BUDAYA NUSANTARA KEBUDAYAAN JAWA

Disusun oleh : Ainul Fuadi 02/3B Cory Denies Kartika 08/3B Fransiscus Asisi Edo HS 14/3B Irvan Widi Santoso 15/3B Laila Sahajah 18/3B

DIPLOMA III PENILAI / PBB SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA 2007

DAFTAR ISI DAFTAR ISI.........................................................................................................i PENDAHULUAN..................................................................................................1 PEMBAHASAN ...................................................................................................2 A. IDENTIFIKASI......................................................................................2 B. MITOLOGI KEBUDAYAAN JAWA.......................................................4 C. BAHASA DAN AKSARA JAWA...........................................................7 C.1. Bahasa Jawa...................................................................7 C.2. Aksara Jawa....................................................................14 D. MATA PENCAHARIAN........................................................................22 E. SISTEM KEMASYARAKATAN............................................................26 F. SISTEM KEKERABATAN...................................................................28 G. RELIGI ...............................................................................................43 H. PRODUK BUDAYA.............................................................................63 H.1. Seni Tari..........................................................................63 H.2. Seni Musik......................................................................80 H.3. Kalender Jawa................................................................89 H.4. Rumah Adat....................................................................95 H.5. Karya Sastra...................................................................102 H.6. Wayang...........................................................................108 H.7. Pakaian Adat...................................................................115 H.8. Keris................................................................................125 H.9. Makanan Khas................................................................133 H.10. Ketoprak dan Ludruk.....................................................138 H.11. Reog.............................................................................139 H.12. Kidung/Puisi..................................................................140 H.13. Lagu Adat Jawa............................................................141 I. SUB SUKU JAWA.................................................................................154 I. 1. Suku Osing......................................................................154 I. 2. Suku Tengger..................................................................156 J. UNGKAPAN-UNGKAPAN JAWA.........................................................157 K. PEMBANGUNAN DAN MODERNISASI..............................................159 PENUTUP...........................................................................................................161 DAFTAR PUSTAKA

i

BAB I PENDAHULUAN

Masyarakat Jawa merupakan “ladang” potensial yang masih memendam segudang informasi budaya untuk dapat digali seiring dengan perkembangan waktu. Harus diakui bahwa usaha untuk mengungkap alam pikiran, pandangan, dan kehidupan orang Jawa tidak akan pernah tuntas dan bahkan diperlukan cara-cara baru dalam mengungkap “misteri” kebudayaan Jawa tersebut. Magnis-Suseno (1984:1), mengatakan bahwa kebudayaan Jawa mempunyai ciri khas yaitu terletak dalam kemampuan luar biasa untuk membiarkan diri dibanjiri oleh gelombanggelombang kebudayaan yang datang dari luar dan dalam banjir tersebut dapat mempertahankan keasliannya. Lebih lanjut dikatakan bahwa kebudayaan Jawa justru tidak menemukan diri dan berkembang kekhasannya dalam isolasi, melainkan dalam mencerna masukan-masukan budaya dari luar. Hal tersebut menjadikan kebudayaan Jawa kaya akan unsur-unsur budaya yang kemudian menyatu dan kemudian menjadi milik kebudayaan Jawa seperti sekarang ini, di mana berbagai macam persilangan budaya justru telah memberikan warna terhadap kedinamisan budaya Jawa. Walaupun terpaan ideologi modern cukup kuat, namun manusia Jawa yang hidup dalam bayang-bayang Kasultanan Yogyakarta dan Surakarta masih tetap menyimpan dan memegang teguh pandangan budayanya misalnya tentang keberadaan makhluk supranatural, mitos, adat istiadat dan lain-lain. Tentunya pandangan-pandangan tersebut mengandung suatu makna yang dalam dan mempunyai keeratan hubungan dengan konsepsi manusia Jawa tentang dunia. Peta kognitif ini merupakan dokumen dan khazanah pengetahuan penting dalam usaha memahami budaya Jawa saat ini, apabila budaya dipandang sebagai sesuatu yang secara internal heterogen dan muncul dari peristiwa-peristiwa yang paling mendasarinya.

kebudayaan 1

Jawa

BAB II PEMBAHASAN A. di dalam wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta sebelah selatan terdapat kelompok-kelompok masyarakat orang Jawa yang masih mengikuti atau mendukung kebudayaan Jawa ini. Sifat ini konon berdasarkan watak orang Jawa yang ingin menjaga harmoni atau keserasian dan menghindari konflik. Tetapi di provinsi Jawa Barat. Pada umumnya. adalah suku bangsa terbesar di Indonesia. Malang dan Kediri. dua daerah luas bekas kerajaan Mataram sebelum terpecah yakni Yogyakarta dan Surakarta merupakan pusat kebudayaan Jawa. Mereka berasal dari pulau Jawa dan terutama ditemukan di provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Yogyakarta. Banten dan tentu saja Jakarta mereka banyak ditemukan. IDENTIFIKASI Daerah kebudayaan Jawa sangatlah luas meliputi seluruh bagian tengah dan timur pulau Jawa. Ada daerah yang disebut daerah Kejawen yaitu Banyumas. Selain suku Jawa baku terdapat subsuku Osing dan Tengger. Penduduk Suku bangsa Jawa. mereka itu membentuk kesatuan-kesatuan hidup yang menetap di desadesa. Surakarta. Kedu. kebudayaan 2 Jawa . Namun. Jumlahnya mungkin ada sekitar 90 juta data pada tahun 2004. Sama halnya dengan daerah Kejawen lainnya. hal-hal itu masih menunjukkan satu pola ataupun satu sistim kebudayaan Jawa. Sehubungan dengan itu. Daerah di luar yang tersebut di atas disebut daerah Pesisir dan Ujung Timur. variasi dan perbedaan tersebut tidaklah besar karena apabila diteliti. maka dalam rangka seluruh kebudayan Jawa ini. Madiun.Tetapi mereka juga terkenal sebagai suku bangsa yang tertutup dan tidak mau terus terang. Orang Jawa memiliki stereotipe sebagai suku bangsa yang sopan dan halus. Sudah barang tentu terdapat berbagai variasi dan perbedaan yang bersifat lokal dalam beberapa unsur kebudayaannya di daerah yang tercakup dalam kebudayaan Jawa. karena itulah mereka cenderung untuk diam dan tidak membantah apabila terjadi perbedaan pendapat.

dan terhadap orang yang lebih muda usianya serta lebih rendah tingkatannya atau status sosialnya. Ada pula agama kepercayaan suku Jawa yang disebut sebagai agama Kejawen. seseorang harus memperhatikan dan membeda-bedakan keadaan orang yang diajak berbicara atau yang sedang dibicarakan. Tiap-tiap wilayah bagian desa ini diketuai oleh seorang Kepala Dukuh. adalah suatu wilayah hukum yang sekaligus menjadi pusat pemerintahan tingkat daerah paling rendah. Protestan dan Katholik juga banyak. yang luasnya sering tidak lebih dari 2 meter. Di dalam pergaulan hidup maupun perhubungan-perhubungan sosial seharihari mereka berbahasa Jawa. dan yang sebagian berjajar menghadap jalan desa itu. dihubungkan oleh jalan-jalan desa. Secara adminstratif desa langsung berada di bawah kekuasaan pemerintah kecamatan dan terdiri dari dukuh-dukuh. berdasarkan usia ataupun status sosialnya. Semua budaya luar diserap dan ditafsirkan menurut nilai-nilai Jawa sehingga kepercayaan seseorang kadangkala menjadi kabur. Penganut agama Buddha dan Hindu juga ditemukan pula di antara masyarakat Jawa. Kepercayaan ini terutama berdasarkan kepercayaan animisme dengan pengaruh Hindu-Buddha yang kuat. yang satu sama lain dipisah-pisahkan dengan pagar-pagar bambu atau tumbuhtumbuhan. ada juga Balai Desa. Kemudian sebuah dukuh dengan dukuh lainnya. Bahasa Jawa Krama digunakan untuk berbicara dengan orang yang belum dikenal tetapi yang sebaya dalam umur dan derajat. Bentuk Desa Desa sebagai tempat kediaman yang tetap pada masyarakat orang Jawa. Mereka juga terdapat di daerah pedesaan. tempat pemerintahan desa kebudayaan 3 Jawa . di daerah pedalaman. kandang-kandang ternak dan perigi. Tetapi yang menganut agama Kristen. Selain rumah-rumah tersebut yang tampak berkelompok. Demikian pada prinsipnya ada dua macam bahasa Jawa apabila ditinjau dari kriteria tingkatannya yaitu bahasa Jawa Ngoko dan Jawa Krama. Bahasa Jawa Ngoko dipakai untuk orang yang sudah dikenal akrab. Di sini dijumpai sejumlah perumahan penduduk beserta tanah-tanah pekarangannya. juga terhadap orang yang umurnya lebih tua atau status sosialnya lebih tinggi. yang dibangun di dekat-dekat rumah atau di halaman pekarangannya. Ada di antara rumah-rumah itu yang dilengkapi dengan lumbung padi.Orang Jawa sebagian besar secara nominal menganut agama Islam. Masyarakat Jawa terkenal akan sifat sinkretisme kepercayaannya. Pada waktu mengucapkan bahasa daerah ini.

Manusia yang hidup di dunia ini tidak hanya menjalin komunikasi dengan sesama saja melainkan dengan makhluk supranatural. Lebih lanjut dikatakan bahwa kebudayaan Jawa justru tidak menemukan diri dan berkembang kekhasannya dalam isolasi. Magnis-Suseno (1984:1). atau mengadakan rapat-rapat desa. Untuk menampung kegiatan-kegiatan pendidikan keagamaan. Jong (1985:10) menekankan bahwa di alam pikiran mistik dan kebudayaan 4 Jawa . mengatakan bahwa kebudayaan Jawa mempunyai ciri khasaitu terletak dalam kemampuan luar biasa untuk membiarkan diri dibanjiri oleh gelombanggelombang kebudayaan yang datang dari luar dan dalam banjir tersebut dapat mempertahankan keasliannya. dan kehidupan orang Jawa tidak akan pernah tuntas dan bahkan masih diperlukan caracara baru dalam mengungkap misteri kebudayaan Jawa tersebut. langgar atau masjid. Hal tersebut menjadikan kebudayaan Jawa kaya akan unsur-unsur budaya yang kemudian menyatu dan menjadi milik kebudayaan Jawa sekarang ini di mana berbagai macam persilangan budaya justru telah memberikan warna terhadap kedinamisan budaya Jawa. Harus diakui bahwa usaha untuk mengungkapkan alam pikiran. MITOLOGI KEBUDAYAAN JAWA MITOLOGI KANGJENG RATU KIDUL Pemahaman Tentang Mitos Masyarakat Jawa merupakan ladang potensial yang masih memendam segudang informasi budaya untuk dapat digali seiring dengan perkembangan waktu. B.berkumpul. biasanya ada sekolah-sekolah. pandangan. Dengan demikian tidak mengherankan apabila dalam masyarakat Jawa terdapat perilaku-perilaku yang menandai hubungan antara manusia dan makhluk supranatural. Hubungan manusia dengan makhluk alam nyata dengan makhluk supranatural tidak dibedakan. dan sosial ekonomi rakyat. sedangkan tanah pertanian berupa sawah-sawah atau ladang-ladang terbentang di sekeliling desa. Adapun kuburan desa berada di lingkungan wilayah salah satu sebuah dukuh. yang diadakan tiap-tiap 35 hari sekali. melainkan dalam mencerna masukan-masukan budaya dari luar. Kecuali itu ada pasar yang kelihatan ramai pada hari pasaran. Pandangan manusia Jawa terhadap dunia mengisyaratkan bahwa baik dunia yang secara fisik kelihatan maupun dunia yang tidak kelihatan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

bahkan isi dasar Javanisme. Penolakan-penolakan itu membuat Sang Prabu marah dan prihatin terhadap putrinya. Menurut Mircea Eliade (dalam Susanto. Tetapi karena keberadan alam supranatural yang dipahami orang Jawa sampai taraf tertentu tidak dapat diterangkan maka praktik-praktik keagamaan yang mengarah pada penghormatan penguasa dunia supranatural justru menjadi pintu masuk dalam memahami alam pikiran orang Jawa tersebut. Kemudian Ratna Suwidi mengembara seorang diri. yaitu mitologi wayang. ia mengusir putrinya sendiri dari kerajaan. Sebenarnya masih banyak mitologi lainnya yang hidup dalam alam pikiran orang Jawa misalnya mitologi Kanjeng Ratu Kidul. mengatakan bahwa mite adalah bahasa untuk diketahui. mitos berarti suatu cerita yang benar dan cerita ini menjadi milik mereka yang paling berharga. yang menyebabkan ketaatan emosional dan intelektual yang mendalam.mitos dapat tercermin suatu sikap hidup. Menurut Choy (1976:13). Akibatnya. ia mempunyai seorang putri bernama Ratna Suwidi. Ratu Kidul dalam Mitos Di kalangan masyarakat Jawa. penguasa hutan dan lain-lain. menjadi contoh model bagi tindakan manusia. yaitu merupakan model hubungan manusia dengan alam supranatural. Selain itu. dan dongeng (folktale). untuk sebagian orang Jawa ia benar-benar ada. Kanjeng Ratu Kidul tidak hanya merupakan legenda. Salah satu cerita dalam Babad Tanah Jawi mengisahkan bahwa waktu kerajaan Pajajaran di bawah kekuasaan Prabu Mundingsari. prosa rakyat dapat dibagi dalam tiga golongan besar yaitu mite (myte). sebenarnya terdapat banyak cerita tentang Kanjeng Ratu Kidul. memberikan makna dan nilai pada kehidupan ini. bermakna. Mitos sebenarnya mempunyai arti secara tersirat yang perlu diketahui. kami akan berfokus pada mitologi Kanjeng Ratu Kidul. Di dalam masyarakat Jawa ada mitologi religius yang hampir diterima secara universal. Bascom. Pada kesempatan ini. tetapi tidak satupun yang diterima karena ia lebih mementingkan segi kerohanian. penguasa gunung. 1987:91). Tujuannya adalah mencari tempat kebudayaan 5 Jawa . legenda (legend). Sedangkan Levi-Strauss (1963:209). Putri tersebut mempunyai kebiasaan bertapa dengan meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi. Banyak sekali raja dan pangeran yang melamarnya. Menurut William R. karena memiliki sesuatu yang suci. naik turun gunung dan menembus lebatnya hutan menuju ke arah timur. mistik merupakan salah satu bentuk.

Berkat kesaktiannya. ia didatangi Raden Sesuruh.yang cocok untuk bertapa. ia dapat mancala putra-mancala putri. Di puncak gunung itu ada sebatang cemara. mereka akan kebudayaan 6 Jawa . Hajar Cemara Tunggal tahu maksud dan tujuan Raden Sesuruh yang datang menemuinya. maka Ratna Suwidi kemudian berubah menjadi makhluk halus yang membawahi semua makhlus di seluruh tanah Jawa. bahwa kelak apabila Raden Sesuruh telah dinobatkan sebagai raja Majapahit. Raden Sesuruh segera bersujud di kaki Sang Hajar meminta maaf. sebenarnya Hajar Cemara Tunggal adalah adik perempuan dari kakek Raden Sesuruh. Berdasarkan garis keturunan. ia menemukan puncak Gunung Kombang yang dirasa cocok untuk bertapa. Tetapi di tengah-tengah cerita tiba-tiba Sang Hajar berubah wujudnya. Dengan menyetujui saran dewa tersebut. Apabila nanti di suatu tempat menemukan batang pohon Kemaja berbuah hanya satu dan rasanya pahit. seorang putra mahkota kerajaan Pajajaran yang melarikan diri bersama pengikutnya karena terjadi perebutan kekuasan. Dengan rasa malu. Hajar Cemara Tunggal kemudian menceritakan kisah pelariannya dan siapa sebenarnya dirinya. Pohon cemara yang berada di puncak gunung tersebut diabadikan menjadi nama samarannya yaitu Hajar Cemara Tunggal. Ratna Suwidi menJawab bahwa ia ingin sekali tidak bisa meninggal dunia dan bisa hidup sepanjang zaman. Sang pertapa ini kemudian terkenal dengan kesaktiannya. ia berubah menjadi putri cantik Ratna Suwidi. Raden Sesuruh terpesona dan jatuh cinta kepada putri cantik yang ada di depannya tersebut kemudian ia mendekati dan merayunya. ia mengubah diri menjadi lelaki. Akhirnya. Dengan kesaktiannya. Sang Hajar melanjutkan ceritanya dengan nada menghibur. Sang Hajar kemudian memberi petunjuk kepada Raden Sesuruh supaya berjalan terus ke arah timur. Pada suatu hari. maka tempat itulah yang dapat digunakan oleh Raden Sesuruh untuk memegang kekuasaan dan menurunkan raja di tanah Jawa. Dari tempat itulah Raden Sesuruh dapat membalas sakit hati atas perlakuan raja Pajajaran. Seketika itu juga putri itu menghilang dari pandangan mata Raden Sesuruh dan menjelma menjadi Hajar Cemara Tunggal lagi. Kemudian dewa berkata bahwa manusia tidak dapat hidup sepanjang zaman. Hajar Cemara Tungal didatangi dewa dan ditanya tentang keinginannya bertapa terus menerus. Dikisahkan pula waktu Hajar Cemara Tunggal masih berada di puncak Gunung Kombang. tetapi keinginan Ratna Suwidi itu dapat terkabulkan apabila ia bersedia menjadi makhluk halus.

C. Pesan terakhir Sang Hajar kepada Raden Sesuruh adalah apabila Raden Sesuruh beserta keturunannya yang menjadi raja tanah Jawa menemui halangan. Leach (1981:82) menjelasan bahwa aktivitas-aktivitas ritual merupakan jembatan antara dunia yang tampak dengan dunia datan kasat mata. Praktik-praktik keagamaan seperti penyelenggaraan Tari Bedaya Lambang Sari dan Tari Bedaya Semang merupakan usaha dari para penguasa Mataram untuk berhubungan dengan alam supranatural. mitologi Kanjeng Ratu Kidul digunakan oleh penguasa Kasultanan Yogyakarta sebagai kerangka acuan dalam menjalankan pemerintahan. Krama Madya inipun agak berbeda antara Krama yang dipergunakan dikota / Sala dengan Krama yang dipergunakan di pinggiran / desa.1 Bahasa Jawa Bahasa Jawa adalah bahasa pertuturan yang digunakan penduduk suku bangsa Jawa terutama di beberapa bagian Banten. Pada prinsipnya. Hajar Cemara Tunggal tidak lagi bertapa di Gunung Kombang. BAHASA DAN AKSARA JAWA C. Selama bertahta di samudera pasir atau Laut Selatan Jawa. Krama Inggil ( Krama Halus ). kebudayaan 7 Jawa . Sang Hajar pasti akan datang bersama makhluk halus bawahannya. Ngoko sendiri dalam perkembangannya secara tidak langsung terbagi-bagi lagi menjadi ngoko kasar dan ngoko halus ( campuran ngoko dan kromo ).bertemu kembali. Selain itu. Jawa Tengah & Jawa Timur di Indonesia. Selanjutnya Krama itu terbagi lagi menjadi Krama. Krama Madya. sebaiknya memanggil Sang Hajar. Kelak setelah Raden Sesuruh memegang kekuasaan dan membawahi seluruh tanah Jawa. kelak akan ada keturunan Raden Sesuruh yang menjadi raja Jawa akan dapat mengawini Kanjeng Ratu Kidul Peran Mitologi Kanjeng Ratu Kidul Dalam modelnya. Sedangkan Krama Haluspun berbeda antara Krama Halus/Inggil yang dipergunakan oleh kalangan Kraton dengan kalangan rakyat biasa. Dengan sekejap. Bahasa Jawa terbagi menjadi dua yaitu Ngoko dan Kromo. Jawa Barat. melainkan pindah ke samudera pasir. Selain itu juga digunakan untuk menjamin keselamatan dan ketentraman hidup serta digunakan sebagai pengantara manusia dengan alam supranatural. ia akan berubah wujud seperti semula yaitu sebagai putri yang cantik jelita dengan sebutan Kanjeng Ratu Kidul.

Bahasa Jawa pada dasarnya terbagi atas dua klasifikasi dialek. Dialek Bumiayu (peralihan Tegal dan Banyumas) Kelompok pertama di atas sering disebut bahasa Jawa ngapak-ngapak. meskipun tergolong rumpun Karena bahasa ini terbentuk dari gradasi-gradasi yang sangat berbeda Austronesia. 1964. Dialek Indramayu-Cirebon 3. Sedangkan dialek daerah ini didasarkan pada wilayah. di dalam bukunya : "A Critical Survey of Studies on the Languages of Java and Madura". Dialek Semarang 5. Untuk klasifikasi berdasarkan dialek daerah. khususnya dialek Surakarta dan Yogyakarta. Dialek Pekalongan 2. Dialek Blora 7. yang dikembangkan dari huruf Pallava. Bahasa Jawa ini memiliki aksara-nya sendiri. The Hague: Martinus Nijhoff. Rembang. Dialek Pantai Utara Timur (Jepara. Kudus.M.Bahasa Jawa dianggarkan digunakan sekitar dua per tiga penduduk pulau Jawa. karakter dan budaya setempat. Perbedaan antara dialek satu dengan dialek lainnya bisa antara 070%. Dialek Tegal 4. kebudayaan 8 Jawa . Kelompok Bahasa Jawa Bagian Barat : 1. dan Dialek sosial Bahasa Indonesia maupun Melayu. pengelompokannya mengacu kepada pendapat E. Kelompok Bahasa Jawa Bagian Tengah : 1. dan juga huruf Pegon yang diubah sesuai dari huruf Arab. Demak. Dialek Madiun Kelompok kedua di atas sering disebut Bahasa Jawa Standar. Dialek Kedu 3. Dialek Yogyakarta 9. Dialek Bagelen 4. Dialek Banyumasan 5. yakni : • • dengan Dialek daerah. Dialek Banten 2. Dialek Surakarta 8. Pati) 6. Uhlenbeck.

nèng*ndi?’ 2. Ngoko meninggikan diri sendiri: “Aku kersa ndangu. seperti ayah. Pak Lurah. Dialek Pantura Jawa Timur (Tuban. omahé Budi kuwi. 2. Dipakai oleh penutur untuk berkomunikasi dengan lawan bicara yang: a. nèng endi?” 3. di mana?” 1. ibu. dianggap memiliki kedudukan/kekuasaan/pendidikan lebih tinggi. Dialek Tengger 6. saya mau tanya rumah kak Budi itu. Ngoko kasar: “Eh. Ngoko alus: “Aku nyuwun pirsa. 5. dalemé mas Budi kuwi. Dialek Jombang 5. aku arep takon. Ngoko Ngoko Andhap Madhya Madhyantara Kromo Kromo Inggil Kromo Inggil adalah suatu tingkatan kehalusan bahasa Jawa tutur.Kelompok Bahasa Jawa Bagian Timur : 1. c. omahé mas Budi kuwi. Dialek Malang 4. nèng ndi?” kebudayaan 9 Jawa . Pak Guru. Dialek sosial dalam Bahasa Jawa berbentuk sebagai berikut : 1. dihormati. Bagongan Kedhaton Kedua logat terakhir digunakan di kalangan keluarga Kraton dan sulit dipahami oleh orang Jawa kebanyakan. * Bahasa Indonesia: “Maaf. seperti majikan. Dialek Banyuwangi (atau disebut Bahasa Osing) Kelompok ketiga di atas sering disebut Bahasa Jawa Timuran. 7. 6. Dialek Surabaya 3. 8. kakek. b. Bojonegoro) 2. 4. 3. dianggap jelas lebih tua.

kula ajeng tanglet. Semarang termasuk daerah pesisir Jawa bagian utara. Madya: “Nuwun sèwu. maka tak beda dengan daerah lainnya. karena dianggap tidak sopan. wonten pundi?” 8. wonten pundi?” 7. dalem badhé nyuwun pirsa. bahasa Suroboyoan dapat dikatakan sebagai bahasa paling kasar. Secara struktural bahasa. kula ajeng tanglet. karena tidak berani memandang mata lawan bicara ♦ Dialek Semarang adalah sebuah dialek bahasa Jawa yang dituturkan di Semarang. Krama andhap: “Nuwun sèwu. dan terus terang. Madya alus: “Nuwun sèwu. Meskipun demikian. Boyolali dan Salatiga. dalemipun mas Budi punika. teng pundi?” 5. dalemé mas Budi niku. griyanipun mas Budi punika. itu tanda bahwa orang tersebut sejatinya pengecut. wonten pundi?” Beberapa jenis dialeg Jawa : ♦ Dialeg Surabaya atau lebih sering dikenal sebagai bahasa Suroboyoan adalah sebuah dialek bahasa Jawa yang dituturkan di Surabaya dan sekitarnya.4. misalnya dalam berbicara. Krama inggil: “Nuwun sewu. bahasa dengan tingkatan yang lebih halus masih dipakai oleh beberapa orang Surabaya. Sikap basa basi yang diagung-agungkan wong Jawa. kula badhe nyuwun pirsa. Walau letak daerah Semarang yang heterogan dari pesisir kebudayaan 10 Jawa . Dialek ini tak banyak berbeda dengan dialek di daerah Jawa lainnya. Tapi dalam budaya arek suroboyo. sebagai bentuk penghormatan atas orang lain. tidak berlaku di kehidupan arek suroboyo. Solo. lugas. kula badhé takèn. Dialek ini berkembang dan digunakan oleh sebagian masyarakat Surabaya dan sekitarnya. Krama: “Nuwun sewu. wong Jawa menekankan tidak boleh memandang mata lawan bicara yang lebih tua atau yang dituakan atau pemimpin. dalemipun mas Budi punika. Pada umumnya menganggap dialek suroboyoan adalah yang terkasar tapi sebenarnya itu menunjukkan sikap tegas. teng pundi?” 6. griyané mas Budi niku. Yogyakarta.

Kudus/Demak/Purwodadi) dan dari daerah bagian selatan/pegunungan membuat dialek yang dipakai memiliki kata ngoko. Indonesia. sedangkan dalam dialek Banyumasan dibaca enak dengan suara huruf 'k' yang jelas. dan sebagainya. Para pemakai dialek Semarang juga senang menyingkat frase. itulah sebabnya bahasa Banyumasan dikenal dengan bahasa Ngapak atau Ngapak-ngapak. misalnya kata enak oleh dialek lain bunyinya ena. seratus (100) menjadi "nyatus". Hal ini disebabkan bahasa Banyumasan masih berhubungan erat dengan bahasa Jawa Kuna (Kawi). Namun tak semua frasa bisa disingkat. Jadi contohnya "Taman lele" tak bisa disingkat "Tam-lel" juga Gedung Batu tak bisa menjadi "Ge-bat". Dibandingkan dengan bahasa Jawa dialek Yogyakarta dan Surakarta. ngoko andhap dan madya di Semarang ada di zaman sekarang. Jadi jika di Solo orang makan 'sego' (nasi). Sebagian besar kosakata asli dari bahasa ini tidak memiliki kesamaan dengan bahasa Jawa standar (Surakarta/Yogyakarta) baik secara morfologi maupun fonetik. Selain itu. di wilayah Banyumasan orang makan 'sega'. Logat bahasanya agak berbeda dibanding dialek bahasa Jawa lainnya. dsb. misalnya Lampu abang ijo (lampu lalu lintas) menjadi "Bang-Jo". sebab tergantung kepada kesepakatan dan minat para penduduk Semarang mengenai frasa mana yang disingkat. kata-kata yang berakhiran huruf mati dibaca penuh. kebun binatang menjadi "Bon-bin". Perbedaan yang utama yakni akhiran 'a' tetap diucapkan 'a' bukan 'o'. Beberapa kosakata dan dialeknya juga dipergunakan di Banten utara serta daerah Cirebon-Indramayu. Limang rupiah (5 rupiah) menjadi "mang-pi".(Pekalongan/Weleri. kebudayaan 11 Jawa . ♦ Dialek Banyumasan atau sering disebut Bahasa Ngapak Ngapak adalah kelompok bahasa Jawa yang dipergunakan di wilayah barat Jawa Tengah. dialek Banyumasan banyak sekali bedanya.

Purworejo. dan makna kata. Meskipun memiliki kosa kata yang relatif sama dengan bahasa Banyumas. Dialek ini terkenal dengan cara bicaranya yang khas. Ciri khas kebudayaan 12 Jawa . menjadikan dialek yang ada di Tegal beda dengan daerah lainnya. sebab merupakan pertemuan antara dialek "bandek" (Yogya-Solo) dan dialek "ngapak" (Banyumas).Banten Cirebonan Utara sire sira/rika pisan pisan keprimen kepriben ♦ Banyumasan & Tegalan Jawa Standar Indonesia sira/rika kowe kamu Pisan banget sangat keprimen/kepriben/kepriwe piye/kepriye/kepripun bagaimana Dialek Kedu Dialek Kedu adalah sebuah dialek bahasa Jawa yang dituturkan di daerah Kedu. Magelang dan khususnya Temanggung. selain Banyumas. pengguna dialek Tegal tidak serta-merta mau disebut ngapak karena beberapa alasan antara lain: perbedaan intonasi. Pengucapan kata dan kalimat agak kental. Letak Tegal yang ada di pesisir Jawa bagian utara. juga di daerah perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. tersebar di timur Kebumen: Prembun. pengucapan. Dialek Tegal merupakan salah satu kekayaan bahasa Jawa. Contoh: Kata-katanya masih menggunakan dialek ngapak dalam tuturannya agak bandek:  "Nyong": aku. tetapi orang Magelang memakai "aku" orang Temanggung yang di kotanya juga menggunakan "aku" di Parakan juga sebagian kecil menggunakan "aku"   "njagong": duduk (bahasa Jawa standar: lungguh) "Trus Priben": Lalu bagaimana (bahasa Jawa standar: "banjur "gandhul": pepaya piye" atau "terus piye")  ♦ Dialek Tegal Tegal termasuk daerah Jawa Tengah di dekat perbatasan bagian barat.

Selain pada intonasinya. seprasekawan (Krama) 3/4 telung prapat. sepalih (Krama) 1/4 saprapat. Bahasa Jawa Kuna Kawi Krama Ngoko Fraksi • • • • 2 sa rwa eka dwi setunggal kalih siji loro 1 3 telu tri tiga telu 5 pat lima catur panca sekawan gangsal papat lima 4 6 nem sad nem nem 7 pitu sapta pitu pitu 8 wwalu as. kalih tengah (Krama) C. Bali.t. tigang prasekawan (Krama) 1. Untuk lebih jelas. Bilangan dalam bahasa Jawa Bila dibandingkan dengan bahasa Melayu atau Indonesia.a wolu wolu 9 sanga nawa sanga sanga 10 sapuluh dasa sedasa sepuluh 1/2 setengah. Kurikulum yang mereka terima seolah-olah merupakan 'paksaan' agar menggunakan menggunakan dialek Jawa Tengah dan Yogyakarta yang bukan merupakan bahasa ibu mereka. Sunda. dialek Tegal memiliki ciri khas pada pengucapan setiap frasanya.2 Aksara Jawa Hanacaraka atau dikenal dengan nama caraka adalah abjad / alat tulis yang digunakan oleh suku Jawa (juga Madura.5 karo tengah. yakni apa yang terucap sama dengan yang tertulis. separo. Palembang. bahasa Jawa memiliki system bilangan yang agak rumit. Hal ini kebudayaan 13 Jawa . Aksara Jawa bila diamati lebih lanjut memiliki sifat silabik (kesuku-kataan). mari kita amati beberapa contoh dan tabel berikut ini: Dialek Tegal padha saka sega apa tuwa Bahasa Jawa Standar Podho Soko Sego Opo Tuwo Salah satu persoalan yang selalu dihadapi oleh para siswa sekolah (SD sampai SMA) adalah dalam hal mata pelajaran bahasa daerah (Jawa). dan Sasak).

ada yang dipercaya dan ada yang dipercaya untuk bekerja. manusia Maksudnya dan ada yang mempercayakan. Sebagai contoh : Bila diucapkan. cocok " tunggal batin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan   kebudayaan 14 Jawa . Data Sawala (Berbeda Pendapat). jumbuh. Beberapa buah aksara itu bisa digabungkan secara langsung untuk membentuk sebuah kata. Maksudnya padha " sama " atau sesuai. Aksara Na yang mewakili dua huruf yakni N dan A. susunan aksara tersebut dapat membentuk kalimat: Hana Caraka (Terdapat Pengawal). menerima dan menjalankan kehendak Tuhan. Padha Jayanya (Sama kuat/hebatnya). Adapula tafsir berbeda yang diajarkan oleh Pakubuwono IX. Raja Kasunanan Surakarta. kewajiban manusia ( sebagai ciptaan ).bisa dilihat dengan struktur masing-masing huruf yang paling tidak mewakili 2 buah huruf (aksara) dalam huruf latin. Maga Bathanga (Keduanya mati). dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata "hari". Pa-Dha-Ja-Ya-Nya berarti menyatunya zat pemberi hidup ( Khalik ) dengan yang diberi hidup ( makhluk ). Sebagai contoh aksara Ha yang mewakili dua huruf yakni H dan A. manusia. Da-Ta-Sa-Wa-La berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan data " saatnya ( dipanggil ) " tidak boleh sawala " mengelak " manusia ( dengan segala atributnya ) harus bersedia melaksanakan. Tafsir tersebut adalah:  Ha-Na-Ca-Ra-Ka berarti ada " utusan " yakni utusan hidup. dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata "nabi". berupa nafas yang berkewajiban menyatukan Ketiga unsur jiwa itu dengan adalah jasat Tuhan.

Jaya itu " menang. Jumlah aksara / huruf pada hanacaraka berjumlah 20 buah tampak pada gambar berikut. satu visi. totalitas.rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani  Ka Karsaningsun memayu hayuning bawana . titis.menerima hidup apa adanya  Ta Tatas.keutamaan. ketelitian dalam memandang hidup  Sa Sifat ingsun handulu sifatullah .mendasar.  Ma-Ga-Ba-Tha-Nga berarti menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat. berusaha untuk menanggulanginya. gaib candra. Makna Huruf  Ha Hana hurip wening suci .pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi  Ca Cipta wening. warsitaning candara . cipta dadi .adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci  Na Nur candra.membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan kebudayaan 15 Jawa . unggul " sungguh-sungguh dan bukan menang-menangan " sekedar menang " atau menang tidak sportif. Maksudnya manusia harus pasrah. cipta mandulu. tutus. sumarah pada garis kodrat.hasrat diarahkan untuk kesejahteraan alam  Da Dumadining dzat kang tanpa winangenan . titi lan wibawa .arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal  Ra Rasaingsun handulusih .

menyelaraskan diri pada gerak alam  Tha Tukul saka niat .belajar pada guru nurani  Ba Bayu sejati kang andalani . maka kita harus menuliskan bentuk pasangan da.Hakekat Allah yang ada disegala arah  Dha Dhuwur wekasane endek wiwitane .mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi  Pa Papan kang tanpa kiblat .Selalu berusaha menyatu memahami kehendak-Nya  Ya Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi .sesuatu harus dimulai dan tumbuh dari niatan  Nga Ngracut busananing manungso . bagaimana Carakan bisa menuliskan huruf mati. Untuk mematikan huruf Na. Sebagai contoh kata "banda" yang bila dipisahkan menurut silabiknya adalah "ban" dan "da". Hal ini bisa diJawab dengan adanya pasangan. Artinya bahwa huruf yang diikuti pasangan akan dimatikan sehingga menjadi konsonan.Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar  Ja Jumbuhing kawula lan Gusti . Pasangan memiliki fungsi untuk menghubungkan suku kata yang tertutup (diakhiri) konsonan dengan suku kata berikutnya. Wa Wujud hana tan kena kinira . ngerti tanpa diuruki .yakin atas titah/kodrat Illahi  Nya Nyata tanpa mata. kebudayaan 16 Jawa .ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas  La Lir handaya paseban jati . Kemudian menuliskan aksara Na karena aksara Na mewakili dua buah huruf latin yakni N dan A sehingga kita tidak bisa langsung menuliskan aksara da.yakin/mantap dalam menyembah Ilahi  Ga Guru sejati sing muruki .melepaskan egoisme pribadi manusia Pasangan Jika Carakan / aksara Jawa lebih bersifat silabis (kesuku-kataan). Pada kasus di atas aksara Na diikuti pasangan Da yang berarti Na akan dibaca sebagai N. Suku kata yang pertama suku kata ban.memahami kodrat kehidupan  Ma Madep mantep manembah mring Ilahi . Untuk menuliskan ban ini pertama-tama adalah dengan menuliskan aksara Ba terlebih dahulu. Bentuk pasangan disebutkan memiliki fungsi untuk menghubungkan suku kata yang tertutup konsonan dengan suku kata berikutnya.

Semua aksara pokok yang ada di Carakan memiliki pasangannya masingmasing. Bentuk-bentuk pasangan itu adalah: Aksara Murda Pada aksara hanacaraka memiliki bentuk murda (hampir setara dengan huruf kapital) yang seringkali digunakan untuk menuliskan kata-kata yang menunjukkan :      Nama Gelar Nama Diri Nama Geografi Nama Lembaga Pemerintah Dan Nama Lembaga Berbadan Hukum. Bentuk pasangan ini ada yang dituliskan di bawah dan ada juga yang di atas sejajar dengan aksara. (Kata-kata dalam Bahasa Indonesia yang menunjukkan hal-hal diatas biasanya diawali dengan huruf besar atau kapital. Aksara Murda dan pasangannya kebudayaan 17 Jawa . Untuk itulah pada perangkat lunak ini kita gunakan huruf kapital untuk menuliskan aksara murda atau pasangannya).

b. Contoh: Aksara swara kebudayaan 18 Jawa .Aturan Pengunaan Untuk aturan penulisan Aksara murda ini hampir sama dengan penulisan aksaraaksara pokok di Hanacaraka. Bila ditemui aksara murda menjadi sigeg. Contoh Pemakaian Aksara Murda Untuk melengkapi aturan penggunaan aksara murda ini. c. maka dituliskan bentuk aksara pokoknya. ditambah dengan beberapa aturan tambahan yakni : a. contoh berikut bisa digunakan sebagai acuan untuk menuliskan Aksara Murda. maka ada dua aturan yang dapat dipergunakan yakni dengan menuliskan aksara murda terdepannya saja. Murda tidak dapat dipakai sebagai sigeg (konsonan penutup suku kata). atau dengan menuliskan keseluruhan dari bentuk aksara mudra yang ditemui. Bila dalam satu kata atau satu kalimat ditemui lebih dari satu aksara murda.

suku. adapun bentuk Aksara Swara ini adalah sebagai berikut : Aturan Penulisan Aksara Swara Dalam menuliskan Aksara Swara. Aksara Swara dalam penulisan Hanacaraka digunakan untuk menuliskan aksara vokal yang menjadi suku kata. terutama yang berasal dari bahasa asing. layar. Contoh: Sandangan kebudayaan 19 Jawa . cecak. contoh berikut bisa digunakan sebagai acuan untuk menuliskan Aksara Murda. Aksara swara tidak dapat dijadikan sebagai aksara pasangan. Aksara ini tidak dilengkapi dengan bentuk pasangan. diikuti aturan penulisan aksara swara sebagai berikut : a. c.Kegunaan Aksara Swara Aksara Swara sebagaimana aksara Murda memiliki fungsi dan kegunaan tertentu. Bila aksara swara menemui sigegan (konsonan pada akhir suku kata sebelumnya). b. Bentuk Aksara Swara Aksara Swara tidak seperti aksara-aksara yang lain. Aksara swara dapat diberikan sandangan wignyan. wulu dan lainnya. untuk mempertegas pelafalannya. Contoh Penggunaan Aksara Swara Untuk melengkapi aturan penggunaan aksara murda ini. maka sigegan itu harus dimatikan dengan pangkon.

aksara yang tidak mendapat sandangan diucapkan sebagai gabungan anatara konsonan dan vokal a. misalnya :  Vokal a dilafalkan /a/. Adapun bentuk dari sandangan bunyi vokal ini adalah : Pemakaian Sandangan Wulu Sandangan Wulu dipakai untuk melambangkan vokal ( i ) di dalam suatu suku kata. atau vokal U yang tidak dituliskan dengan aksara swara. Apabila sandangan suku mengikuti pasangan aksara (ka). Sandangan Bunyi Vokal (Sandhangan Swara) Sandangan bunyi vokal ada lima buah. siapa. Sandangan suku pada pasangan dituliskan mengikuti letak penulisan pasangan itu. Penulisan sandangan suku pada aksara. Pemakaian Sandangan Pepet Kegunaannya untuk dipakai untuk melambangkan vokal e di dalam suatu suku kata. (ta). semua di dalam bahasa Indonesia. Letak sandangan sukunya sendiri tetap berada pada bagian bawah akhir dari pasangan. Sandangan suku dipakai untuk melambangkan bunyi vokal u yang bergabung dengan bunyi konsonan di dalam suatu suku kata.Sandangan adalah tanda yang dipakai sebagai pengubah bunyi di dalam tulisan Jawa. Di dalam tulisan Jawa. baru kemudian diberikan sandangan suku. ada. misalnya : Sandangan di dalam aksara Jawa dapat dibagi menjadi tiga golongan yakni sebagai berikut : 1. pokok. maka sandangan wulu digeser sedikit ke kiri. yakni / / dan /a/. Pemakaian Sandangan Suku Penulisan sandangan suku dapat dituliskan dalam dua keadaan yaitu : 1. tolong. Sedangkan wulu ditulis di bagian atas akhir suatu aksara. 2. Apabila selain wulu juga terdapat sandangan yang lain. Aturan penulisan sandangan pepet tertera sebagai berikut: kebudayaan 20 Jawa . atau (la). Vokal a di dalam bahasa Jawa mempunya dua macam varian. maka pasangan ini harus dirubah dulu ke dalam bentuk aksara pokoknya dahulu. Penulisan sandangan suku pada pasangan. seperti a pada kata pas.Sandangan suku dituliskan serangkai di bagian bawah akhir aksara yang mendapatkan sandangan itu. tokoh doi dalam bahasa Indonesia.  Vokal a dilafalkan seperti o pada kata bom.

maka penulisan pepet berada di atas pasangannya. maka sandangan pepet digeser sedikit ke kiri dan sandangan cecak ditulis di dalam pepet. kecuali untuk aksara yang mendapatkan pasangan yang dituliskan di atas seperti sandangan (ha). maka dibedakan sebagai berikut .  é untuk penulisan sandangan pepet  e untuk penulisan sandangan taling Pemaikaian Sandangan Taling Tarung Sandangan taling tarung dipakai untuk melambangkan bunyi vokal O yang tidak dituliskan dengan aksara swara di dalam suatu suku kata. Pemakaian Sandangan Taling Untuk membedakan penggunaan sandangan pepet dengan taling. Untuk aksara pasangan yang ada di atas seperti pasangan (ha). Sandangan Konsonan Penutup Suku Kata (Sandhangan Panyigeging Wanda) Sandangan penutup suku kata ada 4 buah. maka sandangan pepet digeser sedikit ke kiri dan sandangan layar ditulis di sebelah kanan pepet. Penempatan sandangan pepet pada aksara yang mendapatkan pasangan dituliskan sesuai dengan aturan di atas. (sa). Apabila selain pepet juga terdapat sandangan layar. sedangkan tarung ditaruh di belakang aksara pasangan. (sa).Sandangan pepet ditulis di bagian atas akhir aksara. Sebab suku kata re dan le yang bukan pasangan dilambangkan dengan tanda pacerek (re) dan Nga lelet (le). Untuk Sandangan taling tarung dituliskan mengapit aksara yang dibubuhi sandangan itu. Sandangan taling tarung untuk aksara pasangan di tuliskan mengapit aksara yang dimatikan (yang menjadi sigeg). Pemakaian Sandangan Wignyan Sandangan wignyan adalah pengganti sigegan ha (konsonan ha di akhir suku). Penulisan wignyan diletakkan di belakang aksara yang dibubuhi sandangan itu. dan (pa). Pengecualian: Sandangan pepet tidak dipakai untuk menuliskan suku kata re dan le yang bukan sebagai pasangan. 2. Untuk aksara yang mendapatkan pasangan ini. kebudayaan 21 Jawa . dan (pa). Apabila selain pepet juga terdapat sandangan cecak. maka taling ditaruh didepan aksara sigeg.

adhiku dolanan ijen. senilai dengan pada lingsa.  Sandangan pangkon dapat juga dipakai sebagai pembatas bagian kalimat atau rincian yang belum selesai. Sandangan cecak dituliskan menurut aturan ini bila menemui keadaan aksara yang diikuti tidak memiliki sandangan di atas aksara selain dirinya. Pada kasus ini pangkong berfungsi ganda. Fungsi-fungsi itu adalah :  Sandangan pangkong dipakai sebagai penanda bahwa aksara yang dibubuhi sandangan pangkon itu merupakan aksara mati. o Contoh: bapak macul.  Sandangan cecak ditulis di atas aksara di dalam pepet.) di dalam ejaan latin. Sandangan pangkong ditulis di belakang aksara yang di bubuhi sandangan itu. aksara penutup suku kata. di samping untuk mematikan aksara. atau tanda koma (. Apa bila sandangan cecak mengikuti sandangan wulu. Sandangan pangkon dapat ditulis untuk menghindarkan penulisan aksara yang bersusun lebih dari dua tingkat. sandangan layar digunakan untuk pengganti sigegan ra (konsonan ra di akhir suku). Pemakaian Sandangan Pangkon Tidak seperti ketiga sandangan sebelumnya. sandangan pangkong memiliki beberapa fungsi. Pemakaian Sandangan Cecak Sandangan cecak digunakan untuk menuliskan sigegan ng (sepasang konsonan nga di akhir suku kata).Pemakaian Sandangan Layar Hampir sama dengan sandangan wignyan. atau aksara penyigeging wanda.  Sandangan cecak ditulis di atas aksara belakang sandangan wulu. maka penulisan cecak di taruh di dalam sandangan pepet. Penulisan layar ditulis dibagian atas akhir aksara yang mengikuti. aku angon sapi. o Contoh : benik klambi kebudayaan 22 Jawa . Sandangan cecak apabila mengikuti sandangan pepet. maka sandangan cecak dituliskan di belakang sandangan wulu. ada tiga buah kondisi dalam menuliskan sandangan cecak. yakni :  Sandangan cecak ditulis di atas aksara.

Tanda pengkal ditulis serangkai di belakang aksara yang diberi tanda pengkal. Bentuk tanda baca yang ditangani dalam perangkat lunak ini ada 4 buah yakni : 1) Adeg-adeg Adeg adeg dipakai di depan kalimat pada tiap-tiap awal alinea. Sandangan Cakra Sandangan cakra merupakan penanda gugus konsonan yang unsur terakhirnya berwujud konsonan r. Sandangan Gugus Konsonan Gugus konsonan adalah kumpulan dari dua konsonan dalam Hanacaraka yang akan membentuk suatu suku kata. Aksara yang sudah diberikan cakra dapat diberikan sandangan lagi selain sandangan cakra. Tanda cakra ditulis serangkai di bawah bagian akhir aksara yang diberi tanda cakra itu. Tanda cakra keret ditulis serangkai di bawah bagian akhir aksara yang diberikan tanda keret itu. Tanda ini hampir setara dengan penggunaan koma(. Tanda Baca Dalam Hanacaraka terdapat pula tanda-tanda baca yang digunakan dalam penulisan kalimat. Dengan kata lain cakra keret digunakan sebagai ganti tanda cakra yang mendapatkan penambahan sandangan pepet. Pada Lingsa Pada lingsa dipakai pada akhir bagian kalimat sebagai tanda intonasi setengah selesai. dhuwur. paragraf dan lainnya. lan pakulitane ireng. Sandangan Cakra Keret Sandangan Cakra Keret dipakai untuk melambangkan gugus konsonan yang berunsur akhir konsonan r dengan diikuti vokal e pepet. suku kata kra memiliki gugus konsonan kr. 2) kebudayaan 23 Jawa . Contoh: wong gedhe.). Di dalam Hanacaraka ada lima buah gugus konsonan yang digunakan dalam bentuk sandangan. Dan apa bila sandangan itu adalah pepet. cecak. sebagai contoh kraton yang dapat dipisah menjadi kra-ton. cakra la. Sandangan Pengkal Sandangan Pengkal dipakai untuk melambangkan konsonan y yang bergabung dengan konsonan lain di dalam suatu suku kata. maka sandangan cakra dan pepet ditulis menjadi cakra keret. cakra wa.3.

Terutama bidang Administrasi Negara dan Militer banyak didominasi orang Jawa. piring. Contoh: aku arep tuku bala pecah : mangkok. MATA PENCAHARIAN Di Indonesia. yaitu yang bertempat tinggal di daerah-daerah yang lebih rendah mengolah tanah-tanah pertanian tersebut untuk dijadikan sawah.3) Pada Lungsi Pada lungsi dipakai pada awal suatu kalimat. Meski banyak pengusaha Indonesia yang sukses berasal dari suku Jawa. Banyak variasi pekerjaan sesuai dengan keahlian dan keterampilan yang dimiliki. Contoh: wis meh jam telu esuk. diantara mereka ada yang menggarap tanah pertaniannya untuk dibuat kebun kering ( tegalan ). Di dalam melakukan pekerjaan pertanian ini. goreh amarga mikirna bojone kang wis telung dina iki durung mulih. banyak diantara suku Jawa bekerja sebagai buruh kasar dan tenaga kerja indonesia seperti pembantu. Biasanya disamping tanaman padi. terutama mereka yang hidup di daerah pegunungan. Tanda ini hampir setara dengan titik. "sapa kancamu" D. Contoh: Ibu mundhut emas 75 gram. dan buruh di hutan-hutan di luar negeri yang mencapai hampir 6 juta orang. beberapa jenis tanaman palawija juga ditumbuhkan baik sebagai tanaman utama di kebudayaan 24 Jawa . lan gelas. 4) Pada Pangkat  Pada pangkat dipakai pada akhir pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian.  Pada pangkat dipakai untuk mengapit petikan langsung. Dan tentunya kini semakin bertambah banyak. pikirane goreh. orang Jawa bisa ditemukan dalam segala bidang. Sedangkan yang lain. bertani adalah juga merupakan salah satu mata pencaharian hidup dari sebagian besar masyarakat orang Jawa di desadesa. Selain sumber penghidupan yang berasal dari pekerjaan-pekerjaan kepegawaian. pertukangan dan perdagangan. orang Jawa tidak menonjol dalam bidang Bisnis dan Industri.  Pada pangkat dipakai untuk mengapit angka. Contoh: Ibu ngendika. sumini durung bisa turu.

Sudah barang tentu cara-cara bagi hasil ini tergantung kepada keadaantingkat kesuburan tanah pertanian tersebut. yang disebut adol oyodan. kacang tunggak. Sawah itu ada yang dimiliki sendiri dan sawah ini disebut sawah sanggan dan sawah yasan. dimana ia mendapat tanha pertanian sebagai barang gadaian untuk diolah. Hubungan transksi semacam ini. misalnya untuk satu masa panen. Walaupun demikian ornag yang menggadai tanah itu sudah dapat memungut hasil pertaniannya setidak-tidaknya satu kali masa panen. dan lain-lain. Pemilik yang kelebihan dapat menjual sawah seperti itu kepada orang lain. kedelai. Tanaman penyela tersebut. bahakna banyak juga yang tidak mempunyaianya sama sekali. Kalau ia menerima sepertiga bagian saja. kacang tanah. mbotok atau membuat minyak goreng kelapa. Banyak orang di desa tidak memiliki tanah-tanah pertanian yang luas. ialah menjual lepas sawahnya. atau secara adol ceplik. sebagia bunganya. menganyam tikar. maka tanha pertanian tadi diserahkan kembali kepadanya. menyewa tanah.tegalan maupun sebagai tanaman penyela di sawah pada waktu musim kemarau dimana air sangat kurang untuk pengairan sawah-saah itu. dan menjadi tukang-tukang kebudayaan 25 Jawa . bagi hasil atau menggadai tanah. artinya ia meminjamkan uang kepada orang lain. sistem itu disebut mertelu. Dalam hal ini dia bisa menjual secara adol tahunan. Apabila orang yang tidak mempunyai tanah ingin mendapat hasil dengan cara bagi hasil. si pemilik sawah biasanya hanya akan menerima seperlima bagian dari seluruh hasil panenan sawahnya. Terutama untuk bagi hasil tanaman palawija kacang brol. Selain sumber penghasilan dari lapangan pekerjaan pokok bertani tersebut. Orang yang menyewa tanah. ialah hanya menyewakan sawahnya untuk satu tahun. maka sistem itu disebut maro. membatik. Kemudian jika si peminjam uang dan pemilik sawah tersebut berhasil mengembaikan uang pinjamannya pada suatu waktu. Orang seperti itu terpaksa bekerja menjadi buruh tani. artinya memperoleh separo bagian hasil panennya. umumnya dilakukan oleh kedua belah pihak dengna disaksikan oleh salah seorang anggota Pamong Desa. kacang brol. Akhirnya jika orang hendak menggadai tanah. adapula beberapa sumber pendapatan lain yang diperoleh dari usaha-usaha kerja sambilan membuat makanna tempe. diantaranya adalah ketela pohon. karena ia kaya dapat memberikan sejumlah uangnya kepada orang pemilik sawah yang memerlukan. maka ada yang disebut adol sende. ketela rambat. mencetak batu merah.

Misalnya ketika seorang anak laki-laki lahir diberi nama Bomantara. Pada saat dewasa dan telah memiliki jabatan dalam hierarki kebangsawanan. istilah priyayi atau berdarah biru merupakan suatu kelas sosial yang mengacu kepada golongan bangsawan. ia akan memiliki gelar yang berbeda dari gelar yang telah ia miliki. Misalnya ia menduduki jabatan pemimpin ksatrian maka gelarnya akan berubah menjadi Gusti Pangeran Adipati Haryo.kayu. dan mengelompokkan masyarakat Jawa ke dalam tiga golongan: priyayi. Gelar dalam golongan ini terbagi menjadi bermacam-macam berdasarkan tinggi rendahnya suatu kehormatan. Dan setiap kedudukan yang ia jabat ia akan memilki gelar tambahan atau gelar yang berubah nama. Namun penggolongan ini tidaklah terlalu tepat. Istilah priyayi menjadi terkenal saat Clifford Geertz melakukan penelitian tentang masyarakat Jawa pada tahun 1960-an. SISTEM KEMASYARAKATAN  Lapisan sosial  priyayi Kata priyayi konon berasal dari dua kata Jawa para dan yayi yang secara harafiah berarti "para adik". Namun menurut Robson (1971) kata ini bisa pula berasal dari kata Sansekerta priyā. batu atau reparasi sepeda dan lapangan-lapangan pekerjaan lain yang mungkin dikerjakan. karena pengelompokkan priyayi-non priyayi adalah berdasarkan garis keturunan seseorang. Abangan digunakan untuk mereka yang bukan priyayi dan juga bukan santri. Suatu golongan tertinggi dalam masyarakat karena memiliki keturunan dari keluarga kerajaan. kebudayaan 26 Jawa . ketika menapak dewasa (18 atau 21 tahun) bertambah lagi menjadi Bandara Raden Mas Aryo. ia bergelar Raden Mas. yang berarti kekasih Dalam kebudayaan Jawa. E. Yang dimaksud adalah para adik raja. santri dan abangan. Gelar seorang priyayi juga dapat meningkat seiring dari usianya. jadi nama lengkapnya adalah Raden Mas Bomantara. Beberapa gelar dari yang tertinggi hingga dengan hanya satu gelar saja yaitu Raden. Kelompok santri digunakan untuk mengacu pada orang yang memiliki pengetahuan dan mengamalkan agama. Golongan priyayi tertinggi disebut Priayi Ageng (bangsawan tinggi). ketika menginjak akil balik gelarnya bertambah satu kata menjadi Bandara Raden Mas.

Joko. akan tetapi tidak mempunyai tempat tinggal sendiri. Ningrat  Adalah keluarga keraton dan keturunan bangsawan lainnya. Misalnya seorang laki-laki ningrat yang merupakan keturunan langsung (generasi pertama) dari raja/pemimpin yang memerintah akan mendapat tambahan Bandara (baca "bandoro") di depan gelarnya. Yang biasanya mempunyai gelar-gelar yang menandakan tingkat kebangsawanannya. Dalam hal memelihara dan membangun masyarakat desanya. oleh karena itu dalam susunan kepemimpinan desa tiap-tiap dukuh diketuai oleh kepala dukuh. biasanya hidup didesadesa dengan sesuai dengan mata pencaharian mereka sebagai petani. b. sehingga menjadi Bandara Raden Mas (disingkat BRM). ada priyayi yang santri dan ada pula yang abangan. Wong baku merupakan lapisan tertinggi dalam lingkungan desa di Jawa. sinoman.sehingga terpaksa menetap di kediaman mertuanya. mereka memiliki sawah. Wong Cilik  Merupakan golongan masyarakat yang paling bawah. Kuli gandok atau lindung Mereka adalah orang laki-laki yang sudah kawin. c. rumah. Dalam realita. serta pekarangannya.abangan dibuat berdasarkan sikap dan perilaku seseorang dalam mengamalkan agamanya (Islam). Golongan ini juga dapat digolongkan lagi menjadi : a. Desa-desa di Jawa sering dibagi-bagi menjadi bagian-bagian yang disebut dukuh. tukang dan pekerja kasar lainnya. akan tetapi golongan bujang ini bisa mempunyai tanah baik dari pembelian atau warisan.sedangkan pengelompokkan santri . para pamong desa harus sering menggerakkan kebudayaan 27 Jawa . dan masih tinggal bersama orang tuanya atau tinggal (ngenger) dirumah orang lain. atau bujangan Mereka semua belum menikah. mereka adalah keturunan orang-orang yang dahulu yang pertama kali menetap didesa. bahkan ada pula yang non muslim.

misalnya keluarga keraton atau keluarga kyai agung. F. Dalam adat masyarakat Jawa dikenal adanya ngarang wulu serta wayuh. e. yaitu suatu perkawinan seorang pria dan wanita atas kemauan kedua orang tua mereka. memperbaiki dan membuat sarana fasilitsa pedesaan. Magang atau ngenger. ialah seorang jejaka yang telah mengabdikan dirinya pada kerabat si gadis. Jadi merupakan pernikahan sororat. Pelamaran biasa b. Upacara. Triman.upacara tersebut adalah  Nakokake Seorang pria pertama-tama datang ke kediaman orang tua si gadis dengan didampingi oleh orang tua sendiri atau wakil orang tuanya untuk menanyakan kebudayaan 28 Jawa . Menurut adat Jawa apabila akan diadakan suatu perkawinan. yaitu seorang yang mendapat istri sebagai pemberian atau penghadiahan dari salah satu lingkungan keluarga tertentu. Adapun wayuh adalah suatu perkawinan lebih dari satu istri (poligami). Masyarakat Jawa mengenal beberapa sistem pernikahan.masyarakat dengan gugur gunung atau kerik desa guna bekerja sama membersihkan. Paksa (peksan). Semua kakak laki-laki atau wanita ayah dan ibu beserta istri atupun suami masing – masing diklasifikasikan menjadi satu dengan istilah siwa atau uwa. c. Ngunggah-ngunggahi. Perkawinan ngarang wulu adalah suatu perkawinan seorang duda dengan seorang wanita salah satu adik dari almarhum istrinya. terlebih dahulu diselenggarakan berbagai upacara-upacara sampai dilaksanakannya peresmian perkawinan. Adapun adik dari ayah dan ibu diklasifikasikan ke dalam dua golongan yang dibedakan menurut jenis kelamin menjadi paman dan bibi. yaitu : a. SISTEM KEKERABATAN Sistem kekerabatan masyarakat Jawa berdasarkan prinsip keturunan bilateral. d. yaitu pihak kerabat si gadis yang melamar si jejaka.

komunikasi dan keamanan. makanan dan minuman.kepadanya. dukun pengantin perempuan di mana menjadi pemimpin dari acara pernikahan. dimana tercatat sebagai pasangan suami istri. pidato pembuka. apakah si gadis sudah ada empunya atau belum (legan). perhiasan dan perlengkapan lain untuk pesta pernikahan. Besarnya panitia itu tergantung dari latar belakang dan berapa banyaknya tamu yang di undang (300. transportasi. Biasanya dia juga menyewakan pakaian pengantin. Untuk itu dibentuk sebuah panitia kecil yang terdiri dari teman dekat. Dia mengurus dandanan dan pakaian pengantin laki-laki dan pengantin perempuan yang bentuknya berbeda selama pesta pernikahan.  Nontoni Calon suami mendapat kesempatan untuk melihat calon istrinya. pintu gerbang dari rumah orangtua wanita dihias dengan Tarub (dekorasi tumbuhan). Persiapan yang paling penting adalah Ijab (catatan agama dan catatan sipil). 500. yaitu : • Dua pohon pisang dengan setandan pisang masak berarti: Suami akan menjadi pemimpin yang baik di keluarga. Jika orang tua si gadis telah meninggal. terdiri dari berbeda Tuwuhan (tanaman dan daun). musik gamelan dan tarian.  Persiapan Penunjukkan Pemaes. yakni anggota kerabat dekat menurut garis laki – laki (patrilineal). Banyak yang harus dipersiapkan untuk setiap upacara pesta pernikahan. pembawa acara. keluarga dari kedua mempelai. Panitia mengurus seluruh persiapan perkawinan: protokol. kebudayaan 29 Jawa . dekorasi dari ruangan resepsi. Pohon pisang sangat mudah tumbuh dimana saja. Biasanya sehari sebelum pesta pernikahan. hal itu yang disebut nakokake kepada wali. 1000 atau lebih). wali untuk Ijab. Pasangan pengantin akan hidup baik dan bahagia dimana saja.

• Mempunyai bentuk seperti gunung. dadap srep berarti: Pasangan pengantin akan hidup aman dan melindungi keluarga. pengalaman dan kesabaran. Selain pemasangan tarub juga dikenal adanya Kembar Mayang yang merupakan karangan dari bermacam daun (sebagian besar daun kelapa di dalam batang pohon pisang). Itu dekorasi sangat indah dan mempunyai arti yang luas. • Keris: Melukiskan bahwa pasangan pengantin berhati-hati dalam kehidupan. pintar dan bijaksana. mojo-koro. • • • Bekletepe Bleketepe yang berada di atas pintu gerbang berarti menjauhkan dari gangguan roh jahat dan menunjukan di rumah mana pesta itu diadakan. Gunung itu tinggi dan besar. Bentuk daun seperti beringin. Cemeti: Pasangan pengantin akan selalu hidup optimis dengan hasrat untuk kehidupan yang baik. berarti laki-laki harus punya banyak pengetahuan. alang-alang. Cengkir Gading berarti: Pasangan pengantin cinta satu sama lain dan akan merawat keluarga mereka. kebudayaan 30 Jawa • .• Sepasang Tebu Wulung berarti: Seluruh keluarga datang bersama untuk bantuan nikah.

nasi kuning tanpa hiasan. Burung: Pasangan pengantin mempunyai motivasi hidup yang tinggi. Daun Dadap srep: Daun yang dapat digunakan mengompres untuk menurunkan demam. di dapur. • • • • • Daun Dlingo Benglé: Jamu untuk infeksi dan penyakit lainnya. di bawah dekorasi Tarub. Tumpeng Gundul. Sajen berarti untuk mendoakan leluhur dan untuk melindungi dari gangguan roh jahat. dan lain-lain. Sebelum memasang Tarub dan Bekletepe harus membuat hidangan spesial yang dinamakan Sajen. nasi kuning dengan hiasan. Pisang raja dan buah lainnya. Bunga Patra Manggala: Itu digunakan untuk memperindah karangan. itu digunakan untuk melindungi gangguan setan. daging. cepat berpikir dalam mengambil keputusan untuk keluarganya. Itu adalah simbol yang sangat berarti. Makanan: ayam. Jawa 31 kebudayaan . telur. • Siraman sajen terdiri dari: • • • • • • Tumpeng Robyong. Tujuh macam bubur. diantaranya di kamar mandi. Daun Beringin: Pasangan pengantin akan selalu melindungi keluarganya dan masyarakat sekitarnya. tahu. Daun Kruton: Daun yang melindungi mereka dari gangguan setan. Kelapa muda. Tradisionil Sajen (persembahan) dalam pesta adat Jawa itu sangat penting.• • Payung: Pasangan pengantin harus melindungi keluarganya. di bawah pintu gerbang. Sajen diletakan di semua tempat di mana pesta itu diadakan. Belalang: Pasangan pengantin akan giat. berarti pasangan pengantin akan selalu mempunyai pikiran yang jernih dan tenang dalam mengadapi masalah. di jalan dekat rumah. di mana Tuhan Pencipta melidungi kami.

Kursi kecil. Pesta Siraman ini biasanya diadakan di siang hari. Siraman biasanya dilakukan di kamar mandi atau di taman. sehari sebelum Ijab dan Panggih. Aroma . magnolia dan kenanga .  Siraman. Tradisionil shampoo dan conditioner (abu dari merang. air asam Jawa). Air dari sumur atau mata air. Sekarang lebih banyak diadakan di taman. Buna Telon (kenanga. gayung dari 2 kelapa. melati. ditutup dengan: kebudayaan 32 Jawa .di campur dengan air. Bunga Setaman .berfungsi seperti sabun. letakkan bersama.lima warna . Teh dan kopi pahit. Bahasa Jawa tujuh itu PITU. Lantera. Siraman di adakan di rumah orangtua pengantin masing-masing. Yang harus dipersiapkan: • • • • • • Baskom untuk air. Jumlah orang yang melakukan Siraman itu biasanya tujuh orang. Mereka menyeleksi orang yang bermoral baik. Makna dari pesta Siraman adalah untuk membersihkan jiwa dan raga.• • • • • Kue manis. lemper. Tidak hanya orangtua. tetapi juga keluarga dekat dan orang yang dituakan. Rokok dan kretek. mereka memberi nama PITULUNGAN (berarti menolong).mawar. melati. santan. magnolia) dengan air Suci. Daftar nama dari orang yang melakukan Siraman itu sangat penting. cendol. biasanya terbuat dari tembaga atau perunggu.

Dia mendudukkan di kursi dan berdoa.lurik (motif garis dengan potongan Yuyu Sekandang dan Pula Watu). Pengantin perempuan/laki-laki duduk dengan kedua tangan di atas dada dengan posisi berdoa.bango tulak (kain dengan 4 macam motif) . Mereka menyiramkan air ke tangannya dan membersihkan mulutnya tiga kali. Pemaes sangat behati-hati dalam merias pengantin. Itu Banyu Suci Perwitosari. Akhirnya.dlingo benglé (tanaman untuk obatobatan) . Dan ini akan digunakan setelah Siraman. Keluarga dari pengantin wanita mengirim utusan untuk membawa air-bunga ke keluarga dari pengantin laki-laki. Handuk. Itu adalah simbol dari kemakmuran hidup.  Upacara Ngerik Setelah Siraman. Dia diantar ke tempat Siraman. Setelah itu Pemaes membersihkan wajahnya dan lehernya. Setelah Kendi itu kosong. Kendi. Pemaes atau orang yang ditunjuk memecahkan kendi ke lantai dan berkata: 'Wis Pecah Pamore' . orang lain boleh melakukan Siraman. kebudayaan 33 Jawa . dan lain-lain. Dandanan itu tergantun dari bentuk perkawinan. pengantin duduk di kamar pengantin. Pemaes mengeringkan rambutnya dengan handuk dan menberi pewangi (ratus) di seluruh rambutnya. dia siap untuk di dandani. Orang terakhir yang melakukan Siraman adalah Pemaes atau orang sepesial yang telah ditunjuk. pengantin wanita memakai kebaya dan kain batik dengan motif Sidomukti atau Sidoasih. Air ini diletakan di rumah pengantin laki-laki. handuk. Setelah mereka. Orang pertama yang menyiramkan air ke pengantin adalah ayah. Pemaes menggunakan tradisionil shampoo dan conditioner. wajah. Kain batik dari Grompol dan potongan Nagasari.berarti dia itu tampan (menjadi cantik dan siap untuk menikah). • • • • Memakai kain putih selama Siraman. Dia mengikat rambut ke belakang dan mengeraskannya (gelung). Dalam pelaksanaan upacara Siraman Pengantin perempuan/laki-laki datang dari kamarnya dan bergabung dengan orangtuanya. tangan dan kaki juga sebanyak tiga kali. Ibu boleh menyiramkan setalah ayah.kain putih .• Tikar . Kemudian mereka menyiramkan air ke atas kepala. telinga. leher. berarti air suci dan simbol dari intisari kehidupan. Beberapa orang jalan di belakangnya dan membawa baki dengan kain batik.beberapa macam daun .

Kacang Areca. Menurut kepercayaan kuno. Dewi akan datang dari kayangan. beras. Mulai dari besok. Yang harus diletakan di kamar pengantin : • • Satu set Kembar Mayang. Jawa 34 • • • • kebudayaan . jamu. Ukub (baki dengan bermacam pewangi dari daun dan bunga) diletakan di bawah tempat tidur. Keluarga dan teman dekat dari pengantin wanita akan datang berkunjung. Midodareni itu berasal dari kata Widodari yang berarti Dewi. Orangtua dari pengantin wanita akan menyuapkan makanan untuk yang terakhir kalinya. Pengantin wanita harus tinggal di kamar dari jam enam sore sampai tengah malam di temani dengan beberapa wanita yang dituakan. Dua kendi (diisi dengan bumbu. Upacara Midodareni Pelaksanaan pesta ini mengambil tempat sama dengan Ijab dan Panggih. dan lain-lain) di lapisi dengan kain Bango Tulak. calon pengantin wanita akan menjadi cantik sama seperti Dewi. semuanya harus wanita. kacang. Pada malam hari. Suruh Ayu (daun betel). Biasanya mereka akan memberi saran dan nasihat. suaminya yang akan bertanggung Jawab. Dua kendi (diisi dengan air suci) di lapisi dengan daun dadap srep.

mengharapkan kesehatan. dia hanya diberi segelas air dan kebudayaan 35 Jawa . minyak. Di tengah malam semua sajen di ambil dari kamar.  Peningsetan atau Srah-Srahan Peningsetan berasal dari kata singset (berarti ikatan). tanda dasar kehidupan. garam. • Beras.• Tujuh macam kain dengan corak letrek. keluarga dan teman dekat dari pengantin wanita bertemu dengan keluarga dari pengantin laki-laki. mengharapkan untuk kebahagiaan dan kehidupan yang baik. tetapi dia tidak boleh masuk ke rumah. Keluarga dan tamu dapat makan bersama. Sumbangan uang untuk pesta pernikahan. kedua keluarga beramah tamah. gula. Mereka membawa hadiah: • Suruh Ayu (daun betel). Keluarga dari pengantin laki-laki berkunjung ke keluarga dari pengantin perempuan. Hanya pengantin laki-laki tidak bisa bertamu ke kamar pengantin perempuan yang sudah bagus di dekorasi. dan lain-lain. Dia duduk di serambi depan rumah bersama dengan beberapa teman dan keluarga. Pengantin laki-laki tiba bersama dengan keluarganya. Dalam kesempatan ini. Kedua keluarga menyetujui pernikahan. Di kamar lain. Setagen putih untuk tanda kekuatan. Mereka akan menjadi besan. Buah-buahan. • Beberapa kain batik dengan corak berbeda. • • • Kain Kebaya. Hanya keluarganya boleh masuk ke rumah. Selama itu. mengharapkan untuk keselamatan. • • Cincin untuk pasangan pengantin.

Mereka dihormati seperti Raja dan Ratu di hari itu.  Upacara Ijab Upacara ijab merupakan syarat yang paling penting dalam mengesahkan pernikahan. minyak rambut mengkilap. Itu disebut Nyantri. dengan pertimbangan bahwa besok dia harus berpakaian pengantin dan siap untuk Ijab dan upacara pernikahan lain. tetapi tidak ke kamar pengantin. Pasangan pengantin muncul terbaik. Orangtua dari pengantin perempuan akan mengurus penginapannya. Sebelum keluarganya meninggalkan rumah. Nyantri dilakukan untuk keamanan dan praktisnya. pengantin lakilaki boleh masuk ke rumah. Setelah pengunjung meninggalkan rumah. Pelaksanaan dari Ijab sesuai dengan agama dari pasangan pengantin. utusan dari keluarga pengnatin laki-laki mengatakan kepada tuan rumah bahwa mereka akan mengambil alih tanggungJawab pengantin laki-laki. Upacara perkawinan menurut adat Jawa terdiri dari beberapa tahapan yaitu :  Upacara Panggih Suara sangat bagus dan mistik dari Gamelan digabungkan dengan tradisi Panggih atau Temu: pertemuan antara pengantin wanita yang cantik dengan pengantin laki-laki yang tampan di depan rumah yang di hias dengan kebudayaan 36 Jawa . Tempat di adakan Ijab diletakan Sanggan atau Sajen disekitarnya. Setelah selesainya rangkaian persiapan maka dilanjutkan dengan upacara perkawinan. Dengan maksud agar dia bisa menahan lapar dan godaan. Pengantin wanita dengan gelungan. Pengantin laki-laki juga berpakaian khusus untuk upacara ini. perhiasan emas dan kebaya untuk saat ini. Dia boleh makan hanya setelah malam hari.tidak boleh merokok. Utusan menyatakan bahwa pengantin laki-laki tidak kembali ke rumah.

Dekorasi itu hanya digunakan bila pasangan pengantin sebelumnya tidak pernah menikah. itu akan mencoba bahwa mereka benarbenar orang yang sejati. dengan membawa kipas. semua orang tersenyum bahagia. Untuk dekorasi. Menurut kepercayaan kuno. Kembar Mayang di bawa keluar rumah dan diletakan di persimpangan dekat rumah. Mereka mendekati satu sama lain. kebudayaan 37 Jawa . tiba di rumah dari orangtua pengantin wanita dan berhenti di depan pintu gerbang. Dua wanita dituakan atau dua putera membawa dua Kembar Mayang yang tingginya sekitar satu meter atau lebih. Pengantin wanita. dua Kembar Mayang diletakan di samping kanan dan kiri dari kursi pasangan pengantin.  Upacara Balangan Suruh Pengantin wanita bertemu dengan pengantin laki-laki. Mereka mulia melempar sebundel daun betel dengan jeruk di dalamnya bersama dengan benang putih. Pengantin laki-laki di antar oleh keluarga dekatnya (tetapi bukan orangtuanya karena mereka tidak boleh berada selama upacara).tanaman Tarub. Mereka melakukannya dengan keinginan besar dan kebahagian. daun betel mempunyai kekuatan untuk menolak dari gangguan buruk. Di depannya dua puteri disebut Patah. bukan setan atau orang lain yang menganggap dirinya sebagai pengantin laki-laki atau perempuan. sebagai tanda dari penghargaan kepada tuan rumah dari upacara. Orangtuanya dan keluarga dekat berjalan di belakangnya. jaraknya sekitar tiga meter. melukiskan bahwa setan tidak akan menggangu selama upacara di rumah dan di sekitarnya. di antar oleh dua wanita yang dituakan. Itu melukiskan bahwa pengantin laki-laki siap untuk menjadi ayah yang bertangung Jawab dan pengantin perempuan akan melayani setia suaminya. Satu orang wanita dari keluarga pengantin lakilaki berjalan keluar dari barisan dan memberi Sanggan ke ibu pengantin perempuan. Pengantin perempuan mencuci kaki pengantin laki-laki dengan menggunakan air dicampur dengan bermacam bunga. Dengan melempar daun betel satu sama lain.  Upacara Wiji Dadi Pengantin laki-laki menginjak telur dengan kaki kanannya. berjalan keluar dari kamar pengantin. Selama upacara Panggih.

berarti dia cinta mereka sederajat.  Upacara Tanem Ayah pengantin wanita mendudukan pasangan pengantin ke kursi pengantin. Itu melukiskan bahwa dia menyetujui perkawinan. ibu pengantin perempuan menutup pundak pasangan pengantin dengan Sindur. sementara dia bicara bahwa mereka sama beratnya. Dia memberi restu. Ibu memberi dorongan moral. Itu berarti bahwa ayah akan menunjukan jalan kebahagiaan. Upacara Sindur Binayang Setelah upacara Wiji Dadi.  Upacara Timbang Kedua pasangan pengantin duduk di atas pangkuan ayah dari pengantin wanita. kebudayaan 38 Jawa . ayah pengantin perempuan mengantar pasangan pengantin ke kursi pengantin.

beras kuning. kacang. jamu dlingo benglé. Di sana. bunga. Itu melukiskan bahwa suami akan memberi semua gajinya ke istrinya. pengantin perempuan mendapat dari pengantin laki-laki beberapa kedelai. dan beberapa mata uang yang berbeda nilainya (jumlah dari mata uang harus genap). pasangan pengantin berjalan bergandengan tangan dengan jari kelingking ke tempat upacara Kacar Kucur atau Tampa Kaya. Upacara Tukar Kalpika Pertukaran cincin pengantin simbol dari tanda cinta. di atas tikar yang sudah diletakan di pangkuannya.  Upacara Kacar Kucur atau Tampa Kaya Dengan dibantu oleh Pemaes.  Upacara Dahar Klimah atau Dahar Kembul kebudayaan 39 Jawa . Pengantin perempuan sangat berhati-hati dalam menerima pemberiannya di dalam kain putih. Dia akan mengurus dan menjadi ibu rumah tangga yang baik. jagung. padi.

Pemaes mengambil keris dari pengantin laki-laki. tahu. Warna merah dari Sindur dengan pinggir berliku berarti bahwa hidup itu seperti sungai mengalir di gunung. Mereka berjalan bersama menuju ke tempat upacara. Pertama ke orangtua pengantin wanita. pengantin laki-laki membuat tiga bulatan kecil dari nasi dengan tangan kanannya dan di berinya ke pengantin wanita. Orangtua dari pengantin laki-laki duduk di sebelah kiri dari pasangan pengantin. Orangtua dari pengantin perempuan duduk di sebelah kanan dari pasangan pengantin. Setelah pengantin wanita memakannya. menjadi pemimpin dari upacara. dan kedua ayah berjalan di belakang. Orantua pasangan pengantin memakai motif batik yang sama (Truntum).  Upacara Sungkeman Mereka bersujud untuk mohon doa restu dari orangtua mereka. pengantin laki-laki memakai kembali kerisnya. Pemaes. Selama Sungkeman. memberi piring ke pengantin wanita (dengan nasi kuning. abon dan hati ayam). Pertama. dia melakukan sama untuk suaminya. Upacara itu melukiskan bahwa pasangan akan menggunakan dan menikmati hidup bahagia satu sama lain. berarti pasangan akan selalu mempunyai cukup keuntungan untuk hidup baik. tempe. Setelah Sungkeman.  Upacara Mertui Orangtua pengantin wanita menjemput orangtua pengantin laki-laki di depan rumah. Orangtua mengantar mereka ke kehidupan nyata dan mereka akan membentuk keluarga yang kuat. mereka minum teh manis. kebudayaan 40 Jawa .Pasangan pengantin makan bersama dan menyuapi satu sama lain. Kedua ibu berjalan di depan. dadar telur. Setelah mereka selesai. kemudian ke orangtua pengantin lakilaki. mereka juga memakai Sindur seperti ikat pinggang.

fragment dari cerita wayang atau tari lebih modern Karonsih).Pengaduan gugatan perceraian bertingkat-tingkat tersebut dinamakan rapak. Akhirnya. Pemboyongan yang disertai pesta upacara lagi di tempat kediaman mempelai laki-laki ini disebut ngunduh temanten. kebudayaan 41 Jawa . Selain masalah perkawinan. hal ini dapat dilaksanakan sesudah sepasar. perceraian hanya bisa dilakukan dengan persetujuan kedua belah pihak. Kantor Urusan Agama Kabupaten yang akan memberi keputusan. Dalam hal ini.Setelah upacara Pernikahan. Semantara semua tamu menikmati pesta dan makan santapan. Bersamaan dengan itu. Pasangan pengantin baru bersama dengan orangtuanya menerima ucapan selamat dari para tamu. diiringi suara gamelan di ruang resepsi. beberapa penari Jawa menpertunjukan (tari klasiek Gathot Kaca-Pergiwo. dalam adat Jawa juga diatur mengenai masalah perceraian (pegatan). Apabila mempelai laki-laki berkehendak membawa istrinya. yaitu dengan memberikan taklik. Sedangkan sebaliknya istri pun berhak meminta cerai. Apabila seorang istri meminta cerai sedangkan suaminya tidak bersedia maka istri mengadu kepada kaum yang akan meneruskan pengaduan ke Kantor Urusan Agama Kecamatan. dilanjutkan dengan pesta resepsi. Suami dapat menceraikan istrinya dengan menjatuhkan talak. istri tidak dalam keadaan hamil dan di hadapan pengulu. atau sama dengan lima hari sejak mereka dipertemukan.

suami istri ingin rukun kembali sebelum melebihi jangka waktu seratus hari maka disebut rujuk. Dalam hubingan ini sorang janda dapat bergaul dengan seorang laki-laki lain setelah lewat masa iddahnya. Baik rujuk maupun balen hanya bisa dilaksanakan sesudah talak sampai tiga kali. Setelah pernikahan pasangan pengantin Jawa bebas menentukan apakah ia akan menetap di sekitar tempat kediaman sendiri atau kerabat. artinya mempunyai tempat tinggal sendiri yang terlepas dari tempat menetap kerabat masing-masing pihak.Apabila setelah bercerai. Menurut cara sepikul segendongan. Neolokal. keluarga-batih dalam bentuk keluarga yang luas adalah suatu pengelompokan dari dua-tiga keluarga atau lebih dalam satu tempat tinggal. Menurut cara perdamaian. c. yaitu seorang anak laki-laki atau perempuanyang tetap tinggal di rumah bersama orang tua. Dalam pembagian warisan harta peninggalan orang tua dikenal adanya 2 macam cara yaitu perdamaian dan sepikul segendongan. Dalam sebuah keluarga (kulawarga atau keluarga-batih) Jawa kepala keluarga disebut somah. Kelompok ini terdiri dari semua kerabat sampai tujuh turunan sejauh masih dikenal tempat tinggalnya. Biasanya orang tua cenderung memberikan rumah kediamannya kepada tabon. apabila pasangan pengantin menetap di dekat tempat kediaman kerabat istri. atau mereka memilih untuk tinggal di tempat tinggal yang baru. sedangkan ternak dibagikan sama sesuai jumlah yang ada. Selain itu terdapat kelompok kekerabatan lain yang disebut alurwaris. Pemeliharaan benda pusaka diserahkan kepada anak laki-laki tertua. yang lamanya tiga bulan sepuluh hari atau tiga kali lingkaran haid. sedangkan apabila hal itu dijalankan melebihi batas waktu tersebut dinamakan balen. yang tugasnya memelihara makam leluhur. anak laki-laki ditetapkan mendapat bagian 2/3 sedangkan perempuan 1/3 dari seluruh jumlah warisan orang tua. Besarnya kebudayaan 42 Jawa . apabila pasangan pengantin menetap di dekat tempat kediaman kerabat suami. b. karena apabila sudah mencapai talak sebanyak tiga kali maka suami istri tersebut harus bercerai selamanya. pembagian harta dilakukan melalui permusyawaratan antara para ahli waris. Utrolokal. Suatu kekerabatan yang lain ialah sanak-sadulur yang terdiri dari orang-orang kerabat keturunan dari seorang nenek moyang sampai derajat ketiga. Biasanya dipergunakan untuk pembagian warisan tanah pekarangan. Adat menetap sesudah nikah ada tiga sifat: a. Uxorilokal.

sedangkan benda gana gini baru dipersoalkan pembagiannya jika kedua orang tersebut bercerai. tetapi setelah ia datang hak dan kewajiban tanah pertanian itu kembali kepadanya. Sawah garapan. RELIGI Agama Islam berkembang baik di kalangan masyarakat Jawa.Pemeluk agama Islam pada masyarakat Jawa dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu : • Islam Santri adalah penganut agama Islam Jawa yang secara patuh dan teratur menjalankan ajaran-ajaran dari agamanya. Dalam adat Jawa dikenal adanya pembedaan harta benda milik suami sendiri sebelum kawin (benda gawan) dan harta kekayaan yang diperoleh selama hidup bersama (benda gana gini) keduanya dapat diwariskan. Selain itu. Sawah dunungan. sesungguhnya belum menjadi harta warisan namun sudah ditunjuk kepada siapa masing-masing bagian sawah itu akan diberikan. sehingga harus dipelihara dan digarap oleh saudaranya sendiri. Biasanya anak yang lebih tua mendapat bagian di sebelah barat dan anak yang muda di sebelah timur. Sawah gantungan. yaitu banda gana untuk suami dan banda gini untuk istri. Benda gawan kembali kepada kerabat masing-masing apabila suami istri tidak mempunyai anak. atau puasa. tetapi tetap percaya kepada kebudayaan 43 Jawa . c. sawah ini juga belum menjadi benda warisan tetapi sudah diberi ijin dari orang tua untuk digarap oleh anak-anak atau menantu laki-lakinya dan setelah orang tua meninggal akan menjadi warisan bagi penggarapnya. serta tidak bercita-cita naik haji. terdapat pemeluk agama nasrani dan agama besar lainnya. • Islam Kejawen penganut agama Islam ini beranggapan walaupun tidak menjalankan shalat. G. b. Tanah pertanian (sawah) yang bisa diwariskan adalah sawah sanggan (milik pribadi) yang terdiri atas tiga macam yaitu: a.jumlah pembayaran pajak dituliskan dalam surat tanda pembayaran pajak yang disebut kohir (petuk) yang biasanya dipegang ahli waris yang paling tua. merupakan sawah bagian warisan dari seseorang yang pergi meninggalkan sawah tadi.

Rangkaian upacara selamatan (sedekahan) yang ditujukan untuk menolong keselamatan roh nenek moyang tersebut di dalam akhirat ialah: a. tuyul. upacara potong rambut pertama. serta upacara yang berhubungan dengan kematian serta saat sesudahnya. upacara menusuk telinga. Menurut kepercayaan makhluk halus tersebut dapat mendatangkan sukses. Upacara yang berhubungan dengan kematian serta saat sesudahnya dilakukan karena orang Jawa sangat menghormati arwah orang meninggal dunia. Upacara ini dipimpin oleh modin. ketentraman ataupun keselamatan. Kebanyakan orang Jawa percaya bahwa hidup manusia di dunia ini sudah diatur dalam alam semesta sehingga mereka memiliki sikap nerima yaitu menyerahkan diri kepada takdir. Tujuannya untuk memberikan doa supaya arwah dari orang yang meninggal itu mendapat pengampunan. misalnya dengan berpuasa. demit. Upacara adat ini diselenggarakan setelah acara penguburan jenazah. Maka apabila seorang Jawa hidup tanpa menderita gangguan ia harus berbuat sesuatu untuk mempengaruhi alam semesta. yaitu seorang pegawai masjid yang berkewajiban mengumandangkan adzan karena dianggap mahir membaca do keselamatan dari dalam ayat-ayat Al Quran. berselamatan. Selamatan dalam rangka lingkaran hidup seseorang seperti hamil tujuh bulan. yakni: 1. Kecuali itu mereka tidak terhindar dari kewajiban berzakat. dan bersaji. upacara menyentuh tanah untuk pertama kali. dan makhluk halus seperti misalnya memedi. Sedekah Surtanah atau Geblak yang diadakan pada saat meninggalnya seseorang. arwah atau roh leluhur. Hampir semua selamatan ditujukan untuk memperoleh keselamatan hidup dengan tidak ada gangguan apapun. serta jin dan lainnya yang menempati alam sekitar tempat tinggalnya. pantang makan makanan tertentu. namun sebaliknya mereka juga dapat menimbulkan gangguan pikiran. kesehatan.ajaran keimanan agama Islam. Tuhan mereka sebut Gusti Allah dan Nabi Muhammad adalah Kanjeng Nabi. Upacara selamatan dapat digolongkan ke dalam empat macam sesuai peristiwa atau kejadian dalam kehidupan manusia sehari-hari. lelembut. kelahiran. kebudayaan 44 Jawa . kebahagiaan. orang Jawa pada suatu kekuatan yang disebut kasakten. bahkan kematian. Selain itu. terutama keluarganya. Selamatan adalah upacara makan bersama yang makanannya telah diberi doa sebelum dibagi-bagikan.

tetangga yang dekat dan ulama yang diundang. Sedekah Matangpuluh dina atau upacara keselamatan kematian seseorang pada hari keempat puluh. umumnya tetangga hadir dengan membawa bahan-bahan panganan ( beras.Upacara surtanah ini diselenggarakan secara sederhana. bahan untuk sayur. Sedekah Mitung dina ialah upacara selamatan saat sesudah menginggalnya seseorang yang jatuh pada hari ketujuh. teman atau tetangga atau siapa saja yang mau ikut berdoa. Sedekah Nelung dina ialah upacara selamatan kematian yang diselenggarakan pada hari seseorang. Yang dianjurkan adalah orang lain yang membawa bantuan untuk keluarga yang ”kesripahan”. telur. Tidak ada undangna khusus untuk acara ini. Inti dari upacara surtanah adalah berdoa. jika ada hidangna yang disajikan itu hanya seadanya. g. Selain doa biasanya juga ada acara tahlilan yang dilanjutkan dengan mengaji bersama. Upacara juga disebut sedekah Nguwis-nguwisi artinya yang terakhir kalinya. e. b. penggarapan tanah pertanian dan setelah panen padi. sebagai upacara selamatan sesudah kematian seseorang bertepatan dengan genap seribu harinya. c. gula. masing-masing upacara selamatan kematian yang dilakukan pada waktu sesudah satu tahun dan dua tahun dari saat meninggal seseorang. saudara dekat. yang diutamakan untuk berdoa adalah putra-putri dari orang yang meninggal. Selamatan yang bertalian dengan bersih desa. Bisa juga jika keluarga yang ”kesripahan” ingin sodaqoh bisa dengan membuat makanan yang banyak atau menyiapkan besek untuk dibawa pulang yang hadir tapi itu tidak wajib. Sedekah Nyatus yakni upacara keselamatan kematian yang diadakan sesudah hari keseratus sejak saat kematiannya. Sedekah Mendak sepisan dan Mendak pindo. yang hadir umumnya adalah saudara. Sedekah Nyewu. Tidak ada acara kendhuren. ketiga sesudah saat meninggalnya kebudayaan 45 Jawa . 2. kopi ataupun uang dan lainlain )yang tujuannya untuk meringankan beban keluarga. f. d.

Tempat yang dipilih biasanya tempat yang dianggap keramat dan mengandung bahaya ghaib (angker)agar terhindar dari gangguan makhluk halus. gamelan. serta kepada raksasa Batara Kala. Adapun kepercayaan kepada kekuatan sakti (kasakten) ditujukan kepada benda-benda pusaka. Ada sesajen yang dibuat pada tiap malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon. Untuk kendaraan istana setiap setahun sekali pada hari Jumat Kliwon pada bulan Sura dibersihkan dengan upacara siraman yang dilakukan di dalam lingkunagn istana (Ratawijaya) secara terbuka. sehingga orang Jawa yang mempunyai anak akan mengadakan ruwatan untuk menghindarkan anaknya dari bahaya. uang recehan.3. Selamatan yang berhubungan dengan hari-hari serta bulan-bulan besar Islam 4. Ruwatan biasanya disrtai pertunjukkan wayang kulit sehari semalam dengan mengambil cerita Batara Kala. Dalam kehidupan masyarakat Jawa terdapat berbagai macam aliran kebatinan. Masyarakat Jawa juga mengenal adanya upacara sesaji panyadran agung yang dilakukan tiap tahun oleh keluarga Kraton Yogyakarta bertepatan Maulid Nabi Muhammad SAW atau disebut juga Gerebeg Mulud. yang pandai menyembuhkan penyakit dan mengenyahkan ruh jahat. atau badan halus. kendaraan istana (kereta Nyai Jimat dan Garuda Yeksa). misalnya menempati rumah atau menolak bahaya (ngruwat). pada masyarakat Jawa juga dikenal adanya sesajen. Menurut kepercayaan masyarakat Jawa. Selamatan pada saat-saat yang tidak tertentu berkaitan dengan kejadiankejadian. Sesajen merupakan penyerahan sajian pada waktu dan di tempat tertentu dalam rangka kepercayaan kepada makhluk halus. Sesajen merupakan ramuan tiga macam bunga (kembang telon) yang dimasukkan ke dalam air.kemenyan. air bekas siraman tersebut dapat memberi berkah. yang percaya pada adanya ruh halus. kebudayaan 46 Jawa . Gerakan atau aliran kebatinan yang keuaniyahan. Ruwatan dilakukan oleh dukun. dan kue apem yang ditaruh dalam besek ataupun bungkusan daun pisang kemudian ditempatkan di atas meja untuk dikutug. Selain upacara selamatan. keris. yang macamya yaitu: 1. serta jin dan lain-lain. Sedangkan Batara Kala adalah raksasa yang mempuyai kekuatan sakti untuk mendatangkan bencana pada benda atau manusia.bahkan pada burung perkutut.

Hampir semua gerakan kebatinan ini bertujuan menuju kesempurnaan hidup manusia. dan Parda Pusara Penitisan Rohani. dengan syariat yang sengaja dibedakan dengan syariat Islam dan mengandung banyak unsur Hindu-Jawa. Mitung Mbengeni Mitung Mbengeni (berasal dari Bahasa Jawa: pitu: tujuh. bengi: malam) adalah sebuah prosesi yang dilakukan pada bayi pada malam ketujuh sejak kelahirannya. Selain yang telah dijelaskan. Upacara sadran ini dilakukan dengan berziarah ke makam-makam dan menabur bunga (nyekar). terdapat upacara. Selain itu upacara ini juga dilaksanakan oleh orang Jawa yang tidak menganut ajaran Islam pula. Hanya pada menu makanannya ditambahin menu ngethingi. Hendra Pusara.upacara adat yang lain yaitu sebagai berikut : Sadran Sadran merupakan Upacara masyarakat Jawa Baru (dan Madura serta mungkin juga Sunda) yang disebut dengan nama sadran atau bentuk verbal nyadran. Contoh aliran kebatinan yang pernah berkembang di daerah selatan Yogyakarta misalnya ”ADARI” singkatan ”Agama Jawa Asli Republik Indonesia”. Aliran yang keislam-islaman. Hidup Betul Iman Agama Hak. Hidup Betul. Upacara ini dilakukan oleh orang Jawa pada bulan Jawa-Islam Ruwah sebelum bulan Puasa. Aliran yang bersifat mistik. kebudayaan 47 Jawa . bulan di mana mereka yang menganut ajaran Islam berpuasa.2. 3. Aliran kehindu-jawian. dengan usaha manusia untuk mencari kesatuan dengan Tuhan. yang ajarannya banyak mengambil unsur keimanan agama Islam. Mekanismenya hampir sama dengan prosesi tasyakuran biasa. Ramadan. yang pengikutnya percaya kapada dewa agama Hindu 4. merupakan reminisensi daripada upacara sraddha Hindu yang dilakukan pada jaman dahulukala.

kebudayaan 48 Jawa . si anak di suruh menaiki piramida yang terbuat dari bambu yang berisi pernak-pernik. disebuah belik. Uniknya. Ngerak Ngerak adalah sebuah tradisi memandikan anak kecil dengan umur dibawah 5 tahun. di pintu masuk ruang resepsi disediakan kotak sumbangan berbentuk rumah. dan beraneka pementasan untuk menghibur para undangan yang hadir. Selain sebagai harapan agar pasangan suami istri segera mendapatkan keturunan. Seperti layaknya pesta perkawinan. sajian makanan. mantu poci juga dihadiri oleh ratusan bahkan ribuan undangan. Untuk orang jaman dulu. sebagian besar dari anak-anak peserta Ngerak tertarik untuk mengambil kaki ayam panggang tersebut. kemudian dimandikan dengan kembang tujuh rupa oleh sesepuh setempat.Mitung mbengeni juga sebagai pertanda puput puset pada bayi. Entah sebuah kebetulan ataukah memang bermakna khusus. Mantu poci pada umumnya diselenggarakan oleh pasangan suami istri yang telah lama berumah tangga namun belum juga dikarunai keturunan. Sedangkan yang paling menarik adalah seekor ayam panggang yang ditaruh disebelah kiri tas piramida. sampai dengan makanan. dengan menempatkan si anak didepan dengan posisi di gendong dengan menggunakan selendang berwarna kuning. puput puser dilakukan oleh seorang dukun bayi. Mantu Poci Mantu Poci adalah salah satu kebudayaan di wilayah Tegal (Jawa Tengah). ♦ Ruwatan Adalah Tradisi ritual Jawa sebagai sarana pembebasan dan penyucian. mulai dari permainan. Sebelum berangkat dari rumah. mantu poci juga bertujuan agar penyelenggara merasa seperti menjadi layaknya orang tua yang telah berhasil membesarkan putra putri mereka. atas dosa/kesalahannya yang diperkirakan bisa berdampak kesialan didalam hidupnya. Tak lupa pula. dan relasi. Sesampainya di belik. dia sekaligus yang menolong proses persalinan sampai dengan perawatan selama sang ibu atau keluarga belum bisa memperlakukan bayi sebagaimana mestinya. Lengkap dengan dekorasi. Sesampainya dirumah. dengan cara inti melangsungkan 'pesta perkawinan' antara sepasang poci tanah berukuran raksasa. kemudian dilepas dengan pesta besar dengan mengundang sanak saudara. dilakukan prosesi iringiringan.

e. Tokoh ini adalah anak Batara Guru (dalam cerita wayang) yang lahir karena nafsu yang tidak bisa dikendalikannya atas diri Dewi Uma. Kembang sepasang atau kembar. yang kemudian sepermanya jatuh ketengah laut. Dalam tradisi Jawa orang yang keberadaannya mengalami nandang sukerto/berada dalam dosa. c. agar menjadi suci kembali. b. Tradisi "upacara /ritual ruwatan" hingga kini masih dipergunakan orang Jawa. d. oleh Batara guru diberitahukan agar memakan manusia yang berdosa atau sukerta. Yang lahir tunggal atau ontang-anting. Tradisi ruwatan di Jawa ( Jawa tengah) awalnya diperkirakan berkembang didalam cerita Jawa kuno. sebagai sarana pembebasan dan penyucian manusia atas dosanya/kesalahannya yang berdampak kesialan didalam hidupnya. perlu mengadakan ritual tersebut. tetapi sekarang diadaptasi dengan ajaran agama. laki-laki. perempuan. Menurut ceriteranya. Ketika raksasa ini menghadap ayahnya (Batara guru) untuk meminta makan. Jenis manusia yang disukai Bathara Kala yaitu : a. akhirnya menjelma menjadi raksasa. yaitu pembebasan dewa yang telah ternoda. Yang akan mengalami penderitaan atau sukerta. orang yang manandang sukerto ini. Sendang kapit pancuran atau laki-laki. maka untuk mensucikan kembali. yang dalam tradisi pewayangan disebut "Kama salah kendang gumulung ". diyakini akan menjadi mangsanya Batara Kala. kebudayaan 49 Jawa . yang isi pokoknya memuat masalah pensucian. Uger-uger lawang atau dua anak laki-laki semua.Upacara adat ini berasal dari buadaya adat Jawa kuna yang sifatnya sinkretis. atau meruwat berarti: mengatasi atau menghindari sesuatu kesusahan bathin dengan cara mengadakan pertunjukan/ritual dengan media wayang kulit.

Jarum kuning d. Ada tradisi tidak tertulis yang menganjurkan bahwa pucuk dari kerucut tumpeng dihidangkan bagi orang yang profesinya tertinggi dari orang-orang yang hadir. Tumpeng Acara yang melibatkan nasi tumpeng disebut secara awam sebagai 'tumpengan'. ikan asin. kedelai hitam. bambu gading yang berjumlah lima ros ditanam pada kempat ujung rumah disertai empluk (tempayan kecil) yang berisi kacang hijau . rambutnya lalu dilarung di laut. Kembang pitung rupa Jika untuk tolak bala atau membuang sial orang yang mengalami sukerta. Tumpeng biasa disajikan di atas tampah (wadah tradisional) dan dialasi daun pisang. Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. berkembang tradisi 'tumpengan' pada malam sebelum tanggal 17 Agustus. Ini dimaksudkan untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang tersebut. telur ayam dan uang dengan diiringi doa mohon keselamatan dan kesejahteraan serta agar tercapai apa yang dicita citakan. Beras kuning c. kemiri. Selesai upacara ngruwat. untuk mendoakan keselamatan negara. kebudayaan 50 Jawa . orang yang diruwat harus menjalani siraman air suci dan gunting rambut. kluwak. Di Yogyakarta misalnya.Sesajen yang perlu disiapkan untuk upacara ini adalah : a. Kain pitung werna b.

bawang merah dan cabai. ikan bandeng atau rempeyek teri) dan sayur-mayur (kangkung. Tumpeng ini terbuat dari nasi putih. dengan tujuan agar mendapat lindungan. urap kacang panjang. Tumpeng ini kemudian dipotong vertikal dan diletakkan saling membelakangi. Variasinya melibatkan tempe kering. keselamatan dan berkah dari Syang Hyang Widi.Tidak ada lauk-pauk baku untuk menyertai nasi tumpeng. Digunakkan untuk acara sakral. pernikahan. Variasi Nasi Tumpeng :  Tumpeng Robyong . Namun demikian. dan sebagainya.Tumpeng ini digunakan pada syukuran kehamilan tujuh bulan.      Kutug Kutug merupakan ritual membakar kemenyan yang dilakukan oleh penganut ajaran tertentu. kedelai goreng. kebudayaan 51 Jawa . abon. serundeng. Dalam pengartian makna tradisional tumpeng.Disebut juga tumpeng tasyakuran. tumpeng ini dikelilingi enam buah tumpeng kecil lainnya. dihari-hari tertentu. Tumpeng Nujuh Bulan . Biasa disajikan di atas tampah yang dialasi daun pisang.digunakan pada saat kematian seorang wanita atau pria yang masih lajang. Digunakan untuk peringatan Maulud Nabi. hewan laut (ikan lele.warna kuning menggambarkan kekayaan dan moral yang luhur. Dibuat dari nasi putih yang disajikan dengan lauk-pauk sayuran. Tumpeng Putih . dianjurkan bahwa lauk-pauk yang digunakan terdiri dari hewan darat (ayam atau sapi). dan sebagainya. Tumpeng ini diletakkan di dalam bakul dengan berbagai macam sayuran. tunangan. Digunakan untuk syukuran acara-acara gembira. bayam atau kacang panjang).Tumpeng ini biasa disajikan pada upacara siraman dalam pernikahan adat Jawa. telur dadar/telur goreng. timun yang dipotong melintang. Ritual ini biasanya dilakukan oleh kepala adat. dan daun seledri.warna putih pada nasi putih menggambarkan kesucian dalam adat Jawa. Tumpeng Nasi Uduk . seperti kelahiran. Tumpeng Nasi Kuning . Setiap lauk ini memiliki pengartian tradisional dalam budaya Jawa dan Bali. terasi. Di bagian puncak tumpeng ini diletakkan telur ayam. Tumpeng Pungkur . beberapa lauk yang biasa menyertai adalah perkedel. ikan asin atau lele goreng. Selain satu kerucut besar di tengah.

Tradisi Jawa Malam hari. menjadi aktivitas yang menurut banyak cerita masih mewarnai tradisi masyarakat Yogyakarta. Tidak sedikit. Ada beberapa tahapan yang dilakukan oleh suatu keluarga dalam rangka ngethingi. sebuah keluarga yang dikaruniai tambahan jumlah anggota baru (melahirkan) wajib melaksanakan syukuran dengan selalu membuat masakan yang berbahan dasar sayur-sayuran (lebih tepatnya dan lazimnya yang digunakan adalah daun pepaya muda). tidak mengeluarkan kata-kata selama ritual ini. yaitu pada jaman pemerintahan kerajaan Demak. Yang dapat dimaknai sebagai upacara untuk mawas diri. konon untuk memperkenalkan kalender islam di kalangan masyarakat Jawa. Awal dari afiliasi ini. Sunan Giri II telah membuat penyesuaian antara sistem kalender Hijriyah dengan sistem Kalender Jawa pada waktu itu. Ngarotengahi Malam Satu Suro Latar belakang dijadikannya 1 Muharam sebagai awal penganggalan islam oleh Khalifah Umar bin Khathab. Mitung Mbengeni 2. Maka tahum 931 H atau 1443 tahun Jawa baru. seorang khalifah islam dijaman etelah nabi Muhammad wafat. Kungkum atau berendam di sungai besar. atau mengunci mulut. Yang paling mudah ditemui di seputaran Yogyakarta. Sabtu Pahing. hingga memacetkan lalu-lintas di seputaran kraton dan jalan protokol. berkaca pada diri atas apa yang dilakoninya selama setahun penuh. Mitoni 4.Ngethingi Ngethingi merupakan tradisi tasyakuran sebagai bentuk atau moment peringatan terhadap seorang bayi ketika berusia tertentu. dengan caranya sendiri-sendiri. Diantaranya adalah : 1. Nyetauni 5. adalah Tirakatan kebudayaan 52 Jawa . yang masih menjunjung tradisi dengan filosofis tinggi. tanggal 19 Januari 2007. warga yang melakukan ritual Mubeng Beteng. Dengan Tapa Bisu. Neloni 3. Ritualnya. menghadapi tahun baru di esok paginya. untuk dapat dikatakan demikian. banyak orang melakukan ritual menjelang 1 Sura tahun Jawa 1940 yang jatuh esok paginya. sendang atau sumber mata air tertentu.

Cepuri Parangkusumo kebudayaan 53 Jawa . memiliki daya tarik tersendiri di malam satu Suro. Hal ini yang menarik perhatian saya untuk berkunjung kesana di malam satu Suro. menjadi dua kegiatan utama pada malam itu. Parangkusumo memang biasa menjadi tempat berlangsungya prosesi ini. Tumpah ruahnya pengunjung tiap tahunnya dimanfaatkan betul oleh pedagang kembang. Pantai Parangkusumo Dari sekian acara yang tentu saja berlangsung di tiap pelosok Yogyakarta. Meski begitu. Namun. pengunjung dan masyarakat yang datang tidak hanya disuguhi keramaian pagelaran wayang dan keheningan suasana Cepuri yang mistis. Wayang dan Nyekar di Cepuri Parangkusumo. Kretek. Wayang Kulit Semalam Suntuk Tradisi dan warisan budaya Jawa ini tak pernah lepas dari tiap momen penting. perkiraan saya salah. Bantul Yogyakarta. dan berbagai jasa lainnya. Dijubeli ratusan pengunjung yang berbaur dengan pedagang dan hiruk pikuknya lalu lalang kendaraan bermotor tidak mengurangi khidmatnya pagelaran wayang malam itu. Begitu pula di Pantai Parangkusumo. menjadi ritual yang tidak asing di telinga masyarakat Jawa.dan Pagelaran Wayang Kulit. pijat tradisional dan -kalau saya tidak salah mengartikan. Kawasan pantai Parangtrisits. Apalagi malam satu Suro di kawasan pantai selatan dengan segala macam pernak-pernik mistisnya. Labuhan dilangsungkan pada pagi hari tanggal 15 Suro. Ritual ini menjadi ritual tahunan Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat. khususnya adat. Tukang obat tradisional. di Yogyakarta. makanan.“wanita pendamping” tampak bertebaran menjadi konsekuensi atas berjubelnya pengunjung. khususnya Parangkusumo. Hal ini yang saya dapat dari penuturan warga sekitar. kawasan Parangtritis. Labuhan.

yang keduanya dipagar mengeliling dengan satu pintu/gapura masuk. Tiap pengunjung yang masuk wajib menemui juru kunci dan menyalakan dupa. Batu Kyai Panembahan Senopati yang lebih besar terletak di sebelah selatan batu Kanjeng Ratu Kidul. Namun. sang juru kunci sendiri duduk bersila tepat di depan gapura setelah pengunjung masuk. Awalnya. kebudayaan 54 Jawa . mengira beliau adalah juru kunci. ditemani aroma dupa dan bunga yang menusuk hidung. tidak sedikit peziarah yang datang dan berdoa di tempat ini. Kembang. dan mungkin pengunjung lain. ada seorang pemuda yang dengan khusyuk nya berdoa di sebelah batu Panembahan Senopati dengan pakaian Jawa lengkap. dupa dan sesaji menjadi obyek yang tidak lepas dari tempat keramat macam ini. Apalagi di malam satu Suro.Merupakan area tempat bersandingnya dua batu yang dikeramatkan. sebelum menabur bunga dan berdoa. Diantara rombongan peziarah yang silih berganti masuk ke area Cepuri. saya.

di Puro Pakualaman ini. Masih duduk di atas sadel tempatnya mengayuh kendaraan roda tiga ini. Puro Pakualaman Pagelaran wayang kulit semalam suntuk banyak diselenggarakan warga di pelosok kota. Begitu pula di kawasan Puro Pakualaman Yogyakarta. begitu informasi dari penduduk sekitar. warga yang datang dengan kendaraan roda dua pun enggan beranjak dari atas sepeda motornya. Selebihnya warung dan pedagang kaki lima yang biasa mangkal di halaman Kraton pun tak lepas menjadi tempat warga menikmati sajian wayang kulit. Kraton “Kedua” di kawasan Yogyakarta ini pun dihadiri warga yang ingin menghabiskan malam satu Suro dengan tradisi tahunannya. dan terlihat sangat menikmati sajian wayang kulit semalam suntuk.Rombongan peziarah yang nampak berbeda dari sebagian lainnya adalah rombongan peziarah dari Kraton Solo. Begitu pula dengan penarik becak. kebudayaan 55 Jawa . Bahkan. duduk bersila disamping dua batu tersebut. Berbeda dengan kawasan pesisir Parangkusumo. warga yang hadir hanya ditampung secara “resmi” dengan sebuah tenda. Mereka menggunakan pakaian Jawa lengkap dengan sesaji dibungkus kain putih dan hijau. Bahkan kursi penumpangnya pun dijadikan tempat nyaman rekan penarik becak lainnya untuk duduk berselimut sarung dan menikmati malam panjang itu.

Ngliman Ngliman adalah salah satu upacara adat ”wetwngan” yang diselenggarakan ketika calon ibu mengandung lima bulan. Di daerah tertentu upacara ini juga disebut tingkeban. Mitoni atau Tingkeban Mitoni berasal dari kata ”pitu” ( 7 ). Waktunya harus diselenggarakan pada hari yang baik menurut hitungan hari Jawa.Ngupat Ngupat atau ngupati adalah salah satu upacara adat yang dilakukan saat calon ibu mengandung ( mbobot ) 4 bulan. Upacara adat ini diselenggarakan saat calon ibu mengandung 7 bulan. Upacara adat ini kurang dikenal pada daerah-daerah tertentu. berbeda dengan upacara adat ”mitoni” yang sudah umum dikenal oleh masyarakat Jawa dan juga dikenal oleh masyarakat nusantara. Jabang bayi yang berumur tujuh bulan itu sudah mempunyai raga yang sempurna. Kata ”ngupat ” berasal dari kata papat ( 4 ) atau kupat. Rangkaian acara dari ”mitoni” adalah sebagai berikut : kebudayaan 56 Jawa . Tujuannya adalah untuk keselamatan calon bayi dan ibu atau untuk tolak bala jadi hampir sama seperti mitoni. Jadi menurut orang Jawa ”wetengan” umur tujuh bulan itu proses penciptaan manusia itu sudah nyata dan sudah sempurna atau Sapta Kawasa Jati. Ngupati ini mengandung maksud sebagai lambang bahwa ”jabang bayi” sudah masuk dalam tahap keempat dalam proses penciptaan manusia. Kata ”ngliman” berasal dari kata lima ( 5 ). Tujuannya adalah untuk keselamatan calon bayi dan calon ibu dan juga untuk tolak bala. Yang membedakan dengan upacara adat ”meteng” lainnya yaitu ada sajian kupat yang ditaruh didalam tempat yang biasa disebut ”besek” yang dibawa pulang oleh orang yang hadir pada acara kenduren. Tujuan dari upacara adat ini adalah sama dengan ngupati yaitu upacara untuk keselamatan bayi dan calon ibu atau juga untuk tolak bala.

3) Salin rasukan ( ganti baju ) 4) Brojolan ( memasukkan kelapa gading muda ). Senthir itu dihidupkan sampai 35 hari ( selapan dina ). yaitu hari senin siang sampai malam. Orang Jawa itu percaya bahwa bahwa ari-ari itu adalah salah satu dari ”sedulur papat” atau ”sedulur kembar” dari si bayi sehingga ari-ari harus dirawat dan dijaga. Mendhem ari-ari Mendhem ari-ari adalah salah satu upacara kelahiran yang umum diselenggarakan dan juga di daerah – daerah ( suku-suku ) lain. dipayungi. Ari-ari itu bagian penghubung antara ibu dan bayi waktu bayi masih didalam rahim. ini menjadi simbol pepadadang untuk bayi. Istilah lain dari ariari adalah aruman atau embing-embing ( mbingmbing ).Rangkaian acara untuk upacara mitoni ini lebih banyak daripada upacara ngupati. 6) Memecahkan wajan dan gayung. 8) Kenduren. Waktu pelaksanaannya menurut orang Jawa mitoni itu harus diselenggarakan pada hari yang benar-benar bagus. 2) Sebelum ari-ari dimasukkan alas kendhi diberi ”godhong senthe” lalu kendhi itu ditutup dengan lemper yang masih baru dan dibungkus kain mori. Atau hari jumat siang sampai malam. kebudayaan 57 Jawa . dibawa ke lokasi penguburan. Yaitu tempat yang digunakan untuk memendham ari-ari diberi lampu ( umumnya lampu senthir ) untuk penerangan. yaitu: 1) Siraman 2) Memasukkan telur ayam kampung didalam kain calon ibu oleh calon bapak. Tata caranya adalah sebagai berikut . 3) Kendhi lalu digendong. 7) Mencuri telur. 5) Memutus lawe atau lilitan benang ( janur ). 1) Ari-ari dicuci sampai bersihdan dimasukkan kedalam kendhi atau batok kelapa.

Upacara adat ini umumnya diselenggarakan secara sederhanatetapi jika bersamaan dengan pemberian anma bayi. Upacara adat ini mempunyai makna sebagai ungkapan syukur dan sukacita karena kelahiran itu selamat. Umumnya diselenggarakan sore dengan acara kenduren dengan mengundang saudara dan tetangga. Yang memendam kendhi harus bapak dari bayi. Brokohan itu asal katanya dari bahasa Arab yaitu ”barokah” yang artinya mengharapkan berkah. Upacara ini sebagai lambang bahwa anak bersiap-siap menjalani hidup dengan dituntun orangtua dan diselanggarakan jika anak sudak berumur 7 selapan atau 245 hari ( 7 x 35 = 245 ). Tedhak siti atau Tedhak Siten Tedhak siti adalah salah satu upacara adat untuk anak yang berumur 7 bulan. Puputan atau Dhautan Puputan itu sebenarnya mempunyai makna ”tali puser bayi puput”. bancakan dan memberi nama bayi. Brokohan Brokohan adalah salah satu upacara adat Jawa untuk menyambut kelahiran bayi. Urutan kegiatannya : kebudayaan 58 Jawa adalah untuk keselamatan proses kelahiran juga untuk perlindungan terhadap bayi dan dengan harapan bayi yang lahir menjadi anak yang . Suguhan yang disajikan umumnya adalah air minum dan ”jajan pasar” tetapi juga ada “besek” yang nantinya dibawa pulang. Tedhak Siten itu berasal dari kata tedhak atau idhak dan siten ( dari kata siti yang berari lemah atau tanah ). Jadi upacara ini diselenggarakan waktu bubar pupute dari pusar bayi. biasanya disebut ”injak tanah” di Jakarta atau juga disebut ”mudhun lemah”. Acara ini bagus diselenggarakan setelah maghrib. Kata sepasaran berasal dari kata sepasar. Upacara ini di daerah yang lain di nusantara juga ada. Biasanya ada upacara slametan di upacara puputan ini. Rangkaian acaranya diawali dari mendhem ari-ari yang dilanjutkan dengna bagi-bagi sesajen brokohan untuk saudara dan tetangga. Acaranya yaitu kendhuren. Tujuannya baik perilakunya. Sepasaran Adalah salah satu upacara adat Jawa waktu bayi berumur 5 hari.4) Lokasi penguburan kendhi harus berada di sebelah kanan pintu utama rumah. upacara ini diselenggarakan secara lebih meriah.

1) Tedhak sega pitung warna 2) Mudhun tangga tebu 3) Ceker-ceker 4) Kurungan 5) Sebar udik-udik 6) Siraman Sedekah Bumi Bersih desa adalah salah satu upacara adat Jawa yang diselenggarakan setelah selesainya panen padi, jadi maksudnya sebagai ungkapan syukur “tandhuran” padi berhasil panen dan hasilnya baik. Upacara adat ini kadang juga disebut upacara mreti desa dan biasanya digabung dengn upacara adat sedekah bumi atau mreti bumi. Setiap daerah mempunyai atat cara dan prosesi upacara yang berlainan menurut kebiasaan masing-masing tetapi tujuannya sama saja. Pada jaman dahulu upacara adat ini dikaitkan dengan Dewi sri yang dianggap sebagai dewi Padi karena keberhasilan panen itu hasil kemurahan dari Dewi sri yang wajib disyukuri. Tujuan dari mengadakan upacara ini adalah: 1) Untuk mengucapakan syukur kepada tuhanyang sudah memberi hasil panen padi yang melimpah. 2) Untuk menjaga keselamatan para warga desa dari gangguan hal-hal yang gaib, roh atau arwah yang gentayangan dan juga dari gangguan penyakit, serta bencana. 3) Untuk membersihkan desa dan warganya dari halangna atau kesusahan supaya keadaan desa menjadi tentram dan aman. Prosesi Umumnya dimulai setelah panen pertama. Lokasi upacara pertama di sawah yang sudah dilengkapi dengan ”ubo rampe’ yaitu janur kuning, kembang setaman, kemenyan, kaca, suri, banyu kendhi, jajan pasar, bungkusan nasi dan pisang. Setelah acara berdoa, padi yang sudah dipetik digotong ke lumbung padi. Di lumbung padi juga disiapkan perangkat upacara lanjutan yang umumnya dibuat dari daun. Diantaranya daunkluwih, dhadhap serep, godhong mojo, godhong tebu, godhong jati juga godhong luh. Masing-masing godhong ( daun ) itu mempunyai makna.

kebudayaan 59

Jawa

Munggah wuwungan Adalah salah satu upacara adat yang diselenggarakan setelah wuwungan dibangun dalam proses membangun rumah. Istilah munggah wuwungan ini biasanya disebut juga munggah gendheng. Upacara ini diselenggarakan saat rangka wuwungan sudah jadi tetapi gendeng belum dipasang. Upacara adat ini uga dikenal di daerah-daerah lain di Nusantara. Upacara ini sebenarnya upacara untuk syukuran karena rumah yang dibangun sudah mempunyai wuwungan jadi sebentar lagi sudsh bisa dipake sehingga tidak akan kepanasan atau kehujanan. Puncak acaranya adalah kendhuren, diutamakan untuk tuakang-tukang yang membangun rumah dan para tetangga yang berada dekat dengan rumah yang dibangun. Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh ulama. Biasanya acara kendhuren munggah wuwungan ini diselenggarakan siang atau setelah shalat dhuhur, jadi sekalian dengan makan siang para tukang dan jamaah serta ulama yang baru keluar dari masjid atau langgar bisa langsung ikut dan pulangnya bisa membawa besek. Sesajen juga perlu disiapkan untuk digantung disalah satu kayu di wuwungan. Yang tidak digantung hanya bendhera merah putih yang dipasang dengan galah dengna panjang sedang 9 tidak terlalu panjang ), yang bisa kelihatan dari rumah tetangganya. Sesajen yang harus disiapkan : 1) Gedhang setandan 2) Tebu ireng sewit 3) Pari secukupe 4) Kelapa seiji uga bendhera

Grebeg Maulud
Perayaan Grebeg

Puncak peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. diperingati dengan penyelenggaraan upacara Grebeg Maulud yang diselenggarakan pada tanggal 12 kebudayaan 60 Jawa

Maulud, atau pagi hari esoknya, setelah kedua perangkat gamelan Kyai Nogowilogo dan Kyai Guntur madu dibawa masuk kembali ke dalam Kraton oleh masyarakat Yogyakarta, kejadian ini lazim disebut dengan istilah Bendhol Songsong. Pada pagi hari, pukul 08.00, upacara dimulai dengan parade kesatuan prajurit Kraton yang mengenakan pakaian kebesarannya masing-masing. Puncak dari upacara ini adalah iringan gunungan yang dibawa ke Masjid Agung . Setelah di Masjid diselenggarakan doa dan upacara persembahan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, sebagian gunungan dibagi-bagikan pada masyarakat umum dengan jalan diperebutkan. Bagian-bagian dari gunungan ini umumnya dianggap akan memperkuat tekad dan memiliki daya tuah terutama bagi kaum petani, mereka menanamnya dilahan persawahan mereka, untuk memperkuat doanya agar lahannya menjadi subur dan terhindar dari berbagai hama perusak tanaman. Selain upacara Grebeg Maulud, didalam satu kurun tahun Jawa terdapat upacara-upacara Grebeg yang lain, yakni Grebeg Syawal yang diselenggarakan pada tanggal 1 bulan Syawal sebagai ungkapan terima kasih masyarakat kepada Tuhan dengan telah berhasil diselesaikannya ibadah puasa selama satu bulan penuh dibulan Suci Ramadhan, dan Grebeg Besar yang diselenggarakan pada tanggal 10 bulan Besar, berkaitan dengan peringatan hari Raya Qurban Idhul Adha.

Upacara Jamasan

Bagi orang Jawa, benda-benda pun dianggap memiliki jiwa. Oleh karena itu, benda-benda itu harus diperlakukan istimewa yang nyaris sama seperti manusia itu sendiri. Mungkin saja ini masih dianggap sebagai animisme, tapi tentu saja orang Jawa akan menyangkalnya. Yang jelas, untuk benda-benda milik Keraton Yogyakarta seperti kereta, gamelan, maupun pusaka, semuanya memiliki nama seperti manusia. Ada Kiai Sangkelat, Kiai Nagasasra (keris), Kiai Guntur Madu (gamelan), ada pula Kanjeng Nyai Jimat dan Kyai Puspakamanik (kereta). Di Keraton Yogyakarta, benda-benda itu selalu dicuci yang diistilahkan dengan nama kebudayaan 61 Jawa

Cara jamasan itu sendiri juga khas. Sebenarnya. Semisteri pusaka yang dipercayai memiliki kekuatan supra natural itu sendiri. bergaya kereta kerajaan-kerajaan Eropa.dijamasi pada bulan Sura (Muharam) dan selalu pada hari istimewa Jumat Kliwon atau mengenakan pakaian adat Jawa Selasa peranakan. di samping jamasan kereta. Misteri jamasan pusaka itu sendiri akhirnya memang tinggal misteri yang dipelihara turuntemurun. Jamasan biasanya seorang pejabat keraton yang khusus menangani masalah perawatan kereta. Kereta itu menjadi tunggangan Sultan Hamengku Buwono I sampai III. dua buah yang besar di belakang. Semua yang terlibat dalam ritual itu harus mengenakan kain panjang. Di sana ada sekitar selusin kereta yang sebagian besar masih bisa digunakan. Kereta itu menjadi tumpangan para pangeran pada pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VIII. di dalam keraton juga ada jamasan pusaka. Mereka. jamasan pusaka itu tidak boleh dilihat oleh umum. Akan tetapi. Proses pencucian kereta ini memiliki nilai wisata ritual magis religius. Kemudian ada Kyai Puspakamanik. semuanya Kliwon. Sebuah simbol kewibawaan seorang raja. Berbentuk anggun. surjan. laki-laki. Sehingga banyak orang rela berebut bekas air cucian kereta dengan cara menampung aliran air dari badan kereta dan memasukkan air bekas cucian itu ke dalam botol bekas air kemasan maupun jerigen. Kereta itu tersimpan di dalam Museum Kereta Keraton Yogyakarta. dan dia selalu ditemani oleh salah sebuah kereta lain yang dipilih secara bergantian setiap tahunnya. Kereta ini dibuat pada tahun 1750-an. dan dua buah di depan agak kecil. Kereta itulah yang setiap bulan Sura selalu dijamasi karena dianggap sebagai kereta cikal-bakal kereta lainnya. semasa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I. kebudayaan 62 Jawa . sebuah kereta hadiah dari Kerajaan Belanda yang dibuat pada tahun 1901. beroda empat. hal ini dikarenakan masyarakat Jawa percaya bahwa air ini akan membawa berkah bagi mereka. Kereta yang penuh ukiran itu sendiri memiliki pintu dan atap sehingga mirip mobil. diberi nama Kanjeng Nyai Jimat. diperkirakan ditarik oleh enam sampai delapan kuda. dan penutup kepala blangkon. Mereka berbusana seperti itu karena mereka akan menjamasi sebuah kereta. karena mereka percaya bahwa air ini mengandung hal gaib/sakti karena pemiliknya merupakan orang yang sakti. Setiap Kanjeng Nyai Jimat dijamasi.

yaitu menyatu jiwanya dengan pengungkapan wujud gerak yang luluh. Dari kedua tempat inilah kemudian meluas ke daerah Surakarta seluruhnya dan akhirnya meluas lagi hingga meliputi daerah Jawa Tengah. Tari mengalami kejayaan yang berangkat dari kerajaan Kediri. Sumber utamanya terdapat di Keraton Surakarta dan di Pura Mangkunegaran.1 Seni Tari Tari sering disebut juga ”beksa”.Upacara Labuhan Selain itu terdapat pula Upacara Labuhan yang merupakan rangkaian dari Tradisi 1 Sura. Sehingga bisa dikatakan bahwa kedua upacara ini yaitu tradisi malam 1 Suro dan Upacara Labuhan merupakan 2 hal yang saling berkaitan di dalam tradisi Kraton Yogyakarta. H. potongan rambut serta potongan kuku beliau ditanam di dalam areal tanah sengker (suatu areal tanah yang dianggap keramat di daerah Parangkusumo). bunga dan lain-lain ke laut selatan . kebudayaan 63 Jawa . Seni tari yang berpusat di Kraton Surakarta itu sudah ada sejak berdirinya Kraton Surakarta dan telah mempunyai ahli-ahli yang dapat dipertanggungJawabkan. Bahkan tari tidak dapat dilepaskan dengan kepentingan upacara adat sebagai sarana persembahan. sebagai bentuk permohonan untuk mendapatkan kesejahteraan dan keselamatan kepada Ratu Kidul Penguasa laut Selatan . sirih. Seni tari yang merupakan bagian budaya bangsa sebenarnya sudah ada sejak jaman primitif. Surakarta merupakan pusat seni tari. Hindu sampai masuknya agama Islam dan kemudian berkembang. kata “beksa” berarti “ambeg” dan “esa”. Seni tari adalah ungkapan yang disalurkan / diekspresikan melalui gerakgerak organ tubuh yang ritmis. terus sampai jauh di luar Jawa Tengah. Berbagai pakaian bekas yang pernah dipergunakan oleh Sri Sultan. Dimana pagi hari sesudah malam 1 Sura maka diadakan Upacara labuhan yaitu dengan mempersembahkan pakaian wanita . Majapahit khususnya pada pemerintahan Raja Hayam Wuruk. alat-alat rias. Tokoh-tokoh tersebut umumnya masih keluarga Sri Susuhunan atau kerabat kraton yang berkedudukan. kata tersebut mempunyai maksud dan pengertian bahwa orang yang akan menari haruslah benar-benar menuju satu tujuan. indah mengandung kesusilaan dan selaras dengan gending sebagai iringannya. PRODUK BUDAYA H. Singosari.

Seni tari yang berpusat di Kraton Surakarta itu kemudian terkenal dengan Tari Gaya Surakarta. Konon penciptaan gendhingpun menjadi sempurna setelah Sunan Kalijaga ikut menyusunnya. 3. Jelantur. Jadi lebih bebas. lengger. Prawirayudha. di daerah Jawa Tengah terdapat pula bermacammacam tari daerah setempat. Kuda Kepang. Gambyong. Ketek Ogleng. sintren. Pedoman tari tradisional itu sebagian besar mengutamakan gerak yang ritmis dan tempo yang tetap sehingga ketentuan-ketentuan geraknya tidaklah begitu ditentukan sekali. Tarian Bedhoyo Ketawang tidak hanya dipertunjukan pada saat penobatan raja yang baru tetapi juga pertunjukan setiap kebudayaan 64 Jawa . Incling. yaitu : 1. Tari Klasik Tari Tradisional Tari garapan Baru Beberapa jenis tari yang ada antara lain : 1. Selain tari yang bertaraf kraton (Hofdans). lebih perseorangan. terlebih dahulu Sultan Agung memerintahkan para pakar gamelan untuk menciptakan sebuah gendhing yang bernama Ketawang. Bedhaya. seperti : Dadung Ngawuk. 2. dan lain-lain. diantaranya : Srimpi. yang termasuk seni tari bermutu tinggi. Beberapa contoh tarian gaya surakarta. Wireng. Dalam perkembangannya timbullah tari kreasi baru yang mendapat tempat dalam dunia tari gaya Surakarta. Ebeg. Seni tari dapat dibedakan menjadi 3 jenis. Yang khusus di Mangkunegaran disebut Tari Langendriyan. TARI KLASIK dari JAWA TENGAH • Tari Bedhaya Menurut kitab Wedbapradangga yang dianggap pencipta tarian Bedhoyo Ketawang adalah Sultan Agung (1613-1645) raja ke-1 dan terbesar dari kerajaan Mataram bersama Kanjeng Ratu Kencanasari. penguasa laut selatan yang juga disebut Kanjeng Ratu Kidul. Tayuban. Wayang-Purwa Mahabarata-Ramayana. yang mengambil cerita Damarwulan. Sebelum tari ini diciptakan. Dolalak. barongan. Tari semacam itu termasuk jenis kesenian tradisional.

Istrumen-istrumen tersebut selain dianggap khusus juga ada yang mempunyai nama keramat. kebudayaan 65 Jawa . Instrumen gamelan yang dimainkan hanya beberapa yakni Kemanak. Kendhang Ketipung dan Gong Ageng. Gamelan yang mengiringinya pun sangat khusus yaitu gamelan "Kyai Kaduk Manis" dan "Kyai Manis Renggo".tahun sekali bertepatan dengan hari penobatan raja atau "Tingalan Dalem Jumenengan". Kenong. Kethuk. Pertunjukan Bedhoyo Ketawang pada masa Sri Susuhunan Paku Buwana XII diselenggarakan pada hari kedua bulan Ruwah atau Sya'ban dalam Kalender Jawa. Kendhang Ageng. dua buah rebab bemama Kanjeng Kyai Grantang dan Kanjeng Kyai Lipur serta sehuah Gong ageng bernama Kanjeng Nyai Kemitir. Busana Tari Bedhoyo Ketawang menggunakan Dodot Ageng dengan motif Banguntulak alas-alasan yang menjadikan penarinya terasa anggun. Dua buah Kendang Ageng bemama Kanjeng kyai Denok dan Kanjeng Kyai Iskandar.

Seperti tari Bedhaya 7 penari berubah menjadi 9 penari disesuaikan dengan jumlah Wali Sanga. tepatnya sejak perjanjian Giyanti pada tahun 1755 oleh Pangeran Purbaya.Budaya Islam ikut mempengaruhi bentuk-bentuk tari yang berangkat pada jaman Majapahit. Ide Sunan Kalijaga tentang Bedhaya dengan 9 penari ini akhirnya sampai pada Mataram Islam. Hal ini kemudian dibawa ke Kraton Kasunanan Surakarta. Oleh Sunan Pakubuwono I dinamakan Bedhaya Ketawang. Tumenggung Alap-alap dan Ki Panjang Mas. khususnya Bedhaya Ketawang yang jarang disajikan di luar Kraton. termasuk jenis Bedhaya Suci dan Sakral. dengan nama peranan sebagai berikut: o o o o o o o o o o o o o o o o o o Endel pojok Batak Gulu Dhada Buncit Endhel Apit Ngajeng Endhel Apit Wuri Endhel Weton Ngajeng Endhel Weton Wuri Bedhaya Ketawang lama tarian 130 menit Bedhaya Pangkur lama tarian 60 meit Bedhaya Duradasih lama tarian 60 menit Bedhaya Mangunkarya lama tarian 60 menit Bedhaya Sinom lama tarian 60 menit Bedhaya Endhol-endhol lama tarian 60 menit Bedhaya Gandrungmanis lama tarian 60 menit Bedhaya Kabor lama tarian 60 menit Bedhaya Tejanata lama tarian 60 menit Beberapa jenis tari Bedhaya yang belum mengalami perubahan : Pada umumnya berbagai jenis Bedhaya tersebut berfungsi menjamu tamu raja dan menghormat serta menyambut Nyi Roro Kidul. maka disusunlah Bedhaya dengan penari berjumlah 9 orang. juga sering disajikan pada upacara kebudayaan 66 Jawa .

yang selain melambangkan terjadinya manusia juga melambangkan empat penjuru mata angin. Sedang nama peranannya Batak. Dhada dan Buncit.keperluan jahat di lingkungan Istana. dengan tidak mengurangi isi dan bobotnya. api. angin dan bumi/tanah. Komposisinya segi empat yang melambangkan tiang Pendopo. Gulu. Disamping itu ada juga Bedhaya-bedhaya yang bertema kepahlawanan dan bersifat monumental. Melihat lamanya penyajian tari Bedhaya (juga Srimpi) maka untuk konsumsi masa kini perlu adanya inovasi secara matang. tari Srimpipun ada yang suci atau sakral yaitu Srimpi Anglir Mendhung. Contoh Srimpi hasil garapan baru : o o o Srimpi Anglirmendhung menjadi 11 menit Srimpi Gondokusumo menjadi 15 menit Dan lain-lain Beberapa tari klasik yang tumbuh dari Bedhaya dan Srimpi : o Beksan Gambyong kebudayaan 67 Jawa . Seperti Bedhaya. Juga karena lamanya penyajian (60 menit) maka untuk konsumsi masa kini diadakan inovasi. Contoh Bedhaya garapan baru : o o o • Bedhaya La la lama tarian 15 menit Bedhaya To lu lama tarian 12 menit Bedhaya Alok lama tarian 15 menit Tari Srimpi Tari Srimpi yang ada sejak Prabu Amiluhur ketika masuk ke Kraton mendapat perhatian pula. Tarian yang ditarikan 4 putri itu masing-masing mendapat sebutan : air.

Berasal dari tari Glondrong yang ditarikan oleh Nyi Mas Ajeng Gambyong. menag atau mati Jawa . Tari ini diciptakan pada jaman pemerintahan Prabu Amiluhur dengan tujuan agar para putra beliau tangkas dalam olah keprajuritan dengan menggunakan alat senjata perang. Ciri-ciri tarian ini :      Ditarikan oleh dua orang putra atau putri Bentuk tariannya sama Tidak mengambil suatu cerita Tidak mengambil ontowacono (dialog) Bentuk pakaiannya sama  Perangnya tanding. Adapun ciri-ciri tari ini :     Jumlah penari seorang putri atau lebih Memakai jarit wiron Tanpa baju melainkan memakai kemben atau bangkin Tanpa jamang melainkan memakai sanggul atau gelung  o Dalam menari boleh menggunakan sindenan ( menyanyi ) atau tidak Beksan Wireng Berasal dari kata Wira (perwira) dan 'Aeng' yaitu prajurit yang unggul. artinya tidak menggunakan gending sampak/srepeg. yang 'linuwih'. Oleh istana tari itu diubah menjadi Tari gambyong. Menarinya sangat indah ditambah kecantikan dan modal suaranya yang baik. tari ini sering juga ditarikan untuk menyambut tamu dalam upacara peringatan hari besar dan perkawinan. akhirnya Nyi Mas itu dipanggil oleh Bangsawan Kasunanan Surakarta untuk menari di Istana sambil memberi pelajaran kepada para putra/I Raja. hanya iramanya atau temponya kendho atau kenceng  Gending satu atau dua. Sehingga tari ini menggambarkan ketangkasan dalam latihan perang dengan menggunakan alat perang. yang 'aeng'. artinya gendhing ladrang kemudian diteruskan gendhing ketawang  kebudayaan 68 Tidak ada yang kalah. Selain sebagai hiburan.

Kusumoyudho dengan Gusti Ratu Angger tahun 1910. Ciri-cirinya :      Tari boleh sama. sampak. Pertama dipentaskan di Surakarta pada upacara perkawinan KGPH. kecuali pada lakon kembar Ada yang kalah. Selanjutnya mengalami persesuaian dengan gaya Surakarta. Bedanya Tari Pethilan mengambil adegan atau bagian dari cerita pewayangan. agar lebih cantik dan menarik. boleh tidak Menggunakan ontowacono ( dialog ) Pakaian tidak sama.• Tari Pethilan Hampir sama dengan tari Wireng. Tari ini menggambarkan cara-cara berhias diri seorang gadis yang baru menginjak masa akhil baliq. gangsaran  Memetik dari suatu cerita lakon Bambangan Cakil Hanila Prahasta Dan lain-lain Contoh Tari Pethilan :     • Tari Golek Tari ini berasal dari Yogyakarta. menang atau mati Perang menggunakan gendhing srepeg. kebudayaan 69 Jawa .

dan lain-lain • o o o Tari Bondan Tari ini dibagi menjadi : Bondan Cindogo Bondan Mardisiwi Bondan Pegunungan atau tani Tari Bondan Cindogo dan Mardisiwi merupakan tari gembira.Macam-macamnya :   Golek Clunthang iringan Gendhing Clunthang Golek Montro iringan Gendhing Montro  Golek Surungdayung iringan gendhing Ladrang Surungdayung. Tapi Bondan Cindogo satu-satunya anak yang ditimang-timang akhirnya meninggal dunia. serta perlengakapan tarinya sering tanpa menggunakan kendhi seperti pada Bondan Cindogo. mengungkapkan rasa kasih sayang kepada putranya yang baru lahir. memanggul payung Membawa kendhi (dahulu). sekarang jarang kebudayaan 70 Jawa . Sedang pada Bondan Mardisiwi tidak. Ciri pakaiannya : o o o o o Memakai kain wiron Memakai jamang Memakai baju kotang Menggendong boneka.

tegal pertanian. Sedangkan Bondan Pegunungan. Dulu hanya diiringi lagu-lagu dolanan tapi sekarang diiringi gendhing-gendhing lengkap. Di bagian dalam sudah mengenakan pakaian seperti Bondan biasa.Untuk gendhing iringannya Ayak-ayakan diteruskan Ladrang Ginonjing. Beliau menciptakan 9 jenis topeng. Tapi sekarang ini menurut kemampuan guru/pelatih tarinya. menggendong tenggok. memakai caping adan membawa alat pertanian hanya tidak memakai jamang tetapi memakai sanggul/gelungan. topengnya dibuat dari kayu dipoles dan disungging sesuai dengan perwatakan tokoh/perannya yang diambil dari Wayang Gedhog. Kecuali jika memakai jamang maka klat bahu. pertama melukiskan kehidupan petani kemudian pakaian bagian luar yang menggambarkan gadis pegunungan dilepas satu demi satu dengan membelakangi penonton. yaitu : o o o o o o o o kebudayaan 71 Topeng Panji Ksatrian Condrokirono Gunung sari Handoko Raton Klono Denowo Benco(Tembem) Jawa . Selanjutnya menari seperti gerak tari Bondan Cindogo / Mardisiwi. sawah. sampur. Tari ini semakin pesat pertumbuhannya sejak Islam masuk terutama oleh Suann Kalijaga yang menggunakannnya sebagai penyebaran agama. Menak Panji. Tari Topeng yang pernah mengalami kejayaan pada jaman Majapahit. dll sebelum dipakai dimasukkan tenggok. • Tari Topeng Tari ini sebenarnya berasal dari Wayang Wong atau drama. o Bentuk tariannya . sumping. melukiskan tingkah laku putri asal pegunungan yang sedang asyik menggarap ladang. Ciri pakaiannya : o o Mengenakan pakaian seperti gadis desa.

dllnya. di Purworejo Pertunjukan ini dilakukan oleh beberapa orang penari yang berpakaian menyerupai pakaian prajurit Belanda atau Perancis tempo dulu dan diiringi dengan alat-alat bunyi-bunyian terdiri dari kentrung. 2. kencer. Biasanya digelar pada acaraacara-acara penting kesenian tradisional tingkat nasional. menangis. Turas (Penthul) Pakaiannya dahulu memakai ikat kepala dengan topeng yang diikat pada Tari Topeng yang berasal dari Malang sangat khas karena merupakan hasil perpaduan antara budaya Jawa Tengahan. Salah satu keunikannya adalah pada model alat musik yang dipakai seperti rebab (sitar Jawa) seruling Madura (yang mirip dengan terompet Ponorogo) dan karawitan model Blambangan. kesenian ini timbul sejak berkobarnya perang Aceh di jaman Belanda yang kemudian meluas ke daerah lain. Tari Topeng masih bertahan hingga saat ini.o kepala. malu dan sebagainya. Tari Topeng adalah perlambang bagi sifat manusia. rebana. sedih. kendang. kebudayaan 72 Jawa . karenanya banyak model topeng yang menggambarkan situasi yang berbeda. Beberapa contoh kesenian tradisional : o Tari dolalak. Bisanya tari ini ditampilkan dalam sebuah fragmentasi hikayat atau cerita rakyat setempat tentang berbagai hal terutama bercerita tentang kisah2 panji. Dengan demikian walaupun masih bertahan namun Tari Topeng sudah mendekati kepunahan walaupun masih tetap mengikuti acara-acara penting kesenian tradisional tingkat nasional. Jawa Kulonan dan Jawa Timuran (Blambangan dan Osing) sehingga akar gerakan tari ini mengandung unsur kekayaan dinamis dan musik dari etnik Jawa. TARI TRADISIONAL dari JAWA TENGAH Selain tari-tari klasik. Madura dan Bali. Kesenian tradisional tersebut tak kalah menariknya karena mempunyai keunikan-keunikan tersendiri. Menurut cerita. tertawa. di Jawa Tengah terdapat pula tari-tari tradisional yang tumbuh dan berkembang di daerah-daerah tertentu. Tari Topeng sendiri diperkirakan muncul pada masa awal abad 20 dan berkembang luas semasa perang kemerdekaan.

Kuntulan adalah kesenian bela diri yang dilukiskan dalam tarian dengan iringan bunyi-bunyian seperti bedug. Kragan. Pertunjukan ini diadakan sebagai olah raga dan sekaligus hiburan di waktu senggang pada sore dan malam hari terutama di kala terang bulan purnama. o Pekalongan Di daerah Pekalongan terdapat kesenian Kuntulan dan Sintren. Kesenian ini menampilkan seorang gadis yang menari dalam keadaan tidak sadarkan diri. dllnya. Seni gulat rakyat ini terutama berkembang di kalangan pelajar terutama di pantai diantara kecamatan Pandagan. Penarinya mengenakan celana panjang dilapisi kain batik sebatas lutut dan berkacamata kebudayaan 73 Jawa . o Obeg dan Begalan Kesenian ini berkembang di Cilacap.o Patolan (Prisenan). Tarian ini menggunakan “ebeg” yaitu anyaman bambu yang dibentuk menyerupai kuda berwarna hitam atau putih dan diberi kerincingan. Pemain Obeg ini terdiri dari beberapa orang wanita atau pria dengan menunggang kuda yang terbuat dari anyaman bambu (kepang). ada juga yang menamakannya jathilan (Yogyakarta) juga reog (Jawa Timur). kemudian selang beberapa lama ia telah selesai berdandan dan siap untuk menari. Lokasinya berada di tempat-tempat yang berpasir di tepi pantai. Varian lain dari jenis kesenian ini di daerah lain dikenal dengan nama kuda lumping atau jaran kepang. Atraksi ini dapat disaksikan pada waktu malam bulan purnama setelah panen. terbang. di Rembang Sejenis olahraga gulat rakyat yang dimainkan oleh dua orang pegulat dipimpin oleh dua orang Gelandang (wasit) dari masing-masing pihak. Jawa Timur. Bulu sampai ke Tuban. sebelum tarian dimulai gadis menari tersebut dengan tangan terikat dimasukkan ke dalam tempat tertutup bersama peralatan bersolek. barongan dan Wayang Krucil (sejenis wayang kulit ternuat dari kayu). Pertunjukan ini dipimpin oleh seorang pawang atau dukun yang dapat membuat pemain dalam keadaan tidak sadar. serta diiringi dengan bunyi-bunyian tertentu. Sedangkan Sintren adalah sebuah tari khas yang magis animistis yang terdapat selain di Pekalongan juga di Batang dan Tegal. o Blora Daerah ini terkenal dengan atraksi kesenian Kuda Kepang.

lung gadung dan lain-lain. Tarian ebeg termasuk jenis tari massal. di dalam kurungan itulah Laisan berdandan seperti wanita. Yang bersifat khas banyumas antara lain : Calung. dan munculah pria tersebut dengan mengenakan pakaian wanita lengkap. Laisan adalah jenis kesenian yang melekat pada kesenian ebeg. Biasanya dalam pertunjukan ebeg dilengkapi dengan atraksi barongan. Setelah terlebih dulu dimantra-mantara. dan yang unik adalah para pemainnya biasa memakan pecahan kaca (beling) atau barang tajam lainnya sehingga menunjukkan keperkasaan sebagai Satria. Peralatan yang dipergunakan anatara lain kendang. Semua penari menggunakan alat bantu ebeg sedangkan penthul-tembem memakai topeng. Pada kedua pergelangan tangan dan kaki dipasangi gelang-gelang kerincingan sehingga gerakan tangan dan kaki penari ebeg selalu dibarengi dengan bunyi kerincingan. Laisan dilakukan oleh seorang pemain pria yang sedang mendem. Purbalingga maupun di daerah di luar Kabupaten Banyumas. ebeg diiringi oleh gamelan yang lazim disebut bendhe. jadi satu grup ebeg bisa beranggotakan 16 orang atau lebih. Laisan juga dikenal di wilayah lain (wetan) dan mereka biasa menyebutnya Sintren. demikian pula pemain yang manaiki kuda kepang menggambarkan kegagahan prajurit berkuda dengan segala atraksinya. Dalam pertunjukannya. Begalan adalah salah satu acara dalam rangkaian upacara perkawinan adat Banyumas. Kesenian ini hidup di daerah Bangumas pada umumnya juga terdapat di Cilacap. Jumlah penari ebeg 8 oarang atau lebih. Untuk mengiringi tarian ini selalu digunakan lagu-lagu irama Banyumasan seperti ricik-ricik. penthul dan cepet. salah seorang pemain biasanya melakukan thole-thole yaitu menari berkeliling arena sambil membawa tampah untuk mendapatkan sumbangan. kebudayaan 74 Jawa . kurunganpun dibuka. badannya ditindih dengan lesung terus dimasukkan ke dalam kurungan. Laisan muncul di tengah pertunjukan ebeg. gudril. kenong.hitam. pertunjukannya memerlukan tempat pagelaran yang cukup luas seperti lapangan atau pelataran/halaman rumah yang cukup luas. biasanya kurungan ayam. blendrong. mengenakan mahkota dan sumping ditelinganya. seorang berperan sebagai pemimpin atau dalang. Pada pertunjukan ebeg komersial. 7 orang lagi sebagai penabuh gamelan. Waktu pertunjukan umumnya siang hari dengan durasi antara 1 – 4 jam. dua orang berperan sebagai penthul-tembem. saron. gong dan terompet.

tempat nasi artinya bahwa hidup itu memerlukan wadah yang memiliki tatanan tertentu jadi tidak boleh berbuat semau-maunya sendiri. Sebagai layaknya tari klasik. Pembegal biasanya membawa pedang kayu. tampah. Centhing. Begalan adalah jenis kesenian yang biasanya dipentaskan dalam rangkaian upacara perkawinan yaitu saat calon pengantin pria beserta rombongannya memasuki pelataran rumah pengantin wanita. seorang bertindak sebagai pembawa barangbarang (peralatan dapur).begalan dan Dalang Jemblung. Dialog yang disampaikan kedua pemain berupa bahasa lambang yang diterjemahkan dari nama-nama jenis barang yang dibawa. penonton juga disuguhi dialog-dialog menarik yang penuh humor. ian. umumnya mereka mengenakan busana Jawa. siwur. Kostum pemain cukup sederhana. sorokan. saringan ampas. Kukusan adalah alat memasak atau menanak nasi. contohnya ilir yaitu kipas anyaman bambu diartikan sebagai peringatan bagi suami-isteri untuk membedakan baik buruk. irus. centhong. Begalan merupakan kombinasi antara seni tari dan seni tutur atau seni lawak dengan iringan gending. Upacara ini diadakan apabila mempelai laki-laki merupakan putra sulung. Biasanya usai pertunjukan. Jumlah penari 2 orang. Sesuai namanya. seorang lagi bertindak sebagai pembegal/perampok. gerak tarinya tak begitu terikat pada patokan tertentu yang penting gerak tarinya selaras dengan irama gending. Selain menikmati kebolehan atraksi tari begalan dan irama gending. Sayangnya pertunjukan begalan ini tidak boleh dipentaskan terlalu lama karena masih termasuk dalam rangkaian panjang upacara pengantin. kendhil dan wangkring. tarian lengger-calung terdiri dari lengger . ini melambangkan bahwa setelah berumah tangga cara berpikirnya harus masak/matang. Barang-barang yang dibawa antara lain ilir. kukusan. Barang bawaan ini biasa disebut brenong kepang. o Lengger-Calung dari banyumas Kesenian kebudayaan 75 tradisional lengger-calung tumbuh dan berkembang Jawa diwilayah ini. Yang menarik adalah dialog-dialog antara yang dibegal dengan sipembegal biasanya berisi kritikan dan petuah bagi calon pengantin dan disampaikan dengan gaya yang jenaka penuh humor. barang-barang yang dipikul diperebutkan para penonton. Disebut begalan karena atraksi ini mirip perampokan yang dalam bahasa Jawa disebut begal. cething.

mengenakan kain/jarit dan stagen. dhendhem. Lengger menari mengikuti irama khas Banyumasan yang lincah dan dinamis dengan didominasi oleh gerakan pinggul sehingga terlihat sangat menggemaskan. Jumlah penari lengger antara 2 sampai 4 orang. leher sampai dada bagian atas biasanya terbuka. sedangkan kendang atau gendang sama seperti gendang biasa. kenong dan gong yang semuanya terbuat dari bambu wulung (hitam). gedheg dan lempar sampur. Peralatan gamelan calung terdiri dari gambang barung. Dalam penyajiannya calung diiringi vokalis yang lebih dikenal sebagai sinden. gerakan tariannya sangat dinamis dan lincah mengikuti irama calung. Calung adalah suatu bentuk kesenian rakyat dengan menggunakan bunyibunyian semacam gambang yang terbuat dari bambu. Juga dapat untuk mengiringi tarian yang diperagakan oleh beberapa penari wanita. sampur atau selendang biasanya dikalungkan dibahu. gambang penerus. kini penarinya umumnya wanita cantik sedangkan penari prianya hanyalah sebagai badut pelengkap yang berfungsi untuk memeriahkan suasana. lagu-lagu yang dibawakan merupakan gending Jawa khas Banyumas. Satu grup calung minimal memerlukan 7 orang anggota terdiri dari penabuh gamelan dan penari/lengger. o Kuda Lumping (Jaran kepang) dari Temanggung diselenggarakan oleh keluarga yang baru pertama kalinya mengawinkan anaknya. Tari Lengger Dulu penari lengger adalah pria yang berdandan seperti wanita. mereka harus berdandan sedemikian rupa sehingga kelihatan sangat menarik. rambut kepala disanggul. Diantara gerakan khas tarian lengger antara lain gerakan geyol.(penari) dan calung (gamelan bambu). Sedangkan untuk Begalan biasanya wanita. badut biasanya hadir pada pertengahan pertunjukan. Yang mengadakan ini adalah dari pihak mempelai kebudayaan 76 Jawa .

dahulu merupakan tarian penyalur semangat kepahlawanan dari keturunan prajurit Diponegoro. Tariannya dilakukan dengan menaiki kuda kepang dengan senjata tombak dan pedang. o Ketek Ogleng dari wonogiri Kesenian yang diangkat dari ceritera Panji. o Lengger dari Wonosobo Kesenian khas Wonosobo ini dimainkan oleh dua orang laki-laki yang masing-masing berperan sebagai seorang pria dan seorang wanita. sering dipentaskan untuk menyambut tamu-tamu resmi atau biasanya diadakan pada waktu upacara. Dan pada puncaknya para pemain mencapai keadaan tidak sadar. Pada puncak tarian penari mencapai keadaan tidak sadar. Ceritera ini kemudian diubah menurut kebudayaan 77 Jawa . Tarian ini menggambarkan prajurit yang akan berangkat ke medan perang. mengisahkan cinta kasih klasik pada jaman kerajaan Kediri. o Tarian Jlantur dari Boyolali Sebuah tarian yang dimainkan oleh 40 orang pria dengan memakai ikat kepala gaya turki. Diiringi dengan bunyi-bunyian yang antara lain berupa Angklung bernada Jawa. kenong dll. Tarian ini mengisahkan ceritera Dewi Chandrakirana yang sedang mencari suaminya yang pergi tanpa pamit.Kesenian ini diperagakan secara massal. Dalam pencariannya itu ia diganggu oleh raksasa yang digambarkan memakai topeng. o Jatilan dari Magelang Pertunjukan ini biasanya dimainkan oleh delapan orang yang dipimpin oleh seorang pawang yang diiringi dengan bunyi-bunyian berupa bende.

mulut terbuka dengan gigi yang besar tanpa taring. Sosok ini digambarkan dengan topeng bermahkota. KLANA SEWANDANA atau KLONO Penari dan tarian yang menggambarkan sosok raja dari kerajaan Bantarangin ( kerajaan yang dipercaya berada di wilayah Ponorogo jaman dahulu. Sosok ini digambarkan dengan topeng yang mirip dengan wajah raksasa. 4. PUJANGGANONG atau BUJANGGANONG adalah penari dan tarian yang menggambarkan sosok patih muda ( Patihnya Klana Sewandana) yang cekatan. mata besar melotot. hidung panjang. Penampilannya dititik beratkan pada suguhan tarian akrobatis gaya kera (Ketek Ogleng) yang dimainkan oleh seorang dengan berpakaian kera seperti wayang orang. dan kumis tipis. dan sakti.selera rakyat setempat menjadi kesenian pertunjukan Ketek Ogleng yang mengisahkan percintaan antara Endang Roro Tompe dengan Ketek Ogleng. cerdik. wajah berwarna merah. TARI GARAPAN BARU ( KREASI BARU ) dari JAWA TENGAH Meskipun namanya 'baru' tetapi semua tari yang termasuk jenis ini tidak meninggalkan unsur-unsur yang ada dari jenis tari klasik maupun tradisional. Selain itu ia membawa Pecut Samandiman. 5. berbentuk kebudayaan 78 Jawa . mata melotot. Sebagai contoh : o Tari prawiroguno Tari ini menggambarkan seorang prajurit yang sedang berlatih diri dengan perlengkapan senjata berupa pedang untuk menyerang musuh dan juga tameng sebagai alat untuk melindungi diri. o Tari Tepak-Tepak Putri Tari yang menggambarkan kelincahan gerak remaja-remaja putri sedang bersuka ria memainkan rebana. 3. jenaka. Tarian akrobatis ini di antara lain dipertunjukan di atas seutas tali. dengan iringan pujian atau syair yang bernafas Islam. wajah merah darah dan rambut yang lebat warna hitam menutup pelipis kiri dan kanan.

Pada kedua ujung bambu dibuat lobang persegi panjang selebar 1 cm. tambur. 7. bedug. Pakaian para penari umumnya berwarna hitam lengan panjang dengan garis-garis merah dan kuning di bagian dada/punggung sebagai hiasan. terbang (rebana besar) dan angklung. 6. 2 rebana. Ujung atas sunduk bambu dimasukkan ke badan bambu rengkong dekat gantungan kebudayaan 79 Jawa . Di tengah masing-masing ikatan padi ada sunduk (tusuk) bambu sepanjang hampir 2 meter. Tarian ini disebut angguk karena penarinya sering memainkan gerakan mengangguk-anggukan kepala. Kesenian angguk yang bercorak Islam ini mulanya berfungsi sebagai salah satu alat untuk menyiarkan agama Islam. kencreng.tongkat lurus dari rotan berhias jebug dari sayet warna merah diseling kuning sebanyak 5 atau 7 jebug. Angguk dimainkan sedikitnya oleh 10 orang penari anak laki-laki berusia sekitar 12 tahun. Sayangnya jenis kesenian ini sekarang semakin jarang dipentaskan. biasanya menggunakan bambu tali dengan panjang sekitar 2. sekeliling bambu melintasi lobang tersebut diraut sekedar tempat bertengger tali penggantung ikatan padi. Dua ikat padi seberat ± 15 kg digayutkan dengan tali ijuk mengalungi sonari (badan rengkong bambu di tempat yang diraut). RENGKONG Rengkong adalah kesenian yang menyajikan bunyi-bunyian khas bagai suara kodok mengorek secara serempak yang dihasilkan dari permainan pikulan bambu.6 meter. mengenakan kaos kaki panjang sebatas lutut tanpa sepatu. Bentuk lain dari kesenian angguk adalah “aplang”. Celana panjang sampai lutut dengan hiasan garis merah pula. Pikulan bambu tersebut berukuran besar dan kuat tetapi ringan karena dibuat dari bambu yang sudah cukup tua. Tarian jenis ini sudah ada sejak abad ke 17 dibawa para mubalig penyebar agama Islam yang datang dari wilayah MataramBagelen. Perangkat musiknya terdiri dari kendang. Syair lagu-lagu tari angguk diambil dari kitab Barzanji sehingga syair-syair angguk pada awalnya memang menggunakan bahasa Arab tetapi akhir-akhir ini gerak tari dan syairnya mulai dimodifikasi dengan menyisipkan gerak tari serta bahasa khas Banyumasan tanpa merobah corak aslinya. ANGGUK Tarian ini berasal dari Banyumas. bedanya bila angguk dimainkan oleh remaja pria maka “aplang” atau “daeng” dimainkan oleh remaja putri. serta memakai topi pet berwarna hitam.

Pemikul mengayun-ayunkan ke kiri dan ke kanan dengan mantap dan teratur. Pada bagian akhir sajian para pemain Buncis Intrance atau mendem. khas alam petani. Dalam pertunjukannya diiringi dengan perangkat musik angklung. Kesenian tradisional para petani ini biasanya diadakan pada pesta perayaan panen atau pada hari-hari besar nasional. 9. kata ”gambyong” diambil dari uru tari (tledhek) yang mempunyai nama Mbok gambyong. Para pemain buncis selain menjadi penari juga menjadi pemusik serta vokalis. 8. Di tahun 1950-an. Tarian ini juga dikenal di seluruh Nusantara. BUNCIS Buncis adalah perpaduan antara seni musik dengan seni tari yang dimainkan oleh 8 orang pemain. Jadi Tari Gambyong itu berasal dari kawulo alit ( orang kecil / rendah ) yang datang ke Kraton. AKSIMUDA Aksimuda adalah kesenian bernafas Islam yang disajikan dalam bentuk atraksi pencak silat yang digabung dengan tari-tarian.tali ijuk. Tali ijuk dengan beban padi yang menggantung pada badan bambu rengkong pun bergerak-gerak. Pura Mangkunegaran mengambil Tari Gambyong menjadi salah satu tari unggulan yang diberi nama gambyong Pareanom. TAYUBAN Adalah salah satu jenis tari masyarakat Jawa. 10. gesekan tali ijuk yang keras inilah yang menimbulkan suara berderit-derit nyaring. Di daerah tertentu tarian ini digelar sebagai bagian dari upacara pembersihan ( bala atau malapetaka ) dan biasanya kebudayaan 80 Jawa . pikulan bambu rengkong yang berisi muatan padi diletakkan pada bahu kanan (dipikul). Tayuban digelar sebagai bagian dari upacara sakral yang berhubungan dengan kesuburan ( kesuburan perkawinan dan kesuburan pertanian/tanah ). Kalau ada beberapa rengkong yang dimainkan serempak maka akan timbul suara yang mengasyikan. Cara memainkannya. TARI GAMBYONG Salah satu tari dari Surakarta. Menurut cerita. terlebih bila dimainkan dengan berbaris berarak-arakan maka suasananya akan lebih semarak. 11. tetapi dengan versi yang berbeda.

karena Jawa memiliki pandangan hidup tersendiri yang diungkapkan dalam irama musik gamelannya.Guyub antara lelaki dan perempuan. H. Dan yang menerima selendang itu mendapat kehormatan untuk menari bersama dengan penari perempuan tadi. Pada zaman dahulu tarian ini mempunyai nilai hiburan dan sensual karena tarian ini menggambarkan keakraban hubungan lelaki ( pengibing ) dan perempuan ( ronggeng ). 12. Di daerah tertentu. Makanya ada yang beranggapan bahwa Tayuban itu berasal dari kata ”tayub” ( ditata guyub ). sedekah desa. sebuah bentuk gamelan yang berbeda dengan Gamelan Bali ataupun Gamelan Sunda. Gamelan Jawa memiliki nada yang lebih lembut dan slow. diantaranya : Pandangan hidup Jawa yang diungkapkan dalam musik gamelannya adalah keselarasan kehidupan jasmani dan rohani. Perbedaan itu wajar.2 a) Seni Musik GAMELAN JAWA Gamelan yang berkembang di Yogyakarta adalah Gamelan Jawa.juga digelar dalam penyambutan tamu-tamu agung. khitanan. Beberapa jenis alat musik yang terdapat di Jawa. pemainnya terdiri atas remaja Putri. perkawinan. Nantinya selendang itu diberikan kepada laki-laki ( ketiban sampur ). sedekah bumi. berbeda dengan Gamelan Bali yang rancak dan Gamelan Sunda yang sangat mendayu-dayu dan didominasi suara seruling. dan lain-lain. penari perempuan menggunakan sampur atau selendang. APLANG atau DAENG Kesenian yang serupa dengan Angguk. keselarasan dalam berbicara dan bertindak sehingga tidak memunculkan ekspresi yang meledakkebudayaan 81 Jawa .

Wujud nyata dalam musiknya adalah tarikan tali rebab yang sedang. Masing-masing alat memiliki fungsi tersendiri dalam pagelaran musik gamelan. gambang. Perkembangan musik gamelan diperkirakan sejak kemunculan kentongan. Saron Peking. gong dan seruling bambu. kebudayaan 82 Jawa . Pengendang adalah konduktor dari musik gamelan. rebab. Seperangkat gamelan terdiri dari beberapa alat musik. musik ini dipakai untuk mengiringi pagelaran wayang. diantaranya satu set alat musik serupa drum yang disebut kendang. misalnya gong berperan menutup sebuah irama musik yang panjang dan memberi keseimbangan setelah sebelumnya musik dihiasi oleh irama gending. Ada 3 macam Saron. Seperangkat gamelan tersebut diantaranya : 1) Kendang Kendang adalah instrumen pemimpin. dan kayu. saron kendang dan gambang serta suara gong pada setiap penutup irama. tepukan ke mulut. dan tarian. Komponen utama yang menyusun alatalat musik gamelan adalah bambu. paduan seimbang bunyi kenong. gesekan pada tali atau bambu tipis hingga dikenalnya alat musik dari logam.45 cm. Saron Demung. rebab dan celempung. Barulah pada beberapa waktu sesudahnya berdiri sebagai musik sendiri dan dilengkapi dengan suara para sinden. logam. Tidak ada kejelasan tentang sejarah munculnya gamelan.ledak serta mewujudkan toleransi antar sesama. Saron Barung. 2) Saron Alat musik pukul dari bronze dengan disanggah kayu. Perkembangan selanjutnya setelah dinamai gamelan. Ada 5 ukuran kendang dari 20 cm .

6) Gambang Lempengan kayu yang diletakkan diatas frame kayu juga.3) Bonang Barung Terdiri dari 2 baris peralatan dari bronze dimainkan dengan 2 alat pukul. 5) Gender Hampir sama dengan slentem dengan lempengan bronze lebih banyak. 4) Slentem Lempengan bronze ini diletakan diatas bambu untuk resonansinya. kebudayaan 83 Jawa .

untuk menandakan lagu yang bagiannya berirama pendek. 8) Kempul Gong kecil. kebudayaan 84 Jawa . terbuat dari bronze.7) Gong Setiap set slendro dan pelog dilengkapi dengan 3 gong. Dua Gong besar (Gong Ageng) dan satu gong Suwukan sekitar 90 cm. Gong menandakan akhir dari bagian lagu yang liriknya panjang. Setiap set slendro dan pelog terdiri dari 6 atau 10 kempul.

10) Ketug Disebut juga kenong kecil. satu set komplet bisa 10 kenong baik set slendro atau pelog. menandakan jeda antar lirik lagu. kebudayaan 85 Jawa .9) Kenong Semacam gong kecil diatas tatakan.

11) Clempung sebuah instrument kecil. dimana setiap satu set slendro dan pelog membutuhkan satu clempung. 12) Siter Tiap set slendro dan pelog memerlukan 1 siter. 14) Rebab Alat musik gesek kebudayaan 86 Jawa . 13) Suling Setiap set slendro dan pelog memerlukan 1 suling.

Satu permainan gamelan komplit terdiri dari dua putaran. yaitu 1 2 3 4 5 6 7 [C+ D E.15) Keprak dan Kepyak Diperlukan untuk pertunjukan tari 16)Bedug Gamelan Jawa adalah musik dengan nada pentatonis. yaitu 1 2 3 5 6 [C.D E+ G A] dengan perbedaan interval kecil. Slendro memiliki 5 nada per oktaf. yaitu slendro dan pelog. Pelog memiliki 7 nada per oktaf. Komposisi musik gamelan diciptakan dengan beberapa aturan. yaitu terdiri dari beberapa putaran dan kebudayaan 87 Jawa .F# G# A B] dengan perbedaan interval yang besar.

anda bisa menuju Bangsal Sri Maganti. tembaga yang dicampur nikel atau perunggu. Sebagai sebuah pertunjukan tersendiri. Gamelan Pelog Gamelan pelog fungsinya hampir sama dengan gamelan salendro. kebudayaan 88 Jawa . jaipongan dan lain-lain. Sedangkan yang menyanyikan adalah Pesinden ( wira-swara/swarawati ). Sementara untuk melihat perangkat gamelan tua. Salah satu bentuk gamelan kontemporer adalah jazzgamelan yang merupakan paduan paduan musik bernada pentatonis dan diatonis. Salah satu tempat di Yogyakarta dimana anda bisa melihat pertunjukan gamelan adalah Kraton Yogyakarta. dibatasi oleh satu gongan serta melodinya diciptakan dalam unit yang terdiri dari 4 nada. Pertunjukan musik gamelan yang digelar kini bisa merupakan gamelan klasik ataupun kontemporer. Gamelan 2. musik gamelan biasanya dipadukan dengan suara para penyanyi Jawa (penyanyi pria disebut wiraswara dan penyanyi wanita disebut waranggana).pathet. sementara hari Minggu pada waktu yang sama digelar musik gamelan sebagai pengiring tari tradisional Jawa. tari. anda bisa menuju bangsal kraton lain yang terletak lebih ke belakang.12. Gamelan Slendro salendro biasa digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang. Pada hari Kamis pukul 10. kliningan.00 .00 WIB digelar gamelan sebagai sebuah pertunjukan musik tersendiri. Gamelan Jawa itu dibagi menjadi dua : 1. Berdasarkan suaranya. Seperti : besi. Anda bisa melihat gamelan sebagai sebuah pertunjukan musik tersendiri maupun sebagai pengiring tarian atau seni pertunjukan seperti wayang kulit dan ketoprak. Untuk melihat pertunjukannya. Yang memainkan gamelan itu adalah Penayagan. Hampir semua bagian dari alat musik ini terbuat dari logam ( tosan ). hanya kurang begitu berkembang dan kurang akrab di masyarakat dan jarang dimiliki oleh grup-grup kesenian di masyarakat. Hari Sabtu pada waktu yang sama digelar musik gamelan sebagai pengiring wayang kulit.

gong & kendang. Selain itu ada juga Gong Sebul dinamakan demikian karena bunyi yang dikeluarkan kebudayaan 89 Jawa .kendhang batangan . Beberapa daftar Gamelan . Sedangkan yang menuntun sampak adalah kendhang. selain itu gendhing ini merupakan satu-satunya gendhing yang dapat mencirikan keragaman karawitan Jawa timuran karena terangkai menjadi berbagai gaya. gambang penerus. dhendhem.kempul .bonang . meduroan dan malangan.siter/celempung . jombangan.kenong . d) CALUNG Alat musik ini terbuat dari potongan bambu yang diletakkan melintang dan dimainkan dengan cara dipukul.saron panerus .gong ageng . 5 (mo). c) BONGKEL Bongkel adalah musik tradisional Banyumasan yang mirip dengan angklung.gendhing khusus bongkel.gender . 3 (lu).Yang menabuh gamelan itu harus mengerti tinggi rendahnya suara dan cepat lambatnya lagu. susunan pola balungan melodi yang ada adalah 65626521 21262165. Alat yang menuntun suara adalah rebab.kendhang gendhing b) JULA-JULI Jula-juli adalah salah satu gendhing yang sangat lazim dijumpai pada pertunjukan ludruk dan tari remo di Jawa Timur. 6 (nem).suling .gong suwuk .slenthem . Perangkat musik khas Banyumasan yang terbuat dari bambu wulung mirip dengan gamelan Jawa. . sebut saja jula-juli surabaya.kempyang . hanya terdiri dari satu jenis instrumen dengan empat bilah berlaras slendro.gambang .saron barung . terdiri atas gambang barung.saron demung . Nada-nadanya 2 (ro).kethuk .rebab . kenong. Dalam pertunjukkannya Bongkel disajikan gendhing .

Hal ini dilakukan demi asas kesinambungan. Angka tahun Saka tetap dipakai dan diteruskan. H. siklus hari yang dipakai ada dua: siklus mingguan yang terdiri dari 7 hari seperti yang kita kenal sekarang. Lagu-lagu yang dibawakan kebanyakan lagu Jawa dan Dangdut. kebudayaan 90 Jawa . Sejak saat itu kalender Jawa versi Mataram menggunakan sistem kalender kamariah atau lunar. f) SALAWATAN JAWA yaitu salah satu seni musik bernafaskan Islam dengan perangkat musik berupa terbang Jawa.3 Kalender Jawa Kalender Jawa adalah sebuah kalender yang istimewa karena merupakan perpaduan antara budaya Islam. e) KENTHONGAN Sebagian orang menyebutnya tek-tek. Dalam satu grup kenthongan. alat ini juga terbuat dari bambu dengan ukuran yang besar. berupa potongan bambu yang diberi lubang memanjang disisinya dan dimainkan dengan cara dipukul dengan tongkat kayu pendek. gending gaya Banyumasan. dan siklus pekan pancawara yang terdiri dari 5 hari pasaran. Kenthong adalah alat utamanya.mirip gong tetapi dimainkan dengan cara ditiup (sebul). SurakartaYogyakarta dan sering pula disajikan lagu-lagu pop yang diaransir ulang. Sehingga tahun saat itu yang adalah tahun 1547 Saka. Dalam pertunjukan kesenian ini menyajikan lagu-lagu yang diambil dari kitab Barzanji. kecrek dan dipimpin oleh mayoret. Kenthong yang dipakai ada beberapa macam sehingga menghasilkan bunyi yang selaras. Dalam penyajiannya calung diiringi vokalis yang lazim disebut sinden. namun tidak menggunakan angka dari tahun Hijriyah (saat itu tahun 1035 H). Kentongan juga terbuat dari bambu. diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa. seruling. Sultan Agung yang berusaha keras menyebarkan agama Islam di pulau Jawa dalam kerangka negara Mataram mengeluarkan dekrit untuk mengubah penanggalan Saka. Dalam sistem kalender Jawa. budaya Hindu-Buddha Jawa dan bahkan juga sedikit budaya Barat. Kenthongan dimainkan dalam kelompok yang terdiri dari sekitar 20 orang dan dilengkapi dengan Beduk. Pada tahun 1625 Masehi. Aransemen musikal yang disajikan berupa gending-gending Banyumasan.

namun beberapa di antaranya menggunakan nama dalam bahasa Sansekerta seperti Pasa. Daftar bulan Jawa matahari Pada tahun 1855 Masehi. Jumadilakhir 7. Kapitu / Palguna (23 Desember-3 Februari) VIII. Sapar 3. Mulud 4. karena penanggalan kamariah dianggap tidak memadai sebagai patokan para petani yang bercocok tanam. Ruwah (Saban) 9. dikodifikasikan oleh Sri Paduka Mangkunegara IV atau penggunaannya ditetapkan secara resmi. Nama-nama ini adalah nama bulan kamariah atau candra (lunar). Sawal 11. Jumadilawal 6. Kasa / Kartika (23 Juni-2 Agustus) II. Sedangkan nama Apit dan Besar berasal dari bahasa Jawa dan bahasa Melayu. Rejeb 8. dengan nama-nama Arab. (Dulkangidah) 12. Tetapi lama setiap mangsa berbeda-beda. Kawolu / Wisaka (4 Februari-1 Maret) kebudayaan 91 Jawa . juga tidak ikut mengambil alih kalender karangan Sultan Agung ini. Sura 2. I. maka bulan-bulan musim atau bulan-bulan surya yang disebut sebagai pranata mangsa. Pulau Bali dan Palembang yang mendapatkan pengaruh budaya Jawa. 1.Dekrit Sultan Agung berlaku di seluruh wilayah kerajaan Mataram II: seluruh pulau Jawa dan Madura kecuali Banten. Karo / Pusa (3 Agustus-25 Agustus) VII. Ketiga daerah terakhir ini tidak termasuk wilayah kekuasaan Sultan Agung. Poso (siyam) 10. Lalu oleh beliau tanggalnya disesuaikan dengan penanggalan tarikh kalender Gregorian yang juga merupakan kalender surya. Sebenarnya pranata mangsa ini adalah pembagian bulan yang asli Jawa dan sudah digunakan pada jaman pra-Islam. Daftar bulan Jawa Islam Di bawah ini disajikan nama-nama bulan Jawa Islam. Bakdamulud 5. Sebagian nama bulan diambil dari Kalender Hijriyah. Sela dan kemungkinan juga Sura. Batavia dan Banyuwangi (=Balambangan). Besar(Dulkijah) Sela A.

Kemudian sebuah pekan yang terdiri atas tujuh hari ini. Wawu 8. dan Kliwon. Kalima / Manggala (14 Oktober-9 November) VI. Ehe 3. Pon. Kanem / Maya (10 November-22 Desember) B. Alip 2. Berikut ini secara singkat dijelaskan sebagai berikut: kebudayaan 92 Jawa . Siklus windu IX. caturwara. Siklus ini yang secara total berjumlah 210 hari adalah semua kemungkinannya hari dari pekan yang terdiri atas 7. Paing. memiliki sebuah siklus yang terdiri atas 30 pekan. Karolas / Asuji (13 Mei22Juni) Oleh orang Jawa tahun-tahun digabung menjadi semacam abad yang terdiri dari delapan satuan lebih kecil. Pekan yang terdiri atas lima hari ini disebut sebagai pasar oleh orang Jawa dan terdiri dari hari-hari: Legi. Katiga / Manggasri (26 Agustus-18 September) IV. Kasanga / Jita (2 Maret26 Maret) X. Jaman sekarang hanya pekan yang terdiri atas lima hari dan tujuh hari saja yang dipakai. Je 5. pañcawara (pancawara). 6 dan 5 hari berpapasan. Kasepuluh / Srawana (27 Maret-19 April) XI. Kapat / Setra (19 September-13 Okober) V. Wage. Be 7. yaitu yang juga dikenal di budaya-budaya lainnya. Di bawah disajikan nama-nama windu: 1. Kasewelas / Sadha (20 April-12 Mei) XII. Jimakir Pembagian pekan Orang Jawa pada masa pra Islam mengenal pekan yang lamanya tidak hanya tujuh hari saja. saptawara. triwara.III. sadwara. Setiap pekan disebut satu wuku dan setelah 30 wuku maka muncul siklus baru lagi. Dal 6. Jimawal 4. namun dari 2 sampai 10 hari. Setiap satuan ini terdiri atas 8 tahun Jawa dan disebut windu. namun di pulau Bali dan di Tengger. Pekan-pekan ini disebut dengan namanama dwiwara. astawara dan sangawara. pekan-pekan yang lain ini masih dipakai.

Dangu / Batu 2. Setu / Tumpak/Saniscara 4. Uwas / Peksi/Burung 6. Sadwara – Paringkelan. Wage / Kresna/ Langking 3. Pon / Palguna (7) 5. Perhitungan hari dengan siklus 7 harian : 1. Paningron / Mina/Ikan 5. Pahing / Jenar (9) 2. Kliwon/ Kasih (8) 2. Perhitungan hari dengan siklus 9 harian : 1. Mawulu / Taru/Benih. Nohan / Rembulan 6.1. (4) 4. Jagur / Harimau 3. Sri 2. Aryang / Manusia 3. Pancawara – Pasaran dan bobot angkanya. Kemis / Respati 6. Dadi / Kayu kebudayaan 93 Jawa . Kala 8. Gigis / Bumi 4. Wogan / Ulat 7. Perhitungan hari dengan siklus 8 harian : 1. Tulus / Air 8. Perhitungan hari dengan siklus 6 harian 1. Senen / Soma 3. Wurung / Api 9. Yama 5.Wurukung/ Hewan 4. Minggu / Radite 2. Legi / Manis (5) 3.Guru 4. Saptawara – Padinan. Rudra 6. Perhitungan hari dengan siklus 5 harian : 1. Tungle / Daun 2. Uma – Padangon. Jemuwah / Sukra 7. Selasa / Anggara 4. Rebo / Budha 5. Indra 3. Hastawara – Padewan. Brama 7. Sangawara 5. Kerangan / Matahari 5.

Sungsang 11. Wukir 4. Warigagung 9. Candrasangkala Jawa menetapkan bahwa pergantian hari ketika pergantian sasi waktunya adalah tetap yaitu pada saat matahari terbenam (surup-antara pukul 17.   Sementara hari mingguan akan mengikuti bobot angka sbb: kebudayaan 94 Jawa . dan Legi mempunyai bobot angka 5. Tolu 6. Wayang 28. Galungan 12. Ada perbedaan yang hakiki antara system perhitungan penanggalan Jawa dengan penanggalan Hijriah.00). Kuruwelut 18. sedangkan pergantian hari ketika pergantian sasi/bulan pada penanggalan Hijriah ditentukan dengan Hilal dan Rukyat. Manahil 24. Kulawu 29. kuningan 13. Pahang 17. Mandhasiya 15. Kurantil 5. Weton Tiap hari pasaran menurut penanggalan Jawa mempunyai bobot angka yang disebut neton. Langkir 14. Maktal 22. 7. Julungwangi 10. Prangbakat 25. Wuku. Landhep 3. Marakeh 19. Perhitungan penanggalan Jawa sudah dicocokkan dengan penanggalan Hijriah namun demikian pencocokan ini bukanlah menjiplak seluruhnya tapi juga mempergunakan perhitungan yang rumit dari para leluhur kita.6. Wugu 27. Medhangkungan 21. Perhitungan hari dengan siklus mingguan dari 30 wuku : 1. Julungpujud 16. Warigalit 8. Wuye 23. Dhukut 30 Watugunung Sistim Penanggalan Jawa disebut juga Penanggalan Jawa Candrasangkalaatau perhitungan penanggalan berdasarkan peredaran Bulan mengitari Bumi. Tambir 20. Sinta 2. Gumbreg 7.00 sampai dengan 18. Bala 26. misalnya:    Paing mempunyai bobot angka 9 Pon mempunyai bobot angka 7 Wage mempunyai bobot angka 4 Kliwon mempunyai bobot angka 8. perbedaan yang nyata adalah pada saat penetapan pergantian hari ketika pergantian sasi/bulan.

Joglo (atap joglo) atau Tikelan. dan mempunyai bobot angka 13. karena Senin = 4 + Paing = 9. Angka semacam ini biasanya dipakai untuk menentukan hari baik dalam melakukan aktivitas sehari-hari. kebudayaan 95 Jawa . H. atap terdiri dari 4 (empat) buah sisi soko guru dengan pemidangannya (alengnya) dan berblandar tumpang sari.4 Rumah Adat Bangunan adat rumah Jawa Ilmu yang mempelajari seni bangunan oleh masyarakat Jawa biasa disebut Ilmu Kalang atau disebut juga Wong Kalang. tanggal 1 Januari 2001 (awal abad ke-21 dan awal alaf ke-3) adalah hari Senin-Paing. sebuah bubungan di tengahnya. Contoh : Seperti disebutkan di atas. termasuk untuk memilih hari perkawinan menurut adat kepercayaan Jawa. Bentuk Rumah Joglo :Memiliki ciri. yaitu bangunan dengan Soko Guru dan atap 4 belah sisi. dan Minggu mempunyai bobot angka 5.       • Senin mempunyai bobot angka 4 Selasa mempunyai bobot angka 3 Rabu mempunyai bobot angka 7 Kamis mempunyai bobot angka 8 Jum'at mempunyai bobot angka 6 Sabtu mempunyai bobot angka 9. Rumah Jawa adalah arsitektur tradisional Jawa yang berkembang sejak abad ke-13 terdiri atas 5 tipe dasar (pokok) yaitu : 1.

yaitu bangunan hanya dengan atap sebelah sisi. tempat raja bertahta. Panggang Pe. Hanya saja yang berbentuk trajumas tidak biasa digunakan sebagai tempat tinggal 3. Mesjidan/Tajugan. Joglo Mangkurat 6. Apabila diperkembangkan dapat berfungsi sebagai tempat ronda. yaitu bangunan dengan Soko Guru atap 4 belah sisi. dan sebagainya 5. tanpa bubungan. Limasan (atap limas). Dipergunakan sebagai tempat suci. sebuah bubungan di tengah saja Bentuk Rumah Kampung : Umumnya sebagai tempat tinggal. yaitu bangunan dengan atap 4 belah sisi. memakai dudur. Bentuk Rumah Tajug :Ciri utamanya pada atap berbentuk runcing.Bangunan ini umumnya dipergunakan sebagai pendopo dan juga untuk tempat tinggal (dalem). Joglo Hageng kebudayaan 96 Jawa . Joglo Pangrawit 5. Perkembangannya dengan penambahan emper atau serambi. trajumas. nasi dan lain-lainnya yang terdapat di tepi jalan. baik di kota maupun di desa dan di gunung-gunung. lambang gantung. pabrik. Bentuk Rumah Panggang-pe :Banyak kita jumpai sebagai tempat jualan minuman. Perkembangan dari bentuk ini juga dipergunakan sebagai tempat tinggal 4. Tidak ada yang untuk tempat tinggal. kutuk ngambang. Joglo Sinom 3. berdenah bujur sangkar. Kebanyakan untuk tempat tinggal. semisal : Masjid. lantainya selalu di atas tanpa bertingkat. Joglo Jompongan 4. Jenis-jenis Rumah Joglo : 1. Bentuk rumah Limasan: Terutama terlihat pada atapnya yang memiliki 4 (empat) buah bidang sisi. yaitu bangunan dengan atap 2 belah sisi. sebuah bubungan di tengahnya. Kampung (atap pelana). serta beberapa ruangan akan tercipta bentuk-bentuk sinom. soko guru dengan blandar-blandar tumpang sari. jadi meruncing. Joglo Lawakan 2. 2. dan lain-lain. makam. tempat mobil / garasi.

7. Joglo Semar Tinandhu

Limasan Jenis-jenis Rumah Limasan 1. Limasan Lawakan 2. Limasan Gajah Ngombe 3. Limasan Gajah Njerum 4. Limasan Apitan 5. Limasan Pacul Gowang 6. Limasan Cere Gancet 7. Limasan Trajumas 8. Limasan Gajah Mungkur 9. Limasan Klabang Nyander 10. Limasan Lambang Teplok 11. Limasan Semar Tinandu 12. Limasan Lambang Sari

Joglo

13. Limasan Semar Pinondhong, contoh Bangsal Kama, Kraton Cirebon Jenis-jenis Rumah Kampung : 1. Kampung Pokok 2. Kampung Trajumas 3. Kampung Pacul Gowang 4. Kampung Srotong 5. Kampung Cere Gancet 6. Kampung Gotong Mayit 7. Kampung Semar Pinondhong 8. Kampung Apitan kebudayaan 97 Jawa

9. Kampung Gajah Njerum 10. Kampung Gajah Ngombe 11. Kampung Doro Gepak 12. Kampung Klabang Nyander 13. Kampung Jompongan Lambang Teplok Semar Tinandhu (untuk tobong kapur) 14. Kampung Lambang Teplok (untuk gudang genteng) Jenis-jenis Rumah Panggang Pe : 1. Panggang Pe Pokok 2. Panggang Pe Trajumas 3. Panggang Pe Empyak Setangkep 4. Panggang Pe Gedhang Selirang 5. Panggang Pe Gedhang Setangkep 6. Panggang Pe Cere Gancet 7. Panggang Pe bentuk kios 8. Panggang Pe Kodokan (jengki) 9. Panggang Pe Barengan 10. Panggang Pe Cere Gancet Jenis-jenis Mesjidan/Tajugan : 1. Mesjidan Cungkup Pokok 2. Mesjidan Lawakan (langgar) 3. Mesjidan Lambang Teplok, contoh : Bangsal Gianyar, Bali 4. Mesjidan payung agung (meru), susun 3 untuk rakyat, 5 sentana (keluarga) raja, 7 pangeran, 11 raja, contoh Pamujaan Besakih, Bali 5. Tajug Tawon Boni, contoh : Bangsal Pajajaran 6. Tajug Tiang Satu Lambang Teplok, contoh : Mesjid rakyat Gombong 7. Tajug Semar Sinongsong Lambang Teplok, contoh : Langgar Kecil Kraton Cirebon 8. Tajug Pendawa, contoh : Kraton Cirebon 9. Tajug Lambang Gantung, contoh : Bangsal Ponconiti Kraton Yogyakarta 10. Tajug Lambangsari, contoh : Bangsal Pertemuan para Wali, Gunung Sembung 11. Tajug Lawakan Lambang Teplok, contoh : Pasarean Suwargan, Imogiri kebudayaan 98 Jawa

12. Tajug Semar Tinandhu, Dukuh, Yogyakarta 13. Tajug Semar Sinongsong Lambang Gantung, contoh : Masjid Soko Tunggal (gabungan Pajajaran dan Sultan Agungan, Taman, Kraton Yogyakarta 14. Tajug Ceblokan Lambang Teplok, Masjid Agung Yogyakrata 15. Tajug Mangkurat, Bangsal Witono, Kraton Yogyakarta 16. Tajug Sinom Semar Tinandhu, Lawang Sanga-sanga, Kraton Cirebon

Masing-masing bentuk berkembang menjadi beraneka jenis dan variasi yang bukan hanya berkaitan dengan perbedaan ukurannya saja, melainkan juga dengan situasi dan kondisi daerah setempat. Dari kelima macam bangunan pokok rumah Jawa ini, apabila diadakan penggabungan antara 5 macam bangunan maka terjadi berbagai macam bentuk rumah Jawa. Sebagai contoh : gedang selirang, gedang setangkep, cere gencet, sinom joglo lambang gantung, dan lain-lain. Menurut pandangan hidup masyarakat Jawa, bentuk-bentuk rumah itu mempunyai sifat dan penggunaan tersendiri. Misalnya bentuk Tajug, itu selalu hanya digunakan untuk bangunan yang bersifat suci, umpamanya untuk bangunan Masjid, makam, dan tempat raja bertahta, sehingga masyarakat Jawa tidak mungkin rumah tempat tinggalnya dibuat berbentuk Tajug. Rumah yang lengkap sering memiliki bentuk-bentuk serta penggunaan yang tertentu, antara lain : - pintu gerbang - pendopo - pringgitan - dalem - dapur kebudayaan 99 : bentuk kampung : bentuk joglo : bentuk limasan : bentuk joglo : bentuk kampung Jawa

- gandhok (kiri-kanan) : bentuk pacul gowang

Di samping itu arsitektur Jawa memiliki ketahanan yang cukup handal terhadap gempa. Yang sangat menarik pula untuk diungkap adalah struktur tersebut diperlihatkan secara jelas. yang sangat melindungi ruang beranda atau emperan di bawahnya. Bahan bangunan rumah Jawa ialah terutama dari kayu jati. Ruang dalam dan luar saling mengimbas tanpa pembatas yang tegar. Arsitektur tradisional Jawa terbukti sangat populer tidak hanya di Jawa sendiri tetapi sampai menjangkau manca negara. wajar dan jujur tanpa ada usaha menutup-nutupinya. Struktur bangunannya merupakan struktur rangka dengan konstruksi kayu. Atap bangunannya selalu menggunakan tritisan yang lebar. Dalam Seni Bangunan Jawa karena telah begitu maju. saka guru. pengeret. bukan dinding pemikul. Dengan sendirinya rumah yang berbentuk doro gepak (atap bangunan yang berbentuk mirip burung dara yang sedang terbang mengepakkan sayapnya) misalnya bagianbagiannya dipergunakan untuk kegunaan yang tertentu. maka semua bagian kerangka rumah telah diberi nama-nama tertentu. Pada dasarnya arsitektur tradisonal Jawa – sebagaimana halnya Bali dan daerah lain – adalah arsitektur halaman yang dikelilingi oleh pagar. blandar. Hal tersebut dimaksudkan untuk berjaga-jaga bila ada banjir. dan sebagainya. bagaikan payung yang terpancang terbuka. usuk peniyung. usuk ri-gereh. semua dibiarkan menunjukan watak aslinya. brunjung.ruang tengah .dan lain-lain.emper yang lain : untuk Pendopo : untuk tempat pertemuan keluarga : untuk gudang dan dapur. Tetapi bagi orang yang tidak mampu tidaklah mungkin akan demikian. dudur. seperti : ander. misalnya : .. Dinding ruangan sekedar merupakan tirai pembatas. . Demikian pula bahan-bahan bangunannya. Tata ruang dan struktur yang demikian sungguh cocok untuk daerah beriklim tropis yang sering mengalami gempa dan sesuai untuk peri kehidupan manusia yang memiliki kepribadian senang berada kebudayaan 100 Jawa . reng.emper kanan-kiri : untuk senthong tengah dan senthong kiri kanan Di beberapa daerah pantai terdapat pula rumah-rumah yang berkolong. saka penanggap. Yang disebut rumah yang utuh seringkali bukanlah satu bangunan dengan dinding yang pejal melainkan halaman yang berisi sekelompok unit bangunan dengan fungsi yang berbeda-beda. umpak. Kedutaan Besar Indonesia di Singapura dan Malaysia juga Bandar Udara Soekarno-Hatta mempunyai arsitektur tradisional Jawa.emper depan .

Bangunan rumah tersebut terdiri dari: pendhapa. Dalam masyarakat Jawa.di udara terbuka.ayam dan sebagainya). Lesung. Terletak di samping kiri atau kanan rumah belakang (pada umumnya terletak di sebelah belakang). susunan rumah dalam sebuah rumah tangga terdiri dari beberapa bangunan rumah. terdapat pula bangunan rumah lain yang digunakan untuk keperluan lain dai keluarga tersebut. bila yang bersangkutan mempunyai kerja (pernikahan. misal: lumbung. kerbau. Kandang. rumah tempat menumbuk padi. ialah bangunan rumah kecil. kuda. Kandang bisa terdapat di sebelah kiri pendapa. Untuk ternak besar disebut kandang. kombong (itik. juga sebagai sumber pangan bagi manusia dan binatang bahkan sering pula dimanfaatkan untuk obat tradisional. Kadangkadang terdapat lesung yang terletak di muka pendapa samping kanan. yaitu sebagai peneduh. Halaman yang lega dengan perkerasan pasir atau kerikil sangat bermanfaat untuk penyerapan air hujan. namun ada pula yang diletakkan di muka pendhapa dengan disela oleh halaman yang luas. Sedang untuk sarong atau kombong terletak di sebelah kiri agak jauh dari pendhapa. istirahat anggota keluarga. tempat memasak. kambing. itik. Selain rumah tempat tinggal (induk). penyaring debu. untuk tempat binatang ternak (sapi. tempat tinggalnya (rumah) masih dilengkapi dengan bangunan lainnya. tempat menyimpan padi dan hasil bumi lainnya. angsa. Dapur (pawon) terletak di sebelah kiri rumah belakang (omah buri). Gedhongan biasanya menyambung ke kiri atau ke kanan kandhang. Peranginan ini bagi kebudayaan 101 Jawa . di antara rumah belakang dengan pendapa terdapat pringgitan. angsa). sedang tamu wanita ditempatkan di rumah belakang. khitanan. yaitu tempat untuk tidur. biasanya diletakkan disamping kanan agak berjauhan dengan pendapa. terletak di depan rumah tempat tinggal. untuk kuda disebut gedhongan. untuk ternak unggas. Sedangkan pepohonan yang ditanam seringkali memiliki sasraguna (multi fungsi). digunakan untuk menerima tamu. misalnya Istana Ratu Boko di dekat Prambanan. Bagi warga masyarakat umum (kawula dalem) yang mampu. Letaknya agak berjauhan. disamping bangunan rumah tersebut. Pringgitan ialah tempat yang digunakan untuk pementasan pertunjukan wayang kulit. dan sebagainya). Biasanya terletak di sebelah kiri atau kanan Pringgitan. Kadang-kadang terdapat peranginan. Rumah belakang (omah buri) digunakan untuk rumah tempat tinggal. ada sarong (ayam). Susunan rumah demikian mirip dengan susunan rumah istana Hindu Jawa. Dalam pertunjukan tersebut tamu laki-laki ditempatkan di pendapa. peredam angin dan suara.

kandhang. Kemudian terdapat bangunan tempat mandi yang disebut jambang. Secara lengkap kompleks rumah tempat tinggal orang Jawa adala rumah belakang. Sastra Jawa Kuna Sastra Jawa Tengahan Sastra Jawa Baru Sastra Jawa Modern Terdapat pula kategori Sastra Jawa-Bali. pringgitan. pendapa. Pintu masuk pekarangan sering dibuat Regol. Setelah prasasti Sukabumi. Hal tersebut sangat bergantung pada kemampuan keluarga. Dari semua sastra tradisional Nusantara. Pare. ada pula Sastra Jawa-Lombok. gedhogan. yang berkembang dari Sastra Jawa Tengahan. serambi. rumah belakang. dan juga tempat bersantai untuk mencari udara segar dari pemiliknya. Demikian pula tempat buang air besar/kecil dan kamar mandi dibuatkan bangunan rumah sendiri. Kediri. sastra Jawa adalah yang paling berkembang dan paling banyak tersimpan karya sastranya. ditemukan prasasti lainnya dari tahun 856 M yang berisikan sebuah sajak yang disebut kakawin. lumbung. pringgitan. topengan. Biasanya untuk WC ditempatkan agak berjauhan dengan dapur.pejabat desa bisa digunakan untuk markas ronda atau larag. Besar kecilnya maupun jenis bangunannya dibuat menurut selera serta harus diingat status sosial pemiliknya didalam masyarakat. Sastra Jawa-Sunda. Sastra Jawa-Madura. Selain itu. Demikian sedikit variasi bangun rumah adat Jawa yang lengkap untuk sebuah keluarga. dan sebagainya. Tetapi setelah kebudayaan 102 Jawa . berupa rumah kecil ditempatkan di samping dapur atau belakang samping kiri atau kanan rumah belakang. Isinya ditulis dalam bahasa Jawa Kuna. gadhok (tempat para pelayan). dapur. bangsal. Prasasti yang biasa disebut dengan nama Prasasti Sukabumi ini bertarikh 25 Maret tahun 804 Masehi. Kakawin yang tidak lengkap ini adalah sajak tertua dalam bahasa Jawa (Kuna). Biasanya sejarah sastra Jawa dibagi dalam empat masa: • • • • Jawa Timur. sumur dan pendhapa. dan Sastra Jawa-Palembang. H.5 Karya Sastra SASTRA JAWA Sejarah Sastra Jawa dimulai dengan sebuah prasasti yang ditemukan di daerah Sukabumi (Sukobumi).

Karya sastra ini ditulis baik dalam bentuk prosa (gancaran) maupun puisi (kakawin). dimulai dengan Prasasti Sukabumi. Karya-karya sastra Jawa penting yang ditulis pada periode ini termasuk Candakarana. Sastra Jawa Pertengahan adalah masa transisi antara sastra Jawa Kuna dan sastra Jawa Baru. Kolonel Colin Mackenzie beliau mengumpulkan dan meneliti naskah-naskah Jawa Kuna. Sastra Jawa Kuna yang terlestarikan sampai hari ini sebagian besar diturunkan dalam bentuk naskah manuskrip yang telah disalin ulang berkali-kali. Di dalam artikel ini. Kakawin Ramayana dan terjemahan Mahabharata dalam bahasa Jawa Kuna. Penelitian ilmiah mengenai sastra Jawa Kuna mulai berkembang pada abad ke-19 awal dan mulanya dirintis oleh Stamford Raffles. Karya sastra Jawa Kuna sebagian besar terlestarikan di Bali dan ditulis pada naskah-naskah manuskrip lontar. Bersama asistennya. tahun 1945 sastra Jawa agak dianaktirikan karena di Negara Kesatuan RI. di Jawa dan Madura ada pula sastra Jawa Kuna yang terlestarikan. undang-undang hukum. Sehingga mereka jarang yang tertulis dalam bentuk asli seperti pada waktu dibuat kebudayaan 103 Jawa . Walau sebagian besar sastra Jawa Kuna terlestarikan di Bali. Sastra Jawa Kuna Sastra Jawa Kuna meliputi sastra yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuna pada periode kurang-lebih ditulis dari abad ke-9 sampai abad ke-14 Masehi. Istilah sastra Jawa Kuna agak sedikit rancu. Selain sebagai seorang negarawan beliau juga tertarik dengan kebudayaan setempat. Manuskripmanuskrip yang memuat teks Jawa Kuna jumlahnya sampai ribuan sementara prasasti-prasasti ada puluhan dan bahkan ratusan jumlahnya. Gubernur-Jenderal dari Britania Raya yang memerintah di pulau Jawa. Jadi merupakan sastra Jawa sebelum masa sastra Jawa Pertengahan. A. pengertian terakhir inilah yang dipakai. kesatuan yang diutamakan. Istilah ini bisa berarti sastra dalam bahasa Jawa sebelum masuknya pengaruh Islam atau pembagian yang lebih halus lagi: sastra Jawa yang terlama. Bahkan di Jawa terdapat pula teks-teks Jawa Kuna yang tidak dikenal di Bali.proklamasi RI. Sastra Jawa Kuna diwariskan dalam bentuk manuskrip dan prasasti. kronik (babad). Karya-karya ini mencakup genre seperti sajak wiracarita. Meski di sini harus diberi catatan bahwa tidak semua prasasti memuat teks kesusastraan. dan kitab-kitab keagamaan.

7. 14. 3.dahulu. 4. 2. Banyak teks dalam bahasa Jawa Kuna yang terlestarikan dari abad ke-9 sampai abad ke-14. 996 Udyogaparwa Bhismaparwa Asramawasanaparwa Mosalaparwa Prasthanikaparwa Swargarohanaparwa Kunjarakarna Kakawin Tertua Jawa. 9. Daftar Karya Sastra Jawa Kuna dalam bentuk prosa: 1. Teks kesusastraan tertua pada sebuah prasasti terdapat pada Prasasti Siwagreha yang ditarikh berasal dari tahun 856 Masehi. mpu Kanwa. 6. tembaga dan lain-lain. 5. namun isinya bukan merupakan teks kesusastraan. 11. 12. Sebagian besar dari teks-teks ini ditulis setelah abad ke-11. ~ 1030 Jawa 104 Daftar Karya Sastra Jawa Kuna dalam bentuk puisi (kakawin) kebudayaan . 13. 10. kecuali jika ditulis pada bahan tulisan yang awet seperti batu. 3. Naskah nipah ini memuat teks Kakawin Arjunawiwaha yang berasal dari abad ke-11. 8. Namun tidak semua teks-teks ini merupakan teks kesusastraan. Candakarana Sang Hyang Kamahayanikan Brahmandapurana Agastyaparwa Uttarakanda Adiparwa Sabhaparwa Wirataparwa. 856 Kakawin Ramayana ~ 870 Kakawin Arjunawiwaha. Sedangkan naskah manuskrip tertua adalah sebuah naskah daun nipah yang berasal dari abad ke-13 dan ditemukan di Jawa Barat. Prasasti tertua dalam bahasa Jawa Kuna berasal dari tahun 804. Dari masa ini terwariskan sekitar 20 teks prosa dan 25 teks puisi. 1. 15. 2.

2. 11. 15. 9. mpu Tantular Kakawin Sutasoma. mpu Tantular Kakawin Siwaratrikalpa. mpu Prapanca.4. Tantu Panggelaran Calon Arang Tantri Kamandaka Korawasrama Pararaton Jawa 105 Daftar Karya Sastra Jawa Tengahan puisi: kebudayaan . 16. 13. 1157 Kakawin Hariwangsa Kakawin Gatotkacasraya Kakawin Wrettasañcaya Kakawin Wrettayana Kakawin Brahmandapurana Kakawin Kunjarakarna. mulai dari abad ke13 sampai kira-kira abad ke-16. mpu Sedah dan mpu Panuluh. 7. Karya-karya ini disebut kidung. 1365 Kakawin Arjunawijaya. 6. 10. Daftar Karya Sastra Jawa Tengahan prosa: 1. 8. 12. 5. 19. 18. B. Pada masa ini muncul karya-karya puisi yang berdasarkan metrum Jawa atau Indonesia asli. 23. 14. 3. 22. 17. sastra Jawa Tengahan diteruskan di Bali menjadi Sastra Jawa-Bali. 5. 4. 20. Kakawin Lubdhaka Kakawin Parthayajna Kakawin Nitisastra Kakawin Nirarthaprakreta Kakawin Dharmasunya Kakawin Harisraya Kakawin Banawa Sekar Tanakung Sastra Jawa Tengahan Sastra Jawa Pertengahan muncul di Kerajaan Majapahit. mpu "Dusun" Kakawin Nagarakretagama. 21. Setelah ini. Kakawin Kresnayana Kakawin Sumanasantaka Kakawin Smaradahana Kakawin Bhomakawya Kakawin Bharatayuddha. 24.

1. 2. 3. 4. 5. 6. C.

Kakawin Dewaruci Kidung Sudamala Kidung Subrata Kidung Sunda Kidung Panji Angreni Kidung Sri Tanjung Sastra Jawa Baru

Sastra Jawa Baru kurang-lebih muncul setelah masuknya agama Islam di pulau Jawa dari Demak antara abad kelima belas dan keenam belas Masehi. Dengan masuknya agama Islam, orang Jawa mendapatkan ilham baru dalam menulis karya sastra mereka. Maka, pada masa-masa awal, zaman Sastra Jawa Baru, banyak pula digubah karya-karya sastra mengenai agama Islam. Suluk Malang Sumirang adalah salah satu yang terpenting. Kemudian pada masa ini muncul pula karya-karya sastra bersifat ensiklopedis seperti Serat Jatiswara dan Serat Centhini. Para penulis 'ensiklopedia' ini rupanya ingin mengumpulkan dan melestarikan semua ilmu yang (masih) ada di pulau Jawa, sebab karya-karya sastra ini mengandung banyak pengetahuan dari masa yang lebih lampau, yaitu masa sastra Jawa Kuna. Gaya bahasa pada masa-masa awal masih mirip dengan Bahasa Jawa Tengahan. Setelah tahun ~ 1650, bahasa Jawa gaya Surakarta menjadi semakin dominan. Setelah masa ini, ada pula renaisans Sastra Jawa Kuna. Kitab-kitab kuna yang bernapaskan agama Hindu-Buddha mulai dipelajari lagi dan digubah dalam bahasa Jawa Baru. Sebuah jenis karya yang khusus adalah babad, yang menceritakan sejarah. Jenis ini juga didapati pada Sastra Jawa-Bali. Daftar Cuplikan Karya Sastra Jawa Baru Masa Islam:
• • • • • • •

Kidung Rumeksa ing Wengi Kitab Sunan Bonang Primbon Islam Suluk Sukarsa Serat Koja Jajahan Suluk Wujil Suluk Malang Sumirang Jawa 106

kebudayaan

• • • • • • • • •

Serat Nitisruti Serat Nitipraja Serat Sewaka Serat Menak Serat Yusup Serat Rengganis Serat Manik Maya Serat Ambiya Serat Kandha Serat Rama Kawi Serat Bratayuda, Kyai Yasadipura Serat Panitisastra Serat Arjunasasra Serat Mintaraga, Ingkang Sinuwun Pakubuwana III Serat Darmasunya Serat Dewaruci Serat Ambiya Yasadipuran, Kyai Yasadipura Serat Tajusalatin Serat Cebolek Serat Sasanasunu Serat Wicara Keras Serat Kalatidha, Raden Ngabehi Ranggawarsita Serat Paramayoga, Raden Ngabehi Ranggawarsita Serat Jitapsara Serat Pustaka Raja Serat Cemporet Serat Damar Wulan, Raden Panji Jayasubrata, 1871 Serat Darmagandhul Babad Giyanti Babad Prayut Babad Pakepung Babad Tanah Jawi Jawa 107

Masa Renaisans dan sesudahnya:
• • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Babad-Babad:
• • • •

kebudayaan

D.

Sastra Jawa Modern

Sastra Jawa Modern muncul setelah pengaruh penjajah Belanda dan semakin terasa di Pulau Jawa sejak abad kesembilan belas Masehi. Para cendekiawan Belanda memberi saran para pujangga Jawa untuk menulis cerita atau kisah mirip orang Barat dan tidak selalu berdasarkan mitologi, cerita wayang, dan sebagainya. Maka, lalu muncullah karya sastra seperti di Dunia Barat; esai, roman, novel, dan sebagainya. Genre yang cukup populer adalah tentang perjalanan. Gaya bahasa pada masa ini masih mirip dengan Bahasa Jawa Baru. Perbedaan utamanya ialah semakin banyak digunakannya kata-kata Melayu, dan juga kata-kata Belanda. Pada masa ini (tahun 1839, oleh Taco Roorda) juga diciptakan huruf cetak berdasarkan aksara Jawa gaya Surakarta untuk Bahasa Jawa, yang kemudian menjadi standar di pulau Jawa. Daftar Karya Sastra

Lelampahaning Purwalelana, Raden Mas Purwalelana (jeneng sesinglon) 1875-1880

• • • • • •

Rangsang Tuban, Padmasoesastra, 1913 Ratu, Krishna Mihardja, 1995 Tunggak-Tunggak Jati, Esmiet Lelakone Si lan Man, Suparto Brata, 2004 Pagelaran, J. F. X. Hoery Banjire Wis Surut, J. F. X. Hoery

H.6

Wayang

kebudayaan 108

Jawa

Wayang Golek di Jawa Barat Masing masing sangat bekaitan satu sama lain. seni lukis. dan ada pula wayang yang berupa sekumpulan boneka yang dimainkan oleh dalang. Yaitu "Mana yang Isi(Wayang Wong) dan Mana yang Kulit (Wayang Kulit) harus dicari (Wayang Golek)". pendidikan. budaya wayang berkembang menjadi beragam jenis. seni sastra. Jenis-jenis wayang : Selama berabad-abad. Wayang Wong atau Wayang Orang di Jawa Tengah. dan juga seni perlambang. antara lain yang terbuat dari kertas. kayu. oleh para pendahulu negri ini sangat mengandung arti yang sangat dalam sekali. Budaya wayang meliputi seni peran. kain. Wayang. Ada versi wayang yang dimainkan oleh orang dengan memakai kostum. Wayang Kulit di Jawa Timur 2. Sedangkan alat peraganya pun berkembang menjadi beberapa macam. juga merupakan media penerangan. yang dikenal sebagai wayang orang. Wayang yang dimainkan dalang ini diantaranya berupa wayang kulit atau wayang golek. secarik kain. Kebanyakan jenis jenis wayang itu tetap nenggunakan Mahabarata dan Ramayana sebagai induk ceritanya. Cerita yang dikisahkan dalam pagelaran wayang biasanya berasal dari Mahabharata dan Ramayana. kulit. serta hiburan. Penonton hanya menyaksikan gerakan-gerakan wayang melalui bayangan yang jatuh pada kelir. Para Wali di Tanah Jawa sudah mengatur sedemikian rupa menjadi tiga bagian. sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan sangat berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity). yang terus berkembang dari zaman ke zaman. Sunan Kali Jaga dan Raden Patah sangat berjasa dalam mengembangkan Wayang. dakwah.Wayang adalah seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Pulau Jawa dan Bali. hiburan. seni suara. seni musik. seni pahat. 1. Dugaan ini sesuai dengan kenyataan pada pergelaran Wayang Kulit yang menggunakan kelir. dan juga kebudayaan 109 Jawa . Kata `wayang' diduga berasal dari kata `wewayangan'. 3. Pertunjukan wayang telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003. yang artinya bayangan. pemahaman filsafat. seni tutur. dan penonton di balik kelir itu. sebagai pembatas antara dalang yang memainkan wayang. Budaya wayang.

Wayang Sadat . Wayang Kulit Purwa Merupakan jenis wayang yang paling populer di masyarakat sampai saat ini.Wayang Suluh . Wayang Beber pada umumnya menceritakan kisah Panji.Wayang Orang. Wayang Beber Berupa selembar kertas atau kain yang berukuran sekitar 80 cm X 12 meter. Peraga wayang yang dimainkan oleh seorang dalang terbuat dari lembaran kulit kerbau (atau sapi) yang dipahat menurut bentuk tokoh wayang dan kemudian disungging dengan warna warni yang mencerminkan perlambang karakter dari sang Tokoh. Kerangka itu disebut cempurit. Pada saat pergelaran bagian gambar yang menampilkan adegan lakon itu dibuka dari gulungannya.Wayang Madya . Satu gulung wayang beber biasanya terdiri atas 16 adegan. Jenis wayang ini tersebar hampir di seluruh Jawa dan daerah transmigrasi. dan sang Dalang menceritakan kisah yang terlukis dalam setiap adegan itu. Wayang Kulit Purwa mengambil cerita dari kisah Mahabarata dan Ramayana. Pergelaran Wayang Kulit Purwa diiringi dengan seperangkat gamelan sedangkan penyanyi kebudayaan 110 Jawa . -Wayang Kulit -Wayang Golek/ Wayang Thengul Bojonegoro -Wayang Krucil -Wayang Purwa -Wayang Beber -Wayang Orang -Wayang Gedog -Wayang Sasak -Wayang Calonarang -Wayang Wahyu -Wayang Menak .Perkembangan jenis wayang ini juga dipengaruhi oleh keadaan budaya daerah setempat.Wayang Papak .Wayanng Parwa . bahkan juga di Suriname di benua Amerika bagian selatan. terbuat dari tanduk kerbau atau kulit penyu.Wayang Klitik . yang digambari dengan beberapa adegan lakon wayang tertentu. 2. Agar lembaran wayang itu tidak lemas. digunakan "kerangka penguat" yang membuatnya kaku.Wayang Kancil 1.

agar lebih awet dan ringan menggerakkannya. melainkan dari Kitab Menak. Wayang Klitik Terbuat dari kayu pipih yang dibentuk dan disungging menyerupai Wayang Kulit Purwa. Wayang Menak juga ada yang dirupakan dalam bentuk kulit. 5. Selain berupa golek. jamang. Latar belakang cerita Menak adalah negeri Arab. Induk ceritanya bukan diambil dari Kitab Ramayana dan Mahabarata. Anggapan itu disebabkan karena Wayang Krucil juga terbuat dari kayu pipih. Wayang ini diciptakan orang pada tahun 1648. pada zaman pemerintahan Mangkunegoro VII. Surakarta. Yang berbeda benar adalah induk kebudayaan 111 Jawa . Wayang Krucil Sering dianggap sama dengan Wayang Klitik. juga menggunakan peraga wayang berbentuk boneka kecil. dsb. sumping. disebut pesinden atau waranggana. Wayang ini diciptakan oleh Ki Trunadipa. 4. Wayang Golek Menak Disebut juga Wayang Tengul. seorang dalang dari Baturetno. Hanya bagian tangan peraga wayang itu bukan dari kayu pipih melainkan terbuat dari kulit. tetapi tanpa menggunakan kelir sehingga penonton dapat melihat secara langsung. Pada Wayang Klitik. antara lain dengan memberinya kuluk. pada masa perjuangan Nabi Muhammad SAW menyebarkan agama Islam . walaupun tubah dan sorban Arab juga digunakan.wanita yang menyanyikan gending-gending tertentu. Pementasan Wayang Klitik juga diiringi oleh gamelan dan pesinden. peraga Wayang Golek Menak diberi pakaian mirip dengan Wayang Kulit Purwa. 3. Walaupun tokoh ceritanya sebenarnya orang Arab. cempuritnya merupakan kelanjutan dari bahan kayu pembuatan wayangnya.

di antara tokoh peraganya. Wayang ini dimaksudkan sebagai media penerangan mengenai sejarah perjuangan bangsa. semua penari Wayang Orang adalah penari pria. Bung Tomo. Jadi agak mirip dengan pertunjukan ludruk di Jawa Timur dewasa ini. Wayang Orang adalah perwujudan drama tari dari Wayang Kulit Purwa. saat ini sudah hampir punah. antara lain adalah Samson Ian Delilah. Dari segi cerita. Di antara lakonnya. Karena itu. bahasa Jawa. Wayang Suluh Suluh tergolong wayang modern. Wayang Wahyu Mempunyai bentuk peraga wayang terbuat dari kulit. Wayang Orang Adalah seni drama tari yang mengambil cerita Ramayana dan Mahabarata sebagai induk ceritanya. bukan dari Ramayana atau Mahabarata. Penggambaran tokoh Wayang Suluh dibuat realistik.cerita yang diambil untuk lakon-lakonnya. kebudayaan 112 Jawa . tetapi corak tatahan dan sunggingannya agak naturalistik. Bung Hatta. dan Jenderal Sudirman. 7. Wayang Krucil mengambil lakon dari cerita Damarwulan. karena baru tercipta setelah zaman kemerdekaan. antara lain terdapat Bung Karno. Baik Wayang Krucil maupun Wayang Klitik. dan David Ian Goliat. Pada mulanya. Syahrir. 6. yakni pertengahan abad ke-18. baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Wayang ini mengambil lakon dari cerita Injil. 8. Bahasa pengantarnya. tidak ada penari wanita.

diiring oleh seperangkat gamelan dan pesinden. Wayang ini. dan Raden Gunungsari. tetapi mengambil lakon dari cerita-cerita Panji. Perkembangan Wayang Wahyu amat terbatas pada lingkungan masyarakat beragama Katolik. Wayang ini amat mirip dengan Wayang Kulit Purwa. Dengan demikian Wayang Wahyu praktis tidak berkembang. Para dalangnya pun pada umumnya juga merangkap sebagai dalang Wayang Kulit Purwa. Prabu Klana Madukusuma. 9. kelir dan gedebog. tidak semua orang Jawa menyukai wayang. itu pun yang berasal dari suku bangsa Jawa. antara lain adalah Prabu Lembu Hamiluhur. Hanya sisa-sisa peraganya saja yang masih bisa dilihat di beberapa museum dan Keraton Surakarta. Itulah sebabnya. boleh dibilang sudah punah. Di antara tokoh-tokoh ceritanya. Wayang Gedog Diciptakan oleh Sunan Giri di tandai candra sengkala Gegamaning Naga Kinaryeng Bathara: 1485 caka (1568 M).Pergelaran Wayang wahyu hampir serupa dengan Wayang Kulit Purwa. Padahal. sebagian orang menamakan Wayang Gedog ini Wayang Panji. kebudayaan 113 Jawa .

Jenis Wayang Kulit menurut asal daerah di Jawa : • • Wayang Jawa Yogyakarta Wayang Jawa Surakarta Jawa 114 kebudayaan . sementara di belakangnya disorotkan lampu listrik atau lampu minyak (blencong). Dalang memainkan wayang kulit di balik kelir. Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang. dengan diiringi oleh musik gamelan yang dimainkan sekelompok nayaga dan tembang yang dinyanyikan oleh para pesinden. Wayang yang juga terbuat dari kulit itu. yang terutama berkembang di Jawa dan di sebelah timur semenanjung Malaysia seperti di Kelantan dan Terengganu. yakni Iedjar Subroto tetap berusaha mempopulerkannya. Untuk dapat memahami cerita wayang(lakon). Wayang Kancil termasuk di antara jenis wayang yang tidak berkembang. yaitu layar yang terbuat dari kain putih. dibuat dan disungging oleh Lie To Hien. Wayang Kulit Wayang kulit adalah seni tradisional Indonesia. 11. penonton harus memiliki pengetahuan akan tokoh-tokoh wayang yang bayangannya tampil di layar. Cerita untuk lakon-lakon para Wayang Kancil diambil dari Kitab Serat Kancil Kridamartana karangan Raden Panji Natarata. Wayang Kancil Termasuk wayang moderen.10. menggunakan tokoh peraga binatang. sehingga para penonton yang berada di sisi lain dari layar dapat melihat bayangan wayang yang jatuh ke kelir. diciptakan tahun 1925 oleh seorang keturunan Cina bernama Bo Liem. meskipun seorang seniman.

Pakeliran Gagrag Banyumasan. Contoh gambar wayang : kebudayaan 115 Jawa . karena memperoleh simpati dan dicintai masyarakatnya. catur ( narasi dan cakapan) . serta lugas dan mampu bertahan sampai saat ini dalam menghadapi perubahan jaman.• Wayang Kulit Gagrag Banyumasan Wayang Kulit Gagrag Banyumasan merupakan salah satu gaya pedalangan di tanah Jawa. sulukan dan properti panggung ) . yang kualitasnya selalu terjaga dan ditangani sungguhsungguh oleh para pakar yang memahami benar. jujur dan terus terang . dan hidup serta berkembang di daerah eks Karesidenan Banyumas. karawitan ( gendhing. merupakan ekspresi dan sifatnya lebih bebas. dan berperan sebagai bentuk seni klangenan serta dijadikan wahana untuk mempertahankan nilai etika. Petruk Krama dan lain-lain selain itu pula wayang Gagrag Banyumasan lebih menonjolkan peran para muda dalam penyelesaian kasus-kasus dan permasalahan. sabet ( seluruh gerak wayang). yang lebih dikenal dengan istilah pakeliran. devosional dan hiburan. Dalam Wayang Gagrag Banyumasan mempunyai ciri khas dalam penceritaan yang lebih memperjelas peran rakyat kecil yang dimanivestasikan dalam tokoh punakawan seperti cerita Bawor Dadi Ratu. mempunyai nuansa kerakyatan yang kental sebagaimana karakter masyarakatnya . lakon wayang ( penyajian alur cerita dan maknanya). Cerita Srikandi Mbarang Lengger' yang merupakan terusan lakon Srenggini Takon Rama adalah salah satu contoh kongkrit bahwa peran pemuda seperti Antasena dan Wisanggeni menjadi sangat sentral. Pakeliran ini mencakup unsurunsur yaitu. sederhana.

Untuk beberapa tipe blangkon ada yang menggunakan tonjolan pada bagian belakang blangkon.7 Pakaian Adat Rasukan adat Jawa Rasukan adat Jawa atau pakaian adat Jawa yang umumnya disebut rasukan kejawen yang sudah ada sejak jaman dahulu dan mulai terbentuk lengkap pada jaman kerajaan demak. diri sendiri maupun Tuhan Yang Maha Kuasa Pencipta segalanya. H. Masing-masing jenis rasukan Jawa ini mempunyai makna perumpamaan atau melambangakn nilai-nilai luhur filosofi Jawa. baik dalam hubungannya dengan sesama manusia. Cara kebudayaan 116 Jawa . Dalam busana Jawa ini tersembunyi ajaran untuk melakukan segala sesuatu di dunia ini secara harmoni yang berkaitan dengan aktivitas seharihari. Pakaian adat Jawa ini mempunyai perlambang tertentu bagi orang Jawa. Busana Jawa penuh dengan piwulang sinandhi (ajaran tersamar) kaya akan ajaran Jawa. • 1 Bagian ndhuwur/bagian atas (Penutup Kepala)  Iket atau blangkon Blangkon adalah tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional Jawa. rasukan basahan dan rasukan gedhog. Untuk bagian kepala selain menggunakan blangkon biasanya orang Jawa kuna (tradisional) mengenakan "iket" yaitu ikat kepala yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menjadi penutup kepala.Batara Guru (Siwa) dalam bentuk seni wayang Jawa. Selain rasukan kejawen juga ada rasukan surjan. Pada umumnya rasukan Jawa dibagi menjadi 4 bagian yaitu. sehingga bagian tersebut tersembul di bagian belakang blangkon. Tonjolan ini menandakan model rambut pria masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka di bagian belakang kepala. rasukan mesiran.

faham.  Jarik lan wiron utawa wiru Jarik atau sinjang merupakan kain yang dikenakan untuk menutup tubuh dari pinggang sampai mata kaki. Wiru kebudayaan 117 Jawa . menjaga antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum. tidak mudah terombang-ambing hanya karena situasi atau orang lain tanpa pertimbangan yang matang.mengenakan iket harus kenceng (kuat) supaya ikatan tidak mudah terlepas. tidak grusa-grusu (emosional) Wiru Jarik atau kain dikenakan selalu dengan cara mewiru (meripel) pinggiran yang vertikal atau sisi saja sedemikian rupa. dapat .  Udheng Udheng juga dikenakan di bagian kepala dengan cara mengenakan seperti mengenakan sebuah topi. Jika sudah dikenakan di atas kepala. mengerti dan memahami tujuan hidup dan kehidupan atau sangkan paraning dumadi. Maksudnya agar manusia mempunyai pemikiran yang kukuh. Menanggapi setiap masalah harus hati-hati. Apapun yang akan dilakukan hendaklah jangan sampai merugikan orang lain. Lambang yang tersirat dalam benik itu adalah agar orang (Jawa) dalam melakukan semua tindakannya apapun selalu diniknik. Jarik bermakna aja gampang serik (jangan mudah iri terhadap orang lain). Selain itu udheng juga mempunyai arti bahwa manusia seharusnya mempunyai ketrampilan dapat menjalankan pekerjaannya dengan dasar pengetahuan yang mantap atau mudheng. Makna iket dimaksudkan manusia seyogyanya mempunyai pemikiran yang kenceng. Dengan kata lain hendaklah manusia mempunyai ketrampilan yang profesional. iket dan udheng sulit dibedakan karena ujud dan fungsinya sama. diperhitungkan dengan cermat. • 2 Bagian tengah (bagian tengah)  Rasukan utawa kelambi uga benik (pakaian dan juga kancing baju) Busana kejawen seperti beskap selalu dilengkapi dengan benik (kancing baju) disebelah kiri dan kanan. Udheng dari kata kerja Mudheng atau mengerti dengan jelas.

bilahan dan terdapat di dalam warangka atau wadahnya. Karena diletakkan di bagian belakang tubuh. keris mempunyai arti bahwa dalam menyembah Tuhan Yang Maha Kuasa hendaklah manusia bisa untuk kebudayaan 118 Jawa . Selama menempuh ilmu upayakan untuk tekun. Kata sabuk berarti usahakanlah agar segala yang dilakukan tidak ngebukne. Ini mengandung pengertian bahwa jarik tidak bisa lepas dari wiru. golek. Untuk itulah manusia harus ubed (bekerja dengan sungguh-sungguh) dan jangan sampai kerjanya tidak ada hasil atau buk (impas/tidak ada keuntungan).atau wiron ( rimple ) diperoleh dengan cara melipat-lipat (mewiru). mencari) pengetahuan yang berguna. tidak akan ada rasa samang (khawatir) samang asal dari kata timang. • 3 Bagian mburi (bagian belakang)  Curiga atau keris dan rangka Curiga atau keris berujud wilahan. Keris ini mempunyai pralambang bahwa keris sekaligus warangka sebagaimana manusia sebagai ciptaan dan penciptanya Yatu Allah Yang Maha Kuasa. harus epek (apek.  Sabuk Sabuk (ikat pinggang) dikenakan dengan cara dilingkarkan (diubetkan) ke badan. kerjakan segala hal jangan sampai keliru agar bisa menumbuhkan suasana yang menyenangkan dan harmonis. Jadi harus ubed atau gigih. teliti dan cermat sehingga dapat memahami dengan jelas. dimaksudkan wiwiren aja nganti kleru.  Epek Epek bagi orang Jawa mengandung arti bahwa untuk dapat bekerja dengan baik. Curiga dikenakan di bagian belakang badan. manunggaling kawula Gusti. Ajaran ini tersirat dari sabuk tersebut adalah bahwa harus bersedia untuk tekun berkarya guna memenuhi kebutuhan hidupnya.  Timang Timang bermakna bahwa apabila ilmu yang didapat harus dipahami dengan jelas atau gamblang.

atau sandal. Bali. • 4 Bagian ngisor (bagain bawah)  Canela yaitu: cripu. Selop. Selama masa ini. artinya dalam menyembah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. rajin bekerja. dan Sulawesi. kebaya adalah pakaian yang hanya dikenakan keluarga kerajaan di sana. Dipercaya kebaya berasal dari Tiongkok ratusan tahun yang lalu. Canela selalu dikenakan di kaki. selop atau sandal Canela mempunyai arti "Canthelna jroning nala" (peganglah kuat dalam hatimu) canela sama artinya Cripu. Sumatera. Setelah akulturasi yang berlangsung ratusan tahun. di Pulau Jawa. nyonya kebaya kebudayaan 119 Jawa . Jawa.  Bebed Bebed adalah kain (jarik) yang dikenakan oleh laki-laki seperti halnya pada perempuan. bebed artinya manusia harus ubed. berhati-hati terhadap segala hal yang dilakukan dan "tumindak nggubed ing rina wengi" (bekerja sepanjang hari) Kebaya Kebaya adalah blus tradisional yang dikenakan oleh wanita Indonesia dan Malaysia yang terbuat dari bahan tipis yang dikenakan dengan sarung. wanita-wanita Eropa mulai mengenakan kebaya sebagai pakaian resmi. Lalu menyebar ke Malaka. batik. Selama masa kendali Belanda di pulau itu. kebaya diubah dari hanya menggunakan barang tenunan mori menggunakan sutera dengan sulaman warna-warni. Kini. atau pakaian rajutan tradisional lainnya seperti songket dengan motif warna-warni. pakaian itu diterima di budaya dan norma setempat. Mereka mengenakannya dengan sarung dan kaus cantik bermanik-manik yang disebut "kasut manek". Pakaian yang mirip yang disebut "nyonya kebaya" diciptakan pertama kali oleh orang-orang Peranakan dari Melaka. Sebelum 1600.ngungkurake godhaning setan yang senantiasa mengganggu manusia ketika manusia akan bertindak kebaikan. Dalam hati hanyalah sumeleh (pasrah) kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. hendaklah dari lahir sampai batin sujud atau manembah di kaki-NYA.

Jenis ini kebudayaan 120 Jawa . Cirebon) di tanah Jawa masih merekam Kebaya panjang ini dengan beberapa ornamen kenegaraan yang terpasang di beberapa sisinya (abad ke-19). Jawa). Gelang dan jam dikenakan diluar lengan Kebaya. Hal ini mengingatkan kita akan Abaya dan kebaya Melayu. meski dalam beberapa acara adat harus berbusana seperti itu lagi.sedang mengalami pembaharuan. Dugaan kuat mengatakan Kebaya awalnya merupakan atasan panjang berbentuk tunik sederhana yang menjulur dari leher hingga lutut (baju kurung). Terpisah dari kebaya tradisional. Keislaman sangat kuat memengaruhi siluet Kebaya di awal-awal perkembangannya. sementara bros serangkai (tiga berjajar) tersemat di bagian depan membentuk suatu penutup. Setelah penyebaran agama Islam. kebaya dikenakan secara resmi oleh keluarga Kerajaan. Dokumentasi lama kerajaan Islam Cirebon. Kita perlu menilik penyebaran dan masuknya Islam di Indonesia (abad ke-15) untuk mengetahui perkembangan Kebaya modern saat ini. dan juga terkenal di antara wanita non-Asia. Dokumentasi lama milik keluarga kerajaan dan keraton (Surakarta. terutama di Bali. Pada tahun 1600. Lampung. kebaya menjadi busana yang populer dan bahkan menjadi simbol status. Kebiasaan berbusana macam itu juga ikut tergeser. Argumen Lombard tentu berterima terutama lewat analogi penelusuran lingustik yang toh sampai sekarang kita masih mengenal ‘Abaya’ yang berarti tunik panjang khas Arab. Yogyakarta. perancang mode sedang mencari cara memodifikasi desain dan membuat kebaya menjadi pakaian yang lebih modern. Kebaya Indonesia Menurut Denys Lombard dalam bukunya Nusa Jawa: silang Budaya (1996) Kebaya berasal dari bahasa Arab ‘Kaba’ yang berarti ‘pakaian’ dan diperkenalkan lewat bahasa Portugis ketika mereka mendarat di Asia Tenggara. Di beberapa pelosok Indonesia bahkan bisa ditemukan wanita yang tampil tanpa atasan apapun (Bali. Kata Kebaya diartikan sebagai jenis pakaian (atasan/blouse) pertama yang dipakai wanita Indonesia pada kurun waktu abad ke-15 atau ke-16 Masehi. dan pengaruh ini ditularkan setelah imigrasi besar-besaran menyambangi semenanjung Asia Selatan dan Tenggara di abad ke13 hingga ke-16 Masehi. Surakarta maupun Jogjakarta menunjukkan penggunaan busana ini bagi keluarga kerajaan. Sementara sebagian yang lain percaya Kebaya ada kaitannya dengan pakaian tunik perempuan pada masa kekasiran Ming di Tiongkok. Kebaya yang dimodifikasi itu malah bisa dikenakan dengan jins atau rok. Pakaian semacam ini serta-merta menggeser kemben tradisional.

Citra nasional yang dibawa Kebaya begitu kuatnya. Kaum perempuan yang merasa tidak terlibat dengan gejolak politik Orde Lama (Soekarno) memilih untuk tidak mengenakan Kebaya. Kabar baiknya adalah peran informasi dan pertukaran komoditi antar negara kembali terbuka lebar. Dengan warna jingga salem-nya. Revolusi besar kemerdekaan Indonesia tahun 1945 membawa Kebaya pada konstelasi nasionalis yang lebih absolut. Sebagian orang menanggapi kondisi ini sebagai masa-masa keemasan Kebaya sampai tahun 1960-an. Terusan modern dan kemejakemeja wanita lebih digemari ketimbang Kebaya. Tiongkok. dan sentimen Soekarno sendiri pada Barat membatasi jalur pertukaran komoditi Eropa dan Indonesia. ia harus mengalami sekali lagi pukulan itu. Hingga tahun 1980-an Kebaya semakin terkucil di kalangan istri Militer dan pegawai negeri. sutra. baik itu di kantor. awal tahun 90-an Ghea kebudayaan 121 Jawa . India. Namun beludru. Kebaya menjadi seragam resmi organisasi ini. Para wanita terdidik yang dekat dengan pemerintahan Soekarno saat itu banyak mengenakan aneka kebaya. Yang terlihat adalah aneka corak dan warna-warna Kebaya yang beragam. tetapi melekat pada kaum aristrokrat tertentu yang berpihak pada Soekarno. Hampir semua wanita. Lagi-lagi faktor politik berkecamuk. di rumah. Kebaya tersingkir dalam kotak eksklusif Dharmawanita (organisasi wanita istri pegawai negeri yang terbentuk sejak tahun 1974). Peralihan kekuasaan dari tangan Soekarno ke pemerintahan Orde Baru di bawah Soeharto tahun 1965 menempatkan Kebaya di posisi lemah. terutama jenis putu baru dan Kebaya encim yang masih ada jejaknya sekarang ini. Tinggal bagaimana tangan-tangan kreatif anak Bangsa memanfaatkannya. Kebaya menjalar menjadi nasionalis dan bernafas kemerdekaan. Sentimen Barat pada Soekarno. Potongan dan pola-pola lama kembali meruak meski masih memegang pakem-pakem yang tercipta dari abad sebelumnya. Citracitra dan simbol-simbol yang diemban Kebaya di masa Soekarno membuat ia dijauhi. Katun kasar dan tenun tradisional tentu saja menjadi cikal bakalnya. dan sebagian Asia Tenggara mendominasi pasar tekstil Indonesia.akhirnya merambah permainan bahan. Dari sekedar tradisional yang pribumi. di manapun tampil berkebaya. meski beberapa desainer lokal macam Iwan Tirta mencoba melestarikannya. Tidak memakan waktu lama. Perlahan namun pasti. dan katun halus kemudian menggantikan bahan-bahan keras tadi sesuai dengan masuknya koloni Eropa ke Indonesia dan membuka jalur perdagangan tekstil antar negara (sejak abad ke-18). Belum pulih benar Kebaya dari trauma politiknya.

dan unsur metal. teknik aplikasi. memiliki predikat khusus. Digalilah kreasi-krasi baru yang segar dari banyak sumber untuk mempercantik Kebaya. Ia sah digunakan di acara-acara formal baik bersifat pribadi. dia yang menang. Untuk beberapa alasan. Keluar dari sekedar organza dan katun. Desainer-desainer Indonesia sepakat. Kebaya macam ini. shantung. Kekangan adalah barang haram di masa ini. Ia memanfaatkan bahan sutra organdi dan serat-serat alam lain yang tergolong mewah menjadi Kebaya. dan garis luar berubah beragam-ragam. Teknik bordir. Kita harus mencermati trend brokat (lace). hal ini baik. Banyak pranata yang dijungkirbalikan. lipit. yang kemudian banyak juga dikembangkan oleh desainer lokal lain. sifon. Kuncinya adalah inovasi! Sepertinya tuntutan kreasi dan aksentuasi dari para pemakai juga menjadi faktor besar yang mendorong Kebaya kembali ke era abad-19—masa dimana Kebaya punya kebebasan untuk berkembang. hingga acara-acara eksklusif yang mengusung citra Indonesia secara konsensus-tersembunyi mewajibkan Kebaya sebagai kode busananya. Kreatifitas tak terbendung yang dicontohkan oleh para pemimpin setelah Soeharto dan dunia politik juga diikuti masyarakatnya. pisang. Dalam lingkup kelas atas. pilin. batu-batu mulia dan bulu binatang (ostrich’s feathers/cincila fur) hadir bersama taknik aplikasi yang kebudayaan 122 Jawa . Reformasi membawa angin segar sekaligus liar. Kebaya adalah genre khas dari dunia fesyen yang menjanjikan. keluarga. Dunia pernikahan. siluet. maupun kenegaraan. Bagai bola liar. dan pencampuran bahan sebagai cikal bakal revolusi Kebaya di tahun 2000-an. Secara pola. Di kalangan elit dan perempuan berpendidikan. bordir. Mereka mulai meliriknya. memelajarinya. drapery. Soeharto undur. layer hingga quilt ikut mewarnai kemegahan Kebaya. Kebaya merambah ke jalur sutra. renda. Reformasi dipahami sebagai era kebebasan. dan kemudian berkreasi dengannya. Hal ini kemudian memancing kompetisi antar desainer. lace. pertemuan formal kenegaraan. Setelah 32 Tahun memerintah Indonesia. hingga serat-serat yang tak terbayangkan sebelumnya seperti jute. kristal.Panggabean melakukan eksperimen berarti pada Kebaya. Bahkan dipandang mempunyai janji ekonomi yang besar. Hingga akhirnya pemanfaatan material mewah macam payet. Yang tandang dengan banyak ide. Tahun 90-an pula Kebaya mulai mendapat tempat yang lebih luas. cutting. nanas. Keterbukaan pikiran menjadi titik tolak semua kegiatan di masa-masa 1997-2002. perubahan besar itu juga diikuti dengan pemanfaatan bahan baku.

sampai aksesorisnya. Sedangkan cara modern merupakan suatu cara dimana pengrajin batik menggunakan cap yang menulis batik sehingga proses pengerjaannya lebih cepat. Cara Tradisional adalah suatu cara dimana pengrajin batik masih menggunakan canting untuk menulis batik dan menggunakan malam sebagai bahan untuk menulis. seperti banyak masyarakat Indonesia era 2000-an. Teknik aplikasi membuka kesempatan Kebaya sebagai benda seni yang bisa dihiasi apa saja—bahkan berlian jika memungkinkan. Dengan teknik yang satu ini. material dan bahan. Lewat banyak teknik dan potongan. kreasi tanpa batas sangat mungkin dikerjakan. Batik pada prinsipnya merupakan proses pencelupan dan pencucian dan menggunakan malam sebagai bahan dasar. Batik adalah kata dari bahasa Indonesia. Batik merupakan busana hasil kerajinan rakyat dimana batik dibuat dengan menggunakan cara tradisional dan cara modern.revolusioner. Secara kualitas batik yang dibuat dengan menggunakan cara tradisional akan lebih bagus kualitasnya. punya daya pandang dan tempatnya masing-masing. bahkan adat istiadat. kebudayaan 123 Jawa . tepatnya Ambatik (bahasa Jawa yang berarti menggambar dan melukis). Kebaya memasuki masa revolusinya sendiri. sehingga batik adalah asli dari Indonesia walaupun banyak beredar sekarang batik Malaysia sampai Myanmar. Tanpa harus terpengaruh imbas politik. Batik Darimanakah kata Batik ?. Bahkan ada satu Kebaya yang memiliki berat hingga 22 Kg. Kata ""tik" dari "setitik" berarti sedikit menggambarkan proses yang bertingkat sedikit demi sedikit. Harga batik yang dibuat dengan cara tradisional pun lebih mahal. Ia kini. karena kerumitan detail yang melekat padanya. Kebaya tercipta sebagai karya seni. Kebaya semata-mata menganut faham kreatifitas yang feminis. ekonomi.

dan digunakan untuk acara formal tertentu. Masyarakat itu. Canthing yang bermoncong satu untuk membuat garis."Falsafah batik sebenarnya berakar pada petani. mestinya harus mengalir kembali ke asalnya. Ada banyak motif yang berbeda. sering simbolis." Begitu keyakinan KRT. contohnya upacara pernikahan. Batik Surakarta Batik adalah bentuk seni klasik yang ruwet dan sudah lama sekali sangat penting di dalam adat Java. pemakaman atau hari peringatan. yang dibawa masuk ke keraton. mestinya diberi kesempatan mendapat bagian dari batik. yang kini sudah bergeser menjadi masyarakat industri agraris dan sepanjang masa sengsara. Canthing biasanya berbentuk seperti mangkuk kecil dengan tangki (pegangan) terbuat dari kayu atau bambu dan bermoncong satu atau lebih." "Karena berasal dari petani. lalu diperbaiki dan diperhalus. Harjonagoro (Go Tik Swan) yang pernah hidup di antara rakyat jelata (antara lain para pengrajin batik di rumah kakeknya) maupun lingkungan keraton. Canthing Seni batik pada dasarnya merupakan seni lukis dengan bahan: kain. kebudayaan 124 Jawa . sedangkan canthing yang bermoncong beberapa (dapat sampai tujuh) dipakai untuk membuat hiasan berupa kumpulan titik-titik. titik atau cerek. setiap motif mampunyai arti khusus. yaitu masyarakat pertanian. canthing dan malam ‘sebangsa cairan lilin’. Baru kemudian timbul falsafah batik yang tidak berpijak pada pertanian.

Batik-batik yang digambar dengan tangan disebut batik tulis memerlukan 2-3 bulan untuk membuatnya. cap atau batik combinasi. yaitu sepotong kain 2. Sering sangat sulit untuk membedakan antara tulis. Cap ini digunakan untuk proses pemalaman. atau gabungan/combinasi tangan dan cap. Cara ini dilakukan berulang kali. Capnya. sekarang. Pola digambar pada kain dengan malam yang dicairkan. Juga terdapat dua cara untuk membuat batik tulis.25 meter membutuhkan 60-90 hari untuk membuatnya. dengan merebus malam keras pada kain dan menciptakan sebuah pola baru.Batik adalah cara yang melawan celup. Ada tiga dasar utama untuk menerapkan malam. pertama-tama harus dibuat cap tembaga. Untuk hasil dari batik cap disebut batik cap. cara tradisi dan cara modern. dapat digunakan untuk lebih dari satu kain. menggunakan alat tembaga khusus untuk menggambar. sedangkan bagian yang dimalam masih sama. Setelah malamnya menjadi keras. dengan tangan. Ketiga cara merupakan bentuk seni yang menarik. kainnya tanpa malam bisa dicelup. H. dengan sebuah cap tembaga.25 x 1. tergantung jenis pola dan berapa warnawarna yang diinginkan. itu menjadi melawan celup. Capnya sendiri sering diperlihatkan sebagai seni.8 Keris kebudayaan 125 Jawa . lebih murah dan lebih cepat. dan hasilnya sama baiknya. Cap dibuat dengan tangan dan juga proses memalaman.

Keris dipakai oleh lelaki untuk peristiwa penting dan tatacara tradisionil. Fungsi Zaman sekarang fungsi dari sebuah keris sudah mulai berkurang. Keriss mempunyai makna jantan perkasa dan dewasa.Keris atau tosan aji adalah salah satu senjata tradisional masyarakat Jawa serta menjadi salah satu lambang utama seorang laki-laki selain turangga. bahkan sebelum Kerajaan Majapahit (abad ke-13). apalagi jika yang memberikannya adalah raja. Keahlian membuat pisau belati Jawa berawal dari masa kuno. Di zaman dulu selain menjadi senjata. Pada zaman dahulu. adalah hasil kegaiban yang lain dari Jawa kuno. selain itu. jenjang pangkat serta sebagai hadiah. wanita dan kukila. pada umunya hanya menjadi barang koleksi atau sebagai perlengkapan upacara-upacara dan ritual adat. Sajarah Belum ada penelitian yang berhasil menentukan kapan orang Jawa mulai mengenal keris. keris juga bisa diguanakan sebagai tanda status sosial. Keris. dahulu keris juga bisa menjadi simbol persaudaraan yang ditandai upacara tukar-menukar keris yang merupakan simbol persaudaraan yang paling luhur Fungsi keris lainnya adalah keris dianggap azimat dan media penghubung antara dunia manusia dengan dunia mistis (mahluk gaib) Bagian-bagian keris kebudayaan 126 Jawa . sanggup melindungi diri sendiri. atau lakilaki Jawa itu harus tangguh. keris Jawa sudah mempunyai wajud yang sempurna saat kerajaan majapahit. wisma. atau pisau belati. keris menjadi lambing kepangkatan serta bisa dijadikan sebagai hadiah yang paling istimewa. keluarga dan membela Negara. Keris adalah bagian integral dari upacara Jawa.

kebo tedan. adalah bagian yang berkelok dari wilah-bilah keris. biasanya disebut keris kalawija. dan dilihat dari bentuknya keris dapat dibagi dua golongan besar. dan yang terkecil adalah luk tiga (3) dan terbanyak adalah luk tiga belas (13). atau keris tidak lazim. yang merupakan ujung bawah sebilah keris atau tangkai keris. pudak sitegal. Pada pangkal (dasar keris) atau bagian bawah dari sebilah keris disebut ganja (untuk daerah semenanjung Melayu menyebutnya aring). pinarak. maka bilangan terakhir adalah banyaknya luk pada wilah-bilah dan jumlahnya selalu gasal ( ganjil) dan tidak pernah genap. dimana ganja mewakili lambang yoni sedangkan pesi melambangkan lingganya. wilut . dimulai dari pangkal keris ke arah ujung keris. Sebagai contoh. bagian lehernya disebut gulu meled . • Wilah Wilah atau wilahan adalah bagian utama dari sebuah keris. Ukiran pada bagian-bagian keris Jawa mempunyai makna dan karakter yang berbeda-beda. jaka lola . bagian perut disebut wetengan dan ekornya disebut sebit ron. Bagian-bagian keris itu antara lain. kelap lintah dan sebit rontal. dengan penampang sekitar 5 mm sampai 10 mm. Di tengahnya terdapat lubang pesi (bulat) persis untuk memasukkan pesi. Pengamat budaya tosan aji mengatakan bahwa kesatuan itu melambangkan kesatuan lingga dan yoni. Jika ada keris yang jumlah luk nya lebih dari tiga belas. dihitung dari sisi cembung dan dilakukan pada kedua sisi seberang-menyeberang (kanan-kiri).Keris mempunyai tiga bagian utama. bentuknya bulat panjang seperti pensil. Ragam bentuk ganja ada bermacam-macam. Bagian inilah yang masuk ke pegangan keris ( ukiran) . Salah satu cara sederhana menghitung luk pada bilah . sehingga bagian wilah dan ganja tidak terpisahkan. bagian depannya disebut sirah cecak. bisa disebutkan dapur jangkung mayang. dungkul . yang biasanya disebut dapur. Ganja ini sepintas berbentuk cecak. Luk. bungkul . Pada pangkal wilahan terdapat pesi . • Warangka atau sarung keris Jawa 127 kebudayaan . dll. atau penamaan ragam bentuk pada wilah-bilah (ada puluhan bentuk dapur). yaitu keris yang lurus dan keris yang bilahnya berkelok-kelok atau luk. Di daerah Jawa Timur disebut paksi. masing masing bagain mempunyai bagian-bagian lagi yang lebih detil yang biasanya berupa ukiran. Pesi ini panjangnya antara 5 cm sampai 7 cm. dan juga terdiri dari bagian-bagian tertentu yang tidak sama untuk setiap wilahan. jamang murub.

suasa ( campuran tembaga emas ) . Wrangka ladrang dipakai untuk upacara resmi . cendana. gandek. perak. emas . Tata cara penggunaannya adalah dengan menyelipkan gandar keris di lipatan sabuk (stagen) pada pinggang bagian belakang (termasuk sebagai pertimbangan untuk keselamatan raja ). Riau. Sedangkan wrangka gayaman dipakai untuk keperluan harian. timoho. gandar. Ladrang dan gayaman merupakan pola-bentuk wrangka. Goa. Sejalan dengan perkembangan zaman terjadi penambahan fungsi wrangka sebagai pencerminan status sosial bagi penggunanya. Dalam perang. Bagian atasnya atau ladrang-gayaman sering diganti dengan gading. godong (berbentuk seperti daun). dan kemuning). khususnya dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa. pengangkatan pejabat kerajaan. sehingga fungsi keindahannya tidak diutamakan. yang digunakan adalah keris wrangka gayaman . paling tidak karena bagian inilah yang terlihat secara langsung. Warangka yang mula-mula dibuat dari kayu (yang umum adalah jati. karena bentuknya lebih sederhana. dibuat dari logam kuningan. yaitu jenis warangka ladrang yang terdiri dari bagian-bagian : angkup. Karena fungsi gandar untuk membungkus . Untuk daerah diluar Jawa ( kalangan raja-raja Bugis . adalah komponen keris yang mempunyai fungsi tertentu. pertimbangannya adalah dari sisi praktis dan ringkas. ri serta cangkring. dan gandek. disertai dengan kebudayaan 128 Jawa . godong. Aturan pemakaian bentuk wrangka ini sudah ditentukan. karena wrangka gayaman lebih memungkinkan cepat dan mudah bergerak. maka untuk memperindahnya akan dilapisi seperti selongsongsilinder yang disebut pendok . Palembang. janggut. Secara garis besar terdapat dua bentuk warangka. perkawinan.Warangka. Dan jenis lainnya adalah jenis wrangka gayaman (gandon) yang bagian-bagiannya hampir sama dengan wrangka ladrang tetapi tidak terdapat angkup. acara resmi keraton lainnya (penobatan. atau sarung keris. misalkan menghadap raja. Bali ) pendoknya terbuat dari emas .maka fungsi gandar adalah untuk membungkus wilah (bilah) dan biasanya terbuat dari kayu ( dipertimbangkan untuk tidak merusak wilah yang berbahan logam campuran ) . lata. walaupun tidak mutlak. dll) dengan maksud penghormatan. dan bagian utama menurut fungsi wrangka adalah bagian bawah yang berbentuk panjang ( sepanjang wilah keris ) yang disebut gandar atau antupan . Bagian pendok ( lapisan selongsong ) inilah yang biasanya diukir sangat indah . dan keris ditempatkan pada bagian depan (dekat pinggang) ataupun di belakang (pinggang belakang).

Pamor Keris Pamor merupakan hiasan atau motif atau ornamen yang terdapat pada bilah tosan aji (Keris. Hiasan ini dibentuk bukan karena diukir atau diserasah (Inlay) atau dilapis tetapi karena teknik tempaan yang menyatukan beberapa unsure logam yang berlainan.tambahan hiasan seperti sulaman tali dari emas dan bunga yang bertaburkan intan berlian. Tombak. yaitu (1) pendok bunton berbentuk selongsong pipih tanpa belahan pada sisinya . cigir. serta (3) pendok topengan yang belahannya hanya terletak di tengah . • Gaman Untuk pegangan keris Jawa. secara garis besar terdiri dari sirah wingking ( kepala bagian belakang ) . Diluar wilayah Nusantara dan sekitarnya biasanya hanya dikenal teknik Inlay saja seperti pedang dari Iran atau negara Eropa lainnya sehingga walau secara seni (art) tampak indah tetapi kesan “Wingit” nya tidak ada sama sekali. Untuk keris Jawa . Pedang atau Wedung dan lain lainnya). jiling.weteng dan bungkul. (2) pendok blewah (blengah) terbelah memanjang sampai pada salah satu ujungnya sehingga bagian gandar akan terlihat . menurut bentuknya pendok ada tiga macam. bathuk (kepala bagian depan) . Terkenal dulu bahan pamor dari Luwu. pendok ada dua macam yaitu pendok berukir dan pendok polos (tanpa ukiran). Apabila dilihat dari hiasannya. cetek. kebudayaan 129 Jawa . Sulawesi Selatan yang dibawa oleh pedagang dari Bugis.

Ada juga tosan aji yang dibuat dengan kombinasi pamor mlumah dan miring hanya saja pembuatannya sangat sulit. PAMOR MIRING. kebudayaan 130 Jawa . sedangkan Pamor Miring umumnya motif Adeg. Kalau lipatannya lebih banyak lagi seperti buatan Empu Pangeran Sedayu maka pamor luluhan ini tidak tampak dengan mata telanjang dan sangat kecil atau tiad mungkin kena karat karena menyatunya bahan pamor dengan bahan besinya. Udan Mas. Dilihat dari cara pembuatannya sebetulnya hanya dua cara pembuatan Pamor yang baik yaitu Mlumah dan Miring. ini akan terlihat dengan menggunakan kaca pembesar. Wulan-wulan dan sebagainya. Satria Pinayungan. saat ini ada di Kraton Surakarta diberi nama Kanjeng Kyai Pamor dan ukurannya sekarang tinggal sekitar 60x60x80 Cm sebesar meja kecil karena sudah banyak digunakan empu membuat karis pesanan dari Kraton. diantara pamor Adeg pada beberapa bagian bilah tampak pamor luluan yang sepintas seperti pamor Nggajih. a. Apabila lipatannya banyak. lebih sulit dari pembuatan pamor miring. Cara lainnya. praktis pamor dan besi sudah “menyatu” walau tidak terlalu homogen.Bahan Pamor yang paling terkenal adalah Pamor Prambanan. barulah bahan Nikel digunakan. sehingga keris saat ini bobot nya biasanya lebih berat dari keris kuno. Setelah bahan meteorit susah didapat. Ngulit Semangka. Tumpuk dll. Kesan Pamor Miring agak kasar bila diraba bilahnya dan nyekrak dibanding pamor mlumah. PAMOR MLUMAH. baik di pamor mlumah atau miring. Pamor luluhan yang gampang terlihat antara lain di keris buatan Empu Pitrang dijaman Blambangan. Pamor mlumah adalah lapisan-lapisan pamornya mendatar sejajar dengan permukaan tosan aji sedangkan pamor miring lapisan pamornya tegak lurus permukaan bilah. Batu Lapak. maka hasilnya kemungkinan akan menjadi pamor luluhan. Sodo Saeler. Pamor Mlumah biasanya bermotif Beras Wutah.

Sang Empu berpasrah diri kepada Tuhan YME dan menyerahkan saja bagaimana bentuk pamor yang terjadi maka biasanya pamor yang timbul disebut pamor Tiban. Sewaktu membuat keris.Ada lagi cara membuat pamor dengan menyiramkan bahan pamor cair ke bilah membara dari pangkal keris keujungnya. Cara ini hanya digunakan Empu luar keraton. misal sang empu ingin membuat pamor Ron Genduru tetapi jadinya malah Ganggeng Kanyut. baik bulat atau lonjong kebudayaan 131 Jawa . Pamor rekan sering juga gagal dalam pembuatannya. empu Desa atau disebut juga empu Njawi. Sebenarnya agak sulit membedakan mana pamor rekan atau tiban karena bisa dilihat dari sudut pandang yang berbeda-beda. c. PAMOR MUNGGUL Banyak yang menganggap pamor ini pamor titipan. biasanya bukan dari batu meteorit tetapi logam yang titik leburnya lebih rendah dari besi. sedangkan bila selama pembuatan direka oleh sang Empu maka pamor yang terjadi disebut pamor rekan. Hasilnya umumnya kasar bila diraba dan pamor ini disebut Ngintip (dari Intip/Kerak nasi). caranya dengan menuangkan bahan tersebut yang cair kebilah besi yang membara kemudian dioleskan dengan ujung mancung (kelopak bunga) kelapa sebelum bahan cair tersebut mengeras dan dibuat pamor yang dikehendaki si Empu. selain itu banyak yang menganggap ini sebagai pamor tiban karena tidak bisa dibuat secara sengaja.Ada cara lain membuat pamor selain Mlumah dan Miring yaitu dengan cara mengoleskan bahan pamor ke bilah. Pamor ini seperti bisul menonjol sekitar 1 mm diatas permukaan bilah umumnya berbentuk lingkaran. b. pamornya dinamakan Nggajih karena menyerupai lemak. PAMOR REKAN dan PAMOR TIBAN.

Di Madura biasa disebut pamor “dheling”. Sebetulnya ini terjadi karena penempaan pamor tersebut dilakukan pada suhu yang tepat yang berbeda setiap bahannya. jadi susah diduga berapa suhu yang tepat itu. Bisa ditepi atau tengah bilah dan termasuk pamor yang baik serta dicari banyak orang. e. Bagaiman pamor ini timbul tidak bisa diterangkan secara pasti.tetapi ada yang berbentuk gambar membujur lancip panjang. PAMOR AKHODIYAT. kebudayaan 132 Jawa . ada unsur logam lain yang menyelip dan lebih keras dari unsur logam besi. umumnya tergabung dengan pamor lain yang lebih dominan. Letaknya bisa dibagian sor-soran. Kodiyat atau Akadiyat. Wujudnya menyerupai lelehan dari tepi bentuk pamor dengan warna putih cemerlang keperakan dan lebih cemerlang dibanding keputihan pamor pada umumnya. tengah ataupun pucuk. sehingga banyak yang sepakat bahwa pamor ini dikategorikan ke pamor tiban. antara lain Beras Wutah. Ada yang menganggap sebagai pamor titipan atau “sifat” dari pamor tersebut. Pulo Tirto atau Pendaringan Kebak. Pamor ini berbentuk rangkaian kecil yang merupakan perlambang atau tuah tertentu dan pamor ini jarang berdiri sendiri. Pamor dheling yang terbaik terdapat di pucuk bilah dan disebut “dheling pucuk” dan atau dibagian peksi yang disebut “dheling peksi”. PAMOR TITIPAN. Namanya kadang Akordiyat. tetapi ini baru dugaan saja. tetapi diduga saat “masuh” atau membersihkan bahan keris dari kotoran. d. kalau tersebar dipermukaan bilah disebut “dheling setong” dan dianggap mempunyai tuah baik. ternyata semua salah.

Sidoarjo terkenal akan kerupuk udang dan petisnya. Madiun dikenal sebagai penghasil brem dan nasi pecel. merupakan pamur yang disusulkan. Kecamatan Babat. Udan Mas. Putri Kinurung. Lamongan terkenal akan wingko babat nya. terdiri dari tahu. mi. Inkal. Bondowoso merupakan penghasil tape yang sangat manis. tuangi kuah dan daging tetelan. sate kerang. Watu Lapak dll. Malang dikenal sebagai penghasil keripik tempe. Pamor Titipan yang merupakan pamor tiban dibuat bersama dengan pamor lainnya sedangkan yang rekan biasanya dibuat setelah pamor dominan jadi. H. Kul Buntet. tahu pong. daun sla diiris. tidak sengaja dibuat seperti Pamor Rahala. 2) Tahu Campur Lamongan Tahu campur disajik di dalam mangkuk. diberi irisan perkedel singkong dan ditaburi dengan bawang goreng dan dengan bahan pelengkap sambal. tauge. lontong balap. Jagung dikenal sebagai salah satu makanan pokok orang Madura. dan getuk pisang. Gedong Mingkem. semanggi. petis. dan lontong kupang. Pamor titipan yang merupakan pamor rekan antara lain yang terkenal adalah Kuto Mesir. sementara ubi kayu yang diolah menjadi gaplek dahulu merupakan makanan pokok sebagian penduduk di Pacitan dan Trenggalek. Dikiling.Pamor ini ada yang merupakan pamor tiban. Telaga Membleng dll. Makanan khas Jawa Timur diantaranya adalah Surabaya terkenal akan rujak cingur.9 1) Makanan Khas Rawon dan rujak petis. Jung Isi Dunya. Kediri terkenal akan tahu takwa. 3) Madu mongso Jawa 133 kebudayaan .

Pindang Tempe Tempe dengan bumbu-bumbu cabe. Sebagai sayur untuk makan siang (menu sehari-hari). 4) Rujak Cingur Makanan khas Jawa timur ini merupakan campuran dari berbagai macam sayuran yang disirami bumbu kacang yang dilengkapi dengan petis dan pisang klutuk muda. bawang merah. makanan ini dibungkus menyerupai bentuk permen menggunakan kertas minyak yang berwarna-warni.Merupakan makanan khas Jawa Timur yang dibuat dari ketan item dicampur dengan tape. garam dan air. Sayur Merica Dari ikan laut segar dengan bumbu cabe. Sebagai sayur untuk makan siang/malam dalam menu sehari-hari. bawang putih. Makanan dan Minuman khas Jawa Tengah 1. 2. bawang merah. garam dan santan kental. gula merah. Adalah sebagai lauk pauk dan biasanya dirangkai dengan lontong. bawang kebudayaan 134 Jawa . 4. Petis Bumbon Sayur untuk makan siang/malam yang terbuat dari bahan-bahan petis ikan/udang. bawang putih. 3. telur rebus/ceplok langsung dengan bumbu cabe. kunyit. Yang membuat makanan ini berbeda adalah dengan adanya cingur (hidung sapi). santan dan garam. 5. Sate Sarepeh Berupa sate ayam kampung bumbunya terdiri dari cabe merah. bawang putih. Biasanya ditambahkan juga ikan pindang. bawang putih. bawang merah. Mangut Ikan laut segar yang dipanggang dengan bumbu-bumbu cabe hijau. merica. asam (tomat) garam dan air.

Sebagai makanan sore hari/malam hari. Yang terkenal dari desa Pohlandak (Kecamatan Pancur) dan desa Mondoteko (Kecamatan Rembang). garam dan ditambah santan kental. yang terkenal dari desa Pohlandak (Kecamatan Pancur). Jadah Terbuat dari beras ketan putih. dan kalau suka ditaburi buah nangka/kelapa muda yang dipotong sebesar dadu. 10. Jadah yang terkenal adalah dari desa Pohlandak (Kecamatan Pancur). gula aren. Dumbeg Dibuat dari tepung beras. daun jeruk purut. Rasanya sangat gurih. Dan biasanya dimakan dengan Jadah. yang rasanya sangat manis. biasanya sekitar jam 15. Kaoya Dudul Terbuat dari beras ketan. Kemudian tempatnya dari daun lontar (pohon nira) berbentuk kerucut dengan bau yang khas. kalau makan tinggal didudul (ditekan) saja. 12. kelapa muda. Jenang Waluh Dibuat dari buah waluh. Tempatnya dari daun lontar berlubang bulat kecil sebanyak 5 buah. gula aren/gula pasir dan garam. rasanya sangat manis dan gurih. Kerupuk Bakar Kerupuk udang dan tengiri dari kota Rembang yang dioven atau dibakar.merah. 7. Berasal dari desa Gunem Kecamatan Gunem. Lontong Tuyuhan Lontong dengan opor ayam kampung pedas khas desa Tuyuhan (Kecamatan Pancur). 9. Gula Semut kebudayaan 135 Jawa . 8. 6. 11. kemudian dicetak persegi dan dibungkus dengan daun pisang (seperti lemper). gula pasir/gula aren dan ditambahkan garam. Makanan ini tidak pernah atau jarang dibuat ibu rumah tangga. air pohon nira (legen). lengkuas.00 WIB sudah dijual di lokasi desa Tuyuhan di sepanjang pinggir jalan dengan pemandangan sawah-sawah yang menghijau. garam yang ditumbuk halus (sewaktu masih panas) di atas keranjang yang Terbuat dari daun lontar/daun kelapa muda dan alat tumbuknya juga dilapis dengan daun lontar dan kelapa muda. kacang hijau. air nira dan garam. Biasanya dimakan bersama dengan Jenang waluh. kunci. Dan minumannya air putih yang ditempatkan di kenda (tanpa gelas).

Terasi Petis Bonang Terbuat dari udang atau ikan segar dengan proses pemanasan. 13. Soto ini memiliki ciri khas yang berbeda dengan soto-soto lainnya yang ada di Indonesia. tauge. Ciri utama dari soto ini adalah penggunaan sambal kacang dan ketupat. • • • • Gethuk goreng Tempe mendoan Lanting Sate Ambal Dari Jepara : • Bangket Soto Kudus Pesisir Utara • kebudayaan 136 Jawa .Terbuat dari pohon nira ( legen ) dengan proses pemanasan. Kupat Tahu Merupakan makanan khas Magelang yang berisi tahu. dan diberi ketupat. Menggunakan sambal kacang sebagai campurannya. Soto Sokaraja sudah banyak dijual di luar Banyumas tetapi kalau sempat mampir ke Sokaraja. kubis. Sedangkan yang lain diantaranya adalah : Dari Banyumas : • Sroto Sokaraja Soto Sokaraja atau oleh masyarakat Banyumas disebut Sroto Sokaraja adalah sejenis makanan dari Indonesia. kita dapat menikmati soto di warung-warung yang berderet rapi di sepanjang jalan di Sokaraja. 14. Bau dan rasanya enak. Yang terkenal dari Desa Bonang Kecamatan Lasem. sehingga hasilnya seperti gula pasir atau gula halus yang berwarna coklat.

• • • • • • Soto Tegal Sate Tegal Lumpia Semarang Taoto Nasi megono Nasi Grombyang Gudeg Dari Yogya-solo : • Gudeg Jogja punya rasa manis yang khas. • • • • • • • • • • • • • Nasi pecel Opor ayam Tongseng Cabuk rambak Tumpeng Mangut lele Srabi Solo Geplak Sate Kocor Tengkleng Bakpia Trancam Sate Winong nasi gandul Jawa 137 Pati-Juwana Jawa tengah • kebudayaan .

banyak dimasukkan unsur humor. Banyak pula diambil cerita dari luar negeri. Dalam sebuah pentasan ketoprak. muncul sebuah genre baru. Tema cerita dalam sebuah pertunjukan ketoprak bermacam-macam. Tetapi tema cerita tidak pernah diambil dari repertoar cerita epos (wiracarita): Ramayana dan Mahabharata. Ludruk merupakan suatu drama tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang di gelarkan disebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan kebudayaan 138 Jawa . Beberapa tahun terakhir ini.H. Dalam pentasan jenis ini.10 Ketoprak dan Ludruk Ketoprak (bahasa Jawa kethoprak) adalah sejenis seni pentas yang berasal dari Jawa. Sebab nanti pertunjukkan bukan ketoprak lagi melainkan menjadi pertunjukan wayang orang. Ludruk adalah kesenian drama tradisional dari Jawa Timur. sandiwara yang diselingi dengan lagulagu Jawa. yang diiringi dengan gamelan disajikan. Ketoprak Humor yang ditayangkan di stasiun televisi RCTI. Biasanya diambil dari cerita legenda atau sejarah Jawa.

sopir angkotan. membuat dia mudah diserap oleh kalangan non intelek (tukang becak. menggunakan bahasa khas Surabaya. Madura. dan bersifat menyampaikan pesan tertentu. Pada dasarnya masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai pewarisan budaya yang sangat kaya. Sementara ludruk menceritakan cerita hidup seharihari (biasanya) kalangan wong cilik.11 Reog Salah satu tarian Pembuka Topeng barong reog yang dipakai sebagai atraksi penutup Reog adalah salah satu seni yang ada di Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. Di daerah ini kondisi sosio kultural masih sangat kental dengan hal-hal yang dianggap magis dan dapat mereka buktikan dengan kemampuan mereka (masyarakat Ponorogo) dan Religi/Kebatinan yang sangat kuat. Malang. Bahasa lugas yang digunakan pada ludruk. Cerita ketoprak sering diambil dari kisah zaman dulu (sejarah maupun dongeng). Sebuah pementasan ludruk biasa dimulai dengan Tari Remo dan diselingi dengan pementasan seorang tokoh yang memerakan "Pak Sakera". etc). Madiun dengan logat yang berbeda. seorang jagoan Madura. meski terkadang ada bintang tamu dari daerah lain seperti Jombang. Dalam pengalamannya Seni Reog merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk adanya aliran kepercayaan yang ada secara turun temurun dan terjaga. Dialog/monolog dalam ludruk bersifat menghibur dan membuat penontonnya tertawa. H. Ludruk berbeda dengan ketoprak dari Jawa Tengah. Upacaranya pun menggunakan kebudayaan 139 syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk Jawa .rakyat sehari-hari. peronda. cerita perjuangan dan lain sebagainya yang diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik.

kebudayaan 140 Jawa . Untuk hajatan khitanan atau sunatan. mereka menganut garis keturunan Parental dan hukum adat yang masih berlaku. dengan muka dipoles warna merah. Jika berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan. Pada reog tradisionil. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Pementasan Seni Reog Reog modern biasanya dipentaskan dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan. biasanya cerita pendekar. Disini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan) dan kadang-kadang dengan penonton. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang.memenuhinya tanpa adanya garis keturunan yang jelas. Yang lebih dipentingkan dalam pementasan seni reog adalah memberikan kepuasan kepada penontonnya. Seni Reog Ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian 2 sampai 3 tarian pembukaan. Adegan dalam seni reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi. Setelah tarian pembukaan selesai. Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu. baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni reog ditampilkan. yang harus dibedakan dengan seni tari lain yaitu tari kuda lumping. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam. penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. khitanan dan hari-hari besar Nasional.

Bahasa yang digunakan di dalam kidung ialah campuran Jawa Kuno dengan Jawa Baru tetapi susunannya masih menurut cara kuno dengan memakai *Tembang Gedhe yang sudah menyimpang iramanya seperti Kidung Subrataka yang muncul pada zaman Jawa Tengahan. Berat topeng ini bisa mencapai 50-60 kg. kebudayaan 141 Jawa .12 KIDUNG/PUISI Kidung adalah puisi Jawa asli walaupun masih dijumpai vokal panjang tetapi tidaklah sebanyak yang ditemui di dalam kekawin. H. Arti : Bahagialah tuanku kisah cubaan akan dinyanyikan dengan lagu panji prakasa Ki Subrata yang dikisahkan moga-moga terluput dari malapetaka nirmala dan sihat wal¡¯afiat luput dari halangan luput dari bahaya maut. Topeng yang berat ini dibawa oleh penarinya dengan gigi. Sementara itu nama tembang dalam kidung pula amat bergantung kepada jumlah baris dalam bait dan vokal akhir pada setiap baris. Ia juga turut dikenali sebagai tembang atau nyanyian. Berikut ini contohnya : Sangtabyana ta pakulun rancana cipta kumawi Panji prakasa tembange Ki Subrataka kang winuwus luputa ring lara roga nirmala waluya jati luputta ring pamurung luputta ring baya pati. dimana pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak. Kemampuan untuk membawakan topeng ini selain diperoleh dengan latihan yang berat.Adegan terakhir adalah singa barong. juga dipercaya diproleh dengan latihan spiritual seperti puasa dan tapa.

dan dimulai saat walisanga memegang kekuasaan. Di deretan lagu macapat. Membacanya memang dirakit tiap empat suku kata. yang umumnya sering dipakai dimana-mana. Tiap bait. Lagu ini mulai ada di jaman Majapahit. Macapat bisa dibagi menjadi tiga jenis yaitu : Sekar Macapat atau Sekar Alit Sekar Madya atau Sekar Tengahan Sekar Ageng 1. Macapat banyak dipakai di Sastra Jawa Tengah dan Sastra Jawa Baru. mijil umumnya ditaruh didepan. lagu ini ada enam larik. seperti wedathama. Aturan – aturan itu ada pada : • • • Guru gatra : bilangan baris/gatra tiap bait. Serat Wirid Hidayat Jati. karena tidak ada peninggalan tulisan yang dapat membuktikannya. Sekar Macapat atau Sekar Alit Macapat ini juga disebut sebagai lagu macapat asli. dan yang lain-lain disusun dengna lagu ini. Tetapi itu juga belum pasti. dengan guru wilangan dan guru lagu : • • • • • 10-i 6-o 10-é 10-i 6-i Jawa 142 kebudayaan .13 LAGU ADAT JAWA MACAPAT Adalah lagu tradisional dari tanah Jawa. Guru lagu : suara vokal di akhir tiap baris. • Mijil Mijil itu artinya lahir atau keluar. aturan-aturan pada macapat itu lebih mudah. Kalathida. macapat artinya ”maca papat-papat”. Kitab-kitab pada jaman Mataram Baru. Macapat juga menular ke kebudayaan Bali. madura dan Sunda. Wulangreh. Guru wilangan : bilangan suku kata tiap gatra. Jika dilihat dari ”kerata basa”.H. Jika dibandingkan dengna kakawin.

Di Macapat. sinom mempunyai sifat yang masih muda. Seperti anak kecil yang baru tahu dunia. dengan guru bilangan dan guru lagu : • • • • • • • • • 8-a 8-i 8-a 8-i 7-i 8-u 7-a 8-i 12 – a Contoh 1. Lelaku alon siniji-siji 5. Metrum Tiap bait. Amung anjali soca ing tembé 4. Amenangi jaman édan 2. Ndilalah karsa Allah kebudayaan 143 Jawa . Mijil ing donya siniwi ratri 2.• 6-u Contoh 1. Milu édan nora tahan 4. lagu ini ada sembilan baris. Éwuh aya ing pambudi 3. Kabeh durung katon 3. Boya kaduman melik 6. Yèn tan milu anglakoni 5. Nunggu mring wartaning 6. Sesotya satuhu • Sinom Arti umumnya sinom berarti ”godhong asem sing isih enom” ( daun asam yang masih muda ). Kaliren wekasanipun 7.

banyak nasehat pada jaman dahulu yang menggunakan jenis ini. Dari sini kita bisa mengetahui jika lagu ini dibuat pada jaman Kediri. Dhandhang itu harapan. Metrum Tiap bait ada 10 baris. kang ginelung tri prakara. Luwih begja kang éling lawan waspada Dari Serat Kalatidha. kebudayaan 144 Jawa . Begja-begjané kang lali 9. • • • • • • • • • • 10-i 10-a 8 -é 7 -u 9 -i 7 -a 6 -u 8 -a 12-i 7 –a Contoh Yogyanira kang para prajurit. • Dhandhanggula Dhandhanggula adalah salah satu lagu macapat yang isinya “pengharapan yang baik”.8. lagu yang menggunankan metrum Dhandhanggula juga mempunyai isi yang manis seperti gula. aran patih Suwanda. lelabuhanipun. duk ing uni caritane. karya Ki Ranggawarsita. andelira sang prabu. Tetapi ada juga yang menghubungkan asala kata dhandhanggula dengan salah satu raja di jaman Kediri yaitu dhandhanggendhis. Sasrabahu ing Maespati. Karena itu. lamun bisa sira anuladha.

Maskumambang itu untuk laki-laki yang dewasa. nuhoni trah utama • Kinanthi Kinanthi adalah salah satu lagu macapat yang umunya dipakai rasa suka. sedangkan kinanthi itu untuk perempuan. karya Kyai Yasadipura ) Contoh 2 Pitik tulak pitik tukung Tetulake Jabang bayi Ngedohaken cacing racak Sarap sawane sumingkir Si tulak manggung ing ngarso Si Tukung ngadhangi margi kebudayaan 145 Jawa . cinta dan kebijaksanaan.guna kaya purun ingkang den antepi. Metrum Kinanthi itu terdiri dari 6 baris pada tiap bait. Kinanthi ini juga bias mempunyai arti “gegandhengan tangan” dan bias juga berarti nama suatu bunga. • • • • • • 8-u 8-i 8-a 8-i 8-a 8-i Anoman mlumpat sampun praptêng witing nagasari mulat mangandhap katingal wanodyâju kuru aking gelung rusak awor kisma ingkang iga-iga kêksi Contoh 1 (diambil dari ” Serat Rama Kawi”. Ada juga yang memasangkan kinanthi dengan maskumambang.

Oleh karena itu.• Asmarandana Lagu Asmarandana umumnya dipakai bagi orang yang sedang jatuh cinta. • • • • • • • 8-a 8-i 8-é 8-a 7-a 8-u 8-a Contoh Gegaraning wong akrami Dudu bandha dudu rupa Amung ati pawitané Luput pisan kena pisan Lamun gampang luwih gampang Lamun angèl. dan dahana yang artinya api. asmarandana berisi tentang kasih sayang. Jika dilihat aslinya. Metrum Asmarandana terdiri dari 7 baris dalam tiap bait. angèl kalangkung Tan kena tinumbas arta Aja turu soré kaki Ana Déwa nganglang jagad Nyangking bokor kencanané Isine donga tetulak Sandhang kelawan pangan Yaiku bagéyanipun wong welek sabar narima kebudayaan 146 Jawa . kata asmaradana diambil dari kata asmara yang artinya cinta.

• Durma Durma adalah salah satu lagu macapat yang mempunyai sifat galak. Dari lagu ini. Durma termasuk lagu yang wingit. yaitu antara lain : pangkur jenggleng. itu adalah cinta yang utama. itu adalah nasehat yang tinggi. Adakalnya Durma memuat keadaan yang menyeramkan dan membuat takut. • • • 8-a 11. • • • • • • • 12-a 7 -i 6 -a 7 -a 8 -i 5 -a 7 -i Contoh Kae manungsa golek upa angkara Sesingidan mawuni ngGawa bandha donya mBuwang rasa agama Nyingkiri sesanti ati Tan wedi dosa Tan eling bakal mati • Pangkur Pangkur adalah salah satu lagu macapat yang mempunyai sifat “munggah ndhuwur”. Jika suatu nasihat. Metrum Lagu pangkur terdiri dari 7 baris tiap bait. pangkur palaran. Jika cinta. lalu banyak beraneka macam lagu yang menggunakan nama pangkur. pangkur lombok dan lain-lain. Metrum Tiap bait ada 7 baris.i 8-u Jawa 147 kebudayaan .

Ada juga yang menganggap jika Maskumambang itu lagunya laki-laki.u 8-a 8-i Sekar Pangkur kang winarna lelabuhan kang kanggo wong aurip ala lan becik puniku prayoga kawruhana adat waton puniku dipun kadulu miwa ingkang tatakrama den keesthi siyang ratri Contoh • Maskumambang Maskumambang adalah salah satu lagu macapat yang menjadi lambing saat orang laki-laki beranjak dewasa. lagu Maskumambnag ada 4 baris. Sifat dari lagu ini. sedangkan yang perempuan itu adalah kinanthi. • • • • 12-i 6 -a 8 -i 8 -a Gereng-gereng Gathotkaca sru anangis Sambaté mlas arsa Luhnya marawayan mili Gung tinamêng astanira Contoh • Pocung Jawa 148 kebudayaan . umumnya berisi orang yang sedang mengeluh sakit dan sengsara.• • • • 7-a 12. pada masa ketika dari anak menjadi manusia yang kelihatan ditengah lingkup social. Kata maskumambang itu merupakan sambungan antara kata ‘emas’ den ‘kumambnag’. Metrum Tiap bait.

manusia diingatkan kalau semua tingkah laku manusia itu ada akibatnya.Pucung (adakalanya ditulis pocung) adalah lagu macapat yang mengingatkan tentang kematian. Metrum Lagu pucung hanya ada 4 baris pada tiap bait. Lagu ini sering digunakan untuk lagu-lagu yang lucu seperti parikan atau tanya Jawab. Seperti lambnag mori untuk membungkus orang yang meninggal. kebudayaan 149 Jawa . • • • • 12-u 6 -a 8 -i 12-a Contoh Ngelmu iku kelakone kanthi laku Lekase lawan kas Tegese kas nyantosani setya budya pangekesing dur angkara • Gambuh Contoh Sekar gambuh ping catur Kang cinatur Polah kang kalantur Tanpo tutur katulo-tulo katali Kadaluwarso katutur Katutuh pan dadi awon Lagu gambuh itu memang penuh dengan nasehat. Tetapi Pucung juga dapat diartikan sebagai nama biji buah-buahan. Pucung dipakai sebagai lagu yang bias mengingatkan kepada manusia yaitu jika hidup di dunia pasti ada akhirnya. Kata pucung dekat dengan kata pocong. Nasehat yang menggiring manusia agar ingat dengan tingkah lakunya. Akhiran cung juga memberi rasa segar yang mengingatkan kepada sesuatu yang lucu seperti menggunakan kata “dikuncung”.

dengan guru bilangan dan guru lagu : 12u. • Wirangrong kebudayaan 150 Jawa . 8o. 8a. 8u.• Megatruh Megatruh mempunyai sifat prihatin rasa sakit hati karena rindu. lagu ini ada 7 baris. 8u. Sifatnya “prenesan” dan biasanya dipakai sebagai lagu wangsalan atau yang agak erotis. 8a. 8i. lagu ini ada lima baris. 8i. 8u. sigra milir kang gèthèk sinangga bajul kawan dasa kang njagèni ing ngarsa miwah ing pungkur tanapi ing kanan kéring kang gèthèk lampahnya alon 2. 8u. • Jurudemung Jurudemung itu termasuk sekar madya. Contoh Contoh ini diambil dari Babad Tanah Jawi karya Ki Yasadipura. dengan guru bilangan dan guru lagu : 8a. Contoh Contoh ini diambil dari “Serat Pranacitra” ni ajeng mring gandhok wétan wus panggih lan Rara Mendut alon wijilé kang wuwus hèh Mendut pamintanira adhedhasar adol bungkus wus katur sarta kalilan déning jeng kyai Tumenggung. Guru bilangan dan guru lagu Tiap bait. 8u. Guru bilangan dan guru lagu Tiap bait. Sekar Madya utawa Sekar Tengahan Macapat jenis ini seperti lagu kidung yang sering dipakai pada jaman Majapait.

6i. Girisa (macapat) Girisa itu memiliki sifat nasihat. 3é. 3é. Contoh dèn samya marsudêng budi wiwéka dipunwaspaos aja-dumèh-dumèh bisa muwus yèn tan pantes ugi sanadyan mung sakecap yèn tan pantes prenahira • Balabak Balabak itu memiliki sifat yang spontan. byar rahina Kèn Rara wus maring sendhang mamèt wé turut marga nyambi reramban janganan antuké praptêng wisma wusing nyapu atetebah jogané 3. 8o.Wirangrong itu termasuk dalam sekar madya. lagu ini ada 6 baris. dengan guru bilangan dan guru lagu: 12i. sekar macapat ageng seperti lagu kakawin di jaman dahulu. Contoh Contoh ini diambil dari “Serat Jaka Lodhang” karya Ki Ranggawarsita. lagu ini terdiri dari 6 baris. Guru bilangan dan guru lagu Tiap bait. 3é. 12a. 10u. Sifatnya itu penuh wibawa. Jika dilihat dari kesusahannya. 7a. Guru bilangan dan guru lagu kebudayaan 151 Jawa . dengan guru bilangan dan guru lagu : 8i. Guru bilangan dan guru lagu Tiap bait. 12a. 8a. Sekar Ageng Sekar Macapat Ageng ( besar ) hanya ada satu yaitu Girisa. Lagu ini biasanya dipakai untuk menyanyikan hal-hal yang gagah.

Tresnaku sundul ing ati Dek sakmono janjimu disekseni kebudayaan 152 Jawa .. lagu ini ada 8 baris.. 8a. 8a. Contoh Contoh ini diambil dari “Serat Wiratadya” karya Ki Ranggawarsita. LAGU-LAGU LAIN SELAIN MACAPAT Kumpulan lagu (Jawa)  ANDE ANDE LUMUT Putraku si ande ande lumut…. 8a. Tumuruna ana putri kang unggah unggahi…. Putri niku sisane si yuyu kangkang…  YEN ING TAWANG ANA LINTANG Yen ing tawang ono lintang cah ayu…. 8a. Putriku kang ayu rupane……… Kleting kuning kang dadi asamane…… Bu…si Bu… kulo mboten purun…. 8a.nimas… Sun takokne pawartamu Janji janji aku iling. déné utamaning nata bèr budi bawa leksana liré bèr budi mangkana lila legawa ing driya agung dènya paring dana anggeganjar saben dina liré kang bawa leksana anetepi pangandika.aku ngenteni tekamu Marang mego ing angkoso. dengan guru bilangan dan guru lagu : 8a.Tiap bait. 8a.. 8a.nimas.cah ayu… Sumedot rasaning ati Linang lintang ngiwi iwi.

 LIR-ILIR Lir ilir lir ilir tandure wong sumilir Tak ijo royo royo Tak sengguh panganten anyar Cah angon cah angon penekna blimbing kuwi Lunyu lunyu penekna kanggo mbasuh dodotira Dodotira dodotira kumintir bedah ing pinggir Dondomana jrumatana kanggo seba mengko sore Mumpung padang rembulane Mumpung jembar kalangane Sun suraka surak hiyo  SUWE ORA JAMU Suwe ora jamu Jamu godhong telo Suwe ora ketemu Ketemu pisan gawe gelo kebudayaan 153 Jawa . lere… Sopo ngguyu ndelekake………… Sir …sir….dele gosong………. pong .suwenge ting gelenter……..Mego kartiko kairing Raso tresno asih Rungokno tangising ati Ginarung swaraning ratri... lera. Mambu kutundung gudel…pak hempong... Ngenteni mbulan ndadari  CUBLAK CUBLAK SUWENG Cublak cublak suweng….nimas.

Perang saudara dan Pertumbuhan kerajaan-kerajaan islam terutama Kesultanan Malaka mempercepat jatuhnya Majapahit. orangorang majapahit mengungsi ke beberapa tempat. yang didirikan oleh masyarakat osing. adalah kerajaan terakhir yang bercorak Hindu-Budha seperti halnya kerajaan Majapahit. SUKU OSING Suku Osing Jumlah populasi Kawasan dengan jumlah penduduk yang signifikan Kabupaten Banyuwangi. Kedekatan sejarah ini terlihat dari corak kehidupan Suku Osing yang masih menyiratkan budaya Majapahit. kebudayaan 154 Jawa . 1. yaitu lereng Gunung Bromo (Suku Tengger). Blambangan (Suku Osing) dan Bali.I. Bahkan Mereka sangat percaya bahwa Taman Nasional Alas Purwo merupakan tempat pemberhentian terakhir rakyat Majapahit yang menghindar dari serbuan kerajaan Mataram. Setelah kejatuhannya. Sejarah Sejarah Suku Osing diawali pada akhir masa kekuasaan Majapahit sekitar tahun 1478 M. SUB SUKU JAWA I. suku Bali Suku Osing adalah penduduk asli Banyuwangi dan merupakan penduduk mayoritas di beberapa kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Jawa Timur Bahasa bahasa Osing Agama Sebagian besar Islam dan sebuah minoritas beragama Hindu. suku Tengger. Kelompok etnis terdekat suku Jawa. Kerajaan Blambangan.

Puputan adalah perang terakhir hingga darah penghabisan sebaga usaha terakhir mempertahankan diri terhadap serangan musuh yang lebih besar dan kuat. termasuk juga busana tari dan instrumen musiknya. dan Kecamatan Songgon. Suku Osing mempunyai kedekatan yang cukup besar dengan masyarakat Bali. hal ini sangat terluhat dari kesenian tradisional Gandrung yang mempunyai kemiripan dengan tari-tari tradisional bali lainnya. Kemiripan lain tercermin dari arsitektur bangunan antar Suku Osing dan Suku Bali yang mempunyai banyak persamaan. Kecamatan Giri. terutama di Kecamatan Banyuwangi. Kecamatan Glagah dan Kecamatan Singojuruh. Namun berkembangnya kerajaan Islam di pantura menyebabkan agama Islam dengan cepat menyebar di kalangan suku Osing. Bahasa Suku Osing mempunyai Bahasa Osing yang merupakan turunan langsung dari Bahasa Jawa Kuno seperti halnya Bahasa Bali. Masyarakat Osing mempunyai tradisi puputan. seperti halnya masyarakat Bali. guru dan pegawai pemda.Dalam sejarahnya Kerajaan Mataram Islam tidak pernah menancapkan kekuasaanya atas Kerajaan Blambangan. dengan sebagian kecil lainya adalah pedagang dan pegawai di bidang formal seperti karyawan. hal inilah yang menyebabkan kebudayaan masyarakat Osing mempunyai perbedaan yang cukup signifikan dibandingkan dengan Suku Jawa. terutama pada hiasan di bagian atap bangunan. Tradisi ini pernah menyulut peperangan besar yang disebut Puputan Bayu pada tahun 1771 M. Demografi Suku Osing menempati beberapa kecamatan di kabupaten Banyuwangi bagian tengah dan bagian utara. Stratifikasi Sosial kebudayaan 155 Jawa . Profesi Profesi utama Suku osing adalah petani. Bahasa Osing sangat berbeda dengan Bahasa Jawa sehingga bahasa Osing bukan merupakan dialek dari bahasa Jawa seperti anggapan beberapa kalangan. Kecamatan Rogojampi. Kecamatan Kalipuro. Kepercayaan Pada awal terbentuknya masyarakat Osing kepercayaan utama suku Osing adalah Hindu-Budha seperti halnya Majapahit. Berkembangnya Islam dan masuknya pengaruh luar lain di dalam masyarakat Osing juga dipengaruhi oleh usaha VOC dalam menguasai daerah Blambangan.

kaum coliba. kaum sudrakula. kaum hydrakula. Jawa Timur. SUKU TENGGER Suku Tengger Jumlah populasi 500. Jawa Timur Bahasa bahasa Jawa Agama Sebagian besar Hindu dan sebuah minoritas beragama Islam dan Kristen. mereka merupakan penduduk asli. 2. Seblang. yakni menempati sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan. kaum Drakula.000. Tari Barong dan Jedor. Seni Kesenian Suku Osing sangat unik dan banyak mengandung unsur mistik seperti kerabatnya suku bali dan suku tengger. hal ini banyak dipengaruhi oleh agama Islam yang dianut oleh sebagian besar penduduknya. tetapi telah ditemukan perbedaan stratifikasi di Suku tersebut. Patrol. Desa kemiren merupakan tujuan wisata yang cukup diminati di kalangan masyarakat Banyuwangi dan sekitarnya. Kabupaten kebudayaan 156 Jawa . Angklung. Kawasan dengan jumlah penduduk yang signifikan gunung Bromo. I. Desa Adat Kemiri Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyadari potensi budaya suku osing yang cukup besar dengan menetapkan desa kemiri di kecamatan Glagah sebagai desa adat yang harus tetap mempertahankan nilai-nilai budaya Suku Osing.Suku Osing berbeda dengan Suku Bali dalam hal stratifikasi sosial. Festival budaya dan acara kesenian tahunan lainnya sering diadakan di desa ini. Kesenian utamanya antara lain Gandrung. Kelompok etnis terdekat suku Jawa Suku Tengger adalah sebuah suku yang tinggal di sekitar Gunung Bromo. Suku Osing tidak mengenal kasta seperti halnya Suku Bali.

tersebar di Pegunungan Tengger dan sekitarnya. dan Kabupaten Malang. malas dan pesimis. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. yakni mangan (makan) dan kumpul. ungkapan mangan ora mangan asal kumpul pada dasarnya ingin mengatakan bahwa orang Jawa merasa menjadi bagian integral dari masyarakatnya dan bersedia mendahulukan kepentingan kelompok/umum dari pada kepentingan individu. ataupun manusia malas yang maunya hanya kumpul terus. Nama Tengger berasal dari Legenda Roro Anteng dan Joko Seger yang diyakini sebagai asal usul nama Tengger. sedang kumpul menunjukkan adanya kehidupan berkelompok atau bermasyarakat. Orang Jawa dengan kebudayaan 157 Jawa . Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Makan adalah manifestasi dari nafsu biologis dan kepentingan perseorangan. UNGKAPAN-UNGKAPAN JAWA  Mangan Ora Mangan Asal Kumpul Ungkapan mangan ora mangan asal kumpul bukan berarti bahwa orang Jawa adalah manusia-manusia yang tahan lapar. disamping merupakan anjuran untuk melakukan pekerjaan secara cermat agar selesai dengan baik. Dalam ungkapan ini terdapat dua kata kunci. Dengan demikian.Probolinggo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa. Justru sebaliknya. Gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci. Bagi suku Tengger.  Alon-Alon Waton Kelakon Demikian pula terhadap ungkapan alon-alon waton kelakon. konon adalah keturunan pelarian Kerajaan Majapahit. hal itu menandakan manusia yang berpandangan optimis yang mampu melihat jauh kedepan. Adalah kurang tepat jika diartikan sebagai sikap hidup ragu-ragu. yaitu "Teng" akhiran nama Roro An-"teng" dan "ger" akhiran nama dari Joko Se-"ger". atau yang tidak mempunyai sepeser uangpun untuk membeli sejumput padi. Orang-orang suku Tengger dikenal taat dengan aturan dan agama Hindu. J. Suku Tengger. Mereka yakin merupakan keturunan langsung dari Majapahit.

mengapa harus tergesa-gesa kalau sesuatu yang dikejar itu pasti datang? Namun dalam hal ini harus diakui bahwa hanya orang-orang tertentu yang sudah mencapai taraf weruh sadurunge winarahlah yang bisa menghayati ungkapan alon-alon waton kelakon. yaitu agar tidak “kehausan” di tengah jalan. Interpretasi negatif akan mengatakan bahwa wanita hanya berfungsi sebagai pemuas kebutuhan biologis (seksual) atau sebagai pembantu rumah tangga. fungsi dan kedudukannya. Jadi. pasa atau nglakoni (melaksanakan suatu syarat untuk suatu tujuan). Islam — yang ajaran-ajarannya banyak diserap oleh masyarakat Jawa kemudian digabungkan dengan pemikiran dalam ajaran Hindu Budha (sinkretisme) — mengajarkan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi wanita. sehingga dapat menjadi “bekal” untuk menunaikan kewajiban lainnya. dan suami adalah pemimpin bagi istrinya. selalu yakin akan kekuatan diri sendiri dan yakin pula bahwa apa yang dicita-citakan pasti akan terwujud. Jadi.  Kanca Wingking Dan Suwarga Nunut Neraka Katut Ungkapan lain yang bisa memberi kesan negatif adalah kanca wingking dan suwarga nunut neraka katut. selama proses minum berlangsung. masih ada kewajiban lain yang lebih penting.kekuatan spiritual atau kebatinannya yang didapatkan dari kegiatan-kegiatan asketis seperti semadi/tapa. tuntutan emansipasi. ibarat sepeminuman segelas air. Disini terkandung makna bahwa setelah selesai minum.  Urip Mung Mampir Ngombe Adapun ungkapan urip mung mampir ngombe menunjukkan bahwa kehidupan manusia didunia begitu cepatnya. arti suwarga nunut neraka katut bagi kebudayaan 158 Jawa . kesusilaan dan Undang-Undang. Keduanya seolah-olah mendiskriminasikan wanita atau istri terhadap laki-laki atau suami. betul-betul harus dapat dirasakan bahwa minum itu merupakan rahmat dari Yang Kuasa yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. derajat dan kedudukan akan mengalir bagaikan air bah. persamaan hak. istri wajib mentaati perintah atau aturan suami. Oleh karenanya. Dari pengertian tersebut sudah dapat dibayangkan bahwa ungkapan suwarga nunut neraka katut dan kanca wingking adalah dimaksudkan untuk menempatkan manusia pada peran. Tanpa pemahaman terhadap makna yang tersembunyi didalamnya. Sepanjang tidak bertentangan dengan agama.

istri adalah mematuhi suami, disamping kewajiban untuk memperingatkan bila suami kurang benar. Istri yang tidak mau menegur kesalahan suami, berarti ikut menanggung dosa yang diperbuat suaminya. Begitu pula ungkapan kanca wingking. Sebagai “teman belakang”, para istri memegang peranan yang amat penting dalam sebuah keluarga. Jika mereka tidak kuat memegang peran sebagai kanca wingking, maka keluarga itupun tidak dapat diharapkan kelangsungan eksistensinya. Jadi tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa surga laki-laki terletak ditelapak kaki wanita. Semboyan bahwa suatu revolusi tidak akan berhasil tanpa andil kaum wanita-pun, tidaklah mengada-ada. Hanya saja persoalannya, mengapa wanita dikatakan sebagai kanca wingking, bukan kanca ngajeng (teman depan)? Hal ini juga ada alasannya sendiri. Barangkali tidak seorangpun yang menyangkal bahwa masyarakat Jawa memiliki nilai-nilai dan norma-norma luhur yang dijunjung tinggi. Perbuatan yang melanggar atau tidak sesuai dengan nilai atau moral itu, dikatakan sebagai saru, ora lumrah, atau ora ilok. Kedudukan wanita Jawa terhadap lawan jenisnya sebagaimana kedudukan wanita terhadap pria pada umumnya — secara kodrati (bedakan dengan kedudukan sosial politik) — adalah lebih rendah. Dengan demikian, adalah tidak patut apabila wanita yang memimpin suatu keluarga. Adalah tidak lumrah apabila wanita mencarikan nafkah bagi suaminya dan menempatkannya sebagai rewang (pembantu). Dan adalah tidak ilok (tidak boleh dilakukan) apabila seorang istri berani membantah suaminya. K. PEMBANGUNAN DAN MODERNISASI Sifat dasar yang menjadikan satu kelemahan yang juga merupakan penghambat pembangunan di Jawa antara lain adalah sifat yang pasif terhadap hidup, kesukaan-kesukaan terhadap kebatinan, penilain yang tinggi yang di nyatakan dengan konsep nerimo, ketabahan yang ulet dalam hal menderita, tetapi yang lemah terhadap hal karya. Selain itu, pengaruh dari tekanan bangsa-bangsa asing yang menjajah di Jawa serta jumlah penduduk yang semakin membeludak menjadi salah satu penyebab lain terhambatnya pembangunan di Jawa.

kebudayaan 159

Jawa

Struktur masyarakat desa di Jawa yang asli, sudah terlanjur dirusak oleh struktur administratif yang ditumpangkan diatasnya oleh pemerintahan kolonial. Akibatnya masyarakat di Jawa tidak mengenal kesatuan-kesatuan social dan organisasi adat yang sudah mantap dan kreatif. Dari uraian diatas masih banyak hal-hal yang dapat menghambat pembangunan diJawa, antara lain;
a. Mental orang Jawa yang terlalu nerimo dan bersiakap pasif terhadap hidup b. Tekanan jumlah penduduk yang mengakibatkan penduduk desa diJawa

menjadi terlalu miskin. c. Tidak adanya organisasi-organisasiasli yang telah mantap dan jika dimodernisasi menjadi organisasi yang mantap, aktif serata kreatif d. Tidak adanya kepeimpinan desa yang aktif kreatif untuk dapat memimpin aktivitas produksi yang bisa member hasil 3-4 kali lebih besar dari pada sekarang tiap-tiap tahun.

kebudayaan 160

Jawa

BAB III PENUTUP Kebudayaan Jawa merupakan bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia yang memiliki nilai yang sangat luhur bersama dengan kebudayaan bangsa Indonesia lainnya. Oleh kerenanya, sudah layak apabila kita mengetahui serta memahami kebudayaan Jawa agar tercapai pemahaman yang tepat mengenai kebudayaan Jawa. Hendaknya patut digaris bawahi bahwa kata “memahami” merupakan sesuatu yang amat penting untuk dapat memperoleh pandangan yang benar dan jelas mengenai kebudayaan Jawa itu sendiri. Oleh karena itu, sesungguhnya tidaklah cukup apabila kita ingin memahami kebudayaan Jawa dalam waktu yang singkat tetapi diperlukan waktu yang cukup lama dan mendalam. Meskipun demikian, hal itu tidak menyurutkan usaha kami untuk menyediakan berbagai pengetahuan seputar kebudayaan Jawa Secara khusus pula makalah ini kami buat untuk teman-teman di lingkungan Kampus STAN yang memiliki latar belakang bukan dari budaya Jawa untuk menambah pengetahuan sekaligus sebagai bekal bagi teman-teman di lingkungan kerja nanti, supaya kita dapat berkomunikasi lintas budaya. Dan akhirnya, sesungguhnya makalah ini jauh dari lengkap dan mendalam mengenai kebudayaan Jawa. Kami meminta maaf apabila di dalam makalah ini ada pernyataan yang kurang berkenan di hati teman-teman. Terima kasih.

kebudayaan 161

Jawa

org/wiki/Sastra_Jawa_Kuna http://id.org/wiki/Sastra_Jawa_Pertengahan www.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Dialek_Surabaya http://id.wikipedia. 2006.wikipedia.org/wiki/Ebeg http://id.org/wiki/Tumpeng http://id.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Blangkon http://id.org/wiki/Reog http://id.sekarjagad.wikipedia.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Jula-juli http://map-bms.org/wiki/Sastra_Jawa_Modern http://id. Y Argo.org/wiki/Suku_Jawa http://id.com http://id.org/wiki/Dialek_Banyumas http://id.org/wiki/Dialek_Kedu http://id. Mitologi Kanjeng Ratu Kidul.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Dialek_Tegal http://id.org/wiki/Suku_Osing http://id.org/wiki/Gamelan_Jawa http://id.DAFTAR PUSTAKA Twikromo.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Sadran http://heritageofjava.wikipedia. Yogyakarta: Nindia Pustaka.wikipedia.org http://id.org/wiki/Jawa_Timur http://id.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Banyumasan http://id.org/wiki/Kromo_Inggil http://id.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Keris_Jawa http://jv.wikipedia.org/wiki/Dialek_Semarang http://id.org/wiki/Ruwatan kebudayaan Jawa .wikipedia.org/wiki/Kalender_Jawa http://jv.wikipedia.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Rumah_Jawa http://id.wikipedia.org/wiki/Sastra_Jawa_Baru http://id. http://id.

org/wiki/Priyayi kebudayaan Jawa .wikipedia.wikipedia.org/wiki/Tayuban http://id.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Seni_tradisional_Banyumasan http://map-bms.org/wiki/Lengger http://jv.wikipedia.org/wiki/Tari_Gambyong http://map-bms.org/wiki/Mendhem_ari-ari http://jv.org/wiki/Keris http://jv.wikipedia.http://id.wikipedia.org/wiki/Rasukan_adat_Jawa http://ms.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Brokohan http://id.wikipedia.org/wiki/Degung http://id.wikipedia.org/wiki/Soto_Sokaraja http://id.org/wiki/Tingkeban http://jv.wikipedia.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Daftar_masakan_Indonesia http://id.org/wiki/Pengantenan_adat_Jawa http://jv.wikipedia.org/wiki/Suku_Jawa http://id.wikipedia.org/wiki/Ketoprak http://jv.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful