P. 1
analisis pemberiaan pinjaman-Bank BRI dan Mandiri 2010

analisis pemberiaan pinjaman-Bank BRI dan Mandiri 2010

|Views: 537|Likes:
Published by Nizar Al
study about the comparison between two big bank in Indonesia, in 2010, which one is better in financial condition, as creditor you can choose the best one...
study about the comparison between two big bank in Indonesia, in 2010, which one is better in financial condition, as creditor you can choose the best one...

More info:

Published by: Nizar Al on Feb 09, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/23/2012

pdf

text

original

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN DAN PENILAIAAN ASET

ANALISIS PEMBERIAAN PINJAMAN
(Untuk Memenuhi UAS Mata Kuliah ALK)

Disusun Oleh :

Nizar Alif Utama

(0910230103)

JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI dan BISNIS UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2011

KETERANGAN : Disini saya memposikan diri sebagai Kreditur, tetapi sedikit berbeda.Karena, biasanya Bank lah yang menjadi kreditur dan memberikan dana kepada Debitur seperti perusahaan, karena pada Tugas UAS ini saya ingin menganalisis Perbankan, meskipun sangat jarang perbankan menjadi debitur.Tetapi, dalam kasus ini.saya merupakan kreditur asing yang siap memberikan pinjaman kepada Bank nasional yang memang berkinerja bagus.Dengan menganalisis Perbankan ini, maka rasio yang saya hitung atau analisi akan berbeda dengan rasio-rasio pada perusahaan manufaktur atau perusahaan sejenis, hanya beberapa rasio saja yang sama.

Saya memilih untuk mempertimbangkan memberi pinjaman kepada Perbankan (Bank Mandiri dan Bank BRI), maka dari itu sebagai seorang Kreditur yang akan memberikan pinjaman kepada salah satu dari dua Bank tersebut maka hal yang saya analisis pertama adalah Kesehatan Banknya.Point yang menjadi soratan bagi saya sebagai Debitur adalah CAMEL nya dan juga rasio lain yang tergabung atau menjadi fokus pula didalam CAMEL itu sendiri.CAMEL terdiri atas : 1. Capital (Permodalan) 2. Asset Quality (Kualitas Asset) 3. Management (Manajemen)

4. Earnings (Rentabilitas) 5. Liquidity (Likuiditas) Sebelum membahas mengenai keempat faktor diatas, lebih baik sebelumnya melihat risko secara umum dari Indonesia sendiri, karena perusahaan yang menjadi fokus utama saya adalah bank-bank yang ada di Indonesia.Dengan mengetahui kedaan secara umum perekonomiaan di Indonesia.Maka akan lebih mudah dalam menilai risiko yang akan ditimbulkan.Berikut ini saya sajikan data KONDISI PEREKONOMIAN DAN PERBANKAN INDONESIA TAHUN 2010 : Kondisi Perekonomian Indonesia Di dalam negeri, kinerja perekonomian nasional yang semakin menguat selama tahun 2010 selain karena didukung oleh fundamental ekonomi, juga karena optimisme yang cukup tinggi dari pelaku usaha terhadap prospek perekonomian Indonesia seiring dengan meningkatnya credit rating outlook Indonesia.Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dunia, perekonomian Indonesia tumbuh lebih tinggi di tahun 2010 mencapai 6,1% meningkat dibanding pertumbuhan ekonomi pada tahun 2009 yang tercatat sebesar 4,5%, dan diproyeksikan akan mencapai 6,2% hingga 6,4% di akhir tahun 2011. Peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) tersebut didukung oleh ekspor yang tumbuh sebesar 14,9% seiring dengan meningkatnya permintaan dunia, investasi tumbuh 8,5% dan konsumsi rumah tangga meningkat 4,6%. Faktor positif yang membuat perekonomian Indonesia tahan terhadap terpaan krisis global adalah komposisi PDB yang didominasi oleh konsumsi domestik dimana kontribusi pengeluaran konsumsi rumah tangga 56,7% dan kontribusi pengeluaran Pemerintah 9,1% sedangkan pengeluaran investasi, ekspor dan impor yang terkait dengan perekonomian global masing-masing menyumbang 32,2%, 24,6% dan 23,0%. Namun demikian, pertumbuhan ekonomi yang positif tersebut diikuti dengan meningkatnya tekanan inflasi yang mencapai 6,96% di Desember 2010, meningkat dari 2,78% di Desember 2009. Kenaikan inflasi tersebut lebih disebabkan oleh sisi penawaran antara lain karena permasalahan distribusi dan adanya perubahan cuaca yang ekstrim yang menurunkan produksi pertanian dan bukan karena melonjaknya sisi permintaan. Dengan demikian, kenaikan inflasi tersebut tidak menimbulkan overheating dalam perekonomian Indonesia.

Dukungan makro ekonomi yang kuat dan kebijakan ekonomi yang baik mendorong semakin menariknya iklim investasi di Indonesia. Arus modal asing semakin deras masuk ke Indonesia baik dalam bentuk investasi langsung maupun investasi dalam bentuk portofolio. Cadangan devisa Indonesia terus meningkat hingga mencapai USD 96,21 miliar pada akhir tahun 2010, sementara Rupiah mampu terjaga di kisaran 8,800 per USD. Selain itu selama tahun 2010 Indeks Harga Saham Gabungan meningkat 46,13% mencapai 3.703,51 yang merupakan kenaikan tertinggi dibanding indeks bursa negara-negara lain.

Industri Perbankan Indonesia Dengan membaiknya ekonomi Indonesia, kinerja industri perbankan Indonesia juga menunjukkan perkembangan yang positif. Selama tahun 2010, total aset industri perbankan Indonesia meningkat Rp474,75 triliun atau 18,73% menjadi Rp3.008,85 triliun pada akhir tahun 2010. Demikian juga dengan posisi simpanan dan pinjaman, dibandingkan akhir tahun 2009, terdapat peningkatan masing-masing sebesar 18,54% dan 22,80% sehingga pada 31 Desember 2010, total dana masyarakat yang dihimpun oleh industri perbankan mencapai Rp2.338,82 triliun dan total kredit yang disalurkan kepada masyarakat mencapai Rp1.765,85 triliun. Sehingga loan to deposit ratio (LDR) perbankan Indonesia pada akhir tahun 2010 adalah 75,21%, meningkat dibandingkan tahun 2009 yang tercatat sebesar 72,88%. Apabila dilihat dari kualitas pinjaman, tampak bahwa pada tahun 2010 terdapat perbaikan kualitas pinjaman yang tercermin dari rasio non performing loan (NPL), dari 3,31% pada tahun 2009 membaik menjadi 2,56%. Tingkat efisiensi perbankan juga tercatat sedikit membaik, hal ini dilihat dari rasio Biaya Operasional dibandingkan dengan Pendapatan Operasional pada tahun 2009 adalah 86,63% dan di tahun 2010 adalah 86,14%. Pada tahun 2010, tingkat kekuatan

permodalan perbankan Indonesia juga masih terjaga, hal ini dapat dilihat dari rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) yang tetap berada pada kisaran diatas 17%, yaitu 17.18% pada 31 Desember 2010.

Melihat gambaran umum keadaan perekonomiaan dan Perbankan diatas, tentunya ini merupakan sinyal positif bagi Kreditur untuk memberikan pinjaman kepada sektor perbankan.Dengan Fundamental ekonomi yang mantab dan didukung oleh perkembangan sektor perbankan itu sendiri.Maka ditahun ini (2010) akan mengurangi risiko tidak kembalinya dana pinjaman apabila saya sebagai debitur memberikan pinjaman dana kepada pihak-pihak yang bergerak disektor perbankan, utamanya Bank-bank yang memang telah memiliki citra maupun kinerja yang baik dimata dimasyarakat. Jadi, dengan melihat gambaran umum kedaan perekonomiaan di Indonesia dan juga sediit ulasan mengenai industri perbankannya dapat saya simpulkan dalam kaca mata seorang kreditor, risko pemberian kredit kepada sektor perbankan di tahun ini (2010) akan lebih aman. Dan berikut ini adalah ulasan dari kelima faktor yang menjadi fokus saya, sebagai seorang debitur yang akan meminjamkan uang kepada kreditur yang bergerak dibidang Perbankan) : 1. Capital (Permodalan) Pada saat ini persyaratan untuk mendirikan bank baru memerlukan modal disetor sebesar Rp. 3 trilyun. Pengertian kecukupan modal tersebut tidak hanya dihitung dari jumlah nominalnya, tetapi juga dari rasio kecukupan modal, atau yang sering disebut sebagai Capital Adequacy Ratio (CAR). Rasio tersebut merupakan perbandingan antara jumlah modal dengan aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR). Pada saat ini sesuai dengan ketentuan yang berlaku, CAR suatu bank sekurangkurangnya sebesar 8%.Berikut ini adalah CAR (Capital Adequancy Ratio). Jenis Bank Nialai CAR Mandiri 14,7% BRI 13,76%

Melihat rasio CAR (Capital Adequency Ratio) dari kedua Bank telah menunjukkan hasil yang bagus, artinya CAR kedua Bank tersebut telah ada diatas

8%.Jadi

kedua

Bank

tersebut

layak

untuk

dianggap

sehat

dari

segi

permodalan.Apabila melihat dari hasil CAR dari kedua Bank ini, jelas terlihat bahwa Bank Mandiri sedikit lebih bagus pada permodalannya, yakni 14,7% dibandingkan BRI yang hanya 13,76%. Sepertri yang kita ketahui, semakin tinggi nilai CAR suatu Bank berarti semakin tinggi modal sendiri untuk mendanai aktiva produktif disertai dengan resiko aktiva produktif yang rendah.Jadi, bagi kredior seperti say aini melihat angka CAR yang tinggi dapat dijadikan sebagai pedoman bahwa Bank tersebut dapat melunasi pinjamannnya.Dan Bank Mandiri memiliki CAR yang lebih tinggi.

2. Asset Quality (Kualitas Asset)

Meskipun rasanya kurang terlalu diperlukan untuk menganalisis kualitas aset dalam kaitannya analisis kita sebagai seorang kreditur, tapi menurut saya tetap perlu dilakukan sebab posisi saya disini akan memberikan pinjaman kepada sektor perbankan.Otomatis, kesehatan Bank itu perlu juga diperhatikan.Rasio yang saya gunakan adalah NPL.Dengan melihat rasio ini maka dapat diukur seberapa baik Bank tersebut dalam menghimpun dananya.Dengan NPL yang rendah maka Bank tersebut semakin mampu menagih kredit yang telah diberikan.Secara langsung ataupun tidak langsung juga berpengaruh kepada saya sebagai kreditor dalam pemberiaan dana untuk bank ini, sebab apabila bank tersebut memiliki kredit macet yang besar maka kemungkinan bank tersebut membayar pinjaman darai saya juga semakin kecil. Seperti penjelaskan diatas, untuk melakukan Penilaian terhadap kualitas aktiva produktif di dalam kedua perbankan di Indonesia ini, saya dasarkan pada rasio kredit bermasalah / Non performing loan (NPL). Non Performing Loan (NPL) adalah perbandingan antara kredit yang tidak dikembalikan lagi oleh si peminjamnya (kredit macet), atau dikembalikan tapi tersendat-sendat, dengan total kredit yang disalurkan oleh bank ke masyarakat.Kredit yang disalurkan ke masyarakat digolongkan menjadi lima status, yaitu 1. lancar, 2. dalam perhatian khusus, 3. kurang lancar, 4. diragukan, dan 5. Macet.NPL sendiri dibagi menjadi 2 yaitu :

1. NPL gross dan NPL net. NPL gross adalah NPL yang membandingkan jumlah kredit berstatus kurang lancar, diragukan, dan macet yang disatukan, dengan total kredit yang disalurkan. Sedangkan, 2. NPL net hanya membandingkan kredit berstatus macet dengan total kredit yang disalurkan.

Berikut ini saya sajikan data hasil perhitungan NPL dari kedua bank tersebut : RASIO NPL MANDIRI NPL GROSS NPL NET 2,4% 0,6%. 2,78% 0,74% BRI

Seperti yang saya sajikan pada data diatas, dapat kita lihat bahwa dalam hal NPL ini Bank MANDIRI lebih bagus baik dari nilai NPL Gross maupun NPL Net. Nilai NPL Net dari bank MANDIRI adalah 0,6% sedangkan Bank BRI sebesar 0,74%.Artinya, Bank BRI kurang mampu menyeleksi calon peminjam, sebab tingkat pengembaliaan kredit yang diberikan kecil.Dalam perhitungan NPL ini, NPL gross lebih memberikan informasi dibandingkan NPL net sebab NPL ini ikut memperhitungkan kredit berstatus kurang lancar dan diragukan, yang dimasa depan bisa saja meningkat statusnya menjadi macet.Baik dilihat dari NPL Gross pun bank MANDIRI masih lebih baik dibandingkan Bank BRI, sebab nilai NPL nya lebih kecil.Artinya bank Mandiri lebih mampu mendapatkan uang yang mereka pinjamkan kepada pihak lain. Meskipun, seperti yang saya katakan diatas.Sebenarnya rasio ini tidak terlalu mempengaruhi analisis kita dari sisi posisi kita sebagai kreditor.Tetapi, tetap saja rasio NPL yang kecil akan mampu menunjukkan bahwa Bank tersebut lebih mampu dipercaya, sebab risko ketidaktertagihan akan dana yang dipinjamkan lebih kecil.Dengan semakin besar dana yang kembali, maka risko likuiditasnya pun tidak akan menurun.Jadi, dari sisi kita sebagai debitor tentu Bank MANDIRI lebih bagus dalam hal NPL ini.

3. Management (Manajemen) Penilaian faktor manajemen dalam penilaian tingkat kesehatan bank umum dilakukan dengan melakukan evaluasi terhadap pengelolaan terhadap bank yang bersangkutan. Penilaian tersebut dilakukan dengan mempergunakan sekitar seratus kuesioner yang dikelompokkan dalam dua kelompok besar yaitu kelompok manajemen umum dan kuesioner manajemen risiko. Kuesioner kelompok manajemen umum selanjutnya dibagi ke dalam sub kelompok pertanyaan yang berkaitan dengan strategi, struktur, sistem, sumber daya manusia, kepemimpinan, budaya kerja. Sementara itu, untuk kuesioner manajemen risiko dibagi dalam sub kelompok yang berkaitan dengan risiko likuiditas, risiko pasar, risiko kredit, risiko operasional, risiko hukum dan risiko pemilik dan pengurus. Seperti penjelasan diatas penilaiaan manajemen dilakukan melalui kuisioner yang dibuat dan dibagikan kepada pihak manajemen.Karena, disini sulit bagi saya untuk mendapatkan akses dalam pembuatan dan pengajuaan kuisioner kepada kedua bank tersebut,maka data saya analisis dari Annual Report yang diterbitkan oleh kedua bank tersebut. A.Strategi FOKUS STRATEGI BANK MANDIRI Salah satu fokus strategi Bank Mandiri dalam jangka panjang adalah meningkatkan komposisi pembiayaan ritel (retail financing) untuk memperkuat struktur neraca dan pembiayaan Bank. Orientasi tersebut dilakukan dengan mengembangkan infrastruktur, penguatan manajemen risiko, mengembangkan produk dan kesiapan SDM untuk segmen Consumer Finance, Business Banking dan Micro Banking. Penyebaran jaringan dan perbaikan proses menjadi kunci utama yang mendapat perhatian sejak awal dengan tetap mengedepankan prinsip-prinsip kehati-hatian yang seimbang melalui penetapan targeted customer yang jelas. Selama tahun 2010 Bank Mandiri telah menambah jaringan mikro sebanyak 189 unit sehingga menjadi 1.000 unit dan menambah jaringan Business Banking Center dan Business

Banking Desk sebanyak 15 unit sehingga menjadi 177 unit. Dari aspek proses, perbaikan berkelanjutan terus dilakukan, seperti di Business Banking melalui program peningkatan kecepatan pelayanan, diantaranya melalui simplifikasi proses kredit dan penempatan Mandiri Business di beberapa lokasi strategis. Sementara di Consumer Loan, inisiasi Loan Factory dilakukan untuk meningkatkan efisiensi dan kecepatan prosess. Untuk kartu kredit, pengembangan Consumer Lifecycle Management (CLM) menjadi fokus utama bagi pengembangan strategi segmentasi yang lebih akurat.Analisis produktivitas cabang-cabang mikro juga terus dilakukan untuk mendapatkan titik optimal, baik dari aspek efisiensi, maupun kemampuanbooking.Fokus pada eksekusi strategi tersebut telah memperlihatkan hasil yang menggembirakan. Kredit ritel (Business Banking, Micro Banking, dan Consumer Finance) di tahun 2010 tumbuh secara netto sebesar Rp14,6 triliun atau dengan tingkat pertumbuhan sebesar 31,7%. Pertumbuhan tersebut bersumber dari Business Banking sebesar Rp5,6 triliun atau tumbuh 32,7%, Micro Banking sebesar Rp1,9 triliun atau tumbuh 35,8%, dan Consumer Finance sebesar Rp7,1 triliun atau tumbuh 30,2%. Dengan pertumbuhan tersebut, komposisi pembiayaan ritel sampai dengan akhir tahun 2010 mencapai 28,7% dari total portofolio dan diharapkan akan terus mengalami peningkatan. FOKUS STRATEGI BANK BRI Fakta yang menggembirakan adalah BRI tumbuh pesat pada segmen usaha yang menjadi kompetensi intinya, yaitu segmen usaha mikro dimana pada tahun 2010, kredit mikro mencapai Rp75,37 triliun, meningkat 39,38% dari tahun 2009 dengan NPL terjaga pada level 1,21%. Hal ini membuktikan bahwa strategi BRI untuk semakin memperkokoh posisinya di segmen usaha mikro salah satunya dengan pengembangan Teras BRI dan inovasi pada produk perbankan mikro menunjukkan hasil yang memuaskan. Segmen kredit konsumer menjadi segmen usaha penyumbang terbesar terhadap pertumbuhan kredit BRI di tahun 2010 selain segmen usaha Mikro. Kredit konsumer BRI, yang didominasi oleh kredit kepada nasabah berpenghasilan tetap, tumbuh sebesar 20,20% atau mencapai Rp41,09 triliun pada tahun 2010. Hal ini

menunjukkan strategi BRI untuk masuk ke segmen perkotaan, melakukan cross selling dan meningkatkan customer relationship dengan institusiinstitusi Pemerintah maupun swasta telah berjalan dengan baik. Kredit konsumer lainnya seperti KPR dan KKB meningkat sangat pesat, masingmasing tumbuh 48,56% dan 115,20% atau mencapai Rp6,78 triliun dan Rp1,47 triliun pada tahun 2010. Peningkatan pinjaman konsumer ini juga tidak terlepas dari strategi BRI untuk membuka 40 Sentra Kredit Konsumer di kota-kota besar di Indonesia

Dari ulasan diatas, dapat kita lihat bahwa fokus strategi dari Bank MANDIRI adalah meningkatkan komposisi kredit Ritel/Kredit ritel disini terdiri dari : Business Banking, Micro Banking, dan Consumer Finance.Sedangkan strategi Bank BRI fokus utamanya adalah sektor Mikro, artinya sektor yang disasar oleh mereka adalah memang Industri kecil seperti UKM-UKM.Kalau dilihat dari fokus strategi kedua Bank ini terlihat bahwa Bank BRI lebih unggul, sebab fokus mereka memang benar-benar pada sektor Mikro itu sendiri dan tidak bercabang pada sektor lain.Sektor lain seperti kredit konsumer juga menjadi salah satu segmen penyumbang terbesar di Bank BRI, tetapi segmen tersebut bukan menjadi fokus utama mereka.Sedangkan Bank MANDIRI berfokus pada kredit Ritel yang memiliki 3 macam segmen yang menjadi fokus utama mereka.Kalau dilihat dari strateginya sendiri, ketika fokus utama kita sedikit, maka akan lebih mudah untuk mencapai hal yang menjadi fokus utama tersebut.Meskipun, tidak ada salahnya memiliki fokus utama lebih dari satu.Tetapi, menurut saya sebagai kreditor dalam hal strategi Bank BRI lebih unggul dibandingkan Bank MANDIRI.Berikut ini saya sajikan analisis menurut saya : KETERANGAN SEKTOR UTAMA SEKTOR MIKRO KREDIT MIKRO 39,38% KREDIT SUB-SEKTOR PROSENTASE PERTUMBUHAN MANDIRI BRI

SEKTOR RITEL

KREDIT

Business Banking Micro Banking Consumer Finance

32,7%, 35,8%, 30,2%.

Jadi pertumbuhan sektor kredit Ritel rata-rata yang menjadi 31,7% fokus utama bank MANDIRI secara umum adalah (sesuai data di annual report)

Dari tabel summary yang saya buat diatas terlihat bahwa strategi Bank BRI lebih efektif dibandingkan strategi yang diterapkan oleh Bank MANDIRI.Fokus utama segmen bank BRI hanyalah sektor dari Kredit Mikro dan pada tingkat pertumbuhannya ditahun 2010 mencapai 39,38 lebih besar dibandingkan pertumbuhan yang diperoleh Bank MANDIRI yang hanya sebesar 31,7% saja.Jadi, terlihat disini bahwa ketika kita ingin strategi kita lebih berhasil maka fokus utama kita lebih baik tidak banyak dan bercabang. B.Struktur GAMBAR STRUKTUR ORGANISASI BANK MANDIRI :

GAMBAR STRUKTUR ORGANISASI BANK BRI

Dari analisis saya atas struktur organisasi diatas, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.Untuk Bank Mandiri kelebihannya terletak pada strukturnya yang

sangat rinci dan detail.Jadi, bagi pembacanya struktur yang demikiann akan lebih mudah untuk dibaca tetapi, Dalam struktur ini tidak dijelaskan hubungan antar pihak-pihak dalam struktur tersebut, misalnya apakah jenis hubungan antara audit internal dengan dewan komisaris.Dalam hal ini, bank Mandiri tidak menjelaskannya.Tetapi, pada Bank BRI dijelaskan jenis hubungan antar bagiaan dalam struktur organisasi tersebut.Bisa dalam hubungan garis pembinaan atau supervisi untuk garis lurus , dan garis koordinasi untuk garis putus-putus.Dan bagi bank BRI jenis hubungan antar bagiaan telah dijelaskan oleh garis koordinasi tersebut.Tetapi, sayangnya Struktur orgasnisasi Bank BRI ini masih menggambarkaan keadaan yang secara umum. Meskipun dalam analisis manajemen ini terlihat kurang memberikan result atau hasil yang berdampak langsung pada risko pemberiaan pinjaman itu sendiri.Tapi, seperti kita ketahui pengelolaan manajemen yang bagus termasuk didalamnya struktur organisasi yang jelas dan efektif tetap akan memberikan pengaruh dalam pelaksanaan operasi perushaan tersebut.Dengan kegiatan operasi yang bagus maka akan lebih mudah dalam menghasilkan uang.Dan bagi kreditor sendiri manajemen yang baik akan lebih bisa dipercaya dalam pemberiaan dana pinajamn kepada perusahaan tersebut. Apabila dinilai dari struktur organisasi antara bank MANDIRI dan BRI diatas, maka kedua bank ini memiliki kelemahan dan kelebihan yang sama.

C.Sistem
Yang menjadi fokus analisis saya dalam sistem ini adalah pengendaliaan internal kedua Bank ini , berikut ini adalah SPI (Sistem Pengendaliaan Internal) kedua Bank tersebut : PENGENDALIAN INTERNAL BANK MANDIRI : Berkaitan dengan bidang pengendalian intern, Bank secara berkelanjutan melaksanakan penyempurnaan penerapan prudential banking, good corporate governance serta internal control. Beberapa program kerja yang dilaksanakan antara lain:
• •

Pengembangan website GCG (Good Corporate Governance) sebagai media informasi dan edukasi. Perumusan dan penyusunan Compliance Risk Management System.

• Pembuatan Standar Prosedur APU (Anti Pencucian Uang) & PPT (Pencegahan Pendanaan Terorisme) yang sesuai dengan Rekomendasi FATF.
• •

Pengembangan infrastruktur untuk penanganan fraud kartu debit dan peningkatan SDM yang expert pada penanggulangan fraud kartu debit melalui special hiring. Pengembangan penyediaan RBA (Risk Based Audit) tools untuk audit unit kerja berskala kecil (Cash Outlet & Micro Business Unit) dan audit kredit segmen large commercial dan korporasi.

Pengembangan SIMA (Sistem Informasi Manajemen Audit) untuk Knowledge Management, on desk review dan early warning system dalam rangka continuous auditing.

PENGENDALIAAN INTERNAL BANK BRI :

Kualitas sistem pengendalian intern, baik melalui fungsi pengawasan melekat (builtin control) pada setiap jajaran manajemen lini maupun pengawasan fungsional yang dilakukan oleh internal auditor perlu ditingkatkan, antara lain dengan meningkatkan kompetensi auditor sebagai strategic business partner serta menyempurnakan program dan sistem aplikasi audit.

Mempercepat pelaksanaan pengisian formasi resident auditor di Kanca-kanca BRI sehingga dapat mendukung fungsi early warning system dan strategic business partner.

Konsistensi pelaksanaan kebijakan whistle blower sebagai salah satu upaya untuk mencegah dan mengetahui secara dini terjadinya gejala penyimpangan/fraud.

• Melaksanakan seluruh komitmen terhadap rencana tindak lanjut atas laporan hasil pemeriksaan audit intern dan audit ekstern Kalau melihat pengendaliaan internal dari kedua bank tersebut.Keduanya menerapkan sistem pengendaliaan internal yang hampir sama.Tetapi, dalam kacamata saya Bank MANDIRI sedikit lebih unggul dibandingkan Bank BRI.Untuk pengendaliaan internal Bank Mandiri telah diterapkan adanya sistem yang lebih kompleks dari segi internal, misalnya SIMA (Sistem Informasi Manajemen Audit) untuk Knowledge Management, on desk review.Selain itu bank mandiri juga fokus pada Pembuatan Standar Prosedur APU (Anti Pencucian Uang) & PPT (Pencegahan Pendanaan Terorisme) yang sesuai dengan Rekomendasi FATF.Hal inilah yang menjadi poin lebih bagi Bank MANDIRI dibandingkan sistem pengendaliaan

internal dari BANK BRI.Dengan sistem pengendaliaan internal yang bagus otomatis tindakan kecurangan ataupun moral hazzard akan dapat diperkecil atau bahkan dihilangkan.Dan dari segi kreditor, perusahaan yang bersih dari adanya kecurangan akan lebih mampu dipercaya.Sehingga, pengendaliaan internal yang kuat akan mampu memberikan kepercayaan kepada debitur untuk meminjamkan uangnya. D.Budaya kerja Budaya kerja Bank MANDIRI : Budaya kerja Bank Mandiri adalah TIPCE : Trust Membangun keyakinan dan sangka baik diantara stakeholders dalam hubungan yang tulus dan terbuka berdasarkan kehandalan. Integrity Setiap saat berpikir, berkata dan berperilaku terpuji, menjaga martabat serta menjunjung tinggi kode etik profesi. Professionalism Berkomitmen untuk bekerja tuntas dan akurat atas dasar kompetensi terbaik dengan penuh tanggung jawab Customer focus Senantiasa menjadikan pelanggan sebagai mitra utama yang saling menguntungkan untuk tumbuh secara berkesinambungan. Excellence Mengembangkan dan melakukan perbaikan di segala bidang untuk mendapatkan nilai tambah optimal dan hasil yang terbaik secara terus-menerus. BUDAYA KERJA BANK BRI : BRI menerapkan nilai-nilai perusahaan (corporate value) yang menjadi landasan berpikir, bertindak, serta berperilaku setiap insan BRI sehingga menjadi budaya kerja perusahaan yang solid dan berkarakter. Nilai-nilai tersebut adalah integritas, profesionalisme, kepuasan nasabah, keteladanan, dan penghargaan kepada SDM. BRI sebagai perusahaan terbuka berkomitmen mematuhi seluruh ketentuan perundang-undangan yang berlaku dalam kegiatan operasional bank maupun pasar modal.

Hal tersebut telah mendorong BRI untuk selalu mengutamakan prudential banking dan kepentingan stakeholders. perusahaan sebagai berikut:
a. Mengintensifkan program budaya sadar risiko dan kepatuhan kepada

Komitmen ini juga diwujudkan dalam bentuk tata kelola

setiap pekerja di seluruh unit kerja;
b. Mengintensifkan peningkatan kualitas pelayanan di seluruh unit kerja; c. Menjabarkan dan memonitor setiap kemajuan yang dicapai perusahaan

ke dalam rencana tindakan yang terukur dipertanggungjawabkan oleh setiap unit kerja;

dan

dapat

d. Menerapkan kebijakan reward dan punishment yang tegas dan adil.

Melihat budaya kerja yang ada di dua Bank diatas, masing-masing bank terlihat memiliki ciri khas masing-masing dalam budaya tersebut.Tetapi, pada intinya keduanya ingin ada integritas dan pelayanan yang prima kepada pelanggan.Sebagai seorang kreditur, tentunya ini merupakan sinyal positif.Dengan budaya yang bersifat positif maka akan lebih terjamin ketika kita sebagai kreditur memberikan pinjaman kepada mereka.Untuk budaya organisasi ini.Masing-masing Bank memiliki kelebihannya tersendiri.

4. Earnings (Rentabilitas) Salah satu parameter untuk mengukur tingkat kesehatan suatu bank adalah kemampuan bank untuk memperoleh keuntungan. Penilaian didasarkan kepada rentabilitas atau earning suatu bank yaitu melihat kemampuan suatu bank dalam menciptakan laba.Penilaiaan faktor rentabilitas antara lain dilakukan melalui penilaian terhadap komponen-komponen sebagai berikut : • Return on Assets (ROA); RASIO ROA MANDIRI ROA 3,4% 4,64% BRI

ROA merupakan rasio antara laba setelah pajak atau Net Income After Tax (NIAT) terhadap total assets. Semakin tinggi ROA menunjukkan semakin baik kinerja suatu perusahaan (bank). Total asset yang lazim digunakan untuk mengukur ROA sebuah bank adalah jumlah dari asset-asset produktif yang terdiri dari penempatan surat-surat berharga (seperti Sertifikat Bank Indonesia, Surat Berharga Pasar Uang, penempatan dalam saham perusahaan lain, penempatan dalam Call Money atau Money Market), dan penempatan dalam bentuk kredit (kredit konsumtif maupun produktif baik kepada perorangan maupun institusi atau perusahaan). Dari angka analisis diatas dapat kita ketahui bahwa Bank BRI lebih unggul untuk ratio ROA ini.Artinya Bank BRI lebih mampu untuk menghasilkan pengembaliaan atas total aset.Deangan rasio ini dapat kita ketahui bahwa penggunaan atau pengolahan aset pada bank BRI lebih baik ketimbang Bank Mandiri.Dengan melihat ROA ini bagi seorang kreditor maka akan memberikan informasi apakah tingkat pengembaliannya besar atas asset tersebut.Apabila besar, ini akan menunjukkan indicator bahwa bank tersebut akan mampu untuk menghasilkan pengembaliaan.

Return on Equity (ROE); RASIO ROE MANDIRI BRI 43,83%

ROE

24,4%

Merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan dari modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan bagi seluruh pemegang saham, baik saham biasa maupun saham preferen. Seperti kita ketahui dari hasil diatas bahwa nilai ROE Bank BRI lebih bagus ketimbang Bank Mandiri.Artinya, bahwa tingkat pengembaliaan atas Modal yang dimilikanya itu besar.Dan bagi kreditor, informasi ini akan memberikan pemahaman pada kreditor bahwa bank tersebut mampu menghasilkan tingkat pengembaliaan yang besar atas ekuitas yang dimilikinya.Dana Bank BRI lah yang memiliki tingkat ROE besar memapu menghasilkan tingkat pengembaliaan yang lebih besar bila dibandingkan dengan Bank Mandiri.

Net Interest Margin (NIM); RASIO NIM MANDIRI BRI 10,77%

NIM

5,39%

NIM adalah selisih antara Interest Income (pendapatan bunga) dengan Interest Expenses (Biaya Bunga) (Imam Rusyamsi, 1999). NIM menunjukkan kemampuan bank dalam menghasilkan pendapatan dari bunga dengan melihat kinerja bank dalam menyalurkan kredit. Hal ini mengingat pendapatan operasional bank sangat tergantung dari selisih bunga (spread) dari. NIM yaitu rasio antara pendapatan bunga bersih terhadap jumlah kredit yang diberikan (outstanding credit). Pendapatan bunga bersih diperoleh dari bunga yang diterima dari pinjaman yang diberikan dikurangi dengan biaya bunga dari sumber dana yang dikumpulkan. NIM suatu bank dikatakan sehat apabila mempunyai NIM diatas 2% Dari hasil NIM atas kedua Bank diatas, Bank Mandiri memiliki rasio NIM sebsar 5, 39% dan Bank BRI sebesar 10,75%.Apabila dianalisis dari tingkat kesehatan Bank maka kedua Bank tersebut sehat, sebab kedua bank tersebut memiliki rasio NIMdiatas 2%.Tetapi, dari kacamata seorang kreditor maka akan membandingkan mana yang lebih besar.Dari hasil diatas Banak BRI terbukti lebih mampu untuk menghasilkan pendapatan dari bunga dalam menyalurkan kredit.Sebab, rasio NIM pada Bank BRI lebih tinggi bila dibandingkan Bank Mandiri.Disini say sebagai seorang kreditor dapat melihat bahwa Bank BRI lebih mampu untuk menhasilkan pendapatan dari bunga.Meskipun bagi seorang kreditor rasio ini kurang bermanfaat,Tetapi, apabila perusahaan memiliki NIM yang besar maka perusahaan tersebut akan lebih prospektif.Sebab, dari pendapatan yang masuk itu sendiri.Maka, dari nilai NIM ini Bank BRI lebih unggul. • Biaya Operasional dibandingkan dengan Pendapatan Operasional (BOPO); RASIO BOPO MANDIRI BOPO 65,63% 70,86% BRI

BOPO merupakan rasio antara biaya operasi terhadap pendapatan operasi.Biaya operasi merupakan biaya yang dikeluarkan oleh bank dalam rangka menjalankan aktivitas usaha pokoknya (seperti biaya bunga, biaya tenaga kerja, biaya pemasaran dan biaya operasi lainnya). Pendapatan operasi merupakan pendapatan utama bank yaitu pendapatan bunga yang diperoleh dari penempatan dana dalam bentuk kredit dan pendapatan operasi lainnya. Dari hasil BOPO diatas bank mandirilah yang memiliki BOPO yang lebih baik , yaitu 65,63% dibandingkan BRI yang nilai BOPO nya mencapai 70,86%.Semakin kecil BOPO menunjukkan semakin efisien bank dalam menjalankan aktifitas usahanya. Bank yang sehat rasio BOPO nya kurang dari 1 sebaliknya bank yang kurang sehat (termasuk BBO dan Take Over) rasio BOPO nya lebih dari 1 semakin kecil BOPO menunjukkan semakin efisiens bank dalam menjalankan usaha pokoknya terutama kredit berdasarkan jumlah dana yang berhasil dikumpulkan. Dalam pengumpulan dana terutama dana masyarakat (dana pihak ketiga), diperlukan biaya selain biaya bunga (termasuk biaya iklan). Dari Nilai BOPO ini dapat kita ketahui semakin efisien perusahaan tadi.Dari sini dapat kita lihat bahwa Bank MANDIRI lebih efisien dibandingkan Bank BRI.Dan bagi Kreditor informasi seperti ini akan berguna.Sebab, perusahaan yang operasinya efisien, maka akan lebih mudah untuk menghasilkan laba.Dan di mata kreditor akan lebih baik memberikan pinjaman kepada perusahaan yang efisien dan memiliki laba banyak.Sebab, secara Laba yang dihasilkan nanti akan masuk kedalam komponen ekuitas perusahaan tersebut.Dengan Ekuitas yang baik tentu saja risko untuk gagl bayar terhadap saya (Kreditor) akan lebih kecil.Sebab Ekuitas yang merupakan kekayaan perusahaan tersebut besar.

5. Liquidity (Likuiditas) Untuk menilai likuiditas kedua Bank ini saya gunakan rasio LDR, berikut ini adalah hasil besrta analisis yang telah saya buat : Loan to Deposit Ratio (LDR)

RASIO LDR MANDIRI LDR 65,44%, 75,17% BRI

Merupakan rasio yang mengukur kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban keuangan yang harus segera dipenuhi. Kewajiban tersebut berupa call money yang harus dipenuhi pada saat adanya kewajiban kliring, dimana pemenuhannya dilakukan dari aktiva lancar yang dimiliki perusahaan. Sebagaimana rasio likuiditas yang digunakan dalam perusahaan secara umum juga berlaku bagi perbankan. Namun perbedaannya dalam likuiditas perbankan tidak diukur dari Acid Test Ratio maupun Current Ratio, tetapi terdapat ukuran khusus yang berlaku untuk menentukan likuiditas bank sesuai dengan peraturan Bank Indonesia. Rasio likuiditas yang lazim digunakan dalam dunia perbankan terutama diukur dari Loan to Deposit Ratio (LDR). Dari hasil analisis atas nilai LDR diatas maka Bank Mandiri lebih unggul, sebab nilai LDR bank Mandiri sebesar 65,44% lebih baik dibandingkan nilai LDR Bank BRI.Bank yang memiliki angka LDR tinggi akan mengalami kesulitan likuiditas (dan sekaligus penurunan rentabilitas). Hal ini didasarkan pada anggapan bahwa loan dinilai sebagai earning asset bank yang kurang atau bahkan sangat tidak likuid. Dengan LDR yang tinggi, dapat diduga cash inflow dari pelunasan pinjaman dan pembayaran bunga dari debitur pada bank menjadi tidak sebanding dengan kebutuhan untuk memenuhi cash outflow penarikan dana-dana giro, tabungan dan deposito yang jatuh waktu dari masyarakat. Dapat diduga dengan LDR yang tinggi, bank secara potensial dapat mengalami kesulitas likuiditas .LDR menunjukkan bahwa semakin tinggi LDR menunjukkan semakin rendah kondisi likuiditas bank Jadi, apabilia diukur tingkat likuiditasnya maka Bank Mandiri lebih unggul.Dan bagi kreditor perusahaan yang lebih likuid akan lebih menarik.Sebab, selain banyaknya kas yang akan tersedia, lukuiditas yang baik juga memberikan kesempatan bagi perusahaan tersebut untuk mengolah dananya tersebut dalam rangka meningkatkan rentabilitasnya.Tentu saja, Bank MANDIRI lebih memiliki kemampuan akan hal itu.Sebab, nilai LDR nya lebih bagus.Dan Bank Mandiri lebih likuid dibandingkan Bank BRI.

BERIKUT INI ADALAH BEBERAPA RASIO YANG SAYA GUNAKAN dan ANALISIS KEDUA BANK TERSEBUT :

Selain keenam rasio tersebut ada juga rasio ROE yang juga saya sertakan ANALISIS TAMBAHAN : Berikut ini dilihat dari penguasaan pangsa pasar 10 Besar Bank di Indonesia, berikut ini datanya (Sumber : Viva News – 2010) : 1. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk : 14,23% 2. PT BRI (Persero) Tbk: 14,06% 3. PT Bank Central Asia Tbk: 11,87% 4. PT BNI (Persero) Tbk: 8,10% 5. PT Bank CIMB Niaga Tbk: 5,04% 6. PT Bank Danamon Indonesia: 3,43% 7. PT Pan Indonesia Bank Tbk : 3,21% 8. PT BII Tbk : 2,56 % 9. PT Bank Permata Tbk : 2,45% 10. PT BTN (Persero) Tbk : 2,03

Berikut ini saya sajikan diagramnya , hanya 5 besar pengusaan pangsa pasar perbankan di Indonesia sesuai angka-angka yang bersumber dari Viva-news tersebut.

MAN I DIR BI R B CA B I N CIMB

Dari diagram diatas dapat terlihat bahwa bank mandiri mandiri yang digambarkan dengan warana biru tua memiliki proporsi yang lebih besar ketimbang 4 bank lainnya yang masuk dalam lima besar pengusaan pangsa pasar di Indonesia, kemudiaan disusul tipis oleh bank BRI.Dari sini, dapat kita lihat bahwa kedua Bank ini memang telah mampu menguasai pangsa pasar perbankan Indonesia dengan penjumlahan kedua bank ini, telah mampu menguasai 30% dari pangsa pasar Bank yang ada di Indonesia.Bagi seorang kreditor hal semacam ini dapat dijadikan sebagai informasi tambahan dan penguat untuk memberikan pinjaman atau tidak kepada bank tersebut.Seba, apabila dinilai atas dasar keawaman (Tanpa ilmu analisis) Bank dengan jumlah nasabah atau penguasaan pangsa pasar yang besar tentunya akan lebih kecil kemungkinanannya mengalami kerugiaan.Sebab, besarnya jumlah nasabah juga menunjukkan bahwa pelayanan Bank tersebut bagus, selain itu jumlah nasabah atau pangsa pasar yang besar dapat menunjukkan bahwa bank tersebut dapat dipercaya sebab Tingkat kepercayaan masyarakat untuk menjadi nasabah dalam bank tersebut tinggi.Dan Melihat data pengusaan pangsa pasar diatas jelas Bank Mandiri lebih unggul dibandingkan Bank BRI.

Berikut ini adalah Laporan Laba/Rugi dari kedua Bank tersebut untuk tahun 2010 :
PT BANK MANDIRI (PERSERO) Tbk. LAPORAN LABA RUGI - PERUSAHAAN INDUK Tahun yang Berakhir Pada Tanggal-tanggal 31 Desember 2010 (Dalam jutaan Rupiah)

PENDAPATAN DAN BEBAN OPERASIONAL Pendapatan Bunga Pendapatan bunga Pendapatan provisi dan komisi Jumlah Pendapatan Bunga Beban Bunga Beban bunga Beban pendanaan lainnya Jumlah Beban Bunga PENDAPATAN BUNGA - BERSIH Pendapatan Operasional Lainnya Provisi dan komisi lainnya Laba selisih kurs - bersih Lain-lain Jumlah Pendapatan Operasional Lainnya Pembentukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (Pembentukan)/Pembalikan Penyisihan Estimasi Kerugian atas Komitmen dan Kontinjensi (Pembentukan)/Pembalikan Penyisihan Kerugian Keuntungan/(Kerugian) yang Belum Direalisasi dari Kenaikan/Penurunan Nilai Wajar Efek-efek dan Obligasi Pemerintah Keuntungan/(Kerugian) dari Penjualan Efek-efek dan Obligasi Pemerintah Beban Operasional Lainnya Beban gaji dan tunjangan Beban umum dan administrasi Lain-lain - bersih Jumlah Beban Operasional Lainnya LABA OPERASIONAL Pendapatan Bukan Operasional Bersih LABA SEBELUM (BEBAN)/MANFAAT PAJAK (Beban)/Manfaat Pajak Tahun Berjalan Tangguhan Jumlah Beban Pajak - Bersih

Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp

30.447.660 30.447.660 (12.930.975) (18.443) (12.949.418) 17.498.242 4.354.423 577.568 3.117.290 8.049.281 (2.422.317)

Rp Rp

(52.596) 105.880

Rp

19.937

Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp

242.767 (4.817.817) (4.507.237) (714.330) (10.039.384) 13.401.810 109.883 13.511.693 (2.656.204) (1.637.191) (4.293.395)

LABA BERSIH

Rp

9.218.298

PT BANK RAKYAT INDONESIA (PERSERO) Tbk DAN ANAK PERUSAHAAN LAPORAN LABA RUGI KONSOLIDASI Tahun yang Berakhir Pada Tanggal-tanggal 31 Desember 2010 dan 2009 (Dalam jutaan Rupiah)

PENDAPATAN DAN BEBAN OPERASIONAL Pendapatan Bunga, Investasi dan Syariah Bunga dan investasi Pendapatan syariah Provisi dan komisi Jumlah Pendapatan Bunga, Investasi dan Syariah Beban Bunga, Pembiayaan lainnya dan Syariah Lainnya dan Syariah Beban Bunga dan Pembiayaan lainnya Beban syariah Jumlah Beban Bunga, Pembiayaan Lainnya dan Syariah Pendapatan Bunga - bersih Pendapatan Operasional Lainnya Imbalan Penerimaan kembali aset yang telah dihapusbukukan Keuntungan transaksi mata uang asing - bersih Keuntungan dari penjualan efek-efek dan Obligasi Rekapitalisasi Pemerintah - bersih Provisi dan komisi lainnya Keuntungan yang belum direalisasi dari perubahan nilai wajar Beban Operasional Lainnya Tenaga kerja dan tunjangan Umum dan administrasi Premi program penjaminan Pemerintah Lain-lain

Rp Rp Rp

43.971.493 643.669 -

Rp

44.615.162

Rp Rp

(11.448.953) (277.606)

Rp Rp Rp Rp Rp

(11.726.559) 32.888.603 2.732.255 1.525.143 773.019

Rp Rp

152.888 80.253

Rp Rp Rp Rp

(8.675.721) (4.711.444) (523.991) (2.202.536)

Jumlah Beban Operasional Lainnya LABA OPERASIONAL PENDAPATAN NON OPERASIONAL - BERSIH LABA SEBELUM MANFAAT (BEBAN) PAJAK MANFAAT(BEBAN) PAJAK Kini Tangguhan LABA BERSIH

Rp Rp Rp

(16.113.692) 14.402.001 506.229

Rp Rp Rp Rp

14.908.230 (3.922.049) 486.204 11.472.385

Yang dapat saya simpulkan dari kinerja kedua Bank ini dari laporan laba/ruginya jelas Bank BRI lebih unggul sebab yang menjadi acuan kreditor adalah laba operasinya, Hasil laba Operasi kedua Bank tersebut adalah : Untuk Bank Mandiri laba operasinya pada tahun 2010 adalah 13.401.810 dan Untuk Bank BRI laba operasinya adalah 14.402.001.Tapi perlu diingat bahwa Bank BRI menggabungkan penghasilannya dengan Bank Syariahnya.Sedangkan Bank Mandiri memisahkan antara Bank Syariah dan Bank Konvensionalnya.Karena, keterbatasan saya untuk menganalisis hasil operasi dari Bank syariah Mandiri, maka saya untuk analisi kinerja ini terlihat bahwa kedua Bank ini memilliki kinerja yang baik.Dan selisihnya pun tidak terlalu jauh.

KESIMPULAN :
Setelah melihat kesehatan kedua Bank dengan diserta rasio-rasio yang berkaitan, saya memutuskan sebagai kreditor asing yang akan memberikan pinjaman kepada Bank nasional (antara Bank Mandiri atau Bank BRI) maka saya memutuskan untuk memberikan pinjaman kepada Bank Mandiri.Sebab, sesuai hasil analisis pada rasio-rasio yang saya gunakan

menunjukkan bahwa Bank Mandiri lebih unggul dibandingkan Bank BRI.Mulai dari CAR nya, BOPO dan LDR.Karena, dari kacamata saya ketiga rasio memiliki peran yang sentral dalam suatu Bank.Misalnya dari CAR nya kita dapat mengetahui struktur permodalan perusahaannya, semakin tinggi nilai CAR suatu Bank berarti semakin tinggi modal sendiri untuk mendanai aktiva produktif.Ini dapat menjadi indikator bagi kreditor sebab dengan struktur permodalan yang besar maka akan lebih fleksibel bagi perusahaan untuk menggunakan modalnya dalam siklus operasinya.Sedangkan untuk BOPO Bank Mandiri juga lebih unggul dengan nilai BOPO sebab Semakin kecil BOPO menunjukkan semakin efisien bank dalam menjalankan aktifitas usahanya.Ini menunjukkan bahwa aktivitas dari Bank Mandiri itu lebih efisien.Dan yang paling penting adalah rasio likuiditas, sebagai seorang kreditor tentu saya harus menganalisis tingkat likuiditas Bank tersebut.Sebab, bank yang tidak likuid biasanya tidak akan mampu melunasi hutangnya sebab, mereka tidak mempunyai kecukupan kas untuk melunasi utangnya.Dan rasio yang digunakan untuk menilai Likuiditas dari Bank adalah LDR.Bank Mandiri lebih unggul dalam rasio LDR ini.Rasio ini mengukur kemampuan bank untuk memenuhi kewajiban keuangan yang harus segera dipenuhi.Dengan nilai rasio LDR yang bagus akan lebih aman bagi kreditor untuk meminjamkan dananya. Meskipun telah saya jelaskan dari kacamata seorang kreditor bahwa Bank Mandiri lebih unggul, tetapi rasio dari Bank BRI juga bagus.Apabila dibandingkan dengan perumpamaan Bank ini memiliki perbandingan 11:12.Karena, yang menjadi pokok atau inti permasalahan adalah tentang pemberiaan pinjaman, maka memang rasio-rasio yang lebih berkaitan dengan peminjaman menunjukkan bahwa Bank Mandiri.Selain itu ada lagi 1 hal yang menjadi alasan saya sebagai kreditor memilih Bank Mandiri.Sebab, sesuai analisis tambahan yang saya berikan.Menunjukkan bahwa pengguasaan pasar Bank Mandiri lebih tinggi dibandingan Bank BRI.Dengan penguasaan pasar yang tinggi dan harga saham yang besar maka nilai kapitalisasi Bank Mandiri di Indonesia pun akan besat.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->