BUDAYA NUSANTARA KEBUDAYAAN JAWA

Disusun oleh : Ainul Fuadi 02/3B Cory Denies Kartika 08/3B Fransiscus Asisi Edo HS 14/3B Irvan Widi Santoso 15/3B Laila Sahajah 18/3B

DIPLOMA III PENILAI / PBB SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA 2007

DAFTAR ISI DAFTAR ISI.........................................................................................................i PENDAHULUAN..................................................................................................1 PEMBAHASAN ...................................................................................................2 A. IDENTIFIKASI......................................................................................2 B. MITOLOGI KEBUDAYAAN JAWA.......................................................4 C. BAHASA DAN AKSARA JAWA...........................................................7 C.1. Bahasa Jawa...................................................................7 C.2. Aksara Jawa....................................................................14 D. MATA PENCAHARIAN........................................................................22 E. SISTEM KEMASYARAKATAN............................................................26 F. SISTEM KEKERABATAN...................................................................28 G. RELIGI ...............................................................................................43 H. PRODUK BUDAYA.............................................................................63 H.1. Seni Tari..........................................................................63 H.2. Seni Musik......................................................................80 H.3. Kalender Jawa................................................................89 H.4. Rumah Adat....................................................................95 H.5. Karya Sastra...................................................................102 H.6. Wayang...........................................................................108 H.7. Pakaian Adat...................................................................115 H.8. Keris................................................................................125 H.9. Makanan Khas................................................................133 H.10. Ketoprak dan Ludruk.....................................................138 H.11. Reog.............................................................................139 H.12. Kidung/Puisi..................................................................140 H.13. Lagu Adat Jawa............................................................141 I. SUB SUKU JAWA.................................................................................154 I. 1. Suku Osing......................................................................154 I. 2. Suku Tengger..................................................................156 J. UNGKAPAN-UNGKAPAN JAWA.........................................................157 K. PEMBANGUNAN DAN MODERNISASI..............................................159 PENUTUP...........................................................................................................161 DAFTAR PUSTAKA

i

BAB I PENDAHULUAN

Masyarakat Jawa merupakan “ladang” potensial yang masih memendam segudang informasi budaya untuk dapat digali seiring dengan perkembangan waktu. Harus diakui bahwa usaha untuk mengungkap alam pikiran, pandangan, dan kehidupan orang Jawa tidak akan pernah tuntas dan bahkan diperlukan cara-cara baru dalam mengungkap “misteri” kebudayaan Jawa tersebut. Magnis-Suseno (1984:1), mengatakan bahwa kebudayaan Jawa mempunyai ciri khas yaitu terletak dalam kemampuan luar biasa untuk membiarkan diri dibanjiri oleh gelombanggelombang kebudayaan yang datang dari luar dan dalam banjir tersebut dapat mempertahankan keasliannya. Lebih lanjut dikatakan bahwa kebudayaan Jawa justru tidak menemukan diri dan berkembang kekhasannya dalam isolasi, melainkan dalam mencerna masukan-masukan budaya dari luar. Hal tersebut menjadikan kebudayaan Jawa kaya akan unsur-unsur budaya yang kemudian menyatu dan kemudian menjadi milik kebudayaan Jawa seperti sekarang ini, di mana berbagai macam persilangan budaya justru telah memberikan warna terhadap kedinamisan budaya Jawa. Walaupun terpaan ideologi modern cukup kuat, namun manusia Jawa yang hidup dalam bayang-bayang Kasultanan Yogyakarta dan Surakarta masih tetap menyimpan dan memegang teguh pandangan budayanya misalnya tentang keberadaan makhluk supranatural, mitos, adat istiadat dan lain-lain. Tentunya pandangan-pandangan tersebut mengandung suatu makna yang dalam dan mempunyai keeratan hubungan dengan konsepsi manusia Jawa tentang dunia. Peta kognitif ini merupakan dokumen dan khazanah pengetahuan penting dalam usaha memahami budaya Jawa saat ini, apabila budaya dipandang sebagai sesuatu yang secara internal heterogen dan muncul dari peristiwa-peristiwa yang paling mendasarinya.

kebudayaan 1

Jawa

Tetapi mereka juga terkenal sebagai suku bangsa yang tertutup dan tidak mau terus terang. maka dalam rangka seluruh kebudayan Jawa ini. hal-hal itu masih menunjukkan satu pola ataupun satu sistim kebudayaan Jawa. variasi dan perbedaan tersebut tidaklah besar karena apabila diteliti. mereka itu membentuk kesatuan-kesatuan hidup yang menetap di desadesa. Sifat ini konon berdasarkan watak orang Jawa yang ingin menjaga harmoni atau keserasian dan menghindari konflik. Jumlahnya mungkin ada sekitar 90 juta data pada tahun 2004. dua daerah luas bekas kerajaan Mataram sebelum terpecah yakni Yogyakarta dan Surakarta merupakan pusat kebudayaan Jawa. Namun. Sama halnya dengan daerah Kejawen lainnya. Daerah di luar yang tersebut di atas disebut daerah Pesisir dan Ujung Timur. Ada daerah yang disebut daerah Kejawen yaitu Banyumas. karena itulah mereka cenderung untuk diam dan tidak membantah apabila terjadi perbedaan pendapat. Mereka berasal dari pulau Jawa dan terutama ditemukan di provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Selain suku Jawa baku terdapat subsuku Osing dan Tengger. Orang Jawa memiliki stereotipe sebagai suku bangsa yang sopan dan halus. Penduduk Suku bangsa Jawa. Tetapi di provinsi Jawa Barat. di dalam wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta sebelah selatan terdapat kelompok-kelompok masyarakat orang Jawa yang masih mengikuti atau mendukung kebudayaan Jawa ini. kebudayaan 2 Jawa . IDENTIFIKASI Daerah kebudayaan Jawa sangatlah luas meliputi seluruh bagian tengah dan timur pulau Jawa. Yogyakarta. Surakarta. Kedu. adalah suku bangsa terbesar di Indonesia. Malang dan Kediri. Madiun.BAB II PEMBAHASAN A. Pada umumnya. Sudah barang tentu terdapat berbagai variasi dan perbedaan yang bersifat lokal dalam beberapa unsur kebudayaannya di daerah yang tercakup dalam kebudayaan Jawa. Sehubungan dengan itu. Banten dan tentu saja Jakarta mereka banyak ditemukan.

dihubungkan oleh jalan-jalan desa. Tiap-tiap wilayah bagian desa ini diketuai oleh seorang Kepala Dukuh. di daerah pedalaman. yang satu sama lain dipisah-pisahkan dengan pagar-pagar bambu atau tumbuhtumbuhan. Kepercayaan ini terutama berdasarkan kepercayaan animisme dengan pengaruh Hindu-Buddha yang kuat. seseorang harus memperhatikan dan membeda-bedakan keadaan orang yang diajak berbicara atau yang sedang dibicarakan. juga terhadap orang yang umurnya lebih tua atau status sosialnya lebih tinggi.Orang Jawa sebagian besar secara nominal menganut agama Islam. Protestan dan Katholik juga banyak. Penganut agama Buddha dan Hindu juga ditemukan pula di antara masyarakat Jawa. Kemudian sebuah dukuh dengan dukuh lainnya. Mereka juga terdapat di daerah pedesaan. Pada waktu mengucapkan bahasa daerah ini. Masyarakat Jawa terkenal akan sifat sinkretisme kepercayaannya. Secara adminstratif desa langsung berada di bawah kekuasaan pemerintah kecamatan dan terdiri dari dukuh-dukuh. Selain rumah-rumah tersebut yang tampak berkelompok. Ada pula agama kepercayaan suku Jawa yang disebut sebagai agama Kejawen. dan yang sebagian berjajar menghadap jalan desa itu. yang luasnya sering tidak lebih dari 2 meter. dan terhadap orang yang lebih muda usianya serta lebih rendah tingkatannya atau status sosialnya. tempat pemerintahan desa kebudayaan 3 Jawa . Tetapi yang menganut agama Kristen. yang dibangun di dekat-dekat rumah atau di halaman pekarangannya. berdasarkan usia ataupun status sosialnya. Bahasa Jawa Ngoko dipakai untuk orang yang sudah dikenal akrab. Demikian pada prinsipnya ada dua macam bahasa Jawa apabila ditinjau dari kriteria tingkatannya yaitu bahasa Jawa Ngoko dan Jawa Krama. kandang-kandang ternak dan perigi. Semua budaya luar diserap dan ditafsirkan menurut nilai-nilai Jawa sehingga kepercayaan seseorang kadangkala menjadi kabur. Di dalam pergaulan hidup maupun perhubungan-perhubungan sosial seharihari mereka berbahasa Jawa. ada juga Balai Desa. adalah suatu wilayah hukum yang sekaligus menjadi pusat pemerintahan tingkat daerah paling rendah. Ada di antara rumah-rumah itu yang dilengkapi dengan lumbung padi. Di sini dijumpai sejumlah perumahan penduduk beserta tanah-tanah pekarangannya. Bahasa Jawa Krama digunakan untuk berbicara dengan orang yang belum dikenal tetapi yang sebaya dalam umur dan derajat. Bentuk Desa Desa sebagai tempat kediaman yang tetap pada masyarakat orang Jawa.

atau mengadakan rapat-rapat desa. Jong (1985:10) menekankan bahwa di alam pikiran mistik dan kebudayaan 4 Jawa . Kecuali itu ada pasar yang kelihatan ramai pada hari pasaran. sedangkan tanah pertanian berupa sawah-sawah atau ladang-ladang terbentang di sekeliling desa. langgar atau masjid. Hal tersebut menjadikan kebudayaan Jawa kaya akan unsur-unsur budaya yang kemudian menyatu dan menjadi milik kebudayaan Jawa sekarang ini di mana berbagai macam persilangan budaya justru telah memberikan warna terhadap kedinamisan budaya Jawa. dan kehidupan orang Jawa tidak akan pernah tuntas dan bahkan masih diperlukan caracara baru dalam mengungkap misteri kebudayaan Jawa tersebut. B. Hubungan manusia dengan makhluk alam nyata dengan makhluk supranatural tidak dibedakan. yang diadakan tiap-tiap 35 hari sekali. pandangan. Harus diakui bahwa usaha untuk mengungkapkan alam pikiran.berkumpul. Adapun kuburan desa berada di lingkungan wilayah salah satu sebuah dukuh. Magnis-Suseno (1984:1). Manusia yang hidup di dunia ini tidak hanya menjalin komunikasi dengan sesama saja melainkan dengan makhluk supranatural. Pandangan manusia Jawa terhadap dunia mengisyaratkan bahwa baik dunia yang secara fisik kelihatan maupun dunia yang tidak kelihatan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. melainkan dalam mencerna masukan-masukan budaya dari luar. dan sosial ekonomi rakyat. Lebih lanjut dikatakan bahwa kebudayaan Jawa justru tidak menemukan diri dan berkembang kekhasannya dalam isolasi. biasanya ada sekolah-sekolah. mengatakan bahwa kebudayaan Jawa mempunyai ciri khasaitu terletak dalam kemampuan luar biasa untuk membiarkan diri dibanjiri oleh gelombanggelombang kebudayaan yang datang dari luar dan dalam banjir tersebut dapat mempertahankan keasliannya. Untuk menampung kegiatan-kegiatan pendidikan keagamaan. Dengan demikian tidak mengherankan apabila dalam masyarakat Jawa terdapat perilaku-perilaku yang menandai hubungan antara manusia dan makhluk supranatural. MITOLOGI KEBUDAYAAN JAWA MITOLOGI KANGJENG RATU KIDUL Pemahaman Tentang Mitos Masyarakat Jawa merupakan ladang potensial yang masih memendam segudang informasi budaya untuk dapat digali seiring dengan perkembangan waktu.

yang menyebabkan ketaatan emosional dan intelektual yang mendalam. ia mempunyai seorang putri bernama Ratna Suwidi.mitos dapat tercermin suatu sikap hidup. Menurut Mircea Eliade (dalam Susanto. Tetapi karena keberadan alam supranatural yang dipahami orang Jawa sampai taraf tertentu tidak dapat diterangkan maka praktik-praktik keagamaan yang mengarah pada penghormatan penguasa dunia supranatural justru menjadi pintu masuk dalam memahami alam pikiran orang Jawa tersebut. sebenarnya terdapat banyak cerita tentang Kanjeng Ratu Kidul. Di dalam masyarakat Jawa ada mitologi religius yang hampir diterima secara universal. Mitos sebenarnya mempunyai arti secara tersirat yang perlu diketahui. mistik merupakan salah satu bentuk. tetapi tidak satupun yang diterima karena ia lebih mementingkan segi kerohanian. karena memiliki sesuatu yang suci. bermakna. Pada kesempatan ini. Kemudian Ratna Suwidi mengembara seorang diri. Tujuannya adalah mencari tempat kebudayaan 5 Jawa . Sebenarnya masih banyak mitologi lainnya yang hidup dalam alam pikiran orang Jawa misalnya mitologi Kanjeng Ratu Kidul. kami akan berfokus pada mitologi Kanjeng Ratu Kidul. mitos berarti suatu cerita yang benar dan cerita ini menjadi milik mereka yang paling berharga. ia mengusir putrinya sendiri dari kerajaan. penguasa hutan dan lain-lain. Ratu Kidul dalam Mitos Di kalangan masyarakat Jawa. yaitu mitologi wayang. Menurut Choy (1976:13). Menurut William R. Banyak sekali raja dan pangeran yang melamarnya. untuk sebagian orang Jawa ia benar-benar ada. Putri tersebut mempunyai kebiasaan bertapa dengan meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi. Akibatnya. Kanjeng Ratu Kidul tidak hanya merupakan legenda. dan dongeng (folktale). Bascom. yaitu merupakan model hubungan manusia dengan alam supranatural. naik turun gunung dan menembus lebatnya hutan menuju ke arah timur. Selain itu. 1987:91). memberikan makna dan nilai pada kehidupan ini. legenda (legend). Salah satu cerita dalam Babad Tanah Jawi mengisahkan bahwa waktu kerajaan Pajajaran di bawah kekuasaan Prabu Mundingsari. menjadi contoh model bagi tindakan manusia. bahkan isi dasar Javanisme. Sedangkan Levi-Strauss (1963:209). mengatakan bahwa mite adalah bahasa untuk diketahui. penguasa gunung. Penolakan-penolakan itu membuat Sang Prabu marah dan prihatin terhadap putrinya. prosa rakyat dapat dibagi dalam tiga golongan besar yaitu mite (myte).

Tetapi di tengah-tengah cerita tiba-tiba Sang Hajar berubah wujudnya. Seketika itu juga putri itu menghilang dari pandangan mata Raden Sesuruh dan menjelma menjadi Hajar Cemara Tunggal lagi.yang cocok untuk bertapa. Berkat kesaktiannya. Raden Sesuruh terpesona dan jatuh cinta kepada putri cantik yang ada di depannya tersebut kemudian ia mendekati dan merayunya. Pohon cemara yang berada di puncak gunung tersebut diabadikan menjadi nama samarannya yaitu Hajar Cemara Tunggal. Hajar Cemara Tunggal kemudian menceritakan kisah pelariannya dan siapa sebenarnya dirinya. Apabila nanti di suatu tempat menemukan batang pohon Kemaja berbuah hanya satu dan rasanya pahit. Hajar Cemara Tunggal tahu maksud dan tujuan Raden Sesuruh yang datang menemuinya. ia menemukan puncak Gunung Kombang yang dirasa cocok untuk bertapa. Sang pertapa ini kemudian terkenal dengan kesaktiannya. Ratna Suwidi menJawab bahwa ia ingin sekali tidak bisa meninggal dunia dan bisa hidup sepanjang zaman. Dikisahkan pula waktu Hajar Cemara Tunggal masih berada di puncak Gunung Kombang. sebenarnya Hajar Cemara Tunggal adalah adik perempuan dari kakek Raden Sesuruh. Sang Hajar melanjutkan ceritanya dengan nada menghibur. mereka akan kebudayaan 6 Jawa . Akhirnya. Berdasarkan garis keturunan. tetapi keinginan Ratna Suwidi itu dapat terkabulkan apabila ia bersedia menjadi makhluk halus. Dari tempat itulah Raden Sesuruh dapat membalas sakit hati atas perlakuan raja Pajajaran. seorang putra mahkota kerajaan Pajajaran yang melarikan diri bersama pengikutnya karena terjadi perebutan kekuasan. ia mengubah diri menjadi lelaki. ia berubah menjadi putri cantik Ratna Suwidi. Dengan kesaktiannya. maka Ratna Suwidi kemudian berubah menjadi makhluk halus yang membawahi semua makhlus di seluruh tanah Jawa. Di puncak gunung itu ada sebatang cemara. Dengan menyetujui saran dewa tersebut. ia didatangi Raden Sesuruh. Pada suatu hari. maka tempat itulah yang dapat digunakan oleh Raden Sesuruh untuk memegang kekuasaan dan menurunkan raja di tanah Jawa. Sang Hajar kemudian memberi petunjuk kepada Raden Sesuruh supaya berjalan terus ke arah timur. Kemudian dewa berkata bahwa manusia tidak dapat hidup sepanjang zaman. Raden Sesuruh segera bersujud di kaki Sang Hajar meminta maaf. Hajar Cemara Tungal didatangi dewa dan ditanya tentang keinginannya bertapa terus menerus. ia dapat mancala putra-mancala putri. Dengan rasa malu. bahwa kelak apabila Raden Sesuruh telah dinobatkan sebagai raja Majapahit.

Hajar Cemara Tunggal tidak lagi bertapa di Gunung Kombang. kelak akan ada keturunan Raden Sesuruh yang menjadi raja Jawa akan dapat mengawini Kanjeng Ratu Kidul Peran Mitologi Kanjeng Ratu Kidul Dalam modelnya. ia akan berubah wujud seperti semula yaitu sebagai putri yang cantik jelita dengan sebutan Kanjeng Ratu Kidul. Krama Madya. Ngoko sendiri dalam perkembangannya secara tidak langsung terbagi-bagi lagi menjadi ngoko kasar dan ngoko halus ( campuran ngoko dan kromo ). Selanjutnya Krama itu terbagi lagi menjadi Krama.1 Bahasa Jawa Bahasa Jawa adalah bahasa pertuturan yang digunakan penduduk suku bangsa Jawa terutama di beberapa bagian Banten. sebaiknya memanggil Sang Hajar. Jawa Barat. Selama bertahta di samudera pasir atau Laut Selatan Jawa. Kelak setelah Raden Sesuruh memegang kekuasaan dan membawahi seluruh tanah Jawa. Pada prinsipnya. melainkan pindah ke samudera pasir. Bahasa Jawa terbagi menjadi dua yaitu Ngoko dan Kromo. Dengan sekejap. Sedangkan Krama Haluspun berbeda antara Krama Halus/Inggil yang dipergunakan oleh kalangan Kraton dengan kalangan rakyat biasa. Selain itu juga digunakan untuk menjamin keselamatan dan ketentraman hidup serta digunakan sebagai pengantara manusia dengan alam supranatural. Leach (1981:82) menjelasan bahwa aktivitas-aktivitas ritual merupakan jembatan antara dunia yang tampak dengan dunia datan kasat mata. kebudayaan 7 Jawa . mitologi Kanjeng Ratu Kidul digunakan oleh penguasa Kasultanan Yogyakarta sebagai kerangka acuan dalam menjalankan pemerintahan. Praktik-praktik keagamaan seperti penyelenggaraan Tari Bedaya Lambang Sari dan Tari Bedaya Semang merupakan usaha dari para penguasa Mataram untuk berhubungan dengan alam supranatural. C. Pesan terakhir Sang Hajar kepada Raden Sesuruh adalah apabila Raden Sesuruh beserta keturunannya yang menjadi raja tanah Jawa menemui halangan. Krama Inggil ( Krama Halus ). Jawa Tengah & Jawa Timur di Indonesia. Selain itu. Krama Madya inipun agak berbeda antara Krama yang dipergunakan dikota / Sala dengan Krama yang dipergunakan di pinggiran / desa. Sang Hajar pasti akan datang bersama makhluk halus bawahannya.bertemu kembali. BAHASA DAN AKSARA JAWA C.

di dalam bukunya : "A Critical Survey of Studies on the Languages of Java and Madura". Sedangkan dialek daerah ini didasarkan pada wilayah. Dialek Blora 7. The Hague: Martinus Nijhoff. Kudus. Dialek Kedu 3. Dialek Madiun Kelompok kedua di atas sering disebut Bahasa Jawa Standar. Bahasa Jawa ini memiliki aksara-nya sendiri. Dialek Bagelen 4.Bahasa Jawa dianggarkan digunakan sekitar dua per tiga penduduk pulau Jawa. Kelompok Bahasa Jawa Bagian Barat : 1. Dialek Semarang 5. Dialek Banyumasan 5. Uhlenbeck. Demak. Dialek Banten 2. Perbedaan antara dialek satu dengan dialek lainnya bisa antara 070%. dan juga huruf Pegon yang diubah sesuai dari huruf Arab. yang dikembangkan dari huruf Pallava. Dialek Yogyakarta 9. Rembang. meskipun tergolong rumpun Karena bahasa ini terbentuk dari gradasi-gradasi yang sangat berbeda Austronesia. Dialek Bumiayu (peralihan Tegal dan Banyumas) Kelompok pertama di atas sering disebut bahasa Jawa ngapak-ngapak. Pati) 6. kebudayaan 8 Jawa .M. Dialek Pekalongan 2. khususnya dialek Surakarta dan Yogyakarta. karakter dan budaya setempat. Dialek Indramayu-Cirebon 3. Dialek Surakarta 8. Dialek Pantai Utara Timur (Jepara. dan Dialek sosial Bahasa Indonesia maupun Melayu. pengelompokannya mengacu kepada pendapat E. Untuk klasifikasi berdasarkan dialek daerah. yakni : • • dengan Dialek daerah. Bahasa Jawa pada dasarnya terbagi atas dua klasifikasi dialek. Dialek Tegal 4. Kelompok Bahasa Jawa Bagian Tengah : 1. 1964.

seperti ayah. Dialek Surabaya 3. dianggap memiliki kedudukan/kekuasaan/pendidikan lebih tinggi. c. 4.Kelompok Bahasa Jawa Bagian Timur : 1. Dialek Jombang 5. 5. saya mau tanya rumah kak Budi itu. nèng endi?” 3. b. 7. Ngoko alus: “Aku nyuwun pirsa. di mana?” 1. Dialek Tengger 6. dianggap jelas lebih tua. Bojonegoro) 2. 3. ibu. 6. Bagongan Kedhaton Kedua logat terakhir digunakan di kalangan keluarga Kraton dan sulit dipahami oleh orang Jawa kebanyakan. Dipakai oleh penutur untuk berkomunikasi dengan lawan bicara yang: a. seperti majikan. omahé mas Budi kuwi. Pak Lurah. dihormati. 8. 2. * Bahasa Indonesia: “Maaf. nèng*ndi?’ 2. omahé Budi kuwi. nèng ndi?” kebudayaan 9 Jawa . Dialek Pantura Jawa Timur (Tuban. Pak Guru. Dialek sosial dalam Bahasa Jawa berbentuk sebagai berikut : 1. Ngoko Ngoko Andhap Madhya Madhyantara Kromo Kromo Inggil Kromo Inggil adalah suatu tingkatan kehalusan bahasa Jawa tutur. Dialek Banyuwangi (atau disebut Bahasa Osing) Kelompok ketiga di atas sering disebut Bahasa Jawa Timuran. Ngoko kasar: “Eh. Dialek Malang 4. kakek. dalemé mas Budi kuwi. Ngoko meninggikan diri sendiri: “Aku kersa ndangu. aku arep takon.

itu tanda bahwa orang tersebut sejatinya pengecut. Krama inggil: “Nuwun sewu. Meskipun demikian. maka tak beda dengan daerah lainnya. misalnya dalam berbicara. bahasa Suroboyoan dapat dikatakan sebagai bahasa paling kasar. griyanipun mas Budi punika. Sikap basa basi yang diagung-agungkan wong Jawa. kula ajeng tanglet. tidak berlaku di kehidupan arek suroboyo. Madya: “Nuwun sèwu. kula badhé takèn. Boyolali dan Salatiga. Krama: “Nuwun sewu. sebagai bentuk penghormatan atas orang lain. dan terus terang. Madya alus: “Nuwun sèwu. Semarang termasuk daerah pesisir Jawa bagian utara. Walau letak daerah Semarang yang heterogan dari pesisir kebudayaan 10 Jawa . lugas. Secara struktural bahasa.4. teng pundi?” 6. karena tidak berani memandang mata lawan bicara ♦ Dialek Semarang adalah sebuah dialek bahasa Jawa yang dituturkan di Semarang. kula ajeng tanglet. dalemipun mas Budi punika. bahasa dengan tingkatan yang lebih halus masih dipakai oleh beberapa orang Surabaya. Pada umumnya menganggap dialek suroboyoan adalah yang terkasar tapi sebenarnya itu menunjukkan sikap tegas. wonten pundi?” 7. Dialek ini berkembang dan digunakan oleh sebagian masyarakat Surabaya dan sekitarnya. Tapi dalam budaya arek suroboyo. wonten pundi?” 8. dalem badhé nyuwun pirsa. dalemipun mas Budi punika. wonten pundi?” Beberapa jenis dialeg Jawa : ♦ Dialeg Surabaya atau lebih sering dikenal sebagai bahasa Suroboyoan adalah sebuah dialek bahasa Jawa yang dituturkan di Surabaya dan sekitarnya. teng pundi?” 5. griyané mas Budi niku. Krama andhap: “Nuwun sèwu. Dialek ini tak banyak berbeda dengan dialek di daerah Jawa lainnya. wong Jawa menekankan tidak boleh memandang mata lawan bicara yang lebih tua atau yang dituakan atau pemimpin. karena dianggap tidak sopan. Yogyakarta. dalemé mas Budi niku. kula badhe nyuwun pirsa. Solo.

dialek Banyumasan banyak sekali bedanya. kata-kata yang berakhiran huruf mati dibaca penuh. di wilayah Banyumasan orang makan 'sega'. sedangkan dalam dialek Banyumasan dibaca enak dengan suara huruf 'k' yang jelas. misalnya Lampu abang ijo (lampu lalu lintas) menjadi "Bang-Jo". Dibandingkan dengan bahasa Jawa dialek Yogyakarta dan Surakarta. Sebagian besar kosakata asli dari bahasa ini tidak memiliki kesamaan dengan bahasa Jawa standar (Surakarta/Yogyakarta) baik secara morfologi maupun fonetik. Logat bahasanya agak berbeda dibanding dialek bahasa Jawa lainnya. dsb. seratus (100) menjadi "nyatus". kebun binatang menjadi "Bon-bin". Perbedaan yang utama yakni akhiran 'a' tetap diucapkan 'a' bukan 'o'.(Pekalongan/Weleri. Selain itu. dan sebagainya. Hal ini disebabkan bahasa Banyumasan masih berhubungan erat dengan bahasa Jawa Kuna (Kawi). Beberapa kosakata dan dialeknya juga dipergunakan di Banten utara serta daerah Cirebon-Indramayu. Para pemakai dialek Semarang juga senang menyingkat frase. sebab tergantung kepada kesepakatan dan minat para penduduk Semarang mengenai frasa mana yang disingkat. Indonesia. Kudus/Demak/Purwodadi) dan dari daerah bagian selatan/pegunungan membuat dialek yang dipakai memiliki kata ngoko. itulah sebabnya bahasa Banyumasan dikenal dengan bahasa Ngapak atau Ngapak-ngapak. misalnya kata enak oleh dialek lain bunyinya ena. ngoko andhap dan madya di Semarang ada di zaman sekarang. Namun tak semua frasa bisa disingkat. Jadi jika di Solo orang makan 'sego' (nasi). kebudayaan 11 Jawa . Jadi contohnya "Taman lele" tak bisa disingkat "Tam-lel" juga Gedung Batu tak bisa menjadi "Ge-bat". Limang rupiah (5 rupiah) menjadi "mang-pi". ♦ Dialek Banyumasan atau sering disebut Bahasa Ngapak Ngapak adalah kelompok bahasa Jawa yang dipergunakan di wilayah barat Jawa Tengah.

Purworejo. pengucapan. Magelang dan khususnya Temanggung. tetapi orang Magelang memakai "aku" orang Temanggung yang di kotanya juga menggunakan "aku" di Parakan juga sebagian kecil menggunakan "aku"   "njagong": duduk (bahasa Jawa standar: lungguh) "Trus Priben": Lalu bagaimana (bahasa Jawa standar: "banjur "gandhul": pepaya piye" atau "terus piye")  ♦ Dialek Tegal Tegal termasuk daerah Jawa Tengah di dekat perbatasan bagian barat. Ciri khas kebudayaan 12 Jawa . dan makna kata.Banten Cirebonan Utara sire sira/rika pisan pisan keprimen kepriben ♦ Banyumasan & Tegalan Jawa Standar Indonesia sira/rika kowe kamu Pisan banget sangat keprimen/kepriben/kepriwe piye/kepriye/kepripun bagaimana Dialek Kedu Dialek Kedu adalah sebuah dialek bahasa Jawa yang dituturkan di daerah Kedu. selain Banyumas. Contoh: Kata-katanya masih menggunakan dialek ngapak dalam tuturannya agak bandek:  "Nyong": aku. Pengucapan kata dan kalimat agak kental. Dialek Tegal merupakan salah satu kekayaan bahasa Jawa. Letak Tegal yang ada di pesisir Jawa bagian utara. sebab merupakan pertemuan antara dialek "bandek" (Yogya-Solo) dan dialek "ngapak" (Banyumas). juga di daerah perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Meskipun memiliki kosa kata yang relatif sama dengan bahasa Banyumas. menjadikan dialek yang ada di Tegal beda dengan daerah lainnya. Dialek ini terkenal dengan cara bicaranya yang khas. tersebar di timur Kebumen: Prembun. pengguna dialek Tegal tidak serta-merta mau disebut ngapak karena beberapa alasan antara lain: perbedaan intonasi.

Aksara Jawa bila diamati lebih lanjut memiliki sifat silabik (kesuku-kataan).2 Aksara Jawa Hanacaraka atau dikenal dengan nama caraka adalah abjad / alat tulis yang digunakan oleh suku Jawa (juga Madura. kalih tengah (Krama) C.5 karo tengah. Kurikulum yang mereka terima seolah-olah merupakan 'paksaan' agar menggunakan menggunakan dialek Jawa Tengah dan Yogyakarta yang bukan merupakan bahasa ibu mereka. yakni apa yang terucap sama dengan yang tertulis.t. tigang prasekawan (Krama) 1. dialek Tegal memiliki ciri khas pada pengucapan setiap frasanya. Palembang. mari kita amati beberapa contoh dan tabel berikut ini: Dialek Tegal padha saka sega apa tuwa Bahasa Jawa Standar Podho Soko Sego Opo Tuwo Salah satu persoalan yang selalu dihadapi oleh para siswa sekolah (SD sampai SMA) adalah dalam hal mata pelajaran bahasa daerah (Jawa). Bali.a wolu wolu 9 sanga nawa sanga sanga 10 sapuluh dasa sedasa sepuluh 1/2 setengah. seprasekawan (Krama) 3/4 telung prapat. Bilangan dalam bahasa Jawa Bila dibandingkan dengan bahasa Melayu atau Indonesia. separo.Selain pada intonasinya. Untuk lebih jelas. sepalih (Krama) 1/4 saprapat. dan Sasak). Hal ini kebudayaan 13 Jawa . Bahasa Jawa Kuna Kawi Krama Ngoko Fraksi • • • • 2 sa rwa eka dwi setunggal kalih siji loro 1 3 telu tri tiga telu 5 pat lima catur panca sekawan gangsal papat lima 4 6 nem sad nem nem 7 pitu sapta pitu pitu 8 wwalu as. Sunda. bahasa Jawa memiliki system bilangan yang agak rumit.

Padha Jayanya (Sama kuat/hebatnya). manusia Maksudnya dan ada yang mempercayakan. Sebagai contoh aksara Ha yang mewakili dua huruf yakni H dan A. Da-Ta-Sa-Wa-La berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan data " saatnya ( dipanggil ) " tidak boleh sawala " mengelak " manusia ( dengan segala atributnya ) harus bersedia melaksanakan. dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata "hari". Beberapa buah aksara itu bisa digabungkan secara langsung untuk membentuk sebuah kata. ada yang dipercaya dan ada yang dipercaya untuk bekerja. Pa-Dha-Ja-Ya-Nya berarti menyatunya zat pemberi hidup ( Khalik ) dengan yang diberi hidup ( makhluk ). Maga Bathanga (Keduanya mati). kewajiban manusia ( sebagai ciptaan ). Aksara Na yang mewakili dua huruf yakni N dan A. Sebagai contoh : Bila diucapkan. manusia. Raja Kasunanan Surakarta. susunan aksara tersebut dapat membentuk kalimat: Hana Caraka (Terdapat Pengawal). cocok " tunggal batin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan   kebudayaan 14 Jawa . dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata "nabi". berupa nafas yang berkewajiban menyatukan Ketiga unsur jiwa itu dengan adalah jasat Tuhan. Tafsir tersebut adalah:  Ha-Na-Ca-Ra-Ka berarti ada " utusan " yakni utusan hidup. jumbuh. Maksudnya padha " sama " atau sesuai. Adapula tafsir berbeda yang diajarkan oleh Pakubuwono IX. menerima dan menjalankan kehendak Tuhan.bisa dilihat dengan struktur masing-masing huruf yang paling tidak mewakili 2 buah huruf (aksara) dalam huruf latin. Data Sawala (Berbeda Pendapat).

mendasar. totalitas. gaib candra.keutamaan. unggul " sungguh-sungguh dan bukan menang-menangan " sekedar menang " atau menang tidak sportif. cipta mandulu. satu visi.pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi  Ca Cipta wening.adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci  Na Nur candra. Jaya itu " menang. sumarah pada garis kodrat. warsitaning candara . Makna Huruf  Ha Hana hurip wening suci . meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat. titi lan wibawa .membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan kebudayaan 15 Jawa . cipta dadi .arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal  Ra Rasaingsun handulusih .  Ma-Ga-Ba-Tha-Nga berarti menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. ketelitian dalam memandang hidup  Sa Sifat ingsun handulu sifatullah .menerima hidup apa adanya  Ta Tatas. berusaha untuk menanggulanginya. titis.rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani  Ka Karsaningsun memayu hayuning bawana . tutus. Maksudnya manusia harus pasrah. Jumlah aksara / huruf pada hanacaraka berjumlah 20 buah tampak pada gambar berikut.hasrat diarahkan untuk kesejahteraan alam  Da Dumadining dzat kang tanpa winangenan .

yakin atas titah/kodrat Illahi  Nya Nyata tanpa mata. bagaimana Carakan bisa menuliskan huruf mati. Kemudian menuliskan aksara Na karena aksara Na mewakili dua buah huruf latin yakni N dan A sehingga kita tidak bisa langsung menuliskan aksara da.sesuatu harus dimulai dan tumbuh dari niatan  Nga Ngracut busananing manungso . Bentuk pasangan disebutkan memiliki fungsi untuk menghubungkan suku kata yang tertutup konsonan dengan suku kata berikutnya. Pada kasus di atas aksara Na diikuti pasangan Da yang berarti Na akan dibaca sebagai N.ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas  La Lir handaya paseban jati .mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi  Pa Papan kang tanpa kiblat .yakin/mantap dalam menyembah Ilahi  Ga Guru sejati sing muruki . maka kita harus menuliskan bentuk pasangan da. kebudayaan 16 Jawa . Pasangan memiliki fungsi untuk menghubungkan suku kata yang tertutup (diakhiri) konsonan dengan suku kata berikutnya. Sebagai contoh kata "banda" yang bila dipisahkan menurut silabiknya adalah "ban" dan "da". Artinya bahwa huruf yang diikuti pasangan akan dimatikan sehingga menjadi konsonan.melepaskan egoisme pribadi manusia Pasangan Jika Carakan / aksara Jawa lebih bersifat silabis (kesuku-kataan). ngerti tanpa diuruki .menyelaraskan diri pada gerak alam  Tha Tukul saka niat .Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar  Ja Jumbuhing kawula lan Gusti .memahami kodrat kehidupan  Ma Madep mantep manembah mring Ilahi . Untuk mematikan huruf Na.Selalu berusaha menyatu memahami kehendak-Nya  Ya Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi . Untuk menuliskan ban ini pertama-tama adalah dengan menuliskan aksara Ba terlebih dahulu. Wa Wujud hana tan kena kinira .Hakekat Allah yang ada disegala arah  Dha Dhuwur wekasane endek wiwitane . Suku kata yang pertama suku kata ban.belajar pada guru nurani  Ba Bayu sejati kang andalani . Hal ini bisa diJawab dengan adanya pasangan.

Bentuk pasangan ini ada yang dituliskan di bawah dan ada juga yang di atas sejajar dengan aksara. Bentuk-bentuk pasangan itu adalah: Aksara Murda Pada aksara hanacaraka memiliki bentuk murda (hampir setara dengan huruf kapital) yang seringkali digunakan untuk menuliskan kata-kata yang menunjukkan :      Nama Gelar Nama Diri Nama Geografi Nama Lembaga Pemerintah Dan Nama Lembaga Berbadan Hukum. Untuk itulah pada perangkat lunak ini kita gunakan huruf kapital untuk menuliskan aksara murda atau pasangannya). (Kata-kata dalam Bahasa Indonesia yang menunjukkan hal-hal diatas biasanya diawali dengan huruf besar atau kapital. Aksara Murda dan pasangannya kebudayaan 17 Jawa .Semua aksara pokok yang ada di Carakan memiliki pasangannya masingmasing.

c. Bila ditemui aksara murda menjadi sigeg. Bila dalam satu kata atau satu kalimat ditemui lebih dari satu aksara murda. Murda tidak dapat dipakai sebagai sigeg (konsonan penutup suku kata). maka ada dua aturan yang dapat dipergunakan yakni dengan menuliskan aksara murda terdepannya saja. atau dengan menuliskan keseluruhan dari bentuk aksara mudra yang ditemui. Contoh: Aksara swara kebudayaan 18 Jawa . b.Aturan Pengunaan Untuk aturan penulisan Aksara murda ini hampir sama dengan penulisan aksaraaksara pokok di Hanacaraka. Contoh Pemakaian Aksara Murda Untuk melengkapi aturan penggunaan aksara murda ini. ditambah dengan beberapa aturan tambahan yakni : a. maka dituliskan bentuk aksara pokoknya. contoh berikut bisa digunakan sebagai acuan untuk menuliskan Aksara Murda.

b. Bentuk Aksara Swara Aksara Swara tidak seperti aksara-aksara yang lain. layar. terutama yang berasal dari bahasa asing. wulu dan lainnya. Aksara ini tidak dilengkapi dengan bentuk pasangan. diikuti aturan penulisan aksara swara sebagai berikut : a. c. cecak. untuk mempertegas pelafalannya. Contoh Penggunaan Aksara Swara Untuk melengkapi aturan penggunaan aksara murda ini. Aksara swara tidak dapat dijadikan sebagai aksara pasangan. contoh berikut bisa digunakan sebagai acuan untuk menuliskan Aksara Murda. adapun bentuk Aksara Swara ini adalah sebagai berikut : Aturan Penulisan Aksara Swara Dalam menuliskan Aksara Swara. maka sigegan itu harus dimatikan dengan pangkon. suku. Bila aksara swara menemui sigegan (konsonan pada akhir suku kata sebelumnya).Kegunaan Aksara Swara Aksara Swara sebagaimana aksara Murda memiliki fungsi dan kegunaan tertentu. Contoh: Sandangan kebudayaan 19 Jawa . Aksara Swara dalam penulisan Hanacaraka digunakan untuk menuliskan aksara vokal yang menjadi suku kata. Aksara swara dapat diberikan sandangan wignyan.

yakni / / dan /a/. misalnya :  Vokal a dilafalkan /a/. Vokal a di dalam bahasa Jawa mempunya dua macam varian. Penulisan sandangan suku pada pasangan. Apabila sandangan suku mengikuti pasangan aksara (ka). Penulisan sandangan suku pada aksara. ada. aksara yang tidak mendapat sandangan diucapkan sebagai gabungan anatara konsonan dan vokal a. maka sandangan wulu digeser sedikit ke kiri.Sandangan suku dituliskan serangkai di bagian bawah akhir aksara yang mendapatkan sandangan itu. tokoh doi dalam bahasa Indonesia. (ta). Letak sandangan sukunya sendiri tetap berada pada bagian bawah akhir dari pasangan. pokok. atau vokal U yang tidak dituliskan dengan aksara swara. Sandangan Bunyi Vokal (Sandhangan Swara) Sandangan bunyi vokal ada lima buah. seperti a pada kata pas. siapa. tolong. Di dalam tulisan Jawa. Sandangan suku dipakai untuk melambangkan bunyi vokal u yang bergabung dengan bunyi konsonan di dalam suatu suku kata. Adapun bentuk dari sandangan bunyi vokal ini adalah : Pemakaian Sandangan Wulu Sandangan Wulu dipakai untuk melambangkan vokal ( i ) di dalam suatu suku kata. semua di dalam bahasa Indonesia. maka pasangan ini harus dirubah dulu ke dalam bentuk aksara pokoknya dahulu. Pemakaian Sandangan Pepet Kegunaannya untuk dipakai untuk melambangkan vokal e di dalam suatu suku kata. Apabila selain wulu juga terdapat sandangan yang lain. misalnya : Sandangan di dalam aksara Jawa dapat dibagi menjadi tiga golongan yakni sebagai berikut : 1. Aturan penulisan sandangan pepet tertera sebagai berikut: kebudayaan 20 Jawa .  Vokal a dilafalkan seperti o pada kata bom. Sandangan suku pada pasangan dituliskan mengikuti letak penulisan pasangan itu. 2. baru kemudian diberikan sandangan suku. Pemakaian Sandangan Suku Penulisan sandangan suku dapat dituliskan dalam dua keadaan yaitu : 1. atau (la).Sandangan adalah tanda yang dipakai sebagai pengubah bunyi di dalam tulisan Jawa. Sedangkan wulu ditulis di bagian atas akhir suatu aksara.

Sebab suku kata re dan le yang bukan pasangan dilambangkan dengan tanda pacerek (re) dan Nga lelet (le). maka taling ditaruh didepan aksara sigeg. Sandangan Konsonan Penutup Suku Kata (Sandhangan Panyigeging Wanda) Sandangan penutup suku kata ada 4 buah.Sandangan pepet ditulis di bagian atas akhir aksara. Apabila selain pepet juga terdapat sandangan layar. maka sandangan pepet digeser sedikit ke kiri dan sandangan cecak ditulis di dalam pepet. maka dibedakan sebagai berikut . Pemakaian Sandangan Taling Untuk membedakan penggunaan sandangan pepet dengan taling. Pemakaian Sandangan Wignyan Sandangan wignyan adalah pengganti sigegan ha (konsonan ha di akhir suku). kecuali untuk aksara yang mendapatkan pasangan yang dituliskan di atas seperti sandangan (ha). kebudayaan 21 Jawa . maka sandangan pepet digeser sedikit ke kiri dan sandangan layar ditulis di sebelah kanan pepet. maka penulisan pepet berada di atas pasangannya. Penempatan sandangan pepet pada aksara yang mendapatkan pasangan dituliskan sesuai dengan aturan di atas. Penulisan wignyan diletakkan di belakang aksara yang dibubuhi sandangan itu.  é untuk penulisan sandangan pepet  e untuk penulisan sandangan taling Pemaikaian Sandangan Taling Tarung Sandangan taling tarung dipakai untuk melambangkan bunyi vokal O yang tidak dituliskan dengan aksara swara di dalam suatu suku kata. Pengecualian: Sandangan pepet tidak dipakai untuk menuliskan suku kata re dan le yang bukan sebagai pasangan. Sandangan taling tarung untuk aksara pasangan di tuliskan mengapit aksara yang dimatikan (yang menjadi sigeg). dan (pa). (sa). 2. Untuk Sandangan taling tarung dituliskan mengapit aksara yang dibubuhi sandangan itu. dan (pa). sedangkan tarung ditaruh di belakang aksara pasangan. Untuk aksara yang mendapatkan pasangan ini. (sa). Untuk aksara pasangan yang ada di atas seperti pasangan (ha). Apabila selain pepet juga terdapat sandangan cecak.

atau tanda koma (. Pada kasus ini pangkong berfungsi ganda. o Contoh: bapak macul. Fungsi-fungsi itu adalah :  Sandangan pangkong dipakai sebagai penanda bahwa aksara yang dibubuhi sandangan pangkon itu merupakan aksara mati. Apa bila sandangan cecak mengikuti sandangan wulu. atau aksara penyigeging wanda.  Sandangan pangkon dapat juga dipakai sebagai pembatas bagian kalimat atau rincian yang belum selesai. Pemakaian Sandangan Pangkon Tidak seperti ketiga sandangan sebelumnya. Sandangan cecak dituliskan menurut aturan ini bila menemui keadaan aksara yang diikuti tidak memiliki sandangan di atas aksara selain dirinya. o Contoh : benik klambi kebudayaan 22 Jawa . Sandangan pangkon dapat ditulis untuk menghindarkan penulisan aksara yang bersusun lebih dari dua tingkat.Pemakaian Sandangan Layar Hampir sama dengan sandangan wignyan. Pemakaian Sandangan Cecak Sandangan cecak digunakan untuk menuliskan sigegan ng (sepasang konsonan nga di akhir suku kata). yakni :  Sandangan cecak ditulis di atas aksara. maka sandangan cecak dituliskan di belakang sandangan wulu. sandangan layar digunakan untuk pengganti sigegan ra (konsonan ra di akhir suku). Penulisan layar ditulis dibagian atas akhir aksara yang mengikuti.) di dalam ejaan latin. aksara penutup suku kata. senilai dengan pada lingsa. adhiku dolanan ijen. Sandangan cecak apabila mengikuti sandangan pepet. di samping untuk mematikan aksara. aku angon sapi. ada tiga buah kondisi dalam menuliskan sandangan cecak. Sandangan pangkong ditulis di belakang aksara yang di bubuhi sandangan itu.  Sandangan cecak ditulis di atas aksara belakang sandangan wulu.  Sandangan cecak ditulis di atas aksara di dalam pepet. maka penulisan cecak di taruh di dalam sandangan pepet. sandangan pangkong memiliki beberapa fungsi.

Aksara yang sudah diberikan cakra dapat diberikan sandangan lagi selain sandangan cakra. Dan apa bila sandangan itu adalah pepet. Contoh: wong gedhe. Tanda pengkal ditulis serangkai di belakang aksara yang diberi tanda pengkal. sebagai contoh kraton yang dapat dipisah menjadi kra-ton. Sandangan Gugus Konsonan Gugus konsonan adalah kumpulan dari dua konsonan dalam Hanacaraka yang akan membentuk suatu suku kata.). Di dalam Hanacaraka ada lima buah gugus konsonan yang digunakan dalam bentuk sandangan.3. Sandangan Cakra Keret Sandangan Cakra Keret dipakai untuk melambangkan gugus konsonan yang berunsur akhir konsonan r dengan diikuti vokal e pepet. lan pakulitane ireng. dhuwur. Tanda Baca Dalam Hanacaraka terdapat pula tanda-tanda baca yang digunakan dalam penulisan kalimat. Sandangan Pengkal Sandangan Pengkal dipakai untuk melambangkan konsonan y yang bergabung dengan konsonan lain di dalam suatu suku kata. suku kata kra memiliki gugus konsonan kr. Tanda cakra keret ditulis serangkai di bawah bagian akhir aksara yang diberikan tanda keret itu. 2) kebudayaan 23 Jawa . cakra wa. Sandangan Cakra Sandangan cakra merupakan penanda gugus konsonan yang unsur terakhirnya berwujud konsonan r. Tanda ini hampir setara dengan penggunaan koma(. maka sandangan cakra dan pepet ditulis menjadi cakra keret. paragraf dan lainnya. Tanda cakra ditulis serangkai di bawah bagian akhir aksara yang diberi tanda cakra itu. cakra la. Bentuk tanda baca yang ditangani dalam perangkat lunak ini ada 4 buah yakni : 1) Adeg-adeg Adeg adeg dipakai di depan kalimat pada tiap-tiap awal alinea. Pada Lingsa Pada lingsa dipakai pada akhir bagian kalimat sebagai tanda intonasi setengah selesai. cecak. Dengan kata lain cakra keret digunakan sebagai ganti tanda cakra yang mendapatkan penambahan sandangan pepet.

lan gelas. orang Jawa bisa ditemukan dalam segala bidang. Meski banyak pengusaha Indonesia yang sukses berasal dari suku Jawa. pertukangan dan perdagangan. terutama mereka yang hidup di daerah pegunungan. Biasanya disamping tanaman padi. goreh amarga mikirna bojone kang wis telung dina iki durung mulih. diantara mereka ada yang menggarap tanah pertaniannya untuk dibuat kebun kering ( tegalan ). pikirane goreh. dan buruh di hutan-hutan di luar negeri yang mencapai hampir 6 juta orang. "sapa kancamu" D. Contoh: aku arep tuku bala pecah : mangkok. Contoh: Ibu mundhut emas 75 gram. Dan tentunya kini semakin bertambah banyak.3) Pada Lungsi Pada lungsi dipakai pada awal suatu kalimat. Tanda ini hampir setara dengan titik. Contoh: wis meh jam telu esuk. MATA PENCAHARIAN Di Indonesia. orang Jawa tidak menonjol dalam bidang Bisnis dan Industri. sumini durung bisa turu. Selain sumber penghidupan yang berasal dari pekerjaan-pekerjaan kepegawaian.  Pada pangkat dipakai untuk mengapit petikan langsung. bertani adalah juga merupakan salah satu mata pencaharian hidup dari sebagian besar masyarakat orang Jawa di desadesa. yaitu yang bertempat tinggal di daerah-daerah yang lebih rendah mengolah tanah-tanah pertanian tersebut untuk dijadikan sawah.  Pada pangkat dipakai untuk mengapit angka. Di dalam melakukan pekerjaan pertanian ini. beberapa jenis tanaman palawija juga ditumbuhkan baik sebagai tanaman utama di kebudayaan 24 Jawa . piring. banyak diantara suku Jawa bekerja sebagai buruh kasar dan tenaga kerja indonesia seperti pembantu. Terutama bidang Administrasi Negara dan Militer banyak didominasi orang Jawa. Sedangkan yang lain. Contoh: Ibu ngendika. 4) Pada Pangkat  Pada pangkat dipakai pada akhir pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian. Banyak variasi pekerjaan sesuai dengan keahlian dan keterampilan yang dimiliki.

artinya ia meminjamkan uang kepada orang lain. bagi hasil atau menggadai tanah. adapula beberapa sumber pendapatan lain yang diperoleh dari usaha-usaha kerja sambilan membuat makanna tempe. sistem itu disebut mertelu. Banyak orang di desa tidak memiliki tanah-tanah pertanian yang luas. ialah hanya menyewakan sawahnya untuk satu tahun. yang disebut adol oyodan.tegalan maupun sebagai tanaman penyela di sawah pada waktu musim kemarau dimana air sangat kurang untuk pengairan sawah-saah itu. si pemilik sawah biasanya hanya akan menerima seperlima bagian dari seluruh hasil panenan sawahnya. Orang seperti itu terpaksa bekerja menjadi buruh tani. Kemudian jika si peminjam uang dan pemilik sawah tersebut berhasil mengembaikan uang pinjamannya pada suatu waktu. membatik. sebagia bunganya. mbotok atau membuat minyak goreng kelapa. dan lain-lain. kacang brol. bahakna banyak juga yang tidak mempunyaianya sama sekali. Selain sumber penghasilan dari lapangan pekerjaan pokok bertani tersebut. ketela rambat. menganyam tikar. Akhirnya jika orang hendak menggadai tanah. menyewa tanah. dimana ia mendapat tanha pertanian sebagai barang gadaian untuk diolah. Orang yang menyewa tanah. artinya memperoleh separo bagian hasil panennya. maka ada yang disebut adol sende. Tanaman penyela tersebut. ialah menjual lepas sawahnya. Apabila orang yang tidak mempunyai tanah ingin mendapat hasil dengan cara bagi hasil. Sudah barang tentu cara-cara bagi hasil ini tergantung kepada keadaantingkat kesuburan tanah pertanian tersebut. misalnya untuk satu masa panen. Pemilik yang kelebihan dapat menjual sawah seperti itu kepada orang lain. Hubungan transksi semacam ini. atau secara adol ceplik. Sawah itu ada yang dimiliki sendiri dan sawah ini disebut sawah sanggan dan sawah yasan. Terutama untuk bagi hasil tanaman palawija kacang brol. Dalam hal ini dia bisa menjual secara adol tahunan. kedelai. Kalau ia menerima sepertiga bagian saja. Walaupun demikian ornag yang menggadai tanah itu sudah dapat memungut hasil pertaniannya setidak-tidaknya satu kali masa panen. kacang tanah. maka sistem itu disebut maro. mencetak batu merah. karena ia kaya dapat memberikan sejumlah uangnya kepada orang pemilik sawah yang memerlukan. kacang tunggak. dan menjadi tukang-tukang kebudayaan 25 Jawa . maka tanha pertanian tadi diserahkan kembali kepadanya. diantaranya adalah ketela pohon. umumnya dilakukan oleh kedua belah pihak dengna disaksikan oleh salah seorang anggota Pamong Desa.

Gelar dalam golongan ini terbagi menjadi bermacam-macam berdasarkan tinggi rendahnya suatu kehormatan. karena pengelompokkan priyayi-non priyayi adalah berdasarkan garis keturunan seseorang.kayu. Kelompok santri digunakan untuk mengacu pada orang yang memiliki pengetahuan dan mengamalkan agama. Namun penggolongan ini tidaklah terlalu tepat. dan mengelompokkan masyarakat Jawa ke dalam tiga golongan: priyayi. Dan setiap kedudukan yang ia jabat ia akan memilki gelar tambahan atau gelar yang berubah nama. ia akan memiliki gelar yang berbeda dari gelar yang telah ia miliki. Golongan priyayi tertinggi disebut Priayi Ageng (bangsawan tinggi). istilah priyayi atau berdarah biru merupakan suatu kelas sosial yang mengacu kepada golongan bangsawan. Istilah priyayi menjadi terkenal saat Clifford Geertz melakukan penelitian tentang masyarakat Jawa pada tahun 1960-an. Namun menurut Robson (1971) kata ini bisa pula berasal dari kata Sansekerta priyā. Yang dimaksud adalah para adik raja. jadi nama lengkapnya adalah Raden Mas Bomantara. Misalnya ia menduduki jabatan pemimpin ksatrian maka gelarnya akan berubah menjadi Gusti Pangeran Adipati Haryo. ia bergelar Raden Mas. Gelar seorang priyayi juga dapat meningkat seiring dari usianya. Misalnya ketika seorang anak laki-laki lahir diberi nama Bomantara. Beberapa gelar dari yang tertinggi hingga dengan hanya satu gelar saja yaitu Raden. santri dan abangan. kebudayaan 26 Jawa . ketika menginjak akil balik gelarnya bertambah satu kata menjadi Bandara Raden Mas. Abangan digunakan untuk mereka yang bukan priyayi dan juga bukan santri. E. Pada saat dewasa dan telah memiliki jabatan dalam hierarki kebangsawanan. SISTEM KEMASYARAKATAN  Lapisan sosial  priyayi Kata priyayi konon berasal dari dua kata Jawa para dan yayi yang secara harafiah berarti "para adik". yang berarti kekasih Dalam kebudayaan Jawa. Suatu golongan tertinggi dalam masyarakat karena memiliki keturunan dari keluarga kerajaan. batu atau reparasi sepeda dan lapangan-lapangan pekerjaan lain yang mungkin dikerjakan. ketika menapak dewasa (18 atau 21 tahun) bertambah lagi menjadi Bandara Raden Mas Aryo.

sinoman. sehingga menjadi Bandara Raden Mas (disingkat BRM). mereka memiliki sawah. mereka adalah keturunan orang-orang yang dahulu yang pertama kali menetap didesa. serta pekarangannya.abangan dibuat berdasarkan sikap dan perilaku seseorang dalam mengamalkan agamanya (Islam). Joko. akan tetapi tidak mempunyai tempat tinggal sendiri. para pamong desa harus sering menggerakkan kebudayaan 27 Jawa . Dalam hal memelihara dan membangun masyarakat desanya.sedangkan pengelompokkan santri . Misalnya seorang laki-laki ningrat yang merupakan keturunan langsung (generasi pertama) dari raja/pemimpin yang memerintah akan mendapat tambahan Bandara (baca "bandoro") di depan gelarnya. b. tukang dan pekerja kasar lainnya. Dalam realita. Kuli gandok atau lindung Mereka adalah orang laki-laki yang sudah kawin. bahkan ada pula yang non muslim. c. ada priyayi yang santri dan ada pula yang abangan. Wong baku merupakan lapisan tertinggi dalam lingkungan desa di Jawa. Desa-desa di Jawa sering dibagi-bagi menjadi bagian-bagian yang disebut dukuh. dan masih tinggal bersama orang tuanya atau tinggal (ngenger) dirumah orang lain. Golongan ini juga dapat digolongkan lagi menjadi : a. Wong Cilik  Merupakan golongan masyarakat yang paling bawah. akan tetapi golongan bujang ini bisa mempunyai tanah baik dari pembelian atau warisan. atau bujangan Mereka semua belum menikah. rumah. oleh karena itu dalam susunan kepemimpinan desa tiap-tiap dukuh diketuai oleh kepala dukuh. Ningrat  Adalah keluarga keraton dan keturunan bangsawan lainnya. biasanya hidup didesadesa dengan sesuai dengan mata pencaharian mereka sebagai petani. Yang biasanya mempunyai gelar-gelar yang menandakan tingkat kebangsawanannya.sehingga terpaksa menetap di kediaman mertuanya.

Semua kakak laki-laki atau wanita ayah dan ibu beserta istri atupun suami masing – masing diklasifikasikan menjadi satu dengan istilah siwa atau uwa. yaitu : a. Magang atau ngenger. c. Adapun adik dari ayah dan ibu diklasifikasikan ke dalam dua golongan yang dibedakan menurut jenis kelamin menjadi paman dan bibi. Perkawinan ngarang wulu adalah suatu perkawinan seorang duda dengan seorang wanita salah satu adik dari almarhum istrinya. yaitu suatu perkawinan seorang pria dan wanita atas kemauan kedua orang tua mereka. yaitu pihak kerabat si gadis yang melamar si jejaka. yaitu seorang yang mendapat istri sebagai pemberian atau penghadiahan dari salah satu lingkungan keluarga tertentu. ialah seorang jejaka yang telah mengabdikan dirinya pada kerabat si gadis. e. misalnya keluarga keraton atau keluarga kyai agung.masyarakat dengan gugur gunung atau kerik desa guna bekerja sama membersihkan. F. Pelamaran biasa b. terlebih dahulu diselenggarakan berbagai upacara-upacara sampai dilaksanakannya peresmian perkawinan. Paksa (peksan). Menurut adat Jawa apabila akan diadakan suatu perkawinan. memperbaiki dan membuat sarana fasilitsa pedesaan. d. SISTEM KEKERABATAN Sistem kekerabatan masyarakat Jawa berdasarkan prinsip keturunan bilateral. Jadi merupakan pernikahan sororat. Triman. Masyarakat Jawa mengenal beberapa sistem pernikahan. Ngunggah-ngunggahi. Dalam adat masyarakat Jawa dikenal adanya ngarang wulu serta wayuh.upacara tersebut adalah  Nakokake Seorang pria pertama-tama datang ke kediaman orang tua si gadis dengan didampingi oleh orang tua sendiri atau wakil orang tuanya untuk menanyakan kebudayaan 28 Jawa . Upacara. Adapun wayuh adalah suatu perkawinan lebih dari satu istri (poligami).

dekorasi dari ruangan resepsi. Besarnya panitia itu tergantung dari latar belakang dan berapa banyaknya tamu yang di undang (300.  Persiapan Penunjukkan Pemaes. pidato pembuka. yaitu : • Dua pohon pisang dengan setandan pisang masak berarti: Suami akan menjadi pemimpin yang baik di keluarga.  Nontoni Calon suami mendapat kesempatan untuk melihat calon istrinya. wali untuk Ijab. Persiapan yang paling penting adalah Ijab (catatan agama dan catatan sipil). 500. Biasanya sehari sebelum pesta pernikahan. terdiri dari berbeda Tuwuhan (tanaman dan daun). dukun pengantin perempuan di mana menjadi pemimpin dari acara pernikahan. komunikasi dan keamanan.kepadanya. Panitia mengurus seluruh persiapan perkawinan: protokol. Jika orang tua si gadis telah meninggal. Dia mengurus dandanan dan pakaian pengantin laki-laki dan pengantin perempuan yang bentuknya berbeda selama pesta pernikahan. kebudayaan 29 Jawa . keluarga dari kedua mempelai. pembawa acara. Biasanya dia juga menyewakan pakaian pengantin. perhiasan dan perlengkapan lain untuk pesta pernikahan. apakah si gadis sudah ada empunya atau belum (legan). makanan dan minuman. dimana tercatat sebagai pasangan suami istri. yakni anggota kerabat dekat menurut garis laki – laki (patrilineal). transportasi. Banyak yang harus dipersiapkan untuk setiap upacara pesta pernikahan. pintu gerbang dari rumah orangtua wanita dihias dengan Tarub (dekorasi tumbuhan). hal itu yang disebut nakokake kepada wali. Pohon pisang sangat mudah tumbuh dimana saja. Pasangan pengantin akan hidup baik dan bahagia dimana saja. Untuk itu dibentuk sebuah panitia kecil yang terdiri dari teman dekat. 1000 atau lebih). musik gamelan dan tarian.

dadap srep berarti: Pasangan pengantin akan hidup aman dan melindungi keluarga. pengalaman dan kesabaran. Cengkir Gading berarti: Pasangan pengantin cinta satu sama lain dan akan merawat keluarga mereka.• Sepasang Tebu Wulung berarti: Seluruh keluarga datang bersama untuk bantuan nikah. kebudayaan 30 Jawa • . Itu dekorasi sangat indah dan mempunyai arti yang luas. • Keris: Melukiskan bahwa pasangan pengantin berhati-hati dalam kehidupan. pintar dan bijaksana. alang-alang. berarti laki-laki harus punya banyak pengetahuan. • Mempunyai bentuk seperti gunung. Gunung itu tinggi dan besar. Cemeti: Pasangan pengantin akan selalu hidup optimis dengan hasrat untuk kehidupan yang baik. mojo-koro. • • • Bekletepe Bleketepe yang berada di atas pintu gerbang berarti menjauhkan dari gangguan roh jahat dan menunjukan di rumah mana pesta itu diadakan. Bentuk daun seperti beringin. Selain pemasangan tarub juga dikenal adanya Kembar Mayang yang merupakan karangan dari bermacam daun (sebagian besar daun kelapa di dalam batang pohon pisang).

Bunga Patra Manggala: Itu digunakan untuk memperindah karangan. • • • • • Daun Dlingo Benglé: Jamu untuk infeksi dan penyakit lainnya. Sebelum memasang Tarub dan Bekletepe harus membuat hidangan spesial yang dinamakan Sajen. itu digunakan untuk melindungi gangguan setan. Tradisionil Sajen (persembahan) dalam pesta adat Jawa itu sangat penting. Tujuh macam bubur. Sajen berarti untuk mendoakan leluhur dan untuk melindungi dari gangguan roh jahat. di mana Tuhan Pencipta melidungi kami. • Siraman sajen terdiri dari: • • • • • • Tumpeng Robyong. Jawa 31 kebudayaan . Daun Kruton: Daun yang melindungi mereka dari gangguan setan. dan lain-lain. di dapur. tahu. berarti pasangan pengantin akan selalu mempunyai pikiran yang jernih dan tenang dalam mengadapi masalah. di jalan dekat rumah. Tumpeng Gundul. Belalang: Pasangan pengantin akan giat. Burung: Pasangan pengantin mempunyai motivasi hidup yang tinggi. telur. nasi kuning dengan hiasan. di bawah dekorasi Tarub. Kelapa muda. Pisang raja dan buah lainnya. di bawah pintu gerbang. daging. nasi kuning tanpa hiasan. Daun Beringin: Pasangan pengantin akan selalu melindungi keluarganya dan masyarakat sekitarnya. diantaranya di kamar mandi.• • Payung: Pasangan pengantin harus melindungi keluarganya. Itu adalah simbol yang sangat berarti. Sajen diletakan di semua tempat di mana pesta itu diadakan. Makanan: ayam. Daun Dadap srep: Daun yang dapat digunakan mengompres untuk menurunkan demam. cepat berpikir dalam mengambil keputusan untuk keluarganya.

Aroma . Bahasa Jawa tujuh itu PITU. Makna dari pesta Siraman adalah untuk membersihkan jiwa dan raga. tetapi juga keluarga dekat dan orang yang dituakan. Yang harus dipersiapkan: • • • • • • Baskom untuk air. Tradisionil shampoo dan conditioner (abu dari merang. Jumlah orang yang melakukan Siraman itu biasanya tujuh orang. Kursi kecil. Daftar nama dari orang yang melakukan Siraman itu sangat penting. Pesta Siraman ini biasanya diadakan di siang hari. ditutup dengan: kebudayaan 32 Jawa . melati. Tidak hanya orangtua. Buna Telon (kenanga. magnolia) dengan air Suci. Air dari sumur atau mata air. gayung dari 2 kelapa.berfungsi seperti sabun. Teh dan kopi pahit. Siraman di adakan di rumah orangtua pengantin masing-masing. santan. sehari sebelum Ijab dan Panggih.mawar.  Siraman. Lantera.lima warna . Sekarang lebih banyak diadakan di taman. letakkan bersama. magnolia dan kenanga .di campur dengan air. Siraman biasanya dilakukan di kamar mandi atau di taman.• • • • • Kue manis. cendol. air asam Jawa). Mereka menyeleksi orang yang bermoral baik. melati. lemper. mereka memberi nama PITULUNGAN (berarti menolong). Bunga Setaman . Rokok dan kretek. biasanya terbuat dari tembaga atau perunggu.

Setelah itu Pemaes membersihkan wajahnya dan lehernya. dia siap untuk di dandani. Kain batik dari Grompol dan potongan Nagasari. Itu adalah simbol dari kemakmuran hidup. orang lain boleh melakukan Siraman.  Upacara Ngerik Setelah Siraman. Air ini diletakan di rumah pengantin laki-laki. Handuk. berarti air suci dan simbol dari intisari kehidupan. Pengantin perempuan/laki-laki duduk dengan kedua tangan di atas dada dengan posisi berdoa. Orang pertama yang menyiramkan air ke pengantin adalah ayah. Dia mengikat rambut ke belakang dan mengeraskannya (gelung). Keluarga dari pengantin wanita mengirim utusan untuk membawa air-bunga ke keluarga dari pengantin laki-laki. dan lain-lain.bango tulak (kain dengan 4 macam motif) . Mereka menyiramkan air ke tangannya dan membersihkan mulutnya tiga kali. Pemaes sangat behati-hati dalam merias pengantin. handuk. Orang terakhir yang melakukan Siraman adalah Pemaes atau orang sepesial yang telah ditunjuk. Dia diantar ke tempat Siraman. • • • • Memakai kain putih selama Siraman. telinga. Setelah mereka.beberapa macam daun . Dalam pelaksanaan upacara Siraman Pengantin perempuan/laki-laki datang dari kamarnya dan bergabung dengan orangtuanya. Kemudian mereka menyiramkan air ke atas kepala. pengantin duduk di kamar pengantin. Pemaes atau orang yang ditunjuk memecahkan kendi ke lantai dan berkata: 'Wis Pecah Pamore' . wajah.lurik (motif garis dengan potongan Yuyu Sekandang dan Pula Watu). Pemaes mengeringkan rambutnya dengan handuk dan menberi pewangi (ratus) di seluruh rambutnya. Dia mendudukkan di kursi dan berdoa. Itu Banyu Suci Perwitosari. tangan dan kaki juga sebanyak tiga kali. Ibu boleh menyiramkan setalah ayah. Kendi.kain putih . Beberapa orang jalan di belakangnya dan membawa baki dengan kain batik.dlingo benglé (tanaman untuk obatobatan) . leher. Setelah Kendi itu kosong.• Tikar . Pemaes menggunakan tradisionil shampoo dan conditioner. kebudayaan 33 Jawa . pengantin wanita memakai kebaya dan kain batik dengan motif Sidomukti atau Sidoasih.berarti dia itu tampan (menjadi cantik dan siap untuk menikah). Dan ini akan digunakan setelah Siraman. Dandanan itu tergantun dari bentuk perkawinan. Akhirnya.

Dewi akan datang dari kayangan. Suruh Ayu (daun betel). Pengantin wanita harus tinggal di kamar dari jam enam sore sampai tengah malam di temani dengan beberapa wanita yang dituakan. Keluarga dan teman dekat dari pengantin wanita akan datang berkunjung. beras. Ukub (baki dengan bermacam pewangi dari daun dan bunga) diletakan di bawah tempat tidur. Jawa 34 • • • • kebudayaan . jamu. Pada malam hari. Dua kendi (diisi dengan bumbu. Orangtua dari pengantin wanita akan menyuapkan makanan untuk yang terakhir kalinya. Mulai dari besok. Upacara Midodareni Pelaksanaan pesta ini mengambil tempat sama dengan Ijab dan Panggih. Dua kendi (diisi dengan air suci) di lapisi dengan daun dadap srep. semuanya harus wanita. suaminya yang akan bertanggung Jawab. Kacang Areca. Biasanya mereka akan memberi saran dan nasihat. dan lain-lain) di lapisi dengan kain Bango Tulak. kacang. Yang harus diletakan di kamar pengantin : • • Satu set Kembar Mayang. calon pengantin wanita akan menjadi cantik sama seperti Dewi. Midodareni itu berasal dari kata Widodari yang berarti Dewi. Menurut kepercayaan kuno.

Dalam kesempatan ini. dia hanya diberi segelas air dan kebudayaan 35 Jawa . Pengantin laki-laki tiba bersama dengan keluarganya. Di kamar lain. • Beras. Selama itu.  Peningsetan atau Srah-Srahan Peningsetan berasal dari kata singset (berarti ikatan). kedua keluarga beramah tamah. Keluarga dari pengantin laki-laki berkunjung ke keluarga dari pengantin perempuan. Buah-buahan. garam. Dia duduk di serambi depan rumah bersama dengan beberapa teman dan keluarga. Keluarga dan tamu dapat makan bersama.• Tujuh macam kain dengan corak letrek. Hanya keluarganya boleh masuk ke rumah. • Beberapa kain batik dengan corak berbeda. minyak. mengharapkan untuk keselamatan. Di tengah malam semua sajen di ambil dari kamar. • • • Kain Kebaya. Mereka akan menjadi besan. keluarga dan teman dekat dari pengantin wanita bertemu dengan keluarga dari pengantin laki-laki. mengharapkan kesehatan. dan lain-lain. tanda dasar kehidupan. mengharapkan untuk kebahagiaan dan kehidupan yang baik. Kedua keluarga menyetujui pernikahan. tetapi dia tidak boleh masuk ke rumah. Mereka membawa hadiah: • Suruh Ayu (daun betel). gula. Setagen putih untuk tanda kekuatan. Sumbangan uang untuk pesta pernikahan. • • Cincin untuk pasangan pengantin. Hanya pengantin laki-laki tidak bisa bertamu ke kamar pengantin perempuan yang sudah bagus di dekorasi.

 Upacara Ijab Upacara ijab merupakan syarat yang paling penting dalam mengesahkan pernikahan. Pengantin wanita dengan gelungan. Itu disebut Nyantri. Pasangan pengantin muncul terbaik. Setelah selesainya rangkaian persiapan maka dilanjutkan dengan upacara perkawinan. Pelaksanaan dari Ijab sesuai dengan agama dari pasangan pengantin. utusan dari keluarga pengnatin laki-laki mengatakan kepada tuan rumah bahwa mereka akan mengambil alih tanggungJawab pengantin laki-laki. Upacara perkawinan menurut adat Jawa terdiri dari beberapa tahapan yaitu :  Upacara Panggih Suara sangat bagus dan mistik dari Gamelan digabungkan dengan tradisi Panggih atau Temu: pertemuan antara pengantin wanita yang cantik dengan pengantin laki-laki yang tampan di depan rumah yang di hias dengan kebudayaan 36 Jawa . Dia boleh makan hanya setelah malam hari. perhiasan emas dan kebaya untuk saat ini. Sebelum keluarganya meninggalkan rumah. Utusan menyatakan bahwa pengantin laki-laki tidak kembali ke rumah. Dengan maksud agar dia bisa menahan lapar dan godaan. dengan pertimbangan bahwa besok dia harus berpakaian pengantin dan siap untuk Ijab dan upacara pernikahan lain. Tempat di adakan Ijab diletakan Sanggan atau Sajen disekitarnya. tetapi tidak ke kamar pengantin. Pengantin laki-laki juga berpakaian khusus untuk upacara ini. Orangtua dari pengantin perempuan akan mengurus penginapannya. Nyantri dilakukan untuk keamanan dan praktisnya. minyak rambut mengkilap. pengantin lakilaki boleh masuk ke rumah. Setelah pengunjung meninggalkan rumah.tidak boleh merokok. Mereka dihormati seperti Raja dan Ratu di hari itu.

Orangtuanya dan keluarga dekat berjalan di belakangnya.  Upacara Wiji Dadi Pengantin laki-laki menginjak telur dengan kaki kanannya.tanaman Tarub. Dua wanita dituakan atau dua putera membawa dua Kembar Mayang yang tingginya sekitar satu meter atau lebih. daun betel mempunyai kekuatan untuk menolak dari gangguan buruk. Mereka mulia melempar sebundel daun betel dengan jeruk di dalamnya bersama dengan benang putih. Menurut kepercayaan kuno. jaraknya sekitar tiga meter. dengan membawa kipas. sebagai tanda dari penghargaan kepada tuan rumah dari upacara. Pengantin wanita. Selama upacara Panggih. Mereka mendekati satu sama lain. semua orang tersenyum bahagia.  Upacara Balangan Suruh Pengantin wanita bertemu dengan pengantin laki-laki. Itu melukiskan bahwa pengantin laki-laki siap untuk menjadi ayah yang bertangung Jawab dan pengantin perempuan akan melayani setia suaminya. Kembar Mayang di bawa keluar rumah dan diletakan di persimpangan dekat rumah. itu akan mencoba bahwa mereka benarbenar orang yang sejati. Pengantin perempuan mencuci kaki pengantin laki-laki dengan menggunakan air dicampur dengan bermacam bunga. Di depannya dua puteri disebut Patah. Satu orang wanita dari keluarga pengantin lakilaki berjalan keluar dari barisan dan memberi Sanggan ke ibu pengantin perempuan. tiba di rumah dari orangtua pengantin wanita dan berhenti di depan pintu gerbang. dua Kembar Mayang diletakan di samping kanan dan kiri dari kursi pasangan pengantin. bukan setan atau orang lain yang menganggap dirinya sebagai pengantin laki-laki atau perempuan. berjalan keluar dari kamar pengantin. Dengan melempar daun betel satu sama lain. melukiskan bahwa setan tidak akan menggangu selama upacara di rumah dan di sekitarnya. Dekorasi itu hanya digunakan bila pasangan pengantin sebelumnya tidak pernah menikah. di antar oleh dua wanita yang dituakan. Untuk dekorasi. Mereka melakukannya dengan keinginan besar dan kebahagian. kebudayaan 37 Jawa . Pengantin laki-laki di antar oleh keluarga dekatnya (tetapi bukan orangtuanya karena mereka tidak boleh berada selama upacara).

sementara dia bicara bahwa mereka sama beratnya. kebudayaan 38 Jawa .  Upacara Timbang Kedua pasangan pengantin duduk di atas pangkuan ayah dari pengantin wanita.  Upacara Tanem Ayah pengantin wanita mendudukan pasangan pengantin ke kursi pengantin. Itu berarti bahwa ayah akan menunjukan jalan kebahagiaan. Itu melukiskan bahwa dia menyetujui perkawinan. Upacara Sindur Binayang Setelah upacara Wiji Dadi. Dia memberi restu. Ibu memberi dorongan moral. berarti dia cinta mereka sederajat. ibu pengantin perempuan menutup pundak pasangan pengantin dengan Sindur. ayah pengantin perempuan mengantar pasangan pengantin ke kursi pengantin.

padi. bunga. Itu melukiskan bahwa suami akan memberi semua gajinya ke istrinya. Dia akan mengurus dan menjadi ibu rumah tangga yang baik. kacang. dan beberapa mata uang yang berbeda nilainya (jumlah dari mata uang harus genap). beras kuning.  Upacara Dahar Klimah atau Dahar Kembul kebudayaan 39 Jawa .  Upacara Kacar Kucur atau Tampa Kaya Dengan dibantu oleh Pemaes. pengantin perempuan mendapat dari pengantin laki-laki beberapa kedelai. Pengantin perempuan sangat berhati-hati dalam menerima pemberiannya di dalam kain putih. jagung. Di sana. pasangan pengantin berjalan bergandengan tangan dengan jari kelingking ke tempat upacara Kacar Kucur atau Tampa Kaya. Upacara Tukar Kalpika Pertukaran cincin pengantin simbol dari tanda cinta. di atas tikar yang sudah diletakan di pangkuannya. jamu dlingo benglé.

Selama Sungkeman. Pemaes. menjadi pemimpin dari upacara. tahu.Pasangan pengantin makan bersama dan menyuapi satu sama lain. Setelah mereka selesai. Kedua ibu berjalan di depan. kebudayaan 40 Jawa .  Upacara Mertui Orangtua pengantin wanita menjemput orangtua pengantin laki-laki di depan rumah. Orangtua mengantar mereka ke kehidupan nyata dan mereka akan membentuk keluarga yang kuat. pengantin laki-laki memakai kembali kerisnya. mereka minum teh manis. abon dan hati ayam). berarti pasangan akan selalu mempunyai cukup keuntungan untuk hidup baik. Mereka berjalan bersama menuju ke tempat upacara. pengantin laki-laki membuat tiga bulatan kecil dari nasi dengan tangan kanannya dan di berinya ke pengantin wanita. Pertama ke orangtua pengantin wanita. Pertama. Warna merah dari Sindur dengan pinggir berliku berarti bahwa hidup itu seperti sungai mengalir di gunung. Pemaes mengambil keris dari pengantin laki-laki. kemudian ke orangtua pengantin lakilaki.  Upacara Sungkeman Mereka bersujud untuk mohon doa restu dari orangtua mereka. memberi piring ke pengantin wanita (dengan nasi kuning. Orangtua dari pengantin laki-laki duduk di sebelah kiri dari pasangan pengantin. dia melakukan sama untuk suaminya. Upacara itu melukiskan bahwa pasangan akan menggunakan dan menikmati hidup bahagia satu sama lain. dan kedua ayah berjalan di belakang. Setelah pengantin wanita memakannya. Orantua pasangan pengantin memakai motif batik yang sama (Truntum). Setelah Sungkeman. dadar telur. tempe. mereka juga memakai Sindur seperti ikat pinggang. Orangtua dari pengantin perempuan duduk di sebelah kanan dari pasangan pengantin.

Kantor Urusan Agama Kabupaten yang akan memberi keputusan. yaitu dengan memberikan taklik. istri tidak dalam keadaan hamil dan di hadapan pengulu. Pemboyongan yang disertai pesta upacara lagi di tempat kediaman mempelai laki-laki ini disebut ngunduh temanten. atau sama dengan lima hari sejak mereka dipertemukan. dilanjutkan dengan pesta resepsi. dalam adat Jawa juga diatur mengenai masalah perceraian (pegatan). Akhirnya. Semantara semua tamu menikmati pesta dan makan santapan. perceraian hanya bisa dilakukan dengan persetujuan kedua belah pihak.Pengaduan gugatan perceraian bertingkat-tingkat tersebut dinamakan rapak. hal ini dapat dilaksanakan sesudah sepasar. Apabila mempelai laki-laki berkehendak membawa istrinya. Sedangkan sebaliknya istri pun berhak meminta cerai. Apabila seorang istri meminta cerai sedangkan suaminya tidak bersedia maka istri mengadu kepada kaum yang akan meneruskan pengaduan ke Kantor Urusan Agama Kecamatan.Setelah upacara Pernikahan. Selain masalah perkawinan. fragment dari cerita wayang atau tari lebih modern Karonsih). kebudayaan 41 Jawa . Pasangan pengantin baru bersama dengan orangtuanya menerima ucapan selamat dari para tamu. Suami dapat menceraikan istrinya dengan menjatuhkan talak. diiringi suara gamelan di ruang resepsi. beberapa penari Jawa menpertunjukan (tari klasiek Gathot Kaca-Pergiwo. Bersamaan dengan itu. Dalam hal ini.

Pemeliharaan benda pusaka diserahkan kepada anak laki-laki tertua. yang lamanya tiga bulan sepuluh hari atau tiga kali lingkaran haid. karena apabila sudah mencapai talak sebanyak tiga kali maka suami istri tersebut harus bercerai selamanya. Dalam hubingan ini sorang janda dapat bergaul dengan seorang laki-laki lain setelah lewat masa iddahnya. artinya mempunyai tempat tinggal sendiri yang terlepas dari tempat menetap kerabat masing-masing pihak. Selain itu terdapat kelompok kekerabatan lain yang disebut alurwaris. atau mereka memilih untuk tinggal di tempat tinggal yang baru. sedangkan apabila hal itu dijalankan melebihi batas waktu tersebut dinamakan balen. apabila pasangan pengantin menetap di dekat tempat kediaman kerabat istri. suami istri ingin rukun kembali sebelum melebihi jangka waktu seratus hari maka disebut rujuk.Apabila setelah bercerai. Suatu kekerabatan yang lain ialah sanak-sadulur yang terdiri dari orang-orang kerabat keturunan dari seorang nenek moyang sampai derajat ketiga. pembagian harta dilakukan melalui permusyawaratan antara para ahli waris. keluarga-batih dalam bentuk keluarga yang luas adalah suatu pengelompokan dari dua-tiga keluarga atau lebih dalam satu tempat tinggal. Utrolokal. Adat menetap sesudah nikah ada tiga sifat: a. Neolokal. Setelah pernikahan pasangan pengantin Jawa bebas menentukan apakah ia akan menetap di sekitar tempat kediaman sendiri atau kerabat. Dalam pembagian warisan harta peninggalan orang tua dikenal adanya 2 macam cara yaitu perdamaian dan sepikul segendongan. Dalam sebuah keluarga (kulawarga atau keluarga-batih) Jawa kepala keluarga disebut somah. apabila pasangan pengantin menetap di dekat tempat kediaman kerabat suami. anak laki-laki ditetapkan mendapat bagian 2/3 sedangkan perempuan 1/3 dari seluruh jumlah warisan orang tua. b. Uxorilokal. Baik rujuk maupun balen hanya bisa dilaksanakan sesudah talak sampai tiga kali. Besarnya kebudayaan 42 Jawa . Kelompok ini terdiri dari semua kerabat sampai tujuh turunan sejauh masih dikenal tempat tinggalnya. Biasanya dipergunakan untuk pembagian warisan tanah pekarangan. Menurut cara sepikul segendongan. c. sedangkan ternak dibagikan sama sesuai jumlah yang ada. yaitu seorang anak laki-laki atau perempuanyang tetap tinggal di rumah bersama orang tua. Biasanya orang tua cenderung memberikan rumah kediamannya kepada tabon. yang tugasnya memelihara makam leluhur. Menurut cara perdamaian.

jumlah pembayaran pajak dituliskan dalam surat tanda pembayaran pajak yang disebut kohir (petuk) yang biasanya dipegang ahli waris yang paling tua. • Islam Kejawen penganut agama Islam ini beranggapan walaupun tidak menjalankan shalat. Benda gawan kembali kepada kerabat masing-masing apabila suami istri tidak mempunyai anak. Sawah dunungan. serta tidak bercita-cita naik haji. Sawah garapan. atau puasa. Tanah pertanian (sawah) yang bisa diwariskan adalah sawah sanggan (milik pribadi) yang terdiri atas tiga macam yaitu: a. terdapat pemeluk agama nasrani dan agama besar lainnya. tetapi setelah ia datang hak dan kewajiban tanah pertanian itu kembali kepadanya. b. sawah ini juga belum menjadi benda warisan tetapi sudah diberi ijin dari orang tua untuk digarap oleh anak-anak atau menantu laki-lakinya dan setelah orang tua meninggal akan menjadi warisan bagi penggarapnya. tetapi tetap percaya kepada kebudayaan 43 Jawa . sedangkan benda gana gini baru dipersoalkan pembagiannya jika kedua orang tersebut bercerai. Sawah gantungan. c. sehingga harus dipelihara dan digarap oleh saudaranya sendiri. Selain itu. Dalam adat Jawa dikenal adanya pembedaan harta benda milik suami sendiri sebelum kawin (benda gawan) dan harta kekayaan yang diperoleh selama hidup bersama (benda gana gini) keduanya dapat diwariskan. sesungguhnya belum menjadi harta warisan namun sudah ditunjuk kepada siapa masing-masing bagian sawah itu akan diberikan.Pemeluk agama Islam pada masyarakat Jawa dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu : • Islam Santri adalah penganut agama Islam Jawa yang secara patuh dan teratur menjalankan ajaran-ajaran dari agamanya. G. RELIGI Agama Islam berkembang baik di kalangan masyarakat Jawa. yaitu banda gana untuk suami dan banda gini untuk istri. merupakan sawah bagian warisan dari seseorang yang pergi meninggalkan sawah tadi. Biasanya anak yang lebih tua mendapat bagian di sebelah barat dan anak yang muda di sebelah timur.

ajaran keimanan agama Islam. Hampir semua selamatan ditujukan untuk memperoleh keselamatan hidup dengan tidak ada gangguan apapun. Selamatan dalam rangka lingkaran hidup seseorang seperti hamil tujuh bulan. yaitu seorang pegawai masjid yang berkewajiban mengumandangkan adzan karena dianggap mahir membaca do keselamatan dari dalam ayat-ayat Al Quran. Upacara ini dipimpin oleh modin. dan makhluk halus seperti misalnya memedi. misalnya dengan berpuasa. Tuhan mereka sebut Gusti Allah dan Nabi Muhammad adalah Kanjeng Nabi. terutama keluarganya. arwah atau roh leluhur. Sedekah Surtanah atau Geblak yang diadakan pada saat meninggalnya seseorang. Maka apabila seorang Jawa hidup tanpa menderita gangguan ia harus berbuat sesuatu untuk mempengaruhi alam semesta. upacara potong rambut pertama. kesehatan. upacara menyentuh tanah untuk pertama kali. Kecuali itu mereka tidak terhindar dari kewajiban berzakat. Selamatan adalah upacara makan bersama yang makanannya telah diberi doa sebelum dibagi-bagikan. Rangkaian upacara selamatan (sedekahan) yang ditujukan untuk menolong keselamatan roh nenek moyang tersebut di dalam akhirat ialah: a. yakni: 1. namun sebaliknya mereka juga dapat menimbulkan gangguan pikiran. orang Jawa pada suatu kekuatan yang disebut kasakten. ketentraman ataupun keselamatan. upacara menusuk telinga. demit. kebudayaan 44 Jawa . serta upacara yang berhubungan dengan kematian serta saat sesudahnya. tuyul. Selain itu. pantang makan makanan tertentu. Tujuannya untuk memberikan doa supaya arwah dari orang yang meninggal itu mendapat pengampunan. Upacara yang berhubungan dengan kematian serta saat sesudahnya dilakukan karena orang Jawa sangat menghormati arwah orang meninggal dunia. Menurut kepercayaan makhluk halus tersebut dapat mendatangkan sukses. bahkan kematian. berselamatan. lelembut. serta jin dan lainnya yang menempati alam sekitar tempat tinggalnya. Upacara adat ini diselenggarakan setelah acara penguburan jenazah. Kebanyakan orang Jawa percaya bahwa hidup manusia di dunia ini sudah diatur dalam alam semesta sehingga mereka memiliki sikap nerima yaitu menyerahkan diri kepada takdir. kelahiran. Upacara selamatan dapat digolongkan ke dalam empat macam sesuai peristiwa atau kejadian dalam kehidupan manusia sehari-hari. dan bersaji. kebahagiaan.

Sedekah Mitung dina ialah upacara selamatan saat sesudah menginggalnya seseorang yang jatuh pada hari ketujuh. Sedekah Mendak sepisan dan Mendak pindo. saudara dekat. umumnya tetangga hadir dengan membawa bahan-bahan panganan ( beras. yang hadir umumnya adalah saudara. bahan untuk sayur. ketiga sesudah saat meninggalnya kebudayaan 45 Jawa . Selain doa biasanya juga ada acara tahlilan yang dilanjutkan dengan mengaji bersama. Sedekah Nelung dina ialah upacara selamatan kematian yang diselenggarakan pada hari seseorang. Selamatan yang bertalian dengan bersih desa. gula. Tidak ada undangna khusus untuk acara ini. kopi ataupun uang dan lainlain )yang tujuannya untuk meringankan beban keluarga. Bisa juga jika keluarga yang ”kesripahan” ingin sodaqoh bisa dengan membuat makanan yang banyak atau menyiapkan besek untuk dibawa pulang yang hadir tapi itu tidak wajib. sebagai upacara selamatan sesudah kematian seseorang bertepatan dengan genap seribu harinya. f. d. b. Upacara juga disebut sedekah Nguwis-nguwisi artinya yang terakhir kalinya. 2. teman atau tetangga atau siapa saja yang mau ikut berdoa.Upacara surtanah ini diselenggarakan secara sederhana. penggarapan tanah pertanian dan setelah panen padi. g. Sedekah Nyewu. Inti dari upacara surtanah adalah berdoa. masing-masing upacara selamatan kematian yang dilakukan pada waktu sesudah satu tahun dan dua tahun dari saat meninggal seseorang. Yang dianjurkan adalah orang lain yang membawa bantuan untuk keluarga yang ”kesripahan”. jika ada hidangna yang disajikan itu hanya seadanya. Sedekah Matangpuluh dina atau upacara keselamatan kematian seseorang pada hari keempat puluh. telur. tetangga yang dekat dan ulama yang diundang. yang diutamakan untuk berdoa adalah putra-putri dari orang yang meninggal. e. Sedekah Nyatus yakni upacara keselamatan kematian yang diadakan sesudah hari keseratus sejak saat kematiannya. Tidak ada acara kendhuren. c.

Menurut kepercayaan masyarakat Jawa. Untuk kendaraan istana setiap setahun sekali pada hari Jumat Kliwon pada bulan Sura dibersihkan dengan upacara siraman yang dilakukan di dalam lingkunagn istana (Ratawijaya) secara terbuka. keris. dan kue apem yang ditaruh dalam besek ataupun bungkusan daun pisang kemudian ditempatkan di atas meja untuk dikutug.3. misalnya menempati rumah atau menolak bahaya (ngruwat). Ada sesajen yang dibuat pada tiap malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon. Gerakan atau aliran kebatinan yang keuaniyahan. yang macamya yaitu: 1. kebudayaan 46 Jawa . kendaraan istana (kereta Nyai Jimat dan Garuda Yeksa). serta jin dan lain-lain. Tempat yang dipilih biasanya tempat yang dianggap keramat dan mengandung bahaya ghaib (angker)agar terhindar dari gangguan makhluk halus. serta kepada raksasa Batara Kala. yang percaya pada adanya ruh halus. Sesajen merupakan ramuan tiga macam bunga (kembang telon) yang dimasukkan ke dalam air. uang recehan. Sedangkan Batara Kala adalah raksasa yang mempuyai kekuatan sakti untuk mendatangkan bencana pada benda atau manusia. atau badan halus. Ruwatan biasanya disrtai pertunjukkan wayang kulit sehari semalam dengan mengambil cerita Batara Kala. Selamatan yang berhubungan dengan hari-hari serta bulan-bulan besar Islam 4. Ruwatan dilakukan oleh dukun. Selain upacara selamatan. Masyarakat Jawa juga mengenal adanya upacara sesaji panyadran agung yang dilakukan tiap tahun oleh keluarga Kraton Yogyakarta bertepatan Maulid Nabi Muhammad SAW atau disebut juga Gerebeg Mulud. Selamatan pada saat-saat yang tidak tertentu berkaitan dengan kejadiankejadian.bahkan pada burung perkutut. air bekas siraman tersebut dapat memberi berkah. sehingga orang Jawa yang mempunyai anak akan mengadakan ruwatan untuk menghindarkan anaknya dari bahaya. yang pandai menyembuhkan penyakit dan mengenyahkan ruh jahat. Dalam kehidupan masyarakat Jawa terdapat berbagai macam aliran kebatinan. Adapun kepercayaan kepada kekuatan sakti (kasakten) ditujukan kepada benda-benda pusaka. Sesajen merupakan penyerahan sajian pada waktu dan di tempat tertentu dalam rangka kepercayaan kepada makhluk halus. pada masyarakat Jawa juga dikenal adanya sesajen.kemenyan. gamelan.

Hanya pada menu makanannya ditambahin menu ngethingi. terdapat upacara. merupakan reminisensi daripada upacara sraddha Hindu yang dilakukan pada jaman dahulukala. Selain itu upacara ini juga dilaksanakan oleh orang Jawa yang tidak menganut ajaran Islam pula. kebudayaan 47 Jawa . yang pengikutnya percaya kapada dewa agama Hindu 4. Hidup Betul Iman Agama Hak. Aliran kehindu-jawian. bulan di mana mereka yang menganut ajaran Islam berpuasa. dan Parda Pusara Penitisan Rohani. Hampir semua gerakan kebatinan ini bertujuan menuju kesempurnaan hidup manusia. 3. Contoh aliran kebatinan yang pernah berkembang di daerah selatan Yogyakarta misalnya ”ADARI” singkatan ”Agama Jawa Asli Republik Indonesia”. bengi: malam) adalah sebuah prosesi yang dilakukan pada bayi pada malam ketujuh sejak kelahirannya. yang ajarannya banyak mengambil unsur keimanan agama Islam. Mitung Mbengeni Mitung Mbengeni (berasal dari Bahasa Jawa: pitu: tujuh. Aliran yang bersifat mistik.upacara adat yang lain yaitu sebagai berikut : Sadran Sadran merupakan Upacara masyarakat Jawa Baru (dan Madura serta mungkin juga Sunda) yang disebut dengan nama sadran atau bentuk verbal nyadran. Hidup Betul. dengan usaha manusia untuk mencari kesatuan dengan Tuhan. Selain yang telah dijelaskan. Hendra Pusara. dengan syariat yang sengaja dibedakan dengan syariat Islam dan mengandung banyak unsur Hindu-Jawa. Upacara ini dilakukan oleh orang Jawa pada bulan Jawa-Islam Ruwah sebelum bulan Puasa. Aliran yang keislam-islaman. Upacara sadran ini dilakukan dengan berziarah ke makam-makam dan menabur bunga (nyekar).2. Ramadan. Mekanismenya hampir sama dengan prosesi tasyakuran biasa.

dia sekaligus yang menolong proses persalinan sampai dengan perawatan selama sang ibu atau keluarga belum bisa memperlakukan bayi sebagaimana mestinya.Mitung mbengeni juga sebagai pertanda puput puset pada bayi. Uniknya. ♦ Ruwatan Adalah Tradisi ritual Jawa sebagai sarana pembebasan dan penyucian. mantu poci juga dihadiri oleh ratusan bahkan ribuan undangan. Tak lupa pula. Mantu poci pada umumnya diselenggarakan oleh pasangan suami istri yang telah lama berumah tangga namun belum juga dikarunai keturunan. disebuah belik. Entah sebuah kebetulan ataukah memang bermakna khusus. sajian makanan. kebudayaan 48 Jawa . dengan cara inti melangsungkan 'pesta perkawinan' antara sepasang poci tanah berukuran raksasa. dan beraneka pementasan untuk menghibur para undangan yang hadir. kemudian dimandikan dengan kembang tujuh rupa oleh sesepuh setempat. si anak di suruh menaiki piramida yang terbuat dari bambu yang berisi pernak-pernik. puput puser dilakukan oleh seorang dukun bayi. sebagian besar dari anak-anak peserta Ngerak tertarik untuk mengambil kaki ayam panggang tersebut. Mantu Poci Mantu Poci adalah salah satu kebudayaan di wilayah Tegal (Jawa Tengah). kemudian dilepas dengan pesta besar dengan mengundang sanak saudara. sampai dengan makanan. Ngerak Ngerak adalah sebuah tradisi memandikan anak kecil dengan umur dibawah 5 tahun. mantu poci juga bertujuan agar penyelenggara merasa seperti menjadi layaknya orang tua yang telah berhasil membesarkan putra putri mereka. Sedangkan yang paling menarik adalah seekor ayam panggang yang ditaruh disebelah kiri tas piramida. Untuk orang jaman dulu. dan relasi. Lengkap dengan dekorasi. Sesampainya di belik. atas dosa/kesalahannya yang diperkirakan bisa berdampak kesialan didalam hidupnya. Sesampainya dirumah. mulai dari permainan. di pintu masuk ruang resepsi disediakan kotak sumbangan berbentuk rumah. dengan menempatkan si anak didepan dengan posisi di gendong dengan menggunakan selendang berwarna kuning. Selain sebagai harapan agar pasangan suami istri segera mendapatkan keturunan. Sebelum berangkat dari rumah. Seperti layaknya pesta perkawinan. dilakukan prosesi iringiringan.

Yang akan mengalami penderitaan atau sukerta. maka untuk mensucikan kembali. Sendang kapit pancuran atau laki-laki. Tradisi "upacara /ritual ruwatan" hingga kini masih dipergunakan orang Jawa. d. agar menjadi suci kembali. c. tetapi sekarang diadaptasi dengan ajaran agama. oleh Batara guru diberitahukan agar memakan manusia yang berdosa atau sukerta. perlu mengadakan ritual tersebut. laki-laki. atau meruwat berarti: mengatasi atau menghindari sesuatu kesusahan bathin dengan cara mengadakan pertunjukan/ritual dengan media wayang kulit. Jenis manusia yang disukai Bathara Kala yaitu : a. yang kemudian sepermanya jatuh ketengah laut. sebagai sarana pembebasan dan penyucian manusia atas dosanya/kesalahannya yang berdampak kesialan didalam hidupnya. orang yang manandang sukerto ini. kebudayaan 49 Jawa . Menurut ceriteranya. Yang lahir tunggal atau ontang-anting. yang dalam tradisi pewayangan disebut "Kama salah kendang gumulung ". b. Ketika raksasa ini menghadap ayahnya (Batara guru) untuk meminta makan. perempuan. Tradisi ruwatan di Jawa ( Jawa tengah) awalnya diperkirakan berkembang didalam cerita Jawa kuno. Dalam tradisi Jawa orang yang keberadaannya mengalami nandang sukerto/berada dalam dosa. yaitu pembebasan dewa yang telah ternoda. Kembang sepasang atau kembar.Upacara adat ini berasal dari buadaya adat Jawa kuna yang sifatnya sinkretis. akhirnya menjelma menjadi raksasa. yang isi pokoknya memuat masalah pensucian. diyakini akan menjadi mangsanya Batara Kala. Uger-uger lawang atau dua anak laki-laki semua. Tokoh ini adalah anak Batara Guru (dalam cerita wayang) yang lahir karena nafsu yang tidak bisa dikendalikannya atas diri Dewi Uma. e.

kemiri. Tumpeng biasa disajikan di atas tampah (wadah tradisional) dan dialasi daun pisang. Selesai upacara ngruwat. bambu gading yang berjumlah lima ros ditanam pada kempat ujung rumah disertai empluk (tempayan kecil) yang berisi kacang hijau . Jarum kuning d. kedelai hitam. telur ayam dan uang dengan diiringi doa mohon keselamatan dan kesejahteraan serta agar tercapai apa yang dicita citakan. berkembang tradisi 'tumpengan' pada malam sebelum tanggal 17 Agustus. Di Yogyakarta misalnya. Beras kuning c. kebudayaan 50 Jawa . Ada tradisi tidak tertulis yang menganjurkan bahwa pucuk dari kerucut tumpeng dihidangkan bagi orang yang profesinya tertinggi dari orang-orang yang hadir. ikan asin. Kain pitung werna b. Ini dimaksudkan untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang tersebut. untuk mendoakan keselamatan negara.Sesajen yang perlu disiapkan untuk upacara ini adalah : a. rambutnya lalu dilarung di laut. Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. orang yang diruwat harus menjalani siraman air suci dan gunting rambut. kluwak. Kembang pitung rupa Jika untuk tolak bala atau membuang sial orang yang mengalami sukerta. Tumpeng Acara yang melibatkan nasi tumpeng disebut secara awam sebagai 'tumpengan'.

Tumpeng Nujuh Bulan . timun yang dipotong melintang. beberapa lauk yang biasa menyertai adalah perkedel.      Kutug Kutug merupakan ritual membakar kemenyan yang dilakukan oleh penganut ajaran tertentu.digunakan pada saat kematian seorang wanita atau pria yang masih lajang. dihari-hari tertentu. Ritual ini biasanya dilakukan oleh kepala adat. Dibuat dari nasi putih yang disajikan dengan lauk-pauk sayuran. Tumpeng ini terbuat dari nasi putih.Disebut juga tumpeng tasyakuran. Selain satu kerucut besar di tengah. Namun demikian. tunangan. Biasa disajikan di atas tampah yang dialasi daun pisang. tumpeng ini dikelilingi enam buah tumpeng kecil lainnya. ikan asin atau lele goreng. Tumpeng Putih . dan sebagainya. Variasinya melibatkan tempe kering. dan daun seledri. Tumpeng ini diletakkan di dalam bakul dengan berbagai macam sayuran. abon. terasi. Variasi Nasi Tumpeng :  Tumpeng Robyong . Digunakkan untuk acara sakral. ikan bandeng atau rempeyek teri) dan sayur-mayur (kangkung. bayam atau kacang panjang). Dalam pengartian makna tradisional tumpeng. Digunakan untuk peringatan Maulud Nabi.Tumpeng ini digunakan pada syukuran kehamilan tujuh bulan. serundeng. Digunakan untuk syukuran acara-acara gembira. seperti kelahiran. bawang merah dan cabai. urap kacang panjang. Setiap lauk ini memiliki pengartian tradisional dalam budaya Jawa dan Bali. Tumpeng Nasi Kuning . dianjurkan bahwa lauk-pauk yang digunakan terdiri dari hewan darat (ayam atau sapi).Tidak ada lauk-pauk baku untuk menyertai nasi tumpeng. kedelai goreng. keselamatan dan berkah dari Syang Hyang Widi. Tumpeng Nasi Uduk .warna putih pada nasi putih menggambarkan kesucian dalam adat Jawa. Di bagian puncak tumpeng ini diletakkan telur ayam. pernikahan. hewan laut (ikan lele. kebudayaan 51 Jawa . dan sebagainya. Tumpeng ini kemudian dipotong vertikal dan diletakkan saling membelakangi. telur dadar/telur goreng. dengan tujuan agar mendapat lindungan. Tumpeng Pungkur .Tumpeng ini biasa disajikan pada upacara siraman dalam pernikahan adat Jawa.warna kuning menggambarkan kekayaan dan moral yang luhur.

Tradisi Jawa Malam hari. adalah Tirakatan kebudayaan 52 Jawa . tidak mengeluarkan kata-kata selama ritual ini. konon untuk memperkenalkan kalender islam di kalangan masyarakat Jawa. Mitoni 4. Ngarotengahi Malam Satu Suro Latar belakang dijadikannya 1 Muharam sebagai awal penganggalan islam oleh Khalifah Umar bin Khathab. Diantaranya adalah : 1. Ada beberapa tahapan yang dilakukan oleh suatu keluarga dalam rangka ngethingi. Sunan Giri II telah membuat penyesuaian antara sistem kalender Hijriyah dengan sistem Kalender Jawa pada waktu itu. Maka tahum 931 H atau 1443 tahun Jawa baru. Kungkum atau berendam di sungai besar. Dengan Tapa Bisu. Neloni 3. Mitung Mbengeni 2. atau mengunci mulut. sendang atau sumber mata air tertentu. sebuah keluarga yang dikaruniai tambahan jumlah anggota baru (melahirkan) wajib melaksanakan syukuran dengan selalu membuat masakan yang berbahan dasar sayur-sayuran (lebih tepatnya dan lazimnya yang digunakan adalah daun pepaya muda). Sabtu Pahing. untuk dapat dikatakan demikian. menghadapi tahun baru di esok paginya. dengan caranya sendiri-sendiri. berkaca pada diri atas apa yang dilakoninya selama setahun penuh.Ngethingi Ngethingi merupakan tradisi tasyakuran sebagai bentuk atau moment peringatan terhadap seorang bayi ketika berusia tertentu. yang masih menjunjung tradisi dengan filosofis tinggi. Tidak sedikit. seorang khalifah islam dijaman etelah nabi Muhammad wafat. warga yang melakukan ritual Mubeng Beteng. Yang paling mudah ditemui di seputaran Yogyakarta. tanggal 19 Januari 2007. menjadi aktivitas yang menurut banyak cerita masih mewarnai tradisi masyarakat Yogyakarta. Yang dapat dimaknai sebagai upacara untuk mawas diri. hingga memacetkan lalu-lintas di seputaran kraton dan jalan protokol. Awal dari afiliasi ini. Nyetauni 5. yaitu pada jaman pemerintahan kerajaan Demak. Ritualnya. banyak orang melakukan ritual menjelang 1 Sura tahun Jawa 1940 yang jatuh esok paginya.

Tukang obat tradisional. khususnya adat. memiliki daya tarik tersendiri di malam satu Suro. pengunjung dan masyarakat yang datang tidak hanya disuguhi keramaian pagelaran wayang dan keheningan suasana Cepuri yang mistis.dan Pagelaran Wayang Kulit. Kawasan pantai Parangtrisits. Ritual ini menjadi ritual tahunan Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat. di Yogyakarta. Meski begitu. Labuhan dilangsungkan pada pagi hari tanggal 15 Suro. perkiraan saya salah. Kretek. pijat tradisional dan -kalau saya tidak salah mengartikan. Labuhan. Apalagi malam satu Suro di kawasan pantai selatan dengan segala macam pernak-pernik mistisnya. Cepuri Parangkusumo kebudayaan 53 Jawa . Bantul Yogyakarta. Pantai Parangkusumo Dari sekian acara yang tentu saja berlangsung di tiap pelosok Yogyakarta. Hal ini yang saya dapat dari penuturan warga sekitar. kawasan Parangtritis. Begitu pula di Pantai Parangkusumo.“wanita pendamping” tampak bertebaran menjadi konsekuensi atas berjubelnya pengunjung. Dijubeli ratusan pengunjung yang berbaur dengan pedagang dan hiruk pikuknya lalu lalang kendaraan bermotor tidak mengurangi khidmatnya pagelaran wayang malam itu. menjadi ritual yang tidak asing di telinga masyarakat Jawa. Wayang Kulit Semalam Suntuk Tradisi dan warisan budaya Jawa ini tak pernah lepas dari tiap momen penting. Namun. menjadi dua kegiatan utama pada malam itu. Tumpah ruahnya pengunjung tiap tahunnya dimanfaatkan betul oleh pedagang kembang. dan berbagai jasa lainnya. khususnya Parangkusumo. Wayang dan Nyekar di Cepuri Parangkusumo. makanan. Hal ini yang menarik perhatian saya untuk berkunjung kesana di malam satu Suro. Parangkusumo memang biasa menjadi tempat berlangsungya prosesi ini.

tidak sedikit peziarah yang datang dan berdoa di tempat ini. Diantara rombongan peziarah yang silih berganti masuk ke area Cepuri. Namun. dan mungkin pengunjung lain. Batu Kyai Panembahan Senopati yang lebih besar terletak di sebelah selatan batu Kanjeng Ratu Kidul.Merupakan area tempat bersandingnya dua batu yang dikeramatkan. Awalnya. Kembang. mengira beliau adalah juru kunci. Tiap pengunjung yang masuk wajib menemui juru kunci dan menyalakan dupa. ditemani aroma dupa dan bunga yang menusuk hidung. Apalagi di malam satu Suro. yang keduanya dipagar mengeliling dengan satu pintu/gapura masuk. dupa dan sesaji menjadi obyek yang tidak lepas dari tempat keramat macam ini. saya. sebelum menabur bunga dan berdoa. ada seorang pemuda yang dengan khusyuk nya berdoa di sebelah batu Panembahan Senopati dengan pakaian Jawa lengkap. sang juru kunci sendiri duduk bersila tepat di depan gapura setelah pengunjung masuk. kebudayaan 54 Jawa .

kebudayaan 55 Jawa . Selebihnya warung dan pedagang kaki lima yang biasa mangkal di halaman Kraton pun tak lepas menjadi tempat warga menikmati sajian wayang kulit. di Puro Pakualaman ini. Begitu pula di kawasan Puro Pakualaman Yogyakarta. dan terlihat sangat menikmati sajian wayang kulit semalam suntuk. begitu informasi dari penduduk sekitar.Rombongan peziarah yang nampak berbeda dari sebagian lainnya adalah rombongan peziarah dari Kraton Solo. Bahkan. Mereka menggunakan pakaian Jawa lengkap dengan sesaji dibungkus kain putih dan hijau. Masih duduk di atas sadel tempatnya mengayuh kendaraan roda tiga ini. warga yang datang dengan kendaraan roda dua pun enggan beranjak dari atas sepeda motornya. Kraton “Kedua” di kawasan Yogyakarta ini pun dihadiri warga yang ingin menghabiskan malam satu Suro dengan tradisi tahunannya. duduk bersila disamping dua batu tersebut. Begitu pula dengan penarik becak. Puro Pakualaman Pagelaran wayang kulit semalam suntuk banyak diselenggarakan warga di pelosok kota. Berbeda dengan kawasan pesisir Parangkusumo. warga yang hadir hanya ditampung secara “resmi” dengan sebuah tenda. Bahkan kursi penumpangnya pun dijadikan tempat nyaman rekan penarik becak lainnya untuk duduk berselimut sarung dan menikmati malam panjang itu.

Tujuannya adalah untuk keselamatan calon bayi dan ibu atau untuk tolak bala jadi hampir sama seperti mitoni. Upacara adat ini kurang dikenal pada daerah-daerah tertentu. Mitoni atau Tingkeban Mitoni berasal dari kata ”pitu” ( 7 ). Yang membedakan dengan upacara adat ”meteng” lainnya yaitu ada sajian kupat yang ditaruh didalam tempat yang biasa disebut ”besek” yang dibawa pulang oleh orang yang hadir pada acara kenduren. Ngliman Ngliman adalah salah satu upacara adat ”wetwngan” yang diselenggarakan ketika calon ibu mengandung lima bulan. Ngupati ini mengandung maksud sebagai lambang bahwa ”jabang bayi” sudah masuk dalam tahap keempat dalam proses penciptaan manusia. Jabang bayi yang berumur tujuh bulan itu sudah mempunyai raga yang sempurna. Di daerah tertentu upacara ini juga disebut tingkeban. Kata ”ngliman” berasal dari kata lima ( 5 ).Ngupat Ngupat atau ngupati adalah salah satu upacara adat yang dilakukan saat calon ibu mengandung ( mbobot ) 4 bulan. Upacara adat ini diselenggarakan saat calon ibu mengandung 7 bulan. Kata ”ngupat ” berasal dari kata papat ( 4 ) atau kupat. Waktunya harus diselenggarakan pada hari yang baik menurut hitungan hari Jawa. Tujuan dari upacara adat ini adalah sama dengan ngupati yaitu upacara untuk keselamatan bayi dan calon ibu atau juga untuk tolak bala. berbeda dengan upacara adat ”mitoni” yang sudah umum dikenal oleh masyarakat Jawa dan juga dikenal oleh masyarakat nusantara. Jadi menurut orang Jawa ”wetengan” umur tujuh bulan itu proses penciptaan manusia itu sudah nyata dan sudah sempurna atau Sapta Kawasa Jati. Rangkaian acara dari ”mitoni” adalah sebagai berikut : kebudayaan 56 Jawa . Tujuannya adalah untuk keselamatan calon bayi dan calon ibu dan juga untuk tolak bala.

5) Memutus lawe atau lilitan benang ( janur ). 3) Kendhi lalu digendong.Rangkaian acara untuk upacara mitoni ini lebih banyak daripada upacara ngupati. Senthir itu dihidupkan sampai 35 hari ( selapan dina ). Ari-ari itu bagian penghubung antara ibu dan bayi waktu bayi masih didalam rahim. 6) Memecahkan wajan dan gayung. 1) Ari-ari dicuci sampai bersihdan dimasukkan kedalam kendhi atau batok kelapa. yaitu hari senin siang sampai malam. 2) Sebelum ari-ari dimasukkan alas kendhi diberi ”godhong senthe” lalu kendhi itu ditutup dengan lemper yang masih baru dan dibungkus kain mori. 3) Salin rasukan ( ganti baju ) 4) Brojolan ( memasukkan kelapa gading muda ). 7) Mencuri telur. ini menjadi simbol pepadadang untuk bayi. Yaitu tempat yang digunakan untuk memendham ari-ari diberi lampu ( umumnya lampu senthir ) untuk penerangan. Mendhem ari-ari Mendhem ari-ari adalah salah satu upacara kelahiran yang umum diselenggarakan dan juga di daerah – daerah ( suku-suku ) lain. Orang Jawa itu percaya bahwa bahwa ari-ari itu adalah salah satu dari ”sedulur papat” atau ”sedulur kembar” dari si bayi sehingga ari-ari harus dirawat dan dijaga. Waktu pelaksanaannya menurut orang Jawa mitoni itu harus diselenggarakan pada hari yang benar-benar bagus. Atau hari jumat siang sampai malam. dibawa ke lokasi penguburan. Istilah lain dari ariari adalah aruman atau embing-embing ( mbingmbing ). dipayungi. Tata caranya adalah sebagai berikut . 8) Kenduren. kebudayaan 57 Jawa . yaitu: 1) Siraman 2) Memasukkan telur ayam kampung didalam kain calon ibu oleh calon bapak.

upacara ini diselenggarakan secara lebih meriah. Tedhak Siten itu berasal dari kata tedhak atau idhak dan siten ( dari kata siti yang berari lemah atau tanah ). Yang memendam kendhi harus bapak dari bayi. Upacara ini di daerah yang lain di nusantara juga ada. Urutan kegiatannya : kebudayaan 58 Jawa adalah untuk keselamatan proses kelahiran juga untuk perlindungan terhadap bayi dan dengan harapan bayi yang lahir menjadi anak yang . Biasanya ada upacara slametan di upacara puputan ini. Tujuannya baik perilakunya. Acaranya yaitu kendhuren. Suguhan yang disajikan umumnya adalah air minum dan ”jajan pasar” tetapi juga ada “besek” yang nantinya dibawa pulang. Sepasaran Adalah salah satu upacara adat Jawa waktu bayi berumur 5 hari. Brokohan itu asal katanya dari bahasa Arab yaitu ”barokah” yang artinya mengharapkan berkah. bancakan dan memberi nama bayi. Kata sepasaran berasal dari kata sepasar. Umumnya diselenggarakan sore dengan acara kenduren dengan mengundang saudara dan tetangga.4) Lokasi penguburan kendhi harus berada di sebelah kanan pintu utama rumah. Puputan atau Dhautan Puputan itu sebenarnya mempunyai makna ”tali puser bayi puput”. Tedhak siti atau Tedhak Siten Tedhak siti adalah salah satu upacara adat untuk anak yang berumur 7 bulan. Brokohan Brokohan adalah salah satu upacara adat Jawa untuk menyambut kelahiran bayi. biasanya disebut ”injak tanah” di Jakarta atau juga disebut ”mudhun lemah”. Upacara adat ini mempunyai makna sebagai ungkapan syukur dan sukacita karena kelahiran itu selamat. Upacara ini sebagai lambang bahwa anak bersiap-siap menjalani hidup dengan dituntun orangtua dan diselanggarakan jika anak sudak berumur 7 selapan atau 245 hari ( 7 x 35 = 245 ). Rangkaian acaranya diawali dari mendhem ari-ari yang dilanjutkan dengna bagi-bagi sesajen brokohan untuk saudara dan tetangga. Acara ini bagus diselenggarakan setelah maghrib. Jadi upacara ini diselenggarakan waktu bubar pupute dari pusar bayi. Upacara adat ini umumnya diselenggarakan secara sederhanatetapi jika bersamaan dengan pemberian anma bayi.

1) Tedhak sega pitung warna 2) Mudhun tangga tebu 3) Ceker-ceker 4) Kurungan 5) Sebar udik-udik 6) Siraman Sedekah Bumi Bersih desa adalah salah satu upacara adat Jawa yang diselenggarakan setelah selesainya panen padi, jadi maksudnya sebagai ungkapan syukur “tandhuran” padi berhasil panen dan hasilnya baik. Upacara adat ini kadang juga disebut upacara mreti desa dan biasanya digabung dengn upacara adat sedekah bumi atau mreti bumi. Setiap daerah mempunyai atat cara dan prosesi upacara yang berlainan menurut kebiasaan masing-masing tetapi tujuannya sama saja. Pada jaman dahulu upacara adat ini dikaitkan dengan Dewi sri yang dianggap sebagai dewi Padi karena keberhasilan panen itu hasil kemurahan dari Dewi sri yang wajib disyukuri. Tujuan dari mengadakan upacara ini adalah: 1) Untuk mengucapakan syukur kepada tuhanyang sudah memberi hasil panen padi yang melimpah. 2) Untuk menjaga keselamatan para warga desa dari gangguan hal-hal yang gaib, roh atau arwah yang gentayangan dan juga dari gangguan penyakit, serta bencana. 3) Untuk membersihkan desa dan warganya dari halangna atau kesusahan supaya keadaan desa menjadi tentram dan aman. Prosesi Umumnya dimulai setelah panen pertama. Lokasi upacara pertama di sawah yang sudah dilengkapi dengan ”ubo rampe’ yaitu janur kuning, kembang setaman, kemenyan, kaca, suri, banyu kendhi, jajan pasar, bungkusan nasi dan pisang. Setelah acara berdoa, padi yang sudah dipetik digotong ke lumbung padi. Di lumbung padi juga disiapkan perangkat upacara lanjutan yang umumnya dibuat dari daun. Diantaranya daunkluwih, dhadhap serep, godhong mojo, godhong tebu, godhong jati juga godhong luh. Masing-masing godhong ( daun ) itu mempunyai makna.

kebudayaan 59

Jawa

Munggah wuwungan Adalah salah satu upacara adat yang diselenggarakan setelah wuwungan dibangun dalam proses membangun rumah. Istilah munggah wuwungan ini biasanya disebut juga munggah gendheng. Upacara ini diselenggarakan saat rangka wuwungan sudah jadi tetapi gendeng belum dipasang. Upacara adat ini uga dikenal di daerah-daerah lain di Nusantara. Upacara ini sebenarnya upacara untuk syukuran karena rumah yang dibangun sudah mempunyai wuwungan jadi sebentar lagi sudsh bisa dipake sehingga tidak akan kepanasan atau kehujanan. Puncak acaranya adalah kendhuren, diutamakan untuk tuakang-tukang yang membangun rumah dan para tetangga yang berada dekat dengan rumah yang dibangun. Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh ulama. Biasanya acara kendhuren munggah wuwungan ini diselenggarakan siang atau setelah shalat dhuhur, jadi sekalian dengan makan siang para tukang dan jamaah serta ulama yang baru keluar dari masjid atau langgar bisa langsung ikut dan pulangnya bisa membawa besek. Sesajen juga perlu disiapkan untuk digantung disalah satu kayu di wuwungan. Yang tidak digantung hanya bendhera merah putih yang dipasang dengan galah dengna panjang sedang 9 tidak terlalu panjang ), yang bisa kelihatan dari rumah tetangganya. Sesajen yang harus disiapkan : 1) Gedhang setandan 2) Tebu ireng sewit 3) Pari secukupe 4) Kelapa seiji uga bendhera

Grebeg Maulud
Perayaan Grebeg

Puncak peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. diperingati dengan penyelenggaraan upacara Grebeg Maulud yang diselenggarakan pada tanggal 12 kebudayaan 60 Jawa

Maulud, atau pagi hari esoknya, setelah kedua perangkat gamelan Kyai Nogowilogo dan Kyai Guntur madu dibawa masuk kembali ke dalam Kraton oleh masyarakat Yogyakarta, kejadian ini lazim disebut dengan istilah Bendhol Songsong. Pada pagi hari, pukul 08.00, upacara dimulai dengan parade kesatuan prajurit Kraton yang mengenakan pakaian kebesarannya masing-masing. Puncak dari upacara ini adalah iringan gunungan yang dibawa ke Masjid Agung . Setelah di Masjid diselenggarakan doa dan upacara persembahan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, sebagian gunungan dibagi-bagikan pada masyarakat umum dengan jalan diperebutkan. Bagian-bagian dari gunungan ini umumnya dianggap akan memperkuat tekad dan memiliki daya tuah terutama bagi kaum petani, mereka menanamnya dilahan persawahan mereka, untuk memperkuat doanya agar lahannya menjadi subur dan terhindar dari berbagai hama perusak tanaman. Selain upacara Grebeg Maulud, didalam satu kurun tahun Jawa terdapat upacara-upacara Grebeg yang lain, yakni Grebeg Syawal yang diselenggarakan pada tanggal 1 bulan Syawal sebagai ungkapan terima kasih masyarakat kepada Tuhan dengan telah berhasil diselesaikannya ibadah puasa selama satu bulan penuh dibulan Suci Ramadhan, dan Grebeg Besar yang diselenggarakan pada tanggal 10 bulan Besar, berkaitan dengan peringatan hari Raya Qurban Idhul Adha.

Upacara Jamasan

Bagi orang Jawa, benda-benda pun dianggap memiliki jiwa. Oleh karena itu, benda-benda itu harus diperlakukan istimewa yang nyaris sama seperti manusia itu sendiri. Mungkin saja ini masih dianggap sebagai animisme, tapi tentu saja orang Jawa akan menyangkalnya. Yang jelas, untuk benda-benda milik Keraton Yogyakarta seperti kereta, gamelan, maupun pusaka, semuanya memiliki nama seperti manusia. Ada Kiai Sangkelat, Kiai Nagasasra (keris), Kiai Guntur Madu (gamelan), ada pula Kanjeng Nyai Jimat dan Kyai Puspakamanik (kereta). Di Keraton Yogyakarta, benda-benda itu selalu dicuci yang diistilahkan dengan nama kebudayaan 61 Jawa

Kemudian ada Kyai Puspakamanik. Jamasan biasanya seorang pejabat keraton yang khusus menangani masalah perawatan kereta. Sebenarnya. semuanya Kliwon. Mereka. Kereta itu tersimpan di dalam Museum Kereta Keraton Yogyakarta. Setiap Kanjeng Nyai Jimat dijamasi. beroda empat. bergaya kereta kerajaan-kerajaan Eropa. jamasan pusaka itu tidak boleh dilihat oleh umum. dan penutup kepala blangkon. karena mereka percaya bahwa air ini mengandung hal gaib/sakti karena pemiliknya merupakan orang yang sakti. Misteri jamasan pusaka itu sendiri akhirnya memang tinggal misteri yang dipelihara turuntemurun. dua buah yang besar di belakang. dan dua buah di depan agak kecil.dijamasi pada bulan Sura (Muharam) dan selalu pada hari istimewa Jumat Kliwon atau mengenakan pakaian adat Jawa Selasa peranakan. Semisteri pusaka yang dipercayai memiliki kekuatan supra natural itu sendiri. diberi nama Kanjeng Nyai Jimat. sebuah kereta hadiah dari Kerajaan Belanda yang dibuat pada tahun 1901. di samping jamasan kereta. Berbentuk anggun. surjan. di dalam keraton juga ada jamasan pusaka. Proses pencucian kereta ini memiliki nilai wisata ritual magis religius. Sehingga banyak orang rela berebut bekas air cucian kereta dengan cara menampung aliran air dari badan kereta dan memasukkan air bekas cucian itu ke dalam botol bekas air kemasan maupun jerigen. Kereta itu menjadi tumpangan para pangeran pada pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VIII. Cara jamasan itu sendiri juga khas. Akan tetapi. Kereta ini dibuat pada tahun 1750-an. Semua yang terlibat dalam ritual itu harus mengenakan kain panjang. hal ini dikarenakan masyarakat Jawa percaya bahwa air ini akan membawa berkah bagi mereka. semasa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I. Di sana ada sekitar selusin kereta yang sebagian besar masih bisa digunakan. diperkirakan ditarik oleh enam sampai delapan kuda. kebudayaan 62 Jawa . Mereka berbusana seperti itu karena mereka akan menjamasi sebuah kereta. laki-laki. dan dia selalu ditemani oleh salah sebuah kereta lain yang dipilih secara bergantian setiap tahunnya. Kereta itulah yang setiap bulan Sura selalu dijamasi karena dianggap sebagai kereta cikal-bakal kereta lainnya. Kereta yang penuh ukiran itu sendiri memiliki pintu dan atap sehingga mirip mobil. Sebuah simbol kewibawaan seorang raja. Kereta itu menjadi tunggangan Sultan Hamengku Buwono I sampai III.

Hindu sampai masuknya agama Islam dan kemudian berkembang. Singosari. PRODUK BUDAYA H. Tokoh-tokoh tersebut umumnya masih keluarga Sri Susuhunan atau kerabat kraton yang berkedudukan. Bahkan tari tidak dapat dilepaskan dengan kepentingan upacara adat sebagai sarana persembahan. Dari kedua tempat inilah kemudian meluas ke daerah Surakarta seluruhnya dan akhirnya meluas lagi hingga meliputi daerah Jawa Tengah. terus sampai jauh di luar Jawa Tengah. bunga dan lain-lain ke laut selatan . kata “beksa” berarti “ambeg” dan “esa”. alat-alat rias. sebagai bentuk permohonan untuk mendapatkan kesejahteraan dan keselamatan kepada Ratu Kidul Penguasa laut Selatan . yaitu menyatu jiwanya dengan pengungkapan wujud gerak yang luluh. Seni tari yang merupakan bagian budaya bangsa sebenarnya sudah ada sejak jaman primitif. Sehingga bisa dikatakan bahwa kedua upacara ini yaitu tradisi malam 1 Suro dan Upacara Labuhan merupakan 2 hal yang saling berkaitan di dalam tradisi Kraton Yogyakarta. H. Majapahit khususnya pada pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Surakarta merupakan pusat seni tari. Seni tari yang berpusat di Kraton Surakarta itu sudah ada sejak berdirinya Kraton Surakarta dan telah mempunyai ahli-ahli yang dapat dipertanggungJawabkan.1 Seni Tari Tari sering disebut juga ”beksa”. kata tersebut mempunyai maksud dan pengertian bahwa orang yang akan menari haruslah benar-benar menuju satu tujuan. potongan rambut serta potongan kuku beliau ditanam di dalam areal tanah sengker (suatu areal tanah yang dianggap keramat di daerah Parangkusumo). sirih. Berbagai pakaian bekas yang pernah dipergunakan oleh Sri Sultan. Sumber utamanya terdapat di Keraton Surakarta dan di Pura Mangkunegaran.Upacara Labuhan Selain itu terdapat pula Upacara Labuhan yang merupakan rangkaian dari Tradisi 1 Sura. kebudayaan 63 Jawa . Dimana pagi hari sesudah malam 1 Sura maka diadakan Upacara labuhan yaitu dengan mempersembahkan pakaian wanita . indah mengandung kesusilaan dan selaras dengan gending sebagai iringannya. Tari mengalami kejayaan yang berangkat dari kerajaan Kediri. Seni tari adalah ungkapan yang disalurkan / diekspresikan melalui gerakgerak organ tubuh yang ritmis.

Yang khusus di Mangkunegaran disebut Tari Langendriyan. Wayang-Purwa Mahabarata-Ramayana. 3. Kuda Kepang. seperti : Dadung Ngawuk. Gambyong. Jelantur. penguasa laut selatan yang juga disebut Kanjeng Ratu Kidul. Sebelum tari ini diciptakan. Beberapa contoh tarian gaya surakarta. 2. yang termasuk seni tari bermutu tinggi. dan lain-lain. lengger. di daerah Jawa Tengah terdapat pula bermacammacam tari daerah setempat. Bedhaya. barongan. Tari semacam itu termasuk jenis kesenian tradisional. Prawirayudha.Seni tari yang berpusat di Kraton Surakarta itu kemudian terkenal dengan Tari Gaya Surakarta. diantaranya : Srimpi. sintren. TARI KLASIK dari JAWA TENGAH • Tari Bedhaya Menurut kitab Wedbapradangga yang dianggap pencipta tarian Bedhoyo Ketawang adalah Sultan Agung (1613-1645) raja ke-1 dan terbesar dari kerajaan Mataram bersama Kanjeng Ratu Kencanasari. Ebeg. yaitu : 1. Dalam perkembangannya timbullah tari kreasi baru yang mendapat tempat dalam dunia tari gaya Surakarta. Dolalak. Incling. Tarian Bedhoyo Ketawang tidak hanya dipertunjukan pada saat penobatan raja yang baru tetapi juga pertunjukan setiap kebudayaan 64 Jawa . Ketek Ogleng. terlebih dahulu Sultan Agung memerintahkan para pakar gamelan untuk menciptakan sebuah gendhing yang bernama Ketawang. Wireng. Jadi lebih bebas. lebih perseorangan. Tayuban. Tari Klasik Tari Tradisional Tari garapan Baru Beberapa jenis tari yang ada antara lain : 1. Pedoman tari tradisional itu sebagian besar mengutamakan gerak yang ritmis dan tempo yang tetap sehingga ketentuan-ketentuan geraknya tidaklah begitu ditentukan sekali. Selain tari yang bertaraf kraton (Hofdans). Seni tari dapat dibedakan menjadi 3 jenis. Konon penciptaan gendhingpun menjadi sempurna setelah Sunan Kalijaga ikut menyusunnya. yang mengambil cerita Damarwulan.

dua buah rebab bemama Kanjeng Kyai Grantang dan Kanjeng Kyai Lipur serta sehuah Gong ageng bernama Kanjeng Nyai Kemitir. Istrumen-istrumen tersebut selain dianggap khusus juga ada yang mempunyai nama keramat. Pertunjukan Bedhoyo Ketawang pada masa Sri Susuhunan Paku Buwana XII diselenggarakan pada hari kedua bulan Ruwah atau Sya'ban dalam Kalender Jawa.tahun sekali bertepatan dengan hari penobatan raja atau "Tingalan Dalem Jumenengan". Instrumen gamelan yang dimainkan hanya beberapa yakni Kemanak. Kendhang Ketipung dan Gong Ageng. Dua buah Kendang Ageng bemama Kanjeng kyai Denok dan Kanjeng Kyai Iskandar. Kendhang Ageng. kebudayaan 65 Jawa . Gamelan yang mengiringinya pun sangat khusus yaitu gamelan "Kyai Kaduk Manis" dan "Kyai Manis Renggo". Kethuk. Busana Tari Bedhoyo Ketawang menggunakan Dodot Ageng dengan motif Banguntulak alas-alasan yang menjadikan penarinya terasa anggun. Kenong.

Budaya Islam ikut mempengaruhi bentuk-bentuk tari yang berangkat pada jaman Majapahit. dengan nama peranan sebagai berikut: o o o o o o o o o o o o o o o o o o Endel pojok Batak Gulu Dhada Buncit Endhel Apit Ngajeng Endhel Apit Wuri Endhel Weton Ngajeng Endhel Weton Wuri Bedhaya Ketawang lama tarian 130 menit Bedhaya Pangkur lama tarian 60 meit Bedhaya Duradasih lama tarian 60 menit Bedhaya Mangunkarya lama tarian 60 menit Bedhaya Sinom lama tarian 60 menit Bedhaya Endhol-endhol lama tarian 60 menit Bedhaya Gandrungmanis lama tarian 60 menit Bedhaya Kabor lama tarian 60 menit Bedhaya Tejanata lama tarian 60 menit Beberapa jenis tari Bedhaya yang belum mengalami perubahan : Pada umumnya berbagai jenis Bedhaya tersebut berfungsi menjamu tamu raja dan menghormat serta menyambut Nyi Roro Kidul. khususnya Bedhaya Ketawang yang jarang disajikan di luar Kraton. Seperti tari Bedhaya 7 penari berubah menjadi 9 penari disesuaikan dengan jumlah Wali Sanga. maka disusunlah Bedhaya dengan penari berjumlah 9 orang. termasuk jenis Bedhaya Suci dan Sakral. Tumenggung Alap-alap dan Ki Panjang Mas. Hal ini kemudian dibawa ke Kraton Kasunanan Surakarta. Oleh Sunan Pakubuwono I dinamakan Bedhaya Ketawang. Ide Sunan Kalijaga tentang Bedhaya dengan 9 penari ini akhirnya sampai pada Mataram Islam. juga sering disajikan pada upacara kebudayaan 66 Jawa . tepatnya sejak perjanjian Giyanti pada tahun 1755 oleh Pangeran Purbaya.

dengan tidak mengurangi isi dan bobotnya. tari Srimpipun ada yang suci atau sakral yaitu Srimpi Anglir Mendhung. angin dan bumi/tanah. Tarian yang ditarikan 4 putri itu masing-masing mendapat sebutan : air. Disamping itu ada juga Bedhaya-bedhaya yang bertema kepahlawanan dan bersifat monumental. Sedang nama peranannya Batak. Gulu. Melihat lamanya penyajian tari Bedhaya (juga Srimpi) maka untuk konsumsi masa kini perlu adanya inovasi secara matang. Seperti Bedhaya. Contoh Srimpi hasil garapan baru : o o o Srimpi Anglirmendhung menjadi 11 menit Srimpi Gondokusumo menjadi 15 menit Dan lain-lain Beberapa tari klasik yang tumbuh dari Bedhaya dan Srimpi : o Beksan Gambyong kebudayaan 67 Jawa . api. Komposisinya segi empat yang melambangkan tiang Pendopo. Contoh Bedhaya garapan baru : o o o • Bedhaya La la lama tarian 15 menit Bedhaya To lu lama tarian 12 menit Bedhaya Alok lama tarian 15 menit Tari Srimpi Tari Srimpi yang ada sejak Prabu Amiluhur ketika masuk ke Kraton mendapat perhatian pula. Dhada dan Buncit.keperluan jahat di lingkungan Istana. yang selain melambangkan terjadinya manusia juga melambangkan empat penjuru mata angin. Juga karena lamanya penyajian (60 menit) maka untuk konsumsi masa kini diadakan inovasi.

Adapun ciri-ciri tari ini :     Jumlah penari seorang putri atau lebih Memakai jarit wiron Tanpa baju melainkan memakai kemben atau bangkin Tanpa jamang melainkan memakai sanggul atau gelung  o Dalam menari boleh menggunakan sindenan ( menyanyi ) atau tidak Beksan Wireng Berasal dari kata Wira (perwira) dan 'Aeng' yaitu prajurit yang unggul. Sehingga tari ini menggambarkan ketangkasan dalam latihan perang dengan menggunakan alat perang. yang 'aeng'. Menarinya sangat indah ditambah kecantikan dan modal suaranya yang baik. Selain sebagai hiburan. akhirnya Nyi Mas itu dipanggil oleh Bangsawan Kasunanan Surakarta untuk menari di Istana sambil memberi pelajaran kepada para putra/I Raja. Oleh istana tari itu diubah menjadi Tari gambyong. hanya iramanya atau temponya kendho atau kenceng  Gending satu atau dua. tari ini sering juga ditarikan untuk menyambut tamu dalam upacara peringatan hari besar dan perkawinan. artinya gendhing ladrang kemudian diteruskan gendhing ketawang  kebudayaan 68 Tidak ada yang kalah. menag atau mati Jawa . yang 'linuwih'. artinya tidak menggunakan gending sampak/srepeg. Ciri-ciri tarian ini :      Ditarikan oleh dua orang putra atau putri Bentuk tariannya sama Tidak mengambil suatu cerita Tidak mengambil ontowacono (dialog) Bentuk pakaiannya sama  Perangnya tanding. Tari ini diciptakan pada jaman pemerintahan Prabu Amiluhur dengan tujuan agar para putra beliau tangkas dalam olah keprajuritan dengan menggunakan alat senjata perang.Berasal dari tari Glondrong yang ditarikan oleh Nyi Mas Ajeng Gambyong.

menang atau mati Perang menggunakan gendhing srepeg. agar lebih cantik dan menarik. kecuali pada lakon kembar Ada yang kalah.• Tari Pethilan Hampir sama dengan tari Wireng. boleh tidak Menggunakan ontowacono ( dialog ) Pakaian tidak sama. Pertama dipentaskan di Surakarta pada upacara perkawinan KGPH. gangsaran  Memetik dari suatu cerita lakon Bambangan Cakil Hanila Prahasta Dan lain-lain Contoh Tari Pethilan :     • Tari Golek Tari ini berasal dari Yogyakarta. Kusumoyudho dengan Gusti Ratu Angger tahun 1910. Tari ini menggambarkan cara-cara berhias diri seorang gadis yang baru menginjak masa akhil baliq. Selanjutnya mengalami persesuaian dengan gaya Surakarta. Ciri-cirinya :      Tari boleh sama. sampak. Bedanya Tari Pethilan mengambil adegan atau bagian dari cerita pewayangan. kebudayaan 69 Jawa .

sekarang jarang kebudayaan 70 Jawa . memanggul payung Membawa kendhi (dahulu). serta perlengakapan tarinya sering tanpa menggunakan kendhi seperti pada Bondan Cindogo. Tapi Bondan Cindogo satu-satunya anak yang ditimang-timang akhirnya meninggal dunia. Ciri pakaiannya : o o o o o Memakai kain wiron Memakai jamang Memakai baju kotang Menggendong boneka. dan lain-lain • o o o Tari Bondan Tari ini dibagi menjadi : Bondan Cindogo Bondan Mardisiwi Bondan Pegunungan atau tani Tari Bondan Cindogo dan Mardisiwi merupakan tari gembira.Macam-macamnya :   Golek Clunthang iringan Gendhing Clunthang Golek Montro iringan Gendhing Montro  Golek Surungdayung iringan gendhing Ladrang Surungdayung. Sedang pada Bondan Mardisiwi tidak. mengungkapkan rasa kasih sayang kepada putranya yang baru lahir.

Dulu hanya diiringi lagu-lagu dolanan tapi sekarang diiringi gendhing-gendhing lengkap. Beliau menciptakan 9 jenis topeng. Selanjutnya menari seperti gerak tari Bondan Cindogo / Mardisiwi. Sedangkan Bondan Pegunungan. Tari ini semakin pesat pertumbuhannya sejak Islam masuk terutama oleh Suann Kalijaga yang menggunakannnya sebagai penyebaran agama. dll sebelum dipakai dimasukkan tenggok. melukiskan tingkah laku putri asal pegunungan yang sedang asyik menggarap ladang. Tapi sekarang ini menurut kemampuan guru/pelatih tarinya. memakai caping adan membawa alat pertanian hanya tidak memakai jamang tetapi memakai sanggul/gelungan. o Bentuk tariannya . sawah.Untuk gendhing iringannya Ayak-ayakan diteruskan Ladrang Ginonjing. topengnya dibuat dari kayu dipoles dan disungging sesuai dengan perwatakan tokoh/perannya yang diambil dari Wayang Gedhog. yaitu : o o o o o o o o kebudayaan 71 Topeng Panji Ksatrian Condrokirono Gunung sari Handoko Raton Klono Denowo Benco(Tembem) Jawa . tegal pertanian. sumping. Kecuali jika memakai jamang maka klat bahu. sampur. pertama melukiskan kehidupan petani kemudian pakaian bagian luar yang menggambarkan gadis pegunungan dilepas satu demi satu dengan membelakangi penonton. menggendong tenggok. • Tari Topeng Tari ini sebenarnya berasal dari Wayang Wong atau drama. Menak Panji. Tari Topeng yang pernah mengalami kejayaan pada jaman Majapahit. Ciri pakaiannya : o o Mengenakan pakaian seperti gadis desa. Di bagian dalam sudah mengenakan pakaian seperti Bondan biasa.

di Purworejo Pertunjukan ini dilakukan oleh beberapa orang penari yang berpakaian menyerupai pakaian prajurit Belanda atau Perancis tempo dulu dan diiringi dengan alat-alat bunyi-bunyian terdiri dari kentrung. dllnya. kencer. 2. TARI TRADISIONAL dari JAWA TENGAH Selain tari-tari klasik.o kepala. rebana. malu dan sebagainya. Tari Topeng masih bertahan hingga saat ini. sedih. Kesenian tradisional tersebut tak kalah menariknya karena mempunyai keunikan-keunikan tersendiri. tertawa. Menurut cerita. Salah satu keunikannya adalah pada model alat musik yang dipakai seperti rebab (sitar Jawa) seruling Madura (yang mirip dengan terompet Ponorogo) dan karawitan model Blambangan. kebudayaan 72 Jawa . Dengan demikian walaupun masih bertahan namun Tari Topeng sudah mendekati kepunahan walaupun masih tetap mengikuti acara-acara penting kesenian tradisional tingkat nasional. karenanya banyak model topeng yang menggambarkan situasi yang berbeda. Tari Topeng sendiri diperkirakan muncul pada masa awal abad 20 dan berkembang luas semasa perang kemerdekaan. Turas (Penthul) Pakaiannya dahulu memakai ikat kepala dengan topeng yang diikat pada Tari Topeng yang berasal dari Malang sangat khas karena merupakan hasil perpaduan antara budaya Jawa Tengahan. kesenian ini timbul sejak berkobarnya perang Aceh di jaman Belanda yang kemudian meluas ke daerah lain. Tari Topeng adalah perlambang bagi sifat manusia. kendang. Madura dan Bali. Bisanya tari ini ditampilkan dalam sebuah fragmentasi hikayat atau cerita rakyat setempat tentang berbagai hal terutama bercerita tentang kisah2 panji. Jawa Kulonan dan Jawa Timuran (Blambangan dan Osing) sehingga akar gerakan tari ini mengandung unsur kekayaan dinamis dan musik dari etnik Jawa. Biasanya digelar pada acaraacara-acara penting kesenian tradisional tingkat nasional. di Jawa Tengah terdapat pula tari-tari tradisional yang tumbuh dan berkembang di daerah-daerah tertentu. Beberapa contoh kesenian tradisional : o Tari dolalak. menangis.

Pemain Obeg ini terdiri dari beberapa orang wanita atau pria dengan menunggang kuda yang terbuat dari anyaman bambu (kepang).o Patolan (Prisenan). Atraksi ini dapat disaksikan pada waktu malam bulan purnama setelah panen. Seni gulat rakyat ini terutama berkembang di kalangan pelajar terutama di pantai diantara kecamatan Pandagan. Bulu sampai ke Tuban. Tarian ini menggunakan “ebeg” yaitu anyaman bambu yang dibentuk menyerupai kuda berwarna hitam atau putih dan diberi kerincingan. Pertunjukan ini diadakan sebagai olah raga dan sekaligus hiburan di waktu senggang pada sore dan malam hari terutama di kala terang bulan purnama. Lokasinya berada di tempat-tempat yang berpasir di tepi pantai. Jawa Timur. Penarinya mengenakan celana panjang dilapisi kain batik sebatas lutut dan berkacamata kebudayaan 73 Jawa . kemudian selang beberapa lama ia telah selesai berdandan dan siap untuk menari. o Pekalongan Di daerah Pekalongan terdapat kesenian Kuntulan dan Sintren. Sedangkan Sintren adalah sebuah tari khas yang magis animistis yang terdapat selain di Pekalongan juga di Batang dan Tegal. di Rembang Sejenis olahraga gulat rakyat yang dimainkan oleh dua orang pegulat dipimpin oleh dua orang Gelandang (wasit) dari masing-masing pihak. ada juga yang menamakannya jathilan (Yogyakarta) juga reog (Jawa Timur). sebelum tarian dimulai gadis menari tersebut dengan tangan terikat dimasukkan ke dalam tempat tertutup bersama peralatan bersolek. o Blora Daerah ini terkenal dengan atraksi kesenian Kuda Kepang. Varian lain dari jenis kesenian ini di daerah lain dikenal dengan nama kuda lumping atau jaran kepang. Kragan. Kuntulan adalah kesenian bela diri yang dilukiskan dalam tarian dengan iringan bunyi-bunyian seperti bedug. Kesenian ini menampilkan seorang gadis yang menari dalam keadaan tidak sadarkan diri. o Obeg dan Begalan Kesenian ini berkembang di Cilacap. barongan dan Wayang Krucil (sejenis wayang kulit ternuat dari kayu). terbang. Pertunjukan ini dipimpin oleh seorang pawang atau dukun yang dapat membuat pemain dalam keadaan tidak sadar. dllnya. serta diiringi dengan bunyi-bunyian tertentu.

7 orang lagi sebagai penabuh gamelan. demikian pula pemain yang manaiki kuda kepang menggambarkan kegagahan prajurit berkuda dengan segala atraksinya.hitam. dua orang berperan sebagai penthul-tembem. dan munculah pria tersebut dengan mengenakan pakaian wanita lengkap. kurunganpun dibuka. lung gadung dan lain-lain. Laisan adalah jenis kesenian yang melekat pada kesenian ebeg. kebudayaan 74 Jawa . Yang bersifat khas banyumas antara lain : Calung. Pada kedua pergelangan tangan dan kaki dipasangi gelang-gelang kerincingan sehingga gerakan tangan dan kaki penari ebeg selalu dibarengi dengan bunyi kerincingan. di dalam kurungan itulah Laisan berdandan seperti wanita. Purbalingga maupun di daerah di luar Kabupaten Banyumas. biasanya kurungan ayam. Laisan juga dikenal di wilayah lain (wetan) dan mereka biasa menyebutnya Sintren. Semua penari menggunakan alat bantu ebeg sedangkan penthul-tembem memakai topeng. Kesenian ini hidup di daerah Bangumas pada umumnya juga terdapat di Cilacap. jadi satu grup ebeg bisa beranggotakan 16 orang atau lebih. seorang berperan sebagai pemimpin atau dalang. mengenakan mahkota dan sumping ditelinganya. Peralatan yang dipergunakan anatara lain kendang. salah seorang pemain biasanya melakukan thole-thole yaitu menari berkeliling arena sambil membawa tampah untuk mendapatkan sumbangan. pertunjukannya memerlukan tempat pagelaran yang cukup luas seperti lapangan atau pelataran/halaman rumah yang cukup luas. Laisan muncul di tengah pertunjukan ebeg. penthul dan cepet. Begalan adalah salah satu acara dalam rangkaian upacara perkawinan adat Banyumas. blendrong. saron. Pada pertunjukan ebeg komersial. gong dan terompet. Untuk mengiringi tarian ini selalu digunakan lagu-lagu irama Banyumasan seperti ricik-ricik. Waktu pertunjukan umumnya siang hari dengan durasi antara 1 – 4 jam. Jumlah penari ebeg 8 oarang atau lebih. badannya ditindih dengan lesung terus dimasukkan ke dalam kurungan. Biasanya dalam pertunjukan ebeg dilengkapi dengan atraksi barongan. ebeg diiringi oleh gamelan yang lazim disebut bendhe. dan yang unik adalah para pemainnya biasa memakan pecahan kaca (beling) atau barang tajam lainnya sehingga menunjukkan keperkasaan sebagai Satria. gudril. Laisan dilakukan oleh seorang pemain pria yang sedang mendem. kenong. Dalam pertunjukannya. Tarian ebeg termasuk jenis tari massal. Setelah terlebih dulu dimantra-mantara.

sorokan. Begalan adalah jenis kesenian yang biasanya dipentaskan dalam rangkaian upacara perkawinan yaitu saat calon pengantin pria beserta rombongannya memasuki pelataran rumah pengantin wanita. Begalan merupakan kombinasi antara seni tari dan seni tutur atau seni lawak dengan iringan gending. Centhing. saringan ampas. tampah. tarian lengger-calung terdiri dari lengger . Upacara ini diadakan apabila mempelai laki-laki merupakan putra sulung. umumnya mereka mengenakan busana Jawa. cething. barang-barang yang dipikul diperebutkan para penonton. contohnya ilir yaitu kipas anyaman bambu diartikan sebagai peringatan bagi suami-isteri untuk membedakan baik buruk. Sesuai namanya. seorang bertindak sebagai pembawa barangbarang (peralatan dapur). ian. Sayangnya pertunjukan begalan ini tidak boleh dipentaskan terlalu lama karena masih termasuk dalam rangkaian panjang upacara pengantin. Jumlah penari 2 orang. tempat nasi artinya bahwa hidup itu memerlukan wadah yang memiliki tatanan tertentu jadi tidak boleh berbuat semau-maunya sendiri. Biasanya usai pertunjukan. Selain menikmati kebolehan atraksi tari begalan dan irama gending. ini melambangkan bahwa setelah berumah tangga cara berpikirnya harus masak/matang. centhong. Kostum pemain cukup sederhana. Disebut begalan karena atraksi ini mirip perampokan yang dalam bahasa Jawa disebut begal. o Lengger-Calung dari banyumas Kesenian kebudayaan 75 tradisional lengger-calung tumbuh dan berkembang Jawa diwilayah ini. kukusan. Barang-barang yang dibawa antara lain ilir. Pembegal biasanya membawa pedang kayu. Yang menarik adalah dialog-dialog antara yang dibegal dengan sipembegal biasanya berisi kritikan dan petuah bagi calon pengantin dan disampaikan dengan gaya yang jenaka penuh humor. Barang bawaan ini biasa disebut brenong kepang. Sebagai layaknya tari klasik. irus. kendhil dan wangkring. gerak tarinya tak begitu terikat pada patokan tertentu yang penting gerak tarinya selaras dengan irama gending. Dialog yang disampaikan kedua pemain berupa bahasa lambang yang diterjemahkan dari nama-nama jenis barang yang dibawa. seorang lagi bertindak sebagai pembegal/perampok. penonton juga disuguhi dialog-dialog menarik yang penuh humor.begalan dan Dalang Jemblung. Kukusan adalah alat memasak atau menanak nasi. siwur.

Peralatan gamelan calung terdiri dari gambang barung. Juga dapat untuk mengiringi tarian yang diperagakan oleh beberapa penari wanita. Sedangkan untuk Begalan biasanya wanita. rambut kepala disanggul. Diantara gerakan khas tarian lengger antara lain gerakan geyol. badut biasanya hadir pada pertengahan pertunjukan. lagu-lagu yang dibawakan merupakan gending Jawa khas Banyumas. gedheg dan lempar sampur. mengenakan kain/jarit dan stagen. sampur atau selendang biasanya dikalungkan dibahu. leher sampai dada bagian atas biasanya terbuka.(penari) dan calung (gamelan bambu). Dalam penyajiannya calung diiringi vokalis yang lebih dikenal sebagai sinden. dhendhem. gambang penerus. kenong dan gong yang semuanya terbuat dari bambu wulung (hitam). sedangkan kendang atau gendang sama seperti gendang biasa. Calung adalah suatu bentuk kesenian rakyat dengan menggunakan bunyibunyian semacam gambang yang terbuat dari bambu. Tari Lengger Dulu penari lengger adalah pria yang berdandan seperti wanita. Yang mengadakan ini adalah dari pihak mempelai kebudayaan 76 Jawa . Jumlah penari lengger antara 2 sampai 4 orang. gerakan tariannya sangat dinamis dan lincah mengikuti irama calung. mereka harus berdandan sedemikian rupa sehingga kelihatan sangat menarik. kini penarinya umumnya wanita cantik sedangkan penari prianya hanyalah sebagai badut pelengkap yang berfungsi untuk memeriahkan suasana. Lengger menari mengikuti irama khas Banyumasan yang lincah dan dinamis dengan didominasi oleh gerakan pinggul sehingga terlihat sangat menggemaskan. o Kuda Lumping (Jaran kepang) dari Temanggung diselenggarakan oleh keluarga yang baru pertama kalinya mengawinkan anaknya. Satu grup calung minimal memerlukan 7 orang anggota terdiri dari penabuh gamelan dan penari/lengger.

mengisahkan cinta kasih klasik pada jaman kerajaan Kediri. Ceritera ini kemudian diubah menurut kebudayaan 77 Jawa . o Ketek Ogleng dari wonogiri Kesenian yang diangkat dari ceritera Panji. Tarian ini mengisahkan ceritera Dewi Chandrakirana yang sedang mencari suaminya yang pergi tanpa pamit.Kesenian ini diperagakan secara massal. Tariannya dilakukan dengan menaiki kuda kepang dengan senjata tombak dan pedang. Diiringi dengan bunyi-bunyian yang antara lain berupa Angklung bernada Jawa. kenong dll. Dalam pencariannya itu ia diganggu oleh raksasa yang digambarkan memakai topeng. o Jatilan dari Magelang Pertunjukan ini biasanya dimainkan oleh delapan orang yang dipimpin oleh seorang pawang yang diiringi dengan bunyi-bunyian berupa bende. Tarian ini menggambarkan prajurit yang akan berangkat ke medan perang. dahulu merupakan tarian penyalur semangat kepahlawanan dari keturunan prajurit Diponegoro. o Tarian Jlantur dari Boyolali Sebuah tarian yang dimainkan oleh 40 orang pria dengan memakai ikat kepala gaya turki. Pada puncak tarian penari mencapai keadaan tidak sadar. o Lengger dari Wonosobo Kesenian khas Wonosobo ini dimainkan oleh dua orang laki-laki yang masing-masing berperan sebagai seorang pria dan seorang wanita. Dan pada puncaknya para pemain mencapai keadaan tidak sadar. sering dipentaskan untuk menyambut tamu-tamu resmi atau biasanya diadakan pada waktu upacara.

dan kumis tipis. wajah berwarna merah. Sosok ini digambarkan dengan topeng bermahkota. o Tari Tepak-Tepak Putri Tari yang menggambarkan kelincahan gerak remaja-remaja putri sedang bersuka ria memainkan rebana. 4. mulut terbuka dengan gigi yang besar tanpa taring. Sosok ini digambarkan dengan topeng yang mirip dengan wajah raksasa.selera rakyat setempat menjadi kesenian pertunjukan Ketek Ogleng yang mengisahkan percintaan antara Endang Roro Tompe dengan Ketek Ogleng. TARI GARAPAN BARU ( KREASI BARU ) dari JAWA TENGAH Meskipun namanya 'baru' tetapi semua tari yang termasuk jenis ini tidak meninggalkan unsur-unsur yang ada dari jenis tari klasik maupun tradisional. berbentuk kebudayaan 78 Jawa . wajah merah darah dan rambut yang lebat warna hitam menutup pelipis kiri dan kanan. PUJANGGANONG atau BUJANGGANONG adalah penari dan tarian yang menggambarkan sosok patih muda ( Patihnya Klana Sewandana) yang cekatan. dan sakti. cerdik. hidung panjang. jenaka. 3. Tarian akrobatis ini di antara lain dipertunjukan di atas seutas tali. mata melotot. Selain itu ia membawa Pecut Samandiman. 5. dengan iringan pujian atau syair yang bernafas Islam. Penampilannya dititik beratkan pada suguhan tarian akrobatis gaya kera (Ketek Ogleng) yang dimainkan oleh seorang dengan berpakaian kera seperti wayang orang. Sebagai contoh : o Tari prawiroguno Tari ini menggambarkan seorang prajurit yang sedang berlatih diri dengan perlengkapan senjata berupa pedang untuk menyerang musuh dan juga tameng sebagai alat untuk melindungi diri. mata besar melotot. KLANA SEWANDANA atau KLONO Penari dan tarian yang menggambarkan sosok raja dari kerajaan Bantarangin ( kerajaan yang dipercaya berada di wilayah Ponorogo jaman dahulu.

Di tengah masing-masing ikatan padi ada sunduk (tusuk) bambu sepanjang hampir 2 meter. Ujung atas sunduk bambu dimasukkan ke badan bambu rengkong dekat gantungan kebudayaan 79 Jawa . serta memakai topi pet berwarna hitam. Dua ikat padi seberat ± 15 kg digayutkan dengan tali ijuk mengalungi sonari (badan rengkong bambu di tempat yang diraut).tongkat lurus dari rotan berhias jebug dari sayet warna merah diseling kuning sebanyak 5 atau 7 jebug. terbang (rebana besar) dan angklung. kencreng. 2 rebana. Tarian jenis ini sudah ada sejak abad ke 17 dibawa para mubalig penyebar agama Islam yang datang dari wilayah MataramBagelen. ANGGUK Tarian ini berasal dari Banyumas. bedug. 7. biasanya menggunakan bambu tali dengan panjang sekitar 2. Bentuk lain dari kesenian angguk adalah “aplang”. Sayangnya jenis kesenian ini sekarang semakin jarang dipentaskan. Kesenian angguk yang bercorak Islam ini mulanya berfungsi sebagai salah satu alat untuk menyiarkan agama Islam. Pada kedua ujung bambu dibuat lobang persegi panjang selebar 1 cm. Pikulan bambu tersebut berukuran besar dan kuat tetapi ringan karena dibuat dari bambu yang sudah cukup tua. Angguk dimainkan sedikitnya oleh 10 orang penari anak laki-laki berusia sekitar 12 tahun. Perangkat musiknya terdiri dari kendang. sekeliling bambu melintasi lobang tersebut diraut sekedar tempat bertengger tali penggantung ikatan padi. bedanya bila angguk dimainkan oleh remaja pria maka “aplang” atau “daeng” dimainkan oleh remaja putri. Syair lagu-lagu tari angguk diambil dari kitab Barzanji sehingga syair-syair angguk pada awalnya memang menggunakan bahasa Arab tetapi akhir-akhir ini gerak tari dan syairnya mulai dimodifikasi dengan menyisipkan gerak tari serta bahasa khas Banyumasan tanpa merobah corak aslinya. Tarian ini disebut angguk karena penarinya sering memainkan gerakan mengangguk-anggukan kepala.6 meter. mengenakan kaos kaki panjang sebatas lutut tanpa sepatu. RENGKONG Rengkong adalah kesenian yang menyajikan bunyi-bunyian khas bagai suara kodok mengorek secara serempak yang dihasilkan dari permainan pikulan bambu. 6. Celana panjang sampai lutut dengan hiasan garis merah pula. Pakaian para penari umumnya berwarna hitam lengan panjang dengan garis-garis merah dan kuning di bagian dada/punggung sebagai hiasan. tambur.

11. 10. Menurut cerita. Pura Mangkunegaran mengambil Tari Gambyong menjadi salah satu tari unggulan yang diberi nama gambyong Pareanom. kata ”gambyong” diambil dari uru tari (tledhek) yang mempunyai nama Mbok gambyong. Tarian ini juga dikenal di seluruh Nusantara. tetapi dengan versi yang berbeda. 9. BUNCIS Buncis adalah perpaduan antara seni musik dengan seni tari yang dimainkan oleh 8 orang pemain. Dalam pertunjukannya diiringi dengan perangkat musik angklung. Cara memainkannya. 8. khas alam petani. Tali ijuk dengan beban padi yang menggantung pada badan bambu rengkong pun bergerak-gerak. gesekan tali ijuk yang keras inilah yang menimbulkan suara berderit-derit nyaring. TARI GAMBYONG Salah satu tari dari Surakarta.tali ijuk. Tayuban digelar sebagai bagian dari upacara sakral yang berhubungan dengan kesuburan ( kesuburan perkawinan dan kesuburan pertanian/tanah ). Kalau ada beberapa rengkong yang dimainkan serempak maka akan timbul suara yang mengasyikan. terlebih bila dimainkan dengan berbaris berarak-arakan maka suasananya akan lebih semarak. Jadi Tari Gambyong itu berasal dari kawulo alit ( orang kecil / rendah ) yang datang ke Kraton. Di daerah tertentu tarian ini digelar sebagai bagian dari upacara pembersihan ( bala atau malapetaka ) dan biasanya kebudayaan 80 Jawa . Pemikul mengayun-ayunkan ke kiri dan ke kanan dengan mantap dan teratur. Kesenian tradisional para petani ini biasanya diadakan pada pesta perayaan panen atau pada hari-hari besar nasional. AKSIMUDA Aksimuda adalah kesenian bernafas Islam yang disajikan dalam bentuk atraksi pencak silat yang digabung dengan tari-tarian. pikulan bambu rengkong yang berisi muatan padi diletakkan pada bahu kanan (dipikul). TAYUBAN Adalah salah satu jenis tari masyarakat Jawa. Pada bagian akhir sajian para pemain Buncis Intrance atau mendem. Para pemain buncis selain menjadi penari juga menjadi pemusik serta vokalis. Di tahun 1950-an.

juga digelar dalam penyambutan tamu-tamu agung. berbeda dengan Gamelan Bali yang rancak dan Gamelan Sunda yang sangat mendayu-dayu dan didominasi suara seruling. H. pemainnya terdiri atas remaja Putri. keselarasan dalam berbicara dan bertindak sehingga tidak memunculkan ekspresi yang meledakkebudayaan 81 Jawa . sedekah bumi. 12. Di daerah tertentu. Beberapa jenis alat musik yang terdapat di Jawa. khitanan. dan lain-lain. karena Jawa memiliki pandangan hidup tersendiri yang diungkapkan dalam irama musik gamelannya. perkawinan. sedekah desa. sebuah bentuk gamelan yang berbeda dengan Gamelan Bali ataupun Gamelan Sunda. Gamelan Jawa memiliki nada yang lebih lembut dan slow. Makanya ada yang beranggapan bahwa Tayuban itu berasal dari kata ”tayub” ( ditata guyub ). Dan yang menerima selendang itu mendapat kehormatan untuk menari bersama dengan penari perempuan tadi. Pada zaman dahulu tarian ini mempunyai nilai hiburan dan sensual karena tarian ini menggambarkan keakraban hubungan lelaki ( pengibing ) dan perempuan ( ronggeng ). APLANG atau DAENG Kesenian yang serupa dengan Angguk. diantaranya : Pandangan hidup Jawa yang diungkapkan dalam musik gamelannya adalah keselarasan kehidupan jasmani dan rohani. Nantinya selendang itu diberikan kepada laki-laki ( ketiban sampur ). Perbedaan itu wajar.Guyub antara lelaki dan perempuan.2 a) Seni Musik GAMELAN JAWA Gamelan yang berkembang di Yogyakarta adalah Gamelan Jawa. penari perempuan menggunakan sampur atau selendang.

Perkembangan selanjutnya setelah dinamai gamelan. Seperangkat gamelan terdiri dari beberapa alat musik. Wujud nyata dalam musiknya adalah tarikan tali rebab yang sedang. dan kayu. 2) Saron Alat musik pukul dari bronze dengan disanggah kayu. misalnya gong berperan menutup sebuah irama musik yang panjang dan memberi keseimbangan setelah sebelumnya musik dihiasi oleh irama gending. tepukan ke mulut. rebab. dan tarian. Komponen utama yang menyusun alatalat musik gamelan adalah bambu.ledak serta mewujudkan toleransi antar sesama. Masing-masing alat memiliki fungsi tersendiri dalam pagelaran musik gamelan. gambang. rebab dan celempung. Saron Barung. Tidak ada kejelasan tentang sejarah munculnya gamelan. paduan seimbang bunyi kenong. Barulah pada beberapa waktu sesudahnya berdiri sebagai musik sendiri dan dilengkapi dengan suara para sinden. gesekan pada tali atau bambu tipis hingga dikenalnya alat musik dari logam. Pengendang adalah konduktor dari musik gamelan. Perkembangan musik gamelan diperkirakan sejak kemunculan kentongan. diantaranya satu set alat musik serupa drum yang disebut kendang. Seperangkat gamelan tersebut diantaranya : 1) Kendang Kendang adalah instrumen pemimpin. Ada 3 macam Saron. musik ini dipakai untuk mengiringi pagelaran wayang.45 cm. saron kendang dan gambang serta suara gong pada setiap penutup irama. Saron Demung. Ada 5 ukuran kendang dari 20 cm . gong dan seruling bambu. Saron Peking. kebudayaan 82 Jawa . logam.

4) Slentem Lempengan bronze ini diletakan diatas bambu untuk resonansinya.3) Bonang Barung Terdiri dari 2 baris peralatan dari bronze dimainkan dengan 2 alat pukul. kebudayaan 83 Jawa . 5) Gender Hampir sama dengan slentem dengan lempengan bronze lebih banyak. 6) Gambang Lempengan kayu yang diletakkan diatas frame kayu juga.

kebudayaan 84 Jawa . 8) Kempul Gong kecil.7) Gong Setiap set slendro dan pelog dilengkapi dengan 3 gong. Gong menandakan akhir dari bagian lagu yang liriknya panjang. untuk menandakan lagu yang bagiannya berirama pendek. terbuat dari bronze. Setiap set slendro dan pelog terdiri dari 6 atau 10 kempul. Dua Gong besar (Gong Ageng) dan satu gong Suwukan sekitar 90 cm.

9) Kenong Semacam gong kecil diatas tatakan. satu set komplet bisa 10 kenong baik set slendro atau pelog. kebudayaan 85 Jawa . 10) Ketug Disebut juga kenong kecil. menandakan jeda antar lirik lagu.

13) Suling Setiap set slendro dan pelog memerlukan 1 suling. 12) Siter Tiap set slendro dan pelog memerlukan 1 siter. dimana setiap satu set slendro dan pelog membutuhkan satu clempung. 14) Rebab Alat musik gesek kebudayaan 86 Jawa .11) Clempung sebuah instrument kecil.

yaitu 1 2 3 5 6 [C.15) Keprak dan Kepyak Diperlukan untuk pertunjukan tari 16)Bedug Gamelan Jawa adalah musik dengan nada pentatonis. Slendro memiliki 5 nada per oktaf. Komposisi musik gamelan diciptakan dengan beberapa aturan.F# G# A B] dengan perbedaan interval yang besar. Satu permainan gamelan komplit terdiri dari dua putaran. yaitu terdiri dari beberapa putaran dan kebudayaan 87 Jawa .D E+ G A] dengan perbedaan interval kecil. Pelog memiliki 7 nada per oktaf. yaitu slendro dan pelog. yaitu 1 2 3 4 5 6 7 [C+ D E.

sementara hari Minggu pada waktu yang sama digelar musik gamelan sebagai pengiring tari tradisional Jawa. Pada hari Kamis pukul 10. kliningan. musik gamelan biasanya dipadukan dengan suara para penyanyi Jawa (penyanyi pria disebut wiraswara dan penyanyi wanita disebut waranggana). Berdasarkan suaranya. Untuk melihat pertunjukannya. Gamelan Slendro salendro biasa digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang.00 WIB digelar gamelan sebagai sebuah pertunjukan musik tersendiri. Seperti : besi. Sebagai sebuah pertunjukan tersendiri. Salah satu bentuk gamelan kontemporer adalah jazzgamelan yang merupakan paduan paduan musik bernada pentatonis dan diatonis.pathet. Anda bisa melihat gamelan sebagai sebuah pertunjukan musik tersendiri maupun sebagai pengiring tarian atau seni pertunjukan seperti wayang kulit dan ketoprak. Gamelan Pelog Gamelan pelog fungsinya hampir sama dengan gamelan salendro. Sedangkan yang menyanyikan adalah Pesinden ( wira-swara/swarawati ). hanya kurang begitu berkembang dan kurang akrab di masyarakat dan jarang dimiliki oleh grup-grup kesenian di masyarakat. kebudayaan 88 Jawa . Hampir semua bagian dari alat musik ini terbuat dari logam ( tosan ). anda bisa menuju bangsal kraton lain yang terletak lebih ke belakang. jaipongan dan lain-lain.12. Yang memainkan gamelan itu adalah Penayagan. anda bisa menuju Bangsal Sri Maganti. Gamelan Jawa itu dibagi menjadi dua : 1. Gamelan 2. tembaga yang dicampur nikel atau perunggu. Sementara untuk melihat perangkat gamelan tua. dibatasi oleh satu gongan serta melodinya diciptakan dalam unit yang terdiri dari 4 nada. Salah satu tempat di Yogyakarta dimana anda bisa melihat pertunjukan gamelan adalah Kraton Yogyakarta. Pertunjukan musik gamelan yang digelar kini bisa merupakan gamelan klasik ataupun kontemporer.00 . Hari Sabtu pada waktu yang sama digelar musik gamelan sebagai pengiring wayang kulit. tari.

gender . terdiri atas gambang barung.bonang . 3 (lu). c) BONGKEL Bongkel adalah musik tradisional Banyumasan yang mirip dengan angklung.kendhang batangan .kenong . meduroan dan malangan.saron panerus .slenthem .kethuk .kempul . hanya terdiri dari satu jenis instrumen dengan empat bilah berlaras slendro. gambang penerus.siter/celempung . jombangan. Selain itu ada juga Gong Sebul dinamakan demikian karena bunyi yang dikeluarkan kebudayaan 89 Jawa . dhendhem. Beberapa daftar Gamelan . Alat yang menuntun suara adalah rebab. sebut saja jula-juli surabaya. Dalam pertunjukkannya Bongkel disajikan gendhing . selain itu gendhing ini merupakan satu-satunya gendhing yang dapat mencirikan keragaman karawitan Jawa timuran karena terangkai menjadi berbagai gaya. 5 (mo). d) CALUNG Alat musik ini terbuat dari potongan bambu yang diletakkan melintang dan dimainkan dengan cara dipukul.saron barung . gong & kendang.kempyang . kenong.kendhang gendhing b) JULA-JULI Jula-juli adalah salah satu gendhing yang sangat lazim dijumpai pada pertunjukan ludruk dan tari remo di Jawa Timur.gong ageng .saron demung . 6 (nem). Perangkat musik khas Banyumasan yang terbuat dari bambu wulung mirip dengan gamelan Jawa. .gambang .suling . Sedangkan yang menuntun sampak adalah kendhang.rebab . Nada-nadanya 2 (ro).gong suwuk .Yang menabuh gamelan itu harus mengerti tinggi rendahnya suara dan cepat lambatnya lagu.gendhing khusus bongkel. susunan pola balungan melodi yang ada adalah 65626521 21262165.

berupa potongan bambu yang diberi lubang memanjang disisinya dan dimainkan dengan cara dipukul dengan tongkat kayu pendek. Dalam pertunjukan kesenian ini menyajikan lagu-lagu yang diambil dari kitab Barzanji. Kenthong yang dipakai ada beberapa macam sehingga menghasilkan bunyi yang selaras. Sultan Agung yang berusaha keras menyebarkan agama Islam di pulau Jawa dalam kerangka negara Mataram mengeluarkan dekrit untuk mengubah penanggalan Saka. Kenthong adalah alat utamanya. siklus hari yang dipakai ada dua: siklus mingguan yang terdiri dari 7 hari seperti yang kita kenal sekarang. H. gending gaya Banyumasan. alat ini juga terbuat dari bambu dengan ukuran yang besar.mirip gong tetapi dimainkan dengan cara ditiup (sebul). Dalam sistem kalender Jawa. Pada tahun 1625 Masehi. seruling. kecrek dan dipimpin oleh mayoret. SurakartaYogyakarta dan sering pula disajikan lagu-lagu pop yang diaransir ulang. diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa. Sehingga tahun saat itu yang adalah tahun 1547 Saka. Dalam satu grup kenthongan. budaya Hindu-Buddha Jawa dan bahkan juga sedikit budaya Barat. Sejak saat itu kalender Jawa versi Mataram menggunakan sistem kalender kamariah atau lunar. Kentongan juga terbuat dari bambu. Angka tahun Saka tetap dipakai dan diteruskan. Dalam penyajiannya calung diiringi vokalis yang lazim disebut sinden. f) SALAWATAN JAWA yaitu salah satu seni musik bernafaskan Islam dengan perangkat musik berupa terbang Jawa. Hal ini dilakukan demi asas kesinambungan. Kenthongan dimainkan dalam kelompok yang terdiri dari sekitar 20 orang dan dilengkapi dengan Beduk. dan siklus pekan pancawara yang terdiri dari 5 hari pasaran.3 Kalender Jawa Kalender Jawa adalah sebuah kalender yang istimewa karena merupakan perpaduan antara budaya Islam. kebudayaan 90 Jawa . namun tidak menggunakan angka dari tahun Hijriyah (saat itu tahun 1035 H). Lagu-lagu yang dibawakan kebanyakan lagu Jawa dan Dangdut. Aransemen musikal yang disajikan berupa gending-gending Banyumasan. e) KENTHONGAN Sebagian orang menyebutnya tek-tek.

Ruwah (Saban) 9. karena penanggalan kamariah dianggap tidak memadai sebagai patokan para petani yang bercocok tanam. Rejeb 8. (Dulkangidah) 12. Tetapi lama setiap mangsa berbeda-beda. Kasa / Kartika (23 Juni-2 Agustus) II. Sura 2. maka bulan-bulan musim atau bulan-bulan surya yang disebut sebagai pranata mangsa. Karo / Pusa (3 Agustus-25 Agustus) VII. Kapitu / Palguna (23 Desember-3 Februari) VIII. namun beberapa di antaranya menggunakan nama dalam bahasa Sansekerta seperti Pasa. dengan nama-nama Arab. Sebenarnya pranata mangsa ini adalah pembagian bulan yang asli Jawa dan sudah digunakan pada jaman pra-Islam.Dekrit Sultan Agung berlaku di seluruh wilayah kerajaan Mataram II: seluruh pulau Jawa dan Madura kecuali Banten. Batavia dan Banyuwangi (=Balambangan). Poso (siyam) 10. Sapar 3. Sawal 11. Sedangkan nama Apit dan Besar berasal dari bahasa Jawa dan bahasa Melayu. Jumadilawal 6. juga tidak ikut mengambil alih kalender karangan Sultan Agung ini. Lalu oleh beliau tanggalnya disesuaikan dengan penanggalan tarikh kalender Gregorian yang juga merupakan kalender surya. Jumadilakhir 7. Kawolu / Wisaka (4 Februari-1 Maret) kebudayaan 91 Jawa . dikodifikasikan oleh Sri Paduka Mangkunegara IV atau penggunaannya ditetapkan secara resmi. Sela dan kemungkinan juga Sura. Nama-nama ini adalah nama bulan kamariah atau candra (lunar). Daftar bulan Jawa Islam Di bawah ini disajikan nama-nama bulan Jawa Islam. Besar(Dulkijah) Sela A. Bakdamulud 5. Mulud 4. Pulau Bali dan Palembang yang mendapatkan pengaruh budaya Jawa. 1. Ketiga daerah terakhir ini tidak termasuk wilayah kekuasaan Sultan Agung. Daftar bulan Jawa matahari Pada tahun 1855 Masehi. I. Sebagian nama bulan diambil dari Kalender Hijriyah.

caturwara. astawara dan sangawara. Siklus windu IX. Jimakir Pembagian pekan Orang Jawa pada masa pra Islam mengenal pekan yang lamanya tidak hanya tujuh hari saja. Berikut ini secara singkat dijelaskan sebagai berikut: kebudayaan 92 Jawa . Wawu 8. Setiap satuan ini terdiri atas 8 tahun Jawa dan disebut windu. pañcawara (pancawara). Pekan yang terdiri atas lima hari ini disebut sebagai pasar oleh orang Jawa dan terdiri dari hari-hari: Legi. Kanem / Maya (10 November-22 Desember) B. namun dari 2 sampai 10 hari. Kapat / Setra (19 September-13 Okober) V. sadwara. Je 5. pekan-pekan yang lain ini masih dipakai. Be 7. Katiga / Manggasri (26 Agustus-18 September) IV. saptawara. Alip 2. Kasewelas / Sadha (20 April-12 Mei) XII. memiliki sebuah siklus yang terdiri atas 30 pekan. namun di pulau Bali dan di Tengger. dan Kliwon. Jimawal 4. Setiap pekan disebut satu wuku dan setelah 30 wuku maka muncul siklus baru lagi. Kasepuluh / Srawana (27 Maret-19 April) XI. Pekan-pekan ini disebut dengan namanama dwiwara.III. 6 dan 5 hari berpapasan. yaitu yang juga dikenal di budaya-budaya lainnya. Ehe 3. Di bawah disajikan nama-nama windu: 1. Kalima / Manggala (14 Oktober-9 November) VI. Dal 6. Kasanga / Jita (2 Maret26 Maret) X. triwara. Kemudian sebuah pekan yang terdiri atas tujuh hari ini. Siklus ini yang secara total berjumlah 210 hari adalah semua kemungkinannya hari dari pekan yang terdiri atas 7. Paing. Karolas / Asuji (13 Mei22Juni) Oleh orang Jawa tahun-tahun digabung menjadi semacam abad yang terdiri dari delapan satuan lebih kecil. Pon. Wage. Jaman sekarang hanya pekan yang terdiri atas lima hari dan tujuh hari saja yang dipakai.

Perhitungan hari dengan siklus 8 harian : 1. Perhitungan hari dengan siklus 5 harian : 1. Brama 7. Pahing / Jenar (9) 2. Dangu / Batu 2. Kerangan / Matahari 5. Pancawara – Pasaran dan bobot angkanya. Kliwon/ Kasih (8) 2. Uwas / Peksi/Burung 6. Legi / Manis (5) 3. Sri 2.1. Saptawara – Padinan. Minggu / Radite 2. Senen / Soma 3. Yama 5. Kemis / Respati 6.Guru 4. Aryang / Manusia 3. Tulus / Air 8. Hastawara – Padewan. Setu / Tumpak/Saniscara 4. Dadi / Kayu kebudayaan 93 Jawa . Indra 3. Jagur / Harimau 3. Rudra 6. (4) 4. Sadwara – Paringkelan. Perhitungan hari dengan siklus 6 harian 1. Perhitungan hari dengan siklus 7 harian : 1. Wogan / Ulat 7. Wurung / Api 9. Perhitungan hari dengan siklus 9 harian : 1. Nohan / Rembulan 6. Pon / Palguna (7) 5.Wurukung/ Hewan 4. Paningron / Mina/Ikan 5. Jemuwah / Sukra 7. Sangawara 5. Gigis / Bumi 4. Tungle / Daun 2. Rebo / Budha 5. Mawulu / Taru/Benih. Kala 8. Selasa / Anggara 4. Wage / Kresna/ Langking 3. Uma – Padangon.

misalnya:    Paing mempunyai bobot angka 9 Pon mempunyai bobot angka 7 Wage mempunyai bobot angka 4 Kliwon mempunyai bobot angka 8. Pahang 17. Marakeh 19. Perhitungan penanggalan Jawa sudah dicocokkan dengan penanggalan Hijriah namun demikian pencocokan ini bukanlah menjiplak seluruhnya tapi juga mempergunakan perhitungan yang rumit dari para leluhur kita.00 sampai dengan 18. Wuku. Julungpujud 16. Kulawu 29. Sungsang 11. Candrasangkala Jawa menetapkan bahwa pergantian hari ketika pergantian sasi waktunya adalah tetap yaitu pada saat matahari terbenam (surup-antara pukul 17. Ada perbedaan yang hakiki antara system perhitungan penanggalan Jawa dengan penanggalan Hijriah. Tambir 20. Julungwangi 10.6. Maktal 22. Mandhasiya 15. sedangkan pergantian hari ketika pergantian sasi/bulan pada penanggalan Hijriah ditentukan dengan Hilal dan Rukyat. kuningan 13. Gumbreg 7. Kurantil 5. Weton Tiap hari pasaran menurut penanggalan Jawa mempunyai bobot angka yang disebut neton. Manahil 24. Bala 26. Wukir 4. 7.   Sementara hari mingguan akan mengikuti bobot angka sbb: kebudayaan 94 Jawa . Perhitungan hari dengan siklus mingguan dari 30 wuku : 1. Landhep 3. Langkir 14. Warigagung 9. Prangbakat 25. Warigalit 8. Galungan 12. Wugu 27. Medhangkungan 21. Kuruwelut 18. perbedaan yang nyata adalah pada saat penetapan pergantian hari ketika pergantian sasi/bulan. dan Legi mempunyai bobot angka 5. Wuye 23. Sinta 2. Dhukut 30 Watugunung Sistim Penanggalan Jawa disebut juga Penanggalan Jawa Candrasangkalaatau perhitungan penanggalan berdasarkan peredaran Bulan mengitari Bumi. Tolu 6.00). Wayang 28.

atap terdiri dari 4 (empat) buah sisi soko guru dengan pemidangannya (alengnya) dan berblandar tumpang sari. yaitu bangunan dengan Soko Guru dan atap 4 belah sisi. dan mempunyai bobot angka 13. termasuk untuk memilih hari perkawinan menurut adat kepercayaan Jawa. H. karena Senin = 4 + Paing = 9. kebudayaan 95 Jawa .4 Rumah Adat Bangunan adat rumah Jawa Ilmu yang mempelajari seni bangunan oleh masyarakat Jawa biasa disebut Ilmu Kalang atau disebut juga Wong Kalang.       • Senin mempunyai bobot angka 4 Selasa mempunyai bobot angka 3 Rabu mempunyai bobot angka 7 Kamis mempunyai bobot angka 8 Jum'at mempunyai bobot angka 6 Sabtu mempunyai bobot angka 9. Rumah Jawa adalah arsitektur tradisional Jawa yang berkembang sejak abad ke-13 terdiri atas 5 tipe dasar (pokok) yaitu : 1. Angka semacam ini biasanya dipakai untuk menentukan hari baik dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Joglo (atap joglo) atau Tikelan. Contoh : Seperti disebutkan di atas. sebuah bubungan di tengahnya. tanggal 1 Januari 2001 (awal abad ke-21 dan awal alaf ke-3) adalah hari Senin-Paing. dan Minggu mempunyai bobot angka 5. Bentuk Rumah Joglo :Memiliki ciri.

memakai dudur. Joglo Mangkurat 6. Bentuk Rumah Panggang-pe :Banyak kita jumpai sebagai tempat jualan minuman. sebuah bubungan di tengahnya. Perkembangan dari bentuk ini juga dipergunakan sebagai tempat tinggal 4. Limasan (atap limas). Apabila diperkembangkan dapat berfungsi sebagai tempat ronda. 2. lantainya selalu di atas tanpa bertingkat. kutuk ngambang. yaitu bangunan dengan Soko Guru atap 4 belah sisi. Bentuk Rumah Tajug :Ciri utamanya pada atap berbentuk runcing. jadi meruncing. berdenah bujur sangkar. lambang gantung. Perkembangannya dengan penambahan emper atau serambi. Kebanyakan untuk tempat tinggal.Bangunan ini umumnya dipergunakan sebagai pendopo dan juga untuk tempat tinggal (dalem). semisal : Masjid. Bentuk rumah Limasan: Terutama terlihat pada atapnya yang memiliki 4 (empat) buah bidang sisi. soko guru dengan blandar-blandar tumpang sari. Joglo Lawakan 2. dan lain-lain. serta beberapa ruangan akan tercipta bentuk-bentuk sinom. Panggang Pe. tempat mobil / garasi. yaitu bangunan hanya dengan atap sebelah sisi. Joglo Sinom 3. Kampung (atap pelana). Hanya saja yang berbentuk trajumas tidak biasa digunakan sebagai tempat tinggal 3. Jenis-jenis Rumah Joglo : 1. nasi dan lain-lainnya yang terdapat di tepi jalan. dan sebagainya 5. Dipergunakan sebagai tempat suci. Joglo Jompongan 4. yaitu bangunan dengan atap 2 belah sisi. tempat raja bertahta. tanpa bubungan. pabrik. Tidak ada yang untuk tempat tinggal. Mesjidan/Tajugan. Joglo Hageng kebudayaan 96 Jawa . Joglo Pangrawit 5. baik di kota maupun di desa dan di gunung-gunung. sebuah bubungan di tengah saja Bentuk Rumah Kampung : Umumnya sebagai tempat tinggal. makam. trajumas. yaitu bangunan dengan atap 4 belah sisi.

7. Joglo Semar Tinandhu

Limasan Jenis-jenis Rumah Limasan 1. Limasan Lawakan 2. Limasan Gajah Ngombe 3. Limasan Gajah Njerum 4. Limasan Apitan 5. Limasan Pacul Gowang 6. Limasan Cere Gancet 7. Limasan Trajumas 8. Limasan Gajah Mungkur 9. Limasan Klabang Nyander 10. Limasan Lambang Teplok 11. Limasan Semar Tinandu 12. Limasan Lambang Sari

Joglo

13. Limasan Semar Pinondhong, contoh Bangsal Kama, Kraton Cirebon Jenis-jenis Rumah Kampung : 1. Kampung Pokok 2. Kampung Trajumas 3. Kampung Pacul Gowang 4. Kampung Srotong 5. Kampung Cere Gancet 6. Kampung Gotong Mayit 7. Kampung Semar Pinondhong 8. Kampung Apitan kebudayaan 97 Jawa

9. Kampung Gajah Njerum 10. Kampung Gajah Ngombe 11. Kampung Doro Gepak 12. Kampung Klabang Nyander 13. Kampung Jompongan Lambang Teplok Semar Tinandhu (untuk tobong kapur) 14. Kampung Lambang Teplok (untuk gudang genteng) Jenis-jenis Rumah Panggang Pe : 1. Panggang Pe Pokok 2. Panggang Pe Trajumas 3. Panggang Pe Empyak Setangkep 4. Panggang Pe Gedhang Selirang 5. Panggang Pe Gedhang Setangkep 6. Panggang Pe Cere Gancet 7. Panggang Pe bentuk kios 8. Panggang Pe Kodokan (jengki) 9. Panggang Pe Barengan 10. Panggang Pe Cere Gancet Jenis-jenis Mesjidan/Tajugan : 1. Mesjidan Cungkup Pokok 2. Mesjidan Lawakan (langgar) 3. Mesjidan Lambang Teplok, contoh : Bangsal Gianyar, Bali 4. Mesjidan payung agung (meru), susun 3 untuk rakyat, 5 sentana (keluarga) raja, 7 pangeran, 11 raja, contoh Pamujaan Besakih, Bali 5. Tajug Tawon Boni, contoh : Bangsal Pajajaran 6. Tajug Tiang Satu Lambang Teplok, contoh : Mesjid rakyat Gombong 7. Tajug Semar Sinongsong Lambang Teplok, contoh : Langgar Kecil Kraton Cirebon 8. Tajug Pendawa, contoh : Kraton Cirebon 9. Tajug Lambang Gantung, contoh : Bangsal Ponconiti Kraton Yogyakarta 10. Tajug Lambangsari, contoh : Bangsal Pertemuan para Wali, Gunung Sembung 11. Tajug Lawakan Lambang Teplok, contoh : Pasarean Suwargan, Imogiri kebudayaan 98 Jawa

12. Tajug Semar Tinandhu, Dukuh, Yogyakarta 13. Tajug Semar Sinongsong Lambang Gantung, contoh : Masjid Soko Tunggal (gabungan Pajajaran dan Sultan Agungan, Taman, Kraton Yogyakarta 14. Tajug Ceblokan Lambang Teplok, Masjid Agung Yogyakrata 15. Tajug Mangkurat, Bangsal Witono, Kraton Yogyakarta 16. Tajug Sinom Semar Tinandhu, Lawang Sanga-sanga, Kraton Cirebon

Masing-masing bentuk berkembang menjadi beraneka jenis dan variasi yang bukan hanya berkaitan dengan perbedaan ukurannya saja, melainkan juga dengan situasi dan kondisi daerah setempat. Dari kelima macam bangunan pokok rumah Jawa ini, apabila diadakan penggabungan antara 5 macam bangunan maka terjadi berbagai macam bentuk rumah Jawa. Sebagai contoh : gedang selirang, gedang setangkep, cere gencet, sinom joglo lambang gantung, dan lain-lain. Menurut pandangan hidup masyarakat Jawa, bentuk-bentuk rumah itu mempunyai sifat dan penggunaan tersendiri. Misalnya bentuk Tajug, itu selalu hanya digunakan untuk bangunan yang bersifat suci, umpamanya untuk bangunan Masjid, makam, dan tempat raja bertahta, sehingga masyarakat Jawa tidak mungkin rumah tempat tinggalnya dibuat berbentuk Tajug. Rumah yang lengkap sering memiliki bentuk-bentuk serta penggunaan yang tertentu, antara lain : - pintu gerbang - pendopo - pringgitan - dalem - dapur kebudayaan 99 : bentuk kampung : bentuk joglo : bentuk limasan : bentuk joglo : bentuk kampung Jawa

- gandhok (kiri-kanan) : bentuk pacul gowang

brunjung. dudur. Arsitektur tradisional Jawa terbukti sangat populer tidak hanya di Jawa sendiri tetapi sampai menjangkau manca negara.emper kanan-kiri : untuk senthong tengah dan senthong kiri kanan Di beberapa daerah pantai terdapat pula rumah-rumah yang berkolong. Bahan bangunan rumah Jawa ialah terutama dari kayu jati. Pada dasarnya arsitektur tradisonal Jawa – sebagaimana halnya Bali dan daerah lain – adalah arsitektur halaman yang dikelilingi oleh pagar.emper yang lain : untuk Pendopo : untuk tempat pertemuan keluarga : untuk gudang dan dapur. Kedutaan Besar Indonesia di Singapura dan Malaysia juga Bandar Udara Soekarno-Hatta mempunyai arsitektur tradisional Jawa. saka guru. seperti : ander. Dengan sendirinya rumah yang berbentuk doro gepak (atap bangunan yang berbentuk mirip burung dara yang sedang terbang mengepakkan sayapnya) misalnya bagianbagiannya dipergunakan untuk kegunaan yang tertentu. yang sangat melindungi ruang beranda atau emperan di bawahnya. Dalam Seni Bangunan Jawa karena telah begitu maju.emper depan . usuk peniyung.. pengeret. bukan dinding pemikul. Ruang dalam dan luar saling mengimbas tanpa pembatas yang tegar. Tata ruang dan struktur yang demikian sungguh cocok untuk daerah beriklim tropis yang sering mengalami gempa dan sesuai untuk peri kehidupan manusia yang memiliki kepribadian senang berada kebudayaan 100 Jawa . Yang disebut rumah yang utuh seringkali bukanlah satu bangunan dengan dinding yang pejal melainkan halaman yang berisi sekelompok unit bangunan dengan fungsi yang berbeda-beda.ruang tengah . Di samping itu arsitektur Jawa memiliki ketahanan yang cukup handal terhadap gempa. wajar dan jujur tanpa ada usaha menutup-nutupinya. Tetapi bagi orang yang tidak mampu tidaklah mungkin akan demikian. dan sebagainya.dan lain-lain. Hal tersebut dimaksudkan untuk berjaga-jaga bila ada banjir. Dinding ruangan sekedar merupakan tirai pembatas. Atap bangunannya selalu menggunakan tritisan yang lebar. maka semua bagian kerangka rumah telah diberi nama-nama tertentu. . Struktur bangunannya merupakan struktur rangka dengan konstruksi kayu. blandar. Demikian pula bahan-bahan bangunannya. semua dibiarkan menunjukan watak aslinya. bagaikan payung yang terpancang terbuka. umpak. Yang sangat menarik pula untuk diungkap adalah struktur tersebut diperlihatkan secara jelas. misalnya : . usuk ri-gereh. saka penanggap. reng.

kerbau. ada sarong (ayam). Halaman yang lega dengan perkerasan pasir atau kerikil sangat bermanfaat untuk penyerapan air hujan. Bagi warga masyarakat umum (kawula dalem) yang mampu. Pringgitan ialah tempat yang digunakan untuk pementasan pertunjukan wayang kulit. Dalam pertunjukan tersebut tamu laki-laki ditempatkan di pendapa. istirahat anggota keluarga. Terletak di samping kiri atau kanan rumah belakang (pada umumnya terletak di sebelah belakang). Kadang-kadang terdapat peranginan. penyaring debu. Peranginan ini bagi kebudayaan 101 Jawa . juga sebagai sumber pangan bagi manusia dan binatang bahkan sering pula dimanfaatkan untuk obat tradisional. Rumah belakang (omah buri) digunakan untuk rumah tempat tinggal.ayam dan sebagainya). tempat menyimpan padi dan hasil bumi lainnya. biasanya diletakkan disamping kanan agak berjauhan dengan pendapa. di antara rumah belakang dengan pendapa terdapat pringgitan. misal: lumbung. Selain rumah tempat tinggal (induk). Susunan rumah demikian mirip dengan susunan rumah istana Hindu Jawa. untuk kuda disebut gedhongan. Sedangkan pepohonan yang ditanam seringkali memiliki sasraguna (multi fungsi). kombong (itik. Untuk ternak besar disebut kandang. susunan rumah dalam sebuah rumah tangga terdiri dari beberapa bangunan rumah. untuk ternak unggas.di udara terbuka. Biasanya terletak di sebelah kiri atau kanan Pringgitan. misalnya Istana Ratu Boko di dekat Prambanan. dan sebagainya). terdapat pula bangunan rumah lain yang digunakan untuk keperluan lain dai keluarga tersebut. digunakan untuk menerima tamu. Letaknya agak berjauhan. angsa. tempat memasak. tempat tinggalnya (rumah) masih dilengkapi dengan bangunan lainnya. bila yang bersangkutan mempunyai kerja (pernikahan. Kandang bisa terdapat di sebelah kiri pendapa. angsa). kambing. itik. Sedang untuk sarong atau kombong terletak di sebelah kiri agak jauh dari pendhapa. namun ada pula yang diletakkan di muka pendhapa dengan disela oleh halaman yang luas. terletak di depan rumah tempat tinggal. disamping bangunan rumah tersebut. sedang tamu wanita ditempatkan di rumah belakang. khitanan. Kadangkadang terdapat lesung yang terletak di muka pendapa samping kanan. Lesung. kuda. Kandang. Dalam masyarakat Jawa. rumah tempat menumbuk padi. yaitu sebagai peneduh. Gedhongan biasanya menyambung ke kiri atau ke kanan kandhang. ialah bangunan rumah kecil. untuk tempat binatang ternak (sapi. yaitu tempat untuk tidur. Bangunan rumah tersebut terdiri dari: pendhapa. Dapur (pawon) terletak di sebelah kiri rumah belakang (omah buri). peredam angin dan suara.

ditemukan prasasti lainnya dari tahun 856 M yang berisikan sebuah sajak yang disebut kakawin. sumur dan pendhapa. dan juga tempat bersantai untuk mencari udara segar dari pemiliknya. H. lumbung. Pintu masuk pekarangan sering dibuat Regol.5 Karya Sastra SASTRA JAWA Sejarah Sastra Jawa dimulai dengan sebuah prasasti yang ditemukan di daerah Sukabumi (Sukobumi). gadhok (tempat para pelayan). Prasasti yang biasa disebut dengan nama Prasasti Sukabumi ini bertarikh 25 Maret tahun 804 Masehi. Sastra Jawa Kuna Sastra Jawa Tengahan Sastra Jawa Baru Sastra Jawa Modern Terdapat pula kategori Sastra Jawa-Bali. Biasanya untuk WC ditempatkan agak berjauhan dengan dapur. Dari semua sastra tradisional Nusantara. pendapa. kandhang. Kemudian terdapat bangunan tempat mandi yang disebut jambang. Hal tersebut sangat bergantung pada kemampuan keluarga. Demikian sedikit variasi bangun rumah adat Jawa yang lengkap untuk sebuah keluarga. Sastra Jawa-Sunda. Tetapi setelah kebudayaan 102 Jawa . Secara lengkap kompleks rumah tempat tinggal orang Jawa adala rumah belakang. bangsal. pringgitan. topengan. Setelah prasasti Sukabumi. dan sebagainya. Biasanya sejarah sastra Jawa dibagi dalam empat masa: • • • • Jawa Timur. serambi. dapur. berupa rumah kecil ditempatkan di samping dapur atau belakang samping kiri atau kanan rumah belakang. Demikian pula tempat buang air besar/kecil dan kamar mandi dibuatkan bangunan rumah sendiri. Pare. Kediri. gedhogan. yang berkembang dari Sastra Jawa Tengahan. Sastra Jawa-Madura. dan Sastra Jawa-Palembang. Isinya ditulis dalam bahasa Jawa Kuna. Selain itu.pejabat desa bisa digunakan untuk markas ronda atau larag. Kakawin yang tidak lengkap ini adalah sajak tertua dalam bahasa Jawa (Kuna). sastra Jawa adalah yang paling berkembang dan paling banyak tersimpan karya sastranya. Besar kecilnya maupun jenis bangunannya dibuat menurut selera serta harus diingat status sosial pemiliknya didalam masyarakat. ada pula Sastra Jawa-Lombok. pringgitan. rumah belakang.

di Jawa dan Madura ada pula sastra Jawa Kuna yang terlestarikan.proklamasi RI. Meski di sini harus diberi catatan bahwa tidak semua prasasti memuat teks kesusastraan. Jadi merupakan sastra Jawa sebelum masa sastra Jawa Pertengahan. Selain sebagai seorang negarawan beliau juga tertarik dengan kebudayaan setempat. pengertian terakhir inilah yang dipakai. Bersama asistennya. Bahkan di Jawa terdapat pula teks-teks Jawa Kuna yang tidak dikenal di Bali. tahun 1945 sastra Jawa agak dianaktirikan karena di Negara Kesatuan RI. Sastra Jawa Pertengahan adalah masa transisi antara sastra Jawa Kuna dan sastra Jawa Baru. Di dalam artikel ini. A. kronik (babad). Sehingga mereka jarang yang tertulis dalam bentuk asli seperti pada waktu dibuat kebudayaan 103 Jawa . Sastra Jawa Kuna yang terlestarikan sampai hari ini sebagian besar diturunkan dalam bentuk naskah manuskrip yang telah disalin ulang berkali-kali. Manuskripmanuskrip yang memuat teks Jawa Kuna jumlahnya sampai ribuan sementara prasasti-prasasti ada puluhan dan bahkan ratusan jumlahnya. Karya-karya ini mencakup genre seperti sajak wiracarita. Istilah ini bisa berarti sastra dalam bahasa Jawa sebelum masuknya pengaruh Islam atau pembagian yang lebih halus lagi: sastra Jawa yang terlama. Karya sastra ini ditulis baik dalam bentuk prosa (gancaran) maupun puisi (kakawin). undang-undang hukum. Walau sebagian besar sastra Jawa Kuna terlestarikan di Bali. Kakawin Ramayana dan terjemahan Mahabharata dalam bahasa Jawa Kuna. Kolonel Colin Mackenzie beliau mengumpulkan dan meneliti naskah-naskah Jawa Kuna. dimulai dengan Prasasti Sukabumi. Sastra Jawa Kuna Sastra Jawa Kuna meliputi sastra yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuna pada periode kurang-lebih ditulis dari abad ke-9 sampai abad ke-14 Masehi. Karya-karya sastra Jawa penting yang ditulis pada periode ini termasuk Candakarana. Istilah sastra Jawa Kuna agak sedikit rancu. dan kitab-kitab keagamaan. Gubernur-Jenderal dari Britania Raya yang memerintah di pulau Jawa. Sastra Jawa Kuna diwariskan dalam bentuk manuskrip dan prasasti. kesatuan yang diutamakan. Penelitian ilmiah mengenai sastra Jawa Kuna mulai berkembang pada abad ke-19 awal dan mulanya dirintis oleh Stamford Raffles. Karya sastra Jawa Kuna sebagian besar terlestarikan di Bali dan ditulis pada naskah-naskah manuskrip lontar.

Sebagian besar dari teks-teks ini ditulis setelah abad ke-11. mpu Kanwa. 4. Teks kesusastraan tertua pada sebuah prasasti terdapat pada Prasasti Siwagreha yang ditarikh berasal dari tahun 856 Masehi. 3. tembaga dan lain-lain. 5. 2. Naskah nipah ini memuat teks Kakawin Arjunawiwaha yang berasal dari abad ke-11. 8.dahulu. Prasasti tertua dalam bahasa Jawa Kuna berasal dari tahun 804. 7. 9. ~ 1030 Jawa 104 Daftar Karya Sastra Jawa Kuna dalam bentuk puisi (kakawin) kebudayaan . Namun tidak semua teks-teks ini merupakan teks kesusastraan. 996 Udyogaparwa Bhismaparwa Asramawasanaparwa Mosalaparwa Prasthanikaparwa Swargarohanaparwa Kunjarakarna Kakawin Tertua Jawa. 14. Candakarana Sang Hyang Kamahayanikan Brahmandapurana Agastyaparwa Uttarakanda Adiparwa Sabhaparwa Wirataparwa. Dari masa ini terwariskan sekitar 20 teks prosa dan 25 teks puisi. 856 Kakawin Ramayana ~ 870 Kakawin Arjunawiwaha. 3. namun isinya bukan merupakan teks kesusastraan. Sedangkan naskah manuskrip tertua adalah sebuah naskah daun nipah yang berasal dari abad ke-13 dan ditemukan di Jawa Barat. 1. Banyak teks dalam bahasa Jawa Kuna yang terlestarikan dari abad ke-9 sampai abad ke-14. 13. Daftar Karya Sastra Jawa Kuna dalam bentuk prosa: 1. 2. 12. 10. 15. 6. 11. kecuali jika ditulis pada bahan tulisan yang awet seperti batu.

5. mpu Sedah dan mpu Panuluh. Daftar Karya Sastra Jawa Tengahan prosa: 1. 7. Setelah ini. Kakawin Lubdhaka Kakawin Parthayajna Kakawin Nitisastra Kakawin Nirarthaprakreta Kakawin Dharmasunya Kakawin Harisraya Kakawin Banawa Sekar Tanakung Sastra Jawa Tengahan Sastra Jawa Pertengahan muncul di Kerajaan Majapahit. mpu Tantular Kakawin Siwaratrikalpa. 3. 14. 9. Pada masa ini muncul karya-karya puisi yang berdasarkan metrum Jawa atau Indonesia asli. 1157 Kakawin Hariwangsa Kakawin Gatotkacasraya Kakawin Wrettasañcaya Kakawin Wrettayana Kakawin Brahmandapurana Kakawin Kunjarakarna. 21.4. mulai dari abad ke13 sampai kira-kira abad ke-16. sastra Jawa Tengahan diteruskan di Bali menjadi Sastra Jawa-Bali. mpu Prapanca. B. 13. 24. 1365 Kakawin Arjunawijaya. 8. 5. Kakawin Kresnayana Kakawin Sumanasantaka Kakawin Smaradahana Kakawin Bhomakawya Kakawin Bharatayuddha. 20. Karya-karya ini disebut kidung. 6. 2. 12. 23. 10. 4. mpu Tantular Kakawin Sutasoma. 18. Tantu Panggelaran Calon Arang Tantri Kamandaka Korawasrama Pararaton Jawa 105 Daftar Karya Sastra Jawa Tengahan puisi: kebudayaan . mpu "Dusun" Kakawin Nagarakretagama. 19. 11. 22. 17. 15. 16.

1. 2. 3. 4. 5. 6. C.

Kakawin Dewaruci Kidung Sudamala Kidung Subrata Kidung Sunda Kidung Panji Angreni Kidung Sri Tanjung Sastra Jawa Baru

Sastra Jawa Baru kurang-lebih muncul setelah masuknya agama Islam di pulau Jawa dari Demak antara abad kelima belas dan keenam belas Masehi. Dengan masuknya agama Islam, orang Jawa mendapatkan ilham baru dalam menulis karya sastra mereka. Maka, pada masa-masa awal, zaman Sastra Jawa Baru, banyak pula digubah karya-karya sastra mengenai agama Islam. Suluk Malang Sumirang adalah salah satu yang terpenting. Kemudian pada masa ini muncul pula karya-karya sastra bersifat ensiklopedis seperti Serat Jatiswara dan Serat Centhini. Para penulis 'ensiklopedia' ini rupanya ingin mengumpulkan dan melestarikan semua ilmu yang (masih) ada di pulau Jawa, sebab karya-karya sastra ini mengandung banyak pengetahuan dari masa yang lebih lampau, yaitu masa sastra Jawa Kuna. Gaya bahasa pada masa-masa awal masih mirip dengan Bahasa Jawa Tengahan. Setelah tahun ~ 1650, bahasa Jawa gaya Surakarta menjadi semakin dominan. Setelah masa ini, ada pula renaisans Sastra Jawa Kuna. Kitab-kitab kuna yang bernapaskan agama Hindu-Buddha mulai dipelajari lagi dan digubah dalam bahasa Jawa Baru. Sebuah jenis karya yang khusus adalah babad, yang menceritakan sejarah. Jenis ini juga didapati pada Sastra Jawa-Bali. Daftar Cuplikan Karya Sastra Jawa Baru Masa Islam:
• • • • • • •

Kidung Rumeksa ing Wengi Kitab Sunan Bonang Primbon Islam Suluk Sukarsa Serat Koja Jajahan Suluk Wujil Suluk Malang Sumirang Jawa 106

kebudayaan

• • • • • • • • •

Serat Nitisruti Serat Nitipraja Serat Sewaka Serat Menak Serat Yusup Serat Rengganis Serat Manik Maya Serat Ambiya Serat Kandha Serat Rama Kawi Serat Bratayuda, Kyai Yasadipura Serat Panitisastra Serat Arjunasasra Serat Mintaraga, Ingkang Sinuwun Pakubuwana III Serat Darmasunya Serat Dewaruci Serat Ambiya Yasadipuran, Kyai Yasadipura Serat Tajusalatin Serat Cebolek Serat Sasanasunu Serat Wicara Keras Serat Kalatidha, Raden Ngabehi Ranggawarsita Serat Paramayoga, Raden Ngabehi Ranggawarsita Serat Jitapsara Serat Pustaka Raja Serat Cemporet Serat Damar Wulan, Raden Panji Jayasubrata, 1871 Serat Darmagandhul Babad Giyanti Babad Prayut Babad Pakepung Babad Tanah Jawi Jawa 107

Masa Renaisans dan sesudahnya:
• • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Babad-Babad:
• • • •

kebudayaan

D.

Sastra Jawa Modern

Sastra Jawa Modern muncul setelah pengaruh penjajah Belanda dan semakin terasa di Pulau Jawa sejak abad kesembilan belas Masehi. Para cendekiawan Belanda memberi saran para pujangga Jawa untuk menulis cerita atau kisah mirip orang Barat dan tidak selalu berdasarkan mitologi, cerita wayang, dan sebagainya. Maka, lalu muncullah karya sastra seperti di Dunia Barat; esai, roman, novel, dan sebagainya. Genre yang cukup populer adalah tentang perjalanan. Gaya bahasa pada masa ini masih mirip dengan Bahasa Jawa Baru. Perbedaan utamanya ialah semakin banyak digunakannya kata-kata Melayu, dan juga kata-kata Belanda. Pada masa ini (tahun 1839, oleh Taco Roorda) juga diciptakan huruf cetak berdasarkan aksara Jawa gaya Surakarta untuk Bahasa Jawa, yang kemudian menjadi standar di pulau Jawa. Daftar Karya Sastra

Lelampahaning Purwalelana, Raden Mas Purwalelana (jeneng sesinglon) 1875-1880

• • • • • •

Rangsang Tuban, Padmasoesastra, 1913 Ratu, Krishna Mihardja, 1995 Tunggak-Tunggak Jati, Esmiet Lelakone Si lan Man, Suparto Brata, 2004 Pagelaran, J. F. X. Hoery Banjire Wis Surut, J. F. X. Hoery

H.6

Wayang

kebudayaan 108

Jawa

budaya wayang berkembang menjadi beragam jenis. Pertunjukan wayang telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003. yang dikenal sebagai wayang orang. secarik kain. 3. yang terus berkembang dari zaman ke zaman.Wayang adalah seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Pulau Jawa dan Bali. pendidikan. seni lukis. Wayang Golek di Jawa Barat Masing masing sangat bekaitan satu sama lain. sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan sangat berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity). 1. Wayang Kulit di Jawa Timur 2. Cerita yang dikisahkan dalam pagelaran wayang biasanya berasal dari Mahabharata dan Ramayana. seni suara. seni musik. seni sastra. seni pahat. Penonton hanya menyaksikan gerakan-gerakan wayang melalui bayangan yang jatuh pada kelir. Sedangkan alat peraganya pun berkembang menjadi beberapa macam. Jenis-jenis wayang : Selama berabad-abad. kayu. pemahaman filsafat. kulit. antara lain yang terbuat dari kertas. Budaya wayang. juga merupakan media penerangan. dan juga kebudayaan 109 Jawa . Ada versi wayang yang dimainkan oleh orang dengan memakai kostum. serta hiburan. Kebanyakan jenis jenis wayang itu tetap nenggunakan Mahabarata dan Ramayana sebagai induk ceritanya. dan juga seni perlambang. dakwah. seni tutur. dan penonton di balik kelir itu. Kata `wayang' diduga berasal dari kata `wewayangan'. Yaitu "Mana yang Isi(Wayang Wong) dan Mana yang Kulit (Wayang Kulit) harus dicari (Wayang Golek)". dan ada pula wayang yang berupa sekumpulan boneka yang dimainkan oleh dalang. Wayang yang dimainkan dalang ini diantaranya berupa wayang kulit atau wayang golek. Para Wali di Tanah Jawa sudah mengatur sedemikian rupa menjadi tiga bagian. Wayang Wong atau Wayang Orang di Jawa Tengah. hiburan. oleh para pendahulu negri ini sangat mengandung arti yang sangat dalam sekali. Wayang. Budaya wayang meliputi seni peran. kain. Dugaan ini sesuai dengan kenyataan pada pergelaran Wayang Kulit yang menggunakan kelir. Sunan Kali Jaga dan Raden Patah sangat berjasa dalam mengembangkan Wayang. yang artinya bayangan. sebagai pembatas antara dalang yang memainkan wayang.

Pada saat pergelaran bagian gambar yang menampilkan adegan lakon itu dibuka dari gulungannya. bahkan juga di Suriname di benua Amerika bagian selatan.Wayang Madya . Wayang Beber Berupa selembar kertas atau kain yang berukuran sekitar 80 cm X 12 meter.Wayang Kancil 1. yang digambari dengan beberapa adegan lakon wayang tertentu. 2. Wayang Beber pada umumnya menceritakan kisah Panji. terbuat dari tanduk kerbau atau kulit penyu.Wayang Sadat .Wayang Suluh . Wayang Kulit Purwa mengambil cerita dari kisah Mahabarata dan Ramayana. dan sang Dalang menceritakan kisah yang terlukis dalam setiap adegan itu.Perkembangan jenis wayang ini juga dipengaruhi oleh keadaan budaya daerah setempat.Wayang Orang. Wayang Kulit Purwa Merupakan jenis wayang yang paling populer di masyarakat sampai saat ini. Satu gulung wayang beber biasanya terdiri atas 16 adegan. Pergelaran Wayang Kulit Purwa diiringi dengan seperangkat gamelan sedangkan penyanyi kebudayaan 110 Jawa .Wayang Papak . digunakan "kerangka penguat" yang membuatnya kaku. Peraga wayang yang dimainkan oleh seorang dalang terbuat dari lembaran kulit kerbau (atau sapi) yang dipahat menurut bentuk tokoh wayang dan kemudian disungging dengan warna warni yang mencerminkan perlambang karakter dari sang Tokoh. Kerangka itu disebut cempurit.Wayanng Parwa . -Wayang Kulit -Wayang Golek/ Wayang Thengul Bojonegoro -Wayang Krucil -Wayang Purwa -Wayang Beber -Wayang Orang -Wayang Gedog -Wayang Sasak -Wayang Calonarang -Wayang Wahyu -Wayang Menak .Wayang Klitik . Jenis wayang ini tersebar hampir di seluruh Jawa dan daerah transmigrasi. Agar lembaran wayang itu tidak lemas.

jamang. 3. Wayang ini diciptakan orang pada tahun 1648. peraga Wayang Golek Menak diberi pakaian mirip dengan Wayang Kulit Purwa. Wayang Golek Menak Disebut juga Wayang Tengul. pada zaman pemerintahan Mangkunegoro VII. Hanya bagian tangan peraga wayang itu bukan dari kayu pipih melainkan terbuat dari kulit. Anggapan itu disebabkan karena Wayang Krucil juga terbuat dari kayu pipih. pada masa perjuangan Nabi Muhammad SAW menyebarkan agama Islam .wanita yang menyanyikan gending-gending tertentu. walaupun tubah dan sorban Arab juga digunakan. tetapi tanpa menggunakan kelir sehingga penonton dapat melihat secara langsung. Selain berupa golek. Wayang ini diciptakan oleh Ki Trunadipa. Pada Wayang Klitik. melainkan dari Kitab Menak. disebut pesinden atau waranggana. juga menggunakan peraga wayang berbentuk boneka kecil. agar lebih awet dan ringan menggerakkannya. Walaupun tokoh ceritanya sebenarnya orang Arab. Latar belakang cerita Menak adalah negeri Arab. cempuritnya merupakan kelanjutan dari bahan kayu pembuatan wayangnya. Induk ceritanya bukan diambil dari Kitab Ramayana dan Mahabarata. Surakarta. Wayang Klitik Terbuat dari kayu pipih yang dibentuk dan disungging menyerupai Wayang Kulit Purwa. 4. Yang berbeda benar adalah induk kebudayaan 111 Jawa . Wayang Menak juga ada yang dirupakan dalam bentuk kulit. sumping. Pementasan Wayang Klitik juga diiringi oleh gamelan dan pesinden. antara lain dengan memberinya kuluk. 5. dsb. Wayang Krucil Sering dianggap sama dengan Wayang Klitik. seorang dalang dari Baturetno.

Wayang Wahyu Mempunyai bentuk peraga wayang terbuat dari kulit. Penggambaran tokoh Wayang Suluh dibuat realistik. Wayang ini dimaksudkan sebagai media penerangan mengenai sejarah perjuangan bangsa. Pada mulanya. baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Wayang Krucil mengambil lakon dari cerita Damarwulan. Bung Hatta. bukan dari Ramayana atau Mahabarata. 6. antara lain terdapat Bung Karno. Bung Tomo. Jadi agak mirip dengan pertunjukan ludruk di Jawa Timur dewasa ini. Bahasa pengantarnya. 8. tidak ada penari wanita. Wayang Orang adalah perwujudan drama tari dari Wayang Kulit Purwa. kebudayaan 112 Jawa . Wayang Orang Adalah seni drama tari yang mengambil cerita Ramayana dan Mahabarata sebagai induk ceritanya. Dari segi cerita. antara lain adalah Samson Ian Delilah. 7. semua penari Wayang Orang adalah penari pria. karena baru tercipta setelah zaman kemerdekaan. saat ini sudah hampir punah. Syahrir. Wayang ini mengambil lakon dari cerita Injil.cerita yang diambil untuk lakon-lakonnya. di antara tokoh peraganya. Di antara lakonnya. dan David Ian Goliat. Baik Wayang Krucil maupun Wayang Klitik. Wayang Suluh Suluh tergolong wayang modern. tetapi corak tatahan dan sunggingannya agak naturalistik. dan Jenderal Sudirman. yakni pertengahan abad ke-18. bahasa Jawa. Karena itu.

boleh dibilang sudah punah. Padahal. Wayang ini. tidak semua orang Jawa menyukai wayang. Prabu Klana Madukusuma.Pergelaran Wayang wahyu hampir serupa dengan Wayang Kulit Purwa. sebagian orang menamakan Wayang Gedog ini Wayang Panji. Wayang ini amat mirip dengan Wayang Kulit Purwa. Hanya sisa-sisa peraganya saja yang masih bisa dilihat di beberapa museum dan Keraton Surakarta. kebudayaan 113 Jawa . kelir dan gedebog. Di antara tokoh-tokoh ceritanya. Dengan demikian Wayang Wahyu praktis tidak berkembang. Para dalangnya pun pada umumnya juga merangkap sebagai dalang Wayang Kulit Purwa. Itulah sebabnya. diiring oleh seperangkat gamelan dan pesinden. 9. dan Raden Gunungsari. antara lain adalah Prabu Lembu Hamiluhur. itu pun yang berasal dari suku bangsa Jawa. Wayang Gedog Diciptakan oleh Sunan Giri di tandai candra sengkala Gegamaning Naga Kinaryeng Bathara: 1485 caka (1568 M). tetapi mengambil lakon dari cerita-cerita Panji. Perkembangan Wayang Wahyu amat terbatas pada lingkungan masyarakat beragama Katolik.

Untuk dapat memahami cerita wayang(lakon). Wayang yang juga terbuat dari kulit itu. dengan diiringi oleh musik gamelan yang dimainkan sekelompok nayaga dan tembang yang dinyanyikan oleh para pesinden. Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang. Wayang Kancil termasuk di antara jenis wayang yang tidak berkembang. meskipun seorang seniman. dibuat dan disungging oleh Lie To Hien.10. diciptakan tahun 1925 oleh seorang keturunan Cina bernama Bo Liem. Wayang Kancil Termasuk wayang moderen. menggunakan tokoh peraga binatang. 11. yaitu layar yang terbuat dari kain putih. yakni Iedjar Subroto tetap berusaha mempopulerkannya. sementara di belakangnya disorotkan lampu listrik atau lampu minyak (blencong). penonton harus memiliki pengetahuan akan tokoh-tokoh wayang yang bayangannya tampil di layar. Wayang Kulit Wayang kulit adalah seni tradisional Indonesia. Jenis Wayang Kulit menurut asal daerah di Jawa : • • Wayang Jawa Yogyakarta Wayang Jawa Surakarta Jawa 114 kebudayaan . sehingga para penonton yang berada di sisi lain dari layar dapat melihat bayangan wayang yang jatuh ke kelir. Cerita untuk lakon-lakon para Wayang Kancil diambil dari Kitab Serat Kancil Kridamartana karangan Raden Panji Natarata. yang terutama berkembang di Jawa dan di sebelah timur semenanjung Malaysia seperti di Kelantan dan Terengganu. Dalang memainkan wayang kulit di balik kelir.

serta lugas dan mampu bertahan sampai saat ini dalam menghadapi perubahan jaman. sulukan dan properti panggung ) . dan hidup serta berkembang di daerah eks Karesidenan Banyumas.• Wayang Kulit Gagrag Banyumasan Wayang Kulit Gagrag Banyumasan merupakan salah satu gaya pedalangan di tanah Jawa. merupakan ekspresi dan sifatnya lebih bebas. jujur dan terus terang . karena memperoleh simpati dan dicintai masyarakatnya. sabet ( seluruh gerak wayang). Petruk Krama dan lain-lain selain itu pula wayang Gagrag Banyumasan lebih menonjolkan peran para muda dalam penyelesaian kasus-kasus dan permasalahan. karawitan ( gendhing. Pakeliran ini mencakup unsurunsur yaitu. catur ( narasi dan cakapan) . Contoh gambar wayang : kebudayaan 115 Jawa . devosional dan hiburan. yang kualitasnya selalu terjaga dan ditangani sungguhsungguh oleh para pakar yang memahami benar. lakon wayang ( penyajian alur cerita dan maknanya). dan berperan sebagai bentuk seni klangenan serta dijadikan wahana untuk mempertahankan nilai etika. yang lebih dikenal dengan istilah pakeliran. Pakeliran Gagrag Banyumasan. sederhana. mempunyai nuansa kerakyatan yang kental sebagaimana karakter masyarakatnya . Cerita Srikandi Mbarang Lengger' yang merupakan terusan lakon Srenggini Takon Rama adalah salah satu contoh kongkrit bahwa peran pemuda seperti Antasena dan Wisanggeni menjadi sangat sentral. Dalam Wayang Gagrag Banyumasan mempunyai ciri khas dalam penceritaan yang lebih memperjelas peran rakyat kecil yang dimanivestasikan dalam tokoh punakawan seperti cerita Bawor Dadi Ratu.

rasukan basahan dan rasukan gedhog. Pada umumnya rasukan Jawa dibagi menjadi 4 bagian yaitu. Selain rasukan kejawen juga ada rasukan surjan. sehingga bagian tersebut tersembul di bagian belakang blangkon. Masing-masing jenis rasukan Jawa ini mempunyai makna perumpamaan atau melambangakn nilai-nilai luhur filosofi Jawa. Busana Jawa penuh dengan piwulang sinandhi (ajaran tersamar) kaya akan ajaran Jawa. Dalam busana Jawa ini tersembunyi ajaran untuk melakukan segala sesuatu di dunia ini secara harmoni yang berkaitan dengan aktivitas seharihari. Pakaian adat Jawa ini mempunyai perlambang tertentu bagi orang Jawa. baik dalam hubungannya dengan sesama manusia. Cara kebudayaan 116 Jawa . H.7 Pakaian Adat Rasukan adat Jawa Rasukan adat Jawa atau pakaian adat Jawa yang umumnya disebut rasukan kejawen yang sudah ada sejak jaman dahulu dan mulai terbentuk lengkap pada jaman kerajaan demak. • 1 Bagian ndhuwur/bagian atas (Penutup Kepala)  Iket atau blangkon Blangkon adalah tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional Jawa. Untuk bagian kepala selain menggunakan blangkon biasanya orang Jawa kuna (tradisional) mengenakan "iket" yaitu ikat kepala yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menjadi penutup kepala. diri sendiri maupun Tuhan Yang Maha Kuasa Pencipta segalanya. Tonjolan ini menandakan model rambut pria masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka di bagian belakang kepala. rasukan mesiran.Batara Guru (Siwa) dalam bentuk seni wayang Jawa. Untuk beberapa tipe blangkon ada yang menggunakan tonjolan pada bagian belakang blangkon.

Dengan kata lain hendaklah manusia mempunyai ketrampilan yang profesional.  Udheng Udheng juga dikenakan di bagian kepala dengan cara mengenakan seperti mengenakan sebuah topi. mengerti dan memahami tujuan hidup dan kehidupan atau sangkan paraning dumadi. faham. Lambang yang tersirat dalam benik itu adalah agar orang (Jawa) dalam melakukan semua tindakannya apapun selalu diniknik. menjaga antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum. Makna iket dimaksudkan manusia seyogyanya mempunyai pemikiran yang kenceng. Wiru kebudayaan 117 Jawa . Jika sudah dikenakan di atas kepala. dapat . Apapun yang akan dilakukan hendaklah jangan sampai merugikan orang lain. diperhitungkan dengan cermat. tidak grusa-grusu (emosional) Wiru Jarik atau kain dikenakan selalu dengan cara mewiru (meripel) pinggiran yang vertikal atau sisi saja sedemikian rupa. Selain itu udheng juga mempunyai arti bahwa manusia seharusnya mempunyai ketrampilan dapat menjalankan pekerjaannya dengan dasar pengetahuan yang mantap atau mudheng. Maksudnya agar manusia mempunyai pemikiran yang kukuh.  Jarik lan wiron utawa wiru Jarik atau sinjang merupakan kain yang dikenakan untuk menutup tubuh dari pinggang sampai mata kaki. tidak mudah terombang-ambing hanya karena situasi atau orang lain tanpa pertimbangan yang matang. • 2 Bagian tengah (bagian tengah)  Rasukan utawa kelambi uga benik (pakaian dan juga kancing baju) Busana kejawen seperti beskap selalu dilengkapi dengan benik (kancing baju) disebelah kiri dan kanan.mengenakan iket harus kenceng (kuat) supaya ikatan tidak mudah terlepas. Menanggapi setiap masalah harus hati-hati. Jarik bermakna aja gampang serik (jangan mudah iri terhadap orang lain). iket dan udheng sulit dibedakan karena ujud dan fungsinya sama. Udheng dari kata kerja Mudheng atau mengerti dengan jelas.

manunggaling kawula Gusti. teliti dan cermat sehingga dapat memahami dengan jelas. harus epek (apek. • 3 Bagian mburi (bagian belakang)  Curiga atau keris dan rangka Curiga atau keris berujud wilahan. tidak akan ada rasa samang (khawatir) samang asal dari kata timang. bilahan dan terdapat di dalam warangka atau wadahnya. Jadi harus ubed atau gigih.atau wiron ( rimple ) diperoleh dengan cara melipat-lipat (mewiru). Karena diletakkan di bagian belakang tubuh. kerjakan segala hal jangan sampai keliru agar bisa menumbuhkan suasana yang menyenangkan dan harmonis. Keris ini mempunyai pralambang bahwa keris sekaligus warangka sebagaimana manusia sebagai ciptaan dan penciptanya Yatu Allah Yang Maha Kuasa. Kata sabuk berarti usahakanlah agar segala yang dilakukan tidak ngebukne. Selama menempuh ilmu upayakan untuk tekun.  Timang Timang bermakna bahwa apabila ilmu yang didapat harus dipahami dengan jelas atau gamblang. Curiga dikenakan di bagian belakang badan. mencari) pengetahuan yang berguna. dimaksudkan wiwiren aja nganti kleru. keris mempunyai arti bahwa dalam menyembah Tuhan Yang Maha Kuasa hendaklah manusia bisa untuk kebudayaan 118 Jawa .  Epek Epek bagi orang Jawa mengandung arti bahwa untuk dapat bekerja dengan baik. golek. Untuk itulah manusia harus ubed (bekerja dengan sungguh-sungguh) dan jangan sampai kerjanya tidak ada hasil atau buk (impas/tidak ada keuntungan).  Sabuk Sabuk (ikat pinggang) dikenakan dengan cara dilingkarkan (diubetkan) ke badan. Ini mengandung pengertian bahwa jarik tidak bisa lepas dari wiru. Ajaran ini tersirat dari sabuk tersebut adalah bahwa harus bersedia untuk tekun berkarya guna memenuhi kebutuhan hidupnya.

 Bebed Bebed adalah kain (jarik) yang dikenakan oleh laki-laki seperti halnya pada perempuan. • 4 Bagian ngisor (bagain bawah)  Canela yaitu: cripu. kebaya adalah pakaian yang hanya dikenakan keluarga kerajaan di sana. bebed artinya manusia harus ubed. wanita-wanita Eropa mulai mengenakan kebaya sebagai pakaian resmi. Bali. Sumatera. Canela selalu dikenakan di kaki. Setelah akulturasi yang berlangsung ratusan tahun. nyonya kebaya kebudayaan 119 Jawa . atau sandal. hendaklah dari lahir sampai batin sujud atau manembah di kaki-NYA. atau pakaian rajutan tradisional lainnya seperti songket dengan motif warna-warni. dan Sulawesi. Jawa. rajin bekerja. Selop. Selama masa ini. artinya dalam menyembah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. batik. pakaian itu diterima di budaya dan norma setempat. Kini. Selama masa kendali Belanda di pulau itu. Dipercaya kebaya berasal dari Tiongkok ratusan tahun yang lalu. Mereka mengenakannya dengan sarung dan kaus cantik bermanik-manik yang disebut "kasut manek". Sebelum 1600. Lalu menyebar ke Malaka. berhati-hati terhadap segala hal yang dilakukan dan "tumindak nggubed ing rina wengi" (bekerja sepanjang hari) Kebaya Kebaya adalah blus tradisional yang dikenakan oleh wanita Indonesia dan Malaysia yang terbuat dari bahan tipis yang dikenakan dengan sarung. Pakaian yang mirip yang disebut "nyonya kebaya" diciptakan pertama kali oleh orang-orang Peranakan dari Melaka. selop atau sandal Canela mempunyai arti "Canthelna jroning nala" (peganglah kuat dalam hatimu) canela sama artinya Cripu. kebaya diubah dari hanya menggunakan barang tenunan mori menggunakan sutera dengan sulaman warna-warni.ngungkurake godhaning setan yang senantiasa mengganggu manusia ketika manusia akan bertindak kebaikan. di Pulau Jawa. Dalam hati hanyalah sumeleh (pasrah) kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa.

dan juga terkenal di antara wanita non-Asia. Surakarta maupun Jogjakarta menunjukkan penggunaan busana ini bagi keluarga kerajaan. perancang mode sedang mencari cara memodifikasi desain dan membuat kebaya menjadi pakaian yang lebih modern. Dokumentasi lama milik keluarga kerajaan dan keraton (Surakarta. Kebaya Indonesia Menurut Denys Lombard dalam bukunya Nusa Jawa: silang Budaya (1996) Kebaya berasal dari bahasa Arab ‘Kaba’ yang berarti ‘pakaian’ dan diperkenalkan lewat bahasa Portugis ketika mereka mendarat di Asia Tenggara. Setelah penyebaran agama Islam. kebaya dikenakan secara resmi oleh keluarga Kerajaan. Terpisah dari kebaya tradisional. Jenis ini kebudayaan 120 Jawa . Di beberapa pelosok Indonesia bahkan bisa ditemukan wanita yang tampil tanpa atasan apapun (Bali. Pakaian semacam ini serta-merta menggeser kemben tradisional. Kebaya yang dimodifikasi itu malah bisa dikenakan dengan jins atau rok. Cirebon) di tanah Jawa masih merekam Kebaya panjang ini dengan beberapa ornamen kenegaraan yang terpasang di beberapa sisinya (abad ke-19). Pada tahun 1600. Kata Kebaya diartikan sebagai jenis pakaian (atasan/blouse) pertama yang dipakai wanita Indonesia pada kurun waktu abad ke-15 atau ke-16 Masehi. Dugaan kuat mengatakan Kebaya awalnya merupakan atasan panjang berbentuk tunik sederhana yang menjulur dari leher hingga lutut (baju kurung).sedang mengalami pembaharuan. Hal ini mengingatkan kita akan Abaya dan kebaya Melayu. Argumen Lombard tentu berterima terutama lewat analogi penelusuran lingustik yang toh sampai sekarang kita masih mengenal ‘Abaya’ yang berarti tunik panjang khas Arab. dan pengaruh ini ditularkan setelah imigrasi besar-besaran menyambangi semenanjung Asia Selatan dan Tenggara di abad ke13 hingga ke-16 Masehi. Lampung. Yogyakarta. Dokumentasi lama kerajaan Islam Cirebon. terutama di Bali. Kita perlu menilik penyebaran dan masuknya Islam di Indonesia (abad ke-15) untuk mengetahui perkembangan Kebaya modern saat ini. kebaya menjadi busana yang populer dan bahkan menjadi simbol status. sementara bros serangkai (tiga berjajar) tersemat di bagian depan membentuk suatu penutup. Sementara sebagian yang lain percaya Kebaya ada kaitannya dengan pakaian tunik perempuan pada masa kekasiran Ming di Tiongkok. Gelang dan jam dikenakan diluar lengan Kebaya. Kebiasaan berbusana macam itu juga ikut tergeser. Keislaman sangat kuat memengaruhi siluet Kebaya di awal-awal perkembangannya. meski dalam beberapa acara adat harus berbusana seperti itu lagi. Jawa).

Kebaya tersingkir dalam kotak eksklusif Dharmawanita (organisasi wanita istri pegawai negeri yang terbentuk sejak tahun 1974). Katun kasar dan tenun tradisional tentu saja menjadi cikal bakalnya. Tidak memakan waktu lama. Terusan modern dan kemejakemeja wanita lebih digemari ketimbang Kebaya. Citra nasional yang dibawa Kebaya begitu kuatnya. Perlahan namun pasti. di rumah. ia harus mengalami sekali lagi pukulan itu. terutama jenis putu baru dan Kebaya encim yang masih ada jejaknya sekarang ini. Dari sekedar tradisional yang pribumi. Tiongkok. India. awal tahun 90-an Ghea kebudayaan 121 Jawa . dan sebagian Asia Tenggara mendominasi pasar tekstil Indonesia. Tinggal bagaimana tangan-tangan kreatif anak Bangsa memanfaatkannya. Dengan warna jingga salem-nya. Hampir semua wanita. Kebaya menjalar menjadi nasionalis dan bernafas kemerdekaan. Sebagian orang menanggapi kondisi ini sebagai masa-masa keemasan Kebaya sampai tahun 1960-an. Citracitra dan simbol-simbol yang diemban Kebaya di masa Soekarno membuat ia dijauhi. Revolusi besar kemerdekaan Indonesia tahun 1945 membawa Kebaya pada konstelasi nasionalis yang lebih absolut. Kebaya menjadi seragam resmi organisasi ini. Sentimen Barat pada Soekarno. Para wanita terdidik yang dekat dengan pemerintahan Soekarno saat itu banyak mengenakan aneka kebaya. Kaum perempuan yang merasa tidak terlibat dengan gejolak politik Orde Lama (Soekarno) memilih untuk tidak mengenakan Kebaya. Kabar baiknya adalah peran informasi dan pertukaran komoditi antar negara kembali terbuka lebar. Peralihan kekuasaan dari tangan Soekarno ke pemerintahan Orde Baru di bawah Soeharto tahun 1965 menempatkan Kebaya di posisi lemah. tetapi melekat pada kaum aristrokrat tertentu yang berpihak pada Soekarno. Yang terlihat adalah aneka corak dan warna-warna Kebaya yang beragam. Hingga tahun 1980-an Kebaya semakin terkucil di kalangan istri Militer dan pegawai negeri. dan sentimen Soekarno sendiri pada Barat membatasi jalur pertukaran komoditi Eropa dan Indonesia. Belum pulih benar Kebaya dari trauma politiknya.akhirnya merambah permainan bahan. meski beberapa desainer lokal macam Iwan Tirta mencoba melestarikannya. di manapun tampil berkebaya. sutra. Namun beludru. baik itu di kantor. dan katun halus kemudian menggantikan bahan-bahan keras tadi sesuai dengan masuknya koloni Eropa ke Indonesia dan membuka jalur perdagangan tekstil antar negara (sejak abad ke-18). Potongan dan pola-pola lama kembali meruak meski masih memegang pakem-pakem yang tercipta dari abad sebelumnya. Lagi-lagi faktor politik berkecamuk.

hingga acara-acara eksklusif yang mengusung citra Indonesia secara konsensus-tersembunyi mewajibkan Kebaya sebagai kode busananya. Desainer-desainer Indonesia sepakat. Keterbukaan pikiran menjadi titik tolak semua kegiatan di masa-masa 1997-2002. Dunia pernikahan. Hal ini kemudian memancing kompetisi antar desainer. teknik aplikasi. batu-batu mulia dan bulu binatang (ostrich’s feathers/cincila fur) hadir bersama taknik aplikasi yang kebudayaan 122 Jawa . pertemuan formal kenegaraan. Keluar dari sekedar organza dan katun. Soeharto undur. hal ini baik. Bahkan dipandang mempunyai janji ekonomi yang besar. Di kalangan elit dan perempuan berpendidikan. keluarga. bordir. Kreatifitas tak terbendung yang dicontohkan oleh para pemimpin setelah Soeharto dan dunia politik juga diikuti masyarakatnya. dan pencampuran bahan sebagai cikal bakal revolusi Kebaya di tahun 2000-an. perubahan besar itu juga diikuti dengan pemanfaatan bahan baku. Kebaya macam ini. Kita harus mencermati trend brokat (lace). memiliki predikat khusus. Ia memanfaatkan bahan sutra organdi dan serat-serat alam lain yang tergolong mewah menjadi Kebaya. pilin. Dalam lingkup kelas atas. hingga serat-serat yang tak terbayangkan sebelumnya seperti jute. dan garis luar berubah beragam-ragam. memelajarinya. yang kemudian banyak juga dikembangkan oleh desainer lokal lain. Bagai bola liar. siluet. drapery. dan kemudian berkreasi dengannya. dia yang menang. cutting. lipit. Secara pola. shantung.Panggabean melakukan eksperimen berarti pada Kebaya. Yang tandang dengan banyak ide. lace. nanas. Untuk beberapa alasan. Reformasi dipahami sebagai era kebebasan. Hingga akhirnya pemanfaatan material mewah macam payet. renda. Setelah 32 Tahun memerintah Indonesia. maupun kenegaraan. pisang. Mereka mulai meliriknya. Tahun 90-an pula Kebaya mulai mendapat tempat yang lebih luas. Banyak pranata yang dijungkirbalikan. Kekangan adalah barang haram di masa ini. Reformasi membawa angin segar sekaligus liar. Kebaya merambah ke jalur sutra. Kuncinya adalah inovasi! Sepertinya tuntutan kreasi dan aksentuasi dari para pemakai juga menjadi faktor besar yang mendorong Kebaya kembali ke era abad-19—masa dimana Kebaya punya kebebasan untuk berkembang. Digalilah kreasi-krasi baru yang segar dari banyak sumber untuk mempercantik Kebaya. Ia sah digunakan di acara-acara formal baik bersifat pribadi. Teknik bordir. Kebaya adalah genre khas dari dunia fesyen yang menjanjikan. kristal. dan unsur metal. layer hingga quilt ikut mewarnai kemegahan Kebaya. sifon.

Sedangkan cara modern merupakan suatu cara dimana pengrajin batik menggunakan cap yang menulis batik sehingga proses pengerjaannya lebih cepat. Batik merupakan busana hasil kerajinan rakyat dimana batik dibuat dengan menggunakan cara tradisional dan cara modern. sampai aksesorisnya. Kata ""tik" dari "setitik" berarti sedikit menggambarkan proses yang bertingkat sedikit demi sedikit. material dan bahan. Bahkan ada satu Kebaya yang memiliki berat hingga 22 Kg. Teknik aplikasi membuka kesempatan Kebaya sebagai benda seni yang bisa dihiasi apa saja—bahkan berlian jika memungkinkan. sehingga batik adalah asli dari Indonesia walaupun banyak beredar sekarang batik Malaysia sampai Myanmar. tepatnya Ambatik (bahasa Jawa yang berarti menggambar dan melukis). Lewat banyak teknik dan potongan. Tanpa harus terpengaruh imbas politik. Harga batik yang dibuat dengan cara tradisional pun lebih mahal. seperti banyak masyarakat Indonesia era 2000-an. karena kerumitan detail yang melekat padanya.revolusioner. Kebaya semata-mata menganut faham kreatifitas yang feminis. Ia kini. kreasi tanpa batas sangat mungkin dikerjakan. Kebaya tercipta sebagai karya seni. Batik pada prinsipnya merupakan proses pencelupan dan pencucian dan menggunakan malam sebagai bahan dasar. Batik Darimanakah kata Batik ?. kebudayaan 123 Jawa . Dengan teknik yang satu ini. Cara Tradisional adalah suatu cara dimana pengrajin batik masih menggunakan canting untuk menulis batik dan menggunakan malam sebagai bahan untuk menulis. ekonomi. Batik adalah kata dari bahasa Indonesia. Kebaya memasuki masa revolusinya sendiri. Secara kualitas batik yang dibuat dengan menggunakan cara tradisional akan lebih bagus kualitasnya. punya daya pandang dan tempatnya masing-masing. bahkan adat istiadat.

yaitu masyarakat pertanian. dan digunakan untuk acara formal tertentu. Canthing Seni batik pada dasarnya merupakan seni lukis dengan bahan: kain. yang kini sudah bergeser menjadi masyarakat industri agraris dan sepanjang masa sengsara. canthing dan malam ‘sebangsa cairan lilin’. contohnya upacara pernikahan. kebudayaan 124 Jawa . yang dibawa masuk ke keraton. mestinya diberi kesempatan mendapat bagian dari batik. titik atau cerek. Harjonagoro (Go Tik Swan) yang pernah hidup di antara rakyat jelata (antara lain para pengrajin batik di rumah kakeknya) maupun lingkungan keraton. sedangkan canthing yang bermoncong beberapa (dapat sampai tujuh) dipakai untuk membuat hiasan berupa kumpulan titik-titik." Begitu keyakinan KRT." "Karena berasal dari petani. setiap motif mampunyai arti khusus."Falsafah batik sebenarnya berakar pada petani. Canthing biasanya berbentuk seperti mangkuk kecil dengan tangki (pegangan) terbuat dari kayu atau bambu dan bermoncong satu atau lebih. Canthing yang bermoncong satu untuk membuat garis. Batik Surakarta Batik adalah bentuk seni klasik yang ruwet dan sudah lama sekali sangat penting di dalam adat Java. Baru kemudian timbul falsafah batik yang tidak berpijak pada pertanian. sering simbolis. Ada banyak motif yang berbeda. pemakaman atau hari peringatan. lalu diperbaiki dan diperhalus. mestinya harus mengalir kembali ke asalnya. Masyarakat itu.

atau gabungan/combinasi tangan dan cap. Cara ini dilakukan berulang kali. Ketiga cara merupakan bentuk seni yang menarik. menggunakan alat tembaga khusus untuk menggambar. pertama-tama harus dibuat cap tembaga.Batik adalah cara yang melawan celup. dapat digunakan untuk lebih dari satu kain. dengan tangan. sekarang. Juga terdapat dua cara untuk membuat batik tulis. Untuk hasil dari batik cap disebut batik cap. sedangkan bagian yang dimalam masih sama. dengan merebus malam keras pada kain dan menciptakan sebuah pola baru. dan hasilnya sama baiknya. Capnya sendiri sering diperlihatkan sebagai seni. Batik-batik yang digambar dengan tangan disebut batik tulis memerlukan 2-3 bulan untuk membuatnya. Cap dibuat dengan tangan dan juga proses memalaman. Cap ini digunakan untuk proses pemalaman.25 meter membutuhkan 60-90 hari untuk membuatnya. Sering sangat sulit untuk membedakan antara tulis. Capnya. itu menjadi melawan celup. Ada tiga dasar utama untuk menerapkan malam. cap atau batik combinasi. lebih murah dan lebih cepat.8 Keris kebudayaan 125 Jawa . yaitu sepotong kain 2. dengan sebuah cap tembaga. Pola digambar pada kain dengan malam yang dicairkan.25 x 1. cara tradisi dan cara modern. tergantung jenis pola dan berapa warnawarna yang diinginkan. Setelah malamnya menjadi keras. H. kainnya tanpa malam bisa dicelup.

Keris. apalagi jika yang memberikannya adalah raja. keris juga bisa diguanakan sebagai tanda status sosial. adalah hasil kegaiban yang lain dari Jawa kuno. keris menjadi lambing kepangkatan serta bisa dijadikan sebagai hadiah yang paling istimewa. bahkan sebelum Kerajaan Majapahit (abad ke-13). jenjang pangkat serta sebagai hadiah. Keris adalah bagian integral dari upacara Jawa. wisma. keluarga dan membela Negara. Keahlian membuat pisau belati Jawa berawal dari masa kuno. Pada zaman dahulu. atau pisau belati. sanggup melindungi diri sendiri. atau lakilaki Jawa itu harus tangguh. Di zaman dulu selain menjadi senjata. Keris dipakai oleh lelaki untuk peristiwa penting dan tatacara tradisionil. Sajarah Belum ada penelitian yang berhasil menentukan kapan orang Jawa mulai mengenal keris. pada umunya hanya menjadi barang koleksi atau sebagai perlengkapan upacara-upacara dan ritual adat. Keriss mempunyai makna jantan perkasa dan dewasa. keris Jawa sudah mempunyai wajud yang sempurna saat kerajaan majapahit. wanita dan kukila.Keris atau tosan aji adalah salah satu senjata tradisional masyarakat Jawa serta menjadi salah satu lambang utama seorang laki-laki selain turangga. selain itu. Fungsi Zaman sekarang fungsi dari sebuah keris sudah mulai berkurang. dahulu keris juga bisa menjadi simbol persaudaraan yang ditandai upacara tukar-menukar keris yang merupakan simbol persaudaraan yang paling luhur Fungsi keris lainnya adalah keris dianggap azimat dan media penghubung antara dunia manusia dengan dunia mistis (mahluk gaib) Bagian-bagian keris kebudayaan 126 Jawa .

Ukiran pada bagian-bagian keris Jawa mempunyai makna dan karakter yang berbeda-beda. yaitu keris yang lurus dan keris yang bilahnya berkelok-kelok atau luk. • Warangka atau sarung keris Jawa 127 kebudayaan . bisa disebutkan dapur jangkung mayang. dll. dimana ganja mewakili lambang yoni sedangkan pesi melambangkan lingganya. Bagian-bagian keris itu antara lain. atau penamaan ragam bentuk pada wilah-bilah (ada puluhan bentuk dapur). dan yang terkecil adalah luk tiga (3) dan terbanyak adalah luk tiga belas (13). Pada pangkal (dasar keris) atau bagian bawah dari sebilah keris disebut ganja (untuk daerah semenanjung Melayu menyebutnya aring). Pada pangkal wilahan terdapat pesi . yang merupakan ujung bawah sebilah keris atau tangkai keris. Di tengahnya terdapat lubang pesi (bulat) persis untuk memasukkan pesi. pudak sitegal. Di daerah Jawa Timur disebut paksi. Ganja ini sepintas berbentuk cecak. kebo tedan. jamang murub. pinarak. Ragam bentuk ganja ada bermacam-macam. jaka lola . bungkul .Keris mempunyai tiga bagian utama. dihitung dari sisi cembung dan dilakukan pada kedua sisi seberang-menyeberang (kanan-kiri). kelap lintah dan sebit rontal. dan dilihat dari bentuknya keris dapat dibagi dua golongan besar. dengan penampang sekitar 5 mm sampai 10 mm. biasanya disebut keris kalawija. bentuknya bulat panjang seperti pensil. wilut . • Wilah Wilah atau wilahan adalah bagian utama dari sebuah keris. Bagian inilah yang masuk ke pegangan keris ( ukiran) . maka bilangan terakhir adalah banyaknya luk pada wilah-bilah dan jumlahnya selalu gasal ( ganjil) dan tidak pernah genap. Pengamat budaya tosan aji mengatakan bahwa kesatuan itu melambangkan kesatuan lingga dan yoni. Jika ada keris yang jumlah luk nya lebih dari tiga belas. atau keris tidak lazim. Luk. dungkul . adalah bagian yang berkelok dari wilah-bilah keris. dimulai dari pangkal keris ke arah ujung keris. bagian perut disebut wetengan dan ekornya disebut sebit ron. Sebagai contoh. Salah satu cara sederhana menghitung luk pada bilah . yang biasanya disebut dapur. Pesi ini panjangnya antara 5 cm sampai 7 cm. masing masing bagain mempunyai bagian-bagian lagi yang lebih detil yang biasanya berupa ukiran. bagian depannya disebut sirah cecak. sehingga bagian wilah dan ganja tidak terpisahkan. dan juga terdiri dari bagian-bagian tertentu yang tidak sama untuk setiap wilahan. bagian lehernya disebut gulu meled .

Secara garis besar terdapat dua bentuk warangka. gandar. lata.Warangka. maka untuk memperindahnya akan dilapisi seperti selongsongsilinder yang disebut pendok . misalkan menghadap raja. Bali ) pendoknya terbuat dari emas . atau sarung keris. Palembang. paling tidak karena bagian inilah yang terlihat secara langsung. Ladrang dan gayaman merupakan pola-bentuk wrangka. Wrangka ladrang dipakai untuk upacara resmi . pengangkatan pejabat kerajaan. Warangka yang mula-mula dibuat dari kayu (yang umum adalah jati. timoho. perkawinan. janggut. yang digunakan adalah keris wrangka gayaman . Bagian atasnya atau ladrang-gayaman sering diganti dengan gading. karena wrangka gayaman lebih memungkinkan cepat dan mudah bergerak. cendana. ri serta cangkring. sehingga fungsi keindahannya tidak diutamakan. Sedangkan wrangka gayaman dipakai untuk keperluan harian. yaitu jenis warangka ladrang yang terdiri dari bagian-bagian : angkup. Tata cara penggunaannya adalah dengan menyelipkan gandar keris di lipatan sabuk (stagen) pada pinggang bagian belakang (termasuk sebagai pertimbangan untuk keselamatan raja ).maka fungsi gandar adalah untuk membungkus wilah (bilah) dan biasanya terbuat dari kayu ( dipertimbangkan untuk tidak merusak wilah yang berbahan logam campuran ) . disertai dengan kebudayaan 128 Jawa . dll) dengan maksud penghormatan. Karena fungsi gandar untuk membungkus . dan keris ditempatkan pada bagian depan (dekat pinggang) ataupun di belakang (pinggang belakang). Dalam perang. perak. dan gandek. pertimbangannya adalah dari sisi praktis dan ringkas. Untuk daerah diluar Jawa ( kalangan raja-raja Bugis . suasa ( campuran tembaga emas ) . Bagian pendok ( lapisan selongsong ) inilah yang biasanya diukir sangat indah . khususnya dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa. Dan jenis lainnya adalah jenis wrangka gayaman (gandon) yang bagian-bagiannya hampir sama dengan wrangka ladrang tetapi tidak terdapat angkup. adalah komponen keris yang mempunyai fungsi tertentu. walaupun tidak mutlak. dan kemuning). karena bentuknya lebih sederhana. Riau. Aturan pemakaian bentuk wrangka ini sudah ditentukan. gandek. dibuat dari logam kuningan. dan bagian utama menurut fungsi wrangka adalah bagian bawah yang berbentuk panjang ( sepanjang wilah keris ) yang disebut gandar atau antupan . emas . Goa. Sejalan dengan perkembangan zaman terjadi penambahan fungsi wrangka sebagai pencerminan status sosial bagi penggunanya. acara resmi keraton lainnya (penobatan. godong (berbentuk seperti daun). godong.

serta (3) pendok topengan yang belahannya hanya terletak di tengah . Sulawesi Selatan yang dibawa oleh pedagang dari Bugis. bathuk (kepala bagian depan) .weteng dan bungkul. Diluar wilayah Nusantara dan sekitarnya biasanya hanya dikenal teknik Inlay saja seperti pedang dari Iran atau negara Eropa lainnya sehingga walau secara seni (art) tampak indah tetapi kesan “Wingit” nya tidak ada sama sekali. Untuk keris Jawa . jiling. Tombak. Apabila dilihat dari hiasannya. Hiasan ini dibentuk bukan karena diukir atau diserasah (Inlay) atau dilapis tetapi karena teknik tempaan yang menyatukan beberapa unsure logam yang berlainan. Terkenal dulu bahan pamor dari Luwu.tambahan hiasan seperti sulaman tali dari emas dan bunga yang bertaburkan intan berlian. cetek. • Gaman Untuk pegangan keris Jawa. Pedang atau Wedung dan lain lainnya). yaitu (1) pendok bunton berbentuk selongsong pipih tanpa belahan pada sisinya . kebudayaan 129 Jawa . secara garis besar terdiri dari sirah wingking ( kepala bagian belakang ) . pendok ada dua macam yaitu pendok berukir dan pendok polos (tanpa ukiran). cigir. menurut bentuknya pendok ada tiga macam. (2) pendok blewah (blengah) terbelah memanjang sampai pada salah satu ujungnya sehingga bagian gandar akan terlihat . Pamor Keris Pamor merupakan hiasan atau motif atau ornamen yang terdapat pada bilah tosan aji (Keris.

Bahan Pamor yang paling terkenal adalah Pamor Prambanan. lebih sulit dari pembuatan pamor miring. Kalau lipatannya lebih banyak lagi seperti buatan Empu Pangeran Sedayu maka pamor luluhan ini tidak tampak dengan mata telanjang dan sangat kecil atau tiad mungkin kena karat karena menyatunya bahan pamor dengan bahan besinya. PAMOR MIRING. PAMOR MLUMAH. diantara pamor Adeg pada beberapa bagian bilah tampak pamor luluan yang sepintas seperti pamor Nggajih. Pamor Mlumah biasanya bermotif Beras Wutah. Batu Lapak. Wulan-wulan dan sebagainya. Apabila lipatannya banyak. kebudayaan 130 Jawa . ini akan terlihat dengan menggunakan kaca pembesar. a. Tumpuk dll. Satria Pinayungan. Ada juga tosan aji yang dibuat dengan kombinasi pamor mlumah dan miring hanya saja pembuatannya sangat sulit. sehingga keris saat ini bobot nya biasanya lebih berat dari keris kuno. Pamor mlumah adalah lapisan-lapisan pamornya mendatar sejajar dengan permukaan tosan aji sedangkan pamor miring lapisan pamornya tegak lurus permukaan bilah. praktis pamor dan besi sudah “menyatu” walau tidak terlalu homogen. Kesan Pamor Miring agak kasar bila diraba bilahnya dan nyekrak dibanding pamor mlumah. sedangkan Pamor Miring umumnya motif Adeg. Cara lainnya. Pamor luluhan yang gampang terlihat antara lain di keris buatan Empu Pitrang dijaman Blambangan. maka hasilnya kemungkinan akan menjadi pamor luluhan. Sodo Saeler. baik di pamor mlumah atau miring. barulah bahan Nikel digunakan. Ngulit Semangka. Udan Mas. Setelah bahan meteorit susah didapat. saat ini ada di Kraton Surakarta diberi nama Kanjeng Kyai Pamor dan ukurannya sekarang tinggal sekitar 60x60x80 Cm sebesar meja kecil karena sudah banyak digunakan empu membuat karis pesanan dari Kraton. Dilihat dari cara pembuatannya sebetulnya hanya dua cara pembuatan Pamor yang baik yaitu Mlumah dan Miring.

Sebenarnya agak sulit membedakan mana pamor rekan atau tiban karena bisa dilihat dari sudut pandang yang berbeda-beda. Sewaktu membuat keris. Sang Empu berpasrah diri kepada Tuhan YME dan menyerahkan saja bagaimana bentuk pamor yang terjadi maka biasanya pamor yang timbul disebut pamor Tiban. PAMOR MUNGGUL Banyak yang menganggap pamor ini pamor titipan. PAMOR REKAN dan PAMOR TIBAN. baik bulat atau lonjong kebudayaan 131 Jawa . selain itu banyak yang menganggap ini sebagai pamor tiban karena tidak bisa dibuat secara sengaja. pamornya dinamakan Nggajih karena menyerupai lemak. misal sang empu ingin membuat pamor Ron Genduru tetapi jadinya malah Ganggeng Kanyut. empu Desa atau disebut juga empu Njawi. b. Pamor rekan sering juga gagal dalam pembuatannya.Ada lagi cara membuat pamor dengan menyiramkan bahan pamor cair ke bilah membara dari pangkal keris keujungnya. caranya dengan menuangkan bahan tersebut yang cair kebilah besi yang membara kemudian dioleskan dengan ujung mancung (kelopak bunga) kelapa sebelum bahan cair tersebut mengeras dan dibuat pamor yang dikehendaki si Empu. sedangkan bila selama pembuatan direka oleh sang Empu maka pamor yang terjadi disebut pamor rekan. Hasilnya umumnya kasar bila diraba dan pamor ini disebut Ngintip (dari Intip/Kerak nasi). c. Cara ini hanya digunakan Empu luar keraton. Pamor ini seperti bisul menonjol sekitar 1 mm diatas permukaan bilah umumnya berbentuk lingkaran. biasanya bukan dari batu meteorit tetapi logam yang titik leburnya lebih rendah dari besi.Ada cara lain membuat pamor selain Mlumah dan Miring yaitu dengan cara mengoleskan bahan pamor ke bilah.

tetapi ada yang berbentuk gambar membujur lancip panjang. Pamor ini berbentuk rangkaian kecil yang merupakan perlambang atau tuah tertentu dan pamor ini jarang berdiri sendiri. Bisa ditepi atau tengah bilah dan termasuk pamor yang baik serta dicari banyak orang. Letaknya bisa dibagian sor-soran. jadi susah diduga berapa suhu yang tepat itu. antara lain Beras Wutah. kalau tersebar dipermukaan bilah disebut “dheling setong” dan dianggap mempunyai tuah baik. Sebetulnya ini terjadi karena penempaan pamor tersebut dilakukan pada suhu yang tepat yang berbeda setiap bahannya. Wujudnya menyerupai lelehan dari tepi bentuk pamor dengan warna putih cemerlang keperakan dan lebih cemerlang dibanding keputihan pamor pada umumnya. ternyata semua salah. Kodiyat atau Akadiyat. sehingga banyak yang sepakat bahwa pamor ini dikategorikan ke pamor tiban. tengah ataupun pucuk. e. PAMOR AKHODIYAT. Ada yang menganggap sebagai pamor titipan atau “sifat” dari pamor tersebut. Di Madura biasa disebut pamor “dheling”. Namanya kadang Akordiyat. Pamor dheling yang terbaik terdapat di pucuk bilah dan disebut “dheling pucuk” dan atau dibagian peksi yang disebut “dheling peksi”. tetapi ini baru dugaan saja. PAMOR TITIPAN. kebudayaan 132 Jawa . d. umumnya tergabung dengan pamor lain yang lebih dominan. Pulo Tirto atau Pendaringan Kebak. Bagaiman pamor ini timbul tidak bisa diterangkan secara pasti. tetapi diduga saat “masuh” atau membersihkan bahan keris dari kotoran. ada unsur logam lain yang menyelip dan lebih keras dari unsur logam besi.

Kecamatan Babat. tauge. merupakan pamur yang disusulkan. Lamongan terkenal akan wingko babat nya. tahu pong. Gedong Mingkem. dan lontong kupang. Madiun dikenal sebagai penghasil brem dan nasi pecel. tidak sengaja dibuat seperti Pamor Rahala. tuangi kuah dan daging tetelan. sate kerang. 2) Tahu Campur Lamongan Tahu campur disajik di dalam mangkuk. lontong balap. 3) Madu mongso Jawa 133 kebudayaan . semanggi. Dikiling.9 1) Makanan Khas Rawon dan rujak petis. Kediri terkenal akan tahu takwa. diberi irisan perkedel singkong dan ditaburi dengan bawang goreng dan dengan bahan pelengkap sambal.Pamor ini ada yang merupakan pamor tiban. Udan Mas. Pamor titipan yang merupakan pamor rekan antara lain yang terkenal adalah Kuto Mesir. Malang dikenal sebagai penghasil keripik tempe. Bondowoso merupakan penghasil tape yang sangat manis. terdiri dari tahu. H. Kul Buntet. sementara ubi kayu yang diolah menjadi gaplek dahulu merupakan makanan pokok sebagian penduduk di Pacitan dan Trenggalek. Putri Kinurung. petis. Sidoarjo terkenal akan kerupuk udang dan petisnya. Jung Isi Dunya. Watu Lapak dll. daun sla diiris. mi. dan getuk pisang. Jagung dikenal sebagai salah satu makanan pokok orang Madura. Inkal. Pamor Titipan yang merupakan pamor tiban dibuat bersama dengan pamor lainnya sedangkan yang rekan biasanya dibuat setelah pamor dominan jadi. Telaga Membleng dll. Makanan khas Jawa Timur diantaranya adalah Surabaya terkenal akan rujak cingur.

bawang putih. 3. bawang putih. Makanan dan Minuman khas Jawa Tengah 1. bawang merah. 5. bawang merah. Sayur Merica Dari ikan laut segar dengan bumbu cabe. telur rebus/ceplok langsung dengan bumbu cabe. garam dan santan kental. Sebagai sayur untuk makan siang/malam dalam menu sehari-hari. bawang kebudayaan 134 Jawa . Sebagai sayur untuk makan siang (menu sehari-hari). Adalah sebagai lauk pauk dan biasanya dirangkai dengan lontong. kunyit. gula merah.Merupakan makanan khas Jawa Timur yang dibuat dari ketan item dicampur dengan tape. 4. makanan ini dibungkus menyerupai bentuk permen menggunakan kertas minyak yang berwarna-warni. bawang merah. Biasanya ditambahkan juga ikan pindang. asam (tomat) garam dan air. Petis Bumbon Sayur untuk makan siang/malam yang terbuat dari bahan-bahan petis ikan/udang. merica. 4) Rujak Cingur Makanan khas Jawa timur ini merupakan campuran dari berbagai macam sayuran yang disirami bumbu kacang yang dilengkapi dengan petis dan pisang klutuk muda. Sate Sarepeh Berupa sate ayam kampung bumbunya terdiri dari cabe merah. santan dan garam. bawang putih. 2. Mangut Ikan laut segar yang dipanggang dengan bumbu-bumbu cabe hijau. garam dan air. Yang membuat makanan ini berbeda adalah dengan adanya cingur (hidung sapi). Pindang Tempe Tempe dengan bumbu-bumbu cabe. bawang putih.

gula aren. Rasanya sangat gurih. Kemudian tempatnya dari daun lontar (pohon nira) berbentuk kerucut dengan bau yang khas. 12. Jadah yang terkenal adalah dari desa Pohlandak (Kecamatan Pancur). air nira dan garam. kacang hijau. biasanya sekitar jam 15.merah. kunci. kalau makan tinggal didudul (ditekan) saja. 8.00 WIB sudah dijual di lokasi desa Tuyuhan di sepanjang pinggir jalan dengan pemandangan sawah-sawah yang menghijau. Kerupuk Bakar Kerupuk udang dan tengiri dari kota Rembang yang dioven atau dibakar. Gula Semut kebudayaan 135 Jawa . 10. dan kalau suka ditaburi buah nangka/kelapa muda yang dipotong sebesar dadu. Dan minumannya air putih yang ditempatkan di kenda (tanpa gelas). gula aren/gula pasir dan garam. Dan biasanya dimakan dengan Jadah. garam dan ditambah santan kental. kelapa muda. 7. air pohon nira (legen). gula pasir/gula aren dan ditambahkan garam. Jadah Terbuat dari beras ketan putih. lengkuas. Sebagai makanan sore hari/malam hari. 11. Yang terkenal dari desa Pohlandak (Kecamatan Pancur) dan desa Mondoteko (Kecamatan Rembang). Dumbeg Dibuat dari tepung beras. Makanan ini tidak pernah atau jarang dibuat ibu rumah tangga. Berasal dari desa Gunem Kecamatan Gunem. Biasanya dimakan bersama dengan Jenang waluh. kemudian dicetak persegi dan dibungkus dengan daun pisang (seperti lemper). yang rasanya sangat manis. Lontong Tuyuhan Lontong dengan opor ayam kampung pedas khas desa Tuyuhan (Kecamatan Pancur). 6. daun jeruk purut. Tempatnya dari daun lontar berlubang bulat kecil sebanyak 5 buah. rasanya sangat manis dan gurih. Kaoya Dudul Terbuat dari beras ketan. garam yang ditumbuk halus (sewaktu masih panas) di atas keranjang yang Terbuat dari daun lontar/daun kelapa muda dan alat tumbuknya juga dilapis dengan daun lontar dan kelapa muda. 9. yang terkenal dari desa Pohlandak (Kecamatan Pancur). Jenang Waluh Dibuat dari buah waluh.

Sedangkan yang lain diantaranya adalah : Dari Banyumas : • Sroto Sokaraja Soto Sokaraja atau oleh masyarakat Banyumas disebut Sroto Sokaraja adalah sejenis makanan dari Indonesia. Bau dan rasanya enak. kita dapat menikmati soto di warung-warung yang berderet rapi di sepanjang jalan di Sokaraja. Soto Sokaraja sudah banyak dijual di luar Banyumas tetapi kalau sempat mampir ke Sokaraja. sehingga hasilnya seperti gula pasir atau gula halus yang berwarna coklat. Yang terkenal dari Desa Bonang Kecamatan Lasem. Menggunakan sambal kacang sebagai campurannya. Terasi Petis Bonang Terbuat dari udang atau ikan segar dengan proses pemanasan. tauge. 14. Ciri utama dari soto ini adalah penggunaan sambal kacang dan ketupat. • • • • Gethuk goreng Tempe mendoan Lanting Sate Ambal Dari Jepara : • Bangket Soto Kudus Pesisir Utara • kebudayaan 136 Jawa .Terbuat dari pohon nira ( legen ) dengan proses pemanasan. 13. dan diberi ketupat. Kupat Tahu Merupakan makanan khas Magelang yang berisi tahu. kubis. Soto ini memiliki ciri khas yang berbeda dengan soto-soto lainnya yang ada di Indonesia.

• • • • • • • • • • • • • Nasi pecel Opor ayam Tongseng Cabuk rambak Tumpeng Mangut lele Srabi Solo Geplak Sate Kocor Tengkleng Bakpia Trancam Sate Winong nasi gandul Jawa 137 Pati-Juwana Jawa tengah • kebudayaan .• • • • • • Soto Tegal Sate Tegal Lumpia Semarang Taoto Nasi megono Nasi Grombyang Gudeg Dari Yogya-solo : • Gudeg Jogja punya rasa manis yang khas.

Banyak pula diambil cerita dari luar negeri.10 Ketoprak dan Ludruk Ketoprak (bahasa Jawa kethoprak) adalah sejenis seni pentas yang berasal dari Jawa. Biasanya diambil dari cerita legenda atau sejarah Jawa. Tema cerita dalam sebuah pertunjukan ketoprak bermacam-macam. Beberapa tahun terakhir ini. Dalam pentasan jenis ini. sandiwara yang diselingi dengan lagulagu Jawa. yang diiringi dengan gamelan disajikan. Ketoprak Humor yang ditayangkan di stasiun televisi RCTI. banyak dimasukkan unsur humor. Tetapi tema cerita tidak pernah diambil dari repertoar cerita epos (wiracarita): Ramayana dan Mahabharata. Ludruk adalah kesenian drama tradisional dari Jawa Timur. Ludruk merupakan suatu drama tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang di gelarkan disebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan kebudayaan 138 Jawa . Sebab nanti pertunjukkan bukan ketoprak lagi melainkan menjadi pertunjukan wayang orang. Dalam sebuah pentasan ketoprak.H. muncul sebuah genre baru.

cerita perjuangan dan lain sebagainya yang diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik. Di daerah ini kondisi sosio kultural masih sangat kental dengan hal-hal yang dianggap magis dan dapat mereka buktikan dengan kemampuan mereka (masyarakat Ponorogo) dan Religi/Kebatinan yang sangat kuat. Bahasa lugas yang digunakan pada ludruk.11 Reog Salah satu tarian Pembuka Topeng barong reog yang dipakai sebagai atraksi penutup Reog adalah salah satu seni yang ada di Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Dialog/monolog dalam ludruk bersifat menghibur dan membuat penontonnya tertawa. Pada dasarnya masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai pewarisan budaya yang sangat kaya. membuat dia mudah diserap oleh kalangan non intelek (tukang becak. Sementara ludruk menceritakan cerita hidup seharihari (biasanya) kalangan wong cilik. etc). Ludruk berbeda dengan ketoprak dari Jawa Tengah. meski terkadang ada bintang tamu dari daerah lain seperti Jombang. Cerita ketoprak sering diambil dari kisah zaman dulu (sejarah maupun dongeng). seorang jagoan Madura. H. dan bersifat menyampaikan pesan tertentu. peronda. Upacaranya pun menggunakan kebudayaan 139 syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk Jawa . Madura. Dalam pengalamannya Seni Reog merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk adanya aliran kepercayaan yang ada secara turun temurun dan terjaga. Madiun dengan logat yang berbeda. sopir angkotan. menggunakan bahasa khas Surabaya. Malang.rakyat sehari-hari. Sebuah pementasan ludruk biasa dimulai dengan Tari Remo dan diselingi dengan pementasan seorang tokoh yang memerakan "Pak Sakera".

baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni reog ditampilkan. Untuk hajatan khitanan atau sunatan. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang. biasanya cerita pendekar. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. dengan muka dipoles warna merah. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam. Disini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan) dan kadang-kadang dengan penonton. mereka menganut garis keturunan Parental dan hukum adat yang masih berlaku. Setelah tarian pembukaan selesai. yang harus dibedakan dengan seni tari lain yaitu tari kuda lumping. Adegan dalam seni reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi.memenuhinya tanpa adanya garis keturunan yang jelas. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan. Yang lebih dipentingkan dalam pementasan seni reog adalah memberikan kepuasan kepada penontonnya. Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu. khitanan dan hari-hari besar Nasional. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Seni Reog Ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian 2 sampai 3 tarian pembukaan. Jika berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Pada reog tradisionil. Pementasan Seni Reog Reog modern biasanya dipentaskan dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan. kebudayaan 140 Jawa .

Sementara itu nama tembang dalam kidung pula amat bergantung kepada jumlah baris dalam bait dan vokal akhir pada setiap baris. Ia juga turut dikenali sebagai tembang atau nyanyian. Kemampuan untuk membawakan topeng ini selain diperoleh dengan latihan yang berat.12 KIDUNG/PUISI Kidung adalah puisi Jawa asli walaupun masih dijumpai vokal panjang tetapi tidaklah sebanyak yang ditemui di dalam kekawin. Topeng yang berat ini dibawa oleh penarinya dengan gigi. Berikut ini contohnya : Sangtabyana ta pakulun rancana cipta kumawi Panji prakasa tembange Ki Subrataka kang winuwus luputa ring lara roga nirmala waluya jati luputta ring pamurung luputta ring baya pati. dimana pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak. Bahasa yang digunakan di dalam kidung ialah campuran Jawa Kuno dengan Jawa Baru tetapi susunannya masih menurut cara kuno dengan memakai *Tembang Gedhe yang sudah menyimpang iramanya seperti Kidung Subrataka yang muncul pada zaman Jawa Tengahan.Adegan terakhir adalah singa barong. Berat topeng ini bisa mencapai 50-60 kg. juga dipercaya diproleh dengan latihan spiritual seperti puasa dan tapa. kebudayaan 141 Jawa . Arti : Bahagialah tuanku kisah cubaan akan dinyanyikan dengan lagu panji prakasa Ki Subrata yang dikisahkan moga-moga terluput dari malapetaka nirmala dan sihat wal¡¯afiat luput dari halangan luput dari bahaya maut. H.

Tetapi itu juga belum pasti.H. Jika dilihat dari ”kerata basa”. mijil umumnya ditaruh didepan. Tiap bait. Serat Wirid Hidayat Jati. Lagu ini mulai ada di jaman Majapahit. madura dan Sunda. Jika dibandingkan dengna kakawin. Macapat banyak dipakai di Sastra Jawa Tengah dan Sastra Jawa Baru. Aturan – aturan itu ada pada : • • • Guru gatra : bilangan baris/gatra tiap bait. Kitab-kitab pada jaman Mataram Baru. lagu ini ada enam larik. yang umumnya sering dipakai dimana-mana. Membacanya memang dirakit tiap empat suku kata. Macapat bisa dibagi menjadi tiga jenis yaitu : Sekar Macapat atau Sekar Alit Sekar Madya atau Sekar Tengahan Sekar Ageng 1. • Mijil Mijil itu artinya lahir atau keluar. Guru wilangan : bilangan suku kata tiap gatra.13 LAGU ADAT JAWA MACAPAT Adalah lagu tradisional dari tanah Jawa. dengan guru wilangan dan guru lagu : • • • • • 10-i 6-o 10-é 10-i 6-i Jawa 142 kebudayaan . Guru lagu : suara vokal di akhir tiap baris. macapat artinya ”maca papat-papat”. Sekar Macapat atau Sekar Alit Macapat ini juga disebut sebagai lagu macapat asli. seperti wedathama. dan yang lain-lain disusun dengna lagu ini. dan dimulai saat walisanga memegang kekuasaan. Macapat juga menular ke kebudayaan Bali. Wulangreh. Di deretan lagu macapat. aturan-aturan pada macapat itu lebih mudah. Kalathida. karena tidak ada peninggalan tulisan yang dapat membuktikannya.

Lelaku alon siniji-siji 5. lagu ini ada sembilan baris. Kaliren wekasanipun 7. Amung anjali soca ing tembé 4. Metrum Tiap bait. Éwuh aya ing pambudi 3. Milu édan nora tahan 4. Boya kaduman melik 6.• 6-u Contoh 1. Amenangi jaman édan 2. Sesotya satuhu • Sinom Arti umumnya sinom berarti ”godhong asem sing isih enom” ( daun asam yang masih muda ). Di Macapat. dengan guru bilangan dan guru lagu : • • • • • • • • • 8-a 8-i 8-a 8-i 7-i 8-u 7-a 8-i 12 – a Contoh 1. Seperti anak kecil yang baru tahu dunia. sinom mempunyai sifat yang masih muda. Yèn tan milu anglakoni 5. Nunggu mring wartaning 6. Ndilalah karsa Allah kebudayaan 143 Jawa . Kabeh durung katon 3. Mijil ing donya siniwi ratri 2.

duk ing uni caritane. lagu yang menggunankan metrum Dhandhanggula juga mempunyai isi yang manis seperti gula. kebudayaan 144 Jawa . Dhandhang itu harapan. lamun bisa sira anuladha. kang ginelung tri prakara. Luwih begja kang éling lawan waspada Dari Serat Kalatidha. Dari sini kita bisa mengetahui jika lagu ini dibuat pada jaman Kediri. andelira sang prabu. Tetapi ada juga yang menghubungkan asala kata dhandhanggula dengan salah satu raja di jaman Kediri yaitu dhandhanggendhis.8. lelabuhanipun. Sasrabahu ing Maespati. • • • • • • • • • • 10-i 10-a 8 -é 7 -u 9 -i 7 -a 6 -u 8 -a 12-i 7 –a Contoh Yogyanira kang para prajurit. Begja-begjané kang lali 9. aran patih Suwanda. banyak nasehat pada jaman dahulu yang menggunakan jenis ini. • Dhandhanggula Dhandhanggula adalah salah satu lagu macapat yang isinya “pengharapan yang baik”. Karena itu. karya Ki Ranggawarsita. Metrum Tiap bait ada 10 baris.

karya Kyai Yasadipura ) Contoh 2 Pitik tulak pitik tukung Tetulake Jabang bayi Ngedohaken cacing racak Sarap sawane sumingkir Si tulak manggung ing ngarso Si Tukung ngadhangi margi kebudayaan 145 Jawa . nuhoni trah utama • Kinanthi Kinanthi adalah salah satu lagu macapat yang umunya dipakai rasa suka. Ada juga yang memasangkan kinanthi dengan maskumambang. Kinanthi ini juga bias mempunyai arti “gegandhengan tangan” dan bias juga berarti nama suatu bunga. Metrum Kinanthi itu terdiri dari 6 baris pada tiap bait. • • • • • • 8-u 8-i 8-a 8-i 8-a 8-i Anoman mlumpat sampun praptêng witing nagasari mulat mangandhap katingal wanodyâju kuru aking gelung rusak awor kisma ingkang iga-iga kêksi Contoh 1 (diambil dari ” Serat Rama Kawi”.guna kaya purun ingkang den antepi. Maskumambang itu untuk laki-laki yang dewasa. cinta dan kebijaksanaan. sedangkan kinanthi itu untuk perempuan.

• • • • • • • 8-a 8-i 8-é 8-a 7-a 8-u 8-a Contoh Gegaraning wong akrami Dudu bandha dudu rupa Amung ati pawitané Luput pisan kena pisan Lamun gampang luwih gampang Lamun angèl. kata asmaradana diambil dari kata asmara yang artinya cinta. Jika dilihat aslinya. Oleh karena itu. angèl kalangkung Tan kena tinumbas arta Aja turu soré kaki Ana Déwa nganglang jagad Nyangking bokor kencanané Isine donga tetulak Sandhang kelawan pangan Yaiku bagéyanipun wong welek sabar narima kebudayaan 146 Jawa . Metrum Asmarandana terdiri dari 7 baris dalam tiap bait. dan dahana yang artinya api.• Asmarandana Lagu Asmarandana umumnya dipakai bagi orang yang sedang jatuh cinta. asmarandana berisi tentang kasih sayang.

Metrum Tiap bait ada 7 baris. Jika cinta. lalu banyak beraneka macam lagu yang menggunakan nama pangkur. Metrum Lagu pangkur terdiri dari 7 baris tiap bait. pangkur palaran. itu adalah nasehat yang tinggi. Adakalnya Durma memuat keadaan yang menyeramkan dan membuat takut. yaitu antara lain : pangkur jenggleng. Jika suatu nasihat. itu adalah cinta yang utama. • • • • • • • 12-a 7 -i 6 -a 7 -a 8 -i 5 -a 7 -i Contoh Kae manungsa golek upa angkara Sesingidan mawuni ngGawa bandha donya mBuwang rasa agama Nyingkiri sesanti ati Tan wedi dosa Tan eling bakal mati • Pangkur Pangkur adalah salah satu lagu macapat yang mempunyai sifat “munggah ndhuwur”. Durma termasuk lagu yang wingit.i 8-u Jawa 147 kebudayaan . Dari lagu ini. pangkur lombok dan lain-lain. • • • 8-a 11.• Durma Durma adalah salah satu lagu macapat yang mempunyai sifat galak.

• • • • 7-a 12. • • • • 12-i 6 -a 8 -i 8 -a Gereng-gereng Gathotkaca sru anangis Sambaté mlas arsa Luhnya marawayan mili Gung tinamêng astanira Contoh • Pocung Jawa 148 kebudayaan . sedangkan yang perempuan itu adalah kinanthi. Metrum Tiap bait. Kata maskumambang itu merupakan sambungan antara kata ‘emas’ den ‘kumambnag’.u 8-a 8-i Sekar Pangkur kang winarna lelabuhan kang kanggo wong aurip ala lan becik puniku prayoga kawruhana adat waton puniku dipun kadulu miwa ingkang tatakrama den keesthi siyang ratri Contoh • Maskumambang Maskumambang adalah salah satu lagu macapat yang menjadi lambing saat orang laki-laki beranjak dewasa. lagu Maskumambnag ada 4 baris. Sifat dari lagu ini. pada masa ketika dari anak menjadi manusia yang kelihatan ditengah lingkup social. Ada juga yang menganggap jika Maskumambang itu lagunya laki-laki. umumnya berisi orang yang sedang mengeluh sakit dan sengsara.

Tetapi Pucung juga dapat diartikan sebagai nama biji buah-buahan.manusia diingatkan kalau semua tingkah laku manusia itu ada akibatnya. Pucung dipakai sebagai lagu yang bias mengingatkan kepada manusia yaitu jika hidup di dunia pasti ada akhirnya.Pucung (adakalanya ditulis pocung) adalah lagu macapat yang mengingatkan tentang kematian. Nasehat yang menggiring manusia agar ingat dengan tingkah lakunya. Metrum Lagu pucung hanya ada 4 baris pada tiap bait. Seperti lambnag mori untuk membungkus orang yang meninggal. Lagu ini sering digunakan untuk lagu-lagu yang lucu seperti parikan atau tanya Jawab. kebudayaan 149 Jawa . Kata pucung dekat dengan kata pocong. • • • • 12-u 6 -a 8 -i 12-a Contoh Ngelmu iku kelakone kanthi laku Lekase lawan kas Tegese kas nyantosani setya budya pangekesing dur angkara • Gambuh Contoh Sekar gambuh ping catur Kang cinatur Polah kang kalantur Tanpo tutur katulo-tulo katali Kadaluwarso katutur Katutuh pan dadi awon Lagu gambuh itu memang penuh dengan nasehat. Akhiran cung juga memberi rasa segar yang mengingatkan kepada sesuatu yang lucu seperti menggunakan kata “dikuncung”.

8u. sigra milir kang gèthèk sinangga bajul kawan dasa kang njagèni ing ngarsa miwah ing pungkur tanapi ing kanan kéring kang gèthèk lampahnya alon 2. dengan guru bilangan dan guru lagu : 12u. dengan guru bilangan dan guru lagu : 8a. 8a. Contoh Contoh ini diambil dari “Serat Pranacitra” ni ajeng mring gandhok wétan wus panggih lan Rara Mendut alon wijilé kang wuwus hèh Mendut pamintanira adhedhasar adol bungkus wus katur sarta kalilan déning jeng kyai Tumenggung.• Megatruh Megatruh mempunyai sifat prihatin rasa sakit hati karena rindu. lagu ini ada 7 baris. • Jurudemung Jurudemung itu termasuk sekar madya. Sekar Madya utawa Sekar Tengahan Macapat jenis ini seperti lagu kidung yang sering dipakai pada jaman Majapait. 8i. 8u. 8o. 8u. • Wirangrong kebudayaan 150 Jawa . lagu ini ada lima baris. Contoh Contoh ini diambil dari Babad Tanah Jawi karya Ki Yasadipura. 8a. Guru bilangan dan guru lagu Tiap bait. 8i. 8u. Guru bilangan dan guru lagu Tiap bait. 8u. Sifatnya “prenesan” dan biasanya dipakai sebagai lagu wangsalan atau yang agak erotis.

Sekar Ageng Sekar Macapat Ageng ( besar ) hanya ada satu yaitu Girisa.Wirangrong itu termasuk dalam sekar madya. lagu ini terdiri dari 6 baris. Girisa (macapat) Girisa itu memiliki sifat nasihat. Lagu ini biasanya dipakai untuk menyanyikan hal-hal yang gagah. 12a. 3é. Guru bilangan dan guru lagu kebudayaan 151 Jawa . 8o. Contoh dèn samya marsudêng budi wiwéka dipunwaspaos aja-dumèh-dumèh bisa muwus yèn tan pantes ugi sanadyan mung sakecap yèn tan pantes prenahira • Balabak Balabak itu memiliki sifat yang spontan. 10u. byar rahina Kèn Rara wus maring sendhang mamèt wé turut marga nyambi reramban janganan antuké praptêng wisma wusing nyapu atetebah jogané 3. sekar macapat ageng seperti lagu kakawin di jaman dahulu. dengan guru bilangan dan guru lagu: 12i. Contoh Contoh ini diambil dari “Serat Jaka Lodhang” karya Ki Ranggawarsita. Sifatnya itu penuh wibawa. 6i. dengan guru bilangan dan guru lagu : 8i. 3é. 3é. 8a. lagu ini ada 6 baris. 7a. Guru bilangan dan guru lagu Tiap bait. Jika dilihat dari kesusahannya. 12a. Guru bilangan dan guru lagu Tiap bait.

Putri niku sisane si yuyu kangkang…  YEN ING TAWANG ANA LINTANG Yen ing tawang ono lintang cah ayu…. LAGU-LAGU LAIN SELAIN MACAPAT Kumpulan lagu (Jawa)  ANDE ANDE LUMUT Putraku si ande ande lumut…. lagu ini ada 8 baris.aku ngenteni tekamu Marang mego ing angkoso. 8a..nimas… Sun takokne pawartamu Janji janji aku iling.Tiap bait. Contoh Contoh ini diambil dari “Serat Wiratadya” karya Ki Ranggawarsita. Putriku kang ayu rupane……… Kleting kuning kang dadi asamane…… Bu…si Bu… kulo mboten purun…. déné utamaning nata bèr budi bawa leksana liré bèr budi mangkana lila legawa ing driya agung dènya paring dana anggeganjar saben dina liré kang bawa leksana anetepi pangandika. 8a.nimas. 8a. Tumuruna ana putri kang unggah unggahi…. 8a. dengan guru bilangan dan guru lagu : 8a. Tresnaku sundul ing ati Dek sakmono janjimu disekseni kebudayaan 152 Jawa .cah ayu… Sumedot rasaning ati Linang lintang ngiwi iwi. 8a. 8a. 8a...

 LIR-ILIR Lir ilir lir ilir tandure wong sumilir Tak ijo royo royo Tak sengguh panganten anyar Cah angon cah angon penekna blimbing kuwi Lunyu lunyu penekna kanggo mbasuh dodotira Dodotira dodotira kumintir bedah ing pinggir Dondomana jrumatana kanggo seba mengko sore Mumpung padang rembulane Mumpung jembar kalangane Sun suraka surak hiyo  SUWE ORA JAMU Suwe ora jamu Jamu godhong telo Suwe ora ketemu Ketemu pisan gawe gelo kebudayaan 153 Jawa . lera.suwenge ting gelenter……. lere… Sopo ngguyu ndelekake………… Sir …sir….. Mambu kutundung gudel…pak hempong.dele gosong………...Mego kartiko kairing Raso tresno asih Rungokno tangising ati Ginarung swaraning ratri.. pong .. Ngenteni mbulan ndadari  CUBLAK CUBLAK SUWENG Cublak cublak suweng….nimas.

Jawa Timur Bahasa bahasa Osing Agama Sebagian besar Islam dan sebuah minoritas beragama Hindu. yaitu lereng Gunung Bromo (Suku Tengger). Perang saudara dan Pertumbuhan kerajaan-kerajaan islam terutama Kesultanan Malaka mempercepat jatuhnya Majapahit. Bahkan Mereka sangat percaya bahwa Taman Nasional Alas Purwo merupakan tempat pemberhentian terakhir rakyat Majapahit yang menghindar dari serbuan kerajaan Mataram.I. Kelompok etnis terdekat suku Jawa. 1. Kerajaan Blambangan. Sejarah Sejarah Suku Osing diawali pada akhir masa kekuasaan Majapahit sekitar tahun 1478 M. Setelah kejatuhannya. Blambangan (Suku Osing) dan Bali. SUB SUKU JAWA I. suku Bali Suku Osing adalah penduduk asli Banyuwangi dan merupakan penduduk mayoritas di beberapa kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. orangorang majapahit mengungsi ke beberapa tempat. Kedekatan sejarah ini terlihat dari corak kehidupan Suku Osing yang masih menyiratkan budaya Majapahit. suku Tengger. yang didirikan oleh masyarakat osing. SUKU OSING Suku Osing Jumlah populasi Kawasan dengan jumlah penduduk yang signifikan Kabupaten Banyuwangi. kebudayaan 154 Jawa . adalah kerajaan terakhir yang bercorak Hindu-Budha seperti halnya kerajaan Majapahit.

dan Kecamatan Songgon. Masyarakat Osing mempunyai tradisi puputan.Dalam sejarahnya Kerajaan Mataram Islam tidak pernah menancapkan kekuasaanya atas Kerajaan Blambangan. guru dan pegawai pemda. hal inilah yang menyebabkan kebudayaan masyarakat Osing mempunyai perbedaan yang cukup signifikan dibandingkan dengan Suku Jawa. hal ini sangat terluhat dari kesenian tradisional Gandrung yang mempunyai kemiripan dengan tari-tari tradisional bali lainnya. Kepercayaan Pada awal terbentuknya masyarakat Osing kepercayaan utama suku Osing adalah Hindu-Budha seperti halnya Majapahit. Bahasa Osing sangat berbeda dengan Bahasa Jawa sehingga bahasa Osing bukan merupakan dialek dari bahasa Jawa seperti anggapan beberapa kalangan. dengan sebagian kecil lainya adalah pedagang dan pegawai di bidang formal seperti karyawan. Kecamatan Kalipuro. Suku Osing mempunyai kedekatan yang cukup besar dengan masyarakat Bali. termasuk juga busana tari dan instrumen musiknya. Kecamatan Rogojampi. Stratifikasi Sosial kebudayaan 155 Jawa . terutama pada hiasan di bagian atap bangunan. terutama di Kecamatan Banyuwangi. Kemiripan lain tercermin dari arsitektur bangunan antar Suku Osing dan Suku Bali yang mempunyai banyak persamaan. Namun berkembangnya kerajaan Islam di pantura menyebabkan agama Islam dengan cepat menyebar di kalangan suku Osing. Kecamatan Glagah dan Kecamatan Singojuruh. Demografi Suku Osing menempati beberapa kecamatan di kabupaten Banyuwangi bagian tengah dan bagian utara. Berkembangnya Islam dan masuknya pengaruh luar lain di dalam masyarakat Osing juga dipengaruhi oleh usaha VOC dalam menguasai daerah Blambangan. Puputan adalah perang terakhir hingga darah penghabisan sebaga usaha terakhir mempertahankan diri terhadap serangan musuh yang lebih besar dan kuat. Tradisi ini pernah menyulut peperangan besar yang disebut Puputan Bayu pada tahun 1771 M. Profesi Profesi utama Suku osing adalah petani. Bahasa Suku Osing mempunyai Bahasa Osing yang merupakan turunan langsung dari Bahasa Jawa Kuno seperti halnya Bahasa Bali. Kecamatan Giri. seperti halnya masyarakat Bali.

tetapi telah ditemukan perbedaan stratifikasi di Suku tersebut. Suku Osing tidak mengenal kasta seperti halnya Suku Bali. Desa Adat Kemiri Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyadari potensi budaya suku osing yang cukup besar dengan menetapkan desa kemiri di kecamatan Glagah sebagai desa adat yang harus tetap mempertahankan nilai-nilai budaya Suku Osing. kaum hydrakula. mereka merupakan penduduk asli. Tari Barong dan Jedor. I. Seni Kesenian Suku Osing sangat unik dan banyak mengandung unsur mistik seperti kerabatnya suku bali dan suku tengger. Kawasan dengan jumlah penduduk yang signifikan gunung Bromo. Kabupaten kebudayaan 156 Jawa . SUKU TENGGER Suku Tengger Jumlah populasi 500. Angklung. Desa kemiren merupakan tujuan wisata yang cukup diminati di kalangan masyarakat Banyuwangi dan sekitarnya. yakni menempati sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan. kaum coliba. Kelompok etnis terdekat suku Jawa Suku Tengger adalah sebuah suku yang tinggal di sekitar Gunung Bromo. Festival budaya dan acara kesenian tahunan lainnya sering diadakan di desa ini. kaum Drakula.Suku Osing berbeda dengan Suku Bali dalam hal stratifikasi sosial. 2. hal ini banyak dipengaruhi oleh agama Islam yang dianut oleh sebagian besar penduduknya. Jawa Timur Bahasa bahasa Jawa Agama Sebagian besar Hindu dan sebuah minoritas beragama Islam dan Kristen. Jawa Timur. Patrol.000. Kesenian utamanya antara lain Gandrung. kaum sudrakula. Seblang.

Orang-orang suku Tengger dikenal taat dengan aturan dan agama Hindu. Mereka yakin merupakan keturunan langsung dari Majapahit. hal itu menandakan manusia yang berpandangan optimis yang mampu melihat jauh kedepan. Suku Tengger.Probolinggo. yakni mangan (makan) dan kumpul. malas dan pesimis. UNGKAPAN-UNGKAPAN JAWA  Mangan Ora Mangan Asal Kumpul Ungkapan mangan ora mangan asal kumpul bukan berarti bahwa orang Jawa adalah manusia-manusia yang tahan lapar. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. J. konon adalah keturunan pelarian Kerajaan Majapahit. Makan adalah manifestasi dari nafsu biologis dan kepentingan perseorangan. yaitu "Teng" akhiran nama Roro An-"teng" dan "ger" akhiran nama dari Joko Se-"ger". Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.  Alon-Alon Waton Kelakon Demikian pula terhadap ungkapan alon-alon waton kelakon. Adalah kurang tepat jika diartikan sebagai sikap hidup ragu-ragu. Dengan demikian. ataupun manusia malas yang maunya hanya kumpul terus. Orang Jawa dengan kebudayaan 157 Jawa . sedang kumpul menunjukkan adanya kehidupan berkelompok atau bermasyarakat. disamping merupakan anjuran untuk melakukan pekerjaan secara cermat agar selesai dengan baik. dan Kabupaten Malang. Bagi suku Tengger. Justru sebaliknya. Dalam ungkapan ini terdapat dua kata kunci. ungkapan mangan ora mangan asal kumpul pada dasarnya ingin mengatakan bahwa orang Jawa merasa menjadi bagian integral dari masyarakatnya dan bersedia mendahulukan kepentingan kelompok/umum dari pada kepentingan individu. atau yang tidak mempunyai sepeser uangpun untuk membeli sejumput padi. Nama Tengger berasal dari Legenda Roro Anteng dan Joko Seger yang diyakini sebagai asal usul nama Tengger. tersebar di Pegunungan Tengger dan sekitarnya. Gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci.

pasa atau nglakoni (melaksanakan suatu syarat untuk suatu tujuan). tuntutan emansipasi. Oleh karenanya. arti suwarga nunut neraka katut bagi kebudayaan 158 Jawa . persamaan hak. ibarat sepeminuman segelas air. Interpretasi negatif akan mengatakan bahwa wanita hanya berfungsi sebagai pemuas kebutuhan biologis (seksual) atau sebagai pembantu rumah tangga. masih ada kewajiban lain yang lebih penting. betul-betul harus dapat dirasakan bahwa minum itu merupakan rahmat dari Yang Kuasa yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Jadi. selalu yakin akan kekuatan diri sendiri dan yakin pula bahwa apa yang dicita-citakan pasti akan terwujud. sehingga dapat menjadi “bekal” untuk menunaikan kewajiban lainnya. Jadi. Dari pengertian tersebut sudah dapat dibayangkan bahwa ungkapan suwarga nunut neraka katut dan kanca wingking adalah dimaksudkan untuk menempatkan manusia pada peran. yaitu agar tidak “kehausan” di tengah jalan. Disini terkandung makna bahwa setelah selesai minum. fungsi dan kedudukannya. Sepanjang tidak bertentangan dengan agama. Islam — yang ajaran-ajarannya banyak diserap oleh masyarakat Jawa kemudian digabungkan dengan pemikiran dalam ajaran Hindu Budha (sinkretisme) — mengajarkan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi wanita. mengapa harus tergesa-gesa kalau sesuatu yang dikejar itu pasti datang? Namun dalam hal ini harus diakui bahwa hanya orang-orang tertentu yang sudah mencapai taraf weruh sadurunge winarahlah yang bisa menghayati ungkapan alon-alon waton kelakon. Tanpa pemahaman terhadap makna yang tersembunyi didalamnya.kekuatan spiritual atau kebatinannya yang didapatkan dari kegiatan-kegiatan asketis seperti semadi/tapa. Keduanya seolah-olah mendiskriminasikan wanita atau istri terhadap laki-laki atau suami. kesusilaan dan Undang-Undang. derajat dan kedudukan akan mengalir bagaikan air bah.  Urip Mung Mampir Ngombe Adapun ungkapan urip mung mampir ngombe menunjukkan bahwa kehidupan manusia didunia begitu cepatnya.  Kanca Wingking Dan Suwarga Nunut Neraka Katut Ungkapan lain yang bisa memberi kesan negatif adalah kanca wingking dan suwarga nunut neraka katut. dan suami adalah pemimpin bagi istrinya. istri wajib mentaati perintah atau aturan suami. selama proses minum berlangsung.

istri adalah mematuhi suami, disamping kewajiban untuk memperingatkan bila suami kurang benar. Istri yang tidak mau menegur kesalahan suami, berarti ikut menanggung dosa yang diperbuat suaminya. Begitu pula ungkapan kanca wingking. Sebagai “teman belakang”, para istri memegang peranan yang amat penting dalam sebuah keluarga. Jika mereka tidak kuat memegang peran sebagai kanca wingking, maka keluarga itupun tidak dapat diharapkan kelangsungan eksistensinya. Jadi tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa surga laki-laki terletak ditelapak kaki wanita. Semboyan bahwa suatu revolusi tidak akan berhasil tanpa andil kaum wanita-pun, tidaklah mengada-ada. Hanya saja persoalannya, mengapa wanita dikatakan sebagai kanca wingking, bukan kanca ngajeng (teman depan)? Hal ini juga ada alasannya sendiri. Barangkali tidak seorangpun yang menyangkal bahwa masyarakat Jawa memiliki nilai-nilai dan norma-norma luhur yang dijunjung tinggi. Perbuatan yang melanggar atau tidak sesuai dengan nilai atau moral itu, dikatakan sebagai saru, ora lumrah, atau ora ilok. Kedudukan wanita Jawa terhadap lawan jenisnya sebagaimana kedudukan wanita terhadap pria pada umumnya — secara kodrati (bedakan dengan kedudukan sosial politik) — adalah lebih rendah. Dengan demikian, adalah tidak patut apabila wanita yang memimpin suatu keluarga. Adalah tidak lumrah apabila wanita mencarikan nafkah bagi suaminya dan menempatkannya sebagai rewang (pembantu). Dan adalah tidak ilok (tidak boleh dilakukan) apabila seorang istri berani membantah suaminya. K. PEMBANGUNAN DAN MODERNISASI Sifat dasar yang menjadikan satu kelemahan yang juga merupakan penghambat pembangunan di Jawa antara lain adalah sifat yang pasif terhadap hidup, kesukaan-kesukaan terhadap kebatinan, penilain yang tinggi yang di nyatakan dengan konsep nerimo, ketabahan yang ulet dalam hal menderita, tetapi yang lemah terhadap hal karya. Selain itu, pengaruh dari tekanan bangsa-bangsa asing yang menjajah di Jawa serta jumlah penduduk yang semakin membeludak menjadi salah satu penyebab lain terhambatnya pembangunan di Jawa.

kebudayaan 159

Jawa

Struktur masyarakat desa di Jawa yang asli, sudah terlanjur dirusak oleh struktur administratif yang ditumpangkan diatasnya oleh pemerintahan kolonial. Akibatnya masyarakat di Jawa tidak mengenal kesatuan-kesatuan social dan organisasi adat yang sudah mantap dan kreatif. Dari uraian diatas masih banyak hal-hal yang dapat menghambat pembangunan diJawa, antara lain;
a. Mental orang Jawa yang terlalu nerimo dan bersiakap pasif terhadap hidup b. Tekanan jumlah penduduk yang mengakibatkan penduduk desa diJawa

menjadi terlalu miskin. c. Tidak adanya organisasi-organisasiasli yang telah mantap dan jika dimodernisasi menjadi organisasi yang mantap, aktif serata kreatif d. Tidak adanya kepeimpinan desa yang aktif kreatif untuk dapat memimpin aktivitas produksi yang bisa member hasil 3-4 kali lebih besar dari pada sekarang tiap-tiap tahun.

kebudayaan 160

Jawa

BAB III PENUTUP Kebudayaan Jawa merupakan bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia yang memiliki nilai yang sangat luhur bersama dengan kebudayaan bangsa Indonesia lainnya. Oleh kerenanya, sudah layak apabila kita mengetahui serta memahami kebudayaan Jawa agar tercapai pemahaman yang tepat mengenai kebudayaan Jawa. Hendaknya patut digaris bawahi bahwa kata “memahami” merupakan sesuatu yang amat penting untuk dapat memperoleh pandangan yang benar dan jelas mengenai kebudayaan Jawa itu sendiri. Oleh karena itu, sesungguhnya tidaklah cukup apabila kita ingin memahami kebudayaan Jawa dalam waktu yang singkat tetapi diperlukan waktu yang cukup lama dan mendalam. Meskipun demikian, hal itu tidak menyurutkan usaha kami untuk menyediakan berbagai pengetahuan seputar kebudayaan Jawa Secara khusus pula makalah ini kami buat untuk teman-teman di lingkungan Kampus STAN yang memiliki latar belakang bukan dari budaya Jawa untuk menambah pengetahuan sekaligus sebagai bekal bagi teman-teman di lingkungan kerja nanti, supaya kita dapat berkomunikasi lintas budaya. Dan akhirnya, sesungguhnya makalah ini jauh dari lengkap dan mendalam mengenai kebudayaan Jawa. Kami meminta maaf apabila di dalam makalah ini ada pernyataan yang kurang berkenan di hati teman-teman. Terima kasih.

kebudayaan 161

Jawa

Yogyakarta: Nindia Pustaka.org/wiki/Kalender_Jawa http://jv.org/wiki/Dialek_Tegal http://id.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Dialek_Semarang http://id.org/wiki/Sastra_Jawa_Kuna http://id.org/wiki/Reog http://id.org/wiki/Sastra_Jawa_Pertengahan www.org/wiki/Sadran http://heritageofjava.wikipedia.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Ebeg http://id.sekarjagad.org/wiki/Keris_Jawa http://jv.org/wiki/Ruwatan kebudayaan Jawa .org/wiki/Tumpeng http://id.org/wiki/Jula-juli http://map-bms.wikipedia. Y Argo.org http://id.DAFTAR PUSTAKA Twikromo. http://id.wikipedia.wikipedia.wikipedia. 2006.org/wiki/Gamelan_Jawa http://id.org/wiki/Dialek_Banyumas http://id.org/wiki/Suku_Jawa http://id.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Rumah_Jawa http://id.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Blangkon http://id.org/wiki/Jawa_Timur http://id.com http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Osing http://id.wikipedia.org/wiki/Kromo_Inggil http://id.wikipedia.org/wiki/Banyumasan http://id.org/wiki/Sastra_Jawa_Modern http://id.org/wiki/Dialek_Surabaya http://id.wikipedia.wikipedia.wikipedia.wikipedia. Mitologi Kanjeng Ratu Kidul.org/wiki/Dialek_Kedu http://id.wikipedia.org/wiki/Sastra_Jawa_Baru http://id.wikipedia.wikipedia.wikipedia.wikipedia.

org/wiki/Soto_Sokaraja http://id.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Degung http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Jawa http://id.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Daftar_masakan_Indonesia http://id.org/wiki/Tingkeban http://jv.org/wiki/Keris http://jv.org/wiki/Pengantenan_adat_Jawa http://jv.wikipedia.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Brokohan http://id.wikipedia.org/wiki/Priyayi kebudayaan Jawa .http://id.wikipedia.org/wiki/Seni_tradisional_Banyumasan http://map-bms.org/wiki/Tari_Gambyong http://map-bms.org/wiki/Lengger http://jv.wikipedia.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Ketoprak http://jv.org/wiki/Mendhem_ari-ari http://jv.wikipedia.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Rasukan_adat_Jawa http://ms.org/wiki/Tayuban http://id.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful