BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG Hak-hak narapidana wanita sebagai warga negara Indonesia yang hilang kemerdekaannya karena melakukan tindak pidana, haruslah dilakukan sesuai dengan hak asasi manusia. Sering dijumpai dalam Lembaga Pemasyarakatan bahwa hak-hak narapidana belum diberikan sesuai dengan hak mereka sebagai warga negara. Hal ini di sebabkan oleh beberapa faktor, dintaranya kurang dipahaminya peraturan mengenai hak-hak narapidana yang tertuang dalam Undang-Undang oleh petugas Lembaga Pemasyarakatan atau bahkan oleh narapidana sendiri. Sebagai negara hukum hak-hak narapidana harus dilindungi oleh hukum dan penegak hukum khususnya para staf di Lembaga Pemasyarakatan, sehingga merupakan sesuatu yang perlu bagi negara hukum untuk menghargai hak-hak asasi narapidana sebagai warga masyarakat yang harus diayomi walaupun telah melanggar hukum. Disamping itu narapidana perlu diayomi dari perlakuan tidak adil, misalnya penyiksaan, tidak mendapatkan fasilitas yag wajar dan tidak adanya kesempatan untuk mendapatkan remisi. Pidana penjara dalam sejarahnya dikenal sebagai reaksi masyarakat sebagai adanya tindak pidana yang dilakukan oleh seorang pelanggar hukum. Oleh kerena itu pidana penjara juga disebut sebagai pidana hilang kemerdekaan.

1

2

Seseorang dibuat tidak berdaya dan diasingkan secara sosial dari lingkungan semula Menurut Dr. Sahardjo S.H yang dikutip oleh Harsono ( 1995:1 ) untuk memperlakukan narapidana diperlukan landasan sistem Pemasyarakatan. Dengan singkat tujuan Pemasyarakatan mengandung makna: “ Bahwa tidak saja masyarakat diayomi terhadap perbuatan jahat oleh terpidana melainkan juga orang yang tersesat diayomi dengan memberikan kepadanya bekal hidup sebagai warga yang berguna dalam masyarakat. Dari pengayoman itu nyata bahwa penjatuhan pidana bukanlah tindakan balas dendam oleh negara........... Tobat tidak dapat dicapai dengan penyiksaan melainkan dengan bimbingan. Terpidana juga tidak dijatuhi pada penyiksaan melainkan pada hilangnya kemerdekaan seseorang dan yang pada waktunya akan mengembalikan orang itu kepada masyarakat, yang mempunyai kewajiban terhadap orang terpidana itu dan masyarakat itu “ Tujuan pemberian sanksi pidana penjara untuk membina, yaitu membuat pelanggar hukum menjadi bertobat dan bukan berfungsi sebagai pembalasan. Pandangan dan pemahaman seperti itulah yang sesuai dengan pandangan hidup bangsa yang terkandung dalam Pancasila, yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Di dalam KUHP pemberian sanksi pidana terdapat dalam pasal 10 KUHP yaitu: a. Pidana Pokok 1. pidana mati 2. pidana penjara 3. kurungan 4. denda b. Pidana Tambahan 1. pencabutan hak-hak tertentu

3

2. perampasan barang-barang tertentu 3. pengumuman putusan Hakim Menurut Undang-Undang No. 12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan Pasal 1 ayat ( 1 ) yang dimaksud dengan Pemasyarakatan adalah kegiatan untuk melakukan pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan berdasarkan sistem kelembagaan yang merupakan bagian akhir dari sistem pemidanaan dalam tata peradilan pidana. Proses Pemasyarakatan ini dikenakan pada narapidana yaitu terpidana hilang kemerdekaan di Lembaga Pemasyarakatan. Dengan demikian Lembaga Pemasyarakatan merupakan tempat untuk merealisasikan pemberian sanksi pidana penjara terhadap narapidana. Tujuan sistem Peradilan Pidana adalah: 1. Tujuan jangka pendek, yaitu resosialisasi dan rehabilitasi pelaku tindak pidana 2. Tujuan jangka menengah, yaitu pengendalian dan pencegahan kejahatan dalam kontek politik kriminal 3. Tujuan jangka panjang, yaitu kesejahteraan masyarakat dalam konteks politik sosial (Petrus dan Pandapotan, 1995:54 ) Dapat disimpulkan bahwa Lembaga Pemasyarakatan adalah instansi terakhir dari sistem peradilan pidana dan sebagai pelaksana putusan pengadilan sangat stategis dalam merealisasikan tujuan akhir dari sistem peradilan pidana, yaitu rehabilisasi dan resosialisasi pelanggar hukum, bahkan sampai pada penanggulangan kejahatan.

Lembaga Pemasyarakatan merupakan tempat untuk mendidik narapidana untuk menjadi warga negara yang baik yang kemudian dikembalikan kepada masyarakat. Lembaga Pemasyarakatan terdiri dari beberapa jenis yaitu Lembaga Pemasyarakatan Umum. Dalam hal ini ganjaran dan kerugian yang ditimbulkan oleh pelaku dianggap tidak setimpal. tetapi harus menghilangkan prasangka buruk akan adanya kemungkinan melakukan kejahatan kembali dengan cara menerima mantan narapidana bekerja diberbagai lapangan pekerjaan. Narapidana mempunyai hak-hak yang harus dilindungi dan diayomi. Luka di hati masyarakat seperti ini terus ikut dan membekas sehingga masyarakat terus menuntut balas dengan berbagai pola. Harus diakui narapidana adalah pelanggar hukum yang merugikan orang lain. Kenyataan yang kerap kali terjadi adalah narapidana ditolak dan dikucilkan dari masyarakat. Dalam hal ini masing-masing narapidana harus . tentunya tidak sekedar menerima menjadi anggota keluarga ataupun lingkungannya. bahkan mengorbankan keluarganya sendiri hanya untuk kepentingan dan alasan-alasan tertentu.4 Faktor penerimaan masyarakat terhadap bekas narapidana. Ketiga Lembaga Pemasyarakatan itu berbeda-beda baik kegiatan ataupun program yang ada. Hak antara narapidana pria. baik yang berasal dari hukum nasional maupun sistem pemasyarakatan Indonesia yang jelas-jelas berdasarkan Pancasila. narapidana wanita dan narapidana anak berbeda-beda. Lembaga Pemasyarakatan Wanita dan Lembaga Pemasyarakatan Anak. walaupun menjadi terpidana hak-hak yang melekat pada dirinya tetap harus dihargai. satu diantaranya membenci bekas narapidana serta keluarganya. Sebagai manusia ciptaan Tuhan. Hak itu harus diakui dan dilindungi oleh hukum.

hamil.2. Sudah menjadi kodrat wanita mengalami siklus menstruasi. melahirkan dan menyusui yang tidak dipunyai oleh narapidana lain.1 Identifikasi masalah Narapidana wanita yang hak-haknya dilindungi oleh hak asasi manusia.2 IDENTIFIKASI DAN PEMBATASAN MASALAH 1. Narapidana wanita dibina dan dididik untuk menjadi warga negara yang baik dalam Lembaga Pemasyarakatan. Berdasarkan uraian mengenai pembinaan narapidana dan pemberian hakhak yang diberikan oleh Lembaga Pemasyarakatan di atas. maka penulis tertarik untuk mengetahui lebih dalam bentuk skripsi dengan judul: “PEMBINAAN NARAPIDANA KAITANNYA MELALUI DENGAN SISTEM HAK-HAK PEMASYARAKATAN NARAPIDANA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN WANITA KLAS IIA SEMARANG” 1. 12 tahun 1995. sehingga sudah menjadi suatu kewajaran bahwa narapidana wanita mempunyai hak-hak istimewa dibandingkan dengan narapidana lain. . sehingga masyarakat tidak berhak untuk memperlakukan narapidana wanita maupun mantan narapidana wanita sebagai orang yang tercela. mereka hanya seseorang yang melakukan tindakan yang melanggar hukum sehingga mereka kehilangan kemerdekaan dan diasingkan dari pergaulan masyarakat pada umumnya.5 ada yang dikedepankan. Yang jadi pertanyaan adalah apakah hak-hak narapidana wanita itu dilindungi sebagai mana mestinya seperti yang tertuang dalam Undang-Undang No.

tenaga medis. psikolog maupun sarana administrasi dan keuangan. tenaga personalia. yaitu rehabilitasi dan resosialisasi pelanggar hukun bahkan sampai pada penanggulangan kejahatan. Disamping itu yang sering kali muncul ke permukaan adalah belum dapat dipahaminya prinsip-prinsip pemasyarakatan oleh petugas Lembaga Pemasyarakatan. kalau narapidana wanita itu melakukan tindak kejahatan kembali.6 dimana mereka juga mempunyai hak-hak sebagai narapidana dalam Lembaga Pemasyarakatan yang hak-haknya harus dipenuhi oleh Lembaga Pemasyarakatan. Lembaga Pemasyarakatan Wanita sebagai lembaga binaan. seperti instruktur yang ahli dalam bidangnya. yaitu narapidana wanita itu menjadi warga negara yang taat pada hukum. posisinya sangat strategis dalam merealisasikan tujuan akhir dari sistem peradilan pidana. Penilaian dapat negatif. tempat latihan kerja. yang pada akhirnya mereka akan dikembalikan kepada masyarakat. Lembaga Pemasyarakatan Wanita dalam perkembangannya sebagai bagian integral dari sistem peradilan pidana yang dalam pelaksanaannya mengalami berbagai hambatan. seperti keterbatasan sarana fisik berupa gedung. Sisi lain dari persoalan yang ada di Lembaga Pemasyarakatan Wanita adalah permasalahan di luar Lembaga . Penilaian itu dapat positif manakala pembinaan narapidana wanita dapat mencapai hasil maksimal. Keberhasilan dan kegagalan yang dilakukan oleh Lembaga Pemasyarakatan Wanita akan memberikan kemungkinankemungkinan penilaian yang bersifat positif maupun negatif.

(Karlinger dalam Burhan Ashofa.2. 1. yaitu pandangan masyarakat terhadap Lembaga Pemasyarakatan wanita bermacam-macam bentuknya. Narapidana Wanita. keluarga. disatu pihak ada yang menganggap bahwa Lembaga Pemasyarakatan sebagai tempat pembinaan Dengan adanya berbagai persoalan yang dihadapi oleh Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. 1. sudah tentu menjadi sandungan bagi pelaksanaan pembinaan narapidana wanita. Yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: . dan petugas Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang.3 PERUMUSAN MASALAH Masalah didefinisikan sebagai sesuatu pertanyaan yang coba dicari jawabannya. dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak yaitu masyarakat.2 Pembatasan Masalah Sehubungan dengan berbagai masalah yang dihadapi oleh Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang sebagaimana diuraikan dalam identifikasi masalah. Jadi rumusan persoalan adalah rumusan yang perlu dipecahkan atau pertanyaan yang perlu dijawab. 2001:118). maka dalam penelitian ini peneliti hanya membatasi masalah yang berhubungan dengan pembinaan narapidana berkaitan dengan hak-haknya di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang.7 Pemasyarakatan Wanita. Oleh karena itu keberhasilan pembinaan Narapidana Wanita memerlukan kesadaran.

12 tahun 1995 di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang ? 2. .5 KEGUNAAN PENELITIAN Hasil penelitian ini diharapkan ada kegunaannya. Untuk memperoleh informasi tentang perlindungan hak-hak narapidana yang diberikan oleh Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. Untuk memperoleh informasi tentang praktek penyelenggaraan pembinaan narapidana wanita menurut Undang-Undang No. kriminologi dan proses pembinaan di Lembaga Pemasyarakat wanita. Bagi Ilmu Pengetahuan Untuk memberi tambahan pemikiran bagi perkembangan IPTEK yang diharapkan dapat bermanfaat bagi mereka yang mendalami pengetahuan hukum pidana.4 TUJUAN PENELITIAN Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berukut: 1. 1. Bagaimanakah praktek penyelenggaraan pembinaan narapidana wanita menurut Undang-Undang No.12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang.8 1. Bagaimanakah perlindungan yang diberikan oleh Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang Klas IIA Semarang terhadap hak-hak narapidana Wanita ? 1. khususnya di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah: 1. 2.

Penelaahan kepustakaan dan/atau kerangka teoritik dengan pokok-pokok sebagai berikut pengertian tindak kejahatan. Bagi Masyarakat Untuk menginformasikan atau memberitahukan kepada masyarakat luas akan keberadaan Lembaga Pemasyarakatan wanita. pernyataan. Bagian pendahuluan berisi tentang latar belakang masalah. dan bagian akhir skripsi. pengesahan kelulusan. daftar isi. lembaga pemasyarakatan wanita. 1. khususnya Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang sebagai tempat untuk pembinaan narapidana wanita agar dapat menjadi manusia yang berguna bagi agama.sari. pembinaan narapidana melalui sistem pemasyarakatan kaitannya dengan hak-hak narapidana. sistem pemasyarakatan. keluarga. hak dan kewajiban narapidana. Bagian pokok skripsi yaitu pendahuluan yang terdiri dari uraian keadaan umum yang mewarnai masalah yang terjadi dalam topik penelitian. identifikasi dan pembatasan masalah.9 2.6 SISTEMATIKA SKRIPSI Garis besar skripsi terbagi menjadi tiga bagian yaitu bagian awal skripsi. halaman motto. Bagian awal skripsi terdiri dari halaman judul. daftar gambar. perumusan masalah. kegunaan penelitian. bangsa dan negara. daftar tabel dan daftar lampiran. bagian pokok skripsi. persetujuan pembimbing. prakata. dan persembahan. . tujuan penelitian. sistematika penulisan.

pada bagian ini merupakan bab terakhir dari pokok skripsi yang terdiri dari simpulan dan saran. Hasil penelitian dan pembahasan.12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. lokasi penelitian. berisi tentang daftar pustaka dan daftar lampiran. 2. prosedur penelitian.10 Metode penelitian. isi bab ini secara garis besar dapat diperinci menjadi sub-sub bab: 1. keabsahan data. sumber data. . fokus penelitian. Praktek Penyelengaraan Narapidana Wanita menurut Undang_undang No. metode analisis data. alat dan teknik pengumpulan data. Bagian akhir skripsi. Perlindungan yang diberikan oleh Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang Klas IIA Semarang terhadap hak-hak narapidana wanita. Penutup. pada bagian ini disajikan tentang dasar penelitian.

Moelyatno. Dalam rumusan tersebut. asal saja dalam pada itu diingat bahwa larangan ditujukan kepada perbuatan (yaitu suatu keadaan atau kejadian yang ditimbulkan oleh kelakuan orang). Adanya orang yang berbuat yang menimbulkan kejadian tersebut. Pidana iaiah orang yang melakukan perbuatan yang menimbulkan akibat yang dilarang tersebut. bahwa yang dilarang adalah perbuatan yang menimbulkan akibat yang dilarang dan diancam sanksi. adanya kejadian yang tertentu. 2.SH dalam Soeharto (1991:22) kata perbuatan dalam perbuatan pidana mempunyai arti yang abstrak yaitu suatu pengertian yang merujuk pada dua kejadian yang kongrit yaitu: 1. bagi barang siapa melanggar aturan tersebut. . Menurut Prof. Menurut Soeharto (1991:22) perbuatan pidana iaiah perbuatan yang dilarang oleh aturan hukum dan barang siapa yang melanggar larangan tersebut dikenakan sanksi pidana.1 PENGERTIAN PERBUATAN PIDANA Menurut Moelyatno (1993:55) perbuatan pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu. sedangkan ancaman pidananya ditujukan kepada orang yang menimbulkan kejahatan itu. Dapat juga dikatakan perbuatan pidana adalah perbuatan yang oleh aturan hukum dilarang dan diancam pidana.11 BAB II PENELAAHAN KEPUSTAKAAN DAN/ATAU KERANGKA TEORITIK 2.

12 2. Harus terbukti adanya dosa pada orang yang melakukan tindak kejahatan d. Terhadap perbuatan itu harus tersedia ancaman hukuman dalam UndangUndang . yaitu sangat bergantung pada manusia yang memberikan penilaian itu.2 PENGERTIAN TINDAK KEJAHATAN Menurut Bawengan ( 1974:20). kejahatan adalah suatu nama atau cap yang diberikan orang untuk menilai perbuatan-perbuatan tertentu. Perbuatan itu harus sesuai dengan apa yang dirumuskan dalam ketentuan hukum pidana c. Perbuatan itu harus berlawanana dengan hukum e. Tindak kejahatan merupakan perbuatan masyarakat ditinjau dari segi kesusilaan kejahatan adalah perbuatan yang melanggar kesusilaan yang oleh Bonger dan Simanjuntak ( 1981:72 ) menyatakan bahwa dipandang secara formal kejahatan adalah perbuatan yang oleh masyarakat ( dalam hal ini negara) diberi hukuman atau pidana. Untuk membantu atau mengklarifikasikan atau menentukan suatu perbuatan ke dalam kejahatan atau tidak maka dapat dilihat unsur-unsur kejahatan seperti yang dikemukakan oleh Simanjuntak ( 1981: 78 ) yaitu: a. maka ia memiliki pengertian yang relatif. Menurut Sutherland ( 2001: 12) bahwa ciri pokok dari kejahatan adalah perilaku yang dilarang oleh negara karena merupakan perbuatan yang merugikan negara dan terhadap perbuatan itu negara bereaksi dengan hukuman sebagai upaya pamungkas. Harus ada perbuatan manusia b. sebagai perbuatan jahat. Oleh karena pengertian itu bersumber dari nilai-nilai dari masyarakat.

(Santoso Topo dan Zulfa 2001:10) 2.H dikemukakan suatu gagasan “Pemasyarakatan” sebagai tujuan dari pidana penjara yaitu disamping menimbulkan rasa derita pada terpidana karena dihilangkanya kemerdekaanya.13 Dalam pengertian yuridis membatasi kejahatan sebagai perbuatan yang ditetapkan oleh negara sebagai kejahatan dalam hukum pidananya dan diancam dengan suatu sanksi. . Sementara penjahat merupakan para pelanggar hukum pidana tersebut dan telah diputus oleh Pengadilan atas perbuatan tersebut. Dengan dasar membela dan mempertahankan hak asasi manusia pada suatu negara hukum maka oleh Dr. Gejala yang dinamakan kejahatan pada dasarnya terjadi di dalam proses dimana interaksi sosial antara bagian dalam masyarakat yang mempunyai kewenangan untuk melakukan perumusan tentang kejahatan dengan pihak-pihak mana yang memang melakukan kejahatan. Secara sosiologis kejahatan merupakan suatu perilaku manusia yang diciptakan oleh masyarakat.3 SISTEM PEMASYARAKATAN Sebagai negara yang sudah merdeka dan juga sebagai negara hukum. Sahardjo S. Penetapan aturan hukum pidana merupakan gambaran dari reaksi negatif masyarakat atas suatu kejahatan yang diwaliki oleh para pembentuk Undang-Undang. narapidana harus mendapat perlindungan hukum dari pemerintah dalam rangka mengembalikan mereka kedalam masyarakat sebagai warga negara yang baik.

maka Pemasyarakatan melahirkan suatu pembinaan yang di kenal dan dinamakan Sistem Pemasyarakatan. narapidana bukanlah orang hukuman. Adapun yang dimaksud dengan Sistem Pemasyarakatan dalam Undang-Undang No. 1917 No. dengan karakterisrik sepuluh prinsip pokok yang semuanya bermuara pada suatu falsafah. memperbaiki diri dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali dalam lingkungan masyarakat.14 Negara membimbing terpidana dengan bertobat. Pola ini dipertahankan hingga tahun 1963. Pembinaann narapidana secara institusional di dalam sejarahnya di Indonesia dikenal sejak diberlakukannya Reglement penjara stbl. Pola ini mengalami pembaharuan sejak di kenal sistem pemasyarakatan. Pemikiran-pemikiran baru mengenai pembinaan yang tidak lagi mengenai penjeraan tapi juga merupakan suatu usaha rehabilitasi sosial warga binaan. . 708. terdapat proses pemasyarakatan yang diartikan sebagai suatu proses sejak seseorang narapidana atau anak didik masuk ke Lembaga Pemasyarakatan sampai lepas kembali ke tengah-tengah masyarakat. (Petrus dan Pandapotan 1995:25) Di dalam sistem pemasyarakatan.12 tahun 1995 Pasal (1) Ayat (2 ) adalah: Sistem Pemasyarakatan adalah suatu tatanan mengenai arah dan batas serta cara pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan berdasarkan Pancasila yang dilaksanakan secara terpadu antara pembina. yang dibina dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas Warga Binaan Pemasyarakatan agar menyadari kesalahan. dapat aktif berperan dalam pembangunan. mendidik sehingga ia menjadi seorang anggota masyarakat Indonesia yang berguna. dan dapat hidup secara wajar sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab.

sekalipun image yang menyeramkan dicoba untuk dinetralisir. Istilah “penjara” sekarang sudah tidak dipakai atau sudah diganti dengan sebutan “Lembaga Pemasyarakatan” karena sejarah pelaksanaan pidana penjara telah mengalami perubahan dari sistem kepenjaraan yang berlaku sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda sampai munculnya gagasan hukum pengayoman yang menghasilkan perlakuan narapidana dengan sistem pemasyarakatan Tentang sistem Pemasyarakatan itu. Dalam Sistem baru pembinaan nrapidana bangunan Lembaga Pemasyarakatan mendapat prioritas khusus. (Harsono 1995:32) Penjara dulu sebutan tempat bagi orang yang menjalani hukuman setelah melakukan kejahatan. khususnya masyarakat di tempat tinggal asal mereka.H (1982:183) berpendapat sebagai berikut: “Suatu elemen yang berinteraksi yang membentuk satu kesatuan yang integral. bambang Poernomo. 2. S.4 LEMBAGA PEMASYARAKATAN Sejarah pertumbuhan dan perkembangan pidana penjara sebagai pidana hukuman tumbuhnya bersamaan dengan sejarah perlakuan terhadap terhukum (narapidana ) serta adanya bangunan yang harus didirikan dan pergunakan untuk menampung para terhukum yang kemudian dikenal dengan bangunan penjara.15 Dari uraian di atas maka Sistem Pemasyarakatan mempunyai tujuan akhir yaitu memulihkan kesatuan hubungan sosial ( reintegrasi sosial ) Warga Binaan dalam masyarakat. Sebab bentuk bangunan yang sekarang ada masih menunjukkan sifat-sifat asli penjara. berbentuk konsepsi tentang perlakuan terhadap orang yang melanggar hukum .

5 PENGERTIAN WANITA Wanita adalah seseorang yang dikodratkan oleh Tuhan. (Kementerian Pemberdayaan Perempuan 2002:8) Waniat merupakan kaum yang secara fisik kurang kuat dibandingkan kaum pria.11) 2. haid. begitu pula waniat yang melakukan kejahatan. resosialisasi yang berisi unsur edukatif. Para pelaku kejahatan akan di pidana sesuai dengan kejahatan yang telah dilakuakn dan akan memperoleh pembinaan serta bimbingan di Lembaga Pemasyarakatan. dan melahirkan serta memiliki rahim tidak dapat dirubah. defensif yang beraspek pada individu dan sosial” Peran Lembaga Pemasyarakatan memudahkan pengintegrasian dan penyesuaian diri dengan kehidupan masyarakat.16 pidana di atas dasar pemikiran rehabilitasi. berjenis kelamin biologis (seks) sebagai perempuaan yang berciri-ciri menyusui. dan secara psikologis lebih banyak menggunakan perasaan dan lemah lembut penuh kasih sayang. dipertukarkan.oleh karena itu kejahatan yang dilakukan olekh wanita biasanya dilakuakn karena keterpaksaan. korelatif. . (Departemen Kehakiman RI. dan berlaku sepanjang masa. tujuannya agar mereka dapat merasakan bahwa sebagai pribadi dan warga negara Indonesia yang mampu berbuat sesuatu untuk kepentingan bangsa dan negara seperti pribadi dan warga negara Indonesia lainnya serta mereka mampu menciptakan opini dan citra masyarakat yang baik.

Bentuk perlakuan dituangkan dalam usaha Lembaga Pemasyarakatan untuk membina narapidana. baik usia maupun jenis kelamin.6 LEMBAGA PEMASYARAKATAN WANITA Pembaharuan pidana penjara bukanlah menghapus jenis tindakan pidana penjara tapi merupakan usaha pergantian dari kepenjaraan menjadi sistem Pemasyarakaatn. b. e. Jenis kejahatan. mendapatkan ketrampilan serta berguna bagi keluaga dan masyarakat serta tidak lagi mengulangi kejahatan. Kriteria lain yang sesuai denagn kebutuhan atau perkembanagn pembinaan” Sedangkan dalam ayat (2) menyebutkan: “Pembinaan narapidana wanita di Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS) di laksanakan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita” .17 2. Jenis kelamin. Usaha itu berupa pembagian Lembag Pemasyarakatan menurut kategori. c. d. Berbagai upaya telah dilakukan Lembaga Pemasyarakatan dalam rangka mewujudkan pelaksanaan pidana yang efektif dan efisien agar narapidana dapat mengenal diri sendiri. Tangerang serta Medan. Hal ini di dasarkan atas pertimbangan bahwa kepenjaraan sudah tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia yang dalam kehidupan sehari-hari selalu berpedoman dan berlandaskan Pancasila. Semarang. Hal tersebut diatur dalam UndangUndang No. untuk mengenal diri sendiri. Lama pidana yang dijatuhkan.12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan Pasal (12) ayat (1) yang berbunyi: “Dalam rangka pembinaan terhadap narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS) dilakukan penggolongan atas dasar: a. Umur. (Harsono 1995:80) Lembaga Pemasyarakatan khusus wanita antara lain terdapat di kota Malang. beriman dan bertakwa.

hanya sedikit kekhususan dimana di LP Wanita diberikan pembinaan ketrampilan seperti menjahit. Dengan pidana yang dijalani narapidana itu. mengkristik. serta dibekali ketrampilan serta pekerjaan yang diharapkan dapat berguna setelah ia kembali ke masyarakat serta keluarganya. khususnya perlindungan hak-hak asasinya sebagai manusia. bukan berarti hak-haknya dicabut. sedangkan pada narapidana laki-laki sifat pekerjaannya agak berat. narapidana sewaktu menjalani pidana di Lembaga Pemasyarakatan dalam beberapa hal kurang mendapat perhatian. Pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita disesuikan denagn kemampuan serta kebutuhan wanita. Pemidanaan pada hakekatnya mengasingkan dari lingkungan masyarakat serta sebagai pembebasan rasa bersalah.7 HAK DAN KEWAJIBAN NARAPIDANA Harus diakui. Penghukuman bukan bertujuan mencabut hak-hak asasi yang melekat pada dirinya sebagai manusia. 2.18 Tujuan didirikan Lembaga Pemasyarakatan wanita adalah untuk memisahkan antara narapidana wanita dengan narapidana laki-laki demi faktor keamanan dan faktor psikologis. menyulam. Cara pembinaan narapidana wanita tidak jauh berbeda dengan Lembaga Pemasyarakatan pada umumnya. . dan memasak bahkan dalam Lembaga Pemasyarakatan Wanita diberikan cuti haid yang merupakan salah satu pelaksanaan pembinaan dan dalam hal pekerjaan terdapat kekhususan yaitu pada narapidana wanita sifat pekerjaannya tidak begitu berat.

tidak diperkenankan mengurung pada sel gelap dan hukuman badan. atau memiliki prospek. sakit dari anggota keluarga. fasilitas akomodasi yang harus meiliki ventilasi. perlu dikaitkan dengan pedoman PBB Mengenai Standar Minimum Rules untuk memperlakukan narapidana yang menjalani hukuman ( Standard Minimum Rules For the Treatmen Of Prisoner. hak untuk mendapatkan pelayanan dokter umum maupun dokter gigi. hak untuk berkomunikasi dengan dunia luar. melakukan ibadah sesuai dengan agamanya. hak untuk mendapatkan jaminan penyimpanan barang-barang berharga. narapidana mempunyai hak-hak seperti hak untuk surat menyurat. hak untuk mendapatkan bahan bacaan berupa buku-buku yang bersifat mendidik. memperoleh bebas bersyarat. hak untuk diperlakukan adil menurut peraturan dan hak untuk membela diri apabila dianggap indisipliner.19 Untuk itu. borgol dan jaket penjara tidak boleh dipergunakan narapidana. mendapatkan air serta perlengkapan toilet. pakaian dan tempat tidur. menyampaikan keluhan. remisi. hak untuk berolah raga ditempat terbuka. asimilasi serta bebas bersyarat. Hak-hak narapidana di Indonesia melalui sistem pemasyarakatan dikatakan baik. yang meliputi: buku register. (Elsam 1996:5-17) . dewasa dan anak-anak. mendapat upah atas pekerjaan. cuti. hak untuk mendapatkan pelayanan agama. pemberitauan kematian. sistem pemasyarakatan secara tegas menyatakan. berhak mengetahui peraturan yang berlaku serta saluran resmi untuk mendapatkan informasi dan menyampaikan keluhan. mendapat pelayanan kesehatan. pemisahan narapidana pria dan wanita. makanan sehat. fasilitas sanitasi yang memadai. 31 juli 1957 ). hak untuk dikunjungi dan mengunjungi.

Mendapatkan pendidikan dan pengajaran 4. Melakukan ibadah sesuai dengan agama atau kepercayaannya 2. tidak mendapat fasilitas yang wajar dan tidak adanya kesempatan untuk mendapat remisi. misalnya penyiksaan. Mendapatkan cuti menjelang bebas . Menerima kunjungan keluarga. Mendapat perawatan baik rohani maupun jasmani 3. Disamping itu juga ada ketidakadilan perilaku bagi narapidana. khususnya para staf di Lembaga Pemasyarakatan. Mendapatkan kesempatan berasimilasi ternasuk cuti mengunjungi keluarga 11. Mendapatkan bahan bacaan dan mengikuti siaran media massa lainnya yang tidak dilarang 7. Mendapatkan upah atau premi atas pekerjaan yang dilakukan 8. Untuk itu dalam Undang-undang No. atau orang tertentu lainnya 9. 12 tahun 1995 Pasal ( 14 ) secara tegas menyatakan narapidana berhak: 1.20 Sebagai negara hukum hak-hak narapidana itu dilindungi dan diakui oleh penegak hukum. penasehat hukum. Mendapatkan pembebasan bersyarat 12. Menyampaikan keluhan 6. Mendapatkan pelayanan kesehatan dan makan yang layak 5. Mendapatkan pengurangan masa pidana 10. Narapidana juga harus harus diayomi hak-haknya walaupun telah melanggar hukum.

12 Tahun 1995 tentang pemasyarakatan Pasal (15) yaitu: 1. 2. hamil. 3. dan menyusui maka dalam hal ini hak-hak narapidana wanita perlu mendapat perhatian yang khusus baik menurut Undang-Undang maupun oleh petugas Lembaga Pemasyarakatan. melakirkan. patuh dan hormat kepada semua petugas Wajib menghargai semua warga binaan . Narapidana wajib mengikuti secara tertib program pembinaan dan kegiatan tertentu 2. diantaranya karena wanita mempunyai kodrat yang tidak dipunyai oleh narapidana pria yaitu menstruasi. Mentaati semua peraturan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Wajib berlaku sopan. Dalam peraturan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang juga tercantum kewajiban narapidana wanita yaitu: 1. Pada dasarnya hak antara narapidana perempuan dan narapidana pria adalah sama. hanya dalam hal ini karena narapidananya adalah wanita maka ada beberapa hak yang mendapat perlakuan khusus dari narapidana pria yang berbeda dalam beberapa hal.12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan Pasal (14) disebutkan hak-hak narapidana.21 13. disamping hak-hak narapidana juga ada kewajiban yang harus dipenuhi oleh narapidana seperti yang tertuang dalam Undang-Undang No. Ketentuan mengenai program pembinaan sebagaimana dimaksud dalam ayat ( 1 ) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Dalam Undang-Undang No. Mendapatkan hak-hak Narapidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dan apakah narapidana juga sadar selain hak narapidana juga mempunyai kewajiban yang harus dilakukan dengan baik dan penuh kesadaran. karena menurut hukum ada karakteristik tertentu yang menyebabkan seseorang disebut narapidana. Maka dalam . Dalam hal ini dituntut adanya kerjasama yang baik antara petugas dan para narapidana. tetapi tidak dapat menyamakan begitu saja. seperti kita semua. 6.22 4.8 PEMBINAAN NARAPIDANA Pembinaan narapidana adalah penyampaian materi atau kegiatan yang efektif dan efesien yang diterima oleh narapidana yang dapat menghasilkan perubahan dari diri narapidana ke arah yang lebih baik dalam perubahan berfikir. Dalam hal ini dapat dilihat apakah petugas benar-benar memperhatikan hak-hak narapidana. 5. Secara umum narapidana adalah manusia biasa. 8. bertindak atau dalam bertingkah laku. 7. 2. kebersihan dan keindahan Wajib berpakaian rapi dan sopan Wajib mengikuti program pembinaan Wajib memelihara barang-barang milik negara Wajib menitipkan barang-barang berharga Wajib memberitahu kepada petugas apabila melihat atau mengetahui tandatanda atau keadaan bahaya bagi keamanan Lembaga Pemasyarakatan. Hak dan kewajiban merupakan tolak ukur berhasil tidaknya pola pembinaan yang dilakukan oleh para petugas kepada narapidana. ketertiban. Wajib menjaga keamanan. 9.

dikemukakan oleh Dr. Sahardjo yang dikenal sebagai tokoh pembaharu dalam dunia kepenjaraan. Bagaimanapun juga narapidana adalah manusia yang memiliki potensi yang dapat dikembangkan kearah yang positif. 2. Ide Pemasyarakatan bagi terpidana. tetapi dibina untuk dimasyarakatkan. Tiap orang adalah manusia dan harus diperlakukan sebagai manusia 2. Penjatuhan pidana bukan tindakan balas dendam dari pemerintah. lebih baik dari sebelum seseorang menjalani pidana. . Tujuan perlakuan terhadap narapidana di Indonesia mulai nampak sejak tahun 1964. Pembinaan yang sekarang dilakukan pada awalnya berangkat dari kenyataan bahwa tujuan pemidanaan tidak sesuai lagi dengan perkembangan nilai dan hakekat yang tumbuh di masyarakat. Tiap orang adalah mahluk kemasyarakatan. Pokok dasar memperlakukan narapidana menurut kepribadian kita adalah: 1. Bandung bahwa tujuan pemidanaan adalah pemasyarakatan. Sahardjo mengemukakan dalam konferensi Kepenjaraan di Lembang.23 membina narapidana tidak dapat disamakan dengan kebanyakan orang atau antara narapidana yang satu dengan yang lain. yang mampu merubah seseorang untuk menjadi lebih produktif. Orang yang tersesat harus diayomi dengan memberikan kepadanya bekal hidup sebagai warga negara yang baik dan berguna dalam masyarakat. Narapidana hanya dijatuhi hukuman kehilangan kemerdekaan bergerak Sahardjo dalam Harsono ( 1995:2 ) juga mengemukakan sepuluh prinsip yang harus diperhatikan dalam membina dan membimbing narapidana yaitu: 1. setelah Dr. tidak ada orang diluar masyarakat 3. Jadi mereka yang menjadi narapidana bukan lagi dibuat jera.

Selama kehilangan kemerdekaan bergerak. Sepuluh prinsip pembinaan dan bimbingan bagi narapidana itu sangat berkait dengan pelaksanaan pembinaan narapidana karena sepuluh ( 10 ) prinsip pembinaan dan bimbingan serta sistem pembinaan narapidana merupakan dasar pemikiran dan patokan bagi petugas dalam hal pola pembinaan terhadap narapidana khususnya narapidana wanita. Sarana fisik lembaga dewasa ini merupakan salah satu hambatan pelaksanaan sistem pemasyarakatan. Narapidana sendiri yang harus melakukan proses pembinaan bagi diri sendiri. 4. narapidana harus dikenalkan kepada masyarakat dan tidak boleh diasingkan dari masyarakat 6. yaitu narapidana itu sendiri. Pembinaan itu sendiri adalah suatu proses di mana. ( Harsono. Diri sendiri. Pekerjaan yang diberikan kepada narapidana tidak boleh bersifat mengisi waktu atau hanya di peruntukkan bagi kepentingan Lembaga atau negara saja. pekerjaan yang diberikan harus ditujukan kepada pembangunan negara 7. Narapidana itu hanya dijatuhkan pidana hilang kemerdekaan 10. Bimbingan dan didikkan harus berdasarkan Pancasila 8. Adapun penyebabya adalah karena narapidana tersebut telah melakukan tindak pidana yang secara langsung atau tidak langsung dapat merugikan masyarakat Pembinaan narapidana harus menggunakan empat komponen prinsipprinsip pembinaan narapidana. narapidan wanita itu pada waktu masuk di dalam Lembaga Pemasyarakatan Wanita sudah dalam kondisi tidak harmonis pada masyarakat sekitarnya.24 3. . Negara tidak berhak membuat seorang narapidana lebih buruk atau jahat daripada sebelum ia masuk Lembaga 5. tidak boleh dijatuhkan kepada narapidana bahwa ia itu penjahat 9. Rasa tobat bukanlah dapat dicapai dengan menyiksa melainkan dengan bimbingan. 1995:51 ) yaitu sebagai berikut: 1. Tiap orang adalah manusia yang harus diperlakukan sebagai manusia meskipun ia telah tersesat. agar mampu untuk merubah diri kearah perubahan yang positif.

Petugas pemerintah dan kelompok masyarakat. Masyarakat tidak mengasingkan bekas narapidana dalam kehidupan sehari-hari 4. Sahardjo adalah tokoh yang pertama kali melontarkan perlunya perbaikan pelakuan bagi narapidana yang hidup dibalik tembok penjara. yaitu selain dukungan dari narapidana sendiri dan keluarga. Masyarakat. sebagai dasar pandangan hidup bangsa Indonesia yang mengakui hak-hak asasi narapidana. Melindungi masyarakat dari kambuhnya kejahatan bekas narapidana dalam masyarakat karena tidak mendapat pekerjaan. . Sedangkan pemasyarakatan itu sendiri bertujuan: 1. Ide pemikirannya mempengaruhi para staf dinas kepenjaraan sehingga. yaitu komponen keempat yang ikut serta dalam membina narapidana sangat dominan sekali dalam menentukan keberhasilan pembinaan narapidana. Dr. Memasukkan bekas narapidana ke dalam masyarakat sebagai warga yang baik 2. Biasanya keluarga yang harmonis berperan aktif dalam pembinaan narapidana dan sebaliknya narapidana yang berasal dari keluarga yang kurang harmonis kurang berhasil dalam pembinaan. Perubahan pandangan dalam memperlakukan narapidana di Indonesia tentunya didasarkan pada suatu evaluasi kemanusiaan yang merupakan wujud manisfestasi Pancasila. masyarakat dimana narapidana tinggal mempunyai peran dalam membina narapidana. 3.25 2. yaitu keluarga harus aktif dalam membina narapidana. Keluarga.

Sistem Pemasyarakatan (narapidana) itu sendiri dilaksanakan berdasarkan asas: . terus menerus dan sistematis Pembinaan keperibadian yang meliputi kesadaran beragama. Pembinaan yang bersifat persuasif yaitu berusaha merubah tingkah laku melalui keteladanan 3. 4. berbangsa dan bernegara. Sehubungan dengan pengertian pembinaan Sahardjo yang dikutip oleh Petrus dan Pandapotan ( 1995:50 ) melontarkan pendapatnya sebagai berikut: Narapidana bukan orang hukuman melainkan orang tersesat yang mempunyai waktu dan kesempatan untuk bertobat. Pembinaan berupa interaksi langsung sifatnya kekeluargaan antara pembina dengan yang dibina 2. Pembinaan berencana. Sistem ini merupakan satu-satunya metode pembinaan yang secara resmi berlaku diseluruh Lembaga Pemasyarakatan di Indonesia. kasadaran hukum. Tobat tidak dapat dicapai dengan penyiksaan melainkan dengan bimbingan. Bentuk pembinaan bagi narapidana menurut Pola Pembinaan Narapidana/ tahanan meliputi: 1. intelektual. jelas terjadi perubahan fungsi Lembaga Pemasyarakatan yang tadinya sebagai tempat pembalasan berganti sebagai tempat pembinaan. ketrampilan. Dengan dipakainya sistem pemasyarakatan sebagai metode pembinaan narapidana. mental spiritual. kecerdasan.26 menghasilkan sistem pemasyarakatan.

Pengayoman 2. Lebih lanjut didalam sistem pemasyarakatan terdapat proses pemasyarakatan yang diartikan sebagai suatu proses sejak seorang narapidana masuk ke Lembaga Pemasyarakatan sampai lepas kembali ketengah-tengah masyarakat. yang meliputi pendidikan agama. Sehubungan dengan itu. pendidikan umum. Persamaan perlakuan dan pelayanan 3. Pendidikan 4. . Tahap Keamanan Maximal sampai batas 1/3 dari masa pidana yang sebenarnya. olah raga. 6. kesenian. latihan kerja asimilasi. sedangkan pembinaan diluar lembaga antara lain bimbingan selama terpidana. kepramukaan. rekreasi. cuti menjekang bebas. berdasarkan Surat Edaran Kepala Direktorat Pemasyarakatan No.27 1. Pembimbingan Penghormatan harkat dan martabat manusia Kehilangan kemerdekaan merupakan satu-satunya penderitaan 7. Terjaminnya hak untuk tetap berhubungan dengan keluarga dan orang-orang tertentu. telah ditetapkan pemasyarakatan sebagai proses dalam pembinaan narapidana dan dilaksanakan melalui empat tahap yaitu: 1. Petrus dan Pandapotan ( 1995:38 ) Pembinaan narapidana menurut sistem pemasyarakatan terdiri dari pembinaan didalam lembaga. kursus ketrampilan. mendapat bebas bersyarat. 5. Kp 10. 13/3/1/tanggal 8 Februari 1965.

Tobat tidak dapat dicapai dengan penyiksaan. Disamping itu. sampai batas 2/3 dari masa pidana yang . merupakan suatu yang perlu bagi negara hukum yang menghargai hak-hak asasi narapidana sebagai warga masyarakat yang harus diayomi. narapidana adalah orang yang tersesat yang mempunyai waktu dan kesempatan untuk bertobat. Padahal konsep Pemasyarakatan yang dikemukakan oleh Sahardjo menyatakan. jelas pembinaan tidak dengan kekerasan. Tahap integrasi dan selesainya 2/3 dari masa tahanan sampai habis masa pidananya Perlunya mempersoalkan hak-hak narapidana itu diakui dan dilindungi oleh hukum dan penegak hukum. tidak adanya kesempatan untuk mendapatkan remisi. tidak mendapatkan fasilitas yang wajar. Tahap Keamanan minimal sebenarnya 4. Hal itu menggambarkan perlakuan yang tidak adil. Memahami hal ini. melainkan dengan cara-cara yang manusiawi yang menghargai hak-hak narapidana.28 2. walaupun telah melanggar hukum. melainkan dengan bimbingan. Harus diakui. juga banyak ketidak adilan pelakuan bagi narapidana. khususnya perlindungan hak-hak Asasinya sebagai manusia. narapidana sewaktu menjalani pidana di Lembaga Pemasyarakatan dalam beberapa hal kurang mendapat perhatian. khususnya para staf di Lembaga Pemasyarakatan. Tahap Keamanan menengah sampai batas 1/2 dari masa pidana yang sebenarnya 3. cuti menjelang bebas. Misalnya penyiksaan.

9 Kerangka Teoritik Pelaksanaan Penelitian ini tidak dapat dipisahkan dari landasan teori maupun telaah pustaka harus digunakan sebagai kerangka pemikiran pemberian batasan pada apa yang dianggap penting untuk diperhatikan. Jadi kerangka berfikir ditarik berdasarkan suatu landasan teori yang lebih lanjut akan merupakan bingkai yang mendasar pemecahan suatu masalah.29 2. Hal ini perlu bila Peneliti melaksanakan penelitian tanpa menggunakan kerangka pemikiran. Gambar 2 Kerangka Berfikir Penelitian . Lebih lanjut kerangka berfikir dalam penelitian ini dapat dilihat dalam gambar 2 berikut ini. maka ia sering tertarik oleh gejala-gejala atau peristiwa yang seolah-olah meminta perhatian dirinya.

Metode penelitian kualitatif dilakukan dalam situasi yang wajar (natural setting) dan data yang dikumpulkan umumnya bersifat kualitatif. 3. Bogdan dan Taylor dalam Moleong ( 2000:43 ). Metode kualitatif lebih berdasarkan pada filsafat fenomenologis yang mengutamakan penghayatan dan berusaha untuk memahami serta menafsirkan makna sesuatu peristiwa interaksi tingkah laku manusia dalam situasi tertentu menurut perspektif peneliti sendiri. Penelitian kualitatif tidak bertujuan untuk mengkaji atau membuktikan kebenaran suatu teori tetapi teori yang sudah ada dikembangkan dengan menggunakan data yang dikumpulkan. Sesuai dengan dasar penelitian tersebut.30 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Dasar Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif.2 Lokasi Penelitian Lokasi dalam penelitian ini adalah Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. maka penelitian ini diharapkan mampu menggambarkan tentang pembinaan narapidana Wanita yang berkaitan dengan hak-haknya di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. 30 .

2002:107 ) Menurut Lofland dan Lofland dalam Moleong ( 2000:113 ). Jadi fokus dari penelitian kualitatif sebenarnya adalah masalah itu sendiri.2000:62).31 3. sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan dan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain Sumber data dalam penelitian ini adalah antara lain: 3. Perlindungan hak-hak narapidana wanita oleh Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang 3. Hal ini karena suatu penelitian kualitatif tidak dimulai dari sesuatu yang kosong atau tanpa adanya masalah. baik masalah-masalah yang bersumber dari pengalaman peneliti atau melalui kepustakaan ilmiah (Moleong.3 Fokus Penelitian Fokus penelitian menyatakan pokok persoalan apa yang menjadi pusat perhatian dalam penelitian.4.2000:90). Praktek pembinaan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita klas IIA Semarang menurut Undang-Undang No. Penetapan fokus penelitian merupakan tahap yang sangat menentukan dalam penelitian kualitatif.12 tahun 1995 2.4 Sumber Data Yang dimaksud sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh ( Arikunto.1 Informan Informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian (Moleong. . Dalam penelitian ini yang menjadi fokus Penelitian adalah: 1.

Inisial Nama CM LM MI TS TY TK SG Kasus Kejahatan Pembunuhan Pembunuhan Narkoba Narkoba Penipuan Penipuan Penggelapan Masa Pidana 9 tahun 10 tahun 8 bulan 5 thn 6 bln 2 th 6 bln 2 th 6 bln 3 tahun Selain para narapidana informan yang lain adalah para staf dari Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas IIA Semarang yaitu: Tabel 2 Daftar Informan di LP Wanita Kelas IIA Semarang NO 1. 7. 2. Dalam penelitian ini yang menjadi informan adalah narapidana yang berjumlah 7 ( tujuh ) orang yaitu: Tabel 1 Daftar Responden di LP Wanita Kelas IIA semarang No 1.st Mulyasari R. 2. 6. Jabatan Kepala subseksi BIMKER Staf BIMPAS Staf BIMPAS 3. Nama Susana Tri Agustin Sri Utami S. Dokumen dibagi menjadi dokumen pribadi dan dokumen resmi. 4.4.32 Informan yang di maksud disini petugas-petugas yang berkait dengan pembinaan narapidana di lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. 2002:161). 3. 3. .2 Dokumen Dokumen adalah setiap bahan tertulis ataupun film ( Moleong. 5.

instruksi. antara lain mencakup dokumen-dokumen resmi. misalnya majalah. .1 Dokumentasi Studi dokumenter dilakukan untuk memperoleh data sekunder. dokumen bagan stuktur kepegawaian diperoleh di bagian Tata Usaha dan dokumen mengenai data narapidana diperoleh di bagian registrasi. Metode yang digunakan Peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 3. sedangkan dokumen resmi terbagi atas dokumen internal dan dokumen eksternal. 2002:163 ).33 Dokumen pribadi adalah catatan atau karangan seseorang tentang tindakan. buku-buku. Dalam penelitian kali ini dokumen yang digunakan adalah dokumen yang terdapat di Lembaga Pemasyarakatan semarang. aturan tentang Lembaga Pemasyarakatan tertentu yang digunakan dalam kalangan sendiri.5 Alat dan Teknik Pengumpulan Data Arikunto ( 200:136 ) menyatakan bahwa metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitiannya. antara lain dokumen tentang hak dan kewajiban narapidana diperoleh di bagian Kepegawaian dan Keuangan. buletin. Dokumen internal berupa memo. dokumen denah lokasi Lembaga Pemasyarakatan wanita Klas IIA Semarang diperoleh di bagian Umum. sedangkan dokumen eksternal berisi bahan-bahan informasi yang dihasilkan oleh suatu lembaga sosil. 3. Data sekunder. pengalaman dan kepercayaan.5. pengumuman. pernyataan dan berita yang disiarkan kepada media massa ( Moleong.

tidak mempunyai pengawasan terhadap pengumpulan. pendapat para sarjana yang berhubungan dengan pemasyarakatan dan seterusnya. Data sekunder dalam penelitian ini meliputi: a. pengolahan. buku harian. buku-buku literatur tentang pemasyarakatan. Ciri-ciri data sekunder adalah: a. Pada umumnya data sekunder dalam keadaan dapat dipergunakan dengan segera. bahan yang memberikan perjelasan mengenai bahan hukum primer. b. Bahan hukum primer Bahan hukum primer yaitu. b. seperti hasil-hasil penelitian mengenai pemasyarakatan. Bahan Hukum Sekunder Bahan hukum sekunder yaitu. Bahan Hukum Tersier Bahan hukum tersier. Baik bentuk maupun isi data sekunder. c. sehingga peneliti kemudian. telah dibentuk dan diisi oleh peneliti-peneliti terdahulu. yaitu segala peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar bekerjanya sistem pemasyarakatan. analisa maupun konstruksi data. bahan-bahan yang mengikat dan didapat dari sumber peraturan perundang-undangan.34 hasil-hasil penelitian yang berwujud laporan. yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder .

mengenai perilaku ( hukum ) pada saat itu juga. Dalam penelitian yang menjadi bahan observasi adalah: 1. apabila tujuan hukum yang bersangkutan adalah.5. Perlindungan terhadap hak-hak narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang 4. Kamus Besar Bahasa Indonesia dan pedoman ejaan yang disempurnakan. secara langsung akan memperoleh data yang dikehendakinya.12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan 3. Peneliti yang menggunakan alat pengumpul data ini. Kegiatan narapidana dalam masa pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang 2. 3. Sarana dan prasarana yang terdapat di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang .35 seperti kamus hukum. Ada tidaknya pelanggaran terhadap hak-hak narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarangoleh petugas Lembaga Pemasyarakatan 5. mencatat perilaku (hukum) sebagai mana terjadi dalam kenyataan.2 Observasi Observasi sebagai media pengumpul data biasanya dipergunakan. Pelaksanaan sistem pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang menurut Undang-Undang No.

memperoleh informasi mengenai perilaku pada masa lampau 6. maka dapat diungkapkan reaksi-reaksi pribadi manusia secara terperinci. Soerjono Soekamto ( 1984:67 ) Wawancara dilakukan terhadap responden yang digunakan sebagai sample. wawancara dilakukan secara kekeluargaan hal ini disebabkan para responden yang diwawancarai adalah kaum wanita yang mempunyai perasaan yang peka dan sensitive. bahwa dengan mempergunakan sarana tersebut. Fungsi dari wawancara adalah untuk membuat deskripsi dan atau eksplorasi. Wawancara dilakukan satu persatu. dan lain-lain ciri realitasnya. yaitu narapidana. Sedangkan wawancara digunakan dengan tujuan sebagai berikut: 1.5. memperoleh data mengenai presepsi manusia 2. mengumpulkan data mengenai persaan dan motivasi seseorang ( atau mungkin sekelompok manusia ) 4.36 3. mendapatkan data mengenai kepercayaan manusia 3. Tipe wawancara yang digunakan adalah wawancara berfokus yang didasarkan pada asumsi. petugas Lembaga Pemasyarakatan dan Kepala Lembaga Pemasyarakatan. memperoleh data mengenai antisipasi ataupun orientasi depan dari manusia 5. Tidak jarang wawancara dijadikan ajang curhat para responden kepada peneliti tentang masalah yang dialami oleh responden baik masalah hidup maupun .3 Wawancara Wawancara dilakukan untuk memperoleh data primer. perasaan-perasaan. mendapatkan data mengenai perilaku yang sifatnya sangat pribadi atau sensitif. Dalam penelitian ini wawancara dilakukan dalam ruangan khusus.

5. Membadingkan dengan apa yang dikatakan orang didepan umun dengan apa yang dikatakan secara pribadi 3. orang yang berpendidikan menengah atau tinggi. Membandingkan hasil wawancara dengan isi dokumen yang berkaitan .6 Keabsahan Data Moleong memandang bahwa data merupakan konsep paling penting bagi penelitian kualitatif yang diperbaharui dari konsep kesatuan atau validitas dan keandalan atau reabilitas menurut versi positifisme dan disesuaikan dengan tuntunan pengetahuan. orang pemerintahan. Menurut Denzim dalam Moleong ( 2000:178) membedakan empat macam bentuk pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber. 2000:171 ) Dalam penelitian ini teknik pemeriksaan data yang digunakan yaitu triangulasi.37 masalah selama masa pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang. 3. penyidik dan teori. Membandingkan keadaan dan prespektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang seperi rakyat biasa. Triangulasi merupakan bentuk pemeriksaan keabsaan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding dalam data itu. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang mengenai situasi peneliti dengan apa yang dikatakanya sepanjang waktu 4. Triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif ( Patton 1987:331 ) hal ini dapat dicapai dengan jalan: 1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara 2. orang berada. kriteria dan paradigma sendiri ( Moleong. metode.

Untuk menganalisis data . penyajian data. dan penarikan kesimpulan ) saling berinteraksi. setelah data terkumpul maka ketiga komponen analisis (reduksi data. yaitu komponen reduksi data.7 Metode Analisis Data Adalah proses pengatur urutan data. Kedua model analisis interaksi dimana komponen reduksi data penyajian data dan penarikan kesimpulan dilakukan dilakukan dengan proses pengumpulan data. dimana tiga komponen analisis ( reduksi data. membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang terkait 3. dan penarikan kesimpulan dilaksanakan dengan proses pengumpulan data. penarikan kesimpulan atau verifikasi ) dilakukan secara saling mengalir secara bersamaan. sajian data. membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara 2. sajian data. sajian data. mengorganisasikanya ke dalam suatu pola kategori dan satuan analisis data dalam dalam penelitian ini bersifat diskriptif analisis yang merupakan gambaran sebuah penelitian ( Moleong 2000:103 ) Menurut Milles dan Hoberman dalam Rachman ( 1999:20 ) ada dua metode analisis data yaitu: “ Pertama model analisis mengalir. dan penarikan kesimpulan ) saling berinteraksi “ Penelitian ini menggunakan model analisis data yang kedua dari penjelasan model analisis data di atas. Setelah data terkumpul maka ketiga komponene analisis ( reduksi data.38 Triangulasi dengan memanfaatkan sumber yang berarti membandingkan dengan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diproses melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode penelitian kualitatif ini hanya dapat dicapai dengan dua bahan pembanding yaitu: 1.

observasi.7. pemusatan perhatian pada penyederhanaan.39 dalam penelitian ini digunakan langkah-langkah atau alur yang terjadi secara bersamaan yaitu reduksi data. Reduksi data ini bertujuan untuk menganalisis data yang lebih mengarahkan. yang muncul dari catatan-catatan tertulis dilapangan (Milles dan Hubermen 1992:17 ).7. 3.2 Reduksi data Yaitu pemilihan. Dalam penelitian ini proses reduksi dapat dilakukan dengan mengumpulkan data dari hasil wawancara.1 Pengumpulan data Adalah mencari dan mengumpulkan data yang diperlukan yang dilakukan terhadap berbagai jenis dan bentuk data yang ada di lapangan kemudian data tersebut dicatat. pengabstrakkan data kasar. penyajian data. dan penarikan kesimpulan atau verifikasi data. membuang yang tidak perlu dan mengorganisasikan data agar diperoleh kesimpulan yang dapat ditarik dan di verifikasi. 3.7. 3. dan dokumentasi kemudian dipilih dan di kelompokkan berdasarkan kemiripan data.3 Penyajian data Yaitu pengumpulan informasi terusan yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan ( Miles dan .

4 Verifikasi data Yaitu sebagian dari suatu kegiatan utuh. dan penarikan kesimpulan atau verifikasi dapat lebih jauh di gambarkan dalam gambar satu di bawah ini Proses Analisis data Pengumpulan Data Penyajian Data Reduksi Data Penarikan kesimpulan/ verifikasi Sumber: Milles dan Huberman dalam Rachman (1999:120) . dan kecocokannya (Milles dan huberman 1992:19 ) Penarikan kesimpulan yang didasarkan pada pemahaman terhadap data yang telah disajikan dan dibuat dalam pernyataan disingkat dan mudah dipahami dengan mengacu pada pokok permasalahan yang di teliti.7. Proses reduksi data. Data tersebut disajikan secara diskriptif yang didasarkan pada aspek yang diteliti. penyajian data. artinya makna-makna yang muncul dari data harus dilaporkan kebenarannya. 3. sehingga dimungkinkan dapat menggambarkan seluruhya atau sebagian tertentu dari aspek yang di teliti. sehingga dimungkinkan dapat memberikan gambaran seluruhnya atau sebagian tertentu dari aspek yang diteliti. Dalam hal ini data yang telah dikategorikan tersebut kemudian di organisasikan sebagai bahan penyajian data. kekokohannya.40 Huberman 1992: 18).

dalam penelitian. 3. . mempersiapkan perlengkapan penelitian 7. Pada tahap pertama pra lapangan. peneliti mempersiapkan segala macam yang dibutuhkan atau diperlukan peneliti sebelum terjun kedalam kegiatan penelitian yaitu: 1. selama dan sesudah pengumpulan data. menentukan informasi pada responden yang akan membantu peneliti dengan syarat-syarat peneliti 6. reduksi data.8 Prosedur Penelitian Dalam penelitian ini peneliti membagi empat tahap yaitu: tahap sebelum ke lapangan. mempertimbangkan secara konseptual teknis serta praktis terhadap tempat yang akan digunakan dalam penelitian 3. pekerjaan lapangan. analisis data dan penulisan laporan. menyusun rancangan penelitian 2.41 Dengan demikian dalam penelitian ini pengumpulan data. peneliti harus bertindak sesuai etika terutama berkaitan dengan tata cara penelitian berhubungan dengan lingkungan yaitu Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas IIA Semarang dan harus menghormati seluruh nilai-nilai yang ada didalamnya. penyajian data dan penarikan kesimpulan sebagai suatu yang jalin menjalin pada saat sebelum. latar penelitian dan dinilai guna serta melihat sekaligus mengenal unsurunsur sosial dan fisik situasi pada latar penelitian 5. membuat surat ijin penelitian 4.

42 Pada tahap kedua yaitu pekerjaan laporan penelitian dengan bersungguhsungguh dengan kemampuan yang dimiliki berusaha memahami latar penelitian dan dipersiapkan benar-benar menghadapi lapangan penelitian. setelah semua data yang dilapangan terkumpul maka peneliti akan mereduksi. Setelah tahap analisis data selesai dan telah diperoleh kesimpulan. Laporan penelitian ditulis berdasarkan hasil yang diperoleh dilapangan. penulis masuk tahap ke empat yaitu penulisan laporan. . menyajikan data serta melakukan verifikasi data. Tahap ketiga yaitu analisis data.

Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang dibagi menjadi beberapa blok.902.1. setiap blok terdiri dari beberapa kamar dan setiap kamar tidur terdapat kamar mandi. Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang menempati luas areal tanah 16. tempat kedudukan dan kegiatan kerja Lembaga Pemasyarakatan. Pemerintah Kota Semarang. Kapasitas hunian mencapai 465 orang narapidana.1 Hasil Penelitian 4.226 meter persegi dengan luas bangunan 13.59 kecamatan Semarang Tengah. hal ini disesuaikan dengan kapasitas. Sugiyopranoto no. . empat orang atau lebih yang dikelompokkan berdasarkan tindak pidana yang dilakukan oleh masing-masing narapidana Wanita .1 Deskripsi Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas IIA Semarang Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang atau Lembaga Pemasyarakatan termasuk kategori Lembaga Pemasyarakatan Klas II A. Setiap kamar tidur dihuni oleh tiga.75 meter persegi. Kemudian pada tanggal 27 April 1964 penjara Wanita Bulu ini berubah atau berganti nama menjadi Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang didirikan pada tahun 1894 oleh Pemerintah Belanda.43 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4. Letak geografis Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang di Jalan Mgr. Propinsi Jawa Tengah.

Gereja 6. Ruang kunjungan 4. Kamar narapidana 11. Gudang 19. Ruang kelas 7.44 4. Salon 12. Dapur : 1 buah : 13 ruang : 1 ruang : 1 ruang : 1 ruang : 1 ruang : 1 ruang : 1 blok : 1 blok : 8 blok : 1 ruang : 1 ruang : 1 ruang : 1 ruang : 1 buah : 3 tempat : 11 buah : 4 ruang : 4 ruang : 1 buah . Kantor 3. Ruang karantina/sell 9.975 m2 yang terdiri dari: 1. Ruang perpustakaan 14. Kamar tahanan 10. Sumur 18.2 Kondisi Fisik Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang dibangun di atas tanah seluas 16. Ruang makan WBP 15. Ruang ketrampilan 5. Koperasi/kantin 13. Mushola 8.226 m2 dengan luas 13. Pos jaga 17. Balai pertemuan 16. kamar mandi 20. Rumah dinas 2.1.

Tujuan Lembaga Pemasyarakatan wanita Semarang adalah untuk membina dan membimbing warga binaan pemasyarakatan agar dapat memulihkan lagi hubungan dengan masyarakat. LSM dan Gereja. serta melibatkan mereka dalam kegiatan-kegiatan sosial yang dapat menumbuhkan rasa percaya diri dalam kehidupan bermasyarakat agar narapidana itu . hal ini sangat mendukung pelaksaan kegiatan berkebun serta tanaman hias di lokasi ini. Dengan memberikan bekal pengetahuan dan ketrampilan. sebagai pembina pelanggar hukum yang telah resmi menerima vonis pengadilan. di Lembaga Pemasyarakatan Wanita juga terdapat aktifitas yang menunjang pembinaan mental spritual narapidana. Narapidana harus dibekali pengertian mengenai norma-norma kehidupan. Pembinaan mental seperti kegiatan keagamaan yang bekerjasama dengan Majelis Taklim. mengkristik.45 Secara umum kondisi saran dan prasarana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang dalam keadaan baik dan terawat dan didukung oleh kondisi tanah yang baik. Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas IIA Semarang. kegiatan fisik yang bekerjasama dengan pihak lain dalam hal ini adalah Departemen Pendidikan Nasional. menyulam. dimana kegiatan-kegiatan tersebut sangat mendukung narapidana agar ia bisa menjadi manusia yang berguna. Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain ketrampilan seperti menjahit. merupakan Lembaga Pemasyarakatan yang menangani pada proses terakhir. diharapkan Warga binaan dapat menjalankan fungsinya secara wajar dan berpartisipasi dalam pembangunan. Selain berupa bangunan fisik yang menunjang pembinaan narapidana.

46 sanggup hidup mandiri.43 24.5%. 3. dan kedua terbesar berpendidikan Sekolah Dasar 24. Dilihat dari tingkat pendidikan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan wanita Klas IIA Semarang. Tingkat Pendidikan Tidak Tamat SD SD SMP SLTA D III S1 JML Data sekunder per September 2005 Dari tabel di atas sebagian besar narapidana berpendidikan Menengah Pertama dan Menegah Atas sebesar 30.5 30. dan Diploma serta Sarjana masing-masing 3.1%. Tabel 3 Tingkat pendidikan narapidana di LP Wanita Semarang No 1.77 1. 5.1 30. Narapidana itu harus mempunyai daya tahan dalam arti bahwa narapidana itu harus mampu hidup bersama dengan masyarakat tanpa melakukan kejahatan lagi. 6.77% dan 1.88% Jumlah 5 13 16 16 2 1 53 Prosentase ( % ) 9.1 3. 4.3 Deskripsi Narapidana Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang terdiri dari latar belakang pendidikan yang berbeda.43%. 4. 2. untuk jelasnya dapat dilihat dari tabel berikut ini.1.88 100 % . tidak lulus SD 9.

09 3. Tabel 4 Tingkatan umur narapidana di LP Wanita Klas IIA Semarang No. 6. 7.1 9.75 20. dan 37 sampai 42 tahun yaitu sebesar 20.77 100 % No. Agama Islam Kristen Katholik JML Jumlah 43 5 5 53 Prosentase ( % ) 81. yang paling banyak adalah narapidana yang berumur antara 19 sampai 24 tahun. 3.47 Dilihat dari tingkatan umur para narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang dapat dilihat dari tabel dibawah. Tingkat Umur 19-24 25-30 31-36 37-42 43-48 49-54 55-60 JML Data sekunder per September 2005 Dari tabel umur para narapidana yang menghuni Lembaga Pemasyarakatan wanita Klas IIA Semarang. 25 sampai 30 tahun.43 100 % Data sekender per September 2005 .43 9. 3. dapat dilihat dari tabel dibawah Tabel 5 Agama Narapidana LP Wanita Klas IIA Semarang Jumlah 11 11 8 11 8 2 2 53 Prosentase ( % ) 20.77 3. 4. 1.75%.75 15. 2. 2. 1.75 15 20. 5. Dilihat dari agama yang dianut para narapidana di lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang .

Tindak Pidana Penipuan Narkoba Penggelapan Pembunuhan Uang Palsu Penculikan Penadah Mucikari Pencurian JML Data sekunder per September 2005 Dari tabel di atas jelas bahwa tindak pidana yang paling banyak dilakukan oleh narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang adalah penipuan 26. 4. 6. 2.88 100 % .98 5.86 16.41% kemudian tindak pidana narkoba 22. 5.1%.41 22.66 3. 8.64 18. 7. 1. 9.77 1.48 Dilihat dari tabel di atas jelas terlihat bahwa sebagian besar narapidana penghuni Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang beragama Islam sebesar 81. Dilihat dari masa pidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang dapat dilihat dari tabel berikut ini: Jumlah 14 12 10 9 3 2 1 1 1 53 Prosentase ( %) 26.64% dan penggelapan sebesar 18.86%.88 1.88 1. Dilihat dari tindak pidana yang dilakukan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang dapat dilihat dari tabel berikut ini: Tabel 6 Jenis Tindak Pidana Narapidana di LP Wanita Klas IIA Semarang No. 3.

uang palsu.43 11. Narapidana yang menjadi responden dalam penelitian ini dapat dijelaskan dalam tabel berikut ini: .52 35. penganiayaan. Masa Pidana 6 bln – 1 thn 1 – 2 thn 3 – 4 thn 5 – 6 thn 7 – 8 thn 9 – 10 thn 11 – 12 thn JML Data sekunder per September 2005 Dilihat dari tabel di atas. 6. 1. 2. 4.32 1. Perkara yang menjadi paling banyak dilakukan adalah: 1. terlihat bahwa masa pidana yang paling banyak dilakukan oleh narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang adalah masa pidana satu sampai dua tahun yaitu sebesar 35.49 Tabel 7 Masa Pidana Narapidana di LP Wanita Klas IIA Semarang No. pencurian. 3.88 100 % Sedangkan sisanya adalah kasus kejahatan lain seperti pembunuhan . 5. 7. pembunuhan anak sebelum lahir.84%. Kasus narkoba Pasal 59 KUHP Jumlah 13 19 9 5 6 1 53 Prosentase ( % ) 24.98 9.84 16. Kasus Pengelapan Pasal 372 KUHP 3. Kasus Penipuan pasal 378 KUHP 2.

yang dimaksud dengan Sistem Pemasyarakatan adalah: .12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan. 3.1.12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan pasal 1 ayat 2. 6. 5. Pembinaan narapidana di Indonesia setelah keluarnya Undang- undang No. 4.50 Tabel 8 Jenis Kasus responden Narapidana di LP Wanita Klas IIA Semarang No 1. dilaksanakan dengan Sistem Pemasyarakatan. 4. 7. Menurut rumusan Undang-Undang No. Inisial Nama CM LM MI TS TY TS SG Kasus Kejahatan Pembunuhan Pembunuhan Narkoba Narkoba Penipuan Penipuan Penggelapan Masa Pidana 9 tahun 10 tahun 8 bulan 5 thn 6 bln 2 th 6 bln 2 th 6 bln 3 tahun Hasil wawancara tanggal 3 dan 6 Oktober 2005 Dilihat dari kasus kejahatan yang menjerat Narapidana rata-rata dari responden di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas IIA Semarang. 2.4 Praktek Pembinaan Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang Menurut Undang-Undang No. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan. mempunyai kasus yang mendapat hukuman lebih dari setahun sehingga mereka mempunyai banyak kesempatan untuk menikmati hak-hak mereka yang mendukung dalam melakukan aktifitas di penjara.

pembimbingan 5. keluarga narapidana dan pembina atau pemerintah Sistem Pemasyarakatan melakukan pembinaan terhadap narapidana berdasarkan asas: 1. perlakuan terhadap narapidana. dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat. dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas Warga Binaan Pemasyarakatan agar menyadari kesalahan. pendekatan klasifikasi. penghormatan harkat dan martabat manusia . yang dibina. persamaan perlakuan dan pelayanan 3. Pengayoman 2. Sebagai suatu sistem. Pembinaan narapidana di Indonesia dilaksanakan melalui sebuah sistem. Komponen tersebut neliputi falsafah dasar hukum. yang dikenal dengan nama Sistem Pemasyarakatan. berangkat dari konsepsi pemasyarakatan dan konsepsi pemasyarakatan itulah yang melahirkan disiplin ilmu pemasyarakatan. pendekatan sistem. tujuan.51 “Pemasyarakatan adalah suatu tatanan mengenai arah dan batas serta cara pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan berdasarkan Pancasila yang dilaksanakan secara terpadu antara pembina. pendidikan 4. dapat aktif berperan dalam pembangunan. maka pembinaan narapidana mempunyai beberapa komponen yang saling berkaitan untuk mencapai satu tujuan. sebagai ilmu pembinaan narapidana di Indonesia. dan dapat hidup secara wajar sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab” Sistem Pemasyarakatan yang berlaku sekarang. klasifikasi. memperbaiki diri.

12 tahun 1995 Pasal (10) mengatur sebagai berikut: 1.12 tahun 1995 Pasal 7 ayat (1). terjaminnya hak untuk tetap berhubungan dengan keluarga dan orangorang tertentu. Terpidana yang diterima di Lembaga pemasyarakatan wajib didaftar 2. Pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam ayat ( 1 ) mengubah status terpidana menjadi narapidana 3. Seorang narapidana yang masuk ke Lembaga Pemasyarakatan berdasarkan putusan pengadilan melalui proses persidangan di pengadilan akan melalui berbagai prosedur terlebih dahulu. pembinaan dan oleh pembimbingan Menteri dan warga binaan Pemasyarakatan oleh petugas diselenggarakan dilaksanakan Pemasyarakatan. Menurut ketentuan Undang-Undang No. dan pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan. Kepala Lembaga Pemasyarakatan bertanggung jawab terhadap penerimaan terpidana dan pembebasan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan. penempatan terpidana di Lembaga Pemasyarakatan dilakukan sesuai dengan Pasal 270 KUHP dan pendaftarannya dilaksanakan pasa saat terpidana diterima di Lembaga .52 6. Menurut penjelasan Pasal (10) ayat ( 1 ). Lebih lanjut penjelasan Pasal 7 ayat ( 1 ) menerangkan yang dimaksud dengan “petugas pemasyarakatan” adalah pegawai pemasyarakatan yang melaksanakan tugas pembinaan. Berdasarkan ketentuan Undang-Undang no. pengamanan. kehilangan kemerdekaan merupakan satu-satunya penderitaan 7.

Kriteria lainnya yang sesuai dengan kebutuhan atau perkembangan pembinaan . Putusan pengadilan 2.53 Pemasyarakatan. Jenis kelamin c. Pembuatan fasfoto d. Pencatatan: 1. Lama pidana yang dijatuhkan d. Pembuatan berita acara serah terima terpidana Pembinaan terhadap narapidana tidak sama antara satu narapidana dengan narapidana yang lain. pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal (10) ayat ( 1 ) meliputi: a.12 tahun 1995 Pasal (11). Undang-Undang no. Pengambilan sidik jari e. Umur b. Jenis kejahatan e. Jati diri 3. Selanjutnya menurut ketentuan Undang-Undang No. Barang dan uang yang dibawa b.12 tahun 1995 Pasal (12) ayat ( 1 ). Pemeriksaan kesehatan c. dalam rangka pembinaan terhadap narapidana di Lembaga Pemasyarakatan dilakukan penggolongan atas dasar: a. Begitu juga pembebasannya dilaksanakan pada saat narapidana telah selesai menjalani masa pidananya.

sedang B-III adalah narapidana yang dijatuhi pidana kurungan pengganti pidana denda. narapidana golongan B-I. B-III. 11. Berikut ini adalah tabel narapidana yang termasuk dalam kategori B-I di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang tahun 2005. 10.54 Untuk memudahkan proses pembinaan narapidana. 2. Lina Mayangsari Fransisca Suhaeti Nuryati Sawi Casriah Wiwik Azizah Yuliana Sri Sugiarti Retno Widyawati Dince Setyawati Bandiyah Ayu Puji Rahayu Cornelia 21 21 27 38 51 42 39 45 29 23 31 26 37 Islam/SMP Islam/SMP Islam/SMP Islam/SD Islam/SD Islam/SLTP Islam/SLTA Islam/SMP Kristen/SLTA Islam/SLTA Islam/SD Islam/SMP Katholik/SD Pembunuhan Narkoba Narkoba Pembunuhan Penadah Penipuan Pembunuhan Penipuan Narkoba Narkoba Narkoba Mucikari Pembunuhan Tindak Pidana Masa Pidana 10tahun 5th 6 bln 4th 3 bln 9 tahun 3th 6 bln 11 tahun 3 tahun 1th 6 bln 4th 2 bln 4th 5 bln 4th 1 bln 3th 4 bln 10 tahun . Klasifikasi B-I adalah narapidana yang dijatuhi pidana diatas satu tahun. Tabel 9 Narapidana Klasifikasi B-I di LP Wanita Klas IIA Semarang No Nama Umur Agama / Pendidikan 1. B-II-a. 13. 7. 3. Penggolongan tersebut meliputi. yang lama pidananya satu bulan. maka dikenal penggolongan-penggolongan dalam sistem pemasyarakatan. B-II-b. 4. B-II-a adalah narapidana yang dijatuhi pidana antara empat sampai dua belas bulan. 5. 9. Penggolongan tersebut juga berkaitan dengan masalah pengawasan keamanan terhadap narapidana. 8. B-II-b adalah narapidana yang dijatuhi pidana antara satu sampai tiga bulan. 6. 12.

40. 31. 37. 19. 32. 34. 15. 29 30.55 14. 38. 41 Mistiyah Maryati Wanisah Casmuni Yulianti Titik Sulasmi Neny Als Supriyati Noviani Wijaya Laelatul Komar Zamronah Novia Wulansari Sutri Catrina Suhartini Amelia Santi Heni W Subatin Tiatun Tini Susianti Rahayu Niken Sri Suparni Mitun Jayanti Taimah Sri Guno A Lestari P Wamroh Yuliana Heni Dince Nafrida 24 45 20 23 33 44 60 36 60 29 21 26 30 33 22 46 38 43 32 41 40 27 42 50 38 37 29 29 Islam/BH Islam/BH Islam/BH Islam/BH Islam/SLTA Islam/SLTA Islam/SMP Islam/SMP Kristen/SLTA Islam/SMP Islam/SMP Katholik/SLTA Islam/SD Katholik/D3 Islam/SMP Islam/SMP Islam/STM Kristen/SD Islam/SLTA Kristen/SLTA Islam/SD Islam/SMP Islam/BH Islam/SMEA Islam/SLTA Islam/SD Katholik/SLTA Islam/SE Penculikan Penculikan Uang Palsu Pembunuhan Penipuan Penipuan Penipuan Pembunuhan Penipuan Narkoba Pembunuhan Penggelapan Pembunuhan Penggelapan Narkoba Uang Palsu Penggelapan Penggelapan Narkoba Narkoba Penggelapan Pembunuhan Penggelapan Penipuan Penipuan Narkoba Penggelapan Penggelapan 5 tahun 5 tahun 2 tahun 9 tahun 2th 6 bln 2th 6 bln 2th 6 bln 9 tahun 2 tahun 6 tahun 10 tahun 1th 8 bln 3 tahun 1th 3 bln 1th 3 bln 2 tahun 1th 6 bln 1th 3 bln 5th 6 bln 1th 6 bln 1th 6 bln 2th 6 bln 2th 3 bln 3 tahun 2 tahun 1th 4 bln 1th 1 bln 1th 6 bln . 36. 23. 33. 26. 16. 25. 27. 28. 35. 24. 39. 22. 17. 18. 20. 21.

2. 12. Tabel 10 Narapidana Klasifikasi B II-a LP Wanita Klas IIA Semarang No Nama Umur Agama/ Pendidikan 1. 7. 8. 11. Sulistyoningsih Suprapti Erika Ruliyati Sumiati Ester B Atik Supriyatin Siti Karomah Monica Ida Sinah Sulistyoningsih Sumiatun Menik 30 43 24 35 37 31 19 41 21 30 35 27 Islam/SLTA Islam/SD Islam/SLTA Islam/SMP Kristen/S1 Islam/SMP Islam/SD Islam/DIII Islam/SD Islam/SLTA Islam/SMP Katholik/SD Tindak Pidana Penggelapan Penipuan Narkoba Penipuan Penggelapan Uang Palsu Penggelapan Narkoba Pencurian Penggelapan Penipuan Penggelapan Masa Pidana 8 bulan 9 bulan 8 bulan 1 tahun 10 bulan 6 bulan 6 bulan 8 bulan 7 bulan 8 bulan 6 bulan 6 bulan Data sekunder per September 2005 Klasifikasi untuk B-II-b yaitu narapidana yang dijatuhi pidana antara satu sampai tiga bulan serta klasifikasi untuk B-III yaitu narapidana yang pidana kurungan pidana pengganti denda. 5. 6. 3. 4. yang lama pidananya satu . 9.56 Berikut ini tabel narapidana Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang yang tergolong dalam klasifikasi B-II-a di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang tahun 2005. 10.

disamping diberikan tentang hak dan kewajibannya serta tata .57 Bulan. Pelaksanaan sistem pemasyarakatan dimulai dengan menerima narapidana dan menyelesaikan pencatatannya secara administratif yang disusul dengan observasi atau identifikasi mengenai pribadinya secara lengkap oleh suatu Tim Pengamat Pemasyarakatan ( TPP ). kemudian baru ditentukan bentuk dan cara pembinaan yang akan diberikannya. Narapidana yang masuk kategori ini biasanya telah memperoleh pembinaan dan telah dinyatakan bisa mendapatkan pengawasan ringan. tetapi mendapatkan pembinaan dan menunjukkan sikap serta tingkah laku yang baik selama dalam Lembaga Pemasyarakatan. terdapat narapidana yang telah mendapat pembinaan secara khusus dan telah dinyatakan layak untuk mendapatkan pengawasan ringan. yaitu maximum security. Maximum security diberikan terhadap narapidana klasifikasi B-I. pekerjaan yang diberikan dan pendidikan yang akan ditempuhnya . Antara lain penempatannya. Sedang medium security diberikan kepada narapidana yang lebih ringan pidananya atau yang masuk dalam kategori pidana berat. Dalam minimum security. pembunuhan berencana. di Lembaga Pemasyarakataan Wanita Semarang tidak terdapat klasifikasi tersebut. perampokan. Pengawasan terhadap narapidana terbagi dalam tiga klasifikasi. beberapa narapidana yang dianggap berbahaya dan membahayakan Lembaga Pemasyarakatan. pencurian dengan kekerasan. medium security dan minimum security. narapidana karena kasus subversi.

dan dievaluasi keadaannya apakah yang bersangkutan telah memperoleh kemajuan atau kemunduran dalam hal tingkah lakunya. Proses pembinan narapidana melibatkan berbagai unsur pembina sesuai dengan tugas bidangnya masing-masing. juga hubungan dengan keluargannya. Pembinaan selanjutnya ditentukan oleh TPP sesuai dengan kemajuan atau kemundurannya. Usaha bebas bersyarat bagi narapidana merupakan mata rantai terakhir dari proses pembinaan dalam sistem pemasyarakatan. olah raga. setelah diadakan koreksikoreksi seperlunya. Selama dalam Lembaga Pemasyarakatan sebagai hasil konseling TPP bila ada kemajuan narapidana yang bersangkutan dapat diperlonggar kebebasannya. kesenian. Setelah pembinaan berjalan beberapa lama kemudian diadakan pertemuan oleh TPP tanpa mengikutsertakan narapidana yang bersangkutan. baik mendapat pekerjaan maupun pendidikan.58 cara hidup daalm lembaga pemasyarakatan. Dengan demikian secara progresif narapidana tahap demi tahap dengan kemajuan-kemajuan pada pribadinya. kesempatan beribadah dan lain-lain. diluar Lembaga Pemasyarakatan bersama-sama dengan masyarakat. hingga makin dekat pergaulannya dengan masyarakat. Usaha konseling semacam ini diadakan secara berkala dan bila terus ada kemajuan maka sudah waktunya narpidana yang bersangkutan diusulkan untuk bebas bersyarat. yaitu: . mendekati hari bebasnya. tapi bila tidak maka narapidana tetap menjalani masa pembinaan sampai habis masa pidananya.

Seksi Bimbingan Narapidana / Anak Didik. Mempunyai tugas memberikan bimbingan pemasyarakatan narapidana / anak didik Untuk menyelenggarakan tugas tersebut. Sri Utami. yang mempunyai 3 ( tiga ) staf yaitu Munarita. seksi Kegiatan Kerja mempunyai fungsi: . Melakukan pencatatan dan membuat statistik serta dokumentasi sidik jari narapidana / anak didik b. Sri Hartati Mempunyai tugas memberikan bimbingan kerja. yang menjadi kepala seksinya adalah Puisnah. Sri Darwatik. dan Pengolahan Hasil Kerja dan Sub Seksi Sarana Kerja. terdiri dari Sub Seksi Bimbingan Kerja. yang menjadi kepala subseksinya adalah Susana Tri Agustin yang mempunyai 6 ( enam ) staf yaitu Asti Andaryani. peningkatan pengetahuan asimilasi. Untuk menyelengggarakan tugas tersebut. terdiri dari Sub Seksi Registrasi dan Sub Seksi Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan. Seksi Kegiatan Kerja. Fem Irianti. Seksi Bimbingan Narapidana / Anak Didik mempunyai fungsi: a. Ventila Rahayu. Turniyati. drg. Memberikan bimbingan dan penyuluhan rohani serta memberikan latihan olah raga. mempersiapkan sarana kerja dan mengelola hasil kerja. cuti pelepasan dan kesejahteran narapidana / anak didik serta mengurus kesejahteraan dan memberikan perawatan bagi narapidana / anak didik. yang menjadi kepala seksinya adalah Titik Setyowati. Mulyasari R.59 1. 2.

Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan. mengatur jadwal tugas. yang mempunyai tugas menjaga keamanan dan ketertiban Lembaga Pemasyarakatan. menerima laporan harian dan berita acara dari satuan pengamanan yang bertugas serta menyiapkan laporan berkala dibidang keamanan menegakkan tata tertib 4. yang menjadi kepala seksinya adalah Sukamti Mulani. yang mempunyai tugas mengatur jadwal tugas. Untuk menyelenggarakan tugas tersebut. yang menjadi kepala seksinya adalah Sri Wigati. penggunaan perlenggapan dan pembagian tugas pengamanan.60 a. Untuk menyelenggarakan tugas tersebut Seksi Administrasi Keamanan dan Tata Tertib mempunyai fungsi: a. Mempersiapkan fasilitas latihan kerja. penggunaan perlengkapan dan pembagian tugas pengamanan b. yang menjadi kepala seksinya adalah Wilayati. Memberikan bimbingan latihan kerja bagi narapidana dan mengelola hasil kerja b. kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan mempunyai fungsi: . menerima laporan harian dan berita acara dari satuan pengamanan yang bertugas serta menyusun laporan berkala dibidang keamanan dan menegakkan tata tertib. Seksi Administrasi Keamanan dan Tata tertib. Terdiri dari Sub Seksi Keamanan dan Sub Seksi Pelaporan dan tata tertib. 3.

Sikap proaktif petugas ini ternyata . Membuat laporan harian dan berita acara pelaksanaan pengamanan. yaitu: a. Pelaksanaan pembinaan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang dilaksanakan berdasarkan sisitem pemasyarakatan. adik dan sebagainya. melakukan penjagaan dan pengawasan terhadap narapidana / anak didik b. Melakukan pengawalan penerimaan. melakukan pemeliharaan keamanan dan ketertiban. Unsurunsur yang berperan dalam sistem pemasyarakatan. Para petugas pembina di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang dalam menjalankan tugasnya cenderung menggunakan pendekatan personal.61 a. penempatan dan pengeluaran narapidana / anak didik d. Petugas sebagai pembina warga binaan pemasyarakatan yang dituntut memiliki jiwa profesionalisme. Para petugas sedapat mungkin tidak menciptakan jarak dengan para narapidana dalam proses pembinaan. dedikasi atau pengabdian dan etos kerja yang tinggi. Petugas harus mampu menjadi panutan. dalam menjalankan tugasnya mampu melakukan pendekatan pribadi dengan memperlakukan narapidana sebagai objek yaitu narapidana diberi kesempatan untuk berperan dalam menentukan proses pembinaan terhadap diri sendiri. c. Melakukan pengawasan terhadap pelanggaran keamanan e. Pembina secara aktif memonitor perkembangan narapidana yang menjadi bimbingannya. Petugas tidak menganggap narapidana sebagai narapidana tetapi dianggap sebagai anak.

c. Selama ini peran masyarakat kurang mendukung. Hal ini sehubungan dengan iklim yang diciptakan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang dimana tidak ada narapidana yang perlu dianggap pahlawan. narapidana bersikap patuh terhadap petugas bukan karena takut tapi memang mereka sadar bahwa mereka harus bersikap hormat. sehingga masalah sosialisasi ini dirasa sebagai hal yang cukup penting.62 berpengaruh besar terhadap proses pembinaan. Narapidana pada umunya bersikap patuh. yaitu narapidana merasa tidak diperlakukan sebagai “pesakitan”. Masyarakat. Disamping ketiga hal tersebut datas unsur yang sangat menunjang keberhasilan program pembinaan adalah terpenuhinya sarana dan prasarana yang memadai dalam proses pemasyarakatan. Keterbatasan sarana dapat merupakan salah satu penghambat pembinaan narapidana. Hali ini karena tidak adanya sosialisasi kepada masyarakat. dituankan dan sebagainya. Narapidana sebagai warga binaan pemasyarakatan yang harus mau secara tulus ikhlas berperan aktif dalam kegiatan pembinaan tersebut. Apabila ada narapidna yang bersikap tinggi hati atau ingin dianggap sebagai pemimpin maka narapidana tersebut justru tidak akan mendapat tempat dalam pergaulan dengan sesama narapidana yang lain. sehingga narapidana sulit untuk menghasilkan pembinaan yang efektif. b. supaya masyarakata tidak bersikap buruk terhadap Lembaga Pemasyarakatan. hampir tidak ada narapidana yang melakukan keributan. efisien serta .

mental dan ketrampilan maka wadah pembinaan diperluas dengan mengadakan asimilasi dengan masyarakat” ( Wawancara.00 WIB ) 2. sedangkan sarananya sangat terbatas. mengatakan bahwa: “Pembinaan Tahap I merupakan pembinaan tahap awal yang didahului dengan masa pengenalan lingkungan. Dalam mencapai tujuannya Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang menggunakan pola pembinaan bertahap yang dikenal dengan tahap pembinaan. Staf BIMPAS Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. 8 September 2005: pukul 09.00 WIB ) 3. Tahap Ketiga Menurut Sri Utami.00 WIB ) . Tahap Pertama Menurut Sri Utami. 8 September 2005: pukul 09. Tahap Kedua Menurut Sri Utami. Pengamatan dan penelitian terhadap narapidana wanita dilakukan oleh Tim Pengamat Pemasyarakatan ( TPP )” ( wawancara. sejak diterima sampai sekurang-kurangnya 1/3 dari masa pidana yang sebenarnya. staf BIMPAS Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. Adapun tahap-tahap tersebut terdiri atas: 1. dan dalam kurun waktu tersebut narapidana wanita menunjukkan sikap dan perilakunya atas hasil pengamatan TPP” ( wawancara. 8 September 2005: pukul 09. mengingat tujuan sistem pemasyarakatan itu sangat ideal. mengatakan bahwa: “Pembinaan tahap kedua adalah pembinaan lanjutan diatas 1/3 sampai sekurang-kurangnya ½ dari masa pidana yang sebenarnya.63 berhasil guna. staf BIMPAS Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. mengatakan bahwa: “Pembinaan tahap ketiga adalah pembinaan lanjutan ½ sampai sekurang-kurangnya 2/3 dari masa pidana sebenarnya dan sudah diperoleh kemajunan fisik . Hal ini cukup beralasan.

8 September 2005: pukul 09. staf BIMPAS Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. kerja mandiri dan lain-lain. dan berhak untuk diusulkan mendapat pembebasan bersyarat setelah memenuhi syaratsyarat tertentu sebelum akhirnya di putuskan untuik benar-benar bebas. yaitu tahap pembinaan yang dilaksanakan dengan cara membaurkan narapidana dengan masyarakat. mencabut rumput dikebun dalam LP dan menyapu. Asimilasi yang dilaksanakan di LP Wanita Semarang ada dua macam yaitu Asimilasi internal ( dalam lingkungan Lembaga Pemasyarakatan Wanita ). mengatakan bahwa: “Adalah tahap pembinaan lanjutan diatas 2/3 dari masa pidananya dan yang bersangkutan dinilai sudah siap untuk diterjunkan kembali ke masyarakat.64 Tahap ketiga merupakan tahap asimilasi. cuti mengunjungi keluarga. Tahap Keempat Menurut Sri Utami. untuk narapidana wanita dapat diusulkan untuk mendapatkan pembebasan bersyarat ( PB ) dan cuti menjelang bebas ( CMB )” ( Wawancara. Tahap-tahap pola pembinaan narapidana dapat dilihat dalam bagan berikut ini: . 4. sedangkan Asimilasi Eksternal ( di luar LP ) seperti: kerja pada pihak luar. kegiatannya: membersihkan ruangan.00 WIB ) Tahap keempat merupakan tahap terakhir dimana narapidana sudah hampir selesai menjalani masa pemidanaannya.

pengenalan dan penelitian lingkungan paling lama satu bulan. Keputusan Presiden Tahap awal + 1/3 – 1/2 masa pidana A. Pembinaan kesadaran beragama 2. B. Peraturan Menteri 7. Perorangan 2. 3 Tahun 1997 10. ketrampilan untuk mendukung usaha-usaha mandiri 2. Pembinaan Kepribadian 1. 2. 4. 12 Tahun 1945 9. A. Kejaksaan Tinggi 3. 2. Pembinaan kesadaran berbangsa dan bernegara 3. Admisi dan Orientasi Masa Pengamatan. UU No. Kelompok 3. Peraturan Peerintah 11. 3. 3.1 PROSES PEMASYARAKATAN 1. T P P DALAM LAPAS (Half way House /work) - PBB CMB Masyarakat DALAM LAPAS PEMBUKA (OPEN CAMP) integrasi 3. Pancasila UUD 45 KUHP KUHAP LANDASAN HUKUM 5. Pemda 7. Peraturan Drijen Pas 8. Ketrampilan yang di kembangkan sesuai dengan bakatnya masingmasing 4. Pembinaan kesadaran hukum. Dan lain-lain Pihak Swasta 1. Pengadilan Negeri Instansi 1. Ketrampilan untuk mendukung usaha-usaha industri/pertanian dan perkebunan dengan teknologi modern/ tinggi Tahap Lanjutan ASIMILASI Tahap Akhir Tujuan 1. 4. Keputusn Menteri 6. Depdiknas 6. BAPAS Melanjutkan sekolah kerja mandiri Kerja pada pihak luar Menjalankan ibadah Olahraga. 2. Depkes Depnaker Deperindag Depag 5. Pembinaan kesadaran kemampuan itelektual (kecerdasan) 4. Ketrampilan untuk mendukung usaha kecil 3. UU No. Tidak melanggar lagi Dapat berpartisipasi aktif dan positif dalam pembangunan (manusia mandiri) Hidup berbahagia Dunia dan Akhirat Masyarakat T P P B. Polisi 2. Pembinaan kepribadian lanujutan program Pembinaan kemandirian 1. LSM 4. Perusahaan Sumber : Kasi Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan . cuti menjelang bebas Maximum Sevurity Medium Security Kerjasama Antar Instansi Minimum Security Instansi penegak hukum 1.

dimana kedua unsur tersebut saling berkaitan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. yaitu: 1. Setiap akhir periode dari masing-masing pembinaan. Pembinaan kepribadian yang meliputi: a. masing-masing narapidana akan diajukan dalam sidang TPP ( Tim Pengamat Pemasyarakatan ). Hasil evaluasi inilah yang akan menentukan apakah narapidana yang bersangkutan dapat diikutkan atau melanjutkan proses tahap berikutnya.66 Tahap pembinaan yang meliputi 4 ( empat ) tahap pembinaan didasarkan pada 2 ( dua ) unsur yaitu masa pidana dan tingkah laku narapidana. . Dalam setiap tahap pembinaan. Rabu dan Kamis. akan diadakan evaluasi terhadap narapidana yang bersangkutan yang akan dinilai dari berbagai unsur. Contoh: Seorang narapidana yang telah menjalani masa pidana sampai tahap kedua belum tentu diberikan medium security. Pembinaan kesadaran beragama Usaha ini diberikan agar narapidana dapat meningkatkan Imannya terutama memberi pengertian agar narapidana wanita dapat menyadari akibat-akibat dari perbuatan yang benar dan perbuatan yang salah. melainkan tetap diberikan maximum security karena tingkah lauk narapidana tersebut belum menunjukkan perbaikan sikap. Sesuai dengan pola pembinaan narapidana dan tahanan. maka sebagai pelaksanaan pembinaan ruang lingkupnya meliputi 2 ( dua ) bidang. yang beragama Islam mendapat pembinaan rohani pada hari Selasa. Bagi narapidana wanita yang beragama Kristen mendapat pembinaan rohani setiap hari Selasa. rabu dan Kamis.

setelah mendapat bimbingan agama menjadi sdikit ada kemajuan dalam pemahaman agama.67 Hasil Wawancara dengan responden A. narapidana sangat berpartisipasi dalam pembinaan keagamaan. saya sekarang bisa membaca al Quran padahal dulu saya tidak lancar membaca Al Quran” ( Wawancara.00 WIB ) Pembinaan kesadaran beragama di LP Wanita Semarang sudah cukup baik. c. jadi setelah diberikan pengarahan oleh petugas kami semua menjadi tahu bagaimana menjadi warga negara yang baik.00 WIB ) Pelaksanaan pembinaan kesadaran berbangsa di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang cukup baik dan sudah mencapai tujuan dari pembinaan kesadaran berbangsa dan bernegara. umur 21 tahun yang menyatakan: “Pembinaan Kesadaran beragama disini sangat bermanfaat bagi saya. dulu sebelum masuk ke LP sini saya tidak paham soal agama. Selain itu juga disini diajari menbaca Al Quran. karena sebelumnya kita adalah pelanggar hukum makanya kami disini” ( Wawancara. sehingga sebagai . ini dapat dilihat dari jadwal pembinaan yang sudah teratur. taat pada pemerintah. Wawancara dengan responden B umur 24 tahun yang menyatakan: “Disini kita diberi pengertian tentang kehidupan berbangsa. Pembinaan kesadaran berbangsa dan bernegara Usaha ini dilakukan dengan cara menyadarkan narapidana agar menjadi warga negara yang baik berbakti bagi bangsa dan negaranya. 3 Oktober 2005: pukul 09. b. 3 Oktober 2005: pukul 09. Pembinaan kesadaran hukum Dilakukan dengan cara memberi penyuluhan hukum yang bertujuan untuk mencari kadar kesadaran hukum.

6 Oktober 2005: pukul 09. Pembinaan Intelektual (kecerdasan) dapat dilakukan baik melalui pendidikan formal maupun pendidikan non formal. Pendidikan formal diselenggarakan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh pemerintah agar dapat dimanfaatkan oleh semua narapidana wanita. budi pekerti dan lain sebagainya.00 WIB ) Proses pembinaan kesadaran hukum di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas IIA Semarang sudah berjalan cukup baik dan dapat mencapai sasaran yang diharapkan. dan diharapkan tidak melanggar hukum setelah bebas nanti. Pembina disini cukup baik dan ramah-ramah” ( Wawancara. Sehingga dapat menunjang kegiatan-kegiatan positif yang dilakukan selama masa pembinaan.Wawancara dengan responden A umur 44 tahun yang mengatakan bahwa: ‘Disini kami dibina tentang hukum. d. keadilan dan perlindungan terhadap harkat dan martabat. cara pelaksanaan pendidikan formal yang ditempuh oleh petugas di Lembaga Pemasyaraktan Wanita Klas IIA Semarang adalah dengan diajarkannya pendidikan agama. Untuk mengejar ketinggalan dibidang formal ini Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang juga mengupayakan cara belajar melalui program Kejar Paket A.68 anggota masyarakat dapat ikut menegakkan hukum. supaya dapat mengerti dan taat pada hukum. Sedangkan pendidikan non . Pembinaan kemampuan Intelektual ( kecerdasan ) Usaha ini dilakukan agar pengetahuan serta kemampuan berpikir narapidana (Warga Binaan Pemasyarakatan) semakin meningkat.

6 Oktober 2005: pukul 09. 2.00 WIB ) Pembinaan kemampuan intelektual di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang sangat dibutuhkan oleh para narapidana. Ketrampilan untuk mendukung usaha-usaha mandiri . saya sudah dapat sedikit membaca dan menulis” ( Wawancara. hanya perlu peningkatan dalam pelayanan penyediaan buku-buku yang hanya dapat dilayani oleh perpustakaan keliling. Buku bacaan hanya dapat diperoleh dari perpustakaan dan perpustakaan keliling yang datang setiap hari jumat. Pelaksanaan pembinaan kemampuan Intelektual di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang cukup baik. tetapi setelah mengikuti program pendidikan disini.69 formal diselenggarakan sesuai kebutuhan dan kemampuan melalui latihan-latihan ketrampilan seperti: mengkrisrik. itupun jumlahnya terbatas sehingga saya disini agak sedikit kuper” ( Wawancara. Pembinaan Kemandirian Pembinaan Kemandirian diberikan melalui program-program: 1.00 WIB ) Wawancara pada responden D umur 24 tahun mengatakan bahwa: “Disini sangat sulit untuk mendapat buku bacaan dan Koran. bordir dan menjahit. terutama narapidana yang berpendidikan rendah. kalau Koran memang narapidana disini tidak diperbolehkan membaca. 3 oktober 2005: pulul 09. menyulam. Wawancara dengan responden C umur 43 tahun mengatakan bahwa: “Saya dulu tidak bisa membaca ataupun menulis.

Ketrampilan untuk mendukung usaha-usaha industri atau pertanian atau perkebunan dengan teknologi madya atau teknologi tinggi. semua ini dapat bermanfaat bagi saya” ( Wawancara. dengan adanya lahan yang kosong disekitar lembaga pemasyarakatan seperti antara bangunan yang satu dengan bangunan yang lain terdapat gang dan gang tersebut ditanami sayur-sauran. harapan saya kelak setelah keluar dari. Ketrampilan untuk mendukung industri-industri kecil Misalnya: PKK seperti membuat kue dan memasak 4. Program kegiatan ini pelaksanaannya dilaksanakan sesuai jadwal yang telah ditentukan untuk kegiatan setiap hari. jagung dan singkong.00 ) Pelaksanan pembinaan ketrampilan bagi para narapidana sudah cukup baik. dilihat dari pelaksanaan yang terjadwal. bordir. tepatnya disekeliling LP ini ada tanah untuk berkebun. Program pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas IIA Semarang wajib diikuti oleh seluruh narapidana sesuai dengan jadwal LAPAS. menyulam. 6 Oktober 2005: pukul 09. Misalnya.70 Misalnya: kerajinan tangan seperti menjahit. Selain itu kadangkala saya juga belajar untuk berkebun. 2. Ketrampilan yang dikembangkan sesuai dengan bakat Misalnya: ketrampilan membuat tas 3. hampir setiap hari diadakan latihan ketrampilan. mengkristik. Jadwal tersebut dipasang pada setiap blok narapidana dengan maksud agar narapidana dapat mengetahui dan . dan mengkristik. Wawancara dengan responden D umur 32 tahun mengatakan bahwa: “Disini sekarang saya dapat menjahit.

00 13.00-11.Pelajaran Agam Islam .m Seluruh WBP Seluruh WBP Peserta Ag.00-16.Kejar Paket A .00 09.00-09.Ketrampilan .00 11.kebersihan Lingkungan .Pelajaran Agam Islam . Kamis 07.00-14.00 09.00 09.00 14.00 3. Agama/Bimpas Gereja Pantekosta Bimpas Bimpas Bimpas Bimpas Bimpas Bimpas Bimpas KPLP Bimker Agape / Advent Bimpas Bimpas KPLP KPLP KETERANGAN Selruh WBP Anggota Pramuka Seluruh WBP Seluruh WBP Peserta Iqra Peserta Volly Peserta Musik Pemula Selruh WBP Seluruh WBP WBP Ag. Nasrani Peserta Iqra Peserta musik Peserta volly Seluruh WBP Seluruh WBP WBP buta huruf WBP Ag.00-12.Ketrampilan .00 11.00 14.00 13.Kebaktian .Qoshidah .Pelajaran Agama Kristen .00 13.00 11.00 09. Minggu 07.Pramuka .Olah Raga (volly) .0011.Paduan Suara/ Vokal .Ketrampilan .00-16.Tari / Drama 7.30-09. Islam WBP Ag.00 6.00-12.00 09.00 4.00 JENIS KEGIATAN .00-140.Pelajaran Agama Kristen .Senam Struktur .00 13.00-12. Nasrani Peserta Musik Peserta Volly Seluruh WBP Seluruh WBP WBP Ag> Islam WBP Ag.00 13. Nasrani Peserta Paduan Suara / VG Pserta Tari / Drama Seluruh WBP Seluruh WBP Data sekunder per September 2005 .00 14.30-09.00 09.00-12.Musik .00-15.Olah Raga .kebersihan Lingkungan .00 08.00-11.00-11.Olah Raga . Rabu 07.Pengajian .Ketrampilan .00 5.71 mempersiapkan diri.Karawitan .30-09.30-09.00 2.Budi Pekerti/Penyuluhan .00-15. Jum’at 07.Pelajaran Agama Kristen . Islam WBP Ag.00 10.00-12. Agama/Bimpas Yayasan Cinta Kasih Bangsa Bimpas Bimpas KPLP Bimker Dep.00-14.00-11.Ketrampilan .00 13.Iqra/Bacan Al Quran .Musik .00-16.Iqra/Bacan Al Quran . Agama/Bimpas Gereja Katedral Bimpas Bimpas Bimpas KPLP Bimker Bimpas Dep. senin HARI/PUKUL 07.00 12.Paduan Suara / vokal Group .00-11.Kebersihan Lingkungan . Kristen Peserta karawitan Peserta Iqra peserta instruktur Senam Seluruh WBP Peserta Musik Peserta Qosidah WBP Ag.Kebersihan Lingkungan .kebersihan Lingkungan .00-14. selasa 07.00 09.00 .00-14. JADWAL KEGIATAN WARGA BINAAN PEMASYARAKATAN LEMBAGA PEMASYARAKATAN WANITA KLAS IIA SEMARANG NO 1. Sabtu 07.00 09.00-13.00-12.Iqra/Bacan Al Quran .30-09.Hiburan / Istirahat PETUGAS/PENGAWAS KPLP Pembinaan Pramuka/Bimpas Bimpas Bimker Bimpas Bimpas Bimpas KPLP Bimker Dep.00-12. Isla. Berikut ini adalah jadwal Kegiatan Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang.Kebersihan Lingkungan .00 11.Musik .Iqra/Baca Al Quran .30-09.30-09.00 11.00 14.00-16.Pelajaran Agam Islam .

yaitu untuk Pendidikan agama Islam 9 ( Sembilan ) kali dalam satu minggu. 5. Jumlah 9 5 1 5 5 4 . Serta pada setiap hari Natal diadakan Misa Natal. 3. Sholat Id pada hari Raya Idul Fitri dan Idhul Adha.72 Dari jadwal kegiatan Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas IIA Semarang digambarkan dalam tabel sebagai berikut: Tabel 11 Jadwal Kegiatan / Pelajaran di LP Wanita Klas IIA Semarang No 1. Sedangkan bagi narapidana yang beragama Kristen dan Katholik diadakan kebaktian secara rutin setiap hari sabtu dan pendidikan agama Kristen dan Katholik hampir setiap hari. Selain itu setiap bulan Ramadhan diadakan ibadah puasa dan sholat tarawih serta tadarus Al Quran. dan Pendidikan Agama Kristen dan Katholik 5 ( lima ) kali dalam seminggu. Kegiatan lain yang diadakan sholat jamaah secara rutin tiap Dhuhur bersama dengan pegawai di Lembaga Pemasyarakatan yang sebelumnya dilaksanakan latihan Iqra atau baca Al Quran. 4. 2. Jenis Kegiatan Pendidikan Agama Islam Pendidikn Agama Kristen/Katholik Pendidikan Umum Pendidikan Ketrampilan Rekreasi Olah raga Data sekunder per September 2005 Dari tabel 11 di atas dapat diketahui bahwa program kegiatan pendidikan agama yang dilaksananakan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang paling banyak dibandingkan dengan program yang lain. 6.

Jika BAPAS dapat berperan lebih aktif maka pembinaan lanjutan dapat dilakukan dalam bentuk mencarikan pekerjan dalam bentuk kerja sama dengan perusahaan. Pendidikan ketrampilan diadakan 5 (lima) kali dalam satu minggu. menyulam. pembebasan bersyarat dan cuti menjelang bebas. yaitu pemberantasan buta huruf melalui Program Kejar Paket A yang diikuti oleh Narapidana yang buta huruf sama sekali dan yang tidak tamat SD ( DO SD ).73 Pendidikan umum. hiburan TV setiap hari pada jam satu siang sampai jam dua siang. Premi itu disimpan oleh petugas yang akan diberikan kepada narapidana pada saat ia selesai menjalani masa pidananya. Pembinaan narapidana di Lembaga Peamasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang idealnya diikuti dengan pembinaan lanjutan. kristik dan lain-lain. Bagi narapidana yang bekerja akan diberikan premi. Kegiatan rekreasi yang diarahkan pada pemupukan kesegaran jasmani melalui kegiatan olah raga seperti: tennis meja. BAPAS sebagai institusi yang melakukan penanganan terhadap narapidana yang mendapatkan asimilasi. dilaksanakan satu kali dalam seminggu yaitu pada hari Kamis. Kegiatan latihan ketrampilan untuk narapidana antara lain seperti. dan setiap hari sabtu dan minggu. voly dan kasti. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Seksi Bimbingan Kerja. radio serta membaca buku perpustakaan. payet. Untuk selanjutnya narapidana akan diarahkan sesuai bakat dan ketrampilannya masing-masing dalam mengikuti program ketrampilan. bordir. kegiatan konseling dan bimbingan mental. menjahit. Berikut ini adalah hasil penelitian dan Wawancara dengan responden narapidana Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang sebanyak 7 .

maka dapat diketahui bahwa jenis pidana yang paling banyak dijatuhkan kepada responden narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang adalah pidana penjara 7 (tujuh ) orang. Berkaitan dengan jenis pidana yang dikenakan terhadap narapidana di Lembaga Pemasyarakatan wanita Semarang dapat diketahui dari tabel berikut ini: Tabel 12 Jenis Pidana Narapidana Responden di LP Wanita Semarang Jenis Pidana Pidana mati Pidana Penjara Pidana kurungan Pidana denda Hasil wawancara 3 Oktober 2005 Jumlah 7 - Dari tabel 12 tersebut diatas. Berkaitan dengan jenis tindak pidana yang dilakukan oleh responden narapidana dapat diketahui dari tabel dibawah ini : Tabel 13 Jenis Tindak Pidana narapidana Responden di LP Wanita Semarang Jenis tindak pidana Penggelapan Narkoba Penipuan pembunuhan Hasil wawancara 3 Okrober 2005 Dari tabel 13 menggambarkan bahwa tindak pidana yang dilakukan oleh narapidana penghuni Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Jumlah 1 2 2 2 .74 (tuju) orang yang terkait dengan praktek pembinaan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan wanita Klas IIA Semarang.

Tindakan ini dilakukan apabila peringatan secara halus belum juga menyadarkannya. Untuk mengetahui ada tidaknya tindakan fisik di Lembaga Pemasyarakatan Wanita dapat diketahui dari wawancara berikut ini. Narapidana diperingatkan secara halus dan diperingatkan supaya tidak mengulangi lagi kesalahannya. penipuan. Selanjutnya mengenai pelaksaan pembinaan yang dilakukan oleh petugas pemasyarakatan terhadap narapidana.00 WIB ) Bentuk penanganan lain bagi narapidana yang melakukan pelanggaran disiplin adalah dengan “tindakan fisik”.75 Semarang bervariasi.00 siang” ( Wawancara. Dalam penelitian kali ini responden yang diambil untuk diteliti dari kasus narkoba. Pemberian sanksi berupa “ tindakan fisik “. Peringatan bagi narapidana yang melakukan pelanggaran disiplin. yang bertujuan untuk menyadarkan dan memberi shock therapy dengan melalui beberapa tahapan yaitu: 1. penggelapan dan pembunuhan. 2. Wawancara dilakukan pada responden A umur 50 tahun yang mengatakan bahwa: . Biasanya hukuman yang diberikan adalah dicabutnya remisi dan membersihkan lingkungan dari pukul 07.00 pagi sampai 11. 6 Oktober 2005: pukul 09. tidak menutup kemungkinan dalam proses pembinaan ada narapidana yang melakukan pelanggaran disipilin yang dilakukan terhadap keamanan dan ketertiban. Seperti pada hasil wawancara yang dilakukan pada responden D umur 32 tahun yang mengatakan bahwa: “Biasanya pelanggaran yang dilakukan Warga Binaan di Lembaga Pemasyaraktan sini adalah merokok dan pertengkaran antar warga Binaan.

Berkaitan dengan program pembinaan.00 WIB ) Wawancara dilakukan pada responden B umur 24 tahun mengatakan bahwa: “Kegiatan disini memang bermanfaat tapi mungkin bagi mereka-mereka yang baru masuk kesini.00 WIB ) Pelaksanaan Pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas IIA Semarang sudah berjalan cukup baik terlihat dengan tidak adanya tindakan fisik bagi narapidana yang melanggar peraturan.00 WIB ) Wawancara dilakukan pada responden E umur 41 tahun yang mengatakan bahwa: “Selama disini saya tidak pernah melihat adanya penyimpangan dalam program pembinaan. sehingga sekarang saya sudah bisa punya ketrampilan menjahit. pendapat narapidana dalam menerima program kegiatan tersebut dapat diketahui wawancara berikut ini: Wawancara dilakukan pada responden A umur 21 tahun yang mengatakan bahwa: “Dulu sebelum saya disini saya tidak punya ketrampilan apa-apa. 6 Oktober 2005: pukul 09. itupun hukumannya disesuaikan dengan kesalahan yang dilakukan dan sesuai dengan peraturan yang ada” ( Wawancara. Kegiatan disini sangat bermanfaat sekali buat saya” ( wawancara.76 “Di Lembaga Pemasyarakatan sini antara petugas dan Warga Binaan seperti keluarga. 3 Oktober 2005: pukul 09.00 WIB ) . Asalkan kami disini tidak melakukan pelanggaran maka kami tidak ada hukuman” ( Wawancara. 3 Oktober 2005: pukul 09. disini banyak sekali kegiatan dan ketrampilan yang sangat bermanfaat. tapi bagi yang sudah lama disini kegiatan disini sangat membosankan karena kegiatannya cuma itu-itu saja monoton tidak ada variasinya” ( Wawancara. Disini petugasnya baik-baik kalaupun ada palingpaling ada Warga Binaan yang melanggar peraturan. 6 Oktober 2005: pukul 09. jadi tidak ada penyimpangan dalam pelaksanaan pembinaan.

terutama untuk narapidana yang sudah lama menghuni Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas IIA Semarang. Dengan demikian program pembinaan yang dilaksanakan oleh Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA memang sudah sesuai dengan apa yang diharapkan yaitu mempersiapkan narapidana dapat bersikap dan bekerja mandiri saat kelak kembali ke masyarakat. 4. 12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan .77 Program pembinaan yang dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang sudah cukup bermanfaat. Pandangan masyarakat terhadap narapidana yang seolah-olah apriori itu yang juga disebabkan karena perilaku mereka yang telah lalu sehingga menimbulkan anggapan dalam masyarakat bahwa “ sekali lancung keujian seumur hidup tidak dapat dipercaya” maka itu merupakan “cap” bagi narapidana yang diberikan oleh masyarakat. kendatipun narapidana yang bersangkutan misalnya telah menunjukkan rasa tobatnya dan boleh dikatakan tidak mengulangi lagi perbuatan jahatnya. Perlu adanya variasi kegiatan bagi narapidana yang menjalani program pembinaan sehingga para narapidana tidak mengalami kebosanan.1.5 Perlindungan Hak-Hak Narapidana Wanita Oleh Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang Perlindungan dan pemenuhan terhadap hak-hak narapidana yang sedang menjalani pidana di Lembaga Pemasyarakatan diatur secara tegas dalam Pasal 14 Undang-Undang no. Namun demikian cap jahatnya itu akan melekat selamanya.

Namun sebagai manusia. Seorang narapidana yang telah menjalani pidananya di Lembaga Pemasyarakatan dikatakan telah kehilangan kemerdekaan bergeraknya. 6 Oktober 2005: pukul 09. Berkaitan dengan pemenuhan hak-hak narapidana responden berpendapat seperti pada wawancara berikut ini: Wawancara pada responden A umur 21 tahun yang mengatakan sebagai berikut: Saya mengetahui hak-hak saya yang ada dalam Undang-Undang dan disini hak-hak saya sudah terpenuhi semua.78 dan juga secara Internasional dalam Standar Minimum Regional ( SMR ) PBB dimana Indonesia juga telah meratifikasinya. narapidana tetap tidak kehilangan hak-haknya sebagai manusia. disini saya tidak merasa hak-hak saya dilanggar. Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang dalam proses pembinaan narapidana.00 WIB ) Wawancara pada responden E umur 50 tahun yang mengatakan bahwa: “Saya sudah tahu hak-hak saya yang ada dalam Undang-Undang.00 WIB ) Pemenuhan hak-hak yang dilakukan oleh Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang sudah cukup baik artinya bahwa Lembaga . asalkan kita patuh pada peraturan yang ada. Berikut ini adalah hasil penelitian dan wawancara yang dilakukan terhadap 7 ( tuju ) orang responden narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Semarang yang berkaitan dengan pemenuhan hak-hak narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. juga tetap berupaya untuk memenuhi hak-hak narapidana sesuai dengan ketentuan yang ada. saya disini benar-benar diperhatikan oleh para petugas di LP ini” ( Wawancara. 3 Oktober 2005: pukul 09. Disini semua hak-hak saya dipenuhi” ( Wawancara.

Disini juga diajarkan membaca Al Quran. diwajibkan untuk melaksanakan sholat lima waktu dengan baik dan benar. Oleh karena itu bagi narapidana yang baru saja masuk ke Lembaga Pemasyaraktan akan diadakan pengecekan apakah narapidana sudah menjalankan sholat atau belum. dulu saya tidak bisa membaca Al Quran tapi sekarang saya sudah bisa membaca Al Quran” ( Wawancara. Hal ini disebabkan pendidikan agama memegang peranan penting dalam pembinaan narapidana selama menjalani pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang.79 Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang sudah berusaha semaksimal mungkin untuk berusaha memenuhi hak-hak para Warga Binaan yang menghuni LP sesuai dengan peraturan yang ada. Disini kami diberi kebebasan untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya. Selain itu pada setiap sholat Dhuhur dilaksanakan sholat secara berjamaah didalam Masjid Nurul Iman di . Bagi narapidana yang belum dapat sholat dibimbing secara intensif baik di dalam kamar oleh narapidana yang telah ditunjuk maupun dalam ruang pendidikan oleh petugas pembimbing sampai mereka betul-betul dapat sholat dengan baik dan benar.00 WIB ) Bagi narapidana yang beragama Islam. Melakukan ibadah sesuai dengan agama atau kepercayaannya Pendidikan agama di Lembaga Pemasyarakayan Wanita Klas IIA Semarang menempati urutan pertama dalam jadwal kegiatan. Praktek pemenuhan hak-hak narapidana yang diberikan Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang adalah sebagai berikut: 1. 3 Oktober 2005: pukul 09. Wawancara pada responden A umur 21 tahun mengatakan bahwa: “Disini kegiatan agamanya sangat bermanfaat bagi saya.

00 WIB ) Bagi narapidana yang melahirkan saat melahirkan maka dapat melahirkan di Lembaga Pemasyarakatan tapi apabila tidak memungkinkan untuk melahirkan di Lembaga Pemasyarakatan maka pasien dibawa ke RSUP Dr. Perawatan jasmani maupun rohani di Lembaga Pemasyarakatan Wanita klas IIA Semarang dilakukan sesuai dengan peraturan yang ada.80 lingkungan Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang. 3. 6 oktober 2005: pukul 09. baik perawatan rohani maupun jasmani. Salah satu hak-hak narapidana adalah mendapat perawatan baik jasmani maupun rohani. 2. Wawancara dilakukan pada responden D umur 32 tahun yang mengatakan bahwa: “Disini kami melakukan keiatan sesuai dengan jadwal yang ada. terutama untuk narapidana yang buta huruf maupun narapidana yang tidak tamat SD dan yang tidak lancar membaca. kalau saya sedang menstruasi kalau tidak sakit maka kami melakukan kegiatan seperti biasanya. tapi kalau sedang menstruasi dan perut sakit maka saya diijinkan untuk istirahat” ( Wawancara. Mendapat pendidikan dan pengajaran Mendapatkan pendidikan dan pengajaran merupakan salah satu bentuk pembinaan yang dilakukan oleh Lembaga Pemasyarakatn Wanita Klas IIA Semarang. Sebelum diadakan Sholat Dhuhur berjamaah sebelumnya diadakan latihan Iqra. Mendapat perawatan. Wawancara pada responden C umur 43 tahun mengatakan bahwa: . yang harus diikuti oleh semua narapidana. Karyadi Semarang.

sekarang saya bisa membaca dan menulis” ( Wawancara.81 “Saya tidak bisa membaca dan menulis. 4. sekarang saya sudah sedikit bisa membaca dan menulis” ( Wawancara. Yang menjadi kendala adalah program ini tidak berjalan dengan tuntas. walaupun tidak ada menu susunya tapi bisa diganti dengan buburkacang ijo” ( Wawancara. 3 Oktober 2005: pukul 09. karena narapidana sering tidak menyelesaikan kegiatannya karena narapidana yang bersangkutan sudah selesai menjalani masa pidananya padahal programnya belum selesai. disini saya diajari untuk bisa membaca dan menulis.00 WIB ) Sehubungan dengan standar dan gizi serta variasi makanan dapat diketahui dari wawancara pada responden dibawah ini: Wawancara pada responden E umur 41 tahun mengatakan bahwa: . 6 Oktober 2005: pukul 09.00 WIB ) Hal senada juga diungkapkan seperti dalam wawancara dibawah ini: Wawancara pada responden A umur 21 tahun mengatakan bahwa: “Dulu sebelum masuk kesini saya sama selaki tidak bisa membaca dan menulis. 3 Oktober 2005: pukul 09. disini saya diajari membaca dan menulis melalui Kejar Paket A. Bila nanti ada pengantinya maka kegiatan harus dimulai dari awal kembali.00 WIB ) Bentuk kegiatan pendidikan dan pengajaran yang diberikan berupa kegiatan Kejar Paket A yang diperuntukkan bagi narapidana yang buta huruf sama sekali dan bagi narapidana yang tidak tamat SD ( DO SD ). Mendapat pelayanan kesehatan dan makanan yang layak Pelayanan kesehatan dan makanan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas IIA Semarang dapat diketahui dalam wawancara dibawah ini: Wawancara pada responden D umur 32 tahun yang mengatakan bahwa: “Makanan disini lumayan bervariasi.

00 WIB ) Pelayanan kesehatan bagi narapidana yang membutuhkan dapat dilayani di klinik kesehatan yang terdapat di Lembaga Pemasyarakatan. 6 Oktober 2005: pukul 09.82 “Saya rasa makanan di LP ini sudah cukup memenuhi standart. sudah cukup bergizi dan bervariasi” ( Wawancara.00 WIB ) Narapidana setiap saat dapat menyampaikan keluhan baik pada saat pelaksaan pembinaan maupun secara langsung menemui Wali napi. Menyampaikan keluhan Menyampaikan keluhan merupakan salah satu hak narapidana seperti pada wawancara terhadap narapidana dibawah ini: Wawancara pada responden D umur 50 tahun mengatakan bahwa: “Disini saya bisa menyampaikan keluhan pada petugas disini. Mendapatkan bahan bacaan dan mengikuti siaran media massa lainnya yang tidak dilarang Mendapat bahan bacaan dan siaran media massa lainnya yang tidak dilarang bertujuan agar narapidana tidak ketinggalan jaman dan dapat mengikuti perkembangan dunia luar. Pelayanan kesehatan ini juga dilengkapi denagan tenaga dokter yang bertugas. 5. apalagi keluarga saya jarang sekali datang sejak saya di LP ini kerena rumah jauh dan tidak ada biaya untuk kesini” ( Wawancara. Wawancara pada responden D umur 32 tahun mengatakan bahwa: “Disini disediakan buku perpustakaan tapi disini bukunya sudah lamalama dan jumlahnya sedikit jadi bosen. Apabila membutuhkan penanganan lebih lanjut maka narapidana yang sakit akan dibawa ke Rumah sakit atau Puskesmas terdekat. 6. 6 Oktober 2005: pukul 09. paling-paling kalau ada .

00 WIB ) Menurut Sri Utami.83 perpustakaan keliling yang datang setiap hari jumat. 6 Oktober 2005: pukul 09. 7. karena saya tidak bisa ketrampilan apa-apa. Kalau nonton TV setiap hari pada jam satu siang sampai jam dua siang dan pada hari libur” ( Wawancara. kalau Koran kami tidak diperbolehkan membaca. 6 Oktober 2005: pukul 09. dan siaran TV itupun tidak boleh berita. hal itu untuk menjaga jiwa para narapidana agar tidak terganggu kalau ada berita yang menyangkut mereka” ( Wawancara 6 Oktober 2005 pada pukul 09. kami hanya nonton hiburan saja” ( Wawancara. 3 Oktober 2005: pukul 09. staf BIMPAS mengatakan bahwa: “Para narapidana memang dilarang untuk membaca Koran dan mengikuti siaran berita di TV.00 WIB ) . premi itu diberikan dalam bentuk bon karena disini uang tidak boleh beredar” ( Wawancara.00 WIB ) Wawancara pada responden E umur 41 tahun mengatakan bahwa: “Disini kami boleh mendengarkan radio dikamar itupun radio yang satu band.00 WIB ) Wawancara pada responden C umur 43 tahun mengatakan bahwa: “Disini saya mendapat premi dari kegiatan saya didapur. saya hanya bisa memasak” ( Wawancara. hal ini disesuaikan dengan kondisi kejiwaan para narapidana yang dirasa tidak perlu untuk mengikuti siaran-siaran yang dapat membuat para narapidana jiwanya menjadi resah. 6 Oktober 2005: pukul 09. Wawancara pada responden D umur 32 tahun yang mengatakan bahwa: “Disini saya dapat premi dari ketrampilan bordir saya. Mendapatkan upah atau premi atas pekerjaan yang dilakukan Narapidana mendapat premi atas pekerjaan yang dilakukan .00 WIB ) Dari wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa siaran televisi tidak semuannya dapat ditonton oleh para narapidana. sehingga mereka merasa dihargai atas pekerjaannya selama ini.

Para narapidana sesuai dengan jadwal yang ada berhak untuk mendapat kunjungan keluarga maupun orang-orang lainnya. Namun upah atau premi itu tidak langsung diberikan kepada narapidana melainkan akan diberikan kepada narapidana pada saat ia selesai menjalani masa pidananya. Mendapat pengurangan masa pidana ( remisi ) Setiap narapidana berhak mendapat remisi yang disesuaikan dengan kelakuan para narapidana selama menjalani masa pidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. Kegiatan kunjungan ini berlangsung di ruang kunjungan sehingga memudahkan proses komunikasi antara pihak pengunjung dan narapidana.84 Upah atau premi berikan kepada narapidana yang bekerja di Bimbingan kerja. Wawancara dengan responden A umur 24 tahun mengatakan bahwa: “Keluarga saya biasanya mengunjungi saya setiap lebaran. Menerima kunjungan keluarga. ( Wawancara. karena kalau lebaran jam kunjungannya lebih lama dari jam kunjungan hari-hari biasa”. 8. Hal ini sesuai dengan ketentuan bahwa selama menjalani pidananya di Lembaga Pemasyarakatan narapidana tidak diperbolehkan membawa uang.00 ) 9. Uang beredar dalam bentuk kartu uang. dimana para narapidana bisa menggunakan uangnya yang ditulis dalam buku catatan kecil. penasehat hukum atau orang tertentu lainnya. Wawancara pada responden C umur 32 tahun mengatakan bahwa: . 3 Oktober 2005: Pukul 09.

Hampir semua narapidana dapat memanfaatkan kegiatan asimilasi dan cuti mengunjungi keluarga. 3 Oktober 2005: pukul 09. sudah .00 WIB ) Wawancara pada responden A umur 21 tahun mengatakan bahwa: “saya disini sudah dua tahun dari masa hukuman saya yang sembilan tahun. semua narapidana berkesempatan mendapatkan remisi. Remisi dicabut apabila narapidana melakukan kesalahan seperti terjadi perkelahian antar narapidana yang menyebabkan salah satu narapidana terluka. apabila berkelakuan baik selama masa pembinaan.00 WIB ) Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang sudah cukup baik dalam memberikan hak-hak narapidana. Dalam asimilasi narapidana harus memenuhi syarat-syarat yang harus dipenuhi seperti syarat menjalani 2/3 dari masa pidana dan berkelakuan baik. kemarin saya mendapat remisi enam setengah bulan. 3 Oktober 2005: Pukul 09.85 “Waktu hari kemerdekaan tanggal tujuh belas Agustus kemarin saya mendapat remisi selama empat bulan. 12. 10. Mendapatkan kesempatan berasimilasi termasuk cuti mengunjungi keluarga. Mendapat cuti menjelang bebas. karena saya berkelakuan baik” ( Wawancara. lumayan bisa mengurangi lamanya saya disini” ( Wawancara. 11. Mendapatkan pembebasan bersyarat Berdasarkan data yang diperoleh periode januari 2004 sampai dengan Desember 2004 terdapat 8 orang narapidana yang mendapat pembebasan bersyarat.

ruang pengobatan dan lainnya” ( Wawancara. Hanya saja kurangnya koleksi di perpustakaan tersebut membuat para narapidana kurang memaksimalkan keberadaan perpustakaan tersebut. perpustakaan. Seperti adanya Masjid.86 13. terutama sarana dan prasarana yang mendukung pemenuhan hak-hak kami sini.00 WIB ) Wawancara terhadap responden C umur 50 tahun yang mengatakan bahwa: “Walaupun tidak seperi di rumah sendiri. Perpustakaan Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang berada di sebelah ruang Bimbingan dan Kemasyarakatan. dan adanya perpustakaan keliling yang datang setiap hari jumat. Berkaitan dengan sarana prasarana pendukung pemenuhan hak-hak narapidana dapat diketahui dari wawancara berikut ini. .00 WIB ) Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang dalam memenuhi sarana dan prasarana sudah cukup baik. Mendapatkan hak-hak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Berkaitan dengan pemenuhan hak narapidana untuk mendapatkan bahan bacaan tersedia sarana perpustakaan yang dibuka setiap hari. Wawancara terhadap responden E umur 44 tahun mengatakan bahwa: “Disini sarana dan prasaranya sudah cukup baik. tapi di sini sarana dan prasaranya sudah cukup memadai. 6 Oktober 2005: pukul 09. cukup untuk mendukung hak-hak kami selama disini” ( Wawancara. terutama untuk pemenuhan hak-hak narapidana. 6 Oktober 2005: pukul 09. Hal ini terlihat dengan terrawatnya sarana dan prasarana serta adanya pemanfaatan secara maksimal sarana dan prasarana tersebut yang terdapat di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang.

. diharapkan para narapidana tetap dapat mengikuti perkembangan keadaan di luar Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang.87 Siaran media televisi diperbolehkan untuk diikuti para narapidana sebagai rekreasi di hari minggu atau hari besar. hal ini untuk menjaga ketenangan jiwa para narapidana yang menghuni Lembaga Pemasyarakatan tesebut. tapi selama ini masalah tersebut dapat diatasi sehingga pelaksanaan pembinaan dapat berjalan dengan lancar” ( Wawancara. Secara keseluruhan Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang dapat dikatakan telah berupaya semaksimal mungkin dalam pemenuhan hak-hak narapidana. siaran televisi itu dibatasi hanya seputar hiburan saja. Karena dikwatirkan apabila ada siaran berita yang menyangkut diri narapidana malah akan menambah resah narapidana tersebut. 8 September 2005: pukul 09. Narapidana tidak diperkenankan untuk melihat siaran berita ditelevisi. Dengan menonton acara hiburan di televisi.00 WIB ) Problem klasik ini tampaknya memerlukan perhatian yang lebih baik dari pihak-pihak yang berkaitan dengan kegiatan di Lembaga Pemasyarakatan. Jika dalam prakteknya masih terdapat kekurangan tak lain disebabkan pada masalah dana. Wawancara dengan Tri Utami staf BIMPAS yang mengatakan bahwa: “Kendala dalam pelaksanaan pembinaan adalah kurangnya dana.

88

4.2

Pembahasan Pembinaan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang dilakukan dengan empat tahap. Tahap awal yaitu sejak diterima sampai sekurang-kurangnya ½ dari masa pidana yang diterimanya. Tahap kedua yaitu pembinaan lanjutan diatas 1/3 sampai sekurang-kurangnya ½ dari masa pidana yang sebenarnya. Tahap ketiga yaitu pembinaan lanjutan ½ sampai sekurangkurangnya 2/3 dari masa pidana yang sebenarnya. Tahap keempat yaitu tahap pembinaan lanjutan diatas 2/3 dari masa pidanannya. Narapidana adalah seseorang yang kehilangan kemerdekaan karena melakukan tindak pidana berkaitan dengan hal tersebut, hak-hak narapidana sebagai warga negara tetap dilindungi baik oleh Pemerintah maupun oleh Lembaga Pemasyarakatan dimana narapidana tersebut berada. Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang dalam memberikan hak-hak kepada narapidana Wanita adalah pemberian hak-hak dengan pembatasan-pembatasan tertentu. Praktek pemenuhan hak-hak narapidana yang diberikan oleh Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang, seperti: hak untuk untuk beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaanya. Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA kegiatan agamanya sangat menonjol, harapannya dengan kegiatan keagamaan tersebut para narapidana dapat mempertebal keimanannya dan menyadari kesalahan mereka sehingga setelah mereka keluar nanti mereka dapat berperan aktif dalam masyarakatan tanpa canggung. Kegiatan keagamaan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang, dilaksanakan setiap hari, yaitu sembilan kali untuk pendidikan agama Islam dan lima kali dalam seminggu untuk

89

pendidikan agama Kristen dan Katholik. Diadakanya sholat Dhuhur berjamaah, pembicaan Iqra, sholat taraweh pada bulan Ramadhan dan untuk Kristen katholik diadakannya kebaktian dan diadakannya Misa Natal. Kegiatan-kegiatan para narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang, seperti kegiatan keagamaan, ketrampilan, olah raga dan kegiatan lainnya dilakukan dengan kesadaran dari para narapidana sendiri, karena mereka sadar bahwa apa yang dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan adalah bekal mereka di kemudian hari saat mereka kembali kepada masyarakat. Agar mereka dapat menjadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa. Kegiatan para narapidana di Lembaga Pemasyarakatan berkaitan dengan fungsi hukum yaitu hukum sebagai sarana rekayasa sosial. Salah satu ciri yang menonjol dari hukum pada masyarakat modern adalah penggunaanya secara sadar kepada

masyarakatnya Disini hukum tidak hanya dipakai untuk mengukuhkan pola-pola melainkan juga untuk mengarahkan kepada tujuan-tujuan yang dikehendaki, menghapuskan kebiasaan yang dipandang tidak sesuai lagi, menciptakan pola-pola kelakuan baru dan lain sebagainya ( Satjipto Raharjo, 1996:206 ) Para narapidana juga mendapat perawatan jasmani dan rohani dari Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. Untuk narapidana yang tidak bisa membaca dan menulis diadakan program Kejar Paket A yang diadakan sekali dalam seminggu. Kendala dalam Kejar Paket A adalah apabila para narapidana yang ikut program tersebut belum bisa membaca dan menulis tapi sudah bebas, untuk narapidana yang baru berarti harus mulai dari awal lagi. Makanan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang sudah cukup layak serta bervariasi, karena untuk menu dan jumlah takaran makanan untuk

90

semua Lembaga Pemasyarakatn di Indonesia adalah seragam.

Pelayanan

kesehatan juga disediakan bagi narapidana yang sakit, apabila di Lembaga Pemasyarakatan tidak bisa menangani maka dapat dirujuk di puskesmas atau RSUP Dr Karyadi. Selain itu setiap narpidana dapat menyampaikan keluhan pada petugas pembinaan. Petugas siap kapan pun para narapidana ingin menyampaikan keluhan mereka. Narapidana mendapat bahan bacaan dan mengikuti siaran media massa lainnnya yang tidak dilarang tetapi dengan batasan-batasan tertentu. Berbeda dengan Lembaga Pemasyarakatan Pria, dimana narapidana pria dapat mengikuti perkembangan berita dari televisi, tapi di Lembaga Pemasyarakatan wanita Klas IIA Semarang tidak diperkenankan untuk mengikuti siaran berita di televisi, mereka hanya diperbolehkan untuk menonton acara yang bertema hiburan. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa narapidana Wanita tidak perlu untuk menonton acara yang dapat menggangu jiwa mereka, karena bisa saja salah satu acara televisi tersebut menyangkut mereka sehingga jiwa mereka tidak tenang. Begitu juga dengan membaca koran maupun majalah yang lain, hal itu disebabkan juga dengan alasan yang sama dengan siaran televisi. Untuk membaca koran dan majalah para narapidana mendapat dari keluarganya yang mengujungi pada jadwal berkunjung itupun secara sembunyi-sembunyi. Seperti hak-hak diatas, hak-hak untuk mendapatkan informasi juga dibatasi dengan tujuan-tujuan tertentu. Untuk menonton televisi mereka dapat menonton setiap hari pada pukul satu siang sampai pukul dua siang dan pada hari libur. Bahan bacaan dapat mereka peroleh dari perpustakaan Lembaga Pemasyarakatan dan perpustakaan keliling yang datang satu minggu sekali pada hari jumat. Kurangnya koleksi perpustakaan

Setiap narapidana yang mengikuti kegiatan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang yang berhubungan dengan ketrampilan mendapatkan premi atas pekerjaan yang mereka lakukan. Para narapidana juga mendapat cuti menjelang bebas dan mendapatkan hak-hak sesuai dengan peraturan yang berlaku. Premi tersebut dalam bentuk bon karena dalam Lembaga Pemasyarakatan tidak diperbolehkan uang untuk beredar. Remisi dapat dicabut apabila narapidana melakukan kesalahan. . misalnya terjadi perkelahian antar narapidana yang menyebabkan salah satu diantara mereka terluka. hal ini disebabkan jauhnya jarak rumah keluarga mereka dan tidak adanya dana untuk mengunjungi mereka. Untuk hal ini syarat yang harus ditempuh sangat rumit dimana harus adanya persetujuan daru pihak RT dimana narapidana tersebut bertempat tinggal untuk mendapatkan ijin apakah narapidana tersebut dapat diterima untuk mendapatkan pembebasan bersyarat. Setiap narapidana berhak mendapatkan remisi atau pengurangan masa pidana. Remisi diberikan kepada narapidana yang memenuhi syarat untuk menerima remisi tersebut. penasehat hukum dan orang tertentu lainnya. Hanya saja untuk narapidana yang luar kota mereka jarang sekali dikunjungi oleh keluarga mereka. Selain itu para narapidana juga mendapatkan kesempatan berasimilasi termasuk cuti untuk mengunjungi keluarga serta mendapatkan pembebasan bersyarat. Padahal kunjungan dari pihak keluarga sangat mereka butuhkan untuk menunjukkan bahwa mereka masih peduli terhadap keluarga mereka yang berada di Lembaga Pemasyarakata. Para narapidana berhak untuk menerima kunjungan dari keluarga.91 Lembaga Pemasyarakatan menyebabkan kurang dimaksimalkan perpustakaan tersebut oleh para narapidana.

melahirkan dan menyusui. Jadi untuk narapidana Wanita yang menstruasi tidak mendapat izin untuk istirahat apabila narapidana Wanita tersebut tidak sakit. apabila di Lembaga Pemasyarakatan wanita Semarang tersebut tidak dapat menaggani maka pihak Lembaga Pemasyarakatan tersebut merujuk ke Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat. Hak-hak narapidana Wanita yang berhubungan dengan hal-hal tersebut diatas seperti menstruasi. Narapidana wanita yang hamil dapat melahirkan didalam Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. tetapi apabila saat menstruasi narapidana wanita tersebut tidak sakit maka narapidana Wanita tersebut tetap dapat melakukan kegiatan sesuai dengan jadwal yang telah ada. sehingga mereka tidak mendapat keistimewaan dari narapidana lain yang sedang tidak menstruasi.92 Narapidana Wanita tentunya berbeda dengan narapidana pria. hamil. jadi bayi tersebut dapat ikut ibunya di Lembaga Pemasyarakatan. Narapidana Wanita Yang baru melahirkan tersebut dapat menyusui bayinya sampai usia enam bulan. hamil. Bayi tersebut tidak mendapat jatah makanan dari Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang dan untuk ibunya tetap mendapat jatah makanan dari Lembaga Pemasyarakatan. . melahirkan serta menyusui maka di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang memberikan izin untuk istirahat dari kegiatan yang tertulis dijadwal kepada narapidana wanita yang sedang menstruasi apabila pada saat menstruasi narapidana wanita tersebut sakit. untuk makanan bayi diperoleh dari keluarganya yang berada diluar Lembaga Pemasyarakatan. dimana narapidana Wanita mempunyai keistimewaan khusus yang tidak dimiliki oleh narapidana pria yaitu narapidana Wanita mempunyai siklus seperti menstruasi.

93 Secara keseluruhan Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang sudah cukup baik dalam pemenuhan hak-hak narapidana di Lembaga tersebut. IIA Semarang dapat . tetapi ada pembatasan-pembatasan pada hak-hak tertentu. Hubungan antara narapidana dengan petugas Lembaga Pemasyarakatn Wanita Klas IIA Semarang sangat dekat sehingga tidak terjebak antara petugas dan narapidana sehingga pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas berjalan dengan baik.

kurangnya bahan bacaan yang tersedia di perpustakaan. 2. Secara umum praktek penyelenggaraan pembinaan narapidana Wanita di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang sudah sesuai dengan Undang-Undang No.12 tahun 1995 tentang pemasyarakatan secara khusus ada hal-hal yang tertentu yang dalam prakteknya dibatasi seperti dibatasinya tontonan televisi yang hanya pada acara-acara tertentu saja. 5.94 BAB V PENUTUP 5. secara khusus ada beberapa hal yang kurang sesuai antara lain dibatasinya informasi khususnya dari majalah dan koran. Secara umum perlindungan hak-hak narapidana yang diberikan oleh Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang sudah sesuai dengan UndangUndang No. Pentingnya mensosialisasikan kegiatan pembinaan narapidana pada masyarakat.1 Simpulan Dari hasil penelitian dan pembahasan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. sebagai salah satu unsur partisipasi masyarakat dengan 94 .12 tahun 1995 tentang pemasyarakatan.2 Saran Saran dalam penelitian skripsi ini adalah : 1. 2. Perlu di efektifkannya wadah konsultasi semacam bimbingan dan konseling bagi para narapidana yang sedang menghadapi suatu permasalahan dalam proses pembinaan narapidana.

misalnya dengan cara masyarakat berperan sebagai penyelenggara pemeran untuk memasarkan karya ketrampilan para narapidana. 3. misalnya pihak swasta membantu menyediakan sarana ketrampilan dan sebagai timbal baliknya para narapidana dipekerjakan pihak swasta tersebut. Pentingnya peran kalangan swasta sebagai pihak ketiga untuk ambil bagian dalam proses pembinaan narapidana dengan mengadakan kerja sama dalam proses pemasyarakatan narapidana. .95 mengikutsertakan seluruh kemampuan dan dana masyarakat untuk ikut peduli terhadap kegiatan pembinaan narapidana.

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Bandung: Remaja Roda Jaya Muladi dan Arief.1996. 1993. B dan Pasaribu. 1995. Bandung: Citra Aditya Bakti -----------.S Poerwadarminta.96 DAFTAR PUSTAKA Arief. Irwan. Lembaga Pemasyarakatan Dalam Prespektif Sistem Peradilan Pidana Penjara. Jakarta: Djambatan Moeljatno. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan Poernomo. Yogyakarta: Liberty Pidana Penjara Dengan Rahardjo. Ilmu Hukum. Hukum Pidana Materiil.Hak-hak Narapidana. dan Achyani. Barda. I. Jakarta: Balai Pustaka . Pelaksanaan SistemPemasyarakatan. 1995. 2001. Kriminologi. 1996. L. Soerjono. Bandung: Citra Aditya Bakti Santoso. 1984. 1991. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Sinar Grafika Soekanto. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Bunga Rampai Kebijakan hukum Pidana. Jakarta: UI Press Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan W. Asas-Asas Hukum Pidana. Bandung: Alumni Panjaitan. 2001. Satjipto. 1988. Topo. Barda Nawawi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Zulfa. Bambang. 2001. Jakarta: Elsam Harsono. Teori-teori Kebijakan Pidana. j. Pengantar Penelitian Hukum. Alumni: Bandung Soeharto. Petrus dan Simorangkir. Pandapotan.J. Nawawi. Jakarta: Bumi Aksara Moeljatno. 1986. Simanjuntak. Jakarta: Rineka Cipta Moleong. 1998. Sistem Baru Pembinaan Narapidana. Lexi. 1996. Teori-teori Dan Kebijakan Pidana .

97 PEMBINAAN NARAPIDANA MELALUI SISTEM PEMASYARAKATAN KAITANNYA DENGAN HAK-HAK NARAPIDANA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN WANITA KLAS IIA SEMARANG Skripsi Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Universitas Negeri Semarang Oleh Waspiah NIM: 3450401068 FAKULTAS ILMU SOSIAL JURUSAN HUKUM DAN KEWARGANEGARAAN 2006 .

Abdul Rasyid W.Ag NIP: 130607620 Drs. Suhadi.Si NIP: 131764048 ii .Si NIP: 132067383 Mengetahui Ketua Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Drs. Eko Handoyo.98 PERSETUJUAN PEMBIMBING Skripsi ini telah di setujui oleh Pembimbing untuk diajukan kesidang panitia ujian skripsi pada: Hari : Tanggal: Pembimbing I Pembimbing II Drs. M.M. M.

Si NIP : 132067383 Mengetahui Dekan Drs. MM NIP: 130367998 iii . Universitas Negeri Semarang pada: Hari : Selasa Tanggal: 28 Februari 2006 Penguji Skripsi Drs.Ag NIP: 130607620 Drs. Herry Subondo. 130809956 Anggota I Anggota II Drs. M.Hum NIP. Sunardi.99 PENGESAHAN KELULUSAN Skripsi ini telah dipertahankan di depan panitia ujian skripsi Fakultas Ilmu Sosial. Abdul Rasyid W. Suhadi M. M.

baik sebagian atau seluruhnya. 3450401068 iv . Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah. Semarang Waspiah NIM.100 PERNYATAAN Saya menyatakan bahwa yang tertulis dalam skripsi ini benar-benar hasil karya saya sendiri. bukan jiplakan dari karya tulis orang lain.

Karena ia insyaf bahwa setiap yang berakal selalu mencari kebenaran. Maka sudah pada tempatnyalah orang yang bersalah itu dimaafkan” ( Avicenna ) Skripsi ini ku persembahkan untuk: Ayah dan Bunda tercinta Kakak-kakakku dan adik-adikku tersayang Ketiga ponakanku ( Ara.101 MOTTO DAN PERSEMBAHAN “Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsumu karena ingin menyimpang dari kebenaran” ( QS. Dan setiap orang selalu mencari kebenaran. Bintang. Jika ia menghadapi kesulitan tentu orang lainpun akan demikian juga halnya. Ali Imron:135 ) “Orang yang arif bijaksana itu suka memaafkan kesalahan orang lain. maka dalam hidup dan kehidupannya pasti ia menemui kesulitan. Zaki ) yang lucu-lucu Untuk sesuatu hal yang selalu membuat aku bersemangat Sahabat-sahabatku yang setia dalam suka maupun duka ( Juli dan Sista ) Angkatan 2001 Almamaterku v .

Widiatiningrum Bc.102 PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat. arahan dan bantuan kepada: 1. S. IP. MM Koordinator Urusan Pemasyarakatan Departemen Kehakiman dan HAM Jawa Tengah 7. Pada kesempatan ini. Suhadi. Abdul Rasyid W. H. Soegito.Ag. Susana Tri Agustin Bc. Rektor Universitas Negeri Semarang 2. Drs. Drs.Si Dosen pembimbing II yang membantu dan sabar dalam membimbing penulisan skripsi ini 6. Penulis menyampaikan terima kasih atas bimbingan.Si. M.MM Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang 3. 9. dapat diselesaikan. M. sehingga penulisan skripsi dengan judul Pembinaan Narapidana Melalui Sistem Pemasyarakatan Kaitannya Dengan Hak-Hak Narapidana Di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. AT. M. dan ridho-Nya. IP. hidayah. Segenap karyawan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang vi . Selesainya penulisan skripsi ini tidak terlepas dari peran beberapa pihak. Bc. Sunardi. SH. SH Kepala Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas IIA Semarang 8. Sutomo Rahardjo.IP. Drs.IP Kepala Subseksi BIMPAS di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. DR. MM. Drs. Dosen Pembimbing I yang membantu dan membimbing sehingga selesainya penulisan skripsi ini 5. F. Ketua Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Universitas Negeri Semarang 4. Eko Handoyo.

semoga skripsi ini berguna bagi para Pembaca yang budiman.103 10. Semoga Allah SWT membalas budi dan bantuan serta bimbingan yang telah diberikan dalam penulisan skripsi ini. Semua pihak yang telah membantu demi selesainya skripsi ini. 12. 2006 Penyusun vii . Semarang. Narapidana Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang 11. kakak-kakakku serta adik-adikku tersayang yag telah memberikan kasih sayang kepadaku. Ayah Bunda. Harapan penulis.

Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan secara umum praktek penyelenggaraan pembinaan narapidana Wanita di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang sudah sesuai dengan Undang-Undang No. Pembinaan Narapidana Kaitannya dengan Hak-Hak Narapidana Di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. Data ini dianalisis dengan menggunakan metode interaktif dan disajikan dalam bentuk data yang bersifat deskriptif. Untuk kegiatan diluar lembaga meliputi cuti menjelang bebas dan pembebasan bersyarat. Suhadi. Abdul Rasyid W. namun secara khusus ada beberapa hal yang kurang sesuai antara lain dibatasinya informasi khususnya dari majalah dan koran. 12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang ? (2) Bagaimanakah perlindungan yang diberikan oleh Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang Klas IIA Semarang terhadap hak-hak narapidana wanita ?. namum secara khusus ada hal-hal tertentu yang dalam prakteknya dibatasi seperti dibatasinya acara menonton televisi yang hanya pada acara-acara tertentu saja. Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. dan Drs. M. Sarjana Hukum. ketrampilan dan olah raga. Permasalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah ( 1 ) bagaimanakah praktek penyelenggaraan pembinaan narapidana wanita menurut Undang-Undang no. kurangnya bahan bacaan yang tersedia di perpustakaan.12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan.Si.Ag. menurut undang-undang No. Lokasi penelitian ini adalah Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. M. haruslah dilakukan sesuai dengan Hak Asasi Manusia. Adapun untuk kegiatan pembinaan dalam lembaga meliputi pendidikan agama. Drs. viii . Narapidana Wanita.12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan. observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hak-hak narapidana diberikan dengan adanya pembatasan-pembatasan pada hak-hak tertentu. (2) untuk memperoleh informasi tentang perlindungan hak-hak narapidana yang diberikan oleh Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif . maupun sosial yang baik. Sering dijumpai dalam Lembaga Pemasyarakatan bahwa hak narapidana belum diberikan sesuai dengan hak mereka sebagai warga negara.12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan. dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya kurang dipahaminya peraturan mengenai hak-hak narapidana yang tertuang dalam undang-undang oleh petugas Lembaga Pemasyarakatan atau bahkan oleh para narapidana sendiri. 96h Kata Kunci: Pola Pembinaan. rekreasi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dokumentasi.104 SARI Waspiah 2006. Penelitian ini bertujuan ( 1 ) untuk mengetahui praktek penyelengaraan pembinaan narapidana wanita. Hak-Hak Narapidana Hak-hak narapidana wanita sebagai warga negara Indonesia yang hilang kemerdekaannya karena melakukan tindak pidana. Secara umum perlindungan hak-hak narapidana yang diberikan oleh Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang sudah sesuai dengan Undang-Undang No. fisik. Secara umum para narapidana merespon kegiatan pembinaan dan memandang bahwa kegiatan tersebut masih diperlukan agar mereka mempunyai bekal baik mental.

ix . misalnya pihak swasta membantu menyediakan sarana ketrampilan dan sebagai timbal baliknya para narapidana dipekerjakan pihak swasta tersebut.105 Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan pentingnya mensosialisasikan kegiatan pembinaan narapidana pada masyarakat. sebagai salah satu unsur partisipasi masyarakat dengan mengikutsertakan seluruh kemampuan dan dana masyarakat untuk ikut peduli terhadap kegiatan pembinaan narapidana. misalnya dengan cara masyarakat berperan sebagai penyelenggara pemeran untuk memasarkan karya ketrampilan para narapidana. Pentingnya peran kalangan swasta sebagai pihak ketiga untuk ambil bagian dalam proses pembinaan narapidana dengan mengadakan kerja sama dalam proses pemasyarakatan narapidana.

.................................................................... 1...................................................................... 1............................. MOTTO DAN PERSEMBAHAN.................... DAFTAR LAMPIRAN.................. 1.......................................................................................................................................................................................................................... 1...............................................................................................3 Perumusan Masalah ..............................106 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ...... PERSETUJUAN .................. DAFTAR ISI...............................................................................2 Identifikasi dan Pembatasan Masalah............................................................. SARI ..... PERNYATAAN .................................................................................................. BAB I PENDAHULUAN........................................................................................................................................................ i ii iii iv v vi viii x xii xiii xiv 1 1 5 7 8 8 9 11 11 12 x ..1 Latar Belakang .............................. PRAKATA......................................6 Sistematika Penulisan Skripsi ........................ 2..4 Tujuan Penelitian ................................ 2................................ DAFTAR TABEL............ DAFTAR GAMBAR .............................................................................................................................................................................................................................. 1..................... 1.........................................................1 Pengertian Tindak Pidana .................................. BAB II PENELAAHAN KEPUSTAKAAN DAN/ATAU KERANGKA TEORITIK...5 Kegunaan Penelitian ........................2 Pengertian Tindak Kejahatan…………………………………....................................... PENGESAHAN .

........................................................................................1 Hasil Penelitian ..........................4 Sumber Data Penelitian.................................................................................................... 3..................6 Lembaga Pemasyarakatan Wanita……………………………................ 3..................................3 Fokus Penelitian...........................7 Hak dan Kewajiban Narapidana ...........................................................................2 Saran ............. 2.............................. DAFTAR PUSTAKA ..... 4.................... 5.......................................................9 Kerangka Teoritik……………………………………………............2 Lokasi Penelitian........................................5 Alat dan Tehnik Pengumpulan Data ..................................................................1 Kesimpulan ..................... 4.............................................................2 Pembahasan.. 2........................................ 3...................................................................... BAB V PENUTUP ......................8 Prosedur Penelitian ...................... BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN................................3 Sistem Pemasyarakatan.......7 Metode Analisis Data..............................4 Lembaga Pemasyarakatan Wanita .......... LAMPIRAN-LAMPIRAN 13 15 16 17 18 22 29 30 30 30 31 31 33 37 38 41 43 43 88 94 94 94 96 xi .......................................1 Metode Penelitian ............................................................... 5....... 2............................ 3........................... 3..................... 3.......5 Pengertian Wanita…………………………………………….................................. 2....8 Pembinaan Narapidana ........6 Keabsahan Data ...............107 2................ 2.......................................................... 3.. BAB III METODE PENELITIAN ..... 2............... 3..........................................

..108 DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1 Kerangka Teoritik……………………………………… 29 2 Proses Analisis Data…………………………………. 40 xii .

Jenis Tindak Pidana narapidana Responden…………………. Narapidana Klasifikasi B-IIa…………………………………. 9. Jenis Tindak Pidana Narapidana Wanita ………………………. Jenis Kasus Responden Narapidana…………………………….. Narapidana Klasifikasi B-I……………………………………. 13. 2. Daftar Nama Responden Narapidana…………………………. 10. Daftar Nama Responden Petugas……………………………….. 7.. 8. Tingkat Pendidikan Narapidana………………………………… 4.109 DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1. Masa Pidana Narapidana Wanita………………………………. 3. Agama Narapidana LP…………………………………………. 12. Tingkat Umur Narapidana Wanita……………………………… 5.... 11. Jenis Pidana Narapidana Responden………………………….. 32 32 46 47 47 48 49 50 54 56 72 74 74 xiii . 6. Jadwal Kegiatan Narapidana …………………………………..

6 4 2 3 7.110 DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran : 1.. 9 xiv ... Jadwal Kegiatan Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang…………………………………………..... Daftar tata tertib........ 3........ kewajiban dan hak bagi narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang …………………...................... Pedoman Wawancara………………………………………….... Daftar Pemberian Ransum atau Menu Narapidana Di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA semarang…………………. Daftar Responden dan Informan …………………………… 4........ Struktur Organisasi Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang..... Surat Permohonan Izin Penelitian Dari Departemen Kehakiman Dan HAM Jawa tengah……………………………………………… 8 8. Surat keterangan telah melaksanakan penelitian………………......... 5 6..... 5........ 1 2......

111 LAMPIRAN-LAMPIRAN xv .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful