Penegrtian Tafsir dan Ta¶wil

Pengertian Tafsir
Mei 18 Posted by chekie Makna tafsir dari segi bahasa menjelaskan dan menerangkan.[1] Pengertian seperti itu dapat dilihat pemakaiannya dalam QS. al-Furqan (25) : 33 sebagai berikut:

Terjemahnya: Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu sesuatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.[2] Tafsir berasal dari akar kata al-fasr ( - - ) yang berarti menjelaskan, menyingkap, dan menampakkan atau menerangkan makna yang abstrak. Dalam lis±n al-¶Arab dinyatakan al-fasr ( ( secara leksikal berarti menyingkap sesuatu yang tertutup, sedangkan kata al-tafsir ( ) berarti menyingkap maksud suatu lafaz yang musykil atau pelik.[3] Di antara kedua bentuk itu, alfasr dan al-tafsir, kata al-tafsir (tafsir)lah yang paling banyak dipergunakan. Adapun pengertian tafsir secara terminologi ditemukan bahwa para ulama berbeda-beda secara redaksional dalam mengemukakan definisinya meskipun esensinya sama. Al-Jurjani misalnya mengetengahkan bahwa tafsir ialah menjelaskan makna ayat-ayat al-Qur¶an dari berbagai segi, baik konteks historisnya maupun sebab turunnya, dengan menggunakan ungkapan atau keterangan yang dapat menunjuk kepada makna yang dikehendaki secara terang dan jelas. Kemudian Imam alZarqani mengatakan bahwa tafsir adalah ilmu yang membahas kandungan al-Qur¶an dari segi pemahaman makna atau arti sesuai yang dikehendaki Allah menurut kadar kemampuan manusia. Selanjutnya, al-Zarkasyi mengatakan bahwa tafsir adalah ilmu untuk mengetahui dan memahami kandungan al-Qur¶an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dengan cara mengambil penjelasan maknanya, hukum serta hikmah yang terkandung di dalamnya.[4] Dari beberapa definisi tersebut, dapat dikemukakan bahwa tafsir adalah upaya mengungkapkan dan menjelaskan makna ayat-ayat al-Qur¶an sesuai kadar kemampuan masing-masing yang sifatnya terbatas, sehingga dapat dijumpai pelajaran, hukum, dan hikmah yang terkandung di dalam kitab suci tersebut. Adapun pengertian ta¶wil ditinjau dari aspek etimologi ialah mengembalikan. Sebagai contoh, dapat dilihat pemakaiannya dalam QS. Ali µImran (3): 7 sebagai berikut: ... Terjemahnya: . . . . Dan tidak ada yang mengerti ta¶wilnya kecuali Allah« [5] Ta¶wil berasal dari akar kata al-aulu ( - - ) yang berarti kembali, mengembalikan kepada konteks yang ada dalam rangkaian kalimat. Sedangkan kata al-ta¶wil berarti ungkapan atau penjelasan suatu ) dan al-ta¶wil (ta¶wil) lah yang sering pandangan.[6] Di antara kedua bentuk kata itu, al-aulu ( digunakan. Ta¶wil menurut istilah, para ulama tampil mengemukakan dalam formulasi yang berbeda-beda. Muhammad Husain al-Zahabi berusaha merangkum berbagai pendapat tersebut lalu mengelompokkan ulama menjadi dua kelompok yaitu ulama salaf dan ulama khalaf. Menurut ...

ulama salaf bahwa pengertian ta¶wil mengandung dua pengertian, yaitu : 1) ta¶wil merupakan keterangan dan penjelasan arti suatu kalimat, 2) ta¶wil berarti kalimat yang dimaksudkan itu sendiri. Sedangkan menurut ulama khalaf, ta¶wil adalah suatu upaya memalingkan atau mengembalikan suatu lafaz dari makna biasanya ke makna lain yang memungkinkan karena ada dalil atau argumentasi yang menyertainya.[7] Dengan demikian, ta¶wil adalah ilmu yang menjelaskan makna umum dan makna khusus dari susunan kalimat ayat-ayat al-Qur¶an. Selanjutnya, hermeunitika berasal dari bahasa Yunani hermeneuein yang berarti menafsirkan dan hermenia berarti penafsiran atau interpretasi.[8] Kata hermeneutika merupakan derivasi dari kata hermes . Meskipun secara etimologis dan historis diambil dari mitologi Yunani, namun secara teologis, peran Hermes sesungguhnya tak ubahnya dari peran para Nabi utusan Tuhan yang bertugas sebagai juru penerang dan penghubung untuk menyampaikan pesan dan ajaran Tuhan kepada manusia. Menurut Hussein Nasr, Hermes tak lain adalah Nabi Idris as., yang disebut dalam al-Qur¶an.[9] Dengan demikian, Hermes menjadi simbol seorang duta yang dibebani sebuah misi, yaitu menginterpretasikan atau menyadur sebuah pesan dalam text kedalam bahasa yang dipergunakan oleh pendengarnya. Secara terminologi, hermeneutika berarti upaya menjelaskan dan menelusuri pesan dan pengertian dasar dari sebuah ucapan atau tulisan yang tidak jelas, kabur, remang-remang dan kontradiksi, sehingga menimbulkan keraguan

Contoh Kitab-kitab tafsir bil-Ma¶sur yang terkenal : 1). Tafsir yang dinisbahkan kepada Ibn Abbas. 2). Tafsir Ibn ¶Uyainah. 3). Tafsir Ibn Abi Hatim. 4). Tafsir Abusy Syaikh bin Hibban. 5). Tafsir Ibn ¶Atiyah. 6). Tafsir Abuk Lais Samarqandi, Bahrul Ulum. 7). Tafsir Abu Ishaq, al-Kasyfu wal Bayan an Tafsiril Qur-an. 8). Tafsir Ibn Jarir at-Tabari, Jami¶ul Bayan fii Tafsiril Qur-an. 9). Tafsir Ibn Abi Syaibah. 10.) Tafsir al-Baghowi, Ma¶alimut Tanzil. 11). Tafsir Abil Fida¶ al-Hafizh Ibn Katsir, Tafsirul Qur-anul Azhim. 12). Tafsir as-Salabi, al-Jawahirul Hisan fii Tafsiril Qur-an. 13). Tafsir Jalaluddin as-Suyuti, ad-Durrul Mantsur fit Tafsiri bil Ma¶sur.

8). 6). Tafsir al-Khozin. Bab Maµrifah Syurûth Al-Mufassir wa Âdâbihi E-book.omelketab. Jalaluddin. Tafsir Abu ¶Ali al-Juba¶i. al-Kasysyaf ¶an Haqa¶iqi Gawamidit. Tanpa seperangkat ilmu tersebut. Tafsir al-Baidawi. Pustaka Rizki Putra. .14).net pada 6 September 2007. Tafsir Fakhruddin ar-Razi. Diakses dari Mauqiµ Umm Al-Kitâb li Al-Abhâts wa Ad-Dirâsât Al-Ilikturûniyah: www. Tafsir an-Nasafi. 7). Tafsir ¶Abdul Jabbar. ---Tengku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy. Al-Itqân fî µUlûm al-Qurân. 2). Tafsir al-Jalalain. Lubabut Ta¶wil fi Ma¶anit Tanzil. 10). Tafsir Abdurrahman bin Kaisan al-Asam. Contoh Kitab-kitab Tafsir bir-Ra¶yi yang terkenal : 1). Imam Jalaluddin As-Suyuthy dalam Al-Itqân fî Ulûm al-Qurân menyebutkan lima belas ilmu yang harus dikuasai oleh seorang mufassir. al-Bahrul Muhit. 9). Tafsir asy-Syaukani. Syarat yang berkaitan dengan aspek pengetahuan yang harus dikuasai oleh seorang mufassir ini dibagi menjadi dua. 5). Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin as-Suyuti. yaitu: syarat pengetahuan murni dan syarat manhajiyah (berkaitan dengan metode). 11). 2002. Fathul Qadir. Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta¶wil. Tafsir az-Zamakhsyari. Para ulama memberikan istilah untuk aspek pengetahuan ini dengan syarat-syarat seorang alim. 3). Syarat Pertama: Aspek Pengetahuan Aspek pengetahuan adalah syarat yang berkaitan dengan seperangkat ilmu yang membantu dan memiliki urgensitas untuk menyingkap suatu hakikat.s Syarat syarat Mufassir a. Madarikul Tanzil wa Haqa¶iqut Ta¶wil. Mafatihul Gaib.1 Lima belas ilmu tersebut adalah sebagai berikut: 1 As-Suyuthy. 4). Tafsir Ibn Furak. seseorang tidak akan memiliki kapabilitas untuk menafsirkan Al-Quran karena tidak terpenuhi faktor-faktor yang menjamin dirinya dapat menyingkap suatu hakikat yang harus dijelaskan. Tafsir Abu Hayyan.

Hadits-hadits penjelas untuk menafsirkan yang mujmal (global) dan mubham (tidak diketahui). wajib. Al-Badî karena dengannya dapat diketahui kekhususan tarkîb (komposisi) suatu kalimat dari segi keindahan suatu kalimat. . 2. Seorang ahli ushul bertugas untuk menakwilkan hal itu dan mengemukakan dalil terhadap sesuatu yang boleh. Bahasa Arab karena dengannya seorang mufassir mengetahui penjelasan kosakata suatu lafal dan maksudnya sesuai dengan objek. 7. dan tidak boleh. Tidak halal bagi seorang yang beriman kepada Allah dan hari akhir berbicara mengenai sesuatu yang terdapat dalam Kitâbullâh apabila ia tidak mengetahui bahasa Arab. Ilmu qirâ ah karena dengannya dapat diketahui cara mengucapkan Al-Quran dan kuat tidaknya model bacaan yang disampaikan antara satu qâri dengan qâri lainnya. 11. 14. yaitu ilmu yang Allah ta ala anugerahkan kepada orang yang mengamalkan ilmunya. Ilmu muhibah. 12. Oleh karena demikian urgennya penguasaan terhadap bahasa Arab dalam menafsirkan Al-Quran. Ushul fikih karena dengannya dapat diketahui wajh al-istidlâl (segi penunjukan dalil) terhadap hukum dan istinbâth. 8. 13. Dalam sebuah hadits disebutkan. maka artinya pun juga pasti berbeda. 15. . Ketiga ilmu di atas disebut ilmu balaghah yang merupakan ilmu yang harus dikuasai dan diperhatikan oleh seorang mufassir agar memiliki sense terhadap keindahan bahasa (i jâz) Al-Quran. An-Nâsikh wa al-Mansûkh agar diketahui mana ayat yang muhkam (ditetapkan hukumnya) dari ayat selainnya. Al-Bayân karena dengannya dapat diketahui kekhususan tarkîb (komposisi) suatu kalimat dari segi perbedaannya sesuai dengan jelas tidaknya suatu makna. Isytiqâq (derivasi) karena suatu nama apabila isytiqâqnya berasal dari dua subjek yang berbeda. apakah berasal dari ( ) atau ( ). Asbâbun Nuzûl (sebab-sebab turunnya ayat) karena dengannya dapat diketahui maksud ayat sesuai dengan peristiwa diturunkannya. 4. Al-Ma âni karena dengannya dapat diketahui kekhususan tarkîb (komposisi) suatu kalimat dari segi manfaat suatu makna. Nahwu karena suatu makna bisa saja berubah-ubah dan berlainan sesuai dengan perbedaan i rab.1. Misalnya ( ). 3. Mujahid bahkan mengatakan. Ushûluddîn (prinsip-prinsip dien) yang terdapat di dalam Al-Quran berupa ayat yang secara tekstual menunjukkan sesuatu yang tidak boleh ada pada Allah ta ala. Tashrîf (sharaf) karena dengannya dapat diketahui binâ (struktur) dan shîghah (tense) suatu kata. 9. 10. 6. 5. Fikih.

Dengan demikian. Tiga syarat pengetahuan tersebut adalah: 1. Hal. Memiliki kesadaran terhadap problematika kontemporer. Mengetahui pemikiran filsafat. Ayat yang bermakna global pada suatu tempat ditafsirkan dengan ayat pada tempat lain dan ayat yang ringkas pada suatu tempat diperluas penjelasannya dengan ayat pada tempat lainnya. Ilmu Al-Quran dan istinbâth darinya merupakan lautan yang tidak bertepi. Sebab. Arqahwah. 3. seorang mufassir harus memperhatikan manhaj yang ditempuh dalam menafsirkan Al-Quran. Mukhtashar Al-Itqân. Adapun bagi seorang mufassir kontemporer. maka harus dikembalikan pada pendapat orang yang mengatakan. Pengetahuan ini sangat urgen untuk memperlihatkan bagaimana sikap dan solusi Islam terhadap problem tersebut. Misalnya perbedaan pendapat mereka mengenai makna huruf-huruf hijâ (alphabet).com/vb/showthread. 125 . 2. Namun apabila menafsirkan dengan menguasai ilmu-ilmu tersebut. maka Allah akan menganugerahinya ilmu yang belum ia ketahui. 1987. Ilmu-ilmu di atas merupakan alat bagi seorang mufassir. Apabila tidak menemukannya dari As-Sunnah. Ketika terjadi kontradiksi antarpendapat para sahabat. Siapa yang ingin menafsirkan Al-Quran yang mulia maka pertama kali ia harus mencari tafsirnya dari Al-Quran. Siapa saja yang menafsirkan Al-Quran tanpa menguasai ilmu-ilmu tersebut. Maknanya adalah qasam (sumpah) . merekalah yang menyaksikan konteks dan kondisi pada saat turunnya ayat. sosial. Ibnu Abid Dunya mengatakan. mereka juga diberi kekhususan berupa pemahaman yang sempurna. maka ia harus mencarinya dari As-Sunnah karena ia (As-Sunnah) merupakan penjelas bagi Al-Quran. Seseorang tidak memiliki otoritas untuk menjadi mufassir kecuali dengan menguasai ilmu-ilmu ini. menurut Ahmad Bazawy Adh-Dhawy2. Fî µUlûm Al-Qurân li As-Suyûthy. dan amal yang shalih. maka ia harus menguasai tiga syarat pengetahuan tambahan selain lima belas ilmu di atas. 3 2 3 Silakan lihat: Syurûth Al-Mufassir wa Âdâbuhu dalam http://www.php?t=82245 . Selain itu. maka ia tidak menafsirkan dengan ra yu (akal) yang dilarang. ekonomi.Siapa yang mengamalkan ilmunya. Apabila tidak menemukannya.ahlalhdeeth. berarti ia menafsirkan dengan ra yu (akal) yang dilarang. ilmu yang shahih. maka ia harus mengembalikannya kepada pendapat para sahabat karena mereka lebih mengetahui penafsiran Al-Quran. maka harus dikembalikan kepada pendapat yang paling kuat dalilnya. Shalahuddin. Imam Jalaluddin As-Suyuthy mengatakan. ia telah berpartisipasi dalam menyadarkan umat terhadap hakikat Islam beserta keistimewaan pemikiran dan peradabannya. Selain harus menguasai ilmu-ilmu di atas. Beirut: Dâr An-Nafâis. dan politik yang sedang mendominasi dunia agar mufassir mampu mengcounter setiap syubhat yang ditujukan kepada Islam serta memunculkan hakikat dan sikap Al-Quran Al-Karim terhadap setiap problematika kontemporer. Mengetahui secara sempurna ilmu-ilmu kontemporer hingga mampu memberikan penafsiran terhadap Al-Quran yang turut membangun peradaban yang benar agar terwujud universalitas Islam.

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka. Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya. Manhaj tafsîr bil ma tsûr tersebut akan dijelaskan sekilas di bawah ini. Contoh penafsiran Al-Quran dengan Al-Quran adalah firman Allah ta ala dalam surat Al-Fatihah: 6-7. 1. * Tunjukilah kami jalan yang lurus. (QS Al-A raf: 23) Penafsiran ini diriwayatkan dari banyak mufassir dari kalangan tabi in. dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.Manhaj (metode) seperti yang dikemukakan oleh Imam As-Suyuthy di atas di kalangan para ulama dikenal dengan istilah tafsîr bil ma tsûr. Ya Tuhan kami. yaitu: Nabi-nabi. Menafsirkan Al-Quran dengan As-Sunnah . 2. Manhaj ini yang pertama kali harus ditempuh oleh seorang mufassir sebelum ia menafsirkan dengan ra yu sebatas yang diperbolehkan. Orang-orang yang dianugerahi nikmat kepada mereka ditafsirkan dengan firman Allah ta ala. para shiddiiqiin. orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. (QS Al-Baqarah: 37) Beberapa kalimat dalam ayat ini ditafsirkan dalam ayat lainnya. Demikian juga. ayat yang ringkas ditafsirkan secara lusa pada ayat lain. yaitu firman Allah ta ala. maka Allah menerima taubatnya. Menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran Ayat Al-Quran terkadang disebutkan secara global dan ditafsirkan secara rinci pada ayat lain. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Keduanya berkata. niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi . mereka itu akan bersama-sama dengan orangorang yang dianugerahi ni`mat oleh Allah. (QS An-Nisa : 69) Contoh lainnya adalah firman Allah. Dan barangsiapa yang menta`ati Allah dan Rasul (Nya). bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. kami telah menganiaya diri kami sendiri.

pokok. maksud. (QS Al-Maidah: 60) Yang dimaksud dengan mereka adalah Yahudi. memuqayyadkan yang mutlak. dan tujuan Kitabullah. Allah ta ala berfirman. Sunnah Nabawiyah datang dengan hukum-hukum yang tidak terdapat dan tidak ditentukan dalam Kitabullah. . di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut? Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya 4 Ya qub. Dirâsah Ta shîliyyah. Hai Ahli Kitab. menafsirkan yang musykil (rumit). 1425 H. Setiap hukum yang diputuskan oleh Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam berasal dari pemahamannya terhadap Al-Quran. Hal.Sunnah Nabawiyah berfungsi untuk mensyarah Al-Quran. Thahir Mahmud Muhammad. menyingkap bagian yang samar. dan memperlihatkan maksudnya. Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran. Tafsir ini diperkuat dengan firman Allah ta ala. Katakanlah. Tidak mungkin mencampakkan Sunnah Nabawiyah dan tidak boleh pula meremehkannya dalam kondisi apa pun. Demikian juga firman Allah ta ala. Asbâb Al-Khatha fî At-Tafsîr. Demikian juga. dan mengamalkannya. menerangkan yang mubham (tidak dimengerti). Hal itu karena urgensitasnya dalam memahami agama Allah. yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah. menafsirkan Kitab-Nya. janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. mengkhususkan yang umum. Ahmad. (QS An-Nisa : 105)4 Contoh penafsiran Al-Quran dengan As-Sunnah di antaranya adalah tafsir al-maghdhûb alaihim (mereka yang dimurkai) dengan Yahudi dan adh-dhâllîn (mereka yang sesat) dengan Nasrani dalam surat Al-Fatihah. Sunnah Nabawiyah tidak keluar dari kaidah. dia berkata: Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam bersabda. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menukil perkataan Imam Asy-Syafi i. menjelaskan yang mujmal (global). Riyadh: Dâr Ibn Al-Jauziyyah. Sesungguhnya mereka yang dimurkai adalah Yahudi dan mereka yang sesat adalah Nasrani. Katakanlah. At-Tirmidzy. 55. merinci yang ringkas. Juz I. supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu. dan Ibnu Hiban dalam Shahîhnya meriwayatkan dari Ady bin Hatim.

Kenalilah keutamaan mereka dan ikutilah atsar mereka. Contoh lainnya adalah tafsir azh-zhulmu (kezaliman) dalam firman Allah ta ala. Al-Isrâiliyât wa Al-Maudhû ât fî Kutub At-Tafsîr. Sesungguhnya artinya bukanlah yang kalian maksudkan. Mereka berkata. dan amal secara keseluruhan. mereka tidak langsung melaluinya hingga mengetahui ilmu dan amal yang terdapat di dalamnya. 52. lalu dengan As-Sunnah. (QS Al-An am: 82) Ahmad. para sahabat merasa keberatan. 1408 H. 5 3. mereka 5 Silakan lihat: Abu Syuhbah. Idem. Mereka mengetahui kebenaran. seorang tabi in yang mulia. mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Barangsiapa di antara kalian ingin meneladani seseorang. ilmu. Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman. paling sedikit bebannya. Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang besar . Mengambil pendapat para sahabat Abu Abdurrahman As-Salma. 6 Diriwayatkan dari sahabat yang mulia. dan mereka tersesat dari jalan yang lurus . 6 7 . cit. Nabi shallallâhu alaihi wa sallam menjadikan Nasrani sebagai contoh tipikal terhadap setiap orang yang tidak memiliki ilmu dan ingin meraih kebenaran. Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman . siapakah di antara kita yang tidak berbuat kezaliman terhadap dirinya? Rasulullah bersabda. Mereka mengatakan. Sesungguhnya kezaliman (yang dimaksud dalam ayat itu) adalah syirik. Muhammad. Mereka kebingungan dalam kesesatan dan tidak mendapatkan petunjuk menuju kebenaran.(sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia). Allah memilih mereka untuk menemani Nabi-Nya shallallâhu alaihi wa sallam dan menegakkan din-Nya. Ya Rasulullah. ia berkata. (QS Al-Maidah: 77) Nabi shallallâhu alaihi wa sallam menjadikan Yahudi sebagai contoh tipikal terhadap setiap orang yang rusak irâdah (kemauan)nya. Tatkala turun ayat ini. hal. namun menyimpang darinya. Op. Tidakkah kalian mendengar apa yang dikatakan oleh seorang hamba shalih (Lukman). Apabila tidak mendapatkan tafsir dalam Al-Quran dan Sunnah Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam. KSA: Maktabah AsSunnah. Abdullah bin Mas ud. Bukhari. dan paling baik keadaannya. 7 Para sahabat menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran. paling lurus petunjuknya. Muslim. paling mendalam ilmunya. maka hendaknya ia meneladani para sahabat Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang paling bersih hatinya di kalangan umat ini. bahwa ia berkata. Kami mempelajari Al-Quran. Hal. 50-51 Abu Syuhbah. dan perawi lainnya meriwayatkan dari Ibnu Mas ud. meriwayatkan dari para senior penghapal Al-Quran dari sahabat Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam bahwa apabila turun kepada mereka sepuluh ayat.

Muhammad Husain. Apabila selain itu. Hal. dan bagaimana mereka memusuhi kaum Muslimin. misalnya perkara-perkara ghaib. perkara-perkara yang mereka (Yahudi dan Nasrani) lakukan. mereka mengetahui maksud dan rahasia bahasa Arab. Sebagian ulama 8 9 . Mengetahui asbâb an-nuzûl dapat membantu untuk memahami suatu ayat karena pengetahuan terhadap sebab akan melahirkan pengetahuan terhadap musabab. maka hukumnya mauqûf selama sanadnya tidak bersandar kepada Rasul shallallâhu alaihi wa sallam. Ini merupakan perkara yang sudah maklum dari sejarah perjalanan hidup para sahabat radhiyallâhu anhum. sementara Al-Quran turun dengan bahasa Arab yang jelas. 45-46 . asbâb an-nuzûl. 48. Hal ini membantu mereka untuk memahami ayat-ayat yang berkaitan dengan perbaikan adat dan perilaku mereka. mereka mengetahui adat dan karakter bangsa Arab. seperti firman Allah ta ala.melakukan ijtihad karena mereka adalah orang Arab tulen. Allah telah menganugerahkan kepada mereka akal dan pemahaman yang dengannya mereka dapat melihat banyak faktor secara jelas. 8 Kelima. Hal ini membantu mereka untuk mengetahui ayat-ayat yang membicarakan Yahudi dan Nasrani. 2. Apabila termasuk perkara yang di luar wilayah akal. yaitu perkara yang kembali pada ijtihad para sahabat. Wajib mengambilnya. Ketiga. Juz I. Ibnu Taimiyah. menyaksikan turunnya Al-Quran. para sahabat banyak memahami ayat Al-Quran AlKarim yang tidak terdapat tafsirnya dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Hal ini membantu mereka untuk mengetahui ayat-ayat yang pemahamannya berkaitan dengan pemahaman bahasa Arab. Hal. ( ) Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah ) Dan bukanlah menambah kekafiran (QS At-Taubah: 37) dan ( kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya (QS Al-Baqarah: 189). Kita mengambil tafsir sahabat dan lebih memprioritaskannya daripada tafsir generasi sesudahnya karena pada diri mereka terpenuhi sarana-sarana untuk melakukan ijtihad sebagai berikut: Pertama. Keempat. Dengan faktor-faktor tersebut. Muqaddimah fî Ushûl At-Tafsîr. mereka mengetahui keadaan yahudi dan Nasrani di Jazirah Arab pada saat turunnya AlQuran Al-Karim. 2000. Ibnu Taimiyah rahimahullâh ta âlâ mengatakan. dan menghadiri majelis-majelis Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam. Pengetahuan mengenai hal itu membantu mereka untuk memahami banyak ayat. Kairo: Maktabah Wahbah. Adz-Dzahabi. Ayat seperti ini hanya dapat dipahami oleh orang yang mengetahui adat Arab pada masa jahiliyah.9 Tafsir sahabat berdasarkan hukumnya terbagi menjadi dua: 1. mereka mengetahui asbâb an-nuzûl (sebab-sebab turunnya ayat) karena mereka menyaksikan turunnya ayat dan ikut terlibat dalam berbagai peristiwa yang disebutkan Al-Quran. Kedua. At-Tafsîr wa Al-Mufassirûn. maka hukumnya marfû . Oleh karena itu. dan sebagainya. mereka memiliki kekuatan dalam pemahaman dan pengetahuan.

59-60. dan sebagainya yang mempelajari langsung semua tafsir dari para sahabat ridhwânullâh alaihim. Muhammad. Hal. Terdapat perbedaan pendapat di antara ulama mengenai hukum mengambil tafsir yang dinukil dari tabi in. Bumi dahulu rapat. Hal. Adapun tafsir sahabat.10 Imam Abu Ya la menyatakan wajibnya berpegang pada tafsir sahabat. Aku katakan. 55. mengapa aku harus heran terhadap keberanian Ibnu Abbas dalam menafsirkan Al-Quran. Al-Hasan Al-Bashry. makna hadits. kami menganggap perkataan mereka sebagai hujjah. Masruq bin Al-Ajda . Ya qub. kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Pendapat yang dipegang oleh jumhur ulama menyatakan bahwa tafsir tabi in termasuk tafsir bil ma tsûr karena secara umum mereka mempelajarinya dari sahabat. yaitu tidak mengeluarkan tumbuhan. Riyadh: Dâr Ibn Al-Jauziyyah. 1408 H. Al-Hafizh Ibnu Rajab menyatakan bahwa ilmu yang paling utama dalam tafsir adalah atsar dari sahabat dan tabi in. KSA: Maktabah As-Sunnah. KSA: Maktabah AtTaubah. Ibnu Jabr. 1419 H. Sa id bin Musayyib. Al-Isrâiliyât wa Al-Maudhûµât fî Kutub At-Tafsîr. As-Suyuthy juga menyebutnya dalam Al-Itqân. Ia mengatakan. Langit dahulu rapat. Sekarang engkau telah mengetahui bahwa ia dianugerahi ilmu. Dirâsah Ta shîliyyah. yaitu tidak menurunkan hujan. Juz I.12 4. 11 12 . Asbâb Al-Khatha fî At-Tafsîr. Lalu Allah memisahkan langit dengan hujan dan bumi dengan tumbuhan.mewajibkan untuk mengambil tafsir sahabat yang mauqûf karena mereka menyaksikan korelasi dan kondisi yang dikhususkan kepada mereka dan tidak dikhususkan kepada selain mereka. Buhûts fî Ushûl At-Tafsîr wa Manâhijuhu. 29. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? (QS Al-Anbiya : 30) Ibnu Abbas mengatakan. Thahir Mahmud Muhammad. Sa id Ibnu Jubair. seperti Mujahid. Fahd bin Abdurrahman bin Sulaiman. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Mengambil pendapat para kibâr (senior) tabi in. Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang rapat. Silakan lihat: Abu Syuhbah. 1425 H. Seseorang kemudian datang kepada Ibnu Umar radhiyallâh anhumâ dan memberitahukan apa yang dikatakan oleh Ibnu Abbas. Oleh karena itu. Ilmu paling utama dalam tafsir Al-Quran. Ia mengatakan. Atsar ini diriwayatkan oleh Abu Nu aim dalam Al-Hilyah. 11 Contoh tafsir sahabat di antaranya adalah yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas mengenai firman Allah ta ala. Ibnu Umar berkata. Inilah kesimpulan dari pendapat Ahmad rahimahullâh di beberapa tempat dalam Musnadnya bagian kitab thâ ah Ar-Rasûl (menaati Rasul) shallallâhu alaihi wa sallam Alasannya adalah karena mereka menyaksikan peristiwa turunnya Al-Quran dan menghadiri takwil sehingga mengetahui penafsirannya. Hal. Ikrimah dan Atha bin Abi Ribah. serta 10 Ar-Rumy. maka wajib kembali padanya.

15 . menafsirkan Al-Quran dengan sunnah yang shahih. 13 Ya qub. 16 Idem.16 b.15 Oleh karena itu. dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga berakhir pada zaman para imam Islam yang terkenal dan terteladani. memanfaatkan tafsir sahabat dan tabi in. Al-Kattani. dan problematika kehidupan lainnya. bahasa. Karakteristik-karakteristik tafsir ideal tersebut secara ringkas adalah sebagai berikut: Pertama. barulah seorang mufassir diperbolehkan menggunakan ra yunya dalam menafsirkan Al-Quran dengan tetap memperhatikan ketentuan-ketentuan dan kaidah-kaidah tafsir. Sebab. menafsirkan Al-Quran dengan Al-Quran. Thahir Mahmud Muhammad. memperhatikan konteks redaksional ayat. kalam. meletakkan Al-Quran sebagai referensi utama. Asbâb Al-Khatha fî At-Tafsîr.14 Sementara itu. 14 Problematika tafsir bil ma¶tsûr menurut para ulama adalah banyaknya riwayat yang lemah dan palsu. 1 Januari 2005 hal. Hal. 101. pemahaman. Kedua. Riyadh: Dâr Ibn Al-Jauziyyah. Abdul Hayyie. ³Al-Quran dan Tafsir´ dalam Jurnal Kajian Islam Al-Insan Vol. menurut Syaikh Muhammad Al-Ghazali. 1425 H. Yang dimaksud dengan aspek kepribadian adalah akhlak dan nilai-nilai ruhiyah yang harus dimiliki oleh seorang mufassir agar layak untuk mengemban amanah dalam menyingkap dan menjelaskan suatu hakikat kepada orang yang tidak mengetahuinya. Ketiga. Kelima. 60.pembicaraan mengenai yang halal dan yang haram adalah atsar yang berasal dari sahabat. Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi kemudian menawarkan karakteristik tafsir ideal yang diharapkan sesuai dengan kaidah yang diakui para ulama dan pada saat yang sama dapat mengiringi ritme perkembangan zaman. Keenam. Juz I. Karena tafsir yang demikian yang terus berinteraksi dengan masalah-masalah sastra. hukum. mengambil kemutlakan bahasa Arab. Syarat Kedua: Aspek Kepribadian Adapun syarat kedua yang harus terpenuhi pada diri seorang mufassir adalah syarat yang berkaitan dengan aspek kepribadian. tafsir bil ma tsûr akan berhenti pada makna-makna. memperhatikan asbâb an-nuzul. Dirâsah Ta shîliyyah. 13 Setelah menempuh manhaj tafsir bil ma tsûr terlebih dahulu. Keempat. dan pesan-pesan yang disampaikan oleh riwayatriwayat yang ada. Ketujuh. Kedelapan. tafsir bir ra yi yang sesuai dengan kaidah itulah yang justru berpotensi untuk terus berkembang dan tidak berhenti. tabi in. Para ulama salaf shalih mengartikulasikan aspek ini sebagai adab-adab seorang alim. menggabungkan antara riwayah dan dirayah. I No.

maka bagaimana ia dipercaya untuk memberitahukan rahasiarahasia Allah ta ala? Sebab seseorang tidak dipercaya apabila tertuduh sebagai atheis adalah ia akan mencari-cari kekacauan serta menipu manusia dengan kelicikan dan tipu dayanya seperti kebiasaan sekte Bathiniyah dan sekte Rafidhah ekstrim.Imam Abu Thalib Ath-Thabary mengatakan di bagian awal tafsirnya mengenai adab-adab seorang mufassir. kesombongan. Tidak bersandar pada ahli bid ah dan kesesatan dalam menafsirkan 17 18 Al-µIk. Ketahuilah bahwa di antara syarat mufassir yang pertama kali adalah benar akidahnya dan komitmen terhadap sunnah agama. orang yang tertuduh dalam agamanya tidak dapat dipercaya dalam urusan duniawi. Ketahuilah bahwa seseorang tidak dapat memahami makna wahyu dan tidak akan terlihat olehnya rahasia-rahasianya sementara di dalam hatinya terdapat bid ah. Tawadhu dan lemah lembut 6. Bersikap zuhud terhadap dunia hingga perbuatannya ikhlas semata-mata karena Allah ta ala 7. Khalid Abdurrahman. ia tetap tidak dapat dipercaya karena akan menafsirkan Al-Quran berdasarkan hawa nafsunya agar sesuai dengan bid ahnya seperti kebiasaan sekte Qadariyah.omelketab. Imam As-Suyuthy mengatakan. Terbebas dari hawa nafsu 3. E-book. Salah seorang di antara mereka menyusun kitab dalam tafsir dengan maksud sebagai penjelasan paham mereka dan untuk menghalangi umat dari mengikuti salaf dan komitmen terhadap jalan petunjuk. Saya katakan. yaitu: 1. maka bagaimana dalam urusan agama? Kemudian ia tidak dipercaya dalam agama untuk memberitahukan dari seorang alim. Akhlak yang baik 5. Sebab. Para ulama mengatakan bahwa maksud ayat di atas adalah dicabut dari mereka pemahaman mengenai Al-Quran. hawa nafsu. 18 Berdasarkan perkataan Imam As-Suyuthy di atas. 1986. Akidah yang lurus 2. atau cinta dunia. . atau bersandar pada pendapat seorang mufassir yang tidak memiliki ilmu. Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda kekuasaan-Ku. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim. 17 Sementara itu. Apabila seseorang tertuduh sebagai pengikut hawa nafsu. Hal. Memperlihatkan taubat dan ketaatan terhadap perkara-perkara syar i serta sikap menghindar dari perkara-perkara yang dilarang 8. Ahmad Bazawy Adh-Dhawy meringkaskan sejumlah adab yang harus dimiliki oleh seorang mufassir.net pada 6 September 2007. As-Suyuthy. (QS Al-A raf: 146) Sufyan bin Uyainah mengatakan. Semua ini merupakan penutup dan penghalang yang sebagiannya lebih kuat daripada sebagian lainnya. atau merujuk kepada akalnya. atau gemar melakukan dosa. Diakses dari Mauqi Umm Al-Kitâb li Al-Abhâts wa AdDirâsât Al-Ilikturûniyah: www. Ushûl At-Tafsîr wa Qawâµiduhu. Niat yang baik 4. Beirut: Dâr An-Nafâis. inilah makna firman Allah ta ala. Jalaluddin. atau lemah iman. 189. Al-Itqân fî Ulûm al-Qurân.

Mengamalkan ilmunya dan bisa dijadikan teladan 2.com/vb/showthread.Ashr Al-Hadîts. Hal. Jujur dan teliti dalam penukilan 3. 332. seperti Mu tazilah.19 Selain sembilan point di atas. Syaikh Manna Al-Qaththan menambahkan beberapa adab yang harus dimiliki oleh seorang mufassir. 1973. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar. Khawarij. Ahmad Bazawy. Beirut: Mansyûrât Al. Hal.9. wajib memilih makna yang sesuai dengan atsar yang shahih sehingga i rab mengikuti atsar Mengetahui kaidah-kaidah yang dikemukakan salafush shalih untuk memahami dan menafsirkan AlQuran Mengetahui kaidah-kaidah tarjîh menurut para mufassir Tidak membicarakan secara panjang lebar perkara-perkara yang hanya diketahui oleh Allah.ahlalhdeeth. dan sebagainya Menghindari israiliyat 19 Adh-Dhawy. Berpenampilan simpatik 6. Siap dan metodologis dalam membuat langkah-langkah penafsiran20 Syaikh Thahir Mahmud Muhammad Ya kub juga mengemukakan syarat yang berkaitan dengan sifat-sifat mufassir. nâsikh dan mansûkh Bersandar pada naql (penukilan) yang benar Mengetahui bahasa Arab dan uslubnya Tidak segera menafsirkan berdasarkan bahasa sebelum menafsirkan berdasarkan atsar Ketika terdapat beragam makna i rab. Berani dalam menyampaikan kebenaran 5. yaitu: 1. Pengantar Studi Ilmu Al-Quran. Berbicara tenang dan mantap 7. seperti ilmu qiraah. Bisa dipastikan bahwa ia tidak tunduk kepada akalnya dan menjadikan Kitâbullâh sebagai pemimpin yang diikuti. Syarat-syarat terpenting tersebut di antaranya adalah sebagai berikut Akidah yang shahih dan pemikiran yang bersih Maksud yang benar dan niat yang ikhlas Mentadabburi dan mengamalkan Al-Quran secara mendalam Mengetahui pokok-pokok ilmu yang berhubungan dengan Al-Quran Al-Karim dan tafsirnya. Al-Qaththan. Mendahulukan orang yang lebih utama dari dirinya 8. Mabâhits fî Ulûm Al-Qurân. 417-418. Silakan lihat juga terjemahannya: Al-Qaththan. misalnya asma dan sifat-Nya.php?t=82245 Diakses pada 30 Agustus 2007. para pentakwil sifat Allah. Berlepas diri dari hawa nafsu dan ta ashub madzhabi Tidak mengambil tafsir dari ahli bid ah. Syurûth Al-Mufassir wa Âdâbuhu dalam http://www. 20 . asbâb an-nuzûl. serta tidak terburu-buru dalam menetapkan sifat Allah ta ala dari Al-Quran AlKarim. Manna . Manna . Berjiwa mulia 4. 2007.

seseorang akan melakukan takwil sehingga memalingkan makna ayat sesuai dengan akidahnya dan mengembalikannya pada madzhabnya dengan segala cara. Tafsir untuk menetapkan madzhab yang rusak dengan menjadikan madzhab tersebut sebagai landasan.Ilmu Ushul al-din .memiliki integritas agama 2.maksud yang benar . Kairo: Dâr Al-Ma ârif. Juz I. 3. SYARAT-SYARAT MUFASSIR Adapun syarat-syarat mufassir yang harus dipenuhi dalam menafsirkan al-Qur¶an yaitu: 1. Terlalu jauh membicarakan perkara yang hanya diketahui oleh Allah. seperti perkara-perkara mutasyâbihât. Intelektual yang memadai . Dan (janganlah) mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui. Mengikuti hawa nafsu dan anggapan baik (istihsân). 4. Dirâsah Ta shîliyyah. Hal.Ilmu asbab an-nuzul .. Hal.- Menjauhi masalah-masalah kalamiah dan pemikiran-pemikiran filsafat yang jauh dari Al-Kitab dan AsSunnah serta berkontradiksi dengan keduanya - Tidak membebani diri dalam tafsir ilmiah Jujur ketika menukil Mendahulukan orang yang lebih utama darinya dalam mengambil dan menukil tafsir serta mengembalikan kepada orang yang ia mengambil darinya21 Termasuk adab yang harus diperhatikan oleh mufassir adalah ia wajib menghindari perkara-perkara berikut ketika menafsirkan Al-Quran: 1. Ilmu At-Tafsir.Ilmu Qira¶at . 1425 H. Muhammad Husain. 5. dan para shahabat Nabi 3. Asbâb Al-Khatha fî At-Tafsîr. sementara tafsir mengikutinya. 58 22 . (QS Al-Baqarah: 169)22 A. Prosedural penafsiran : Tafsirnya dinukil dari Nabi Saw.Ilmu Ushul al-fiqh . 2. 73-74. Seorang mufassir tidak boleh terlalu berani membicarakan sesuatu yang ghaib setelah Allah ta ala menjadikannya sebagai salah satu rahasia-Nya dan hujjah atas hamba-hamba-Nya. Adz-Dzahabi. Tt.Ilmu bahasa ‡ Nahwu (tata bahasa) ‡ Tashrif (asal-usul kata) ‡ Al-Istiqaq (pengambilan kata) ‡ Ilmu Balaghah (Sastra Arab) . Thahir Mahmud Muhammad. Terlalu berani menjelaskan maksud Allah ta ala dalam firman-Nya padahal tidak mengetahui tata bahasa dan pokok-pokok syariat serta tidak terpenuhi ilmu-ilmu yang baru boleh menafsirkan jika menguasainya. Akibatnya. Riyadh: Dâr Ibn Al-Jauziyyah. Tafsir dengan memastikan bahwa maksud Allah begini dan begini tanpa landasan dalil.i¶tiqad yang benar . Moralitas .Ilmu nasikh wal mansukh 21 Ya qub. Perbuatan ini dilarang secara syar i berdasarkan firman Allah ta ala.

tetapi falsafah hidup dan ke-hidupan umat manusia. Untuk memberi jalan tengah antara falsafah monopoli kapitalisme dengan falsafah kolektif komunisme. Firman Allah dalam QS Al-Baqarah : 213 dan QS AI-Anbiya¶ : 92 dan SAI-Mu'minun : 52. bukan saja antarsuku atau bangsa. Untuk mengajak manusia berpikir dan bekerja sama dalam bidang kehidupan bermasyara-kat dan bernegara melalui musyawarah dan mufakat yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan. Termaktub dalam QS Asy-Syura : 36-38. Al-Qur¶an menjelaskannya dalam QS Al-Baqarah : 177 dan QS Ali lmran : 110. 2. Mengenai hal ini Allah memerintahkan dalam QS An-Nahl : 90. Untuk membasmi kemiskinan material dan spiritual.yakni bahwa umat manusia merupakan satu umatyang seharusnya dapat bekerja sama dalam pengabdian kepada Allah dan pelaksanaan tug as ke-khalifahan. Untuk memadukan kebenaran dan keadilan dengan rahmat dan kasih sayang. dan penderitaan hidup serta pemerasan manusia atas manusia dalam bidang sosial. Simak petunjuk Allah dalam QS AI-Baqarah : 143. ekonomi. 3. kesatuan ilmu.. keyakinan yang tidak semata-mata sebagai suatu konsep teologis. politik dan ekonomi yang kesemuanya berada di kiwah satu keesaan. Untuk menciptakan persatuan dan kesatu-an. iman dan rasio. yaitu keesaan Allah SWT. dengan menjadikan keadilan sosial sebagai landasan pokok kehidupan masyarakat manusia. Untuk mengajarkan kemanusiaan yang adil dan beradab. .Ilmu fiqh . Hal ini dijelaskan dalam QS AI-lkhlash : 1 -4 dan QS Ali lmran : 64. kesatuan sosial. 4. natural dan supranatural. 1. 7. kesatuan kepribadian manusia. kesatuan kehidupan dunia dan akhirat. Untuk membersihkan akal dan menyucikan jiwa dari segala bentuk syirik serta menetapkan keyakinan tentang keesaan yang sempurna bagi Tuhan seru se-kaKan alam. penyakit. Perhatikan QS AI-Maidah : 2 dan Ali Imran : 104. 5. 6. kesatuan kebenaran.Ilmu Mauhibah (Ilmu yang bersifat spiritual) Tujuan Diturunkannya Al-Qur¶an. tetapi kesatuan alam semesta. politik dan agama. kesatuan kemerdekaan dan determinisme. kebodohan. menciptakan ummatan wasathan yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Yang pertama Untuk menguatkan hati Nabi Shalallahu µAlaihi wa Sallam. apalagi membuat langsung satu kitab. Qur¶an turun secara berangsur-angsur tentu sangat menolong mereka dalam menghafal serta memahami ayat-ayatnya. Untuk menekankan peranan ilmu dan teknologi guna menciptakan satu peradaban yang sejalan dengan jati diri manusia. Karena Jibril biasa turun membawa Qur¶an kepada Nabi Shallahu µAlaihi wa Sallam lima ayat-lima ayat. dengan turunnya Qur¶an secara berangsur-angsur. surat-persurat dan ayat-perayat. Tidak turun langsung berbentuk satu kitab dengan Tujuan untuk meneguhkan hati Nabi Shalallahu µAlaihi wa Sallam. . Alloh subhanahu wata¶ala berfirman dalam surat al-furqon ayat 32 yang artinya : Berkatalah orang-orang yang kafir : ³Mengapa Al-Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?´. tentu hal itu lebih sangat kuat menancap dan sangat terkesan di hati sang penerima wahyu tersebut. Hikmah yang ketiga adalah. Supaya mudah dihapal dan dipahami. Memang. dipahami maknanya. yakni Nabi Muhammad. Diantara hikmah atau tujuannya adalah sebagai berikut. Ayat tadi menerangkan bahwa Allah memang sengaja menurunkan Qur¶an secara berangsur-angsur. demikianlah supaya kami perkuat hatimu dengannya dan kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). Beliau tentunya juga sangat bergembira dengan kegembiraan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. terbaharui semangatnya dalam mengemban risalah dari sisi Allah. Untuk menantang orang-orang kafir yang mengingkari Qur¶an Allah menantang orang-orang kafir untuk membuat satu surat saja yang sebanding dengannya. Supaya orang-orang mukmin antusias dalam menerima Qur¶an dan giat mengamalkannya. Lantas hikmah apa saja yang dapat kita peroleh dari Hal tersebut? Mari kita simak pembahasan berikut ini. Itulah sebabnya Umar bin Khattab pernah berkata: Pelajarilah Al-Qur¶an lima ayat-lima ayat. dengan panduan dan paduan Nur I lahi.8. kondisi. Memang. Dengan begitu turunnya melaikat kepada beliau juga lebih sering. Al-Qur¶an tidak diturunkan kepada Rasulullah Shallahu µAlaihi wa Sallam sekaligus satu kitab. Sebab dengan turunnya wahyu secara bertahap menurut peristiwa. Tetapi secara berangsur-angsur. sangatlah mudah bagi manusia untuk menghafal serta memahami maknanya. Dan ternyata mereka tidak sanggup membuat satu surat saja yang seperti Qur¶an. Dalam ha l ini Allah men jelask an dalam QS Al-Mujadilah : 11 dan QS Az-Zumar : 9. Lebih-lebih bagi orang-orang yang buta huruf seperti orangorang arab pada saat itu. Hikmah Turunnya Al-Qur an Berangsur-angsur Postingan kali ini kita akan membahas tentang hikmah turunnya Al-Qur¶an secara bertahap alias berangsur-angsur. (Hadist Riwayat Baihaqi) Hikmah keempat adalah. selamat menyimak«« sebagaimana yang kita ketahui segala sesuatu yang Allah kehendaki itu mengandung hikmah dan memiliki tujuan. Nah begitu juga dengan proses turunnya Al-Qur¶an secara bertahap. ayat-ayat Qur¶an begitu turun oleh para sahabat langsung dihafalkan dengan baik. Hikmah kedua adalah. yang tentunya akan membawa dampak psikologis kepada beliau. dan situasi yang mengiringinya. lantas dipraktekkan langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Juga tentang zina. ³Dan dari buah kurma serta anggur. bisa merusak akal. kamu buat minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik «´ Kemudian yang berikutnya turun di surat Al-Baqarah ayat 219. para rasulnya. Untuk lebih memperjelas poin ini kita dapat simak contohnya : Pertama Surat Al-An¶am yang termasuk surat makiyah karena turun di Mekah. surga dan neraka. Tapi. yang pertama kali turun ialah ayat yang terdapat dalam surat an-Nahl ayat 67 yang artinya. harta benda. Untuk lebih menjelaskan lagi bahwa turunnya Al-Qur¶an secara berangsur-angsur. maka pertama kali yang diprioritaskan oleh Al-Qur¶an ialah tentang keimanan kepada Allah. pemborosan harta benda. Nah. Setelah itu turun ayat yang melarang mabuk ketika shalat. Al-Qur¶an turun secara berangsur-angsur. Oleh karena itu. dan bisa menimbulkan berbagai macam masalah kejahatan serta kemaksiatan di masyarakat. jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan´. kemudian turun ayat yang lebih tegas lagi dalam surat al-Maidah ayat 90: ³Hai orang-orang yang beriman. iman kepada hari akhir. Setelah mereka tahu dan menyadari bahwa mabuk saat shalat diharamkan. Juga ayat-ayat yang menerangkan halal haram pada makanan. seperti ayatayat mengenai kabar bohong yang disebarkan oleh kaum munafik untuk memfitnah ummul mukminin Aisyah radiyallahu¶anha. Dan ayat-ayat itu tak henti-henti memotivasi mereka dalam perjuangan ini. sesungguhnya (minum) khamer. Begitulah Qur¶an diturunkan sesuai dengan kejadian-kejadian yang mengiringi perjalanan jihad panjang kaum muslimin dalam memperjuangkan agama Allah di muka bumi. malaikat. dapat kita lihat dalam surat al isro ayat 32. kebangkitan dari kubur. Apalagi pada saat ada peristiwa yang sangat menuntut penyelesaian wahyu. Hikmah yang kelima Mengiringi kejadian-kejadian di masyarakat dan bertahap dalam menetapkan suatu hukum. yakni dimulai dari maslaah-masalah yang sangat penting kemudian menyusul masalah-masalah yang penting. Kemudian. Setelah akidah Islamiyah itu tumbuh dan mengakar di hati. ayat-ayat yang menerangkan hukum-hukum secara rinci. itu diharamkan di Mekkah. Isinya menjelaskan perkara iman. baru Allah menurunkan ayat-ayat yang memerintah berakhlak yang baik dan mencegah perbuatan keji dan mungkar untuk membasmi kejahatan serta kerusakan sampai ke akarnya. iman kepada kitab-kitbnya. (berkorban untuk) berhala. baru menyusul turun di Madinah. sehingga jika manusia telah kembali masuk Islam. seperti tentang utang piutang dan pengharaman riba. minuman. dan bahayanya lebih besar bagi tubuh. mengundi nasib dengan panah. maka . karena masalah yang sangat pokok dalam Islam adalah masalah Iman. Di dalam ayat itu dikatakan bahwa khamer itu mengandung manfaat yang temporal sifatnya. mari kita simak apa yang dikatakan oleh ummul mukminin Aisyah rodhiyallohu µanha. berjudi. bahaya syirik. yang artinya sebagai berikut: Sesungguhnya yang pertama kali turun ialah surat dari surat-surat mufashal yang di dalamnya disebutkan perihal surga dan neraka. dan menerangkan apa yang halal dan haram. bisa kita baca dalam surat An-Nisaa¶ ayat 43. adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan.Kaum muslimin waktu itu memang senantiasa menginginkan serta merindukan turunnya ayat-ayat Qur¶an. kehormatan dan hukum syari¶ah lainnya. ayat-ayat yang merinci hukuman bagi orang yang melakukan zina turun di Madinah kemudian. Contoh kedua Tentang ayat-ayat pengharaman khamer. akidah tauhid. dan ayat-ayat tentang li¶an.

Maksudnya. 2. Ada tiga pendapat yang dikemukakan ulama tafsir dalam hal ini : 1. ³ Makkiyah ialah ayat yang khittabnya/panggilannya ditujukan kepada penduduk Mekkah.Makkiyah adalah semua surat atau ayat yang dinuzulkan di wilayah Mekkah dan sekitarnya. Sedangkan ayat atau surat yang dimulai dengan (wahai orang-orang yang beriman) dikategorikan Madaniyyah. Dan seandainya yang turun itu ayat yang berbunyi: jangan berzina. Berdasarkan khittab/ seruan/ panggilan dalam ayat tersebut. Berdasarkan rumusan di atas. niscaya mereka menjawab: kami tidak akan meninggalkan kebiasaan berzina selama-lamanya. sedang Madaniyah ialah yang khittabnya ditujukan kepada penduduk Madaniyah´. Berdasarkan rumusan di atas. Definisi Al-Makiy dan Al-Madaniy Ada beberapa definisi tentang al-Makiy dan al-Madaniy yang diberikan oleh para ulama yang masing-masing berbeda satu sama lain. Adapun kelemahan pada rumusan ini karena tidak semua ayat alQur¶an dimasukkan dalam kelompok Makiyyah atau Madaniyyah. Tidak semua ayat atau surat di mulai oleh redaksi atau . yang telah dijelaskan oleh para ulama. Adapun kelemahan-kelemahan pada rumusan ini. Sedangkan Madaniyyah adalah semua surat atau ayat yang dinuzulkan di Madinah.. para ulama menyatakan bahwa setiap ayat atau surat yang dimulai dengan redaksi (wahai sekalian manusia) dikategorikan Makkiyyah. Perbedaan ini disebabkan kriteria yang disebabkan oleh perbedaan kriteria yang ditetapkan untuk menetapkan Makiy atau Madaniy sebuah surat atau ayat. tidak selalu yang menjadi sasaran surat atau ayat penduduk Mekkah atau Madinah. . Demikian beberapa hikmah dari diturunkannya Al-Qur¶an secara bertahap. sekiranya yang mula-mula turun ialah ayat yang berbunyi: janganlah kamu minum khamer. karena pada masa itu penduduk Mekkah pada umumnya masih kufur. Hadis ini diriwayatkan Imam Bukhari. Berdasarkan tempat turunnya suatu ayat. Mudah-mudahan bermanfaat«. Wallohu a¶lam«« A. antaa lain: a. Tidak semua ayat atau surat di mulai oleh redaksi meski Makkiyyah dan yang dimulai dengan redaksi meski Madaniyyah. Alasannya ada beberapa ayat al-Quran yang dinuzulkan jauh di luar Mekkah dan Madinah. karena penduduk Madinah pada waktu itu telah tumbuh benihbenih iman di dada mereka. b. sekalipun sesudah hijrah. ³ Makkiyah ialah suatu ayat yang diturunkan di Mekkah.turunlah surat yang menyebutkan tentang halal haram. pasti mereka berkata: kami tidak akan meninggalkan kebiasaan minum khamer selama-lamanya. Nah. sedang Madaniyah ialah yang diturunkan di Madinah´.

sekalipun turunnya di luar Mekkah. tampaknya rumusan al-Makkiy dan al-Madaniy ini lebih populer karena di anggap tuntas dan memenuhi unsur penyusunan ta¶rif (definisi). sehingga berstatus Madaniyyah. Perbedaan-perbedaan pendapat para ulama itu dikarenakan adanya sebagian surat yang seluruhnya ayat-ayat Makkiyyah atau Madaniyyah dan ada sebagian surat lain yang tergolong Makiyyah atau Madaniyyah. 4. Sebagian ulama lain mengatakan bahwa jumlah surat Makiyyah ada 84 surat. Setiap surat yang di dalamnya terdapat ayat sajdah termasuk Makiyyah. sedang Madaniyah ialah yang diturunkan sesudah Nabi hijrah. sekalipun turunnya di Mekkah´. Setiap surat yang di dalamnya terdapat kata Kata ini dipergunakan untuk memberi peringatan yang tegas dan keras kepada orang-orang Mekkah yang keras kepala. yaitu surat-surat yang sebetulnya kebanyakan ayat-ayatnya adalah Makiyyah. . tidak ada satupun yang Madaniyyah. para ulama membagi surat-surat al-Qur¶an menjadi dua kelompok. Adapun surat al-Ra¶d yang masih diperselisihkan. tetapi di dalamnya berisi sedikit ayat yang lain statusnya. Berdasarkan masa turunnya ayat tersebut. Surat-surat Madaniyyah yang berisi ayat Makiyyah. Suratsurat al-Qur¶an itu terbagi menjadi empat macam : 1. 3.3. yaitu surat-surat Makiyyah yang seluruh ayat-ayatnya juga berstatus Makiyyah semua. yaitu surat-surat Makiyyah dan Madaniyyah. tetapi di dalamnya ada sedikit ayatnya yang berstatus Madaniyyah. Setiap surat yang di dalamnya terdapat kisah para Nabi dan umat-umat terdahulu termasuk Makiyyah. B. kecuali surat al-Baqarah dan Ali µImran yang keduanya termasuk Madaniyyah. yaitu surat-surat Madaniyyah yang seluruh ayat-ayatnya juga berstatus Madaniyyah semua. Sebagian ulama mengatakan bahwa jumlah surat Makiyyah ada 94 surat. 3. Surat-surat Makiyyah murni. Klasifikasi Ayat-Ayat dan Surat-Surat Al-Qur¶an Pada umunya. Ciri/kandungan Makiyyah Ada beberapa karakteristik yang dimiliki Makiyyah di antaranya : 1. Mereka berbeda pendapat dalam menetapkan jumlah masing-masing kelompoknya. tidak ada satupun yang Makiyyah. sedangkan Madaniyyah ada 20 surat. sedangkan yang Madaniyyah ada 30 surat. Surat-surat Makiyyah yang berisi ayat Madaniyyah. tetapi di dalamnya ada sedikit ayatnya yang berstatus Makiyyah. 2. yaitu surat-surat yang sebetulnya kebnyakan ayat-ayatnya adalah Madaniyyah. C. . Surat-surat Madaniyyah murni. Ciri ciri Makiyyah dan Madaniyyah Para ulama telah menetapkan karakteristik/ciri Makiyyah dan Madaniyyah sebagai berikut : a. sehingga berstatus Makiyyah. 2. Dibanding dua rumusan sebelumnya .I ³ Makkiyyah ialah ayat yang diturunkan sebelum Nabi hijrah ke Madinah.

hukum warisan. Setiap surat yang dimulai dengan huruf abjad. 8. . Pada masa rasullah untuk menulis teks al-Qur¶an sangat terbatas sampai-sampai para sahabat menulis Al-Qur¶an di pelepah-pelepah kurma. Terdapat banyak redaksi sumpah dan ayatnya pendek-pendek. terutama hal-hal yang berhubungan dengan memelihara agama. 5. 5. Sebagian surat-suratnya panjang-panjang. harta. Hanya sebelas ayat pertama dari surat tersebut yang termasuk Madaniyyah dan ayat-ayat tersebut menjelaskan perihal orang-orang munafik. 7. qisas. 4. kecuali Al-Baqarah dan Ali µImran. kealaman dan jiwa. ketika wahyu turun Rasulullah menyuruh Zaid bin Tsabit untuk menulisnya agar mudah dihafal karena Zaid merupakan orang yang paling berpotensi dengan penulisan. Di samping itu. jiwa. Membantah argumen-argumen kaum Musyrikin dan menjelaskan kekeliruan mereka terhadap berhala-berhala mereka. perdamaian dan perjanjian. Ciri/kandungan Madaniyyah Seperti halnya dalam Makiyyah. Periode Nabi Muhammad SAW Alqur¶an merupakan sumber ajaran islam yang diwahyukan kepada rasulullah secara mutawatir pada saat terjadi suatu peristiwa. Setiap surat yang menjelaskan hal ihwal orang-orang munafik termasuk Madaniyyah. hukumhukumnya. kecual surat Al-Ankabut yang di nuzulkan di Makkah. antaranya . riba. Setiap surat yang di dalamnya terdapat kisah Nabi Adam dan Iblis termasuk Makiyyah. puasa. 2.lempengan-lempengan batu dan dikeping-keping tulang hewan. sebagian dari mereka dengan sendirinya menulis teks Al-qur¶an untuk di milikinya sendiri diantara sahabat tadi . 3. urusan-urusan perang. jual beli. ayat-ayat Makiyyah ini menyeru untuk beriman kepada para rasul dan para malaikat serta menggunakan argumen-argumen akal. Setiap surat yang mengandung izin untuk berjihad. dan lain-lain. termasuk Madaniyyah. . para sahabat selalu menyodorkan al-Qur¶an kepada Nabi dalam bentuk hafalan dan tulisan-tulisan. akal. Mengandung seruan untuk berakhlak mulia dan berjalan di atas syariat yang hak tanpa terbius oleh perubahan situasi dan kondisi. meskipun al-qur¶an sudah tertuliskan pada masa rasulullah tapi al-qur¶an masih berserakan tidak terkumpul menjadi satu mushaf.4. termasuk Madaniyyah. Setiap surat yang berisi hukum pidana. Sejarah Pembukuan Al-Qur¶an 1. Madaniyyah pun mempunyai karakteristik : 1. alphabet (tahjjiy) ditetapkan sebagai Makiyyah. Huruf tahjjiy yang dimaksud di 6. 9. seperti shalat. dll Mengandung seruan (nida¶) untuk beriman kepada Allah dan hari kiamat dan apaapa yang terjadi di akhirat. hak-hak perdata dan peraturan-peraturan yang berhubungan dengan perdata serta kemasyarakatan dan kenegaraan. haji. disamping rasulullah menghafalkan secara pribadi. . dan keturunan. b. zakat. kecuali surat Al-Baqarah yang tergolong Madaniyyah. talak. Menjelaskan hukum-hukum amaliyyah dalam masalah ibadah dan muamalah. Nabi juga memberikan pengajaran kepada sahabat-sahabatnya untuk dipahami dan dihafalkan. sebagian ayat-ayatnya panjang-panjang dan gaya bahasanya cukup jelas dalam menerangkan hukum-hukum agama.

yang menewaskan sekitar 70 para Qori¶dan Hufadz. 3. Hufaidzah bin Yaman yang pernah ikut perang melawan syam bagian Armenia bersamaan Azabaijan bersama penduduk Iraq. banyak dari kalangan orang islam kembali kepada kekhafiran dan kemurtatan. Hufaidzah menceritakan adanya perbedaan qiro¶ah kepada Ustman Bin Affan. Periode Umar Bin Khattab Pada masa masa Umar Bin Khattab tidak terjadi penyusunan dan permasalahan apapun tentang AlQur¶an karena al-Qur¶an dianggap sudah menjadi kesepakatan dan tidak ada perselisihan dari kalangan sahabat dan para tabi¶in. Periode Ustman Bin Affan Semakin banyaknya negara yang ditaklukkan oleh Umar Bin Khattab. tentunya ada perubahan ketika ada ayat yang turun lagi atau ada ayat yang dimanskuh oleh ayat yang lain. Basrah dan Suria. Perbedaan Qiro¶ah tersebut terjadi disebabkan kelonggarankelonggaran yang diberikan Nabi kepada Kabilah-kabilah Arab dalam membaca Al-Qur¶an menurut dialeknya masing-masing. yang lima dikirimkan kewilayah islam seperti Mekkah. umar khawatir AlQur¶an akan punah dan tidak akan terjaga. Zaid bin Tsabit dengan kecerdasannya mengumpulkan Al-Qur¶an dengan berpegang teguh terhadap para Hufadz yang masih tersisa dan tulisan-tulisan yang tadinya ditulis oleh Zaid atas perintah rasullullah. dan sebagian ayat-ayat Al-Qur¶an ada yang dimansukh oleh ayat yang lain. Yang kemudian Zaid menyerahkan hasil penyusunannya kepada Abu Bakar. Yang kemudian dipegang oleh umar Bin Khattab sebagai gantinya kekhalifaan. dengan jiwa kepemimpinannya umar mengirim pasukan untuk memerangi. mushaf yang asli dikembalikan lagi ke hafsah. dikhawatirkan akan terjadi perpecahan dikalangan ummat islam tentang kitab suci. dan beliau menyimpannya sampai wafat. kemudian umar menyusulkan kepada Abu Bakar yang saat itu menjadi khalifah untuk membukukan Al-Qur¶an yang masih berserakan kedalam satu mushaf. disekian banyaknya pemeluk agama islam mengakibatkan perbedaan tentang Qiro¶ah antara suku yang satu dengan yang lain. Periode Abu Bakar r. Selanjutnya Ustman Bin Affan membentuk lajnah (panitia) yang dipimpin oleh Zaid Bin Harist dengan anggotanya Abdullah bin Zubair. Said ibnu Ash dan Abdurahman bin Harits. Tragedi ini dinamakan perang Yamamah (12 H). masing-masing suku mengklaim Qiro¶ah dirinyalah yang paling benar. Mushaf ini dinamai Al-Imam yang lebih dikenal mushaf Ustmani. Kuffah. Ustman Bin Affan memerintahkan kepada Zaid untuk mengambil Mushaf yang berada dirumah Hafsah dan menyeragamkan bacaan dengan satu dialek yakni dialek Qurays. Pada awalnya Zaid bin Tsabit menolaknya dikarenakan pembukuan Al-Qur¶an tidak pernah dilakukan pada masa rasulullah sebagaimna Abu Bakar menolaknya. sehingga ia wafat. karena al-Qur¶an merupakan sumber pokok ajaran islam.a Ketika rasullulah wafat dan kekholifaaan jatuh ketangan Abu Bakar. sekaligus ia mengusulkan untuk segera menindak perbedaan dan membuat kebijakan. . 4. Abu Bakar menyerahkan urusan tersebut kepada Zaid Bin Tsabit . Setelah pulang dari peperangan. dimasa kekhalifaan umar lebih konsen terhadap perluasan wilayah. demikian terbentuknya mushaf ustmani dikarenakan adanya pembaruan mushaf pada masa ustmani. semakin beraneragamlah pula pemeluk agama islam.Pada saat itu memang sengaja dibentuk dengan hafalan yang tertanam didalam dada para sahat dan penulisan teks Al-Qur¶an yang di lakukan oleh para sahabat. dengan penuh keyakinan dan semangatnya untuk melestarikan Al-Qur¶an umar berkata kepada Abu Bakar ³ Demi allah ini adalah baik´ dengan terbukanya hati Abu Bakar akhirnya usulan Umar diterima. pada awalnya Abu Bakar menolak dikarenakan hal itu tidak dilakukan pada masa rasulullah. jika umpama Al-Qur¶an segera dibukukan pada masa rasulullah. seperti perbedaan yang terjadi dikalangan orang yahudi dan Nasrani yang mempermasalahkan perbedaan antara kitab injil dan taurat. Ustman Bin Affan menyuruh Zaid untuk memperbanyak mushaf yang diperbaruhi menjadi 6 mushaf. Telah melihaT perbedaan tentang Qiro¶ah tersebut. 2. dari sekian banyaknya para hufadz yang gugur. yang satu tersisa disimpan sendiri oleh Ustaman dirumahnya. Dan tidak dibukukan didalam satu mushaf di karenakan rasulullah masih menunggu wahyu yang akan turun selanjutnya. Zaid sangat hati-hati didalam penulisannya. Yang selanjutnya kekhalifaan jatuh ketangan Ustman bin Affan.

Kesimpulan Pada masa rasulullah Al-Qur¶an hanya berupa hafalan-hafalan yang berada benak dada para sahabat dan tulisan dilempeng-lempeng batu. Pada masa Umar Bin Khattab tidak terjadi permasalahan dengan Al-Qur¶an. pada masa itu AlQur¶an masih berserakan belum ada pembukuan al-Qur¶an dalam satu mushaf. yang kemudian Mushaf tersebut disebut Al-Imam yang lebih dikenal dengan mushaf Ustmani. dikawatirkan Al-Qur¶an akan punah. atas usulan Umar pada Masa Abu Bakar mulailah terbentuk pembukuan Al-Qur¶an. atas usulan hufaidazh ustman menyeragamkan pembacaan Al-Qur¶an dengan dialek Qurays. pelepah kurma dan dikeping-keping tulang. Masa Ustman terjadi perubahan Mushaf Al-Qur¶an karena adanya perbedaan antar suku. . yang dipicu oleh banyak para Qori¶ dan hufadz yang gugur pada peperangan Yamamah ( melawan orang yang murtad dari islam ). . karena pada masa pemerintahan Umar Bin Khattab lebih berorientasi terhadap perluasan wilayah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful