BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG Hak-hak narapidana wanita sebagai warga negara Indonesia yang hilang kemerdekaannya karena melakukan tindak pidana, haruslah dilakukan sesuai dengan hak asasi manusia. Sering dijumpai dalam Lembaga Pemasyarakatan bahwa hak-hak narapidana belum diberikan sesuai dengan hak mereka sebagai warga negara. Hal ini di sebabkan oleh beberapa faktor, dintaranya kurang dipahaminya peraturan mengenai hak-hak narapidana yang tertuang dalam Undang-Undang oleh petugas Lembaga Pemasyarakatan atau bahkan oleh narapidana sendiri. Sebagai negara hukum hak-hak narapidana harus dilindungi oleh hukum dan penegak hukum khususnya para staf di Lembaga Pemasyarakatan, sehingga merupakan sesuatu yang perlu bagi negara hukum untuk menghargai hak-hak asasi narapidana sebagai warga masyarakat yang harus diayomi walaupun telah melanggar hukum. Disamping itu narapidana perlu diayomi dari perlakuan tidak adil, misalnya penyiksaan, tidak mendapatkan fasilitas yag wajar dan tidak adanya kesempatan untuk mendapatkan remisi. Pidana penjara dalam sejarahnya dikenal sebagai reaksi masyarakat sebagai adanya tindak pidana yang dilakukan oleh seorang pelanggar hukum. Oleh kerena itu pidana penjara juga disebut sebagai pidana hilang kemerdekaan.

1

2

Seseorang dibuat tidak berdaya dan diasingkan secara sosial dari lingkungan semula Menurut Dr. Sahardjo S.H yang dikutip oleh Harsono ( 1995:1 ) untuk memperlakukan narapidana diperlukan landasan sistem Pemasyarakatan. Dengan singkat tujuan Pemasyarakatan mengandung makna: “ Bahwa tidak saja masyarakat diayomi terhadap perbuatan jahat oleh terpidana melainkan juga orang yang tersesat diayomi dengan memberikan kepadanya bekal hidup sebagai warga yang berguna dalam masyarakat. Dari pengayoman itu nyata bahwa penjatuhan pidana bukanlah tindakan balas dendam oleh negara........... Tobat tidak dapat dicapai dengan penyiksaan melainkan dengan bimbingan. Terpidana juga tidak dijatuhi pada penyiksaan melainkan pada hilangnya kemerdekaan seseorang dan yang pada waktunya akan mengembalikan orang itu kepada masyarakat, yang mempunyai kewajiban terhadap orang terpidana itu dan masyarakat itu “ Tujuan pemberian sanksi pidana penjara untuk membina, yaitu membuat pelanggar hukum menjadi bertobat dan bukan berfungsi sebagai pembalasan. Pandangan dan pemahaman seperti itulah yang sesuai dengan pandangan hidup bangsa yang terkandung dalam Pancasila, yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Di dalam KUHP pemberian sanksi pidana terdapat dalam pasal 10 KUHP yaitu: a. Pidana Pokok 1. pidana mati 2. pidana penjara 3. kurungan 4. denda b. Pidana Tambahan 1. pencabutan hak-hak tertentu

3

2. perampasan barang-barang tertentu 3. pengumuman putusan Hakim Menurut Undang-Undang No. 12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan Pasal 1 ayat ( 1 ) yang dimaksud dengan Pemasyarakatan adalah kegiatan untuk melakukan pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan berdasarkan sistem kelembagaan yang merupakan bagian akhir dari sistem pemidanaan dalam tata peradilan pidana. Proses Pemasyarakatan ini dikenakan pada narapidana yaitu terpidana hilang kemerdekaan di Lembaga Pemasyarakatan. Dengan demikian Lembaga Pemasyarakatan merupakan tempat untuk merealisasikan pemberian sanksi pidana penjara terhadap narapidana. Tujuan sistem Peradilan Pidana adalah: 1. Tujuan jangka pendek, yaitu resosialisasi dan rehabilitasi pelaku tindak pidana 2. Tujuan jangka menengah, yaitu pengendalian dan pencegahan kejahatan dalam kontek politik kriminal 3. Tujuan jangka panjang, yaitu kesejahteraan masyarakat dalam konteks politik sosial (Petrus dan Pandapotan, 1995:54 ) Dapat disimpulkan bahwa Lembaga Pemasyarakatan adalah instansi terakhir dari sistem peradilan pidana dan sebagai pelaksana putusan pengadilan sangat stategis dalam merealisasikan tujuan akhir dari sistem peradilan pidana, yaitu rehabilisasi dan resosialisasi pelanggar hukum, bahkan sampai pada penanggulangan kejahatan.

walaupun menjadi terpidana hak-hak yang melekat pada dirinya tetap harus dihargai. Hak itu harus diakui dan dilindungi oleh hukum. Dalam hal ini masing-masing narapidana harus . bahkan mengorbankan keluarganya sendiri hanya untuk kepentingan dan alasan-alasan tertentu. baik yang berasal dari hukum nasional maupun sistem pemasyarakatan Indonesia yang jelas-jelas berdasarkan Pancasila. Dalam hal ini ganjaran dan kerugian yang ditimbulkan oleh pelaku dianggap tidak setimpal. Hak antara narapidana pria. narapidana wanita dan narapidana anak berbeda-beda. satu diantaranya membenci bekas narapidana serta keluarganya. Ketiga Lembaga Pemasyarakatan itu berbeda-beda baik kegiatan ataupun program yang ada.4 Faktor penerimaan masyarakat terhadap bekas narapidana. Kenyataan yang kerap kali terjadi adalah narapidana ditolak dan dikucilkan dari masyarakat. Narapidana mempunyai hak-hak yang harus dilindungi dan diayomi. Sebagai manusia ciptaan Tuhan. Harus diakui narapidana adalah pelanggar hukum yang merugikan orang lain. Lembaga Pemasyarakatan Wanita dan Lembaga Pemasyarakatan Anak. tetapi harus menghilangkan prasangka buruk akan adanya kemungkinan melakukan kejahatan kembali dengan cara menerima mantan narapidana bekerja diberbagai lapangan pekerjaan. Luka di hati masyarakat seperti ini terus ikut dan membekas sehingga masyarakat terus menuntut balas dengan berbagai pola. Lembaga Pemasyarakatan merupakan tempat untuk mendidik narapidana untuk menjadi warga negara yang baik yang kemudian dikembalikan kepada masyarakat. Lembaga Pemasyarakatan terdiri dari beberapa jenis yaitu Lembaga Pemasyarakatan Umum. tentunya tidak sekedar menerima menjadi anggota keluarga ataupun lingkungannya.

hamil.2 IDENTIFIKASI DAN PEMBATASAN MASALAH 1. Yang jadi pertanyaan adalah apakah hak-hak narapidana wanita itu dilindungi sebagai mana mestinya seperti yang tertuang dalam Undang-Undang No. Sudah menjadi kodrat wanita mengalami siklus menstruasi.2. . melahirkan dan menyusui yang tidak dipunyai oleh narapidana lain. Berdasarkan uraian mengenai pembinaan narapidana dan pemberian hakhak yang diberikan oleh Lembaga Pemasyarakatan di atas. mereka hanya seseorang yang melakukan tindakan yang melanggar hukum sehingga mereka kehilangan kemerdekaan dan diasingkan dari pergaulan masyarakat pada umumnya. Narapidana wanita dibina dan dididik untuk menjadi warga negara yang baik dalam Lembaga Pemasyarakatan. 12 tahun 1995. maka penulis tertarik untuk mengetahui lebih dalam bentuk skripsi dengan judul: “PEMBINAAN NARAPIDANA KAITANNYA MELALUI DENGAN SISTEM HAK-HAK PEMASYARAKATAN NARAPIDANA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN WANITA KLAS IIA SEMARANG” 1.5 ada yang dikedepankan. sehingga masyarakat tidak berhak untuk memperlakukan narapidana wanita maupun mantan narapidana wanita sebagai orang yang tercela. sehingga sudah menjadi suatu kewajaran bahwa narapidana wanita mempunyai hak-hak istimewa dibandingkan dengan narapidana lain.1 Identifikasi masalah Narapidana wanita yang hak-haknya dilindungi oleh hak asasi manusia.

yaitu narapidana wanita itu menjadi warga negara yang taat pada hukum. Penilaian dapat negatif. posisinya sangat strategis dalam merealisasikan tujuan akhir dari sistem peradilan pidana. Keberhasilan dan kegagalan yang dilakukan oleh Lembaga Pemasyarakatan Wanita akan memberikan kemungkinankemungkinan penilaian yang bersifat positif maupun negatif. yang pada akhirnya mereka akan dikembalikan kepada masyarakat. tenaga medis. tempat latihan kerja. psikolog maupun sarana administrasi dan keuangan. seperti instruktur yang ahli dalam bidangnya. Penilaian itu dapat positif manakala pembinaan narapidana wanita dapat mencapai hasil maksimal.6 dimana mereka juga mempunyai hak-hak sebagai narapidana dalam Lembaga Pemasyarakatan yang hak-haknya harus dipenuhi oleh Lembaga Pemasyarakatan. Disamping itu yang sering kali muncul ke permukaan adalah belum dapat dipahaminya prinsip-prinsip pemasyarakatan oleh petugas Lembaga Pemasyarakatan. tenaga personalia. seperti keterbatasan sarana fisik berupa gedung. Lembaga Pemasyarakatan Wanita dalam perkembangannya sebagai bagian integral dari sistem peradilan pidana yang dalam pelaksanaannya mengalami berbagai hambatan. kalau narapidana wanita itu melakukan tindak kejahatan kembali. Sisi lain dari persoalan yang ada di Lembaga Pemasyarakatan Wanita adalah permasalahan di luar Lembaga . yaitu rehabilitasi dan resosialisasi pelanggar hukun bahkan sampai pada penanggulangan kejahatan. Lembaga Pemasyarakatan Wanita sebagai lembaga binaan.

yaitu pandangan masyarakat terhadap Lembaga Pemasyarakatan wanita bermacam-macam bentuknya.3 PERUMUSAN MASALAH Masalah didefinisikan sebagai sesuatu pertanyaan yang coba dicari jawabannya. dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak yaitu masyarakat. disatu pihak ada yang menganggap bahwa Lembaga Pemasyarakatan sebagai tempat pembinaan Dengan adanya berbagai persoalan yang dihadapi oleh Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang.2 Pembatasan Masalah Sehubungan dengan berbagai masalah yang dihadapi oleh Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang sebagaimana diuraikan dalam identifikasi masalah. dan petugas Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. 2001:118). 1. sudah tentu menjadi sandungan bagi pelaksanaan pembinaan narapidana wanita. maka dalam penelitian ini peneliti hanya membatasi masalah yang berhubungan dengan pembinaan narapidana berkaitan dengan hak-haknya di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. Yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: . 1.(Karlinger dalam Burhan Ashofa. keluarga. Narapidana Wanita.7 Pemasyarakatan Wanita.2. Oleh karena itu keberhasilan pembinaan Narapidana Wanita memerlukan kesadaran. Jadi rumusan persoalan adalah rumusan yang perlu dipecahkan atau pertanyaan yang perlu dijawab.

Untuk memperoleh informasi tentang praktek penyelenggaraan pembinaan narapidana wanita menurut Undang-Undang No. Bagaimanakah praktek penyelenggaraan pembinaan narapidana wanita menurut Undang-Undang No.4 TUJUAN PENELITIAN Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berukut: 1. 2. . 1. Bagi Ilmu Pengetahuan Untuk memberi tambahan pemikiran bagi perkembangan IPTEK yang diharapkan dapat bermanfaat bagi mereka yang mendalami pengetahuan hukum pidana. Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah: 1.5 KEGUNAAN PENELITIAN Hasil penelitian ini diharapkan ada kegunaannya. khususnya di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang.12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang.12 tahun 1995 di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang ? 2. Bagaimanakah perlindungan yang diberikan oleh Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang Klas IIA Semarang terhadap hak-hak narapidana Wanita ? 1. Untuk memperoleh informasi tentang perlindungan hak-hak narapidana yang diberikan oleh Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang.8 1. kriminologi dan proses pembinaan di Lembaga Pemasyarakat wanita.

sistematika penulisan. keluarga. 1. daftar isi. persetujuan pembimbing.9 2. dan persembahan. Penelaahan kepustakaan dan/atau kerangka teoritik dengan pokok-pokok sebagai berikut pengertian tindak kejahatan. . tujuan penelitian. lembaga pemasyarakatan wanita. dan bagian akhir skripsi. perumusan masalah. prakata. Bagian awal skripsi terdiri dari halaman judul. khususnya Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang sebagai tempat untuk pembinaan narapidana wanita agar dapat menjadi manusia yang berguna bagi agama. pembinaan narapidana melalui sistem pemasyarakatan kaitannya dengan hak-hak narapidana.6 SISTEMATIKA SKRIPSI Garis besar skripsi terbagi menjadi tiga bagian yaitu bagian awal skripsi. pengesahan kelulusan. daftar tabel dan daftar lampiran. Bagian pokok skripsi yaitu pendahuluan yang terdiri dari uraian keadaan umum yang mewarnai masalah yang terjadi dalam topik penelitian. halaman motto. sistem pemasyarakatan.sari. Bagian pendahuluan berisi tentang latar belakang masalah. pernyataan. Bagi Masyarakat Untuk menginformasikan atau memberitahukan kepada masyarakat luas akan keberadaan Lembaga Pemasyarakatan wanita. identifikasi dan pembatasan masalah. daftar gambar. hak dan kewajiban narapidana. bangsa dan negara. bagian pokok skripsi. kegunaan penelitian.

10 Metode penelitian. . prosedur penelitian. Perlindungan yang diberikan oleh Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang Klas IIA Semarang terhadap hak-hak narapidana wanita. fokus penelitian. Bagian akhir skripsi. Praktek Penyelengaraan Narapidana Wanita menurut Undang_undang No. sumber data. Penutup. Hasil penelitian dan pembahasan. keabsahan data. pada bagian ini disajikan tentang dasar penelitian.12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. isi bab ini secara garis besar dapat diperinci menjadi sub-sub bab: 1. berisi tentang daftar pustaka dan daftar lampiran. metode analisis data. lokasi penelitian. 2. alat dan teknik pengumpulan data. pada bagian ini merupakan bab terakhir dari pokok skripsi yang terdiri dari simpulan dan saran.

bagi barang siapa melanggar aturan tersebut. Adanya orang yang berbuat yang menimbulkan kejadian tersebut. Menurut Prof. adanya kejadian yang tertentu. sedangkan ancaman pidananya ditujukan kepada orang yang menimbulkan kejahatan itu. Moelyatno. bahwa yang dilarang adalah perbuatan yang menimbulkan akibat yang dilarang dan diancam sanksi.1 PENGERTIAN PERBUATAN PIDANA Menurut Moelyatno (1993:55) perbuatan pidana adalah perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum larangan mana disertai ancaman (sanksi) yang berupa pidana tertentu. asal saja dalam pada itu diingat bahwa larangan ditujukan kepada perbuatan (yaitu suatu keadaan atau kejadian yang ditimbulkan oleh kelakuan orang). Dalam rumusan tersebut. Pidana iaiah orang yang melakukan perbuatan yang menimbulkan akibat yang dilarang tersebut.11 BAB II PENELAAHAN KEPUSTAKAAN DAN/ATAU KERANGKA TEORITIK 2. Dapat juga dikatakan perbuatan pidana adalah perbuatan yang oleh aturan hukum dilarang dan diancam pidana. . 2. Menurut Soeharto (1991:22) perbuatan pidana iaiah perbuatan yang dilarang oleh aturan hukum dan barang siapa yang melanggar larangan tersebut dikenakan sanksi pidana.SH dalam Soeharto (1991:22) kata perbuatan dalam perbuatan pidana mempunyai arti yang abstrak yaitu suatu pengertian yang merujuk pada dua kejadian yang kongrit yaitu: 1.

sebagai perbuatan jahat. maka ia memiliki pengertian yang relatif. Perbuatan itu harus berlawanana dengan hukum e.2 PENGERTIAN TINDAK KEJAHATAN Menurut Bawengan ( 1974:20). Oleh karena pengertian itu bersumber dari nilai-nilai dari masyarakat.12 2. kejahatan adalah suatu nama atau cap yang diberikan orang untuk menilai perbuatan-perbuatan tertentu. Tindak kejahatan merupakan perbuatan masyarakat ditinjau dari segi kesusilaan kejahatan adalah perbuatan yang melanggar kesusilaan yang oleh Bonger dan Simanjuntak ( 1981:72 ) menyatakan bahwa dipandang secara formal kejahatan adalah perbuatan yang oleh masyarakat ( dalam hal ini negara) diberi hukuman atau pidana. Terhadap perbuatan itu harus tersedia ancaman hukuman dalam UndangUndang . Harus ada perbuatan manusia b. Menurut Sutherland ( 2001: 12) bahwa ciri pokok dari kejahatan adalah perilaku yang dilarang oleh negara karena merupakan perbuatan yang merugikan negara dan terhadap perbuatan itu negara bereaksi dengan hukuman sebagai upaya pamungkas. Perbuatan itu harus sesuai dengan apa yang dirumuskan dalam ketentuan hukum pidana c. yaitu sangat bergantung pada manusia yang memberikan penilaian itu. Harus terbukti adanya dosa pada orang yang melakukan tindak kejahatan d. Untuk membantu atau mengklarifikasikan atau menentukan suatu perbuatan ke dalam kejahatan atau tidak maka dapat dilihat unsur-unsur kejahatan seperti yang dikemukakan oleh Simanjuntak ( 1981: 78 ) yaitu: a.

Sahardjo S. Sementara penjahat merupakan para pelanggar hukum pidana tersebut dan telah diputus oleh Pengadilan atas perbuatan tersebut. (Santoso Topo dan Zulfa 2001:10) 2.13 Dalam pengertian yuridis membatasi kejahatan sebagai perbuatan yang ditetapkan oleh negara sebagai kejahatan dalam hukum pidananya dan diancam dengan suatu sanksi. . Dengan dasar membela dan mempertahankan hak asasi manusia pada suatu negara hukum maka oleh Dr. Secara sosiologis kejahatan merupakan suatu perilaku manusia yang diciptakan oleh masyarakat.H dikemukakan suatu gagasan “Pemasyarakatan” sebagai tujuan dari pidana penjara yaitu disamping menimbulkan rasa derita pada terpidana karena dihilangkanya kemerdekaanya.3 SISTEM PEMASYARAKATAN Sebagai negara yang sudah merdeka dan juga sebagai negara hukum. narapidana harus mendapat perlindungan hukum dari pemerintah dalam rangka mengembalikan mereka kedalam masyarakat sebagai warga negara yang baik. Gejala yang dinamakan kejahatan pada dasarnya terjadi di dalam proses dimana interaksi sosial antara bagian dalam masyarakat yang mempunyai kewenangan untuk melakukan perumusan tentang kejahatan dengan pihak-pihak mana yang memang melakukan kejahatan. Penetapan aturan hukum pidana merupakan gambaran dari reaksi negatif masyarakat atas suatu kejahatan yang diwaliki oleh para pembentuk Undang-Undang.

yang dibina dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas Warga Binaan Pemasyarakatan agar menyadari kesalahan. memperbaiki diri dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali dalam lingkungan masyarakat. dapat aktif berperan dalam pembangunan. Pola ini mengalami pembaharuan sejak di kenal sistem pemasyarakatan. Pembinaann narapidana secara institusional di dalam sejarahnya di Indonesia dikenal sejak diberlakukannya Reglement penjara stbl. Adapun yang dimaksud dengan Sistem Pemasyarakatan dalam Undang-Undang No. dan dapat hidup secara wajar sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab. dengan karakterisrik sepuluh prinsip pokok yang semuanya bermuara pada suatu falsafah. mendidik sehingga ia menjadi seorang anggota masyarakat Indonesia yang berguna. Pemikiran-pemikiran baru mengenai pembinaan yang tidak lagi mengenai penjeraan tapi juga merupakan suatu usaha rehabilitasi sosial warga binaan. Pola ini dipertahankan hingga tahun 1963. 708. (Petrus dan Pandapotan 1995:25) Di dalam sistem pemasyarakatan. narapidana bukanlah orang hukuman. . terdapat proses pemasyarakatan yang diartikan sebagai suatu proses sejak seseorang narapidana atau anak didik masuk ke Lembaga Pemasyarakatan sampai lepas kembali ke tengah-tengah masyarakat. maka Pemasyarakatan melahirkan suatu pembinaan yang di kenal dan dinamakan Sistem Pemasyarakatan.12 tahun 1995 Pasal (1) Ayat (2 ) adalah: Sistem Pemasyarakatan adalah suatu tatanan mengenai arah dan batas serta cara pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan berdasarkan Pancasila yang dilaksanakan secara terpadu antara pembina. 1917 No.14 Negara membimbing terpidana dengan bertobat.

15 Dari uraian di atas maka Sistem Pemasyarakatan mempunyai tujuan akhir yaitu memulihkan kesatuan hubungan sosial ( reintegrasi sosial ) Warga Binaan dalam masyarakat.H (1982:183) berpendapat sebagai berikut: “Suatu elemen yang berinteraksi yang membentuk satu kesatuan yang integral. khususnya masyarakat di tempat tinggal asal mereka.4 LEMBAGA PEMASYARAKATAN Sejarah pertumbuhan dan perkembangan pidana penjara sebagai pidana hukuman tumbuhnya bersamaan dengan sejarah perlakuan terhadap terhukum (narapidana ) serta adanya bangunan yang harus didirikan dan pergunakan untuk menampung para terhukum yang kemudian dikenal dengan bangunan penjara. berbentuk konsepsi tentang perlakuan terhadap orang yang melanggar hukum . sekalipun image yang menyeramkan dicoba untuk dinetralisir. bambang Poernomo. Istilah “penjara” sekarang sudah tidak dipakai atau sudah diganti dengan sebutan “Lembaga Pemasyarakatan” karena sejarah pelaksanaan pidana penjara telah mengalami perubahan dari sistem kepenjaraan yang berlaku sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda sampai munculnya gagasan hukum pengayoman yang menghasilkan perlakuan narapidana dengan sistem pemasyarakatan Tentang sistem Pemasyarakatan itu. (Harsono 1995:32) Penjara dulu sebutan tempat bagi orang yang menjalani hukuman setelah melakukan kejahatan. S. Sebab bentuk bangunan yang sekarang ada masih menunjukkan sifat-sifat asli penjara. 2. Dalam Sistem baru pembinaan nrapidana bangunan Lembaga Pemasyarakatan mendapat prioritas khusus.

11) 2. haid.16 pidana di atas dasar pemikiran rehabilitasi.5 PENGERTIAN WANITA Wanita adalah seseorang yang dikodratkan oleh Tuhan. dan berlaku sepanjang masa.oleh karena itu kejahatan yang dilakukan olekh wanita biasanya dilakuakn karena keterpaksaan. berjenis kelamin biologis (seks) sebagai perempuaan yang berciri-ciri menyusui. . dan melahirkan serta memiliki rahim tidak dapat dirubah. (Departemen Kehakiman RI. tujuannya agar mereka dapat merasakan bahwa sebagai pribadi dan warga negara Indonesia yang mampu berbuat sesuatu untuk kepentingan bangsa dan negara seperti pribadi dan warga negara Indonesia lainnya serta mereka mampu menciptakan opini dan citra masyarakat yang baik. dipertukarkan. resosialisasi yang berisi unsur edukatif. Para pelaku kejahatan akan di pidana sesuai dengan kejahatan yang telah dilakuakn dan akan memperoleh pembinaan serta bimbingan di Lembaga Pemasyarakatan. defensif yang beraspek pada individu dan sosial” Peran Lembaga Pemasyarakatan memudahkan pengintegrasian dan penyesuaian diri dengan kehidupan masyarakat. begitu pula waniat yang melakukan kejahatan. korelatif. (Kementerian Pemberdayaan Perempuan 2002:8) Waniat merupakan kaum yang secara fisik kurang kuat dibandingkan kaum pria. dan secara psikologis lebih banyak menggunakan perasaan dan lemah lembut penuh kasih sayang.

Jenis kelamin. Kriteria lain yang sesuai denagn kebutuhan atau perkembanagn pembinaan” Sedangkan dalam ayat (2) menyebutkan: “Pembinaan narapidana wanita di Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS) di laksanakan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita” . Bentuk perlakuan dituangkan dalam usaha Lembaga Pemasyarakatan untuk membina narapidana. Hal ini di dasarkan atas pertimbangan bahwa kepenjaraan sudah tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia yang dalam kehidupan sehari-hari selalu berpedoman dan berlandaskan Pancasila. Jenis kejahatan. (Harsono 1995:80) Lembaga Pemasyarakatan khusus wanita antara lain terdapat di kota Malang. Usaha itu berupa pembagian Lembag Pemasyarakatan menurut kategori. e. Umur. Hal tersebut diatur dalam UndangUndang No. baik usia maupun jenis kelamin. Lama pidana yang dijatuhkan. Berbagai upaya telah dilakukan Lembaga Pemasyarakatan dalam rangka mewujudkan pelaksanaan pidana yang efektif dan efisien agar narapidana dapat mengenal diri sendiri. Semarang. untuk mengenal diri sendiri. b. Tangerang serta Medan. mendapatkan ketrampilan serta berguna bagi keluaga dan masyarakat serta tidak lagi mengulangi kejahatan.6 LEMBAGA PEMASYARAKATAN WANITA Pembaharuan pidana penjara bukanlah menghapus jenis tindakan pidana penjara tapi merupakan usaha pergantian dari kepenjaraan menjadi sistem Pemasyarakaatn. c. beriman dan bertakwa.12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan Pasal (12) ayat (1) yang berbunyi: “Dalam rangka pembinaan terhadap narapidana di Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS) dilakukan penggolongan atas dasar: a. d.17 2.

narapidana sewaktu menjalani pidana di Lembaga Pemasyarakatan dalam beberapa hal kurang mendapat perhatian. dan memasak bahkan dalam Lembaga Pemasyarakatan Wanita diberikan cuti haid yang merupakan salah satu pelaksanaan pembinaan dan dalam hal pekerjaan terdapat kekhususan yaitu pada narapidana wanita sifat pekerjaannya tidak begitu berat. Pemidanaan pada hakekatnya mengasingkan dari lingkungan masyarakat serta sebagai pembebasan rasa bersalah. sedangkan pada narapidana laki-laki sifat pekerjaannya agak berat.18 Tujuan didirikan Lembaga Pemasyarakatan wanita adalah untuk memisahkan antara narapidana wanita dengan narapidana laki-laki demi faktor keamanan dan faktor psikologis. menyulam. . bukan berarti hak-haknya dicabut. serta dibekali ketrampilan serta pekerjaan yang diharapkan dapat berguna setelah ia kembali ke masyarakat serta keluarganya. Cara pembinaan narapidana wanita tidak jauh berbeda dengan Lembaga Pemasyarakatan pada umumnya. Dengan pidana yang dijalani narapidana itu. Pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita disesuikan denagn kemampuan serta kebutuhan wanita.7 HAK DAN KEWAJIBAN NARAPIDANA Harus diakui. mengkristik. Penghukuman bukan bertujuan mencabut hak-hak asasi yang melekat pada dirinya sebagai manusia. khususnya perlindungan hak-hak asasinya sebagai manusia. 2. hanya sedikit kekhususan dimana di LP Wanita diberikan pembinaan ketrampilan seperti menjahit.

mendapat pelayanan kesehatan. narapidana mempunyai hak-hak seperti hak untuk surat menyurat. mendapat upah atas pekerjaan. pakaian dan tempat tidur. fasilitas sanitasi yang memadai. hak untuk mendapatkan pelayanan dokter umum maupun dokter gigi. tidak diperkenankan mengurung pada sel gelap dan hukuman badan. fasilitas akomodasi yang harus meiliki ventilasi. remisi. hak untuk mendapatkan bahan bacaan berupa buku-buku yang bersifat mendidik. perlu dikaitkan dengan pedoman PBB Mengenai Standar Minimum Rules untuk memperlakukan narapidana yang menjalani hukuman ( Standard Minimum Rules For the Treatmen Of Prisoner. sakit dari anggota keluarga. melakukan ibadah sesuai dengan agamanya. (Elsam 1996:5-17) . mendapatkan air serta perlengkapan toilet. Hak-hak narapidana di Indonesia melalui sistem pemasyarakatan dikatakan baik. hak untuk diperlakukan adil menurut peraturan dan hak untuk membela diri apabila dianggap indisipliner. hak untuk berolah raga ditempat terbuka. sistem pemasyarakatan secara tegas menyatakan. makanan sehat. pemberitauan kematian. borgol dan jaket penjara tidak boleh dipergunakan narapidana. asimilasi serta bebas bersyarat. pemisahan narapidana pria dan wanita. hak untuk mendapatkan jaminan penyimpanan barang-barang berharga. 31 juli 1957 ). memperoleh bebas bersyarat. menyampaikan keluhan. hak untuk mendapatkan pelayanan agama. berhak mengetahui peraturan yang berlaku serta saluran resmi untuk mendapatkan informasi dan menyampaikan keluhan. yang meliputi: buku register. dewasa dan anak-anak.19 Untuk itu. atau memiliki prospek. hak untuk berkomunikasi dengan dunia luar. cuti. hak untuk dikunjungi dan mengunjungi.

Disamping itu juga ada ketidakadilan perilaku bagi narapidana. Melakukan ibadah sesuai dengan agama atau kepercayaannya 2. Mendapatkan pelayanan kesehatan dan makan yang layak 5. Mendapatkan pembebasan bersyarat 12. Mendapat perawatan baik rohani maupun jasmani 3. Mendapatkan kesempatan berasimilasi ternasuk cuti mengunjungi keluarga 11. 12 tahun 1995 Pasal ( 14 ) secara tegas menyatakan narapidana berhak: 1. tidak mendapat fasilitas yang wajar dan tidak adanya kesempatan untuk mendapat remisi.20 Sebagai negara hukum hak-hak narapidana itu dilindungi dan diakui oleh penegak hukum. penasehat hukum. misalnya penyiksaan. Menerima kunjungan keluarga. atau orang tertentu lainnya 9. khususnya para staf di Lembaga Pemasyarakatan. Mendapatkan pendidikan dan pengajaran 4. Untuk itu dalam Undang-undang No. Mendapatkan pengurangan masa pidana 10. Mendapatkan bahan bacaan dan mengikuti siaran media massa lainnya yang tidak dilarang 7. Mendapatkan upah atau premi atas pekerjaan yang dilakukan 8. Menyampaikan keluhan 6. Narapidana juga harus harus diayomi hak-haknya walaupun telah melanggar hukum. Mendapatkan cuti menjelang bebas .

12 Tahun 1995 tentang pemasyarakatan Pasal (15) yaitu: 1. Ketentuan mengenai program pembinaan sebagaimana dimaksud dalam ayat ( 1 ) diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah. Narapidana wajib mengikuti secara tertib program pembinaan dan kegiatan tertentu 2. 3. dan menyusui maka dalam hal ini hak-hak narapidana wanita perlu mendapat perhatian yang khusus baik menurut Undang-Undang maupun oleh petugas Lembaga Pemasyarakatan. patuh dan hormat kepada semua petugas Wajib menghargai semua warga binaan . Pada dasarnya hak antara narapidana perempuan dan narapidana pria adalah sama. Dalam Undang-Undang No. Mentaati semua peraturan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Wajib berlaku sopan. disamping hak-hak narapidana juga ada kewajiban yang harus dipenuhi oleh narapidana seperti yang tertuang dalam Undang-Undang No. melakirkan. hanya dalam hal ini karena narapidananya adalah wanita maka ada beberapa hak yang mendapat perlakuan khusus dari narapidana pria yang berbeda dalam beberapa hal. Dalam peraturan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang juga tercantum kewajiban narapidana wanita yaitu: 1. 2.21 13. hamil. diantaranya karena wanita mempunyai kodrat yang tidak dipunyai oleh narapidana pria yaitu menstruasi. Mendapatkan hak-hak Narapidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan Pasal (14) disebutkan hak-hak narapidana.

Hak dan kewajiban merupakan tolak ukur berhasil tidaknya pola pembinaan yang dilakukan oleh para petugas kepada narapidana.8 PEMBINAAN NARAPIDANA Pembinaan narapidana adalah penyampaian materi atau kegiatan yang efektif dan efesien yang diterima oleh narapidana yang dapat menghasilkan perubahan dari diri narapidana ke arah yang lebih baik dalam perubahan berfikir. tetapi tidak dapat menyamakan begitu saja. 7. 6. 5. Maka dalam . kebersihan dan keindahan Wajib berpakaian rapi dan sopan Wajib mengikuti program pembinaan Wajib memelihara barang-barang milik negara Wajib menitipkan barang-barang berharga Wajib memberitahu kepada petugas apabila melihat atau mengetahui tandatanda atau keadaan bahaya bagi keamanan Lembaga Pemasyarakatan. karena menurut hukum ada karakteristik tertentu yang menyebabkan seseorang disebut narapidana. 8. ketertiban. Secara umum narapidana adalah manusia biasa. Dalam hal ini dituntut adanya kerjasama yang baik antara petugas dan para narapidana. Dan apakah narapidana juga sadar selain hak narapidana juga mempunyai kewajiban yang harus dilakukan dengan baik dan penuh kesadaran.22 4. 9. 2. Wajib menjaga keamanan. seperti kita semua. Dalam hal ini dapat dilihat apakah petugas benar-benar memperhatikan hak-hak narapidana. bertindak atau dalam bertingkah laku.

Tiap orang adalah mahluk kemasyarakatan. setelah Dr. Pembinaan yang sekarang dilakukan pada awalnya berangkat dari kenyataan bahwa tujuan pemidanaan tidak sesuai lagi dengan perkembangan nilai dan hakekat yang tumbuh di masyarakat. Tiap orang adalah manusia dan harus diperlakukan sebagai manusia 2. Penjatuhan pidana bukan tindakan balas dendam dari pemerintah. Jadi mereka yang menjadi narapidana bukan lagi dibuat jera. yang mampu merubah seseorang untuk menjadi lebih produktif. Pokok dasar memperlakukan narapidana menurut kepribadian kita adalah: 1. tetapi dibina untuk dimasyarakatkan. tidak ada orang diluar masyarakat 3. Ide Pemasyarakatan bagi terpidana. Orang yang tersesat harus diayomi dengan memberikan kepadanya bekal hidup sebagai warga negara yang baik dan berguna dalam masyarakat. 2. lebih baik dari sebelum seseorang menjalani pidana. Tujuan perlakuan terhadap narapidana di Indonesia mulai nampak sejak tahun 1964. dikemukakan oleh Dr.23 membina narapidana tidak dapat disamakan dengan kebanyakan orang atau antara narapidana yang satu dengan yang lain. . Bandung bahwa tujuan pemidanaan adalah pemasyarakatan. Sahardjo yang dikenal sebagai tokoh pembaharu dalam dunia kepenjaraan. Sahardjo mengemukakan dalam konferensi Kepenjaraan di Lembang. Narapidana hanya dijatuhi hukuman kehilangan kemerdekaan bergerak Sahardjo dalam Harsono ( 1995:2 ) juga mengemukakan sepuluh prinsip yang harus diperhatikan dalam membina dan membimbing narapidana yaitu: 1. Bagaimanapun juga narapidana adalah manusia yang memiliki potensi yang dapat dikembangkan kearah yang positif.

Pembinaan itu sendiri adalah suatu proses di mana. Sarana fisik lembaga dewasa ini merupakan salah satu hambatan pelaksanaan sistem pemasyarakatan. Pekerjaan yang diberikan kepada narapidana tidak boleh bersifat mengisi waktu atau hanya di peruntukkan bagi kepentingan Lembaga atau negara saja. yaitu narapidana itu sendiri. Rasa tobat bukanlah dapat dicapai dengan menyiksa melainkan dengan bimbingan. Diri sendiri. Selama kehilangan kemerdekaan bergerak. 1995:51 ) yaitu sebagai berikut: 1. Narapidana itu hanya dijatuhkan pidana hilang kemerdekaan 10. agar mampu untuk merubah diri kearah perubahan yang positif. Adapun penyebabya adalah karena narapidana tersebut telah melakukan tindak pidana yang secara langsung atau tidak langsung dapat merugikan masyarakat Pembinaan narapidana harus menggunakan empat komponen prinsipprinsip pembinaan narapidana. . tidak boleh dijatuhkan kepada narapidana bahwa ia itu penjahat 9. Tiap orang adalah manusia yang harus diperlakukan sebagai manusia meskipun ia telah tersesat. Sepuluh prinsip pembinaan dan bimbingan bagi narapidana itu sangat berkait dengan pelaksanaan pembinaan narapidana karena sepuluh ( 10 ) prinsip pembinaan dan bimbingan serta sistem pembinaan narapidana merupakan dasar pemikiran dan patokan bagi petugas dalam hal pola pembinaan terhadap narapidana khususnya narapidana wanita.24 3. pekerjaan yang diberikan harus ditujukan kepada pembangunan negara 7. narapidana harus dikenalkan kepada masyarakat dan tidak boleh diasingkan dari masyarakat 6. ( Harsono. narapidan wanita itu pada waktu masuk di dalam Lembaga Pemasyarakatan Wanita sudah dalam kondisi tidak harmonis pada masyarakat sekitarnya. Negara tidak berhak membuat seorang narapidana lebih buruk atau jahat daripada sebelum ia masuk Lembaga 5. Bimbingan dan didikkan harus berdasarkan Pancasila 8. Narapidana sendiri yang harus melakukan proses pembinaan bagi diri sendiri. 4.

3. Perubahan pandangan dalam memperlakukan narapidana di Indonesia tentunya didasarkan pada suatu evaluasi kemanusiaan yang merupakan wujud manisfestasi Pancasila.25 2. Ide pemikirannya mempengaruhi para staf dinas kepenjaraan sehingga. Biasanya keluarga yang harmonis berperan aktif dalam pembinaan narapidana dan sebaliknya narapidana yang berasal dari keluarga yang kurang harmonis kurang berhasil dalam pembinaan. . masyarakat dimana narapidana tinggal mempunyai peran dalam membina narapidana. Masyarakat tidak mengasingkan bekas narapidana dalam kehidupan sehari-hari 4. Dr. yaitu keluarga harus aktif dalam membina narapidana. Petugas pemerintah dan kelompok masyarakat. Sahardjo adalah tokoh yang pertama kali melontarkan perlunya perbaikan pelakuan bagi narapidana yang hidup dibalik tembok penjara. Melindungi masyarakat dari kambuhnya kejahatan bekas narapidana dalam masyarakat karena tidak mendapat pekerjaan. sebagai dasar pandangan hidup bangsa Indonesia yang mengakui hak-hak asasi narapidana. Sedangkan pemasyarakatan itu sendiri bertujuan: 1. yaitu selain dukungan dari narapidana sendiri dan keluarga. Masyarakat. yaitu komponen keempat yang ikut serta dalam membina narapidana sangat dominan sekali dalam menentukan keberhasilan pembinaan narapidana. Memasukkan bekas narapidana ke dalam masyarakat sebagai warga yang baik 2. Keluarga.

terus menerus dan sistematis Pembinaan keperibadian yang meliputi kesadaran beragama. mental spiritual. intelektual. jelas terjadi perubahan fungsi Lembaga Pemasyarakatan yang tadinya sebagai tempat pembalasan berganti sebagai tempat pembinaan.26 menghasilkan sistem pemasyarakatan. Sehubungan dengan pengertian pembinaan Sahardjo yang dikutip oleh Petrus dan Pandapotan ( 1995:50 ) melontarkan pendapatnya sebagai berikut: Narapidana bukan orang hukuman melainkan orang tersesat yang mempunyai waktu dan kesempatan untuk bertobat. Sistem Pemasyarakatan (narapidana) itu sendiri dilaksanakan berdasarkan asas: . Pembinaan yang bersifat persuasif yaitu berusaha merubah tingkah laku melalui keteladanan 3. 4. Bentuk pembinaan bagi narapidana menurut Pola Pembinaan Narapidana/ tahanan meliputi: 1. kecerdasan. ketrampilan. Tobat tidak dapat dicapai dengan penyiksaan melainkan dengan bimbingan. berbangsa dan bernegara. Pembinaan berencana. Dengan dipakainya sistem pemasyarakatan sebagai metode pembinaan narapidana. Pembinaan berupa interaksi langsung sifatnya kekeluargaan antara pembina dengan yang dibina 2. kasadaran hukum. Sistem ini merupakan satu-satunya metode pembinaan yang secara resmi berlaku diseluruh Lembaga Pemasyarakatan di Indonesia.

mendapat bebas bersyarat. Sehubungan dengan itu. berdasarkan Surat Edaran Kepala Direktorat Pemasyarakatan No. yang meliputi pendidikan agama. Pengayoman 2. Lebih lanjut didalam sistem pemasyarakatan terdapat proses pemasyarakatan yang diartikan sebagai suatu proses sejak seorang narapidana masuk ke Lembaga Pemasyarakatan sampai lepas kembali ketengah-tengah masyarakat. 13/3/1/tanggal 8 Februari 1965. latihan kerja asimilasi. Pembimbingan Penghormatan harkat dan martabat manusia Kehilangan kemerdekaan merupakan satu-satunya penderitaan 7. cuti menjekang bebas. 5. sedangkan pembinaan diluar lembaga antara lain bimbingan selama terpidana. kursus ketrampilan. Pendidikan 4. Terjaminnya hak untuk tetap berhubungan dengan keluarga dan orang-orang tertentu. pendidikan umum. rekreasi. Persamaan perlakuan dan pelayanan 3.27 1. kepramukaan. Tahap Keamanan Maximal sampai batas 1/3 dari masa pidana yang sebenarnya. Petrus dan Pandapotan ( 1995:38 ) Pembinaan narapidana menurut sistem pemasyarakatan terdiri dari pembinaan didalam lembaga. Kp 10. 6. . kesenian. olah raga. telah ditetapkan pemasyarakatan sebagai proses dalam pembinaan narapidana dan dilaksanakan melalui empat tahap yaitu: 1.

Tahap integrasi dan selesainya 2/3 dari masa tahanan sampai habis masa pidananya Perlunya mempersoalkan hak-hak narapidana itu diakui dan dilindungi oleh hukum dan penegak hukum. jelas pembinaan tidak dengan kekerasan. Tahap Keamanan minimal sebenarnya 4. Padahal konsep Pemasyarakatan yang dikemukakan oleh Sahardjo menyatakan. narapidana sewaktu menjalani pidana di Lembaga Pemasyarakatan dalam beberapa hal kurang mendapat perhatian. Tahap Keamanan menengah sampai batas 1/2 dari masa pidana yang sebenarnya 3. juga banyak ketidak adilan pelakuan bagi narapidana. Tobat tidak dapat dicapai dengan penyiksaan. narapidana adalah orang yang tersesat yang mempunyai waktu dan kesempatan untuk bertobat. melainkan dengan cara-cara yang manusiawi yang menghargai hak-hak narapidana.28 2. khususnya perlindungan hak-hak Asasinya sebagai manusia. Harus diakui. Misalnya penyiksaan. walaupun telah melanggar hukum. khususnya para staf di Lembaga Pemasyarakatan. Memahami hal ini. Hal itu menggambarkan perlakuan yang tidak adil. sampai batas 2/3 dari masa pidana yang . tidak mendapatkan fasilitas yang wajar. Disamping itu. tidak adanya kesempatan untuk mendapatkan remisi. merupakan suatu yang perlu bagi negara hukum yang menghargai hak-hak asasi narapidana sebagai warga masyarakat yang harus diayomi. melainkan dengan bimbingan. cuti menjelang bebas.

Lebih lanjut kerangka berfikir dalam penelitian ini dapat dilihat dalam gambar 2 berikut ini.29 2.9 Kerangka Teoritik Pelaksanaan Penelitian ini tidak dapat dipisahkan dari landasan teori maupun telaah pustaka harus digunakan sebagai kerangka pemikiran pemberian batasan pada apa yang dianggap penting untuk diperhatikan. Gambar 2 Kerangka Berfikir Penelitian . Hal ini perlu bila Peneliti melaksanakan penelitian tanpa menggunakan kerangka pemikiran. maka ia sering tertarik oleh gejala-gejala atau peristiwa yang seolah-olah meminta perhatian dirinya. Jadi kerangka berfikir ditarik berdasarkan suatu landasan teori yang lebih lanjut akan merupakan bingkai yang mendasar pemecahan suatu masalah.

Sesuai dengan dasar penelitian tersebut. Bogdan dan Taylor dalam Moleong ( 2000:43 ). Metode kualitatif lebih berdasarkan pada filsafat fenomenologis yang mengutamakan penghayatan dan berusaha untuk memahami serta menafsirkan makna sesuatu peristiwa interaksi tingkah laku manusia dalam situasi tertentu menurut perspektif peneliti sendiri. 30 . menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. maka penelitian ini diharapkan mampu menggambarkan tentang pembinaan narapidana Wanita yang berkaitan dengan hak-haknya di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang.1 Dasar Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif tidak bertujuan untuk mengkaji atau membuktikan kebenaran suatu teori tetapi teori yang sudah ada dikembangkan dengan menggunakan data yang dikumpulkan.2 Lokasi Penelitian Lokasi dalam penelitian ini adalah Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. 3. Metode penelitian kualitatif dilakukan dalam situasi yang wajar (natural setting) dan data yang dikumpulkan umumnya bersifat kualitatif.30 BAB III METODE PENELITIAN 3.

4 Sumber Data Yang dimaksud sumber data dalam penelitian adalah subjek dari mana data dapat diperoleh ( Arikunto. .4.1 Informan Informan adalah orang yang dimanfaatkan untuk memberikan informasi tentang situasi dan kondisi latar penelitian (Moleong.12 tahun 1995 2.31 3. Dalam penelitian ini yang menjadi fokus Penelitian adalah: 1. baik masalah-masalah yang bersumber dari pengalaman peneliti atau melalui kepustakaan ilmiah (Moleong. Penetapan fokus penelitian merupakan tahap yang sangat menentukan dalam penelitian kualitatif. Hal ini karena suatu penelitian kualitatif tidak dimulai dari sesuatu yang kosong atau tanpa adanya masalah. Jadi fokus dari penelitian kualitatif sebenarnya adalah masalah itu sendiri.2000:62). 2002:107 ) Menurut Lofland dan Lofland dalam Moleong ( 2000:113 ). Praktek pembinaan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita klas IIA Semarang menurut Undang-Undang No.3 Fokus Penelitian Fokus penelitian menyatakan pokok persoalan apa yang menjadi pusat perhatian dalam penelitian. Perlindungan hak-hak narapidana wanita oleh Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang 3. sumber data utama dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan dan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain Sumber data dalam penelitian ini adalah antara lain: 3.2000:90).

Jabatan Kepala subseksi BIMKER Staf BIMPAS Staf BIMPAS 3.4. 6. Inisial Nama CM LM MI TS TY TK SG Kasus Kejahatan Pembunuhan Pembunuhan Narkoba Narkoba Penipuan Penipuan Penggelapan Masa Pidana 9 tahun 10 tahun 8 bulan 5 thn 6 bln 2 th 6 bln 2 th 6 bln 3 tahun Selain para narapidana informan yang lain adalah para staf dari Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas IIA Semarang yaitu: Tabel 2 Daftar Informan di LP Wanita Kelas IIA Semarang NO 1. Dalam penelitian ini yang menjadi informan adalah narapidana yang berjumlah 7 ( tujuh ) orang yaitu: Tabel 1 Daftar Responden di LP Wanita Kelas IIA semarang No 1. 2.st Mulyasari R.2 Dokumen Dokumen adalah setiap bahan tertulis ataupun film ( Moleong.32 Informan yang di maksud disini petugas-petugas yang berkait dengan pembinaan narapidana di lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. Dokumen dibagi menjadi dokumen pribadi dan dokumen resmi. 3. 2. 4. . 5. Nama Susana Tri Agustin Sri Utami S. 3. 7. 2002:161).

misalnya majalah. sedangkan dokumen eksternal berisi bahan-bahan informasi yang dihasilkan oleh suatu lembaga sosil. . aturan tentang Lembaga Pemasyarakatan tertentu yang digunakan dalam kalangan sendiri. buku-buku. Metode yang digunakan Peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 3. dokumen denah lokasi Lembaga Pemasyarakatan wanita Klas IIA Semarang diperoleh di bagian Umum. Data sekunder. pengumuman. 3. Dokumen internal berupa memo. buletin. 2002:163 ). pengalaman dan kepercayaan.5 Alat dan Teknik Pengumpulan Data Arikunto ( 200:136 ) menyatakan bahwa metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitiannya. dokumen bagan stuktur kepegawaian diperoleh di bagian Tata Usaha dan dokumen mengenai data narapidana diperoleh di bagian registrasi. instruksi.33 Dokumen pribadi adalah catatan atau karangan seseorang tentang tindakan. sedangkan dokumen resmi terbagi atas dokumen internal dan dokumen eksternal. Dalam penelitian kali ini dokumen yang digunakan adalah dokumen yang terdapat di Lembaga Pemasyarakatan semarang.5. antara lain mencakup dokumen-dokumen resmi. pernyataan dan berita yang disiarkan kepada media massa ( Moleong. antara lain dokumen tentang hak dan kewajiban narapidana diperoleh di bagian Kepegawaian dan Keuangan.1 Dokumentasi Studi dokumenter dilakukan untuk memperoleh data sekunder.

b. analisa maupun konstruksi data. tidak mempunyai pengawasan terhadap pengumpulan.34 hasil-hasil penelitian yang berwujud laporan. Pada umumnya data sekunder dalam keadaan dapat dipergunakan dengan segera. Ciri-ciri data sekunder adalah: a. telah dibentuk dan diisi oleh peneliti-peneliti terdahulu. yaitu segala peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar bekerjanya sistem pemasyarakatan. Baik bentuk maupun isi data sekunder. pendapat para sarjana yang berhubungan dengan pemasyarakatan dan seterusnya. seperti hasil-hasil penelitian mengenai pemasyarakatan. yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder . buku harian. sehingga peneliti kemudian. pengolahan. buku-buku literatur tentang pemasyarakatan. c. Bahan Hukum Sekunder Bahan hukum sekunder yaitu. bahan-bahan yang mengikat dan didapat dari sumber peraturan perundang-undangan. Data sekunder dalam penelitian ini meliputi: a. Bahan Hukum Tersier Bahan hukum tersier. Bahan hukum primer Bahan hukum primer yaitu. bahan yang memberikan perjelasan mengenai bahan hukum primer. b.

mencatat perilaku (hukum) sebagai mana terjadi dalam kenyataan.5. Kegiatan narapidana dalam masa pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang 2. secara langsung akan memperoleh data yang dikehendakinya. Sarana dan prasarana yang terdapat di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang . mengenai perilaku ( hukum ) pada saat itu juga. Kamus Besar Bahasa Indonesia dan pedoman ejaan yang disempurnakan. Ada tidaknya pelanggaran terhadap hak-hak narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarangoleh petugas Lembaga Pemasyarakatan 5. Peneliti yang menggunakan alat pengumpul data ini. Dalam penelitian yang menjadi bahan observasi adalah: 1. 3. Pelaksanaan sistem pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang menurut Undang-Undang No.2 Observasi Observasi sebagai media pengumpul data biasanya dipergunakan. Perlindungan terhadap hak-hak narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang 4.12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan 3. apabila tujuan hukum yang bersangkutan adalah.35 seperti kamus hukum.

36 3. maka dapat diungkapkan reaksi-reaksi pribadi manusia secara terperinci. memperoleh data mengenai presepsi manusia 2. Dalam penelitian ini wawancara dilakukan dalam ruangan khusus. mendapatkan data mengenai kepercayaan manusia 3.5. memperoleh data mengenai antisipasi ataupun orientasi depan dari manusia 5.3 Wawancara Wawancara dilakukan untuk memperoleh data primer. petugas Lembaga Pemasyarakatan dan Kepala Lembaga Pemasyarakatan. memperoleh informasi mengenai perilaku pada masa lampau 6. Soerjono Soekamto ( 1984:67 ) Wawancara dilakukan terhadap responden yang digunakan sebagai sample. Tidak jarang wawancara dijadikan ajang curhat para responden kepada peneliti tentang masalah yang dialami oleh responden baik masalah hidup maupun . mengumpulkan data mengenai persaan dan motivasi seseorang ( atau mungkin sekelompok manusia ) 4. bahwa dengan mempergunakan sarana tersebut. yaitu narapidana. Tipe wawancara yang digunakan adalah wawancara berfokus yang didasarkan pada asumsi. Fungsi dari wawancara adalah untuk membuat deskripsi dan atau eksplorasi. Wawancara dilakukan satu persatu. dan lain-lain ciri realitasnya. wawancara dilakukan secara kekeluargaan hal ini disebabkan para responden yang diwawancarai adalah kaum wanita yang mempunyai perasaan yang peka dan sensitive. perasaan-perasaan. Sedangkan wawancara digunakan dengan tujuan sebagai berikut: 1. mendapatkan data mengenai perilaku yang sifatnya sangat pribadi atau sensitif.

Membandingkan hasil wawancara dengan isi dokumen yang berkaitan . penyidik dan teori. orang berada. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang mengenai situasi peneliti dengan apa yang dikatakanya sepanjang waktu 4.37 masalah selama masa pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang. 5. Menurut Denzim dalam Moleong ( 2000:178) membedakan empat macam bentuk pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber. 3. metode. Membandingkan keadaan dan prespektif seseorang dengan berbagai pendapat dan pandangan orang seperi rakyat biasa. orang pemerintahan. Membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara 2. Membadingkan dengan apa yang dikatakan orang didepan umun dengan apa yang dikatakan secara pribadi 3. kriteria dan paradigma sendiri ( Moleong. Triangulasi merupakan bentuk pemeriksaan keabsaan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding dalam data itu. Triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode kualitatif ( Patton 1987:331 ) hal ini dapat dicapai dengan jalan: 1.6 Keabsahan Data Moleong memandang bahwa data merupakan konsep paling penting bagi penelitian kualitatif yang diperbaharui dari konsep kesatuan atau validitas dan keandalan atau reabilitas menurut versi positifisme dan disesuaikan dengan tuntunan pengetahuan. 2000:171 ) Dalam penelitian ini teknik pemeriksaan data yang digunakan yaitu triangulasi. orang yang berpendidikan menengah atau tinggi.

dimana tiga komponen analisis ( reduksi data. sajian data. penyajian data.7 Metode Analisis Data Adalah proses pengatur urutan data. penarikan kesimpulan atau verifikasi ) dilakukan secara saling mengalir secara bersamaan.38 Triangulasi dengan memanfaatkan sumber yang berarti membandingkan dengan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diproses melalui waktu dan alat yang berbeda dalam metode penelitian kualitatif ini hanya dapat dicapai dengan dua bahan pembanding yaitu: 1. sajian data. Setelah data terkumpul maka ketiga komponene analisis ( reduksi data. membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara 2. sajian data. setelah data terkumpul maka ketiga komponen analisis (reduksi data. Untuk menganalisis data . Kedua model analisis interaksi dimana komponen reduksi data penyajian data dan penarikan kesimpulan dilakukan dilakukan dengan proses pengumpulan data. dan penarikan kesimpulan dilaksanakan dengan proses pengumpulan data. yaitu komponen reduksi data. mengorganisasikanya ke dalam suatu pola kategori dan satuan analisis data dalam dalam penelitian ini bersifat diskriptif analisis yang merupakan gambaran sebuah penelitian ( Moleong 2000:103 ) Menurut Milles dan Hoberman dalam Rachman ( 1999:20 ) ada dua metode analisis data yaitu: “ Pertama model analisis mengalir. dan penarikan kesimpulan ) saling berinteraksi “ Penelitian ini menggunakan model analisis data yang kedua dari penjelasan model analisis data di atas. membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang terkait 3. dan penarikan kesimpulan ) saling berinteraksi.

3. pengabstrakkan data kasar. penyajian data. dan penarikan kesimpulan atau verifikasi data. dan dokumentasi kemudian dipilih dan di kelompokkan berdasarkan kemiripan data.7. membuang yang tidak perlu dan mengorganisasikan data agar diperoleh kesimpulan yang dapat ditarik dan di verifikasi. Reduksi data ini bertujuan untuk menganalisis data yang lebih mengarahkan. observasi. pemusatan perhatian pada penyederhanaan. 3. yang muncul dari catatan-catatan tertulis dilapangan (Milles dan Hubermen 1992:17 ).7.3 Penyajian data Yaitu pengumpulan informasi terusan yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan ( Miles dan .7. 3.1 Pengumpulan data Adalah mencari dan mengumpulkan data yang diperlukan yang dilakukan terhadap berbagai jenis dan bentuk data yang ada di lapangan kemudian data tersebut dicatat.39 dalam penelitian ini digunakan langkah-langkah atau alur yang terjadi secara bersamaan yaitu reduksi data.2 Reduksi data Yaitu pemilihan. Dalam penelitian ini proses reduksi dapat dilakukan dengan mengumpulkan data dari hasil wawancara.

sehingga dimungkinkan dapat menggambarkan seluruhya atau sebagian tertentu dari aspek yang di teliti.40 Huberman 1992: 18). kekokohannya. 3.4 Verifikasi data Yaitu sebagian dari suatu kegiatan utuh. Proses reduksi data. penyajian data. artinya makna-makna yang muncul dari data harus dilaporkan kebenarannya. Dalam hal ini data yang telah dikategorikan tersebut kemudian di organisasikan sebagai bahan penyajian data. Data tersebut disajikan secara diskriptif yang didasarkan pada aspek yang diteliti. dan kecocokannya (Milles dan huberman 1992:19 ) Penarikan kesimpulan yang didasarkan pada pemahaman terhadap data yang telah disajikan dan dibuat dalam pernyataan disingkat dan mudah dipahami dengan mengacu pada pokok permasalahan yang di teliti.7. dan penarikan kesimpulan atau verifikasi dapat lebih jauh di gambarkan dalam gambar satu di bawah ini Proses Analisis data Pengumpulan Data Penyajian Data Reduksi Data Penarikan kesimpulan/ verifikasi Sumber: Milles dan Huberman dalam Rachman (1999:120) . sehingga dimungkinkan dapat memberikan gambaran seluruhnya atau sebagian tertentu dari aspek yang diteliti.

dalam penelitian. 3. . Pada tahap pertama pra lapangan. membuat surat ijin penelitian 4. analisis data dan penulisan laporan. mempersiapkan perlengkapan penelitian 7. penyajian data dan penarikan kesimpulan sebagai suatu yang jalin menjalin pada saat sebelum. pekerjaan lapangan. reduksi data. latar penelitian dan dinilai guna serta melihat sekaligus mengenal unsurunsur sosial dan fisik situasi pada latar penelitian 5. menyusun rancangan penelitian 2.8 Prosedur Penelitian Dalam penelitian ini peneliti membagi empat tahap yaitu: tahap sebelum ke lapangan.41 Dengan demikian dalam penelitian ini pengumpulan data. mempertimbangkan secara konseptual teknis serta praktis terhadap tempat yang akan digunakan dalam penelitian 3. menentukan informasi pada responden yang akan membantu peneliti dengan syarat-syarat peneliti 6. peneliti harus bertindak sesuai etika terutama berkaitan dengan tata cara penelitian berhubungan dengan lingkungan yaitu Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas IIA Semarang dan harus menghormati seluruh nilai-nilai yang ada didalamnya. selama dan sesudah pengumpulan data. peneliti mempersiapkan segala macam yang dibutuhkan atau diperlukan peneliti sebelum terjun kedalam kegiatan penelitian yaitu: 1.

setelah semua data yang dilapangan terkumpul maka peneliti akan mereduksi. menyajikan data serta melakukan verifikasi data.42 Pada tahap kedua yaitu pekerjaan laporan penelitian dengan bersungguhsungguh dengan kemampuan yang dimiliki berusaha memahami latar penelitian dan dipersiapkan benar-benar menghadapi lapangan penelitian. penulis masuk tahap ke empat yaitu penulisan laporan. Tahap ketiga yaitu analisis data. Laporan penelitian ditulis berdasarkan hasil yang diperoleh dilapangan. Setelah tahap analisis data selesai dan telah diperoleh kesimpulan. .

empat orang atau lebih yang dikelompokkan berdasarkan tindak pidana yang dilakukan oleh masing-masing narapidana Wanita . Letak geografis Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang di Jalan Mgr. Propinsi Jawa Tengah. . Kapasitas hunian mencapai 465 orang narapidana.75 meter persegi.1.226 meter persegi dengan luas bangunan 13. Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang menempati luas areal tanah 16. Pemerintah Kota Semarang. Kemudian pada tanggal 27 April 1964 penjara Wanita Bulu ini berubah atau berganti nama menjadi Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang.43 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4. Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang didirikan pada tahun 1894 oleh Pemerintah Belanda. setiap blok terdiri dari beberapa kamar dan setiap kamar tidur terdapat kamar mandi. hal ini disesuaikan dengan kapasitas. tempat kedudukan dan kegiatan kerja Lembaga Pemasyarakatan. Sugiyopranoto no. Setiap kamar tidur dihuni oleh tiga.1 Hasil Penelitian 4. Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang dibagi menjadi beberapa blok.902.1 Deskripsi Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas IIA Semarang Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang atau Lembaga Pemasyarakatan termasuk kategori Lembaga Pemasyarakatan Klas II A.59 kecamatan Semarang Tengah.

Ruang ketrampilan 5. Gudang 19. Kamar narapidana 11. Sumur 18. Pos jaga 17. Koperasi/kantin 13. Ruang karantina/sell 9. Gereja 6. Ruang perpustakaan 14.44 4.1. Ruang makan WBP 15.226 m2 dengan luas 13. Balai pertemuan 16. Kamar tahanan 10. kamar mandi 20. Rumah dinas 2. Ruang kunjungan 4. Kantor 3. Ruang kelas 7. Salon 12. Mushola 8. Dapur : 1 buah : 13 ruang : 1 ruang : 1 ruang : 1 ruang : 1 ruang : 1 ruang : 1 blok : 1 blok : 8 blok : 1 ruang : 1 ruang : 1 ruang : 1 ruang : 1 buah : 3 tempat : 11 buah : 4 ruang : 4 ruang : 1 buah .975 m2 yang terdiri dari: 1.2 Kondisi Fisik Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang dibangun di atas tanah seluas 16.

Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas IIA Semarang. kegiatan fisik yang bekerjasama dengan pihak lain dalam hal ini adalah Departemen Pendidikan Nasional. mengkristik. di Lembaga Pemasyarakatan Wanita juga terdapat aktifitas yang menunjang pembinaan mental spritual narapidana. sebagai pembina pelanggar hukum yang telah resmi menerima vonis pengadilan. hal ini sangat mendukung pelaksaan kegiatan berkebun serta tanaman hias di lokasi ini. Pembinaan mental seperti kegiatan keagamaan yang bekerjasama dengan Majelis Taklim. LSM dan Gereja. dimana kegiatan-kegiatan tersebut sangat mendukung narapidana agar ia bisa menjadi manusia yang berguna. serta melibatkan mereka dalam kegiatan-kegiatan sosial yang dapat menumbuhkan rasa percaya diri dalam kehidupan bermasyarakat agar narapidana itu . merupakan Lembaga Pemasyarakatan yang menangani pada proses terakhir.45 Secara umum kondisi saran dan prasarana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang dalam keadaan baik dan terawat dan didukung oleh kondisi tanah yang baik. Tujuan Lembaga Pemasyarakatan wanita Semarang adalah untuk membina dan membimbing warga binaan pemasyarakatan agar dapat memulihkan lagi hubungan dengan masyarakat. Narapidana harus dibekali pengertian mengenai norma-norma kehidupan. menyulam. Selain berupa bangunan fisik yang menunjang pembinaan narapidana. Kegiatan-kegiatan tersebut antara lain ketrampilan seperti menjahit. diharapkan Warga binaan dapat menjalankan fungsinya secara wajar dan berpartisipasi dalam pembangunan. Dengan memberikan bekal pengetahuan dan ketrampilan.

43 24. dan kedua terbesar berpendidikan Sekolah Dasar 24. Tingkat Pendidikan Tidak Tamat SD SD SMP SLTA D III S1 JML Data sekunder per September 2005 Dari tabel di atas sebagian besar narapidana berpendidikan Menengah Pertama dan Menegah Atas sebesar 30.88% Jumlah 5 13 16 16 2 1 53 Prosentase ( % ) 9. 4.77% dan 1.3 Deskripsi Narapidana Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang terdiri dari latar belakang pendidikan yang berbeda.5 30. 3. Tabel 3 Tingkat pendidikan narapidana di LP Wanita Semarang No 1. tidak lulus SD 9.1 30. Dilihat dari tingkat pendidikan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan wanita Klas IIA Semarang.1.1 3. untuk jelasnya dapat dilihat dari tabel berikut ini. dan Diploma serta Sarjana masing-masing 3. 5.43%.5%. Narapidana itu harus mempunyai daya tahan dalam arti bahwa narapidana itu harus mampu hidup bersama dengan masyarakat tanpa melakukan kejahatan lagi.1%. 6. 4. 2.77 1.46 sanggup hidup mandiri.88 100 % .

75 15.09 3. 5. Agama Islam Kristen Katholik JML Jumlah 43 5 5 53 Prosentase ( % ) 81. 25 sampai 30 tahun.75%.43 100 % Data sekender per September 2005 .75 15 20. yang paling banyak adalah narapidana yang berumur antara 19 sampai 24 tahun.1 9. 1. 3. Tingkat Umur 19-24 25-30 31-36 37-42 43-48 49-54 55-60 JML Data sekunder per September 2005 Dari tabel umur para narapidana yang menghuni Lembaga Pemasyarakatan wanita Klas IIA Semarang.43 9. dan 37 sampai 42 tahun yaitu sebesar 20. 2. 4. 7. dapat dilihat dari tabel dibawah Tabel 5 Agama Narapidana LP Wanita Klas IIA Semarang Jumlah 11 11 8 11 8 2 2 53 Prosentase ( % ) 20.47 Dilihat dari tingkatan umur para narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang dapat dilihat dari tabel dibawah.75 20. 3. Tabel 4 Tingkatan umur narapidana di LP Wanita Klas IIA Semarang No. 2. 1. Dilihat dari agama yang dianut para narapidana di lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang .77 100 % No. 6.77 3.

66 3. 6.86%. 2. Dilihat dari masa pidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang dapat dilihat dari tabel berikut ini: Jumlah 14 12 10 9 3 2 1 1 1 53 Prosentase ( %) 26.48 Dilihat dari tabel di atas jelas terlihat bahwa sebagian besar narapidana penghuni Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang beragama Islam sebesar 81. Dilihat dari tindak pidana yang dilakukan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang dapat dilihat dari tabel berikut ini: Tabel 6 Jenis Tindak Pidana Narapidana di LP Wanita Klas IIA Semarang No.64% dan penggelapan sebesar 18. 7. 9.1%.41% kemudian tindak pidana narkoba 22. 1.88 1.98 5.77 1. Tindak Pidana Penipuan Narkoba Penggelapan Pembunuhan Uang Palsu Penculikan Penadah Mucikari Pencurian JML Data sekunder per September 2005 Dari tabel di atas jelas bahwa tindak pidana yang paling banyak dilakukan oleh narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang adalah penipuan 26.86 16.88 1. 8. 4.64 18. 5.41 22. 3.88 100 % .

1. 3. Narapidana yang menjadi responden dalam penelitian ini dapat dijelaskan dalam tabel berikut ini: . 5.84 16.49 Tabel 7 Masa Pidana Narapidana di LP Wanita Klas IIA Semarang No. 2.98 9. Kasus Penipuan pasal 378 KUHP 2. 7. Perkara yang menjadi paling banyak dilakukan adalah: 1. Masa Pidana 6 bln – 1 thn 1 – 2 thn 3 – 4 thn 5 – 6 thn 7 – 8 thn 9 – 10 thn 11 – 12 thn JML Data sekunder per September 2005 Dilihat dari tabel di atas. 6. penganiayaan.88 100 % Sedangkan sisanya adalah kasus kejahatan lain seperti pembunuhan . pencurian.52 35. Kasus narkoba Pasal 59 KUHP Jumlah 13 19 9 5 6 1 53 Prosentase ( % ) 24.84%. 4.43 11. terlihat bahwa masa pidana yang paling banyak dilakukan oleh narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang adalah masa pidana satu sampai dua tahun yaitu sebesar 35. Kasus Pengelapan Pasal 372 KUHP 3.32 1. uang palsu. pembunuhan anak sebelum lahir.

6. Pembinaan narapidana di Indonesia setelah keluarnya Undang- undang No. 4.12 Tahun 1995 Tentang Pemasyarakatan.12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan pasal 1 ayat 2. 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan. 4.1.50 Tabel 8 Jenis Kasus responden Narapidana di LP Wanita Klas IIA Semarang No 1. 3. dilaksanakan dengan Sistem Pemasyarakatan. 2. 5. Menurut rumusan Undang-Undang No. Inisial Nama CM LM MI TS TY TS SG Kasus Kejahatan Pembunuhan Pembunuhan Narkoba Narkoba Penipuan Penipuan Penggelapan Masa Pidana 9 tahun 10 tahun 8 bulan 5 thn 6 bln 2 th 6 bln 2 th 6 bln 3 tahun Hasil wawancara tanggal 3 dan 6 Oktober 2005 Dilihat dari kasus kejahatan yang menjerat Narapidana rata-rata dari responden di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas IIA Semarang. mempunyai kasus yang mendapat hukuman lebih dari setahun sehingga mereka mempunyai banyak kesempatan untuk menikmati hak-hak mereka yang mendukung dalam melakukan aktifitas di penjara. yang dimaksud dengan Sistem Pemasyarakatan adalah: .4 Praktek Pembinaan Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang Menurut Undang-Undang No. 7.

pendekatan klasifikasi. yang dibina. pembimbingan 5. pendekatan sistem. tujuan. dapat aktif berperan dalam pembangunan. Komponen tersebut neliputi falsafah dasar hukum. dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas Warga Binaan Pemasyarakatan agar menyadari kesalahan. berangkat dari konsepsi pemasyarakatan dan konsepsi pemasyarakatan itulah yang melahirkan disiplin ilmu pemasyarakatan. dan dapat hidup secara wajar sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab” Sistem Pemasyarakatan yang berlaku sekarang. persamaan perlakuan dan pelayanan 3. pendidikan 4. memperbaiki diri. dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat.51 “Pemasyarakatan adalah suatu tatanan mengenai arah dan batas serta cara pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan berdasarkan Pancasila yang dilaksanakan secara terpadu antara pembina. Sebagai suatu sistem. Pengayoman 2. perlakuan terhadap narapidana. penghormatan harkat dan martabat manusia . maka pembinaan narapidana mempunyai beberapa komponen yang saling berkaitan untuk mencapai satu tujuan. keluarga narapidana dan pembina atau pemerintah Sistem Pemasyarakatan melakukan pembinaan terhadap narapidana berdasarkan asas: 1. yang dikenal dengan nama Sistem Pemasyarakatan. klasifikasi. sebagai ilmu pembinaan narapidana di Indonesia. Pembinaan narapidana di Indonesia dilaksanakan melalui sebuah sistem.

12 tahun 1995 Pasal 7 ayat (1). Lebih lanjut penjelasan Pasal 7 ayat ( 1 ) menerangkan yang dimaksud dengan “petugas pemasyarakatan” adalah pegawai pemasyarakatan yang melaksanakan tugas pembinaan. penempatan terpidana di Lembaga Pemasyarakatan dilakukan sesuai dengan Pasal 270 KUHP dan pendaftarannya dilaksanakan pasa saat terpidana diterima di Lembaga . Kepala Lembaga Pemasyarakatan bertanggung jawab terhadap penerimaan terpidana dan pembebasan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan. Menurut penjelasan Pasal (10) ayat ( 1 ). kehilangan kemerdekaan merupakan satu-satunya penderitaan 7. dan pembimbingan Warga Binaan Pemasyarakatan. terjaminnya hak untuk tetap berhubungan dengan keluarga dan orangorang tertentu. Menurut ketentuan Undang-Undang No. Pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam ayat ( 1 ) mengubah status terpidana menjadi narapidana 3. Terpidana yang diterima di Lembaga pemasyarakatan wajib didaftar 2.52 6. Berdasarkan ketentuan Undang-Undang no. Seorang narapidana yang masuk ke Lembaga Pemasyarakatan berdasarkan putusan pengadilan melalui proses persidangan di pengadilan akan melalui berbagai prosedur terlebih dahulu. pembinaan dan oleh pembimbingan Menteri dan warga binaan Pemasyarakatan oleh petugas diselenggarakan dilaksanakan Pemasyarakatan.12 tahun 1995 Pasal (10) mengatur sebagai berikut: 1. pengamanan.

Barang dan uang yang dibawa b.12 tahun 1995 Pasal (12) ayat ( 1 ).12 tahun 1995 Pasal (11). Putusan pengadilan 2. Pembuatan berita acara serah terima terpidana Pembinaan terhadap narapidana tidak sama antara satu narapidana dengan narapidana yang lain. Undang-Undang no. dalam rangka pembinaan terhadap narapidana di Lembaga Pemasyarakatan dilakukan penggolongan atas dasar: a. pendaftaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal (10) ayat ( 1 ) meliputi: a. Pemeriksaan kesehatan c. Pembuatan fasfoto d.53 Pemasyarakatan. Pengambilan sidik jari e. Begitu juga pembebasannya dilaksanakan pada saat narapidana telah selesai menjalani masa pidananya. Lama pidana yang dijatuhkan d. Jenis kejahatan e. Kriteria lainnya yang sesuai dengan kebutuhan atau perkembangan pembinaan . Umur b. Pencatatan: 1. Jenis kelamin c. Jati diri 3. Selanjutnya menurut ketentuan Undang-Undang No.

10. B-III. Berikut ini adalah tabel narapidana yang termasuk dalam kategori B-I di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang tahun 2005. 3. B-II-b adalah narapidana yang dijatuhi pidana antara satu sampai tiga bulan. sedang B-III adalah narapidana yang dijatuhi pidana kurungan pengganti pidana denda. yang lama pidananya satu bulan. 2. B-II-b. narapidana golongan B-I. 13. B-II-a. 12. Klasifikasi B-I adalah narapidana yang dijatuhi pidana diatas satu tahun. Penggolongan tersebut juga berkaitan dengan masalah pengawasan keamanan terhadap narapidana. 5. 7. Lina Mayangsari Fransisca Suhaeti Nuryati Sawi Casriah Wiwik Azizah Yuliana Sri Sugiarti Retno Widyawati Dince Setyawati Bandiyah Ayu Puji Rahayu Cornelia 21 21 27 38 51 42 39 45 29 23 31 26 37 Islam/SMP Islam/SMP Islam/SMP Islam/SD Islam/SD Islam/SLTP Islam/SLTA Islam/SMP Kristen/SLTA Islam/SLTA Islam/SD Islam/SMP Katholik/SD Pembunuhan Narkoba Narkoba Pembunuhan Penadah Penipuan Pembunuhan Penipuan Narkoba Narkoba Narkoba Mucikari Pembunuhan Tindak Pidana Masa Pidana 10tahun 5th 6 bln 4th 3 bln 9 tahun 3th 6 bln 11 tahun 3 tahun 1th 6 bln 4th 2 bln 4th 5 bln 4th 1 bln 3th 4 bln 10 tahun . Penggolongan tersebut meliputi. 11. Tabel 9 Narapidana Klasifikasi B-I di LP Wanita Klas IIA Semarang No Nama Umur Agama / Pendidikan 1.54 Untuk memudahkan proses pembinaan narapidana. 8. 6. B-II-a adalah narapidana yang dijatuhi pidana antara empat sampai dua belas bulan. maka dikenal penggolongan-penggolongan dalam sistem pemasyarakatan. 9. 4.

25. 27. 41 Mistiyah Maryati Wanisah Casmuni Yulianti Titik Sulasmi Neny Als Supriyati Noviani Wijaya Laelatul Komar Zamronah Novia Wulansari Sutri Catrina Suhartini Amelia Santi Heni W Subatin Tiatun Tini Susianti Rahayu Niken Sri Suparni Mitun Jayanti Taimah Sri Guno A Lestari P Wamroh Yuliana Heni Dince Nafrida 24 45 20 23 33 44 60 36 60 29 21 26 30 33 22 46 38 43 32 41 40 27 42 50 38 37 29 29 Islam/BH Islam/BH Islam/BH Islam/BH Islam/SLTA Islam/SLTA Islam/SMP Islam/SMP Kristen/SLTA Islam/SMP Islam/SMP Katholik/SLTA Islam/SD Katholik/D3 Islam/SMP Islam/SMP Islam/STM Kristen/SD Islam/SLTA Kristen/SLTA Islam/SD Islam/SMP Islam/BH Islam/SMEA Islam/SLTA Islam/SD Katholik/SLTA Islam/SE Penculikan Penculikan Uang Palsu Pembunuhan Penipuan Penipuan Penipuan Pembunuhan Penipuan Narkoba Pembunuhan Penggelapan Pembunuhan Penggelapan Narkoba Uang Palsu Penggelapan Penggelapan Narkoba Narkoba Penggelapan Pembunuhan Penggelapan Penipuan Penipuan Narkoba Penggelapan Penggelapan 5 tahun 5 tahun 2 tahun 9 tahun 2th 6 bln 2th 6 bln 2th 6 bln 9 tahun 2 tahun 6 tahun 10 tahun 1th 8 bln 3 tahun 1th 3 bln 1th 3 bln 2 tahun 1th 6 bln 1th 3 bln 5th 6 bln 1th 6 bln 1th 6 bln 2th 6 bln 2th 3 bln 3 tahun 2 tahun 1th 4 bln 1th 1 bln 1th 6 bln . 17. 21. 24. 29 30. 16. 15. 38. 35. 28. 22. 33. 37. 39. 26. 32. 19. 20. 40.55 14. 18. 34. 31. 23. 36.

9. 8. 5. 3. 6. Sulistyoningsih Suprapti Erika Ruliyati Sumiati Ester B Atik Supriyatin Siti Karomah Monica Ida Sinah Sulistyoningsih Sumiatun Menik 30 43 24 35 37 31 19 41 21 30 35 27 Islam/SLTA Islam/SD Islam/SLTA Islam/SMP Kristen/S1 Islam/SMP Islam/SD Islam/DIII Islam/SD Islam/SLTA Islam/SMP Katholik/SD Tindak Pidana Penggelapan Penipuan Narkoba Penipuan Penggelapan Uang Palsu Penggelapan Narkoba Pencurian Penggelapan Penipuan Penggelapan Masa Pidana 8 bulan 9 bulan 8 bulan 1 tahun 10 bulan 6 bulan 6 bulan 8 bulan 7 bulan 8 bulan 6 bulan 6 bulan Data sekunder per September 2005 Klasifikasi untuk B-II-b yaitu narapidana yang dijatuhi pidana antara satu sampai tiga bulan serta klasifikasi untuk B-III yaitu narapidana yang pidana kurungan pidana pengganti denda. 11. 4. Tabel 10 Narapidana Klasifikasi B II-a LP Wanita Klas IIA Semarang No Nama Umur Agama/ Pendidikan 1.56 Berikut ini tabel narapidana Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang yang tergolong dalam klasifikasi B-II-a di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang tahun 2005. 10. 12. yang lama pidananya satu . 2. 7.

kemudian baru ditentukan bentuk dan cara pembinaan yang akan diberikannya. Sedang medium security diberikan kepada narapidana yang lebih ringan pidananya atau yang masuk dalam kategori pidana berat. pencurian dengan kekerasan. narapidana karena kasus subversi. Pengawasan terhadap narapidana terbagi dalam tiga klasifikasi.57 Bulan. pembunuhan berencana. Antara lain penempatannya. Narapidana yang masuk kategori ini biasanya telah memperoleh pembinaan dan telah dinyatakan bisa mendapatkan pengawasan ringan. medium security dan minimum security. tetapi mendapatkan pembinaan dan menunjukkan sikap serta tingkah laku yang baik selama dalam Lembaga Pemasyarakatan. disamping diberikan tentang hak dan kewajibannya serta tata . pekerjaan yang diberikan dan pendidikan yang akan ditempuhnya . Pelaksanaan sistem pemasyarakatan dimulai dengan menerima narapidana dan menyelesaikan pencatatannya secara administratif yang disusul dengan observasi atau identifikasi mengenai pribadinya secara lengkap oleh suatu Tim Pengamat Pemasyarakatan ( TPP ). Dalam minimum security. yaitu maximum security. beberapa narapidana yang dianggap berbahaya dan membahayakan Lembaga Pemasyarakatan. terdapat narapidana yang telah mendapat pembinaan secara khusus dan telah dinyatakan layak untuk mendapatkan pengawasan ringan. perampokan. Maximum security diberikan terhadap narapidana klasifikasi B-I. di Lembaga Pemasyarakataan Wanita Semarang tidak terdapat klasifikasi tersebut.

diluar Lembaga Pemasyarakatan bersama-sama dengan masyarakat. setelah diadakan koreksikoreksi seperlunya. hingga makin dekat pergaulannya dengan masyarakat. Proses pembinan narapidana melibatkan berbagai unsur pembina sesuai dengan tugas bidangnya masing-masing. Selama dalam Lembaga Pemasyarakatan sebagai hasil konseling TPP bila ada kemajuan narapidana yang bersangkutan dapat diperlonggar kebebasannya. Pembinaan selanjutnya ditentukan oleh TPP sesuai dengan kemajuan atau kemundurannya. kesenian.58 cara hidup daalm lembaga pemasyarakatan. olah raga. yaitu: . juga hubungan dengan keluargannya. dan dievaluasi keadaannya apakah yang bersangkutan telah memperoleh kemajuan atau kemunduran dalam hal tingkah lakunya. mendekati hari bebasnya. kesempatan beribadah dan lain-lain. Dengan demikian secara progresif narapidana tahap demi tahap dengan kemajuan-kemajuan pada pribadinya. Setelah pembinaan berjalan beberapa lama kemudian diadakan pertemuan oleh TPP tanpa mengikutsertakan narapidana yang bersangkutan. Usaha bebas bersyarat bagi narapidana merupakan mata rantai terakhir dari proses pembinaan dalam sistem pemasyarakatan. Usaha konseling semacam ini diadakan secara berkala dan bila terus ada kemajuan maka sudah waktunya narpidana yang bersangkutan diusulkan untuk bebas bersyarat. tapi bila tidak maka narapidana tetap menjalani masa pembinaan sampai habis masa pidananya. baik mendapat pekerjaan maupun pendidikan.

2. yang menjadi kepala seksinya adalah Titik Setyowati. Seksi Bimbingan Narapidana / Anak Didik mempunyai fungsi: a. dan Pengolahan Hasil Kerja dan Sub Seksi Sarana Kerja. Ventila Rahayu. Seksi Kegiatan Kerja. terdiri dari Sub Seksi Registrasi dan Sub Seksi Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan. terdiri dari Sub Seksi Bimbingan Kerja. yang menjadi kepala seksinya adalah Puisnah. Seksi Bimbingan Narapidana / Anak Didik. Untuk menyelengggarakan tugas tersebut. yang menjadi kepala subseksinya adalah Susana Tri Agustin yang mempunyai 6 ( enam ) staf yaitu Asti Andaryani.59 1. Melakukan pencatatan dan membuat statistik serta dokumentasi sidik jari narapidana / anak didik b. Sri Hartati Mempunyai tugas memberikan bimbingan kerja. Sri Utami. mempersiapkan sarana kerja dan mengelola hasil kerja. Turniyati. Sri Darwatik. drg. Mulyasari R. peningkatan pengetahuan asimilasi. Fem Irianti. seksi Kegiatan Kerja mempunyai fungsi: . yang mempunyai 3 ( tiga ) staf yaitu Munarita. cuti pelepasan dan kesejahteran narapidana / anak didik serta mengurus kesejahteraan dan memberikan perawatan bagi narapidana / anak didik. Memberikan bimbingan dan penyuluhan rohani serta memberikan latihan olah raga. Mempunyai tugas memberikan bimbingan pemasyarakatan narapidana / anak didik Untuk menyelenggarakan tugas tersebut.

penggunaan perlenggapan dan pembagian tugas pengamanan. menerima laporan harian dan berita acara dari satuan pengamanan yang bertugas serta menyusun laporan berkala dibidang keamanan dan menegakkan tata tertib. Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan. yang menjadi kepala seksinya adalah Sri Wigati. Memberikan bimbingan latihan kerja bagi narapidana dan mengelola hasil kerja b. Untuk menyelenggarakan tugas tersebut Seksi Administrasi Keamanan dan Tata Tertib mempunyai fungsi: a. yang mempunyai tugas menjaga keamanan dan ketertiban Lembaga Pemasyarakatan. 3. mengatur jadwal tugas. penggunaan perlengkapan dan pembagian tugas pengamanan b. kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan mempunyai fungsi: . Seksi Administrasi Keamanan dan Tata tertib. menerima laporan harian dan berita acara dari satuan pengamanan yang bertugas serta menyiapkan laporan berkala dibidang keamanan menegakkan tata tertib 4. yang mempunyai tugas mengatur jadwal tugas. yang menjadi kepala seksinya adalah Wilayati. Untuk menyelenggarakan tugas tersebut.60 a. yang menjadi kepala seksinya adalah Sukamti Mulani. Terdiri dari Sub Seksi Keamanan dan Sub Seksi Pelaporan dan tata tertib. Mempersiapkan fasilitas latihan kerja.

dalam menjalankan tugasnya mampu melakukan pendekatan pribadi dengan memperlakukan narapidana sebagai objek yaitu narapidana diberi kesempatan untuk berperan dalam menentukan proses pembinaan terhadap diri sendiri. dedikasi atau pengabdian dan etos kerja yang tinggi. Sikap proaktif petugas ini ternyata . Para petugas pembina di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang dalam menjalankan tugasnya cenderung menggunakan pendekatan personal. Melakukan pengawasan terhadap pelanggaran keamanan e. adik dan sebagainya. Petugas sebagai pembina warga binaan pemasyarakatan yang dituntut memiliki jiwa profesionalisme. penempatan dan pengeluaran narapidana / anak didik d.61 a. Para petugas sedapat mungkin tidak menciptakan jarak dengan para narapidana dalam proses pembinaan. Petugas tidak menganggap narapidana sebagai narapidana tetapi dianggap sebagai anak. Pembina secara aktif memonitor perkembangan narapidana yang menjadi bimbingannya. Melakukan pengawalan penerimaan. Membuat laporan harian dan berita acara pelaksanaan pengamanan. yaitu: a. Unsurunsur yang berperan dalam sistem pemasyarakatan. melakukan penjagaan dan pengawasan terhadap narapidana / anak didik b. melakukan pemeliharaan keamanan dan ketertiban. Petugas harus mampu menjadi panutan. Pelaksanaan pembinaan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang dilaksanakan berdasarkan sisitem pemasyarakatan. c.

narapidana bersikap patuh terhadap petugas bukan karena takut tapi memang mereka sadar bahwa mereka harus bersikap hormat. Narapidana sebagai warga binaan pemasyarakatan yang harus mau secara tulus ikhlas berperan aktif dalam kegiatan pembinaan tersebut. sehingga narapidana sulit untuk menghasilkan pembinaan yang efektif. hampir tidak ada narapidana yang melakukan keributan. Disamping ketiga hal tersebut datas unsur yang sangat menunjang keberhasilan program pembinaan adalah terpenuhinya sarana dan prasarana yang memadai dalam proses pemasyarakatan. efisien serta . Hali ini karena tidak adanya sosialisasi kepada masyarakat. yaitu narapidana merasa tidak diperlakukan sebagai “pesakitan”.62 berpengaruh besar terhadap proses pembinaan. dituankan dan sebagainya. Masyarakat. supaya masyarakata tidak bersikap buruk terhadap Lembaga Pemasyarakatan. Selama ini peran masyarakat kurang mendukung. sehingga masalah sosialisasi ini dirasa sebagai hal yang cukup penting. Keterbatasan sarana dapat merupakan salah satu penghambat pembinaan narapidana. b. Hal ini sehubungan dengan iklim yang diciptakan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang dimana tidak ada narapidana yang perlu dianggap pahlawan. c. Apabila ada narapidna yang bersikap tinggi hati atau ingin dianggap sebagai pemimpin maka narapidana tersebut justru tidak akan mendapat tempat dalam pergaulan dengan sesama narapidana yang lain. Narapidana pada umunya bersikap patuh.

mengatakan bahwa: “Pembinaan tahap kedua adalah pembinaan lanjutan diatas 1/3 sampai sekurang-kurangnya ½ dari masa pidana yang sebenarnya.00 WIB ) 3. staf BIMPAS Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. Tahap Pertama Menurut Sri Utami. Pengamatan dan penelitian terhadap narapidana wanita dilakukan oleh Tim Pengamat Pemasyarakatan ( TPP )” ( wawancara. Adapun tahap-tahap tersebut terdiri atas: 1. mengatakan bahwa: “Pembinaan Tahap I merupakan pembinaan tahap awal yang didahului dengan masa pengenalan lingkungan. Staf BIMPAS Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. Tahap Kedua Menurut Sri Utami. sejak diterima sampai sekurang-kurangnya 1/3 dari masa pidana yang sebenarnya. mengatakan bahwa: “Pembinaan tahap ketiga adalah pembinaan lanjutan ½ sampai sekurang-kurangnya 2/3 dari masa pidana sebenarnya dan sudah diperoleh kemajunan fisik . Dalam mencapai tujuannya Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang menggunakan pola pembinaan bertahap yang dikenal dengan tahap pembinaan. mengingat tujuan sistem pemasyarakatan itu sangat ideal. sedangkan sarananya sangat terbatas. Tahap Ketiga Menurut Sri Utami. staf BIMPAS Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. 8 September 2005: pukul 09. dan dalam kurun waktu tersebut narapidana wanita menunjukkan sikap dan perilakunya atas hasil pengamatan TPP” ( wawancara.00 WIB ) .00 WIB ) 2.63 berhasil guna. 8 September 2005: pukul 09. 8 September 2005: pukul 09. Hal ini cukup beralasan. mental dan ketrampilan maka wadah pembinaan diperluas dengan mengadakan asimilasi dengan masyarakat” ( Wawancara.

dan berhak untuk diusulkan mendapat pembebasan bersyarat setelah memenuhi syaratsyarat tertentu sebelum akhirnya di putuskan untuik benar-benar bebas. yaitu tahap pembinaan yang dilaksanakan dengan cara membaurkan narapidana dengan masyarakat. Tahap Keempat Menurut Sri Utami. Asimilasi yang dilaksanakan di LP Wanita Semarang ada dua macam yaitu Asimilasi internal ( dalam lingkungan Lembaga Pemasyarakatan Wanita ). 8 September 2005: pukul 09.00 WIB ) Tahap keempat merupakan tahap terakhir dimana narapidana sudah hampir selesai menjalani masa pemidanaannya. Tahap-tahap pola pembinaan narapidana dapat dilihat dalam bagan berikut ini: . mengatakan bahwa: “Adalah tahap pembinaan lanjutan diatas 2/3 dari masa pidananya dan yang bersangkutan dinilai sudah siap untuk diterjunkan kembali ke masyarakat. 4.64 Tahap ketiga merupakan tahap asimilasi. sedangkan Asimilasi Eksternal ( di luar LP ) seperti: kerja pada pihak luar. untuk narapidana wanita dapat diusulkan untuk mendapatkan pembebasan bersyarat ( PB ) dan cuti menjelang bebas ( CMB )” ( Wawancara. kerja mandiri dan lain-lain. mencabut rumput dikebun dalam LP dan menyapu. staf BIMPAS Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. kegiatannya: membersihkan ruangan. cuti mengunjungi keluarga.

cuti menjelang bebas Maximum Sevurity Medium Security Kerjasama Antar Instansi Minimum Security Instansi penegak hukum 1. 4. UU No. Pembinaan kesadaran beragama 2. Depkes Depnaker Deperindag Depag 5. A. Pembinaan Kepribadian 1. Pembinaan kesadaran berbangsa dan bernegara 3. LSM 4. T P P DALAM LAPAS (Half way House /work) - PBB CMB Masyarakat DALAM LAPAS PEMBUKA (OPEN CAMP) integrasi 3. Pengadilan Negeri Instansi 1. 2. Tidak melanggar lagi Dapat berpartisipasi aktif dan positif dalam pembangunan (manusia mandiri) Hidup berbahagia Dunia dan Akhirat Masyarakat T P P B. 2. Keputusn Menteri 6. Pembinaan kesadaran hukum. BAPAS Melanjutkan sekolah kerja mandiri Kerja pada pihak luar Menjalankan ibadah Olahraga. Pemda 7. 2. Peraturan Peerintah 11. Polisi 2. Pembinaan kepribadian lanujutan program Pembinaan kemandirian 1. Kelompok 3. Depdiknas 6. Kejaksaan Tinggi 3. 3. Perusahaan Sumber : Kasi Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan . Pembinaan kesadaran kemampuan itelektual (kecerdasan) 4.1 PROSES PEMASYARAKATAN 1. Dan lain-lain Pihak Swasta 1. ketrampilan untuk mendukung usaha-usaha mandiri 2. Peraturan Drijen Pas 8. 3 Tahun 1997 10. 12 Tahun 1945 9. UU No. 4. pengenalan dan penelitian lingkungan paling lama satu bulan. Ketrampilan untuk mendukung usaha kecil 3. Ketrampilan yang di kembangkan sesuai dengan bakatnya masingmasing 4. Peraturan Menteri 7. Admisi dan Orientasi Masa Pengamatan. 3. B. Keputusan Presiden Tahap awal + 1/3 – 1/2 masa pidana A. Ketrampilan untuk mendukung usaha-usaha industri/pertanian dan perkebunan dengan teknologi modern/ tinggi Tahap Lanjutan ASIMILASI Tahap Akhir Tujuan 1. Perorangan 2. Pancasila UUD 45 KUHP KUHAP LANDASAN HUKUM 5.

. Sesuai dengan pola pembinaan narapidana dan tahanan. Pembinaan kesadaran beragama Usaha ini diberikan agar narapidana dapat meningkatkan Imannya terutama memberi pengertian agar narapidana wanita dapat menyadari akibat-akibat dari perbuatan yang benar dan perbuatan yang salah. Hasil evaluasi inilah yang akan menentukan apakah narapidana yang bersangkutan dapat diikutkan atau melanjutkan proses tahap berikutnya. rabu dan Kamis. Pembinaan kepribadian yang meliputi: a.66 Tahap pembinaan yang meliputi 4 ( empat ) tahap pembinaan didasarkan pada 2 ( dua ) unsur yaitu masa pidana dan tingkah laku narapidana. Bagi narapidana wanita yang beragama Kristen mendapat pembinaan rohani setiap hari Selasa. Contoh: Seorang narapidana yang telah menjalani masa pidana sampai tahap kedua belum tentu diberikan medium security. yaitu: 1. melainkan tetap diberikan maximum security karena tingkah lauk narapidana tersebut belum menunjukkan perbaikan sikap. akan diadakan evaluasi terhadap narapidana yang bersangkutan yang akan dinilai dari berbagai unsur. maka sebagai pelaksanaan pembinaan ruang lingkupnya meliputi 2 ( dua ) bidang. Dalam setiap tahap pembinaan. dimana kedua unsur tersebut saling berkaitan tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Rabu dan Kamis. Setiap akhir periode dari masing-masing pembinaan. masing-masing narapidana akan diajukan dalam sidang TPP ( Tim Pengamat Pemasyarakatan ). yang beragama Islam mendapat pembinaan rohani pada hari Selasa.

taat pada pemerintah. 3 Oktober 2005: pukul 09. narapidana sangat berpartisipasi dalam pembinaan keagamaan. Pembinaan kesadaran berbangsa dan bernegara Usaha ini dilakukan dengan cara menyadarkan narapidana agar menjadi warga negara yang baik berbakti bagi bangsa dan negaranya.00 WIB ) Pembinaan kesadaran beragama di LP Wanita Semarang sudah cukup baik. c. jadi setelah diberikan pengarahan oleh petugas kami semua menjadi tahu bagaimana menjadi warga negara yang baik. setelah mendapat bimbingan agama menjadi sdikit ada kemajuan dalam pemahaman agama. ini dapat dilihat dari jadwal pembinaan yang sudah teratur.00 WIB ) Pelaksanaan pembinaan kesadaran berbangsa di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang cukup baik dan sudah mencapai tujuan dari pembinaan kesadaran berbangsa dan bernegara.67 Hasil Wawancara dengan responden A. b. Selain itu juga disini diajari menbaca Al Quran. Pembinaan kesadaran hukum Dilakukan dengan cara memberi penyuluhan hukum yang bertujuan untuk mencari kadar kesadaran hukum. karena sebelumnya kita adalah pelanggar hukum makanya kami disini” ( Wawancara. saya sekarang bisa membaca al Quran padahal dulu saya tidak lancar membaca Al Quran” ( Wawancara. 3 Oktober 2005: pukul 09. sehingga sebagai . umur 21 tahun yang menyatakan: “Pembinaan Kesadaran beragama disini sangat bermanfaat bagi saya. Wawancara dengan responden B umur 24 tahun yang menyatakan: “Disini kita diberi pengertian tentang kehidupan berbangsa. dulu sebelum masuk ke LP sini saya tidak paham soal agama.

00 WIB ) Proses pembinaan kesadaran hukum di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas IIA Semarang sudah berjalan cukup baik dan dapat mencapai sasaran yang diharapkan. cara pelaksanaan pendidikan formal yang ditempuh oleh petugas di Lembaga Pemasyaraktan Wanita Klas IIA Semarang adalah dengan diajarkannya pendidikan agama. 6 Oktober 2005: pukul 09. keadilan dan perlindungan terhadap harkat dan martabat. Sedangkan pendidikan non . Untuk mengejar ketinggalan dibidang formal ini Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang juga mengupayakan cara belajar melalui program Kejar Paket A.Wawancara dengan responden A umur 44 tahun yang mengatakan bahwa: ‘Disini kami dibina tentang hukum. budi pekerti dan lain sebagainya. Pembinaan kemampuan Intelektual ( kecerdasan ) Usaha ini dilakukan agar pengetahuan serta kemampuan berpikir narapidana (Warga Binaan Pemasyarakatan) semakin meningkat. Pembinaan Intelektual (kecerdasan) dapat dilakukan baik melalui pendidikan formal maupun pendidikan non formal. Sehingga dapat menunjang kegiatan-kegiatan positif yang dilakukan selama masa pembinaan. dan diharapkan tidak melanggar hukum setelah bebas nanti.68 anggota masyarakat dapat ikut menegakkan hukum. d. Pendidikan formal diselenggarakan sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan oleh pemerintah agar dapat dimanfaatkan oleh semua narapidana wanita. Pembina disini cukup baik dan ramah-ramah” ( Wawancara. supaya dapat mengerti dan taat pada hukum.

Buku bacaan hanya dapat diperoleh dari perpustakaan dan perpustakaan keliling yang datang setiap hari jumat. menyulam. itupun jumlahnya terbatas sehingga saya disini agak sedikit kuper” ( Wawancara. Pelaksanaan pembinaan kemampuan Intelektual di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang cukup baik. 3 oktober 2005: pulul 09. 6 Oktober 2005: pukul 09. Ketrampilan untuk mendukung usaha-usaha mandiri . terutama narapidana yang berpendidikan rendah.00 WIB ) Pembinaan kemampuan intelektual di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang sangat dibutuhkan oleh para narapidana. bordir dan menjahit.69 formal diselenggarakan sesuai kebutuhan dan kemampuan melalui latihan-latihan ketrampilan seperti: mengkrisrik. tetapi setelah mengikuti program pendidikan disini. Wawancara dengan responden C umur 43 tahun mengatakan bahwa: “Saya dulu tidak bisa membaca ataupun menulis.00 WIB ) Wawancara pada responden D umur 24 tahun mengatakan bahwa: “Disini sangat sulit untuk mendapat buku bacaan dan Koran. kalau Koran memang narapidana disini tidak diperbolehkan membaca. hanya perlu peningkatan dalam pelayanan penyediaan buku-buku yang hanya dapat dilayani oleh perpustakaan keliling. saya sudah dapat sedikit membaca dan menulis” ( Wawancara. 2. Pembinaan Kemandirian Pembinaan Kemandirian diberikan melalui program-program: 1.

dengan adanya lahan yang kosong disekitar lembaga pemasyarakatan seperti antara bangunan yang satu dengan bangunan yang lain terdapat gang dan gang tersebut ditanami sayur-sauran. jagung dan singkong. Program pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas IIA Semarang wajib diikuti oleh seluruh narapidana sesuai dengan jadwal LAPAS. tepatnya disekeliling LP ini ada tanah untuk berkebun. mengkristik. menyulam. dilihat dari pelaksanaan yang terjadwal. hampir setiap hari diadakan latihan ketrampilan. Ketrampilan untuk mendukung industri-industri kecil Misalnya: PKK seperti membuat kue dan memasak 4. bordir. 2. harapan saya kelak setelah keluar dari. Ketrampilan untuk mendukung usaha-usaha industri atau pertanian atau perkebunan dengan teknologi madya atau teknologi tinggi. Misalnya. Jadwal tersebut dipasang pada setiap blok narapidana dengan maksud agar narapidana dapat mengetahui dan . Program kegiatan ini pelaksanaannya dilaksanakan sesuai jadwal yang telah ditentukan untuk kegiatan setiap hari.70 Misalnya: kerajinan tangan seperti menjahit. 6 Oktober 2005: pukul 09.00 ) Pelaksanan pembinaan ketrampilan bagi para narapidana sudah cukup baik. semua ini dapat bermanfaat bagi saya” ( Wawancara. Selain itu kadangkala saya juga belajar untuk berkebun. Ketrampilan yang dikembangkan sesuai dengan bakat Misalnya: ketrampilan membuat tas 3. dan mengkristik. Wawancara dengan responden D umur 32 tahun mengatakan bahwa: “Disini sekarang saya dapat menjahit.

00-12.Ketrampilan .00-11.00 09.00-16. Kamis 07.Olah Raga .00 3.Iqra/Bacan Al Quran .Olah Raga .Ketrampilan .00 14.Budi Pekerti/Penyuluhan .30-09.Karawitan .Paduan Suara / vokal Group .00 13.00-16. senin HARI/PUKUL 07.m Seluruh WBP Seluruh WBP Peserta Ag.Senam Struktur .Hiburan / Istirahat PETUGAS/PENGAWAS KPLP Pembinaan Pramuka/Bimpas Bimpas Bimker Bimpas Bimpas Bimpas KPLP Bimker Dep.00 2.00 09.00-12.00 13.Pelajaran Agam Islam .Iqra/Bacan Al Quran . Berikut ini adalah jadwal Kegiatan Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang.Ketrampilan .Kebersihan Lingkungan . Rabu 07. Isla.00 11. Nasrani Peserta Paduan Suara / VG Pserta Tari / Drama Seluruh WBP Seluruh WBP Data sekunder per September 2005 .00-14. Agama/Bimpas Gereja Pantekosta Bimpas Bimpas Bimpas Bimpas Bimpas Bimpas Bimpas KPLP Bimker Agape / Advent Bimpas Bimpas KPLP KPLP KETERANGAN Selruh WBP Anggota Pramuka Seluruh WBP Seluruh WBP Peserta Iqra Peserta Volly Peserta Musik Pemula Selruh WBP Seluruh WBP WBP Ag. Sabtu 07.00-14.00 11.00 09.Pelajaran Agama Kristen . Nasrani Peserta Musik Peserta Volly Seluruh WBP Seluruh WBP WBP Ag> Islam WBP Ag.00 13.00-11.Iqra/Bacan Al Quran .kebersihan Lingkungan .Paduan Suara/ Vokal .00 12.Olah Raga (volly) .00 14.Kebersihan Lingkungan .Kebersihan Lingkungan . selasa 07.00 6.30-09.Ketrampilan .00-09.00 09. Jum’at 07. Nasrani Peserta Iqra Peserta musik Peserta volly Seluruh WBP Seluruh WBP WBP buta huruf WBP Ag.Pelajaran Agam Islam .00-12.00 14.00-14.00-14.00-140.00-12.Pramuka .Pelajaran Agam Islam .Pengajian .00 09.30-09.00 13.Musik .00 4. JADWAL KEGIATAN WARGA BINAAN PEMASYARAKATAN LEMBAGA PEMASYARAKATAN WANITA KLAS IIA SEMARANG NO 1.00-13.00-12.00 11. Kristen Peserta karawitan Peserta Iqra peserta instruktur Senam Seluruh WBP Peserta Musik Peserta Qosidah WBP Ag.kebersihan Lingkungan .0011.00 08.00-12.00 09.00 09.30-09.00 13.Ketrampilan . Agama/Bimpas Yayasan Cinta Kasih Bangsa Bimpas Bimpas KPLP Bimker Dep.Pelajaran Agama Kristen .00-12.00 10.00 11.00 14.Kejar Paket A . Minggu 07.00-16.00-11. Agama/Bimpas Gereja Katedral Bimpas Bimpas Bimpas KPLP Bimker Bimpas Dep.00 5.00-11.00-15. Islam WBP Ag.Pelajaran Agama Kristen .71 mempersiapkan diri.30-09. Islam WBP Ag.30-09.kebersihan Lingkungan .30-09.Musik .Tari / Drama 7.00 11.00 JENIS KEGIATAN .00 .Kebaktian .Qoshidah .Iqra/Baca Al Quran .00-11.00-16.00 13.00 09.00-15.Musik .

Jumlah 9 5 1 5 5 4 .72 Dari jadwal kegiatan Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas IIA Semarang digambarkan dalam tabel sebagai berikut: Tabel 11 Jadwal Kegiatan / Pelajaran di LP Wanita Klas IIA Semarang No 1. Selain itu setiap bulan Ramadhan diadakan ibadah puasa dan sholat tarawih serta tadarus Al Quran. dan Pendidikan Agama Kristen dan Katholik 5 ( lima ) kali dalam seminggu. yaitu untuk Pendidikan agama Islam 9 ( Sembilan ) kali dalam satu minggu. 6. 2. Sedangkan bagi narapidana yang beragama Kristen dan Katholik diadakan kebaktian secara rutin setiap hari sabtu dan pendidikan agama Kristen dan Katholik hampir setiap hari. Sholat Id pada hari Raya Idul Fitri dan Idhul Adha. Serta pada setiap hari Natal diadakan Misa Natal. 4. 5. Kegiatan lain yang diadakan sholat jamaah secara rutin tiap Dhuhur bersama dengan pegawai di Lembaga Pemasyarakatan yang sebelumnya dilaksanakan latihan Iqra atau baca Al Quran. 3. Jenis Kegiatan Pendidikan Agama Islam Pendidikn Agama Kristen/Katholik Pendidikan Umum Pendidikan Ketrampilan Rekreasi Olah raga Data sekunder per September 2005 Dari tabel 11 di atas dapat diketahui bahwa program kegiatan pendidikan agama yang dilaksananakan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang paling banyak dibandingkan dengan program yang lain.

BAPAS sebagai institusi yang melakukan penanganan terhadap narapidana yang mendapatkan asimilasi. kristik dan lain-lain. payet. menyulam. kegiatan konseling dan bimbingan mental. dan setiap hari sabtu dan minggu. pembebasan bersyarat dan cuti menjelang bebas. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Seksi Bimbingan Kerja. Untuk selanjutnya narapidana akan diarahkan sesuai bakat dan ketrampilannya masing-masing dalam mengikuti program ketrampilan. dilaksanakan satu kali dalam seminggu yaitu pada hari Kamis. yaitu pemberantasan buta huruf melalui Program Kejar Paket A yang diikuti oleh Narapidana yang buta huruf sama sekali dan yang tidak tamat SD ( DO SD ). bordir. Pendidikan ketrampilan diadakan 5 (lima) kali dalam satu minggu. hiburan TV setiap hari pada jam satu siang sampai jam dua siang. Kegiatan latihan ketrampilan untuk narapidana antara lain seperti. menjahit. Premi itu disimpan oleh petugas yang akan diberikan kepada narapidana pada saat ia selesai menjalani masa pidananya. Kegiatan rekreasi yang diarahkan pada pemupukan kesegaran jasmani melalui kegiatan olah raga seperti: tennis meja. Bagi narapidana yang bekerja akan diberikan premi. radio serta membaca buku perpustakaan. Pembinaan narapidana di Lembaga Peamasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang idealnya diikuti dengan pembinaan lanjutan. voly dan kasti. Jika BAPAS dapat berperan lebih aktif maka pembinaan lanjutan dapat dilakukan dalam bentuk mencarikan pekerjan dalam bentuk kerja sama dengan perusahaan.73 Pendidikan umum. Berikut ini adalah hasil penelitian dan Wawancara dengan responden narapidana Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang sebanyak 7 .

maka dapat diketahui bahwa jenis pidana yang paling banyak dijatuhkan kepada responden narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang adalah pidana penjara 7 (tujuh ) orang. Berkaitan dengan jenis pidana yang dikenakan terhadap narapidana di Lembaga Pemasyarakatan wanita Semarang dapat diketahui dari tabel berikut ini: Tabel 12 Jenis Pidana Narapidana Responden di LP Wanita Semarang Jenis Pidana Pidana mati Pidana Penjara Pidana kurungan Pidana denda Hasil wawancara 3 Oktober 2005 Jumlah 7 - Dari tabel 12 tersebut diatas. Berkaitan dengan jenis tindak pidana yang dilakukan oleh responden narapidana dapat diketahui dari tabel dibawah ini : Tabel 13 Jenis Tindak Pidana narapidana Responden di LP Wanita Semarang Jenis tindak pidana Penggelapan Narkoba Penipuan pembunuhan Hasil wawancara 3 Okrober 2005 Dari tabel 13 menggambarkan bahwa tindak pidana yang dilakukan oleh narapidana penghuni Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Jumlah 1 2 2 2 .74 (tuju) orang yang terkait dengan praktek pembinaan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan wanita Klas IIA Semarang.

Peringatan bagi narapidana yang melakukan pelanggaran disiplin. tidak menutup kemungkinan dalam proses pembinaan ada narapidana yang melakukan pelanggaran disipilin yang dilakukan terhadap keamanan dan ketertiban. Dalam penelitian kali ini responden yang diambil untuk diteliti dari kasus narkoba. 2. Pemberian sanksi berupa “ tindakan fisik “. penipuan. Seperti pada hasil wawancara yang dilakukan pada responden D umur 32 tahun yang mengatakan bahwa: “Biasanya pelanggaran yang dilakukan Warga Binaan di Lembaga Pemasyaraktan sini adalah merokok dan pertengkaran antar warga Binaan.75 Semarang bervariasi.00 siang” ( Wawancara. penggelapan dan pembunuhan.00 pagi sampai 11. Selanjutnya mengenai pelaksaan pembinaan yang dilakukan oleh petugas pemasyarakatan terhadap narapidana.00 WIB ) Bentuk penanganan lain bagi narapidana yang melakukan pelanggaran disiplin adalah dengan “tindakan fisik”. 6 Oktober 2005: pukul 09. Wawancara dilakukan pada responden A umur 50 tahun yang mengatakan bahwa: . yang bertujuan untuk menyadarkan dan memberi shock therapy dengan melalui beberapa tahapan yaitu: 1. Narapidana diperingatkan secara halus dan diperingatkan supaya tidak mengulangi lagi kesalahannya. Biasanya hukuman yang diberikan adalah dicabutnya remisi dan membersihkan lingkungan dari pukul 07. Tindakan ini dilakukan apabila peringatan secara halus belum juga menyadarkannya. Untuk mengetahui ada tidaknya tindakan fisik di Lembaga Pemasyarakatan Wanita dapat diketahui dari wawancara berikut ini.

3 Oktober 2005: pukul 09. jadi tidak ada penyimpangan dalam pelaksanaan pembinaan. disini banyak sekali kegiatan dan ketrampilan yang sangat bermanfaat. pendapat narapidana dalam menerima program kegiatan tersebut dapat diketahui wawancara berikut ini: Wawancara dilakukan pada responden A umur 21 tahun yang mengatakan bahwa: “Dulu sebelum saya disini saya tidak punya ketrampilan apa-apa.76 “Di Lembaga Pemasyarakatan sini antara petugas dan Warga Binaan seperti keluarga. Asalkan kami disini tidak melakukan pelanggaran maka kami tidak ada hukuman” ( Wawancara. sehingga sekarang saya sudah bisa punya ketrampilan menjahit. Berkaitan dengan program pembinaan. Kegiatan disini sangat bermanfaat sekali buat saya” ( wawancara. Disini petugasnya baik-baik kalaupun ada palingpaling ada Warga Binaan yang melanggar peraturan. itupun hukumannya disesuaikan dengan kesalahan yang dilakukan dan sesuai dengan peraturan yang ada” ( Wawancara.00 WIB ) Pelaksanaan Pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas IIA Semarang sudah berjalan cukup baik terlihat dengan tidak adanya tindakan fisik bagi narapidana yang melanggar peraturan. tapi bagi yang sudah lama disini kegiatan disini sangat membosankan karena kegiatannya cuma itu-itu saja monoton tidak ada variasinya” ( Wawancara.00 WIB ) Wawancara dilakukan pada responden E umur 41 tahun yang mengatakan bahwa: “Selama disini saya tidak pernah melihat adanya penyimpangan dalam program pembinaan.00 WIB ) Wawancara dilakukan pada responden B umur 24 tahun mengatakan bahwa: “Kegiatan disini memang bermanfaat tapi mungkin bagi mereka-mereka yang baru masuk kesini. 3 Oktober 2005: pukul 09. 6 Oktober 2005: pukul 09.00 WIB ) . 6 Oktober 2005: pukul 09.

77 Program pembinaan yang dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang sudah cukup bermanfaat. Namun demikian cap jahatnya itu akan melekat selamanya. Dengan demikian program pembinaan yang dilaksanakan oleh Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA memang sudah sesuai dengan apa yang diharapkan yaitu mempersiapkan narapidana dapat bersikap dan bekerja mandiri saat kelak kembali ke masyarakat. kendatipun narapidana yang bersangkutan misalnya telah menunjukkan rasa tobatnya dan boleh dikatakan tidak mengulangi lagi perbuatan jahatnya. 4. terutama untuk narapidana yang sudah lama menghuni Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas IIA Semarang.5 Perlindungan Hak-Hak Narapidana Wanita Oleh Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang Perlindungan dan pemenuhan terhadap hak-hak narapidana yang sedang menjalani pidana di Lembaga Pemasyarakatan diatur secara tegas dalam Pasal 14 Undang-Undang no. 12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan . Perlu adanya variasi kegiatan bagi narapidana yang menjalani program pembinaan sehingga para narapidana tidak mengalami kebosanan.1. Pandangan masyarakat terhadap narapidana yang seolah-olah apriori itu yang juga disebabkan karena perilaku mereka yang telah lalu sehingga menimbulkan anggapan dalam masyarakat bahwa “ sekali lancung keujian seumur hidup tidak dapat dipercaya” maka itu merupakan “cap” bagi narapidana yang diberikan oleh masyarakat.

Namun sebagai manusia.00 WIB ) Wawancara pada responden E umur 50 tahun yang mengatakan bahwa: “Saya sudah tahu hak-hak saya yang ada dalam Undang-Undang. 6 Oktober 2005: pukul 09. saya disini benar-benar diperhatikan oleh para petugas di LP ini” ( Wawancara.00 WIB ) Pemenuhan hak-hak yang dilakukan oleh Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang sudah cukup baik artinya bahwa Lembaga . narapidana tetap tidak kehilangan hak-haknya sebagai manusia. Disini semua hak-hak saya dipenuhi” ( Wawancara. disini saya tidak merasa hak-hak saya dilanggar. Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang dalam proses pembinaan narapidana. Berikut ini adalah hasil penelitian dan wawancara yang dilakukan terhadap 7 ( tuju ) orang responden narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Semarang yang berkaitan dengan pemenuhan hak-hak narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang.78 dan juga secara Internasional dalam Standar Minimum Regional ( SMR ) PBB dimana Indonesia juga telah meratifikasinya. Seorang narapidana yang telah menjalani pidananya di Lembaga Pemasyarakatan dikatakan telah kehilangan kemerdekaan bergeraknya. 3 Oktober 2005: pukul 09. Berkaitan dengan pemenuhan hak-hak narapidana responden berpendapat seperti pada wawancara berikut ini: Wawancara pada responden A umur 21 tahun yang mengatakan sebagai berikut: Saya mengetahui hak-hak saya yang ada dalam Undang-Undang dan disini hak-hak saya sudah terpenuhi semua. juga tetap berupaya untuk memenuhi hak-hak narapidana sesuai dengan ketentuan yang ada. asalkan kita patuh pada peraturan yang ada.

Wawancara pada responden A umur 21 tahun mengatakan bahwa: “Disini kegiatan agamanya sangat bermanfaat bagi saya. Melakukan ibadah sesuai dengan agama atau kepercayaannya Pendidikan agama di Lembaga Pemasyarakayan Wanita Klas IIA Semarang menempati urutan pertama dalam jadwal kegiatan. 3 Oktober 2005: pukul 09. Bagi narapidana yang belum dapat sholat dibimbing secara intensif baik di dalam kamar oleh narapidana yang telah ditunjuk maupun dalam ruang pendidikan oleh petugas pembimbing sampai mereka betul-betul dapat sholat dengan baik dan benar. dulu saya tidak bisa membaca Al Quran tapi sekarang saya sudah bisa membaca Al Quran” ( Wawancara. Disini juga diajarkan membaca Al Quran.79 Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang sudah berusaha semaksimal mungkin untuk berusaha memenuhi hak-hak para Warga Binaan yang menghuni LP sesuai dengan peraturan yang ada. Selain itu pada setiap sholat Dhuhur dilaksanakan sholat secara berjamaah didalam Masjid Nurul Iman di . diwajibkan untuk melaksanakan sholat lima waktu dengan baik dan benar.00 WIB ) Bagi narapidana yang beragama Islam. Praktek pemenuhan hak-hak narapidana yang diberikan Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang adalah sebagai berikut: 1. Oleh karena itu bagi narapidana yang baru saja masuk ke Lembaga Pemasyaraktan akan diadakan pengecekan apakah narapidana sudah menjalankan sholat atau belum. Hal ini disebabkan pendidikan agama memegang peranan penting dalam pembinaan narapidana selama menjalani pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. Disini kami diberi kebebasan untuk menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya.

baik perawatan rohani maupun jasmani. 2.00 WIB ) Bagi narapidana yang melahirkan saat melahirkan maka dapat melahirkan di Lembaga Pemasyarakatan tapi apabila tidak memungkinkan untuk melahirkan di Lembaga Pemasyarakatan maka pasien dibawa ke RSUP Dr. Wawancara dilakukan pada responden D umur 32 tahun yang mengatakan bahwa: “Disini kami melakukan keiatan sesuai dengan jadwal yang ada. tapi kalau sedang menstruasi dan perut sakit maka saya diijinkan untuk istirahat” ( Wawancara. Salah satu hak-hak narapidana adalah mendapat perawatan baik jasmani maupun rohani. Mendapat pendidikan dan pengajaran Mendapatkan pendidikan dan pengajaran merupakan salah satu bentuk pembinaan yang dilakukan oleh Lembaga Pemasyarakatn Wanita Klas IIA Semarang. Perawatan jasmani maupun rohani di Lembaga Pemasyarakatan Wanita klas IIA Semarang dilakukan sesuai dengan peraturan yang ada. Wawancara pada responden C umur 43 tahun mengatakan bahwa: . Mendapat perawatan. Karyadi Semarang. Sebelum diadakan Sholat Dhuhur berjamaah sebelumnya diadakan latihan Iqra. kalau saya sedang menstruasi kalau tidak sakit maka kami melakukan kegiatan seperti biasanya.80 lingkungan Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang. 3. yang harus diikuti oleh semua narapidana. 6 oktober 2005: pukul 09. terutama untuk narapidana yang buta huruf maupun narapidana yang tidak tamat SD dan yang tidak lancar membaca.

Bila nanti ada pengantinya maka kegiatan harus dimulai dari awal kembali. Mendapat pelayanan kesehatan dan makanan yang layak Pelayanan kesehatan dan makanan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas IIA Semarang dapat diketahui dalam wawancara dibawah ini: Wawancara pada responden D umur 32 tahun yang mengatakan bahwa: “Makanan disini lumayan bervariasi. 3 Oktober 2005: pukul 09. sekarang saya sudah sedikit bisa membaca dan menulis” ( Wawancara.81 “Saya tidak bisa membaca dan menulis.00 WIB ) Hal senada juga diungkapkan seperti dalam wawancara dibawah ini: Wawancara pada responden A umur 21 tahun mengatakan bahwa: “Dulu sebelum masuk kesini saya sama selaki tidak bisa membaca dan menulis. disini saya diajari untuk bisa membaca dan menulis. disini saya diajari membaca dan menulis melalui Kejar Paket A. Yang menjadi kendala adalah program ini tidak berjalan dengan tuntas. karena narapidana sering tidak menyelesaikan kegiatannya karena narapidana yang bersangkutan sudah selesai menjalani masa pidananya padahal programnya belum selesai.00 WIB ) Bentuk kegiatan pendidikan dan pengajaran yang diberikan berupa kegiatan Kejar Paket A yang diperuntukkan bagi narapidana yang buta huruf sama sekali dan bagi narapidana yang tidak tamat SD ( DO SD ). 6 Oktober 2005: pukul 09.00 WIB ) Sehubungan dengan standar dan gizi serta variasi makanan dapat diketahui dari wawancara pada responden dibawah ini: Wawancara pada responden E umur 41 tahun mengatakan bahwa: . 4. walaupun tidak ada menu susunya tapi bisa diganti dengan buburkacang ijo” ( Wawancara. sekarang saya bisa membaca dan menulis” ( Wawancara. 3 Oktober 2005: pukul 09.

6 Oktober 2005: pukul 09.00 WIB ) Narapidana setiap saat dapat menyampaikan keluhan baik pada saat pelaksaan pembinaan maupun secara langsung menemui Wali napi. 6. Mendapatkan bahan bacaan dan mengikuti siaran media massa lainnya yang tidak dilarang Mendapat bahan bacaan dan siaran media massa lainnya yang tidak dilarang bertujuan agar narapidana tidak ketinggalan jaman dan dapat mengikuti perkembangan dunia luar. Apabila membutuhkan penanganan lebih lanjut maka narapidana yang sakit akan dibawa ke Rumah sakit atau Puskesmas terdekat. 5.00 WIB ) Pelayanan kesehatan bagi narapidana yang membutuhkan dapat dilayani di klinik kesehatan yang terdapat di Lembaga Pemasyarakatan. paling-paling kalau ada . sudah cukup bergizi dan bervariasi” ( Wawancara. 6 Oktober 2005: pukul 09. Menyampaikan keluhan Menyampaikan keluhan merupakan salah satu hak narapidana seperti pada wawancara terhadap narapidana dibawah ini: Wawancara pada responden D umur 50 tahun mengatakan bahwa: “Disini saya bisa menyampaikan keluhan pada petugas disini.82 “Saya rasa makanan di LP ini sudah cukup memenuhi standart. apalagi keluarga saya jarang sekali datang sejak saya di LP ini kerena rumah jauh dan tidak ada biaya untuk kesini” ( Wawancara. Pelayanan kesehatan ini juga dilengkapi denagan tenaga dokter yang bertugas. Wawancara pada responden D umur 32 tahun mengatakan bahwa: “Disini disediakan buku perpustakaan tapi disini bukunya sudah lamalama dan jumlahnya sedikit jadi bosen.

6 Oktober 2005: pukul 09.00 WIB ) Dari wawancara di atas dapat disimpulkan bahwa siaran televisi tidak semuannya dapat ditonton oleh para narapidana. hal itu untuk menjaga jiwa para narapidana agar tidak terganggu kalau ada berita yang menyangkut mereka” ( Wawancara 6 Oktober 2005 pada pukul 09.00 WIB ) Wawancara pada responden E umur 41 tahun mengatakan bahwa: “Disini kami boleh mendengarkan radio dikamar itupun radio yang satu band. sehingga mereka merasa dihargai atas pekerjaannya selama ini.00 WIB ) Wawancara pada responden C umur 43 tahun mengatakan bahwa: “Disini saya mendapat premi dari kegiatan saya didapur. premi itu diberikan dalam bentuk bon karena disini uang tidak boleh beredar” ( Wawancara.00 WIB ) .00 WIB ) Menurut Sri Utami. kalau Koran kami tidak diperbolehkan membaca. Kalau nonton TV setiap hari pada jam satu siang sampai jam dua siang dan pada hari libur” ( Wawancara. 3 Oktober 2005: pukul 09. 6 Oktober 2005: pukul 09.83 perpustakaan keliling yang datang setiap hari jumat. dan siaran TV itupun tidak boleh berita. hal ini disesuaikan dengan kondisi kejiwaan para narapidana yang dirasa tidak perlu untuk mengikuti siaran-siaran yang dapat membuat para narapidana jiwanya menjadi resah. karena saya tidak bisa ketrampilan apa-apa. kami hanya nonton hiburan saja” ( Wawancara. 6 Oktober 2005: pukul 09. saya hanya bisa memasak” ( Wawancara. 7. Mendapatkan upah atau premi atas pekerjaan yang dilakukan Narapidana mendapat premi atas pekerjaan yang dilakukan . Wawancara pada responden D umur 32 tahun yang mengatakan bahwa: “Disini saya dapat premi dari ketrampilan bordir saya. staf BIMPAS mengatakan bahwa: “Para narapidana memang dilarang untuk membaca Koran dan mengikuti siaran berita di TV.

Wawancara pada responden C umur 32 tahun mengatakan bahwa: . dimana para narapidana bisa menggunakan uangnya yang ditulis dalam buku catatan kecil. Kegiatan kunjungan ini berlangsung di ruang kunjungan sehingga memudahkan proses komunikasi antara pihak pengunjung dan narapidana.84 Upah atau premi berikan kepada narapidana yang bekerja di Bimbingan kerja. karena kalau lebaran jam kunjungannya lebih lama dari jam kunjungan hari-hari biasa”. ( Wawancara. Mendapat pengurangan masa pidana ( remisi ) Setiap narapidana berhak mendapat remisi yang disesuaikan dengan kelakuan para narapidana selama menjalani masa pidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. 3 Oktober 2005: Pukul 09. Uang beredar dalam bentuk kartu uang.00 ) 9. 8. Menerima kunjungan keluarga. Hal ini sesuai dengan ketentuan bahwa selama menjalani pidananya di Lembaga Pemasyarakatan narapidana tidak diperbolehkan membawa uang. penasehat hukum atau orang tertentu lainnya. Namun upah atau premi itu tidak langsung diberikan kepada narapidana melainkan akan diberikan kepada narapidana pada saat ia selesai menjalani masa pidananya. Para narapidana sesuai dengan jadwal yang ada berhak untuk mendapat kunjungan keluarga maupun orang-orang lainnya. Wawancara dengan responden A umur 24 tahun mengatakan bahwa: “Keluarga saya biasanya mengunjungi saya setiap lebaran.

11. Mendapatkan pembebasan bersyarat Berdasarkan data yang diperoleh periode januari 2004 sampai dengan Desember 2004 terdapat 8 orang narapidana yang mendapat pembebasan bersyarat. lumayan bisa mengurangi lamanya saya disini” ( Wawancara.00 WIB ) Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang sudah cukup baik dalam memberikan hak-hak narapidana. Remisi dicabut apabila narapidana melakukan kesalahan seperti terjadi perkelahian antar narapidana yang menyebabkan salah satu narapidana terluka. Mendapat cuti menjelang bebas. Hampir semua narapidana dapat memanfaatkan kegiatan asimilasi dan cuti mengunjungi keluarga. 3 Oktober 2005: Pukul 09. 10. semua narapidana berkesempatan mendapatkan remisi. apabila berkelakuan baik selama masa pembinaan. 3 Oktober 2005: pukul 09.00 WIB ) Wawancara pada responden A umur 21 tahun mengatakan bahwa: “saya disini sudah dua tahun dari masa hukuman saya yang sembilan tahun. sudah . 12. Dalam asimilasi narapidana harus memenuhi syarat-syarat yang harus dipenuhi seperti syarat menjalani 2/3 dari masa pidana dan berkelakuan baik. kemarin saya mendapat remisi enam setengah bulan. karena saya berkelakuan baik” ( Wawancara. Mendapatkan kesempatan berasimilasi termasuk cuti mengunjungi keluarga.85 “Waktu hari kemerdekaan tanggal tujuh belas Agustus kemarin saya mendapat remisi selama empat bulan.

ruang pengobatan dan lainnya” ( Wawancara. . Seperti adanya Masjid. dan adanya perpustakaan keliling yang datang setiap hari jumat. terutama untuk pemenuhan hak-hak narapidana. Mendapatkan hak-hak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Perpustakaan Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang berada di sebelah ruang Bimbingan dan Kemasyarakatan.86 13. Hanya saja kurangnya koleksi di perpustakaan tersebut membuat para narapidana kurang memaksimalkan keberadaan perpustakaan tersebut.00 WIB ) Wawancara terhadap responden C umur 50 tahun yang mengatakan bahwa: “Walaupun tidak seperi di rumah sendiri. 6 Oktober 2005: pukul 09. tapi di sini sarana dan prasaranya sudah cukup memadai. Hal ini terlihat dengan terrawatnya sarana dan prasarana serta adanya pemanfaatan secara maksimal sarana dan prasarana tersebut yang terdapat di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. Wawancara terhadap responden E umur 44 tahun mengatakan bahwa: “Disini sarana dan prasaranya sudah cukup baik.00 WIB ) Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang dalam memenuhi sarana dan prasarana sudah cukup baik. 6 Oktober 2005: pukul 09. terutama sarana dan prasarana yang mendukung pemenuhan hak-hak kami sini. cukup untuk mendukung hak-hak kami selama disini” ( Wawancara. Berkaitan dengan sarana prasarana pendukung pemenuhan hak-hak narapidana dapat diketahui dari wawancara berikut ini. perpustakaan. Berkaitan dengan pemenuhan hak narapidana untuk mendapatkan bahan bacaan tersedia sarana perpustakaan yang dibuka setiap hari.

hal ini untuk menjaga ketenangan jiwa para narapidana yang menghuni Lembaga Pemasyarakatan tesebut. Secara keseluruhan Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang dapat dikatakan telah berupaya semaksimal mungkin dalam pemenuhan hak-hak narapidana. Karena dikwatirkan apabila ada siaran berita yang menyangkut diri narapidana malah akan menambah resah narapidana tersebut. Narapidana tidak diperkenankan untuk melihat siaran berita ditelevisi.00 WIB ) Problem klasik ini tampaknya memerlukan perhatian yang lebih baik dari pihak-pihak yang berkaitan dengan kegiatan di Lembaga Pemasyarakatan. Jika dalam prakteknya masih terdapat kekurangan tak lain disebabkan pada masalah dana. siaran televisi itu dibatasi hanya seputar hiburan saja. Dengan menonton acara hiburan di televisi.87 Siaran media televisi diperbolehkan untuk diikuti para narapidana sebagai rekreasi di hari minggu atau hari besar. Wawancara dengan Tri Utami staf BIMPAS yang mengatakan bahwa: “Kendala dalam pelaksanaan pembinaan adalah kurangnya dana. tapi selama ini masalah tersebut dapat diatasi sehingga pelaksanaan pembinaan dapat berjalan dengan lancar” ( Wawancara. diharapkan para narapidana tetap dapat mengikuti perkembangan keadaan di luar Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. . 8 September 2005: pukul 09.

88

4.2

Pembahasan Pembinaan narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang dilakukan dengan empat tahap. Tahap awal yaitu sejak diterima sampai sekurang-kurangnya ½ dari masa pidana yang diterimanya. Tahap kedua yaitu pembinaan lanjutan diatas 1/3 sampai sekurang-kurangnya ½ dari masa pidana yang sebenarnya. Tahap ketiga yaitu pembinaan lanjutan ½ sampai sekurangkurangnya 2/3 dari masa pidana yang sebenarnya. Tahap keempat yaitu tahap pembinaan lanjutan diatas 2/3 dari masa pidanannya. Narapidana adalah seseorang yang kehilangan kemerdekaan karena melakukan tindak pidana berkaitan dengan hal tersebut, hak-hak narapidana sebagai warga negara tetap dilindungi baik oleh Pemerintah maupun oleh Lembaga Pemasyarakatan dimana narapidana tersebut berada. Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang dalam memberikan hak-hak kepada narapidana Wanita adalah pemberian hak-hak dengan pembatasan-pembatasan tertentu. Praktek pemenuhan hak-hak narapidana yang diberikan oleh Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang, seperti: hak untuk untuk beribadah sesuai dengan agama dan kepercayaanya. Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA kegiatan agamanya sangat menonjol, harapannya dengan kegiatan keagamaan tersebut para narapidana dapat mempertebal keimanannya dan menyadari kesalahan mereka sehingga setelah mereka keluar nanti mereka dapat berperan aktif dalam masyarakatan tanpa canggung. Kegiatan keagamaan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang, dilaksanakan setiap hari, yaitu sembilan kali untuk pendidikan agama Islam dan lima kali dalam seminggu untuk

89

pendidikan agama Kristen dan Katholik. Diadakanya sholat Dhuhur berjamaah, pembicaan Iqra, sholat taraweh pada bulan Ramadhan dan untuk Kristen katholik diadakannya kebaktian dan diadakannya Misa Natal. Kegiatan-kegiatan para narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang, seperti kegiatan keagamaan, ketrampilan, olah raga dan kegiatan lainnya dilakukan dengan kesadaran dari para narapidana sendiri, karena mereka sadar bahwa apa yang dilakukan di Lembaga Pemasyarakatan adalah bekal mereka di kemudian hari saat mereka kembali kepada masyarakat. Agar mereka dapat menjadi manusia yang berguna bagi nusa dan bangsa. Kegiatan para narapidana di Lembaga Pemasyarakatan berkaitan dengan fungsi hukum yaitu hukum sebagai sarana rekayasa sosial. Salah satu ciri yang menonjol dari hukum pada masyarakat modern adalah penggunaanya secara sadar kepada

masyarakatnya Disini hukum tidak hanya dipakai untuk mengukuhkan pola-pola melainkan juga untuk mengarahkan kepada tujuan-tujuan yang dikehendaki, menghapuskan kebiasaan yang dipandang tidak sesuai lagi, menciptakan pola-pola kelakuan baru dan lain sebagainya ( Satjipto Raharjo, 1996:206 ) Para narapidana juga mendapat perawatan jasmani dan rohani dari Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. Untuk narapidana yang tidak bisa membaca dan menulis diadakan program Kejar Paket A yang diadakan sekali dalam seminggu. Kendala dalam Kejar Paket A adalah apabila para narapidana yang ikut program tersebut belum bisa membaca dan menulis tapi sudah bebas, untuk narapidana yang baru berarti harus mulai dari awal lagi. Makanan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang sudah cukup layak serta bervariasi, karena untuk menu dan jumlah takaran makanan untuk

90

semua Lembaga Pemasyarakatn di Indonesia adalah seragam.

Pelayanan

kesehatan juga disediakan bagi narapidana yang sakit, apabila di Lembaga Pemasyarakatan tidak bisa menangani maka dapat dirujuk di puskesmas atau RSUP Dr Karyadi. Selain itu setiap narpidana dapat menyampaikan keluhan pada petugas pembinaan. Petugas siap kapan pun para narapidana ingin menyampaikan keluhan mereka. Narapidana mendapat bahan bacaan dan mengikuti siaran media massa lainnnya yang tidak dilarang tetapi dengan batasan-batasan tertentu. Berbeda dengan Lembaga Pemasyarakatan Pria, dimana narapidana pria dapat mengikuti perkembangan berita dari televisi, tapi di Lembaga Pemasyarakatan wanita Klas IIA Semarang tidak diperkenankan untuk mengikuti siaran berita di televisi, mereka hanya diperbolehkan untuk menonton acara yang bertema hiburan. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa narapidana Wanita tidak perlu untuk menonton acara yang dapat menggangu jiwa mereka, karena bisa saja salah satu acara televisi tersebut menyangkut mereka sehingga jiwa mereka tidak tenang. Begitu juga dengan membaca koran maupun majalah yang lain, hal itu disebabkan juga dengan alasan yang sama dengan siaran televisi. Untuk membaca koran dan majalah para narapidana mendapat dari keluarganya yang mengujungi pada jadwal berkunjung itupun secara sembunyi-sembunyi. Seperti hak-hak diatas, hak-hak untuk mendapatkan informasi juga dibatasi dengan tujuan-tujuan tertentu. Untuk menonton televisi mereka dapat menonton setiap hari pada pukul satu siang sampai pukul dua siang dan pada hari libur. Bahan bacaan dapat mereka peroleh dari perpustakaan Lembaga Pemasyarakatan dan perpustakaan keliling yang datang satu minggu sekali pada hari jumat. Kurangnya koleksi perpustakaan

Remisi dapat dicabut apabila narapidana melakukan kesalahan. Setiap narapidana berhak mendapatkan remisi atau pengurangan masa pidana. hal ini disebabkan jauhnya jarak rumah keluarga mereka dan tidak adanya dana untuk mengunjungi mereka. . Premi tersebut dalam bentuk bon karena dalam Lembaga Pemasyarakatan tidak diperbolehkan uang untuk beredar.91 Lembaga Pemasyarakatan menyebabkan kurang dimaksimalkan perpustakaan tersebut oleh para narapidana. Untuk hal ini syarat yang harus ditempuh sangat rumit dimana harus adanya persetujuan daru pihak RT dimana narapidana tersebut bertempat tinggal untuk mendapatkan ijin apakah narapidana tersebut dapat diterima untuk mendapatkan pembebasan bersyarat. Setiap narapidana yang mengikuti kegiatan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang yang berhubungan dengan ketrampilan mendapatkan premi atas pekerjaan yang mereka lakukan. Para narapidana berhak untuk menerima kunjungan dari keluarga. Remisi diberikan kepada narapidana yang memenuhi syarat untuk menerima remisi tersebut. Hanya saja untuk narapidana yang luar kota mereka jarang sekali dikunjungi oleh keluarga mereka. Para narapidana juga mendapat cuti menjelang bebas dan mendapatkan hak-hak sesuai dengan peraturan yang berlaku. misalnya terjadi perkelahian antar narapidana yang menyebabkan salah satu diantara mereka terluka. Selain itu para narapidana juga mendapatkan kesempatan berasimilasi termasuk cuti untuk mengunjungi keluarga serta mendapatkan pembebasan bersyarat. Padahal kunjungan dari pihak keluarga sangat mereka butuhkan untuk menunjukkan bahwa mereka masih peduli terhadap keluarga mereka yang berada di Lembaga Pemasyarakata. penasehat hukum dan orang tertentu lainnya.

Narapidana Wanita Yang baru melahirkan tersebut dapat menyusui bayinya sampai usia enam bulan. Narapidana wanita yang hamil dapat melahirkan didalam Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. dimana narapidana Wanita mempunyai keistimewaan khusus yang tidak dimiliki oleh narapidana pria yaitu narapidana Wanita mempunyai siklus seperti menstruasi. jadi bayi tersebut dapat ikut ibunya di Lembaga Pemasyarakatan. tetapi apabila saat menstruasi narapidana wanita tersebut tidak sakit maka narapidana Wanita tersebut tetap dapat melakukan kegiatan sesuai dengan jadwal yang telah ada. Jadi untuk narapidana Wanita yang menstruasi tidak mendapat izin untuk istirahat apabila narapidana Wanita tersebut tidak sakit. apabila di Lembaga Pemasyarakatan wanita Semarang tersebut tidak dapat menaggani maka pihak Lembaga Pemasyarakatan tersebut merujuk ke Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat. melahirkan serta menyusui maka di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang memberikan izin untuk istirahat dari kegiatan yang tertulis dijadwal kepada narapidana wanita yang sedang menstruasi apabila pada saat menstruasi narapidana wanita tersebut sakit. untuk makanan bayi diperoleh dari keluarganya yang berada diluar Lembaga Pemasyarakatan. melahirkan dan menyusui. hamil. Bayi tersebut tidak mendapat jatah makanan dari Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang dan untuk ibunya tetap mendapat jatah makanan dari Lembaga Pemasyarakatan. . hamil.92 Narapidana Wanita tentunya berbeda dengan narapidana pria. sehingga mereka tidak mendapat keistimewaan dari narapidana lain yang sedang tidak menstruasi. Hak-hak narapidana Wanita yang berhubungan dengan hal-hal tersebut diatas seperti menstruasi.

Hubungan antara narapidana dengan petugas Lembaga Pemasyarakatn Wanita Klas IIA Semarang sangat dekat sehingga tidak terjebak antara petugas dan narapidana sehingga pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas berjalan dengan baik. tetapi ada pembatasan-pembatasan pada hak-hak tertentu. IIA Semarang dapat .93 Secara keseluruhan Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang sudah cukup baik dalam pemenuhan hak-hak narapidana di Lembaga tersebut.

2 Saran Saran dalam penelitian skripsi ini adalah : 1.12 tahun 1995 tentang pemasyarakatan secara khusus ada hal-hal yang tertentu yang dalam prakteknya dibatasi seperti dibatasinya tontonan televisi yang hanya pada acara-acara tertentu saja. 2. Secara umum perlindungan hak-hak narapidana yang diberikan oleh Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang sudah sesuai dengan UndangUndang No. sebagai salah satu unsur partisipasi masyarakat dengan 94 .1 Simpulan Dari hasil penelitian dan pembahasan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Perlu di efektifkannya wadah konsultasi semacam bimbingan dan konseling bagi para narapidana yang sedang menghadapi suatu permasalahan dalam proses pembinaan narapidana.12 tahun 1995 tentang pemasyarakatan. 5. kurangnya bahan bacaan yang tersedia di perpustakaan. 2. Pentingnya mensosialisasikan kegiatan pembinaan narapidana pada masyarakat. secara khusus ada beberapa hal yang kurang sesuai antara lain dibatasinya informasi khususnya dari majalah dan koran.94 BAB V PENUTUP 5. Secara umum praktek penyelenggaraan pembinaan narapidana Wanita di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang sudah sesuai dengan Undang-Undang No.

.95 mengikutsertakan seluruh kemampuan dan dana masyarakat untuk ikut peduli terhadap kegiatan pembinaan narapidana. 3. misalnya pihak swasta membantu menyediakan sarana ketrampilan dan sebagai timbal baliknya para narapidana dipekerjakan pihak swasta tersebut. misalnya dengan cara masyarakat berperan sebagai penyelenggara pemeran untuk memasarkan karya ketrampilan para narapidana. Pentingnya peran kalangan swasta sebagai pihak ketiga untuk ambil bagian dalam proses pembinaan narapidana dengan mengadakan kerja sama dalam proses pemasyarakatan narapidana.

1996. Lembaga Pemasyarakatan Dalam Prespektif Sistem Peradilan Pidana Penjara. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. L. Jakarta: Elsam Harsono. Jakarta: Sinar Grafika Soekanto. Petrus dan Simorangkir. 1988.96 DAFTAR PUSTAKA Arief. dan Achyani. j. Zulfa. Bambang. Hukum Pidana Materiil. Pengantar Penelitian Hukum. 1993. 2001. Kamus Umum Bahasa Indonesia.1996. Simanjuntak. 1995. Pandapotan. Barda Nawawi. 1991. Pelaksanaan SistemPemasyarakatan. Bandung: Remaja Roda Jaya Muladi dan Arief. Jakarta: UI Press Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan W. Irwan. Jakarta: Djambatan Moeljatno. 1984. 1995. I. Alumni: Bandung Soeharto. Nawawi. 2001. Teori-teori Dan Kebijakan Pidana . Sistem Baru Pembinaan Narapidana. Barda. Teori-teori Kebijakan Pidana. Satjipto. Bandung: Alumni Panjaitan. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.Hak-hak Narapidana. Metode Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rineka Cipta Moleong. Jakarta: Balai Pustaka . Lexi. B dan Pasaribu. 1996.S Poerwadarminta. Ilmu Hukum. 1998. Bandung: Citra Aditya Bakti -----------. 1986.J. 2001. Yogyakarta: Liberty Pidana Penjara Dengan Rahardjo. Asas-Asas Hukum Pidana. Kriminologi. Jakarta: Bumi Aksara Moeljatno. Bandung: Citra Aditya Bakti Santoso. Soerjono. Topo. Bunga Rampai Kebijakan hukum Pidana. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan Poernomo.

97 PEMBINAAN NARAPIDANA MELALUI SISTEM PEMASYARAKATAN KAITANNYA DENGAN HAK-HAK NARAPIDANA DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN WANITA KLAS IIA SEMARANG Skripsi Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Universitas Negeri Semarang Oleh Waspiah NIM: 3450401068 FAKULTAS ILMU SOSIAL JURUSAN HUKUM DAN KEWARGANEGARAAN 2006 .

Ag NIP: 130607620 Drs.Si NIP: 132067383 Mengetahui Ketua Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Drs. Suhadi. M.M.98 PERSETUJUAN PEMBIMBING Skripsi ini telah di setujui oleh Pembimbing untuk diajukan kesidang panitia ujian skripsi pada: Hari : Tanggal: Pembimbing I Pembimbing II Drs.Si NIP: 131764048 ii . M. Eko Handoyo. Abdul Rasyid W.

Si NIP : 132067383 Mengetahui Dekan Drs. Universitas Negeri Semarang pada: Hari : Selasa Tanggal: 28 Februari 2006 Penguji Skripsi Drs. M. 130809956 Anggota I Anggota II Drs.Hum NIP. M.Ag NIP: 130607620 Drs. Abdul Rasyid W. Suhadi M.99 PENGESAHAN KELULUSAN Skripsi ini telah dipertahankan di depan panitia ujian skripsi Fakultas Ilmu Sosial. Herry Subondo. MM NIP: 130367998 iii . Sunardi.

baik sebagian atau seluruhnya. Semarang Waspiah NIM. bukan jiplakan dari karya tulis orang lain. 3450401068 iv .100 PERNYATAAN Saya menyatakan bahwa yang tertulis dalam skripsi ini benar-benar hasil karya saya sendiri. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

101 MOTTO DAN PERSEMBAHAN “Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsumu karena ingin menyimpang dari kebenaran” ( QS. Ali Imron:135 ) “Orang yang arif bijaksana itu suka memaafkan kesalahan orang lain. Dan setiap orang selalu mencari kebenaran. Zaki ) yang lucu-lucu Untuk sesuatu hal yang selalu membuat aku bersemangat Sahabat-sahabatku yang setia dalam suka maupun duka ( Juli dan Sista ) Angkatan 2001 Almamaterku v . Karena ia insyaf bahwa setiap yang berakal selalu mencari kebenaran. Bintang. Jika ia menghadapi kesulitan tentu orang lainpun akan demikian juga halnya. maka dalam hidup dan kehidupannya pasti ia menemui kesulitan. Maka sudah pada tempatnyalah orang yang bersalah itu dimaafkan” ( Avicenna ) Skripsi ini ku persembahkan untuk: Ayah dan Bunda tercinta Kakak-kakakku dan adik-adikku tersayang Ketiga ponakanku ( Ara.

dan ridho-Nya. Drs. SH Kepala Lembaga Pemasyarakatan Wanita Kelas IIA Semarang 8. M. Segenap karyawan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang vi . F. Drs. Widiatiningrum Bc.Si. Abdul Rasyid W.IP Kepala Subseksi BIMPAS di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang.Ag. MM Koordinator Urusan Pemasyarakatan Departemen Kehakiman dan HAM Jawa Tengah 7. Pada kesempatan ini. Penulis menyampaikan terima kasih atas bimbingan. S. IP. DR. Sutomo Rahardjo. AT. dapat diselesaikan.MM Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang 3. 9. sehingga penulisan skripsi dengan judul Pembinaan Narapidana Melalui Sistem Pemasyarakatan Kaitannya Dengan Hak-Hak Narapidana Di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. Sunardi.IP. Selesainya penulisan skripsi ini tidak terlepas dari peran beberapa pihak.Si Dosen pembimbing II yang membantu dan sabar dalam membimbing penulisan skripsi ini 6. SH. Suhadi. Rektor Universitas Negeri Semarang 2. hidayah. arahan dan bantuan kepada: 1. H. Bc. Drs. Eko Handoyo.102 PRAKATA Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat. M. IP. Ketua Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Universitas Negeri Semarang 4. MM. Dosen Pembimbing I yang membantu dan membimbing sehingga selesainya penulisan skripsi ini 5. Soegito. M. Drs. Susana Tri Agustin Bc.

Ayah Bunda. Harapan penulis. semoga skripsi ini berguna bagi para Pembaca yang budiman. 2006 Penyusun vii . Narapidana Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang 11. Semarang. kakak-kakakku serta adik-adikku tersayang yag telah memberikan kasih sayang kepadaku. 12. Semoga Allah SWT membalas budi dan bantuan serta bimbingan yang telah diberikan dalam penulisan skripsi ini.103 10. Semua pihak yang telah membantu demi selesainya skripsi ini.

Jurusan Hukum dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. Secara umum para narapidana merespon kegiatan pembinaan dan memandang bahwa kegiatan tersebut masih diperlukan agar mereka mempunyai bekal baik mental. Secara umum perlindungan hak-hak narapidana yang diberikan oleh Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang sudah sesuai dengan Undang-Undang No. ketrampilan dan olah raga. fisik.12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan. Permasalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah ( 1 ) bagaimanakah praktek penyelenggaraan pembinaan narapidana wanita menurut Undang-Undang no. dan Drs. namum secara khusus ada hal-hal tertentu yang dalam prakteknya dibatasi seperti dibatasinya acara menonton televisi yang hanya pada acara-acara tertentu saja. Sering dijumpai dalam Lembaga Pemasyarakatan bahwa hak narapidana belum diberikan sesuai dengan hak mereka sebagai warga negara. dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya kurang dipahaminya peraturan mengenai hak-hak narapidana yang tertuang dalam undang-undang oleh petugas Lembaga Pemasyarakatan atau bahkan oleh para narapidana sendiri. 12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang ? (2) Bagaimanakah perlindungan yang diberikan oleh Lembaga Pemasyarakatan Wanita Semarang Klas IIA Semarang terhadap hak-hak narapidana wanita ?.12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan. haruslah dilakukan sesuai dengan Hak Asasi Manusia. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hak-hak narapidana diberikan dengan adanya pembatasan-pembatasan pada hak-hak tertentu. rekreasi. Hak-Hak Narapidana Hak-hak narapidana wanita sebagai warga negara Indonesia yang hilang kemerdekaannya karena melakukan tindak pidana.Ag.Si. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan secara umum praktek penyelenggaraan pembinaan narapidana Wanita di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang sudah sesuai dengan Undang-Undang No. Lokasi penelitian ini adalah Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. namun secara khusus ada beberapa hal yang kurang sesuai antara lain dibatasinya informasi khususnya dari majalah dan koran.12 tahun 1995 tentang Pemasyarakatan. Data ini dianalisis dengan menggunakan metode interaktif dan disajikan dalam bentuk data yang bersifat deskriptif. kurangnya bahan bacaan yang tersedia di perpustakaan. 96h Kata Kunci: Pola Pembinaan. Sarjana Hukum. Untuk kegiatan diluar lembaga meliputi cuti menjelang bebas dan pembebasan bersyarat. M. Pembinaan Narapidana Kaitannya dengan Hak-Hak Narapidana Di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang. Narapidana Wanita. viii . maupun sosial yang baik.104 SARI Waspiah 2006. (2) untuk memperoleh informasi tentang perlindungan hak-hak narapidana yang diberikan oleh Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif . Adapun untuk kegiatan pembinaan dalam lembaga meliputi pendidikan agama. Drs. Suhadi. Penelitian ini bertujuan ( 1 ) untuk mengetahui praktek penyelengaraan pembinaan narapidana wanita. observasi dan wawancara. M. Abdul Rasyid W. menurut undang-undang No.

sebagai salah satu unsur partisipasi masyarakat dengan mengikutsertakan seluruh kemampuan dan dana masyarakat untuk ikut peduli terhadap kegiatan pembinaan narapidana. misalnya dengan cara masyarakat berperan sebagai penyelenggara pemeran untuk memasarkan karya ketrampilan para narapidana.105 Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan pentingnya mensosialisasikan kegiatan pembinaan narapidana pada masyarakat. Pentingnya peran kalangan swasta sebagai pihak ketiga untuk ambil bagian dalam proses pembinaan narapidana dengan mengadakan kerja sama dalam proses pemasyarakatan narapidana. ix . misalnya pihak swasta membantu menyediakan sarana ketrampilan dan sebagai timbal baliknya para narapidana dipekerjakan pihak swasta tersebut.

.................................................................2 Pengertian Tindak Kejahatan…………………………………........................................................ MOTTO DAN PERSEMBAHAN........................................................................................................... 1...............1 Pengertian Tindak Pidana ................................................................................................ PENGESAHAN ..........................2 Identifikasi dan Pembatasan Masalah........................ SARI ..........................................................................................................................106 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ......................... DAFTAR GAMBAR ..... 1...............................................................................................4 Tujuan Penelitian .............................................................. BAB II PENELAAHAN KEPUSTAKAAN DAN/ATAU KERANGKA TEORITIK................................... BAB I PENDAHULUAN...................5 Kegunaan Penelitian ..................................... PRAKATA................................................ PERNYATAAN ................... PERSETUJUAN ..................... i ii iii iv v vi viii x xii xiii xiv 1 1 5 7 8 8 9 11 11 12 x .......................................................................................................................... 2..................................................................... 2............................... DAFTAR ISI.................. DAFTAR TABEL................................................................................................. 1................6 Sistematika Penulisan Skripsi ....................................... 1.............................................................................................. 1....................................... 1........................................................1 Latar Belakang .......3 Perumusan Masalah ............................ DAFTAR LAMPIRAN...............................................

........................................................................3 Fokus Penelitian............................................................2 Saran ................1 Hasil Penelitian ........... 3......4 Lembaga Pemasyarakatan Wanita ....................... DAFTAR PUSTAKA ........................................... 3........................... BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.............. BAB III METODE PENELITIAN .. 3............... 2......................................................................3 Sistem Pemasyarakatan.................................................. 5............................................................. 2.... 4............................ LAMPIRAN-LAMPIRAN 13 15 16 17 18 22 29 30 30 30 31 31 33 37 38 41 43 43 88 94 94 94 96 xi ................... 3.5 Alat dan Tehnik Pengumpulan Data ............7 Metode Analisis Data...107 2..................... 4.............................................................9 Kerangka Teoritik…………………………………………….............. BAB V PENUTUP ... 3............................... 3............................................... 5.............8 Pembinaan Narapidana ................................1 Metode Penelitian ................................................................ 2.6 Lembaga Pemasyarakatan Wanita……………………………................................................ 2.................................4 Sumber Data Penelitian....................................................................... 3..............................................1 Kesimpulan ..... 2.................................5 Pengertian Wanita……………………………………………..........2 Lokasi Penelitian.................................................................2 Pembahasan.................8 Prosedur Penelitian ............ 2.......7 Hak dan Kewajiban Narapidana ....................................................................................6 Keabsahan Data ............. 3.................................................................

40 xii ...108 DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1 Kerangka Teoritik……………………………………… 29 2 Proses Analisis Data………………………………….

6. 12. Agama Narapidana LP………………………………………….. Tingkat Pendidikan Narapidana………………………………… 4.. Narapidana Klasifikasi B-IIa…………………………………. Jenis Tindak Pidana Narapidana Wanita ………………………. 8. Jenis Kasus Responden Narapidana……………………………. 10. 2... Narapidana Klasifikasi B-I……………………………………. 32 32 46 47 47 48 49 50 54 56 72 74 74 xiii . 7.. 3. Tingkat Umur Narapidana Wanita……………………………… 5. Daftar Nama Responden Narapidana………………………….. 11. Masa Pidana Narapidana Wanita………………………………. Daftar Nama Responden Petugas……………………………….. Jenis Pidana Narapidana Responden…………………………. 9. Jenis Tindak Pidana narapidana Responden…………………. Jadwal Kegiatan Narapidana …………………………………..109 DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1. 13.

.. Pedoman Wawancara…………………………………………..... 5... Struktur Organisasi Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang.. Surat keterangan telah melaksanakan penelitian………………. 6 4 2 3 7.. kewajiban dan hak bagi narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang ………………….......... Jadwal Kegiatan Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA Semarang…………………………………………....................... Daftar Responden dan Informan …………………………… 4......110 DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran : 1.. Surat Permohonan Izin Penelitian Dari Departemen Kehakiman Dan HAM Jawa tengah……………………………………………… 8 8............. 5 6. 3....... 9 xiv .. Daftar Pemberian Ransum atau Menu Narapidana Di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Klas IIA semarang………………….... Daftar tata tertib......... 1 2....

111 LAMPIRAN-LAMPIRAN xv .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful