetahuan Klinis Praktis. F. Parameter Pasien Luka Bakar. Metoda Fitokimia Penentuan Cara Modern Menganalisa Tumbuhan. Harahap. Puspa Swara. Membuat VCO Berkualitas Tinggi. 1975. 1995. Gramedia. Moenajad.. Fakultas Farmasi.. Waluyo. A.. Penerbit Buku Kedoteran. Remigton Pharmaceutical Sciense. Harbone. Editor 2006.. Y. Bebas Segala Penyakit dengan VCO.

) ini mengandung nigellienine. 1 NO. 2009). 7th. 14th day and given extract on to 15th day up to 20th day. Jintan hitam (Nigella sativa Linn. 200 mg/kg BW can improvement the titers antibody. anti bakteri. menjaga elastisitas kulit. kanker. The amount bar neutrofil cell. diabetes. Rempah ini berbentuk biji hitam yang telah dikenal ribuan tahun yang lalu dan digunakan secara luas oleh masyarakat India. Keywords: Nigella sativa. Jintan hitam ini 26 . anti oksidan. meningkatkan produksi air susu ibu. Khasiat dari biji jintan hitam adalah untuk mengobati aneka penyakit seperti menguatkan sistem kekebalan tubuh. Pengobatan secara tradisional berdasarkan pada upaya untuk mengembalikan dan memperkuat penyembuhan secara alami (Donatus. nigellamine-n-oxide.) for the titers antibody and amount of leucosit cell to the mice. anti tumor. saponin. Jenis tanaman ini telah disebut–sebut sebagai tanaman obat dalam perkembangan awal agama Islam (Hendrik. Protein–protein yang terkandung dalam ekstrak jintan hitam (Nigella sativa Linn. asama. titer antibody. mutu. Kandungan kimia dari jintan hitam (Nigella sativa Linn.SCIENTIA VOL.) dapat menghasilkan efek stimulator pada sistem imun tubuh. menurunkan kolesterol dan meningkatkan kinerja jantung. leucosit PENDAHULUAN Pemakaian obat tradisional masih banyak digunakan dalam meningkatkan kesehatan masyarakat di Indonesia meski sekarang sudah banyak orang menggunakan obat–obatan modern sebagai pelengkap tetapi obat tradisional masih mempunyai kedudukan khusus dalam masyarakat. From result of the research show that extract who give it at the dose 50 mg/kg BW. monosit. Pakistan. senyawa golongan alkaloid. dan Timur Tengah untuk mengobati berbagai macam penyakit. 2009).) merupakan tanaman yang dapat merangsang dan memperkuat sistem imun tubuh manusia melalui peningkatan jumlah. 1983). minyak atsiri. the mice who has given induction anti-gen (Goat Eritrosit 5%) for the 1th.01). anti histamin atau anti alergi. memperbaiki saluran pencernaan. alkaloid isokuinolin. dan aktivitas sel–sel imun tubuh. 100 mg/kg BW. steroid. minyak lemak. Salah satu tanaman tradisional yang digunakan adalah Jintan Hitam (Nigella sativa Linn.) yang merupakan rempah– rempah yang telah digunakan sebagai tanaman obat. and limfosit cell (P<0. Penggunaan jintan hitam sebagai obat atau yang berkhasiat obat adalah pada bagian bijinya. dan linolenat (Hendrik. bronkhitis.) TERHADAP TITER ANTIBODI DAN JUMLAH SEL LEUKOSIT PADA MENCIT PUTIH JANTAN Suhatri dan Yufri Aldi Fakultas Farmasi Universitas Andalas ABSTRACT The research about Activity of Given Extract Jintan Hitam seed (Nigella sativa Linn. 1 2010 ISSN : 2087-5045 AKTIFITAS EKSTRAK ETANOL BIJI JINTAN HITAM (Nigella sativa Linn. oleat.

85 g. sel T. air suling. Mekanisme pertahanan ini dibagi menjadi dua kelompok fungsional. jarum suntik. kaca objek. Mekanisme pertahanan spesifik meliputi sistem imunitas humoral yaitu dengan produksi antibodi oleh sel B dan sistem imunitas seluler oleh sel T. Sel – sel lain dalam jaringan walaupun bukan merupakan bagian utama dari respon imun juga dapat berperan serta dengan memberi isyarat pada limfosit atau berespon terhadap sitokin yang dilepaskan oleh limfosit atau makrofag (Wahab. 1 2010 ISSN : 2087-5045 bekerja sebagai imunomodulator yaitu yang bekerja dengan cara melakukan modulasi (perbaikan) terhadap sistem imun (Bellanti. spatel. lumpang dan alu. pewarna Giemsa (D6 100-darstadt). metanol murni. sel fagosit (neutrofil. dan sitokin. mediator radang. monosit dan magrofag).SCIENTIA VOL. Sistem pertahanan ini sangat efektif dalam memberantas infeksi serta mengingat agen infeksi tertentu sehingga dapat mencegah terjadinya penyakit dikemudian hari (Tizar. Pertahanan non spesifik meliputi kulit dan membran mukosa. 1 NO. NaCl fisiologis. Mekanisme pertahanan ini berperan sebagai garis pertahanan pertama dan menghambat kebanyakan patogen potensial sebelum menjadi infeksi yang tampak (Subowo. Respon imun diperantarai oleh berbagai sel dan molekul terlarut yang diseksresikan oleh sel-sel tersebut. Sistem pertahanan ini bersifat adaptif dan didapat. tabung reaksi. 1993. timbangan.1993). gunting. dan trombosit). sel–sel jaringan. Terhadap ekstrak kental ini dilakukan standarisasi ekstrak seperti kandungan metabolit sekunder dan susut pengeringan. Prosedur Kerja Pembuatan Sampel 1 kg Biji jintan hitam diekstraksi dengan etanol 96 % kemudian pelarutnya diuapkan secara vakum sehingga diperoleh ekstrak kental sebanyak 29. menghitung bobot relatif limfa mencit putih jantan dan menghitung jumlah sel leukosit dengan metoda hapusan darah pada mencit putih jantan. 1988). eritrosit kambing. 1993). vial. rak tabung reaksi. etanol 96%. mekanisme pertahanan ini merupakan bawaan (innate) artinya pertahanan tersebut secara alamiah ada dan tidak adanya dipengaruhi secara intrinsik oleh kontak dengan agen infeksi sebelumnya (Bratawijaya. 1988). Bahan terlarut yang disekresi dapat berupa antibodi. heparin (D34209 Melsungen Germany). gelas ukur. Berdasarkan hal diatas maka peneliti telah melakukan pengujian aktivitas ekstrak etanol biji jintan hitan (Nigella sativa Linn. dan sel NK). plat tetes. minyak emersi. sel asesori (basofil.) terhadap sistem imun non spesifik dengan menghitung jumlah antibodi menggunakan metoda titer antibodi. METODOLOGI PENELITIAN Alat Alat-alat yang digunakan adalah seperangkat alat destilasi vakum. yaitu pertahanan non spesifik dan spesifik. sel mast. Sel– sel utama yang terlibat dalam reaksi imun adalah limfosit (sel B. rotary evaporator. dan mikroskop. komplemen. botol maserasi. eusinofil. 2002). 27 . Bahan Bahan-bahan yang digunakan adalah biji jintan hitam. yaitu menghasilkan reaksi spesifik pada setiap agen infeksi yang dikenali karena telah terjadi paparan terhadap mikroba tersebut sebelumnya. Tizar.

biarkan selama 20 menit.2 ml larutan pada tabung kedua dan pindahkan kedalam tabung ketiga.2 ml suspensi eritrosit kambing 5% pada hari 1 secara intra peritoneal. Angka titer ditentukan dengan pengenceran tertinggi yang masih dapat beraglutinasi dengan eritrosit kambing (Sadikin.2 ml serum. ambil darah dengan cara memotong vena bagian leher. Masukkan 0. 1 NO. 1/64. masukkan larutan NaCl fisiologis 0. 1/256. 100 mg/kg BB.2 ml pada masing-masing tabung. biarkan selama 30 menit. ¼. lalu tipiskan dan ratakan dengan gelas objek lain sehingga diperoleh lapisan darah yang homogen (hapusan darah).kemudian disentrifus dengan kecepatan 2000 rpm selama 15 menit. Pembuatan larutan uji Larutan uji dengan dosis 50 mg/kg BB dibuat dengan cara mensuspensikan 50 mg ekstrak etanol biji jintan hitam (Nigella sativa Linn. kemudian kocok sampai homogen. neutrofil batang. Penentuan Titer Antibodi Pada hari ke 21 mencit dibunuh.1 dan 0. Suspensi ekstrak diberikan pada hari ke 15 sampai hari ke 20 secara oral dengan dosis 50 mg/kg BB.2 ml larutan pada tabung pertama pindahkan kedalam tabung kedua kemudian kocok dan pipet 0. Setelah didapatkan eritrosit kambing kemudian buat suspensi 5% (ambil 0. 200 mg/kg BB dengan berat ekstrak masing-masing 0. Sentrifus dengan kecepatan 2000 rpm selama 5 menit. dan 1/1024. ulangi 3 kali dengan menambahkan 5 ml NaCl fisiologis setiap pengulangan. amati penggumpalan yang terjadi. setelah kering lihat di mikroskop. Cuci dengan aquadest. 1/8.) dengan 50 mg Na CMC yang dikembangkan dengan air panas 1 ml. buang supernatannya. 1/32. 2008).1 ml suspensi eritrosit kambing 5 % kedalam masing-masing tabung reaksi tersebut. Setelah kering tetesi dengan metanol. gerus homogen dan cukupkan volume dengan aquadest sampai volume 10 ml. kocok sampai homogen. Tambahkan satu tetes larutan Giemsa yang telah diencerkan dengan aquadest (1:20). kemudian lakukan pembosteran dengan 0. siapkan 10 buah tabung reaksi. Sensititasi Hewan Hewan percobaan yang telah diaklimatisasi kemudian disensitisasi (pemberian antigen pertama) dengan 0. kemudian digerus dan ditambahkan kedalam ekstrak yang telah ditimbang. lalu disentrifus dengan kecepatan 2000 rpm selama 15 menit. sehingga hasil pengenceran dari serum yaitu ½. 1/16 . Pada tabung kesepuluh. sehingga menutupi seluruh hapusan darah. lalu keringkan. buang 0. Kemudian hitung jumlah sel eusinofil. 1 /128.SCIENTIA VOL. neutrofil segmen. Ambil bagian serumnya. Pipet 0. Pada tabung pertama ditambahkan 0.1 ml suspensi eritrosit kambing 5% secara subkutan pada hari ke 7 dan 14.2 ml larutan. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Pembuatan antigen Darah kambing dicuci dengan larutan NaCl fisiologis (1:1) masing– masing sebanyak 5 ml aduk homogen. 1 /512. 200 mg/kg BB. Lakukan hal ini sampai pada tabung reaksi kesepuluh. limfosit.2 ml eritrosit kambing lalu cukupkan dengan NaCl fisiologis hingga volume suspensi 4 ml). biarkan 5 menit. Gunakan cara yang sama untuk dosis 100. Angka titer dihitung dengan rumus : 2 Log Pengenceran Menghitung Jumlah Sel Leukosit dari Metode Hapusan Darah Darah segar diteteskan pada gelas objek satu tetes. dan monosit pada perbesaran 1000 X dengan 28 .2 gram untuk volume 10 ml.

timbang bobot relatifnya satu persatu. 1 NO. timbang 50 mg limfa kemudian suspensikan dalam 2 ml larutan dapar pospat pH 7. kemudian bilas dengan air suling dan kering anginkan. diwarnai dengan cara meneteskan pewarna Giemsa sebanyak 10 tetes biarkan selama 5 menit. komplek imun dan sebagainya. Penimbangan bobot limfa relatif Setelah darah mencit diambil untuk pengujian titer antibodi. 1998) Pada penelitian ini data yang diperoleh diolah secara analisis statistik dengan menggunakan metode ANOVA satu arah. 1993). menunjukkan bahwa dengan peningkatan dosis pemberian ekstrak etanol biji jintan hitam dapat meningkatkan angka titer antibodi yang merupakan respon imun spesifik.18 %. Penghitungan jumlah sel limfosit Setelah didapatkan bobot relatif limfa. Sedangkan pada kontrol positif aglutinasi terjadi 2log 16 maka angka titernya adalah 4. kemudian mencit dibedah dan diambil limfanya. 1997). dengan perbandingan (1:20). setelah itu difiksasi dalam metanol selama 2 menit kemudian dibilas dengan aquadest dan kering anginkan. preparat yang telah difiksasi. Tabel I. Angka titer ditentukan pada pengenceran tertinggi dari serum mencit yang masih dapat beraglutinasi dengan sel darah merah kambing (Subowo. 1 2010 ISSN : 2087-5045 menggunakan minyak (Supandiman.4 gerus sampai halus dan homogen. lalu letakkan pada kaca objek dan biarkan mengering.SCIENTIA VOL. Aglutinasi yang terjadi dipengaruhi oleh komplemen. Bobot limfa relatif terhadap kontrol dihitung dengan rumus : HASIL DAN PEMBAHASAN Ekstrak etanol jintan hitam mengandung metabolit sekunder alkaloid. emersi Pengolahan Data (Schefler. . Perhitungan Jumlah Sel Limfosit pada Limfa 1. Pipet sebanyak 20 µl larutan limfa. Angka titer dapat dicari dengan rumus 2log 4 maka angka titernya adalah 2. Bobot limfa dosis × 100% Bobot mencit 2. Komplemen yaitu salah satu enzim serum yang berasal dari sistem imun non spesifik yang larut dalam keadaan tidak aktif. Hasil susut pengeringan ini dijadikan faktor konversi terhadap penimbangan dosis yang akan digunakan. Persen kenaikan sel dihitung dengan rumus : limfosit Jumlah sel limfosit dosis × 100 % Jumlah sel limfosit kontrol 29 . steroid dan saponin dengan nilai susut pengeringan adalah sebesar 27. Encerkan dengan pewarna Giemsa denga dapar pospat. Hitung jumlah sel limfositnya dibawah mikroskop menggunakan minyak emersi dengan perbesaran 1000 X. tetapi sewaktu-waktu dapat diaktifkan oleh berbagai bahan seperti antigen.

00 53.00 43.65 6.00 30.00 1.00 38.00 9.00 53.00 6.00 7.00 5.67± 2.00 50.00 42. Titer Antibodi dari Serum Mencit Putih Jantan setelah Diinduksi Antigendan Pemberian Ekstrak Etanol Biji Jintan Hitam (Nigella Sativa Linn.00 41.00 46.00 49.00 10.00 14.00 2.00 42.34 17. 1 NO.22 22.00 1 2 3 4.00 47.00 11.00 39.33± 3. monosit dan tidak signifikan terhadap sel eusinofil dan neutrofil batang.00 1.00 8.00 7.00 1 2 3 3.00 2.00 45.00 9.00 56.00 7.00 8.33± 2.00 1.00 4.00 7.) dapat meningkatkan jumlah sel leukosit darah yang merupakan sistem imun alamiah (non spesifik).00 9.00 7.33± 1.00 7.00 5.00 5.00 2.67 23 ∑ Dari hasil uji statistik analisa varian satu arah dan dilanjutkan ke uji berjarak Duncan.00 8.00 41.00 49.00 50.67 ± 0.67± 2.00 5. limfosit.00± 2.25 7.00 2.00 45.00 ± 1.SCIENTIA VOL.00 37.33± 2.50 31.00 45.88 33.00 38.75 103.00 32. didapatkan pengaruh dosis sangat signifikan terhadap jumlah sel netrofil segmen. Tabel II.00 2.00± 1.02 136.00 11.41 25.52 31.00 5.33± 1.00 36. Maka pemberian ekstrak etanol biji jintan hitam (Nigella sativa Linn.00 7. Hasil Perhitungan Sel Leukosit Pada Darah Mencit Putih Jantan setelah Diinduksi Antigen dan Pemberian Ekstrak Etanol Biji Jintan Hitam (Nigella Sativa Linn.00 5.00 3 3.33± 2.00 31.40 112.64 x ± SD ∑x III x ± SD ∑x IV x ± SD ∑x V x ± SD 30 .00 10.58 4.74 116.00 1.00± 2.00 12.00 48.00 35.00 6.00± 1.76 21.00 1.00 33.00 2.00 28.33± 2.00 9.00 6.33± 0.00 7.00 37.82 4.00 32.00 36.00 10.00 32.69 7.00 37.67± 3.00 9.67± 93.00 1.58 55.67 11 2 2 2 III log 16 4 log 32 5 log 32 5 4.00 1.00 34.00± 0.00 4.67 14 2 2 2 IV log 64 6 log 256 8 log 128 7 7 21 2 2 2 V log 256 8 log 128 7 log 256 8 7.67± 1.33± 6.87 139.67± 1.00 10.00 2 3.00 58.) 1 2 3 2 2 2 No x log Angka log Angka log Angka x Pengenceran Titer Pengenceran Titer Pengenceran Titer 2 2 2 I log 4 2 log 4 2 log 4 2 2 6 2 2 2 II log 8 3 log 16 4 log 16 4 3.00 29.00 11. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Tabel I.00 9.00 ± SD x ∑x II 1 2 3 8.47 126.00 7.67± 0.) Netrofil Netrofil Kelompok Hewan Eusinofil Limfosit Monosit Batang Segmen I 1 2.00 41.33± 0.00 12.00 2.00 1 2 3 3.33± 167.75 18.

15 0. 1 2010 ISSN : 2087-5045 1.48±0. Kenaikan sel limfosit dan bobot relatif disebabkan karena pada limfa terjadi. dan poliferasi limfosit.00 0.38±0.10 0.53±0.01 0.00 0.05 1.00 Penentuan bobot limfa relatif mencit.01 0.00 152.63 0.50 1 2 3 27.13 0.00 27.50±0.37 0.00 25.02 0.50 28.50±0.13 0.15 0.52 80.00 29.00 0.12±0.10 0.11 0.00 0.SCIENTIA VOL.00 26.02 0.14 0.00 24.00 1 2 3 27.19 0.50 28.33 0.00 ∑x 5. Berdasarkan hasil kenaikan bobot limfa relatif maka dilakukan perhitungan sel limfosit pada limfa.22 92.00 27.00 0.33 0.44 0.37 0.50 1 2 3 25.50 26.15 0.43 1.50 25.) Bobot Bobot Bobot Kelompok Hewan Limfa Relatif Mencit (gr) Limfa (gr) (%) I 1 30.14±0.03 1.17 0.52 3 28.54±0.54 0.47 0. untuk melihat pengaruh antigen dan ekstrak yang diberikan apakah mengalami perubahan. 1 NO.31 0.46 0. Dari data dapat dilihat bahwa kenaikan bobot limfa relatif juga diikuti dengan kenaikan sel limfosit pada limfa.08 0.36 0.67±2. diverensiasi.00 21.10±0. sehingga terjadi pembesaran pada limfa.02 0.00 26. Bobot Relatif Limfa Mencit Putih Jantan setelah Diinduksi Antigen dan Pemberian EkstrakEtanol Biji Jintan Hitam (Nigella sativa Linn.49 0.15 0.40 0.76 82.10 0.34 28.40±0.00 27.54 29.06 1.00 2.52 0.11±0.33±0.16±0.12 0.55 0.57 2 29.00±1.58 x ±SD ∑x III x ±SD ∑x IV x ±SD ∑x V x ±SD ∑x 31 .15 0.41 0. Tabel III.50 82.07 1.13 0.41 0.52 0.00 27.87 76.03 ±SD x ∑x II 1 2 3 87.

33±5.00 56.73 3.00 72.00 0.00 1.33±5.61 210.67±3.00 25.00 Netrofil Batang 3.00 37.SCIENTIA VOL.00 1. dapat meningkatkan antibodi yang merupakan sistem imun dapatan (non spesifik) dan jumlah sel leukosit yang merupakan sistem imun alamiah (spesifik) dan ekstrak etanol biji jintan hitam (Nigella sativa Linn.00 1.00 1.00 77.00±1. untuk meningkatkan sistem KESIMPULAN Dari penelitian ini dapat diperoleh kesimpulan bahwa pemberian ekstrak etanol biji jintan hitam (Nigella sativa Linn.00 1.00 73.00 71.00 0.00 1 2 3 1.33±1.00 2.00 3.00 67.00 20.00 1 2 3 2.00 37.33±0.00 1.00 40.00 1.00 69. menurunkan jumlah neutrofil segmen 32 .00 57.00±1.51 184.00 1.00 2.33±5.52 7.00 1 2 3 1.00 0.00 2. Kedua sistem imun diatas berperan penting dalam melindungi tubuh dari serangan mikroorganisme.51 112.00 70.00 120.00 0.00 56.58 4.00 1.00 0.03 76.00 25. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Tabel VI.00 29.00 1.00 2.00±2.) dapat meningkatkan titer antibodi pada dosis 50 mg/kg BB.00±1.00 22.33±2.00 32.33±1.00 1.00 37.33±0.00 4.00 25.67±3.00 42.00 2.67±0.58 7.00 2.69 173.00 53.00 1.00 0.00 1.00 43.00 1.67±1.53 4.00 0.58 5.00 61.00 Netrofil Segmen 38.00 2.00 3.67±0. dan monosit sangat signifikan (P<0. 100 mg/kg BB.00±3.00 55.00 0.00 Monosit 1.33±3.16 217.15 5.00 30.00 1.00 3.00 3.00 52. pemberian ekstrak etanol biji jintan hitam (Nigella sativa Linn.00 x ±SD ∑x II x ±SD ∑x III x ±SD ∑x IV x ±SD ∑x V x ±SD ∑x Dari empat parameter yang diamati.00 1.00 3.67±0.).00 58.00 61.00 6. Jumlah Persentase Sel Limfosit Pada Limfa Mencit Putih Jantan setelah Diinduksi Antigen dan Pemberian Ekstrak Etanol Biji Jintan Hitam (Nigella sativa Linn.00 0.00 66.00 64. 1 NO. dan 200 mg/kg BB dan dapat meningkatkan jumlah limfosit.) ini juga bersifat imunostimulan.58 1.33±4.00 0.51 76.00 Limfosit 57.00 3.21 167.00 1. Maka penggunaan ekstrak etanol biji jintan hitam sangat efektif imun.00 1.) Kelompok I Hewan 1 2 3 Eusinofil 1.00 2.00 1.00 2.00 26.00 1.00 30.00 1.51 101.00±0.58 5.00 2.58 2.00 2.00 71.00 5.53 7.00 1.00 33.00 3.00 34.00±0.00 2.01).00 2.00 2.00 1.00 1 2 3 1.33±0.00 40.67±5.

Imunobiologi Klinik.. Bandung.google. S. 1 2010 ISSN : 2087-5045 sangat signifikan (P<0. 1993. Bratawijaya. Imunobiologi. I.. Angkasa Bandung.. diakses dari http :www. Soerapto. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Imunogi Dasar.. Bandung. Bandung. R. oleh Husin. 1993.A dan Julia M. 1 NO.01). Supandiman. M. Penerjemah Soehardjo Hardjosworo. 2008 Antibodies Titers in Rat Immunized Agains Sheep Red Blood Cell (SRBC). Jakarta. Gajah Mada Press. Risalah Simposium Penelitian Tumbuhan Obat III. Farmasi. Penerbit ITB.W. edisi ke-6. Sadikin. G. Depkes RI. 2. No. S. I. Wahab. Imunisasi dan Penyakit Imun.. sedangkan sel eusinofil dan neutrofil batang tidak signifikan. Jakarta. Statistika Untuk Biologi. Diterjemahkan oleh A. Direktorat Jendral POM vol 15. dan N. dkk. 1988. Tizar. Penerbit Angkasa.SCIENTIA VOL. Jogjakarta. Airlangga Universitas Press. Habbatus Sauda’. Bellanti. Peranan Farmakologi Dalam Pengembangan Obat Tradisional. Surabaya.com. K.A. J. Schefler.A. Immunologi III. diterjemahkan oleh Suroso. Kedokteran dan Ilmu Bertautan. 2004. M. Edisi 1. Fakultas Farmasi Gajah Mada. Edisi III. 1993. Wahab. Cetakan ke-1. 1983. Pustaka Iltazam. 2009.C. Penerbit alumni. Hendrik. 1988. Solo. 33 . 1997. Pedoman Periklanan Obat Tradisional. Yogyakarta. Widya Medika. 2002. Pengantar Imunologi Veteriner. Subowo. . Subowo. Sistem Imin. DAFTAR PUSTAKA Donatus. Pedoman Terapi Haematologi Onkologi. Jakarta. 1998. I. Jakarta.

1 2010 ISSN : 2087-5045 PENETAPAN POLA RESISTENSI ANTIBIOTIKA (Vibrio parahaemolyticus) HASIL ISOLASI DARI CUMI-CUMI (Loligo vulgaris) DAN KEPITING BAKAU (Scylla serratta) Ria Afrianti1. diberikan antibiotika seperti tetrasiklin. erythromycin. Mier 1996). Pengobatan dilakukan dengan mengganti cairan elektrolit tubuh yang hilang akibat diare. Penyakit yang ditimbulkannya adalah gastroenteritis dengan gejala-gejala diare.19 %. keram perut. Husni Mukhtar2 STIFI Perintis.19 % respectively. 1980). Keywords : Vibrio parahaemolyticus. Waturangi. 1989). fakultatif anaerob. penggunaan antibiotika yang tidak diawasi mengakibatkan suatu sifat tidak terganggunya aktifitas sel bakteri pada pemberian antibiotika.38 %. M. sulfametoxazol. gentamicin. Antibiotic resistances were tested on fourty two cultures of Vibrio parahaemolyticus by Krumperman diffusion method toward six kinds of antibiotic.19 %. mual. 2000). Tetapi. penetrasi ke dalam mukosa usus.05 %. 52. 1988).5% NaCl. 92. menetap di dalam sel epitel usus dan memperbanyak diri (Postnova. Bakteri yang telah resisten memiliki gen untuk melindungi dirinya dari efek bakterisida suatu antibiotika. ampisilin. Gen resistensi dari bakteri yang telah resisten terhadap suatu antibiotika dapat dipindahkan ke bakteri lain melalui mekanisme transformasi. 0. Loligo vulgaris. Marlina2. Resistensi sel bakteri terhadap suatu antibiotika yang terjadi di rumah sakit 34 . value of Multiple Antibiotics Resistances (MAR) was 0. mempunyai flagela polar. Sifat ini dikenal dengan istilah resistensi sel bakteri (Ganiswarna. 2 Fakultas Farmasi Universitas Andalas 1 ABSTRACT The characteristics of Vibrio parahaemolyticus resistances were observed from Squid (Loligo vulgaris) and mangrove crab (Scylla serratta) in Padang using differential medium CHROMAgar Vibrio.86 %. bakteri harus melalui tahap kontak dengan permukaan mukosa usus. Pada serangan akut. 1 NO. transduksi ataupun konjugasi selama berlangsungnya pengobatan menggunakan antibiotika (Pelczar et al. 19. chloramphenicol. dan siprofloksazin (Doyle. 1995).SCIENTIA VOL. 26. tumbuh baik pada medium dengan kadar NaCl 1-8 % sehingga termasuk bakteri halofilik.46. muntah. 26. Scylla serratta PENDAHULUAN Vibrio parahaemolyticus adalah bakteri gram negatif. The percentage of Vibrio parahaemolyticus resistances ampicillin.1% KCl ke dalam pembuluh darah (Boyd. berbentuk koma. 1988.5% NaHCO3 dan 0. Untuk dapat menimbulkan infeksi. 1996). 1982. Antibiotics resistances. Masa inkubasinya 4-96 jam dengan rata-rata 15 jam. Barrow 1993. Perkembangan resistensi merupakan proses alamiah yang dilakukan bakteri guna mengembangkan toleransi terhadap keadaan lingkungan yang baru (Pelczar et al. demam (Gerard. and toward tetracycline were 76. seperti pemberian larutan 0.

lemari pendingin. Isolasi bakteri parahaemolyticus Vibrio METODE PENELITIAN Alat dan Bahan Jarum ose. Beranjak dari penelitian tersebut maka dilakukan penelitian mengenai sifat resistensi bakteri V. 1 NO.9 ml media SPB dalam tabung ependof untuk pengenceran 101 . autoklaf. Inkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam. sentrifugator.SCIENTIA VOL. Setelah di inkubasi kemudian dilakukan pengenceran mulai dari 101 sampai 105 dengan cara memipet 0. Pada penelitian terdahulu telah dilakukan suatu kajian tentang sifat resistensi bakteri Vibrio cholerae yang diisolasi dari feses balita penderita diare dan limbah cair di rumah sakit terhadap beberapa antibiotika (Harta. aquadest steril. Rotary shaker inkubator. 1 2010 ISSN : 2087-5045 cukup tinggi (Radu. 2004). Biakan yang telah diremajakan dalam 35 . Setelah masingmasing pengencean ditanam pada media CHROMAgar™ Vibrio dalam cawan Petri. pipet mikro.1 ml sampel induk dimasukan kedalam 0. Universitas Andalas Padang. media Luria Burtani (LB) broth. lampu spiritus. cawan petri. disk antibiotika (BBL™).9 ml media SPB dalam tabung ependorf untuk pengenceran 102 demikian seterusnya sampai pengenceran 105. effendorf.parahaemolticus yang diisolasi dari Scylla serratta dan Loligo vulgaris. etanol 70%. incubator. selanjutnya 0. Uji resistensi bakteri Vibrio parahaemolyticus terhadap antibiotika Cakram antibiotika yang digunakan dengan konsentrasi yang telah ditetapkan sebagai berikut: Golongan Penisilin Kloramfenikol Eritromisin Aminoglikosida Sulfonamida Tetrasiklin Antibiotik Ampisilin Kloramfenikol Eritromisin Gentamisin Sulfametoksazol Tetrasiklin Konsentrasi (µg ) 10 30 10 15 5 30 Uji resistensi antibiotik dilakukan terhadap beberapa kultur V. laminar air flow. Biakan dalam cawan Petri akan memberikan koloni ungu yang menandakan adanya bakteri V. batang pengaduk. pot salep. Pengambilan sampel Sampel dibeli dari penjual cumicumi dan kepiting dipinggir pantai purus. water bath. Media CHROMagar Vibrio (CHROMagarTM). perlu dilakukan suatu penelitian untuk mengamati penetapan resistensi bakteri terhadap antibiotika. Ditimbang 10 g sampel yang telah dihaluskan kemudian dimasukan dalam erlemeyer dan ditambahkan Salt Poymixin Broth ( SPB) hingga 100 ml. spatel. kota Padang. Sampel. lampu UV. hot plate. kemudian diidentifikasi di Laboratorium Ekologi Hewan Jurusan Biologi FMIPA.1 ml dari pengenceran 101 dimasukan kedalam 0. khususnya bakteri V. Lalu inkubasi lagi pada suhu 37°C selama 24 jam. erlenmeyer. parahaemolyticus. pinset. parahaemolyticus yang diisolasi dari sampel Cumi-cumi (Loligo vulgaris) dan kepiting bakau (Scylla serratta) di kota Padang terhadap beberapa antibiotika. vortex. timbangan digital (Mettler PM 200®). kapas lidi. beaker glass. Oleh karena itu.parahaemolyticus. jangka sorong. media Mueller Hinton (Merck®). 2002).

medium spesifik CHROMAgar™ vibrio. terapi dengan ditambahkan 3% NaCl yang bertujuan antibiotik dapat mengurangi durasi diare untuk meningkatkan jumlah dan ekskresi serta mengontrol V. dimana bakteri V.vulgaris) dan yaitu media pengaya SPB yang kepiting bakau (S. 1 NO. dan Terapi utama untuk mengatasi masih memiliki aktifitas terhadap dehidrasi pada penyakit gastroenteritis spesies vibrio yang lainya. V. Biakan diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37ºC. Analisa Data Persentase resistensi bakteri terhadap antibiotika dihitung untuk setiap jenis antibiotika dengan menggunakan persamaan: % Re sistensi Jumlah kultur yang resisten x 100 % Jumlah kultur yang diuji Perhitungan Nilai MAR dengan menggunakan persamaan Krumperman: MAR = x y Keterangan : = Multiple Antibiotics Resistance = Jumlah bagian yang resisten terhadap antibiotika dari satu kultur yang digunakan y =Jumlah antibiotika yang digunakan vibrio halofilik dan menekan keberadaan Resistensi suatu koloni bakteri spesies lain. Walaupun demikian. penambahan ini sesuai terhadap antibiotika dikatakan tinggi dengan kadar optimal untuk jika memiliki nilai Multiple Antibiotics pertumbuhan V. parahaemolyticus akan baik secara oral maupun secara tetap berlangsung. Kultur pada media SPB ditanam pada Resistance (MAR) ≥ 0. 1 2010 ISSN : 2087-5045 LB broth diambil dengan pipet mikro sebanyak 100 µl dan di tanam pada medium Mueller hinton Agar dengan meratakanya pada permukaan media menggunakan lidi kapas steril.parahaemolyticus. Disk antibiotik ditaruh hati-hati diatas biakan bakteri dan ditekan perlahan dengan pinset steril supaya benar-benar kontak dengan bakteri.2.serratta) ada mengandung antibiotik Polymixin B. terapi pertumbuhan spesies vibrio lainya dengan antibiotik juga penting karena dihambat.parahaemolyticus.parahaemoyticus sebagai spesies MAR x 36 . kemudian di inkubasi pada suhu HASIL DAN PEMBAHASAN 37°C selama 24 jam. sedangkan intravena.parahaemlyticus resisten terhadap antibiotik ini. Terbentuknya Media yang digunakan untuk warna ungu menandakan pada kedua isolasi bakteri Vibrio parahaemolyticus sampel yaitu cumi-cumi (L. Daerah hambatan yang terlihat sebagai wilayah bening disekitar disk antibiotik diukur diameternya dan karakter resistensi dari bakteri tersebut terhadap antibiotik dibandingkan terhadap tabel standard. Jarak Disk dengan tepi cawan Petri 15 mm dan jarak antar Disk 24 mm. sehingga adalah penggantian cairan dan elektrolit pertumbuhan V. Pada media SPB harus dalam beberapa kasus.SCIENTIA VOL.

Y. 1995).parahaemolyticus resisten terhadap sulfametoksazol (Handayani. Tetrasiklin bersifat bakteriostatik dan bekerja menghambat sintesa protein bakteri pada ribosomnya yaitu berikatan dengan ribosom 30S dan menghalangi masuknya kompleks tRNA asam amino pada lokasi asam amino (Ganiswara. namun penggunaan antibiotik ini harus diperhatikan karena memiliki efek samping yang berbahaya yakni dapat menimbulkan nefrotoksik (Goodman & Gilman. 2007). antibiotik ini masih peka dengan V. Bakteri V. diperoleh 76. 1 NO.19%). Dari hasil diperoleh (26. Dari penelitian ini diperoleh hasil 19. resisten dapat timbul karena penyebaran resisten yang diperantarai oleh plasmid.86% kultur yang resisten terhadap sulfametoksazol. Umumnya bersifat bakteriostatik.05% kultur resisten terhadap kloramfenikol. Ampisilin bekerja dengan menghambat sintesa dinding sel bakteri. Kloramfenikol adalah salah satu obat alternatif untuk diare (Ganiswara. pada konsentrasi tinggi kadang-kadang bersifat bakterisid. Dari hasil. Resistensi suatu bakteri gram negatif dinyatakan tinggi jika mempunyai nilai Multiple Antibiotics Resistence ( MAR) > 0. dari hasil diperoleh 92.19 %) terjadi karena proteksi melalui ribosom oleh protein sitoplasma. 2006). ternyata sulfametoksazol mempunyai tingkat pola resistensi yang tinggi. parahaemolyticus terhadap antibiotik sangat penting untuk pemilihan antibiotik yang tepat (Ganiswara.3..19 % kultur resisten terhadap antibiotik ini. Dari hasil. resisten dapat timbul karena resistensi silang. 1995). 1 2010 ISSN : 2087-5045 penyebaran penyakit ini.38% kultur resisten terhadap antibiotik ini. Kombinasinya akan berupa efek yang sinergis. Uji resistensi terhadap antibiotik pada penelitian ini menggunakan metode difusi krumpermen karena metoda ini merupakan metoda yang sederhana tetapi efektif memberi informasi untuk pengujian sifat resisten bakteri terhadap beberapa antibiotik. Hal ini menunjukan bahwa bakteri V. diperoleh 52.parahaemolyticus. Timbulnya resistensi terhadap tetrasiklin (26. Gentamisin merupakan senyawa aminoglikosida pilihan utama karena harganya murah dan aktivitasnya yang diandalkan terhadap semua infeksi kecuali terhadap bakteri aerob gram negatif yang paling resisten. namun pada penelitian ini digunakan Sulfametoksazol. Antibiotik ini bekerja menghambat enzim petidil transperase yang berperan sebagai katalisator untuk membentuk ikatan peptida pada proses sintesis protein bakteri. Antibiotik ini bersifat bakteriostatik terhadap bakteri gram positif dan gram negatif. Resistensi pada kloramfenikol dapat muncul bila bakteri mampu membentuk enzim klorampenikolasetil tranferase yang mampu merusak aktifitasnya. Ampisilin merupakan senyawa prototipe golongan aminopenisilin. Eritromisin termasuk golongan makrolida yang bersifat bakteriostatik tapi dapat juga bersifat bakterisida dalam konsentrasi yang tinggi terhadap organisme yang rentan.SCIENTIA VOL. Dari sekian banyak pola resistensi antibiotik terhadap isolat.46.parahaemolyticus mempunyai tingkat resistensi yang cukup tinggi terhadap antibiotik yang digunakan. Sulfametoksazol pada umumnya dikombinasikan dengan trimetoprim merupakan senyawa antibiotik yang efektif secara klinis. 1995). 37 . Hal ini berarti antibiotik ini masih dapat digunakan sebagai terapi. sehingga hasil pengujian sifat resisten V. Dari penelitian ini diperoleh nilai MAR rata-rata adalah 0.

SCIENTIA VOL. 1 NO. 1 2010 ISSN : 2087-5045

KESIMPULAN Dari penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : • Hasil uji resistensi dari 42 kultur murni V.parahaemolyticus menunjukkan bahwa 76,19 % kultur resisten terhadap ampisilin, 19,05 % kultur resisten terhadap kloramfenikol, 52,38 % resisten terhadap eritromisin, 26,19 % resisten terhadap gentamisin, 92,86 % resisten terhadap sulfametoksazol, 26,19 % resisten terhadap tetrasiklin. • Nilai Multiple Antibiotics Resistence (MAR) yang diperoleh berkisar antara 0,3 – 0,8 dengan nilai MAR rata-rata adalah 0,46. Hal ini menunjukan bahwa bakteri V.parahaemolyticus mempunyai tingkat resistensi terhadap antibiotik yang cukup tinggi.

DAFTAR PUSTAKA Gerard, 1982, Mikrobiologi Kedokteran, PT. Gramedia, Jakarta Barrow, G.I, 1993, Cowan and Steel’s Manual for the Identification of Medical Bacteria, 3rd Ed, Cambridge Univercity Press. Postnova, T., O.G. Gomez-duarte and K. Richardson, 1996, ”Motility Mutants of Vibrio cholerae 01 have Reduced Adherence in vitro to Human Small Intestinal Epithelial Cells as Demonstrated by ELISA”, Microbiol, 142, 27672776 Mier, R.M., I.L. Pepper and C.P. Gerba, 1996,Environmental Microbiology, 5th Ed, International Thompson Publishing, California

Boyd, F.R. and J.J. Mar., 1980, Medical Microbiology, Little Brown and Company, Boston Doyle, M, 1989, Foodborne Bacterial Pathogens, Marcell Dekker Inc., New York Ganiswarna, G.S., dkk., 1995, Farmakologi dan Terapi, UI-Press, Jakarta Pelczar, M. J., dan E. C. S. Chan, 1988, Dasar-Dasar Mikrobiologi, Jilid II, diterjemahkan oleh Ratna. S. H, dkk, UI-Press, Jakarta, Radu, S., M. Vincent., K. Apun., R.A. Rahim., P.G. Benjamin., Yuherman and G. Rusul., 2002, “Molecular Characterization of Vibrio cholerae O1 Outbreak Strain in Miri, Sarawak (Malaysia)”, Acta Tropica, 83, , 169-176 Waturangi, D.E., 2000, ”Keanekaragaman Genetik serta Uji Resistensi Antibiotik Escherichia coli yang Diisolasi dari Feses Farunus spp”, http://www.hayati.ipb.com Goodman & Gilman, 2007. Farmakologi Dan Terapi. EDISI ke-10. Vol 2. ITB. Jakarta

38

SCIENTIA VOL. 1 NO. 1 2010 ISSN : 2087-5045

AKTIVITAS ANTI INFLAMASI EKSTRAK ETANOL DAUN KEMBANG BULAN ( Tithonia diversifolia. A. Gray ) TERHADAP MENCIT PUTIH BETINA Verawati, Mimi Aria, Novicaresa M. Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STIFI) Perintis ABSTRACT The effect anti inflammatory of leaves aethanolic extract of the kembang bulan (Tithonia diversifolia A.Gray) by topically on female white mice by using modification methode between making edema and granuloma pouch. Inductioned by injection of carragenin 2 % b/v in NaCl fisiologis subcutaneously.The extract was given topically as ointment for 4 days in various concentration they are 1 %, 2,5% and 5 %. The parameter were observed edema volume, totally of leucocytes cell on edema and blood on white female mice. The result of research showed that leaves aethanolic extract of the kembang bulan (Tithonia diversifolia A.Gray) gives topically anti inflammatory effect by increasing the concentration it can reduced the edema volume and gives effect on decreased of leucocytes cell on oedema and can increased neutrofil cells and limpocyt cells on blood significantly (P<0,05). The maximal effect of anti inflammatory was given by concentration 5 % with the lowest edema volume 0,03 ml more than effect anti inflammatory of hidrocortison acetat 2,5 % with edema volume 0,08 ml. Keywords : Tithonia diversifolia, anti-inflammatory, edema

PENDAHULUAN Tumbuhan adalah gudang bahan kimia yang memiliki berbagai manfaat termasuk untuk obat berbagai penyakit. Oleh karena itu saat ini banyak para peneliti berusaha untuk mengisolasi senyawa kimia dari tumbuh-tumbuhan tersebut guna dimanfaatkan dalam bidang pengobatan. Penggunaan tumbuh-tumbuhan sebagai obat tradisional mempunyai keunggulan antara lain dalam hal khasiat yang lebih baik serta efek samping yang lebih kecil dari pada obat berbahan kimia murni. Saat ini tanaman obat tradisional masih berperan sebagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan dasar penduduk di bidang kesehatan (Wijaya et al, 1995; Donatus, 1983). Tumbuhan yang merupakan bahan baku obat tradisional tersebut tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia, baik itu tumbuhan asli Indonesia, maupun tumbuhan asli

luar negeri yang tumbuh dan dikembangkan di Indonesia. Salah satu tumbuhan tersebut adalah bunga kembang bulan (Tithonia diversifolia A. Gray) atau secara tradisional dikenal sebagai Bunga Busuk, Bunga Kipait, dari Family: Asteraceae (Hanum, 2002). Selain itu dari penelitian sebelumnya diketahui bahwa tumbuhan T.diversifolia aktif sebagai anti bakteri ( Dewi,2010 ), seperti kita ketahui salah satu sebab inflamasi bisa disebabkan oleh bakteri. Bagian yang dimanfaatkan dari tumbuhan T. diversifolia sebagai sumber zat kimia, yang digunakan untuk pengobatan tradisional biasanya adalah bagian daun, tapi dapat juga menggunakan kulit akar dan batang. Daun dari tumbuhan T. diversifolia ini mengandung senyawa alkaloid, terpenoid, flavonoid, saponin, tanin, serta polifenol. Manfaat dari daun T.

39

SCIENTIA VOL. 1 NO. 1 2010 ISSN : 2087-5045

diversifolia ini secara tradisional biasanya digunakan sebagai obat sakit perut, kembung, diare dan digunakan sebagai obat luka dan anti radang(antiinflamasi) (Dalimartha, 2000). Berdasarkan penggunaan daun T. diversifolia secara tradisional sebagai anti-inflamasi dan penelitian sebelumnya mengenai antibakteri, maka perlu dilakukan penelitian secara ilmiah dengan menguji aktivitas anti inflamasi ekstrak daun T. diversifolia terhadap mencit putih betina dengan menggunakan metode modifikasi antara metode edema buatan dengan “granuloma pouch” (Gryglewsky, 1997; Domer, 1971). Parameternya adalah pengukuran volume edema buatan pada bagian punggung mencit putih dan penentuan jumlah sel leukosit pada tempat terjadinya inflamasi dan darah (Winter, 1962).

Ekstraksi sampel Sebanyak 1,5 kg daun kembang bulan segar dicuci bersih kemudian dilakukan pengeringan tanpa sinar matahari (kering angin). Setelah kering dilakukan penyerbukan dengan cara pemblenderan dan dimaserasi dengan etanol 70 % selama 3x3 hari dan disaring. Filtrat diuapkan secara vakum sehingga diperoleh ekstrak kental etanol. Pembuatan Sediaan Uji Ekstrak daun kembang bulan ditimbang sesuai dengan konsentrasi yang akan dibuat lalu digerus halus dalam lumpang,kemudian tambahkan vaselin flava sedikit demi sedikit sambil digerus sehingga didapatkan massa yang homogen. Sediaan uji terdiri atas 3 macam konsentrasi yaitu 1 % b/b; 2,5 % b/b dan 5 % b/b. Pembanding yang digunakan adalah hidrokortison asetat dengan konsentrasi 2,5 % b/b.

METODOLOGI PENELITIAN Alat

Pembuatan Larutan Penginduksi Alat- alat yang digunakan yaitu : rotary evaporator, botol maserasi, jarum suntik 5 ml, jarum suntik 1 ml, gunting bedah, timbangan hewan, lumpang dan stamfer, gelas ukur, alat cukur, spidol, kandang hewan, dan lainlain. Bahan Bahan yang digunakan yaitu daun kembang bulan, etanol 70%, air suling, vaselin flava, NaCl fisiologis, karagen, krim perontok bulu dan hidrokortison asetat (serbuk). Hewan yang digunakan adalah mencit putih betina dengan berat 20-30 g sebanyak 25 ekor, dimana masing – masingnya dibagi menjadi 5 kelompok Timbang karagen sebanyak 1 gram, lalu gerus halus dalam lumpang kemudian sedikit demi sedikit ditambah NaCl fisiologis 50 ml sambil digerus homogen, maka konsentrasi karagen yang diperoleh adalah 2% . Penginduksian Udem a. Mencit dicukur bulu bagian punggungnya dengan diameter ± 3 cm,. Mulanya dipotong dengan gunting, selanjutnya untuk menghilangkan bulu yang masih tersisa dioleskan krim perontok bulu, sehingga bulunya betul-betul hilang. Biarkan selama 24 jam. b. Pada bahagian punggung yang dicukur disuntikkan dengan udara sebanyak 5 ml secara subkutan sehingga terbentuk kantong udara

40

Cuci dengan air suling. Setelah kering tetesi dengan metanol.2 ml pada tempat yang ada kantong udara tersebut. Selanjutnya ditambahkan larutan karagen 2 % dalam NaCl fisiologis sebanyak 0. eusinofil. 1 NO. limfosit. lalu dikeringkan.1 ml karagen 2 % dalam NaCl fisiologis c. Selanjutnya obat diberikan lagi setiap hari selama 3 hari setelah pemberian pertama (obat diberikan selama 4 hari). Setelah 24 jam kantong udara terbentuk dihisap udaranya dengan jarum suntik 5 ml sehingga kantong udara tersebut jadi kempes. Pengukuran volume radang Pada hari ke lima eksudat diambil dengan jarum suntik lalu diukur volumenya.2 ml. Tambahkan satu tetes larutan Giemsa yang telah diencerkan dengan air suling (1 : 20) dan biarkan selama 20 menit. sehingga melapisi seluruh lapisan 41 . Pengukuran Dilakukan Parameter yang darah. Analisa Data Untuk menganalisa data hasil penelitian yang diperoleh dari semua parameter akan digunakan analisa variansi (ANOVA) satu arah. keringkan dan lihat dibawah mikroskop. Hitung jumlah sel neutrofil.SCIENTIA VOL. Darah atau cairan eksudat segar ditetesi pada gelas objek satu tetes dan ratakan dengan gelas objek yang lain sehingga diperoleh lapisan darah yang homogen (hapusan darah). Pemberian Sediaan Uji Sediaan uji diberikan dengan cara mengoleskan secara merata pada daerah yang terbentuk kantong udara (daerah yang dicukur) sebanyak 200 mg (dalam bentuk salep) dengan diameter ± 3 cm segera setelah pemberian karagen 2% dalam NaCl fisiologis sebanyak 0. Penghitungan jumlah sel leukosit dalam hapusan darah dan cairan eksudat. biarkan 5 menit. a. b. 1 2010 ISSN : 2087-5045 dan sekaligus disuntikkan juga 0. dan sel monosit. Pada kelompok kontrol hanya diberikan vaselin flava saja.

secara topikal Jumlah Sel Konsentrasi 0% No 1 2 3 4 5 Neutrofil segmen 35 36 39 32 31 34.5 % 1 2 3 4 5 Rata-rata SD 5% 1 2 3 4 5 Rata-rata SD Hidrokortison 1 42 .07320 0.278 55 51 53 54 56 53. 1 NO.209 40 49 48 49 51 47.04 0.20 0.074 13 Eosinofil 1 1 2 1 1 1.924 35 36 32 31 37 34.80 4.20 2.08 0.40 0.60 0.548 1 Rata-rata SD 1% 1 2 3 4 5 Rata-rata SD 2.40 4.673 5 2 1 1 3 2.39 0.03 0.012247 Perlakuan 1 2 3 4 5 Rata-rata SD 0 0.1 0.SCIENTIA VOL.517 63 Neutrofil batang 3 2 1 1 1 1.Gray.00 0.60 3.05 0.80 1.60 2.Gray secara topikal Volume eksudat (ml) Konsentrasi (%) 1 2.40 0.11 0.08600 0.09100 0.588 30 29 30 31 34 30.40 4.828 20 Limposit 41 40 46 45 42 42.894 3 5 1 1 3 2.1 0.011402 Tabel II.43200 0.924 59 60 61 63 60 60. 1 2010 ISSN : 2087-5045 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Tabel I. Hasil perhitungan sel leukosit dari eksudat punggung mencit betina setelah pemberian ekstrak daun Tithonia diversifolia A.36 0.03000 0.80 4.548 1 1 1 1 1 1.60 1.50 0.068337 Hk as 2.08 0.06 0.00 2.09 0.09 0.05 0.324 6 7 13 13 3 8.80 1.01 0.51 0.07 0.5 5 0.013416 0.08 0.40 1.60 0.40 0.673 3 Monosit 20 21 12 21 25 19.764 25 18 20 18 13 18.60 1.5 0.04 0.085 0. Hasil pengukuran volume eksudat dari radang punggung mencit putih betina setelah pemberian ekstrak daun Tithonia diversifolia A.056667 0.15 0.588 29 25 26 28 30 27.000 1 1 2 2 1 1.450 6 12 10 6 6 8.894 3 2 1 1 1 1.03 0.11 0.447 2 2 1 1 1 1.80 2.

00 0.535 Limposit 31 30 32 27 29 29.000 Tabel III.40 4.5 % 1 2 3 4 5 Rata-rata SD 5% 1 2 3 4 5 Rata-rata SD Hidrokortison asetat 2.347 1 1 1 1 1.643 8 2 2 3 4.837 5 5 2 1 1 2 2.80 1.20 0.771 2 1 1 2 1.80 6.00 4.20 0.271 68 69 77 70 70 70.80 4.894 2.362 15 17 20 21 17.40 5.Gray secara topikal Jumlah Sel Neutrofil Monosit batang 1 17 2 18 0 16 1 17 2 17 1.894 23 20 18 26 25 22.60 0.00 2.SCIENTIA VOL.5 % 1 2 3 4 5 Neutrofil segmen 50 49 52 53 50 50.20 17.00 0.114 3 5 1 8 1 3 1 2 1 3 1.80 1.60 3.550 Konsentrasi 0% No 1 2 3 4 5 Rata-rata SD 1% 1 2 3 4 5 Rata-rata SD 2. Hasil perhitungan sel leukosit dari darah mencit putih betina setelah pemberian ekstrak daun Tithonia diversifolia A.837 17 21 19 26 20.868 Eosinofil 1 1 0 2 2 1.362 19 25 20 18 13 19.80 1.564 75 70 75 78 84 76.20 0.20 3.447 Rata-rata SD 43 .924 3.387 3 2 1 3 2 2 1 1 1 1 1.837 0. 1 2010 ISSN : 2087-5045 asetat 2.40 5.924 25 27 25 26 25 25.80 3.5 % 2 3 4 5 Rata-rata SD 65 60 59 60 59.80 3.20 0.20 1.60 1.80 0.301 27 29 30 20 33 27.837 1 1 1 1 1 1. 1 NO.80 0.643 66 60 63 67 68 64.447 1 1 2 1 1 1.00 0.128 62 60 65 76 61 64.707 5 3 2 10 1 10 1 5 0 6 1.447 1 1 1 2 1 1.20 0.894 0.40 3.80 6.000 1 2 1 1 1 1.

Dari hasil uji analisa varian dapat dilihat bahwa pada konsentrasi zat uji 1%. kembali Sel leukosit yang memegang peranan penting dalam proses fagositosis pada jaringan yang rusak adalah neutrofil dan monosit. Cairan yang sebelumnya telah dieksudasi diserap oleh pembuluh limfa dan sel-sel fagositik mengalami desintegrasi.5% terhadap penurunan derajat inflamasi menunjukkan efek yang lebih baik dibandingkan pembanding 2. dan terjadi pula penghentian migrasi leukosit.SCIENTIA VOL. diversifolia mempengaruhi persentase jumlah sel leukosit. 2. Hasil perhitungan jumlah sel leukosit pada cairan eksudat radang dan uji statistik dengan analisa varian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun T. Monosit dalam eksudat disebut makrofag yang merupakan sel yang bergerak aktif memberi respon secara kemotaksis. sehingga persentase jumlah sel leukosit dalam darah mendekati jumlah normal. dimana menyebabkan kenaikan jumlah sel leukosit dalam eksudat radang. Hasil perhitungan jumlah sel leukosit dari uji statistik dengan analisa varian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun T. baik itu dalam eksudat maupun dalam darah. diperoleh suatu korelasi yang menunjukkan hubungan antara volume eksudat (ml) terhadap konsentrasi ekstrak (%). Eksudat merupakan cairan yang tertimbun dalam jaringan atau ruangan karena bertambahnya permeabelitas pembuluh darah. Sedangkan efek pada konsentrasi 2. Dimana volume eksudat rata-rata mengalami penurunan sesuai dengan peningkatan dosis yang diberikan dibandingkan dengan kontrol positif yang hanya menggunakan vaselin flava saja. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Pembahasan Pemberian sediaan uji dengan dosis konsentrasi 1% ternyata telah memberikan efek anti-inflamasi. diversifolia secara topikal sesuai dosis. diversifolia pada konsentrasi 1% dapat mengurangi dan menekan derajat inflamasi yang terjadi pada hewan percobaan. diversifolia memberikan efek anti inflamasi melalui kemampuannya menghambat dan mengurangi volume 44 . Hidrokortison asetat dalam bentuk salep yang digunakan sebagai pembanding yang merupakan salah satu sediaan obat anti inflamasi yang bayak digunakan untuk mengobati reaksi peradangan pada kulit ternyata menunjukkan efek yang hampir sebanding dengan ekstrak daun T. Sedangkan pada jumlah sel eosinofil. Ini berarti. 1 NO. Dimana terjadi peningkatan jumlah sel neutrofil segmen dibandingkan dengan kontrol negatif.5% dan 5% terhadap kontrol memberikan perbedaan yang sangat bermakna (p < 0. sehingga aliran cairan terhenti. monosit dan limposit mengalami penurunan yang disebabkan karena pembuluh darah di daerah radang memperoleh permeabelitasnya kembali. fagosit aktif dan mampu mematikan serta mencerna berbagai agen penyebab inflamasi pada jaringan yang rusak. Ditinjau dari hasil penelitian yang telah dilakukan dan analisa data secara statistik ternyata ekstrak daun T. keluar melalui pembuluh limfe dan dihilangkan dari radang. Setelah pemberian ekstrak etanol daun T. diversifolia dapat mempengaruhi jumlah sel leukosit secara bermakna dengan peningkatan dosis dibandingkan dengan kontrol negatif. bahwa semakin besar konsentrasi ekstrak semakin efektif mengurangi volume edema.01).5%. Dari tiga dosis yang digunakan efek maksimum diberikan oleh dosis konsentrasi 5% yang ditandai dengan kecilnya volume eksudat yang didapatkan.

Donatus. 45 . 1962.. Padang. Pemberian ekstrak etanol daun kembang bulan ( T.Prod p. Gryglewsky. Risley. Oleh Husin.. C. J. Jakarta. Cracow. 2010. Departemen of Pharmacology. I. Pustaka Kartini.Gray. Poland..2002. Thomas Publiser. Fridah & van der Masen. KESIMPULAN Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia. Fakultas Farmasi Gajah Mada. 1997. R. A. DAFTAR PUSTAKA Dalimartha. M. Dewi. Yogyakarta. 1 2010 ISSN : 2087-5045 edema pada daerah radang. 1 NO. F. Tagetes erecta L.p. diversifolia ) memiliki aktifitas anti inflamasi. semakin bertambah pula aktifitas anti inflamasinya. Wijaya K. S. Risalah Simposium Penelitian Tumbuhan Obat III.R. 2000. 1971.A. Skripsi.R. I. USA.M. J. diversifolia memiliki aktifitas sebagai anti inflamasi secara topikal.Nat. Wirian.H. Jakarta. Springfield. IIIonis. Hanum. diversifolia ) secara topikal ternyata dapat meningkatkan jumlah sel leukosit baik dalam cairan eksudat maupun dalam darah. 1983 Pengembangan Farmakologi Dalam Pengembangan Obat Tradisional.W Nuss. S. Tithonia diversifolia A. Domer. 2.. Dengan bertambahnya konsentrasi ekstrak. Some Experimental Models for the Study of Inflamation and Anti Inflamatory Drugs. maka dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun T.. Copernicus Academy of Medicine.. E.297-298. Charles C.SCIENTIA VOL. Trubus Agriwidya. LIG. Hal ini dilihat dari penurunan volume eksudat pada radang punggung mencit putih betina yang di berikan secara topikal.H. Aktifitas Anti mikroba dari Elephantropus scober L. Auxiliary Plants.S. CarrageninInduced Edema in Hind Paw of Rat Asam Assay For anti Inflamantory Days. Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Indonesia. 1995 Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia... 258. Proceding A Society For Experimental Biology and Medicine III. Jilid III. Animal Experiment in Pharmacological Basis of Therapeutic.544547. dan mempengaruhi migrasi serta jumlah sel leukosit pada darah dan eksudat.Dalimartha dan A. Ekstrak etanol daun kembang bulan ( T. Winter...A and G.

zat warna dan garam anorganik yang terdapat pada jaringan bambu. Wiwit Gustiva 2) 1) Fakultas Farmasi Universitas Andalas. Almatsier. maka dilakukan penelitian tentang pengaruh lama penyimpanan pada suhu kamar dan lemari pendingin terhadap kadar protein pada dadih kerbau dengan metoda 46 . 2004.4 and 6 days.. Selain itu protein juga merupakan komponen pembentuk antibodi untuk mempertahankan daya tahan tubuh (Detama. Analysis of one ANOVA showed that there was a significance value ( P < 0. 1986. Fresh milk (A) was frut into two bamboo tubes ( tube of B and tube of C ) until becomed as ” dadih”. Berdasarkan hal di atas.4 and 6 days method of t-Test. kadar air. aroma. Masyarakat dalam memenuhi kebutuhan protein lebih banyak mengkonsumsi sumber protein hewani karena mengandung protein yang tinggi. Protein juga berfungsi sebagai pengatur dalam metabolisme tubuh. ibu hamil.. 1 NO. berperan dalam menentukan mutu dadih (Susilorini..SCIENTIA VOL. 2006). Padang ABSTRACT The research about the influence of duration time in room temperature and refrigerator to protein consentration a” dadih” by Kjeldahl method had been done. ibu menyusui dan orang yang baru sembuh dari penyakit. Dadih merupakan produk susu fermentasi tradisional khas Minangkabau Sumatra Barat yang proses pembuatannya sangat sederhana. 1 2010 ISSN : 2087-5045 PENGARUH LAMA PENYIMPANAN PADA SUHU KAMAR DAN LEMARI PENDINGIN TERHADAP KANDUNGAN PROTEIN PADA DADIH KERBAU DENGAN METODA KJELDAHL Regina Andayani1). D. Sugianto. was kept in room temperature and tube of C was kept in refrigenerator for 2. hal ini akan menurunkan mutu dari dadih tersebut.. A. Tube of B. Dadih ini banyak dijual dipasar tradisional namun berdasarkan pengamatan.05) of protein concentration be tween 2. Susu kerbau yang diperah langsung dimasukkan kedalam tabung bambu sebagai wadahnya kemudian ditutup dengan daun pisang.05) on each days (2. A. plastik dan ada yang tidak ditutup sama sekali. The research showed that protein concentration in room temperature and refrigenerator reduced. skemed that concentration for protein in room temperature and refrigerator were significance difference (P < 0. Sawitri dan Muharlien.E. Revi Yenti2). 2007. anak-anak. M. Komponen fisik dan kimia bambu yang meliputi sifat permeabilitas. dadih.4 and 6 days). metode Kjeldahl PENDAHULUAN Protein dalam tubuh berguna sebagai zat pembangun atau pertumbuhan karena protein merupakan pembentuk jaringan baru dalam tubuh terutama pada bayi. T. dadih banyak disimpan ditempat terbuka bahkan terkena cahaya matahari. 2008. Kondisi ini didiamkan secara alami selama 2 hari dalam suhu ruang sampai terbentuk gumpalan. Grinda. Salah satu sumber protein hewani yang sering dikonsumsi adalah dadih. 2001). S. Keywords : Protein. Padang 2) Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Perintis.E. Usman.

. larutan merah metil. Ambil 1 ml sampel tambahkan 1 ml pereaksi Ninhidrin kemudian dipanaskan. Uji kuantitatif dengan menggunakan metoda Kjeldahl Cara kerja untuk masing-masing sampel sebagai berikut (SNI 01-2891-1992) : a. Metoda Ninhidrin Disiapkan masing-masing larutan sampel 2 % dalam air. Labu Kjedhal dipanaskan diatas pemanas listrik 47 . Metoda Kjeldahl merupakan metoda yang umum digunakan untuk menentukan kadar protein pada makanan (Detama.. Reaksi positif ditunjukan dengan terbentuknya endapan putih yang segera menjadi kuning (Grinda.SCIENTIA VOL. 1 NO. J. Pengolahan sampel Sampel A susu kerbau segar diperiksa kadar proteinnya. gelas ukur. Alat Labu Kjeldhal 100 ml.M.. kemudian tambahkan beberapa tetes larutan CuSO4 0. CuSO45H2O). Ambil 1 ml sampel tambahkan 1 ml NaOH 10 %. Ninhidrin dan Xanthoprotein Uji kualitatif protein dilakukan pada susu segar dan dadih dengan menggunakan metode Biuret. fenolftalein. aquadest. pereaksi ninhidrin. 3. K2SO4. CuSO4. Tahap Destruksi Ditimbang sebanyak 0.. Reaksi positif ditunjukkan dengan terbentuknya warna biru ( Grinda. Ninhidrin dan Xanthoprotein.51 gram sampel masukkan dalam labu Kjeldahl 100 ml. pemanas listrik atau pembakar. ke 4 dan ke 6 setelah menjadi dadih. 2. T. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Kjeldahl sehingga dapat diketahui perubahan kuantitas protein dadih tersebut. spatel. tabung bambu dengan panjang 20 cm dan daun pisang. Masing-masing tabung diperiksa kadar proteinnya pada hari ke 2.5 ml H2SO4 pekat. Uji kualitatif dengan menggunakan metoda Biuret. NaOH. tambahkan 1 gram campuran selenium dan 12. Kemudian dibiarkan selama 2 x 24 jam sampai menjadi dadih..a (Merck). De Man. asam klorida p. Reaksi positif ditunjukkan dengan terbentuknya warna ungu (Robinson. pipet gondok. seperangkat alat titrasi dan mikroburet. Sampel tabung B dadih yang disimpan pada suhu kamar dan sampel tabung C dadih yang disimpan pada lemari pendingin. 1999). D. asam borat (H3BO3). Disiapkan masing-masing larutan sampel 2 % dalam air. alkohol).1% kocok. neraca analitik. Metoda Biuret METODA PENELITIAN Bahan Susu kerbau diambil dari tempat pemerahan susu di daerah Air Dingin Solok pada satu ekor kerbau. erlenmeyer 250. 2004). Ambil 1 ml asam nitrat pekat kemudian dipanaskan. indikator campuran (larutan bromocresol green. A. A. natrium tetraborat (Na2 B4O7). campuran selenium (serbuk SeO2. 1986). asam nitrat pekat (HNO3) dan asam sulfat (H2SO4). 1995). seperangkat alat destilasi. kemudian dimasukkan ke dalam 2 buah tabung bambu (tabung B dan tabung C) masingmasingnya 250 ml. A. 1986. Metoda xanthoprotein Disiapkan masing-masing larutan sampel 2 % dalam air. 1.

48 .38 = = = = = Volume HCL 0. c. sebagai penampung gunakan 25 ml asam borat 2 % yang telah ditetesi indikator campuran. Hasil akhir destruksi didinginkan kemudian encerkan dan masukkan ke dalam labu ukur 250 ml. Setelah destruksi berlangsung selama 30 menit belum didapatkan cairan hijau jernih. kemudian tambahkan 30 ml NaOH 30 % dan beberapa tetes indikator PP.SCIENTIA VOL. b. 1 2010 ISSN : 2087-5045 mula-mula pada suhu 40oC kemudian suhu dinaikkan secara perlahan-lahan sampai 280oC. Desrtuksi disini berlangsung selama 2 jam. Destilasi ini dilakukan sebanyak 3 x pengulangan.V2) x N x 0. Periksa dengan kertas lakmus.1 N untuk titrasi larutan sampel (ml) Volume HCL 0.014 x fp x 100 W = % N x faktor 6. Tahap Destilasi Larutan hasil destruksi dipipet 50 ml masukkan kedalam labu destilasi. 1 NO. tepatkan sampai tanda batas. Ujung kondensor dibilas dengan aquadest. Penyulingan diakhiri jika hasil destilasi sudah tak bersifat basa lagi. Kemudian lakukan titrasi dengan HCl 0. Untuk blangko dilakukan dengan cara yang sama.1 N untuk titrasi larutan Blangko (ml) Normalitas HCL Bobot sampel ( gram ) Faktor pengenceran ( 5 kali ) HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil uji kualitatif dari susu segar dan dadih dengan menggunakan metode Biuret. Labu destilasi dipasang dan dihubungkan dengan kondensor dan ujung kondensor %N % protein Keterangan : V1 V2 N W Fp = harus terbenam dalam cairan penampung. Tahap Titrasi Hasil destilasi dipindahkan dalam erlemeyer. Pengolahan Data Penentuan kadar protein dapat dihitung setelah diketahui persentase kadar nitrogen yang terdapat dalam sampel dan dikalikan dengan faktor konversi: (SNI 01-2891-1992) (V1 . dimana sampel diganti dengan aquadest. Didalam kondensor uap akan mengalir menuju penampung.1 N menggunakan mikroburet. Titik akhir ditandai dengan perubahan warna hijau menjadi merah muda. maka ditambahkan H2O2 30% sebanyak 2 tetes destruksi dilanjutkan sampai didapat cairan jernih kehijauhijauan. Ninhidrin dan Xanthoprotein menunjukkan hasil bahwa pada susu segar dan dadih terdapat protein. Kemudian sulingkan selama lebih kurang 10 menit. Hasil uji kualitatif dapat dilihat pada tabel1.

5608 0.6603 0.007 ( P<0.0610 3. Kadar protein yang diperoleh pada susu segar adalah 4.7065 0. 1994). 1994).5797 0. Anggorodi. Tabel 2.0391 ± 0.7562 ± 0. 6 pada lemari pendingin dan suhu kamar mengalami penurunan.5408 0.0467 4.05).0939 4. Sedangkan kadar protein dadih yang disimpan hari ke 2.05) yang berarti kadar protein dadih yang disimpan selama 2.0842 2.5079 ± 0.5079 %. Setelah diketahui persentase nitrogen yang terdapat pada sampel. Sidarmadji. 1986.2741 ± 0.05) dan penyimpanan setelah 6 hari diperoleh nilai P yaitu 0.468 0.5914 0. untuk menentukan kadar protein dikalikan dengan faktor konversi. dadih yang disimpan pada suhu kamar dan dadih yang disimpan pada lemari pendingin dapat dilihat pada tabel 2. 4 dan 6 hari demikian juga dengan penyimpanan pada lemari pendingin juga diperoleh nilai P yaitu 0.0613 3.05) dengan nilai tersebut terdapat perbedaan yang bermakna kadar protein dadih pada penyimpanan suhu kamar setelah 2. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Tabel 1.SCIENTIA VOL. Pada uji T terdapat perbedaan yang bermakna. Metoda ini mempunyai kelemahan dimana unsur N yang terdapat pada protein juga ikut teranalisis sehingga kadar protein yang diperoleh adalah kadar protein kasar (Crud protein) dan bukan protein murni (Grinda.9240 ± 0.5358 % Protein 4.38 (SNI 01-2891-1992. kadar protein dadih yang disimpan pada suhu kamar dan lemari pendingin pada penyimpanan setelah 2 hari diperoleh nilai P yaitu 0.0357 3. 1 NO. Dadih yang Disimpan pada Suhu Kamar dan Dadih yang Disimpan pada Lemari Pendingin Sampel Sampel A susu segar Setelah menjadi dadih Setelah 2 hari pada suhu kamar Setelah 4 hari pada suhu kamar Setelah 6 hari pada suhu kamar Setelah 2 hari pada lemari pendingin Setelah 4 hari pada lemari pendingin Setelah 6 hari pada lemari pendingin Berat Sampel (gr) 0..0392 3.5885 0. A. penyimpanan setelah 4 hari diperoleh nilai P yaitu 0.6331 05888 0.5829 0.4509 ± 0. Anggorodi.6150 0.6190 %N 0. Uji Kualitatif Sampel Susu Segar dan Dadih Sampel Susu segar Metoda Biuret Xantoprotein Ninhidrin Biuret Xantoprotein Ninhidrin Hasil Ungu Endapan putih Biru Ungu Endapan putih Biru Pengamatan Ungu Endapan putih Biru Ungu Endapan putih Biru Dadih Penelitian ini menggunakan metoda Kjeldahl karena umumnya metoda ini digunakan untuk penentuan analisis protein pada makanan.05) . Hasil persentase kadar protein pada susu segar.048 ( P<0. untuk susu yaitu 6.000 ( P<0. 1984. Persentase Kadar Protein pada Susu Segar.002(P <0. 4. Data yang diperoleh juga dilakukan uji statistik dengan anova satu arah dan uji T student. gambar 1 dan gambar 2.9858 ± 0.4188 ± 0.6019 0.000 ( P<0. 4 dan 6 hari berbeda secara bermakna.6699 0. Hasil uji anova satu arah diperoleh nilai P yaitu 0.0581 49 .

Fleet. K. Grafik kadar protein pada dadih yang disimpan dalam lemari pendingin Dari data dan grafik yang didapat terlihat jelas bahwa semakin lama penyimpanan maka kadar protein semakin menurun. Penurunan kadar protein ini terjadi karena selama proses fermentasi. R. Grafik kadar protein pada dadih yang simpan pada suhu kamar Gambar 2. 1 NO. Pada data yang didapat terlihat bahwa susu segar kerbau mempunyai kadar proteinnya lebih tinggi dari pada dadih.SCIENTIA VOL. streptococcus dan lactococus aktif melakukan proses proteolitik dan lepolitik menjadi substansi yang bisa dimanfaatkan oleh bakteri misalnya energi. Tetapi pada kenyataannya orang 50 lebih banyak mengkonsumsi dadih dari pada susu segarnya disebabkan karena aroma susu yang khas dapat menimbulkan rasa mual maka perlu dibuat susu fermentasi sehingga terjadi perubahan fisik dan kimiawi susu. Wooton. bakteri asam laktat lactobacillus.. 1987). Edwards. pada mekanisme perubahan tersebut biasanya akan menghasilkan air dan secara otomatis konsentrasi protein dalam produk fermentasi akan menurun (Bucle.. D. Tidak semuanya orang dapat mencerna susu dengan baik karena gangguan pencernaan yang timbul setelah mengkonsumsi susu karena tidak terpecahnya laktosa (gula susu) menjadi komponen-komponen sederhana yang dapat diserap oleh tubuh yaitu monosakarida. G.H. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Gambar 1. dan M. KESIMPULAN DAN SARAN Kadar protein dadih sangat dipengaruhi oleh lama dan tempat penyimpanan. 2004). Semakin lama waktu .A. Zurriyati Y. glukosa dan galaktosa (Sisriyenni..A.

T. Gramedia Pustaka Utama. Jurnal Natur. 1984. Vol 5. No 2. Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Susu Kerbau Fermentasi Mampu Menurunkan Kolesterol. H. Jakarta.. Ilmu Makanan Ternak Umum. 2008. Biokimia I . D. A. Ed. Prosedur Analisa untuk Bahan Makanan dan Pertanian. Vol 2. Jakarata.2006. Sudarmadji. Penerbit Penebar Swadaya. Muharlien. 1987. No 2.. 2001. Grindra. Pengolahan Dadih Sebagai Makanan Probiotik Spesifik Sumatera Barat. Zurriyati. Departemen Perindustrian. j. SNI 01-2891-1992. A. Jakarta. 2004. 1995.. A.. litbang deptan. Dadih yang disimpan pada lemari pendingin lebih tinggi kadar proteinnya dari pada dadih yang disimpan pada suhu kamar. Y. Dadih / dadiah. M. M..SCIENTIA VOL. Jilid I. Penerbit Institut Teknologi Bandung. G. Jakarta. R. UI Press. Edwards. Jakarta. Anggorodi. Prinsip Dasar Ilmu Gizi . Cara Uji Makanan dan Minuman. Ed.. Ilmu Pangan. Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. II. De Man. 1999. Pusat Standarisasi Industri. Penerbit PT. Bandung. 1986. Kajian kualitas dadih susu kerbau didalam tabung bambu dan tabung plastik. hal ini disebabkan karena dadih pada suhu kamar mudah terkontaminasi dengan mikroorganisme lain selain bakteri penghasil asam laktat sehingga dapat mempengaruhi kadar protein. Buckle. D. Gramedia. Jakarta. DAFTAR PUSTAKA Almatsier. T. Penerbit Dian Rakyat. Susilorini. A. Kimia Makanan. Fleet dan M Wooton. Penerbit Liberty. 1 NO.VI. 51 . Penerbit ITB. E. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. 1994. Robinson.. E.. 1 2010 ISSN : 2087-5045 penyimpanan maka kadar protein pun semakin menurun. 2007. K. Yogyakarta. Sawitri. Detama. 2004 Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi. Sisriyenni. Usman. S. Budi Daya 22 Ternak Potensial. Sugianto. Artikel. Bandung.

damar. terpen (cymene. rutine. phyllochrysine). tanin. menerangkan penglihatan dan penambah nafsu makan (Heyne. Satyanarayana. 60:40 and 50:50. 1986. lintretalin. Than. niruri. peluruh kencing. phenolic content and antioxidant activity in Phyllanthus niruri L.) 1) Harrizul Riva’I 1). limonene. sedangkan obat herbal yang terstandar adalah yang sudah lulus uji pra klinis. N.) (Nurkhasana. Keywords : Phyllanthus niruri L. 52 . Badan Pengawasan Obat). 1 NO. astragalin.05). peluruh dahak. 80:20. 4-metoxy-norsecurinine. 2006. herbs to obtain phenolic compound which has antioxidant activity. Martinus 2) Fakultas Farmasi Universitas Andalas Padang. etnosecurinina. alkaloid (norsecurinine. peluruh haid. phyltetralin. antioxidant. K. N. 1988. Sementara fitofarmaka adalah suatu sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan uji klinik. anti radang. The ethanol:water ratio tested were 100:0. Herba meniran mengandung senyawa flavonoid (quarcetin. 2005). nitretalin. 1 2010 ISSN : 2087-5045 PENGARUH PERBANDINGAN ETANOL AIR SEBAGAI PELARUT EKSTRAKSI TERHADAP PEROLEHAN KADAR FENOLAT DAN DAYA ANTIOKSIDAN HERBA MENIRAN (Phyllanthus niruri L. physetinglucosid). 2) Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Perintis Padang ABSTRAK Effect of ethanol:water ratio as extraction solvent on obtaining of extractive material. hypophyllanthine. Salah satu bahan baku simplisia yang akan dipakai untuk membuat fitofarmaka ini adalah herba meniran (Phyllanthus niruri L. Results revealed that ethanol:water ratio gave significant effect on extracted material. herbs have been investigated. lignan (phyllanthine. nirphylline. Obat-obatan yang terbuat dari bahan alam dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu jamu. dan fitofarmaka. phenolic content and antioxidant activity (p<0.SCIENTIA VOL. the best result was obtained by ethanol:water ratio 60:40 as extraction solvent for Pyhllanthus niruri L. 1987). dan mineral terutama kalium (Joshi. bahan baku dan produk jadinya telah distandarisasi. lupeol). obat herbal terstandar. 70:30. niruriside). Among the ethanol:water ratio tested. Herba meniran berkhasiat membersihkan hati. quercitrin. nirathin. phenolic PENDAHULUAN Pengembangan bahan obat alam meliputi pengembangan budidayanya sehingga menghasilkan simplisia dengan kualitas yang unggul serta pengembangan cara produksi dan bentuk-bentuk sediaan dari obat-obat tradisional. pereda demam. isoquercitin. Jamu adalah ramuan tradisional yang belum teruji secara klinis.

Identifikasi Sampel Identifikasi sampel dilakukan di Herbarium Universitas Andalas (ANDA) dengan nomor koleksi FT-001. lalu tambahkan metanol sampai tanda batas kemudian dipipet 17. Penentuan Kadar Ekstraktif Larutan Sampel Dari larutan sampel dipipet sebanyak 10 mL. timbangan digital analitik (Denver Instrument Company). b.a (Merck).3 g Na2CO3 dilarutkan dalam aquadest sampai 50 mL. pipet mikro. 1 2010 ISSN : 2087-5045 METODOLOGI PENELITIAN Alat – alat Alat yang digunakan adalah Rotary Evaporator (RVO6-ML kika werke).1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) p. 80:20. diendaptuangkan. kemudian keringkan dalam oven pada suhu 105 0C selama 1 jam kemudian setelah dingin ditimbang. Larutan DPPH (1. Blender. sampel yang akan dianalisa adalah bagian tumbuhan meniran yang berada di atas tanah (Pyhlanthus niruri L. Hitung kadar ekstraktif sampel. sebelum dianalisa ekstrak dilarutkan dengan campuran etanol dan air suling sama banyak (1:1) dalam labu ukur 50 mL (Harbone. Bahan – bahan Bahan yang digunakan adalah tanaman herba meniran (Pyllanthus niruri L. Badan Pengawasan Obat.1. asam galat. erlenmeyer. Semua maserat dikumpulkan. diamkan selama dua hari. Uapkan larutan sampel di water bath. corong. metanol p. Larutan Natrium Karbonat 1 M (Mosquera.). aluminium foil. aquadest. 2004).a (Merck). % Ekstraktif = Berat Ekstrak x 100% Sampel diambil di sepanjang jalan Bypass Padang. etanol p.SCIENTIA VOL. labu ukur. Natrium Carbonat (Merck). reagen Fenol folin-Ciocalteu (Merck).5 mL larutan DPPH masukkan dalam labu ukur 50 53 . masukkan dalam cawan penguap yang sudah ditara. biarkan Berat Sampel Pembuatan Reagen a. 1 NO. spektrofotometer UV-Visible mini 1240 (Shimadzu®). maserat dipisahkan dan sisanya dimaserasi lagi beberapa kali dengan jenis dan jumlah pelarut yang sama. sampai cairan terakhir tidak berwarna. sambil sekalisekali diaduk. Kertas saring Whatman No. cairan atas diambil kemudian diuapkan dengan rotary evaporator pada suhu 40 0C dan ditimbang. 70:30. 50:50. 1996) Ditimbang 10 mg DPPH masukkan dalam labu ukur 100 mL. 1978. dibersihkan kemudian dikering anginkan sampai kering kemudian diserbuk. dalam botol meserasi yang berwarna gelap. beaker glass. Pembuatan Ekstrak Sampel 5 g herba meniran yang telah diserbuk direndam dengan 50 mL etanol-air dengan perbandingan 100:0. 2007) Ditimbang 5. DPPH (1. aduk hingga homogen. spatel. cawan penguap.1-diphenyl-2picrylhydrazyl) 35 µg/mL (Keinanen. 60:40. Pengambilan sampel selama 24 jam. pipet gondok.).a (Merck). gelas ukur. batang pengaduk.

0. b.5 mL dan dimasukkan ke dalam vial. c. Pembuatan Asam Galat Kurva Kalibrasi karbonat 1 M biarkan selama 15 menit. lakukan 3x pengulangan sehingga kadar fenolat yang didapat ekivalen dengan mg asam galat /g berat ekstrak kental herba meniran. biarkan selama 15 menit. 2007. 2006) a. Masingmasing konsentrasi larutan dipipet 0. lalu tambahkan metanol sampai tanda batas sehingga diperoleh larutan konsentrasi 35 µg/mL. diencerkan dengan campuran metanol:aquadest (1:1) dalam labu ukur 50 mL sampai tanda batas sehingga didapatkan konsentrasi 25. ukur serapan maksimum pada panjang gelombang maksimum dengan spektorfotometer UV-Visibel yang akan memberikan komplek warna biru.5. kemudian ditambahkan 5 mL pereaksi Folin-Ciocalteu yang sudah diencerkan 1:10 dengan aquadest dan 4 ml larutan natrium karbonat 1M. 1 dan 1. Diamkan selama 15 menit. Serapan larutan diukur dengan spektrofotometer UV-Visible pada panjang gelombang 400-800 nm.25 mL.125 g asam galat masukkan dalam labu ukur 25 mL.Pourmorad. 80 mg/mL. Pipet larutan induk asam galat (5 mg/mL) sebanyak 1 ml ke dalam labu ukur 50 mL lalu diencerkan dengan campuran metanol dan air suling (1:1) sampai tanda batas. 2006) a. 75. tambahkan 2. 70. Pemeriksaan IC50 Larutan Sampel Dibuat konsentrasi 40. 60. 2005) Ditimbang 0. 0.5 mL ekstrak herba meniran kemudian masukkan kedalam vial. Masing-masing ke dalam vial larutan sampel dengan 50. biarkan selama 30 menit ditempat yang gelap. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum DPPH Pipet sebanyak 4 mL larutan DPPH 35 µg/mL. 1 NO. Penentuan Panjang Gelombang Serapan Maksimum Asam Galat. Penentuan Kadar Senyawa Fenolat Total Dengan Metoda Folin-Ciocalteu Larutan sampel dipipet 0. Kemudian dipipet 0. Penentuan Kadar Senyawa Fenolat Dengan Metoda Folin-Ciocalteu (Mosquera.SCIENTIA VOL. tambahkan 4 mL larutan natrium 54 . ukur serapan dengan spektrofotometer UV-Visibel dan buat kurva kalibrasi sehingga persamaan regresi liniernya dapat dihitung. kocok homogen. 100 dan 125 µ g/mL asam galat. Pipet 0.25.5 mL etanol 96% lalu tambahkan dengan air suling sampai tanda batas.5 mL diencerkan dengan etanol:air suling (1:1) dalam labu ukur 25 mL sampai tanda batas. tambahkan 5 mL reagen fenol FolinCiocalteu yang telah diencerkan dalam air suling 1:10 dan tambahkan 4 mL natrium karbonat 1 M. Uji Aktivitas Antioksidan Sampeldengan Metoda DPPH (Mosquera. masukkan dalam vial dan ditambahkan 2 mL campuran air suling dan metanol (1:1). Pourmorad. a. 2007.5 mL kemudian dicampur dengan 5 mL pereaksi Folin-Ciocalteu yang sudah diencerkan 1:10 dengan aquadest. Larutan asam galat 5 mg/mL (Sigma.75. 1 2010 ISSN : 2087-5045 mL. dipipet sebanyak 2 mL lalu tambahkan 4 mL Dari larutan induk asam galat dipipet 0. kemudian ukur serapan pada panjang gelombang 400-800 nm dengan spektrofotometer UV-Visebel. 50.

01. 1 2010 ISSN : 2087-5045 larutan DPPH 35 µ g/mL. 0. standar asam galat dengan metoda Hitung % inhibisi masingFolin-Ciocalteu yang diukur masingnya lalu buat kurva antara dengan spektrofotometer UVkonsentrasi larutan pembanding asam Visibel diperoleh serapan galat dan % inhibisi sehingga diperoleh maksimum pada panjang persamaan regresi liniernya.SCIENTIA VOL. Kadar Pembanding Asam Galat fenolat total yang diperoleh dari beberapa konsentrasi pelarut ekstraksi Dibuat larutan pembanding etanol diuji dengan Analisa Variasi asam galat dengan konsentrasi 1. Campuran dihomogenkan (Lampiran 5 Tabel 1). Abs Sampel : Serapan sampel ditambah DPPH dikurangi dengan serapan sampel blanko (sampel+metanol-air) tanpa DPPH pada panjang gelombang maksimum.02.04 dan 0. Pada perhitungan kadar ekstraktif dari beberapa perbandingan pelarut Pipet sebanyak 2 mL masingmasing dimasukkan ke dalam vial lalu etanol:air 100:0. Penentuan IC50 Larutan Variansi (Anova) satu arah. sampel x 100 % Abs. kontrol − Abs.54% dan 9. regresi liniernya.05 mL larutan induk asam galat (5 mg/mL) yang HASIL DAN PEMBAHASAN kemudian dilarutkan dengan campuran metanol dan air (1:1) dalam labu ukur Hasil 50 mL sampai tanda batas. Campuran dihomogenkan dibiarkan selama 30 menit di tempat gelap. kontrol Keterangan : Abs Kontrol : Serapan larutan radikal DPPH dengan metanol-air (tanpa ekstrak) pada panjang gelombang maksimum. Hitung % inhibisi dengan menggunakan rumus : % inhibisi = Abs. 16. 80:20. 1. 70:30.2%. Serapan larutan diukur dengan spektrofotometer UV Visible pada panjang gelombang maksimun.01%.4% µg/mL. dibiarkan selama 30 menit di tempat gelap. 1 NO. IC50 asam 55 . tambahkan 4 ml larutan DPPH 35 12. dan 5 µg/mL dengan cara memipet 0. sehingga diperoleh persamaan regresi linier yang telah diperoleh. galat adalah kosentrasi larutan pembanding asam galat yang Lalu buat kurva antara memberikan inhibisi sebesar 50% yang konsentrasi larutan sampel dan % dapat dihitung menggunakan persamaan inhibisi. 0. 4. Data hasil penelitian akan diuji secara statistik menggunakan Analisa b. 2. IC50 larutan sampel adalah konsentrasi larutan sampel yang memberikan inhibisi sebesar 50% yang Pengolahan Data Secara Anova satu dapat dihitung menggunakan persamaan arah regresi linier yang telah diperoleh. 0. (Anova) satu arah. Hasil penentuan panjang gelombang maksimum larutan panjang gelombang maksimun. 15. Serapan larutan diukur dengan spektrofotometer UV Visible pada 2.04%. 3.03. 60:40 dan 50:50 adalah 8.

44. Lampiran 10 Tabel VIII). 80:20.1842 µg/mL. Metoda ini dipilih karena 56 . Hasil analisa data secara statistik pada penentuan kadar senyawa fenolat total menunjukkan bahwa pemkaian beberapa perbandingan pelarut ekstraksi etanol:air memberikan perbedaan yang signifikan terhadap kadar senyawa fenolat total herba meniran (Lampiran 13. Pembahasan Pada penelitian ini sampel yang digunakan adalah tanaman herba meniran. Selanjutnya daun yang telah kering dihaluskan dengan cara digrinder. Gambar 16.947 µ g/mL (Lampiran 16 Tabel XIV. 5. 4. 55. Hasil perhitungan IC50 larutan standar asam galat diperoleh 0. Semua maserat dikumpulkan. satu kali 24 jam dengan tiga kali pengulangan. Tabel XIII.82.561. diamkan selama dua hari dan diendaptuangkan. Pada pengukuran absorban untuk penentuan kurva kalibrasi asam galat didapat persamaan regresi y = 0.635 (Lampiran 7 Gambar 9). Lampiran 9 Tabel VII. sampel ditimbang sebanyak 2 gram dan masukkan ke dalam cawan penguap kemudian dimasukkan kedalam oven suhu 105 °C selama 1 jam. setelah dingin ekstrak yang dianalisa dan dilarutkan dengan campuran etanol dan air suling sama banyak (1:1) dalam labu ukur 50 mL. 3. Hasil penentuan panjang gelombang maksimum larutan DPPH 35 µg/ml yang diukur dengan spektrofotometer UVVisibel diperoleh serapan maksimum pada panjang gelombang 518. Timbang berat sampel dan dari data penimbangan didapatkan hasil presentase kadar air yang kecil dari 10%. 80:20. 70:30.17.258 dan 37.0158+0. Gambar 12). 50:50.SCIENTIA VOL. 70:30.140 mg setara asam galat per gram sampel kering (Lampiran 12 Tabel IX).21 mg/mL (Lampiran 17 Tabel XV. Hasil perhitungan IC50 pada penentuan daya antioksidan dari larutan ekstrak herba meniran pada konsentrasi pelarut etanol:air 100:0.0238. 60:40 dan 50:50 adalah 38.006384x dengan simpangan baku 0. 60:40. 80:20. Gambar 17. dan batas kuantisasi 37. 46. Sampel yang telah kering di rendam dengan pelarut etanol:air dengan berbagai konsentrasi 100:0. Tabel XI. Penentuan kadar senyawa fenolat total dengan metoda FolinCiocalteu. 60:40 dan 50:50 adalah 50. Penentuan bobot konstan ditentukan dari kadar air.828 (Lampiran 15 Gambar 13). 53. Sebelum diekstraksi tanaman herba meniran ini dikeringkan terlebih dahulu dengan cara kering angin hingga bobot konstan.2804 µg/mL (Lampiran 8 Tabel VI. 8.654. bagian diambil cairan bagian atas kemudian diuapkan dengan rotary evaporator pada suhu 40 0 C dan ditimbang. 1 2010 ISSN : 2087-5045 gelombang 748 nm dengan serapan 0. Tabel X.65 dan 51. Tabel XII. Gambar 20). Pada penentuan kadar senyawa fenolat total dari herba meniran dengan perbandingan pelarut etanol:air 100:0.5 nm dengan serapan 0. 1 NO. 6. batas deteksi 11. Gambar 10. 51. Ekstraksi dilakukan dengan mengunakan pelarut etanol 96% karena senyawa fenolat adalah senyawa yang polar dan merupakan pelarut yang relatif tidak toksik.733. Gambar 18. 42. 43. Gambar19. 70:30. Gambar 14). 7.

82. yang berarti bahwa pada konsentrasi tersebut antioksidan dapat menghambat radikal bebas sebesar 50%. 75. Reaksi ini menyebabkan perubahan warna larutan DPPH dari ungu menjadi kuning. 55. 3.733. 80:20. 43. Reagen Folin-Ciocalteu ini akan membentuk larutan kompleks berwarna biru tua jika direaksikan dengan larutan sampel yang telah ditambahkan dengan natrium karbonat. sehingga diperoleh persamaan regresi y = 39.17. Pada penentuan kadar senyawa fenolat total ini digunakan asam galat yang panjang gelombangnya didapat adalah 748 nm dengan absorban 0.5 nm dengan absorban 0. Dari persamaan ini dapat dihitung nilai IC50 asam galat yaitu 0. 50.947 µ g/mL. absorban ini digunakan sebagai kontrol. Pada konsentrasi ini diperoleh panjang gelombang maksimum 518. Perbandingan pelarut ekstraksi etanol:air 100:0.0158+0.258. 53.1842 µ g/mL dan batas kuantitasi 37.559 + 11. Dari kadar senyawa fenolat yang didapat maka dilakukan pengolahan data secara statistik dengan menggunakan metoda Anova satu arah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh perbandingan konsentrasi pelarut etanol:air terhadap perolehan kadar senyawa fenolat pada sampel. Setelah didapatkan panjang gelombang maksimum. dan 80 mg/ml.21 57 .140 mg/g. 37. 60:40. 50.635. Semakin rendah serapan maka semakin tinggi daya antioksidan dari larutan sampel. peka dan hanya memerlukan sedikit sampel. Senyawa yang mempunyai aktifitas antioksidan akan bereaksi dengan DPPH melalui pemberian elektron dari senyawa antioksidan kepada DPPH yang mempunyai elektron sunyi. 50:50 didapatkan kadar senyawa fenolat 38. maka larutan komplek biru tua inilah yang akan ditentukan nilai absorbannya dengan panjang gelombang yang sesuai sehingga kadar dari larutan sampel dapat diketahui.SCIENTIA VOL. 51. Metoda ini dipilih karena mudah. 1 2010 ISSN : 2087-5045 merupakan metoda yang spesifik. 42. 46. batas deteksi 11. dari absorban yang didapat maka dapat dihitung persen inhibisi DPPH.44. Dari persamaan regresi ini dapat ditentukan kadar senyawa fenolat dari larutan sampel. Untuk pengujian daya antioksidan senyawa fenolat digunakan DPPH dengan konsentrasi 35 µg/mL. 100 dan 125 µg/mL. Perubahan inilah yang akan diukur serapannya dengan menggunakan spektrofotometer UV-Visibel. 70:30. Sesuai dengan prinsip kerja spektrofotometwer UV-Visibel yang mengabsorbsi larutan warna pada panjang gelombang 400-800 nm. sensitif terhadap senyawa fenol dan menggunakan reagen dalan jumlah yang sedikit serta dapat bereaksi dalam waktu yang singkat.561. Sebagai pembanding digunakan larutan asam galat dengan konsentrasi 1. 60. diukur absorban untuk penentuan kurva kalibrasi asam galat pada konsentrasi 25.000.006384x dan juga didapatkan simpang baku 0. 70. Pada larutan sampel diukur pada konsentrasi 40.65 dan 51.025x. Pada pengolahan data secara statistik menggunakan anova satu arah diperoleh nilai significant 0. Hasil IC50 pada tiap-tiap kosentrasi pelarut etanol:air didapatkan 50. Daya antioksidan dapat ditentukan dengan menggunakan metoda DPPH. dan 5 µg/mL. sehingga elektron tersebut menjadi berpasangan.2807 µg/mL. 2. 1 NO. Daya antioksidan dapat ditentukan dari nilai IC50 yaitu konsentrasi senyawa antioksidan yang memberikan inhibisi sebesar 50%. sehingga didapat persamaan regresi y=0.828.0238. ini menunjukan bahwa pemakaian beberapa konsentrasi pelarut ekstraksi etanol:air memberikan perbedaan yang signifikan terhadap kadar senyawa fenolat total sampel.654. 4. cepat.

Effect of Sampel Preparation Method on Birch (Betula Pendula Roth) Leaft Phenolics.05 yang berarti bahwa pemakaian beberapa perbandingan pelarut ekstraksi etanol:air yang dilakukan memberikan perbedaan yang signifikan terhadap kadar senyawa fenolat sampel. Bahan Obat Alam Sumber Pendapatan Pembangunan. 4. Badan POM Republik Indonesia.. ITB. Keinanen. 44:2724-2727.65 mg/mL. 2006. Prosiding Persidangan Antarabangsa Pembangunan Aceh.00. Monografi Ekstrak Tumbuhan Obat Indonesia. Joshi. Terbitan kedua. 49. J. an alkaloid from Phyllanthus niruri. Gawad. jilid II. Diterjemahkan oleh K. Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka.54%. Antioxidant Activity of Twenty five Plants from Colombian Biodiversity. Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia. Yaned M Correa. Pada sampel dengan konsentrasi pelarut etanol:air 60:40 memperlihatkan kadar senyawa fenolat yang tinggi dan daya aktivitas antioksidan yang paling kuat dibandingkan dengan konsentrasi yang lain.1384. Journal of Natural Products. Dilip H. 1996. Hal 82. 1 2010 ISSN : 2087-5045 mg/mL. Finland. 4. 2007.05.41. Analisa data menggunakan metoda anova satu arah menunjukan nilai signifikan P<0. 3.SCIENTIA VOL. Nilai IC50 yang semakin rendah menunjukkan daya antioksidan yang semakin kuat. Kriteria dan Tatalaksana Pendaftaran Obat Tradisional. Tumbuhan Berguna Indonesia. Jakarta. Jakarta Mosquera M. no. J. Mem Inst Oswaldo Cruz. 2. B. Kadar ekstraktif yang diperoleh paling tinggi pada perbandingan etanol:air 60:40 yaitu 16.258 mg/g setara asam galat per gram sampel kering. Kadar senyawa fenolat yang paling tinggi diperoleh pada perbandingan etanol:air 60:40 yaitu 55. Diana C Buitrago and Jaime Nino. Isolation and Structure (x-ray analysis) of Ent-norsecurinine. Balawants. Titto. 1978. cetakan ke-1. M and R. vol 102(5) : 631-634. Hal 86-89. 614-620. Semakin besar kadar senyawa fenolat seamakin tinggi pula aktivitas antioksidan yang dihasilkannya DAFTAR PUSTAKA Departemen Kesehatan. K.Padmawinata dan I. 1987. Heyne. S and William Pelletier.O. Dapat dilihat bahwa cara pemakaian pelarut dengan berbagai konsentrasi dapat memberikan pengaruh terhadap perolehan kadar senyawa fenolat dan pengukuran aktivitas antioksidan walaupun tidak memberikan perbedaan yang begitu besar. J. No : HK. Daya antioksidan yang paling kuat ditunjukkan oleh sampel pada campuran etanol:air 60:40 yang menggunakan ekstraksi dengan cara maserasi dapat dilihat dari nilai IC50 yang diperoleh yaitu 42. 1986. Agric. Bandung. pp. 26-27. Food Chem. 1 NO. Rio de Janeiro. Vol. Yayasan Sarana Wana Jaya. KESIMPULAN 1. UKM Bangi. 58 . 2004 Harbone. Metoda Fitokimia : Penuntun Cara Menganalisis Tumbuhan. Nurkhasanah.Soediro.

S. Phenol and Flavonoid contents of some selected Iranian medical plants. 5 (11). R. Folin&Ciocalteu’s Phenol Reagent. B. 59 . 61b. 1142-1145. 1-4 (2006). diambil dari http://www.Sigma –aldrich. Hosseinimerh and N.Shahabimajd. African Journal of Biotechnology. Poeggeler. Naturforsch. N.. diakses : tgl 5 Februari 2005 Than N. a new antioxidant Flavone Sulfonic Acid from Phyllanthus niruri.. Niruriflavone. S. 2006. F. Hardeland. Sigma-Aldrich.pp. received November 2.com. Z. J. Fosto. Antioxidant Activity. vol. 1 NO. Laatsch.SCIENTIA VOL. Sigma Prod No F-9252. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Pourmorad. 2005. and H.

dimana baru 50% yang sadar mengidapnya dan di antara mereka baru sekitar 30% yang datang berobat teratur. 3 kombinasi yaitu: sulfonilurea + biguanida + insulin 50%. 2)Fakultas Farmasi Universitas Andalas Padang ABSTRAK Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang disebabkan antara lain oleh defisiensi insulin yang dapat menimbulkan berbagai komplikasi sehingga memerlukan manajemen terapi yang intensif. Diabetes melitus adalah suatu penyakit kronis yang di karakterisasikan oleh kelainan metabolisme karbohidrat. sedangkan pada penderita diabetes 60 . 1). Sekresi insulin pada pasien penderita diabetes melitus tipe 1 adalah kurang dan sampai tidak ada sama sekali. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mempelajari jenis antidiabetika oral dan insulin yang digunakan dalam terapi kombinasi di rumah sakit. inhibitor α glukosidase + insulin 4.34%. Keywords : Drug utilization study. type 2 diabetes mellitus. Achmad Mochtar Bukittinggi. 1 NO. Telah dilakukan penelitian tentang profil penggunaan kombinasi antidiabetika oral dengan insulin pada penderita diabetes melitus tipe 2 di SMF penyakit dalam RSUD Dr.16%. biguanida + insulin 8.34%. dan mulai menonjol sebagai salah satu sebab morbiditas dan mortalitas di negara yang sedang berkembang. Pada tahun 2000 yang lalu saja. Penelitian dilakukan secara retrospektif dengan menggunakan data rekam medik selama tahun 2006 dan 2007. PENDAHULUAN Tingkat prevalensi diabetes melitus cukup tinggi. lemak dan protein. Namun. Di sebabkan oleh defisiensi absolute atau relative dalam kerja insulin dan mungkin jumlah yang tinggi secara tidak normal dari glukagon “counter regulatory hormones” lain. 1 2010 ISSN : 2087-5045 PROFIL PENGGUNAAN KOMBINASI ANTI DIABETIKA ORAL DENGAN INSULIN PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 DI SMF PENYAKIT DALAM RSUD Dr. descriptive-retrospective study. amin-amin simpatomimetik dan kortikosteroid. antidiabetic oral with insulin combination. Menurut WHO Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah penderita diabetes melitus di dunia. seperti di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan dari 24 rekam medik pasien terdapat penggunaan 2 kombinasi yaitu: sulfonilurea + insulin 33. Hal ini mungkin disebabkan minimnya informasi di masyarakat tentang diabetes melitus terutama gejala-gejalanya. pada tahun 2006 jumlah penderita diabetes melitus di Indonesia meningkat tajam menjadi 14 juta orang. ACHMAD MOCHTAR BUKITTINGGI 1) Radjudin Dahlan. Hansen Nasif 2) Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Perintis Padang. sulfonilurea + inhibitor α glukosidase + insulin 4. terdapat sekitar 5.6 juta penduduk Indonesia yang mengidap diabetes melitus.SCIENTIA VOL.16%. seperti hormon pertumbuhan.

Insulin memasukkan gula ke dalam sel sehingga bisa menghasilkan energi atau disimpan sebagai cadangan energi. Tanpa pengobatan yang baik diabetes melitus akan menyerang banyak organ penting dalam tubuh. Pengambilan Sampel Sampel penelitian dikumpulkan dari data rekam medik pasien diabetes melitus tipe 2 yang dirawat di SMF penyakit dalam RSUD Dr. Penyakit ini tidak menular tapi menahun. selama tahun 2006 dan 2007. 1991) Insulin adalah hormon yang dihasilkan oleh pankreas yang bertanggung jawab dalam merpertahankan kadar gula darah yang normal. 2. 2008) METODOLOGI PENELITIAN Alat dan Bahan Alat tulis. 1 2010 ISSN : 2087-5045 melitus tipe 2 sekresi insulin dapat saja normal. Pada penderita diabetes melitus glukosa sulit masuk ke dalam sel karena insulin yang ada di dalam tubuh sedikit atau tidak ada sama sekali. Mencatat identitas pasien dan obat yang digunakan. maka kadar glukosa darah akan naik 1-2 % per tahun pada saat puasa. bahkan bisa berakibat fatal.(ISFI. Penyakit ini berhubungan dengan suatu keadaan kekurangan insulin absolut atau relatif. Kekurangan insulin absolut terjadi jika pankreas tidak berfungsi lagi untuk mensekresi insulin. tinggi atau rendah.(Sulaiman. 2008. 3. Achmad Mochtar Bukittinggi Prosedur Kerja 1. Analisa Data Data diperoleh dan dicatat kemudian dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus: P= S x 100 % N 61 . Depkes RI 2006). Achmad Mochtar Bukittinggi. sedangkan kekurangan insulin relatif terjadi jika produksi insulin tidak sesuai dengan kebutuhannya. dan akan naik sekitar 5. Prevalensi diabetes melitus naik bersama bertambahnya umur. 1987) Umur merupakan salah satu factor yang sangat penting dalam pengaruhnya terhadap prevalensi diabetes melitus.6-13 % pada 2 jam setelah makan. Lingkungan dan faktor sosial ekonomi masyarakat sangat berpengaruh terhadap penyakit ini.(Mutschler. Menurut WHO setelah seseorang mencapai umur 30 tahun. Pengambilan data dari rekam medik pasien yang menggunakan kombinasi antidiabetika oral dengan insulin. Rekam medik pasien Jenis Penelitian Penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif retrospektif Sumber Data Sumber data adalah diperoleh dari rekam medik pasien pengguna kombinasi antidiabetika oral dengan insulin pada penderita diabetes melitus tipe 2 di SMF penyakit dalam RSUD Dr. 1 NO.SCIENTIA VOL.(Tandra. Menghitung persentase penggunaan obat. akibatnya kadar glukosa dalam darah menjadi tinggi.

16% Pembahasan Penggunaan obat kombinasi ini bertujuan untuk pencapaian efek obat yang sinergis dan lebih optimal dalam mengontrol kadar gula darah serta dapat menurunkan efek samping obat yang tidak diinginkan. karena tidak merangsang atau menghambat perubahan glukosa menjadi lemak. Sulfonilurea digunakan untuk mengendalikan hiperglikemia pada pasien diabetes melitus tipe 2 yang tidak dapat mencapai kontrol yang sesuai pada perubahan pola diet saja. Kombinasi 3 obat a. Persentase penggunaan kombinasi antidiabetika oral dengan insulin pada penderita diabetes melitus tipe 2: pankreas. dan durasi singkat diabetes melitus diperkirakan akan memberikan respon yang baik. 1 NO. Biguanida tidak menyebabkan peningkatan berat badan.16% 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Setelah dilakukan penelitian didapatkan hasil sebanyak 24 data. Hasil pada pasien diabetes melitus tipe 2 menunjukkan perbaikan kontrol metabolisme. Sulfonilurea juga dapat meningkatkan kadar insulin dengan cara mengurangi bersihan hormon dihati. N = jumlah sampel keseluruhan. Pada penderita diabetes melitus yang gemuk ternyata pemberian biguanida dapat menurunkan berat badan dan oleh terapi apapun (insulin atau senyawa oral) dapat menyebabkan berkurangnya komplikasi mikrovaskular. Golongan sulfonilurea + biguanida + insulin = 50% b. Golongan biguanida yang dikombinasikan dengan insulin juga bermanfaat pada terapi resistensi insulin.34% c. Golongan sulfonilurea + insulin = 33. Golongan inhibitor α glukosidase + insulin = 4. Terapi kombinasi antidiabetika oral dengan insulin diberikan pada pasien diabetes melitus tipe 2 yang gagal mendapatkan efek terapi maksimum pada terapi oral. Pencapaian efek manfaat terapi kombinasi adalah aktivitas residual sel beta. 1. namun semua pasien sangat penting untuk melanjutkan diet yang ketat untuk memaksimalkan khasiat sulfonilurea ini. Penelitian pada pasien diabetes melitus tipe 1 tidak memberikan bukti apapun bahwa kontrol glukosa diperbaiki oleh terapi kombinasi.34% b. Golongan sulfonilurea + inhibitor α glukosidase + insulin = 4. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Keterangan: P = Persentase penggunaan kombinasi antidiabetika oral dengan insulin. Kombinasi insulin dan sulfonilurea telah digunakan pada pasien diabetes melitus tipe 2. S = Jumlah pasien pemakai kombinasi antidiabetika oral dengan insulin. Sulfonilurea yang diberikan pada pasien diabetes melitus tipe 2 dapat meningkatkan sekresi insulin dari 62 . Golongan biguanida + insulin = 8. Golongan biguanida yang diberikan tunggal atau kombinasi dengan sulfonilurea dapat memperbaiki kontrol glikemia dan konsentrasi lipid pada pasien yang merespon kurang baik terhadap diet atau sulfonilurea saja. Kombinasi 2 obat a. Metformin merupakan satu-satunya senyawa terapeutik golongan biguanida yang terbukti menurunkan kejadian makrovaskular pada pasien diabetes melitus tipe 2.SCIENTIA VOL.

potensi penurunan glukosa oleh inhibior α glukosidase adalah sekitar 30%-50% diantara senyawa antidiabetes oral lainnya. Sulfonilurea akan mengawali dengan merangsang sekresi pankreas yang memberikan kesempatan untuk senyawa biguanida bekerja aktif. diare. Sebagian besar penderita diabetes melitus yang gagal diobati dengan sulfonilurea dapat ditolong dengan biguanida. Bila insulin dapat menaikkan berat badan. Kedua golongan obat ini memiliki efek terhadap sensitivitas reseptor insulin. Akarbose dan miglitol termasuk golongan inhibitor α glukosidase. Kombinasi 3 obat ini digunakan karena bekerja saling menguntungkan. karena obat ini bekerja mencegah pemecahan sukrosa dan karbohidrat kompleks pada usus halus sehingga memperpanjang waktu absorbsi karbohidrat. Namun. Penggunaan kombinasi ini kurang efektif melihat efek samping yang ditimbulkan sulfonylurea yaitu hipoglikemia.34%. kedua senyawa ini menurunkan kadar glukosa darah setelah makan. pada pasien diabetes melitus tipe 2 hiperglikemia yang parah. pada pasien dengan hiperglikemia ringan hingga sedang. 1 NO. sehingga kombinasi keduanya mempunyai efek yang saling menunjang. Kombinasi kedua golongan ini efektif pada banyak penderita diabetes melitus yang sebelumnya tidak bermanfaat bila dipakai sebagai terapi tunggal. Namun. apabila dikombinasikan dengan insulin tentu akan memperparah keadaan. Selain itu. Suntikan insulin dibutuhkan karena insulin yang dihasilkan oleh pankreas belum dapat mengendalikan kadar glukosa darah. biguanida menurunkan produksi glukosa di hati dan membantu hati sehingga lebih sensitif terhadap insulin dan insulin dapat bekerja dengan baik. Sulfonilurea bekerja merangsang sekresi insulin pada pankreas. Kombinasi 2 obat golongan biguanida + insulin yaitu 63 . Sebagian besar dikombinasikan lagi dengan insulin untuk pencapaian efek maksimum. sehingga tidak menyebabkan hipoglikemia. metformin bahkan kadang dapat menurunkannya.SCIENTIA VOL. Senyawa ini dapat dipertimbangkan sebagai terapi tunggal untuk pasien lanjut usia atau terutama pasien hiperglikemia setelah makan. Inhibitor α glukosidase tidak menstimulasi pelepasan insulin. kadang juga bisa timbul hipoglikemia. Dari hasil penelitian ditemukan penggunaan kombinasi paling banyak adalah: kombinasi 3 obat yaitu golongan sulfonilurea + biguanida + insulin sebanyak 50%. Metformin dari golonga biguanida juga tidak menaikkan berat badan. inhibitor α glukosidase juga dikombinasikan dengan senyawa antidiabetes oral lainnya dan atau insulin. Pemakaian kombinasi ini memang efektif melihat cara kerja obat yang sinergis. yaitu sulfonilurea + insulin sebanyak 33. Kemudian kombinasi 2 obat. Kesalahan ini disebabkan karena tidak ada atau kurangnya komunikasi anatara farmasis dengan dokter. Efek kombinasi ini bisa memperbaiki dan menambah kerja insulin. disamping itu sulfonilurea juga dapat meningkatkan berat badan dan resiko komplikasi juga dapat meningkat. Inhibitor α gukosidase dapat memiliki efek yang besar terhadap kadar haemoglobin. efek samping dari penggunaan kombinasi ini adalah gangguan perut seperti mual. Kombinasi sulfonilurea dan insulin dapat menurunkan glukosa darah. sehingga obat ini dapat diberikan dalam kombinasi dengan insulin atau sulfonilurea. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Penyerapan biguanida di usus sangat baik. Terapi kombinasi yang umum adalah antara golongan sulfonilurea dengan biguanida.

seperti mual. metformin membantu hati sehingga lebih sensitif terhadap insulin dan insulin bisa bekerja dengan lebih baik. sulfonilurea. memperlambat absorbsi glukosa dari saluran cerna dengan cara meningkatkan konversi glukosa menjadi laktat oleh entrocytes. untuk obesitas dipilih metformin dan akarbosa. Efek lain yang serius adalah pada gagal jantung. Keamanan obat diabetes melitus biasannya terkait dengan efek samping yang ditimbulkan. metformin bisa menurunkan berat badan. Kombinasi ini efektif untuk mengontrol kadar glukosa darah karena mekanisme kerja obat yang saling menunjang. Penggunaan kombinasi paling banyak adalah kombinasi 3 obat yaitu golongan sulfonilurea + biguanida + insulin sebanyak 50%. Pada penatalaksanaan penyakit ini diperlukan peran farmasis atau apoteker sebagai ahli obat. 1 NO. Metformin sering diberikan pada pasien obesitas dimana hiperglikemia di sebabkan oleh kerja insulin yang tidak efektif atau resistensi insulin. infark miokard dan patah tulang terutama pada manula akibat golongan tiazolidinedion. maka metformin mempunyai keuntungan yang melebihi sulfonilurea untuk mengobati hiperglikemia. Untuk gangguan ginjal. untuk pasien diabetes mellitus tipe 1 insulin merupakan pilihan utama. tidak dipilih metformin dan sulfonilurea. Kombinasi ini juga bisa mengurangi dosis pemakaian insulin. tapi dipilih tiazolidinedion. sedangkan untuk diabetes melitus tipe 2 pilihan utama nya adalah metformin atau kombinasi dengan insulin. menurunkan glukoneogenesis di hati sehingga kebutuhan insulin untuk mengangkut glukosa dari darah masuk ke sel berkurang dan glukosa darah menjadi turun. apalagi jika sudah terjadi resistensi insulin dan terapi dengan antidiabetika oral saja belum dapat mengontrol kadar glukosa darah. akarbosa dan insulin. Adapun mekanisme kerja obat ini ada 4 yaitu: menstimulasi glikolisis pada jaringan secara langsung dengan meningkatkan pengangkutan glukosa dari darah. Disamping itu. Namun perlu diwasapadai efek samping yang lebih serius yang akut adalah hipoglikemia terutama oleh insulin. sehingga kombinasi ini lebih menguntungkan terutama bagi pasien gemuk. maka insulin sebagai pilihan. dan agar penatalaksanaan penyakit ini berhasil dibutuhkan kerjasama yang erat dan terpadu dari penderita dan keluarga dengan para tenaga kesehatan. KESIMPULAN 1. diare.SCIENTIA VOL. Alasan penggunaan metformin disini adalah karena metformin merupakan suatu agen hemat insulin (insulin-sparing) dan tidak menaikkan berat badan atau menyebabkan hipoglikemia. oleh karena itu metformin efektif pada pasien gemuk maupun kurus.34%. muntah. 1 2010 ISSN : 2087-5045 8. meglitinida dan insulin. Bila insulin dapat menaikkan berat badan. dan meningkatkan sensitivitas insulin. Sulfonilurea dapat menaikkan berat badan sedangkan metformin tidak menaikkan berat badan. untuk gangguan hepar dipilih meglitinida. meglitinida. jadi berat badan sangat penting untuk diperhatikan dan merupakan salah satu factor yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan obat. Insulin juga menjadi pilihan pada diabetes melitus tipe 2 apabila kadar glukosa darah seseorang pada diagnosa pertama kali di atas 300 mg/dl. 64 . iritasi lambung yang bersifat ringan.

E. A. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta. Mutschler. 1987. Sulaiman. Ed 5. Jakarta. 65 . Ed 2. Jilid I. Tranformasi Ilmu dan Teknologi Dalam Praktek Kefarmasian. Metformin bukan menjadi pilihan utama pada pasien diabetes melitus tipe 2. Bandung. 2008. Direktorat jendral bina kefarmasian dan alat kesehatan. 1 NO. 1991. DAFTAR PUSTAKA Departemen kesehatan RI. Tandra. seharusnya metformin merupakan pilihan utama pada diabetes melitus tipe 2. Hans. Dinamika Obat. 2008. Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Diabetes Mellitus. ISFI. PT. Gramedia pustaka utama. Jakarta. 2008.B Widianto dan A. Terjemahan M.SCIENTIA VOL.S Ranti. Penerbit ITB. 2006 ISFI. Kongres Ilmiah XVI. Segala Sesuatu Yang Harus Anda Ketahui Tentang Diabetes. 1 2010 ISSN : 2087-5045 2. Balai Penerbit FKUI. Yogyakarta.

Secara umum tingginya prevalensi anemia gizi besi antara lain disebabkan oleh beberapa faktor yaitu: kehilangan darah secara kronis.vitamin A. protein. 2004).SCIENTIA VOL. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa pemberian suplementasi besi yang dikombinasikan unsur vitamin dapat meningkatkan bioavailabilitas besi dan lebih efektif meningkatkan kadar hemoglobin dibandingkan dengan hanya suplementasi besi saja (Bloem. dimana haem adalah yang memberi warna merah pada darah dan 66 . 1999). Konsekwensi logis dari tingginya masalah anemia gizi besi adalah penurunan kualitas sumber daya manusia Indonesia (DepkesRI. MW 1998). Di Indonesia prevalensi Anemia Gizi Besi (AGB) menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Tahun 1995 masih tinggi. 6-14 tahun 12gr/100 ml. Dalam rangka penanggulangan anemia gizi besi beberapa zat gizi lain penting untuk dipertimbangkan. yaitu pada anak Balita sebesar 40. vitamin B12. yang disebabkan karena kekurangan zat besi. Anemia gizi merupakan masalah gizi yang paling utama di Indonesia. Anemia gizi besi ditandai dengan menurunya kadar hemoglobin dibawah normal. Anemia gizi besi dapat menyebabkan seseorang mudahterserang infeksi. 1998). 1 2010 ISSN : 2087-5045 PENGARUH ASUPAN PROTEIN DAN MIKRONUTRIEN (Zat Besi Vitamin C dan Vitamin A) TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN Erina Masri ( Staf Pengajar Prodi Gizi STIKes Perintis Padang ) ABSTRACT Decrease of hemoglobyn level cause anemia. kelompok anak usia 6 bulan -6 tahun 11gr /100 ml. anak umur 10 -14 tahun 51. Hemoglobin Hemoglobin adalah struktur darah yang terdiri dari Haem dan Globin. micronutrient (iron. wanita 12 gr/100 ml serta wanita hamil 11 gr/100 ml. Kurang Vitamin A (KVA).5%. sedangkan pada wanita hamil 50. Beberapa zat gizi tersebut antara lain asam folat. vitamin C. dan bila terjadi pada anak sekolah akan mengurangi kapasitas dan kemampuan belajar. vitamin A.5%. Protein. asupan zat besi tidak cukup. yang disebut sebagai anemia gizi besi (Solon. Berdasarkan klasifikasi batas normal kadar Hb. 1995). vitamin A and vitamin C influence Hemoglobyn level. seng .2%. vitamin C) PENDAHULUAN Masalah gizi utama di Indonesia yaitu Kurang Kalori Protein (KKP).9% (Kodyat dkk. menurunnya kemampuan kognitif. dan untuk usia dewasa laki-laki 14 gr/100 ml. et al. dan lainnya (Morgan. 2003). 1 NO. anak usia sekolah47. PEMBAHASAN 1. Key word: Hemoglobyn. penyerapan yang tidak adekuat dan peningkatan kebutuhan akan zat besi (Arisman. Sekitar 90% penyebab anemia adalah akibat kekurangan besi. Protein and vitamin C verry important for iron metabolism. Vitamin A prevent infection that inhibition transferrin syntecis as transporter of iron. Iron is urgent component for syntesis hemoglobyn. terutama zat-zat gizi yang berkaitan dengan proses penyerapan dan utilitasi besi. iron. gondok endemik dan kretin serta anemia gizi.

Anemia Gizi Besi Anemia adalah suatu keadaan kadar Hemoglobin (Hb) yang lebih rendah dari keadaan normal.1999 Kelompok Anak Hemoglobin 11 gr/ 100 ml 12 gr/ 100 ml 14 gr/ 100 ml 12 gr/ 100 ml 11 gr/ 100 ml Anemia gizi besi ditandai dengan ukuran eritrosit yang kecil serta kadar hemoglobin yang rendah. Gejala klinis dari tahap ini adalah perbandingan antara hematokrit dan sel darah merah dengan Mean Cell Volume (MCV) kurang dari 80 fL. Tahap ini ditandai dengan pengurangan jumlah cadangan besi dalam hati.. Keadaan ini merupakan tahap lanjut dari defisiensi besi dan muncul setelah kekurangan besi yang berlangsung lama. Tabel 1. Erytrosit protoporpyrin merupakan prekusor dari hem. Menurut Gibson (2005) ada tiga tingkatan di dalam defisiensibesi. konsentrasi hemoglobin pada orang yang tinggal di daerah yang tinggi akan lebih tinggi kadar hemoglobinnya dari pada orang yang tinggal didaerah rendah. tetapi cadangan besi hilang yang ditandai dengan turunnya konsentrasi serum ferritin. Kadar hemoglobin menurun sedikit. 1999). sebaliknya terjadi peningkatan konsentrasi erytrosit protoporpyrin. Batas normal kadar hemoglobin menurut kelompok umur dan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 1. Faktor utama penyebab anemia gizi besi adalah 67 . Kadar normal hemoglobin dalam darah akan bervariasi tergantung pada usia seseorang dan juga jenis kelamin. yaitu: 1) Hilangnya Besi (Iron depletion).Batas Normal Kadar Hemoglobin Umur 6 bulan-6 tahun 6 -14 tahun Dewasa Laki-laki Wanita Wanita hamil Sumber: Depkes Ri. hal ini berhubungan dengan kadar oksigen di udara. disebut sebagai anemia mikrositik hypokronik (Gibson. Pada usia 10 tahun kadar normalnya sekitar 12-14 gr/dl untuk wanita sedangkan laki-laki 14-18 gr/dl. 2005). Pada tahap ini tingkat transport besi dan hemoglobinnormal. Angka normal ini akan menurun pada usia diatas 50 tahun Anemia Gizi Besi. Selain kedua faktor tersebut ketinggian suatu tempat juga berpengaruh terhadap kadar hemoglobin serta dipengaruhi juga oleh faktor makanan.SCIENTIA VOL. 2. 2) Besi Defisiensi Erytropoiesis (Iron deficient erythropoiesis) Tahap kedua ini ditandai dengan habisnya seluruh cadangan sebagai hasilnya besi plasma yang mensuplai proses erytropoiesis menurun drastis dan terjadinya peningkatan transferin saturasi. yang terakumulasi dalam sel darah merah ketika suplai besi tidak cukup untuk sintesis hem. 3)Besi Defisiensi Anemia (Iron deficiency anemia) Tahap ketiga atau tahap akhir dari defisiensi besi adalah menurunnya sirkulasi besi yang ditandai dengan turunnya kadar hemoglobin dalam sel darah merah. Anemia dapat juga berarti suatu kondisi ketika terdapat defisiensi ukuran / jumlah eritrosit atau kandungan hemoglobin (Wirakusumah. Pada bayi yang baru lahir kadar hemoglobinnya tinggi diatas orang dewasa yaitu 17 – 23 gr/dl. Pada orang yang normal. 1 NO. tetapi pada umumnya masih tetap dalam keadaan normal selama erythropoeisis berlangsung. Kadar hemoglobin ini akan menurun setelah bayi berumur 2 bulan yaitu sekitar 9-14 gr/dl. 1 2010 ISSN : 2087-5045 globin adalah protein darah.

Gangguan pengikatan besi 68 . 1 2010 ISSN : 2087-5045 kurangnya konsumsi besi makanan. 2001). 2005). berarti jumlah besi yang hilang dari tubuh juga cukup besar. dan faktor genetik (penyakit talasemia) juga sangat mempengaruhi rendahnya kadar hemoglobin di dalam darah (Wirakusumah. Bila pembentukan DNA terhambat akan berakibat mitosis tidak terjadi meskipun pembentukan hemoglobin dalam plasma telah cukup. 1999). sehingga terjadi sel eritrosit berukuran besar (abnormal) masuk dalam sirkulasi darah disebut anemia makrositosis (MCV <100fL) (Gibson. Upaya pencegahan dan penanggulangan anemia pada dasarnya adalah mengatasi penyebabnya. Pada permukaan sel darah merah berinti terdapat reseptor transferin. kehilangan akibat dari perdarahan misalnya karena kecelakaan dan operasi. dan besi. Keadaan infeksi terutama pada penyakit kronis (penyakit malaria. Penundaan terjadi sampai jumlah DNA yang diperlukan tercapai. terutama pada bayi. 3. Begitu juga remaja wanita yang sudah mengalami haid dimana saat itu cukup banyak mengeluarkan darah. 1992). mioglobin. infeksi parasit (kecacingan). 4) Vitamin C sebagai antioksidan dan untuk mengoptimalkan absorpsi besi (Parakkasi. diawali terbentuk dua pasang kromosom oleh DNA. Proses pembentukan sel darah merah diawali dengan pembentukan deoxyribonucleic acid (DNA) dalam inti sel dan berikutnya proses pembentukan hemoglobin dalam plasma eritrosit. TBC. disisi lain proses pembentukkan hemoglobin dalam sitoplasma sel berjalan terus. Hemoglobin terdiri dari protoporfirin. Pembentukan Sel Darah Merah Pembentukan sel darah merah berasal dari eritroblast di sumsum tulang. WHO. anak-anak. harus dilakukan pengobatan terhadap penyakit-penyakit tersebut. protoporfirin dibentuk di sekitar mitokondria. Globin dibentuk di sekitar ribosom. globin. Pada anemia berat (kadarHb < 8 gr %) biasanya pada penyakit yang melatarbelakangi. Hal ini terutama dapat terjadi pada orang yang mengkonsumsi makanan kurang beragam. 1 NO. dan remaja yang membutuhkan besi dalam jumlah relatif lebih besar karena pertumbuhan yang pesat pada bayi dan anak-anak.dll). atau rendahnya tingkat absorpsi besi dan adanya penghambat sehingga tidak dapat diserap secara optimal sehingga tidak memenuhi kebutuhan tubuh. 3) Vitamin B12 untuk daur ulang koenzim folat dan. Inti sel sebelum mitosis. dan besi berasal dari transferin. produksi sel darah merah diperlukan 1) Besi untukmetabolisme hemoglobin.SCIENTIA VOL. Kekurangan vitamin B12 dan asam folat berakibat berkurangnya mitosis sel. Pembentukan DNA memerlukan katalisator vitamin B12 dan asam folat. Kebutuhan meningkat akibat pertumbuhan. infeksi cacing atau malaria sehingga selain penanggulangan pada anemianya. yaitu antara lain penyakit TBC. dan sitokrom. 2) Asam folat untuk metabolisme purin / pirimidin. 1999 . pola konsumsi serta keadaan ekonomi juga berdampak pada ketidakmampuan keluarga menyediakan makanan sumber besi. Selain itu. Hal ini juga berpengaruh pada tidak terpenuhinya kebutuhan tubuh akan besi (Wirakusumah.

1995). asam folat. Pembentukan sel darah merah baru akan terganggu apabila zat gizi yang diperlukan tidak mencukupi. memegang peranan penting dalam proses oksidasi menghasilkan Adenosin TriPhosphat (ATP) yang merupakan molekul berenergi tinggi. 1999). vitamin B12. flavoprotein. ikan dan vitamin C dengan penyerapan besi tipe ini kurang dari 5%). katalase. sedangkan sisanya disimpan disebut besi nonessensial (Wardhini S dan Dewoto H R. 2001). Tipe Besi dibutuhkan untuk produksi hemoglobin. Sel darah merah berinti maupun retikulosit hanya memiliki reseptor transferin bukan reseptor besi. Walaupun jumlahnya sangat kecil namun mempunyai peranan yang sangat penting. dan peroksidase. 1994). Padahal umur sel darah merah hanya 120 hari dan jumlah sel darah merah. di dalam darah harus selalu dipertahankan cukup banyak. Terganggunya pembentukan sel darah merah bisa disebabkan makanan yang dikonsumsi kurang mengandung zat gizi. Mioglobin ikut dalam transportasi oksigen menerobos sel-sel membran masuk ke dalam sel-sel otot. karena berefek pada fungsi tubuh. dan komponen lain pada sistem enzim pernafasan seperti sitokrom oksidase. Peran Zat Besi terhadap Peningkatan Kadar Hemoglobin 3. protein. Ditinjau dari bioavailabilitas besi dari makanan dapat dibagi 3 tipe ( MacPhail. Kecukupan besi ditentukan berdasarkan bioavailabilitas besi dari golongan makanan (Kartono J dan Soekatri M. Besi berperan dalam sintesis hemoglobin dalam sel darah merah dan mioglobin dalam sel otot.5 g besi yang hampir seluruhnya dalam bentuk ikatan kompleks dengan protein. untuk dieksresikan ke dalam udara pernafasan. Tipe bioavailabilitas menengah (beras dan jagung dengan sejumlah daging dan vitamin C dengan penyerapannya antara 5-15%). sehingga dapat terhindar kemungkinan anemia kekurangan besi. 1 NO.Sehingga apabila tubuh mengalami anemia gizi besi maka terjadi penurunan kemampuan bekerja (WHO. 2004). vitamin C dan zat gizi penting lainnya (Wirakusumah. terutama zat-zat gizi penting seperti besi. sehingga anemia gizi besi akan menyebabkan terbentuknya sel darah merah yang lebih kecil dan kandungan hemoglobin yang rendah. 4. Kecukupan besi yang direkomendasikan adalah jumlah minimum besi yang berasal dari makanan yang dapat menyediakan cukup besi untuk setiap individu yang sehat pada 95% populasi. Peristiwa ini terjadi saat kadar besi dalam darah rendah dan rendahnya transferin dalam darah. jagung atau umbi-umbian. Besi elemental adalah besi yang dapat terikat oleh transferin untuk membentuk 1 ml packed red cells diperlukan 1 mg besielemental (Reksodiputro. adapun pada bayi baru lahir lebih kurang 250 mg dari jumlah tersebut (60-70%) dinamakan besi fungsional. Kurang lebih 4% besi di dalam tubuh berada sebagai mioglobin dan senyawa-senyawa besi sebagai enzim oksidatifseperti sitokrom dan flavoprotein. Tubuh manusia sehat mengandung 69 .SCIENTIA VOL. Besi juga merupakan mikronutrien essensil dalam memproduksi hemoglobin yang berfungsi mengantar oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh. 2000 ) yaitu Tipe bioavailabilitas rendah (besi dari bahan makanan pokok beras. 1 2010 ISSN : 2087-5045 untuk membentuk hemoglobin berakibat terbentuknya eritrosit dengan sitoplasma yang kecil (mikrositer) dan kurang mengandung hemoglobin (hipokromasia). kurang mengandung unsur daging. sitokrom. Sitokrom. dan senyawa-senyawa mitokondria yang mengandung besi lainnya.

Dengan menghilangnya infeksi. 2003). protein ini dapat bertindak secara khusus. kambing. 1 NO. yaitu Retinol Binding Protein (RBP) dan transferin. Pemberian suplemen vitamin A 110 mg pada anak yang kekurangan vitamin A (retinol < 0. 1990). Sebagai alat angkut. dan ayam menunjang penyerapan besi nonhem. 1 2010 ISSN : 2087-5045 bioavailabilitas tinggi (makanan yang banyak mengandung daging dan vitamin C dengan penyerapan besi lebih dari 15%). atau dapat mengangkut beberapa jenis zat gizi seperti besi sebagai transferin (Almatsier. dari darah ke jaringan-jaringan. maka dengan kemampuan vitamin A melawan infeksi. sama-sama diangkut oleh negative phase protein. (Almatsier. dan melalui membran sel ke dalam sel-sel. Protein seluler yang berasal dari daging sapi. 5. kemungkinan melalui interaksi dengan besi. Interelasi Vitamin Hemoglobin A dengan seluler yang berdampak pada perkembangan epitel yang mensekresi mukosa atau pada sistem kekebalan tubuh (Almatsier. Apabila asupan vitamin A diberikan dalam jumlah cukup. dibandingkan dengan yang hanya diberikan suplemen besi Vitamin A adalah zat gizi esensial yang larut dalam lemak dan dibutuhkan untuk kelangsungan berbagai fungsi tubuh yang penting. hati.60 ĩmol/L) dapat meningkatkan hemoglobin dan transferrin saturasi (Bloem. walaupun tidak semua. besi yang semula ditahan makrofag akan dilepas kembali ke sirkulasi dan diangkut transferin untuk kepentingan eritropoeisis (Turnham. Terutama protein hewani. Vitamin A juga berperan dalam pembentukan sel darah merah. Beberapa penelitian membuktikan bahwa vitamin A mempunyai peranan yang penting dalam meningkatkan kadar hemoglobin. Dengan demikian jelas bahwa status vitamin A yang tidak adekuat akan berdampak pada metabolisme besi dan eritropoeisis yang gilirannya akan menurunkan kadar hemoglobin.SCIENTIA VOL. Protein sebagai alat angkut dan penyimpanan terhadap hemoglobin yaitu mengangkut oksigen dalam eritrosit sedangkan mioglobin mengangkut oksigen dalam otot. fish. akan terjadi penurunan derajat infeksi. 1999). Retinol tampaknya berpengaruh terhadap pertumbuhan dan diferensiasi 70 . Retinol dan besi. domba. keju dan telur tidak dapat meningkatkan penyerapan besi nonhem. Akibatnya sintesis retinol binding protein dan transferin kembali normal. 2003). Suplementasi besi yang dikombinasi dengan vitamin A selama 2 bulan pada anak-anak yang menderita anemia mempunyaipengaruh yang lebih besar pada peningkatan kadar hemoglobin dan transferin saturasi. Namun protein yang berasal dari susu sapi. 6. 2002). poultry) factor (Wirakusumah. 1993). 2003). Interelasi Protein dengan Kadar Hemoglobin Protein memegang peranan esensial dalam mengangkut zat-zat gizi dari saluran cerna melalui dinding saluran cerna ke dalam darah. Kondisi ini memungkinkan besi retinol yang semula terjebak di tempat penyimpanan dapat dimobilisasi kembali. Faktor yang menyebabkan kenaikan penyerapan besi lebih dikenal sebagai MFP (meat. juga dapat mendorong penyerapan besi nonhem. misalnya protein pengikat retinol yang hanya mengangkut vitamin A. Sintesis kedua protein ini tertekan bila ada infeksi. Ion besi diangkut dalam plasma darah oleh transferin dan disimpan dalam hati sebagai kompleks dengan ferritin (Winarno.

Dalam metabolisme besi. 1995 .000 IU pada anak yang menderita xerossis conjuctival setelah dua minggu ternyata dapat meningkatkan hemoglobin. 1 2010 ISSN : 2087-5045 atau vitamin A saja (Meijia and Chew. 1992). Observasi ini menunjukkan bahwa defisiensi vitamin A bisa memberikan kontribusi terhadap anemia dan akan mepunyai efek positif pada status besi (IVACG. 1 NO.SCIENTIA VOL. hematokrit dan besi serum. Dalam keadaan kering vitamin C cukup stabil. 1993). 1994). dan 5 kali (Wirakusumah. Peningkatan konsumsi vitamin C sebanyak 25. Suplementasi vitamin A pada anak yang defisiensi meningkat secara signifikan pada kadar hemoglobin. Penelitian lainnya telah menemukan suatu korelasi signifikan antara serum retinol dan kosentarsi hemoglobin. 3. Vitamin C diperlukan untuk meningkatkan penyerapan besi di dalam tubuh. Vitamin C mempunyai peranan yang sangat penting dalam penyerapan besi terutama dari besi nonhem yang 71 . Vitamin C dapat juga terlibat dalam mobilisasi simpanan besi terutama hemosiderin dalam limpa (Parakkasi. Pemberian dosis tunggal vitamin A 200. serum besi dan transferin saturasi (Bloem. Penelitian pada tikus menunjukkan bahwa kekurangan vitamin A marginal mengganggu eritropoeisis. Interelasi Vitamin Hemoglobin C dengan Vitamin C adalah kristal putih yang mudah larut dalam air. Beberapa reaksi enzim membutuhkan vitamin vitamin C seperti proses hidrosilasi yang menggunakan molekul oksigen dan sering mempunyai kofaktor besi atau tembaga. tetapi dalam keadaan larut vitamin C mudah rusak karena bersentuhan dengan udara (oksidasi) terutama bila terkena panas Vitamin C tidak stabil dalam larutan alkali. (Almatsier. Schultink dan Gross. 1998). Vitamin A berpengaruh terhadap transferin saturasi. Hasil penelitian yang dilakukan terhadap ibu hamil di Indonesia menghasilkan kesimpulan yang sama. dibandingkan dengan yang mempunyai kadar hemoglobin normal. 1988). (2) sebagai zat pelindung untuk memelihara status reduksi besi. Diperkirakan bahwa kekurangan vitamin A dapat menghambat penggunaan kembali cadangan besi yang disimpan dalam hati (Bloem. 1998). dibandingkan dengan kelompok yang hanya mendapat suplementasi besi atau vitamin A saja (Suharno. 2003). tetapi tidak berpengaruh pada peningkatan cadangan besi dalam tubuh. diantara anak pra sekolah di India pada studi ini menunjukkan kadar hemoglobin lebih rendah pada mereka yang mempunyai serum retinol di bawah 20 ĩg/dL. terutama mempercepat penyerapan besi usus dan pemindahannya ke dalam darah. tetapi cukup stabil dalam larutan asam. 4. 1995). 50. Mekanisme yang pasti tentang peranan vitamin A terhadap status besi belum jelas benar. Ibu hamil yang anemia dengan kadar retinal <1. 1998). 7. Dalam reaksi tersebut vitamin C mempunyai 2 (dua) peranan : (1) sebagai sumber elektron untuk mereduksi oksigen. hematokrit. tetapi tidak mempengaruhi penyerapan dalam intestinal terhadap besi dalam makanan sehari-hari (Roodenburg. Beberapa hasil penelitian cross sectional menyimpulkan bahwa peningkatan asupan vitamin A dapat mendorong ke arah peningkatan status vitamin A dan status besi (Schultink dan Gross. 1999).100 dan 250 mg dapat memperbesar penyerapan besi sebesar 2.4 mg) mempunyai perubahan yang lebih besar pada peningkatan kadar hemoglobin dan transferin saturasi.1 ĩmol/L yang diberikan suplementasi vitamin A dan besi (besi 60 mg dan vitaminA 2. Vitamin C adalah vitamin yang paling labil.

Penyerapan besi nonhem dapat ditingkatkan dengan kehadiran zat pendorong penyerapan seperti vitamin C dan faktor-faktor pendorong lain seperti daging. Vitamin C bertindak sebagai enhancer yang kuat dalam mereduksi ion ferri menjadi ion ferro. 1998). 1998 melaporkan bahwa dengan pemberian vitamin C dalam bentuk tablet maupun dalam bentuk bahan makanan (buah pepaya) dapat meningkatkan penyerapan besi ibu hamil. 1 NO.0% pada bumil dengan makanan pokok beras. penambahan asam askorbat selanjutnya relatif kurang efektif (Hallberg. sehingga anemia gizi besi akan menyebabkan terbentuknya sel darah merah yang lebih kecil dan kandungan hemoglobin yang rendah. 1997 tentang pemberian tablet besi dengan penambahan vitamin C terhadap perubahan kadar Hb dan ferritin serum membuktikan bahwa pemberian tablet besi dan vitamin C 150 mg. Vitamin C diperlukan untuk meningkatkan penyerapan besi di dalam tubuh. Besi berperan dalam sintesis hemoglobin dalam sel darah merah dan mioglobin dalam sel otot. ayam. sehingga mudahdiserap dalam pH lebih tinggi dalam duodenum dan usus halus (Almatsier. Sedangkan dengan pemberian vitamin C dalam bentuk bahan makanan (250 g buah pepaya)meningkatkan penyerapan 42 – 54. Jadi zat protein vitamin C dan vitamin A bekerja sama melalui perannya masingmasing untuk meningkatkan sintesis hemoglobin. 1995). Bahan makanan yang mengandung besi hem yang mampu diserap sebanyak 37% sedangkan bahan makanan golongan besi nonhem hanya 5% yang dapat diserap oleh tubuh. Vitamin C berperan dalam memindahkan besi dari transferin di dalam plasma ke ferritin (Almatsier. Hasil penelitian Saidin dan Sukati. 1989). dapat meningkatkan kadar hemoglobin yang tertinggi dibandingkan dengan kelompok lain. 2003).2%. Absorpsi besi dalam bentuk nonhem meningkatkan empat kali lipat bila ada vitamin C. Hubungan secara tidak langsung ini memberikan pengaruh utama pada pemberian pertama 25-50 mg asam askorbat dalam makanan. Sintesis trnasferin sebagai alat transpor zat besi akan terhambat jika terjadi infeksi. 2003) Vitamin C menghambat pembentukan hemosiderin yang sukar dimobilisasi untuk membebaskan besi bila diperlukan. 1 2010 ISSN : 2087-5045 banyak ditemukan dalam makanan nabati.5% . sedangkan pemberian vitamin A yang adekuat dapat melawan infeksi sehingga dapat menormalkan sintesis transferin. dari darah ke jaringan-jaringan. KESIMPULAN Zat besi dibutuhkan untuk produksi hemoglobin. Besi juga merupakan mikronutrien essensil dalam memproduksi hemoglobin yang berfungsi mengantar oksigen dari paruparu ke jaringan tubuh. jagung dan tiwul. Pengaruh vitamin C atau asam askorbat adalah dose related dan signifikan pada semua jenis makanan (Svanberg. Protein memegang peranan esensial dalam mengangkut zat-zat gizi dari saluran cerna melalui dinding saluran cerna ke dalam darah. ikan (Berdanier.46.SCIENTIA VOL. dan melalui membran sel ke dalam sel-sel. 72 . Pemberian tablet vitamin C 100 mg meningkatkan penyerapan besi 37. Hasil penelitian Saidin.

University of Georgia Athens. Benny. Jakarta : Gramedia Bloem. A dkk. 154 – 160.443 . Rossander. Interdependence of vitamin A and iron : an Important association for programmess of anemia control Proc Nutr Soc Bloem. Penuntasan Masalah Gizi Kurang.WHO. Binkesmas.Jakarta Indonesia Departemen Kesehatan RI 1996. CD 1998. AJC.453. Roodenburg. Cipto Mangunkusumo. CE.Jenewa. 1 NO. Pedoman Pemberian Besi Bagi Petugas. Jakarta hal. RS Dr. Sub. Brune.140-4. MW et al. Iron absorption in man : Ascorbic acid and dose dependent inhibition by phytate. Fakultas Kedokteran UI. Am J Clin Nutr (51). Yu. 1998. Beynen. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Bagian HematologyOnkologi Medik bagian Ilmu Penyakit Dalam. S 2003. Br J Nutr 73 . Berdanier. Georgia. Hallberg. Vitamin A Intervention : Short-term effects of a single. Oxford University Press new york. L. Kodyat. Haryanto 1994.SCIENTIA VOL. Comparison between time-dependent changes in iron metabolism of rats as induced by marginal deficiency of either vitamin A or iron. by CRC press. massive dose on iron metabolism.LCC De Maeyer 1993. Jakarta Departemen Kesehatan RI 1999. Principles of Nutritional Assessment. Advanced Nutrition Micronutrients. Direktorat Bina Gizi Masyarakat. p. Jakarta Gibson. Professor. Food Nutrition. 1990.755. RS 2005. A. S. Ditjen. Am J ClinNutr 49 : p. L 1989. 1 2010 ISSN : 2087-5045 DAFTAR PUSTAKA Almatsier. DH Widya Medika. Jakarta. Diterjemahkan oleh Ronardy. Mekanisme Anemia Defisiensi Besi. Pencegahan dan Pengawasan Anemia Defisiensi Besi. West. hal. Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi VI Tahun 1998. M. Reksodiputro. AC 1994. oral. MW 1995. Pedoman Penanggulangan Anemia Gizi di Indonesia.

dengan jumlah halaman maksimal 10 halaman kertas ukuran kuarto (A4) dengan spasi ganda. Sistematika penulisan disusun sebagai berikut : a. sebaliknya bila naskah dalam bahasa Indonesia. Kesimpulan atau saran g. Adinegoro/Simp. Kalumpang Km. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Petunjuk Penulisan Pada Jurnal Scientia 1. Naskah berupa hasil penelitian atau karya ilmiah dari bidang Ilmu Farmasi dan Kesehatan. Naskah akan dikembalikan jika dilengkapi perangko secukupnya 8. Abstrak tidak lebih dari 250 kata yang diketik dengan jarak 1 spasi. judul jurnal. Naskah belum pernah dan tidak akan pernah dipublikasikan pada media lain. 17 Lubuk Buaya Padang-25173 e-mail : stifi_perintis@yahoo. Abstrak c. baik berupa review maupun sintesis. 2. Tabel dan gambar harus diberi judul dan keterangan yang jelas 6. Naskah & softcopy dapat dikirimkan ke : Alamat : Jl. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. nama lengkap penulisan dan lembaga b. Metode Penelitian e. Hasil dan Pembahasan f. Daftar Pustaka (kutipan dari buku dengan susunan : nama penulis. tahun. ditambah literatur pendukung yang relevan d.com (khusus softcopy) . volume. Judul. penerbit. Nama penulis ditulis lengkap dengan gelar dan lembaga/instansi tempat penulis bekerja 9. Bila naskah dalam bahasa Inggris. tahun. kota terbit. Pendahuluan : berisi latar belakang masalah. Naskah 1 rangkap beserta softcopy (dalam bentuk CD) dikirim ke redaksi. Pada bagian akhir naskah dicantumkan riwayat hidup penulis 10. 4. kutipan dari jurnal dengan susunan : nama penulis. 1 NO. Redaksi berhak menolak naskah yang kurang layak untuk dipublikasikan. nomor halaman) 5. maka abstrak ditulis dalam bahasa Indonesia. Naskah diketik menggunakan komputer. judul artikel. maka abstrak ditulis dalam bahasa Inggris. Redaksi berhak merubah naskah tanpa mengurangi isi dan maksud naskah 7.SCIENTIA VOL. 3. judul buku (tulis tebal).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful