Dampak dan Solusi Multikulturalisme di Indonesia

Posted: 08/12/2009 in Sosial-Budaya

0
1. Konsep Multikuturalisme

Konsep multikulturalisme menurut Taylor (Savirani,2003:385) adalah gagasan mengatur keberagaman dengan prinsip dasar pengakuan akan keberagaman itu sendiri (politics of recognition). Lebih jauh lagi, gagasan ini menyangkut pengaturan relasi antara kelompok mayoritas dan minoritas, keberadaan kelompok imigran, masyarakat adat, dan lain-lain. Sedangkan Suparlan (2002:98) menjelaskan multikulturalisme adalah sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan, baik secara individual maupun secara kebudayaan. Oleh karena itu konsep multikulturalisme tidaklah dapat disamakan dengan konsep keanekaragaman secara sukubangsa (ethnic) atau kebudayaan sukubangsa yang menjadi ciri khas masyarakat majemuk, karena multikulturalisme menekankan keanekaragaman kebudayaan dalam kesederajatan.

Menurut sejarahnya multikulturalisme lahir di Amerika sebagai perwujudan dari posmodernisme. Multikulturalisme adalah varian teori perbedaan (West,1998;Collins; Lemert,1993) yang mengambil ide dari gagasan posmodernisme bahwa perbedaan manusia secara analitis lebih penting ketimbang kesamaan mereka (Spivak, 1988;, Butler, 1990). Oleh karena itu, kenyataan yang sangat relevan bagi postmodernisme adalah multikulturalisme. Begitupun kewajiban yang sangat relevan bagi postmodernisme adalah kewajiban untuk menghormati hak-hak untuk berbeda secara budaya (the right of cultural diversity). Lebih lagi, postmodernisme yang sangat menggarisbawahi sekat-sekat yang ditimbulkan oleh incommensurability pun sama sekali tidak menganjurkan ³benturan peradaban´ (Huntington/Ruslani, 2000: 597). Sebaliknya yang dianjurkan ialah ³toleransi´ dalam bentuk norma ³non-cruelty´ antar manusia dan dengan demikian juga antar kebudayaan dan peradaban (Rorty, 1989: 189-198).

Mengikuti Ferdinand de Sausure, Derrida menekankan bahwa kata dan konsep memiliki makna hanya dalam kaitannya dengan kata dan konsep lain yang membedakan mereka. Multikulturalisme mulai dari titik ini dan terus mengembangkan kritik masyarakat dan konsep masyarakat alternative yang secara fundamental berbeda dari Marxisme dan teori kritis Jerman. Multikulturalisme merayakan perbedaan sebagai satu kerangka kerja yang ada di dalamnya untuk menghargai banyak kelompok dan narasi khas mereka tentang pengalaman mereka. Terlebih lagi, multikulturalisme posmodern menyangkal kemngkinan menyatunya kelompok-kelompok yang berbeda ke dalam satu alasan bersama yang mulai mengubah struktur sosial secara keseluruhan.

Identitas etnik sebagian besar adalah imajinasi sosial yang memilah beragam kelompok budaya ke dalam suatu komunitas dengan mengikat mereka bersama dalam narasi sastra dan visual yang ditempatkan dalam teritori sejarah dan memori. praktik. 140-141). ideology. politik. dan makna yang merupakan warisan dan ciri pembawaan serta pengalaman bersama. gotong royong antar umat beragama. Sehingga dalam rangka membangun demokratisasi lokal dan pemberdayaan kaum minoritas agama dan kebudayaan lokal ini. hanya sebatas memahami untuk tidak timbulnya benturan akibat perbedaan-perbedaan tersebut (pasifliberalis) sehingga konsep Multikuturasisme ini harus di ikuti dengan konsep Pluralisme yang memahami adanya perbedaanperbedaan untuk kemudian pemahaman itu ditingkatkan menjadi toleransi dan tolong menolong. 2. dan lain-lain. maka bisa dipahami bahwa prinsipnya adalah Multikulturalisme berakar dari individualistik. melainkan dari sisi umat dan kemanusiaannya (bersifat aktifparticipatif). memahami perbedaan atau kekayaan perbedaan agama. Dan ini sesuai dengan apa yang sudah dicanangkan bangsa Indonesia melalui Undang-Undang dasar 45 pasal 29 ayat 1 ³Negara berdasar atas keTuhanan YME´ ayat 2 ³Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu´. dengan menyatakan bahwa perubahan social tidak dapat berlangsung dipundak individu-individu. Juga sesuai dengan sila pertama Pancasila yaitu ³Ketuhanan Yang Maha Esa´. sebaliknya. multikulturalisme menjadikan pribadi sebagai agenda politik utama. gagasan umum keberagamaan ras. agama. Dampak Negatif Multikultural Di Indonesia Baik Agama Maupun Buadaya. yakni tentang Multikulturalisme. termasuk orientasi seksual. Satu hal yang harus disadari bahwa Indonesia adalah negara yang di dalamnya terdiri atas banyak bangsa (plural). liberal. yang melihat keberagamaan sebagai pluralitas identitas dan kondisi eksistensi manusia. bukan dari sisi pencampuradukan ajaran agama. Identitas dipandang sebagai produk adat istiadat. Inilah wilayah utama di mana multikulturalisme lebih dekat kepada liberalisme ketimbang ideologi kiri. banyak ras. budaya. Blue Mink mengatakan bahwa identitas dibentuk oleh relasi-relasi kekuasaan. Dari penjelasan di atas. yang hidup dalam harmoni pluralistik. demikian menurut Ben Agger (2003.Teori sosial kritis menjelaskan kesadaran untuk melakukan perubahan social. . kita harus menyertakan multikulturalisme. yang memahami perbedaan kultur. Inipun sesuai dengan symbol yang ada di lambang burung Garuda Pancasila yakni ³Bhinneka Tunggal Ika´ ³meski berbeda-beda tetap satu jua´. suku/etnis.

sejarah mereka pun tersisihkan. Oleh karena itu pembelaan dan perlindungan terhadap kelompok minoritas baik agama. Sebagai contoh pembakaran pasar Glodok (Peristiwa Mei Kelabu) di Jakarta. Keturunan Tionghoa (sebelumnya telah terjadi di Medan kemudian di Bandung. Karena itu. termasuk terhadap kaum minoritas (Miriam Budiarjo: 1999). kolusi dan nepotisme dijajaran birokrasi. yang menjadi sasaran adalah kelompok etnis. secara historis. Mereka umumnya berada pada ³margin history´ . ras. 1998. politik. selama ini kelompok-kelompok minoritas selalu dipinggirkan. Peristiwa Ambon-Maluku (Pertarungan antara BBM (Bugis-Buton-Makasar) dan Ambon Islam melawan Ambon Kristen). 72). Sementara menurut Sri Sumantri. sebuah negara dikatakan demokratis ketika ditandai dengan adanya perlindungan konstitusional terhadap semua warga negara. Peristiwa Poso (pertarungan antara kelompok Islam dan Kristen yang disertai oleh unsur-unsur dari luar). peristiwa separatisme Gerakan Aceh Merdeka dan Organisasi Papua Merdeka disusul penghancuran masjid-masjid Ahmadiyah di Parung Bogor yang dipicu oleh perbedaan agama. dan Makasar). Solo. budaya menyebabkan konflik bergenerasi antar kelompok masyarakat (konflik horizontal) dan konflik antar masyarakat/pemerintah daerah dan pusat (konflik vertical) dan generasi dengan pelaku dan intensitas yang berbeda. Peristiwa Sambas dan Palangkaraya (Kalimantan) (Pertarungan antara Dayak. jika tidak maka krisis akan terus berkelanjutan dan disintegrasi tinggal menunggu bak bom waktu. Bahkan tidak hanya itu. sosial. Melayu dan Tionghoa melawan Madura). Sementara. atau kasus-kasus yang sudah agak lama tapi tetap masih menjadi ingatan kita seperti pemboman Borobudur. negara demokrasi salah satunya ditandai oleh dilindungi dan dipertimbangkannnya Kepentingan minoritas (Frans Magnis Suseno. peristiwa Aceh (pertarungan antara orang Aceh dan transmigrasi Jawa). komitmen moral para wakil rakyat terhadap masyarakat pun sangat rendah. Hal ini memberi isyarat bahwa keinginan untuk membangun masyarakat berperadaban (civil society) dan keadilan sosial masih jauh panggang dari api. Oleh karenanya. moralitas jajaran birokrasi.Tetapi pada kenyataannya di Indonesia dampak negatif dari Multikulturalnya agama. keadilan. salah satu ukuran bagi tumbuh dan berkembangnya demokrasi adalah dihargainya hak-hak minoritas (minority right). kemiskinan atau ketimpangan sosio-politik ekonomi masyarakat semakin tinggi. maupun budaya. disingkirkan baik secara ekonomi. negara yang diharapkan menjadi wadah penyalamat juga mengalami kekacauan dengan membudayanya praktek korupsi. Namun. Peristiwa Sumbawa (NTT) perkelahian antara orang Sumbawa dan Bali. menjadi suatu keharusan pemerintah segera mereformasi mental. bahasa. Menurut Miriam Budiarjo. pemboman beberapa gereja di Indonesia atau kasus terbesar yang pernah dihadapi oleh Indonesia. Seiring dengan itu. etnis maupun gender merupakan upaya penting yang harus dilakukan seiring dengan upaya-upaya mengawal proses demokratisasi tersebut.

pluralitas bangsa. yaitu pemahaman tentang Multikulturasisme yang belum dipahami dengan benar dan menyeluruh. huh´. Sehingga akan terbangun suatu sistem tata nilai kehidupan yang menjunjung tinggi toleransi. Perbedaan budaya merupakan sebuah konduksi dalam hubungan interpersonal. kekuasaan politik yang biasanya hanya memenuhi keinginan kelompok mayoritas memiliki peran sentral dalam melakukan proses peminggiran terhadap ³komunitas splinter ini. Harus ada sebuah kesadaran masif yang muncul bahwa diperlukan kepekaan terhadap kenyataan kemajemukan. Dalam beberapa budaya. realitas ³multikultural´ tersebut berhadapan dengan kebutuhan mendesak untuk merekonstruksi kembali ³kebudayaan nasional Indonesia´ yang dapat menjadi ³integrating force´ yang mengikat seluruh keragaman etnis dan budaya tersebut. memaksakan kebenaran. hingga orientasi politik. sementara individu yang statusnya rendah hanya menerima saja sementra dalam budaya lain justru sebaliknya. baik dalam etnis. kerukunan dan perdamaian bukan konflik atau kekerasan meskipun terdapat perbedaan sistem sosial di dalamnya. individu-individu yang berstatus tinggi biasanya yang memprakarsai. budaya. Tetapi pada pihak lain. Namun dalam kelompok lain untuk menyatakan persetujuan cukup dengan mengedipkan kedua matanya. Sebagai contoh ada yang orang yang bila diajak bicara (pendengar) dalam mengungkapkan perhatiannya cukup dengan mengangguk-anggukan kepala sambil berkata ³uh. Justru dari contoh dapat dilihat betapa kelompok-kelompok mayoritas menindas kelompok minoritas. agama dan lain-lain sehingga negara-bangsa Indonesia secara sederhana dapat disebut sebagai masyarakat ³multikultural´. Solusi Terahadap Dampak Negatif Multikurtural Di Indonesia Merupakan kenyataan yang tak bisa ditolak bahwa negara-bangsa Indonesia terdiri dari berbagai kelompok etnis. Dalam banyak hal. saling merasa paling unggul sehingga ada benarnya apa yang dikatakan Rorty bahwa Spesies manusia akan mati tercekik karena dengan klaim-klaim ³universal´ kebudayaan dan peradaban lokal yang saling mengerkah. 3. Maka dari itu harus dilakukan upaya merajut kembali hubungan antarmanusia yang belakangan selalu hidup dalam suasana penuh dengan konfliktual. untuk memaksakan kehendaknya. budaya.yang berfungsi sebagai ³pelengkap penderita´ sejarah mainstream kelompok utama. . Persaingan yang tidak sehat antar budaya dan ras. agama.

Dari pemahaman di atas. Menurut sudut pandang faham Psikologi kognitif. Sebagai contoh. Oleh karena kemampuannya untuk menguasai hal itu merupakan ciri dari tingkat intelligensinya. maupun perspektif metafisik atau keruhanian yang digunakan. maupun dari sisi motivasi hatinya. sehingga sebuah proses perubahan perilaku manusia (behaviourisme) mestilah di awali dari perubahan apa yang menjadi Frame of Reference-nya dan Field of Experience-nya. maka semua perilaku manusia dipengaruhi oleh cara berpikir manusia tersebut. meminjam istilah dari walter lippman. maka perilaku manusia dipengaruhi oleh mentalitas manusia tersebut. baikpun itu akal pikir atau cara berpikirnya. Baikpun perspektif Psikologis yang digunakan. Dari sisi Psikologis manusia. Rahasia Keajaiban Hati). Dari sudut pandang metafisik atau sudah pandang ajaran keruhanian.Beberapa psikolog menyatakan bahwa budaya menunjukkan tingkat intelegensi masyarakat. semua menuju ke satu arah. Sedangkan menurut faham Psikoanalisis. dipengaruhi oleh akan manusia tersebut dan akal manusia tersebut dipengaruhi oleh dorongan hatinya. Khatir-Khatir atau lintasan-lintasan hati itulah yang mempengaruhi akal pikir dan kemudian menggerakkan manusia untuk berbuat atau bertindak (Imam Ghozali. atau dipengaruhi oleh Frame of Reference-nya dan dipengaruhi oleh Field of Experience-nya. Hasil olah pikir manusia itulah yang memotivasi perilaku manusia. gerakan lemah gemulai merupakan ciri utama masyarakat Bali. Yaitu jika ingin dilakukan sebuah perubahan di dalam perilaku. Tetapi permasalahannya. Sementara manipulasi dan rekayasa kata dan angka menjadi penting dalam masyarakat Barat. maka ada µsesuatu¶ yang harus diubah. Oleh karenanya ³keahlian´ yang dimiliki seseorang itu menunjukkan kepada kemampuan intelligensinya. ada µsesuatu¶ yang harus dididik. tindakan manusia itu dipengaruhi oleh Picture in our head yang ada di dalam diri masing-masing orang. pendidikan yang bagaimanakah yang tepat untuk diterapkan di Indonesia ? Pendidikan yang bagaimanakah yang dapat mempersiapkan Frame of Reference dan Field Experience sehingga perbedaan agama bukanlah sebuah masalah melainkan sebuah kewajaran yang harus disikapi secara proporsional ? Pendidikan yang bagaimanakah yang dapat mempersiapkan Picture in Our head bagi bangsa Indonesia di dalam menghadapi perbedaan agama maupun kultur ini ? . maka setiap tindakan manusia adalah dipengaruhi oleh pikirannya. maka dipahami bahwa tindakan manusia atau perilaku manusia itu di pengaruhi oleh cara berpikir manusia tersebut. maka penulis menganggap bahwa jalur pendidikan adalah sesuatu yang prinsip untuk diperhatikan di dalam rangka mengurangi permasalahan-permasalah yang timbul di kehidupan sosial terutama yang sekarang penulis soroti adalah dalam rangka mengurangi permasalahan-permasalahan yang timbul akibat adanya perbedaan agama di Indonesia.

generalisasi dan teori dalam mata pelajaran/disiplin ilmu. sejarah. prestasi dan perhatian terhadap orang-orang non Eropa (Hilliard. Intinya adalah toleransi tidak hanya diperuntukkan untuk kepentingan bersama akan tetapi juga menghargai kepercayaan dan berinteraksi dengan anggota masyarakat. dari Sd sampai Perguruan Tinggi. sebagaimana tuntutan persamaan hak bagi setiap kelompok. pendidikan multikultural merupakan pengembangan kurikulum dan aktivitas pendidikan untuk memasuki berbagai pandangan. ras. Pendidikan multikultural (multicultural education) merupakan respon terhadap perkembangan keragaman populasi sekolah. Sedangkan secara luas pendidikan multikultural itu mencakup seluruh siswa tanpa membedakan kelompok-kelompoknya seperti gender. Oleh karena itu. An Equity Paedagogy Menyesuaikan metode pengajaran dengan cara belajar siswa dalam rangka memfasilitasi prestasi akademik siswa yang beragam baik dari segi ras. . maka Amerika Serikat memakai sistem demokrasi dalam pendidikan yang dipelopori oleh John Dewey. 1991-1992). Kaitannya dengan nilai-nilai kebudayaan yang perlu diwariskan dan dikembangkan melalui sistem pendidikan pada suatu masyarakat. dalam hal ini Amerika mencoba mencari terobosan baru yaitu dengan menempuh strategi menjadikan sekolah sebagai pusat sosialisasi dan pembudayaan nilai-nilai baru yang dicita-citakan. strata sosial dan agama.Amerika Serikat ketika ingin membentuk masyarakat baru-pasca kemerdekaannya (4 Juli 1776) baru disadari bahwa masyarakatnya terdiri dari berbagai ras dan asal negara yang berbeda. Melatih kelompok untuk berpartisipasi dalam kegiatan olahraga. Selanjutnya James Banks (1994) menjelaskan bahwa pendidikan multikultural memiliki lima dimensi yang saling berkaitan : 1. Prejudice Reduction Mengidentifikasi karakteristik ras siswa dan menentukan metode pengajaran mereka. The Knowledge Construction Process Membawa siswa untuk memahami implikasi budaya ke dalam sebuah mata pelajaran (disiplin). Content Integration Mengintegrasikan berbagai budaya dan kelompok untuk mengilustrasikan konsep mendasar. Dalam dimensi lain. Amerika Serikat berhasil membentuk bangsanya yang dalam perkembangannya melampaui masyarakt induknya yaitu Eropa. 3. 4. budaya. Melalui pendekatan inilah. budaya ataupun social. 5. berinteraksi dengan seluruh staff dan siswa yang berbeda etnis dan ras dalam upaya menciptakan budaya akademik. etnic. 2.

Kesadaran ini mengandung makna bahwa pendidikan multikultural berpotensi untuk menghindari dikotomi dan mengembangkan apresiasi yang lebih baik melalui kompetensi kebudayaan yang ada pada diri anak didik. . Dalam konteks pendidikan multikultural. Kesadaran seperti ini kemudian akan menjauhkan kita dari konsep dwi budaya atau dikhotomi antara pribumi dan non-pribumi. Mempertahankan dan memperluas solidarits kelompok adalah menghambat sosialisasi ke dalam kebudayaan baru. Ketiga.Ada beberapa pendekatan dalam proses pendidikan multikultural. tidak perlu lagi mengasosiasikan kebudayaan semata-mata dengan kelompok-kelompok etnik sebagaimana yang terjadi selama ini. menghindari pandangan yang menyamakan kebudayaan kebudayaan dengan kelompok etnik adalah sama. Kedua. tidak lagi terbatas pada menyamakan pandangan pendidikan (education) dengan persekolahan (schooling) atan pendidikan multikultural dengan program-program sekolah formal. pendekatan ini diharapkan dapat mengilhami para penyusun program-program pendidikan multikultural untuk melenyapkan kecenderungan memandang anak didik secara stereotip menurut identitas etnik mereka dan akan meningkatkan eksplorasi pemahaman yang lebih besar mengenai kesamaan dan perbedaan di kalangan anak didik dari berbagai kelompok etnik. Kebudayaan mana yang akan diadopsi ditentukan oleh situasi. yaitu : Pertama. bahkan dapat dilihat lebih jelas bahwa uapaya-upaya untuk mendukung sekolahsekolah yang terpisah secara etnik adalah antitesis terhadap tujuan pendidikan multikultural. karena pengembangan kompetensi dalam suatu ³kebudayaan baru´ biasanya membutuhkan interaksi inisiatif dengan orang-orang yang sudah memiliki kompetensi. Kelima. kemungkinan bahwa pendidikan bahwa pendidikan (baik dalam maupun luar sekolah) meningkatkan kesadaran tentang kompetensi dalam beberapa kebudayaan. Dikotomi semacam ini bersifat membatasi individu untuk sepenuhnya mengekspresikan diversitas kebudayaan. Pandangan yang lebih luas mengenai pendidikan sebagai transmisi kebudayaan membebaskan pendidik dari asumsi bahwa tanggung jawab primer menegmbangkan kompetensi kebudayaan di kalangan anak didik semata-mata berada di tangan mereka dan justru semakin banyak pihak yang bertanggung jawab karena program-program sekolah seharusnya terkait dengan pembelajaran informal di luar sekolah. Artinya. secra tradisional. ketimbang dengan sejumlah orang yang secara terus menerus dan berulang-ulang terlibat satu sama lain dalam satu atau lebih kegiatan. Pendekatan ini meningkatkan kesadaran akan multikulturalisme sebagai pengalaman normal manusia. Keempat. Pendidikan bagi pluralisme budaya dan pendidikan multikultural tidak dapat disamakan secara logis. para pendidik mengasosiasikan kebudayaan hanya dengan kelompok-kelompok sosial yang relatif self sufficient. pendidikan multikultural meningkatkan kompetensi dalam beberapa kebudayaan.

Maka yang menjadikan pembentukan individu tersebut adalah pendidikan atau dengan istilah lain masyarakat pendidik. melakukan penataan terhadap upaya tersebut dengan jalan apa yang disebut tantangan social. kelima pendekatan tersebut haruslah diselaraskan dengan kondisi masyarakat Indonesia. Bila penjelasan di atas ditarik di dalam dunia pendidikan. 3. dalam melakukan kajian dasar kependidikan terhadap masyarakat. apabila kehidupan di dalam masyarakat berarti interaksi antara individu dan lingkungan sosialnya. Sebab keberadaan masyarakat merupakan laboratorium dan sumber makro yang penuh alternatif untuk memperkaya pelaksanaan proses pendidikan. dan perkembangannya di dalam bingkai yang memnuntunya untuk bertanggung jawab terhadap tingkah lakunya. di dalam berinteraksi dan berupaya bersama guna memenuhi kebutuhan. Pendapat ini juga dikemukakan oleh Zakiah Darajat yang menyatakan. dinamis. Setiap masyarakat bertanggung jawab atas pembentukan pola tingkah laku antara individu dan komunitas yang membentuk masyarakat. Masyarakat adalah ekstensi yang hidup. 2. Masyarakat tidak ada dengan sendirinya. sehingga individu-individu dapat memenuhi kebutuhan mereka dan menyerap watak sosial. kubudayaan dan agama. . 5. Secara garis besar dasar-dasar yang dimaksud adalah sebagai berikut : 1. Masyarakat adalah kumpulan manusia atau individu-individu yang terjewantahkan dalam kelompok sosial dengan suatu tantangan budaya atau tradisi tertentu. dan selalu berkembang. Oleh karena itu. Dari sisi lain. maka masyarakat sangat besar peranan dan pengaruhnya terhadap perkembangan intelektual dan kepribadian individu peserta didik. Masyarakat bergantung pada upaya setiap individu untuk memenuhi kebutuhan melalui hubungan dengan individu lain yang berupaya memenuhi kebutuhan. Individu-individu. 4. Kondisi itu selanjutnya membuat sebagian mereka menjadi komunitas terorganisir yang berpikir tentang dirinya dan membedakan ekstensinya dari ekstensi komunitas. bahwa masyarakat secara sederhana diartikan sebagai kumpulan individu dan kelompok yang diikat oleh kesatuan negara. keterikatan dengannya. Pertumbuhan individu di dalam komunitas. Jadi dapat dipahami inti masyarakat adalah kumpulan besar individu yang hidup dan bekerja sama dalam masa relatif lama.Dalam konteks keindonesiaan dan kebhinekaan.

Azyumardi. Artikel Muhaemin el-Ma¶hady (Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Syarif Hidatullah. 1980. Benturan Antarperadaban dan Masa Depan Politik Dunia. 1996. Budiman. Hal ini disebabkan adanya hubungan timbal balik antara masyarakat dan pendidikan. Hak Minoritas. Rorty. Permasalahan inilah yang merupakan dampak negatif dari multikulturalisme. Jakarta: The Interseksi Foundation. Jakarta) tentang Multikulturalisme dan Pendidikan Multikulturalisme) Republika. 2002. oleh bhineka tunggal ika. Jakarta: Grasindo. Dalam upaya memberdayakan masyarakat dalam dunia pendidikan merupakan satu hal penting untuk kemajuan pendidikan. Azra. 2005. Komentar Hukum: Hak-hak Kelompok Minoritas dalam Norma dan Standar Hukum Internasional Hak Asasi Manusia. setiap anggota masyarakat memiliki peranan dan tanggung jawab moral terhadap terlaksananya proses pendidikan. Philosophy and the Mirror of Nature. Hikmat. Fay. Richard. dalam Ikhwanuddin Syarief & Dodo Murtadlo (eds). Salah satu dampak negatif nya adalah konflik antar suku seperti yang terjadi di Papua. Zen. Pendidikan Kewargaan dan Demokrasi di Indonesia. Referensi: Huntington. Pendidikan untuk Masyarakat Indonesia Baru: 70 Tahun Prof. "Hentikan konflik antar suku di Timika. suku dan bangsa. . Kapolda Papua segera melakukan tindakan solusi dari pertikaian itu dengan cara tatap muka dengan kelompok suku yang bertikai. Dr. yaitu konflik antara masyarakat Kimberly dan Banti. Rudolfo. Tanggal 22 Mei 2004 solusi dari Dampak Negatif Multikulturalisme Kapolda Papua : Hentikan Konflik Antar Suku . seringkali menemui suatu permasalahan. tanggal 03 September 2003. Brian. Semua keberagaman itu di untai menjadi satu. Paris.com Multikulturalisme. in Jasque Delors (et all). Oxford: Basil Blackwell. HAR Tilaar MscEd. sangat erat kaitannya dengan Indonesia. Multikulturalisme di Indonesia yang walaupun sudah di untai oleh berbagai macam persamaan seperti persamaan bahasa dan Negara. Waspada. Oxford: Blackwell. Patra M. Yogyakarta: Qalam. Indonesia yang merupakan Negara kepulauan yang cukup luas ini di isi dengan rakyatnya yang berasal dari berbagai ras. UNESCO. Learning: the treasure within. serta rasa nasionalisme yang mendalam yang ditanam di setiap individu rakyat Indonesia. 2000." tandas Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Papua. 2005. Education for a Multikultural world. Samuel P alih bahasa Ruslani. Jakarta: The Interseksi Foundation.kapanlagi. Stavenhagen. Contemporary Philosophy of Social Science: A Multicultural Approach. Bagaimana tidak. 1996.Untuk itu. Dilema Multikulturalisme di Indonesia.

" kata Kapolda Irjen Pol.Senin (5/11) malam.Drs Max Donald Aer. Disini mereka melakukan pertemuan antar dua kelompok suku yang bertikai yang diharapkan menjadi solusi dari dampak negatif multikulturalisme ini. dan lain-lain ada solusinya. Kabid Humas. Dikatakannya.seperti pada contoh kasus di atas. pengejekan yang berbau SARA. "Saya minta agar masyarakat Kimberly menghentikan penyerangan terhadap masyarakat Banti. apabila perdamaian dapat segera terlaksana maka aktivitas kehidupan sehari-hari dapat normal lagi.Max Donal. GM Sumeka. konflik. Kombes Pol. Dampak negatif dari multikulturalisme seperti perikaian. Hal itu disampaikan Kapolda Papua kepada masyarakat kampung Kimberly. Agus Riyanto dan Direskrim Polda Papua. . Himbauan yang sama disampaikan juga kepada masyarakat Kampung Banti yang ketika itu Kapolda Max Donald Aer didampingi Karo Ops Polda Papua. Kombes Pol. Distrik Tembagapura. Papua ketika bertatap muka dengan masyarakat Kampung Kimberly di Tembagapura. Dia meminta masyarakat Kimberly segera menghentikan konflik dengan masyarakat Kampung Banti yang merupakan tetangga mereka. Kabupaten Mimika.bertemu dengan masyarakat Kampung Banti. yaitu mempertemukan dua kelompok yang bertikai untuk berdiskusi agar mendapatkan solusi dari permasalahan tersebut. Kombes Pol.Irjen Pol.Paulus Waterpauw.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful