P. 1
Budaya Jawa

Budaya Jawa

|Views: 1,588|Likes:
Published by Ang Budiyarto

More info:

Published by: Ang Budiyarto on Feb 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/19/2013

pdf

text

original

BUDAYA NUSANTARA KEBUDAYAAN JAWA

Disusun oleh : Ainul Fuadi 02/3B Cory Denies Kartika 08/3B Fransiscus Asisi Edo HS 14/3B Irvan Widi Santoso 15/3B Laila Sahajah 18/3B

DIPLOMA III PENILAI / PBB SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA 2007

DAFTAR ISI DAFTAR ISI.........................................................................................................i PENDAHULUAN..................................................................................................1 PEMBAHASAN ...................................................................................................2 A. IDENTIFIKASI......................................................................................2 B. MITOLOGI KEBUDAYAAN JAWA.......................................................4 C. BAHASA DAN AKSARA JAWA...........................................................7 C.1. Bahasa Jawa...................................................................7 C.2. Aksara Jawa....................................................................14 D. MATA PENCAHARIAN........................................................................22 E. SISTEM KEMASYARAKATAN............................................................26 F. SISTEM KEKERABATAN...................................................................28 G. RELIGI ...............................................................................................43 H. PRODUK BUDAYA.............................................................................63 H.1. Seni Tari..........................................................................63 H.2. Seni Musik......................................................................80 H.3. Kalender Jawa................................................................89 H.4. Rumah Adat....................................................................95 H.5. Karya Sastra...................................................................102 H.6. Wayang...........................................................................108 H.7. Pakaian Adat...................................................................115 H.8. Keris................................................................................125 H.9. Makanan Khas................................................................133 H.10. Ketoprak dan Ludruk.....................................................138 H.11. Reog.............................................................................139 H.12. Kidung/Puisi..................................................................140 H.13. Lagu Adat Jawa............................................................141 I. SUB SUKU JAWA.................................................................................154 I. 1. Suku Osing......................................................................154 I. 2. Suku Tengger..................................................................156 J. UNGKAPAN-UNGKAPAN JAWA.........................................................157 K. PEMBANGUNAN DAN MODERNISASI..............................................159 PENUTUP...........................................................................................................161 DAFTAR PUSTAKA

i

BAB I PENDAHULUAN

Masyarakat Jawa merupakan “ladang” potensial yang masih memendam segudang informasi budaya untuk dapat digali seiring dengan perkembangan waktu. Harus diakui bahwa usaha untuk mengungkap alam pikiran, pandangan, dan kehidupan orang Jawa tidak akan pernah tuntas dan bahkan diperlukan cara-cara baru dalam mengungkap “misteri” kebudayaan Jawa tersebut. Magnis-Suseno (1984:1), mengatakan bahwa kebudayaan Jawa mempunyai ciri khas yaitu terletak dalam kemampuan luar biasa untuk membiarkan diri dibanjiri oleh gelombanggelombang kebudayaan yang datang dari luar dan dalam banjir tersebut dapat mempertahankan keasliannya. Lebih lanjut dikatakan bahwa kebudayaan Jawa justru tidak menemukan diri dan berkembang kekhasannya dalam isolasi, melainkan dalam mencerna masukan-masukan budaya dari luar. Hal tersebut menjadikan kebudayaan Jawa kaya akan unsur-unsur budaya yang kemudian menyatu dan kemudian menjadi milik kebudayaan Jawa seperti sekarang ini, di mana berbagai macam persilangan budaya justru telah memberikan warna terhadap kedinamisan budaya Jawa. Walaupun terpaan ideologi modern cukup kuat, namun manusia Jawa yang hidup dalam bayang-bayang Kasultanan Yogyakarta dan Surakarta masih tetap menyimpan dan memegang teguh pandangan budayanya misalnya tentang keberadaan makhluk supranatural, mitos, adat istiadat dan lain-lain. Tentunya pandangan-pandangan tersebut mengandung suatu makna yang dalam dan mempunyai keeratan hubungan dengan konsepsi manusia Jawa tentang dunia. Peta kognitif ini merupakan dokumen dan khazanah pengetahuan penting dalam usaha memahami budaya Jawa saat ini, apabila budaya dipandang sebagai sesuatu yang secara internal heterogen dan muncul dari peristiwa-peristiwa yang paling mendasarinya.

kebudayaan 1

Jawa

Madiun. dua daerah luas bekas kerajaan Mataram sebelum terpecah yakni Yogyakarta dan Surakarta merupakan pusat kebudayaan Jawa. Banten dan tentu saja Jakarta mereka banyak ditemukan. variasi dan perbedaan tersebut tidaklah besar karena apabila diteliti. Yogyakarta. Mereka berasal dari pulau Jawa dan terutama ditemukan di provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sama halnya dengan daerah Kejawen lainnya. Ada daerah yang disebut daerah Kejawen yaitu Banyumas. Namun. karena itulah mereka cenderung untuk diam dan tidak membantah apabila terjadi perbedaan pendapat. kebudayaan 2 Jawa . mereka itu membentuk kesatuan-kesatuan hidup yang menetap di desadesa. Pada umumnya. di dalam wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta sebelah selatan terdapat kelompok-kelompok masyarakat orang Jawa yang masih mengikuti atau mendukung kebudayaan Jawa ini. Sehubungan dengan itu. hal-hal itu masih menunjukkan satu pola ataupun satu sistim kebudayaan Jawa. Sudah barang tentu terdapat berbagai variasi dan perbedaan yang bersifat lokal dalam beberapa unsur kebudayaannya di daerah yang tercakup dalam kebudayaan Jawa. IDENTIFIKASI Daerah kebudayaan Jawa sangatlah luas meliputi seluruh bagian tengah dan timur pulau Jawa. Daerah di luar yang tersebut di atas disebut daerah Pesisir dan Ujung Timur. adalah suku bangsa terbesar di Indonesia.Tetapi mereka juga terkenal sebagai suku bangsa yang tertutup dan tidak mau terus terang.BAB II PEMBAHASAN A. Kedu. Jumlahnya mungkin ada sekitar 90 juta data pada tahun 2004. Selain suku Jawa baku terdapat subsuku Osing dan Tengger. Tetapi di provinsi Jawa Barat. Surakarta. Penduduk Suku bangsa Jawa. Orang Jawa memiliki stereotipe sebagai suku bangsa yang sopan dan halus. Sifat ini konon berdasarkan watak orang Jawa yang ingin menjaga harmoni atau keserasian dan menghindari konflik. Malang dan Kediri. maka dalam rangka seluruh kebudayan Jawa ini.

dihubungkan oleh jalan-jalan desa. Penganut agama Buddha dan Hindu juga ditemukan pula di antara masyarakat Jawa. Di sini dijumpai sejumlah perumahan penduduk beserta tanah-tanah pekarangannya. yang dibangun di dekat-dekat rumah atau di halaman pekarangannya. Di dalam pergaulan hidup maupun perhubungan-perhubungan sosial seharihari mereka berbahasa Jawa. Selain rumah-rumah tersebut yang tampak berkelompok. berdasarkan usia ataupun status sosialnya. Secara adminstratif desa langsung berada di bawah kekuasaan pemerintah kecamatan dan terdiri dari dukuh-dukuh. Semua budaya luar diserap dan ditafsirkan menurut nilai-nilai Jawa sehingga kepercayaan seseorang kadangkala menjadi kabur. Ada pula agama kepercayaan suku Jawa yang disebut sebagai agama Kejawen. di daerah pedalaman. dan terhadap orang yang lebih muda usianya serta lebih rendah tingkatannya atau status sosialnya. yang satu sama lain dipisah-pisahkan dengan pagar-pagar bambu atau tumbuhtumbuhan. Bentuk Desa Desa sebagai tempat kediaman yang tetap pada masyarakat orang Jawa. kandang-kandang ternak dan perigi. Bahasa Jawa Ngoko dipakai untuk orang yang sudah dikenal akrab. juga terhadap orang yang umurnya lebih tua atau status sosialnya lebih tinggi. ada juga Balai Desa. dan yang sebagian berjajar menghadap jalan desa itu. yang luasnya sering tidak lebih dari 2 meter. Protestan dan Katholik juga banyak. Pada waktu mengucapkan bahasa daerah ini. Tetapi yang menganut agama Kristen. Mereka juga terdapat di daerah pedesaan. adalah suatu wilayah hukum yang sekaligus menjadi pusat pemerintahan tingkat daerah paling rendah. Demikian pada prinsipnya ada dua macam bahasa Jawa apabila ditinjau dari kriteria tingkatannya yaitu bahasa Jawa Ngoko dan Jawa Krama. tempat pemerintahan desa kebudayaan 3 Jawa . Kemudian sebuah dukuh dengan dukuh lainnya. Masyarakat Jawa terkenal akan sifat sinkretisme kepercayaannya. seseorang harus memperhatikan dan membeda-bedakan keadaan orang yang diajak berbicara atau yang sedang dibicarakan. Tiap-tiap wilayah bagian desa ini diketuai oleh seorang Kepala Dukuh. Ada di antara rumah-rumah itu yang dilengkapi dengan lumbung padi.Orang Jawa sebagian besar secara nominal menganut agama Islam. Bahasa Jawa Krama digunakan untuk berbicara dengan orang yang belum dikenal tetapi yang sebaya dalam umur dan derajat. Kepercayaan ini terutama berdasarkan kepercayaan animisme dengan pengaruh Hindu-Buddha yang kuat.

Magnis-Suseno (1984:1). Manusia yang hidup di dunia ini tidak hanya menjalin komunikasi dengan sesama saja melainkan dengan makhluk supranatural. Hal tersebut menjadikan kebudayaan Jawa kaya akan unsur-unsur budaya yang kemudian menyatu dan menjadi milik kebudayaan Jawa sekarang ini di mana berbagai macam persilangan budaya justru telah memberikan warna terhadap kedinamisan budaya Jawa. Harus diakui bahwa usaha untuk mengungkapkan alam pikiran. Adapun kuburan desa berada di lingkungan wilayah salah satu sebuah dukuh. Dengan demikian tidak mengherankan apabila dalam masyarakat Jawa terdapat perilaku-perilaku yang menandai hubungan antara manusia dan makhluk supranatural. Lebih lanjut dikatakan bahwa kebudayaan Jawa justru tidak menemukan diri dan berkembang kekhasannya dalam isolasi. B. atau mengadakan rapat-rapat desa. dan sosial ekonomi rakyat. dan kehidupan orang Jawa tidak akan pernah tuntas dan bahkan masih diperlukan caracara baru dalam mengungkap misteri kebudayaan Jawa tersebut. Pandangan manusia Jawa terhadap dunia mengisyaratkan bahwa baik dunia yang secara fisik kelihatan maupun dunia yang tidak kelihatan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. MITOLOGI KEBUDAYAAN JAWA MITOLOGI KANGJENG RATU KIDUL Pemahaman Tentang Mitos Masyarakat Jawa merupakan ladang potensial yang masih memendam segudang informasi budaya untuk dapat digali seiring dengan perkembangan waktu. sedangkan tanah pertanian berupa sawah-sawah atau ladang-ladang terbentang di sekeliling desa. Jong (1985:10) menekankan bahwa di alam pikiran mistik dan kebudayaan 4 Jawa . Untuk menampung kegiatan-kegiatan pendidikan keagamaan. pandangan. Kecuali itu ada pasar yang kelihatan ramai pada hari pasaran. Hubungan manusia dengan makhluk alam nyata dengan makhluk supranatural tidak dibedakan. mengatakan bahwa kebudayaan Jawa mempunyai ciri khasaitu terletak dalam kemampuan luar biasa untuk membiarkan diri dibanjiri oleh gelombanggelombang kebudayaan yang datang dari luar dan dalam banjir tersebut dapat mempertahankan keasliannya. yang diadakan tiap-tiap 35 hari sekali. melainkan dalam mencerna masukan-masukan budaya dari luar. langgar atau masjid.berkumpul. biasanya ada sekolah-sekolah.

Bascom. menjadi contoh model bagi tindakan manusia. Tujuannya adalah mencari tempat kebudayaan 5 Jawa . naik turun gunung dan menembus lebatnya hutan menuju ke arah timur. sebenarnya terdapat banyak cerita tentang Kanjeng Ratu Kidul. untuk sebagian orang Jawa ia benar-benar ada. dan dongeng (folktale). mengatakan bahwa mite adalah bahasa untuk diketahui. Penolakan-penolakan itu membuat Sang Prabu marah dan prihatin terhadap putrinya. ia mempunyai seorang putri bernama Ratna Suwidi. Tetapi karena keberadan alam supranatural yang dipahami orang Jawa sampai taraf tertentu tidak dapat diterangkan maka praktik-praktik keagamaan yang mengarah pada penghormatan penguasa dunia supranatural justru menjadi pintu masuk dalam memahami alam pikiran orang Jawa tersebut. prosa rakyat dapat dibagi dalam tiga golongan besar yaitu mite (myte). mitos berarti suatu cerita yang benar dan cerita ini menjadi milik mereka yang paling berharga. bahkan isi dasar Javanisme. Menurut Choy (1976:13). Menurut William R. Ratu Kidul dalam Mitos Di kalangan masyarakat Jawa. legenda (legend). memberikan makna dan nilai pada kehidupan ini. Pada kesempatan ini. yang menyebabkan ketaatan emosional dan intelektual yang mendalam. kami akan berfokus pada mitologi Kanjeng Ratu Kidul. Selain itu. penguasa hutan dan lain-lain. Mitos sebenarnya mempunyai arti secara tersirat yang perlu diketahui. yaitu mitologi wayang. karena memiliki sesuatu yang suci. yaitu merupakan model hubungan manusia dengan alam supranatural. bermakna. Sebenarnya masih banyak mitologi lainnya yang hidup dalam alam pikiran orang Jawa misalnya mitologi Kanjeng Ratu Kidul. penguasa gunung. Banyak sekali raja dan pangeran yang melamarnya. Kemudian Ratna Suwidi mengembara seorang diri. mistik merupakan salah satu bentuk. Akibatnya. Sedangkan Levi-Strauss (1963:209).mitos dapat tercermin suatu sikap hidup. 1987:91). Salah satu cerita dalam Babad Tanah Jawi mengisahkan bahwa waktu kerajaan Pajajaran di bawah kekuasaan Prabu Mundingsari. ia mengusir putrinya sendiri dari kerajaan. Menurut Mircea Eliade (dalam Susanto. tetapi tidak satupun yang diterima karena ia lebih mementingkan segi kerohanian. Kanjeng Ratu Kidul tidak hanya merupakan legenda. Di dalam masyarakat Jawa ada mitologi religius yang hampir diterima secara universal. Putri tersebut mempunyai kebiasaan bertapa dengan meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi.

Raden Sesuruh terpesona dan jatuh cinta kepada putri cantik yang ada di depannya tersebut kemudian ia mendekati dan merayunya. Hajar Cemara Tunggal kemudian menceritakan kisah pelariannya dan siapa sebenarnya dirinya. Berkat kesaktiannya. bahwa kelak apabila Raden Sesuruh telah dinobatkan sebagai raja Majapahit. Pada suatu hari. Kemudian dewa berkata bahwa manusia tidak dapat hidup sepanjang zaman. ia berubah menjadi putri cantik Ratna Suwidi. Pohon cemara yang berada di puncak gunung tersebut diabadikan menjadi nama samarannya yaitu Hajar Cemara Tunggal. Akhirnya. Hajar Cemara Tungal didatangi dewa dan ditanya tentang keinginannya bertapa terus menerus. Sang Hajar melanjutkan ceritanya dengan nada menghibur. Apabila nanti di suatu tempat menemukan batang pohon Kemaja berbuah hanya satu dan rasanya pahit. ia menemukan puncak Gunung Kombang yang dirasa cocok untuk bertapa. Dengan rasa malu. maka Ratna Suwidi kemudian berubah menjadi makhluk halus yang membawahi semua makhlus di seluruh tanah Jawa. Berdasarkan garis keturunan. tetapi keinginan Ratna Suwidi itu dapat terkabulkan apabila ia bersedia menjadi makhluk halus. mereka akan kebudayaan 6 Jawa . ia didatangi Raden Sesuruh. sebenarnya Hajar Cemara Tunggal adalah adik perempuan dari kakek Raden Sesuruh. ia dapat mancala putra-mancala putri. Ratna Suwidi menJawab bahwa ia ingin sekali tidak bisa meninggal dunia dan bisa hidup sepanjang zaman. Raden Sesuruh segera bersujud di kaki Sang Hajar meminta maaf. seorang putra mahkota kerajaan Pajajaran yang melarikan diri bersama pengikutnya karena terjadi perebutan kekuasan. Dikisahkan pula waktu Hajar Cemara Tunggal masih berada di puncak Gunung Kombang. maka tempat itulah yang dapat digunakan oleh Raden Sesuruh untuk memegang kekuasaan dan menurunkan raja di tanah Jawa. Sang pertapa ini kemudian terkenal dengan kesaktiannya. Tetapi di tengah-tengah cerita tiba-tiba Sang Hajar berubah wujudnya. Sang Hajar kemudian memberi petunjuk kepada Raden Sesuruh supaya berjalan terus ke arah timur. Dengan kesaktiannya.yang cocok untuk bertapa. Di puncak gunung itu ada sebatang cemara. Dari tempat itulah Raden Sesuruh dapat membalas sakit hati atas perlakuan raja Pajajaran. Seketika itu juga putri itu menghilang dari pandangan mata Raden Sesuruh dan menjelma menjadi Hajar Cemara Tunggal lagi. Dengan menyetujui saran dewa tersebut. ia mengubah diri menjadi lelaki. Hajar Cemara Tunggal tahu maksud dan tujuan Raden Sesuruh yang datang menemuinya.

Bahasa Jawa terbagi menjadi dua yaitu Ngoko dan Kromo. Leach (1981:82) menjelasan bahwa aktivitas-aktivitas ritual merupakan jembatan antara dunia yang tampak dengan dunia datan kasat mata. ia akan berubah wujud seperti semula yaitu sebagai putri yang cantik jelita dengan sebutan Kanjeng Ratu Kidul.1 Bahasa Jawa Bahasa Jawa adalah bahasa pertuturan yang digunakan penduduk suku bangsa Jawa terutama di beberapa bagian Banten. Selain itu. Jawa Tengah & Jawa Timur di Indonesia. Sedangkan Krama Haluspun berbeda antara Krama Halus/Inggil yang dipergunakan oleh kalangan Kraton dengan kalangan rakyat biasa. Pesan terakhir Sang Hajar kepada Raden Sesuruh adalah apabila Raden Sesuruh beserta keturunannya yang menjadi raja tanah Jawa menemui halangan.bertemu kembali. Krama Madya. Selama bertahta di samudera pasir atau Laut Selatan Jawa. Praktik-praktik keagamaan seperti penyelenggaraan Tari Bedaya Lambang Sari dan Tari Bedaya Semang merupakan usaha dari para penguasa Mataram untuk berhubungan dengan alam supranatural. sebaiknya memanggil Sang Hajar. C. melainkan pindah ke samudera pasir. Selanjutnya Krama itu terbagi lagi menjadi Krama. Krama Inggil ( Krama Halus ). Sang Hajar pasti akan datang bersama makhluk halus bawahannya. Selain itu juga digunakan untuk menjamin keselamatan dan ketentraman hidup serta digunakan sebagai pengantara manusia dengan alam supranatural. BAHASA DAN AKSARA JAWA C. kelak akan ada keturunan Raden Sesuruh yang menjadi raja Jawa akan dapat mengawini Kanjeng Ratu Kidul Peran Mitologi Kanjeng Ratu Kidul Dalam modelnya. Hajar Cemara Tunggal tidak lagi bertapa di Gunung Kombang. Dengan sekejap. Jawa Barat. Kelak setelah Raden Sesuruh memegang kekuasaan dan membawahi seluruh tanah Jawa. kebudayaan 7 Jawa . mitologi Kanjeng Ratu Kidul digunakan oleh penguasa Kasultanan Yogyakarta sebagai kerangka acuan dalam menjalankan pemerintahan. Pada prinsipnya. Ngoko sendiri dalam perkembangannya secara tidak langsung terbagi-bagi lagi menjadi ngoko kasar dan ngoko halus ( campuran ngoko dan kromo ). Krama Madya inipun agak berbeda antara Krama yang dipergunakan dikota / Sala dengan Krama yang dipergunakan di pinggiran / desa.

Demak. Sedangkan dialek daerah ini didasarkan pada wilayah. yakni : • • dengan Dialek daerah. Dialek Bagelen 4. pengelompokannya mengacu kepada pendapat E. Dialek Kedu 3. di dalam bukunya : "A Critical Survey of Studies on the Languages of Java and Madura". Bahasa Jawa ini memiliki aksara-nya sendiri. Dialek Indramayu-Cirebon 3. Bahasa Jawa pada dasarnya terbagi atas dua klasifikasi dialek. Perbedaan antara dialek satu dengan dialek lainnya bisa antara 070%. 1964. Dialek Banyumasan 5. Rembang. karakter dan budaya setempat. yang dikembangkan dari huruf Pallava. Dialek Surakarta 8. Dialek Pekalongan 2. Dialek Yogyakarta 9. Dialek Pantai Utara Timur (Jepara. Dialek Bumiayu (peralihan Tegal dan Banyumas) Kelompok pertama di atas sering disebut bahasa Jawa ngapak-ngapak. Uhlenbeck. Kelompok Bahasa Jawa Bagian Tengah : 1. Kudus. Dialek Madiun Kelompok kedua di atas sering disebut Bahasa Jawa Standar. meskipun tergolong rumpun Karena bahasa ini terbentuk dari gradasi-gradasi yang sangat berbeda Austronesia. Dialek Semarang 5. dan juga huruf Pegon yang diubah sesuai dari huruf Arab. Dialek Tegal 4.Bahasa Jawa dianggarkan digunakan sekitar dua per tiga penduduk pulau Jawa. The Hague: Martinus Nijhoff. kebudayaan 8 Jawa . Dialek Blora 7. Pati) 6. khususnya dialek Surakarta dan Yogyakarta. Kelompok Bahasa Jawa Bagian Barat : 1. Dialek Banten 2. Untuk klasifikasi berdasarkan dialek daerah. dan Dialek sosial Bahasa Indonesia maupun Melayu.M.

kakek. nèng endi?” 3. Dialek sosial dalam Bahasa Jawa berbentuk sebagai berikut : 1. omahé Budi kuwi. Ngoko alus: “Aku nyuwun pirsa. Dialek Banyuwangi (atau disebut Bahasa Osing) Kelompok ketiga di atas sering disebut Bahasa Jawa Timuran. b. Pak Guru. dalemé mas Budi kuwi. Bagongan Kedhaton Kedua logat terakhir digunakan di kalangan keluarga Kraton dan sulit dipahami oleh orang Jawa kebanyakan. * Bahasa Indonesia: “Maaf. dianggap memiliki kedudukan/kekuasaan/pendidikan lebih tinggi. dianggap jelas lebih tua. di mana?” 1. seperti majikan. aku arep takon. nèng*ndi?’ 2. Dialek Surabaya 3. Dialek Jombang 5. Ngoko kasar: “Eh. Ngoko meninggikan diri sendiri: “Aku kersa ndangu. ibu.Kelompok Bahasa Jawa Bagian Timur : 1. 4. 2. 8. 5. 7. omahé mas Budi kuwi. 3. Dialek Pantura Jawa Timur (Tuban. Bojonegoro) 2. Dipakai oleh penutur untuk berkomunikasi dengan lawan bicara yang: a. seperti ayah. saya mau tanya rumah kak Budi itu. nèng ndi?” kebudayaan 9 Jawa . c. 6. Dialek Tengger 6. Pak Lurah. dihormati. Dialek Malang 4. Ngoko Ngoko Andhap Madhya Madhyantara Kromo Kromo Inggil Kromo Inggil adalah suatu tingkatan kehalusan bahasa Jawa tutur.

Semarang termasuk daerah pesisir Jawa bagian utara. Madya alus: “Nuwun sèwu. wonten pundi?” 8. kula badhe nyuwun pirsa. maka tak beda dengan daerah lainnya. dalemipun mas Budi punika.4. Meskipun demikian. kula badhé takèn. Solo. dalem badhé nyuwun pirsa. teng pundi?” 5. griyané mas Budi niku. misalnya dalam berbicara. sebagai bentuk penghormatan atas orang lain. bahasa Suroboyoan dapat dikatakan sebagai bahasa paling kasar. teng pundi?” 6. karena tidak berani memandang mata lawan bicara ♦ Dialek Semarang adalah sebuah dialek bahasa Jawa yang dituturkan di Semarang. Sikap basa basi yang diagung-agungkan wong Jawa. wong Jawa menekankan tidak boleh memandang mata lawan bicara yang lebih tua atau yang dituakan atau pemimpin. Tapi dalam budaya arek suroboyo. wonten pundi?” 7. Krama andhap: “Nuwun sèwu. Walau letak daerah Semarang yang heterogan dari pesisir kebudayaan 10 Jawa . Dialek ini berkembang dan digunakan oleh sebagian masyarakat Surabaya dan sekitarnya. dalemé mas Budi niku. itu tanda bahwa orang tersebut sejatinya pengecut. Krama inggil: “Nuwun sewu. Boyolali dan Salatiga. lugas. Secara struktural bahasa. Pada umumnya menganggap dialek suroboyoan adalah yang terkasar tapi sebenarnya itu menunjukkan sikap tegas. karena dianggap tidak sopan. wonten pundi?” Beberapa jenis dialeg Jawa : ♦ Dialeg Surabaya atau lebih sering dikenal sebagai bahasa Suroboyoan adalah sebuah dialek bahasa Jawa yang dituturkan di Surabaya dan sekitarnya. Dialek ini tak banyak berbeda dengan dialek di daerah Jawa lainnya. bahasa dengan tingkatan yang lebih halus masih dipakai oleh beberapa orang Surabaya. Krama: “Nuwun sewu. dalemipun mas Budi punika. kula ajeng tanglet. tidak berlaku di kehidupan arek suroboyo. Yogyakarta. griyanipun mas Budi punika. Madya: “Nuwun sèwu. kula ajeng tanglet. dan terus terang.

kata-kata yang berakhiran huruf mati dibaca penuh. misalnya kata enak oleh dialek lain bunyinya ena. Dibandingkan dengan bahasa Jawa dialek Yogyakarta dan Surakarta. ngoko andhap dan madya di Semarang ada di zaman sekarang. di wilayah Banyumasan orang makan 'sega'. Hal ini disebabkan bahasa Banyumasan masih berhubungan erat dengan bahasa Jawa Kuna (Kawi). sebab tergantung kepada kesepakatan dan minat para penduduk Semarang mengenai frasa mana yang disingkat. kebun binatang menjadi "Bon-bin". seratus (100) menjadi "nyatus". Limang rupiah (5 rupiah) menjadi "mang-pi". Sebagian besar kosakata asli dari bahasa ini tidak memiliki kesamaan dengan bahasa Jawa standar (Surakarta/Yogyakarta) baik secara morfologi maupun fonetik. Namun tak semua frasa bisa disingkat. Jadi jika di Solo orang makan 'sego' (nasi).(Pekalongan/Weleri. dsb. kebudayaan 11 Jawa . Indonesia. ♦ Dialek Banyumasan atau sering disebut Bahasa Ngapak Ngapak adalah kelompok bahasa Jawa yang dipergunakan di wilayah barat Jawa Tengah. Logat bahasanya agak berbeda dibanding dialek bahasa Jawa lainnya. Kudus/Demak/Purwodadi) dan dari daerah bagian selatan/pegunungan membuat dialek yang dipakai memiliki kata ngoko. Beberapa kosakata dan dialeknya juga dipergunakan di Banten utara serta daerah Cirebon-Indramayu. dialek Banyumasan banyak sekali bedanya. Perbedaan yang utama yakni akhiran 'a' tetap diucapkan 'a' bukan 'o'. misalnya Lampu abang ijo (lampu lalu lintas) menjadi "Bang-Jo". dan sebagainya. Para pemakai dialek Semarang juga senang menyingkat frase. itulah sebabnya bahasa Banyumasan dikenal dengan bahasa Ngapak atau Ngapak-ngapak. sedangkan dalam dialek Banyumasan dibaca enak dengan suara huruf 'k' yang jelas. Jadi contohnya "Taman lele" tak bisa disingkat "Tam-lel" juga Gedung Batu tak bisa menjadi "Ge-bat". Selain itu.

Dialek Tegal merupakan salah satu kekayaan bahasa Jawa. Dialek ini terkenal dengan cara bicaranya yang khas. Contoh: Kata-katanya masih menggunakan dialek ngapak dalam tuturannya agak bandek:  "Nyong": aku. pengucapan. dan makna kata. pengguna dialek Tegal tidak serta-merta mau disebut ngapak karena beberapa alasan antara lain: perbedaan intonasi. tersebar di timur Kebumen: Prembun.Banten Cirebonan Utara sire sira/rika pisan pisan keprimen kepriben ♦ Banyumasan & Tegalan Jawa Standar Indonesia sira/rika kowe kamu Pisan banget sangat keprimen/kepriben/kepriwe piye/kepriye/kepripun bagaimana Dialek Kedu Dialek Kedu adalah sebuah dialek bahasa Jawa yang dituturkan di daerah Kedu. Letak Tegal yang ada di pesisir Jawa bagian utara. Purworejo. sebab merupakan pertemuan antara dialek "bandek" (Yogya-Solo) dan dialek "ngapak" (Banyumas). Magelang dan khususnya Temanggung. menjadikan dialek yang ada di Tegal beda dengan daerah lainnya. tetapi orang Magelang memakai "aku" orang Temanggung yang di kotanya juga menggunakan "aku" di Parakan juga sebagian kecil menggunakan "aku"   "njagong": duduk (bahasa Jawa standar: lungguh) "Trus Priben": Lalu bagaimana (bahasa Jawa standar: "banjur "gandhul": pepaya piye" atau "terus piye")  ♦ Dialek Tegal Tegal termasuk daerah Jawa Tengah di dekat perbatasan bagian barat. juga di daerah perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Ciri khas kebudayaan 12 Jawa . selain Banyumas. Meskipun memiliki kosa kata yang relatif sama dengan bahasa Banyumas. Pengucapan kata dan kalimat agak kental.

Sunda.t.5 karo tengah. mari kita amati beberapa contoh dan tabel berikut ini: Dialek Tegal padha saka sega apa tuwa Bahasa Jawa Standar Podho Soko Sego Opo Tuwo Salah satu persoalan yang selalu dihadapi oleh para siswa sekolah (SD sampai SMA) adalah dalam hal mata pelajaran bahasa daerah (Jawa). Hal ini kebudayaan 13 Jawa . Palembang. dan Sasak). dialek Tegal memiliki ciri khas pada pengucapan setiap frasanya. tigang prasekawan (Krama) 1. bahasa Jawa memiliki system bilangan yang agak rumit. seprasekawan (Krama) 3/4 telung prapat. Aksara Jawa bila diamati lebih lanjut memiliki sifat silabik (kesuku-kataan).Selain pada intonasinya.a wolu wolu 9 sanga nawa sanga sanga 10 sapuluh dasa sedasa sepuluh 1/2 setengah. sepalih (Krama) 1/4 saprapat.2 Aksara Jawa Hanacaraka atau dikenal dengan nama caraka adalah abjad / alat tulis yang digunakan oleh suku Jawa (juga Madura. Untuk lebih jelas. kalih tengah (Krama) C. separo. Bilangan dalam bahasa Jawa Bila dibandingkan dengan bahasa Melayu atau Indonesia. Bahasa Jawa Kuna Kawi Krama Ngoko Fraksi • • • • 2 sa rwa eka dwi setunggal kalih siji loro 1 3 telu tri tiga telu 5 pat lima catur panca sekawan gangsal papat lima 4 6 nem sad nem nem 7 pitu sapta pitu pitu 8 wwalu as. Bali. Kurikulum yang mereka terima seolah-olah merupakan 'paksaan' agar menggunakan menggunakan dialek Jawa Tengah dan Yogyakarta yang bukan merupakan bahasa ibu mereka. yakni apa yang terucap sama dengan yang tertulis.

Pa-Dha-Ja-Ya-Nya berarti menyatunya zat pemberi hidup ( Khalik ) dengan yang diberi hidup ( makhluk ). Sebagai contoh aksara Ha yang mewakili dua huruf yakni H dan A. dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata "nabi". Sebagai contoh : Bila diucapkan. ada yang dipercaya dan ada yang dipercaya untuk bekerja. Da-Ta-Sa-Wa-La berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan data " saatnya ( dipanggil ) " tidak boleh sawala " mengelak " manusia ( dengan segala atributnya ) harus bersedia melaksanakan. Raja Kasunanan Surakarta. susunan aksara tersebut dapat membentuk kalimat: Hana Caraka (Terdapat Pengawal). cocok " tunggal batin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan   kebudayaan 14 Jawa . dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata "hari". menerima dan menjalankan kehendak Tuhan. Tafsir tersebut adalah:  Ha-Na-Ca-Ra-Ka berarti ada " utusan " yakni utusan hidup. manusia. Maksudnya padha " sama " atau sesuai. jumbuh. kewajiban manusia ( sebagai ciptaan ). Beberapa buah aksara itu bisa digabungkan secara langsung untuk membentuk sebuah kata. Adapula tafsir berbeda yang diajarkan oleh Pakubuwono IX.bisa dilihat dengan struktur masing-masing huruf yang paling tidak mewakili 2 buah huruf (aksara) dalam huruf latin. Padha Jayanya (Sama kuat/hebatnya). Aksara Na yang mewakili dua huruf yakni N dan A. manusia Maksudnya dan ada yang mempercayakan. berupa nafas yang berkewajiban menyatukan Ketiga unsur jiwa itu dengan adalah jasat Tuhan. Data Sawala (Berbeda Pendapat). Maga Bathanga (Keduanya mati).

ketelitian dalam memandang hidup  Sa Sifat ingsun handulu sifatullah . titis. Jaya itu " menang. satu visi.  Ma-Ga-Ba-Tha-Nga berarti menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. berusaha untuk menanggulanginya. meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat. Makna Huruf  Ha Hana hurip wening suci .membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan kebudayaan 15 Jawa . warsitaning candara . unggul " sungguh-sungguh dan bukan menang-menangan " sekedar menang " atau menang tidak sportif. sumarah pada garis kodrat. totalitas. gaib candra. titi lan wibawa .menerima hidup apa adanya  Ta Tatas.arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal  Ra Rasaingsun handulusih . cipta mandulu. Jumlah aksara / huruf pada hanacaraka berjumlah 20 buah tampak pada gambar berikut. Maksudnya manusia harus pasrah. tutus.hasrat diarahkan untuk kesejahteraan alam  Da Dumadining dzat kang tanpa winangenan .rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani  Ka Karsaningsun memayu hayuning bawana .mendasar.keutamaan.pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi  Ca Cipta wening. cipta dadi .adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci  Na Nur candra.

memahami kodrat kehidupan  Ma Madep mantep manembah mring Ilahi .mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi  Pa Papan kang tanpa kiblat . Sebagai contoh kata "banda" yang bila dipisahkan menurut silabiknya adalah "ban" dan "da". Untuk menuliskan ban ini pertama-tama adalah dengan menuliskan aksara Ba terlebih dahulu. Hal ini bisa diJawab dengan adanya pasangan. Pada kasus di atas aksara Na diikuti pasangan Da yang berarti Na akan dibaca sebagai N.yakin/mantap dalam menyembah Ilahi  Ga Guru sejati sing muruki . Kemudian menuliskan aksara Na karena aksara Na mewakili dua buah huruf latin yakni N dan A sehingga kita tidak bisa langsung menuliskan aksara da. ngerti tanpa diuruki .menyelaraskan diri pada gerak alam  Tha Tukul saka niat .Hakekat Allah yang ada disegala arah  Dha Dhuwur wekasane endek wiwitane . Bentuk pasangan disebutkan memiliki fungsi untuk menghubungkan suku kata yang tertutup konsonan dengan suku kata berikutnya.belajar pada guru nurani  Ba Bayu sejati kang andalani . Suku kata yang pertama suku kata ban.sesuatu harus dimulai dan tumbuh dari niatan  Nga Ngracut busananing manungso . Wa Wujud hana tan kena kinira .yakin atas titah/kodrat Illahi  Nya Nyata tanpa mata. bagaimana Carakan bisa menuliskan huruf mati.melepaskan egoisme pribadi manusia Pasangan Jika Carakan / aksara Jawa lebih bersifat silabis (kesuku-kataan).ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas  La Lir handaya paseban jati . Pasangan memiliki fungsi untuk menghubungkan suku kata yang tertutup (diakhiri) konsonan dengan suku kata berikutnya. Untuk mematikan huruf Na. Artinya bahwa huruf yang diikuti pasangan akan dimatikan sehingga menjadi konsonan.Selalu berusaha menyatu memahami kehendak-Nya  Ya Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi .Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar  Ja Jumbuhing kawula lan Gusti . kebudayaan 16 Jawa . maka kita harus menuliskan bentuk pasangan da.

Bentuk-bentuk pasangan itu adalah: Aksara Murda Pada aksara hanacaraka memiliki bentuk murda (hampir setara dengan huruf kapital) yang seringkali digunakan untuk menuliskan kata-kata yang menunjukkan :      Nama Gelar Nama Diri Nama Geografi Nama Lembaga Pemerintah Dan Nama Lembaga Berbadan Hukum. Aksara Murda dan pasangannya kebudayaan 17 Jawa . Untuk itulah pada perangkat lunak ini kita gunakan huruf kapital untuk menuliskan aksara murda atau pasangannya).Semua aksara pokok yang ada di Carakan memiliki pasangannya masingmasing. (Kata-kata dalam Bahasa Indonesia yang menunjukkan hal-hal diatas biasanya diawali dengan huruf besar atau kapital. Bentuk pasangan ini ada yang dituliskan di bawah dan ada juga yang di atas sejajar dengan aksara.

atau dengan menuliskan keseluruhan dari bentuk aksara mudra yang ditemui. Bila ditemui aksara murda menjadi sigeg. ditambah dengan beberapa aturan tambahan yakni : a.Aturan Pengunaan Untuk aturan penulisan Aksara murda ini hampir sama dengan penulisan aksaraaksara pokok di Hanacaraka. c. b. Bila dalam satu kata atau satu kalimat ditemui lebih dari satu aksara murda. Contoh Pemakaian Aksara Murda Untuk melengkapi aturan penggunaan aksara murda ini. Murda tidak dapat dipakai sebagai sigeg (konsonan penutup suku kata). Contoh: Aksara swara kebudayaan 18 Jawa . maka dituliskan bentuk aksara pokoknya. contoh berikut bisa digunakan sebagai acuan untuk menuliskan Aksara Murda. maka ada dua aturan yang dapat dipergunakan yakni dengan menuliskan aksara murda terdepannya saja.

wulu dan lainnya. layar. maka sigegan itu harus dimatikan dengan pangkon. terutama yang berasal dari bahasa asing. Bila aksara swara menemui sigegan (konsonan pada akhir suku kata sebelumnya).Kegunaan Aksara Swara Aksara Swara sebagaimana aksara Murda memiliki fungsi dan kegunaan tertentu. untuk mempertegas pelafalannya. Aksara swara tidak dapat dijadikan sebagai aksara pasangan. Bentuk Aksara Swara Aksara Swara tidak seperti aksara-aksara yang lain. Contoh Penggunaan Aksara Swara Untuk melengkapi aturan penggunaan aksara murda ini. adapun bentuk Aksara Swara ini adalah sebagai berikut : Aturan Penulisan Aksara Swara Dalam menuliskan Aksara Swara. suku. Aksara Swara dalam penulisan Hanacaraka digunakan untuk menuliskan aksara vokal yang menjadi suku kata. Aksara ini tidak dilengkapi dengan bentuk pasangan. diikuti aturan penulisan aksara swara sebagai berikut : a. b. contoh berikut bisa digunakan sebagai acuan untuk menuliskan Aksara Murda. Aksara swara dapat diberikan sandangan wignyan. c. Contoh: Sandangan kebudayaan 19 Jawa . cecak.

yakni / / dan /a/. maka sandangan wulu digeser sedikit ke kiri. aksara yang tidak mendapat sandangan diucapkan sebagai gabungan anatara konsonan dan vokal a. misalnya : Sandangan di dalam aksara Jawa dapat dibagi menjadi tiga golongan yakni sebagai berikut : 1. baru kemudian diberikan sandangan suku. Apabila selain wulu juga terdapat sandangan yang lain. Apabila sandangan suku mengikuti pasangan aksara (ka).  Vokal a dilafalkan seperti o pada kata bom. Letak sandangan sukunya sendiri tetap berada pada bagian bawah akhir dari pasangan. tokoh doi dalam bahasa Indonesia. atau vokal U yang tidak dituliskan dengan aksara swara. Di dalam tulisan Jawa. Sandangan Bunyi Vokal (Sandhangan Swara) Sandangan bunyi vokal ada lima buah. Penulisan sandangan suku pada pasangan. Sandangan suku pada pasangan dituliskan mengikuti letak penulisan pasangan itu. maka pasangan ini harus dirubah dulu ke dalam bentuk aksara pokoknya dahulu. atau (la). Adapun bentuk dari sandangan bunyi vokal ini adalah : Pemakaian Sandangan Wulu Sandangan Wulu dipakai untuk melambangkan vokal ( i ) di dalam suatu suku kata. Penulisan sandangan suku pada aksara. Pemakaian Sandangan Pepet Kegunaannya untuk dipakai untuk melambangkan vokal e di dalam suatu suku kata. pokok.Sandangan suku dituliskan serangkai di bagian bawah akhir aksara yang mendapatkan sandangan itu. Sandangan suku dipakai untuk melambangkan bunyi vokal u yang bergabung dengan bunyi konsonan di dalam suatu suku kata.Sandangan adalah tanda yang dipakai sebagai pengubah bunyi di dalam tulisan Jawa. misalnya :  Vokal a dilafalkan /a/. Aturan penulisan sandangan pepet tertera sebagai berikut: kebudayaan 20 Jawa . ada. Vokal a di dalam bahasa Jawa mempunya dua macam varian. tolong. (ta). Pemakaian Sandangan Suku Penulisan sandangan suku dapat dituliskan dalam dua keadaan yaitu : 1. Sedangkan wulu ditulis di bagian atas akhir suatu aksara. 2. seperti a pada kata pas. semua di dalam bahasa Indonesia. siapa.

kecuali untuk aksara yang mendapatkan pasangan yang dituliskan di atas seperti sandangan (ha). Apabila selain pepet juga terdapat sandangan cecak. Pemakaian Sandangan Taling Untuk membedakan penggunaan sandangan pepet dengan taling. dan (pa). Sandangan taling tarung untuk aksara pasangan di tuliskan mengapit aksara yang dimatikan (yang menjadi sigeg).  é untuk penulisan sandangan pepet  e untuk penulisan sandangan taling Pemaikaian Sandangan Taling Tarung Sandangan taling tarung dipakai untuk melambangkan bunyi vokal O yang tidak dituliskan dengan aksara swara di dalam suatu suku kata. Penulisan wignyan diletakkan di belakang aksara yang dibubuhi sandangan itu. Pemakaian Sandangan Wignyan Sandangan wignyan adalah pengganti sigegan ha (konsonan ha di akhir suku). maka sandangan pepet digeser sedikit ke kiri dan sandangan cecak ditulis di dalam pepet. Sebab suku kata re dan le yang bukan pasangan dilambangkan dengan tanda pacerek (re) dan Nga lelet (le). Sandangan Konsonan Penutup Suku Kata (Sandhangan Panyigeging Wanda) Sandangan penutup suku kata ada 4 buah. dan (pa). (sa). Untuk Sandangan taling tarung dituliskan mengapit aksara yang dibubuhi sandangan itu.Sandangan pepet ditulis di bagian atas akhir aksara. sedangkan tarung ditaruh di belakang aksara pasangan. Untuk aksara yang mendapatkan pasangan ini. maka dibedakan sebagai berikut . maka penulisan pepet berada di atas pasangannya. Penempatan sandangan pepet pada aksara yang mendapatkan pasangan dituliskan sesuai dengan aturan di atas. kebudayaan 21 Jawa . maka taling ditaruh didepan aksara sigeg. Pengecualian: Sandangan pepet tidak dipakai untuk menuliskan suku kata re dan le yang bukan sebagai pasangan. Untuk aksara pasangan yang ada di atas seperti pasangan (ha). Apabila selain pepet juga terdapat sandangan layar. (sa). 2. maka sandangan pepet digeser sedikit ke kiri dan sandangan layar ditulis di sebelah kanan pepet.

maka penulisan cecak di taruh di dalam sandangan pepet. yakni :  Sandangan cecak ditulis di atas aksara. o Contoh: bapak macul. di samping untuk mematikan aksara. Pemakaian Sandangan Cecak Sandangan cecak digunakan untuk menuliskan sigegan ng (sepasang konsonan nga di akhir suku kata). atau aksara penyigeging wanda. adhiku dolanan ijen. Pemakaian Sandangan Pangkon Tidak seperti ketiga sandangan sebelumnya. Penulisan layar ditulis dibagian atas akhir aksara yang mengikuti. aku angon sapi. Pada kasus ini pangkong berfungsi ganda.  Sandangan pangkon dapat juga dipakai sebagai pembatas bagian kalimat atau rincian yang belum selesai.  Sandangan cecak ditulis di atas aksara di dalam pepet. Sandangan cecak apabila mengikuti sandangan pepet. aksara penutup suku kata. maka sandangan cecak dituliskan di belakang sandangan wulu. atau tanda koma (. Sandangan cecak dituliskan menurut aturan ini bila menemui keadaan aksara yang diikuti tidak memiliki sandangan di atas aksara selain dirinya. Sandangan pangkong ditulis di belakang aksara yang di bubuhi sandangan itu. senilai dengan pada lingsa. Apa bila sandangan cecak mengikuti sandangan wulu. sandangan layar digunakan untuk pengganti sigegan ra (konsonan ra di akhir suku). o Contoh : benik klambi kebudayaan 22 Jawa . Fungsi-fungsi itu adalah :  Sandangan pangkong dipakai sebagai penanda bahwa aksara yang dibubuhi sandangan pangkon itu merupakan aksara mati. ada tiga buah kondisi dalam menuliskan sandangan cecak. Sandangan pangkon dapat ditulis untuk menghindarkan penulisan aksara yang bersusun lebih dari dua tingkat.) di dalam ejaan latin.  Sandangan cecak ditulis di atas aksara belakang sandangan wulu.Pemakaian Sandangan Layar Hampir sama dengan sandangan wignyan. sandangan pangkong memiliki beberapa fungsi.

lan pakulitane ireng. Tanda pengkal ditulis serangkai di belakang aksara yang diberi tanda pengkal. paragraf dan lainnya. Tanda ini hampir setara dengan penggunaan koma(. Tanda cakra keret ditulis serangkai di bawah bagian akhir aksara yang diberikan tanda keret itu. Sandangan Cakra Keret Sandangan Cakra Keret dipakai untuk melambangkan gugus konsonan yang berunsur akhir konsonan r dengan diikuti vokal e pepet.). cakra la. Pada Lingsa Pada lingsa dipakai pada akhir bagian kalimat sebagai tanda intonasi setengah selesai. Bentuk tanda baca yang ditangani dalam perangkat lunak ini ada 4 buah yakni : 1) Adeg-adeg Adeg adeg dipakai di depan kalimat pada tiap-tiap awal alinea. maka sandangan cakra dan pepet ditulis menjadi cakra keret.3. suku kata kra memiliki gugus konsonan kr. Dan apa bila sandangan itu adalah pepet. Tanda cakra ditulis serangkai di bawah bagian akhir aksara yang diberi tanda cakra itu. dhuwur. sebagai contoh kraton yang dapat dipisah menjadi kra-ton. Dengan kata lain cakra keret digunakan sebagai ganti tanda cakra yang mendapatkan penambahan sandangan pepet. Di dalam Hanacaraka ada lima buah gugus konsonan yang digunakan dalam bentuk sandangan. Contoh: wong gedhe. Sandangan Gugus Konsonan Gugus konsonan adalah kumpulan dari dua konsonan dalam Hanacaraka yang akan membentuk suatu suku kata. Sandangan Pengkal Sandangan Pengkal dipakai untuk melambangkan konsonan y yang bergabung dengan konsonan lain di dalam suatu suku kata. Sandangan Cakra Sandangan cakra merupakan penanda gugus konsonan yang unsur terakhirnya berwujud konsonan r. 2) kebudayaan 23 Jawa . Aksara yang sudah diberikan cakra dapat diberikan sandangan lagi selain sandangan cakra. cecak. Tanda Baca Dalam Hanacaraka terdapat pula tanda-tanda baca yang digunakan dalam penulisan kalimat. cakra wa.

orang Jawa tidak menonjol dalam bidang Bisnis dan Industri. Sedangkan yang lain. terutama mereka yang hidup di daerah pegunungan. beberapa jenis tanaman palawija juga ditumbuhkan baik sebagai tanaman utama di kebudayaan 24 Jawa . "sapa kancamu" D. bertani adalah juga merupakan salah satu mata pencaharian hidup dari sebagian besar masyarakat orang Jawa di desadesa. Tanda ini hampir setara dengan titik. Contoh: Ibu mundhut emas 75 gram. pikirane goreh. Terutama bidang Administrasi Negara dan Militer banyak didominasi orang Jawa. Meski banyak pengusaha Indonesia yang sukses berasal dari suku Jawa. yaitu yang bertempat tinggal di daerah-daerah yang lebih rendah mengolah tanah-tanah pertanian tersebut untuk dijadikan sawah.  Pada pangkat dipakai untuk mengapit angka. goreh amarga mikirna bojone kang wis telung dina iki durung mulih.3) Pada Lungsi Pada lungsi dipakai pada awal suatu kalimat. Contoh: aku arep tuku bala pecah : mangkok. 4) Pada Pangkat  Pada pangkat dipakai pada akhir pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian. pertukangan dan perdagangan. dan buruh di hutan-hutan di luar negeri yang mencapai hampir 6 juta orang. orang Jawa bisa ditemukan dalam segala bidang. piring. Biasanya disamping tanaman padi. Di dalam melakukan pekerjaan pertanian ini. Selain sumber penghidupan yang berasal dari pekerjaan-pekerjaan kepegawaian. Contoh: Ibu ngendika. lan gelas. Banyak variasi pekerjaan sesuai dengan keahlian dan keterampilan yang dimiliki. Contoh: wis meh jam telu esuk. Dan tentunya kini semakin bertambah banyak. MATA PENCAHARIAN Di Indonesia.  Pada pangkat dipakai untuk mengapit petikan langsung. diantara mereka ada yang menggarap tanah pertaniannya untuk dibuat kebun kering ( tegalan ). sumini durung bisa turu. banyak diantara suku Jawa bekerja sebagai buruh kasar dan tenaga kerja indonesia seperti pembantu.

Dalam hal ini dia bisa menjual secara adol tahunan. Walaupun demikian ornag yang menggadai tanah itu sudah dapat memungut hasil pertaniannya setidak-tidaknya satu kali masa panen. kacang brol.tegalan maupun sebagai tanaman penyela di sawah pada waktu musim kemarau dimana air sangat kurang untuk pengairan sawah-saah itu. si pemilik sawah biasanya hanya akan menerima seperlima bagian dari seluruh hasil panenan sawahnya. bahakna banyak juga yang tidak mempunyaianya sama sekali. diantaranya adalah ketela pohon. ialah menjual lepas sawahnya. maka tanha pertanian tadi diserahkan kembali kepadanya. karena ia kaya dapat memberikan sejumlah uangnya kepada orang pemilik sawah yang memerlukan. mencetak batu merah. sebagia bunganya. dimana ia mendapat tanha pertanian sebagai barang gadaian untuk diolah. adapula beberapa sumber pendapatan lain yang diperoleh dari usaha-usaha kerja sambilan membuat makanna tempe. ialah hanya menyewakan sawahnya untuk satu tahun. menyewa tanah. bagi hasil atau menggadai tanah. Selain sumber penghasilan dari lapangan pekerjaan pokok bertani tersebut. mbotok atau membuat minyak goreng kelapa. Sawah itu ada yang dimiliki sendiri dan sawah ini disebut sawah sanggan dan sawah yasan. artinya memperoleh separo bagian hasil panennya. Orang yang menyewa tanah. Hubungan transksi semacam ini. Orang seperti itu terpaksa bekerja menjadi buruh tani. yang disebut adol oyodan. maka ada yang disebut adol sende. Tanaman penyela tersebut. misalnya untuk satu masa panen. ketela rambat. Terutama untuk bagi hasil tanaman palawija kacang brol. Akhirnya jika orang hendak menggadai tanah. Apabila orang yang tidak mempunyai tanah ingin mendapat hasil dengan cara bagi hasil. membatik. Kemudian jika si peminjam uang dan pemilik sawah tersebut berhasil mengembaikan uang pinjamannya pada suatu waktu. Banyak orang di desa tidak memiliki tanah-tanah pertanian yang luas. maka sistem itu disebut maro. kacang tanah. dan lain-lain. kedelai. sistem itu disebut mertelu. menganyam tikar. umumnya dilakukan oleh kedua belah pihak dengna disaksikan oleh salah seorang anggota Pamong Desa. kacang tunggak. Sudah barang tentu cara-cara bagi hasil ini tergantung kepada keadaantingkat kesuburan tanah pertanian tersebut. atau secara adol ceplik. dan menjadi tukang-tukang kebudayaan 25 Jawa . Kalau ia menerima sepertiga bagian saja. Pemilik yang kelebihan dapat menjual sawah seperti itu kepada orang lain. artinya ia meminjamkan uang kepada orang lain.

dan mengelompokkan masyarakat Jawa ke dalam tiga golongan: priyayi. ketika menapak dewasa (18 atau 21 tahun) bertambah lagi menjadi Bandara Raden Mas Aryo. Golongan priyayi tertinggi disebut Priayi Ageng (bangsawan tinggi). Misalnya ia menduduki jabatan pemimpin ksatrian maka gelarnya akan berubah menjadi Gusti Pangeran Adipati Haryo. batu atau reparasi sepeda dan lapangan-lapangan pekerjaan lain yang mungkin dikerjakan. Kelompok santri digunakan untuk mengacu pada orang yang memiliki pengetahuan dan mengamalkan agama. SISTEM KEMASYARAKATAN  Lapisan sosial  priyayi Kata priyayi konon berasal dari dua kata Jawa para dan yayi yang secara harafiah berarti "para adik". Pada saat dewasa dan telah memiliki jabatan dalam hierarki kebangsawanan. istilah priyayi atau berdarah biru merupakan suatu kelas sosial yang mengacu kepada golongan bangsawan. santri dan abangan. Beberapa gelar dari yang tertinggi hingga dengan hanya satu gelar saja yaitu Raden. Namun penggolongan ini tidaklah terlalu tepat. yang berarti kekasih Dalam kebudayaan Jawa. ia akan memiliki gelar yang berbeda dari gelar yang telah ia miliki. Istilah priyayi menjadi terkenal saat Clifford Geertz melakukan penelitian tentang masyarakat Jawa pada tahun 1960-an. Abangan digunakan untuk mereka yang bukan priyayi dan juga bukan santri.kayu. karena pengelompokkan priyayi-non priyayi adalah berdasarkan garis keturunan seseorang. Dan setiap kedudukan yang ia jabat ia akan memilki gelar tambahan atau gelar yang berubah nama. E. jadi nama lengkapnya adalah Raden Mas Bomantara. ketika menginjak akil balik gelarnya bertambah satu kata menjadi Bandara Raden Mas. Gelar dalam golongan ini terbagi menjadi bermacam-macam berdasarkan tinggi rendahnya suatu kehormatan. kebudayaan 26 Jawa . Namun menurut Robson (1971) kata ini bisa pula berasal dari kata Sansekerta priyā. Yang dimaksud adalah para adik raja. Suatu golongan tertinggi dalam masyarakat karena memiliki keturunan dari keluarga kerajaan. Misalnya ketika seorang anak laki-laki lahir diberi nama Bomantara. ia bergelar Raden Mas. Gelar seorang priyayi juga dapat meningkat seiring dari usianya.

bahkan ada pula yang non muslim. Kuli gandok atau lindung Mereka adalah orang laki-laki yang sudah kawin. Dalam hal memelihara dan membangun masyarakat desanya. serta pekarangannya. Golongan ini juga dapat digolongkan lagi menjadi : a. Wong Cilik  Merupakan golongan masyarakat yang paling bawah. b. para pamong desa harus sering menggerakkan kebudayaan 27 Jawa . mereka adalah keturunan orang-orang yang dahulu yang pertama kali menetap didesa. Desa-desa di Jawa sering dibagi-bagi menjadi bagian-bagian yang disebut dukuh. dan masih tinggal bersama orang tuanya atau tinggal (ngenger) dirumah orang lain.abangan dibuat berdasarkan sikap dan perilaku seseorang dalam mengamalkan agamanya (Islam). c. sehingga menjadi Bandara Raden Mas (disingkat BRM). oleh karena itu dalam susunan kepemimpinan desa tiap-tiap dukuh diketuai oleh kepala dukuh. Yang biasanya mempunyai gelar-gelar yang menandakan tingkat kebangsawanannya. akan tetapi golongan bujang ini bisa mempunyai tanah baik dari pembelian atau warisan. Joko. Misalnya seorang laki-laki ningrat yang merupakan keturunan langsung (generasi pertama) dari raja/pemimpin yang memerintah akan mendapat tambahan Bandara (baca "bandoro") di depan gelarnya. akan tetapi tidak mempunyai tempat tinggal sendiri. biasanya hidup didesadesa dengan sesuai dengan mata pencaharian mereka sebagai petani. ada priyayi yang santri dan ada pula yang abangan. mereka memiliki sawah.sedangkan pengelompokkan santri . Ningrat  Adalah keluarga keraton dan keturunan bangsawan lainnya. atau bujangan Mereka semua belum menikah. sinoman. rumah. Wong baku merupakan lapisan tertinggi dalam lingkungan desa di Jawa.sehingga terpaksa menetap di kediaman mertuanya. Dalam realita. tukang dan pekerja kasar lainnya.

e. Magang atau ngenger. yaitu suatu perkawinan seorang pria dan wanita atas kemauan kedua orang tua mereka. yaitu seorang yang mendapat istri sebagai pemberian atau penghadiahan dari salah satu lingkungan keluarga tertentu. Ngunggah-ngunggahi. yaitu : a. Upacara. c. Adapun adik dari ayah dan ibu diklasifikasikan ke dalam dua golongan yang dibedakan menurut jenis kelamin menjadi paman dan bibi. Pelamaran biasa b. Paksa (peksan). misalnya keluarga keraton atau keluarga kyai agung. Adapun wayuh adalah suatu perkawinan lebih dari satu istri (poligami). Semua kakak laki-laki atau wanita ayah dan ibu beserta istri atupun suami masing – masing diklasifikasikan menjadi satu dengan istilah siwa atau uwa. Triman.upacara tersebut adalah  Nakokake Seorang pria pertama-tama datang ke kediaman orang tua si gadis dengan didampingi oleh orang tua sendiri atau wakil orang tuanya untuk menanyakan kebudayaan 28 Jawa . Dalam adat masyarakat Jawa dikenal adanya ngarang wulu serta wayuh. terlebih dahulu diselenggarakan berbagai upacara-upacara sampai dilaksanakannya peresmian perkawinan. SISTEM KEKERABATAN Sistem kekerabatan masyarakat Jawa berdasarkan prinsip keturunan bilateral.masyarakat dengan gugur gunung atau kerik desa guna bekerja sama membersihkan. F. Jadi merupakan pernikahan sororat. Perkawinan ngarang wulu adalah suatu perkawinan seorang duda dengan seorang wanita salah satu adik dari almarhum istrinya. Masyarakat Jawa mengenal beberapa sistem pernikahan. ialah seorang jejaka yang telah mengabdikan dirinya pada kerabat si gadis. d. yaitu pihak kerabat si gadis yang melamar si jejaka. Menurut adat Jawa apabila akan diadakan suatu perkawinan. memperbaiki dan membuat sarana fasilitsa pedesaan.

Biasanya dia juga menyewakan pakaian pengantin. Pohon pisang sangat mudah tumbuh dimana saja. Jika orang tua si gadis telah meninggal. yaitu : • Dua pohon pisang dengan setandan pisang masak berarti: Suami akan menjadi pemimpin yang baik di keluarga. Dia mengurus dandanan dan pakaian pengantin laki-laki dan pengantin perempuan yang bentuknya berbeda selama pesta pernikahan. perhiasan dan perlengkapan lain untuk pesta pernikahan.kepadanya. transportasi. musik gamelan dan tarian. pintu gerbang dari rumah orangtua wanita dihias dengan Tarub (dekorasi tumbuhan). terdiri dari berbeda Tuwuhan (tanaman dan daun).  Persiapan Penunjukkan Pemaes. Pasangan pengantin akan hidup baik dan bahagia dimana saja. Besarnya panitia itu tergantung dari latar belakang dan berapa banyaknya tamu yang di undang (300. Panitia mengurus seluruh persiapan perkawinan: protokol.  Nontoni Calon suami mendapat kesempatan untuk melihat calon istrinya. Biasanya sehari sebelum pesta pernikahan. 500. hal itu yang disebut nakokake kepada wali. dimana tercatat sebagai pasangan suami istri. apakah si gadis sudah ada empunya atau belum (legan). Persiapan yang paling penting adalah Ijab (catatan agama dan catatan sipil). keluarga dari kedua mempelai. Untuk itu dibentuk sebuah panitia kecil yang terdiri dari teman dekat. makanan dan minuman. 1000 atau lebih). komunikasi dan keamanan. kebudayaan 29 Jawa . Banyak yang harus dipersiapkan untuk setiap upacara pesta pernikahan. pidato pembuka. yakni anggota kerabat dekat menurut garis laki – laki (patrilineal). pembawa acara. dukun pengantin perempuan di mana menjadi pemimpin dari acara pernikahan. wali untuk Ijab. dekorasi dari ruangan resepsi.

Cengkir Gading berarti: Pasangan pengantin cinta satu sama lain dan akan merawat keluarga mereka. alang-alang. Selain pemasangan tarub juga dikenal adanya Kembar Mayang yang merupakan karangan dari bermacam daun (sebagian besar daun kelapa di dalam batang pohon pisang). pengalaman dan kesabaran. mojo-koro. • • • Bekletepe Bleketepe yang berada di atas pintu gerbang berarti menjauhkan dari gangguan roh jahat dan menunjukan di rumah mana pesta itu diadakan. • Keris: Melukiskan bahwa pasangan pengantin berhati-hati dalam kehidupan. kebudayaan 30 Jawa • . pintar dan bijaksana. Bentuk daun seperti beringin. Cemeti: Pasangan pengantin akan selalu hidup optimis dengan hasrat untuk kehidupan yang baik. • Mempunyai bentuk seperti gunung. Itu dekorasi sangat indah dan mempunyai arti yang luas. berarti laki-laki harus punya banyak pengetahuan. Gunung itu tinggi dan besar. dadap srep berarti: Pasangan pengantin akan hidup aman dan melindungi keluarga.• Sepasang Tebu Wulung berarti: Seluruh keluarga datang bersama untuk bantuan nikah.

di jalan dekat rumah. Kelapa muda. di dapur. • • • • • Daun Dlingo Benglé: Jamu untuk infeksi dan penyakit lainnya. di bawah pintu gerbang.• • Payung: Pasangan pengantin harus melindungi keluarganya. Jawa 31 kebudayaan . diantaranya di kamar mandi. Pisang raja dan buah lainnya. Tumpeng Gundul. di bawah dekorasi Tarub. di mana Tuhan Pencipta melidungi kami. dan lain-lain. Daun Kruton: Daun yang melindungi mereka dari gangguan setan. Makanan: ayam. nasi kuning tanpa hiasan. Itu adalah simbol yang sangat berarti. Tradisionil Sajen (persembahan) dalam pesta adat Jawa itu sangat penting. Sajen diletakan di semua tempat di mana pesta itu diadakan. Bunga Patra Manggala: Itu digunakan untuk memperindah karangan. Tujuh macam bubur. Belalang: Pasangan pengantin akan giat. cepat berpikir dalam mengambil keputusan untuk keluarganya. • Siraman sajen terdiri dari: • • • • • • Tumpeng Robyong. tahu. daging. itu digunakan untuk melindungi gangguan setan. nasi kuning dengan hiasan. telur. Sebelum memasang Tarub dan Bekletepe harus membuat hidangan spesial yang dinamakan Sajen. Burung: Pasangan pengantin mempunyai motivasi hidup yang tinggi. Daun Beringin: Pasangan pengantin akan selalu melindungi keluarganya dan masyarakat sekitarnya. Sajen berarti untuk mendoakan leluhur dan untuk melindungi dari gangguan roh jahat. berarti pasangan pengantin akan selalu mempunyai pikiran yang jernih dan tenang dalam mengadapi masalah. Daun Dadap srep: Daun yang dapat digunakan mengompres untuk menurunkan demam.

Aroma . Bunga Setaman . Tidak hanya orangtua. Lantera. gayung dari 2 kelapa. ditutup dengan: kebudayaan 32 Jawa . Jumlah orang yang melakukan Siraman itu biasanya tujuh orang. Kursi kecil.berfungsi seperti sabun. santan. Rokok dan kretek. Yang harus dipersiapkan: • • • • • • Baskom untuk air. Buna Telon (kenanga. Mereka menyeleksi orang yang bermoral baik. melati. lemper. Pesta Siraman ini biasanya diadakan di siang hari. Teh dan kopi pahit. tetapi juga keluarga dekat dan orang yang dituakan.lima warna . cendol.• • • • • Kue manis. magnolia dan kenanga . sehari sebelum Ijab dan Panggih. Sekarang lebih banyak diadakan di taman. Makna dari pesta Siraman adalah untuk membersihkan jiwa dan raga. Siraman di adakan di rumah orangtua pengantin masing-masing. biasanya terbuat dari tembaga atau perunggu. melati.  Siraman. Daftar nama dari orang yang melakukan Siraman itu sangat penting. air asam Jawa). Tradisionil shampoo dan conditioner (abu dari merang.mawar. mereka memberi nama PITULUNGAN (berarti menolong). Bahasa Jawa tujuh itu PITU. Air dari sumur atau mata air. Siraman biasanya dilakukan di kamar mandi atau di taman.di campur dengan air. magnolia) dengan air Suci. letakkan bersama.

Dalam pelaksanaan upacara Siraman Pengantin perempuan/laki-laki datang dari kamarnya dan bergabung dengan orangtuanya. Pengantin perempuan/laki-laki duduk dengan kedua tangan di atas dada dengan posisi berdoa. Dandanan itu tergantun dari bentuk perkawinan. Kain batik dari Grompol dan potongan Nagasari. • • • • Memakai kain putih selama Siraman. handuk. Akhirnya. Dan ini akan digunakan setelah Siraman. pengantin wanita memakai kebaya dan kain batik dengan motif Sidomukti atau Sidoasih. Setelah Kendi itu kosong.lurik (motif garis dengan potongan Yuyu Sekandang dan Pula Watu). Pemaes sangat behati-hati dalam merias pengantin. Itu adalah simbol dari kemakmuran hidup. dia siap untuk di dandani.bango tulak (kain dengan 4 macam motif) .kain putih .berarti dia itu tampan (menjadi cantik dan siap untuk menikah). orang lain boleh melakukan Siraman. Setelah mereka. pengantin duduk di kamar pengantin. Dia diantar ke tempat Siraman. telinga. Ibu boleh menyiramkan setalah ayah. Kemudian mereka menyiramkan air ke atas kepala. Orang pertama yang menyiramkan air ke pengantin adalah ayah. Dia mengikat rambut ke belakang dan mengeraskannya (gelung). Air ini diletakan di rumah pengantin laki-laki. kebudayaan 33 Jawa .dlingo benglé (tanaman untuk obatobatan) . Handuk. Keluarga dari pengantin wanita mengirim utusan untuk membawa air-bunga ke keluarga dari pengantin laki-laki. berarti air suci dan simbol dari intisari kehidupan. wajah. Kendi. Pemaes atau orang yang ditunjuk memecahkan kendi ke lantai dan berkata: 'Wis Pecah Pamore' . Setelah itu Pemaes membersihkan wajahnya dan lehernya.• Tikar . Beberapa orang jalan di belakangnya dan membawa baki dengan kain batik. Pemaes mengeringkan rambutnya dengan handuk dan menberi pewangi (ratus) di seluruh rambutnya. tangan dan kaki juga sebanyak tiga kali. leher. dan lain-lain.  Upacara Ngerik Setelah Siraman. Dia mendudukkan di kursi dan berdoa.beberapa macam daun . Itu Banyu Suci Perwitosari. Pemaes menggunakan tradisionil shampoo dan conditioner. Orang terakhir yang melakukan Siraman adalah Pemaes atau orang sepesial yang telah ditunjuk. Mereka menyiramkan air ke tangannya dan membersihkan mulutnya tiga kali.

Pada malam hari. Midodareni itu berasal dari kata Widodari yang berarti Dewi. dan lain-lain) di lapisi dengan kain Bango Tulak. Dewi akan datang dari kayangan. Pengantin wanita harus tinggal di kamar dari jam enam sore sampai tengah malam di temani dengan beberapa wanita yang dituakan. Kacang Areca. Jawa 34 • • • • kebudayaan . Dua kendi (diisi dengan bumbu. Biasanya mereka akan memberi saran dan nasihat. Suruh Ayu (daun betel). Menurut kepercayaan kuno. suaminya yang akan bertanggung Jawab. Ukub (baki dengan bermacam pewangi dari daun dan bunga) diletakan di bawah tempat tidur. Orangtua dari pengantin wanita akan menyuapkan makanan untuk yang terakhir kalinya. Yang harus diletakan di kamar pengantin : • • Satu set Kembar Mayang. Mulai dari besok. beras. calon pengantin wanita akan menjadi cantik sama seperti Dewi. Upacara Midodareni Pelaksanaan pesta ini mengambil tempat sama dengan Ijab dan Panggih. semuanya harus wanita. Dua kendi (diisi dengan air suci) di lapisi dengan daun dadap srep. Keluarga dan teman dekat dari pengantin wanita akan datang berkunjung. jamu. kacang.

mengharapkan untuk kebahagiaan dan kehidupan yang baik. Di kamar lain. Hanya pengantin laki-laki tidak bisa bertamu ke kamar pengantin perempuan yang sudah bagus di dekorasi. Mereka akan menjadi besan. Buah-buahan. Dalam kesempatan ini. Selama itu. • Beberapa kain batik dengan corak berbeda.  Peningsetan atau Srah-Srahan Peningsetan berasal dari kata singset (berarti ikatan). Kedua keluarga menyetujui pernikahan. Sumbangan uang untuk pesta pernikahan. Setagen putih untuk tanda kekuatan.• Tujuh macam kain dengan corak letrek. mengharapkan kesehatan. garam. Dia duduk di serambi depan rumah bersama dengan beberapa teman dan keluarga. mengharapkan untuk keselamatan. minyak. Mereka membawa hadiah: • Suruh Ayu (daun betel). gula. keluarga dan teman dekat dari pengantin wanita bertemu dengan keluarga dari pengantin laki-laki. • • Cincin untuk pasangan pengantin. tetapi dia tidak boleh masuk ke rumah. dia hanya diberi segelas air dan kebudayaan 35 Jawa . Keluarga dari pengantin laki-laki berkunjung ke keluarga dari pengantin perempuan. Keluarga dan tamu dapat makan bersama. Hanya keluarganya boleh masuk ke rumah. kedua keluarga beramah tamah. dan lain-lain. Pengantin laki-laki tiba bersama dengan keluarganya. tanda dasar kehidupan. Di tengah malam semua sajen di ambil dari kamar. • Beras. • • • Kain Kebaya.

Upacara perkawinan menurut adat Jawa terdiri dari beberapa tahapan yaitu :  Upacara Panggih Suara sangat bagus dan mistik dari Gamelan digabungkan dengan tradisi Panggih atau Temu: pertemuan antara pengantin wanita yang cantik dengan pengantin laki-laki yang tampan di depan rumah yang di hias dengan kebudayaan 36 Jawa . utusan dari keluarga pengnatin laki-laki mengatakan kepada tuan rumah bahwa mereka akan mengambil alih tanggungJawab pengantin laki-laki. Pasangan pengantin muncul terbaik. Mereka dihormati seperti Raja dan Ratu di hari itu. tetapi tidak ke kamar pengantin. Dengan maksud agar dia bisa menahan lapar dan godaan.  Upacara Ijab Upacara ijab merupakan syarat yang paling penting dalam mengesahkan pernikahan. Dia boleh makan hanya setelah malam hari. Setelah pengunjung meninggalkan rumah. dengan pertimbangan bahwa besok dia harus berpakaian pengantin dan siap untuk Ijab dan upacara pernikahan lain. Pelaksanaan dari Ijab sesuai dengan agama dari pasangan pengantin. Itu disebut Nyantri.tidak boleh merokok. Utusan menyatakan bahwa pengantin laki-laki tidak kembali ke rumah. Pengantin wanita dengan gelungan. Setelah selesainya rangkaian persiapan maka dilanjutkan dengan upacara perkawinan. Pengantin laki-laki juga berpakaian khusus untuk upacara ini. Nyantri dilakukan untuk keamanan dan praktisnya. perhiasan emas dan kebaya untuk saat ini. pengantin lakilaki boleh masuk ke rumah. minyak rambut mengkilap. Tempat di adakan Ijab diletakan Sanggan atau Sajen disekitarnya. Orangtua dari pengantin perempuan akan mengurus penginapannya. Sebelum keluarganya meninggalkan rumah.

Dekorasi itu hanya digunakan bila pasangan pengantin sebelumnya tidak pernah menikah. berjalan keluar dari kamar pengantin. sebagai tanda dari penghargaan kepada tuan rumah dari upacara. Untuk dekorasi. itu akan mencoba bahwa mereka benarbenar orang yang sejati. Orangtuanya dan keluarga dekat berjalan di belakangnya. Dengan melempar daun betel satu sama lain. di antar oleh dua wanita yang dituakan. Satu orang wanita dari keluarga pengantin lakilaki berjalan keluar dari barisan dan memberi Sanggan ke ibu pengantin perempuan. Mereka mulia melempar sebundel daun betel dengan jeruk di dalamnya bersama dengan benang putih. dengan membawa kipas. Pengantin perempuan mencuci kaki pengantin laki-laki dengan menggunakan air dicampur dengan bermacam bunga. dua Kembar Mayang diletakan di samping kanan dan kiri dari kursi pasangan pengantin. Pengantin wanita. Itu melukiskan bahwa pengantin laki-laki siap untuk menjadi ayah yang bertangung Jawab dan pengantin perempuan akan melayani setia suaminya. melukiskan bahwa setan tidak akan menggangu selama upacara di rumah dan di sekitarnya. daun betel mempunyai kekuatan untuk menolak dari gangguan buruk.tanaman Tarub. Mereka melakukannya dengan keinginan besar dan kebahagian. semua orang tersenyum bahagia. Di depannya dua puteri disebut Patah. Pengantin laki-laki di antar oleh keluarga dekatnya (tetapi bukan orangtuanya karena mereka tidak boleh berada selama upacara).  Upacara Wiji Dadi Pengantin laki-laki menginjak telur dengan kaki kanannya. Dua wanita dituakan atau dua putera membawa dua Kembar Mayang yang tingginya sekitar satu meter atau lebih. bukan setan atau orang lain yang menganggap dirinya sebagai pengantin laki-laki atau perempuan. Menurut kepercayaan kuno. jaraknya sekitar tiga meter.  Upacara Balangan Suruh Pengantin wanita bertemu dengan pengantin laki-laki. kebudayaan 37 Jawa . Mereka mendekati satu sama lain. Kembar Mayang di bawa keluar rumah dan diletakan di persimpangan dekat rumah. Selama upacara Panggih. tiba di rumah dari orangtua pengantin wanita dan berhenti di depan pintu gerbang.

Ibu memberi dorongan moral. Dia memberi restu. kebudayaan 38 Jawa . berarti dia cinta mereka sederajat. Itu berarti bahwa ayah akan menunjukan jalan kebahagiaan. sementara dia bicara bahwa mereka sama beratnya. Upacara Sindur Binayang Setelah upacara Wiji Dadi. Itu melukiskan bahwa dia menyetujui perkawinan.  Upacara Timbang Kedua pasangan pengantin duduk di atas pangkuan ayah dari pengantin wanita.  Upacara Tanem Ayah pengantin wanita mendudukan pasangan pengantin ke kursi pengantin. ayah pengantin perempuan mengantar pasangan pengantin ke kursi pengantin. ibu pengantin perempuan menutup pundak pasangan pengantin dengan Sindur.

bunga. Itu melukiskan bahwa suami akan memberi semua gajinya ke istrinya. pasangan pengantin berjalan bergandengan tangan dengan jari kelingking ke tempat upacara Kacar Kucur atau Tampa Kaya.  Upacara Dahar Klimah atau Dahar Kembul kebudayaan 39 Jawa . Dia akan mengurus dan menjadi ibu rumah tangga yang baik. kacang. pengantin perempuan mendapat dari pengantin laki-laki beberapa kedelai. dan beberapa mata uang yang berbeda nilainya (jumlah dari mata uang harus genap). di atas tikar yang sudah diletakan di pangkuannya. Upacara Tukar Kalpika Pertukaran cincin pengantin simbol dari tanda cinta. padi. jagung. jamu dlingo benglé. beras kuning.  Upacara Kacar Kucur atau Tampa Kaya Dengan dibantu oleh Pemaes. Pengantin perempuan sangat berhati-hati dalam menerima pemberiannya di dalam kain putih. Di sana.

Mereka berjalan bersama menuju ke tempat upacara. Pertama ke orangtua pengantin wanita. Orantua pasangan pengantin memakai motif batik yang sama (Truntum). tahu. Orangtua dari pengantin perempuan duduk di sebelah kanan dari pasangan pengantin. Setelah pengantin wanita memakannya. pengantin laki-laki membuat tiga bulatan kecil dari nasi dengan tangan kanannya dan di berinya ke pengantin wanita.  Upacara Mertui Orangtua pengantin wanita menjemput orangtua pengantin laki-laki di depan rumah. Setelah Sungkeman. menjadi pemimpin dari upacara. Selama Sungkeman. abon dan hati ayam). Pemaes mengambil keris dari pengantin laki-laki. Upacara itu melukiskan bahwa pasangan akan menggunakan dan menikmati hidup bahagia satu sama lain. memberi piring ke pengantin wanita (dengan nasi kuning. Orangtua mengantar mereka ke kehidupan nyata dan mereka akan membentuk keluarga yang kuat. kebudayaan 40 Jawa . Pemaes. Warna merah dari Sindur dengan pinggir berliku berarti bahwa hidup itu seperti sungai mengalir di gunung. tempe. kemudian ke orangtua pengantin lakilaki. Setelah mereka selesai.Pasangan pengantin makan bersama dan menyuapi satu sama lain. mereka minum teh manis. berarti pasangan akan selalu mempunyai cukup keuntungan untuk hidup baik. dadar telur. Kedua ibu berjalan di depan. dia melakukan sama untuk suaminya.  Upacara Sungkeman Mereka bersujud untuk mohon doa restu dari orangtua mereka. Orangtua dari pengantin laki-laki duduk di sebelah kiri dari pasangan pengantin. Pertama. pengantin laki-laki memakai kembali kerisnya. dan kedua ayah berjalan di belakang. mereka juga memakai Sindur seperti ikat pinggang.

diiringi suara gamelan di ruang resepsi. Pasangan pengantin baru bersama dengan orangtuanya menerima ucapan selamat dari para tamu. istri tidak dalam keadaan hamil dan di hadapan pengulu. Bersamaan dengan itu. Semantara semua tamu menikmati pesta dan makan santapan. Apabila mempelai laki-laki berkehendak membawa istrinya. Dalam hal ini. dalam adat Jawa juga diatur mengenai masalah perceraian (pegatan). Sedangkan sebaliknya istri pun berhak meminta cerai. dilanjutkan dengan pesta resepsi. Kantor Urusan Agama Kabupaten yang akan memberi keputusan. Selain masalah perkawinan. perceraian hanya bisa dilakukan dengan persetujuan kedua belah pihak. Pemboyongan yang disertai pesta upacara lagi di tempat kediaman mempelai laki-laki ini disebut ngunduh temanten. kebudayaan 41 Jawa . fragment dari cerita wayang atau tari lebih modern Karonsih). Akhirnya. Suami dapat menceraikan istrinya dengan menjatuhkan talak. atau sama dengan lima hari sejak mereka dipertemukan. hal ini dapat dilaksanakan sesudah sepasar. beberapa penari Jawa menpertunjukan (tari klasiek Gathot Kaca-Pergiwo.Pengaduan gugatan perceraian bertingkat-tingkat tersebut dinamakan rapak. yaitu dengan memberikan taklik. Apabila seorang istri meminta cerai sedangkan suaminya tidak bersedia maka istri mengadu kepada kaum yang akan meneruskan pengaduan ke Kantor Urusan Agama Kecamatan.Setelah upacara Pernikahan.

Neolokal. atau mereka memilih untuk tinggal di tempat tinggal yang baru. Besarnya kebudayaan 42 Jawa . Dalam pembagian warisan harta peninggalan orang tua dikenal adanya 2 macam cara yaitu perdamaian dan sepikul segendongan. Menurut cara sepikul segendongan. yang lamanya tiga bulan sepuluh hari atau tiga kali lingkaran haid. Menurut cara perdamaian. apabila pasangan pengantin menetap di dekat tempat kediaman kerabat istri. suami istri ingin rukun kembali sebelum melebihi jangka waktu seratus hari maka disebut rujuk. keluarga-batih dalam bentuk keluarga yang luas adalah suatu pengelompokan dari dua-tiga keluarga atau lebih dalam satu tempat tinggal. Pemeliharaan benda pusaka diserahkan kepada anak laki-laki tertua.Apabila setelah bercerai. Baik rujuk maupun balen hanya bisa dilaksanakan sesudah talak sampai tiga kali. Selain itu terdapat kelompok kekerabatan lain yang disebut alurwaris. Uxorilokal. Kelompok ini terdiri dari semua kerabat sampai tujuh turunan sejauh masih dikenal tempat tinggalnya. sedangkan apabila hal itu dijalankan melebihi batas waktu tersebut dinamakan balen. anak laki-laki ditetapkan mendapat bagian 2/3 sedangkan perempuan 1/3 dari seluruh jumlah warisan orang tua. Suatu kekerabatan yang lain ialah sanak-sadulur yang terdiri dari orang-orang kerabat keturunan dari seorang nenek moyang sampai derajat ketiga. c. Setelah pernikahan pasangan pengantin Jawa bebas menentukan apakah ia akan menetap di sekitar tempat kediaman sendiri atau kerabat. artinya mempunyai tempat tinggal sendiri yang terlepas dari tempat menetap kerabat masing-masing pihak. Dalam sebuah keluarga (kulawarga atau keluarga-batih) Jawa kepala keluarga disebut somah. Biasanya orang tua cenderung memberikan rumah kediamannya kepada tabon. Biasanya dipergunakan untuk pembagian warisan tanah pekarangan. b. Utrolokal. apabila pasangan pengantin menetap di dekat tempat kediaman kerabat suami. sedangkan ternak dibagikan sama sesuai jumlah yang ada. Adat menetap sesudah nikah ada tiga sifat: a. yang tugasnya memelihara makam leluhur. pembagian harta dilakukan melalui permusyawaratan antara para ahli waris. karena apabila sudah mencapai talak sebanyak tiga kali maka suami istri tersebut harus bercerai selamanya. Dalam hubingan ini sorang janda dapat bergaul dengan seorang laki-laki lain setelah lewat masa iddahnya. yaitu seorang anak laki-laki atau perempuanyang tetap tinggal di rumah bersama orang tua.

sehingga harus dipelihara dan digarap oleh saudaranya sendiri. tetapi tetap percaya kepada kebudayaan 43 Jawa . Benda gawan kembali kepada kerabat masing-masing apabila suami istri tidak mempunyai anak. G. Sawah gantungan. Sawah garapan. tetapi setelah ia datang hak dan kewajiban tanah pertanian itu kembali kepadanya. serta tidak bercita-cita naik haji.Pemeluk agama Islam pada masyarakat Jawa dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu : • Islam Santri adalah penganut agama Islam Jawa yang secara patuh dan teratur menjalankan ajaran-ajaran dari agamanya. sedangkan benda gana gini baru dipersoalkan pembagiannya jika kedua orang tersebut bercerai. merupakan sawah bagian warisan dari seseorang yang pergi meninggalkan sawah tadi. yaitu banda gana untuk suami dan banda gini untuk istri. atau puasa. terdapat pemeluk agama nasrani dan agama besar lainnya. c. Sawah dunungan. • Islam Kejawen penganut agama Islam ini beranggapan walaupun tidak menjalankan shalat. Tanah pertanian (sawah) yang bisa diwariskan adalah sawah sanggan (milik pribadi) yang terdiri atas tiga macam yaitu: a. Selain itu. sawah ini juga belum menjadi benda warisan tetapi sudah diberi ijin dari orang tua untuk digarap oleh anak-anak atau menantu laki-lakinya dan setelah orang tua meninggal akan menjadi warisan bagi penggarapnya.jumlah pembayaran pajak dituliskan dalam surat tanda pembayaran pajak yang disebut kohir (petuk) yang biasanya dipegang ahli waris yang paling tua. RELIGI Agama Islam berkembang baik di kalangan masyarakat Jawa. Dalam adat Jawa dikenal adanya pembedaan harta benda milik suami sendiri sebelum kawin (benda gawan) dan harta kekayaan yang diperoleh selama hidup bersama (benda gana gini) keduanya dapat diwariskan. Biasanya anak yang lebih tua mendapat bagian di sebelah barat dan anak yang muda di sebelah timur. sesungguhnya belum menjadi harta warisan namun sudah ditunjuk kepada siapa masing-masing bagian sawah itu akan diberikan. b.

upacara menyentuh tanah untuk pertama kali. kebudayaan 44 Jawa . Upacara selamatan dapat digolongkan ke dalam empat macam sesuai peristiwa atau kejadian dalam kehidupan manusia sehari-hari. Selamatan adalah upacara makan bersama yang makanannya telah diberi doa sebelum dibagi-bagikan. terutama keluarganya. dan bersaji. Selamatan dalam rangka lingkaran hidup seseorang seperti hamil tujuh bulan. Kecuali itu mereka tidak terhindar dari kewajiban berzakat. upacara menusuk telinga. namun sebaliknya mereka juga dapat menimbulkan gangguan pikiran. tuyul. ketentraman ataupun keselamatan. Selain itu. yakni: 1. demit. Upacara adat ini diselenggarakan setelah acara penguburan jenazah. kelahiran. pantang makan makanan tertentu. Menurut kepercayaan makhluk halus tersebut dapat mendatangkan sukses. Upacara yang berhubungan dengan kematian serta saat sesudahnya dilakukan karena orang Jawa sangat menghormati arwah orang meninggal dunia. kesehatan. Tuhan mereka sebut Gusti Allah dan Nabi Muhammad adalah Kanjeng Nabi. Hampir semua selamatan ditujukan untuk memperoleh keselamatan hidup dengan tidak ada gangguan apapun. misalnya dengan berpuasa. serta jin dan lainnya yang menempati alam sekitar tempat tinggalnya. Kebanyakan orang Jawa percaya bahwa hidup manusia di dunia ini sudah diatur dalam alam semesta sehingga mereka memiliki sikap nerima yaitu menyerahkan diri kepada takdir. bahkan kematian. Upacara ini dipimpin oleh modin. yaitu seorang pegawai masjid yang berkewajiban mengumandangkan adzan karena dianggap mahir membaca do keselamatan dari dalam ayat-ayat Al Quran. orang Jawa pada suatu kekuatan yang disebut kasakten. upacara potong rambut pertama.ajaran keimanan agama Islam. Maka apabila seorang Jawa hidup tanpa menderita gangguan ia harus berbuat sesuatu untuk mempengaruhi alam semesta. Tujuannya untuk memberikan doa supaya arwah dari orang yang meninggal itu mendapat pengampunan. Rangkaian upacara selamatan (sedekahan) yang ditujukan untuk menolong keselamatan roh nenek moyang tersebut di dalam akhirat ialah: a. dan makhluk halus seperti misalnya memedi. serta upacara yang berhubungan dengan kematian serta saat sesudahnya. lelembut. berselamatan. arwah atau roh leluhur. kebahagiaan. Sedekah Surtanah atau Geblak yang diadakan pada saat meninggalnya seseorang.

Upacara juga disebut sedekah Nguwis-nguwisi artinya yang terakhir kalinya. Sedekah Matangpuluh dina atau upacara keselamatan kematian seseorang pada hari keempat puluh. c. sebagai upacara selamatan sesudah kematian seseorang bertepatan dengan genap seribu harinya. jika ada hidangna yang disajikan itu hanya seadanya. Selamatan yang bertalian dengan bersih desa. umumnya tetangga hadir dengan membawa bahan-bahan panganan ( beras. teman atau tetangga atau siapa saja yang mau ikut berdoa. telur.Upacara surtanah ini diselenggarakan secara sederhana. yang diutamakan untuk berdoa adalah putra-putri dari orang yang meninggal. d. e. Inti dari upacara surtanah adalah berdoa. saudara dekat. Sedekah Nyewu. yang hadir umumnya adalah saudara. b. tetangga yang dekat dan ulama yang diundang. kopi ataupun uang dan lainlain )yang tujuannya untuk meringankan beban keluarga. ketiga sesudah saat meninggalnya kebudayaan 45 Jawa . Sedekah Mendak sepisan dan Mendak pindo. masing-masing upacara selamatan kematian yang dilakukan pada waktu sesudah satu tahun dan dua tahun dari saat meninggal seseorang. Sedekah Nyatus yakni upacara keselamatan kematian yang diadakan sesudah hari keseratus sejak saat kematiannya. Tidak ada acara kendhuren. Sedekah Mitung dina ialah upacara selamatan saat sesudah menginggalnya seseorang yang jatuh pada hari ketujuh. Selain doa biasanya juga ada acara tahlilan yang dilanjutkan dengan mengaji bersama. penggarapan tanah pertanian dan setelah panen padi. Tidak ada undangna khusus untuk acara ini. 2. g. f. Bisa juga jika keluarga yang ”kesripahan” ingin sodaqoh bisa dengan membuat makanan yang banyak atau menyiapkan besek untuk dibawa pulang yang hadir tapi itu tidak wajib. Yang dianjurkan adalah orang lain yang membawa bantuan untuk keluarga yang ”kesripahan”. Sedekah Nelung dina ialah upacara selamatan kematian yang diselenggarakan pada hari seseorang. gula. bahan untuk sayur.

Selain upacara selamatan. Ruwatan dilakukan oleh dukun. sehingga orang Jawa yang mempunyai anak akan mengadakan ruwatan untuk menghindarkan anaknya dari bahaya. Tempat yang dipilih biasanya tempat yang dianggap keramat dan mengandung bahaya ghaib (angker)agar terhindar dari gangguan makhluk halus. yang percaya pada adanya ruh halus. atau badan halus.bahkan pada burung perkutut. kendaraan istana (kereta Nyai Jimat dan Garuda Yeksa). Selamatan yang berhubungan dengan hari-hari serta bulan-bulan besar Islam 4. Masyarakat Jawa juga mengenal adanya upacara sesaji panyadran agung yang dilakukan tiap tahun oleh keluarga Kraton Yogyakarta bertepatan Maulid Nabi Muhammad SAW atau disebut juga Gerebeg Mulud.kemenyan. serta jin dan lain-lain. misalnya menempati rumah atau menolak bahaya (ngruwat). keris. Ruwatan biasanya disrtai pertunjukkan wayang kulit sehari semalam dengan mengambil cerita Batara Kala. Adapun kepercayaan kepada kekuatan sakti (kasakten) ditujukan kepada benda-benda pusaka. serta kepada raksasa Batara Kala. yang pandai menyembuhkan penyakit dan mengenyahkan ruh jahat. kebudayaan 46 Jawa . Sesajen merupakan ramuan tiga macam bunga (kembang telon) yang dimasukkan ke dalam air. dan kue apem yang ditaruh dalam besek ataupun bungkusan daun pisang kemudian ditempatkan di atas meja untuk dikutug. Dalam kehidupan masyarakat Jawa terdapat berbagai macam aliran kebatinan. Untuk kendaraan istana setiap setahun sekali pada hari Jumat Kliwon pada bulan Sura dibersihkan dengan upacara siraman yang dilakukan di dalam lingkunagn istana (Ratawijaya) secara terbuka. Ada sesajen yang dibuat pada tiap malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon. Gerakan atau aliran kebatinan yang keuaniyahan. Selamatan pada saat-saat yang tidak tertentu berkaitan dengan kejadiankejadian.3. gamelan. uang recehan. pada masyarakat Jawa juga dikenal adanya sesajen. yang macamya yaitu: 1. air bekas siraman tersebut dapat memberi berkah. Menurut kepercayaan masyarakat Jawa. Sedangkan Batara Kala adalah raksasa yang mempuyai kekuatan sakti untuk mendatangkan bencana pada benda atau manusia. Sesajen merupakan penyerahan sajian pada waktu dan di tempat tertentu dalam rangka kepercayaan kepada makhluk halus.

bulan di mana mereka yang menganut ajaran Islam berpuasa. bengi: malam) adalah sebuah prosesi yang dilakukan pada bayi pada malam ketujuh sejak kelahirannya. Aliran kehindu-jawian.2. dengan usaha manusia untuk mencari kesatuan dengan Tuhan. 3. Mekanismenya hampir sama dengan prosesi tasyakuran biasa. yang pengikutnya percaya kapada dewa agama Hindu 4. dengan syariat yang sengaja dibedakan dengan syariat Islam dan mengandung banyak unsur Hindu-Jawa. Selain itu upacara ini juga dilaksanakan oleh orang Jawa yang tidak menganut ajaran Islam pula. Selain yang telah dijelaskan.upacara adat yang lain yaitu sebagai berikut : Sadran Sadran merupakan Upacara masyarakat Jawa Baru (dan Madura serta mungkin juga Sunda) yang disebut dengan nama sadran atau bentuk verbal nyadran. Mitung Mbengeni Mitung Mbengeni (berasal dari Bahasa Jawa: pitu: tujuh. terdapat upacara. Hidup Betul. yang ajarannya banyak mengambil unsur keimanan agama Islam. kebudayaan 47 Jawa . Aliran yang bersifat mistik. Hampir semua gerakan kebatinan ini bertujuan menuju kesempurnaan hidup manusia. Hidup Betul Iman Agama Hak. Hanya pada menu makanannya ditambahin menu ngethingi. merupakan reminisensi daripada upacara sraddha Hindu yang dilakukan pada jaman dahulukala. Aliran yang keislam-islaman. Hendra Pusara. Contoh aliran kebatinan yang pernah berkembang di daerah selatan Yogyakarta misalnya ”ADARI” singkatan ”Agama Jawa Asli Republik Indonesia”. dan Parda Pusara Penitisan Rohani. Ramadan. Upacara ini dilakukan oleh orang Jawa pada bulan Jawa-Islam Ruwah sebelum bulan Puasa. Upacara sadran ini dilakukan dengan berziarah ke makam-makam dan menabur bunga (nyekar).

dengan menempatkan si anak didepan dengan posisi di gendong dengan menggunakan selendang berwarna kuning. sebagian besar dari anak-anak peserta Ngerak tertarik untuk mengambil kaki ayam panggang tersebut. di pintu masuk ruang resepsi disediakan kotak sumbangan berbentuk rumah. Lengkap dengan dekorasi. Mantu Poci Mantu Poci adalah salah satu kebudayaan di wilayah Tegal (Jawa Tengah). kemudian dimandikan dengan kembang tujuh rupa oleh sesepuh setempat. dengan cara inti melangsungkan 'pesta perkawinan' antara sepasang poci tanah berukuran raksasa. Ngerak Ngerak adalah sebuah tradisi memandikan anak kecil dengan umur dibawah 5 tahun. puput puser dilakukan oleh seorang dukun bayi. Untuk orang jaman dulu. Sebelum berangkat dari rumah. kemudian dilepas dengan pesta besar dengan mengundang sanak saudara.Mitung mbengeni juga sebagai pertanda puput puset pada bayi. Sedangkan yang paling menarik adalah seekor ayam panggang yang ditaruh disebelah kiri tas piramida. Entah sebuah kebetulan ataukah memang bermakna khusus. dilakukan prosesi iringiringan. mulai dari permainan. atas dosa/kesalahannya yang diperkirakan bisa berdampak kesialan didalam hidupnya. Sesampainya di belik. Mantu poci pada umumnya diselenggarakan oleh pasangan suami istri yang telah lama berumah tangga namun belum juga dikarunai keturunan. Sesampainya dirumah. dan relasi. si anak di suruh menaiki piramida yang terbuat dari bambu yang berisi pernak-pernik. mantu poci juga bertujuan agar penyelenggara merasa seperti menjadi layaknya orang tua yang telah berhasil membesarkan putra putri mereka. sajian makanan. Seperti layaknya pesta perkawinan. Selain sebagai harapan agar pasangan suami istri segera mendapatkan keturunan. disebuah belik. dan beraneka pementasan untuk menghibur para undangan yang hadir. kebudayaan 48 Jawa . ♦ Ruwatan Adalah Tradisi ritual Jawa sebagai sarana pembebasan dan penyucian. dia sekaligus yang menolong proses persalinan sampai dengan perawatan selama sang ibu atau keluarga belum bisa memperlakukan bayi sebagaimana mestinya. Tak lupa pula. sampai dengan makanan. mantu poci juga dihadiri oleh ratusan bahkan ribuan undangan. Uniknya.

Menurut ceriteranya. yang dalam tradisi pewayangan disebut "Kama salah kendang gumulung ". atau meruwat berarti: mengatasi atau menghindari sesuatu kesusahan bathin dengan cara mengadakan pertunjukan/ritual dengan media wayang kulit. tetapi sekarang diadaptasi dengan ajaran agama. Yang lahir tunggal atau ontang-anting. Sendang kapit pancuran atau laki-laki. Dalam tradisi Jawa orang yang keberadaannya mengalami nandang sukerto/berada dalam dosa. c. perempuan. kebudayaan 49 Jawa . laki-laki. e. perlu mengadakan ritual tersebut. Ketika raksasa ini menghadap ayahnya (Batara guru) untuk meminta makan. b. akhirnya menjelma menjadi raksasa. agar menjadi suci kembali. maka untuk mensucikan kembali. Kembang sepasang atau kembar. Tokoh ini adalah anak Batara Guru (dalam cerita wayang) yang lahir karena nafsu yang tidak bisa dikendalikannya atas diri Dewi Uma. Yang akan mengalami penderitaan atau sukerta. yang kemudian sepermanya jatuh ketengah laut. Tradisi "upacara /ritual ruwatan" hingga kini masih dipergunakan orang Jawa. Jenis manusia yang disukai Bathara Kala yaitu : a. d. yang isi pokoknya memuat masalah pensucian. yaitu pembebasan dewa yang telah ternoda. sebagai sarana pembebasan dan penyucian manusia atas dosanya/kesalahannya yang berdampak kesialan didalam hidupnya. Uger-uger lawang atau dua anak laki-laki semua.Upacara adat ini berasal dari buadaya adat Jawa kuna yang sifatnya sinkretis. orang yang manandang sukerto ini. oleh Batara guru diberitahukan agar memakan manusia yang berdosa atau sukerta. diyakini akan menjadi mangsanya Batara Kala. Tradisi ruwatan di Jawa ( Jawa tengah) awalnya diperkirakan berkembang didalam cerita Jawa kuno.

orang yang diruwat harus menjalani siraman air suci dan gunting rambut. telur ayam dan uang dengan diiringi doa mohon keselamatan dan kesejahteraan serta agar tercapai apa yang dicita citakan. kedelai hitam. Ada tradisi tidak tertulis yang menganjurkan bahwa pucuk dari kerucut tumpeng dihidangkan bagi orang yang profesinya tertinggi dari orang-orang yang hadir. Kembang pitung rupa Jika untuk tolak bala atau membuang sial orang yang mengalami sukerta. kebudayaan 50 Jawa . Tumpeng biasa disajikan di atas tampah (wadah tradisional) dan dialasi daun pisang.Sesajen yang perlu disiapkan untuk upacara ini adalah : a. Ini dimaksudkan untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang tersebut. berkembang tradisi 'tumpengan' pada malam sebelum tanggal 17 Agustus. kemiri. Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Di Yogyakarta misalnya. rambutnya lalu dilarung di laut. Kain pitung werna b. Selesai upacara ngruwat. Beras kuning c. bambu gading yang berjumlah lima ros ditanam pada kempat ujung rumah disertai empluk (tempayan kecil) yang berisi kacang hijau . ikan asin. Tumpeng Acara yang melibatkan nasi tumpeng disebut secara awam sebagai 'tumpengan'. kluwak. untuk mendoakan keselamatan negara. Jarum kuning d.

     Kutug Kutug merupakan ritual membakar kemenyan yang dilakukan oleh penganut ajaran tertentu. urap kacang panjang. Dibuat dari nasi putih yang disajikan dengan lauk-pauk sayuran. tumpeng ini dikelilingi enam buah tumpeng kecil lainnya. Variasinya melibatkan tempe kering. dengan tujuan agar mendapat lindungan. dihari-hari tertentu. Di bagian puncak tumpeng ini diletakkan telur ayam.warna kuning menggambarkan kekayaan dan moral yang luhur. hewan laut (ikan lele. seperti kelahiran. dan sebagainya. Tumpeng Pungkur . ikan asin atau lele goreng. dan daun seledri.Tumpeng ini biasa disajikan pada upacara siraman dalam pernikahan adat Jawa. Setiap lauk ini memiliki pengartian tradisional dalam budaya Jawa dan Bali.Tumpeng ini digunakan pada syukuran kehamilan tujuh bulan. Variasi Nasi Tumpeng :  Tumpeng Robyong . Tumpeng Nasi Uduk . Tumpeng ini kemudian dipotong vertikal dan diletakkan saling membelakangi. bawang merah dan cabai. Tumpeng Putih . dan sebagainya. terasi. Digunakan untuk syukuran acara-acara gembira. Digunakan untuk peringatan Maulud Nabi. Dalam pengartian makna tradisional tumpeng.digunakan pada saat kematian seorang wanita atau pria yang masih lajang. Namun demikian.Tidak ada lauk-pauk baku untuk menyertai nasi tumpeng. keselamatan dan berkah dari Syang Hyang Widi. serundeng. abon. Tumpeng ini terbuat dari nasi putih. Tumpeng ini diletakkan di dalam bakul dengan berbagai macam sayuran. Selain satu kerucut besar di tengah.Disebut juga tumpeng tasyakuran. telur dadar/telur goreng.warna putih pada nasi putih menggambarkan kesucian dalam adat Jawa. bayam atau kacang panjang). timun yang dipotong melintang. Tumpeng Nujuh Bulan . beberapa lauk yang biasa menyertai adalah perkedel. ikan bandeng atau rempeyek teri) dan sayur-mayur (kangkung. pernikahan. Biasa disajikan di atas tampah yang dialasi daun pisang. Digunakkan untuk acara sakral. Tumpeng Nasi Kuning . Ritual ini biasanya dilakukan oleh kepala adat. kebudayaan 51 Jawa . dianjurkan bahwa lauk-pauk yang digunakan terdiri dari hewan darat (ayam atau sapi). tunangan. kedelai goreng.

Ngarotengahi Malam Satu Suro Latar belakang dijadikannya 1 Muharam sebagai awal penganggalan islam oleh Khalifah Umar bin Khathab. Ada beberapa tahapan yang dilakukan oleh suatu keluarga dalam rangka ngethingi. Yang dapat dimaknai sebagai upacara untuk mawas diri. berkaca pada diri atas apa yang dilakoninya selama setahun penuh. Nyetauni 5. Mitoni 4. Dengan Tapa Bisu. atau mengunci mulut. Mitung Mbengeni 2. menjadi aktivitas yang menurut banyak cerita masih mewarnai tradisi masyarakat Yogyakarta. Maka tahum 931 H atau 1443 tahun Jawa baru. Yang paling mudah ditemui di seputaran Yogyakarta. Sabtu Pahing. Tradisi Jawa Malam hari. dengan caranya sendiri-sendiri. Sunan Giri II telah membuat penyesuaian antara sistem kalender Hijriyah dengan sistem Kalender Jawa pada waktu itu. hingga memacetkan lalu-lintas di seputaran kraton dan jalan protokol.Ngethingi Ngethingi merupakan tradisi tasyakuran sebagai bentuk atau moment peringatan terhadap seorang bayi ketika berusia tertentu. Diantaranya adalah : 1. tidak mengeluarkan kata-kata selama ritual ini. untuk dapat dikatakan demikian. Neloni 3. tanggal 19 Januari 2007. sebuah keluarga yang dikaruniai tambahan jumlah anggota baru (melahirkan) wajib melaksanakan syukuran dengan selalu membuat masakan yang berbahan dasar sayur-sayuran (lebih tepatnya dan lazimnya yang digunakan adalah daun pepaya muda). adalah Tirakatan kebudayaan 52 Jawa . konon untuk memperkenalkan kalender islam di kalangan masyarakat Jawa. sendang atau sumber mata air tertentu. Ritualnya. seorang khalifah islam dijaman etelah nabi Muhammad wafat. menghadapi tahun baru di esok paginya. banyak orang melakukan ritual menjelang 1 Sura tahun Jawa 1940 yang jatuh esok paginya. yang masih menjunjung tradisi dengan filosofis tinggi. Tidak sedikit. Kungkum atau berendam di sungai besar. warga yang melakukan ritual Mubeng Beteng. Awal dari afiliasi ini. yaitu pada jaman pemerintahan kerajaan Demak.

pengunjung dan masyarakat yang datang tidak hanya disuguhi keramaian pagelaran wayang dan keheningan suasana Cepuri yang mistis. khususnya adat. menjadi ritual yang tidak asing di telinga masyarakat Jawa. dan berbagai jasa lainnya.dan Pagelaran Wayang Kulit. Ritual ini menjadi ritual tahunan Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat. Parangkusumo memang biasa menjadi tempat berlangsungya prosesi ini. Wayang dan Nyekar di Cepuri Parangkusumo.“wanita pendamping” tampak bertebaran menjadi konsekuensi atas berjubelnya pengunjung. Hal ini yang menarik perhatian saya untuk berkunjung kesana di malam satu Suro. kawasan Parangtritis. Hal ini yang saya dapat dari penuturan warga sekitar. Begitu pula di Pantai Parangkusumo. makanan. Tukang obat tradisional. menjadi dua kegiatan utama pada malam itu. di Yogyakarta. perkiraan saya salah. Kawasan pantai Parangtrisits. Cepuri Parangkusumo kebudayaan 53 Jawa . Labuhan. Meski begitu. pijat tradisional dan -kalau saya tidak salah mengartikan. Tumpah ruahnya pengunjung tiap tahunnya dimanfaatkan betul oleh pedagang kembang. Pantai Parangkusumo Dari sekian acara yang tentu saja berlangsung di tiap pelosok Yogyakarta. Dijubeli ratusan pengunjung yang berbaur dengan pedagang dan hiruk pikuknya lalu lalang kendaraan bermotor tidak mengurangi khidmatnya pagelaran wayang malam itu. memiliki daya tarik tersendiri di malam satu Suro. khususnya Parangkusumo. Labuhan dilangsungkan pada pagi hari tanggal 15 Suro. Wayang Kulit Semalam Suntuk Tradisi dan warisan budaya Jawa ini tak pernah lepas dari tiap momen penting. Kretek. Namun. Apalagi malam satu Suro di kawasan pantai selatan dengan segala macam pernak-pernik mistisnya. Bantul Yogyakarta.

Batu Kyai Panembahan Senopati yang lebih besar terletak di sebelah selatan batu Kanjeng Ratu Kidul. mengira beliau adalah juru kunci.Merupakan area tempat bersandingnya dua batu yang dikeramatkan. Namun. Tiap pengunjung yang masuk wajib menemui juru kunci dan menyalakan dupa. yang keduanya dipagar mengeliling dengan satu pintu/gapura masuk. Kembang. kebudayaan 54 Jawa . dan mungkin pengunjung lain. ada seorang pemuda yang dengan khusyuk nya berdoa di sebelah batu Panembahan Senopati dengan pakaian Jawa lengkap. Diantara rombongan peziarah yang silih berganti masuk ke area Cepuri. ditemani aroma dupa dan bunga yang menusuk hidung. sebelum menabur bunga dan berdoa. Apalagi di malam satu Suro. sang juru kunci sendiri duduk bersila tepat di depan gapura setelah pengunjung masuk. tidak sedikit peziarah yang datang dan berdoa di tempat ini. saya. dupa dan sesaji menjadi obyek yang tidak lepas dari tempat keramat macam ini. Awalnya.

Begitu pula di kawasan Puro Pakualaman Yogyakarta. begitu informasi dari penduduk sekitar. dan terlihat sangat menikmati sajian wayang kulit semalam suntuk. Berbeda dengan kawasan pesisir Parangkusumo. Selebihnya warung dan pedagang kaki lima yang biasa mangkal di halaman Kraton pun tak lepas menjadi tempat warga menikmati sajian wayang kulit. Bahkan kursi penumpangnya pun dijadikan tempat nyaman rekan penarik becak lainnya untuk duduk berselimut sarung dan menikmati malam panjang itu. Puro Pakualaman Pagelaran wayang kulit semalam suntuk banyak diselenggarakan warga di pelosok kota. Masih duduk di atas sadel tempatnya mengayuh kendaraan roda tiga ini.Rombongan peziarah yang nampak berbeda dari sebagian lainnya adalah rombongan peziarah dari Kraton Solo. kebudayaan 55 Jawa . Mereka menggunakan pakaian Jawa lengkap dengan sesaji dibungkus kain putih dan hijau. warga yang hadir hanya ditampung secara “resmi” dengan sebuah tenda. di Puro Pakualaman ini. warga yang datang dengan kendaraan roda dua pun enggan beranjak dari atas sepeda motornya. Begitu pula dengan penarik becak. duduk bersila disamping dua batu tersebut. Kraton “Kedua” di kawasan Yogyakarta ini pun dihadiri warga yang ingin menghabiskan malam satu Suro dengan tradisi tahunannya. Bahkan.

Tujuannya adalah untuk keselamatan calon bayi dan calon ibu dan juga untuk tolak bala. Upacara adat ini kurang dikenal pada daerah-daerah tertentu. Yang membedakan dengan upacara adat ”meteng” lainnya yaitu ada sajian kupat yang ditaruh didalam tempat yang biasa disebut ”besek” yang dibawa pulang oleh orang yang hadir pada acara kenduren. Waktunya harus diselenggarakan pada hari yang baik menurut hitungan hari Jawa.Ngupat Ngupat atau ngupati adalah salah satu upacara adat yang dilakukan saat calon ibu mengandung ( mbobot ) 4 bulan. berbeda dengan upacara adat ”mitoni” yang sudah umum dikenal oleh masyarakat Jawa dan juga dikenal oleh masyarakat nusantara. Mitoni atau Tingkeban Mitoni berasal dari kata ”pitu” ( 7 ). Upacara adat ini diselenggarakan saat calon ibu mengandung 7 bulan. Rangkaian acara dari ”mitoni” adalah sebagai berikut : kebudayaan 56 Jawa . Ngliman Ngliman adalah salah satu upacara adat ”wetwngan” yang diselenggarakan ketika calon ibu mengandung lima bulan. Jadi menurut orang Jawa ”wetengan” umur tujuh bulan itu proses penciptaan manusia itu sudah nyata dan sudah sempurna atau Sapta Kawasa Jati. Jabang bayi yang berumur tujuh bulan itu sudah mempunyai raga yang sempurna. Kata ”ngupat ” berasal dari kata papat ( 4 ) atau kupat. Tujuan dari upacara adat ini adalah sama dengan ngupati yaitu upacara untuk keselamatan bayi dan calon ibu atau juga untuk tolak bala. Kata ”ngliman” berasal dari kata lima ( 5 ). Ngupati ini mengandung maksud sebagai lambang bahwa ”jabang bayi” sudah masuk dalam tahap keempat dalam proses penciptaan manusia. Di daerah tertentu upacara ini juga disebut tingkeban. Tujuannya adalah untuk keselamatan calon bayi dan ibu atau untuk tolak bala jadi hampir sama seperti mitoni.

1) Ari-ari dicuci sampai bersihdan dimasukkan kedalam kendhi atau batok kelapa. Waktu pelaksanaannya menurut orang Jawa mitoni itu harus diselenggarakan pada hari yang benar-benar bagus. 6) Memecahkan wajan dan gayung. Orang Jawa itu percaya bahwa bahwa ari-ari itu adalah salah satu dari ”sedulur papat” atau ”sedulur kembar” dari si bayi sehingga ari-ari harus dirawat dan dijaga. 8) Kenduren. 7) Mencuri telur. 3) Kendhi lalu digendong. Yaitu tempat yang digunakan untuk memendham ari-ari diberi lampu ( umumnya lampu senthir ) untuk penerangan. yaitu: 1) Siraman 2) Memasukkan telur ayam kampung didalam kain calon ibu oleh calon bapak. Istilah lain dari ariari adalah aruman atau embing-embing ( mbingmbing ). Senthir itu dihidupkan sampai 35 hari ( selapan dina ).Rangkaian acara untuk upacara mitoni ini lebih banyak daripada upacara ngupati. Tata caranya adalah sebagai berikut . kebudayaan 57 Jawa . 2) Sebelum ari-ari dimasukkan alas kendhi diberi ”godhong senthe” lalu kendhi itu ditutup dengan lemper yang masih baru dan dibungkus kain mori. 3) Salin rasukan ( ganti baju ) 4) Brojolan ( memasukkan kelapa gading muda ). dipayungi. yaitu hari senin siang sampai malam. Mendhem ari-ari Mendhem ari-ari adalah salah satu upacara kelahiran yang umum diselenggarakan dan juga di daerah – daerah ( suku-suku ) lain. Atau hari jumat siang sampai malam. dibawa ke lokasi penguburan. ini menjadi simbol pepadadang untuk bayi. Ari-ari itu bagian penghubung antara ibu dan bayi waktu bayi masih didalam rahim. 5) Memutus lawe atau lilitan benang ( janur ).

Acara ini bagus diselenggarakan setelah maghrib. Puputan atau Dhautan Puputan itu sebenarnya mempunyai makna ”tali puser bayi puput”. Acaranya yaitu kendhuren. Tedhak Siten itu berasal dari kata tedhak atau idhak dan siten ( dari kata siti yang berari lemah atau tanah ). Tujuannya baik perilakunya. Rangkaian acaranya diawali dari mendhem ari-ari yang dilanjutkan dengna bagi-bagi sesajen brokohan untuk saudara dan tetangga. Urutan kegiatannya : kebudayaan 58 Jawa adalah untuk keselamatan proses kelahiran juga untuk perlindungan terhadap bayi dan dengan harapan bayi yang lahir menjadi anak yang . Tedhak siti atau Tedhak Siten Tedhak siti adalah salah satu upacara adat untuk anak yang berumur 7 bulan. Biasanya ada upacara slametan di upacara puputan ini. Brokohan Brokohan adalah salah satu upacara adat Jawa untuk menyambut kelahiran bayi. upacara ini diselenggarakan secara lebih meriah. Jadi upacara ini diselenggarakan waktu bubar pupute dari pusar bayi.4) Lokasi penguburan kendhi harus berada di sebelah kanan pintu utama rumah. Yang memendam kendhi harus bapak dari bayi. biasanya disebut ”injak tanah” di Jakarta atau juga disebut ”mudhun lemah”. bancakan dan memberi nama bayi. Upacara adat ini umumnya diselenggarakan secara sederhanatetapi jika bersamaan dengan pemberian anma bayi. Umumnya diselenggarakan sore dengan acara kenduren dengan mengundang saudara dan tetangga. Upacara ini di daerah yang lain di nusantara juga ada. Brokohan itu asal katanya dari bahasa Arab yaitu ”barokah” yang artinya mengharapkan berkah. Kata sepasaran berasal dari kata sepasar. Suguhan yang disajikan umumnya adalah air minum dan ”jajan pasar” tetapi juga ada “besek” yang nantinya dibawa pulang. Sepasaran Adalah salah satu upacara adat Jawa waktu bayi berumur 5 hari. Upacara adat ini mempunyai makna sebagai ungkapan syukur dan sukacita karena kelahiran itu selamat. Upacara ini sebagai lambang bahwa anak bersiap-siap menjalani hidup dengan dituntun orangtua dan diselanggarakan jika anak sudak berumur 7 selapan atau 245 hari ( 7 x 35 = 245 ).

1) Tedhak sega pitung warna 2) Mudhun tangga tebu 3) Ceker-ceker 4) Kurungan 5) Sebar udik-udik 6) Siraman Sedekah Bumi Bersih desa adalah salah satu upacara adat Jawa yang diselenggarakan setelah selesainya panen padi, jadi maksudnya sebagai ungkapan syukur “tandhuran” padi berhasil panen dan hasilnya baik. Upacara adat ini kadang juga disebut upacara mreti desa dan biasanya digabung dengn upacara adat sedekah bumi atau mreti bumi. Setiap daerah mempunyai atat cara dan prosesi upacara yang berlainan menurut kebiasaan masing-masing tetapi tujuannya sama saja. Pada jaman dahulu upacara adat ini dikaitkan dengan Dewi sri yang dianggap sebagai dewi Padi karena keberhasilan panen itu hasil kemurahan dari Dewi sri yang wajib disyukuri. Tujuan dari mengadakan upacara ini adalah: 1) Untuk mengucapakan syukur kepada tuhanyang sudah memberi hasil panen padi yang melimpah. 2) Untuk menjaga keselamatan para warga desa dari gangguan hal-hal yang gaib, roh atau arwah yang gentayangan dan juga dari gangguan penyakit, serta bencana. 3) Untuk membersihkan desa dan warganya dari halangna atau kesusahan supaya keadaan desa menjadi tentram dan aman. Prosesi Umumnya dimulai setelah panen pertama. Lokasi upacara pertama di sawah yang sudah dilengkapi dengan ”ubo rampe’ yaitu janur kuning, kembang setaman, kemenyan, kaca, suri, banyu kendhi, jajan pasar, bungkusan nasi dan pisang. Setelah acara berdoa, padi yang sudah dipetik digotong ke lumbung padi. Di lumbung padi juga disiapkan perangkat upacara lanjutan yang umumnya dibuat dari daun. Diantaranya daunkluwih, dhadhap serep, godhong mojo, godhong tebu, godhong jati juga godhong luh. Masing-masing godhong ( daun ) itu mempunyai makna.

kebudayaan 59

Jawa

Munggah wuwungan Adalah salah satu upacara adat yang diselenggarakan setelah wuwungan dibangun dalam proses membangun rumah. Istilah munggah wuwungan ini biasanya disebut juga munggah gendheng. Upacara ini diselenggarakan saat rangka wuwungan sudah jadi tetapi gendeng belum dipasang. Upacara adat ini uga dikenal di daerah-daerah lain di Nusantara. Upacara ini sebenarnya upacara untuk syukuran karena rumah yang dibangun sudah mempunyai wuwungan jadi sebentar lagi sudsh bisa dipake sehingga tidak akan kepanasan atau kehujanan. Puncak acaranya adalah kendhuren, diutamakan untuk tuakang-tukang yang membangun rumah dan para tetangga yang berada dekat dengan rumah yang dibangun. Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh ulama. Biasanya acara kendhuren munggah wuwungan ini diselenggarakan siang atau setelah shalat dhuhur, jadi sekalian dengan makan siang para tukang dan jamaah serta ulama yang baru keluar dari masjid atau langgar bisa langsung ikut dan pulangnya bisa membawa besek. Sesajen juga perlu disiapkan untuk digantung disalah satu kayu di wuwungan. Yang tidak digantung hanya bendhera merah putih yang dipasang dengan galah dengna panjang sedang 9 tidak terlalu panjang ), yang bisa kelihatan dari rumah tetangganya. Sesajen yang harus disiapkan : 1) Gedhang setandan 2) Tebu ireng sewit 3) Pari secukupe 4) Kelapa seiji uga bendhera

Grebeg Maulud
Perayaan Grebeg

Puncak peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. diperingati dengan penyelenggaraan upacara Grebeg Maulud yang diselenggarakan pada tanggal 12 kebudayaan 60 Jawa

Maulud, atau pagi hari esoknya, setelah kedua perangkat gamelan Kyai Nogowilogo dan Kyai Guntur madu dibawa masuk kembali ke dalam Kraton oleh masyarakat Yogyakarta, kejadian ini lazim disebut dengan istilah Bendhol Songsong. Pada pagi hari, pukul 08.00, upacara dimulai dengan parade kesatuan prajurit Kraton yang mengenakan pakaian kebesarannya masing-masing. Puncak dari upacara ini adalah iringan gunungan yang dibawa ke Masjid Agung . Setelah di Masjid diselenggarakan doa dan upacara persembahan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, sebagian gunungan dibagi-bagikan pada masyarakat umum dengan jalan diperebutkan. Bagian-bagian dari gunungan ini umumnya dianggap akan memperkuat tekad dan memiliki daya tuah terutama bagi kaum petani, mereka menanamnya dilahan persawahan mereka, untuk memperkuat doanya agar lahannya menjadi subur dan terhindar dari berbagai hama perusak tanaman. Selain upacara Grebeg Maulud, didalam satu kurun tahun Jawa terdapat upacara-upacara Grebeg yang lain, yakni Grebeg Syawal yang diselenggarakan pada tanggal 1 bulan Syawal sebagai ungkapan terima kasih masyarakat kepada Tuhan dengan telah berhasil diselesaikannya ibadah puasa selama satu bulan penuh dibulan Suci Ramadhan, dan Grebeg Besar yang diselenggarakan pada tanggal 10 bulan Besar, berkaitan dengan peringatan hari Raya Qurban Idhul Adha.

Upacara Jamasan

Bagi orang Jawa, benda-benda pun dianggap memiliki jiwa. Oleh karena itu, benda-benda itu harus diperlakukan istimewa yang nyaris sama seperti manusia itu sendiri. Mungkin saja ini masih dianggap sebagai animisme, tapi tentu saja orang Jawa akan menyangkalnya. Yang jelas, untuk benda-benda milik Keraton Yogyakarta seperti kereta, gamelan, maupun pusaka, semuanya memiliki nama seperti manusia. Ada Kiai Sangkelat, Kiai Nagasasra (keris), Kiai Guntur Madu (gamelan), ada pula Kanjeng Nyai Jimat dan Kyai Puspakamanik (kereta). Di Keraton Yogyakarta, benda-benda itu selalu dicuci yang diistilahkan dengan nama kebudayaan 61 Jawa

Semua yang terlibat dalam ritual itu harus mengenakan kain panjang. Berbentuk anggun. Semisteri pusaka yang dipercayai memiliki kekuatan supra natural itu sendiri. di samping jamasan kereta. diperkirakan ditarik oleh enam sampai delapan kuda. Sebuah simbol kewibawaan seorang raja. dan dia selalu ditemani oleh salah sebuah kereta lain yang dipilih secara bergantian setiap tahunnya. hal ini dikarenakan masyarakat Jawa percaya bahwa air ini akan membawa berkah bagi mereka. Kereta yang penuh ukiran itu sendiri memiliki pintu dan atap sehingga mirip mobil. Jamasan biasanya seorang pejabat keraton yang khusus menangani masalah perawatan kereta. Kereta itulah yang setiap bulan Sura selalu dijamasi karena dianggap sebagai kereta cikal-bakal kereta lainnya. dan penutup kepala blangkon. beroda empat. semasa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I. Kereta itu tersimpan di dalam Museum Kereta Keraton Yogyakarta. Kemudian ada Kyai Puspakamanik. Setiap Kanjeng Nyai Jimat dijamasi. Mereka. Sebenarnya. Kereta ini dibuat pada tahun 1750-an. Di sana ada sekitar selusin kereta yang sebagian besar masih bisa digunakan. bergaya kereta kerajaan-kerajaan Eropa. Sehingga banyak orang rela berebut bekas air cucian kereta dengan cara menampung aliran air dari badan kereta dan memasukkan air bekas cucian itu ke dalam botol bekas air kemasan maupun jerigen. diberi nama Kanjeng Nyai Jimat. kebudayaan 62 Jawa . dua buah yang besar di belakang. semuanya Kliwon. Kereta itu menjadi tumpangan para pangeran pada pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VIII. Kereta itu menjadi tunggangan Sultan Hamengku Buwono I sampai III. Cara jamasan itu sendiri juga khas.dijamasi pada bulan Sura (Muharam) dan selalu pada hari istimewa Jumat Kliwon atau mengenakan pakaian adat Jawa Selasa peranakan. dan dua buah di depan agak kecil. Misteri jamasan pusaka itu sendiri akhirnya memang tinggal misteri yang dipelihara turuntemurun. laki-laki. sebuah kereta hadiah dari Kerajaan Belanda yang dibuat pada tahun 1901. karena mereka percaya bahwa air ini mengandung hal gaib/sakti karena pemiliknya merupakan orang yang sakti. Proses pencucian kereta ini memiliki nilai wisata ritual magis religius. surjan. Akan tetapi. jamasan pusaka itu tidak boleh dilihat oleh umum. Mereka berbusana seperti itu karena mereka akan menjamasi sebuah kereta. di dalam keraton juga ada jamasan pusaka.

Upacara Labuhan Selain itu terdapat pula Upacara Labuhan yang merupakan rangkaian dari Tradisi 1 Sura. kata “beksa” berarti “ambeg” dan “esa”. bunga dan lain-lain ke laut selatan . Sumber utamanya terdapat di Keraton Surakarta dan di Pura Mangkunegaran. H. kata tersebut mempunyai maksud dan pengertian bahwa orang yang akan menari haruslah benar-benar menuju satu tujuan. Tokoh-tokoh tersebut umumnya masih keluarga Sri Susuhunan atau kerabat kraton yang berkedudukan. Dari kedua tempat inilah kemudian meluas ke daerah Surakarta seluruhnya dan akhirnya meluas lagi hingga meliputi daerah Jawa Tengah. kebudayaan 63 Jawa . potongan rambut serta potongan kuku beliau ditanam di dalam areal tanah sengker (suatu areal tanah yang dianggap keramat di daerah Parangkusumo). Seni tari adalah ungkapan yang disalurkan / diekspresikan melalui gerakgerak organ tubuh yang ritmis. yaitu menyatu jiwanya dengan pengungkapan wujud gerak yang luluh. Seni tari yang berpusat di Kraton Surakarta itu sudah ada sejak berdirinya Kraton Surakarta dan telah mempunyai ahli-ahli yang dapat dipertanggungJawabkan. Surakarta merupakan pusat seni tari. Sehingga bisa dikatakan bahwa kedua upacara ini yaitu tradisi malam 1 Suro dan Upacara Labuhan merupakan 2 hal yang saling berkaitan di dalam tradisi Kraton Yogyakarta. sebagai bentuk permohonan untuk mendapatkan kesejahteraan dan keselamatan kepada Ratu Kidul Penguasa laut Selatan . Tari mengalami kejayaan yang berangkat dari kerajaan Kediri. Hindu sampai masuknya agama Islam dan kemudian berkembang.1 Seni Tari Tari sering disebut juga ”beksa”. Seni tari yang merupakan bagian budaya bangsa sebenarnya sudah ada sejak jaman primitif. alat-alat rias. PRODUK BUDAYA H. Singosari. indah mengandung kesusilaan dan selaras dengan gending sebagai iringannya. sirih. Bahkan tari tidak dapat dilepaskan dengan kepentingan upacara adat sebagai sarana persembahan. Berbagai pakaian bekas yang pernah dipergunakan oleh Sri Sultan. Dimana pagi hari sesudah malam 1 Sura maka diadakan Upacara labuhan yaitu dengan mempersembahkan pakaian wanita . terus sampai jauh di luar Jawa Tengah. Majapahit khususnya pada pemerintahan Raja Hayam Wuruk.

TARI KLASIK dari JAWA TENGAH • Tari Bedhaya Menurut kitab Wedbapradangga yang dianggap pencipta tarian Bedhoyo Ketawang adalah Sultan Agung (1613-1645) raja ke-1 dan terbesar dari kerajaan Mataram bersama Kanjeng Ratu Kencanasari. Prawirayudha. yaitu : 1. Ebeg. terlebih dahulu Sultan Agung memerintahkan para pakar gamelan untuk menciptakan sebuah gendhing yang bernama Ketawang. lebih perseorangan. Dolalak. Beberapa contoh tarian gaya surakarta. Kuda Kepang. Yang khusus di Mangkunegaran disebut Tari Langendriyan. 3. diantaranya : Srimpi. 2. Pedoman tari tradisional itu sebagian besar mengutamakan gerak yang ritmis dan tempo yang tetap sehingga ketentuan-ketentuan geraknya tidaklah begitu ditentukan sekali. Tari semacam itu termasuk jenis kesenian tradisional. Tari Klasik Tari Tradisional Tari garapan Baru Beberapa jenis tari yang ada antara lain : 1. Bedhaya. di daerah Jawa Tengah terdapat pula bermacammacam tari daerah setempat. seperti : Dadung Ngawuk. sintren.Seni tari yang berpusat di Kraton Surakarta itu kemudian terkenal dengan Tari Gaya Surakarta. Tarian Bedhoyo Ketawang tidak hanya dipertunjukan pada saat penobatan raja yang baru tetapi juga pertunjukan setiap kebudayaan 64 Jawa . Jelantur. penguasa laut selatan yang juga disebut Kanjeng Ratu Kidul. Sebelum tari ini diciptakan. Dalam perkembangannya timbullah tari kreasi baru yang mendapat tempat dalam dunia tari gaya Surakarta. Wireng. Konon penciptaan gendhingpun menjadi sempurna setelah Sunan Kalijaga ikut menyusunnya. Jadi lebih bebas. lengger. Wayang-Purwa Mahabarata-Ramayana. Seni tari dapat dibedakan menjadi 3 jenis. barongan. dan lain-lain. yang termasuk seni tari bermutu tinggi. Ketek Ogleng. Selain tari yang bertaraf kraton (Hofdans). Incling. Gambyong. yang mengambil cerita Damarwulan. Tayuban.

tahun sekali bertepatan dengan hari penobatan raja atau "Tingalan Dalem Jumenengan". Instrumen gamelan yang dimainkan hanya beberapa yakni Kemanak. Pertunjukan Bedhoyo Ketawang pada masa Sri Susuhunan Paku Buwana XII diselenggarakan pada hari kedua bulan Ruwah atau Sya'ban dalam Kalender Jawa. Istrumen-istrumen tersebut selain dianggap khusus juga ada yang mempunyai nama keramat. dua buah rebab bemama Kanjeng Kyai Grantang dan Kanjeng Kyai Lipur serta sehuah Gong ageng bernama Kanjeng Nyai Kemitir. Kendhang Ketipung dan Gong Ageng. Busana Tari Bedhoyo Ketawang menggunakan Dodot Ageng dengan motif Banguntulak alas-alasan yang menjadikan penarinya terasa anggun. Dua buah Kendang Ageng bemama Kanjeng kyai Denok dan Kanjeng Kyai Iskandar. Gamelan yang mengiringinya pun sangat khusus yaitu gamelan "Kyai Kaduk Manis" dan "Kyai Manis Renggo". Kenong. Kethuk. kebudayaan 65 Jawa . Kendhang Ageng.

Hal ini kemudian dibawa ke Kraton Kasunanan Surakarta. Oleh Sunan Pakubuwono I dinamakan Bedhaya Ketawang. dengan nama peranan sebagai berikut: o o o o o o o o o o o o o o o o o o Endel pojok Batak Gulu Dhada Buncit Endhel Apit Ngajeng Endhel Apit Wuri Endhel Weton Ngajeng Endhel Weton Wuri Bedhaya Ketawang lama tarian 130 menit Bedhaya Pangkur lama tarian 60 meit Bedhaya Duradasih lama tarian 60 menit Bedhaya Mangunkarya lama tarian 60 menit Bedhaya Sinom lama tarian 60 menit Bedhaya Endhol-endhol lama tarian 60 menit Bedhaya Gandrungmanis lama tarian 60 menit Bedhaya Kabor lama tarian 60 menit Bedhaya Tejanata lama tarian 60 menit Beberapa jenis tari Bedhaya yang belum mengalami perubahan : Pada umumnya berbagai jenis Bedhaya tersebut berfungsi menjamu tamu raja dan menghormat serta menyambut Nyi Roro Kidul. khususnya Bedhaya Ketawang yang jarang disajikan di luar Kraton. juga sering disajikan pada upacara kebudayaan 66 Jawa . Ide Sunan Kalijaga tentang Bedhaya dengan 9 penari ini akhirnya sampai pada Mataram Islam. maka disusunlah Bedhaya dengan penari berjumlah 9 orang.Budaya Islam ikut mempengaruhi bentuk-bentuk tari yang berangkat pada jaman Majapahit. Seperti tari Bedhaya 7 penari berubah menjadi 9 penari disesuaikan dengan jumlah Wali Sanga. tepatnya sejak perjanjian Giyanti pada tahun 1755 oleh Pangeran Purbaya. Tumenggung Alap-alap dan Ki Panjang Mas. termasuk jenis Bedhaya Suci dan Sakral.

Disamping itu ada juga Bedhaya-bedhaya yang bertema kepahlawanan dan bersifat monumental. Contoh Bedhaya garapan baru : o o o • Bedhaya La la lama tarian 15 menit Bedhaya To lu lama tarian 12 menit Bedhaya Alok lama tarian 15 menit Tari Srimpi Tari Srimpi yang ada sejak Prabu Amiluhur ketika masuk ke Kraton mendapat perhatian pula. api. Dhada dan Buncit. Komposisinya segi empat yang melambangkan tiang Pendopo. Tarian yang ditarikan 4 putri itu masing-masing mendapat sebutan : air. Gulu.keperluan jahat di lingkungan Istana. Melihat lamanya penyajian tari Bedhaya (juga Srimpi) maka untuk konsumsi masa kini perlu adanya inovasi secara matang. dengan tidak mengurangi isi dan bobotnya. yang selain melambangkan terjadinya manusia juga melambangkan empat penjuru mata angin. Juga karena lamanya penyajian (60 menit) maka untuk konsumsi masa kini diadakan inovasi. Sedang nama peranannya Batak. tari Srimpipun ada yang suci atau sakral yaitu Srimpi Anglir Mendhung. angin dan bumi/tanah. Seperti Bedhaya. Contoh Srimpi hasil garapan baru : o o o Srimpi Anglirmendhung menjadi 11 menit Srimpi Gondokusumo menjadi 15 menit Dan lain-lain Beberapa tari klasik yang tumbuh dari Bedhaya dan Srimpi : o Beksan Gambyong kebudayaan 67 Jawa .

Sehingga tari ini menggambarkan ketangkasan dalam latihan perang dengan menggunakan alat perang. tari ini sering juga ditarikan untuk menyambut tamu dalam upacara peringatan hari besar dan perkawinan. menag atau mati Jawa . artinya gendhing ladrang kemudian diteruskan gendhing ketawang  kebudayaan 68 Tidak ada yang kalah. yang 'linuwih'. akhirnya Nyi Mas itu dipanggil oleh Bangsawan Kasunanan Surakarta untuk menari di Istana sambil memberi pelajaran kepada para putra/I Raja.Berasal dari tari Glondrong yang ditarikan oleh Nyi Mas Ajeng Gambyong. Adapun ciri-ciri tari ini :     Jumlah penari seorang putri atau lebih Memakai jarit wiron Tanpa baju melainkan memakai kemben atau bangkin Tanpa jamang melainkan memakai sanggul atau gelung  o Dalam menari boleh menggunakan sindenan ( menyanyi ) atau tidak Beksan Wireng Berasal dari kata Wira (perwira) dan 'Aeng' yaitu prajurit yang unggul. hanya iramanya atau temponya kendho atau kenceng  Gending satu atau dua. Selain sebagai hiburan. Oleh istana tari itu diubah menjadi Tari gambyong. Tari ini diciptakan pada jaman pemerintahan Prabu Amiluhur dengan tujuan agar para putra beliau tangkas dalam olah keprajuritan dengan menggunakan alat senjata perang. Menarinya sangat indah ditambah kecantikan dan modal suaranya yang baik. artinya tidak menggunakan gending sampak/srepeg. Ciri-ciri tarian ini :      Ditarikan oleh dua orang putra atau putri Bentuk tariannya sama Tidak mengambil suatu cerita Tidak mengambil ontowacono (dialog) Bentuk pakaiannya sama  Perangnya tanding. yang 'aeng'.

Ciri-cirinya :      Tari boleh sama. menang atau mati Perang menggunakan gendhing srepeg. Pertama dipentaskan di Surakarta pada upacara perkawinan KGPH. kecuali pada lakon kembar Ada yang kalah. boleh tidak Menggunakan ontowacono ( dialog ) Pakaian tidak sama. Tari ini menggambarkan cara-cara berhias diri seorang gadis yang baru menginjak masa akhil baliq. agar lebih cantik dan menarik. Bedanya Tari Pethilan mengambil adegan atau bagian dari cerita pewayangan. gangsaran  Memetik dari suatu cerita lakon Bambangan Cakil Hanila Prahasta Dan lain-lain Contoh Tari Pethilan :     • Tari Golek Tari ini berasal dari Yogyakarta. sampak.• Tari Pethilan Hampir sama dengan tari Wireng. Selanjutnya mengalami persesuaian dengan gaya Surakarta. kebudayaan 69 Jawa . Kusumoyudho dengan Gusti Ratu Angger tahun 1910.

Ciri pakaiannya : o o o o o Memakai kain wiron Memakai jamang Memakai baju kotang Menggendong boneka. Tapi Bondan Cindogo satu-satunya anak yang ditimang-timang akhirnya meninggal dunia. memanggul payung Membawa kendhi (dahulu). Sedang pada Bondan Mardisiwi tidak. sekarang jarang kebudayaan 70 Jawa . serta perlengakapan tarinya sering tanpa menggunakan kendhi seperti pada Bondan Cindogo. dan lain-lain • o o o Tari Bondan Tari ini dibagi menjadi : Bondan Cindogo Bondan Mardisiwi Bondan Pegunungan atau tani Tari Bondan Cindogo dan Mardisiwi merupakan tari gembira. mengungkapkan rasa kasih sayang kepada putranya yang baru lahir.Macam-macamnya :   Golek Clunthang iringan Gendhing Clunthang Golek Montro iringan Gendhing Montro  Golek Surungdayung iringan gendhing Ladrang Surungdayung.

sumping. pertama melukiskan kehidupan petani kemudian pakaian bagian luar yang menggambarkan gadis pegunungan dilepas satu demi satu dengan membelakangi penonton. Sedangkan Bondan Pegunungan. Selanjutnya menari seperti gerak tari Bondan Cindogo / Mardisiwi. yaitu : o o o o o o o o kebudayaan 71 Topeng Panji Ksatrian Condrokirono Gunung sari Handoko Raton Klono Denowo Benco(Tembem) Jawa . Dulu hanya diiringi lagu-lagu dolanan tapi sekarang diiringi gendhing-gendhing lengkap. memakai caping adan membawa alat pertanian hanya tidak memakai jamang tetapi memakai sanggul/gelungan. Ciri pakaiannya : o o Mengenakan pakaian seperti gadis desa. sawah. Menak Panji. melukiskan tingkah laku putri asal pegunungan yang sedang asyik menggarap ladang. dll sebelum dipakai dimasukkan tenggok. tegal pertanian. Tapi sekarang ini menurut kemampuan guru/pelatih tarinya.Untuk gendhing iringannya Ayak-ayakan diteruskan Ladrang Ginonjing. topengnya dibuat dari kayu dipoles dan disungging sesuai dengan perwatakan tokoh/perannya yang diambil dari Wayang Gedhog. Tari ini semakin pesat pertumbuhannya sejak Islam masuk terutama oleh Suann Kalijaga yang menggunakannnya sebagai penyebaran agama. Kecuali jika memakai jamang maka klat bahu. o Bentuk tariannya . Tari Topeng yang pernah mengalami kejayaan pada jaman Majapahit. Di bagian dalam sudah mengenakan pakaian seperti Bondan biasa. • Tari Topeng Tari ini sebenarnya berasal dari Wayang Wong atau drama. menggendong tenggok. sampur. Beliau menciptakan 9 jenis topeng.

kendang. Jawa Kulonan dan Jawa Timuran (Blambangan dan Osing) sehingga akar gerakan tari ini mengandung unsur kekayaan dinamis dan musik dari etnik Jawa. Menurut cerita. TARI TRADISIONAL dari JAWA TENGAH Selain tari-tari klasik. kebudayaan 72 Jawa . kencer. tertawa. malu dan sebagainya.o kepala. Kesenian tradisional tersebut tak kalah menariknya karena mempunyai keunikan-keunikan tersendiri. dllnya. 2. kesenian ini timbul sejak berkobarnya perang Aceh di jaman Belanda yang kemudian meluas ke daerah lain. Salah satu keunikannya adalah pada model alat musik yang dipakai seperti rebab (sitar Jawa) seruling Madura (yang mirip dengan terompet Ponorogo) dan karawitan model Blambangan. Tari Topeng masih bertahan hingga saat ini. Biasanya digelar pada acaraacara-acara penting kesenian tradisional tingkat nasional. Dengan demikian walaupun masih bertahan namun Tari Topeng sudah mendekati kepunahan walaupun masih tetap mengikuti acara-acara penting kesenian tradisional tingkat nasional. karenanya banyak model topeng yang menggambarkan situasi yang berbeda. di Jawa Tengah terdapat pula tari-tari tradisional yang tumbuh dan berkembang di daerah-daerah tertentu. Tari Topeng adalah perlambang bagi sifat manusia. Madura dan Bali. menangis. di Purworejo Pertunjukan ini dilakukan oleh beberapa orang penari yang berpakaian menyerupai pakaian prajurit Belanda atau Perancis tempo dulu dan diiringi dengan alat-alat bunyi-bunyian terdiri dari kentrung. Tari Topeng sendiri diperkirakan muncul pada masa awal abad 20 dan berkembang luas semasa perang kemerdekaan. Turas (Penthul) Pakaiannya dahulu memakai ikat kepala dengan topeng yang diikat pada Tari Topeng yang berasal dari Malang sangat khas karena merupakan hasil perpaduan antara budaya Jawa Tengahan. Bisanya tari ini ditampilkan dalam sebuah fragmentasi hikayat atau cerita rakyat setempat tentang berbagai hal terutama bercerita tentang kisah2 panji. Beberapa contoh kesenian tradisional : o Tari dolalak. sedih. rebana.

Bulu sampai ke Tuban. Varian lain dari jenis kesenian ini di daerah lain dikenal dengan nama kuda lumping atau jaran kepang. dllnya. o Pekalongan Di daerah Pekalongan terdapat kesenian Kuntulan dan Sintren. Sedangkan Sintren adalah sebuah tari khas yang magis animistis yang terdapat selain di Pekalongan juga di Batang dan Tegal. Kragan. sebelum tarian dimulai gadis menari tersebut dengan tangan terikat dimasukkan ke dalam tempat tertutup bersama peralatan bersolek. serta diiringi dengan bunyi-bunyian tertentu. Atraksi ini dapat disaksikan pada waktu malam bulan purnama setelah panen. di Rembang Sejenis olahraga gulat rakyat yang dimainkan oleh dua orang pegulat dipimpin oleh dua orang Gelandang (wasit) dari masing-masing pihak.o Patolan (Prisenan). barongan dan Wayang Krucil (sejenis wayang kulit ternuat dari kayu). o Blora Daerah ini terkenal dengan atraksi kesenian Kuda Kepang. kemudian selang beberapa lama ia telah selesai berdandan dan siap untuk menari. Pemain Obeg ini terdiri dari beberapa orang wanita atau pria dengan menunggang kuda yang terbuat dari anyaman bambu (kepang). Seni gulat rakyat ini terutama berkembang di kalangan pelajar terutama di pantai diantara kecamatan Pandagan. Pertunjukan ini diadakan sebagai olah raga dan sekaligus hiburan di waktu senggang pada sore dan malam hari terutama di kala terang bulan purnama. Jawa Timur. terbang. o Obeg dan Begalan Kesenian ini berkembang di Cilacap. Pertunjukan ini dipimpin oleh seorang pawang atau dukun yang dapat membuat pemain dalam keadaan tidak sadar. ada juga yang menamakannya jathilan (Yogyakarta) juga reog (Jawa Timur). Kesenian ini menampilkan seorang gadis yang menari dalam keadaan tidak sadarkan diri. Tarian ini menggunakan “ebeg” yaitu anyaman bambu yang dibentuk menyerupai kuda berwarna hitam atau putih dan diberi kerincingan. Lokasinya berada di tempat-tempat yang berpasir di tepi pantai. Kuntulan adalah kesenian bela diri yang dilukiskan dalam tarian dengan iringan bunyi-bunyian seperti bedug. Penarinya mengenakan celana panjang dilapisi kain batik sebatas lutut dan berkacamata kebudayaan 73 Jawa .

kebudayaan 74 Jawa . Kesenian ini hidup di daerah Bangumas pada umumnya juga terdapat di Cilacap. penthul dan cepet. Laisan dilakukan oleh seorang pemain pria yang sedang mendem. Laisan adalah jenis kesenian yang melekat pada kesenian ebeg. dan yang unik adalah para pemainnya biasa memakan pecahan kaca (beling) atau barang tajam lainnya sehingga menunjukkan keperkasaan sebagai Satria. Biasanya dalam pertunjukan ebeg dilengkapi dengan atraksi barongan. salah seorang pemain biasanya melakukan thole-thole yaitu menari berkeliling arena sambil membawa tampah untuk mendapatkan sumbangan. Peralatan yang dipergunakan anatara lain kendang. gudril. Untuk mengiringi tarian ini selalu digunakan lagu-lagu irama Banyumasan seperti ricik-ricik. pertunjukannya memerlukan tempat pagelaran yang cukup luas seperti lapangan atau pelataran/halaman rumah yang cukup luas. ebeg diiringi oleh gamelan yang lazim disebut bendhe. Setelah terlebih dulu dimantra-mantara. Laisan juga dikenal di wilayah lain (wetan) dan mereka biasa menyebutnya Sintren. Pada kedua pergelangan tangan dan kaki dipasangi gelang-gelang kerincingan sehingga gerakan tangan dan kaki penari ebeg selalu dibarengi dengan bunyi kerincingan. Tarian ebeg termasuk jenis tari massal.hitam. seorang berperan sebagai pemimpin atau dalang. jadi satu grup ebeg bisa beranggotakan 16 orang atau lebih. gong dan terompet. dan munculah pria tersebut dengan mengenakan pakaian wanita lengkap. dua orang berperan sebagai penthul-tembem. 7 orang lagi sebagai penabuh gamelan. badannya ditindih dengan lesung terus dimasukkan ke dalam kurungan. Yang bersifat khas banyumas antara lain : Calung. blendrong. Jumlah penari ebeg 8 oarang atau lebih. Pada pertunjukan ebeg komersial. Laisan muncul di tengah pertunjukan ebeg. Begalan adalah salah satu acara dalam rangkaian upacara perkawinan adat Banyumas. kurunganpun dibuka. Semua penari menggunakan alat bantu ebeg sedangkan penthul-tembem memakai topeng. mengenakan mahkota dan sumping ditelinganya. Purbalingga maupun di daerah di luar Kabupaten Banyumas. Waktu pertunjukan umumnya siang hari dengan durasi antara 1 – 4 jam. demikian pula pemain yang manaiki kuda kepang menggambarkan kegagahan prajurit berkuda dengan segala atraksinya. lung gadung dan lain-lain. Dalam pertunjukannya. biasanya kurungan ayam. kenong. saron. di dalam kurungan itulah Laisan berdandan seperti wanita.

Jumlah penari 2 orang. Yang menarik adalah dialog-dialog antara yang dibegal dengan sipembegal biasanya berisi kritikan dan petuah bagi calon pengantin dan disampaikan dengan gaya yang jenaka penuh humor. saringan ampas.begalan dan Dalang Jemblung. kukusan. seorang bertindak sebagai pembawa barangbarang (peralatan dapur). irus. cething. Pembegal biasanya membawa pedang kayu. seorang lagi bertindak sebagai pembegal/perampok. Begalan adalah jenis kesenian yang biasanya dipentaskan dalam rangkaian upacara perkawinan yaitu saat calon pengantin pria beserta rombongannya memasuki pelataran rumah pengantin wanita. umumnya mereka mengenakan busana Jawa. sorokan. Upacara ini diadakan apabila mempelai laki-laki merupakan putra sulung. barang-barang yang dipikul diperebutkan para penonton. Dialog yang disampaikan kedua pemain berupa bahasa lambang yang diterjemahkan dari nama-nama jenis barang yang dibawa. ian. Barang bawaan ini biasa disebut brenong kepang. siwur. Disebut begalan karena atraksi ini mirip perampokan yang dalam bahasa Jawa disebut begal. contohnya ilir yaitu kipas anyaman bambu diartikan sebagai peringatan bagi suami-isteri untuk membedakan baik buruk. o Lengger-Calung dari banyumas Kesenian kebudayaan 75 tradisional lengger-calung tumbuh dan berkembang Jawa diwilayah ini. Biasanya usai pertunjukan. centhong. Sebagai layaknya tari klasik. Sesuai namanya. tempat nasi artinya bahwa hidup itu memerlukan wadah yang memiliki tatanan tertentu jadi tidak boleh berbuat semau-maunya sendiri. kendhil dan wangkring. penonton juga disuguhi dialog-dialog menarik yang penuh humor. Centhing. Sayangnya pertunjukan begalan ini tidak boleh dipentaskan terlalu lama karena masih termasuk dalam rangkaian panjang upacara pengantin. Selain menikmati kebolehan atraksi tari begalan dan irama gending. Begalan merupakan kombinasi antara seni tari dan seni tutur atau seni lawak dengan iringan gending. Kukusan adalah alat memasak atau menanak nasi. Kostum pemain cukup sederhana. ini melambangkan bahwa setelah berumah tangga cara berpikirnya harus masak/matang. Barang-barang yang dibawa antara lain ilir. tarian lengger-calung terdiri dari lengger . tampah. gerak tarinya tak begitu terikat pada patokan tertentu yang penting gerak tarinya selaras dengan irama gending.

gambang penerus. Calung adalah suatu bentuk kesenian rakyat dengan menggunakan bunyibunyian semacam gambang yang terbuat dari bambu. Satu grup calung minimal memerlukan 7 orang anggota terdiri dari penabuh gamelan dan penari/lengger. gerakan tariannya sangat dinamis dan lincah mengikuti irama calung. Peralatan gamelan calung terdiri dari gambang barung. Jumlah penari lengger antara 2 sampai 4 orang. Lengger menari mengikuti irama khas Banyumasan yang lincah dan dinamis dengan didominasi oleh gerakan pinggul sehingga terlihat sangat menggemaskan. sedangkan kendang atau gendang sama seperti gendang biasa. o Kuda Lumping (Jaran kepang) dari Temanggung diselenggarakan oleh keluarga yang baru pertama kalinya mengawinkan anaknya. rambut kepala disanggul. sampur atau selendang biasanya dikalungkan dibahu. Sedangkan untuk Begalan biasanya wanita. Diantara gerakan khas tarian lengger antara lain gerakan geyol.(penari) dan calung (gamelan bambu). Yang mengadakan ini adalah dari pihak mempelai kebudayaan 76 Jawa . kenong dan gong yang semuanya terbuat dari bambu wulung (hitam). leher sampai dada bagian atas biasanya terbuka. mengenakan kain/jarit dan stagen. gedheg dan lempar sampur. Tari Lengger Dulu penari lengger adalah pria yang berdandan seperti wanita. Juga dapat untuk mengiringi tarian yang diperagakan oleh beberapa penari wanita. kini penarinya umumnya wanita cantik sedangkan penari prianya hanyalah sebagai badut pelengkap yang berfungsi untuk memeriahkan suasana. mereka harus berdandan sedemikian rupa sehingga kelihatan sangat menarik. dhendhem. lagu-lagu yang dibawakan merupakan gending Jawa khas Banyumas. Dalam penyajiannya calung diiringi vokalis yang lebih dikenal sebagai sinden. badut biasanya hadir pada pertengahan pertunjukan.

o Lengger dari Wonosobo Kesenian khas Wonosobo ini dimainkan oleh dua orang laki-laki yang masing-masing berperan sebagai seorang pria dan seorang wanita. kenong dll. Diiringi dengan bunyi-bunyian yang antara lain berupa Angklung bernada Jawa.Kesenian ini diperagakan secara massal. Dan pada puncaknya para pemain mencapai keadaan tidak sadar. Tariannya dilakukan dengan menaiki kuda kepang dengan senjata tombak dan pedang. Tarian ini mengisahkan ceritera Dewi Chandrakirana yang sedang mencari suaminya yang pergi tanpa pamit. Pada puncak tarian penari mencapai keadaan tidak sadar. dahulu merupakan tarian penyalur semangat kepahlawanan dari keturunan prajurit Diponegoro. o Tarian Jlantur dari Boyolali Sebuah tarian yang dimainkan oleh 40 orang pria dengan memakai ikat kepala gaya turki. o Ketek Ogleng dari wonogiri Kesenian yang diangkat dari ceritera Panji. mengisahkan cinta kasih klasik pada jaman kerajaan Kediri. sering dipentaskan untuk menyambut tamu-tamu resmi atau biasanya diadakan pada waktu upacara. o Jatilan dari Magelang Pertunjukan ini biasanya dimainkan oleh delapan orang yang dipimpin oleh seorang pawang yang diiringi dengan bunyi-bunyian berupa bende. Tarian ini menggambarkan prajurit yang akan berangkat ke medan perang. Ceritera ini kemudian diubah menurut kebudayaan 77 Jawa . Dalam pencariannya itu ia diganggu oleh raksasa yang digambarkan memakai topeng.

Sebagai contoh : o Tari prawiroguno Tari ini menggambarkan seorang prajurit yang sedang berlatih diri dengan perlengkapan senjata berupa pedang untuk menyerang musuh dan juga tameng sebagai alat untuk melindungi diri.selera rakyat setempat menjadi kesenian pertunjukan Ketek Ogleng yang mengisahkan percintaan antara Endang Roro Tompe dengan Ketek Ogleng. KLANA SEWANDANA atau KLONO Penari dan tarian yang menggambarkan sosok raja dari kerajaan Bantarangin ( kerajaan yang dipercaya berada di wilayah Ponorogo jaman dahulu. hidung panjang. dan kumis tipis. 5. berbentuk kebudayaan 78 Jawa . mata melotot. 3. wajah berwarna merah. mata besar melotot. jenaka. TARI GARAPAN BARU ( KREASI BARU ) dari JAWA TENGAH Meskipun namanya 'baru' tetapi semua tari yang termasuk jenis ini tidak meninggalkan unsur-unsur yang ada dari jenis tari klasik maupun tradisional. cerdik. o Tari Tepak-Tepak Putri Tari yang menggambarkan kelincahan gerak remaja-remaja putri sedang bersuka ria memainkan rebana. dengan iringan pujian atau syair yang bernafas Islam. Selain itu ia membawa Pecut Samandiman. dan sakti. mulut terbuka dengan gigi yang besar tanpa taring. 4. Sosok ini digambarkan dengan topeng yang mirip dengan wajah raksasa. Tarian akrobatis ini di antara lain dipertunjukan di atas seutas tali. PUJANGGANONG atau BUJANGGANONG adalah penari dan tarian yang menggambarkan sosok patih muda ( Patihnya Klana Sewandana) yang cekatan. Penampilannya dititik beratkan pada suguhan tarian akrobatis gaya kera (Ketek Ogleng) yang dimainkan oleh seorang dengan berpakaian kera seperti wayang orang. Sosok ini digambarkan dengan topeng bermahkota. wajah merah darah dan rambut yang lebat warna hitam menutup pelipis kiri dan kanan.

6. 7. Bentuk lain dari kesenian angguk adalah “aplang”. ANGGUK Tarian ini berasal dari Banyumas. Ujung atas sunduk bambu dimasukkan ke badan bambu rengkong dekat gantungan kebudayaan 79 Jawa . Tarian ini disebut angguk karena penarinya sering memainkan gerakan mengangguk-anggukan kepala. bedug. sekeliling bambu melintasi lobang tersebut diraut sekedar tempat bertengger tali penggantung ikatan padi. Dua ikat padi seberat ± 15 kg digayutkan dengan tali ijuk mengalungi sonari (badan rengkong bambu di tempat yang diraut). Kesenian angguk yang bercorak Islam ini mulanya berfungsi sebagai salah satu alat untuk menyiarkan agama Islam. 2 rebana. mengenakan kaos kaki panjang sebatas lutut tanpa sepatu. tambur. RENGKONG Rengkong adalah kesenian yang menyajikan bunyi-bunyian khas bagai suara kodok mengorek secara serempak yang dihasilkan dari permainan pikulan bambu. terbang (rebana besar) dan angklung. Perangkat musiknya terdiri dari kendang. Angguk dimainkan sedikitnya oleh 10 orang penari anak laki-laki berusia sekitar 12 tahun. Di tengah masing-masing ikatan padi ada sunduk (tusuk) bambu sepanjang hampir 2 meter. biasanya menggunakan bambu tali dengan panjang sekitar 2. Celana panjang sampai lutut dengan hiasan garis merah pula. Pakaian para penari umumnya berwarna hitam lengan panjang dengan garis-garis merah dan kuning di bagian dada/punggung sebagai hiasan.6 meter.tongkat lurus dari rotan berhias jebug dari sayet warna merah diseling kuning sebanyak 5 atau 7 jebug. Pikulan bambu tersebut berukuran besar dan kuat tetapi ringan karena dibuat dari bambu yang sudah cukup tua. serta memakai topi pet berwarna hitam. Tarian jenis ini sudah ada sejak abad ke 17 dibawa para mubalig penyebar agama Islam yang datang dari wilayah MataramBagelen. kencreng. Sayangnya jenis kesenian ini sekarang semakin jarang dipentaskan. Pada kedua ujung bambu dibuat lobang persegi panjang selebar 1 cm. Syair lagu-lagu tari angguk diambil dari kitab Barzanji sehingga syair-syair angguk pada awalnya memang menggunakan bahasa Arab tetapi akhir-akhir ini gerak tari dan syairnya mulai dimodifikasi dengan menyisipkan gerak tari serta bahasa khas Banyumasan tanpa merobah corak aslinya. bedanya bila angguk dimainkan oleh remaja pria maka “aplang” atau “daeng” dimainkan oleh remaja putri.

Para pemain buncis selain menjadi penari juga menjadi pemusik serta vokalis. TAYUBAN Adalah salah satu jenis tari masyarakat Jawa. AKSIMUDA Aksimuda adalah kesenian bernafas Islam yang disajikan dalam bentuk atraksi pencak silat yang digabung dengan tari-tarian. 9. Kesenian tradisional para petani ini biasanya diadakan pada pesta perayaan panen atau pada hari-hari besar nasional. Di daerah tertentu tarian ini digelar sebagai bagian dari upacara pembersihan ( bala atau malapetaka ) dan biasanya kebudayaan 80 Jawa . TARI GAMBYONG Salah satu tari dari Surakarta. terlebih bila dimainkan dengan berbaris berarak-arakan maka suasananya akan lebih semarak. khas alam petani. Tali ijuk dengan beban padi yang menggantung pada badan bambu rengkong pun bergerak-gerak. Tayuban digelar sebagai bagian dari upacara sakral yang berhubungan dengan kesuburan ( kesuburan perkawinan dan kesuburan pertanian/tanah ). Di tahun 1950-an. 8. kata ”gambyong” diambil dari uru tari (tledhek) yang mempunyai nama Mbok gambyong. Menurut cerita. 10. Pada bagian akhir sajian para pemain Buncis Intrance atau mendem. gesekan tali ijuk yang keras inilah yang menimbulkan suara berderit-derit nyaring. Cara memainkannya. BUNCIS Buncis adalah perpaduan antara seni musik dengan seni tari yang dimainkan oleh 8 orang pemain. Pemikul mengayun-ayunkan ke kiri dan ke kanan dengan mantap dan teratur. tetapi dengan versi yang berbeda. Jadi Tari Gambyong itu berasal dari kawulo alit ( orang kecil / rendah ) yang datang ke Kraton. 11. Dalam pertunjukannya diiringi dengan perangkat musik angklung. Pura Mangkunegaran mengambil Tari Gambyong menjadi salah satu tari unggulan yang diberi nama gambyong Pareanom. Tarian ini juga dikenal di seluruh Nusantara. pikulan bambu rengkong yang berisi muatan padi diletakkan pada bahu kanan (dipikul).tali ijuk. Kalau ada beberapa rengkong yang dimainkan serempak maka akan timbul suara yang mengasyikan.

pemainnya terdiri atas remaja Putri. sedekah desa. berbeda dengan Gamelan Bali yang rancak dan Gamelan Sunda yang sangat mendayu-dayu dan didominasi suara seruling. khitanan. keselarasan dalam berbicara dan bertindak sehingga tidak memunculkan ekspresi yang meledakkebudayaan 81 Jawa . 12. karena Jawa memiliki pandangan hidup tersendiri yang diungkapkan dalam irama musik gamelannya. perkawinan. Nantinya selendang itu diberikan kepada laki-laki ( ketiban sampur ). Di daerah tertentu.2 a) Seni Musik GAMELAN JAWA Gamelan yang berkembang di Yogyakarta adalah Gamelan Jawa. APLANG atau DAENG Kesenian yang serupa dengan Angguk.juga digelar dalam penyambutan tamu-tamu agung. Dan yang menerima selendang itu mendapat kehormatan untuk menari bersama dengan penari perempuan tadi.Guyub antara lelaki dan perempuan. diantaranya : Pandangan hidup Jawa yang diungkapkan dalam musik gamelannya adalah keselarasan kehidupan jasmani dan rohani. penari perempuan menggunakan sampur atau selendang. H. sebuah bentuk gamelan yang berbeda dengan Gamelan Bali ataupun Gamelan Sunda. Perbedaan itu wajar. Pada zaman dahulu tarian ini mempunyai nilai hiburan dan sensual karena tarian ini menggambarkan keakraban hubungan lelaki ( pengibing ) dan perempuan ( ronggeng ). Beberapa jenis alat musik yang terdapat di Jawa. sedekah bumi. dan lain-lain. Makanya ada yang beranggapan bahwa Tayuban itu berasal dari kata ”tayub” ( ditata guyub ). Gamelan Jawa memiliki nada yang lebih lembut dan slow.

Perkembangan musik gamelan diperkirakan sejak kemunculan kentongan. kebudayaan 82 Jawa . Perkembangan selanjutnya setelah dinamai gamelan. Saron Peking. musik ini dipakai untuk mengiringi pagelaran wayang.45 cm. diantaranya satu set alat musik serupa drum yang disebut kendang. Masing-masing alat memiliki fungsi tersendiri dalam pagelaran musik gamelan. dan tarian. saron kendang dan gambang serta suara gong pada setiap penutup irama. dan kayu. Seperangkat gamelan tersebut diantaranya : 1) Kendang Kendang adalah instrumen pemimpin. Pengendang adalah konduktor dari musik gamelan. Wujud nyata dalam musiknya adalah tarikan tali rebab yang sedang. 2) Saron Alat musik pukul dari bronze dengan disanggah kayu. tepukan ke mulut. Barulah pada beberapa waktu sesudahnya berdiri sebagai musik sendiri dan dilengkapi dengan suara para sinden.ledak serta mewujudkan toleransi antar sesama. gambang. rebab dan celempung. Komponen utama yang menyusun alatalat musik gamelan adalah bambu. rebab. Seperangkat gamelan terdiri dari beberapa alat musik. logam. Ada 5 ukuran kendang dari 20 cm . gong dan seruling bambu. gesekan pada tali atau bambu tipis hingga dikenalnya alat musik dari logam. paduan seimbang bunyi kenong. Tidak ada kejelasan tentang sejarah munculnya gamelan. misalnya gong berperan menutup sebuah irama musik yang panjang dan memberi keseimbangan setelah sebelumnya musik dihiasi oleh irama gending. Ada 3 macam Saron. Saron Barung. Saron Demung.

4) Slentem Lempengan bronze ini diletakan diatas bambu untuk resonansinya. 5) Gender Hampir sama dengan slentem dengan lempengan bronze lebih banyak. 6) Gambang Lempengan kayu yang diletakkan diatas frame kayu juga.3) Bonang Barung Terdiri dari 2 baris peralatan dari bronze dimainkan dengan 2 alat pukul. kebudayaan 83 Jawa .

Gong menandakan akhir dari bagian lagu yang liriknya panjang. Setiap set slendro dan pelog terdiri dari 6 atau 10 kempul.7) Gong Setiap set slendro dan pelog dilengkapi dengan 3 gong. terbuat dari bronze. Dua Gong besar (Gong Ageng) dan satu gong Suwukan sekitar 90 cm. kebudayaan 84 Jawa . untuk menandakan lagu yang bagiannya berirama pendek. 8) Kempul Gong kecil.

menandakan jeda antar lirik lagu. satu set komplet bisa 10 kenong baik set slendro atau pelog. kebudayaan 85 Jawa .9) Kenong Semacam gong kecil diatas tatakan. 10) Ketug Disebut juga kenong kecil.

14) Rebab Alat musik gesek kebudayaan 86 Jawa . 12) Siter Tiap set slendro dan pelog memerlukan 1 siter. 13) Suling Setiap set slendro dan pelog memerlukan 1 suling. dimana setiap satu set slendro dan pelog membutuhkan satu clempung.11) Clempung sebuah instrument kecil.

D E+ G A] dengan perbedaan interval kecil. Komposisi musik gamelan diciptakan dengan beberapa aturan. Pelog memiliki 7 nada per oktaf. yaitu terdiri dari beberapa putaran dan kebudayaan 87 Jawa .15) Keprak dan Kepyak Diperlukan untuk pertunjukan tari 16)Bedug Gamelan Jawa adalah musik dengan nada pentatonis.F# G# A B] dengan perbedaan interval yang besar. Slendro memiliki 5 nada per oktaf. yaitu 1 2 3 4 5 6 7 [C+ D E. yaitu 1 2 3 5 6 [C. Satu permainan gamelan komplit terdiri dari dua putaran. yaitu slendro dan pelog.

Sedangkan yang menyanyikan adalah Pesinden ( wira-swara/swarawati ). Untuk melihat pertunjukannya. Sebagai sebuah pertunjukan tersendiri. Anda bisa melihat gamelan sebagai sebuah pertunjukan musik tersendiri maupun sebagai pengiring tarian atau seni pertunjukan seperti wayang kulit dan ketoprak. Pada hari Kamis pukul 10. Salah satu tempat di Yogyakarta dimana anda bisa melihat pertunjukan gamelan adalah Kraton Yogyakarta. kebudayaan 88 Jawa . Gamelan Slendro salendro biasa digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang.00 WIB digelar gamelan sebagai sebuah pertunjukan musik tersendiri. anda bisa menuju Bangsal Sri Maganti. musik gamelan biasanya dipadukan dengan suara para penyanyi Jawa (penyanyi pria disebut wiraswara dan penyanyi wanita disebut waranggana). jaipongan dan lain-lain. tembaga yang dicampur nikel atau perunggu. sementara hari Minggu pada waktu yang sama digelar musik gamelan sebagai pengiring tari tradisional Jawa.pathet. Gamelan Pelog Gamelan pelog fungsinya hampir sama dengan gamelan salendro. hanya kurang begitu berkembang dan kurang akrab di masyarakat dan jarang dimiliki oleh grup-grup kesenian di masyarakat. Sementara untuk melihat perangkat gamelan tua. Berdasarkan suaranya. Gamelan 2. Gamelan Jawa itu dibagi menjadi dua : 1. anda bisa menuju bangsal kraton lain yang terletak lebih ke belakang. Pertunjukan musik gamelan yang digelar kini bisa merupakan gamelan klasik ataupun kontemporer. dibatasi oleh satu gongan serta melodinya diciptakan dalam unit yang terdiri dari 4 nada. Yang memainkan gamelan itu adalah Penayagan. tari. Salah satu bentuk gamelan kontemporer adalah jazzgamelan yang merupakan paduan paduan musik bernada pentatonis dan diatonis. Hampir semua bagian dari alat musik ini terbuat dari logam ( tosan ). Hari Sabtu pada waktu yang sama digelar musik gamelan sebagai pengiring wayang kulit.12.00 . Seperti : besi. kliningan.

kendhang batangan .saron panerus .siter/celempung . Nada-nadanya 2 (ro). hanya terdiri dari satu jenis instrumen dengan empat bilah berlaras slendro.gendhing khusus bongkel. sebut saja jula-juli surabaya.rebab . 3 (lu). gong & kendang. meduroan dan malangan.Yang menabuh gamelan itu harus mengerti tinggi rendahnya suara dan cepat lambatnya lagu. gambang penerus.kempul . Alat yang menuntun suara adalah rebab.suling .saron demung .kempyang .gambang .slenthem .kenong .saron barung . c) BONGKEL Bongkel adalah musik tradisional Banyumasan yang mirip dengan angklung. . Dalam pertunjukkannya Bongkel disajikan gendhing . 6 (nem). kenong. dhendhem. jombangan. susunan pola balungan melodi yang ada adalah 65626521 21262165. Beberapa daftar Gamelan . selain itu gendhing ini merupakan satu-satunya gendhing yang dapat mencirikan keragaman karawitan Jawa timuran karena terangkai menjadi berbagai gaya.gender . Sedangkan yang menuntun sampak adalah kendhang.bonang .kethuk .gong ageng .kendhang gendhing b) JULA-JULI Jula-juli adalah salah satu gendhing yang sangat lazim dijumpai pada pertunjukan ludruk dan tari remo di Jawa Timur. d) CALUNG Alat musik ini terbuat dari potongan bambu yang diletakkan melintang dan dimainkan dengan cara dipukul. Perangkat musik khas Banyumasan yang terbuat dari bambu wulung mirip dengan gamelan Jawa. 5 (mo).gong suwuk . terdiri atas gambang barung. Selain itu ada juga Gong Sebul dinamakan demikian karena bunyi yang dikeluarkan kebudayaan 89 Jawa .

Dalam sistem kalender Jawa. Sejak saat itu kalender Jawa versi Mataram menggunakan sistem kalender kamariah atau lunar. Aransemen musikal yang disajikan berupa gending-gending Banyumasan. diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa.mirip gong tetapi dimainkan dengan cara ditiup (sebul). Kentongan juga terbuat dari bambu. H. seruling. Pada tahun 1625 Masehi. SurakartaYogyakarta dan sering pula disajikan lagu-lagu pop yang diaransir ulang.3 Kalender Jawa Kalender Jawa adalah sebuah kalender yang istimewa karena merupakan perpaduan antara budaya Islam. kecrek dan dipimpin oleh mayoret. dan siklus pekan pancawara yang terdiri dari 5 hari pasaran. alat ini juga terbuat dari bambu dengan ukuran yang besar. siklus hari yang dipakai ada dua: siklus mingguan yang terdiri dari 7 hari seperti yang kita kenal sekarang. Angka tahun Saka tetap dipakai dan diteruskan. Hal ini dilakukan demi asas kesinambungan. budaya Hindu-Buddha Jawa dan bahkan juga sedikit budaya Barat. e) KENTHONGAN Sebagian orang menyebutnya tek-tek. Kenthongan dimainkan dalam kelompok yang terdiri dari sekitar 20 orang dan dilengkapi dengan Beduk. f) SALAWATAN JAWA yaitu salah satu seni musik bernafaskan Islam dengan perangkat musik berupa terbang Jawa. Sehingga tahun saat itu yang adalah tahun 1547 Saka. Dalam satu grup kenthongan. gending gaya Banyumasan. Lagu-lagu yang dibawakan kebanyakan lagu Jawa dan Dangdut. Kenthong yang dipakai ada beberapa macam sehingga menghasilkan bunyi yang selaras. Sultan Agung yang berusaha keras menyebarkan agama Islam di pulau Jawa dalam kerangka negara Mataram mengeluarkan dekrit untuk mengubah penanggalan Saka. Dalam pertunjukan kesenian ini menyajikan lagu-lagu yang diambil dari kitab Barzanji. berupa potongan bambu yang diberi lubang memanjang disisinya dan dimainkan dengan cara dipukul dengan tongkat kayu pendek. kebudayaan 90 Jawa . Kenthong adalah alat utamanya. namun tidak menggunakan angka dari tahun Hijriyah (saat itu tahun 1035 H). Dalam penyajiannya calung diiringi vokalis yang lazim disebut sinden.

Tetapi lama setiap mangsa berbeda-beda. I. dengan nama-nama Arab. Karo / Pusa (3 Agustus-25 Agustus) VII. Poso (siyam) 10. Ketiga daerah terakhir ini tidak termasuk wilayah kekuasaan Sultan Agung. Kapitu / Palguna (23 Desember-3 Februari) VIII. Pulau Bali dan Palembang yang mendapatkan pengaruh budaya Jawa. Nama-nama ini adalah nama bulan kamariah atau candra (lunar). karena penanggalan kamariah dianggap tidak memadai sebagai patokan para petani yang bercocok tanam. Rejeb 8. maka bulan-bulan musim atau bulan-bulan surya yang disebut sebagai pranata mangsa. Kawolu / Wisaka (4 Februari-1 Maret) kebudayaan 91 Jawa . Besar(Dulkijah) Sela A. Daftar bulan Jawa Islam Di bawah ini disajikan nama-nama bulan Jawa Islam. juga tidak ikut mengambil alih kalender karangan Sultan Agung ini. Mulud 4. Jumadilakhir 7. Batavia dan Banyuwangi (=Balambangan). Sura 2. Sawal 11. Kasa / Kartika (23 Juni-2 Agustus) II. Jumadilawal 6. (Dulkangidah) 12. Lalu oleh beliau tanggalnya disesuaikan dengan penanggalan tarikh kalender Gregorian yang juga merupakan kalender surya. Sebenarnya pranata mangsa ini adalah pembagian bulan yang asli Jawa dan sudah digunakan pada jaman pra-Islam. 1. Sela dan kemungkinan juga Sura.Dekrit Sultan Agung berlaku di seluruh wilayah kerajaan Mataram II: seluruh pulau Jawa dan Madura kecuali Banten. Sebagian nama bulan diambil dari Kalender Hijriyah. Bakdamulud 5. dikodifikasikan oleh Sri Paduka Mangkunegara IV atau penggunaannya ditetapkan secara resmi. namun beberapa di antaranya menggunakan nama dalam bahasa Sansekerta seperti Pasa. Sedangkan nama Apit dan Besar berasal dari bahasa Jawa dan bahasa Melayu. Ruwah (Saban) 9. Daftar bulan Jawa matahari Pada tahun 1855 Masehi. Sapar 3.

saptawara. pekan-pekan yang lain ini masih dipakai. Katiga / Manggasri (26 Agustus-18 September) IV. 6 dan 5 hari berpapasan. pañcawara (pancawara). Jimakir Pembagian pekan Orang Jawa pada masa pra Islam mengenal pekan yang lamanya tidak hanya tujuh hari saja. Wage. sadwara. caturwara. Jaman sekarang hanya pekan yang terdiri atas lima hari dan tujuh hari saja yang dipakai. Kemudian sebuah pekan yang terdiri atas tujuh hari ini. Karolas / Asuji (13 Mei22Juni) Oleh orang Jawa tahun-tahun digabung menjadi semacam abad yang terdiri dari delapan satuan lebih kecil. Setiap pekan disebut satu wuku dan setelah 30 wuku maka muncul siklus baru lagi. Pekan-pekan ini disebut dengan namanama dwiwara. memiliki sebuah siklus yang terdiri atas 30 pekan. Wawu 8. Jimawal 4. Be 7. Dal 6. Kapat / Setra (19 September-13 Okober) V. Pekan yang terdiri atas lima hari ini disebut sebagai pasar oleh orang Jawa dan terdiri dari hari-hari: Legi. Je 5. namun di pulau Bali dan di Tengger. Kasanga / Jita (2 Maret26 Maret) X. Kanem / Maya (10 November-22 Desember) B. dan Kliwon. yaitu yang juga dikenal di budaya-budaya lainnya. Siklus ini yang secara total berjumlah 210 hari adalah semua kemungkinannya hari dari pekan yang terdiri atas 7.III. Setiap satuan ini terdiri atas 8 tahun Jawa dan disebut windu. Siklus windu IX. Berikut ini secara singkat dijelaskan sebagai berikut: kebudayaan 92 Jawa . Kasewelas / Sadha (20 April-12 Mei) XII. Kasepuluh / Srawana (27 Maret-19 April) XI. Kalima / Manggala (14 Oktober-9 November) VI. Alip 2. Ehe 3. Paing. Di bawah disajikan nama-nama windu: 1. namun dari 2 sampai 10 hari. Pon. triwara. astawara dan sangawara.

Mawulu / Taru/Benih. Pahing / Jenar (9) 2. Uwas / Peksi/Burung 6. Dadi / Kayu kebudayaan 93 Jawa .1. Yama 5. Gigis / Bumi 4. Rebo / Budha 5. Hastawara – Padewan. Jagur / Harimau 3. Saptawara – Padinan. Jemuwah / Sukra 7.Guru 4. Sadwara – Paringkelan. Tulus / Air 8. Dangu / Batu 2. Legi / Manis (5) 3. Kemis / Respati 6. Wage / Kresna/ Langking 3. Perhitungan hari dengan siklus 9 harian : 1. Sangawara 5. Indra 3. Wurung / Api 9. Setu / Tumpak/Saniscara 4.Wurukung/ Hewan 4. Wogan / Ulat 7. Aryang / Manusia 3. Perhitungan hari dengan siklus 7 harian : 1. Uma – Padangon. Kerangan / Matahari 5. Paningron / Mina/Ikan 5. Brama 7. Pon / Palguna (7) 5. Senen / Soma 3. Pancawara – Pasaran dan bobot angkanya. Minggu / Radite 2. Tungle / Daun 2. Kala 8. Perhitungan hari dengan siklus 8 harian : 1. Nohan / Rembulan 6. (4) 4. Perhitungan hari dengan siklus 6 harian 1. Selasa / Anggara 4. Kliwon/ Kasih (8) 2. Sri 2. Rudra 6. Perhitungan hari dengan siklus 5 harian : 1.

00 sampai dengan 18. Marakeh 19. perbedaan yang nyata adalah pada saat penetapan pergantian hari ketika pergantian sasi/bulan.   Sementara hari mingguan akan mengikuti bobot angka sbb: kebudayaan 94 Jawa . Kuruwelut 18. Julungpujud 16. Ada perbedaan yang hakiki antara system perhitungan penanggalan Jawa dengan penanggalan Hijriah. kuningan 13. Perhitungan hari dengan siklus mingguan dari 30 wuku : 1. Langkir 14. Wayang 28. Gumbreg 7. Wugu 27.00).6. Wukir 4. Weton Tiap hari pasaran menurut penanggalan Jawa mempunyai bobot angka yang disebut neton. Perhitungan penanggalan Jawa sudah dicocokkan dengan penanggalan Hijriah namun demikian pencocokan ini bukanlah menjiplak seluruhnya tapi juga mempergunakan perhitungan yang rumit dari para leluhur kita. Warigagung 9. Wuku. Manahil 24. Tolu 6. Pahang 17. sedangkan pergantian hari ketika pergantian sasi/bulan pada penanggalan Hijriah ditentukan dengan Hilal dan Rukyat. Prangbakat 25. dan Legi mempunyai bobot angka 5. Candrasangkala Jawa menetapkan bahwa pergantian hari ketika pergantian sasi waktunya adalah tetap yaitu pada saat matahari terbenam (surup-antara pukul 17. Wuye 23. Sinta 2. 7. Mandhasiya 15. Tambir 20. Galungan 12. Dhukut 30 Watugunung Sistim Penanggalan Jawa disebut juga Penanggalan Jawa Candrasangkalaatau perhitungan penanggalan berdasarkan peredaran Bulan mengitari Bumi. Medhangkungan 21. Kulawu 29. Sungsang 11. Julungwangi 10. Maktal 22. Kurantil 5. Warigalit 8. misalnya:    Paing mempunyai bobot angka 9 Pon mempunyai bobot angka 7 Wage mempunyai bobot angka 4 Kliwon mempunyai bobot angka 8. Bala 26. Landhep 3.

karena Senin = 4 + Paing = 9.       • Senin mempunyai bobot angka 4 Selasa mempunyai bobot angka 3 Rabu mempunyai bobot angka 7 Kamis mempunyai bobot angka 8 Jum'at mempunyai bobot angka 6 Sabtu mempunyai bobot angka 9. sebuah bubungan di tengahnya. termasuk untuk memilih hari perkawinan menurut adat kepercayaan Jawa. H. atap terdiri dari 4 (empat) buah sisi soko guru dengan pemidangannya (alengnya) dan berblandar tumpang sari. Angka semacam ini biasanya dipakai untuk menentukan hari baik dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Rumah Jawa adalah arsitektur tradisional Jawa yang berkembang sejak abad ke-13 terdiri atas 5 tipe dasar (pokok) yaitu : 1. dan Minggu mempunyai bobot angka 5. Bentuk Rumah Joglo :Memiliki ciri. dan mempunyai bobot angka 13. kebudayaan 95 Jawa . Joglo (atap joglo) atau Tikelan. Contoh : Seperti disebutkan di atas.4 Rumah Adat Bangunan adat rumah Jawa Ilmu yang mempelajari seni bangunan oleh masyarakat Jawa biasa disebut Ilmu Kalang atau disebut juga Wong Kalang. tanggal 1 Januari 2001 (awal abad ke-21 dan awal alaf ke-3) adalah hari Senin-Paing. yaitu bangunan dengan Soko Guru dan atap 4 belah sisi.

Dipergunakan sebagai tempat suci. tempat raja bertahta. soko guru dengan blandar-blandar tumpang sari. serta beberapa ruangan akan tercipta bentuk-bentuk sinom. Joglo Hageng kebudayaan 96 Jawa . Joglo Jompongan 4. baik di kota maupun di desa dan di gunung-gunung. tanpa bubungan. kutuk ngambang. yaitu bangunan dengan atap 2 belah sisi.Bangunan ini umumnya dipergunakan sebagai pendopo dan juga untuk tempat tinggal (dalem). jadi meruncing. lantainya selalu di atas tanpa bertingkat. trajumas. makam. dan sebagainya 5. nasi dan lain-lainnya yang terdapat di tepi jalan. Joglo Pangrawit 5. sebuah bubungan di tengah saja Bentuk Rumah Kampung : Umumnya sebagai tempat tinggal. yaitu bangunan hanya dengan atap sebelah sisi. pabrik. tempat mobil / garasi. Kebanyakan untuk tempat tinggal. Bentuk Rumah Panggang-pe :Banyak kita jumpai sebagai tempat jualan minuman. Perkembangan dari bentuk ini juga dipergunakan sebagai tempat tinggal 4. dan lain-lain. lambang gantung. Perkembangannya dengan penambahan emper atau serambi. Joglo Sinom 3. yaitu bangunan dengan Soko Guru atap 4 belah sisi. Limasan (atap limas). Bentuk rumah Limasan: Terutama terlihat pada atapnya yang memiliki 4 (empat) buah bidang sisi. Hanya saja yang berbentuk trajumas tidak biasa digunakan sebagai tempat tinggal 3. Joglo Mangkurat 6. Tidak ada yang untuk tempat tinggal. memakai dudur. berdenah bujur sangkar. Panggang Pe. Kampung (atap pelana). Jenis-jenis Rumah Joglo : 1. Bentuk Rumah Tajug :Ciri utamanya pada atap berbentuk runcing. Mesjidan/Tajugan. semisal : Masjid. sebuah bubungan di tengahnya. 2. Joglo Lawakan 2. yaitu bangunan dengan atap 4 belah sisi. Apabila diperkembangkan dapat berfungsi sebagai tempat ronda.

7. Joglo Semar Tinandhu

Limasan Jenis-jenis Rumah Limasan 1. Limasan Lawakan 2. Limasan Gajah Ngombe 3. Limasan Gajah Njerum 4. Limasan Apitan 5. Limasan Pacul Gowang 6. Limasan Cere Gancet 7. Limasan Trajumas 8. Limasan Gajah Mungkur 9. Limasan Klabang Nyander 10. Limasan Lambang Teplok 11. Limasan Semar Tinandu 12. Limasan Lambang Sari

Joglo

13. Limasan Semar Pinondhong, contoh Bangsal Kama, Kraton Cirebon Jenis-jenis Rumah Kampung : 1. Kampung Pokok 2. Kampung Trajumas 3. Kampung Pacul Gowang 4. Kampung Srotong 5. Kampung Cere Gancet 6. Kampung Gotong Mayit 7. Kampung Semar Pinondhong 8. Kampung Apitan kebudayaan 97 Jawa

9. Kampung Gajah Njerum 10. Kampung Gajah Ngombe 11. Kampung Doro Gepak 12. Kampung Klabang Nyander 13. Kampung Jompongan Lambang Teplok Semar Tinandhu (untuk tobong kapur) 14. Kampung Lambang Teplok (untuk gudang genteng) Jenis-jenis Rumah Panggang Pe : 1. Panggang Pe Pokok 2. Panggang Pe Trajumas 3. Panggang Pe Empyak Setangkep 4. Panggang Pe Gedhang Selirang 5. Panggang Pe Gedhang Setangkep 6. Panggang Pe Cere Gancet 7. Panggang Pe bentuk kios 8. Panggang Pe Kodokan (jengki) 9. Panggang Pe Barengan 10. Panggang Pe Cere Gancet Jenis-jenis Mesjidan/Tajugan : 1. Mesjidan Cungkup Pokok 2. Mesjidan Lawakan (langgar) 3. Mesjidan Lambang Teplok, contoh : Bangsal Gianyar, Bali 4. Mesjidan payung agung (meru), susun 3 untuk rakyat, 5 sentana (keluarga) raja, 7 pangeran, 11 raja, contoh Pamujaan Besakih, Bali 5. Tajug Tawon Boni, contoh : Bangsal Pajajaran 6. Tajug Tiang Satu Lambang Teplok, contoh : Mesjid rakyat Gombong 7. Tajug Semar Sinongsong Lambang Teplok, contoh : Langgar Kecil Kraton Cirebon 8. Tajug Pendawa, contoh : Kraton Cirebon 9. Tajug Lambang Gantung, contoh : Bangsal Ponconiti Kraton Yogyakarta 10. Tajug Lambangsari, contoh : Bangsal Pertemuan para Wali, Gunung Sembung 11. Tajug Lawakan Lambang Teplok, contoh : Pasarean Suwargan, Imogiri kebudayaan 98 Jawa

12. Tajug Semar Tinandhu, Dukuh, Yogyakarta 13. Tajug Semar Sinongsong Lambang Gantung, contoh : Masjid Soko Tunggal (gabungan Pajajaran dan Sultan Agungan, Taman, Kraton Yogyakarta 14. Tajug Ceblokan Lambang Teplok, Masjid Agung Yogyakrata 15. Tajug Mangkurat, Bangsal Witono, Kraton Yogyakarta 16. Tajug Sinom Semar Tinandhu, Lawang Sanga-sanga, Kraton Cirebon

Masing-masing bentuk berkembang menjadi beraneka jenis dan variasi yang bukan hanya berkaitan dengan perbedaan ukurannya saja, melainkan juga dengan situasi dan kondisi daerah setempat. Dari kelima macam bangunan pokok rumah Jawa ini, apabila diadakan penggabungan antara 5 macam bangunan maka terjadi berbagai macam bentuk rumah Jawa. Sebagai contoh : gedang selirang, gedang setangkep, cere gencet, sinom joglo lambang gantung, dan lain-lain. Menurut pandangan hidup masyarakat Jawa, bentuk-bentuk rumah itu mempunyai sifat dan penggunaan tersendiri. Misalnya bentuk Tajug, itu selalu hanya digunakan untuk bangunan yang bersifat suci, umpamanya untuk bangunan Masjid, makam, dan tempat raja bertahta, sehingga masyarakat Jawa tidak mungkin rumah tempat tinggalnya dibuat berbentuk Tajug. Rumah yang lengkap sering memiliki bentuk-bentuk serta penggunaan yang tertentu, antara lain : - pintu gerbang - pendopo - pringgitan - dalem - dapur kebudayaan 99 : bentuk kampung : bentuk joglo : bentuk limasan : bentuk joglo : bentuk kampung Jawa

- gandhok (kiri-kanan) : bentuk pacul gowang

Kedutaan Besar Indonesia di Singapura dan Malaysia juga Bandar Udara Soekarno-Hatta mempunyai arsitektur tradisional Jawa. saka penanggap. Dalam Seni Bangunan Jawa karena telah begitu maju. yang sangat melindungi ruang beranda atau emperan di bawahnya. umpak. bagaikan payung yang terpancang terbuka.emper depan .ruang tengah . bukan dinding pemikul. Bahan bangunan rumah Jawa ialah terutama dari kayu jati. seperti : ander. Arsitektur tradisional Jawa terbukti sangat populer tidak hanya di Jawa sendiri tetapi sampai menjangkau manca negara. Ruang dalam dan luar saling mengimbas tanpa pembatas yang tegar. Yang disebut rumah yang utuh seringkali bukanlah satu bangunan dengan dinding yang pejal melainkan halaman yang berisi sekelompok unit bangunan dengan fungsi yang berbeda-beda. usuk ri-gereh. Hal tersebut dimaksudkan untuk berjaga-jaga bila ada banjir. blandar. semua dibiarkan menunjukan watak aslinya. pengeret. Struktur bangunannya merupakan struktur rangka dengan konstruksi kayu. Tetapi bagi orang yang tidak mampu tidaklah mungkin akan demikian.emper kanan-kiri : untuk senthong tengah dan senthong kiri kanan Di beberapa daerah pantai terdapat pula rumah-rumah yang berkolong. usuk peniyung.emper yang lain : untuk Pendopo : untuk tempat pertemuan keluarga : untuk gudang dan dapur. brunjung. Di samping itu arsitektur Jawa memiliki ketahanan yang cukup handal terhadap gempa. wajar dan jujur tanpa ada usaha menutup-nutupinya. reng. Tata ruang dan struktur yang demikian sungguh cocok untuk daerah beriklim tropis yang sering mengalami gempa dan sesuai untuk peri kehidupan manusia yang memiliki kepribadian senang berada kebudayaan 100 Jawa . Demikian pula bahan-bahan bangunannya. saka guru. Pada dasarnya arsitektur tradisonal Jawa – sebagaimana halnya Bali dan daerah lain – adalah arsitektur halaman yang dikelilingi oleh pagar. . maka semua bagian kerangka rumah telah diberi nama-nama tertentu. Dinding ruangan sekedar merupakan tirai pembatas. Atap bangunannya selalu menggunakan tritisan yang lebar..dan lain-lain. dudur. Yang sangat menarik pula untuk diungkap adalah struktur tersebut diperlihatkan secara jelas. misalnya : . Dengan sendirinya rumah yang berbentuk doro gepak (atap bangunan yang berbentuk mirip burung dara yang sedang terbang mengepakkan sayapnya) misalnya bagianbagiannya dipergunakan untuk kegunaan yang tertentu. dan sebagainya.

Pringgitan ialah tempat yang digunakan untuk pementasan pertunjukan wayang kulit. istirahat anggota keluarga. kuda. Rumah belakang (omah buri) digunakan untuk rumah tempat tinggal. terdapat pula bangunan rumah lain yang digunakan untuk keperluan lain dai keluarga tersebut. yaitu sebagai peneduh. peredam angin dan suara. Halaman yang lega dengan perkerasan pasir atau kerikil sangat bermanfaat untuk penyerapan air hujan. ialah bangunan rumah kecil.di udara terbuka. juga sebagai sumber pangan bagi manusia dan binatang bahkan sering pula dimanfaatkan untuk obat tradisional. dan sebagainya). angsa. Dapur (pawon) terletak di sebelah kiri rumah belakang (omah buri). untuk tempat binatang ternak (sapi. untuk kuda disebut gedhongan. Biasanya terletak di sebelah kiri atau kanan Pringgitan. Kadangkadang terdapat lesung yang terletak di muka pendapa samping kanan. angsa). misal: lumbung. Kandang bisa terdapat di sebelah kiri pendapa. kombong (itik. namun ada pula yang diletakkan di muka pendhapa dengan disela oleh halaman yang luas. Kadang-kadang terdapat peranginan. penyaring debu. di antara rumah belakang dengan pendapa terdapat pringgitan. Selain rumah tempat tinggal (induk). Bangunan rumah tersebut terdiri dari: pendhapa. kambing. tempat menyimpan padi dan hasil bumi lainnya. Bagi warga masyarakat umum (kawula dalem) yang mampu. bila yang bersangkutan mempunyai kerja (pernikahan. Kandang. Terletak di samping kiri atau kanan rumah belakang (pada umumnya terletak di sebelah belakang). Letaknya agak berjauhan. terletak di depan rumah tempat tinggal. rumah tempat menumbuk padi. susunan rumah dalam sebuah rumah tangga terdiri dari beberapa bangunan rumah. disamping bangunan rumah tersebut. Gedhongan biasanya menyambung ke kiri atau ke kanan kandhang. Susunan rumah demikian mirip dengan susunan rumah istana Hindu Jawa. tempat memasak. Lesung. Sedangkan pepohonan yang ditanam seringkali memiliki sasraguna (multi fungsi). khitanan. Sedang untuk sarong atau kombong terletak di sebelah kiri agak jauh dari pendhapa. yaitu tempat untuk tidur. kerbau. misalnya Istana Ratu Boko di dekat Prambanan. Dalam pertunjukan tersebut tamu laki-laki ditempatkan di pendapa. sedang tamu wanita ditempatkan di rumah belakang. Peranginan ini bagi kebudayaan 101 Jawa .ayam dan sebagainya). Untuk ternak besar disebut kandang. Dalam masyarakat Jawa. digunakan untuk menerima tamu. itik. ada sarong (ayam). biasanya diletakkan disamping kanan agak berjauhan dengan pendapa. tempat tinggalnya (rumah) masih dilengkapi dengan bangunan lainnya. untuk ternak unggas.

sumur dan pendhapa. pringgitan.pejabat desa bisa digunakan untuk markas ronda atau larag. Sastra Jawa-Madura.5 Karya Sastra SASTRA JAWA Sejarah Sastra Jawa dimulai dengan sebuah prasasti yang ditemukan di daerah Sukabumi (Sukobumi). Tetapi setelah kebudayaan 102 Jawa . pendapa. Kediri. Sastra Jawa-Sunda. gadhok (tempat para pelayan). ditemukan prasasti lainnya dari tahun 856 M yang berisikan sebuah sajak yang disebut kakawin. sastra Jawa adalah yang paling berkembang dan paling banyak tersimpan karya sastranya. lumbung. rumah belakang. bangsal. Dari semua sastra tradisional Nusantara. Biasanya untuk WC ditempatkan agak berjauhan dengan dapur. Secara lengkap kompleks rumah tempat tinggal orang Jawa adala rumah belakang. ada pula Sastra Jawa-Lombok. kandhang. dapur. Setelah prasasti Sukabumi. Kakawin yang tidak lengkap ini adalah sajak tertua dalam bahasa Jawa (Kuna). dan sebagainya. pringgitan. Biasanya sejarah sastra Jawa dibagi dalam empat masa: • • • • Jawa Timur. berupa rumah kecil ditempatkan di samping dapur atau belakang samping kiri atau kanan rumah belakang. Prasasti yang biasa disebut dengan nama Prasasti Sukabumi ini bertarikh 25 Maret tahun 804 Masehi. Pare. serambi. Isinya ditulis dalam bahasa Jawa Kuna. topengan. dan juga tempat bersantai untuk mencari udara segar dari pemiliknya. Kemudian terdapat bangunan tempat mandi yang disebut jambang. gedhogan. Pintu masuk pekarangan sering dibuat Regol. yang berkembang dari Sastra Jawa Tengahan. Hal tersebut sangat bergantung pada kemampuan keluarga. Demikian pula tempat buang air besar/kecil dan kamar mandi dibuatkan bangunan rumah sendiri. Sastra Jawa Kuna Sastra Jawa Tengahan Sastra Jawa Baru Sastra Jawa Modern Terdapat pula kategori Sastra Jawa-Bali. Selain itu. Demikian sedikit variasi bangun rumah adat Jawa yang lengkap untuk sebuah keluarga. dan Sastra Jawa-Palembang. Besar kecilnya maupun jenis bangunannya dibuat menurut selera serta harus diingat status sosial pemiliknya didalam masyarakat. H.

Gubernur-Jenderal dari Britania Raya yang memerintah di pulau Jawa. Sastra Jawa Pertengahan adalah masa transisi antara sastra Jawa Kuna dan sastra Jawa Baru. Meski di sini harus diberi catatan bahwa tidak semua prasasti memuat teks kesusastraan.proklamasi RI. Jadi merupakan sastra Jawa sebelum masa sastra Jawa Pertengahan. Karya sastra Jawa Kuna sebagian besar terlestarikan di Bali dan ditulis pada naskah-naskah manuskrip lontar. tahun 1945 sastra Jawa agak dianaktirikan karena di Negara Kesatuan RI. dan kitab-kitab keagamaan. Selain sebagai seorang negarawan beliau juga tertarik dengan kebudayaan setempat. Kakawin Ramayana dan terjemahan Mahabharata dalam bahasa Jawa Kuna. Sehingga mereka jarang yang tertulis dalam bentuk asli seperti pada waktu dibuat kebudayaan 103 Jawa . Karya-karya sastra Jawa penting yang ditulis pada periode ini termasuk Candakarana. Sastra Jawa Kuna Sastra Jawa Kuna meliputi sastra yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuna pada periode kurang-lebih ditulis dari abad ke-9 sampai abad ke-14 Masehi. Manuskripmanuskrip yang memuat teks Jawa Kuna jumlahnya sampai ribuan sementara prasasti-prasasti ada puluhan dan bahkan ratusan jumlahnya. A. pengertian terakhir inilah yang dipakai. Bahkan di Jawa terdapat pula teks-teks Jawa Kuna yang tidak dikenal di Bali. kesatuan yang diutamakan. Sastra Jawa Kuna diwariskan dalam bentuk manuskrip dan prasasti. dimulai dengan Prasasti Sukabumi. Bersama asistennya. Kolonel Colin Mackenzie beliau mengumpulkan dan meneliti naskah-naskah Jawa Kuna. di Jawa dan Madura ada pula sastra Jawa Kuna yang terlestarikan. Istilah sastra Jawa Kuna agak sedikit rancu. Walau sebagian besar sastra Jawa Kuna terlestarikan di Bali. undang-undang hukum. Sastra Jawa Kuna yang terlestarikan sampai hari ini sebagian besar diturunkan dalam bentuk naskah manuskrip yang telah disalin ulang berkali-kali. Karya-karya ini mencakup genre seperti sajak wiracarita. kronik (babad). Karya sastra ini ditulis baik dalam bentuk prosa (gancaran) maupun puisi (kakawin). Di dalam artikel ini. Istilah ini bisa berarti sastra dalam bahasa Jawa sebelum masuknya pengaruh Islam atau pembagian yang lebih halus lagi: sastra Jawa yang terlama. Penelitian ilmiah mengenai sastra Jawa Kuna mulai berkembang pada abad ke-19 awal dan mulanya dirintis oleh Stamford Raffles.

3. 11. namun isinya bukan merupakan teks kesusastraan.dahulu. 9. 996 Udyogaparwa Bhismaparwa Asramawasanaparwa Mosalaparwa Prasthanikaparwa Swargarohanaparwa Kunjarakarna Kakawin Tertua Jawa. ~ 1030 Jawa 104 Daftar Karya Sastra Jawa Kuna dalam bentuk puisi (kakawin) kebudayaan . 3. Prasasti tertua dalam bahasa Jawa Kuna berasal dari tahun 804. Banyak teks dalam bahasa Jawa Kuna yang terlestarikan dari abad ke-9 sampai abad ke-14. 14. 10. 5. Dari masa ini terwariskan sekitar 20 teks prosa dan 25 teks puisi. 15. 856 Kakawin Ramayana ~ 870 Kakawin Arjunawiwaha. Daftar Karya Sastra Jawa Kuna dalam bentuk prosa: 1. 1. 7. 12. kecuali jika ditulis pada bahan tulisan yang awet seperti batu. Candakarana Sang Hyang Kamahayanikan Brahmandapurana Agastyaparwa Uttarakanda Adiparwa Sabhaparwa Wirataparwa. Namun tidak semua teks-teks ini merupakan teks kesusastraan. 13. tembaga dan lain-lain. Teks kesusastraan tertua pada sebuah prasasti terdapat pada Prasasti Siwagreha yang ditarikh berasal dari tahun 856 Masehi. Sedangkan naskah manuskrip tertua adalah sebuah naskah daun nipah yang berasal dari abad ke-13 dan ditemukan di Jawa Barat. 8. Sebagian besar dari teks-teks ini ditulis setelah abad ke-11. 4. 6. 2. Naskah nipah ini memuat teks Kakawin Arjunawiwaha yang berasal dari abad ke-11. mpu Kanwa. 2.

mpu Prapanca. Daftar Karya Sastra Jawa Tengahan prosa: 1. 17. 11. 6. 13. 15. 14. mpu Tantular Kakawin Sutasoma. mpu "Dusun" Kakawin Nagarakretagama. Pada masa ini muncul karya-karya puisi yang berdasarkan metrum Jawa atau Indonesia asli. 5. 12. 3. 23. 7. 5. 20. 16. 2. 19. sastra Jawa Tengahan diteruskan di Bali menjadi Sastra Jawa-Bali. Kakawin Lubdhaka Kakawin Parthayajna Kakawin Nitisastra Kakawin Nirarthaprakreta Kakawin Dharmasunya Kakawin Harisraya Kakawin Banawa Sekar Tanakung Sastra Jawa Tengahan Sastra Jawa Pertengahan muncul di Kerajaan Majapahit.4. 1157 Kakawin Hariwangsa Kakawin Gatotkacasraya Kakawin Wrettasañcaya Kakawin Wrettayana Kakawin Brahmandapurana Kakawin Kunjarakarna. B. 4. 18. Kakawin Kresnayana Kakawin Sumanasantaka Kakawin Smaradahana Kakawin Bhomakawya Kakawin Bharatayuddha. 22. 9. 8. mulai dari abad ke13 sampai kira-kira abad ke-16. mpu Sedah dan mpu Panuluh. 24. Setelah ini. Tantu Panggelaran Calon Arang Tantri Kamandaka Korawasrama Pararaton Jawa 105 Daftar Karya Sastra Jawa Tengahan puisi: kebudayaan . mpu Tantular Kakawin Siwaratrikalpa. 1365 Kakawin Arjunawijaya. Karya-karya ini disebut kidung. 21. 10.

1. 2. 3. 4. 5. 6. C.

Kakawin Dewaruci Kidung Sudamala Kidung Subrata Kidung Sunda Kidung Panji Angreni Kidung Sri Tanjung Sastra Jawa Baru

Sastra Jawa Baru kurang-lebih muncul setelah masuknya agama Islam di pulau Jawa dari Demak antara abad kelima belas dan keenam belas Masehi. Dengan masuknya agama Islam, orang Jawa mendapatkan ilham baru dalam menulis karya sastra mereka. Maka, pada masa-masa awal, zaman Sastra Jawa Baru, banyak pula digubah karya-karya sastra mengenai agama Islam. Suluk Malang Sumirang adalah salah satu yang terpenting. Kemudian pada masa ini muncul pula karya-karya sastra bersifat ensiklopedis seperti Serat Jatiswara dan Serat Centhini. Para penulis 'ensiklopedia' ini rupanya ingin mengumpulkan dan melestarikan semua ilmu yang (masih) ada di pulau Jawa, sebab karya-karya sastra ini mengandung banyak pengetahuan dari masa yang lebih lampau, yaitu masa sastra Jawa Kuna. Gaya bahasa pada masa-masa awal masih mirip dengan Bahasa Jawa Tengahan. Setelah tahun ~ 1650, bahasa Jawa gaya Surakarta menjadi semakin dominan. Setelah masa ini, ada pula renaisans Sastra Jawa Kuna. Kitab-kitab kuna yang bernapaskan agama Hindu-Buddha mulai dipelajari lagi dan digubah dalam bahasa Jawa Baru. Sebuah jenis karya yang khusus adalah babad, yang menceritakan sejarah. Jenis ini juga didapati pada Sastra Jawa-Bali. Daftar Cuplikan Karya Sastra Jawa Baru Masa Islam:
• • • • • • •

Kidung Rumeksa ing Wengi Kitab Sunan Bonang Primbon Islam Suluk Sukarsa Serat Koja Jajahan Suluk Wujil Suluk Malang Sumirang Jawa 106

kebudayaan

• • • • • • • • •

Serat Nitisruti Serat Nitipraja Serat Sewaka Serat Menak Serat Yusup Serat Rengganis Serat Manik Maya Serat Ambiya Serat Kandha Serat Rama Kawi Serat Bratayuda, Kyai Yasadipura Serat Panitisastra Serat Arjunasasra Serat Mintaraga, Ingkang Sinuwun Pakubuwana III Serat Darmasunya Serat Dewaruci Serat Ambiya Yasadipuran, Kyai Yasadipura Serat Tajusalatin Serat Cebolek Serat Sasanasunu Serat Wicara Keras Serat Kalatidha, Raden Ngabehi Ranggawarsita Serat Paramayoga, Raden Ngabehi Ranggawarsita Serat Jitapsara Serat Pustaka Raja Serat Cemporet Serat Damar Wulan, Raden Panji Jayasubrata, 1871 Serat Darmagandhul Babad Giyanti Babad Prayut Babad Pakepung Babad Tanah Jawi Jawa 107

Masa Renaisans dan sesudahnya:
• • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Babad-Babad:
• • • •

kebudayaan

D.

Sastra Jawa Modern

Sastra Jawa Modern muncul setelah pengaruh penjajah Belanda dan semakin terasa di Pulau Jawa sejak abad kesembilan belas Masehi. Para cendekiawan Belanda memberi saran para pujangga Jawa untuk menulis cerita atau kisah mirip orang Barat dan tidak selalu berdasarkan mitologi, cerita wayang, dan sebagainya. Maka, lalu muncullah karya sastra seperti di Dunia Barat; esai, roman, novel, dan sebagainya. Genre yang cukup populer adalah tentang perjalanan. Gaya bahasa pada masa ini masih mirip dengan Bahasa Jawa Baru. Perbedaan utamanya ialah semakin banyak digunakannya kata-kata Melayu, dan juga kata-kata Belanda. Pada masa ini (tahun 1839, oleh Taco Roorda) juga diciptakan huruf cetak berdasarkan aksara Jawa gaya Surakarta untuk Bahasa Jawa, yang kemudian menjadi standar di pulau Jawa. Daftar Karya Sastra

Lelampahaning Purwalelana, Raden Mas Purwalelana (jeneng sesinglon) 1875-1880

• • • • • •

Rangsang Tuban, Padmasoesastra, 1913 Ratu, Krishna Mihardja, 1995 Tunggak-Tunggak Jati, Esmiet Lelakone Si lan Man, Suparto Brata, 2004 Pagelaran, J. F. X. Hoery Banjire Wis Surut, J. F. X. Hoery

H.6

Wayang

kebudayaan 108

Jawa

seni tutur. Yaitu "Mana yang Isi(Wayang Wong) dan Mana yang Kulit (Wayang Kulit) harus dicari (Wayang Golek)". yang artinya bayangan. yang terus berkembang dari zaman ke zaman. serta hiburan. Jenis-jenis wayang : Selama berabad-abad. Kata `wayang' diduga berasal dari kata `wewayangan'. Budaya wayang. 3. Para Wali di Tanah Jawa sudah mengatur sedemikian rupa menjadi tiga bagian. antara lain yang terbuat dari kertas. Dugaan ini sesuai dengan kenyataan pada pergelaran Wayang Kulit yang menggunakan kelir. seni sastra. Wayang yang dimainkan dalang ini diantaranya berupa wayang kulit atau wayang golek. dakwah.Wayang adalah seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Pulau Jawa dan Bali. Pertunjukan wayang telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003. sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan sangat berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity). seni lukis. secarik kain. dan juga seni perlambang. pendidikan. dan ada pula wayang yang berupa sekumpulan boneka yang dimainkan oleh dalang. dan penonton di balik kelir itu. Sunan Kali Jaga dan Raden Patah sangat berjasa dalam mengembangkan Wayang. yang dikenal sebagai wayang orang. Kebanyakan jenis jenis wayang itu tetap nenggunakan Mahabarata dan Ramayana sebagai induk ceritanya. Wayang. pemahaman filsafat. Sedangkan alat peraganya pun berkembang menjadi beberapa macam. oleh para pendahulu negri ini sangat mengandung arti yang sangat dalam sekali. Wayang Wong atau Wayang Orang di Jawa Tengah. hiburan. sebagai pembatas antara dalang yang memainkan wayang. Budaya wayang meliputi seni peran. juga merupakan media penerangan. seni musik. Penonton hanya menyaksikan gerakan-gerakan wayang melalui bayangan yang jatuh pada kelir. kayu. dan juga kebudayaan 109 Jawa . Wayang Golek di Jawa Barat Masing masing sangat bekaitan satu sama lain. Cerita yang dikisahkan dalam pagelaran wayang biasanya berasal dari Mahabharata dan Ramayana. seni suara. seni pahat. kulit. 1. Ada versi wayang yang dimainkan oleh orang dengan memakai kostum. kain. Wayang Kulit di Jawa Timur 2. budaya wayang berkembang menjadi beragam jenis.

Kerangka itu disebut cempurit.Wayang Orang.Wayang Suluh . Wayang Beber pada umumnya menceritakan kisah Panji. Pada saat pergelaran bagian gambar yang menampilkan adegan lakon itu dibuka dari gulungannya.Wayanng Parwa . Wayang Kulit Purwa mengambil cerita dari kisah Mahabarata dan Ramayana. Satu gulung wayang beber biasanya terdiri atas 16 adegan. dan sang Dalang menceritakan kisah yang terlukis dalam setiap adegan itu. yang digambari dengan beberapa adegan lakon wayang tertentu. digunakan "kerangka penguat" yang membuatnya kaku. Pergelaran Wayang Kulit Purwa diiringi dengan seperangkat gamelan sedangkan penyanyi kebudayaan 110 Jawa . Jenis wayang ini tersebar hampir di seluruh Jawa dan daerah transmigrasi.Wayang Kancil 1. bahkan juga di Suriname di benua Amerika bagian selatan. 2.Wayang Papak . terbuat dari tanduk kerbau atau kulit penyu.Perkembangan jenis wayang ini juga dipengaruhi oleh keadaan budaya daerah setempat. -Wayang Kulit -Wayang Golek/ Wayang Thengul Bojonegoro -Wayang Krucil -Wayang Purwa -Wayang Beber -Wayang Orang -Wayang Gedog -Wayang Sasak -Wayang Calonarang -Wayang Wahyu -Wayang Menak .Wayang Sadat . Wayang Beber Berupa selembar kertas atau kain yang berukuran sekitar 80 cm X 12 meter. Agar lembaran wayang itu tidak lemas.Wayang Klitik . Peraga wayang yang dimainkan oleh seorang dalang terbuat dari lembaran kulit kerbau (atau sapi) yang dipahat menurut bentuk tokoh wayang dan kemudian disungging dengan warna warni yang mencerminkan perlambang karakter dari sang Tokoh.Wayang Madya . Wayang Kulit Purwa Merupakan jenis wayang yang paling populer di masyarakat sampai saat ini.

Yang berbeda benar adalah induk kebudayaan 111 Jawa . disebut pesinden atau waranggana. Selain berupa golek. Wayang Krucil Sering dianggap sama dengan Wayang Klitik. Pada Wayang Klitik. 3. jamang. antara lain dengan memberinya kuluk. peraga Wayang Golek Menak diberi pakaian mirip dengan Wayang Kulit Purwa. Hanya bagian tangan peraga wayang itu bukan dari kayu pipih melainkan terbuat dari kulit. 4.wanita yang menyanyikan gending-gending tertentu. Anggapan itu disebabkan karena Wayang Krucil juga terbuat dari kayu pipih. seorang dalang dari Baturetno. Latar belakang cerita Menak adalah negeri Arab. Wayang ini diciptakan orang pada tahun 1648. cempuritnya merupakan kelanjutan dari bahan kayu pembuatan wayangnya. Wayang ini diciptakan oleh Ki Trunadipa. tetapi tanpa menggunakan kelir sehingga penonton dapat melihat secara langsung. juga menggunakan peraga wayang berbentuk boneka kecil. Surakarta. Wayang Menak juga ada yang dirupakan dalam bentuk kulit. agar lebih awet dan ringan menggerakkannya. dsb. Induk ceritanya bukan diambil dari Kitab Ramayana dan Mahabarata. Wayang Golek Menak Disebut juga Wayang Tengul. sumping. pada masa perjuangan Nabi Muhammad SAW menyebarkan agama Islam . melainkan dari Kitab Menak. 5. Pementasan Wayang Klitik juga diiringi oleh gamelan dan pesinden. Walaupun tokoh ceritanya sebenarnya orang Arab. walaupun tubah dan sorban Arab juga digunakan. pada zaman pemerintahan Mangkunegoro VII. Wayang Klitik Terbuat dari kayu pipih yang dibentuk dan disungging menyerupai Wayang Kulit Purwa.

cerita yang diambil untuk lakon-lakonnya. kebudayaan 112 Jawa . 7. Pada mulanya. Syahrir. Wayang ini dimaksudkan sebagai media penerangan mengenai sejarah perjuangan bangsa. Di antara lakonnya. semua penari Wayang Orang adalah penari pria. yakni pertengahan abad ke-18. tetapi corak tatahan dan sunggingannya agak naturalistik. Wayang Orang adalah perwujudan drama tari dari Wayang Kulit Purwa. dan David Ian Goliat. Bung Hatta. 8. Bung Tomo. bukan dari Ramayana atau Mahabarata. antara lain terdapat Bung Karno. Wayang Wahyu Mempunyai bentuk peraga wayang terbuat dari kulit. Dari segi cerita. Penggambaran tokoh Wayang Suluh dibuat realistik. karena baru tercipta setelah zaman kemerdekaan. tidak ada penari wanita. Wayang Suluh Suluh tergolong wayang modern. Wayang ini mengambil lakon dari cerita Injil. antara lain adalah Samson Ian Delilah. Wayang Krucil mengambil lakon dari cerita Damarwulan. saat ini sudah hampir punah. Karena itu. bahasa Jawa. 6. Baik Wayang Krucil maupun Wayang Klitik. Jadi agak mirip dengan pertunjukan ludruk di Jawa Timur dewasa ini. baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. dan Jenderal Sudirman. Bahasa pengantarnya. Wayang Orang Adalah seni drama tari yang mengambil cerita Ramayana dan Mahabarata sebagai induk ceritanya. di antara tokoh peraganya.

Itulah sebabnya. Para dalangnya pun pada umumnya juga merangkap sebagai dalang Wayang Kulit Purwa. Prabu Klana Madukusuma. Wayang ini. Di antara tokoh-tokoh ceritanya. Dengan demikian Wayang Wahyu praktis tidak berkembang. diiring oleh seperangkat gamelan dan pesinden. tetapi mengambil lakon dari cerita-cerita Panji. itu pun yang berasal dari suku bangsa Jawa. Hanya sisa-sisa peraganya saja yang masih bisa dilihat di beberapa museum dan Keraton Surakarta. Wayang ini amat mirip dengan Wayang Kulit Purwa. antara lain adalah Prabu Lembu Hamiluhur. Wayang Gedog Diciptakan oleh Sunan Giri di tandai candra sengkala Gegamaning Naga Kinaryeng Bathara: 1485 caka (1568 M). 9. Perkembangan Wayang Wahyu amat terbatas pada lingkungan masyarakat beragama Katolik. boleh dibilang sudah punah. Padahal. dan Raden Gunungsari. kebudayaan 113 Jawa . tidak semua orang Jawa menyukai wayang. sebagian orang menamakan Wayang Gedog ini Wayang Panji.Pergelaran Wayang wahyu hampir serupa dengan Wayang Kulit Purwa. kelir dan gedebog.

Wayang yang juga terbuat dari kulit itu. Dalang memainkan wayang kulit di balik kelir. Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang. meskipun seorang seniman. Untuk dapat memahami cerita wayang(lakon). sementara di belakangnya disorotkan lampu listrik atau lampu minyak (blencong). Cerita untuk lakon-lakon para Wayang Kancil diambil dari Kitab Serat Kancil Kridamartana karangan Raden Panji Natarata. Wayang Kancil termasuk di antara jenis wayang yang tidak berkembang. yang terutama berkembang di Jawa dan di sebelah timur semenanjung Malaysia seperti di Kelantan dan Terengganu.10. 11. penonton harus memiliki pengetahuan akan tokoh-tokoh wayang yang bayangannya tampil di layar. dibuat dan disungging oleh Lie To Hien. sehingga para penonton yang berada di sisi lain dari layar dapat melihat bayangan wayang yang jatuh ke kelir. Wayang Kulit Wayang kulit adalah seni tradisional Indonesia. dengan diiringi oleh musik gamelan yang dimainkan sekelompok nayaga dan tembang yang dinyanyikan oleh para pesinden. Wayang Kancil Termasuk wayang moderen. yaitu layar yang terbuat dari kain putih. yakni Iedjar Subroto tetap berusaha mempopulerkannya. menggunakan tokoh peraga binatang. diciptakan tahun 1925 oleh seorang keturunan Cina bernama Bo Liem. Jenis Wayang Kulit menurut asal daerah di Jawa : • • Wayang Jawa Yogyakarta Wayang Jawa Surakarta Jawa 114 kebudayaan .

yang lebih dikenal dengan istilah pakeliran. yang kualitasnya selalu terjaga dan ditangani sungguhsungguh oleh para pakar yang memahami benar. Pakeliran ini mencakup unsurunsur yaitu. merupakan ekspresi dan sifatnya lebih bebas. sederhana.• Wayang Kulit Gagrag Banyumasan Wayang Kulit Gagrag Banyumasan merupakan salah satu gaya pedalangan di tanah Jawa. devosional dan hiburan. karena memperoleh simpati dan dicintai masyarakatnya. jujur dan terus terang . serta lugas dan mampu bertahan sampai saat ini dalam menghadapi perubahan jaman. dan hidup serta berkembang di daerah eks Karesidenan Banyumas. Dalam Wayang Gagrag Banyumasan mempunyai ciri khas dalam penceritaan yang lebih memperjelas peran rakyat kecil yang dimanivestasikan dalam tokoh punakawan seperti cerita Bawor Dadi Ratu. karawitan ( gendhing. lakon wayang ( penyajian alur cerita dan maknanya). sabet ( seluruh gerak wayang). Pakeliran Gagrag Banyumasan. Petruk Krama dan lain-lain selain itu pula wayang Gagrag Banyumasan lebih menonjolkan peran para muda dalam penyelesaian kasus-kasus dan permasalahan. mempunyai nuansa kerakyatan yang kental sebagaimana karakter masyarakatnya . Contoh gambar wayang : kebudayaan 115 Jawa . catur ( narasi dan cakapan) . Cerita Srikandi Mbarang Lengger' yang merupakan terusan lakon Srenggini Takon Rama adalah salah satu contoh kongkrit bahwa peran pemuda seperti Antasena dan Wisanggeni menjadi sangat sentral. dan berperan sebagai bentuk seni klangenan serta dijadikan wahana untuk mempertahankan nilai etika. sulukan dan properti panggung ) .

Cara kebudayaan 116 Jawa . Dalam busana Jawa ini tersembunyi ajaran untuk melakukan segala sesuatu di dunia ini secara harmoni yang berkaitan dengan aktivitas seharihari. Busana Jawa penuh dengan piwulang sinandhi (ajaran tersamar) kaya akan ajaran Jawa. sehingga bagian tersebut tersembul di bagian belakang blangkon. rasukan mesiran. rasukan basahan dan rasukan gedhog. Pakaian adat Jawa ini mempunyai perlambang tertentu bagi orang Jawa.7 Pakaian Adat Rasukan adat Jawa Rasukan adat Jawa atau pakaian adat Jawa yang umumnya disebut rasukan kejawen yang sudah ada sejak jaman dahulu dan mulai terbentuk lengkap pada jaman kerajaan demak. Selain rasukan kejawen juga ada rasukan surjan. baik dalam hubungannya dengan sesama manusia. diri sendiri maupun Tuhan Yang Maha Kuasa Pencipta segalanya. Pada umumnya rasukan Jawa dibagi menjadi 4 bagian yaitu.Batara Guru (Siwa) dalam bentuk seni wayang Jawa. Masing-masing jenis rasukan Jawa ini mempunyai makna perumpamaan atau melambangakn nilai-nilai luhur filosofi Jawa. H. Tonjolan ini menandakan model rambut pria masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka di bagian belakang kepala. Untuk bagian kepala selain menggunakan blangkon biasanya orang Jawa kuna (tradisional) mengenakan "iket" yaitu ikat kepala yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menjadi penutup kepala. • 1 Bagian ndhuwur/bagian atas (Penutup Kepala)  Iket atau blangkon Blangkon adalah tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional Jawa. Untuk beberapa tipe blangkon ada yang menggunakan tonjolan pada bagian belakang blangkon.

Selain itu udheng juga mempunyai arti bahwa manusia seharusnya mempunyai ketrampilan dapat menjalankan pekerjaannya dengan dasar pengetahuan yang mantap atau mudheng. Udheng dari kata kerja Mudheng atau mengerti dengan jelas.mengenakan iket harus kenceng (kuat) supaya ikatan tidak mudah terlepas. Maksudnya agar manusia mempunyai pemikiran yang kukuh. faham.  Udheng Udheng juga dikenakan di bagian kepala dengan cara mengenakan seperti mengenakan sebuah topi. tidak grusa-grusu (emosional) Wiru Jarik atau kain dikenakan selalu dengan cara mewiru (meripel) pinggiran yang vertikal atau sisi saja sedemikian rupa. diperhitungkan dengan cermat. Menanggapi setiap masalah harus hati-hati.  Jarik lan wiron utawa wiru Jarik atau sinjang merupakan kain yang dikenakan untuk menutup tubuh dari pinggang sampai mata kaki. Wiru kebudayaan 117 Jawa . tidak mudah terombang-ambing hanya karena situasi atau orang lain tanpa pertimbangan yang matang. Lambang yang tersirat dalam benik itu adalah agar orang (Jawa) dalam melakukan semua tindakannya apapun selalu diniknik. Apapun yang akan dilakukan hendaklah jangan sampai merugikan orang lain. Dengan kata lain hendaklah manusia mempunyai ketrampilan yang profesional. Jika sudah dikenakan di atas kepala. Makna iket dimaksudkan manusia seyogyanya mempunyai pemikiran yang kenceng. Jarik bermakna aja gampang serik (jangan mudah iri terhadap orang lain). iket dan udheng sulit dibedakan karena ujud dan fungsinya sama. mengerti dan memahami tujuan hidup dan kehidupan atau sangkan paraning dumadi. menjaga antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum. • 2 Bagian tengah (bagian tengah)  Rasukan utawa kelambi uga benik (pakaian dan juga kancing baju) Busana kejawen seperti beskap selalu dilengkapi dengan benik (kancing baju) disebelah kiri dan kanan. dapat .

 Sabuk Sabuk (ikat pinggang) dikenakan dengan cara dilingkarkan (diubetkan) ke badan. Kata sabuk berarti usahakanlah agar segala yang dilakukan tidak ngebukne.  Timang Timang bermakna bahwa apabila ilmu yang didapat harus dipahami dengan jelas atau gamblang. Ini mengandung pengertian bahwa jarik tidak bisa lepas dari wiru. • 3 Bagian mburi (bagian belakang)  Curiga atau keris dan rangka Curiga atau keris berujud wilahan. kerjakan segala hal jangan sampai keliru agar bisa menumbuhkan suasana yang menyenangkan dan harmonis. teliti dan cermat sehingga dapat memahami dengan jelas. keris mempunyai arti bahwa dalam menyembah Tuhan Yang Maha Kuasa hendaklah manusia bisa untuk kebudayaan 118 Jawa .atau wiron ( rimple ) diperoleh dengan cara melipat-lipat (mewiru). Keris ini mempunyai pralambang bahwa keris sekaligus warangka sebagaimana manusia sebagai ciptaan dan penciptanya Yatu Allah Yang Maha Kuasa. manunggaling kawula Gusti.  Epek Epek bagi orang Jawa mengandung arti bahwa untuk dapat bekerja dengan baik. tidak akan ada rasa samang (khawatir) samang asal dari kata timang. Untuk itulah manusia harus ubed (bekerja dengan sungguh-sungguh) dan jangan sampai kerjanya tidak ada hasil atau buk (impas/tidak ada keuntungan). harus epek (apek. Ajaran ini tersirat dari sabuk tersebut adalah bahwa harus bersedia untuk tekun berkarya guna memenuhi kebutuhan hidupnya. mencari) pengetahuan yang berguna. dimaksudkan wiwiren aja nganti kleru. Jadi harus ubed atau gigih. golek. Curiga dikenakan di bagian belakang badan. Selama menempuh ilmu upayakan untuk tekun. Karena diletakkan di bagian belakang tubuh. bilahan dan terdapat di dalam warangka atau wadahnya.

berhati-hati terhadap segala hal yang dilakukan dan "tumindak nggubed ing rina wengi" (bekerja sepanjang hari) Kebaya Kebaya adalah blus tradisional yang dikenakan oleh wanita Indonesia dan Malaysia yang terbuat dari bahan tipis yang dikenakan dengan sarung. Sebelum 1600. dan Sulawesi. selop atau sandal Canela mempunyai arti "Canthelna jroning nala" (peganglah kuat dalam hatimu) canela sama artinya Cripu. Jawa. Bali. hendaklah dari lahir sampai batin sujud atau manembah di kaki-NYA. Pakaian yang mirip yang disebut "nyonya kebaya" diciptakan pertama kali oleh orang-orang Peranakan dari Melaka. nyonya kebaya kebudayaan 119 Jawa . bebed artinya manusia harus ubed. Selama masa ini. Sumatera. Canela selalu dikenakan di kaki. artinya dalam menyembah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. kebaya diubah dari hanya menggunakan barang tenunan mori menggunakan sutera dengan sulaman warna-warni. di Pulau Jawa. Dipercaya kebaya berasal dari Tiongkok ratusan tahun yang lalu. Dalam hati hanyalah sumeleh (pasrah) kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. batik. • 4 Bagian ngisor (bagain bawah)  Canela yaitu: cripu. Kini. rajin bekerja. atau pakaian rajutan tradisional lainnya seperti songket dengan motif warna-warni.  Bebed Bebed adalah kain (jarik) yang dikenakan oleh laki-laki seperti halnya pada perempuan. Selop. Lalu menyebar ke Malaka. Mereka mengenakannya dengan sarung dan kaus cantik bermanik-manik yang disebut "kasut manek". pakaian itu diterima di budaya dan norma setempat.ngungkurake godhaning setan yang senantiasa mengganggu manusia ketika manusia akan bertindak kebaikan. atau sandal. kebaya adalah pakaian yang hanya dikenakan keluarga kerajaan di sana. Setelah akulturasi yang berlangsung ratusan tahun. wanita-wanita Eropa mulai mengenakan kebaya sebagai pakaian resmi. Selama masa kendali Belanda di pulau itu.

Terpisah dari kebaya tradisional. Dugaan kuat mengatakan Kebaya awalnya merupakan atasan panjang berbentuk tunik sederhana yang menjulur dari leher hingga lutut (baju kurung). kebaya dikenakan secara resmi oleh keluarga Kerajaan. Keislaman sangat kuat memengaruhi siluet Kebaya di awal-awal perkembangannya. Cirebon) di tanah Jawa masih merekam Kebaya panjang ini dengan beberapa ornamen kenegaraan yang terpasang di beberapa sisinya (abad ke-19). Jenis ini kebudayaan 120 Jawa . Surakarta maupun Jogjakarta menunjukkan penggunaan busana ini bagi keluarga kerajaan. Kebiasaan berbusana macam itu juga ikut tergeser. perancang mode sedang mencari cara memodifikasi desain dan membuat kebaya menjadi pakaian yang lebih modern. Jawa). dan juga terkenal di antara wanita non-Asia. Kata Kebaya diartikan sebagai jenis pakaian (atasan/blouse) pertama yang dipakai wanita Indonesia pada kurun waktu abad ke-15 atau ke-16 Masehi. meski dalam beberapa acara adat harus berbusana seperti itu lagi. Pakaian semacam ini serta-merta menggeser kemben tradisional. dan pengaruh ini ditularkan setelah imigrasi besar-besaran menyambangi semenanjung Asia Selatan dan Tenggara di abad ke13 hingga ke-16 Masehi. Argumen Lombard tentu berterima terutama lewat analogi penelusuran lingustik yang toh sampai sekarang kita masih mengenal ‘Abaya’ yang berarti tunik panjang khas Arab. Yogyakarta. Pada tahun 1600. Lampung. Di beberapa pelosok Indonesia bahkan bisa ditemukan wanita yang tampil tanpa atasan apapun (Bali. Hal ini mengingatkan kita akan Abaya dan kebaya Melayu.sedang mengalami pembaharuan. kebaya menjadi busana yang populer dan bahkan menjadi simbol status. Dokumentasi lama kerajaan Islam Cirebon. Kita perlu menilik penyebaran dan masuknya Islam di Indonesia (abad ke-15) untuk mengetahui perkembangan Kebaya modern saat ini. Kebaya Indonesia Menurut Denys Lombard dalam bukunya Nusa Jawa: silang Budaya (1996) Kebaya berasal dari bahasa Arab ‘Kaba’ yang berarti ‘pakaian’ dan diperkenalkan lewat bahasa Portugis ketika mereka mendarat di Asia Tenggara. sementara bros serangkai (tiga berjajar) tersemat di bagian depan membentuk suatu penutup. Kebaya yang dimodifikasi itu malah bisa dikenakan dengan jins atau rok. terutama di Bali. Gelang dan jam dikenakan diluar lengan Kebaya. Sementara sebagian yang lain percaya Kebaya ada kaitannya dengan pakaian tunik perempuan pada masa kekasiran Ming di Tiongkok. Dokumentasi lama milik keluarga kerajaan dan keraton (Surakarta. Setelah penyebaran agama Islam.

Peralihan kekuasaan dari tangan Soekarno ke pemerintahan Orde Baru di bawah Soeharto tahun 1965 menempatkan Kebaya di posisi lemah. Hampir semua wanita. tetapi melekat pada kaum aristrokrat tertentu yang berpihak pada Soekarno. Sebagian orang menanggapi kondisi ini sebagai masa-masa keemasan Kebaya sampai tahun 1960-an. meski beberapa desainer lokal macam Iwan Tirta mencoba melestarikannya. di rumah. ia harus mengalami sekali lagi pukulan itu. Belum pulih benar Kebaya dari trauma politiknya. Dengan warna jingga salem-nya. Kebaya menjalar menjadi nasionalis dan bernafas kemerdekaan. Namun beludru. Tiongkok. baik itu di kantor. di manapun tampil berkebaya. India. dan katun halus kemudian menggantikan bahan-bahan keras tadi sesuai dengan masuknya koloni Eropa ke Indonesia dan membuka jalur perdagangan tekstil antar negara (sejak abad ke-18). Hingga tahun 1980-an Kebaya semakin terkucil di kalangan istri Militer dan pegawai negeri. Potongan dan pola-pola lama kembali meruak meski masih memegang pakem-pakem yang tercipta dari abad sebelumnya. Kebaya menjadi seragam resmi organisasi ini. Tinggal bagaimana tangan-tangan kreatif anak Bangsa memanfaatkannya. Citra nasional yang dibawa Kebaya begitu kuatnya. Kaum perempuan yang merasa tidak terlibat dengan gejolak politik Orde Lama (Soekarno) memilih untuk tidak mengenakan Kebaya. Kabar baiknya adalah peran informasi dan pertukaran komoditi antar negara kembali terbuka lebar. Revolusi besar kemerdekaan Indonesia tahun 1945 membawa Kebaya pada konstelasi nasionalis yang lebih absolut. Dari sekedar tradisional yang pribumi. Lagi-lagi faktor politik berkecamuk. terutama jenis putu baru dan Kebaya encim yang masih ada jejaknya sekarang ini. Sentimen Barat pada Soekarno. awal tahun 90-an Ghea kebudayaan 121 Jawa . Para wanita terdidik yang dekat dengan pemerintahan Soekarno saat itu banyak mengenakan aneka kebaya. Terusan modern dan kemejakemeja wanita lebih digemari ketimbang Kebaya. Kebaya tersingkir dalam kotak eksklusif Dharmawanita (organisasi wanita istri pegawai negeri yang terbentuk sejak tahun 1974). Perlahan namun pasti. Citracitra dan simbol-simbol yang diemban Kebaya di masa Soekarno membuat ia dijauhi. Yang terlihat adalah aneka corak dan warna-warna Kebaya yang beragam.akhirnya merambah permainan bahan. Tidak memakan waktu lama. sutra. Katun kasar dan tenun tradisional tentu saja menjadi cikal bakalnya. dan sebagian Asia Tenggara mendominasi pasar tekstil Indonesia. dan sentimen Soekarno sendiri pada Barat membatasi jalur pertukaran komoditi Eropa dan Indonesia.

maupun kenegaraan. pertemuan formal kenegaraan. Yang tandang dengan banyak ide. Di kalangan elit dan perempuan berpendidikan. Teknik bordir. Tahun 90-an pula Kebaya mulai mendapat tempat yang lebih luas. Dunia pernikahan. Kebaya merambah ke jalur sutra. dan pencampuran bahan sebagai cikal bakal revolusi Kebaya di tahun 2000-an. nanas. memiliki predikat khusus. Dalam lingkup kelas atas. dan unsur metal. Desainer-desainer Indonesia sepakat. pisang. Kreatifitas tak terbendung yang dicontohkan oleh para pemimpin setelah Soeharto dan dunia politik juga diikuti masyarakatnya. perubahan besar itu juga diikuti dengan pemanfaatan bahan baku. dan garis luar berubah beragam-ragam. siluet. Untuk beberapa alasan. keluarga. sifon. hingga serat-serat yang tak terbayangkan sebelumnya seperti jute. Kebaya macam ini. Digalilah kreasi-krasi baru yang segar dari banyak sumber untuk mempercantik Kebaya. teknik aplikasi.Panggabean melakukan eksperimen berarti pada Kebaya. Mereka mulai meliriknya. layer hingga quilt ikut mewarnai kemegahan Kebaya. Kebaya adalah genre khas dari dunia fesyen yang menjanjikan. Hal ini kemudian memancing kompetisi antar desainer. memelajarinya. hingga acara-acara eksklusif yang mengusung citra Indonesia secara konsensus-tersembunyi mewajibkan Kebaya sebagai kode busananya. lipit. Secara pola. pilin. drapery. yang kemudian banyak juga dikembangkan oleh desainer lokal lain. Reformasi dipahami sebagai era kebebasan. bordir. lace. kristal. Hingga akhirnya pemanfaatan material mewah macam payet. Banyak pranata yang dijungkirbalikan. cutting. renda. Ia sah digunakan di acara-acara formal baik bersifat pribadi. hal ini baik. Setelah 32 Tahun memerintah Indonesia. Keterbukaan pikiran menjadi titik tolak semua kegiatan di masa-masa 1997-2002. Bagai bola liar. dia yang menang. Keluar dari sekedar organza dan katun. Ia memanfaatkan bahan sutra organdi dan serat-serat alam lain yang tergolong mewah menjadi Kebaya. Reformasi membawa angin segar sekaligus liar. Kekangan adalah barang haram di masa ini. Soeharto undur. batu-batu mulia dan bulu binatang (ostrich’s feathers/cincila fur) hadir bersama taknik aplikasi yang kebudayaan 122 Jawa . dan kemudian berkreasi dengannya. Kuncinya adalah inovasi! Sepertinya tuntutan kreasi dan aksentuasi dari para pemakai juga menjadi faktor besar yang mendorong Kebaya kembali ke era abad-19—masa dimana Kebaya punya kebebasan untuk berkembang. Bahkan dipandang mempunyai janji ekonomi yang besar. Kita harus mencermati trend brokat (lace). shantung.

Batik pada prinsipnya merupakan proses pencelupan dan pencucian dan menggunakan malam sebagai bahan dasar. Dengan teknik yang satu ini. tepatnya Ambatik (bahasa Jawa yang berarti menggambar dan melukis). Tanpa harus terpengaruh imbas politik. bahkan adat istiadat. Teknik aplikasi membuka kesempatan Kebaya sebagai benda seni yang bisa dihiasi apa saja—bahkan berlian jika memungkinkan. Kebaya tercipta sebagai karya seni. ekonomi. kreasi tanpa batas sangat mungkin dikerjakan. Kebaya semata-mata menganut faham kreatifitas yang feminis. seperti banyak masyarakat Indonesia era 2000-an. Kata ""tik" dari "setitik" berarti sedikit menggambarkan proses yang bertingkat sedikit demi sedikit. karena kerumitan detail yang melekat padanya. punya daya pandang dan tempatnya masing-masing. Sedangkan cara modern merupakan suatu cara dimana pengrajin batik menggunakan cap yang menulis batik sehingga proses pengerjaannya lebih cepat. Lewat banyak teknik dan potongan.revolusioner. Cara Tradisional adalah suatu cara dimana pengrajin batik masih menggunakan canting untuk menulis batik dan menggunakan malam sebagai bahan untuk menulis. Ia kini. Batik adalah kata dari bahasa Indonesia. Secara kualitas batik yang dibuat dengan menggunakan cara tradisional akan lebih bagus kualitasnya. Harga batik yang dibuat dengan cara tradisional pun lebih mahal. Batik Darimanakah kata Batik ?. sehingga batik adalah asli dari Indonesia walaupun banyak beredar sekarang batik Malaysia sampai Myanmar. Kebaya memasuki masa revolusinya sendiri. Bahkan ada satu Kebaya yang memiliki berat hingga 22 Kg. Batik merupakan busana hasil kerajinan rakyat dimana batik dibuat dengan menggunakan cara tradisional dan cara modern. sampai aksesorisnya. material dan bahan. kebudayaan 123 Jawa .

Harjonagoro (Go Tik Swan) yang pernah hidup di antara rakyat jelata (antara lain para pengrajin batik di rumah kakeknya) maupun lingkungan keraton. Canthing Seni batik pada dasarnya merupakan seni lukis dengan bahan: kain. sedangkan canthing yang bermoncong beberapa (dapat sampai tujuh) dipakai untuk membuat hiasan berupa kumpulan titik-titik. sering simbolis. dan digunakan untuk acara formal tertentu. Masyarakat itu. pemakaman atau hari peringatan. mestinya harus mengalir kembali ke asalnya. contohnya upacara pernikahan. setiap motif mampunyai arti khusus." Begitu keyakinan KRT. Batik Surakarta Batik adalah bentuk seni klasik yang ruwet dan sudah lama sekali sangat penting di dalam adat Java. yaitu masyarakat pertanian. mestinya diberi kesempatan mendapat bagian dari batik. lalu diperbaiki dan diperhalus. Canthing yang bermoncong satu untuk membuat garis. kebudayaan 124 Jawa . Ada banyak motif yang berbeda. titik atau cerek." "Karena berasal dari petani. yang dibawa masuk ke keraton."Falsafah batik sebenarnya berakar pada petani. Canthing biasanya berbentuk seperti mangkuk kecil dengan tangki (pegangan) terbuat dari kayu atau bambu dan bermoncong satu atau lebih. Baru kemudian timbul falsafah batik yang tidak berpijak pada pertanian. canthing dan malam ‘sebangsa cairan lilin’. yang kini sudah bergeser menjadi masyarakat industri agraris dan sepanjang masa sengsara.

sekarang. Batik-batik yang digambar dengan tangan disebut batik tulis memerlukan 2-3 bulan untuk membuatnya. sedangkan bagian yang dimalam masih sama. Setelah malamnya menjadi keras.25 meter membutuhkan 60-90 hari untuk membuatnya.8 Keris kebudayaan 125 Jawa . dan hasilnya sama baiknya. Juga terdapat dua cara untuk membuat batik tulis. cap atau batik combinasi. dengan tangan. yaitu sepotong kain 2. Capnya sendiri sering diperlihatkan sebagai seni. tergantung jenis pola dan berapa warnawarna yang diinginkan. Capnya. atau gabungan/combinasi tangan dan cap. kainnya tanpa malam bisa dicelup. Sering sangat sulit untuk membedakan antara tulis. Cap ini digunakan untuk proses pemalaman. dengan sebuah cap tembaga. itu menjadi melawan celup.Batik adalah cara yang melawan celup. dapat digunakan untuk lebih dari satu kain. Ketiga cara merupakan bentuk seni yang menarik. H. pertama-tama harus dibuat cap tembaga. Cara ini dilakukan berulang kali. Cap dibuat dengan tangan dan juga proses memalaman. lebih murah dan lebih cepat. dengan merebus malam keras pada kain dan menciptakan sebuah pola baru. cara tradisi dan cara modern. Pola digambar pada kain dengan malam yang dicairkan. menggunakan alat tembaga khusus untuk menggambar. Ada tiga dasar utama untuk menerapkan malam. Untuk hasil dari batik cap disebut batik cap.25 x 1.

adalah hasil kegaiban yang lain dari Jawa kuno. keris menjadi lambing kepangkatan serta bisa dijadikan sebagai hadiah yang paling istimewa. Di zaman dulu selain menjadi senjata. Keris. wanita dan kukila. bahkan sebelum Kerajaan Majapahit (abad ke-13). jenjang pangkat serta sebagai hadiah. keris juga bisa diguanakan sebagai tanda status sosial. sanggup melindungi diri sendiri. selain itu. Keris dipakai oleh lelaki untuk peristiwa penting dan tatacara tradisionil. atau pisau belati. Fungsi Zaman sekarang fungsi dari sebuah keris sudah mulai berkurang. Keahlian membuat pisau belati Jawa berawal dari masa kuno. apalagi jika yang memberikannya adalah raja. Keriss mempunyai makna jantan perkasa dan dewasa. atau lakilaki Jawa itu harus tangguh. Sajarah Belum ada penelitian yang berhasil menentukan kapan orang Jawa mulai mengenal keris. keluarga dan membela Negara. Keris adalah bagian integral dari upacara Jawa. dahulu keris juga bisa menjadi simbol persaudaraan yang ditandai upacara tukar-menukar keris yang merupakan simbol persaudaraan yang paling luhur Fungsi keris lainnya adalah keris dianggap azimat dan media penghubung antara dunia manusia dengan dunia mistis (mahluk gaib) Bagian-bagian keris kebudayaan 126 Jawa . pada umunya hanya menjadi barang koleksi atau sebagai perlengkapan upacara-upacara dan ritual adat. keris Jawa sudah mempunyai wajud yang sempurna saat kerajaan majapahit.Keris atau tosan aji adalah salah satu senjata tradisional masyarakat Jawa serta menjadi salah satu lambang utama seorang laki-laki selain turangga. wisma. Pada zaman dahulu.

sehingga bagian wilah dan ganja tidak terpisahkan. Pada pangkal wilahan terdapat pesi . Ganja ini sepintas berbentuk cecak.Keris mempunyai tiga bagian utama. Pengamat budaya tosan aji mengatakan bahwa kesatuan itu melambangkan kesatuan lingga dan yoni. Ukiran pada bagian-bagian keris Jawa mempunyai makna dan karakter yang berbeda-beda. Jika ada keris yang jumlah luk nya lebih dari tiga belas. dungkul . dimana ganja mewakili lambang yoni sedangkan pesi melambangkan lingganya. Bagian-bagian keris itu antara lain. bagian depannya disebut sirah cecak. dimulai dari pangkal keris ke arah ujung keris. pinarak. atau penamaan ragam bentuk pada wilah-bilah (ada puluhan bentuk dapur). • Warangka atau sarung keris Jawa 127 kebudayaan . yang merupakan ujung bawah sebilah keris atau tangkai keris. dan dilihat dari bentuknya keris dapat dibagi dua golongan besar. bungkul . kelap lintah dan sebit rontal. yang biasanya disebut dapur. Bagian inilah yang masuk ke pegangan keris ( ukiran) . jamang murub. bagian lehernya disebut gulu meled . bisa disebutkan dapur jangkung mayang. dan juga terdiri dari bagian-bagian tertentu yang tidak sama untuk setiap wilahan. adalah bagian yang berkelok dari wilah-bilah keris. biasanya disebut keris kalawija. Pesi ini panjangnya antara 5 cm sampai 7 cm. bagian perut disebut wetengan dan ekornya disebut sebit ron. dll. Luk. Pada pangkal (dasar keris) atau bagian bawah dari sebilah keris disebut ganja (untuk daerah semenanjung Melayu menyebutnya aring). maka bilangan terakhir adalah banyaknya luk pada wilah-bilah dan jumlahnya selalu gasal ( ganjil) dan tidak pernah genap. Ragam bentuk ganja ada bermacam-macam. wilut . masing masing bagain mempunyai bagian-bagian lagi yang lebih detil yang biasanya berupa ukiran. Di tengahnya terdapat lubang pesi (bulat) persis untuk memasukkan pesi. yaitu keris yang lurus dan keris yang bilahnya berkelok-kelok atau luk. dan yang terkecil adalah luk tiga (3) dan terbanyak adalah luk tiga belas (13). bentuknya bulat panjang seperti pensil. Salah satu cara sederhana menghitung luk pada bilah . dihitung dari sisi cembung dan dilakukan pada kedua sisi seberang-menyeberang (kanan-kiri). kebo tedan. jaka lola . • Wilah Wilah atau wilahan adalah bagian utama dari sebuah keris. dengan penampang sekitar 5 mm sampai 10 mm. atau keris tidak lazim. Di daerah Jawa Timur disebut paksi. pudak sitegal. Sebagai contoh.

Karena fungsi gandar untuk membungkus .Warangka. timoho. cendana. khususnya dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa. atau sarung keris. emas . perak. Goa. walaupun tidak mutlak. karena bentuknya lebih sederhana. Aturan pemakaian bentuk wrangka ini sudah ditentukan. pertimbangannya adalah dari sisi praktis dan ringkas. acara resmi keraton lainnya (penobatan. Dan jenis lainnya adalah jenis wrangka gayaman (gandon) yang bagian-bagiannya hampir sama dengan wrangka ladrang tetapi tidak terdapat angkup. karena wrangka gayaman lebih memungkinkan cepat dan mudah bergerak. dan gandek. gandar. godong (berbentuk seperti daun). gandek. Sejalan dengan perkembangan zaman terjadi penambahan fungsi wrangka sebagai pencerminan status sosial bagi penggunanya. Dalam perang. yang digunakan adalah keris wrangka gayaman . misalkan menghadap raja. ri serta cangkring. paling tidak karena bagian inilah yang terlihat secara langsung. Palembang. Tata cara penggunaannya adalah dengan menyelipkan gandar keris di lipatan sabuk (stagen) pada pinggang bagian belakang (termasuk sebagai pertimbangan untuk keselamatan raja ). maka untuk memperindahnya akan dilapisi seperti selongsongsilinder yang disebut pendok . lata. Ladrang dan gayaman merupakan pola-bentuk wrangka. adalah komponen keris yang mempunyai fungsi tertentu. sehingga fungsi keindahannya tidak diutamakan. dan kemuning). dibuat dari logam kuningan. perkawinan. Wrangka ladrang dipakai untuk upacara resmi . Bali ) pendoknya terbuat dari emas . Bagian pendok ( lapisan selongsong ) inilah yang biasanya diukir sangat indah . dan keris ditempatkan pada bagian depan (dekat pinggang) ataupun di belakang (pinggang belakang). yaitu jenis warangka ladrang yang terdiri dari bagian-bagian : angkup. Riau.maka fungsi gandar adalah untuk membungkus wilah (bilah) dan biasanya terbuat dari kayu ( dipertimbangkan untuk tidak merusak wilah yang berbahan logam campuran ) . janggut. dan bagian utama menurut fungsi wrangka adalah bagian bawah yang berbentuk panjang ( sepanjang wilah keris ) yang disebut gandar atau antupan . Bagian atasnya atau ladrang-gayaman sering diganti dengan gading. godong. Untuk daerah diluar Jawa ( kalangan raja-raja Bugis . suasa ( campuran tembaga emas ) . Warangka yang mula-mula dibuat dari kayu (yang umum adalah jati. disertai dengan kebudayaan 128 Jawa . dll) dengan maksud penghormatan. Secara garis besar terdapat dua bentuk warangka. Sedangkan wrangka gayaman dipakai untuk keperluan harian. pengangkatan pejabat kerajaan.

cigir. jiling. Hiasan ini dibentuk bukan karena diukir atau diserasah (Inlay) atau dilapis tetapi karena teknik tempaan yang menyatukan beberapa unsure logam yang berlainan. Diluar wilayah Nusantara dan sekitarnya biasanya hanya dikenal teknik Inlay saja seperti pedang dari Iran atau negara Eropa lainnya sehingga walau secara seni (art) tampak indah tetapi kesan “Wingit” nya tidak ada sama sekali. yaitu (1) pendok bunton berbentuk selongsong pipih tanpa belahan pada sisinya . Terkenal dulu bahan pamor dari Luwu. • Gaman Untuk pegangan keris Jawa. pendok ada dua macam yaitu pendok berukir dan pendok polos (tanpa ukiran).weteng dan bungkul. Untuk keris Jawa . (2) pendok blewah (blengah) terbelah memanjang sampai pada salah satu ujungnya sehingga bagian gandar akan terlihat . Sulawesi Selatan yang dibawa oleh pedagang dari Bugis. Pamor Keris Pamor merupakan hiasan atau motif atau ornamen yang terdapat pada bilah tosan aji (Keris. kebudayaan 129 Jawa . secara garis besar terdiri dari sirah wingking ( kepala bagian belakang ) . Tombak.tambahan hiasan seperti sulaman tali dari emas dan bunga yang bertaburkan intan berlian. Pedang atau Wedung dan lain lainnya). serta (3) pendok topengan yang belahannya hanya terletak di tengah . menurut bentuknya pendok ada tiga macam. Apabila dilihat dari hiasannya. bathuk (kepala bagian depan) . cetek.

Cara lainnya. Sodo Saeler. a. Pamor Mlumah biasanya bermotif Beras Wutah. Setelah bahan meteorit susah didapat. Udan Mas. sehingga keris saat ini bobot nya biasanya lebih berat dari keris kuno. kebudayaan 130 Jawa . Dilihat dari cara pembuatannya sebetulnya hanya dua cara pembuatan Pamor yang baik yaitu Mlumah dan Miring. Apabila lipatannya banyak. saat ini ada di Kraton Surakarta diberi nama Kanjeng Kyai Pamor dan ukurannya sekarang tinggal sekitar 60x60x80 Cm sebesar meja kecil karena sudah banyak digunakan empu membuat karis pesanan dari Kraton. barulah bahan Nikel digunakan. diantara pamor Adeg pada beberapa bagian bilah tampak pamor luluan yang sepintas seperti pamor Nggajih. Kalau lipatannya lebih banyak lagi seperti buatan Empu Pangeran Sedayu maka pamor luluhan ini tidak tampak dengan mata telanjang dan sangat kecil atau tiad mungkin kena karat karena menyatunya bahan pamor dengan bahan besinya. ini akan terlihat dengan menggunakan kaca pembesar. lebih sulit dari pembuatan pamor miring. PAMOR MLUMAH. PAMOR MIRING. Pamor mlumah adalah lapisan-lapisan pamornya mendatar sejajar dengan permukaan tosan aji sedangkan pamor miring lapisan pamornya tegak lurus permukaan bilah. Satria Pinayungan. maka hasilnya kemungkinan akan menjadi pamor luluhan. Ngulit Semangka. Batu Lapak. Pamor luluhan yang gampang terlihat antara lain di keris buatan Empu Pitrang dijaman Blambangan. Ada juga tosan aji yang dibuat dengan kombinasi pamor mlumah dan miring hanya saja pembuatannya sangat sulit. Wulan-wulan dan sebagainya. baik di pamor mlumah atau miring. praktis pamor dan besi sudah “menyatu” walau tidak terlalu homogen. Kesan Pamor Miring agak kasar bila diraba bilahnya dan nyekrak dibanding pamor mlumah.Bahan Pamor yang paling terkenal adalah Pamor Prambanan. sedangkan Pamor Miring umumnya motif Adeg. Tumpuk dll.

Sebenarnya agak sulit membedakan mana pamor rekan atau tiban karena bisa dilihat dari sudut pandang yang berbeda-beda. b. c. Cara ini hanya digunakan Empu luar keraton. Pamor rekan sering juga gagal dalam pembuatannya. Pamor ini seperti bisul menonjol sekitar 1 mm diatas permukaan bilah umumnya berbentuk lingkaran. baik bulat atau lonjong kebudayaan 131 Jawa . pamornya dinamakan Nggajih karena menyerupai lemak. Sewaktu membuat keris. biasanya bukan dari batu meteorit tetapi logam yang titik leburnya lebih rendah dari besi. selain itu banyak yang menganggap ini sebagai pamor tiban karena tidak bisa dibuat secara sengaja. PAMOR MUNGGUL Banyak yang menganggap pamor ini pamor titipan. Hasilnya umumnya kasar bila diraba dan pamor ini disebut Ngintip (dari Intip/Kerak nasi). sedangkan bila selama pembuatan direka oleh sang Empu maka pamor yang terjadi disebut pamor rekan. PAMOR REKAN dan PAMOR TIBAN.Ada lagi cara membuat pamor dengan menyiramkan bahan pamor cair ke bilah membara dari pangkal keris keujungnya. empu Desa atau disebut juga empu Njawi. caranya dengan menuangkan bahan tersebut yang cair kebilah besi yang membara kemudian dioleskan dengan ujung mancung (kelopak bunga) kelapa sebelum bahan cair tersebut mengeras dan dibuat pamor yang dikehendaki si Empu. misal sang empu ingin membuat pamor Ron Genduru tetapi jadinya malah Ganggeng Kanyut.Ada cara lain membuat pamor selain Mlumah dan Miring yaitu dengan cara mengoleskan bahan pamor ke bilah. Sang Empu berpasrah diri kepada Tuhan YME dan menyerahkan saja bagaimana bentuk pamor yang terjadi maka biasanya pamor yang timbul disebut pamor Tiban.

Ada yang menganggap sebagai pamor titipan atau “sifat” dari pamor tersebut. d. Namanya kadang Akordiyat. Bagaiman pamor ini timbul tidak bisa diterangkan secara pasti. ada unsur logam lain yang menyelip dan lebih keras dari unsur logam besi. tetapi diduga saat “masuh” atau membersihkan bahan keris dari kotoran. kebudayaan 132 Jawa . PAMOR TITIPAN. e. kalau tersebar dipermukaan bilah disebut “dheling setong” dan dianggap mempunyai tuah baik. tengah ataupun pucuk. Pulo Tirto atau Pendaringan Kebak. PAMOR AKHODIYAT. Kodiyat atau Akadiyat. Sebetulnya ini terjadi karena penempaan pamor tersebut dilakukan pada suhu yang tepat yang berbeda setiap bahannya. umumnya tergabung dengan pamor lain yang lebih dominan. Pamor dheling yang terbaik terdapat di pucuk bilah dan disebut “dheling pucuk” dan atau dibagian peksi yang disebut “dheling peksi”. Wujudnya menyerupai lelehan dari tepi bentuk pamor dengan warna putih cemerlang keperakan dan lebih cemerlang dibanding keputihan pamor pada umumnya. ternyata semua salah. jadi susah diduga berapa suhu yang tepat itu. Letaknya bisa dibagian sor-soran.tetapi ada yang berbentuk gambar membujur lancip panjang. antara lain Beras Wutah. Pamor ini berbentuk rangkaian kecil yang merupakan perlambang atau tuah tertentu dan pamor ini jarang berdiri sendiri. Di Madura biasa disebut pamor “dheling”. tetapi ini baru dugaan saja. Bisa ditepi atau tengah bilah dan termasuk pamor yang baik serta dicari banyak orang. sehingga banyak yang sepakat bahwa pamor ini dikategorikan ke pamor tiban.

Jagung dikenal sebagai salah satu makanan pokok orang Madura. tidak sengaja dibuat seperti Pamor Rahala. Makanan khas Jawa Timur diantaranya adalah Surabaya terkenal akan rujak cingur. tuangi kuah dan daging tetelan. tahu pong.Pamor ini ada yang merupakan pamor tiban. Putri Kinurung. tauge. mi. Kul Buntet. dan lontong kupang. Lamongan terkenal akan wingko babat nya. 3) Madu mongso Jawa 133 kebudayaan . dan getuk pisang. Bondowoso merupakan penghasil tape yang sangat manis. Pamor Titipan yang merupakan pamor tiban dibuat bersama dengan pamor lainnya sedangkan yang rekan biasanya dibuat setelah pamor dominan jadi. Jung Isi Dunya. lontong balap. sementara ubi kayu yang diolah menjadi gaplek dahulu merupakan makanan pokok sebagian penduduk di Pacitan dan Trenggalek. Watu Lapak dll. Madiun dikenal sebagai penghasil brem dan nasi pecel. semanggi. petis. Udan Mas. Malang dikenal sebagai penghasil keripik tempe.9 1) Makanan Khas Rawon dan rujak petis. Dikiling. Gedong Mingkem. daun sla diiris. 2) Tahu Campur Lamongan Tahu campur disajik di dalam mangkuk. Sidoarjo terkenal akan kerupuk udang dan petisnya. H. sate kerang. Pamor titipan yang merupakan pamor rekan antara lain yang terkenal adalah Kuto Mesir. Telaga Membleng dll. diberi irisan perkedel singkong dan ditaburi dengan bawang goreng dan dengan bahan pelengkap sambal. merupakan pamur yang disusulkan. Inkal. Kecamatan Babat. terdiri dari tahu. Kediri terkenal akan tahu takwa.

garam dan air. kunyit. asam (tomat) garam dan air. makanan ini dibungkus menyerupai bentuk permen menggunakan kertas minyak yang berwarna-warni. santan dan garam. Sate Sarepeh Berupa sate ayam kampung bumbunya terdiri dari cabe merah. telur rebus/ceplok langsung dengan bumbu cabe. Sayur Merica Dari ikan laut segar dengan bumbu cabe. bawang putih. Sebagai sayur untuk makan siang (menu sehari-hari). 4. bawang merah. Mangut Ikan laut segar yang dipanggang dengan bumbu-bumbu cabe hijau. bawang merah. bawang putih. bawang merah. bawang putih. garam dan santan kental. Adalah sebagai lauk pauk dan biasanya dirangkai dengan lontong. bawang putih. gula merah. bawang kebudayaan 134 Jawa . 5. Sebagai sayur untuk makan siang/malam dalam menu sehari-hari. 4) Rujak Cingur Makanan khas Jawa timur ini merupakan campuran dari berbagai macam sayuran yang disirami bumbu kacang yang dilengkapi dengan petis dan pisang klutuk muda.Merupakan makanan khas Jawa Timur yang dibuat dari ketan item dicampur dengan tape. Yang membuat makanan ini berbeda adalah dengan adanya cingur (hidung sapi). Biasanya ditambahkan juga ikan pindang. Petis Bumbon Sayur untuk makan siang/malam yang terbuat dari bahan-bahan petis ikan/udang. 2. Makanan dan Minuman khas Jawa Tengah 1. Pindang Tempe Tempe dengan bumbu-bumbu cabe. merica. 3.

Rasanya sangat gurih.merah. 12. kalau makan tinggal didudul (ditekan) saja.00 WIB sudah dijual di lokasi desa Tuyuhan di sepanjang pinggir jalan dengan pemandangan sawah-sawah yang menghijau. 11. kacang hijau. Sebagai makanan sore hari/malam hari. Kaoya Dudul Terbuat dari beras ketan. Jadah yang terkenal adalah dari desa Pohlandak (Kecamatan Pancur). 10. lengkuas. air nira dan garam. biasanya sekitar jam 15. yang rasanya sangat manis. Dumbeg Dibuat dari tepung beras. Jenang Waluh Dibuat dari buah waluh. Makanan ini tidak pernah atau jarang dibuat ibu rumah tangga. Kerupuk Bakar Kerupuk udang dan tengiri dari kota Rembang yang dioven atau dibakar. dan kalau suka ditaburi buah nangka/kelapa muda yang dipotong sebesar dadu. 6. Gula Semut kebudayaan 135 Jawa . Biasanya dimakan bersama dengan Jenang waluh. Berasal dari desa Gunem Kecamatan Gunem. Yang terkenal dari desa Pohlandak (Kecamatan Pancur) dan desa Mondoteko (Kecamatan Rembang). Dan biasanya dimakan dengan Jadah. Kemudian tempatnya dari daun lontar (pohon nira) berbentuk kerucut dengan bau yang khas. rasanya sangat manis dan gurih. kemudian dicetak persegi dan dibungkus dengan daun pisang (seperti lemper). 7. daun jeruk purut. Lontong Tuyuhan Lontong dengan opor ayam kampung pedas khas desa Tuyuhan (Kecamatan Pancur). Tempatnya dari daun lontar berlubang bulat kecil sebanyak 5 buah. Dan minumannya air putih yang ditempatkan di kenda (tanpa gelas). kunci. garam dan ditambah santan kental. Jadah Terbuat dari beras ketan putih. garam yang ditumbuk halus (sewaktu masih panas) di atas keranjang yang Terbuat dari daun lontar/daun kelapa muda dan alat tumbuknya juga dilapis dengan daun lontar dan kelapa muda. 8. gula pasir/gula aren dan ditambahkan garam. yang terkenal dari desa Pohlandak (Kecamatan Pancur). 9. kelapa muda. gula aren/gula pasir dan garam. gula aren. air pohon nira (legen).

13. Yang terkenal dari Desa Bonang Kecamatan Lasem. tauge. Kupat Tahu Merupakan makanan khas Magelang yang berisi tahu. kita dapat menikmati soto di warung-warung yang berderet rapi di sepanjang jalan di Sokaraja. dan diberi ketupat. Soto Sokaraja sudah banyak dijual di luar Banyumas tetapi kalau sempat mampir ke Sokaraja. Menggunakan sambal kacang sebagai campurannya. Sedangkan yang lain diantaranya adalah : Dari Banyumas : • Sroto Sokaraja Soto Sokaraja atau oleh masyarakat Banyumas disebut Sroto Sokaraja adalah sejenis makanan dari Indonesia.Terbuat dari pohon nira ( legen ) dengan proses pemanasan. • • • • Gethuk goreng Tempe mendoan Lanting Sate Ambal Dari Jepara : • Bangket Soto Kudus Pesisir Utara • kebudayaan 136 Jawa . Terasi Petis Bonang Terbuat dari udang atau ikan segar dengan proses pemanasan. Bau dan rasanya enak. 14. kubis. Ciri utama dari soto ini adalah penggunaan sambal kacang dan ketupat. Soto ini memiliki ciri khas yang berbeda dengan soto-soto lainnya yang ada di Indonesia. sehingga hasilnya seperti gula pasir atau gula halus yang berwarna coklat.

• • • • • • Soto Tegal Sate Tegal Lumpia Semarang Taoto Nasi megono Nasi Grombyang Gudeg Dari Yogya-solo : • Gudeg Jogja punya rasa manis yang khas. • • • • • • • • • • • • • Nasi pecel Opor ayam Tongseng Cabuk rambak Tumpeng Mangut lele Srabi Solo Geplak Sate Kocor Tengkleng Bakpia Trancam Sate Winong nasi gandul Jawa 137 Pati-Juwana Jawa tengah • kebudayaan .

yang diiringi dengan gamelan disajikan. sandiwara yang diselingi dengan lagulagu Jawa. banyak dimasukkan unsur humor. Ludruk adalah kesenian drama tradisional dari Jawa Timur. Dalam sebuah pentasan ketoprak. Banyak pula diambil cerita dari luar negeri.10 Ketoprak dan Ludruk Ketoprak (bahasa Jawa kethoprak) adalah sejenis seni pentas yang berasal dari Jawa. Sebab nanti pertunjukkan bukan ketoprak lagi melainkan menjadi pertunjukan wayang orang. Tema cerita dalam sebuah pertunjukan ketoprak bermacam-macam. Biasanya diambil dari cerita legenda atau sejarah Jawa. Ludruk merupakan suatu drama tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang di gelarkan disebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan kebudayaan 138 Jawa . Dalam pentasan jenis ini. muncul sebuah genre baru. Ketoprak Humor yang ditayangkan di stasiun televisi RCTI. Tetapi tema cerita tidak pernah diambil dari repertoar cerita epos (wiracarita): Ramayana dan Mahabharata.H. Beberapa tahun terakhir ini.

Cerita ketoprak sering diambil dari kisah zaman dulu (sejarah maupun dongeng). Dalam pengalamannya Seni Reog merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk adanya aliran kepercayaan yang ada secara turun temurun dan terjaga. Madura. etc). meski terkadang ada bintang tamu dari daerah lain seperti Jombang. Ludruk berbeda dengan ketoprak dari Jawa Tengah. H. Bahasa lugas yang digunakan pada ludruk. Di daerah ini kondisi sosio kultural masih sangat kental dengan hal-hal yang dianggap magis dan dapat mereka buktikan dengan kemampuan mereka (masyarakat Ponorogo) dan Religi/Kebatinan yang sangat kuat. peronda. Pada dasarnya masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai pewarisan budaya yang sangat kaya.11 Reog Salah satu tarian Pembuka Topeng barong reog yang dipakai sebagai atraksi penutup Reog adalah salah satu seni yang ada di Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Sebuah pementasan ludruk biasa dimulai dengan Tari Remo dan diselingi dengan pementasan seorang tokoh yang memerakan "Pak Sakera". menggunakan bahasa khas Surabaya. Dialog/monolog dalam ludruk bersifat menghibur dan membuat penontonnya tertawa.rakyat sehari-hari. Sementara ludruk menceritakan cerita hidup seharihari (biasanya) kalangan wong cilik. seorang jagoan Madura. cerita perjuangan dan lain sebagainya yang diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik. Upacaranya pun menggunakan kebudayaan 139 syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk Jawa . dan bersifat menyampaikan pesan tertentu. Madiun dengan logat yang berbeda. sopir angkotan. membuat dia mudah diserap oleh kalangan non intelek (tukang becak. Malang.

Untuk hajatan khitanan atau sunatan. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan.memenuhinya tanpa adanya garis keturunan yang jelas. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang. dengan muka dipoles warna merah. Yang lebih dipentingkan dalam pementasan seni reog adalah memberikan kepuasan kepada penontonnya. baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni reog ditampilkan. kebudayaan 140 Jawa . yang harus dibedakan dengan seni tari lain yaitu tari kuda lumping. Pementasan Seni Reog Reog modern biasanya dipentaskan dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Pada reog tradisionil. mereka menganut garis keturunan Parental dan hukum adat yang masih berlaku. Setelah tarian pembukaan selesai. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Jika berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. khitanan dan hari-hari besar Nasional. Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu. biasanya cerita pendekar. Adegan dalam seni reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi. Seni Reog Ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian 2 sampai 3 tarian pembukaan. penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Disini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan) dan kadang-kadang dengan penonton.

Adegan terakhir adalah singa barong. Ia juga turut dikenali sebagai tembang atau nyanyian. Bahasa yang digunakan di dalam kidung ialah campuran Jawa Kuno dengan Jawa Baru tetapi susunannya masih menurut cara kuno dengan memakai *Tembang Gedhe yang sudah menyimpang iramanya seperti Kidung Subrataka yang muncul pada zaman Jawa Tengahan. Arti : Bahagialah tuanku kisah cubaan akan dinyanyikan dengan lagu panji prakasa Ki Subrata yang dikisahkan moga-moga terluput dari malapetaka nirmala dan sihat wal¡¯afiat luput dari halangan luput dari bahaya maut. Topeng yang berat ini dibawa oleh penarinya dengan gigi. kebudayaan 141 Jawa . Berat topeng ini bisa mencapai 50-60 kg. Kemampuan untuk membawakan topeng ini selain diperoleh dengan latihan yang berat. Berikut ini contohnya : Sangtabyana ta pakulun rancana cipta kumawi Panji prakasa tembange Ki Subrataka kang winuwus luputa ring lara roga nirmala waluya jati luputta ring pamurung luputta ring baya pati. juga dipercaya diproleh dengan latihan spiritual seperti puasa dan tapa. Sementara itu nama tembang dalam kidung pula amat bergantung kepada jumlah baris dalam bait dan vokal akhir pada setiap baris.12 KIDUNG/PUISI Kidung adalah puisi Jawa asli walaupun masih dijumpai vokal panjang tetapi tidaklah sebanyak yang ditemui di dalam kekawin. dimana pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak. H.

dan yang lain-lain disusun dengna lagu ini. Jika dilihat dari ”kerata basa”. lagu ini ada enam larik. Wulangreh. Guru wilangan : bilangan suku kata tiap gatra. Macapat juga menular ke kebudayaan Bali. dengan guru wilangan dan guru lagu : • • • • • 10-i 6-o 10-é 10-i 6-i Jawa 142 kebudayaan . Aturan – aturan itu ada pada : • • • Guru gatra : bilangan baris/gatra tiap bait. Kalathida. karena tidak ada peninggalan tulisan yang dapat membuktikannya. • Mijil Mijil itu artinya lahir atau keluar. Lagu ini mulai ada di jaman Majapahit. Di deretan lagu macapat. Macapat banyak dipakai di Sastra Jawa Tengah dan Sastra Jawa Baru. mijil umumnya ditaruh didepan. macapat artinya ”maca papat-papat”. madura dan Sunda. Sekar Macapat atau Sekar Alit Macapat ini juga disebut sebagai lagu macapat asli. Jika dibandingkan dengna kakawin. Serat Wirid Hidayat Jati. aturan-aturan pada macapat itu lebih mudah. seperti wedathama. Tiap bait. Tetapi itu juga belum pasti. yang umumnya sering dipakai dimana-mana.13 LAGU ADAT JAWA MACAPAT Adalah lagu tradisional dari tanah Jawa.H. Membacanya memang dirakit tiap empat suku kata. Kitab-kitab pada jaman Mataram Baru. dan dimulai saat walisanga memegang kekuasaan. Guru lagu : suara vokal di akhir tiap baris. Macapat bisa dibagi menjadi tiga jenis yaitu : Sekar Macapat atau Sekar Alit Sekar Madya atau Sekar Tengahan Sekar Ageng 1.

Nunggu mring wartaning 6. lagu ini ada sembilan baris. Yèn tan milu anglakoni 5. Amenangi jaman édan 2. Sesotya satuhu • Sinom Arti umumnya sinom berarti ”godhong asem sing isih enom” ( daun asam yang masih muda ). Seperti anak kecil yang baru tahu dunia. dengan guru bilangan dan guru lagu : • • • • • • • • • 8-a 8-i 8-a 8-i 7-i 8-u 7-a 8-i 12 – a Contoh 1. Kabeh durung katon 3.• 6-u Contoh 1. Éwuh aya ing pambudi 3. sinom mempunyai sifat yang masih muda. Ndilalah karsa Allah kebudayaan 143 Jawa . Lelaku alon siniji-siji 5. Amung anjali soca ing tembé 4. Mijil ing donya siniwi ratri 2. Kaliren wekasanipun 7. Metrum Tiap bait. Di Macapat. Boya kaduman melik 6. Milu édan nora tahan 4.

lelabuhanipun. andelira sang prabu. Tetapi ada juga yang menghubungkan asala kata dhandhanggula dengan salah satu raja di jaman Kediri yaitu dhandhanggendhis. aran patih Suwanda. Luwih begja kang éling lawan waspada Dari Serat Kalatidha. Begja-begjané kang lali 9. duk ing uni caritane. banyak nasehat pada jaman dahulu yang menggunakan jenis ini. kebudayaan 144 Jawa . kang ginelung tri prakara. Karena itu. Dhandhang itu harapan. lamun bisa sira anuladha. • Dhandhanggula Dhandhanggula adalah salah satu lagu macapat yang isinya “pengharapan yang baik”.8. karya Ki Ranggawarsita. lagu yang menggunankan metrum Dhandhanggula juga mempunyai isi yang manis seperti gula. Dari sini kita bisa mengetahui jika lagu ini dibuat pada jaman Kediri. Sasrabahu ing Maespati. Metrum Tiap bait ada 10 baris. • • • • • • • • • • 10-i 10-a 8 -é 7 -u 9 -i 7 -a 6 -u 8 -a 12-i 7 –a Contoh Yogyanira kang para prajurit.

sedangkan kinanthi itu untuk perempuan. Maskumambang itu untuk laki-laki yang dewasa.guna kaya purun ingkang den antepi. cinta dan kebijaksanaan. karya Kyai Yasadipura ) Contoh 2 Pitik tulak pitik tukung Tetulake Jabang bayi Ngedohaken cacing racak Sarap sawane sumingkir Si tulak manggung ing ngarso Si Tukung ngadhangi margi kebudayaan 145 Jawa . • • • • • • 8-u 8-i 8-a 8-i 8-a 8-i Anoman mlumpat sampun praptêng witing nagasari mulat mangandhap katingal wanodyâju kuru aking gelung rusak awor kisma ingkang iga-iga kêksi Contoh 1 (diambil dari ” Serat Rama Kawi”. Kinanthi ini juga bias mempunyai arti “gegandhengan tangan” dan bias juga berarti nama suatu bunga. Ada juga yang memasangkan kinanthi dengan maskumambang. nuhoni trah utama • Kinanthi Kinanthi adalah salah satu lagu macapat yang umunya dipakai rasa suka. Metrum Kinanthi itu terdiri dari 6 baris pada tiap bait.

• Asmarandana Lagu Asmarandana umumnya dipakai bagi orang yang sedang jatuh cinta. dan dahana yang artinya api. Jika dilihat aslinya. Metrum Asmarandana terdiri dari 7 baris dalam tiap bait. • • • • • • • 8-a 8-i 8-é 8-a 7-a 8-u 8-a Contoh Gegaraning wong akrami Dudu bandha dudu rupa Amung ati pawitané Luput pisan kena pisan Lamun gampang luwih gampang Lamun angèl. asmarandana berisi tentang kasih sayang. angèl kalangkung Tan kena tinumbas arta Aja turu soré kaki Ana Déwa nganglang jagad Nyangking bokor kencanané Isine donga tetulak Sandhang kelawan pangan Yaiku bagéyanipun wong welek sabar narima kebudayaan 146 Jawa . kata asmaradana diambil dari kata asmara yang artinya cinta. Oleh karena itu.

Adakalnya Durma memuat keadaan yang menyeramkan dan membuat takut. lalu banyak beraneka macam lagu yang menggunakan nama pangkur. • • • 8-a 11. • • • • • • • 12-a 7 -i 6 -a 7 -a 8 -i 5 -a 7 -i Contoh Kae manungsa golek upa angkara Sesingidan mawuni ngGawa bandha donya mBuwang rasa agama Nyingkiri sesanti ati Tan wedi dosa Tan eling bakal mati • Pangkur Pangkur adalah salah satu lagu macapat yang mempunyai sifat “munggah ndhuwur”. pangkur lombok dan lain-lain.i 8-u Jawa 147 kebudayaan . itu adalah nasehat yang tinggi. yaitu antara lain : pangkur jenggleng. Jika suatu nasihat. Durma termasuk lagu yang wingit.• Durma Durma adalah salah satu lagu macapat yang mempunyai sifat galak. pangkur palaran. Metrum Tiap bait ada 7 baris. Metrum Lagu pangkur terdiri dari 7 baris tiap bait. Dari lagu ini. itu adalah cinta yang utama. Jika cinta.

• • • • 12-i 6 -a 8 -i 8 -a Gereng-gereng Gathotkaca sru anangis Sambaté mlas arsa Luhnya marawayan mili Gung tinamêng astanira Contoh • Pocung Jawa 148 kebudayaan . Kata maskumambang itu merupakan sambungan antara kata ‘emas’ den ‘kumambnag’. umumnya berisi orang yang sedang mengeluh sakit dan sengsara. Metrum Tiap bait. pada masa ketika dari anak menjadi manusia yang kelihatan ditengah lingkup social.• • • • 7-a 12. lagu Maskumambnag ada 4 baris. Ada juga yang menganggap jika Maskumambang itu lagunya laki-laki. Sifat dari lagu ini. sedangkan yang perempuan itu adalah kinanthi.u 8-a 8-i Sekar Pangkur kang winarna lelabuhan kang kanggo wong aurip ala lan becik puniku prayoga kawruhana adat waton puniku dipun kadulu miwa ingkang tatakrama den keesthi siyang ratri Contoh • Maskumambang Maskumambang adalah salah satu lagu macapat yang menjadi lambing saat orang laki-laki beranjak dewasa.

Metrum Lagu pucung hanya ada 4 baris pada tiap bait.Pucung (adakalanya ditulis pocung) adalah lagu macapat yang mengingatkan tentang kematian. Seperti lambnag mori untuk membungkus orang yang meninggal. Kata pucung dekat dengan kata pocong. kebudayaan 149 Jawa . Pucung dipakai sebagai lagu yang bias mengingatkan kepada manusia yaitu jika hidup di dunia pasti ada akhirnya. Lagu ini sering digunakan untuk lagu-lagu yang lucu seperti parikan atau tanya Jawab. • • • • 12-u 6 -a 8 -i 12-a Contoh Ngelmu iku kelakone kanthi laku Lekase lawan kas Tegese kas nyantosani setya budya pangekesing dur angkara • Gambuh Contoh Sekar gambuh ping catur Kang cinatur Polah kang kalantur Tanpo tutur katulo-tulo katali Kadaluwarso katutur Katutuh pan dadi awon Lagu gambuh itu memang penuh dengan nasehat. Akhiran cung juga memberi rasa segar yang mengingatkan kepada sesuatu yang lucu seperti menggunakan kata “dikuncung”. Nasehat yang menggiring manusia agar ingat dengan tingkah lakunya.manusia diingatkan kalau semua tingkah laku manusia itu ada akibatnya. Tetapi Pucung juga dapat diartikan sebagai nama biji buah-buahan.

lagu ini ada lima baris. dengan guru bilangan dan guru lagu : 12u. 8u. Guru bilangan dan guru lagu Tiap bait. Sekar Madya utawa Sekar Tengahan Macapat jenis ini seperti lagu kidung yang sering dipakai pada jaman Majapait. Guru bilangan dan guru lagu Tiap bait. lagu ini ada 7 baris. Sifatnya “prenesan” dan biasanya dipakai sebagai lagu wangsalan atau yang agak erotis. • Wirangrong kebudayaan 150 Jawa .• Megatruh Megatruh mempunyai sifat prihatin rasa sakit hati karena rindu. Contoh Contoh ini diambil dari Babad Tanah Jawi karya Ki Yasadipura. Contoh Contoh ini diambil dari “Serat Pranacitra” ni ajeng mring gandhok wétan wus panggih lan Rara Mendut alon wijilé kang wuwus hèh Mendut pamintanira adhedhasar adol bungkus wus katur sarta kalilan déning jeng kyai Tumenggung. 8a. 8u. sigra milir kang gèthèk sinangga bajul kawan dasa kang njagèni ing ngarsa miwah ing pungkur tanapi ing kanan kéring kang gèthèk lampahnya alon 2. 8i. • Jurudemung Jurudemung itu termasuk sekar madya. 8u. 8a. 8u. 8o. dengan guru bilangan dan guru lagu : 8a. 8u. 8i.

8o. Contoh dèn samya marsudêng budi wiwéka dipunwaspaos aja-dumèh-dumèh bisa muwus yèn tan pantes ugi sanadyan mung sakecap yèn tan pantes prenahira • Balabak Balabak itu memiliki sifat yang spontan. Jika dilihat dari kesusahannya. lagu ini terdiri dari 6 baris. 3é. 12a. lagu ini ada 6 baris. Guru bilangan dan guru lagu kebudayaan 151 Jawa . dengan guru bilangan dan guru lagu: 12i. Sekar Ageng Sekar Macapat Ageng ( besar ) hanya ada satu yaitu Girisa. byar rahina Kèn Rara wus maring sendhang mamèt wé turut marga nyambi reramban janganan antuké praptêng wisma wusing nyapu atetebah jogané 3. sekar macapat ageng seperti lagu kakawin di jaman dahulu. 3é. Girisa (macapat) Girisa itu memiliki sifat nasihat. 6i. 10u. 8a.Wirangrong itu termasuk dalam sekar madya. Lagu ini biasanya dipakai untuk menyanyikan hal-hal yang gagah. Guru bilangan dan guru lagu Tiap bait. 12a. 7a. Contoh Contoh ini diambil dari “Serat Jaka Lodhang” karya Ki Ranggawarsita. Sifatnya itu penuh wibawa. dengan guru bilangan dan guru lagu : 8i. 3é. Guru bilangan dan guru lagu Tiap bait.

Tumuruna ana putri kang unggah unggahi…. 8a. LAGU-LAGU LAIN SELAIN MACAPAT Kumpulan lagu (Jawa)  ANDE ANDE LUMUT Putraku si ande ande lumut…. 8a. 8a. Tresnaku sundul ing ati Dek sakmono janjimu disekseni kebudayaan 152 Jawa .. 8a.cah ayu… Sumedot rasaning ati Linang lintang ngiwi iwi.. Putri niku sisane si yuyu kangkang…  YEN ING TAWANG ANA LINTANG Yen ing tawang ono lintang cah ayu…. 8a.aku ngenteni tekamu Marang mego ing angkoso.nimas. lagu ini ada 8 baris. dengan guru bilangan dan guru lagu : 8a..Tiap bait. Contoh Contoh ini diambil dari “Serat Wiratadya” karya Ki Ranggawarsita. 8a. 8a. Putriku kang ayu rupane……… Kleting kuning kang dadi asamane…… Bu…si Bu… kulo mboten purun…. déné utamaning nata bèr budi bawa leksana liré bèr budi mangkana lila legawa ing driya agung dènya paring dana anggeganjar saben dina liré kang bawa leksana anetepi pangandika.nimas… Sun takokne pawartamu Janji janji aku iling.

 LIR-ILIR Lir ilir lir ilir tandure wong sumilir Tak ijo royo royo Tak sengguh panganten anyar Cah angon cah angon penekna blimbing kuwi Lunyu lunyu penekna kanggo mbasuh dodotira Dodotira dodotira kumintir bedah ing pinggir Dondomana jrumatana kanggo seba mengko sore Mumpung padang rembulane Mumpung jembar kalangane Sun suraka surak hiyo  SUWE ORA JAMU Suwe ora jamu Jamu godhong telo Suwe ora ketemu Ketemu pisan gawe gelo kebudayaan 153 Jawa . pong .Mego kartiko kairing Raso tresno asih Rungokno tangising ati Ginarung swaraning ratri. Mambu kutundung gudel…pak hempong.suwenge ting gelenter……. lere… Sopo ngguyu ndelekake………… Sir …sir…. Ngenteni mbulan ndadari  CUBLAK CUBLAK SUWENG Cublak cublak suweng…. lera.dele gosong………....nimas...

Setelah kejatuhannya.I. Bahkan Mereka sangat percaya bahwa Taman Nasional Alas Purwo merupakan tempat pemberhentian terakhir rakyat Majapahit yang menghindar dari serbuan kerajaan Mataram. SUKU OSING Suku Osing Jumlah populasi Kawasan dengan jumlah penduduk yang signifikan Kabupaten Banyuwangi. SUB SUKU JAWA I. Kerajaan Blambangan. Sejarah Sejarah Suku Osing diawali pada akhir masa kekuasaan Majapahit sekitar tahun 1478 M. adalah kerajaan terakhir yang bercorak Hindu-Budha seperti halnya kerajaan Majapahit. Kelompok etnis terdekat suku Jawa. Blambangan (Suku Osing) dan Bali. suku Bali Suku Osing adalah penduduk asli Banyuwangi dan merupakan penduduk mayoritas di beberapa kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Perang saudara dan Pertumbuhan kerajaan-kerajaan islam terutama Kesultanan Malaka mempercepat jatuhnya Majapahit. orangorang majapahit mengungsi ke beberapa tempat. yang didirikan oleh masyarakat osing. yaitu lereng Gunung Bromo (Suku Tengger). suku Tengger. kebudayaan 154 Jawa . 1. Jawa Timur Bahasa bahasa Osing Agama Sebagian besar Islam dan sebuah minoritas beragama Hindu. Kedekatan sejarah ini terlihat dari corak kehidupan Suku Osing yang masih menyiratkan budaya Majapahit.

Berkembangnya Islam dan masuknya pengaruh luar lain di dalam masyarakat Osing juga dipengaruhi oleh usaha VOC dalam menguasai daerah Blambangan. guru dan pegawai pemda. Kecamatan Giri. Kecamatan Glagah dan Kecamatan Singojuruh. Demografi Suku Osing menempati beberapa kecamatan di kabupaten Banyuwangi bagian tengah dan bagian utara.Dalam sejarahnya Kerajaan Mataram Islam tidak pernah menancapkan kekuasaanya atas Kerajaan Blambangan. terutama di Kecamatan Banyuwangi. Masyarakat Osing mempunyai tradisi puputan. dengan sebagian kecil lainya adalah pedagang dan pegawai di bidang formal seperti karyawan. seperti halnya masyarakat Bali. termasuk juga busana tari dan instrumen musiknya. dan Kecamatan Songgon. Bahasa Suku Osing mempunyai Bahasa Osing yang merupakan turunan langsung dari Bahasa Jawa Kuno seperti halnya Bahasa Bali. hal inilah yang menyebabkan kebudayaan masyarakat Osing mempunyai perbedaan yang cukup signifikan dibandingkan dengan Suku Jawa. Kepercayaan Pada awal terbentuknya masyarakat Osing kepercayaan utama suku Osing adalah Hindu-Budha seperti halnya Majapahit. Bahasa Osing sangat berbeda dengan Bahasa Jawa sehingga bahasa Osing bukan merupakan dialek dari bahasa Jawa seperti anggapan beberapa kalangan. terutama pada hiasan di bagian atap bangunan. Kecamatan Rogojampi. Namun berkembangnya kerajaan Islam di pantura menyebabkan agama Islam dengan cepat menyebar di kalangan suku Osing. Kecamatan Kalipuro. hal ini sangat terluhat dari kesenian tradisional Gandrung yang mempunyai kemiripan dengan tari-tari tradisional bali lainnya. Stratifikasi Sosial kebudayaan 155 Jawa . Kemiripan lain tercermin dari arsitektur bangunan antar Suku Osing dan Suku Bali yang mempunyai banyak persamaan. Tradisi ini pernah menyulut peperangan besar yang disebut Puputan Bayu pada tahun 1771 M. Suku Osing mempunyai kedekatan yang cukup besar dengan masyarakat Bali. Puputan adalah perang terakhir hingga darah penghabisan sebaga usaha terakhir mempertahankan diri terhadap serangan musuh yang lebih besar dan kuat. Profesi Profesi utama Suku osing adalah petani.

I. Seblang. Jawa Timur Bahasa bahasa Jawa Agama Sebagian besar Hindu dan sebuah minoritas beragama Islam dan Kristen. kaum coliba. Patrol. kaum Drakula. Seni Kesenian Suku Osing sangat unik dan banyak mengandung unsur mistik seperti kerabatnya suku bali dan suku tengger. Kelompok etnis terdekat suku Jawa Suku Tengger adalah sebuah suku yang tinggal di sekitar Gunung Bromo. hal ini banyak dipengaruhi oleh agama Islam yang dianut oleh sebagian besar penduduknya. Suku Osing tidak mengenal kasta seperti halnya Suku Bali. kaum hydrakula. Desa kemiren merupakan tujuan wisata yang cukup diminati di kalangan masyarakat Banyuwangi dan sekitarnya. kaum sudrakula. Desa Adat Kemiri Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyadari potensi budaya suku osing yang cukup besar dengan menetapkan desa kemiri di kecamatan Glagah sebagai desa adat yang harus tetap mempertahankan nilai-nilai budaya Suku Osing. mereka merupakan penduduk asli.Suku Osing berbeda dengan Suku Bali dalam hal stratifikasi sosial. Kesenian utamanya antara lain Gandrung. Angklung. Festival budaya dan acara kesenian tahunan lainnya sering diadakan di desa ini.000. Kabupaten kebudayaan 156 Jawa . SUKU TENGGER Suku Tengger Jumlah populasi 500. Tari Barong dan Jedor. yakni menempati sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan. 2. Kawasan dengan jumlah penduduk yang signifikan gunung Bromo. Jawa Timur. tetapi telah ditemukan perbedaan stratifikasi di Suku tersebut.

Probolinggo. malas dan pesimis. sedang kumpul menunjukkan adanya kehidupan berkelompok atau bermasyarakat. konon adalah keturunan pelarian Kerajaan Majapahit. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci. Nama Tengger berasal dari Legenda Roro Anteng dan Joko Seger yang diyakini sebagai asal usul nama Tengger. J.  Alon-Alon Waton Kelakon Demikian pula terhadap ungkapan alon-alon waton kelakon. dan Kabupaten Malang. Makan adalah manifestasi dari nafsu biologis dan kepentingan perseorangan. Mereka yakin merupakan keturunan langsung dari Majapahit. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. hal itu menandakan manusia yang berpandangan optimis yang mampu melihat jauh kedepan. UNGKAPAN-UNGKAPAN JAWA  Mangan Ora Mangan Asal Kumpul Ungkapan mangan ora mangan asal kumpul bukan berarti bahwa orang Jawa adalah manusia-manusia yang tahan lapar. Adalah kurang tepat jika diartikan sebagai sikap hidup ragu-ragu. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa. Orang Jawa dengan kebudayaan 157 Jawa . ataupun manusia malas yang maunya hanya kumpul terus. Justru sebaliknya. Dalam ungkapan ini terdapat dua kata kunci. Dengan demikian. disamping merupakan anjuran untuk melakukan pekerjaan secara cermat agar selesai dengan baik. yaitu "Teng" akhiran nama Roro An-"teng" dan "ger" akhiran nama dari Joko Se-"ger". tersebar di Pegunungan Tengger dan sekitarnya. Orang-orang suku Tengger dikenal taat dengan aturan dan agama Hindu. atau yang tidak mempunyai sepeser uangpun untuk membeli sejumput padi. Bagi suku Tengger. yakni mangan (makan) dan kumpul. ungkapan mangan ora mangan asal kumpul pada dasarnya ingin mengatakan bahwa orang Jawa merasa menjadi bagian integral dari masyarakatnya dan bersedia mendahulukan kepentingan kelompok/umum dari pada kepentingan individu. Suku Tengger.

Jadi. selama proses minum berlangsung. dan suami adalah pemimpin bagi istrinya.  Urip Mung Mampir Ngombe Adapun ungkapan urip mung mampir ngombe menunjukkan bahwa kehidupan manusia didunia begitu cepatnya. Keduanya seolah-olah mendiskriminasikan wanita atau istri terhadap laki-laki atau suami.kekuatan spiritual atau kebatinannya yang didapatkan dari kegiatan-kegiatan asketis seperti semadi/tapa. Oleh karenanya. Disini terkandung makna bahwa setelah selesai minum. tuntutan emansipasi. ibarat sepeminuman segelas air. kesusilaan dan Undang-Undang. derajat dan kedudukan akan mengalir bagaikan air bah. pasa atau nglakoni (melaksanakan suatu syarat untuk suatu tujuan). arti suwarga nunut neraka katut bagi kebudayaan 158 Jawa . Jadi. Dari pengertian tersebut sudah dapat dibayangkan bahwa ungkapan suwarga nunut neraka katut dan kanca wingking adalah dimaksudkan untuk menempatkan manusia pada peran. istri wajib mentaati perintah atau aturan suami. Islam — yang ajaran-ajarannya banyak diserap oleh masyarakat Jawa kemudian digabungkan dengan pemikiran dalam ajaran Hindu Budha (sinkretisme) — mengajarkan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi wanita. betul-betul harus dapat dirasakan bahwa minum itu merupakan rahmat dari Yang Kuasa yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. masih ada kewajiban lain yang lebih penting. persamaan hak. sehingga dapat menjadi “bekal” untuk menunaikan kewajiban lainnya. fungsi dan kedudukannya. Interpretasi negatif akan mengatakan bahwa wanita hanya berfungsi sebagai pemuas kebutuhan biologis (seksual) atau sebagai pembantu rumah tangga. Tanpa pemahaman terhadap makna yang tersembunyi didalamnya.  Kanca Wingking Dan Suwarga Nunut Neraka Katut Ungkapan lain yang bisa memberi kesan negatif adalah kanca wingking dan suwarga nunut neraka katut. yaitu agar tidak “kehausan” di tengah jalan. selalu yakin akan kekuatan diri sendiri dan yakin pula bahwa apa yang dicita-citakan pasti akan terwujud. mengapa harus tergesa-gesa kalau sesuatu yang dikejar itu pasti datang? Namun dalam hal ini harus diakui bahwa hanya orang-orang tertentu yang sudah mencapai taraf weruh sadurunge winarahlah yang bisa menghayati ungkapan alon-alon waton kelakon. Sepanjang tidak bertentangan dengan agama.

istri adalah mematuhi suami, disamping kewajiban untuk memperingatkan bila suami kurang benar. Istri yang tidak mau menegur kesalahan suami, berarti ikut menanggung dosa yang diperbuat suaminya. Begitu pula ungkapan kanca wingking. Sebagai “teman belakang”, para istri memegang peranan yang amat penting dalam sebuah keluarga. Jika mereka tidak kuat memegang peran sebagai kanca wingking, maka keluarga itupun tidak dapat diharapkan kelangsungan eksistensinya. Jadi tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa surga laki-laki terletak ditelapak kaki wanita. Semboyan bahwa suatu revolusi tidak akan berhasil tanpa andil kaum wanita-pun, tidaklah mengada-ada. Hanya saja persoalannya, mengapa wanita dikatakan sebagai kanca wingking, bukan kanca ngajeng (teman depan)? Hal ini juga ada alasannya sendiri. Barangkali tidak seorangpun yang menyangkal bahwa masyarakat Jawa memiliki nilai-nilai dan norma-norma luhur yang dijunjung tinggi. Perbuatan yang melanggar atau tidak sesuai dengan nilai atau moral itu, dikatakan sebagai saru, ora lumrah, atau ora ilok. Kedudukan wanita Jawa terhadap lawan jenisnya sebagaimana kedudukan wanita terhadap pria pada umumnya — secara kodrati (bedakan dengan kedudukan sosial politik) — adalah lebih rendah. Dengan demikian, adalah tidak patut apabila wanita yang memimpin suatu keluarga. Adalah tidak lumrah apabila wanita mencarikan nafkah bagi suaminya dan menempatkannya sebagai rewang (pembantu). Dan adalah tidak ilok (tidak boleh dilakukan) apabila seorang istri berani membantah suaminya. K. PEMBANGUNAN DAN MODERNISASI Sifat dasar yang menjadikan satu kelemahan yang juga merupakan penghambat pembangunan di Jawa antara lain adalah sifat yang pasif terhadap hidup, kesukaan-kesukaan terhadap kebatinan, penilain yang tinggi yang di nyatakan dengan konsep nerimo, ketabahan yang ulet dalam hal menderita, tetapi yang lemah terhadap hal karya. Selain itu, pengaruh dari tekanan bangsa-bangsa asing yang menjajah di Jawa serta jumlah penduduk yang semakin membeludak menjadi salah satu penyebab lain terhambatnya pembangunan di Jawa.

kebudayaan 159

Jawa

Struktur masyarakat desa di Jawa yang asli, sudah terlanjur dirusak oleh struktur administratif yang ditumpangkan diatasnya oleh pemerintahan kolonial. Akibatnya masyarakat di Jawa tidak mengenal kesatuan-kesatuan social dan organisasi adat yang sudah mantap dan kreatif. Dari uraian diatas masih banyak hal-hal yang dapat menghambat pembangunan diJawa, antara lain;
a. Mental orang Jawa yang terlalu nerimo dan bersiakap pasif terhadap hidup b. Tekanan jumlah penduduk yang mengakibatkan penduduk desa diJawa

menjadi terlalu miskin. c. Tidak adanya organisasi-organisasiasli yang telah mantap dan jika dimodernisasi menjadi organisasi yang mantap, aktif serata kreatif d. Tidak adanya kepeimpinan desa yang aktif kreatif untuk dapat memimpin aktivitas produksi yang bisa member hasil 3-4 kali lebih besar dari pada sekarang tiap-tiap tahun.

kebudayaan 160

Jawa

BAB III PENUTUP Kebudayaan Jawa merupakan bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia yang memiliki nilai yang sangat luhur bersama dengan kebudayaan bangsa Indonesia lainnya. Oleh kerenanya, sudah layak apabila kita mengetahui serta memahami kebudayaan Jawa agar tercapai pemahaman yang tepat mengenai kebudayaan Jawa. Hendaknya patut digaris bawahi bahwa kata “memahami” merupakan sesuatu yang amat penting untuk dapat memperoleh pandangan yang benar dan jelas mengenai kebudayaan Jawa itu sendiri. Oleh karena itu, sesungguhnya tidaklah cukup apabila kita ingin memahami kebudayaan Jawa dalam waktu yang singkat tetapi diperlukan waktu yang cukup lama dan mendalam. Meskipun demikian, hal itu tidak menyurutkan usaha kami untuk menyediakan berbagai pengetahuan seputar kebudayaan Jawa Secara khusus pula makalah ini kami buat untuk teman-teman di lingkungan Kampus STAN yang memiliki latar belakang bukan dari budaya Jawa untuk menambah pengetahuan sekaligus sebagai bekal bagi teman-teman di lingkungan kerja nanti, supaya kita dapat berkomunikasi lintas budaya. Dan akhirnya, sesungguhnya makalah ini jauh dari lengkap dan mendalam mengenai kebudayaan Jawa. Kami meminta maaf apabila di dalam makalah ini ada pernyataan yang kurang berkenan di hati teman-teman. Terima kasih.

kebudayaan 161

Jawa

org/wiki/Dialek_Surabaya http://id.wikipedia.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Sadran http://heritageofjava.wikipedia.org/wiki/Ruwatan kebudayaan Jawa .wikipedia.org/wiki/Blangkon http://id.sekarjagad. http://id.org/wiki/Suku_Osing http://id.wikipedia.wikipedia.wikipedia.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Sastra_Jawa_Modern http://id.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Jula-juli http://map-bms.wikipedia.org/wiki/Jawa_Timur http://id.wikipedia.com http://id.wikipedia.org/wiki/Rumah_Jawa http://id.org/wiki/Dialek_Semarang http://id.wikipedia.org/wiki/Kromo_Inggil http://id.org/wiki/Dialek_Kedu http://id.org/wiki/Dialek_Tegal http://id.org/wiki/Tumpeng http://id.org/wiki/Banyumasan http://id.wikipedia.org/wiki/Ebeg http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Jawa http://id. Mitologi Kanjeng Ratu Kidul.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Gamelan_Jawa http://id. Y Argo.wikipedia.org/wiki/Kalender_Jawa http://jv.wikipedia.org/wiki/Sastra_Jawa_Kuna http://id.wikipedia.org/wiki/Keris_Jawa http://jv.org http://id.DAFTAR PUSTAKA Twikromo.org/wiki/Reog http://id.wikipedia.wikipedia. 2006.org/wiki/Sastra_Jawa_Baru http://id.org/wiki/Dialek_Banyumas http://id.org/wiki/Sastra_Jawa_Pertengahan www. Yogyakarta: Nindia Pustaka.

org/wiki/Tayuban http://id.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Daftar_masakan_Indonesia http://id.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Tingkeban http://jv.org/wiki/Lengger http://jv.wikipedia.org/wiki/Tari_Gambyong http://map-bms.org/wiki/Rasukan_adat_Jawa http://ms.wikipedia.org/wiki/Soto_Sokaraja http://id.http://id.org/wiki/Ketoprak http://jv.org/wiki/Brokohan http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Jawa http://id.org/wiki/Priyayi kebudayaan Jawa .wikipedia.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Pengantenan_adat_Jawa http://jv.org/wiki/Keris http://jv.org/wiki/Degung http://id.org/wiki/Seni_tradisional_Banyumasan http://map-bms.wikipedia.org/wiki/Mendhem_ari-ari http://jv.wikipedia.wikipedia.wikipedia.wikipedia.wikipedia.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->