MAKALAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN Permasalahan Yang Timbul Dari Pilkada 2005

di susun oleh : Nama NIM Prodi / Fak. : Bedi Prasetiyo : A11.2007.03627 : TI-S1 / Ilmu Komputer

FAKULTAS ILMU KOMPUTER UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO SEMARANG

Walaupun masih terdapat masalah yang timbul ketika waktu pelaksanaan. DPR.2011/2012 BAB I PENDAHULUAN Kesadaran akan pentingnya demokrasi sekarang ini sangat tinggi. diadakan Pilkada untuk memilih para pemimpin daerahnya. Namun dalam pelaksanaan pilkada ini muncul penyimpangan penyimpangan. Tidak seperti tahun tahun yang dahulu yang menggunakan perwakilan dari partai. Setelah suksesnya Pemilu tahun 2004. DPD. Sehingga warga dapat menentukan peminpin daerahnya menurut hati nuraninya sendiri. 2 . Hal ini dapat dilihat dari peran serta rakyat Indonesia dalam melaksanakan Pemilihan Umum baik yang dilaksakan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Ini terlihat dari jumlah pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya yang sedikit. Pemilihan umum ini langsung dilaksanakan secara langsung pertama kali untuk memilih presiden dan wakil presiden serta anggota MPR. mulai bulan Juni 2005 lalu di 226 daerah meliputi 11 propinsi serta 215 kabupaten dan kota. Tetapi masih dapat dikatakan suses. Mulai dari masalah administrasi bakal calon sampai dengan yang berhubungan dengan pemilih. DPRD di tahun 2004.

dan kota dipilih secara demokratis. Dan sekarang ini mulai bulan Juni 2005 telah dilaksanakan Pemilihan Kepala Daerah atau sering disebut pilkada langsung. Pemerintahan yang kewenangannya pada rakyat. Seperti telah diamanatkan Pasal 18 Ayat (4) UUD 1945. 1. Pelaksanaan dari demokrasi ini telah dilakukan dari dahulu di berbagai daerah di Indonesia hingga Indonesia merdeka sampai sekarang ini. kabupaten. Demokrasi di negara Indonesia bersumberkan dari Pancasila dan UUD ’45 sehingga sering disebut dengan demokrasi pancasila. dengan berpangkal tolak pada faham kekeluargaan dan kegotongroyongan Indonesia pertamakali dalam melaksanakan Pemilu pada akhir tahun 1955 yang diikuti oleh banyak partai ataupun perseorangan. Dan pada tahun 2004 telah dilaksanakan pemilu yang secara langsung untuk memilih wakil wakil rakyat serta presiden dan wakilnya. Ada lima pertimbangan penting penyelenggaraan pilkada langsung bagi perkembangan demokrasi di Indonesia. Hal ini telah diatur dalam UU 3 . oleh rakyat. Pilkada langsung merupakan perwujudan konstitusi dan UUD 1945. Pilkada ini merupakan sarana perwujudan kedaulatan rakyat. Demokrasi Pancasila berintikan musyawarah untuk mencapai mufakat. masing-masing sebagai kepala pemerintahan daerah provinsi. Gubernur. Bupati dan Wali Kota. Pilkada langsung merupakan jawaban atas tuntutan aspirasi rakyat karena pemilihan presiden dan wakil presiden. Pengertian dan Landasan Hukum Pilkada Kata demokrasi berasal dari bahasa Yunani yaitu demos yang berarti rakyat dan kratos yang berarti pemerintahan. Semua anggota masyarakat (yang memenuhi syarat ) diikutsertakan dalam kehidupan kenegaraan dalam aktivitas pemilu. Sehingga demokrasi dapat diartikan pemerintahan dari rakyat dari rakyat. bahkan kepala desa selama ini telah dilakukan secara langsung. DPD.BAB II PEMBAHASAN A. DPR. 2. untuk rakyat.

Dengan begini diharapkan kepala daerah yang terpilih merupakan pilihan rakyat daerah tersebut. maka komitmen pemimpin lokal dalam mewujudkan tujuan otonomi daerah. Mereka sebagian besar para pemimpin partai politik besar yang memenangi Pemilu 2004. Disadari atau tidak.No 32 Tahun 2005 tentang Pemilihan. Keberhasilan otonomi daerah salah satunya juga ditentukan oleh pemimpin lokal. Rakyat memilih kepala daerah masing masing secara langsung dan sesuai hati nurani masing masing. Pilkada langsung merupakan sarana penting bagi proses kaderisasi kepemimpinan nasional. stock kepemimpinan nasional amat terbatas. Pelaksanaan dan Penyelewengan Pilkada Pilkada ini ditujukan untuk memilih Kepala daerah di 226 wilayah yang tersebar dalam 11 provinsi dan 215 di kabupaten dan kota. Dari jumlah penduduk Indonesia yang lebih dari 200 juta. jumlah pemimpin nasional yang kita miliki hanya beberapa. Pilkada langsung sebagai sarana untuk memperkuat otonomi daerah. Ia menjadi media pembelajaran praktik berdemokrasi bagi rakyat yang diharapkan dapat membentuk kesadaran kolektif segenap unsur bangsa tentang pentingnya memilih pemimpin yang benar sesuai nuraninya. 4. Pengangkatan. B. Pilkada langsung sebagai sarana pembelajaran demokrasi (politik) bagi rakyat (civic education). 5. antara lain untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan selalu memerhatikan kepentingan dan aspirasi masyarakat agar dapat diwujudkan. Tugas yang dilaksanakan KPUD ini sangat berat yaitu 4 . dan Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. Pengesahan. harapan akan lahirnya pemimpin nasional justru dari pilkada langsung ini. Semakin baik pemimpin lokal yang dihasilkan dalam pilkada langsung 2005. 3. Dalam pelaksanaannya pilkada dilaksanakan oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah masing masing. Karena itu.

hingga pelaksanaan pilkada ini. Kasus kasus yang masih hangat yaitu pembakaran kantor KPUD salah satu provinsi di pulau sumatra. sering kali melakukan Ikrar siap menang dan siap kalah. Hal ini membuktikan sangat rendahnya kesadaran politik masyarakat. Kecurangan ini dilakukan oleh para bakal calon 5 . Hal ini sangat memprihatinkan sekali . Tindakan ini sangat memprihatinkan. Dalam seperti : 1. Ini sangat berbahaya sekali. Sehingga dia akan mengerahkan massanya untuk mendatangi KPUD setempat. Seandainya calon tersebut dapat lolos bagai mana nantinya daerah tersebut karena telah dipimpin oleh orang yang bermental korup. Karena mulai dari awal saja sudah menggunakan cara yang tidak benar. Misalnya saja di Jakarta. Mulai dari seleksi bakal calon. Seringkali bagi pihak yang kalah tidak dapat menerima kekalahannya dengan lapang dada. Seringkali ditemukan pemakaian ijasah palsu oleh bakal calon. para anggota KPUD terbukti melakukan korupsi dana Pemilu tersebut. Dan mungkin juga ketika proses penyeleksian bakal calon juga kejadian seperti ini. jika tidak iklas ingin memimpin maka tidakan yang pertama adalah mencari cara bagaimana supaya uangnya dapat segera kemali atau “balik modal”. Selain masalah dari para bakal calon. Namun tetap saja timbul masalah masalah tersebut.mengatur pelaksanaan pilkada ini agar dapat terlaksana dengan demokratis. Dengan mudah mereka memanfaatkan jabatannya untuk kesenangan dirinya sendiri. Dari sini dapat kita lihat yaitu rendahnya mental para penjabat. Dalam pelaksanaan pilkada ini pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Sehingga dari KPUD sebelum melaksanakan pemilihan umum. terdapat juga permasalahan yang timbul dari KPUD setempat. persiapan kertas suara. Money politik pelaksanaan pilkada di lapangan banyak sekali ditemukan penyelewengan penyelewengan. Dan juga biaya untuk menjadi calon yang tidak sedikit. Dana yang seharusnya untuk pelakasanaan pemilu ternyata dikorupsi. Dalam pelaksanaannya selalu saja ada masalah yang timbul. Misalnya agar bisa lolos seleksi maka harus membayar puluhan juta.

Sebagai contoh juga yaitu di daerah penulis oknum pegawai pemerintah melakukan intimidasi terhadap warga agar mencoblos salah satu calon. Selain itu media TV lokal sering digunakan sebagi media kampanye. Sleman. Jadi sangat rasional sekali jika untuk menjadi calon kepala daerah harus mempunyai uang yang banyak. Hal ini sangat menyeleweng sekali dari aturan pelaksanaan pemilu. juga terjadi hal tersebut. 4.Sepertinya money politik ini selalu saja menyertai dalam setiap pelaksanaan pilkada. Dengan memanfaatkan masalah ekonomi masyarakat yang cenderung masih rendah. Tapi memang dengan uang dapat membeli segalanya. Contoh yang nyata saja yaitu di lingkungan penulis yaitu desa Karangwetan. Tegaltirto. Karena untuk biaya ini. Intimidasi Intimidasi ini juga sangat bahaya. Pendahuluan start kampanye Tindakan ini paling sering terjadi. Sering juga untuk bakal calon yang merupakan Kepala daerah saat itu melakukan kunjungan keberbagai daerah. spanduk. Kampanye negatif Kampanye negatif ini dapat timbul karena kurangnya sosialisasi bakal calon kepada masyarakat. biaya itu. Padahal sudah sangat jelas sekali aturan aturan yang berlaku dalam pemilu tersebut. Dengan masih rendahnya tingkat pendidikan seseorang maka dengan mudah orang itu dapat diperalat dan diatur dengan mudah hanya karena uang. Berbagai cara dilakukan seperti pemasangan baliho. Yaitu salah satu dari kader bakal calon membagi bagikan uang kapada masyarakat dengan syarat harus memilih bakal calon tertentu. Bakal calon menyam paikan visi misinya dalam acara tersbut padahal jadwal pelaksanaan kampanye belum dimulai. Hal ini disebabkan karena sebagian masyarakat masih 6 . Berbah. Kunjungan ini intensitasnya sangat tinggi ketika mendekati pemilu. maka dengan mudah mereka dapat diperalat dengan mudah. Ini sangat berlawanan yaitu ketika sedang memimpin dulu. 3. selebaran. 2.

Seluruh pihak yang ada baik dari daerah sampai pusat. Dengan ini maka dapat menghindari munculnya konflik. Tokoh tokoh masyarakat yang merupakan panutan dapat menjadi souri tauladan bagi masyarakatnya. C. Solusi Dalam melaksanakan sesuatu pasti ada kendala yang harus dihadapi. Dalam berdemokrasi wajar jika muncul perbedaan pendapat. 7 . Untuk menggulangi permasalah yang timbul karena pemilu antara lain : 1. 2. Memilih dengan hati nurani. Hal ini diharapkan tidak menimbulkan konflik. 4. Dengan adanya sosialisasi ini diharapkan masyarakat dapat memperoleh informasi yang akurat. Sosialisasi kepada warga ditingkatkan. maka pelaksanaan pilkada dapat berjalan dengan lancar. Dengan kesadaran menghargai pendapat orang lain. Sehingga prinsip prinsip dari pemilu dapat terlaksana dengan baik. Jadi mereka hanya “manut” dengan orang yang disekitar mereka yang menjadi panutannya. Semua warga saling menghargai pendapat. Tetapi bagaimana kita dapat meminimalkan kendala kendala itu. bersama sama menjaga ketertiban dan kelancaran pelaksanaan pilkada ini. Sehingga menghindari kemungkinan fitnah terhadap calon yang lain. 3. Untuk itu diperlukan peranserta masyarakat karena ini tidak hanya tanggungjawab pemerintah saja.sangat kurang terhadap pentingnya informasi. Kampanye negatif ini dapat mengarah dengan munculnya fitnah yang dapat merusak integritas daerah tersebut. Dalam memilih calon kita harus memilih dengan hati nurani sendiri tanpa ada paksaan dari orang lain.

BAB III KESIMPULAN Bangsa yang belajar adalah bangsa yang setiap waktu berbenah diri. Pemerintah Indonesia telah berusaha membenahi sistem yang telah dengan landasan untuk mengedepankan kepentingan rakyat. Sehingga pemilihan umum dapar berjalan dengan lancar. Sehingga masyarakat dapat sadar dengan pentingnya berdemokrasi. Ini semua dapat digunakan untuk pembelajaran politik masyarakat. Manusia yang baik tidak akan melakukan kesalahan yang pernah dilakukan. Walaupun dalam pelaksanaan pilkada ini masih ditemui berbagai macam permasalhan tetapi ini semua wajar karena indonesia baru menghadapi ini pertama kalinya setelah pemilu langsung untuk memilih presiden dan wakilnya. menghargai pendapat. kebersamaan dalam menghadapai sesuatu. 8 . Semoga untuk pemilihan umum yang berikutnya permasalah yang timbul dapat diminimalkan.

1973. 2000. www. Redaksi Kompas. 9 .Jakarta: Yudhistira. 3.kr.com edisi Rabu. www.com edisi selasa. Ensiklopedi Umum . APBN-P 2005 Bantu Rp 464. 22 Februari 2005 4. www.Optimisme hadapi pilkada langsung. Hasan Shadily. dkk.id edisi Jum’at. 15 Juli 2005 2. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 2 SMU. Jakarta: Yayasan Dana Buku Franklin Jakarta.9 Miliar .kompas. Abraham Panumbangan (mahasiswa fisipol UMY). Suardi Abubakar.co.kompas. Ma’ruf (Mentri Dalam Negeri). 30 Maret 2005 5. dkk.Masih perlu waktu. M.DAFTAR PUSTAKA 1.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful