BAB I PENDAHULUAN Anak merupakan investasi yang sangat penting bagi penyiapan sumber daya manusia (SDM) di masa

depan. Dalam rangka mempersiapakan SDM yang berkualitas untuk masa depan, pendidikan merupakan salah satu hal yang penting untuk diberikan sejak usia dini, di samping juga anak harus dipenuhi kebutuhan lainnya, seperti misalnya kebutuhan akan gizi. Usia dini merupakan masa penting, karena dalam masa ini ada era yang dikenal dengan masa keemasan (golden age). Masa keemasan hanya terjadi satu kali dalam perkembangan kehidupan manusia. Pada masa ini merupakan masa kritis bagi perkembangan anak. Jika dalam masa ini anak kurang mendapat perhatian dalam hal pendidikan, perawatan, pengasuhan dan layanan kesehatan serta kebutuhan gizinya dikhawatirkan anak tidak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Sejak lahir seorang anak manuisia memiliki kurang lebih 100 miliyar sel otak. Sel-sel otak yang ini saling berhubungan dengan sel-sel syaraf. Sel-sel otak ini tidak akan tumbuh dan berkembang dengan pesat tanpa adanya stimulasi dan didayagunakan (Gutama,dkk., 2005: 3). Di sinilah perlunya pendidikan sejak usia dini. Pentingnya pendidikan anak sejak usia dini juga didasarkan pada UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah salah satu upaya pembinaan yang ditujuak untuk anak sejak lahir sampai dengan 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar nak memiliki kesiapan dalam memasuki jenjang pendidikan lebih lanjut (Pasal 1 butir 14). Berdasarkan hal-hal tersebut maka jelaslah bahwa pendidikan sejak usia dini sanggatlah penting. Dalam pendidikan anak usia dini salah satu kawasan yang harus dikembangkan adalah nilai moral, karena dengan diberikannya pendidikan nilai dan moral sejak usia dini, diharapkan pada tahap perkembangan selanjutnya anak akan mampu membedakan baik buruk, benar salah, sehingga ia dapat menerapkannya dalam kegidupan sehari-harinya. Ini akan berpengaruh pada mudah tidaknya anak diterima oleh masyarakat sekitarnya dalam hal bersosialisasi. Dalam pengembangan nilai nilai moral anak usia dini harus dilakukan dengan tepat. Jika hal ini tidak bisa tercapai, maka pesan moral yang akan disampaikan ‟orang tua‟ kepada anak

menjadi terhambat. Pengembangan nilai moral untuk anak usia dini ini bisa dilakukan di dalam tiga tri pusat pendidikan yang ada, yaitu keluarga, sekolahh dan masyarakat. Dalam pengembangan nilai moral untuk anak usia dini perlu dilakukan dengan sangat hati-hati. Hal ini dikarenakan anan usia dini adalah anak yang sedang dalam tahap perkembangan pra operasional kongkrit seperti yang dikemukakan oleh Piaget, sedangkan nilai-nilai moral merupakan konsep-konsep yang abstrak, sehingga dalam hal ini anak belum bisa dengan serta merta menerima apa yang diajarkan guru/orang tua yang sifatnya abstrak secara cepat. Untuk itulah ‟orang tua‟ harus pandai-pandai dalam memilih dan menentukan metode yang akan digunakan untuk menanamkan nilai moral kepada anak agar pesan moral yang ingin disampaikan guru dapat benar-benar sampai dan dipahami oleh siswa untuk bekal kehidupannya di masa depan. Metode yang dapat digunakan sangatlah bervariasi, salah satunya adalah metode bercerita. Metode bercerita ini ceenderung lebih banyak digunakan, karena anak usia dini biasanya senang jika mendengarkan cerita dari ‟orang tua‟. Untuk bisa menarik minat anak untuk mendenganrkan, tentunya cerita yang dibawakan harus tepat sesuai dengan usia anak. Cerita yang dibawakan juga memuat nilai-nilai moral yang hendak disamapaikan orang tua kepada anak.

Dari pengertian itu dikatakan bahwa moral adalah berkenaan dengan kesusilaan. nilai adalahsegala sesuatu yang berharga. kelakuan. yaitu nilai obyektif dan nilai subyektif. Adapaun nilai subyektif yaitu nilai yang sudah memiliki warna. Menurut Richard Merill dalam I Wayan Koyan (2000 : 13) menyatakan bahwa nilai adalah patokan atau standar yang dapat membimbing seseorang atau kelompok ke arah ”satisfication. sedangkan nilai aktual adalah nilai yang diekspresikan dalam kehidupan sehari-hari. Nilai obyektif atau nilai universal yaitu nilai yang bersifat instrinsik. akhlak (K. Dalam perkembangannya moral diartikan sebagai kebiasaan dalam bertingkah laku yang baik. watak. tabiat. and meaning”.BAB II NILAI DAN MORAL SERTA TEORI PERKEMBANGAN A. Sebaliknya jika perilaku individu itu tidak sesuai dengan kaidah-kaidah yang ada. keindahan dan keadilan. isi dan corak tertentu sesuai dengan waktu. Adapun pengertian moral berasal dari bahasa latin mores. maka ia akan dikatakan jelek secara moral. tempat dan budaya kelompok masyarakat tertentu.Prent. Menurutnya ada dua nilai yaitu nilai ideal dan nilai ktual. . fulfillment. Nilai ideal adalah nilai-nilai yang menjadi cita-cita setiap orang. yang susila (Amin Suyitni. Menurut I Wayan Koyan (2000 :12). dari suku kata mos yang artinya adat istiadat. et al dalam Soenarjati 1989 : 25). Termasuk dalam nilai universal ini antara lain hakikat kebenaran. yakni nilai hakiki yang berlaku sepanjang masa secara universal. dalam Soenarjati 1989 : 25). Pengertian Nilai dan Moral Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia karangan Purwodarminto dinyatakan bahwa nilai adalah harga. hal-hal yang berguna bagi manusia. Kohlberg mengklasifikasikan nilai menjadi dua. Seorang individu dapat dikatakan baik secara moral apabila bertingkah laku sesuai dengan kaidah-kaidah moral yang ada.

(Hurlock. yaitu tahap pertama adalah ”tahap realisme moral” atau ”moralitas oleh pembatasan” dan tahap kedua ”tahap moralitas otonomi‟ atau”moralitas kerjasama atau hubungan timbal balik”. peerilaku anak ditentukan oleh ketaatan otomatis terhadap peraturan tanpa penalaran atau penilaian. Dalam tahap pertama tingkat ini anak berorientasi pada kepatuhan dan hukuman. yaitu: 1. Pada tahap kedua tingkat ini. Mereka menganggap orang tua dan semua orang dewasa yang berwenang sebagai maha kuasa dan mengikuti peraturan yang diberikan pada mereka tanpa mempertanyakan kebenarannya. Dalam tahap kedua. 1998:79).B. Mereka sama sekali mengabaikan tujuan tindakannya tersebut. Dalam tahap pertama. Dalam tahap ini anak menilai tindakannya benar atau salah berdasarkan konsekuensinya dan bukan berdasarkan motivasi di belakangnya. anak menilai perilaku atas dasar tujuan yang mendasarinya. . Tahap Perkembangan Moral (Kohlberg) Kohlberg mengemukakan ada tiga tahap perkembangan moral. mereka harus berbuat sesuai dengan peraturan itu agar terhinfdar dari kecaman dan ketidaksetujuan sosial. dan moralitas suatu rtindakan pada akibat fisiknya. Dalam tahap kedua tingkat ini anak yakin bahwa bila kelompok sosial menerima peraturan yang sesuai bagi seluruh anggota kelompok. Tingkat moralitas prakonvensional Pada tahap ini perilaku anak tunduk pada kendali eksternal. Teori Perkembangan Moral Tahapan Perkembangan Moral (Piaget) Menurut Piaget perkembangan moral terjadi dalam dua tahapan. 2. Tahap ini biasanya dimulai antara usia 7 atau 8 tahun dan berlanjut hingga usia 12 tahun atau lebih. anak menyesuaian terhadap harapan sosial untuk memperoleh penghargaan. Gagasan yang kaku dan tidak luwes tentang benar salah perilaku mulai dimodifikasi. Anak mulai mempertimbangkan keadaan tertentu yang berkaitan dengan suatu pelanggaran moral. Tingkat moralitas konvensional Dalam tahap pertama tingkat ini anak menyesuaiakan dengan peraturan untuk mendapat persetujuan orang lain dan untuk mempertahankan hubungan mereka.

Dalam tahap kedua tingkat ini . Tingkat moralitas pasca konvensional Dalam tahap pertama tingkat ini anak yaki bahwa harus ada keluwesan dalam keyakinankeyakinan moral yang memungkinkan modifikasi dan perubahan standar moral. .3. orang menyesuaiakan dengan standar sosial dan cita-cita internal terutama untuk menghindari rasatidak puas demngan diri sendiri dan bukan untuk menghindari kecaman sosial.

Sedangkan ruang lingkup kurikulum di TK dan RA meliputi aspek perkembangan: 1. Dalam Standar Kompetensi PAUD dinyatakan bahwa fungsi pendidikan TK dan RA adalah: 1. yaitu sejak awal kemerdekaan. Pendidikan anak usia dini. Mengenalkan peraturan dan menanamkan disiplin pada anak. kemandirian dan seni untuk siap memasuki pendidikan dasar. Pendidikan anak usia dini memerluka perhatian yang sangat penting dari orang tua. fisik/motorik. ahli pendidikan. sosial emosional. Adapun tujuan dari TK adalah membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama. 2. Di sekolah ini anakanak usia 4-5 tahun atau 6 tahun mendapat tempat untuk mengembangkan potensinya dalam berbagai bentuk kegiatan.BAB III METODE DAN PENDEKATAN PENANAMAN NILAI MORAL AGAMA Sebelum menjelaskan lebih jauh tentang metode dan pendekatan pembelajaran dalam penanaman nilai moral dan agama perlu kiranya memahami terlebih dahulu tentang pendidikan anak usia dini. Menumbuhkan sikap dan perilaku baik 4. 23 Tahun 2000 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa pendidikan anak usia dini adalah salah satu upaya pembinaan yang ditujuak untuk anak sejak lahir sampai dengan 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar nak memiliki kesiapan dalam memasuki jenjang pendidikan lebih lanjut (Pasal 1 butir 14). khususnya Taman KanakKanak telah diselenggarakan sejak lama. Moral dan nilai-nilai agama . Mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan bersosialisasi 5. Mengembangkan keterampilan. kognitif. kreativitas dan kemapuan yang dimiliki anak 6. Mengenalkan anak pada dunia sekitar 3. Menyiapkan anak untuk memasuki pendidikan dasar. masyarakat dan pemerintah. Dalam UU No. bahasa.

Misalnya saja guru TK jarang sekali yang menggunakan metode ceramah.2. 1998: 7). Sosial. Dan seni. Dilihat dari fungsi. Oleh karena itu ada metode-metode yang lebih sesuai bagi anak Taman Kanak-kanak dibandingkan dengan metode-metode lain. Kognitif 5. diantaranya bercerita. Kemampuan berbahasa 4. Tetapi yang harus diingat bahwa Taman Kanak-kanak memiliki cara yang khas. Dalam pelaksanaan penanaman nilai moral pada anak usia dini banyak metode yang dapat digunakan oleh guru atau pendidik. karena ini akan berpengaruh terhadap optimal tidaknya keberhasilan penanaman nilai moral tersebut. Metode-metode yang memungkinkan anak dapat melakukan hubungan atau sosialisasi dengan yang lain akan lebih sesuai dengan kebutuhan dan minat anak. bernyanyi. seorang guru akan dapat mengembangkan kekuatan pendidik yang sangat penting (Moeslichatun. yang salah satunya dapat dilakukan melalui pendidikan formal. Namun sebelum memilih dan menerapkan metode yang ada perlu diketahui bahwa guru atau pendidik harus memahami metode yang akan dipakai. Orang akan segera menyadari bahwa metode ceramah tidak sesuai dan tidak banyak berarti apabila diterapkan untuk anak TK. bersajak dan karya wisata. Metode dalam penanaman nilai moral kepada anak usia dini sangatlah bervariasi. tujuan dan ruang lingkupnya tersebut. Fisik/motorik 6. A. Masing-masing metode mempunyai kelemahan dan kelebihan. bermain. emosional dan kemandirian 3. maka jelaslah bahwa penanaman nilai moral pada anak usia dini sangatlah penting. METODE PENANAMAN NILAI MORAL DAN AGAMA Untuk mengembangkan nilai dan sikap anak dapat dipergunakan metode-metode yang memungkinkan terbentuknya kebiasaan-kebiasaan yang didasari oleh nilai-nilai agama dan moralitas agar anak dapat menjalani kehidupan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. yaitu TK atau RA. Melalui kedekatan hubungan guru dan anak. Penggunaan salah satu metode penanaman nilai moral . Setiap guru akan menggunakan metode sesuai dengan gaya melaksanakan kegiatan.

mengembangkan rasa melalui ungkapan kata dan nada. Anak tidak dapat disamakan dengan orang dewasa. Alat peraga yang dapat digunakan antara lain. gembira dan bahagia. dan menghargai arti sebuah seni. Melalui sajak anak dapat dibawa ke dalam suasana indah.29) . benda-benda tiruan. nilai budaya. dan ingin melakukan sesuatu yang belum pernah dialami atau dilakukannya. Anak diarahkan pada situasi dan kondisi psikis untuk membangun jiwa yang bahagia. Metode bernyanyi adalah suatu pendekatan pembelajaran secara nyata yang mampu membuat anak senang dan bergembira. Pendekatan pembelajaran melalui kegiatan membaca sajak merupakan salah satu kegiatan yang akan menimbulkan rasa senang. metode bercerita. Sajak ini merupakan metode yang juga membuat anak merasa senang. 2005 : 4. Pola pikir dan kedewasaan seorang anak dalam menentukan sikap dan perilakunya juga masih jauh dibandingkan dengan orang dewasa. metode bernyanyi. Disamping itu anak juga bisa dibawa untuk menghargai makna dari untaian kalimat yang ada dalam sajak itu. Melalui metode sajak guru bisa menanamkan nilai-nilai moral kepada anak. ingin mencoba segala sesuatu.12). gembira. nilai agama. boneka. halus. tanaman. Bercerita dapat dijadikan metode untuk menyampaikan nilainilai yang berlaku dalam masyarakat (Otib Satibi Hidayat. nilai sosial. metode bersajak atau syair. dan lain-lain. Secara psikologis anak Taman Kanak-kanak sangat haus dengan dorongan rasa ingin tahu. Secara nilai moral. dan bahagia pada diri anak. 2005 : 4.yang dipilih tentunya disesuaikan dengan kondisi sekolah atau kemampuan seorang guru dalam menerapkannya. senang menikmati keindahan. Pesan-pesan pendidikan berupa nilai dan moral yang dikenalkan kepada anak tentunya tidak mudah untuk diterima dan dipahami secara baik. melalui sajak anak akan memiliki kemampuan untuk menghargai perasaan. Selain itu guru juga bisa memanfaatkan kemampuan olah vokal yang dimiliknya untuk membuat cerita itu lebih hidup. Anak merupakan pribadi yang memiliki keunikan tersendiri. Dalam cerita atau dongeng dapat ditanamkan berbagai macam nilai moral. Ketiga. Kedua. Ketika bercerita seorang guru juga dapat menggunakan alat peraga untuk mengatasi keterbatasan anak yang belum mampu berpikir secara abstrak. sehingga lebih menarik perhatian siswa. Anak tidak cocok hanya dikenalkan tentang nilai dan moral melalui ceramah atau tanya jawab saja. karya serta keberanian untuk mengungkap sesuatu melalui sajak sederhana (Otib Satibi Hidayat. dan sebagainya. Penjelasan lebih rinci masing-masing metode tersebut sebagai berikut: Pertama.

Melainkan mereka diajak langsung melihat atau memperhatikan sesuatu yang sebelumnya pernah diceritakan di dalam kelas.Keempat. Seringkali terjadi sikap moral tidak terpuji seperti perusakan dan tindakan anarkis lainnya yang dilakukan oleh oknum tertentu ketika ia kalah dalam suatu persaingan. menghormati teman. Melalui kegiatan outbond siswa alan dengan leluasa menikmati segala bentuk tanaman. Keenam. lebih banyak dilakukan melalui pembiasaan-pembiasaan tingkah laku dalam proses pembelajaran. Metode Outbond merupakan suatu kegiatan yang memungkinkan anak untuk bersatu dengan alam. metode outbond. dan mahluk ciptaan Allah yang lain. tolong menolong. metode karyawisata. merapikan mainan setelah belajar. Tema yang sesuai adalah tema: binatang. Cara ini dilakukan agar anak tidak hanya memahami apa yang diceritakan atau dituturkan oleh guru atau pendidik di dalam kelas. dan penghargaan pada karya atau jasa orang lain. Nilai moral mau mengalah terjadi manakala siswa mau mengalah terhadap teman lainnya yang lebih membutuhkan untuk satu jenis mainan. Kurikulum yang berlaku di TK terkait dengan penanaman moral. Kelima. Jika anak melanggar segera diberi peringatan. metode bermain. kerjasama. Misalnya pengembangan aspek kognitif. budaya antri. kreativitas. Bermain peran merupakan salah satu metode yang digunakan dalam menanamkan nilai moral kepada anak TK. pekerjaan. bahasa. Dengan bermain peran anak akan mempunyai . Ketujuh. atau bahkan dalam pemilihan presiden. Pembiasaan ini hendaknya dilakukan secara konsisten. Pengertian dan pemahaman terhadap nilai moral mau menerima kekalahan atau mengalah adalah salah satu hal yang harus ditanamkan sejak dini. bupati. Oleh karena itu betapa penting untuk menanamkan nilai moral untuk mau menerima kekalahan sejak usia dini. gubernur. Dalam bermain ternyata banyak sekali terkandung nilai moral. emosi. diantaranya mau mengalah. berbaris sebelum masuk kelas dan sebagainya. Ini dapat dilihat misalnya. berdoa sebelum makan dan minum. dan pegunungan. kehidupan bermasyarakat. sehingga apa yang terjadi di kelas akan ada sinkronisasi dengan apa yang tampak di lapangan atau alam terbuka. Kedelapan. misalnya dalam pemilihan kepala desa. pembiasaan dalam berperilaku. kehidupan kota atau desa. hewan. mengucap salam kepada guru dan teman. pesisir. Tujuan berkarya wisata ini perlu dihubungkan dengan tema-tema yang sesuai dengan pengembangan aspek perkembangan anak Taman Kanakkanak. bermain peran. pada berdoa sebelum dan sesudah belajar. Metode karya wisata bertujuan untuk mengembangkan aspek perkembangan anak Taman Kanak-kanak yang sesuai dengan kebutuhannya.

metode diskusi. Menurut Alfi Kohn. 1. (2005:72-81) adalah indoktrinasi. . Anak akan merasakan bagaimana seorang ayah harus menyayangi anggota keluarga. Apalagi anak-anak.Dalam pendekatan ini guru diasumsikan telah memiliki nilai-nilai keutamaan yang dengan tegas dan konsisten ditanamkan kepada anak. dan pembiasaan dalam perilaku. kemudian setelah selesai siswa diajak berdiskusi dengan guru tentang isi tayangan CD tersebut. pemimpin. PENDEKATAN DALAM PENANAMAN NILAI MORAL Adapun beberapa pendekatan yang dapat digunakan dalam penanaman nilai moral pada anak usia dini menurut Dwi Siswoyo dkk. Secara kodrati manusia merupakan makhluk peniru atau suka melakukan hal yang sama terhadap sesuatu yang dilihat. Diskusi yang dimaksud di sini adalah mendiskusikan tentang suatu peristiwa. mengapa anak itu dikatakan baik. B. Kesepuluh. Indoktrinasi Dalam kepustakaan modern.kesadaran merasakan jika ia menjadi seseorang yang dia perankan dalam kegiatan bermain peran. Misalnya tema bermain peran tentang kasih sayang dalam keluarga. Kesembilan. Akan tetapi pendekatan ini masih dapat digunakan. orang tua dan bahkan tempat menyandarkan kepercayaan. bagaimana seorang ibu harus menyayangi keluarga. Biasanya dilakukan dengan cara siswa diminta untuk memperhatikan sebuah tayangan dari CD. dalam Dwi Siswoyo (2005:72) menyatakan bahwa untuk membantu anak-anak supaya dapat tumbuh menjadi dewasa. teladan atau contoh. serta membantu orang lain dalam melakukan refleksi. begitu juga bagaimana dengan anak-anaknya. metode teladan. Isi diskusinya antara lain mengapa hal tersebut dilakukan. baik itu perilaku maupun ucapan orang lain. pendekatan ini sudah banyak menuai kritik dari para pakar pendidikan. Guru hendaknya menjadi figur yang dapat dicontoh dalam bertingkah laku oleh siswanya. klarifikasi nilai. ia akan senantiasa dan sangat mudah meniru sesuatu yang baru dan belum pernah dikenalnya. Menurut Cheppy Hari Cahyono (1995 : 364-370) guru moral yang ideal adalah mereka yang dapat menempatkan dirinya sebagai fasilitator. mengapa harus menyayangi dan sebagainya. maka mereka harus ditanamkan nilai-nilai disiplin sejak dini melalui interaksi guru dan siswa.

tetapi siswa diberi kesempatan untuk menyampaiakan dan menyatakan nilai-nilai dengan caranya sendiri. Banyak para ahli yang berpendapat dalam hal ini. Teladan atau Contoh Anak TK mempunyai kemampuan yang menonjol dalam hal meniru. Baik kebiasaan baik maupun buruk dari guru akan dengan mudah dilihat dan kemudian diikuti oleh anak. Dalam pendekatan ini profil ideal guru menduduki tempat yang sentral dalam pendidikan moral. Anak diajak untuk mengungkapkan mengapa perbuatan ini benar atau buruk. terus menerus dan konsisten. John Wilson dan Kohlberg. Artinya nilai-nilai yang tujuannya akan ditanamkan oleh guru kepada anak seyogyanya sudah mendarah daging terlebih dahulu pada gurunya. Dalam pendekatan ini anak diajak untuk mendiskusikan isu-isu moral. dan kondisi moral yang diharapkan oleh lingkungan sosialnya (Dwi Siswoyo. akan tetapi bukan berupa kekerasan. sehingga mereka perlu dilatih untuk melakukan penalaran dan keterampilan bertindak secara moral sesuai dengan pilihan-pilihannya (Dwi Siswoyo (2005:76). Oleh karena itu seorang guru hendaknya dapat dijadikan teladan atau contoh dalam bidang moral. diantaranya Durkheim. kadar intelektualitas. 2005:76). Durkheim. 2. apakah pendekatan ini dapat digunakan untuk anak TK? Ternyata jawabannya dapat. orang tua dan bahkan tempat menyandarkan kepercayaan.Pertanyaan yang muncul. Klarifikasi Nilai Dalam pendekatan klarifikasi nilai. 3. Figur seorang guru sangat penting utuk pengembangan moral anak. karena anak TK yang berumur 6 tahun berada dalam masa transisi ke arah perkembangan moral yang lebih tinggi. Jika anak melanggar maka ia dikenai hukuman.Aturan mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan disampaiakan secara tegas. guru tidak secara langsung menyampaikan kepada anak mengenai benar salah. Sementara. Kohlberg berpendapat bahwa tugas . pemimpin. baik buruk. Menurut Cheppy Hari Cahyono (1995 : 364-370) guru moral yang ideal adalah mereka yang dapat menempatkan dirinya sebagai fasilitator. misalnya ia berpendapat bahwa belajar adalah satu proses sosial yang berkaitan dengan upaya mempengaruhi peserta didik sedemikian rupa sehingga mereka dapat tumbuh selaras dengan posisi. serta membantu orang lain dalam melakukan refleksi.

Pendekatan lain yang dapat digunakan dalam penanaman nilai moral menurut W. Ini dapat dilihat misalnya. 4. Metode yang dapat digunakan dalam pendekatan ini diantaranya modeling. berbaris sebelum masuk kelas dan sebagainya. serta role playing. Metode yang dapat digunakan diantaranya episode dilema moral dengan diskusi kelompok kecil. merapikan mainan setelah belajar. berdoa sebelum makan dan minum. Huitt (2004) diantaranya adalah inculcation. penguatan positif atau negatif. mempertimbangkan dan mengambil keputusan. Pembiasaan ini hendaknya dilakukan secara konsisten. moral development. serta untuk membantu siswa menggunakan pikiran rasional dan kesadaran emosional untuk mengkaji perasaan personal. dan action learning. Analysis Pendekatan ini bertujuan untuk membantu siswa menggunakan pikiran logis dan penelitian ilmiah untuk memutuskan masalah dan pertanyaan nilai. untuk membantu siswa menggunakan pikiran rasional. 1. 2.utama guru adalah memberi kontribusi terhadap proses perkembangan moral anak. alternatif permainan. lebih banyak dilakukan melalui pembiasaan-pembiasaan tingkah laku dalam proses pembelajaran. Inculcation Pendekatan ini bertujuan untuk menginternalisasikan nilai tertentu kepada siswa serta untuk mengubah nilai-nilai dari para siswa yang mereka refleksikan sebagai nilai tertentu yang diharapkan. akan tetapi untuk membantu perubahan dalam tahap-tahap penalaran moral siswa. serta untuk mendorong siswa mendiskusikan alasan-alasan pilihan dan posisi nilai mereka. analysis. Tugas guru disini adalah mengembangkan kemampuan peserta didik dalam berpikir. dalam menghubungkan dan mengkonseptualisasikan nilai-nilai mereka. nilai-nilai dan pola-pola . mengucap salam kepada guru dan teman. tidak hanya berbagi dengan lainnya. klarifikasi nilai. Moral development Tujuan dari pendekatan ini adalah membantu siswa mengembangkan pola-pola penalaran yang lebih kompleks berdasarkan seperangkat nilai yang lebih tinggi. pada berdoa sebelum dan sesudah belajar. 3. Jika anak melanggar segera diberi peringatan. Pembiasaan dalam Perilaku Kurikulum yang berlaku di TK terkait dengan penanaman moral. proses-proses analitik. game dan simulasi.

proyek-proyek di dalam sekolah dan praktek kemasyarakatan. 3. tetapi anggota suatu sistem sosial. Action learning Tujuan dari pendekatan ini adalah memberi peluang kepada siswa agar bertidak secara personal ataupun sosial berdasarkan kepada nilai-nilai mereka. mendorong siswa agar memandang diri mereka sendiri sebagai makhluk yang tidak secara otonom interaktif dalam hubungan sosial personal. penganalisaan kasus-kasus analog dan riset serta debat. Metode yang dapat digunakan dalam pendekatan ini diantaranya diskusi rasional terstruktur yang menuntut aplikasi rasio sama sebagai pembuktian. aktivitas di luar kelas serta diskusi kelompok kecil.perilakunya. prinsip developmentally appropriate practice (DAP) 5. prinsip monitoring yang rutin . penekanan pada aktivitas anak sehari-hari. prinsip psikologi perkembangan 6. aktivitas melatih kepekaan (sensitivity). Klarifikasi nilai Tujuan dari pendekatan ini adalah membantu siswa menjadi sadar dan mengidentifikasi nilai-nilai yang mereka miliki dan juga yang dimiliki oleh orang lain. pentingnya keteladanan dari lingkungan dan orang tua/ keluarga anak. simulasi. menyusun atau menciptakan situasisituasi nyata atau riil yang bermuatan nilai. dan membantu siswa menggunakan pikiran rasional dan kesadaran emosional untuk mengkaji perasaan personal. Ada beberapa prinsip dasar dalam rangka menyampaikan materi pengembangan nilainilai agama bagi anak. keterampilan praktis dalam pengorganisasian kelompok dan hubungan antar pribadi. pengujian prinsip-prinsip. role playing games. 4. Metode yang dapat digunakan dalam pendekatan ini adalah metode-metode didaftar atau diurutkan untuk analisis dan klarifikasi nilai. nilai-nilai dan pola berikutnya. membantu siswa mengkomunikasikan secara terbuka dan jujur dengan orang lain tentang nilai-nilai mereka. 4. kesesuaian dengan kurikulum/ajaran agama. diantaranya : 1. 5. Metode yang dapat digunakan dalam pendekatan ini antara lain. 2. latihan analisis diri (self analysis) secara mendalam.

muatan materi pembelajarannya harus bersifat : 1. Enjoyable : pengajaran materi yang dipilih diupayakan mampu membuat anak senang. . serta yang dapat dilakukan anak dalam kehidupannya. yang berkaitan dengan kegiatan rutin anak sehari-hari dan sangat dibutuhkan untuk kepentingan aktivitas anak. menikmati dan mau mengikuti dengan antusias. Mudah ditiru : materi yang disajikkan dapat dipraktekkan sesuai dengan kemampuan fisik dan karakter lahiriah anak. Aplikatif : materi pembelajarannya bersifa terapan. 2.Dalam proses pembinaan dan pengembangan nilai-nilai agama bagi anak usia dini.

moral dan spiritual anak. pengasuh. Ibu-ibu. Karena itu ia menerbitkan satu buku yang terkenal. melatih. memelihara. 1. dan berlanjut dari lingkungannya. khususnya berbagai aplikasi psikologi dalam pemeliharaan dan perawatan bayi baik yang masih dalam kandungan maupun pasca kelahiran ditemukan berbagai hasil observasi perilaku baik emosional. Tiap kelompok sosial. budaya. membimbing dan mendidik anak baik selama masa kehamilan maupun pada masa-masa awal perkembangan anak. yaitu (1) latihan (training) dan pembiasaan (habituation). Tetapi pada mereka ada kebiasaan-kebiasaan dan praktek budaya mengenai bagaimana menjaga. Strategi latihan dan pembiasaan . khususnya anak usia dini memerlukan perhatian dan pemahaman terhadap dasar-dasar serta berbagai kondisi yang mempengaruhu dan menentukan perkembangan perilaku moral.BAB IV STRATEGI PEMBENTUKAN PERILAKU MORAL Pembentukan perilaku moral pada anak. apalagi intervensi yang terencana dan berkesinambungan dalam membimbing. (2) aktivitas dan bermain. dan mendidik perilaku moral anak usia dini. merawat. yaitu The Moral Intellegence of Children: How to Raise a Moral Child (1997). dan etnis masyarakat memiliki tradisi dan pola-pola budaya dalam mengasuh dan mengembangkan kehidupan moral pada anak-anak. Robert Coles (1986) dalam penelitiannya yang cukup panjang terhadap perilaku moral anak-anak usia dini yang berada di tempat-tempat penitipan bayi dan dirumahrumah keluarga menemukan tumbuhnya kecerdasan moral (moral intelligence) pada anak-anak. orangtua. Pembentukan perilaku moral pada anak dapat terjadi melalui atau tanpa intervensi yang terencana. Buku-buku tersebut secara umum mengemukakan tiga strategi penting dalam pembentukan perilaku moral pada anak usia dini. sistematis. Sebelumnya Coles juga menulis dua buku yang cukup terkenal yaitu The Moral Life of Children (1986) dan The Spiritual Life of Children (1990). serta (3) pembelajaran. intelektual. Dalam berbagai studi dan penelitian di bidang psikologi anak. dan keluarga-keluarga yang ada di pedesaan kemungkinan besar tidak memiliki wawasan dan pengetahuan.

Para calon ibu dan calon ayah mesti dipersiapkan dengan sengaja bagaimana mereka mengembangkan moral perhatian terhadap bayi yang sedang dikandungnya. Pada saat bayi dalam kandungan diperlukan suatu pelatihan dan pembiasaan bagi ibu-ibu dalam mempersiapkan diri dalam menyambut sang bayi. termasuk bagaimana mereka sebagai calon ibu dan ayah dapat menjaga. alcohol. Kemudian pada perkembangan selanjutnya sampai usia 2-3 tahun anak berada dalam tahap kesadaran moral heteronomy. . guru. tokoh masyarakat. anak akan berusaha mentaati semua aturan otoritas untuk menghindari penghukuman otoritas diluar dirinya. kakak. Moral bayi barulah sebatas potensi yang memang memerlukan peran dominan dari lingkungan untuk mengembangkannya. aparat pemerintah. Itu berarti bahwa suami istri perlu menghindari dai ketegangan dan konflik yang berkelanjutan yang dapat memberikan efek negatif dan mengganggu kenyamanan sang bayi dalam kandungan. strategi pelatihan dan pembiasaan merupakan strategi pembentukan moral yang efektif. 1977) sebagai fase absolut. Anak menganggap siapa saja yang menetapkan aturan-aturan moral mutlak harus dipatuhi sehingga disebut sebagai fase moral absolute. norma-norma dan nilai dari orang lain yang bermacam-macam. memelihara. Otoritas itu adalah orangtua. Latihan diri ini penting. dan merawat bayi yang sedang dikandung melalui pemeriksaan medis secara berkala. tokoh agama. Artinya calon bayi dan anak bayi belum memiliki kemampuan moral (anomi). mempersiapkan kebutuhan gizi secara proporsional untuk bayi dan ibu. Berdasarkan prinsip-prinsip yang mendasari perkembangan moral. atau obat dan zat adiktif lainnya yang dapat membahayakan kesehatan ibu dan bayi. Pada masa ini. atau disebut piaget (Duska & Whelan. Di samping itu tentu yang tidak kurang pentingnya ialah bagaimana mereka sebagai suami istri membangun tradisi dan kebiasaan hubungan yang dapat member keamanan psikologis kepada bayi yang sedang dikandung. menghindari diri dari berbagai kemungkinan yang dapat mengganggu proses pertumbuhan bayu seperti rokok. Anak akan menghayati aturan sebagai suatu hal yang tidak dapat berubah karena berasal dari otoritas yang dihormatinya. anak-anak menghayati aturan.Menurut Bull (1969) bayi yang masih berada dalam masa kandungan sampai usia tiga bulan sesudah lahir berada pada fase perkembangan moral anomi.

Sebenarnya ukuran makhluk berbudaya dapat dilihat dari proses dan produk peradaban yang dimiliki. Latihan-latihan dan pembiasaan moral bagi bayi dilakukan melalui pelayanan kebutuhan yang tetap dan kontinyu. calon ibu dan calon ayah memerlukan pelatihan dan pendidikan khusus tentang bagaimana mereka menampilkan peran keorangtuaan (parental role) yang lebih efektif.Para keluarga muda. maka tugas keluarga beikutnya adalah bagaimana merawat. sesegera mungkin diganti popoknya. Jika bayi sudah disusui masih menangis. Meskipun konsep moral pada bayi itu masih didasarkan kepada dorongan (instink) yang tidak disadari yang digerakkan oleh pleasure principle. tetapi pemenuhan kebutuhan ini sangatlah strategis dalam pembentukan kepribadian anak. terutama pada masa selama kehamilan. sebenarnya berbagai teori pemeliharaan dan pengasuhan anak (child rearing). Bila relasi dan interaksi antara ibu. Pada saat bayi lahir hingga usia 2 tahun. Kepercayaan diri sebagai dasar moral . pengasuh. juga moralitas dan etika sosial sebagai sumber-sumber hukum yang menata kehidupan masyarakat. Latihan-latihan moral pada anak berbasis pemenuhan kebutuhan berorientasi kepada pemberian rasa kenikmatan dan menghindari hal-hal yang mendatangkan rasa sakit. mungkin perutnya sakit atau ada bagian tubuh lainnya yang sakit. Misalnya. Coles (2000) berpendapat bahwa perilaku moral anak-anak tumbuh seiring dengan moral perhatian dan kepedulian yang terus menerus dicurahkan oleh ibu. Kehadiran dan dekapan ibu terhadap bayi dalam ruang dan waktu yang ia butuhkan adalah bagian dari pembentukan sikap dan perilaku moral anak. oleh karena itu. Setelah calon bayi lahir. mengasuh. dan lingkungan dekat. memelihara. atau lingkungan dekat gagal memnuhi kebutuhan biologis anak akan muncul kecemasan (anxienty) yang apabila tak terkendali mengakibatkan munculnya gangguan dalam perkembangan kepribadian (mental disorder) pada anak di kemudian hari. latihan dan pembiasaan moral bagi anak diarahkan kepada pembentukan kepercayaan pada diri. katika bayi kencing atau buang tinja. bapak. dan menjadikan bayi itu makhluk berbudaya. karya-karya seni dan pranata sosial. ilmu pengetahuan dan teknologi. tidak hanya secara instinctual akan tetapi hubungan-hubungan kasih sayang alamiah antara ibu dan bayi. Hal ini perlu segera diatasi sehingga anak mendapatkan rasa tubuh yang sehat dan nyaman. Di samping ekonomi. termasuk moralitasnya. kemungkinan ada yang tidak beres dengan kesehatannya.

hubungan kasih sayang. dan lingkungan dekat. pengasuh. tidur. bermain. tidak bisa membangun landasan moral yang kuat dalam menjalani hidupnya. latihan atau pembiasaan moral mulai diarahkan kepada aturanaturan harian dalam keluarga. Ibu. Apabila anak bertumbuh dalam kondisi krisis ketidakpercayaan. istirahat. mandi. makan malam. Dalam perkembangan selanjutnya.bagi anak dibentuk oleh pemenuhan kebutuhan yang memadai dalam arti pada ruang dan waktu yang tepat. Semua perlakuan perawatan dan pengasuhan oleh orangtua (parenting treatment) harus diusahakan sebaik mungkin atau sesuai dengan prosedur yang berlaku sehingga anak terbebas dari kemungkinan munculnya krisis psikososial yang pertama. dan menggunakan handuk untuk mengeringkan badan. mempunyai peran yang dominan dalam menciptakan landasan kepercayaan diri yang kuat kepada anak. dan dilatih/ dibiasakan ke kamar kecil untuk buang air kecil atau buang tinja. mandi menggunakan kamar mandi. maka sebenarnya anak juga menghadapi krisis dasar dalam pengembangan sikap moral di kemudian hari. Kemudian juga dilatih . istirahat. dan tidur. Anak yang tidak memiliki kepercayaan diri kepada orang lain akan cenderung curiga. yaitu ketidakpercayaan yang menyebabkan munculnya sikap kecurigaan anak yang berlebihan terhadap lingkungannya. bermain. Dari latihan aturan hidup harian. Banyak di antara anak-anak yang mngalami krisis ketidakpercayaan di usia awal kemudian mengalami tidak saja gangguan dalam perkembangan perilaku moral tapi juga kepribadian yang kurang sehat.30. makan pagi. latihan kebersihan diri atau yang dikenal sebagai toilet training mempunyai nilai yang cukup penting tidak hanya dari segi kesehatan tapi juga dari segi pembentukan disiplin dan kehidupan teratur. makan siang. setelah anak mulai berjalan dan belajar mengenal bahasa sebagai alat komunikasi. Setiap anak yang berusia dua tahun keatas dibiasakan bangun pagi 05. mandi. Latihan dan pembiasaan hidup menjalani aturan-aturan kesehatan dan kebersihan ini mulai diperkenalkan pada anak. pembilas rambut. serta saling mengenal dan memahami sebagai jaminan keamanan dan kenyamanan psikologis. membersihkan badan dengan menggunakan sabun. seperti bangun. Selanjutnya anak dibiasakan dan dilatih menggunakan sikat dan odol untuk menggosok gigi.

Schaller & Lazarus (Zulkifli. Kegiatan berikut anak dilatih bagaimana memasang dan menggunakan pakaian dalam. Oleh karena tuntutan. Semua jenis latihan ini disesuaikan dengan tingkat kesiapan dan kematangan kordinasi otot. ayah. memasang sandal atau sepatu atau kaos kaki. agar ia dapat memperoleh pemulihan tenaga. Orang melakukan kesibukan bermain apabila ia selesai bekerja. Pada usia awal ini kehidupan seorang anak sesungguhnya dibentuk oleh nilai-nilai orang dewasa. Dorongan bermain muncul tanpa ada unsure paksaan dan tidak mempunyai tujuan kecuali pada permainan itu sendiri apakah mendatangkan kepuasan atau tidak. atau ingin mengisi waktu aktivitas bekerja dengan bermain. cenderung memiliki energy yang berlebihan.menggunakan gayung atau memutar stop kran untuk bisa membersihkan sabun. harapan. atau dicari bentuk permainan lain yang lebih mendatangkan kepuasan terhadap anak. Apabila kebiasaan ini terus menerus dilakukan akan terbentuk satu system nilai dalam diri anak mengenai tatanan kehidupan. 2. 1999) mengemukakan aktivitas bermain sebagai upaya pelepasan energi. menggunakan closet jongkok atau duduk. pakaian luar. kaki. Ia berpendapat bahwa anakanak yang belum memiliki aktivitas bekerja yang teratur dan bertujuan. . dan kepala. Toilet training juga merupakan basis pembentukan perilaku moral pada anak. dan nilai-nilai orangtua bagaimana seharusnya kehidupan dan perilaku anak. membersihkan sisa kotoran di pantat dengan tissue dan air. tulang. Strategi aktivitas bermain Bermain adalah salah satu kebutuhan dasar dalam perkembangan anak. Aktivitas bermain muncul sebagai mekanisme dari dalam diri untuk meredakan ketegangan energy hingga mencapai kepuasan. keinginan. dan norma-norma masyarakat itulah maka tugas ibu. Artinya bagaimana pemikiran. Herbert Spencer (Zulkifli. harapan. Jika permainan itu tidak member kepuasan akan dicoba lagi hingga dicapai kepuasan tertentu. dan tindakan anak sebenarnya mencerminkan keinginan. dan keluarga terhadap anaknya adalah berupaya untuk membentuk perilaku moral anak. Dalam latihan kebersihan anak diperkenalkan dengan berbagai aturan dan nilai-nilai dalam hidup sebagai anggota keluarga.1999) mengemukakan bahwa bermain adalah aktivitas seseorang yang bersifat rekreatif untuk menenangkan pikiran atau beristirahat.

anak-anak ini mulai belajar bermain bersama dalam kedudukan yang setara. ketika anak mulai berjalan. Kedua. intelektual. . Dalam perkembangan selanjutnya aktivitas bermain dalam kelompok mulai dilakukan dalam suatu sistem yang teratur dengan mereka menunjuk sendiri pimpinannya. sehingga tercapai kenikmatan dan kesinambungan dalam dirinya.Kelebihan energi menimbulkan ketegangan dan rasa tidak enak. dan saling membantu yang menjadi landasan bagi pembentukan perasaan sosial. kita akan mencatat bahwa anak-anak itu mula-mula bermain dengan badannya sendiri. anak-anak akan belajar mengenai kekuatan. atau orang dewasa yang pelepasan energinya disalurkan melalui pekerjaan. meskipun sebenarnya mereka bermain sendiri-sendiri. emosional. kelemahan. Pertama. dan moral. Dalam suasana dan situasi permainan anak-anak saling mengenal. keadaan itulah yang secara tidak sadar mendorong anak untuk melepaskan kelebihan melalui kegiatan bermain. dan dengan perlahan-lahan tumbuhlah rasa kebersamaan. dan perilaku moral anak. pemuda. Beberapa ahli (Zulkifli. anak akan asyik bermain sendiri dengan berbagai alat permainan. Kemudian. serta menganal lebih jauh ciri-ciri alat yang digunakan untuk kegiatan bermain. Tahap berikut. Pola dan intensitas kegiatan bermain pada anak sebenarnya berkembang sejalan dengan perkembangan kematangan otot. Karena itu proporsi bermain pada anak-anak jauh lebih besar dibanding dengan kelompok remaja. aktivitas bermain sebagai sarana untuk membawa anak kea lam kehidupan bermasyarakat. maka aktivitas bermain mulai dilakukan dalam kelompok. tulang. seperti aspek intelektual. Setelah memasuki usia 3-4 tahun dimana anak mulai belajar mencari teman. Aktivitas bermain pada anak sesungguhnya mempunyai manfaat psikologis yang penting bagi berbagai aspek perkembangan diri. 1999) mengemukakan manfaat aktivitas bermain pada anak sebagai berikut. saling menghargai satu dengan lainnya. melalui kegiatan bermain. dan organ-organ tubuh lainnya seperti kaki. tangan. dan kedudukannya di kalangan teman-temannya. dan kepala serta dengan perkembangan bahasa. sosial. Apabila kita mengamati perkembangan aktivitas bermain pada anak-anak normal. sosial. seperti bermain dengan kaki dan tangannya disertai ekspresi wajah dan suara yang menunjukkan kegembiraan. meskipun kesibukan dan keasyikan bermain lebih sebagai aktivitas motorik yang belum mempunyai tujuan.

manfaat aktivitas bermain yang paling utama adalah sebenarnya mendapatkan kegembiraan. Jika anak laki-laki dan perempuan diberi bahan-bahan yang sama berupa kertas-kertas. Kelima. Keempat. tampak nya mereka akan membuat sesuatu yang berbeda. perca (sisa kain). Ada anak yang dapat menikmati suasana permainan itu dengan perasaan gembira dan puas. Bagian awal dari tahap kedua. Jadi dalam bermain anak belajar jujur dan menaati semua ketentuan yang disepakati dalam permainan. tidak peduli dengan perasaan teman yang lain. Pada tahap kedua. anak mulai belajar mengamati anak-anak yang lebih besar bermain kelereng serta mulai meniru dan mencontoh bagaimana cara melakukan permainan itu. ada anak yang marah karena anak lain bermain curang.Ketiga. . sebaliknya ada anak yang merasa kecewa dan tidak puas. Penelitian Jean Piaget (Duska & Whelan. ada anak yang menggerutu karena tidak dibantu dalam kegiatan bermain. yakni usia 2-3 tahun. Anak mulai bermain bola sebagai aktivitas motorik semata-mata. gunting. Keenam. anak-anak akan berlatih menempa perasaannya. khususnya anak-anak yang sudah bisa berjalan dan memeluk bola. Hal ini membuktikan bahwa anak laki-laki berbeda bentuk permainannya dengan anak perempuan. melalui aktivitas bermain. Bermain sebagai dorongan dan aktivitas sukarela pada anak dapat digunakan dan dikelola sebagai strategi kegiatan untuk pengembangan perilaku moral pada anak. yakni usia 2-6 tahun. 1977) melaporkan bahwa perkembangan perilaku moral pada anak-anak usia dini terjadi melalui kegiatan bermain. Apabila kondisi kepuasan tercapai berarti anak mendapatkan kembali keseimbangan (equilibrium) dalam sistem energy tubuh. Belum ada aturan yang mengatur aktivitas bermain anak. Pada tahap pertama. dalam kegiatan bermain anak belajar mematuhi aturan-aturan yang berlaku dalam permainan serta belajar menerima hukuman jika seseorang bermain tidak mengikuti aturan atau bermain curang. ada yang acuh tak acuh. kegiatan bermain merupakan sarana dan kesempatan anak untuk mengembangkan fantasi kreativitas. menyalurkan kecenderungan pembawaan dan perbedaan minat berdasarkan perbedaan jenis kelamin. tapi masih lebih banyak bermain sendiri. kesenangan dan kepuasan. anak tampak bermain dalam kelompok. usia 0-2 tahun.

Pada tahap ketuga. Dari penelitian Jean Piaget itu. Permainan fungsi dalam jenis permainan ini yang diutamakan adalah gerakannya. menata arah kelereng. dan sebagainya adalah bentuk permainan fungsional. Permainan egosentrik ini sebenarnya merupakan tahap peralihan antara permainan individualistic murni yang merupakan aktivitas motorik dengan permainan kerjasama sosial yang benar. merangkak. karena kegiatan bermainnya masih sebagai hasil peniruan terhadap apa yang ia lihat seperti. berjalan. kemudian menembakkan kelereng ke lingkaran yang telah dibuat sebagai tujuan dari kegiatan bermain kelereng. aktivitas bermain anak memasuki tahap kerjasama sosial. ia menemukan tahap-tahap aktivitas bermain dengan tahap-tahap dalam pelaksanaan aturan (practices of rule) dan tahap-tahap kesadaran terhadap aturan (consciousness of rule). menggambar sebuah lingkaran. a. Pada tahap ini sebenarnya aktivitas bermain mengarah kepada pembentukan realisme moral (moral realism) pada anak. kalau tidak ia harus siap menerima hukuman atau ganjaran. Tahapan-tahapan perkembangan kesadaran moral diatas. H. seperti gerakan-gerakan tangan dan kaki pada bayi. 1999) dan Freeman & Munandar (19999) mengemukakan beberapa jenis permainan. dapat dirancang bentuk dan jenis permainan yang efektif untuk membentuk perilaku moral anak. Anak harus mematuhi aturan itu. berkejar-kejaran. tulang dan organ-organ lainnya. melompat. berlari-lari. kemantapan kordinasi otot. Beberapa jenis permainan perlu dipertimbangka dalam perancangan aktivitas bermain sebagai strategi pembentukan moral anak usia dini. Disebut fungsional karena bentuk permainan ini gunanya untuk melatih fungsi-fungsi gerakan motorik. belajar berdiri. dan aktivitas ini masih dipisahkan dari permainan sebagai aktivitas sosial. berjingkrak. mengatur posisi kelerengkelereng. Hetzer (dalam Zulkifli. menggulingkan badan. walaupun pengetahuannya mengenai system aturan belum sempurna. 7-12 tahun. Sedangkan pada anak-anak. .Pada usia 4-6 tahun anak mulai mengenal aturan-aturan yang mengatur kegiatan bermain. Ia masih cenderung menerapkan aturan secara egocentric. Pada tahap ini anak mulai menyadari mengenai system aturan dan nilai-nilai dari suatu jenis permainan.

berupa kelelahan dalam permainan. pendengaran. anak akan mencapai kepuasan. termasuk berbagai aturan perilaku dalam rumah yang harus dipatuhinya. dan benda-benda disekelilingnya. dan norma dalam keluarga dan masyarakat untuk pengembangan moral anak. Permainan perkembangan fungsi. tetapi tidak boleh menyentuh pot bunga yang mudah pecah. atau memetik gitar dan mendengar bunyinya. orang lain. meskipun motorik. anak juga bermain sambil bereksplorasi terhadap sekitarnya: ruang atau tempat-tempat yang belum diketahui. tetapi sekaligus mulai diperkenalkan mengenai berbagai aturan. Anak boleh bermain di halaman. mengembangkan fungsi sosial dan moral anak. Permainan eksploratif jenis permainan ini bertujuan mengeksplorasi diri sndiri dan mengeksplorasi lingkungan tempat anak berada. Proses mengeksplorasi badan. pikiran. dan perasaan dilakukan melalui gerakan. Permainan konstruktif . Selanjutnya. sangat penting dan bagi anak untuk tetapi memantapkan juga harus fungsi-fungsi intelektual emosional. Melalui permainan eksporatif anak juga mulai bereksplorasi dengan lingkungan social. Ia dapat meraba dan menekn papan kunci piano. anak dapat menekan papan kunci computer dan melihat tulisan atau gambar di layar.Melalui gerakan-gerakan ini. anak-anak dapat berlari dan berkejarkejaran di halaman rumah. melompat. tetapi tidak boleh merusak taman bunga ibu. berkejaran. tetapi tidak boleh keluar bermain di jalan karena banyak mobil yang lalu lalang. penglihatan. menggulingkan badan akan diulang-ulangi sehingga anak mencapai titik jenuh. Seorang anak kecil usia 2-3 tahun akan berjalan sendiri ke rumah tetangga sambil melihat-lihat burung kakaktua yang sedang bermain di sangkarnya. c. Dengan kata lain anak memang harus didorong dan difasilitasi ke dalam kegiatan permainan eksploratif. Misalnya. sehingga anak mengenal dunianya. Anak-anak boleh bermain fungsi dengan saling memeluk dan menggulingkan badan di ruang tamu. b. dan perabaan. sehingga gerakan-gerakan itu yang dilakukan melalui aktivitas berlari.

karena kosekuensinya ialah akan “dimarahi”. mengubah. pasir. mencari keseimbangan antara bagian-bagian dari sebuah obyek yang akan disusun seperti rumah. membongkar. anak mulai mengembangkan kemampuan melihat hubungan-hubungan di antara berbagai obyek. memasang. Anak bermain dengan menggunakan berbagai obyek. seperti melempar. Ketika anak sedang menggambar dipintu kamar. sejalan dengan perkembangan kemampuan symbol-simbol mental. atau tangannya akan “dicubit” ibunya. dan sebagainya. Dalam permainan konstruktif. Pada tahap selanjutnya. membongkar. Anak akan mengurungkan perbuatannya untuk mencoratcoret dinding rumah dengan kapur. memecahkan. biji-bijian. kantor. lalu tiba-tiba ibunya lewat. dan membentuk kembali obyek-obyek seperti berbagai balok kayu dalam jenis dan ukuran yang berbeda. bahan-bahan dari tanah liat. menara.Bermain konstruktif dapat mengikuti proses eksplorasi material. pecah akan memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi anak. menggaris. mencocokkan. anak akan bermain dengan menumpuk. Dalam pengembangan permainan konstruktif sebagai sarana pembelajaran moral. dan akibat atau kosekuensi dari hubunganhubungan itu. jembatan. menendang. Ia menyusun suatu . Di sini anak sudah tau menggambar di pintu kamar tidak boleh. dapat dikembangkan unsure-unsur aturan yang dapat melatih proses berfikir anak dalam mempertimbangkan serta memilih sesuatu dan membentuk obyek-obyek tertentu serta akibat dan konsekuensi-konsekuensi konstruktif dari perbuatannya. tongkat. menggabungkan. d. mencoret. benteng. batu-batuan. apabila melihat raut wajah ibu yang marah dan melarang anak untuk tidak boleh mencorat-coret dinding. Permainan konstruktif itu juga sekaligus membentuk kemampuan anak umtuk mematuhi atau tidak mematuhi aturan. membentuk. roboh. Permainan destruktif dalam permainan ini. menyobek-nyobek. Konsekuensi inilah yang menjadi pertimbangan anak. anak bereksperimen dengan benda-benda yang diperlakukan secara destruktif. maka anak akan segera menyembunyikan kapur dengan tangan yang disilang kebelakang. Suara dari suatu obyek yang jatuh. atau membantingkan suatu obyek. Dalam permainan ini yang diutamakan adalah hasilnya.

f. Dalam permainan ini. Melalui jenis permainan terorganisasi. dan tidak mungkin diperbaiki sebagaimana kondisinya sebelum dibanting. Bila anak berhasil memasukkan kelereng dalam lingkaran. anak berfantasi dan menerima . dan menyerahkannya ke anggota lain yang ikut dalam permainan itu. maka tidak mungkin lagi akan tersusun bangunan rumah seperti sebelumnya. Tujuan utama permainan ini ialah tercapainya kepuasan dan kegembiraan. Kalau bangunan rumah yang disusun dari balokbalok kecil itu ditendang. Kalau anak menang dengan mematuhi aturan. permainan kotak-kotak. Permainan reseptif dalam permainan reseptif. permainan congklak. Jenis permainan ini antara lain permainan kelereng. dan didengarnya. misalnya tidak boleh melanjutkan permainan. Kalau terjadi pelanggaran.menara dari balok-balok kayu kemudian merobohkan kembali. anak lebih banyak dalam posisi menerima dan menyimak berbagai obyek dari luar. dan kucing-kucingan. kalau mobil mainan itu dibanting maka mobil itu akan rusak. Permainan yang terorganisasi jenis permainan ini mempunyai system aturan yang harus diikuti oleh pelaku permainan. di samping anak dilatih mengenai imaginasinya ketika obyek-obyek permainan itu rusak. menghayati. Dari perspektif pengembangan moral. ia akan mendapat hukuman. Tetapi dalam permainan ini anak harus mematuhi berbagai aturan yang ditetapkan. Aktivitas permainan berfokus pada proses mengamati. Ia dapat membongkar mobilmobilan karena hanya merasa senang melihat suatu obyek yang tidak punya bentuk lagi. Sambil mendengarkan cerita atau melihat-lihat buku bergambar. mendengar. Umpamanya adalah “kemenangan” atau “kekalahan”. Misalnya. maka ia akan terus berusaha meraih kemenangan berikut dengan tetap mengikuti aturanaturan yang ada. tetapi juga harus dilatih tentang akibat atau konsekuensi destruktif dari perbuatannya itu. anak dilatih mematuhi aturan-aturan permainan. e. permainan destruktif ini dapat melatih kemampuan anak untuk mempertimbangkan akibat-akibat negative dari suatu perbuatan destruktif. maka ia akan mendapat nilai kemenangan. kemudian roboh. Apabila ia bermain “curang” maka ia diberikan “hukuman” sesuai aturan yang berlaku dalam permainan itu. berfikir. dan berimaginasi terhadap obyek-obyek luar yang dilihat.

dapat memuat pesan-pesan moral kepada anak. baik secara auditif visual atau audio visual. . Cerita pendek atau dongeng yang mengandung benih-benih budi pekerti. cerita bergambar. Jenis permainan reseptif dapat dikembangkan sebagai sarana untuk latihan pengembangan moral pada anak. Berbagai cerita dongeng. dan rasa keadilan sangat baik untuk membangkitkan fantasi. rasa sosial.kesan-kesan yang membuat jiwanya sendiri menjadi aktif. Melalui permainan reseptif ini anak dapat menghayati nilai-nilai kebaikan dan ketidak baikan dari setiap tingkah laku dalam cerita.

Yogyakarta: Mitra Pustaka. 2003. Jakarta: Erlangga. Poerwadarminta. Martini Jamaris. 2000. 1998.Daftar Pustaka Aziz Mustafa dan Imam Musbikin. Metode Pengembangan Moral dan Nilai-Nilai Agama. http://chiron. Yogyakarta: Navil 16 Slamet Suyanto. kampus UGM 14-16 Nopember 2005. 2003.html I Wayan Koyan. 2000. Yogyakarta: Hikayat. Cheppy Haricahyono. 2005. Dwi Siswoyo dkk. 2005. Perkembangan Anak Jilid 2. .dkk. _________. Elizabeth Hurlock. W. Sepasang Burung dan Nabi Sulaiman. Perkembangan dan Pengembangan Anak di usia taman Kanak-Kanak.edu/whuitt/col/affys/values. W. Yogyakarta: FIP UNY. Jakarta:Depdiknas. Mewujudkan Pendidikan Anak Usia Dini yang Holistik. Cerita Untuk Perkembangan Anak. Huitt. Soenarjati dan Cholisin. 2005. Gutama. Undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas. Jakarta : Grasindo. 1994.J. Yogyakarta: Laboratorium PMP dan KN. Semarang: IKIP Press. 2004. Kamus umum bahasa indonesia edisi ketiga. Jakarta: Universitas Terbuka. Standar Kompetensi Pendidikan Anak Usia Dini Taman Kanak-Kanak dan Raudhatul Athfal. Otib Satibi Hidayat. 2007.valdosta. Jakarta: Balai Pustaka. Dimensi-Dimensi Pendidikan Moral. . 2006. Seminar dan Lokakarya Nasional 2005 Pendidikan Anak Usia Dini. Depdiknas.2003. Dasar-dasar pendidikan anak usia dini. Tadzkiroatun Musfiroh dkk. Pendidikan Moral Pendekatan Lintas Budaya. 2005. Dasar dan Konsep Pendidikan Pancasila. Jakarta: Depdiknas. Values Education. 1995. Metode Pengembangan Moral Anak Prasekolah.S.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful