PT PLN (PERSERO) KEPUTUSAN DIREKSI PT PLN (PERSERO) Nomor : .

K / DIR / 2010 TENTANG PENERTIBAN PEMAKAIAN TENAGA LISTRIK (P2TL) DAN TAGIHAN SUSULAN DIREKSI PT PLN (PERSERO) Menimbang : a. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 12 dan 13 Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 07 Tahun 2010 tentang Tarif Tenaga Listrik Yang Disediakan oleh Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perusahaan Listrik Negara, maka Keputusan Direksi PT PLN (Persero) Nomor 234.K/DIR/2008 tanggal 22 Juli 2008 dan telah disahkan berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi Nomor 318-12/20/600.1/2008 tanggal 11 Agustus 2008 dipandang perlu menyesuaikan dengan ketentuan tersebut di atas; bahwa untuk penyesuaian sebagaimana dimaksud dalam huruf a di atas, perlu ditetapkan dengan Keputusan Direksi PT PLN (Persero).

b.

Mengingat : 1. Undang-Undang RI Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen; 2. Undang-undang RI Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara; 3. Undang-undang RI Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas; 4. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informatika dan Transaksi Elektronik; 5. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik;
6. 7.

Undang-Undang RI Nomor 30 Ketenagalistrikan;

Tahun

2009

tentang

Peraturan Pemerintah RI Nomor 10 Tahun 1989 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga listrik sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah RI Nomor 3 Tahun 2005 dan Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2006;

8. Peraturan Pemerintah RI Nomor 23 Tahun 1994 tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Umum (Perum) Listrik Negara menjadi Perusahaan Perseroan (Persero); 9. Peraturan Pemerintah RI Nomor 45 Tahun 2005 tentang Pendirian, Pengurusan, Pengawasan dan Pembubaran Badan Usaha Milik Negara;
10.

Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 02.P/451/M.PE/ 1991 tentang Hubungan Pemegang Usaha Ketenagalistrikan dan Pemegang Izin Usaha Ketenagalistrikan Untuk Kepentingan Umum Dengan Masyarakat;

1

11. 12. 13.

Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 03.P/451/M.PE/ 1991 tentang Persyaratan Penyambungan Tenaga listrik; Peraturan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 04.P/40/M.PE/ 1991 tentang Penyidik Ketenagalistrikan; Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 07 Tahun 2010 tentang Tarif Tenaga Listrik Yang Disediakan oleh Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perusahaan Listrik Negara,

14. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 45 Tahun 2005 tentang Instalasi Ketenagalistrikan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 46 Tahun 2006; 15. Anggaran Dasar PT PLN (Persero);
16. Keputusan

Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor Kep 58/MBU/2008 jo Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor Kep-252/MBU/2009 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Anggota-Anggota Direksi Perusahaan Perseroan (Persero) PT Perusahaan Listrik Negara;

17. Keputusan Direksi PT PLN (Persero) Nomor 001.K/030/DIR/1994 tentang Pemberlakuan Peraturan Sehubungan Dengan Pengalihan Bentuk Hukum Perusahaan; 18. Keputusan Direksi PT PLN (Persero) Nomor 304.K/030/DIR/2009 tentang Batasan Kewenangan Pengambilan Keputusan Di Lingkungan PT PLN (Persero);
19.

Keputusan Direksi PT PLN (Persero) Nomor 017.K/DIR/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja PT PLN (Persero) sebagaimana telah diubah dengan Keputusan Direksi PT PLN (Persero) Nomor 055.K/DIR/2010.

MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN DIREKSI PT PLN (PERSERO) TENTANG PENERTIBAN PEMAKAIAN TENAGA LISTRIK (P2TL) DAN TAGIHAN SUSULAN. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Keputusan ini yang dimaksud dengan : 1. PLN adalah PT PLN (Persero) yang didirikan dengan Akta Notaris Sutjipto, S.H. No. 169 tanggal 30 Juli 1994 beserta perubahannya. 2. Direksi adalah Direksi PLN. 3. PLN Wilayah adalah PT PLN (Persero) Wilayah. 4. PLN Distribusi adalah PT PLN (Persero) Distribusi. 5. PLN Unit Pelaksana Induk adalah Unit Organisasi PLN jenjang pertama antara lain PLN Wilayah, PLN Distribusi. 6. PLN Unit Pelaksana adalah Unit Organisasi PLN jenjang kedua antara lain PLN Cabang, PLN Area Pelayanan Jaringan (APJ), PLN Area Pelayanan (AP), PLN Area Jaringan (AJ). 7. PLN Sub Unit Pelaksana adalah Unit Organisasi PLN jenjang ketiga antara lain PLN Rayon, PLN Ranting, PLN Unit Pelayanan Jaringan (UPJ), PLN Unit Pelayanan (UP) dan PLN Unit Jaringan (UJ).

2

24. Daya Kedapatan adalah daya yang dihitung secara proporsional dan profesional berdasarkan alat pembatas atau kemampuan hantar arus (KHA) suatu penghantar yang dipergunakan oleh pemakai tenaga listrik yang kedapatan pada waktu dilaksanakan P2TL. Sambungan Tenaga Listrik yang selanjutnya disebut SL adalah penghantar di bawah atau di atas tanah termasuk peralatannya sebagai bagian Instalasi PLN yang merupakan sambungan antara JTL milik PLN dengan Instalasi Pelanggan. mesin. Lemari APP. Kotak APP adalah suatu kotak tempat dipasangnya APP yang di dalamnya berisi blok jepit untuk menghubungkan terminal-terminal APP. Alat Pembatas adalah alat milik PLN untuk membatasi daya listrik yang digunakan Pelanggan sesuai dengan Surat Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik antara PLN dengan Pelanggan. 20. Alas hak yang sah adalah hubungan hukum keperdataan berupa dokumen tentang jual beli tenaga listrik antara setiap orang atau Badan Usaha atau Badan/Lembaga lainnya dengan PLN. Alat Pembatas dan Pengukur yang selanjutnya disebut APP adalah alat milik PLN yang dipakai untuk membatasi daya listrik dan mengukur energi listrik. baik sistem Prabayar maupun Pascabayar. . Alat Pengukur adalah alat milik PLN berupa peralatan elektromekanik maupun elektronik untuk mengukur energi listrik yang dipakai Pelanggan. 22. Instalasi Ketenagalistrikan yang selanjutnya disebut Instalasi adalah bangunan sipil dan elektromekanik. 17. penyaluran. 10. konversi. tindakan dan penyelesaian yang dilakukan oleh PLN terhadap Instalasi PLN dan/atau Instalasi Pemakai Tenaga Listrik dari PLN. distribusi dan pemanfaatan tenaga listrik. Lemari APP adalah suatu lemari atau yang biasa disebut cubicle tempat dipasangnya APP dan sebagian atau seluruh perlengkapan APP. 15. 21. saluran dan perlengkapannya yang dipergunakan untuk pembangkitan. transformasi. 13. atau Tegangan Ekstra Tinggi. 11. Instalasi Pelanggan adalah Instalasi ketenagalistrikan milik sesudah APP. Tegangan Menengah. Sambungan Langsung adalah sambungan dari JTL atau SL ke instalasi Pelanggan dengan menggunakan penghantar termasuk peralatannya tanpa melalui APP dan Perlengkapan APP. pemeriksaan. Pelanggan 14. Perlengkapan APP adalah peralatan pendukung untuk mengoperasikan APP antara lain Kotak APP. 3 23. Daya Tersambung adalah daya yang disepakati antara PLN dengan Pelanggan yang dituangkan dalam perjanjian jual beli tenaga listrik. Tegangan Tinggi. 16. Gardu PLN adalah gardu yang berisi peralatan instalasi milik PLN beserta perlengkapannya. Gardu PLN berikut peralatannya. Instalasi PLN adalah Instalasi ketenagalistrikan milik PLN sampai dengan Alat Pembatas atau Alat Pengukur atau APP. Jaringan Tenaga Listrik yang selanjutnya disebut JTL adalah sistem penyaluran/pendistribusian Tenaga listrik yang dapat dioperasikan dengan Tegangan Rendah. 9.8. 12. Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik yang selanjutnya disebut P2TL adalah rangkaian kegiatan meliputi perencanaan. 19. peralatan. 18.

Segel Tera adalah alat yang dipasang pada alat pengukur oleh instansi yang berwenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 30. 29. Tarif Dasar Listrik yang selanjutnya disebut (TDL) adalah ketetapan harga jual dan golongan tarif tenaga listrik PLN. 37. sebagai pengaman kebenaran pengukuran. 33. BAB II PELAKSANAAN DAN ORGANISASI P2TL Bagian Kesatu Pelaksanaan P2TL Pasal 2 4 . diberi wewenang khusus sebagai Penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Hukum Acara Pidana untuk melakukan penyidikan tindak pidana. Informan P2TL adalah setiap orang atau Badan Usaha atau Badan/Lembaga lainnya yang memberikan informasi kepada PLN mengenai dugaan adanya penyimpangan pemakaian tenaga listrik. 27. 32. Pembongkaran Rampung adalah penghentian untuk seterusnya penyaluran Tenaga listrik ke Instalasi Pelanggan atau Bukan Konsumen dengan mengambil seluruh SL yang dipergunakan untuk penyaluran tenaga listrik ke instalasi Pelanggan atau Bukan Konsumen. Tagihan Susulan (TS) terdiri dari TS1. Bukan Konsumen adalah pemakai tenaga listrik sebagaimana pada angka 29 huruf b. TS2 dan TS3 adalah tagihan yang dikenakan kepada pelanggan sebagai akibat adanya Pelanggaran Pemakaian Tenaga Listrik yang dipasok dari PLN. 28. Sanksi Perdata adalah sanksi yang dikenakan kepada Pelanggan akibat Pelanggaran yang dapat berupa sanksi pemutusan dan/atau TS dan/atau biaya-biaya lainnya. b. Pemakai Tenaga Listrik adalah setiap orang atau Badan Usaha atau Badan/Lembaga lainnya yang memakai tenaga listrik dari instalasi PLN: a.25. Pemutusan Sementara adalah penghentian untuk sementara penyaluran tenaga listrik ke instalasi Pelanggan. Segel milik PLN adalah suatu alat yang dipasang oleh PLN pada APP dan perlengkapan APP sebagai pengamanan APP dan Perlengkapan APP. Konsumen yang selanjutnya disebut Pelanggan adalah pemakai tenaga listrik sebagaimana dimaksud pada angka 29 huruf a. 31. 35. tanpa berdasarkan alas hak yang sah. 36. dimaksud 26. 34. berdasarkan alas hak yang sah. TS4 adalah Ganti Rugi biaya yang harus dibayar oleh Bukan Konsumen atas pemakaian tenaga listrik tanpa alas hak yang sah. Penyidik adalah pejabat Polisi Negara Republik Indonesia (POLRI) yang diberi tugas untuk melakukan penyidikan atau Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang ketenagalistrikan.

(6) Pelaksanaan P2TL dapat mengikutsertakan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) atau Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) atau instansi terkait lainnya. c. (3) Pelaksana P2TL sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a ditetapkan dengan Keputusan Direksi sebagai pemberi tugas dan pelaksana P2TL pada ayat (2) huruf b sampai dengan huruf f ditetapkan dengan Keputusan General Manager/Manajer Unit yang bersangkutan sebagai pemberi tugas. meliputi: a. P2TL Rutin pada Unit Pelaksana Unit Pelaksana Induk. (7) Tata cara pelaksanaan P2TL dilakukan sebagaimana dimaksud pada Bab V Keputusan Direksi ini. f. namun dalam pelaksanaannya organisasi P2TL dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi setempat. Keterampilan pemeriksaan instalasi tenaga listrik. P2TL Khusus Tingkat Nasional. sedang pada ayat (2) huruf c sampai dengan huruf f dapat dilakukan oleh struktural maupun oleh Tim. Bagian Kedua Organisasi P2TL Pasal 3 (1) Organisasi pelaksana P2TL terdiri dari Penanggung Jawab P2TL. e. c. meningkatkan pelayanan dan menghindari dari bahaya listrik bagi masyarakat. Pengetahuan dasar ilmu kelistrikan. 5 (2) (3) (4) . Jenjang Ketiga dan/atau Kedua oleh b.(1) Setiap Unit PLN secara rutin atau khusus melaksanakan P2TL dalam rangka menertibkan penyaluran Tenaga Listrik untuk menekan susut. b. (2) Pelaksanaan P2TL dilakukan pada Unit Organisasi PLN berupa: a. d. Penanggung Jawab P2TL adalah pejabat PLN yang ditunjuk oleh pemberi tugas untuk mengkoordinir pelaksanaan P2TL yang dapat berupa pejabat struktural maupun fungsional. (4) Pelaksanaan P2TL sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dan huruf b hanya dapat dilakukan oleh Tim. P2TL Rutin pada dan oleh Unit Pelaksana Jenjang Kedua. P2TL Rutin pada dan oleh Unit Pelaksana Jenjang Ketiga. Pelaksana Lapangan P2TL dan Petugas Administrasi P2TL. Petugas Pelaksana Lapangan P2TL merupakan regu yang terdiri dari pejabat/ petugas-petugas PLN yang melaksanakan pemeriksaan P2TL di lapangan. atau P2TL Rutin pada dan oleh Unit dibawah Unit Pelaksana Jenjang Ketiga. Petugas Pelaksana Lapangan P2TL sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus berbadan sehat dan diutamakan memiliki kompetensi di bidang P2TL berdasarkan Sertifikat Pendidikan dan Latihan (Brevet) dari PLN Unit Pendidikan dan Pelatihan atau Lembaga Sertifikasi lain yang berwenang. (5) Pelaksana P2TL bertanggung jawab kepada Pemberi Tugas. P2TL Khusus Tingkat Unit Pelaksana Induk. Pengetahuan ketentuan P2TL.

2) Tanggung Jawab Pelaksana P2TL sepenuhnya pada PLN. 3. dan Pengetahuan etika dan komunikasi. (6) (7) Dalam hal terdapat keterbatasan jumlah petugas pelaksana lapangan P2TL. 2) Dokumen P2TL ditandatangani oleh Petugas Pelaksana Lapangan P2TL dari perusahaan jasa. 1) Ketua regu petugas Pelaksana Lapangan P2TL harus dari pegawai PLN. e. dan 3) Dokumen P2TL ditandatangani oleh ketua regu Petugas Pelaksana Lapangan P2TL. Kewajiban Penanggung Jawab P2TL Pasal 4 Tugas. Pengetahuan dasar-dasar hukum. dan c. KEWENANGAN. b. (8) Pekerjaan Administrasi dan tindak lanjut hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) dilakukan oleh pegawai PLN. Petugas Administrasi P2TL sebagaimana dimaksud pada ayat (5) harus berbadan sehat serta diutamakan memiliki kompetensi dalam administrasi P2TL berdasarkan Sertifikat Pendidikan dan Latihan (Brevet) dari PLN Unit Pendidikan dan Pelatihan atau Lembaga Sertifikasi lain yang berwenang. KEWAJIBAN PETUGAS PELAKSANA P2TL Bagian Kesatu Tugas.d. 4. kewenangan dan kewajiban Penanggung Jawab P2TL adalah: 1. Pengetahuan ketentuan P2TL. meliputi: a. P2TL BAB III TUGAS. menentukan Target Operasi (TO). 2. mengkoordinir dan mengawasi pelaksanaan P2TL. mempertanggung jawabkan pelaksanaan P2TL. Pengetahuan Tata Usaha Langganan (TUL). menentukan strategi pelaksanaan dan tindak lanjut hasil temuan P2TL sesuai kewenangan yang diberikan oleh pemberi tugas dalam rangka memperlancar pelaksanaan P2TL. Kewenangan. Outsourcing tenaga bantu dengan syarat: dari Perusahaan Jasa Tenaga Kerja (PJTK). Outsourcing jasa pekerjaan pelaksanaan/pemeriksaan di kepada perusahanan jasa dengan ketentuan sebagai berikut: lapangan 1) Perusahaan jasa melaksanakan P2TL berdasarkan perjanjian kerjasama dengan PLN dan Surat Kuasa dari PLN termasuk penggunaan Segel milik PLN (Contoh Surat Kuasa sesuai lampiran I). b. Petugas Administrasi P2TL adalah pejabat/petugas-petugas PLN yang menyelesaikan administrasi tindak lanjut hasil temuan pemeriksaan P2TL di lapangan. (5) Pengetahuan dasar-dasar hukum. maka pelaksanaan P2TL dapat dilakukan dengan alternatif sebagai berikut: a. 6 .

melaksanakan kewenangan dan kewajiban sebagai Petugas pelaksana Lapangan P2TL. melakukan kewajiban pelaksanaan P2TL sesuai kewenangan yang diberikan oleh pemberi tugas dalam rangka memperlancar pelaksanaan P2TL. melaporkan hasil pelaksanaan P2TL kepada Pemberi Tugas. mencatat kejadian-kejadian yang ditemukan pada waktu dilakukan P2TL menurut jenis kejadiannya. b. meliputi: a. melakukan Pemutusan Sementara atas SL dan/atau APP pada Pelanggan yang harus dikenakan tindakan Pemutusan Sementara. meliputi: a. 7 . e. APP dan Perlengkapan APP serta Instalasi Pemakai tenaga listrik dalam rangka menertibkan pemakaian tenaga listrik. (3) Kewajiban Petugas Pelaksana Lapangan P2TL. 6. memberikan keterangan apabila diperlukan dalam proses penyelidikan dan penyidikan serta pengadilan perkara P2TL. menetapkan besar dan cara pembayaran TS sesuai kewenangan yang diberikan oleh pemberi tugas dalam rangka memperlancar pelaksanaan P2TL. melakukan pemeriksaan atas pemakaian tenaga listrik. melakukan Pembongkaran Rampung atas SL pada Pelanggan dan Bukan Konsumen. menyerahkan dokumen dan barang bukti hasil temuan pemeriksaan P2TL kepada Petugas Administrasi P2TL dengan dibuatkan Berita Acara serah terima dokumen dan Barang Bukti P2TL. melakukan pemeriksaan terhadap JTL. c. berpakaian dinas dan mengenakan tanda pengenal serta membawa perlengkapan P2TL yang diperlukan di lapangan. bersikap sopan dan tertib didalam memasuki persil/bangunan Pemakai Tenaga Listrik.5. c. 7. b. dan melakukan pengambilan barang bukti berupa APP atau peralatan lainnya. c. Kewenangan. Bagian Kedua Tugas. f. (2) Kewenangan Petugas Pelaksana Lapangan P2TL. Kewajiban Petugas Pelaksana Lapangan P2TL Pasal 5 (1) Tugas-tugas dari Petugas Pelaksana Lapangan P2TL meliputi: a. b. menandatangani Berita Acara hasil pemeriksaan P2TL dan Berita Acara lainnya serta menyusun laporan mengenai pelaksanaan P2TL. memperhatikan keamanan instalasi ketenagalistrikan serta keselamatan umum dalam melakukan pemeriksaan dan pengambilan barang bukti. SL. d. dan 8.

memantau proses pembayaran Tagihan Susulan dan biaya serta menindak lanjuti sesuai dengan tugas dan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) bila pembayaran Tagihan Susulan dan biaya P2TL lainnya dengan yang disepakati. c. e. dan P2TL Lainnya kewenangan pelaksanaan tidak sesuai b. c. membantu dan memberikan masukan kepada Petugas Administrasi P2TL dalam rangka tindak lanjut hasil temuan P2TL. melaksanakan kewenangan dan kewajiban sebagai Petugas Administrasi P2TL. menerima dan/atau membuat surat panggilan kepada Pemakai Tenaga Listrik atau yang mewakili dalam rangka tindak lanjut hasil temuan P2TL. dan/atau d. Petugas Pelaksana Lapangan P2TL serta Penyidik bila diperlukan. f. menyimpan dokumen dan barang bukti hasil temuan P2TL. melakukan pemeriksaan administrasi dan laboratorium atas barang bukti hasil temuan P2TL bersama dengan Pemakai Tenaga Listrik atau yang mewakili. menghitung besarnya Tagihan Susulan dan Biaya P2TL lainnya. Bagian Ketiga Tugas. (3) Kewajiban Petugas Administrasi P2TL. dan menyiapkan administrasi proses tindak lanjut hasil temuan P2TL. mengusulkan cara pembayaran Tagihan Susulan dan Biaya P2TL lainnya. Kewenangan. meliputi: a. dan menyiapkan surat peringatan/Pemutusan Sementara Pembongkaran Rampung dan/atau penyambungan kembali. dan memberikan keterangan apabila diperlukan dalam proses penyelidikan dan penyidikan serta pengadilan perkara P2TL. menerima dokumen dan barang bukti hasil temuan P2TL dari Petugas Pelaksana Lapangan P2TL. bersikap sopan dan tertib didalam menerima dan melayani pemakai tenaga listrik atau yang mewakili dalam proses penyelesaian tindak lanjut hasil temuan P2TL. meliputi: a. b. d. e. memproses Tagihan Susulan dan biaya P2TL Lainnya sesuai ketetapan Penanggung Jawab P2TL dan/atau Pemberi Tugas. memberikan keterangan apabila diperlukan dalam proses penyelidikan dan penyidikan P2TL. memasang APP pengganti yang diambil untuk pemeriksaan dan mencatat stand meter cabut dan stand meter pasang serta menyimpan segel-segel dalam kantong/amplop/kotak khusus P2TL. (2) Kewenangan Petugas Administrasi P2TL. (1) Tugas-tugas dari Petugas Administrasi P2TL. menyiapkan pembuatan Surat Pengakuan Hutang (SPH) Tagihan Susulan dan biaya P2TL lainnya. b. 8 . c. Kewajiban Petugas Administrasi P2TL Pasal 6 e. f.d. meliputi: a.

sarana transportasi dan akomodasi lapangan lainnya untuk Petugas Pelaksana Lapangan P2TL dan Penyidik. tang segel & asesorisnya. tali/sabuk pengaman. stop watch. Data Induk Pelanggan (DIL). injeksi arus. b. dan APP dan/atau Perlengkapan APP pengganti. note book (laptop). kamera. alat komunikasi. formulir berita acara serta formulir-formulir P2TL lainnya sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan Direksi ini. adalah: menentukan Target Operasi ( TO ). Tahap Pra P2TL. kalkulator. analisa energi. peralatan kerja antara lain berupa : Tool set. video kamera. amplop. g. e. b. laboratorium tera sebagai sarana pemeriksaan hasil temuan P2TL. Langkah-langkah yang harus dilakukan pada Tahap Pra P2TL. yang merupakan kegiatan tahap persiapan yang dilakukan sebelum dilaksanakannya P2TL. kotak atau peralatan lainnya yang khusus untuk keperluan P2TL beserta gudang penyimpanan. telescopic hot line stick. kaca pembesar.Tahap P2TL Pasal 8 b. i. c. tangga. BAB V TATA CARA PELAKSANAAN P2TL Bagian Kesatu Tahap . Tata cara pelaksanaan P2TL meliputi 3 (tiga) tahap. menyusun jadwal pelaksanaan.BAB IV PERLENGKAPAN P2TL Pasal 7 Perlengkapan P2TL yang diperlukan untuk pelaksanaan P2TL adalah: a. yaitu: a. senter. yang merupakan kegiatan tahap tindak lanjut hasil temuan P2TL. f. power factor high tester. Data Induk Saldo (DIS). Bagian Kedua Tahap Pra P2TL Pasal 9 (1) a. multi tester. helm/topi pengaman. data pemakaian tenaga listrik Pelanggan yang tidak wajar minimum selama 3 (tiga) bulan berturut-turut. surat tugas yang ditandatangani oleh Pemberi Tugas atau Penanggung Jawab P2TL sebagaimana dimaksud dalam lampiran Keputusan Direksi ini. Saldo Rekening (SOREK) dan Arsip Induk Langganan (AIL). h. Tahap Pasca P2TL. Tahap Pelaksanaan P2TL merupakan kegiatan tahap pelaksanaan P2TL di lapangan. c. 9 . sarana penyimpanan barang bukti berupa kantong. d. genset portable.

pencatatan meter dan lainnya. adalah sebagai berikut: a. melakukan koordinasi lapangan dengan pihak terkait. Bagian Ketiga Tahap Pelaksanaan P2TL Pasal 10 b. TO ditentukan berdasarkan kepada: 1) 2) 3) 4) b. yang meliputi pemeliharaan. Penambahan Daya (PD). e. TO bersifat rahasia dan merupakan titik lokasi target pelaksanaan operasi P2TL di lapangan yang memuat data Pemakai Tenaga Listrik atau lokasi akan dilakukannya pemeriksaan P2TL. adalah sebagai berikut: a. (3) Penyusunan jadwal pelaksanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. (4) (5) sebelum dilaksanakan P2TL di lapangan. untuk menjaga sifat kerahasiaan TO. koordinasi dilakukan agar pelaksanaan P2TL di lapangan dapat berjalan dengan lancar. dan SO atau target P2TL triwulanan/semesteran/tahunan. melakukan koordinasi dengan Penyidik. Koordinasi lapangan dengan pihak terkait sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d. pemantauan terhadap pemakaian tenaga listrik bagi Pelanggan yang tidak wajar minimum selama 3 (tiga) bulan berturut-turut.c. d. 5) c. TO P2TL ditentukan oleh Pemberi Tugas atau Penanggung Jawab P2TL dalam rangka mencapai Sasaran Operasi (SO) atau target P2TL triwulanan/ semesteran/tahunan. pemantauan dari Daftar Langganan yang Perlu Diperhatikan (DLPD). pelayanan Penyambungan Baru (PB). dan menyiapkan perlengkapan P2TL yang berkaitan dengan pelaksanaan P2TL di lapangan. kumpulan data dan informasi dari Informan. (2) TO P2TL sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. maka penyerahan TO oleh Pemberi Tugas atau Penanggung Jawab P2TL kepada Petugas Pelaksana Lapangan P2TL harus dilakukan beberapa saat sebelum Petugas berangkat ke lokasi. dengan tetap menjaga sifat kerahasiaan TO harus dilakukan koordinasi dengan para pihak yang terkait terutama dengan Unit PLN atau Petugas PLN yang bertanggung jawab atas lokasi TO berada. (1) Langkah-langkah yang harus dilakukan oleh Petugas Pelaksana Lapangan P2TL pada tahap pelaksanaan P2TL. data dan informasi lainnya yang diperoleh PLN dalam rangka melakukan kegiatan rutin. adalah: 10 . Daftar Pembacaan Meter (DPM) dan Daftar Pemakaian kWh (DPK). Koordinasi dengan Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dilakukan sejak dini untuk meyakini keikutsertaannya dalam kegiatan P2TL. dilakukan sebelum pelaksanaan P2TL sebagai acuan bagi Petugas Pelaksana P2TL.

meninggalkan lokasi Pemakai Tenaga Listrik. pemeriksaan bagi Pelanggan dilakukan sebagai berikut: 1) sebelum dilakukan pemeriksaan secara visual. melakukan tindakan P2TL bagi Pemakai Tenaga Listrik. menunjukkan surat tugas dan menjelaskan maksud serta tujuan pelaksanaan P2TL kepada Pemakai Tenaga Listrik atau yang mewakili. c. pada lokasi Bukan Konsumen yang jumlahnya banyak misalnya pada lokasi tanah sengketa yang dinilai dapat menimbulkan kerawanan secara masal. (3) Pemeriksaan lapangan P2TL sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. (2) Cara memasuki persil Pemakai Tenaga Listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. adalah sebagai berikut: a. dan menyerahkan dokumen dan barang bukti kepada petugas administrasi P2TL dengan membuat berita acara serah terima dokumen dan Barang Bukti P2TL. e. b. dilakukan dokumentasi dengan kamera dan/atau video kamera. dan sebelum dan sesudah pemeriksaan. Pemeriksaan bagi Bukan Konsumen dilakukan sebagai berikut: 1) 2) Petugas Pelaksana Lapangan P2TL harus memeriksa dan meneliti secara visual Instalasi Ketenagalistrikan yang berada pada persil. pengambilan 3) (4) Tindakan penertiban P2TL sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf c. c. Petugas Pelaksana Lapangan P2TL harus memeriksa dan meneliti APP elektro mekanik atau elektronik dan kelengkapannya baik pengukuran secara langsung maupun tidak langsung (menggunakan current transformer/potential transformer) secara visual maupun dengan peralatan elektrik/elektronik dan alat bantu lainnya. pengamanan lokasi dilakukan secara sopan. d. f. b.a. dapat dilakukan bersama aparat. maka sebelum dilakukan pemeriksaan lapangan dapat dilakukan tindakan secara khusus melalui pendekatan dan sosialiasi bekerjasama dengan pemuka masyarakat dan pengamanan lokasi bersama dengan aparat. melakukan pemeriksaan lapangan. arif dan bijaksana. terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan administrasi terhadap data yang dimiliki Pelanggan antara lain data rekening terakhir atau data lainnya. untuk menghindari penghilangan barang bukti dan reaksi negatip lainnya dari Pemakai Tenaga Listrik. kepada Pemakai Tenaga Listrik atau yang mewakili diminta untuk menyaksikan pelaksanaan pemeriksaan P2TL. d. adalah sebagai berikut: a. pada saat memasuki persil Pemakai Tenaga Listrik harus bersikap sopan. pengamanan lokasi pada persil Pemakai Tenaga Listrik yang dinilai dapat menimbulkan kerawanan. melakukan pemberkasan hasil pemeriksaan P2TL. pengambilan 2) 3) b. adalah: 11 . memasuki persil Pemakai Tenaga Listrik dan melakukan pengamanan lokasi. dan sebelum dan sesudah pemeriksaan dilakukan dokumentasi dengan kamera dan/atau video kamera.

kepada Pemakai Tenaga Listrik atau yang mewakili diserahkan Berita Acara hasil pemeriksaan P2TL yang diperuntukkan bagi Pemakai Tenaga Listrik. adalah sebagai berikut: a. Meninggalkan lokasi Pemakai Tenaga Listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e. pengisian Berita Acara hasil pemeriksaan P2TL dilakukan selengkap mungkin untuk memenuhi pembuktian perkara P2TL. b. e. (5) Pemberkasan hasil pemeriksaan P2TL sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d. Pemakai Tenaga Listrik atau yang mewakilinya. f. maka Pemakai Tenaga Listrik atau yang mewakili dipanggil untuk datang ke PLN. adalah sebagai berikut : a. Berita Acara hasil pemeriksaan P2TL ditandatangani oleh Petugas Pelaksana Lapangan P2TL. dilakukan oleh Petugas Pelaksana Lapangan P2TL kepada 12 (6) (7) . c. c. Dalam hal saksi sebagaimana dimaksud dalam huruf d tidak bersedia menandatangani. maka kepada Pemakai Tenaga Listrik diingatkan untuk memenuhi panggilan PLN yang sudah tercantum dalan Berita Acara hasil pemeriksaan P2TL. maka penandatanganannya dimintakan kepada Ketua RT/RW/Aparat Desa/Pemuka Masyarakat/Pihak yang mengenal Pemakai Tenaga Listrik sebagai saksi.Berdasarkan hasil pemeriksaan. Jika dari hasil pemeriksaan ditemukan adanya indikasi Pelanggaran pada Pelanggan atau terjadi Pelanggaran pada Pelanggan atau terjadi pelanggaran pada Bukan Konsumen. melakukan Pemutusan Sementara atau Pembongkaran Rampung pada Pelanggan yang melakukan pelanggaran. b. Dalam hal Pemakai Tenaga Listrik tidak bersedia menandatangani formulir dan Berita Acara. Serah terima dokumen dan barang bukti P2TL sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf f. Petugas Pelaksana P2TL menjelaskan hasil pelaksanaan P2TL kepada Pemakai Tenaga Listrik atau yang mewakili. dan c. mengambil barang bukti berupa SL dan/atau APP dan/atau Perlengkapan APP yang dipergunakan untuk melakukan penyimpangan. dan d. melakukan Pembongkaran Rampung pada Bukan Konsumen. serta mencatat stand pasang dan stand cabut meter dalam Berita Acara hasil pemeriksaan sebagaimana pada Lampiran Keputusan Direksi ini. dengan mengisi data panggilan yang sudah tercantum pada Berita Acara hasil pemeriksaan P2TL sebagaimana dimaksud pada huruf a di atas. d. sebelum meninggalkan lokasi. petugas pelaksana lapangan P2TL melakukan tindakan penertiban terhadap Pemakai Tenaga Listrik sebagai berikut: a. memasang APP dan/atau Perlengkapan APP pengganti yang diambil sebagai barang bukti bagi Pelanggan yang tidak dikenakan Pemutusan Sementara. maka petugas P2TL mencatat bahwa saksi tidak bersedia. apabila Pemakai Tenaga Listrik atau yang mewakili dipanggil untuk penyelesaian tindak lanjut hasil temuan P2TL. pemberkasan atas hasil pemeriksaan lapangan harus dilakukan baik ditemukan ataupun tidak ditemukan penyimpangan pemakaian tenaga listrik serta dicatat dalam Berita Acara hasil pemeriksaan P2TL sebagaimana dimaksud pada Lampiran Keputusan Direksi ini. b.

dengan ketentuan sebagai berikut: a. g. surat panggilan ke III. b. (3) berdasarkan panggilan yang tertera pada Berita Acara hasil pemeriksaan P2TL. c. dan membuat laporan penyelesaian kasus P2TL. dan apabila sampai berakhirnya masa peringatan I. Petugas Administrasi P2TL menyiapkan surat peringatan II. adalah : a. d. melaksanakan penetapan tindak lanjut hasil temuan P2TL sesuai penetapan Pemberi Tugas atau Penanggung Jawab P2TL. Pemanggilan kepada Pemakai Tenaga Listrik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b. Masa peringatan I adalah 5 (lima) hari kerja setelah tanggal surat peringatan I. Bagian Keempat Tahap Pasca P2TL Pasal 11 (1) Langkah-langkah yang harus dilakukan oleh Petugas Administrasi P2TL pada tahap Pasca P2TL. adalah dengan cara sebagaimana dimaksud pada Pasal 10 ayat (7) Keputusan Direksi ini. penyerahan dokumen dan barang bukti dituangkan dalam Berita Acara serah terima dokumen dan Barang Bukti P2TL sebagaimana dimaksud pada Lampiran Keputusan Direksi ini. Petugas administrasi P2TL bertugas menerima/menghubungi/ memanggil Pemakai Tenaga Listrik atau yang mewakili. (4) Pelaksanaan pemeriksaan administrasi dan laboratorium sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dilakukan oleh Petugas Administrasi P2TL sebagai tindak lanjut hasil temuan P2TL sebagai berikut: 13 . f. barang bukti yang diserahkan termasuk titipan dan pinjaman dari Penyidik masih dalam kondisi tersegel. (2) Penerimaan dokumen dan barang bukti sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. Petugas Administrasi P2TL menyiapkan dan mengirimkan surat panggilan ke II. Masa peringatan II adalah selama 14 (empat belas) hari kerja untuk kasus Pelanggaran. b. Pemakai Tenaga Listrik atau yang mewakili belum datang memenuhi panggilan PLN. menerima dokumen dan barang bukti hasil pemeriksaan lapangan P2TL. melakukan pemeriksaan administrasi dan laboratorium hasil temuan P2TL. surat peringatan I secara berturut-turut dengan selang waktu masingmasing selama 3 (tiga) hari kerja. menerima dan/atau membuat surat panggilan kepada Pemakai Tenaga Listrik atau yang mewakili dalam rangka tindak lanjut hasil temuan P2TL. adalah sebagai berikut: a. b. e. dan c. membuat analisa dan perhitungan serta usulan penyelesaian tindak lanjut hasil temuan P2TL. dokumen yang diserahkan harus secara lengkap meliputi semua Berita Acara hasil pemeriksaan P2TL serta formulir-formulir P2TL yang lain. menyiapkan administrasi proses tindak lanjut hasil temuan P2TL.Petugas Administrasi P2TL untuk diproses lebih lanjut. c. apabila Pemakai Tenaga Listrik atau yang mewakili tidak datang memenuhi panggilan PLN tersebut.

(5) Pembuatan analisa. menyiapkan konsep SPH bagi Pemakai Tenaga Listrik yang meminta keringanan pembayaran secara angsuran. d. mengusulkan penetapan penyelesaian secara tertulis tindak lanjut hasil temuan P2TL kepada Pemberi Tugas atau Penanggung Jawab P2TL meliputi status. memantau dan memproses pembayaran Tagihan Susulan dan Biaya P2TL Lainnya oleh Pemakai Tenaga Listrik baik yang dilakukan secara tunai maupun secara angsuran. g. AIL dan pemakaian tenaga listrik minimum selama 3 (tiga) bulan terakhir. b. dilakukan dalam rangka pembuktian/pengakuan penyimpangan pemakaian tenaga listrik. barang bukti dilakukan di laboratorium PLN atau lain yang mempunyai akreditasi dari pihak yang e. dilakukan berdasarkan pada hasil pemeriksaan administrasi dan laboratorium. diantaranya data dari DIL. b. mengkategorikan status kasus yaitu Penyimpangan pemakaian tenaga listrik. DIS. SOREK. golongan. f. Petugas Administrasi P2TL melakukan proses sebagai berikut: a. perhitungan Tagihan Susulan serta usulan penyelesaian P2TL sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d. terjadi atau tidak terjadi mengkategorikan jenis Penyimpangan pemakaian tenaga listrik yaitu Pelanggaran serta golongannya. c. memberlakukan sanksi sebagaimana dimaksud pada Pasal 16 Keputusan Direksi ini kepada Pelanggan yang melakukan Pelanggaran. menghitung Tagihan Susulan dan Biaya P2TL Lainnya bagi Pemakai Tenaga Listrik. usulan penetapan harus sudah disampaikan selambat-lambatnya pada 7 (tujuh) hari kerja sejak Pemakai Tenaga Listrik atau yang mewakili datang memenuhi panggilan PLN. jenis. (6) Pelaksanaan tindak lanjut hasil temuan P2TL sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf e. d.a. dan penyelesaian P2TL harus sudah ditetapkan oleh Pemberi Tugas/ Penanggung Jawab P2TL secara tertulis selambat-lambatnya 8 (delapan) hari kerja sejak diusulkan. dilakukan berdasarkan pada penetapan penyelesaian perkara P2TL oleh Pemberi Tugas atau Penanggung Jawab P2TL. terjadinya dilakukan bersama Pemakai Tenaga Listrik atau yang mewakili serta Petugas Pelaksana P2TL dan Penyidik bila diperlukan. e. pemeriksaan laboratorium berwenang. . besarnya Tagihan Susulan dan Biaya P2TL Lainnya serta cara pembayarannya. c. dan menyiapkan surat perintah penyambungan kembali kepada Pelanggan yang telah menyelesaikan Tagihan Susulan dan Biaya P2TL Lainnya. c. pembukaan barang bukti dilakukan dihadapan para pihak. BAB VI BARANG BUKTI Pasal 12 14 b. Petugas Administrasi P2TL melakukan proses sebagai berikut: a. pemeriksaan administrasi dilengkapi dengan data PLN lainnya.

5) segel dan atau tanda tera yang tidak sesuai dengan aslinya. pembukaan segel barang bukti dilakukan dihadapan para pihak atau yang mewakili dan Penyidik jika diperlukan dan dituangkan dalam suatu Berita Acara pembukaan barang bukti. BAB VII JENIS DAN GOLONGAN PENYIMPANGAN PEMAKAIAN TENAGA LISTRIK 15 (4) (5) (6) (7) . maka Petugas Pelaksana Lapangan P2TL harus menyerahkan barang bukti dan dokumen P2TL lainnya kepada Petugas Administrasi P2TL untuk diproses lebih lanjut. dan 3) barang bukti disegel dan diserahkan kepada Penyidik. 1) dilakukan oleh Petugas P2TL disaksikan oleh RT/RW/Aparat Desa/ Pemuka Masyarakat/Pihak yang mengenal Pemakai Tenaga Listrik. 4) APP rusak atau tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Pemakai Tenaga Listrik atau yang mewakili serta RT/RW/Aparat Desa/Pemuka Masyarakat/Pihak yang mengenal Pemakai Tenaga Listrik. Dalam hal P2TL dilaksanakan tidak bersama Penyidik. maka penyegelan dilakukan dengan cara lain misalnya dengan garis batas polisi (police line). Dalam hal pelaksanaan P2TL bersama Penyidik maka pengambilan barang bukti dilakukan sebagai berikut: 1) disaksikan oleh Penyidik. 2) dibuatkan Berita Acara pengambilan barang bukti yang ditandatangani oleh Petugas Pelaksana P2TL. Penitipan dan/atau peminjaman barang bukti harus dilengkapi dengan Berita Acara sebagaimana dimaksud pada Lampiran Keputusan Direksi ini yang ditandatangani PLN dengan Penyidik. Pemakai Tenaga Listrik dan Penyidik. Apabila barang bukti relatif besar dan tidak dimungkinkan untuk dimasukkan dalam suatu kantong/amplop/kotak khusus P2TL. dilakukan seperti berikut. 2) peralatan yang dipergunakan untuk mempengaruhi batas daya. disegel dan ditandatangani oleh Petugas pelaksana lapangan P2TL. Penyidik serta Pemakai Tenaga Listrik atau yang mewakili. kemudian disegel dan dilaporkan/diserahkan kepada Penyidik. 3) peralatan yang dipergunakan untuk mempengaruhi pengukuran energi. (2) Barang bukti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) antara lain: 1) peralatan yang digunakan untuk melakukan Sambungan Langsung. (3) Barang bukti harus ditempatkan dalam suatu kantong/amplop/kotak atau peralatan lainnya yang khusus untuk keperluan P2TL. Setelah selesainya pemeriksaan P2TL di lapangan. dibuatkan Berita Acara pengambilan barang bukti yang ditandatangani oleh Petugas Pelaksana P2TL. pengambilan barang bukti dilakukan sebagai berikut. Dalam rangka pemeriksaan/klarifikasi di PLN. 2) b.(1) Tata cara pengambilan barang bukti dari Pemakai Tenaga Listrik yang menggunakan tenaga listrik secara tidak sah. Barang bukti sebagai barang titipan Penyidik atau dalam rangka dipinjam oleh PLN untuk pemeriksaan dapat disimpan dan diamankan di gedung/laboratorium PLN. dan 6) perangkat lunak dan/atau perangkat keras yang dipergunakan untuk mempengaruhi pengukuran energi dan/atau batas daya. a.

c. 2) penghantar phasa dengan netral pada sambungan 3 phasa kondisinya tertukar. 16 . c. c) mengubah kedudukan poros piringan. b. rusak/putus. antara lain: 1) mempengaruhi kerja piringan Alat Pengukur. rusak atau tidak sesuai dengan aslinya. Alat Pengukur dan/atau perlengkapannya tidak berfungsi sebagaimana mestinya walaupun semua Segel milik PLN dan Segel Tera dalam keadaan lengkap dan baik. yaitu : a. antara lain dengan : a) membengkokkan piringan meter. dan d. f. Pelanggaran Golongan III (P III) merupakan pelanggaran yang mempengaruhi batas daya dan mempengaruhi pengukuran energi. e. b. Kemampuan Alat Pembatas menjadi lebih besar. sebagai berikut: a. Segel Tera dan/atau Segel milik PLN pada Alat Pengukur dan/atau perlengkapannya salah satu atau semuanya hilang/tidak lengkap. rusak. b. rusak atau tidak sesuai dengan aslinya. segel milik PLN pada Alat Pembatas hilang. hilang. atau tidak sesuai dengan aslinya. 2) meter kVA maks dan/atau perlengkapannya. Alat Pengukur dan/atau perlengkapannya hilang atau tidak sesuai dengan aslinya.Pelanggaran Pemakaian Tenaga listrik Pasal 13 (1) Terdapat 4 (empat) Golongan Pelanggaran pemakaian tenaga listrik. Pelanggaran Golongan IV (P IV) merupakan pelanggaran yang dilakukan oleh Bukan Konsumen. (3) Termasuk P II yaitu apabila Pelanggan melakukan salah satu atau lebih hal-hal untuk mempengaruhi pengukuran energi. b) membengkokkan poros piringan meter. sebagai berikut : a. (2) Alat Pembatas terhubung langsung dengan kawat/kabel sehingga Alat Pembatas tidak berfungsi atau kemampuannya menjadi lebih besar. d. Cara-cara mempengaruhi Alat Pengukur dan/atau perlengkapannya. rusak. Pelanggaran Golongan II (P II) merupakan pelanggaran yang mempengaruhi pengukuran energi tetapi tidak mempengaruhi batas daya. c. hilang atau tidak sesuai dengan aslinya. Alat Pembatas hilang. yang diantaranya dengan: 1) seting relay Alat Pembatas kondisinya berubah. terjadi hal-hal lainnya dengan tujuan mempengaruhi batas daya. khusus untuk Pelanggan yang menggunakan meter kVA maks: 1) segel pada meter kVA maks dan/atau perlengkapannya. Termasuk P I yaitu apabila Pelanggan melakukan salah satu atau lebih hal-hal untuk mempengaruhi batas daya. Pelanggaran Golongan I (P I) merupakan pelanggaran yang mempengaruhi batas daya tetapi tidak mempengaruhi pengukuran energi. atau tidak sesuai dengan aslinya.

b) memutus/merusak/mempengaruhi kerja kumparan arus. d) e) f) g) h) 4) pengawatan meter berubah sehingga : a) pengawatan arus tidak se-phasa dengan tegangannya dan/atau polaritas arusnya ada yang terbalik. mengubah. melakukan Pelanggaran yang merupakan gabungan pada P I dan P II. mempengaruhi sistim komunikasi data dari meter elektronik ke pusat kontrol data PLN.2) 3) merusakkan kedudukan poros piringan. merusakkan sekat tutup meter. d. melubangi tutup meter. dengan: a) mengganti Current Transformer (CT) dan/atau Potential Transformer (PT) dengan ratio yang lebih besar. d) memutus penghantar neutral dan menghubungkan ke bumi. c) memutus/merusak/mempengaruhi kerja kumparan tegangan. d) merusak CT dan/atau PT. b) kabel arus terlepas. mengubah/memindah instalasi milik PLN tanpa ijin PLN sehingga menyebabkan APP atau alat perlengkapannya milik PLN rusak atau dapat mempengaruhi kinerja Alat Pengukur. a) b) 5) 6) 7) 8) 9) 10) mengubah pengukuran Alat Pengukur elektronik. antara lain dengan: a) mengubah gigi transmisi b) merusak gigi transmisi. mengubah instalasi pentanahan netral CT dan kotak APP. c) memutus rangkaian pengawatan arus atau tegangan. mempengaruhi kerja register/angka register. d) memundurkan angka register. mempengaruhi alat bantu ukur energi. mengganjal piringan agar berhenti atau lambat. (5) Termasuk P IV yaitu apabila Bukan Konsumen memakai tenaga listrik PLN tanpa alas hak yang sah . menukar penghantar phasa dengan penghantar netral pada Instalasi milik PLN sehingga mempengaruhi pengukuran energi. b) menghubung singkat terminal primer dan/atau sekunder CT. mempengaruhi kerja elektro dinamik. 17 . atau melakukan Sambungan Instalasi PLN sebelum APP. merusakkan kaca tutup meter. antara lain dengan: mengubah setting data entry. c) mempengaruhi posisi WBP. Langsung ke Instalasi Pelanggan dari b. memutus penghantar netral pada sambungan instalasi milik PLN dan netral di sisi Instalasi milik Pelanggan serta menghubungkan penghantar netral ke bumi sehingga mempengaruhi pengukuran energi. c) memutus rangkaian arus CT atau tegangan PT. antara lain dengan: a) mengubah setting kalibrasi Alat Pengukur. Termasuk P III yaitu apabila Pelanggan melakukan salah satu atau lebih hal-hal untuk mempengaruhi batas daya dan energi sebagai berikut : a. (4) terjadi hal-hal lainnya dengan tujuan mempengaruhi pemakaian energi.

dan c. tunggakan rekening listrik. b. biaya mutasi Pelanggan. a. (2) Bagian Kedua Biaya P2TL Pasal 15 (1) Pembayaran Biaya P2TL lainnya sebagaimana dimaksud pada Pasal 14 ayat (1) huruf d dan Pasal 14 ayat (2) huruf c meliputi : a. maka kewajiban tersebut harus ditagihkan antara lain berupa: a. b. Pembayaran Biaya P2TL Lainnya. Pembongkaran Rampung. (2) (3) (1) pada waktu pemeriksaan P2TL ditemukan dugaan telah terjadi Pelanggaran dan Pelanggan tidak memenuhi panggilan PLN sampai habis masa peringatan I. bagi Pelanggan yang belum melakukan kewajiban lainnya. Pembayaran TS4. Biaya penggantian material dan pemasangan atas SL dan/atau APP dan/atau Perlengkapan APP yang harus diganti. dan c. 18 . b.BAB VIII SANKSI Bagian Kesatu Sanksi P2TL Pasal 14 (1) Pelanggan yang melakukan Pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 dikenakan sanksi berupa : a. c. b. Bea meterai. ditetapkan oleh Unit Pelaksana Induk setempat. Bagian Ketiga Pemutusan Sementara dan Pembongkaran Rampung Pasal 16 Pemutusan Sementara dilaksanakan kepada Pelanggan apabila: a. Biaya penyegelan kembali. d. Pembayaran Biaya P2TL lainnya. Pembayaran Tagihan Susulan. Selain Biaya P2TL Lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pemutusan Sementara. Bukan Konsumen yang terkena P2TL dikenakan sanksi berupa : Pembongkaran Rampung. Biaya P2TL lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Bukan Konsumen yang melakukan Sambungan Langsung dan ditindaklanjuti dengan ditandatangani Berita Acara Hasil Pemeriksaan P2TL.b. c. BAB IX TAGIHAN SUSULAN Bagian Pertama Ketentuan Tagihan Susulan 19 . Pelanggan datang memenuhi panggilan PLN. serta biaya P2TL lainnya. (1) (2) Bagian Kelima Penyambungan Bagi Bukan Konsumen Pasal 18 Penyambungan tenaga listrik kepada Bukan Konsumen yang telah dilakukan Pembongkaran Rampung dapat diproses sebagai Pelanggan baru sepanjang secara teknis memungkinkan dan material pendukung tersedia sesuai ketentuan yang berlaku setelah melunasi TS4. (3) Sistematika pelaksanaan Pemutusan Sementara dan Pembongkaran Rampung sesuai ketentuan dalam lampiran Keputusan Direksi ini. c. Pelanggan yang sampai dengan 2 (dua) bulan sejak Pemutusan Sementara sebagaimana dimaksud pada ayat (3) belum melunasi Tagihan Susulan yang telah ditetapkan atau belum melaksanakan pembayaran Tagihan Susulan sesuai SPH. setelah melunasi Tagihan Susulan serta biaya P2TL lainnya dan/atau telah menandatangani SPH. pada waktu pemeriksaan P2TL ditemukan cukup bukti atau diyakini telah terjadi Pelanggaran pada Pelanggan dan dituangkan dalam Berita Acara Hasil Pemeriksaan P2TL. Bagian Keempat Penyambungan Kembali Pasal 17 Penyambungan kembali bagi Pelanggan yang telah dikenakan Pemutusan Sementara dilakukan paling lama 2 (dua) hari kerja apabila Pelanggan telah membayar Tagihan Susulan. Pelanggan tidak melunasi Tagihan Susulan dan Biaya P2TL lainnya sesuai jangka waktu atau tahapan yang telah ditetapkan pada SPH. (2) Pembongkaran Rampung dilakukan kepada Pelanggan dan Bukan Konsumen apabila: a. d. memenuhi b. tetapi Pelanggan mengulur waktu sehingga menghambat proses penyelesaian P2TL. Pelanggan yang melakukan Pelanggaran yang tidak panggilan PLN sampai dengan habisnya masa peringatan II. Biaya P2TL Lainnya atau telah menandatangani SPH. Penyambungan kembali bagi Pelanggan yang telah dikenakan Pembongkaran Rampung diberlakukan sebagai Pelanggan pasang baru.

(3) Apabila Pelanggan atau yang mewakili tidak datang memenuhi panggilan PLN sampai dengan habisnya masa panggilan III. (5) TS4 dan Biaya P2TL Lainnya pada prinsipnya harus dibayar tunai. (4) Dalam hal penyelesaian permasalahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) belum tuntas. (3) Apabila Bukan Konsumen atau yang mewakili tidak datang memenuhi panggilan kesatu maka akan disusulkan panggilan kedua/peringatan beserta besarnya TS4 dan Biaya P2TL lainnya.Pasal 19 (1) Pelanggan yang melakukan Pelanggaran terhadap perjanjian jual beli tenaga listrik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 13 Keputusan Direksi ini dikenakan sanksi berupa Tagihan Susulan dan Biaya P2TL Lainnya. Bagian Kedua Ketentuan TS4 Pasal 20 Dalam hal pelaksanaan P2TL menemukan pemakaian tenaga listrik oleh Bukan Konsumen. TS4 dibebankan kepada Bukan Konsumen yang merupakan orang atau Badan Usaha atau Badan/Lembaga lain yang menghuni atau bertanggung jawab atas persil/bangunan tersebut. (2) Tagihan Susulan dibuat dalam jangka waktu selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari kerja sejak Pelanggan atau yang mewakili datang memenuhi panggilan PLN untuk penyelesaian hasil temuan P2TL. maka penyelesaiannya diserahkan kepada pihak yang berwajib. Pelanggaran Golongan I (P I): 20 . (2) (4) (1) TS4 dibuat dalam jangka waktu selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sejak ditemukan pemakaian tenaga listrik secara tidak sah oleh petugas lapangan. (6) Bagian Ketiga Perhitungan Tagihan Susulan Pasal 21 (1) Perhitungan besarnya Tagihan Susulan bagi Pelanggan sebagai akibat Pelanggaran sebagaimana dimaksud pada Pasal 13 Keputusan Direksi ini adalah sebagai berikut: 1. maka PLN dapat menetapkan secara sepihak besarnya TS4 dan Biaya P2TL Lainnya dan apabila permasalahan tersebut belum terselesaikan. Petugas P2TL menghentikan penyaluran tenaga listrik ke instalasi Bukan Konsumen dimaksud dan melaporkannya kepada instansi yang berwajib. TS4 dan Biaya P2TL Lainnya dapat dibayar secara angsuran. Tagihan Susulan dan Biaya P2TL Lainnya harus dibayar tunai atau atas permintaan Pelanggan dapat dibayar secara angsuran dengan jangka waktu paling lama 12 bulan. maka Tagihan Susulan dan Biaya P2TL Lainnya dibuat oleh PLN secara sepihak bersamaan dengan surat peringatan I. namun atas permintaan Bukan Konsumen dengan alasan yang dapat diterima PLN.

4.TS1 = 6 X (2 X Daya Tersambung) X Biaya Beban atau Rekening Minimum konsumen sesuai Tarif Dasar Listrik. Untuk perhitungan TS4 menggunakan daya kedapatan yang terkecil antara alat pembatas atau kemampuan hantar arus (KHA) suatu penghantar yang selanjutnya daya kedapatan tersebut disesuaikan dengan daya terdekat dan golongan tarif sesuai Peraturan Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral Nomor 07 Tahun 2010. Untuk daya sampai dengan 900 VA TS1 = 6 X {2 X Daya Tersambung(kVA)} X Biaya Beban(Rp/kVA). TS4 = {9 X (2X Daya Kedapatan) X Biaya Beban atau rekening minimum konsumen sesuai Tarif Dasar Listrik} + {9 X 720 jam X Daya Kedapatan X 0.85 X Tarif tertinggi pada golongan tarif sesuai Tarif Dasar Listrik yang dihitung berdasarkan Daya Kedapatan}. Untuk daya sampai dengan 900 VA TS4 = {(9 x (2 x (daya kedapatan (kVA)) x Biaya Beban(Rp/kVA)))} + {(9 x 720 jam x (daya kedapatan (kVA)) x 0. dengan perhitungan sebagai berikut : a. Pelanggaran Golongan III (P III): Pelanggaran Golongan IV (P IV): TS3 = TS1 + TS2. Perhitungan TS1. TS2 dan TS4 sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung sesuai dengan Lampiran II sampai dengan IX Keputusan ini. 21 (2) (3) . Untuk daya lebih besar dari 900 VA TS4 = {(9 x (2 x 40 jam nyala x (daya kedapatan (kVA)) x Tarif tertinggi pada golongan tarif sesuai Tarif Dasar Listrik yang dihitung berdasarkan Daya Kedapatan)} + {(9 x 720 jam x (daya kedapatan (kVA)) x 0.85 x Tarif tertinggi pada golongan tarif sesuai Tarif Dasar Listrik yang dihitung berdasarkan Daya Kedapatan)} Biaya Beban dan Rekening Minimum ditetapkan sesuai dengan Peraturan Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral Nomor 07 Tahun 2010. Pelanggaran Golongan II (P II): TS2 = 9 X 720 jam X Daya Tersambung X 0.85 X harga per kWh yang tertinggi pada golongan tarif pelanggan sesuai Tarif Dasar Listrik. Untuk daya lebih besar dari 900 VA TS1 = 6 X (2 X Rekening Minimum (Rp) pelanggan sesuai Tarif Dasar Listrik) Biaya Beban dan Rekening Minimum ditetapkan sesuai dengan Peraturan Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral Nomor 07 Tahun 2010 2. 3. b. dengan perhitungan sebagai berikut : a.85 x Tarif tertinggi pada golongan tarif sesuai Tarif Dasar Listrik yang dihitung berdasarkan Daya Kedapatan)} b.

konsumsi Petugas P2TL PLN. Bagian Kedua Anggaran P2TL Pasal 24 Anggaran pelaksanaan P2TL harus dianggarkan dan dapat direalisasikan. Petugas P2TL berhak untuk mendapatkan: Perlindungan hukum dan keamanan di luar maupun di dalam proses peradilan yang biayanya menjadi beban PLN. a. alat pendukung. yang meliputi: a. Petugas P2TL agar melaporkan kepada PPNS atau POLRI untuk diproses lebih lanjut. d. alat kerja. (1) Anggaran pelaksanaan P2TL adalah biaya peralatan dan biaya operasional yang diantaranya terdiri dari biaya. Bagian Ketiga Laboratorium P2TL Pasal 25 22 b. transportasi. Anggaran penyelesaian hukum adalah biaya yang diperlukan untuk penyelesaiaan hukum perkara P2TL secara Perdata maupun pidana termasuk biaya untuk perlindungan keamanan dan perlindungan hukum bagi Petugas P2TL. Insentif informan adalah penghargaan berupa uang tunai yang diberikan kepada pemberi informasi baik pegawai PLN maupun masyarakat sehubungan adanya dugaan pelanggaran perjanjian jual beli tenaga listrik atau pencurian tenaga listrik. BAB XI KETENTUAN LAIN – LAIN Bagian Kesatu Hak dan Sanksi Petugas P2TL Pasal 23 (1) Dalam melaksanakan P2TL. Premi adalah penghargaan berupa uang tunai yang diberikan kepada Petugas P2TL PLN. b.BAB X PENYIDIKAN Pasal 22 (1) Dalam hal hasil pemeriksaan barang bukti sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 terdapat dugaan terjadinya pencurian tenaga listrik. . Premi P2TL sesuai Keputusan Direksi. (2) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib dilengkapi dengan Berita Acara hasil pemeriksaan P2TL dan Berita Acara pengambilan barang bukti. (2) Apabila Petugas P2TL dalam menjalankan tugasnya terbukti tidak mentaati dan atau melakukan penyimpangan terhadap ketentuan-ketentuan dalam Keputusan Direksi ini dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan disiplin pegawai yang berlaku. c. administrasi.

yang dibuat secara rutin bulanan dan dilaporkan kepada Pemberi Tugas atau Penanggung Jawab P2TL. BAB XII KETENTUAN PENUTUP Pasal 27 (1) Dengan berlakunya Keputusan Direksi ini maka Keputusan Direksi PLN No. (2) Unit Pelaksana Induk harus membuat Laporan Pendapatan P2TL secara rutin setiap triwulan ke PLN Kantor Pusat dan selanjutnya PLN Pusat menyampaikan Laporan tersebut setiap enam bulan kepada Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi dengan menggunakan formulir sebagaimana dimaksud pada Lampiran Keputusan Direksi ini. TS2. dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.1/2008. pendapatan kWh dan pendapatan rupiah. 318-12/20/600. maka pada masing-masing PLN Unit Pelaksana APJ/AJ/Cabang tertinggi diharapkan mempunyai laboratorium P2TL. Pendapatan kWh dan rupiah yang berasal dari TS1. (3) (4) Pendapatan Biaya Lainnya sebagai akibat P2TL dibukukan pada pendapatan lain-lain. Ditetapkan di Jakarta. Pembukuan kWh dan rupiah P2TL dilakukan sekaligus setelah TS1. 234. maka pemeriksaan barang bukti temuan P2TL dapat dilaksanakan pada laboratorium independen yang mempunyai akreditasi dari pihak yang berwenang atau Laboratorium dari PLN Unit Pelaksana terdekat atau PLN Unit Pelaksana Induk. TS2. dan ketentuan-ketentuan lain yang bertentangan dengan Keputusan Direksi ini. Apabila pada PLN Unit Pelaksana APJ/AJ/Cabang tertinggi atau yang lebih kecil tidak tersedia Laboratorium P2TL. pada tanggal : Agustus 2010 (2) 23 24 . Untuk pembayaran secara angsuran dibukukan setelah ditandatanganinya Surat Pengakuan Hutang (SPH) oleh Pemakai Tenaga Listrik atau yang mewakili. (2) Bagian Keempat Laporan dan Pembukuan Pendapatan P2TL Pasal 26 (1) Petugas Administrasi P2TL harus membuat Laporan Target dan Realisasi Pelaksanaan P2TL yang meliputi: jumlah Pemakai Tenaga Listrik.(1) Untuk mendukung pelaksanaan pemeriksaan barang bukti temuan P2TL. Keputusan Direksi ini mulai berlaku terhitung sejak tanggal disahkan oleh Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi. K/DIR/2008 tentang Penertiban Pemakaian Tenaga listrik yang telah disahkan oleh Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi No. TS3 dan TS4 harus dibukukan sebagai kWh jual dan rupiah pendapatan. TS3 dan TS4 disetujui untuk dibayar baik dibayar secara tunai maupun secara angsuran.