Definisi kemiskinan telah banyak dikemukakan oleh pakar dan lembaga yang terkait dengan permasalahan kemiskinan.

Specker (1993) mengatakan bahwa kemiskinan mencakup (1) kekurangan fasilitas fisik bagi kehidupan yang normal, (2) gangguan dan tingginya risiko kesehatan, (3) risiko keamanan dan kerawanan kehidupan sosial ekonomi dan lingkungannya, (4) kekurangan pendapatan yang mengakibatkan tidak bisa hidup layak, dan (5) kekurangan dalam kehidupan sosial yang dapat ditunjukkan oleh ketersisihan sosial, ketersisihan dalam proses politik, dan kualitas pendidik yang rendah. Konferensi Dunia untuk Pembangunan Sosial telah mendefinisikan kemiskinan sebagai berikut: Kemiskinan memiliki wujud yang majemuk, termasuk rendahnya tingkat pendapatan dan sumber daya produktif yang menjamin kehidupan berkesinambungan; kelaparan dan kekurangan gizi; rendahnya tingkat kesehatan; keterbatasan dan kurangnya akses kepada pendidikan dan layanan-layanan pokok lainnya, kondisi tak wajar dan kematian akibat penyakit yang terus meningkat; kehidupan bergelandang dan tempat tinggal yang tidak memadai; lingkungan yang tidak aman; serta diskriminasi dan keterasingan sosial. Kemiskinan juga dicirikan oleh rendahnya tingkat partisipasi dalam proses pengambilan keputusan dalam kehidupan sipil, sosial dan budaya. Maxwell (2007) menggunakan istilah kemiskinan untuk menggambarkan keterbatasan pendapatan dan konsumsi, keterbelakangan derajat dan martabat manusia, ketersingkiran sosial, keadaan yang menderita karena sakit, kurangnya kemampuan dan ketidakberfungsian fisik untuk bekerja, kerentanan (dalam menghadapi perubahan politik dan ekonomi), tiadanya keberlanjutan sumber kehidupan, tidak terpenuhinya kebutuhan dasar, dan adanya perampasan relatif (relative deprivation). Poli (1993) menggambarkan kemiskinan sebagai keadaan; ketidakterjaminan pendapatan, kurangnya kualitas kebutuhan dasar, rendahnya kualitas perumahan dan aset-aset produktif; ketidakmampuan memelihara kesehatan yang baik, ketergantungan dan ketiadaan bantuan, adanya perilaku antisosial (anti-social behavior), kurangnya dukungan jaringan untuk mendapatkan kehidupan yang baik, kurangnya infrastruktur dan keterpencilan, serta ketidakmampuan dan keterpisahan. Bappenas dalam dokumen Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan juga mendefinisikan masalah kemiskinan bukan hanya diukur dari pendapatan, tetapi juga masalah kerentanan dan kerawanan orang atau sekelompok orang, baik laki-laki maupun perempuan untuk menjadi miskin. Masalah kemiskinan juga menyangkut tidak terpenuhinya hak-hak dasar masyarakat miskin untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan bermartabat. Pemecahan masalah kemiskinan perlu didasarkan pada pemahaman suara masyarakat miskin, dan adanya penghormatan, perlindungan dan pemenuhan hak-hak mereka, yaitu hak sosial, budaya, ekonomi dan politik. Oleh karena itu, strategi dan kebijakan yang dirumuskan dalam strategi nasional pengentasan kemiskinan didasarkan atas pendekatan berbasis hak (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, 2005). Menurut Sallatang (1986) bahwa kemiskinan adalah ketidakcukupan penerimaan pendapatan dan pemilikan kekayaan materi, tanpa mengabaikan standar atau ukuranukuran fisiologi, psikologi dan sosial. Sementara itu, Esmara (1986) mengartikan kemiskinan ekonomi sebagai keterbatasan sumber-sumber ekonomi untuk mempertahankan kehidupan yang layak. Fenomena kemiskinan umumnya dikaitkan dengan kekurangan pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang layak. Menurut Basri (1995) bahwa kemiskinan pada dasarnya mengacu pada keadaan serba kekurangan dalam pemenuhan sejumlah kebutuhan, seperti sandang, pangan, papan, pekerjaan, pendidikan, pengetahuan, dan lain sebagainya. Sementara itu, menurut Badan Pusat Statistik (2000), kemiskinan didefinisikan sebagai pola konsumsi yang setara dengan beras 320 kg/kapita/tahun di pedesaan dan 480 kg/kapita/tahun di daerah perkotaan. Sumber: http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/2177548-konsep-dan-definisi-kemiskinan/#ixzz1l7KnntPu

Pengertian Kemiskinan
Masalah kemiskinan memang telah lama ada sejak dahulu kala. Pada masa lalu umumnya masyarakat menjadi miskin bukan karena kurang pangan, tetapi miskin dalam bentuk minimnya kemudahan atau materi. Dari ukuran kehidupan modern pada masakini mereka tidak menikmati fasilitas pendidikan, pelayanan kesehatan, dan kemudahan-kemudahan lainnya yang tersedia pada jaman modern. Kemiskinan sebagai suatu penyakit sosial ekonomi tidak hanya dialami oleh negara-negara yang sedang berkembang, tetapi juga negara-negara maju, seperti Inggris dan Amerika Serikat.

Aspek ekonomi akan tampak pada terbatasnya pemilikan alat produksi. sehingga kemampuan daya belinya juga rendah. Kemiskinan alamiah terjadi antara lain akibat sumber daya alam yang terbatas. Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumber daya alamnya mempunyai 49. Pada masa itu kaum miskin di Inggris berasal dari tenaga-tenaga kerja pabrik yang sebelumnya sebagai petani yang mendapatkan upah rendah. Sebagian besar penduduknya hidup dalam kecukupan. Namun. Seseorang yang tergolong . terutama pada masa depresi dan resesi ekonomi tahun 1930-an.5 juta jiwa penduduk yang tergolong miskin (Survai Sosial Ekonomi Nasional / Susenas 1998). pengangguran. Kemiskinan “buatan” terjadi karena lembaga-lembaga yang ada di masyarakat membuat sebagian anggota masyarakat tidak mampu menguasai sarana ekonomi dan berbagai fasilitas lain yang tersedia.Negara Inggris mengalami kemiskinan di penghujung tahun 1700-an pada era kebangkitan revolusi industri yang muncul di Eropah. seperti prostitusi. Bahkan Amerika Serikat telah banyak memberi bantuan kepada negara-negara lain. Ada dua kondisi yang menyebabkan kemiskinan bisa terjadi. Sedangkan. fatalisme. kemiskinan relatif dan kemiskinan kultural. Kemiskinan dapat dibedakan menjadi tiga pengertian: kemiskinan absolut. penggunaan teknologi yang rendah dan bencana alam. Mereka umumnya tinggal di permukiman kumuh yang rawan terhadap penyakit sosial lainnya. tabungan nihil. dan rasa terisolir. kesehatan. lemah mengantisipasi peluang. psikologi dan politik. diskriminatif. Akibat krisis jumlah penduduk miskin diperkirakan makin bertambah. Aspek sosial terutama akibat terbatasnya interaksi sosial dan penguasaan informasi. yakni kemiskinan alamiah dan karena buatan.6 juta jiwa di perkotaan dan 31. sosial. Angka tersebut lebih dari dua kali lipat banyaknya dibanding angka tahun 1996 (sebelum krisis ekonomi) yang hanya mencatat jumlah penduduk miskin sebanyak 7. Amerika Serikat sebagai negara maju juga dihadapi masalah kemiskinan. Jumlah penduduk miskin tersebut terdiri dari 17. tidak cukup untak memenuhi kebutuhan hidup minimum: pangan. Berbagai persoalan kemiskinan penduduk memang menarik untuk disimak dari berbagai aspek. sandang. kriminalitas. dari aspek politik berkaitan dengan kecilnya akses terhadap berbagai fasilitas dan kesempatan.9 juta jiwa di perdesaan. ekonomi. hingga mereka tetap miskin. Dari aspek psikologi terutama akibat rasa rendah diri.3 juta jiwa perdesaan. posisi lemah dalam proses pengambil keputusan. papan. pendidikan. Pada tahun 1960-an Amerika Serikat tercatat sebagai negara adi daya dan terkaya di dunia.2 juta jiwa di Perkotaan dan 15. daya tawar rendah. Seseorang termasuk golongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan. Maka itulah sebabnya para pakar ekonomi sering mengkritik kebijakan pembangunan yang melulu terfokus pada pertumbuhan ketimbang pemerataan. di balik keadaan itu tercatat sebanyak 32 juta orang atau seperenam dari jumlah penduduknya tergolong miskin. malas. upah kecil.

780 per kapita per bulan. Kebodohan dan eksploitasi manusia dinilai sebagai penyebab keadaan itu. garis kemiskinan penduduk perkotaan ditetapkan sebesar Rp. kemiskinan kepulauan. Kemiskinan kolektif dapat terjadi pada suatu daerah atau negara yang mengalami kekurangan pangan. kemiskinan musiman (cyclical). pendidikan. Menurut data BPS hasil Susenas pada akhir tahun 1998. yaitu pendekatan produksi. dan mengembangkan teknologi. dan kemiskinan individu. yakni kemiskinan umum.246 per kapita per bulan untuk penduduk perkotaan dan Rp. pendapatan. 96. Banyak pendapat di kalangan pakar ekonomi mengenai definisi dan klasifikasi kemiskinan ini. Sementara ini yang dilakukan Biro Pusat Statistik (BPS) untuk menarik garis kemiskinan adalah pendekatan pengeluaran. kelompok lanjut usia. Kemiskinan musiman atau periodik dapat terjadi manakala daya beli masyarakat menurun atau rendah. John Kenneth Galbraith melihat kemiskinan di Amerika Serikat terdiri dari tiga macam. ditambah dengan pemenuhan kebutuhan pokok minimum lainnya.miskin relatif sebenarnya telah hidup di atas garis kemiskinan namun masih berada di bawah kemampuan masyarakat sekitarnya. 72. dan kemiskinan kasus. Lantas apa yang dapat dilakukan? Program-program kemiskinan sudah banyak dilaksanakan di berbagai negara. kesehatan. Lebih lanjut. anak-anak yatim.100 kalori per kapita per hari. Dengan perhitungan uang tersebut dapat dibelanjakan untuk memenuhi konsumsi setara dengan 2. Melalui berbagai suntikan maka diharapkan produktifitas akan meningkat. di Amerika Serikat program penanggulangan kemiskinan diarahkan untuk . Pakar ekonomi lainnya melihat secara global. penambahan modal investasi. Sedangkan. Melalui pendekatan sosial masih sulit mengukur garis kemiskinan masyarakat. Angka garis kemiskinan ini jauh sangat tinggi bila dibanding dengan angka tahun 1996 sebelum krisis ekonomi yang hanya sekitar Rp.959 per kapita per bulan dan penduduk miskin perdesaan sebesar Rp. seperti sandang. 27. Penanggulangan Kemiskinan Bagaimana menangani kemiskinan memang menarik untuk disimak. Dalam bukunya The Affluent Society. garis kemiskinan merupakan ukuran rata-rata kemampuan masyarakat untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup minimum. sekarang terjadi di Indonesia. yakni kemiskinan massal/kolektif. dalam praktek persoalannya tidak semudah itu. terutama kaum cacat fisik atau mental. kemiskinan individu dapat terjadi pada setiap orang. Sedang miskin kultural berkaitan erat dengan sikap seseorang atau sekelompok masyarakat yang tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari fihak lain yang membantunya. Misalnya sebagaimana. Namun.413 bagi penduduk perdesaan. tetapi dari indikator ekonomi secara teoritis dapat dihitung dengan menggunakan tiga pendekatan. dan pengeluaran. Teori ekonomi mengatakan bahwa untak memutus mata rantai lingkaran kemiskinan dapat dilakukan peningkatan keterampilan sumber daya manusianya. transportasi. 38. Sebagai perbandingan.

Hal ini karena data. dan pemberian bantuan kepada kaum miskin usia lanjut. Menurut Weber (Swasono . Kaum konservatif memandang kemiskinan bermula dari karakteristik khas orang miskin itu sendiri. tetapi juga mempengaruhi cara mendefenisikan masalah sosial ekonomis. Sedangkan. gerakan terpadu pengentasan kemiskinan. Sekarang pemerintah menangani program tersebut secara menyeluruh.meningkatkan kerja sama ekonomi antar negara bagian. perluasan kesempatan pendidikan dan kerja untuk para pemuda. dan bagaimana masalah sosial ekonomi itu diatasi. Menurut Oscar Lewis (1983). kurang memiliki jiwa wiraswasta. tetapi justru terletak pada latar belakang idiologisnya. juga kalangan masyarakat ikut terlibat membantu kaum miskin melalui organisasi kemasyarakatan. Mereka memutuskan. Budaya kemiskinan hanyalah semacam realistic and situational adaptation pada linkungan yang penuh diskriminasi dan peluang yang sempit. Kaum liberal memandang bahwa manusia sebagai makhluk yang baik tetapi sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Dalam JPS ini masyarakat sasaran ikut terlibat dalam berbagai kegiatan. Pandangan tentang kemiskinan Pebedaan pandangan dari setiap ahli tentang kemiskinan merupakan hal yang wajar. liberalisme. gereja. ideology bukan saja menentukan macam masalah yang dianggap penting. penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi orang dewasa. 1. menjalankan. Kaum radikal mengabaikan budaya kemiskinan. Kemiskinan disepakati sebagai masalah yang bersifat sosial ekonomi. mereka . tetapi ikut serta menentukan program yang paling cocok bagi mereka. dan lain sebagainya. Nasib dari program. fatalis. 1987). akan tergantung pada tekad dan komitmen masyarakat sendiri. tidak mempunyai rencana. tetapi penyebab dan cara mengatasinya terkait dengan ideologi yang melandasinya. Melalui partisipasi aktif ini dari masyarakat miskin sebagai kelompok sasaran tidak hanya berkedudukan menjadi obyek program. P2KP sendiri sebagai program penanggulangan kemiskinan di perkotaan lebih mengutamakan pada peningkatan pendapatan masyarakat dengan mendudukan masyarakat sebagai pelaku utamanya melalui partisipasi aktif. 1987). seperti : pengembangan desa tertinggal. boros. perbaikan kampung. melalui program-program Jaring Pengaman Sosial (JPS). terutama sejak krisis moneter dan ekonomi yang melanda Indonesia pada pertengahan tahun 1997. Untuk memahami ideologi tersebut ada tiga pandangan pemikiran yaitu konservatisme. Orang menjadi miskin karena tidak mau bekerja keras . memperbaiki kondisi permukiman perkotaan dan perdesaan. Selain program pemerintah. apakah akan terus berlanjut atau berhenti. orang-orang miskin adalah kelompok yang mempunyai budaya kemiskinan sendiri yang mencakup karakteristik psikologis sosial. dan ekonomi. dan tidak ada hasrat untuk berpartisipasi. dan mengevaluasi hasil dari pelaksanaan program. Kemiskinan a. Penganut masing-masing pandangan memiliki cara pandang yang berbeda dalam menjelaskan kemiskinan. dan metode penelitian yang berbeda . dan radikalisme (Swasono. Di Indonesia program-program penanggulangan kemiskinan sudah banyak pula dilaksanakan.

dan memandang bahwa manusia adalah makhluk yang kooperatif. Bantuan program pemerintah dipandang sangat bermanfaat dan perlu direalisasikan. Keempat. Akibatnya. bahwa kemiskinan merupakan suatu ciri struktural dari kapitalisme. yaitu pertama. Keban (1994) menjelaskan bahwa pandangan konservatif cendrung melihat bahwa program-program pemerintah yang dirancang untuk mengubah sikap mental si miskin merupakan usaha yang sia-sia karena akan memancing manipulasi kenaikan jumlah kaum miskin yang ingin menikmati program pelayanan pemerintah. Pandangan radikal memandang bahwa kemiskinan disebabkan struktur kelembagaan seperti ekonomi dan politiknya. produktif dan kreatif. seperti memiliki sikap fatalis. kaum miskin selalu kekurangan dalam bidang keterampilan dan pendidikan untuk memperoleh pekerjaan dalam masyarakat. kurang memiliki kesadaran kelas. yaitu culturalist dan structuralist. yang cendrung mempersalahkan kemiskinan bersumber dari dalam diri si miskin itu sendiri. kemiskinan dipandang sebagai akibat dari sub budaya tertentu yang diturunkan dari generasi ke generasi. Keempat dipengaruhi oleh pandangan radikalis yang mempersalahkan hakekat atau prilaku negara kapitalis. bahwa dalam masyarakat kapitalis segelintir orang menjadi miskin karena yang lain menjadi kaya. Strukturalis beranggapan bahwa sumber kemiskinan tidak terdapat pada diri orang miskin. terhadap konsep . kemiskinan dilihat sebagai akibat dari kegagalan personal dan sikap tertentu khususnya ciri-ciri sosial psikologis individu dari si miskin yang cendrung menghambat untuk melakukan perbaikan nasibnya. maka kebijakan yang dapat ditempuh adalah dengan melakukan perubahan kelembagaan ekonomi dan politik secara radikal. yang cendrung menyalahkan ketidakmapuan struktur kelembagaan yang ada. tidak mampu melakukan pengendalian diri. tidak mampu menunda kenikmatan atau melakukan rencana bagi masa mendatang. Kulturalis cendrung menyalahkan kaum miskin. tetapi adalah sebagai akibat dari perubahan priodik dalam bidang sosial dan ekonomi seperti kehilangan pekerjaan. si miskin tidak melakukan rencana ke depan. Jika dikaitkan dengan pandangan konservatisme. Kedua. Philips dan Legates (1981) mengemukakan empat pandangan tentang kemiskinan. liberalisme dan radikalisme. pelatihan. meskipun kesempatan ada mereka gagal memanfaatkannya. tetapi juga dalam implikasi kebijakan untuk menanggulanginya. atau gagal dalam melihat faktor-faktor ekonomi seperti kesempatan yang dapat mengubah nasibnya. rendahnya tingkat upah. ada dua pandangan yang berbeda tentang kemiskinan. Ketiga lebih mencerminkan aliran liberalisme.Ketiga. berorientasi pada masa sekarang. politik dan sosial. menabung dan mengejar tingkat pendidikan yang lebih tinggi.menekankan peranan struktur ekonomi. Kaum miskin adalah kelompok masyarakat yang memiliki subkultur tertentu yang berbeda dari golongan yang tidak miskin. Menurut Flanagan (1994). diskriminasi dan sebagainya. Pemerintah juga dilihat sebagai pihak yang justru merangsang timbulnya kemiskinan. cendrung merasa optimis tentang kaum miskin dan menganggap mereka sebagai sumber daya yang dapat berkembang seperti halnya orang-orang kaya. maka poin pertama dan kedua tersebut mencerminkan pandangan konservatif. karena terjebak dalam budaya kemiskinan. Implikasi dari dua pandangan ini juga berbeda. Aliran liberal yang melihat si miskin sebagai pihak yang mengalami kekurangan kesempatan untuk memperoleh pendidikan. kemiskinan dipandang sebagai akibat kurangnya kesempatan. pekerjaan dan perumahan yang layak. Masing-masing pandangan tersebut bukan hanya berbeda dalam konsep kemiskinan saja.

Disamping itu.kulturalis perlu dilakukan perubahan aspek kultural misalnya pengubahan kebiasaan hidup. kemiskinan juga terkait dengan kualitas sumberdaya manusia. tidak meiliki jiwa wiraswasta. Pertama adalah kelompok pakar dan aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang mengikuti pikiran kelompok agrarian populism. yaitu adanya suatu tingkat kekurangan materi pada sejumlah atau segolongan orang dibandingkan dengan standar kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Menurut Sutrisno (1993). Kajian Chambers (1983) lebih melihat masalah kemiskinan dari dimensi si miskin itu sendiri dengan deprivation trap. yang melihat inti dari masalah kemiskinan sebagai masalah budaya. ada dua sudut pandang dalam memahami substansi kemiskinan di Indonesia. baik yang bersifat material maupun non material. Dalam tulisan ini dicoba menggabungkan dua sudut pandang dari luar kelompok miskin. Pengertian kemiskinan disampaikan oleh beberapa ahli atau lembaga. yaitu : (1) kemiskinan itu sendiri. Reitsma dan Kleinpenning (1994) mendefisnisikan kemiskinan sebagai ketidakmampuan seseorang untuk memenuhi kebutuhannya. adalah masalah campur tangan yang terlalu luas dari negara dalam kehidupan masyarakat pada umumnya. orang miskin mampu membangun diri mereka sendiri apabila pemerintah memberi kebebasan bagi kelompok itu untuk mengatur diri mereka sendiri. dan (5) Ketidak berdayaan. tetapi Chambers sendiri belum menjelaskan tentang alasan terjadinya deprivation trap itu. Dalam pandangan ini. dengan mengembangkan lima unsur keterjebakan yang dikemukakan oleh Chambers (1983). (2) kelemahan fisik. Friedman (1979) mengemukakan kemiskinan adalah ketidaksamaan kesempatan untuk memformulasikan basis . Hal ini akan sulit dan memakan waktu lama. Menurut Ellis (1994) kemiskinan merupakan gejala multidimensional yang dapat ditelaah dari dimensi ekonomi. Menurut Suparlan (1993) kemiskinan didefinisikan sebagai suatu standar tingkat hidup yang rendah. Levitan (1980) mengemukakan kemiskinan adalah kekurangan barang-barang dan pelayanan-pelayanan yang dibutuhkan untuk mencapai suatu standar hidup yang layak. Pengertian Kemiskinan Memahamai substansi kemiskinan merupakan langkah penting bagi perencana program dalam mengatasi kemiskinan. melainkan karena keadaan yang tidak dapat dihindari dengan kekuatan yang ada padanya. dan pendidikannya rendah. Orang menjadi miskin karena tidak memiliki etos kerja yang tinggi. (3) Keterasingan. Hingga saat ini belum ada yang mengkaji masalah kemiskinan dari sudut pandang kelompok miskin itu sendiri. khususnya masyarakat pedesaan. dan biaya yang tidak sedikit. bahwa kemiskinan itu hakekatnya. (4) Kerentanan. Kedua. Berbagai sudut pandang tentang kemiskinan di Indonesia dalam memahami kemiskinan pada dasarnya merupakan upaya orang luar untuk memahami tentang kemiskinan. kelompok para pejabat. Terhadap konsep kulturalis perlu dilakukan pengubahan struktur kelembagaan seperti kelembagaan ekonomi. sosial dan kelembagaan lain yang terkait. diantaranya adalah BAPPENAS (1993) mendefisnisikan keimiskinan sebagai situasi serba kekurangan yang terjadi bukan karena kehendak oleh si miskin. Faturchman dan Marcelinus Molo (1994) mendefenisikan bahwa kemiskinan adalah ketidakmampuan individu dan atau rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. sosial politik. 2.

Budaya kemiskinan melampaui batas-batas perbedaan daerah. sumber keuangan (pendapatan dan kredit yang memadai). dan informasi yang berguna. serta adanya anggapan bahwa rendahnya status ekonomi sebagai hasil ketidak sanggupan pribadi atau memang pada dasarnya sudah rendah kedudukannya. sangat individualist dan berciri kapitalisme. budaya kemiskinan merupakan suatu adaptasi atau penyesuaian. Dalam rangka budaya miskin ini. yang meliptui : asset (tanah. ekonomi dan politiknya secara sukarela maupun atas prakarsa pemerintah. dan bahkan juga tidak mampu menggunakan sumber daya lingkungan untuk mengubah nasib. manusia dan masyarakat menyerah kepada nasib dan bersikap tidak perlu. yang merupakan perwujudan dan kesadaran akan mustahilnya mencapai akses. perbedaan bangsa dan negara. sekali budaya tersebut sudah tumbuh. (4) tidak berhasilnya golongan berpenghasilan rendah meningkatkan organisiasi sosial. 3. dan sikap hemat. dan lebih merupakan usaha menikmati masalah yang tak terpecahkan (tak tercukupi syarat. kesehatan). peralatan. (5) sistem keluarga bilateral lebih menonjol daripada sistem unilateral. organisiasi sosial politik yang dapat dimanfaatkan untuk mencapai kepentingan bersama. jaringan sosial untuk memperoleh pekerjaan. karena itu manusia dan masyarakat harus menyesuaikan diri pada kemiskinan itu. buruh upahan dan sistem produksi untuk keuntungan. Budaya kemiskinan bukanlah hanya merupakan adaptasi terhadap seperangkat syarat-syarat obyektif dari masyarakat yang lebih luas. Menurut Lewis (1983). barang atau jasa. budaya kemiskinan dapat terwujud dalam berbagai konteks sejarah. Budaya Kemiskinan Sumarjan (1993) mengemukakan bahwa budaya kemiskinan adalah tata hidup yang mengandung sistem kaidah serta sistem nilai yang menganggap bahwa taraf hidup miskin disandang suatu masyarakat pada suatu waktu adalah wajar dan tidak perlu diusahakan perbaikannya. namun lebih cendrung untuk tumbuh dan berkembang di dalam masyarakat yang memiliki seperangkat kondisi: (1) Sistem ekonomi uang. Menurut Oscar Lewis (1983). perbedaan pedesaan-perkotaan. Kemiskinan yang diderita oleh masyarakat dianggap sudah menjadi nasib dan tidak mungkin dirubah. dan (6) kuatnya seperangkat nilai-nilai pada kelas yang berkuasa yang menekankan penumpukan harta kekayaan dan adanya kemungkinan mobilitas vertical. dan pola-pola pembelanjaan. Budaya kemiskinan . perumahan. hubungan-hubungan antar pribadi. pengetahuan dan keterampilan yang memadai. dan memperlihatkan perasaan yang mencolok dalam struktur keluarga. agar tidak merasa keresahan jiwa dan frustrasi secara berkepanjangan. tidak sanggupan). orientasi waktu. sistem-sistem nilai. Dengan beberapa pengertian tersebut dapat diambil satu poengertian bahwa kemiskinan adalah suatu situasi baik yang merupakan proses maupun akibat dari adanya ketidakmampuan individu berinteraksi dengan lingkungannya untuk kebutuhan hidupnya. ia cendrung melanggengkan dirinya dari generasi ke generasi melaui pengaruhnya terhadap anak-anak. (2) tetap tingginya tingkat pengangguran dan setengah pengangguran bagi tenaga tak terampil.kekuasaan sosial. (3) rendahnya upah buruh. Budaya tersebut mencerminkan suatu upaya mengatasi rasa putus asa dan tanpa harapan. dan sekaligus juga merupakan reaksi kaum miskin terhadap kedudukan marginal mereka di dalam masyarakat yang berstrata kelas.

sedangkan atatus golongan pribumi tetap dipertahankan rendah. Budaya kemiskinan bukannya berasal dari kebodohan. orang yang berada dalam kondisi serupa tidak sanggup melihat peluang dan jalan keluar untuk memperbaiki kehidupannya. Budaya kemiskinan cendrung dimiliki oleh masyarakat strata sosial yang lebih rendah. sebahagian besar penduduk Indonesia menghadapinya dengan nilai-nilai pasrah atau nrimo (kemiskinan kebudayaan). Budaya kemiskinan juga merupakan akibat penjajahan yakni struktur ekonomi dan sosial pribumi diobrak. (8) Pilihan sebagai posisi pekerja kasar. 1968 dalam Haba. perumahan. Akibat kemiskinan tersebut. dan pola-pola kebudayaan membatasi lingkup partisipasi sosial dan peyaluran kekuatan sosial) akan cendrung gagal. 2001). . melainkan justru berfungsi bagi penyesuaian diri. Untuk menentukan macam kesempatan-kesempatan yang harus diciptaan untuk menghapus kemiskinan. (4) kurang melihat kemajuan pribadi . (7) Perasaan menilai diri sendiri negatif. Hal penting dalam membahas kemiskinan dan kebudayaan adalah untuk mengetahui seberapa cepat orang-orang miskin akan mengubah kelakuan mereka. Terbentuknya pola pikir dan prilaku pasrah itu dalam jangka waktu yang lama akan berubah menjadi semacam “institusi permanen” yang mengatur prilaku mereka dalam menyelesaikan problematika di dalam hidup mereka atau krisis lingkungan mereka sendiri (Lewis. juga dapat tumbuh dalam proses penghapusan suku. Menurut Parker Seymour dan Robert J. jika mereka mendapat kesempatankesempatan baru. Berkaitan dengan budaya sebagai fungsi adaptasi. masyarakat terasing. dengan menggunakan metode-metodre psikiatri kesejahteraan sosial-pendidikan tanpa lebih dahulu (ataupun secara bersamaan) berusaha untuk secara berarti mengubah kenyataan kenyataan struktur sosial (pendapatan.cendrung berkembang bila sistem-sistem ekonomi dan sosial yang berlapis-lapis rusak atau berganti. Kleiner (1983) formulasi kebudayaan kemiskinan mencakup pengertian bahwa semua orang yang terlibat dalam situasi tersebut memiliki aspirasi-aspirasi yang rendah sebagai salah satu bentuk adaptasi yang realistis. pekerjaan. maka suatu usaha yang sungguh-sungguh untuk mengubah nilai-nilai yang tidak diinginkan ini menuju ke arah yang sesuai dengan nilai-nilai golongan kelas menengah. Beberapa ciri kebudyaan kemiskinan adalah : (1) fatalisme. 2001 ). (2) rendahnya tingkat aspirasi. dan macam hambatan atau halangan-halangan yang baik atau buruk yang akan timbul dari reaksi tersebut terhadap situasi-situasi masa lampau. Karakteristik kelompok ini terlihat dari pola substensi mereka yang berorientasi dari tangan ke mulut (from hand to mouth) (Haba. yaitu mendorong oangorang msikin melakukan adapatasi terhadap kesempatan-kesempatan yang bertentangan dengan pola-pola kebudayaan yang mereka pegang teguh dan cara mereka dapat mempertahankan pola-pola kebudayaan yang mereka pegang teguh tersebut agar tidak akan bertentangan dengan aspirasiaspirasi lainnya. dan (9) Tingkat kompromis yang menyedihkan. seperti masa pergantian feodalis ke kapitalis atau pada masa pesatnya perubahan teknologi. dan warga urban yang berasal dari buruh tani yang tidak memiliki tanah. (5) perasaan ketidak berdayaan/ketidakmampuan. Hanya orang-orang miskin yang tidak mampu menerima kesempatan-kesempatan karena mereka tidak dapat membuang norma-norma kelakukan yang digolongkan sebagai pendukung kebudayaan kelas bawah. (6) Perasaan untuk selalu gagal. Menurut penganut paradigma kemiskinan kebudayaan ini. (3) rendahnya kemauan mengejar sasaran.

Bantuan yang terpenting bagi golongan masyarakat yang menderita kemiskinan struktural adalah bantuan agar mereka kemudian mampu membantu dirinya sendiri. yang sangat tergantung pada juragan di desanya sebagai pemilik kapal. dimensi struktural perlu dihadapi juga terutama di pedesaan. dan (2) perlunya pola organisasi untuk institusi masyarakat pedesan yang disesuaikan dengan keperluannya. Bagaimanapun kegiatan pembangunan yang berorientasi pertumbuhan maupun pemerataan tidak dapat mengihilangkan adanya kemiskinan struktural. sebaga sarana mengurangi ketimpangan dan meningkatkan bargaining power. Adam Malik (1980) mengemukakan bahwa untuk mencari jalan agar struktur masyarakat Indonesia dapat diubah sedemikian rupa sehingga tidak terdapat lagi di dalamnya kemelaratan structural. (1) Pola stratifikasi (seperti dasar pemilikan dan penguasaan tanah) di desa mengurangi atau merusak pola kerukukan dan ikatan timbal-balik tradisional. dan (4) Para pengusaha tanpa modal dan tanpa fasilitas dari pemerintah (golongan ekonomi lemah). dan (3) Struktur sosial yang berlaku telah melahirkan berbagai corak rintangan yang menghalangi mereka untuk maju. Beberapa ciri kemiskinan struktural. Kemiskinan struktural tidak sekedar terwujud dengan kekurangan sandang dan pangan saja.4. menurut Alpian (1980) adalah (1) Tidak ada atau lambannya mobilitas sosial (yang miskin akan tetap hidup dengan kemelaratanya dan yang kaya akan tetap menikmati kemewahannya). Golongan kaum miskin ini terdiri dari . Soedjatmoko (1984) memberikan contoh kemiskinan structural. Pemecahan permasalahan kemiskinan akan bisa dilakukan bilamana struktur sosial yang berlaku itu dirubah secara mendasar. Kemiskinan Struktural Kemiskinan struktural menurut Selo Sumarjan (1980) adalah kemiskinan yang diderita oleh suatu golongan masyarakat karena struktur sosial masyarakat itu tidak dapat ikut menggunakan sumber pendapatan yang sebenarnya tersedia bagi mereka. (2) mereka terletak dalam kungkungan struktur sosial yang menyebabkan mereka kekurangan hasrat untuk meningkatkan taraf hidupnya. Kemiskinan strukturl adalah suasana kemiskinan yang dialami oleh suatu masyarakat yang penyebab utamanya bersumber pada struktur sosial. (2) Struktur desa nelayan. dan oleh karena itu dapat dicari pada struktur sosial yang berlaku dalam masyarakat itu sendiri. . (1) Para petani yang tidak memiliki tanah sendiri. (2) Petani yang tanah miliknya begitu kecil sehingga hasilnya tidak cukup untuk memberi makan kepada dirinya sendiri dan keluargamnya. Hal-hal tersebut memiliki implikasi tentang kemiskinan structural : (1) kebijakan ekonomi saja tidak mencukupi dalam usaha mengatasi ketimpangan-ketimpangan struktural. kekurangan komunikasi dengan dunia sekitarnya. sosial yang mantap. (3) Kaum buruh yang tidak terpelajar dan tidak terlatih (unskilled labourerds). kekurangan pendidikan. kemiskinan juga meliputi kekurangan fasilitas pemukiman yang sehat. dan perlunya proses Sosial learning yang spesifik dengan kondisi setempat. dan (3) Golongan pengrajin di kota kecil atau pedesaan yang tergantung pada orang kota yang menguasai bahan dan pasarnya.

jasa-jasa . pembangunan yang semata-mata mengutamakan pertumbuhan ekonomi akan melanggengkan ketimpangan struktural. Yang lebih diperlukan adalah bagaimana lebih memperkecil kesenjangan sehingga lebih mendekati perasaan keadilan sosial. tetapi proses ini akan lamban dan harus diikuti dengan pertumbuhan yang tinggi. Sudjatmoko (1984) berpendapat bahwa. Kebijakan Pembangunan dan Kesenjangan Sosial Semenjak Orde Baru berkuasa. selama Orde Baru perekonomian mengalamii kemajuan pesat. dan prilaku pola mencari nafkah dari pertanian ke non pertanian. (3) kelembagaan yang mengatur distribusi penguasaan atas faktor-faktor produksi di pedesaan turut menentukan tingkat pendapatan dari berbagai golongan di masyarakat. Pola netes ke bawah memungkinkan berkembangnya perbedaan ekonomi. bahwa bukan teknologi itu sendiri.karena tidak semata-mata ditentukan oleh kekuatan faktor ekonomi (interaksi antara penawaran dan permintaan) saja: dan (4) Struktur penguasaan atas sumber-sumber produksi bukan tenaga kerja (terutama tanah dan modal) yang lebih merata dapat meningkatkan pendapatan penduduk yang berada dibawahi garis kemiskinan. Menurut Revrisond Baswer (dikutip dalam Bernes (1995:1) hampir seluruh cabang produksi dikuasai oleh perusahaan konglomerat. Kesenjangan sosial semakin terasa mengkristal dengan munculnya gejala monopoli. 1986:82 dan Sjahrir 1993:16). Bahkan. Pertumbuhan ekonomi juga mengalami kenaikan. eksploitasi hasil hutan.Pada hakekatnya perbedaan antara si kaya dengan si miskin tetap akan ada. artinya subsidi justru harus diberikan kepada petani kecil. Namun. Kegiatan industri meningkat tajam dan sangat pada GDP mengalami kenaikan dari sekitar 9 persen pada tahun 1970 menjadi sekitar 17 persen pada tahun 1992 (Booth dan McCawley. tetapi struktur kelembagaan dalam masyarakat tenpat teknologi itu masuk yang menentukan bahwa teknologi itu mempunyai dampak negatif atau positif terhadap distribusi pendapatan (2) lembaga perkreditan pedesaan. bersamaan dengan itu ketimpangan sosial atau sekelompok kecil masyarakat. konstruksi. terutama mereka yang memiliki akses dengan penguasa politik dan ekonomi. Monopoli dan oligopoly dan memperkecil akses usaha kecil untuk menggambarkan usaha mereka. Perusahaanperusahaan besar konglomerat menguasai berbagai kegiatan produksi murni dari produksi. makanan. perbankan. bukan pemerataan berdasaran pemilikan atau penguasaan lahannya. transpotasi. Permasalahannya adalah dimensi-dimensi struktural manakah yang mempengarhui secara langsung terjadinya kemiskinan. tanpa menghadapi dimensi-dimensi struktural seperti ketergntungan. perkereditan yang menginginkan tercapainya pemerataan pendapatan. Salah satu kebijakan adalah memacu pertumbuhan ekonomi dengan mengeluarkan undang-undang Penanaman Modal Asing dengan memberikan persyaratan dan peraturan-peraturan yang lebih ringan dan menarik kepada investor dibandingkan dengan kebijakan sebelumnya. Sinaga dan White (1980) menunjukkan aspek-aspek kelembagaan dan struktur agraris dalam kaitannya dengan distribusi pendapatan kemiskinan: (1) penyebaranan teknologi. maka program perkreditan tersebut justru harus diskriminatif. industri otomotif. dan eksploitasi. sedangkan sebagian besar yang kurang atau hanya memperoleh sedikit manfaat. Pendek kata. ada masyarakat merasa dirugikan dan tidak mendapat manfaat sama sekali. perhotelan. Kemiskinan tidak dapat diatasi hanya dengan membantu golongan miskin saja. D. ada beberapa kebijakan yang diterapkan dalam bidang ekonomi. bagaimana ketepatan dimensi untuk kondisi sosial budaya setempat. dalam sistem sosial ekonomi manapun.

instruktural ekonomi. Penerapan kebijakan penataan lahan selama ini belum dapat mendatangkan manfaat bagi masyarakat. dan media komunikasi. dan lapangan golf. Di perkotaan. Berbagai kekuatan dan kepentingan telah mempengaruhi dalam penerapan. perumahan. pabrik-pabrik. perumahan mewah. Usahausaha rakyat yang kebanyakan kecil dan tradisional hanya menguasai 8 persen. Selain kebijakan ekonomi. Diperkirakan 200 konglomerat menguasai 58 persen PDB. Pembangunan sektor ekonomi. Dalam banyak kasus. Dalam konflik acapkali kepentingan masyarakat (publik) diabaikan dan cenderung mengutamakan kepentingan sekelompok orang (pengusaha).keuangan. Tarik menarik berbagai kekuatan dan kepentingan telah menimbulkan konflik antara pengusaha besar dan masyarakat. instansi-instansi pemerintah memerlukan tanah untuk pembangunan perkantoran. Demikian pula. pusat perbelanjaan dan lain-lain. Kesenjangan sosial ini tidak hanya mengganggu pertumbuhan ekonomi rakyat tetapi menyebabkan ekonomi rakyat mengalami proses marjinalisasi. pemilik modal (konglomerat) bekerja sama dengan birokrasi membeli tanah-tanah penduduk untuk kepentingan pembangunan perumahan mewah. banyak tanah negara yang selama ini dikuasai penduduk dengan status tidak jelas di jadikan sasaran dan cara termudah untuk menggusur penduduk” Dampak dari penerapan kebijakan penatagunaan lahan antara lain adalah terjadinya marjinalisasi dan pemiskinan masyarakat desa yang tanahnya dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan yang dalam banyak hal belum dan kurang dapat memberikan keuntungan ekonomis bagi rakyat. dan lain-lain. seperti pembangunan kawasan industri. kebijakan yang diduga turut menstrimulir kesenjangan social adalah kebijakan penataan lahan (tata ruang). Begitu pula di pedesaan pemilik modal menggusur penduduk dan memanfaatkan Iahan untuk kepentingan agroindustri. sarana wisata telah menyita banyak lahan penduduk. . fasilitas sosial. Penelitian Suhendar (1994) menyimpulkan bahwa: ”Kooptasi tanah-tanah : terutama di pedesaan oleh kekuatan besar ekonomi dan luar komunitas semakin menggejala.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful