BUDAYA NUSANTARA KEBUDAYAAN JAWA

Disusun oleh : Ainul Fuadi 02/3B Cory Denies Kartika 08/3B Fransiscus Asisi Edo HS 14/3B Irvan Widi Santoso 15/3B Laila Sahajah 18/3B

DIPLOMA III PENILAI / PBB SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA 2007

DAFTAR ISI DAFTAR ISI.........................................................................................................i PENDAHULUAN..................................................................................................1 PEMBAHASAN ...................................................................................................2 A. IDENTIFIKASI......................................................................................2 B. MITOLOGI KEBUDAYAAN JAWA.......................................................4 C. BAHASA DAN AKSARA JAWA...........................................................7 C.1. Bahasa Jawa...................................................................7 C.2. Aksara Jawa....................................................................14 D. MATA PENCAHARIAN........................................................................22 E. SISTEM KEMASYARAKATAN............................................................26 F. SISTEM KEKERABATAN...................................................................28 G. RELIGI ...............................................................................................43 H. PRODUK BUDAYA.............................................................................63 H.1. Seni Tari..........................................................................63 H.2. Seni Musik......................................................................80 H.3. Kalender Jawa................................................................89 H.4. Rumah Adat....................................................................95 H.5. Karya Sastra...................................................................102 H.6. Wayang...........................................................................108 H.7. Pakaian Adat...................................................................115 H.8. Keris................................................................................125 H.9. Makanan Khas................................................................133 H.10. Ketoprak dan Ludruk.....................................................138 H.11. Reog.............................................................................139 H.12. Kidung/Puisi..................................................................140 H.13. Lagu Adat Jawa............................................................141 I. SUB SUKU JAWA.................................................................................154 I. 1. Suku Osing......................................................................154 I. 2. Suku Tengger..................................................................156 J. UNGKAPAN-UNGKAPAN JAWA.........................................................157 K. PEMBANGUNAN DAN MODERNISASI..............................................159 PENUTUP...........................................................................................................161 DAFTAR PUSTAKA

i

BAB I PENDAHULUAN

Masyarakat Jawa merupakan “ladang” potensial yang masih memendam segudang informasi budaya untuk dapat digali seiring dengan perkembangan waktu. Harus diakui bahwa usaha untuk mengungkap alam pikiran, pandangan, dan kehidupan orang Jawa tidak akan pernah tuntas dan bahkan diperlukan cara-cara baru dalam mengungkap “misteri” kebudayaan Jawa tersebut. Magnis-Suseno (1984:1), mengatakan bahwa kebudayaan Jawa mempunyai ciri khas yaitu terletak dalam kemampuan luar biasa untuk membiarkan diri dibanjiri oleh gelombanggelombang kebudayaan yang datang dari luar dan dalam banjir tersebut dapat mempertahankan keasliannya. Lebih lanjut dikatakan bahwa kebudayaan Jawa justru tidak menemukan diri dan berkembang kekhasannya dalam isolasi, melainkan dalam mencerna masukan-masukan budaya dari luar. Hal tersebut menjadikan kebudayaan Jawa kaya akan unsur-unsur budaya yang kemudian menyatu dan kemudian menjadi milik kebudayaan Jawa seperti sekarang ini, di mana berbagai macam persilangan budaya justru telah memberikan warna terhadap kedinamisan budaya Jawa. Walaupun terpaan ideologi modern cukup kuat, namun manusia Jawa yang hidup dalam bayang-bayang Kasultanan Yogyakarta dan Surakarta masih tetap menyimpan dan memegang teguh pandangan budayanya misalnya tentang keberadaan makhluk supranatural, mitos, adat istiadat dan lain-lain. Tentunya pandangan-pandangan tersebut mengandung suatu makna yang dalam dan mempunyai keeratan hubungan dengan konsepsi manusia Jawa tentang dunia. Peta kognitif ini merupakan dokumen dan khazanah pengetahuan penting dalam usaha memahami budaya Jawa saat ini, apabila budaya dipandang sebagai sesuatu yang secara internal heterogen dan muncul dari peristiwa-peristiwa yang paling mendasarinya.

kebudayaan 1

Jawa

Tetapi di provinsi Jawa Barat. Pada umumnya. hal-hal itu masih menunjukkan satu pola ataupun satu sistim kebudayaan Jawa. Daerah di luar yang tersebut di atas disebut daerah Pesisir dan Ujung Timur. Selain suku Jawa baku terdapat subsuku Osing dan Tengger. Sifat ini konon berdasarkan watak orang Jawa yang ingin menjaga harmoni atau keserasian dan menghindari konflik. Mereka berasal dari pulau Jawa dan terutama ditemukan di provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur.Tetapi mereka juga terkenal sebagai suku bangsa yang tertutup dan tidak mau terus terang. dua daerah luas bekas kerajaan Mataram sebelum terpecah yakni Yogyakarta dan Surakarta merupakan pusat kebudayaan Jawa. mereka itu membentuk kesatuan-kesatuan hidup yang menetap di desadesa. di dalam wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta sebelah selatan terdapat kelompok-kelompok masyarakat orang Jawa yang masih mengikuti atau mendukung kebudayaan Jawa ini.BAB II PEMBAHASAN A. karena itulah mereka cenderung untuk diam dan tidak membantah apabila terjadi perbedaan pendapat. Sama halnya dengan daerah Kejawen lainnya. Banten dan tentu saja Jakarta mereka banyak ditemukan. adalah suku bangsa terbesar di Indonesia. Sudah barang tentu terdapat berbagai variasi dan perbedaan yang bersifat lokal dalam beberapa unsur kebudayaannya di daerah yang tercakup dalam kebudayaan Jawa. Namun. variasi dan perbedaan tersebut tidaklah besar karena apabila diteliti. maka dalam rangka seluruh kebudayan Jawa ini. Yogyakarta. Jumlahnya mungkin ada sekitar 90 juta data pada tahun 2004. Malang dan Kediri. Ada daerah yang disebut daerah Kejawen yaitu Banyumas. kebudayaan 2 Jawa . Penduduk Suku bangsa Jawa. Surakarta. IDENTIFIKASI Daerah kebudayaan Jawa sangatlah luas meliputi seluruh bagian tengah dan timur pulau Jawa. Madiun. Sehubungan dengan itu. Orang Jawa memiliki stereotipe sebagai suku bangsa yang sopan dan halus. Kedu.

Mereka juga terdapat di daerah pedesaan. juga terhadap orang yang umurnya lebih tua atau status sosialnya lebih tinggi. Demikian pada prinsipnya ada dua macam bahasa Jawa apabila ditinjau dari kriteria tingkatannya yaitu bahasa Jawa Ngoko dan Jawa Krama. Masyarakat Jawa terkenal akan sifat sinkretisme kepercayaannya. Semua budaya luar diserap dan ditafsirkan menurut nilai-nilai Jawa sehingga kepercayaan seseorang kadangkala menjadi kabur. yang dibangun di dekat-dekat rumah atau di halaman pekarangannya. Tetapi yang menganut agama Kristen. adalah suatu wilayah hukum yang sekaligus menjadi pusat pemerintahan tingkat daerah paling rendah. Di sini dijumpai sejumlah perumahan penduduk beserta tanah-tanah pekarangannya. dan yang sebagian berjajar menghadap jalan desa itu. Ada pula agama kepercayaan suku Jawa yang disebut sebagai agama Kejawen. Bentuk Desa Desa sebagai tempat kediaman yang tetap pada masyarakat orang Jawa. Bahasa Jawa Krama digunakan untuk berbicara dengan orang yang belum dikenal tetapi yang sebaya dalam umur dan derajat. Protestan dan Katholik juga banyak. dihubungkan oleh jalan-jalan desa. Di dalam pergaulan hidup maupun perhubungan-perhubungan sosial seharihari mereka berbahasa Jawa. Pada waktu mengucapkan bahasa daerah ini. Penganut agama Buddha dan Hindu juga ditemukan pula di antara masyarakat Jawa. tempat pemerintahan desa kebudayaan 3 Jawa . Ada di antara rumah-rumah itu yang dilengkapi dengan lumbung padi. Secara adminstratif desa langsung berada di bawah kekuasaan pemerintah kecamatan dan terdiri dari dukuh-dukuh. Kemudian sebuah dukuh dengan dukuh lainnya. Selain rumah-rumah tersebut yang tampak berkelompok. Kepercayaan ini terutama berdasarkan kepercayaan animisme dengan pengaruh Hindu-Buddha yang kuat. Tiap-tiap wilayah bagian desa ini diketuai oleh seorang Kepala Dukuh. ada juga Balai Desa. dan terhadap orang yang lebih muda usianya serta lebih rendah tingkatannya atau status sosialnya. yang satu sama lain dipisah-pisahkan dengan pagar-pagar bambu atau tumbuhtumbuhan. seseorang harus memperhatikan dan membeda-bedakan keadaan orang yang diajak berbicara atau yang sedang dibicarakan. di daerah pedalaman. Bahasa Jawa Ngoko dipakai untuk orang yang sudah dikenal akrab. yang luasnya sering tidak lebih dari 2 meter. berdasarkan usia ataupun status sosialnya.Orang Jawa sebagian besar secara nominal menganut agama Islam. kandang-kandang ternak dan perigi.

Hubungan manusia dengan makhluk alam nyata dengan makhluk supranatural tidak dibedakan. sedangkan tanah pertanian berupa sawah-sawah atau ladang-ladang terbentang di sekeliling desa. yang diadakan tiap-tiap 35 hari sekali. dan kehidupan orang Jawa tidak akan pernah tuntas dan bahkan masih diperlukan caracara baru dalam mengungkap misteri kebudayaan Jawa tersebut. Dengan demikian tidak mengherankan apabila dalam masyarakat Jawa terdapat perilaku-perilaku yang menandai hubungan antara manusia dan makhluk supranatural. biasanya ada sekolah-sekolah. langgar atau masjid. B. MITOLOGI KEBUDAYAAN JAWA MITOLOGI KANGJENG RATU KIDUL Pemahaman Tentang Mitos Masyarakat Jawa merupakan ladang potensial yang masih memendam segudang informasi budaya untuk dapat digali seiring dengan perkembangan waktu. Manusia yang hidup di dunia ini tidak hanya menjalin komunikasi dengan sesama saja melainkan dengan makhluk supranatural. Pandangan manusia Jawa terhadap dunia mengisyaratkan bahwa baik dunia yang secara fisik kelihatan maupun dunia yang tidak kelihatan merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Hal tersebut menjadikan kebudayaan Jawa kaya akan unsur-unsur budaya yang kemudian menyatu dan menjadi milik kebudayaan Jawa sekarang ini di mana berbagai macam persilangan budaya justru telah memberikan warna terhadap kedinamisan budaya Jawa. Adapun kuburan desa berada di lingkungan wilayah salah satu sebuah dukuh. melainkan dalam mencerna masukan-masukan budaya dari luar. Kecuali itu ada pasar yang kelihatan ramai pada hari pasaran. Jong (1985:10) menekankan bahwa di alam pikiran mistik dan kebudayaan 4 Jawa .berkumpul. Lebih lanjut dikatakan bahwa kebudayaan Jawa justru tidak menemukan diri dan berkembang kekhasannya dalam isolasi. pandangan. Untuk menampung kegiatan-kegiatan pendidikan keagamaan. Harus diakui bahwa usaha untuk mengungkapkan alam pikiran. atau mengadakan rapat-rapat desa. dan sosial ekonomi rakyat. mengatakan bahwa kebudayaan Jawa mempunyai ciri khasaitu terletak dalam kemampuan luar biasa untuk membiarkan diri dibanjiri oleh gelombanggelombang kebudayaan yang datang dari luar dan dalam banjir tersebut dapat mempertahankan keasliannya. Magnis-Suseno (1984:1).

Menurut William R. Tujuannya adalah mencari tempat kebudayaan 5 Jawa . Tetapi karena keberadan alam supranatural yang dipahami orang Jawa sampai taraf tertentu tidak dapat diterangkan maka praktik-praktik keagamaan yang mengarah pada penghormatan penguasa dunia supranatural justru menjadi pintu masuk dalam memahami alam pikiran orang Jawa tersebut. Sebenarnya masih banyak mitologi lainnya yang hidup dalam alam pikiran orang Jawa misalnya mitologi Kanjeng Ratu Kidul. sebenarnya terdapat banyak cerita tentang Kanjeng Ratu Kidul. Kanjeng Ratu Kidul tidak hanya merupakan legenda. penguasa gunung. tetapi tidak satupun yang diterima karena ia lebih mementingkan segi kerohanian. Salah satu cerita dalam Babad Tanah Jawi mengisahkan bahwa waktu kerajaan Pajajaran di bawah kekuasaan Prabu Mundingsari. Di dalam masyarakat Jawa ada mitologi religius yang hampir diterima secara universal. Putri tersebut mempunyai kebiasaan bertapa dengan meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi. 1987:91). Pada kesempatan ini. untuk sebagian orang Jawa ia benar-benar ada. ia mengusir putrinya sendiri dari kerajaan. yaitu mitologi wayang.mitos dapat tercermin suatu sikap hidup. prosa rakyat dapat dibagi dalam tiga golongan besar yaitu mite (myte). menjadi contoh model bagi tindakan manusia. kami akan berfokus pada mitologi Kanjeng Ratu Kidul. Bascom. Penolakan-penolakan itu membuat Sang Prabu marah dan prihatin terhadap putrinya. mitos berarti suatu cerita yang benar dan cerita ini menjadi milik mereka yang paling berharga. naik turun gunung dan menembus lebatnya hutan menuju ke arah timur. penguasa hutan dan lain-lain. Ratu Kidul dalam Mitos Di kalangan masyarakat Jawa. Selain itu. Mitos sebenarnya mempunyai arti secara tersirat yang perlu diketahui. ia mempunyai seorang putri bernama Ratna Suwidi. bermakna. karena memiliki sesuatu yang suci. Akibatnya. memberikan makna dan nilai pada kehidupan ini. yang menyebabkan ketaatan emosional dan intelektual yang mendalam. Kemudian Ratna Suwidi mengembara seorang diri. Sedangkan Levi-Strauss (1963:209). Menurut Mircea Eliade (dalam Susanto. yaitu merupakan model hubungan manusia dengan alam supranatural. Menurut Choy (1976:13). mengatakan bahwa mite adalah bahasa untuk diketahui. Banyak sekali raja dan pangeran yang melamarnya. mistik merupakan salah satu bentuk. legenda (legend). dan dongeng (folktale). bahkan isi dasar Javanisme.

Berdasarkan garis keturunan. Hajar Cemara Tunggal kemudian menceritakan kisah pelariannya dan siapa sebenarnya dirinya. ia menemukan puncak Gunung Kombang yang dirasa cocok untuk bertapa. Sang pertapa ini kemudian terkenal dengan kesaktiannya. ia didatangi Raden Sesuruh. Tetapi di tengah-tengah cerita tiba-tiba Sang Hajar berubah wujudnya. Dengan kesaktiannya. maka Ratna Suwidi kemudian berubah menjadi makhluk halus yang membawahi semua makhlus di seluruh tanah Jawa. seorang putra mahkota kerajaan Pajajaran yang melarikan diri bersama pengikutnya karena terjadi perebutan kekuasan. Pada suatu hari. ia mengubah diri menjadi lelaki. sebenarnya Hajar Cemara Tunggal adalah adik perempuan dari kakek Raden Sesuruh. tetapi keinginan Ratna Suwidi itu dapat terkabulkan apabila ia bersedia menjadi makhluk halus. Pohon cemara yang berada di puncak gunung tersebut diabadikan menjadi nama samarannya yaitu Hajar Cemara Tunggal. ia dapat mancala putra-mancala putri. Sang Hajar melanjutkan ceritanya dengan nada menghibur. Hajar Cemara Tungal didatangi dewa dan ditanya tentang keinginannya bertapa terus menerus. ia berubah menjadi putri cantik Ratna Suwidi. mereka akan kebudayaan 6 Jawa . Dikisahkan pula waktu Hajar Cemara Tunggal masih berada di puncak Gunung Kombang. bahwa kelak apabila Raden Sesuruh telah dinobatkan sebagai raja Majapahit. Seketika itu juga putri itu menghilang dari pandangan mata Raden Sesuruh dan menjelma menjadi Hajar Cemara Tunggal lagi. Akhirnya. Kemudian dewa berkata bahwa manusia tidak dapat hidup sepanjang zaman. Dengan rasa malu. Ratna Suwidi menJawab bahwa ia ingin sekali tidak bisa meninggal dunia dan bisa hidup sepanjang zaman. maka tempat itulah yang dapat digunakan oleh Raden Sesuruh untuk memegang kekuasaan dan menurunkan raja di tanah Jawa. Sang Hajar kemudian memberi petunjuk kepada Raden Sesuruh supaya berjalan terus ke arah timur. Raden Sesuruh terpesona dan jatuh cinta kepada putri cantik yang ada di depannya tersebut kemudian ia mendekati dan merayunya. Raden Sesuruh segera bersujud di kaki Sang Hajar meminta maaf. Berkat kesaktiannya.yang cocok untuk bertapa. Di puncak gunung itu ada sebatang cemara. Hajar Cemara Tunggal tahu maksud dan tujuan Raden Sesuruh yang datang menemuinya. Apabila nanti di suatu tempat menemukan batang pohon Kemaja berbuah hanya satu dan rasanya pahit. Dari tempat itulah Raden Sesuruh dapat membalas sakit hati atas perlakuan raja Pajajaran. Dengan menyetujui saran dewa tersebut.

Sang Hajar pasti akan datang bersama makhluk halus bawahannya. C. Selain itu juga digunakan untuk menjamin keselamatan dan ketentraman hidup serta digunakan sebagai pengantara manusia dengan alam supranatural. Hajar Cemara Tunggal tidak lagi bertapa di Gunung Kombang. kebudayaan 7 Jawa . Krama Madya. sebaiknya memanggil Sang Hajar. Ngoko sendiri dalam perkembangannya secara tidak langsung terbagi-bagi lagi menjadi ngoko kasar dan ngoko halus ( campuran ngoko dan kromo ). Jawa Tengah & Jawa Timur di Indonesia. Pada prinsipnya. Praktik-praktik keagamaan seperti penyelenggaraan Tari Bedaya Lambang Sari dan Tari Bedaya Semang merupakan usaha dari para penguasa Mataram untuk berhubungan dengan alam supranatural. Leach (1981:82) menjelasan bahwa aktivitas-aktivitas ritual merupakan jembatan antara dunia yang tampak dengan dunia datan kasat mata. Krama Inggil ( Krama Halus ). Dengan sekejap. Selama bertahta di samudera pasir atau Laut Selatan Jawa. Selanjutnya Krama itu terbagi lagi menjadi Krama. ia akan berubah wujud seperti semula yaitu sebagai putri yang cantik jelita dengan sebutan Kanjeng Ratu Kidul. Pesan terakhir Sang Hajar kepada Raden Sesuruh adalah apabila Raden Sesuruh beserta keturunannya yang menjadi raja tanah Jawa menemui halangan.1 Bahasa Jawa Bahasa Jawa adalah bahasa pertuturan yang digunakan penduduk suku bangsa Jawa terutama di beberapa bagian Banten. kelak akan ada keturunan Raden Sesuruh yang menjadi raja Jawa akan dapat mengawini Kanjeng Ratu Kidul Peran Mitologi Kanjeng Ratu Kidul Dalam modelnya. mitologi Kanjeng Ratu Kidul digunakan oleh penguasa Kasultanan Yogyakarta sebagai kerangka acuan dalam menjalankan pemerintahan. BAHASA DAN AKSARA JAWA C.bertemu kembali. Kelak setelah Raden Sesuruh memegang kekuasaan dan membawahi seluruh tanah Jawa. Krama Madya inipun agak berbeda antara Krama yang dipergunakan dikota / Sala dengan Krama yang dipergunakan di pinggiran / desa. Selain itu. melainkan pindah ke samudera pasir. Bahasa Jawa terbagi menjadi dua yaitu Ngoko dan Kromo. Sedangkan Krama Haluspun berbeda antara Krama Halus/Inggil yang dipergunakan oleh kalangan Kraton dengan kalangan rakyat biasa. Jawa Barat.

Dialek Kedu 3. Dialek Pantai Utara Timur (Jepara. Demak. meskipun tergolong rumpun Karena bahasa ini terbentuk dari gradasi-gradasi yang sangat berbeda Austronesia. Dialek Pekalongan 2. dan juga huruf Pegon yang diubah sesuai dari huruf Arab. Dialek Semarang 5. Pati) 6. Dialek Banyumasan 5. Dialek Blora 7. Dialek Indramayu-Cirebon 3. Perbedaan antara dialek satu dengan dialek lainnya bisa antara 070%. Dialek Surakarta 8. Dialek Madiun Kelompok kedua di atas sering disebut Bahasa Jawa Standar. yakni : • • dengan Dialek daerah. Kelompok Bahasa Jawa Bagian Tengah : 1. pengelompokannya mengacu kepada pendapat E. Uhlenbeck. The Hague: Martinus Nijhoff. Dialek Yogyakarta 9. 1964. yang dikembangkan dari huruf Pallava. Kelompok Bahasa Jawa Bagian Barat : 1.M. Dialek Bumiayu (peralihan Tegal dan Banyumas) Kelompok pertama di atas sering disebut bahasa Jawa ngapak-ngapak. Rembang. Dialek Bagelen 4. kebudayaan 8 Jawa . Untuk klasifikasi berdasarkan dialek daerah. Bahasa Jawa pada dasarnya terbagi atas dua klasifikasi dialek. Kudus. di dalam bukunya : "A Critical Survey of Studies on the Languages of Java and Madura". Sedangkan dialek daerah ini didasarkan pada wilayah. Dialek Banten 2. Bahasa Jawa ini memiliki aksara-nya sendiri. khususnya dialek Surakarta dan Yogyakarta.Bahasa Jawa dianggarkan digunakan sekitar dua per tiga penduduk pulau Jawa. Dialek Tegal 4. dan Dialek sosial Bahasa Indonesia maupun Melayu. karakter dan budaya setempat.

dianggap memiliki kedudukan/kekuasaan/pendidikan lebih tinggi. Ngoko kasar: “Eh. dianggap jelas lebih tua. Pak Guru. omahé mas Budi kuwi. nèng endi?” 3. seperti ayah. dihormati. 3. 6. b. Dialek Malang 4. Dialek Tengger 6. kakek.Kelompok Bahasa Jawa Bagian Timur : 1. * Bahasa Indonesia: “Maaf. aku arep takon. Ngoko alus: “Aku nyuwun pirsa. 5. Bojonegoro) 2. c. Dialek Surabaya 3. omahé Budi kuwi. Dialek Pantura Jawa Timur (Tuban. 4. Pak Lurah. Dialek Banyuwangi (atau disebut Bahasa Osing) Kelompok ketiga di atas sering disebut Bahasa Jawa Timuran. Dialek sosial dalam Bahasa Jawa berbentuk sebagai berikut : 1. 7. 2. nèng ndi?” kebudayaan 9 Jawa . Dipakai oleh penutur untuk berkomunikasi dengan lawan bicara yang: a. Ngoko Ngoko Andhap Madhya Madhyantara Kromo Kromo Inggil Kromo Inggil adalah suatu tingkatan kehalusan bahasa Jawa tutur. saya mau tanya rumah kak Budi itu. Ngoko meninggikan diri sendiri: “Aku kersa ndangu. Dialek Jombang 5. dalemé mas Budi kuwi. nèng*ndi?’ 2. ibu. 8. seperti majikan. di mana?” 1. Bagongan Kedhaton Kedua logat terakhir digunakan di kalangan keluarga Kraton dan sulit dipahami oleh orang Jawa kebanyakan.

griyané mas Budi niku. kula badhé takèn. Madya alus: “Nuwun sèwu. Krama inggil: “Nuwun sewu. dalem badhé nyuwun pirsa. Semarang termasuk daerah pesisir Jawa bagian utara. Boyolali dan Salatiga. misalnya dalam berbicara. lugas. Dialek ini berkembang dan digunakan oleh sebagian masyarakat Surabaya dan sekitarnya. teng pundi?” 6. teng pundi?” 5. Sikap basa basi yang diagung-agungkan wong Jawa. Krama andhap: “Nuwun sèwu. Meskipun demikian. bahasa Suroboyoan dapat dikatakan sebagai bahasa paling kasar. kula ajeng tanglet. Dialek ini tak banyak berbeda dengan dialek di daerah Jawa lainnya. Madya: “Nuwun sèwu. sebagai bentuk penghormatan atas orang lain. Secara struktural bahasa. tidak berlaku di kehidupan arek suroboyo. wonten pundi?” Beberapa jenis dialeg Jawa : ♦ Dialeg Surabaya atau lebih sering dikenal sebagai bahasa Suroboyoan adalah sebuah dialek bahasa Jawa yang dituturkan di Surabaya dan sekitarnya. Tapi dalam budaya arek suroboyo. griyanipun mas Budi punika. wong Jawa menekankan tidak boleh memandang mata lawan bicara yang lebih tua atau yang dituakan atau pemimpin. itu tanda bahwa orang tersebut sejatinya pengecut. dalemé mas Budi niku. dan terus terang. Yogyakarta. karena tidak berani memandang mata lawan bicara ♦ Dialek Semarang adalah sebuah dialek bahasa Jawa yang dituturkan di Semarang. wonten pundi?” 7. dalemipun mas Budi punika.4. dalemipun mas Budi punika. Pada umumnya menganggap dialek suroboyoan adalah yang terkasar tapi sebenarnya itu menunjukkan sikap tegas. wonten pundi?” 8. Solo. bahasa dengan tingkatan yang lebih halus masih dipakai oleh beberapa orang Surabaya. kula badhe nyuwun pirsa. karena dianggap tidak sopan. Krama: “Nuwun sewu. Walau letak daerah Semarang yang heterogan dari pesisir kebudayaan 10 Jawa . maka tak beda dengan daerah lainnya. kula ajeng tanglet.

Indonesia. Sebagian besar kosakata asli dari bahasa ini tidak memiliki kesamaan dengan bahasa Jawa standar (Surakarta/Yogyakarta) baik secara morfologi maupun fonetik. Jadi jika di Solo orang makan 'sego' (nasi). dan sebagainya. Jadi contohnya "Taman lele" tak bisa disingkat "Tam-lel" juga Gedung Batu tak bisa menjadi "Ge-bat". dialek Banyumasan banyak sekali bedanya. sebab tergantung kepada kesepakatan dan minat para penduduk Semarang mengenai frasa mana yang disingkat. Limang rupiah (5 rupiah) menjadi "mang-pi". sedangkan dalam dialek Banyumasan dibaca enak dengan suara huruf 'k' yang jelas. misalnya Lampu abang ijo (lampu lalu lintas) menjadi "Bang-Jo". seratus (100) menjadi "nyatus". Para pemakai dialek Semarang juga senang menyingkat frase. Namun tak semua frasa bisa disingkat. Beberapa kosakata dan dialeknya juga dipergunakan di Banten utara serta daerah Cirebon-Indramayu. Hal ini disebabkan bahasa Banyumasan masih berhubungan erat dengan bahasa Jawa Kuna (Kawi). ♦ Dialek Banyumasan atau sering disebut Bahasa Ngapak Ngapak adalah kelompok bahasa Jawa yang dipergunakan di wilayah barat Jawa Tengah. Dibandingkan dengan bahasa Jawa dialek Yogyakarta dan Surakarta. Logat bahasanya agak berbeda dibanding dialek bahasa Jawa lainnya. di wilayah Banyumasan orang makan 'sega'. ngoko andhap dan madya di Semarang ada di zaman sekarang. kebudayaan 11 Jawa . Perbedaan yang utama yakni akhiran 'a' tetap diucapkan 'a' bukan 'o'. dsb.(Pekalongan/Weleri. kata-kata yang berakhiran huruf mati dibaca penuh. itulah sebabnya bahasa Banyumasan dikenal dengan bahasa Ngapak atau Ngapak-ngapak. misalnya kata enak oleh dialek lain bunyinya ena. Kudus/Demak/Purwodadi) dan dari daerah bagian selatan/pegunungan membuat dialek yang dipakai memiliki kata ngoko. Selain itu. kebun binatang menjadi "Bon-bin".

selain Banyumas. Dialek Tegal merupakan salah satu kekayaan bahasa Jawa. tetapi orang Magelang memakai "aku" orang Temanggung yang di kotanya juga menggunakan "aku" di Parakan juga sebagian kecil menggunakan "aku"   "njagong": duduk (bahasa Jawa standar: lungguh) "Trus Priben": Lalu bagaimana (bahasa Jawa standar: "banjur "gandhul": pepaya piye" atau "terus piye")  ♦ Dialek Tegal Tegal termasuk daerah Jawa Tengah di dekat perbatasan bagian barat. Meskipun memiliki kosa kata yang relatif sama dengan bahasa Banyumas. dan makna kata. juga di daerah perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat. Magelang dan khususnya Temanggung. sebab merupakan pertemuan antara dialek "bandek" (Yogya-Solo) dan dialek "ngapak" (Banyumas). Letak Tegal yang ada di pesisir Jawa bagian utara. tersebar di timur Kebumen: Prembun. menjadikan dialek yang ada di Tegal beda dengan daerah lainnya. pengguna dialek Tegal tidak serta-merta mau disebut ngapak karena beberapa alasan antara lain: perbedaan intonasi. Ciri khas kebudayaan 12 Jawa . Pengucapan kata dan kalimat agak kental.Banten Cirebonan Utara sire sira/rika pisan pisan keprimen kepriben ♦ Banyumasan & Tegalan Jawa Standar Indonesia sira/rika kowe kamu Pisan banget sangat keprimen/kepriben/kepriwe piye/kepriye/kepripun bagaimana Dialek Kedu Dialek Kedu adalah sebuah dialek bahasa Jawa yang dituturkan di daerah Kedu. Dialek ini terkenal dengan cara bicaranya yang khas. pengucapan. Purworejo. Contoh: Kata-katanya masih menggunakan dialek ngapak dalam tuturannya agak bandek:  "Nyong": aku.

Bali.5 karo tengah.Selain pada intonasinya. Bahasa Jawa Kuna Kawi Krama Ngoko Fraksi • • • • 2 sa rwa eka dwi setunggal kalih siji loro 1 3 telu tri tiga telu 5 pat lima catur panca sekawan gangsal papat lima 4 6 nem sad nem nem 7 pitu sapta pitu pitu 8 wwalu as. yakni apa yang terucap sama dengan yang tertulis. dan Sasak). bahasa Jawa memiliki system bilangan yang agak rumit. separo. Kurikulum yang mereka terima seolah-olah merupakan 'paksaan' agar menggunakan menggunakan dialek Jawa Tengah dan Yogyakarta yang bukan merupakan bahasa ibu mereka. seprasekawan (Krama) 3/4 telung prapat.2 Aksara Jawa Hanacaraka atau dikenal dengan nama caraka adalah abjad / alat tulis yang digunakan oleh suku Jawa (juga Madura.t. Sunda. Aksara Jawa bila diamati lebih lanjut memiliki sifat silabik (kesuku-kataan). Untuk lebih jelas. tigang prasekawan (Krama) 1. Palembang. kalih tengah (Krama) C. dialek Tegal memiliki ciri khas pada pengucapan setiap frasanya. mari kita amati beberapa contoh dan tabel berikut ini: Dialek Tegal padha saka sega apa tuwa Bahasa Jawa Standar Podho Soko Sego Opo Tuwo Salah satu persoalan yang selalu dihadapi oleh para siswa sekolah (SD sampai SMA) adalah dalam hal mata pelajaran bahasa daerah (Jawa). sepalih (Krama) 1/4 saprapat. Bilangan dalam bahasa Jawa Bila dibandingkan dengan bahasa Melayu atau Indonesia. Hal ini kebudayaan 13 Jawa .a wolu wolu 9 sanga nawa sanga sanga 10 sapuluh dasa sedasa sepuluh 1/2 setengah.

manusia. cocok " tunggal batin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan   kebudayaan 14 Jawa . Data Sawala (Berbeda Pendapat). jumbuh. berupa nafas yang berkewajiban menyatukan Ketiga unsur jiwa itu dengan adalah jasat Tuhan.bisa dilihat dengan struktur masing-masing huruf yang paling tidak mewakili 2 buah huruf (aksara) dalam huruf latin. Adapula tafsir berbeda yang diajarkan oleh Pakubuwono IX. Da-Ta-Sa-Wa-La berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan data " saatnya ( dipanggil ) " tidak boleh sawala " mengelak " manusia ( dengan segala atributnya ) harus bersedia melaksanakan. Sebagai contoh aksara Ha yang mewakili dua huruf yakni H dan A. manusia Maksudnya dan ada yang mempercayakan. Tafsir tersebut adalah:  Ha-Na-Ca-Ra-Ka berarti ada " utusan " yakni utusan hidup. Padha Jayanya (Sama kuat/hebatnya). dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata "nabi". Sebagai contoh : Bila diucapkan. kewajiban manusia ( sebagai ciptaan ). Raja Kasunanan Surakarta. Maksudnya padha " sama " atau sesuai. Beberapa buah aksara itu bisa digabungkan secara langsung untuk membentuk sebuah kata. Aksara Na yang mewakili dua huruf yakni N dan A. menerima dan menjalankan kehendak Tuhan. dan merupakan satu suku kata yang utuh bila dibandingkan dengan kata "hari". Pa-Dha-Ja-Ya-Nya berarti menyatunya zat pemberi hidup ( Khalik ) dengan yang diberi hidup ( makhluk ). susunan aksara tersebut dapat membentuk kalimat: Hana Caraka (Terdapat Pengawal). ada yang dipercaya dan ada yang dipercaya untuk bekerja. Maga Bathanga (Keduanya mati).

sumarah pada garis kodrat.rasa cinta sejati muncul dari cinta kasih nurani  Ka Karsaningsun memayu hayuning bawana . tutus.arah dan tujuan pada Yang Maha Tunggal  Ra Rasaingsun handulusih .  Ma-Ga-Ba-Tha-Nga berarti menerima segala yang diperintahkan dan yang dilarang oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.mendasar. cipta mandulu. Maksudnya manusia harus pasrah. satu visi. meskipun manusia diberi hak untuk mewiradat.menerima hidup apa adanya  Ta Tatas.membentuk kasih sayang seperti kasih Tuhan kebudayaan 15 Jawa . unggul " sungguh-sungguh dan bukan menang-menangan " sekedar menang " atau menang tidak sportif.keutamaan. ketelitian dalam memandang hidup  Sa Sifat ingsun handulu sifatullah . Jumlah aksara / huruf pada hanacaraka berjumlah 20 buah tampak pada gambar berikut. totalitas. cipta dadi .pengharapan manusia hanya selalu ke sinar Illahi  Ca Cipta wening. Makna Huruf  Ha Hana hurip wening suci . titis. titi lan wibawa .adanya hidup adalah kehendak dari yang Maha Suci  Na Nur candra. gaib candra. warsitaning candara .hasrat diarahkan untuk kesejahteraan alam  Da Dumadining dzat kang tanpa winangenan . berusaha untuk menanggulanginya. Jaya itu " menang.

mengalirkan hidup semata pada tuntunan Illahi  Pa Papan kang tanpa kiblat .belajar pada guru nurani  Ba Bayu sejati kang andalani .Selalu berusaha menyatu memahami kehendak-Nya  Ya Yakin marang samubarang tumindak kang dumadi .ilmu manusia hanya terbatas namun implikasinya bisa tanpa batas  La Lir handaya paseban jati . maka kita harus menuliskan bentuk pasangan da. bagaimana Carakan bisa menuliskan huruf mati. Pasangan memiliki fungsi untuk menghubungkan suku kata yang tertutup (diakhiri) konsonan dengan suku kata berikutnya. Suku kata yang pertama suku kata ban. Untuk menuliskan ban ini pertama-tama adalah dengan menuliskan aksara Ba terlebih dahulu.yakin atas titah/kodrat Illahi  Nya Nyata tanpa mata. Untuk mematikan huruf Na. Bentuk pasangan disebutkan memiliki fungsi untuk menghubungkan suku kata yang tertutup konsonan dengan suku kata berikutnya.yakin/mantap dalam menyembah Ilahi  Ga Guru sejati sing muruki . Artinya bahwa huruf yang diikuti pasangan akan dimatikan sehingga menjadi konsonan.sesuatu harus dimulai dan tumbuh dari niatan  Nga Ngracut busananing manungso . ngerti tanpa diuruki .Hakekat Allah yang ada disegala arah  Dha Dhuwur wekasane endek wiwitane . Pada kasus di atas aksara Na diikuti pasangan Da yang berarti Na akan dibaca sebagai N.melepaskan egoisme pribadi manusia Pasangan Jika Carakan / aksara Jawa lebih bersifat silabis (kesuku-kataan).memahami kodrat kehidupan  Ma Madep mantep manembah mring Ilahi .Untuk bisa diatas tentu dimulai dari dasar  Ja Jumbuhing kawula lan Gusti . Wa Wujud hana tan kena kinira .menyelaraskan diri pada gerak alam  Tha Tukul saka niat . Kemudian menuliskan aksara Na karena aksara Na mewakili dua buah huruf latin yakni N dan A sehingga kita tidak bisa langsung menuliskan aksara da. Sebagai contoh kata "banda" yang bila dipisahkan menurut silabiknya adalah "ban" dan "da". kebudayaan 16 Jawa . Hal ini bisa diJawab dengan adanya pasangan.

Bentuk-bentuk pasangan itu adalah: Aksara Murda Pada aksara hanacaraka memiliki bentuk murda (hampir setara dengan huruf kapital) yang seringkali digunakan untuk menuliskan kata-kata yang menunjukkan :      Nama Gelar Nama Diri Nama Geografi Nama Lembaga Pemerintah Dan Nama Lembaga Berbadan Hukum.Semua aksara pokok yang ada di Carakan memiliki pasangannya masingmasing. Aksara Murda dan pasangannya kebudayaan 17 Jawa . Bentuk pasangan ini ada yang dituliskan di bawah dan ada juga yang di atas sejajar dengan aksara. Untuk itulah pada perangkat lunak ini kita gunakan huruf kapital untuk menuliskan aksara murda atau pasangannya). (Kata-kata dalam Bahasa Indonesia yang menunjukkan hal-hal diatas biasanya diawali dengan huruf besar atau kapital.

Aturan Pengunaan Untuk aturan penulisan Aksara murda ini hampir sama dengan penulisan aksaraaksara pokok di Hanacaraka. ditambah dengan beberapa aturan tambahan yakni : a. c. atau dengan menuliskan keseluruhan dari bentuk aksara mudra yang ditemui. Bila dalam satu kata atau satu kalimat ditemui lebih dari satu aksara murda. Bila ditemui aksara murda menjadi sigeg. maka ada dua aturan yang dapat dipergunakan yakni dengan menuliskan aksara murda terdepannya saja. Murda tidak dapat dipakai sebagai sigeg (konsonan penutup suku kata). contoh berikut bisa digunakan sebagai acuan untuk menuliskan Aksara Murda. Contoh Pemakaian Aksara Murda Untuk melengkapi aturan penggunaan aksara murda ini. maka dituliskan bentuk aksara pokoknya. b. Contoh: Aksara swara kebudayaan 18 Jawa .

adapun bentuk Aksara Swara ini adalah sebagai berikut : Aturan Penulisan Aksara Swara Dalam menuliskan Aksara Swara. Aksara Swara dalam penulisan Hanacaraka digunakan untuk menuliskan aksara vokal yang menjadi suku kata.Kegunaan Aksara Swara Aksara Swara sebagaimana aksara Murda memiliki fungsi dan kegunaan tertentu. Aksara ini tidak dilengkapi dengan bentuk pasangan. cecak. Aksara swara tidak dapat dijadikan sebagai aksara pasangan. b. maka sigegan itu harus dimatikan dengan pangkon. suku. Bila aksara swara menemui sigegan (konsonan pada akhir suku kata sebelumnya). Bentuk Aksara Swara Aksara Swara tidak seperti aksara-aksara yang lain. c. wulu dan lainnya. contoh berikut bisa digunakan sebagai acuan untuk menuliskan Aksara Murda. Contoh Penggunaan Aksara Swara Untuk melengkapi aturan penggunaan aksara murda ini. diikuti aturan penulisan aksara swara sebagai berikut : a. terutama yang berasal dari bahasa asing. Aksara swara dapat diberikan sandangan wignyan. Contoh: Sandangan kebudayaan 19 Jawa . layar. untuk mempertegas pelafalannya.

Sandangan adalah tanda yang dipakai sebagai pengubah bunyi di dalam tulisan Jawa. baru kemudian diberikan sandangan suku. Apabila selain wulu juga terdapat sandangan yang lain. (ta). tokoh doi dalam bahasa Indonesia. Aturan penulisan sandangan pepet tertera sebagai berikut: kebudayaan 20 Jawa . Apabila sandangan suku mengikuti pasangan aksara (ka). Sandangan suku dipakai untuk melambangkan bunyi vokal u yang bergabung dengan bunyi konsonan di dalam suatu suku kata. Sandangan Bunyi Vokal (Sandhangan Swara) Sandangan bunyi vokal ada lima buah. Adapun bentuk dari sandangan bunyi vokal ini adalah : Pemakaian Sandangan Wulu Sandangan Wulu dipakai untuk melambangkan vokal ( i ) di dalam suatu suku kata. 2.Sandangan suku dituliskan serangkai di bagian bawah akhir aksara yang mendapatkan sandangan itu. Pemakaian Sandangan Suku Penulisan sandangan suku dapat dituliskan dalam dua keadaan yaitu : 1. maka sandangan wulu digeser sedikit ke kiri. tolong. Di dalam tulisan Jawa. misalnya : Sandangan di dalam aksara Jawa dapat dibagi menjadi tiga golongan yakni sebagai berikut : 1. Pemakaian Sandangan Pepet Kegunaannya untuk dipakai untuk melambangkan vokal e di dalam suatu suku kata. yakni / / dan /a/. Penulisan sandangan suku pada aksara. siapa. pokok. maka pasangan ini harus dirubah dulu ke dalam bentuk aksara pokoknya dahulu. Sedangkan wulu ditulis di bagian atas akhir suatu aksara. Penulisan sandangan suku pada pasangan.  Vokal a dilafalkan seperti o pada kata bom. atau vokal U yang tidak dituliskan dengan aksara swara. seperti a pada kata pas. ada. aksara yang tidak mendapat sandangan diucapkan sebagai gabungan anatara konsonan dan vokal a. Letak sandangan sukunya sendiri tetap berada pada bagian bawah akhir dari pasangan. Vokal a di dalam bahasa Jawa mempunya dua macam varian. semua di dalam bahasa Indonesia. misalnya :  Vokal a dilafalkan /a/. Sandangan suku pada pasangan dituliskan mengikuti letak penulisan pasangan itu. atau (la).

kebudayaan 21 Jawa . Untuk aksara yang mendapatkan pasangan ini. kecuali untuk aksara yang mendapatkan pasangan yang dituliskan di atas seperti sandangan (ha). Untuk aksara pasangan yang ada di atas seperti pasangan (ha). dan (pa). Pemakaian Sandangan Taling Untuk membedakan penggunaan sandangan pepet dengan taling. sedangkan tarung ditaruh di belakang aksara pasangan. Untuk Sandangan taling tarung dituliskan mengapit aksara yang dibubuhi sandangan itu. Pengecualian: Sandangan pepet tidak dipakai untuk menuliskan suku kata re dan le yang bukan sebagai pasangan. dan (pa). Apabila selain pepet juga terdapat sandangan cecak. maka sandangan pepet digeser sedikit ke kiri dan sandangan cecak ditulis di dalam pepet. Sandangan Konsonan Penutup Suku Kata (Sandhangan Panyigeging Wanda) Sandangan penutup suku kata ada 4 buah. 2. Sebab suku kata re dan le yang bukan pasangan dilambangkan dengan tanda pacerek (re) dan Nga lelet (le). maka penulisan pepet berada di atas pasangannya. (sa). Pemakaian Sandangan Wignyan Sandangan wignyan adalah pengganti sigegan ha (konsonan ha di akhir suku). Penulisan wignyan diletakkan di belakang aksara yang dibubuhi sandangan itu. maka taling ditaruh didepan aksara sigeg.Sandangan pepet ditulis di bagian atas akhir aksara.  é untuk penulisan sandangan pepet  e untuk penulisan sandangan taling Pemaikaian Sandangan Taling Tarung Sandangan taling tarung dipakai untuk melambangkan bunyi vokal O yang tidak dituliskan dengan aksara swara di dalam suatu suku kata. Penempatan sandangan pepet pada aksara yang mendapatkan pasangan dituliskan sesuai dengan aturan di atas. Apabila selain pepet juga terdapat sandangan layar. maka dibedakan sebagai berikut . Sandangan taling tarung untuk aksara pasangan di tuliskan mengapit aksara yang dimatikan (yang menjadi sigeg). maka sandangan pepet digeser sedikit ke kiri dan sandangan layar ditulis di sebelah kanan pepet. (sa).

Pemakaian Sandangan Layar Hampir sama dengan sandangan wignyan. maka penulisan cecak di taruh di dalam sandangan pepet. senilai dengan pada lingsa. maka sandangan cecak dituliskan di belakang sandangan wulu. aksara penutup suku kata. di samping untuk mematikan aksara. Sandangan cecak dituliskan menurut aturan ini bila menemui keadaan aksara yang diikuti tidak memiliki sandangan di atas aksara selain dirinya. Sandangan pangkong ditulis di belakang aksara yang di bubuhi sandangan itu. yakni :  Sandangan cecak ditulis di atas aksara. Fungsi-fungsi itu adalah :  Sandangan pangkong dipakai sebagai penanda bahwa aksara yang dibubuhi sandangan pangkon itu merupakan aksara mati. Sandangan cecak apabila mengikuti sandangan pepet.  Sandangan pangkon dapat juga dipakai sebagai pembatas bagian kalimat atau rincian yang belum selesai. Pemakaian Sandangan Pangkon Tidak seperti ketiga sandangan sebelumnya. sandangan layar digunakan untuk pengganti sigegan ra (konsonan ra di akhir suku).  Sandangan cecak ditulis di atas aksara belakang sandangan wulu. o Contoh: bapak macul.) di dalam ejaan latin. Sandangan pangkon dapat ditulis untuk menghindarkan penulisan aksara yang bersusun lebih dari dua tingkat. Apa bila sandangan cecak mengikuti sandangan wulu. adhiku dolanan ijen. Pada kasus ini pangkong berfungsi ganda. Pemakaian Sandangan Cecak Sandangan cecak digunakan untuk menuliskan sigegan ng (sepasang konsonan nga di akhir suku kata). atau tanda koma (. ada tiga buah kondisi dalam menuliskan sandangan cecak.  Sandangan cecak ditulis di atas aksara di dalam pepet. atau aksara penyigeging wanda. aku angon sapi. sandangan pangkong memiliki beberapa fungsi. Penulisan layar ditulis dibagian atas akhir aksara yang mengikuti. o Contoh : benik klambi kebudayaan 22 Jawa .

maka sandangan cakra dan pepet ditulis menjadi cakra keret. Sandangan Pengkal Sandangan Pengkal dipakai untuk melambangkan konsonan y yang bergabung dengan konsonan lain di dalam suatu suku kata. suku kata kra memiliki gugus konsonan kr.3. Contoh: wong gedhe. Sandangan Cakra Keret Sandangan Cakra Keret dipakai untuk melambangkan gugus konsonan yang berunsur akhir konsonan r dengan diikuti vokal e pepet. Bentuk tanda baca yang ditangani dalam perangkat lunak ini ada 4 buah yakni : 1) Adeg-adeg Adeg adeg dipakai di depan kalimat pada tiap-tiap awal alinea. Di dalam Hanacaraka ada lima buah gugus konsonan yang digunakan dalam bentuk sandangan. Pada Lingsa Pada lingsa dipakai pada akhir bagian kalimat sebagai tanda intonasi setengah selesai. paragraf dan lainnya. cecak. Tanda cakra keret ditulis serangkai di bawah bagian akhir aksara yang diberikan tanda keret itu. cakra la. Tanda pengkal ditulis serangkai di belakang aksara yang diberi tanda pengkal. Dan apa bila sandangan itu adalah pepet.). Tanda Baca Dalam Hanacaraka terdapat pula tanda-tanda baca yang digunakan dalam penulisan kalimat. lan pakulitane ireng. Sandangan Gugus Konsonan Gugus konsonan adalah kumpulan dari dua konsonan dalam Hanacaraka yang akan membentuk suatu suku kata. dhuwur. Sandangan Cakra Sandangan cakra merupakan penanda gugus konsonan yang unsur terakhirnya berwujud konsonan r. cakra wa. Tanda ini hampir setara dengan penggunaan koma(. sebagai contoh kraton yang dapat dipisah menjadi kra-ton. Aksara yang sudah diberikan cakra dapat diberikan sandangan lagi selain sandangan cakra. 2) kebudayaan 23 Jawa . Dengan kata lain cakra keret digunakan sebagai ganti tanda cakra yang mendapatkan penambahan sandangan pepet. Tanda cakra ditulis serangkai di bawah bagian akhir aksara yang diberi tanda cakra itu.

pikirane goreh. Tanda ini hampir setara dengan titik. yaitu yang bertempat tinggal di daerah-daerah yang lebih rendah mengolah tanah-tanah pertanian tersebut untuk dijadikan sawah. Banyak variasi pekerjaan sesuai dengan keahlian dan keterampilan yang dimiliki.  Pada pangkat dipakai untuk mengapit petikan langsung.  Pada pangkat dipakai untuk mengapit angka. "sapa kancamu" D. bertani adalah juga merupakan salah satu mata pencaharian hidup dari sebagian besar masyarakat orang Jawa di desadesa. Selain sumber penghidupan yang berasal dari pekerjaan-pekerjaan kepegawaian. lan gelas. banyak diantara suku Jawa bekerja sebagai buruh kasar dan tenaga kerja indonesia seperti pembantu. pertukangan dan perdagangan. Contoh: wis meh jam telu esuk. 4) Pada Pangkat  Pada pangkat dipakai pada akhir pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian. Dan tentunya kini semakin bertambah banyak. Di dalam melakukan pekerjaan pertanian ini. dan buruh di hutan-hutan di luar negeri yang mencapai hampir 6 juta orang. goreh amarga mikirna bojone kang wis telung dina iki durung mulih.3) Pada Lungsi Pada lungsi dipakai pada awal suatu kalimat. Biasanya disamping tanaman padi. diantara mereka ada yang menggarap tanah pertaniannya untuk dibuat kebun kering ( tegalan ). Contoh: Ibu mundhut emas 75 gram. Terutama bidang Administrasi Negara dan Militer banyak didominasi orang Jawa. terutama mereka yang hidup di daerah pegunungan. MATA PENCAHARIAN Di Indonesia. Contoh: Ibu ngendika. orang Jawa tidak menonjol dalam bidang Bisnis dan Industri. sumini durung bisa turu. Meski banyak pengusaha Indonesia yang sukses berasal dari suku Jawa. Contoh: aku arep tuku bala pecah : mangkok. piring. beberapa jenis tanaman palawija juga ditumbuhkan baik sebagai tanaman utama di kebudayaan 24 Jawa . orang Jawa bisa ditemukan dalam segala bidang. Sedangkan yang lain.

tegalan maupun sebagai tanaman penyela di sawah pada waktu musim kemarau dimana air sangat kurang untuk pengairan sawah-saah itu. Hubungan transksi semacam ini. Kemudian jika si peminjam uang dan pemilik sawah tersebut berhasil mengembaikan uang pinjamannya pada suatu waktu. dan lain-lain. membatik. Apabila orang yang tidak mempunyai tanah ingin mendapat hasil dengan cara bagi hasil. sebagia bunganya. Terutama untuk bagi hasil tanaman palawija kacang brol. kacang tanah. Kalau ia menerima sepertiga bagian saja. kacang tunggak. kedelai. yang disebut adol oyodan. ialah hanya menyewakan sawahnya untuk satu tahun. diantaranya adalah ketela pohon. Orang yang menyewa tanah. mencetak batu merah. menyewa tanah. Banyak orang di desa tidak memiliki tanah-tanah pertanian yang luas. maka tanha pertanian tadi diserahkan kembali kepadanya. adapula beberapa sumber pendapatan lain yang diperoleh dari usaha-usaha kerja sambilan membuat makanna tempe. sistem itu disebut mertelu. Tanaman penyela tersebut. atau secara adol ceplik. Pemilik yang kelebihan dapat menjual sawah seperti itu kepada orang lain. ketela rambat. bagi hasil atau menggadai tanah. dimana ia mendapat tanha pertanian sebagai barang gadaian untuk diolah. karena ia kaya dapat memberikan sejumlah uangnya kepada orang pemilik sawah yang memerlukan. artinya ia meminjamkan uang kepada orang lain. menganyam tikar. kacang brol. ialah menjual lepas sawahnya. misalnya untuk satu masa panen. Orang seperti itu terpaksa bekerja menjadi buruh tani. Sudah barang tentu cara-cara bagi hasil ini tergantung kepada keadaantingkat kesuburan tanah pertanian tersebut. Walaupun demikian ornag yang menggadai tanah itu sudah dapat memungut hasil pertaniannya setidak-tidaknya satu kali masa panen. artinya memperoleh separo bagian hasil panennya. Selain sumber penghasilan dari lapangan pekerjaan pokok bertani tersebut. maka ada yang disebut adol sende. maka sistem itu disebut maro. dan menjadi tukang-tukang kebudayaan 25 Jawa . Akhirnya jika orang hendak menggadai tanah. bahakna banyak juga yang tidak mempunyaianya sama sekali. si pemilik sawah biasanya hanya akan menerima seperlima bagian dari seluruh hasil panenan sawahnya. umumnya dilakukan oleh kedua belah pihak dengna disaksikan oleh salah seorang anggota Pamong Desa. mbotok atau membuat minyak goreng kelapa. Sawah itu ada yang dimiliki sendiri dan sawah ini disebut sawah sanggan dan sawah yasan. Dalam hal ini dia bisa menjual secara adol tahunan.

Gelar seorang priyayi juga dapat meningkat seiring dari usianya. Abangan digunakan untuk mereka yang bukan priyayi dan juga bukan santri. ketika menapak dewasa (18 atau 21 tahun) bertambah lagi menjadi Bandara Raden Mas Aryo. santri dan abangan. yang berarti kekasih Dalam kebudayaan Jawa. Misalnya ia menduduki jabatan pemimpin ksatrian maka gelarnya akan berubah menjadi Gusti Pangeran Adipati Haryo. Istilah priyayi menjadi terkenal saat Clifford Geertz melakukan penelitian tentang masyarakat Jawa pada tahun 1960-an. Namun menurut Robson (1971) kata ini bisa pula berasal dari kata Sansekerta priyā. Yang dimaksud adalah para adik raja. Namun penggolongan ini tidaklah terlalu tepat. SISTEM KEMASYARAKATAN  Lapisan sosial  priyayi Kata priyayi konon berasal dari dua kata Jawa para dan yayi yang secara harafiah berarti "para adik". batu atau reparasi sepeda dan lapangan-lapangan pekerjaan lain yang mungkin dikerjakan.kayu. Kelompok santri digunakan untuk mengacu pada orang yang memiliki pengetahuan dan mengamalkan agama. Gelar dalam golongan ini terbagi menjadi bermacam-macam berdasarkan tinggi rendahnya suatu kehormatan. karena pengelompokkan priyayi-non priyayi adalah berdasarkan garis keturunan seseorang. Dan setiap kedudukan yang ia jabat ia akan memilki gelar tambahan atau gelar yang berubah nama. E. Golongan priyayi tertinggi disebut Priayi Ageng (bangsawan tinggi). istilah priyayi atau berdarah biru merupakan suatu kelas sosial yang mengacu kepada golongan bangsawan. dan mengelompokkan masyarakat Jawa ke dalam tiga golongan: priyayi. Pada saat dewasa dan telah memiliki jabatan dalam hierarki kebangsawanan. ia akan memiliki gelar yang berbeda dari gelar yang telah ia miliki. jadi nama lengkapnya adalah Raden Mas Bomantara. kebudayaan 26 Jawa . Misalnya ketika seorang anak laki-laki lahir diberi nama Bomantara. Beberapa gelar dari yang tertinggi hingga dengan hanya satu gelar saja yaitu Raden. ketika menginjak akil balik gelarnya bertambah satu kata menjadi Bandara Raden Mas. Suatu golongan tertinggi dalam masyarakat karena memiliki keturunan dari keluarga kerajaan. ia bergelar Raden Mas.

sehingga menjadi Bandara Raden Mas (disingkat BRM). mereka memiliki sawah. para pamong desa harus sering menggerakkan kebudayaan 27 Jawa . Desa-desa di Jawa sering dibagi-bagi menjadi bagian-bagian yang disebut dukuh. b. ada priyayi yang santri dan ada pula yang abangan. Ningrat  Adalah keluarga keraton dan keturunan bangsawan lainnya. Misalnya seorang laki-laki ningrat yang merupakan keturunan langsung (generasi pertama) dari raja/pemimpin yang memerintah akan mendapat tambahan Bandara (baca "bandoro") di depan gelarnya. Yang biasanya mempunyai gelar-gelar yang menandakan tingkat kebangsawanannya. biasanya hidup didesadesa dengan sesuai dengan mata pencaharian mereka sebagai petani. tukang dan pekerja kasar lainnya. Joko. c. Wong Cilik  Merupakan golongan masyarakat yang paling bawah. bahkan ada pula yang non muslim. dan masih tinggal bersama orang tuanya atau tinggal (ngenger) dirumah orang lain. Kuli gandok atau lindung Mereka adalah orang laki-laki yang sudah kawin.sedangkan pengelompokkan santri . Dalam realita. Wong baku merupakan lapisan tertinggi dalam lingkungan desa di Jawa. atau bujangan Mereka semua belum menikah. sinoman.abangan dibuat berdasarkan sikap dan perilaku seseorang dalam mengamalkan agamanya (Islam). Golongan ini juga dapat digolongkan lagi menjadi : a. Dalam hal memelihara dan membangun masyarakat desanya. mereka adalah keturunan orang-orang yang dahulu yang pertama kali menetap didesa.sehingga terpaksa menetap di kediaman mertuanya. akan tetapi golongan bujang ini bisa mempunyai tanah baik dari pembelian atau warisan. akan tetapi tidak mempunyai tempat tinggal sendiri. rumah. serta pekarangannya. oleh karena itu dalam susunan kepemimpinan desa tiap-tiap dukuh diketuai oleh kepala dukuh.

Perkawinan ngarang wulu adalah suatu perkawinan seorang duda dengan seorang wanita salah satu adik dari almarhum istrinya. Upacara. Dalam adat masyarakat Jawa dikenal adanya ngarang wulu serta wayuh. yaitu seorang yang mendapat istri sebagai pemberian atau penghadiahan dari salah satu lingkungan keluarga tertentu. Pelamaran biasa b. yaitu suatu perkawinan seorang pria dan wanita atas kemauan kedua orang tua mereka. memperbaiki dan membuat sarana fasilitsa pedesaan. yaitu pihak kerabat si gadis yang melamar si jejaka. e. ialah seorang jejaka yang telah mengabdikan dirinya pada kerabat si gadis. terlebih dahulu diselenggarakan berbagai upacara-upacara sampai dilaksanakannya peresmian perkawinan. Adapun wayuh adalah suatu perkawinan lebih dari satu istri (poligami). F. misalnya keluarga keraton atau keluarga kyai agung. Semua kakak laki-laki atau wanita ayah dan ibu beserta istri atupun suami masing – masing diklasifikasikan menjadi satu dengan istilah siwa atau uwa. yaitu : a. Triman. Jadi merupakan pernikahan sororat.upacara tersebut adalah  Nakokake Seorang pria pertama-tama datang ke kediaman orang tua si gadis dengan didampingi oleh orang tua sendiri atau wakil orang tuanya untuk menanyakan kebudayaan 28 Jawa . d. Ngunggah-ngunggahi. Masyarakat Jawa mengenal beberapa sistem pernikahan. Magang atau ngenger.masyarakat dengan gugur gunung atau kerik desa guna bekerja sama membersihkan. c. Menurut adat Jawa apabila akan diadakan suatu perkawinan. Paksa (peksan). SISTEM KEKERABATAN Sistem kekerabatan masyarakat Jawa berdasarkan prinsip keturunan bilateral. Adapun adik dari ayah dan ibu diklasifikasikan ke dalam dua golongan yang dibedakan menurut jenis kelamin menjadi paman dan bibi.

Biasanya dia juga menyewakan pakaian pengantin. Pasangan pengantin akan hidup baik dan bahagia dimana saja. Persiapan yang paling penting adalah Ijab (catatan agama dan catatan sipil). Dia mengurus dandanan dan pakaian pengantin laki-laki dan pengantin perempuan yang bentuknya berbeda selama pesta pernikahan. yaitu : • Dua pohon pisang dengan setandan pisang masak berarti: Suami akan menjadi pemimpin yang baik di keluarga. pembawa acara. yakni anggota kerabat dekat menurut garis laki – laki (patrilineal). perhiasan dan perlengkapan lain untuk pesta pernikahan. Jika orang tua si gadis telah meninggal. 500. dekorasi dari ruangan resepsi. musik gamelan dan tarian. Panitia mengurus seluruh persiapan perkawinan: protokol. kebudayaan 29 Jawa .  Persiapan Penunjukkan Pemaes.  Nontoni Calon suami mendapat kesempatan untuk melihat calon istrinya. Banyak yang harus dipersiapkan untuk setiap upacara pesta pernikahan. Besarnya panitia itu tergantung dari latar belakang dan berapa banyaknya tamu yang di undang (300. transportasi. pintu gerbang dari rumah orangtua wanita dihias dengan Tarub (dekorasi tumbuhan). keluarga dari kedua mempelai. pidato pembuka. Untuk itu dibentuk sebuah panitia kecil yang terdiri dari teman dekat. Biasanya sehari sebelum pesta pernikahan. apakah si gadis sudah ada empunya atau belum (legan). terdiri dari berbeda Tuwuhan (tanaman dan daun). 1000 atau lebih). dimana tercatat sebagai pasangan suami istri. wali untuk Ijab. dukun pengantin perempuan di mana menjadi pemimpin dari acara pernikahan. komunikasi dan keamanan. makanan dan minuman. hal itu yang disebut nakokake kepada wali.kepadanya. Pohon pisang sangat mudah tumbuh dimana saja.

Bentuk daun seperti beringin. Cemeti: Pasangan pengantin akan selalu hidup optimis dengan hasrat untuk kehidupan yang baik. kebudayaan 30 Jawa • .• Sepasang Tebu Wulung berarti: Seluruh keluarga datang bersama untuk bantuan nikah. alang-alang. pengalaman dan kesabaran. dadap srep berarti: Pasangan pengantin akan hidup aman dan melindungi keluarga. Cengkir Gading berarti: Pasangan pengantin cinta satu sama lain dan akan merawat keluarga mereka. • • • Bekletepe Bleketepe yang berada di atas pintu gerbang berarti menjauhkan dari gangguan roh jahat dan menunjukan di rumah mana pesta itu diadakan. Itu dekorasi sangat indah dan mempunyai arti yang luas. pintar dan bijaksana. • Mempunyai bentuk seperti gunung. mojo-koro. • Keris: Melukiskan bahwa pasangan pengantin berhati-hati dalam kehidupan. berarti laki-laki harus punya banyak pengetahuan. Selain pemasangan tarub juga dikenal adanya Kembar Mayang yang merupakan karangan dari bermacam daun (sebagian besar daun kelapa di dalam batang pohon pisang). Gunung itu tinggi dan besar.

di dapur. Sajen diletakan di semua tempat di mana pesta itu diadakan. dan lain-lain.• • Payung: Pasangan pengantin harus melindungi keluarganya. Jawa 31 kebudayaan . Itu adalah simbol yang sangat berarti. Bunga Patra Manggala: Itu digunakan untuk memperindah karangan. tahu. Daun Beringin: Pasangan pengantin akan selalu melindungi keluarganya dan masyarakat sekitarnya. Sebelum memasang Tarub dan Bekletepe harus membuat hidangan spesial yang dinamakan Sajen. Kelapa muda. Tumpeng Gundul. Sajen berarti untuk mendoakan leluhur dan untuk melindungi dari gangguan roh jahat. Burung: Pasangan pengantin mempunyai motivasi hidup yang tinggi. berarti pasangan pengantin akan selalu mempunyai pikiran yang jernih dan tenang dalam mengadapi masalah. diantaranya di kamar mandi. Daun Dadap srep: Daun yang dapat digunakan mengompres untuk menurunkan demam. Makanan: ayam. Pisang raja dan buah lainnya. itu digunakan untuk melindungi gangguan setan. di bawah dekorasi Tarub. di jalan dekat rumah. • • • • • Daun Dlingo Benglé: Jamu untuk infeksi dan penyakit lainnya. cepat berpikir dalam mengambil keputusan untuk keluarganya. telur. • Siraman sajen terdiri dari: • • • • • • Tumpeng Robyong. Daun Kruton: Daun yang melindungi mereka dari gangguan setan. di mana Tuhan Pencipta melidungi kami. Belalang: Pasangan pengantin akan giat. Tradisionil Sajen (persembahan) dalam pesta adat Jawa itu sangat penting. nasi kuning dengan hiasan. daging. nasi kuning tanpa hiasan. Tujuh macam bubur. di bawah pintu gerbang.

Buna Telon (kenanga. Aroma . Jumlah orang yang melakukan Siraman itu biasanya tujuh orang. Sekarang lebih banyak diadakan di taman.berfungsi seperti sabun. Tidak hanya orangtua. sehari sebelum Ijab dan Panggih. magnolia) dengan air Suci.mawar.lima warna . Rokok dan kretek. Bahasa Jawa tujuh itu PITU. Makna dari pesta Siraman adalah untuk membersihkan jiwa dan raga. Daftar nama dari orang yang melakukan Siraman itu sangat penting. mereka memberi nama PITULUNGAN (berarti menolong). magnolia dan kenanga .di campur dengan air. Siraman di adakan di rumah orangtua pengantin masing-masing. Lantera. tetapi juga keluarga dekat dan orang yang dituakan. Siraman biasanya dilakukan di kamar mandi atau di taman. ditutup dengan: kebudayaan 32 Jawa . lemper.• • • • • Kue manis. santan. Tradisionil shampoo dan conditioner (abu dari merang. Kursi kecil. biasanya terbuat dari tembaga atau perunggu. Pesta Siraman ini biasanya diadakan di siang hari. Mereka menyeleksi orang yang bermoral baik. Yang harus dipersiapkan: • • • • • • Baskom untuk air. melati. melati. gayung dari 2 kelapa. letakkan bersama. cendol. Air dari sumur atau mata air. air asam Jawa). Teh dan kopi pahit. Bunga Setaman .  Siraman.

beberapa macam daun . Dia mendudukkan di kursi dan berdoa. dia siap untuk di dandani. Setelah Kendi itu kosong. Kemudian mereka menyiramkan air ke atas kepala.bango tulak (kain dengan 4 macam motif) . pengantin duduk di kamar pengantin. berarti air suci dan simbol dari intisari kehidupan. handuk. Akhirnya. Orang pertama yang menyiramkan air ke pengantin adalah ayah.dlingo benglé (tanaman untuk obatobatan) . • • • • Memakai kain putih selama Siraman. pengantin wanita memakai kebaya dan kain batik dengan motif Sidomukti atau Sidoasih. Setelah mereka. Handuk.kain putih . Orang terakhir yang melakukan Siraman adalah Pemaes atau orang sepesial yang telah ditunjuk. Dalam pelaksanaan upacara Siraman Pengantin perempuan/laki-laki datang dari kamarnya dan bergabung dengan orangtuanya. Mereka menyiramkan air ke tangannya dan membersihkan mulutnya tiga kali. Keluarga dari pengantin wanita mengirim utusan untuk membawa air-bunga ke keluarga dari pengantin laki-laki. tangan dan kaki juga sebanyak tiga kali. Kendi. Pemaes atau orang yang ditunjuk memecahkan kendi ke lantai dan berkata: 'Wis Pecah Pamore' . Pengantin perempuan/laki-laki duduk dengan kedua tangan di atas dada dengan posisi berdoa. Dia mengikat rambut ke belakang dan mengeraskannya (gelung). leher. orang lain boleh melakukan Siraman.lurik (motif garis dengan potongan Yuyu Sekandang dan Pula Watu). Beberapa orang jalan di belakangnya dan membawa baki dengan kain batik. Air ini diletakan di rumah pengantin laki-laki. Pemaes mengeringkan rambutnya dengan handuk dan menberi pewangi (ratus) di seluruh rambutnya. dan lain-lain. Dan ini akan digunakan setelah Siraman. Ibu boleh menyiramkan setalah ayah. wajah.berarti dia itu tampan (menjadi cantik dan siap untuk menikah).• Tikar . kebudayaan 33 Jawa . Itu adalah simbol dari kemakmuran hidup.  Upacara Ngerik Setelah Siraman. Pemaes menggunakan tradisionil shampoo dan conditioner. Itu Banyu Suci Perwitosari. Kain batik dari Grompol dan potongan Nagasari. Pemaes sangat behati-hati dalam merias pengantin. Dia diantar ke tempat Siraman. telinga. Dandanan itu tergantun dari bentuk perkawinan. Setelah itu Pemaes membersihkan wajahnya dan lehernya.

semuanya harus wanita. Mulai dari besok. kacang. Suruh Ayu (daun betel). dan lain-lain) di lapisi dengan kain Bango Tulak. Jawa 34 • • • • kebudayaan . Ukub (baki dengan bermacam pewangi dari daun dan bunga) diletakan di bawah tempat tidur. beras. Biasanya mereka akan memberi saran dan nasihat. suaminya yang akan bertanggung Jawab. Yang harus diletakan di kamar pengantin : • • Satu set Kembar Mayang. Kacang Areca. Dua kendi (diisi dengan bumbu. calon pengantin wanita akan menjadi cantik sama seperti Dewi. Pada malam hari. Dua kendi (diisi dengan air suci) di lapisi dengan daun dadap srep. jamu. Keluarga dan teman dekat dari pengantin wanita akan datang berkunjung. Dewi akan datang dari kayangan. Menurut kepercayaan kuno. Pengantin wanita harus tinggal di kamar dari jam enam sore sampai tengah malam di temani dengan beberapa wanita yang dituakan. Midodareni itu berasal dari kata Widodari yang berarti Dewi. Upacara Midodareni Pelaksanaan pesta ini mengambil tempat sama dengan Ijab dan Panggih. Orangtua dari pengantin wanita akan menyuapkan makanan untuk yang terakhir kalinya.

Kedua keluarga menyetujui pernikahan. minyak. Buah-buahan. dan lain-lain. dia hanya diberi segelas air dan kebudayaan 35 Jawa . Di kamar lain. • Beras. Di tengah malam semua sajen di ambil dari kamar. • • • Kain Kebaya. Dia duduk di serambi depan rumah bersama dengan beberapa teman dan keluarga. Hanya pengantin laki-laki tidak bisa bertamu ke kamar pengantin perempuan yang sudah bagus di dekorasi. Selama itu. mengharapkan kesehatan. • Beberapa kain batik dengan corak berbeda. Keluarga dan tamu dapat makan bersama. gula. kedua keluarga beramah tamah.  Peningsetan atau Srah-Srahan Peningsetan berasal dari kata singset (berarti ikatan). Hanya keluarganya boleh masuk ke rumah. garam. Dalam kesempatan ini. Keluarga dari pengantin laki-laki berkunjung ke keluarga dari pengantin perempuan. keluarga dan teman dekat dari pengantin wanita bertemu dengan keluarga dari pengantin laki-laki. mengharapkan untuk kebahagiaan dan kehidupan yang baik. tetapi dia tidak boleh masuk ke rumah. Sumbangan uang untuk pesta pernikahan. • • Cincin untuk pasangan pengantin.• Tujuh macam kain dengan corak letrek. Mereka akan menjadi besan. mengharapkan untuk keselamatan. Pengantin laki-laki tiba bersama dengan keluarganya. Setagen putih untuk tanda kekuatan. tanda dasar kehidupan. Mereka membawa hadiah: • Suruh Ayu (daun betel).

utusan dari keluarga pengnatin laki-laki mengatakan kepada tuan rumah bahwa mereka akan mengambil alih tanggungJawab pengantin laki-laki. Mereka dihormati seperti Raja dan Ratu di hari itu. Pelaksanaan dari Ijab sesuai dengan agama dari pasangan pengantin. Setelah pengunjung meninggalkan rumah. Tempat di adakan Ijab diletakan Sanggan atau Sajen disekitarnya.  Upacara Ijab Upacara ijab merupakan syarat yang paling penting dalam mengesahkan pernikahan. Utusan menyatakan bahwa pengantin laki-laki tidak kembali ke rumah. Pengantin laki-laki juga berpakaian khusus untuk upacara ini. Setelah selesainya rangkaian persiapan maka dilanjutkan dengan upacara perkawinan. Pengantin wanita dengan gelungan. Itu disebut Nyantri. Sebelum keluarganya meninggalkan rumah. pengantin lakilaki boleh masuk ke rumah. Dengan maksud agar dia bisa menahan lapar dan godaan. Orangtua dari pengantin perempuan akan mengurus penginapannya. tetapi tidak ke kamar pengantin. Upacara perkawinan menurut adat Jawa terdiri dari beberapa tahapan yaitu :  Upacara Panggih Suara sangat bagus dan mistik dari Gamelan digabungkan dengan tradisi Panggih atau Temu: pertemuan antara pengantin wanita yang cantik dengan pengantin laki-laki yang tampan di depan rumah yang di hias dengan kebudayaan 36 Jawa . perhiasan emas dan kebaya untuk saat ini. Dia boleh makan hanya setelah malam hari. Pasangan pengantin muncul terbaik. Nyantri dilakukan untuk keamanan dan praktisnya. minyak rambut mengkilap. dengan pertimbangan bahwa besok dia harus berpakaian pengantin dan siap untuk Ijab dan upacara pernikahan lain.tidak boleh merokok.

Menurut kepercayaan kuno. Pengantin perempuan mencuci kaki pengantin laki-laki dengan menggunakan air dicampur dengan bermacam bunga. Itu melukiskan bahwa pengantin laki-laki siap untuk menjadi ayah yang bertangung Jawab dan pengantin perempuan akan melayani setia suaminya. Pengantin laki-laki di antar oleh keluarga dekatnya (tetapi bukan orangtuanya karena mereka tidak boleh berada selama upacara). Selama upacara Panggih. Mereka melakukannya dengan keinginan besar dan kebahagian. kebudayaan 37 Jawa . dua Kembar Mayang diletakan di samping kanan dan kiri dari kursi pasangan pengantin. Dekorasi itu hanya digunakan bila pasangan pengantin sebelumnya tidak pernah menikah. semua orang tersenyum bahagia. tiba di rumah dari orangtua pengantin wanita dan berhenti di depan pintu gerbang. Dengan melempar daun betel satu sama lain. Pengantin wanita.tanaman Tarub. di antar oleh dua wanita yang dituakan. Kembar Mayang di bawa keluar rumah dan diletakan di persimpangan dekat rumah. Di depannya dua puteri disebut Patah. Dua wanita dituakan atau dua putera membawa dua Kembar Mayang yang tingginya sekitar satu meter atau lebih. Satu orang wanita dari keluarga pengantin lakilaki berjalan keluar dari barisan dan memberi Sanggan ke ibu pengantin perempuan. berjalan keluar dari kamar pengantin. dengan membawa kipas. jaraknya sekitar tiga meter.  Upacara Wiji Dadi Pengantin laki-laki menginjak telur dengan kaki kanannya. bukan setan atau orang lain yang menganggap dirinya sebagai pengantin laki-laki atau perempuan. Mereka mulia melempar sebundel daun betel dengan jeruk di dalamnya bersama dengan benang putih. itu akan mencoba bahwa mereka benarbenar orang yang sejati. Mereka mendekati satu sama lain.  Upacara Balangan Suruh Pengantin wanita bertemu dengan pengantin laki-laki. daun betel mempunyai kekuatan untuk menolak dari gangguan buruk. Orangtuanya dan keluarga dekat berjalan di belakangnya. melukiskan bahwa setan tidak akan menggangu selama upacara di rumah dan di sekitarnya. Untuk dekorasi. sebagai tanda dari penghargaan kepada tuan rumah dari upacara.

sementara dia bicara bahwa mereka sama beratnya. ibu pengantin perempuan menutup pundak pasangan pengantin dengan Sindur. Itu melukiskan bahwa dia menyetujui perkawinan.  Upacara Timbang Kedua pasangan pengantin duduk di atas pangkuan ayah dari pengantin wanita. Itu berarti bahwa ayah akan menunjukan jalan kebahagiaan. Dia memberi restu. Ibu memberi dorongan moral. berarti dia cinta mereka sederajat. kebudayaan 38 Jawa .  Upacara Tanem Ayah pengantin wanita mendudukan pasangan pengantin ke kursi pengantin. ayah pengantin perempuan mengantar pasangan pengantin ke kursi pengantin. Upacara Sindur Binayang Setelah upacara Wiji Dadi.

Itu melukiskan bahwa suami akan memberi semua gajinya ke istrinya. Pengantin perempuan sangat berhati-hati dalam menerima pemberiannya di dalam kain putih. Upacara Tukar Kalpika Pertukaran cincin pengantin simbol dari tanda cinta. beras kuning.  Upacara Dahar Klimah atau Dahar Kembul kebudayaan 39 Jawa . jagung. padi. bunga. dan beberapa mata uang yang berbeda nilainya (jumlah dari mata uang harus genap). pasangan pengantin berjalan bergandengan tangan dengan jari kelingking ke tempat upacara Kacar Kucur atau Tampa Kaya. kacang. jamu dlingo benglé. di atas tikar yang sudah diletakan di pangkuannya. Dia akan mengurus dan menjadi ibu rumah tangga yang baik. Di sana.  Upacara Kacar Kucur atau Tampa Kaya Dengan dibantu oleh Pemaes. pengantin perempuan mendapat dari pengantin laki-laki beberapa kedelai.

menjadi pemimpin dari upacara. mereka minum teh manis. Orangtua dari pengantin laki-laki duduk di sebelah kiri dari pasangan pengantin. Selama Sungkeman. Pertama ke orangtua pengantin wanita. tempe. tahu. Setelah Sungkeman. Pertama. Orangtua mengantar mereka ke kehidupan nyata dan mereka akan membentuk keluarga yang kuat. pengantin laki-laki memakai kembali kerisnya. Setelah pengantin wanita memakannya. mereka juga memakai Sindur seperti ikat pinggang.  Upacara Mertui Orangtua pengantin wanita menjemput orangtua pengantin laki-laki di depan rumah. abon dan hati ayam). dan kedua ayah berjalan di belakang. Kedua ibu berjalan di depan. Pemaes. Mereka berjalan bersama menuju ke tempat upacara. Warna merah dari Sindur dengan pinggir berliku berarti bahwa hidup itu seperti sungai mengalir di gunung. kebudayaan 40 Jawa .  Upacara Sungkeman Mereka bersujud untuk mohon doa restu dari orangtua mereka.Pasangan pengantin makan bersama dan menyuapi satu sama lain. Upacara itu melukiskan bahwa pasangan akan menggunakan dan menikmati hidup bahagia satu sama lain. Pemaes mengambil keris dari pengantin laki-laki. berarti pasangan akan selalu mempunyai cukup keuntungan untuk hidup baik. memberi piring ke pengantin wanita (dengan nasi kuning. Orantua pasangan pengantin memakai motif batik yang sama (Truntum). pengantin laki-laki membuat tiga bulatan kecil dari nasi dengan tangan kanannya dan di berinya ke pengantin wanita. dia melakukan sama untuk suaminya. Orangtua dari pengantin perempuan duduk di sebelah kanan dari pasangan pengantin. dadar telur. kemudian ke orangtua pengantin lakilaki. Setelah mereka selesai.

dilanjutkan dengan pesta resepsi. Pemboyongan yang disertai pesta upacara lagi di tempat kediaman mempelai laki-laki ini disebut ngunduh temanten. Bersamaan dengan itu. perceraian hanya bisa dilakukan dengan persetujuan kedua belah pihak. diiringi suara gamelan di ruang resepsi. Pasangan pengantin baru bersama dengan orangtuanya menerima ucapan selamat dari para tamu. Sedangkan sebaliknya istri pun berhak meminta cerai.Pengaduan gugatan perceraian bertingkat-tingkat tersebut dinamakan rapak. Semantara semua tamu menikmati pesta dan makan santapan. kebudayaan 41 Jawa . Akhirnya. istri tidak dalam keadaan hamil dan di hadapan pengulu. fragment dari cerita wayang atau tari lebih modern Karonsih). Suami dapat menceraikan istrinya dengan menjatuhkan talak. Apabila mempelai laki-laki berkehendak membawa istrinya. beberapa penari Jawa menpertunjukan (tari klasiek Gathot Kaca-Pergiwo. hal ini dapat dilaksanakan sesudah sepasar. Apabila seorang istri meminta cerai sedangkan suaminya tidak bersedia maka istri mengadu kepada kaum yang akan meneruskan pengaduan ke Kantor Urusan Agama Kecamatan.Setelah upacara Pernikahan. Dalam hal ini. Kantor Urusan Agama Kabupaten yang akan memberi keputusan. dalam adat Jawa juga diatur mengenai masalah perceraian (pegatan). atau sama dengan lima hari sejak mereka dipertemukan. yaitu dengan memberikan taklik. Selain masalah perkawinan.

yang tugasnya memelihara makam leluhur. Menurut cara perdamaian. yang lamanya tiga bulan sepuluh hari atau tiga kali lingkaran haid. anak laki-laki ditetapkan mendapat bagian 2/3 sedangkan perempuan 1/3 dari seluruh jumlah warisan orang tua. suami istri ingin rukun kembali sebelum melebihi jangka waktu seratus hari maka disebut rujuk. artinya mempunyai tempat tinggal sendiri yang terlepas dari tempat menetap kerabat masing-masing pihak. Utrolokal. sedangkan ternak dibagikan sama sesuai jumlah yang ada. atau mereka memilih untuk tinggal di tempat tinggal yang baru. sedangkan apabila hal itu dijalankan melebihi batas waktu tersebut dinamakan balen. Menurut cara sepikul segendongan. pembagian harta dilakukan melalui permusyawaratan antara para ahli waris. Setelah pernikahan pasangan pengantin Jawa bebas menentukan apakah ia akan menetap di sekitar tempat kediaman sendiri atau kerabat. apabila pasangan pengantin menetap di dekat tempat kediaman kerabat istri. c. Neolokal. Selain itu terdapat kelompok kekerabatan lain yang disebut alurwaris. apabila pasangan pengantin menetap di dekat tempat kediaman kerabat suami. keluarga-batih dalam bentuk keluarga yang luas adalah suatu pengelompokan dari dua-tiga keluarga atau lebih dalam satu tempat tinggal. Uxorilokal.Apabila setelah bercerai. Dalam hubingan ini sorang janda dapat bergaul dengan seorang laki-laki lain setelah lewat masa iddahnya. Besarnya kebudayaan 42 Jawa . Kelompok ini terdiri dari semua kerabat sampai tujuh turunan sejauh masih dikenal tempat tinggalnya. Baik rujuk maupun balen hanya bisa dilaksanakan sesudah talak sampai tiga kali. Dalam sebuah keluarga (kulawarga atau keluarga-batih) Jawa kepala keluarga disebut somah. Pemeliharaan benda pusaka diserahkan kepada anak laki-laki tertua. yaitu seorang anak laki-laki atau perempuanyang tetap tinggal di rumah bersama orang tua. Biasanya orang tua cenderung memberikan rumah kediamannya kepada tabon. karena apabila sudah mencapai talak sebanyak tiga kali maka suami istri tersebut harus bercerai selamanya. Adat menetap sesudah nikah ada tiga sifat: a. Suatu kekerabatan yang lain ialah sanak-sadulur yang terdiri dari orang-orang kerabat keturunan dari seorang nenek moyang sampai derajat ketiga. Biasanya dipergunakan untuk pembagian warisan tanah pekarangan. Dalam pembagian warisan harta peninggalan orang tua dikenal adanya 2 macam cara yaitu perdamaian dan sepikul segendongan. b.

sesungguhnya belum menjadi harta warisan namun sudah ditunjuk kepada siapa masing-masing bagian sawah itu akan diberikan. b. G. yaitu banda gana untuk suami dan banda gini untuk istri.Pemeluk agama Islam pada masyarakat Jawa dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu : • Islam Santri adalah penganut agama Islam Jawa yang secara patuh dan teratur menjalankan ajaran-ajaran dari agamanya. Biasanya anak yang lebih tua mendapat bagian di sebelah barat dan anak yang muda di sebelah timur. atau puasa. Sawah gantungan. Sawah garapan. serta tidak bercita-cita naik haji. Benda gawan kembali kepada kerabat masing-masing apabila suami istri tidak mempunyai anak.jumlah pembayaran pajak dituliskan dalam surat tanda pembayaran pajak yang disebut kohir (petuk) yang biasanya dipegang ahli waris yang paling tua. c. sawah ini juga belum menjadi benda warisan tetapi sudah diberi ijin dari orang tua untuk digarap oleh anak-anak atau menantu laki-lakinya dan setelah orang tua meninggal akan menjadi warisan bagi penggarapnya. Selain itu. terdapat pemeluk agama nasrani dan agama besar lainnya. tetapi tetap percaya kepada kebudayaan 43 Jawa . merupakan sawah bagian warisan dari seseorang yang pergi meninggalkan sawah tadi. Dalam adat Jawa dikenal adanya pembedaan harta benda milik suami sendiri sebelum kawin (benda gawan) dan harta kekayaan yang diperoleh selama hidup bersama (benda gana gini) keduanya dapat diwariskan. tetapi setelah ia datang hak dan kewajiban tanah pertanian itu kembali kepadanya. Tanah pertanian (sawah) yang bisa diwariskan adalah sawah sanggan (milik pribadi) yang terdiri atas tiga macam yaitu: a. sedangkan benda gana gini baru dipersoalkan pembagiannya jika kedua orang tersebut bercerai. Sawah dunungan. • Islam Kejawen penganut agama Islam ini beranggapan walaupun tidak menjalankan shalat. sehingga harus dipelihara dan digarap oleh saudaranya sendiri. RELIGI Agama Islam berkembang baik di kalangan masyarakat Jawa.

kesehatan. demit. upacara menusuk telinga. berselamatan. upacara potong rambut pertama. misalnya dengan berpuasa. Rangkaian upacara selamatan (sedekahan) yang ditujukan untuk menolong keselamatan roh nenek moyang tersebut di dalam akhirat ialah: a. serta jin dan lainnya yang menempati alam sekitar tempat tinggalnya. lelembut. Upacara yang berhubungan dengan kematian serta saat sesudahnya dilakukan karena orang Jawa sangat menghormati arwah orang meninggal dunia. yakni: 1. pantang makan makanan tertentu. terutama keluarganya. dan bersaji. kebudayaan 44 Jawa . Upacara adat ini diselenggarakan setelah acara penguburan jenazah. kelahiran. dan makhluk halus seperti misalnya memedi. Kebanyakan orang Jawa percaya bahwa hidup manusia di dunia ini sudah diatur dalam alam semesta sehingga mereka memiliki sikap nerima yaitu menyerahkan diri kepada takdir. Upacara ini dipimpin oleh modin. Upacara selamatan dapat digolongkan ke dalam empat macam sesuai peristiwa atau kejadian dalam kehidupan manusia sehari-hari. upacara menyentuh tanah untuk pertama kali. orang Jawa pada suatu kekuatan yang disebut kasakten. serta upacara yang berhubungan dengan kematian serta saat sesudahnya.ajaran keimanan agama Islam. Sedekah Surtanah atau Geblak yang diadakan pada saat meninggalnya seseorang. yaitu seorang pegawai masjid yang berkewajiban mengumandangkan adzan karena dianggap mahir membaca do keselamatan dari dalam ayat-ayat Al Quran. ketentraman ataupun keselamatan. Tujuannya untuk memberikan doa supaya arwah dari orang yang meninggal itu mendapat pengampunan. Selamatan adalah upacara makan bersama yang makanannya telah diberi doa sebelum dibagi-bagikan. bahkan kematian. arwah atau roh leluhur. Maka apabila seorang Jawa hidup tanpa menderita gangguan ia harus berbuat sesuatu untuk mempengaruhi alam semesta. Selamatan dalam rangka lingkaran hidup seseorang seperti hamil tujuh bulan. Tuhan mereka sebut Gusti Allah dan Nabi Muhammad adalah Kanjeng Nabi. Selain itu. Kecuali itu mereka tidak terhindar dari kewajiban berzakat. Hampir semua selamatan ditujukan untuk memperoleh keselamatan hidup dengan tidak ada gangguan apapun. Menurut kepercayaan makhluk halus tersebut dapat mendatangkan sukses. kebahagiaan. namun sebaliknya mereka juga dapat menimbulkan gangguan pikiran. tuyul.

Yang dianjurkan adalah orang lain yang membawa bantuan untuk keluarga yang ”kesripahan”.Upacara surtanah ini diselenggarakan secara sederhana. Bisa juga jika keluarga yang ”kesripahan” ingin sodaqoh bisa dengan membuat makanan yang banyak atau menyiapkan besek untuk dibawa pulang yang hadir tapi itu tidak wajib. bahan untuk sayur. Upacara juga disebut sedekah Nguwis-nguwisi artinya yang terakhir kalinya. g. Selain doa biasanya juga ada acara tahlilan yang dilanjutkan dengan mengaji bersama. Selamatan yang bertalian dengan bersih desa. Sedekah Nyewu. Sedekah Nyatus yakni upacara keselamatan kematian yang diadakan sesudah hari keseratus sejak saat kematiannya. Sedekah Nelung dina ialah upacara selamatan kematian yang diselenggarakan pada hari seseorang. ketiga sesudah saat meninggalnya kebudayaan 45 Jawa . Sedekah Mitung dina ialah upacara selamatan saat sesudah menginggalnya seseorang yang jatuh pada hari ketujuh. Sedekah Mendak sepisan dan Mendak pindo. yang diutamakan untuk berdoa adalah putra-putri dari orang yang meninggal. saudara dekat. telur. e. f. d. Inti dari upacara surtanah adalah berdoa. jika ada hidangna yang disajikan itu hanya seadanya. Tidak ada acara kendhuren. kopi ataupun uang dan lainlain )yang tujuannya untuk meringankan beban keluarga. yang hadir umumnya adalah saudara. gula. c. Tidak ada undangna khusus untuk acara ini. sebagai upacara selamatan sesudah kematian seseorang bertepatan dengan genap seribu harinya. tetangga yang dekat dan ulama yang diundang. penggarapan tanah pertanian dan setelah panen padi. umumnya tetangga hadir dengan membawa bahan-bahan panganan ( beras. b. teman atau tetangga atau siapa saja yang mau ikut berdoa. masing-masing upacara selamatan kematian yang dilakukan pada waktu sesudah satu tahun dan dua tahun dari saat meninggal seseorang. Sedekah Matangpuluh dina atau upacara keselamatan kematian seseorang pada hari keempat puluh. 2.

Ada sesajen yang dibuat pada tiap malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon. Selamatan yang berhubungan dengan hari-hari serta bulan-bulan besar Islam 4. misalnya menempati rumah atau menolak bahaya (ngruwat).3. Selamatan pada saat-saat yang tidak tertentu berkaitan dengan kejadiankejadian.kemenyan. Masyarakat Jawa juga mengenal adanya upacara sesaji panyadran agung yang dilakukan tiap tahun oleh keluarga Kraton Yogyakarta bertepatan Maulid Nabi Muhammad SAW atau disebut juga Gerebeg Mulud. Menurut kepercayaan masyarakat Jawa. Dalam kehidupan masyarakat Jawa terdapat berbagai macam aliran kebatinan. gamelan. Untuk kendaraan istana setiap setahun sekali pada hari Jumat Kliwon pada bulan Sura dibersihkan dengan upacara siraman yang dilakukan di dalam lingkunagn istana (Ratawijaya) secara terbuka. Sedangkan Batara Kala adalah raksasa yang mempuyai kekuatan sakti untuk mendatangkan bencana pada benda atau manusia. keris. Ruwatan dilakukan oleh dukun. atau badan halus. yang percaya pada adanya ruh halus. yang pandai menyembuhkan penyakit dan mengenyahkan ruh jahat. Gerakan atau aliran kebatinan yang keuaniyahan. serta jin dan lain-lain. Sesajen merupakan ramuan tiga macam bunga (kembang telon) yang dimasukkan ke dalam air.bahkan pada burung perkutut. Tempat yang dipilih biasanya tempat yang dianggap keramat dan mengandung bahaya ghaib (angker)agar terhindar dari gangguan makhluk halus. air bekas siraman tersebut dapat memberi berkah. Sesajen merupakan penyerahan sajian pada waktu dan di tempat tertentu dalam rangka kepercayaan kepada makhluk halus. serta kepada raksasa Batara Kala. sehingga orang Jawa yang mempunyai anak akan mengadakan ruwatan untuk menghindarkan anaknya dari bahaya. uang recehan. dan kue apem yang ditaruh dalam besek ataupun bungkusan daun pisang kemudian ditempatkan di atas meja untuk dikutug. Ruwatan biasanya disrtai pertunjukkan wayang kulit sehari semalam dengan mengambil cerita Batara Kala. Adapun kepercayaan kepada kekuatan sakti (kasakten) ditujukan kepada benda-benda pusaka. yang macamya yaitu: 1. Selain upacara selamatan. kendaraan istana (kereta Nyai Jimat dan Garuda Yeksa). pada masyarakat Jawa juga dikenal adanya sesajen. kebudayaan 46 Jawa .

Upacara sadran ini dilakukan dengan berziarah ke makam-makam dan menabur bunga (nyekar). dan Parda Pusara Penitisan Rohani. Hendra Pusara. Mitung Mbengeni Mitung Mbengeni (berasal dari Bahasa Jawa: pitu: tujuh. merupakan reminisensi daripada upacara sraddha Hindu yang dilakukan pada jaman dahulukala. Hidup Betul. Aliran yang bersifat mistik. Upacara ini dilakukan oleh orang Jawa pada bulan Jawa-Islam Ruwah sebelum bulan Puasa. dengan syariat yang sengaja dibedakan dengan syariat Islam dan mengandung banyak unsur Hindu-Jawa. Contoh aliran kebatinan yang pernah berkembang di daerah selatan Yogyakarta misalnya ”ADARI” singkatan ”Agama Jawa Asli Republik Indonesia”. bulan di mana mereka yang menganut ajaran Islam berpuasa. Aliran kehindu-jawian.upacara adat yang lain yaitu sebagai berikut : Sadran Sadran merupakan Upacara masyarakat Jawa Baru (dan Madura serta mungkin juga Sunda) yang disebut dengan nama sadran atau bentuk verbal nyadran. Aliran yang keislam-islaman. Hanya pada menu makanannya ditambahin menu ngethingi. kebudayaan 47 Jawa . Hampir semua gerakan kebatinan ini bertujuan menuju kesempurnaan hidup manusia. terdapat upacara. Selain itu upacara ini juga dilaksanakan oleh orang Jawa yang tidak menganut ajaran Islam pula. Mekanismenya hampir sama dengan prosesi tasyakuran biasa. Ramadan. yang pengikutnya percaya kapada dewa agama Hindu 4. yang ajarannya banyak mengambil unsur keimanan agama Islam.2. dengan usaha manusia untuk mencari kesatuan dengan Tuhan. 3. Hidup Betul Iman Agama Hak. bengi: malam) adalah sebuah prosesi yang dilakukan pada bayi pada malam ketujuh sejak kelahirannya. Selain yang telah dijelaskan.

Sesampainya dirumah. Lengkap dengan dekorasi. sebagian besar dari anak-anak peserta Ngerak tertarik untuk mengambil kaki ayam panggang tersebut. sampai dengan makanan. Selain sebagai harapan agar pasangan suami istri segera mendapatkan keturunan. mantu poci juga dihadiri oleh ratusan bahkan ribuan undangan. dia sekaligus yang menolong proses persalinan sampai dengan perawatan selama sang ibu atau keluarga belum bisa memperlakukan bayi sebagaimana mestinya. sajian makanan. si anak di suruh menaiki piramida yang terbuat dari bambu yang berisi pernak-pernik. dengan menempatkan si anak didepan dengan posisi di gendong dengan menggunakan selendang berwarna kuning. dilakukan prosesi iringiringan. disebuah belik. kebudayaan 48 Jawa . Sesampainya di belik. Sebelum berangkat dari rumah. Entah sebuah kebetulan ataukah memang bermakna khusus. Tak lupa pula. atas dosa/kesalahannya yang diperkirakan bisa berdampak kesialan didalam hidupnya. mulai dari permainan.Mitung mbengeni juga sebagai pertanda puput puset pada bayi. kemudian dimandikan dengan kembang tujuh rupa oleh sesepuh setempat. Mantu poci pada umumnya diselenggarakan oleh pasangan suami istri yang telah lama berumah tangga namun belum juga dikarunai keturunan. puput puser dilakukan oleh seorang dukun bayi. Sedangkan yang paling menarik adalah seekor ayam panggang yang ditaruh disebelah kiri tas piramida. di pintu masuk ruang resepsi disediakan kotak sumbangan berbentuk rumah. mantu poci juga bertujuan agar penyelenggara merasa seperti menjadi layaknya orang tua yang telah berhasil membesarkan putra putri mereka. kemudian dilepas dengan pesta besar dengan mengundang sanak saudara. ♦ Ruwatan Adalah Tradisi ritual Jawa sebagai sarana pembebasan dan penyucian. dengan cara inti melangsungkan 'pesta perkawinan' antara sepasang poci tanah berukuran raksasa. Seperti layaknya pesta perkawinan. Untuk orang jaman dulu. Mantu Poci Mantu Poci adalah salah satu kebudayaan di wilayah Tegal (Jawa Tengah). Ngerak Ngerak adalah sebuah tradisi memandikan anak kecil dengan umur dibawah 5 tahun. dan beraneka pementasan untuk menghibur para undangan yang hadir. Uniknya. dan relasi.

Tradisi "upacara /ritual ruwatan" hingga kini masih dipergunakan orang Jawa. Tokoh ini adalah anak Batara Guru (dalam cerita wayang) yang lahir karena nafsu yang tidak bisa dikendalikannya atas diri Dewi Uma. akhirnya menjelma menjadi raksasa. d. Menurut ceriteranya. Uger-uger lawang atau dua anak laki-laki semua. tetapi sekarang diadaptasi dengan ajaran agama. Ketika raksasa ini menghadap ayahnya (Batara guru) untuk meminta makan. yang dalam tradisi pewayangan disebut "Kama salah kendang gumulung ". c. maka untuk mensucikan kembali. e. laki-laki. Sendang kapit pancuran atau laki-laki.Upacara adat ini berasal dari buadaya adat Jawa kuna yang sifatnya sinkretis. yang isi pokoknya memuat masalah pensucian. Kembang sepasang atau kembar. Tradisi ruwatan di Jawa ( Jawa tengah) awalnya diperkirakan berkembang didalam cerita Jawa kuno. yang kemudian sepermanya jatuh ketengah laut. kebudayaan 49 Jawa . b. atau meruwat berarti: mengatasi atau menghindari sesuatu kesusahan bathin dengan cara mengadakan pertunjukan/ritual dengan media wayang kulit. diyakini akan menjadi mangsanya Batara Kala. Jenis manusia yang disukai Bathara Kala yaitu : a. Dalam tradisi Jawa orang yang keberadaannya mengalami nandang sukerto/berada dalam dosa. oleh Batara guru diberitahukan agar memakan manusia yang berdosa atau sukerta. Yang lahir tunggal atau ontang-anting. yaitu pembebasan dewa yang telah ternoda. sebagai sarana pembebasan dan penyucian manusia atas dosanya/kesalahannya yang berdampak kesialan didalam hidupnya. perempuan. perlu mengadakan ritual tersebut. orang yang manandang sukerto ini. Yang akan mengalami penderitaan atau sukerta. agar menjadi suci kembali.

kluwak. Tumpeng biasa disajikan di atas tampah (wadah tradisional) dan dialasi daun pisang.Sesajen yang perlu disiapkan untuk upacara ini adalah : a. Tumpeng Acara yang melibatkan nasi tumpeng disebut secara awam sebagai 'tumpengan'. kedelai hitam. orang yang diruwat harus menjalani siraman air suci dan gunting rambut. ikan asin. Ini dimaksudkan untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang tersebut. kebudayaan 50 Jawa . telur ayam dan uang dengan diiringi doa mohon keselamatan dan kesejahteraan serta agar tercapai apa yang dicita citakan. Jarum kuning d. Kembang pitung rupa Jika untuk tolak bala atau membuang sial orang yang mengalami sukerta. kemiri. Di Yogyakarta misalnya. berkembang tradisi 'tumpengan' pada malam sebelum tanggal 17 Agustus. Beras kuning c. rambutnya lalu dilarung di laut. Kain pitung werna b. untuk mendoakan keselamatan negara. Selesai upacara ngruwat. Ada tradisi tidak tertulis yang menganjurkan bahwa pucuk dari kerucut tumpeng dihidangkan bagi orang yang profesinya tertinggi dari orang-orang yang hadir. bambu gading yang berjumlah lima ros ditanam pada kempat ujung rumah disertai empluk (tempayan kecil) yang berisi kacang hijau . Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

urap kacang panjang.Disebut juga tumpeng tasyakuran.Tumpeng ini digunakan pada syukuran kehamilan tujuh bulan. beberapa lauk yang biasa menyertai adalah perkedel. dan sebagainya. Biasa disajikan di atas tampah yang dialasi daun pisang. Dibuat dari nasi putih yang disajikan dengan lauk-pauk sayuran. keselamatan dan berkah dari Syang Hyang Widi. ikan bandeng atau rempeyek teri) dan sayur-mayur (kangkung. timun yang dipotong melintang. Digunakan untuk syukuran acara-acara gembira. Variasinya melibatkan tempe kering. Tumpeng Nujuh Bulan . Selain satu kerucut besar di tengah. dihari-hari tertentu. Di bagian puncak tumpeng ini diletakkan telur ayam. Tumpeng Pungkur . Tumpeng ini kemudian dipotong vertikal dan diletakkan saling membelakangi. serundeng. bawang merah dan cabai. Dalam pengartian makna tradisional tumpeng. Tumpeng Nasi Kuning . Variasi Nasi Tumpeng :  Tumpeng Robyong . Digunakan untuk peringatan Maulud Nabi. Namun demikian. abon.warna putih pada nasi putih menggambarkan kesucian dalam adat Jawa. terasi.warna kuning menggambarkan kekayaan dan moral yang luhur. dengan tujuan agar mendapat lindungan. ikan asin atau lele goreng. Setiap lauk ini memiliki pengartian tradisional dalam budaya Jawa dan Bali.Tidak ada lauk-pauk baku untuk menyertai nasi tumpeng. Ritual ini biasanya dilakukan oleh kepala adat.      Kutug Kutug merupakan ritual membakar kemenyan yang dilakukan oleh penganut ajaran tertentu. tumpeng ini dikelilingi enam buah tumpeng kecil lainnya. bayam atau kacang panjang). hewan laut (ikan lele. pernikahan. Digunakkan untuk acara sakral. Tumpeng ini diletakkan di dalam bakul dengan berbagai macam sayuran.Tumpeng ini biasa disajikan pada upacara siraman dalam pernikahan adat Jawa. dianjurkan bahwa lauk-pauk yang digunakan terdiri dari hewan darat (ayam atau sapi). kebudayaan 51 Jawa . Tumpeng Nasi Uduk . Tumpeng ini terbuat dari nasi putih. tunangan. dan daun seledri. Tumpeng Putih .digunakan pada saat kematian seorang wanita atau pria yang masih lajang. kedelai goreng. dan sebagainya. seperti kelahiran. telur dadar/telur goreng.

Yang paling mudah ditemui di seputaran Yogyakarta. berkaca pada diri atas apa yang dilakoninya selama setahun penuh. yaitu pada jaman pemerintahan kerajaan Demak. Mitoni 4. Yang dapat dimaknai sebagai upacara untuk mawas diri. Awal dari afiliasi ini. Nyetauni 5. hingga memacetkan lalu-lintas di seputaran kraton dan jalan protokol. Maka tahum 931 H atau 1443 tahun Jawa baru.Ngethingi Ngethingi merupakan tradisi tasyakuran sebagai bentuk atau moment peringatan terhadap seorang bayi ketika berusia tertentu. yang masih menjunjung tradisi dengan filosofis tinggi. Ada beberapa tahapan yang dilakukan oleh suatu keluarga dalam rangka ngethingi. Kungkum atau berendam di sungai besar. sendang atau sumber mata air tertentu. adalah Tirakatan kebudayaan 52 Jawa . Ritualnya. untuk dapat dikatakan demikian. atau mengunci mulut. seorang khalifah islam dijaman etelah nabi Muhammad wafat. Ngarotengahi Malam Satu Suro Latar belakang dijadikannya 1 Muharam sebagai awal penganggalan islam oleh Khalifah Umar bin Khathab. banyak orang melakukan ritual menjelang 1 Sura tahun Jawa 1940 yang jatuh esok paginya. Neloni 3. menjadi aktivitas yang menurut banyak cerita masih mewarnai tradisi masyarakat Yogyakarta. tanggal 19 Januari 2007. Sunan Giri II telah membuat penyesuaian antara sistem kalender Hijriyah dengan sistem Kalender Jawa pada waktu itu. sebuah keluarga yang dikaruniai tambahan jumlah anggota baru (melahirkan) wajib melaksanakan syukuran dengan selalu membuat masakan yang berbahan dasar sayur-sayuran (lebih tepatnya dan lazimnya yang digunakan adalah daun pepaya muda). Tradisi Jawa Malam hari. Mitung Mbengeni 2. konon untuk memperkenalkan kalender islam di kalangan masyarakat Jawa. Dengan Tapa Bisu. menghadapi tahun baru di esok paginya. Diantaranya adalah : 1. warga yang melakukan ritual Mubeng Beteng. Tidak sedikit. Sabtu Pahing. tidak mengeluarkan kata-kata selama ritual ini. dengan caranya sendiri-sendiri.

kawasan Parangtritis. khususnya adat. Namun. memiliki daya tarik tersendiri di malam satu Suro. Begitu pula di Pantai Parangkusumo. pijat tradisional dan -kalau saya tidak salah mengartikan. Dijubeli ratusan pengunjung yang berbaur dengan pedagang dan hiruk pikuknya lalu lalang kendaraan bermotor tidak mengurangi khidmatnya pagelaran wayang malam itu. perkiraan saya salah. Meski begitu. Kretek. Labuhan. Apalagi malam satu Suro di kawasan pantai selatan dengan segala macam pernak-pernik mistisnya. Wayang Kulit Semalam Suntuk Tradisi dan warisan budaya Jawa ini tak pernah lepas dari tiap momen penting. Bantul Yogyakarta.“wanita pendamping” tampak bertebaran menjadi konsekuensi atas berjubelnya pengunjung. Tukang obat tradisional. Hal ini yang saya dapat dari penuturan warga sekitar. khususnya Parangkusumo. Ritual ini menjadi ritual tahunan Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat. Kawasan pantai Parangtrisits. menjadi ritual yang tidak asing di telinga masyarakat Jawa. dan berbagai jasa lainnya. Wayang dan Nyekar di Cepuri Parangkusumo. pengunjung dan masyarakat yang datang tidak hanya disuguhi keramaian pagelaran wayang dan keheningan suasana Cepuri yang mistis. di Yogyakarta.dan Pagelaran Wayang Kulit. Pantai Parangkusumo Dari sekian acara yang tentu saja berlangsung di tiap pelosok Yogyakarta. menjadi dua kegiatan utama pada malam itu. Hal ini yang menarik perhatian saya untuk berkunjung kesana di malam satu Suro. Labuhan dilangsungkan pada pagi hari tanggal 15 Suro. makanan. Tumpah ruahnya pengunjung tiap tahunnya dimanfaatkan betul oleh pedagang kembang. Parangkusumo memang biasa menjadi tempat berlangsungya prosesi ini. Cepuri Parangkusumo kebudayaan 53 Jawa .

Merupakan area tempat bersandingnya dua batu yang dikeramatkan. dan mungkin pengunjung lain. mengira beliau adalah juru kunci. Diantara rombongan peziarah yang silih berganti masuk ke area Cepuri. kebudayaan 54 Jawa . sang juru kunci sendiri duduk bersila tepat di depan gapura setelah pengunjung masuk. Awalnya. sebelum menabur bunga dan berdoa. Namun. yang keduanya dipagar mengeliling dengan satu pintu/gapura masuk. Kembang. Batu Kyai Panembahan Senopati yang lebih besar terletak di sebelah selatan batu Kanjeng Ratu Kidul. ditemani aroma dupa dan bunga yang menusuk hidung. tidak sedikit peziarah yang datang dan berdoa di tempat ini. saya. Tiap pengunjung yang masuk wajib menemui juru kunci dan menyalakan dupa. Apalagi di malam satu Suro. dupa dan sesaji menjadi obyek yang tidak lepas dari tempat keramat macam ini. ada seorang pemuda yang dengan khusyuk nya berdoa di sebelah batu Panembahan Senopati dengan pakaian Jawa lengkap.

Berbeda dengan kawasan pesisir Parangkusumo. dan terlihat sangat menikmati sajian wayang kulit semalam suntuk. begitu informasi dari penduduk sekitar. Kraton “Kedua” di kawasan Yogyakarta ini pun dihadiri warga yang ingin menghabiskan malam satu Suro dengan tradisi tahunannya. Puro Pakualaman Pagelaran wayang kulit semalam suntuk banyak diselenggarakan warga di pelosok kota. warga yang datang dengan kendaraan roda dua pun enggan beranjak dari atas sepeda motornya.Rombongan peziarah yang nampak berbeda dari sebagian lainnya adalah rombongan peziarah dari Kraton Solo. Begitu pula di kawasan Puro Pakualaman Yogyakarta. warga yang hadir hanya ditampung secara “resmi” dengan sebuah tenda. Masih duduk di atas sadel tempatnya mengayuh kendaraan roda tiga ini. di Puro Pakualaman ini. Selebihnya warung dan pedagang kaki lima yang biasa mangkal di halaman Kraton pun tak lepas menjadi tempat warga menikmati sajian wayang kulit. Mereka menggunakan pakaian Jawa lengkap dengan sesaji dibungkus kain putih dan hijau. kebudayaan 55 Jawa . Bahkan. Bahkan kursi penumpangnya pun dijadikan tempat nyaman rekan penarik becak lainnya untuk duduk berselimut sarung dan menikmati malam panjang itu. Begitu pula dengan penarik becak. duduk bersila disamping dua batu tersebut.

Ngupat Ngupat atau ngupati adalah salah satu upacara adat yang dilakukan saat calon ibu mengandung ( mbobot ) 4 bulan. Jabang bayi yang berumur tujuh bulan itu sudah mempunyai raga yang sempurna. Di daerah tertentu upacara ini juga disebut tingkeban. Tujuan dari upacara adat ini adalah sama dengan ngupati yaitu upacara untuk keselamatan bayi dan calon ibu atau juga untuk tolak bala. Ngupati ini mengandung maksud sebagai lambang bahwa ”jabang bayi” sudah masuk dalam tahap keempat dalam proses penciptaan manusia. Upacara adat ini diselenggarakan saat calon ibu mengandung 7 bulan. Jadi menurut orang Jawa ”wetengan” umur tujuh bulan itu proses penciptaan manusia itu sudah nyata dan sudah sempurna atau Sapta Kawasa Jati. Mitoni atau Tingkeban Mitoni berasal dari kata ”pitu” ( 7 ). Tujuannya adalah untuk keselamatan calon bayi dan ibu atau untuk tolak bala jadi hampir sama seperti mitoni. Waktunya harus diselenggarakan pada hari yang baik menurut hitungan hari Jawa. Upacara adat ini kurang dikenal pada daerah-daerah tertentu. Rangkaian acara dari ”mitoni” adalah sebagai berikut : kebudayaan 56 Jawa . berbeda dengan upacara adat ”mitoni” yang sudah umum dikenal oleh masyarakat Jawa dan juga dikenal oleh masyarakat nusantara. Ngliman Ngliman adalah salah satu upacara adat ”wetwngan” yang diselenggarakan ketika calon ibu mengandung lima bulan. Kata ”ngliman” berasal dari kata lima ( 5 ). Yang membedakan dengan upacara adat ”meteng” lainnya yaitu ada sajian kupat yang ditaruh didalam tempat yang biasa disebut ”besek” yang dibawa pulang oleh orang yang hadir pada acara kenduren. Kata ”ngupat ” berasal dari kata papat ( 4 ) atau kupat. Tujuannya adalah untuk keselamatan calon bayi dan calon ibu dan juga untuk tolak bala.

dipayungi. 2) Sebelum ari-ari dimasukkan alas kendhi diberi ”godhong senthe” lalu kendhi itu ditutup dengan lemper yang masih baru dan dibungkus kain mori. Waktu pelaksanaannya menurut orang Jawa mitoni itu harus diselenggarakan pada hari yang benar-benar bagus. Istilah lain dari ariari adalah aruman atau embing-embing ( mbingmbing ). 5) Memutus lawe atau lilitan benang ( janur ). Atau hari jumat siang sampai malam. 6) Memecahkan wajan dan gayung. ini menjadi simbol pepadadang untuk bayi. Tata caranya adalah sebagai berikut . Orang Jawa itu percaya bahwa bahwa ari-ari itu adalah salah satu dari ”sedulur papat” atau ”sedulur kembar” dari si bayi sehingga ari-ari harus dirawat dan dijaga. 7) Mencuri telur.Rangkaian acara untuk upacara mitoni ini lebih banyak daripada upacara ngupati. 8) Kenduren. Yaitu tempat yang digunakan untuk memendham ari-ari diberi lampu ( umumnya lampu senthir ) untuk penerangan. yaitu hari senin siang sampai malam. Ari-ari itu bagian penghubung antara ibu dan bayi waktu bayi masih didalam rahim. kebudayaan 57 Jawa . 1) Ari-ari dicuci sampai bersihdan dimasukkan kedalam kendhi atau batok kelapa. 3) Salin rasukan ( ganti baju ) 4) Brojolan ( memasukkan kelapa gading muda ). yaitu: 1) Siraman 2) Memasukkan telur ayam kampung didalam kain calon ibu oleh calon bapak. Senthir itu dihidupkan sampai 35 hari ( selapan dina ). Mendhem ari-ari Mendhem ari-ari adalah salah satu upacara kelahiran yang umum diselenggarakan dan juga di daerah – daerah ( suku-suku ) lain. dibawa ke lokasi penguburan. 3) Kendhi lalu digendong.

Acaranya yaitu kendhuren. Kata sepasaran berasal dari kata sepasar. Urutan kegiatannya : kebudayaan 58 Jawa adalah untuk keselamatan proses kelahiran juga untuk perlindungan terhadap bayi dan dengan harapan bayi yang lahir menjadi anak yang . Tedhak siti atau Tedhak Siten Tedhak siti adalah salah satu upacara adat untuk anak yang berumur 7 bulan. bancakan dan memberi nama bayi. Suguhan yang disajikan umumnya adalah air minum dan ”jajan pasar” tetapi juga ada “besek” yang nantinya dibawa pulang. Biasanya ada upacara slametan di upacara puputan ini. Upacara ini di daerah yang lain di nusantara juga ada. Rangkaian acaranya diawali dari mendhem ari-ari yang dilanjutkan dengna bagi-bagi sesajen brokohan untuk saudara dan tetangga. upacara ini diselenggarakan secara lebih meriah. Brokohan itu asal katanya dari bahasa Arab yaitu ”barokah” yang artinya mengharapkan berkah. Tedhak Siten itu berasal dari kata tedhak atau idhak dan siten ( dari kata siti yang berari lemah atau tanah ). Tujuannya baik perilakunya. Sepasaran Adalah salah satu upacara adat Jawa waktu bayi berumur 5 hari. Jadi upacara ini diselenggarakan waktu bubar pupute dari pusar bayi. Upacara ini sebagai lambang bahwa anak bersiap-siap menjalani hidup dengan dituntun orangtua dan diselanggarakan jika anak sudak berumur 7 selapan atau 245 hari ( 7 x 35 = 245 ). biasanya disebut ”injak tanah” di Jakarta atau juga disebut ”mudhun lemah”. Puputan atau Dhautan Puputan itu sebenarnya mempunyai makna ”tali puser bayi puput”. Umumnya diselenggarakan sore dengan acara kenduren dengan mengundang saudara dan tetangga. Yang memendam kendhi harus bapak dari bayi.4) Lokasi penguburan kendhi harus berada di sebelah kanan pintu utama rumah. Upacara adat ini mempunyai makna sebagai ungkapan syukur dan sukacita karena kelahiran itu selamat. Upacara adat ini umumnya diselenggarakan secara sederhanatetapi jika bersamaan dengan pemberian anma bayi. Brokohan Brokohan adalah salah satu upacara adat Jawa untuk menyambut kelahiran bayi. Acara ini bagus diselenggarakan setelah maghrib.

1) Tedhak sega pitung warna 2) Mudhun tangga tebu 3) Ceker-ceker 4) Kurungan 5) Sebar udik-udik 6) Siraman Sedekah Bumi Bersih desa adalah salah satu upacara adat Jawa yang diselenggarakan setelah selesainya panen padi, jadi maksudnya sebagai ungkapan syukur “tandhuran” padi berhasil panen dan hasilnya baik. Upacara adat ini kadang juga disebut upacara mreti desa dan biasanya digabung dengn upacara adat sedekah bumi atau mreti bumi. Setiap daerah mempunyai atat cara dan prosesi upacara yang berlainan menurut kebiasaan masing-masing tetapi tujuannya sama saja. Pada jaman dahulu upacara adat ini dikaitkan dengan Dewi sri yang dianggap sebagai dewi Padi karena keberhasilan panen itu hasil kemurahan dari Dewi sri yang wajib disyukuri. Tujuan dari mengadakan upacara ini adalah: 1) Untuk mengucapakan syukur kepada tuhanyang sudah memberi hasil panen padi yang melimpah. 2) Untuk menjaga keselamatan para warga desa dari gangguan hal-hal yang gaib, roh atau arwah yang gentayangan dan juga dari gangguan penyakit, serta bencana. 3) Untuk membersihkan desa dan warganya dari halangna atau kesusahan supaya keadaan desa menjadi tentram dan aman. Prosesi Umumnya dimulai setelah panen pertama. Lokasi upacara pertama di sawah yang sudah dilengkapi dengan ”ubo rampe’ yaitu janur kuning, kembang setaman, kemenyan, kaca, suri, banyu kendhi, jajan pasar, bungkusan nasi dan pisang. Setelah acara berdoa, padi yang sudah dipetik digotong ke lumbung padi. Di lumbung padi juga disiapkan perangkat upacara lanjutan yang umumnya dibuat dari daun. Diantaranya daunkluwih, dhadhap serep, godhong mojo, godhong tebu, godhong jati juga godhong luh. Masing-masing godhong ( daun ) itu mempunyai makna.

kebudayaan 59

Jawa

Munggah wuwungan Adalah salah satu upacara adat yang diselenggarakan setelah wuwungan dibangun dalam proses membangun rumah. Istilah munggah wuwungan ini biasanya disebut juga munggah gendheng. Upacara ini diselenggarakan saat rangka wuwungan sudah jadi tetapi gendeng belum dipasang. Upacara adat ini uga dikenal di daerah-daerah lain di Nusantara. Upacara ini sebenarnya upacara untuk syukuran karena rumah yang dibangun sudah mempunyai wuwungan jadi sebentar lagi sudsh bisa dipake sehingga tidak akan kepanasan atau kehujanan. Puncak acaranya adalah kendhuren, diutamakan untuk tuakang-tukang yang membangun rumah dan para tetangga yang berada dekat dengan rumah yang dibangun. Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin oleh ulama. Biasanya acara kendhuren munggah wuwungan ini diselenggarakan siang atau setelah shalat dhuhur, jadi sekalian dengan makan siang para tukang dan jamaah serta ulama yang baru keluar dari masjid atau langgar bisa langsung ikut dan pulangnya bisa membawa besek. Sesajen juga perlu disiapkan untuk digantung disalah satu kayu di wuwungan. Yang tidak digantung hanya bendhera merah putih yang dipasang dengan galah dengna panjang sedang 9 tidak terlalu panjang ), yang bisa kelihatan dari rumah tetangganya. Sesajen yang harus disiapkan : 1) Gedhang setandan 2) Tebu ireng sewit 3) Pari secukupe 4) Kelapa seiji uga bendhera

Grebeg Maulud
Perayaan Grebeg

Puncak peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. diperingati dengan penyelenggaraan upacara Grebeg Maulud yang diselenggarakan pada tanggal 12 kebudayaan 60 Jawa

Maulud, atau pagi hari esoknya, setelah kedua perangkat gamelan Kyai Nogowilogo dan Kyai Guntur madu dibawa masuk kembali ke dalam Kraton oleh masyarakat Yogyakarta, kejadian ini lazim disebut dengan istilah Bendhol Songsong. Pada pagi hari, pukul 08.00, upacara dimulai dengan parade kesatuan prajurit Kraton yang mengenakan pakaian kebesarannya masing-masing. Puncak dari upacara ini adalah iringan gunungan yang dibawa ke Masjid Agung . Setelah di Masjid diselenggarakan doa dan upacara persembahan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, sebagian gunungan dibagi-bagikan pada masyarakat umum dengan jalan diperebutkan. Bagian-bagian dari gunungan ini umumnya dianggap akan memperkuat tekad dan memiliki daya tuah terutama bagi kaum petani, mereka menanamnya dilahan persawahan mereka, untuk memperkuat doanya agar lahannya menjadi subur dan terhindar dari berbagai hama perusak tanaman. Selain upacara Grebeg Maulud, didalam satu kurun tahun Jawa terdapat upacara-upacara Grebeg yang lain, yakni Grebeg Syawal yang diselenggarakan pada tanggal 1 bulan Syawal sebagai ungkapan terima kasih masyarakat kepada Tuhan dengan telah berhasil diselesaikannya ibadah puasa selama satu bulan penuh dibulan Suci Ramadhan, dan Grebeg Besar yang diselenggarakan pada tanggal 10 bulan Besar, berkaitan dengan peringatan hari Raya Qurban Idhul Adha.

Upacara Jamasan

Bagi orang Jawa, benda-benda pun dianggap memiliki jiwa. Oleh karena itu, benda-benda itu harus diperlakukan istimewa yang nyaris sama seperti manusia itu sendiri. Mungkin saja ini masih dianggap sebagai animisme, tapi tentu saja orang Jawa akan menyangkalnya. Yang jelas, untuk benda-benda milik Keraton Yogyakarta seperti kereta, gamelan, maupun pusaka, semuanya memiliki nama seperti manusia. Ada Kiai Sangkelat, Kiai Nagasasra (keris), Kiai Guntur Madu (gamelan), ada pula Kanjeng Nyai Jimat dan Kyai Puspakamanik (kereta). Di Keraton Yogyakarta, benda-benda itu selalu dicuci yang diistilahkan dengan nama kebudayaan 61 Jawa

beroda empat. karena mereka percaya bahwa air ini mengandung hal gaib/sakti karena pemiliknya merupakan orang yang sakti. dua buah yang besar di belakang. Kereta ini dibuat pada tahun 1750-an. diperkirakan ditarik oleh enam sampai delapan kuda. sebuah kereta hadiah dari Kerajaan Belanda yang dibuat pada tahun 1901. Cara jamasan itu sendiri juga khas. dan penutup kepala blangkon. Berbentuk anggun. diberi nama Kanjeng Nyai Jimat. Semua yang terlibat dalam ritual itu harus mengenakan kain panjang. Kereta itu menjadi tumpangan para pangeran pada pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VIII. Mereka berbusana seperti itu karena mereka akan menjamasi sebuah kereta. Sebenarnya. semasa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono I. Kereta itu tersimpan di dalam Museum Kereta Keraton Yogyakarta. Mereka. di samping jamasan kereta. Setiap Kanjeng Nyai Jimat dijamasi. hal ini dikarenakan masyarakat Jawa percaya bahwa air ini akan membawa berkah bagi mereka. dan dia selalu ditemani oleh salah sebuah kereta lain yang dipilih secara bergantian setiap tahunnya. Kemudian ada Kyai Puspakamanik. Kereta itulah yang setiap bulan Sura selalu dijamasi karena dianggap sebagai kereta cikal-bakal kereta lainnya. Semisteri pusaka yang dipercayai memiliki kekuatan supra natural itu sendiri. Proses pencucian kereta ini memiliki nilai wisata ritual magis religius. Sehingga banyak orang rela berebut bekas air cucian kereta dengan cara menampung aliran air dari badan kereta dan memasukkan air bekas cucian itu ke dalam botol bekas air kemasan maupun jerigen. Kereta yang penuh ukiran itu sendiri memiliki pintu dan atap sehingga mirip mobil. Kereta itu menjadi tunggangan Sultan Hamengku Buwono I sampai III. Misteri jamasan pusaka itu sendiri akhirnya memang tinggal misteri yang dipelihara turuntemurun. semuanya Kliwon. Akan tetapi. jamasan pusaka itu tidak boleh dilihat oleh umum. kebudayaan 62 Jawa . Di sana ada sekitar selusin kereta yang sebagian besar masih bisa digunakan. laki-laki. di dalam keraton juga ada jamasan pusaka. Sebuah simbol kewibawaan seorang raja. surjan. Jamasan biasanya seorang pejabat keraton yang khusus menangani masalah perawatan kereta. bergaya kereta kerajaan-kerajaan Eropa.dijamasi pada bulan Sura (Muharam) dan selalu pada hari istimewa Jumat Kliwon atau mengenakan pakaian adat Jawa Selasa peranakan. dan dua buah di depan agak kecil.

sebagai bentuk permohonan untuk mendapatkan kesejahteraan dan keselamatan kepada Ratu Kidul Penguasa laut Selatan . alat-alat rias. Berbagai pakaian bekas yang pernah dipergunakan oleh Sri Sultan. terus sampai jauh di luar Jawa Tengah. indah mengandung kesusilaan dan selaras dengan gending sebagai iringannya. Sumber utamanya terdapat di Keraton Surakarta dan di Pura Mangkunegaran. kata tersebut mempunyai maksud dan pengertian bahwa orang yang akan menari haruslah benar-benar menuju satu tujuan. Seni tari yang berpusat di Kraton Surakarta itu sudah ada sejak berdirinya Kraton Surakarta dan telah mempunyai ahli-ahli yang dapat dipertanggungJawabkan. Hindu sampai masuknya agama Islam dan kemudian berkembang. Seni tari yang merupakan bagian budaya bangsa sebenarnya sudah ada sejak jaman primitif. Dari kedua tempat inilah kemudian meluas ke daerah Surakarta seluruhnya dan akhirnya meluas lagi hingga meliputi daerah Jawa Tengah.1 Seni Tari Tari sering disebut juga ”beksa”. Tari mengalami kejayaan yang berangkat dari kerajaan Kediri. yaitu menyatu jiwanya dengan pengungkapan wujud gerak yang luluh. kebudayaan 63 Jawa . Sehingga bisa dikatakan bahwa kedua upacara ini yaitu tradisi malam 1 Suro dan Upacara Labuhan merupakan 2 hal yang saling berkaitan di dalam tradisi Kraton Yogyakarta. Surakarta merupakan pusat seni tari. Majapahit khususnya pada pemerintahan Raja Hayam Wuruk. sirih. Tokoh-tokoh tersebut umumnya masih keluarga Sri Susuhunan atau kerabat kraton yang berkedudukan. Singosari.Upacara Labuhan Selain itu terdapat pula Upacara Labuhan yang merupakan rangkaian dari Tradisi 1 Sura. Bahkan tari tidak dapat dilepaskan dengan kepentingan upacara adat sebagai sarana persembahan. kata “beksa” berarti “ambeg” dan “esa”. potongan rambut serta potongan kuku beliau ditanam di dalam areal tanah sengker (suatu areal tanah yang dianggap keramat di daerah Parangkusumo). bunga dan lain-lain ke laut selatan . H. PRODUK BUDAYA H. Seni tari adalah ungkapan yang disalurkan / diekspresikan melalui gerakgerak organ tubuh yang ritmis. Dimana pagi hari sesudah malam 1 Sura maka diadakan Upacara labuhan yaitu dengan mempersembahkan pakaian wanita .

diantaranya : Srimpi. Konon penciptaan gendhingpun menjadi sempurna setelah Sunan Kalijaga ikut menyusunnya. Wireng. Ketek Ogleng. Dalam perkembangannya timbullah tari kreasi baru yang mendapat tempat dalam dunia tari gaya Surakarta. yang mengambil cerita Damarwulan. Beberapa contoh tarian gaya surakarta. lengger. Tari Klasik Tari Tradisional Tari garapan Baru Beberapa jenis tari yang ada antara lain : 1. Seni tari dapat dibedakan menjadi 3 jenis. Jadi lebih bebas. terlebih dahulu Sultan Agung memerintahkan para pakar gamelan untuk menciptakan sebuah gendhing yang bernama Ketawang. penguasa laut selatan yang juga disebut Kanjeng Ratu Kidul. Gambyong. Ebeg. Kuda Kepang.Seni tari yang berpusat di Kraton Surakarta itu kemudian terkenal dengan Tari Gaya Surakarta. Selain tari yang bertaraf kraton (Hofdans). dan lain-lain. Bedhaya. barongan. Sebelum tari ini diciptakan. Prawirayudha. TARI KLASIK dari JAWA TENGAH • Tari Bedhaya Menurut kitab Wedbapradangga yang dianggap pencipta tarian Bedhoyo Ketawang adalah Sultan Agung (1613-1645) raja ke-1 dan terbesar dari kerajaan Mataram bersama Kanjeng Ratu Kencanasari. di daerah Jawa Tengah terdapat pula bermacammacam tari daerah setempat. sintren. Wayang-Purwa Mahabarata-Ramayana. lebih perseorangan. 2. Tari semacam itu termasuk jenis kesenian tradisional. Tayuban. Pedoman tari tradisional itu sebagian besar mengutamakan gerak yang ritmis dan tempo yang tetap sehingga ketentuan-ketentuan geraknya tidaklah begitu ditentukan sekali. Incling. Jelantur. 3. seperti : Dadung Ngawuk. Dolalak. yang termasuk seni tari bermutu tinggi. Yang khusus di Mangkunegaran disebut Tari Langendriyan. Tarian Bedhoyo Ketawang tidak hanya dipertunjukan pada saat penobatan raja yang baru tetapi juga pertunjukan setiap kebudayaan 64 Jawa . yaitu : 1.

Kenong. Busana Tari Bedhoyo Ketawang menggunakan Dodot Ageng dengan motif Banguntulak alas-alasan yang menjadikan penarinya terasa anggun. Kendhang Ageng.tahun sekali bertepatan dengan hari penobatan raja atau "Tingalan Dalem Jumenengan". kebudayaan 65 Jawa . Kethuk. Dua buah Kendang Ageng bemama Kanjeng kyai Denok dan Kanjeng Kyai Iskandar. Instrumen gamelan yang dimainkan hanya beberapa yakni Kemanak. Gamelan yang mengiringinya pun sangat khusus yaitu gamelan "Kyai Kaduk Manis" dan "Kyai Manis Renggo". Kendhang Ketipung dan Gong Ageng. dua buah rebab bemama Kanjeng Kyai Grantang dan Kanjeng Kyai Lipur serta sehuah Gong ageng bernama Kanjeng Nyai Kemitir. Pertunjukan Bedhoyo Ketawang pada masa Sri Susuhunan Paku Buwana XII diselenggarakan pada hari kedua bulan Ruwah atau Sya'ban dalam Kalender Jawa. Istrumen-istrumen tersebut selain dianggap khusus juga ada yang mempunyai nama keramat.

Budaya Islam ikut mempengaruhi bentuk-bentuk tari yang berangkat pada jaman Majapahit. termasuk jenis Bedhaya Suci dan Sakral. Hal ini kemudian dibawa ke Kraton Kasunanan Surakarta. Seperti tari Bedhaya 7 penari berubah menjadi 9 penari disesuaikan dengan jumlah Wali Sanga. Tumenggung Alap-alap dan Ki Panjang Mas. Oleh Sunan Pakubuwono I dinamakan Bedhaya Ketawang. khususnya Bedhaya Ketawang yang jarang disajikan di luar Kraton. juga sering disajikan pada upacara kebudayaan 66 Jawa . maka disusunlah Bedhaya dengan penari berjumlah 9 orang. tepatnya sejak perjanjian Giyanti pada tahun 1755 oleh Pangeran Purbaya. dengan nama peranan sebagai berikut: o o o o o o o o o o o o o o o o o o Endel pojok Batak Gulu Dhada Buncit Endhel Apit Ngajeng Endhel Apit Wuri Endhel Weton Ngajeng Endhel Weton Wuri Bedhaya Ketawang lama tarian 130 menit Bedhaya Pangkur lama tarian 60 meit Bedhaya Duradasih lama tarian 60 menit Bedhaya Mangunkarya lama tarian 60 menit Bedhaya Sinom lama tarian 60 menit Bedhaya Endhol-endhol lama tarian 60 menit Bedhaya Gandrungmanis lama tarian 60 menit Bedhaya Kabor lama tarian 60 menit Bedhaya Tejanata lama tarian 60 menit Beberapa jenis tari Bedhaya yang belum mengalami perubahan : Pada umumnya berbagai jenis Bedhaya tersebut berfungsi menjamu tamu raja dan menghormat serta menyambut Nyi Roro Kidul. Ide Sunan Kalijaga tentang Bedhaya dengan 9 penari ini akhirnya sampai pada Mataram Islam.

Gulu. Seperti Bedhaya. Komposisinya segi empat yang melambangkan tiang Pendopo. dengan tidak mengurangi isi dan bobotnya. angin dan bumi/tanah. yang selain melambangkan terjadinya manusia juga melambangkan empat penjuru mata angin. Disamping itu ada juga Bedhaya-bedhaya yang bertema kepahlawanan dan bersifat monumental. Melihat lamanya penyajian tari Bedhaya (juga Srimpi) maka untuk konsumsi masa kini perlu adanya inovasi secara matang. Contoh Bedhaya garapan baru : o o o • Bedhaya La la lama tarian 15 menit Bedhaya To lu lama tarian 12 menit Bedhaya Alok lama tarian 15 menit Tari Srimpi Tari Srimpi yang ada sejak Prabu Amiluhur ketika masuk ke Kraton mendapat perhatian pula.keperluan jahat di lingkungan Istana. Contoh Srimpi hasil garapan baru : o o o Srimpi Anglirmendhung menjadi 11 menit Srimpi Gondokusumo menjadi 15 menit Dan lain-lain Beberapa tari klasik yang tumbuh dari Bedhaya dan Srimpi : o Beksan Gambyong kebudayaan 67 Jawa . Sedang nama peranannya Batak. Tarian yang ditarikan 4 putri itu masing-masing mendapat sebutan : air. Juga karena lamanya penyajian (60 menit) maka untuk konsumsi masa kini diadakan inovasi. tari Srimpipun ada yang suci atau sakral yaitu Srimpi Anglir Mendhung. api. Dhada dan Buncit.

artinya tidak menggunakan gending sampak/srepeg. Adapun ciri-ciri tari ini :     Jumlah penari seorang putri atau lebih Memakai jarit wiron Tanpa baju melainkan memakai kemben atau bangkin Tanpa jamang melainkan memakai sanggul atau gelung  o Dalam menari boleh menggunakan sindenan ( menyanyi ) atau tidak Beksan Wireng Berasal dari kata Wira (perwira) dan 'Aeng' yaitu prajurit yang unggul. yang 'linuwih'. menag atau mati Jawa . tari ini sering juga ditarikan untuk menyambut tamu dalam upacara peringatan hari besar dan perkawinan. artinya gendhing ladrang kemudian diteruskan gendhing ketawang  kebudayaan 68 Tidak ada yang kalah. Sehingga tari ini menggambarkan ketangkasan dalam latihan perang dengan menggunakan alat perang. Ciri-ciri tarian ini :      Ditarikan oleh dua orang putra atau putri Bentuk tariannya sama Tidak mengambil suatu cerita Tidak mengambil ontowacono (dialog) Bentuk pakaiannya sama  Perangnya tanding. yang 'aeng'. Oleh istana tari itu diubah menjadi Tari gambyong. Tari ini diciptakan pada jaman pemerintahan Prabu Amiluhur dengan tujuan agar para putra beliau tangkas dalam olah keprajuritan dengan menggunakan alat senjata perang. hanya iramanya atau temponya kendho atau kenceng  Gending satu atau dua. Selain sebagai hiburan. akhirnya Nyi Mas itu dipanggil oleh Bangsawan Kasunanan Surakarta untuk menari di Istana sambil memberi pelajaran kepada para putra/I Raja. Menarinya sangat indah ditambah kecantikan dan modal suaranya yang baik.Berasal dari tari Glondrong yang ditarikan oleh Nyi Mas Ajeng Gambyong.

boleh tidak Menggunakan ontowacono ( dialog ) Pakaian tidak sama. Bedanya Tari Pethilan mengambil adegan atau bagian dari cerita pewayangan. menang atau mati Perang menggunakan gendhing srepeg. Pertama dipentaskan di Surakarta pada upacara perkawinan KGPH. Selanjutnya mengalami persesuaian dengan gaya Surakarta. Ciri-cirinya :      Tari boleh sama. Tari ini menggambarkan cara-cara berhias diri seorang gadis yang baru menginjak masa akhil baliq. agar lebih cantik dan menarik. kecuali pada lakon kembar Ada yang kalah. gangsaran  Memetik dari suatu cerita lakon Bambangan Cakil Hanila Prahasta Dan lain-lain Contoh Tari Pethilan :     • Tari Golek Tari ini berasal dari Yogyakarta.• Tari Pethilan Hampir sama dengan tari Wireng. kebudayaan 69 Jawa . sampak. Kusumoyudho dengan Gusti Ratu Angger tahun 1910.

memanggul payung Membawa kendhi (dahulu). mengungkapkan rasa kasih sayang kepada putranya yang baru lahir. sekarang jarang kebudayaan 70 Jawa . Ciri pakaiannya : o o o o o Memakai kain wiron Memakai jamang Memakai baju kotang Menggendong boneka. Tapi Bondan Cindogo satu-satunya anak yang ditimang-timang akhirnya meninggal dunia.Macam-macamnya :   Golek Clunthang iringan Gendhing Clunthang Golek Montro iringan Gendhing Montro  Golek Surungdayung iringan gendhing Ladrang Surungdayung. serta perlengakapan tarinya sering tanpa menggunakan kendhi seperti pada Bondan Cindogo. dan lain-lain • o o o Tari Bondan Tari ini dibagi menjadi : Bondan Cindogo Bondan Mardisiwi Bondan Pegunungan atau tani Tari Bondan Cindogo dan Mardisiwi merupakan tari gembira. Sedang pada Bondan Mardisiwi tidak.

melukiskan tingkah laku putri asal pegunungan yang sedang asyik menggarap ladang. o Bentuk tariannya . • Tari Topeng Tari ini sebenarnya berasal dari Wayang Wong atau drama. Menak Panji. memakai caping adan membawa alat pertanian hanya tidak memakai jamang tetapi memakai sanggul/gelungan. Tapi sekarang ini menurut kemampuan guru/pelatih tarinya. sawah. Beliau menciptakan 9 jenis topeng. menggendong tenggok. yaitu : o o o o o o o o kebudayaan 71 Topeng Panji Ksatrian Condrokirono Gunung sari Handoko Raton Klono Denowo Benco(Tembem) Jawa . sumping. Selanjutnya menari seperti gerak tari Bondan Cindogo / Mardisiwi. tegal pertanian. Tari Topeng yang pernah mengalami kejayaan pada jaman Majapahit. Sedangkan Bondan Pegunungan. sampur.Untuk gendhing iringannya Ayak-ayakan diteruskan Ladrang Ginonjing. topengnya dibuat dari kayu dipoles dan disungging sesuai dengan perwatakan tokoh/perannya yang diambil dari Wayang Gedhog. pertama melukiskan kehidupan petani kemudian pakaian bagian luar yang menggambarkan gadis pegunungan dilepas satu demi satu dengan membelakangi penonton. Di bagian dalam sudah mengenakan pakaian seperti Bondan biasa. Dulu hanya diiringi lagu-lagu dolanan tapi sekarang diiringi gendhing-gendhing lengkap. Tari ini semakin pesat pertumbuhannya sejak Islam masuk terutama oleh Suann Kalijaga yang menggunakannnya sebagai penyebaran agama. dll sebelum dipakai dimasukkan tenggok. Ciri pakaiannya : o o Mengenakan pakaian seperti gadis desa. Kecuali jika memakai jamang maka klat bahu.

o kepala. Kesenian tradisional tersebut tak kalah menariknya karena mempunyai keunikan-keunikan tersendiri. sedih. Tari Topeng adalah perlambang bagi sifat manusia. dllnya. di Purworejo Pertunjukan ini dilakukan oleh beberapa orang penari yang berpakaian menyerupai pakaian prajurit Belanda atau Perancis tempo dulu dan diiringi dengan alat-alat bunyi-bunyian terdiri dari kentrung. kesenian ini timbul sejak berkobarnya perang Aceh di jaman Belanda yang kemudian meluas ke daerah lain. kencer. menangis. Jawa Kulonan dan Jawa Timuran (Blambangan dan Osing) sehingga akar gerakan tari ini mengandung unsur kekayaan dinamis dan musik dari etnik Jawa. kebudayaan 72 Jawa . Tari Topeng masih bertahan hingga saat ini. TARI TRADISIONAL dari JAWA TENGAH Selain tari-tari klasik. Tari Topeng sendiri diperkirakan muncul pada masa awal abad 20 dan berkembang luas semasa perang kemerdekaan. kendang. Madura dan Bali. malu dan sebagainya. Bisanya tari ini ditampilkan dalam sebuah fragmentasi hikayat atau cerita rakyat setempat tentang berbagai hal terutama bercerita tentang kisah2 panji. karenanya banyak model topeng yang menggambarkan situasi yang berbeda. Menurut cerita. 2. Salah satu keunikannya adalah pada model alat musik yang dipakai seperti rebab (sitar Jawa) seruling Madura (yang mirip dengan terompet Ponorogo) dan karawitan model Blambangan. rebana. Dengan demikian walaupun masih bertahan namun Tari Topeng sudah mendekati kepunahan walaupun masih tetap mengikuti acara-acara penting kesenian tradisional tingkat nasional. tertawa. Biasanya digelar pada acaraacara-acara penting kesenian tradisional tingkat nasional. di Jawa Tengah terdapat pula tari-tari tradisional yang tumbuh dan berkembang di daerah-daerah tertentu. Beberapa contoh kesenian tradisional : o Tari dolalak. Turas (Penthul) Pakaiannya dahulu memakai ikat kepala dengan topeng yang diikat pada Tari Topeng yang berasal dari Malang sangat khas karena merupakan hasil perpaduan antara budaya Jawa Tengahan.

Kragan. Pertunjukan ini diadakan sebagai olah raga dan sekaligus hiburan di waktu senggang pada sore dan malam hari terutama di kala terang bulan purnama. terbang. di Rembang Sejenis olahraga gulat rakyat yang dimainkan oleh dua orang pegulat dipimpin oleh dua orang Gelandang (wasit) dari masing-masing pihak. Penarinya mengenakan celana panjang dilapisi kain batik sebatas lutut dan berkacamata kebudayaan 73 Jawa . o Blora Daerah ini terkenal dengan atraksi kesenian Kuda Kepang. dllnya. Pemain Obeg ini terdiri dari beberapa orang wanita atau pria dengan menunggang kuda yang terbuat dari anyaman bambu (kepang). Varian lain dari jenis kesenian ini di daerah lain dikenal dengan nama kuda lumping atau jaran kepang. Tarian ini menggunakan “ebeg” yaitu anyaman bambu yang dibentuk menyerupai kuda berwarna hitam atau putih dan diberi kerincingan. Jawa Timur.o Patolan (Prisenan). Kuntulan adalah kesenian bela diri yang dilukiskan dalam tarian dengan iringan bunyi-bunyian seperti bedug. serta diiringi dengan bunyi-bunyian tertentu. Seni gulat rakyat ini terutama berkembang di kalangan pelajar terutama di pantai diantara kecamatan Pandagan. Bulu sampai ke Tuban. Pertunjukan ini dipimpin oleh seorang pawang atau dukun yang dapat membuat pemain dalam keadaan tidak sadar. o Obeg dan Begalan Kesenian ini berkembang di Cilacap. sebelum tarian dimulai gadis menari tersebut dengan tangan terikat dimasukkan ke dalam tempat tertutup bersama peralatan bersolek. ada juga yang menamakannya jathilan (Yogyakarta) juga reog (Jawa Timur). kemudian selang beberapa lama ia telah selesai berdandan dan siap untuk menari. Lokasinya berada di tempat-tempat yang berpasir di tepi pantai. barongan dan Wayang Krucil (sejenis wayang kulit ternuat dari kayu). Atraksi ini dapat disaksikan pada waktu malam bulan purnama setelah panen. Sedangkan Sintren adalah sebuah tari khas yang magis animistis yang terdapat selain di Pekalongan juga di Batang dan Tegal. Kesenian ini menampilkan seorang gadis yang menari dalam keadaan tidak sadarkan diri. o Pekalongan Di daerah Pekalongan terdapat kesenian Kuntulan dan Sintren.

gudril. Laisan dilakukan oleh seorang pemain pria yang sedang mendem. ebeg diiringi oleh gamelan yang lazim disebut bendhe. di dalam kurungan itulah Laisan berdandan seperti wanita. Dalam pertunjukannya. Laisan muncul di tengah pertunjukan ebeg. Yang bersifat khas banyumas antara lain : Calung. Pada pertunjukan ebeg komersial. Kesenian ini hidup di daerah Bangumas pada umumnya juga terdapat di Cilacap. badannya ditindih dengan lesung terus dimasukkan ke dalam kurungan. seorang berperan sebagai pemimpin atau dalang. lung gadung dan lain-lain. dua orang berperan sebagai penthul-tembem. kenong. Jumlah penari ebeg 8 oarang atau lebih. kebudayaan 74 Jawa . Begalan adalah salah satu acara dalam rangkaian upacara perkawinan adat Banyumas. saron. 7 orang lagi sebagai penabuh gamelan. gong dan terompet. dan yang unik adalah para pemainnya biasa memakan pecahan kaca (beling) atau barang tajam lainnya sehingga menunjukkan keperkasaan sebagai Satria. pertunjukannya memerlukan tempat pagelaran yang cukup luas seperti lapangan atau pelataran/halaman rumah yang cukup luas. Pada kedua pergelangan tangan dan kaki dipasangi gelang-gelang kerincingan sehingga gerakan tangan dan kaki penari ebeg selalu dibarengi dengan bunyi kerincingan. Biasanya dalam pertunjukan ebeg dilengkapi dengan atraksi barongan. Laisan juga dikenal di wilayah lain (wetan) dan mereka biasa menyebutnya Sintren. Setelah terlebih dulu dimantra-mantara. blendrong. Untuk mengiringi tarian ini selalu digunakan lagu-lagu irama Banyumasan seperti ricik-ricik. Semua penari menggunakan alat bantu ebeg sedangkan penthul-tembem memakai topeng. Tarian ebeg termasuk jenis tari massal. jadi satu grup ebeg bisa beranggotakan 16 orang atau lebih. mengenakan mahkota dan sumping ditelinganya. Peralatan yang dipergunakan anatara lain kendang. salah seorang pemain biasanya melakukan thole-thole yaitu menari berkeliling arena sambil membawa tampah untuk mendapatkan sumbangan. dan munculah pria tersebut dengan mengenakan pakaian wanita lengkap. kurunganpun dibuka. demikian pula pemain yang manaiki kuda kepang menggambarkan kegagahan prajurit berkuda dengan segala atraksinya. penthul dan cepet. Waktu pertunjukan umumnya siang hari dengan durasi antara 1 – 4 jam. Laisan adalah jenis kesenian yang melekat pada kesenian ebeg. Purbalingga maupun di daerah di luar Kabupaten Banyumas. biasanya kurungan ayam.hitam.

tampah. tarian lengger-calung terdiri dari lengger . siwur. kukusan. Jumlah penari 2 orang. cething. irus. Sayangnya pertunjukan begalan ini tidak boleh dipentaskan terlalu lama karena masih termasuk dalam rangkaian panjang upacara pengantin. Sesuai namanya. saringan ampas. Barang-barang yang dibawa antara lain ilir. Pembegal biasanya membawa pedang kayu. Barang bawaan ini biasa disebut brenong kepang. gerak tarinya tak begitu terikat pada patokan tertentu yang penting gerak tarinya selaras dengan irama gending. centhong. ian. seorang bertindak sebagai pembawa barangbarang (peralatan dapur). Dialog yang disampaikan kedua pemain berupa bahasa lambang yang diterjemahkan dari nama-nama jenis barang yang dibawa. tempat nasi artinya bahwa hidup itu memerlukan wadah yang memiliki tatanan tertentu jadi tidak boleh berbuat semau-maunya sendiri. Biasanya usai pertunjukan. umumnya mereka mengenakan busana Jawa. Kukusan adalah alat memasak atau menanak nasi. o Lengger-Calung dari banyumas Kesenian kebudayaan 75 tradisional lengger-calung tumbuh dan berkembang Jawa diwilayah ini. Yang menarik adalah dialog-dialog antara yang dibegal dengan sipembegal biasanya berisi kritikan dan petuah bagi calon pengantin dan disampaikan dengan gaya yang jenaka penuh humor. ini melambangkan bahwa setelah berumah tangga cara berpikirnya harus masak/matang. Begalan merupakan kombinasi antara seni tari dan seni tutur atau seni lawak dengan iringan gending. Upacara ini diadakan apabila mempelai laki-laki merupakan putra sulung. sorokan. penonton juga disuguhi dialog-dialog menarik yang penuh humor. Sebagai layaknya tari klasik. Begalan adalah jenis kesenian yang biasanya dipentaskan dalam rangkaian upacara perkawinan yaitu saat calon pengantin pria beserta rombongannya memasuki pelataran rumah pengantin wanita. Kostum pemain cukup sederhana. contohnya ilir yaitu kipas anyaman bambu diartikan sebagai peringatan bagi suami-isteri untuk membedakan baik buruk. Centhing. seorang lagi bertindak sebagai pembegal/perampok. Disebut begalan karena atraksi ini mirip perampokan yang dalam bahasa Jawa disebut begal. kendhil dan wangkring. barang-barang yang dipikul diperebutkan para penonton.begalan dan Dalang Jemblung. Selain menikmati kebolehan atraksi tari begalan dan irama gending.

sedangkan kendang atau gendang sama seperti gendang biasa. Jumlah penari lengger antara 2 sampai 4 orang. Satu grup calung minimal memerlukan 7 orang anggota terdiri dari penabuh gamelan dan penari/lengger. gerakan tariannya sangat dinamis dan lincah mengikuti irama calung. Sedangkan untuk Begalan biasanya wanita. dhendhem. Tari Lengger Dulu penari lengger adalah pria yang berdandan seperti wanita. gedheg dan lempar sampur. badut biasanya hadir pada pertengahan pertunjukan. rambut kepala disanggul. mengenakan kain/jarit dan stagen. mereka harus berdandan sedemikian rupa sehingga kelihatan sangat menarik. kini penarinya umumnya wanita cantik sedangkan penari prianya hanyalah sebagai badut pelengkap yang berfungsi untuk memeriahkan suasana. sampur atau selendang biasanya dikalungkan dibahu. gambang penerus. o Kuda Lumping (Jaran kepang) dari Temanggung diselenggarakan oleh keluarga yang baru pertama kalinya mengawinkan anaknya. Yang mengadakan ini adalah dari pihak mempelai kebudayaan 76 Jawa . Lengger menari mengikuti irama khas Banyumasan yang lincah dan dinamis dengan didominasi oleh gerakan pinggul sehingga terlihat sangat menggemaskan. Diantara gerakan khas tarian lengger antara lain gerakan geyol. Peralatan gamelan calung terdiri dari gambang barung. Dalam penyajiannya calung diiringi vokalis yang lebih dikenal sebagai sinden.(penari) dan calung (gamelan bambu). kenong dan gong yang semuanya terbuat dari bambu wulung (hitam). Calung adalah suatu bentuk kesenian rakyat dengan menggunakan bunyibunyian semacam gambang yang terbuat dari bambu. Juga dapat untuk mengiringi tarian yang diperagakan oleh beberapa penari wanita. leher sampai dada bagian atas biasanya terbuka. lagu-lagu yang dibawakan merupakan gending Jawa khas Banyumas.

o Lengger dari Wonosobo Kesenian khas Wonosobo ini dimainkan oleh dua orang laki-laki yang masing-masing berperan sebagai seorang pria dan seorang wanita. Diiringi dengan bunyi-bunyian yang antara lain berupa Angklung bernada Jawa. Tarian ini mengisahkan ceritera Dewi Chandrakirana yang sedang mencari suaminya yang pergi tanpa pamit.Kesenian ini diperagakan secara massal. Pada puncak tarian penari mencapai keadaan tidak sadar. Dan pada puncaknya para pemain mencapai keadaan tidak sadar. dahulu merupakan tarian penyalur semangat kepahlawanan dari keturunan prajurit Diponegoro. sering dipentaskan untuk menyambut tamu-tamu resmi atau biasanya diadakan pada waktu upacara. mengisahkan cinta kasih klasik pada jaman kerajaan Kediri. Tariannya dilakukan dengan menaiki kuda kepang dengan senjata tombak dan pedang. kenong dll. Ceritera ini kemudian diubah menurut kebudayaan 77 Jawa . o Tarian Jlantur dari Boyolali Sebuah tarian yang dimainkan oleh 40 orang pria dengan memakai ikat kepala gaya turki. Tarian ini menggambarkan prajurit yang akan berangkat ke medan perang. Dalam pencariannya itu ia diganggu oleh raksasa yang digambarkan memakai topeng. o Jatilan dari Magelang Pertunjukan ini biasanya dimainkan oleh delapan orang yang dipimpin oleh seorang pawang yang diiringi dengan bunyi-bunyian berupa bende. o Ketek Ogleng dari wonogiri Kesenian yang diangkat dari ceritera Panji.

Tarian akrobatis ini di antara lain dipertunjukan di atas seutas tali. dan sakti. o Tari Tepak-Tepak Putri Tari yang menggambarkan kelincahan gerak remaja-remaja putri sedang bersuka ria memainkan rebana. Selain itu ia membawa Pecut Samandiman. PUJANGGANONG atau BUJANGGANONG adalah penari dan tarian yang menggambarkan sosok patih muda ( Patihnya Klana Sewandana) yang cekatan. 3. Sebagai contoh : o Tari prawiroguno Tari ini menggambarkan seorang prajurit yang sedang berlatih diri dengan perlengkapan senjata berupa pedang untuk menyerang musuh dan juga tameng sebagai alat untuk melindungi diri.selera rakyat setempat menjadi kesenian pertunjukan Ketek Ogleng yang mengisahkan percintaan antara Endang Roro Tompe dengan Ketek Ogleng. wajah merah darah dan rambut yang lebat warna hitam menutup pelipis kiri dan kanan. 4. wajah berwarna merah. Sosok ini digambarkan dengan topeng yang mirip dengan wajah raksasa. Penampilannya dititik beratkan pada suguhan tarian akrobatis gaya kera (Ketek Ogleng) yang dimainkan oleh seorang dengan berpakaian kera seperti wayang orang. hidung panjang. mata melotot. mulut terbuka dengan gigi yang besar tanpa taring. cerdik. KLANA SEWANDANA atau KLONO Penari dan tarian yang menggambarkan sosok raja dari kerajaan Bantarangin ( kerajaan yang dipercaya berada di wilayah Ponorogo jaman dahulu. berbentuk kebudayaan 78 Jawa . jenaka. dan kumis tipis. dengan iringan pujian atau syair yang bernafas Islam. 5. Sosok ini digambarkan dengan topeng bermahkota. TARI GARAPAN BARU ( KREASI BARU ) dari JAWA TENGAH Meskipun namanya 'baru' tetapi semua tari yang termasuk jenis ini tidak meninggalkan unsur-unsur yang ada dari jenis tari klasik maupun tradisional. mata besar melotot.

ANGGUK Tarian ini berasal dari Banyumas. Pikulan bambu tersebut berukuran besar dan kuat tetapi ringan karena dibuat dari bambu yang sudah cukup tua. Kesenian angguk yang bercorak Islam ini mulanya berfungsi sebagai salah satu alat untuk menyiarkan agama Islam. Di tengah masing-masing ikatan padi ada sunduk (tusuk) bambu sepanjang hampir 2 meter.tongkat lurus dari rotan berhias jebug dari sayet warna merah diseling kuning sebanyak 5 atau 7 jebug. 7. Tarian jenis ini sudah ada sejak abad ke 17 dibawa para mubalig penyebar agama Islam yang datang dari wilayah MataramBagelen. Perangkat musiknya terdiri dari kendang. Pada kedua ujung bambu dibuat lobang persegi panjang selebar 1 cm. Celana panjang sampai lutut dengan hiasan garis merah pula. biasanya menggunakan bambu tali dengan panjang sekitar 2. bedug. kencreng. Tarian ini disebut angguk karena penarinya sering memainkan gerakan mengangguk-anggukan kepala. Angguk dimainkan sedikitnya oleh 10 orang penari anak laki-laki berusia sekitar 12 tahun. mengenakan kaos kaki panjang sebatas lutut tanpa sepatu. tambur. bedanya bila angguk dimainkan oleh remaja pria maka “aplang” atau “daeng” dimainkan oleh remaja putri. Syair lagu-lagu tari angguk diambil dari kitab Barzanji sehingga syair-syair angguk pada awalnya memang menggunakan bahasa Arab tetapi akhir-akhir ini gerak tari dan syairnya mulai dimodifikasi dengan menyisipkan gerak tari serta bahasa khas Banyumasan tanpa merobah corak aslinya. 2 rebana. RENGKONG Rengkong adalah kesenian yang menyajikan bunyi-bunyian khas bagai suara kodok mengorek secara serempak yang dihasilkan dari permainan pikulan bambu. 6. Dua ikat padi seberat ± 15 kg digayutkan dengan tali ijuk mengalungi sonari (badan rengkong bambu di tempat yang diraut).6 meter. terbang (rebana besar) dan angklung. Ujung atas sunduk bambu dimasukkan ke badan bambu rengkong dekat gantungan kebudayaan 79 Jawa . serta memakai topi pet berwarna hitam. Bentuk lain dari kesenian angguk adalah “aplang”. sekeliling bambu melintasi lobang tersebut diraut sekedar tempat bertengger tali penggantung ikatan padi. Pakaian para penari umumnya berwarna hitam lengan panjang dengan garis-garis merah dan kuning di bagian dada/punggung sebagai hiasan. Sayangnya jenis kesenian ini sekarang semakin jarang dipentaskan.

Tayuban digelar sebagai bagian dari upacara sakral yang berhubungan dengan kesuburan ( kesuburan perkawinan dan kesuburan pertanian/tanah ). gesekan tali ijuk yang keras inilah yang menimbulkan suara berderit-derit nyaring. 9. Pura Mangkunegaran mengambil Tari Gambyong menjadi salah satu tari unggulan yang diberi nama gambyong Pareanom. terlebih bila dimainkan dengan berbaris berarak-arakan maka suasananya akan lebih semarak. pikulan bambu rengkong yang berisi muatan padi diletakkan pada bahu kanan (dipikul). Cara memainkannya. Pada bagian akhir sajian para pemain Buncis Intrance atau mendem. Di daerah tertentu tarian ini digelar sebagai bagian dari upacara pembersihan ( bala atau malapetaka ) dan biasanya kebudayaan 80 Jawa . BUNCIS Buncis adalah perpaduan antara seni musik dengan seni tari yang dimainkan oleh 8 orang pemain. Dalam pertunjukannya diiringi dengan perangkat musik angklung. TAYUBAN Adalah salah satu jenis tari masyarakat Jawa. Kesenian tradisional para petani ini biasanya diadakan pada pesta perayaan panen atau pada hari-hari besar nasional. 10. TARI GAMBYONG Salah satu tari dari Surakarta. Para pemain buncis selain menjadi penari juga menjadi pemusik serta vokalis. Tali ijuk dengan beban padi yang menggantung pada badan bambu rengkong pun bergerak-gerak. 11. Kalau ada beberapa rengkong yang dimainkan serempak maka akan timbul suara yang mengasyikan. Di tahun 1950-an. Pemikul mengayun-ayunkan ke kiri dan ke kanan dengan mantap dan teratur. Tarian ini juga dikenal di seluruh Nusantara.tali ijuk. Jadi Tari Gambyong itu berasal dari kawulo alit ( orang kecil / rendah ) yang datang ke Kraton. AKSIMUDA Aksimuda adalah kesenian bernafas Islam yang disajikan dalam bentuk atraksi pencak silat yang digabung dengan tari-tarian. khas alam petani. Menurut cerita. 8. kata ”gambyong” diambil dari uru tari (tledhek) yang mempunyai nama Mbok gambyong. tetapi dengan versi yang berbeda.

Gamelan Jawa memiliki nada yang lebih lembut dan slow. APLANG atau DAENG Kesenian yang serupa dengan Angguk. diantaranya : Pandangan hidup Jawa yang diungkapkan dalam musik gamelannya adalah keselarasan kehidupan jasmani dan rohani. Makanya ada yang beranggapan bahwa Tayuban itu berasal dari kata ”tayub” ( ditata guyub ). sedekah bumi. sebuah bentuk gamelan yang berbeda dengan Gamelan Bali ataupun Gamelan Sunda.Guyub antara lelaki dan perempuan. Perbedaan itu wajar. H. Nantinya selendang itu diberikan kepada laki-laki ( ketiban sampur ).2 a) Seni Musik GAMELAN JAWA Gamelan yang berkembang di Yogyakarta adalah Gamelan Jawa. Di daerah tertentu.juga digelar dalam penyambutan tamu-tamu agung. keselarasan dalam berbicara dan bertindak sehingga tidak memunculkan ekspresi yang meledakkebudayaan 81 Jawa . sedekah desa. Dan yang menerima selendang itu mendapat kehormatan untuk menari bersama dengan penari perempuan tadi. pemainnya terdiri atas remaja Putri. perkawinan. dan lain-lain. Pada zaman dahulu tarian ini mempunyai nilai hiburan dan sensual karena tarian ini menggambarkan keakraban hubungan lelaki ( pengibing ) dan perempuan ( ronggeng ). Beberapa jenis alat musik yang terdapat di Jawa. penari perempuan menggunakan sampur atau selendang. karena Jawa memiliki pandangan hidup tersendiri yang diungkapkan dalam irama musik gamelannya. khitanan. 12. berbeda dengan Gamelan Bali yang rancak dan Gamelan Sunda yang sangat mendayu-dayu dan didominasi suara seruling.

Tidak ada kejelasan tentang sejarah munculnya gamelan. 2) Saron Alat musik pukul dari bronze dengan disanggah kayu. Barulah pada beberapa waktu sesudahnya berdiri sebagai musik sendiri dan dilengkapi dengan suara para sinden. dan tarian. Saron Peking. rebab dan celempung.ledak serta mewujudkan toleransi antar sesama. Perkembangan musik gamelan diperkirakan sejak kemunculan kentongan. Seperangkat gamelan terdiri dari beberapa alat musik. kebudayaan 82 Jawa . Wujud nyata dalam musiknya adalah tarikan tali rebab yang sedang.45 cm. misalnya gong berperan menutup sebuah irama musik yang panjang dan memberi keseimbangan setelah sebelumnya musik dihiasi oleh irama gending. gesekan pada tali atau bambu tipis hingga dikenalnya alat musik dari logam. Saron Barung. musik ini dipakai untuk mengiringi pagelaran wayang. diantaranya satu set alat musik serupa drum yang disebut kendang. Perkembangan selanjutnya setelah dinamai gamelan. Pengendang adalah konduktor dari musik gamelan. paduan seimbang bunyi kenong. Ada 5 ukuran kendang dari 20 cm . Seperangkat gamelan tersebut diantaranya : 1) Kendang Kendang adalah instrumen pemimpin. rebab. Komponen utama yang menyusun alatalat musik gamelan adalah bambu. gong dan seruling bambu. Masing-masing alat memiliki fungsi tersendiri dalam pagelaran musik gamelan. dan kayu. Ada 3 macam Saron. tepukan ke mulut. gambang. saron kendang dan gambang serta suara gong pada setiap penutup irama. Saron Demung. logam.

3) Bonang Barung Terdiri dari 2 baris peralatan dari bronze dimainkan dengan 2 alat pukul. 5) Gender Hampir sama dengan slentem dengan lempengan bronze lebih banyak. kebudayaan 83 Jawa . 4) Slentem Lempengan bronze ini diletakan diatas bambu untuk resonansinya. 6) Gambang Lempengan kayu yang diletakkan diatas frame kayu juga.

untuk menandakan lagu yang bagiannya berirama pendek. Dua Gong besar (Gong Ageng) dan satu gong Suwukan sekitar 90 cm. terbuat dari bronze.7) Gong Setiap set slendro dan pelog dilengkapi dengan 3 gong. Gong menandakan akhir dari bagian lagu yang liriknya panjang. kebudayaan 84 Jawa . Setiap set slendro dan pelog terdiri dari 6 atau 10 kempul. 8) Kempul Gong kecil.

10) Ketug Disebut juga kenong kecil. kebudayaan 85 Jawa . satu set komplet bisa 10 kenong baik set slendro atau pelog.9) Kenong Semacam gong kecil diatas tatakan. menandakan jeda antar lirik lagu.

13) Suling Setiap set slendro dan pelog memerlukan 1 suling. 14) Rebab Alat musik gesek kebudayaan 86 Jawa . 12) Siter Tiap set slendro dan pelog memerlukan 1 siter.11) Clempung sebuah instrument kecil. dimana setiap satu set slendro dan pelog membutuhkan satu clempung.

D E+ G A] dengan perbedaan interval kecil. yaitu 1 2 3 5 6 [C. Satu permainan gamelan komplit terdiri dari dua putaran. yaitu 1 2 3 4 5 6 7 [C+ D E.F# G# A B] dengan perbedaan interval yang besar. Slendro memiliki 5 nada per oktaf. yaitu slendro dan pelog. Komposisi musik gamelan diciptakan dengan beberapa aturan.15) Keprak dan Kepyak Diperlukan untuk pertunjukan tari 16)Bedug Gamelan Jawa adalah musik dengan nada pentatonis. yaitu terdiri dari beberapa putaran dan kebudayaan 87 Jawa . Pelog memiliki 7 nada per oktaf.

Gamelan Pelog Gamelan pelog fungsinya hampir sama dengan gamelan salendro. Gamelan Jawa itu dibagi menjadi dua : 1. Berdasarkan suaranya. hanya kurang begitu berkembang dan kurang akrab di masyarakat dan jarang dimiliki oleh grup-grup kesenian di masyarakat. Sementara untuk melihat perangkat gamelan tua. Anda bisa melihat gamelan sebagai sebuah pertunjukan musik tersendiri maupun sebagai pengiring tarian atau seni pertunjukan seperti wayang kulit dan ketoprak. Yang memainkan gamelan itu adalah Penayagan. kliningan.pathet. tembaga yang dicampur nikel atau perunggu.00 WIB digelar gamelan sebagai sebuah pertunjukan musik tersendiri. anda bisa menuju bangsal kraton lain yang terletak lebih ke belakang.00 . dibatasi oleh satu gongan serta melodinya diciptakan dalam unit yang terdiri dari 4 nada. Salah satu tempat di Yogyakarta dimana anda bisa melihat pertunjukan gamelan adalah Kraton Yogyakarta. Seperti : besi. Gamelan 2. jaipongan dan lain-lain. Hampir semua bagian dari alat musik ini terbuat dari logam ( tosan ). kebudayaan 88 Jawa . anda bisa menuju Bangsal Sri Maganti. Sebagai sebuah pertunjukan tersendiri.12. Hari Sabtu pada waktu yang sama digelar musik gamelan sebagai pengiring wayang kulit. Pada hari Kamis pukul 10. Gamelan Slendro salendro biasa digunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang. Untuk melihat pertunjukannya. tari. Sedangkan yang menyanyikan adalah Pesinden ( wira-swara/swarawati ). sementara hari Minggu pada waktu yang sama digelar musik gamelan sebagai pengiring tari tradisional Jawa. musik gamelan biasanya dipadukan dengan suara para penyanyi Jawa (penyanyi pria disebut wiraswara dan penyanyi wanita disebut waranggana). Salah satu bentuk gamelan kontemporer adalah jazzgamelan yang merupakan paduan paduan musik bernada pentatonis dan diatonis. Pertunjukan musik gamelan yang digelar kini bisa merupakan gamelan klasik ataupun kontemporer.

saron demung .slenthem . kenong. Beberapa daftar Gamelan . Nada-nadanya 2 (ro).kendhang batangan . terdiri atas gambang barung.kethuk .rebab . dhendhem. 3 (lu). meduroan dan malangan.Yang menabuh gamelan itu harus mengerti tinggi rendahnya suara dan cepat lambatnya lagu. Selain itu ada juga Gong Sebul dinamakan demikian karena bunyi yang dikeluarkan kebudayaan 89 Jawa .saron barung . Sedangkan yang menuntun sampak adalah kendhang.kempyang . jombangan. c) BONGKEL Bongkel adalah musik tradisional Banyumasan yang mirip dengan angklung. selain itu gendhing ini merupakan satu-satunya gendhing yang dapat mencirikan keragaman karawitan Jawa timuran karena terangkai menjadi berbagai gaya. . Perangkat musik khas Banyumasan yang terbuat dari bambu wulung mirip dengan gamelan Jawa. Dalam pertunjukkannya Bongkel disajikan gendhing . sebut saja jula-juli surabaya.gambang . d) CALUNG Alat musik ini terbuat dari potongan bambu yang diletakkan melintang dan dimainkan dengan cara dipukul. gambang penerus.bonang . gong & kendang. 5 (mo). Alat yang menuntun suara adalah rebab.gender .suling .kendhang gendhing b) JULA-JULI Jula-juli adalah salah satu gendhing yang sangat lazim dijumpai pada pertunjukan ludruk dan tari remo di Jawa Timur. susunan pola balungan melodi yang ada adalah 65626521 21262165.gong suwuk .siter/celempung . 6 (nem).gong ageng .kenong . hanya terdiri dari satu jenis instrumen dengan empat bilah berlaras slendro.gendhing khusus bongkel.kempul .saron panerus .

diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa. Dalam penyajiannya calung diiringi vokalis yang lazim disebut sinden. Sehingga tahun saat itu yang adalah tahun 1547 Saka. Dalam satu grup kenthongan. Kenthong yang dipakai ada beberapa macam sehingga menghasilkan bunyi yang selaras. seruling. dan siklus pekan pancawara yang terdiri dari 5 hari pasaran. kebudayaan 90 Jawa . alat ini juga terbuat dari bambu dengan ukuran yang besar. Aransemen musikal yang disajikan berupa gending-gending Banyumasan. berupa potongan bambu yang diberi lubang memanjang disisinya dan dimainkan dengan cara dipukul dengan tongkat kayu pendek. Kenthong adalah alat utamanya. kecrek dan dipimpin oleh mayoret. Lagu-lagu yang dibawakan kebanyakan lagu Jawa dan Dangdut. H. SurakartaYogyakarta dan sering pula disajikan lagu-lagu pop yang diaransir ulang.mirip gong tetapi dimainkan dengan cara ditiup (sebul). Hal ini dilakukan demi asas kesinambungan. e) KENTHONGAN Sebagian orang menyebutnya tek-tek. Angka tahun Saka tetap dipakai dan diteruskan. Dalam sistem kalender Jawa. Dalam pertunjukan kesenian ini menyajikan lagu-lagu yang diambil dari kitab Barzanji. f) SALAWATAN JAWA yaitu salah satu seni musik bernafaskan Islam dengan perangkat musik berupa terbang Jawa.3 Kalender Jawa Kalender Jawa adalah sebuah kalender yang istimewa karena merupakan perpaduan antara budaya Islam. Kenthongan dimainkan dalam kelompok yang terdiri dari sekitar 20 orang dan dilengkapi dengan Beduk. Pada tahun 1625 Masehi. siklus hari yang dipakai ada dua: siklus mingguan yang terdiri dari 7 hari seperti yang kita kenal sekarang. namun tidak menggunakan angka dari tahun Hijriyah (saat itu tahun 1035 H). budaya Hindu-Buddha Jawa dan bahkan juga sedikit budaya Barat. Kentongan juga terbuat dari bambu. gending gaya Banyumasan. Sultan Agung yang berusaha keras menyebarkan agama Islam di pulau Jawa dalam kerangka negara Mataram mengeluarkan dekrit untuk mengubah penanggalan Saka. Sejak saat itu kalender Jawa versi Mataram menggunakan sistem kalender kamariah atau lunar.

Mulud 4. Jumadilawal 6. (Dulkangidah) 12. Daftar bulan Jawa Islam Di bawah ini disajikan nama-nama bulan Jawa Islam. Pulau Bali dan Palembang yang mendapatkan pengaruh budaya Jawa. Besar(Dulkijah) Sela A. Sura 2. Ruwah (Saban) 9. Batavia dan Banyuwangi (=Balambangan). Ketiga daerah terakhir ini tidak termasuk wilayah kekuasaan Sultan Agung. Rejeb 8. Poso (siyam) 10. Sebagian nama bulan diambil dari Kalender Hijriyah. Karo / Pusa (3 Agustus-25 Agustus) VII. Lalu oleh beliau tanggalnya disesuaikan dengan penanggalan tarikh kalender Gregorian yang juga merupakan kalender surya.Dekrit Sultan Agung berlaku di seluruh wilayah kerajaan Mataram II: seluruh pulau Jawa dan Madura kecuali Banten. Kasa / Kartika (23 Juni-2 Agustus) II. dengan nama-nama Arab. karena penanggalan kamariah dianggap tidak memadai sebagai patokan para petani yang bercocok tanam. Tetapi lama setiap mangsa berbeda-beda. I. Sapar 3. namun beberapa di antaranya menggunakan nama dalam bahasa Sansekerta seperti Pasa. Kawolu / Wisaka (4 Februari-1 Maret) kebudayaan 91 Jawa . Bakdamulud 5. Sedangkan nama Apit dan Besar berasal dari bahasa Jawa dan bahasa Melayu. Daftar bulan Jawa matahari Pada tahun 1855 Masehi. 1. Jumadilakhir 7. Nama-nama ini adalah nama bulan kamariah atau candra (lunar). Sebenarnya pranata mangsa ini adalah pembagian bulan yang asli Jawa dan sudah digunakan pada jaman pra-Islam. Kapitu / Palguna (23 Desember-3 Februari) VIII. juga tidak ikut mengambil alih kalender karangan Sultan Agung ini. Sawal 11. maka bulan-bulan musim atau bulan-bulan surya yang disebut sebagai pranata mangsa. dikodifikasikan oleh Sri Paduka Mangkunegara IV atau penggunaannya ditetapkan secara resmi. Sela dan kemungkinan juga Sura.

namun di pulau Bali dan di Tengger. Kasewelas / Sadha (20 April-12 Mei) XII. Dal 6. Wage. Kemudian sebuah pekan yang terdiri atas tujuh hari ini. yaitu yang juga dikenal di budaya-budaya lainnya. namun dari 2 sampai 10 hari. Jimakir Pembagian pekan Orang Jawa pada masa pra Islam mengenal pekan yang lamanya tidak hanya tujuh hari saja. Kapat / Setra (19 September-13 Okober) V. Karolas / Asuji (13 Mei22Juni) Oleh orang Jawa tahun-tahun digabung menjadi semacam abad yang terdiri dari delapan satuan lebih kecil. Berikut ini secara singkat dijelaskan sebagai berikut: kebudayaan 92 Jawa . memiliki sebuah siklus yang terdiri atas 30 pekan. Setiap pekan disebut satu wuku dan setelah 30 wuku maka muncul siklus baru lagi. astawara dan sangawara. Siklus ini yang secara total berjumlah 210 hari adalah semua kemungkinannya hari dari pekan yang terdiri atas 7. Pekan yang terdiri atas lima hari ini disebut sebagai pasar oleh orang Jawa dan terdiri dari hari-hari: Legi. triwara. Alip 2. pañcawara (pancawara). dan Kliwon. sadwara. 6 dan 5 hari berpapasan. Kasanga / Jita (2 Maret26 Maret) X. Di bawah disajikan nama-nama windu: 1. Setiap satuan ini terdiri atas 8 tahun Jawa dan disebut windu. Jaman sekarang hanya pekan yang terdiri atas lima hari dan tujuh hari saja yang dipakai. Ehe 3. Jimawal 4. Siklus windu IX. Pon. Wawu 8. Paing. Katiga / Manggasri (26 Agustus-18 September) IV. Kalima / Manggala (14 Oktober-9 November) VI. Kasepuluh / Srawana (27 Maret-19 April) XI.III. Be 7. Je 5. Kanem / Maya (10 November-22 Desember) B. Pekan-pekan ini disebut dengan namanama dwiwara. pekan-pekan yang lain ini masih dipakai. caturwara. saptawara.

Senen / Soma 3. Kemis / Respati 6. Wage / Kresna/ Langking 3. Saptawara – Padinan. Wurung / Api 9. Selasa / Anggara 4. Uwas / Peksi/Burung 6. Setu / Tumpak/Saniscara 4. Sri 2. Rebo / Budha 5. Dangu / Batu 2. Mawulu / Taru/Benih. Pon / Palguna (7) 5. Perhitungan hari dengan siklus 5 harian : 1. Perhitungan hari dengan siklus 9 harian : 1.Guru 4. (4) 4. Rudra 6. Nohan / Rembulan 6. Sadwara – Paringkelan.1. Kerangan / Matahari 5. Tulus / Air 8. Kliwon/ Kasih (8) 2. Dadi / Kayu kebudayaan 93 Jawa . Aryang / Manusia 3. Kala 8. Pahing / Jenar (9) 2. Tungle / Daun 2. Jagur / Harimau 3. Indra 3. Perhitungan hari dengan siklus 6 harian 1. Gigis / Bumi 4. Jemuwah / Sukra 7. Wogan / Ulat 7. Pancawara – Pasaran dan bobot angkanya. Sangawara 5. Hastawara – Padewan. Uma – Padangon. Minggu / Radite 2. Perhitungan hari dengan siklus 8 harian : 1. Perhitungan hari dengan siklus 7 harian : 1.Wurukung/ Hewan 4. Yama 5. Paningron / Mina/Ikan 5. Legi / Manis (5) 3. Brama 7.

Wukir 4. Wayang 28. perbedaan yang nyata adalah pada saat penetapan pergantian hari ketika pergantian sasi/bulan. misalnya:    Paing mempunyai bobot angka 9 Pon mempunyai bobot angka 7 Wage mempunyai bobot angka 4 Kliwon mempunyai bobot angka 8. Marakeh 19.6. Julungwangi 10. Warigagung 9. kuningan 13. Dhukut 30 Watugunung Sistim Penanggalan Jawa disebut juga Penanggalan Jawa Candrasangkalaatau perhitungan penanggalan berdasarkan peredaran Bulan mengitari Bumi.00 sampai dengan 18. Candrasangkala Jawa menetapkan bahwa pergantian hari ketika pergantian sasi waktunya adalah tetap yaitu pada saat matahari terbenam (surup-antara pukul 17. Warigalit 8. Perhitungan hari dengan siklus mingguan dari 30 wuku : 1. Wuye 23. Sungsang 11.00). Perhitungan penanggalan Jawa sudah dicocokkan dengan penanggalan Hijriah namun demikian pencocokan ini bukanlah menjiplak seluruhnya tapi juga mempergunakan perhitungan yang rumit dari para leluhur kita. Weton Tiap hari pasaran menurut penanggalan Jawa mempunyai bobot angka yang disebut neton.   Sementara hari mingguan akan mengikuti bobot angka sbb: kebudayaan 94 Jawa . sedangkan pergantian hari ketika pergantian sasi/bulan pada penanggalan Hijriah ditentukan dengan Hilal dan Rukyat. Ada perbedaan yang hakiki antara system perhitungan penanggalan Jawa dengan penanggalan Hijriah. Pahang 17. Manahil 24. Wuku. Kuruwelut 18. Mandhasiya 15. Bala 26. Langkir 14. Sinta 2. Landhep 3. Julungpujud 16. Tambir 20. dan Legi mempunyai bobot angka 5. Maktal 22. Kulawu 29. Kurantil 5. Galungan 12. Gumbreg 7. 7. Wugu 27. Tolu 6. Medhangkungan 21. Prangbakat 25.

yaitu bangunan dengan Soko Guru dan atap 4 belah sisi. Contoh : Seperti disebutkan di atas. karena Senin = 4 + Paing = 9. sebuah bubungan di tengahnya. Rumah Jawa adalah arsitektur tradisional Jawa yang berkembang sejak abad ke-13 terdiri atas 5 tipe dasar (pokok) yaitu : 1. H. kebudayaan 95 Jawa .4 Rumah Adat Bangunan adat rumah Jawa Ilmu yang mempelajari seni bangunan oleh masyarakat Jawa biasa disebut Ilmu Kalang atau disebut juga Wong Kalang. Joglo (atap joglo) atau Tikelan. dan mempunyai bobot angka 13. termasuk untuk memilih hari perkawinan menurut adat kepercayaan Jawa. tanggal 1 Januari 2001 (awal abad ke-21 dan awal alaf ke-3) adalah hari Senin-Paing. atap terdiri dari 4 (empat) buah sisi soko guru dengan pemidangannya (alengnya) dan berblandar tumpang sari.       • Senin mempunyai bobot angka 4 Selasa mempunyai bobot angka 3 Rabu mempunyai bobot angka 7 Kamis mempunyai bobot angka 8 Jum'at mempunyai bobot angka 6 Sabtu mempunyai bobot angka 9. Bentuk Rumah Joglo :Memiliki ciri. dan Minggu mempunyai bobot angka 5. Angka semacam ini biasanya dipakai untuk menentukan hari baik dalam melakukan aktivitas sehari-hari.

tempat raja bertahta. Joglo Mangkurat 6. yaitu bangunan dengan Soko Guru atap 4 belah sisi. baik di kota maupun di desa dan di gunung-gunung. trajumas. makam. Tidak ada yang untuk tempat tinggal. Joglo Jompongan 4. Apabila diperkembangkan dapat berfungsi sebagai tempat ronda. Limasan (atap limas). tempat mobil / garasi. Dipergunakan sebagai tempat suci. lambang gantung. dan lain-lain. tanpa bubungan. dan sebagainya 5. jadi meruncing. Perkembangan dari bentuk ini juga dipergunakan sebagai tempat tinggal 4. Bentuk rumah Limasan: Terutama terlihat pada atapnya yang memiliki 4 (empat) buah bidang sisi. Jenis-jenis Rumah Joglo : 1. Bentuk Rumah Tajug :Ciri utamanya pada atap berbentuk runcing.Bangunan ini umumnya dipergunakan sebagai pendopo dan juga untuk tempat tinggal (dalem). Bentuk Rumah Panggang-pe :Banyak kita jumpai sebagai tempat jualan minuman. yaitu bangunan dengan atap 4 belah sisi. Hanya saja yang berbentuk trajumas tidak biasa digunakan sebagai tempat tinggal 3. berdenah bujur sangkar. Panggang Pe. Joglo Lawakan 2. lantainya selalu di atas tanpa bertingkat. Perkembangannya dengan penambahan emper atau serambi. kutuk ngambang. yaitu bangunan dengan atap 2 belah sisi. Mesjidan/Tajugan. pabrik. Joglo Hageng kebudayaan 96 Jawa . serta beberapa ruangan akan tercipta bentuk-bentuk sinom. yaitu bangunan hanya dengan atap sebelah sisi. nasi dan lain-lainnya yang terdapat di tepi jalan. semisal : Masjid. sebuah bubungan di tengahnya. Joglo Sinom 3. Kampung (atap pelana). Kebanyakan untuk tempat tinggal. soko guru dengan blandar-blandar tumpang sari. memakai dudur. 2. Joglo Pangrawit 5. sebuah bubungan di tengah saja Bentuk Rumah Kampung : Umumnya sebagai tempat tinggal.

7. Joglo Semar Tinandhu

Limasan Jenis-jenis Rumah Limasan 1. Limasan Lawakan 2. Limasan Gajah Ngombe 3. Limasan Gajah Njerum 4. Limasan Apitan 5. Limasan Pacul Gowang 6. Limasan Cere Gancet 7. Limasan Trajumas 8. Limasan Gajah Mungkur 9. Limasan Klabang Nyander 10. Limasan Lambang Teplok 11. Limasan Semar Tinandu 12. Limasan Lambang Sari

Joglo

13. Limasan Semar Pinondhong, contoh Bangsal Kama, Kraton Cirebon Jenis-jenis Rumah Kampung : 1. Kampung Pokok 2. Kampung Trajumas 3. Kampung Pacul Gowang 4. Kampung Srotong 5. Kampung Cere Gancet 6. Kampung Gotong Mayit 7. Kampung Semar Pinondhong 8. Kampung Apitan kebudayaan 97 Jawa

9. Kampung Gajah Njerum 10. Kampung Gajah Ngombe 11. Kampung Doro Gepak 12. Kampung Klabang Nyander 13. Kampung Jompongan Lambang Teplok Semar Tinandhu (untuk tobong kapur) 14. Kampung Lambang Teplok (untuk gudang genteng) Jenis-jenis Rumah Panggang Pe : 1. Panggang Pe Pokok 2. Panggang Pe Trajumas 3. Panggang Pe Empyak Setangkep 4. Panggang Pe Gedhang Selirang 5. Panggang Pe Gedhang Setangkep 6. Panggang Pe Cere Gancet 7. Panggang Pe bentuk kios 8. Panggang Pe Kodokan (jengki) 9. Panggang Pe Barengan 10. Panggang Pe Cere Gancet Jenis-jenis Mesjidan/Tajugan : 1. Mesjidan Cungkup Pokok 2. Mesjidan Lawakan (langgar) 3. Mesjidan Lambang Teplok, contoh : Bangsal Gianyar, Bali 4. Mesjidan payung agung (meru), susun 3 untuk rakyat, 5 sentana (keluarga) raja, 7 pangeran, 11 raja, contoh Pamujaan Besakih, Bali 5. Tajug Tawon Boni, contoh : Bangsal Pajajaran 6. Tajug Tiang Satu Lambang Teplok, contoh : Mesjid rakyat Gombong 7. Tajug Semar Sinongsong Lambang Teplok, contoh : Langgar Kecil Kraton Cirebon 8. Tajug Pendawa, contoh : Kraton Cirebon 9. Tajug Lambang Gantung, contoh : Bangsal Ponconiti Kraton Yogyakarta 10. Tajug Lambangsari, contoh : Bangsal Pertemuan para Wali, Gunung Sembung 11. Tajug Lawakan Lambang Teplok, contoh : Pasarean Suwargan, Imogiri kebudayaan 98 Jawa

12. Tajug Semar Tinandhu, Dukuh, Yogyakarta 13. Tajug Semar Sinongsong Lambang Gantung, contoh : Masjid Soko Tunggal (gabungan Pajajaran dan Sultan Agungan, Taman, Kraton Yogyakarta 14. Tajug Ceblokan Lambang Teplok, Masjid Agung Yogyakrata 15. Tajug Mangkurat, Bangsal Witono, Kraton Yogyakarta 16. Tajug Sinom Semar Tinandhu, Lawang Sanga-sanga, Kraton Cirebon

Masing-masing bentuk berkembang menjadi beraneka jenis dan variasi yang bukan hanya berkaitan dengan perbedaan ukurannya saja, melainkan juga dengan situasi dan kondisi daerah setempat. Dari kelima macam bangunan pokok rumah Jawa ini, apabila diadakan penggabungan antara 5 macam bangunan maka terjadi berbagai macam bentuk rumah Jawa. Sebagai contoh : gedang selirang, gedang setangkep, cere gencet, sinom joglo lambang gantung, dan lain-lain. Menurut pandangan hidup masyarakat Jawa, bentuk-bentuk rumah itu mempunyai sifat dan penggunaan tersendiri. Misalnya bentuk Tajug, itu selalu hanya digunakan untuk bangunan yang bersifat suci, umpamanya untuk bangunan Masjid, makam, dan tempat raja bertahta, sehingga masyarakat Jawa tidak mungkin rumah tempat tinggalnya dibuat berbentuk Tajug. Rumah yang lengkap sering memiliki bentuk-bentuk serta penggunaan yang tertentu, antara lain : - pintu gerbang - pendopo - pringgitan - dalem - dapur kebudayaan 99 : bentuk kampung : bentuk joglo : bentuk limasan : bentuk joglo : bentuk kampung Jawa

- gandhok (kiri-kanan) : bentuk pacul gowang

Yang disebut rumah yang utuh seringkali bukanlah satu bangunan dengan dinding yang pejal melainkan halaman yang berisi sekelompok unit bangunan dengan fungsi yang berbeda-beda.. Dengan sendirinya rumah yang berbentuk doro gepak (atap bangunan yang berbentuk mirip burung dara yang sedang terbang mengepakkan sayapnya) misalnya bagianbagiannya dipergunakan untuk kegunaan yang tertentu. Dinding ruangan sekedar merupakan tirai pembatas. Pada dasarnya arsitektur tradisonal Jawa – sebagaimana halnya Bali dan daerah lain – adalah arsitektur halaman yang dikelilingi oleh pagar.emper kanan-kiri : untuk senthong tengah dan senthong kiri kanan Di beberapa daerah pantai terdapat pula rumah-rumah yang berkolong. dudur. Tetapi bagi orang yang tidak mampu tidaklah mungkin akan demikian. bukan dinding pemikul. Di samping itu arsitektur Jawa memiliki ketahanan yang cukup handal terhadap gempa. Atap bangunannya selalu menggunakan tritisan yang lebar. yang sangat melindungi ruang beranda atau emperan di bawahnya.emper depan . seperti : ander. wajar dan jujur tanpa ada usaha menutup-nutupinya. . pengeret. Struktur bangunannya merupakan struktur rangka dengan konstruksi kayu. Demikian pula bahan-bahan bangunannya. saka guru. Tata ruang dan struktur yang demikian sungguh cocok untuk daerah beriklim tropis yang sering mengalami gempa dan sesuai untuk peri kehidupan manusia yang memiliki kepribadian senang berada kebudayaan 100 Jawa . Arsitektur tradisional Jawa terbukti sangat populer tidak hanya di Jawa sendiri tetapi sampai menjangkau manca negara. bagaikan payung yang terpancang terbuka. dan sebagainya. semua dibiarkan menunjukan watak aslinya.emper yang lain : untuk Pendopo : untuk tempat pertemuan keluarga : untuk gudang dan dapur. misalnya : . Hal tersebut dimaksudkan untuk berjaga-jaga bila ada banjir. Kedutaan Besar Indonesia di Singapura dan Malaysia juga Bandar Udara Soekarno-Hatta mempunyai arsitektur tradisional Jawa. brunjung. saka penanggap. umpak. usuk peniyung. reng. usuk ri-gereh.dan lain-lain. Dalam Seni Bangunan Jawa karena telah begitu maju. Yang sangat menarik pula untuk diungkap adalah struktur tersebut diperlihatkan secara jelas. maka semua bagian kerangka rumah telah diberi nama-nama tertentu. Bahan bangunan rumah Jawa ialah terutama dari kayu jati.ruang tengah . Ruang dalam dan luar saling mengimbas tanpa pembatas yang tegar. blandar.

Selain rumah tempat tinggal (induk). di antara rumah belakang dengan pendapa terdapat pringgitan. disamping bangunan rumah tersebut. Sedangkan pepohonan yang ditanam seringkali memiliki sasraguna (multi fungsi). Lesung. rumah tempat menumbuk padi. tempat menyimpan padi dan hasil bumi lainnya. bila yang bersangkutan mempunyai kerja (pernikahan.di udara terbuka. Dapur (pawon) terletak di sebelah kiri rumah belakang (omah buri). juga sebagai sumber pangan bagi manusia dan binatang bahkan sering pula dimanfaatkan untuk obat tradisional. angsa). angsa. untuk tempat binatang ternak (sapi. istirahat anggota keluarga. sedang tamu wanita ditempatkan di rumah belakang. Peranginan ini bagi kebudayaan 101 Jawa . digunakan untuk menerima tamu. misalnya Istana Ratu Boko di dekat Prambanan. kambing. Bagi warga masyarakat umum (kawula dalem) yang mampu. tempat tinggalnya (rumah) masih dilengkapi dengan bangunan lainnya. Kadang-kadang terdapat peranginan. Gedhongan biasanya menyambung ke kiri atau ke kanan kandhang. Sedang untuk sarong atau kombong terletak di sebelah kiri agak jauh dari pendhapa. susunan rumah dalam sebuah rumah tangga terdiri dari beberapa bangunan rumah. kombong (itik. Letaknya agak berjauhan. terdapat pula bangunan rumah lain yang digunakan untuk keperluan lain dai keluarga tersebut. Biasanya terletak di sebelah kiri atau kanan Pringgitan. ialah bangunan rumah kecil. Pringgitan ialah tempat yang digunakan untuk pementasan pertunjukan wayang kulit. Bangunan rumah tersebut terdiri dari: pendhapa. Rumah belakang (omah buri) digunakan untuk rumah tempat tinggal. yaitu tempat untuk tidur. untuk ternak unggas. Kadangkadang terdapat lesung yang terletak di muka pendapa samping kanan. misal: lumbung. kerbau. Dalam masyarakat Jawa. untuk kuda disebut gedhongan. terletak di depan rumah tempat tinggal. yaitu sebagai peneduh. Untuk ternak besar disebut kandang. kuda. biasanya diletakkan disamping kanan agak berjauhan dengan pendapa.ayam dan sebagainya). Susunan rumah demikian mirip dengan susunan rumah istana Hindu Jawa. Halaman yang lega dengan perkerasan pasir atau kerikil sangat bermanfaat untuk penyerapan air hujan. dan sebagainya). penyaring debu. ada sarong (ayam). tempat memasak. namun ada pula yang diletakkan di muka pendhapa dengan disela oleh halaman yang luas. khitanan. Terletak di samping kiri atau kanan rumah belakang (pada umumnya terletak di sebelah belakang). peredam angin dan suara. itik. Dalam pertunjukan tersebut tamu laki-laki ditempatkan di pendapa. Kandang bisa terdapat di sebelah kiri pendapa. Kandang.

gedhogan. Hal tersebut sangat bergantung pada kemampuan keluarga. Demikian pula tempat buang air besar/kecil dan kamar mandi dibuatkan bangunan rumah sendiri. H. Sastra Jawa-Madura. Besar kecilnya maupun jenis bangunannya dibuat menurut selera serta harus diingat status sosial pemiliknya didalam masyarakat. Biasanya sejarah sastra Jawa dibagi dalam empat masa: • • • • Jawa Timur. Sastra Jawa-Sunda. rumah belakang. dan Sastra Jawa-Palembang. topengan. sumur dan pendhapa.5 Karya Sastra SASTRA JAWA Sejarah Sastra Jawa dimulai dengan sebuah prasasti yang ditemukan di daerah Sukabumi (Sukobumi). yang berkembang dari Sastra Jawa Tengahan. bangsal. Secara lengkap kompleks rumah tempat tinggal orang Jawa adala rumah belakang. Kemudian terdapat bangunan tempat mandi yang disebut jambang. Kediri. Selain itu. ditemukan prasasti lainnya dari tahun 856 M yang berisikan sebuah sajak yang disebut kakawin. dan juga tempat bersantai untuk mencari udara segar dari pemiliknya. Kakawin yang tidak lengkap ini adalah sajak tertua dalam bahasa Jawa (Kuna). Tetapi setelah kebudayaan 102 Jawa . lumbung. dapur. gadhok (tempat para pelayan). pringgitan. dan sebagainya. berupa rumah kecil ditempatkan di samping dapur atau belakang samping kiri atau kanan rumah belakang. Pare. Pintu masuk pekarangan sering dibuat Regol. Prasasti yang biasa disebut dengan nama Prasasti Sukabumi ini bertarikh 25 Maret tahun 804 Masehi. Demikian sedikit variasi bangun rumah adat Jawa yang lengkap untuk sebuah keluarga. sastra Jawa adalah yang paling berkembang dan paling banyak tersimpan karya sastranya. Biasanya untuk WC ditempatkan agak berjauhan dengan dapur. Isinya ditulis dalam bahasa Jawa Kuna. pringgitan. Sastra Jawa Kuna Sastra Jawa Tengahan Sastra Jawa Baru Sastra Jawa Modern Terdapat pula kategori Sastra Jawa-Bali. pendapa. Dari semua sastra tradisional Nusantara.pejabat desa bisa digunakan untuk markas ronda atau larag. kandhang. Setelah prasasti Sukabumi. serambi. ada pula Sastra Jawa-Lombok.

Kakawin Ramayana dan terjemahan Mahabharata dalam bahasa Jawa Kuna. Karya sastra Jawa Kuna sebagian besar terlestarikan di Bali dan ditulis pada naskah-naskah manuskrip lontar. Gubernur-Jenderal dari Britania Raya yang memerintah di pulau Jawa. Istilah sastra Jawa Kuna agak sedikit rancu. Manuskripmanuskrip yang memuat teks Jawa Kuna jumlahnya sampai ribuan sementara prasasti-prasasti ada puluhan dan bahkan ratusan jumlahnya. Karya-karya sastra Jawa penting yang ditulis pada periode ini termasuk Candakarana. Penelitian ilmiah mengenai sastra Jawa Kuna mulai berkembang pada abad ke-19 awal dan mulanya dirintis oleh Stamford Raffles. Di dalam artikel ini. Sehingga mereka jarang yang tertulis dalam bentuk asli seperti pada waktu dibuat kebudayaan 103 Jawa . Jadi merupakan sastra Jawa sebelum masa sastra Jawa Pertengahan. Karya-karya ini mencakup genre seperti sajak wiracarita. Sastra Jawa Kuna Sastra Jawa Kuna meliputi sastra yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuna pada periode kurang-lebih ditulis dari abad ke-9 sampai abad ke-14 Masehi. kesatuan yang diutamakan. A. Sastra Jawa Kuna diwariskan dalam bentuk manuskrip dan prasasti. dimulai dengan Prasasti Sukabumi. Sastra Jawa Pertengahan adalah masa transisi antara sastra Jawa Kuna dan sastra Jawa Baru. Kolonel Colin Mackenzie beliau mengumpulkan dan meneliti naskah-naskah Jawa Kuna. Sastra Jawa Kuna yang terlestarikan sampai hari ini sebagian besar diturunkan dalam bentuk naskah manuskrip yang telah disalin ulang berkali-kali. dan kitab-kitab keagamaan. tahun 1945 sastra Jawa agak dianaktirikan karena di Negara Kesatuan RI. Walau sebagian besar sastra Jawa Kuna terlestarikan di Bali. pengertian terakhir inilah yang dipakai. kronik (babad). Bersama asistennya. di Jawa dan Madura ada pula sastra Jawa Kuna yang terlestarikan. undang-undang hukum. Bahkan di Jawa terdapat pula teks-teks Jawa Kuna yang tidak dikenal di Bali. Selain sebagai seorang negarawan beliau juga tertarik dengan kebudayaan setempat. Istilah ini bisa berarti sastra dalam bahasa Jawa sebelum masuknya pengaruh Islam atau pembagian yang lebih halus lagi: sastra Jawa yang terlama.proklamasi RI. Meski di sini harus diberi catatan bahwa tidak semua prasasti memuat teks kesusastraan. Karya sastra ini ditulis baik dalam bentuk prosa (gancaran) maupun puisi (kakawin).

tembaga dan lain-lain.dahulu. 1. 996 Udyogaparwa Bhismaparwa Asramawasanaparwa Mosalaparwa Prasthanikaparwa Swargarohanaparwa Kunjarakarna Kakawin Tertua Jawa. Sedangkan naskah manuskrip tertua adalah sebuah naskah daun nipah yang berasal dari abad ke-13 dan ditemukan di Jawa Barat. kecuali jika ditulis pada bahan tulisan yang awet seperti batu. 15. Candakarana Sang Hyang Kamahayanikan Brahmandapurana Agastyaparwa Uttarakanda Adiparwa Sabhaparwa Wirataparwa. 13. Prasasti tertua dalam bahasa Jawa Kuna berasal dari tahun 804. 4. 10. 8. 11. 2. 2. 14. 12. Namun tidak semua teks-teks ini merupakan teks kesusastraan. Teks kesusastraan tertua pada sebuah prasasti terdapat pada Prasasti Siwagreha yang ditarikh berasal dari tahun 856 Masehi. mpu Kanwa. 5. Naskah nipah ini memuat teks Kakawin Arjunawiwaha yang berasal dari abad ke-11. Daftar Karya Sastra Jawa Kuna dalam bentuk prosa: 1. 3. 6. 9. 856 Kakawin Ramayana ~ 870 Kakawin Arjunawiwaha. 3. Banyak teks dalam bahasa Jawa Kuna yang terlestarikan dari abad ke-9 sampai abad ke-14. namun isinya bukan merupakan teks kesusastraan. 7. Dari masa ini terwariskan sekitar 20 teks prosa dan 25 teks puisi. ~ 1030 Jawa 104 Daftar Karya Sastra Jawa Kuna dalam bentuk puisi (kakawin) kebudayaan . Sebagian besar dari teks-teks ini ditulis setelah abad ke-11.

Kakawin Kresnayana Kakawin Sumanasantaka Kakawin Smaradahana Kakawin Bhomakawya Kakawin Bharatayuddha. B. mpu Prapanca. 14. mpu Tantular Kakawin Sutasoma. 10. 22. 5. mpu Sedah dan mpu Panuluh. Pada masa ini muncul karya-karya puisi yang berdasarkan metrum Jawa atau Indonesia asli. 15. 11. Daftar Karya Sastra Jawa Tengahan prosa: 1. 9. 8. 23. mpu "Dusun" Kakawin Nagarakretagama. mulai dari abad ke13 sampai kira-kira abad ke-16. 1157 Kakawin Hariwangsa Kakawin Gatotkacasraya Kakawin Wrettasañcaya Kakawin Wrettayana Kakawin Brahmandapurana Kakawin Kunjarakarna. mpu Tantular Kakawin Siwaratrikalpa. 1365 Kakawin Arjunawijaya. 21. 20. 19. 5. 7. Setelah ini. 12. 16.4. 3. 4. 24. Tantu Panggelaran Calon Arang Tantri Kamandaka Korawasrama Pararaton Jawa 105 Daftar Karya Sastra Jawa Tengahan puisi: kebudayaan . Karya-karya ini disebut kidung. 2. 18. 13. Kakawin Lubdhaka Kakawin Parthayajna Kakawin Nitisastra Kakawin Nirarthaprakreta Kakawin Dharmasunya Kakawin Harisraya Kakawin Banawa Sekar Tanakung Sastra Jawa Tengahan Sastra Jawa Pertengahan muncul di Kerajaan Majapahit. 17. sastra Jawa Tengahan diteruskan di Bali menjadi Sastra Jawa-Bali. 6.

1. 2. 3. 4. 5. 6. C.

Kakawin Dewaruci Kidung Sudamala Kidung Subrata Kidung Sunda Kidung Panji Angreni Kidung Sri Tanjung Sastra Jawa Baru

Sastra Jawa Baru kurang-lebih muncul setelah masuknya agama Islam di pulau Jawa dari Demak antara abad kelima belas dan keenam belas Masehi. Dengan masuknya agama Islam, orang Jawa mendapatkan ilham baru dalam menulis karya sastra mereka. Maka, pada masa-masa awal, zaman Sastra Jawa Baru, banyak pula digubah karya-karya sastra mengenai agama Islam. Suluk Malang Sumirang adalah salah satu yang terpenting. Kemudian pada masa ini muncul pula karya-karya sastra bersifat ensiklopedis seperti Serat Jatiswara dan Serat Centhini. Para penulis 'ensiklopedia' ini rupanya ingin mengumpulkan dan melestarikan semua ilmu yang (masih) ada di pulau Jawa, sebab karya-karya sastra ini mengandung banyak pengetahuan dari masa yang lebih lampau, yaitu masa sastra Jawa Kuna. Gaya bahasa pada masa-masa awal masih mirip dengan Bahasa Jawa Tengahan. Setelah tahun ~ 1650, bahasa Jawa gaya Surakarta menjadi semakin dominan. Setelah masa ini, ada pula renaisans Sastra Jawa Kuna. Kitab-kitab kuna yang bernapaskan agama Hindu-Buddha mulai dipelajari lagi dan digubah dalam bahasa Jawa Baru. Sebuah jenis karya yang khusus adalah babad, yang menceritakan sejarah. Jenis ini juga didapati pada Sastra Jawa-Bali. Daftar Cuplikan Karya Sastra Jawa Baru Masa Islam:
• • • • • • •

Kidung Rumeksa ing Wengi Kitab Sunan Bonang Primbon Islam Suluk Sukarsa Serat Koja Jajahan Suluk Wujil Suluk Malang Sumirang Jawa 106

kebudayaan

• • • • • • • • •

Serat Nitisruti Serat Nitipraja Serat Sewaka Serat Menak Serat Yusup Serat Rengganis Serat Manik Maya Serat Ambiya Serat Kandha Serat Rama Kawi Serat Bratayuda, Kyai Yasadipura Serat Panitisastra Serat Arjunasasra Serat Mintaraga, Ingkang Sinuwun Pakubuwana III Serat Darmasunya Serat Dewaruci Serat Ambiya Yasadipuran, Kyai Yasadipura Serat Tajusalatin Serat Cebolek Serat Sasanasunu Serat Wicara Keras Serat Kalatidha, Raden Ngabehi Ranggawarsita Serat Paramayoga, Raden Ngabehi Ranggawarsita Serat Jitapsara Serat Pustaka Raja Serat Cemporet Serat Damar Wulan, Raden Panji Jayasubrata, 1871 Serat Darmagandhul Babad Giyanti Babad Prayut Babad Pakepung Babad Tanah Jawi Jawa 107

Masa Renaisans dan sesudahnya:
• • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Babad-Babad:
• • • •

kebudayaan

D.

Sastra Jawa Modern

Sastra Jawa Modern muncul setelah pengaruh penjajah Belanda dan semakin terasa di Pulau Jawa sejak abad kesembilan belas Masehi. Para cendekiawan Belanda memberi saran para pujangga Jawa untuk menulis cerita atau kisah mirip orang Barat dan tidak selalu berdasarkan mitologi, cerita wayang, dan sebagainya. Maka, lalu muncullah karya sastra seperti di Dunia Barat; esai, roman, novel, dan sebagainya. Genre yang cukup populer adalah tentang perjalanan. Gaya bahasa pada masa ini masih mirip dengan Bahasa Jawa Baru. Perbedaan utamanya ialah semakin banyak digunakannya kata-kata Melayu, dan juga kata-kata Belanda. Pada masa ini (tahun 1839, oleh Taco Roorda) juga diciptakan huruf cetak berdasarkan aksara Jawa gaya Surakarta untuk Bahasa Jawa, yang kemudian menjadi standar di pulau Jawa. Daftar Karya Sastra

Lelampahaning Purwalelana, Raden Mas Purwalelana (jeneng sesinglon) 1875-1880

• • • • • •

Rangsang Tuban, Padmasoesastra, 1913 Ratu, Krishna Mihardja, 1995 Tunggak-Tunggak Jati, Esmiet Lelakone Si lan Man, Suparto Brata, 2004 Pagelaran, J. F. X. Hoery Banjire Wis Surut, J. F. X. Hoery

H.6

Wayang

kebudayaan 108

Jawa

dan ada pula wayang yang berupa sekumpulan boneka yang dimainkan oleh dalang. seni musik. Wayang. Wayang Wong atau Wayang Orang di Jawa Tengah. kulit. budaya wayang berkembang menjadi beragam jenis. yang dikenal sebagai wayang orang. sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan sangat berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity). Ada versi wayang yang dimainkan oleh orang dengan memakai kostum. seni pahat. Kata `wayang' diduga berasal dari kata `wewayangan'. hiburan. Budaya wayang. yang terus berkembang dari zaman ke zaman. Wayang Golek di Jawa Barat Masing masing sangat bekaitan satu sama lain. pendidikan. Cerita yang dikisahkan dalam pagelaran wayang biasanya berasal dari Mahabharata dan Ramayana. Sunan Kali Jaga dan Raden Patah sangat berjasa dalam mengembangkan Wayang. kayu. Wayang yang dimainkan dalang ini diantaranya berupa wayang kulit atau wayang golek. Jenis-jenis wayang : Selama berabad-abad. yang artinya bayangan. 3. seni sastra. oleh para pendahulu negri ini sangat mengandung arti yang sangat dalam sekali. seni lukis. Para Wali di Tanah Jawa sudah mengatur sedemikian rupa menjadi tiga bagian. antara lain yang terbuat dari kertas. dan juga seni perlambang. 1. dan juga kebudayaan 109 Jawa . dakwah. seni tutur. sebagai pembatas antara dalang yang memainkan wayang. Dugaan ini sesuai dengan kenyataan pada pergelaran Wayang Kulit yang menggunakan kelir. Sedangkan alat peraganya pun berkembang menjadi beberapa macam. Budaya wayang meliputi seni peran. pemahaman filsafat. Yaitu "Mana yang Isi(Wayang Wong) dan Mana yang Kulit (Wayang Kulit) harus dicari (Wayang Golek)". secarik kain.Wayang adalah seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Pulau Jawa dan Bali. Pertunjukan wayang telah diakui oleh UNESCO pada tanggal 7 November 2003. dan penonton di balik kelir itu. serta hiburan. Kebanyakan jenis jenis wayang itu tetap nenggunakan Mahabarata dan Ramayana sebagai induk ceritanya. Wayang Kulit di Jawa Timur 2. kain. juga merupakan media penerangan. Penonton hanya menyaksikan gerakan-gerakan wayang melalui bayangan yang jatuh pada kelir. seni suara.

Wayanng Parwa . -Wayang Kulit -Wayang Golek/ Wayang Thengul Bojonegoro -Wayang Krucil -Wayang Purwa -Wayang Beber -Wayang Orang -Wayang Gedog -Wayang Sasak -Wayang Calonarang -Wayang Wahyu -Wayang Menak . terbuat dari tanduk kerbau atau kulit penyu. Wayang Kulit Purwa mengambil cerita dari kisah Mahabarata dan Ramayana. Wayang Kulit Purwa Merupakan jenis wayang yang paling populer di masyarakat sampai saat ini. Pada saat pergelaran bagian gambar yang menampilkan adegan lakon itu dibuka dari gulungannya.Wayang Kancil 1.Wayang Sadat . Wayang Beber Berupa selembar kertas atau kain yang berukuran sekitar 80 cm X 12 meter.Wayang Orang. digunakan "kerangka penguat" yang membuatnya kaku.Wayang Madya . Pergelaran Wayang Kulit Purwa diiringi dengan seperangkat gamelan sedangkan penyanyi kebudayaan 110 Jawa . Agar lembaran wayang itu tidak lemas.Perkembangan jenis wayang ini juga dipengaruhi oleh keadaan budaya daerah setempat. Peraga wayang yang dimainkan oleh seorang dalang terbuat dari lembaran kulit kerbau (atau sapi) yang dipahat menurut bentuk tokoh wayang dan kemudian disungging dengan warna warni yang mencerminkan perlambang karakter dari sang Tokoh. Wayang Beber pada umumnya menceritakan kisah Panji.Wayang Klitik .Wayang Papak . 2. yang digambari dengan beberapa adegan lakon wayang tertentu.Wayang Suluh . Satu gulung wayang beber biasanya terdiri atas 16 adegan. dan sang Dalang menceritakan kisah yang terlukis dalam setiap adegan itu. Kerangka itu disebut cempurit. Jenis wayang ini tersebar hampir di seluruh Jawa dan daerah transmigrasi. bahkan juga di Suriname di benua Amerika bagian selatan.

pada zaman pemerintahan Mangkunegoro VII. cempuritnya merupakan kelanjutan dari bahan kayu pembuatan wayangnya. juga menggunakan peraga wayang berbentuk boneka kecil. Wayang ini diciptakan orang pada tahun 1648. Surakarta. Wayang Golek Menak Disebut juga Wayang Tengul. Selain berupa golek. Induk ceritanya bukan diambil dari Kitab Ramayana dan Mahabarata. Pementasan Wayang Klitik juga diiringi oleh gamelan dan pesinden. dsb. Wayang Klitik Terbuat dari kayu pipih yang dibentuk dan disungging menyerupai Wayang Kulit Purwa. peraga Wayang Golek Menak diberi pakaian mirip dengan Wayang Kulit Purwa. disebut pesinden atau waranggana.wanita yang menyanyikan gending-gending tertentu. Walaupun tokoh ceritanya sebenarnya orang Arab. agar lebih awet dan ringan menggerakkannya. seorang dalang dari Baturetno. Wayang ini diciptakan oleh Ki Trunadipa. Wayang Menak juga ada yang dirupakan dalam bentuk kulit. Pada Wayang Klitik. Anggapan itu disebabkan karena Wayang Krucil juga terbuat dari kayu pipih. pada masa perjuangan Nabi Muhammad SAW menyebarkan agama Islam . antara lain dengan memberinya kuluk. Latar belakang cerita Menak adalah negeri Arab. jamang. Hanya bagian tangan peraga wayang itu bukan dari kayu pipih melainkan terbuat dari kulit. 5. melainkan dari Kitab Menak. 3. Yang berbeda benar adalah induk kebudayaan 111 Jawa . Wayang Krucil Sering dianggap sama dengan Wayang Klitik. walaupun tubah dan sorban Arab juga digunakan. tetapi tanpa menggunakan kelir sehingga penonton dapat melihat secara langsung. sumping. 4.

Syahrir. Wayang Suluh Suluh tergolong wayang modern. Di antara lakonnya. 6. karena baru tercipta setelah zaman kemerdekaan. Wayang Orang Adalah seni drama tari yang mengambil cerita Ramayana dan Mahabarata sebagai induk ceritanya. dan Jenderal Sudirman. semua penari Wayang Orang adalah penari pria. dan David Ian Goliat. Dari segi cerita. Wayang ini mengambil lakon dari cerita Injil. Wayang Krucil mengambil lakon dari cerita Damarwulan. bahasa Jawa. Pada mulanya. antara lain terdapat Bung Karno. Wayang Orang adalah perwujudan drama tari dari Wayang Kulit Purwa. yakni pertengahan abad ke-18. bukan dari Ramayana atau Mahabarata. Karena itu.cerita yang diambil untuk lakon-lakonnya. tetapi corak tatahan dan sunggingannya agak naturalistik. kebudayaan 112 Jawa . Jadi agak mirip dengan pertunjukan ludruk di Jawa Timur dewasa ini. di antara tokoh peraganya. baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. antara lain adalah Samson Ian Delilah. saat ini sudah hampir punah. Wayang Wahyu Mempunyai bentuk peraga wayang terbuat dari kulit. Wayang ini dimaksudkan sebagai media penerangan mengenai sejarah perjuangan bangsa. Bung Hatta. 7. Penggambaran tokoh Wayang Suluh dibuat realistik. Bahasa pengantarnya. tidak ada penari wanita. Bung Tomo. Baik Wayang Krucil maupun Wayang Klitik. 8.

tetapi mengambil lakon dari cerita-cerita Panji. diiring oleh seperangkat gamelan dan pesinden. Perkembangan Wayang Wahyu amat terbatas pada lingkungan masyarakat beragama Katolik. Dengan demikian Wayang Wahyu praktis tidak berkembang. 9.Pergelaran Wayang wahyu hampir serupa dengan Wayang Kulit Purwa. Wayang ini amat mirip dengan Wayang Kulit Purwa. Itulah sebabnya. Padahal. Prabu Klana Madukusuma. Di antara tokoh-tokoh ceritanya. dan Raden Gunungsari. Wayang Gedog Diciptakan oleh Sunan Giri di tandai candra sengkala Gegamaning Naga Kinaryeng Bathara: 1485 caka (1568 M). boleh dibilang sudah punah. Wayang ini. sebagian orang menamakan Wayang Gedog ini Wayang Panji. kebudayaan 113 Jawa . antara lain adalah Prabu Lembu Hamiluhur. kelir dan gedebog. Hanya sisa-sisa peraganya saja yang masih bisa dilihat di beberapa museum dan Keraton Surakarta. itu pun yang berasal dari suku bangsa Jawa. tidak semua orang Jawa menyukai wayang. Para dalangnya pun pada umumnya juga merangkap sebagai dalang Wayang Kulit Purwa.

yaitu layar yang terbuat dari kain putih. sementara di belakangnya disorotkan lampu listrik atau lampu minyak (blencong).10. Jenis Wayang Kulit menurut asal daerah di Jawa : • • Wayang Jawa Yogyakarta Wayang Jawa Surakarta Jawa 114 kebudayaan . Wayang yang juga terbuat dari kulit itu. diciptakan tahun 1925 oleh seorang keturunan Cina bernama Bo Liem. meskipun seorang seniman. menggunakan tokoh peraga binatang. 11. dibuat dan disungging oleh Lie To Hien. penonton harus memiliki pengetahuan akan tokoh-tokoh wayang yang bayangannya tampil di layar. Wayang Kancil Termasuk wayang moderen. yakni Iedjar Subroto tetap berusaha mempopulerkannya. Wayang Kulit Wayang kulit adalah seni tradisional Indonesia. yang terutama berkembang di Jawa dan di sebelah timur semenanjung Malaysia seperti di Kelantan dan Terengganu. sehingga para penonton yang berada di sisi lain dari layar dapat melihat bayangan wayang yang jatuh ke kelir. Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang. Untuk dapat memahami cerita wayang(lakon). Dalang memainkan wayang kulit di balik kelir. Wayang Kancil termasuk di antara jenis wayang yang tidak berkembang. Cerita untuk lakon-lakon para Wayang Kancil diambil dari Kitab Serat Kancil Kridamartana karangan Raden Panji Natarata. dengan diiringi oleh musik gamelan yang dimainkan sekelompok nayaga dan tembang yang dinyanyikan oleh para pesinden.

devosional dan hiburan. Pakeliran Gagrag Banyumasan. jujur dan terus terang . dan hidup serta berkembang di daerah eks Karesidenan Banyumas. sederhana. merupakan ekspresi dan sifatnya lebih bebas. karawitan ( gendhing. Contoh gambar wayang : kebudayaan 115 Jawa . catur ( narasi dan cakapan) . sulukan dan properti panggung ) . karena memperoleh simpati dan dicintai masyarakatnya. Cerita Srikandi Mbarang Lengger' yang merupakan terusan lakon Srenggini Takon Rama adalah salah satu contoh kongkrit bahwa peran pemuda seperti Antasena dan Wisanggeni menjadi sangat sentral. sabet ( seluruh gerak wayang).• Wayang Kulit Gagrag Banyumasan Wayang Kulit Gagrag Banyumasan merupakan salah satu gaya pedalangan di tanah Jawa. dan berperan sebagai bentuk seni klangenan serta dijadikan wahana untuk mempertahankan nilai etika. yang kualitasnya selalu terjaga dan ditangani sungguhsungguh oleh para pakar yang memahami benar. mempunyai nuansa kerakyatan yang kental sebagaimana karakter masyarakatnya . serta lugas dan mampu bertahan sampai saat ini dalam menghadapi perubahan jaman. Petruk Krama dan lain-lain selain itu pula wayang Gagrag Banyumasan lebih menonjolkan peran para muda dalam penyelesaian kasus-kasus dan permasalahan. yang lebih dikenal dengan istilah pakeliran. Pakeliran ini mencakup unsurunsur yaitu. Dalam Wayang Gagrag Banyumasan mempunyai ciri khas dalam penceritaan yang lebih memperjelas peran rakyat kecil yang dimanivestasikan dalam tokoh punakawan seperti cerita Bawor Dadi Ratu. lakon wayang ( penyajian alur cerita dan maknanya).

Batara Guru (Siwa) dalam bentuk seni wayang Jawa. Tonjolan ini menandakan model rambut pria masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka di bagian belakang kepala. Pada umumnya rasukan Jawa dibagi menjadi 4 bagian yaitu. Untuk beberapa tipe blangkon ada yang menggunakan tonjolan pada bagian belakang blangkon. Untuk bagian kepala selain menggunakan blangkon biasanya orang Jawa kuna (tradisional) mengenakan "iket" yaitu ikat kepala yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menjadi penutup kepala. sehingga bagian tersebut tersembul di bagian belakang blangkon. • 1 Bagian ndhuwur/bagian atas (Penutup Kepala)  Iket atau blangkon Blangkon adalah tutup kepala yang dibuat dari batik dan digunakan oleh kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional Jawa. rasukan basahan dan rasukan gedhog. Pakaian adat Jawa ini mempunyai perlambang tertentu bagi orang Jawa. diri sendiri maupun Tuhan Yang Maha Kuasa Pencipta segalanya. Selain rasukan kejawen juga ada rasukan surjan. Masing-masing jenis rasukan Jawa ini mempunyai makna perumpamaan atau melambangakn nilai-nilai luhur filosofi Jawa. H. Dalam busana Jawa ini tersembunyi ajaran untuk melakukan segala sesuatu di dunia ini secara harmoni yang berkaitan dengan aktivitas seharihari.7 Pakaian Adat Rasukan adat Jawa Rasukan adat Jawa atau pakaian adat Jawa yang umumnya disebut rasukan kejawen yang sudah ada sejak jaman dahulu dan mulai terbentuk lengkap pada jaman kerajaan demak. Cara kebudayaan 116 Jawa . Busana Jawa penuh dengan piwulang sinandhi (ajaran tersamar) kaya akan ajaran Jawa. rasukan mesiran. baik dalam hubungannya dengan sesama manusia.

Apapun yang akan dilakukan hendaklah jangan sampai merugikan orang lain. Lambang yang tersirat dalam benik itu adalah agar orang (Jawa) dalam melakukan semua tindakannya apapun selalu diniknik. faham.  Udheng Udheng juga dikenakan di bagian kepala dengan cara mengenakan seperti mengenakan sebuah topi.mengenakan iket harus kenceng (kuat) supaya ikatan tidak mudah terlepas. Wiru kebudayaan 117 Jawa . Dengan kata lain hendaklah manusia mempunyai ketrampilan yang profesional. Menanggapi setiap masalah harus hati-hati. iket dan udheng sulit dibedakan karena ujud dan fungsinya sama. Jika sudah dikenakan di atas kepala. mengerti dan memahami tujuan hidup dan kehidupan atau sangkan paraning dumadi. menjaga antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum. tidak mudah terombang-ambing hanya karena situasi atau orang lain tanpa pertimbangan yang matang.  Jarik lan wiron utawa wiru Jarik atau sinjang merupakan kain yang dikenakan untuk menutup tubuh dari pinggang sampai mata kaki. • 2 Bagian tengah (bagian tengah)  Rasukan utawa kelambi uga benik (pakaian dan juga kancing baju) Busana kejawen seperti beskap selalu dilengkapi dengan benik (kancing baju) disebelah kiri dan kanan. Makna iket dimaksudkan manusia seyogyanya mempunyai pemikiran yang kenceng. Jarik bermakna aja gampang serik (jangan mudah iri terhadap orang lain). Maksudnya agar manusia mempunyai pemikiran yang kukuh. dapat . diperhitungkan dengan cermat. tidak grusa-grusu (emosional) Wiru Jarik atau kain dikenakan selalu dengan cara mewiru (meripel) pinggiran yang vertikal atau sisi saja sedemikian rupa. Udheng dari kata kerja Mudheng atau mengerti dengan jelas. Selain itu udheng juga mempunyai arti bahwa manusia seharusnya mempunyai ketrampilan dapat menjalankan pekerjaannya dengan dasar pengetahuan yang mantap atau mudheng.

 Sabuk Sabuk (ikat pinggang) dikenakan dengan cara dilingkarkan (diubetkan) ke badan. harus epek (apek. Untuk itulah manusia harus ubed (bekerja dengan sungguh-sungguh) dan jangan sampai kerjanya tidak ada hasil atau buk (impas/tidak ada keuntungan). kerjakan segala hal jangan sampai keliru agar bisa menumbuhkan suasana yang menyenangkan dan harmonis. bilahan dan terdapat di dalam warangka atau wadahnya. • 3 Bagian mburi (bagian belakang)  Curiga atau keris dan rangka Curiga atau keris berujud wilahan.atau wiron ( rimple ) diperoleh dengan cara melipat-lipat (mewiru). mencari) pengetahuan yang berguna. keris mempunyai arti bahwa dalam menyembah Tuhan Yang Maha Kuasa hendaklah manusia bisa untuk kebudayaan 118 Jawa . Jadi harus ubed atau gigih. Selama menempuh ilmu upayakan untuk tekun. Kata sabuk berarti usahakanlah agar segala yang dilakukan tidak ngebukne.  Timang Timang bermakna bahwa apabila ilmu yang didapat harus dipahami dengan jelas atau gamblang. tidak akan ada rasa samang (khawatir) samang asal dari kata timang. manunggaling kawula Gusti. dimaksudkan wiwiren aja nganti kleru. teliti dan cermat sehingga dapat memahami dengan jelas. Ini mengandung pengertian bahwa jarik tidak bisa lepas dari wiru. golek. Keris ini mempunyai pralambang bahwa keris sekaligus warangka sebagaimana manusia sebagai ciptaan dan penciptanya Yatu Allah Yang Maha Kuasa.  Epek Epek bagi orang Jawa mengandung arti bahwa untuk dapat bekerja dengan baik. Karena diletakkan di bagian belakang tubuh. Ajaran ini tersirat dari sabuk tersebut adalah bahwa harus bersedia untuk tekun berkarya guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Curiga dikenakan di bagian belakang badan.

Dalam hati hanyalah sumeleh (pasrah) kepada kekuasaan Tuhan Yang Maha Esa. pakaian itu diterima di budaya dan norma setempat. Jawa.  Bebed Bebed adalah kain (jarik) yang dikenakan oleh laki-laki seperti halnya pada perempuan. di Pulau Jawa. Sebelum 1600. Selama masa ini. dan Sulawesi. Selama masa kendali Belanda di pulau itu. Selop. Setelah akulturasi yang berlangsung ratusan tahun. batik. atau pakaian rajutan tradisional lainnya seperti songket dengan motif warna-warni. Kini. atau sandal. bebed artinya manusia harus ubed. Lalu menyebar ke Malaka. selop atau sandal Canela mempunyai arti "Canthelna jroning nala" (peganglah kuat dalam hatimu) canela sama artinya Cripu. rajin bekerja. Mereka mengenakannya dengan sarung dan kaus cantik bermanik-manik yang disebut "kasut manek". nyonya kebaya kebudayaan 119 Jawa . kebaya diubah dari hanya menggunakan barang tenunan mori menggunakan sutera dengan sulaman warna-warni. artinya dalam menyembah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Bali. • 4 Bagian ngisor (bagain bawah)  Canela yaitu: cripu. Sumatera. Pakaian yang mirip yang disebut "nyonya kebaya" diciptakan pertama kali oleh orang-orang Peranakan dari Melaka. Canela selalu dikenakan di kaki. wanita-wanita Eropa mulai mengenakan kebaya sebagai pakaian resmi. Dipercaya kebaya berasal dari Tiongkok ratusan tahun yang lalu. hendaklah dari lahir sampai batin sujud atau manembah di kaki-NYA. berhati-hati terhadap segala hal yang dilakukan dan "tumindak nggubed ing rina wengi" (bekerja sepanjang hari) Kebaya Kebaya adalah blus tradisional yang dikenakan oleh wanita Indonesia dan Malaysia yang terbuat dari bahan tipis yang dikenakan dengan sarung.ngungkurake godhaning setan yang senantiasa mengganggu manusia ketika manusia akan bertindak kebaikan. kebaya adalah pakaian yang hanya dikenakan keluarga kerajaan di sana.

perancang mode sedang mencari cara memodifikasi desain dan membuat kebaya menjadi pakaian yang lebih modern. sementara bros serangkai (tiga berjajar) tersemat di bagian depan membentuk suatu penutup. Kebiasaan berbusana macam itu juga ikut tergeser. Surakarta maupun Jogjakarta menunjukkan penggunaan busana ini bagi keluarga kerajaan. Gelang dan jam dikenakan diluar lengan Kebaya. Kebaya Indonesia Menurut Denys Lombard dalam bukunya Nusa Jawa: silang Budaya (1996) Kebaya berasal dari bahasa Arab ‘Kaba’ yang berarti ‘pakaian’ dan diperkenalkan lewat bahasa Portugis ketika mereka mendarat di Asia Tenggara. Terpisah dari kebaya tradisional. meski dalam beberapa acara adat harus berbusana seperti itu lagi. Yogyakarta. Kebaya yang dimodifikasi itu malah bisa dikenakan dengan jins atau rok. terutama di Bali. Dokumentasi lama milik keluarga kerajaan dan keraton (Surakarta. Hal ini mengingatkan kita akan Abaya dan kebaya Melayu.sedang mengalami pembaharuan. Cirebon) di tanah Jawa masih merekam Kebaya panjang ini dengan beberapa ornamen kenegaraan yang terpasang di beberapa sisinya (abad ke-19). kebaya menjadi busana yang populer dan bahkan menjadi simbol status. Pada tahun 1600. Jawa). kebaya dikenakan secara resmi oleh keluarga Kerajaan. Argumen Lombard tentu berterima terutama lewat analogi penelusuran lingustik yang toh sampai sekarang kita masih mengenal ‘Abaya’ yang berarti tunik panjang khas Arab. Kata Kebaya diartikan sebagai jenis pakaian (atasan/blouse) pertama yang dipakai wanita Indonesia pada kurun waktu abad ke-15 atau ke-16 Masehi. Di beberapa pelosok Indonesia bahkan bisa ditemukan wanita yang tampil tanpa atasan apapun (Bali. Dokumentasi lama kerajaan Islam Cirebon. dan pengaruh ini ditularkan setelah imigrasi besar-besaran menyambangi semenanjung Asia Selatan dan Tenggara di abad ke13 hingga ke-16 Masehi. Sementara sebagian yang lain percaya Kebaya ada kaitannya dengan pakaian tunik perempuan pada masa kekasiran Ming di Tiongkok. Lampung. Dugaan kuat mengatakan Kebaya awalnya merupakan atasan panjang berbentuk tunik sederhana yang menjulur dari leher hingga lutut (baju kurung). Pakaian semacam ini serta-merta menggeser kemben tradisional. dan juga terkenal di antara wanita non-Asia. Jenis ini kebudayaan 120 Jawa . Kita perlu menilik penyebaran dan masuknya Islam di Indonesia (abad ke-15) untuk mengetahui perkembangan Kebaya modern saat ini. Setelah penyebaran agama Islam. Keislaman sangat kuat memengaruhi siluet Kebaya di awal-awal perkembangannya.

dan katun halus kemudian menggantikan bahan-bahan keras tadi sesuai dengan masuknya koloni Eropa ke Indonesia dan membuka jalur perdagangan tekstil antar negara (sejak abad ke-18). Sebagian orang menanggapi kondisi ini sebagai masa-masa keemasan Kebaya sampai tahun 1960-an. ia harus mengalami sekali lagi pukulan itu. Dari sekedar tradisional yang pribumi. di rumah. Dengan warna jingga salem-nya. meski beberapa desainer lokal macam Iwan Tirta mencoba melestarikannya. Yang terlihat adalah aneka corak dan warna-warna Kebaya yang beragam. Perlahan namun pasti. tetapi melekat pada kaum aristrokrat tertentu yang berpihak pada Soekarno. Kebaya menjadi seragam resmi organisasi ini. Terusan modern dan kemejakemeja wanita lebih digemari ketimbang Kebaya. dan sentimen Soekarno sendiri pada Barat membatasi jalur pertukaran komoditi Eropa dan Indonesia. Revolusi besar kemerdekaan Indonesia tahun 1945 membawa Kebaya pada konstelasi nasionalis yang lebih absolut. Hingga tahun 1980-an Kebaya semakin terkucil di kalangan istri Militer dan pegawai negeri. Lagi-lagi faktor politik berkecamuk. sutra. Kebaya tersingkir dalam kotak eksklusif Dharmawanita (organisasi wanita istri pegawai negeri yang terbentuk sejak tahun 1974). Citra nasional yang dibawa Kebaya begitu kuatnya. terutama jenis putu baru dan Kebaya encim yang masih ada jejaknya sekarang ini. dan sebagian Asia Tenggara mendominasi pasar tekstil Indonesia. Katun kasar dan tenun tradisional tentu saja menjadi cikal bakalnya. Peralihan kekuasaan dari tangan Soekarno ke pemerintahan Orde Baru di bawah Soeharto tahun 1965 menempatkan Kebaya di posisi lemah. Hampir semua wanita. Para wanita terdidik yang dekat dengan pemerintahan Soekarno saat itu banyak mengenakan aneka kebaya. Kabar baiknya adalah peran informasi dan pertukaran komoditi antar negara kembali terbuka lebar. Citracitra dan simbol-simbol yang diemban Kebaya di masa Soekarno membuat ia dijauhi. Sentimen Barat pada Soekarno. Namun beludru. Tinggal bagaimana tangan-tangan kreatif anak Bangsa memanfaatkannya. Kebaya menjalar menjadi nasionalis dan bernafas kemerdekaan. baik itu di kantor. awal tahun 90-an Ghea kebudayaan 121 Jawa . Tiongkok. di manapun tampil berkebaya.akhirnya merambah permainan bahan. Kaum perempuan yang merasa tidak terlibat dengan gejolak politik Orde Lama (Soekarno) memilih untuk tidak mengenakan Kebaya. Potongan dan pola-pola lama kembali meruak meski masih memegang pakem-pakem yang tercipta dari abad sebelumnya. Belum pulih benar Kebaya dari trauma politiknya. India. Tidak memakan waktu lama.

dan pencampuran bahan sebagai cikal bakal revolusi Kebaya di tahun 2000-an. Kebaya merambah ke jalur sutra. pilin. batu-batu mulia dan bulu binatang (ostrich’s feathers/cincila fur) hadir bersama taknik aplikasi yang kebudayaan 122 Jawa . Reformasi dipahami sebagai era kebebasan. pertemuan formal kenegaraan. Kreatifitas tak terbendung yang dicontohkan oleh para pemimpin setelah Soeharto dan dunia politik juga diikuti masyarakatnya. Kebaya macam ini. renda. Setelah 32 Tahun memerintah Indonesia. siluet. keluarga. Soeharto undur. Teknik bordir. dia yang menang. dan unsur metal. Mereka mulai meliriknya. cutting. memiliki predikat khusus. hingga acara-acara eksklusif yang mengusung citra Indonesia secara konsensus-tersembunyi mewajibkan Kebaya sebagai kode busananya. Ia sah digunakan di acara-acara formal baik bersifat pribadi. dan garis luar berubah beragam-ragam. Tahun 90-an pula Kebaya mulai mendapat tempat yang lebih luas. Bagai bola liar. Kuncinya adalah inovasi! Sepertinya tuntutan kreasi dan aksentuasi dari para pemakai juga menjadi faktor besar yang mendorong Kebaya kembali ke era abad-19—masa dimana Kebaya punya kebebasan untuk berkembang. maupun kenegaraan. Reformasi membawa angin segar sekaligus liar. dan kemudian berkreasi dengannya. Secara pola.Panggabean melakukan eksperimen berarti pada Kebaya. memelajarinya. teknik aplikasi. drapery. yang kemudian banyak juga dikembangkan oleh desainer lokal lain. kristal. lace. Dalam lingkup kelas atas. Kita harus mencermati trend brokat (lace). Kekangan adalah barang haram di masa ini. Keluar dari sekedar organza dan katun. Dunia pernikahan. Yang tandang dengan banyak ide. lipit. Ia memanfaatkan bahan sutra organdi dan serat-serat alam lain yang tergolong mewah menjadi Kebaya. Digalilah kreasi-krasi baru yang segar dari banyak sumber untuk mempercantik Kebaya. Keterbukaan pikiran menjadi titik tolak semua kegiatan di masa-masa 1997-2002. Desainer-desainer Indonesia sepakat. Banyak pranata yang dijungkirbalikan. shantung. Di kalangan elit dan perempuan berpendidikan. Hal ini kemudian memancing kompetisi antar desainer. Bahkan dipandang mempunyai janji ekonomi yang besar. Kebaya adalah genre khas dari dunia fesyen yang menjanjikan. perubahan besar itu juga diikuti dengan pemanfaatan bahan baku. nanas. layer hingga quilt ikut mewarnai kemegahan Kebaya. hingga serat-serat yang tak terbayangkan sebelumnya seperti jute. pisang. sifon. Hingga akhirnya pemanfaatan material mewah macam payet. hal ini baik. bordir. Untuk beberapa alasan.

Ia kini. tepatnya Ambatik (bahasa Jawa yang berarti menggambar dan melukis). Dengan teknik yang satu ini. Tanpa harus terpengaruh imbas politik. Batik pada prinsipnya merupakan proses pencelupan dan pencucian dan menggunakan malam sebagai bahan dasar. Teknik aplikasi membuka kesempatan Kebaya sebagai benda seni yang bisa dihiasi apa saja—bahkan berlian jika memungkinkan. Batik merupakan busana hasil kerajinan rakyat dimana batik dibuat dengan menggunakan cara tradisional dan cara modern. Batik adalah kata dari bahasa Indonesia. Kebaya memasuki masa revolusinya sendiri. kreasi tanpa batas sangat mungkin dikerjakan. Batik Darimanakah kata Batik ?. Kebaya semata-mata menganut faham kreatifitas yang feminis. karena kerumitan detail yang melekat padanya. seperti banyak masyarakat Indonesia era 2000-an. bahkan adat istiadat. kebudayaan 123 Jawa . material dan bahan.revolusioner. Lewat banyak teknik dan potongan. Cara Tradisional adalah suatu cara dimana pengrajin batik masih menggunakan canting untuk menulis batik dan menggunakan malam sebagai bahan untuk menulis. Sedangkan cara modern merupakan suatu cara dimana pengrajin batik menggunakan cap yang menulis batik sehingga proses pengerjaannya lebih cepat. Harga batik yang dibuat dengan cara tradisional pun lebih mahal. ekonomi. Kebaya tercipta sebagai karya seni. Secara kualitas batik yang dibuat dengan menggunakan cara tradisional akan lebih bagus kualitasnya. Bahkan ada satu Kebaya yang memiliki berat hingga 22 Kg. sampai aksesorisnya. punya daya pandang dan tempatnya masing-masing. sehingga batik adalah asli dari Indonesia walaupun banyak beredar sekarang batik Malaysia sampai Myanmar. Kata ""tik" dari "setitik" berarti sedikit menggambarkan proses yang bertingkat sedikit demi sedikit.

yang kini sudah bergeser menjadi masyarakat industri agraris dan sepanjang masa sengsara. Ada banyak motif yang berbeda." "Karena berasal dari petani. lalu diperbaiki dan diperhalus. contohnya upacara pernikahan." Begitu keyakinan KRT. Masyarakat itu. Canthing yang bermoncong satu untuk membuat garis. dan digunakan untuk acara formal tertentu. Batik Surakarta Batik adalah bentuk seni klasik yang ruwet dan sudah lama sekali sangat penting di dalam adat Java."Falsafah batik sebenarnya berakar pada petani. yaitu masyarakat pertanian. setiap motif mampunyai arti khusus. sering simbolis. sedangkan canthing yang bermoncong beberapa (dapat sampai tujuh) dipakai untuk membuat hiasan berupa kumpulan titik-titik. Canthing biasanya berbentuk seperti mangkuk kecil dengan tangki (pegangan) terbuat dari kayu atau bambu dan bermoncong satu atau lebih. Baru kemudian timbul falsafah batik yang tidak berpijak pada pertanian. canthing dan malam ‘sebangsa cairan lilin’. Harjonagoro (Go Tik Swan) yang pernah hidup di antara rakyat jelata (antara lain para pengrajin batik di rumah kakeknya) maupun lingkungan keraton. Canthing Seni batik pada dasarnya merupakan seni lukis dengan bahan: kain. yang dibawa masuk ke keraton. kebudayaan 124 Jawa . titik atau cerek. mestinya harus mengalir kembali ke asalnya. mestinya diberi kesempatan mendapat bagian dari batik. pemakaman atau hari peringatan.

Untuk hasil dari batik cap disebut batik cap.Batik adalah cara yang melawan celup. Sering sangat sulit untuk membedakan antara tulis. atau gabungan/combinasi tangan dan cap. sedangkan bagian yang dimalam masih sama. tergantung jenis pola dan berapa warnawarna yang diinginkan. menggunakan alat tembaga khusus untuk menggambar. yaitu sepotong kain 2.25 x 1.25 meter membutuhkan 60-90 hari untuk membuatnya. itu menjadi melawan celup. cap atau batik combinasi. sekarang. dengan sebuah cap tembaga. Batik-batik yang digambar dengan tangan disebut batik tulis memerlukan 2-3 bulan untuk membuatnya. Cap ini digunakan untuk proses pemalaman. Cap dibuat dengan tangan dan juga proses memalaman. Capnya sendiri sering diperlihatkan sebagai seni. cara tradisi dan cara modern. pertama-tama harus dibuat cap tembaga. lebih murah dan lebih cepat. H.8 Keris kebudayaan 125 Jawa . Setelah malamnya menjadi keras. dengan merebus malam keras pada kain dan menciptakan sebuah pola baru. Juga terdapat dua cara untuk membuat batik tulis. Ketiga cara merupakan bentuk seni yang menarik. Pola digambar pada kain dengan malam yang dicairkan. dengan tangan. Capnya. dapat digunakan untuk lebih dari satu kain. dan hasilnya sama baiknya. kainnya tanpa malam bisa dicelup. Cara ini dilakukan berulang kali. Ada tiga dasar utama untuk menerapkan malam.

Fungsi Zaman sekarang fungsi dari sebuah keris sudah mulai berkurang. Keris dipakai oleh lelaki untuk peristiwa penting dan tatacara tradisionil. Di zaman dulu selain menjadi senjata. selain itu. Keriss mempunyai makna jantan perkasa dan dewasa. keris Jawa sudah mempunyai wajud yang sempurna saat kerajaan majapahit. keluarga dan membela Negara. bahkan sebelum Kerajaan Majapahit (abad ke-13). adalah hasil kegaiban yang lain dari Jawa kuno. atau pisau belati. Sajarah Belum ada penelitian yang berhasil menentukan kapan orang Jawa mulai mengenal keris. wisma. Pada zaman dahulu. apalagi jika yang memberikannya adalah raja.Keris atau tosan aji adalah salah satu senjata tradisional masyarakat Jawa serta menjadi salah satu lambang utama seorang laki-laki selain turangga. wanita dan kukila. Keahlian membuat pisau belati Jawa berawal dari masa kuno. Keris. pada umunya hanya menjadi barang koleksi atau sebagai perlengkapan upacara-upacara dan ritual adat. keris menjadi lambing kepangkatan serta bisa dijadikan sebagai hadiah yang paling istimewa. jenjang pangkat serta sebagai hadiah. atau lakilaki Jawa itu harus tangguh. keris juga bisa diguanakan sebagai tanda status sosial. sanggup melindungi diri sendiri. dahulu keris juga bisa menjadi simbol persaudaraan yang ditandai upacara tukar-menukar keris yang merupakan simbol persaudaraan yang paling luhur Fungsi keris lainnya adalah keris dianggap azimat dan media penghubung antara dunia manusia dengan dunia mistis (mahluk gaib) Bagian-bagian keris kebudayaan 126 Jawa . Keris adalah bagian integral dari upacara Jawa.

dengan penampang sekitar 5 mm sampai 10 mm. Di tengahnya terdapat lubang pesi (bulat) persis untuk memasukkan pesi. bentuknya bulat panjang seperti pensil. dimulai dari pangkal keris ke arah ujung keris. dungkul . Salah satu cara sederhana menghitung luk pada bilah . maka bilangan terakhir adalah banyaknya luk pada wilah-bilah dan jumlahnya selalu gasal ( ganjil) dan tidak pernah genap. Pengamat budaya tosan aji mengatakan bahwa kesatuan itu melambangkan kesatuan lingga dan yoni. bisa disebutkan dapur jangkung mayang. dihitung dari sisi cembung dan dilakukan pada kedua sisi seberang-menyeberang (kanan-kiri). Bagian inilah yang masuk ke pegangan keris ( ukiran) . dll. Sebagai contoh. bungkul . kelap lintah dan sebit rontal. jamang murub. bagian perut disebut wetengan dan ekornya disebut sebit ron. jaka lola . Pesi ini panjangnya antara 5 cm sampai 7 cm. atau penamaan ragam bentuk pada wilah-bilah (ada puluhan bentuk dapur). Jika ada keris yang jumlah luk nya lebih dari tiga belas. atau keris tidak lazim. biasanya disebut keris kalawija. yang biasanya disebut dapur. dan juga terdiri dari bagian-bagian tertentu yang tidak sama untuk setiap wilahan. bagian lehernya disebut gulu meled . wilut .Keris mempunyai tiga bagian utama. • Wilah Wilah atau wilahan adalah bagian utama dari sebuah keris. Di daerah Jawa Timur disebut paksi. Ganja ini sepintas berbentuk cecak. Luk. kebo tedan. dan yang terkecil adalah luk tiga (3) dan terbanyak adalah luk tiga belas (13). yang merupakan ujung bawah sebilah keris atau tangkai keris. Bagian-bagian keris itu antara lain. dan dilihat dari bentuknya keris dapat dibagi dua golongan besar. sehingga bagian wilah dan ganja tidak terpisahkan. bagian depannya disebut sirah cecak. Ukiran pada bagian-bagian keris Jawa mempunyai makna dan karakter yang berbeda-beda. • Warangka atau sarung keris Jawa 127 kebudayaan . Ragam bentuk ganja ada bermacam-macam. Pada pangkal wilahan terdapat pesi . masing masing bagain mempunyai bagian-bagian lagi yang lebih detil yang biasanya berupa ukiran. pinarak. Pada pangkal (dasar keris) atau bagian bawah dari sebilah keris disebut ganja (untuk daerah semenanjung Melayu menyebutnya aring). yaitu keris yang lurus dan keris yang bilahnya berkelok-kelok atau luk. dimana ganja mewakili lambang yoni sedangkan pesi melambangkan lingganya. adalah bagian yang berkelok dari wilah-bilah keris. pudak sitegal.

Goa. dll) dengan maksud penghormatan. Riau. Karena fungsi gandar untuk membungkus .Warangka. Ladrang dan gayaman merupakan pola-bentuk wrangka. Bagian atasnya atau ladrang-gayaman sering diganti dengan gading. karena wrangka gayaman lebih memungkinkan cepat dan mudah bergerak. walaupun tidak mutlak. dan bagian utama menurut fungsi wrangka adalah bagian bawah yang berbentuk panjang ( sepanjang wilah keris ) yang disebut gandar atau antupan . Sedangkan wrangka gayaman dipakai untuk keperluan harian. Wrangka ladrang dipakai untuk upacara resmi . godong. Bali ) pendoknya terbuat dari emas . dan keris ditempatkan pada bagian depan (dekat pinggang) ataupun di belakang (pinggang belakang). disertai dengan kebudayaan 128 Jawa . janggut. dan gandek. adalah komponen keris yang mempunyai fungsi tertentu. ri serta cangkring. yang digunakan adalah keris wrangka gayaman . cendana. khususnya dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa. pengangkatan pejabat kerajaan. lata. Secara garis besar terdapat dua bentuk warangka. emas .maka fungsi gandar adalah untuk membungkus wilah (bilah) dan biasanya terbuat dari kayu ( dipertimbangkan untuk tidak merusak wilah yang berbahan logam campuran ) . Dalam perang. perak. Dan jenis lainnya adalah jenis wrangka gayaman (gandon) yang bagian-bagiannya hampir sama dengan wrangka ladrang tetapi tidak terdapat angkup. Aturan pemakaian bentuk wrangka ini sudah ditentukan. gandar. godong (berbentuk seperti daun). perkawinan. maka untuk memperindahnya akan dilapisi seperti selongsongsilinder yang disebut pendok . Palembang. atau sarung keris. pertimbangannya adalah dari sisi praktis dan ringkas. Sejalan dengan perkembangan zaman terjadi penambahan fungsi wrangka sebagai pencerminan status sosial bagi penggunanya. dan kemuning). timoho. paling tidak karena bagian inilah yang terlihat secara langsung. Warangka yang mula-mula dibuat dari kayu (yang umum adalah jati. suasa ( campuran tembaga emas ) . gandek. Bagian pendok ( lapisan selongsong ) inilah yang biasanya diukir sangat indah . dibuat dari logam kuningan. misalkan menghadap raja. Tata cara penggunaannya adalah dengan menyelipkan gandar keris di lipatan sabuk (stagen) pada pinggang bagian belakang (termasuk sebagai pertimbangan untuk keselamatan raja ). Untuk daerah diluar Jawa ( kalangan raja-raja Bugis . sehingga fungsi keindahannya tidak diutamakan. karena bentuknya lebih sederhana. yaitu jenis warangka ladrang yang terdiri dari bagian-bagian : angkup. acara resmi keraton lainnya (penobatan.

Tombak. Untuk keris Jawa .weteng dan bungkul. Diluar wilayah Nusantara dan sekitarnya biasanya hanya dikenal teknik Inlay saja seperti pedang dari Iran atau negara Eropa lainnya sehingga walau secara seni (art) tampak indah tetapi kesan “Wingit” nya tidak ada sama sekali. bathuk (kepala bagian depan) . • Gaman Untuk pegangan keris Jawa. pendok ada dua macam yaitu pendok berukir dan pendok polos (tanpa ukiran). jiling. secara garis besar terdiri dari sirah wingking ( kepala bagian belakang ) . yaitu (1) pendok bunton berbentuk selongsong pipih tanpa belahan pada sisinya . menurut bentuknya pendok ada tiga macam. cigir.tambahan hiasan seperti sulaman tali dari emas dan bunga yang bertaburkan intan berlian. Sulawesi Selatan yang dibawa oleh pedagang dari Bugis. (2) pendok blewah (blengah) terbelah memanjang sampai pada salah satu ujungnya sehingga bagian gandar akan terlihat . cetek. Pamor Keris Pamor merupakan hiasan atau motif atau ornamen yang terdapat pada bilah tosan aji (Keris. kebudayaan 129 Jawa . Hiasan ini dibentuk bukan karena diukir atau diserasah (Inlay) atau dilapis tetapi karena teknik tempaan yang menyatukan beberapa unsure logam yang berlainan. Pedang atau Wedung dan lain lainnya). Apabila dilihat dari hiasannya. Terkenal dulu bahan pamor dari Luwu. serta (3) pendok topengan yang belahannya hanya terletak di tengah .

PAMOR MIRING. Kesan Pamor Miring agak kasar bila diraba bilahnya dan nyekrak dibanding pamor mlumah. Batu Lapak. sehingga keris saat ini bobot nya biasanya lebih berat dari keris kuno. Setelah bahan meteorit susah didapat. PAMOR MLUMAH. Pamor Mlumah biasanya bermotif Beras Wutah. Sodo Saeler. barulah bahan Nikel digunakan. a. Tumpuk dll. ini akan terlihat dengan menggunakan kaca pembesar. Ngulit Semangka. Pamor luluhan yang gampang terlihat antara lain di keris buatan Empu Pitrang dijaman Blambangan. Kalau lipatannya lebih banyak lagi seperti buatan Empu Pangeran Sedayu maka pamor luluhan ini tidak tampak dengan mata telanjang dan sangat kecil atau tiad mungkin kena karat karena menyatunya bahan pamor dengan bahan besinya. Dilihat dari cara pembuatannya sebetulnya hanya dua cara pembuatan Pamor yang baik yaitu Mlumah dan Miring. Wulan-wulan dan sebagainya. diantara pamor Adeg pada beberapa bagian bilah tampak pamor luluan yang sepintas seperti pamor Nggajih. maka hasilnya kemungkinan akan menjadi pamor luluhan. Apabila lipatannya banyak. Ada juga tosan aji yang dibuat dengan kombinasi pamor mlumah dan miring hanya saja pembuatannya sangat sulit. lebih sulit dari pembuatan pamor miring. praktis pamor dan besi sudah “menyatu” walau tidak terlalu homogen. kebudayaan 130 Jawa . saat ini ada di Kraton Surakarta diberi nama Kanjeng Kyai Pamor dan ukurannya sekarang tinggal sekitar 60x60x80 Cm sebesar meja kecil karena sudah banyak digunakan empu membuat karis pesanan dari Kraton. Udan Mas.Bahan Pamor yang paling terkenal adalah Pamor Prambanan. sedangkan Pamor Miring umumnya motif Adeg. Cara lainnya. Satria Pinayungan. Pamor mlumah adalah lapisan-lapisan pamornya mendatar sejajar dengan permukaan tosan aji sedangkan pamor miring lapisan pamornya tegak lurus permukaan bilah. baik di pamor mlumah atau miring.

selain itu banyak yang menganggap ini sebagai pamor tiban karena tidak bisa dibuat secara sengaja. sedangkan bila selama pembuatan direka oleh sang Empu maka pamor yang terjadi disebut pamor rekan. empu Desa atau disebut juga empu Njawi. Pamor rekan sering juga gagal dalam pembuatannya. c. PAMOR REKAN dan PAMOR TIBAN. PAMOR MUNGGUL Banyak yang menganggap pamor ini pamor titipan. Pamor ini seperti bisul menonjol sekitar 1 mm diatas permukaan bilah umumnya berbentuk lingkaran. baik bulat atau lonjong kebudayaan 131 Jawa .Ada lagi cara membuat pamor dengan menyiramkan bahan pamor cair ke bilah membara dari pangkal keris keujungnya. Sebenarnya agak sulit membedakan mana pamor rekan atau tiban karena bisa dilihat dari sudut pandang yang berbeda-beda. b. Sang Empu berpasrah diri kepada Tuhan YME dan menyerahkan saja bagaimana bentuk pamor yang terjadi maka biasanya pamor yang timbul disebut pamor Tiban.Ada cara lain membuat pamor selain Mlumah dan Miring yaitu dengan cara mengoleskan bahan pamor ke bilah. Sewaktu membuat keris. pamornya dinamakan Nggajih karena menyerupai lemak. Cara ini hanya digunakan Empu luar keraton. Hasilnya umumnya kasar bila diraba dan pamor ini disebut Ngintip (dari Intip/Kerak nasi). misal sang empu ingin membuat pamor Ron Genduru tetapi jadinya malah Ganggeng Kanyut. biasanya bukan dari batu meteorit tetapi logam yang titik leburnya lebih rendah dari besi. caranya dengan menuangkan bahan tersebut yang cair kebilah besi yang membara kemudian dioleskan dengan ujung mancung (kelopak bunga) kelapa sebelum bahan cair tersebut mengeras dan dibuat pamor yang dikehendaki si Empu.

sehingga banyak yang sepakat bahwa pamor ini dikategorikan ke pamor tiban. Sebetulnya ini terjadi karena penempaan pamor tersebut dilakukan pada suhu yang tepat yang berbeda setiap bahannya. Di Madura biasa disebut pamor “dheling”. ternyata semua salah. tetapi diduga saat “masuh” atau membersihkan bahan keris dari kotoran. umumnya tergabung dengan pamor lain yang lebih dominan. PAMOR AKHODIYAT. Kodiyat atau Akadiyat. Pamor ini berbentuk rangkaian kecil yang merupakan perlambang atau tuah tertentu dan pamor ini jarang berdiri sendiri. kalau tersebar dipermukaan bilah disebut “dheling setong” dan dianggap mempunyai tuah baik. Pamor dheling yang terbaik terdapat di pucuk bilah dan disebut “dheling pucuk” dan atau dibagian peksi yang disebut “dheling peksi”. Letaknya bisa dibagian sor-soran. kebudayaan 132 Jawa . tengah ataupun pucuk. Bisa ditepi atau tengah bilah dan termasuk pamor yang baik serta dicari banyak orang. ada unsur logam lain yang menyelip dan lebih keras dari unsur logam besi. Pulo Tirto atau Pendaringan Kebak. tetapi ini baru dugaan saja. antara lain Beras Wutah. jadi susah diduga berapa suhu yang tepat itu. Namanya kadang Akordiyat. Wujudnya menyerupai lelehan dari tepi bentuk pamor dengan warna putih cemerlang keperakan dan lebih cemerlang dibanding keputihan pamor pada umumnya. PAMOR TITIPAN. Bagaiman pamor ini timbul tidak bisa diterangkan secara pasti. Ada yang menganggap sebagai pamor titipan atau “sifat” dari pamor tersebut.tetapi ada yang berbentuk gambar membujur lancip panjang. d. e.

Malang dikenal sebagai penghasil keripik tempe. Telaga Membleng dll. lontong balap. Dikiling. Bondowoso merupakan penghasil tape yang sangat manis. Pamor titipan yang merupakan pamor rekan antara lain yang terkenal adalah Kuto Mesir. sate kerang. Inkal. diberi irisan perkedel singkong dan ditaburi dengan bawang goreng dan dengan bahan pelengkap sambal. semanggi. 3) Madu mongso Jawa 133 kebudayaan . Gedong Mingkem. Kul Buntet. dan lontong kupang. merupakan pamur yang disusulkan. tauge. mi. tidak sengaja dibuat seperti Pamor Rahala. Kecamatan Babat. Jung Isi Dunya. petis. Udan Mas. terdiri dari tahu. Putri Kinurung. Kediri terkenal akan tahu takwa.Pamor ini ada yang merupakan pamor tiban. daun sla diiris. Jagung dikenal sebagai salah satu makanan pokok orang Madura. dan getuk pisang. Sidoarjo terkenal akan kerupuk udang dan petisnya.9 1) Makanan Khas Rawon dan rujak petis. tuangi kuah dan daging tetelan. H. Watu Lapak dll. 2) Tahu Campur Lamongan Tahu campur disajik di dalam mangkuk. tahu pong. Makanan khas Jawa Timur diantaranya adalah Surabaya terkenal akan rujak cingur. sementara ubi kayu yang diolah menjadi gaplek dahulu merupakan makanan pokok sebagian penduduk di Pacitan dan Trenggalek. Pamor Titipan yang merupakan pamor tiban dibuat bersama dengan pamor lainnya sedangkan yang rekan biasanya dibuat setelah pamor dominan jadi. Madiun dikenal sebagai penghasil brem dan nasi pecel. Lamongan terkenal akan wingko babat nya.

kunyit. Biasanya ditambahkan juga ikan pindang. 4. 4) Rujak Cingur Makanan khas Jawa timur ini merupakan campuran dari berbagai macam sayuran yang disirami bumbu kacang yang dilengkapi dengan petis dan pisang klutuk muda. bawang kebudayaan 134 Jawa . Sebagai sayur untuk makan siang (menu sehari-hari). bawang putih. Petis Bumbon Sayur untuk makan siang/malam yang terbuat dari bahan-bahan petis ikan/udang. Sate Sarepeh Berupa sate ayam kampung bumbunya terdiri dari cabe merah. makanan ini dibungkus menyerupai bentuk permen menggunakan kertas minyak yang berwarna-warni. Adalah sebagai lauk pauk dan biasanya dirangkai dengan lontong. bawang merah. santan dan garam. Sayur Merica Dari ikan laut segar dengan bumbu cabe. Yang membuat makanan ini berbeda adalah dengan adanya cingur (hidung sapi). asam (tomat) garam dan air. 2. Pindang Tempe Tempe dengan bumbu-bumbu cabe. bawang putih. bawang merah. bawang merah. merica.Merupakan makanan khas Jawa Timur yang dibuat dari ketan item dicampur dengan tape. bawang putih. Mangut Ikan laut segar yang dipanggang dengan bumbu-bumbu cabe hijau. 3. Sebagai sayur untuk makan siang/malam dalam menu sehari-hari. telur rebus/ceplok langsung dengan bumbu cabe. gula merah. 5. Makanan dan Minuman khas Jawa Tengah 1. garam dan air. garam dan santan kental. bawang putih.

Lontong Tuyuhan Lontong dengan opor ayam kampung pedas khas desa Tuyuhan (Kecamatan Pancur). Yang terkenal dari desa Pohlandak (Kecamatan Pancur) dan desa Mondoteko (Kecamatan Rembang). kacang hijau.00 WIB sudah dijual di lokasi desa Tuyuhan di sepanjang pinggir jalan dengan pemandangan sawah-sawah yang menghijau. garam yang ditumbuk halus (sewaktu masih panas) di atas keranjang yang Terbuat dari daun lontar/daun kelapa muda dan alat tumbuknya juga dilapis dengan daun lontar dan kelapa muda. lengkuas. Gula Semut kebudayaan 135 Jawa . 12.merah. kemudian dicetak persegi dan dibungkus dengan daun pisang (seperti lemper). 11. Jenang Waluh Dibuat dari buah waluh. 6. kelapa muda. kunci. Dan biasanya dimakan dengan Jadah. Sebagai makanan sore hari/malam hari. air pohon nira (legen). gula pasir/gula aren dan ditambahkan garam. Kaoya Dudul Terbuat dari beras ketan. Kerupuk Bakar Kerupuk udang dan tengiri dari kota Rembang yang dioven atau dibakar. 9. Dan minumannya air putih yang ditempatkan di kenda (tanpa gelas). gula aren/gula pasir dan garam. kalau makan tinggal didudul (ditekan) saja. Dumbeg Dibuat dari tepung beras. Jadah yang terkenal adalah dari desa Pohlandak (Kecamatan Pancur). 8. yang terkenal dari desa Pohlandak (Kecamatan Pancur). Biasanya dimakan bersama dengan Jenang waluh. Jadah Terbuat dari beras ketan putih. air nira dan garam. garam dan ditambah santan kental. daun jeruk purut. Tempatnya dari daun lontar berlubang bulat kecil sebanyak 5 buah. gula aren. yang rasanya sangat manis. biasanya sekitar jam 15. Berasal dari desa Gunem Kecamatan Gunem. Makanan ini tidak pernah atau jarang dibuat ibu rumah tangga. rasanya sangat manis dan gurih. dan kalau suka ditaburi buah nangka/kelapa muda yang dipotong sebesar dadu. 10. 7. Kemudian tempatnya dari daun lontar (pohon nira) berbentuk kerucut dengan bau yang khas. Rasanya sangat gurih.

Bau dan rasanya enak. Yang terkenal dari Desa Bonang Kecamatan Lasem. Terasi Petis Bonang Terbuat dari udang atau ikan segar dengan proses pemanasan. • • • • Gethuk goreng Tempe mendoan Lanting Sate Ambal Dari Jepara : • Bangket Soto Kudus Pesisir Utara • kebudayaan 136 Jawa . Soto ini memiliki ciri khas yang berbeda dengan soto-soto lainnya yang ada di Indonesia. dan diberi ketupat. 13. tauge. Kupat Tahu Merupakan makanan khas Magelang yang berisi tahu. kita dapat menikmati soto di warung-warung yang berderet rapi di sepanjang jalan di Sokaraja. Sedangkan yang lain diantaranya adalah : Dari Banyumas : • Sroto Sokaraja Soto Sokaraja atau oleh masyarakat Banyumas disebut Sroto Sokaraja adalah sejenis makanan dari Indonesia. sehingga hasilnya seperti gula pasir atau gula halus yang berwarna coklat.Terbuat dari pohon nira ( legen ) dengan proses pemanasan. kubis. Menggunakan sambal kacang sebagai campurannya. Soto Sokaraja sudah banyak dijual di luar Banyumas tetapi kalau sempat mampir ke Sokaraja. Ciri utama dari soto ini adalah penggunaan sambal kacang dan ketupat. 14.

• • • • • • • • • • • • • Nasi pecel Opor ayam Tongseng Cabuk rambak Tumpeng Mangut lele Srabi Solo Geplak Sate Kocor Tengkleng Bakpia Trancam Sate Winong nasi gandul Jawa 137 Pati-Juwana Jawa tengah • kebudayaan .• • • • • • Soto Tegal Sate Tegal Lumpia Semarang Taoto Nasi megono Nasi Grombyang Gudeg Dari Yogya-solo : • Gudeg Jogja punya rasa manis yang khas.

banyak dimasukkan unsur humor. yang diiringi dengan gamelan disajikan. muncul sebuah genre baru. Ludruk merupakan suatu drama tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian yang di gelarkan disebuah panggung dengan mengambil cerita tentang kehidupan kebudayaan 138 Jawa . Tetapi tema cerita tidak pernah diambil dari repertoar cerita epos (wiracarita): Ramayana dan Mahabharata. Sebab nanti pertunjukkan bukan ketoprak lagi melainkan menjadi pertunjukan wayang orang. Dalam sebuah pentasan ketoprak. Beberapa tahun terakhir ini. sandiwara yang diselingi dengan lagulagu Jawa. Banyak pula diambil cerita dari luar negeri. Ludruk adalah kesenian drama tradisional dari Jawa Timur. Dalam pentasan jenis ini. Biasanya diambil dari cerita legenda atau sejarah Jawa.10 Ketoprak dan Ludruk Ketoprak (bahasa Jawa kethoprak) adalah sejenis seni pentas yang berasal dari Jawa.H. Tema cerita dalam sebuah pertunjukan ketoprak bermacam-macam. Ketoprak Humor yang ditayangkan di stasiun televisi RCTI.

dan bersifat menyampaikan pesan tertentu. sopir angkotan. Bahasa lugas yang digunakan pada ludruk. Pada dasarnya masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai pewarisan budaya yang sangat kaya. Upacaranya pun menggunakan kebudayaan 139 syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk Jawa . membuat dia mudah diserap oleh kalangan non intelek (tukang becak.rakyat sehari-hari. seorang jagoan Madura. cerita perjuangan dan lain sebagainya yang diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musik. Di daerah ini kondisi sosio kultural masih sangat kental dengan hal-hal yang dianggap magis dan dapat mereka buktikan dengan kemampuan mereka (masyarakat Ponorogo) dan Religi/Kebatinan yang sangat kuat. etc). Cerita ketoprak sering diambil dari kisah zaman dulu (sejarah maupun dongeng). H. Malang. peronda.11 Reog Salah satu tarian Pembuka Topeng barong reog yang dipakai sebagai atraksi penutup Reog adalah salah satu seni yang ada di Jawa Timur bagian barat-laut dan Ponorogo dianggap sebagai kota asal Reog yang sebenarnya. meski terkadang ada bintang tamu dari daerah lain seperti Jombang. Sementara ludruk menceritakan cerita hidup seharihari (biasanya) kalangan wong cilik. Madura. Sebuah pementasan ludruk biasa dimulai dengan Tari Remo dan diselingi dengan pementasan seorang tokoh yang memerakan "Pak Sakera". menggunakan bahasa khas Surabaya. Ludruk berbeda dengan ketoprak dari Jawa Tengah. Dialog/monolog dalam ludruk bersifat menghibur dan membuat penontonnya tertawa. Dalam pengalamannya Seni Reog merupakan cipta kreasi manusia yang terbentuk adanya aliran kepercayaan yang ada secara turun temurun dan terjaga. Madiun dengan logat yang berbeda.

Disini selalu ada interaksi antara pemain dan dalang (biasanya pemimpin rombongan) dan kadang-kadang dengan penonton. kebudayaan 140 Jawa . Setelah tarian pembukaan selesai. Yang lebih dipentingkan dalam pementasan seni reog adalah memberikan kepuasan kepada penontonnya. Para penari ini menggambarkan sosok singa yang pemberani. Tarian pembukaan lainnya jika ada biasanya berupa tarian oleh anak kecil yang membawakan adegan lucu. penari ini biasanya diperankan oleh penari laki-laki yang berpakaian wanita. Adegan dalam seni reog biasanya tidak mengikuti skenario yang tersusun rapi. Terkadang seorang pemain yang sedang pentas dapat digantikan oleh pemain lain bila pemain tersebut kelelahan. Untuk hajatan khitanan atau sunatan. Pementasan Seni Reog Reog modern biasanya dipentaskan dalam beberapa peristiwa seperti pernikahan. Pada reog tradisionil. khitanan dan hari-hari besar Nasional. Jika berhubungan dengan pernikahan maka yang ditampilkan adalah adegan percintaan. baru ditampilkan adegan inti yang isinya bergantung kondisi dimana seni reog ditampilkan. yang harus dibedakan dengan seni tari lain yaitu tari kuda lumping. biasanya cerita pendekar. dengan muka dipoles warna merah. mereka menganut garis keturunan Parental dan hukum adat yang masih berlaku. Berikutnya adalah tarian yang dibawakan oleh 6-8 gadis yang menaiki kuda. Tarian ini dinamakan tari jaran kepang. Tarian pertama biasanya dibawakan oleh 6-8 pria gagah berani dengan pakaian serba hitam.memenuhinya tanpa adanya garis keturunan yang jelas. Seni Reog Ponorogo terdiri dari beberapa rangkaian 2 sampai 3 tarian pembukaan.

Kemampuan untuk membawakan topeng ini selain diperoleh dengan latihan yang berat. dimana pelaku memakai topeng berbentuk kepala singa dengan mahkota yang terbuat dari bulu burung merak. Topeng yang berat ini dibawa oleh penarinya dengan gigi.12 KIDUNG/PUISI Kidung adalah puisi Jawa asli walaupun masih dijumpai vokal panjang tetapi tidaklah sebanyak yang ditemui di dalam kekawin.Adegan terakhir adalah singa barong. kebudayaan 141 Jawa . H. Bahasa yang digunakan di dalam kidung ialah campuran Jawa Kuno dengan Jawa Baru tetapi susunannya masih menurut cara kuno dengan memakai *Tembang Gedhe yang sudah menyimpang iramanya seperti Kidung Subrataka yang muncul pada zaman Jawa Tengahan. Berikut ini contohnya : Sangtabyana ta pakulun rancana cipta kumawi Panji prakasa tembange Ki Subrataka kang winuwus luputa ring lara roga nirmala waluya jati luputta ring pamurung luputta ring baya pati. Ia juga turut dikenali sebagai tembang atau nyanyian. Arti : Bahagialah tuanku kisah cubaan akan dinyanyikan dengan lagu panji prakasa Ki Subrata yang dikisahkan moga-moga terluput dari malapetaka nirmala dan sihat wal¡¯afiat luput dari halangan luput dari bahaya maut. Sementara itu nama tembang dalam kidung pula amat bergantung kepada jumlah baris dalam bait dan vokal akhir pada setiap baris. Berat topeng ini bisa mencapai 50-60 kg. juga dipercaya diproleh dengan latihan spiritual seperti puasa dan tapa.

H. Tetapi itu juga belum pasti. Macapat banyak dipakai di Sastra Jawa Tengah dan Sastra Jawa Baru.13 LAGU ADAT JAWA MACAPAT Adalah lagu tradisional dari tanah Jawa. Guru wilangan : bilangan suku kata tiap gatra. Jika dibandingkan dengna kakawin. Guru lagu : suara vokal di akhir tiap baris. Macapat juga menular ke kebudayaan Bali. seperti wedathama. Wulangreh. aturan-aturan pada macapat itu lebih mudah. lagu ini ada enam larik. Serat Wirid Hidayat Jati. yang umumnya sering dipakai dimana-mana. Macapat bisa dibagi menjadi tiga jenis yaitu : Sekar Macapat atau Sekar Alit Sekar Madya atau Sekar Tengahan Sekar Ageng 1. Tiap bait. Sekar Macapat atau Sekar Alit Macapat ini juga disebut sebagai lagu macapat asli. mijil umumnya ditaruh didepan. Jika dilihat dari ”kerata basa”. Kitab-kitab pada jaman Mataram Baru. madura dan Sunda. dengan guru wilangan dan guru lagu : • • • • • 10-i 6-o 10-é 10-i 6-i Jawa 142 kebudayaan . Lagu ini mulai ada di jaman Majapahit. dan yang lain-lain disusun dengna lagu ini. karena tidak ada peninggalan tulisan yang dapat membuktikannya. Kalathida. Di deretan lagu macapat. Aturan – aturan itu ada pada : • • • Guru gatra : bilangan baris/gatra tiap bait. Membacanya memang dirakit tiap empat suku kata. dan dimulai saat walisanga memegang kekuasaan. • Mijil Mijil itu artinya lahir atau keluar. macapat artinya ”maca papat-papat”.

Amenangi jaman édan 2. Milu édan nora tahan 4. Kaliren wekasanipun 7. Metrum Tiap bait. Yèn tan milu anglakoni 5. Seperti anak kecil yang baru tahu dunia. Amung anjali soca ing tembé 4. Kabeh durung katon 3. lagu ini ada sembilan baris. Ndilalah karsa Allah kebudayaan 143 Jawa . dengan guru bilangan dan guru lagu : • • • • • • • • • 8-a 8-i 8-a 8-i 7-i 8-u 7-a 8-i 12 – a Contoh 1. Mijil ing donya siniwi ratri 2. Lelaku alon siniji-siji 5.• 6-u Contoh 1. Éwuh aya ing pambudi 3. sinom mempunyai sifat yang masih muda. Nunggu mring wartaning 6. Sesotya satuhu • Sinom Arti umumnya sinom berarti ”godhong asem sing isih enom” ( daun asam yang masih muda ). Di Macapat. Boya kaduman melik 6.

karya Ki Ranggawarsita. lagu yang menggunankan metrum Dhandhanggula juga mempunyai isi yang manis seperti gula. duk ing uni caritane. Luwih begja kang éling lawan waspada Dari Serat Kalatidha. Metrum Tiap bait ada 10 baris. aran patih Suwanda. • Dhandhanggula Dhandhanggula adalah salah satu lagu macapat yang isinya “pengharapan yang baik”. lamun bisa sira anuladha. lelabuhanipun. Dari sini kita bisa mengetahui jika lagu ini dibuat pada jaman Kediri. banyak nasehat pada jaman dahulu yang menggunakan jenis ini. Sasrabahu ing Maespati. Dhandhang itu harapan. • • • • • • • • • • 10-i 10-a 8 -é 7 -u 9 -i 7 -a 6 -u 8 -a 12-i 7 –a Contoh Yogyanira kang para prajurit. Begja-begjané kang lali 9. andelira sang prabu. Tetapi ada juga yang menghubungkan asala kata dhandhanggula dengan salah satu raja di jaman Kediri yaitu dhandhanggendhis. Karena itu.8. kang ginelung tri prakara. kebudayaan 144 Jawa .

Maskumambang itu untuk laki-laki yang dewasa. Ada juga yang memasangkan kinanthi dengan maskumambang. Metrum Kinanthi itu terdiri dari 6 baris pada tiap bait. nuhoni trah utama • Kinanthi Kinanthi adalah salah satu lagu macapat yang umunya dipakai rasa suka. cinta dan kebijaksanaan. sedangkan kinanthi itu untuk perempuan. Kinanthi ini juga bias mempunyai arti “gegandhengan tangan” dan bias juga berarti nama suatu bunga. • • • • • • 8-u 8-i 8-a 8-i 8-a 8-i Anoman mlumpat sampun praptêng witing nagasari mulat mangandhap katingal wanodyâju kuru aking gelung rusak awor kisma ingkang iga-iga kêksi Contoh 1 (diambil dari ” Serat Rama Kawi”. karya Kyai Yasadipura ) Contoh 2 Pitik tulak pitik tukung Tetulake Jabang bayi Ngedohaken cacing racak Sarap sawane sumingkir Si tulak manggung ing ngarso Si Tukung ngadhangi margi kebudayaan 145 Jawa .guna kaya purun ingkang den antepi.

Metrum Asmarandana terdiri dari 7 baris dalam tiap bait. Oleh karena itu. dan dahana yang artinya api. kata asmaradana diambil dari kata asmara yang artinya cinta. angèl kalangkung Tan kena tinumbas arta Aja turu soré kaki Ana Déwa nganglang jagad Nyangking bokor kencanané Isine donga tetulak Sandhang kelawan pangan Yaiku bagéyanipun wong welek sabar narima kebudayaan 146 Jawa . asmarandana berisi tentang kasih sayang. • • • • • • • 8-a 8-i 8-é 8-a 7-a 8-u 8-a Contoh Gegaraning wong akrami Dudu bandha dudu rupa Amung ati pawitané Luput pisan kena pisan Lamun gampang luwih gampang Lamun angèl.• Asmarandana Lagu Asmarandana umumnya dipakai bagi orang yang sedang jatuh cinta. Jika dilihat aslinya.

Metrum Lagu pangkur terdiri dari 7 baris tiap bait. Jika suatu nasihat. itu adalah nasehat yang tinggi. yaitu antara lain : pangkur jenggleng. Jika cinta. Metrum Tiap bait ada 7 baris. itu adalah cinta yang utama. • • • • • • • 12-a 7 -i 6 -a 7 -a 8 -i 5 -a 7 -i Contoh Kae manungsa golek upa angkara Sesingidan mawuni ngGawa bandha donya mBuwang rasa agama Nyingkiri sesanti ati Tan wedi dosa Tan eling bakal mati • Pangkur Pangkur adalah salah satu lagu macapat yang mempunyai sifat “munggah ndhuwur”. Adakalnya Durma memuat keadaan yang menyeramkan dan membuat takut. • • • 8-a 11. pangkur palaran. Dari lagu ini.• Durma Durma adalah salah satu lagu macapat yang mempunyai sifat galak. pangkur lombok dan lain-lain.i 8-u Jawa 147 kebudayaan . Durma termasuk lagu yang wingit. lalu banyak beraneka macam lagu yang menggunakan nama pangkur.

u 8-a 8-i Sekar Pangkur kang winarna lelabuhan kang kanggo wong aurip ala lan becik puniku prayoga kawruhana adat waton puniku dipun kadulu miwa ingkang tatakrama den keesthi siyang ratri Contoh • Maskumambang Maskumambang adalah salah satu lagu macapat yang menjadi lambing saat orang laki-laki beranjak dewasa. Sifat dari lagu ini. Metrum Tiap bait. pada masa ketika dari anak menjadi manusia yang kelihatan ditengah lingkup social. lagu Maskumambnag ada 4 baris. Ada juga yang menganggap jika Maskumambang itu lagunya laki-laki. Kata maskumambang itu merupakan sambungan antara kata ‘emas’ den ‘kumambnag’. umumnya berisi orang yang sedang mengeluh sakit dan sengsara.• • • • 7-a 12. • • • • 12-i 6 -a 8 -i 8 -a Gereng-gereng Gathotkaca sru anangis Sambaté mlas arsa Luhnya marawayan mili Gung tinamêng astanira Contoh • Pocung Jawa 148 kebudayaan . sedangkan yang perempuan itu adalah kinanthi.

Lagu ini sering digunakan untuk lagu-lagu yang lucu seperti parikan atau tanya Jawab. Nasehat yang menggiring manusia agar ingat dengan tingkah lakunya. • • • • 12-u 6 -a 8 -i 12-a Contoh Ngelmu iku kelakone kanthi laku Lekase lawan kas Tegese kas nyantosani setya budya pangekesing dur angkara • Gambuh Contoh Sekar gambuh ping catur Kang cinatur Polah kang kalantur Tanpo tutur katulo-tulo katali Kadaluwarso katutur Katutuh pan dadi awon Lagu gambuh itu memang penuh dengan nasehat. Metrum Lagu pucung hanya ada 4 baris pada tiap bait.Pucung (adakalanya ditulis pocung) adalah lagu macapat yang mengingatkan tentang kematian. Tetapi Pucung juga dapat diartikan sebagai nama biji buah-buahan. Akhiran cung juga memberi rasa segar yang mengingatkan kepada sesuatu yang lucu seperti menggunakan kata “dikuncung”. Pucung dipakai sebagai lagu yang bias mengingatkan kepada manusia yaitu jika hidup di dunia pasti ada akhirnya. Seperti lambnag mori untuk membungkus orang yang meninggal. kebudayaan 149 Jawa .manusia diingatkan kalau semua tingkah laku manusia itu ada akibatnya. Kata pucung dekat dengan kata pocong.

sigra milir kang gèthèk sinangga bajul kawan dasa kang njagèni ing ngarsa miwah ing pungkur tanapi ing kanan kéring kang gèthèk lampahnya alon 2. • Jurudemung Jurudemung itu termasuk sekar madya. 8a.• Megatruh Megatruh mempunyai sifat prihatin rasa sakit hati karena rindu. 8i. Contoh Contoh ini diambil dari “Serat Pranacitra” ni ajeng mring gandhok wétan wus panggih lan Rara Mendut alon wijilé kang wuwus hèh Mendut pamintanira adhedhasar adol bungkus wus katur sarta kalilan déning jeng kyai Tumenggung. 8u. Guru bilangan dan guru lagu Tiap bait. Contoh Contoh ini diambil dari Babad Tanah Jawi karya Ki Yasadipura. 8u. • Wirangrong kebudayaan 150 Jawa . 8u. dengan guru bilangan dan guru lagu : 8a. Sifatnya “prenesan” dan biasanya dipakai sebagai lagu wangsalan atau yang agak erotis. 8o. 8a. 8i. dengan guru bilangan dan guru lagu : 12u. Guru bilangan dan guru lagu Tiap bait. lagu ini ada lima baris. 8u. Sekar Madya utawa Sekar Tengahan Macapat jenis ini seperti lagu kidung yang sering dipakai pada jaman Majapait. 8u. lagu ini ada 7 baris.

dengan guru bilangan dan guru lagu: 12i. 12a. Guru bilangan dan guru lagu Tiap bait. sekar macapat ageng seperti lagu kakawin di jaman dahulu. Contoh Contoh ini diambil dari “Serat Jaka Lodhang” karya Ki Ranggawarsita. Sekar Ageng Sekar Macapat Ageng ( besar ) hanya ada satu yaitu Girisa. Lagu ini biasanya dipakai untuk menyanyikan hal-hal yang gagah. 10u. 8a. Jika dilihat dari kesusahannya. Contoh dèn samya marsudêng budi wiwéka dipunwaspaos aja-dumèh-dumèh bisa muwus yèn tan pantes ugi sanadyan mung sakecap yèn tan pantes prenahira • Balabak Balabak itu memiliki sifat yang spontan. 6i. 7a. byar rahina Kèn Rara wus maring sendhang mamèt wé turut marga nyambi reramban janganan antuké praptêng wisma wusing nyapu atetebah jogané 3. dengan guru bilangan dan guru lagu : 8i. lagu ini ada 6 baris. Guru bilangan dan guru lagu kebudayaan 151 Jawa . Guru bilangan dan guru lagu Tiap bait. 3é.Wirangrong itu termasuk dalam sekar madya. Sifatnya itu penuh wibawa. 3é. 12a. Girisa (macapat) Girisa itu memiliki sifat nasihat. 3é. lagu ini terdiri dari 6 baris. 8o.

cah ayu… Sumedot rasaning ati Linang lintang ngiwi iwi. lagu ini ada 8 baris.. Tumuruna ana putri kang unggah unggahi…. 8a.nimas… Sun takokne pawartamu Janji janji aku iling. 8a. 8a. Contoh Contoh ini diambil dari “Serat Wiratadya” karya Ki Ranggawarsita. 8a.nimas. dengan guru bilangan dan guru lagu : 8a.Tiap bait.aku ngenteni tekamu Marang mego ing angkoso. déné utamaning nata bèr budi bawa leksana liré bèr budi mangkana lila legawa ing driya agung dènya paring dana anggeganjar saben dina liré kang bawa leksana anetepi pangandika. Putriku kang ayu rupane……… Kleting kuning kang dadi asamane…… Bu…si Bu… kulo mboten purun….. LAGU-LAGU LAIN SELAIN MACAPAT Kumpulan lagu (Jawa)  ANDE ANDE LUMUT Putraku si ande ande lumut…. 8a.. 8a. Putri niku sisane si yuyu kangkang…  YEN ING TAWANG ANA LINTANG Yen ing tawang ono lintang cah ayu…. Tresnaku sundul ing ati Dek sakmono janjimu disekseni kebudayaan 152 Jawa . 8a.

Mambu kutundung gudel…pak hempong.Mego kartiko kairing Raso tresno asih Rungokno tangising ati Ginarung swaraning ratri... lere… Sopo ngguyu ndelekake………… Sir …sir….dele gosong……….  LIR-ILIR Lir ilir lir ilir tandure wong sumilir Tak ijo royo royo Tak sengguh panganten anyar Cah angon cah angon penekna blimbing kuwi Lunyu lunyu penekna kanggo mbasuh dodotira Dodotira dodotira kumintir bedah ing pinggir Dondomana jrumatana kanggo seba mengko sore Mumpung padang rembulane Mumpung jembar kalangane Sun suraka surak hiyo  SUWE ORA JAMU Suwe ora jamu Jamu godhong telo Suwe ora ketemu Ketemu pisan gawe gelo kebudayaan 153 Jawa .. lera... pong .nimas.suwenge ting gelenter……. Ngenteni mbulan ndadari  CUBLAK CUBLAK SUWENG Cublak cublak suweng….

Kerajaan Blambangan. 1. kebudayaan 154 Jawa . Sejarah Sejarah Suku Osing diawali pada akhir masa kekuasaan Majapahit sekitar tahun 1478 M. yaitu lereng Gunung Bromo (Suku Tengger). SUKU OSING Suku Osing Jumlah populasi Kawasan dengan jumlah penduduk yang signifikan Kabupaten Banyuwangi. Kelompok etnis terdekat suku Jawa. Jawa Timur Bahasa bahasa Osing Agama Sebagian besar Islam dan sebuah minoritas beragama Hindu. orangorang majapahit mengungsi ke beberapa tempat. SUB SUKU JAWA I. suku Tengger. Setelah kejatuhannya. Perang saudara dan Pertumbuhan kerajaan-kerajaan islam terutama Kesultanan Malaka mempercepat jatuhnya Majapahit. suku Bali Suku Osing adalah penduduk asli Banyuwangi dan merupakan penduduk mayoritas di beberapa kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Bahkan Mereka sangat percaya bahwa Taman Nasional Alas Purwo merupakan tempat pemberhentian terakhir rakyat Majapahit yang menghindar dari serbuan kerajaan Mataram.I. Blambangan (Suku Osing) dan Bali. Kedekatan sejarah ini terlihat dari corak kehidupan Suku Osing yang masih menyiratkan budaya Majapahit. yang didirikan oleh masyarakat osing. adalah kerajaan terakhir yang bercorak Hindu-Budha seperti halnya kerajaan Majapahit.

terutama pada hiasan di bagian atap bangunan. Tradisi ini pernah menyulut peperangan besar yang disebut Puputan Bayu pada tahun 1771 M. Namun berkembangnya kerajaan Islam di pantura menyebabkan agama Islam dengan cepat menyebar di kalangan suku Osing. terutama di Kecamatan Banyuwangi. hal inilah yang menyebabkan kebudayaan masyarakat Osing mempunyai perbedaan yang cukup signifikan dibandingkan dengan Suku Jawa. seperti halnya masyarakat Bali. hal ini sangat terluhat dari kesenian tradisional Gandrung yang mempunyai kemiripan dengan tari-tari tradisional bali lainnya. dengan sebagian kecil lainya adalah pedagang dan pegawai di bidang formal seperti karyawan. Kecamatan Glagah dan Kecamatan Singojuruh. Suku Osing mempunyai kedekatan yang cukup besar dengan masyarakat Bali. Kecamatan Rogojampi. Kecamatan Kalipuro. Demografi Suku Osing menempati beberapa kecamatan di kabupaten Banyuwangi bagian tengah dan bagian utara. Stratifikasi Sosial kebudayaan 155 Jawa . Kepercayaan Pada awal terbentuknya masyarakat Osing kepercayaan utama suku Osing adalah Hindu-Budha seperti halnya Majapahit. Berkembangnya Islam dan masuknya pengaruh luar lain di dalam masyarakat Osing juga dipengaruhi oleh usaha VOC dalam menguasai daerah Blambangan. Kemiripan lain tercermin dari arsitektur bangunan antar Suku Osing dan Suku Bali yang mempunyai banyak persamaan. Bahasa Suku Osing mempunyai Bahasa Osing yang merupakan turunan langsung dari Bahasa Jawa Kuno seperti halnya Bahasa Bali.Dalam sejarahnya Kerajaan Mataram Islam tidak pernah menancapkan kekuasaanya atas Kerajaan Blambangan. Bahasa Osing sangat berbeda dengan Bahasa Jawa sehingga bahasa Osing bukan merupakan dialek dari bahasa Jawa seperti anggapan beberapa kalangan. guru dan pegawai pemda. Puputan adalah perang terakhir hingga darah penghabisan sebaga usaha terakhir mempertahankan diri terhadap serangan musuh yang lebih besar dan kuat. Profesi Profesi utama Suku osing adalah petani. dan Kecamatan Songgon. termasuk juga busana tari dan instrumen musiknya. Masyarakat Osing mempunyai tradisi puputan. Kecamatan Giri.

Suku Osing berbeda dengan Suku Bali dalam hal stratifikasi sosial. Kesenian utamanya antara lain Gandrung. SUKU TENGGER Suku Tengger Jumlah populasi 500. mereka merupakan penduduk asli. Desa Adat Kemiri Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyadari potensi budaya suku osing yang cukup besar dengan menetapkan desa kemiri di kecamatan Glagah sebagai desa adat yang harus tetap mempertahankan nilai-nilai budaya Suku Osing. yakni menempati sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan. kaum hydrakula. kaum coliba. Jawa Timur. I. Desa kemiren merupakan tujuan wisata yang cukup diminati di kalangan masyarakat Banyuwangi dan sekitarnya. Jawa Timur Bahasa bahasa Jawa Agama Sebagian besar Hindu dan sebuah minoritas beragama Islam dan Kristen. Seni Kesenian Suku Osing sangat unik dan banyak mengandung unsur mistik seperti kerabatnya suku bali dan suku tengger. tetapi telah ditemukan perbedaan stratifikasi di Suku tersebut. hal ini banyak dipengaruhi oleh agama Islam yang dianut oleh sebagian besar penduduknya. kaum Drakula. Seblang. Festival budaya dan acara kesenian tahunan lainnya sering diadakan di desa ini. Suku Osing tidak mengenal kasta seperti halnya Suku Bali. kaum sudrakula. 2.000. Kelompok etnis terdekat suku Jawa Suku Tengger adalah sebuah suku yang tinggal di sekitar Gunung Bromo. Angklung. Kabupaten kebudayaan 156 Jawa . Patrol. Tari Barong dan Jedor. Kawasan dengan jumlah penduduk yang signifikan gunung Bromo.

konon adalah keturunan pelarian Kerajaan Majapahit. Justru sebaliknya. Adalah kurang tepat jika diartikan sebagai sikap hidup ragu-ragu. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa. Suku Tengger. UNGKAPAN-UNGKAPAN JAWA  Mangan Ora Mangan Asal Kumpul Ungkapan mangan ora mangan asal kumpul bukan berarti bahwa orang Jawa adalah manusia-manusia yang tahan lapar. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. atau yang tidak mempunyai sepeser uangpun untuk membeli sejumput padi. Orang Jawa dengan kebudayaan 157 Jawa . Mereka yakin merupakan keturunan langsung dari Majapahit. tersebar di Pegunungan Tengger dan sekitarnya. hal itu menandakan manusia yang berpandangan optimis yang mampu melihat jauh kedepan. Nama Tengger berasal dari Legenda Roro Anteng dan Joko Seger yang diyakini sebagai asal usul nama Tengger. disamping merupakan anjuran untuk melakukan pekerjaan secara cermat agar selesai dengan baik. Makan adalah manifestasi dari nafsu biologis dan kepentingan perseorangan. Dengan demikian. yakni mangan (makan) dan kumpul. malas dan pesimis.Probolinggo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Bagi suku Tengger. dan Kabupaten Malang. Dalam ungkapan ini terdapat dua kata kunci. Orang-orang suku Tengger dikenal taat dengan aturan dan agama Hindu.  Alon-Alon Waton Kelakon Demikian pula terhadap ungkapan alon-alon waton kelakon. Gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci. ataupun manusia malas yang maunya hanya kumpul terus. ungkapan mangan ora mangan asal kumpul pada dasarnya ingin mengatakan bahwa orang Jawa merasa menjadi bagian integral dari masyarakatnya dan bersedia mendahulukan kepentingan kelompok/umum dari pada kepentingan individu. yaitu "Teng" akhiran nama Roro An-"teng" dan "ger" akhiran nama dari Joko Se-"ger". sedang kumpul menunjukkan adanya kehidupan berkelompok atau bermasyarakat. J.

kekuatan spiritual atau kebatinannya yang didapatkan dari kegiatan-kegiatan asketis seperti semadi/tapa. istri wajib mentaati perintah atau aturan suami. selalu yakin akan kekuatan diri sendiri dan yakin pula bahwa apa yang dicita-citakan pasti akan terwujud. Disini terkandung makna bahwa setelah selesai minum. Interpretasi negatif akan mengatakan bahwa wanita hanya berfungsi sebagai pemuas kebutuhan biologis (seksual) atau sebagai pembantu rumah tangga. Oleh karenanya. persamaan hak. kesusilaan dan Undang-Undang.  Kanca Wingking Dan Suwarga Nunut Neraka Katut Ungkapan lain yang bisa memberi kesan negatif adalah kanca wingking dan suwarga nunut neraka katut. dan suami adalah pemimpin bagi istrinya.  Urip Mung Mampir Ngombe Adapun ungkapan urip mung mampir ngombe menunjukkan bahwa kehidupan manusia didunia begitu cepatnya. yaitu agar tidak “kehausan” di tengah jalan. Jadi. tuntutan emansipasi. selama proses minum berlangsung. fungsi dan kedudukannya. Jadi. sehingga dapat menjadi “bekal” untuk menunaikan kewajiban lainnya. masih ada kewajiban lain yang lebih penting. betul-betul harus dapat dirasakan bahwa minum itu merupakan rahmat dari Yang Kuasa yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Islam — yang ajaran-ajarannya banyak diserap oleh masyarakat Jawa kemudian digabungkan dengan pemikiran dalam ajaran Hindu Budha (sinkretisme) — mengajarkan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi wanita. Dari pengertian tersebut sudah dapat dibayangkan bahwa ungkapan suwarga nunut neraka katut dan kanca wingking adalah dimaksudkan untuk menempatkan manusia pada peran. ibarat sepeminuman segelas air. mengapa harus tergesa-gesa kalau sesuatu yang dikejar itu pasti datang? Namun dalam hal ini harus diakui bahwa hanya orang-orang tertentu yang sudah mencapai taraf weruh sadurunge winarahlah yang bisa menghayati ungkapan alon-alon waton kelakon. arti suwarga nunut neraka katut bagi kebudayaan 158 Jawa . Keduanya seolah-olah mendiskriminasikan wanita atau istri terhadap laki-laki atau suami. derajat dan kedudukan akan mengalir bagaikan air bah. Tanpa pemahaman terhadap makna yang tersembunyi didalamnya. pasa atau nglakoni (melaksanakan suatu syarat untuk suatu tujuan). Sepanjang tidak bertentangan dengan agama.

istri adalah mematuhi suami, disamping kewajiban untuk memperingatkan bila suami kurang benar. Istri yang tidak mau menegur kesalahan suami, berarti ikut menanggung dosa yang diperbuat suaminya. Begitu pula ungkapan kanca wingking. Sebagai “teman belakang”, para istri memegang peranan yang amat penting dalam sebuah keluarga. Jika mereka tidak kuat memegang peran sebagai kanca wingking, maka keluarga itupun tidak dapat diharapkan kelangsungan eksistensinya. Jadi tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa surga laki-laki terletak ditelapak kaki wanita. Semboyan bahwa suatu revolusi tidak akan berhasil tanpa andil kaum wanita-pun, tidaklah mengada-ada. Hanya saja persoalannya, mengapa wanita dikatakan sebagai kanca wingking, bukan kanca ngajeng (teman depan)? Hal ini juga ada alasannya sendiri. Barangkali tidak seorangpun yang menyangkal bahwa masyarakat Jawa memiliki nilai-nilai dan norma-norma luhur yang dijunjung tinggi. Perbuatan yang melanggar atau tidak sesuai dengan nilai atau moral itu, dikatakan sebagai saru, ora lumrah, atau ora ilok. Kedudukan wanita Jawa terhadap lawan jenisnya sebagaimana kedudukan wanita terhadap pria pada umumnya — secara kodrati (bedakan dengan kedudukan sosial politik) — adalah lebih rendah. Dengan demikian, adalah tidak patut apabila wanita yang memimpin suatu keluarga. Adalah tidak lumrah apabila wanita mencarikan nafkah bagi suaminya dan menempatkannya sebagai rewang (pembantu). Dan adalah tidak ilok (tidak boleh dilakukan) apabila seorang istri berani membantah suaminya. K. PEMBANGUNAN DAN MODERNISASI Sifat dasar yang menjadikan satu kelemahan yang juga merupakan penghambat pembangunan di Jawa antara lain adalah sifat yang pasif terhadap hidup, kesukaan-kesukaan terhadap kebatinan, penilain yang tinggi yang di nyatakan dengan konsep nerimo, ketabahan yang ulet dalam hal menderita, tetapi yang lemah terhadap hal karya. Selain itu, pengaruh dari tekanan bangsa-bangsa asing yang menjajah di Jawa serta jumlah penduduk yang semakin membeludak menjadi salah satu penyebab lain terhambatnya pembangunan di Jawa.

kebudayaan 159

Jawa

Struktur masyarakat desa di Jawa yang asli, sudah terlanjur dirusak oleh struktur administratif yang ditumpangkan diatasnya oleh pemerintahan kolonial. Akibatnya masyarakat di Jawa tidak mengenal kesatuan-kesatuan social dan organisasi adat yang sudah mantap dan kreatif. Dari uraian diatas masih banyak hal-hal yang dapat menghambat pembangunan diJawa, antara lain;
a. Mental orang Jawa yang terlalu nerimo dan bersiakap pasif terhadap hidup b. Tekanan jumlah penduduk yang mengakibatkan penduduk desa diJawa

menjadi terlalu miskin. c. Tidak adanya organisasi-organisasiasli yang telah mantap dan jika dimodernisasi menjadi organisasi yang mantap, aktif serata kreatif d. Tidak adanya kepeimpinan desa yang aktif kreatif untuk dapat memimpin aktivitas produksi yang bisa member hasil 3-4 kali lebih besar dari pada sekarang tiap-tiap tahun.

kebudayaan 160

Jawa

BAB III PENUTUP Kebudayaan Jawa merupakan bagian dari kebudayaan bangsa Indonesia yang memiliki nilai yang sangat luhur bersama dengan kebudayaan bangsa Indonesia lainnya. Oleh kerenanya, sudah layak apabila kita mengetahui serta memahami kebudayaan Jawa agar tercapai pemahaman yang tepat mengenai kebudayaan Jawa. Hendaknya patut digaris bawahi bahwa kata “memahami” merupakan sesuatu yang amat penting untuk dapat memperoleh pandangan yang benar dan jelas mengenai kebudayaan Jawa itu sendiri. Oleh karena itu, sesungguhnya tidaklah cukup apabila kita ingin memahami kebudayaan Jawa dalam waktu yang singkat tetapi diperlukan waktu yang cukup lama dan mendalam. Meskipun demikian, hal itu tidak menyurutkan usaha kami untuk menyediakan berbagai pengetahuan seputar kebudayaan Jawa Secara khusus pula makalah ini kami buat untuk teman-teman di lingkungan Kampus STAN yang memiliki latar belakang bukan dari budaya Jawa untuk menambah pengetahuan sekaligus sebagai bekal bagi teman-teman di lingkungan kerja nanti, supaya kita dapat berkomunikasi lintas budaya. Dan akhirnya, sesungguhnya makalah ini jauh dari lengkap dan mendalam mengenai kebudayaan Jawa. Kami meminta maaf apabila di dalam makalah ini ada pernyataan yang kurang berkenan di hati teman-teman. Terima kasih.

kebudayaan 161

Jawa

wikipedia.org/wiki/Gamelan_Jawa http://id. http://id. Y Argo.org/wiki/Tumpeng http://id.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Sadran http://heritageofjava.org/wiki/Rumah_Jawa http://id.org/wiki/Sastra_Jawa_Baru http://id.org/wiki/Suku_Jawa http://id.org/wiki/Dialek_Kedu http://id.org/wiki/Blangkon http://id.wikipedia.org/wiki/Kalender_Jawa http://jv.org/wiki/Dialek_Semarang http://id.wikipedia.org/wiki/Dialek_Banyumas http://id.wikipedia.sekarjagad.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Kromo_Inggil http://id.wikipedia.org/wiki/Ruwatan kebudayaan Jawa . Mitologi Kanjeng Ratu Kidul.wikipedia.org/wiki/Sastra_Jawa_Modern http://id.org/wiki/Reog http://id. 2006.wikipedia.wikipedia.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Jula-juli http://map-bms.wikipedia. Yogyakarta: Nindia Pustaka.org/wiki/Keris_Jawa http://jv.wikipedia.org/wiki/Sastra_Jawa_Pertengahan www.org/wiki/Suku_Osing http://id.wikipedia.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Dialek_Surabaya http://id.org/wiki/Sastra_Jawa_Kuna http://id.com http://id.org/wiki/Dialek_Tegal http://id.wikipedia.org/wiki/Banyumasan http://id.wikipedia.wikipedia.wikipedia.org http://id.wikipedia.DAFTAR PUSTAKA Twikromo.wikipedia.org/wiki/Jawa_Timur http://id.org/wiki/Ebeg http://id.

org/wiki/Ketoprak http://jv.org/wiki/Soto_Sokaraja http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_masakan_Indonesia http://id.wikipedia.org/wiki/Tari_Gambyong http://map-bms.wikipedia.wikipedia.http://id.org/wiki/Priyayi kebudayaan Jawa .org/wiki/Mendhem_ari-ari http://jv.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Seni_tradisional_Banyumasan http://map-bms.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Rasukan_adat_Jawa http://ms.org/wiki/Tayuban http://id.org/wiki/Suku_Jawa http://id.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Lengger http://jv.org/wiki/Keris http://jv.wikipedia.org/wiki/Pengantenan_adat_Jawa http://jv.wikipedia.org/wiki/Degung http://id.org/wiki/Brokohan http://id.wikipedia.wikipedia.wikipedia.org/wiki/Tingkeban http://jv.wikipedia.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful