P. 1
Makalah perdarahan post partum

Makalah perdarahan post partum

|Views: 1,684|Likes:
Published by Anna Andany Lestari

More info:

Published by: Anna Andany Lestari on Feb 08, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/31/2013

pdf

text

original

Perdarahan Post Partum

Tutorial A1 Larasjati Sartiko Harjo 1010211058 Reynita Setia Dewi 1010211059 Amanda Friska 1010211152 Rizki Rahmiana Harahap 1010211078 Mutia Rachmi 1010211179 Gina Novita Sari 1010211107 Dody Saputra 1010211103 Chaerunissa Utami 0910211146 Nita Juliana Anggraini 1010211097 Levi Aulia Rachman 1010211054 Novianto Adi 1010211065 Anna Andany Lestari 1010211056 FK UPN “VETERAN” JAKARTA TAHUN AJARAN 2010/2011 LEMBAR PENGESAHAN

Anna Andany Lestari utra

Dody Sap

Ketua Kasus

Sekertaris Kasus

dr. Maria S.T

Tutor KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang dengan rahmatnya, makala h ini dapat di selesaikan. Makalah ini mengenai case ke VIII tentang “ Perdarahan Post Partum ” yang didiskusikan mulai tanggal 27 April 2011 sampai dengan 30 Apri l 2011. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada dr. Maria atas pengarahan dan bimbingan yang telah di berikan selama proses tutorial berlangsung. Terima kasih juga kepada teman-teman kelompok tutorial A-1 atas kerjasamanya sehingga makala h ini dapat di selesaikan dengan baik. Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai laporan dan kesimpulan dari dis

kusi yang telah di laksanakan. Terima kasih atas perhatiannya dan semoga makalah ini dapat bermanfaat. Jakarta, Mei 2011 Penulis PAGE 1 Mrs. Puri 20 years old, P1A0 visits hospital with chief complain, fever. She al so feel pain at her lower abdomen since yesterday. She confess two days ago she had giver bierth by untrained traditional birth attendant. She complains some bl oody sischarge was still draining out through her vagina and it smelt foult. She confess until now, she can’t breastfeed her baby because of her nipple inverte d. PAGE 2 Physical examinations: Conjunctiva : normal Heart and lungs : within normal limits Breast : signs of nipple inversion Abdomen : tenderness at suprapubic area Obstetric examination: Uterine fundus was at the level of umbilicus, soft, tenderness (+) Uterine contraction was poor Inspection : vulva normal Speculum examinations: vulva and vagina were within normal limit, fluxus (+) flo wing slowly out of the servix and smelt foul Vaginal toucher : - cervical dilation 2 fingers Portio was soft No tissue palpable in the uterine cavity Uterus was equal to 20 weeks pregnancy Uterine tanderness (+) Cervical motion tanderness (+) Adnexas were normal Ultrasound examinations result showed the uterus was enlarged; there was some co mplex mass in the uterine cavity, suggestive of placental remnants PAGE 3 Laboratory examination Hemoglobin level : 10 gram % Leukocyte : 27.00/ mm3 PCV : 30% Platelet count : 180.000/mm3 Blood culture : multiple bacterial infections Epilogue Doctor diagnose her metritis + late postpartum hemorrhage + inverted nipple grad e 2 Mrs. Puri was given uterotonic, ampicillin 2 gr IV every 6 hours + gentamycin 5m g/kgBB IV avery 24 hours + metronidazole 500 mg IV every 8 antibiotics prior to and after that doctor will do curettage. She was hospitalized for about 5 days. And for her inverted nipples doctor does Hoffman maneuver and she was also intro duce to some nurses in the Group of Support for Lactacing Mothers which may help her with lactation problems if ever she encounters it. KONSEP NIFAS PENGERTIAN NIFAS 1. Masa Nifas (puerpurium) adalah masa pulihnya kembali, mulai dari persali

nan selesai sampai alat – alat kandungan kembali seperti pra-hamil. Lama masa nifa s yaitu 6-8 minggu (Mochtar, 2001:115) 2. Masa Nifas (puerpurium) dimulai setelah placenta lahir dan berakhir keti ka alat – alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil,berlangsung selama kira – kira 6 minggu (Prawirohardjo, 2009:237) 3. Nifas atau puerperium adalah periode waktu atau masa dimana organ-organ reproduksi kembali kepada keadaan tidak hamil. Masa ini membutuhkan waktu sekita r enam minggu (Farrer, 2001:36). PEMBAGIAN MASA POST PARTUM (NIFAS) • Menurut referensi dari Prawirohardjo (2009:238), pembagian nifas di bagi 3 bagia n, yaitu: 1. Puerperium Dini • Yaitu kepulihan dimana ibu di perbolehkan berdiri dan berjalan. Dalam agama Isla m, dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari. 2. Puerperium Intermedial • Yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu. 3. Remote Puerperium • Yaitu waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna bis a berminggu, bulan atau tahunan. PERUBAHAN-PERUBAHAN YANG TERJADI SELAMA POST PARTUM (NIFAS) 1. Uterus • Involusi uterus melibatkan peng-reorganisasian dan pengguguran decidua atau endo metrium serta pengelupasan situs placenta sebagaimana diperlihatkan (Varney, 200 4:252). • Segera setelah kelahiran bayi, placenta dan membran, beratnya adalah kira-kira 1 100 gram dengan panjang kira-kira 15 cm, lebar 12 cm, serta 8 sampai 10 cm tebal nya. Ukuran itu adalah kira-kira dua atau tiga kali ukuran uterus non hamil, mul tipara. Uterus berkurang beratnya sampai menjadi kira-kira 500 gram pada akhir m inggu pertama post partum, 300 gram sampai 350 gram pada akhir minggu kedua, 100 gram pada akhir minggu keenam, dan mencapai berat biasa non hamil 70 gram pada akhir minggu kedelapan post partum. Segera setelah kelahiran, bagian puncak dari fundus akan berada kira-kira dua pertiga sampai tiga perempat tingginya diantar a shympisis pubis dan umbilicus. Fundus ini kemudian akan naik ketingkat umbilic us dalam tempo beberapa jam. Ia akan tetap berada pada kira-kira setinggi (atau satu jari lebarnya di bawah) umbilicus selama satu, dua hari dan kemudian secara berangsur-angsur turun ke pinggul, kemudian menjadi tidak dapat dipalpasi lagi bila di atas symhisis pubis setelah hari ke sepuluh (Varney, 2004:252). 2. Involusi tempat plasenta • Ekstrusi lengkap tempat plasenta perlu waktu sampai 6 minggu. Proses ini mempuny ai kepentingan klinik yang amat besar, karena kalau proses ini terganggu, mungki n terjadi pendarahan nifas yang lama. Segera setelah kelahiran, tempat plasenta kira-kira berukuran sebesar telapak tangan, tetapi dengan cepat ukurannya mengec il. Pada akhir minggu kedua, diameternya 3 sampai 4 cm. Segera setelah berakhirn ya persalinan, tempat plasenta normalnya terdiri dari banyak pembuluh darah yang mengalami trombosis yang selanjutnya mengalami organisasi trombus secara khusus . 3. Pembuluh darah uterus • Di dalam uterus sebagian besar pembuluh darah mengalami obliterasi dengan peruba han hialain, dan pembuluh yang lebih kecil tumbuh ditempat mereka. Reasorbsi res idu yang mengalami hialinisasi diselesaikan dengan proses yang serupa dengan yan g di temukan di ovarium setelah ovulasi dan pembentukan korpus luteum. Tetapi si sa-sisa kecil tetap ada selama bertahun-tahun, yang dibawah mikroskop memberikan cara untuk membedakan antara uterus wanita multipara dan nullipara. 4. Lochia • Lochia adalah nama yang diberikan pada pengeluaran dari uterus yang terlepas mel alui vagina selama masa nifas (Varney, 2004:253). • Pengeluaran Lochia dapat dibagi berdasarkan jumlah dan warnanya sebagai berikut : 1). Lochia Rubra

• 1 sampai 3 hari berwarna merah dan hitam • Terdiri dari sel decidua, verniks kaseosa, rambut, sisa mekonium, sisa darah 2). Lochia Sanguinolenta • 3 sampai 7 hari • Berwarna putih bercampur merah 3). Lochia Serosa • 7 sampai 14 hari • Berwarna kekuningan 4). Lochia Alba • Setelah hari ke 14 • Berwarna putih 5. Vagina dan Perineum • Segera setelah persalinan, vagina dalam keadaan menegang dengan disertai adanya edema dan memar, dengan keadaan masih terbuka. Dalam satu atau dua hari edema va gina akan berkurang. Dinding vagina akan kembali halus, dengan ukuran yang lebih luas dari biasanya. Ukurannya akan mengecil dengan terbentuk kembalinya rugae, pada 3 minggu setelah persalinan. Vagina tersebut akan berukuran sedikit lebih b esar dari ukuran vagina sebelum melahirkan pertama kali. Meskipun demikian latih an untuk mengencangkan otot perineum akan memulihkan tonusnya (Varney, 2004:254) . 6. Payudara • Konsentrasi hormon yang menstimulasi perkembangan payudara selama wanita hamil, (estrogen, progesteron, human chorionic gonadotropin, prolaktin, kortisol, dan i nsulin) menurun dengan cepat setelah bayi lahir. Waktu yang dibutuhkan hormon-ho rmon ini untuk kembali ke kadar sebelum hamil sebagian ditentukan oleh apakah ib u menyusui atau tidak. 7. Tanda-Tanda Vital • Tekanan darah biasanya stabil dan normal, temperatur biasanya kembali normal dar i kenaikannya yang sedikit selama periode melahirkan dan menjadi stabil dalam 24 jam pertama setelah melahirkan. Denyut nadi biasanya normal kecuali bila ada ke luhan persalinan yang lama dan sulit atau kehilangan banyak darah (Varney, 2004: 254). 8. Perubahan Sistem Ginjal • Pelvis ginjal dan ureter yang berdilatasi selama kehamilan, kembali normal pada akhir minggu setelah melahirkan. Segera setelah melahirkan kandung kemih tampak bengkak, sedikit terbendung, dapat hipotonik, dimana hal ini dapat mengakibatkan overdistensi, pengosongan yang tidak sempurna dan adanya sisa urin yang berlebi han kecuali bila diambil langkah-langkah yang mempengaruhi ibu untuk melakukan b uang air kecil secara teratur meskipun pada saat wanita itu tidak mempunyai kein ginan untuk buang air kecil. Efek dari trauma selama persalinan pada kandung kem ih dan ureter akan menghilang dalam 24 jam pertama setelah melahirkan (Varney, 2 004:255). 9. Kehilangan Berat Badan • Seorang wanita akan kehilangan berat badannya sekitar 5 kg pada saat melahirkan. Kehilangan ini berhubungan dengan berat bayi, placenta dan cairan ketuban. Pada minggu pertama post partum seorang wanita akan kehilangan berat badannya sebesa r 2 kg akibat kehilangan cairan (Varney, 2004:255). 10. Dinding Abdomen • Striae abdominal tidak bisa dilenyapkan sama sekali akan tetapi mereka bisa beru bah menjadi garis-garis yang halus berwarna putih perak (Varney, 2004:255). • Ketika miometrium berkontraksi dan berektrasi setelah kelahiran dan beberapa har i sesudahnya, peritonium yang membungkus sebagian besar uterus dibentuk menjadi lipatan-lipatan dan kerutan-kerutan. Ligamentum latum dan rotundum jauh lebih ke ndor daripada kondisi tidak hamil, dan mereka memerlukan waktu cukup lama untuk kembali dari peregangan dan pengendoran yang telah dialaminya selama kehamilan t ersebut. 11. Perubahan Hematologis • Leukositosis yang meningkatkan jumlah sel-sel darah putih sampai sebanyak 15.000 semasa persalinan, akan tetap tinggi selama beberapa hari pertama dari masa pos t partum. Jumlah sel-sel darah putih tersebut masih bisa naik lagi lebih tinggi

sampai 25.000 atau 30.000 tanpa adanya kondisi patologis jika wanita tersebut me ngalami persalinan lama. Jumlah hemoglobin, hematokrit dan erytrocyte akan sanga t bervariasi pada awal-awal masa nifas sebagai akibat dari volume darah, volume plasma dan tingkat volume sel darah yang berubah-ubah (Varney, 2004:256). 12. Sistem Endokrin 1). Hormon Plasenta • Selama periode pascapartum, terjadi perubahan hormon yang besar. Pengeluaran pla senta menyebabkan penurunan signifikan hormon-hormon yang diproduksi oleh organ tersebut. Penurunan hormon Human Placcental Lactogen (HPL), estrogen dan kortiso l, serta placental enzyme insulinase membalik efek diabetogenik kehamilan, sehin gga kadar gula darah menurun secara yang bermakna pada masa puerperium. 2). Hormon Hipofisis dan Fungsi Ovarium • Waktu dimulainya ovarium dan menstruasi pada wanita menyusui berbeda. Kadar prol aktin serum yang tinggi pada wanita menyusui tampaknya berperan dalam menekan ov ulasi. Karena kadar Follicle-Stimulating Hormone (FSH) terbukti sama pada wanita menyusui dan tidak menyusui, dismpulkan ovarium tidak berespons terhadap stimul asi FSH kadar prolaktin meningkat. 13. Sistem Urinarius • Perubahan hormonal pada masa hamil (kadar steroid yang tinggi) turut menyebabkan peningkatan fungsi ginjal, sedangkan penurunan kadar steroid setelah wanita mel ahirkan sebagian menjelaskan sebab penurunan fungsi ginjal selama masa pascapart um. Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu satu bulan setelah wanita melahirka n. Diperkirakan 2 sampai 8 minggu mengalami hipotonia pada kehamilan dan dilatas i ureter serta pelvis ginjal kembali ke keadaan sebelum hamil. Pada sebagian kec il wanita, dilatasi traktus urinarius bisa menetap selama tiga bulan. 14. Sistem Cerna 1). Nafsu Makan • Ibu biasanya setelah melahirkan diperbolehkan untuk mengkonsumsi makanan ringan dan setelah benar-benar pulih dari efek analgesia, anesthesia, dan keletihan, ke banyakan ibu merasa sangat lapar. Permintaan untuk memperoleh makanan dua kali d ari jumlah yang biasa dikonsumsi disertai konsumsi camilan yang sering-sering di temukan. 2). Motilitas • Secara khas, penurunan tonus dan motilitas otot traktus cerna menetap selama wak tu yang singkat setelah bayi lahir. Kelebihan analgesia dan anesthesia bisa memp erlambat pengembalian tonus dan motilitas ke keadaan normal. 3). Defekasi • Buang air besar secara spontan bisa tertunda selama dua sampai tiga hari setelah ibu melahirkan. Keadaan ini bisa disebabkan karena tonus otot usus menurun sela ma proses persalinan dan pada awal masa pascapartum, ibu biasanya merasakan nyer i diperinium akibat episiotomi, laserasi, atau hemoroid. Kebiasaan buang air bes ar yang teratur perlu dicapai kembali setelah tonus usus kembali normal. 15. Sistem Kardiovaskuler 1). Volume Darah • Perubahan volume darah tergantung pada beberapa faktor, misalnya kehilangan dara h selama melahirkan dan mobilisasi serta pengeluaran cairan ekstravaskuler (edem a fisiologis). 2). Curah jantung • Denyut jantung, volume sekuncup, dan curah jantung meningkat sepanjang masa hami l. Segera setelah wanita melahirkan, keadaan ini akan meningkat bahkan lebih tin ggi selama 30 sampai 60 menit karena darah yang biasanya melintas sirkuit etorop lasenta tiba-tiba kembali ke sirkulasi umum. 16. Varises • Varises di tungkai dan di sekitar anus (hemoroid) sering dijumpai pada wanita ha mil. Varises, bahkan varises vulva yang jarang dijumpai, akan mengecil dengan ce pat setelah bayi lahir. Operasi varises tidak dipertimbangkan selama masa hamil. Regresi total atau mendekati total diharapkan terjadi setelah melahirkan (Varne y, 2004:156). TUJUAN ASUHAN MASA NIFAS 1. Menjaga kesehatan ibu dan bayinya.

2. Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah, mengobati a tau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu dan bayi. 3. Memberi pendidikan kesehatan tentang : 1)Perawatan kesehatan diri; 2)Nut risi; 3)KB; 4)Menyusui; 5)Pemberian imunisasi pada bayinya dan perawatan bayi se hat PERAWATAN DALAM POST PARTUM (NIFAS) 1.Pengawasan Kala IV • 1 jam pertama dari nifas meliputi pemeriksaan plasenta supaya tidak ada bagian-b agian plasenta yang tertinggal, pengawasan tingginya fundus uteri, pengawasan pe rdarahan dari vagina, pengawasan konsistensi rahim, pengawasan keadaan umum ibu. 2.Early ambulation • Kebijaksanaan untuk selekas mungkin membimbing penderita keluar dari tempat tidu rnya dan membimbingnya selekas mungkin untuk berjalan. • Karena lelah habis persalinan, ibu harus istirahat, tidur terlentang, selama 8 j am pasca persalinan, kemudian boleh miring ke kanan dan ke kiri untuk mencegah t erjadinya trombosi dan tromboemboli. Pada hari ke-2 diperbolehkan duduk, hari ke -3 jalan-jalan, dan hari ke-4 atau ke-5 sudah diperbolehkan pulang. Mobilisasi t ersebut bervariasi bergantung pada komplikasi persalinan, nifas, dan sembuhnya l uka-luka. Kini perawatan perenium lebih aktif dengan dianjurkan “ Mobilisasi Dini ” (early mobilitation), perawatan ini mempunyai keuntungan: 1. Memperlancar pengeluaran lochea, mengurangi infeksi nifas. 2. Mempercepat involusi alat kandungan. 3. Meningkatkan kelancaran peredaran darah sehingga mempercepat fungsi ASI dan pengeluaran sisa metabolisme. 3.Diet • Diet harus sangat mendapat perhatian dalam nifas karena makanan yang baik memper cepat penyembuhan ibu, lagi pula makanan ibu sangat mempengaruhi susunan air sus u. • Ibu nifas harus mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari. Makan dengan diet be rimbang untuk mendapat protein, mineral, vitamin yang cukup. Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari. Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat besi setida knya 40 hari setelah persalinan. Minum kapsul vitamin A (200.000) agar bisa memb erikan vitamin A pada bayi lewat ASI nyaMakanan harus bermutu, bergizi dan cukup kalori, sebaiknya yang banyak mengandung protein, banyak cairan, sayur-sayuran dan buah-buahan. Kebutuhan nutrisi selama laktasi didasarkan pada kandungan nutr isi ASI dan jumlah nutrisi penghasil susu. 1). Kalori • Kebutuhan kalori selama menyusui proporsional dengan jumlah air susu ibu yang di hasilkan dan lebih tinggi selama menyusui dibanding selama hamil. Rata-rata kand ungan kalori ASI yang dihasilkan oleh ibu dengan nutrisi baik adalah 70 kalori/1 00 ml, dari kira-kira 85 kalori diperlukan oleh 640 ibu untuk tiap 100 ml yang di hasilkan, rata-rata ibu menggunakan kalori/hari untuk 6 bulan kedua untuk mengh asilkan jumlah susu normal. 2). Protein • Ibu memerlukan tambahan 20 gram protein di atas kebutuhan normal ketika menyusui , jumlah ini hanya 16% dari tambahan 500 kalori yang dianjurkan. 3). Cairan • Dianjurkan ibu menyusui minum 2-3 liter cairan/hari baik dalam bentuk air, susu, jus buah-buahan minuman ringan, sirup dan minuman yang tidak mengandung kafein. 4). Vitamin dan Mineral • Vitamin dan mineral selama hamil lebih tinggi nutrien yang paling mungkin dikons umsi dalam jumlah tidak adekuat oleh ibu menyusui adalah kalsium, magnesium, zin k, vitamin B6 dan folat. Total Kebutuhan Nutrisi Ibu (19-30 tahun) Selama Menyusui 4. Suhu • Harus diawasi terutama dalam minggu pertama dari masa nifas karena kenaikan suhu adalah tanda pertama dari infeksi. 5. Miksi • Hendaknya kencing untuk dapat dilakukan sendiri secepatnya. Kadang-kadang wanita

mengalami sulit kencing, karena spinkter uretra ditekan oleh kepala janin dan s pasme selama persalinan. Apabila kandung kemih penuh dan wanita mengalami sulit kencing, sebaiknya dilakukan kateterisasi. 6. Defekasi • Jika penderita hari ketiga belum juga buang air besar, maka diberi clysma air sa bun atau gliserin. 7. Puting susu • Puting susu harus diperhatikan kebersihannya dan rhagade (luka pecah) harus sege ra diobati, karena kerusakan puting susu merupakan porte d’ entrée dan menimbulkan m astitis. 8. Datangnya haid kembali • Ibu yang tidak menyusukan anaknya, haid datang lebih cepat dari ibu yang menyusu kan anaknya. Pada ibu golongan pertama biasanya haid datang 8 minggu setelah per salinan. Pada ibu golongan kedua haid seringkali tidak datang selama ia menyusuk an anaknya, tetapi kebanyakan haid datang lagi pada bulan keempat. 9. Lamanya perawatan di rumah sakit • Lamanya perawatan di rumah sakit bagi ibu-ibu yang bersalin di Indonesia sering ditentukan oleh keadaan sosial ekonomi. Maka pada umumnya ibu-ibu dengan persali nan biasa tidak lama tinggal di rumah sakit kira-kira 3-5 hari. 10. Follow up • Enam minggu setelah persalinan ibu hendaknya memeriksakan diri kembali. 11. Pakaian • Pakaian agak longgar terutama di daerah dada sehingga payudara tidak tertekan, d aerah perut diikat kencang tidak akan mempengaruhi involusi. 12. Perawatan Payudara pada Ibu Nifas • Menjaga payudara tetap bersih dan kering. • Menggunakan BH yang menyokong payudara. • Apabila puting susu lecet, oleskan ASI yang keluar di sekitarnya setelah selesai menyusui. • Apabila payudara bengkak akibat pembendungan ASI dilakukan: 1. Pengompresan payudara 2. Lakukan pengurutan payudara 3. Susukan bayi setiap 2-3 jam sekali apabila tidak dapat menghisap seluruh ASI dikeluarkan dengan tangan. 4. Keringkan payudara 5. Letakkan kain dingin pada payudara setelah menyusui. 13. Keluarga Berencana (Varney, 2005:258) PERUBAHAN PSIKOLOGIS PADA IBU NIFAS • Menerima peran sebagai orang tua adalah suatu proses terjadi dalam 3 tahap yang meliputi: 1. Fase Taking In • Fase ini merupakan periode ketergantungan yang berlangsung hari 1-2 setelah mela hirkan, pada saat itu fokus perhatian ibu terutama pada dirinya sendiri. 2. Fase Taking Hold • Fase ini berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan, ibu merasa khawatir ak an ketidakmampuan dan rasa tanggung jawabnya dalam perawatan bayi, ibu menjadi s angat sensitif dan mudah tersinggung. 3. Fase Letting Go • Fase untuk menerima tanggung jawab akan peran yang berlangsung 10 hari, setelah melahirkan, sudah beradaptasi dengan bayinya. (Fitramaya, 2008:124) Histologi Kelenjar Mammae Kelenjar mamae Setiap kelenjar mamae dibentuk oleh 15-25 lobus. Lobus ini terdiri atas kelenjar jenis tubulo-aveolar kompleks dengan fungsi meng eluarkan susu Setiap lobus terpisah dari yang lain oleh jaringan ikat padat dan jaringan lemak (Histologi jonquera).

Gb. Struktur payudara cross scetion (sherwood ) Struktur Payudara Selama Pubertas dan pada Orang Dewasa Sebelum pubertas, kelenjar mamae terdiri atas sinus laktiferus dan beberapa caba ng dari sinus ini yaitu duktus laktiferus Pembesaran payudara selama pubertas adalah akibat penimbunan jaringan lemak dan jaringan ikat kolagen, disertai percabangan luas dari duktus laktiferus. Prolife rasi duktus laktiferus dan penimbunan lemak disebabkam oleh meningkatnya jumlah estrogen ovarium selam pubertas (Histologi jonquera). Gb. Struktur payudara (ganong) Struktur khas kelenjar pada wanita dewasa, lobulus berkembang pada ujung duktus terkecil (duktur interlobularis terminal) (Histologi jonquera). Sinus laktiferus dilapisi oleh epitel selapis gepeng pada muaranya. Pelapis duktus laktiferus dan duktus interlobularis dibentuk olh epitel selapis kuboid yand ditutupi oleh sel-sel mioepitel (Histologi jonquera). Gb. Proses pengeluaran Susu (Sherwood) Dalam jarinagn ikat intralobularis yang mengelilingi alveoli terdapat limfosit d an sel plasma. Menjelang akhir kehamilan populasi sel plasma bertambah ; yang be rfungsi mensekresi imunoglobulin (IgA sekretorik) yang memberikan kekebalan pada bayi yang baru lahir (Histologi jonquera). Papila mamae berbentuk kerucut dan warnanya mungkin merah muda, coklat muda atau coklat tua. Bagian luarnya dilapisi oleh epitel gepeng berlapis tanduk, papila banyak dipersarafi oleh ujung saraf sensorik (Histologi jonquera). Epitel papila berada diatas selapis jaringan ikat yang banyak mengandung serat o tot polos, serat-serat ini disusun melingkari muara duktus laktiferus. (Histolog i jonquera). gb. Nipple (sobotta) Payudara Selama Kehamilan dan Laktasi Kelenjar mamae bertumbuh pesat selama kehamilan sebagai akibat poliferasi alveol i. Alveoli merupakan kumpulan bulat sel-sel epitel yang menjadi struktur yang ak tif mensekresi susu selama laktasi (Histologi jonquera). Gb. Hormonal of breast (ganong) Mamae Laktan Gb. Mammae laktan (doc.pribadi) Mamae Non Laktan Gb. Mammae Non Laktan (doc.pribadi) Sel-sel sekresi mengecil dan berbentuk epitel kuboid rendah dgn sitoplasma menga ndung trigleserida netral (lipid) Selain lipid yang terdapat pada kutub apikal sekresi, terdapat vakuol yang berme mbran yang mengandung granul terdiri atas kasein dan protein susu Proses pelepasan protein susu yaitu eksositosis (Histologi jonquera). Gb. Proses pengeluaran susu (sherwood) Plasenta lepas ® prolaktin menstimulasi produksi susu Sekret pertama yang dikeluarkan sesudah persalinan adalah kolostrum Kolostrum mengandung : vit. A, sodium, Cl, limfosit, monosit, mineral, laktalbum in, Ig A Susu keluar akibat perilaku menyusui bayi merangsang reseptor taktil dalam papil a, dan setelah itu hipofisis posterior menghasilkan oksitosin (Histologi jonquer a). Persarafan dan KGB Gb. KGB (sobotta) Perawatan ibu Rumah sakit Rumah Perwatan ibu di rumah sakit

Perawatan segera : Setelah plasenta lahir, tekanan darah, suhu, dan denyut nadi harus selalu di periksa selama beberapa jam dan diukur tiap 15 menit, atau lebih jika terjadi indikasi tertentu. Perawatan jalan dini Perawatan jalan dini Perawatan vulva Fungsi kandung kemih Fungsi pencernaan Ketidak nyamanan Depresi ringan Diet Imunisasi Waktu pemulangan konrtasepsi Perawatan vulva 1. Pasien di ajarkan membasuh yang benar 2. Kompres bekas episiotomi dengan es untuk mengurangi rasa sakit dan edem 3. Mandi berendam untuk menghilangkan rasa nyeri Kandung kemih Sebaiknya BAK dilakukan sendiri, apa bila mengalami kesulitan dalam BAK bisa dil akukan dengan menggunakan kateter. Pencernaan BAB dilakukan 3-4 hari pasca persalinan, apabila terjadi kesulitan, dapat diberi kan obat laktans peroral atau perektal. Apabila tetap tidak bisa, dapat di lakuk an klisma. Ketidaknyamanan Jahitan episiotomi atau laserasi terkadang membuat ibu tidak nyaman. Hal ini dapat di tangani dengan kompres menggunakan es, dan dapat di berikan sem protan anestetik lokal secara periodik. Depresi ringan Cukup sering seorang ibu mengalami depresi ringan pasca partum, hal I ni dapat d isebabkan oleh : › Emosional ibu › Rasa sakit pada awal masa nifas › Kelelahan › Kecemasan ibu merawat bayi › Ketakutan tidak menarik Diet Ibu yang menyusui : › Konsumsi tambahan 500 kalori tiap hari › Konsumsi makan gizi seimbang › Minum min. 3liter/hari › Minum kapsul vit.A 200.000 unit agar bisa memberikan pada bayi Imunisasi Wanita dengan rhesus D-negatif yang tidak mengalami isoimunisasi dan bayinya rhe sus D-positif, maka harus di berikan 300ug imunoglobulin segera setelah melahirk an. Waktu pemulangan Setelah persalinan pervaginam, dan tidak adanya komplikasi, pasien biasanya di b olehkan pulang setelah 48 jam dengan di berikan pengetahuan tentang masa nifas. Seperti, adanya lokhia, penurunan berat badan, dll Kontrasepsi Pasien harus di beri tahukan tentang kontrasepsi, seperti berikut : › Bagaimana metode ini mencegah dan efeknya › Kelebihan dan kekurangan › Efek samping › Cara menggunakan › Waktu penggunaan pada wanita pascasalin menyusui Perawatan dirumah Koitus/senggama :

› Secara fisik, seorang ibu yang baru melahirkan dapat melakukan koitus apabila su dah tidak ada darah merah yang keluar melalui vagina dan dapat memasukan satu at au dua jari ke dalam vagina tanpa merasakan sakit. Demam nifas Definisi : suhu mencapai 38 0C atau lebih pada 2-10 hari pertama post partum. Etiologi : 1) Pembengkakan payudara (37,8-39 0C) Jarang berlangsung lebih dari 4-16 jam. 2) Infeksi ginjal akut (hingga 400C) Biasa diikuti hipotermia hingga 34 0C. hal ini disebabkan tingginya dieresis pad a awal masa nifas. 3) Thrombosis vena superficial Gejala klinis : • Untuk etiologi no.1 Tidak jarang payudara meregang, menjadi keras dan bernodul. • Untuk etiologi no.2 Demam hingga 400C atau lebih dan diikuti hipotermia hingga 340C, menggigil hebat serta nyeri di salah satu atau kedua region lumbal. • Untuk etiologi no.3 Peningkatan suhu yang disertai nyeri pada betis yang membengkak. Terapi • Untuk etiologi no.1 Non farmako : menyangga payudara dengan bra yang pas serta mengompres dengan es. Farmako : pemberian analgesic • Untuk etiologi no.2 Diberi ampicillin beserta gentamisin selama 7-10 hari. • Untuk etiologi no.3 Non farmako : ambulasi dengan tungkai dibalut stocking elastic Farmako : pemberian heparin selama 5 hari kemudian dilanjutkan dengan pemberian warfarin secara oral selama kurang dari 3 bulan. Infeksi perineum, vagina, dan serviks • Perineum Infeksi perineum lebih sering terjadi pada persalinan per vaginam. Tepi-tepi luk a yang berhadapan menjadi merah, mengeras dan membengkak. Jahitan kemudian serin g merobek jaringan edematosa sehingga tepi-tepi luka nekrotik menganga serta men geluarkan eksudat serosa, serosanguinosa atau benar-benar nanah. • Vagina Infeksi pada vagina biasa terjadi karena perluasan dari infeksi perineum. Mukosa menjadi edematosa dan hiperemik serta kemudian mengalami nekrosis dan terlepas. • Serviks Hal ini ditunjang oleh organism –organisme yang normal ada pada serviks yang berpo tensi patogenik. Terapi Dilakukan drainase. Jahitan diangkat dan luka yang terinfeksi dibuka. Infeksi uterus (metritis) Faktor pedisposisi Persalinan pervaginam Jika dibandingkan dengan persalinan seksio sesarea, maka timbulnya metritis pada persalinan pervaginam relatif jarang. Persalinan seksio sesarea Ini merupakan faktor predisposisi utama timbulnya metritis dan erat kaitannya de ngan status sosioekonomi penderita. Bakteriologi

Patogenesis Infeksi uterus pada persalinan pervaginam terutama pada tempat implantasi plasen ta, desidua, dan miometrium yang berdekatan. Bakteri yang berkoloni diserviks da n vagina mendapatkan akses ke cairan ketuban pada waktu persalinan, dan pada saa t pascapersalinan akan menginvasi tempat implantasi plasenta yang saat itu bias anya merupakan sebuah luka dengan diameter 4cm dengan permukaan luka yang berbenj ol benjol karena n=banyak vena yang ditutupi trombus. Daerah ini merupakan tempa t yang baik untuk tmbuhnya kuman-kuman patogen. Infeksi uterus pascaoperasi sesa r pada umumya akibat infeksi pada luka operasi selain infeksi yang terjadi pada tempat implantasi plasenta. Gejala klinik Demam dengan suhu tubuh berkisar melebih 38 C - 39 C. Yang disertai menggigil. Dema m biasanya timbul pada hari ketiga disertai nadi yang cepat. Penderita biasanya mengeluhkan adanya nyeri abdomen yang pada pemeriksaan bimanual teraba agak memb esar, nyeri dan lembek. Lokhia berbau menyengat sering menyertai timbulnya metri tis tapi bukan tanda pasti. Penatalaksanaan Ampicillin 2gr IV every 6 hours Gentamycin 5mg/kgBB IV every 24 hours Metronidazole 500mg IV every 8 hours Infeksi Panggul 1. Infeksi Luka Faktor resiko : Obesitas Diabetes Terapi kortikosteroid Imunosupresi Anemia Gangguan hemostasis Abses insisi yang timbul setelah seksio sesarea biasanya menimbulkan dema m yg dimulai sekitar hari ke-4 pascaoperasi. Abses ini didahului oleh infeksi ut erus, dan terjadi demam menetap walaupun pasien mendapat terapi antimikroba yang memadai. Terapinya adalah antimikroba dan drainase bedah, disertai pemeriksaan yang cermat untuk memastikan bahwa fasia utuh, jika tidak maka dilakukan penutup an sekunder a. Terlepasnya tepi luka Mengacu kepada terpisahnya luka yang melibatkan lapisan fasian yg merupakan peny ulit serius. Terapinya antara lain penutupan insisi secara sekunder di ruang ope rasi dengan anastesi yg memadai. Pertama-tama dilakukan debridement secara beda h, diikuti penutupan fasia atau miofasia b. Fasitis Nekrotikans Jarang terjadi, namun memiliki angka kematian yg tinggi. Infeksi ini dapat menge nai insisi abdomen pascaseksio sesarea atau menjadi penyulit episiotomi atau las erasi perineum. Infeksi ini menyebabkan nekrosis jaringan yg luas. Faktor resiko : diabetes, kegemukan, dan hipertensi. Infeksi ini bersifat monobakterial, misa lnya oleh streptokokus b-hemolitikus grup A, tetapi lebih sering bersifat polimi kroba. Terapi : Klindamisin yg diberikan bersama dengan satu obat b-laktam yg mungkin pa ling efektif Terapi tambahan : debridement luas, segera, dan agresif di ruang operasi 2. Peritonitas

 

Bermula dari demam nifas melalui jalan lympha dapat menjalar ke peritoneum hingga terjadi peritonitis. Kalau peritonitis ini terbatas pada rongga panggul d isebut pelveo peritonitis, sedangkan kalau seluruh peritoneum disebut peritoniti s umum. Gejala-gejala : Nyeri seluruh perut spontan maupun pada palpasi Demam menggigil Pols tinggi, kecil Perut gembung tapi kadang-kadang ada diarrhoea Muntah Pasien gelisah, mata cekung Sebelum mati ada delirium dan coma Terapi : Antibiotica diberikan dengan dosis yg tinggi, untuk menghilangkan gembung perut diberi Abot Miller tube Cairan diberi per infus Transfusi darah dan oksigen juga baik Pasien biasanya juga diberi sedativa untuk menghilangkan rasa nyeri 3. Parametritis

Dapat terjadi dengan 3 cara : Melalui robekan cervix yg dalam Penjalaran endometritis atau luka cervix yg berinfeksi melalui jalan lympha Sebagai lanjutan trhombophlebitis pelvica Kalau terjadi infeksi parametrium, maka timbullah pembengkakan yg mula-mu la lunak tetapi kemudian menjadi keras sekali. Infiltrat ini dapat terjadi hanya pada dasar lig.latum tetapi dapat juga bersifat luas misalnya dapat menempati s eluruh parametrium sampai ke dinding panggul dan dinding perut depan di atas lig .inguinale. Kalau infiltrat menjalar ke belakang dapat menimbulkan pembengkakan di belakang servix. Lambat laun hal ini akan menebabkan terjadinya abses panggul . Abses dapat memecah di daerah lipat paha di atas lig.inguinale atau ke dalam c avum Douglasi. Parametritis biasanya unilateral dan kaerena biasanya sebagai aki bat luka cervix, lebih sering terdapat pada primipara dan multipara. Gejala-gejala : Jika suhu postpartum tetap tinggi, lebih dari satu minggu, maka parametritis har us dicurigai Ada nyeri sebelah atau kedua belah perut bagian bawah, sering memancar pada kaki . Setelah beberapa waktu pada toucher dapat teraba infiltrat dalam parametrium y g kadang-kadang mencapai dinding panggul Infiltrat ini dapat direabsorpsi kembali tapi lambat sekali dan menjadi keras (s ama sekali tidak bisa digerakkan) Kadang-kadang infiltrat ini menjadi abses panggul Terapi : Pasien diberi antibiotica dan kalau ada fluktuasi perlu dilakukan insisi. Tempat insisi ialah di atas lipat paha atau pada cavum Douglasi 4. Infeksi Adneksa Sering disebabkan Go. Biasanya terjadi pada minggu ke-2 setelah melahirkan. Geja la : pasien demam menggigil dan nyeri pada perut bagian bawah biasanya kiri dan kanan. Salpingitis dapat sembuh dalam 2 minggu tapi dapat mengakibatkan sterilit as. Prognosa : Yang paling dipercayai untuk membuat prognosa adalah nadi. Jika nadi tetap dibaw ah 100 maka prognosa baok, sebaliknya kalau nadi diatas 130, apalagi kalau tidak ikut turun dengan turunnya suhu , prognosanya kurang baik Demam menggigil berulang-ulang, insomnia adalah tanda kurang baik Kadar Hb yg rendah dan jumlah leukosit ug rendah atau sangat tinggi memburukkan

prognosa 5. Thrombophlebitis Adalah perjalan infeksi melalui vena yg merupakan lanjutan dari demam nifas 2 golongan vena yg berperan : a. Vena-vena dinding rahim dan lig.latum (vena ovarica, vena uterina, dan vena hypogastrica). Radangnya disebut thrombophlebitis pelvica b. Vena-vena tungkai (vena femoralis, poplitea dan saphena). Radangnya disebut t hrombophlebitis femoralis a. Thrombophlebitis pelvica Yg paling sering meradang adalah vena ovarica karena mengalirkan darah dari luka bekas placenta ialah daerah fundus uteri Penjalaran thrombophlebitis pada vena ovarica kiri ialah ke vena renalis dan dar i vena ovarica kanan ke vena cava inferior Karena radang, maka terjadi trhombosis yg bermaksud untuk menghalangi penjalaran kuman-kuman Dengan proses ini infeksi dapat sembuh, tapi kalau daya tahan tubuh kurang maka thrombus menjadi nanah Bagian-bagian kecil thrombus terlepas dan terjadilah emboli atau sepsis dan kare na embolus ini mengandung nanah disebut juga pyaemia. Embolus ini biasanya tersa ngkut pada paru-paru, ginjal, atau katup jantung Pada paru-paru dapat menimbulkan infarkt. Kalau daerah yg mengalami infarkt besa r, maka pasien akan mati mendadak. Kalau tidak mati, maka dapat timbul abses par u-paru Gejala-gejala : biasanya terjadi dalam minggu ke-2 : Demam menggigil, biasanya sebelumnya pasien sydah memperlihatkan suhu yg tidak t enang seperti pada endometritis. Kalau membuat kultur darah sebaiknya diambil wa ktu pasien menggigil atau sesaat sebelumnya Penyulit ialah abses paru, pleuritis, pneumonia dan abses ginjal Penyakit berlangsung antara 1-3 bulan dan angka kematian tinggi. Kematian biasan ya karena penyulit paru-paru Terapi : Pengobatan dengan anticoagulantia (heparin, dicumarol) bermaksud untuk mengurang i terjadinya thrombus dan mengurangi bahaya emboli Tujuan terapi pada thrombophlebitis ialah : Mencegah emboli paru-paru Mengurangi akibat-akibat thrombophlebitis (edema kaki yg lama, perasaan nyeri di tungkai) b. Thrombophlebitis femoralis Dapat terjadi sebagai berikut : Dari thrombophlebitis vena saphena magna atau peradangan vena femoralis sendiri Penjalaran thrombophlebitis vena uterina (v.uterina, v.hypogastrica, v.iliaca ex terna, v.femoralis) Akibat demam nifas Thrombophlebitis pada vena femoralis mungkin terjadi karena aliran darah lambat di daerah lipat paha karena vena tersebut tertekan olaeh lig.inguinale, lagi pul a kadar fibrinogen tinggi dalam masa nifas. Pada thrombophlebitis femoralis terj adi edem tungkai yg mulai pada jari kaki, dan naik ke kai, betis dan paha, kalau thrombophlebitis itu mulai pada vena saphena atau vena femoralis. Sebaliknya ji ka terjadi sebagai lanjutan thrombophlebitis pelvica, maka edem mulai terjadi pa da paha dan kemudian turun ke betis. Biasanya hanya satu kaki yg bengkak. Infeks i ini jarang menimbulkan emboli. Gejala-gejala : Terjadi antara hari ke 10-20 ditandai dengan kenaikan suhu dan nyeri pada tungka i biasanya yg kiri

Tungkai itu biasanya tertekuk dan terputar ke luar dan agak sukar digerakkan. Ka ki yg sakit biasanya lebih panas dari kaki yg sehat Palpasi menunjukkan adanya nyeri sepanjang salah satu vena kaki yg teraba sebaga i utas yg keras biasanya pada paha Timbul edem yg jelas biasanya mulai pada ujung kaki atau pada paha dan kemudia n aik keatas. Edem ini lambat sekali hilang, keadaan umum pasien tetap baik, kadan g-kadang terjadi thrombophlebitis pada kedua tungkai Terapi : Kaki ditinggikan dan pasien harus tinggal di tempat tidur sampai seminggu sesuda h demam sembuh Setelah pasien sembuh, ia dianjurkan supaya jangan lama-lama berdiri dan pemakai an kaos elastis baik sekali

PERDARAHAN POST PARTUM Definisi —Perdarahan post partum didefinisikan sebagai hilangnya 500 ml atau lebih darah se telah anak lahir. Pritchard dkk mendapatkan bahwa sekitar 5% wanita yang melahir kan pervaginam kehilangan lebih dari 1000 ml darah. Epidemiologi —Perdarahan post partum dini jarang disebabkan oleh retensi potongan plasenta yang kecil, tetapi plasenta yang tersisa sering menyebabkan perdarahan pada akhir ma sa nifas.1 Kadang-kadang plasenta tidak segera terlepas. Bidang obstetri membuat batas-batas durasi kala tiga secara agak ketat sebagai upaya untuk mendefenisik an retensio plasenta shingga perdarahan akibat terlalu lambatnya pemisahan plase nta dapat dikurangi. Combs dan Laros meneliti 12.275 persalinan pervaginam tungg al dan melaporkan median durasi kala III adalah 6 menit dan 3,3% berlangsung leb ih dari 30 menit. Beberapa tindakan untuk mengatasi perdarahan, termasuk kuretas e atau transfusi, menigkat pada kala tiga yang mendekati 30 menit atau lebih. —Efek perdarahan banyak bergantung pada volume darah pada sebelum hamil dan deraja t anemia saat kelahiran. Gambaran perdarahan post partum yang dapat mengecohkan adalah nadi dan tekanan darah yang masih dalam batas normal sampai terjadi kehil angan darah yang sangat banyak. Klasifikasi —Klasifikasi perdarahan postpartum : 1. Perdarahan post partum primer / dini (early postpartum hemarrhage), yai tu perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama. Penyebab utamanya adalah atonia uteri, retention plasenta, sisa plasenta dan robekan jalan lahir. Banyaknya ter jadi pada 2 jam pertama 2. Perdarahan Post Partum Sekunder / lambat (late postpartum hemorrhage), y aitu-perdarahan yang terjadi setelah 24 jam pertama Etiologi —Etiologi dari perdarahan post partum berdasarkan klasifikasi di atas, adalah : a. Etiologi perdarahan postpartum dini : 1. Atonia uteri Atonia Uteri Gagalnya miometrium untuk berkontraksi setelah persalinan sehingga uterus dalam keadaan relaksasi penuh, lembek, melebar, dan tidak mampu menjalankan fungsi okl usi pembuluh darah. Pada miometrium terdapat 3 lapisan yang berfungsi untuk berk ontraksi. Miometrium tengah tersusun seperti anyaman dan ditembus oleh pembuluh darah. Masing-masing serabut miometrium mempunyai 2 lengkungan sehingga tiap-tia p 2 buah serabut berbentuk angka delapan. Karena susunan otot seperti itu, setel ah partus, jika terjadi kontraksi akan menjepit pembuluh darah. Karena ketidak m ampuan miometrium untuk kontraksi sehingga menyebabkan perdarahan postpartum. Etiologi: - Grande multipara - Uterus meregang terlalu besar (hidramnion, hamil ganda, anak sangat besar BB >

4000 gram) - Infeksi uterus - Anemi berat - Penggunaan oksitosin berlebihan untuk persalinan (induksi partus) —Faktor predisposisi terjadinya atoni uteri adalah : • Umur yang terlalu muda / tua • Prioritas sering di jumpai pada multipara dan grande mutipara • Partus lama dan partus terlantar • Uterus terlalu regang dan besar misal pada gemelli, hidromnion / janin besar • Kelainan pada uterus seperti mioma uteri, uterus couveloair pada solusio plasen ta • Faktor sosial ekonomi yaitu malnutrisi Komplikasi: - Anemia(hipovolemia): kekurangan cairan sirkulasi biasanya karena perdarahan - Kematian - Hilangnya berat badan hingga menimbulkan kakeksia - Sindrom Sheehan Penanganan: 1. Massase uterus + pemberian utero tonika(infuse oksitosin 10 IU sampai dengan 100 IU) dalam 500 ml dextrose 5% , 1 ampul ergometrin I.V, yang dapat diulang 4 jam kemudian, suntikan prostatglandin. 2. Kompresi bimanual, jika tindakan pertam belum memberikan hasil pada waktu yan g singkat maka dilakukan kompresi bimanual pada uterus. Tangan kiri penolong mas uk ke vagina lalu membentuk kepalan dan diletakan di forniks anterior vagina. Ta ngan kanan diletakan pada perut pasien dengan memegang fundus uteri dengan telap ak tangan kanan dan dengan ibu jari didepan dan jari yang lain dibelakang uterus . Tangan kanan melakukan massage pada uterus dan sekalian menekannya ke tangan k iri. 3. Tampon utero-vaginal secara legeartis, tampon diangkat 24 jam kemudian. 4. Tindakan operatif a, ligasi arteri uterine b, ligasi arteri hipogastrika tindakan ligasi arteri uterine dan arteri hipogastrika dilakukan untuk yang masi h menginginkan anak. Tindakan yang bersifat sementara untuk mengurangi pardaraha n menunggu tindakan operatif dapat dilakukan metode Henkel yaitu menjepit cabang arteri uterine melalui vagina, kiri dab kanan atau kompresi aorta abdominalis c, hiterektomi 2. Laserasi Jalan lahir : robekan perineum, vagina serviks, forniks dan rahim. Dapat menimbulkan perdarahan yang banyak apabila tidak segera di reparasi. 3. Hematoma —Hematoma yang biasanya terdapat pada daerah-daerah yang mengalami laserasi atau p ada daerah jahitan perineum. 4. Lain-lain —Sisa plasenta atau selaput janin yang menghalangi kontraksi uterus, sehingga masi h ada pembuluh darah yang tetap terbuka, Ruptura uteri, Inversio uteri b. Etiologi perdarahan postpartum lambat : 1. Tertinggalnya sebagian plasenta 2. Subinvolusi di daerah insersi plasenta 3. Dari luka bekas seksio sesaria Diagnosis —Untuk membuat diagnosis perdarahan postpartum perlu diperhatikan ada perdarahan y ang menimbulkan hipotensi dan anemia. apabila hal ini dibiarkan berlangsung teru s, pasien akan jatuh dalam keadaan syok. perdarahan postpartum tidak hanya terja di pada mereka yang mempunyai predisposisi, tetapi pada setiap persalinan kemung kinan untuk terjadinya perdarahan postpartum selalu ada. 9 —Perdarahan yang terjadi dapat deras atau merembes. perdarahan yang deras biasanya akan segera menarik perhatian, sehingga cepat ditangani sedangkan perdarahan ya ng merembes karena kurang nampak sering kali tidak mendapat perhatian. Perdaraha n yang bersifat merembes bila berlangsung lama akan mengakibatkan kehilangan dar ah yang banyak. Untuk menentukan jumlah perdarahan, maka darah yang keluar setel

ah uri lahir harus ditampung dan dicatat. 9 —Kadang-kadang perdarahan terjadi tidak keluar dari vagina, tetapi menumpuk di vag ina dan di dalam uterus. Keadaan ini biasanya diketahui karena adanya kenaikan f undus uteri setelah uri keluar. Untuk menentukan etiologi dari perdarahan postpa rtum diperlukan pemeriksaan lengkap yang meliputi anamnesis, pemeriksaan umum, p emeriksaan abdomen dan pemeriksaan dalam. 9 —Pada atonia uteri terjadi kegagalan kontraksi uterus, sehingga pada palpasi abdom en uterus didapatkan membesar dan lembek. Sedangkan pada laserasi jalan lahir ut erus berkontraksi dengan baik sehingga pada palpasi teraba uterus yang keras. De ngan pemeriksaan dalam dilakukan eksplorasi vagina, uterus dan pemeriksaan inspe kulo. Dengan cara ini dapat ditentukan adanya robekan dari serviks, vagina, hema toma dan adanya sisa-sisa plasenta.9 — Pencegahan dan Penanganan —Cara yang terbaik untuk mencegah terjadinya perdarahan post partum adalah memimp in kala II dan kala III persalinan secara lega artis. Apabila persalinan diawasi oleh seorang dokter spesialis obstetrik dan ginekologi ada yang menganjurkan un tuk memberikan suntikan ergometrin secara IV setelah anak lahir, dengan tujuan u ntuk mengurangi jumlah perdarahan yang terjadi.9 —Penanganan umum pada perdarahan post partum :10 • Ketahui dengan pasti kondisi pasien sejak awal (saat masuk) • Pimpin persalinan dengan mengacu pada persalinan bersih dan aman (termasuk upaya pencegahan perdarahan pasca persalinan) • Lakukan observasi melekat pada 2 jam pertama pasca persalinan (di ruang persalin an) dan lanjutkan pemantauan terjadwal hingga 4 jam berikutnya (di ruang rawat g abung). • Selalu siapkan keperluan tindakan gawat darurat • Segera lakukan penlilaian klinik dan upaya pertolongan apabila dihadapkan dengan masalah dan komplikasi • Atasi syok • Pastikan kontraksi berlangsung baik (keluarkan bekuan darah, lakukam pijatan ute rus, berikan uterotonika 10 IU IM dilanjutkan infus 20 IU dalam 500cc NS/RL deng an 40 tetesan permenit. • Pastikan plasenta telah lahir dan lengkap, eksplorasi kemungkinan robekan jalan lahir. • Bila perdarahan terus berlangsung, lakukan uji beku darah. • Pasang kateter tetap dan lakukan pemantauan input-output cairan • Cari penyebab perdarahan dan lakukan penangan spesifik. — II. RETENSIO PLASENTA DAN SISA PLASENTA (PLACENTAL REST) —Perdarahan postpartum dini dapat terjadi sebagai akibat tertinggalnya sisa plasen ta atau selaput janin. bila hal tersebut terjadi, harus dikeluarkan secara manua l atau di kuretase disusul dengan pemberian obat-obat uterotonika intravena. Per lu dibedakan antara retensio plasenta dengan sisa plasenta (rest placenta). Dima na retensio plasenta adalah plasenta yang belum lahir seluruhnya dalam setengah jam setelah janin lahir. Sedangkan sisa plasenta merupakan tertinggalnya bagian plasenta dalam uterus yang dapat menimbulkan perdarahan post partum primer atau perdarahan post partum sekunder. —Sewaktu suatu bagian plasenta (satu atau lebih lobus) tertinggal, maka uterus tid ak dapat berkontraksi secara efektif dan keadaan ini dapat menimbulkan perdaraha n. Gejala dan tanda yang bisa ditemui adalah perdarahan segera, uterus berkontra ksi tetapi tinggi fundus tidak berkurang. —Sebab-sebab plasenta belum lahir, bisa oleh karena: 1. Plasenta belum lepas dari dinding uterus 2. Plasenta sudah lepas akan tetapi belum dilahirkan —Apabila plasenta belum lahir sama sekali, tidak terjadi perdarahan, jika lepas se bagian terjadi perdarahan yang merupakan indikasi untuk mengeluarkannya. Plasent a belum lepas dari dinding uterus bisa karena: 1. Kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta ( plasenta adhesi va)

2. Plasenta melekat erat pada dinding uterus oleh sebab vili korialis menem bus desidua sampai miometrium. —Plasenta yang sudah lepas dari dinding uterus akan tetapi belum keluar, disebabka n tidak adanya usaha untuk melahirkan, atau salah penanganan kala tiga, sehingga terjadi lingkaran konstriksi pada bagian bawah uterus yang menghalangi keluarny a plasenta. —Penanganan perdarahan postpartum yang disebabkan oleh sisa plasenta : • Penemuan secara dini hanya mungkin dengan melakukan pemeriksaan kelengkapan plas enta setelah dilahirkan. Pada kasus sisa plasenta dengan perdarahan pasca persal inan lanjut, sebagian besar pasien akan kembali lagi ke tempat bersalin dengan k eluhan perdarahan • Berikan antibiotika, ampisilin dosis awal 1g IV dilanjutkan dengan 3 x 1g oral d ikombinasikan dengan metronidazol 1g supositoria dilanjutkan dengan 3 x 500mg or al. • Lakukan eksplorasi (bila servik terbuka) dan mengeluarkan bekuan darah atau jari ngan. Bila servik hanya dapat dilalui oleh instrument, lakukan evakuasi sisa pla senta dengan AMV atau dilatasi dan kuretase • Bila kadar Hb<8 gr% berikan transfusi darah. Bila kadar Hb>8 gr%, berikan sulfas ferosus 600 mg/hari selama 10 hari. 5 — III. TINDAKAN OPERATIF DALAM KALA URI —Tindakan operatif yang dapat dilakukan dalam kala uri persalinan adalah : A. PERASAT CREDE’ —Perasat crede’ bermaksud melahirkan plasenta yang belum terlepas dengan ekspresi : 1. Syarat : Uterus berkontraksi baik dan vesika urinaria kosong 2. Teknik pelaksanaan • Fundus uterus dipegang oleh tangan kanan sedemikian rupa, sehingga ibu jari terl etak pada permukaan depan uterus sedangkan jari lainnya pada fundus dan permukaa n belakang. setelah uterus dengan rangsangan tangan berkontraksi baik, maka uter us ditekan ke arah jalan lahir. gerakan jari-jari seperti meremas jeruk. perasat Crede’ tidak boleh dilakukan pada uterus yang tidak berkontraksi karena dapat men imbulkan inversion uteri • Perasat Crede’ dapat dicoba sebelum meningkat pada pelepasan plasenta secara manua l. — B. MANUAL PLASENTA Indikasi —Indikasi pelepasan plasenta secara manual adalah pada keadaan perdarahan pada kal a tiga persalinan kurang lebih 400 cc yang tidak dapat dihentikan dengan uteroto nika dan masase, retensio plasenta setelah 30 menit anak lahir, setelah persalin an buatan yang sulit seperti forsep tinggi, versi ekstraksi, perforasi, dan dibu tuhkan untuk eksplorasi jalan lahir dan tali pusat putus. Teknik Plasenta Manual —Sebelum dikerjakan, penderita disiapkan pada posisi litotomi. Keadaan umum pender ita diperbaiki sebesar mungkin, atau diinfus NaCl atau Ringer Laktat. Anestesi d iperlukan kalau ada constriction ring dengan memberikan suntikan diazepam 10 mg intramuskular. Anestesi ini berguna untuk mengatasi rasa nyeri. Operator berdiri atau duduk dihadapan vulva dengan salah satu tangannya (tangan kiri) meregang t ali pusat, tangan yang lain (tangan kanan) dengan jari-jari dikuncupkan membentu k kerucut. Gambar 1. Meregang tali pusat dengan jari-jari membentuk kerucut —Dengan ujung jari menelusuri tali pusat sampai plasenta. Jika pada waktu melewati serviks dijumpai tahanan dari lingkaran kekejangan (constrition ring), ini dapa t diatasi dengan mengembangkan secara perlahan-lahan jari tangan yang membentuk kerucut tadi. Sementara itu, tangan kiri diletakkan di atas fundus uteri dari lu ar dinding perut ibu sambil menahan atau mendorong fundus itu ke bawah. Setelah tangan yang di dalam sampai ke plasenta, telusurilah permukaan fetalnya ke arah pinggir plasenta. Pada perdarahan kala tiga, biasanya telah ada bagian pinggir p lasenta yang terlepas.

Gambar 2. Ujung jari menelusuri tali pusat, tangan kiri diletakkan di atas fundu s —Melalui celah tersebut, selipkan bagian ulnar dari tangan yang berada di dalam an tara dinding uterus dengan bagian plasenta yang telah terlepas itu. Dengan gerak an tangan seperti mengikis air, plasenta dapat dilepaskan seluruhnya (kalau mung kin), sementara tangan yang di luar tetap menahan fundus uteri supaya jangan iku t terdorong ke atas. Dengan demikian, kejadian robekan uterus (perforasi) dapat dihindarkan. Gambar 3. Mengeluarkan plasenta —Setelah plasenta berhasil dikeluarkan, lakukan eksplorasi untuk mengetahui kalau ada bagian dinding uterus yang sobek atau bagian plasenta yang tersisa. Pada wak tu ekplorasi sebaiknya sarung tangan diganti yang baru. Setelah plasenta keluar, gunakan kedua tangan untuk memeriksanya, segera berikan uterotonik (oksitosin) satu ampul intramuskular, dan lakukan masase uterus. Lakukan inspeksi dengan spe kulum untuk mengetahui ada tidaknya laserasi pada vagina atau serviks dan apabil a ditemukan segera di jahit. — C. EKSPLORASI KAVUM UTERI Indikasi —Persangkaan tertinggalnya jaringan plasenta (plasenta lahir tidak lengkap), setel ah operasi vaginal yang sulit, dekapitasi, versi dan ekstraksi, perforasi dan la in-lain, untuk menetukan apakah ada rupture uteri. Eksplosi juga dilakukan pada pasien yang pernah mengalami seksio sesaria dan sekarang melahirkan pervaginam. Teknik Pelaksanaan —Tangan masuk secara obstetric seperti pada pelepasan plasenta secara manual dan m encari sisa plasenta yang seharusnya dilepaskan atau meraba apakah ada kerusakan dinding uterus. untuk menentukan robekan dinding rahim eksplorasi dapat dilakuk an sebelum plasenta lahir dan sambil melepaskan plasenta secara manual. — IV. SYOK HEMORAGIK Etiologi —Syok hemoragik pada pasien obstetrik/ginekologik dapat terjadi karena perdarahan akibat abortus, kehamilan ektopik terganggu, cedera pada pembedahan, perdarahan antepartum, perdarahan postpartum atau koagulopati. Klasifikasi 1. Syok ringan, terjadi kalau perdarahan kurang dari 20% volume darah. timb ul, penurunan perfusi jaringan dan organ non vital. Tidak terjadi perubahan kesa daran, volume urin yang keluar normal atau sedikit berkurang, dan mungkin (tidak selalu terjadi asidosis metabolik). 2. Syok sedang, sudah terjadi penurunan perfusi pada organ yang tahan terha dap iskemia waktu singkat (hati, usus, dan ginjal). Sudah timbul oliguri (urin < 0,5 ml/kg BB/Jam) dan asidosis metabolik, tetapi kesadaran masih baik 3. Syok berat, perfusi dalam jaringan otak dan jantung sudah tidak adekuat. mekanisme kompensasi vasokonstriksi pada organ lainnya sudah tidak dapat memper tahankan perfusi di dalam jaringan otak dan jantung. sudah terjadi anuria, penur unan kesadaran (delirium, stupor, koma) dan sudah ada gejala hipoksia jantung. Patofisiologi —Pada syok ringan terjadi penurunan perfusi darah tepi pada organ yang dapat berta han lama terhadap iskemia (kulit, lemak, otot, dan tulang). pH arteri normal. Pa da syok sedang terjadi penurunan perfusi sentral pada organ yang hanya tahan ter hadap iskemia waktu singkat (hati, usus, dan ginjal) terjadi asidosis metabolik. Pada syok berat sudah terjadi penurunan perfusi pada jantung dan otak, asidosis metabolic berat, dan mungkin terjadi pula asidosis respiratorik. Gejala Klinik 1. Syok ringan, takikardi minimal, hipotensi sedikit, vasokonstriksi darah tepi ringan, kulit dingin, pucat, basah. urin normal/ sedikit berkurang. keluhan merasa dingin

2. Syok sedang, takikardi 100-120 permenit, hipotensi dengan sistolik 90-10 0 mmHg, oliguri/ anuria. keluhan haus 3. Syok berat, takikardi lebih dari 120 permenit, hipotensi dengan sistolik <60 mmHg, pucat, anuri, agitasi, kesadaran menurun. Retentio Plasenta 1. Definisi Retensio plasenta adalah plasenta tidak lahir spontan maksimal 30 menit. (Petrus Andriano, 1999), Retensio plasenta adalah lepas plasenta tidak bersamaan sehing ga sebagian masih melekat pada tempat implantsi, menyebabkan terganggunya retrak si dan kontraksi otot uterus, sehingga sebagian pembuluh darah tetapi terbuka se rta menimbulkan perdarahan. (Manuaba,2002). Retensio plasenta yaitu plasenta dianggap retensi bila belum dilahirkan dalam ba tas waktutertentu setelah bayi lahir (dalam waktu 30 menit setelah penatalasanaa n aktif). Retensio plasenta adalah tertahan atau belum lahirnya palsenta hingga melebihi 3 0 menit setelah bayi lahir (Sarwanto, 2002). 2. Etilogi A. Etiologi dasar meliputi : 1. Faktor maternal a. Gravida berusia lanjut b. Multiparitas 2. Faktor uterus a. Bekas sectio caesaria, sering plasenta tertanam pada jaringan cicatrix uterus b. Bekas pembedahan uterus c. Anorrali dan uterus d. Tidak efektif kontraksi uterus e. Pembentukan contraction ring f. Bekas curetage uterus, yang terutama dilakukan setelah abortus g. Bekas pengeluaran plasenta secara maual h. Bekas ondometritis 3. Faktor plasenta a. Plasenta previa b. Implantasi cornual c. Plasenta akreta d. Kelainan bentuk plasenta Latar belakang keaadaan yang nampaknya umum terjadi pada semua kondisi penyebab adalah defisiensi endometrium dan desisua. Diantaranya adalah : 1. Desidua yang melapisi jaringan cicatrix bekas sectio caesar kurang memadai 2. Pada wanita yang pernah mengalami plasenta previa, pengembangan desidua pada segmen bawah rahim relatif jelek 3. Desidua pada cornu uterina biasanya hipoplastik 4. Pada banyak wanita dengan meningkatnya usia dan paritas terjadi penurunan Kec ukupan desidua secara progresif 5. Bekas curetage atau pengeluaran plasenta secara manual merupakan indikasi bah wa perlekatan plasenta yang abnormal menjadi alasan diperlukannya prosedur terse but. B. Etiologi berdasar abnormalitas pada tingkata kala III, meliputi : 1. Plasenta belum lahir dari dinding uterus, ini terjadi karena : a. Kontraksi uterus kurang kuatutk melepaskan plasenta (plasenta adhesiva) b. Plasenta melekat erat pada dinding uterus, oleh sebab : a) Implantasi jonjot corion plasenta hingga memasuki sebagian lepisan miometrium (plasenta acreta) b) Implantasi jonjot corion plasenta hingga mencapai mikrometrium (plasenta incr eta) c) Implantasi jonjot corion plasenta yang menembus lapisan otot hingga mencapai lapisan serosa dinding uterus 2. Plasenta sudah lepas, akan tetapi belum dilahirkan, ini terjadi karena tidak adanya usaha untuk melahirkan atau karena salah penanganan kala III sehingga ter

jadi lingkaran kontraksi pada bagian bawah uterus yang akan menghalangi keliarny a plasenta (plasenta incarserata) 3. Patofisiologi Dalam keadaan normal, desidua basalis terletak diantara miometium dan plasenta L empeng pembelahan bagi pemisahan palsenta berada dalam lapisan desidua basalis y ang mirip spons. Pada plasenta acreta, desidua basilis tidak ada sebagian atau s eluruhnya, sehingga plasenta melekat langsung pada miometrium, villi tersebut bi sa tetap supervisiailspd otot uterus atau dapat menembus lebih dalam. Keadaan in i bukan terjadi karena sifat invasif trofoblast yang abnormal, melainkan karena adanya efek pada desisdua. 4. Gambaran klinis a. Waktu hamil 1) Kebanyakan pasien memiliki kehamilan yang normal 2) Insiden perdarahan antepartum meningkat, tetapi keadaan ini biasanya menyerta i plasenta previa 3) Terjadi persainan prematur, tetapi kalau hanya ditimbulkan oleh perdarahan 4) Kadang terjadi ruptur uteri b. Persalinan kala I dan II Hampir pada semua kasus proses ini berjalan normal c. Persalinan kala III 1) Retresio plasenta menjadi ciri utama 2) Perdarahan post partum, jumlahnya perdarahan tergantung pada derajat perlekat an plasenta, seringkali perdarahan ditimbulkan oleh Dokter kebidanan ketika ia m encoba untuk mengeluarkan plasenta secara manual 3) Komplikasi yang serius tetapi jarang dijumpai yaitu invertio uteri, keadaan i ni dapat tejadi spontan, tapi biasanya diakibatkan oleh usaha-usaha untuk mengel uarkan plasenta 4) Ruptura uteri, biasanya terjadi saat berusaha mengeluarkan plasenta B.KONSEP DASAR ASUHAN Plasenta Manual Plasenta manual adalah tindakan untuk melepaskan plasenta secara manual (menggun akan tangan) dr tempat implastasinya dan kemudian melahirkannya keluar dari kavu m uteri. Prosedur Plasenta Manual Persiapan : • Pasang set dan cairan infus • Jelaskan pada ibu prosedur dan tujuan tindakan • Lakukan anestesia verbal atau analgesia per rektal • Siapkan dan jalankan prosedur pencegahan infeksi Komplikasi a) Syok naemorargic b) Sepsis c) Multiple organ failure yang berhubungan dengan kolaps sirkulasi dan penurunan perjusi organ Pencegahan Pencegahan resiko plasenta adalah dengan cara mempercepat proses separasi dan me lahirkan plasenta dengan memberikan uterotonika segera setelah bayi lahir dan me lakukan penegangan talipusat terkendali. Usaha ini disebut juga penatalaksanaan aktif kala III dengan mengamati dan melihat kontraksi uterus Pengelolaan Retensia Palcenta Plasenta belum lahir dalam waktu 15 menit, berikan 10 unit oksitosin IM dosis ke dua. Periksa kandung kemih, jika ternyata penuh, gunakan teknik aseptin untuk me masukkan kateter nelaton disinfeksi tingkat tinggi atau steril untuk mengosongka n kandung kemih. Ulangi kembali penegangan talipusat dan tekanan dorso-kranial s eperti yang diuraikan diatas. Nasehati keluarga bahwa rujukan mungkin diperlukan jika plasenta tetap tidak lahir, rujuk segera. Ingat, apabila plasenta tidak la hir setelah 30 menit, jangan mencoba untuk melepaskan dan segera rujukan. Pehatikan : jika sebelum plsenta lahir kemudian mendadak terjadi perdarahan maka segera lakukan tindakan plasenta manual untuk segera mengosongkan kavum uteri. Jika setelah manual masih terjadi perdarahan dan tidak kontraksi, maka lakukan m

anajemen atonia uteri. Tindakan penetrasi ke dalam kavum uteri: 1. Perhatikan kandung kemih dalam keadaan kosong 2. Jepit tali pusat dengan klem pada jarak 5-10 cm dari vulva, tegangkan dengan satu tangan sejajar lantai 3. Secara obstetrik, masukkan tangan lainnya (punggung tangan menghadap ke bawah ) ke dalam vagina dengan menelusuri sisi bawah tali pusat 4. Setelah mencapai bukaan serviks, minta seorang asinten / penolong lain untuk memegangkan klem tali pusat kemudian pindahkan tangan luar untuk memindahkan fun dus uteri 5. Sambil menahan fundus uteri, masukkan tangan dalam hingga ke kavum uteri sehi ngga mencapai tempat implantasi plasenta 6. Bentangkan tangan obstetrik menjadi datar seperti memberi salam (ibu jari mer apat ke jari telunjuk dan jari-jari lain saling merapat. Melepas plasenta dari dinding uterus 7. Tentukan implantasi plasenta, temukan tepi plasenta paling bawah. • Bila plasenta berimplantasi di korpus belakang, tali pusat tetapt di sebelah ata s dan sisipkan ujung jari-jari tangan di antara plasenta dan dinding uterfus dim ana punggung tangan menghadap ke bawah (posterior ibu) • Bila dikorpus depan maka pindahkan tangan ke sebelah atas talipusat dan sisipkan ujung jari-jari tangan diantara plasenta dan dinding uterus dimana punggung tan gan menghadap ke atas (Anterior ibu). 8. Setelah ujung-ujung jari masuk di antara plasenta dan dinding uterus, maka pe rluasan perlepasan plasenta dengan jalan menggeser tangan ke kanan dan kiri samb il digeserkan ke atas (kranial ibu, hingga semua perlekatan plasenta terlepas da ri dinding uterus). Catatan : • Bila tepi plasenta tidak teraba atau plasenta berada pada dataran yang sma tingg i dengan dinding uterus maka hentikan upaya plasentamanual karena hal itu menunj ukkan plasenta inkreta (tertanam dalam miometrium) • Bila hanya sebagian dari implantasi plasenta dapat dilepaskan dan bagian lainnya melekat erat maka hentikan pula plasenta manual karena hal tersebut adalah plas enta akreta. Untuk keadaan itu sebaiknya ibu diberi uterotonika tambahan (misopr ostal 600 mcg per rektal) sebelum dirujuk ke fasilitas kesehatan rujukan. Mengeluarkan Plasenta 9. Sementara satu tangan masih di dalam kavum uteri, lakukan eksplorasi untuk me ilai tidak ada plasenta yang tertinggal 10. Pindahkan tangan luar dari fundus ke supra simfis (tahan segmen bawah uterus ) kemudian instruksikan asisten/ penolong untuk menarik tali pusat sambil tangan dalam membawaplasenta keluar (hindari terjadinya percikan darah) 11. Lakukan penekanan (dengan tangan yang menahan suprasimfisis) uterus ke arah dorso-kranial setelah plasenta dilahorkan dan tempatkan plasenta di dalam wadah yang telah disediakan Pencegahan Infeksi Pascatindakan 12. Dekontaminasi sarung tangan (sebelum dilepaskan) dan peralatan lain yang dig unakan 13. Lepaskan dan rendam sarung tangan dan peralatan lainnya ke dalam larutan klo rin 0,5% selama 10 menit 14. Cuci tangan dengan sabun dan air bersih mengalir 15. Keringkan tangan dengan handuk bersih dan kering Pemantauan Pasca tindakan 16. Periksa kembali tanda vital ibu 17. Catat kondisi ibu dan buat laporan tindakan 18. Tuliskan rencana pengobatan, tindakan yang masih diperlukkan dan asuhan lanj utan 19. Beritahukan kepada ibu dan keluarganya bahwa tindakan telah selesai tetapi i bu masih memerlukan pemantauan dan asuhan tambahan 20. Lanjutan pemantauan ibu hingga 2 jam pasca tindakan sebelum dipindah ke ruan g rawat gabung. —

KELAINAN PUTING DAN BREAST FEVER BREAST FEVER Selama 24 jam pertama setelah sekresi laktasi, tidak jarang payudara mer egang, menjadi keras dan bernodul-nodul. Temuan ini mungkin disertai peningkatan suhu badan sesaat. Demam pada masa nifas yang disebabkan oleh pembengkakan payu dara merupakan hal yang umum. Demam berkisar antara 37,8 sampai 39o C dan jarang berlangsung lebih dari 4 sampai 16 jam. Insiden dan tingkat keparahan pembengka kan payudara, dan demam yang dikaitkan dengannya, akan lebih rendah bila diberik an pengobatan supresi laktasi. Demam semacam ini biasanya menjadi suatu hal yang mengkhawatirkan bila kemungkinan infeksi belum dapat disingkirkan pada wanita y ang mengalami persalinan sesar. Penyebab demam lainnya, terutama yang diakibatk an oleh infeksi, harus disingkirkan terlebih dahulu. Penatalaksanaan • Menyangga payudara dengan bebat atau bra yang pas. • Menempelkan kompres es dan pemberian analgesik • Memompa payudara atau pengeluaran ASI secara manual mungkin diperlukan pada awal nya, tapi dalam waktu beberapa hari biasanya bayi telah dapat menyusu secara nor mal. KELAINAN PUTING Beberapa perubahan yang terjadi pada puting payudara: 1. Puting Tegak ( Everted Nipples) 2. 3. Retracted Nipples (puting terbalik) Puting Tenggelam (Inverted Nipples)

Everted Nipples Biasanya terjadi karena adanya pengangkatan pada jaringan tengah areola, hal ini bisa dikatakan normal walaupun terjadi pada suhu tubuh yang dingin dan tanpa rangsangan. Retracted Nipples Puting payudara terlihat melekuk kedalam atau ke bawah, tidak berdiri di atas permukaan payudara. Puting terbalik ini merupakan hal yang normal terjadi pada sebagian wanita dan tidak berarti kita terkena kanker payudara. Untuk menge mbalikan pada posisinya dapat dilakukan beberapa rangsangan. hal ini penting dil akukan untuk menjaga kondisi puting tepat pada posisinya yang normal. Inverted Nipples Puting yang tenggelam menimbulkan masalah tersendiri pada wanita, teruta ma setelah melahirkan. Mulut bayi tidak bisa menempel dengan sempurna yang menga kibatkan bayi mengalami kesulitan dalam asupan makanan. Perlu diketahui, posisi menyusui yang tepat adalah seluruh areola payudara masuk ke dalam mulut bayi. In verted nipple dibagi menjadi: grade 1, puting masih sedikit menonjol; grade 2, j ika ditekan, puting masih dapat menonjol tapi akan kembali tenggelam jika tidak ada rangsangan penekanan; dan grade 3, puting sangat tenggelam dan tidak dapat m enonjol. Penatalaksanaan • Selama hamil, gunakan breast shield beberapa jam sehari. Breast shields adalah m angkuk plastik yang terdiri dari dua bagian untuk digunakan di dalam BH, menimbu lkan tekanan untuk mengeluarkan putting. • Menggunakan pompa ASI atau nipplet setiap kali sebelum menyusui untuk menarik pu ting ini keluar dan juga unutk membantu supaya bayi anda mudah menghisap. Apabil a bayi menghisap dengan lancar, hisapan bayi akan menarik puting keluar. • Dilakukan operasi untuk inverted nipple grade 3. Radang Payudara (Mastitis) Radang payudara atau infeksi payudara ( Mastitis ) adalah radang pada payudara y ang disebabkan karena infeksi pada jaringan payudara atau disebabkan karena adan ya penyumbatan. Mastitis terbagi atas 3 yaitu mastitis periductal, mastitis pue peralis, dan mastitis supurativa. Ketiga jenis mastitis ini terjadi akibat penye bab yang berbeda dan kondisi yang juga berbeda.

Mastitis periductal biasanya muncul pada wanita di usia menjelang menopause (wan ita di atas 45 tahun), penyebab utamanya tidak jelas diketahui. Di duga akibat p erubahan hormonal dan aktivitas menyusui di masa lalu. Pada saat menjelang menop ause terjadi penurunun hormon estrogen yang menyebabkan adanya jaringan yang mat i. Tumpukan jaringan mati dan air susu menyebabkan penyumbatan pada saluran di p ayudara. Penyumbatan menyebabkan buntunya saluran dan akhirnya melebarkan salura n di belakangnya, yang biasanya terletak di belakang puting payudara. Hasil akhi rnya ialah reaksi peradangan yang disebut mastitis periductal. Mastitis puerperalis disebabkan karena infeksi pada jaringan payudara. Mastitis ini terjadi pada wanita yang sedang menyusui karena adanya perpindahan kuman dar i mulut bayi atau mulut dari suaminya. Hal itu disebabkan karena kesehatan mulut rendah seperti mulut orang yang suka merokok. Kuman yang paling banyak menyebab kan mastitis puerperalis adalah Staphylococcus aureus. Selain itu kuman dapat m asuk ke payudara karena suntik silikon atau injeksi kolagen sehingga menyebabkan peradangan. Jenis terakhir ialah mastitis supurativa. Mastitis jenis ini ialah yang paling s ering ditemui. Mirip dengan jenis sebelumnya, mastitis jenis ini juga disebabkan kuman staphylococcus. Selain itu bisa juga disebabkan oleh jamur, kuman TBC, ba hkan sifilis. Gejala dan tanda radang payudara 1. Benjolan payudara, biasanya berwarna merah, terasa panas dan nyeri. Nyer i yang timbul ialah berupa rasa nyut – nyut di daerah payudara. Benjolan pada ma stitis berisi cairan. Pada beberapa kondisi, mastitis bisa menyebabkan keluarnya cairan dari puting, cairan ini berwarna putih kekuningan serupa nanah. 2. Demam dan meriang dapat terjadi pada mastitis yang disebabkan karena kum an, yang disebabkan adanya abses/kumpulan nanah dalam rongga di jaringan kelenja r payudara. Nanah yang menyebar ke bagian tubuh lain dapat menyebabkan meriang/d emam tinggi dan menggigil, keringat banyak, turunnya daya tahan tubuh, bahkan hi ngga menurunnya kesadaran. Pengobatan radang payudara Pengobatan terhadap mastitis disesuaikan dengan penyebabnya, jika proses penyumb atan biasanya diberikan analgetik (penghilang nyeri), jika peneyababnya infeksi kuman harus diberikan antibiotik, namun jika sudah terjadi abses maka harus di l akukan drainase (penyaluran nanah). GALAKTOKEL • Definisi Galaktokel adalah kista berisi susu yang terjadi pada wanita yang sedang hamil atau menyusui. • Sifat galaktokel tidak bersifat seperti kanker. Biasanya galaktokel tampak rat a, benjolan dapat digerakkan, walaupun dapat juga keras dan susah digerakkan. • Penatalaksanaan galaktokel sama seperti kista lainnya, biasanya tanpa melakukan tindakan apapun. Apabila diagnosis masih diragukan atau galaktokel menimbulkan rasa tida k nyaman, maka dapat dilakukan drainase dengan aspirasi jarum halus. MAMMAE AKSESORIUS • Mammae aksesorius → payudara tambahan (polymastia). • Biasanya terletak berpasangan pada masing-masing sisi dinding thorax atau abdome n, terutama di bawah payudara. • Akibat dari penebalan epidermis yang persisten pada tempat lain sepanjang garis susu (milk line), maka dapat ditemukan payudara yang lebih dari sepasang, atau p uting susu yang lebih dari sepasang. FISIOLOGI LAKTASI Laktasi Definisi Laktasi adalah Proses produksi, sekresi, dan pengeluaran ASI

¡

¡

Pembentukan payudara dimulai sejak embrio berusia 18-19 minggu, dan berakhir ket ika mulaimenstruasi. Hormon yang berperan adalah hormon esterogen dan progestero n yang membantu maturasi alveoli. Sedangkan hormon prolaktin berfungsi untuk pro duksi ASI. Selama kehamilan hormon prolaktin dari plasenta meningkat tetapi ASI belum kelua r karena pengaruh hormon estrogen yang masih tinggi. Kadar estrogen dan progeste ron akan menurun pada saat hari kedua atau ketiga pasca persalinan, sehingga ter jadi sekresi ASI. Hormon yang berperan dalam proses laktasi: 1. Progesteron, berfungsi mempengaruhi pertumbuhan dan ukuran alveoli. Ting kat progesteron dan estrogen menurun sesaat setelah melahirkan. Hal ini menstimu lasi produksi secara besar-besaran. 2. Estrogen, berfungsi menstimulasi sistem saluran ASI untuk membesar. Ting kat estrogen menurun saat melahirkan dan tetap rendah untuk beberapa bulan selam a tetap menyusui. Sebaiknya ibu menyusui menghindari KB hormonal berbasis hormon estrogen, karena dapat mengurangi jumlah produksi ASI. 3. Follicle stimulating hormone (FSH)

4. Luteinizing hormone (LH) 5. Prolaktin, berperan dalam membesarnya alveoil dalam kehamilan. 6. Oksitosin, berfungsi mengencangkan otot halus dalam rahim pada saat mela hirkan dan setelahnya, seperti halnya juga dalam orgasme. Selain itu, pasca mela hirkan, oksitosin juga mengencangkan otot halus di sekitar alveoli untuk memeras ASI menuju saluran susu. Oksitosin berperan dalam proses turunnya susu let-down / milk ejection reflex. 7. Human placental lactogen (HPL): Sejak bulan kedua kehamilan, plasenta me ngeluarkan banyak HPL, yang berperan dalam pertumbuhan payudara, puting, dan are ola sebelum melahirkan. Pada bulan kelima dan keenam kehamilan, payudara siap memproduksi ASI. Namun, AS I bisa juga diproduksi tanpa kehamilan (induced lactation). Proses Pembentukan Laktogen 1. Laktogenesis I Merupakan fase penambahan dan pembesaran lobulus-alveolus. Terjadi pada fase ter akhir kehamilan. Pada fase ini, payudara memproduksi kolostrum, yaitu berupa cai ran kental kekuningan dan tingkat progesteron tinggi sehingga mencegah produksi ASI. Pengeluaran kolustrum pada saat hamil atau sebelum bayi lahir, tidak menjad ikan masalah medis. Hal ini juga bukan merupakan indikasi sedikit atau banyaknya produksi ASI. 2. Laktogenesis II Pengeluaran plasenta saat melahirkan menyebabkan menurunnya kadar hormon progest eron, esterogen dan HPL. Akan tetapi kadar hormon prolaktin tetap tinggi. Hal in i menyebabkan produksi ASI besar-besaran. 3. Laktogenesis III

Sistem kontrol hormon endokrin mengatur produksi ASI selama kehamilan dan bebera pa hari pertama setelah melahirkan. Ketika produksi ASI mulai stabil, sistem kon trol autokrin dimulai. Pada tahap ini, apabila ASI banyak dikeluarkan, payudara akan memproduksi ASI banyak. Persiapan dan pemberian ASI dilakukan bersamaan dengan kehamilan. Pada kehamilan , payudara semakin padat karena retensi air, lemak serta berkembangnya kelenjarkelenjar payudara yang dirasakan tegang dan sakit. Hormone prolaktin yang sangat penting dalam pembentukan dan pengeluaran ASI maki

n bertambah. Tetapi fungsinya belum mampu mengeluarkan ASI karena dihalangi oleh hormone estrogen, progesterone dan human placenta lactogen hormone. Oksitosin m eningkat dari hipofisi posterior, tetapi juga belum berfungsi mengeluarkan ASI k arena dihalangi hormone estrogen dan progesterone. Fisiologi Pengeluaran ASI Pengeluaran ASI merupakan suatu interaksi yang sangat komplek antara rangsangan mekanik, saraf dan bermacam - macam hormon. Pengaturan hormon terhadap pengeluar an ASI, dapat dibedakan menjadi 3 bagian, yaitu : a. Pembentukan kelenjar payudara. b. Pembentukan air susu. c. Pemeliharaan pengeluaran air susu. a. Pembentukan kelenjar payudara. 1. Masa Kehamilan. Pada permulaan kehamilan terjadi peningkatan yang jelas dari - duktus yang baru, percabangan - percabangan dan lobulus, yang dipengaruhi oleh hormon - hormon pl asenta dan korpus luteum. Hormon - hormon yang ikut membantu mempercepat pertumb uhan adalah prolaktin, laktogen plasenta, karionik gonadotropin, insulin, kortis ol, hormon tiroid, hormon paratoroid, hormon pertumbuhan. 2. Pada 3 bulan Kehamilan. Prolaktin dari adenohipofise / hipofise anterior mulai merangsang kelenjar air s usu untuk menghasilkan air susu yang disebut kolostrom. Pada masa ini pengeluara n kolostrum masih dihambat oleh estrogen dan progesterone, tetapi jumlah prolakt in meningkat hanya aktifitas dalam pembuatan kolostrum yang ditekan. 3. Pada Trimester Kedua Kehamilan. Laktogen plasenta mulai merangsang untuk pembuatan kolostrum. Keaktifan dari ran gsangan hormon - hormon terhadap pengeluaran air susu telah didemontrasikan kebe naranya bahwa seorang Ibu yang melahirkan bayi berumur 4 bulan dimana bayinya me ninggal, tetap keluar kolostrum. b. Pembentukan Air Susu. Pada seorang Ibu yang menyusui dikenai 2 reflek yang masing- masing berperan seb agai pembentukan dan pengeluaran air susu yaitu: 1. Refleks Prolaktin. Pada akhir kehamilan hormon prolaktin memegang peranan untuk membuat kolostrum, namun jumlah kolostrum terbatas karena aktivitas prolaktin dihambat oleh estroge n dan progesteron yang kadarnya memang tinggi. Setelah partus berhubung lepasnya plasenta dan kurang berfungsinya korpus luteum maka estrogen dan progesterone s ari-at berkurang, ditambah dengan adanya isapan bayi yang merangsang puting susu dan kalang payudara, akan merangsang ujung - ujung saraf sensoris yang berfungs i sebagai reseptor mekanik. Rangsangan ini dilanjutkan ke hipotalamus melalui medulla spinalis hipotalamus a kan menekan pengeluaran faktor - faktor yang menghambat sekresi prolaktin dan se baliknya merangsang pengeluaran faktor - faktor yang memacu sekresi prolaktin. F aktor - faktor yang memacu sekresi prolaktin akan merangsang hipofise anterior s ehingga keluar prolaktin. Hormone ini merangsang sel - sel alveoli yang berfungs i untuk membuat air susu. Kadar prolaktin pada ibu menyusui akan menjadi normal 3 bulan setelah melahirkan sampai penyapihan anak dan pada saat tersebut tidak akan ada peningkatan prolak tin walau ada isapan bayi, namun pengeluaran air susu tetap berlangsung. Pada ibu yang melahirkan anak tetapi tidak menyusui, kadar prolaktin akan menjad i normal pada minggu ke 2 - 3. pada ibu yang menyusui prolaktin akan meningkat d alam keadaan seperti : o Stress atau pengaruh psikis o Anastesi o Operasi o Rangsangan puting susu 2. Reflek Letdown Bersama dengan pembentukan prolaktin oleh hipofise anterior, rangsangan yang ber asal dari isapan bayi ada yang dilanjutkan ke hipofise posterior ( neurohipofise ) yang kemudian dikeluarkan oksitosin. Melalui aliran darah, hormone ini diangkat menuju uterus yang dapat menimbulkan

kontraksi pada uterus sehingga terjadi involusi dari organ tersebut. Kontraksi d ari sel akan memeras air susu yang telah terbuat keluar dari alveoli dan masuk k e system duktus dan selanjutnya menbalir melalui duktus lactiferus masuk ke mulu t bayi. Faktor - faktor yang meningkatkan let down adalah : - Melihat bayi - Mendengarkan suara bayi - Mencium bayi - Memikirkan untuk menyusui bayi Faktor - faktor yang menghambat reflek let down adalah stress, seperti: - Keadaan bingung / pikiran kacau - Takut - Cemas c. Pemeliharaan Pengeluaran Air Susu Hubungan yang utuh antara hipotalamus dan hipofise akan mengatur kadar prolaktin dan oksitosin dalam darah. Hormone - hormone ini sangat perlu untuk pengeluaran permulaan dan pemeliharaan penyediaan air susu selama menyusui. Bila susu tidak dikeluarkan akan mengakibatkan berkurangnya sirkulasi darah kapiler yang menyeb abkan terlambatnya proses menyusui. Berkurangnya rangsangan menyusui oleh bayi m isalnya kekuatan isapan yang kurang, frekuensi isapan yang kurang dan singkatnya waktu menyusui ini berarti pelepasan prolaktin yang cukup untuk mempertahankan pengeluaran air susu mulai sejak minggu pertama kelahiran. 4. Mekanisme Menyusui. a. Reflek mencari ( Rooting Reflex ) Payudara ibu yang menempel pada pipi atau daerah sekeliling mulut merupakan rang sangan yang menimbulkan reflek mencari pada bayi. Ini menyebabkan kepala bayi be rputar menuju putting susu yang menempel tadi diikuti dengan membuka mulut dan k emudian putting susu ditarik masuk ke dalam mulut. b. Reflek menghisap ( Sucking Reflex ) Putting susu yang sudah masuk ke dalam mulut dengan bantuan lidah, putting susu ditarik lebih jauh dan rahang rnenekan kalang payudara dibelakang putting susu y ang pada saat itu sudah terletak pada langit - langit keras. Dengan tekanan bibi r dan gerakan rahang secara berirama, maka gusi akan menjepit kalang payudara da n sinus laktiferus, sehingga air susu akan mengalir ke puting susu, selanjutnya bagian belakang lidah menekan putting susu pada langit - langit yang mengakibatk an air susu keluar dari putting susu. Cara yang dilakukan oleh bayi, tidak akan menimbulkan cedera pada putting susu. c. Reflek menelan (swallowing reflek ) Pada saat air susu keluar dari putting susu, akan disusul dengan gerakan menghis ap yang ditimbulkan oleh otot - otot pipi, sehingga pengeluaran air susu akan be rtambah dan diteruskan dengan mekanisme menelan masuk ke lambung. Keadaan akan b erbeda bila bayi diberi susu botol dimana rahang mempunyai peranan sedikit di da lam menelan dot botol, sebab susu mengalir dengan mudah dari lubang dot. Dengan adanya gaya berat, yang disebabkan oleh posisi botol yang dipegang kearah bawah dan selanjutnya dengan adanya isapan pipi, yang semuanya ini akan membantu alira n susu, sehingga tenaga yang diperlukan oleh bayi untuk menghisap susu menjadi m inimal. Kebanyakan bayi - bayi yang masih baru lahir belajar menyusu pada ibunya, kemudi an dicoba pada susu botol yang bergantian, maka bayi tersebut akan menjadi bingu ng puting. Sehingga sering bayi menyusu pada ibunya, cara menyusu seperti menghi sap dot botol, keadaan ini berakibat kurang baik dalam pengeluaran air susu ibu. Oleh karena itu, jika bayi terpaksa tidak bisa langsung disusui oleh ibunya pad a awal kehidupan, sebaiknya bayi diberi minum melalui sendok, cangkir, atau pipe t, sehingga bayi tidak mengalami bingung puting. Cara-cara Menyusui yang Benar Definisi Teknik Menyusui Yang Benar adalah cara memberikan ASI kepada bayi dengan perleka

tan dan posisi ibu dan bayi dengan benar Persiapan Memperlancar Pengeluaran ASI 1. Membersihkan puting susu dengan air atau minyak, sehingga epitel yang lepas t idak menumpuk. 2. Puting susu ditarik-tarik setiap mandi, sehingga menonjol untuk memudahkan is apan bayi. 3. Bila puting susu belum menonjol dapat memakai pompa susu atau dengan jalan op erasi. Posisi dan perlekatan menyusui 1. Posisi Menyusui Sambil Berdiri Yang Benar 2. 3. 4. 5. Posisi Menyusui Sambil Duduk Yang Benar Posisi Menyusui Sambil Rebahan Yang Benar Posisi Menyusui Bayi Pada Keadaan Normal Posisi Menyusui Bayi yang Baru Lahir di Ruang Perawatan

6. 7.

Posisi Menyusui Bayi yang Baru Lahir di Rumah Posisi Menyusui Bayi bila ASI Penuh

8.

Posisi Menyusui Bayi Kembar Secara Bersamaan

Langkah-langkah Menyusui yang Benar : Cuci tangan yang bersih dengan sabun Ibu duduk dengan santai kaki tidak boleh menggantung Perah sedikit ASI dan oleskan sedikit ke putting dan aerola Posisikan bayi dnegan benar Bibir bayi dirangsang dengan putting Ibu dan akan membuka lebar, kemudi an dengan cepat kepala bayi didekatkan ke payudara Ibu dan putting serta aerola di masukan ke dalam mulut bayi Cek apakah perlekatan dagu sudah benar Posisi Bayi yang Benar Bayi dipegang dengan satu lengan. Kepala bayi diletakan dekat lengkungan siku ib u, bokong bayi ditahan dengan telapak ibu Perut bayi menempel ke tubuh ibu Mulut berada di depan putting ibu Lengan yang di bawah merangkul ibu, jangan berada diantara tubuh ibu dan bayi. Tangan atas boleh di pinggang ibu/dada Telinga dan lengan yang atas berada dalam satu garis lurus Perlekatan yang Benar Dagu menempel ke payudara ibu Mulut terbuka lebar Sebagian besar aerola terutama yang berada di bawah, masuk ke dalam mulut bayi Bibir bayi terlipat keluar

Pipi bayi tidak boleh kempor Tidak boleh terdengar bunyi decak, hanya boleh terdengar bunyi menelan Ibu tidak kesakitan Bayi tenang Cara Meletakkan Bayi Cara Memegang Payudara Cara Merangsang Mulut Bayi Perlekatan yang Benar Perlekatan yang Salah Tanda-tanda Bayi Jika Menyusui Sudah Benar - Bayi tampak tenang. - Badan bayi menempel pada perut ibu. - Mulut bayi terbuka lebar. - Dagu bayi menmpel pada payudara ibu. - Sebagian areola masuk kedalam mulut bayi, areola bawah lebih banyak yang masuk . - Bayi nampak menghisap kuat dengan irama perlahan. - Puting susu tidak terasa nyeri. - Telinga dan lengan bayi terletak pada satu garis lurus. - Kepala bayi agak menengadah. Lama dan Frekuensi Menyusui Sebaiknya dalam menyusui bayi tidak dijadwal, sehingga tindakan menyusu i bayi dilakukan di setiap saat bayi membutuhkan, karena bayi akan menentukan se ndiri kebutuhannya. Ibu harus menyusui bayinya bila bayi menangis bukan karena s ebab lain (kencing, kepanasan/kedinginan atau sekedar ingin didekap) atau ibu su dah merasa perlu menyusui bayinya. Bayi yang sehat dapat mengosongkan satu payud ara sekitar 5-7 menit dan ASI dalam lambung bayi akan kosong dalam waktu 2 jam. Pada awalnya, bayi tidak memiliki pola yang teratur dalam menyusui dan akan memp unyai pola tertentu setelah 1 – 2 minggu kemudian. Perawatan payudara dan puting susu Pembersihan areola dengan air dan sabun lembut sebelum dan sesudah menyu sui. Pada kasus iritasi puting susu, perlu digunakan pelindung puting selama 24jam atau lebih. Puting yang terbalik atau tertarik kedalam dapat dikoreksi dengan cara m enariknya menggunakan telunjuk dan ibu jari dengan lembut. Hal ini paling baik dikerjakan selama kehamilan untuk mempersiapkan puting untuk masa menyusui. Tekhnik Hoffman 1. Cucilah tangan sebelum melakukan perawatan payudara 2. Kompres putting susu sampai bagian areola mammae dengan kapas yang telah dibasahi minyak kelapa selama 2-3 menit. Tahap ini bertujuan untuk memperlunak kotoran/kerak yang menempoel pada putting susu sehingga mudah untuk dibersihkan. 3. Olesi ibu jari dan jari telunjuk dengan minyak kelapa 4. Kedua putting susu diputar kea rah dalam dan keluar (searah dan berlawan an jarum jam) sebanyak 30 kali putaran. Tahap ini bertujuan untuk meningkatkan e lastisitas otot putting susu. 5. Letakan kedua jari telunjuk di sebelah kiri dan kanan putting susu, kemu dian secara perlahan tarik keluar menjauhi putting susu. Lakukan sebanyak 20 kal i. Gerakan ini membantu meregangkan kulit areola mammae dan jaringan dibawahnya. 6. Gerakan tersebut diulangi dnegan letak kedua jari telunjuk dipindahkan k

e atas 7. 8. 9.

dan bawah. Pijat kedua areola mammae hingga keluar 1-2 tetes ASI Kedua putting susu dibersihkan dengan handuk kering dan bersih. Pakailah BH yang bersifat menopang payudara.

TERAPI Uterotonika Adalah obat yang bekerja memperkuat kontraksi uterus secara selektif ataupun me nambah kontraksi uterus yang sudah ada. Macam-macam dari uterotonika yaitu: 1. Oksitosin 2. Alkaloid ergot 3. Prostaglandin 1. Oksitosin Tersedia dalam bentuk suntikan yang mengandung 10 USP unit/ml yang diberikan se cara IV atau IM (sintetik). • Indikasi 1. Induksi partus 2. Mempercepat kelahiran plasenta 3. Mengurangi perdarahan pasca persalinan 4. Mengurangi pembengkakan kelenjar mamae pasca persalinan karena ada efek milk ejection • Kontraindikasi 1. Uterus tidak normal 2. Uterus sudah pernah dioperasi 3. Terdapat kemungkinan janin tidak dapat lahir secara per vaginam 4. Gawat janin 5. Presentasi janin abnormal 6. Prematuritas 7. Disproporsi sefalopelvic • Efek samping 1. Tetani uteri 2. Hipertensi mendadak 3. Reaksi alergi 2. Alkaloid Ergot Tersedia dalam bentuk : 1) Ergotamine tartrat 2) Ergonovin maleat 3) Kristal kuning atau putih 4) Methergin • Indikasi 1. Migren 2. Hiperprolaktinemia 3. Perdarahan pasca persalinan • Kontraindikasi 1. Infeksi 2. Penyakit hati seperti sirosis hati ,hepatitis 3. Penyakit ginjal 4. Wanita hamil 3. Prostaglandin Tersedia dalam bentuk : • Karbopros trometamin (15-metil PGF2a tersedia dalam bentuk suntikan ) • Dinoproston (PGE2 tersedia dalam supositoria vginal 20 mg) • Sulproston (derivate dinoproston) • Indikasi 1. Induksi partus aterm 2. Mengontrol perdarahan dan atoni uteri pasca persalinan 3. Menghilangkan pembengkakan mamae • Kontraindikasi

1. Terdapat ruptur membran amnion 2. Infeksi jalan lahir 3. Pada kehamilan melintang sungsang atau miring Ampicillin • Bentuk sediaan Kapsul 250 mg, 500mg; kaptab 250 mg, 500mg ; serbuk inj.250 mg/vial, 500 mg/vial , 1g/vial, 2g/vial; sirup 125 mg/5 ml, 250 mg/5 ml; tablet 250 mg, 500 mg. • Indikasi 1. Infeksi karena E. coli, enterococcus, Shigella, dan salmonella lain. • Kontraindikasi 1. Hipersensivitas terhadap penisilin • Resiko khusus Diekskresikan dalam ASI dalam kadar rendah. Dapat menyebabkan diare, atau alergi pada bayi yang minum ASI. • Farmakologi Dasar dan Klinik, Betram G.Katzung • Farmakologi dan Terapi FKUI Gentamisin Golongan Aminoglikosida Fungi penghasil : Micromonospora purpurea Gentamisin merupakan salah satu dari golongan Aminoglikosida Bersifat spektrum luas namun lebih efektif pada bakteri Gram negatif Indikasi dan Kontraindkasi Indikasi : Untuk infeksi yang di akibatkan gram negatif Kontra Indikasi : Pasien dengan masalah pada ginjal dan pasien dengan hipertensi Aktivitas Obat Aminoglikosida aktivitasnya sangat dipengaruhi oleh faktor pH Gentamisin peningkatan aktivitasnya dengan meningkatkan pH lingkungan, baik pada pH alkali Bekerja menghambat sintesis protein Resistensi Kegagalan penetrasi ke dalam bakteri. Rendahnya afinitas obat pada ribosom dan i naktivasi obat oleh enzimkuman Farmakokinetik Bersifat sangat polar. Pemberian per oral hanya untuk efek lokal pada saluran pe ncernaan Gentamisin ekskresi hampir seluruhnya di ginjal karena adanya sekuestrasi ke dal am jaringan Farmakodinamik Bekerja menghambat sintesis protein Merusak dinding sel dan sitoplasma hingga menyebabkan kematian pada bakteri Sediaan dan Dosis Larutan steril 40 mg/ml dalam kemasan 1,5 ; 2; 3 ; 10 ml Larutan 10 mg/ml dalam ampul 2 ml untuk anak-anak Salep krim 0,1-0,3 % Salep mata 0,3 %

DAFTAR PUSTAKA 1. Atlas Anatomi Manusia. Edisi 21. Sobotta Anatomi. Jakarta: EGC 2. Carneiro Jonquera. Edisi 10. Histologi Dasar. Jakarta: EGC 3. Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI. 2009. Farmako dan Terapi. Ja karta : Universitas Indonesia 4. Prawirohardjo Sarwono. 2009. Ilmu Kandugan. Jakarta: P.T. Bina Pustaka S arwono Prawirohardjo

5. Sarwono 6. 7. 8.

Prawirohardjo Sarwono. 2008. Ilmu Kebidanan. Jakarta: P.T. Bina Pustaka Prawirohardjo Sherwood. Edisi 2. Fisiologi Manusia. Jakarta: EGC The Mcgraw-hill Companies Inc. 2006. Obstetri Williams. Jakarta : EGC www.scribd.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->