P. 1
Makalah Abortus

Makalah Abortus

|Views: 742|Likes:
Published by Anna Andany Lestari

More info:

Published by: Anna Andany Lestari on Feb 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/29/2013

pdf

text

original

ABORTUS

Tutorial A1 RPS Larasjati Sartiko Harjo 1010211058 Reynita Setia Dewi 1010211059 Amanda Friska 1010211152 Rizki Rahmiana Harahap 1010211078 Mutia Rachmi 1010211179 Gina Novita Sari 1010211107 Dody Saputra 1010211103 Chaerunissa Utami 0910211146 Nita Juliana Anggraini 1010211097 Levi Aulia Rachman 1010211054 Novianto Adi 1010211065 Anna Andany Lestari 1010211056 FK UPN “VETERAN” JAKARTA TAHUN AJARAN 2010/2011 DAFTAR ISI Daftar Isi ........................................................ ...................................... 2 Kasus ........................................................ ...................................... 3 Learning Progress ........................................................ ...................................... 5 Tanda Pasti dan Tidak Pasti Kehamilan ........................................ ..................... 7 Abortus ....................................................... ..................................... 11 Mola Hidatidosa ....................................................... ..................................... 21 Kehamilan Ektopik ........................................................... ................................ 24 Estrogen Saat Kehamilan ....................................................... .......................... 28 Solutio Plasenta dan Plasenta Pevia .......................................... ...................... 30 Ferro Sulfat .................................................... ....................................... 35 Pengaruh Rokok Saat Kehamilan ............................................. ........................ 39 KASUS PAGE 1 Mrs. Chika, 28 years old, G2P1 who is pregnant 10 weeks gestation complains of a 2 days history of vaginal spotting and lower abdominal pain. Mrs. Chika confess es, she smokes 8 cigarettes/day. There’s no trauma history. Physical examinations: • General condition : good, no anemic • Height : 160 cm, Weight : 55 kg • Vital sign are within normal limit • Heart and lungs are normal • Abdomen:

Normal contour, palpation : slight tenderness on the supra pubic a rea Abdominal mass : not found Uterus : not palpable • Inspection: mild vaginal bleeding, Chadwick sign is positive • Speculum examination: fluxus positive from external uterine ostium. • Vaginal toucher: 1. Portio : soft, cervical motion tenderness : not fo und 2. Uterine ostium : closed 3. Uterus size : rather enlarged and soft • Hegar sign positive • Piskacek sign is positive 4. Adnexal area : no mass, no tenderness 5. Douglas pouch : bulging not found, no tenderness Laboratory examination: Hb : 12.1 gr % Progesterone level : within normal limit 1. Identify the patient’s problem! 2. Explain the significance of the above physical findings. 3. What further investigations, if any, of this patient would be appropriat e at this point? 4. What are your management plans for this patient? 5. What further information may be helpful from Mrs. Chika? PAGE 2 Mrs. Chika, G2P1A0 at 18 weeks gestation. She spotting and dull abdominal pain, 6 hours ago, she stated she had been experiencing lower abdominal pain and vagin al bleeding, when she was void, there was mass like liver from her vagina. She h as no history of trauma. Mrs. Chika confess that she’s still smoking during pregna ncy. Physical examination Blood pressure : 120/80 mmHg Heart rate : 100 bpm Heart and lungs are within normal limit. Obstetric examination reveals: Fundal height is 3 fingers above symphysis. Speculum examination: Fluxus negative Portio : close Laboratory result: Hb 10.3 gr% PAGE 3 Doctor does Vaginal bleeding observation Treatment for mild anemia : ferrous sulfat for 2 weeks. LEARNING PROGRESS REPORT Hari/Tanggal : Senin, 4 April 2011 Nama Tutor : dr. Maria ST Kasus : Abortus Grup : A-1 TERMINOLOGI PROBLEM HIPOTESIS MEKANISME MORE INFO ? I DON’T KN OW LEARNING ISSUES 1. Mrs. Chika, 28 th, G2P1, sedang hamil 10 minggu ada bercak dari vagina & sakit di bagian abdominal bawah 2. Merokok 8 batang/hari 3. Terdapat mild vaginal bleeding 4. Ada fluxus dari ostium uterine externa 5. Chadwick positive 6. Pd kehamilan 18 minggu, msh ada bercak & nyeri pada abdominal

7. spontan 2. 3.

Saat buang air. Ada massa seperti liver dari vaginanya 1. eminen dan komplit KET Molla hidatidosa

Abortus

Px lanjutan: USG utk mengetahui eminens atau komplit

2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. a. b. c. d. e.

1. Apa itu cervical motion tenderness? Tanda pasti & tdk pasti kehamilan Estrogen &progesteron Abortus KE &KET Molla hidatidosa Plasenta previa & solutio plasenta Tablet FE Ferrous sulfat Pengaruh rokok terhadap kehamilan Definisi Etiologi Patofisiologi Terapi Jenis

I. TANDA -TANDA PASTI DAN TIDAK PASTI KEHAMILAN Tanda-tanda kehamilan : yaitu apa saja yang dialami seorang wanita saat hamil at au menjelang akan hamil. Lamanya kehamilan mulai dari ovulasi sampai partus adalah 40 minggu dan tidak le bih dari 43 minggu Kehamilan 40 minggu disebut kehamilan matur ( cukup bulan ) Kehamilan > 43 minggu disebut postmatur Kehamilan antara 28 dan 36 minggu disebut kehamilan prematur

Menurut 1. 2. 3.

usia kehamilan : Kehamilan trimester 1 : 0-14 minggu Kehamilan trimester 2 : 14-28 minggu Kehamilan trimester 3 : 28-42 minggu Untuk mengatakan seorang wanita itu hamil, maka perlu dilakukan kajian t erlebih dahulu terhadap data subyektif dan obyektif yang ditemukan pada wanita t ersebut. Data subyektif artinya segala sesuatu yang dirasakan atau dialami oleh w anita yang sedang hamil atau sering disebut dengan gejala kehamilan. Sedangkan d ata obyektif adalah segala hal yang bisa diamati oleh orang lain pada diri seora ng wanita yang sedang hamil atau sering diistilahkan dengan tanda kehamilan TANDA KEHAMILAN TIDAK PASTI Perubahan warna kulit menjadi lebih gelap dari sebelumnya yang kira-kira terjadi diatas minggu ke 12 kehamilan(di pipi, hidung, aereolamamae dan kulit daerah pe rut) Ini dikenal dengan Kloasma Gravidarum. Terjadi karena pengaruh hormon kortiko steroid plasenta yang merangsang melanofo r kulit.(Butir-butir melanin di dalam kulit terdapat di dalam protoplasma sel-se l yang disebut Melanofor) Gusi bengkak/ Epulis (hipertrofi papila gingiva) terutama pada bulan bulan perta ma kehamilan. Sering terjadi pada trimester pertama kehamilan. Perubahan payudara Payudara menjadi tegang dan membesar karena pengaruh estrogen dan progesteron ya ng merangsang duktuli dan alveoli payudara. Daerah areola menghitam karena depos it pigmen berlebihan. Terdapat kolostrum pada kehamilan > 12 minggu Pembesaran Abdomen Pd usia kehamilan 12 minggu Uterus biasanya teraba di dinding abdomen Ukuran uterus membesar sampai akhir kehamilan Setiap pembesaran abdomen pada wanita subur merupakan isyarat kuat kehamilan Tes kehamilan memberikan hasil positif : a. Tanda Chadwick : Warna selaput lendir vulva & vagina menjadi ungu. terjadi pada kehamilan kira-kira 6 minggu. b. Tanda Hegar : segmen bawah uterus lembek pada perabaan. Konsistensi rahi m yg menjadi lunak, terutama daerah isthmus uteri sedemikian lunaknya, hingga ka lau kita letakkan 2 jari daalm forniks posterior & tangan satunya pada dnding perut atas symphyse, maka isthmus ini tidak teraba seolah-ol ah corpus uteri sama sekali terpisah dari cerviks. c. Tanda Piscaseck : Uterus membesar ke salah satu jurusan hingga menonjol jelas ke jurusan pembesaran tersebut. d. Tanda Braxton-Hicks : Selama kehamilan uterus mengalami kontraksi yang b iasanya daapt diraba tetapi tidak nyeri sejak masa awal kehamilan. e. Bila uterus dirangsang mudah berkontraksi.Tanda ini khas untuk masa hami l. f. Pada keadaan uterus yang membesar tetapi tidak ada kehamilan masalahnya pada mioma uteri, tanda ini tidak ditemukan. Gejala Kehamilan Amenore (tidak mendapat haid) adalah gejala pertama yang dirasakan oleh seorang wanita yang menyadari ketika d irinya sedang hamil. Penting untuk dicatat tanggal hari pertama haid terakhir gu na menentukan usia kehamilan dan taksiran partus. Nausea (enek) dengan atau tanpa vomituus (muntah) Sering terjadi pagi hari pada bulan-bulan pertama kehamilan, disebut morning sickness. Sering terjadi pada bulan bulan pertama kehamilan. Mengidam atau menginginkan sesuatu baik itu makanan, minuman atau hal hal yang lain. Mengidam sering trjadi pada bulan-bulan pertama akan tetapi menghilang den gan semakin tuanya kehamilan. Sering kencing terutama bila kehamilan sudah besar. Terjadi karena kandung kemih

pada bulan-bulan pertama kehamilan tertekan oleh uterus yang mulai membesar. Pa da trimester 2 gejala ini akan berkurang perlahan-lahan lalu timbul lagi pada ak hir kehamilan. TANDA PASTI KEHAMILAN Pada palpasi di bagian abdomen bisa di rasakan bagian janin serta gerakan janin. Pada trimester terakhir terdapat bagian janin seperti kepala, bokong , kaki dan lengan . Gerakan janin dapat terdeteksi usia khamilan 20 minggu . Ballotement Pada pertengahan kehamilan volume janin lebih kecil dari pada volume cairan amni on. Karena itu, tekanan mendadak akan menyebabkan janin tenggelam kedalam cairan amnion dan kemudian memantul keposisinya semula . Dapat di dengar DJJ o menggunakan stetoskop laenac, bisa di dengar pada kehamilan 18-20 mingg u. o Djj dapat dideteksi dengan auskultasi menggunakan stetoskop rata-rata pa da usia kehamilan 17-19minggu. o Frekuensi denyut jantung janin pada tahap ini berkisar 120-160. Terlihat gambaran janin dengan menggunakan ultrasonografi. o Dengan ultrasonografi janin di dalam abdomen dapat di lihat setelah usia kehamilan 4-5 minggu sejak menstruasi terakhir tampak kerangka janin pada pemer iksaan sinar X atau rontgen. II. ABORTUS Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia kehamil an kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Istilah abortus dipakai untuk menunjukkan pengeluaran hasil konsepsi seb elum janin dapat hidup di luar kandungan. Berdasarkan variasi berbagai batasan yang ada tentang usia / berat lahir janin viable (yang mampu hidup di luar kandungan), akhirnya ditentukan suatu ba tasan abortus sebagai pengakhiran kehamilan sebelum janin mencapai berat 500 g a tau usia kehamilan 20 minggu. (terakhir, WHO/FIGO 1998:22minggu) Etiologi Abortus dapat terjadi karena beberapa sebab, yaitu : • Kelaianan pertumbuhan hasil konsepsi, biasa menyebabkan abortus pada kehamilan s ebelum usia 8 minggu. Faktor yang menyebabkan kelainan ini adalah: a. Kelainan kromosom, terutama trisomi autosom dan monosomi X b. Lingkungan sekitar tempat implantasi kurang sempurna c. Pengaruh teratogen akibat radiasi, virus, obat-obatan, tembakau atau alk ohol. • Kelainan pada plasenta, misalnya endarteritis vili korialis karena hipertensi me nahun • Faktor maternal, seperti pneumonia, tifus, anemia berat, keracunan dan toksoplas mosis • Kelainan traktus genetalia seperti inkompetensi serviks (untuk abortus pada trim ester kedua) retroversi uteri, mioma uteri dan kelainan bawaan uterus. Patogenesis Pada awal abortus terjadi perdarahan desiduabasalis, diikuti nekrosis ja ringan sekitar yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam uterus. Kemudian uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing terse but. Pada kehamilan kurang dari 6 minggu, villi kotaris belum menembus desidu a secara dalam, jadi hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya. Pada kehamilan 8 sampai 14 minggu, penembusan sudah lebih dalam hingga plasenta tidak dilepask an sempurna dan menimbulkan banyak perdarahan. Pada kehamilan lebih dari 14 ming gu, janin dikeluarkan lebih dahulu daripada plasenta. Hasil konsepsi keluar dala m berbagai bentuk, seperti kantong kosong amnion atau benda kecil yang tak jelas bentuknya (lighted ovum) janin lahir mati, janin masih hidup, mola kruenta, fet

us kompresus, maserasi atau fetus papiraseus. Manifestasi Klinis Terlambat haid atau amenore kurang dari 20 minggu. Pada pemeriksaan fisik : Keadaan umum tampak lemah atau kesadaran menuru n, tekanan darah normal atau menurun, denyut nadi normal atau cepat dan kecil, s uhu badan normal atau meningkat. Perdarahan pervaginam, mungkin disertai keluarnya jaringan hasil konsep si. Rasa mulas atau keram perut di daerah atas simfisis, sering disertai nyeri p inggang akibat kontraksi uterus Pemeriksaan ginekologi a. Inspeksi vulva : perdarahan pervaginam ada / tidak jaringan hasil konsepsi, t ercium/tidak bau busuk dari vulva b. Inspekulo : perdarahan dari kavum uteri, ostium uteri terbuka atau sudah tert utup, ada/tidak jaringan keluar dari ostium, ada/tidak cairan atau jaringan berb au busuk dario ostium. c. Colok vagina : porsio masih terbuka atau sudah tertutup, teraba atau tidak ja ringan dalam kavum uteri, besar uterus sesuai atau lebih kecil dari usia kehamil an, tidak nyeri saat porsio dogoyang, tidak nyeri pada perabaan adneksa, kavum D ouglasi, tidak menonjol dan tidak nyeri.

Pemeriksaan Penunjang Tes kehamilan : positif bila janin masih hidup, bahkan 2 – 3 minggu setelah ab ortus Pemeriksaan Doppler atau USG : untuk menentukan apakah janin masih hidup Pemeriksaan kadar fibrinogen darah pada missed abortion Komplikasi Perdarahan, perforasi, syok dan infeksi pada missed abortion dengan retensi lama hasil konsepsi dapat terjadi kelainan pembekuan darah. JENIS ABORTUS 1. ABORTUS SPONTAN Diagnosis Berdasarkan keadaan janin yang sudah dikeluarkan, abortus dibagi atas : 1. Abortus iminens, perdarahan pervaginam pada kehamilan kurang dari 20 minggu, tanpa ada tanda-tanda dilatasi serviks yang meningkat. 2. Abortus insipiens, bila perdarahan diikuuti dengan dilatasi serviks. 3. Abortus inkomplit, bila sudah sebagian jaringan janin dikeluarkan dari uterus . Bila abortus inkomplit disertai infeksi genetalia disebut abortus infeksiosa 4. Abortus komplit, bila seluruh jaringan janin sudah keluar dari uterus 5. Missed abortion, kematian janin sebelum 20 minggu, tetapi tidak dikeluarkan s elama 8 minggu atau lebih. Proses abortus dapat berlangsung spontan (suatu peristiwa patologis), at au artifisial / terapeutik (suatu peristiwa untuk penatalaksanaan masalah / komp likasi). Etiologi - kelainan kromosom (sebagian besar kasus) - infeksi (chlamydia, mycoplasma dsb) - gangguan endokrin (hipotiroidisme, diabetes mellitus) - oksidan (rokok, alkohol, radiasi dan toksin) Tahapan Abortus Proses Abortus dapat dibagi atas 4 tahap : abortus imminens, abortus ins ipiens, abortus inkomplet dan abortus komplet. Abortus Iminens Abortus imminens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pada kehamilan sebelum 20 minggu, di mana hasil konsepsi masih dalam uterus, dan tan pa adanya dilatasi serviks. Ciri : perdarahan pervaginam, dengan atau tanpa dise rtai kontraksi, serviks masih tertutup Jika janin masih hidup, umumnya dapat ber tahan bahkan sampai kehamilan aterm dan lahir normal. Jika terjadi kematian jani n, dalam waktu singkat dapat terjadi abortus spontan. Penentuan kehidupan janin

dilakukan ideal dengan ultrasonografi, dilihat gerakan denyut jantung janin dan gerakan janin. Jika sarana terbatas, pada usia di atas 12-16 minggu denyut jantu ng janin dicoba didengarkan dengan alat Doppler atau Laennec. Keadaan janin seba iknya segera ditentukan, karena mempengaruhi rencana penatalaksanaan / tindakan. Penatalaksanaan • Istirahat baring agar aliran darah ke uterus bertambah dan rangsang mekanik berk urang. • Periksa denyut nadi dan suhu badan dua kali sehari bila pasien tidak panas dan t iap empat jam bila pasien panas • Tes kehamilan dapat dilakuka. Bila hasil negatif mungkin janin sudah mati. Pemer iksaan USG untuk menentukan apakah janin masih hidup. • Berikan obat penenang, biasanya fenobarbiotal 3 x 30 mg, Berikan preparat hemati nik misalnya sulfas ferosus 600 – 1.000 mg • Diet tinggi protein dan tambahan vitamin C • Bersihkan vulva minimal dua kali sehari dengan cairan antiseptik untuk mencegah infeksi terutama saat masih mengeluarkan cairan coklat. Abortus Insipiens Abortus insipiens adalah peristiwa terjadinya perdarahan dari uterus pad a kehamilan sebelum 20 minggu, dengan adanya dilatasi serviks uteri yang meningk at, tetapi hasil konsepsi masih berada di dalam uterus. Ciri : perdarahan pervaginam, dengan kontraksi makin lama makin kuat makin serin g, serviks terbuka. Penatalaksanaan • Bila perdarahan tidak banyak, tunggu terjadinya abortus spontan tanpa pertolonga n selama 36 jam dengan diberikan morfin • Pada kehamilan kurang dari 12 minggu, yang biasanya disertai perdarahan, tangani dengan pengosongan uterus memakai kuret vakum atau cunam abortus, disusul denga n kerokan memakai kuret tajam. Suntikkan ergometrin 0,5 mg intramuskular. • Pada kehamilan lebih dari 12 minggu, berikan infus oksitosin 10 IU dalam deksrto se 5% 500 ml dimulai 8 tetes per menit dan naikkan sesuai kontraksi uterus sampa i terjadi abortus komplit. • Bila janin sudah keluar, tetapi plasenta masih tertinggal, lakukan pengeluaran p lasenta secara manual. Abortus Inkomplit Abortus inkompletus adalah peristiwa pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu, dengan masih ada sisa tertinggal dalam uterus . Ciri : perdarahan yang banyak, disertai kontraksi, serviks terbuka, sebagian jar ingan keluar. Penatalaksanaan • Bila disertai syok karena perdarahan, berikan infus cairan NaCl fisiologis atau ringer laktat dan selekas mungkin ditransfusi darah • Setelah syok diatasi, lakukan kerokan dengan kuret tajam lalu suntikkan ergometr in 0,2 mg intramuskular • Bila janin sudah keluar, tetapi plasenta masih tertinggal, lakukan pengeluaran p lasenta secara manual. • Berikan antibiotik untuk mencegah infeks Abortus Komplit Abortus kompletus adalah terjadinya pengeluaran lengkap seluruh jaringa n konsepsi sebelum usia kehamilan 20 minggu. Ciri : perdarahan pervaginam, kontraksi uterus, ostium serviks sudah menutup, a da keluar jaringan, tidak ada sisa dalam uterus. Diagnosis komplet ditegakkan bila jaringan yang keluar juga diperiksa kelengkapa nnya. Penatalaksanaan • Bila kondisi pasien baik, berikan ergometrin 3 x 1 tablet selama 3 – 5 hari • Bila pasien anemia, berikan hematinik seperti sulfas ferosus atau transfusi dara h

• Berikan antibiotik untuk mencegah infeksi • Anjurkan pasien diet tinggi protein, vitamin dan mineral. Abortus Abortion Kematian janin dan nekrosis jaringan konsepsi tanpa ada pengeluaran sela ma lebih dari 4 minggu atau lebih. Biasanya didahului tanda dan gejala abortus imminens yang kemudian mengh ilang spontan atau menghilang setelah pengobatan. Penatalaksanaan • Bila kadar fibrinogen normal, segera keluarkan jaringan konsepsi dengan cunam ov um lalu dengan kuret tajam • Bila kadar finrinogen rendah, berikan fibrinogen kering atau segar sesaat sebelu m atau ketika mengeluarkan konsepsi • Pada kehamilan kurang dari 12 minggu, lakukan pembukaan serviks dengan gagang la minaria selama 12 jam lalu dilakukan dilatasi serviks dengan dalatator Hegar kem udian hasil konsepsi diambil dengan cunam ovum lalu dengan kuret tajam. • Pada kehamilan lebih dari 12 minggu, berikan dietilstilbestrol 3 x 5 mg lalu inf us oksitosin 10 IU dalam dektrose 5% sebanyak 500 ml mulai 20 tetes per menit da n naikkan dosis sampai ada kontraksi uterus. Oksitosin dapat diberikan sampai 10 0 IU dalam 8 jam. Bila tidak berhasil, ulang infus oksitosin setelah pasien isti rahat satu hari. • Bila fundus uteri sampai 2 jari bawah pusat, keluarkan hasil konsepsi dengan men yuntik larutan garam 20% dalam kavum uteri melalui dinding perut. Abortus Septik Sepsis akibat tindakan abortus yang terinfeksi (misalnya dilakukan oleh dukun at au awam). Bahaya terbesar adalah kematian ibu. Abortus septik harus dirujuk keru mah sakit. Penanggulangan infeksi Obat pilihan pertama : penisilin prokain 800.000 IU intramuskular tiap 12 jam di tambah kloramfenikol 1 gr peroral selanjutnya 500 mg peroral tiap 6 jam Obat pilihan kedua : ampisilin 1 g peroral selanjutnya 500 g tiap 4 jam ditambah metronidazol 5000 mg tiap 6 jam Obat pilihan lainnya : ampisilin dan kloramfenikol, penisilin, dan metronidazol, ampisilin dan gentamisin, penisilin dan gentamisin. • Tingkatkan asupan cairan • Bila perdarahan banyak, lakukan transfusi darah • Dalam 24 jam sampai 48 jam setelah perlindungan antibiotik atau lebih cepat lagi bila terjadi perdarahan, sisa konsepsi harus dikeluarkan dari uterus. Abortus terapeutik Dilakukan pada usia kehamilan kurang dari 12 minggu, atas pertimbangan / indikasi kesehatan wanita di mana bila kehamilan itu dilanjutkan akan membahaya kan dirinya, misalnya pada wanita dengan penyakit jantung, hipertensi, penyakit ginjal, korban perkosaan (masalah psikis). Dapat juga atas undefinedpertimbangan / indikasi kelainan janin yang berat. Pada pasien yang menolak dirujuk beri pengobatan sama dengan yang diberi kan pada pasien yang hendak dirujuk, selama 10 hari : Penatalaksanaan di rumah sakit • Rawat pasien di ruangan khusus untuk kasus infeksi • Berikan antibiotik intravena, penisilin 10-20 juta IU dan streptomisin 2 g • Infus cairan NaCl fisiologis atau ringer laktat disesuaikan kebutuhan cairan • Pantau ketat keadaan umum, tekanan darah , denyut nadi dan suhu badan • Oksigenasi bila diperlukan, kecepatan 6 – 8 liter per menit • Pasang kateter Folley untuk memantau produksi urin • Pemeriksaan laboratorium : darah lengkap, hematokrit, golongan darah serta reaks i silang, analisi gas darah, kultur darah, dan tes resistensi. • Apabila kondisi pasien sudah membaik dan stabil, segera lakukan pengangkatan sum ber infeksi • Abortus septik dapat mengalami komplikasi

2. ABORTUS PROVOKATUS Definisi Abortus yang disengaja baik dengan memakai obat-obatan maupun alat-alat (aborsi). Jenis 1. Abortus medisinalis Abortus yang dilakukan dengan alas an bila kehamilan dilanjutkan dapat membahaya kan jiwa ibu (berdasarkan indikasi medis). Biasanya perlu mendapat persetujuan 2 -3 dokter ahli. Alasan abortus : 1) Disertai perdarahan terus-menerus 2) Mola hidatidosa 3) Penyakit keganasan pada saluran jalan lahir, ex : kanker serviks 4) Menghambat pengobatan untuk keganasan, ex : kanker payudara 5) Penyakit dari ibu yang mengandung, ex : hipertensi, DM, TBC, dll. 6) Epilepsy yang luas dan berat 7) Gangguan jiwa 8) Kelainan janin (sindrom) 2. Abortus criminalis Abortus yang terjadi oleh karena tindakan yang tidak legal atau tidak berdasarka n tindakan medis. Alasan abortus : 1. Psikososial (enggan hamil) 2. Hamil diluar nikah’ 3. Masalah ekonomi 4. Masalah social (janin cacat) 5. Akibat perkosaan

Teknik bedah untuk aborsi Abortus bedah dilakukan mula-mula dengan mendilatasi serviks dan kemudia n mengosongkan uterus dengan mengerok isi uterus (kuretase tajam) secara mekanis , melakukan aspirasi vakum (kuratase isap), atau keduanya. Tindakan ini berupa dilatasi serviks lebar diikuti destruksi dan evakuas i mekanis bagian-bagian janin. Hal ini dilakukan dengan menyonde kanalis servika lis secara hati-hati tanpa memecahkan selaput ketuban untuk mengetahui panjangny a. Dapat menggunakan laminaria sehingga ujungnya berada tepat di os internum de ngan menggunakan forceps tampon uterus. Kemudian biasanya setelah 4 – 6 jam,lamina ria akan membengkak sehingga terjadi dilatasi dan dapat dilakukan dilatasi mekan ik dan kuratase. Teknik abortus secara medis • Oksitosin Campuran 10 ampul oksitosin 1 ml ke dalam 1000 ml larutan Ringer laktat. Infuse intravena dimulai dengan kecepatan 0,5 ml/ mnt. Dan kecepatan infuse ditambah se tiap 15-30 menit sampai maksimum 2 ml/mnt. • Larutan hiperosmotik intraamnion Penyuntikan 20-25 % salin atau urea 30-40% ke dalam kantung amnion untuk merangs ang kontraksi uterus dan pembukaan serviks. • Urea hiperosmotik Urea 30-40% yang dilarutkan dalam larutan dekstrosa 5% disuntikkan ke dalam kant ung amnion diikuti oleh oksitosin intravena dengan kecepatan sekitar 400 mU/mnt. • Prostaglandin • Mifepriston (RU 486) • Epostan III. MOLA HIDATIDOSA Mola hidatidosa adalah suatu kehamilan yang berkembang tidak wajar di ma

na tidak ditemukan janin atau terdapat bagian dari janin yang disebabkan oleh ke lainan vili korionik yang terdiri dari proliferasi trofoblas dengan derajat berv ariasi dan edema stroma villus. Mola dibagi menjadi dua jenis, yaitu : 1. Mola Sempurna (complete) Vili korionik berubah menjadi massa vesikel-vesikel jernih. 2. Mola Parsialis Pertumbuhan pada vili korionik yang disertai janin atau bagian dari janin. Mola Sempurna a. Gejala-gejala Pada awalnya gejala yang ditimbulkan sama seperti gejala pada kehamilan, namun p ada waktu selanjutnya perkembangan lebih pesat, sehingga biasanya besar uterus l ebih besar daripada usia kehamilan. Perdarahan merupakan gejala utama mola. Gejala perdarahan ini bervariasi mulai d ari bercak hingga perdarahan berat. Gejala perdarahan biasanya terjadi rata-rata pada minggu 12-14. Mola hidatidosa sering disertai dengan adanya kista lutein, namun biasanya kista ini segera menghilang setelah jaringan mola dikeluarkan. b. Diagnosis Adanya mola hidatidosa dapat dicurigai apabila ada keluhan ameno rea, perdarahan per vaginam, uterus yang lebih besar dari usia kehamilan, dan ti dak ditemukan tanda pasti kehamilan. Untuk menegakkan diagnosis pasti dapat dila kukan pemeriksaan foto abdomen, biopsy, dan yang lebih akurat dilakukan pemeriks aan usg. Diagnosis paling tepat apabila telah terlihat gelembung molanya, namun keadaan i ni sudah terlambat karena pengeluaran gelembung pada umumnya disertai perdarahan yang banyak sehingga keadaan umu pasien sudah menurun. c. Perjalanan Klinis Dari gejala-gejala yang ditimbulkan pada penderita mola hidatidosa adala h kemungkinan terjadinya preeklamsia yang menetap hinga trimester kedua kehamila n. Karena hipertensi akibat kehamilan jarang dijumpai pada usia gestasi sebelum 24 minggu, preeklamsia yang terjadi sebelum waktu itu dapat dijadikan tanda adan ya mola hidatidosa atau adanya mola yang luas. d. Penanganan 1. Perbaikan keadaan umum Pemberian transfuse darah untu memperbaiki syok atau anemia dan menghilang kan p enyulit seperti preeklamsia atau tirotoksikosis. 2. Pengeluaran jaringan mola Terdapat dua macam cara pengeluaran jaringan mola : a. Vakum kuretase Tindakan kuret cukup dilakukan satu kali saja hingga bersih, dilakukan dia kali apabila ada indikasi, dan sebelum tindakan kuret sebaiknya disediakan darah untu k menjaga kemungkinan perdarahan berat. b. Histerektomi Tindakan ini dilakukan pada wanita yang telah cukup umur dan telah cukup mempuny ai anak. Alasan dilakukan ini adalah karena usia tua dan paritas tinggi merupaka n factor predisposisi terjadinya keganansan. Batasan usia yang dipakai adalah us ia 35 tahun dengan anak hidup tiga. 3. Terapi profilaksis Terapi ini diberikan pada kasus mola dengan risiko tinggi akan terjadinya kegan asan atua kasus mola dengan hasil histopatologi yang mencurigakan. Menurut Golds tein pemberian ini dapat menghindarkan keganasan dengan metastasis, serta mengur angi koriokarsinoma di uterus sebanyak tiga kali. 4. Pemeriksaan tindak lanjut Pemeriksaan lanjut ini perlu dilakukan melihat adanya kemungkinan keganansan set

elah mola hidatidosa. Lama pengawasan sekitar 1-2 tahun, ddan pada saat terapi d isarankan penderita untuk tidak hamil dengan menggunakan kontrasepsi berupa kond om. IV. KEHAMILAN EKSTRA-UTERI atau KEHAMILAN EKTOPIK Kebanyakan kehamilan ekstra-uteri terjadi didalam tuba Falopii (kehamila n ektopik), tetapi meskipun jarang ovum yang dibuahi berimplantasi pada permukaa n ovarium atau serviks uteri. Sangat jarang ovum yang telah dibuahi berimplantas i pada omentum (kehamilan abdomen). Insiden kehamilan ektopik meningkat dinegara maju dan kini sampai pada a ngka 1 dalam 80-150 kehamilan. Alasan peningkatan insiden ini tidak jelas tetapi mungkin berhubungan dengan aktivitas seksual dan meningkatnya insiden penyakit peradangan pelvis, atau diagnosis yang lebih dini dnegan ultrasonografi. Etiologi 1. Perlengketan Misalnya perlengketan pada tuba yang menyebabkan tuba tertekuk dan lumennya meny empit. Dapat juga disebabkan salpingitis yang terjadi sebelumnya sehingga menyeb abkan aglutinasi lipatan-lipatan mukosa yang bercabang-cabang seperti pohon dise rtai penyempitan lumen atau pembentuk kantong-kantong buntu. 2. PID 3. Kegagalan kontrasepsi Harusnya jika menggunakan kontrasepsi jumlah kehamilan ektopik sebenarnya menuru n karena kehamilan akan jarang terjadi, tetapi terjadi kegagalan kontrasepsi. Co ntohnya sterilisasi tuba, justru setelah sterilisasi tuba mempunyai angka kehami lan ektopik yang meningkat 9 kali lipat. 4. Operasi Contohnya operasi pada tuba Falopii dengan di histerektomi. Pada kasus ini, ovum yang dibuahi terperangkap dituba saat histerektomi sehingga sperma bermigrasi m elalui fistula di forniks vagina. Sehingga terjadi fertilisasi ditempat ovum ter sebut. Klasifikasi 1. Kehamila tuba Klasifikasi kehamilan tuba a. Kehamilan interstisium b. Kehamilan istmus c. Kehamilan ampula d. Kehamilan fimbrial Abortus tuba Paling banyak kasus abortus tuba terjadi di ampula. Abortus tuba terjadi karena tuba tidak dan bukan merupakan tempat normal bagi kehamilan maka sebagian besar kehamilan tuba akan terganggu pada umur kehamilan 6-10 minggu. Apabila terjadi p erdarahan tuba, dapat terjadi kerusakan lebih lanjut pada sambungan antara plase nta dengan selaput ketuban dan dinding tuba. Perdarahan berulang-ulang dari temp at implantasi pada dinding tuba melepaskan ovum yang mati dan selanjutnya akan : Diabsorpsi secara komplit Mengalami abortus komplit melalui ostium tuba kedalam rongga perotoneum Mengalami abortus tidak komplit, sehingga konseptus yang tertutup bekuan darah m enonjol kedalam ostium Membentuk mola darah dalam tuba. Ruptur tuba Ruptur adalah robekan atau koyakan jaringan secara paksa. Ruptur tuba terjadi pa da 35 % kasus, dan lebih umum terjadi apabila implantasinya di istmus. Ruptur am pula biasanya terjadi pada usia kehamilan 6 sampai 10 minggu, sedangkan ruptur i stmus terjadi lebi awal, seringkali pada saat terlambat menstruasi pertama. Trof oblas menerobos kedalam dan ahirnya menimbulkan erosi dinding serosa tuba, sehin gga berakhir dengan kebocoran secara mendadak atau bertahap. Biasanya ovum menon jol keluar lewat robekan dan perdarahannya berlanjut. 2. Kehamilan abdominal Sangat jarang ovum yang keluar tersebut terus tumbuh, karena cukup trofoblas mem

pertahankan hubungannya dengan epitelium tuba, dan kemudian trofoblas membungkus kantong ovum melekat pada organ abdomen. Beberapa kehamilan seperti ini berlanj ut hingga term dan sangat sedikit janin yang mati secara dini dan berubah menjad i litopaedion. Biasanya juga, setelah menembus dinding tuba, plasenta yang sedan g tumbuh mempertahankan perlekatannya dengan tuba dengan pertumbuhan keluar bata s sehingga janin terus tumbuh dalam rongga perotoneum. 3. Kehamilan servikal Kehamilan ini sangat jarang terjadi, insidennya i berbanding 18000. 4. Kehamilan ovarium Kehamila ovarium ini juga sangat langka, tetapi dapat kemungkinan janin hidup hi ngga sampa aterm dengan syarat Tuba yang diisi harus intak Kantong janin harus menempati ovarium Ovarium harus terhubung dengan uterus oleh ligamentum ovarii Jaringan ovarium jelas ditemukan didinding kantong. Gejala dan Tanda 1. Nyeri panggul dan abdomen dan amenorre disertai spotting karena ruptur 2. Menstruasi abnormal 3. Nyeri tekan abdomen dan pelvis akibat ruptur 4. Perubahan uterus, dimana uterus tergeser karena janin yang tumbuh dengan ukuran hampir sama dengan kehamilan normal sehingga uterus tergeser. Diagnosis Walaupun pada kasus akut perdarahan internalnya nyata dan diagnosis dapa t dibuat dengan pasti, pada kasus subakut penegakkan diagnosis akan sangat sulit . Tes laboratorium mungkin sangat bermanfaat, tetapi dalam banyak hal tidak info rmatif. Radio-imino-assay untuk kadar βhCG dalam serum harus dilakukan. Hasil yang negatif (< 1ng/ml) menunjukkan ahwa wanita terse ut tidak hamil, dan kehamilan ektopik dapat disingkirkan. Jika tes βhCG positif, pemeriksaan ultrasonografi pe lvik harus dilakukan, le ih aik dnegan menggunakan pro e transvagina. Jika peme riksaan ini menunjukkan uterus yang kosong dan terutama jika menunjukkan kantong dan janin di ekstra uteri diagnosis dapat ditegakkan. Penatalaksanaan Medis Begitu diagnosis kehamila ektopik di uat, terapinya adalah pem edahan. Terdapat e erapa cara : 1. Melakukan laparatomi dan melakukan eksisi tu a Falopii yang erisis keha milan ektopik atau melakukan insisi tu a ditempat kehamilan kemudian diperas ‘kelu ar’. 2. Memasukkan laparkopi untuk melakukan inspeksi tu a Falopii dan jika mung kin, di awah pengelihatan laparoskopik, melakukan insisi sepanjang atas superio r dan menyedot kehamilan ektopik terse ut keluar. 3. Jika tu a tidak riptur,menyuntikkan metoterksat ke dalam kehamilan yang ektopik terse ut sehingga trofo las yang via el dan em rionya dapat dia sorpsi a tau mem erikan suntikan metotreksat 50 ml/m2 intramuskular. Penatalaksanaan Bedah 1. Salpingektomi Reseksi tu a dapat dilakukan melalui laparoskopi operatif dan dapat digunakan a ik untuk kehamilan ektopik yang ruptur maupun tidak ruptur 2. Salpingostomi Prosedur ini digunakan untuk mengangkat kehamilan kecil, yang iasanya panjangny a kurang dari 2cm, dan terletak di sepertiga distal tu a Falopii. Prosedur ini d engan cara insisi linear, sepanjang 1- sampai 15 mm atau kurang. Insisi ini di i arkan saja tanpa dijahit agar mengalami penyem uhan per sekundam. 3. Salpingotomi Prosedurnya sama dengan salpingostomi hanya edanya insisinya ditutup dengan en ang vicryl 7-0 atau yang serupa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

   

V. Estrogen & Progesteron saat Kehamilan Estrogen Setelah terjadinya ovulasi, hormon estrogen langsung ekerja untuk mend ukung masa-masa kehamilan. Fungsi estrogen yaitu se agai : 1. Mempersiapkan dinding endometrium untuk implantasi dan mudigah. Di antu progesteron akan yang mem uat lapisan endometrium menjadi lapisan yang ramah dan anyak nutrisi agi ovum yang sudah di uahi. 2. Pem entukan desidua. Yaitu endometrium yang termodifikasi khusus saat ke hamilan. Pem entukan desidua terjadi saat fase lastokista yang akan termodifik asi lagi menjadi se uah massa (yang akan menjadi janin), trofo las ( yang akan m enjadi plasenta) dan lastokel ( yang akan menjadi kantung amnion). 3. Setelah plasenta ter entuk, produksi estrogen di am il alih oleh plasent a. Yang mengu ah kolesterol menjadi hormone-hormon steroid ( estrogen dan proges teron). Progesteron dapat langsung di sintesis dari kolesterol i u dan di alirka n melalui plasenta kepada janin. Ber eda dengan estrogen yang utuh prekursor an drogen seperti yang di gam arkan pada agan di awah ini :

4. Merangsang pertum uhan miometrium . Yang akan meningkatkan kekuatan uter us untuk persalinan. 5. Perkem angan duktus-duktus kelenjar mamae dimana estrogen akan meranng erperan peningkatan konsentrasi prolaktin yang erperan penting pada sekresi ASI . Progesteron Cara kerja dan efek progesteron dalam kehamilan 1. Mengu ah lapisan endometrium untuk implantasi dan mudigah 2. Menurunkan kontraktilitas uterus 3. Pengeluaran mukus menjaadi kental dan lengket untuk mencegah masuknya ak teri yang dapat mengancam kehamilan 4. Merangsang perkem angan alveolus dipayudara selama kehamilan

VI. SOLUTIO PLASENTA dan PLASENTA PREVIA Solusio Plasenta Solusio plasenta adalah terlepasnya plasenta dari tempat implantasinya s e elum janin lahir. Jenis pendarahan - Pendarahan keluar : darah dari tempat pelepasan, mencari jalan keluar antara s elaput janin dan dinding rahim dan akhirnya keluar dari serviks. - Pendarahan tersem unyi : darah tidak keluar tapi erkumpul di elakang plasent a mem entuk haematom retroplacentair. - Pendarahan keluar dan tersem unyi : pendarahannya menem us selaput ketu an mas uk ke dalam kantong ketu an. Klasifikasi - Ringan : luas plasenta yang lepas tidak sampai 25%, jumlah darah yang keluar iasanya kurang dari 250 ml(warna darah kehitaman). - Sedang : luas plasenta yang lepas sudah le ih dari 25%, jumlah darah yang kelu ar le ih dari 250 ml tetapi kurang dari 1000 ml(rasa nyeri pada perut terus mene rus, denyut jantung janin menjadi cepat). - Berat : luas plasenta yang terlepas mele ihi 50% dan darah yang keluar telah m encapai le ih dari 1000ml(hamper semua janin telah meninggal). Etiologi - Hipertensi. - Tali pusat yang pendek - Trauma

 

 

 

 

 

 

     

 

 

   

 

   

 

 

 

 

 

 

 

 

     

 

 

   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

   

- Merokok - Tekanan oleh rahim yang mem esar pada vena kava inferior - Umur lanjut - Multiparitas Patofisiologi 1. Solusio plasenta erawal dengan pendarahan yang erasal dari kematian sel(apo ptosis) yang dise a kan oleh iskemia dan hipoksia, dalam decidua asalis. 2. Terjadilah haematoma dalam decidua yang mengangkat lapisan-lapisan diatasnya. 3. Haematoma ini makin lama makin esar; hingga agian plasenta yang terlepas da n tidak erfaal. 4. Akhirnya haematoma mencapai pinggir plasenta dan mengalir keluar antara selap ut janin dan dinding rahim. Diagnosis Diagnosis didasarkan adanya perdarahan antepartum yang ersifat nyeri, uterus te gang dan nyeri. Setelah plasenta lahir, ditemukan adanya impresi(cekungan) pada permukaan maternal plasenta aki at tekanan haematom retroplasenta. Gejala - Sakit perut terus menerus - Pendarahan dengan nyeri - Uterus tegang terus menerus - Bunyi jantung janin tidak terdengar lagi - Air ketu an erwarna kemerahan karena ercampur darah Pemeriksaan fisik Inspeksi - Pasien gelisah, sering menggerang karena kesakitan - Pucat, sianosis, keringat dingin - Kelihatan darah keluar dari pervaginam Palpasi - Fundus uteri tam ah naik - Uterus tera a tegang dan keras seperti papan - Nyeri tekan di tempat plasenta lepas Auskultasi Bila DJJ terdengar iasanya diatas 140 dpm, kemudian turun di awah 100 dpm, dan akhirnya hilang ila plasenta yang terlepas le ih dari sepertiga. Penanganan - Pemeriksaan kadar H - Pemeriksaan USG, untuk mem edakan dengan plasenta previa, memastikan janin mas ih hidup - Bila janin masih hidup dan cukup ulan dan ilamana persalinan pervaginam elu m ada tanda, umumnya dipilih persalinan melalui edah sesar - Pendarahan yang cukup anyak segera dilakukan transfusi darah - Kalau terjadi kematian janin dipilih persalinan pervaginam dengan cara di erik an oksitosin. Plasenta previa Plasenta previa adalah plasenta terletak menutupi atau sangat dekat dengan os in terna. Klasifikasi Plasenta previa totalis Os interna serviks seluruhnya tertutupi oleh plasenta Plasenta previa parsialis Se agian os interna tertutup oleh plasenta Plasenta previa marginalis Tepi plasenta terletak di atas os interna Plasenta letak rendah Plasenta tertanam di segmen awah uterus sedemikian rupa sehingga tepi plasenta se enarnya tidak mencapai os interna tetapi sangat dekat dengannya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

       

 

 

 

 

 

   

Etiologi - Usia i u - Multiparitas - Riwayat seksio sesarea - Merokok Patofisiologi Karena mele arnya istmus uteri menjadi segmen awah rahim, maka plasenta yang erimplantasi disitu sedikit anyak akan mengalami laserasi aki at pelepas an pada desidua se agai tapak plasenta. Demikian pula pada waktu servik mendatar (effacement) dan mem uka(dilatation) ada agian tapak plasenta yang terlepas. Pa da tempat laserasi itu akan terjadi perdarahan yang erasal dari sirkulasi mater nal yaitu dari ruangan intervillus dari plasenta. Diagnosis - Anamnesis : adanya perdarahan pervaginam pada kehamilan le ih 20 minggu dan e rlangsung tanpa se a - Pemeriksaan luar sering ditemukan kelainan letak. Bila letak kepala elum masu k pintu atas panggul - Inspekulo : adanya darah dari ostium uterieksternum -USG untuk menentukan letak plasenta - Penentuan letak plasenta secara langsung dengan pera aan langsung melalui kana lis servikalis tetapi pemeriksaan ini sangat er ahaya karena dapat menye a kan perdarahan yang anyak, oleh karena itu cara ini hanya dilakukan di atas meja op erasi Gejala - Pendarahan tanpa se a tanpa rasa nyeri dari iasanya erulang darah iasanya - Darah warna merah segar - Bagian terdepan janin tinggi(floating). Sering dijumpai kelainan letak janin - Pendarahan pertama iasanya tidak anyak dan tidak fatal. Pendarahan erikutny a iasanya le ih anyak Penanganan - Bila pasien syok karena pendarahan yang anyak, harus segera diper aiki keadaa n umumnya dengan pem erian infuse/tranfusi darah - Bila plasenta previa totalis, pendarahan sangat anyak dan mengalir cepat, il a persalinan pervaginam elum ada tanda dilakukan seksio sesarea - Partus pervaginam dilakukan pada plasenta previa marginalis/pada multipara dan anak sudah meninggal/prematur, dan pem ukaan serviks sudah agak esar di erikan oksitosin VII. FERRO SULFAT Deskripsi - Nama & Struktur Kimia : FeSO4 - Sifat Fisikokimia : Ser uk kristal erwarna hijau muda, erfluoresen si di udara, jika teroksidasi oleh lem a akan eru ah menjadi warna coklat. Lar ut aik dalam air, sangat larut dalam air mendidih, praktis tidak larut dalam al kohol. - Keterangan : Larutan 5% dalam air mempunyai pH : 3.0 - 4.0 Golongan/Kelas Terapi O at yang mempengaruhi darah Nama Dagang - Fero ion - Emineton

- Ferrocemin

- Fumater

- Incremin

Indikasi Pencegahan dan pengo atan anemia karena kekurangan zat esi.

 

 

   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

   

 

   

 

 

   

 

 

 

 

 

   

 

 

 

 

   

 

 

 

 

 

 

   

 

 

 

Dosis, Cara Pem erian dan Lama Pem erian Dosis untuk anak-anak : • Anemia karena defisiensi Fe parah : 4-6 mg/kg/hari dalam 3 dosis ter agi. • Anemia karena defisiensi Fe ringan -sedang : 3 mg/kg/hari dalam 1-2 dosis ter ag i. • Profilaksis : 1-2 mg/kg/hari sampai dosis maksimum 15 mg/hari. Dosis untuk dewasa : Kekurangan Fe : 300 mg, dua kali sehari sampai 300 mg 4 kali sehari atau 250 mg (lepas lam at) dalam 1-2 kali sehari. Profilaksis : 300 mg/hari . Farmakologi Onset kerja : Respon hematologik : pem erian oral ~3-10 hari. Efek plasma : retikulositosis : 5-10 hari, hemoglo in meningkat dalam 2-4 minggu . A sor si Fe melalui saluran cerna terutama erlangsung melalui duodenum, dan l e ih kedistal a sor si akan le ih erkurang. Besi le ih mudah dia sor si dalam entuk fero. Jumlah ke utuhan Fe setiap hari d ipengaruhi oleh er agai faktor, seperti : umur, jenis kelamin, wanita hamil dan menyusui. Ekskresi : melalui urin, keringat, mukosa intestinal dan saat haid. Sta ilitas Penyimpanan Simpan ditempat yang sejuk, wadah kedap udara Kontraindikasi Hipersensitif terhadap senyawa esi atau komponen lain dalam sediaan, hemokromat otis primer, anemia hemolitik, pasien yang mendapat transfusi erulang-ulang. Efek Samping Peroral dapat menim ulkan gangguan saluran cerna,seperti : mual, diare, konstipa si, rasa nyeri epigaster. Efek samping ini mungkin dikurangi dengan pengurangan dosis, sediaan diminum waktu atau segera setelah makan (jangan waktu perut koson g) Interaksi - Dengan O at Lain : Penggunaan ersamaan vitamin C > 200 mg per 30 mg Fe akan m eningkatkan a sorpsi oral Fe. A sorpsi oral Fe dan tetrasiklin akan menurun jika digunakan ersamaan. A sorpsi fluorokuinolon, levodopa, metildopa dan penisilin amin akan menurun karena ter entuknya kompleks Fe-kuinolon. Penggunaan ersamaan antasida, loker H2 atau inhi itor pompa proton akan menurunkan a sorpsi. Respo n terhadap Fe akan tertunda dengan adanya kloramfenikol. - Dengan Makanan : Sereal, serat makanan, teh, kopi, telur dan susu akan menurun kan a sorpsi. Parameter Monitoring Fe serum, total kapasitas ikatan Fe, jumlah retikulosit dan hemoglo in. Bentuk Sediaan Ta let Salut Berisi 300 mg Ferro Sulfat Peringatan Sediaan esi peroral dapat memper erat keadaan tukak lam ung Colitis ulseratif m enahun, enteritis. Informasi Pasien O at ini dapat menye a kan feses erwarna hitam. Mekanisme Aksi Se agai Fe yang ada dalam hemoglo in, myoglo in dan enzim lainnya, memfasilitasi pengangkutan oksigen melalui hemoglo in. esi di utuhkan untuk produksi hemoglo in (H ),sehingga defisiensi Fe akan menye a kan e entuknya sel darah merah yang le ih kecil dengan kandungan H yang rend ah dan menim ulkan anemia hipokrom mikrositik. Efek Samping Efek samping : efek yang paling sering tim ul adalah intoleransi terhadap pem erian peroral yaitu nyeri lam ung (7-20%),konstipasi (10%), diare(5%) dan koli

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

   

     

 

 

 

   

 

 

 

 

 

 

 

 

   

         

 

 

 

 

 

 

   

 

   

   

 

   

 

 

     

   

 

k. Pem erian IM dapat menye a kan rekasi lokal pada tempat pem erian suntikan e rupa rasa sakit dan peradangan dengan pem esaran inguinal.Peradangan lokal le ih sering terjadi pada pem erian IM di andingkan IV. Reaksi yang dapat tim ul 10 m enit setelah suntikan adalah sakit kepala, nyeri otot dan sendi, hemolisis, taki kardi,flushing, erkeringat, mua,muntah, ronkospasme, pusing, hipotensi dan syo k sirkulasi. Intoksikasi akut sangat jarang terjadi,ke anyakkan aki at menelan t erlalu anyak ta let FeSO4 yan mirip gula-gula pada anak (konsumsi Fe> 1 gr), ke lalaian utama terjadi pada saluran cerna muali dari korosif, iritasi sampai ne krosis. Gejala yang tim ul seringkali erupa mual,muntah, diare, hematemesis ser ta feses erwarna hitan aki at dari pendarahan.

VIII.

Pengaruh Rokok Pada A ortus

1. Gas CO dari dalam rokok terikat dengan darah i u yang perokok, kemudian CO it u akan memasuki plasenta. Hal ini menye a kan kurangnya oksigen dan nutrisi agi janin. Oleh se a itu, plasenta akan mencari jalan agar dapat mencukupi ke utuh an oksigen dan nutrisinya. Dengan demikian plasenta akan semakin tipis dan mudah terjadi komplikasi pada plasenta. Nah, sehingga plasenta akan rusak dan menye a kan keguguran. 2. Hidrogen sulfida, kadmium, amonia, dan hidrogen sianida mengandung toksin di dalamnya. Jika toksin masuk melalui plasenta menuju janin, maka kematian janin a kan terjadi sehingga menye a kan keguguran. 3. Endarteritis ( peradangan tunika intima arteri ) atau kelainan plasenta yang terjadi pada villi koriales yang menye a kan oksigenisasi plasenta terganggu, se hingga menye a kan gangguan pertum uhan dan perkem angan janin. 4. Nikotin menye a kan penyempitan pada pem uluh darah ke plasenta yang eraki a t terjadi hipertensi, sehingga erpengaruh pada pendistri usian nutrisi dan oksi gen ke janin yang pada akhirnya menye a kan perkem angan janin terham at, selanj utnya ila hal ini terus erlangsung maka kehamilan kemungkinan tidak isa diper tahankan yang pada akhirnya terjadi keguguran. 5. Hipertensi, dapat terjadi karena 3 hal : - kerusakan endotel, menye a kan vasokontriksi naik dan vasodilatasi turun . - kerusakan jaringan paru, menye a kan hipoventilasi (penurunan laju pernafa san), yang erlanjut pada asidosis(kele ihan dosis) dan akhirnya terjadi kekuran gan oksigenisasi fetus. - gangguan meta olisme folat, menye a kan diferensiasi folat yang akhirnya nutrien pertum uhan janin menurun. Note: ketiga hal terse ut dise a kan oleh radikal e as dan oksidan yang terk andung dalam rokok.

DAFTAR PUSTAKA [1] the Mcgraw-hill Companies Inc. 2006. O stetri Williams. Jakarta : EGC [2] Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI. 2009. Farmako dan Terapi. Jakart a : Universitas Indonesia. [3] Llewellyn-Jones, Derek. 2002. Dasar-dasar O stetri dan Ginekologi. Jakar ta : Hipokrates. [4] http://stop-merokok. logspot.com/2008/09/a ortus-dan-rokok.html [5] www.scri d.com

       

   

   

   

 

 

 

   

 

 

 

 

 

 

 

 

   

   

   

   

   

 

 

   

 

   

 

   

 

       

   

 

 

 

 

 

 

   

   

 

 

   

 

 

 

 

 

   

 

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->