SCIENTIA VOL. 1 NO.

1 2010 ISSN : 2087-5045

Volume 1, Nomor 1

Tahun 2010

ISSN : 2087-5045

0

DAFTA R I SI
ANALISA KANDUNGAN FLAVONOID DAN AKTIFITAS ANTIOKSIDAN DARI REMPAH TUMBUHAN OBAT SUMATERA BARAT Deddi Prima Putra dan Verawati 1 -7

ISOLATION OF Vibrio parahaemolyticus FROM BEEF MARKETED 8 -1 3 IN PADANG, to xR TARGETED IDENTIFICATION, AND AMP LIFICATION OF tdh AND trh GENES ON ISOLATES USING POLIMERASE CHAIN REACT ION Eka Fitrianda, Marlina dan M. Husni Mukhtar EFEKT IFITAS BROMELAIN KASAR DARI BATANG NENAS (Ananas Comosus L. Merr) SEBAGAI ANTIPLAK DALAM PASTA GIGI Fif i Harmely, Henny Lucida dan M. Husni Mukhtar FOR MULASI KRIM E KSTRAK ETANOL DAUN UBI JALAR ( Ipomea Batatas.L.)UNTUK PENGOBATAN LUKA BAKAR Farida Rahim, Mimi Aria dan Nurwani P.A AKTIFIT AS EKSTRAK ETANOL BIJI JINTAN HITAM (Nigella sati va Linn.) TERHADAP TITER ANTIBODI DAN JUMLAH SEL LEUKOSIT PADA MENCIT PUTIH JANTAN Suhatri dan Yufri Aldi PENETAPAN POLA RESISTENSI ANTIBIOTIKA (Vib rio Parahaemolyticus) HASI L ISOLASI DARI CUMI-CUMI ( Loligo vulgaris) DAN KEPITING BAKAU (Scylla serratta) Ria Afrianti, Marlina dan M. Husni Mukhtar AKTIVITAS ANTI INFLAMASI DAR I EKSTRAK ETANOL DAUN BUNGA KEMBANG BULAN (Tithonia diversifolia A. Gray) TERHADAP MENCIT PUTIH BETINA Verawati, Mimi Aria dan Novicaresa M PENGARUH LAMA PENYIMPANAN PADA SUHU KAMAR DAN LEMARI PENDINGIN TERHADAP KANDUNGAN PROTEIN PADA DADIH KERBAU DENGAN METODA KJELDAHL Regina Andayani , Revi Yenti dan Wi wit Gustiva PENGARUH PERBANDINGAN ETANOL AIR SEBAGAI PE LARUT EKSTRAKSI TERHADAP PEROLEHAN KADAR FENOLAT DAN DAYA ANTIOKSIDAN HERBA MENIRAN (Phylantus niruri.L.) Harrizul Riva’i dan Martinus PROFIL PENGGUNAAN KOMBINASI ANTI DIABETIKA ORAL DENGAN INSULIN PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 DI SMF PENYAKIT DALAM RSUD Dr. ACHMAD MOCHTAR BUKITTINGGI Radjuddin Dahlan dan Hansen Nasif PENGARUH ASUPAN PROTEIN DAN MIKRONUTRIEN (Zat Besi Vit. C dan Vit. A) TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN Erina Masri Scientia, V ol. 1, N o. 1, 2010 ; halaman 1 – 58 ISSN : 2087-5045 Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STIFI) Perintis Padang 14-19

20-25

26-33

34-38

39-45

46-51

52-59

60-65

66-73

SC IENT IA
JURNAL FARMASI DAN KESEHATAN
TERBIT DUA KALI SE TAHUN SETIAP BULAN FEBRUARI DAN AGUSTUS

D E W AN RE D A K SI
Penanggung Jawab : Prof. H. Syahriar Harun, Apt Pemimpin Umum : DR.H.M. HusniMukhtar,MS, DEA, Apt Redaktur Pelaksana : Verawati, M.Farm, Apt Eka Fitrianda, M.Farm, Apt Sekretariat : Afdhil Arel, S.Farm, Apt Khairul Dewan Penyunting : Prof.H. Syahriar Harun,Apt Prof.DR.H. Amri Bakhtiar,MS,DESS,Apt Prof.DR.H. Almahdy, MS, Apt DR.H.M. Husni Mukhtar, MS, DEA, Apt Drs.H. Radjudin Dahlan, M.Pharm, Apt DR.Hj. Marlina, MS, Apt Drs. Yufri Aldi, MSi, Apt Hansen Nasif, SSi, Sp.FRS, Apt Drs. B.A. Martinus , MSi Hj. Fifi Harmely, M.Farm ,Apt Farida Rahim, M.Farm, Apt Revi Yenti, M.Si, Apt Verawati, M.Farm, Apt Ria Afrianti, M.Farm ,Apt Eka Fitrianda, M.Farm, Apt

Penerbit : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STIFI) Perintis Padang ISSN : 2087-5045 Alamat Redaksi/Tata Usaha STIFI Perintis Jl. Adinegoro Km. 17 Simp. Kalumpang Lubuk Buaya Padang Telp. (0751)482171, Fax. (0751)484522
e-mail : stifi_perintis@yahoo.com website : www.stifi-padang.ac.id

Scientia, V ol. 1, N o. 1, 2010 ; halaman 1 – 58 ISSN : 2087-5045 Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STIFI) Perintis Padang

62. The result showed that three of plants have highest antioxidant activity with IC50 ( total ethanol extract. Antioxidant activity and total flavonoid were measured by Spectrophotometer UV-Visible using DPPH reagent for antioxidant activity and Alumunium Chloride for total flavonoid. Flavonoid. 1981). Senyawa ini bersifat tidak stabil dan sangat reaktif. sehingga manfaat dan keamanannya dapat dipertanggungjawabkan. 1994). pala hidrofil. Oleh karena itu bahan obat asli Indonesia perlu distandarisasi. 1 2010 ISSN : 2087-5045 ANALISA KANDUNGAN FLAVONOID DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DARI REMPAH TUMBUHAN OBAT SUMATERA BARAT 1 Deddi Prima Putra1. jahe hidrofil . Kencur (Kaemferia galanga Linn ). Rempah tumbuhan obat ini berpotensi besar memerangi sederet panjang penyakit dan masalah kesehatan seperti kanker. Makanan sehari-hari kita mengandung paling tidak satu jenis rempah. 47. Rempah punya arti lebih dari sekedar penambah rasa hidangan. 1 NO. Pada umumnya obat asli Indonesia belum mempunyai data klinik dan penggunaannya berdasarkan pengalaman. diabetes melitus. jantung. jahe lipofil. dan arterosklerosis. atau bahan mineral.21. Pemicu timbulnya penyakit ini salah satunya adalah adanya radikal bebas (Rungkat. Untuk mencapai kestabilan.67 µ g/ml for pala total. Verawati2 Fak. medicinal plants PENDAHULUAN Obat asli Indonesia merupakan obat yang berasal dari tumbuhan. hewan. and Pala (Myristica fragrans Houtt). Radikal bebas ini adalah senyawa kimia yang mempunyai satu atau lebih elektron tidak berpasangan. Dengan demikian tumbuhan obat asli Indonesia dapat dikembangkan menjadi obat fitofarmaka (Depkes.77 µg/g respectively (quercetin equivalent). 19. There are Jahe (Zingiber officinale Rosc).09 µ g/ml for kunyit total.08. kemudian air seduhan ini di minum. Radikal bebas dalam kehidupan sehari-hari dapat dijumpai seperti akibat metabolisme yang 1 . 69. Rempah sudah lama dikenal di Indonesia.98 µg/ml for jahe total. kunyit hidrofil. Farmasi Universitas Andalas 2 STIFI Perintis ABSTRACT Antioxidant activity and total flavonoid content of five medicinal plant and species of West Sumatera have been measured. Pengolahan obat asli Indonesia masih sederhana dengan menyeduh bahan tumbuhan kering atau segar dengan air panas. 50. Lengkuas (Alpinia Galanga Linn). 0. Quercetin was used as standard compound. There were total flavonoid of Jahe (Zingiber officinale Rosc). Kunyit (Curcuma domestica Val). liphofilic fraction and hydrophilic fraction) against DPPH 20 µ g/ml 80. Pala (Myristica fragrans Houut). 109.SCIENTIA VOL. 68.85. 0. molekul harus mencari elektron lain sebagai pasangan. Kunyit (Curcuma domestica Val). Reaksi rantai ini dapat menimbulkan pengrusakan sel yang berujung pada mutasi sel dan apabila merusak organ yang memiliki fungsi tertentu dapat menimbulkan penyakit degeneratif. 71.35. tapi rempah juga sebagai tumbuhan obat.54. Keywords : Antioxidant.

Erlemeyer berbagai ukuran. antioksidan dapat menyelamatkan sel-sel tubuh dari kerusakan. Antioksidan dapat berasal dari alam dan sintetik. Kegunaan utama dari antioksidan adalah menghentikan atau memutuskan reaksi berantai dari radikal bebas dengan cara menyediakan dirinya bereaksi dengan radikal bebas itu sendiri. DPPH. Berdasarkan potensi rempah tersebut sebagai obat dan adanya kandungan flavonoid di dalamnya maka dilakukan penelitian untuk menentukan kadar flavonoid total dalam rempah secara spektrofotometer dengan menggunakan Alumunium klorida kolorimetri dan penentuan aktivitas antioksidan menggunakan metode radikal DPPH (Zhinshen. pipet tetes. Linn). tabung reaksi. 1994. Bahan Bahan yang digunakan adalah rempah-rempah seperti rimpang kunyit (Curcuma domestica. Aquadest. Seperti beberapa tanaman dari Famili Zingiberaceae seperti rimpang kunyit (Curcuma domestica rhizoma. METODE PENELITIAN Alat dan Bahan Alat Alat yang digunakan berupa seperangkat alat maserasi. Willd). metanol. Pembuatan ekstrak heksan (ekstrak lipofil) yaitu 5 gram sampel di ekstrak dengan heksan 96% b. Pembuatan Ekstrak Sampel Serbuk sampel sebanyak 5 g diekstraksi dengan menggunakan pelarut yang berbeda sehingga diperoleh 3 macam ekstrak yaitu : a. bahan kimia beracun. Quersetin. rotary Evaporator (BUCHI ®). 1 2010 ISSN : 2087-5045 berlebihan atau berasal dari lingkungan seperti asap rokok. Untuk menanggulangi efek dari radikal bebas ini. rak tabung reaksi. Rosc). Natrium asetat 1 M. (Rukmana. Pembuatan ekstrak etanol total (ekstrak total) yaitu 5 gram sampel di ekstrak dengan etanol 96% sebanyak 25 ml selama 2 x 24 jam. rimpang jahe (Zingiber officinale. botol. Rukmana. rimpang kencur (Kaemferia galanga. 1999. rimpang kencur (Kaemferia galanga rhizoma. alumunium foil. Molyneux. Dengan kata lain.SCIENTIA VOL. 1 NO. pestisida. radiasi sinar UV (Raharjo. rimpang lengkuas (Alpinia galanga. mesin penghalus ( Brook Crompton®). rimpang lengkuas (Alpinia galanga rhizoma. 2005). heksan 96%. label. Salah satu sumber antioksidan alam yang terdapat pada tanaman adalah flavonoid. kapas. etanol 96 %. AlCl3 10%. 1992. Linn. secara alami tubuh mempunyai benteng yang dapat mencegah serangan radikal bebas tersebut yaitu enzim (katalase) ataupun antioksidan yang berasal dari luar tubuh yang umumnya berasal dari makanan. pipet mikro. Antioksidan alam lebih disukai karena efek sampingnya kurang. Houtt). Houtt). Linn. Rosc). Kemudian maserat disaring dan filtrat dikentalkan dengan rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak kental total. val). Youngson. akibat serangan radikal bebas (Karyadi. Aquadest. 2001. dan dari tanaman famili Myristicaceae seperti buah Pala (Myristica fragrans. timbangan digital. spatel. val). Willd). 2004). pisau. 1995). corong. vial. 1997). labu rotary. Linn) dan buah pala (Myristica fragrans. rimpang jahe (Zingiber officinale rhizoma. spektrofotometri UVVis Pharmaspec 1700 (shimadzu ®). 2 . Silalahi. polusi udara.

c. kunyit dan pala. Serapan diukur pada panjang gelombang maksimum DPPH yaitu 517 nm. kontrol Dengan menggunakan persamaan linear dari data stándar maka dapat dihitung IC50 stándar kuersetin sedangkan IC50 sampel dihitung dengan metoda analisa probit menggunakan finney. kunyit. 3 . 50 dan 25 µg/ml) atau larutan stándar kuersetin (0. Aktivitas Antioksidan Penentuan Total Kandungan Flavonoid Penentuan Sampel Kandungan flavonoid total ditentukan dengan metode kolorimetri menggunakan Aluminium klorida.1.1 ml Na asetat 1M dan 2. ditambah 3. Pembuatan ekstrak etanol setelah heksan (ekstrak hidrofil) yaitu ampas dari hasil ekstraksi dengan heksan di ekstraksi lagi dengan etanol 96% sebanyak 25 ml selama 2 x 24 jam.SCIENTIA VOL. 0.6 µg/ml) di dalam vial.8 ml air suling. HASIL DAN PEMBAHASAN Aktivitas antioksidan ditentukan dengan metode DPPH (Molyneux. Setelah dilakukan penelitian mengenai analisa kandungan flavonoid total dan aktivitas antioksidan dari tanaman obat dan rempah Sumatera Barat didapatkan hasil bahwa dari 5 macam sampel rempah (jahe. 10.2.8 ml larutan DPPH (20 µg/ml). 40. kontrol – Abs. 80. 20.2 ml larutan sampel (1 mg/ml. 0. 0. lengkuas. 60. Aktivitas antioksidan sampel dinyatakan sebagai persentase inhibisi dihitung dengan rumus : Abs. 1 NO.dan pala) didapatkan tiga sampel memiliki aktivitas antioksidan yang tinggi yaitu jahe. Absorban kontrol yaitu DPPH (20 µg/ml) dalam metanol juga diukur. Campuran larutan dihomogenkan dan dibiarkan selama 30 menit di tempat gelap. Kemudian maserat disaring dan filtrat dikentalkan dengan rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak kental lipofil. 2004). Ukur serapan pada panjang gelombang 415 nm. 0. kencur. 5 µg/ml) ditambah 0.1 ml AlCl3 10 %. 100. Ketiga rempah ini ditentukan IC50 nya yakni konsentrasi sampel yang mampu merangkap radikal DPPH sebesar 50%.4. Total kandungan flavonoid sampel dinyatakan sebagai kesetaraan gram kuersetin/100 gram sampel kering. Kocok homogen lalu biarkan selama 30 menit. 0. Semakin kecil nilai IC50 maka semakin aktif sampel tersebut sebagai antioksidan. Sampel x 100 % Abs. Sebanyak 2 ml dari larutan ekstrak(1mg/ml) ataupun larutan standar kuersetin (100. 1 2010 ISSN : 2087-5045 sebanyak 25 ml selama 2 x 24 jam. Kemudian maserat disaring dan filtrat dikentalkan dengan rotary evaporator sehingga diperoleh ekstrak kental hidrofil.

Ap.62 Jahe.Hidrofil 47.81 Kunyit.98 Jahe.44 Kunyit.58 58.Hidrofil 79.67 Jahe.59 21. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Tabel I.92 Kunyit.14 21.95 78.Hidrofil 46.51 Kunyit.Bkt.18 15.4 76.BS.41 69.BS.4 Jahe.95 57.BS.72 25.44 4 .Bkt.58 58.BS.81 36.3 Jahe.09 49.36 49.54 52.Ap.9 59.09 92.04 89.Total 97.Hidrofil 46.18 IC50 90.Total 60.Hidrofil 140.Bkt.SCIENTIA VOL.Total 74.93 26.38 44.31 49.total 54.61 29. 1 NO.09 30.Total 90.Bkt.Lipofil 68.66 2 Kunyit.63 39.22 39.85 43.76 42. Nilai IC50 sampel No 1 Nama sample Jahe.27 60.12 23.89 47.24 32.Lipofil 81.Ap.Lipofil 57.45 22.Ap.27 Kunyit.54 17.12 85.08 35.06 63.48 73.56 Jahe.Bkt.72 28.26 28.68 Jahe.Total Konsentrasi 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 50 25 100 % Inhibisi 52.59 65.Total 32.82 21.BS.83 50.96 36.Ap.72 29.50 8.51 69.97 3 Pala.

98 68.55 Pala.32 106.0.09 16. total 1 Jahe.81 36. pala 0. Pada pengukuran flavonoid total tiap gram sampel kering setara kuersetin diperoleh kadar flavonoid total dari masing-masing sampel dimana kadar paling tinggi adalah pada ekstrak etanol kunyit 19. lipofil Jahe.016 + 0. hidrofil Kunyit. Jahe 0.85 58.114942 µg/ml.Hidrofil Keterangan : AP BS Bkt : Alahan Panjang : Batu Sangkar : Bukit tinggi 81.9 248.56 31. Tabel II.82 154.92 µg/g.8 Dari data IC50 sampel dan IC50 stándar kuersetin.62 69.38 23.BS.47 57.Bkt.017x dengan koefisien korelasi 0.67 Aktivitas antioksidan 1g ekstrak setara mg kuersetin (mg) 182.54 µ g/g. simpangan baku 0. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Pala.16 Jahe. batas kuantisasi 4. lengkuas 0.09 50.39 156. lipofil Kunyit hidrofil Pala.Hidrofil 50 25 100 50 25 100 50 25 43. hidrofil Pada pengukuran absorban flavonoid total untuk penentuan kurva kalibrasi kuersetin pada panjang gelombang 415 nm di dapat persamaan regresi y = .72 88.45 61.26 162. 1 NO. total 2 Kunyit. maka diperoleh suatu nilai jumlah sampel yang akan memberikan aktivitas antioksidan yang setara dengan 1 mg kuersetin.Bkt. lipofil Pala.35 109. batas deteksi – 0.84 µ g/g.21 47. Aktivitas Antioksidan dari Sampel Setara mg Kuersetin No Nama sampel Nilai IC50 aktivitas antioksidan terukur (µg/ml) 80.216 µg/ml.52 µg/g.06 71.53 113. total 3 Pala. 5 .69 Pala.999.Total 45.0106371.70 µg/g diikuti kencur 0.SCIENTIA VOL.

96 4.70 0.5 8. Kandungan Flavonoid total sampel Konsentrasi Flavonid (µg/ml) 10.66 19.85 1.84 ± 0.07 ± 45.Total Lengkuas.39 ± 1.Total Kencur.Bkt.09 0.03 9.53 9.55 71. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Tabel III.42 4.93 0.Bkt.84 0.13 25. 1 NO.BS.078 Nama Sampel Jahe.Bkt.76 0.51 157.Total Rata-rata ± SD Lengkuas.Total Jahe.60 0.62 8.AP.54 ± 0.43 22.70 ± 7.21 0.Total Pala.26 0.Total Kunyit.02 6.SCIENTIA VOL.27 5.BS.AP.52 ± 0.BS.67 124.37 0.60 4.99 142.92 ± 0.AP.03 11.41 0.Total Lengkuas.BS.Total Jahe.AP.Total Rata-rata ± SD Kencur.91 0.85 ± 1.05 4.Total Rata-rata ± SD 6 .71 8.Total Kencur.Bkt.Bkt.Total Rata-rata ± SD Kunyit.27 ± 2.49 0.64 Kadar Flavonoid tiap 5 g serbuk kering (µg/g) 0.83 9.50 ± 0.14 0.1 10.Total Kunyit.BS.64 11.Total Rata-rata ± SD Pala.

64: 555559. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa dari 5 tanaman yang berasal dari 3 daerah. J. Rungkat.0. Yogyakarta. Youngson. 7 . Proseding Seminar : Senyawa Radikal dalam Sistem Pangan : Reaksi Biomolekuler. The Journal of Indonesian Medical Association : II (5). F. Kanisius.indomedia. Raharjo. Zhinshen. R. 0. diterjemahkan oleh Susi Purwoko. Jakarta. Temulawak Tanaman Rempah Oba. Dampak terhadap Kesehatan dan Penangkalan. 26(2). 2004. Kencur. Jakarta.SCIENTIA VOL. Jadi kemungkinan senyawa yang mempunyai aktivitas antioksidan yang tinggi adalah golongan flavonoid yang terdapat pada ekstrak polar atau fraksi hidrofil terutama pada jahe. E.. 211-219. Kanisius. 1994.. Rukmana. 1-13. Food Chem. 2001.54 µg/g terhadap sampel kering.com/intisari /1997/juni/antioksidan. jahe dan pala setara kuersetin berturut-turut : 19. J. Resep Sehat dan Umur Panjang. Mengcheng and W. 1992. 1995. p. 1981.77. Free Radicals and antioxidant Vitamin in Degenerative Disease. 1 NO. Jianming. Ekstrak hidrofilik memberikan aktivitas antioksidan lebih tinggi dibandingkan ekstrak lipofilik. Bogor. Antioxidant : Vitamin C dan E For Health.85. Jakarta. Sci.htm Molyneux.. Karyadi. kadar flavonoid yang tinggi terdapat pada kunyit. Rukmana. 1999. T. Antioksidan. Tecnol. “Radikal Bebas dan Patofisiologi Penyakit”. Modifikasi Peraturan Perundang – undangan Obat Tradisional. Tanaman Berkhasiat Antioksidan. The Use of Stable Free Radical Diphenylpicrylhydrazyl (DPPH) for Estimating Antioxidant Activity.. Penebar Swadaya.. 2005. kunyit dan pala. M. J. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Dari penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui dari data IC50 aktivitas antioksidan dan penentuan kadar flavonoid total bahwa ekstrak yang kadar flavonoidnya tinggi mempunyai aktivitas antioksidan yang tinggi. http//www. DAFTAR PUSTAKA Direktorat Pengawasan Obat Tradisional Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan Departemen Kesehatan RI. Yogyakarta. 1994. Silalahi. R. The determination of flavonoid contents in mulberry and their scavenging effects on superoxide radicals. R.

Marlina2. Although V. 2 Fakultas Farmasi Universitas Andalas Padang ABSTRAK Sebanyak 40 isolat V. parahaemolyticus has become one of food contaminant pathogens with the highest prevalence in Asian countries (Pan et al. toxR TARGETED IDENTIFICATION. 1989). namun tidak ada satu isolat pun yang memiliki gen pengkode toksin hemolisin baik tdh maupun trh. trh INTRODUCTION V. nausea and vomiting. but 8 . parahaemolyticus is a marine bacterium that has long been associated with diarrhea after eating raw or not cooked perfectly seafood. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa seluruh isolat V. parahaemolyticus. Gen tersebut merupakan gen yang sangat spesifik pada spesies V. parahaemolitycus telah berhasil diisolasi dari sejumlah sampel daging sapi mentah yang dikoleksi di Pasar Raya Padang. parahaemolyticus produce major virulence factor that is a thermostable direct hemolysin (TDH) and showed βhemolysis activity on Wagatsuma agar (KP positive strains).SCIENTIA VOL. Therefore. Isolasi dilakukan dengan menggunakan medium CHROMagarTM Vibrio. Husni Mukhtar2 STIFI Perintis Padang. tdh. parahemolyticus. Most strains of clinical V. Key words: Vibrio parahaemolyticus. usually associated with KP negative strains or with urease positive strains (Kelly and Stroh. the genes are referred to as the important virulence coding genes in V. "TDH-related hemolysin" (TRH). molecular epidemiological studies show a close relationship between the hemolysin coding genes in these bacteria (tdh. Another virulence factor. Based on the Shirai et al (1990) report. M. in which the main symptoms include abdominal cramps. Terhadap 40 isolat tersebut dilakukan identifikasi dengan metoda Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk mengamplifikasi gen toxR. Selanjutnya. In V. 1997). V. AND AMPLIFICATION OF tdh AND trh GENES ON ISOLATES USING POLIMERASE CHAIN REACTION 1 Eka Fitrianda1. parahaemolyticus is one of bacterias actively studied in various parts of the world because of it’s ability in causing diarrhea. trh. parahaemolyticus was first isolated in food poisoning outbreak in Japan in the early 1950s. or both) with the ability to cause disease. 1 NO. The main clinical manifestation of infection due to V. 1 2010 ISSN : 2087-5045 ISOLATION OF Vibrio parahaemolyticus FROM BEEF MARKETED IN PADANG. parahaemolyticus terbukti memiliki gen tox-R. parahaemolyticus. parahaemolyticus is gastroenteritis. "thermostable direct hemolysin" (TDH) and the "TDH-related hemolysin" (TRH). whose production is encoded by the tdh and trh are the important virulence factors for the development of gastroenteritis. Currently. V. dengan metoda yang sama juga dilakukan amplifikasi terhadap gen pengkode produksi toksin hemolisin (tdh dan trh) yang merupakan faktor virulen utama pada bakteri tersebut. toxR.

Research conducted by Marlina et al (2007) for example. Another study conducted by Zulkifli et al (2009) on the cockles collected from rivers in Padang showed similar result. 5X Colorless GoTaq Reaction. a blue dye. V. has successfully isolated these bacteria from pensi (Corbicula moltkiana prime) collected in lake Singkarak. We also detected their virulent factors coding genes by amplificating tdh and trh genes on these isolates.SCIENTIA VOL. parahaemolyticus AQ3815 (positive control for tdh gene. and three pairs of primers. transilluminator. GoTaq DNA polymerase. Luria Bertani (LB) Broth. parahaemolyticus Isolation 10 gram sample was added in to 100 ml Salt Polimixin Broth (SPB) media and incubated at 37°C for 24 hours. laminar air flow (Esco ®). According to Gelfand et al (1998). Parahaemolyticus AQ4037 (positive control for the toxR and trh genes). V. agarose. parahaemolyticus. TRH R2: 5'GGCTCAAAATGGTTAAGCG-3' and TRH R6: 5'CATTTCCGCTCTCATATGC-3' for detection of trh gene. CHROMagarTM Vibrio (CHROMagarTM). and lately has been widely used to identify genes from different species of bacteria including V. parahaemolyticus has also found on food samples which are not seafood categories. These cultures were inoculated using a needle loop onto surfaces of CHROMagarTM Vibrio previously been 9 .). To avoid contamination. TDH D3: 5'CCACTACCACTCTCATATGC-3’ and TDH D5: 5'GGTACTAAATGGCTGACATC-3' for detection of tdh gene. colony counter (Stuart scientific ®).5 mM dNTP solution. micro pipette (Eppendorf ®). The isolated strains are known to carry hemolysin toxin-producing genes (tdh and trh) which are the major virulence factors of V. rotary shaker incubator (Bigger Bill Digital ®). Luria Bertani (LB). 2. the elektrophoresis device. Eppendorf tubes. The method used to identify and amplify tox-R. 10X Ex Taq buffer solution. tdh and trh genes is "Polymerase Chain Reaction" (PCR). polaroid film. vortex (Mixer ® VM-1000). namely: toxR-4: 5'GTCTTCTGACGCAATCGTTG-3' and toxR-7: 5'ATACGAGTGGTTGCTGTCATG-3' for the detection of toxR gene. centrifugator (Eppendorf Minispin ®). immediately stored in containers and taken to the laboratory for testing. In this study we isolated V. Polymerase Chain Reaction (PCR) is a major breakthrough in molecular diagnostics. 1 2010 ISSN : 2087-5045 some recent researches showed that V. tris-borateEDTA (TBE). parahaemolyticus from beef samples and identified them by examining on their toxR gene. incubator (Gallenkamp ®). parahaemolyticus. Sampling The test samples in this study were 15 raw beef samples. 100 bp ladder. distilled water. samples were taken in a way directly entered by the merchant into sterile containers. ethidium bromide. 1 NO. this is due to the high sensitivity level of this method. V. Samples were taken from traders in Pasar Raya Padang. Salt Polimixin Broth (SPB). MATERIALS AND METHODS Equipments and materials PCR machine (Eppendorf Mastercyclergradient ®). NaCl. the test sample.

while the sediment was added with 500 mL sterile distilled water and then suspended using vortex.0 15.5 1. 1 ml LB broth culture centrifuged at 12.0c 17. Subsequently centrifuged at 12. 1 NO. DNA of control and testing bacteria were extracted using boil cell extraction (BCE) method.000 rpm for 3 minutes and the supernatant were transferred into a new Eppendorf tube.1 1. DNA template which had been prepared previously inserted into the Eppendorf tube for PCR machine and combined with other PCR components. parahaemolyticus. toxR. Electrophoresis was performed at 100 V voltage for 20 minutes with 1 x TBE as the mobile phase.5d 2. the results of this amplification were colored using blue dye and then separated along electrophoresis process on 1% agarose gel in 1x TBE.5 mM dNTP Amount(µl) 5.0 1. The supernatant were the DNA template to be used for amplification of genes by PCR method. 1 2010 ISSN : 2087-5045 poured and allowed to solidify in a petri dish. tdh and trh genes in V.5 7 Table 3. The type and amount of each PCR components as shown in table below: Table 1. Stage for tdh and trh genes amplification (33 cycles) Temperatur Time Stage e (minute) o ( C) Predenaturation 96 5 Denaturation 94 1 Annealing 55 1 Extention 72 2 Elongation 72 7 After all of the stages in the PCR process were completed. Stage for tox-R gene amplification (23 cycles) Stage Predenaturation Denaturation Annealing Extention Elongation Temperature ( oC ) 96 94 63 72 72 Time (minute) 5 1 1. the supernatant removed.SCIENTIA VOL. DNA template preparation Before the amplification of genes using PCR method. parahaemolyticus were done using PCR method. After incubated for 24 hours at 37°C. purple colonies formed were suspected as colonies of V.0c 2.000 rpm for 1 min. 10x Ex Taq buffer solution for the detection of toxR gene b Primer pairs are suitable for each gene c For the detection of tdh and trh genes d For the detection of toxR gene Eppendorf tube is then inserted into the PCR machine and amplification was performed using program which is suitable for detection of each gene as shown in table below: Table 2. Each single suspected colony was inoculated into the Luria Bertani (LB) Broth containing 3% NaCl and incubated in a rotary shaker incubator at 37°C for 24 hours. The suspension formed was heated for 10 minutes in boiling water and immediately put into the refrigerator with a temperature of -20ºC for 10 minutes. tdh and trh genes amplification Identification of toxR.4d 0. The 100 bp ladder was used as a 10 .0 5x Colorless GoTaq Reaction Buffer for the detection of tdh and trh genes.0 Primer 1b Primer 2b Aquadest GoTaq DNA Polymerase DNA Template a 1. PCR components Component Buffer solutiona 2.

parahaemolyticus isolates: lane 1-11 were positive toxR isolates. V. lane 12 was positive control. toxR gene is a gene that is very specific to the V.5 mL/ml). toxR positive isolates showed 368 bp band in electrophoresis gel. Generally. parahaemolyticus from shrimp samples in Malaysia. Electrophoresis gel of toxR positive V. 251 bp and 250 bp respectively. out of total of 40 tested isolates. The PCR method to detect this gene has been reported (Lee et al. 1 2010 ISSN : 2087-5045 marker for determining the size of amplification product. agarose gel was stained with ethidium bromide solution (0. all of CHROMagar™ Vibrio isolates from cockles gave positive results on testing of toxR using PCR method. parahaemolyticus isolates also been isolated from coastal waters of western United States (Okuda et al. parahaemolyticus in samples characterized by the formation of purple colonies on the surface of CHROMAgarTM Vibrio medium. 1 NO. we successfully isolated suspected V. Tanil et al (2005) succeeded in isolating V. The same result have been reported by Zulqifli et al (2009). Malaysia. Previously.SCIENTIA VOL. parahaemolyticus colonies on ChromagarTM Vibrio CHROMagar ™ Vibrio is a selective media for identification of V. Size estimation of each product was done through comparison with 100 bp ladder. parahaemolyticus has been isolated from various places around the world. parahaemolyticus from seawater in Peninsular. RESULTS AND DISCUSSION Of 15 raw beef samples which were examined. Results were then documented by polaroid film. Figure 2. parahemolyticus species. From 3 of 15 samples which were examined. Electrophoresis result which was observed by UV transilluminator will form separate bands which were distinguished by the number of their base pairs (bp). we successfully isolated 40 suspected V. The presence of suspected V. non-clinical V. Dileep et al (2003) also states that the detection of toxR gene by PCR method to detect V. Identification 11 . 1995) as a very useful method to confirm the presence of this species in samples. A study recently conducted by Sujeewa et al (2009) succeeded in isolating V. parahaemolyticus is more sensitive than biochemical identification. targeting on toxR gene was performed to all of these isolates using PCR method. The size of toxR. In this study. 2001). Figure 1. lane 13 was 100 bp ladder. V. Suspected V. After the electrophoresis process was completed. parahaemolyticus with a higher level of differentiation compared to TCBS medium (Kudo et al. parahaemolyticus. all (100%) showed toxR positive results. 1997). parahaemolyticus colonies from 3 samples. tdh and trh amplification product were 368 bp.

Bowers and D. C. 2000). parahaemolyticus are tdh and trh. 1998. Major virulence factor coding genes in V. where the overall toxR positive isolates have no tdh or trh gene (Zulkifli et al. Urease-positif. a species which lives in lake Singkarak. White. parahaemolyticus isolates. H. D. As a result. Nishibuchi and I. parahaemolyticus isolates carrying tdh gene were isolated from Corbicula moltkiana. A. because V. Appl Environ Microbiol 66:4649–54 Dileep. 2009. where a number of V. parahaemolyticus isolates isolated from beef samples marketed in Pasar raya Padang were having toxR gene. 2000. Kumar. parahaemolyticus isolates were isolated in samples which were not derived from the sea environment. Indonesia (Zulkifli et al. Academic Press. It makes the results of this research is interesting for further explored. Kanagawanegatif Vibrio parahaemolyticus from patients and the environment in the Pacific 12 . or is the result of cross-contamination when samples are marketed in the market. In contrast. more than 90% of V. BIBLIOGRAPHY DePaola. 2007). The existence of these genes in V. A.SCIENTIA VOL. This suggests that V. but none of them has tdh or trh gene. S. parahaemolyticus previously isolated from cockle samples in Padang. none of the isolates has tdh or trh gene. and E. Kelly. Gelfand.. Environmental investigations of Vibrio parahaemolyticus in oysters after outbreaks inWashington. J. T. parahaemolyticus isolates in this study are not virulent isolates. However. Applicationof polymerase chain reaction for detection of Vibrio parahaemolyticus associated with tropical seafoods and coastal environment. 1989. New York. parahaemolyticus isolates carrying the virulent genes (tdh or trh). parahaemolyticus isolates from clinical samples have tdh or trh gene (DePaola et al. parahaemolyticus in samples is the result of bacterial adaptation capabilities on low-salt environment. J. According to Nishibuchi and Kaper (1995). In this study. Stroh. Texas. studies are necessary to investigate whether the presence of V. and New York (1997 and 1998). Cook. Similarly. Karunasagar. 40 toxR positive isolates were detected for the present of tdh and trh genes by amplification using PCR method. 1 NO. Kumar.. parahaemolyticus isolated from nonclinical samples are rarely detected.. This such result also seen in V. 2003. because V. Marlina et al. M. Similar results have also found in other study (Marlina et al. Furthermore. V. Sninsky. J. W. T. CONCLUSION All of 40 V. A. parahaemolyticus is a bacteria that normally lives in this habitat (DePaola et al. PCR protocols: A guide to methods and amplifications. other publication also showed that V. other studies seem to successfully detect the presence of these virulence genes in environmental samples (Sujeewa et al. and they are called virulent isolates. H. J. Lett Appl Microbiol 36:423–7. 2009). The presence of these genes represent the level of pathogenicity of V. 2000). M. only few V. Kaysner. 2007). parahaemolyticus isolates was isolated from cockles live in rivers around Padang. Y. M. M. 2009). 1 2010 ISSN : 2087-5045 parahaemolyticus were isolated from marine waters or food samples from the sea. Innis.

and M. L. Raha. 1997. 58: 3568–3573. 1 NO. K. S. W. Journal of Clinical Microbiology. Abbott. Nishibuchi. H. Mutalib. T. W. Clin. Nakabayashi. and C. B. Chen. 2009.. Infect. 38:349-355.Y. Y. Lee. Zulkifli. Nishibuchi. International Food Research Journal 16: 289296 13 . Characterization of vibrio parahaemolyticus isolated from coastal seawater in peninsular Malaysia... J.SCIENTIA VOL. S. Y. Yeap. M. S. S. 63:2093–2099. N. J. Immun. Food-borne disease outbreaks due to bacteria in Taiwan. Immun. Janda and M. Kqueen. Napis. Rahim.F. Nishibuchi. C. Gunsala. Thermostable direct hemolysin gene of Vibrio parahaemolyticus: a virulence gene acquired by a marine bacterium. T. A. J. M. Molecular epidemiologic evidence for association of thermostable direct hemolysin (TDH) and TDH-related hemolysin of Vibrio parahaemolyticus with gastroenteritis. Nishibuchi. Applied and Environmental Microbiology 61: 1311-1317. Ito. Wang. A. B. Chien.. B. Radu. 36 No. Nishibuchi. 1990. Microbiol. 35: 1260-1262 Shirai. S.. B. H. Marlina. 1997. B. S. C. S. Clin. Identification of Vibrio parahaemolyticus isolates by PCR targeted to the toxR gene and detection of virulence genes. and M. Horng. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Northwest. 4. A. Ishibashi. Hirayama. S. Norrakiah and M. 1995. S. K. Sequence of a cloned pR72H fragments and its use for detection of Vibrio parahaemolyticus in shell fish with PCR. Pan and C. Prevalence of toxic genes of Vibrio parahaemolyticus in shrimps (Penaeus monodon) and culture environment. Radu. S. N. 1995. J. G. 35: 1965–1971 Pan. Analysis of the Thermostable Direct Hemolysin (tdh) Gene and the tdh-Related Hemolysin (trh) Genes in Urease-Positive Strains of Vibrio parahaemolyticus Isolated on the West Coast of the United States. Lesley and A. Kaper. 27: 2820-2822 Lee.. Nakamoto. C. 2007. Infect. M. Sujeewa.. International Food Research Journal 16: 8995 Tanil. K. Napis.R. Zunita Zakaria. Detection of tdh and trh genes in Vibrio parahaemolyticus isolated from Corbicula moltkiana prime in West Sumatera Indonesia. R. S. 2009. 1986 to 1995. Maurice and J. Kumagai. Y. L. A. K. Takeda. Microbiol. 2005. Y. Laina. W. T. M. M. M. Alitheen. and J. Radu. Southeast Asian J Trop Med Public Health. Southeast Asian J Trop Med Public Health. H. Okuda.

toothpaste. 1982).05). Merr) SEBAGAI ANTIPLAK DALAM PASTA GIGI Fifi Harmely1). Lapisan lembut ini akan membentuk suatu matriks pada gigi dimana bakteri dapat melekat. yang dihitung dari berat kering plak.84 % (F3C). The formula of toothpaste was crude bromelain 5% and abrasive 40% with proteolytic activity 6. maka lama-kelamaan mikroorganisme yang berkontak pada permukaan gigi akan menyebabkan karang gigi ( kalkulus ) dan menimbulkan karies pada gigi (Cracken.584 unit/mg equivalent 98. Henny Lucida2). Keyword: crude bromelain. Proses ekstraksi bromelain dilakukan secara maserasi dalam larutan buffer posfat pH 7. M. Merr var. Plak gigi adalah lapisan lunak yang terbentuk dari campuran sisa-sisa makanan serta bakteri yang diperantarai oleh saliva yang melekat pada permukaan gigi. Hal ini juga dipertegas dengan adanya intruksi oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan untuk menarik seluruh produk pasta gigi untuk anakanak yang masih mengandung fluorida di atas 500 ppm. Ramli.1982). Hasil Survei Kesehatan Nasional 2002 menunjukkan. Untuk kesehatan dan mencegah kerusakan gigi dibutuhkan suatu zat antiplak dalam pasta gigi yang saat ini erat kaitannya dengan kandungan fluorida. karbohidrat 13 – 17 % . 1 2010 ISSN : 2087-5045 EFEKTIFITAS BROMELAIN KASAR DARI BATANG NENAS (Ananas comosus L. Jika plak tidak dibersihkan.05) and significant with basis formula ( p >0. Plak tersusun oleh 80% air dan 20 % sisanya terdiri dari beberapa komponen seperti protein 40 – 50 %. salah satunya adalah bromelain dari nenas ( Ananas comosus L. Munurut Pakaj (2004) pasta gigi yang mengandung fluorida tidak cocok untuk anak-anak di bawah 4 tahun. The crude bromelain 5% in toothpaste has antiplaque effectivity noteqivalent with control (p<0. 1 NO. Berdasarkan laporan pemakaian pasta gigi yang mengandung fluorida mempunyai efek samping perlu dicari alternatif mendapatkan formula pasta gigi dari bahan alam. lipid 10 – 14 % dan abu 10 % dan komponen mineral seperti kalsium dan posfor. penderita gigi berlubang jumlahnya tidak sedikit.( Wilkinson. 1990. Fauzi dan Krisna. prevalensi gigi berlubang di Indonesia berkisar 60 %. 1990). 2) Fakultas Farmasi Universitas Andalas Padang ABSTRACT The effectivity of crude bromelain from steam pineapple have been done as antiplaque by plaque control record methods. Husni Mukhtar2) 1) Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STIFI) Padang. 2008).0 ( Darwis dan Sakara. Queen ). yang berarti dari sepuluh orang enam diantaranya menderita gigi berlubang (Nugraha. antiplaque effectivity PENDAHULUAN Di Indonesia. 14 . proteolytic activity.SCIENTIA VOL.

SCIENTIA VOL. adanya zat ini memegang peranan penting dalam membentuk plak pada gigi. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Penggunaan enzim di dalam pasta gigi ditujukan untuk membantu pemecahan protein. lumpang dan alu. kaca mulut.1982). bahan tambahan formulasi (Brataco Chemika). Suatu produk bermerek dagang yang sudah beredar adalah pasta gigi Enzim ®. Metoda yang digunakan untuk pengujian anti plak adalah metoda rekam kontrol plak yang diperkenalkan oleh O’Leary dkk. Untuk menilai keadaan plak gigi. dan digunakan untuk memantau kontrol plak pada pasien dan juga banyak digunakan pada klinik – klinik gigi ( Dalimunthe 2008). dental plague disclosing gel (Global Care) dan air suling. disclosing gel atau disclosing tablet) yang dicatat adalah ada atau tidaknya deposit yang terwarnai pada batas dentogingiva pada empat permukaan (Dalimunthe 2008 ). bromelain standar ( Bernofarm). Sukarelawan Sukarelawan dalam penelitian ini sebanyak 15 orang berumur antara 18 – 24 tahun dan diminta kesediaannya untuk menggunakan sediaan pasta gigi selama penelitian dengan mengisi blanko dan menandatangani surat pernyataan sebagai sukarelawan. Sebelum perlakuan kepada sukarelawan terlebih dahulu diberikan penjelasan tentang tujuan penelitian dan informasi lain yang terkait dengan pemakaian pasta gigi. Bahan Bromelain kasar. Dextran merupakan produk metabolit dari bakteri. Untuk pengukuran terlebih dahulu gigi–geligi diwarnai dengan perwarna plak (disclosing solution. (Wilkinson . pemeriksaan gigi sebelum dan setelah pemakaian pasta gigi dilakukan oleh dokter gigi. 1 NO. Pelaksanaan Penelitian Pembuatan Pasta Gigi Bromelain Kasar Formula Pasta Gigi Bromelain (Lieberman 1989. METODE PENELITIAN Alat Alat-alat gelas standar laboratorium(Pyrex®). spektrofotometer UV-Vis (UVmini1240). timbangan analitik (Pioneer™). karbohidrat dan lipid dari makanan. perlu dilakukan pengujian efektifitas antiplak bromelain kasar dan dibandingkan dengan formula basis dan sediaan pembanding kepada sukarelawan. Berdasarkan hal tersebut. Wilkinson 1982) Pasta gigi bromelain dibuat dengan konsentrasi bromelain 5% dan abrasive kalsium karbonat 40% seperti terlihat pada tabel di bawah ini: 15 .

ditambahkan larutan sorbitol 70 % dan diaduk homogen ( massa 2). Natrium lauryl sulfat ditambahkan ke dalam massa 3.0 0.SCIENTIA VOL.1 1 0. tidak menggunakan larutan penyegar mulut atau larutan pencuci mulut lainnya. Kalsium karbonat digerus. ditambah bromelain digerus ditambah gliserol diaduk homogen. Untuk pelaksanaan pengujian ini digunakan gel pink tua dental plague disclosing gel yang dipakai sebelum menggunakan pasta gigi dan setelah menggunakan pasta gigi selama 1 minggu. kemudian dihitung nilai selisih skor plak sebelum dan sesudah pemakaian pasta gigi bromelain dengan menggunakan rumus : Nilai selisih = Skor Plak sebelum – Skor Plak sesudah 16 .3 100 formula (g) 5. digerus homogen. sore dan pada malam hari. Selama pengamatan akan dipantau oleh dokter gigi sampai selesai perlakuan. Pengujian ini dilakukan terhadap 5 orang panelis untuk setiap formula pasta gigi bromelain dengan syarat panelis tidak menggunakan pasta gigi lain. Sakarin dan natrium benzoat dilarutkan dalam sisa air.3 100 Cara Pembuatan Bromelain Kasar Pasta Gigi Na CMC ditabur diatas air panas (15 x jumlah Na CMC). diaduk homogen (massa 1). diaduk homogen sampai terbentuk massa pasta. Oleum menthae piperitae dimasukkan terakhir. diaduk sampai homogen dan kemudian dimasukkan ke dalam tube.2 0. menggunakan pasta gigi 3 kali sehari pada pagi.0 0. Massa 1 ditambahkan ke massa 2 diaduk sampai homogen (massa 3). 1 2010 ISSN : 2087-5045 Tabel 1. didiamkan selama 15 menit. 1 NO.0 40 18 10 1. aduk homogen. dimasukkan ke dalam massa 3.1 1 0.2 0. Formula pasta gigi bromelain Komposisi Formula Bromelain Kasar Kalsium karbonat Gliserol Larutan sorbitol 70 % Natrium Karboksimetil sellulosa Sakarin Natrium benzoat Natrium lauryl sulfat Oleum menthae piperitae Air suling sampai Basis (g) 40 18 10 1. Parameter yang diamati kemampuan menghilangkan plak setelah menggunakan pasta gigi. rumus perhitungan Plak Indeks : Skor RKP = Jumlah Permukaan gigi dengan plak x 100 % Jumlah seluruh permukaan gigi Uji Efektifitas Anti Plak Pasta Gigi Bromelain dengan Metode Rekam Kontrol Plak (RKP) (Delimunthe 2008) Pengujian ini dilakukan untuk menilai efek pemakaian pasta gigi sebagai anti plak dengan cara Setelah skor plak didapat.

3 66. Proses pengurangan plak dari pasta gigi bromelain kasar diduga karena kemampuannya untuk memecah atau menguraikan protein saliva disamping juga terjadi secara fisik dengan adanya abrasif dalam pasta.90%). Makanan sangat berpengaruh sekali terhadap jumlah plak yang terbentuk.384 %KV= 15.1 9. Hasil ini memperlihatkan bahwa plak dapat berkurang dengan menggunakan basis pasta yang mengandung abrasif kalsium karbonat dan surfaktan natrium lauril sulfat yang ada dalam formula.3 62.5 62. 8. Dugaan lain adalah bromelain dapat memutuskan ikatan protein dari sisa makanan yang menempel pada gigi.1 70. Parameternya adalah % RKP sebelum dan setelah perlakukan. lama dan cara menggosok gigi (Ariningrum. Menurut Hidayah (2000) bromelain dapat memecah ikatan glutamin-alanin dan arginin.9 66.3 3 3.6 65. Hasil pengujian efektifitas antiplak pasta gigi bromelain kasar % RKP No Panelis X (%) Formula Sebelum Sesudah 1 F0 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 65.7 8. 2000).1 70.86 2 F3 8.5 65.SCIENTIA VOL.4 61.391 %KV=12.5 9.3 8.5 3.17 3 P 8.1 2.04%± 0. pasta gigi bromelain ( F3 ) dan pasta gigi pembanding ( P ) secara berturut-turut.9%± 1.626 %KV= 7. HASIL DAN PEMBAHASAN Uji antiplak pasta gigi bromelain kasar dilakukan selama 7 hari.9 69.72% ± 0.6 57. Daya anti plak disebabkan adanya kemampuan bromelain untuk mengurangi dan menghilangkan plak yang terbentuk.72 % ) dan mendekati pasta gigi pembanding (8.1 7 Χ 3.2 56.72 % dan 8.4 57.1 69.55 17 .4 8.1 60.1 60 62 62. pasta gigi bromelain kasar dan sediaan pembanding enzim ®.1 68. Penelitian dilakukan pada gigi tiruan resin akrilik .7 52. Proses pengurangan plak juga dipengaruhi oleh frekwensi. 1 NO. Proses pengurangan plak ini terjadi secara fisika dengan persentase penurunan plak yang rendah.9 8.1 8. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Analisis Data Untuk menilai efektifitas antiplak bromelain dalam pasta dianalisis menggunakan statistik analisis varian satu arah yaitu antara basis pasta.4 3.90 % untuk formula basis ( F0 ). 1990) Tabel 2.3 65 62.8 9. Dari hasil perhitungan rata-rata persentase Rekam Kontrol Plak ( RKP ) adalah 3.3 65.04 %. (Tarigan .5 69.8 59.9 62 62 59.6 10.5 62. Pada sediaan uji pasta gigi bromelain diperoleh persentase penurunan (RKP) yang lebih tinggi ( 8.alanin yang merupakan asam -asam amino penyusun protein.

Ansel. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Materia Medika Indonesia.000. USP 30/ NF 25. H. Jakarta. Formularium Kosmetika Indonesia. Vol III. dan persentase plak Duncan a tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara pasta gigi bromelain ( F3 ) dengan pasta gigi pembanding ( P ) pada p < 0. a. Farmakope Indonesia.05. The National Formulary. SASARAN Kepada peneliti selanjutnya disarankan untuk mengembangkan formula pasta gigi dan menguji stabilitas pasta gigi bromelain kasar sehingga pada akhirnya dapat DAFTAR PUSTAKA Anonim. Anonim.7200 8. C 1989.759 Means for groups in homogeneous subsets are displayed. USA. 1 NO. 1985.SCIENTIA VOL. 1994. Uses Harmonic Mean Sample Size = 5. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi edisi IV. Jakata. KESIMPULAN Dari penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut Bromelain kasar 5% dalam pasta gigi mempunyai efektifitas antiplak yang tidak berbeda nyata dengan sediaan pembanding ( p< 0.05. Anonim. Departemen Kesehatan Republik Indonesia . Hasil uji statistik dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Anonim. Diterjemahkan oleh Farida Ibrahim. 2007. Jakarta. Jakarta.05.0400 8. edisi III. 1989.05 1 2 3. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakata. 1974. Farmakope Indonesia.9000 1. Anonim. 18 .05) dan berbeda nyata dengan formula basis pada p > 0.000 . Jakarta. 1979. edisi IV. N 5 5 5 Subset for alpha = . Penerbit Universitas Indonesia. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Keterangan : F0 F3 P X X KV : : : : : : Basis pasta gigi formula C konsentrasi abrasif 40 % Formula pasta gigi bromelain konsentrasi 5 % Pasta gigi pembanding ( Enzim® ) Nilai selisih Rekam Kontrol Plak (RKP) Rata – rata nilai selisih Rekam Kontrol Plak (RKP) Koefisien variansi Hasil uji statistik dengan analisis varian satu arah memperlihatkan terdapat perbedaan yang bermakna antara formula basis ( F0 ) dengan pasta gigi bromelain ( F3C) dan pasta gigi pembanding ( P ) pada p > 0. cetakan pertama . Anonim. perlakuan F0 F3 pembanding Sig. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Ekstra Pharmakope Indonesia.

Pertanika 13(1) . 1992. Turakhia NH. J and R. N. S E. Nat. Ramli W. 2Pattavia ). S Indriani. 58 (9). Cell Mol. Cowson. 1985.. Hemisphere Publishing Corp. Nenas Budidaya dan Pasca Panen. Daftary GV.12. Hirose T. 1989.Khrisna.Bromelain : a literature review and discussion of its therapeutic applications.. Hipokrates. Merr). Mori S. 1982. Biochemistry. Steptoccus mutans Si Plak Dimana-mana. Wilkinson. Voight.2000. Hayati. 1992. Hashimoto Y. Isolasi dan Karakterisasi Ekstrak Kasar Enzim Bromelain Dari Batang Nenas (Ananas comosus L. 1990 . Efficacy and safety of phiogezym-aprotease formulation. Diterjemahkan oleh S. 2002. A.. 1994. Rev. E. Glider WV and MS Hargrove. pharmacology and medical use. SasakiT.Moore.. Harry’s Cosmetology.. Diterjemahkan oleh S.A. 1985. J Penel.. 2006. Jogjakarta: 1-5. S. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Sci. S.1982 Clinical and Oral Microbiology. R. Kasetsart J.. W. Lincoln. Kundra M. Universitas Indonesia press. Cosmetics. dan S.SCIENTIA VOL. Science and Technology.Fauzi.. London. Suyatmi. in septis in chidren. Tarigan. 75 – 77. London. Bandung.S.. Herdyastuti. Vol 1. H.Artini.Wijaya dan Sulistyaningsih. Karies Gigi. Periodonsia. Pocher’s Perfumes Cosmetics and Soap. Ota. New York. Proses Penghasilan Bromelin Daripada Batang Nenas. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Jember.. Ojima Y. Yogyakarta. 98. Kanisius.113-121 Rukmana. T. 219 – 228. 2001. EGC. Schiess W 2002. Jakarta. Herijulianti. Lieberman and J.Using Bromelain in Pineapple Juice to Investigte Enzym Function. Pendidikan Kesehatan Gigi. E. R. Daliemunthe.19(3) :147153. and S Phongtongpasuk . and R. Med. 1: 405-410 Lachman.N. and. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Balsam.. Butler.Enzim Bromelain dari Bongkol Nenas sebagai Bahan Pembersih Gigi Tiruan Resin –Akrlirik. Yogyakarta. 2nd ed. Fakultas Farmasi USD. New York.. George Goodwin HC. 2008. L. Apr 50527-31. 1 NO.2006. Ngampanya B.. 1996 . Effects of Sucrose Concentration on Crude Bromelain Production of in Vitro Culture of Pineapple ( Ananas comosus var. Nugraha. Altern. Jakarta. 40 : 129-134 . Universitas Gadjah Mada Press.L Kaning . D. 19 . Kelly G. Acta Obstet Gynaecol Jpn.S. FKG Universitas Sumatera Utara.edisi III. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi edisi V. Maurer HR. J.. Shahid SK.( 1972) The clinical effect of proteolytic enzyme containing bromelain and trypsin on urinary tract infection evaluated by double blind method . A. Charpman and Hall.. Hidayah . M and Sagarin. Shanbag P. Life . Bromelain. Biochem. S. Cracken.. Reinvestigation of Fractionation and Some Properties of Proteolitically Active Components of Steam and Fruit Bromelain. 2002. Assoc Physicians India.W. Sci ...J. Vol III.H. A. R. Mutta. 1996 . M. Medan. HA. 2008. Noerono. 1990.

05. which the value of F count treatment is smaller than the F table at α 0. Kandungan dari VCO salah satunya adalah asam lemak rantai tak jenuh berperan sebagai agen antimikrobial yang hebat. Mimi Aria. fosfor. salah satunya digunakan sebagai bahan obat (Rukman. type of cream. VCO. lemak. polifenol dan umbinya mengandung beberapa senyawa seperti protein. From the statistical calculation using one-way analysis of variation (ANOVA) we found that sweet potato leaf ethanol extract containing cream provide healing on burns. 1997. Bagian tumbuhan ubi jalar yang digunakan adalah daun yang mengandung beberapa senyawa seperti saponin. skin irritation test and effects on burns. 2008). dan kontaminan lainnya. sayur-sayuran dan tanaman pangan. The results showed that the F1B formula has the fastest healing effect on burns (7 days). kalsium. homogeneity.) dari famili Convolvulaceae. 1 2010 ISSN : 2087-5045 FORMULASI KRIM EKSTRAK ETANOL DAUN UBI JALAR ( Ipomoeae batatas.SCIENTIA VOL. vitamin C (Rukmana. Keywords: Ipomoeae batatas. zat besi. The evaluation results showed that ethanol extract of sweet potato leaves can be formulated in creams which are physicaly stable and provide a healing effect on burns. vitamin B1. vitamin B2. L. which were tested on animals. Cream formula consisting of 3% ethanol extract of sweet potato leaves as an active ingredient. 2006) tanpa proses pemutihan sehingga menghasilkan minyak murni. burns PENDAHULUAN Negara Indonesia merupakan salah satu negara agraris yang memiliki potensi untuk mengembangkan buahbuahan tropis. fungsinya adalah menolak pembentukan radikal bebas dan kemampuan mempertahankan sistem kekebalan membuat minyak ini bermanfaat untuk mencegah dan mengobati berbagai gangguan kesehatan. pH. karbohidrat. tanaman holtikultural. 1 NO. Argomedia. 2006). VCO juga memiliki tekstur krim alami. vitamin A. susunan molekular kecilnya memudahkan penyerapan serta memberi tekstur yang lembut dan halus pada kulit (Hadibroto. bebas dari pestisida.Padang ABSTRACT Formulation of cream for treatment of burns has been studied.1997). cream.. ) UNTUK PENGOBATAN LUKA BAKAR Farida Rahim. The formulas was evaluated for their organoleptic. VCO memiliki sederet manfaat dan khasiat baik medis maupun kosmetik. Salah satu jenis tumbuhan yang digunakan sebagai obat tradisional adalah ubi jalar (Ipomoea batatas L. flavonoid. Cream bases used in this study were variated with and without Virgin Coconut Oil (VCO). Banyak sekali tanaman di Indonesia yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara komersil. Virgin coconut oil merupakan minyak yang berasal dari buah kelapa (Cocos nucifera) tua segar yang diperoleh pada suhu rendah (<60 0C) yang terbentuk setelah santan didiamkan dalam beberapa hari (Setiaji. Nurwani Purnama Aji STIFI Perintis . particle size distribution. 20 .

batang pengaduk. Fase minyak dipindahkan kedalam lumpang dan ditambahkan fase air (pencampuran dilakukan pada suhu 60oC – 70oC). nipasol. Alat yang digunakan adalah alatalat gelas standar laboratorium. cawan penguap. kadar abu. desikator. botol marserasi. pinset. aquadest. oven. hewan percobaan yang digunakan adalah mencit putih. dipanaskan diatas waterbath dengan suhu 70oC sampai lebur. penetapan kandungan air. adeps lanae. kelarutan. asam stearat. nipagin. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Dari penjelasan di atas dicoba membuat formula ekstrak etanol daun ubi jalar dan Virgin Coconut Oil (VCO) dalam bentuk krim untuk pengobatan luka bakar. krus porselin. Ekstrak daun ubi jalar dibuat dengan cara maserasi selama lima hari menggunakan etanol 96%. Formula Krim Ekstrak Etanol daun ubi jalar Nama Bahan Ekstrak etanol daun ubi jalar Basis Krim ad F1A 3% 100 F1B 3% 100 Keterangan : F1A = Krim dengan konsentrasi Ekstrak Etanol daun ubi jalar 3% tanpa VCO F1B = Krim dengan konsentrasi Ekstrak Etanol daun ubi jalar 3% dengan VCO Krim dibuat dengan cara: ditimbang ekstrak etanol daun ubi jalar 3% digerus dalam lumpang ditambahkan 21 . Krim dipilih karena sediaan ini mempunyai keuntungan diantaranya mudah dioleskan pada kulit. Basis krim dibuat dengan cara: Semua bahan yang diperlukan ditimbang. mudah dicuci setelah dioleskan. Virgin Coconut Oil (VCO). krim dapat digunakan pada kulit dengan luka yang basah.1 0. buret. paraffin liquid. Fase air di panaskan di atas waterbath pada suhu 70oC sampai lebur. Ekstrak kental yang diperoleh dievaluasi organoleptis. kertas perkamen. Tabel 2.5 3 25 0. pemeriksaan pH.5 1. digerus sampai dingin dan terbentuk masa krim yang homogen. etanol 96%. rotary evaporator. trietanolamin. stamper. lemari pendingin. kaca arloji. waterbath. kemudian fase minyak dipindahkan dalam cawan penguap.1 0. corong. Tabel 1. dan terdistribusi merata. pipet tetes.SCIENTIA VOL. kandungan kimia.05 100 Keterangan : F0A = Krim tanpa Virgin Coconut Oil (VCO) F0B = Krim dengan Virgin Coconut Oil METODA PENELITIAN Bahan yang digunakan adalah daun ubi jalar putih.5 1. mortir.05 100 F0B 14. Formula Basis Krim Nama Bahan Asam stearat Trietanolamin adeps lanae Paraffin liquidum Virgin Coconut Oil (VCO) Nipagin Nipasol Aquadest ad F0A 14. botol semprot. 1 NO.5 3 5 20 0. plat tetes. timbangan digital. pH meter Inolab. oven vakum. Selanjutnya digunakan hewan percobaan untuk menguji aktifitasnya untuk pengobatan luka bakar.

distribusi ukuran partikel. tipe krim. dengan konsentrasi ekstrak 3%. Krim Ekstrak Etanol Daun Ubi Jalar (Ipomoea Minggu ke IV V SP SP P P BK BK SP SP Hi Hi BK BK SP SP P P BK BK SP SP Hi Hi BK BK II SP P BK SP Hi BK SP P BK SP Hi BK III SP P BK SP Hi BK SP P BK SP Hi BK VI SP P BK SP Hi BK SP P BK SP Hi BK VII SP P BK SP Hi BK SP P BK SP Hi BK VIII SP P BK SP Hi BK SP P BK SP Hi BK : Basis krim tanpa Virgin Coconut Oil ( VCO ) : Basis krim dengan Virgin Coconut Oil ( VCO ) : Krim Ekstrak Etanol Daun Ubi Jalar 3 % tanpa VCO : Krim Ekstrak Etanol Daun Ubi Jalar 3 % dengan VCO : Hijau : Putih : Setengah Padat : Bau khas 22 . Tabel III. daya tercuci krim dan uji iritasi kulit. Spatel dibakar dengan nyala api ± 60 detik. F1A Bentuk SP Warna P Bau BK 4. F0B Bentuk SP Warna Hi Bau BK 3. warna dan bau. pemeriksaan ini dilakukan setiap minggu selama 8 minggu pengamatan. Parameter yang diamati adalah hilangnya vesikel dan perubahan warna kulit dari pucat menjadi pucat hilang. Uji efek luka bakar dilakukan dengan menggunakan hewan percobaan mencit 15 ekor untuk 5 kelompok. pH. homogenitas. Basis krim dan krim yang dibuat di evaluasi meliputi pemeriksaan organoleptis. F1B Bentuk SP Warna Hi Bau BK Keterangan : F0A F0B FIA FIB Hi P SP BK Pada pengujian efek ini digunakan Lanakeloid-E ® sebagai pembanding. 1 2010 ISSN : 2087-5045 sedikit demi sedikit basis krim ad 100 g digerus pelan-pelan sampai homogen. F0A Bentuk SP Warna P Bau BK 2. HASIL DAN PEMNBAHASAN Ekstrak etanol daun ubi jalar dan VCO diformula dalam bentuk krim. masing-masing kelompok 3 ekor. Hasil Pemeriksaan Organoleptis batatas. Pada pemeriksaan homogenitas basis krim dan krim ekstrak etanol daun ubi jalar menunjukkan bahwa semua sediaan telah homogen dan terdispersi merata. L) No Formula Organoleptis I 1. Kemudian dilakukan pengamatan setiap hari untuk melihat efeknya sampai terjadi penyembuhan total. yang dilakukan setiap minggu selama 8 minggu. sepatel tersebut ditempelkan pada kulit punggung mencit yang sudah dirontokkan bulunya selama ± 5 detik. Pada pemeriksaan organoleptis formula basis krim dan krim ekstrak etanol daun ubi jalar tidak menunjukkan adanya perubahan bentuk. 1 NO. pH krim. homogenitas. pemeriksan tipe krim.SCIENTIA VOL. Pemeriksaan basis krim dan krim meliputi organoleptis. Pada kulit yang melepuh atau mengalami luka bakar tersebut dioleskan formula krim secara tipis dan merata 3 kali sehari untuk masingmasing formula.

56. 8095 µm.81 8.991 µ m.02 7.19 7.53 7.84 7.SCIENTIA VOL.17 7. 1 NO. Formula FOA FOB F1A F1B I 7. FOB = 4.53 7. hasil yang didapat masih memenuhi syarat karena dalam literatur dinyatakan ukuran partikel yang stabil secara fisik antara 1. Hasil Pemeriksaan pH Krim Ekstrak Etanol Daun Ubi Jalar ( Ipomoea batatas.26 – 8.70 7.0 II 8. Hasil pemeriksaan uji iritasi pada 5 orang sukarelawan menunjukkan tidak ada satupun formula basis krim dan krim ekstrak etanol daun ubi jalar yang mengakibatkan iritasi pada kulit panelis.61 VII 8. Sedangkan FoA memberikan waktu penyembuhan selama 11 hari. L) Minggu ke IV V 8. dimana saponin ini mempunyai kemampuan sebagai pembersih sehingga dapat membantu mempercepat penyembuhan luka terbuka.98 7. Formula yang memberikan waktu penyembuhan paling cepat adalah formula F1B dimana waktu yang diperlukan untuk penyembuhan selama 7 hari. Hasil pemeriksaan pH dilakukan dengan menggunakan alat pH meter inolab. Pemeriksaan ini dilakukan terhadap 5 orang sukarelawan pada masing-masing formula. FoB memberikan waktu penyembuhan selama 9 hari.50 µ m. flavonoid yang terkandung didalam daun ubi jalar dapat digunakan sebagai pencegahan terhadap infeksi luka karena mempunyai daya antiseptik (Harborne.51 7.45 Pada pemeriksaan distribusi ukuran partikel diperoleh rata-rata ukuran panjang FOA = 4.74 7.86 8. F1B = 4.73 7. kemudian ditutup dengan kain kasa. F1A = 6. tipe krim adalah minyak dalam air. 2. Pada uji efek basis krim dan krim ekstrak etanol daun ubi jalar dan basis krim yang mengandung VCO dan yang tidak mengandung VCO terhadap pengobatan luka bakar.22 7.57 8.78 7.27 8.65 7.69 7.783 µ m. polifenol 23 . sedangkan polifenol berkhasiat sebagai adstringen jika dioleskan pada jaringan hidup. Daun ubi jalar yang digunakan mengandung flavonoid.48 7.81 7. Hasil pemeriksaan uji iritasi dilakukan langsung pada manusia dengan cara uji tempel tertutup dimana sediaan uji 0.69 No 1. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Hasil pemeriksaan tipe krim.21 7. 1987). saponin dan polifenol. Hasil pengamatan distribusi ukuran partikel basis krim dan krim ekstrak etanol daun ubi jalar menunjukan rata-rata ukuran panjang kecil dari 10 µ m. pemeiksaan pH dilakukan terhadap basis krim dan krim ekstrak etanol daun ubi jalar dan hasil pemeriksaan pH krim diperoleh ph berkisar antara 7.78 7.92 8. pemeriksaan tipe krim dilakukan dengan menggunakan zat warna yaitu metilen blue memperlihatkan penyebaran metilen blue yang merata setelah diteteskan pada selapis krim diatas kaca objek.1 gr dioleskan pada lengan atas bagian dalam dengan luas 4 cm 2 .26 Ratarata 8. Setelah 24 jam diamati gejala yang timbul.62 7. 3.04 VI 8. F1A dan Lanakloid-E memberikan waktu penyembuhan 8 hari. Hal ini menunjukkan bahwa basis krim dan krim ektrak etanol daun ubi jalar dapat digunakan untuk penyembuhan luka bakar.06 III 8.837 µ m.41 VIII 8.56 7. Tabel IV. 4. Krim ekstrak etanol daun ubi jalar dengan menggunakan basis krim yang mengandung Virgin Coconut Oil (VCO) mampu memberikan efektifitas lebih cepat dibandingkan dengan formula lainnya.12 7.15 7. ternyata memberikan sedikit variasi waktu penyembuhan.

3. Gaja Mada University Press. Penerbit Universitas Indonesia. redaksi. 1991. 4. Jakarta.4. Dari perhitungan uji statistik analisa variasi satu arah (ANOVA) diketahui bahwa krim ekstrak etanol daun ubi jalar dapat memberikan penyembuhan terhadap luka bakar. Jakarta. DAFTAR PUSTAKA Ancel. Ed. Ilmu Meracik Obat. Anonim. Yogyakarta. 1972. Dimana nilai F hitung perlakuan lebih kecil dari pada F tabel pada α 0. H. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. H. Ed. alih bahasa oleh Farida Ibrahim. Jakarta. 2005). 1995. Ekstrak Farmakope Indonesia. Argomedia. Ekstrak etanol daun ubi jalar dan Virgin Coconut Oil (VCO) dapat diformulasi dalam bentuk krim yang stabil secara fisika dan kimia selama 8 minggu penyimpanan. Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. Anonim. 2008. Buku Pintar Tanaman Obat. Argomedia Pustaka. 1986. 2007. 2000. et al. VCO yang digunakan mampu mempercepat penyembuhan luka bakar karena merupakan minyak yang mengandung asam lemak jenuh rantai sedang yang mendukung penyembuhan dan perbaikan jaringan tubuh (Gani. 1982. Formulasi Gel Ekstrak Etanol Daun Ubi Jalar 24 . Farmasetika. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.. Formula krim ekstrak etanol daun ubi jalar (Ipomoea batatas . Farmakope Indonesia. Jakarta. Ditjen POM Depkes RI. Asrahyuni. M.3. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.SCIENTIA VOL. Jakarta.05. Ditjen POM Depkes RI. Anonim. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Anonim.C. 1 2010 ISSN : 2087-5045 dalam pengobatan berkhasiat sebagai antiseptik yang berfungsi sebagai pelindung pada kulit dan bermanfaat untuk regenerasi jaringan. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. M. Sediaan Galenika.L) dengan basis krim yang mengandung VCO (F1B) memberikan efek penyembuhan luka bakar yang paling cepat yaitu 7 hari. Fomularium Kosmetik Indonesia. Farmakope Indonesia. Dari perhitungan uji statistik analisa variasi satu arah (ANOVA) diketahui bahwa krim ekstrak etanol daun ubi jalar dapat memberikan penyembuhan terhadap luka bakar. 2006. 1979.05 SARAN Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk memformula ekstrak etanol daun ubi jalar dalam bentuk sediaan dan uji efektifitas farmakologi yang lain. Anonim. Anonim. Anief. USP 30/ NF 25 Volume III. Ditjen POM Depkes RI. Jakarta. Jakarta. dimana nilai F hitung perlakuan lebih kecil dari pada F tabel pada α 0. 2. United States of America. Anonim.. Anief. Yogyakarta. Jakarta Anonim.. Gaja Mada University Press. 1990. 1994. 1 NO. Materia Medika Jilid V.. Jakarta. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Ed.

Physical pharmacy. Mack Publishing Comp. 1962. Willey Intercienci. Effendi.2000. Farmasetika Dasar dan Hitungan Farmasi. R. Penebar Swadaya.http//:etd. Luka Bakar Pengetahuan Klinis Praktis. Ubi Jalar Budi Daya dan Pasca Panen. Penerbit Universitas Indonesia. Formulasi Krim Minyak Kelapa Murni Untuk Penyubur Rambut. Harbone. Phenolic Composition And Antioxidant Activity Of Sweet Potatoes. Cetakan ke-2. R.. H. Membuat VCO Berkualitas Tinggi. Terapi Minyak Nabati Keampuhan VCO dan 16 Minyak Ajaib.com/indek. Bandung. 1991. Jakarta. Jakarta. Ed. A. Remigton Pharmaceutical Sciense. Srikandi. php/inf-sehat/292-daun-ular-obatdbd-paling-ampuh-?format=pdf Lachman. Jakarta. 2006.S. Jellinek.A.. Lieberman and J. [5 Juni 2010] Rahim. 1998. 2th Edition. Fakultas Farmasi..H. Voight. 1975. Universitas Gajah Mada Press. Padang.. Kanisius.. Formulation and Fundaction of Cosmetics. W. Ed.J. New York. Khristianto. Hadibroto.. Yogyakarta.5. Cherry. alih bahasa oleh S.. 2006. Yogyakarta. Herlinawati. Goodman. L. Editor 2006.. PT. PT Samindra Utama. Y. 2001. Bebas Segala Penyakit dengan VCO. D.. Dede.. Yogyakarta.. Terbitan ITB.Suyami..S.). The Structure and Fuction of the Skin. Teori dan Praktek Farmasi Industri II. 2005. Editor. Terapheutic. S. Sehat Diusia Lanjut Dengan Ramuan Tradisional.. Easton. Setiaji. 1995.3.. Penebar Swadaya. Kanisius. Lea and Febiger. Gani. and Gilman. 1 NO. C. Padda. Martin. 2006. Yogyakarta. Fundamental of Anatomy and Phsiologi.F. Jakarta.. 25 . Serial. Philadelphia. London. et al.2004. Z. Harahap. Osol. alih bahasa oleh Kosasih. New York. Padmawinata. Cetakkan ke-1. Metoda Fitokimia Penentuan Cara Modern Menganalisa Tumbuhan. Skripsi. M.. H.H.. 1994.. Jakarta. Jakarta. 1987. Rukmana. J.edu/docs/av ailable/etd-04062006085455/unrestricted/paddadis. Mantagha. 1995.2009. Pharmacologycal Basis of Edition. Puspa Swara. Prentice hall International. 1974. New York.SCIENTIA VOL. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. 1 2010 ISSN : 2087-5045 (ipomoea batatas L. 2. Waluyo.. Jakarta.. 1998. Mursito. Ubi Jalar Budidaya dan Analisis Usaha Tani.Isu. L..Pdf. Syamsuni. A. 1997.. A. alih bahasa oleh S. Gramedia.L Kaning. F. Yogyakarta. Parameter Pasien Luka Bakar. Kanisius. Ed. Gramedia. Hariana. 2006. PT. Juanda. Moenajad. Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Yayasan Perintis.http://ekasi. Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Yayasan Perintis. 8th Pergamos Press. B.B. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Diet VCO. Laporan Penelitian Dosen Muda. M. Padang. Martin. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya.. 4th Edition.. 1990. B. 15th edition. Inc. Jakarta.Noer. 2005. Penerbit Buku Kedoteran. Y. F. Pennsyluania. Jakarta. Penyakit Kulit.N.

From result of the research show that extract who give it at the dose 50 mg/kg BW.) merupakan tanaman yang dapat merangsang dan memperkuat sistem imun tubuh manusia melalui peningkatan jumlah. minyak lemak. 200 mg/kg BW can improvement the titers antibody. dan linolenat (Hendrik. Penggunaan jintan hitam sebagai obat atau yang berkhasiat obat adalah pada bagian bijinya. alkaloid isokuinolin.) dapat menghasilkan efek stimulator pada sistem imun tubuh. 100 mg/kg BW. 1 NO. senyawa golongan alkaloid. 2009). Khasiat dari biji jintan hitam adalah untuk mengobati aneka penyakit seperti menguatkan sistem kekebalan tubuh. Jintan hitam (Nigella sativa Linn. menurunkan kolesterol dan meningkatkan kinerja jantung. Salah satu tanaman tradisional yang digunakan adalah Jintan Hitam (Nigella sativa Linn. diabetes. 1 2010 ISSN : 2087-5045 AKTIFITAS EKSTRAK ETANOL BIJI JINTAN HITAM (Nigella sativa Linn. menjaga elastisitas kulit. anti histamin atau anti alergi. Kandungan kimia dari jintan hitam (Nigella sativa Linn. 2009). mutu. anti tumor. and limfosit cell (P<0. anti oksidan. 14th day and given extract on to 15th day up to 20th day.) yang merupakan rempah– rempah yang telah digunakan sebagai tanaman obat. titer antibody. 7th. The amount bar neutrofil cell. leucosit PENDAHULUAN Pemakaian obat tradisional masih banyak digunakan dalam meningkatkan kesehatan masyarakat di Indonesia meski sekarang sudah banyak orang menggunakan obat–obatan modern sebagai pelengkap tetapi obat tradisional masih mempunyai kedudukan khusus dalam masyarakat.01). Rempah ini berbentuk biji hitam yang telah dikenal ribuan tahun yang lalu dan digunakan secara luas oleh masyarakat India. Keywords: Nigella sativa. 1983).SCIENTIA VOL. Jenis tanaman ini telah disebut–sebut sebagai tanaman obat dalam perkembangan awal agama Islam (Hendrik.) ini mengandung nigellienine. bronkhitis. kanker. monosit. steroid. Jintan hitam ini 26 . anti bakteri. Pengobatan secara tradisional berdasarkan pada upaya untuk mengembalikan dan memperkuat penyembuhan secara alami (Donatus.) for the titers antibody and amount of leucosit cell to the mice.) TERHADAP TITER ANTIBODI DAN JUMLAH SEL LEUKOSIT PADA MENCIT PUTIH JANTAN Suhatri dan Yufri Aldi Fakultas Farmasi Universitas Andalas ABSTRACT The research about Activity of Given Extract Jintan Hitam seed (Nigella sativa Linn. asama. nigellamine-n-oxide. Protein–protein yang terkandung dalam ekstrak jintan hitam (Nigella sativa Linn. saponin. memperbaiki saluran pencernaan. minyak atsiri. dan aktivitas sel–sel imun tubuh. oleat. meningkatkan produksi air susu ibu. the mice who has given induction anti-gen (Goat Eritrosit 5%) for the 1th. Pakistan. dan Timur Tengah untuk mengobati berbagai macam penyakit.

dan trombosit). sel T. 2002). dan sitokin. metanol murni. Tizar. Bahan Bahan-bahan yang digunakan adalah biji jintan hitam. 1993. air suling. 1 NO. menghitung bobot relatif limfa mencit putih jantan dan menghitung jumlah sel leukosit dengan metoda hapusan darah pada mencit putih jantan. gelas ukur. Mekanisme pertahanan ini dibagi menjadi dua kelompok fungsional. Prosedur Kerja Pembuatan Sampel 1 kg Biji jintan hitam diekstraksi dengan etanol 96 % kemudian pelarutnya diuapkan secara vakum sehingga diperoleh ekstrak kental sebanyak 29. Pertahanan non spesifik meliputi kulit dan membran mukosa. botol maserasi. Sel – sel lain dalam jaringan walaupun bukan merupakan bagian utama dari respon imun juga dapat berperan serta dengan memberi isyarat pada limfosit atau berespon terhadap sitokin yang dilepaskan oleh limfosit atau makrofag (Wahab. komplemen. lumpang dan alu. Respon imun diperantarai oleh berbagai sel dan molekul terlarut yang diseksresikan oleh sel-sel tersebut. kaca objek. eusinofil. 1988). yaitu pertahanan non spesifik dan spesifik. Terhadap ekstrak kental ini dilakukan standarisasi ekstrak seperti kandungan metabolit sekunder dan susut pengeringan. gunting. monosit dan magrofag). dan sel NK). 1988). mekanisme pertahanan ini merupakan bawaan (innate) artinya pertahanan tersebut secara alamiah ada dan tidak adanya dipengaruhi secara intrinsik oleh kontak dengan agen infeksi sebelumnya (Bratawijaya. Bahan terlarut yang disekresi dapat berupa antibodi. timbangan. 1 2010 ISSN : 2087-5045 bekerja sebagai imunomodulator yaitu yang bekerja dengan cara melakukan modulasi (perbaikan) terhadap sistem imun (Bellanti. rak tabung reaksi. Berdasarkan hal diatas maka peneliti telah melakukan pengujian aktivitas ekstrak etanol biji jintan hitan (Nigella sativa Linn. vial. sel fagosit (neutrofil. Sel– sel utama yang terlibat dalam reaksi imun adalah limfosit (sel B. sel asesori (basofil. Mekanisme pertahanan spesifik meliputi sistem imunitas humoral yaitu dengan produksi antibodi oleh sel B dan sistem imunitas seluler oleh sel T. Sistem pertahanan ini bersifat adaptif dan didapat.SCIENTIA VOL. sel mast. pewarna Giemsa (D6 100-darstadt). plat tetes. sel–sel jaringan.1993). minyak emersi. jarum suntik. yaitu menghasilkan reaksi spesifik pada setiap agen infeksi yang dikenali karena telah terjadi paparan terhadap mikroba tersebut sebelumnya.85 g. dan mikroskop. 27 . rotary evaporator. spatel. Sistem pertahanan ini sangat efektif dalam memberantas infeksi serta mengingat agen infeksi tertentu sehingga dapat mencegah terjadinya penyakit dikemudian hari (Tizar. METODOLOGI PENELITIAN Alat Alat-alat yang digunakan adalah seperangkat alat destilasi vakum. eritrosit kambing. Mekanisme pertahanan ini berperan sebagai garis pertahanan pertama dan menghambat kebanyakan patogen potensial sebelum menjadi infeksi yang tampak (Subowo. heparin (D34209 Melsungen Germany). etanol 96%. mediator radang. 1993). tabung reaksi.) terhadap sistem imun non spesifik dengan menghitung jumlah antibodi menggunakan metoda titer antibodi. NaCl fisiologis.

1/16 . lalu tipiskan dan ratakan dengan gelas objek lain sehingga diperoleh lapisan darah yang homogen (hapusan darah).2 ml suspensi eritrosit kambing 5% pada hari 1 secara intra peritoneal. kemudian digerus dan ditambahkan kedalam ekstrak yang telah ditimbang. 1/256. ulangi 3 kali dengan menambahkan 5 ml NaCl fisiologis setiap pengulangan. Angka titer dihitung dengan rumus : 2 Log Pengenceran Menghitung Jumlah Sel Leukosit dari Metode Hapusan Darah Darah segar diteteskan pada gelas objek satu tetes.SCIENTIA VOL.2 ml serum. Gunakan cara yang sama untuk dosis 100. amati penggumpalan yang terjadi. Sensititasi Hewan Hewan percobaan yang telah diaklimatisasi kemudian disensitisasi (pemberian antigen pertama) dengan 0. Pada tabung pertama ditambahkan 0. Lakukan hal ini sampai pada tabung reaksi kesepuluh. kemudian kocok sampai homogen.1 ml suspensi eritrosit kambing 5% secara subkutan pada hari ke 7 dan 14. ¼.2 gram untuk volume 10 ml. masukkan larutan NaCl fisiologis 0. Pembuatan larutan uji Larutan uji dengan dosis 50 mg/kg BB dibuat dengan cara mensuspensikan 50 mg ekstrak etanol biji jintan hitam (Nigella sativa Linn. biarkan 5 menit.1 dan 0. gerus homogen dan cukupkan volume dengan aquadest sampai volume 10 ml. Ambil bagian serumnya.2 ml pada masing-masing tabung. biarkan selama 30 menit. sehingga hasil pengenceran dari serum yaitu ½.kemudian disentrifus dengan kecepatan 2000 rpm selama 15 menit. lalu disentrifus dengan kecepatan 2000 rpm selama 15 menit. neutrofil segmen. Tambahkan satu tetes larutan Giemsa yang telah diencerkan dengan aquadest (1:20). 1 NO. 2008).2 ml larutan. 1/64. setelah kering lihat di mikroskop. buang supernatannya. kemudian lakukan pembosteran dengan 0. Masukkan 0.1 ml suspensi eritrosit kambing 5 % kedalam masing-masing tabung reaksi tersebut. Setelah didapatkan eritrosit kambing kemudian buat suspensi 5% (ambil 0. ambil darah dengan cara memotong vena bagian leher. siapkan 10 buah tabung reaksi. Pipet 0. Cuci dengan aquadest. kocok sampai homogen. limfosit. Penentuan Titer Antibodi Pada hari ke 21 mencit dibunuh. sehingga menutupi seluruh hapusan darah. 1 /128. Setelah kering tetesi dengan metanol. 200 mg/kg BB dengan berat ekstrak masing-masing 0.2 ml larutan pada tabung pertama pindahkan kedalam tabung kedua kemudian kocok dan pipet 0.2 ml larutan pada tabung kedua dan pindahkan kedalam tabung ketiga. lalu keringkan. biarkan selama 20 menit.2 ml eritrosit kambing lalu cukupkan dengan NaCl fisiologis hingga volume suspensi 4 ml). 1 /512. buang 0. dan 1/1024. Kemudian hitung jumlah sel eusinofil. Suspensi ekstrak diberikan pada hari ke 15 sampai hari ke 20 secara oral dengan dosis 50 mg/kg BB. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Pembuatan antigen Darah kambing dicuci dengan larutan NaCl fisiologis (1:1) masing– masing sebanyak 5 ml aduk homogen. neutrofil batang. Pada tabung kesepuluh. 1/8. 1/32. dan monosit pada perbesaran 1000 X dengan 28 . 200 mg/kg BB. Sentrifus dengan kecepatan 2000 rpm selama 5 menit. 100 mg/kg BB.) dengan 50 mg Na CMC yang dikembangkan dengan air panas 1 ml. Angka titer ditentukan dengan pengenceran tertinggi yang masih dapat beraglutinasi dengan eritrosit kambing (Sadikin.

Persen kenaikan sel dihitung dengan rumus : limfosit Jumlah sel limfosit dosis × 100 % Jumlah sel limfosit kontrol 29 . menunjukkan bahwa dengan peningkatan dosis pemberian ekstrak etanol biji jintan hitam dapat meningkatkan angka titer antibodi yang merupakan respon imun spesifik. Bobot limfa relatif terhadap kontrol dihitung dengan rumus : HASIL DAN PEMBAHASAN Ekstrak etanol jintan hitam mengandung metabolit sekunder alkaloid. timbang bobot relatifnya satu persatu. Penghitungan jumlah sel limfosit Setelah didapatkan bobot relatif limfa. setelah itu difiksasi dalam metanol selama 2 menit kemudian dibilas dengan aquadest dan kering anginkan. Angka titer dapat dicari dengan rumus 2log 4 maka angka titernya adalah 2. Hasil susut pengeringan ini dijadikan faktor konversi terhadap penimbangan dosis yang akan digunakan. 1993). kemudian mencit dibedah dan diambil limfanya. .4 gerus sampai halus dan homogen. 1997). komplek imun dan sebagainya. Perhitungan Jumlah Sel Limfosit pada Limfa 1. kemudian bilas dengan air suling dan kering anginkan. Komplemen yaitu salah satu enzim serum yang berasal dari sistem imun non spesifik yang larut dalam keadaan tidak aktif. tetapi sewaktu-waktu dapat diaktifkan oleh berbagai bahan seperti antigen. emersi Pengolahan Data (Schefler. steroid dan saponin dengan nilai susut pengeringan adalah sebesar 27. Tabel I. Encerkan dengan pewarna Giemsa denga dapar pospat. Bobot limfa dosis × 100% Bobot mencit 2. lalu letakkan pada kaca objek dan biarkan mengering. preparat yang telah difiksasi. Hitung jumlah sel limfositnya dibawah mikroskop menggunakan minyak emersi dengan perbesaran 1000 X.SCIENTIA VOL. dengan perbandingan (1:20). timbang 50 mg limfa kemudian suspensikan dalam 2 ml larutan dapar pospat pH 7.18 %. Pipet sebanyak 20 µl larutan limfa. Sedangkan pada kontrol positif aglutinasi terjadi 2log 16 maka angka titernya adalah 4. 1 NO. 1 2010 ISSN : 2087-5045 menggunakan minyak (Supandiman. 1998) Pada penelitian ini data yang diperoleh diolah secara analisis statistik dengan menggunakan metode ANOVA satu arah. Aglutinasi yang terjadi dipengaruhi oleh komplemen. Angka titer ditentukan pada pengenceran tertinggi dari serum mencit yang masih dapat beraglutinasi dengan sel darah merah kambing (Subowo. Penimbangan bobot limfa relatif Setelah darah mencit diambil untuk pengujian titer antibodi. diwarnai dengan cara meneteskan pewarna Giemsa sebanyak 10 tetes biarkan selama 5 menit.

00 8.00 11.00 9.00 58.67± 93.00 1.00 28.00 9.00 8.00 12.) Netrofil Netrofil Kelompok Hewan Eusinofil Limfosit Monosit Batang Segmen I 1 2.00 10. Hasil Perhitungan Sel Leukosit Pada Darah Mencit Putih Jantan setelah Diinduksi Antigen dan Pemberian Ekstrak Etanol Biji Jintan Hitam (Nigella Sativa Linn.00 5.74 116.33± 1.00 5.33± 0.67 11 2 2 2 III log 16 4 log 32 5 log 32 5 4.67± 1.67 14 2 2 2 IV log 64 6 log 256 8 log 128 7 7 21 2 2 2 V log 256 8 log 128 7 log 256 8 7.58 4.34 17.00 7.25 7. Tabel II.00 32.33± 6.00 38.00 7.33± 1.00 14.33± 2.00 35.87 139.00 8.00 1 2 3 3.00 1 2 3 4.00 41.00± 2.00 2. Maka pemberian ekstrak etanol biji jintan hitam (Nigella sativa Linn.00± 1.00 6.00 36.00 2.00 39.00 1.33± 2. didapatkan pengaruh dosis sangat signifikan terhadap jumlah sel netrofil segmen.67 23 ∑ Dari hasil uji statistik analisa varian satu arah dan dilanjutkan ke uji berjarak Duncan.64 x ± SD ∑x III x ± SD ∑x IV x ± SD ∑x V x ± SD 30 .) dapat meningkatkan jumlah sel leukosit darah yang merupakan sistem imun alamiah (non spesifik).00 10.00 37.22 22. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Tabel I.00 45.00 2.00 1.00 2.88 33.00 33.00 47.33± 3.00 10.75 18.00 6.76 21.02 136. 1 NO.) 1 2 3 2 2 2 No x log Angka log Angka log Angka x Pengenceran Titer Pengenceran Titer Pengenceran Titer 2 2 2 I log 4 2 log 4 2 log 4 2 2 6 2 2 2 II log 8 3 log 16 4 log 16 4 3.00 32.00 36.00 41. limfosit.33± 0.00 1.00 7.00 32.00 11.00 41.67 ± 0. Titer Antibodi dari Serum Mencit Putih Jantan setelah Diinduksi Antigendan Pemberian Ekstrak Etanol Biji Jintan Hitam (Nigella Sativa Linn.00 1.00 45.00 50.00 38.00 48.00 45.67± 1.00 1.00 7.67± 3.00 37.00 4.00 2.SCIENTIA VOL.33± 2.50 31.40 112.00 5.69 7.67± 2.00 5.00± 0.00 2 3.00 9.41 25.00 53.00 2.33± 167.82 4.00 1.75 103.00 42.00 9. monosit dan tidak signifikan terhadap sel eusinofil dan neutrofil batang.52 31.00 ± SD x ∑x II 1 2 3 8.00 5.00 43.00 12.47 126.00 50.00 7.00 10.33± 2.00 7.00 7.00 5.00 49.00 53.00 37.00 9.00 9.00 7.00 6.00 42.00 29.00 49.58 55.00 46.00 2.00 7.00 11.00 3 3.65 6.00± 1.00 31.00 34.00 30.00± 2.00 56.00 4.00 ± 1.67± 0.67± 2.00 1 2 3 3.

10 0.54 29. sehingga terjadi pembesaran pada limfa.50 1 2 3 25.00 21.11 0. untuk melihat pengaruh antigen dan ekstrak yang diberikan apakah mengalami perubahan.03 1.87 76.37 0.00 0. 1 NO.53±0.00 0.40 0.05 1.50±0.10 0. Tabel III.11±0.16±0. dan poliferasi limfosit.07 1.00 29.38±0.34 28.15 0. 1 2010 ISSN : 2087-5045 1.12 0.44 0.63 0.40±0.) Bobot Bobot Bobot Kelompok Hewan Limfa Relatif Mencit (gr) Limfa (gr) (%) I 1 30.06 1.08 0.00 1 2 3 27.15 0.13 0.01 0.00 0.52 0.00 152.12±0.00±1.02 0.50 82.00 0.19 0.48±0.49 0.57 2 29.33 0.13 0.76 82. Berdasarkan hasil kenaikan bobot limfa relatif maka dilakukan perhitungan sel limfosit pada limfa.15 0.00 24.50 25.00 26.00 2.50±0.50 1 2 3 27.01 0.03 ±SD x ∑x II 1 2 3 87.00 0.00 27.47 0.58 x ±SD ∑x III x ±SD ∑x IV x ±SD ∑x V x ±SD ∑x 31 .00 26.41 0.10 0.37 0.31 0.00 27.55 0.00 ∑x 5.54 0.22 92.15 0.17 0.50 26. Bobot Relatif Limfa Mencit Putih Jantan setelah Diinduksi Antigen dan Pemberian EkstrakEtanol Biji Jintan Hitam (Nigella sativa Linn.00 25.15 0.41 0.33±0.14 0.46 0. Dari data dapat dilihat bahwa kenaikan bobot limfa relatif juga diikuti dengan kenaikan sel limfosit pada limfa.00 27.14±0.33 0. diverensiasi.SCIENTIA VOL.67±2.02 0.50 28.54±0.52 0. Kenaikan sel limfosit dan bobot relatif disebabkan karena pada limfa terjadi.00 27.13 0.36 0.00 Penentuan bobot limfa relatif mencit.02 0.52 80.50 28.43 1.52 3 28.10±0.

00 1.00 2.).00±1.33±1.00 Netrofil Batang 3.00 2.00 1.00 120.00 2.00 67.00 2.00 3.00±0.00 0.00 64.69 173.00 0.00 1.00 37.00 6.00 77.00 1 2 3 1.00 20.52 7.67±1.00 57.00 25.00 0.00 25.00 53.) ini juga bersifat imunostimulan.53 4.00 58.00 2.15 5.33±5.00 1.00 26.58 5.00 1.) Kelompok I Hewan 1 2 3 Eusinofil 1.33±1.33±5.00 2.00 1.03 76.00 1.00 2.33±0.00 2.67±0.00 3.00 1.00 40.00 71.00 66.00 2.00 0.00 1.00 1.51 76.00 Monosit 1.58 4.58 2. pemberian ekstrak etanol biji jintan hitam (Nigella sativa Linn.00 40.00 43. Kedua sistem imun diatas berperan penting dalam melindungi tubuh dari serangan mikroorganisme.00 1.33±4.00 33.00 2.00 3.00 1.01).00 0.00 30.33±5.00 2.67±3.00 Limfosit 57.00 x ±SD ∑x II x ±SD ∑x III x ±SD ∑x IV x ±SD ∑x V x ±SD ∑x Dari empat parameter yang diamati.61 210. untuk meningkatkan sistem KESIMPULAN Dari penelitian ini dapat diperoleh kesimpulan bahwa pemberian ekstrak etanol biji jintan hitam (Nigella sativa Linn.00 61.33±0.00 34.33±0. Jumlah Persentase Sel Limfosit Pada Limfa Mencit Putih Jantan setelah Diinduksi Antigen dan Pemberian Ekstrak Etanol Biji Jintan Hitam (Nigella sativa Linn.00 3.67±3.58 5.00 Netrofil Segmen 38. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Tabel VI.00 73.00 56.00 1.00 2.00 1.00 37.00 1.00 1.SCIENTIA VOL.51 101.21 167.00 3.00 56.00 5.51 112. dan 200 mg/kg BB dan dapat meningkatkan jumlah limfosit.00 29.58 7.00 0.00 37.33±2.00 70.00 69.00 0.00 0.00±0.00 0.00 1. menurunkan jumlah neutrofil segmen 32 .00 4.00 2.00 0.00 3. dan monosit sangat signifikan (P<0.00 1.16 217. 1 NO.00 52.00 1 2 3 1.00 25.00 2.67±5.00 61.00 1.00 1.73 3. dapat meningkatkan antibodi yang merupakan sistem imun dapatan (non spesifik) dan jumlah sel leukosit yang merupakan sistem imun alamiah (spesifik) dan ekstrak etanol biji jintan hitam (Nigella sativa Linn.) dapat meningkatkan titer antibodi pada dosis 50 mg/kg BB.00±1.67±0.00 3.00 32.00 30. 100 mg/kg BB.53 7.00 1.67±0.00 22.00±2.00 71. Maka penggunaan ekstrak etanol biji jintan hitam sangat efektif imun.00±1.00 55.00±3.51 184.33±3.00 1 2 3 1.00 1.00 72.00 1.00 42.58 1.00 1 2 3 2.

Solo. Tizar.W. Wahab. 1993. Risalah Simposium Penelitian Tumbuhan Obat III. K. 2008 Antibodies Titers in Rat Immunized Agains Sheep Red Blood Cell (SRBC). Pengantar Imunologi Veteriner. 1988.. Direktorat Jendral POM vol 15. Immunologi III. Penerjemah Soehardjo Hardjosworo. R. Bellanti. Sadikin. diterjemahkan oleh Suroso.. 2002. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. . Statistika Untuk Biologi. Pustaka Iltazam. S. oleh Husin. Bandung. dkk.C. Yogyakarta. Imunobiologi Klinik. Jakarta. Airlangga Universitas Press. Fakultas Farmasi Gajah Mada. M. Bandung. Subowo.. Gajah Mada Press. Pedoman Periklanan Obat Tradisional.01). Farmasi. 1993.com.SCIENTIA VOL. Imunogi Dasar. Penerbit alumni. J. Pedoman Terapi Haematologi Onkologi. 1 2010 ISSN : 2087-5045 sangat signifikan (P<0. Cetakan ke-1.A. 1988. Widya Medika. 2. Jakarta. Soerapto. S. Wahab. dan N. Kedokteran dan Ilmu Bertautan. Imunisasi dan Penyakit Imun.A dan Julia M. Penerbit ITB. 1993. 1 NO. edisi ke-6. 1997.A. Schefler. sedangkan sel eusinofil dan neutrofil batang tidak signifikan. No. Edisi III. 1983. diakses dari http :www. Surabaya. Hendrik. Habbatus Sauda’. Subowo. 2009.google. I. Peranan Farmakologi Dalam Pengembangan Obat Tradisional. 2004.. Angkasa Bandung. I. Bratawijaya. Imunobiologi. 1998.. Supandiman. Diterjemahkan oleh A. I. 33 . Sistem Imin. G. Edisi 1. Jogjakarta. M. Bandung. Jakarta. Depkes RI. Penerbit Angkasa. Jakarta. DAFTAR PUSTAKA Donatus.

SCIENTIA VOL. 19. chloramphenicol. 92.38 %. 0. 1980). 1995). tumbuh baik pada medium dengan kadar NaCl 1-8 % sehingga termasuk bakteri halofilik. diberikan antibiotika seperti tetrasiklin. keram perut. 26. mempunyai flagela polar.19 % respectively. 1 NO. Untuk dapat menimbulkan infeksi. gentamicin. transduksi ataupun konjugasi selama berlangsungnya pengobatan menggunakan antibiotika (Pelczar et al. 1988. 1982. mual. Penyakit yang ditimbulkannya adalah gastroenteritis dengan gejala-gejala diare. value of Multiple Antibiotics Resistances (MAR) was 0. fakultatif anaerob. Tetapi. Marlina2. Perkembangan resistensi merupakan proses alamiah yang dilakukan bakteri guna mengembangkan toleransi terhadap keadaan lingkungan yang baru (Pelczar et al.1% KCl ke dalam pembuluh darah (Boyd. Husni Mukhtar2 STIFI Perintis. Bakteri yang telah resisten memiliki gen untuk melindungi dirinya dari efek bakterisida suatu antibiotika. Masa inkubasinya 4-96 jam dengan rata-rata 15 jam. Sifat ini dikenal dengan istilah resistensi sel bakteri (Ganiswarna.5% NaHCO3 dan 0.46. 52. dan siprofloksazin (Doyle. 1988). seperti pemberian larutan 0. 2 Fakultas Farmasi Universitas Andalas 1 ABSTRACT The characteristics of Vibrio parahaemolyticus resistances were observed from Squid (Loligo vulgaris) and mangrove crab (Scylla serratta) in Padang using differential medium CHROMAgar Vibrio. Scylla serratta PENDAHULUAN Vibrio parahaemolyticus adalah bakteri gram negatif.05 %. Pengobatan dilakukan dengan mengganti cairan elektrolit tubuh yang hilang akibat diare. demam (Gerard. and toward tetracycline were 76.5% NaCl. M. menetap di dalam sel epitel usus dan memperbanyak diri (Postnova. 1989). Resistensi sel bakteri terhadap suatu antibiotika yang terjadi di rumah sakit 34 . The percentage of Vibrio parahaemolyticus resistances ampicillin. penetrasi ke dalam mukosa usus.19 %. penggunaan antibiotika yang tidak diawasi mengakibatkan suatu sifat tidak terganggunya aktifitas sel bakteri pada pemberian antibiotika. ampisilin. muntah. Pada serangan akut. Gen resistensi dari bakteri yang telah resisten terhadap suatu antibiotika dapat dipindahkan ke bakteri lain melalui mekanisme transformasi. Keywords : Vibrio parahaemolyticus. 1 2010 ISSN : 2087-5045 PENETAPAN POLA RESISTENSI ANTIBIOTIKA (Vibrio parahaemolyticus) HASIL ISOLASI DARI CUMI-CUMI (Loligo vulgaris) DAN KEPITING BAKAU (Scylla serratta) Ria Afrianti1.86 %. Loligo vulgaris. 26. Waturangi. erythromycin. berbentuk koma. Barrow 1993. 2000). Antibiotics resistances. sulfametoxazol. Mier 1996). 1996). Antibiotic resistances were tested on fourty two cultures of Vibrio parahaemolyticus by Krumperman diffusion method toward six kinds of antibiotic. bakteri harus melalui tahap kontak dengan permukaan mukosa usus.19 %.

pinset. timbangan digital (Mettler PM 200®). batang pengaduk. aquadest steril. Inkubasi pada suhu 37°C selama 24 jam. Beranjak dari penelitian tersebut maka dilakukan penelitian mengenai sifat resistensi bakteri V. Uji resistensi bakteri Vibrio parahaemolyticus terhadap antibiotika Cakram antibiotika yang digunakan dengan konsentrasi yang telah ditetapkan sebagai berikut: Golongan Penisilin Kloramfenikol Eritromisin Aminoglikosida Sulfonamida Tetrasiklin Antibiotik Ampisilin Kloramfenikol Eritromisin Gentamisin Sulfametoksazol Tetrasiklin Konsentrasi (µg ) 10 30 10 15 5 30 Uji resistensi antibiotik dilakukan terhadap beberapa kultur V. Rotary shaker inkubator. Oleh karena itu. water bath. kapas lidi. parahaemolyticus yang diisolasi dari sampel Cumi-cumi (Loligo vulgaris) dan kepiting bakau (Scylla serratta) di kota Padang terhadap beberapa antibiotika. Pengambilan sampel Sampel dibeli dari penjual cumicumi dan kepiting dipinggir pantai purus. effendorf.SCIENTIA VOL. pot salep.1 ml sampel induk dimasukan kedalam 0. spatel. Lalu inkubasi lagi pada suhu 37°C selama 24 jam. erlenmeyer. media Luria Burtani (LB) broth. etanol 70%. media Mueller Hinton (Merck®). laminar air flow. sentrifugator. 2002). lampu UV. Biakan yang telah diremajakan dalam 35 . Media CHROMagar Vibrio (CHROMagarTM). parahaemolyticus. lampu spiritus. beaker glass. khususnya bakteri V.9 ml media SPB dalam tabung ependorf untuk pengenceran 102 demikian seterusnya sampai pengenceran 105. 2004). Setelah di inkubasi kemudian dilakukan pengenceran mulai dari 101 sampai 105 dengan cara memipet 0. Universitas Andalas Padang. hot plate. disk antibiotika (BBL™). pipet mikro.parahaemolyticus. cawan petri. selanjutnya 0.1 ml dari pengenceran 101 dimasukan kedalam 0. Ditimbang 10 g sampel yang telah dihaluskan kemudian dimasukan dalam erlemeyer dan ditambahkan Salt Poymixin Broth ( SPB) hingga 100 ml.parahaemolticus yang diisolasi dari Scylla serratta dan Loligo vulgaris. kota Padang. lemari pendingin. 1 NO. Sampel. Setelah masingmasing pengencean ditanam pada media CHROMAgar™ Vibrio dalam cawan Petri. kemudian diidentifikasi di Laboratorium Ekologi Hewan Jurusan Biologi FMIPA. vortex. Isolasi bakteri parahaemolyticus Vibrio METODE PENELITIAN Alat dan Bahan Jarum ose. Biakan dalam cawan Petri akan memberikan koloni ungu yang menandakan adanya bakteri V. jangka sorong. 1 2010 ISSN : 2087-5045 cukup tinggi (Radu. Pada penelitian terdahulu telah dilakukan suatu kajian tentang sifat resistensi bakteri Vibrio cholerae yang diisolasi dari feses balita penderita diare dan limbah cair di rumah sakit terhadap beberapa antibiotika (Harta.9 ml media SPB dalam tabung ependof untuk pengenceran 101 . incubator. perlu dilakukan suatu penelitian untuk mengamati penetapan resistensi bakteri terhadap antibiotika. autoklaf.

Analisa Data Persentase resistensi bakteri terhadap antibiotika dihitung untuk setiap jenis antibiotika dengan menggunakan persamaan: % Re sistensi Jumlah kultur yang resisten x 100 % Jumlah kultur yang diuji Perhitungan Nilai MAR dengan menggunakan persamaan Krumperman: MAR = x y Keterangan : = Multiple Antibiotics Resistance = Jumlah bagian yang resisten terhadap antibiotika dari satu kultur yang digunakan y =Jumlah antibiotika yang digunakan vibrio halofilik dan menekan keberadaan Resistensi suatu koloni bakteri spesies lain. kemudian di inkubasi pada suhu HASIL DAN PEMBAHASAN 37°C selama 24 jam. Kultur pada media SPB ditanam pada Resistance (MAR) ≥ 0. terapi dengan ditambahkan 3% NaCl yang bertujuan antibiotik dapat mengurangi durasi diare untuk meningkatkan jumlah dan ekskresi serta mengontrol V.vulgaris) dan yaitu media pengaya SPB yang kepiting bakau (S.2.serratta) ada mengandung antibiotik Polymixin B. Disk antibiotik ditaruh hati-hati diatas biakan bakteri dan ditekan perlahan dengan pinset steril supaya benar-benar kontak dengan bakteri. parahaemolyticus akan baik secara oral maupun secara tetap berlangsung. Jarak Disk dengan tepi cawan Petri 15 mm dan jarak antar Disk 24 mm.SCIENTIA VOL. Pada media SPB harus dalam beberapa kasus. Daerah hambatan yang terlihat sebagai wilayah bening disekitar disk antibiotik diukur diameternya dan karakter resistensi dari bakteri tersebut terhadap antibiotik dibandingkan terhadap tabel standard. medium spesifik CHROMAgar™ vibrio.parahaemolyticus. Terbentuknya Media yang digunakan untuk warna ungu menandakan pada kedua isolasi bakteri Vibrio parahaemolyticus sampel yaitu cumi-cumi (L. dimana bakteri V.parahaemolyticus. 1 2010 ISSN : 2087-5045 LB broth diambil dengan pipet mikro sebanyak 100 µl dan di tanam pada medium Mueller hinton Agar dengan meratakanya pada permukaan media menggunakan lidi kapas steril.parahaemoyticus sebagai spesies MAR x 36 . sedangkan intravena. Walaupun demikian.parahaemlyticus resisten terhadap antibiotik ini. Biakan diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37ºC. 1 NO. terapi pertumbuhan spesies vibrio lainya dengan antibiotik juga penting karena dihambat. penambahan ini sesuai terhadap antibiotika dikatakan tinggi dengan kadar optimal untuk jika memiliki nilai Multiple Antibiotics pertumbuhan V. sehingga adalah penggantian cairan dan elektrolit pertumbuhan V. V. dan Terapi utama untuk mengatasi masih memiliki aktifitas terhadap dehidrasi pada penyakit gastroenteritis spesies vibrio yang lainya.

05% kultur resisten terhadap kloramfenikol. 1995). ternyata sulfametoksazol mempunyai tingkat pola resistensi yang tinggi. resisten dapat timbul karena resistensi silang. Antibiotik ini bersifat bakteriostatik terhadap bakteri gram positif dan gram negatif.19%).46. Antibiotik ini bekerja menghambat enzim petidil transperase yang berperan sebagai katalisator untuk membentuk ikatan peptida pada proses sintesis protein bakteri. 1 2010 ISSN : 2087-5045 penyebaran penyakit ini. diperoleh 52. Dari penelitian ini diperoleh nilai MAR rata-rata adalah 0. Kombinasinya akan berupa efek yang sinergis. resisten dapat timbul karena penyebaran resisten yang diperantarai oleh plasmid. Tetrasiklin bersifat bakteriostatik dan bekerja menghambat sintesa protein bakteri pada ribosomnya yaitu berikatan dengan ribosom 30S dan menghalangi masuknya kompleks tRNA asam amino pada lokasi asam amino (Ganiswara. Gentamisin merupakan senyawa aminoglikosida pilihan utama karena harganya murah dan aktivitasnya yang diandalkan terhadap semua infeksi kecuali terhadap bakteri aerob gram negatif yang paling resisten. Kloramfenikol adalah salah satu obat alternatif untuk diare (Ganiswara. namun pada penelitian ini digunakan Sulfametoksazol. Sulfametoksazol pada umumnya dikombinasikan dengan trimetoprim merupakan senyawa antibiotik yang efektif secara klinis.SCIENTIA VOL. dari hasil diperoleh 92. 2007). 1 NO. Resistensi pada kloramfenikol dapat muncul bila bakteri mampu membentuk enzim klorampenikolasetil tranferase yang mampu merusak aktifitasnya. Dari sekian banyak pola resistensi antibiotik terhadap isolat. Ampisilin merupakan senyawa prototipe golongan aminopenisilin. Timbulnya resistensi terhadap tetrasiklin (26. Hal ini berarti antibiotik ini masih dapat digunakan sebagai terapi. diperoleh 76. Dari penelitian ini diperoleh hasil 19. Umumnya bersifat bakteriostatik. 37 . parahaemolyticus terhadap antibiotik sangat penting untuk pemilihan antibiotik yang tepat (Ganiswara.. 2006). sehingga hasil pengujian sifat resisten V. Dari hasil. Eritromisin termasuk golongan makrolida yang bersifat bakteriostatik tapi dapat juga bersifat bakterisida dalam konsentrasi yang tinggi terhadap organisme yang rentan.19 %) terjadi karena proteksi melalui ribosom oleh protein sitoplasma. pada konsentrasi tinggi kadang-kadang bersifat bakterisid. 1995). Bakteri V. Hal ini menunjukan bahwa bakteri V. Resistensi suatu bakteri gram negatif dinyatakan tinggi jika mempunyai nilai Multiple Antibiotics Resistence ( MAR) > 0. namun penggunaan antibiotik ini harus diperhatikan karena memiliki efek samping yang berbahaya yakni dapat menimbulkan nefrotoksik (Goodman & Gilman. Ampisilin bekerja dengan menghambat sintesa dinding sel bakteri. 1995). Dari hasil. Y.19 % kultur resisten terhadap antibiotik ini.3.38% kultur resisten terhadap antibiotik ini. antibiotik ini masih peka dengan V.parahaemolyticus.parahaemolyticus resisten terhadap sulfametoksazol (Handayani.parahaemolyticus mempunyai tingkat resistensi yang cukup tinggi terhadap antibiotik yang digunakan. Dari hasil diperoleh (26.86% kultur yang resisten terhadap sulfametoksazol. Uji resistensi terhadap antibiotik pada penelitian ini menggunakan metode difusi krumpermen karena metoda ini merupakan metoda yang sederhana tetapi efektif memberi informasi untuk pengujian sifat resisten bakteri terhadap beberapa antibiotik.

SCIENTIA VOL. 1 NO. 1 2010 ISSN : 2087-5045

KESIMPULAN Dari penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : • Hasil uji resistensi dari 42 kultur murni V.parahaemolyticus menunjukkan bahwa 76,19 % kultur resisten terhadap ampisilin, 19,05 % kultur resisten terhadap kloramfenikol, 52,38 % resisten terhadap eritromisin, 26,19 % resisten terhadap gentamisin, 92,86 % resisten terhadap sulfametoksazol, 26,19 % resisten terhadap tetrasiklin. • Nilai Multiple Antibiotics Resistence (MAR) yang diperoleh berkisar antara 0,3 – 0,8 dengan nilai MAR rata-rata adalah 0,46. Hal ini menunjukan bahwa bakteri V.parahaemolyticus mempunyai tingkat resistensi terhadap antibiotik yang cukup tinggi.

DAFTAR PUSTAKA Gerard, 1982, Mikrobiologi Kedokteran, PT. Gramedia, Jakarta Barrow, G.I, 1993, Cowan and Steel’s Manual for the Identification of Medical Bacteria, 3rd Ed, Cambridge Univercity Press. Postnova, T., O.G. Gomez-duarte and K. Richardson, 1996, ”Motility Mutants of Vibrio cholerae 01 have Reduced Adherence in vitro to Human Small Intestinal Epithelial Cells as Demonstrated by ELISA”, Microbiol, 142, 27672776 Mier, R.M., I.L. Pepper and C.P. Gerba, 1996,Environmental Microbiology, 5th Ed, International Thompson Publishing, California

Boyd, F.R. and J.J. Mar., 1980, Medical Microbiology, Little Brown and Company, Boston Doyle, M, 1989, Foodborne Bacterial Pathogens, Marcell Dekker Inc., New York Ganiswarna, G.S., dkk., 1995, Farmakologi dan Terapi, UI-Press, Jakarta Pelczar, M. J., dan E. C. S. Chan, 1988, Dasar-Dasar Mikrobiologi, Jilid II, diterjemahkan oleh Ratna. S. H, dkk, UI-Press, Jakarta, Radu, S., M. Vincent., K. Apun., R.A. Rahim., P.G. Benjamin., Yuherman and G. Rusul., 2002, “Molecular Characterization of Vibrio cholerae O1 Outbreak Strain in Miri, Sarawak (Malaysia)”, Acta Tropica, 83, , 169-176 Waturangi, D.E., 2000, ”Keanekaragaman Genetik serta Uji Resistensi Antibiotik Escherichia coli yang Diisolasi dari Feses Farunus spp”, http://www.hayati.ipb.com Goodman & Gilman, 2007. Farmakologi Dan Terapi. EDISI ke-10. Vol 2. ITB. Jakarta

38

SCIENTIA VOL. 1 NO. 1 2010 ISSN : 2087-5045

AKTIVITAS ANTI INFLAMASI EKSTRAK ETANOL DAUN KEMBANG BULAN ( Tithonia diversifolia. A. Gray ) TERHADAP MENCIT PUTIH BETINA Verawati, Mimi Aria, Novicaresa M. Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia (STIFI) Perintis ABSTRACT The effect anti inflammatory of leaves aethanolic extract of the kembang bulan (Tithonia diversifolia A.Gray) by topically on female white mice by using modification methode between making edema and granuloma pouch. Inductioned by injection of carragenin 2 % b/v in NaCl fisiologis subcutaneously.The extract was given topically as ointment for 4 days in various concentration they are 1 %, 2,5% and 5 %. The parameter were observed edema volume, totally of leucocytes cell on edema and blood on white female mice. The result of research showed that leaves aethanolic extract of the kembang bulan (Tithonia diversifolia A.Gray) gives topically anti inflammatory effect by increasing the concentration it can reduced the edema volume and gives effect on decreased of leucocytes cell on oedema and can increased neutrofil cells and limpocyt cells on blood significantly (P<0,05). The maximal effect of anti inflammatory was given by concentration 5 % with the lowest edema volume 0,03 ml more than effect anti inflammatory of hidrocortison acetat 2,5 % with edema volume 0,08 ml. Keywords : Tithonia diversifolia, anti-inflammatory, edema

PENDAHULUAN Tumbuhan adalah gudang bahan kimia yang memiliki berbagai manfaat termasuk untuk obat berbagai penyakit. Oleh karena itu saat ini banyak para peneliti berusaha untuk mengisolasi senyawa kimia dari tumbuh-tumbuhan tersebut guna dimanfaatkan dalam bidang pengobatan. Penggunaan tumbuh-tumbuhan sebagai obat tradisional mempunyai keunggulan antara lain dalam hal khasiat yang lebih baik serta efek samping yang lebih kecil dari pada obat berbahan kimia murni. Saat ini tanaman obat tradisional masih berperan sebagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan dasar penduduk di bidang kesehatan (Wijaya et al, 1995; Donatus, 1983). Tumbuhan yang merupakan bahan baku obat tradisional tersebut tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia, baik itu tumbuhan asli Indonesia, maupun tumbuhan asli

luar negeri yang tumbuh dan dikembangkan di Indonesia. Salah satu tumbuhan tersebut adalah bunga kembang bulan (Tithonia diversifolia A. Gray) atau secara tradisional dikenal sebagai Bunga Busuk, Bunga Kipait, dari Family: Asteraceae (Hanum, 2002). Selain itu dari penelitian sebelumnya diketahui bahwa tumbuhan T.diversifolia aktif sebagai anti bakteri ( Dewi,2010 ), seperti kita ketahui salah satu sebab inflamasi bisa disebabkan oleh bakteri. Bagian yang dimanfaatkan dari tumbuhan T. diversifolia sebagai sumber zat kimia, yang digunakan untuk pengobatan tradisional biasanya adalah bagian daun, tapi dapat juga menggunakan kulit akar dan batang. Daun dari tumbuhan T. diversifolia ini mengandung senyawa alkaloid, terpenoid, flavonoid, saponin, tanin, serta polifenol. Manfaat dari daun T.

39

SCIENTIA VOL. 1 NO. 1 2010 ISSN : 2087-5045

diversifolia ini secara tradisional biasanya digunakan sebagai obat sakit perut, kembung, diare dan digunakan sebagai obat luka dan anti radang(antiinflamasi) (Dalimartha, 2000). Berdasarkan penggunaan daun T. diversifolia secara tradisional sebagai anti-inflamasi dan penelitian sebelumnya mengenai antibakteri, maka perlu dilakukan penelitian secara ilmiah dengan menguji aktivitas anti inflamasi ekstrak daun T. diversifolia terhadap mencit putih betina dengan menggunakan metode modifikasi antara metode edema buatan dengan “granuloma pouch” (Gryglewsky, 1997; Domer, 1971). Parameternya adalah pengukuran volume edema buatan pada bagian punggung mencit putih dan penentuan jumlah sel leukosit pada tempat terjadinya inflamasi dan darah (Winter, 1962).

Ekstraksi sampel Sebanyak 1,5 kg daun kembang bulan segar dicuci bersih kemudian dilakukan pengeringan tanpa sinar matahari (kering angin). Setelah kering dilakukan penyerbukan dengan cara pemblenderan dan dimaserasi dengan etanol 70 % selama 3x3 hari dan disaring. Filtrat diuapkan secara vakum sehingga diperoleh ekstrak kental etanol. Pembuatan Sediaan Uji Ekstrak daun kembang bulan ditimbang sesuai dengan konsentrasi yang akan dibuat lalu digerus halus dalam lumpang,kemudian tambahkan vaselin flava sedikit demi sedikit sambil digerus sehingga didapatkan massa yang homogen. Sediaan uji terdiri atas 3 macam konsentrasi yaitu 1 % b/b; 2,5 % b/b dan 5 % b/b. Pembanding yang digunakan adalah hidrokortison asetat dengan konsentrasi 2,5 % b/b.

METODOLOGI PENELITIAN Alat

Pembuatan Larutan Penginduksi Alat- alat yang digunakan yaitu : rotary evaporator, botol maserasi, jarum suntik 5 ml, jarum suntik 1 ml, gunting bedah, timbangan hewan, lumpang dan stamfer, gelas ukur, alat cukur, spidol, kandang hewan, dan lainlain. Bahan Bahan yang digunakan yaitu daun kembang bulan, etanol 70%, air suling, vaselin flava, NaCl fisiologis, karagen, krim perontok bulu dan hidrokortison asetat (serbuk). Hewan yang digunakan adalah mencit putih betina dengan berat 20-30 g sebanyak 25 ekor, dimana masing – masingnya dibagi menjadi 5 kelompok Timbang karagen sebanyak 1 gram, lalu gerus halus dalam lumpang kemudian sedikit demi sedikit ditambah NaCl fisiologis 50 ml sambil digerus homogen, maka konsentrasi karagen yang diperoleh adalah 2% . Penginduksian Udem a. Mencit dicukur bulu bagian punggungnya dengan diameter ± 3 cm,. Mulanya dipotong dengan gunting, selanjutnya untuk menghilangkan bulu yang masih tersisa dioleskan krim perontok bulu, sehingga bulunya betul-betul hilang. Biarkan selama 24 jam. b. Pada bahagian punggung yang dicukur disuntikkan dengan udara sebanyak 5 ml secara subkutan sehingga terbentuk kantong udara

40

Selanjutnya ditambahkan larutan karagen 2 % dalam NaCl fisiologis sebanyak 0. limfosit. biarkan 5 menit. Analisa Data Untuk menganalisa data hasil penelitian yang diperoleh dari semua parameter akan digunakan analisa variansi (ANOVA) satu arah. Hitung jumlah sel neutrofil. a. 1 NO. Pengukuran Dilakukan Parameter yang darah.2 ml pada tempat yang ada kantong udara tersebut. Pada kelompok kontrol hanya diberikan vaselin flava saja. Pemberian Sediaan Uji Sediaan uji diberikan dengan cara mengoleskan secara merata pada daerah yang terbentuk kantong udara (daerah yang dicukur) sebanyak 200 mg (dalam bentuk salep) dengan diameter ± 3 cm segera setelah pemberian karagen 2% dalam NaCl fisiologis sebanyak 0.2 ml. Tambahkan satu tetes larutan Giemsa yang telah diencerkan dengan air suling (1 : 20) dan biarkan selama 20 menit. 1 2010 ISSN : 2087-5045 dan sekaligus disuntikkan juga 0. Penghitungan jumlah sel leukosit dalam hapusan darah dan cairan eksudat. Setelah kering tetesi dengan metanol. Setelah 24 jam kantong udara terbentuk dihisap udaranya dengan jarum suntik 5 ml sehingga kantong udara tersebut jadi kempes.SCIENTIA VOL. keringkan dan lihat dibawah mikroskop. sehingga melapisi seluruh lapisan 41 . lalu dikeringkan.1 ml karagen 2 % dalam NaCl fisiologis c. eusinofil. dan sel monosit. Selanjutnya obat diberikan lagi setiap hari selama 3 hari setelah pemberian pertama (obat diberikan selama 4 hari). b. Pengukuran volume radang Pada hari ke lima eksudat diambil dengan jarum suntik lalu diukur volumenya. Cuci dengan air suling. Darah atau cairan eksudat segar ditetesi pada gelas objek satu tetes dan ratakan dengan gelas objek yang lain sehingga diperoleh lapisan darah yang homogen (hapusan darah).

828 20 Limposit 41 40 46 45 42 42.085 0.Gray.924 59 60 61 63 60 60.40 4.894 3 5 1 1 3 2.11 0.40 0.07320 0.20 0.09 0.20 2.60 2.08 0.36 0.80 1.60 0.764 25 18 20 18 13 18.15 0.60 1.09100 0.Gray secara topikal Volume eksudat (ml) Konsentrasi (%) 1 2.39 0. secara topikal Jumlah Sel Konsentrasi 0% No 1 2 3 4 5 Neutrofil segmen 35 36 39 32 31 34.450 6 12 10 6 6 8.08 0.012247 Perlakuan 1 2 3 4 5 Rata-rata SD 0 0.00 0. Hasil perhitungan sel leukosit dari eksudat punggung mencit betina setelah pemberian ekstrak daun Tithonia diversifolia A. Hasil pengukuran volume eksudat dari radang punggung mencit putih betina setelah pemberian ekstrak daun Tithonia diversifolia A.013416 0.5 5 0.80 1.08600 0.04 0.673 3 Monosit 20 21 12 21 25 19.03 0.06 0.5 0.11 0.5 % 1 2 3 4 5 Rata-rata SD 5% 1 2 3 4 5 Rata-rata SD Hidrokortison 1 42 .588 29 25 26 28 30 27.074 13 Eosinofil 1 1 2 1 1 1.278 55 51 53 54 56 53.00 2.40 0.09 0.40 4.324 6 7 13 13 3 8.60 0.04 0.1 0.03 0. 1 NO.50 0.588 30 29 30 31 34 30.894 3 2 1 1 1 1.01 0.673 5 2 1 1 3 2.548 1 Rata-rata SD 1% 1 2 3 4 5 Rata-rata SD 2.068337 Hk as 2.40 0.924 35 36 32 31 37 34.80 4. 1 2010 ISSN : 2087-5045 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Tabel I.000 1 1 2 2 1 1.517 63 Neutrofil batang 3 2 1 1 1 1.60 3.80 4.07 0.056667 0.1 0.51 0.60 1.03000 0.40 1.43200 0.SCIENTIA VOL.548 1 1 1 1 1 1.447 2 2 1 1 1 1.80 2.05 0.011402 Tabel II.05 0.08 0.209 40 49 48 49 51 47.

362 15 17 20 21 17.00 0.80 6.924 3.00 4.20 0.347 1 1 1 1 1.447 1 1 1 2 1 1. 1 2010 ISSN : 2087-5045 asetat 2.301 27 29 30 20 33 27.Gray secara topikal Jumlah Sel Neutrofil Monosit batang 1 17 2 18 0 16 1 17 2 17 1.837 0.894 2.80 0.924 25 27 25 26 25 25.80 3.60 3.60 0.837 17 21 19 26 20.5 % 1 2 3 4 5 Rata-rata SD 5% 1 2 3 4 5 Rata-rata SD Hidrokortison asetat 2.5 % 1 2 3 4 5 Neutrofil segmen 50 49 52 53 50 50.20 0.771 2 1 1 2 1.128 62 60 65 76 61 64.707 5 3 2 10 1 10 1 5 0 6 1. Hasil perhitungan sel leukosit dari darah mencit putih betina setelah pemberian ekstrak daun Tithonia diversifolia A.00 0.000 Tabel III.894 0.114 3 5 1 8 1 3 1 2 1 3 1.40 4.40 3.00 2.5 % 2 3 4 5 Rata-rata SD 65 60 59 60 59.387 3 2 1 3 2 2 1 1 1 1 1.20 0.894 23 20 18 26 25 22.80 1.837 1 1 1 1 1 1.40 5.60 1.80 1.80 0.643 8 2 2 3 4.550 Konsentrasi 0% No 1 2 3 4 5 Rata-rata SD 1% 1 2 3 4 5 Rata-rata SD 2.20 3.80 1.000 1 2 1 1 1 1.535 Limposit 31 30 32 27 29 29.447 1 1 2 1 1 1.564 75 70 75 78 84 76.362 19 25 20 18 13 19.20 0.271 68 69 77 70 70 70.20 17.80 3.837 5 5 2 1 1 2 2.00 0.80 4.80 6.20 0.40 5.20 1.447 Rata-rata SD 43 .SCIENTIA VOL.868 Eosinofil 1 1 0 2 2 1. 1 NO.643 66 60 63 67 68 64.

monosit dan limposit mengalami penurunan yang disebabkan karena pembuluh darah di daerah radang memperoleh permeabelitasnya kembali. bahwa semakin besar konsentrasi ekstrak semakin efektif mengurangi volume edema. Dimana volume eksudat rata-rata mengalami penurunan sesuai dengan peningkatan dosis yang diberikan dibandingkan dengan kontrol positif yang hanya menggunakan vaselin flava saja. Ini berarti. kembali Sel leukosit yang memegang peranan penting dalam proses fagositosis pada jaringan yang rusak adalah neutrofil dan monosit. diversifolia memberikan efek anti inflamasi melalui kemampuannya menghambat dan mengurangi volume 44 .SCIENTIA VOL. Cairan yang sebelumnya telah dieksudasi diserap oleh pembuluh limfa dan sel-sel fagositik mengalami desintegrasi. Sedangkan efek pada konsentrasi 2. sehingga persentase jumlah sel leukosit dalam darah mendekati jumlah normal. diversifolia dapat mempengaruhi jumlah sel leukosit secara bermakna dengan peningkatan dosis dibandingkan dengan kontrol negatif. diperoleh suatu korelasi yang menunjukkan hubungan antara volume eksudat (ml) terhadap konsentrasi ekstrak (%). Hasil perhitungan jumlah sel leukosit pada cairan eksudat radang dan uji statistik dengan analisa varian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun T. dan terjadi pula penghentian migrasi leukosit. keluar melalui pembuluh limfe dan dihilangkan dari radang.5% dan 5% terhadap kontrol memberikan perbedaan yang sangat bermakna (p < 0. Sedangkan pada jumlah sel eosinofil. Dimana terjadi peningkatan jumlah sel neutrofil segmen dibandingkan dengan kontrol negatif.5%. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Pembahasan Pemberian sediaan uji dengan dosis konsentrasi 1% ternyata telah memberikan efek anti-inflamasi. Hasil perhitungan jumlah sel leukosit dari uji statistik dengan analisa varian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun T. sehingga aliran cairan terhenti.5% terhadap penurunan derajat inflamasi menunjukkan efek yang lebih baik dibandingkan pembanding 2. diversifolia pada konsentrasi 1% dapat mengurangi dan menekan derajat inflamasi yang terjadi pada hewan percobaan. diversifolia mempengaruhi persentase jumlah sel leukosit.01). 2. Setelah pemberian ekstrak etanol daun T. Dari tiga dosis yang digunakan efek maksimum diberikan oleh dosis konsentrasi 5% yang ditandai dengan kecilnya volume eksudat yang didapatkan. Monosit dalam eksudat disebut makrofag yang merupakan sel yang bergerak aktif memberi respon secara kemotaksis. Ditinjau dari hasil penelitian yang telah dilakukan dan analisa data secara statistik ternyata ekstrak daun T. Dari hasil uji analisa varian dapat dilihat bahwa pada konsentrasi zat uji 1%. Eksudat merupakan cairan yang tertimbun dalam jaringan atau ruangan karena bertambahnya permeabelitas pembuluh darah. diversifolia secara topikal sesuai dosis. baik itu dalam eksudat maupun dalam darah. fagosit aktif dan mampu mematikan serta mencerna berbagai agen penyebab inflamasi pada jaringan yang rusak. Hidrokortison asetat dalam bentuk salep yang digunakan sebagai pembanding yang merupakan salah satu sediaan obat anti inflamasi yang bayak digunakan untuk mengobati reaksi peradangan pada kulit ternyata menunjukkan efek yang hampir sebanding dengan ekstrak daun T. dimana menyebabkan kenaikan jumlah sel leukosit dalam eksudat radang. 1 NO.

USA. Skripsi. C.Nat. 2000. Dewi. Tithonia diversifolia A. Cracow.R.. 1 2010 ISSN : 2087-5045 edema pada daerah radang. Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Indonesia. 1997. M. F. Padang. Trubus Agriwidya. 258. Fridah & van der Masen. Tagetes erecta L. I. S. Charles C. Jakarta.Gray. Thomas Publiser. Some Experimental Models for the Study of Inflamation and Anti Inflamatory Drugs. 2.. Wijaya K. Domer.. Wirian. E.Dalimartha dan A. A. Hanum. 2010. Departemen of Pharmacology. Springfield.H. Copernicus Academy of Medicine. diversifolia ) memiliki aktifitas anti inflamasi. 1962. diversifolia ) secara topikal ternyata dapat meningkatkan jumlah sel leukosit baik dalam cairan eksudat maupun dalam darah..SCIENTIA VOL. Ekstrak etanol daun kembang bulan ( T.. maka dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun T.. semakin bertambah pula aktifitas anti inflamasinya. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia.H.2002. S.. 1 NO. Gryglewsky. DAFTAR PUSTAKA Dalimartha. KESIMPULAN Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Jilid III.Prod p.A. Risley.W Nuss. diversifolia memiliki aktifitas sebagai anti inflamasi secara topikal.. Fakultas Farmasi Gajah Mada.p. Pemberian ekstrak etanol daun kembang bulan ( T. dan mempengaruhi migrasi serta jumlah sel leukosit pada darah dan eksudat.297-298. Aktifitas Anti mikroba dari Elephantropus scober L. 1995 Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia... Winter. Risalah Simposium Penelitian Tumbuhan Obat III. I. Jakarta. Donatus. Oleh Husin. Dengan bertambahnya konsentrasi ekstrak. Auxiliary Plants. Pustaka Kartini. IIIonis. CarrageninInduced Edema in Hind Paw of Rat Asam Assay For anti Inflamantory Days. Hal ini dilihat dari penurunan volume eksudat pada radang punggung mencit putih betina yang di berikan secara topikal. Yogyakarta.R. 1983 Pengembangan Farmakologi Dalam Pengembangan Obat Tradisional. R. J.A and G. J.544547. Proceding A Society For Experimental Biology and Medicine III. 45 . Animal Experiment in Pharmacological Basis of Therapeutic.M. 1971.S. Poland. LIG.

2006). Fresh milk (A) was frut into two bamboo tubes ( tube of B and tube of C ) until becomed as ” dadih”. was kept in room temperature and tube of C was kept in refrigenerator for 2. Analysis of one ANOVA showed that there was a significance value ( P < 0.4 and 6 days method of t-Test. maka dilakukan penelitian tentang pengaruh lama penyimpanan pada suhu kamar dan lemari pendingin terhadap kadar protein pada dadih kerbau dengan metoda 46 . Protein juga berfungsi sebagai pengatur dalam metabolisme tubuh. A. Masyarakat dalam memenuhi kebutuhan protein lebih banyak mengkonsumsi sumber protein hewani karena mengandung protein yang tinggi. Salah satu sumber protein hewani yang sering dikonsumsi adalah dadih.05) of protein concentration be tween 2. aroma. Usman. kadar air. Sawitri dan Muharlien.05) on each days (2. Susu kerbau yang diperah langsung dimasukkan kedalam tabung bambu sebagai wadahnya kemudian ditutup dengan daun pisang. Komponen fisik dan kimia bambu yang meliputi sifat permeabilitas. Sugianto.4 and 6 days. dadih. hal ini akan menurunkan mutu dari dadih tersebut. anak-anak. Dadih merupakan produk susu fermentasi tradisional khas Minangkabau Sumatra Barat yang proses pembuatannya sangat sederhana. S. Almatsier. 2008. Padang ABSTRACT The research about the influence of duration time in room temperature and refrigerator to protein consentration a” dadih” by Kjeldahl method had been done. The research showed that protein concentration in room temperature and refrigenerator reduced. D. Dadih ini banyak dijual dipasar tradisional namun berdasarkan pengamatan. 1 2010 ISSN : 2087-5045 PENGARUH LAMA PENYIMPANAN PADA SUHU KAMAR DAN LEMARI PENDINGIN TERHADAP KANDUNGAN PROTEIN PADA DADIH KERBAU DENGAN METODA KJELDAHL Regina Andayani1). skemed that concentration for protein in room temperature and refrigerator were significance difference (P < 0. Kondisi ini didiamkan secara alami selama 2 hari dalam suhu ruang sampai terbentuk gumpalan.SCIENTIA VOL. 2007.. 1 NO. Berdasarkan hal di atas. 2004. zat warna dan garam anorganik yang terdapat pada jaringan bambu. Wiwit Gustiva 2) 1) Fakultas Farmasi Universitas Andalas. dadih banyak disimpan ditempat terbuka bahkan terkena cahaya matahari.4 and 6 days). plastik dan ada yang tidak ditutup sama sekali. Padang 2) Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Perintis. berperan dalam menentukan mutu dadih (Susilorini. metode Kjeldahl PENDAHULUAN Protein dalam tubuh berguna sebagai zat pembangun atau pertumbuhan karena protein merupakan pembentuk jaringan baru dalam tubuh terutama pada bayi.. Revi Yenti2). Tube of B. T. ibu hamil. M. A.. Keywords : Protein.E. 2001).. 1986. Selain itu protein juga merupakan komponen pembentuk antibodi untuk mempertahankan daya tahan tubuh (Detama.E. Grinda. ibu menyusui dan orang yang baru sembuh dari penyakit.

seperangkat alat destilasi. tabung bambu dengan panjang 20 cm dan daun pisang. Pengolahan sampel Sampel A susu kerbau segar diperiksa kadar proteinnya. CuSO45H2O). Masing-masing tabung diperiksa kadar proteinnya pada hari ke 2. neraca analitik. Ambil 1 ml sampel tambahkan 1 ml pereaksi Ninhidrin kemudian dipanaskan. Ninhidrin dan Xanthoprotein Uji kualitatif protein dilakukan pada susu segar dan dadih dengan menggunakan metode Biuret. fenolftalein. kemudian tambahkan beberapa tetes larutan CuSO4 0. Disiapkan masing-masing larutan sampel 2 % dalam air. asam nitrat pekat (HNO3) dan asam sulfat (H2SO4). alkohol). Uji kualitatif dengan menggunakan metoda Biuret. pereaksi ninhidrin. 1. kemudian dimasukkan ke dalam 2 buah tabung bambu (tabung B dan tabung C) masingmasingnya 250 ml. Metoda Ninhidrin Disiapkan masing-masing larutan sampel 2 % dalam air. Labu Kjedhal dipanaskan diatas pemanas listrik 47 .51 gram sampel masukkan dalam labu Kjeldahl 100 ml. De Man.. 3..SCIENTIA VOL. gelas ukur.5 ml H2SO4 pekat. J.. ke 4 dan ke 6 setelah menjadi dadih. A. asam klorida p. pipet gondok. larutan merah metil. campuran selenium (serbuk SeO2. seperangkat alat titrasi dan mikroburet. A. K2SO4. spatel. CuSO4. T. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Kjeldahl sehingga dapat diketahui perubahan kuantitas protein dadih tersebut. Ninhidrin dan Xanthoprotein.1% kocok. 1995). D. Reaksi positif ditunjukkan dengan terbentuknya warna ungu (Robinson. Kemudian dibiarkan selama 2 x 24 jam sampai menjadi dadih. Alat Labu Kjeldhal 100 ml. NaOH. asam borat (H3BO3). 2004). tambahkan 1 gram campuran selenium dan 12. 1 NO.. Uji kuantitatif dengan menggunakan metoda Kjeldahl Cara kerja untuk masing-masing sampel sebagai berikut (SNI 01-2891-1992) : a. Reaksi positif ditunjukkan dengan terbentuknya warna biru ( Grinda. aquadest. A. natrium tetraborat (Na2 B4O7). indikator campuran (larutan bromocresol green. pemanas listrik atau pembakar. Metoda xanthoprotein Disiapkan masing-masing larutan sampel 2 % dalam air. 1986). Metoda Kjeldahl merupakan metoda yang umum digunakan untuk menentukan kadar protein pada makanan (Detama. 1986.a (Merck). 2. Reaksi positif ditunjukan dengan terbentuknya endapan putih yang segera menjadi kuning (Grinda.M. Metoda Biuret METODA PENELITIAN Bahan Susu kerbau diambil dari tempat pemerahan susu di daerah Air Dingin Solok pada satu ekor kerbau. 1999). Sampel tabung B dadih yang disimpan pada suhu kamar dan sampel tabung C dadih yang disimpan pada lemari pendingin. Ambil 1 ml asam nitrat pekat kemudian dipanaskan. Ambil 1 ml sampel tambahkan 1 ml NaOH 10 %. erlenmeyer 250.. Tahap Destruksi Ditimbang sebanyak 0.

Destilasi ini dilakukan sebanyak 3 x pengulangan. Labu destilasi dipasang dan dihubungkan dengan kondensor dan ujung kondensor %N % protein Keterangan : V1 V2 N W Fp = harus terbenam dalam cairan penampung. 48 . Pengolahan Data Penentuan kadar protein dapat dihitung setelah diketahui persentase kadar nitrogen yang terdapat dalam sampel dan dikalikan dengan faktor konversi: (SNI 01-2891-1992) (V1 . Titik akhir ditandai dengan perubahan warna hijau menjadi merah muda. Ninhidrin dan Xanthoprotein menunjukkan hasil bahwa pada susu segar dan dadih terdapat protein. Tahap Titrasi Hasil destilasi dipindahkan dalam erlemeyer. Tahap Destilasi Larutan hasil destruksi dipipet 50 ml masukkan kedalam labu destilasi.1 N untuk titrasi larutan sampel (ml) Volume HCL 0. Periksa dengan kertas lakmus. 1 NO.SCIENTIA VOL. Kemudian lakukan titrasi dengan HCl 0.38 = = = = = Volume HCL 0.1 N untuk titrasi larutan Blangko (ml) Normalitas HCL Bobot sampel ( gram ) Faktor pengenceran ( 5 kali ) HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil uji kualitatif dari susu segar dan dadih dengan menggunakan metode Biuret. Didalam kondensor uap akan mengalir menuju penampung.V2) x N x 0. Penyulingan diakhiri jika hasil destilasi sudah tak bersifat basa lagi. sebagai penampung gunakan 25 ml asam borat 2 % yang telah ditetesi indikator campuran.014 x fp x 100 W = % N x faktor 6. dimana sampel diganti dengan aquadest.1 N menggunakan mikroburet. Untuk blangko dilakukan dengan cara yang sama. Hasil akhir destruksi didinginkan kemudian encerkan dan masukkan ke dalam labu ukur 250 ml. b. 1 2010 ISSN : 2087-5045 mula-mula pada suhu 40oC kemudian suhu dinaikkan secara perlahan-lahan sampai 280oC. kemudian tambahkan 30 ml NaOH 30 % dan beberapa tetes indikator PP. Ujung kondensor dibilas dengan aquadest. Hasil uji kualitatif dapat dilihat pada tabel1. c. maka ditambahkan H2O2 30% sebanyak 2 tetes destruksi dilanjutkan sampai didapat cairan jernih kehijauhijauan. Kemudian sulingkan selama lebih kurang 10 menit. Desrtuksi disini berlangsung selama 2 jam. Setelah destruksi berlangsung selama 30 menit belum didapatkan cairan hijau jernih. tepatkan sampai tanda batas.

Uji Kualitatif Sampel Susu Segar dan Dadih Sampel Susu segar Metoda Biuret Xantoprotein Ninhidrin Biuret Xantoprotein Ninhidrin Hasil Ungu Endapan putih Biru Ungu Endapan putih Biru Pengamatan Ungu Endapan putih Biru Ungu Endapan putih Biru Dadih Penelitian ini menggunakan metoda Kjeldahl karena umumnya metoda ini digunakan untuk penentuan analisis protein pada makanan. Hasil uji anova satu arah diperoleh nilai P yaitu 0.6331 05888 0.05) dengan nilai tersebut terdapat perbedaan yang bermakna kadar protein dadih pada penyimpanan suhu kamar setelah 2.0842 2. 6 pada lemari pendingin dan suhu kamar mengalami penurunan.05) yang berarti kadar protein dadih yang disimpan selama 2.6019 0. 4 dan 6 hari berbeda secara bermakna. 4 dan 6 hari demikian juga dengan penyimpanan pada lemari pendingin juga diperoleh nilai P yaitu 0. penyimpanan setelah 4 hari diperoleh nilai P yaitu 0.7562 ± 0.6699 0.5358 % Protein 4.048 ( P<0.5079 ± 0.007 ( P<0.000 ( P<0.5885 0. Dadih yang Disimpan pada Suhu Kamar dan Dadih yang Disimpan pada Lemari Pendingin Sampel Sampel A susu segar Setelah menjadi dadih Setelah 2 hari pada suhu kamar Setelah 4 hari pada suhu kamar Setelah 6 hari pada suhu kamar Setelah 2 hari pada lemari pendingin Setelah 4 hari pada lemari pendingin Setelah 6 hari pada lemari pendingin Berat Sampel (gr) 0.4509 ± 0.0357 3.468 0.SCIENTIA VOL. Data yang diperoleh juga dilakukan uji statistik dengan anova satu arah dan uji T student. Persentase Kadar Protein pada Susu Segar.0610 3. untuk susu yaitu 6.7065 0.05) dan penyimpanan setelah 6 hari diperoleh nilai P yaitu 0. Anggorodi.6150 0. 1994). kadar protein dadih yang disimpan pada suhu kamar dan lemari pendingin pada penyimpanan setelah 2 hari diperoleh nilai P yaitu 0. Metoda ini mempunyai kelemahan dimana unsur N yang terdapat pada protein juga ikut teranalisis sehingga kadar protein yang diperoleh adalah kadar protein kasar (Crud protein) dan bukan protein murni (Grinda. Sedangkan kadar protein dadih yang disimpan hari ke 2. gambar 1 dan gambar 2.6603 0.0391 ± 0. Anggorodi. Setelah diketahui persentase nitrogen yang terdapat pada sampel. 1986.9240 ± 0.5079 %. Kadar protein yang diperoleh pada susu segar adalah 4.9858 ± 0.5914 0.0467 4.5829 0. dadih yang disimpan pada suhu kamar dan dadih yang disimpan pada lemari pendingin dapat dilihat pada tabel 2.05) . 1 2010 ISSN : 2087-5045 Tabel 1. 1 NO. A. Pada uji T terdapat perbedaan yang bermakna.0581 49 .5797 0.0392 3.0613 3.0939 4. untuk menentukan kadar protein dikalikan dengan faktor konversi.38 (SNI 01-2891-1992. 1984.2741 ± 0.5608 0.002(P <0.4188 ± 0. Sidarmadji.6190 %N 0.000 ( P<0. 1994).. Hasil persentase kadar protein pada susu segar.5408 0. 4.05). Tabel 2.

. Tidak semuanya orang dapat mencerna susu dengan baik karena gangguan pencernaan yang timbul setelah mengkonsumsi susu karena tidak terpecahnya laktosa (gula susu) menjadi komponen-komponen sederhana yang dapat diserap oleh tubuh yaitu monosakarida. dan M. 1 NO.A. KESIMPULAN DAN SARAN Kadar protein dadih sangat dipengaruhi oleh lama dan tempat penyimpanan. 1987). Tetapi pada kenyataannya orang 50 lebih banyak mengkonsumsi dadih dari pada susu segarnya disebabkan karena aroma susu yang khas dapat menimbulkan rasa mual maka perlu dibuat susu fermentasi sehingga terjadi perubahan fisik dan kimiawi susu. G. Pada data yang didapat terlihat bahwa susu segar kerbau mempunyai kadar proteinnya lebih tinggi dari pada dadih. Wooton. Edwards.H. streptococcus dan lactococus aktif melakukan proses proteolitik dan lepolitik menjadi substansi yang bisa dimanfaatkan oleh bakteri misalnya energi. pada mekanisme perubahan tersebut biasanya akan menghasilkan air dan secara otomatis konsentrasi protein dalam produk fermentasi akan menurun (Bucle. bakteri asam laktat lactobacillus. 2004). glukosa dan galaktosa (Sisriyenni. Penurunan kadar protein ini terjadi karena selama proses fermentasi. R. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Gambar 1. Fleet. Grafik kadar protein pada dadih yang simpan pada suhu kamar Gambar 2.A.. Grafik kadar protein pada dadih yang disimpan dalam lemari pendingin Dari data dan grafik yang didapat terlihat jelas bahwa semakin lama penyimpanan maka kadar protein semakin menurun. D. Semakin lama waktu ..SCIENTIA VOL. K. Zurriyati Y.

UI Press. G. D. Sugianto. Susilorini. 1995. E. A. Penerbit PT. Gramedia. Anggorodi. Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Edwards. Jakarata. Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. 2001. No 2. Bandung. Y. 1984. Vol 2. Robinson. Vol 5. Jurnal Natur. Penerbit ITB. R. 2008.. E. Kimia Makanan.SCIENTIA VOL. Penerbit Liberty... H. Prosedur Analisa untuk Bahan Makanan dan Pertanian. II. 2004 Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi. j. Muharlien. Susu Kerbau Fermentasi Mampu Menurunkan Kolesterol. M. M..2006. Detama. Bandung. litbang deptan.. 1986. 1 NO. Jakarta. Budi Daya 22 Ternak Potensial. S. Gramedia Pustaka Utama. Ed. Prinsip Dasar Ilmu Gizi . D. Penerbit Institut Teknologi Bandung. Departemen Perindustrian. De Man. Jakarta. A.. 1994. Fleet dan M Wooton. Usman. 51 . T. Zurriyati.VI. Dadih yang disimpan pada lemari pendingin lebih tinggi kadar proteinnya dari pada dadih yang disimpan pada suhu kamar. Ilmu Pangan. Ilmu Makanan Ternak Umum. Jilid I. Yogyakarta. Sudarmadji. SNI 01-2891-1992. Jakarta. Biokimia I . No 2. 2007. Cara Uji Makanan dan Minuman. hal ini disebabkan karena dadih pada suhu kamar mudah terkontaminasi dengan mikroorganisme lain selain bakteri penghasil asam laktat sehingga dapat mempengaruhi kadar protein. A. 1 2010 ISSN : 2087-5045 penyimpanan maka kadar protein pun semakin menurun. 2004. Grindra. 1987. Dadih / dadiah. Kajian kualitas dadih susu kerbau didalam tabung bambu dan tabung plastik. Pengolahan Dadih Sebagai Makanan Probiotik Spesifik Sumatera Barat. Sawitri. Jakarta. DAFTAR PUSTAKA Almatsier. Penerbit Dian Rakyat. Buckle.. T.. K. Penerbit Penebar Swadaya. Sisriyenni. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi. Jakarta. A. Ed. Artikel. Pusat Standarisasi Industri. 1999.

Keywords : Phyllanthus niruri L. Martinus 2) Fakultas Farmasi Universitas Andalas Padang. 1987). phyllochrysine). dan fitofarmaka. 70:30. 2) Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Perintis Padang ABSTRAK Effect of ethanol:water ratio as extraction solvent on obtaining of extractive material. terpen (cymene. nitretalin. Badan Pengawasan Obat). peluruh kencing. physetinglucosid). astragalin. menerangkan penglihatan dan penambah nafsu makan (Heyne. 52 . Herba meniran berkhasiat membersihkan hati. bahan baku dan produk jadinya telah distandarisasi. antioxidant. lignan (phyllanthine. phenolic content and antioxidant activity in Phyllanthus niruri L. Jamu adalah ramuan tradisional yang belum teruji secara klinis. etnosecurinina. Among the ethanol:water ratio tested. alkaloid (norsecurinine. dan mineral terutama kalium (Joshi.) (Nurkhasana. Than.) 1) Harrizul Riva’I 1). Satyanarayana. hypophyllanthine. nirathin. The ethanol:water ratio tested were 100:0. nirphylline. peluruh dahak. N. damar. obat herbal terstandar. 2006. K. limonene. 1 NO. Obat-obatan yang terbuat dari bahan alam dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu jamu. 2005). 1986. tanin. Results revealed that ethanol:water ratio gave significant effect on extracted material. 1988. pereda demam. sedangkan obat herbal yang terstandar adalah yang sudah lulus uji pra klinis. 60:40 and 50:50.SCIENTIA VOL. anti radang. isoquercitin. rutine. 1 2010 ISSN : 2087-5045 PENGARUH PERBANDINGAN ETANOL AIR SEBAGAI PELARUT EKSTRAKSI TERHADAP PEROLEHAN KADAR FENOLAT DAN DAYA ANTIOKSIDAN HERBA MENIRAN (Phyllanthus niruri L. lupeol). herbs have been investigated. the best result was obtained by ethanol:water ratio 60:40 as extraction solvent for Pyhllanthus niruri L. phyltetralin. Herba meniran mengandung senyawa flavonoid (quarcetin. 4-metoxy-norsecurinine. N. Sementara fitofarmaka adalah suatu sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dan uji klinik. lintretalin. niruri. phenolic content and antioxidant activity (p<0. peluruh haid. 80:20.05). niruriside). herbs to obtain phenolic compound which has antioxidant activity. phenolic PENDAHULUAN Pengembangan bahan obat alam meliputi pengembangan budidayanya sehingga menghasilkan simplisia dengan kualitas yang unggul serta pengembangan cara produksi dan bentuk-bentuk sediaan dari obat-obat tradisional. quercitrin. Salah satu bahan baku simplisia yang akan dipakai untuk membuat fitofarmaka ini adalah herba meniran (Phyllanthus niruri L.

maserat dipisahkan dan sisanya dimaserasi lagi beberapa kali dengan jenis dan jumlah pelarut yang sama. 2004). cairan atas diambil kemudian diuapkan dengan rotary evaporator pada suhu 40 0C dan ditimbang. dalam botol meserasi yang berwarna gelap. 70:30. labu ukur. Uapkan larutan sampel di water bath. Bahan – bahan Bahan yang digunakan adalah tanaman herba meniran (Pyllanthus niruri L. diendaptuangkan. 60:40. 50:50. spatel. batang pengaduk. asam galat. cawan penguap. lalu tambahkan metanol sampai tanda batas kemudian dipipet 17.SCIENTIA VOL. 2007) Ditimbang 5. Hitung kadar ekstraktif sampel.). 1978. sambil sekalisekali diaduk.a (Merck).1. kemudian keringkan dalam oven pada suhu 105 0C selama 1 jam kemudian setelah dingin ditimbang.5 mL larutan DPPH masukkan dalam labu ukur 50 53 . Semua maserat dikumpulkan. Larutan Natrium Karbonat 1 M (Mosquera.1-diphenyl-2-picrylhydrazyl) p. 1 2010 ISSN : 2087-5045 METODOLOGI PENELITIAN Alat – alat Alat yang digunakan adalah Rotary Evaporator (RVO6-ML kika werke). biarkan Berat Sampel Pembuatan Reagen a. masukkan dalam cawan penguap yang sudah ditara. spektrofotometer UV-Visible mini 1240 (Shimadzu®).a (Merck). sebelum dianalisa ekstrak dilarutkan dengan campuran etanol dan air suling sama banyak (1:1) dalam labu ukur 50 mL (Harbone.1-diphenyl-2picrylhydrazyl) 35 µg/mL (Keinanen. Kertas saring Whatman No. 1 NO. etanol p. aluminium foil. pipet gondok. 80:20.).a (Merck). sampai cairan terakhir tidak berwarna. Pengambilan sampel selama 24 jam. 1996) Ditimbang 10 mg DPPH masukkan dalam labu ukur 100 mL. DPPH (1. Identifikasi Sampel Identifikasi sampel dilakukan di Herbarium Universitas Andalas (ANDA) dengan nomor koleksi FT-001. aduk hingga homogen. Larutan DPPH (1. Natrium Carbonat (Merck). corong. Badan Pengawasan Obat. timbangan digital analitik (Denver Instrument Company). aquadest. sampel yang akan dianalisa adalah bagian tumbuhan meniran yang berada di atas tanah (Pyhlanthus niruri L. dibersihkan kemudian dikering anginkan sampai kering kemudian diserbuk. Pembuatan Ekstrak Sampel 5 g herba meniran yang telah diserbuk direndam dengan 50 mL etanol-air dengan perbandingan 100:0. Blender. % Ekstraktif = Berat Ekstrak x 100% Sampel diambil di sepanjang jalan Bypass Padang. Penentuan Kadar Ekstraktif Larutan Sampel Dari larutan sampel dipipet sebanyak 10 mL. pipet mikro.3 g Na2CO3 dilarutkan dalam aquadest sampai 50 mL. beaker glass. reagen Fenol folin-Ciocalteu (Merck). gelas ukur. b. metanol p. erlenmeyer. diamkan selama dua hari.

80 mg/mL.Pourmorad. Masingmasing konsentrasi larutan dipipet 0. 2007. 1 dan 1.5. 2007. Penentuan Panjang Gelombang Maksimum DPPH Pipet sebanyak 4 mL larutan DPPH 35 µg/mL. 60. Penentuan Panjang Gelombang Serapan Maksimum Asam Galat. Penentuan Kadar Senyawa Fenolat Dengan Metoda Folin-Ciocalteu (Mosquera.5 mL etanol 96% lalu tambahkan dengan air suling sampai tanda batas. biarkan selama 30 menit ditempat yang gelap. 70.5 mL ekstrak herba meniran kemudian masukkan kedalam vial. 50. Larutan asam galat 5 mg/mL (Sigma. 1 NO. Pembuatan Asam Galat Kurva Kalibrasi karbonat 1 M biarkan selama 15 menit. Masing-masing ke dalam vial larutan sampel dengan 50. dipipet sebanyak 2 mL lalu tambahkan 4 mL Dari larutan induk asam galat dipipet 0. 2005) Ditimbang 0. Pemeriksaan IC50 Larutan Sampel Dibuat konsentrasi 40. tambahkan 4 mL larutan natrium 54 . Diamkan selama 15 menit. lalu tambahkan metanol sampai tanda batas sehingga diperoleh larutan konsentrasi 35 µg/mL. 100 dan 125 µ g/mL asam galat. Kemudian dipipet 0. tambahkan 2. biarkan selama 15 menit. kemudian ukur serapan pada panjang gelombang 400-800 nm dengan spektrofotometer UV-Visebel. lakukan 3x pengulangan sehingga kadar fenolat yang didapat ekivalen dengan mg asam galat /g berat ekstrak kental herba meniran. Serapan larutan diukur dengan spektrofotometer UV-Visible pada panjang gelombang 400-800 nm. Uji Aktivitas Antioksidan Sampeldengan Metoda DPPH (Mosquera. c. a.5 mL diencerkan dengan etanol:air suling (1:1) dalam labu ukur 25 mL sampai tanda batas.25. Pipet 0. 75. Penentuan Kadar Senyawa Fenolat Total Dengan Metoda Folin-Ciocalteu Larutan sampel dipipet 0. ukur serapan maksimum pada panjang gelombang maksimum dengan spektorfotometer UV-Visibel yang akan memberikan komplek warna biru. 2006) a. 0. kocok homogen.5 mL dan dimasukkan ke dalam vial. ukur serapan dengan spektrofotometer UV-Visibel dan buat kurva kalibrasi sehingga persamaan regresi liniernya dapat dihitung. kemudian ditambahkan 5 mL pereaksi Folin-Ciocalteu yang sudah diencerkan 1:10 dengan aquadest dan 4 ml larutan natrium karbonat 1M. masukkan dalam vial dan ditambahkan 2 mL campuran air suling dan metanol (1:1). Pourmorad. tambahkan 5 mL reagen fenol FolinCiocalteu yang telah diencerkan dalam air suling 1:10 dan tambahkan 4 mL natrium karbonat 1 M.5 mL kemudian dicampur dengan 5 mL pereaksi Folin-Ciocalteu yang sudah diencerkan 1:10 dengan aquadest. diencerkan dengan campuran metanol:aquadest (1:1) dalam labu ukur 50 mL sampai tanda batas sehingga didapatkan konsentrasi 25. Pipet larutan induk asam galat (5 mg/mL) sebanyak 1 ml ke dalam labu ukur 50 mL lalu diencerkan dengan campuran metanol dan air suling (1:1) sampai tanda batas.75. 1 2010 ISSN : 2087-5045 mL.SCIENTIA VOL.25 mL. 0.125 g asam galat masukkan dalam labu ukur 25 mL. b. 2006) a.

IC50 larutan sampel adalah konsentrasi larutan sampel yang memberikan inhibisi sebesar 50% yang Pengolahan Data Secara Anova satu dapat dihitung menggunakan persamaan arah regresi linier yang telah diperoleh. 3. Abs Sampel : Serapan sampel ditambah DPPH dikurangi dengan serapan sampel blanko (sampel+metanol-air) tanpa DPPH pada panjang gelombang maksimum. 2. standar asam galat dengan metoda Hitung % inhibisi masingFolin-Ciocalteu yang diukur masingnya lalu buat kurva antara dengan spektrofotometer UVkonsentrasi larutan pembanding asam Visibel diperoleh serapan galat dan % inhibisi sehingga diperoleh maksimum pada panjang persamaan regresi liniernya. 4. (Anova) satu arah.03. Campuran dihomogenkan (Lampiran 5 Tabel 1). sehingga diperoleh persamaan regresi linier yang telah diperoleh. dibiarkan selama 30 menit di tempat gelap. 1 2010 ISSN : 2087-5045 larutan DPPH 35 µ g/mL. 0. 70:30. Hasil penentuan panjang gelombang maksimum larutan panjang gelombang maksimun. 80:20.SCIENTIA VOL.4% µg/mL. Penentuan IC50 Larutan Variansi (Anova) satu arah.05 mL larutan induk asam galat (5 mg/mL) yang HASIL DAN PEMBAHASAN kemudian dilarutkan dengan campuran metanol dan air (1:1) dalam labu ukur Hasil 50 mL sampai tanda batas. Kadar Pembanding Asam Galat fenolat total yang diperoleh dari beberapa konsentrasi pelarut ekstraksi Dibuat larutan pembanding etanol diuji dengan Analisa Variasi asam galat dengan konsentrasi 1. Serapan larutan diukur dengan spektrofotometer UV Visible pada 2.01%.04%.2%. 15. Pada perhitungan kadar ekstraktif dari beberapa perbandingan pelarut Pipet sebanyak 2 mL masingmasing dimasukkan ke dalam vial lalu etanol:air 100:0. IC50 asam 55 . 0. 60:40 dan 50:50 adalah 8. sampel x 100 % Abs.54% dan 9. kontrol Keterangan : Abs Kontrol : Serapan larutan radikal DPPH dengan metanol-air (tanpa ekstrak) pada panjang gelombang maksimum. Campuran dihomogenkan dibiarkan selama 30 menit di tempat gelap. regresi liniernya. dan 5 µg/mL dengan cara memipet 0.04 dan 0. Hitung % inhibisi dengan menggunakan rumus : % inhibisi = Abs. Data hasil penelitian akan diuji secara statistik menggunakan Analisa b. 16. kontrol − Abs. tambahkan 4 ml larutan DPPH 35 12. Serapan larutan diukur dengan spektrofotometer UV Visible pada panjang gelombang maksimun.02. 0. galat adalah kosentrasi larutan pembanding asam galat yang Lalu buat kurva antara memberikan inhibisi sebesar 50% yang konsentrasi larutan sampel dan % dapat dihitung menggunakan persamaan inhibisi.01. 1 NO. 1.

17. Hasil penentuan panjang gelombang maksimum larutan DPPH 35 µg/ml yang diukur dengan spektrofotometer UVVisibel diperoleh serapan maksimum pada panjang gelombang 518. Lampiran 10 Tabel VIII). Pembahasan Pada penelitian ini sampel yang digunakan adalah tanaman herba meniran. 4.82. Pada penentuan kadar senyawa fenolat total dari herba meniran dengan perbandingan pelarut etanol:air 100:0.44. Gambar 16. batas deteksi 11.654. 46.2804 µg/mL (Lampiran 8 Tabel VI. 43. Semua maserat dikumpulkan. 70:30.258 dan 37. Penentuan kadar senyawa fenolat total dengan metoda FolinCiocalteu.5 nm dengan serapan 0. Sampel yang telah kering di rendam dengan pelarut etanol:air dengan berbagai konsentrasi 100:0. dan batas kuantisasi 37.65 dan 51.21 mg/mL (Lampiran 17 Tabel XV.140 mg setara asam galat per gram sampel kering (Lampiran 12 Tabel IX). 70:30. diamkan selama dua hari dan diendaptuangkan. satu kali 24 jam dengan tiga kali pengulangan. 50:50. Sebelum diekstraksi tanaman herba meniran ini dikeringkan terlebih dahulu dengan cara kering angin hingga bobot konstan.0158+0. Tabel XII.733. Hasil perhitungan IC50 pada penentuan daya antioksidan dari larutan ekstrak herba meniran pada konsentrasi pelarut etanol:air 100:0. Hasil perhitungan IC50 larutan standar asam galat diperoleh 0. Tabel XIII. Timbang berat sampel dan dari data penimbangan didapatkan hasil presentase kadar air yang kecil dari 10%. Selanjutnya daun yang telah kering dihaluskan dengan cara digrinder. Lampiran 9 Tabel VII. Pada pengukuran absorban untuk penentuan kurva kalibrasi asam galat didapat persamaan regresi y = 0. 80:20. 6. Gambar 17.828 (Lampiran 15 Gambar 13).SCIENTIA VOL.006384x dengan simpangan baku 0. Hasil analisa data secara statistik pada penentuan kadar senyawa fenolat total menunjukkan bahwa pemkaian beberapa perbandingan pelarut ekstraksi etanol:air memberikan perbedaan yang signifikan terhadap kadar senyawa fenolat total herba meniran (Lampiran 13. sampel ditimbang sebanyak 2 gram dan masukkan ke dalam cawan penguap kemudian dimasukkan kedalam oven suhu 105 °C selama 1 jam. 53. 1 2010 ISSN : 2087-5045 gelombang 748 nm dengan serapan 0. Metoda ini dipilih karena 56 . Gambar 12).1842 µg/mL. Tabel X. 55. 70:30.635 (Lampiran 7 Gambar 9). Gambar 10. Gambar 14). Gambar 18. 5. 7. 80:20. Tabel XI. 42. 51. 3. setelah dingin ekstrak yang dianalisa dan dilarutkan dengan campuran etanol dan air suling sama banyak (1:1) dalam labu ukur 50 mL.947 µ g/mL (Lampiran 16 Tabel XIV. bagian diambil cairan bagian atas kemudian diuapkan dengan rotary evaporator pada suhu 40 0 C dan ditimbang.561.0238. 8. 60:40 dan 50:50 adalah 50. 1 NO. 80:20. Penentuan bobot konstan ditentukan dari kadar air. 60:40. 60:40 dan 50:50 adalah 38. Gambar 20). Gambar19. Ekstraksi dilakukan dengan mengunakan pelarut etanol 96% karena senyawa fenolat adalah senyawa yang polar dan merupakan pelarut yang relatif tidak toksik.

947 µ g/mL. 70.559 + 11. Daya antioksidan dapat ditentukan dari nilai IC50 yaitu konsentrasi senyawa antioksidan yang memberikan inhibisi sebesar 50%.006384x dan juga didapatkan simpang baku 0.0238. 50:50 didapatkan kadar senyawa fenolat 38. yang berarti bahwa pada konsentrasi tersebut antioksidan dapat menghambat radikal bebas sebesar 50%.21 57 . 100 dan 125 µg/mL.258. 50.82. 1 NO.44. Perbandingan pelarut ekstraksi etanol:air 100:0. dan 5 µg/mL. Pada larutan sampel diukur pada konsentrasi 40. Sesuai dengan prinsip kerja spektrofotometwer UV-Visibel yang mengabsorbsi larutan warna pada panjang gelombang 400-800 nm. 50.2807 µg/mL. Reaksi ini menyebabkan perubahan warna larutan DPPH dari ungu menjadi kuning. 1 2010 ISSN : 2087-5045 merupakan metoda yang spesifik. Senyawa yang mempunyai aktifitas antioksidan akan bereaksi dengan DPPH melalui pemberian elektron dari senyawa antioksidan kepada DPPH yang mempunyai elektron sunyi. Dari persamaan regresi ini dapat ditentukan kadar senyawa fenolat dari larutan sampel.733. 43. sehingga diperoleh persamaan regresi y = 39. 60:40.561. ini menunjukan bahwa pemakaian beberapa konsentrasi pelarut ekstraksi etanol:air memberikan perbedaan yang signifikan terhadap kadar senyawa fenolat total sampel.0158+0.000. Setelah didapatkan panjang gelombang maksimum. 3. Pada konsentrasi ini diperoleh panjang gelombang maksimum 518. sensitif terhadap senyawa fenol dan menggunakan reagen dalan jumlah yang sedikit serta dapat bereaksi dalam waktu yang singkat. Dari persamaan ini dapat dihitung nilai IC50 asam galat yaitu 0. 53. batas deteksi 11.140 mg/g.654. Daya antioksidan dapat ditentukan dengan menggunakan metoda DPPH. 46. dari absorban yang didapat maka dapat dihitung persen inhibisi DPPH. Perubahan inilah yang akan diukur serapannya dengan menggunakan spektrofotometer UV-Visibel. 37. dan 80 mg/ml.025x. Metoda ini dipilih karena mudah. sehingga elektron tersebut menjadi berpasangan. absorban ini digunakan sebagai kontrol.635. 42. 4. Hasil IC50 pada tiap-tiap kosentrasi pelarut etanol:air didapatkan 50. 80:20. sehingga didapat persamaan regresi y=0. peka dan hanya memerlukan sedikit sampel.5 nm dengan absorban 0.828. maka larutan komplek biru tua inilah yang akan ditentukan nilai absorbannya dengan panjang gelombang yang sesuai sehingga kadar dari larutan sampel dapat diketahui. cepat. 55. 75. Semakin rendah serapan maka semakin tinggi daya antioksidan dari larutan sampel. Pada penentuan kadar senyawa fenolat total ini digunakan asam galat yang panjang gelombangnya didapat adalah 748 nm dengan absorban 0. Reagen Folin-Ciocalteu ini akan membentuk larutan kompleks berwarna biru tua jika direaksikan dengan larutan sampel yang telah ditambahkan dengan natrium karbonat. 70:30.1842 µ g/mL dan batas kuantitasi 37. Untuk pengujian daya antioksidan senyawa fenolat digunakan DPPH dengan konsentrasi 35 µg/mL.17. 2. Dari kadar senyawa fenolat yang didapat maka dilakukan pengolahan data secara statistik dengan menggunakan metoda Anova satu arah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh perbandingan konsentrasi pelarut etanol:air terhadap perolehan kadar senyawa fenolat pada sampel. diukur absorban untuk penentuan kurva kalibrasi asam galat pada konsentrasi 25. Sebagai pembanding digunakan larutan asam galat dengan konsentrasi 1.65 dan 51. 51.SCIENTIA VOL. Pada pengolahan data secara statistik menggunakan anova satu arah diperoleh nilai significant 0. 60.

Kriteria dan Tatalaksana Pendaftaran Obat Tradisional.258 mg/g setara asam galat per gram sampel kering. 2007. J. Daya antioksidan yang paling kuat ditunjukkan oleh sampel pada campuran etanol:air 60:40 yang menggunakan ekstraksi dengan cara maserasi dapat dilihat dari nilai IC50 yang diperoleh yaitu 42. B. Balawants.SCIENTIA VOL. 2. J. Effect of Sampel Preparation Method on Birch (Betula Pendula Roth) Leaft Phenolics. Jakarta Mosquera M. Monografi Ekstrak Tumbuhan Obat Indonesia. Terbitan kedua. Rio de Janeiro. Hal 86-89. Diterjemahkan oleh K. 26-27. 1 2010 ISSN : 2087-5045 mg/mL. Tumbuhan Berguna Indonesia. Yayasan Sarana Wana Jaya. Kadar ekstraktif yang diperoleh paling tinggi pada perbandingan etanol:air 60:40 yaitu 16. 49. Gawad. Journal of Natural Products. Hal 82. Vol. Dilip H. no. Prosiding Persidangan Antarabangsa Pembangunan Aceh. M and R. Semakin besar kadar senyawa fenolat seamakin tinggi pula aktivitas antioksidan yang dihasilkannya DAFTAR PUSTAKA Departemen Kesehatan. S and William Pelletier. 4. vol 102(5) : 631-634. Diana C Buitrago and Jaime Nino. No : HK. Nilai IC50 yang semakin rendah menunjukkan daya antioksidan yang semakin kuat. Heyne. Finland. 44:2724-2727. Metoda Fitokimia : Penuntun Cara Menganalisis Tumbuhan.1384. an alkaloid from Phyllanthus niruri. Keinanen.Padmawinata dan I. 2004 Harbone. 1987. Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia.00. 1978. Badan POM Republik Indonesia. Mem Inst Oswaldo Cruz. J. cetakan ke-1. Agric. Antioxidant Activity of Twenty five Plants from Colombian Biodiversity.41. UKM Bangi. Analisa data menggunakan metoda anova satu arah menunjukan nilai signifikan P<0. KESIMPULAN 1. Jakarta. Dapat dilihat bahwa cara pemakaian pelarut dengan berbagai konsentrasi dapat memberikan pengaruh terhadap perolehan kadar senyawa fenolat dan pengukuran aktivitas antioksidan walaupun tidak memberikan perbedaan yang begitu besar. K. 58 . 3. Obat Herbal Terstandar dan Fitofarmaka.Soediro. Yaned M Correa.65 mg/mL. Food Chem. 614-620. 1986. Pada sampel dengan konsentrasi pelarut etanol:air 60:40 memperlihatkan kadar senyawa fenolat yang tinggi dan daya aktivitas antioksidan yang paling kuat dibandingkan dengan konsentrasi yang lain. 1 NO. pp. Nurkhasanah. Isolation and Structure (x-ray analysis) of Ent-norsecurinine. Joshi. ITB. Kadar senyawa fenolat yang paling tinggi diperoleh pada perbandingan etanol:air 60:40 yaitu 55.O. 1996.54%. 4. Bandung.05 yang berarti bahwa pemakaian beberapa perbandingan pelarut ekstraksi etanol:air yang dilakukan memberikan perbedaan yang signifikan terhadap kadar senyawa fenolat sampel.05. Titto. jilid II.. 2006. Bahan Obat Alam Sumber Pendapatan Pembangunan.

com. 1142-1145. 1-4 (2006). Hardeland. diakses : tgl 5 Februari 2005 Than N. S. Hosseinimerh and N. vol. F. and H.. 5 (11). received November 2. Poeggeler.. diambil dari http://www. 2006. S. a new antioxidant Flavone Sulfonic Acid from Phyllanthus niruri. Phenol and Flavonoid contents of some selected Iranian medical plants.Sigma –aldrich.SCIENTIA VOL. Laatsch. Niruriflavone. Folin&Ciocalteu’s Phenol Reagent. J. 1 NO. B. 61b. Sigma-Aldrich. Fosto. Sigma Prod No F-9252. African Journal of Biotechnology.pp. 59 . Antioxidant Activity.Shahabimajd. R. Z. 2005. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Pourmorad. N. Naturforsch.

Keywords : Drug utilization study. Menurut WHO Indonesia menempati urutan ke-4 terbesar dalam jumlah penderita diabetes melitus di dunia. sulfonilurea + inhibitor α glukosidase + insulin 4. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mempelajari jenis antidiabetika oral dan insulin yang digunakan dalam terapi kombinasi di rumah sakit.16%. PENDAHULUAN Tingkat prevalensi diabetes melitus cukup tinggi. Pada tahun 2000 yang lalu saja. 3 kombinasi yaitu: sulfonilurea + biguanida + insulin 50%. Diabetes melitus adalah suatu penyakit kronis yang di karakterisasikan oleh kelainan metabolisme karbohidrat. ACHMAD MOCHTAR BUKITTINGGI 1) Radjudin Dahlan.16%. dan mulai menonjol sebagai salah satu sebab morbiditas dan mortalitas di negara yang sedang berkembang. Achmad Mochtar Bukittinggi. Di sebabkan oleh defisiensi absolute atau relative dalam kerja insulin dan mungkin jumlah yang tinggi secara tidak normal dari glukagon “counter regulatory hormones” lain. Telah dilakukan penelitian tentang profil penggunaan kombinasi antidiabetika oral dengan insulin pada penderita diabetes melitus tipe 2 di SMF penyakit dalam RSUD Dr.34%. 1 NO. Sekresi insulin pada pasien penderita diabetes melitus tipe 1 adalah kurang dan sampai tidak ada sama sekali. Hal ini mungkin disebabkan minimnya informasi di masyarakat tentang diabetes melitus terutama gejala-gejalanya. Hansen Nasif 2) Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Perintis Padang. Namun. Hasil penelitian menunjukkan dari 24 rekam medik pasien terdapat penggunaan 2 kombinasi yaitu: sulfonilurea + insulin 33. dimana baru 50% yang sadar mengidapnya dan di antara mereka baru sekitar 30% yang datang berobat teratur. biguanida + insulin 8. amin-amin simpatomimetik dan kortikosteroid. Penelitian dilakukan secara retrospektif dengan menggunakan data rekam medik selama tahun 2006 dan 2007. 1 2010 ISSN : 2087-5045 PROFIL PENGGUNAAN KOMBINASI ANTI DIABETIKA ORAL DENGAN INSULIN PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 DI SMF PENYAKIT DALAM RSUD Dr. seperti hormon pertumbuhan. terdapat sekitar 5. sedangkan pada penderita diabetes 60 . 1). seperti di Indonesia. 2)Fakultas Farmasi Universitas Andalas Padang ABSTRAK Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit kronis yang disebabkan antara lain oleh defisiensi insulin yang dapat menimbulkan berbagai komplikasi sehingga memerlukan manajemen terapi yang intensif. pada tahun 2006 jumlah penderita diabetes melitus di Indonesia meningkat tajam menjadi 14 juta orang. lemak dan protein. type 2 diabetes mellitus. antidiabetic oral with insulin combination.6 juta penduduk Indonesia yang mengidap diabetes melitus.SCIENTIA VOL. inhibitor α glukosidase + insulin 4. descriptive-retrospective study.34%.

1987) Umur merupakan salah satu factor yang sangat penting dalam pengaruhnya terhadap prevalensi diabetes melitus. Menghitung persentase penggunaan obat. 2008) METODOLOGI PENELITIAN Alat dan Bahan Alat tulis. bahkan bisa berakibat fatal. Pengambilan Sampel Sampel penelitian dikumpulkan dari data rekam medik pasien diabetes melitus tipe 2 yang dirawat di SMF penyakit dalam RSUD Dr. tinggi atau rendah.6-13 % pada 2 jam setelah makan.SCIENTIA VOL. Achmad Mochtar Bukittinggi.(Mutschler. 2008. Menurut WHO setelah seseorang mencapai umur 30 tahun. 3. Lingkungan dan faktor sosial ekonomi masyarakat sangat berpengaruh terhadap penyakit ini. Penyakit ini berhubungan dengan suatu keadaan kekurangan insulin absolut atau relatif. 1991) Insulin adalah hormon yang dihasilkan oleh pankreas yang bertanggung jawab dalam merpertahankan kadar gula darah yang normal.(ISFI.(Sulaiman. Tanpa pengobatan yang baik diabetes melitus akan menyerang banyak organ penting dalam tubuh.(Tandra. Depkes RI 2006). selama tahun 2006 dan 2007. Pada penderita diabetes melitus glukosa sulit masuk ke dalam sel karena insulin yang ada di dalam tubuh sedikit atau tidak ada sama sekali. sedangkan kekurangan insulin relatif terjadi jika produksi insulin tidak sesuai dengan kebutuhannya. Prevalensi diabetes melitus naik bersama bertambahnya umur. Mencatat identitas pasien dan obat yang digunakan. dan akan naik sekitar 5. 1 NO. Analisa Data Data diperoleh dan dicatat kemudian dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus: P= S x 100 % N 61 . Insulin memasukkan gula ke dalam sel sehingga bisa menghasilkan energi atau disimpan sebagai cadangan energi. akibatnya kadar glukosa dalam darah menjadi tinggi. 2. Penyakit ini tidak menular tapi menahun. Achmad Mochtar Bukittinggi Prosedur Kerja 1. Rekam medik pasien Jenis Penelitian Penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif retrospektif Sumber Data Sumber data adalah diperoleh dari rekam medik pasien pengguna kombinasi antidiabetika oral dengan insulin pada penderita diabetes melitus tipe 2 di SMF penyakit dalam RSUD Dr. Kekurangan insulin absolut terjadi jika pankreas tidak berfungsi lagi untuk mensekresi insulin. Pengambilan data dari rekam medik pasien yang menggunakan kombinasi antidiabetika oral dengan insulin. 1 2010 ISSN : 2087-5045 melitus tipe 2 sekresi insulin dapat saja normal. maka kadar glukosa darah akan naik 1-2 % per tahun pada saat puasa.

34% c. Golongan sulfonilurea + biguanida + insulin = 50% b.16% Pembahasan Penggunaan obat kombinasi ini bertujuan untuk pencapaian efek obat yang sinergis dan lebih optimal dalam mengontrol kadar gula darah serta dapat menurunkan efek samping obat yang tidak diinginkan. 1. Golongan sulfonilurea + insulin = 33. Golongan inhibitor α glukosidase + insulin = 4. Golongan sulfonilurea + inhibitor α glukosidase + insulin = 4. namun semua pasien sangat penting untuk melanjutkan diet yang ketat untuk memaksimalkan khasiat sulfonilurea ini. Penelitian pada pasien diabetes melitus tipe 1 tidak memberikan bukti apapun bahwa kontrol glukosa diperbaiki oleh terapi kombinasi. Sulfonilurea juga dapat meningkatkan kadar insulin dengan cara mengurangi bersihan hormon dihati. Pencapaian efek manfaat terapi kombinasi adalah aktivitas residual sel beta. karena tidak merangsang atau menghambat perubahan glukosa menjadi lemak. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Keterangan: P = Persentase penggunaan kombinasi antidiabetika oral dengan insulin. Hasil pada pasien diabetes melitus tipe 2 menunjukkan perbaikan kontrol metabolisme. Metformin merupakan satu-satunya senyawa terapeutik golongan biguanida yang terbukti menurunkan kejadian makrovaskular pada pasien diabetes melitus tipe 2. 1 NO. dan durasi singkat diabetes melitus diperkirakan akan memberikan respon yang baik. Golongan biguanida + insulin = 8.34% b. Kombinasi 3 obat a. Sulfonilurea digunakan untuk mengendalikan hiperglikemia pada pasien diabetes melitus tipe 2 yang tidak dapat mencapai kontrol yang sesuai pada perubahan pola diet saja. S = Jumlah pasien pemakai kombinasi antidiabetika oral dengan insulin. Golongan biguanida yang diberikan tunggal atau kombinasi dengan sulfonilurea dapat memperbaiki kontrol glikemia dan konsentrasi lipid pada pasien yang merespon kurang baik terhadap diet atau sulfonilurea saja. Persentase penggunaan kombinasi antidiabetika oral dengan insulin pada penderita diabetes melitus tipe 2: pankreas. N = jumlah sampel keseluruhan. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Setelah dilakukan penelitian didapatkan hasil sebanyak 24 data. Biguanida tidak menyebabkan peningkatan berat badan. Kombinasi 2 obat a. Terapi kombinasi antidiabetika oral dengan insulin diberikan pada pasien diabetes melitus tipe 2 yang gagal mendapatkan efek terapi maksimum pada terapi oral. Kombinasi insulin dan sulfonilurea telah digunakan pada pasien diabetes melitus tipe 2. Pada penderita diabetes melitus yang gemuk ternyata pemberian biguanida dapat menurunkan berat badan dan oleh terapi apapun (insulin atau senyawa oral) dapat menyebabkan berkurangnya komplikasi mikrovaskular.SCIENTIA VOL. Sulfonilurea yang diberikan pada pasien diabetes melitus tipe 2 dapat meningkatkan sekresi insulin dari 62 .16% 2. Golongan biguanida yang dikombinasikan dengan insulin juga bermanfaat pada terapi resistensi insulin.

apabila dikombinasikan dengan insulin tentu akan memperparah keadaan. Namun. Inhibitor α glukosidase tidak menstimulasi pelepasan insulin. Pemakaian kombinasi ini memang efektif melihat cara kerja obat yang sinergis. Penggunaan kombinasi ini kurang efektif melihat efek samping yang ditimbulkan sulfonylurea yaitu hipoglikemia. 1 NO. Bila insulin dapat menaikkan berat badan. Kombinasi 2 obat golongan biguanida + insulin yaitu 63 . efek samping dari penggunaan kombinasi ini adalah gangguan perut seperti mual. sehingga tidak menyebabkan hipoglikemia.34%. Kedua golongan obat ini memiliki efek terhadap sensitivitas reseptor insulin. sehingga kombinasi keduanya mempunyai efek yang saling menunjang. Sebagian besar dikombinasikan lagi dengan insulin untuk pencapaian efek maksimum.SCIENTIA VOL. Suntikan insulin dibutuhkan karena insulin yang dihasilkan oleh pankreas belum dapat mengendalikan kadar glukosa darah. Inhibitor α gukosidase dapat memiliki efek yang besar terhadap kadar haemoglobin. biguanida menurunkan produksi glukosa di hati dan membantu hati sehingga lebih sensitif terhadap insulin dan insulin dapat bekerja dengan baik. yaitu sulfonilurea + insulin sebanyak 33. Sulfonilurea akan mengawali dengan merangsang sekresi pankreas yang memberikan kesempatan untuk senyawa biguanida bekerja aktif. Sebagian besar penderita diabetes melitus yang gagal diobati dengan sulfonilurea dapat ditolong dengan biguanida. Terapi kombinasi yang umum adalah antara golongan sulfonilurea dengan biguanida. disamping itu sulfonilurea juga dapat meningkatkan berat badan dan resiko komplikasi juga dapat meningkat. Metformin dari golonga biguanida juga tidak menaikkan berat badan. Kombinasi 3 obat ini digunakan karena bekerja saling menguntungkan. pada pasien diabetes melitus tipe 2 hiperglikemia yang parah. karena obat ini bekerja mencegah pemecahan sukrosa dan karbohidrat kompleks pada usus halus sehingga memperpanjang waktu absorbsi karbohidrat. pada pasien dengan hiperglikemia ringan hingga sedang. Dari hasil penelitian ditemukan penggunaan kombinasi paling banyak adalah: kombinasi 3 obat yaitu golongan sulfonilurea + biguanida + insulin sebanyak 50%. Selain itu. Efek kombinasi ini bisa memperbaiki dan menambah kerja insulin. Kombinasi kedua golongan ini efektif pada banyak penderita diabetes melitus yang sebelumnya tidak bermanfaat bila dipakai sebagai terapi tunggal. Senyawa ini dapat dipertimbangkan sebagai terapi tunggal untuk pasien lanjut usia atau terutama pasien hiperglikemia setelah makan. Akarbose dan miglitol termasuk golongan inhibitor α glukosidase. Kemudian kombinasi 2 obat. kedua senyawa ini menurunkan kadar glukosa darah setelah makan. metformin bahkan kadang dapat menurunkannya. Kesalahan ini disebabkan karena tidak ada atau kurangnya komunikasi anatara farmasis dengan dokter. Kombinasi sulfonilurea dan insulin dapat menurunkan glukosa darah. diare. potensi penurunan glukosa oleh inhibior α glukosidase adalah sekitar 30%-50% diantara senyawa antidiabetes oral lainnya. kadang juga bisa timbul hipoglikemia. Namun. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Penyerapan biguanida di usus sangat baik. Sulfonilurea bekerja merangsang sekresi insulin pada pankreas. inhibitor α glukosidase juga dikombinasikan dengan senyawa antidiabetes oral lainnya dan atau insulin. sehingga obat ini dapat diberikan dalam kombinasi dengan insulin atau sulfonilurea.

Bila insulin dapat menaikkan berat badan. sedangkan untuk diabetes melitus tipe 2 pilihan utama nya adalah metformin atau kombinasi dengan insulin. Untuk gangguan ginjal. KESIMPULAN 1. 64 . metformin bisa menurunkan berat badan. menurunkan glukoneogenesis di hati sehingga kebutuhan insulin untuk mengangkut glukosa dari darah masuk ke sel berkurang dan glukosa darah menjadi turun. sehingga kombinasi ini lebih menguntungkan terutama bagi pasien gemuk. Sulfonilurea dapat menaikkan berat badan sedangkan metformin tidak menaikkan berat badan. apalagi jika sudah terjadi resistensi insulin dan terapi dengan antidiabetika oral saja belum dapat mengontrol kadar glukosa darah. jadi berat badan sangat penting untuk diperhatikan dan merupakan salah satu factor yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan obat. Alasan penggunaan metformin disini adalah karena metformin merupakan suatu agen hemat insulin (insulin-sparing) dan tidak menaikkan berat badan atau menyebabkan hipoglikemia. metformin membantu hati sehingga lebih sensitif terhadap insulin dan insulin bisa bekerja dengan lebih baik.34%. akarbosa dan insulin. dan meningkatkan sensitivitas insulin. Adapun mekanisme kerja obat ini ada 4 yaitu: menstimulasi glikolisis pada jaringan secara langsung dengan meningkatkan pengangkutan glukosa dari darah. iritasi lambung yang bersifat ringan. Keamanan obat diabetes melitus biasannya terkait dengan efek samping yang ditimbulkan. Efek lain yang serius adalah pada gagal jantung. maka insulin sebagai pilihan. 1 2010 ISSN : 2087-5045 8.SCIENTIA VOL. muntah. meglitinida dan insulin. memperlambat absorbsi glukosa dari saluran cerna dengan cara meningkatkan konversi glukosa menjadi laktat oleh entrocytes. seperti mual. untuk obesitas dipilih metformin dan akarbosa. infark miokard dan patah tulang terutama pada manula akibat golongan tiazolidinedion. Kombinasi ini efektif untuk mengontrol kadar glukosa darah karena mekanisme kerja obat yang saling menunjang. untuk gangguan hepar dipilih meglitinida. Namun perlu diwasapadai efek samping yang lebih serius yang akut adalah hipoglikemia terutama oleh insulin. tapi dipilih tiazolidinedion. tidak dipilih metformin dan sulfonilurea. Metformin sering diberikan pada pasien obesitas dimana hiperglikemia di sebabkan oleh kerja insulin yang tidak efektif atau resistensi insulin. untuk pasien diabetes mellitus tipe 1 insulin merupakan pilihan utama. maka metformin mempunyai keuntungan yang melebihi sulfonilurea untuk mengobati hiperglikemia. dan agar penatalaksanaan penyakit ini berhasil dibutuhkan kerjasama yang erat dan terpadu dari penderita dan keluarga dengan para tenaga kesehatan. meglitinida. Insulin juga menjadi pilihan pada diabetes melitus tipe 2 apabila kadar glukosa darah seseorang pada diagnosa pertama kali di atas 300 mg/dl. sulfonilurea. Pada penatalaksanaan penyakit ini diperlukan peran farmasis atau apoteker sebagai ahli obat. 1 NO. diare. oleh karena itu metformin efektif pada pasien gemuk maupun kurus. Disamping itu. Kombinasi ini juga bisa mengurangi dosis pemakaian insulin. Penggunaan kombinasi paling banyak adalah kombinasi 3 obat yaitu golongan sulfonilurea + biguanida + insulin sebanyak 50%.

2006 ISFI. 1 NO. Hans. Bandung. Tandra. Tranformasi Ilmu dan Teknologi Dalam Praktek Kefarmasian. Segala Sesuatu Yang Harus Anda Ketahui Tentang Diabetes. Gramedia pustaka utama. 2008. A. Direktorat jendral bina kefarmasian dan alat kesehatan. 65 . Yogyakarta. Ed 2. Jilid I. PT. Dinamika Obat. DAFTAR PUSTAKA Departemen kesehatan RI. Mutschler. Jakarta. Pharmaceutical Care Untuk Penyakit Diabetes Mellitus. 1987.B Widianto dan A. Penerbit ITB. Kongres Ilmiah XVI. Terjemahan M. seharusnya metformin merupakan pilihan utama pada diabetes melitus tipe 2. Jakarta. Balai Penerbit FKUI. E. 2008. Sulaiman.S Ranti. 2008. Jakarta. Ed 5. Metformin bukan menjadi pilihan utama pada pasien diabetes melitus tipe 2.SCIENTIA VOL. ISFI. Ilmu Penyakit Dalam. 1991. 1 2010 ISSN : 2087-5045 2.

Sekitar 90% penyebab anemia adalah akibat kekurangan besi. 1995). 6-14 tahun 12gr/100 ml. vitamin B12. et al. Key word: Hemoglobyn. penyerapan yang tidak adekuat dan peningkatan kebutuhan akan zat besi (Arisman.vitamin A. 1999). micronutrient (iron. seng .SCIENTIA VOL. Berdasarkan klasifikasi batas normal kadar Hb. terutama zat-zat gizi yang berkaitan dengan proses penyerapan dan utilitasi besi. Protein. Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa pemberian suplementasi besi yang dikombinasikan unsur vitamin dapat meningkatkan bioavailabilitas besi dan lebih efektif meningkatkan kadar hemoglobin dibandingkan dengan hanya suplementasi besi saja (Bloem. Kurang Vitamin A (KVA). Anemia gizi merupakan masalah gizi yang paling utama di Indonesia.9% (Kodyat dkk. kelompok anak usia 6 bulan -6 tahun 11gr /100 ml. 2003). Hemoglobin Hemoglobin adalah struktur darah yang terdiri dari Haem dan Globin.5%. Dalam rangka penanggulangan anemia gizi besi beberapa zat gizi lain penting untuk dipertimbangkan. dan bila terjadi pada anak sekolah akan mengurangi kapasitas dan kemampuan belajar. 1998). yang disebut sebagai anemia gizi besi (Solon. yang disebabkan karena kekurangan zat besi. 2004). menurunnya kemampuan kognitif. anak umur 10 -14 tahun 51. Di Indonesia prevalensi Anemia Gizi Besi (AGB) menurut Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) Tahun 1995 masih tinggi. vitamin C. dimana haem adalah yang memberi warna merah pada darah dan 66 . sedangkan pada wanita hamil 50. yaitu pada anak Balita sebesar 40. vitamin A. asupan zat besi tidak cukup. vitamin A and vitamin C influence Hemoglobyn level. Protein and vitamin C verry important for iron metabolism. Secara umum tingginya prevalensi anemia gizi besi antara lain disebabkan oleh beberapa faktor yaitu: kehilangan darah secara kronis.5%. Vitamin A prevent infection that inhibition transferrin syntecis as transporter of iron. Konsekwensi logis dari tingginya masalah anemia gizi besi adalah penurunan kualitas sumber daya manusia Indonesia (DepkesRI. protein. Beberapa zat gizi tersebut antara lain asam folat. gondok endemik dan kretin serta anemia gizi. Anemia gizi besi dapat menyebabkan seseorang mudahterserang infeksi. dan lainnya (Morgan. Anemia gizi besi ditandai dengan menurunya kadar hemoglobin dibawah normal. PEMBAHASAN 1. wanita 12 gr/100 ml serta wanita hamil 11 gr/100 ml. 1 NO. dan untuk usia dewasa laki-laki 14 gr/100 ml. MW 1998).2%. vitamin C) PENDAHULUAN Masalah gizi utama di Indonesia yaitu Kurang Kalori Protein (KKP). anak usia sekolah47. iron. 1 2010 ISSN : 2087-5045 PENGARUH ASUPAN PROTEIN DAN MIKRONUTRIEN (Zat Besi Vitamin C dan Vitamin A) TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN Erina Masri ( Staf Pengajar Prodi Gizi STIKes Perintis Padang ) ABSTRACT Decrease of hemoglobyn level cause anemia. Iron is urgent component for syntesis hemoglobyn.

Batas normal kadar hemoglobin menurut kelompok umur dan jenis kelamin dapat dilihat pada Tabel 1. yaitu: 1) Hilangnya Besi (Iron depletion). Pada tahap ini tingkat transport besi dan hemoglobinnormal. Gejala klinis dari tahap ini adalah perbandingan antara hematokrit dan sel darah merah dengan Mean Cell Volume (MCV) kurang dari 80 fL. konsentrasi hemoglobin pada orang yang tinggal di daerah yang tinggi akan lebih tinggi kadar hemoglobinnya dari pada orang yang tinggal didaerah rendah. Anemia dapat juga berarti suatu kondisi ketika terdapat defisiensi ukuran / jumlah eritrosit atau kandungan hemoglobin (Wirakusumah. disebut sebagai anemia mikrositik hypokronik (Gibson. Erytrosit protoporpyrin merupakan prekusor dari hem. Kadar hemoglobin menurun sedikit. Kadar normal hemoglobin dalam darah akan bervariasi tergantung pada usia seseorang dan juga jenis kelamin.. Pada bayi yang baru lahir kadar hemoglobinnya tinggi diatas orang dewasa yaitu 17 – 23 gr/dl. hal ini berhubungan dengan kadar oksigen di udara.Batas Normal Kadar Hemoglobin Umur 6 bulan-6 tahun 6 -14 tahun Dewasa Laki-laki Wanita Wanita hamil Sumber: Depkes Ri. Keadaan ini merupakan tahap lanjut dari defisiensi besi dan muncul setelah kekurangan besi yang berlangsung lama. Tahap ini ditandai dengan pengurangan jumlah cadangan besi dalam hati. tetapi cadangan besi hilang yang ditandai dengan turunnya konsentrasi serum ferritin. Tabel 1. 2005). 1 2010 ISSN : 2087-5045 globin adalah protein darah. sebaliknya terjadi peningkatan konsentrasi erytrosit protoporpyrin.1999 Kelompok Anak Hemoglobin 11 gr/ 100 ml 12 gr/ 100 ml 14 gr/ 100 ml 12 gr/ 100 ml 11 gr/ 100 ml Anemia gizi besi ditandai dengan ukuran eritrosit yang kecil serta kadar hemoglobin yang rendah.SCIENTIA VOL. 3)Besi Defisiensi Anemia (Iron deficiency anemia) Tahap ketiga atau tahap akhir dari defisiensi besi adalah menurunnya sirkulasi besi yang ditandai dengan turunnya kadar hemoglobin dalam sel darah merah. 1 NO. 2. tetapi pada umumnya masih tetap dalam keadaan normal selama erythropoeisis berlangsung. Pada orang yang normal. Selain kedua faktor tersebut ketinggian suatu tempat juga berpengaruh terhadap kadar hemoglobin serta dipengaruhi juga oleh faktor makanan. Menurut Gibson (2005) ada tiga tingkatan di dalam defisiensibesi. Angka normal ini akan menurun pada usia diatas 50 tahun Anemia Gizi Besi. yang terakumulasi dalam sel darah merah ketika suplai besi tidak cukup untuk sintesis hem. Anemia Gizi Besi Anemia adalah suatu keadaan kadar Hemoglobin (Hb) yang lebih rendah dari keadaan normal. Pada usia 10 tahun kadar normalnya sekitar 12-14 gr/dl untuk wanita sedangkan laki-laki 14-18 gr/dl. 1999). 2) Besi Defisiensi Erytropoiesis (Iron deficient erythropoiesis) Tahap kedua ini ditandai dengan habisnya seluruh cadangan sebagai hasilnya besi plasma yang mensuplai proses erytropoiesis menurun drastis dan terjadinya peningkatan transferin saturasi. Kadar hemoglobin ini akan menurun setelah bayi berumur 2 bulan yaitu sekitar 9-14 gr/dl. Faktor utama penyebab anemia gizi besi adalah 67 .

disisi lain proses pembentukkan hemoglobin dalam sitoplasma sel berjalan terus. 1992). mioglobin. atau rendahnya tingkat absorpsi besi dan adanya penghambat sehingga tidak dapat diserap secara optimal sehingga tidak memenuhi kebutuhan tubuh. Keadaan infeksi terutama pada penyakit kronis (penyakit malaria. Penundaan terjadi sampai jumlah DNA yang diperlukan tercapai. Hal ini terutama dapat terjadi pada orang yang mengkonsumsi makanan kurang beragam. diawali terbentuk dua pasang kromosom oleh DNA. Selain itu. globin. Pada permukaan sel darah merah berinti terdapat reseptor transferin. terutama pada bayi. Hal ini juga berpengaruh pada tidak terpenuhinya kebutuhan tubuh akan besi (Wirakusumah.dll). 2) Asam folat untuk metabolisme purin / pirimidin. 2005). 1 NO. WHO. dan besi berasal dari transferin. 3) Vitamin B12 untuk daur ulang koenzim folat dan. Gangguan pengikatan besi 68 . Begitu juga remaja wanita yang sudah mengalami haid dimana saat itu cukup banyak mengeluarkan darah. sehingga terjadi sel eritrosit berukuran besar (abnormal) masuk dalam sirkulasi darah disebut anemia makrositosis (MCV <100fL) (Gibson. Globin dibentuk di sekitar ribosom. harus dilakukan pengobatan terhadap penyakit-penyakit tersebut. 1 2010 ISSN : 2087-5045 kurangnya konsumsi besi makanan. Pembentukan Sel Darah Merah Pembentukan sel darah merah berasal dari eritroblast di sumsum tulang. kehilangan akibat dari perdarahan misalnya karena kecelakaan dan operasi. Bila pembentukan DNA terhambat akan berakibat mitosis tidak terjadi meskipun pembentukan hemoglobin dalam plasma telah cukup. yaitu antara lain penyakit TBC. 2001). berarti jumlah besi yang hilang dari tubuh juga cukup besar. Hemoglobin terdiri dari protoporfirin.SCIENTIA VOL. Pembentukan DNA memerlukan katalisator vitamin B12 dan asam folat. 3. dan remaja yang membutuhkan besi dalam jumlah relatif lebih besar karena pertumbuhan yang pesat pada bayi dan anak-anak. TBC. Pada anemia berat (kadarHb < 8 gr %) biasanya pada penyakit yang melatarbelakangi. Kebutuhan meningkat akibat pertumbuhan. dan sitokrom. 1999). Proses pembentukan sel darah merah diawali dengan pembentukan deoxyribonucleic acid (DNA) dalam inti sel dan berikutnya proses pembentukan hemoglobin dalam plasma eritrosit. anak-anak. Inti sel sebelum mitosis. Kekurangan vitamin B12 dan asam folat berakibat berkurangnya mitosis sel. dan faktor genetik (penyakit talasemia) juga sangat mempengaruhi rendahnya kadar hemoglobin di dalam darah (Wirakusumah. produksi sel darah merah diperlukan 1) Besi untukmetabolisme hemoglobin. infeksi parasit (kecacingan). Upaya pencegahan dan penanggulangan anemia pada dasarnya adalah mengatasi penyebabnya. pola konsumsi serta keadaan ekonomi juga berdampak pada ketidakmampuan keluarga menyediakan makanan sumber besi. protoporfirin dibentuk di sekitar mitokondria. infeksi cacing atau malaria sehingga selain penanggulangan pada anemianya. 4) Vitamin C sebagai antioksidan dan untuk mengoptimalkan absorpsi besi (Parakkasi. 1999 . dan besi.

sehingga dapat terhindar kemungkinan anemia kekurangan besi. Tipe Besi dibutuhkan untuk produksi hemoglobin. Walaupun jumlahnya sangat kecil namun mempunyai peranan yang sangat penting. untuk dieksresikan ke dalam udara pernafasan. adapun pada bayi baru lahir lebih kurang 250 mg dari jumlah tersebut (60-70%) dinamakan besi fungsional. flavoprotein. 2004). kurang mengandung unsur daging. 1995). Sel darah merah berinti maupun retikulosit hanya memiliki reseptor transferin bukan reseptor besi. sedangkan sisanya disimpan disebut besi nonessensial (Wardhini S dan Dewoto H R. Ditinjau dari bioavailabilitas besi dari makanan dapat dibagi 3 tipe ( MacPhail. karena berefek pada fungsi tubuh. Padahal umur sel darah merah hanya 120 hari dan jumlah sel darah merah. 2000 ) yaitu Tipe bioavailabilitas rendah (besi dari bahan makanan pokok beras. Kecukupan besi ditentukan berdasarkan bioavailabilitas besi dari golongan makanan (Kartono J dan Soekatri M.5 g besi yang hampir seluruhnya dalam bentuk ikatan kompleks dengan protein. 1 2010 ISSN : 2087-5045 untuk membentuk hemoglobin berakibat terbentuknya eritrosit dengan sitoplasma yang kecil (mikrositer) dan kurang mengandung hemoglobin (hipokromasia). di dalam darah harus selalu dipertahankan cukup banyak. 1999). 1 NO.SCIENTIA VOL. Kurang lebih 4% besi di dalam tubuh berada sebagai mioglobin dan senyawa-senyawa besi sebagai enzim oksidatifseperti sitokrom dan flavoprotein. Tipe bioavailabilitas menengah (beras dan jagung dengan sejumlah daging dan vitamin C dengan penyerapannya antara 5-15%). Peran Zat Besi terhadap Peningkatan Kadar Hemoglobin 3. Besi elemental adalah besi yang dapat terikat oleh transferin untuk membentuk 1 ml packed red cells diperlukan 1 mg besielemental (Reksodiputro. dan komponen lain pada sistem enzim pernafasan seperti sitokrom oksidase. Kecukupan besi yang direkomendasikan adalah jumlah minimum besi yang berasal dari makanan yang dapat menyediakan cukup besi untuk setiap individu yang sehat pada 95% populasi. 4. katalase. protein. Tubuh manusia sehat mengandung 69 . ikan dan vitamin C dengan penyerapan besi tipe ini kurang dari 5%). Besi berperan dalam sintesis hemoglobin dalam sel darah merah dan mioglobin dalam sel otot. dan peroksidase. sehingga anemia gizi besi akan menyebabkan terbentuknya sel darah merah yang lebih kecil dan kandungan hemoglobin yang rendah. dan senyawa-senyawa mitokondria yang mengandung besi lainnya. memegang peranan penting dalam proses oksidasi menghasilkan Adenosin TriPhosphat (ATP) yang merupakan molekul berenergi tinggi. vitamin C dan zat gizi penting lainnya (Wirakusumah. Mioglobin ikut dalam transportasi oksigen menerobos sel-sel membran masuk ke dalam sel-sel otot. terutama zat-zat gizi penting seperti besi. Peristiwa ini terjadi saat kadar besi dalam darah rendah dan rendahnya transferin dalam darah. jagung atau umbi-umbian. asam folat. 1994). 2001).Sehingga apabila tubuh mengalami anemia gizi besi maka terjadi penurunan kemampuan bekerja (WHO. vitamin B12. Pembentukan sel darah merah baru akan terganggu apabila zat gizi yang diperlukan tidak mencukupi. Besi juga merupakan mikronutrien essensil dalam memproduksi hemoglobin yang berfungsi mengantar oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh. sitokrom. Terganggunya pembentukan sel darah merah bisa disebabkan makanan yang dikonsumsi kurang mengandung zat gizi. Sitokrom.

juga dapat mendorong penyerapan besi nonhem. yaitu Retinol Binding Protein (RBP) dan transferin. poultry) factor (Wirakusumah. 6. 2003). Dengan demikian jelas bahwa status vitamin A yang tidak adekuat akan berdampak pada metabolisme besi dan eritropoeisis yang gilirannya akan menurunkan kadar hemoglobin. 1990). Sintesis kedua protein ini tertekan bila ada infeksi. Vitamin A juga berperan dalam pembentukan sel darah merah. Kondisi ini memungkinkan besi retinol yang semula terjebak di tempat penyimpanan dapat dimobilisasi kembali. Dengan menghilangnya infeksi. dari darah ke jaringan-jaringan. Protein sebagai alat angkut dan penyimpanan terhadap hemoglobin yaitu mengangkut oksigen dalam eritrosit sedangkan mioglobin mengangkut oksigen dalam otot. dibandingkan dengan yang hanya diberikan suplemen besi Vitamin A adalah zat gizi esensial yang larut dalam lemak dan dibutuhkan untuk kelangsungan berbagai fungsi tubuh yang penting. 2003). Beberapa penelitian membuktikan bahwa vitamin A mempunyai peranan yang penting dalam meningkatkan kadar hemoglobin. 2002). Protein seluler yang berasal dari daging sapi. 1993). 1 NO. keju dan telur tidak dapat meningkatkan penyerapan besi nonhem.SCIENTIA VOL. besi yang semula ditahan makrofag akan dilepas kembali ke sirkulasi dan diangkut transferin untuk kepentingan eritropoeisis (Turnham. maka dengan kemampuan vitamin A melawan infeksi. domba. Faktor yang menyebabkan kenaikan penyerapan besi lebih dikenal sebagai MFP (meat. hati. Retinol tampaknya berpengaruh terhadap pertumbuhan dan diferensiasi 70 . Sebagai alat angkut. Ion besi diangkut dalam plasma darah oleh transferin dan disimpan dalam hati sebagai kompleks dengan ferritin (Winarno. Pemberian suplemen vitamin A 110 mg pada anak yang kekurangan vitamin A (retinol < 0. kambing. dan ayam menunjang penyerapan besi nonhem. sama-sama diangkut oleh negative phase protein. protein ini dapat bertindak secara khusus. fish. akan terjadi penurunan derajat infeksi. 5. 1 2010 ISSN : 2087-5045 bioavailabilitas tinggi (makanan yang banyak mengandung daging dan vitamin C dengan penyerapan besi lebih dari 15%). (Almatsier. Suplementasi besi yang dikombinasi dengan vitamin A selama 2 bulan pada anak-anak yang menderita anemia mempunyaipengaruh yang lebih besar pada peningkatan kadar hemoglobin dan transferin saturasi. Namun protein yang berasal dari susu sapi. Interelasi Protein dengan Kadar Hemoglobin Protein memegang peranan esensial dalam mengangkut zat-zat gizi dari saluran cerna melalui dinding saluran cerna ke dalam darah. Apabila asupan vitamin A diberikan dalam jumlah cukup. walaupun tidak semua.60 ĩmol/L) dapat meningkatkan hemoglobin dan transferrin saturasi (Bloem. 1999). dan melalui membran sel ke dalam sel-sel. Akibatnya sintesis retinol binding protein dan transferin kembali normal. kemungkinan melalui interaksi dengan besi. Terutama protein hewani. Retinol dan besi. 2003). Interelasi Vitamin Hemoglobin A dengan seluler yang berdampak pada perkembangan epitel yang mensekresi mukosa atau pada sistem kekebalan tubuh (Almatsier. atau dapat mengangkut beberapa jenis zat gizi seperti besi sebagai transferin (Almatsier. misalnya protein pengikat retinol yang hanya mengangkut vitamin A.

(2) sebagai zat pelindung untuk memelihara status reduksi besi. 1995 . Schultink dan Gross. Dalam keadaan kering vitamin C cukup stabil. dibandingkan dengan kelompok yang hanya mendapat suplementasi besi atau vitamin A saja (Suharno. Diperkirakan bahwa kekurangan vitamin A dapat menghambat penggunaan kembali cadangan besi yang disimpan dalam hati (Bloem. 1998). 1993). diantara anak pra sekolah di India pada studi ini menunjukkan kadar hemoglobin lebih rendah pada mereka yang mempunyai serum retinol di bawah 20 ĩg/dL. Vitamin C mempunyai peranan yang sangat penting dalam penyerapan besi terutama dari besi nonhem yang 71 .1 ĩmol/L yang diberikan suplementasi vitamin A dan besi (besi 60 mg dan vitaminA 2. Penelitian pada tikus menunjukkan bahwa kekurangan vitamin A marginal mengganggu eritropoeisis. terutama mempercepat penyerapan besi usus dan pemindahannya ke dalam darah. Suplementasi vitamin A pada anak yang defisiensi meningkat secara signifikan pada kadar hemoglobin. 1995). Pemberian dosis tunggal vitamin A 200. Hasil penelitian yang dilakukan terhadap ibu hamil di Indonesia menghasilkan kesimpulan yang sama. tetapi tidak berpengaruh pada peningkatan cadangan besi dalam tubuh. 1 NO. Vitamin C dapat juga terlibat dalam mobilisasi simpanan besi terutama hemosiderin dalam limpa (Parakkasi. 1998).000 IU pada anak yang menderita xerossis conjuctival setelah dua minggu ternyata dapat meningkatkan hemoglobin. tetapi dalam keadaan larut vitamin C mudah rusak karena bersentuhan dengan udara (oksidasi) terutama bila terkena panas Vitamin C tidak stabil dalam larutan alkali. Observasi ini menunjukkan bahwa defisiensi vitamin A bisa memberikan kontribusi terhadap anemia dan akan mepunyai efek positif pada status besi (IVACG. Interelasi Vitamin Hemoglobin C dengan Vitamin C adalah kristal putih yang mudah larut dalam air. Peningkatan konsumsi vitamin C sebanyak 25. 1999). Ibu hamil yang anemia dengan kadar retinal <1. hematokrit dan besi serum. 4. hematokrit. Beberapa reaksi enzim membutuhkan vitamin vitamin C seperti proses hidrosilasi yang menggunakan molekul oksigen dan sering mempunyai kofaktor besi atau tembaga. dibandingkan dengan yang mempunyai kadar hemoglobin normal. 1988). Penelitian lainnya telah menemukan suatu korelasi signifikan antara serum retinol dan kosentarsi hemoglobin. Dalam reaksi tersebut vitamin C mempunyai 2 (dua) peranan : (1) sebagai sumber elektron untuk mereduksi oksigen.SCIENTIA VOL. Vitamin A berpengaruh terhadap transferin saturasi. Mekanisme yang pasti tentang peranan vitamin A terhadap status besi belum jelas benar. Dalam metabolisme besi. Beberapa hasil penelitian cross sectional menyimpulkan bahwa peningkatan asupan vitamin A dapat mendorong ke arah peningkatan status vitamin A dan status besi (Schultink dan Gross.4 mg) mempunyai perubahan yang lebih besar pada peningkatan kadar hemoglobin dan transferin saturasi. (Almatsier. serum besi dan transferin saturasi (Bloem. 1994). 2003). 1 2010 ISSN : 2087-5045 atau vitamin A saja (Meijia and Chew. 1998). 7. Vitamin C adalah vitamin yang paling labil. 1992). 3.100 dan 250 mg dapat memperbesar penyerapan besi sebesar 2. tetapi tidak mempengaruhi penyerapan dalam intestinal terhadap besi dalam makanan sehari-hari (Roodenburg. dan 5 kali (Wirakusumah. tetapi cukup stabil dalam larutan asam. 50. Vitamin C diperlukan untuk meningkatkan penyerapan besi di dalam tubuh.

Hasil penelitian Saidin dan Sukati.2%. Penyerapan besi nonhem dapat ditingkatkan dengan kehadiran zat pendorong penyerapan seperti vitamin C dan faktor-faktor pendorong lain seperti daging.5% . 2003) Vitamin C menghambat pembentukan hemosiderin yang sukar dimobilisasi untuk membebaskan besi bila diperlukan. Sedangkan dengan pemberian vitamin C dalam bentuk bahan makanan (250 g buah pepaya)meningkatkan penyerapan 42 – 54. 1 2010 ISSN : 2087-5045 banyak ditemukan dalam makanan nabati. KESIMPULAN Zat besi dibutuhkan untuk produksi hemoglobin. Vitamin C berperan dalam memindahkan besi dari transferin di dalam plasma ke ferritin (Almatsier. 1989). sehingga mudahdiserap dalam pH lebih tinggi dalam duodenum dan usus halus (Almatsier.SCIENTIA VOL. 72 . Bahan makanan yang mengandung besi hem yang mampu diserap sebanyak 37% sedangkan bahan makanan golongan besi nonhem hanya 5% yang dapat diserap oleh tubuh. 1998 melaporkan bahwa dengan pemberian vitamin C dalam bentuk tablet maupun dalam bentuk bahan makanan (buah pepaya) dapat meningkatkan penyerapan besi ibu hamil. Jadi zat protein vitamin C dan vitamin A bekerja sama melalui perannya masingmasing untuk meningkatkan sintesis hemoglobin. Vitamin C diperlukan untuk meningkatkan penyerapan besi di dalam tubuh. Besi berperan dalam sintesis hemoglobin dalam sel darah merah dan mioglobin dalam sel otot.0% pada bumil dengan makanan pokok beras. 2003). penambahan asam askorbat selanjutnya relatif kurang efektif (Hallberg. Sintesis trnasferin sebagai alat transpor zat besi akan terhambat jika terjadi infeksi. dapat meningkatkan kadar hemoglobin yang tertinggi dibandingkan dengan kelompok lain. 1995). Pemberian tablet vitamin C 100 mg meningkatkan penyerapan besi 37. Hubungan secara tidak langsung ini memberikan pengaruh utama pada pemberian pertama 25-50 mg asam askorbat dalam makanan. jagung dan tiwul. dan melalui membran sel ke dalam sel-sel. 1 NO. Absorpsi besi dalam bentuk nonhem meningkatkan empat kali lipat bila ada vitamin C. 1998).46. Vitamin C bertindak sebagai enhancer yang kuat dalam mereduksi ion ferri menjadi ion ferro. Besi juga merupakan mikronutrien essensil dalam memproduksi hemoglobin yang berfungsi mengantar oksigen dari paruparu ke jaringan tubuh. Protein memegang peranan esensial dalam mengangkut zat-zat gizi dari saluran cerna melalui dinding saluran cerna ke dalam darah. ikan (Berdanier. Hasil penelitian Saidin. ayam. dari darah ke jaringan-jaringan. sehingga anemia gizi besi akan menyebabkan terbentuknya sel darah merah yang lebih kecil dan kandungan hemoglobin yang rendah. sedangkan pemberian vitamin A yang adekuat dapat melawan infeksi sehingga dapat menormalkan sintesis transferin. 1997 tentang pemberian tablet besi dengan penambahan vitamin C terhadap perubahan kadar Hb dan ferritin serum membuktikan bahwa pemberian tablet besi dan vitamin C 150 mg. Pengaruh vitamin C atau asam askorbat adalah dose related dan signifikan pada semua jenis makanan (Svanberg.

Binkesmas.WHO. Bagian HematologyOnkologi Medik bagian Ilmu Penyakit Dalam. Roodenburg. oral. Jakarta hal. RS Dr. Comparison between time-dependent changes in iron metabolism of rats as induced by marginal deficiency of either vitamin A or iron. Jakarta Departemen Kesehatan RI 1999. CE. Professor. Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi VI Tahun 1998. Am J ClinNutr 49 : p. Kodyat. S. Pedoman Penanggulangan Anemia Gizi di Indonesia. AC 1994. Berdanier.Jakarta Indonesia Departemen Kesehatan RI 1996. Brune. CD 1998. Beynen. 154 – 160. Penuntasan Masalah Gizi Kurang. Principles of Nutritional Assessment. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. 1 NO. Reksodiputro. massive dose on iron metabolism. Haryanto 1994. by CRC press. 1998. M. L.Jenewa. Direktorat Bina Gizi Masyarakat. Advanced Nutrition Micronutrients. Georgia.755. West. Mekanisme Anemia Defisiensi Besi. Sub. Ditjen. DH Widya Medika. A dkk. S 2003. Iron absorption in man : Ascorbic acid and dose dependent inhibition by phytate.LCC De Maeyer 1993. Interdependence of vitamin A and iron : an Important association for programmess of anemia control Proc Nutr Soc Bloem. hal. Jakarta Gibson. Cipto Mangunkusumo.443 . University of Georgia Athens. Vitamin A Intervention : Short-term effects of a single. Jakarta : Gramedia Bloem. Jakarta. Br J Nutr 73 .453. MW et al. Yu. p. Food Nutrition. RS 2005. Fakultas Kedokteran UI. 1990.SCIENTIA VOL. A. AJC.140-4. Rossander. Benny. Diterjemahkan oleh Ronardy. 1 2010 ISSN : 2087-5045 DAFTAR PUSTAKA Almatsier. Oxford University Press new york. L 1989. Hallberg. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Pencegahan dan Pengawasan Anemia Defisiensi Besi. Am J Clin Nutr (51). MW 1995. Pedoman Pemberian Besi Bagi Petugas.

kutipan dari jurnal dengan susunan : nama penulis. ditambah literatur pendukung yang relevan d.SCIENTIA VOL. sebaliknya bila naskah dalam bahasa Indonesia. baik berupa review maupun sintesis. kota terbit. 1 NO. maka abstrak ditulis dalam bahasa Inggris. Kalumpang Km. Judul. penerbit. Daftar Pustaka (kutipan dari buku dengan susunan : nama penulis. Pada bagian akhir naskah dicantumkan riwayat hidup penulis 10. 4. Redaksi berhak menolak naskah yang kurang layak untuk dipublikasikan. 17 Lubuk Buaya Padang-25173 e-mail : stifi_perintis@yahoo. 3. judul jurnal. Sistematika penulisan disusun sebagai berikut : a. judul artikel. nama lengkap penulisan dan lembaga b. 1 2010 ISSN : 2087-5045 Petunjuk Penulisan Pada Jurnal Scientia 1. Naskah belum pernah dan tidak akan pernah dipublikasikan pada media lain. Kesimpulan atau saran g. Naskah berupa hasil penelitian atau karya ilmiah dari bidang Ilmu Farmasi dan Kesehatan. Abstrak tidak lebih dari 250 kata yang diketik dengan jarak 1 spasi. Hasil dan Pembahasan f. 2. Pendahuluan : berisi latar belakang masalah. maka abstrak ditulis dalam bahasa Indonesia. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Metode Penelitian e. Adinegoro/Simp. Naskah 1 rangkap beserta softcopy (dalam bentuk CD) dikirim ke redaksi. Naskah diketik menggunakan komputer. nomor halaman) 5. volume. Bila naskah dalam bahasa Inggris. Abstrak c. Naskah & softcopy dapat dikirimkan ke : Alamat : Jl. tahun. Naskah akan dikembalikan jika dilengkapi perangko secukupnya 8. tahun. judul buku (tulis tebal). dengan jumlah halaman maksimal 10 halaman kertas ukuran kuarto (A4) dengan spasi ganda. Tabel dan gambar harus diberi judul dan keterangan yang jelas 6. Nama penulis ditulis lengkap dengan gelar dan lembaga/instansi tempat penulis bekerja 9.com (khusus softcopy) . Redaksi berhak merubah naskah tanpa mengurangi isi dan maksud naskah 7.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful