BUDAYA NUSANTARA KEBUDAYAAN JAWA

Disusun oleh : Ainul Fuadi 02/3B Cory Denies Kartika 08/3B Fransiscus Asisi Edo HS 14/3B Irvan Widi Santoso 15/3B Laila Sahajah 18/3B

DIPLOMA III PENILAI / PBB SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA 2007

DAFTAR ISI DAFTAR ISI.........................................................................................................i PENDAHULUAN..................................................................................................1 PEMBAHASAN ...................................................................................................2 A. IDENTIFIKASI......................................................................................2 B. MITOLOGI KEBUDAYAAN JAWA.......................................................4 C. BAHASA DAN AKSARA JAWA...........................................................7 C.1. Bahasa Jawa...................................................................7 C.2. Aksara Jawa....................................................................14 D. MATA PENCAHARIAN........................................................................22 E. SISTEM KEMASYARAKATAN............................................................26 F. SISTEM KEKERABATAN...................................................................28 G. RELIGI ...............................................................................................43 H. PRODUK BUDAYA.............................................................................63 H.1. Seni Tari..........................................................................63 H.2. Seni Musik......................................................................80 H.3. Kalender Jawa................................................................89 H.4. Rumah Adat....................................................................95 H.5. Karya Sastra...................................................................102 H.6. Wayang...........................................................................108 H.7. Pakaian Adat...................................................................115 H.8. Keris................................................................................125 H.9. Makanan Khas................................................................133 H.10. Ketoprak dan Ludruk.....................................................138 H.11. Reog.............................................................................139 H.12. Kidung/Puisi..................................................................140 H.13. Lagu Adat Jawa............................................................141 I. SUB SUKU JAWA.................................................................................154 I. 1. Suku Osing......................................................................154 I. 2. Suku Tengger..................................................................156 J. UNGKAPAN-UNGKAPAN JAWA.........................................................157 K. PEMBANGUNAN DAN MODERNISASI..............................................159 PENUTUP...........................................................................................................161 DAFTAR PUSTAKA

i

BAB I PENDAHULUAN

Masyarakat Jawa merupakan “ladang” potensial yang masih memendam segudang informasi budaya untuk dapat digali seiring dengan perkembangan waktu. Harus diakui bahwa usaha untuk mengungkap alam pikiran, pandangan, dan kehidupan orang Jawa tidak akan pernah tuntas dan bahkan diperlukan cara-cara baru dalam mengungkap “misteri” kebudayaan Jawa tersebut. Magnis-Suseno (1984:1), mengatakan bahwa kebudayaan Jawa mempunyai ciri khas yaitu terletak dalam kemampuan luar biasa untuk membiarkan diri dibanjiri oleh gelombanggelombang kebudayaan yang datang dari luar dan dalam banjir tersebut dapat mempertahankan keasliannya. Lebih lanjut dikatakan bahwa kebudayaan Jawa justru tidak menemukan diri dan berkembang kekhasannya dalam isolasi, melainkan dalam mencerna masukan-masukan budaya dari luar. Hal tersebut menjadikan kebudayaan Jawa kaya akan unsur-unsur budaya yang kemudian menyatu dan kemudian menjadi milik kebudayaan Jawa seperti sekarang ini, di mana berbagai macam persilangan budaya justru telah memberikan warna terhadap kedinamisan budaya Jawa. Walaupun terpaan ideologi modern cukup kuat, namun manusia Jawa yang hidup dalam bayang-bayang Kasultanan Yogyakarta dan Surakarta masih tetap menyimpan dan memegang teguh pandangan budayanya misalnya tentang keberadaan makhluk supranatural, mitos, adat istiadat dan lain-lain. Tentunya pandangan-pandangan tersebut mengandung suatu makna yang dalam dan mempunyai keeratan hubungan dengan konsepsi manusia Jawa tentang dunia. Peta kognitif ini merupakan dokumen dan khazanah pengetahuan penting dalam usaha memahami budaya Jawa saat ini, apabila budaya dipandang sebagai sesuatu yang secara internal heterogen dan muncul dari peristiwa-peristiwa yang paling mendasarinya.

kebudayaan 1

Jawa

maka dalam rangka seluruh kebudayan Jawa ini. Malang dan Kediri.Tetapi mereka juga terkenal sebagai suku bangsa yang tertutup dan tidak mau terus terang. Pada umumnya.BAB II PEMBAHASAN A. di dalam wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta sebelah selatan terdapat kelompok-kelompok masyarakat orang Jawa yang masih mengikuti atau mendukung kebudayaan Jawa ini. Tetapi di provinsi Jawa Barat. Selain suku Jawa baku terdapat subsuku Osing dan Tengger. variasi dan perbedaan tersebut tidaklah besar karena apabila diteliti. Daerah di luar yang tersebut di atas disebut daerah Pesisir dan Ujung Timur. Orang Jawa memiliki stereotipe sebagai suku bangsa yang sopan dan halus. Surakarta. dua daerah luas bekas kerajaan Mataram sebelum terpecah yakni Yogyakarta dan Surakarta merupakan pusat kebudayaan Jawa. Kedu. Sifat ini konon berdasarkan watak orang Jawa yang ingin menjaga harmoni atau keserasian dan menghindari konflik. Mereka berasal dari pulau Jawa dan terutama ditemukan di provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Banten dan tentu saja Jakarta mereka banyak ditemukan. Yogyakarta. Namun. adalah suku bangsa terbesar di Indonesia. Penduduk Suku bangsa Jawa. Madiun. Sama halnya dengan daerah Kejawen lainnya. Jumlahnya mungkin ada sekitar 90 juta data pada tahun 2004. kebudayaan 2 Jawa . karena itulah mereka cenderung untuk diam dan tidak membantah apabila terjadi perbedaan pendapat. hal-hal itu masih menunjukkan satu pola ataupun satu sistim kebudayaan Jawa. Ada daerah yang disebut daerah Kejawen yaitu Banyumas. IDENTIFIKASI Daerah kebudayaan Jawa sangatlah luas meliputi seluruh bagian tengah dan timur pulau Jawa. mereka itu membentuk kesatuan-kesatuan hidup yang menetap di desadesa. Sehubungan dengan itu. Sudah barang tentu terdapat berbagai variasi dan perbedaan yang bersifat lokal dalam beberapa unsur kebudayaannya di daerah yang tercakup dalam kebudayaan Jawa.

Kemudian sebuah dukuh dengan dukuh lainnya. Penganut agama Buddha dan Hindu juga ditemukan pula di antara masyarakat Jawa. dihubungkan oleh jalan-jalan desa. Di dalam pergaulan hidup maupun perhubungan-perhubungan sosial seharihari mereka berbahasa Jawa. yang luasnya sering tidak lebih dari 2 meter. yang dibangun di dekat-dekat rumah atau di halaman pekarangannya. Bahasa Jawa Ngoko dipakai untuk orang yang sudah dikenal akrab. Bahasa Jawa Krama digunakan untuk berbicara dengan orang yang belum dikenal tetapi yang sebaya dalam umur dan derajat. Kepercayaan ini terutama berdasarkan kepercayaan animisme dengan pengaruh Hindu-Buddha yang kuat. Mereka juga terdapat di daerah pedesaan. Secara adminstratif desa langsung berada di bawah kekuasaan pemerintah kecamatan dan terdiri dari dukuh-dukuh. dan terhadap orang yang lebih muda usianya serta lebih rendah tingkatannya atau status sosialnya. Masyarakat Jawa terkenal akan sifat sinkretisme kepercayaannya. yang satu sama lain dipisah-pisahkan dengan pagar-pagar bambu atau tumbuhtumbuhan. Semua budaya luar diserap dan ditafsirkan menurut nilai-nilai Jawa sehingga kepercayaan seseorang kadangkala menjadi kabur. juga terhadap orang yang umurnya lebih tua atau status sosialnya lebih tinggi. adalah suatu wilayah hukum yang sekaligus menjadi pusat pemerintahan tingkat daerah paling rendah. Demikian pada prinsipnya ada dua macam bahasa Jawa apabila ditinjau dari kriteria tingkatannya yaitu bahasa Jawa Ngoko dan Jawa Krama. ada juga Balai Desa. tempat pemerintahan desa kebudayaan 3 Jawa . Ada di antara rumah-rumah itu yang dilengkapi dengan lumbung padi. Di sini dijumpai sejumlah perumahan penduduk beserta tanah-tanah pekarangannya. dan yang sebagian berjajar menghadap jalan desa itu. berdasarkan usia ataupun status sosialnya. Tiap-tiap wilayah bagian desa ini diketuai oleh seorang Kepala Dukuh. Protestan dan Katholik juga banyak. kandang-kandang ternak dan perigi. Selain rumah-rumah tersebut yang tampak berkelompok. Tetapi yang menganut agama Kristen.Orang Jawa sebagian besar secara nominal menganut agama Islam. di daerah pedalaman. Bentuk Desa Desa sebagai tempat kediaman yang tetap pada masyarakat orang Jawa. Pada waktu mengucapkan bahasa daerah ini. seseorang harus memperhatikan dan membeda-bedakan keadaan orang yang diajak berbicara atau yang sedang dibicarakan. Ada pula agama kepercayaan suku Jawa yang disebut sebagai agama Kejawen.

yang diadakan tiap-tiap 35 hari sekali. biasanya ada sekolah-sekolah. mengatakan bahwa kebudayaan Jawa mempunyai ciri khasaitu terletak dalam kemampuan luar biasa untuk membiarkan diri dibanjiri oleh gelombanggelombang kebudayaan yang datang dari luar dan dalam banjir tersebut dapat mempertahankan keasliannya. Harus diakui bahwa usaha untuk mengungkapkan alam pikiran. Dengan demikian tidak mengherankan apabila dalam masyarakat Jawa terdapat perilaku-perilaku yang menandai hubungan antara manusia dan makhluk supranatural. Kecuali itu ada pasar yang kelihatan ramai pada hari pasaran. Jong (1985:10) menekankan bahwa di alam pikiran mistik dan kebudayaan 4 Jawa . Hubungan manusia dengan makhluk alam nyata dengan makhluk supranatural tidak dibedakan. Untuk menampung kegiatan-kegiatan pendidikan keagamaan. Adapun kuburan desa berada di lingkungan wilayah salah satu sebuah dukuh. Hal tersebut menjadikan kebudayaan Jawa kaya akan unsur-unsur budaya yang kemudian menyatu dan menjadi milik kebudayaan Jawa sekarang ini di mana berbagai macam persilangan budaya justru telah memberikan warna terhadap kedinamisan budaya Jawa. Magnis-Suseno (1984:1). Lebih lanjut dikatakan bahwa kebudayaan Jawa justru tidak menemukan diri dan berkembang kekhasannya dalam isolasi. Pandangan manusia Jawa terhadap dunia mengisyaratkan bahwa baik dunia yang secara fisik kelihatan maupun dunia yang tidak kelihatan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. melainkan dalam mencerna masukan-masukan budaya dari luar.berkumpul. sedangkan tanah pertanian berupa sawah-sawah atau ladang-ladang terbentang di sekeliling desa. Manusia yang hidup di dunia ini tidak hanya menjalin komunikasi dengan sesama saja melainkan dengan makhluk supranatural. dan kehidupan orang Jawa tidak akan pernah tuntas dan bahkan masih diperlukan caracara baru dalam mengungkap misteri kebudayaan Jawa tersebut. pandangan. dan sosial ekonomi rakyat. atau mengadakan rapat-rapat desa. B. MITOLOGI KEBUDAYAAN JAWA MITOLOGI KANGJENG RATU KIDUL Pemahaman Tentang Mitos Masyarakat Jawa merupakan ladang potensial yang masih memendam segudang informasi budaya untuk dapat digali seiring dengan perkembangan waktu. langgar atau masjid.

Tujuannya adalah mencari tempat kebudayaan 5 Jawa . Mitos sebenarnya mempunyai arti secara tersirat yang perlu diketahui. karena memiliki sesuatu yang suci. mengatakan bahwa mite adalah bahasa untuk diketahui. Tetapi karena keberadan alam supranatural yang dipahami orang Jawa sampai taraf tertentu tidak dapat diterangkan maka praktik-praktik keagamaan yang mengarah pada penghormatan penguasa dunia supranatural justru menjadi pintu masuk dalam memahami alam pikiran orang Jawa tersebut. Ratu Kidul dalam Mitos Di kalangan masyarakat Jawa. legenda (legend). Pada kesempatan ini. naik turun gunung dan menembus lebatnya hutan menuju ke arah timur. Sebenarnya masih banyak mitologi lainnya yang hidup dalam alam pikiran orang Jawa misalnya mitologi Kanjeng Ratu Kidul. Di dalam masyarakat Jawa ada mitologi religius yang hampir diterima secara universal. yang menyebabkan ketaatan emosional dan intelektual yang mendalam. Bascom. Selain itu. menjadi contoh model bagi tindakan manusia. Akibatnya. Salah satu cerita dalam Babad Tanah Jawi mengisahkan bahwa waktu kerajaan Pajajaran di bawah kekuasaan Prabu Mundingsari. Menurut Choy (1976:13). Menurut William R. prosa rakyat dapat dibagi dalam tiga golongan besar yaitu mite (myte). kami akan berfokus pada mitologi Kanjeng Ratu Kidul. penguasa hutan dan lain-lain. tetapi tidak satupun yang diterima karena ia lebih mementingkan segi kerohanian. ia mempunyai seorang putri bernama Ratna Suwidi. mistik merupakan salah satu bentuk. Kanjeng Ratu Kidul tidak hanya merupakan legenda. Kemudian Ratna Suwidi mengembara seorang diri. dan dongeng (folktale). 1987:91). mitos berarti suatu cerita yang benar dan cerita ini menjadi milik mereka yang paling berharga. sebenarnya terdapat banyak cerita tentang Kanjeng Ratu Kidul. ia mengusir putrinya sendiri dari kerajaan. bahkan isi dasar Javanisme. yaitu mitologi wayang. bermakna. untuk sebagian orang Jawa ia benar-benar ada. Putri tersebut mempunyai kebiasaan bertapa dengan meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi. Banyak sekali raja dan pangeran yang melamarnya. memberikan makna dan nilai pada kehidupan ini. Penolakan-penolakan itu membuat Sang Prabu marah dan prihatin terhadap putrinya. Menurut Mircea Eliade (dalam Susanto. Sedangkan Levi-Strauss (1963:209). yaitu merupakan model hubungan manusia dengan alam supranatural.mitos dapat tercermin suatu sikap hidup. penguasa gunung.

mereka akan kebudayaan 6 Jawa . Apabila nanti di suatu tempat menemukan batang pohon Kemaja berbuah hanya satu dan rasanya pahit. Raden Sesuruh segera bersujud di kaki Sang Hajar meminta maaf. Sang Hajar melanjutkan ceritanya dengan nada menghibur. Berdasarkan garis keturunan. ia dapat mancala putra-mancala putri. ia didatangi Raden Sesuruh. Ratna Suwidi menJawab bahwa ia ingin sekali tidak bisa meninggal dunia dan bisa hidup sepanjang zaman. Kemudian dewa berkata bahwa manusia tidak dapat hidup sepanjang zaman. Tetapi di tengah-tengah cerita tiba-tiba Sang Hajar berubah wujudnya. Dengan menyetujui saran dewa tersebut. Dikisahkan pula waktu Hajar Cemara Tunggal masih berada di puncak Gunung Kombang. Raden Sesuruh terpesona dan jatuh cinta kepada putri cantik yang ada di depannya tersebut kemudian ia mendekati dan merayunya. Di puncak gunung itu ada sebatang cemara.yang cocok untuk bertapa. Hajar Cemara Tunggal kemudian menceritakan kisah pelariannya dan siapa sebenarnya dirinya. sebenarnya Hajar Cemara Tunggal adalah adik perempuan dari kakek Raden Sesuruh. Akhirnya. Sang Hajar kemudian memberi petunjuk kepada Raden Sesuruh supaya berjalan terus ke arah timur. Hajar Cemara Tunggal tahu maksud dan tujuan Raden Sesuruh yang datang menemuinya. Pohon cemara yang berada di puncak gunung tersebut diabadikan menjadi nama samarannya yaitu Hajar Cemara Tunggal. maka Ratna Suwidi kemudian berubah menjadi makhluk halus yang membawahi semua makhlus di seluruh tanah Jawa. tetapi keinginan Ratna Suwidi itu dapat terkabulkan apabila ia bersedia menjadi makhluk halus. Hajar Cemara Tungal didatangi dewa dan ditanya tentang keinginannya bertapa terus menerus. seorang putra mahkota kerajaan Pajajaran yang melarikan diri bersama pengikutnya karena terjadi perebutan kekuasan. Dengan kesaktiannya. Dengan rasa malu. maka tempat itulah yang dapat digunakan oleh Raden Sesuruh untuk memegang kekuasaan dan menurunkan raja di tanah Jawa. bahwa kelak apabila Raden Sesuruh telah dinobatkan sebagai raja Majapahit. Berkat kesaktiannya. Sang pertapa ini kemudian terkenal dengan kesaktiannya. ia berubah menjadi putri cantik Ratna Suwidi. ia menemukan puncak Gunung Kombang yang dirasa cocok untuk bertapa. Seketika itu juga putri itu menghilang dari pandangan mata Raden Sesuruh dan menjelma menjadi Hajar Cemara Tunggal lagi. Pada suatu hari. ia mengubah diri menjadi lelaki. Dari tempat itulah Raden Sesuruh dapat membalas sakit hati atas perlakuan raja Pajajaran.

Sedangkan Krama Haluspun berbeda antara Krama Halus/Inggil yang dipergunakan oleh kalangan Kraton dengan kalangan rakyat biasa. Praktik-praktik keagamaan seperti penyelenggaraan Tari Bedaya Lambang Sari dan Tari Bedaya Semang merupakan usaha dari para penguasa Mataram untuk berhubungan dengan alam supranatural. Kelak setelah Raden Sesuruh memegang kekuasaan dan membawahi seluruh tanah Jawa. Hajar Cemara Tunggal tidak lagi bertapa di Gunung Kombang. Selain itu juga digunakan untuk menjamin keselamatan dan ketentraman hidup serta digunakan sebagai pengantara manusia dengan alam supranatural. kebudayaan 7 Jawa . sebaiknya memanggil Sang Hajar. C. Krama Inggil ( Krama Halus ). Jawa Barat. melainkan pindah ke samudera pasir. Pesan terakhir Sang Hajar kepada Raden Sesuruh adalah apabila Raden Sesuruh beserta keturunannya yang menjadi raja tanah Jawa menemui halangan. mitologi Kanjeng Ratu Kidul digunakan oleh penguasa Kasultanan Yogyakarta sebagai kerangka acuan dalam menjalankan pemerintahan. Leach (1981:82) menjelasan bahwa aktivitas-aktivitas ritual merupakan jembatan antara dunia yang tampak dengan dunia datan kasat mata. Bahasa Jawa terbagi menjadi dua yaitu Ngoko dan Kromo. Krama Madya inipun agak berbeda antara Krama yang dipergunakan dikota / Sala dengan Krama yang dipergunakan di pinggiran / desa. Sang Hajar pasti akan datang bersama makhluk halus bawahannya. Jawa Tengah & Jawa Timur di Indonesia. Ngoko sendiri dalam perkembangannya secara tidak langsung terbagi-bagi lagi menjadi ngoko kasar dan ngoko halus ( campuran ngoko dan kromo ). Selama bertahta di samudera pasir atau Laut Selatan Jawa. Pada prinsipnya. Selanjutnya Krama itu terbagi lagi menjadi Krama. Selain itu.1 Bahasa Jawa Bahasa Jawa adalah bahasa pertuturan yang digunakan penduduk suku bangsa Jawa terutama di beberapa bagian Banten.bertemu kembali. kelak akan ada keturunan Raden Sesuruh yang menjadi raja Jawa akan dapat mengawini Kanjeng Ratu Kidul Peran Mitologi Kanjeng Ratu Kidul Dalam modelnya. BAHASA DAN AKSARA JAWA C. Dengan sekejap. Krama Madya. ia akan berubah wujud seperti semula yaitu sebagai putri yang cantik jelita dengan sebutan Kanjeng Ratu Kidul.

The Hague: Martinus Nijhoff. Bahasa Jawa ini memiliki aksara-nya sendiri. khususnya dialek Surakarta dan Yogyakarta. Uhlenbeck. Dialek Surakarta 8. Dialek Tegal 4. yakni : • • dengan Dialek daerah. Dialek Bumiayu (peralihan Tegal dan Banyumas) Kelompok pertama di atas sering disebut bahasa Jawa ngapak-ngapak. yang dikembangkan dari huruf Pallava. di dalam bukunya : "A Critical Survey of Studies on the Languages of Java and Madura". Demak. Pati) 6. kebudayaan 8 Jawa . Dialek Kedu 3. Dialek Yogyakarta 9. Dialek Madiun Kelompok kedua di atas sering disebut Bahasa Jawa Standar. Perbedaan antara dialek satu dengan dialek lainnya bisa antara 070%. Untuk klasifikasi berdasarkan dialek daerah. Dialek Blora 7. pengelompokannya mengacu kepada pendapat E. dan juga huruf Pegon yang diubah sesuai dari huruf Arab. Kudus. Rembang. Dialek Indramayu-Cirebon 3. Dialek Banyumasan 5.Bahasa Jawa dianggarkan digunakan sekitar dua per tiga penduduk pulau Jawa. Dialek Semarang 5. meskipun tergolong rumpun Karena bahasa ini terbentuk dari gradasi-gradasi yang sangat berbeda Austronesia. Sedangkan dialek daerah ini didasarkan pada wilayah. Dialek Pantai Utara Timur (Jepara. Dialek Banten 2. Dialek Bagelen 4. 1964. Bahasa Jawa pada dasarnya terbagi atas dua klasifikasi dialek. karakter dan budaya setempat. Kelompok Bahasa Jawa Bagian Barat : 1. Kelompok Bahasa Jawa Bagian Tengah : 1. Dialek Pekalongan 2.M. dan Dialek sosial Bahasa Indonesia maupun Melayu.

seperti ayah. aku arep takon. 3. seperti majikan. b. dihormati. dianggap jelas lebih tua. nèng endi?” 3. 7. omahé mas Budi kuwi. Ngoko Ngoko Andhap Madhya Madhyantara Kromo Kromo Inggil Kromo Inggil adalah suatu tingkatan kehalusan bahasa Jawa tutur. Ngoko alus: “Aku nyuwun pirsa. kakek. 6. 8. Dipakai oleh penutur untuk berkomunikasi dengan lawan bicara yang: a. 4. nèng ndi?” kebudayaan 9 Jawa . ibu. Ngoko kasar: “Eh. Ngoko meninggikan diri sendiri: “Aku kersa ndangu. c. Dialek Pantura Jawa Timur (Tuban. Dialek Jombang 5. dalemé mas Budi kuwi. omahé Budi kuwi. Dialek Malang 4. Bojonegoro) 2. 2. di mana?” 1. Dialek sosial dalam Bahasa Jawa berbentuk sebagai berikut : 1. Bagongan Kedhaton Kedua logat terakhir digunakan di kalangan keluarga Kraton dan sulit dipahami oleh orang Jawa kebanyakan. Pak Guru. Dialek Tengger 6. Dialek Banyuwangi (atau disebut Bahasa Osing) Kelompok ketiga di atas sering disebut Bahasa Jawa Timuran. dianggap memiliki kedudukan/kekuasaan/pendidikan lebih tinggi. Dialek Surabaya 3. saya mau tanya rumah kak Budi itu. * Bahasa Indonesia: “Maaf. nèng*ndi?’ 2.Kelompok Bahasa Jawa Bagian Timur : 1. 5. Pak Lurah.

Secara struktural bahasa. Tapi dalam budaya arek suroboyo. karena tidak berani memandang mata lawan bicara ♦ Dialek Semarang adalah sebuah dialek bahasa Jawa yang dituturkan di Semarang. Pada umumnya menganggap dialek suroboyoan adalah yang terkasar tapi sebenarnya itu menunjukkan sikap tegas. dalemé mas Budi niku. griyané mas Budi niku. kula badhé takèn. Solo. Krama: “Nuwun sewu. dalem badhé nyuwun pirsa. Sikap basa basi yang diagung-agungkan wong Jawa. sebagai bentuk penghormatan atas orang lain. griyanipun mas Budi punika. dalemipun mas Budi punika. wong Jawa menekankan tidak boleh memandang mata lawan bicara yang lebih tua atau yang dituakan atau pemimpin. Boyolali dan Salatiga. dan terus terang. Dialek ini tak banyak berbeda dengan dialek di daerah Jawa lainnya. Madya: “Nuwun sèwu. bahasa Suroboyoan dapat dikatakan sebagai bahasa paling kasar. tidak berlaku di kehidupan arek suroboyo. wonten pundi?” 8. lugas. itu tanda bahwa orang tersebut sejatinya pengecut. karena dianggap tidak sopan. maka tak beda dengan daerah lainnya. kula badhe nyuwun pirsa.4. teng pundi?” 5. wonten pundi?” 7. Krama andhap: “Nuwun sèwu. Walau letak daerah Semarang yang heterogan dari pesisir kebudayaan 10 Jawa . Madya alus: “Nuwun sèwu. bahasa dengan tingkatan yang lebih halus masih dipakai oleh beberapa orang Surabaya. Meskipun demikian. dalemipun mas Budi punika. kula ajeng tanglet. kula ajeng tanglet. wonten pundi?” Beberapa jenis dialeg Jawa : ♦ Dialeg Surabaya atau lebih sering dikenal sebagai bahasa Suroboyoan adalah sebuah dialek bahasa Jawa yang dituturkan di Surabaya dan sekitarnya. teng pundi?” 6. Dialek ini berkembang dan digunakan oleh sebagian masyarakat Surabaya dan sekitarnya. Krama inggil: “Nuwun sewu. Semarang termasuk daerah pesisir Jawa bagian utara. Yogyakarta. misalnya dalam berbicara.

dsb. sedangkan dalam dialek Banyumasan dibaca enak dengan suara huruf 'k' yang jelas. ngoko andhap dan madya di Semarang ada di zaman sekarang. ♦ Dialek Banyumasan atau sering disebut Bahasa Ngapak Ngapak adalah kelompok bahasa Jawa yang dipergunakan di wilayah barat Jawa Tengah. Hal ini disebabkan bahasa Banyumasan masih berhubungan erat dengan bahasa Jawa Kuna (Kawi). seratus (100) menjadi "nyatus".(Pekalongan/Weleri. kebun binatang menjadi "Bon-bin". Para pemakai dialek Semarang juga senang menyingkat frase. Limang rupiah (5 rupiah) menjadi "mang-pi". sebab tergantung kepada kesepakatan dan minat para penduduk Semarang mengenai frasa mana yang disingkat. Selain itu. Indonesia. Jadi jika di Solo orang makan 'sego' (nasi). dialek Banyumasan banyak sekali bedanya. Jadi contohnya "Taman lele" tak bisa disingkat "Tam-lel" juga Gedung Batu tak bisa menjadi "Ge-bat". Beberapa kosakata dan dialeknya juga dipergunakan di Banten utara serta daerah Cirebon-Indramayu. misalnya Lampu abang ijo (lampu lalu lintas) menjadi "Bang-Jo". misalnya kata enak oleh dialek lain bunyinya ena. Logat bahasanya agak berbeda dibanding dialek bahasa Jawa lainnya. itulah sebabnya bahasa Banyumasan dikenal dengan bahasa Ngapak atau Ngapak-ngapak. Namun tak semua frasa bisa disingkat. di wilayah Banyumasan orang makan 'sega'. kata-kata yang berakhiran huruf mati dibaca penuh. Sebagian besar kosakata asli dari bahasa ini tidak memiliki kesamaan dengan bahasa Jawa standar (Surakarta/Yogyakarta) baik secara morfologi maupun fonetik. kebudayaan 11 Jawa . Kudus/Demak/Purwodadi) dan dari daerah bagian selatan/pegunungan membuat dialek yang dipakai memiliki kata ngoko. Dibandingkan dengan bahasa Jawa dialek Yogyakarta dan Surakarta. Perbedaan yang utama yakni akhiran 'a' tetap diucapkan 'a' bukan 'o'. dan sebagainya.

Dialek ini terkenal dengan cara bicaranya yang khas. pengucapan. juga di daerah perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Purworejo. tetapi orang Magelang memakai "aku" orang Temanggung yang di kotanya juga menggunakan "aku" di Parakan juga sebagian kecil menggunakan "aku"   "njagong": duduk (bahasa Jawa standar: lungguh) "Trus Priben": Lalu bagaimana (bahasa Jawa standar: "banjur "gandhul": pepaya piye" atau "terus piye")  ♦ Dialek Tegal Tegal termasuk daerah Jawa Tengah di dekat perbatasan bagian barat. selain Banyumas.Banten Cirebonan Utara sire sira/rika pisan pisan keprimen kepriben ♦ Banyumasan & Tegalan Jawa Standar Indonesia sira/rika kowe kamu Pisan banget sangat keprimen/kepriben/kepriwe piye/kepriye/kepripun bagaimana Dialek Kedu Dialek Kedu adalah sebuah dialek bahasa Jawa yang dituturkan di daerah Kedu. Meskipun memiliki kosa kata yang relatif sama dengan bahasa Banyumas. sebab merupakan pertemuan antara dialek "bandek" (Yogya-Solo) dan dialek "ngapak" (Banyumas). Magelang dan khususnya Temanggung. Contoh: Kata-katanya masih menggunakan dialek ngapak dalam tuturannya agak bandek:  "Nyong": aku. Letak Tegal yang ada di pesisir Jawa bagian utara. Pengucapan kata dan kalimat agak kental. Ciri khas kebudayaan 12 Jawa . pengguna dialek Tegal tidak serta-merta mau disebut ngapak karena beberapa alasan antara lain: perbedaan intonasi. tersebar di timur Kebumen: Prembun. dan makna kata. menjadikan dialek yang ada di Tegal beda dengan daerah lainnya. Dialek Tegal merupakan salah satu kekayaan bahasa Jawa.

t. yakni apa yang terucap sama dengan yang tertulis. dialek Tegal memiliki ciri khas pada pengucapan setiap frasanya. Bahasa Jawa Kuna Kawi Krama Ngoko Fraksi • • • • 2 sa rwa eka dwi setunggal kalih siji loro 1 3 telu tri tiga telu 5 pat lima catur panca sekawan gangsal papat lima 4 6 nem sad nem nem 7 pitu sapta pitu pitu 8 wwalu as. tigang prasekawan (Krama) 1. dan Sasak). bahasa Jawa memiliki system bilangan yang agak rumit. Untuk lebih jelas. Bali. seprasekawan (Krama) 3/4 telung prapat. Aksara Jawa bila diamati lebih lanjut memiliki sifat silabik (kesuku-kataan). mari kita amati beberapa contoh dan tabel berikut ini: Dialek Tegal padha saka sega apa tuwa Bahasa Jawa Standar Podho Soko Sego Opo Tuwo Salah satu persoalan yang selalu dihadapi oleh para siswa sekolah (SD sampai SMA) adalah dalam hal mata pelajaran bahasa daerah (Jawa). kalih tengah (Krama) C.2 Aksara Jawa Hanacaraka atau dikenal dengan nama caraka adalah abjad / alat tulis yang digunakan oleh suku Jawa (juga Madura. Palembang. Sunda. Bilangan dalam bahasa Jawa Bila dibandingkan dengan bahasa Melayu atau Indonesia. Kurikulum yang mereka terima seolah-olah merupakan 'paksaan' agar menggunakan menggunakan dialek Jawa Tengah dan Yogyakarta yang bukan merupakan bahasa ibu mereka. sepalih (Krama) 1/4 saprapat.Selain pada intonasinya. Hal ini kebudayaan 13 Jawa .a wolu wolu 9 sanga nawa sanga sanga 10 sapuluh dasa sedasa sepuluh 1/2 setengah.5 karo tengah. separo.

Pa-Dha-Ja-Ya-Nya berarti menyatunya zat pemberi hidup ( Khalik ) dengan yang diberi hidup ( makhluk ). menerima dan menjalankan kehendak Tuhan. dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata "hari". Beberapa buah aksara itu bisa digabungkan secara langsung untuk membentuk sebuah kata. cocok " tunggal batin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan   kebudayaan 14 Jawa .bisa dilihat dengan struktur masing-masing huruf yang paling tidak mewakili 2 buah huruf (aksara) dalam huruf latin. Padha Jayanya (Sama kuat/hebatnya). Sebagai contoh : Bila diucapkan. Maga Bathanga (Keduanya mati). Aksara Na yang mewakili dua huruf yakni N dan A. ada yang dipercaya dan ada yang dipercaya untuk bekerja. manusia. dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata "nabi". susunan aksara tersebut dapat membentuk kalimat: Hana Caraka (Terdapat Pengawal). Maksudnya padha " sama " atau sesuai. Adapula tafsir berbeda yang diajarkan oleh Pakubuwono IX. Da-Ta-Sa-Wa-La berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan data " saatnya ( dipanggil ) " tidak boleh sawala " mengelak " manusia ( dengan segala atributnya ) harus bersedia melaksanakan. Raja Kasunanan Surakarta. Sebagai contoh aksara Ha yang mewakili dua huruf yakni H dan A. Data Sawala (Berbeda Pendapat). manusia Maksudnya dan ada yang mempercayakan. jumbuh. Tafsir tersebut adalah:  Ha-Na-Ca-Ra-Ka berarti ada " utusan " yakni utusan hidup. kewajiban manusia ( sebagai ciptaan ). berupa nafas yang berkewajiban menyatukan Ketiga unsur jiwa itu dengan adalah jasat Tuhan.

unggul " sungguh-sungguh dan bukan menang-menangan " sekedar menang " atau menang tidak sportif. cipta mandulu.hasrat diarahkan untuk kesejahteraan alam  Da Dumadining dzat kang tanpa winangenan . berusaha untuk menanggulanginya. Jaya itu " menang. tutus. satu visi.pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi  Ca Cipta wening. Makna Huruf  Ha Hana hurip wening suci .keutamaan. warsitaning candara . sumarah pada garis kodrat. gaib candra. totalitas.adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci  Na Nur candra.rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani  Ka Karsaningsun memayu hayuning bawana .menerima hidup apa adanya  Ta Tatas. Maksudnya manusia harus pasrah. titis. meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat. Jumlah aksara / huruf pada hanacaraka berjumlah 20 buah tampak pada gambar berikut. ketelitian dalam memandang hidup  Sa Sifat ingsun handulu sifatullah .arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal  Ra Rasaingsun handulusih . titi lan wibawa .membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan kebudayaan 15 Jawa . cipta dadi .mendasar.  Ma-Ga-Ba-Tha-Nga berarti menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

Hakekat Allah yang ada disegala arah  Dha Dhuwur wekasane endek wiwitane . Artinya bahwa huruf yang diikuti pasangan akan dimatikan sehingga menjadi konsonan.Selalu berusaha menyatu memahami kehendak-Nya  Ya Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi . Kemudian menuliskan aksara Na karena aksara Na mewakili dua buah huruf latin yakni N dan A sehingga kita tidak bisa langsung menuliskan aksara da. bagaimana Carakan bisa menuliskan huruf mati.memahami kodrat kehidupan  Ma Madep mantep manembah mring Ilahi .ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas  La Lir handaya paseban jati .sesuatu harus dimulai dan tumbuh dari niatan  Nga Ngracut busananing manungso . Untuk mematikan huruf Na.yakin atas titah/kodrat Illahi  Nya Nyata tanpa mata.Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar  Ja Jumbuhing kawula lan Gusti . Pada kasus di atas aksara Na diikuti pasangan Da yang berarti Na akan dibaca sebagai N. Untuk menuliskan ban ini pertama-tama adalah dengan menuliskan aksara Ba terlebih dahulu. Pasangan memiliki fungsi untuk menghubungkan suku kata yang tertutup (diakhiri) konsonan dengan suku kata berikutnya. Wa Wujud hana tan kena kinira . ngerti tanpa diuruki . Hal ini bisa diJawab dengan adanya pasangan. Suku kata yang pertama suku kata ban.belajar pada guru nurani  Ba Bayu sejati kang andalani . maka kita harus menuliskan bentuk pasangan da. Sebagai contoh kata "banda" yang bila dipisahkan menurut silabiknya adalah "ban" dan "da".melepaskan egoisme pribadi manusia Pasangan Jika Carakan / aksara Jawa lebih bersifat silabis (kesuku-kataan).yakin/mantap dalam menyembah Ilahi  Ga Guru sejati sing muruki . Bentuk pasangan disebutkan memiliki fungsi untuk menghubungkan suku kata yang tertutup konsonan dengan suku kata berikutnya.mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi  Pa Papan kang tanpa kiblat . kebudayaan 16 Jawa .menyelaraskan diri pada gerak alam  Tha Tukul saka niat .

(Kata-kata dalam Bahasa Indonesia yang menunjukkan hal-hal diatas biasanya diawali dengan huruf besar atau kapital. Bentuk pasangan ini ada yang dituliskan di bawah dan ada juga yang di atas sejajar dengan aksara. Aksara Murda dan pasangannya kebudayaan 17 Jawa . Bentuk-bentuk pasangan itu adalah: Aksara Murda Pada aksara hanacaraka memiliki bentuk murda (hampir setara dengan huruf kapital) yang seringkali digunakan untuk menuliskan kata-kata yang menunjukkan :      Nama Gelar Nama Diri Nama Geografi Nama Lembaga Pemerintah Dan Nama Lembaga Berbadan Hukum. Untuk itulah pada perangkat lunak ini kita gunakan huruf kapital untuk menuliskan aksara murda atau pasangannya).Semua aksara pokok yang ada di Carakan memiliki pasangannya masingmasing.

ditambah dengan beberapa aturan tambahan yakni : a. c. Contoh: Aksara swara kebudayaan 18 Jawa . Murda tidak dapat dipakai sebagai sigeg (konsonan penutup suku kata). Contoh Pemakaian Aksara Murda Untuk melengkapi aturan penggunaan aksara murda ini. maka dituliskan bentuk aksara pokoknya. contoh berikut bisa digunakan sebagai acuan untuk menuliskan Aksara Murda. maka ada dua aturan yang dapat dipergunakan yakni dengan menuliskan aksara murda terdepannya saja. Bila ditemui aksara murda menjadi sigeg.Aturan Pengunaan Untuk aturan penulisan Aksara murda ini hampir sama dengan penulisan aksaraaksara pokok di Hanacaraka. b. atau dengan menuliskan keseluruhan dari bentuk aksara mudra yang ditemui. Bila dalam satu kata atau satu kalimat ditemui lebih dari satu aksara murda.

maka sigegan itu harus dimatikan dengan pangkon. contoh berikut bisa digunakan sebagai acuan untuk menuliskan Aksara Murda. cecak. Aksara ini tidak dilengkapi dengan bentuk pasangan.Kegunaan Aksara Swara Aksara Swara sebagaimana aksara Murda memiliki fungsi dan kegunaan tertentu. diikuti aturan penulisan aksara swara sebagai berikut : a. Contoh: Sandangan kebudayaan 19 Jawa . layar. Aksara swara tidak dapat dijadikan sebagai aksara pasangan. Contoh Penggunaan Aksara Swara Untuk melengkapi aturan penggunaan aksara murda ini. adapun bentuk Aksara Swara ini adalah sebagai berikut : Aturan Penulisan Aksara Swara Dalam menuliskan Aksara Swara. suku. Aksara swara dapat diberikan sandangan wignyan. terutama yang berasal dari bahasa asing. untuk mempertegas pelafalannya. Bila aksara swara menemui sigegan (konsonan pada akhir suku kata sebelumnya). Bentuk Aksara Swara Aksara Swara tidak seperti aksara-aksara yang lain. b. wulu dan lainnya. c. Aksara Swara dalam penulisan Hanacaraka digunakan untuk menuliskan aksara vokal yang menjadi suku kata.

atau vokal U yang tidak dituliskan dengan aksara swara. Pemakaian Sandangan Pepet Kegunaannya untuk dipakai untuk melambangkan vokal e di dalam suatu suku kata. maka sandangan wulu digeser sedikit ke kiri. Di dalam tulisan Jawa. Pemakaian Sandangan Suku Penulisan sandangan suku dapat dituliskan dalam dua keadaan yaitu : 1. Sedangkan wulu ditulis di bagian atas akhir suatu aksara. misalnya : Sandangan di dalam aksara Jawa dapat dibagi menjadi tiga golongan yakni sebagai berikut : 1. Sandangan Bunyi Vokal (Sandhangan Swara) Sandangan bunyi vokal ada lima buah. maka pasangan ini harus dirubah dulu ke dalam bentuk aksara pokoknya dahulu. Penulisan sandangan suku pada pasangan. Sandangan suku pada pasangan dituliskan mengikuti letak penulisan pasangan itu. Apabila selain wulu juga terdapat sandangan yang lain. Sandangan suku dipakai untuk melambangkan bunyi vokal u yang bergabung dengan bunyi konsonan di dalam suatu suku kata. Penulisan sandangan suku pada aksara. Vokal a di dalam bahasa Jawa mempunya dua macam varian. tolong. siapa. seperti a pada kata pas. tokoh doi dalam bahasa Indonesia. atau (la). Apabila sandangan suku mengikuti pasangan aksara (ka). (ta). Aturan penulisan sandangan pepet tertera sebagai berikut: kebudayaan 20 Jawa . aksara yang tidak mendapat sandangan diucapkan sebagai gabungan anatara konsonan dan vokal a. misalnya :  Vokal a dilafalkan /a/. baru kemudian diberikan sandangan suku.Sandangan adalah tanda yang dipakai sebagai pengubah bunyi di dalam tulisan Jawa. yakni / / dan /a/. Adapun bentuk dari sandangan bunyi vokal ini adalah : Pemakaian Sandangan Wulu Sandangan Wulu dipakai untuk melambangkan vokal ( i ) di dalam suatu suku kata.  Vokal a dilafalkan seperti o pada kata bom.Sandangan suku dituliskan serangkai di bagian bawah akhir aksara yang mendapatkan sandangan itu. Letak sandangan sukunya sendiri tetap berada pada bagian bawah akhir dari pasangan. pokok. ada. semua di dalam bahasa Indonesia. 2.

Penempatan sandangan pepet pada aksara yang mendapatkan pasangan dituliskan sesuai dengan aturan di atas. maka taling ditaruh didepan aksara sigeg. maka sandangan pepet digeser sedikit ke kiri dan sandangan layar ditulis di sebelah kanan pepet. dan (pa). Sandangan taling tarung untuk aksara pasangan di tuliskan mengapit aksara yang dimatikan (yang menjadi sigeg). Sandangan Konsonan Penutup Suku Kata (Sandhangan Panyigeging Wanda) Sandangan penutup suku kata ada 4 buah. (sa). Pemakaian Sandangan Taling Untuk membedakan penggunaan sandangan pepet dengan taling. Apabila selain pepet juga terdapat sandangan layar. Sebab suku kata re dan le yang bukan pasangan dilambangkan dengan tanda pacerek (re) dan Nga lelet (le). maka dibedakan sebagai berikut . Untuk aksara pasangan yang ada di atas seperti pasangan (ha). Untuk aksara yang mendapatkan pasangan ini. Penulisan wignyan diletakkan di belakang aksara yang dibubuhi sandangan itu. kebudayaan 21 Jawa .  é untuk penulisan sandangan pepet  e untuk penulisan sandangan taling Pemaikaian Sandangan Taling Tarung Sandangan taling tarung dipakai untuk melambangkan bunyi vokal O yang tidak dituliskan dengan aksara swara di dalam suatu suku kata. (sa). kecuali untuk aksara yang mendapatkan pasangan yang dituliskan di atas seperti sandangan (ha). dan (pa). Pengecualian: Sandangan pepet tidak dipakai untuk menuliskan suku kata re dan le yang bukan sebagai pasangan. maka sandangan pepet digeser sedikit ke kiri dan sandangan cecak ditulis di dalam pepet. Untuk Sandangan taling tarung dituliskan mengapit aksara yang dibubuhi sandangan itu. 2. Apabila selain pepet juga terdapat sandangan cecak.Sandangan pepet ditulis di bagian atas akhir aksara. sedangkan tarung ditaruh di belakang aksara pasangan. Pemakaian Sandangan Wignyan Sandangan wignyan adalah pengganti sigegan ha (konsonan ha di akhir suku). maka penulisan pepet berada di atas pasangannya.

di samping untuk mematikan aksara. atau tanda koma (. maka penulisan cecak di taruh di dalam sandangan pepet. Sandangan pangkong ditulis di belakang aksara yang di bubuhi sandangan itu. Pada kasus ini pangkong berfungsi ganda.  Sandangan pangkon dapat juga dipakai sebagai pembatas bagian kalimat atau rincian yang belum selesai.) di dalam ejaan latin. yakni :  Sandangan cecak ditulis di atas aksara.Pemakaian Sandangan Layar Hampir sama dengan sandangan wignyan. sandangan pangkong memiliki beberapa fungsi. Fungsi-fungsi itu adalah :  Sandangan pangkong dipakai sebagai penanda bahwa aksara yang dibubuhi sandangan pangkon itu merupakan aksara mati. Sandangan cecak apabila mengikuti sandangan pepet. aksara penutup suku kata. Pemakaian Sandangan Pangkon Tidak seperti ketiga sandangan sebelumnya.  Sandangan cecak ditulis di atas aksara di dalam pepet. Sandangan cecak dituliskan menurut aturan ini bila menemui keadaan aksara yang diikuti tidak memiliki sandangan di atas aksara selain dirinya. Penulisan layar ditulis dibagian atas akhir aksara yang mengikuti. sandangan layar digunakan untuk pengganti sigegan ra (konsonan ra di akhir suku). Pemakaian Sandangan Cecak Sandangan cecak digunakan untuk menuliskan sigegan ng (sepasang konsonan nga di akhir suku kata). atau aksara penyigeging wanda. aku angon sapi. o Contoh: bapak macul. Sandangan pangkon dapat ditulis untuk menghindarkan penulisan aksara yang bersusun lebih dari dua tingkat. ada tiga buah kondisi dalam menuliskan sandangan cecak. o Contoh : benik klambi kebudayaan 22 Jawa . adhiku dolanan ijen. senilai dengan pada lingsa. Apa bila sandangan cecak mengikuti sandangan wulu.  Sandangan cecak ditulis di atas aksara belakang sandangan wulu. maka sandangan cecak dituliskan di belakang sandangan wulu.

Pada Lingsa Pada lingsa dipakai pada akhir bagian kalimat sebagai tanda intonasi setengah selesai. cakra la. sebagai contoh kraton yang dapat dipisah menjadi kra-ton. Sandangan Cakra Keret Sandangan Cakra Keret dipakai untuk melambangkan gugus konsonan yang berunsur akhir konsonan r dengan diikuti vokal e pepet. Aksara yang sudah diberikan cakra dapat diberikan sandangan lagi selain sandangan cakra. Tanda ini hampir setara dengan penggunaan koma(. Tanda pengkal ditulis serangkai di belakang aksara yang diberi tanda pengkal.). Di dalam Hanacaraka ada lima buah gugus konsonan yang digunakan dalam bentuk sandangan. dhuwur. Sandangan Gugus Konsonan Gugus konsonan adalah kumpulan dari dua konsonan dalam Hanacaraka yang akan membentuk suatu suku kata. cakra wa. Dan apa bila sandangan itu adalah pepet. Sandangan Pengkal Sandangan Pengkal dipakai untuk melambangkan konsonan y yang bergabung dengan konsonan lain di dalam suatu suku kata. maka sandangan cakra dan pepet ditulis menjadi cakra keret. Bentuk tanda baca yang ditangani dalam perangkat lunak ini ada 4 buah yakni : 1) Adeg-adeg Adeg adeg dipakai di depan kalimat pada tiap-tiap awal alinea. 2) kebudayaan 23 Jawa . suku kata kra memiliki gugus konsonan kr. Tanda cakra ditulis serangkai di bawah bagian akhir aksara yang diberi tanda cakra itu. paragraf dan lainnya.3. Sandangan Cakra Sandangan cakra merupakan penanda gugus konsonan yang unsur terakhirnya berwujud konsonan r. lan pakulitane ireng. cecak. Tanda cakra keret ditulis serangkai di bawah bagian akhir aksara yang diberikan tanda keret itu. Contoh: wong gedhe. Dengan kata lain cakra keret digunakan sebagai ganti tanda cakra yang mendapatkan penambahan sandangan pepet. Tanda Baca Dalam Hanacaraka terdapat pula tanda-tanda baca yang digunakan dalam penulisan kalimat.

MATA PENCAHARIAN Di Indonesia. terutama mereka yang hidup di daerah pegunungan. Selain sumber penghidupan yang berasal dari pekerjaan-pekerjaan kepegawaian. Di dalam melakukan pekerjaan pertanian ini. bertani adalah juga merupakan salah satu mata pencaharian hidup dari sebagian besar masyarakat orang Jawa di desadesa. banyak diantara suku Jawa bekerja sebagai buruh kasar dan tenaga kerja indonesia seperti pembantu. Contoh: Ibu mundhut emas 75 gram. orang Jawa tidak menonjol dalam bidang Bisnis dan Industri. yaitu yang bertempat tinggal di daerah-daerah yang lebih rendah mengolah tanah-tanah pertanian tersebut untuk dijadikan sawah. beberapa jenis tanaman palawija juga ditumbuhkan baik sebagai tanaman utama di kebudayaan 24 Jawa . Tanda ini hampir setara dengan titik. Terutama bidang Administrasi Negara dan Militer banyak didominasi orang Jawa. orang Jawa bisa ditemukan dalam segala bidang. pikirane goreh. dan buruh di hutan-hutan di luar negeri yang mencapai hampir 6 juta orang. Contoh: wis meh jam telu esuk. 4) Pada Pangkat  Pada pangkat dipakai pada akhir pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian. Banyak variasi pekerjaan sesuai dengan keahlian dan keterampilan yang dimiliki. Contoh: aku arep tuku bala pecah : mangkok. Sedangkan yang lain. diantara mereka ada yang menggarap tanah pertaniannya untuk dibuat kebun kering ( tegalan ). pertukangan dan perdagangan.  Pada pangkat dipakai untuk mengapit petikan langsung. piring. lan gelas. sumini durung bisa turu. Biasanya disamping tanaman padi. Meski banyak pengusaha Indonesia yang sukses berasal dari suku Jawa. goreh amarga mikirna bojone kang wis telung dina iki durung mulih. "sapa kancamu" D.3) Pada Lungsi Pada lungsi dipakai pada awal suatu kalimat. Dan tentunya kini semakin bertambah banyak.  Pada pangkat dipakai untuk mengapit angka. Contoh: Ibu ngendika.

Kalau ia menerima sepertiga bagian saja. Selain sumber penghasilan dari lapangan pekerjaan pokok bertani tersebut. artinya ia meminjamkan uang kepada orang lain. ialah hanya menyewakan sawahnya untuk satu tahun. Dalam hal ini dia bisa menjual secara adol tahunan. sebagia bunganya. Banyak orang di desa tidak memiliki tanah-tanah pertanian yang luas. ketela rambat. bagi hasil atau menggadai tanah. Hubungan transksi semacam ini. mencetak batu merah. Akhirnya jika orang hendak menggadai tanah. Apabila orang yang tidak mempunyai tanah ingin mendapat hasil dengan cara bagi hasil. Sawah itu ada yang dimiliki sendiri dan sawah ini disebut sawah sanggan dan sawah yasan. karena ia kaya dapat memberikan sejumlah uangnya kepada orang pemilik sawah yang memerlukan. dan lain-lain. maka sistem itu disebut maro. Terutama untuk bagi hasil tanaman palawija kacang brol. umumnya dilakukan oleh kedua belah pihak dengna disaksikan oleh salah seorang anggota Pamong Desa. dan menjadi tukang-tukang kebudayaan 25 Jawa . sistem itu disebut mertelu. kacang tanah. kedelai. Pemilik yang kelebihan dapat menjual sawah seperti itu kepada orang lain. Orang yang menyewa tanah. yang disebut adol oyodan. kacang tunggak. Orang seperti itu terpaksa bekerja menjadi buruh tani.tegalan maupun sebagai tanaman penyela di sawah pada waktu musim kemarau dimana air sangat kurang untuk pengairan sawah-saah itu. Walaupun demikian ornag yang menggadai tanah itu sudah dapat memungut hasil pertaniannya setidak-tidaknya satu kali masa panen. misalnya untuk satu masa panen. maka tanha pertanian tadi diserahkan kembali kepadanya. diantaranya adalah ketela pohon. dimana ia mendapat tanha pertanian sebagai barang gadaian untuk diolah. Tanaman penyela tersebut. Kemudian jika si peminjam uang dan pemilik sawah tersebut berhasil mengembaikan uang pinjamannya pada suatu waktu. maka ada yang disebut adol sende. atau secara adol ceplik. adapula beberapa sumber pendapatan lain yang diperoleh dari usaha-usaha kerja sambilan membuat makanna tempe. kacang brol. artinya memperoleh separo bagian hasil panennya. membatik. bahakna banyak juga yang tidak mempunyaianya sama sekali. menganyam tikar. ialah menjual lepas sawahnya. si pemilik sawah biasanya hanya akan menerima seperlima bagian dari seluruh hasil panenan sawahnya. menyewa tanah. Sudah barang tentu cara-cara bagi hasil ini tergantung kepada keadaantingkat kesuburan tanah pertanian tersebut. mbotok atau membuat minyak goreng kelapa.

ketika menapak dewasa (18 atau 21 tahun) bertambah lagi menjadi Bandara Raden Mas Aryo. dan mengelompokkan masyarakat Jawa ke dalam tiga golongan: priyayi. ia akan memiliki gelar yang berbeda dari gelar yang telah ia miliki.kayu. Misalnya ia menduduki jabatan pemimpin ksatrian maka gelarnya akan berubah menjadi Gusti Pangeran Adipati Haryo. Suatu golongan tertinggi dalam masyarakat karena memiliki keturunan dari keluarga kerajaan. kebudayaan 26 Jawa . Pada saat dewasa dan telah memiliki jabatan dalam hierarki kebangsawanan. jadi nama lengkapnya adalah Raden Mas Bomantara. Misalnya ketika seorang anak laki-laki lahir diberi nama Bomantara. Golongan priyayi tertinggi disebut Priayi Ageng (bangsawan tinggi). yang berarti kekasih Dalam kebudayaan Jawa. ia bergelar Raden Mas. SISTEM KEMASYARAKATAN  Lapisan sosial  priyayi Kata priyayi konon berasal dari dua kata Jawa para dan yayi yang secara harafiah berarti "para adik". karena pengelompokkan priyayi-non priyayi adalah berdasarkan garis keturunan seseorang. Namun penggolongan ini tidaklah terlalu tepat. istilah priyayi atau berdarah biru merupakan suatu kelas sosial yang mengacu kepada golongan bangsawan. ketika menginjak akil balik gelarnya bertambah satu kata menjadi Bandara Raden Mas. santri dan abangan. Istilah priyayi menjadi terkenal saat Clifford Geertz melakukan penelitian tentang masyarakat Jawa pada tahun 1960-an. Gelar dalam golongan ini terbagi menjadi bermacam-macam berdasarkan tinggi rendahnya suatu kehormatan. Yang dimaksud adalah para adik raja. Kelompok santri digunakan untuk mengacu pada orang yang memiliki pengetahuan dan mengamalkan agama. Dan setiap kedudukan yang ia jabat ia akan memilki gelar tambahan atau gelar yang berubah nama. Beberapa gelar dari yang tertinggi hingga dengan hanya satu gelar saja yaitu Raden. Abangan digunakan untuk mereka yang bukan priyayi dan juga bukan santri. batu atau reparasi sepeda dan lapangan-lapangan pekerjaan lain yang mungkin dikerjakan. E. Gelar seorang priyayi juga dapat meningkat seiring dari usianya. Namun menurut Robson (1971) kata ini bisa pula berasal dari kata Sansekerta priyā.

Joko.abangan dibuat berdasarkan sikap dan perilaku seseorang dalam mengamalkan agamanya (Islam). serta pekarangannya. Yang biasanya mempunyai gelar-gelar yang menandakan tingkat kebangsawanannya. c. dan masih tinggal bersama orang tuanya atau tinggal (ngenger) dirumah orang lain. tukang dan pekerja kasar lainnya.sehingga terpaksa menetap di kediaman mertuanya. Wong baku merupakan lapisan tertinggi dalam lingkungan desa di Jawa. b. rumah. Ningrat  Adalah keluarga keraton dan keturunan bangsawan lainnya. ada priyayi yang santri dan ada pula yang abangan. Desa-desa di Jawa sering dibagi-bagi menjadi bagian-bagian yang disebut dukuh. biasanya hidup didesadesa dengan sesuai dengan mata pencaharian mereka sebagai petani. sehingga menjadi Bandara Raden Mas (disingkat BRM). Kuli gandok atau lindung Mereka adalah orang laki-laki yang sudah kawin. akan tetapi tidak mempunyai tempat tinggal sendiri. Golongan ini juga dapat digolongkan lagi menjadi : a.sedangkan pengelompokkan santri . atau bujangan Mereka semua belum menikah. mereka memiliki sawah. Misalnya seorang laki-laki ningrat yang merupakan keturunan langsung (generasi pertama) dari raja/pemimpin yang memerintah akan mendapat tambahan Bandara (baca "bandoro") di depan gelarnya. Dalam realita. akan tetapi golongan bujang ini bisa mempunyai tanah baik dari pembelian atau warisan. para pamong desa harus sering menggerakkan kebudayaan 27 Jawa . mereka adalah keturunan orang-orang yang dahulu yang pertama kali menetap didesa. Wong Cilik  Merupakan golongan masyarakat yang paling bawah. Dalam hal memelihara dan membangun masyarakat desanya. sinoman. bahkan ada pula yang non muslim. oleh karena itu dalam susunan kepemimpinan desa tiap-tiap dukuh diketuai oleh kepala dukuh.

terlebih dahulu diselenggarakan berbagai upacara-upacara sampai dilaksanakannya peresmian perkawinan. Jadi merupakan pernikahan sororat. Magang atau ngenger. ialah seorang jejaka yang telah mengabdikan dirinya pada kerabat si gadis. misalnya keluarga keraton atau keluarga kyai agung. d. SISTEM KEKERABATAN Sistem kekerabatan masyarakat Jawa berdasarkan prinsip keturunan bilateral. Semua kakak laki-laki atau wanita ayah dan ibu beserta istri atupun suami masing – masing diklasifikasikan menjadi satu dengan istilah siwa atau uwa. Perkawinan ngarang wulu adalah suatu perkawinan seorang duda dengan seorang wanita salah satu adik dari almarhum istrinya. e. c. Masyarakat Jawa mengenal beberapa sistem pernikahan. Menurut adat Jawa apabila akan diadakan suatu perkawinan. Paksa (peksan). Adapun adik dari ayah dan ibu diklasifikasikan ke dalam dua golongan yang dibedakan menurut jenis kelamin menjadi paman dan bibi. memperbaiki dan membuat sarana fasilitsa pedesaan. Pelamaran biasa b. yaitu seorang yang mendapat istri sebagai pemberian atau penghadiahan dari salah satu lingkungan keluarga tertentu. Upacara. Dalam adat masyarakat Jawa dikenal adanya ngarang wulu serta wayuh. F. yaitu : a. Ngunggah-ngunggahi. Adapun wayuh adalah suatu perkawinan lebih dari satu istri (poligami).upacara tersebut adalah  Nakokake Seorang pria pertama-tama datang ke kediaman orang tua si gadis dengan didampingi oleh orang tua sendiri atau wakil orang tuanya untuk menanyakan kebudayaan 28 Jawa .masyarakat dengan gugur gunung atau kerik desa guna bekerja sama membersihkan. yaitu pihak kerabat si gadis yang melamar si jejaka. Triman. yaitu suatu perkawinan seorang pria dan wanita atas kemauan kedua orang tua mereka.

pintu gerbang dari rumah orangtua wanita dihias dengan Tarub (dekorasi tumbuhan). yakni anggota kerabat dekat menurut garis laki – laki (patrilineal). Jika orang tua si gadis telah meninggal. dimana tercatat sebagai pasangan suami istri.  Nontoni Calon suami mendapat kesempatan untuk melihat calon istrinya.  Persiapan Penunjukkan Pemaes. Besarnya panitia itu tergantung dari latar belakang dan berapa banyaknya tamu yang di undang (300. 1000 atau lebih). hal itu yang disebut nakokake kepada wali. musik gamelan dan tarian. pidato pembuka. wali untuk Ijab. Persiapan yang paling penting adalah Ijab (catatan agama dan catatan sipil). apakah si gadis sudah ada empunya atau belum (legan). makanan dan minuman. Biasanya sehari sebelum pesta pernikahan. Dia mengurus dandanan dan pakaian pengantin laki-laki dan pengantin perempuan yang bentuknya berbeda selama pesta pernikahan. Panitia mengurus seluruh persiapan perkawinan: protokol. Pohon pisang sangat mudah tumbuh dimana saja. Banyak yang harus dipersiapkan untuk setiap upacara pesta pernikahan. keluarga dari kedua mempelai. 500. perhiasan dan perlengkapan lain untuk pesta pernikahan. kebudayaan 29 Jawa . dekorasi dari ruangan resepsi. komunikasi dan keamanan. Biasanya dia juga menyewakan pakaian pengantin. transportasi.kepadanya. yaitu : • Dua pohon pisang dengan setandan pisang masak berarti: Suami akan menjadi pemimpin yang baik di keluarga. pembawa acara. terdiri dari berbeda Tuwuhan (tanaman dan daun). dukun pengantin perempuan di mana menjadi pemimpin dari acara pernikahan. Untuk itu dibentuk sebuah panitia kecil yang terdiri dari teman dekat. Pasangan pengantin akan hidup baik dan bahagia dimana saja.

Bentuk daun seperti beringin. berarti laki-laki harus punya banyak pengetahuan. Selain pemasangan tarub juga dikenal adanya Kembar Mayang yang merupakan karangan dari bermacam daun (sebagian besar daun kelapa di dalam batang pohon pisang). mojo-koro. Gunung itu tinggi dan besar. kebudayaan 30 Jawa • . • Mempunyai bentuk seperti gunung.• Sepasang Tebu Wulung berarti: Seluruh keluarga datang bersama untuk bantuan nikah. Itu dekorasi sangat indah dan mempunyai arti yang luas. • • • Bekletepe Bleketepe yang berada di atas pintu gerbang berarti menjauhkan dari gangguan roh jahat dan menunjukan di rumah mana pesta itu diadakan. Cengkir Gading berarti: Pasangan pengantin cinta satu sama lain dan akan merawat keluarga mereka. pengalaman dan kesabaran. dadap srep berarti: Pasangan pengantin akan hidup aman dan melindungi keluarga. Cemeti: Pasangan pengantin akan selalu hidup optimis dengan hasrat untuk kehidupan yang baik. • Keris: Melukiskan bahwa pasangan pengantin berhati-hati dalam kehidupan. alang-alang. pintar dan bijaksana.

Daun Dadap srep: Daun yang dapat digunakan mengompres untuk menurunkan demam. di jalan dekat rumah. di mana Tuhan Pencipta melidungi kami. telur. • • • • • Daun Dlingo Benglé: Jamu untuk infeksi dan penyakit lainnya. Sajen berarti untuk mendoakan leluhur dan untuk melindungi dari gangguan roh jahat. Jawa 31 kebudayaan . nasi kuning dengan hiasan. Tumpeng Gundul. itu digunakan untuk melindungi gangguan setan. Burung: Pasangan pengantin mempunyai motivasi hidup yang tinggi. Tujuh macam bubur. Pisang raja dan buah lainnya. daging. di bawah pintu gerbang. Sebelum memasang Tarub dan Bekletepe harus membuat hidangan spesial yang dinamakan Sajen. di dapur. diantaranya di kamar mandi. tahu. Belalang: Pasangan pengantin akan giat. Daun Beringin: Pasangan pengantin akan selalu melindungi keluarganya dan masyarakat sekitarnya. di bawah dekorasi Tarub. Daun Kruton: Daun yang melindungi mereka dari gangguan setan. Itu adalah simbol yang sangat berarti. dan lain-lain. Kelapa muda. Makanan: ayam. cepat berpikir dalam mengambil keputusan untuk keluarganya. Tradisionil Sajen (persembahan) dalam pesta adat Jawa itu sangat penting. Sajen diletakan di semua tempat di mana pesta itu diadakan.• • Payung: Pasangan pengantin harus melindungi keluarganya. nasi kuning tanpa hiasan. • Siraman sajen terdiri dari: • • • • • • Tumpeng Robyong. Bunga Patra Manggala: Itu digunakan untuk memperindah karangan. berarti pasangan pengantin akan selalu mempunyai pikiran yang jernih dan tenang dalam mengadapi masalah.

Tidak hanya orangtua. air asam Jawa). magnolia dan kenanga . Makna dari pesta Siraman adalah untuk membersihkan jiwa dan raga. mereka memberi nama PITULUNGAN (berarti menolong). magnolia) dengan air Suci. cendol. Teh dan kopi pahit. gayung dari 2 kelapa.• • • • • Kue manis. Daftar nama dari orang yang melakukan Siraman itu sangat penting. Mereka menyeleksi orang yang bermoral baik. Buna Telon (kenanga. Pesta Siraman ini biasanya diadakan di siang hari. Aroma . Bunga Setaman . biasanya terbuat dari tembaga atau perunggu. Siraman biasanya dilakukan di kamar mandi atau di taman. Jumlah orang yang melakukan Siraman itu biasanya tujuh orang.lima warna . ditutup dengan: kebudayaan 32 Jawa .berfungsi seperti sabun. tetapi juga keluarga dekat dan orang yang dituakan. Lantera. Bahasa Jawa tujuh itu PITU. lemper. Tradisionil shampoo dan conditioner (abu dari merang. Siraman di adakan di rumah orangtua pengantin masing-masing. melati. Yang harus dipersiapkan: • • • • • • Baskom untuk air. Air dari sumur atau mata air. Kursi kecil.di campur dengan air. letakkan bersama. Sekarang lebih banyak diadakan di taman. Rokok dan kretek. melati. sehari sebelum Ijab dan Panggih. santan.mawar.  Siraman.

telinga.lurik (motif garis dengan potongan Yuyu Sekandang dan Pula Watu). Mereka menyiramkan air ke tangannya dan membersihkan mulutnya tiga kali. Orang terakhir yang melakukan Siraman adalah Pemaes atau orang sepesial yang telah ditunjuk. Dandanan itu tergantun dari bentuk perkawinan. Akhirnya. handuk.• Tikar . orang lain boleh melakukan Siraman. wajah. Dia diantar ke tempat Siraman. Air ini diletakan di rumah pengantin laki-laki. Itu adalah simbol dari kemakmuran hidup. Keluarga dari pengantin wanita mengirim utusan untuk membawa air-bunga ke keluarga dari pengantin laki-laki. • • • • Memakai kain putih selama Siraman. Dia mendudukkan di kursi dan berdoa. Handuk. Itu Banyu Suci Perwitosari.  Upacara Ngerik Setelah Siraman. Dalam pelaksanaan upacara Siraman Pengantin perempuan/laki-laki datang dari kamarnya dan bergabung dengan orangtuanya. Pemaes mengeringkan rambutnya dengan handuk dan menberi pewangi (ratus) di seluruh rambutnya. Kemudian mereka menyiramkan air ke atas kepala. Orang pertama yang menyiramkan air ke pengantin adalah ayah.kain putih . Pengantin perempuan/laki-laki duduk dengan kedua tangan di atas dada dengan posisi berdoa. Dia mengikat rambut ke belakang dan mengeraskannya (gelung). dia siap untuk di dandani. Setelah mereka. Beberapa orang jalan di belakangnya dan membawa baki dengan kain batik. Setelah Kendi itu kosong. berarti air suci dan simbol dari intisari kehidupan. Setelah itu Pemaes membersihkan wajahnya dan lehernya. dan lain-lain. Pemaes menggunakan tradisionil shampoo dan conditioner. Pemaes sangat behati-hati dalam merias pengantin. pengantin wanita memakai kebaya dan kain batik dengan motif Sidomukti atau Sidoasih. Pemaes atau orang yang ditunjuk memecahkan kendi ke lantai dan berkata: 'Wis Pecah Pamore' . Ibu boleh menyiramkan setalah ayah. Kendi.beberapa macam daun . Dan ini akan digunakan setelah Siraman. tangan dan kaki juga sebanyak tiga kali. kebudayaan 33 Jawa .dlingo benglé (tanaman untuk obatobatan) . pengantin duduk di kamar pengantin. leher. Kain batik dari Grompol dan potongan Nagasari.berarti dia itu tampan (menjadi cantik dan siap untuk menikah).bango tulak (kain dengan 4 macam motif) .

Suruh Ayu (daun betel). Dua kendi (diisi dengan bumbu. suaminya yang akan bertanggung Jawab. Biasanya mereka akan memberi saran dan nasihat. Jawa 34 • • • • kebudayaan . Yang harus diletakan di kamar pengantin : • • Satu set Kembar Mayang. Kacang Areca. Keluarga dan teman dekat dari pengantin wanita akan datang berkunjung. Pada malam hari. jamu. Mulai dari besok. Menurut kepercayaan kuno. Midodareni itu berasal dari kata Widodari yang berarti Dewi. Upacara Midodareni Pelaksanaan pesta ini mengambil tempat sama dengan Ijab dan Panggih. Orangtua dari pengantin wanita akan menyuapkan makanan untuk yang terakhir kalinya. Ukub (baki dengan bermacam pewangi dari daun dan bunga) diletakan di bawah tempat tidur. dan lain-lain) di lapisi dengan kain Bango Tulak. Dua kendi (diisi dengan air suci) di lapisi dengan daun dadap srep. semuanya harus wanita. kacang. Dewi akan datang dari kayangan. calon pengantin wanita akan menjadi cantik sama seperti Dewi. Pengantin wanita harus tinggal di kamar dari jam enam sore sampai tengah malam di temani dengan beberapa wanita yang dituakan. beras.

Buah-buahan. Di tengah malam semua sajen di ambil dari kamar. Mereka membawa hadiah: • Suruh Ayu (daun betel). Hanya pengantin laki-laki tidak bisa bertamu ke kamar pengantin perempuan yang sudah bagus di dekorasi. Hanya keluarganya boleh masuk ke rumah. dia hanya diberi segelas air dan kebudayaan 35 Jawa . keluarga dan teman dekat dari pengantin wanita bertemu dengan keluarga dari pengantin laki-laki. Dalam kesempatan ini. Setagen putih untuk tanda kekuatan. • • Cincin untuk pasangan pengantin. tetapi dia tidak boleh masuk ke rumah. Selama itu. Keluarga dari pengantin laki-laki berkunjung ke keluarga dari pengantin perempuan. • • • Kain Kebaya. dan lain-lain. kedua keluarga beramah tamah. • Beras.  Peningsetan atau Srah-Srahan Peningsetan berasal dari kata singset (berarti ikatan). Pengantin laki-laki tiba bersama dengan keluarganya. Di kamar lain. mengharapkan untuk kebahagiaan dan kehidupan yang baik. gula. tanda dasar kehidupan. Sumbangan uang untuk pesta pernikahan. Dia duduk di serambi depan rumah bersama dengan beberapa teman dan keluarga. garam. minyak. • Beberapa kain batik dengan corak berbeda. mengharapkan untuk keselamatan. mengharapkan kesehatan. Kedua keluarga menyetujui pernikahan.• Tujuh macam kain dengan corak letrek. Mereka akan menjadi besan. Keluarga dan tamu dapat makan bersama.

pengantin lakilaki boleh masuk ke rumah. Itu disebut Nyantri. Nyantri dilakukan untuk keamanan dan praktisnya. Utusan menyatakan bahwa pengantin laki-laki tidak kembali ke rumah. Mereka dihormati seperti Raja dan Ratu di hari itu. Upacara perkawinan menurut adat Jawa terdiri dari beberapa tahapan yaitu :  Upacara Panggih Suara sangat bagus dan mistik dari Gamelan digabungkan dengan tradisi Panggih atau Temu: pertemuan antara pengantin wanita yang cantik dengan pengantin laki-laki yang tampan di depan rumah yang di hias dengan kebudayaan 36 Jawa . Setelah selesainya rangkaian persiapan maka dilanjutkan dengan upacara perkawinan. perhiasan emas dan kebaya untuk saat ini. tetapi tidak ke kamar pengantin. Dengan maksud agar dia bisa menahan lapar dan godaan. minyak rambut mengkilap.  Upacara Ijab Upacara ijab merupakan syarat yang paling penting dalam mengesahkan pernikahan. Orangtua dari pengantin perempuan akan mengurus penginapannya. Pengantin wanita dengan gelungan. Pasangan pengantin muncul terbaik. Tempat di adakan Ijab diletakan Sanggan atau Sajen disekitarnya. Pelaksanaan dari Ijab sesuai dengan agama dari pasangan pengantin. Setelah pengunjung meninggalkan rumah. Sebelum keluarganya meninggalkan rumah. Dia boleh makan hanya setelah malam hari. Pengantin laki-laki juga berpakaian khusus untuk upacara ini.tidak boleh merokok. dengan pertimbangan bahwa besok dia harus berpakaian pengantin dan siap untuk Ijab dan upacara pernikahan lain. utusan dari keluarga pengnatin laki-laki mengatakan kepada tuan rumah bahwa mereka akan mengambil alih tanggungJawab pengantin laki-laki.

Pengantin wanita.  Upacara Wiji Dadi Pengantin laki-laki menginjak telur dengan kaki kanannya. Kembar Mayang di bawa keluar rumah dan diletakan di persimpangan dekat rumah. Itu melukiskan bahwa pengantin laki-laki siap untuk menjadi ayah yang bertangung Jawab dan pengantin perempuan akan melayani setia suaminya. Dua wanita dituakan atau dua putera membawa dua Kembar Mayang yang tingginya sekitar satu meter atau lebih. melukiskan bahwa setan tidak akan menggangu selama upacara di rumah dan di sekitarnya. Dekorasi itu hanya digunakan bila pasangan pengantin sebelumnya tidak pernah menikah. Orangtuanya dan keluarga dekat berjalan di belakangnya. kebudayaan 37 Jawa . semua orang tersenyum bahagia. itu akan mencoba bahwa mereka benarbenar orang yang sejati. Pengantin perempuan mencuci kaki pengantin laki-laki dengan menggunakan air dicampur dengan bermacam bunga. dengan membawa kipas. tiba di rumah dari orangtua pengantin wanita dan berhenti di depan pintu gerbang. di antar oleh dua wanita yang dituakan. jaraknya sekitar tiga meter. Dengan melempar daun betel satu sama lain. Di depannya dua puteri disebut Patah. daun betel mempunyai kekuatan untuk menolak dari gangguan buruk. bukan setan atau orang lain yang menganggap dirinya sebagai pengantin laki-laki atau perempuan. berjalan keluar dari kamar pengantin. Mereka melakukannya dengan keinginan besar dan kebahagian. Menurut kepercayaan kuno. Satu orang wanita dari keluarga pengantin lakilaki berjalan keluar dari barisan dan memberi Sanggan ke ibu pengantin perempuan. Selama upacara Panggih.tanaman Tarub. Pengantin laki-laki di antar oleh keluarga dekatnya (tetapi bukan orangtuanya karena mereka tidak boleh berada selama upacara). dua Kembar Mayang diletakan di samping kanan dan kiri dari kursi pasangan pengantin. sebagai tanda dari penghargaan kepada tuan rumah dari upacara.  Upacara Balangan Suruh Pengantin wanita bertemu dengan pengantin laki-laki. Mereka mulia melempar sebundel daun betel dengan jeruk di dalamnya bersama dengan benang putih. Untuk dekorasi. Mereka mendekati satu sama lain.

Itu melukiskan bahwa dia menyetujui perkawinan. Upacara Sindur Binayang Setelah upacara Wiji Dadi. kebudayaan 38 Jawa . Ibu memberi dorongan moral. sementara dia bicara bahwa mereka sama beratnya. Itu berarti bahwa ayah akan menunjukan jalan kebahagiaan.  Upacara Tanem Ayah pengantin wanita mendudukan pasangan pengantin ke kursi pengantin. ayah pengantin perempuan mengantar pasangan pengantin ke kursi pengantin. Dia memberi restu. berarti dia cinta mereka sederajat. ibu pengantin perempuan menutup pundak pasangan pengantin dengan Sindur.  Upacara Timbang Kedua pasangan pengantin duduk di atas pangkuan ayah dari pengantin wanita.

jamu dlingo benglé. Pengantin perempuan sangat berhati-hati dalam menerima pemberiannya di dalam kain putih. pengantin perempuan mendapat dari pengantin laki-laki beberapa kedelai. Di sana. di atas tikar yang sudah diletakan di pangkuannya. dan beberapa mata uang yang berbeda nilainya (jumlah dari mata uang harus genap). Dia akan mengurus dan menjadi ibu rumah tangga yang baik. beras kuning. pasangan pengantin berjalan bergandengan tangan dengan jari kelingking ke tempat upacara Kacar Kucur atau Tampa Kaya.  Upacara Kacar Kucur atau Tampa Kaya Dengan dibantu oleh Pemaes.  Upacara Dahar Klimah atau Dahar Kembul kebudayaan 39 Jawa . Itu melukiskan bahwa suami akan memberi semua gajinya ke istrinya. bunga. padi. Upacara Tukar Kalpika Pertukaran cincin pengantin simbol dari tanda cinta. jagung. kacang.

Orangtua dari pengantin laki-laki duduk di sebelah kiri dari pasangan pengantin. memberi piring ke pengantin wanita (dengan nasi kuning.Pasangan pengantin makan bersama dan menyuapi satu sama lain. Mereka berjalan bersama menuju ke tempat upacara. mereka juga memakai Sindur seperti ikat pinggang. Kedua ibu berjalan di depan. Pertama. Warna merah dari Sindur dengan pinggir berliku berarti bahwa hidup itu seperti sungai mengalir di gunung.  Upacara Sungkeman Mereka bersujud untuk mohon doa restu dari orangtua mereka. Pemaes. pengantin laki-laki membuat tiga bulatan kecil dari nasi dengan tangan kanannya dan di berinya ke pengantin wanita.  Upacara Mertui Orangtua pengantin wanita menjemput orangtua pengantin laki-laki di depan rumah. kemudian ke orangtua pengantin lakilaki. dadar telur. mereka minum teh manis. Setelah Sungkeman. Upacara itu melukiskan bahwa pasangan akan menggunakan dan menikmati hidup bahagia satu sama lain. tahu. Pertama ke orangtua pengantin wanita. pengantin laki-laki memakai kembali kerisnya. Pemaes mengambil keris dari pengantin laki-laki. dia melakukan sama untuk suaminya. menjadi pemimpin dari upacara. Selama Sungkeman. Setelah pengantin wanita memakannya. kebudayaan 40 Jawa . tempe. abon dan hati ayam). Orangtua mengantar mereka ke kehidupan nyata dan mereka akan membentuk keluarga yang kuat. Orangtua dari pengantin perempuan duduk di sebelah kanan dari pasangan pengantin. Setelah mereka selesai. Orantua pasangan pengantin memakai motif batik yang sama (Truntum). dan kedua ayah berjalan di belakang. berarti pasangan akan selalu mempunyai cukup keuntungan untuk hidup baik.

atau sama dengan lima hari sejak mereka dipertemukan. kebudayaan 41 Jawa .Pengaduan gugatan perceraian bertingkat-tingkat tersebut dinamakan rapak. yaitu dengan memberikan taklik. fragment dari cerita wayang atau tari lebih modern Karonsih). Bersamaan dengan itu. istri tidak dalam keadaan hamil dan di hadapan pengulu. beberapa penari Jawa menpertunjukan (tari klasiek Gathot Kaca-Pergiwo. Suami dapat menceraikan istrinya dengan menjatuhkan talak. Pasangan pengantin baru bersama dengan orangtuanya menerima ucapan selamat dari para tamu.Setelah upacara Pernikahan. Pemboyongan yang disertai pesta upacara lagi di tempat kediaman mempelai laki-laki ini disebut ngunduh temanten. Apabila seorang istri meminta cerai sedangkan suaminya tidak bersedia maka istri mengadu kepada kaum yang akan meneruskan pengaduan ke Kantor Urusan Agama Kecamatan. Akhirnya. Kantor Urusan Agama Kabupaten yang akan memberi keputusan. Sedangkan sebaliknya istri pun berhak meminta cerai. diiringi suara gamelan di ruang resepsi. Apabila mempelai laki-laki berkehendak membawa istrinya. hal ini dapat dilaksanakan sesudah sepasar. Dalam hal ini. dalam adat Jawa juga diatur mengenai masalah perceraian (pegatan). dilanjutkan dengan pesta resepsi. Selain masalah perkawinan. Semantara semua tamu menikmati pesta dan makan santapan. perceraian hanya bisa dilakukan dengan persetujuan kedua belah pihak.

Baik rujuk maupun balen hanya bisa dilaksanakan sesudah talak sampai tiga kali. b. yang lamanya tiga bulan sepuluh hari atau tiga kali lingkaran haid. apabila pasangan pengantin menetap di dekat tempat kediaman kerabat suami. Biasanya orang tua cenderung memberikan rumah kediamannya kepada tabon. sedangkan ternak dibagikan sama sesuai jumlah yang ada. yang tugasnya memelihara makam leluhur. Setelah pernikahan pasangan pengantin Jawa bebas menentukan apakah ia akan menetap di sekitar tempat kediaman sendiri atau kerabat. Dalam sebuah keluarga (kulawarga atau keluarga-batih) Jawa kepala keluarga disebut somah. sedangkan apabila hal itu dijalankan melebihi batas waktu tersebut dinamakan balen. karena apabila sudah mencapai talak sebanyak tiga kali maka suami istri tersebut harus bercerai selamanya. artinya mempunyai tempat tinggal sendiri yang terlepas dari tempat menetap kerabat masing-masing pihak. apabila pasangan pengantin menetap di dekat tempat kediaman kerabat istri. Adat menetap sesudah nikah ada tiga sifat: a. keluarga-batih dalam bentuk keluarga yang luas adalah suatu pengelompokan dari dua-tiga keluarga atau lebih dalam satu tempat tinggal. Menurut cara perdamaian. atau mereka memilih untuk tinggal di tempat tinggal yang baru. Kelompok ini terdiri dari semua kerabat sampai tujuh turunan sejauh masih dikenal tempat tinggalnya. Utrolokal. Dalam pembagian warisan harta peninggalan orang tua dikenal adanya 2 macam cara yaitu perdamaian dan sepikul segendongan. Besarnya kebudayaan 42 Jawa . Uxorilokal. Selain itu terdapat kelompok kekerabatan lain yang disebut alurwaris. Pemeliharaan benda pusaka diserahkan kepada anak laki-laki tertua. Biasanya dipergunakan untuk pembagian warisan tanah pekarangan. Suatu kekerabatan yang lain ialah sanak-sadulur yang terdiri dari orang-orang kerabat keturunan dari seorang nenek moyang sampai derajat ketiga. suami istri ingin rukun kembali sebelum melebihi jangka waktu seratus hari maka disebut rujuk. pembagian harta dilakukan melalui permusyawaratan antara para ahli waris. c. yaitu seorang anak laki-laki atau perempuanyang tetap tinggal di rumah bersama orang tua. Menurut cara sepikul segendongan. anak laki-laki ditetapkan mendapat bagian 2/3 sedangkan perempuan 1/3 dari seluruh jumlah warisan orang tua. Neolokal.Apabila setelah bercerai. Dalam hubingan ini sorang janda dapat bergaul dengan seorang laki-laki lain setelah lewat masa iddahnya.

Pemeluk agama Islam pada masyarakat Jawa dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu : • Islam Santri adalah penganut agama Islam Jawa yang secara patuh dan teratur menjalankan ajaran-ajaran dari agamanya. Sawah garapan. c. serta tidak bercita-cita naik haji. yaitu banda gana untuk suami dan banda gini untuk istri. sesungguhnya belum menjadi harta warisan namun sudah ditunjuk kepada siapa masing-masing bagian sawah itu akan diberikan. tetapi tetap percaya kepada kebudayaan 43 Jawa . RELIGI Agama Islam berkembang baik di kalangan masyarakat Jawa. sehingga harus dipelihara dan digarap oleh saudaranya sendiri. sawah ini juga belum menjadi benda warisan tetapi sudah diberi ijin dari orang tua untuk digarap oleh anak-anak atau menantu laki-lakinya dan setelah orang tua meninggal akan menjadi warisan bagi penggarapnya. b. Sawah gantungan. sedangkan benda gana gini baru dipersoalkan pembagiannya jika kedua orang tersebut bercerai. G.jumlah pembayaran pajak dituliskan dalam surat tanda pembayaran pajak yang disebut kohir (petuk) yang biasanya dipegang ahli waris yang paling tua. merupakan sawah bagian warisan dari seseorang yang pergi meninggalkan sawah tadi. Benda gawan kembali kepada kerabat masing-masing apabila suami istri tidak mempunyai anak. Tanah pertanian (sawah) yang bisa diwariskan adalah sawah sanggan (milik pribadi) yang terdiri atas tiga macam yaitu: a. Dalam adat Jawa dikenal adanya pembedaan harta benda milik suami sendiri sebelum kawin (benda gawan) dan harta kekayaan yang diperoleh selama hidup bersama (benda gana gini) keduanya dapat diwariskan. • Islam Kejawen penganut agama Islam ini beranggapan walaupun tidak menjalankan shalat. terdapat pemeluk agama nasrani dan agama besar lainnya. atau puasa. tetapi setelah ia datang hak dan kewajiban tanah pertanian itu kembali kepadanya. Selain itu. Biasanya anak yang lebih tua mendapat bagian di sebelah barat dan anak yang muda di sebelah timur. Sawah dunungan.

Kebanyakan orang Jawa percaya bahwa hidup manusia di dunia ini sudah diatur dalam alam semesta sehingga mereka memiliki sikap nerima yaitu menyerahkan diri kepada takdir. upacara potong rambut pertama. ketentraman ataupun keselamatan. Sedekah Surtanah atau Geblak yang diadakan pada saat meninggalnya seseorang. Upacara adat ini diselenggarakan setelah acara penguburan jenazah. kesehatan. Selamatan adalah upacara makan bersama yang makanannya telah diberi doa sebelum dibagi-bagikan. pantang makan makanan tertentu. Rangkaian upacara selamatan (sedekahan) yang ditujukan untuk menolong keselamatan roh nenek moyang tersebut di dalam akhirat ialah: a. Selain itu. Selamatan dalam rangka lingkaran hidup seseorang seperti hamil tujuh bulan. orang Jawa pada suatu kekuatan yang disebut kasakten. Tujuannya untuk memberikan doa supaya arwah dari orang yang meninggal itu mendapat pengampunan. Hampir semua selamatan ditujukan untuk memperoleh keselamatan hidup dengan tidak ada gangguan apapun. dan bersaji. upacara menyentuh tanah untuk pertama kali. tuyul. lelembut. yakni: 1. yaitu seorang pegawai masjid yang berkewajiban mengumandangkan adzan karena dianggap mahir membaca do keselamatan dari dalam ayat-ayat Al Quran. serta jin dan lainnya yang menempati alam sekitar tempat tinggalnya.ajaran keimanan agama Islam. Maka apabila seorang Jawa hidup tanpa menderita gangguan ia harus berbuat sesuatu untuk mempengaruhi alam semesta. kebahagiaan. Upacara yang berhubungan dengan kematian serta saat sesudahnya dilakukan karena orang Jawa sangat menghormati arwah orang meninggal dunia. namun sebaliknya mereka juga dapat menimbulkan gangguan pikiran. arwah atau roh leluhur. misalnya dengan berpuasa. terutama keluarganya. kebudayaan 44 Jawa . dan makhluk halus seperti misalnya memedi. serta upacara yang berhubungan dengan kematian serta saat sesudahnya. Tuhan mereka sebut Gusti Allah dan Nabi Muhammad adalah Kanjeng Nabi. Upacara ini dipimpin oleh modin. bahkan kematian. demit. Upacara selamatan dapat digolongkan ke dalam empat macam sesuai peristiwa atau kejadian dalam kehidupan manusia sehari-hari. berselamatan. kelahiran. Menurut kepercayaan makhluk halus tersebut dapat mendatangkan sukses. Kecuali itu mereka tidak terhindar dari kewajiban berzakat. upacara menusuk telinga.

Upacara surtanah ini diselenggarakan secara sederhana. f. Inti dari upacara surtanah adalah berdoa. Sedekah Nelung dina ialah upacara selamatan kematian yang diselenggarakan pada hari seseorang. e. Sedekah Mitung dina ialah upacara selamatan saat sesudah menginggalnya seseorang yang jatuh pada hari ketujuh. Sedekah Nyatus yakni upacara keselamatan kematian yang diadakan sesudah hari keseratus sejak saat kematiannya. d. Sedekah Matangpuluh dina atau upacara keselamatan kematian seseorang pada hari keempat puluh. Tidak ada acara kendhuren. teman atau tetangga atau siapa saja yang mau ikut berdoa. kopi ataupun uang dan lainlain )yang tujuannya untuk meringankan beban keluarga. tetangga yang dekat dan ulama yang diundang. Sedekah Nyewu. gula. yang hadir umumnya adalah saudara. yang diutamakan untuk berdoa adalah putra-putri dari orang yang meninggal. masing-masing upacara selamatan kematian yang dilakukan pada waktu sesudah satu tahun dan dua tahun dari saat meninggal seseorang. umumnya tetangga hadir dengan membawa bahan-bahan panganan ( beras. telur. Bisa juga jika keluarga yang ”kesripahan” ingin sodaqoh bisa dengan membuat makanan yang banyak atau menyiapkan besek untuk dibawa pulang yang hadir tapi itu tidak wajib. Sedekah Mendak sepisan dan Mendak pindo. Selain doa biasanya juga ada acara tahlilan yang dilanjutkan dengan mengaji bersama. c. b. saudara dekat. g. Tidak ada undangna khusus untuk acara ini. 2. jika ada hidangna yang disajikan itu hanya seadanya. Yang dianjurkan adalah orang lain yang membawa bantuan untuk keluarga yang ”kesripahan”. sebagai upacara selamatan sesudah kematian seseorang bertepatan dengan genap seribu harinya. Upacara juga disebut sedekah Nguwis-nguwisi artinya yang terakhir kalinya. penggarapan tanah pertanian dan setelah panen padi. bahan untuk sayur. ketiga sesudah saat meninggalnya kebudayaan 45 Jawa . Selamatan yang bertalian dengan bersih desa.

pada masyarakat Jawa juga dikenal adanya sesajen. yang macamya yaitu: 1. serta kepada raksasa Batara Kala. gamelan. Adapun kepercayaan kepada kekuatan sakti (kasakten) ditujukan kepada benda-benda pusaka. yang percaya pada adanya ruh halus. Sedangkan Batara Kala adalah raksasa yang mempuyai kekuatan sakti untuk mendatangkan bencana pada benda atau manusia. Menurut kepercayaan masyarakat Jawa. Ada sesajen yang dibuat pada tiap malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon. Sesajen merupakan ramuan tiga macam bunga (kembang telon) yang dimasukkan ke dalam air. atau badan halus. Gerakan atau aliran kebatinan yang keuaniyahan. Ruwatan biasanya disrtai pertunjukkan wayang kulit sehari semalam dengan mengambil cerita Batara Kala. Ruwatan dilakukan oleh dukun. Dalam kehidupan masyarakat Jawa terdapat berbagai macam aliran kebatinan. keris. Selamatan pada saat-saat yang tidak tertentu berkaitan dengan kejadiankejadian. misalnya menempati rumah atau menolak bahaya (ngruwat).kemenyan. uang recehan.bahkan pada burung perkutut. Tempat yang dipilih biasanya tempat yang dianggap keramat dan mengandung bahaya ghaib (angker)agar terhindar dari gangguan makhluk halus. air bekas siraman tersebut dapat memberi berkah. Masyarakat Jawa juga mengenal adanya upacara sesaji panyadran agung yang dilakukan tiap tahun oleh keluarga Kraton Yogyakarta bertepatan Maulid Nabi Muhammad SAW atau disebut juga Gerebeg Mulud.3. yang pandai menyembuhkan penyakit dan mengenyahkan ruh jahat. kebudayaan 46 Jawa . Untuk kendaraan istana setiap setahun sekali pada hari Jumat Kliwon pada bulan Sura dibersihkan dengan upacara siraman yang dilakukan di dalam lingkunagn istana (Ratawijaya) secara terbuka. Selain upacara selamatan. sehingga orang Jawa yang mempunyai anak akan mengadakan ruwatan untuk menghindarkan anaknya dari bahaya. serta jin dan lain-lain. Sesajen merupakan penyerahan sajian pada waktu dan di tempat tertentu dalam rangka kepercayaan kepada makhluk halus. Selamatan yang berhubungan dengan hari-hari serta bulan-bulan besar Islam 4. dan kue apem yang ditaruh dalam besek ataupun bungkusan daun pisang kemudian ditempatkan di atas meja untuk dikutug. kendaraan istana (kereta Nyai Jimat dan Garuda Yeksa).

Contoh aliran kebatinan yang pernah berkembang di daerah selatan Yogyakarta misalnya ”ADARI” singkatan ”Agama Jawa Asli Republik Indonesia”. yang ajarannya banyak mengambil unsur keimanan agama Islam. merupakan reminisensi daripada upacara sraddha Hindu yang dilakukan pada jaman dahulukala. Aliran kehindu-jawian. Hanya pada menu makanannya ditambahin menu ngethingi. bengi: malam) adalah sebuah prosesi yang dilakukan pada bayi pada malam ketujuh sejak kelahirannya. Aliran yang bersifat mistik. Mitung Mbengeni Mitung Mbengeni (berasal dari Bahasa Jawa: pitu: tujuh. 3. dengan usaha manusia untuk mencari kesatuan dengan Tuhan. kebudayaan 47 Jawa . Hendra Pusara. dan Parda Pusara Penitisan Rohani. Hampir semua gerakan kebatinan ini bertujuan menuju kesempurnaan hidup manusia. Upacara ini dilakukan oleh orang Jawa pada bulan Jawa-Islam Ruwah sebelum bulan Puasa.2. Mekanismenya hampir sama dengan prosesi tasyakuran biasa. Aliran yang keislam-islaman. Selain itu upacara ini juga dilaksanakan oleh orang Jawa yang tidak menganut ajaran Islam pula. yang pengikutnya percaya kapada dewa agama Hindu 4. Upacara sadran ini dilakukan dengan berziarah ke makam-makam dan menabur bunga (nyekar). bulan di mana mereka yang menganut ajaran Islam berpuasa. Ramadan. terdapat upacara. dengan syariat yang sengaja dibedakan dengan syariat Islam dan mengandung banyak unsur Hindu-Jawa. Hidup Betul. Hidup Betul Iman Agama Hak. Selain yang telah dijelaskan.upacara adat yang lain yaitu sebagai berikut : Sadran Sadran merupakan Upacara masyarakat Jawa Baru (dan Madura serta mungkin juga Sunda) yang disebut dengan nama sadran atau bentuk verbal nyadran.

Ngerak Ngerak adalah sebuah tradisi memandikan anak kecil dengan umur dibawah 5 tahun. dan relasi. Untuk orang jaman dulu. dilakukan prosesi iringiringan. Seperti layaknya pesta perkawinan. di pintu masuk ruang resepsi disediakan kotak sumbangan berbentuk rumah. puput puser dilakukan oleh seorang dukun bayi. si anak di suruh menaiki piramida yang terbuat dari bambu yang berisi pernak-pernik. Sesampainya dirumah. dengan menempatkan si anak didepan dengan posisi di gendong dengan menggunakan selendang berwarna kuning. sebagian besar dari anak-anak peserta Ngerak tertarik untuk mengambil kaki ayam panggang tersebut. kemudian dilepas dengan pesta besar dengan mengundang sanak saudara. mantu poci juga bertujuan agar penyelenggara merasa seperti menjadi layaknya orang tua yang telah berhasil membesarkan putra putri mereka. Tak lupa pula. mulai dari permainan. Sedangkan yang paling menarik adalah seekor ayam panggang yang ditaruh disebelah kiri tas piramida. sajian makanan. kemudian dimandikan dengan kembang tujuh rupa oleh sesepuh setempat. kebudayaan 48 Jawa . mantu poci juga dihadiri oleh ratusan bahkan ribuan undangan. disebuah belik. Entah sebuah kebetulan ataukah memang bermakna khusus. Selain sebagai harapan agar pasangan suami istri segera mendapatkan keturunan. Uniknya. Sesampainya di belik. dengan cara inti melangsungkan 'pesta perkawinan' antara sepasang poci tanah berukuran raksasa. dia sekaligus yang menolong proses persalinan sampai dengan perawatan selama sang ibu atau keluarga belum bisa memperlakukan bayi sebagaimana mestinya. Mantu poci pada umumnya diselenggarakan oleh pasangan suami istri yang telah lama berumah tangga namun belum juga dikarunai keturunan. atas dosa/kesalahannya yang diperkirakan bisa berdampak kesialan didalam hidupnya. Mantu Poci Mantu Poci adalah salah satu kebudayaan di wilayah Tegal (Jawa Tengah). Sebelum berangkat dari rumah.Mitung mbengeni juga sebagai pertanda puput puset pada bayi. ♦ Ruwatan Adalah Tradisi ritual Jawa sebagai sarana pembebasan dan penyucian. Lengkap dengan dekorasi. sampai dengan makanan. dan beraneka pementasan untuk menghibur para undangan yang hadir.

Yang lahir tunggal atau ontang-anting. yang isi pokoknya memuat masalah pensucian. yang kemudian sepermanya jatuh ketengah laut. Tradisi ruwatan di Jawa ( Jawa tengah) awalnya diperkirakan berkembang didalam cerita Jawa kuno. orang yang manandang sukerto ini. Uger-uger lawang atau dua anak laki-laki semua. Kembang sepasang atau kembar. e. Dalam tradisi Jawa orang yang keberadaannya mengalami nandang sukerto/berada dalam dosa. kebudayaan 49 Jawa . b. Tradisi "upacara /ritual ruwatan" hingga kini masih dipergunakan orang Jawa. Yang akan mengalami penderitaan atau sukerta. diyakini akan menjadi mangsanya Batara Kala. sebagai sarana pembebasan dan penyucian manusia atas dosanya/kesalahannya yang berdampak kesialan didalam hidupnya. yaitu pembebasan dewa yang telah ternoda. Ketika raksasa ini menghadap ayahnya (Batara guru) untuk meminta makan. Jenis manusia yang disukai Bathara Kala yaitu : a. Sendang kapit pancuran atau laki-laki. oleh Batara guru diberitahukan agar memakan manusia yang berdosa atau sukerta. agar menjadi suci kembali. yang dalam tradisi pewayangan disebut "Kama salah kendang gumulung ". d. maka untuk mensucikan kembali.Upacara adat ini berasal dari buadaya adat Jawa kuna yang sifatnya sinkretis. c. akhirnya menjelma menjadi raksasa. Tokoh ini adalah anak Batara Guru (dalam cerita wayang) yang lahir karena nafsu yang tidak bisa dikendalikannya atas diri Dewi Uma. perempuan. laki-laki. Menurut ceriteranya. tetapi sekarang diadaptasi dengan ajaran agama. atau meruwat berarti: mengatasi atau menghindari sesuatu kesusahan bathin dengan cara mengadakan pertunjukan/ritual dengan media wayang kulit. perlu mengadakan ritual tersebut.

Tumpeng Acara yang melibatkan nasi tumpeng disebut secara awam sebagai 'tumpengan'. kluwak. Selesai upacara ngruwat. Ini dimaksudkan untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang tersebut.Sesajen yang perlu disiapkan untuk upacara ini adalah : a. Jarum kuning d. telur ayam dan uang dengan diiringi doa mohon keselamatan dan kesejahteraan serta agar tercapai apa yang dicita citakan. bambu gading yang berjumlah lima ros ditanam pada kempat ujung rumah disertai empluk (tempayan kecil) yang berisi kacang hijau . kedelai hitam. untuk mendoakan keselamatan negara. orang yang diruwat harus menjalani siraman air suci dan gunting rambut. Beras kuning c. rambutnya lalu dilarung di laut. berkembang tradisi 'tumpengan' pada malam sebelum tanggal 17 Agustus. kebudayaan 50 Jawa . kemiri. ikan asin. Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Ada tradisi tidak tertulis yang menganjurkan bahwa pucuk dari kerucut tumpeng dihidangkan bagi orang yang profesinya tertinggi dari orang-orang yang hadir. Tumpeng biasa disajikan di atas tampah (wadah tradisional) dan dialasi daun pisang. Di Yogyakarta misalnya. Kain pitung werna b. Kembang pitung rupa Jika untuk tolak bala atau membuang sial orang yang mengalami sukerta.

hewan laut (ikan lele. Digunakkan untuk acara sakral. Biasa disajikan di atas tampah yang dialasi daun pisang. tunangan. bayam atau kacang panjang). Variasi Nasi Tumpeng :  Tumpeng Robyong . kebudayaan 51 Jawa . seperti kelahiran. Dibuat dari nasi putih yang disajikan dengan lauk-pauk sayuran. Tumpeng Nasi Kuning . Namun demikian. Digunakan untuk syukuran acara-acara gembira. ikan asin atau lele goreng. Tumpeng ini terbuat dari nasi putih. Dalam pengartian makna tradisional tumpeng. beberapa lauk yang biasa menyertai adalah perkedel. dianjurkan bahwa lauk-pauk yang digunakan terdiri dari hewan darat (ayam atau sapi). ikan bandeng atau rempeyek teri) dan sayur-mayur (kangkung.warna putih pada nasi putih menggambarkan kesucian dalam adat Jawa. Tumpeng Nujuh Bulan . Digunakan untuk peringatan Maulud Nabi. serundeng.Tumpeng ini digunakan pada syukuran kehamilan tujuh bulan. dan sebagainya. dihari-hari tertentu. Ritual ini biasanya dilakukan oleh kepala adat. Tumpeng Pungkur . dengan tujuan agar mendapat lindungan.digunakan pada saat kematian seorang wanita atau pria yang masih lajang. timun yang dipotong melintang. terasi. Selain satu kerucut besar di tengah.Disebut juga tumpeng tasyakuran. Di bagian puncak tumpeng ini diletakkan telur ayam. urap kacang panjang. dan sebagainya. kedelai goreng. bawang merah dan cabai. Tumpeng ini kemudian dipotong vertikal dan diletakkan saling membelakangi. pernikahan. tumpeng ini dikelilingi enam buah tumpeng kecil lainnya. Tumpeng ini diletakkan di dalam bakul dengan berbagai macam sayuran.warna kuning menggambarkan kekayaan dan moral yang luhur. abon. dan daun seledri. Tumpeng Nasi Uduk .      Kutug Kutug merupakan ritual membakar kemenyan yang dilakukan oleh penganut ajaran tertentu.Tumpeng ini biasa disajikan pada upacara siraman dalam pernikahan adat Jawa. Tumpeng Putih . keselamatan dan berkah dari Syang Hyang Widi.Tidak ada lauk-pauk baku untuk menyertai nasi tumpeng. Setiap lauk ini memiliki pengartian tradisional dalam budaya Jawa dan Bali. telur dadar/telur goreng. Variasinya melibatkan tempe kering.

Mitung Mbengeni 2. Yang dapat dimaknai sebagai upacara untuk mawas diri. Kungkum atau berendam di sungai besar. Ritualnya. menghadapi tahun baru di esok paginya. seorang khalifah islam dijaman etelah nabi Muhammad wafat. Dengan Tapa Bisu. banyak orang melakukan ritual menjelang 1 Sura tahun Jawa 1940 yang jatuh esok paginya. konon untuk memperkenalkan kalender islam di kalangan masyarakat Jawa. Sunan Giri II telah membuat penyesuaian antara sistem kalender Hijriyah dengan sistem Kalender Jawa pada waktu itu. menjadi aktivitas yang menurut banyak cerita masih mewarnai tradisi masyarakat Yogyakarta. Neloni 3. sebuah keluarga yang dikaruniai tambahan jumlah anggota baru (melahirkan) wajib melaksanakan syukuran dengan selalu membuat masakan yang berbahan dasar sayur-sayuran (lebih tepatnya dan lazimnya yang digunakan adalah daun pepaya muda). Tradisi Jawa Malam hari. Awal dari afiliasi ini. Nyetauni 5. Maka tahum 931 H atau 1443 tahun Jawa baru. untuk dapat dikatakan demikian. Sabtu Pahing. hingga memacetkan lalu-lintas di seputaran kraton dan jalan protokol. berkaca pada diri atas apa yang dilakoninya selama setahun penuh. yaitu pada jaman pemerintahan kerajaan Demak. atau mengunci mulut. dengan caranya sendiri-sendiri. Diantaranya adalah : 1. tidak mengeluarkan kata-kata selama ritual ini. Yang paling mudah ditemui di seputaran Yogyakarta. Tidak sedikit. Ada beberapa tahapan yang dilakukan oleh suatu keluarga dalam rangka ngethingi. tanggal 19 Januari 2007. Mitoni 4. warga yang melakukan ritual Mubeng Beteng.Ngethingi Ngethingi merupakan tradisi tasyakuran sebagai bentuk atau moment peringatan terhadap seorang bayi ketika berusia tertentu. Ngarotengahi Malam Satu Suro Latar belakang dijadikannya 1 Muharam sebagai awal penganggalan islam oleh Khalifah Umar bin Khathab. yang masih menjunjung tradisi dengan filosofis tinggi. adalah Tirakatan kebudayaan 52 Jawa . sendang atau sumber mata air tertentu.

pengunjung dan masyarakat yang datang tidak hanya disuguhi keramaian pagelaran wayang dan keheningan suasana Cepuri yang mistis. kawasan Parangtritis. Wayang Kulit Semalam Suntuk Tradisi dan warisan budaya Jawa ini tak pernah lepas dari tiap momen penting. menjadi ritual yang tidak asing di telinga masyarakat Jawa.“wanita pendamping” tampak bertebaran menjadi konsekuensi atas berjubelnya pengunjung. makanan. Meski begitu. Cepuri Parangkusumo kebudayaan 53 Jawa . Begitu pula di Pantai Parangkusumo. Dijubeli ratusan pengunjung yang berbaur dengan pedagang dan hiruk pikuknya lalu lalang kendaraan bermotor tidak mengurangi khidmatnya pagelaran wayang malam itu. khususnya Parangkusumo. di Yogyakarta. Pantai Parangkusumo Dari sekian acara yang tentu saja berlangsung di tiap pelosok Yogyakarta. Labuhan dilangsungkan pada pagi hari tanggal 15 Suro. Tukang obat tradisional. Parangkusumo memang biasa menjadi tempat berlangsungya prosesi ini. Wayang dan Nyekar di Cepuri Parangkusumo. Labuhan. khususnya adat. memiliki daya tarik tersendiri di malam satu Suro.dan Pagelaran Wayang Kulit. pijat tradisional dan -kalau saya tidak salah mengartikan. Tumpah ruahnya pengunjung tiap tahunnya dimanfaatkan betul oleh pedagang kembang. perkiraan saya salah. Kretek. Bantul Yogyakarta. Apalagi malam satu Suro di kawasan pantai selatan dengan segala macam pernak-pernik mistisnya. dan berbagai jasa lainnya. Hal ini yang saya dapat dari penuturan warga sekitar. Ritual ini menjadi ritual tahunan Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat. menjadi dua kegiatan utama pada malam itu. Kawasan pantai Parangtrisits. Hal ini yang menarik perhatian saya untuk berkunjung kesana di malam satu Suro. Namun.

mengira beliau adalah juru kunci. Kembang. Awalnya. tidak sedikit peziarah yang datang dan berdoa di tempat ini. kebudayaan 54 Jawa . yang keduanya dipagar mengeliling dengan satu pintu/gapura masuk. ada seorang pemuda yang dengan khusyuk nya berdoa di sebelah batu Panembahan Senopati dengan pakaian Jawa lengkap. dan mungkin pengunjung lain. sang juru kunci sendiri duduk bersila tepat di depan gapura setelah pengunjung masuk. Batu Kyai Panembahan Senopati yang lebih besar terletak di sebelah selatan batu Kanjeng Ratu Kidul. Diantara rombongan peziarah yang silih berganti masuk ke area Cepuri. saya. Apalagi di malam satu Suro.Merupakan area tempat bersandingnya dua batu yang dikeramatkan. sebelum menabur bunga dan berdoa. Tiap pengunjung yang masuk wajib menemui juru kunci dan menyalakan dupa. ditemani aroma dupa dan bunga yang menusuk hidung. Namun. dupa dan sesaji menjadi obyek yang tidak lepas dari tempat keramat macam ini.

duduk bersila disamping dua batu tersebut.Rombongan peziarah yang nampak berbeda dari sebagian lainnya adalah rombongan peziarah dari Kraton Solo. Selebihnya warung dan pedagang kaki lima yang biasa mangkal di halaman Kraton pun tak lepas menjadi tempat warga menikmati sajian wayang kulit. Kraton “Kedua” di kawasan Yogyakarta ini pun dihadiri warga yang ingin menghabiskan malam satu Suro dengan tradisi tahunannya. Puro Pakualaman Pagelaran wayang kulit semalam suntuk banyak diselenggarakan warga di pelosok kota. Berbeda dengan kawasan pesisir Parangkusumo. di Puro Pakualaman ini. Mereka menggunakan pakaian Jawa lengkap dengan sesaji dibungkus kain putih dan hijau. warga yang datang dengan kendaraan roda dua pun enggan beranjak dari atas sepeda motornya. dan terlihat sangat menikmati sajian wayang kulit semalam suntuk. begitu informasi dari penduduk sekitar. Bahkan kursi penumpangnya pun dijadikan tempat nyaman rekan penarik becak lainnya untuk duduk berselimut sarung dan menikmati malam panjang itu. Bahkan. Begitu pula dengan penarik becak. Begitu pula di kawasan Puro Pakualaman Yogyakarta. kebudayaan 55 Jawa . Masih duduk di atas sadel tempatnya mengayuh kendaraan roda tiga ini. warga yang hadir hanya ditampung secara “resmi” dengan sebuah tenda.

Jabang bayi yang berumur tujuh bulan itu sudah mempunyai raga yang sempurna. Upacara adat ini diselenggarakan saat calon ibu mengandung 7 bulan. berbeda dengan upacara adat ”mitoni” yang sudah umum dikenal oleh masyarakat Jawa dan juga dikenal oleh masyarakat nusantara. Waktunya harus diselenggarakan pada hari yang baik menurut hitungan hari Jawa. Ngupati ini mengandung maksud sebagai lambang bahwa ”jabang bayi” sudah masuk dalam tahap keempat dalam proses penciptaan manusia. Upacara adat ini kurang dikenal pada daerah-daerah tertentu. Di daerah tertentu upacara ini juga disebut tingkeban. Tujuannya adalah untuk keselamatan calon bayi dan ibu atau untuk tolak bala jadi hampir sama seperti mitoni. Yang membedakan dengan upacara adat ”meteng” lainnya yaitu ada sajian kupat yang ditaruh didalam tempat yang biasa disebut ”besek” yang dibawa pulang oleh orang yang hadir pada acara kenduren.Ngupat Ngupat atau ngupati adalah salah satu upacara adat yang dilakukan saat calon ibu mengandung ( mbobot ) 4 bulan. Jadi menurut orang Jawa ”wetengan” umur tujuh bulan itu proses penciptaan manusia itu sudah nyata dan sudah sempurna atau Sapta Kawasa Jati. Tujuannya adalah untuk keselamatan calon bayi dan calon ibu dan juga untuk tolak bala. Kata ”ngupat ” berasal dari kata papat ( 4 ) atau kupat. Rangkaian acara dari ”mitoni” adalah sebagai berikut : kebudayaan 56 Jawa . Mitoni atau Tingkeban Mitoni berasal dari kata ”pitu” ( 7 ). Tujuan dari upacara adat ini adalah sama dengan ngupati yaitu upacara untuk keselamatan bayi dan calon ibu atau juga untuk tolak bala. Kata ”ngliman” berasal dari kata lima ( 5 ). Ngliman Ngliman adalah salah satu upacara adat ”wetwngan” yang diselenggarakan ketika calon ibu mengandung lima bulan.

yaitu hari senin siang sampai malam. Atau hari jumat siang sampai malam. Orang Jawa itu percaya bahwa bahwa ari-ari itu adalah salah satu dari ”sedulur papat” atau ”sedulur kembar” dari si bayi sehingga ari-ari harus dirawat dan dijaga. Senthir itu dihidupkan sampai 35 hari ( selapan dina ). 2) Sebelum ari-ari dimasukkan alas kendhi diberi ”godhong senthe” lalu kendhi itu ditutup dengan lemper yang masih baru dan dibungkus kain mori. 1) Ari-ari dicuci sampai bersihdan dimasukkan kedalam kendhi atau batok kelapa. 3) Salin rasukan ( ganti baju ) 4) Brojolan ( memasukkan kelapa gading muda ). Yaitu tempat yang digunakan untuk memendham ari-ari diberi lampu ( umumnya lampu senthir ) untuk penerangan. yaitu: 1) Siraman 2) Memasukkan telur ayam kampung didalam kain calon ibu oleh calon bapak. 8) Kenduren. 7) Mencuri telur. Waktu pelaksanaannya menurut orang Jawa mitoni itu harus diselenggarakan pada hari yang benar-benar bagus. 3) Kendhi lalu digendong. Istilah lain dari ariari adalah aruman atau embing-embing ( mbingmbing ). ini menjadi simbol pepadadang untuk bayi. dipayungi. Mendhem ari-ari Mendhem ari-ari adalah salah satu upacara kelahiran yang umum diselenggarakan dan juga di daerah – daerah ( suku-suku ) lain. kebudayaan 57 Jawa . Tata caranya adalah sebagai berikut . Ari-ari itu bagian penghubung antara ibu dan bayi waktu bayi masih didalam rahim. 6) Memecahkan wajan dan gayung. 5) Memutus lawe atau lilitan benang ( janur ).Rangkaian acara untuk upacara mitoni ini lebih banyak daripada upacara ngupati. dibawa ke lokasi penguburan.

Upacara ini sebagai lambang bahwa anak bersiap-siap menjalani hidup dengan dituntun orangtua dan diselanggarakan jika anak sudak berumur 7 selapan atau 245 hari ( 7 x 35 = 245 ). Urutan kegiatannya : kebudayaan 58 Jawa adalah untuk keselamatan proses kelahiran juga untuk perlindungan terhadap bayi dan dengan harapan bayi yang lahir menjadi anak yang . Suguhan yang disajikan umumnya adalah air minum dan ”jajan pasar” tetapi juga ada “besek” yang nantinya dibawa pulang. Tedhak Siten itu berasal dari kata tedhak atau idhak dan siten ( dari kata siti yang berari lemah atau tanah ). Tujuannya baik perilakunya. Tedhak siti atau Tedhak Siten Tedhak siti adalah salah satu upacara adat untuk anak yang berumur 7 bulan. biasanya disebut ”injak tanah” di Jakarta atau juga disebut ”mudhun lemah”. Rangkaian acaranya diawali dari mendhem ari-ari yang dilanjutkan dengna bagi-bagi sesajen brokohan untuk saudara dan tetangga. Puputan atau Dhautan Puputan itu sebenarnya mempunyai makna ”tali puser bayi puput”. Biasanya ada upacara slametan di upacara puputan ini. Upacara ini di daerah yang lain di nusantara juga ada. upacara ini diselenggarakan secara lebih meriah. Upacara adat ini umumnya diselenggarakan secara sederhanatetapi jika bersamaan dengan pemberian anma bayi.4) Lokasi penguburan kendhi harus berada di sebelah kanan pintu utama rumah. Jadi upacara ini diselenggarakan waktu bubar pupute dari pusar bayi. Brokohan Brokohan adalah salah satu upacara adat Jawa untuk menyambut kelahiran bayi. bancakan dan memberi nama bayi. Kata sepasaran berasal dari kata sepasar. Acara ini bagus diselenggarakan setelah maghrib. Sepasaran Adalah salah satu upacara adat Jawa waktu bayi berumur 5 hari. Brokohan itu asal katanya dari bahasa Arab yaitu ”barokah” yang artinya mengharapkan berkah. Yang memendam kendhi harus bapak dari bayi. Umumnya diselenggarakan sore dengan acara kenduren dengan mengundang saudara dan tetangga. Upacara adat ini mempunyai makna sebagai ungkapan syukur dan sukacita karena kelahiran itu selamat. Acaranya yaitu kendhuren.

1) Tedhak sega pitung warna 2) Mudhun tangga tebu 3) Ceker-ceker 4) Kurungan 5) Sebar udik-udik 6) Siraman Sedekah Bumi Bersih desa adalah salah satu upacara adat Jawa yang diselenggarakan setelah selesainya panen padi, jadi maksudnya sebagai ungkapan syukur “tandhuran” padi berhasil panen dan hasilnya baik. Upacara adat ini kadang juga disebut upacara mreti desa dan biasanya digabung dengn upacara adat sedekah bumi atau mreti bumi. Setiap daerah mempunyai atat cara dan prosesi upacara yang berlainan menurut kebiasaan masing-masing tetapi tujuannya sama saja. Pada jaman dahulu upacara adat ini dikaitkan dengan Dewi sri yang dianggap sebagai dewi Padi karena keberhasilan panen itu hasil kemurahan dari Dewi sri yang wajib disyukuri. Tujuan dari mengadakan upacara ini adalah: 1) Untuk mengucapakan syukur kepada tuhanyang sudah memberi hasil panen padi yang melimpah. 2) Untuk menjaga keselamatan para warga desa dari gangguan hal-hal yang gaib, roh atau arwah yang gentayangan dan juga dari gangguan penyakit, serta bencana. 3) Untuk membersihkan desa dan warganya dari halangna atau kesusahan supaya keadaan desa menjadi tentram dan aman. Prosesi Umumnya dimulai setelah panen pertama. Lokasi upacara pertama di sawah yang sudah dilengkapi dengan ”ubo rampe’ yaitu janur kuning, kembang setaman, kemenyan, kaca, suri, banyu kendhi, jajan pasar, bungkusan nasi dan pisang. Setelah acara berdoa, padi yang sudah dipetik digotong ke lumbung padi. Di lumbung padi juga disiapkan perangkat upacara lanjutan yang umumnya dibuat dari daun. Diantaranya daunkluwih, dhadhap serep, godhong mojo, godhong tebu, godhong jati juga godhong luh. Masing-masing godhong ( daun ) itu mempunyai makna.

kebudayaan 59

Jawa

Munggah wuwungan Adalah salah satu upacara adat yang diselenggarakan setelah wuwungan dibangun dalam proses membangun rumah. Istilah munggah wuwungan ini biasanya disebut juga munggah gendheng. Upacara ini diselenggarakan saat rangka wuwungan sudah jadi tetapi gendeng belum dipasang. Upacara adat ini uga dikenal di daerah-daerah lain di Nusantara. Upacara ini sebenarnya upacara untuk syukuran karena rumah yang dibangun sudah mempunyai wuwungan jadi sebentar lagi sudsh bisa dipake sehingga tidak akan kepanasan atau kehujanan. Puncak acaranya adalah kendhuren, diutamakan untuk tuakang-tukang yang membangun rumah dan para tetangga yang berada dekat dengan rumah yang dibangun. Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh ulama. Biasanya acara kendhuren munggah wuwungan ini diselenggarakan siang atau setelah shalat dhuhur, jadi sekalian dengan makan siang para tukang dan jamaah serta ulama yang baru keluar dari masjid atau langgar bisa langsung ikut dan pulangnya bisa membawa besek. Sesajen juga perlu disiapkan untuk digantung disalah satu kayu di wuwungan. Yang tidak digantung hanya bendhera merah putih yang dipasang dengan galah dengna panjang sedang 9 tidak terlalu panjang ), yang bisa kelihatan dari rumah tetangganya. Sesajen yang harus disiapkan : 1) Gedhang setandan 2) Tebu ireng sewit 3) Pari secukupe 4) Kelapa seiji uga bendhera

Grebeg Maulud
Perayaan Grebeg

Puncak peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. diperingati dengan penyelenggaraan upacara Grebeg Maulud yang diselenggarakan pada tanggal 12 kebudayaan 60 Jawa

Maulud, atau pagi hari esoknya, setelah kedua perangkat gamelan Kyai Nogowilogo dan Kyai Guntur madu dibawa masuk kembali ke dalam Kraton oleh masyarakat Yogyakarta, kejadian ini lazim disebut dengan istilah Bendhol Songsong. Pada pagi hari, pukul 08.00, upacara dimulai dengan parade kesatuan prajurit Kraton yang mengenakan pakaian kebesarannya masing-masing. Puncak dari upacara ini adalah iringan gunungan yang dibawa ke Masjid Agung . Setelah di Masjid diselenggarakan doa dan upacara persembahan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, sebagian gunungan dibagi-bagikan pada masyarakat umum dengan jalan diperebutkan. Bagian-bagian dari gunungan ini umumnya dianggap akan memperkuat tekad dan memiliki daya tuah terutama bagi kaum petani, mereka menanamnya dilahan persawahan mereka, untuk memperkuat doanya agar lahannya menjadi subur dan terhindar dari berbagai hama perusak tanaman. Selain upacara Grebeg Maulud, didalam satu kurun tahun Jawa terdapat upacara-upacara Grebeg yang lain, yakni Grebeg Syawal yang diselenggarakan pada tanggal 1 bulan Syawal sebagai ungkapan terima kasih masyarakat kepada Tuhan dengan telah berhasil diselesaikannya ibadah puasa selama satu bulan penuh dibulan Suci Ramadhan, dan Grebeg Besar yang diselenggarakan pada tanggal 10 bulan Besar, berkaitan dengan peringatan hari Raya Qurban Idhul Adha.

Upacara Jamasan

Bagi orang Jawa, benda-benda pun dianggap memiliki jiwa. Oleh karena itu, benda-benda itu harus diperlakukan istimewa yang nyaris sama seperti manusia itu sendiri. Mungkin saja ini masih dianggap sebagai animisme, tapi tentu saja orang Jawa akan menyangkalnya. Yang jelas, untuk benda-benda milik Keraton Yogyakarta seperti kereta, gamelan, maupun pusaka, semuanya memiliki nama seperti manusia. Ada Kiai Sangkelat, Kiai Nagasasra (keris), Kiai Guntur Madu (gamelan), ada pula Kanjeng Nyai Jimat dan Kyai Puspakamanik (kereta). Di Keraton Yogyakarta, benda-benda itu selalu dicuci yang diistilahkan dengan nama kebudayaan 61 Jawa

Di sana ada sekitar selusin kereta yang sebagian besar masih bisa digunakan. Mereka berbusana seperti itu karena mereka akan menjamasi sebuah kereta. dan dua buah di depan agak kecil. sebuah kereta hadiah dari Kerajaan Belanda yang dibuat pada tahun 1901. hal ini dikarenakan masyarakat Jawa percaya bahwa air ini akan membawa berkah bagi mereka. Kereta itu tersimpan di dalam Museum Kereta Keraton Yogyakarta. Akan tetapi. Kemudian ada Kyai Puspakamanik. Kereta yang penuh ukiran itu sendiri memiliki pintu dan atap sehingga mirip mobil. Semua yang terlibat dalam ritual itu harus mengenakan kain panjang. dan penutup kepala blangkon. kebudayaan 62 Jawa . Setiap Kanjeng Nyai Jimat dijamasi. jamasan pusaka itu tidak boleh dilihat oleh umum. Jamasan biasanya seorang pejabat keraton yang khusus menangani masalah perawatan kereta. Sebenarnya. diperkirakan ditarik oleh enam sampai delapan kuda. Kereta itu menjadi tumpangan para pangeran pada pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VIII. surjan. dan dia selalu ditemani oleh salah sebuah kereta lain yang dipilih secara bergantian setiap tahunnya. Kereta ini dibuat pada tahun 1750-an. Mereka.dijamasi pada bulan Sura (Muharam) dan selalu pada hari istimewa Jumat Kliwon atau mengenakan pakaian adat Jawa Selasa peranakan. dua buah yang besar di belakang. Semisteri pusaka yang dipercayai memiliki kekuatan supra natural itu sendiri. karena mereka percaya bahwa air ini mengandung hal gaib/sakti karena pemiliknya merupakan orang yang sakti. Berbentuk anggun. laki-laki. beroda empat. di samping jamasan kereta. Cara jamasan itu sendiri juga khas. Kereta itu menjadi tunggangan Sultan Hamengku Buwono I sampai III. di dalam keraton juga ada jamasan pusaka. Proses pencucian kereta ini memiliki nilai wisata ritual magis religius. bergaya kereta kerajaan-kerajaan Eropa. semasa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I. Sehingga banyak orang rela berebut bekas air cucian kereta dengan cara menampung aliran air dari badan kereta dan memasukkan air bekas cucian itu ke dalam botol bekas air kemasan maupun jerigen. Misteri jamasan pusaka itu sendiri akhirnya memang tinggal misteri yang dipelihara turuntemurun. Sebuah simbol kewibawaan seorang raja. semuanya Kliwon. diberi nama Kanjeng Nyai Jimat. Kereta itulah yang setiap bulan Sura selalu dijamasi karena dianggap sebagai kereta cikal-bakal kereta lainnya.

Majapahit khususnya pada pemerintahan Raja Hayam Wuruk. PRODUK BUDAYA H. Singosari. kebudayaan 63 Jawa . Berbagai pakaian bekas yang pernah dipergunakan oleh Sri Sultan. terus sampai jauh di luar Jawa Tengah. Bahkan tari tidak dapat dilepaskan dengan kepentingan upacara adat sebagai sarana persembahan.Upacara Labuhan Selain itu terdapat pula Upacara Labuhan yang merupakan rangkaian dari Tradisi 1 Sura. sebagai bentuk permohonan untuk mendapatkan kesejahteraan dan keselamatan kepada Ratu Kidul Penguasa laut Selatan . kata tersebut mempunyai maksud dan pengertian bahwa orang yang akan menari haruslah benar-benar menuju satu tujuan. Dimana pagi hari sesudah malam 1 Sura maka diadakan Upacara labuhan yaitu dengan mempersembahkan pakaian wanita . Seni tari adalah ungkapan yang disalurkan / diekspresikan melalui gerakgerak organ tubuh yang ritmis. Hindu sampai masuknya agama Islam dan kemudian berkembang. Dari kedua tempat inilah kemudian meluas ke daerah Surakarta seluruhnya dan akhirnya meluas lagi hingga meliputi daerah Jawa Tengah. Sumber utamanya terdapat di Keraton Surakarta dan di Pura Mangkunegaran. Surakarta merupakan pusat seni tari. kata “beksa” berarti “ambeg” dan “esa”. sirih. alat-alat rias. Tokoh-tokoh tersebut umumnya masih keluarga Sri Susuhunan atau kerabat kraton yang berkedudukan. H. Seni tari yang merupakan bagian budaya bangsa sebenarnya sudah ada sejak jaman primitif. Seni tari yang berpusat di Kraton Surakarta itu sudah ada sejak berdirinya Kraton Surakarta dan telah mempunyai ahli-ahli yang dapat dipertanggungJawabkan. yaitu menyatu jiwanya dengan pengungkapan wujud gerak yang luluh. bunga dan lain-lain ke laut selatan . Sehingga bisa dikatakan bahwa kedua upacara ini yaitu tradisi malam 1 Suro dan Upacara Labuhan merupakan 2 hal yang saling berkaitan di dalam tradisi Kraton Yogyakarta. indah mengandung kesusilaan dan selaras dengan gending sebagai iringannya. potongan rambut serta potongan kuku beliau ditanam di dalam areal tanah sengker (suatu areal tanah yang dianggap keramat di daerah Parangkusumo). Tari mengalami kejayaan yang berangkat dari kerajaan Kediri.1 Seni Tari Tari sering disebut juga ”beksa”.

Pedoman tari tradisional itu sebagian besar mengutamakan gerak yang ritmis dan tempo yang tetap sehingga ketentuan-ketentuan geraknya tidaklah begitu ditentukan sekali. Prawirayudha. Seni tari dapat dibedakan menjadi 3 jenis. yang mengambil cerita Damarwulan. Yang khusus di Mangkunegaran disebut Tari Langendriyan. Beberapa contoh tarian gaya surakarta. Ebeg. 3. Gambyong. Selain tari yang bertaraf kraton (Hofdans). Bedhaya. Wayang-Purwa Mahabarata-Ramayana. penguasa laut selatan yang juga disebut Kanjeng Ratu Kidul. Kuda Kepang. Tari semacam itu termasuk jenis kesenian tradisional. seperti : Dadung Ngawuk. Tari Klasik Tari Tradisional Tari garapan Baru Beberapa jenis tari yang ada antara lain : 1. yaitu : 1. Jelantur. sintren. Konon penciptaan gendhingpun menjadi sempurna setelah Sunan Kalijaga ikut menyusunnya. lengger. Jadi lebih bebas. Incling. Tayuban. Sebelum tari ini diciptakan. terlebih dahulu Sultan Agung memerintahkan para pakar gamelan untuk menciptakan sebuah gendhing yang bernama Ketawang. yang termasuk seni tari bermutu tinggi. lebih perseorangan. Ketek Ogleng. diantaranya : Srimpi. Dalam perkembangannya timbullah tari kreasi baru yang mendapat tempat dalam dunia tari gaya Surakarta. Dolalak. di daerah Jawa Tengah terdapat pula bermacammacam tari daerah setempat. barongan.Seni tari yang berpusat di Kraton Surakarta itu kemudian terkenal dengan Tari Gaya Surakarta. dan lain-lain. 2. TARI KLASIK dari JAWA TENGAH • Tari Bedhaya Menurut kitab Wedbapradangga yang dianggap pencipta tarian Bedhoyo Ketawang adalah Sultan Agung (1613-1645) raja ke-1 dan terbesar dari kerajaan Mataram bersama Kanjeng Ratu Kencanasari. Wireng. Tarian Bedhoyo Ketawang tidak hanya dipertunjukan pada saat penobatan raja yang baru tetapi juga pertunjukan setiap kebudayaan 64 Jawa .

Gamelan yang mengiringinya pun sangat khusus yaitu gamelan "Kyai Kaduk Manis" dan "Kyai Manis Renggo". Kenong. Dua buah Kendang Ageng bemama Kanjeng kyai Denok dan Kanjeng Kyai Iskandar. Istrumen-istrumen tersebut selain dianggap khusus juga ada yang mempunyai nama keramat. Kendhang Ketipung dan Gong Ageng. Instrumen gamelan yang dimainkan hanya beberapa yakni Kemanak. dua buah rebab bemama Kanjeng Kyai Grantang dan Kanjeng Kyai Lipur serta sehuah Gong ageng bernama Kanjeng Nyai Kemitir. Busana Tari Bedhoyo Ketawang menggunakan Dodot Ageng dengan motif Banguntulak alas-alasan yang menjadikan penarinya terasa anggun. Kethuk. kebudayaan 65 Jawa . Pertunjukan Bedhoyo Ketawang pada masa Sri Susuhunan Paku Buwana XII diselenggarakan pada hari kedua bulan Ruwah atau Sya'ban dalam Kalender Jawa. Kendhang Ageng.tahun sekali bertepatan dengan hari penobatan raja atau "Tingalan Dalem Jumenengan".

juga sering disajikan pada upacara kebudayaan 66 Jawa . termasuk jenis Bedhaya Suci dan Sakral. Ide Sunan Kalijaga tentang Bedhaya dengan 9 penari ini akhirnya sampai pada Mataram Islam. tepatnya sejak perjanjian Giyanti pada tahun 1755 oleh Pangeran Purbaya. Oleh Sunan Pakubuwono I dinamakan Bedhaya Ketawang. Seperti tari Bedhaya 7 penari berubah menjadi 9 penari disesuaikan dengan jumlah Wali Sanga. khususnya Bedhaya Ketawang yang jarang disajikan di luar Kraton. dengan nama peranan sebagai berikut: o o o o o o o o o o o o o o o o o o Endel pojok Batak Gulu Dhada Buncit Endhel Apit Ngajeng Endhel Apit Wuri Endhel Weton Ngajeng Endhel Weton Wuri Bedhaya Ketawang lama tarian 130 menit Bedhaya Pangkur lama tarian 60 meit Bedhaya Duradasih lama tarian 60 menit Bedhaya Mangunkarya lama tarian 60 menit Bedhaya Sinom lama tarian 60 menit Bedhaya Endhol-endhol lama tarian 60 menit Bedhaya Gandrungmanis lama tarian 60 menit Bedhaya Kabor lama tarian 60 menit Bedhaya Tejanata lama tarian 60 menit Beberapa jenis tari Bedhaya yang belum mengalami perubahan : Pada umumnya berbagai jenis Bedhaya tersebut berfungsi menjamu tamu raja dan menghormat serta menyambut Nyi Roro Kidul. Tumenggung Alap-alap dan Ki Panjang Mas. Hal ini kemudian dibawa ke Kraton Kasunanan Surakarta. maka disusunlah Bedhaya dengan penari berjumlah 9 orang.Budaya Islam ikut mempengaruhi bentuk-bentuk tari yang berangkat pada jaman Majapahit.

angin dan bumi/tanah. tari Srimpipun ada yang suci atau sakral yaitu Srimpi Anglir Mendhung. Seperti Bedhaya. Komposisinya segi empat yang melambangkan tiang Pendopo. Contoh Bedhaya garapan baru : o o o • Bedhaya La la lama tarian 15 menit Bedhaya To lu lama tarian 12 menit Bedhaya Alok lama tarian 15 menit Tari Srimpi Tari Srimpi yang ada sejak Prabu Amiluhur ketika masuk ke Kraton mendapat perhatian pula. Sedang nama peranannya Batak. Gulu. Contoh Srimpi hasil garapan baru : o o o Srimpi Anglirmendhung menjadi 11 menit Srimpi Gondokusumo menjadi 15 menit Dan lain-lain Beberapa tari klasik yang tumbuh dari Bedhaya dan Srimpi : o Beksan Gambyong kebudayaan 67 Jawa . Juga karena lamanya penyajian (60 menit) maka untuk konsumsi masa kini diadakan inovasi. Disamping itu ada juga Bedhaya-bedhaya yang bertema kepahlawanan dan bersifat monumental.keperluan jahat di lingkungan Istana. Tarian yang ditarikan 4 putri itu masing-masing mendapat sebutan : air. yang selain melambangkan terjadinya manusia juga melambangkan empat penjuru mata angin. api. Melihat lamanya penyajian tari Bedhaya (juga Srimpi) maka untuk konsumsi masa kini perlu adanya inovasi secara matang. Dhada dan Buncit. dengan tidak mengurangi isi dan bobotnya.

Selain sebagai hiburan. artinya gendhing ladrang kemudian diteruskan gendhing ketawang  kebudayaan 68 Tidak ada yang kalah. Oleh istana tari itu diubah menjadi Tari gambyong.Berasal dari tari Glondrong yang ditarikan oleh Nyi Mas Ajeng Gambyong. yang 'aeng'. akhirnya Nyi Mas itu dipanggil oleh Bangsawan Kasunanan Surakarta untuk menari di Istana sambil memberi pelajaran kepada para putra/I Raja. hanya iramanya atau temponya kendho atau kenceng  Gending satu atau dua. Tari ini diciptakan pada jaman pemerintahan Prabu Amiluhur dengan tujuan agar para putra beliau tangkas dalam olah keprajuritan dengan menggunakan alat senjata perang. menag atau mati Jawa . artinya tidak menggunakan gending sampak/srepeg. Menarinya sangat indah ditambah kecantikan dan modal suaranya yang baik. Ciri-ciri tarian ini :      Ditarikan oleh dua orang putra atau putri Bentuk tariannya sama Tidak mengambil suatu cerita Tidak mengambil ontowacono (dialog) Bentuk pakaiannya sama  Perangnya tanding. Adapun ciri-ciri tari ini :     Jumlah penari seorang putri atau lebih Memakai jarit wiron Tanpa baju melainkan memakai kemben atau bangkin Tanpa jamang melainkan memakai sanggul atau gelung  o Dalam menari boleh menggunakan sindenan ( menyanyi ) atau tidak Beksan Wireng Berasal dari kata Wira (perwira) dan 'Aeng' yaitu prajurit yang unggul. Sehingga tari ini menggambarkan ketangkasan dalam latihan perang dengan menggunakan alat perang. tari ini sering juga ditarikan untuk menyambut tamu dalam upacara peringatan hari besar dan perkawinan. yang 'linuwih'.

agar lebih cantik dan menarik. Tari ini menggambarkan cara-cara berhias diri seorang gadis yang baru menginjak masa akhil baliq. Kusumoyudho dengan Gusti Ratu Angger tahun 1910. Ciri-cirinya :      Tari boleh sama. gangsaran  Memetik dari suatu cerita lakon Bambangan Cakil Hanila Prahasta Dan lain-lain Contoh Tari Pethilan :     • Tari Golek Tari ini berasal dari Yogyakarta. Bedanya Tari Pethilan mengambil adegan atau bagian dari cerita pewayangan. Selanjutnya mengalami persesuaian dengan gaya Surakarta. boleh tidak Menggunakan ontowacono ( dialog ) Pakaian tidak sama. kecuali pada lakon kembar Ada yang kalah. kebudayaan 69 Jawa . Pertama dipentaskan di Surakarta pada upacara perkawinan KGPH.• Tari Pethilan Hampir sama dengan tari Wireng. sampak. menang atau mati Perang menggunakan gendhing srepeg.

sekarang jarang kebudayaan 70 Jawa . dan lain-lain • o o o Tari Bondan Tari ini dibagi menjadi : Bondan Cindogo Bondan Mardisiwi Bondan Pegunungan atau tani Tari Bondan Cindogo dan Mardisiwi merupakan tari gembira. Sedang pada Bondan Mardisiwi tidak. mengungkapkan rasa kasih sayang kepada putranya yang baru lahir. memanggul payung Membawa kendhi (dahulu). Tapi Bondan Cindogo satu-satunya anak yang ditimang-timang akhirnya meninggal dunia. serta perlengakapan tarinya sering tanpa menggunakan kendhi seperti pada Bondan Cindogo. Ciri pakaiannya : o o o o o Memakai kain wiron Memakai jamang Memakai baju kotang Menggendong boneka.Macam-macamnya :   Golek Clunthang iringan Gendhing Clunthang Golek Montro iringan Gendhing Montro  Golek Surungdayung iringan gendhing Ladrang Surungdayung.

yaitu : o o o o o o o o kebudayaan 71 Topeng Panji Ksatrian Condrokirono Gunung sari Handoko Raton Klono Denowo Benco(Tembem) Jawa . • Tari Topeng Tari ini sebenarnya berasal dari Wayang Wong atau drama. Di bagian dalam sudah mengenakan pakaian seperti Bondan biasa. melukiskan tingkah laku putri asal pegunungan yang sedang asyik menggarap ladang. Menak Panji. Beliau menciptakan 9 jenis topeng. Kecuali jika memakai jamang maka klat bahu. Tari Topeng yang pernah mengalami kejayaan pada jaman Majapahit.Untuk gendhing iringannya Ayak-ayakan diteruskan Ladrang Ginonjing. tegal pertanian. sumping. topengnya dibuat dari kayu dipoles dan disungging sesuai dengan perwatakan tokoh/perannya yang diambil dari Wayang Gedhog. Sedangkan Bondan Pegunungan. memakai caping adan membawa alat pertanian hanya tidak memakai jamang tetapi memakai sanggul/gelungan. Dulu hanya diiringi lagu-lagu dolanan tapi sekarang diiringi gendhing-gendhing lengkap. menggendong tenggok. Ciri pakaiannya : o o Mengenakan pakaian seperti gadis desa. sampur. sawah. Selanjutnya menari seperti gerak tari Bondan Cindogo / Mardisiwi. dll sebelum dipakai dimasukkan tenggok. Tapi sekarang ini menurut kemampuan guru/pelatih tarinya. Tari ini semakin pesat pertumbuhannya sejak Islam masuk terutama oleh Suann Kalijaga yang menggunakannnya sebagai penyebaran agama. o Bentuk tariannya . pertama melukiskan kehidupan petani kemudian pakaian bagian luar yang menggambarkan gadis pegunungan dilepas satu demi satu dengan membelakangi penonton.

Jawa Kulonan dan Jawa Timuran (Blambangan dan Osing) sehingga akar gerakan tari ini mengandung unsur kekayaan dinamis dan musik dari etnik Jawa. di Purworejo Pertunjukan ini dilakukan oleh beberapa orang penari yang berpakaian menyerupai pakaian prajurit Belanda atau Perancis tempo dulu dan diiringi dengan alat-alat bunyi-bunyian terdiri dari kentrung. Turas (Penthul) Pakaiannya dahulu memakai ikat kepala dengan topeng yang diikat pada Tari Topeng yang berasal dari Malang sangat khas karena merupakan hasil perpaduan antara budaya Jawa Tengahan. Biasanya digelar pada acaraacara-acara penting kesenian tradisional tingkat nasional. Beberapa contoh kesenian tradisional : o Tari dolalak. kencer. Kesenian tradisional tersebut tak kalah menariknya karena mempunyai keunikan-keunikan tersendiri. sedih. Salah satu keunikannya adalah pada model alat musik yang dipakai seperti rebab (sitar Jawa) seruling Madura (yang mirip dengan terompet Ponorogo) dan karawitan model Blambangan. dllnya. malu dan sebagainya. Tari Topeng adalah perlambang bagi sifat manusia. Menurut cerita. tertawa. kebudayaan 72 Jawa . karenanya banyak model topeng yang menggambarkan situasi yang berbeda. 2. kendang. TARI TRADISIONAL dari JAWA TENGAH Selain tari-tari klasik. di Jawa Tengah terdapat pula tari-tari tradisional yang tumbuh dan berkembang di daerah-daerah tertentu. Bisanya tari ini ditampilkan dalam sebuah fragmentasi hikayat atau cerita rakyat setempat tentang berbagai hal terutama bercerita tentang kisah2 panji. Dengan demikian walaupun masih bertahan namun Tari Topeng sudah mendekati kepunahan walaupun masih tetap mengikuti acara-acara penting kesenian tradisional tingkat nasional. rebana. Tari Topeng masih bertahan hingga saat ini. Madura dan Bali. kesenian ini timbul sejak berkobarnya perang Aceh di jaman Belanda yang kemudian meluas ke daerah lain.o kepala. menangis. Tari Topeng sendiri diperkirakan muncul pada masa awal abad 20 dan berkembang luas semasa perang kemerdekaan.

Jawa Timur. o Pekalongan Di daerah Pekalongan terdapat kesenian Kuntulan dan Sintren. o Obeg dan Begalan Kesenian ini berkembang di Cilacap. Pertunjukan ini diadakan sebagai olah raga dan sekaligus hiburan di waktu senggang pada sore dan malam hari terutama di kala terang bulan purnama. Pertunjukan ini dipimpin oleh seorang pawang atau dukun yang dapat membuat pemain dalam keadaan tidak sadar. ada juga yang menamakannya jathilan (Yogyakarta) juga reog (Jawa Timur). Pemain Obeg ini terdiri dari beberapa orang wanita atau pria dengan menunggang kuda yang terbuat dari anyaman bambu (kepang). Atraksi ini dapat disaksikan pada waktu malam bulan purnama setelah panen. Varian lain dari jenis kesenian ini di daerah lain dikenal dengan nama kuda lumping atau jaran kepang. barongan dan Wayang Krucil (sejenis wayang kulit ternuat dari kayu). serta diiringi dengan bunyi-bunyian tertentu. Bulu sampai ke Tuban. o Blora Daerah ini terkenal dengan atraksi kesenian Kuda Kepang. dllnya. sebelum tarian dimulai gadis menari tersebut dengan tangan terikat dimasukkan ke dalam tempat tertutup bersama peralatan bersolek. terbang. Penarinya mengenakan celana panjang dilapisi kain batik sebatas lutut dan berkacamata kebudayaan 73 Jawa . Lokasinya berada di tempat-tempat yang berpasir di tepi pantai. Seni gulat rakyat ini terutama berkembang di kalangan pelajar terutama di pantai diantara kecamatan Pandagan. Kragan. Kuntulan adalah kesenian bela diri yang dilukiskan dalam tarian dengan iringan bunyi-bunyian seperti bedug. Sedangkan Sintren adalah sebuah tari khas yang magis animistis yang terdapat selain di Pekalongan juga di Batang dan Tegal. di Rembang Sejenis olahraga gulat rakyat yang dimainkan oleh dua orang pegulat dipimpin oleh dua orang Gelandang (wasit) dari masing-masing pihak. Tarian ini menggunakan “ebeg” yaitu anyaman bambu yang dibentuk menyerupai kuda berwarna hitam atau putih dan diberi kerincingan. Kesenian ini menampilkan seorang gadis yang menari dalam keadaan tidak sadarkan diri. kemudian selang beberapa lama ia telah selesai berdandan dan siap untuk menari.o Patolan (Prisenan).

Dalam pertunjukannya. gudril. ebeg diiringi oleh gamelan yang lazim disebut bendhe. Peralatan yang dipergunakan anatara lain kendang. saron. badannya ditindih dengan lesung terus dimasukkan ke dalam kurungan. penthul dan cepet. Semua penari menggunakan alat bantu ebeg sedangkan penthul-tembem memakai topeng. kebudayaan 74 Jawa . biasanya kurungan ayam. di dalam kurungan itulah Laisan berdandan seperti wanita. dua orang berperan sebagai penthul-tembem. Laisan muncul di tengah pertunjukan ebeg. Setelah terlebih dulu dimantra-mantara. dan munculah pria tersebut dengan mengenakan pakaian wanita lengkap. Laisan juga dikenal di wilayah lain (wetan) dan mereka biasa menyebutnya Sintren. mengenakan mahkota dan sumping ditelinganya. Begalan adalah salah satu acara dalam rangkaian upacara perkawinan adat Banyumas. dan yang unik adalah para pemainnya biasa memakan pecahan kaca (beling) atau barang tajam lainnya sehingga menunjukkan keperkasaan sebagai Satria. Waktu pertunjukan umumnya siang hari dengan durasi antara 1 – 4 jam. Laisan adalah jenis kesenian yang melekat pada kesenian ebeg. salah seorang pemain biasanya melakukan thole-thole yaitu menari berkeliling arena sambil membawa tampah untuk mendapatkan sumbangan. lung gadung dan lain-lain. Tarian ebeg termasuk jenis tari massal. Purbalingga maupun di daerah di luar Kabupaten Banyumas. Kesenian ini hidup di daerah Bangumas pada umumnya juga terdapat di Cilacap. 7 orang lagi sebagai penabuh gamelan. Pada pertunjukan ebeg komersial. pertunjukannya memerlukan tempat pagelaran yang cukup luas seperti lapangan atau pelataran/halaman rumah yang cukup luas. seorang berperan sebagai pemimpin atau dalang. demikian pula pemain yang manaiki kuda kepang menggambarkan kegagahan prajurit berkuda dengan segala atraksinya. Jumlah penari ebeg 8 oarang atau lebih. Yang bersifat khas banyumas antara lain : Calung. Untuk mengiringi tarian ini selalu digunakan lagu-lagu irama Banyumasan seperti ricik-ricik. gong dan terompet. kenong. jadi satu grup ebeg bisa beranggotakan 16 orang atau lebih. Biasanya dalam pertunjukan ebeg dilengkapi dengan atraksi barongan. Pada kedua pergelangan tangan dan kaki dipasangi gelang-gelang kerincingan sehingga gerakan tangan dan kaki penari ebeg selalu dibarengi dengan bunyi kerincingan. kurunganpun dibuka. Laisan dilakukan oleh seorang pemain pria yang sedang mendem. blendrong.hitam.

barang-barang yang dipikul diperebutkan para penonton. penonton juga disuguhi dialog-dialog menarik yang penuh humor. Sebagai layaknya tari klasik. Yang menarik adalah dialog-dialog antara yang dibegal dengan sipembegal biasanya berisi kritikan dan petuah bagi calon pengantin dan disampaikan dengan gaya yang jenaka penuh humor. Selain menikmati kebolehan atraksi tari begalan dan irama gending. seorang lagi bertindak sebagai pembegal/perampok. Jumlah penari 2 orang. Centhing. kukusan. irus. centhong. siwur. Disebut begalan karena atraksi ini mirip perampokan yang dalam bahasa Jawa disebut begal. saringan ampas. contohnya ilir yaitu kipas anyaman bambu diartikan sebagai peringatan bagi suami-isteri untuk membedakan baik buruk. tempat nasi artinya bahwa hidup itu memerlukan wadah yang memiliki tatanan tertentu jadi tidak boleh berbuat semau-maunya sendiri. gerak tarinya tak begitu terikat pada patokan tertentu yang penting gerak tarinya selaras dengan irama gending. cething. seorang bertindak sebagai pembawa barangbarang (peralatan dapur). tarian lengger-calung terdiri dari lengger . Sayangnya pertunjukan begalan ini tidak boleh dipentaskan terlalu lama karena masih termasuk dalam rangkaian panjang upacara pengantin. Dialog yang disampaikan kedua pemain berupa bahasa lambang yang diterjemahkan dari nama-nama jenis barang yang dibawa. tampah. sorokan. Pembegal biasanya membawa pedang kayu. o Lengger-Calung dari banyumas Kesenian kebudayaan 75 tradisional lengger-calung tumbuh dan berkembang Jawa diwilayah ini. Begalan adalah jenis kesenian yang biasanya dipentaskan dalam rangkaian upacara perkawinan yaitu saat calon pengantin pria beserta rombongannya memasuki pelataran rumah pengantin wanita. umumnya mereka mengenakan busana Jawa. Sesuai namanya. Kukusan adalah alat memasak atau menanak nasi. Begalan merupakan kombinasi antara seni tari dan seni tutur atau seni lawak dengan iringan gending. Barang-barang yang dibawa antara lain ilir. ini melambangkan bahwa setelah berumah tangga cara berpikirnya harus masak/matang. ian. Biasanya usai pertunjukan. Barang bawaan ini biasa disebut brenong kepang. Kostum pemain cukup sederhana. Upacara ini diadakan apabila mempelai laki-laki merupakan putra sulung. kendhil dan wangkring.begalan dan Dalang Jemblung.

Juga dapat untuk mengiringi tarian yang diperagakan oleh beberapa penari wanita. leher sampai dada bagian atas biasanya terbuka. Yang mengadakan ini adalah dari pihak mempelai kebudayaan 76 Jawa . Diantara gerakan khas tarian lengger antara lain gerakan geyol. Satu grup calung minimal memerlukan 7 orang anggota terdiri dari penabuh gamelan dan penari/lengger.(penari) dan calung (gamelan bambu). kini penarinya umumnya wanita cantik sedangkan penari prianya hanyalah sebagai badut pelengkap yang berfungsi untuk memeriahkan suasana. o Kuda Lumping (Jaran kepang) dari Temanggung diselenggarakan oleh keluarga yang baru pertama kalinya mengawinkan anaknya. mengenakan kain/jarit dan stagen. Calung adalah suatu bentuk kesenian rakyat dengan menggunakan bunyibunyian semacam gambang yang terbuat dari bambu. Dalam penyajiannya calung diiringi vokalis yang lebih dikenal sebagai sinden. badut biasanya hadir pada pertengahan pertunjukan. dhendhem. lagu-lagu yang dibawakan merupakan gending Jawa khas Banyumas. mereka harus berdandan sedemikian rupa sehingga kelihatan sangat menarik. gedheg dan lempar sampur. sedangkan kendang atau gendang sama seperti gendang biasa. rambut kepala disanggul. gerakan tariannya sangat dinamis dan lincah mengikuti irama calung. kenong dan gong yang semuanya terbuat dari bambu wulung (hitam). Peralatan gamelan calung terdiri dari gambang barung. Lengger menari mengikuti irama khas Banyumasan yang lincah dan dinamis dengan didominasi oleh gerakan pinggul sehingga terlihat sangat menggemaskan. gambang penerus. sampur atau selendang biasanya dikalungkan dibahu. Jumlah penari lengger antara 2 sampai 4 orang. Tari Lengger Dulu penari lengger adalah pria yang berdandan seperti wanita. Sedangkan untuk Begalan biasanya wanita.

o Lengger dari Wonosobo Kesenian khas Wonosobo ini dimainkan oleh dua orang laki-laki yang masing-masing berperan sebagai seorang pria dan seorang wanita. kenong dll. o Tarian Jlantur dari Boyolali Sebuah tarian yang dimainkan oleh 40 orang pria dengan memakai ikat kepala gaya turki. o Jatilan dari Magelang Pertunjukan ini biasanya dimainkan oleh delapan orang yang dipimpin oleh seorang pawang yang diiringi dengan bunyi-bunyian berupa bende. Diiringi dengan bunyi-bunyian yang antara lain berupa Angklung bernada Jawa. dahulu merupakan tarian penyalur semangat kepahlawanan dari keturunan prajurit Diponegoro. Ceritera ini kemudian diubah menurut kebudayaan 77 Jawa . sering dipentaskan untuk menyambut tamu-tamu resmi atau biasanya diadakan pada waktu upacara. Tarian ini mengisahkan ceritera Dewi Chandrakirana yang sedang mencari suaminya yang pergi tanpa pamit. Dan pada puncaknya para pemain mencapai keadaan tidak sadar. Pada puncak tarian penari mencapai keadaan tidak sadar. o Ketek Ogleng dari wonogiri Kesenian yang diangkat dari ceritera Panji.Kesenian ini diperagakan secara massal. Tariannya dilakukan dengan menaiki kuda kepang dengan senjata tombak dan pedang. Dalam pencariannya itu ia diganggu oleh raksasa yang digambarkan memakai topeng. mengisahkan cinta kasih klasik pada jaman kerajaan Kediri. Tarian ini menggambarkan prajurit yang akan berangkat ke medan perang.

KLANA SEWANDANA atau KLONO Penari dan tarian yang menggambarkan sosok raja dari kerajaan Bantarangin ( kerajaan yang dipercaya berada di wilayah Ponorogo jaman dahulu. Selain itu ia membawa Pecut Samandiman. Sosok ini digambarkan dengan topeng yang mirip dengan wajah raksasa.selera rakyat setempat menjadi kesenian pertunjukan Ketek Ogleng yang mengisahkan percintaan antara Endang Roro Tompe dengan Ketek Ogleng. dan kumis tipis. Sosok ini digambarkan dengan topeng bermahkota. mata melotot. PUJANGGANONG atau BUJANGGANONG adalah penari dan tarian yang menggambarkan sosok patih muda ( Patihnya Klana Sewandana) yang cekatan. Tarian akrobatis ini di antara lain dipertunjukan di atas seutas tali. wajah merah darah dan rambut yang lebat warna hitam menutup pelipis kiri dan kanan. dan sakti. 4. o Tari Tepak-Tepak Putri Tari yang menggambarkan kelincahan gerak remaja-remaja putri sedang bersuka ria memainkan rebana. wajah berwarna merah. Sebagai contoh : o Tari prawiroguno Tari ini menggambarkan seorang prajurit yang sedang berlatih diri dengan perlengkapan senjata berupa pedang untuk menyerang musuh dan juga tameng sebagai alat untuk melindungi diri. mulut terbuka dengan gigi yang besar tanpa taring. jenaka. 5. berbentuk kebudayaan 78 Jawa . TARI GARAPAN BARU ( KREASI BARU ) dari JAWA TENGAH Meskipun namanya 'baru' tetapi semua tari yang termasuk jenis ini tidak meninggalkan unsur-unsur yang ada dari jenis tari klasik maupun tradisional. mata besar melotot. 3. Penampilannya dititik beratkan pada suguhan tarian akrobatis gaya kera (Ketek Ogleng) yang dimainkan oleh seorang dengan berpakaian kera seperti wayang orang. cerdik. dengan iringan pujian atau syair yang bernafas Islam. hidung panjang.

Pada kedua ujung bambu dibuat lobang persegi panjang selebar 1 cm. Di tengah masing-masing ikatan padi ada sunduk (tusuk) bambu sepanjang hampir 2 meter. Perangkat musiknya terdiri dari kendang. 6. Angguk dimainkan sedikitnya oleh 10 orang penari anak laki-laki berusia sekitar 12 tahun. Pikulan bambu tersebut berukuran besar dan kuat tetapi ringan karena dibuat dari bambu yang sudah cukup tua. serta memakai topi pet berwarna hitam. Ujung atas sunduk bambu dimasukkan ke badan bambu rengkong dekat gantungan kebudayaan 79 Jawa . 2 rebana. RENGKONG Rengkong adalah kesenian yang menyajikan bunyi-bunyian khas bagai suara kodok mengorek secara serempak yang dihasilkan dari permainan pikulan bambu. Celana panjang sampai lutut dengan hiasan garis merah pula. biasanya menggunakan bambu tali dengan panjang sekitar 2. sekeliling bambu melintasi lobang tersebut diraut sekedar tempat bertengger tali penggantung ikatan padi. bedanya bila angguk dimainkan oleh remaja pria maka “aplang” atau “daeng” dimainkan oleh remaja putri. Bentuk lain dari kesenian angguk adalah “aplang”. Kesenian angguk yang bercorak Islam ini mulanya berfungsi sebagai salah satu alat untuk menyiarkan agama Islam. Pakaian para penari umumnya berwarna hitam lengan panjang dengan garis-garis merah dan kuning di bagian dada/punggung sebagai hiasan. Syair lagu-lagu tari angguk diambil dari kitab Barzanji sehingga syair-syair angguk pada awalnya memang menggunakan bahasa Arab tetapi akhir-akhir ini gerak tari dan syairnya mulai dimodifikasi dengan menyisipkan gerak tari serta bahasa khas Banyumasan tanpa merobah corak aslinya. terbang (rebana besar) dan angklung. kencreng. ANGGUK Tarian ini berasal dari Banyumas. bedug. Dua ikat padi seberat ± 15 kg digayutkan dengan tali ijuk mengalungi sonari (badan rengkong bambu di tempat yang diraut). Tarian ini disebut angguk karena penarinya sering memainkan gerakan mengangguk-anggukan kepala. 7.tongkat lurus dari rotan berhias jebug dari sayet warna merah diseling kuning sebanyak 5 atau 7 jebug. Tarian jenis ini sudah ada sejak abad ke 17 dibawa para mubalig penyebar agama Islam yang datang dari wilayah MataramBagelen. tambur. mengenakan kaos kaki panjang sebatas lutut tanpa sepatu.6 meter. Sayangnya jenis kesenian ini sekarang semakin jarang dipentaskan.

tali ijuk. Tayuban digelar sebagai bagian dari upacara sakral yang berhubungan dengan kesuburan ( kesuburan perkawinan dan kesuburan pertanian/tanah ). Tali ijuk dengan beban padi yang menggantung pada badan bambu rengkong pun bergerak-gerak. kata ”gambyong” diambil dari uru tari (tledhek) yang mempunyai nama Mbok gambyong. Di daerah tertentu tarian ini digelar sebagai bagian dari upacara pembersihan ( bala atau malapetaka ) dan biasanya kebudayaan 80 Jawa . AKSIMUDA Aksimuda adalah kesenian bernafas Islam yang disajikan dalam bentuk atraksi pencak silat yang digabung dengan tari-tarian. TARI GAMBYONG Salah satu tari dari Surakarta. terlebih bila dimainkan dengan berbaris berarak-arakan maka suasananya akan lebih semarak. Pada bagian akhir sajian para pemain Buncis Intrance atau mendem. pikulan bambu rengkong yang berisi muatan padi diletakkan pada bahu kanan (dipikul). gesekan tali ijuk yang keras inilah yang menimbulkan suara berderit-derit nyaring. khas alam petani. 8. Jadi Tari Gambyong itu berasal dari kawulo alit ( orang kecil / rendah ) yang datang ke Kraton. TAYUBAN Adalah salah satu jenis tari masyarakat Jawa. 11. 10. Dalam pertunjukannya diiringi dengan perangkat musik angklung. Menurut cerita. BUNCIS Buncis adalah perpaduan antara seni musik dengan seni tari yang dimainkan oleh 8 orang pemain. 9. Kesenian tradisional para petani ini biasanya diadakan pada pesta perayaan panen atau pada hari-hari besar nasional. tetapi dengan versi yang berbeda. Di tahun 1950-an. Cara memainkannya. Para pemain buncis selain menjadi penari juga menjadi pemusik serta vokalis. Kalau ada beberapa rengkong yang dimainkan serempak maka akan timbul suara yang mengasyikan. Pura Mangkunegaran mengambil Tari Gambyong menjadi salah satu tari unggulan yang diberi nama gambyong Pareanom. Tarian ini juga dikenal di seluruh Nusantara. Pemikul mengayun-ayunkan ke kiri dan ke kanan dengan mantap dan teratur.

penari perempuan menggunakan sampur atau selendang. Beberapa jenis alat musik yang terdapat di Jawa. Nantinya selendang itu diberikan kepada laki-laki ( ketiban sampur ). sedekah desa. diantaranya : Pandangan hidup Jawa yang diungkapkan dalam musik gamelannya adalah keselarasan kehidupan jasmani dan rohani. H. berbeda dengan Gamelan Bali yang rancak dan Gamelan Sunda yang sangat mendayu-dayu dan didominasi suara seruling. Makanya ada yang beranggapan bahwa Tayuban itu berasal dari kata ”tayub” ( ditata guyub ). pemainnya terdiri atas remaja Putri. Dan yang menerima selendang itu mendapat kehormatan untuk menari bersama dengan penari perempuan tadi. sedekah bumi. sebuah bentuk gamelan yang berbeda dengan Gamelan Bali ataupun Gamelan Sunda. Perbedaan itu wajar.juga digelar dalam penyambutan tamu-tamu agung. dan lain-lain. perkawinan. Pada zaman dahulu tarian ini mempunyai nilai hiburan dan sensual karena tarian ini menggambarkan keakraban hubungan lelaki ( pengibing ) dan perempuan ( ronggeng ). Gamelan Jawa memiliki nada yang lebih lembut dan slow.2 a) Seni Musik GAMELAN JAWA Gamelan yang berkembang di Yogyakarta adalah Gamelan Jawa. Di daerah tertentu. khitanan. karena Jawa memiliki pandangan hidup tersendiri yang diungkapkan dalam irama musik gamelannya. keselarasan dalam berbicara dan bertindak sehingga tidak memunculkan ekspresi yang meledakkebudayaan 81 Jawa . 12.Guyub antara lelaki dan perempuan. APLANG atau DAENG Kesenian yang serupa dengan Angguk.

2) Saron Alat musik pukul dari bronze dengan disanggah kayu. Masing-masing alat memiliki fungsi tersendiri dalam pagelaran musik gamelan. Seperangkat gamelan terdiri dari beberapa alat musik. Perkembangan selanjutnya setelah dinamai gamelan. Ada 3 macam Saron. dan kayu. Pengendang adalah konduktor dari musik gamelan. rebab. gambang.ledak serta mewujudkan toleransi antar sesama. rebab dan celempung. Seperangkat gamelan tersebut diantaranya : 1) Kendang Kendang adalah instrumen pemimpin. diantaranya satu set alat musik serupa drum yang disebut kendang. Tidak ada kejelasan tentang sejarah munculnya gamelan. tepukan ke mulut. saron kendang dan gambang serta suara gong pada setiap penutup irama. dan tarian. logam. Komponen utama yang menyusun alatalat musik gamelan adalah bambu. Barulah pada beberapa waktu sesudahnya berdiri sebagai musik sendiri dan dilengkapi dengan suara para sinden. Perkembangan musik gamelan diperkirakan sejak kemunculan kentongan. Wujud nyata dalam musiknya adalah tarikan tali rebab yang sedang. musik ini dipakai untuk mengiringi pagelaran wayang. Saron Peking. paduan seimbang bunyi kenong. Saron Demung. Saron Barung. Ada 5 ukuran kendang dari 20 cm . gesekan pada tali atau bambu tipis hingga dikenalnya alat musik dari logam.45 cm. kebudayaan 82 Jawa . gong dan seruling bambu. misalnya gong berperan menutup sebuah irama musik yang panjang dan memberi keseimbangan setelah sebelumnya musik dihiasi oleh irama gending.

kebudayaan 83 Jawa . 4) Slentem Lempengan bronze ini diletakan diatas bambu untuk resonansinya. 5) Gender Hampir sama dengan slentem dengan lempengan bronze lebih banyak. 6) Gambang Lempengan kayu yang diletakkan diatas frame kayu juga.3) Bonang Barung Terdiri dari 2 baris peralatan dari bronze dimainkan dengan 2 alat pukul.

terbuat dari bronze. Gong menandakan akhir dari bagian lagu yang liriknya panjang. untuk menandakan lagu yang bagiannya berirama pendek. Dua Gong besar (Gong Ageng) dan satu gong Suwukan sekitar 90 cm.7) Gong Setiap set slendro dan pelog dilengkapi dengan 3 gong. 8) Kempul Gong kecil. kebudayaan 84 Jawa . Setiap set slendro dan pelog terdiri dari 6 atau 10 kempul.

kebudayaan 85 Jawa . 10) Ketug Disebut juga kenong kecil. satu set komplet bisa 10 kenong baik set slendro atau pelog. menandakan jeda antar lirik lagu.9) Kenong Semacam gong kecil diatas tatakan.

14) Rebab Alat musik gesek kebudayaan 86 Jawa . dimana setiap satu set slendro dan pelog membutuhkan satu clempung.11) Clempung sebuah instrument kecil. 12) Siter Tiap set slendro dan pelog memerlukan 1 siter. 13) Suling Setiap set slendro dan pelog memerlukan 1 suling.

Satu permainan gamelan komplit terdiri dari dua putaran. yaitu 1 2 3 4 5 6 7 [C+ D E. yaitu 1 2 3 5 6 [C. yaitu terdiri dari beberapa putaran dan kebudayaan 87 Jawa . Pelog memiliki 7 nada per oktaf. Komposisi musik gamelan diciptakan dengan beberapa aturan. Slendro memiliki 5 nada per oktaf.D E+ G A] dengan perbedaan interval kecil.F# G# A B] dengan perbedaan interval yang besar. yaitu slendro dan pelog.15) Keprak dan Kepyak Diperlukan untuk pertunjukan tari 16)Bedug Gamelan Jawa adalah musik dengan nada pentatonis.

Seperti : besi. Gamelan Jawa itu dibagi menjadi dua : 1. dibatasi oleh satu gongan serta melodinya diciptakan dalam unit yang terdiri dari 4 nada. Sebagai sebuah pertunjukan tersendiri. Hampir semua bagian dari alat musik ini terbuat dari logam ( tosan ). Sedangkan yang menyanyikan adalah Pesinden ( wira-swara/swarawati ).12. anda bisa menuju Bangsal Sri Maganti. Salah satu bentuk gamelan kontemporer adalah jazzgamelan yang merupakan paduan paduan musik bernada pentatonis dan diatonis. musik gamelan biasanya dipadukan dengan suara para penyanyi Jawa (penyanyi pria disebut wiraswara dan penyanyi wanita disebut waranggana). tari. jaipongan dan lain-lain.00 WIB digelar gamelan sebagai sebuah pertunjukan musik tersendiri. kliningan. Yang memainkan gamelan itu adalah Penayagan.00 . Gamelan Slendro salendro biasa digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang. Sementara untuk melihat perangkat gamelan tua. Hari Sabtu pada waktu yang sama digelar musik gamelan sebagai pengiring wayang kulit. sementara hari Minggu pada waktu yang sama digelar musik gamelan sebagai pengiring tari tradisional Jawa. Pada hari Kamis pukul 10.pathet. hanya kurang begitu berkembang dan kurang akrab di masyarakat dan jarang dimiliki oleh grup-grup kesenian di masyarakat. Gamelan 2. Berdasarkan suaranya. Pertunjukan musik gamelan yang digelar kini bisa merupakan gamelan klasik ataupun kontemporer. anda bisa menuju bangsal kraton lain yang terletak lebih ke belakang. Untuk melihat pertunjukannya. Anda bisa melihat gamelan sebagai sebuah pertunjukan musik tersendiri maupun sebagai pengiring tarian atau seni pertunjukan seperti wayang kulit dan ketoprak. tembaga yang dicampur nikel atau perunggu. Gamelan Pelog Gamelan pelog fungsinya hampir sama dengan gamelan salendro. Salah satu tempat di Yogyakarta dimana anda bisa melihat pertunjukan gamelan adalah Kraton Yogyakarta. kebudayaan 88 Jawa .

kempyang .slenthem . 5 (mo). gong & kendang.kendhang batangan . terdiri atas gambang barung.saron demung .saron panerus . susunan pola balungan melodi yang ada adalah 65626521 21262165. c) BONGKEL Bongkel adalah musik tradisional Banyumasan yang mirip dengan angklung. . Beberapa daftar Gamelan . Dalam pertunjukkannya Bongkel disajikan gendhing .suling .kenong . 6 (nem). hanya terdiri dari satu jenis instrumen dengan empat bilah berlaras slendro.saron barung . jombangan. Sedangkan yang menuntun sampak adalah kendhang. d) CALUNG Alat musik ini terbuat dari potongan bambu yang diletakkan melintang dan dimainkan dengan cara dipukul.gendhing khusus bongkel. Nada-nadanya 2 (ro).Yang menabuh gamelan itu harus mengerti tinggi rendahnya suara dan cepat lambatnya lagu.gong ageng .gender . gambang penerus. Perangkat musik khas Banyumasan yang terbuat dari bambu wulung mirip dengan gamelan Jawa. 3 (lu).kempul .gambang .gong suwuk . meduroan dan malangan.siter/celempung .kethuk . sebut saja jula-juli surabaya. Alat yang menuntun suara adalah rebab.bonang . dhendhem. Selain itu ada juga Gong Sebul dinamakan demikian karena bunyi yang dikeluarkan kebudayaan 89 Jawa . selain itu gendhing ini merupakan satu-satunya gendhing yang dapat mencirikan keragaman karawitan Jawa timuran karena terangkai menjadi berbagai gaya.kendhang gendhing b) JULA-JULI Jula-juli adalah salah satu gendhing yang sangat lazim dijumpai pada pertunjukan ludruk dan tari remo di Jawa Timur. kenong.rebab .

diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa. Dalam sistem kalender Jawa. kecrek dan dipimpin oleh mayoret. Sultan Agung yang berusaha keras menyebarkan agama Islam di pulau Jawa dalam kerangka negara Mataram mengeluarkan dekrit untuk mengubah penanggalan Saka. f) SALAWATAN JAWA yaitu salah satu seni musik bernafaskan Islam dengan perangkat musik berupa terbang Jawa.mirip gong tetapi dimainkan dengan cara ditiup (sebul). Dalam pertunjukan kesenian ini menyajikan lagu-lagu yang diambil dari kitab Barzanji. Hal ini dilakukan demi asas kesinambungan. seruling. e) KENTHONGAN Sebagian orang menyebutnya tek-tek. Pada tahun 1625 Masehi. Dalam satu grup kenthongan. Sehingga tahun saat itu yang adalah tahun 1547 Saka. dan siklus pekan pancawara yang terdiri dari 5 hari pasaran. alat ini juga terbuat dari bambu dengan ukuran yang besar. gending gaya Banyumasan. kebudayaan 90 Jawa . budaya Hindu-Buddha Jawa dan bahkan juga sedikit budaya Barat. Kentongan juga terbuat dari bambu. Lagu-lagu yang dibawakan kebanyakan lagu Jawa dan Dangdut. siklus hari yang dipakai ada dua: siklus mingguan yang terdiri dari 7 hari seperti yang kita kenal sekarang. Aransemen musikal yang disajikan berupa gending-gending Banyumasan. Kenthongan dimainkan dalam kelompok yang terdiri dari sekitar 20 orang dan dilengkapi dengan Beduk. namun tidak menggunakan angka dari tahun Hijriyah (saat itu tahun 1035 H). H. Sejak saat itu kalender Jawa versi Mataram menggunakan sistem kalender kamariah atau lunar. Dalam penyajiannya calung diiringi vokalis yang lazim disebut sinden. Kenthong yang dipakai ada beberapa macam sehingga menghasilkan bunyi yang selaras. Kenthong adalah alat utamanya.3 Kalender Jawa Kalender Jawa adalah sebuah kalender yang istimewa karena merupakan perpaduan antara budaya Islam. SurakartaYogyakarta dan sering pula disajikan lagu-lagu pop yang diaransir ulang. berupa potongan bambu yang diberi lubang memanjang disisinya dan dimainkan dengan cara dipukul dengan tongkat kayu pendek. Angka tahun Saka tetap dipakai dan diteruskan.

Sebenarnya pranata mangsa ini adalah pembagian bulan yang asli Jawa dan sudah digunakan pada jaman pra-Islam. Sura 2. Ketiga daerah terakhir ini tidak termasuk wilayah kekuasaan Sultan Agung. Daftar bulan Jawa Islam Di bawah ini disajikan nama-nama bulan Jawa Islam. Tetapi lama setiap mangsa berbeda-beda. maka bulan-bulan musim atau bulan-bulan surya yang disebut sebagai pranata mangsa. juga tidak ikut mengambil alih kalender karangan Sultan Agung ini.Dekrit Sultan Agung berlaku di seluruh wilayah kerajaan Mataram II: seluruh pulau Jawa dan Madura kecuali Banten. Poso (siyam) 10. Lalu oleh beliau tanggalnya disesuaikan dengan penanggalan tarikh kalender Gregorian yang juga merupakan kalender surya. namun beberapa di antaranya menggunakan nama dalam bahasa Sansekerta seperti Pasa. dengan nama-nama Arab. Karo / Pusa (3 Agustus-25 Agustus) VII. (Dulkangidah) 12. Kawolu / Wisaka (4 Februari-1 Maret) kebudayaan 91 Jawa . Jumadilakhir 7. Batavia dan Banyuwangi (=Balambangan). Sapar 3. Sawal 11. Jumadilawal 6. karena penanggalan kamariah dianggap tidak memadai sebagai patokan para petani yang bercocok tanam. Kapitu / Palguna (23 Desember-3 Februari) VIII. I. Nama-nama ini adalah nama bulan kamariah atau candra (lunar). Bakdamulud 5. Sela dan kemungkinan juga Sura. Daftar bulan Jawa matahari Pada tahun 1855 Masehi. Ruwah (Saban) 9. Mulud 4. Sedangkan nama Apit dan Besar berasal dari bahasa Jawa dan bahasa Melayu. Pulau Bali dan Palembang yang mendapatkan pengaruh budaya Jawa. dikodifikasikan oleh Sri Paduka Mangkunegara IV atau penggunaannya ditetapkan secara resmi. Sebagian nama bulan diambil dari Kalender Hijriyah. Besar(Dulkijah) Sela A. Rejeb 8. Kasa / Kartika (23 Juni-2 Agustus) II. 1.

caturwara. Setiap satuan ini terdiri atas 8 tahun Jawa dan disebut windu. Pekan yang terdiri atas lima hari ini disebut sebagai pasar oleh orang Jawa dan terdiri dari hari-hari: Legi. memiliki sebuah siklus yang terdiri atas 30 pekan. Berikut ini secara singkat dijelaskan sebagai berikut: kebudayaan 92 Jawa . dan Kliwon. Be 7. Pon. Je 5. pekan-pekan yang lain ini masih dipakai. Jaman sekarang hanya pekan yang terdiri atas lima hari dan tujuh hari saja yang dipakai. namun dari 2 sampai 10 hari. triwara. Kapat / Setra (19 September-13 Okober) V. yaitu yang juga dikenal di budaya-budaya lainnya. namun di pulau Bali dan di Tengger. Setiap pekan disebut satu wuku dan setelah 30 wuku maka muncul siklus baru lagi. Ehe 3. Kasewelas / Sadha (20 April-12 Mei) XII. Di bawah disajikan nama-nama windu: 1. Paing. Dal 6. Wage. Siklus ini yang secara total berjumlah 210 hari adalah semua kemungkinannya hari dari pekan yang terdiri atas 7. saptawara. Alip 2. sadwara. Pekan-pekan ini disebut dengan namanama dwiwara. Karolas / Asuji (13 Mei22Juni) Oleh orang Jawa tahun-tahun digabung menjadi semacam abad yang terdiri dari delapan satuan lebih kecil. Siklus windu IX. Kalima / Manggala (14 Oktober-9 November) VI. Jimakir Pembagian pekan Orang Jawa pada masa pra Islam mengenal pekan yang lamanya tidak hanya tujuh hari saja. 6 dan 5 hari berpapasan. pañcawara (pancawara). astawara dan sangawara. Kanem / Maya (10 November-22 Desember) B. Kasanga / Jita (2 Maret26 Maret) X. Kemudian sebuah pekan yang terdiri atas tujuh hari ini. Wawu 8.III. Katiga / Manggasri (26 Agustus-18 September) IV. Jimawal 4. Kasepuluh / Srawana (27 Maret-19 April) XI.

Wurung / Api 9. Dadi / Kayu kebudayaan 93 Jawa . Setu / Tumpak/Saniscara 4. Wage / Kresna/ Langking 3. Kliwon/ Kasih (8) 2. (4) 4. Perhitungan hari dengan siklus 6 harian 1. Perhitungan hari dengan siklus 7 harian : 1. Pon / Palguna (7) 5.1. Legi / Manis (5) 3. Nohan / Rembulan 6.Wurukung/ Hewan 4. Paningron / Mina/Ikan 5. Saptawara – Padinan.Guru 4. Pancawara – Pasaran dan bobot angkanya. Kemis / Respati 6. Tulus / Air 8. Uma – Padangon. Mawulu / Taru/Benih. Indra 3. Hastawara – Padewan. Yama 5. Dangu / Batu 2. Brama 7. Selasa / Anggara 4. Perhitungan hari dengan siklus 9 harian : 1. Jagur / Harimau 3. Senen / Soma 3. Aryang / Manusia 3. Rebo / Budha 5. Minggu / Radite 2. Uwas / Peksi/Burung 6. Tungle / Daun 2. Rudra 6. Kerangan / Matahari 5. Sangawara 5. Wogan / Ulat 7. Perhitungan hari dengan siklus 5 harian : 1. Sadwara – Paringkelan. Perhitungan hari dengan siklus 8 harian : 1. Pahing / Jenar (9) 2. Sri 2. Gigis / Bumi 4. Jemuwah / Sukra 7. Kala 8.

Warigagung 9. Maktal 22. Pahang 17. Langkir 14. Wuye 23. Kurantil 5. Sinta 2. Kulawu 29. Ada perbedaan yang hakiki antara system perhitungan penanggalan Jawa dengan penanggalan Hijriah. Warigalit 8. perbedaan yang nyata adalah pada saat penetapan pergantian hari ketika pergantian sasi/bulan. Bala 26.   Sementara hari mingguan akan mengikuti bobot angka sbb: kebudayaan 94 Jawa . Landhep 3. Perhitungan penanggalan Jawa sudah dicocokkan dengan penanggalan Hijriah namun demikian pencocokan ini bukanlah menjiplak seluruhnya tapi juga mempergunakan perhitungan yang rumit dari para leluhur kita. Weton Tiap hari pasaran menurut penanggalan Jawa mempunyai bobot angka yang disebut neton. kuningan 13.00). Wayang 28. Julungpujud 16. Medhangkungan 21. Julungwangi 10. misalnya:    Paing mempunyai bobot angka 9 Pon mempunyai bobot angka 7 Wage mempunyai bobot angka 4 Kliwon mempunyai bobot angka 8. Candrasangkala Jawa menetapkan bahwa pergantian hari ketika pergantian sasi waktunya adalah tetap yaitu pada saat matahari terbenam (surup-antara pukul 17.00 sampai dengan 18. Tolu 6. Galungan 12. 7. sedangkan pergantian hari ketika pergantian sasi/bulan pada penanggalan Hijriah ditentukan dengan Hilal dan Rukyat. Dhukut 30 Watugunung Sistim Penanggalan Jawa disebut juga Penanggalan Jawa Candrasangkalaatau perhitungan penanggalan berdasarkan peredaran Bulan mengitari Bumi. Wuku. Wukir 4. Sungsang 11. Wugu 27. Perhitungan hari dengan siklus mingguan dari 30 wuku : 1. Kuruwelut 18. dan Legi mempunyai bobot angka 5. Tambir 20. Manahil 24.6. Marakeh 19. Mandhasiya 15. Prangbakat 25. Gumbreg 7.

Angka semacam ini biasanya dipakai untuk menentukan hari baik dalam melakukan aktivitas sehari-hari.       • Senin mempunyai bobot angka 4 Selasa mempunyai bobot angka 3 Rabu mempunyai bobot angka 7 Kamis mempunyai bobot angka 8 Jum'at mempunyai bobot angka 6 Sabtu mempunyai bobot angka 9. Rumah Jawa adalah arsitektur tradisional Jawa yang berkembang sejak abad ke-13 terdiri atas 5 tipe dasar (pokok) yaitu : 1. Bentuk Rumah Joglo :Memiliki ciri.4 Rumah Adat Bangunan adat rumah Jawa Ilmu yang mempelajari seni bangunan oleh masyarakat Jawa biasa disebut Ilmu Kalang atau disebut juga Wong Kalang. Joglo (atap joglo) atau Tikelan. kebudayaan 95 Jawa . atap terdiri dari 4 (empat) buah sisi soko guru dengan pemidangannya (alengnya) dan berblandar tumpang sari. karena Senin = 4 + Paing = 9. dan mempunyai bobot angka 13. tanggal 1 Januari 2001 (awal abad ke-21 dan awal alaf ke-3) adalah hari Senin-Paing. H. sebuah bubungan di tengahnya. Contoh : Seperti disebutkan di atas. dan Minggu mempunyai bobot angka 5. termasuk untuk memilih hari perkawinan menurut adat kepercayaan Jawa. yaitu bangunan dengan Soko Guru dan atap 4 belah sisi.

trajumas. berdenah bujur sangkar. memakai dudur. yaitu bangunan hanya dengan atap sebelah sisi. 2. baik di kota maupun di desa dan di gunung-gunung. dan lain-lain. soko guru dengan blandar-blandar tumpang sari. semisal : Masjid. tanpa bubungan. Tidak ada yang untuk tempat tinggal. Kampung (atap pelana). jadi meruncing. Apabila diperkembangkan dapat berfungsi sebagai tempat ronda. yaitu bangunan dengan Soko Guru atap 4 belah sisi. Panggang Pe. yaitu bangunan dengan atap 4 belah sisi. yaitu bangunan dengan atap 2 belah sisi.Bangunan ini umumnya dipergunakan sebagai pendopo dan juga untuk tempat tinggal (dalem). dan sebagainya 5. sebuah bubungan di tengahnya. makam. Jenis-jenis Rumah Joglo : 1. Mesjidan/Tajugan. Joglo Lawakan 2. Joglo Sinom 3. Perkembangannya dengan penambahan emper atau serambi. Bentuk Rumah Tajug :Ciri utamanya pada atap berbentuk runcing. kutuk ngambang. lambang gantung. Limasan (atap limas). Dipergunakan sebagai tempat suci. Bentuk rumah Limasan: Terutama terlihat pada atapnya yang memiliki 4 (empat) buah bidang sisi. sebuah bubungan di tengah saja Bentuk Rumah Kampung : Umumnya sebagai tempat tinggal. tempat raja bertahta. pabrik. Hanya saja yang berbentuk trajumas tidak biasa digunakan sebagai tempat tinggal 3. nasi dan lain-lainnya yang terdapat di tepi jalan. Joglo Mangkurat 6. Joglo Hageng kebudayaan 96 Jawa . tempat mobil / garasi. Bentuk Rumah Panggang-pe :Banyak kita jumpai sebagai tempat jualan minuman. Kebanyakan untuk tempat tinggal. Joglo Jompongan 4. Perkembangan dari bentuk ini juga dipergunakan sebagai tempat tinggal 4. lantainya selalu di atas tanpa bertingkat. serta beberapa ruangan akan tercipta bentuk-bentuk sinom. Joglo Pangrawit 5.

7. Joglo Semar Tinandhu

Limasan Jenis-jenis Rumah Limasan 1. Limasan Lawakan 2. Limasan Gajah Ngombe 3. Limasan Gajah Njerum 4. Limasan Apitan 5. Limasan Pacul Gowang 6. Limasan Cere Gancet 7. Limasan Trajumas 8. Limasan Gajah Mungkur 9. Limasan Klabang Nyander 10. Limasan Lambang Teplok 11. Limasan Semar Tinandu 12. Limasan Lambang Sari

Joglo

13. Limasan Semar Pinondhong, contoh Bangsal Kama, Kraton Cirebon Jenis-jenis Rumah Kampung : 1. Kampung Pokok 2. Kampung Trajumas 3. Kampung Pacul Gowang 4. Kampung Srotong 5. Kampung Cere Gancet 6. Kampung Gotong Mayit 7. Kampung Semar Pinondhong 8. Kampung Apitan kebudayaan 97 Jawa

9. Kampung Gajah Njerum 10. Kampung Gajah Ngombe 11. Kampung Doro Gepak 12. Kampung Klabang Nyander 13. Kampung Jompongan Lambang Teplok Semar Tinandhu (untuk tobong kapur) 14. Kampung Lambang Teplok (untuk gudang genteng) Jenis-jenis Rumah Panggang Pe : 1. Panggang Pe Pokok 2. Panggang Pe Trajumas 3. Panggang Pe Empyak Setangkep 4. Panggang Pe Gedhang Selirang 5. Panggang Pe Gedhang Setangkep 6. Panggang Pe Cere Gancet 7. Panggang Pe bentuk kios 8. Panggang Pe Kodokan (jengki) 9. Panggang Pe Barengan 10. Panggang Pe Cere Gancet Jenis-jenis Mesjidan/Tajugan : 1. Mesjidan Cungkup Pokok 2. Mesjidan Lawakan (langgar) 3. Mesjidan Lambang Teplok, contoh : Bangsal Gianyar, Bali 4. Mesjidan payung agung (meru), susun 3 untuk rakyat, 5 sentana (keluarga) raja, 7 pangeran, 11 raja, contoh Pamujaan Besakih, Bali 5. Tajug Tawon Boni, contoh : Bangsal Pajajaran 6. Tajug Tiang Satu Lambang Teplok, contoh : Mesjid rakyat Gombong 7. Tajug Semar Sinongsong Lambang Teplok, contoh : Langgar Kecil Kraton Cirebon 8. Tajug Pendawa, contoh : Kraton Cirebon 9. Tajug Lambang Gantung, contoh : Bangsal Ponconiti Kraton Yogyakarta 10. Tajug Lambangsari, contoh : Bangsal Pertemuan para Wali, Gunung Sembung 11. Tajug Lawakan Lambang Teplok, contoh : Pasarean Suwargan, Imogiri kebudayaan 98 Jawa

12. Tajug Semar Tinandhu, Dukuh, Yogyakarta 13. Tajug Semar Sinongsong Lambang Gantung, contoh : Masjid Soko Tunggal (gabungan Pajajaran dan Sultan Agungan, Taman, Kraton Yogyakarta 14. Tajug Ceblokan Lambang Teplok, Masjid Agung Yogyakrata 15. Tajug Mangkurat, Bangsal Witono, Kraton Yogyakarta 16. Tajug Sinom Semar Tinandhu, Lawang Sanga-sanga, Kraton Cirebon

Masing-masing bentuk berkembang menjadi beraneka jenis dan variasi yang bukan hanya berkaitan dengan perbedaan ukurannya saja, melainkan juga dengan situasi dan kondisi daerah setempat. Dari kelima macam bangunan pokok rumah Jawa ini, apabila diadakan penggabungan antara 5 macam bangunan maka terjadi berbagai macam bentuk rumah Jawa. Sebagai contoh : gedang selirang, gedang setangkep, cere gencet, sinom joglo lambang gantung, dan lain-lain. Menurut pandangan hidup masyarakat Jawa, bentuk-bentuk rumah itu mempunyai sifat dan penggunaan tersendiri. Misalnya bentuk Tajug, itu selalu hanya digunakan untuk bangunan yang bersifat suci, umpamanya untuk bangunan Masjid, makam, dan tempat raja bertahta, sehingga masyarakat Jawa tidak mungkin rumah tempat tinggalnya dibuat berbentuk Tajug. Rumah yang lengkap sering memiliki bentuk-bentuk serta penggunaan yang tertentu, antara lain : - pintu gerbang - pendopo - pringgitan - dalem - dapur kebudayaan 99 : bentuk kampung : bentuk joglo : bentuk limasan : bentuk joglo : bentuk kampung Jawa

- gandhok (kiri-kanan) : bentuk pacul gowang

Demikian pula bahan-bahan bangunannya. Dalam Seni Bangunan Jawa karena telah begitu maju. Dengan sendirinya rumah yang berbentuk doro gepak (atap bangunan yang berbentuk mirip burung dara yang sedang terbang mengepakkan sayapnya) misalnya bagianbagiannya dipergunakan untuk kegunaan yang tertentu. maka semua bagian kerangka rumah telah diberi nama-nama tertentu. Struktur bangunannya merupakan struktur rangka dengan konstruksi kayu. Pada dasarnya arsitektur tradisonal Jawa – sebagaimana halnya Bali dan daerah lain – adalah arsitektur halaman yang dikelilingi oleh pagar. bukan dinding pemikul. pengeret. Hal tersebut dimaksudkan untuk berjaga-jaga bila ada banjir. Atap bangunannya selalu menggunakan tritisan yang lebar. misalnya : . Dinding ruangan sekedar merupakan tirai pembatas. Kedutaan Besar Indonesia di Singapura dan Malaysia juga Bandar Udara Soekarno-Hatta mempunyai arsitektur tradisional Jawa. umpak. blandar.. Yang disebut rumah yang utuh seringkali bukanlah satu bangunan dengan dinding yang pejal melainkan halaman yang berisi sekelompok unit bangunan dengan fungsi yang berbeda-beda. Tata ruang dan struktur yang demikian sungguh cocok untuk daerah beriklim tropis yang sering mengalami gempa dan sesuai untuk peri kehidupan manusia yang memiliki kepribadian senang berada kebudayaan 100 Jawa . Ruang dalam dan luar saling mengimbas tanpa pembatas yang tegar. Yang sangat menarik pula untuk diungkap adalah struktur tersebut diperlihatkan secara jelas. saka guru. usuk ri-gereh. brunjung. Tetapi bagi orang yang tidak mampu tidaklah mungkin akan demikian. seperti : ander. Arsitektur tradisional Jawa terbukti sangat populer tidak hanya di Jawa sendiri tetapi sampai menjangkau manca negara. yang sangat melindungi ruang beranda atau emperan di bawahnya.dan lain-lain. bagaikan payung yang terpancang terbuka. saka penanggap. wajar dan jujur tanpa ada usaha menutup-nutupinya. Di samping itu arsitektur Jawa memiliki ketahanan yang cukup handal terhadap gempa.emper kanan-kiri : untuk senthong tengah dan senthong kiri kanan Di beberapa daerah pantai terdapat pula rumah-rumah yang berkolong. dan sebagainya. usuk peniyung. reng.ruang tengah .emper depan .emper yang lain : untuk Pendopo : untuk tempat pertemuan keluarga : untuk gudang dan dapur. Bahan bangunan rumah Jawa ialah terutama dari kayu jati. semua dibiarkan menunjukan watak aslinya. . dudur.

Sedang untuk sarong atau kombong terletak di sebelah kiri agak jauh dari pendhapa. Selain rumah tempat tinggal (induk). susunan rumah dalam sebuah rumah tangga terdiri dari beberapa bangunan rumah. kuda. Letaknya agak berjauhan. Bangunan rumah tersebut terdiri dari: pendhapa. Rumah belakang (omah buri) digunakan untuk rumah tempat tinggal. Kadangkadang terdapat lesung yang terletak di muka pendapa samping kanan. Lesung. Terletak di samping kiri atau kanan rumah belakang (pada umumnya terletak di sebelah belakang). dan sebagainya). misal: lumbung. Peranginan ini bagi kebudayaan 101 Jawa . terdapat pula bangunan rumah lain yang digunakan untuk keperluan lain dai keluarga tersebut. yaitu sebagai peneduh. Bagi warga masyarakat umum (kawula dalem) yang mampu. disamping bangunan rumah tersebut. Kadang-kadang terdapat peranginan. penyaring debu. itik. juga sebagai sumber pangan bagi manusia dan binatang bahkan sering pula dimanfaatkan untuk obat tradisional. Biasanya terletak di sebelah kiri atau kanan Pringgitan. Gedhongan biasanya menyambung ke kiri atau ke kanan kandhang. terletak di depan rumah tempat tinggal. angsa. kombong (itik. biasanya diletakkan disamping kanan agak berjauhan dengan pendapa. istirahat anggota keluarga.di udara terbuka. Untuk ternak besar disebut kandang. Dalam pertunjukan tersebut tamu laki-laki ditempatkan di pendapa.ayam dan sebagainya). kerbau. Sedangkan pepohonan yang ditanam seringkali memiliki sasraguna (multi fungsi). Pringgitan ialah tempat yang digunakan untuk pementasan pertunjukan wayang kulit. yaitu tempat untuk tidur. khitanan. Kandang bisa terdapat di sebelah kiri pendapa. ada sarong (ayam). Dapur (pawon) terletak di sebelah kiri rumah belakang (omah buri). rumah tempat menumbuk padi. kambing. digunakan untuk menerima tamu. Dalam masyarakat Jawa. namun ada pula yang diletakkan di muka pendhapa dengan disela oleh halaman yang luas. untuk kuda disebut gedhongan. di antara rumah belakang dengan pendapa terdapat pringgitan. tempat menyimpan padi dan hasil bumi lainnya. misalnya Istana Ratu Boko di dekat Prambanan. tempat memasak. peredam angin dan suara. ialah bangunan rumah kecil. Kandang. bila yang bersangkutan mempunyai kerja (pernikahan. untuk ternak unggas. sedang tamu wanita ditempatkan di rumah belakang. untuk tempat binatang ternak (sapi. angsa). Susunan rumah demikian mirip dengan susunan rumah istana Hindu Jawa. Halaman yang lega dengan perkerasan pasir atau kerikil sangat bermanfaat untuk penyerapan air hujan. tempat tinggalnya (rumah) masih dilengkapi dengan bangunan lainnya.

Kemudian terdapat bangunan tempat mandi yang disebut jambang. ditemukan prasasti lainnya dari tahun 856 M yang berisikan sebuah sajak yang disebut kakawin. Hal tersebut sangat bergantung pada kemampuan keluarga. gadhok (tempat para pelayan). berupa rumah kecil ditempatkan di samping dapur atau belakang samping kiri atau kanan rumah belakang. Secara lengkap kompleks rumah tempat tinggal orang Jawa adala rumah belakang. Selain itu. serambi. Sastra Jawa-Sunda. lumbung.5 Karya Sastra SASTRA JAWA Sejarah Sastra Jawa dimulai dengan sebuah prasasti yang ditemukan di daerah Sukabumi (Sukobumi).pejabat desa bisa digunakan untuk markas ronda atau larag. Dari semua sastra tradisional Nusantara. sastra Jawa adalah yang paling berkembang dan paling banyak tersimpan karya sastranya. Besar kecilnya maupun jenis bangunannya dibuat menurut selera serta harus diingat status sosial pemiliknya didalam masyarakat. pringgitan. H. Kediri. Pintu masuk pekarangan sering dibuat Regol. Demikian sedikit variasi bangun rumah adat Jawa yang lengkap untuk sebuah keluarga. Pare. topengan. dan Sastra Jawa-Palembang. Biasanya sejarah sastra Jawa dibagi dalam empat masa: • • • • Jawa Timur. dan sebagainya. rumah belakang. Biasanya untuk WC ditempatkan agak berjauhan dengan dapur. Demikian pula tempat buang air besar/kecil dan kamar mandi dibuatkan bangunan rumah sendiri. Prasasti yang biasa disebut dengan nama Prasasti Sukabumi ini bertarikh 25 Maret tahun 804 Masehi. Setelah prasasti Sukabumi. sumur dan pendhapa. dapur. Kakawin yang tidak lengkap ini adalah sajak tertua dalam bahasa Jawa (Kuna). gedhogan. ada pula Sastra Jawa-Lombok. Sastra Jawa-Madura. Tetapi setelah kebudayaan 102 Jawa . Sastra Jawa Kuna Sastra Jawa Tengahan Sastra Jawa Baru Sastra Jawa Modern Terdapat pula kategori Sastra Jawa-Bali. pendapa. kandhang. bangsal. pringgitan. Isinya ditulis dalam bahasa Jawa Kuna. yang berkembang dari Sastra Jawa Tengahan. dan juga tempat bersantai untuk mencari udara segar dari pemiliknya.

Sastra Jawa Kuna Sastra Jawa Kuna meliputi sastra yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuna pada periode kurang-lebih ditulis dari abad ke-9 sampai abad ke-14 Masehi. Karya sastra ini ditulis baik dalam bentuk prosa (gancaran) maupun puisi (kakawin). Gubernur-Jenderal dari Britania Raya yang memerintah di pulau Jawa. Karya sastra Jawa Kuna sebagian besar terlestarikan di Bali dan ditulis pada naskah-naskah manuskrip lontar. pengertian terakhir inilah yang dipakai. Kakawin Ramayana dan terjemahan Mahabharata dalam bahasa Jawa Kuna. Bahkan di Jawa terdapat pula teks-teks Jawa Kuna yang tidak dikenal di Bali. kronik (babad). di Jawa dan Madura ada pula sastra Jawa Kuna yang terlestarikan. Sehingga mereka jarang yang tertulis dalam bentuk asli seperti pada waktu dibuat kebudayaan 103 Jawa . tahun 1945 sastra Jawa agak dianaktirikan karena di Negara Kesatuan RI. Karya-karya ini mencakup genre seperti sajak wiracarita. Di dalam artikel ini. Istilah ini bisa berarti sastra dalam bahasa Jawa sebelum masuknya pengaruh Islam atau pembagian yang lebih halus lagi: sastra Jawa yang terlama. dan kitab-kitab keagamaan. Karya-karya sastra Jawa penting yang ditulis pada periode ini termasuk Candakarana. dimulai dengan Prasasti Sukabumi. Jadi merupakan sastra Jawa sebelum masa sastra Jawa Pertengahan. undang-undang hukum. Istilah sastra Jawa Kuna agak sedikit rancu. Sastra Jawa Kuna diwariskan dalam bentuk manuskrip dan prasasti.proklamasi RI. Sastra Jawa Pertengahan adalah masa transisi antara sastra Jawa Kuna dan sastra Jawa Baru. Manuskripmanuskrip yang memuat teks Jawa Kuna jumlahnya sampai ribuan sementara prasasti-prasasti ada puluhan dan bahkan ratusan jumlahnya. Walau sebagian besar sastra Jawa Kuna terlestarikan di Bali. Meski di sini harus diberi catatan bahwa tidak semua prasasti memuat teks kesusastraan. Sastra Jawa Kuna yang terlestarikan sampai hari ini sebagian besar diturunkan dalam bentuk naskah manuskrip yang telah disalin ulang berkali-kali. Kolonel Colin Mackenzie beliau mengumpulkan dan meneliti naskah-naskah Jawa Kuna. Bersama asistennya. A. Penelitian ilmiah mengenai sastra Jawa Kuna mulai berkembang pada abad ke-19 awal dan mulanya dirintis oleh Stamford Raffles. kesatuan yang diutamakan. Selain sebagai seorang negarawan beliau juga tertarik dengan kebudayaan setempat.

Teks kesusastraan tertua pada sebuah prasasti terdapat pada Prasasti Siwagreha yang ditarikh berasal dari tahun 856 Masehi.dahulu. 9. 14. Sedangkan naskah manuskrip tertua adalah sebuah naskah daun nipah yang berasal dari abad ke-13 dan ditemukan di Jawa Barat. Prasasti tertua dalam bahasa Jawa Kuna berasal dari tahun 804. 11. namun isinya bukan merupakan teks kesusastraan. 13. 3. Namun tidak semua teks-teks ini merupakan teks kesusastraan. 8. 15. 1. 10. 7. 2. Daftar Karya Sastra Jawa Kuna dalam bentuk prosa: 1. kecuali jika ditulis pada bahan tulisan yang awet seperti batu. 6. Sebagian besar dari teks-teks ini ditulis setelah abad ke-11. tembaga dan lain-lain. mpu Kanwa. Banyak teks dalam bahasa Jawa Kuna yang terlestarikan dari abad ke-9 sampai abad ke-14. 3. Candakarana Sang Hyang Kamahayanikan Brahmandapurana Agastyaparwa Uttarakanda Adiparwa Sabhaparwa Wirataparwa. 4. ~ 1030 Jawa 104 Daftar Karya Sastra Jawa Kuna dalam bentuk puisi (kakawin) kebudayaan . Naskah nipah ini memuat teks Kakawin Arjunawiwaha yang berasal dari abad ke-11. 2. 5. Dari masa ini terwariskan sekitar 20 teks prosa dan 25 teks puisi. 12. 996 Udyogaparwa Bhismaparwa Asramawasanaparwa Mosalaparwa Prasthanikaparwa Swargarohanaparwa Kunjarakarna Kakawin Tertua Jawa. 856 Kakawin Ramayana ~ 870 Kakawin Arjunawiwaha.

19. mpu "Dusun" Kakawin Nagarakretagama. 1365 Kakawin Arjunawijaya. Pada masa ini muncul karya-karya puisi yang berdasarkan metrum Jawa atau Indonesia asli. 12. 22. 18. 11. 10. 15. Kakawin Lubdhaka Kakawin Parthayajna Kakawin Nitisastra Kakawin Nirarthaprakreta Kakawin Dharmasunya Kakawin Harisraya Kakawin Banawa Sekar Tanakung Sastra Jawa Tengahan Sastra Jawa Pertengahan muncul di Kerajaan Majapahit. Tantu Panggelaran Calon Arang Tantri Kamandaka Korawasrama Pararaton Jawa 105 Daftar Karya Sastra Jawa Tengahan puisi: kebudayaan . 1157 Kakawin Hariwangsa Kakawin Gatotkacasraya Kakawin Wrettasañcaya Kakawin Wrettayana Kakawin Brahmandapurana Kakawin Kunjarakarna. 5. 5. 6. Daftar Karya Sastra Jawa Tengahan prosa: 1. sastra Jawa Tengahan diteruskan di Bali menjadi Sastra Jawa-Bali. 13. 16. 3. mpu Sedah dan mpu Panuluh. mulai dari abad ke13 sampai kira-kira abad ke-16. mpu Prapanca. mpu Tantular Kakawin Sutasoma. mpu Tantular Kakawin Siwaratrikalpa. 20. 17. 7.4. 14. 8. 21. Karya-karya ini disebut kidung. 4. Kakawin Kresnayana Kakawin Sumanasantaka Kakawin Smaradahana Kakawin Bhomakawya Kakawin Bharatayuddha. 24. 23. B. 2. Setelah ini. 9.

1. 2. 3. 4. 5. 6. C.

Kakawin Dewaruci Kidung Sudamala Kidung Subrata Kidung Sunda Kidung Panji Angreni Kidung Sri Tanjung Sastra Jawa Baru

Sastra Jawa Baru kurang-lebih muncul setelah masuknya agama Islam di pulau Jawa dari Demak antara abad kelima belas dan keenam belas Masehi. Dengan masuknya agama Islam, orang Jawa mendapatkan ilham baru dalam menulis karya sastra mereka. Maka, pada masa-masa awal, zaman Sastra Jawa Baru, banyak pula digubah karya-karya sastra mengenai agama Islam. Suluk Malang Sumirang adalah salah satu yang terpenting. Kemudian pada masa ini muncul pula karya-karya sastra bersifat ensiklopedis seperti Serat Jatiswara dan Serat Centhini. Para penulis 'ensiklopedia' ini rupanya ingin mengumpulkan dan melestarikan semua ilmu yang (masih) ada di pulau Jawa, sebab karya-karya sastra ini mengandung banyak pengetahuan dari masa yang lebih lampau, yaitu masa sastra Jawa Kuna. Gaya bahasa pada masa-masa awal masih mirip dengan Bahasa Jawa Tengahan. Setelah tahun ~ 1650, bahasa Jawa gaya Surakarta menjadi semakin dominan. Setelah masa ini, ada pula renaisans Sastra Jawa Kuna. Kitab-kitab kuna yang bernapaskan agama Hindu-Buddha mulai dipelajari lagi dan digubah dalam bahasa Jawa Baru. Sebuah jenis karya yang khusus adalah babad, yang menceritakan sejarah. Jenis ini juga didapati pada Sastra Jawa-Bali. Daftar Cuplikan Karya Sastra Jawa Baru Masa Islam:
• • • • • • •

Kidung Rumeksa ing Wengi Kitab Sunan Bonang Primbon Islam Suluk Sukarsa Serat Koja Jajahan Suluk Wujil Suluk Malang Sumirang Jawa 106

kebudayaan

• • • • • • • • •

Serat Nitisruti Serat Nitipraja Serat Sewaka Serat Menak Serat Yusup Serat Rengganis Serat Manik Maya Serat Ambiya Serat Kandha Serat Rama Kawi Serat Bratayuda, Kyai Yasadipura Serat Panitisastra Serat Arjunasasra Serat Mintaraga, Ingkang Sinuwun Pakubuwana III Serat Darmasunya Serat Dewaruci Serat Ambiya Yasadipuran, Kyai Yasadipura Serat Tajusalatin Serat Cebolek Serat Sasanasunu Serat Wicara Keras Serat Kalatidha, Raden Ngabehi Ranggawarsita Serat Paramayoga, Raden Ngabehi Ranggawarsita Serat Jitapsara Serat Pustaka Raja Serat Cemporet Serat Damar Wulan, Raden Panji Jayasubrata, 1871 Serat Darmagandhul Babad Giyanti Babad Prayut Babad Pakepung Babad Tanah Jawi Jawa 107

Masa Renaisans dan sesudahnya:
• • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Babad-Babad:
• • • •

kebudayaan

D.

Sastra Jawa Modern

Sastra Jawa Modern muncul setelah pengaruh penjajah Belanda dan semakin terasa di Pulau Jawa sejak abad kesembilan belas Masehi. Para cendekiawan Belanda memberi saran para pujangga Jawa untuk menulis cerita atau kisah mirip orang Barat dan tidak selalu berdasarkan mitologi, cerita wayang, dan sebagainya. Maka, lalu muncullah karya sastra seperti di Dunia Barat; esai, roman, novel, dan sebagainya. Genre yang cukup populer adalah tentang perjalanan. Gaya bahasa pada masa ini masih mirip dengan Bahasa Jawa Baru. Perbedaan utamanya ialah semakin banyak digunakannya kata-kata Melayu, dan juga kata-kata Belanda. Pada masa ini (tahun 1839, oleh Taco Roorda) juga diciptakan huruf cetak berdasarkan aksara Jawa gaya Surakarta untuk Bahasa Jawa, yang kemudian menjadi standar di pulau Jawa. Daftar Karya Sastra

Lelampahaning Purwalelana, Raden Mas Purwalelana (jeneng sesinglon) 1875-1880

• • • • • •

Rangsang Tuban, Padmasoesastra, 1913 Ratu, Krishna Mihardja, 1995 Tunggak-Tunggak Jati, Esmiet Lelakone Si lan Man, Suparto Brata, 2004 Pagelaran, J. F. X. Hoery Banjire Wis Surut, J. F. X. Hoery

H.6

Wayang

kebudayaan 108

Jawa

secarik kain. seni pahat. 1. kayu. pemahaman filsafat. Budaya wayang. Ada versi wayang yang dimainkan oleh orang dengan memakai kostum. antara lain yang terbuat dari kertas. yang artinya bayangan. Yaitu "Mana yang Isi(Wayang Wong) dan Mana yang Kulit (Wayang Kulit) harus dicari (Wayang Golek)". Dugaan ini sesuai dengan kenyataan pada pergelaran Wayang Kulit yang menggunakan kelir. serta hiburan. Budaya wayang meliputi seni peran. kulit. Kata `wayang' diduga berasal dari kata `wewayangan'. seni lukis. seni suara. Pertunjukan wayang telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003. Penonton hanya menyaksikan gerakan-gerakan wayang melalui bayangan yang jatuh pada kelir.Wayang adalah seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Pulau Jawa dan Bali. dakwah. sebagai pembatas antara dalang yang memainkan wayang. Para Wali di Tanah Jawa sudah mengatur sedemikian rupa menjadi tiga bagian. budaya wayang berkembang menjadi beragam jenis. Wayang. juga merupakan media penerangan. 3. seni musik. pendidikan. dan ada pula wayang yang berupa sekumpulan boneka yang dimainkan oleh dalang. seni sastra. dan penonton di balik kelir itu. oleh para pendahulu negri ini sangat mengandung arti yang sangat dalam sekali. sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan sangat berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity). dan juga kebudayaan 109 Jawa . seni tutur. Sedangkan alat peraganya pun berkembang menjadi beberapa macam. Cerita yang dikisahkan dalam pagelaran wayang biasanya berasal dari Mahabharata dan Ramayana. dan juga seni perlambang. Sunan Kali Jaga dan Raden Patah sangat berjasa dalam mengembangkan Wayang. Wayang Kulit di Jawa Timur 2. yang terus berkembang dari zaman ke zaman. Wayang Golek di Jawa Barat Masing masing sangat bekaitan satu sama lain. Wayang yang dimainkan dalang ini diantaranya berupa wayang kulit atau wayang golek. Jenis-jenis wayang : Selama berabad-abad. Kebanyakan jenis jenis wayang itu tetap nenggunakan Mahabarata dan Ramayana sebagai induk ceritanya. hiburan. Wayang Wong atau Wayang Orang di Jawa Tengah. kain. yang dikenal sebagai wayang orang.

Wayang Sadat . terbuat dari tanduk kerbau atau kulit penyu.Wayang Suluh .Perkembangan jenis wayang ini juga dipengaruhi oleh keadaan budaya daerah setempat.Wayang Madya . Wayang Beber pada umumnya menceritakan kisah Panji. Peraga wayang yang dimainkan oleh seorang dalang terbuat dari lembaran kulit kerbau (atau sapi) yang dipahat menurut bentuk tokoh wayang dan kemudian disungging dengan warna warni yang mencerminkan perlambang karakter dari sang Tokoh. 2. Kerangka itu disebut cempurit. Jenis wayang ini tersebar hampir di seluruh Jawa dan daerah transmigrasi. bahkan juga di Suriname di benua Amerika bagian selatan. Pergelaran Wayang Kulit Purwa diiringi dengan seperangkat gamelan sedangkan penyanyi kebudayaan 110 Jawa .Wayang Kancil 1. Wayang Beber Berupa selembar kertas atau kain yang berukuran sekitar 80 cm X 12 meter. Wayang Kulit Purwa mengambil cerita dari kisah Mahabarata dan Ramayana. dan sang Dalang menceritakan kisah yang terlukis dalam setiap adegan itu. Pada saat pergelaran bagian gambar yang menampilkan adegan lakon itu dibuka dari gulungannya. Agar lembaran wayang itu tidak lemas. digunakan "kerangka penguat" yang membuatnya kaku.Wayang Klitik .Wayanng Parwa .Wayang Papak . Wayang Kulit Purwa Merupakan jenis wayang yang paling populer di masyarakat sampai saat ini. yang digambari dengan beberapa adegan lakon wayang tertentu. Satu gulung wayang beber biasanya terdiri atas 16 adegan. -Wayang Kulit -Wayang Golek/ Wayang Thengul Bojonegoro -Wayang Krucil -Wayang Purwa -Wayang Beber -Wayang Orang -Wayang Gedog -Wayang Sasak -Wayang Calonarang -Wayang Wahyu -Wayang Menak .Wayang Orang.

3. pada masa perjuangan Nabi Muhammad SAW menyebarkan agama Islam . agar lebih awet dan ringan menggerakkannya. Walaupun tokoh ceritanya sebenarnya orang Arab. tetapi tanpa menggunakan kelir sehingga penonton dapat melihat secara langsung. seorang dalang dari Baturetno. juga menggunakan peraga wayang berbentuk boneka kecil. Wayang ini diciptakan orang pada tahun 1648. cempuritnya merupakan kelanjutan dari bahan kayu pembuatan wayangnya.wanita yang menyanyikan gending-gending tertentu. Selain berupa golek. antara lain dengan memberinya kuluk. 5. Pementasan Wayang Klitik juga diiringi oleh gamelan dan pesinden. dsb. Surakarta. pada zaman pemerintahan Mangkunegoro VII. Wayang ini diciptakan oleh Ki Trunadipa. disebut pesinden atau waranggana. Hanya bagian tangan peraga wayang itu bukan dari kayu pipih melainkan terbuat dari kulit. Wayang Golek Menak Disebut juga Wayang Tengul. Pada Wayang Klitik. Wayang Krucil Sering dianggap sama dengan Wayang Klitik. 4. Anggapan itu disebabkan karena Wayang Krucil juga terbuat dari kayu pipih. Yang berbeda benar adalah induk kebudayaan 111 Jawa . Wayang Menak juga ada yang dirupakan dalam bentuk kulit. jamang. walaupun tubah dan sorban Arab juga digunakan. sumping. peraga Wayang Golek Menak diberi pakaian mirip dengan Wayang Kulit Purwa. Induk ceritanya bukan diambil dari Kitab Ramayana dan Mahabarata. Wayang Klitik Terbuat dari kayu pipih yang dibentuk dan disungging menyerupai Wayang Kulit Purwa. Latar belakang cerita Menak adalah negeri Arab. melainkan dari Kitab Menak.

Wayang Krucil mengambil lakon dari cerita Damarwulan. kebudayaan 112 Jawa . Bung Hatta. Baik Wayang Krucil maupun Wayang Klitik.cerita yang diambil untuk lakon-lakonnya. Wayang Wahyu Mempunyai bentuk peraga wayang terbuat dari kulit. karena baru tercipta setelah zaman kemerdekaan. Wayang ini dimaksudkan sebagai media penerangan mengenai sejarah perjuangan bangsa. Di antara lakonnya. tetapi corak tatahan dan sunggingannya agak naturalistik. 6. bahasa Jawa. Bahasa pengantarnya. Wayang Orang Adalah seni drama tari yang mengambil cerita Ramayana dan Mahabarata sebagai induk ceritanya. di antara tokoh peraganya. Bung Tomo. Pada mulanya. Penggambaran tokoh Wayang Suluh dibuat realistik. Dari segi cerita. Karena itu. Jadi agak mirip dengan pertunjukan ludruk di Jawa Timur dewasa ini. tidak ada penari wanita. 8. Syahrir. 7. yakni pertengahan abad ke-18. Wayang Orang adalah perwujudan drama tari dari Wayang Kulit Purwa. Wayang Suluh Suluh tergolong wayang modern. Wayang ini mengambil lakon dari cerita Injil. dan David Ian Goliat. saat ini sudah hampir punah. dan Jenderal Sudirman. bukan dari Ramayana atau Mahabarata. semua penari Wayang Orang adalah penari pria. antara lain terdapat Bung Karno. antara lain adalah Samson Ian Delilah. baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.

Wayang ini. Prabu Klana Madukusuma. kelir dan gedebog. Di antara tokoh-tokoh ceritanya. Perkembangan Wayang Wahyu amat terbatas pada lingkungan masyarakat beragama Katolik. Wayang ini amat mirip dengan Wayang Kulit Purwa. Hanya sisa-sisa peraganya saja yang masih bisa dilihat di beberapa museum dan Keraton Surakarta. 9. itu pun yang berasal dari suku bangsa Jawa. sebagian orang menamakan Wayang Gedog ini Wayang Panji. Padahal.Pergelaran Wayang wahyu hampir serupa dengan Wayang Kulit Purwa. tidak semua orang Jawa menyukai wayang. boleh dibilang sudah punah. Itulah sebabnya. dan Raden Gunungsari. Dengan demikian Wayang Wahyu praktis tidak berkembang. Para dalangnya pun pada umumnya juga merangkap sebagai dalang Wayang Kulit Purwa. tetapi mengambil lakon dari cerita-cerita Panji. diiring oleh seperangkat gamelan dan pesinden. Wayang Gedog Diciptakan oleh Sunan Giri di tandai candra sengkala Gegamaning Naga Kinaryeng Bathara: 1485 caka (1568 M). kebudayaan 113 Jawa . antara lain adalah Prabu Lembu Hamiluhur.

dengan diiringi oleh musik gamelan yang dimainkan sekelompok nayaga dan tembang yang dinyanyikan oleh para pesinden. Wayang Kancil termasuk di antara jenis wayang yang tidak berkembang. dibuat dan disungging oleh Lie To Hien. penonton harus memiliki pengetahuan akan tokoh-tokoh wayang yang bayangannya tampil di layar. meskipun seorang seniman. sementara di belakangnya disorotkan lampu listrik atau lampu minyak (blencong). Wayang Kancil Termasuk wayang moderen. Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang. Jenis Wayang Kulit menurut asal daerah di Jawa : • • Wayang Jawa Yogyakarta Wayang Jawa Surakarta Jawa 114 kebudayaan . 11.10. menggunakan tokoh peraga binatang. Dalang memainkan wayang kulit di balik kelir. sehingga para penonton yang berada di sisi lain dari layar dapat melihat bayangan wayang yang jatuh ke kelir. yaitu layar yang terbuat dari kain putih. Cerita untuk lakon-lakon para Wayang Kancil diambil dari Kitab Serat Kancil Kridamartana karangan Raden Panji Natarata. Untuk dapat memahami cerita wayang(lakon). yakni Iedjar Subroto tetap berusaha mempopulerkannya. Wayang yang juga terbuat dari kulit itu. Wayang Kulit Wayang kulit adalah seni tradisional Indonesia. yang terutama berkembang di Jawa dan di sebelah timur semenanjung Malaysia seperti di Kelantan dan Terengganu. diciptakan tahun 1925 oleh seorang keturunan Cina bernama Bo Liem.

sulukan dan properti panggung ) . devosional dan hiburan. Dalam Wayang Gagrag Banyumasan mempunyai ciri khas dalam penceritaan yang lebih memperjelas peran rakyat kecil yang dimanivestasikan dalam tokoh punakawan seperti cerita Bawor Dadi Ratu. mempunyai nuansa kerakyatan yang kental sebagaimana karakter masyarakatnya . dan hidup serta berkembang di daerah eks Karesidenan Banyumas. catur ( narasi dan cakapan) . Contoh gambar wayang : kebudayaan 115 Jawa . karena memperoleh simpati dan dicintai masyarakatnya. serta lugas dan mampu bertahan sampai saat ini dalam menghadapi perubahan jaman. yang kualitasnya selalu terjaga dan ditangani sungguhsungguh oleh para pakar yang memahami benar. sederhana. dan berperan sebagai bentuk seni klangenan serta dijadikan wahana untuk mempertahankan nilai etika.• Wayang Kulit Gagrag Banyumasan Wayang Kulit Gagrag Banyumasan merupakan salah satu gaya pedalangan di tanah Jawa. yang lebih dikenal dengan istilah pakeliran. Pakeliran Gagrag Banyumasan. jujur dan terus terang . lakon wayang ( penyajian alur cerita dan maknanya). karawitan ( gendhing. Pakeliran ini mencakup unsurunsur yaitu. merupakan ekspresi dan sifatnya lebih bebas. Petruk Krama dan lain-lain selain itu pula wayang Gagrag Banyumasan lebih menonjolkan peran para muda dalam penyelesaian kasus-kasus dan permasalahan. sabet ( seluruh gerak wayang). Cerita Srikandi Mbarang Lengger' yang merupakan terusan lakon Srenggini Takon Rama adalah salah satu contoh kongkrit bahwa peran pemuda seperti Antasena dan Wisanggeni menjadi sangat sentral.

diri sendiri maupun Tuhan Yang Maha Kuasa Pencipta segalanya. Pakaian adat Jawa ini mempunyai perlambang tertentu bagi orang Jawa. sehingga bagian tersebut tersembul di bagian belakang blangkon.Batara Guru (Siwa) dalam bentuk seni wayang Jawa. Busana Jawa penuh dengan piwulang sinandhi (ajaran tersamar) kaya akan ajaran Jawa. rasukan mesiran.7 Pakaian Adat Rasukan adat Jawa Rasukan adat Jawa atau pakaian adat Jawa yang umumnya disebut rasukan kejawen yang sudah ada sejak jaman dahulu dan mulai terbentuk lengkap pada jaman kerajaan demak. Pada umumnya rasukan Jawa dibagi menjadi 4 bagian yaitu. Selain rasukan kejawen juga ada rasukan surjan. baik dalam hubungannya dengan sesama manusia. Tonjolan ini menandakan model rambut pria masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka di bagian belakang kepala. Dalam busana Jawa ini tersembunyi ajaran untuk melakukan segala sesuatu di dunia ini secara harmoni yang berkaitan dengan aktivitas seharihari. Cara kebudayaan 116 Jawa . rasukan basahan dan rasukan gedhog. Masing-masing jenis rasukan Jawa ini mempunyai makna perumpamaan atau melambangakn nilai-nilai luhur filosofi Jawa. Untuk bagian kepala selain menggunakan blangkon biasanya orang Jawa kuna (tradisional) mengenakan "iket" yaitu ikat kepala yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menjadi penutup kepala. H. • 1 Bagian ndhuwur/bagian atas (Penutup Kepala)  Iket atau blangkon Blangkon adalah tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional Jawa. Untuk beberapa tipe blangkon ada yang menggunakan tonjolan pada bagian belakang blangkon.

Wiru kebudayaan 117 Jawa . Jika sudah dikenakan di atas kepala. tidak mudah terombang-ambing hanya karena situasi atau orang lain tanpa pertimbangan yang matang. Jarik bermakna aja gampang serik (jangan mudah iri terhadap orang lain). Apapun yang akan dilakukan hendaklah jangan sampai merugikan orang lain. diperhitungkan dengan cermat. Maksudnya agar manusia mempunyai pemikiran yang kukuh. Makna iket dimaksudkan manusia seyogyanya mempunyai pemikiran yang kenceng. Selain itu udheng juga mempunyai arti bahwa manusia seharusnya mempunyai ketrampilan dapat menjalankan pekerjaannya dengan dasar pengetahuan yang mantap atau mudheng. Dengan kata lain hendaklah manusia mempunyai ketrampilan yang profesional. dapat . Udheng dari kata kerja Mudheng atau mengerti dengan jelas. mengerti dan memahami tujuan hidup dan kehidupan atau sangkan paraning dumadi.mengenakan iket harus kenceng (kuat) supaya ikatan tidak mudah terlepas. iket dan udheng sulit dibedakan karena ujud dan fungsinya sama. menjaga antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum. Lambang yang tersirat dalam benik itu adalah agar orang (Jawa) dalam melakukan semua tindakannya apapun selalu diniknik. faham.  Udheng Udheng juga dikenakan di bagian kepala dengan cara mengenakan seperti mengenakan sebuah topi. • 2 Bagian tengah (bagian tengah)  Rasukan utawa kelambi uga benik (pakaian dan juga kancing baju) Busana kejawen seperti beskap selalu dilengkapi dengan benik (kancing baju) disebelah kiri dan kanan. tidak grusa-grusu (emosional) Wiru Jarik atau kain dikenakan selalu dengan cara mewiru (meripel) pinggiran yang vertikal atau sisi saja sedemikian rupa. Menanggapi setiap masalah harus hati-hati.  Jarik lan wiron utawa wiru Jarik atau sinjang merupakan kain yang dikenakan untuk menutup tubuh dari pinggang sampai mata kaki.

 Epek Epek bagi orang Jawa mengandung arti bahwa untuk dapat bekerja dengan baik.  Timang Timang bermakna bahwa apabila ilmu yang didapat harus dipahami dengan jelas atau gamblang. teliti dan cermat sehingga dapat memahami dengan jelas. Selama menempuh ilmu upayakan untuk tekun.  Sabuk Sabuk (ikat pinggang) dikenakan dengan cara dilingkarkan (diubetkan) ke badan. Curiga dikenakan di bagian belakang badan. Untuk itulah manusia harus ubed (bekerja dengan sungguh-sungguh) dan jangan sampai kerjanya tidak ada hasil atau buk (impas/tidak ada keuntungan). • 3 Bagian mburi (bagian belakang)  Curiga atau keris dan rangka Curiga atau keris berujud wilahan. Keris ini mempunyai pralambang bahwa keris sekaligus warangka sebagaimana manusia sebagai ciptaan dan penciptanya Yatu Allah Yang Maha Kuasa. Jadi harus ubed atau gigih. dimaksudkan wiwiren aja nganti kleru. tidak akan ada rasa samang (khawatir) samang asal dari kata timang. Kata sabuk berarti usahakanlah agar segala yang dilakukan tidak ngebukne. harus epek (apek. Ajaran ini tersirat dari sabuk tersebut adalah bahwa harus bersedia untuk tekun berkarya guna memenuhi kebutuhan hidupnya. bilahan dan terdapat di dalam warangka atau wadahnya. Ini mengandung pengertian bahwa jarik tidak bisa lepas dari wiru. keris mempunyai arti bahwa dalam menyembah Tuhan Yang Maha Kuasa hendaklah manusia bisa untuk kebudayaan 118 Jawa . golek. Karena diletakkan di bagian belakang tubuh. manunggaling kawula Gusti.atau wiron ( rimple ) diperoleh dengan cara melipat-lipat (mewiru). kerjakan segala hal jangan sampai keliru agar bisa menumbuhkan suasana yang menyenangkan dan harmonis. mencari) pengetahuan yang berguna.

Lalu menyebar ke Malaka. bebed artinya manusia harus ubed. rajin bekerja. Mereka mengenakannya dengan sarung dan kaus cantik bermanik-manik yang disebut "kasut manek".ngungkurake godhaning setan yang senantiasa mengganggu manusia ketika manusia akan bertindak kebaikan.  Bebed Bebed adalah kain (jarik) yang dikenakan oleh laki-laki seperti halnya pada perempuan. wanita-wanita Eropa mulai mengenakan kebaya sebagai pakaian resmi. kebaya diubah dari hanya menggunakan barang tenunan mori menggunakan sutera dengan sulaman warna-warni. kebaya adalah pakaian yang hanya dikenakan keluarga kerajaan di sana. Selop. artinya dalam menyembah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. atau sandal. Canela selalu dikenakan di kaki. atau pakaian rajutan tradisional lainnya seperti songket dengan motif warna-warni. • 4 Bagian ngisor (bagain bawah)  Canela yaitu: cripu. di Pulau Jawa. berhati-hati terhadap segala hal yang dilakukan dan "tumindak nggubed ing rina wengi" (bekerja sepanjang hari) Kebaya Kebaya adalah blus tradisional yang dikenakan oleh wanita Indonesia dan Malaysia yang terbuat dari bahan tipis yang dikenakan dengan sarung. Sumatera. Bali. dan Sulawesi. Jawa. Dalam hati hanyalah sumeleh (pasrah) kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. Selama masa kendali Belanda di pulau itu. nyonya kebaya kebudayaan 119 Jawa . selop atau sandal Canela mempunyai arti "Canthelna jroning nala" (peganglah kuat dalam hatimu) canela sama artinya Cripu. Pakaian yang mirip yang disebut "nyonya kebaya" diciptakan pertama kali oleh orang-orang Peranakan dari Melaka. pakaian itu diterima di budaya dan norma setempat. Kini. Selama masa ini. hendaklah dari lahir sampai batin sujud atau manembah di kaki-NYA. batik. Dipercaya kebaya berasal dari Tiongkok ratusan tahun yang lalu. Sebelum 1600. Setelah akulturasi yang berlangsung ratusan tahun.

Surakarta maupun Jogjakarta menunjukkan penggunaan busana ini bagi keluarga kerajaan. kebaya dikenakan secara resmi oleh keluarga Kerajaan. Gelang dan jam dikenakan diluar lengan Kebaya. Terpisah dari kebaya tradisional. Di beberapa pelosok Indonesia bahkan bisa ditemukan wanita yang tampil tanpa atasan apapun (Bali. Dokumentasi lama kerajaan Islam Cirebon. Kebiasaan berbusana macam itu juga ikut tergeser. Jawa). Hal ini mengingatkan kita akan Abaya dan kebaya Melayu. Kebaya yang dimodifikasi itu malah bisa dikenakan dengan jins atau rok. terutama di Bali. Lampung. Argumen Lombard tentu berterima terutama lewat analogi penelusuran lingustik yang toh sampai sekarang kita masih mengenal ‘Abaya’ yang berarti tunik panjang khas Arab. perancang mode sedang mencari cara memodifikasi desain dan membuat kebaya menjadi pakaian yang lebih modern. Pada tahun 1600. sementara bros serangkai (tiga berjajar) tersemat di bagian depan membentuk suatu penutup. Pakaian semacam ini serta-merta menggeser kemben tradisional. Kita perlu menilik penyebaran dan masuknya Islam di Indonesia (abad ke-15) untuk mengetahui perkembangan Kebaya modern saat ini.sedang mengalami pembaharuan. Kata Kebaya diartikan sebagai jenis pakaian (atasan/blouse) pertama yang dipakai wanita Indonesia pada kurun waktu abad ke-15 atau ke-16 Masehi. dan pengaruh ini ditularkan setelah imigrasi besar-besaran menyambangi semenanjung Asia Selatan dan Tenggara di abad ke13 hingga ke-16 Masehi. dan juga terkenal di antara wanita non-Asia. kebaya menjadi busana yang populer dan bahkan menjadi simbol status. Dokumentasi lama milik keluarga kerajaan dan keraton (Surakarta. Cirebon) di tanah Jawa masih merekam Kebaya panjang ini dengan beberapa ornamen kenegaraan yang terpasang di beberapa sisinya (abad ke-19). meski dalam beberapa acara adat harus berbusana seperti itu lagi. Dugaan kuat mengatakan Kebaya awalnya merupakan atasan panjang berbentuk tunik sederhana yang menjulur dari leher hingga lutut (baju kurung). Setelah penyebaran agama Islam. Keislaman sangat kuat memengaruhi siluet Kebaya di awal-awal perkembangannya. Jenis ini kebudayaan 120 Jawa . Sementara sebagian yang lain percaya Kebaya ada kaitannya dengan pakaian tunik perempuan pada masa kekasiran Ming di Tiongkok. Kebaya Indonesia Menurut Denys Lombard dalam bukunya Nusa Jawa: silang Budaya (1996) Kebaya berasal dari bahasa Arab ‘Kaba’ yang berarti ‘pakaian’ dan diperkenalkan lewat bahasa Portugis ketika mereka mendarat di Asia Tenggara. Yogyakarta.

Kebaya menjalar menjadi nasionalis dan bernafas kemerdekaan. Namun beludru. Hingga tahun 1980-an Kebaya semakin terkucil di kalangan istri Militer dan pegawai negeri. Kaum perempuan yang merasa tidak terlibat dengan gejolak politik Orde Lama (Soekarno) memilih untuk tidak mengenakan Kebaya. di rumah. Terusan modern dan kemejakemeja wanita lebih digemari ketimbang Kebaya. baik itu di kantor. tetapi melekat pada kaum aristrokrat tertentu yang berpihak pada Soekarno. Revolusi besar kemerdekaan Indonesia tahun 1945 membawa Kebaya pada konstelasi nasionalis yang lebih absolut. Belum pulih benar Kebaya dari trauma politiknya. terutama jenis putu baru dan Kebaya encim yang masih ada jejaknya sekarang ini. Yang terlihat adalah aneka corak dan warna-warna Kebaya yang beragam. Citracitra dan simbol-simbol yang diemban Kebaya di masa Soekarno membuat ia dijauhi. Kebaya tersingkir dalam kotak eksklusif Dharmawanita (organisasi wanita istri pegawai negeri yang terbentuk sejak tahun 1974). Lagi-lagi faktor politik berkecamuk. awal tahun 90-an Ghea kebudayaan 121 Jawa . Perlahan namun pasti. dan katun halus kemudian menggantikan bahan-bahan keras tadi sesuai dengan masuknya koloni Eropa ke Indonesia dan membuka jalur perdagangan tekstil antar negara (sejak abad ke-18). Dari sekedar tradisional yang pribumi. Dengan warna jingga salem-nya. Tiongkok. Sebagian orang menanggapi kondisi ini sebagai masa-masa keemasan Kebaya sampai tahun 1960-an. Kabar baiknya adalah peran informasi dan pertukaran komoditi antar negara kembali terbuka lebar. Kebaya menjadi seragam resmi organisasi ini. Tidak memakan waktu lama.akhirnya merambah permainan bahan. Hampir semua wanita. ia harus mengalami sekali lagi pukulan itu. di manapun tampil berkebaya. Sentimen Barat pada Soekarno. Citra nasional yang dibawa Kebaya begitu kuatnya. dan sebagian Asia Tenggara mendominasi pasar tekstil Indonesia. Para wanita terdidik yang dekat dengan pemerintahan Soekarno saat itu banyak mengenakan aneka kebaya. Tinggal bagaimana tangan-tangan kreatif anak Bangsa memanfaatkannya. dan sentimen Soekarno sendiri pada Barat membatasi jalur pertukaran komoditi Eropa dan Indonesia. Peralihan kekuasaan dari tangan Soekarno ke pemerintahan Orde Baru di bawah Soeharto tahun 1965 menempatkan Kebaya di posisi lemah. meski beberapa desainer lokal macam Iwan Tirta mencoba melestarikannya. sutra. Potongan dan pola-pola lama kembali meruak meski masih memegang pakem-pakem yang tercipta dari abad sebelumnya. Katun kasar dan tenun tradisional tentu saja menjadi cikal bakalnya. India.

Setelah 32 Tahun memerintah Indonesia. Kebaya adalah genre khas dari dunia fesyen yang menjanjikan. Dalam lingkup kelas atas. drapery. Secara pola. Tahun 90-an pula Kebaya mulai mendapat tempat yang lebih luas. Keterbukaan pikiran menjadi titik tolak semua kegiatan di masa-masa 1997-2002. hingga acara-acara eksklusif yang mengusung citra Indonesia secara konsensus-tersembunyi mewajibkan Kebaya sebagai kode busananya. sifon. layer hingga quilt ikut mewarnai kemegahan Kebaya. Di kalangan elit dan perempuan berpendidikan. dan unsur metal. Bahkan dipandang mempunyai janji ekonomi yang besar. Ia memanfaatkan bahan sutra organdi dan serat-serat alam lain yang tergolong mewah menjadi Kebaya. Ia sah digunakan di acara-acara formal baik bersifat pribadi. Reformasi membawa angin segar sekaligus liar. renda. Banyak pranata yang dijungkirbalikan. Desainer-desainer Indonesia sepakat. maupun kenegaraan. Yang tandang dengan banyak ide. yang kemudian banyak juga dikembangkan oleh desainer lokal lain. dan kemudian berkreasi dengannya. cutting. memiliki predikat khusus. Keluar dari sekedar organza dan katun. Digalilah kreasi-krasi baru yang segar dari banyak sumber untuk mempercantik Kebaya. Kreatifitas tak terbendung yang dicontohkan oleh para pemimpin setelah Soeharto dan dunia politik juga diikuti masyarakatnya. Kebaya macam ini. Kebaya merambah ke jalur sutra. pisang. dia yang menang. Soeharto undur. Hingga akhirnya pemanfaatan material mewah macam payet. nanas. Teknik bordir. dan garis luar berubah beragam-ragam. dan pencampuran bahan sebagai cikal bakal revolusi Kebaya di tahun 2000-an. Bagai bola liar. perubahan besar itu juga diikuti dengan pemanfaatan bahan baku. pilin. Untuk beberapa alasan. batu-batu mulia dan bulu binatang (ostrich’s feathers/cincila fur) hadir bersama taknik aplikasi yang kebudayaan 122 Jawa . teknik aplikasi. lipit. bordir. kristal. Reformasi dipahami sebagai era kebebasan. keluarga. Kuncinya adalah inovasi! Sepertinya tuntutan kreasi dan aksentuasi dari para pemakai juga menjadi faktor besar yang mendorong Kebaya kembali ke era abad-19—masa dimana Kebaya punya kebebasan untuk berkembang. pertemuan formal kenegaraan. lace. hal ini baik. memelajarinya. Kekangan adalah barang haram di masa ini. hingga serat-serat yang tak terbayangkan sebelumnya seperti jute.Panggabean melakukan eksperimen berarti pada Kebaya. Mereka mulai meliriknya. Dunia pernikahan. Kita harus mencermati trend brokat (lace). shantung. Hal ini kemudian memancing kompetisi antar desainer. siluet.

karena kerumitan detail yang melekat padanya.revolusioner. bahkan adat istiadat. Kata ""tik" dari "setitik" berarti sedikit menggambarkan proses yang bertingkat sedikit demi sedikit. Teknik aplikasi membuka kesempatan Kebaya sebagai benda seni yang bisa dihiasi apa saja—bahkan berlian jika memungkinkan. Sedangkan cara modern merupakan suatu cara dimana pengrajin batik menggunakan cap yang menulis batik sehingga proses pengerjaannya lebih cepat. Dengan teknik yang satu ini. kebudayaan 123 Jawa . Bahkan ada satu Kebaya yang memiliki berat hingga 22 Kg. Ia kini. Batik pada prinsipnya merupakan proses pencelupan dan pencucian dan menggunakan malam sebagai bahan dasar. kreasi tanpa batas sangat mungkin dikerjakan. Kebaya tercipta sebagai karya seni. sehingga batik adalah asli dari Indonesia walaupun banyak beredar sekarang batik Malaysia sampai Myanmar. Harga batik yang dibuat dengan cara tradisional pun lebih mahal. Kebaya semata-mata menganut faham kreatifitas yang feminis. material dan bahan. Lewat banyak teknik dan potongan. Cara Tradisional adalah suatu cara dimana pengrajin batik masih menggunakan canting untuk menulis batik dan menggunakan malam sebagai bahan untuk menulis. Kebaya memasuki masa revolusinya sendiri. sampai aksesorisnya. Batik merupakan busana hasil kerajinan rakyat dimana batik dibuat dengan menggunakan cara tradisional dan cara modern. tepatnya Ambatik (bahasa Jawa yang berarti menggambar dan melukis). Batik adalah kata dari bahasa Indonesia. ekonomi. seperti banyak masyarakat Indonesia era 2000-an. punya daya pandang dan tempatnya masing-masing. Batik Darimanakah kata Batik ?. Tanpa harus terpengaruh imbas politik. Secara kualitas batik yang dibuat dengan menggunakan cara tradisional akan lebih bagus kualitasnya.

titik atau cerek. lalu diperbaiki dan diperhalus. Masyarakat itu. Baru kemudian timbul falsafah batik yang tidak berpijak pada pertanian."Falsafah batik sebenarnya berakar pada petani. Harjonagoro (Go Tik Swan) yang pernah hidup di antara rakyat jelata (antara lain para pengrajin batik di rumah kakeknya) maupun lingkungan keraton. contohnya upacara pernikahan. canthing dan malam ‘sebangsa cairan lilin’. Canthing yang bermoncong satu untuk membuat garis. setiap motif mampunyai arti khusus. Batik Surakarta Batik adalah bentuk seni klasik yang ruwet dan sudah lama sekali sangat penting di dalam adat Java. pemakaman atau hari peringatan. yaitu masyarakat pertanian." "Karena berasal dari petani. mestinya diberi kesempatan mendapat bagian dari batik. sedangkan canthing yang bermoncong beberapa (dapat sampai tujuh) dipakai untuk membuat hiasan berupa kumpulan titik-titik. yang kini sudah bergeser menjadi masyarakat industri agraris dan sepanjang masa sengsara. kebudayaan 124 Jawa . Canthing biasanya berbentuk seperti mangkuk kecil dengan tangki (pegangan) terbuat dari kayu atau bambu dan bermoncong satu atau lebih. yang dibawa masuk ke keraton. Canthing Seni batik pada dasarnya merupakan seni lukis dengan bahan: kain. dan digunakan untuk acara formal tertentu. Ada banyak motif yang berbeda." Begitu keyakinan KRT. sering simbolis. mestinya harus mengalir kembali ke asalnya.

Pola digambar pada kain dengan malam yang dicairkan. sedangkan bagian yang dimalam masih sama.25 x 1. Cara ini dilakukan berulang kali. Capnya sendiri sering diperlihatkan sebagai seni. Ketiga cara merupakan bentuk seni yang menarik. dapat digunakan untuk lebih dari satu kain. Ada tiga dasar utama untuk menerapkan malam. menggunakan alat tembaga khusus untuk menggambar. pertama-tama harus dibuat cap tembaga. dan hasilnya sama baiknya. atau gabungan/combinasi tangan dan cap. Untuk hasil dari batik cap disebut batik cap. Capnya. dengan sebuah cap tembaga.25 meter membutuhkan 60-90 hari untuk membuatnya. kainnya tanpa malam bisa dicelup. H. cap atau batik combinasi. tergantung jenis pola dan berapa warnawarna yang diinginkan. itu menjadi melawan celup. Setelah malamnya menjadi keras.8 Keris kebudayaan 125 Jawa . Cap ini digunakan untuk proses pemalaman.Batik adalah cara yang melawan celup. cara tradisi dan cara modern. lebih murah dan lebih cepat. yaitu sepotong kain 2. dengan merebus malam keras pada kain dan menciptakan sebuah pola baru. sekarang. Cap dibuat dengan tangan dan juga proses memalaman. dengan tangan. Batik-batik yang digambar dengan tangan disebut batik tulis memerlukan 2-3 bulan untuk membuatnya. Sering sangat sulit untuk membedakan antara tulis. Juga terdapat dua cara untuk membuat batik tulis.

Keris adalah bagian integral dari upacara Jawa. Pada zaman dahulu. dahulu keris juga bisa menjadi simbol persaudaraan yang ditandai upacara tukar-menukar keris yang merupakan simbol persaudaraan yang paling luhur Fungsi keris lainnya adalah keris dianggap azimat dan media penghubung antara dunia manusia dengan dunia mistis (mahluk gaib) Bagian-bagian keris kebudayaan 126 Jawa . Fungsi Zaman sekarang fungsi dari sebuah keris sudah mulai berkurang. keris juga bisa diguanakan sebagai tanda status sosial. Sajarah Belum ada penelitian yang berhasil menentukan kapan orang Jawa mulai mengenal keris. atau pisau belati. pada umunya hanya menjadi barang koleksi atau sebagai perlengkapan upacara-upacara dan ritual adat. jenjang pangkat serta sebagai hadiah. keris menjadi lambing kepangkatan serta bisa dijadikan sebagai hadiah yang paling istimewa.Keris atau tosan aji adalah salah satu senjata tradisional masyarakat Jawa serta menjadi salah satu lambang utama seorang laki-laki selain turangga. wisma. keris Jawa sudah mempunyai wajud yang sempurna saat kerajaan majapahit. Keris dipakai oleh lelaki untuk peristiwa penting dan tatacara tradisionil. selain itu. atau lakilaki Jawa itu harus tangguh. Keris. keluarga dan membela Negara. Keriss mempunyai makna jantan perkasa dan dewasa. Di zaman dulu selain menjadi senjata. Keahlian membuat pisau belati Jawa berawal dari masa kuno. bahkan sebelum Kerajaan Majapahit (abad ke-13). adalah hasil kegaiban yang lain dari Jawa kuno. apalagi jika yang memberikannya adalah raja. sanggup melindungi diri sendiri. wanita dan kukila.

maka bilangan terakhir adalah banyaknya luk pada wilah-bilah dan jumlahnya selalu gasal ( ganjil) dan tidak pernah genap. Ukiran pada bagian-bagian keris Jawa mempunyai makna dan karakter yang berbeda-beda. Di daerah Jawa Timur disebut paksi. bagian depannya disebut sirah cecak. Pengamat budaya tosan aji mengatakan bahwa kesatuan itu melambangkan kesatuan lingga dan yoni. atau penamaan ragam bentuk pada wilah-bilah (ada puluhan bentuk dapur). adalah bagian yang berkelok dari wilah-bilah keris. Jika ada keris yang jumlah luk nya lebih dari tiga belas. Pada pangkal wilahan terdapat pesi . Luk. jaka lola . dan dilihat dari bentuknya keris dapat dibagi dua golongan besar. Bagian-bagian keris itu antara lain. pinarak. Di tengahnya terdapat lubang pesi (bulat) persis untuk memasukkan pesi. wilut . atau keris tidak lazim. Pesi ini panjangnya antara 5 cm sampai 7 cm. biasanya disebut keris kalawija. dihitung dari sisi cembung dan dilakukan pada kedua sisi seberang-menyeberang (kanan-kiri). • Warangka atau sarung keris Jawa 127 kebudayaan . dengan penampang sekitar 5 mm sampai 10 mm. bagian perut disebut wetengan dan ekornya disebut sebit ron. bentuknya bulat panjang seperti pensil. kebo tedan. Pada pangkal (dasar keris) atau bagian bawah dari sebilah keris disebut ganja (untuk daerah semenanjung Melayu menyebutnya aring). yang merupakan ujung bawah sebilah keris atau tangkai keris. pudak sitegal. bagian lehernya disebut gulu meled . yang biasanya disebut dapur. kelap lintah dan sebit rontal. yaitu keris yang lurus dan keris yang bilahnya berkelok-kelok atau luk. • Wilah Wilah atau wilahan adalah bagian utama dari sebuah keris. dll. bungkul . sehingga bagian wilah dan ganja tidak terpisahkan. masing masing bagain mempunyai bagian-bagian lagi yang lebih detil yang biasanya berupa ukiran. dan juga terdiri dari bagian-bagian tertentu yang tidak sama untuk setiap wilahan.Keris mempunyai tiga bagian utama. Ganja ini sepintas berbentuk cecak. dan yang terkecil adalah luk tiga (3) dan terbanyak adalah luk tiga belas (13). Sebagai contoh. dimana ganja mewakili lambang yoni sedangkan pesi melambangkan lingganya. Salah satu cara sederhana menghitung luk pada bilah . dimulai dari pangkal keris ke arah ujung keris. Bagian inilah yang masuk ke pegangan keris ( ukiran) . Ragam bentuk ganja ada bermacam-macam. jamang murub. bisa disebutkan dapur jangkung mayang. dungkul .

Bagian atasnya atau ladrang-gayaman sering diganti dengan gading. ri serta cangkring. Karena fungsi gandar untuk membungkus . perkawinan. dan keris ditempatkan pada bagian depan (dekat pinggang) ataupun di belakang (pinggang belakang). maka untuk memperindahnya akan dilapisi seperti selongsongsilinder yang disebut pendok . godong (berbentuk seperti daun). dan gandek. Wrangka ladrang dipakai untuk upacara resmi . Aturan pemakaian bentuk wrangka ini sudah ditentukan. dan kemuning). yaitu jenis warangka ladrang yang terdiri dari bagian-bagian : angkup. dll) dengan maksud penghormatan. emas . gandek. walaupun tidak mutlak. Secara garis besar terdapat dua bentuk warangka.Warangka. Riau. Untuk daerah diluar Jawa ( kalangan raja-raja Bugis . Bali ) pendoknya terbuat dari emas . gandar. dan bagian utama menurut fungsi wrangka adalah bagian bawah yang berbentuk panjang ( sepanjang wilah keris ) yang disebut gandar atau antupan . Dalam perang. karena bentuknya lebih sederhana. suasa ( campuran tembaga emas ) . atau sarung keris. Palembang. karena wrangka gayaman lebih memungkinkan cepat dan mudah bergerak. Sejalan dengan perkembangan zaman terjadi penambahan fungsi wrangka sebagai pencerminan status sosial bagi penggunanya. Bagian pendok ( lapisan selongsong ) inilah yang biasanya diukir sangat indah .maka fungsi gandar adalah untuk membungkus wilah (bilah) dan biasanya terbuat dari kayu ( dipertimbangkan untuk tidak merusak wilah yang berbahan logam campuran ) . janggut. timoho. lata. dibuat dari logam kuningan. pertimbangannya adalah dari sisi praktis dan ringkas. pengangkatan pejabat kerajaan. Sedangkan wrangka gayaman dipakai untuk keperluan harian. khususnya dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa. adalah komponen keris yang mempunyai fungsi tertentu. Goa. cendana. disertai dengan kebudayaan 128 Jawa . yang digunakan adalah keris wrangka gayaman . Warangka yang mula-mula dibuat dari kayu (yang umum adalah jati. perak. godong. Ladrang dan gayaman merupakan pola-bentuk wrangka. Tata cara penggunaannya adalah dengan menyelipkan gandar keris di lipatan sabuk (stagen) pada pinggang bagian belakang (termasuk sebagai pertimbangan untuk keselamatan raja ). acara resmi keraton lainnya (penobatan. paling tidak karena bagian inilah yang terlihat secara langsung. sehingga fungsi keindahannya tidak diutamakan. Dan jenis lainnya adalah jenis wrangka gayaman (gandon) yang bagian-bagiannya hampir sama dengan wrangka ladrang tetapi tidak terdapat angkup. misalkan menghadap raja.

Diluar wilayah Nusantara dan sekitarnya biasanya hanya dikenal teknik Inlay saja seperti pedang dari Iran atau negara Eropa lainnya sehingga walau secara seni (art) tampak indah tetapi kesan “Wingit” nya tidak ada sama sekali. pendok ada dua macam yaitu pendok berukir dan pendok polos (tanpa ukiran). bathuk (kepala bagian depan) . Tombak. Terkenal dulu bahan pamor dari Luwu. menurut bentuknya pendok ada tiga macam.weteng dan bungkul. Sulawesi Selatan yang dibawa oleh pedagang dari Bugis. Pedang atau Wedung dan lain lainnya).tambahan hiasan seperti sulaman tali dari emas dan bunga yang bertaburkan intan berlian. Hiasan ini dibentuk bukan karena diukir atau diserasah (Inlay) atau dilapis tetapi karena teknik tempaan yang menyatukan beberapa unsure logam yang berlainan. • Gaman Untuk pegangan keris Jawa. Pamor Keris Pamor merupakan hiasan atau motif atau ornamen yang terdapat pada bilah tosan aji (Keris. Untuk keris Jawa . cetek. serta (3) pendok topengan yang belahannya hanya terletak di tengah . cigir. (2) pendok blewah (blengah) terbelah memanjang sampai pada salah satu ujungnya sehingga bagian gandar akan terlihat . kebudayaan 129 Jawa . secara garis besar terdiri dari sirah wingking ( kepala bagian belakang ) . jiling. Apabila dilihat dari hiasannya. yaitu (1) pendok bunton berbentuk selongsong pipih tanpa belahan pada sisinya .

Pamor luluhan yang gampang terlihat antara lain di keris buatan Empu Pitrang dijaman Blambangan. Setelah bahan meteorit susah didapat. praktis pamor dan besi sudah “menyatu” walau tidak terlalu homogen. saat ini ada di Kraton Surakarta diberi nama Kanjeng Kyai Pamor dan ukurannya sekarang tinggal sekitar 60x60x80 Cm sebesar meja kecil karena sudah banyak digunakan empu membuat karis pesanan dari Kraton. lebih sulit dari pembuatan pamor miring. baik di pamor mlumah atau miring. a. kebudayaan 130 Jawa . PAMOR MLUMAH. Cara lainnya. diantara pamor Adeg pada beberapa bagian bilah tampak pamor luluan yang sepintas seperti pamor Nggajih. sehingga keris saat ini bobot nya biasanya lebih berat dari keris kuno. maka hasilnya kemungkinan akan menjadi pamor luluhan. Dilihat dari cara pembuatannya sebetulnya hanya dua cara pembuatan Pamor yang baik yaitu Mlumah dan Miring. ini akan terlihat dengan menggunakan kaca pembesar. Kalau lipatannya lebih banyak lagi seperti buatan Empu Pangeran Sedayu maka pamor luluhan ini tidak tampak dengan mata telanjang dan sangat kecil atau tiad mungkin kena karat karena menyatunya bahan pamor dengan bahan besinya. Sodo Saeler. sedangkan Pamor Miring umumnya motif Adeg. barulah bahan Nikel digunakan. Kesan Pamor Miring agak kasar bila diraba bilahnya dan nyekrak dibanding pamor mlumah. Tumpuk dll. Wulan-wulan dan sebagainya. Batu Lapak. Udan Mas. Ngulit Semangka. Pamor mlumah adalah lapisan-lapisan pamornya mendatar sejajar dengan permukaan tosan aji sedangkan pamor miring lapisan pamornya tegak lurus permukaan bilah. PAMOR MIRING.Bahan Pamor yang paling terkenal adalah Pamor Prambanan. Ada juga tosan aji yang dibuat dengan kombinasi pamor mlumah dan miring hanya saja pembuatannya sangat sulit. Satria Pinayungan. Pamor Mlumah biasanya bermotif Beras Wutah. Apabila lipatannya banyak.

Ada cara lain membuat pamor selain Mlumah dan Miring yaitu dengan cara mengoleskan bahan pamor ke bilah. PAMOR MUNGGUL Banyak yang menganggap pamor ini pamor titipan. Pamor ini seperti bisul menonjol sekitar 1 mm diatas permukaan bilah umumnya berbentuk lingkaran. Sewaktu membuat keris. PAMOR REKAN dan PAMOR TIBAN. biasanya bukan dari batu meteorit tetapi logam yang titik leburnya lebih rendah dari besi. Sebenarnya agak sulit membedakan mana pamor rekan atau tiban karena bisa dilihat dari sudut pandang yang berbeda-beda. pamornya dinamakan Nggajih karena menyerupai lemak. Pamor rekan sering juga gagal dalam pembuatannya. baik bulat atau lonjong kebudayaan 131 Jawa .Ada lagi cara membuat pamor dengan menyiramkan bahan pamor cair ke bilah membara dari pangkal keris keujungnya. Cara ini hanya digunakan Empu luar keraton. misal sang empu ingin membuat pamor Ron Genduru tetapi jadinya malah Ganggeng Kanyut. sedangkan bila selama pembuatan direka oleh sang Empu maka pamor yang terjadi disebut pamor rekan. Hasilnya umumnya kasar bila diraba dan pamor ini disebut Ngintip (dari Intip/Kerak nasi). caranya dengan menuangkan bahan tersebut yang cair kebilah besi yang membara kemudian dioleskan dengan ujung mancung (kelopak bunga) kelapa sebelum bahan cair tersebut mengeras dan dibuat pamor yang dikehendaki si Empu. c. selain itu banyak yang menganggap ini sebagai pamor tiban karena tidak bisa dibuat secara sengaja. Sang Empu berpasrah diri kepada Tuhan YME dan menyerahkan saja bagaimana bentuk pamor yang terjadi maka biasanya pamor yang timbul disebut pamor Tiban. empu Desa atau disebut juga empu Njawi. b.

e. Di Madura biasa disebut pamor “dheling”. antara lain Beras Wutah. PAMOR TITIPAN. Namanya kadang Akordiyat. Pamor ini berbentuk rangkaian kecil yang merupakan perlambang atau tuah tertentu dan pamor ini jarang berdiri sendiri. Sebetulnya ini terjadi karena penempaan pamor tersebut dilakukan pada suhu yang tepat yang berbeda setiap bahannya. Wujudnya menyerupai lelehan dari tepi bentuk pamor dengan warna putih cemerlang keperakan dan lebih cemerlang dibanding keputihan pamor pada umumnya. jadi susah diduga berapa suhu yang tepat itu. Bisa ditepi atau tengah bilah dan termasuk pamor yang baik serta dicari banyak orang. umumnya tergabung dengan pamor lain yang lebih dominan. tetapi ini baru dugaan saja. tetapi diduga saat “masuh” atau membersihkan bahan keris dari kotoran. kebudayaan 132 Jawa . Ada yang menganggap sebagai pamor titipan atau “sifat” dari pamor tersebut. kalau tersebar dipermukaan bilah disebut “dheling setong” dan dianggap mempunyai tuah baik. ada unsur logam lain yang menyelip dan lebih keras dari unsur logam besi. Pamor dheling yang terbaik terdapat di pucuk bilah dan disebut “dheling pucuk” dan atau dibagian peksi yang disebut “dheling peksi”.tetapi ada yang berbentuk gambar membujur lancip panjang. sehingga banyak yang sepakat bahwa pamor ini dikategorikan ke pamor tiban. tengah ataupun pucuk. ternyata semua salah. Letaknya bisa dibagian sor-soran. Kodiyat atau Akadiyat. d. PAMOR AKHODIYAT. Pulo Tirto atau Pendaringan Kebak. Bagaiman pamor ini timbul tidak bisa diterangkan secara pasti.

petis. lontong balap. tuangi kuah dan daging tetelan. Dikiling. Gedong Mingkem. Jung Isi Dunya. mi. dan getuk pisang. Putri Kinurung. Madiun dikenal sebagai penghasil brem dan nasi pecel. Jagung dikenal sebagai salah satu makanan pokok orang Madura. sate kerang. Telaga Membleng dll. Kecamatan Babat. Udan Mas. merupakan pamur yang disusulkan. Pamor titipan yang merupakan pamor rekan antara lain yang terkenal adalah Kuto Mesir. Kediri terkenal akan tahu takwa. H. sementara ubi kayu yang diolah menjadi gaplek dahulu merupakan makanan pokok sebagian penduduk di Pacitan dan Trenggalek. Makanan khas Jawa Timur diantaranya adalah Surabaya terkenal akan rujak cingur.9 1) Makanan Khas Rawon dan rujak petis. Watu Lapak dll. daun sla diiris. Pamor Titipan yang merupakan pamor tiban dibuat bersama dengan pamor lainnya sedangkan yang rekan biasanya dibuat setelah pamor dominan jadi. dan lontong kupang. Bondowoso merupakan penghasil tape yang sangat manis. diberi irisan perkedel singkong dan ditaburi dengan bawang goreng dan dengan bahan pelengkap sambal. Inkal. Sidoarjo terkenal akan kerupuk udang dan petisnya. tidak sengaja dibuat seperti Pamor Rahala. terdiri dari tahu. Kul Buntet. tahu pong. Malang dikenal sebagai penghasil keripik tempe. 3) Madu mongso Jawa 133 kebudayaan . 2) Tahu Campur Lamongan Tahu campur disajik di dalam mangkuk.Pamor ini ada yang merupakan pamor tiban. tauge. semanggi. Lamongan terkenal akan wingko babat nya.

garam dan santan kental. Sayur Merica Dari ikan laut segar dengan bumbu cabe. asam (tomat) garam dan air. bawang putih. gula merah. bawang kebudayaan 134 Jawa . merica. Pindang Tempe Tempe dengan bumbu-bumbu cabe. Yang membuat makanan ini berbeda adalah dengan adanya cingur (hidung sapi). 3. 2. garam dan air. Mangut Ikan laut segar yang dipanggang dengan bumbu-bumbu cabe hijau. makanan ini dibungkus menyerupai bentuk permen menggunakan kertas minyak yang berwarna-warni. bawang merah. Petis Bumbon Sayur untuk makan siang/malam yang terbuat dari bahan-bahan petis ikan/udang. santan dan garam. bawang putih. bawang putih. bawang merah. 4) Rujak Cingur Makanan khas Jawa timur ini merupakan campuran dari berbagai macam sayuran yang disirami bumbu kacang yang dilengkapi dengan petis dan pisang klutuk muda.Merupakan makanan khas Jawa Timur yang dibuat dari ketan item dicampur dengan tape. telur rebus/ceplok langsung dengan bumbu cabe. 5. Sate Sarepeh Berupa sate ayam kampung bumbunya terdiri dari cabe merah. Biasanya ditambahkan juga ikan pindang. kunyit. Adalah sebagai lauk pauk dan biasanya dirangkai dengan lontong. 4. Sebagai sayur untuk makan siang/malam dalam menu sehari-hari. bawang putih. Makanan dan Minuman khas Jawa Tengah 1. Sebagai sayur untuk makan siang (menu sehari-hari). bawang merah.

Biasanya dimakan bersama dengan Jenang waluh. lengkuas. garam yang ditumbuk halus (sewaktu masih panas) di atas keranjang yang Terbuat dari daun lontar/daun kelapa muda dan alat tumbuknya juga dilapis dengan daun lontar dan kelapa muda. biasanya sekitar jam 15. 6. 8. Makanan ini tidak pernah atau jarang dibuat ibu rumah tangga. Jenang Waluh Dibuat dari buah waluh. 7. Sebagai makanan sore hari/malam hari. Jadah yang terkenal adalah dari desa Pohlandak (Kecamatan Pancur). kalau makan tinggal didudul (ditekan) saja. Tempatnya dari daun lontar berlubang bulat kecil sebanyak 5 buah. 12. Rasanya sangat gurih. Dan biasanya dimakan dengan Jadah. 11. Berasal dari desa Gunem Kecamatan Gunem. rasanya sangat manis dan gurih. daun jeruk purut. yang rasanya sangat manis. air nira dan garam. 9. garam dan ditambah santan kental. kacang hijau. yang terkenal dari desa Pohlandak (Kecamatan Pancur). Lontong Tuyuhan Lontong dengan opor ayam kampung pedas khas desa Tuyuhan (Kecamatan Pancur). Dumbeg Dibuat dari tepung beras. Kemudian tempatnya dari daun lontar (pohon nira) berbentuk kerucut dengan bau yang khas. gula aren/gula pasir dan garam. kemudian dicetak persegi dan dibungkus dengan daun pisang (seperti lemper).merah. kelapa muda.00 WIB sudah dijual di lokasi desa Tuyuhan di sepanjang pinggir jalan dengan pemandangan sawah-sawah yang menghijau. Kaoya Dudul Terbuat dari beras ketan. Yang terkenal dari desa Pohlandak (Kecamatan Pancur) dan desa Mondoteko (Kecamatan Rembang). Gula Semut kebudayaan 135 Jawa . dan kalau suka ditaburi buah nangka/kelapa muda yang dipotong sebesar dadu. air pohon nira (legen). Jadah Terbuat dari beras ketan putih. 10. gula pasir/gula aren dan ditambahkan garam. gula aren. Kerupuk Bakar Kerupuk udang dan tengiri dari kota Rembang yang dioven atau dibakar. Dan minumannya air putih yang ditempatkan di kenda (tanpa gelas). kunci.

kita dapat menikmati soto di warung-warung yang berderet rapi di sepanjang jalan di Sokaraja. kubis. Sedangkan yang lain diantaranya adalah : Dari Banyumas : • Sroto Sokaraja Soto Sokaraja atau oleh masyarakat Banyumas disebut Sroto Sokaraja adalah sejenis makanan dari Indonesia. Bau dan rasanya enak.Terbuat dari pohon nira ( legen ) dengan proses pemanasan. dan diberi ketupat. Yang terkenal dari Desa Bonang Kecamatan Lasem. Soto ini memiliki ciri khas yang berbeda dengan soto-soto lainnya yang ada di Indonesia. 13. • • • • Gethuk goreng Tempe mendoan Lanting Sate Ambal Dari Jepara : • Bangket Soto Kudus Pesisir Utara • kebudayaan 136 Jawa . Ciri utama dari soto ini adalah penggunaan sambal kacang dan ketupat. Menggunakan sambal kacang sebagai campurannya. Kupat Tahu Merupakan makanan khas Magelang yang berisi tahu. sehingga hasilnya seperti gula pasir atau gula halus yang berwarna coklat. Soto Sokaraja sudah banyak dijual di luar Banyumas tetapi kalau sempat mampir ke Sokaraja. tauge. Terasi Petis Bonang Terbuat dari udang atau ikan segar dengan proses pemanasan. 14.

• • • • • • • • • • • • • Nasi pecel Opor ayam Tongseng Cabuk rambak Tumpeng Mangut lele Srabi Solo Geplak Sate Kocor Tengkleng Bakpia Trancam Sate Winong nasi gandul Jawa 137 Pati-Juwana Jawa tengah • kebudayaan .• • • • • • Soto Tegal Sate Tegal Lumpia Semarang Taoto Nasi megono Nasi Grombyang Gudeg Dari Yogya-solo : • Gudeg Jogja punya rasa manis yang khas.

Dalam pentasan jenis ini. Sebab nanti pertunjukkan bukan ketoprak lagi melainkan menjadi pertunjukan wayang orang. Ludruk adalah kesenian drama tradisional dari Jawa Timur. Beberapa tahun terakhir ini. Banyak pula diambil cerita dari luar negeri. Ketoprak Humor yang ditayangkan di stasiun televisi RCTI. Dalam sebuah pentasan ketoprak. Ludruk merupakan suatu drama tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang di gelarkan disebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan kebudayaan 138 Jawa .10 Ketoprak dan Ludruk Ketoprak (bahasa Jawa kethoprak) adalah sejenis seni pentas yang berasal dari Jawa.H. muncul sebuah genre baru. Tema cerita dalam sebuah pertunjukan ketoprak bermacam-macam. banyak dimasukkan unsur humor. sandiwara yang diselingi dengan lagulagu Jawa. yang diiringi dengan gamelan disajikan. Biasanya diambil dari cerita legenda atau sejarah Jawa. Tetapi tema cerita tidak pernah diambil dari repertoar cerita epos (wiracarita): Ramayana dan Mahabharata.

Malang. Dialog/monolog dalam ludruk bersifat menghibur dan membuat penontonnya tertawa. seorang jagoan Madura. Cerita ketoprak sering diambil dari kisah zaman dulu (sejarah maupun dongeng). membuat dia mudah diserap oleh kalangan non intelek (tukang becak. Ludruk berbeda dengan ketoprak dari Jawa Tengah.11 Reog Salah satu tarian Pembuka Topeng barong reog yang dipakai sebagai atraksi penutup Reog adalah salah satu seni yang ada di Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Sementara ludruk menceritakan cerita hidup seharihari (biasanya) kalangan wong cilik. Upacaranya pun menggunakan kebudayaan 139 syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk Jawa . H. Pada dasarnya masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai pewarisan budaya yang sangat kaya.rakyat sehari-hari. cerita perjuangan dan lain sebagainya yang diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik. menggunakan bahasa khas Surabaya. Bahasa lugas yang digunakan pada ludruk. peronda. dan bersifat menyampaikan pesan tertentu. etc). meski terkadang ada bintang tamu dari daerah lain seperti Jombang. sopir angkotan. Di daerah ini kondisi sosio kultural masih sangat kental dengan hal-hal yang dianggap magis dan dapat mereka buktikan dengan kemampuan mereka (masyarakat Ponorogo) dan Religi/Kebatinan yang sangat kuat. Madura. Dalam pengalamannya Seni Reog merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk adanya aliran kepercayaan yang ada secara turun temurun dan terjaga. Madiun dengan logat yang berbeda. Sebuah pementasan ludruk biasa dimulai dengan Tari Remo dan diselingi dengan pementasan seorang tokoh yang memerakan "Pak Sakera".

penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni reog ditampilkan. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Adegan dalam seni reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi. Yang lebih dipentingkan dalam pementasan seni reog adalah memberikan kepuasan kepada penontonnya. khitanan dan hari-hari besar Nasional. dengan muka dipoles warna merah. Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu. yang harus dibedakan dengan seni tari lain yaitu tari kuda lumping. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Disini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan) dan kadang-kadang dengan penonton. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam. Untuk hajatan khitanan atau sunatan. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan. Pementasan Seni Reog Reog modern biasanya dipentaskan dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan. biasanya cerita pendekar. kebudayaan 140 Jawa . Seni Reog Ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian 2 sampai 3 tarian pembukaan. mereka menganut garis keturunan Parental dan hukum adat yang masih berlaku. Setelah tarian pembukaan selesai. Pada reog tradisionil. Jika berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan.memenuhinya tanpa adanya garis keturunan yang jelas.

12 KIDUNG/PUISI Kidung adalah puisi Jawa asli walaupun masih dijumpai vokal panjang tetapi tidaklah sebanyak yang ditemui di dalam kekawin. Berikut ini contohnya : Sangtabyana ta pakulun rancana cipta kumawi Panji prakasa tembange Ki Subrataka kang winuwus luputa ring lara roga nirmala waluya jati luputta ring pamurung luputta ring baya pati. Bahasa yang digunakan di dalam kidung ialah campuran Jawa Kuno dengan Jawa Baru tetapi susunannya masih menurut cara kuno dengan memakai *Tembang Gedhe yang sudah menyimpang iramanya seperti Kidung Subrataka yang muncul pada zaman Jawa Tengahan. Berat topeng ini bisa mencapai 50-60 kg. Sementara itu nama tembang dalam kidung pula amat bergantung kepada jumlah baris dalam bait dan vokal akhir pada setiap baris. Kemampuan untuk membawakan topeng ini selain diperoleh dengan latihan yang berat. Ia juga turut dikenali sebagai tembang atau nyanyian. dimana pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak. Topeng yang berat ini dibawa oleh penarinya dengan gigi. Arti : Bahagialah tuanku kisah cubaan akan dinyanyikan dengan lagu panji prakasa Ki Subrata yang dikisahkan moga-moga terluput dari malapetaka nirmala dan sihat wal¡¯afiat luput dari halangan luput dari bahaya maut. juga dipercaya diproleh dengan latihan spiritual seperti puasa dan tapa.Adegan terakhir adalah singa barong. H. kebudayaan 141 Jawa .

yang umumnya sering dipakai dimana-mana. seperti wedathama. Serat Wirid Hidayat Jati. Aturan – aturan itu ada pada : • • • Guru gatra : bilangan baris/gatra tiap bait. Macapat bisa dibagi menjadi tiga jenis yaitu : Sekar Macapat atau Sekar Alit Sekar Madya atau Sekar Tengahan Sekar Ageng 1. Guru lagu : suara vokal di akhir tiap baris. dan yang lain-lain disusun dengna lagu ini. Macapat juga menular ke kebudayaan Bali. Kitab-kitab pada jaman Mataram Baru. lagu ini ada enam larik. Macapat banyak dipakai di Sastra Jawa Tengah dan Sastra Jawa Baru.H. dan dimulai saat walisanga memegang kekuasaan. Tiap bait. macapat artinya ”maca papat-papat”. Membacanya memang dirakit tiap empat suku kata. madura dan Sunda. Tetapi itu juga belum pasti. Sekar Macapat atau Sekar Alit Macapat ini juga disebut sebagai lagu macapat asli. Kalathida. Jika dibandingkan dengna kakawin. Lagu ini mulai ada di jaman Majapahit. • Mijil Mijil itu artinya lahir atau keluar. Jika dilihat dari ”kerata basa”. aturan-aturan pada macapat itu lebih mudah. Wulangreh. karena tidak ada peninggalan tulisan yang dapat membuktikannya. dengan guru wilangan dan guru lagu : • • • • • 10-i 6-o 10-é 10-i 6-i Jawa 142 kebudayaan . Guru wilangan : bilangan suku kata tiap gatra.13 LAGU ADAT JAWA MACAPAT Adalah lagu tradisional dari tanah Jawa. Di deretan lagu macapat. mijil umumnya ditaruh didepan.

Amenangi jaman édan 2. Amung anjali soca ing tembé 4. Kaliren wekasanipun 7. sinom mempunyai sifat yang masih muda. Mijil ing donya siniwi ratri 2.• 6-u Contoh 1. Éwuh aya ing pambudi 3. Seperti anak kecil yang baru tahu dunia. Lelaku alon siniji-siji 5. Boya kaduman melik 6. Metrum Tiap bait. Sesotya satuhu • Sinom Arti umumnya sinom berarti ”godhong asem sing isih enom” ( daun asam yang masih muda ). Ndilalah karsa Allah kebudayaan 143 Jawa . Milu édan nora tahan 4. dengan guru bilangan dan guru lagu : • • • • • • • • • 8-a 8-i 8-a 8-i 7-i 8-u 7-a 8-i 12 – a Contoh 1. Yèn tan milu anglakoni 5. Kabeh durung katon 3. Di Macapat. lagu ini ada sembilan baris. Nunggu mring wartaning 6.

karya Ki Ranggawarsita. aran patih Suwanda. Luwih begja kang éling lawan waspada Dari Serat Kalatidha. • Dhandhanggula Dhandhanggula adalah salah satu lagu macapat yang isinya “pengharapan yang baik”. • • • • • • • • • • 10-i 10-a 8 -é 7 -u 9 -i 7 -a 6 -u 8 -a 12-i 7 –a Contoh Yogyanira kang para prajurit. Karena itu. kebudayaan 144 Jawa . lamun bisa sira anuladha. andelira sang prabu. Metrum Tiap bait ada 10 baris. Dhandhang itu harapan. lagu yang menggunankan metrum Dhandhanggula juga mempunyai isi yang manis seperti gula. Tetapi ada juga yang menghubungkan asala kata dhandhanggula dengan salah satu raja di jaman Kediri yaitu dhandhanggendhis. Begja-begjané kang lali 9. Dari sini kita bisa mengetahui jika lagu ini dibuat pada jaman Kediri. Sasrabahu ing Maespati. banyak nasehat pada jaman dahulu yang menggunakan jenis ini. lelabuhanipun.8. kang ginelung tri prakara. duk ing uni caritane.

Ada juga yang memasangkan kinanthi dengan maskumambang. karya Kyai Yasadipura ) Contoh 2 Pitik tulak pitik tukung Tetulake Jabang bayi Ngedohaken cacing racak Sarap sawane sumingkir Si tulak manggung ing ngarso Si Tukung ngadhangi margi kebudayaan 145 Jawa . cinta dan kebijaksanaan.guna kaya purun ingkang den antepi. Maskumambang itu untuk laki-laki yang dewasa. nuhoni trah utama • Kinanthi Kinanthi adalah salah satu lagu macapat yang umunya dipakai rasa suka. Kinanthi ini juga bias mempunyai arti “gegandhengan tangan” dan bias juga berarti nama suatu bunga. Metrum Kinanthi itu terdiri dari 6 baris pada tiap bait. sedangkan kinanthi itu untuk perempuan. • • • • • • 8-u 8-i 8-a 8-i 8-a 8-i Anoman mlumpat sampun praptêng witing nagasari mulat mangandhap katingal wanodyâju kuru aking gelung rusak awor kisma ingkang iga-iga kêksi Contoh 1 (diambil dari ” Serat Rama Kawi”.

kata asmaradana diambil dari kata asmara yang artinya cinta. Oleh karena itu. dan dahana yang artinya api.• Asmarandana Lagu Asmarandana umumnya dipakai bagi orang yang sedang jatuh cinta. angèl kalangkung Tan kena tinumbas arta Aja turu soré kaki Ana Déwa nganglang jagad Nyangking bokor kencanané Isine donga tetulak Sandhang kelawan pangan Yaiku bagéyanipun wong welek sabar narima kebudayaan 146 Jawa . Jika dilihat aslinya. • • • • • • • 8-a 8-i 8-é 8-a 7-a 8-u 8-a Contoh Gegaraning wong akrami Dudu bandha dudu rupa Amung ati pawitané Luput pisan kena pisan Lamun gampang luwih gampang Lamun angèl. Metrum Asmarandana terdiri dari 7 baris dalam tiap bait. asmarandana berisi tentang kasih sayang.

itu adalah cinta yang utama. • • • • • • • 12-a 7 -i 6 -a 7 -a 8 -i 5 -a 7 -i Contoh Kae manungsa golek upa angkara Sesingidan mawuni ngGawa bandha donya mBuwang rasa agama Nyingkiri sesanti ati Tan wedi dosa Tan eling bakal mati • Pangkur Pangkur adalah salah satu lagu macapat yang mempunyai sifat “munggah ndhuwur”. pangkur lombok dan lain-lain. Metrum Tiap bait ada 7 baris. Dari lagu ini. lalu banyak beraneka macam lagu yang menggunakan nama pangkur. • • • 8-a 11. Metrum Lagu pangkur terdiri dari 7 baris tiap bait.i 8-u Jawa 147 kebudayaan . Durma termasuk lagu yang wingit. Adakalnya Durma memuat keadaan yang menyeramkan dan membuat takut.• Durma Durma adalah salah satu lagu macapat yang mempunyai sifat galak. Jika cinta. itu adalah nasehat yang tinggi. yaitu antara lain : pangkur jenggleng. Jika suatu nasihat. pangkur palaran.

Sifat dari lagu ini. Metrum Tiap bait. Ada juga yang menganggap jika Maskumambang itu lagunya laki-laki. pada masa ketika dari anak menjadi manusia yang kelihatan ditengah lingkup social. umumnya berisi orang yang sedang mengeluh sakit dan sengsara. Kata maskumambang itu merupakan sambungan antara kata ‘emas’ den ‘kumambnag’.• • • • 7-a 12. sedangkan yang perempuan itu adalah kinanthi.u 8-a 8-i Sekar Pangkur kang winarna lelabuhan kang kanggo wong aurip ala lan becik puniku prayoga kawruhana adat waton puniku dipun kadulu miwa ingkang tatakrama den keesthi siyang ratri Contoh • Maskumambang Maskumambang adalah salah satu lagu macapat yang menjadi lambing saat orang laki-laki beranjak dewasa. lagu Maskumambnag ada 4 baris. • • • • 12-i 6 -a 8 -i 8 -a Gereng-gereng Gathotkaca sru anangis Sambaté mlas arsa Luhnya marawayan mili Gung tinamêng astanira Contoh • Pocung Jawa 148 kebudayaan .

kebudayaan 149 Jawa . Lagu ini sering digunakan untuk lagu-lagu yang lucu seperti parikan atau tanya Jawab.manusia diingatkan kalau semua tingkah laku manusia itu ada akibatnya. Pucung dipakai sebagai lagu yang bias mengingatkan kepada manusia yaitu jika hidup di dunia pasti ada akhirnya. Metrum Lagu pucung hanya ada 4 baris pada tiap bait. • • • • 12-u 6 -a 8 -i 12-a Contoh Ngelmu iku kelakone kanthi laku Lekase lawan kas Tegese kas nyantosani setya budya pangekesing dur angkara • Gambuh Contoh Sekar gambuh ping catur Kang cinatur Polah kang kalantur Tanpo tutur katulo-tulo katali Kadaluwarso katutur Katutuh pan dadi awon Lagu gambuh itu memang penuh dengan nasehat.Pucung (adakalanya ditulis pocung) adalah lagu macapat yang mengingatkan tentang kematian. Seperti lambnag mori untuk membungkus orang yang meninggal. Akhiran cung juga memberi rasa segar yang mengingatkan kepada sesuatu yang lucu seperti menggunakan kata “dikuncung”. Nasehat yang menggiring manusia agar ingat dengan tingkah lakunya. Tetapi Pucung juga dapat diartikan sebagai nama biji buah-buahan. Kata pucung dekat dengan kata pocong.

8u. Guru bilangan dan guru lagu Tiap bait. Sifatnya “prenesan” dan biasanya dipakai sebagai lagu wangsalan atau yang agak erotis. 8i. dengan guru bilangan dan guru lagu : 8a. 8u. Contoh Contoh ini diambil dari “Serat Pranacitra” ni ajeng mring gandhok wétan wus panggih lan Rara Mendut alon wijilé kang wuwus hèh Mendut pamintanira adhedhasar adol bungkus wus katur sarta kalilan déning jeng kyai Tumenggung. 8u.• Megatruh Megatruh mempunyai sifat prihatin rasa sakit hati karena rindu. • Wirangrong kebudayaan 150 Jawa . 8a. lagu ini ada lima baris. Sekar Madya utawa Sekar Tengahan Macapat jenis ini seperti lagu kidung yang sering dipakai pada jaman Majapait. Contoh Contoh ini diambil dari Babad Tanah Jawi karya Ki Yasadipura. sigra milir kang gèthèk sinangga bajul kawan dasa kang njagèni ing ngarsa miwah ing pungkur tanapi ing kanan kéring kang gèthèk lampahnya alon 2. Guru bilangan dan guru lagu Tiap bait. 8i. 8a. • Jurudemung Jurudemung itu termasuk sekar madya. 8u. 8o. dengan guru bilangan dan guru lagu : 12u. 8u. lagu ini ada 7 baris.

Wirangrong itu termasuk dalam sekar madya. Lagu ini biasanya dipakai untuk menyanyikan hal-hal yang gagah. 3é. Contoh Contoh ini diambil dari “Serat Jaka Lodhang” karya Ki Ranggawarsita. Guru bilangan dan guru lagu Tiap bait. lagu ini terdiri dari 6 baris. sekar macapat ageng seperti lagu kakawin di jaman dahulu. Guru bilangan dan guru lagu Tiap bait. 3é. dengan guru bilangan dan guru lagu: 12i. 12a. Jika dilihat dari kesusahannya. Girisa (macapat) Girisa itu memiliki sifat nasihat. 8a. Contoh dèn samya marsudêng budi wiwéka dipunwaspaos aja-dumèh-dumèh bisa muwus yèn tan pantes ugi sanadyan mung sakecap yèn tan pantes prenahira • Balabak Balabak itu memiliki sifat yang spontan. 7a. Guru bilangan dan guru lagu kebudayaan 151 Jawa . 3é. 10u. Sifatnya itu penuh wibawa. lagu ini ada 6 baris. byar rahina Kèn Rara wus maring sendhang mamèt wé turut marga nyambi reramban janganan antuké praptêng wisma wusing nyapu atetebah jogané 3. Sekar Ageng Sekar Macapat Ageng ( besar ) hanya ada satu yaitu Girisa. 12a. 6i. 8o. dengan guru bilangan dan guru lagu : 8i.

Putri niku sisane si yuyu kangkang…  YEN ING TAWANG ANA LINTANG Yen ing tawang ono lintang cah ayu…. déné utamaning nata bèr budi bawa leksana liré bèr budi mangkana lila legawa ing driya agung dènya paring dana anggeganjar saben dina liré kang bawa leksana anetepi pangandika.. LAGU-LAGU LAIN SELAIN MACAPAT Kumpulan lagu (Jawa)  ANDE ANDE LUMUT Putraku si ande ande lumut…. Tresnaku sundul ing ati Dek sakmono janjimu disekseni kebudayaan 152 Jawa .nimas… Sun takokne pawartamu Janji janji aku iling.. 8a.. dengan guru bilangan dan guru lagu : 8a.nimas.aku ngenteni tekamu Marang mego ing angkoso. Tumuruna ana putri kang unggah unggahi…. 8a. 8a. Putriku kang ayu rupane……… Kleting kuning kang dadi asamane…… Bu…si Bu… kulo mboten purun…. Contoh Contoh ini diambil dari “Serat Wiratadya” karya Ki Ranggawarsita. 8a. lagu ini ada 8 baris. 8a. 8a.Tiap bait.cah ayu… Sumedot rasaning ati Linang lintang ngiwi iwi. 8a.

pong ... lera. Mambu kutundung gudel…pak hempong.Mego kartiko kairing Raso tresno asih Rungokno tangising ati Ginarung swaraning ratri.nimas.suwenge ting gelenter……..dele gosong………. lere… Sopo ngguyu ndelekake………… Sir …sir…..  LIR-ILIR Lir ilir lir ilir tandure wong sumilir Tak ijo royo royo Tak sengguh panganten anyar Cah angon cah angon penekna blimbing kuwi Lunyu lunyu penekna kanggo mbasuh dodotira Dodotira dodotira kumintir bedah ing pinggir Dondomana jrumatana kanggo seba mengko sore Mumpung padang rembulane Mumpung jembar kalangane Sun suraka surak hiyo  SUWE ORA JAMU Suwe ora jamu Jamu godhong telo Suwe ora ketemu Ketemu pisan gawe gelo kebudayaan 153 Jawa . Ngenteni mbulan ndadari  CUBLAK CUBLAK SUWENG Cublak cublak suweng…..

I. SUB SUKU JAWA I. kebudayaan 154 Jawa . Jawa Timur Bahasa bahasa Osing Agama Sebagian besar Islam dan sebuah minoritas beragama Hindu. SUKU OSING Suku Osing Jumlah populasi Kawasan dengan jumlah penduduk yang signifikan Kabupaten Banyuwangi. 1. yang didirikan oleh masyarakat osing. suku Tengger. yaitu lereng Gunung Bromo (Suku Tengger). Setelah kejatuhannya. Kelompok etnis terdekat suku Jawa. suku Bali Suku Osing adalah penduduk asli Banyuwangi dan merupakan penduduk mayoritas di beberapa kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Kedekatan sejarah ini terlihat dari corak kehidupan Suku Osing yang masih menyiratkan budaya Majapahit. adalah kerajaan terakhir yang bercorak Hindu-Budha seperti halnya kerajaan Majapahit. Bahkan Mereka sangat percaya bahwa Taman Nasional Alas Purwo merupakan tempat pemberhentian terakhir rakyat Majapahit yang menghindar dari serbuan kerajaan Mataram. Blambangan (Suku Osing) dan Bali. Kerajaan Blambangan. orangorang majapahit mengungsi ke beberapa tempat. Perang saudara dan Pertumbuhan kerajaan-kerajaan islam terutama Kesultanan Malaka mempercepat jatuhnya Majapahit. Sejarah Sejarah Suku Osing diawali pada akhir masa kekuasaan Majapahit sekitar tahun 1478 M.

Masyarakat Osing mempunyai tradisi puputan. dengan sebagian kecil lainya adalah pedagang dan pegawai di bidang formal seperti karyawan. guru dan pegawai pemda. hal inilah yang menyebabkan kebudayaan masyarakat Osing mempunyai perbedaan yang cukup signifikan dibandingkan dengan Suku Jawa. termasuk juga busana tari dan instrumen musiknya. Demografi Suku Osing menempati beberapa kecamatan di kabupaten Banyuwangi bagian tengah dan bagian utara. Kecamatan Rogojampi. terutama pada hiasan di bagian atap bangunan. hal ini sangat terluhat dari kesenian tradisional Gandrung yang mempunyai kemiripan dengan tari-tari tradisional bali lainnya. Kepercayaan Pada awal terbentuknya masyarakat Osing kepercayaan utama suku Osing adalah Hindu-Budha seperti halnya Majapahit. Tradisi ini pernah menyulut peperangan besar yang disebut Puputan Bayu pada tahun 1771 M. Stratifikasi Sosial kebudayaan 155 Jawa . terutama di Kecamatan Banyuwangi. Kecamatan Kalipuro. Suku Osing mempunyai kedekatan yang cukup besar dengan masyarakat Bali. dan Kecamatan Songgon. Kecamatan Giri. Bahasa Osing sangat berbeda dengan Bahasa Jawa sehingga bahasa Osing bukan merupakan dialek dari bahasa Jawa seperti anggapan beberapa kalangan. Puputan adalah perang terakhir hingga darah penghabisan sebaga usaha terakhir mempertahankan diri terhadap serangan musuh yang lebih besar dan kuat.Dalam sejarahnya Kerajaan Mataram Islam tidak pernah menancapkan kekuasaanya atas Kerajaan Blambangan. Berkembangnya Islam dan masuknya pengaruh luar lain di dalam masyarakat Osing juga dipengaruhi oleh usaha VOC dalam menguasai daerah Blambangan. Kemiripan lain tercermin dari arsitektur bangunan antar Suku Osing dan Suku Bali yang mempunyai banyak persamaan. Kecamatan Glagah dan Kecamatan Singojuruh. Profesi Profesi utama Suku osing adalah petani. Bahasa Suku Osing mempunyai Bahasa Osing yang merupakan turunan langsung dari Bahasa Jawa Kuno seperti halnya Bahasa Bali. Namun berkembangnya kerajaan Islam di pantura menyebabkan agama Islam dengan cepat menyebar di kalangan suku Osing. seperti halnya masyarakat Bali.

kaum coliba. mereka merupakan penduduk asli. tetapi telah ditemukan perbedaan stratifikasi di Suku tersebut. Kelompok etnis terdekat suku Jawa Suku Tengger adalah sebuah suku yang tinggal di sekitar Gunung Bromo. 2. Seblang. Kabupaten kebudayaan 156 Jawa . Desa Adat Kemiri Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyadari potensi budaya suku osing yang cukup besar dengan menetapkan desa kemiri di kecamatan Glagah sebagai desa adat yang harus tetap mempertahankan nilai-nilai budaya Suku Osing. Jawa Timur Bahasa bahasa Jawa Agama Sebagian besar Hindu dan sebuah minoritas beragama Islam dan Kristen. Patrol. Suku Osing tidak mengenal kasta seperti halnya Suku Bali. SUKU TENGGER Suku Tengger Jumlah populasi 500. kaum sudrakula. Kesenian utamanya antara lain Gandrung. I. kaum Drakula.000. yakni menempati sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan. Desa kemiren merupakan tujuan wisata yang cukup diminati di kalangan masyarakat Banyuwangi dan sekitarnya.Suku Osing berbeda dengan Suku Bali dalam hal stratifikasi sosial. Kawasan dengan jumlah penduduk yang signifikan gunung Bromo. Angklung. kaum hydrakula. hal ini banyak dipengaruhi oleh agama Islam yang dianut oleh sebagian besar penduduknya. Tari Barong dan Jedor. Seni Kesenian Suku Osing sangat unik dan banyak mengandung unsur mistik seperti kerabatnya suku bali dan suku tengger. Jawa Timur. Festival budaya dan acara kesenian tahunan lainnya sering diadakan di desa ini.

malas dan pesimis. sedang kumpul menunjukkan adanya kehidupan berkelompok atau bermasyarakat. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa. ataupun manusia malas yang maunya hanya kumpul terus. Mereka yakin merupakan keturunan langsung dari Majapahit. hal itu menandakan manusia yang berpandangan optimis yang mampu melihat jauh kedepan. J.  Alon-Alon Waton Kelakon Demikian pula terhadap ungkapan alon-alon waton kelakon. konon adalah keturunan pelarian Kerajaan Majapahit. Justru sebaliknya. ungkapan mangan ora mangan asal kumpul pada dasarnya ingin mengatakan bahwa orang Jawa merasa menjadi bagian integral dari masyarakatnya dan bersedia mendahulukan kepentingan kelompok/umum dari pada kepentingan individu. Makan adalah manifestasi dari nafsu biologis dan kepentingan perseorangan. Adalah kurang tepat jika diartikan sebagai sikap hidup ragu-ragu. Orang Jawa dengan kebudayaan 157 Jawa . Dengan demikian. Dalam ungkapan ini terdapat dua kata kunci. Orang-orang suku Tengger dikenal taat dengan aturan dan agama Hindu. atau yang tidak mempunyai sepeser uangpun untuk membeli sejumput padi. disamping merupakan anjuran untuk melakukan pekerjaan secara cermat agar selesai dengan baik. Nama Tengger berasal dari Legenda Roro Anteng dan Joko Seger yang diyakini sebagai asal usul nama Tengger. Bagi suku Tengger. Gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. dan Kabupaten Malang. yaitu "Teng" akhiran nama Roro An-"teng" dan "ger" akhiran nama dari Joko Se-"ger". Suku Tengger. tersebar di Pegunungan Tengger dan sekitarnya. yakni mangan (makan) dan kumpul.Probolinggo. UNGKAPAN-UNGKAPAN JAWA  Mangan Ora Mangan Asal Kumpul Ungkapan mangan ora mangan asal kumpul bukan berarti bahwa orang Jawa adalah manusia-manusia yang tahan lapar.

mengapa harus tergesa-gesa kalau sesuatu yang dikejar itu pasti datang? Namun dalam hal ini harus diakui bahwa hanya orang-orang tertentu yang sudah mencapai taraf weruh sadurunge winarahlah yang bisa menghayati ungkapan alon-alon waton kelakon. istri wajib mentaati perintah atau aturan suami. betul-betul harus dapat dirasakan bahwa minum itu merupakan rahmat dari Yang Kuasa yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. masih ada kewajiban lain yang lebih penting. Jadi. Jadi. pasa atau nglakoni (melaksanakan suatu syarat untuk suatu tujuan). Dari pengertian tersebut sudah dapat dibayangkan bahwa ungkapan suwarga nunut neraka katut dan kanca wingking adalah dimaksudkan untuk menempatkan manusia pada peran. kesusilaan dan Undang-Undang. tuntutan emansipasi. Islam — yang ajaran-ajarannya banyak diserap oleh masyarakat Jawa kemudian digabungkan dengan pemikiran dalam ajaran Hindu Budha (sinkretisme) — mengajarkan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi wanita. dan suami adalah pemimpin bagi istrinya. selama proses minum berlangsung. ibarat sepeminuman segelas air.  Urip Mung Mampir Ngombe Adapun ungkapan urip mung mampir ngombe menunjukkan bahwa kehidupan manusia didunia begitu cepatnya. Keduanya seolah-olah mendiskriminasikan wanita atau istri terhadap laki-laki atau suami. Tanpa pemahaman terhadap makna yang tersembunyi didalamnya. Sepanjang tidak bertentangan dengan agama. yaitu agar tidak “kehausan” di tengah jalan. sehingga dapat menjadi “bekal” untuk menunaikan kewajiban lainnya. arti suwarga nunut neraka katut bagi kebudayaan 158 Jawa . Interpretasi negatif akan mengatakan bahwa wanita hanya berfungsi sebagai pemuas kebutuhan biologis (seksual) atau sebagai pembantu rumah tangga. derajat dan kedudukan akan mengalir bagaikan air bah. Disini terkandung makna bahwa setelah selesai minum.kekuatan spiritual atau kebatinannya yang didapatkan dari kegiatan-kegiatan asketis seperti semadi/tapa. selalu yakin akan kekuatan diri sendiri dan yakin pula bahwa apa yang dicita-citakan pasti akan terwujud. Oleh karenanya.  Kanca Wingking Dan Suwarga Nunut Neraka Katut Ungkapan lain yang bisa memberi kesan negatif adalah kanca wingking dan suwarga nunut neraka katut. fungsi dan kedudukannya. persamaan hak.

istri adalah mematuhi suami, disamping kewajiban untuk memperingatkan bila suami kurang benar. Istri yang tidak mau menegur kesalahan suami, berarti ikut menanggung dosa yang diperbuat suaminya. Begitu pula ungkapan kanca wingking. Sebagai “teman belakang”, para istri memegang peranan yang amat penting dalam sebuah keluarga. Jika mereka tidak kuat memegang peran sebagai kanca wingking, maka keluarga itupun tidak dapat diharapkan kelangsungan eksistensinya. Jadi tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa surga laki-laki terletak ditelapak kaki wanita. Semboyan bahwa suatu revolusi tidak akan berhasil tanpa andil kaum wanita-pun, tidaklah mengada-ada. Hanya saja persoalannya, mengapa wanita dikatakan sebagai kanca wingking, bukan kanca ngajeng (teman depan)? Hal ini juga ada alasannya sendiri. Barangkali tidak seorangpun yang menyangkal bahwa masyarakat Jawa memiliki nilai-nilai dan norma-norma luhur yang dijunjung tinggi. Perbuatan yang melanggar atau tidak sesuai dengan nilai atau moral itu, dikatakan sebagai saru, ora lumrah, atau ora ilok. Kedudukan wanita Jawa terhadap lawan jenisnya sebagaimana kedudukan wanita terhadap pria pada umumnya — secara kodrati (bedakan dengan kedudukan sosial politik) — adalah lebih rendah. Dengan demikian, adalah tidak patut apabila wanita yang memimpin suatu keluarga. Adalah tidak lumrah apabila wanita mencarikan nafkah bagi suaminya dan menempatkannya sebagai rewang (pembantu). Dan adalah tidak ilok (tidak boleh dilakukan) apabila seorang istri berani membantah suaminya. K. PEMBANGUNAN DAN MODERNISASI Sifat dasar yang menjadikan satu kelemahan yang juga merupakan penghambat pembangunan di Jawa antara lain adalah sifat yang pasif terhadap hidup, kesukaan-kesukaan terhadap kebatinan, penilain yang tinggi yang di nyatakan dengan konsep nerimo, ketabahan yang ulet dalam hal menderita, tetapi yang lemah terhadap hal karya. Selain itu, pengaruh dari tekanan bangsa-bangsa asing yang menjajah di Jawa serta jumlah penduduk yang semakin membeludak menjadi salah satu penyebab lain terhambatnya pembangunan di Jawa.

kebudayaan 159

Jawa

Struktur masyarakat desa di Jawa yang asli, sudah terlanjur dirusak oleh struktur administratif yang ditumpangkan diatasnya oleh pemerintahan kolonial. Akibatnya masyarakat di Jawa tidak mengenal kesatuan-kesatuan social dan organisasi adat yang sudah mantap dan kreatif. Dari uraian diatas masih banyak hal-hal yang dapat menghambat pembangunan diJawa, antara lain;
a. Mental orang Jawa yang terlalu nerimo dan bersiakap pasif terhadap hidup b. Tekanan jumlah penduduk yang mengakibatkan penduduk desa diJawa

menjadi terlalu miskin. c. Tidak adanya organisasi-organisasiasli yang telah mantap dan jika dimodernisasi menjadi organisasi yang mantap, aktif serata kreatif d. Tidak adanya kepeimpinan desa yang aktif kreatif untuk dapat memimpin aktivitas produksi yang bisa member hasil 3-4 kali lebih besar dari pada sekarang tiap-tiap tahun.

kebudayaan 160

Jawa

BAB III PENUTUP Kebudayaan Jawa merupakan bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia yang memiliki nilai yang sangat luhur bersama dengan kebudayaan bangsa Indonesia lainnya. Oleh kerenanya, sudah layak apabila kita mengetahui serta memahami kebudayaan Jawa agar tercapai pemahaman yang tepat mengenai kebudayaan Jawa. Hendaknya patut digaris bawahi bahwa kata “memahami” merupakan sesuatu yang amat penting untuk dapat memperoleh pandangan yang benar dan jelas mengenai kebudayaan Jawa itu sendiri. Oleh karena itu, sesungguhnya tidaklah cukup apabila kita ingin memahami kebudayaan Jawa dalam waktu yang singkat tetapi diperlukan waktu yang cukup lama dan mendalam. Meskipun demikian, hal itu tidak menyurutkan usaha kami untuk menyediakan berbagai pengetahuan seputar kebudayaan Jawa Secara khusus pula makalah ini kami buat untuk teman-teman di lingkungan Kampus STAN yang memiliki latar belakang bukan dari budaya Jawa untuk menambah pengetahuan sekaligus sebagai bekal bagi teman-teman di lingkungan kerja nanti, supaya kita dapat berkomunikasi lintas budaya. Dan akhirnya, sesungguhnya makalah ini jauh dari lengkap dan mendalam mengenai kebudayaan Jawa. Kami meminta maaf apabila di dalam makalah ini ada pernyataan yang kurang berkenan di hati teman-teman. Terima kasih.

kebudayaan 161

Jawa

wikipedia.org/wiki/Dialek_Tegal http://id.org/wiki/Suku_Jawa http://id.org/wiki/Suku_Osing http://id.com http://id.wikipedia.org/wiki/Dialek_Surabaya http://id.wikipedia.org/wiki/Kromo_Inggil http://id.org/wiki/Sastra_Jawa_Pertengahan www.org http://id.org/wiki/Kalender_Jawa http://jv.sekarjagad.wikipedia.org/wiki/Rumah_Jawa http://id. Y Argo. Mitologi Kanjeng Ratu Kidul.wikipedia.wikipedia.wikipedia.wikipedia.wikipedia.DAFTAR PUSTAKA Twikromo.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Dialek_Kedu http://id.wikipedia.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Banyumasan http://id.org/wiki/Blangkon http://id.org/wiki/Sastra_Jawa_Kuna http://id.org/wiki/Sadran http://heritageofjava.org/wiki/Dialek_Semarang http://id.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Dialek_Banyumas http://id.org/wiki/Keris_Jawa http://jv.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Tumpeng http://id.org/wiki/Gamelan_Jawa http://id. Yogyakarta: Nindia Pustaka.org/wiki/Sastra_Jawa_Baru http://id.wikipedia.wikipedia.wikipedia.wikipedia. http://id.org/wiki/Reog http://id.org/wiki/Sastra_Jawa_Modern http://id.wikipedia.wikipedia. 2006.org/wiki/Jula-juli http://map-bms.wikipedia.org/wiki/Jawa_Timur http://id.org/wiki/Ruwatan kebudayaan Jawa .org/wiki/Ebeg http://id.

org/wiki/Lengger http://jv.org/wiki/Pengantenan_adat_Jawa http://jv.org/wiki/Tingkeban http://jv.wikipedia.org/wiki/Seni_tradisional_Banyumasan http://map-bms.org/wiki/Priyayi kebudayaan Jawa .http://id.wikipedia.org/wiki/Soto_Sokaraja http://id.org/wiki/Suku_Jawa http://id.wikipedia.org/wiki/Degung http://id.wikipedia.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Brokohan http://id.org/wiki/Daftar_masakan_Indonesia http://id.org/wiki/Keris http://jv.org/wiki/Tari_Gambyong http://map-bms.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Ketoprak http://jv.wikipedia.org/wiki/Mendhem_ari-ari http://jv.wikipedia.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Rasukan_adat_Jawa http://ms.wikipedia.wikipedia.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Tayuban http://id.