(download asuransi syariah

)

landasan

teori

Akad Dalam Asuransi Syariah
http://www.syakirsula.com/index.php? option=com_content&view=article&id=161:akad-dalam-asuransisyariah&catid=32:asuransi-syariah&Itemid=76

Aqad (akad) Lafal akad, berasal dari lafal Arab al- ‘aqd yang berarti perikatan, perjanjian, dan pemufakatan al-ittifaq. Secara terminologi fiqh, akad didefinisikan dengan: “Pertalian ijab (pernyataan melakukan ikatan) dan qabul

(pernyataan penerimaan ikatan) sesuai dengan kehendak syariat yang berpengaruh pada obyek perikataan.1 Pencantuman kalimat yang sesuai dengan kehendak syariat

maksudnya adalah bahwa seluruh perikatan yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih tidak dianggap sah apabila tidak sejalan dengan kehendak syara’. Misalnya, kesepakatan untuk melakukan transaksi riba, menipu orang lain, atau merampok kekayaan orang lain. Sedangkan pencantuman kalimat “berpengaruh pada obyek perikatan” maksudnya adalah terjadinya perpindahan pemilikan dari satu pihak (yang melakukan ijab) kepada pihak yang lain (yang menyatakan qabul).2 Dalam teori hukum kontrak secara syariah (nazarriyati al-`uqud),

setiap terjadi transaksi, maka akan terjadi salah satu dari tiga hal berikut, pertama kontraknya sah, kedua kontraknya fasad dan ketiga aqadnya batal.
1 2

Untuk

melihat

kontrak

itu

jatuhnya

kemana,

maka

perlu

Ibn `Abidin, Radd al Muhtar `ala ad-Dur al-Mukhtar, Amiriyah, Mesir, tt, jilid II, hal 255 Nasrun Harun, Op., Cit., hal 97

maka penjual disebut dengan mujib sedangkan pembeli disebut dengan qabil.diperhatikan instrumen mana dari aqad yang dipakai dan bagaimana aplikasikasinya. Ijab adalah pernyataan pertama yang dikemukakan oleh salah satu pihak. Misalnya dalam akad jual beli. melainkan boleh juga dari penjual. Materi Training Certified Islamic Insurance Spesialist . Dalam kasus jual beli.Lembaga Diklat Depkeu. LPKG. akibatnya adalah berpindahnya pemilikan barang dari penjual kepada pembeli dan penjual berhak menerima harga barang. setiap pernyataan pertama yang dikemukakan oleh salah satu pihak yang ingin mengikatkan diri dalam suatu akad disebut mujib (pelaku ijab) dan setiap pernyataan kedua yang diungkapkan pihak lain setelah ijab disebut qabil (pelaku qabul). sesuai dengan ketentuan syara’. Pernyataan pihak-pihak yang berakad itu disebut ijab dan qabul. jika pernyataan untuk melakukan jual beli datangnya dari penjual. Dalam akad ar-rahn (jaminan utang). pihak penerima jaminan berhak untuk menguasai barang jaminan (al-marhun) sebagai jaminan utang dan pihaknya yang menjamin barang (al-rahin) berkewajiban melunasi 3 Jafril Khalil. Oleh sebab itu. misalnya. Apabila ijab dan qabul telah memenuhi syaratsyaratnya.3 Az-Zarqa menyatakan bahwa dalam pandangan syara’ suatu akad merupakan ikatan secara hukum yang dilakukan oleh dua atau beberapa pihak yang sama-sama berkeinginan untuk mengikatkan diri. hal 1 . Kehendak atau keinginan pihak-pihak yang mengikatkan diri itu sifatnya tersembunyi dalam hati. Sedangkan qabul adalah pernyataan pihak lain setelah ijab yang menunjukkan persetujuannya untuk mengikatkan diri. Pernyataan ijab tidak selalu datangnya dari pembeli. Atas dasar ini.CIIS. lanjut Az-Zarqa’. 2003. Aqad-Aqad Produk Keuangan Islam. maka terjadilah perikatan antara pihak-pihak yang melakukan ijab dan qabul dan muncullah segala akibat hukum dari akad yang disepakati itu. untuk menyatakan kehendak masing-masing harus diungkapkan dalam suatu pernyataan. misalnya. yang mengandung keinginannya secara pasti untuk mengikatkan diri. tanpa membedakan antara pihak mana yang memulai pernyataan pertama itu.

hal 12 . Sebab pada asalnya harta seseorang muslim lain itu tidak kecuali dipindahkan kesukaan (kerelaan). Untuk maksud itu maka 6 akad-akad dalam mu`amalah sangat luas sampai mencakup segala apa saja yang dapat merealisir kemaslahatankemaslahatan. kecuali apabila ia berikan miliknya itu dengan kerelaan bukan terpaksa. 4 akad as-Salam (meminjamkan barang). Apakah akad yang dipakai adalah akad jual-beli (tabaduli). seperti halnya pembeli wajib menyerahkan harga dan penjual menyerahkan barang jualannya kepada pembeli secara jelas. hal 205 7 Muhammad Syakir Sula. Beirut. Op. Keadilan itu diantaranya ada yang jelas dapat diketahui oleh setiap orang dengan akalnya. al Madkhal al-Fiqh al `Am al Islami fi Tsaubihi al-Jadid. seorang ulama salaf ternama dalam kitabnya yang terkenal Majmu` Fatawa dibangun halal. akad Syirkah Mustafa Ahmad az-Zarqa. Dar alFikr.. dengan ketulusan bukan karena tertipu atau terkecoh. dan dilarang berbuat curang dalam menakar dan menimbang. wajib jujur dan berterus terang. keluasan dan keuniversalan ajaran Islam. Mekkah. Namun demikian kejelasan akad dalam praktek muamalah penting dan menjadi prinsip karena akan menentukan sah tidaknya mu`amalat tersebut secara syar`i 7. atas dasar jika 5 mengatakan: “Akad dalam Islam keadilan dengan dan menjauhkan hatinya mewujudkan haknya penganiayaan. dan kaidah-kaidahnya memberi kemungkinan mengadakan macam-macam akad baru yang dapat merealisir pola-pola mu`amalah baru pula. Maktabah Ibn Taimiyyah. Malik `Abdul `Aziz University. Ijab dan qabul ini. hal 329 5 6 Ibnu Taimiyyah. haram berbuat bohong dan berkhianat. dalam istilah fiqh disebut juga dengan shighat al-‘aqd (ungkapan/pernyataan akad)4 Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. An-Nizamul Iqtishadi fil Islam Mabaadi-uhu Wahdafuhu.Cit. Jilid I. dan bahwa hutang itu mesti dibalas dengan melunasinya dan mengucapkan pujian. 1960 (28 : 384) Dr Ahmad Muhammad Al-Assal dan Fathi Ahmad Abdul Karim. Hal inilah yang merupakan kemudahan.utangnya. Akan tetapi hatinya tidak akan suka. Sebab mu`amalah pada dasarnya adalah boleh dan tidak terlarang.. 1976. majmu` Fatawa.

at-Taqhabun 64:11 . Ibid. Pada terjadi asuransi kerancuan/ketidakjelasan konvensional akad yang melandasinya semacam akad jual beli (aqd tabaduli)... akad Muzara`ah (pengelolaan tanah dan bagi hasil). Syarat-syarat dalam transaksi jual beli adalah adanya penjual. Padahal hanya Allah yang tahu tahun berapa kita meninggal. Fathul Bari Jilid 5 : 275 hal 335-341 10 Muhammad Syakir Sula. pembeli. maka syarat-syarat dalam akad tersebut harus terpenuhi dan tidak melanggar ketentuanketentuan syariah. pembeli. Mudharabah. Jilid 12.(kerjasama). harga dan akadnya Pada asuransi konvensional. Fiqhus Sunnah. akan tetapi yang menjadi masalah adalah harganya (berapa besar premi yang akan dibayar) kepada perusahaan asuransi. Lihat juga Shahih Muslim (Bab Muamalat). Cit. tergantung usia kita. Dalam asuransi dalam biasa masalah (konvensional) akad. Jadi pertanggungan yang akan diperoleh sesuai dengan yang diperjanjikan ini jelas. penjual. hal 13 11 QS. Firman Allah SWT: Maa-ashoba minmushibah illa bi-idznillah “Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah”11 8 9 Lihat Dr Ahmad Muhammad. Apakah akadnya jual beli (aqd tabaduli) atau akad tolong-menolong (aqd takafuli) atau akad lainnya seperti yang disebutkan diatas. Karena akadnya adalah akad jual beli. akan tetapi jumlah yang akan dibayarkan menjadi tidak jelas. Op. Wakalah dan seterusnya 8 Demikian pula halnya dalam asuransi. 9 barang yang diperjualbelikan atau yang akan diperoleh serta ijab kabul (akad) jelas. barang yang diperjualbelikan.akad Ijarah (sewa). akad antara perusahaan dan peserta harus jelas. hal 15. hal 205-215 (Bab macam-macam akad) Said Sabiq. dan hanya Allah yang tahu kapan kita meninggal 10 .

misalnya.Terdapat perbedaan pendapat para ulama fiqh dalam menentukan rukun suatu akad. perbuatan. pernyataan ijab diungkapkan dengan perkataan “saya jual buku ini dengan harga Rp. Dalam kaitannya dengan ijab dan qabul ini. Saya kutib dari Nasrun Haroen. Cit. sehingga dapat dipahami jenis akad. Ijab dan qabul ini bisa berbentuk perkataan. sedangkan pihak-pihak yang berakad dan obyek akad berada diluar esensi akad. dan isyarat. tetapi termasuk syarat-syarat akad. shighat al-‘aqd ini diwujudkan melalui ijab dan qabul. hal 2. 10.. Beirut. ijab dan qabul itu terdapat kesesuaian c. Tujuan yang terkandung dalam pernyataan itu jelas. karena melalui pernyataan inilah diketahui maksud setiap pihak yang melakukan akad. hal 100 . karena menurut mereka.. masing pihak secara pasti. Obyek akad (al-ma’qud ‘alaih) Ulama Hanafiyah berpendirian bahwa rukun akad itu hanya satu. yaitu shighat al-‘aqd (ijab dan qabul). tidak termasuk rukun akad. Jilid 3. Pihak-pihak yang berakad (al-muta’aqidain 3. yang dikatakan rukun itu adalah suatu esensi yang berada dalam akad itu sendiri. tidak ragu-ragu. menurut mereka. Dar Fikr. para lama fiqh mensyaratkan13: a. Dalam akad jual beli. karena akad-akad itu sendiri berbeda dalam sasaran dan hukumnya. b. dan pihak lainnya menyatakan qabul dengan perkataan “saya beli buku ini 12 Antara Pernyata an ijab dan qabul itu mengacu kepada suatu kehendak masing- Ad-Dardir. tulisan. sedangkan pihak-pihak yang berakad dan obyek akad. hal 99 13 Ibid. Shighat al-‘aqd merupakan rukun akad yang terpenting. Pernyataan untuk mengikatkan diri (shighat al-‘aqd) 2. Op. tt. yang dikehendaki.000”. Jumhur ulama fiqh menyatakan rukun akad terdiri atas12: 1. Asy-Syarh ak Kabir `Ala Hasyiyyah ad-Dasuqi.

dijelaskan tentang rukun-rukun akad: (1) Aqid. Ma`kud `alaihi dalam asuransi konvensional oleh ulama dianggap masih gharar. tetapi akad tolong menolong (Aqd takafuli). dan harus memenuhi ketiga syarat yang dikemukakan di atas. Takaful. melalui Dewan Syariah Nasional. Dalam pernyataan kehendak untuk melakukan suatu akad melalui tulisan ini. 1984. dan (3) Sighah (ijab dan kabul). para ulama membuat suatu kaidah fiqh yang menyatakan bahwa: “Tulisan itu sama dengan ungkapan lisan” Artinya. mengeluarkan fatwa khusus tentang: Pedoman Umum Asuransi Syariah sebagai berikut15: Pertama: Ketentuan Umum A. 10. yaitu pihak-pihak yang mengadakan ). atau akad mu`awadhah sebagaimana halnya pada asuransi konvensional. Tadhamun) adalah usaha saling melindung dan tolong menolong diantara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk asset dan atau tabarru` yang memberikan pola pengembalian untuk 14 15 SyarikatTakaful Malaysia. (2) Ma`kud `alaihi yaitu sesuatu yang diakadkan atasnya (barang dan bayaran). akad yang melandasinya bukan akad jual beli (aqd tabaduli). Asuransi Syariah (Ta`min.000”.dengan harga Rp. kekuatan hukumnya sama dengan ungkapan langsung melalui lisan Dalam buku Panduan Syarikat Takaful Malaysia Aqd (misalnya Takaful dan peserta 14 . pernyataan yang jelas yang dituangkan dalam bentuk tulisan. hal 18 Fatwa Dewan Syariah Nasional No:21/DSN-MUI/X/2001 Tentang Pedoman Umum Asuransi Syariah . dengan menciptakan instrumen baru untuk menyalurkan dana kebajikan melalui akad tabarru` (hibah). Panduan Syarikat Takaful Malaysia. Sementara itu pada asuransi syariah. pernyataan ijab dan qabul melalui tulisan juga demikian. Majelis Ulama Indonesia. karena akad yang melandasinya adalah aqdun muawadotun maliyatun (kontrak pertukaran harta benda) atau aqd tabaduli (akad jual beli).

Akad yang dilakukan antara peserta dengan perusahaan terdiri atas akad B. Akad tijarah yang tijarah dan atau akad tabarru`. Dalam akad sekurang-kurangnya disebutkan: . D. bukan semata untuk tujuan komersil. sedangkan akad tabarru` adalah hibah. Akad tijarah adalah semua bentuk akad yang dilakukan untuk tujuan komersil. Ketiga: A Kedudukan Para Pihak Dalam Akad Tijarah dan Tabarru` Dalam akad tijarah (mudharabah). Premi adalah kewajiban peserta untuk memberikan sejumlah dana kepada perusahaan sesuai dengan kesepakatan dalam akad. F. Akad tabarru` adalah semua bentuk akad yang dilakukan dengan tujuan kebaikan dan tolong menolong. peserta memberikan hibah yang akan digunakan untuk menolong peserta lain yang Jenis akad tijarah dan atau akad tabarru` serta syaratsesuai dengan jenis asuransi yang syarat yang disepakati . zulmu (Penganiayaan). Dalam akad tabarru` (hibah). riba (bunga). (pengelola) dan peserta bertindak sebagai sohibul mal (pemegang polis). C.Cara dan waktu pembayaran premi diakad. perusahaan bertindak sebagai mudharib B. C. B. Akad yang sesuai dengan syariah yang dimaksud pada poin (1) adalah yang tidak mengandung gharar (penipuan). maysir (perjudian). E. Klaim Kedua: adalah hak peserta asuransi yang wajib dibeh perusahaan asuransi sesuai dengan kesepakatan dalam akad Akad Dalam Asuransi A. riswah (suap). dimaksud dalam ayat (1) adalah mudharabah.menghadapi resiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.Hak dan kewajiban peserta dan perusahaan . barang haram dan maksiat.

Lihat juga tulisan Jafril Khalil. kami berdua diskusi panjang lebar seputas akad-akad dalam asuransi syariah. Jenis akad tijarah dapat dirubah menjadi jenis akad tabarru` dan ketentuan- Pada Tgl 23 Mei 2003. Sedangkan perusahaan sebagai pengelola dana hibah Keempat: Ketentuan Dalam Akad Tijarah dan Tabarru` bila pihak yang tertahan haknya dengan rela melepaskan haknya sehingga menggugurkan kewajiban pihak yang belum menunaikan kewajibannya B. B.Dipandang dari segi jenis. dengan syarat tidak memasukan unsur riba dalam perhitungannya. Pada suatu kesempatan. asuransi itu terdiri atas asuransi ketugian dan asuransi jiwa.terkena musibah. kami diskusi dengan Doktor Jafril Khalil16 dalam kaitan Fatwa DSN-MUI diatas. beliau pakar asuransi syariah yang kebetulan disertasi doktornya tentang akad-akad asuransi. Sedangkan akad bagi kedua jenis asuransi tersebut adalah mudharabah dan hibah Keenam: Premi A. sementara ini merupakan acuan bagi perusahaan asuransi syariah di Indonesia terutama menyangkut bagaimana akad-akad dalam bisnis asuransi syariah ketentuan lain yang terkait dengannya. Fatwa tersebut diatas. Untuk menentukan besarnya premi perusahaan asuransi dapat menggunakan rujukan table mortalita untuk asuransi jiwa dan table morbidita untuk asuransi kesehatan. bahan Training Certified Islamic Insurance Specialist. .Depkeu. Jenis akad tabarru` tidak dapat diubah menjadi jenis akad tijarah Kelima: Jenis Asuransi dan Akadnya A. di Kantor Takaful. Akad-akad Produk Keuangan Islam. Kami berkesimpulan bahwa akad-akad dalam asuransi syariah tidak hanya 16 A. Kami menemukan beberapa formula menarik yang lebih pas ditinjau dari segi syara` dan lebih marketable dari sisi praktisi. Pembayaran premi didasarkan atas jenis akad tijarah dan jenis akad tabarru` B. beliau sebagai pakar syariah dan saya sebagai praktisi.

M Billah. yang mana atas subyek pokok tersebut. bahwa pada akad mudharabah pada saat bersamaan juga terdapat akad tabarru` dan hal tersebut dapat dipertanggung jawabkan secara syar`i. yang diberikan kepada nasabah apabila tidak terjadi klaim. M. The Malaysian Insurance Institut. penerimaan (qabul). Takaful Singapura. Billah. Dengan kata lain ketentuan dalam polis takaful (asuransi syariah) adalah proposal (ijab). 19 Argumentasi ulama yang berpendapat seperti ini. seperti misalnya almusyarakah. terutama pada term insurance (life) dan pada seluruh produk general insurance terdapat yang disebut mudharabah. dan sebagainya dibenarkan oleh syara` untuk digunakan dalam asuransi syariah.sebatas pada akad Tabarru` dan mudharabah saja.M.18. hal 14 18 Konsep seperti ini terdapat ada asuransi Takaful Malaysia. Principles of Contracts Affecting Takaful And Insurance: A Comperative Analysis. Disini terjadi kerancuan karena disatu sisi dikatakan bahwa pada akad tabarru` tidak mengharapkan pengembalian kecuali pahala dari Allah. akan tetapi beberapa akad-akad tijarah lainya yang ada dalam fiqh Islam. Takaful Indonesia. tapi menggunakan istilah al-musahamah (contribution/kontribusi)17. lebih cenderung tidak menggunakan istilah tabarru`. dan pada Asuransi Takaful lainnya diberbagai negara. tapi dalam prakteknya nasabah mendapat pengembalian berupa mudharabah (bagi hasil) jika tidak terjadi klaim. al-wakalah. al-wadiah.19 Berdasarkan hukum Islam untuk membuat polis takaful (asuransi syariah) harus ada subyek pokok yang beresiko. Takaful Brunai. Kuala Lumpur. al-Musamahah. Hal ini mungkin sebagai solusi dari perdebatan bahwa dalam akad tabarru` tidak boleh ada pengembalian lagi (mudharabah). Sementara dalam prakteknya pada asuransi syariah saat ini. asy-Syirkah. dua pihak (pengelola dan peserta) harus menyetujui proposal (ijab) dan persetujuan (qabul) yang mana kedua pihak setuju untuk berbagi tanggung jawab dalam menyediakan jaminan materi yang memadai terhadap resiko yang nyata tapi tidak terduga atas subyek pokok. Tinggal yang menjadi kajian managemen apakah marketable atau tidak. penerbitan cover note 17 M. Karena premi (tabarru`) sudah diikhlaskan dan hanya mengharapkan ridha Allah swt. . termasuk asuransi syariah di Indonesia. dalam kaitan dengan akad-akad dalam asuransi syariah.

Cit. Hibah ini dilakukan secara berjamaah dan mengandung efek saling menanggung. Modal syarikat ini adalah terdiri dari modal-modal kecil yang jumlahnya banyak. Syarikat Al Musahamah kata syaikh al-Zuhaili adalah merupakan salah satu jenis syarikat harta (syarikah al amwal) yang penting.20 Al Zuhaili juga dalam kitabnya menjelaskan tentang Syarikat alMusahamah. Darul Fikr. selebihnya (95%) akan masuk ke dalam 20 21 M. Op. Setelah permainan selesai kemudian bola tadi diberikan kepada seorang diantaranya untuk dibawa pulang.21 Agus Haryadi22 memberi ilustrasi tentang konsep al-musahamah seperti ketika kita ingin main bola.. Kemudian bola terbelih dan dipakailah bersama. Tanggung jawab pemegang saham hanya sebesar saham yang dimilikinya. Pengelola dan karyawannya digaji sebagai pegawai. Demikian seterusnya kadang bola tersebut dipakai lagi bersama dan tidak jarang hanya dipakai salah satu atau beberapa saja diantara mereka. 1984. hal 885 22 Agus Haryadi (CEO Asuransi Takaful Keluarga) dalam suatu kesempatan diskusi dengan penulis seputar konsep tabarru` dan konsep musamahah pada bulan Juli 2003 .M. asuransi syariah (terutama untuk asuransi jiwa) menerapkan dua bentuk akad diawal penerimaan premi. al Fiqh al Islam wa Adillatuhu al Juz` al Rabi`. Billah. Damaskus. Dengan melandaskan diri pada prinsip takafuli. Besarnya hibah sekitar 5% dari total premi. hal 13-14 Wahbah al-Zuhaili. Akad tabungan investasi berdasarkan prinsip al-mudharabah sementara kontribusi berdasarkan prinsip hibah. kemudian masing-masing iuran atau kontribusi sesuai kemampuan yang dimiliki untuk keperluan bersama yaitu beli bola. yakni akad tabungan investasi dan akad kontribusi. tidak terkecuali apakah dia sekaligus juga adalah salah satu pemegang saham. Konsep akad al-musamahah seperti ini lebih mirip dengan konsep asuransi yang sementara ini banyak dipakai oleh asuransi syariah yang ada di beberapa negara termasuk di Indonesia.. dan dimana setiap bagian tersebut disebut saham. yang tidak boleh diperkecil lagi kecuali ditukarkan.(dokumen sementara untuk polis yang disediakan pengelola bagi peserta) dan pembayaran takaful kontribusi (al-musahamah).

Spekulasi Dalam Asuransi Syariah. hal 38-46. Penerbit Gema Insani.23 Sumber: Dikutip dari buku. Muhammad Syakir Sula. 2004. Bab II.tabungan investasi nasabah. 23 Muhammad Syafi`i Antonio. Perusahaan asuransi syariah akan menempatkan dana tabungan dan kontribusi tadi pada proyek-proyek investasi yang halal dan menguntungkan. Republika 7 Oktober 2002 . “Asuransi Syariah (Life and General) – Konsep dan Sistem Operasional”. Jakarta.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful