BUDAYA NUSANTARA KEBUDAYAAN JAWA

Disusun oleh : Ainul Fuadi 02/3B Cory Denies Kartika 08/3B Fransiscus Asisi Edo HS 14/3B Irvan Widi Santoso 15/3B Laila Sahajah 18/3B

DIPLOMA III PENILAI / PBB SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA 2007

DAFTAR ISI DAFTAR ISI.........................................................................................................i PENDAHULUAN..................................................................................................1 PEMBAHASAN ...................................................................................................2 A. IDENTIFIKASI......................................................................................2 B. MITOLOGI KEBUDAYAAN JAWA.......................................................4 C. BAHASA DAN AKSARA JAWA...........................................................7 C.1. Bahasa Jawa...................................................................7 C.2. Aksara Jawa....................................................................14 D. MATA PENCAHARIAN........................................................................22 E. SISTEM KEMASYARAKATAN............................................................26 F. SISTEM KEKERABATAN...................................................................28 G. RELIGI ...............................................................................................43 H. PRODUK BUDAYA.............................................................................63 H.1. Seni Tari..........................................................................63 H.2. Seni Musik......................................................................80 H.3. Kalender Jawa................................................................89 H.4. Rumah Adat....................................................................95 H.5. Karya Sastra...................................................................102 H.6. Wayang...........................................................................108 H.7. Pakaian Adat...................................................................115 H.8. Keris................................................................................125 H.9. Makanan Khas................................................................133 H.10. Ketoprak dan Ludruk.....................................................138 H.11. Reog.............................................................................139 H.12. Kidung/Puisi..................................................................140 H.13. Lagu Adat Jawa............................................................141 I. SUB SUKU JAWA.................................................................................154 I. 1. Suku Osing......................................................................154 I. 2. Suku Tengger..................................................................156 J. UNGKAPAN-UNGKAPAN JAWA.........................................................157 K. PEMBANGUNAN DAN MODERNISASI..............................................159 PENUTUP...........................................................................................................161 DAFTAR PUSTAKA

i

BAB I PENDAHULUAN

Masyarakat Jawa merupakan “ladang” potensial yang masih memendam segudang informasi budaya untuk dapat digali seiring dengan perkembangan waktu. Harus diakui bahwa usaha untuk mengungkap alam pikiran, pandangan, dan kehidupan orang Jawa tidak akan pernah tuntas dan bahkan diperlukan cara-cara baru dalam mengungkap “misteri” kebudayaan Jawa tersebut. Magnis-Suseno (1984:1), mengatakan bahwa kebudayaan Jawa mempunyai ciri khas yaitu terletak dalam kemampuan luar biasa untuk membiarkan diri dibanjiri oleh gelombanggelombang kebudayaan yang datang dari luar dan dalam banjir tersebut dapat mempertahankan keasliannya. Lebih lanjut dikatakan bahwa kebudayaan Jawa justru tidak menemukan diri dan berkembang kekhasannya dalam isolasi, melainkan dalam mencerna masukan-masukan budaya dari luar. Hal tersebut menjadikan kebudayaan Jawa kaya akan unsur-unsur budaya yang kemudian menyatu dan kemudian menjadi milik kebudayaan Jawa seperti sekarang ini, di mana berbagai macam persilangan budaya justru telah memberikan warna terhadap kedinamisan budaya Jawa. Walaupun terpaan ideologi modern cukup kuat, namun manusia Jawa yang hidup dalam bayang-bayang Kasultanan Yogyakarta dan Surakarta masih tetap menyimpan dan memegang teguh pandangan budayanya misalnya tentang keberadaan makhluk supranatural, mitos, adat istiadat dan lain-lain. Tentunya pandangan-pandangan tersebut mengandung suatu makna yang dalam dan mempunyai keeratan hubungan dengan konsepsi manusia Jawa tentang dunia. Peta kognitif ini merupakan dokumen dan khazanah pengetahuan penting dalam usaha memahami budaya Jawa saat ini, apabila budaya dipandang sebagai sesuatu yang secara internal heterogen dan muncul dari peristiwa-peristiwa yang paling mendasarinya.

kebudayaan 1

Jawa

IDENTIFIKASI Daerah kebudayaan Jawa sangatlah luas meliputi seluruh bagian tengah dan timur pulau Jawa.BAB II PEMBAHASAN A. Surakarta. Madiun. Sifat ini konon berdasarkan watak orang Jawa yang ingin menjaga harmoni atau keserasian dan menghindari konflik. variasi dan perbedaan tersebut tidaklah besar karena apabila diteliti. Mereka berasal dari pulau Jawa dan terutama ditemukan di provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. maka dalam rangka seluruh kebudayan Jawa ini. adalah suku bangsa terbesar di Indonesia. Tetapi di provinsi Jawa Barat. Malang dan Kediri. Jumlahnya mungkin ada sekitar 90 juta data pada tahun 2004. dua daerah luas bekas kerajaan Mataram sebelum terpecah yakni Yogyakarta dan Surakarta merupakan pusat kebudayaan Jawa. Yogyakarta. Ada daerah yang disebut daerah Kejawen yaitu Banyumas. mereka itu membentuk kesatuan-kesatuan hidup yang menetap di desadesa. Pada umumnya. Namun. Kedu. Orang Jawa memiliki stereotipe sebagai suku bangsa yang sopan dan halus. Sehubungan dengan itu. di dalam wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta sebelah selatan terdapat kelompok-kelompok masyarakat orang Jawa yang masih mengikuti atau mendukung kebudayaan Jawa ini. Selain suku Jawa baku terdapat subsuku Osing dan Tengger. kebudayaan 2 Jawa . Sama halnya dengan daerah Kejawen lainnya. Penduduk Suku bangsa Jawa. Banten dan tentu saja Jakarta mereka banyak ditemukan. Daerah di luar yang tersebut di atas disebut daerah Pesisir dan Ujung Timur.Tetapi mereka juga terkenal sebagai suku bangsa yang tertutup dan tidak mau terus terang. karena itulah mereka cenderung untuk diam dan tidak membantah apabila terjadi perbedaan pendapat. Sudah barang tentu terdapat berbagai variasi dan perbedaan yang bersifat lokal dalam beberapa unsur kebudayaannya di daerah yang tercakup dalam kebudayaan Jawa. hal-hal itu masih menunjukkan satu pola ataupun satu sistim kebudayaan Jawa.

dan yang sebagian berjajar menghadap jalan desa itu. Ada di antara rumah-rumah itu yang dilengkapi dengan lumbung padi. Di dalam pergaulan hidup maupun perhubungan-perhubungan sosial seharihari mereka berbahasa Jawa. Pada waktu mengucapkan bahasa daerah ini. Bahasa Jawa Ngoko dipakai untuk orang yang sudah dikenal akrab. Tiap-tiap wilayah bagian desa ini diketuai oleh seorang Kepala Dukuh. Penganut agama Buddha dan Hindu juga ditemukan pula di antara masyarakat Jawa. seseorang harus memperhatikan dan membeda-bedakan keadaan orang yang diajak berbicara atau yang sedang dibicarakan. Protestan dan Katholik juga banyak. Bahasa Jawa Krama digunakan untuk berbicara dengan orang yang belum dikenal tetapi yang sebaya dalam umur dan derajat. yang dibangun di dekat-dekat rumah atau di halaman pekarangannya. di daerah pedalaman. dan terhadap orang yang lebih muda usianya serta lebih rendah tingkatannya atau status sosialnya. Tetapi yang menganut agama Kristen. Ada pula agama kepercayaan suku Jawa yang disebut sebagai agama Kejawen. Masyarakat Jawa terkenal akan sifat sinkretisme kepercayaannya. tempat pemerintahan desa kebudayaan 3 Jawa . Semua budaya luar diserap dan ditafsirkan menurut nilai-nilai Jawa sehingga kepercayaan seseorang kadangkala menjadi kabur. Kepercayaan ini terutama berdasarkan kepercayaan animisme dengan pengaruh Hindu-Buddha yang kuat. yang satu sama lain dipisah-pisahkan dengan pagar-pagar bambu atau tumbuhtumbuhan. Demikian pada prinsipnya ada dua macam bahasa Jawa apabila ditinjau dari kriteria tingkatannya yaitu bahasa Jawa Ngoko dan Jawa Krama. adalah suatu wilayah hukum yang sekaligus menjadi pusat pemerintahan tingkat daerah paling rendah. ada juga Balai Desa. Selain rumah-rumah tersebut yang tampak berkelompok.Orang Jawa sebagian besar secara nominal menganut agama Islam. Bentuk Desa Desa sebagai tempat kediaman yang tetap pada masyarakat orang Jawa. Mereka juga terdapat di daerah pedesaan. Di sini dijumpai sejumlah perumahan penduduk beserta tanah-tanah pekarangannya. Kemudian sebuah dukuh dengan dukuh lainnya. yang luasnya sering tidak lebih dari 2 meter. dihubungkan oleh jalan-jalan desa. kandang-kandang ternak dan perigi. juga terhadap orang yang umurnya lebih tua atau status sosialnya lebih tinggi. berdasarkan usia ataupun status sosialnya. Secara adminstratif desa langsung berada di bawah kekuasaan pemerintah kecamatan dan terdiri dari dukuh-dukuh.

biasanya ada sekolah-sekolah. Harus diakui bahwa usaha untuk mengungkapkan alam pikiran. Manusia yang hidup di dunia ini tidak hanya menjalin komunikasi dengan sesama saja melainkan dengan makhluk supranatural. Adapun kuburan desa berada di lingkungan wilayah salah satu sebuah dukuh. Jong (1985:10) menekankan bahwa di alam pikiran mistik dan kebudayaan 4 Jawa . mengatakan bahwa kebudayaan Jawa mempunyai ciri khasaitu terletak dalam kemampuan luar biasa untuk membiarkan diri dibanjiri oleh gelombanggelombang kebudayaan yang datang dari luar dan dalam banjir tersebut dapat mempertahankan keasliannya. Hal tersebut menjadikan kebudayaan Jawa kaya akan unsur-unsur budaya yang kemudian menyatu dan menjadi milik kebudayaan Jawa sekarang ini di mana berbagai macam persilangan budaya justru telah memberikan warna terhadap kedinamisan budaya Jawa. Kecuali itu ada pasar yang kelihatan ramai pada hari pasaran. melainkan dalam mencerna masukan-masukan budaya dari luar. B. Dengan demikian tidak mengherankan apabila dalam masyarakat Jawa terdapat perilaku-perilaku yang menandai hubungan antara manusia dan makhluk supranatural.berkumpul. MITOLOGI KEBUDAYAAN JAWA MITOLOGI KANGJENG RATU KIDUL Pemahaman Tentang Mitos Masyarakat Jawa merupakan ladang potensial yang masih memendam segudang informasi budaya untuk dapat digali seiring dengan perkembangan waktu. Hubungan manusia dengan makhluk alam nyata dengan makhluk supranatural tidak dibedakan. Lebih lanjut dikatakan bahwa kebudayaan Jawa justru tidak menemukan diri dan berkembang kekhasannya dalam isolasi. atau mengadakan rapat-rapat desa. Magnis-Suseno (1984:1). langgar atau masjid. dan kehidupan orang Jawa tidak akan pernah tuntas dan bahkan masih diperlukan caracara baru dalam mengungkap misteri kebudayaan Jawa tersebut. Pandangan manusia Jawa terhadap dunia mengisyaratkan bahwa baik dunia yang secara fisik kelihatan maupun dunia yang tidak kelihatan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. sedangkan tanah pertanian berupa sawah-sawah atau ladang-ladang terbentang di sekeliling desa. yang diadakan tiap-tiap 35 hari sekali. Untuk menampung kegiatan-kegiatan pendidikan keagamaan. pandangan. dan sosial ekonomi rakyat.

1987:91). legenda (legend). mengatakan bahwa mite adalah bahasa untuk diketahui. Selain itu. Banyak sekali raja dan pangeran yang melamarnya. Pada kesempatan ini. Penolakan-penolakan itu membuat Sang Prabu marah dan prihatin terhadap putrinya. Bascom. memberikan makna dan nilai pada kehidupan ini. yaitu mitologi wayang. kami akan berfokus pada mitologi Kanjeng Ratu Kidul. Salah satu cerita dalam Babad Tanah Jawi mengisahkan bahwa waktu kerajaan Pajajaran di bawah kekuasaan Prabu Mundingsari. mistik merupakan salah satu bentuk. ia mengusir putrinya sendiri dari kerajaan. Sebenarnya masih banyak mitologi lainnya yang hidup dalam alam pikiran orang Jawa misalnya mitologi Kanjeng Ratu Kidul. Menurut William R. Sedangkan Levi-Strauss (1963:209). karena memiliki sesuatu yang suci. naik turun gunung dan menembus lebatnya hutan menuju ke arah timur. Di dalam masyarakat Jawa ada mitologi religius yang hampir diterima secara universal. bahkan isi dasar Javanisme. tetapi tidak satupun yang diterima karena ia lebih mementingkan segi kerohanian. penguasa gunung. bermakna. mitos berarti suatu cerita yang benar dan cerita ini menjadi milik mereka yang paling berharga. Kanjeng Ratu Kidul tidak hanya merupakan legenda. penguasa hutan dan lain-lain. sebenarnya terdapat banyak cerita tentang Kanjeng Ratu Kidul. Tujuannya adalah mencari tempat kebudayaan 5 Jawa . untuk sebagian orang Jawa ia benar-benar ada. Ratu Kidul dalam Mitos Di kalangan masyarakat Jawa. dan dongeng (folktale). prosa rakyat dapat dibagi dalam tiga golongan besar yaitu mite (myte). Akibatnya. Menurut Choy (1976:13). Putri tersebut mempunyai kebiasaan bertapa dengan meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi. Menurut Mircea Eliade (dalam Susanto. yang menyebabkan ketaatan emosional dan intelektual yang mendalam. ia mempunyai seorang putri bernama Ratna Suwidi. Tetapi karena keberadan alam supranatural yang dipahami orang Jawa sampai taraf tertentu tidak dapat diterangkan maka praktik-praktik keagamaan yang mengarah pada penghormatan penguasa dunia supranatural justru menjadi pintu masuk dalam memahami alam pikiran orang Jawa tersebut. menjadi contoh model bagi tindakan manusia. Mitos sebenarnya mempunyai arti secara tersirat yang perlu diketahui. Kemudian Ratna Suwidi mengembara seorang diri. yaitu merupakan model hubungan manusia dengan alam supranatural.mitos dapat tercermin suatu sikap hidup.

Apabila nanti di suatu tempat menemukan batang pohon Kemaja berbuah hanya satu dan rasanya pahit. maka tempat itulah yang dapat digunakan oleh Raden Sesuruh untuk memegang kekuasaan dan menurunkan raja di tanah Jawa. Ratna Suwidi menJawab bahwa ia ingin sekali tidak bisa meninggal dunia dan bisa hidup sepanjang zaman. Di puncak gunung itu ada sebatang cemara.yang cocok untuk bertapa. Akhirnya. ia menemukan puncak Gunung Kombang yang dirasa cocok untuk bertapa. sebenarnya Hajar Cemara Tunggal adalah adik perempuan dari kakek Raden Sesuruh. Hajar Cemara Tunggal kemudian menceritakan kisah pelariannya dan siapa sebenarnya dirinya. Hajar Cemara Tungal didatangi dewa dan ditanya tentang keinginannya bertapa terus menerus. Raden Sesuruh terpesona dan jatuh cinta kepada putri cantik yang ada di depannya tersebut kemudian ia mendekati dan merayunya. Dikisahkan pula waktu Hajar Cemara Tunggal masih berada di puncak Gunung Kombang. Berdasarkan garis keturunan. Pohon cemara yang berada di puncak gunung tersebut diabadikan menjadi nama samarannya yaitu Hajar Cemara Tunggal. Pada suatu hari. ia didatangi Raden Sesuruh. Kemudian dewa berkata bahwa manusia tidak dapat hidup sepanjang zaman. Sang Hajar kemudian memberi petunjuk kepada Raden Sesuruh supaya berjalan terus ke arah timur. ia berubah menjadi putri cantik Ratna Suwidi. Dari tempat itulah Raden Sesuruh dapat membalas sakit hati atas perlakuan raja Pajajaran. tetapi keinginan Ratna Suwidi itu dapat terkabulkan apabila ia bersedia menjadi makhluk halus. Raden Sesuruh segera bersujud di kaki Sang Hajar meminta maaf. Hajar Cemara Tunggal tahu maksud dan tujuan Raden Sesuruh yang datang menemuinya. Dengan rasa malu. Dengan menyetujui saran dewa tersebut. Seketika itu juga putri itu menghilang dari pandangan mata Raden Sesuruh dan menjelma menjadi Hajar Cemara Tunggal lagi. Sang Hajar melanjutkan ceritanya dengan nada menghibur. ia dapat mancala putra-mancala putri. seorang putra mahkota kerajaan Pajajaran yang melarikan diri bersama pengikutnya karena terjadi perebutan kekuasan. bahwa kelak apabila Raden Sesuruh telah dinobatkan sebagai raja Majapahit. ia mengubah diri menjadi lelaki. Dengan kesaktiannya. Sang pertapa ini kemudian terkenal dengan kesaktiannya. Berkat kesaktiannya. mereka akan kebudayaan 6 Jawa . Tetapi di tengah-tengah cerita tiba-tiba Sang Hajar berubah wujudnya. maka Ratna Suwidi kemudian berubah menjadi makhluk halus yang membawahi semua makhlus di seluruh tanah Jawa.

Jawa Tengah & Jawa Timur di Indonesia. Hajar Cemara Tunggal tidak lagi bertapa di Gunung Kombang. Selain itu juga digunakan untuk menjamin keselamatan dan ketentraman hidup serta digunakan sebagai pengantara manusia dengan alam supranatural. C. Krama Inggil ( Krama Halus ). Sang Hajar pasti akan datang bersama makhluk halus bawahannya.bertemu kembali. Pada prinsipnya. Selama bertahta di samudera pasir atau Laut Selatan Jawa. mitologi Kanjeng Ratu Kidul digunakan oleh penguasa Kasultanan Yogyakarta sebagai kerangka acuan dalam menjalankan pemerintahan. Praktik-praktik keagamaan seperti penyelenggaraan Tari Bedaya Lambang Sari dan Tari Bedaya Semang merupakan usaha dari para penguasa Mataram untuk berhubungan dengan alam supranatural. Dengan sekejap. Krama Madya inipun agak berbeda antara Krama yang dipergunakan dikota / Sala dengan Krama yang dipergunakan di pinggiran / desa. Jawa Barat. Kelak setelah Raden Sesuruh memegang kekuasaan dan membawahi seluruh tanah Jawa. Selanjutnya Krama itu terbagi lagi menjadi Krama. kelak akan ada keturunan Raden Sesuruh yang menjadi raja Jawa akan dapat mengawini Kanjeng Ratu Kidul Peran Mitologi Kanjeng Ratu Kidul Dalam modelnya. Leach (1981:82) menjelasan bahwa aktivitas-aktivitas ritual merupakan jembatan antara dunia yang tampak dengan dunia datan kasat mata. Pesan terakhir Sang Hajar kepada Raden Sesuruh adalah apabila Raden Sesuruh beserta keturunannya yang menjadi raja tanah Jawa menemui halangan. Sedangkan Krama Haluspun berbeda antara Krama Halus/Inggil yang dipergunakan oleh kalangan Kraton dengan kalangan rakyat biasa. Selain itu. kebudayaan 7 Jawa . ia akan berubah wujud seperti semula yaitu sebagai putri yang cantik jelita dengan sebutan Kanjeng Ratu Kidul. melainkan pindah ke samudera pasir. Ngoko sendiri dalam perkembangannya secara tidak langsung terbagi-bagi lagi menjadi ngoko kasar dan ngoko halus ( campuran ngoko dan kromo ). Krama Madya. Bahasa Jawa terbagi menjadi dua yaitu Ngoko dan Kromo. BAHASA DAN AKSARA JAWA C.1 Bahasa Jawa Bahasa Jawa adalah bahasa pertuturan yang digunakan penduduk suku bangsa Jawa terutama di beberapa bagian Banten. sebaiknya memanggil Sang Hajar.

Dialek Pekalongan 2. Dialek Bumiayu (peralihan Tegal dan Banyumas) Kelompok pertama di atas sering disebut bahasa Jawa ngapak-ngapak. Dialek Semarang 5. Kudus. yakni : • • dengan Dialek daerah. Dialek Bagelen 4.Bahasa Jawa dianggarkan digunakan sekitar dua per tiga penduduk pulau Jawa.M. meskipun tergolong rumpun Karena bahasa ini terbentuk dari gradasi-gradasi yang sangat berbeda Austronesia. Dialek Blora 7. Perbedaan antara dialek satu dengan dialek lainnya bisa antara 070%. Untuk klasifikasi berdasarkan dialek daerah. pengelompokannya mengacu kepada pendapat E. Pati) 6. Uhlenbeck. Rembang. kebudayaan 8 Jawa . 1964. yang dikembangkan dari huruf Pallava. Dialek Madiun Kelompok kedua di atas sering disebut Bahasa Jawa Standar. khususnya dialek Surakarta dan Yogyakarta. karakter dan budaya setempat. Kelompok Bahasa Jawa Bagian Tengah : 1. Dialek Banyumasan 5. dan juga huruf Pegon yang diubah sesuai dari huruf Arab. Dialek Kedu 3. dan Dialek sosial Bahasa Indonesia maupun Melayu. Dialek Banten 2. The Hague: Martinus Nijhoff. Dialek Yogyakarta 9. Dialek Tegal 4. Dialek Pantai Utara Timur (Jepara. Bahasa Jawa ini memiliki aksara-nya sendiri. Dialek Indramayu-Cirebon 3. di dalam bukunya : "A Critical Survey of Studies on the Languages of Java and Madura". Bahasa Jawa pada dasarnya terbagi atas dua klasifikasi dialek. Demak. Dialek Surakarta 8. Sedangkan dialek daerah ini didasarkan pada wilayah. Kelompok Bahasa Jawa Bagian Barat : 1.

Ngoko meninggikan diri sendiri: “Aku kersa ndangu. b. nèng*ndi?’ 2. Dialek sosial dalam Bahasa Jawa berbentuk sebagai berikut : 1. Bojonegoro) 2. Bagongan Kedhaton Kedua logat terakhir digunakan di kalangan keluarga Kraton dan sulit dipahami oleh orang Jawa kebanyakan. Dialek Malang 4. 5. dihormati. Ngoko Ngoko Andhap Madhya Madhyantara Kromo Kromo Inggil Kromo Inggil adalah suatu tingkatan kehalusan bahasa Jawa tutur. di mana?” 1. * Bahasa Indonesia: “Maaf. 4. 2. Ngoko alus: “Aku nyuwun pirsa. omahé mas Budi kuwi. c. Dialek Banyuwangi (atau disebut Bahasa Osing) Kelompok ketiga di atas sering disebut Bahasa Jawa Timuran. saya mau tanya rumah kak Budi itu. Dialek Jombang 5. nèng endi?” 3. kakek.Kelompok Bahasa Jawa Bagian Timur : 1. Pak Lurah. Dialek Tengger 6. Dialek Surabaya 3. Ngoko kasar: “Eh. 6. aku arep takon. ibu. seperti ayah. 8. dianggap jelas lebih tua. Dialek Pantura Jawa Timur (Tuban. 7. nèng ndi?” kebudayaan 9 Jawa . dalemé mas Budi kuwi. omahé Budi kuwi. 3. seperti majikan. Dipakai oleh penutur untuk berkomunikasi dengan lawan bicara yang: a. Pak Guru. dianggap memiliki kedudukan/kekuasaan/pendidikan lebih tinggi.

kula badhé takèn. wonten pundi?” Beberapa jenis dialeg Jawa : ♦ Dialeg Surabaya atau lebih sering dikenal sebagai bahasa Suroboyoan adalah sebuah dialek bahasa Jawa yang dituturkan di Surabaya dan sekitarnya. Yogyakarta. Secara struktural bahasa. bahasa dengan tingkatan yang lebih halus masih dipakai oleh beberapa orang Surabaya. Meskipun demikian. Walau letak daerah Semarang yang heterogan dari pesisir kebudayaan 10 Jawa . wonten pundi?” 7. Sikap basa basi yang diagung-agungkan wong Jawa. dalemipun mas Budi punika. Krama andhap: “Nuwun sèwu. lugas. dan terus terang. kula badhe nyuwun pirsa. teng pundi?” 6.4. Madya alus: “Nuwun sèwu. misalnya dalam berbicara. Semarang termasuk daerah pesisir Jawa bagian utara. Pada umumnya menganggap dialek suroboyoan adalah yang terkasar tapi sebenarnya itu menunjukkan sikap tegas. dalem badhé nyuwun pirsa. Dialek ini berkembang dan digunakan oleh sebagian masyarakat Surabaya dan sekitarnya. dalemipun mas Budi punika. Madya: “Nuwun sèwu. griyanipun mas Budi punika. kula ajeng tanglet. Tapi dalam budaya arek suroboyo. bahasa Suroboyoan dapat dikatakan sebagai bahasa paling kasar. griyané mas Budi niku. Krama: “Nuwun sewu. maka tak beda dengan daerah lainnya. itu tanda bahwa orang tersebut sejatinya pengecut. Dialek ini tak banyak berbeda dengan dialek di daerah Jawa lainnya. kula ajeng tanglet. wong Jawa menekankan tidak boleh memandang mata lawan bicara yang lebih tua atau yang dituakan atau pemimpin. teng pundi?” 5. karena dianggap tidak sopan. Solo. dalemé mas Budi niku. sebagai bentuk penghormatan atas orang lain. Boyolali dan Salatiga. wonten pundi?” 8. karena tidak berani memandang mata lawan bicara ♦ Dialek Semarang adalah sebuah dialek bahasa Jawa yang dituturkan di Semarang. Krama inggil: “Nuwun sewu. tidak berlaku di kehidupan arek suroboyo.

Perbedaan yang utama yakni akhiran 'a' tetap diucapkan 'a' bukan 'o'. Dibandingkan dengan bahasa Jawa dialek Yogyakarta dan Surakarta. kebudayaan 11 Jawa . Beberapa kosakata dan dialeknya juga dipergunakan di Banten utara serta daerah Cirebon-Indramayu. ngoko andhap dan madya di Semarang ada di zaman sekarang. misalnya kata enak oleh dialek lain bunyinya ena. Jadi jika di Solo orang makan 'sego' (nasi). dsb. kebun binatang menjadi "Bon-bin". kata-kata yang berakhiran huruf mati dibaca penuh. Limang rupiah (5 rupiah) menjadi "mang-pi". Kudus/Demak/Purwodadi) dan dari daerah bagian selatan/pegunungan membuat dialek yang dipakai memiliki kata ngoko. sebab tergantung kepada kesepakatan dan minat para penduduk Semarang mengenai frasa mana yang disingkat. Indonesia. Hal ini disebabkan bahasa Banyumasan masih berhubungan erat dengan bahasa Jawa Kuna (Kawi). ♦ Dialek Banyumasan atau sering disebut Bahasa Ngapak Ngapak adalah kelompok bahasa Jawa yang dipergunakan di wilayah barat Jawa Tengah. dan sebagainya. Logat bahasanya agak berbeda dibanding dialek bahasa Jawa lainnya. dialek Banyumasan banyak sekali bedanya. seratus (100) menjadi "nyatus". Selain itu. misalnya Lampu abang ijo (lampu lalu lintas) menjadi "Bang-Jo". di wilayah Banyumasan orang makan 'sega'. Para pemakai dialek Semarang juga senang menyingkat frase. Namun tak semua frasa bisa disingkat. Jadi contohnya "Taman lele" tak bisa disingkat "Tam-lel" juga Gedung Batu tak bisa menjadi "Ge-bat".(Pekalongan/Weleri. itulah sebabnya bahasa Banyumasan dikenal dengan bahasa Ngapak atau Ngapak-ngapak. Sebagian besar kosakata asli dari bahasa ini tidak memiliki kesamaan dengan bahasa Jawa standar (Surakarta/Yogyakarta) baik secara morfologi maupun fonetik. sedangkan dalam dialek Banyumasan dibaca enak dengan suara huruf 'k' yang jelas.

pengguna dialek Tegal tidak serta-merta mau disebut ngapak karena beberapa alasan antara lain: perbedaan intonasi. menjadikan dialek yang ada di Tegal beda dengan daerah lainnya. juga di daerah perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. dan makna kata. tersebar di timur Kebumen: Prembun. Ciri khas kebudayaan 12 Jawa . Dialek ini terkenal dengan cara bicaranya yang khas. Contoh: Kata-katanya masih menggunakan dialek ngapak dalam tuturannya agak bandek:  "Nyong": aku. Dialek Tegal merupakan salah satu kekayaan bahasa Jawa. Pengucapan kata dan kalimat agak kental. pengucapan. sebab merupakan pertemuan antara dialek "bandek" (Yogya-Solo) dan dialek "ngapak" (Banyumas). Magelang dan khususnya Temanggung. Purworejo. selain Banyumas.Banten Cirebonan Utara sire sira/rika pisan pisan keprimen kepriben ♦ Banyumasan & Tegalan Jawa Standar Indonesia sira/rika kowe kamu Pisan banget sangat keprimen/kepriben/kepriwe piye/kepriye/kepripun bagaimana Dialek Kedu Dialek Kedu adalah sebuah dialek bahasa Jawa yang dituturkan di daerah Kedu. Meskipun memiliki kosa kata yang relatif sama dengan bahasa Banyumas. tetapi orang Magelang memakai "aku" orang Temanggung yang di kotanya juga menggunakan "aku" di Parakan juga sebagian kecil menggunakan "aku"   "njagong": duduk (bahasa Jawa standar: lungguh) "Trus Priben": Lalu bagaimana (bahasa Jawa standar: "banjur "gandhul": pepaya piye" atau "terus piye")  ♦ Dialek Tegal Tegal termasuk daerah Jawa Tengah di dekat perbatasan bagian barat. Letak Tegal yang ada di pesisir Jawa bagian utara.

5 karo tengah.2 Aksara Jawa Hanacaraka atau dikenal dengan nama caraka adalah abjad / alat tulis yang digunakan oleh suku Jawa (juga Madura. tigang prasekawan (Krama) 1. mari kita amati beberapa contoh dan tabel berikut ini: Dialek Tegal padha saka sega apa tuwa Bahasa Jawa Standar Podho Soko Sego Opo Tuwo Salah satu persoalan yang selalu dihadapi oleh para siswa sekolah (SD sampai SMA) adalah dalam hal mata pelajaran bahasa daerah (Jawa). yakni apa yang terucap sama dengan yang tertulis.Selain pada intonasinya. Kurikulum yang mereka terima seolah-olah merupakan 'paksaan' agar menggunakan menggunakan dialek Jawa Tengah dan Yogyakarta yang bukan merupakan bahasa ibu mereka. Hal ini kebudayaan 13 Jawa . Sunda. kalih tengah (Krama) C. Bilangan dalam bahasa Jawa Bila dibandingkan dengan bahasa Melayu atau Indonesia. Aksara Jawa bila diamati lebih lanjut memiliki sifat silabik (kesuku-kataan). bahasa Jawa memiliki system bilangan yang agak rumit. Palembang. seprasekawan (Krama) 3/4 telung prapat. Bahasa Jawa Kuna Kawi Krama Ngoko Fraksi • • • • 2 sa rwa eka dwi setunggal kalih siji loro 1 3 telu tri tiga telu 5 pat lima catur panca sekawan gangsal papat lima 4 6 nem sad nem nem 7 pitu sapta pitu pitu 8 wwalu as. separo.a wolu wolu 9 sanga nawa sanga sanga 10 sapuluh dasa sedasa sepuluh 1/2 setengah. dan Sasak). Untuk lebih jelas. sepalih (Krama) 1/4 saprapat. Bali. dialek Tegal memiliki ciri khas pada pengucapan setiap frasanya.t.

Maksudnya padha " sama " atau sesuai. manusia Maksudnya dan ada yang mempercayakan. dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata "nabi". menerima dan menjalankan kehendak Tuhan. Sebagai contoh : Bila diucapkan. jumbuh.bisa dilihat dengan struktur masing-masing huruf yang paling tidak mewakili 2 buah huruf (aksara) dalam huruf latin. kewajiban manusia ( sebagai ciptaan ). Maga Bathanga (Keduanya mati). Sebagai contoh aksara Ha yang mewakili dua huruf yakni H dan A. Beberapa buah aksara itu bisa digabungkan secara langsung untuk membentuk sebuah kata. susunan aksara tersebut dapat membentuk kalimat: Hana Caraka (Terdapat Pengawal). berupa nafas yang berkewajiban menyatukan Ketiga unsur jiwa itu dengan adalah jasat Tuhan. Da-Ta-Sa-Wa-La berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan data " saatnya ( dipanggil ) " tidak boleh sawala " mengelak " manusia ( dengan segala atributnya ) harus bersedia melaksanakan. Adapula tafsir berbeda yang diajarkan oleh Pakubuwono IX. Pa-Dha-Ja-Ya-Nya berarti menyatunya zat pemberi hidup ( Khalik ) dengan yang diberi hidup ( makhluk ). cocok " tunggal batin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan   kebudayaan 14 Jawa . Tafsir tersebut adalah:  Ha-Na-Ca-Ra-Ka berarti ada " utusan " yakni utusan hidup. manusia. Data Sawala (Berbeda Pendapat). ada yang dipercaya dan ada yang dipercaya untuk bekerja. Padha Jayanya (Sama kuat/hebatnya). dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata "hari". Raja Kasunanan Surakarta. Aksara Na yang mewakili dua huruf yakni N dan A.

warsitaning candara . meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat.adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci  Na Nur candra. titis.pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi  Ca Cipta wening. satu visi. ketelitian dalam memandang hidup  Sa Sifat ingsun handulu sifatullah .keutamaan.menerima hidup apa adanya  Ta Tatas.mendasar. unggul " sungguh-sungguh dan bukan menang-menangan " sekedar menang " atau menang tidak sportif.  Ma-Ga-Ba-Tha-Nga berarti menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Jaya itu " menang.arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal  Ra Rasaingsun handulusih . Maksudnya manusia harus pasrah. cipta mandulu. Jumlah aksara / huruf pada hanacaraka berjumlah 20 buah tampak pada gambar berikut. cipta dadi . sumarah pada garis kodrat.hasrat diarahkan untuk kesejahteraan alam  Da Dumadining dzat kang tanpa winangenan . totalitas.rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani  Ka Karsaningsun memayu hayuning bawana . titi lan wibawa . gaib candra.membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan kebudayaan 15 Jawa . berusaha untuk menanggulanginya. Makna Huruf  Ha Hana hurip wening suci . tutus.

yakin atas titah/kodrat Illahi  Nya Nyata tanpa mata.memahami kodrat kehidupan  Ma Madep mantep manembah mring Ilahi .belajar pada guru nurani  Ba Bayu sejati kang andalani . maka kita harus menuliskan bentuk pasangan da. Hal ini bisa diJawab dengan adanya pasangan. Untuk menuliskan ban ini pertama-tama adalah dengan menuliskan aksara Ba terlebih dahulu. Wa Wujud hana tan kena kinira .Selalu berusaha menyatu memahami kehendak-Nya  Ya Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi . Suku kata yang pertama suku kata ban. Untuk mematikan huruf Na.ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas  La Lir handaya paseban jati . Bentuk pasangan disebutkan memiliki fungsi untuk menghubungkan suku kata yang tertutup konsonan dengan suku kata berikutnya.Hakekat Allah yang ada disegala arah  Dha Dhuwur wekasane endek wiwitane . Sebagai contoh kata "banda" yang bila dipisahkan menurut silabiknya adalah "ban" dan "da". ngerti tanpa diuruki .mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi  Pa Papan kang tanpa kiblat . Pada kasus di atas aksara Na diikuti pasangan Da yang berarti Na akan dibaca sebagai N.sesuatu harus dimulai dan tumbuh dari niatan  Nga Ngracut busananing manungso .melepaskan egoisme pribadi manusia Pasangan Jika Carakan / aksara Jawa lebih bersifat silabis (kesuku-kataan). Artinya bahwa huruf yang diikuti pasangan akan dimatikan sehingga menjadi konsonan. kebudayaan 16 Jawa . Kemudian menuliskan aksara Na karena aksara Na mewakili dua buah huruf latin yakni N dan A sehingga kita tidak bisa langsung menuliskan aksara da. bagaimana Carakan bisa menuliskan huruf mati.Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar  Ja Jumbuhing kawula lan Gusti .menyelaraskan diri pada gerak alam  Tha Tukul saka niat . Pasangan memiliki fungsi untuk menghubungkan suku kata yang tertutup (diakhiri) konsonan dengan suku kata berikutnya.yakin/mantap dalam menyembah Ilahi  Ga Guru sejati sing muruki .

Bentuk pasangan ini ada yang dituliskan di bawah dan ada juga yang di atas sejajar dengan aksara. Bentuk-bentuk pasangan itu adalah: Aksara Murda Pada aksara hanacaraka memiliki bentuk murda (hampir setara dengan huruf kapital) yang seringkali digunakan untuk menuliskan kata-kata yang menunjukkan :      Nama Gelar Nama Diri Nama Geografi Nama Lembaga Pemerintah Dan Nama Lembaga Berbadan Hukum. Aksara Murda dan pasangannya kebudayaan 17 Jawa .Semua aksara pokok yang ada di Carakan memiliki pasangannya masingmasing. (Kata-kata dalam Bahasa Indonesia yang menunjukkan hal-hal diatas biasanya diawali dengan huruf besar atau kapital. Untuk itulah pada perangkat lunak ini kita gunakan huruf kapital untuk menuliskan aksara murda atau pasangannya).

Contoh: Aksara swara kebudayaan 18 Jawa . maka ada dua aturan yang dapat dipergunakan yakni dengan menuliskan aksara murda terdepannya saja. atau dengan menuliskan keseluruhan dari bentuk aksara mudra yang ditemui. Bila dalam satu kata atau satu kalimat ditemui lebih dari satu aksara murda. c.Aturan Pengunaan Untuk aturan penulisan Aksara murda ini hampir sama dengan penulisan aksaraaksara pokok di Hanacaraka. Contoh Pemakaian Aksara Murda Untuk melengkapi aturan penggunaan aksara murda ini. maka dituliskan bentuk aksara pokoknya. Bila ditemui aksara murda menjadi sigeg. Murda tidak dapat dipakai sebagai sigeg (konsonan penutup suku kata). b. ditambah dengan beberapa aturan tambahan yakni : a. contoh berikut bisa digunakan sebagai acuan untuk menuliskan Aksara Murda.

maka sigegan itu harus dimatikan dengan pangkon. terutama yang berasal dari bahasa asing. cecak. Aksara swara tidak dapat dijadikan sebagai aksara pasangan. Contoh Penggunaan Aksara Swara Untuk melengkapi aturan penggunaan aksara murda ini. wulu dan lainnya. Aksara swara dapat diberikan sandangan wignyan. Aksara ini tidak dilengkapi dengan bentuk pasangan. diikuti aturan penulisan aksara swara sebagai berikut : a. adapun bentuk Aksara Swara ini adalah sebagai berikut : Aturan Penulisan Aksara Swara Dalam menuliskan Aksara Swara. layar. Contoh: Sandangan kebudayaan 19 Jawa . Bentuk Aksara Swara Aksara Swara tidak seperti aksara-aksara yang lain. Aksara Swara dalam penulisan Hanacaraka digunakan untuk menuliskan aksara vokal yang menjadi suku kata. Bila aksara swara menemui sigegan (konsonan pada akhir suku kata sebelumnya). c. b.Kegunaan Aksara Swara Aksara Swara sebagaimana aksara Murda memiliki fungsi dan kegunaan tertentu. untuk mempertegas pelafalannya. suku. contoh berikut bisa digunakan sebagai acuan untuk menuliskan Aksara Murda.

Sandangan suku dituliskan serangkai di bagian bawah akhir aksara yang mendapatkan sandangan itu. atau vokal U yang tidak dituliskan dengan aksara swara. Sandangan suku pada pasangan dituliskan mengikuti letak penulisan pasangan itu. yakni / / dan /a/. (ta). Pemakaian Sandangan Pepet Kegunaannya untuk dipakai untuk melambangkan vokal e di dalam suatu suku kata. aksara yang tidak mendapat sandangan diucapkan sebagai gabungan anatara konsonan dan vokal a. pokok. Penulisan sandangan suku pada pasangan. seperti a pada kata pas. misalnya :  Vokal a dilafalkan /a/. ada.Sandangan adalah tanda yang dipakai sebagai pengubah bunyi di dalam tulisan Jawa. Sandangan suku dipakai untuk melambangkan bunyi vokal u yang bergabung dengan bunyi konsonan di dalam suatu suku kata. maka sandangan wulu digeser sedikit ke kiri.  Vokal a dilafalkan seperti o pada kata bom. tokoh doi dalam bahasa Indonesia. Letak sandangan sukunya sendiri tetap berada pada bagian bawah akhir dari pasangan. Vokal a di dalam bahasa Jawa mempunya dua macam varian. Apabila sandangan suku mengikuti pasangan aksara (ka). Penulisan sandangan suku pada aksara. Pemakaian Sandangan Suku Penulisan sandangan suku dapat dituliskan dalam dua keadaan yaitu : 1. semua di dalam bahasa Indonesia. tolong. Sandangan Bunyi Vokal (Sandhangan Swara) Sandangan bunyi vokal ada lima buah. siapa. Sedangkan wulu ditulis di bagian atas akhir suatu aksara. misalnya : Sandangan di dalam aksara Jawa dapat dibagi menjadi tiga golongan yakni sebagai berikut : 1. atau (la). baru kemudian diberikan sandangan suku. maka pasangan ini harus dirubah dulu ke dalam bentuk aksara pokoknya dahulu. Adapun bentuk dari sandangan bunyi vokal ini adalah : Pemakaian Sandangan Wulu Sandangan Wulu dipakai untuk melambangkan vokal ( i ) di dalam suatu suku kata. 2. Apabila selain wulu juga terdapat sandangan yang lain. Di dalam tulisan Jawa. Aturan penulisan sandangan pepet tertera sebagai berikut: kebudayaan 20 Jawa .

dan (pa). Pemakaian Sandangan Wignyan Sandangan wignyan adalah pengganti sigegan ha (konsonan ha di akhir suku). Penempatan sandangan pepet pada aksara yang mendapatkan pasangan dituliskan sesuai dengan aturan di atas. (sa). maka sandangan pepet digeser sedikit ke kiri dan sandangan layar ditulis di sebelah kanan pepet. Penulisan wignyan diletakkan di belakang aksara yang dibubuhi sandangan itu. Pemakaian Sandangan Taling Untuk membedakan penggunaan sandangan pepet dengan taling. Apabila selain pepet juga terdapat sandangan layar. (sa). Untuk aksara pasangan yang ada di atas seperti pasangan (ha). Sandangan Konsonan Penutup Suku Kata (Sandhangan Panyigeging Wanda) Sandangan penutup suku kata ada 4 buah. 2. kebudayaan 21 Jawa . kecuali untuk aksara yang mendapatkan pasangan yang dituliskan di atas seperti sandangan (ha). Sandangan taling tarung untuk aksara pasangan di tuliskan mengapit aksara yang dimatikan (yang menjadi sigeg).Sandangan pepet ditulis di bagian atas akhir aksara. sedangkan tarung ditaruh di belakang aksara pasangan. Apabila selain pepet juga terdapat sandangan cecak. Pengecualian: Sandangan pepet tidak dipakai untuk menuliskan suku kata re dan le yang bukan sebagai pasangan. maka taling ditaruh didepan aksara sigeg. Sebab suku kata re dan le yang bukan pasangan dilambangkan dengan tanda pacerek (re) dan Nga lelet (le).  é untuk penulisan sandangan pepet  e untuk penulisan sandangan taling Pemaikaian Sandangan Taling Tarung Sandangan taling tarung dipakai untuk melambangkan bunyi vokal O yang tidak dituliskan dengan aksara swara di dalam suatu suku kata. maka penulisan pepet berada di atas pasangannya. maka sandangan pepet digeser sedikit ke kiri dan sandangan cecak ditulis di dalam pepet. maka dibedakan sebagai berikut . dan (pa). Untuk Sandangan taling tarung dituliskan mengapit aksara yang dibubuhi sandangan itu. Untuk aksara yang mendapatkan pasangan ini.

Pada kasus ini pangkong berfungsi ganda. maka penulisan cecak di taruh di dalam sandangan pepet. senilai dengan pada lingsa. o Contoh: bapak macul. Pemakaian Sandangan Pangkon Tidak seperti ketiga sandangan sebelumnya. sandangan layar digunakan untuk pengganti sigegan ra (konsonan ra di akhir suku). ada tiga buah kondisi dalam menuliskan sandangan cecak. Pemakaian Sandangan Cecak Sandangan cecak digunakan untuk menuliskan sigegan ng (sepasang konsonan nga di akhir suku kata).  Sandangan pangkon dapat juga dipakai sebagai pembatas bagian kalimat atau rincian yang belum selesai. maka sandangan cecak dituliskan di belakang sandangan wulu.Pemakaian Sandangan Layar Hampir sama dengan sandangan wignyan. Sandangan cecak dituliskan menurut aturan ini bila menemui keadaan aksara yang diikuti tidak memiliki sandangan di atas aksara selain dirinya.  Sandangan cecak ditulis di atas aksara di dalam pepet. yakni :  Sandangan cecak ditulis di atas aksara. Apa bila sandangan cecak mengikuti sandangan wulu. Sandangan cecak apabila mengikuti sandangan pepet. Sandangan pangkong ditulis di belakang aksara yang di bubuhi sandangan itu. Fungsi-fungsi itu adalah :  Sandangan pangkong dipakai sebagai penanda bahwa aksara yang dibubuhi sandangan pangkon itu merupakan aksara mati. o Contoh : benik klambi kebudayaan 22 Jawa . sandangan pangkong memiliki beberapa fungsi. atau aksara penyigeging wanda.) di dalam ejaan latin. atau tanda koma (. adhiku dolanan ijen. Penulisan layar ditulis dibagian atas akhir aksara yang mengikuti. Sandangan pangkon dapat ditulis untuk menghindarkan penulisan aksara yang bersusun lebih dari dua tingkat. aku angon sapi.  Sandangan cecak ditulis di atas aksara belakang sandangan wulu. aksara penutup suku kata. di samping untuk mematikan aksara.

Sandangan Cakra Keret Sandangan Cakra Keret dipakai untuk melambangkan gugus konsonan yang berunsur akhir konsonan r dengan diikuti vokal e pepet. Contoh: wong gedhe. Bentuk tanda baca yang ditangani dalam perangkat lunak ini ada 4 buah yakni : 1) Adeg-adeg Adeg adeg dipakai di depan kalimat pada tiap-tiap awal alinea. Sandangan Pengkal Sandangan Pengkal dipakai untuk melambangkan konsonan y yang bergabung dengan konsonan lain di dalam suatu suku kata.3. paragraf dan lainnya. Tanda Baca Dalam Hanacaraka terdapat pula tanda-tanda baca yang digunakan dalam penulisan kalimat. dhuwur. suku kata kra memiliki gugus konsonan kr. 2) kebudayaan 23 Jawa . Tanda cakra keret ditulis serangkai di bawah bagian akhir aksara yang diberikan tanda keret itu. Dengan kata lain cakra keret digunakan sebagai ganti tanda cakra yang mendapatkan penambahan sandangan pepet. cakra la. Dan apa bila sandangan itu adalah pepet. cecak. Di dalam Hanacaraka ada lima buah gugus konsonan yang digunakan dalam bentuk sandangan. Aksara yang sudah diberikan cakra dapat diberikan sandangan lagi selain sandangan cakra. Tanda pengkal ditulis serangkai di belakang aksara yang diberi tanda pengkal. Pada Lingsa Pada lingsa dipakai pada akhir bagian kalimat sebagai tanda intonasi setengah selesai. Tanda cakra ditulis serangkai di bawah bagian akhir aksara yang diberi tanda cakra itu. Sandangan Gugus Konsonan Gugus konsonan adalah kumpulan dari dua konsonan dalam Hanacaraka yang akan membentuk suatu suku kata.). sebagai contoh kraton yang dapat dipisah menjadi kra-ton. lan pakulitane ireng. Sandangan Cakra Sandangan cakra merupakan penanda gugus konsonan yang unsur terakhirnya berwujud konsonan r. Tanda ini hampir setara dengan penggunaan koma(. maka sandangan cakra dan pepet ditulis menjadi cakra keret. cakra wa.

Contoh: wis meh jam telu esuk. Contoh: aku arep tuku bala pecah : mangkok. yaitu yang bertempat tinggal di daerah-daerah yang lebih rendah mengolah tanah-tanah pertanian tersebut untuk dijadikan sawah. Meski banyak pengusaha Indonesia yang sukses berasal dari suku Jawa.  Pada pangkat dipakai untuk mengapit petikan langsung. "sapa kancamu" D. Tanda ini hampir setara dengan titik. Di dalam melakukan pekerjaan pertanian ini. bertani adalah juga merupakan salah satu mata pencaharian hidup dari sebagian besar masyarakat orang Jawa di desadesa. goreh amarga mikirna bojone kang wis telung dina iki durung mulih. Sedangkan yang lain. MATA PENCAHARIAN Di Indonesia. diantara mereka ada yang menggarap tanah pertaniannya untuk dibuat kebun kering ( tegalan ). dan buruh di hutan-hutan di luar negeri yang mencapai hampir 6 juta orang. terutama mereka yang hidup di daerah pegunungan. orang Jawa bisa ditemukan dalam segala bidang. pertukangan dan perdagangan. Contoh: Ibu mundhut emas 75 gram.3) Pada Lungsi Pada lungsi dipakai pada awal suatu kalimat. lan gelas. 4) Pada Pangkat  Pada pangkat dipakai pada akhir pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian. Dan tentunya kini semakin bertambah banyak.  Pada pangkat dipakai untuk mengapit angka. orang Jawa tidak menonjol dalam bidang Bisnis dan Industri. Banyak variasi pekerjaan sesuai dengan keahlian dan keterampilan yang dimiliki. Contoh: Ibu ngendika. Terutama bidang Administrasi Negara dan Militer banyak didominasi orang Jawa. Selain sumber penghidupan yang berasal dari pekerjaan-pekerjaan kepegawaian. banyak diantara suku Jawa bekerja sebagai buruh kasar dan tenaga kerja indonesia seperti pembantu. Biasanya disamping tanaman padi. beberapa jenis tanaman palawija juga ditumbuhkan baik sebagai tanaman utama di kebudayaan 24 Jawa . piring. sumini durung bisa turu. pikirane goreh.

kacang tunggak. Hubungan transksi semacam ini. Kalau ia menerima sepertiga bagian saja. maka sistem itu disebut maro. Tanaman penyela tersebut. bahakna banyak juga yang tidak mempunyaianya sama sekali. maka ada yang disebut adol sende. Sudah barang tentu cara-cara bagi hasil ini tergantung kepada keadaantingkat kesuburan tanah pertanian tersebut. diantaranya adalah ketela pohon. Pemilik yang kelebihan dapat menjual sawah seperti itu kepada orang lain. bagi hasil atau menggadai tanah. sebagia bunganya. si pemilik sawah biasanya hanya akan menerima seperlima bagian dari seluruh hasil panenan sawahnya. adapula beberapa sumber pendapatan lain yang diperoleh dari usaha-usaha kerja sambilan membuat makanna tempe. Selain sumber penghasilan dari lapangan pekerjaan pokok bertani tersebut. Walaupun demikian ornag yang menggadai tanah itu sudah dapat memungut hasil pertaniannya setidak-tidaknya satu kali masa panen. dimana ia mendapat tanha pertanian sebagai barang gadaian untuk diolah. Terutama untuk bagi hasil tanaman palawija kacang brol. kacang tanah. maka tanha pertanian tadi diserahkan kembali kepadanya. artinya ia meminjamkan uang kepada orang lain. menganyam tikar. ketela rambat. Kemudian jika si peminjam uang dan pemilik sawah tersebut berhasil mengembaikan uang pinjamannya pada suatu waktu. Banyak orang di desa tidak memiliki tanah-tanah pertanian yang luas. Orang seperti itu terpaksa bekerja menjadi buruh tani. sistem itu disebut mertelu. atau secara adol ceplik. karena ia kaya dapat memberikan sejumlah uangnya kepada orang pemilik sawah yang memerlukan. yang disebut adol oyodan.tegalan maupun sebagai tanaman penyela di sawah pada waktu musim kemarau dimana air sangat kurang untuk pengairan sawah-saah itu. Apabila orang yang tidak mempunyai tanah ingin mendapat hasil dengan cara bagi hasil. Orang yang menyewa tanah. ialah hanya menyewakan sawahnya untuk satu tahun. umumnya dilakukan oleh kedua belah pihak dengna disaksikan oleh salah seorang anggota Pamong Desa. dan menjadi tukang-tukang kebudayaan 25 Jawa . mencetak batu merah. menyewa tanah. mbotok atau membuat minyak goreng kelapa. Dalam hal ini dia bisa menjual secara adol tahunan. membatik. Akhirnya jika orang hendak menggadai tanah. kedelai. ialah menjual lepas sawahnya. artinya memperoleh separo bagian hasil panennya. misalnya untuk satu masa panen. Sawah itu ada yang dimiliki sendiri dan sawah ini disebut sawah sanggan dan sawah yasan. kacang brol. dan lain-lain.

Dan setiap kedudukan yang ia jabat ia akan memilki gelar tambahan atau gelar yang berubah nama. dan mengelompokkan masyarakat Jawa ke dalam tiga golongan: priyayi. jadi nama lengkapnya adalah Raden Mas Bomantara. ia akan memiliki gelar yang berbeda dari gelar yang telah ia miliki. ia bergelar Raden Mas. yang berarti kekasih Dalam kebudayaan Jawa. Istilah priyayi menjadi terkenal saat Clifford Geertz melakukan penelitian tentang masyarakat Jawa pada tahun 1960-an. karena pengelompokkan priyayi-non priyayi adalah berdasarkan garis keturunan seseorang. ketika menapak dewasa (18 atau 21 tahun) bertambah lagi menjadi Bandara Raden Mas Aryo. Misalnya ia menduduki jabatan pemimpin ksatrian maka gelarnya akan berubah menjadi Gusti Pangeran Adipati Haryo. Gelar seorang priyayi juga dapat meningkat seiring dari usianya. Misalnya ketika seorang anak laki-laki lahir diberi nama Bomantara. Pada saat dewasa dan telah memiliki jabatan dalam hierarki kebangsawanan. batu atau reparasi sepeda dan lapangan-lapangan pekerjaan lain yang mungkin dikerjakan. Beberapa gelar dari yang tertinggi hingga dengan hanya satu gelar saja yaitu Raden. santri dan abangan. SISTEM KEMASYARAKATAN  Lapisan sosial  priyayi Kata priyayi konon berasal dari dua kata Jawa para dan yayi yang secara harafiah berarti "para adik". Golongan priyayi tertinggi disebut Priayi Ageng (bangsawan tinggi). istilah priyayi atau berdarah biru merupakan suatu kelas sosial yang mengacu kepada golongan bangsawan. Gelar dalam golongan ini terbagi menjadi bermacam-macam berdasarkan tinggi rendahnya suatu kehormatan. kebudayaan 26 Jawa .kayu. Namun penggolongan ini tidaklah terlalu tepat. Suatu golongan tertinggi dalam masyarakat karena memiliki keturunan dari keluarga kerajaan. Namun menurut Robson (1971) kata ini bisa pula berasal dari kata Sansekerta priyā. Abangan digunakan untuk mereka yang bukan priyayi dan juga bukan santri. Kelompok santri digunakan untuk mengacu pada orang yang memiliki pengetahuan dan mengamalkan agama. E. ketika menginjak akil balik gelarnya bertambah satu kata menjadi Bandara Raden Mas. Yang dimaksud adalah para adik raja.

Kuli gandok atau lindung Mereka adalah orang laki-laki yang sudah kawin. Wong Cilik  Merupakan golongan masyarakat yang paling bawah. c. dan masih tinggal bersama orang tuanya atau tinggal (ngenger) dirumah orang lain. b.sedangkan pengelompokkan santri . sinoman. mereka memiliki sawah. biasanya hidup didesadesa dengan sesuai dengan mata pencaharian mereka sebagai petani. Misalnya seorang laki-laki ningrat yang merupakan keturunan langsung (generasi pertama) dari raja/pemimpin yang memerintah akan mendapat tambahan Bandara (baca "bandoro") di depan gelarnya. tukang dan pekerja kasar lainnya. Golongan ini juga dapat digolongkan lagi menjadi : a. Yang biasanya mempunyai gelar-gelar yang menandakan tingkat kebangsawanannya.abangan dibuat berdasarkan sikap dan perilaku seseorang dalam mengamalkan agamanya (Islam). Dalam hal memelihara dan membangun masyarakat desanya. serta pekarangannya.sehingga terpaksa menetap di kediaman mertuanya. oleh karena itu dalam susunan kepemimpinan desa tiap-tiap dukuh diketuai oleh kepala dukuh. bahkan ada pula yang non muslim. mereka adalah keturunan orang-orang yang dahulu yang pertama kali menetap didesa. ada priyayi yang santri dan ada pula yang abangan. Wong baku merupakan lapisan tertinggi dalam lingkungan desa di Jawa. atau bujangan Mereka semua belum menikah. rumah. sehingga menjadi Bandara Raden Mas (disingkat BRM). akan tetapi tidak mempunyai tempat tinggal sendiri. Dalam realita. Ningrat  Adalah keluarga keraton dan keturunan bangsawan lainnya. Joko. Desa-desa di Jawa sering dibagi-bagi menjadi bagian-bagian yang disebut dukuh. para pamong desa harus sering menggerakkan kebudayaan 27 Jawa . akan tetapi golongan bujang ini bisa mempunyai tanah baik dari pembelian atau warisan.

yaitu : a. Magang atau ngenger. Perkawinan ngarang wulu adalah suatu perkawinan seorang duda dengan seorang wanita salah satu adik dari almarhum istrinya. Jadi merupakan pernikahan sororat.masyarakat dengan gugur gunung atau kerik desa guna bekerja sama membersihkan. yaitu suatu perkawinan seorang pria dan wanita atas kemauan kedua orang tua mereka. Adapun adik dari ayah dan ibu diklasifikasikan ke dalam dua golongan yang dibedakan menurut jenis kelamin menjadi paman dan bibi. Dalam adat masyarakat Jawa dikenal adanya ngarang wulu serta wayuh. yaitu seorang yang mendapat istri sebagai pemberian atau penghadiahan dari salah satu lingkungan keluarga tertentu. F. Paksa (peksan). e. Pelamaran biasa b.upacara tersebut adalah  Nakokake Seorang pria pertama-tama datang ke kediaman orang tua si gadis dengan didampingi oleh orang tua sendiri atau wakil orang tuanya untuk menanyakan kebudayaan 28 Jawa . SISTEM KEKERABATAN Sistem kekerabatan masyarakat Jawa berdasarkan prinsip keturunan bilateral. yaitu pihak kerabat si gadis yang melamar si jejaka. Triman. Adapun wayuh adalah suatu perkawinan lebih dari satu istri (poligami). Menurut adat Jawa apabila akan diadakan suatu perkawinan. terlebih dahulu diselenggarakan berbagai upacara-upacara sampai dilaksanakannya peresmian perkawinan. d. Semua kakak laki-laki atau wanita ayah dan ibu beserta istri atupun suami masing – masing diklasifikasikan menjadi satu dengan istilah siwa atau uwa. c. ialah seorang jejaka yang telah mengabdikan dirinya pada kerabat si gadis. misalnya keluarga keraton atau keluarga kyai agung. Ngunggah-ngunggahi. Masyarakat Jawa mengenal beberapa sistem pernikahan. memperbaiki dan membuat sarana fasilitsa pedesaan. Upacara.

Biasanya dia juga menyewakan pakaian pengantin. Jika orang tua si gadis telah meninggal. Untuk itu dibentuk sebuah panitia kecil yang terdiri dari teman dekat. pidato pembuka. 500. apakah si gadis sudah ada empunya atau belum (legan). Pohon pisang sangat mudah tumbuh dimana saja. 1000 atau lebih). perhiasan dan perlengkapan lain untuk pesta pernikahan. transportasi. wali untuk Ijab. makanan dan minuman. pembawa acara. Biasanya sehari sebelum pesta pernikahan. terdiri dari berbeda Tuwuhan (tanaman dan daun). Panitia mengurus seluruh persiapan perkawinan: protokol. dekorasi dari ruangan resepsi. komunikasi dan keamanan. Banyak yang harus dipersiapkan untuk setiap upacara pesta pernikahan. Dia mengurus dandanan dan pakaian pengantin laki-laki dan pengantin perempuan yang bentuknya berbeda selama pesta pernikahan. kebudayaan 29 Jawa . yakni anggota kerabat dekat menurut garis laki – laki (patrilineal). Besarnya panitia itu tergantung dari latar belakang dan berapa banyaknya tamu yang di undang (300. dukun pengantin perempuan di mana menjadi pemimpin dari acara pernikahan. hal itu yang disebut nakokake kepada wali. keluarga dari kedua mempelai.  Persiapan Penunjukkan Pemaes. Pasangan pengantin akan hidup baik dan bahagia dimana saja. yaitu : • Dua pohon pisang dengan setandan pisang masak berarti: Suami akan menjadi pemimpin yang baik di keluarga.kepadanya. Persiapan yang paling penting adalah Ijab (catatan agama dan catatan sipil). musik gamelan dan tarian.  Nontoni Calon suami mendapat kesempatan untuk melihat calon istrinya. pintu gerbang dari rumah orangtua wanita dihias dengan Tarub (dekorasi tumbuhan). dimana tercatat sebagai pasangan suami istri.

Cemeti: Pasangan pengantin akan selalu hidup optimis dengan hasrat untuk kehidupan yang baik.• Sepasang Tebu Wulung berarti: Seluruh keluarga datang bersama untuk bantuan nikah. Cengkir Gading berarti: Pasangan pengantin cinta satu sama lain dan akan merawat keluarga mereka. Itu dekorasi sangat indah dan mempunyai arti yang luas. dadap srep berarti: Pasangan pengantin akan hidup aman dan melindungi keluarga. kebudayaan 30 Jawa • . Gunung itu tinggi dan besar. Selain pemasangan tarub juga dikenal adanya Kembar Mayang yang merupakan karangan dari bermacam daun (sebagian besar daun kelapa di dalam batang pohon pisang). alang-alang. • Keris: Melukiskan bahwa pasangan pengantin berhati-hati dalam kehidupan. • Mempunyai bentuk seperti gunung. • • • Bekletepe Bleketepe yang berada di atas pintu gerbang berarti menjauhkan dari gangguan roh jahat dan menunjukan di rumah mana pesta itu diadakan. pengalaman dan kesabaran. mojo-koro. berarti laki-laki harus punya banyak pengetahuan. pintar dan bijaksana. Bentuk daun seperti beringin.

nasi kuning tanpa hiasan. nasi kuning dengan hiasan. Tumpeng Gundul. cepat berpikir dalam mengambil keputusan untuk keluarganya. Burung: Pasangan pengantin mempunyai motivasi hidup yang tinggi. daging. Daun Beringin: Pasangan pengantin akan selalu melindungi keluarganya dan masyarakat sekitarnya. Bunga Patra Manggala: Itu digunakan untuk memperindah karangan. Daun Dadap srep: Daun yang dapat digunakan mengompres untuk menurunkan demam.• • Payung: Pasangan pengantin harus melindungi keluarganya. Jawa 31 kebudayaan . diantaranya di kamar mandi. dan lain-lain. tahu. di jalan dekat rumah. di dapur. telur. • • • • • Daun Dlingo Benglé: Jamu untuk infeksi dan penyakit lainnya. di bawah pintu gerbang. berarti pasangan pengantin akan selalu mempunyai pikiran yang jernih dan tenang dalam mengadapi masalah. Itu adalah simbol yang sangat berarti. di mana Tuhan Pencipta melidungi kami. Pisang raja dan buah lainnya. di bawah dekorasi Tarub. Daun Kruton: Daun yang melindungi mereka dari gangguan setan. Sajen berarti untuk mendoakan leluhur dan untuk melindungi dari gangguan roh jahat. itu digunakan untuk melindungi gangguan setan. Kelapa muda. Tradisionil Sajen (persembahan) dalam pesta adat Jawa itu sangat penting. Belalang: Pasangan pengantin akan giat. • Siraman sajen terdiri dari: • • • • • • Tumpeng Robyong. Sebelum memasang Tarub dan Bekletepe harus membuat hidangan spesial yang dinamakan Sajen. Tujuh macam bubur. Makanan: ayam. Sajen diletakan di semua tempat di mana pesta itu diadakan.

berfungsi seperti sabun. melati.lima warna . melati. Lantera. cendol. Buna Telon (kenanga. santan. letakkan bersama. Makna dari pesta Siraman adalah untuk membersihkan jiwa dan raga. Rokok dan kretek. Jumlah orang yang melakukan Siraman itu biasanya tujuh orang. mereka memberi nama PITULUNGAN (berarti menolong). Tradisionil shampoo dan conditioner (abu dari merang. tetapi juga keluarga dekat dan orang yang dituakan. Daftar nama dari orang yang melakukan Siraman itu sangat penting. Yang harus dipersiapkan: • • • • • • Baskom untuk air. Air dari sumur atau mata air. Teh dan kopi pahit. Bunga Setaman . magnolia dan kenanga . Pesta Siraman ini biasanya diadakan di siang hari.  Siraman. magnolia) dengan air Suci. Bahasa Jawa tujuh itu PITU. lemper. Aroma . Mereka menyeleksi orang yang bermoral baik. Kursi kecil. air asam Jawa). biasanya terbuat dari tembaga atau perunggu. gayung dari 2 kelapa. Siraman biasanya dilakukan di kamar mandi atau di taman. Sekarang lebih banyak diadakan di taman. ditutup dengan: kebudayaan 32 Jawa .di campur dengan air.mawar.• • • • • Kue manis. Tidak hanya orangtua. Siraman di adakan di rumah orangtua pengantin masing-masing. sehari sebelum Ijab dan Panggih.

leher. Pemaes sangat behati-hati dalam merias pengantin. Itu Banyu Suci Perwitosari.kain putih . Kain batik dari Grompol dan potongan Nagasari. pengantin duduk di kamar pengantin.beberapa macam daun . Pengantin perempuan/laki-laki duduk dengan kedua tangan di atas dada dengan posisi berdoa. Pemaes atau orang yang ditunjuk memecahkan kendi ke lantai dan berkata: 'Wis Pecah Pamore' .bango tulak (kain dengan 4 macam motif) . Orang terakhir yang melakukan Siraman adalah Pemaes atau orang sepesial yang telah ditunjuk. kebudayaan 33 Jawa . Dia mengikat rambut ke belakang dan mengeraskannya (gelung). Dia diantar ke tempat Siraman. Kendi. Dalam pelaksanaan upacara Siraman Pengantin perempuan/laki-laki datang dari kamarnya dan bergabung dengan orangtuanya. dia siap untuk di dandani. Ibu boleh menyiramkan setalah ayah.• Tikar . tangan dan kaki juga sebanyak tiga kali.  Upacara Ngerik Setelah Siraman. dan lain-lain. Setelah Kendi itu kosong. telinga.berarti dia itu tampan (menjadi cantik dan siap untuk menikah). Dan ini akan digunakan setelah Siraman. Orang pertama yang menyiramkan air ke pengantin adalah ayah. Dia mendudukkan di kursi dan berdoa. Pemaes mengeringkan rambutnya dengan handuk dan menberi pewangi (ratus) di seluruh rambutnya. Pemaes menggunakan tradisionil shampoo dan conditioner. Akhirnya. Keluarga dari pengantin wanita mengirim utusan untuk membawa air-bunga ke keluarga dari pengantin laki-laki. wajah. Beberapa orang jalan di belakangnya dan membawa baki dengan kain batik. Dandanan itu tergantun dari bentuk perkawinan. Itu adalah simbol dari kemakmuran hidup.lurik (motif garis dengan potongan Yuyu Sekandang dan Pula Watu). Setelah mereka. • • • • Memakai kain putih selama Siraman. handuk. pengantin wanita memakai kebaya dan kain batik dengan motif Sidomukti atau Sidoasih. berarti air suci dan simbol dari intisari kehidupan. Kemudian mereka menyiramkan air ke atas kepala. orang lain boleh melakukan Siraman. Mereka menyiramkan air ke tangannya dan membersihkan mulutnya tiga kali. Setelah itu Pemaes membersihkan wajahnya dan lehernya. Air ini diletakan di rumah pengantin laki-laki.dlingo benglé (tanaman untuk obatobatan) . Handuk.

dan lain-lain) di lapisi dengan kain Bango Tulak. Dua kendi (diisi dengan bumbu. jamu. Menurut kepercayaan kuno. beras. Mulai dari besok. Yang harus diletakan di kamar pengantin : • • Satu set Kembar Mayang. kacang. Keluarga dan teman dekat dari pengantin wanita akan datang berkunjung. Midodareni itu berasal dari kata Widodari yang berarti Dewi. calon pengantin wanita akan menjadi cantik sama seperti Dewi. suaminya yang akan bertanggung Jawab. Orangtua dari pengantin wanita akan menyuapkan makanan untuk yang terakhir kalinya. Ukub (baki dengan bermacam pewangi dari daun dan bunga) diletakan di bawah tempat tidur. Dua kendi (diisi dengan air suci) di lapisi dengan daun dadap srep. Biasanya mereka akan memberi saran dan nasihat. Kacang Areca. Pengantin wanita harus tinggal di kamar dari jam enam sore sampai tengah malam di temani dengan beberapa wanita yang dituakan. Jawa 34 • • • • kebudayaan . semuanya harus wanita. Dewi akan datang dari kayangan. Suruh Ayu (daun betel). Pada malam hari. Upacara Midodareni Pelaksanaan pesta ini mengambil tempat sama dengan Ijab dan Panggih.

Selama itu. mengharapkan untuk kebahagiaan dan kehidupan yang baik. tetapi dia tidak boleh masuk ke rumah. Keluarga dari pengantin laki-laki berkunjung ke keluarga dari pengantin perempuan. Mereka akan menjadi besan. mengharapkan untuk keselamatan. Keluarga dan tamu dapat makan bersama. Dalam kesempatan ini. • • • Kain Kebaya. minyak. dan lain-lain. dia hanya diberi segelas air dan kebudayaan 35 Jawa .  Peningsetan atau Srah-Srahan Peningsetan berasal dari kata singset (berarti ikatan). tanda dasar kehidupan. Hanya pengantin laki-laki tidak bisa bertamu ke kamar pengantin perempuan yang sudah bagus di dekorasi. gula. • Beras. Mereka membawa hadiah: • Suruh Ayu (daun betel). Buah-buahan. garam.• Tujuh macam kain dengan corak letrek. keluarga dan teman dekat dari pengantin wanita bertemu dengan keluarga dari pengantin laki-laki. kedua keluarga beramah tamah. Kedua keluarga menyetujui pernikahan. Di kamar lain. • Beberapa kain batik dengan corak berbeda. Hanya keluarganya boleh masuk ke rumah. Setagen putih untuk tanda kekuatan. • • Cincin untuk pasangan pengantin. Dia duduk di serambi depan rumah bersama dengan beberapa teman dan keluarga. Pengantin laki-laki tiba bersama dengan keluarganya. mengharapkan kesehatan. Sumbangan uang untuk pesta pernikahan. Di tengah malam semua sajen di ambil dari kamar.

Orangtua dari pengantin perempuan akan mengurus penginapannya. pengantin lakilaki boleh masuk ke rumah. utusan dari keluarga pengnatin laki-laki mengatakan kepada tuan rumah bahwa mereka akan mengambil alih tanggungJawab pengantin laki-laki. Sebelum keluarganya meninggalkan rumah. Itu disebut Nyantri. Mereka dihormati seperti Raja dan Ratu di hari itu. Utusan menyatakan bahwa pengantin laki-laki tidak kembali ke rumah. Dengan maksud agar dia bisa menahan lapar dan godaan. dengan pertimbangan bahwa besok dia harus berpakaian pengantin dan siap untuk Ijab dan upacara pernikahan lain. perhiasan emas dan kebaya untuk saat ini. Setelah selesainya rangkaian persiapan maka dilanjutkan dengan upacara perkawinan. Pengantin laki-laki juga berpakaian khusus untuk upacara ini. Tempat di adakan Ijab diletakan Sanggan atau Sajen disekitarnya. tetapi tidak ke kamar pengantin. Pengantin wanita dengan gelungan.tidak boleh merokok. Pasangan pengantin muncul terbaik. Dia boleh makan hanya setelah malam hari. Upacara perkawinan menurut adat Jawa terdiri dari beberapa tahapan yaitu :  Upacara Panggih Suara sangat bagus dan mistik dari Gamelan digabungkan dengan tradisi Panggih atau Temu: pertemuan antara pengantin wanita yang cantik dengan pengantin laki-laki yang tampan di depan rumah yang di hias dengan kebudayaan 36 Jawa . Nyantri dilakukan untuk keamanan dan praktisnya. Setelah pengunjung meninggalkan rumah.  Upacara Ijab Upacara ijab merupakan syarat yang paling penting dalam mengesahkan pernikahan. Pelaksanaan dari Ijab sesuai dengan agama dari pasangan pengantin. minyak rambut mengkilap.

Di depannya dua puteri disebut Patah. Mereka melakukannya dengan keinginan besar dan kebahagian. Kembar Mayang di bawa keluar rumah dan diletakan di persimpangan dekat rumah. Mereka mulia melempar sebundel daun betel dengan jeruk di dalamnya bersama dengan benang putih. tiba di rumah dari orangtua pengantin wanita dan berhenti di depan pintu gerbang.  Upacara Balangan Suruh Pengantin wanita bertemu dengan pengantin laki-laki. daun betel mempunyai kekuatan untuk menolak dari gangguan buruk. Pengantin wanita. berjalan keluar dari kamar pengantin. Pengantin laki-laki di antar oleh keluarga dekatnya (tetapi bukan orangtuanya karena mereka tidak boleh berada selama upacara). Dekorasi itu hanya digunakan bila pasangan pengantin sebelumnya tidak pernah menikah. Dua wanita dituakan atau dua putera membawa dua Kembar Mayang yang tingginya sekitar satu meter atau lebih. Dengan melempar daun betel satu sama lain. Selama upacara Panggih. semua orang tersenyum bahagia. Menurut kepercayaan kuno. dengan membawa kipas. Itu melukiskan bahwa pengantin laki-laki siap untuk menjadi ayah yang bertangung Jawab dan pengantin perempuan akan melayani setia suaminya. Pengantin perempuan mencuci kaki pengantin laki-laki dengan menggunakan air dicampur dengan bermacam bunga. Orangtuanya dan keluarga dekat berjalan di belakangnya. kebudayaan 37 Jawa . bukan setan atau orang lain yang menganggap dirinya sebagai pengantin laki-laki atau perempuan. di antar oleh dua wanita yang dituakan. Untuk dekorasi. Satu orang wanita dari keluarga pengantin lakilaki berjalan keluar dari barisan dan memberi Sanggan ke ibu pengantin perempuan. Mereka mendekati satu sama lain. sebagai tanda dari penghargaan kepada tuan rumah dari upacara. dua Kembar Mayang diletakan di samping kanan dan kiri dari kursi pasangan pengantin.  Upacara Wiji Dadi Pengantin laki-laki menginjak telur dengan kaki kanannya. melukiskan bahwa setan tidak akan menggangu selama upacara di rumah dan di sekitarnya.tanaman Tarub. jaraknya sekitar tiga meter. itu akan mencoba bahwa mereka benarbenar orang yang sejati.

 Upacara Sindur Binayang Setelah upacara Wiji Dadi. Itu berarti bahwa ayah akan menunjukan jalan kebahagiaan.  Upacara Tanem Ayah pengantin wanita mendudukan pasangan pengantin ke kursi pengantin. Dia memberi restu. Itu melukiskan bahwa dia menyetujui perkawinan. berarti dia cinta mereka sederajat. kebudayaan 38 Jawa . Ibu memberi dorongan moral. ayah pengantin perempuan mengantar pasangan pengantin ke kursi pengantin.  Upacara Timbang Kedua pasangan pengantin duduk di atas pangkuan ayah dari pengantin wanita. sementara dia bicara bahwa mereka sama beratnya. ibu pengantin perempuan menutup pundak pasangan pengantin dengan Sindur.

 Upacara Kacar Kucur atau Tampa Kaya Dengan dibantu oleh Pemaes. pengantin perempuan mendapat dari pengantin laki-laki beberapa kedelai.  Upacara Dahar Klimah atau Dahar Kembul kebudayaan 39 Jawa . Upacara Tukar Kalpika Pertukaran cincin pengantin simbol dari tanda cinta. Itu melukiskan bahwa suami akan memberi semua gajinya ke istrinya. jamu dlingo benglé. kacang. jagung. bunga. di atas tikar yang sudah diletakan di pangkuannya. Pengantin perempuan sangat berhati-hati dalam menerima pemberiannya di dalam kain putih. pasangan pengantin berjalan bergandengan tangan dengan jari kelingking ke tempat upacara Kacar Kucur atau Tampa Kaya. padi. dan beberapa mata uang yang berbeda nilainya (jumlah dari mata uang harus genap). Dia akan mengurus dan menjadi ibu rumah tangga yang baik. Di sana. beras kuning.

Orangtua dari pengantin perempuan duduk di sebelah kanan dari pasangan pengantin. Warna merah dari Sindur dengan pinggir berliku berarti bahwa hidup itu seperti sungai mengalir di gunung. Setelah Sungkeman. pengantin laki-laki memakai kembali kerisnya. Kedua ibu berjalan di depan. Orangtua dari pengantin laki-laki duduk di sebelah kiri dari pasangan pengantin. Selama Sungkeman. Orangtua mengantar mereka ke kehidupan nyata dan mereka akan membentuk keluarga yang kuat. mereka juga memakai Sindur seperti ikat pinggang. dadar telur.  Upacara Mertui Orangtua pengantin wanita menjemput orangtua pengantin laki-laki di depan rumah. abon dan hati ayam). memberi piring ke pengantin wanita (dengan nasi kuning. Pemaes. Pertama ke orangtua pengantin wanita. tempe. dia melakukan sama untuk suaminya.  Upacara Sungkeman Mereka bersujud untuk mohon doa restu dari orangtua mereka. menjadi pemimpin dari upacara. Pemaes mengambil keris dari pengantin laki-laki. mereka minum teh manis. berarti pasangan akan selalu mempunyai cukup keuntungan untuk hidup baik. Pertama. tahu. Upacara itu melukiskan bahwa pasangan akan menggunakan dan menikmati hidup bahagia satu sama lain. dan kedua ayah berjalan di belakang. Mereka berjalan bersama menuju ke tempat upacara. Setelah pengantin wanita memakannya. Orantua pasangan pengantin memakai motif batik yang sama (Truntum). pengantin laki-laki membuat tiga bulatan kecil dari nasi dengan tangan kanannya dan di berinya ke pengantin wanita.Pasangan pengantin makan bersama dan menyuapi satu sama lain. Setelah mereka selesai. kemudian ke orangtua pengantin lakilaki. kebudayaan 40 Jawa .

Pemboyongan yang disertai pesta upacara lagi di tempat kediaman mempelai laki-laki ini disebut ngunduh temanten. dalam adat Jawa juga diatur mengenai masalah perceraian (pegatan). Semantara semua tamu menikmati pesta dan makan santapan. Suami dapat menceraikan istrinya dengan menjatuhkan talak. beberapa penari Jawa menpertunjukan (tari klasiek Gathot Kaca-Pergiwo. Pasangan pengantin baru bersama dengan orangtuanya menerima ucapan selamat dari para tamu. Kantor Urusan Agama Kabupaten yang akan memberi keputusan. perceraian hanya bisa dilakukan dengan persetujuan kedua belah pihak. Sedangkan sebaliknya istri pun berhak meminta cerai. istri tidak dalam keadaan hamil dan di hadapan pengulu. Akhirnya. kebudayaan 41 Jawa . fragment dari cerita wayang atau tari lebih modern Karonsih). Apabila mempelai laki-laki berkehendak membawa istrinya. hal ini dapat dilaksanakan sesudah sepasar. dilanjutkan dengan pesta resepsi.Pengaduan gugatan perceraian bertingkat-tingkat tersebut dinamakan rapak. Bersamaan dengan itu. atau sama dengan lima hari sejak mereka dipertemukan. Apabila seorang istri meminta cerai sedangkan suaminya tidak bersedia maka istri mengadu kepada kaum yang akan meneruskan pengaduan ke Kantor Urusan Agama Kecamatan. diiringi suara gamelan di ruang resepsi. Dalam hal ini.Setelah upacara Pernikahan. Selain masalah perkawinan. yaitu dengan memberikan taklik.

Baik rujuk maupun balen hanya bisa dilaksanakan sesudah talak sampai tiga kali. c. keluarga-batih dalam bentuk keluarga yang luas adalah suatu pengelompokan dari dua-tiga keluarga atau lebih dalam satu tempat tinggal. Dalam sebuah keluarga (kulawarga atau keluarga-batih) Jawa kepala keluarga disebut somah. Dalam hubingan ini sorang janda dapat bergaul dengan seorang laki-laki lain setelah lewat masa iddahnya. b. Suatu kekerabatan yang lain ialah sanak-sadulur yang terdiri dari orang-orang kerabat keturunan dari seorang nenek moyang sampai derajat ketiga. sedangkan apabila hal itu dijalankan melebihi batas waktu tersebut dinamakan balen. karena apabila sudah mencapai talak sebanyak tiga kali maka suami istri tersebut harus bercerai selamanya. pembagian harta dilakukan melalui permusyawaratan antara para ahli waris. Besarnya kebudayaan 42 Jawa . yaitu seorang anak laki-laki atau perempuanyang tetap tinggal di rumah bersama orang tua.Apabila setelah bercerai. apabila pasangan pengantin menetap di dekat tempat kediaman kerabat suami. Utrolokal. Setelah pernikahan pasangan pengantin Jawa bebas menentukan apakah ia akan menetap di sekitar tempat kediaman sendiri atau kerabat. suami istri ingin rukun kembali sebelum melebihi jangka waktu seratus hari maka disebut rujuk. apabila pasangan pengantin menetap di dekat tempat kediaman kerabat istri. anak laki-laki ditetapkan mendapat bagian 2/3 sedangkan perempuan 1/3 dari seluruh jumlah warisan orang tua. sedangkan ternak dibagikan sama sesuai jumlah yang ada. yang tugasnya memelihara makam leluhur. Pemeliharaan benda pusaka diserahkan kepada anak laki-laki tertua. Biasanya dipergunakan untuk pembagian warisan tanah pekarangan. Kelompok ini terdiri dari semua kerabat sampai tujuh turunan sejauh masih dikenal tempat tinggalnya. Selain itu terdapat kelompok kekerabatan lain yang disebut alurwaris. Neolokal. Biasanya orang tua cenderung memberikan rumah kediamannya kepada tabon. Menurut cara sepikul segendongan. yang lamanya tiga bulan sepuluh hari atau tiga kali lingkaran haid. atau mereka memilih untuk tinggal di tempat tinggal yang baru. Uxorilokal. Adat menetap sesudah nikah ada tiga sifat: a. Menurut cara perdamaian. artinya mempunyai tempat tinggal sendiri yang terlepas dari tempat menetap kerabat masing-masing pihak. Dalam pembagian warisan harta peninggalan orang tua dikenal adanya 2 macam cara yaitu perdamaian dan sepikul segendongan.

serta tidak bercita-cita naik haji. sawah ini juga belum menjadi benda warisan tetapi sudah diberi ijin dari orang tua untuk digarap oleh anak-anak atau menantu laki-lakinya dan setelah orang tua meninggal akan menjadi warisan bagi penggarapnya. Sawah garapan. b. tetapi tetap percaya kepada kebudayaan 43 Jawa . sesungguhnya belum menjadi harta warisan namun sudah ditunjuk kepada siapa masing-masing bagian sawah itu akan diberikan.Pemeluk agama Islam pada masyarakat Jawa dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu : • Islam Santri adalah penganut agama Islam Jawa yang secara patuh dan teratur menjalankan ajaran-ajaran dari agamanya. Tanah pertanian (sawah) yang bisa diwariskan adalah sawah sanggan (milik pribadi) yang terdiri atas tiga macam yaitu: a. Sawah dunungan. RELIGI Agama Islam berkembang baik di kalangan masyarakat Jawa. Biasanya anak yang lebih tua mendapat bagian di sebelah barat dan anak yang muda di sebelah timur. sehingga harus dipelihara dan digarap oleh saudaranya sendiri. yaitu banda gana untuk suami dan banda gini untuk istri. c.jumlah pembayaran pajak dituliskan dalam surat tanda pembayaran pajak yang disebut kohir (petuk) yang biasanya dipegang ahli waris yang paling tua. Dalam adat Jawa dikenal adanya pembedaan harta benda milik suami sendiri sebelum kawin (benda gawan) dan harta kekayaan yang diperoleh selama hidup bersama (benda gana gini) keduanya dapat diwariskan. • Islam Kejawen penganut agama Islam ini beranggapan walaupun tidak menjalankan shalat. atau puasa. G. sedangkan benda gana gini baru dipersoalkan pembagiannya jika kedua orang tersebut bercerai. terdapat pemeluk agama nasrani dan agama besar lainnya. Sawah gantungan. tetapi setelah ia datang hak dan kewajiban tanah pertanian itu kembali kepadanya. Selain itu. Benda gawan kembali kepada kerabat masing-masing apabila suami istri tidak mempunyai anak. merupakan sawah bagian warisan dari seseorang yang pergi meninggalkan sawah tadi.

kebudayaan 44 Jawa . misalnya dengan berpuasa. serta upacara yang berhubungan dengan kematian serta saat sesudahnya. berselamatan. Upacara adat ini diselenggarakan setelah acara penguburan jenazah. kelahiran. yaitu seorang pegawai masjid yang berkewajiban mengumandangkan adzan karena dianggap mahir membaca do keselamatan dari dalam ayat-ayat Al Quran. Upacara selamatan dapat digolongkan ke dalam empat macam sesuai peristiwa atau kejadian dalam kehidupan manusia sehari-hari.ajaran keimanan agama Islam. kebahagiaan. dan bersaji. namun sebaliknya mereka juga dapat menimbulkan gangguan pikiran. Tuhan mereka sebut Gusti Allah dan Nabi Muhammad adalah Kanjeng Nabi. Selamatan dalam rangka lingkaran hidup seseorang seperti hamil tujuh bulan. Selain itu. orang Jawa pada suatu kekuatan yang disebut kasakten. Kecuali itu mereka tidak terhindar dari kewajiban berzakat. Upacara yang berhubungan dengan kematian serta saat sesudahnya dilakukan karena orang Jawa sangat menghormati arwah orang meninggal dunia. arwah atau roh leluhur. pantang makan makanan tertentu. Selamatan adalah upacara makan bersama yang makanannya telah diberi doa sebelum dibagi-bagikan. Kebanyakan orang Jawa percaya bahwa hidup manusia di dunia ini sudah diatur dalam alam semesta sehingga mereka memiliki sikap nerima yaitu menyerahkan diri kepada takdir. upacara potong rambut pertama. tuyul. Menurut kepercayaan makhluk halus tersebut dapat mendatangkan sukses. serta jin dan lainnya yang menempati alam sekitar tempat tinggalnya. Hampir semua selamatan ditujukan untuk memperoleh keselamatan hidup dengan tidak ada gangguan apapun. ketentraman ataupun keselamatan. Sedekah Surtanah atau Geblak yang diadakan pada saat meninggalnya seseorang. bahkan kematian. terutama keluarganya. upacara menyentuh tanah untuk pertama kali. Upacara ini dipimpin oleh modin. lelembut. demit. Tujuannya untuk memberikan doa supaya arwah dari orang yang meninggal itu mendapat pengampunan. Rangkaian upacara selamatan (sedekahan) yang ditujukan untuk menolong keselamatan roh nenek moyang tersebut di dalam akhirat ialah: a. yakni: 1. dan makhluk halus seperti misalnya memedi. kesehatan. Maka apabila seorang Jawa hidup tanpa menderita gangguan ia harus berbuat sesuatu untuk mempengaruhi alam semesta. upacara menusuk telinga.

ketiga sesudah saat meninggalnya kebudayaan 45 Jawa . Bisa juga jika keluarga yang ”kesripahan” ingin sodaqoh bisa dengan membuat makanan yang banyak atau menyiapkan besek untuk dibawa pulang yang hadir tapi itu tidak wajib. gula. teman atau tetangga atau siapa saja yang mau ikut berdoa. Tidak ada acara kendhuren. telur. saudara dekat. Sedekah Nelung dina ialah upacara selamatan kematian yang diselenggarakan pada hari seseorang. bahan untuk sayur. d. Sedekah Nyatus yakni upacara keselamatan kematian yang diadakan sesudah hari keseratus sejak saat kematiannya. f. c. Yang dianjurkan adalah orang lain yang membawa bantuan untuk keluarga yang ”kesripahan”. kopi ataupun uang dan lainlain )yang tujuannya untuk meringankan beban keluarga. Selain doa biasanya juga ada acara tahlilan yang dilanjutkan dengan mengaji bersama. Sedekah Mendak sepisan dan Mendak pindo. Selamatan yang bertalian dengan bersih desa. 2. masing-masing upacara selamatan kematian yang dilakukan pada waktu sesudah satu tahun dan dua tahun dari saat meninggal seseorang. b.Upacara surtanah ini diselenggarakan secara sederhana. tetangga yang dekat dan ulama yang diundang. umumnya tetangga hadir dengan membawa bahan-bahan panganan ( beras. g. Upacara juga disebut sedekah Nguwis-nguwisi artinya yang terakhir kalinya. Sedekah Nyewu. yang hadir umumnya adalah saudara. penggarapan tanah pertanian dan setelah panen padi. sebagai upacara selamatan sesudah kematian seseorang bertepatan dengan genap seribu harinya. Sedekah Matangpuluh dina atau upacara keselamatan kematian seseorang pada hari keempat puluh. Sedekah Mitung dina ialah upacara selamatan saat sesudah menginggalnya seseorang yang jatuh pada hari ketujuh. Inti dari upacara surtanah adalah berdoa. yang diutamakan untuk berdoa adalah putra-putri dari orang yang meninggal. Tidak ada undangna khusus untuk acara ini. e. jika ada hidangna yang disajikan itu hanya seadanya.

bahkan pada burung perkutut. pada masyarakat Jawa juga dikenal adanya sesajen. Masyarakat Jawa juga mengenal adanya upacara sesaji panyadran agung yang dilakukan tiap tahun oleh keluarga Kraton Yogyakarta bertepatan Maulid Nabi Muhammad SAW atau disebut juga Gerebeg Mulud.kemenyan. Sedangkan Batara Kala adalah raksasa yang mempuyai kekuatan sakti untuk mendatangkan bencana pada benda atau manusia. Selain upacara selamatan. misalnya menempati rumah atau menolak bahaya (ngruwat). Dalam kehidupan masyarakat Jawa terdapat berbagai macam aliran kebatinan. yang pandai menyembuhkan penyakit dan mengenyahkan ruh jahat. sehingga orang Jawa yang mempunyai anak akan mengadakan ruwatan untuk menghindarkan anaknya dari bahaya. serta kepada raksasa Batara Kala. Sesajen merupakan ramuan tiga macam bunga (kembang telon) yang dimasukkan ke dalam air. gamelan. Ruwatan biasanya disrtai pertunjukkan wayang kulit sehari semalam dengan mengambil cerita Batara Kala. dan kue apem yang ditaruh dalam besek ataupun bungkusan daun pisang kemudian ditempatkan di atas meja untuk dikutug. serta jin dan lain-lain. Sesajen merupakan penyerahan sajian pada waktu dan di tempat tertentu dalam rangka kepercayaan kepada makhluk halus. kendaraan istana (kereta Nyai Jimat dan Garuda Yeksa). uang recehan.3. Ada sesajen yang dibuat pada tiap malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon. keris. yang macamya yaitu: 1. Selamatan pada saat-saat yang tidak tertentu berkaitan dengan kejadiankejadian. Selamatan yang berhubungan dengan hari-hari serta bulan-bulan besar Islam 4. Untuk kendaraan istana setiap setahun sekali pada hari Jumat Kliwon pada bulan Sura dibersihkan dengan upacara siraman yang dilakukan di dalam lingkunagn istana (Ratawijaya) secara terbuka. air bekas siraman tersebut dapat memberi berkah. Menurut kepercayaan masyarakat Jawa. Gerakan atau aliran kebatinan yang keuaniyahan. Adapun kepercayaan kepada kekuatan sakti (kasakten) ditujukan kepada benda-benda pusaka. Ruwatan dilakukan oleh dukun. Tempat yang dipilih biasanya tempat yang dianggap keramat dan mengandung bahaya ghaib (angker)agar terhindar dari gangguan makhluk halus. atau badan halus. kebudayaan 46 Jawa . yang percaya pada adanya ruh halus.

dengan usaha manusia untuk mencari kesatuan dengan Tuhan. Selain yang telah dijelaskan.upacara adat yang lain yaitu sebagai berikut : Sadran Sadran merupakan Upacara masyarakat Jawa Baru (dan Madura serta mungkin juga Sunda) yang disebut dengan nama sadran atau bentuk verbal nyadran. Hendra Pusara. dengan syariat yang sengaja dibedakan dengan syariat Islam dan mengandung banyak unsur Hindu-Jawa. Hampir semua gerakan kebatinan ini bertujuan menuju kesempurnaan hidup manusia. Upacara sadran ini dilakukan dengan berziarah ke makam-makam dan menabur bunga (nyekar). dan Parda Pusara Penitisan Rohani. Aliran yang bersifat mistik. Hidup Betul Iman Agama Hak. kebudayaan 47 Jawa . terdapat upacara. Contoh aliran kebatinan yang pernah berkembang di daerah selatan Yogyakarta misalnya ”ADARI” singkatan ”Agama Jawa Asli Republik Indonesia”. Mitung Mbengeni Mitung Mbengeni (berasal dari Bahasa Jawa: pitu: tujuh. Selain itu upacara ini juga dilaksanakan oleh orang Jawa yang tidak menganut ajaran Islam pula. 3. yang ajarannya banyak mengambil unsur keimanan agama Islam. bulan di mana mereka yang menganut ajaran Islam berpuasa. yang pengikutnya percaya kapada dewa agama Hindu 4. bengi: malam) adalah sebuah prosesi yang dilakukan pada bayi pada malam ketujuh sejak kelahirannya. Aliran kehindu-jawian. Ramadan. Upacara ini dilakukan oleh orang Jawa pada bulan Jawa-Islam Ruwah sebelum bulan Puasa. Aliran yang keislam-islaman.2. Hanya pada menu makanannya ditambahin menu ngethingi. merupakan reminisensi daripada upacara sraddha Hindu yang dilakukan pada jaman dahulukala. Mekanismenya hampir sama dengan prosesi tasyakuran biasa. Hidup Betul.

sebagian besar dari anak-anak peserta Ngerak tertarik untuk mengambil kaki ayam panggang tersebut. Sesampainya dirumah. Mantu poci pada umumnya diselenggarakan oleh pasangan suami istri yang telah lama berumah tangga namun belum juga dikarunai keturunan. mulai dari permainan. Untuk orang jaman dulu. di pintu masuk ruang resepsi disediakan kotak sumbangan berbentuk rumah. Ngerak Ngerak adalah sebuah tradisi memandikan anak kecil dengan umur dibawah 5 tahun. Lengkap dengan dekorasi. dan relasi. Tak lupa pula. sajian makanan. Sesampainya di belik. Mantu Poci Mantu Poci adalah salah satu kebudayaan di wilayah Tegal (Jawa Tengah). dan beraneka pementasan untuk menghibur para undangan yang hadir. dengan menempatkan si anak didepan dengan posisi di gendong dengan menggunakan selendang berwarna kuning. disebuah belik. Sebelum berangkat dari rumah. sampai dengan makanan. kemudian dilepas dengan pesta besar dengan mengundang sanak saudara. dilakukan prosesi iringiringan. mantu poci juga dihadiri oleh ratusan bahkan ribuan undangan. Uniknya. mantu poci juga bertujuan agar penyelenggara merasa seperti menjadi layaknya orang tua yang telah berhasil membesarkan putra putri mereka. dia sekaligus yang menolong proses persalinan sampai dengan perawatan selama sang ibu atau keluarga belum bisa memperlakukan bayi sebagaimana mestinya. atas dosa/kesalahannya yang diperkirakan bisa berdampak kesialan didalam hidupnya. puput puser dilakukan oleh seorang dukun bayi. Seperti layaknya pesta perkawinan. kemudian dimandikan dengan kembang tujuh rupa oleh sesepuh setempat.Mitung mbengeni juga sebagai pertanda puput puset pada bayi. kebudayaan 48 Jawa . dengan cara inti melangsungkan 'pesta perkawinan' antara sepasang poci tanah berukuran raksasa. Sedangkan yang paling menarik adalah seekor ayam panggang yang ditaruh disebelah kiri tas piramida. Entah sebuah kebetulan ataukah memang bermakna khusus. ♦ Ruwatan Adalah Tradisi ritual Jawa sebagai sarana pembebasan dan penyucian. Selain sebagai harapan agar pasangan suami istri segera mendapatkan keturunan. si anak di suruh menaiki piramida yang terbuat dari bambu yang berisi pernak-pernik.

Kembang sepasang atau kembar. maka untuk mensucikan kembali. laki-laki. diyakini akan menjadi mangsanya Batara Kala. Tradisi "upacara /ritual ruwatan" hingga kini masih dipergunakan orang Jawa. yang dalam tradisi pewayangan disebut "Kama salah kendang gumulung ". orang yang manandang sukerto ini. yang isi pokoknya memuat masalah pensucian. Dalam tradisi Jawa orang yang keberadaannya mengalami nandang sukerto/berada dalam dosa. e. agar menjadi suci kembali. akhirnya menjelma menjadi raksasa. perlu mengadakan ritual tersebut.Upacara adat ini berasal dari buadaya adat Jawa kuna yang sifatnya sinkretis. atau meruwat berarti: mengatasi atau menghindari sesuatu kesusahan bathin dengan cara mengadakan pertunjukan/ritual dengan media wayang kulit. Ketika raksasa ini menghadap ayahnya (Batara guru) untuk meminta makan. yang kemudian sepermanya jatuh ketengah laut. Yang lahir tunggal atau ontang-anting. tetapi sekarang diadaptasi dengan ajaran agama. sebagai sarana pembebasan dan penyucian manusia atas dosanya/kesalahannya yang berdampak kesialan didalam hidupnya. oleh Batara guru diberitahukan agar memakan manusia yang berdosa atau sukerta. yaitu pembebasan dewa yang telah ternoda. Uger-uger lawang atau dua anak laki-laki semua. d. kebudayaan 49 Jawa . Tokoh ini adalah anak Batara Guru (dalam cerita wayang) yang lahir karena nafsu yang tidak bisa dikendalikannya atas diri Dewi Uma. c. Yang akan mengalami penderitaan atau sukerta. Tradisi ruwatan di Jawa ( Jawa tengah) awalnya diperkirakan berkembang didalam cerita Jawa kuno. Jenis manusia yang disukai Bathara Kala yaitu : a. Menurut ceriteranya. b. Sendang kapit pancuran atau laki-laki. perempuan.

rambutnya lalu dilarung di laut. Di Yogyakarta misalnya.Sesajen yang perlu disiapkan untuk upacara ini adalah : a. Kembang pitung rupa Jika untuk tolak bala atau membuang sial orang yang mengalami sukerta. kedelai hitam. Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. ikan asin. Selesai upacara ngruwat. kemiri. untuk mendoakan keselamatan negara. telur ayam dan uang dengan diiringi doa mohon keselamatan dan kesejahteraan serta agar tercapai apa yang dicita citakan. Tumpeng biasa disajikan di atas tampah (wadah tradisional) dan dialasi daun pisang. kluwak. bambu gading yang berjumlah lima ros ditanam pada kempat ujung rumah disertai empluk (tempayan kecil) yang berisi kacang hijau . Ini dimaksudkan untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang tersebut. Tumpeng Acara yang melibatkan nasi tumpeng disebut secara awam sebagai 'tumpengan'. Beras kuning c. orang yang diruwat harus menjalani siraman air suci dan gunting rambut. Jarum kuning d. Kain pitung werna b. Ada tradisi tidak tertulis yang menganjurkan bahwa pucuk dari kerucut tumpeng dihidangkan bagi orang yang profesinya tertinggi dari orang-orang yang hadir. berkembang tradisi 'tumpengan' pada malam sebelum tanggal 17 Agustus. kebudayaan 50 Jawa .

Tumpeng ini digunakan pada syukuran kehamilan tujuh bulan. Tumpeng ini kemudian dipotong vertikal dan diletakkan saling membelakangi. hewan laut (ikan lele. tumpeng ini dikelilingi enam buah tumpeng kecil lainnya. dihari-hari tertentu. Digunakan untuk peringatan Maulud Nabi. seperti kelahiran. Ritual ini biasanya dilakukan oleh kepala adat. keselamatan dan berkah dari Syang Hyang Widi.warna kuning menggambarkan kekayaan dan moral yang luhur. abon. beberapa lauk yang biasa menyertai adalah perkedel. bawang merah dan cabai.Disebut juga tumpeng tasyakuran. pernikahan. Digunakan untuk syukuran acara-acara gembira.      Kutug Kutug merupakan ritual membakar kemenyan yang dilakukan oleh penganut ajaran tertentu. Biasa disajikan di atas tampah yang dialasi daun pisang. terasi.digunakan pada saat kematian seorang wanita atau pria yang masih lajang. Tumpeng Pungkur .warna putih pada nasi putih menggambarkan kesucian dalam adat Jawa. dan daun seledri. Tumpeng ini diletakkan di dalam bakul dengan berbagai macam sayuran. Tumpeng Nasi Uduk . Di bagian puncak tumpeng ini diletakkan telur ayam. Dibuat dari nasi putih yang disajikan dengan lauk-pauk sayuran. dan sebagainya. Tumpeng Nujuh Bulan . bayam atau kacang panjang). kedelai goreng. Tumpeng Putih .Tumpeng ini biasa disajikan pada upacara siraman dalam pernikahan adat Jawa. Selain satu kerucut besar di tengah. dengan tujuan agar mendapat lindungan. Variasinya melibatkan tempe kering. ikan asin atau lele goreng. Tumpeng ini terbuat dari nasi putih. kebudayaan 51 Jawa . Digunakkan untuk acara sakral. Variasi Nasi Tumpeng :  Tumpeng Robyong . Setiap lauk ini memiliki pengartian tradisional dalam budaya Jawa dan Bali. telur dadar/telur goreng. timun yang dipotong melintang. tunangan. dianjurkan bahwa lauk-pauk yang digunakan terdiri dari hewan darat (ayam atau sapi). ikan bandeng atau rempeyek teri) dan sayur-mayur (kangkung. serundeng. dan sebagainya. urap kacang panjang. Tumpeng Nasi Kuning .Tidak ada lauk-pauk baku untuk menyertai nasi tumpeng. Namun demikian. Dalam pengartian makna tradisional tumpeng.

menjadi aktivitas yang menurut banyak cerita masih mewarnai tradisi masyarakat Yogyakarta. berkaca pada diri atas apa yang dilakoninya selama setahun penuh. dengan caranya sendiri-sendiri. Dengan Tapa Bisu. Tradisi Jawa Malam hari. Tidak sedikit. tanggal 19 Januari 2007. Yang dapat dimaknai sebagai upacara untuk mawas diri. Sabtu Pahing. Awal dari afiliasi ini.Ngethingi Ngethingi merupakan tradisi tasyakuran sebagai bentuk atau moment peringatan terhadap seorang bayi ketika berusia tertentu. yang masih menjunjung tradisi dengan filosofis tinggi. Kungkum atau berendam di sungai besar. tidak mengeluarkan kata-kata selama ritual ini. konon untuk memperkenalkan kalender islam di kalangan masyarakat Jawa. Ada beberapa tahapan yang dilakukan oleh suatu keluarga dalam rangka ngethingi. seorang khalifah islam dijaman etelah nabi Muhammad wafat. Mitoni 4. menghadapi tahun baru di esok paginya. Ritualnya. Sunan Giri II telah membuat penyesuaian antara sistem kalender Hijriyah dengan sistem Kalender Jawa pada waktu itu. adalah Tirakatan kebudayaan 52 Jawa . untuk dapat dikatakan demikian. Yang paling mudah ditemui di seputaran Yogyakarta. banyak orang melakukan ritual menjelang 1 Sura tahun Jawa 1940 yang jatuh esok paginya. Neloni 3. warga yang melakukan ritual Mubeng Beteng. Mitung Mbengeni 2. Diantaranya adalah : 1. hingga memacetkan lalu-lintas di seputaran kraton dan jalan protokol. atau mengunci mulut. Nyetauni 5. sendang atau sumber mata air tertentu. sebuah keluarga yang dikaruniai tambahan jumlah anggota baru (melahirkan) wajib melaksanakan syukuran dengan selalu membuat masakan yang berbahan dasar sayur-sayuran (lebih tepatnya dan lazimnya yang digunakan adalah daun pepaya muda). yaitu pada jaman pemerintahan kerajaan Demak. Maka tahum 931 H atau 1443 tahun Jawa baru. Ngarotengahi Malam Satu Suro Latar belakang dijadikannya 1 Muharam sebagai awal penganggalan islam oleh Khalifah Umar bin Khathab.

menjadi ritual yang tidak asing di telinga masyarakat Jawa. memiliki daya tarik tersendiri di malam satu Suro. khususnya Parangkusumo. Pantai Parangkusumo Dari sekian acara yang tentu saja berlangsung di tiap pelosok Yogyakarta. Kawasan pantai Parangtrisits. Hal ini yang saya dapat dari penuturan warga sekitar. dan berbagai jasa lainnya. Wayang dan Nyekar di Cepuri Parangkusumo. menjadi dua kegiatan utama pada malam itu. Labuhan. Labuhan dilangsungkan pada pagi hari tanggal 15 Suro. Dijubeli ratusan pengunjung yang berbaur dengan pedagang dan hiruk pikuknya lalu lalang kendaraan bermotor tidak mengurangi khidmatnya pagelaran wayang malam itu. kawasan Parangtritis. pijat tradisional dan -kalau saya tidak salah mengartikan. khususnya adat. Parangkusumo memang biasa menjadi tempat berlangsungya prosesi ini. Bantul Yogyakarta. Cepuri Parangkusumo kebudayaan 53 Jawa . di Yogyakarta. Ritual ini menjadi ritual tahunan Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat.“wanita pendamping” tampak bertebaran menjadi konsekuensi atas berjubelnya pengunjung. perkiraan saya salah. Hal ini yang menarik perhatian saya untuk berkunjung kesana di malam satu Suro.dan Pagelaran Wayang Kulit. Apalagi malam satu Suro di kawasan pantai selatan dengan segala macam pernak-pernik mistisnya. makanan. Begitu pula di Pantai Parangkusumo. Tukang obat tradisional. Meski begitu. Namun. Wayang Kulit Semalam Suntuk Tradisi dan warisan budaya Jawa ini tak pernah lepas dari tiap momen penting. Tumpah ruahnya pengunjung tiap tahunnya dimanfaatkan betul oleh pedagang kembang. Kretek. pengunjung dan masyarakat yang datang tidak hanya disuguhi keramaian pagelaran wayang dan keheningan suasana Cepuri yang mistis.

ditemani aroma dupa dan bunga yang menusuk hidung. Kembang. Batu Kyai Panembahan Senopati yang lebih besar terletak di sebelah selatan batu Kanjeng Ratu Kidul. mengira beliau adalah juru kunci. saya. kebudayaan 54 Jawa . tidak sedikit peziarah yang datang dan berdoa di tempat ini.Merupakan area tempat bersandingnya dua batu yang dikeramatkan. ada seorang pemuda yang dengan khusyuk nya berdoa di sebelah batu Panembahan Senopati dengan pakaian Jawa lengkap. dan mungkin pengunjung lain. Diantara rombongan peziarah yang silih berganti masuk ke area Cepuri. Awalnya. dupa dan sesaji menjadi obyek yang tidak lepas dari tempat keramat macam ini. sang juru kunci sendiri duduk bersila tepat di depan gapura setelah pengunjung masuk. Namun. Apalagi di malam satu Suro. yang keduanya dipagar mengeliling dengan satu pintu/gapura masuk. Tiap pengunjung yang masuk wajib menemui juru kunci dan menyalakan dupa. sebelum menabur bunga dan berdoa.

Selebihnya warung dan pedagang kaki lima yang biasa mangkal di halaman Kraton pun tak lepas menjadi tempat warga menikmati sajian wayang kulit. Bahkan. begitu informasi dari penduduk sekitar. warga yang datang dengan kendaraan roda dua pun enggan beranjak dari atas sepeda motornya. Puro Pakualaman Pagelaran wayang kulit semalam suntuk banyak diselenggarakan warga di pelosok kota. Masih duduk di atas sadel tempatnya mengayuh kendaraan roda tiga ini. duduk bersila disamping dua batu tersebut. Kraton “Kedua” di kawasan Yogyakarta ini pun dihadiri warga yang ingin menghabiskan malam satu Suro dengan tradisi tahunannya. warga yang hadir hanya ditampung secara “resmi” dengan sebuah tenda. Berbeda dengan kawasan pesisir Parangkusumo. di Puro Pakualaman ini. dan terlihat sangat menikmati sajian wayang kulit semalam suntuk. kebudayaan 55 Jawa . Begitu pula di kawasan Puro Pakualaman Yogyakarta.Rombongan peziarah yang nampak berbeda dari sebagian lainnya adalah rombongan peziarah dari Kraton Solo. Mereka menggunakan pakaian Jawa lengkap dengan sesaji dibungkus kain putih dan hijau. Bahkan kursi penumpangnya pun dijadikan tempat nyaman rekan penarik becak lainnya untuk duduk berselimut sarung dan menikmati malam panjang itu. Begitu pula dengan penarik becak.

Ngliman Ngliman adalah salah satu upacara adat ”wetwngan” yang diselenggarakan ketika calon ibu mengandung lima bulan. Tujuannya adalah untuk keselamatan calon bayi dan calon ibu dan juga untuk tolak bala. Kata ”ngupat ” berasal dari kata papat ( 4 ) atau kupat. Tujuan dari upacara adat ini adalah sama dengan ngupati yaitu upacara untuk keselamatan bayi dan calon ibu atau juga untuk tolak bala. berbeda dengan upacara adat ”mitoni” yang sudah umum dikenal oleh masyarakat Jawa dan juga dikenal oleh masyarakat nusantara. Di daerah tertentu upacara ini juga disebut tingkeban. Jadi menurut orang Jawa ”wetengan” umur tujuh bulan itu proses penciptaan manusia itu sudah nyata dan sudah sempurna atau Sapta Kawasa Jati. Tujuannya adalah untuk keselamatan calon bayi dan ibu atau untuk tolak bala jadi hampir sama seperti mitoni. Rangkaian acara dari ”mitoni” adalah sebagai berikut : kebudayaan 56 Jawa . Ngupati ini mengandung maksud sebagai lambang bahwa ”jabang bayi” sudah masuk dalam tahap keempat dalam proses penciptaan manusia. Waktunya harus diselenggarakan pada hari yang baik menurut hitungan hari Jawa.Ngupat Ngupat atau ngupati adalah salah satu upacara adat yang dilakukan saat calon ibu mengandung ( mbobot ) 4 bulan. Kata ”ngliman” berasal dari kata lima ( 5 ). Yang membedakan dengan upacara adat ”meteng” lainnya yaitu ada sajian kupat yang ditaruh didalam tempat yang biasa disebut ”besek” yang dibawa pulang oleh orang yang hadir pada acara kenduren. Mitoni atau Tingkeban Mitoni berasal dari kata ”pitu” ( 7 ). Jabang bayi yang berumur tujuh bulan itu sudah mempunyai raga yang sempurna. Upacara adat ini kurang dikenal pada daerah-daerah tertentu. Upacara adat ini diselenggarakan saat calon ibu mengandung 7 bulan.

8) Kenduren. Orang Jawa itu percaya bahwa bahwa ari-ari itu adalah salah satu dari ”sedulur papat” atau ”sedulur kembar” dari si bayi sehingga ari-ari harus dirawat dan dijaga. Ari-ari itu bagian penghubung antara ibu dan bayi waktu bayi masih didalam rahim. 5) Memutus lawe atau lilitan benang ( janur ). 2) Sebelum ari-ari dimasukkan alas kendhi diberi ”godhong senthe” lalu kendhi itu ditutup dengan lemper yang masih baru dan dibungkus kain mori. 7) Mencuri telur. kebudayaan 57 Jawa . Mendhem ari-ari Mendhem ari-ari adalah salah satu upacara kelahiran yang umum diselenggarakan dan juga di daerah – daerah ( suku-suku ) lain. Istilah lain dari ariari adalah aruman atau embing-embing ( mbingmbing ). Senthir itu dihidupkan sampai 35 hari ( selapan dina ). 6) Memecahkan wajan dan gayung. yaitu: 1) Siraman 2) Memasukkan telur ayam kampung didalam kain calon ibu oleh calon bapak. dipayungi. dibawa ke lokasi penguburan. 3) Kendhi lalu digendong. 3) Salin rasukan ( ganti baju ) 4) Brojolan ( memasukkan kelapa gading muda ). Yaitu tempat yang digunakan untuk memendham ari-ari diberi lampu ( umumnya lampu senthir ) untuk penerangan. yaitu hari senin siang sampai malam.Rangkaian acara untuk upacara mitoni ini lebih banyak daripada upacara ngupati. 1) Ari-ari dicuci sampai bersihdan dimasukkan kedalam kendhi atau batok kelapa. Waktu pelaksanaannya menurut orang Jawa mitoni itu harus diselenggarakan pada hari yang benar-benar bagus. ini menjadi simbol pepadadang untuk bayi. Tata caranya adalah sebagai berikut . Atau hari jumat siang sampai malam.

Tedhak siti atau Tedhak Siten Tedhak siti adalah salah satu upacara adat untuk anak yang berumur 7 bulan. Rangkaian acaranya diawali dari mendhem ari-ari yang dilanjutkan dengna bagi-bagi sesajen brokohan untuk saudara dan tetangga. Urutan kegiatannya : kebudayaan 58 Jawa adalah untuk keselamatan proses kelahiran juga untuk perlindungan terhadap bayi dan dengan harapan bayi yang lahir menjadi anak yang . Kata sepasaran berasal dari kata sepasar. Umumnya diselenggarakan sore dengan acara kenduren dengan mengundang saudara dan tetangga. Brokohan itu asal katanya dari bahasa Arab yaitu ”barokah” yang artinya mengharapkan berkah. bancakan dan memberi nama bayi. biasanya disebut ”injak tanah” di Jakarta atau juga disebut ”mudhun lemah”. Yang memendam kendhi harus bapak dari bayi. Upacara ini sebagai lambang bahwa anak bersiap-siap menjalani hidup dengan dituntun orangtua dan diselanggarakan jika anak sudak berumur 7 selapan atau 245 hari ( 7 x 35 = 245 ). Sepasaran Adalah salah satu upacara adat Jawa waktu bayi berumur 5 hari. Upacara adat ini umumnya diselenggarakan secara sederhanatetapi jika bersamaan dengan pemberian anma bayi. Acara ini bagus diselenggarakan setelah maghrib. Suguhan yang disajikan umumnya adalah air minum dan ”jajan pasar” tetapi juga ada “besek” yang nantinya dibawa pulang. Puputan atau Dhautan Puputan itu sebenarnya mempunyai makna ”tali puser bayi puput”. Tujuannya baik perilakunya. Jadi upacara ini diselenggarakan waktu bubar pupute dari pusar bayi. Acaranya yaitu kendhuren. Brokohan Brokohan adalah salah satu upacara adat Jawa untuk menyambut kelahiran bayi. Upacara adat ini mempunyai makna sebagai ungkapan syukur dan sukacita karena kelahiran itu selamat. Biasanya ada upacara slametan di upacara puputan ini. Tedhak Siten itu berasal dari kata tedhak atau idhak dan siten ( dari kata siti yang berari lemah atau tanah ). upacara ini diselenggarakan secara lebih meriah. Upacara ini di daerah yang lain di nusantara juga ada.4) Lokasi penguburan kendhi harus berada di sebelah kanan pintu utama rumah.

1) Tedhak sega pitung warna 2) Mudhun tangga tebu 3) Ceker-ceker 4) Kurungan 5) Sebar udik-udik 6) Siraman Sedekah Bumi Bersih desa adalah salah satu upacara adat Jawa yang diselenggarakan setelah selesainya panen padi, jadi maksudnya sebagai ungkapan syukur “tandhuran” padi berhasil panen dan hasilnya baik. Upacara adat ini kadang juga disebut upacara mreti desa dan biasanya digabung dengn upacara adat sedekah bumi atau mreti bumi. Setiap daerah mempunyai atat cara dan prosesi upacara yang berlainan menurut kebiasaan masing-masing tetapi tujuannya sama saja. Pada jaman dahulu upacara adat ini dikaitkan dengan Dewi sri yang dianggap sebagai dewi Padi karena keberhasilan panen itu hasil kemurahan dari Dewi sri yang wajib disyukuri. Tujuan dari mengadakan upacara ini adalah: 1) Untuk mengucapakan syukur kepada tuhanyang sudah memberi hasil panen padi yang melimpah. 2) Untuk menjaga keselamatan para warga desa dari gangguan hal-hal yang gaib, roh atau arwah yang gentayangan dan juga dari gangguan penyakit, serta bencana. 3) Untuk membersihkan desa dan warganya dari halangna atau kesusahan supaya keadaan desa menjadi tentram dan aman. Prosesi Umumnya dimulai setelah panen pertama. Lokasi upacara pertama di sawah yang sudah dilengkapi dengan ”ubo rampe’ yaitu janur kuning, kembang setaman, kemenyan, kaca, suri, banyu kendhi, jajan pasar, bungkusan nasi dan pisang. Setelah acara berdoa, padi yang sudah dipetik digotong ke lumbung padi. Di lumbung padi juga disiapkan perangkat upacara lanjutan yang umumnya dibuat dari daun. Diantaranya daunkluwih, dhadhap serep, godhong mojo, godhong tebu, godhong jati juga godhong luh. Masing-masing godhong ( daun ) itu mempunyai makna.

kebudayaan 59

Jawa

Munggah wuwungan Adalah salah satu upacara adat yang diselenggarakan setelah wuwungan dibangun dalam proses membangun rumah. Istilah munggah wuwungan ini biasanya disebut juga munggah gendheng. Upacara ini diselenggarakan saat rangka wuwungan sudah jadi tetapi gendeng belum dipasang. Upacara adat ini uga dikenal di daerah-daerah lain di Nusantara. Upacara ini sebenarnya upacara untuk syukuran karena rumah yang dibangun sudah mempunyai wuwungan jadi sebentar lagi sudsh bisa dipake sehingga tidak akan kepanasan atau kehujanan. Puncak acaranya adalah kendhuren, diutamakan untuk tuakang-tukang yang membangun rumah dan para tetangga yang berada dekat dengan rumah yang dibangun. Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh ulama. Biasanya acara kendhuren munggah wuwungan ini diselenggarakan siang atau setelah shalat dhuhur, jadi sekalian dengan makan siang para tukang dan jamaah serta ulama yang baru keluar dari masjid atau langgar bisa langsung ikut dan pulangnya bisa membawa besek. Sesajen juga perlu disiapkan untuk digantung disalah satu kayu di wuwungan. Yang tidak digantung hanya bendhera merah putih yang dipasang dengan galah dengna panjang sedang 9 tidak terlalu panjang ), yang bisa kelihatan dari rumah tetangganya. Sesajen yang harus disiapkan : 1) Gedhang setandan 2) Tebu ireng sewit 3) Pari secukupe 4) Kelapa seiji uga bendhera

Grebeg Maulud
Perayaan Grebeg

Puncak peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. diperingati dengan penyelenggaraan upacara Grebeg Maulud yang diselenggarakan pada tanggal 12 kebudayaan 60 Jawa

Maulud, atau pagi hari esoknya, setelah kedua perangkat gamelan Kyai Nogowilogo dan Kyai Guntur madu dibawa masuk kembali ke dalam Kraton oleh masyarakat Yogyakarta, kejadian ini lazim disebut dengan istilah Bendhol Songsong. Pada pagi hari, pukul 08.00, upacara dimulai dengan parade kesatuan prajurit Kraton yang mengenakan pakaian kebesarannya masing-masing. Puncak dari upacara ini adalah iringan gunungan yang dibawa ke Masjid Agung . Setelah di Masjid diselenggarakan doa dan upacara persembahan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, sebagian gunungan dibagi-bagikan pada masyarakat umum dengan jalan diperebutkan. Bagian-bagian dari gunungan ini umumnya dianggap akan memperkuat tekad dan memiliki daya tuah terutama bagi kaum petani, mereka menanamnya dilahan persawahan mereka, untuk memperkuat doanya agar lahannya menjadi subur dan terhindar dari berbagai hama perusak tanaman. Selain upacara Grebeg Maulud, didalam satu kurun tahun Jawa terdapat upacara-upacara Grebeg yang lain, yakni Grebeg Syawal yang diselenggarakan pada tanggal 1 bulan Syawal sebagai ungkapan terima kasih masyarakat kepada Tuhan dengan telah berhasil diselesaikannya ibadah puasa selama satu bulan penuh dibulan Suci Ramadhan, dan Grebeg Besar yang diselenggarakan pada tanggal 10 bulan Besar, berkaitan dengan peringatan hari Raya Qurban Idhul Adha.

Upacara Jamasan

Bagi orang Jawa, benda-benda pun dianggap memiliki jiwa. Oleh karena itu, benda-benda itu harus diperlakukan istimewa yang nyaris sama seperti manusia itu sendiri. Mungkin saja ini masih dianggap sebagai animisme, tapi tentu saja orang Jawa akan menyangkalnya. Yang jelas, untuk benda-benda milik Keraton Yogyakarta seperti kereta, gamelan, maupun pusaka, semuanya memiliki nama seperti manusia. Ada Kiai Sangkelat, Kiai Nagasasra (keris), Kiai Guntur Madu (gamelan), ada pula Kanjeng Nyai Jimat dan Kyai Puspakamanik (kereta). Di Keraton Yogyakarta, benda-benda itu selalu dicuci yang diistilahkan dengan nama kebudayaan 61 Jawa

Setiap Kanjeng Nyai Jimat dijamasi. Kemudian ada Kyai Puspakamanik. Cara jamasan itu sendiri juga khas. Sebuah simbol kewibawaan seorang raja. semasa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I. Kereta itu tersimpan di dalam Museum Kereta Keraton Yogyakarta. Kereta itu menjadi tumpangan para pangeran pada pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VIII. bergaya kereta kerajaan-kerajaan Eropa.dijamasi pada bulan Sura (Muharam) dan selalu pada hari istimewa Jumat Kliwon atau mengenakan pakaian adat Jawa Selasa peranakan. Sebenarnya. Mereka. beroda empat. Kereta itu menjadi tunggangan Sultan Hamengku Buwono I sampai III. Berbentuk anggun. semuanya Kliwon. Semisteri pusaka yang dipercayai memiliki kekuatan supra natural itu sendiri. karena mereka percaya bahwa air ini mengandung hal gaib/sakti karena pemiliknya merupakan orang yang sakti. dan dia selalu ditemani oleh salah sebuah kereta lain yang dipilih secara bergantian setiap tahunnya. dan penutup kepala blangkon. Jamasan biasanya seorang pejabat keraton yang khusus menangani masalah perawatan kereta. Kereta ini dibuat pada tahun 1750-an. dua buah yang besar di belakang. di samping jamasan kereta. surjan. diperkirakan ditarik oleh enam sampai delapan kuda. Misteri jamasan pusaka itu sendiri akhirnya memang tinggal misteri yang dipelihara turuntemurun. Proses pencucian kereta ini memiliki nilai wisata ritual magis religius. kebudayaan 62 Jawa . Akan tetapi. sebuah kereta hadiah dari Kerajaan Belanda yang dibuat pada tahun 1901. laki-laki. jamasan pusaka itu tidak boleh dilihat oleh umum. Kereta yang penuh ukiran itu sendiri memiliki pintu dan atap sehingga mirip mobil. diberi nama Kanjeng Nyai Jimat. Mereka berbusana seperti itu karena mereka akan menjamasi sebuah kereta. Di sana ada sekitar selusin kereta yang sebagian besar masih bisa digunakan. Semua yang terlibat dalam ritual itu harus mengenakan kain panjang. dan dua buah di depan agak kecil. hal ini dikarenakan masyarakat Jawa percaya bahwa air ini akan membawa berkah bagi mereka. Sehingga banyak orang rela berebut bekas air cucian kereta dengan cara menampung aliran air dari badan kereta dan memasukkan air bekas cucian itu ke dalam botol bekas air kemasan maupun jerigen. Kereta itulah yang setiap bulan Sura selalu dijamasi karena dianggap sebagai kereta cikal-bakal kereta lainnya. di dalam keraton juga ada jamasan pusaka.

Upacara Labuhan Selain itu terdapat pula Upacara Labuhan yang merupakan rangkaian dari Tradisi 1 Sura. yaitu menyatu jiwanya dengan pengungkapan wujud gerak yang luluh. Tari mengalami kejayaan yang berangkat dari kerajaan Kediri. kata “beksa” berarti “ambeg” dan “esa”. kata tersebut mempunyai maksud dan pengertian bahwa orang yang akan menari haruslah benar-benar menuju satu tujuan. Surakarta merupakan pusat seni tari. Dari kedua tempat inilah kemudian meluas ke daerah Surakarta seluruhnya dan akhirnya meluas lagi hingga meliputi daerah Jawa Tengah. Singosari. Seni tari yang berpusat di Kraton Surakarta itu sudah ada sejak berdirinya Kraton Surakarta dan telah mempunyai ahli-ahli yang dapat dipertanggungJawabkan. kebudayaan 63 Jawa . terus sampai jauh di luar Jawa Tengah. Seni tari adalah ungkapan yang disalurkan / diekspresikan melalui gerakgerak organ tubuh yang ritmis. bunga dan lain-lain ke laut selatan . Seni tari yang merupakan bagian budaya bangsa sebenarnya sudah ada sejak jaman primitif.1 Seni Tari Tari sering disebut juga ”beksa”. Sumber utamanya terdapat di Keraton Surakarta dan di Pura Mangkunegaran. H. sebagai bentuk permohonan untuk mendapatkan kesejahteraan dan keselamatan kepada Ratu Kidul Penguasa laut Selatan . alat-alat rias. Bahkan tari tidak dapat dilepaskan dengan kepentingan upacara adat sebagai sarana persembahan. Dimana pagi hari sesudah malam 1 Sura maka diadakan Upacara labuhan yaitu dengan mempersembahkan pakaian wanita . Hindu sampai masuknya agama Islam dan kemudian berkembang. Majapahit khususnya pada pemerintahan Raja Hayam Wuruk. PRODUK BUDAYA H. potongan rambut serta potongan kuku beliau ditanam di dalam areal tanah sengker (suatu areal tanah yang dianggap keramat di daerah Parangkusumo). Tokoh-tokoh tersebut umumnya masih keluarga Sri Susuhunan atau kerabat kraton yang berkedudukan. indah mengandung kesusilaan dan selaras dengan gending sebagai iringannya. Sehingga bisa dikatakan bahwa kedua upacara ini yaitu tradisi malam 1 Suro dan Upacara Labuhan merupakan 2 hal yang saling berkaitan di dalam tradisi Kraton Yogyakarta. sirih. Berbagai pakaian bekas yang pernah dipergunakan oleh Sri Sultan.

Wireng. Bedhaya. Ketek Ogleng. 2. Jadi lebih bebas. Ebeg. diantaranya : Srimpi. Sebelum tari ini diciptakan. yaitu : 1. Dalam perkembangannya timbullah tari kreasi baru yang mendapat tempat dalam dunia tari gaya Surakarta. sintren. Gambyong. yang termasuk seni tari bermutu tinggi. TARI KLASIK dari JAWA TENGAH • Tari Bedhaya Menurut kitab Wedbapradangga yang dianggap pencipta tarian Bedhoyo Ketawang adalah Sultan Agung (1613-1645) raja ke-1 dan terbesar dari kerajaan Mataram bersama Kanjeng Ratu Kencanasari. Incling. Tari semacam itu termasuk jenis kesenian tradisional. lebih perseorangan. seperti : Dadung Ngawuk. Konon penciptaan gendhingpun menjadi sempurna setelah Sunan Kalijaga ikut menyusunnya. Dolalak. Tayuban. Kuda Kepang. Seni tari dapat dibedakan menjadi 3 jenis. lengger. 3. di daerah Jawa Tengah terdapat pula bermacammacam tari daerah setempat. terlebih dahulu Sultan Agung memerintahkan para pakar gamelan untuk menciptakan sebuah gendhing yang bernama Ketawang. yang mengambil cerita Damarwulan. Tarian Bedhoyo Ketawang tidak hanya dipertunjukan pada saat penobatan raja yang baru tetapi juga pertunjukan setiap kebudayaan 64 Jawa . Tari Klasik Tari Tradisional Tari garapan Baru Beberapa jenis tari yang ada antara lain : 1.Seni tari yang berpusat di Kraton Surakarta itu kemudian terkenal dengan Tari Gaya Surakarta. Selain tari yang bertaraf kraton (Hofdans). dan lain-lain. Pedoman tari tradisional itu sebagian besar mengutamakan gerak yang ritmis dan tempo yang tetap sehingga ketentuan-ketentuan geraknya tidaklah begitu ditentukan sekali. Yang khusus di Mangkunegaran disebut Tari Langendriyan. Wayang-Purwa Mahabarata-Ramayana. Prawirayudha. Beberapa contoh tarian gaya surakarta. barongan. penguasa laut selatan yang juga disebut Kanjeng Ratu Kidul. Jelantur.

kebudayaan 65 Jawa . Kethuk. dua buah rebab bemama Kanjeng Kyai Grantang dan Kanjeng Kyai Lipur serta sehuah Gong ageng bernama Kanjeng Nyai Kemitir.tahun sekali bertepatan dengan hari penobatan raja atau "Tingalan Dalem Jumenengan". Gamelan yang mengiringinya pun sangat khusus yaitu gamelan "Kyai Kaduk Manis" dan "Kyai Manis Renggo". Istrumen-istrumen tersebut selain dianggap khusus juga ada yang mempunyai nama keramat. Pertunjukan Bedhoyo Ketawang pada masa Sri Susuhunan Paku Buwana XII diselenggarakan pada hari kedua bulan Ruwah atau Sya'ban dalam Kalender Jawa. Busana Tari Bedhoyo Ketawang menggunakan Dodot Ageng dengan motif Banguntulak alas-alasan yang menjadikan penarinya terasa anggun. Dua buah Kendang Ageng bemama Kanjeng kyai Denok dan Kanjeng Kyai Iskandar. Instrumen gamelan yang dimainkan hanya beberapa yakni Kemanak. Kenong. Kendhang Ageng. Kendhang Ketipung dan Gong Ageng.

Oleh Sunan Pakubuwono I dinamakan Bedhaya Ketawang. dengan nama peranan sebagai berikut: o o o o o o o o o o o o o o o o o o Endel pojok Batak Gulu Dhada Buncit Endhel Apit Ngajeng Endhel Apit Wuri Endhel Weton Ngajeng Endhel Weton Wuri Bedhaya Ketawang lama tarian 130 menit Bedhaya Pangkur lama tarian 60 meit Bedhaya Duradasih lama tarian 60 menit Bedhaya Mangunkarya lama tarian 60 menit Bedhaya Sinom lama tarian 60 menit Bedhaya Endhol-endhol lama tarian 60 menit Bedhaya Gandrungmanis lama tarian 60 menit Bedhaya Kabor lama tarian 60 menit Bedhaya Tejanata lama tarian 60 menit Beberapa jenis tari Bedhaya yang belum mengalami perubahan : Pada umumnya berbagai jenis Bedhaya tersebut berfungsi menjamu tamu raja dan menghormat serta menyambut Nyi Roro Kidul. Seperti tari Bedhaya 7 penari berubah menjadi 9 penari disesuaikan dengan jumlah Wali Sanga. Tumenggung Alap-alap dan Ki Panjang Mas.Budaya Islam ikut mempengaruhi bentuk-bentuk tari yang berangkat pada jaman Majapahit. tepatnya sejak perjanjian Giyanti pada tahun 1755 oleh Pangeran Purbaya. maka disusunlah Bedhaya dengan penari berjumlah 9 orang. juga sering disajikan pada upacara kebudayaan 66 Jawa . Ide Sunan Kalijaga tentang Bedhaya dengan 9 penari ini akhirnya sampai pada Mataram Islam. termasuk jenis Bedhaya Suci dan Sakral. khususnya Bedhaya Ketawang yang jarang disajikan di luar Kraton. Hal ini kemudian dibawa ke Kraton Kasunanan Surakarta.

Komposisinya segi empat yang melambangkan tiang Pendopo. api. Contoh Bedhaya garapan baru : o o o • Bedhaya La la lama tarian 15 menit Bedhaya To lu lama tarian 12 menit Bedhaya Alok lama tarian 15 menit Tari Srimpi Tari Srimpi yang ada sejak Prabu Amiluhur ketika masuk ke Kraton mendapat perhatian pula. Juga karena lamanya penyajian (60 menit) maka untuk konsumsi masa kini diadakan inovasi. yang selain melambangkan terjadinya manusia juga melambangkan empat penjuru mata angin. Sedang nama peranannya Batak. Dhada dan Buncit. Disamping itu ada juga Bedhaya-bedhaya yang bertema kepahlawanan dan bersifat monumental. Contoh Srimpi hasil garapan baru : o o o Srimpi Anglirmendhung menjadi 11 menit Srimpi Gondokusumo menjadi 15 menit Dan lain-lain Beberapa tari klasik yang tumbuh dari Bedhaya dan Srimpi : o Beksan Gambyong kebudayaan 67 Jawa . Tarian yang ditarikan 4 putri itu masing-masing mendapat sebutan : air. tari Srimpipun ada yang suci atau sakral yaitu Srimpi Anglir Mendhung. Melihat lamanya penyajian tari Bedhaya (juga Srimpi) maka untuk konsumsi masa kini perlu adanya inovasi secara matang.keperluan jahat di lingkungan Istana. Gulu. dengan tidak mengurangi isi dan bobotnya. Seperti Bedhaya. angin dan bumi/tanah.

Tari ini diciptakan pada jaman pemerintahan Prabu Amiluhur dengan tujuan agar para putra beliau tangkas dalam olah keprajuritan dengan menggunakan alat senjata perang. menag atau mati Jawa . Sehingga tari ini menggambarkan ketangkasan dalam latihan perang dengan menggunakan alat perang. tari ini sering juga ditarikan untuk menyambut tamu dalam upacara peringatan hari besar dan perkawinan. Adapun ciri-ciri tari ini :     Jumlah penari seorang putri atau lebih Memakai jarit wiron Tanpa baju melainkan memakai kemben atau bangkin Tanpa jamang melainkan memakai sanggul atau gelung  o Dalam menari boleh menggunakan sindenan ( menyanyi ) atau tidak Beksan Wireng Berasal dari kata Wira (perwira) dan 'Aeng' yaitu prajurit yang unggul. Selain sebagai hiburan. Ciri-ciri tarian ini :      Ditarikan oleh dua orang putra atau putri Bentuk tariannya sama Tidak mengambil suatu cerita Tidak mengambil ontowacono (dialog) Bentuk pakaiannya sama  Perangnya tanding. akhirnya Nyi Mas itu dipanggil oleh Bangsawan Kasunanan Surakarta untuk menari di Istana sambil memberi pelajaran kepada para putra/I Raja. artinya gendhing ladrang kemudian diteruskan gendhing ketawang  kebudayaan 68 Tidak ada yang kalah. yang 'linuwih'. Menarinya sangat indah ditambah kecantikan dan modal suaranya yang baik. hanya iramanya atau temponya kendho atau kenceng  Gending satu atau dua.Berasal dari tari Glondrong yang ditarikan oleh Nyi Mas Ajeng Gambyong. artinya tidak menggunakan gending sampak/srepeg. Oleh istana tari itu diubah menjadi Tari gambyong. yang 'aeng'.

kebudayaan 69 Jawa . kecuali pada lakon kembar Ada yang kalah. gangsaran  Memetik dari suatu cerita lakon Bambangan Cakil Hanila Prahasta Dan lain-lain Contoh Tari Pethilan :     • Tari Golek Tari ini berasal dari Yogyakarta. Bedanya Tari Pethilan mengambil adegan atau bagian dari cerita pewayangan. menang atau mati Perang menggunakan gendhing srepeg. sampak. Selanjutnya mengalami persesuaian dengan gaya Surakarta. Pertama dipentaskan di Surakarta pada upacara perkawinan KGPH.• Tari Pethilan Hampir sama dengan tari Wireng. boleh tidak Menggunakan ontowacono ( dialog ) Pakaian tidak sama. Ciri-cirinya :      Tari boleh sama. agar lebih cantik dan menarik. Kusumoyudho dengan Gusti Ratu Angger tahun 1910. Tari ini menggambarkan cara-cara berhias diri seorang gadis yang baru menginjak masa akhil baliq.

serta perlengakapan tarinya sering tanpa menggunakan kendhi seperti pada Bondan Cindogo. Ciri pakaiannya : o o o o o Memakai kain wiron Memakai jamang Memakai baju kotang Menggendong boneka. Sedang pada Bondan Mardisiwi tidak. dan lain-lain • o o o Tari Bondan Tari ini dibagi menjadi : Bondan Cindogo Bondan Mardisiwi Bondan Pegunungan atau tani Tari Bondan Cindogo dan Mardisiwi merupakan tari gembira. memanggul payung Membawa kendhi (dahulu). sekarang jarang kebudayaan 70 Jawa . Tapi Bondan Cindogo satu-satunya anak yang ditimang-timang akhirnya meninggal dunia. mengungkapkan rasa kasih sayang kepada putranya yang baru lahir.Macam-macamnya :   Golek Clunthang iringan Gendhing Clunthang Golek Montro iringan Gendhing Montro  Golek Surungdayung iringan gendhing Ladrang Surungdayung.

Tari ini semakin pesat pertumbuhannya sejak Islam masuk terutama oleh Suann Kalijaga yang menggunakannnya sebagai penyebaran agama. • Tari Topeng Tari ini sebenarnya berasal dari Wayang Wong atau drama. dll sebelum dipakai dimasukkan tenggok. Dulu hanya diiringi lagu-lagu dolanan tapi sekarang diiringi gendhing-gendhing lengkap. Tari Topeng yang pernah mengalami kejayaan pada jaman Majapahit. Ciri pakaiannya : o o Mengenakan pakaian seperti gadis desa. sumping. memakai caping adan membawa alat pertanian hanya tidak memakai jamang tetapi memakai sanggul/gelungan. pertama melukiskan kehidupan petani kemudian pakaian bagian luar yang menggambarkan gadis pegunungan dilepas satu demi satu dengan membelakangi penonton. Sedangkan Bondan Pegunungan. sawah. topengnya dibuat dari kayu dipoles dan disungging sesuai dengan perwatakan tokoh/perannya yang diambil dari Wayang Gedhog. tegal pertanian. Di bagian dalam sudah mengenakan pakaian seperti Bondan biasa. Kecuali jika memakai jamang maka klat bahu. o Bentuk tariannya . yaitu : o o o o o o o o kebudayaan 71 Topeng Panji Ksatrian Condrokirono Gunung sari Handoko Raton Klono Denowo Benco(Tembem) Jawa .Untuk gendhing iringannya Ayak-ayakan diteruskan Ladrang Ginonjing. Menak Panji. menggendong tenggok. Beliau menciptakan 9 jenis topeng. sampur. melukiskan tingkah laku putri asal pegunungan yang sedang asyik menggarap ladang. Tapi sekarang ini menurut kemampuan guru/pelatih tarinya. Selanjutnya menari seperti gerak tari Bondan Cindogo / Mardisiwi.

Madura dan Bali. Salah satu keunikannya adalah pada model alat musik yang dipakai seperti rebab (sitar Jawa) seruling Madura (yang mirip dengan terompet Ponorogo) dan karawitan model Blambangan. Dengan demikian walaupun masih bertahan namun Tari Topeng sudah mendekati kepunahan walaupun masih tetap mengikuti acara-acara penting kesenian tradisional tingkat nasional. di Purworejo Pertunjukan ini dilakukan oleh beberapa orang penari yang berpakaian menyerupai pakaian prajurit Belanda atau Perancis tempo dulu dan diiringi dengan alat-alat bunyi-bunyian terdiri dari kentrung. Menurut cerita. karenanya banyak model topeng yang menggambarkan situasi yang berbeda. Jawa Kulonan dan Jawa Timuran (Blambangan dan Osing) sehingga akar gerakan tari ini mengandung unsur kekayaan dinamis dan musik dari etnik Jawa. dllnya. sedih. Biasanya digelar pada acaraacara-acara penting kesenian tradisional tingkat nasional. kebudayaan 72 Jawa . kendang.o kepala. rebana. Tari Topeng adalah perlambang bagi sifat manusia. kencer. Tari Topeng masih bertahan hingga saat ini. Tari Topeng sendiri diperkirakan muncul pada masa awal abad 20 dan berkembang luas semasa perang kemerdekaan. di Jawa Tengah terdapat pula tari-tari tradisional yang tumbuh dan berkembang di daerah-daerah tertentu. tertawa. Bisanya tari ini ditampilkan dalam sebuah fragmentasi hikayat atau cerita rakyat setempat tentang berbagai hal terutama bercerita tentang kisah2 panji. TARI TRADISIONAL dari JAWA TENGAH Selain tari-tari klasik. Turas (Penthul) Pakaiannya dahulu memakai ikat kepala dengan topeng yang diikat pada Tari Topeng yang berasal dari Malang sangat khas karena merupakan hasil perpaduan antara budaya Jawa Tengahan. kesenian ini timbul sejak berkobarnya perang Aceh di jaman Belanda yang kemudian meluas ke daerah lain. 2. Beberapa contoh kesenian tradisional : o Tari dolalak. malu dan sebagainya. menangis. Kesenian tradisional tersebut tak kalah menariknya karena mempunyai keunikan-keunikan tersendiri.

Penarinya mengenakan celana panjang dilapisi kain batik sebatas lutut dan berkacamata kebudayaan 73 Jawa . terbang. Seni gulat rakyat ini terutama berkembang di kalangan pelajar terutama di pantai diantara kecamatan Pandagan. Kragan. serta diiringi dengan bunyi-bunyian tertentu. Sedangkan Sintren adalah sebuah tari khas yang magis animistis yang terdapat selain di Pekalongan juga di Batang dan Tegal. barongan dan Wayang Krucil (sejenis wayang kulit ternuat dari kayu). Pemain Obeg ini terdiri dari beberapa orang wanita atau pria dengan menunggang kuda yang terbuat dari anyaman bambu (kepang). Kuntulan adalah kesenian bela diri yang dilukiskan dalam tarian dengan iringan bunyi-bunyian seperti bedug. Varian lain dari jenis kesenian ini di daerah lain dikenal dengan nama kuda lumping atau jaran kepang.o Patolan (Prisenan). Tarian ini menggunakan “ebeg” yaitu anyaman bambu yang dibentuk menyerupai kuda berwarna hitam atau putih dan diberi kerincingan. di Rembang Sejenis olahraga gulat rakyat yang dimainkan oleh dua orang pegulat dipimpin oleh dua orang Gelandang (wasit) dari masing-masing pihak. Pertunjukan ini dipimpin oleh seorang pawang atau dukun yang dapat membuat pemain dalam keadaan tidak sadar. sebelum tarian dimulai gadis menari tersebut dengan tangan terikat dimasukkan ke dalam tempat tertutup bersama peralatan bersolek. Pertunjukan ini diadakan sebagai olah raga dan sekaligus hiburan di waktu senggang pada sore dan malam hari terutama di kala terang bulan purnama. o Obeg dan Begalan Kesenian ini berkembang di Cilacap. dllnya. Lokasinya berada di tempat-tempat yang berpasir di tepi pantai. o Blora Daerah ini terkenal dengan atraksi kesenian Kuda Kepang. ada juga yang menamakannya jathilan (Yogyakarta) juga reog (Jawa Timur). kemudian selang beberapa lama ia telah selesai berdandan dan siap untuk menari. o Pekalongan Di daerah Pekalongan terdapat kesenian Kuntulan dan Sintren. Atraksi ini dapat disaksikan pada waktu malam bulan purnama setelah panen. Bulu sampai ke Tuban. Kesenian ini menampilkan seorang gadis yang menari dalam keadaan tidak sadarkan diri. Jawa Timur.

Pada pertunjukan ebeg komersial. Pada kedua pergelangan tangan dan kaki dipasangi gelang-gelang kerincingan sehingga gerakan tangan dan kaki penari ebeg selalu dibarengi dengan bunyi kerincingan. gudril. pertunjukannya memerlukan tempat pagelaran yang cukup luas seperti lapangan atau pelataran/halaman rumah yang cukup luas. 7 orang lagi sebagai penabuh gamelan. gong dan terompet. jadi satu grup ebeg bisa beranggotakan 16 orang atau lebih. Biasanya dalam pertunjukan ebeg dilengkapi dengan atraksi barongan. Laisan juga dikenal di wilayah lain (wetan) dan mereka biasa menyebutnya Sintren. kebudayaan 74 Jawa .hitam. Jumlah penari ebeg 8 oarang atau lebih. Purbalingga maupun di daerah di luar Kabupaten Banyumas. kenong. ebeg diiringi oleh gamelan yang lazim disebut bendhe. Yang bersifat khas banyumas antara lain : Calung. demikian pula pemain yang manaiki kuda kepang menggambarkan kegagahan prajurit berkuda dengan segala atraksinya. Semua penari menggunakan alat bantu ebeg sedangkan penthul-tembem memakai topeng. dan yang unik adalah para pemainnya biasa memakan pecahan kaca (beling) atau barang tajam lainnya sehingga menunjukkan keperkasaan sebagai Satria. blendrong. seorang berperan sebagai pemimpin atau dalang. di dalam kurungan itulah Laisan berdandan seperti wanita. Tarian ebeg termasuk jenis tari massal. Laisan adalah jenis kesenian yang melekat pada kesenian ebeg. Untuk mengiringi tarian ini selalu digunakan lagu-lagu irama Banyumasan seperti ricik-ricik. lung gadung dan lain-lain. Peralatan yang dipergunakan anatara lain kendang. Dalam pertunjukannya. mengenakan mahkota dan sumping ditelinganya. badannya ditindih dengan lesung terus dimasukkan ke dalam kurungan. salah seorang pemain biasanya melakukan thole-thole yaitu menari berkeliling arena sambil membawa tampah untuk mendapatkan sumbangan. Laisan dilakukan oleh seorang pemain pria yang sedang mendem. Kesenian ini hidup di daerah Bangumas pada umumnya juga terdapat di Cilacap. dan munculah pria tersebut dengan mengenakan pakaian wanita lengkap. biasanya kurungan ayam. saron. dua orang berperan sebagai penthul-tembem. kurunganpun dibuka. Waktu pertunjukan umumnya siang hari dengan durasi antara 1 – 4 jam. Setelah terlebih dulu dimantra-mantara. Laisan muncul di tengah pertunjukan ebeg. Begalan adalah salah satu acara dalam rangkaian upacara perkawinan adat Banyumas. penthul dan cepet.

o Lengger-Calung dari banyumas Kesenian kebudayaan 75 tradisional lengger-calung tumbuh dan berkembang Jawa diwilayah ini. tampah. Begalan merupakan kombinasi antara seni tari dan seni tutur atau seni lawak dengan iringan gending. tempat nasi artinya bahwa hidup itu memerlukan wadah yang memiliki tatanan tertentu jadi tidak boleh berbuat semau-maunya sendiri. Barang-barang yang dibawa antara lain ilir. tarian lengger-calung terdiri dari lengger . saringan ampas. ini melambangkan bahwa setelah berumah tangga cara berpikirnya harus masak/matang. Begalan adalah jenis kesenian yang biasanya dipentaskan dalam rangkaian upacara perkawinan yaitu saat calon pengantin pria beserta rombongannya memasuki pelataran rumah pengantin wanita. Jumlah penari 2 orang. Biasanya usai pertunjukan. Sesuai namanya. Upacara ini diadakan apabila mempelai laki-laki merupakan putra sulung. seorang bertindak sebagai pembawa barangbarang (peralatan dapur). Selain menikmati kebolehan atraksi tari begalan dan irama gending. centhong. Yang menarik adalah dialog-dialog antara yang dibegal dengan sipembegal biasanya berisi kritikan dan petuah bagi calon pengantin dan disampaikan dengan gaya yang jenaka penuh humor. sorokan. Sayangnya pertunjukan begalan ini tidak boleh dipentaskan terlalu lama karena masih termasuk dalam rangkaian panjang upacara pengantin. penonton juga disuguhi dialog-dialog menarik yang penuh humor. Pembegal biasanya membawa pedang kayu. Kostum pemain cukup sederhana. gerak tarinya tak begitu terikat pada patokan tertentu yang penting gerak tarinya selaras dengan irama gending. Dialog yang disampaikan kedua pemain berupa bahasa lambang yang diterjemahkan dari nama-nama jenis barang yang dibawa. Sebagai layaknya tari klasik. Kukusan adalah alat memasak atau menanak nasi. cething. siwur. seorang lagi bertindak sebagai pembegal/perampok. irus. kendhil dan wangkring. contohnya ilir yaitu kipas anyaman bambu diartikan sebagai peringatan bagi suami-isteri untuk membedakan baik buruk. Centhing.begalan dan Dalang Jemblung. ian. umumnya mereka mengenakan busana Jawa. barang-barang yang dipikul diperebutkan para penonton. Barang bawaan ini biasa disebut brenong kepang. Disebut begalan karena atraksi ini mirip perampokan yang dalam bahasa Jawa disebut begal. kukusan.

mengenakan kain/jarit dan stagen. sampur atau selendang biasanya dikalungkan dibahu. kenong dan gong yang semuanya terbuat dari bambu wulung (hitam). Sedangkan untuk Begalan biasanya wanita. sedangkan kendang atau gendang sama seperti gendang biasa. gedheg dan lempar sampur.(penari) dan calung (gamelan bambu). Satu grup calung minimal memerlukan 7 orang anggota terdiri dari penabuh gamelan dan penari/lengger. dhendhem. Peralatan gamelan calung terdiri dari gambang barung. Yang mengadakan ini adalah dari pihak mempelai kebudayaan 76 Jawa . badut biasanya hadir pada pertengahan pertunjukan. gambang penerus. kini penarinya umumnya wanita cantik sedangkan penari prianya hanyalah sebagai badut pelengkap yang berfungsi untuk memeriahkan suasana. gerakan tariannya sangat dinamis dan lincah mengikuti irama calung. Lengger menari mengikuti irama khas Banyumasan yang lincah dan dinamis dengan didominasi oleh gerakan pinggul sehingga terlihat sangat menggemaskan. Jumlah penari lengger antara 2 sampai 4 orang. leher sampai dada bagian atas biasanya terbuka. Calung adalah suatu bentuk kesenian rakyat dengan menggunakan bunyibunyian semacam gambang yang terbuat dari bambu. mereka harus berdandan sedemikian rupa sehingga kelihatan sangat menarik. Diantara gerakan khas tarian lengger antara lain gerakan geyol. o Kuda Lumping (Jaran kepang) dari Temanggung diselenggarakan oleh keluarga yang baru pertama kalinya mengawinkan anaknya. rambut kepala disanggul. lagu-lagu yang dibawakan merupakan gending Jawa khas Banyumas. Tari Lengger Dulu penari lengger adalah pria yang berdandan seperti wanita. Dalam penyajiannya calung diiringi vokalis yang lebih dikenal sebagai sinden. Juga dapat untuk mengiringi tarian yang diperagakan oleh beberapa penari wanita.

dahulu merupakan tarian penyalur semangat kepahlawanan dari keturunan prajurit Diponegoro. Tarian ini mengisahkan ceritera Dewi Chandrakirana yang sedang mencari suaminya yang pergi tanpa pamit.Kesenian ini diperagakan secara massal. Dan pada puncaknya para pemain mencapai keadaan tidak sadar. Tariannya dilakukan dengan menaiki kuda kepang dengan senjata tombak dan pedang. Tarian ini menggambarkan prajurit yang akan berangkat ke medan perang. Pada puncak tarian penari mencapai keadaan tidak sadar. o Tarian Jlantur dari Boyolali Sebuah tarian yang dimainkan oleh 40 orang pria dengan memakai ikat kepala gaya turki. Diiringi dengan bunyi-bunyian yang antara lain berupa Angklung bernada Jawa. o Lengger dari Wonosobo Kesenian khas Wonosobo ini dimainkan oleh dua orang laki-laki yang masing-masing berperan sebagai seorang pria dan seorang wanita. Dalam pencariannya itu ia diganggu oleh raksasa yang digambarkan memakai topeng. kenong dll. Ceritera ini kemudian diubah menurut kebudayaan 77 Jawa . sering dipentaskan untuk menyambut tamu-tamu resmi atau biasanya diadakan pada waktu upacara. o Ketek Ogleng dari wonogiri Kesenian yang diangkat dari ceritera Panji. o Jatilan dari Magelang Pertunjukan ini biasanya dimainkan oleh delapan orang yang dipimpin oleh seorang pawang yang diiringi dengan bunyi-bunyian berupa bende. mengisahkan cinta kasih klasik pada jaman kerajaan Kediri.

o Tari Tepak-Tepak Putri Tari yang menggambarkan kelincahan gerak remaja-remaja putri sedang bersuka ria memainkan rebana. Penampilannya dititik beratkan pada suguhan tarian akrobatis gaya kera (Ketek Ogleng) yang dimainkan oleh seorang dengan berpakaian kera seperti wayang orang. 3. 5. hidung panjang. Sosok ini digambarkan dengan topeng bermahkota. mata besar melotot. KLANA SEWANDANA atau KLONO Penari dan tarian yang menggambarkan sosok raja dari kerajaan Bantarangin ( kerajaan yang dipercaya berada di wilayah Ponorogo jaman dahulu. TARI GARAPAN BARU ( KREASI BARU ) dari JAWA TENGAH Meskipun namanya 'baru' tetapi semua tari yang termasuk jenis ini tidak meninggalkan unsur-unsur yang ada dari jenis tari klasik maupun tradisional. Sosok ini digambarkan dengan topeng yang mirip dengan wajah raksasa. Selain itu ia membawa Pecut Samandiman. mata melotot. dan kumis tipis. cerdik. jenaka. Sebagai contoh : o Tari prawiroguno Tari ini menggambarkan seorang prajurit yang sedang berlatih diri dengan perlengkapan senjata berupa pedang untuk menyerang musuh dan juga tameng sebagai alat untuk melindungi diri.selera rakyat setempat menjadi kesenian pertunjukan Ketek Ogleng yang mengisahkan percintaan antara Endang Roro Tompe dengan Ketek Ogleng. Tarian akrobatis ini di antara lain dipertunjukan di atas seutas tali. dengan iringan pujian atau syair yang bernafas Islam. PUJANGGANONG atau BUJANGGANONG adalah penari dan tarian yang menggambarkan sosok patih muda ( Patihnya Klana Sewandana) yang cekatan. dan sakti. wajah berwarna merah. mulut terbuka dengan gigi yang besar tanpa taring. berbentuk kebudayaan 78 Jawa . wajah merah darah dan rambut yang lebat warna hitam menutup pelipis kiri dan kanan. 4.

RENGKONG Rengkong adalah kesenian yang menyajikan bunyi-bunyian khas bagai suara kodok mengorek secara serempak yang dihasilkan dari permainan pikulan bambu. Sayangnya jenis kesenian ini sekarang semakin jarang dipentaskan. Tarian jenis ini sudah ada sejak abad ke 17 dibawa para mubalig penyebar agama Islam yang datang dari wilayah MataramBagelen. Di tengah masing-masing ikatan padi ada sunduk (tusuk) bambu sepanjang hampir 2 meter.tongkat lurus dari rotan berhias jebug dari sayet warna merah diseling kuning sebanyak 5 atau 7 jebug. Kesenian angguk yang bercorak Islam ini mulanya berfungsi sebagai salah satu alat untuk menyiarkan agama Islam. biasanya menggunakan bambu tali dengan panjang sekitar 2. Celana panjang sampai lutut dengan hiasan garis merah pula. Bentuk lain dari kesenian angguk adalah “aplang”. Perangkat musiknya terdiri dari kendang. Ujung atas sunduk bambu dimasukkan ke badan bambu rengkong dekat gantungan kebudayaan 79 Jawa . tambur. 7. 6. serta memakai topi pet berwarna hitam. sekeliling bambu melintasi lobang tersebut diraut sekedar tempat bertengger tali penggantung ikatan padi. Dua ikat padi seberat ± 15 kg digayutkan dengan tali ijuk mengalungi sonari (badan rengkong bambu di tempat yang diraut).6 meter. terbang (rebana besar) dan angklung. mengenakan kaos kaki panjang sebatas lutut tanpa sepatu. Pikulan bambu tersebut berukuran besar dan kuat tetapi ringan karena dibuat dari bambu yang sudah cukup tua. Tarian ini disebut angguk karena penarinya sering memainkan gerakan mengangguk-anggukan kepala. Pakaian para penari umumnya berwarna hitam lengan panjang dengan garis-garis merah dan kuning di bagian dada/punggung sebagai hiasan. 2 rebana. bedanya bila angguk dimainkan oleh remaja pria maka “aplang” atau “daeng” dimainkan oleh remaja putri. bedug. ANGGUK Tarian ini berasal dari Banyumas. Pada kedua ujung bambu dibuat lobang persegi panjang selebar 1 cm. kencreng. Syair lagu-lagu tari angguk diambil dari kitab Barzanji sehingga syair-syair angguk pada awalnya memang menggunakan bahasa Arab tetapi akhir-akhir ini gerak tari dan syairnya mulai dimodifikasi dengan menyisipkan gerak tari serta bahasa khas Banyumasan tanpa merobah corak aslinya. Angguk dimainkan sedikitnya oleh 10 orang penari anak laki-laki berusia sekitar 12 tahun.

Menurut cerita. pikulan bambu rengkong yang berisi muatan padi diletakkan pada bahu kanan (dipikul). khas alam petani. BUNCIS Buncis adalah perpaduan antara seni musik dengan seni tari yang dimainkan oleh 8 orang pemain. Pemikul mengayun-ayunkan ke kiri dan ke kanan dengan mantap dan teratur.tali ijuk. Dalam pertunjukannya diiringi dengan perangkat musik angklung. Tarian ini juga dikenal di seluruh Nusantara. kata ”gambyong” diambil dari uru tari (tledhek) yang mempunyai nama Mbok gambyong. gesekan tali ijuk yang keras inilah yang menimbulkan suara berderit-derit nyaring. 8. Kalau ada beberapa rengkong yang dimainkan serempak maka akan timbul suara yang mengasyikan. Di tahun 1950-an. Pura Mangkunegaran mengambil Tari Gambyong menjadi salah satu tari unggulan yang diberi nama gambyong Pareanom. 9. Pada bagian akhir sajian para pemain Buncis Intrance atau mendem. Para pemain buncis selain menjadi penari juga menjadi pemusik serta vokalis. TAYUBAN Adalah salah satu jenis tari masyarakat Jawa. Jadi Tari Gambyong itu berasal dari kawulo alit ( orang kecil / rendah ) yang datang ke Kraton. Di daerah tertentu tarian ini digelar sebagai bagian dari upacara pembersihan ( bala atau malapetaka ) dan biasanya kebudayaan 80 Jawa . Kesenian tradisional para petani ini biasanya diadakan pada pesta perayaan panen atau pada hari-hari besar nasional. Tali ijuk dengan beban padi yang menggantung pada badan bambu rengkong pun bergerak-gerak. terlebih bila dimainkan dengan berbaris berarak-arakan maka suasananya akan lebih semarak. AKSIMUDA Aksimuda adalah kesenian bernafas Islam yang disajikan dalam bentuk atraksi pencak silat yang digabung dengan tari-tarian. Tayuban digelar sebagai bagian dari upacara sakral yang berhubungan dengan kesuburan ( kesuburan perkawinan dan kesuburan pertanian/tanah ). tetapi dengan versi yang berbeda. Cara memainkannya. TARI GAMBYONG Salah satu tari dari Surakarta. 10. 11.

12. pemainnya terdiri atas remaja Putri.Guyub antara lelaki dan perempuan. Beberapa jenis alat musik yang terdapat di Jawa. penari perempuan menggunakan sampur atau selendang. Nantinya selendang itu diberikan kepada laki-laki ( ketiban sampur ). perkawinan. khitanan. H.2 a) Seni Musik GAMELAN JAWA Gamelan yang berkembang di Yogyakarta adalah Gamelan Jawa. Dan yang menerima selendang itu mendapat kehormatan untuk menari bersama dengan penari perempuan tadi. Gamelan Jawa memiliki nada yang lebih lembut dan slow. berbeda dengan Gamelan Bali yang rancak dan Gamelan Sunda yang sangat mendayu-dayu dan didominasi suara seruling.juga digelar dalam penyambutan tamu-tamu agung. keselarasan dalam berbicara dan bertindak sehingga tidak memunculkan ekspresi yang meledakkebudayaan 81 Jawa . Perbedaan itu wajar. sedekah desa. diantaranya : Pandangan hidup Jawa yang diungkapkan dalam musik gamelannya adalah keselarasan kehidupan jasmani dan rohani. Di daerah tertentu. sebuah bentuk gamelan yang berbeda dengan Gamelan Bali ataupun Gamelan Sunda. karena Jawa memiliki pandangan hidup tersendiri yang diungkapkan dalam irama musik gamelannya. Pada zaman dahulu tarian ini mempunyai nilai hiburan dan sensual karena tarian ini menggambarkan keakraban hubungan lelaki ( pengibing ) dan perempuan ( ronggeng ). APLANG atau DAENG Kesenian yang serupa dengan Angguk. sedekah bumi. Makanya ada yang beranggapan bahwa Tayuban itu berasal dari kata ”tayub” ( ditata guyub ). dan lain-lain.

2) Saron Alat musik pukul dari bronze dengan disanggah kayu. gesekan pada tali atau bambu tipis hingga dikenalnya alat musik dari logam. musik ini dipakai untuk mengiringi pagelaran wayang. Saron Barung. tepukan ke mulut. Saron Peking. Masing-masing alat memiliki fungsi tersendiri dalam pagelaran musik gamelan. Ada 3 macam Saron. Seperangkat gamelan terdiri dari beberapa alat musik. Pengendang adalah konduktor dari musik gamelan. dan tarian. logam. Wujud nyata dalam musiknya adalah tarikan tali rebab yang sedang. dan kayu. Saron Demung. misalnya gong berperan menutup sebuah irama musik yang panjang dan memberi keseimbangan setelah sebelumnya musik dihiasi oleh irama gending. gambang. Ada 5 ukuran kendang dari 20 cm . gong dan seruling bambu. rebab dan celempung. kebudayaan 82 Jawa . Komponen utama yang menyusun alatalat musik gamelan adalah bambu. saron kendang dan gambang serta suara gong pada setiap penutup irama.ledak serta mewujudkan toleransi antar sesama. Perkembangan selanjutnya setelah dinamai gamelan. diantaranya satu set alat musik serupa drum yang disebut kendang. Tidak ada kejelasan tentang sejarah munculnya gamelan. Perkembangan musik gamelan diperkirakan sejak kemunculan kentongan. Barulah pada beberapa waktu sesudahnya berdiri sebagai musik sendiri dan dilengkapi dengan suara para sinden. paduan seimbang bunyi kenong.45 cm. rebab. Seperangkat gamelan tersebut diantaranya : 1) Kendang Kendang adalah instrumen pemimpin.

kebudayaan 83 Jawa . 6) Gambang Lempengan kayu yang diletakkan diatas frame kayu juga.3) Bonang Barung Terdiri dari 2 baris peralatan dari bronze dimainkan dengan 2 alat pukul. 5) Gender Hampir sama dengan slentem dengan lempengan bronze lebih banyak. 4) Slentem Lempengan bronze ini diletakan diatas bambu untuk resonansinya.

untuk menandakan lagu yang bagiannya berirama pendek. terbuat dari bronze.7) Gong Setiap set slendro dan pelog dilengkapi dengan 3 gong. kebudayaan 84 Jawa . Gong menandakan akhir dari bagian lagu yang liriknya panjang. 8) Kempul Gong kecil. Dua Gong besar (Gong Ageng) dan satu gong Suwukan sekitar 90 cm. Setiap set slendro dan pelog terdiri dari 6 atau 10 kempul.

kebudayaan 85 Jawa .9) Kenong Semacam gong kecil diatas tatakan. 10) Ketug Disebut juga kenong kecil. menandakan jeda antar lirik lagu. satu set komplet bisa 10 kenong baik set slendro atau pelog.

dimana setiap satu set slendro dan pelog membutuhkan satu clempung.11) Clempung sebuah instrument kecil. 14) Rebab Alat musik gesek kebudayaan 86 Jawa . 13) Suling Setiap set slendro dan pelog memerlukan 1 suling. 12) Siter Tiap set slendro dan pelog memerlukan 1 siter.

15) Keprak dan Kepyak Diperlukan untuk pertunjukan tari 16)Bedug Gamelan Jawa adalah musik dengan nada pentatonis. Slendro memiliki 5 nada per oktaf.F# G# A B] dengan perbedaan interval yang besar. yaitu terdiri dari beberapa putaran dan kebudayaan 87 Jawa . yaitu 1 2 3 4 5 6 7 [C+ D E. Pelog memiliki 7 nada per oktaf.D E+ G A] dengan perbedaan interval kecil. Komposisi musik gamelan diciptakan dengan beberapa aturan. Satu permainan gamelan komplit terdiri dari dua putaran. yaitu slendro dan pelog. yaitu 1 2 3 5 6 [C.

Gamelan Jawa itu dibagi menjadi dua : 1. Salah satu bentuk gamelan kontemporer adalah jazzgamelan yang merupakan paduan paduan musik bernada pentatonis dan diatonis. tembaga yang dicampur nikel atau perunggu. hanya kurang begitu berkembang dan kurang akrab di masyarakat dan jarang dimiliki oleh grup-grup kesenian di masyarakat. Pada hari Kamis pukul 10. Seperti : besi. kliningan.00 WIB digelar gamelan sebagai sebuah pertunjukan musik tersendiri. anda bisa menuju Bangsal Sri Maganti. Sedangkan yang menyanyikan adalah Pesinden ( wira-swara/swarawati ). Anda bisa melihat gamelan sebagai sebuah pertunjukan musik tersendiri maupun sebagai pengiring tarian atau seni pertunjukan seperti wayang kulit dan ketoprak. jaipongan dan lain-lain. Berdasarkan suaranya. Hari Sabtu pada waktu yang sama digelar musik gamelan sebagai pengiring wayang kulit. Yang memainkan gamelan itu adalah Penayagan. Sebagai sebuah pertunjukan tersendiri. anda bisa menuju bangsal kraton lain yang terletak lebih ke belakang.12. sementara hari Minggu pada waktu yang sama digelar musik gamelan sebagai pengiring tari tradisional Jawa. Gamelan 2. Pertunjukan musik gamelan yang digelar kini bisa merupakan gamelan klasik ataupun kontemporer. Gamelan Pelog Gamelan pelog fungsinya hampir sama dengan gamelan salendro. dibatasi oleh satu gongan serta melodinya diciptakan dalam unit yang terdiri dari 4 nada. Hampir semua bagian dari alat musik ini terbuat dari logam ( tosan ). Gamelan Slendro salendro biasa digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang. Sementara untuk melihat perangkat gamelan tua. musik gamelan biasanya dipadukan dengan suara para penyanyi Jawa (penyanyi pria disebut wiraswara dan penyanyi wanita disebut waranggana). tari.00 . Salah satu tempat di Yogyakarta dimana anda bisa melihat pertunjukan gamelan adalah Kraton Yogyakarta. Untuk melihat pertunjukannya. kebudayaan 88 Jawa .pathet.

Dalam pertunjukkannya Bongkel disajikan gendhing . gambang penerus.kendhang batangan . jombangan. selain itu gendhing ini merupakan satu-satunya gendhing yang dapat mencirikan keragaman karawitan Jawa timuran karena terangkai menjadi berbagai gaya.kempul . Nada-nadanya 2 (ro). dhendhem. kenong.gender . Alat yang menuntun suara adalah rebab.gambang . gong & kendang.rebab .kempyang . hanya terdiri dari satu jenis instrumen dengan empat bilah berlaras slendro.saron barung .saron panerus .slenthem .kethuk . susunan pola balungan melodi yang ada adalah 65626521 21262165.bonang . Perangkat musik khas Banyumasan yang terbuat dari bambu wulung mirip dengan gamelan Jawa. Selain itu ada juga Gong Sebul dinamakan demikian karena bunyi yang dikeluarkan kebudayaan 89 Jawa . 5 (mo). terdiri atas gambang barung. meduroan dan malangan.saron demung . 3 (lu). 6 (nem).gong ageng . sebut saja jula-juli surabaya.Yang menabuh gamelan itu harus mengerti tinggi rendahnya suara dan cepat lambatnya lagu.suling .siter/celempung . c) BONGKEL Bongkel adalah musik tradisional Banyumasan yang mirip dengan angklung.kenong . Beberapa daftar Gamelan . .kendhang gendhing b) JULA-JULI Jula-juli adalah salah satu gendhing yang sangat lazim dijumpai pada pertunjukan ludruk dan tari remo di Jawa Timur. d) CALUNG Alat musik ini terbuat dari potongan bambu yang diletakkan melintang dan dimainkan dengan cara dipukul. Sedangkan yang menuntun sampak adalah kendhang.gendhing khusus bongkel.gong suwuk .

Dalam sistem kalender Jawa. namun tidak menggunakan angka dari tahun Hijriyah (saat itu tahun 1035 H). Kenthong adalah alat utamanya. Pada tahun 1625 Masehi. alat ini juga terbuat dari bambu dengan ukuran yang besar. SurakartaYogyakarta dan sering pula disajikan lagu-lagu pop yang diaransir ulang. Kenthongan dimainkan dalam kelompok yang terdiri dari sekitar 20 orang dan dilengkapi dengan Beduk. siklus hari yang dipakai ada dua: siklus mingguan yang terdiri dari 7 hari seperti yang kita kenal sekarang. Hal ini dilakukan demi asas kesinambungan. Kentongan juga terbuat dari bambu. kebudayaan 90 Jawa . Sejak saat itu kalender Jawa versi Mataram menggunakan sistem kalender kamariah atau lunar.mirip gong tetapi dimainkan dengan cara ditiup (sebul). Angka tahun Saka tetap dipakai dan diteruskan.3 Kalender Jawa Kalender Jawa adalah sebuah kalender yang istimewa karena merupakan perpaduan antara budaya Islam. gending gaya Banyumasan. e) KENTHONGAN Sebagian orang menyebutnya tek-tek. Dalam pertunjukan kesenian ini menyajikan lagu-lagu yang diambil dari kitab Barzanji. Kenthong yang dipakai ada beberapa macam sehingga menghasilkan bunyi yang selaras. Sehingga tahun saat itu yang adalah tahun 1547 Saka. f) SALAWATAN JAWA yaitu salah satu seni musik bernafaskan Islam dengan perangkat musik berupa terbang Jawa. berupa potongan bambu yang diberi lubang memanjang disisinya dan dimainkan dengan cara dipukul dengan tongkat kayu pendek. diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa. Dalam penyajiannya calung diiringi vokalis yang lazim disebut sinden. Dalam satu grup kenthongan. budaya Hindu-Buddha Jawa dan bahkan juga sedikit budaya Barat. Lagu-lagu yang dibawakan kebanyakan lagu Jawa dan Dangdut. H. Sultan Agung yang berusaha keras menyebarkan agama Islam di pulau Jawa dalam kerangka negara Mataram mengeluarkan dekrit untuk mengubah penanggalan Saka. Aransemen musikal yang disajikan berupa gending-gending Banyumasan. dan siklus pekan pancawara yang terdiri dari 5 hari pasaran. kecrek dan dipimpin oleh mayoret. seruling.

1. Sebagian nama bulan diambil dari Kalender Hijriyah. Daftar bulan Jawa matahari Pada tahun 1855 Masehi. Nama-nama ini adalah nama bulan kamariah atau candra (lunar). Batavia dan Banyuwangi (=Balambangan). Sedangkan nama Apit dan Besar berasal dari bahasa Jawa dan bahasa Melayu. Daftar bulan Jawa Islam Di bawah ini disajikan nama-nama bulan Jawa Islam.Dekrit Sultan Agung berlaku di seluruh wilayah kerajaan Mataram II: seluruh pulau Jawa dan Madura kecuali Banten. Kawolu / Wisaka (4 Februari-1 Maret) kebudayaan 91 Jawa . Rejeb 8. karena penanggalan kamariah dianggap tidak memadai sebagai patokan para petani yang bercocok tanam. Sebenarnya pranata mangsa ini adalah pembagian bulan yang asli Jawa dan sudah digunakan pada jaman pra-Islam. I. juga tidak ikut mengambil alih kalender karangan Sultan Agung ini. Karo / Pusa (3 Agustus-25 Agustus) VII. dengan nama-nama Arab. Sapar 3. Mulud 4. Besar(Dulkijah) Sela A. Sela dan kemungkinan juga Sura. Poso (siyam) 10. Lalu oleh beliau tanggalnya disesuaikan dengan penanggalan tarikh kalender Gregorian yang juga merupakan kalender surya. Kasa / Kartika (23 Juni-2 Agustus) II. Tetapi lama setiap mangsa berbeda-beda. Kapitu / Palguna (23 Desember-3 Februari) VIII. namun beberapa di antaranya menggunakan nama dalam bahasa Sansekerta seperti Pasa. Pulau Bali dan Palembang yang mendapatkan pengaruh budaya Jawa. Sawal 11. maka bulan-bulan musim atau bulan-bulan surya yang disebut sebagai pranata mangsa. Jumadilawal 6. Bakdamulud 5. Ketiga daerah terakhir ini tidak termasuk wilayah kekuasaan Sultan Agung. Ruwah (Saban) 9. dikodifikasikan oleh Sri Paduka Mangkunegara IV atau penggunaannya ditetapkan secara resmi. Jumadilakhir 7. (Dulkangidah) 12. Sura 2.

Pekan yang terdiri atas lima hari ini disebut sebagai pasar oleh orang Jawa dan terdiri dari hari-hari: Legi. Wawu 8. Setiap satuan ini terdiri atas 8 tahun Jawa dan disebut windu. Jaman sekarang hanya pekan yang terdiri atas lima hari dan tujuh hari saja yang dipakai. Berikut ini secara singkat dijelaskan sebagai berikut: kebudayaan 92 Jawa . Wage. caturwara. Je 5. Paing. Ehe 3. triwara. Alip 2. Jimawal 4. Kasanga / Jita (2 Maret26 Maret) X. namun di pulau Bali dan di Tengger. astawara dan sangawara. yaitu yang juga dikenal di budaya-budaya lainnya. 6 dan 5 hari berpapasan. namun dari 2 sampai 10 hari. Kalima / Manggala (14 Oktober-9 November) VI. Be 7. Jimakir Pembagian pekan Orang Jawa pada masa pra Islam mengenal pekan yang lamanya tidak hanya tujuh hari saja. memiliki sebuah siklus yang terdiri atas 30 pekan. pekan-pekan yang lain ini masih dipakai. dan Kliwon. Kasewelas / Sadha (20 April-12 Mei) XII. Dal 6. Katiga / Manggasri (26 Agustus-18 September) IV. Kapat / Setra (19 September-13 Okober) V. Kemudian sebuah pekan yang terdiri atas tujuh hari ini. Siklus windu IX. Setiap pekan disebut satu wuku dan setelah 30 wuku maka muncul siklus baru lagi. Pon. saptawara. Kanem / Maya (10 November-22 Desember) B.III. pañcawara (pancawara). sadwara. Siklus ini yang secara total berjumlah 210 hari adalah semua kemungkinannya hari dari pekan yang terdiri atas 7. Di bawah disajikan nama-nama windu: 1. Kasepuluh / Srawana (27 Maret-19 April) XI. Karolas / Asuji (13 Mei22Juni) Oleh orang Jawa tahun-tahun digabung menjadi semacam abad yang terdiri dari delapan satuan lebih kecil. Pekan-pekan ini disebut dengan namanama dwiwara.

Aryang / Manusia 3. Brama 7. Perhitungan hari dengan siklus 9 harian : 1. Legi / Manis (5) 3. (4) 4.1. Dangu / Batu 2. Gigis / Bumi 4. Pahing / Jenar (9) 2. Selasa / Anggara 4. Rudra 6. Dadi / Kayu kebudayaan 93 Jawa . Kliwon/ Kasih (8) 2. Mawulu / Taru/Benih. Tungle / Daun 2. Tulus / Air 8. Uma – Padangon. Rebo / Budha 5. Wogan / Ulat 7. Sadwara – Paringkelan. Minggu / Radite 2. Saptawara – Padinan. Pancawara – Pasaran dan bobot angkanya. Jemuwah / Sukra 7. Kala 8. Perhitungan hari dengan siklus 7 harian : 1. Sangawara 5. Kemis / Respati 6. Sri 2. Paningron / Mina/Ikan 5. Pon / Palguna (7) 5. Wurung / Api 9. Perhitungan hari dengan siklus 6 harian 1. Senen / Soma 3. Perhitungan hari dengan siklus 8 harian : 1. Yama 5. Perhitungan hari dengan siklus 5 harian : 1. Kerangan / Matahari 5.Guru 4.Wurukung/ Hewan 4. Jagur / Harimau 3. Wage / Kresna/ Langking 3. Nohan / Rembulan 6. Uwas / Peksi/Burung 6. Setu / Tumpak/Saniscara 4. Indra 3. Hastawara – Padewan.

perbedaan yang nyata adalah pada saat penetapan pergantian hari ketika pergantian sasi/bulan. dan Legi mempunyai bobot angka 5. Tolu 6.00). Landhep 3. Kuruwelut 18. Sungsang 11.   Sementara hari mingguan akan mengikuti bobot angka sbb: kebudayaan 94 Jawa . Maktal 22. kuningan 13. Wuye 23. Prangbakat 25. Pahang 17. Manahil 24. Kulawu 29. Wuku. Langkir 14. Wugu 27. misalnya:    Paing mempunyai bobot angka 9 Pon mempunyai bobot angka 7 Wage mempunyai bobot angka 4 Kliwon mempunyai bobot angka 8. Galungan 12. Ada perbedaan yang hakiki antara system perhitungan penanggalan Jawa dengan penanggalan Hijriah.6. Candrasangkala Jawa menetapkan bahwa pergantian hari ketika pergantian sasi waktunya adalah tetap yaitu pada saat matahari terbenam (surup-antara pukul 17. Warigagung 9. Tambir 20. Wayang 28. Medhangkungan 21. Mandhasiya 15. Weton Tiap hari pasaran menurut penanggalan Jawa mempunyai bobot angka yang disebut neton. Julungpujud 16. Gumbreg 7. Sinta 2. sedangkan pergantian hari ketika pergantian sasi/bulan pada penanggalan Hijriah ditentukan dengan Hilal dan Rukyat. Bala 26. Marakeh 19. Warigalit 8. Dhukut 30 Watugunung Sistim Penanggalan Jawa disebut juga Penanggalan Jawa Candrasangkalaatau perhitungan penanggalan berdasarkan peredaran Bulan mengitari Bumi. Wukir 4.00 sampai dengan 18. Perhitungan penanggalan Jawa sudah dicocokkan dengan penanggalan Hijriah namun demikian pencocokan ini bukanlah menjiplak seluruhnya tapi juga mempergunakan perhitungan yang rumit dari para leluhur kita. 7. Julungwangi 10. Kurantil 5. Perhitungan hari dengan siklus mingguan dari 30 wuku : 1.

H. atap terdiri dari 4 (empat) buah sisi soko guru dengan pemidangannya (alengnya) dan berblandar tumpang sari.4 Rumah Adat Bangunan adat rumah Jawa Ilmu yang mempelajari seni bangunan oleh masyarakat Jawa biasa disebut Ilmu Kalang atau disebut juga Wong Kalang. termasuk untuk memilih hari perkawinan menurut adat kepercayaan Jawa. karena Senin = 4 + Paing = 9.       • Senin mempunyai bobot angka 4 Selasa mempunyai bobot angka 3 Rabu mempunyai bobot angka 7 Kamis mempunyai bobot angka 8 Jum'at mempunyai bobot angka 6 Sabtu mempunyai bobot angka 9. dan Minggu mempunyai bobot angka 5. tanggal 1 Januari 2001 (awal abad ke-21 dan awal alaf ke-3) adalah hari Senin-Paing. yaitu bangunan dengan Soko Guru dan atap 4 belah sisi. Angka semacam ini biasanya dipakai untuk menentukan hari baik dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Rumah Jawa adalah arsitektur tradisional Jawa yang berkembang sejak abad ke-13 terdiri atas 5 tipe dasar (pokok) yaitu : 1. sebuah bubungan di tengahnya. Bentuk Rumah Joglo :Memiliki ciri. Joglo (atap joglo) atau Tikelan. kebudayaan 95 Jawa . dan mempunyai bobot angka 13. Contoh : Seperti disebutkan di atas.

semisal : Masjid. Dipergunakan sebagai tempat suci. yaitu bangunan hanya dengan atap sebelah sisi. Mesjidan/Tajugan. yaitu bangunan dengan atap 4 belah sisi. baik di kota maupun di desa dan di gunung-gunung. Panggang Pe. Tidak ada yang untuk tempat tinggal. soko guru dengan blandar-blandar tumpang sari. Perkembangannya dengan penambahan emper atau serambi. Hanya saja yang berbentuk trajumas tidak biasa digunakan sebagai tempat tinggal 3. memakai dudur. Bentuk rumah Limasan: Terutama terlihat pada atapnya yang memiliki 4 (empat) buah bidang sisi. Joglo Mangkurat 6. tempat raja bertahta. lantainya selalu di atas tanpa bertingkat. Kebanyakan untuk tempat tinggal. sebuah bubungan di tengahnya. Jenis-jenis Rumah Joglo : 1.Bangunan ini umumnya dipergunakan sebagai pendopo dan juga untuk tempat tinggal (dalem). Kampung (atap pelana). Joglo Hageng kebudayaan 96 Jawa . tanpa bubungan. sebuah bubungan di tengah saja Bentuk Rumah Kampung : Umumnya sebagai tempat tinggal. yaitu bangunan dengan Soko Guru atap 4 belah sisi. makam. Joglo Sinom 3. yaitu bangunan dengan atap 2 belah sisi. Joglo Pangrawit 5. serta beberapa ruangan akan tercipta bentuk-bentuk sinom. Apabila diperkembangkan dapat berfungsi sebagai tempat ronda. Limasan (atap limas). pabrik. kutuk ngambang. Bentuk Rumah Tajug :Ciri utamanya pada atap berbentuk runcing. 2. nasi dan lain-lainnya yang terdapat di tepi jalan. Joglo Lawakan 2. lambang gantung. dan sebagainya 5. trajumas. jadi meruncing. Perkembangan dari bentuk ini juga dipergunakan sebagai tempat tinggal 4. Bentuk Rumah Panggang-pe :Banyak kita jumpai sebagai tempat jualan minuman. dan lain-lain. tempat mobil / garasi. Joglo Jompongan 4. berdenah bujur sangkar.

7. Joglo Semar Tinandhu

Limasan Jenis-jenis Rumah Limasan 1. Limasan Lawakan 2. Limasan Gajah Ngombe 3. Limasan Gajah Njerum 4. Limasan Apitan 5. Limasan Pacul Gowang 6. Limasan Cere Gancet 7. Limasan Trajumas 8. Limasan Gajah Mungkur 9. Limasan Klabang Nyander 10. Limasan Lambang Teplok 11. Limasan Semar Tinandu 12. Limasan Lambang Sari

Joglo

13. Limasan Semar Pinondhong, contoh Bangsal Kama, Kraton Cirebon Jenis-jenis Rumah Kampung : 1. Kampung Pokok 2. Kampung Trajumas 3. Kampung Pacul Gowang 4. Kampung Srotong 5. Kampung Cere Gancet 6. Kampung Gotong Mayit 7. Kampung Semar Pinondhong 8. Kampung Apitan kebudayaan 97 Jawa

9. Kampung Gajah Njerum 10. Kampung Gajah Ngombe 11. Kampung Doro Gepak 12. Kampung Klabang Nyander 13. Kampung Jompongan Lambang Teplok Semar Tinandhu (untuk tobong kapur) 14. Kampung Lambang Teplok (untuk gudang genteng) Jenis-jenis Rumah Panggang Pe : 1. Panggang Pe Pokok 2. Panggang Pe Trajumas 3. Panggang Pe Empyak Setangkep 4. Panggang Pe Gedhang Selirang 5. Panggang Pe Gedhang Setangkep 6. Panggang Pe Cere Gancet 7. Panggang Pe bentuk kios 8. Panggang Pe Kodokan (jengki) 9. Panggang Pe Barengan 10. Panggang Pe Cere Gancet Jenis-jenis Mesjidan/Tajugan : 1. Mesjidan Cungkup Pokok 2. Mesjidan Lawakan (langgar) 3. Mesjidan Lambang Teplok, contoh : Bangsal Gianyar, Bali 4. Mesjidan payung agung (meru), susun 3 untuk rakyat, 5 sentana (keluarga) raja, 7 pangeran, 11 raja, contoh Pamujaan Besakih, Bali 5. Tajug Tawon Boni, contoh : Bangsal Pajajaran 6. Tajug Tiang Satu Lambang Teplok, contoh : Mesjid rakyat Gombong 7. Tajug Semar Sinongsong Lambang Teplok, contoh : Langgar Kecil Kraton Cirebon 8. Tajug Pendawa, contoh : Kraton Cirebon 9. Tajug Lambang Gantung, contoh : Bangsal Ponconiti Kraton Yogyakarta 10. Tajug Lambangsari, contoh : Bangsal Pertemuan para Wali, Gunung Sembung 11. Tajug Lawakan Lambang Teplok, contoh : Pasarean Suwargan, Imogiri kebudayaan 98 Jawa

12. Tajug Semar Tinandhu, Dukuh, Yogyakarta 13. Tajug Semar Sinongsong Lambang Gantung, contoh : Masjid Soko Tunggal (gabungan Pajajaran dan Sultan Agungan, Taman, Kraton Yogyakarta 14. Tajug Ceblokan Lambang Teplok, Masjid Agung Yogyakrata 15. Tajug Mangkurat, Bangsal Witono, Kraton Yogyakarta 16. Tajug Sinom Semar Tinandhu, Lawang Sanga-sanga, Kraton Cirebon

Masing-masing bentuk berkembang menjadi beraneka jenis dan variasi yang bukan hanya berkaitan dengan perbedaan ukurannya saja, melainkan juga dengan situasi dan kondisi daerah setempat. Dari kelima macam bangunan pokok rumah Jawa ini, apabila diadakan penggabungan antara 5 macam bangunan maka terjadi berbagai macam bentuk rumah Jawa. Sebagai contoh : gedang selirang, gedang setangkep, cere gencet, sinom joglo lambang gantung, dan lain-lain. Menurut pandangan hidup masyarakat Jawa, bentuk-bentuk rumah itu mempunyai sifat dan penggunaan tersendiri. Misalnya bentuk Tajug, itu selalu hanya digunakan untuk bangunan yang bersifat suci, umpamanya untuk bangunan Masjid, makam, dan tempat raja bertahta, sehingga masyarakat Jawa tidak mungkin rumah tempat tinggalnya dibuat berbentuk Tajug. Rumah yang lengkap sering memiliki bentuk-bentuk serta penggunaan yang tertentu, antara lain : - pintu gerbang - pendopo - pringgitan - dalem - dapur kebudayaan 99 : bentuk kampung : bentuk joglo : bentuk limasan : bentuk joglo : bentuk kampung Jawa

- gandhok (kiri-kanan) : bentuk pacul gowang

ruang tengah .emper yang lain : untuk Pendopo : untuk tempat pertemuan keluarga : untuk gudang dan dapur. Kedutaan Besar Indonesia di Singapura dan Malaysia juga Bandar Udara Soekarno-Hatta mempunyai arsitektur tradisional Jawa. wajar dan jujur tanpa ada usaha menutup-nutupinya. Dengan sendirinya rumah yang berbentuk doro gepak (atap bangunan yang berbentuk mirip burung dara yang sedang terbang mengepakkan sayapnya) misalnya bagianbagiannya dipergunakan untuk kegunaan yang tertentu. Hal tersebut dimaksudkan untuk berjaga-jaga bila ada banjir. dan sebagainya. . pengeret. bukan dinding pemikul. Arsitektur tradisional Jawa terbukti sangat populer tidak hanya di Jawa sendiri tetapi sampai menjangkau manca negara.dan lain-lain. dudur.. Struktur bangunannya merupakan struktur rangka dengan konstruksi kayu.emper kanan-kiri : untuk senthong tengah dan senthong kiri kanan Di beberapa daerah pantai terdapat pula rumah-rumah yang berkolong. Atap bangunannya selalu menggunakan tritisan yang lebar. Demikian pula bahan-bahan bangunannya. Dalam Seni Bangunan Jawa karena telah begitu maju. Pada dasarnya arsitektur tradisonal Jawa – sebagaimana halnya Bali dan daerah lain – adalah arsitektur halaman yang dikelilingi oleh pagar. Yang sangat menarik pula untuk diungkap adalah struktur tersebut diperlihatkan secara jelas. Ruang dalam dan luar saling mengimbas tanpa pembatas yang tegar. yang sangat melindungi ruang beranda atau emperan di bawahnya. Di samping itu arsitektur Jawa memiliki ketahanan yang cukup handal terhadap gempa. maka semua bagian kerangka rumah telah diberi nama-nama tertentu. misalnya : . saka guru. Yang disebut rumah yang utuh seringkali bukanlah satu bangunan dengan dinding yang pejal melainkan halaman yang berisi sekelompok unit bangunan dengan fungsi yang berbeda-beda. umpak. blandar.emper depan . Tetapi bagi orang yang tidak mampu tidaklah mungkin akan demikian. Tata ruang dan struktur yang demikian sungguh cocok untuk daerah beriklim tropis yang sering mengalami gempa dan sesuai untuk peri kehidupan manusia yang memiliki kepribadian senang berada kebudayaan 100 Jawa . Bahan bangunan rumah Jawa ialah terutama dari kayu jati. usuk peniyung. reng. Dinding ruangan sekedar merupakan tirai pembatas. brunjung. saka penanggap. usuk ri-gereh. seperti : ander. bagaikan payung yang terpancang terbuka. semua dibiarkan menunjukan watak aslinya.

yaitu tempat untuk tidur.di udara terbuka. yaitu sebagai peneduh. istirahat anggota keluarga. kerbau. namun ada pula yang diletakkan di muka pendhapa dengan disela oleh halaman yang luas. tempat menyimpan padi dan hasil bumi lainnya. kombong (itik. Letaknya agak berjauhan. Kadangkadang terdapat lesung yang terletak di muka pendapa samping kanan. di antara rumah belakang dengan pendapa terdapat pringgitan. Lesung. ialah bangunan rumah kecil. Dapur (pawon) terletak di sebelah kiri rumah belakang (omah buri). susunan rumah dalam sebuah rumah tangga terdiri dari beberapa bangunan rumah. sedang tamu wanita ditempatkan di rumah belakang. digunakan untuk menerima tamu. Sedang untuk sarong atau kombong terletak di sebelah kiri agak jauh dari pendhapa. Biasanya terletak di sebelah kiri atau kanan Pringgitan. tempat tinggalnya (rumah) masih dilengkapi dengan bangunan lainnya. terletak di depan rumah tempat tinggal. dan sebagainya). untuk tempat binatang ternak (sapi. Halaman yang lega dengan perkerasan pasir atau kerikil sangat bermanfaat untuk penyerapan air hujan. Bagi warga masyarakat umum (kawula dalem) yang mampu. Pringgitan ialah tempat yang digunakan untuk pementasan pertunjukan wayang kulit. Untuk ternak besar disebut kandang. angsa). tempat memasak. bila yang bersangkutan mempunyai kerja (pernikahan. kambing. Terletak di samping kiri atau kanan rumah belakang (pada umumnya terletak di sebelah belakang). Gedhongan biasanya menyambung ke kiri atau ke kanan kandhang. Sedangkan pepohonan yang ditanam seringkali memiliki sasraguna (multi fungsi). kuda. untuk ternak unggas. Kandang bisa terdapat di sebelah kiri pendapa. Kadang-kadang terdapat peranginan. Susunan rumah demikian mirip dengan susunan rumah istana Hindu Jawa. angsa. Selain rumah tempat tinggal (induk). Peranginan ini bagi kebudayaan 101 Jawa . rumah tempat menumbuk padi. Rumah belakang (omah buri) digunakan untuk rumah tempat tinggal. untuk kuda disebut gedhongan. biasanya diletakkan disamping kanan agak berjauhan dengan pendapa. penyaring debu. misal: lumbung. Dalam pertunjukan tersebut tamu laki-laki ditempatkan di pendapa. khitanan. Kandang.ayam dan sebagainya). itik. ada sarong (ayam). terdapat pula bangunan rumah lain yang digunakan untuk keperluan lain dai keluarga tersebut. misalnya Istana Ratu Boko di dekat Prambanan. Bangunan rumah tersebut terdiri dari: pendhapa. Dalam masyarakat Jawa. juga sebagai sumber pangan bagi manusia dan binatang bahkan sering pula dimanfaatkan untuk obat tradisional. disamping bangunan rumah tersebut. peredam angin dan suara.

Biasanya untuk WC ditempatkan agak berjauhan dengan dapur. Setelah prasasti Sukabumi. kandhang. Tetapi setelah kebudayaan 102 Jawa . Dari semua sastra tradisional Nusantara. topengan. gadhok (tempat para pelayan). Isinya ditulis dalam bahasa Jawa Kuna. Sastra Jawa-Sunda. Demikian pula tempat buang air besar/kecil dan kamar mandi dibuatkan bangunan rumah sendiri. sastra Jawa adalah yang paling berkembang dan paling banyak tersimpan karya sastranya. dan sebagainya. dapur. serambi. Selain itu. ada pula Sastra Jawa-Lombok. rumah belakang.pejabat desa bisa digunakan untuk markas ronda atau larag. pringgitan. Besar kecilnya maupun jenis bangunannya dibuat menurut selera serta harus diingat status sosial pemiliknya didalam masyarakat. Kakawin yang tidak lengkap ini adalah sajak tertua dalam bahasa Jawa (Kuna). Kediri. yang berkembang dari Sastra Jawa Tengahan. Pintu masuk pekarangan sering dibuat Regol. Biasanya sejarah sastra Jawa dibagi dalam empat masa: • • • • Jawa Timur. Prasasti yang biasa disebut dengan nama Prasasti Sukabumi ini bertarikh 25 Maret tahun 804 Masehi. dan juga tempat bersantai untuk mencari udara segar dari pemiliknya. sumur dan pendhapa. Demikian sedikit variasi bangun rumah adat Jawa yang lengkap untuk sebuah keluarga. Kemudian terdapat bangunan tempat mandi yang disebut jambang. gedhogan. Sastra Jawa Kuna Sastra Jawa Tengahan Sastra Jawa Baru Sastra Jawa Modern Terdapat pula kategori Sastra Jawa-Bali. ditemukan prasasti lainnya dari tahun 856 M yang berisikan sebuah sajak yang disebut kakawin.5 Karya Sastra SASTRA JAWA Sejarah Sastra Jawa dimulai dengan sebuah prasasti yang ditemukan di daerah Sukabumi (Sukobumi). Sastra Jawa-Madura. Pare. Secara lengkap kompleks rumah tempat tinggal orang Jawa adala rumah belakang. pringgitan. H. pendapa. bangsal. dan Sastra Jawa-Palembang. berupa rumah kecil ditempatkan di samping dapur atau belakang samping kiri atau kanan rumah belakang. lumbung. Hal tersebut sangat bergantung pada kemampuan keluarga.

Kolonel Colin Mackenzie beliau mengumpulkan dan meneliti naskah-naskah Jawa Kuna. Karya-karya sastra Jawa penting yang ditulis pada periode ini termasuk Candakarana. Istilah sastra Jawa Kuna agak sedikit rancu. Di dalam artikel ini.proklamasi RI. kronik (babad). Karya sastra ini ditulis baik dalam bentuk prosa (gancaran) maupun puisi (kakawin). A. Kakawin Ramayana dan terjemahan Mahabharata dalam bahasa Jawa Kuna. Sastra Jawa Kuna Sastra Jawa Kuna meliputi sastra yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuna pada periode kurang-lebih ditulis dari abad ke-9 sampai abad ke-14 Masehi. tahun 1945 sastra Jawa agak dianaktirikan karena di Negara Kesatuan RI. Meski di sini harus diberi catatan bahwa tidak semua prasasti memuat teks kesusastraan. Sastra Jawa Pertengahan adalah masa transisi antara sastra Jawa Kuna dan sastra Jawa Baru. Sastra Jawa Kuna diwariskan dalam bentuk manuskrip dan prasasti. dan kitab-kitab keagamaan. Karya-karya ini mencakup genre seperti sajak wiracarita. di Jawa dan Madura ada pula sastra Jawa Kuna yang terlestarikan. Jadi merupakan sastra Jawa sebelum masa sastra Jawa Pertengahan. Gubernur-Jenderal dari Britania Raya yang memerintah di pulau Jawa. Istilah ini bisa berarti sastra dalam bahasa Jawa sebelum masuknya pengaruh Islam atau pembagian yang lebih halus lagi: sastra Jawa yang terlama. Penelitian ilmiah mengenai sastra Jawa Kuna mulai berkembang pada abad ke-19 awal dan mulanya dirintis oleh Stamford Raffles. Selain sebagai seorang negarawan beliau juga tertarik dengan kebudayaan setempat. Bahkan di Jawa terdapat pula teks-teks Jawa Kuna yang tidak dikenal di Bali. kesatuan yang diutamakan. pengertian terakhir inilah yang dipakai. dimulai dengan Prasasti Sukabumi. undang-undang hukum. Sastra Jawa Kuna yang terlestarikan sampai hari ini sebagian besar diturunkan dalam bentuk naskah manuskrip yang telah disalin ulang berkali-kali. Sehingga mereka jarang yang tertulis dalam bentuk asli seperti pada waktu dibuat kebudayaan 103 Jawa . Manuskripmanuskrip yang memuat teks Jawa Kuna jumlahnya sampai ribuan sementara prasasti-prasasti ada puluhan dan bahkan ratusan jumlahnya. Karya sastra Jawa Kuna sebagian besar terlestarikan di Bali dan ditulis pada naskah-naskah manuskrip lontar. Walau sebagian besar sastra Jawa Kuna terlestarikan di Bali. Bersama asistennya.

7. 856 Kakawin Ramayana ~ 870 Kakawin Arjunawiwaha. tembaga dan lain-lain. Teks kesusastraan tertua pada sebuah prasasti terdapat pada Prasasti Siwagreha yang ditarikh berasal dari tahun 856 Masehi. 1. Namun tidak semua teks-teks ini merupakan teks kesusastraan. 15. 3. Dari masa ini terwariskan sekitar 20 teks prosa dan 25 teks puisi. 14. mpu Kanwa.dahulu. Candakarana Sang Hyang Kamahayanikan Brahmandapurana Agastyaparwa Uttarakanda Adiparwa Sabhaparwa Wirataparwa. kecuali jika ditulis pada bahan tulisan yang awet seperti batu. ~ 1030 Jawa 104 Daftar Karya Sastra Jawa Kuna dalam bentuk puisi (kakawin) kebudayaan . 11. 3. Sebagian besar dari teks-teks ini ditulis setelah abad ke-11. Banyak teks dalam bahasa Jawa Kuna yang terlestarikan dari abad ke-9 sampai abad ke-14. 8. Naskah nipah ini memuat teks Kakawin Arjunawiwaha yang berasal dari abad ke-11. 10. 9. namun isinya bukan merupakan teks kesusastraan. 996 Udyogaparwa Bhismaparwa Asramawasanaparwa Mosalaparwa Prasthanikaparwa Swargarohanaparwa Kunjarakarna Kakawin Tertua Jawa. 12. Daftar Karya Sastra Jawa Kuna dalam bentuk prosa: 1. 5. 2. 13. Prasasti tertua dalam bahasa Jawa Kuna berasal dari tahun 804. 6. 4. Sedangkan naskah manuskrip tertua adalah sebuah naskah daun nipah yang berasal dari abad ke-13 dan ditemukan di Jawa Barat. 2.

1365 Kakawin Arjunawijaya. Kakawin Lubdhaka Kakawin Parthayajna Kakawin Nitisastra Kakawin Nirarthaprakreta Kakawin Dharmasunya Kakawin Harisraya Kakawin Banawa Sekar Tanakung Sastra Jawa Tengahan Sastra Jawa Pertengahan muncul di Kerajaan Majapahit. 11. 4.4. 9. 13. mulai dari abad ke13 sampai kira-kira abad ke-16. mpu "Dusun" Kakawin Nagarakretagama. 15. 1157 Kakawin Hariwangsa Kakawin Gatotkacasraya Kakawin Wrettasañcaya Kakawin Wrettayana Kakawin Brahmandapurana Kakawin Kunjarakarna. 2. 21. 14. B. mpu Sedah dan mpu Panuluh. mpu Tantular Kakawin Siwaratrikalpa. 3. mpu Tantular Kakawin Sutasoma. Pada masa ini muncul karya-karya puisi yang berdasarkan metrum Jawa atau Indonesia asli. Setelah ini. Tantu Panggelaran Calon Arang Tantri Kamandaka Korawasrama Pararaton Jawa 105 Daftar Karya Sastra Jawa Tengahan puisi: kebudayaan . 8. 16. Kakawin Kresnayana Kakawin Sumanasantaka Kakawin Smaradahana Kakawin Bhomakawya Kakawin Bharatayuddha. Karya-karya ini disebut kidung. 18. 7. Daftar Karya Sastra Jawa Tengahan prosa: 1. 5. 23. 24. 10. mpu Prapanca. 19. 22. sastra Jawa Tengahan diteruskan di Bali menjadi Sastra Jawa-Bali. 6. 12. 5. 20. 17.

1. 2. 3. 4. 5. 6. C.

Kakawin Dewaruci Kidung Sudamala Kidung Subrata Kidung Sunda Kidung Panji Angreni Kidung Sri Tanjung Sastra Jawa Baru

Sastra Jawa Baru kurang-lebih muncul setelah masuknya agama Islam di pulau Jawa dari Demak antara abad kelima belas dan keenam belas Masehi. Dengan masuknya agama Islam, orang Jawa mendapatkan ilham baru dalam menulis karya sastra mereka. Maka, pada masa-masa awal, zaman Sastra Jawa Baru, banyak pula digubah karya-karya sastra mengenai agama Islam. Suluk Malang Sumirang adalah salah satu yang terpenting. Kemudian pada masa ini muncul pula karya-karya sastra bersifat ensiklopedis seperti Serat Jatiswara dan Serat Centhini. Para penulis 'ensiklopedia' ini rupanya ingin mengumpulkan dan melestarikan semua ilmu yang (masih) ada di pulau Jawa, sebab karya-karya sastra ini mengandung banyak pengetahuan dari masa yang lebih lampau, yaitu masa sastra Jawa Kuna. Gaya bahasa pada masa-masa awal masih mirip dengan Bahasa Jawa Tengahan. Setelah tahun ~ 1650, bahasa Jawa gaya Surakarta menjadi semakin dominan. Setelah masa ini, ada pula renaisans Sastra Jawa Kuna. Kitab-kitab kuna yang bernapaskan agama Hindu-Buddha mulai dipelajari lagi dan digubah dalam bahasa Jawa Baru. Sebuah jenis karya yang khusus adalah babad, yang menceritakan sejarah. Jenis ini juga didapati pada Sastra Jawa-Bali. Daftar Cuplikan Karya Sastra Jawa Baru Masa Islam:
• • • • • • •

Kidung Rumeksa ing Wengi Kitab Sunan Bonang Primbon Islam Suluk Sukarsa Serat Koja Jajahan Suluk Wujil Suluk Malang Sumirang Jawa 106

kebudayaan

• • • • • • • • •

Serat Nitisruti Serat Nitipraja Serat Sewaka Serat Menak Serat Yusup Serat Rengganis Serat Manik Maya Serat Ambiya Serat Kandha Serat Rama Kawi Serat Bratayuda, Kyai Yasadipura Serat Panitisastra Serat Arjunasasra Serat Mintaraga, Ingkang Sinuwun Pakubuwana III Serat Darmasunya Serat Dewaruci Serat Ambiya Yasadipuran, Kyai Yasadipura Serat Tajusalatin Serat Cebolek Serat Sasanasunu Serat Wicara Keras Serat Kalatidha, Raden Ngabehi Ranggawarsita Serat Paramayoga, Raden Ngabehi Ranggawarsita Serat Jitapsara Serat Pustaka Raja Serat Cemporet Serat Damar Wulan, Raden Panji Jayasubrata, 1871 Serat Darmagandhul Babad Giyanti Babad Prayut Babad Pakepung Babad Tanah Jawi Jawa 107

Masa Renaisans dan sesudahnya:
• • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Babad-Babad:
• • • •

kebudayaan

D.

Sastra Jawa Modern

Sastra Jawa Modern muncul setelah pengaruh penjajah Belanda dan semakin terasa di Pulau Jawa sejak abad kesembilan belas Masehi. Para cendekiawan Belanda memberi saran para pujangga Jawa untuk menulis cerita atau kisah mirip orang Barat dan tidak selalu berdasarkan mitologi, cerita wayang, dan sebagainya. Maka, lalu muncullah karya sastra seperti di Dunia Barat; esai, roman, novel, dan sebagainya. Genre yang cukup populer adalah tentang perjalanan. Gaya bahasa pada masa ini masih mirip dengan Bahasa Jawa Baru. Perbedaan utamanya ialah semakin banyak digunakannya kata-kata Melayu, dan juga kata-kata Belanda. Pada masa ini (tahun 1839, oleh Taco Roorda) juga diciptakan huruf cetak berdasarkan aksara Jawa gaya Surakarta untuk Bahasa Jawa, yang kemudian menjadi standar di pulau Jawa. Daftar Karya Sastra

Lelampahaning Purwalelana, Raden Mas Purwalelana (jeneng sesinglon) 1875-1880

• • • • • •

Rangsang Tuban, Padmasoesastra, 1913 Ratu, Krishna Mihardja, 1995 Tunggak-Tunggak Jati, Esmiet Lelakone Si lan Man, Suparto Brata, 2004 Pagelaran, J. F. X. Hoery Banjire Wis Surut, J. F. X. Hoery

H.6

Wayang

kebudayaan 108

Jawa

serta hiburan. pemahaman filsafat. kulit. Budaya wayang. Jenis-jenis wayang : Selama berabad-abad. Yaitu "Mana yang Isi(Wayang Wong) dan Mana yang Kulit (Wayang Kulit) harus dicari (Wayang Golek)". 3. seni suara. seni musik. yang artinya bayangan. secarik kain. sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan sangat berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity). pendidikan. Pertunjukan wayang telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003. budaya wayang berkembang menjadi beragam jenis. dan juga seni perlambang. Ada versi wayang yang dimainkan oleh orang dengan memakai kostum. kayu. kain. Cerita yang dikisahkan dalam pagelaran wayang biasanya berasal dari Mahabharata dan Ramayana. Para Wali di Tanah Jawa sudah mengatur sedemikian rupa menjadi tiga bagian. Wayang Wong atau Wayang Orang di Jawa Tengah. yang dikenal sebagai wayang orang. seni pahat. antara lain yang terbuat dari kertas. hiburan. Wayang Kulit di Jawa Timur 2. Kata `wayang' diduga berasal dari kata `wewayangan'. dan penonton di balik kelir itu. Budaya wayang meliputi seni peran. Wayang. Dugaan ini sesuai dengan kenyataan pada pergelaran Wayang Kulit yang menggunakan kelir. juga merupakan media penerangan.Wayang adalah seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Pulau Jawa dan Bali. seni tutur. oleh para pendahulu negri ini sangat mengandung arti yang sangat dalam sekali. Wayang Golek di Jawa Barat Masing masing sangat bekaitan satu sama lain. dan juga kebudayaan 109 Jawa . sebagai pembatas antara dalang yang memainkan wayang. 1. dakwah. Sunan Kali Jaga dan Raden Patah sangat berjasa dalam mengembangkan Wayang. seni sastra. Kebanyakan jenis jenis wayang itu tetap nenggunakan Mahabarata dan Ramayana sebagai induk ceritanya. Wayang yang dimainkan dalang ini diantaranya berupa wayang kulit atau wayang golek. dan ada pula wayang yang berupa sekumpulan boneka yang dimainkan oleh dalang. Penonton hanya menyaksikan gerakan-gerakan wayang melalui bayangan yang jatuh pada kelir. Sedangkan alat peraganya pun berkembang menjadi beberapa macam. seni lukis. yang terus berkembang dari zaman ke zaman.

Wayang Beber Berupa selembar kertas atau kain yang berukuran sekitar 80 cm X 12 meter. Agar lembaran wayang itu tidak lemas. Kerangka itu disebut cempurit. Wayang Kulit Purwa mengambil cerita dari kisah Mahabarata dan Ramayana.Wayang Papak . -Wayang Kulit -Wayang Golek/ Wayang Thengul Bojonegoro -Wayang Krucil -Wayang Purwa -Wayang Beber -Wayang Orang -Wayang Gedog -Wayang Sasak -Wayang Calonarang -Wayang Wahyu -Wayang Menak .Wayang Sadat . Jenis wayang ini tersebar hampir di seluruh Jawa dan daerah transmigrasi. terbuat dari tanduk kerbau atau kulit penyu.Wayang Suluh . Satu gulung wayang beber biasanya terdiri atas 16 adegan. yang digambari dengan beberapa adegan lakon wayang tertentu. Wayang Beber pada umumnya menceritakan kisah Panji. bahkan juga di Suriname di benua Amerika bagian selatan.Wayang Klitik . Pergelaran Wayang Kulit Purwa diiringi dengan seperangkat gamelan sedangkan penyanyi kebudayaan 110 Jawa . Wayang Kulit Purwa Merupakan jenis wayang yang paling populer di masyarakat sampai saat ini.Wayang Madya .Wayanng Parwa . 2.Wayang Orang. Peraga wayang yang dimainkan oleh seorang dalang terbuat dari lembaran kulit kerbau (atau sapi) yang dipahat menurut bentuk tokoh wayang dan kemudian disungging dengan warna warni yang mencerminkan perlambang karakter dari sang Tokoh.Wayang Kancil 1.Perkembangan jenis wayang ini juga dipengaruhi oleh keadaan budaya daerah setempat. Pada saat pergelaran bagian gambar yang menampilkan adegan lakon itu dibuka dari gulungannya. dan sang Dalang menceritakan kisah yang terlukis dalam setiap adegan itu. digunakan "kerangka penguat" yang membuatnya kaku.

melainkan dari Kitab Menak. pada zaman pemerintahan Mangkunegoro VII. walaupun tubah dan sorban Arab juga digunakan. antara lain dengan memberinya kuluk. 5. peraga Wayang Golek Menak diberi pakaian mirip dengan Wayang Kulit Purwa. Yang berbeda benar adalah induk kebudayaan 111 Jawa . Anggapan itu disebabkan karena Wayang Krucil juga terbuat dari kayu pipih. cempuritnya merupakan kelanjutan dari bahan kayu pembuatan wayangnya. juga menggunakan peraga wayang berbentuk boneka kecil. Pementasan Wayang Klitik juga diiringi oleh gamelan dan pesinden. Wayang Menak juga ada yang dirupakan dalam bentuk kulit. seorang dalang dari Baturetno. Selain berupa golek. Hanya bagian tangan peraga wayang itu bukan dari kayu pipih melainkan terbuat dari kulit.wanita yang menyanyikan gending-gending tertentu. Latar belakang cerita Menak adalah negeri Arab. Walaupun tokoh ceritanya sebenarnya orang Arab. pada masa perjuangan Nabi Muhammad SAW menyebarkan agama Islam . Induk ceritanya bukan diambil dari Kitab Ramayana dan Mahabarata. Wayang Klitik Terbuat dari kayu pipih yang dibentuk dan disungging menyerupai Wayang Kulit Purwa. jamang. Wayang ini diciptakan oleh Ki Trunadipa. tetapi tanpa menggunakan kelir sehingga penonton dapat melihat secara langsung. Wayang Krucil Sering dianggap sama dengan Wayang Klitik. 4. Wayang ini diciptakan orang pada tahun 1648. disebut pesinden atau waranggana. Surakarta. dsb. agar lebih awet dan ringan menggerakkannya. Pada Wayang Klitik. 3. Wayang Golek Menak Disebut juga Wayang Tengul. sumping.

Syahrir. saat ini sudah hampir punah. Wayang ini mengambil lakon dari cerita Injil. bahasa Jawa. dan Jenderal Sudirman. baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Bahasa pengantarnya. bukan dari Ramayana atau Mahabarata. antara lain adalah Samson Ian Delilah. di antara tokoh peraganya. Wayang Orang adalah perwujudan drama tari dari Wayang Kulit Purwa. Wayang Krucil mengambil lakon dari cerita Damarwulan.cerita yang diambil untuk lakon-lakonnya. dan David Ian Goliat. Bung Hatta. Wayang Wahyu Mempunyai bentuk peraga wayang terbuat dari kulit. 7. 8. Karena itu. Wayang Suluh Suluh tergolong wayang modern. antara lain terdapat Bung Karno. tetapi corak tatahan dan sunggingannya agak naturalistik. 6. Pada mulanya. kebudayaan 112 Jawa . Dari segi cerita. Penggambaran tokoh Wayang Suluh dibuat realistik. semua penari Wayang Orang adalah penari pria. yakni pertengahan abad ke-18. Baik Wayang Krucil maupun Wayang Klitik. Wayang Orang Adalah seni drama tari yang mengambil cerita Ramayana dan Mahabarata sebagai induk ceritanya. tidak ada penari wanita. karena baru tercipta setelah zaman kemerdekaan. Di antara lakonnya. Jadi agak mirip dengan pertunjukan ludruk di Jawa Timur dewasa ini. Bung Tomo. Wayang ini dimaksudkan sebagai media penerangan mengenai sejarah perjuangan bangsa.

Hanya sisa-sisa peraganya saja yang masih bisa dilihat di beberapa museum dan Keraton Surakarta. kebudayaan 113 Jawa . Itulah sebabnya. Padahal. Di antara tokoh-tokoh ceritanya. tetapi mengambil lakon dari cerita-cerita Panji. kelir dan gedebog. Wayang ini amat mirip dengan Wayang Kulit Purwa. sebagian orang menamakan Wayang Gedog ini Wayang Panji. Prabu Klana Madukusuma. Dengan demikian Wayang Wahyu praktis tidak berkembang. Perkembangan Wayang Wahyu amat terbatas pada lingkungan masyarakat beragama Katolik. antara lain adalah Prabu Lembu Hamiluhur. Para dalangnya pun pada umumnya juga merangkap sebagai dalang Wayang Kulit Purwa. itu pun yang berasal dari suku bangsa Jawa. dan Raden Gunungsari. boleh dibilang sudah punah. diiring oleh seperangkat gamelan dan pesinden. 9. Wayang ini. tidak semua orang Jawa menyukai wayang. Wayang Gedog Diciptakan oleh Sunan Giri di tandai candra sengkala Gegamaning Naga Kinaryeng Bathara: 1485 caka (1568 M).Pergelaran Wayang wahyu hampir serupa dengan Wayang Kulit Purwa.

Wayang Kulit Wayang kulit adalah seni tradisional Indonesia. 11.10. Dalang memainkan wayang kulit di balik kelir. yakni Iedjar Subroto tetap berusaha mempopulerkannya. yaitu layar yang terbuat dari kain putih. dibuat dan disungging oleh Lie To Hien. penonton harus memiliki pengetahuan akan tokoh-tokoh wayang yang bayangannya tampil di layar. Untuk dapat memahami cerita wayang(lakon). Wayang yang juga terbuat dari kulit itu. dengan diiringi oleh musik gamelan yang dimainkan sekelompok nayaga dan tembang yang dinyanyikan oleh para pesinden. diciptakan tahun 1925 oleh seorang keturunan Cina bernama Bo Liem. Jenis Wayang Kulit menurut asal daerah di Jawa : • • Wayang Jawa Yogyakarta Wayang Jawa Surakarta Jawa 114 kebudayaan . Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang. yang terutama berkembang di Jawa dan di sebelah timur semenanjung Malaysia seperti di Kelantan dan Terengganu. meskipun seorang seniman. menggunakan tokoh peraga binatang. sehingga para penonton yang berada di sisi lain dari layar dapat melihat bayangan wayang yang jatuh ke kelir. Cerita untuk lakon-lakon para Wayang Kancil diambil dari Kitab Serat Kancil Kridamartana karangan Raden Panji Natarata. Wayang Kancil termasuk di antara jenis wayang yang tidak berkembang. Wayang Kancil Termasuk wayang moderen. sementara di belakangnya disorotkan lampu listrik atau lampu minyak (blencong).

sulukan dan properti panggung ) . Petruk Krama dan lain-lain selain itu pula wayang Gagrag Banyumasan lebih menonjolkan peran para muda dalam penyelesaian kasus-kasus dan permasalahan. Pakeliran Gagrag Banyumasan. mempunyai nuansa kerakyatan yang kental sebagaimana karakter masyarakatnya . yang kualitasnya selalu terjaga dan ditangani sungguhsungguh oleh para pakar yang memahami benar. lakon wayang ( penyajian alur cerita dan maknanya). karawitan ( gendhing. yang lebih dikenal dengan istilah pakeliran. devosional dan hiburan. catur ( narasi dan cakapan) . Contoh gambar wayang : kebudayaan 115 Jawa .• Wayang Kulit Gagrag Banyumasan Wayang Kulit Gagrag Banyumasan merupakan salah satu gaya pedalangan di tanah Jawa. jujur dan terus terang . Dalam Wayang Gagrag Banyumasan mempunyai ciri khas dalam penceritaan yang lebih memperjelas peran rakyat kecil yang dimanivestasikan dalam tokoh punakawan seperti cerita Bawor Dadi Ratu. dan berperan sebagai bentuk seni klangenan serta dijadikan wahana untuk mempertahankan nilai etika. sabet ( seluruh gerak wayang). karena memperoleh simpati dan dicintai masyarakatnya. merupakan ekspresi dan sifatnya lebih bebas. Pakeliran ini mencakup unsurunsur yaitu. dan hidup serta berkembang di daerah eks Karesidenan Banyumas. Cerita Srikandi Mbarang Lengger' yang merupakan terusan lakon Srenggini Takon Rama adalah salah satu contoh kongkrit bahwa peran pemuda seperti Antasena dan Wisanggeni menjadi sangat sentral. serta lugas dan mampu bertahan sampai saat ini dalam menghadapi perubahan jaman. sederhana.

rasukan mesiran. Dalam busana Jawa ini tersembunyi ajaran untuk melakukan segala sesuatu di dunia ini secara harmoni yang berkaitan dengan aktivitas seharihari. Untuk beberapa tipe blangkon ada yang menggunakan tonjolan pada bagian belakang blangkon. baik dalam hubungannya dengan sesama manusia. diri sendiri maupun Tuhan Yang Maha Kuasa Pencipta segalanya. Masing-masing jenis rasukan Jawa ini mempunyai makna perumpamaan atau melambangakn nilai-nilai luhur filosofi Jawa. • 1 Bagian ndhuwur/bagian atas (Penutup Kepala)  Iket atau blangkon Blangkon adalah tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional Jawa. sehingga bagian tersebut tersembul di bagian belakang blangkon.7 Pakaian Adat Rasukan adat Jawa Rasukan adat Jawa atau pakaian adat Jawa yang umumnya disebut rasukan kejawen yang sudah ada sejak jaman dahulu dan mulai terbentuk lengkap pada jaman kerajaan demak. Pakaian adat Jawa ini mempunyai perlambang tertentu bagi orang Jawa. Cara kebudayaan 116 Jawa . Tonjolan ini menandakan model rambut pria masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka di bagian belakang kepala.Batara Guru (Siwa) dalam bentuk seni wayang Jawa. Pada umumnya rasukan Jawa dibagi menjadi 4 bagian yaitu. Busana Jawa penuh dengan piwulang sinandhi (ajaran tersamar) kaya akan ajaran Jawa. Selain rasukan kejawen juga ada rasukan surjan. rasukan basahan dan rasukan gedhog. Untuk bagian kepala selain menggunakan blangkon biasanya orang Jawa kuna (tradisional) mengenakan "iket" yaitu ikat kepala yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menjadi penutup kepala. H.

Apapun yang akan dilakukan hendaklah jangan sampai merugikan orang lain.mengenakan iket harus kenceng (kuat) supaya ikatan tidak mudah terlepas. Menanggapi setiap masalah harus hati-hati. Udheng dari kata kerja Mudheng atau mengerti dengan jelas. Selain itu udheng juga mempunyai arti bahwa manusia seharusnya mempunyai ketrampilan dapat menjalankan pekerjaannya dengan dasar pengetahuan yang mantap atau mudheng. iket dan udheng sulit dibedakan karena ujud dan fungsinya sama. tidak mudah terombang-ambing hanya karena situasi atau orang lain tanpa pertimbangan yang matang. Dengan kata lain hendaklah manusia mempunyai ketrampilan yang profesional. tidak grusa-grusu (emosional) Wiru Jarik atau kain dikenakan selalu dengan cara mewiru (meripel) pinggiran yang vertikal atau sisi saja sedemikian rupa. Maksudnya agar manusia mempunyai pemikiran yang kukuh.  Jarik lan wiron utawa wiru Jarik atau sinjang merupakan kain yang dikenakan untuk menutup tubuh dari pinggang sampai mata kaki. mengerti dan memahami tujuan hidup dan kehidupan atau sangkan paraning dumadi. Jika sudah dikenakan di atas kepala.  Udheng Udheng juga dikenakan di bagian kepala dengan cara mengenakan seperti mengenakan sebuah topi. Jarik bermakna aja gampang serik (jangan mudah iri terhadap orang lain). Makna iket dimaksudkan manusia seyogyanya mempunyai pemikiran yang kenceng. menjaga antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum. dapat . Wiru kebudayaan 117 Jawa . Lambang yang tersirat dalam benik itu adalah agar orang (Jawa) dalam melakukan semua tindakannya apapun selalu diniknik. diperhitungkan dengan cermat. faham. • 2 Bagian tengah (bagian tengah)  Rasukan utawa kelambi uga benik (pakaian dan juga kancing baju) Busana kejawen seperti beskap selalu dilengkapi dengan benik (kancing baju) disebelah kiri dan kanan.

teliti dan cermat sehingga dapat memahami dengan jelas.  Timang Timang bermakna bahwa apabila ilmu yang didapat harus dipahami dengan jelas atau gamblang.  Sabuk Sabuk (ikat pinggang) dikenakan dengan cara dilingkarkan (diubetkan) ke badan. Selama menempuh ilmu upayakan untuk tekun. dimaksudkan wiwiren aja nganti kleru. kerjakan segala hal jangan sampai keliru agar bisa menumbuhkan suasana yang menyenangkan dan harmonis. Karena diletakkan di bagian belakang tubuh. harus epek (apek. • 3 Bagian mburi (bagian belakang)  Curiga atau keris dan rangka Curiga atau keris berujud wilahan. bilahan dan terdapat di dalam warangka atau wadahnya. keris mempunyai arti bahwa dalam menyembah Tuhan Yang Maha Kuasa hendaklah manusia bisa untuk kebudayaan 118 Jawa . manunggaling kawula Gusti. Ini mengandung pengertian bahwa jarik tidak bisa lepas dari wiru. Jadi harus ubed atau gigih.atau wiron ( rimple ) diperoleh dengan cara melipat-lipat (mewiru). Untuk itulah manusia harus ubed (bekerja dengan sungguh-sungguh) dan jangan sampai kerjanya tidak ada hasil atau buk (impas/tidak ada keuntungan). golek. tidak akan ada rasa samang (khawatir) samang asal dari kata timang. Keris ini mempunyai pralambang bahwa keris sekaligus warangka sebagaimana manusia sebagai ciptaan dan penciptanya Yatu Allah Yang Maha Kuasa. Kata sabuk berarti usahakanlah agar segala yang dilakukan tidak ngebukne.  Epek Epek bagi orang Jawa mengandung arti bahwa untuk dapat bekerja dengan baik. Curiga dikenakan di bagian belakang badan. Ajaran ini tersirat dari sabuk tersebut adalah bahwa harus bersedia untuk tekun berkarya guna memenuhi kebutuhan hidupnya. mencari) pengetahuan yang berguna.

pakaian itu diterima di budaya dan norma setempat. nyonya kebaya kebudayaan 119 Jawa . kebaya adalah pakaian yang hanya dikenakan keluarga kerajaan di sana. dan Sulawesi. atau pakaian rajutan tradisional lainnya seperti songket dengan motif warna-warni. hendaklah dari lahir sampai batin sujud atau manembah di kaki-NYA. di Pulau Jawa. Lalu menyebar ke Malaka. Sumatera. Canela selalu dikenakan di kaki. Sebelum 1600. artinya dalam menyembah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. bebed artinya manusia harus ubed. wanita-wanita Eropa mulai mengenakan kebaya sebagai pakaian resmi. berhati-hati terhadap segala hal yang dilakukan dan "tumindak nggubed ing rina wengi" (bekerja sepanjang hari) Kebaya Kebaya adalah blus tradisional yang dikenakan oleh wanita Indonesia dan Malaysia yang terbuat dari bahan tipis yang dikenakan dengan sarung. Bali. Dalam hati hanyalah sumeleh (pasrah) kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. rajin bekerja. Jawa. Selama masa kendali Belanda di pulau itu. Selama masa ini. Kini.  Bebed Bebed adalah kain (jarik) yang dikenakan oleh laki-laki seperti halnya pada perempuan. Selop. Mereka mengenakannya dengan sarung dan kaus cantik bermanik-manik yang disebut "kasut manek". atau sandal. Dipercaya kebaya berasal dari Tiongkok ratusan tahun yang lalu. Setelah akulturasi yang berlangsung ratusan tahun. kebaya diubah dari hanya menggunakan barang tenunan mori menggunakan sutera dengan sulaman warna-warni. batik. selop atau sandal Canela mempunyai arti "Canthelna jroning nala" (peganglah kuat dalam hatimu) canela sama artinya Cripu. • 4 Bagian ngisor (bagain bawah)  Canela yaitu: cripu.ngungkurake godhaning setan yang senantiasa mengganggu manusia ketika manusia akan bertindak kebaikan. Pakaian yang mirip yang disebut "nyonya kebaya" diciptakan pertama kali oleh orang-orang Peranakan dari Melaka.

Pada tahun 1600. Kita perlu menilik penyebaran dan masuknya Islam di Indonesia (abad ke-15) untuk mengetahui perkembangan Kebaya modern saat ini. Kebaya yang dimodifikasi itu malah bisa dikenakan dengan jins atau rok. Yogyakarta.sedang mengalami pembaharuan. Kebaya Indonesia Menurut Denys Lombard dalam bukunya Nusa Jawa: silang Budaya (1996) Kebaya berasal dari bahasa Arab ‘Kaba’ yang berarti ‘pakaian’ dan diperkenalkan lewat bahasa Portugis ketika mereka mendarat di Asia Tenggara. kebaya dikenakan secara resmi oleh keluarga Kerajaan. kebaya menjadi busana yang populer dan bahkan menjadi simbol status. Setelah penyebaran agama Islam. dan pengaruh ini ditularkan setelah imigrasi besar-besaran menyambangi semenanjung Asia Selatan dan Tenggara di abad ke13 hingga ke-16 Masehi. Terpisah dari kebaya tradisional. meski dalam beberapa acara adat harus berbusana seperti itu lagi. Sementara sebagian yang lain percaya Kebaya ada kaitannya dengan pakaian tunik perempuan pada masa kekasiran Ming di Tiongkok. Dokumentasi lama milik keluarga kerajaan dan keraton (Surakarta. sementara bros serangkai (tiga berjajar) tersemat di bagian depan membentuk suatu penutup. Lampung. Kata Kebaya diartikan sebagai jenis pakaian (atasan/blouse) pertama yang dipakai wanita Indonesia pada kurun waktu abad ke-15 atau ke-16 Masehi. Dugaan kuat mengatakan Kebaya awalnya merupakan atasan panjang berbentuk tunik sederhana yang menjulur dari leher hingga lutut (baju kurung). Cirebon) di tanah Jawa masih merekam Kebaya panjang ini dengan beberapa ornamen kenegaraan yang terpasang di beberapa sisinya (abad ke-19). Gelang dan jam dikenakan diluar lengan Kebaya. perancang mode sedang mencari cara memodifikasi desain dan membuat kebaya menjadi pakaian yang lebih modern. dan juga terkenal di antara wanita non-Asia. Kebiasaan berbusana macam itu juga ikut tergeser. Dokumentasi lama kerajaan Islam Cirebon. Argumen Lombard tentu berterima terutama lewat analogi penelusuran lingustik yang toh sampai sekarang kita masih mengenal ‘Abaya’ yang berarti tunik panjang khas Arab. Pakaian semacam ini serta-merta menggeser kemben tradisional. Jawa). terutama di Bali. Di beberapa pelosok Indonesia bahkan bisa ditemukan wanita yang tampil tanpa atasan apapun (Bali. Surakarta maupun Jogjakarta menunjukkan penggunaan busana ini bagi keluarga kerajaan. Keislaman sangat kuat memengaruhi siluet Kebaya di awal-awal perkembangannya. Hal ini mengingatkan kita akan Abaya dan kebaya Melayu. Jenis ini kebudayaan 120 Jawa .

di manapun tampil berkebaya. Perlahan namun pasti. Namun beludru. Hampir semua wanita. terutama jenis putu baru dan Kebaya encim yang masih ada jejaknya sekarang ini. Dengan warna jingga salem-nya. Tiongkok. awal tahun 90-an Ghea kebudayaan 121 Jawa . dan sentimen Soekarno sendiri pada Barat membatasi jalur pertukaran komoditi Eropa dan Indonesia. Citra nasional yang dibawa Kebaya begitu kuatnya. Kebaya menjadi seragam resmi organisasi ini. Para wanita terdidik yang dekat dengan pemerintahan Soekarno saat itu banyak mengenakan aneka kebaya. Terusan modern dan kemejakemeja wanita lebih digemari ketimbang Kebaya.akhirnya merambah permainan bahan. meski beberapa desainer lokal macam Iwan Tirta mencoba melestarikannya. Yang terlihat adalah aneka corak dan warna-warna Kebaya yang beragam. Kebaya tersingkir dalam kotak eksklusif Dharmawanita (organisasi wanita istri pegawai negeri yang terbentuk sejak tahun 1974). Hingga tahun 1980-an Kebaya semakin terkucil di kalangan istri Militer dan pegawai negeri. baik itu di kantor. dan katun halus kemudian menggantikan bahan-bahan keras tadi sesuai dengan masuknya koloni Eropa ke Indonesia dan membuka jalur perdagangan tekstil antar negara (sejak abad ke-18). Potongan dan pola-pola lama kembali meruak meski masih memegang pakem-pakem yang tercipta dari abad sebelumnya. Sebagian orang menanggapi kondisi ini sebagai masa-masa keemasan Kebaya sampai tahun 1960-an. Peralihan kekuasaan dari tangan Soekarno ke pemerintahan Orde Baru di bawah Soeharto tahun 1965 menempatkan Kebaya di posisi lemah. Citracitra dan simbol-simbol yang diemban Kebaya di masa Soekarno membuat ia dijauhi. Belum pulih benar Kebaya dari trauma politiknya. tetapi melekat pada kaum aristrokrat tertentu yang berpihak pada Soekarno. India. Kebaya menjalar menjadi nasionalis dan bernafas kemerdekaan. ia harus mengalami sekali lagi pukulan itu. Kabar baiknya adalah peran informasi dan pertukaran komoditi antar negara kembali terbuka lebar. Tidak memakan waktu lama. Sentimen Barat pada Soekarno. di rumah. dan sebagian Asia Tenggara mendominasi pasar tekstil Indonesia. Kaum perempuan yang merasa tidak terlibat dengan gejolak politik Orde Lama (Soekarno) memilih untuk tidak mengenakan Kebaya. Dari sekedar tradisional yang pribumi. sutra. Lagi-lagi faktor politik berkecamuk. Revolusi besar kemerdekaan Indonesia tahun 1945 membawa Kebaya pada konstelasi nasionalis yang lebih absolut. Tinggal bagaimana tangan-tangan kreatif anak Bangsa memanfaatkannya. Katun kasar dan tenun tradisional tentu saja menjadi cikal bakalnya.

dan garis luar berubah beragam-ragam. sifon. Bagai bola liar. renda. pertemuan formal kenegaraan. dia yang menang. Kekangan adalah barang haram di masa ini. hal ini baik. Kebaya macam ini. batu-batu mulia dan bulu binatang (ostrich’s feathers/cincila fur) hadir bersama taknik aplikasi yang kebudayaan 122 Jawa . cutting. shantung. kristal. Kita harus mencermati trend brokat (lace). Reformasi dipahami sebagai era kebebasan. Kebaya adalah genre khas dari dunia fesyen yang menjanjikan. Ia memanfaatkan bahan sutra organdi dan serat-serat alam lain yang tergolong mewah menjadi Kebaya. Banyak pranata yang dijungkirbalikan. Untuk beberapa alasan. dan unsur metal. memiliki predikat khusus. memelajarinya. siluet. dan kemudian berkreasi dengannya. Mereka mulai meliriknya. Di kalangan elit dan perempuan berpendidikan. Teknik bordir. maupun kenegaraan. Setelah 32 Tahun memerintah Indonesia. pilin. hingga acara-acara eksklusif yang mengusung citra Indonesia secara konsensus-tersembunyi mewajibkan Kebaya sebagai kode busananya. Secara pola. Ia sah digunakan di acara-acara formal baik bersifat pribadi. teknik aplikasi. drapery. Hal ini kemudian memancing kompetisi antar desainer. Desainer-desainer Indonesia sepakat. Reformasi membawa angin segar sekaligus liar. Keluar dari sekedar organza dan katun. Yang tandang dengan banyak ide. yang kemudian banyak juga dikembangkan oleh desainer lokal lain. Tahun 90-an pula Kebaya mulai mendapat tempat yang lebih luas.Panggabean melakukan eksperimen berarti pada Kebaya. Dunia pernikahan. lace. Dalam lingkup kelas atas. Kuncinya adalah inovasi! Sepertinya tuntutan kreasi dan aksentuasi dari para pemakai juga menjadi faktor besar yang mendorong Kebaya kembali ke era abad-19—masa dimana Kebaya punya kebebasan untuk berkembang. lipit. Soeharto undur. nanas. Bahkan dipandang mempunyai janji ekonomi yang besar. Kebaya merambah ke jalur sutra. Digalilah kreasi-krasi baru yang segar dari banyak sumber untuk mempercantik Kebaya. keluarga. hingga serat-serat yang tak terbayangkan sebelumnya seperti jute. dan pencampuran bahan sebagai cikal bakal revolusi Kebaya di tahun 2000-an. pisang. Kreatifitas tak terbendung yang dicontohkan oleh para pemimpin setelah Soeharto dan dunia politik juga diikuti masyarakatnya. bordir. Hingga akhirnya pemanfaatan material mewah macam payet. Keterbukaan pikiran menjadi titik tolak semua kegiatan di masa-masa 1997-2002. layer hingga quilt ikut mewarnai kemegahan Kebaya. perubahan besar itu juga diikuti dengan pemanfaatan bahan baku.

Sedangkan cara modern merupakan suatu cara dimana pengrajin batik menggunakan cap yang menulis batik sehingga proses pengerjaannya lebih cepat. Kebaya semata-mata menganut faham kreatifitas yang feminis. punya daya pandang dan tempatnya masing-masing. Teknik aplikasi membuka kesempatan Kebaya sebagai benda seni yang bisa dihiasi apa saja—bahkan berlian jika memungkinkan. sampai aksesorisnya. Cara Tradisional adalah suatu cara dimana pengrajin batik masih menggunakan canting untuk menulis batik dan menggunakan malam sebagai bahan untuk menulis. Batik Darimanakah kata Batik ?.revolusioner. Batik adalah kata dari bahasa Indonesia. Bahkan ada satu Kebaya yang memiliki berat hingga 22 Kg. sehingga batik adalah asli dari Indonesia walaupun banyak beredar sekarang batik Malaysia sampai Myanmar. Secara kualitas batik yang dibuat dengan menggunakan cara tradisional akan lebih bagus kualitasnya. material dan bahan. Batik merupakan busana hasil kerajinan rakyat dimana batik dibuat dengan menggunakan cara tradisional dan cara modern. kreasi tanpa batas sangat mungkin dikerjakan. kebudayaan 123 Jawa . bahkan adat istiadat. Kebaya tercipta sebagai karya seni. Tanpa harus terpengaruh imbas politik. Kata ""tik" dari "setitik" berarti sedikit menggambarkan proses yang bertingkat sedikit demi sedikit. ekonomi. seperti banyak masyarakat Indonesia era 2000-an. Lewat banyak teknik dan potongan. Dengan teknik yang satu ini. karena kerumitan detail yang melekat padanya. tepatnya Ambatik (bahasa Jawa yang berarti menggambar dan melukis). Batik pada prinsipnya merupakan proses pencelupan dan pencucian dan menggunakan malam sebagai bahan dasar. Harga batik yang dibuat dengan cara tradisional pun lebih mahal. Ia kini. Kebaya memasuki masa revolusinya sendiri.

lalu diperbaiki dan diperhalus. Harjonagoro (Go Tik Swan) yang pernah hidup di antara rakyat jelata (antara lain para pengrajin batik di rumah kakeknya) maupun lingkungan keraton. Canthing yang bermoncong satu untuk membuat garis. kebudayaan 124 Jawa . contohnya upacara pernikahan. Canthing biasanya berbentuk seperti mangkuk kecil dengan tangki (pegangan) terbuat dari kayu atau bambu dan bermoncong satu atau lebih. Baru kemudian timbul falsafah batik yang tidak berpijak pada pertanian. canthing dan malam ‘sebangsa cairan lilin’. mestinya diberi kesempatan mendapat bagian dari batik. pemakaman atau hari peringatan. yang kini sudah bergeser menjadi masyarakat industri agraris dan sepanjang masa sengsara."Falsafah batik sebenarnya berakar pada petani. yaitu masyarakat pertanian. yang dibawa masuk ke keraton. sering simbolis. mestinya harus mengalir kembali ke asalnya. dan digunakan untuk acara formal tertentu. Canthing Seni batik pada dasarnya merupakan seni lukis dengan bahan: kain. Ada banyak motif yang berbeda. Masyarakat itu. sedangkan canthing yang bermoncong beberapa (dapat sampai tujuh) dipakai untuk membuat hiasan berupa kumpulan titik-titik. setiap motif mampunyai arti khusus. Batik Surakarta Batik adalah bentuk seni klasik yang ruwet dan sudah lama sekali sangat penting di dalam adat Java." "Karena berasal dari petani." Begitu keyakinan KRT. titik atau cerek.

atau gabungan/combinasi tangan dan cap. cara tradisi dan cara modern. Setelah malamnya menjadi keras. Capnya.25 x 1. pertama-tama harus dibuat cap tembaga. dengan tangan. menggunakan alat tembaga khusus untuk menggambar. Untuk hasil dari batik cap disebut batik cap. dan hasilnya sama baiknya. Ada tiga dasar utama untuk menerapkan malam. Cap ini digunakan untuk proses pemalaman. Pola digambar pada kain dengan malam yang dicairkan.25 meter membutuhkan 60-90 hari untuk membuatnya. dengan merebus malam keras pada kain dan menciptakan sebuah pola baru. sekarang. H. cap atau batik combinasi. Sering sangat sulit untuk membedakan antara tulis. dengan sebuah cap tembaga. Cara ini dilakukan berulang kali. Batik-batik yang digambar dengan tangan disebut batik tulis memerlukan 2-3 bulan untuk membuatnya.8 Keris kebudayaan 125 Jawa . yaitu sepotong kain 2. Juga terdapat dua cara untuk membuat batik tulis. itu menjadi melawan celup. sedangkan bagian yang dimalam masih sama. Ketiga cara merupakan bentuk seni yang menarik. dapat digunakan untuk lebih dari satu kain. tergantung jenis pola dan berapa warnawarna yang diinginkan. Cap dibuat dengan tangan dan juga proses memalaman.Batik adalah cara yang melawan celup. Capnya sendiri sering diperlihatkan sebagai seni. kainnya tanpa malam bisa dicelup. lebih murah dan lebih cepat.

Fungsi Zaman sekarang fungsi dari sebuah keris sudah mulai berkurang. bahkan sebelum Kerajaan Majapahit (abad ke-13). keluarga dan membela Negara. keris Jawa sudah mempunyai wajud yang sempurna saat kerajaan majapahit. selain itu. Keris. Keris adalah bagian integral dari upacara Jawa. Di zaman dulu selain menjadi senjata. atau pisau belati. Keris dipakai oleh lelaki untuk peristiwa penting dan tatacara tradisionil. adalah hasil kegaiban yang lain dari Jawa kuno. keris juga bisa diguanakan sebagai tanda status sosial. Sajarah Belum ada penelitian yang berhasil menentukan kapan orang Jawa mulai mengenal keris. Keriss mempunyai makna jantan perkasa dan dewasa. apalagi jika yang memberikannya adalah raja. wisma. dahulu keris juga bisa menjadi simbol persaudaraan yang ditandai upacara tukar-menukar keris yang merupakan simbol persaudaraan yang paling luhur Fungsi keris lainnya adalah keris dianggap azimat dan media penghubung antara dunia manusia dengan dunia mistis (mahluk gaib) Bagian-bagian keris kebudayaan 126 Jawa . sanggup melindungi diri sendiri. keris menjadi lambing kepangkatan serta bisa dijadikan sebagai hadiah yang paling istimewa. Keahlian membuat pisau belati Jawa berawal dari masa kuno. Pada zaman dahulu. wanita dan kukila. atau lakilaki Jawa itu harus tangguh.Keris atau tosan aji adalah salah satu senjata tradisional masyarakat Jawa serta menjadi salah satu lambang utama seorang laki-laki selain turangga. pada umunya hanya menjadi barang koleksi atau sebagai perlengkapan upacara-upacara dan ritual adat. jenjang pangkat serta sebagai hadiah.

dan dilihat dari bentuknya keris dapat dibagi dua golongan besar. dimana ganja mewakili lambang yoni sedangkan pesi melambangkan lingganya. Ragam bentuk ganja ada bermacam-macam. yang biasanya disebut dapur. bentuknya bulat panjang seperti pensil. bagian perut disebut wetengan dan ekornya disebut sebit ron. dimulai dari pangkal keris ke arah ujung keris. dll. atau penamaan ragam bentuk pada wilah-bilah (ada puluhan bentuk dapur). jamang murub. bungkul . Ukiran pada bagian-bagian keris Jawa mempunyai makna dan karakter yang berbeda-beda. yang merupakan ujung bawah sebilah keris atau tangkai keris. dan yang terkecil adalah luk tiga (3) dan terbanyak adalah luk tiga belas (13). bisa disebutkan dapur jangkung mayang. masing masing bagain mempunyai bagian-bagian lagi yang lebih detil yang biasanya berupa ukiran. yaitu keris yang lurus dan keris yang bilahnya berkelok-kelok atau luk. pinarak. dan juga terdiri dari bagian-bagian tertentu yang tidak sama untuk setiap wilahan. Di daerah Jawa Timur disebut paksi. wilut . Pada pangkal (dasar keris) atau bagian bawah dari sebilah keris disebut ganja (untuk daerah semenanjung Melayu menyebutnya aring). Bagian-bagian keris itu antara lain. adalah bagian yang berkelok dari wilah-bilah keris. Pesi ini panjangnya antara 5 cm sampai 7 cm. jaka lola . Jika ada keris yang jumlah luk nya lebih dari tiga belas. kebo tedan. Bagian inilah yang masuk ke pegangan keris ( ukiran) . dengan penampang sekitar 5 mm sampai 10 mm. dungkul . • Wilah Wilah atau wilahan adalah bagian utama dari sebuah keris.Keris mempunyai tiga bagian utama. Salah satu cara sederhana menghitung luk pada bilah . Sebagai contoh. dihitung dari sisi cembung dan dilakukan pada kedua sisi seberang-menyeberang (kanan-kiri). atau keris tidak lazim. • Warangka atau sarung keris Jawa 127 kebudayaan . bagian lehernya disebut gulu meled . Pada pangkal wilahan terdapat pesi . Luk. biasanya disebut keris kalawija. kelap lintah dan sebit rontal. pudak sitegal. Pengamat budaya tosan aji mengatakan bahwa kesatuan itu melambangkan kesatuan lingga dan yoni. Ganja ini sepintas berbentuk cecak. sehingga bagian wilah dan ganja tidak terpisahkan. bagian depannya disebut sirah cecak. Di tengahnya terdapat lubang pesi (bulat) persis untuk memasukkan pesi. maka bilangan terakhir adalah banyaknya luk pada wilah-bilah dan jumlahnya selalu gasal ( ganjil) dan tidak pernah genap.

dan kemuning). godong. karena wrangka gayaman lebih memungkinkan cepat dan mudah bergerak. emas . Wrangka ladrang dipakai untuk upacara resmi . Bagian pendok ( lapisan selongsong ) inilah yang biasanya diukir sangat indah . Dan jenis lainnya adalah jenis wrangka gayaman (gandon) yang bagian-bagiannya hampir sama dengan wrangka ladrang tetapi tidak terdapat angkup. sehingga fungsi keindahannya tidak diutamakan. Ladrang dan gayaman merupakan pola-bentuk wrangka. paling tidak karena bagian inilah yang terlihat secara langsung. khususnya dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa. atau sarung keris. Bagian atasnya atau ladrang-gayaman sering diganti dengan gading. gandar. Goa. Warangka yang mula-mula dibuat dari kayu (yang umum adalah jati. pengangkatan pejabat kerajaan.maka fungsi gandar adalah untuk membungkus wilah (bilah) dan biasanya terbuat dari kayu ( dipertimbangkan untuk tidak merusak wilah yang berbahan logam campuran ) .Warangka. Aturan pemakaian bentuk wrangka ini sudah ditentukan. lata. dll) dengan maksud penghormatan. dibuat dari logam kuningan. ri serta cangkring. perak. dan bagian utama menurut fungsi wrangka adalah bagian bawah yang berbentuk panjang ( sepanjang wilah keris ) yang disebut gandar atau antupan . Sedangkan wrangka gayaman dipakai untuk keperluan harian. walaupun tidak mutlak. adalah komponen keris yang mempunyai fungsi tertentu. misalkan menghadap raja. Secara garis besar terdapat dua bentuk warangka. perkawinan. pertimbangannya adalah dari sisi praktis dan ringkas. karena bentuknya lebih sederhana. cendana. dan keris ditempatkan pada bagian depan (dekat pinggang) ataupun di belakang (pinggang belakang). Untuk daerah diluar Jawa ( kalangan raja-raja Bugis . janggut. Tata cara penggunaannya adalah dengan menyelipkan gandar keris di lipatan sabuk (stagen) pada pinggang bagian belakang (termasuk sebagai pertimbangan untuk keselamatan raja ). Dalam perang. Riau. acara resmi keraton lainnya (penobatan. gandek. dan gandek. yaitu jenis warangka ladrang yang terdiri dari bagian-bagian : angkup. Bali ) pendoknya terbuat dari emas . godong (berbentuk seperti daun). yang digunakan adalah keris wrangka gayaman . suasa ( campuran tembaga emas ) . Karena fungsi gandar untuk membungkus . maka untuk memperindahnya akan dilapisi seperti selongsongsilinder yang disebut pendok . timoho. disertai dengan kebudayaan 128 Jawa . Palembang. Sejalan dengan perkembangan zaman terjadi penambahan fungsi wrangka sebagai pencerminan status sosial bagi penggunanya.

Diluar wilayah Nusantara dan sekitarnya biasanya hanya dikenal teknik Inlay saja seperti pedang dari Iran atau negara Eropa lainnya sehingga walau secara seni (art) tampak indah tetapi kesan “Wingit” nya tidak ada sama sekali. Sulawesi Selatan yang dibawa oleh pedagang dari Bugis. Hiasan ini dibentuk bukan karena diukir atau diserasah (Inlay) atau dilapis tetapi karena teknik tempaan yang menyatukan beberapa unsure logam yang berlainan. serta (3) pendok topengan yang belahannya hanya terletak di tengah .weteng dan bungkul. pendok ada dua macam yaitu pendok berukir dan pendok polos (tanpa ukiran). yaitu (1) pendok bunton berbentuk selongsong pipih tanpa belahan pada sisinya . cetek. Apabila dilihat dari hiasannya. Untuk keris Jawa . Pamor Keris Pamor merupakan hiasan atau motif atau ornamen yang terdapat pada bilah tosan aji (Keris. (2) pendok blewah (blengah) terbelah memanjang sampai pada salah satu ujungnya sehingga bagian gandar akan terlihat .tambahan hiasan seperti sulaman tali dari emas dan bunga yang bertaburkan intan berlian. jiling. bathuk (kepala bagian depan) . secara garis besar terdiri dari sirah wingking ( kepala bagian belakang ) . • Gaman Untuk pegangan keris Jawa. Pedang atau Wedung dan lain lainnya). Tombak. cigir. kebudayaan 129 Jawa . menurut bentuknya pendok ada tiga macam. Terkenal dulu bahan pamor dari Luwu.

sedangkan Pamor Miring umumnya motif Adeg. Setelah bahan meteorit susah didapat. PAMOR MLUMAH. Pamor Mlumah biasanya bermotif Beras Wutah. praktis pamor dan besi sudah “menyatu” walau tidak terlalu homogen. Udan Mas. Sodo Saeler. Pamor luluhan yang gampang terlihat antara lain di keris buatan Empu Pitrang dijaman Blambangan. Ngulit Semangka. Batu Lapak. sehingga keris saat ini bobot nya biasanya lebih berat dari keris kuno. Kesan Pamor Miring agak kasar bila diraba bilahnya dan nyekrak dibanding pamor mlumah. Dilihat dari cara pembuatannya sebetulnya hanya dua cara pembuatan Pamor yang baik yaitu Mlumah dan Miring. baik di pamor mlumah atau miring. barulah bahan Nikel digunakan. Ada juga tosan aji yang dibuat dengan kombinasi pamor mlumah dan miring hanya saja pembuatannya sangat sulit. diantara pamor Adeg pada beberapa bagian bilah tampak pamor luluan yang sepintas seperti pamor Nggajih. a.Bahan Pamor yang paling terkenal adalah Pamor Prambanan. Satria Pinayungan. maka hasilnya kemungkinan akan menjadi pamor luluhan. Kalau lipatannya lebih banyak lagi seperti buatan Empu Pangeran Sedayu maka pamor luluhan ini tidak tampak dengan mata telanjang dan sangat kecil atau tiad mungkin kena karat karena menyatunya bahan pamor dengan bahan besinya. Apabila lipatannya banyak. Pamor mlumah adalah lapisan-lapisan pamornya mendatar sejajar dengan permukaan tosan aji sedangkan pamor miring lapisan pamornya tegak lurus permukaan bilah. Wulan-wulan dan sebagainya. kebudayaan 130 Jawa . lebih sulit dari pembuatan pamor miring. Cara lainnya. PAMOR MIRING. ini akan terlihat dengan menggunakan kaca pembesar. Tumpuk dll. saat ini ada di Kraton Surakarta diberi nama Kanjeng Kyai Pamor dan ukurannya sekarang tinggal sekitar 60x60x80 Cm sebesar meja kecil karena sudah banyak digunakan empu membuat karis pesanan dari Kraton.

baik bulat atau lonjong kebudayaan 131 Jawa . PAMOR MUNGGUL Banyak yang menganggap pamor ini pamor titipan.Ada cara lain membuat pamor selain Mlumah dan Miring yaitu dengan cara mengoleskan bahan pamor ke bilah. Cara ini hanya digunakan Empu luar keraton. pamornya dinamakan Nggajih karena menyerupai lemak.Ada lagi cara membuat pamor dengan menyiramkan bahan pamor cair ke bilah membara dari pangkal keris keujungnya. PAMOR REKAN dan PAMOR TIBAN. caranya dengan menuangkan bahan tersebut yang cair kebilah besi yang membara kemudian dioleskan dengan ujung mancung (kelopak bunga) kelapa sebelum bahan cair tersebut mengeras dan dibuat pamor yang dikehendaki si Empu. c. empu Desa atau disebut juga empu Njawi. Pamor ini seperti bisul menonjol sekitar 1 mm diatas permukaan bilah umumnya berbentuk lingkaran. Sang Empu berpasrah diri kepada Tuhan YME dan menyerahkan saja bagaimana bentuk pamor yang terjadi maka biasanya pamor yang timbul disebut pamor Tiban. biasanya bukan dari batu meteorit tetapi logam yang titik leburnya lebih rendah dari besi. Hasilnya umumnya kasar bila diraba dan pamor ini disebut Ngintip (dari Intip/Kerak nasi). Sewaktu membuat keris. b. Pamor rekan sering juga gagal dalam pembuatannya. selain itu banyak yang menganggap ini sebagai pamor tiban karena tidak bisa dibuat secara sengaja. sedangkan bila selama pembuatan direka oleh sang Empu maka pamor yang terjadi disebut pamor rekan. Sebenarnya agak sulit membedakan mana pamor rekan atau tiban karena bisa dilihat dari sudut pandang yang berbeda-beda. misal sang empu ingin membuat pamor Ron Genduru tetapi jadinya malah Ganggeng Kanyut.

Sebetulnya ini terjadi karena penempaan pamor tersebut dilakukan pada suhu yang tepat yang berbeda setiap bahannya. kalau tersebar dipermukaan bilah disebut “dheling setong” dan dianggap mempunyai tuah baik. tetapi diduga saat “masuh” atau membersihkan bahan keris dari kotoran. Pamor ini berbentuk rangkaian kecil yang merupakan perlambang atau tuah tertentu dan pamor ini jarang berdiri sendiri. d. tetapi ini baru dugaan saja. Bisa ditepi atau tengah bilah dan termasuk pamor yang baik serta dicari banyak orang. Pulo Tirto atau Pendaringan Kebak. PAMOR TITIPAN. jadi susah diduga berapa suhu yang tepat itu. Bagaiman pamor ini timbul tidak bisa diterangkan secara pasti. Di Madura biasa disebut pamor “dheling”. Pamor dheling yang terbaik terdapat di pucuk bilah dan disebut “dheling pucuk” dan atau dibagian peksi yang disebut “dheling peksi”. Letaknya bisa dibagian sor-soran. ada unsur logam lain yang menyelip dan lebih keras dari unsur logam besi. umumnya tergabung dengan pamor lain yang lebih dominan. Kodiyat atau Akadiyat. Wujudnya menyerupai lelehan dari tepi bentuk pamor dengan warna putih cemerlang keperakan dan lebih cemerlang dibanding keputihan pamor pada umumnya. antara lain Beras Wutah. e. PAMOR AKHODIYAT. tengah ataupun pucuk. sehingga banyak yang sepakat bahwa pamor ini dikategorikan ke pamor tiban. Namanya kadang Akordiyat.tetapi ada yang berbentuk gambar membujur lancip panjang. ternyata semua salah. Ada yang menganggap sebagai pamor titipan atau “sifat” dari pamor tersebut. kebudayaan 132 Jawa .

Gedong Mingkem.Pamor ini ada yang merupakan pamor tiban. Dikiling. Malang dikenal sebagai penghasil keripik tempe. lontong balap. mi. Kecamatan Babat. tahu pong.9 1) Makanan Khas Rawon dan rujak petis. tuangi kuah dan daging tetelan. tidak sengaja dibuat seperti Pamor Rahala. Makanan khas Jawa Timur diantaranya adalah Surabaya terkenal akan rujak cingur. Udan Mas. Sidoarjo terkenal akan kerupuk udang dan petisnya. Madiun dikenal sebagai penghasil brem dan nasi pecel. sementara ubi kayu yang diolah menjadi gaplek dahulu merupakan makanan pokok sebagian penduduk di Pacitan dan Trenggalek. Pamor Titipan yang merupakan pamor tiban dibuat bersama dengan pamor lainnya sedangkan yang rekan biasanya dibuat setelah pamor dominan jadi. Putri Kinurung. Kediri terkenal akan tahu takwa. merupakan pamur yang disusulkan. Telaga Membleng dll. H. diberi irisan perkedel singkong dan ditaburi dengan bawang goreng dan dengan bahan pelengkap sambal. tauge. Watu Lapak dll. terdiri dari tahu. 3) Madu mongso Jawa 133 kebudayaan . semanggi. Inkal. petis. dan lontong kupang. dan getuk pisang. 2) Tahu Campur Lamongan Tahu campur disajik di dalam mangkuk. sate kerang. daun sla diiris. Kul Buntet. Jung Isi Dunya. Jagung dikenal sebagai salah satu makanan pokok orang Madura. Pamor titipan yang merupakan pamor rekan antara lain yang terkenal adalah Kuto Mesir. Lamongan terkenal akan wingko babat nya. Bondowoso merupakan penghasil tape yang sangat manis.

santan dan garam.Merupakan makanan khas Jawa Timur yang dibuat dari ketan item dicampur dengan tape. 5. Adalah sebagai lauk pauk dan biasanya dirangkai dengan lontong. bawang putih. makanan ini dibungkus menyerupai bentuk permen menggunakan kertas minyak yang berwarna-warni. Biasanya ditambahkan juga ikan pindang. Sayur Merica Dari ikan laut segar dengan bumbu cabe. asam (tomat) garam dan air. bawang merah. bawang putih. 2. Petis Bumbon Sayur untuk makan siang/malam yang terbuat dari bahan-bahan petis ikan/udang. Mangut Ikan laut segar yang dipanggang dengan bumbu-bumbu cabe hijau. 4) Rujak Cingur Makanan khas Jawa timur ini merupakan campuran dari berbagai macam sayuran yang disirami bumbu kacang yang dilengkapi dengan petis dan pisang klutuk muda. Makanan dan Minuman khas Jawa Tengah 1. bawang putih. bawang merah. bawang kebudayaan 134 Jawa . gula merah. bawang merah. Yang membuat makanan ini berbeda adalah dengan adanya cingur (hidung sapi). Sate Sarepeh Berupa sate ayam kampung bumbunya terdiri dari cabe merah. garam dan santan kental. kunyit. bawang putih. 4. merica. Sebagai sayur untuk makan siang (menu sehari-hari). Pindang Tempe Tempe dengan bumbu-bumbu cabe. Sebagai sayur untuk makan siang/malam dalam menu sehari-hari. telur rebus/ceplok langsung dengan bumbu cabe. 3. garam dan air.

8. Kaoya Dudul Terbuat dari beras ketan. air nira dan garam. 11. rasanya sangat manis dan gurih. 12. Dumbeg Dibuat dari tepung beras. 9. daun jeruk purut. Berasal dari desa Gunem Kecamatan Gunem. Jadah Terbuat dari beras ketan putih. kunci. Rasanya sangat gurih.00 WIB sudah dijual di lokasi desa Tuyuhan di sepanjang pinggir jalan dengan pemandangan sawah-sawah yang menghijau. garam dan ditambah santan kental. Kerupuk Bakar Kerupuk udang dan tengiri dari kota Rembang yang dioven atau dibakar. gula pasir/gula aren dan ditambahkan garam. Jadah yang terkenal adalah dari desa Pohlandak (Kecamatan Pancur). gula aren/gula pasir dan garam. gula aren. garam yang ditumbuk halus (sewaktu masih panas) di atas keranjang yang Terbuat dari daun lontar/daun kelapa muda dan alat tumbuknya juga dilapis dengan daun lontar dan kelapa muda. air pohon nira (legen). Sebagai makanan sore hari/malam hari. Jenang Waluh Dibuat dari buah waluh. kelapa muda. 6.merah. 10. yang rasanya sangat manis. Biasanya dimakan bersama dengan Jenang waluh. yang terkenal dari desa Pohlandak (Kecamatan Pancur). Yang terkenal dari desa Pohlandak (Kecamatan Pancur) dan desa Mondoteko (Kecamatan Rembang). Lontong Tuyuhan Lontong dengan opor ayam kampung pedas khas desa Tuyuhan (Kecamatan Pancur). Gula Semut kebudayaan 135 Jawa . lengkuas. kacang hijau. kemudian dicetak persegi dan dibungkus dengan daun pisang (seperti lemper). Dan biasanya dimakan dengan Jadah. kalau makan tinggal didudul (ditekan) saja. Dan minumannya air putih yang ditempatkan di kenda (tanpa gelas). Tempatnya dari daun lontar berlubang bulat kecil sebanyak 5 buah. biasanya sekitar jam 15. Makanan ini tidak pernah atau jarang dibuat ibu rumah tangga. dan kalau suka ditaburi buah nangka/kelapa muda yang dipotong sebesar dadu. 7. Kemudian tempatnya dari daun lontar (pohon nira) berbentuk kerucut dengan bau yang khas.

Kupat Tahu Merupakan makanan khas Magelang yang berisi tahu. Sedangkan yang lain diantaranya adalah : Dari Banyumas : • Sroto Sokaraja Soto Sokaraja atau oleh masyarakat Banyumas disebut Sroto Sokaraja adalah sejenis makanan dari Indonesia. tauge. • • • • Gethuk goreng Tempe mendoan Lanting Sate Ambal Dari Jepara : • Bangket Soto Kudus Pesisir Utara • kebudayaan 136 Jawa . 14. 13. Ciri utama dari soto ini adalah penggunaan sambal kacang dan ketupat. Yang terkenal dari Desa Bonang Kecamatan Lasem. kubis.Terbuat dari pohon nira ( legen ) dengan proses pemanasan. Menggunakan sambal kacang sebagai campurannya. Terasi Petis Bonang Terbuat dari udang atau ikan segar dengan proses pemanasan. Soto ini memiliki ciri khas yang berbeda dengan soto-soto lainnya yang ada di Indonesia. dan diberi ketupat. sehingga hasilnya seperti gula pasir atau gula halus yang berwarna coklat. kita dapat menikmati soto di warung-warung yang berderet rapi di sepanjang jalan di Sokaraja. Soto Sokaraja sudah banyak dijual di luar Banyumas tetapi kalau sempat mampir ke Sokaraja. Bau dan rasanya enak.

• • • • • • • • • • • • • Nasi pecel Opor ayam Tongseng Cabuk rambak Tumpeng Mangut lele Srabi Solo Geplak Sate Kocor Tengkleng Bakpia Trancam Sate Winong nasi gandul Jawa 137 Pati-Juwana Jawa tengah • kebudayaan .• • • • • • Soto Tegal Sate Tegal Lumpia Semarang Taoto Nasi megono Nasi Grombyang Gudeg Dari Yogya-solo : • Gudeg Jogja punya rasa manis yang khas.

Beberapa tahun terakhir ini. Tetapi tema cerita tidak pernah diambil dari repertoar cerita epos (wiracarita): Ramayana dan Mahabharata. sandiwara yang diselingi dengan lagulagu Jawa.H. Dalam sebuah pentasan ketoprak. banyak dimasukkan unsur humor. muncul sebuah genre baru. Banyak pula diambil cerita dari luar negeri. yang diiringi dengan gamelan disajikan.10 Ketoprak dan Ludruk Ketoprak (bahasa Jawa kethoprak) adalah sejenis seni pentas yang berasal dari Jawa. Biasanya diambil dari cerita legenda atau sejarah Jawa. Ketoprak Humor yang ditayangkan di stasiun televisi RCTI. Sebab nanti pertunjukkan bukan ketoprak lagi melainkan menjadi pertunjukan wayang orang. Ludruk merupakan suatu drama tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang di gelarkan disebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan kebudayaan 138 Jawa . Tema cerita dalam sebuah pertunjukan ketoprak bermacam-macam. Dalam pentasan jenis ini. Ludruk adalah kesenian drama tradisional dari Jawa Timur.

Sementara ludruk menceritakan cerita hidup seharihari (biasanya) kalangan wong cilik. Dialog/monolog dalam ludruk bersifat menghibur dan membuat penontonnya tertawa. Di daerah ini kondisi sosio kultural masih sangat kental dengan hal-hal yang dianggap magis dan dapat mereka buktikan dengan kemampuan mereka (masyarakat Ponorogo) dan Religi/Kebatinan yang sangat kuat. etc). H.rakyat sehari-hari. Cerita ketoprak sering diambil dari kisah zaman dulu (sejarah maupun dongeng). Malang. peronda. Madura. dan bersifat menyampaikan pesan tertentu. membuat dia mudah diserap oleh kalangan non intelek (tukang becak.11 Reog Salah satu tarian Pembuka Topeng barong reog yang dipakai sebagai atraksi penutup Reog adalah salah satu seni yang ada di Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Dalam pengalamannya Seni Reog merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk adanya aliran kepercayaan yang ada secara turun temurun dan terjaga. Ludruk berbeda dengan ketoprak dari Jawa Tengah. sopir angkotan. cerita perjuangan dan lain sebagainya yang diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik. meski terkadang ada bintang tamu dari daerah lain seperti Jombang. menggunakan bahasa khas Surabaya. Madiun dengan logat yang berbeda. Bahasa lugas yang digunakan pada ludruk. seorang jagoan Madura. Upacaranya pun menggunakan kebudayaan 139 syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk Jawa . Pada dasarnya masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai pewarisan budaya yang sangat kaya. Sebuah pementasan ludruk biasa dimulai dengan Tari Remo dan diselingi dengan pementasan seorang tokoh yang memerakan "Pak Sakera".

yang harus dibedakan dengan seni tari lain yaitu tari kuda lumping. penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. mereka menganut garis keturunan Parental dan hukum adat yang masih berlaku. Seni Reog Ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian 2 sampai 3 tarian pembukaan. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan.memenuhinya tanpa adanya garis keturunan yang jelas. Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu. Jika berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang. biasanya cerita pendekar. Pementasan Seni Reog Reog modern biasanya dipentaskan dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan. baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni reog ditampilkan. kebudayaan 140 Jawa . Disini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan) dan kadang-kadang dengan penonton. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam. khitanan dan hari-hari besar Nasional. dengan muka dipoles warna merah. Setelah tarian pembukaan selesai. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Yang lebih dipentingkan dalam pementasan seni reog adalah memberikan kepuasan kepada penontonnya. Pada reog tradisionil. Untuk hajatan khitanan atau sunatan. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Adegan dalam seni reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi.

Arti : Bahagialah tuanku kisah cubaan akan dinyanyikan dengan lagu panji prakasa Ki Subrata yang dikisahkan moga-moga terluput dari malapetaka nirmala dan sihat wal¡¯afiat luput dari halangan luput dari bahaya maut. Sementara itu nama tembang dalam kidung pula amat bergantung kepada jumlah baris dalam bait dan vokal akhir pada setiap baris. Kemampuan untuk membawakan topeng ini selain diperoleh dengan latihan yang berat. Bahasa yang digunakan di dalam kidung ialah campuran Jawa Kuno dengan Jawa Baru tetapi susunannya masih menurut cara kuno dengan memakai *Tembang Gedhe yang sudah menyimpang iramanya seperti Kidung Subrataka yang muncul pada zaman Jawa Tengahan. juga dipercaya diproleh dengan latihan spiritual seperti puasa dan tapa. dimana pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak. Berikut ini contohnya : Sangtabyana ta pakulun rancana cipta kumawi Panji prakasa tembange Ki Subrataka kang winuwus luputa ring lara roga nirmala waluya jati luputta ring pamurung luputta ring baya pati.Adegan terakhir adalah singa barong. kebudayaan 141 Jawa . Topeng yang berat ini dibawa oleh penarinya dengan gigi.12 KIDUNG/PUISI Kidung adalah puisi Jawa asli walaupun masih dijumpai vokal panjang tetapi tidaklah sebanyak yang ditemui di dalam kekawin. H. Berat topeng ini bisa mencapai 50-60 kg. Ia juga turut dikenali sebagai tembang atau nyanyian.

mijil umumnya ditaruh didepan. seperti wedathama. Lagu ini mulai ada di jaman Majapahit. yang umumnya sering dipakai dimana-mana. Tiap bait.H. lagu ini ada enam larik. Jika dilihat dari ”kerata basa”. karena tidak ada peninggalan tulisan yang dapat membuktikannya. Macapat bisa dibagi menjadi tiga jenis yaitu : Sekar Macapat atau Sekar Alit Sekar Madya atau Sekar Tengahan Sekar Ageng 1. Macapat banyak dipakai di Sastra Jawa Tengah dan Sastra Jawa Baru. Serat Wirid Hidayat Jati. Tetapi itu juga belum pasti. dan yang lain-lain disusun dengna lagu ini. Di deretan lagu macapat. madura dan Sunda. Kalathida. • Mijil Mijil itu artinya lahir atau keluar.13 LAGU ADAT JAWA MACAPAT Adalah lagu tradisional dari tanah Jawa. dengan guru wilangan dan guru lagu : • • • • • 10-i 6-o 10-é 10-i 6-i Jawa 142 kebudayaan . Guru wilangan : bilangan suku kata tiap gatra. Wulangreh. macapat artinya ”maca papat-papat”. Sekar Macapat atau Sekar Alit Macapat ini juga disebut sebagai lagu macapat asli. Membacanya memang dirakit tiap empat suku kata. Macapat juga menular ke kebudayaan Bali. Guru lagu : suara vokal di akhir tiap baris. aturan-aturan pada macapat itu lebih mudah. Kitab-kitab pada jaman Mataram Baru. dan dimulai saat walisanga memegang kekuasaan. Jika dibandingkan dengna kakawin. Aturan – aturan itu ada pada : • • • Guru gatra : bilangan baris/gatra tiap bait.

sinom mempunyai sifat yang masih muda. Mijil ing donya siniwi ratri 2. lagu ini ada sembilan baris. Milu édan nora tahan 4. Amung anjali soca ing tembé 4. Kaliren wekasanipun 7. Lelaku alon siniji-siji 5. Seperti anak kecil yang baru tahu dunia. Metrum Tiap bait. Éwuh aya ing pambudi 3.• 6-u Contoh 1. Boya kaduman melik 6. Nunggu mring wartaning 6. Yèn tan milu anglakoni 5. Di Macapat. Sesotya satuhu • Sinom Arti umumnya sinom berarti ”godhong asem sing isih enom” ( daun asam yang masih muda ). dengan guru bilangan dan guru lagu : • • • • • • • • • 8-a 8-i 8-a 8-i 7-i 8-u 7-a 8-i 12 – a Contoh 1. Amenangi jaman édan 2. Kabeh durung katon 3. Ndilalah karsa Allah kebudayaan 143 Jawa .

lelabuhanipun. andelira sang prabu.8. duk ing uni caritane. Begja-begjané kang lali 9. karya Ki Ranggawarsita. • • • • • • • • • • 10-i 10-a 8 -é 7 -u 9 -i 7 -a 6 -u 8 -a 12-i 7 –a Contoh Yogyanira kang para prajurit. Karena itu. banyak nasehat pada jaman dahulu yang menggunakan jenis ini. • Dhandhanggula Dhandhanggula adalah salah satu lagu macapat yang isinya “pengharapan yang baik”. Luwih begja kang éling lawan waspada Dari Serat Kalatidha. kebudayaan 144 Jawa . Sasrabahu ing Maespati. Tetapi ada juga yang menghubungkan asala kata dhandhanggula dengan salah satu raja di jaman Kediri yaitu dhandhanggendhis. aran patih Suwanda. Dhandhang itu harapan. lamun bisa sira anuladha. Metrum Tiap bait ada 10 baris. kang ginelung tri prakara. lagu yang menggunankan metrum Dhandhanggula juga mempunyai isi yang manis seperti gula. Dari sini kita bisa mengetahui jika lagu ini dibuat pada jaman Kediri.

karya Kyai Yasadipura ) Contoh 2 Pitik tulak pitik tukung Tetulake Jabang bayi Ngedohaken cacing racak Sarap sawane sumingkir Si tulak manggung ing ngarso Si Tukung ngadhangi margi kebudayaan 145 Jawa . Kinanthi ini juga bias mempunyai arti “gegandhengan tangan” dan bias juga berarti nama suatu bunga. cinta dan kebijaksanaan.guna kaya purun ingkang den antepi. Metrum Kinanthi itu terdiri dari 6 baris pada tiap bait. nuhoni trah utama • Kinanthi Kinanthi adalah salah satu lagu macapat yang umunya dipakai rasa suka. Ada juga yang memasangkan kinanthi dengan maskumambang. • • • • • • 8-u 8-i 8-a 8-i 8-a 8-i Anoman mlumpat sampun praptêng witing nagasari mulat mangandhap katingal wanodyâju kuru aking gelung rusak awor kisma ingkang iga-iga kêksi Contoh 1 (diambil dari ” Serat Rama Kawi”. Maskumambang itu untuk laki-laki yang dewasa. sedangkan kinanthi itu untuk perempuan.

Oleh karena itu. angèl kalangkung Tan kena tinumbas arta Aja turu soré kaki Ana Déwa nganglang jagad Nyangking bokor kencanané Isine donga tetulak Sandhang kelawan pangan Yaiku bagéyanipun wong welek sabar narima kebudayaan 146 Jawa . dan dahana yang artinya api. • • • • • • • 8-a 8-i 8-é 8-a 7-a 8-u 8-a Contoh Gegaraning wong akrami Dudu bandha dudu rupa Amung ati pawitané Luput pisan kena pisan Lamun gampang luwih gampang Lamun angèl. Metrum Asmarandana terdiri dari 7 baris dalam tiap bait.• Asmarandana Lagu Asmarandana umumnya dipakai bagi orang yang sedang jatuh cinta. kata asmaradana diambil dari kata asmara yang artinya cinta. Jika dilihat aslinya. asmarandana berisi tentang kasih sayang.

lalu banyak beraneka macam lagu yang menggunakan nama pangkur. yaitu antara lain : pangkur jenggleng. pangkur palaran. Metrum Lagu pangkur terdiri dari 7 baris tiap bait. • • • • • • • 12-a 7 -i 6 -a 7 -a 8 -i 5 -a 7 -i Contoh Kae manungsa golek upa angkara Sesingidan mawuni ngGawa bandha donya mBuwang rasa agama Nyingkiri sesanti ati Tan wedi dosa Tan eling bakal mati • Pangkur Pangkur adalah salah satu lagu macapat yang mempunyai sifat “munggah ndhuwur”. Jika suatu nasihat. pangkur lombok dan lain-lain. Durma termasuk lagu yang wingit. itu adalah nasehat yang tinggi. itu adalah cinta yang utama. • • • 8-a 11. Jika cinta. Adakalnya Durma memuat keadaan yang menyeramkan dan membuat takut.• Durma Durma adalah salah satu lagu macapat yang mempunyai sifat galak. Metrum Tiap bait ada 7 baris.i 8-u Jawa 147 kebudayaan . Dari lagu ini.

• • • • 12-i 6 -a 8 -i 8 -a Gereng-gereng Gathotkaca sru anangis Sambaté mlas arsa Luhnya marawayan mili Gung tinamêng astanira Contoh • Pocung Jawa 148 kebudayaan . Ada juga yang menganggap jika Maskumambang itu lagunya laki-laki. lagu Maskumambnag ada 4 baris.u 8-a 8-i Sekar Pangkur kang winarna lelabuhan kang kanggo wong aurip ala lan becik puniku prayoga kawruhana adat waton puniku dipun kadulu miwa ingkang tatakrama den keesthi siyang ratri Contoh • Maskumambang Maskumambang adalah salah satu lagu macapat yang menjadi lambing saat orang laki-laki beranjak dewasa. Kata maskumambang itu merupakan sambungan antara kata ‘emas’ den ‘kumambnag’. umumnya berisi orang yang sedang mengeluh sakit dan sengsara.• • • • 7-a 12. Metrum Tiap bait. Sifat dari lagu ini. pada masa ketika dari anak menjadi manusia yang kelihatan ditengah lingkup social. sedangkan yang perempuan itu adalah kinanthi.

manusia diingatkan kalau semua tingkah laku manusia itu ada akibatnya. Nasehat yang menggiring manusia agar ingat dengan tingkah lakunya. Lagu ini sering digunakan untuk lagu-lagu yang lucu seperti parikan atau tanya Jawab. Tetapi Pucung juga dapat diartikan sebagai nama biji buah-buahan. Akhiran cung juga memberi rasa segar yang mengingatkan kepada sesuatu yang lucu seperti menggunakan kata “dikuncung”. • • • • 12-u 6 -a 8 -i 12-a Contoh Ngelmu iku kelakone kanthi laku Lekase lawan kas Tegese kas nyantosani setya budya pangekesing dur angkara • Gambuh Contoh Sekar gambuh ping catur Kang cinatur Polah kang kalantur Tanpo tutur katulo-tulo katali Kadaluwarso katutur Katutuh pan dadi awon Lagu gambuh itu memang penuh dengan nasehat. Kata pucung dekat dengan kata pocong. Pucung dipakai sebagai lagu yang bias mengingatkan kepada manusia yaitu jika hidup di dunia pasti ada akhirnya.Pucung (adakalanya ditulis pocung) adalah lagu macapat yang mengingatkan tentang kematian. Metrum Lagu pucung hanya ada 4 baris pada tiap bait. kebudayaan 149 Jawa . Seperti lambnag mori untuk membungkus orang yang meninggal.

Sifatnya “prenesan” dan biasanya dipakai sebagai lagu wangsalan atau yang agak erotis. 8u. 8i. 8a. Sekar Madya utawa Sekar Tengahan Macapat jenis ini seperti lagu kidung yang sering dipakai pada jaman Majapait. • Jurudemung Jurudemung itu termasuk sekar madya. 8u. lagu ini ada lima baris. 8o. Contoh Contoh ini diambil dari Babad Tanah Jawi karya Ki Yasadipura.• Megatruh Megatruh mempunyai sifat prihatin rasa sakit hati karena rindu. 8i. dengan guru bilangan dan guru lagu : 8a. lagu ini ada 7 baris. 8u. sigra milir kang gèthèk sinangga bajul kawan dasa kang njagèni ing ngarsa miwah ing pungkur tanapi ing kanan kéring kang gèthèk lampahnya alon 2. 8a. Guru bilangan dan guru lagu Tiap bait. Contoh Contoh ini diambil dari “Serat Pranacitra” ni ajeng mring gandhok wétan wus panggih lan Rara Mendut alon wijilé kang wuwus hèh Mendut pamintanira adhedhasar adol bungkus wus katur sarta kalilan déning jeng kyai Tumenggung. 8u. • Wirangrong kebudayaan 150 Jawa . Guru bilangan dan guru lagu Tiap bait. 8u. dengan guru bilangan dan guru lagu : 12u.

3é. Contoh Contoh ini diambil dari “Serat Jaka Lodhang” karya Ki Ranggawarsita. 8a. 10u. dengan guru bilangan dan guru lagu: 12i. Guru bilangan dan guru lagu Tiap bait. 7a. Guru bilangan dan guru lagu kebudayaan 151 Jawa . 8o. 3é.Wirangrong itu termasuk dalam sekar madya. Guru bilangan dan guru lagu Tiap bait. 12a. sekar macapat ageng seperti lagu kakawin di jaman dahulu. Girisa (macapat) Girisa itu memiliki sifat nasihat. lagu ini terdiri dari 6 baris. Lagu ini biasanya dipakai untuk menyanyikan hal-hal yang gagah. 3é. Sifatnya itu penuh wibawa. 12a. dengan guru bilangan dan guru lagu : 8i. Jika dilihat dari kesusahannya. lagu ini ada 6 baris. 6i. byar rahina Kèn Rara wus maring sendhang mamèt wé turut marga nyambi reramban janganan antuké praptêng wisma wusing nyapu atetebah jogané 3. Contoh dèn samya marsudêng budi wiwéka dipunwaspaos aja-dumèh-dumèh bisa muwus yèn tan pantes ugi sanadyan mung sakecap yèn tan pantes prenahira • Balabak Balabak itu memiliki sifat yang spontan. Sekar Ageng Sekar Macapat Ageng ( besar ) hanya ada satu yaitu Girisa.

. 8a. Putri niku sisane si yuyu kangkang…  YEN ING TAWANG ANA LINTANG Yen ing tawang ono lintang cah ayu….. Putriku kang ayu rupane……… Kleting kuning kang dadi asamane…… Bu…si Bu… kulo mboten purun….aku ngenteni tekamu Marang mego ing angkoso. déné utamaning nata bèr budi bawa leksana liré bèr budi mangkana lila legawa ing driya agung dènya paring dana anggeganjar saben dina liré kang bawa leksana anetepi pangandika. 8a. lagu ini ada 8 baris. Tumuruna ana putri kang unggah unggahi…. 8a. 8a.nimas. 8a. LAGU-LAGU LAIN SELAIN MACAPAT Kumpulan lagu (Jawa)  ANDE ANDE LUMUT Putraku si ande ande lumut….nimas… Sun takokne pawartamu Janji janji aku iling. dengan guru bilangan dan guru lagu : 8a.cah ayu… Sumedot rasaning ati Linang lintang ngiwi iwi.Tiap bait. 8a. 8a. Tresnaku sundul ing ati Dek sakmono janjimu disekseni kebudayaan 152 Jawa . Contoh Contoh ini diambil dari “Serat Wiratadya” karya Ki Ranggawarsita..

Ngenteni mbulan ndadari  CUBLAK CUBLAK SUWENG Cublak cublak suweng…. Mambu kutundung gudel…pak hempong.dele gosong………. pong .nimas. lere… Sopo ngguyu ndelekake………… Sir …sir….  LIR-ILIR Lir ilir lir ilir tandure wong sumilir Tak ijo royo royo Tak sengguh panganten anyar Cah angon cah angon penekna blimbing kuwi Lunyu lunyu penekna kanggo mbasuh dodotira Dodotira dodotira kumintir bedah ing pinggir Dondomana jrumatana kanggo seba mengko sore Mumpung padang rembulane Mumpung jembar kalangane Sun suraka surak hiyo  SUWE ORA JAMU Suwe ora jamu Jamu godhong telo Suwe ora ketemu Ketemu pisan gawe gelo kebudayaan 153 Jawa ...Mego kartiko kairing Raso tresno asih Rungokno tangising ati Ginarung swaraning ratri.. lera.suwenge ting gelenter……...

Sejarah Sejarah Suku Osing diawali pada akhir masa kekuasaan Majapahit sekitar tahun 1478 M. Jawa Timur Bahasa bahasa Osing Agama Sebagian besar Islam dan sebuah minoritas beragama Hindu. Kelompok etnis terdekat suku Jawa. kebudayaan 154 Jawa . Blambangan (Suku Osing) dan Bali. Kedekatan sejarah ini terlihat dari corak kehidupan Suku Osing yang masih menyiratkan budaya Majapahit. suku Tengger. Kerajaan Blambangan. yaitu lereng Gunung Bromo (Suku Tengger). SUKU OSING Suku Osing Jumlah populasi Kawasan dengan jumlah penduduk yang signifikan Kabupaten Banyuwangi.I. SUB SUKU JAWA I. yang didirikan oleh masyarakat osing. adalah kerajaan terakhir yang bercorak Hindu-Budha seperti halnya kerajaan Majapahit. Bahkan Mereka sangat percaya bahwa Taman Nasional Alas Purwo merupakan tempat pemberhentian terakhir rakyat Majapahit yang menghindar dari serbuan kerajaan Mataram. orangorang majapahit mengungsi ke beberapa tempat. suku Bali Suku Osing adalah penduduk asli Banyuwangi dan merupakan penduduk mayoritas di beberapa kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. 1. Setelah kejatuhannya. Perang saudara dan Pertumbuhan kerajaan-kerajaan islam terutama Kesultanan Malaka mempercepat jatuhnya Majapahit.

hal inilah yang menyebabkan kebudayaan masyarakat Osing mempunyai perbedaan yang cukup signifikan dibandingkan dengan Suku Jawa. Suku Osing mempunyai kedekatan yang cukup besar dengan masyarakat Bali. Kecamatan Glagah dan Kecamatan Singojuruh. Puputan adalah perang terakhir hingga darah penghabisan sebaga usaha terakhir mempertahankan diri terhadap serangan musuh yang lebih besar dan kuat. Bahasa Suku Osing mempunyai Bahasa Osing yang merupakan turunan langsung dari Bahasa Jawa Kuno seperti halnya Bahasa Bali. Bahasa Osing sangat berbeda dengan Bahasa Jawa sehingga bahasa Osing bukan merupakan dialek dari bahasa Jawa seperti anggapan beberapa kalangan. seperti halnya masyarakat Bali. dan Kecamatan Songgon.Dalam sejarahnya Kerajaan Mataram Islam tidak pernah menancapkan kekuasaanya atas Kerajaan Blambangan. Tradisi ini pernah menyulut peperangan besar yang disebut Puputan Bayu pada tahun 1771 M. Masyarakat Osing mempunyai tradisi puputan. Kecamatan Giri. Kecamatan Rogojampi. Kepercayaan Pada awal terbentuknya masyarakat Osing kepercayaan utama suku Osing adalah Hindu-Budha seperti halnya Majapahit. guru dan pegawai pemda. Kemiripan lain tercermin dari arsitektur bangunan antar Suku Osing dan Suku Bali yang mempunyai banyak persamaan. termasuk juga busana tari dan instrumen musiknya. hal ini sangat terluhat dari kesenian tradisional Gandrung yang mempunyai kemiripan dengan tari-tari tradisional bali lainnya. Berkembangnya Islam dan masuknya pengaruh luar lain di dalam masyarakat Osing juga dipengaruhi oleh usaha VOC dalam menguasai daerah Blambangan. Stratifikasi Sosial kebudayaan 155 Jawa . Namun berkembangnya kerajaan Islam di pantura menyebabkan agama Islam dengan cepat menyebar di kalangan suku Osing. Demografi Suku Osing menempati beberapa kecamatan di kabupaten Banyuwangi bagian tengah dan bagian utara. Kecamatan Kalipuro. Profesi Profesi utama Suku osing adalah petani. dengan sebagian kecil lainya adalah pedagang dan pegawai di bidang formal seperti karyawan. terutama pada hiasan di bagian atap bangunan. terutama di Kecamatan Banyuwangi.

Kawasan dengan jumlah penduduk yang signifikan gunung Bromo. Desa kemiren merupakan tujuan wisata yang cukup diminati di kalangan masyarakat Banyuwangi dan sekitarnya. kaum coliba. Tari Barong dan Jedor. Jawa Timur Bahasa bahasa Jawa Agama Sebagian besar Hindu dan sebuah minoritas beragama Islam dan Kristen. kaum Drakula. Angklung. yakni menempati sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan. Patrol. Jawa Timur. I. Seni Kesenian Suku Osing sangat unik dan banyak mengandung unsur mistik seperti kerabatnya suku bali dan suku tengger. Kesenian utamanya antara lain Gandrung.Suku Osing berbeda dengan Suku Bali dalam hal stratifikasi sosial. Suku Osing tidak mengenal kasta seperti halnya Suku Bali. Kabupaten kebudayaan 156 Jawa . Kelompok etnis terdekat suku Jawa Suku Tengger adalah sebuah suku yang tinggal di sekitar Gunung Bromo. mereka merupakan penduduk asli. Desa Adat Kemiri Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyadari potensi budaya suku osing yang cukup besar dengan menetapkan desa kemiri di kecamatan Glagah sebagai desa adat yang harus tetap mempertahankan nilai-nilai budaya Suku Osing. 2. kaum sudrakula. tetapi telah ditemukan perbedaan stratifikasi di Suku tersebut. Seblang. SUKU TENGGER Suku Tengger Jumlah populasi 500. Festival budaya dan acara kesenian tahunan lainnya sering diadakan di desa ini. kaum hydrakula. hal ini banyak dipengaruhi oleh agama Islam yang dianut oleh sebagian besar penduduknya.000.

ataupun manusia malas yang maunya hanya kumpul terus. Makan adalah manifestasi dari nafsu biologis dan kepentingan perseorangan. Nama Tengger berasal dari Legenda Roro Anteng dan Joko Seger yang diyakini sebagai asal usul nama Tengger. J. sedang kumpul menunjukkan adanya kehidupan berkelompok atau bermasyarakat. tersebar di Pegunungan Tengger dan sekitarnya. yakni mangan (makan) dan kumpul. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa. Justru sebaliknya. UNGKAPAN-UNGKAPAN JAWA  Mangan Ora Mangan Asal Kumpul Ungkapan mangan ora mangan asal kumpul bukan berarti bahwa orang Jawa adalah manusia-manusia yang tahan lapar. Orang-orang suku Tengger dikenal taat dengan aturan dan agama Hindu. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Dalam ungkapan ini terdapat dua kata kunci. disamping merupakan anjuran untuk melakukan pekerjaan secara cermat agar selesai dengan baik. Dengan demikian. malas dan pesimis.Probolinggo. konon adalah keturunan pelarian Kerajaan Majapahit. ungkapan mangan ora mangan asal kumpul pada dasarnya ingin mengatakan bahwa orang Jawa merasa menjadi bagian integral dari masyarakatnya dan bersedia mendahulukan kepentingan kelompok/umum dari pada kepentingan individu. Gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci. Orang Jawa dengan kebudayaan 157 Jawa . hal itu menandakan manusia yang berpandangan optimis yang mampu melihat jauh kedepan. Adalah kurang tepat jika diartikan sebagai sikap hidup ragu-ragu. Mereka yakin merupakan keturunan langsung dari Majapahit. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. dan Kabupaten Malang. Suku Tengger. yaitu "Teng" akhiran nama Roro An-"teng" dan "ger" akhiran nama dari Joko Se-"ger". atau yang tidak mempunyai sepeser uangpun untuk membeli sejumput padi. Bagi suku Tengger.  Alon-Alon Waton Kelakon Demikian pula terhadap ungkapan alon-alon waton kelakon.

 Urip Mung Mampir Ngombe Adapun ungkapan urip mung mampir ngombe menunjukkan bahwa kehidupan manusia didunia begitu cepatnya. mengapa harus tergesa-gesa kalau sesuatu yang dikejar itu pasti datang? Namun dalam hal ini harus diakui bahwa hanya orang-orang tertentu yang sudah mencapai taraf weruh sadurunge winarahlah yang bisa menghayati ungkapan alon-alon waton kelakon. Jadi. sehingga dapat menjadi “bekal” untuk menunaikan kewajiban lainnya. derajat dan kedudukan akan mengalir bagaikan air bah. ibarat sepeminuman segelas air. tuntutan emansipasi. persamaan hak. Jadi. Oleh karenanya. masih ada kewajiban lain yang lebih penting. pasa atau nglakoni (melaksanakan suatu syarat untuk suatu tujuan). Disini terkandung makna bahwa setelah selesai minum.kekuatan spiritual atau kebatinannya yang didapatkan dari kegiatan-kegiatan asketis seperti semadi/tapa. Sepanjang tidak bertentangan dengan agama. yaitu agar tidak “kehausan” di tengah jalan. betul-betul harus dapat dirasakan bahwa minum itu merupakan rahmat dari Yang Kuasa yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. dan suami adalah pemimpin bagi istrinya. Interpretasi negatif akan mengatakan bahwa wanita hanya berfungsi sebagai pemuas kebutuhan biologis (seksual) atau sebagai pembantu rumah tangga. fungsi dan kedudukannya. Tanpa pemahaman terhadap makna yang tersembunyi didalamnya. kesusilaan dan Undang-Undang. Keduanya seolah-olah mendiskriminasikan wanita atau istri terhadap laki-laki atau suami. selalu yakin akan kekuatan diri sendiri dan yakin pula bahwa apa yang dicita-citakan pasti akan terwujud.  Kanca Wingking Dan Suwarga Nunut Neraka Katut Ungkapan lain yang bisa memberi kesan negatif adalah kanca wingking dan suwarga nunut neraka katut. Islam — yang ajaran-ajarannya banyak diserap oleh masyarakat Jawa kemudian digabungkan dengan pemikiran dalam ajaran Hindu Budha (sinkretisme) — mengajarkan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi wanita. arti suwarga nunut neraka katut bagi kebudayaan 158 Jawa . istri wajib mentaati perintah atau aturan suami. Dari pengertian tersebut sudah dapat dibayangkan bahwa ungkapan suwarga nunut neraka katut dan kanca wingking adalah dimaksudkan untuk menempatkan manusia pada peran. selama proses minum berlangsung.

istri adalah mematuhi suami, disamping kewajiban untuk memperingatkan bila suami kurang benar. Istri yang tidak mau menegur kesalahan suami, berarti ikut menanggung dosa yang diperbuat suaminya. Begitu pula ungkapan kanca wingking. Sebagai “teman belakang”, para istri memegang peranan yang amat penting dalam sebuah keluarga. Jika mereka tidak kuat memegang peran sebagai kanca wingking, maka keluarga itupun tidak dapat diharapkan kelangsungan eksistensinya. Jadi tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa surga laki-laki terletak ditelapak kaki wanita. Semboyan bahwa suatu revolusi tidak akan berhasil tanpa andil kaum wanita-pun, tidaklah mengada-ada. Hanya saja persoalannya, mengapa wanita dikatakan sebagai kanca wingking, bukan kanca ngajeng (teman depan)? Hal ini juga ada alasannya sendiri. Barangkali tidak seorangpun yang menyangkal bahwa masyarakat Jawa memiliki nilai-nilai dan norma-norma luhur yang dijunjung tinggi. Perbuatan yang melanggar atau tidak sesuai dengan nilai atau moral itu, dikatakan sebagai saru, ora lumrah, atau ora ilok. Kedudukan wanita Jawa terhadap lawan jenisnya sebagaimana kedudukan wanita terhadap pria pada umumnya — secara kodrati (bedakan dengan kedudukan sosial politik) — adalah lebih rendah. Dengan demikian, adalah tidak patut apabila wanita yang memimpin suatu keluarga. Adalah tidak lumrah apabila wanita mencarikan nafkah bagi suaminya dan menempatkannya sebagai rewang (pembantu). Dan adalah tidak ilok (tidak boleh dilakukan) apabila seorang istri berani membantah suaminya. K. PEMBANGUNAN DAN MODERNISASI Sifat dasar yang menjadikan satu kelemahan yang juga merupakan penghambat pembangunan di Jawa antara lain adalah sifat yang pasif terhadap hidup, kesukaan-kesukaan terhadap kebatinan, penilain yang tinggi yang di nyatakan dengan konsep nerimo, ketabahan yang ulet dalam hal menderita, tetapi yang lemah terhadap hal karya. Selain itu, pengaruh dari tekanan bangsa-bangsa asing yang menjajah di Jawa serta jumlah penduduk yang semakin membeludak menjadi salah satu penyebab lain terhambatnya pembangunan di Jawa.

kebudayaan 159

Jawa

Struktur masyarakat desa di Jawa yang asli, sudah terlanjur dirusak oleh struktur administratif yang ditumpangkan diatasnya oleh pemerintahan kolonial. Akibatnya masyarakat di Jawa tidak mengenal kesatuan-kesatuan social dan organisasi adat yang sudah mantap dan kreatif. Dari uraian diatas masih banyak hal-hal yang dapat menghambat pembangunan diJawa, antara lain;
a. Mental orang Jawa yang terlalu nerimo dan bersiakap pasif terhadap hidup b. Tekanan jumlah penduduk yang mengakibatkan penduduk desa diJawa

menjadi terlalu miskin. c. Tidak adanya organisasi-organisasiasli yang telah mantap dan jika dimodernisasi menjadi organisasi yang mantap, aktif serata kreatif d. Tidak adanya kepeimpinan desa yang aktif kreatif untuk dapat memimpin aktivitas produksi yang bisa member hasil 3-4 kali lebih besar dari pada sekarang tiap-tiap tahun.

kebudayaan 160

Jawa

BAB III PENUTUP Kebudayaan Jawa merupakan bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia yang memiliki nilai yang sangat luhur bersama dengan kebudayaan bangsa Indonesia lainnya. Oleh kerenanya, sudah layak apabila kita mengetahui serta memahami kebudayaan Jawa agar tercapai pemahaman yang tepat mengenai kebudayaan Jawa. Hendaknya patut digaris bawahi bahwa kata “memahami” merupakan sesuatu yang amat penting untuk dapat memperoleh pandangan yang benar dan jelas mengenai kebudayaan Jawa itu sendiri. Oleh karena itu, sesungguhnya tidaklah cukup apabila kita ingin memahami kebudayaan Jawa dalam waktu yang singkat tetapi diperlukan waktu yang cukup lama dan mendalam. Meskipun demikian, hal itu tidak menyurutkan usaha kami untuk menyediakan berbagai pengetahuan seputar kebudayaan Jawa Secara khusus pula makalah ini kami buat untuk teman-teman di lingkungan Kampus STAN yang memiliki latar belakang bukan dari budaya Jawa untuk menambah pengetahuan sekaligus sebagai bekal bagi teman-teman di lingkungan kerja nanti, supaya kita dapat berkomunikasi lintas budaya. Dan akhirnya, sesungguhnya makalah ini jauh dari lengkap dan mendalam mengenai kebudayaan Jawa. Kami meminta maaf apabila di dalam makalah ini ada pernyataan yang kurang berkenan di hati teman-teman. Terima kasih.

kebudayaan 161

Jawa

wikipedia.org http://id.org/wiki/Suku_Jawa http://id.org/wiki/Sastra_Jawa_Modern http://id.org/wiki/Reog http://id.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Dialek_Surabaya http://id.wikipedia. Yogyakarta: Nindia Pustaka.wikipedia.org/wiki/Jula-juli http://map-bms.wikipedia. Mitologi Kanjeng Ratu Kidul.org/wiki/Sadran http://heritageofjava.wikipedia.sekarjagad.org/wiki/Dialek_Tegal http://id.wikipedia.org/wiki/Keris_Jawa http://jv. Y Argo.wikipedia.org/wiki/Sastra_Jawa_Kuna http://id.org/wiki/Banyumasan http://id.wikipedia.DAFTAR PUSTAKA Twikromo.org/wiki/Dialek_Kedu http://id.org/wiki/Kalender_Jawa http://jv.wikipedia.wikipedia.wikipedia.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Sastra_Jawa_Baru http://id.com http://id.org/wiki/Ebeg http://id.org/wiki/Tumpeng http://id.org/wiki/Gamelan_Jawa http://id.wikipedia.wikipedia. 2006.wikipedia.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Jawa_Timur http://id.org/wiki/Dialek_Semarang http://id.org/wiki/Rumah_Jawa http://id.org/wiki/Blangkon http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Osing http://id.wikipedia.org/wiki/Dialek_Banyumas http://id.org/wiki/Sastra_Jawa_Pertengahan www.org/wiki/Kromo_Inggil http://id.wikipedia.wikipedia.wikipedia. http://id.org/wiki/Ruwatan kebudayaan Jawa .

wikipedia.org/wiki/Pengantenan_adat_Jawa http://jv.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Mendhem_ari-ari http://jv.wikipedia.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Suku_Jawa http://id.wikipedia.org/wiki/Priyayi kebudayaan Jawa .wikipedia.org/wiki/Tingkeban http://jv.wikipedia.org/wiki/Keris http://jv.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Ketoprak http://jv.wikipedia.org/wiki/Seni_tradisional_Banyumasan http://map-bms.org/wiki/Daftar_masakan_Indonesia http://id.org/wiki/Soto_Sokaraja http://id.http://id.wikipedia.org/wiki/Brokohan http://id.org/wiki/Degung http://id.org/wiki/Tari_Gambyong http://map-bms.org/wiki/Tayuban http://id.org/wiki/Rasukan_adat_Jawa http://ms.org/wiki/Lengger http://jv.wikipedia.wikipedia.wikipedia.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful