Panduan Fasilitator

Perencanaan Partisipatif Pembangunan
Masyarakat Desa
Plus Penganggaran
(P3MD Plus)

Jilid 1


Oleh:
Tim Pengembangan Panduan P3MD


InCrEaSe









Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah
Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia
Jl. TMP Kalibata No. 20, Jakarta
T +62 21 794 2635 ext. 205


Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi NTT
Jl. Polisi Militer No. 2, Kupang
Nusa Tenggara Timur (85111)
T/F +62 380 831 712, 833 462


InCrEaSe
Jl. Asoka No. 20, Oetona
Kupang – Nusa Tenggara Timur
T +62 380 829 096


Bengkel APPeK
Shopping Center Gang Portu
Kelurahan Fatululi
Kecamatan Oebobo
Kupang – Nusa Tenggara Timur
T/F +62 380 838 107


Yayasan Pengembangan dan Pelayanan Masyarakat Alfa
Omega
Jl. Timor Raya km 13, Desa Mata Air
Kecamatan Kupang Tengah
Kabupaten Kupang – Nusa Tenggara Timur
T/F +62 380 855 1644
E yaotimor@plasa.com


Good Local Governance (GLG)
Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah
Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia
Gedung Utama, Lt. 2, Ruang Segitiga
Jl. TMP Kalibata No. 20, Jakarta
T/F +62 21 798 9446, 7918 4928
www.gtz-decentralization.or.id




Panduan Fasilitator

Perencanaan Partisipatif
Pembangunan Masyarakat Desa
Plus Penganggaran
(P3MD Plus)

Jilid I






Tim Pengembangan Panduan P3MD Plus:

Pemerintah Provinsi
NTT

Pemerintah Kabupaten
TTS
Pemerintah Kabupaten
Belu

Djose Nai Buti
Yos Laku Mali
Abraham Klakik
Mukmin Syukur
Benyamin Daga


Alm. Th. Bambang Purwanto
John Asbanu
Yan Mella


Yohanes Pari
Beny Ngalu
Florensia N. Tety
Marsel Payong
Agustinus Lisu


Lembaga non-
Pemerintah

GLG Konsultan

Fary Franscis
Vinsen Bureni
Susan Marey
Dominggus Umbu Zasa
Sarah Lery Mboeik
Eliaser Neonufa
Yorni Nokas
Theresia R. Nubi
Andreas Parera


Florencio Mario Vieira
Marvel J. P. Ledo


Susmanto
Irwan Sucahyo




Editing, Setting, dan Lay-out:
Marvel J. P. Ledo




Halaman | i

Kata Pengantar
Gubernur Nusa Tenggara Timur

Dewasa ini masih banyak terjadi bahwa perencanaan program, proyek, atau kegiatan
pembangunan, khususnya di tingkat desa, dilaksanakan tanpa dilengkapi dengan data
dan informasi wilayah atau kelompok sasaran yang lengkap dan akurat. Padahal sudah
ada peraturan perundang-undangan yang mengamanatkan bahwa ‟perencanaan
pembangunan harus didasarkan pada data dan informasi yang akurat dan dapat
dipertanggungjawabkan‟ (UU 25/2004 pasal 31 dan UU 32/2004 pasal 152 ayat 1).

Disamping itu, banyak kenyataan menunjukkan bahwa hasil musyawarah perencanaan
pembangunan (Musrenbang) desa yang telah disusun, tidak dikaitkan dengan upaya
alokasi penganggaran yang memadai. Hal tersebut telah menimbulkan rasa kecewa dan
ke-tidak-peduli-an masyarakat terhadap Musrenbang Desa walaupun itu telah dilakukan
dengan pendekatan partisipatif model P3MD (Perencanaan Partisipatif Pembangunan
Masyarakat Desa).

Memperhatikan dan untuk mengatasi kedua kelemahan diatas, Pemerintah Provinsi
Nusa Tenggara Timur telah melakukan serangkaian kegiatan dan kajian tentang praktek
penerapan model pendekatan P3MD di sejumlah desa di kabupaten Timor Tengah
Selatan dan Belu. Tujuannya adalah untuk melakukan pemantapan model P3MD yang
sekaligus dikaitkan dengan upaya alokasi penganggarannya. Penganggaran tersebut
terutama ditujukan bagi pemanfaatan dana Alokasi Dana Desa (ADD) yang adalah hak
desa. Telah menjadi kebijakan pemerintah untuk menyediakan ADD dari dana
perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah, khususnya
yang diterima oleh kabupaten.

Kajian seperti yang disebutkan diatas, juga dilakukan dalam rangka perwujudan otonomi
desa dan terselenggaranya tata kepemerintahan desa yang baik. Dengan demikian juga
diharapkan dapat menopang terselenggaranya tata kepemerintahan daerah yang baik
atau sering disebut dengan ’good local governance’. Serangkaian kegiatan dan kajian
dilakukan bekerjasama dengan GTZ-GLG, melalui proses sebagai berikut:

· Studi perkiraan kebutuhan program penguatan pemerintahan desa di Kabupaten
TTS dan Belu, Februari dan April 2007.

· Penyelenggaraan Lokakarya ”Membangun Pemahaman dan Komitmen Bersama
Tanggung-gugat Tata Pemerintahan Desa yang Baik/Good Village Governance dan
Menyusun Aksi Bersama/Joint Detail Implementation Plan”, di Kupang 4-6 Juni
2007.

· Kajian Pengalaman Penerapan Perencanaan Partisipatif Pembangunan
Masyarakat Desa (P3MD), Oktober 2007.

· Penyusunan Panduan P3MD yang diselaraskan dengan peraturan perundang-
undangan yang ada dan dikaitkan dengan alokasi penganggarannya. Panduan ini




Halaman | ii

kemudian disebut Perencanaan Partisipatif Pembangunan Masyarakat Desa Plus
Penganggaran atau disingkat P3MD Plus. Penyusunannya dilakukan oleh oleh Tim
Kerja Penyusunan Panduan Fasilitator P3MD Plus, yang dibentuk berdasarkan SK
Gubernur No 242/KEP/HK/2007Novermber 2007 dan terdiri dari multi unsur
(Pemerintah Provinsi-Kabupaten, LSM, dan GTZ-GLG).

· Pelatihan dan Praktek Lapangan serta Ujicoba Panduan P3MD Plus serta
Penyempurnaan Penerapan Panduan pasca Ujicoba, Desember 2007-Maret 2008.

Dengan menyadari masih adanya sejumlah kekurangan namun dengan tekad
memperbaiki secara berkelanjutan, model P3MD Plus ini telah diterapkan sejak awal
tahun anggaran 2008. Untuk penerapan secara berkelanjutan, kebijakan ini dirancang
untuk dituangkan dalam bentuk peraturan yang dikeluarkan oleh setiap kabupaten di
wilayah NTT selambat-lambatnya pada akhir 2008.

Terima kasih saya sampaikan kepada ‟Tim Kerja Penyusunan Panduan Perencanaan
dan Penganggaran Partisipatif di tingkat Dusun, Desa, dan Kecamatan‟, GTZ-GLG, dan
semua pihak terkait, yang telah bekerja secara tekun dan terus menerus sejak Juni 2007
sampai Maret 2008. Saya mengharapkan Panduan ini dapat berfungsi sebagai landasan
operasional awal kerjasama hingga akhir masa kerjasama nanti.

Kupang, 28 Juli 2008
GUBERNUR NUSA TENGGARA TIMUR,




Drs. Frans Lebu Raya




Halaman | iii

DAFTAR ISI


Kata Pengantar Gubernur Nusa Tenggara Timur ii
Daftar Isi iii

Pendahuluan
- Sejarah Penyusunan Panduan P3MD Plus v
- Untuk Siapa Panduan P3MD Plus ini Disusun viii
- Cara Menggunakan Panduan P3MD Plus. viii

Bagian 1: Panduan Persiapan
Persiapan Fasilitator
- Sub Bagian 1.1: Apa dan Bagaimana Fasilitator P3MD Plus? 1
Bahan Bacaan 1.1: Pemahaman Dasar tentang Fasilitator dan Fasilitasi
Partisipatif
4
- Suba Bagian 1.2: Partisipasi adalah Hak Masyarakat 17
Bahan Bacaan 1.2: Partisipasi Masyarakat Sebagai Bagian dari Tata
Kepemerintahan yang Baik
19
- Sub Bagian 1.3: Membangun Pertemanan dan Rasa Mandiri Masyarakat 24
Bahan Bacaan 1.3: Masyarakat Mampu untuk Mandiri
26
- Sub Bagian 1.4: Mendorong Peran Serta Perempuan dan Kaum yang
Terpinggirkan Lainnya dalam Pembangunan Desa.
30
Bahan Bacaan 1.4: Partisipasi Perempuan dalam Pembangunan
33
Persiapan Pelaksanaan Musrenbang
- Sub Bagian 1.5: Pemahaman Dasar P3MD Plus 35
Bahan Bacaan 1.5: Dari P3MD ke P3MD Plus
37
- Sub Bagian 1.6: Membangun Strategi Penyelengaraan Musrenbangdus-
Musrenbangdes secara Partisipatif.
39
Bahan Bacaan 1.6: Pemahaman Dasar tentang P3MD, P3MD Plus,
Musrenbang, serta Perencanaan dan Penganggaran
41

Bagian 2: Panduan Perencanaan
- Sub Bagian 2.1: Membangun Pemahaman Bersama Tentang Aturan-
Aturan Perencanaan dan Penganggaran yang Berlaku
51
Bahan Bacaan 2.1: Memaknai P3MD Plus Menuju Otonomi Desa
53
- Sub Bagian 2.2: Analisis Potensi dan Masalah Bersama Masyarakat 72
Bahan Bacaan 2.2: Pengkajian Potensi dan Masalah
74
- Sub Bagian 2.3: Peringkat Masalah dan Menemukan Tindakan untuk
Perencanaan Bersama Masyarakat.
83
Bahan Bacaan 2.3: Pengelompokkan dan Pemeringkatan
86





Halaman | iv


Bagian 3: Panduan Penganggaran
- Sub Bagian 3.1: Memadukan Rencana Tindakan dengan Penganggaran
melalui Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes)
Tahunan
91
Bahan Bacaan 3.1: Penganggaran Pembangunan Desa
94
- Sub Bagian 3.2: Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) Desa 96
Bahan Bacaan 3.2: Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes), Rencana
Kegiatan dan Anggaran Desa (RKADes), dan Alokasi
Dana Desa (ADD)
99
- Sub Bagian 3.3: Penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan
Belanja Desa (RAPBDes)
103
Bahan Bacaan 3.3: Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa
(RAPBDes)
105


Lampiran-Lampiran:

O Surat Edaran Menteri Dalam Negeri tentang Pedoman Alokasi Dana Desa
dari Pemerintah Kabupaten/Kota kepada Pemerintah Desa, nomor
140/640/SJ.
O Surat Edaran Bersama Menteri Negara Perencanaan Pembangunan
Nasional/Kepala Bappenas dan Menteri Dalam Negeri tentang Petunjuk
Teknis Penyelenggaraan Musrenbang Tahun 2007.






Halaman | v

PENDAHULUAN


Sejarah Penyusunan Panduan P3MD Plus
Metode Perencanaan Partisipatif Pembangunan Desa (P3MD) merupakan suatu metode
proses pembahasan dan penyusunan rencana pembangunan dalam Musyawarah
Perencanaan Pembangunan di Tingkat Desa (MusrenbangDes) yang dilakukan secara
terbuka dan obyektif bersama masyarakat. Metode ini sempat dikenal oleh banyak
aparat desa namun tidak lagi dipraktekkan sebagaimana konsep dasar dan prinsip
P3MD itu sendiri.
Berdasarkan situasi yang demikian, dilaksanakanlah beberapa diskusi yang melibatkan
pihak pemerintah daerah dengan lembaga-lembaga non-pemerintah di Timor Barat
untuk mendalami praktek penyelenggaraan MusrenbangDes yang notabene
menggunakan metode P3MD.
Diskusi pertama dilaksanakan di Hotel Kristal Kupang, pada tanggal 3-6 Juni 2007 yang
menghasilkan suatu pernyataan bersama bahwa perlu dilakukan penguatan kapasitas
kelembagaan di tingkat desa dalam hal perencanaan dan penganggaran untuk APBDes
termasuk didalamnya pengelolaan dana ADD bagi pembangunan desa. Untuk
mewujudkannya, maka dipandang perlu untuk melaksanakan pelatihan dan penguatan
kapasitas fasilitator Musrenbang di Desa agar kualitas MusrenbangDes meningkat.
Untuk memperjelas pemikiran bersama tersebut dan agar upaya yang nanti dilakukan
didasarkan pada situasi yang sebenarnya dari pengembangan rencana pembangunan di
desa, maka dilakukanlah kegiatan kajian fakta lapangan di delapan desa yang ada di
dua Kabupaten, yakni Kabupaten TTS dan Kabupaten Belu. Pemilihan 8 (delapan) desa
ini dilakukan secara acak dengan mempertimbangkan lokasi desa, baik itu yang berada
di daerah pesisir pantai, dataran menengah, maupun di dataran tinggi. Asumsi lain yang
digunakan adalah sifat bentuk kehidupan masyarakat yang homogen
1
.
Hasil kajian fakta lapangan yang didapat adalah sebagai berikut:
 Mekanisme musyawarah kurang berjalan dengan baik sebagai akibat dari
banyaknya lembaga atau organisasi yang melakukan perencanaan dengan
metode yang berbeda-beda dan waktu yang berbeda-beda, tapi melibatkan
masyarakat dari desa yang sama.
 Penentuan usulan prioritas hampir tidak melibatkan keseluruhan masyarakat
sama sekali. Yang terbaik yang pernah terjadi hanyalah menggunakan prinsip
keterwakilan.
 Keterwakilan itu-pun sebagian besarnya tidak melakukan penggalian
gagasan/kebutuhan dari masyarakat yang diwakili tetapi berdasarkan cara
pandang orang-orang yang mewakili saja.
 Potensi tidak dijadikan sebagai kekuatan untuk pelaksanaan pembangunan
tetapi hanya didasarkan pada pemikiran untuk memenuhi syarat-syarat formal

1
Yang dimaksudkan dengan homogen disini adalah adanya kesamaan kondisi sosial dan nilai-nilai budaya
masyarakat, termasuk cara hidup pemenuhan ekonomi masyarakat.




Halaman | vi

saja. Contohnya, untuk memperoleh ADD, maka formulir yang diisi hanya untuk
mendapatkan ADD - untuk memenuhi syarat Musrenbang.
 Tidak ada dokumen perencanaan/Musrenbang di tingkat desa. Tidak ditemukan
dokumen RPJMDes (atau Renstra Desa) dan RKPDes (atau Rencana Kerja
Tahunan Desa). Fakta di Kecamatan Amanuban Selatan menunjukan bahwa
dari 15 desa yang ada hanya satu desa yang melakukan perencanaan.
 Penentuan anggaran masih bukan menjadi bagian dari perencanaan masyarakat
artinya perencanaan jalan sendiri sementara penyusunan anggaran jalan sendiri
(APBDes) sehingga sering dalam APBDes yang dibiayai bukan hasil
MusrenbangDes. Hal ini membuka peluang adanya intervensi dari pihak yang
lebih mementingkan diri sendiri terhadap pengelolaan anggaran di tingkat desa.
 Pengelolaan ADD masih diintervensi pihak kabupaten. Contohnya, di TTS
pembelian mesin kompos dan sepeda motor. Di Kabupaten Belu, pengelolaan
ADD disamaratakan untuk pembangunan fisik, misalnya, semua desa
membangun kantor BPD.
 APBDes hanya disusun oleh Kepala Desa dan pihak kecamatan. Terkesan untuk
memenuhi formalitas mendapatkan ADD.
 Proses penggunaan anggaran masih tertutup bagi masyarakat dan hanya
diketahui oleh aparat desa dan ketua BPD. Hal ini terlihat dalam fakta bahwa
Kepala Desa hanya melakukan pertanggungjawaban kepada pemerintah tingkat
atas sementara kepada masyarakat tidak dilakukan, sehingga, masyarakat tidak
tahu tentang sumber dana dan (arah) pengelolaannya.
 Prioritas pembangunan di desa masih berorientasi fisik (jalan, pembangunan
kantor desa, dsb) dan tidak sesuai dengan kebutuhan dasar masyarakat desa
setempat. Contoh
1. Desa Wekmidar Belu sudah membutuhkan air bersih sejak 20 tahun silam
tetapi yang dijawab adalah pembukaan jalan dan pembuatan kantor BPD.
2. Desa Nefokoko TTS dari hasil wawancara menunjukan bahwa 40%
responden membutuhkan peningkatan pelayanan pendidikan dan
kesehatan melalui pendidikan dan pelatihan tenaga pendidik dan
paramedik, tetapi yang dipenuhi adalah membangun bangunan Polindes
dan menambah ruang kelas sekolah. Tidak jelas siapa yang akan
mengoperasionalkan bangunan-bangunan tersebut.

Lebih jauh di tingkat Kabupaten, didapati beberapa fakta sebagai berikut:
 Belum ada komitmen Pemerintah Desa, Kecamatan, dan Kabupaten untuk
menjadikan Renstra dan Propeda sebagai acuan Musrenbang dan
penganggaran (wawancara Tim TTS dengan Bapppeda dan PMD TTS).
 Menilai kinerja hanya pada besaran anggaran yang digunakan bukan pada hasil,
dampak, kaitannya dengan item kegiatan pembangunan lainnya, dll. Hal ini
karena belum ada alat monitoring dan evaluasi yang praktis dan memadai untuk
digunakan dalam menilai implementasi proses pembangunan.

Dengan demikian, walaupun Kabupaten Belu dan TTS telah mengeluarkan Peraturan
Daerah (PERDA) bagi penggunaan Metode P3MD, namun prakteknya, baik Aparat
Desa maupun Kader Desa yang memfasilitasi, semuanya terjebak hanya melakukan
pengisian formulir tanpa memaknai konsep dasar dan prinsip P3MD itu sendiri. Sering




Halaman | vii

didapati komentar aparat desa seperti demikian, “Kami tidak tahu bagaimana
menggunakan metode P3MD.”
Untuk itulah, penyederhanaan pemahaman dan melengkapi konsep dasar P3MD
menjadi kebutuhan guna memperbaiki mekanisme perencanaan dan penganggaran
partisipatif di Desa.
UU No 32/2004 yang kemudian diatur lebih lanjut dalam PP.72/2005 memberikan
kepastian hukum terhadap perimbangan keuangan pusat dan daerah dimana desa
memperoleh hak dalam bentuk Alokasi Dana Desa (ADD). Oleh karena itu, metode
P3MD perlu diperkuat dengan panduan penyusunan penganggaran.
Berdasarkan hal itulah, maka disepakati nama panduan menjadi “Panduan P3MD Plus”.
Arti dari “Plus” adalah tidak hanya penyederhanaan panduan agar dapat dilaksanakan
oleh masyarakat desa sendiri tetapi juga bagaimana masyarakat mampu merencanakan,
mengelola, memonitor, dan mengevaluasi ADD sebagai haknya yang merupakan bagian
dari penganggaran desa.

Beberapa peraturan perundang-undangan terkait Perencanaan Pembangunan Desa
yang dipakai sebagai rujukan adalah:
1. Undang Undang RI Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional.
2. Peraturan Pemerintah RI Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa.
3. Permendagri Nomor 7 Tahun 2007 tentang Kader Pemberdayaan Masyarakat.
4. Permendagri Nomor 19 Tahun 2007 tentang Pelatihan Pemberdayaan Masyarakat dan
Desa/Kelurahan.
5. Permendagri Nomor 37 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa.
6. Permendagri 66 Tahun 2007 tentang Perencanaan Pembangunan Desa.
7. Permendagri 67 Tahun 2007 tentang Pendataan Program Pembangunan
Desa/Kelurahan.
8. Permendagri Nomor 29 Tahun 2006 tentang Pedoman Pembentukan dan Mekanisme
Penyusunan Peraturan Desa.
9. Permendagri Nomor 30 Tahun 2006 tentang Tatacara Penyerahan Urusan Pemerintahan
Kabupaten/Kota kepada Desa.
10. Permendagri Nomor 32 Tahun 2006 tentang Pedoman Administrasi Desa.





Halaman | viii

Untuk Siapa Panduan P3MD Plus Penganggaran ini Disusun?
Panduan ini dibuat untuk melatih calon fasilitator yang akan memfasilitasi
MusrenbangDes menggunakan pendekatan P3MD plus. Diharapkan, kesadaran kritis
dan ketrampilan mereka dapat tumbuh dalam menyusun rencana dan anggaran
pembangunan desa secara partisipatif.

Walaupun demikian, pihak manapun, baik itu dari kalangan pemerintahan maupun non-
pemerintah yang pernah mengikuti pelatihan P3MD maupun P3MD plus dapat tetap
memanfaatkan Panduan ini bagi pengayaan dan pembaharuan pemahaman akan
metode P3MD (Plus).

Tujuan Pelatihan P3MD Plus
- Meningkatkan keberdayaan dan kemandirian masyarakat agar warga desa dapat
berpartisipasi aktif dalam proses pengelolaan pembangunan, dimulai dari
perencanaan dan penganggaran.
- Meningkatkan kualitas perencanaan pembangunan desa berdasarkan kajian
masalah, potensi, aspirasi dan sumber daya yang tersedia.
- Meningkatkan partisipasi dan swadaya gotong royong masyarakat serta peran dan
fungsi lembaga masyarakat dalam pembangunan yang bertumpu pada kemampuan
sendiri.
- Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menggunakan hak partisipasi dalam
penyelenggaraan pemerintahan desa.

Cara Menggunakan Panduan
Panduan ini bukan dimaksudkan untuk diikuti secara kaku langkah per langkah-nya.
Penyesuaian sesuai situasi perlu dilakukan agar pemahaman peserta pelatihan
terhadap inti dari konsep metode P3MD Plus dapat terbangunkan.

Satu hal yang perlu selalu diingat adalah kriteria dalam penentuan peringkat masalah
dan peringkat usulan kegiatan pembangunan yang perlu untuk mendorong semua pihak
agar selalu memperhatikan kepentingan kaum perempuan dan anak-anak.

Hendaknya para fasilitator sudah terlebih dahulu memiliki informasi yang cukup tentang
pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang sudah dan belum dimiliki calon fasilitator yang
akan dilatih untuk menerapkan panduan ini.

Langkah-langkah yang disusun dalam panduan ini merupakan rujukan dari kumpulan
pengalaman. Fasilitator perlu untuk mencatat temuan-temuan baru dari pengalamannya
pada “Lembaran Temuan Fasilitator” yang telah disediakan.

Jika pelatihan calon fasilitator dilakukan di Desa, maka pelatih dapat menciptakan atau
menggunakan media lain yang sekiranya akan memudahkan penerapan materi.

Panduan ini bukan berarti yang terakhir tentang Panduan P3MD plus, P3MD sebagai
metode harus terus diuji bersama masyarakat sehingga tidak dikenal sebagai hasil akhir
atau kesimpulan, melainkan sebuah proses belajar secara terus menerus.





Halaman | ix

Untuk efektivitas penggunaan Panduan Pelatihan Fasilitator Desa ini, maka jumlah
peserta ideal bagi pelatihan adalah antara 25-35 orang. Minimal 30% dari total jumlah
fasilitator adalah perempuan.






Halaman | 1

Bagian I
PANDUAN PERSIAPAN


Tujuan Umum:
1. Mengetahui apa dan bagaimana Fasilitator P3MD Plus.
2. Memahami bahwa partisipasi adalah hak masyarakat.
3. Membangun pertemanan dan rasa mandiri masyarakat.
4. Mendorong peran serta perempuan dan kaum yang terpinggirkan lainnya dalam
pembangunan desa.
5. Memahami dasar P3MD Plus.
6. Membangun strategi penyelenggaraan Musrenbangdus-des secara partisipatif.


Persiapan Fasilitator
Sub Bagian 1.1: Apa dan Bagaimana Fasilitator P3MD Plus?

Tujuan
· Peserta mengerti pengertian, kriteria, dan ciri-ciri Fasilitator P3MD Plus.
· Peserta memahami peran penting keahlian Fasilitator dalam P3MD plus.
· Peserta mengetahui bagaimana menjadi Fasilitator P3MD plus.

Bahan dan Alat
Kertas coklat/bekas kalendar, spidol dan perlengkapan tulis lainnya yang
tersedia sesuai kondisi di desa.

Waktu Kegiatan
100 menit

Langkah Kegiatan
· Sesi Kerja Kelompok
o Curah pendapat, menggunakan pertanyaan: “Apa pengertian
fasilitator?”
10 menit
o Perangkuman hasil curah pendapat 5 menit
o Kemudian, mintalah kepada peserta membentuk kelompok.
Jumlah kelompok disesuaikan dengan jumlah peserta (satu
kelompok tidak lebih dari 7 orang).

5 menit




Halaman | 2

Lama
waktu diskusi
sebaiknya disepakati
bersama peserta.
o Fasilitator meminta peserta mendiskusikan dalam kelompok
tentang:
- Siapa yang memfasilitasi
Musrenbang?
- Apa peran fasilitator saat itu?
(minta peserta menyebutkan
paling sedikit lima peran!)
- Apa yang Boleh dan Tidak Boleh
sebagai fasilitator?

20 menit

· Sesi Diskusi Pleno
o Setiap kelompok diminta mempresentasikan hasil diskusi
kelompoknya, sebaiknya fasilitator mendorong para peserta
untuk mengajukan pertanyaan dan juga pemikiran-pemikiran
berbeda terhadap setiap presentasi.
40 menit
o Fasilitator terus menggali pemikiran peserta dengan pertanyaan-
pertanyaan kritis seperti berikut:
- “apakah ada peran lain?”,
- “apakah ada yang terlupakan?”,
- “apakah masih ada sesuatu yang penting tapi belum
terungkap?”,
- dll.



· Sesi Penegasan
o Fasilitator memberikan penekanan pada beberapa poin yang
dirasa masih kurang dipahami dengan benar dan kemudian
bersama-sama menemukan pengertian fasilitator dan mengapa
fasilitator menjadi unsur penting dalam proses perencanaan
pembangunan secara partisipatif.
20 menit
o Fasilitator juga memberikan penekanan bahwa pelatihan ini tidak
akan memberikan penjelasan fasilitator yang baik seperti apa
tetapi peserta sendiri akan melihat dan menemukan fasilitator
yang baik seperti apa.





Pertanyaan Kunci
· Apa ciri-ciri seorang Fasilitator?
· Mengapa Fasilitator penting?
· Apa peran Fasilitator?
· Bagaimana sikap seorang Fasilitator yang benar?
· dll.





Halaman | 3




Langkah Alternatif
Langkah Pleno dapat dipresentasikan dalam bentuk role play atau bermain peran.





Halaman | 4




Bahan Bacaan 1.1


PEMAHAMAN DASAR TENTANG
FASILITATOR DAN FASILITASI PARTISIPATIF


1. PENGANTAR
Ada beberapa pemahaman dasar yang perlu dikuasai oleh setiap Fasilitator
Perencanaan Pembangunan Partisipatif sebelum melaksanakan tugasnya,
khususnya Fasilitator Perencanaan Partisipatif Pembangunan Masyarakat Desa
Plus atau disingkat dengan P3MD Plus. Harapannya, agar setiap anggota
Fasilitator P3MD Plus mempunyai wacana yang mendasar dalam kedudukannya
sebagai yang memperlancar musyawarah, diskusi, ataupun pembahasan suatu
materi penyajian yang akan difasilitasi. Pemahaman tersebut terutama tentang
Fasilitator dan Fasilitasi Partisipatif. Sistimatika penulisan topik ini adalah sebagai
berikut:

1). Pengantar.
2). Fasilitator: Apa, Mengapa, dan Bagaimana?
3). Fasilitasi Partisipatif.
4). Apa saja Jenis Metode Fasilitasi Partisipatif?
5). Apa yang dimaksud dengan kriteria dalam memfasilitasi P3MD Plus?
6). Apa yang dimaksud dengan peragaan atau visualisasi?

Sebagai catatan perlu dikemukakan bahwa dalam uraian nanti, ada beberapa kata
yang berasal dari bahasa Inggris yang diterjemahkan atau dijelaskan dalam bahasa
Indonesia, mudah-mudahan tidak menghambat pemahaman pembaca.

2. FASILITATOR: APA, MENGAPA, DAN BAGAIMANA?

1). Apa yang dimaksud dengan Fasilitator?
Fasilitator, dalam hal ini Fasilitator P3MD Plus, adalah: seorang atau
sekelompok orang yang bertugas membantu kelompok masyarakat
perencana pembangunan di desa yang diproses secara partisipatif. Peran
Fasilitator adalah memperlancar dan mempermudah proses fasilitasi P3MD
Plus agar mendapat hasil-hasil yang sesuai dengan prinsip partisipasi
masyarakat sebagai yang terutama. Fasilitator dapat atau biasa juga disebut
sebagai Fasilitator.

2). Mengapa perlu Fasilitator?
Agar proses P3MD Plus dapat berjalan secara terbuka dalam menjaring




Halaman | 5

Satu
senyum bagaikan matahari
yang dapat menghalau
kabut gelap hati yang
sedang keruh.
aspirasi para peserta, tanpa pemihakan kepada peserta atau kelompok
peserta tertentu, atau pihak lainnya, dengan harapan usulan pembangunan
yang dihasilkan merupakan hasil pertimbangan semua peserta secara
obyektif dan setara.

3). Apa tugas dan peranan Fasilitator?
(1) Memotivasi atau menumbuhkan partisipasi para peserta musyawarah,
agar aktif berpendapat dan menyimpulkan bersama.
(2) Menampung pendapat para peserta diskusi atau musyawarah dan
menyimpulkan bersama.
(3) Memberikan bantuan kemudahan dalam memperlancar proses
musyawarah, menganalisis, dan menyimpulkan berbagai pendapat dari
peserta.

4). Apa syarat dan kriteria menjadi Fasilitator?
(1) Menguasai metode fasilitasi partisipatif, yang dapat dimiliki melalui
pelatihan, orientasi, dan praktek lapangan.
(2) Mempunyai keterampilan berkomunikasi dengan baik.
(3) Diterima oleh kelompok musyawarah terkait.
(4) Mempunyai pengetahuan tentang data, peta, dan arah musyawarah
yang akan dilakukan.
(5) Berkedudukan sebagai teman yang ditokohkan.
(6) Sabar dan mampu mengendalikan diri.
(7) Mampu menghargai pendapat orang lain.
(8) Mampu bersikap terbuka dan tidak memihak.
(9) Memahami isu gender (relasi laki-laki dan perempuan) yang ada dalam
masyarakat.

5). Apa pentingnya Etika Fasilitator?
Etika fasilitator menjadi penting karena keberhasilan seorang Fasilitator
banyak ditentukan oleh pengendalian tingkah lakunya dalam menghadapi
peserta musyawarah. Tingkah laku Fasilitator itu harus dapat menciptakan
suasana nyaman, saling menghormati dan saling percaya diantara peserta
musyawarah. Tingkah laku Fasilitator seperti itu hanya dapat tercipta bila
Fasilitator tersebut memenuhi tata krama atau sopan santun, sehingga dapat
diterima baik oleh peserta, sesama anggota Tim
Fasilitator, penyelenggara musyawarah, maupun
mungkin para pengamat dan narasumber.

6). Bagaimana sikap-sikap Fasilitator yang etis?
(1) Sikap pribadi antara lain:
· Simpatik.
· Akrab dengan peserta.
· Ramah.
(2) Sikap pada waktu memfasilitasi:
· Tidak memihak pada seseorang atau
suatu kelompok tertentu.
· Tidak menggurui.
· Saling menghormati sesama Fasilitator.




Halaman | 6

· Menghargai pendapat peserta.
· Bersedia menerima saran dan pendapat orang lain.

7). Apa kiat-kiat Fasilitator
(1) Sampaikan materi bahasan secara jelas, singkat, dan tepat.
(2) Mampu mengendalikan diri sedemikian rupa sehingga persoalan pribadi
tidak dicampur-adukkan dengan persoalan masyarakat.
(3) Aktif mendengarkan pendapat orang lain, walaupun pendapat itu tidak
disetujui.
(4) Senantiasa menciptakan suasana saling terbuka, saling percaya, dan
saling menghormati.
(5) Menhadapi suasana konflik dan tegang dengan hati dingin dan
pemikiran yang arif.
(6) Tidak mendikte orang lain, melainkan membantu orang lain untuk
memecahkan permasalahan mereka sendiri.
(7) Membangkitkan kepercayaan orang lain.
(8) Selalu menggugah orang untuk mengemukakan pendapatnya terkait
materi bahasan.
(9) Membantu orang lain menemukan jawaban dari suatu permasalahan.


Catatan:
Ò Dalam beberapa situasi, Fasilitator harus mampu menemukan titik simpul
dari pokok-pokok bahasan yang didiskusikan dalam musyawarah.
Selanjutnya dengan cara-cara bijaksana, titik simpul tersebut
dikemukakan ke forum, sehingga kesepakatan yang diputuskan oleh
peserta tidak merupakan keputusan yang diusulkan oleh Fasilitator.
Ò Apabila terjadi silang pendapat antar peserta, Fasilitator harus mampu
mengambil kesimpulan yang tepat dan cepat, tanpa memihak kepada
salah seorang atau sekelompok peserta. Dalam menyampaikan
pendapat atau kesimpulan, Fasilitator dapat mengemukakan dalam
bentuk pertanyaan. Dengan demikian, jawaban peseta dapat
menghindari perbedaan pendapat atau keraguan yang muncul
sebelumnya, tanpa ada yang merasa dirugikan atau dipojokkan.


8). Pentingnya kerjasama Tim Fasilitator
Dalam suatu forum musyawarah perencanaan pembangunan, diperlukan
kerjasama yang baik, kompak, dan santun antar Fasilitator. Untuk itu, Tim
Fasilitator perlu berada dibawah koordinasi seorang Ketua Tim. Di dalam
pelaksanaan tugasnya perlu disepakati pembagian dan pembidangan secara
jelas materi yang akan disajikan oleh masing-masing Fasilitator.

Seorang fasilitator atau Mitra Fasilitator yang tidak sedang bertugas di depan
kelas, bisa saja maju ke depan untuk membantu fasilitator yang sedang
bertugas di depan, misalnya dalam menempelkan kertas plano atau
menuliskan aspirasi dan saran serta pemikiran para peserta. Yang perlu
diperhatikan untuk dihindari, diantaranya adalah:





Halaman | 7

(1) Seorang Mitra Fasilitator tidak boleh maju ke depan untuk membantu
penjelasan materi atau menjawab pertanyaan peserta TANPA IJIN
Fasilitator yang sedang bertugas di depan kelas! Dalam hal
demikian sepatutnya Mitra Fasilitator atau para Mitra Fasilitator, terlebih
dulu memberi tanda (atau kode-kode gerakan tubuh yang telah
disepakati sebelumnya) kepada Fasilitator yang di depan. Atau
sebaliknya, Fasilitator yang di depan dapat memberikan tanda atau
kode-kode kepada Mitra-Fasilitator tertentu, untuk mengharapkan
bantuan atau memberikan pemikiran tambahan. Untuk mempermudah
saling memberi tanda atau kode-kode tersebut, sebaiknya para Mitra
Fasilitator mengambil posisi duduk di belakang tempat duduk para
peserta.

(2) Jangan tunjukkan dengan gamblang konflik atau perbedaan persepsi
antara Fasilitator yang sedang bertugas di depan kelas dengan para
Mitra Fasilitator di hadapan para peserta. Hal tersebut dapat
mengurangi atau merusak kepercayaan peserta kepada Fasilitator,
terutama kepada Fasilitator yang sedang bertugas dan kerjasama Tim
Fasilitator dapat menjadi rusak.


9). Hal-hal lain yang harus diperhatikan oleh Fasilitator:
(1) Seorang Fasilitator harus mampu menguasai atau memahami ruang
lingkup pokok bahasan yang akan disajikan. Dengan penguasaan dan
pemahaman tersebut diharapkan Fasilitator mampu mempertahankan
perannya dalam proses pencapaian kesepakatan atau keputusan
musyawarah.
(2) Seorang Fasilitator harus berdiri di depan peserta dengan posisi
menghadap kepada peserta (tidak membelakangi peserta). Diusahakan
agar posisi Fasilitator berada ditengah-tengah peserta sehingga dapat
menjangkau semua peserta dengan mudah. Sebaliknya, semua peserta
dapat dengan mudah memperhatikan apa-apa yang disampaikan oleh
Fasilitator.
(3) Untuk mencapai jarak pandang kepada peserta secara merata, posisi
duduk peserta sebaiknya disusun dalam posisi setengah lingkaran.
(4) Jika ruangan memungkinkan, diusahakan agar susunan bangku peserta
hanya satu baris. Hal ini untuk memudahkan Fasilitator mendekat
kepada peserta agar lebih akrab. Kalau terpaksa lebih dari 1 baris, jarak
kursi perlu direnggangkan agar dapat memudahkan para peserta dalam
bergerak sesuai dinamika pelatihan.
(5) Dengan jumlah peserta antara 20-25 atau 30 orang, sebaiknya
Fasilitator tidak menggunakan alat pengeras suara agar kedua
tangannya dapat leluasa menggunakan alat-alat bantu yang diperlukan.
Misalnya, untuk menulis dan menempel metaplan yang memerlukan
kedua tanggannya. Tentu saja suara Fasilitator harus diusahakan keras,
tegas, dan lantang.
(6) Sedapat mungkin, Fasilitator harus mampu mengelola dan
memanfaatkan waktu yang sudah dijadwalkan dan disepakati bersama
peserta. Tidak boleh sering melewati batas-batas waktu yang telah




Halaman | 8

disepakati bersama peserta. Jika perlu waktu tambahan, sebaiknya
dibahas bersama peserta.
(7) Hendaklah Fasilitator tidak mengemukakan kesalahan peserta di depan
peserta lain. Apabila dirasa perlu demi kelancaran diskusi atau
musyawarah, maka Fasilitator menggunakan contoh atau ilustrasi yang
dapat menggambarkan situasi, lalu membiarkan para peserta sendiri
yang menyimpulkan secara tidak langsung. Dengan demikian, peserta
yang keliru tersebut dengan sendirinya tidak akan merasa direndahkan,
karena pengertiannya hanya diuji dan ternyata dia menyadari sendiri
bahwa pengertiannya tersebut tidak tepat.


3. FASILITASI PARTISIPATIF

1). Pengertian
Merupakan aktivitas yang memudahkan peserta untuk berpartisipasi aktif
dalam suatu diskusi atau musyawarah.

Dalam pelaksanaannya, fasilitasi yang partisipatif biasanya menggunakan
alat dan media peragaan atau visualisasi yang dapat merangsang peserta
untuk mengembangkan pemikirannya. Semua peserta mendapat kesempatan
yang sama dalam memahami materi yang disajikan.

2). Apa ciri-ciri Fasilitasi Partisipatif?
(1) Adanya keterlibatan semua unsur terkait, dalam hal ini adalah semua
unsur perencana dan masyarakat agar dapat berpartisipasi dalam
membahas dan memutuskan.
(2) Adanya Fasilitator, agar tidak ada dominasi dan pemihakan kepada
peserta atau kelompok peserta tertentu.
(3) Adanya metode tertentu, agar diskusi dapat lebih terarah dan
sistematis.
(4) Adanya peragaan atau visualisasi, agar diskusi dapat dilakukan secara
terbuka dan obyektif.
(5) Adanya kriteria dan skoring (pemberian nilai, peringkat ataupun bobot),
agar penetapan prioritas usulan kegiatan pembangunan, mempunyai
alasan yang jelas sesuai tingkat kepentingannya.
(6) Adanya dokumentasi langsung tentang materi, proses, dan hasil
diskusi.


4. APA SAJA JENIS METODE FASILITASI PARTISIPATIF?

1) Apa saja jenis-jenis Fasilitasi Partisipatif?
· Ceramah.
· Curah pendapat.
· Tanya jawab.
· Diskusi kelompok.
· Diskusi pleno.
· Kerja kelompok.
· Kerja perorangan.
· Simulasi.
· Praktek lapangan.






Halaman | 9

2) Cara Fasilitasi Partisipatif
(1) Ceramah
Seseorang yang memberikan ceramah adalah orang yang berperan
sebagai fasilitator atau penolong bagi para pendengarnya dalam suatu
proses belajar. Seorang penceramah hendaklah mengenal terlebih
dahulu para pendengarnya. Hal ini berguna bagi pengaplikasian strategi
ceramah.

Salah satu strategi yang cocok untuk digunakan agar para pendengar
benar-benar sadar secara mendalam akan apa yang didengar dan
dipahaminya adalah pedagogi kritis. Strategi ini memberikan peluang
yang seluas-luasnya bagi para pendengar untuk mempertanyakan
atau menantang apa yang disampaikan sang penceramah.

Tujuan penggunaan metode ceramah kritis dalam panduan ini adalah
agar terbuka peluang yang seluas-luasnya bagi keberlanjutan
penggunaan keahlian Fasilitasi Perencanaan dan Penganggaran
Partisipatif di Desa sebagai akibat dari pemahaman yang benar akan
berbagai informasi terkait yang disampaikan. Misalnya, hal tujuan
musyawarah dan penggunaan alat kajian perencanaan dan
penganggaran.

Adapun langkah-langkah yang dilakukan adalah:
· Mempersiapkan materi ceramah lengkap dengan penjelasannya.
· Mempersiapkan alat-alat pendukung ceramah, misalnya, kartu
plano, alat tulis, dan bagan, serta
· Melaksanakan ceramah dengan suara yang jelas, menantang
peserta untuk mempertanyakan dan berdialog, serta memberi
contoh-contoh.

(2) Curah Pendapat
Metode Curah Pendapat ini pertama kali diperkenalkan oleh Alex
Faickney Osborn pada tahun 1930. Definisi Curah Pendapat adalah
teknik kreatif berkelompok yang didisain untuk menghasilkan
sekelompok besar ide yang selanjutnya digunakan untuk mendapatkan
solusi
2
.

Tujuan penggunaan metode curah pendapat dalam panduan ini adalah
untuk mengumpulkan, membahas secara singkat, dan menyimpulkan
pendapat seluruh peserta mengenai materi bahasan tertentu. Semua
peserta bebas menyatakan pendapatnya.

Langkah-langkah yang dilakukan:
· Fasilitator memperkenalkan dalam bentuk pertanyaan tentang
materi bahasan tertentu yang memerlukan pendapat peserta.
Pertanyaan tersebut ditulis di papan tulis dengan huruf yang cukup
besar dan jelas agar mudah dibaca oleh peserta dari jarak

2
Diterjemahkan secara bebas dari http://en.wikipedia.org/wiki/Brainstorming.




Halaman | 10

maksimal lima meter. Fasilitator membacakan pertanyaan tersebut
sambil menunjuk huruf-huruf yang dibacanya dan mengamati
reaksi dari peserta. Fasilitator harus memastikan bahwa
pertanyaan tersebut dipahami oleh seluruh peserta. Caranya
adalah dengan konsisten terus meminta satu atau lebih peserta
menjelaskan pertanyaan tersebut.

· Fasilitator menjelaskan cara-cara mengemukakan pendapatnya,
antara lain dengan meminta kepada setiap peserta untuk
menyampaikan pendapatnya dan akan ditulis oleh fasilitator di
papan tulis. Peserta harus difasilitasi untuk menyatakan
pendapatnya sendiri tanpa dipengaruhi pendapat dari peserta
lainnya.

· Cara lain untuk menampung pendapat adalah dengan
menggunakan kartu plano. Kartu-kartu tersebut dibagikan ke setiap
peserta. Kemudian para peserta diminta untuk menuliskan
pendapatnya masing-masing pada kartu. Kemudian, kartu-kartu
tersebut dikumpulkan dan ditempelkan di papan depan kelas.
Setelah setiap kartu terkumpulkan, maka Fasilitator membaca satu
per satu kartu tersebut sambil selalu meminta persetujuan para
peserta dalam pengelompokkan kartu sesuai topik besar yang
memayungi isi tiap kartu.

· Setelah menuliskan sejumlah pendapat yang disampaikan,
Fasilitator menyimpulkan pendapat-pendapat yang tertulis tersebut.
Ucapkan terimakasih dan penghargaan atas kesediaan peserta
memberikan pendapatnya.

(3) Tanya-jawab
Tujuan penggunaan metode tanya-jawab adalah untuk mengetahui
tingkat pemahaman/kegiatan peserta terhadap suatu pokok bahasan.
Metode ini biasanya digunakan bersamaan atau untuk melengkapi
metode lain yang sedang digunakan.

Langkah-langkah yang dilakukan:
· Merumuskan pertanyaan,
· Mengajukan pertanyaan kepada peserta,
· Mengulas dan memperjelas jawaban-jawaban peserta.

(4) Diskusi Kelompok
Prinsip dasar dari suatu diskusi adalah adanya suatu dialog atau
pengajuan pendapat atau argumen secara interaktif (dua arah secara
aktif) dimana setiap peserta diskusi sama kesempatannya dalam
mengemukakan pendapat. Suatu pertemuan dua atau lebih orang
dapat dikatakan sedang berdiskusi apabila terdapat dua atau lebih
orang yang secara aktif mengemukakan pendapat, baik itu pendapat
lepas sendiri maupun pendapat yang terkait dengan pendapat yang




Halaman | 11

dikemukakan orang lain. Suatu pendapat yang dikemukakan dapat
merupakan pendapat yang menguatkan pendapat orang lain maupun
pendapat yang bertentangan sama sekali. Setiap pendapat selalu
didasarkan pada bukti pendukung yang jelas.

Tujuan penggunaan metode diskusi kelompok adalah menjamin
terlaksananya pengkajian yang lebih mendalam pada topik atau sub-
topik tertentu. Misalnya, jika kelompok perencana terlalu besar
jumlahnya maka dapat dibagi dalam kelompok-kelompok yang lebih
banyak, atau topik yang ada dibagi kedalam sub-sub topik tertentu baru
kemudian disatukan kembali.

Langkah-langkah yang digunakan:
· Tentukan pokok bahasan yang akan didiskusikan.
· Jelaskan tugas masing-masing kelompok agar memahami topik
khusus yang harus didiskusikan.
· Persiapkan bahan/alat yang akan digunakan dalam diskusi
kelompok.
· Memantau dan melancarkan jalannya diskusi kelompok.
· Mencatat hasil diskusi kelompok.

(5) Diskusi pleno
Tujuan penggunaan metode diskusi antar peserta (diskusi pleno)
adalah untuk mengetahui perbedaan/persamaan pendapat yang terjadi
diantara peserta atau antar kelompok peserta musyawarah
perencanaan dan penganggaran.

Langkah-langkah yang dilakukan:
· Tentukan masalah yang akan didiskusikan.
· Mintalah 1 sampai 3 orang peserta musyawarah untuk lebih dahulu
menjelaskan pertanyaan tersebut.
· Mintakan tanggapan dari peserta musyawarah lain.
· Tariklah ”benang merah” hasil tanggap-menanggap para peserta
musyawarah menjadi kesimpulan dari hasil pembahasan.

(6) Kerja Kelompok
Tujuan penggunaan metode Kerja Kelompok adalah:
· Apabila ingin memberikan sesuatu kemampuan tertentu.
· Apabila ingin mengetahui tingkat kemampuan peserta terhadap
sesuatu pengetahuan dan keterampilan tertentu.

Langkah-langkah yang dilakukan:
· Siapkan deskripsi tugas dan alat (kalau ada).
· Membuat petunjuk dengan jelas tentang tugas yang akan
dilakukan oleh setiap kelompok.
· Minta kelompok untuk melakukan tugas tersebut.
· Hasil pekerjaan kelompok disampaikan atau disajikan pada diskusi
pleno untuk dapat ditanggapi.





Halaman | 12

(7) Kerja Perorangan
Tujuan penggunaan metode Kerja Perorangan adalah:
· Untuk mengetahui tingkat kemampuan peserta terhadap suatu
pengetahuan dan keterampilan tertentu.
· Untuk merangsang bangkitnya suatu kemampuan tertentu.

Langkah-langkah yang dilakukan:
· Siapkan uraian tugas dan alat-alat pendukung (kalau ada).
· Membuat petunjuk dengan jelas tentang tugas yang akan
dilakukan oleh setiap peserta.
· Minta setiap peserta melakukan tugas tersebut.
· Melakukan diskusi terbuka dengan semua peserta akan jawaban
yang paling tepat. Manfaat dari diskusi terbuka ini adalah para
peserta dapat secara mandiri menilai hasil kerja perorangan
mereka. Dengan demikian, terbukalah peluang bagi tercapainya
kesadaran secara mendalam akan makna jawaban yang paling
benar.

(8) Simulasi atau Bermain Peran
Tujuan penggunaan metode simulasi adalah untuk membawa peserta
kepada pengertian suatu hal tertentu secara mandiri berdasarkan
pengalaman masing-masing peserta. Pemahaman yang telah terbentuk
tersebut akan mempermudah Fasilitator dalam menyampaikan inti dari
suatu pokok bahasan terkait.

Langkah-langkah yang dilakukan:
· Merumuskan masalah dan peran-peran tertentu yang akan
dimainkan peserta.
· Menunjuk beberapa peserta untuk memainkan peran-peran
tertentu tersebut.
· Melaksanakan permainan peran itu.
· Meminta komentar para peserta lain yang berperan sebagai
pengamat simulasi.
· Mendiskusikan pendapat para ”pengamat” tersebut untuk
dibuatkan kesimpulan.

(9) Praktek Lapangan
Metode Praktek Lapangan digunakan untuk mengetahui tingkat
ketepatan aplikasi teori yang telah didapat dalam pertemuan di kelas.
Praktek lapangan dapat memperkaya wawasan, pengetahuan, dan
ketrampilan peserta dalam menerapkan atau menguji teori.

Langkah-langkah yang dilakukan:
· Merumuskan panduan praktek lapangan, tujuan, dan langkah-
langkah yang akan dilakukan oleh peserta latihan.
· Mempersiapkan lokasi praktek lapangan, peralatan, dan pihak-
pihak yang terkait di lapangan.
· Meminta peserta melakukan praktek lapangan.
· Meminta peserta merefleksikan hasil praktek lapangan.




Halaman | 13

· Meminta komentar terhadap hasil praktek lapangan.
· Merumuskan kesimpulan dari hasil praktek lapangan.

5. APA YANG DIMAKSUD DENGAN PERAGAAN ATAU VISUALISASI?
Peragaan atau visualisasi adalah suatu cara penyampaian informasi dengan
menggunakan alat atau media tertentu agar dapat dilihat dan didengar, sehingga
apa yang disampaikan menjadi lebih mudah dimengerti.

1). Apa manfaat dan keunggulan peragaan?
(1) Daya serap peragaan melalui penglihatan, sangat tinggi, yaitu: 84%,
dibanding dengan pendengaran: 11%, penciuman: 3%, peraba: 1%, dan
pengecap: 1% (lihat gambar dan diagram dibawah pada Ilustrasi 1:
„Persentase Perbandingan Daya Serap Informasi‟ dan Ilustrasi 2: „Hubungan
antara yang dilihat, didengar, dirasakan, dan daya serap indera manusia sehari-
hari‟, dengan prosentase penyerapan yang lebih baik).
(2) Gagasan dan saran menjadi lebih mudah diingat, tidak mudah terlupakan
dan hilang.
(3) Perbedaan pendapat dan unsur-unsur pembedanya akan lebih mudah
dimengerti, sehingga dapat menghindari salah pengertian.
(4) Peragaan akan lebih memudahkan penyampaian pendapat, terutama
apabila peserta berasal dari latar belakang budaya, golongan, dan
jabatan yang berbeda.
(5) Diskusi dapat lebih terarah atau terfokus pada sasaran pokok bahasan.
(6) Tahapan diskusi tergambar melalui peragaan, sehingga akan
memudahkan mereka yang tidak atau terlambat hadir untuk ikut
memahami materi diskusi yang telah berlangsung.
(7) Mempermudah dan memperlancar proses dokumentasi dan penyusunan
laporan hasil pembahasan atau diskusi.

2). Apa saja alat bantu peragaan itu?
(1) Kartu metaplan
· Kartu metaplan adalah potongan kertas manila dalam bentuk standar
segi empat berukuran 20 cm x 9.5 cm. Fungsinya adalah sebagai
lembar penulisan pendapat peserta musyawarah, untuk kemudian
dibahas bersama.
· Kartu (sebaiknya) terbuat dari potongan kertas manila (agar mudah
ditulisi, dibaca dan dipindahkan atau dilepas dan dilekatkan kembali)
serta terdiri dari berbagai warna, seperti: merah, putih, hijau, kuning,
biru. Namun apabila tidak memungkinkan bagi kondisi setempat,
dapat dibuat dengan kertas apa saja namun dapat memenuhi
fungsinya.
· Selanjutnya, selain bentuk standar segi empat, dapat juga dibuat
dalam bentuk lain, seperti: bulat, oval, bentuk awan atau segi empat
ukuran lain-lain, yang dapat digunakan untuk penegasan atau tanda
dan rambu-rambu lain dalam proses pembahasan dan
pendokumentasian.





Halaman | 14

(2) Bagaimana cara penulisan pada kartu metaplan?
· Tulisan harus jelas dan dengan warna jelas, hindari menggunakan
tulisan dengan warna merah.
· Agar tulisan pada kartu metaplan dapat terbaca dengan mudah, maka
tulisan tersebut harus cukup besar sehingga satu kartu dapat
menampung maksimum tiga baris tulisan secara wajar. Setiap tulisan
harus rata-kiri dan hindari penggunaan huruf kapital/besar semua,
tetapi, gunakanlah formulir penulisan biasa, dimana huruf awal selalu
huruf besar dan huruf-huruf selanjutnya adalah huruf kecil, kecuali,
singkatan.
· Setiap kartu hanya ditulisi dengan satu pernyataan pribadi (bukan
atas pengaruh orang lain). Apabila pernyataan tidak termuat dalam
satu kartu, dapat menggunakan dua kartu atau lebih.
· Apabila menggunakan alat tulis spidol, setelah selesai setiap
penulisan agar spidol ditutup, sehingga tintanya tidak cepat habis
atau mengering.

(3) Papan dan kertas flipchart
· Flipchart
Flipchart adalah papan berwarna putih berukuran 104 x 74 cm,
dengan bingkai metal atau aluminium, atau kayu, dan dapat
digunakan sebagai papan tulis putih (whiteboard). Alat penjepit kertas
pada flipchart dapat terdiri dari bermacam-macam model: dapat
berupa skrup besar yang menyatu dengan papan atau dapat juga
menggunakan penjepit kertas besar (terlepas dari papan flipchart).
Flipchart ditempatkan pada standar dengan tinggi sekitar 179 cm
(tinggi kaki + 75 cm).

· Kertas flipchart
Kertas flipchart adalah lembar kertas tulis lebar berukuran 96 x 70 cm.
Jenis kertas dapat terdiri dari: kertas kalender, kertas dinding atau
kertas lebar lainnya sesuai dengan kondisi setempat.

(4) Papan tancap (pinboard, softboard) dan kertas warna coklat
· Papan tancap
Papan tancap adalah landasan tulis berukuran 150 x 123 cm, terbuat
dari bubuk kayu pres, styropor atau karpet karet hitam, atau matras
dengan tebal 1,5 cm. Bingkai papan dapat terbuat dari metal atau
kayu yang ringan, sehingga papan mudah dipindah-pindahkan.
Dinamakan papan tancap karena digunakan untuk menancapkan
kartu-kartu informasi dengan jarum atau paku tancap, atau alat
tancap lainnya.

Alternatif pengganti papan tancap:
Apabila di suatu forum pertemuan tidak tersedia papan tancap, dapat
juga menggunakan papan tulis putih (whiteboard) besar atau
landasan tulis lain berukuran panjang 200 x tinggi 123 cm,
dimodifikasi dengan menempelkan styropor atau matras pada
landasan tulis. Apabila styropor juga tidak ada, maka kartu-kartu




Halaman | 15

metaplan dilekatkan pada landasan tulis dengan selotip, lem UHU
atau bahan perekat lain, ataupun perekat`yang dapat dibuat sendiri
sesuai kondisi setempat.
Papan tancap ditempatkan pada standar dengan tinggi 195 cm.

· Kertas warna coklat
Kertas warna coklat adalah lembaran kertas berukuran 140 x 125 cm,
dan digunakan untuk:
* Melapisi papan tancap, dimana kartu-kartu metaplan
ditancapkan dan kemudian direkatkan pada lembaran tersebut.
Lembaran yang telah berisi kartu dan telah selesai didiskusikan,
dapat ditempelkan pada dinding terbuka, agar peserta dapat
melihat dan membaca kembali hasil pembahasan yang telah
dilakukan dan disepakati. Lembaran tersebut juga berfungsi
sebagai sumber dokumentasi asli suatu pembahasan, sebelum
dimasukkan ke dalam komputer atau lembar dokumentasi lain.
* Untuk menjelaskan tujuan pelatihan atau topik lain dalam suatu
penyajian oleh fasilitator atau siapapun, dimana penjelasan
sudah dituliskan dan dirancang sebelumnya.
* Selanjutnya perlu dikemukakan, bahwa ada 2 jenis kertas coklat,
yaitu kertas pembungkus (tebal) dan jenis kertas sampul (tipis).
Disarankan agar diusahakan untuk mengusahakan yang tebal,
dengan harapan tidak mudah robek.

Ilustrasi 1

Prosentase Perbandingan Daya Serap Informasi

Penglihatan : 84%
Pendengaran : 11%
Penciuman : 3%
Peraba : 1%
Pengecap : 1%

Sumber: GTZ KUF; Modul Pelatihan Rapat Koordinasi Pembangunan Pertanian, tahun 1997




Halaman | 16

Ilustrasi 2

Prosentase Perbandingan Daya Serap Informasi

Daya ingat berdasarkan indera yang digunakan
















Daya ingat berdasarkan indera dan waktu yang digunakan

Daya ingat Waktu Persentase
Lihat + Dengar
Setelah 3 jam 85%
Setelah 3 hari 65%
Lihat saja
Setelah 3 jam 72%
Setelah 3 hari 20%
Dengar saja
Setelah 3 jam 70%
Setelah 3 hari 10%


















Sumber: Materi pelatihan „Pemantapan P3MD bagi Tim Pembina LKMD Tk. II dan Kecamatan‟, oleh Balai
Pengkaderan PMD, Yogyakarta.
85%
72%
70%
65%
20%
10%
0%
20%
40%
60%
80%
100%
Lihat + Dengar Lihat saja Dengar saja
Setelah 3 jam
Setelah 3 hari
83%
11%
3,5%
1%
1,5%

Melalui

Presentase
Mata 83
Telinga 11
Hidung 3.5
Lidah 1
Tangan 1.5





Halaman | 17

Lama
waktu diskusi ini
disesuaikan dengan
kondisi dan
disepakati bersama
peserta.
Sub Bagian 1.2: Partisipasi adalah Hak Masyarakat

Tujuan
· Peserta dapat menjelaskan hak-hak dasar masyarakat dalam pembangunan.
· Peserta dapat menjelaskan hak-haknya untuk berpartisipasi dalam
perencananan pembangunan di desanya.
· Peserta menggunakan hak partisipasi dalam wadah Musrenbang dan forum
musyawarah lainnya.

Bahan dan Alat
Kertas coklat/bekas kalendar, Spidol dan perlengkapan tulis lainnya yang
tersedia sesuai kondisi di desa.

Waktu
120 menit

Langkah Kegiatan
· Sesi Kerja Kelompok
o Fasilitator mengawalinya dengan suatu role-play atau game yang
inspiratif dan dapat mengantar peserta pada pemahaman akan
segala sesuatu terkait partisipasi masyarakat.
75 menit
o Mintalah peserta mendiskusikan dalam kelompok yang sama
tentang:
- Kegiatan apa saja yang biasa
menyertakan masyarakat untuk
berpartisipasi? Siapa yang berperan
sebagai pengambil keputusan?
Buatlah daftar terpilah dengan cara
mengidentifikasi apakah semua
kegiatan diikuti oleh laki-laki saja,
perempuan saja, atau laki-laki dan
perempuan.
- Apa yang peserta ketahui tentang
partisipasi, Hal-hal apa saja yang
menunjukan adanya partisipasi?
- Apa beda Hak dan Kebutuhan?
- Buatlah tabel yang dapat memisahkan jawaban laki-laki dari
jawaban perempuan.
- Kembangkanlah kesimpulan pengertian dari pendapat laki-laki
dan perempuan terkait partisipasi, hak, dan kebutuhan.


o Mintalah tiap kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi
kelompoknya.
o Bersama peserta semua kelompok, tariklah satu kesimpulan
umum akan pengertian partisipasi, hak, dan kebutuhan.

o Mintalah peserta untuk menerjemahkan kedalam bahasa daerah
masing masing tentang partisipasi, hak, dan kebutuhan.







Halaman | 18

· Sesi Pleno
o Fasilitator selalu menantang peserta dengan pertanyaan-
pertanyaan kritis, agar peserta mendapatkan jawaban jawaban
dari pertanyan-pertanyaan kritis tersebut.
30 menit
o Fasilitator juga memberikan penegasan mengenai syarat syarat
apa saja yang harus dipenuhi agar dapat disebut partisipatif
dengan menggunakan acuan pertanyaan-pertanyaan kritis berikut:
o Apakah lembaga pemerintahan desa memberikan kesempatan
kepada masyarakat untuk berperan serta?
o Bagaimana sebaiknya agar proses penyusunan rencana dan
anggaran semakin banyak melibatkan kelompok-kelompok
masyarakat?
o Bagaimana agar kaum perempuan dan kaum yang terpinggirkan
juga dapat terlibat?



· Sesi Penegasan
o Sesi ini ditutup dengan penekanan Fasilitator tentang partisipasi
sebagai salah satu prinsip tata kepemerintahan yang baik.
15 menit
o Fasilitator juga memberikan penekanan pada Hak-hak Dasar
Manusia yang harus diakomodir oleh setiap kegiatan
pembangunan.

o Fasilitator memberikan masukan melalui media/bahan bacaan
terlampir.




Pertanyaan Kunci
· Apa itu Partisipasi?
· Apa itu Hak-hak Dasar?
· Apa syarat bahwa proses perencanaan pembangunan telah memenuhi hak
partisipasi masyarakat?
· Apa-apa saja wadah partisipasi masyarakat dalam pembangunan di desa?
· Pada tahap apa saja masyarakat berperan serta? Dan bagaimana cara
keterlibatannya?





Halaman | 19




Bahan Bacaan 1.2


PARTISIPASI MASYARAKAT SEBAGAI BAGIAN DARI TATA KEPEMERINTAHAN
YANG BAIK


Apa itu Tata kepemerintahan yang Baik?
E Tata kepemerintahan adalah suatu proses dimana institusi-institusi publik milik
pemerintah menyelesaikan masalah-masalah publik, mengelola sumber daya-
sumber daya publik, dan menjamin perwujudan penerapan upaya menjamin
hak-hak asazi manusia.
E Disebut Tata kepemerintahan yang Baik karena semua hal diatas dilaksanakan
bebas dari korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan serta berdasarkan
hukum.

Nilai-nilai Tata kepemerintahan yang Baik:
E Selalu meresponi kebutuhan masyarakat
E Terbuka (Tranparan)
E Tanggung-gugat (Akuntabel)
E Partisipasi Masyarakat
E Demokratis
E Mendukung kesetaraan laki-laki dan perempuan (gender equality).

Pembangunan Berdasarkan Hak
E Semua hak-hak asasi manusia harus dijamin oleh pembangunan. Contoh
hak-hak asasi manusia adalah:
o Jaminan kesehatan, pangan, pakaian, dan perumahan.
o Mendapat pendidikan.
o Mengembangkan diri seluas-luasnya.
o Perempuan berhak mendapatkan perawatan dan bantuan istimewa terkait
tugas reproduksinya dan anak-anak berhak mendapat perawatan dan
bantuan istimewa bagi pertumbuhan tubuh dan jiwanya yang sehat.
o Jaminan sosial dan kebudayaan.
o Memiliki usaha ekonomi.
o Memiliki pekerjaan.
o Bebas dari kekerasan dan berbagai diskriminasi (pembedaan-
pembedaan secara tidak adil) hanya karena berbeda jenis kelamin, status
sosial, suku, ras, dan agama.

E Tanggung-gugat. ¬ Setiap penyelenggara pembangunan berdasarkan mandat
yang diterima dari rakyat, wajib untuk bertanggungjawab terhadap setiap
kebijakan publik yang dibuat, karena masyarakat bisa menggugat jika tidak
dibuat sejahtera.




Halaman | 20

E Penguatan atau pengembangan masyarakat. ¬ masyarakat bukan hanya
sekedar menerima, tetapi diberikan kuasa, ditingkatkan kemampuannya, dan
disediakan akses untuk aktif didalam penyelenggaraan pembangunan.
E Partisipasi non-diskriminatif ¬ masyarakat, kelompok-kelompok masyarakat,
termasuk perempuan dan kelompok-kelompok masyarakat yang terpinggirkan,
semuanya mempunyai hak untuk terlibat dalam penyelenggaraan pembangunan.

Partisipasi dalam Peratutaran Pemerintahan di Indonesia
Partisipasi pada hakekatnya merupakan wahana atau sarana pendorong bagi setiap
warga, untuk mempergunakan hak menyampaikan pendapat dalam proses pengambilan
keputusan yang terkait dengan kepentingan masyarakat banyak. Sedangkan,
desentralisasi merupakan salah satu sarana atau instrumen untuk mendorong tata
kepemerintahan yang baik (good governance). Oleh karena itu, dalam rangka
penerapan otonomi dan desentralisasi, partisipasi merupakan salah satu prinsip yang
harus dikembangkan.

Desentralisasi, menurut UU 32/2004 pasal 1 ayat 7, intinya adalah penyerahan
wewenang pemerintahan oleh pemerintah pusat kepada daerah otonom untuk mengatur
dan mengurus urusan pemerintahan. Sedangkan daerah otonom, menurut undang-
undang yang sama pasal 1 ayat 6, adalah kesatuan masyarakat hukum yang
berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat
setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat. Kalimat
mudahnya: otonomi adalah kewenangan untuk mengatur dan mengurus pemerintahan
dan kepentingan masyarakat berdasarkan prakarsa dan aspirasi mereka.

Dibawah ini, kita akan bicara tentang partisipasi dan tata kepemerintahan yang baik di
tingkat desa (Good Village Governance) melalui penyelenggaraan otonomi desa.

Partisipasi sebagai Hak Masyarakat
Sejak awal perlu dipahami, bahwa ciri utama dan pertama dalam partisipasi adalah
keikutsertaan masyarakat atau warga dalam pengambilan atau pembuatan keputusan.
Pada gambar dibawah ini terlihat jelas empat ciri atau aspek dalam proses partisipasi.
Juga terlihat bagaimana keikutsertaan masyarakat dalam pelaksanaannya termasuk
manfaat (langsung) apa yang bisa didapat oleh masyarakat yang harus disepakati sejak
awal perencanaan. Perlu dicatat bahwa yang dimaksud disini adalah manfaat langsung
yang dapat diterima oleh masyarakat setelah kegiatan proyek atau progam selesai.
Manfaat langsung ini pada hakekatnya merupakan salah satu ciri yang membedakannya
dengan pembangunan daerah, nasional atau semacamnya, dimana pada pembangunan
daerah, seseorang tidak bisa serta merta menuntut manfaat langsung yang akan
diterima. Kemudian diakhiri dengan aspek evaluasi. Masyarakat mempunyai hak untuk
ikut serta dalam melakukan evaluasi.




Halaman | 21























Dalam peraturan perundang-undanggan yang ada, termasuk dalam UU 32/2004 dan PP
72/2005, tidak ada uraian pengertian dan penjelasan rinci tentang partisipasi. Yang ada
misalnya tentang petunjuk perlunya partisipasi atau peran serta masyarakat dalam
kaitannya dengan otonomi desa, hak partisipasi warga dan bagaimana masyarakat
mendapatkan hak tersebut. Beberapa yang menyebutkan partisipasi atau peran serta
masyarakat, diantaranya dapat disebutkan diawah ini:

= Pemberian otonomi luas kepada daerah diarahkan untuk mempercepat
terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan,
pemberdayaan dan peran serta masyarakat (UU 32/2004, Penjelasan umum No.
huruf a).

= Daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan daerah untuk memberi
pelayanan, peningkatan peran-serta, prakarsa, dan pemberdayaan masyarakat
yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat (UU 32/2004, Penjelasan
Umum no. 1 huruf b).

= Landasan pemikiran dalam pengaturan mengenai desa adalah keanekaragaman,
partisipasi, otonomi asli, demokratisasi dan pemberdayaan masyarakat (UU
32/2004, Penjelasan Umum no. 10, kalimat terakhir alinea 1 dan 2).

= Perencanaan pembangunan desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun
secara partisipatif oleh pemerintahan desa sesuai dengan kewenangannya
(pasal 63 ayat 2).

Empat Aspek dan Proses Partisipasi
(A)
Pembuatan
Keputusan
(B)
Pelaksanaan
(C)
Manfaat
(D)
Evaluasi
Sumber: Cohen and Uphoff (1976)

Empat aspek dan Rangkaian Proses Partisipasi




Halaman | 22

= Peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan negara merupakan hak dan
tanggung-jawab masyarakat untuk ikut mewujudkan Penyelenggara Negara
yang bersih (UU 28/1999 pasal 8).

Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 diwujudkan
dalam bentuk:
› mencari, memperoleh, dan memberikan informasi tentang hak
penyelenggaraan negara;
› hak untuk memperoleh pelayanan yang sama dan adil dari Penyelenggara
Negara;
› hak menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggung-jawab terhadap
kebijakan Penyelenggara Negara.

= Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan atau tertulis dalam rapat
penyiapan atau pembahasan rancangan undang-undang dan rancangan
peraturan daerah (UU 10/2004 pasal 53).

Uraian diatas memperlihatkan dengan jelas dan pasti bahwa partisipasi masyarakat,
disamping diakui merupakan salah satu prinsip otonomi daerah dan desa, juga menjadi
hak masyarakat dan didukung oleh sejumlah peraturan perundang-undangan. Dengan
demikian, masyarakat tidak lagi semata-mata sebagai obyek atau pemanfaat
pembangunan, tetapi sekaligus merupakan pelaku atau subyek.

Dengan keikutsertaan warga dalam proses pengambilan keputusan, khususnya dalam
proses pembangunan, diharapkan kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggara
dan lembaga pemerintahan dapat menjadi semakin baik. Menurut pengamatan para
ahli, dengan penyelenggaraan desentralisasi, dapat lebih mendekatkan hubungan
warga dan negara, rakyat dan pemerintahnya. Disamping itu, dengan partisipasi dapat
lebih menjamin terdengar dan diterimanya aspirasi masyarakat oleh pemerintah,
termasuk aspirasi perempuan, kelompok miskin dan kelompok marjinal atau kelompok
terbelakang lainnya.

Seandainya sudah seperti itu, hal tersebut dapat mencerminkan makin baiknya
hubungan dan dukungan masyarakat terhadap pemerintah, khususnya pemerintah
daerah. Juga dapat mempermudah pemahaman, bahwa desentralisasi dapat
mendekatkan pemerintah dengan rakyatnya. Namun demikian harus diakui bahwa
berbagai harapan positif dalam desentralisasi, dari hasil sejumlah kajian, tidak selalu
serta merta atau tidak dengan sendirinya dapat meningkatkan kinerja pemerintahan
daerah yang semakin baik. Untuk terjadinya hal tersebut masih ada sejumlah
ketergantungan untuk berhasilnya kinerja desentralisasi yaitu: kerangka kerja hukum,
kebijakan anggaran, transparansi dalam tindakan pemerintah, dan partisipasi warga.
Disamping itu, harus disadari bahwa partisipasi dapat mempengaruhi dan
mengakibatkan biaya tinggi dan waktu pencapaian yang lebih lama. Oleh karena itu,
daya guna dan hasil guna, perlu diperhitungkan secara bersamaan dengan ke-cermat-
an, ke-seksama-an, dan ke-hemat-an. Disamping itu, disana sini partisipasi masyarakat
itu masih merupakan hal yang mudah diucapkan, tetapi sulit untuk dilaksanakan.





Halaman | 23

Peran serta semua wakil unsur masyarakat, termasuk kelompok miskin dan yang
terpinggirkan, perlu dikembangkan. Keikutsertaan kelompok-kelompok tersebut menjadi
mutlak, karena mereka merupakan sasaran pemerataan hasil-hasil pembangunan yang
perlu dijaring aspirasinya, sesuai amanat dan prinsip otonomi daerah. Disamping itu,
bagi Negara berkembang seperti Indonesia, kelalaian dalam memperhatikan kelompok-
kelompok tersebut dapat dikatakan dengan tidak sedang melakukan pembangunan,
karena bagian terbesar dari penduduk Indonesia masuk dalam kategori miskin dan
terpinggirkan. Sebagai gambaran, dibawah ini disampaikan gambar hasil penelitian
tentang Pola Partisipasi Masyarakat dalam bentuk piramida. Unsur-unsur masyarakat
yang sering diikutsertakan dalam pengambilan keputusan, sebagian besar hanya
kelompok atas. Untuk masyarakat kelompok menengah hanya kadang-kadang dan
untuk kelompok bawah yang jumlahnya jauh lebih melebihi kelompok elit dan menengah
jarang ikut membuat keputusan.

Pola Partisipasi Masyarakat
























Pemerintah adalah penanggung jawab utama dalam pengembangan partisipasi.
Pemerintah adalah unsur yang diberi tugas dan tanggung-jawab dalam
penyelenggaraan pembangunan. Selain pemerintah, tentu saja dapat ditumbuhkan oleh
siapa saja yang sadar dan peduli, seperti para Akademisi, lembaga swadaya
masyarakat (LSM), swasta, organisasi atau kelompok-kelompok masyarakat, ataupun
orang perorangan.
Kelompok elit desa/Toma*
(Formal dan informal leaders)
Sering ikut
membuat keputusan
Kelompok Menengah
Kadang
2
ikut
membuat keputusan
Kelompok Bawah/
Marginal
Jarang ikut
membuat keputusan
Sumber: LFN-LIPI, People's Participation in Rural Development, Bandung, 1985, hal. 12
* Tokoh Masyarakat




Halaman | 24

Lama
waktu diskusi ini
disesuaikan dengan
kondisi dan
disepakati bersama
peserta.
Sub Bagian 1.3: Membangun Pertemanan dan Rasa Mandiri
Masyarakat

Tujuan
· Peserta dapat menjelaskan arti dan manfaat dari pertemanan dengan
masyarakat.
· Peserta dapat mengenal siapa-siapa orang yang tepat untuk dibangun
pertemanan dengan masyarakat.
· Peserta mampu untuk membangun komunikasi dan relasi dengan masyarakat.
· Peserta mampu mengajak masyarakat untuk Berpikir dan Menyadari bahwa
Masyarakat sebenarnya memiliki kemampuan untuk memecahkan persoalan
mereka dan dapat memperbaiki kehidupannya oleh mereka sendiri.
· Peserta mampu merumuskan kegiatan-kegiatan konkrit yang dapat dilakukan
tanpa dukungan dari pihak luar desa.

Bahan dan Alat
Kertas coklat/bekas kalendar, Spidol dan perlengkapan tulis lainnya yang
tersedia sesuai kondisi di desa.

Waktu
120 menit

Langkah Kegiatan
· Sesi Curah Pendapat
Fasilitator menggali pemahaman peserta dengan mengajukan
pertanyaan-pertanyaan sbb:
o Untuk apa kita berteman dengan masyarakat?
o Siapa dari masyarakat jadi teman kita?
o Bagaimana cara berteman dengan masyarakat tanpa janji-janji?

20 menit

· Sesi Diskusi Kelompok
Fasilitator membagi peserta kedalam kelompok untuk mendiskusikan
pertanyaan-pertanyaan berikut:
o Siapa masyarakat? Kapan masyarakat
ada? Kenapa masyarakat bertahan dan
berkembang? Kegiatan apa saja yang
dilakukan masyarakat tanpa dukungan
dari pihak luar di desanya?
o Apa saja keunikan masyarakat desa anda
dibandingkan dengan masyarakat desa
lain?
o Potensi apa saja yang belum dan sudah
menjadi andalan masyarakat di desa
anda?
o Bagaimana potensi-potensi tersebut telah
dimanfaatkan?
o Apa saja kesulitan-kesulitan yang dihadapi saat mengembangkan
potensi-potensi tersebut?
40 menit




Halaman | 25

o Dan bagaimana masyarakat telah menjaga dan melestarikannya?

· Sesi Diskusi Pleno
 Fasilitator meminta tiap kelompok untuk mempresentasikan hasil
diskusi mereka dan ditanggapi oleh kelompok lain.

30 menit
 Fasilitator terus menggali pikiran peserta akan:
o Apa saja hak dan kewajiban yang dimiliki masyarakat dalam
hal pengelolaan potensi sumber daya alam dan potensi sumber
daya manusia?
o Apa saja aturan setempat dalam hal pengelolaan potensi yang
sedang berlaku?
o Apa bentuk tanggungjawab masyarakat bagi pengelolaan yang
baik bagi kepentingan orang banyak?

Penggalian pikiran-pikiran masyarakat ini baik bagi penonjolan hal
betapa pentingnya masyarakat didalam bekerja bersama atau
sebagai rekan kerja pihak luar dalam membangun desa tempat
tinggal masyarakat.


· Sesi Penegasan
Sesi ini ditutup dengan penegasan Fasilitator tentang bagaimana
membangun pertemanan dengan masyarakat dan membangun desa
tanpa dukungan dari pihak luar. Beberapa pertanyaan refleksi
dipertegas, diantaranya:
o Bagaimana sebaiknya pertemanan dengan masyarakat itu
dibangun?
o Bagaimana cara masyarakat bertahan tanpa pihak luar?
o Kapan Pemerintah/pihak luar masuk ke Desa?
30 menit

Pertanyaan Kunci
· Apa dasar sebuah pertemanan itu?
· Untuk apa pertemanan? Apakah kita biasanya membangun pertemanan untuk atau
dikarenakan adanya sebuah proyek?
· Dengan siapa orang yang tepat di desa bagi kita untuk membangun pertemanan?
· Bagaimana kita memperkenalkan diri kita kepada masyarakat.





Halaman | 26




Bahan Bacaan 1.3


MASYARAKAT MAMPU UNTUK MANDIRI


Siapa itu Masyarakat?
Masyarakat dalam kata bahasa Inggris disebut society. Asal katanya adalah socius, dari
bahasa Latin yang berarti kawan. Sedangkan kata masyarakat berasal dari kata bahasa
Arab yaitu syirk, yang artinya bergaul. Adanya pergaulan ini tentu karena ada bentuk-
bentuk aturan hidup, yang bukan disebabkan oleh manusia sebagai perseorangan tetapi
oleh unsur-unsur kekuatan lain dalam lingkungan sosial yang merupakan kesatuan (M.
Munandar Solaeman: 22). Masyarakat adalah sekelompok orang yang membentuk
sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka), dimana sebagian besar interaksi
adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Lebih abstraknya,
sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas.
Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama
lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu pada sekelompok orang
yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur. Sekelompok manusia dapat
dikatakan sebagai sebuah masyarakat apabila memiliki pemikiran, perasaan, serta
sistem aturan yang sama. Dengan kesamaan-kesamaan tersebut, manusia kemudian
berinteraksi dengan sesama mereka berdasarkan tujuan bersama.

Para ahli seperti MacIver dan J.P. Gillin sepakat bahwa adanya saling bergaul dan
interaksi ini karena ada nilai-nilai, norma-norma, cara-cara dan prosedur yang
merupakan kebutuhan bersama. Kebutuhan ini terpicu oleh sistem adat tertentu dan
terikat oleh suatu identitas bersama. Masyarakat (society) merupakan istilah yang
digunakan untuk menerangkan komuniti tinggal bersama-sama. Boleh juga dikatakan
masyarakat itu merupakan jaringan perhubungan antara pelbagai individu.

PKPM (Pengembangan Kemitraan untuk Pemberdayaan Masyarakat) merupakan suatu
proyek yang digagas Bappenas bekerja sama dengan JICA mendefinisikan masyarakat
sebagai sekelompok orang yang mempunyai tata kelola terhadap hak-hak bersama
(common properties) yang dimiliki (sumber daya alam, sumber daya manusia,
pengetahuan, dll) yang didasarkan pada aturan dan tanggung jawab.

Dengan demikian, masyarakat adalah suatu unit kehidupan sehari-hari, bukan semata-
mata sebuah unit produksi, unit analisis dan unit terapan (pendekatan yang terpadu satu
sama lain) bukan juga sebagai “elit-elit desa” atau “sekelompok orang terpilih”.

Dari Penerima Manfaat ke Mitra Kerja
Sekarang coba kita cermati apa yang terjadi dengan pendekatan bantuan untuk suatu
program pemberdayaan masyarakat yang sebenarnya tidak hanya dialami NTT tetapi




Halaman | 27

juga hampir semua pendekatan yang ada di Negara berkembang. Kazuhisa Matsui
menulis dalam jurnalnya tahun 2007 ”Membangun Kemandirian Daerah”
mengungkapkan gangguan dalam hal pendekatan bantuan, yaitu kecenderungan untuk
menyeragamkan penilaian dan berpikir bahwa desa juga harus menjadi seperti Kota jika
ingin maju. Kita juga acapkali berpikir bahwa hal-hal yang kuno dan tradisional harus
diganti yang baru. Digabung menjadi satu, kita juga selalu mencari apa yang kita tidak
punya tanpa melihat apa yang kita punya, atau kita selalu menganggap bahwa pihak
luar mempunyai hal-hal yang lebih baik daripada yang kita miliki. Kita selalu
menjelekkan diri sendiri sambil membandingkannya dengan pihak luar atau kita selalu
lebih percaya hal-hal yang ada di luar daripada yang ada di dalam.

Jika diperhatikan dengan seksama pendekatan bantuan yang ada sering bermotif
seperti kalau tidak mempunyai modal kita minta bantuan modal, bila kita tidak
mempunyai sumberdaya manusia yang berpendidikan tinggi maka solusinya minta
beasiswa dan pelatihan, bila kita tidak memiliki alat dan mesin maka minta bantuan
teknologi. Pendek kata “tidak ada di sini minta dari luar”, tapi apakah semua ini benar
dan efektif untuk keberlanjutan hidup masyarakat yang berkualitas?

Mungkin ada baiknya bercermin dari kehidupan masyarakat, jika kita berada dekat
dengan mereka, dapat kita amati tidak terhitung jumlah kasus dalam kehidupan mereka
yang mampu dipecahkan sendiri atas inisiatif yang datang dari mereka sendiri. Dengan
potensi yang mereka miliki, khazanah kultur dan kearifan lokal yang mereka hidupi,
persoalan-persoalan itu sanggup mereka atasi secara bijak. Ini berarti dari dalam dirinya
sendiri masyarakat sebenarnya mempunyai daya hidup (elan vital) yang memampukan
mereka untuk bertahan dan terus berkembang.

Dengan demikian, sebenarnya kehadiran kita sebagai “outsiders”, bukanlah obat
mujarab bagi persoalan masyarakat. Kita hanyalah setitik dari kekayaan masyarakat
yang berusaha mendampingi masyarakat sejauh dapat. Prinsipnya, kita tidak membawa
sesuatu yang baru dan asing dari luar komunitas, tetapi mulai dengan apa yang mereka
miliki. Toh, masyarakat sendirilah yang harus berjuang untuk mengembangkan
kehidupannya menjadi lebih baik.

Coba perhatikan, apa yang terjadi dengan kita sebagai pihak luar datang ke masyarakat
kemudian membagi masyarakat menjadi dua kelompok berbeda. Satu kelompok
sebagai sasaran bantuan dan satu kelompok yang tidak disentuh, yang selama ini
sebenarnya mereka adalah satu adanya saat dimana terjadi persoalan maka yang
memiliki kelebihan akan membantu yang mengalami kekurangan. Bila kita tidak berhati-
hati dengan pendekatan ini disitulah dosa besar kita sebagai pihak luar dimana peran
mereka untuk saling berbagi kita rampas dan pada satu ketika bila kelompok yang
mendapat bantuan mengalami persoalan, kemudian kelompok yang tidak disentuh
mengatakan ”ah, mereka itu sudah mendapat bantuan dari pihak luar dan itu urusan
pihak luar untuk membantu mereka bukan bagian dari kita lagi.” Jika sudah seperti itu,
maka mereka telah kehilangan apa yang disebut dengan ”people to people aid” atau
bantuan dari masyarakat terhadap masyarakat.

Belajar dari semua ini, mungkin sudah saatnya relasi kerja yang dibangun berangkat
pada titik bahwa masyarakat bukanlah penerima manfaat (beneficiaries) lagi, dan kita




Halaman | 28

bukanlah pemberi manfaat (benefactor) lagi, tetapi mitra masyarakat atau lebih tepat
lagi kita dan masyarakat adalah kawan seperjuangan.

Dari Fasilitator Proyek ke Fasilitator Masyarakat
Bercermin dari sini, seorang fasilitator haruslah bisa “berpikir” dan “berasa” secara sehat.
Proses berpikir dan berasa inilah yang kemudian mendasari bagaimana fasilitator
mendampingi masyarakat. Alur berpikir yang benar akan menimbulkan fasilitasi yang
benar. Sebaliknya, bila alur berpikir salah, fasilitasi yang diciptakan juga akan keliru.
Sensivitas rasa yang kurang diperhatikan dalam proses fasilitasi menjadikan masyarakat
sebagai tong sampah yang bisa menampung segala hal yang dibuat dan dikatakan
fasilitator. Padahal, masyarakat mempunyai rasa kolektif yang perlu dihargai karena
menjadi patokan kebenaran bagi mereka.

Dalam kamus bahasa Inggris, istilah fasilitator berasal dari dua kata yaitu ”facilis” yang
berarti ”to make easier” atau untuk membuat orang-orang lain yang berbeda bisa
dengan mudah mengerti. Dan ”ate”, yang berarti ”activate to action” atau melakukan
suatu kegiatan. Jadi fasilitator memiliki arti seorang yang dapat membuat mudah agar
sesuatu dapat dipahami dan dilakukan oleh orang lain yang berbeda. Dapat dicontohkan
sebagai berikut, dalam suatu kegiatan yang melibatkan anak-anak dan nenek-nenek,
seorang fasilitator berupaya memberikan pemahaman sedemikian rupa sehingga anak-
anak atau nenek-nenek dapat mengerti dan dapat melakukan apa yang fasilitator
jelaskan. Namun prakteknya amatlah sulit kita membedakan antara para fasilitator dan
para pakar yang membuat apa saja sukar. Banyak kasus dimana pada akhirnya
masyarakat tidak memahami bahkan masyarakat menjadi tergantung pada fasilitator.
Hal ketergantungan seperti inilah yang harus dihindari.

Ini berarti proses berpikir seorang fasilitator menjadi penting untuk dipahami?. Cara
berpikir fasilitator ibarat cara berpikir seorang dokter. Tujuan berpikir dari seorang dokter
adalah menyembuhkan penyakit yang artinya menghentikan sakit-penyakit yang sedang
diderita pasiennya. Sebelum dokter menyembuhkan penyakit, dengan sendirinya ia
harus menentukan penyakit apa yang ada pada pasien, yang dalam terminologi
kedokteran disebut melakukan diagnosis. Dalam melakukan diagnosis, sang dokter
akan membangun komunikasi dengan sang pasien. Ketepatan analisa dokter salah
satunya bergantung pada ketepatan informasi yang diberikan oleh sang pasien dan
adalah tugas sang dokter untuk selalu menggalinya dengan lebih mendalam. Setelah itu,
barulah sang dokter menetapkan rencana tindak medik. Seperti demikian seharusnya
seorang fasilitator bekerja. Sayang seribu sayang, sering kita perhatikan fasilitator yang
datang ke masyarakat telah terlebih dahulu membawa resep (rencana aksi) bahkan
ironisnya tidak sedikit yang sudah membawa obat (materi) yang belum tentu itu penyakit
(issue) masyarakat.

Beberapa catatan penting:
· Masyarakat sebenarnya memiliki kemampuan untuk ”membangun diri mereka
sendiri” dengan memecahkan persoalan mereka dan dapat menciptakan
kehidupannya oleh mereka sendiri. Masyarakat selama ini telah mampu melakukan
analisis masalah, menyusun rencana, melaksanakan, monitoring dan evaluasi suatu
kegiatan dengan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki maupun yang dari luar
serta dapat membangun kerjasama dengan orang luar. Pendek kata, sebenarnya
masyarakat dapat melakukan sendiri.




Halaman | 29

· Pada intinya, pendekatan Pemberdayaan Masyarakat adalah masyarakat di
dampingi oleh pihak luar untuk memecahkan masalahnya sendiri dengan
mengakses dan menggunakan sumber daya setempat. Dengan demikian,
pemecahan masalah dan pengembangannya berkelanjutan dan ketergantungan
masyarakat pada pihak-pihak dan bantuan dari luar dapat dikurangi. Disinilah
poin yang berkaitan dengan berbagi pengalaman, berbagi ketrampilan, dan berbagi
pengetahuan dalam rangkaian proses pemberdayaan masyarakat.
· Seringkali masyarakat mendapat bantuan dari pihak luar. Namun seringkali juga
bantuan tidak berlanjut dan setelah program selesai, manfaat dari bantuan tersebut
pun selesai. Untuk jangka pendek masalah dapat dipecahkan, tetapi untuk
jangka panjang tidak ada perbaikan berarti.
· Terlalu sering kita ke masyarakat tanpa pengetahuan dan ketrampilan yang
cukup mengenai masyarakat. Kita harus mempunyai pemahaman yang benar
mengenai apa dan siapa masyarakat sebelum ke masyarakat.
· Mengapa sebuah masyarakat menjadi penting? Masyarakat adalah sebuah unit
kehidupan sehari-hari, bukan semata-mata sebuah Unit Produksi, Unit Analisa,
dan Unit Terapan (pendekatan yang terpadu satu sama lain) bukan juga sebagai
“elit-elit desa” atau “sekelompok orang terpilih”.





Halaman | 30

Fasili
tator membantu
merumuskan hasil
curah pendapat
peserta.
Sub Bagian 1.4: Mendorong Peran Serta Perempuan dan Kaum yang
Terpinggirkan Lainnya dalam Pembangunan Desa.

Tujuan
· Peserta mampu untuk menjelaskan perbedaan dan persamaan laki-laki dan
perempuan.
· Peserta mampu untuk menjelaskan pengertian yang terpinggirkan dan siapa-
siapa yang termasuk dalam kelompok yang terpinggirkan.
· Peserta mampu menjelaskan bahwa laki-laki, perempuan, dan kelompok yang
terpinggirkan mempunyai kesempatan, tanggungjawab, dan tanggung-gugat
yang sama didalam proses pembangunan, termasuk hak untuk mengambil
keputusan dan memanfaatkan hasil-hasil pembangunan.
· Peserta mampu untuk menggali nilai-nilai dan pengalaman setempat yang
mendukung keterlibatan laki-laki dan perempuan dalam proses pembangunan.

Bahan dan Alat
Kertas coklat/bekas kalendar, Spidol dan perlengkapan tulis lainnya yang tersedia
sesuai kondisi di desa.

Waktu
150 menit

Langkah Kegiatan
· Sesi Curah Pendapat
Fasilitator meminta pendapat peserta tentang:
· Apa perbedaan dan persamaan laki-laki
dan perempuan?
· Manakah dari perbedaan tersebut yang
bersifat kodrati dan yang bersifat
bentukan masyarakat (konstruksi sosial)
yang dapat berubah-ubah sesuai waktu
dan tempat?
· Apa dampak yang dialami laki-laki dan
perempuan dalam kehidupan sehari-hari
terkait dengan perbedaan yang bersifat
bentukan masyarakat itu?
· Apa itu yang terpinggirkan? Siapa-siapa
yang termasuk dalam kelompok yang terpinggirkan?
· Bagaimana proses pengambilan keputusan di desa anda? Siapa-
siapa saja yang terlibat?
· Bagaimana keterwakilan kaum perempuan dan kaum yang
terpinggirkan dalam proses pengambilan keputusan tersebut?

30 menit





Halaman | 31

Lama
waktu diskusi ini
disesuaikan dengan
kondisi dan
disepakati bersama
peserta.
· Sesi Diskusi Kelompok
 Mintalah peserta berkelompok sesuai dengan asal desa masing-
masing.


 Masing-masing kelompok mendiskusikan
topik-topik yang telah disiapkan sebagai
berikut:
o Bagaimana peran laki-laki dan
perempuan dalam rumah tangga?
o Apa peran yang biasa diambil oleh
laki-laki dan perempuan dalam
kegiatan-kegiatan kemasyarakatan
dan pembangunan desa?
o Sebutkan dan jelaskan, apa-apa saja
program pembangunan desa saat ini
yang telah melibatkan kaum yang
terpinggirkan dan apa saja bentuk
keterlibatan mereka!

45 Menit
· Sesi Diskusi Pleno
 Fasilitator meminta tiap kelompok untuk mempresentasikan hasil
diskusi mereka dan ditanggapi oleh kelompok lain.

60 menit
 Fasilitator terus menggali pikiran peserta akan apa saja hak dan
kewajiban yang dimiliki masyarakat dalam hal pengelolaan
potensi sumber daya alam dan potensi sumber daya manusia.
Apa saja aturan setempat dalam pengelolaan potensi tersebut
yang sedang berlaku? Apa bentuk tanggungjawab masyarakat
bagi pengelolaan yang baik bagi kepentingan orang banyak?
Penggalian pikiran-pikiran masyarakat ini baik bagi penonjolan hal
betapa pentingnya masyarakat didalam bekerja bersama atau
sebagai rekan kerja pihak luar dalam membangun desa tempat
tinggal masyarakat.


· Sesi Penegasan
 Fasilitator menegaskan isi materi dengan menggunakan catatan-
catatan atau rangkuman yang telah dibuat selama proses.

15 menit
 Fasilitator memberi penegasan mengenai tujuan-tujuan yang
hendak dicapai dalam sub-bagian ini.






Halaman | 32

Pertanyaan Kunci
· Sebutkan dan jelaskan peran laki-laki yang sudah mulai dilakukan oleh kaum
perempuan! Sebutkan juga sebaliknya!
· Bagaimana kontrol dan evaluasi dilakukan terhadap pelaksanaan program-program
pembangunan di desa? Siapa-siapa saja yang melaksanakan kontrol dan evaluasi
tersebut?
· Pendekatan macam apa yang diterapkan guna memastikan bahwa perempuan dan
laki-laki sama terlibat dalam keputusan pembangunan di desa?
· Untuk apa perempuan terlibat, apa manfaat untuk semua pihak?
· Bagaimana memastikan bahwa laki-laki dan perempuan dapat berbagi
tanggungjawab untuk meningkatkan standar hidup keluarga dan masyarakat?




Halaman | 33




Bahan Bacaan 1.4

PARTISIPASI PEREMPUAN DALAM PEMBANGUNAN


P Pa ar rt ti is si ip pa as si i P Pe er re em mp pu ua an n d da al la am m P Pe em mb ba an ng gu un na an n d da ap pa at t d di ia ar rt ti ik ka an n s se eb ba ag ga ai i b be er ri ik ku ut t: :
- Turut serta dalam seluruh proses pembangunan, yakni, sejak perencanaan dan
penganggaran, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi.
- Turut aktif berperan serta dalam bidang-bidang kegiatan pembangunan pokok,
misalnya, kegiatan ekonomi, kegiatan pendidikan, kegiatan kesehatan, dsb.
- Terlibat secara aktif dalam pembuatan keputusan yang akan mempengaruhi
kehidupannya.
- Aktif mengembangkan diri dalam arti yang seluas-luasnya.
- Mendapatkn manfaat dari proses dan hasil pembangunan.

Mengapa partisipasi perempuan?
- Seperti laki-laki, perempuan juga memiliki hak untuk terlibat dalam pengaturan dan
pengelolaan semua aspek dalam kehidupan.
- Kemampuan dan kemauan perempuan adalah sumber potensial yang belum secara
penuh teroptimalkan bagi pembangunan.
- Partisipasi perempuan berkontribusi pada pemerataan dan keadilan bagi
pertumbuhan manusia secara keseluruhan.

Strategi pendekatan partisipasi perempuan:
- Menunggu dan mendengarkan dengan penuh perhatian.
- Mengobservasi dan mempelajari bersama
Perempuan.
- Menciptakan suasana dimana Perempuan dapat
menyatakan apa yang mereka rasakan sebagai
masalah.
- Mendorong agar Perempuan bersama-sama
merancang kegiatan untuk memecahkan masalah
mereka dan masalah komunitas.

Proses partisipasi perempuan dalam program:
- Proses konsultasi melibatkan perempuan agar cara pandang perempuan turut tergali
dan diperhitungkan.
- Perempuan memiliki kesempatan untuk menentukan prioritas
masalah/kebutuhannya.
- Perempuan memiliki kesempatan untuk mengorganisir diri, memonitor kemajuan
pelaksanaan program, dan menilai hasil-hasilnya.
- Perempuan memiliki kesempatan untuk menetapkan masalah baru yang perlu
diatasi.

Perubahan lebih merupakan “proses”
mengidentifikasi masalah daripada usaha
“pemecahan” masalah dan proses daur
ulang harus selalu terjadi.





Halaman | 34

H Ha am mb ba at ta an n- -h ha am mb ba at ta an n p pa ar rt ti is si ip pa as si i d di ip pi ih ha ak k p pe er re em mp pu ua an n d di is se eb ba ak ka an n o ol le eh h b be eb be er ra ap pa a f fa ak kt to or r: :
1. Kemiskinan struktural:
- Perempuan cenderung terpaksa mengikuti keinginan laki-laki.
- Perempuan juga tanpa disadari bersikap memperkuat posisi laki-laki.
- Perempuan terkadang merasa lebih aman bila diam.
- Laki-laki semakin kuat kedudukannya untuk:
o Menentukan – ditentukan
o Mengidentifikasi–diidentifikasi
o Memutuskan – diputuskan.

2. Sikap dan tindak tanduk perempuan dalam hidup bermasyarakat
- Banyak yang bersikap pasif dan tergantung sebagai dampak dari tuntutan
budaya dan lingkungan. Membiarkan yang pasif tetap pasif dan yang bergantung
tetap bergantung adalah membahayakan masa depan bangsa.
- Sikap mengelak diri dari masalah dan bukan menghadapinya karena
dikondisikan oleh lingkungan untuk selalu menjadi “orang belakang”.

Partisipasi perempuan dalam pembangunan, disamping sebagai hak dan sesuai prinsip
kemitrasejajaran, hakekatnya merupakan upaya mendasar agar semua unsur pelaku
dan pemanfaat pembangunan berpartisipasi dalam proses dan pengelolaan
pembangunan.




Halaman | 35

Fasili
tator membantu
merumuskan hasil
curah pendapat
peserta.
PERSIAPAN PELAKSANAAN MUSRENBANG
Sub Bagian 1.5: Pemahaman Dasar P3MD Plus

Tujuan
· Peserta dapat menjelaskan apa itu P3MD
· Peserta dapat membedakan P3MD dari P3MD plus.
· Peserta dapat menjelaskan kerangka panduan dan langkah-langkah P3MD Plus
untuk dipakai dalam musyawarah perencanaan pembangunan desa
(Musrenbangdes)

Bahan dan Alat
Kertas coklat/bekas kalendar, Spidol dan perlengkapan tulis lainnya yang
tersedia sesuai kondisi di desa.

Waktu
120 menit

Langkah Kegiatan
· Sesi Curah Pendapat
 Fasilitator memulai dengan curah
pendapat. Ajukanlah pertanyaan-
pertanyaan yang kurang lebih seperti
berikut ini:
o Apakah pernah mendengar istilah
P3MD?
o Apa kepanjangan dari P3MD?
o Apakah pernah menggunakan P3MD?
Jika, ya, kapan digunakan?
o Apa itu desa?
o Apa itu pembangunan?
o Apa itu perencanaan?
o Apa itu penganggaran?
o Apa itu partisipatif?

30 Menit
· Sesi Diskusi Kelompok
 Setelah curah pendapat, fasilitator meminta peserta
mendiskusikan dalam kelompok mengenai beberapa pertanyaan
sebagai berikut:
o Hal-hal apa saja yang menunjukkan bahwa perencanaan
pembangunan bisa dikatakan partisipatif? (paling sedikit lima
hal)
o Apa saja manfaat perencanaan partisipatif (paling sedikit lima
manfaat)
o Sebutkan tahapan-tahapan dalam P3MD yang diketahui?

30 Menit





Halaman | 36

· Sesi Diskusi Pleno
 Fasilitator meminta salah satu kelompok mempresentasikan hasil
diskusi kelompok mereka dan kelompok-kelompok lainnya
menanggapi dengan memanfaatkan hasil diskusi kelompok
mereka masing-masing.

30 Menit
· Sesi Penegasan
 Fasilitator memberikan penekanan berupa sesuatu yang masih
kurang dan kemudian bersama-sama menemukan “missing point”
dari pemahaman mengenai perencanaan partisipatif dan
manfaatnya dari P3MD.
30 Menit
 Pada sesi ini juga, fasilitator memberikan informasi tentang: Apa
perbedaan P3MD dan P3MD plus? Mengapa Plus dan Sejarah
Penyusunan Panduan P3MD Plus.

 Fasilitator kemudian menutup sesi ini dengan memberikan
penegasan akan kerangka atau tahapan dalam P3MD Plus.





Pertanyaan Kunci
· Apa itu P3MD?
· Apa manfaat dalam penerapan P3MD di Desa?
· Apa saja hambatan yang ditemui dalam penerapan P3MD?
· Apa beda P3MD dengan P3MD plus?
· Apa saja tahapan atau langkah-langkah penerapan P3MD Plus.
· Mengapa perlu pembahasan Penganggaran, Pelaksanaan, dan MONEV?


Langkah Alternatif
Debat Kampung menggunakan Topik “Perbedaaan P3MD dengan P3MD Plus”
· Skenario Debat harus diciptakan terlebih dahulu.





Halaman | 37




Bahan Bacaan 1.5


DARI P3MD KE P3MD PLUS


P3MD adalah singkatan dari Perencanaan Partisipatif Pembangunan Masyarakat Desa.
P3MD bersemangat untuk mendorong terciptanya masyarakat yang adalah Subyek
sekaligus sebagai Obyek pembangunan yang pada akhirnya dapat memecahkan
masalah mereka secara mandiri. Tetapi, sampai pada tingkatan tertentu masyarakat
tetap harus menyelesaikan masalah mereka bersama-sama dengan pemerintah.

P3MD Plus Penganggaran merupakan hasil dari upaya pengembangan partisipasi
masyarakat yang lebih luas lagi bagi terwujudnya Otonomi Desa dalam membangun.
Masyarakat merencanakan dan menganggarkan pembangunan desa secara bersama-
sama lewat wadah musyawarah untuk mufakat.

Maksud P3MD Plus: Agar penyusunan Rencana dan Anggaran Pembangunan Desa itu
dilakukan secara terbuka dan obyektif sesuai kebutuhan dan masalah pembangunan
masyarakat di Desa.

























Halaman | 38

Perbandingan Substansial P3MD dengan P3MD Plus:

Aspek P3MD Penekanan dalam P3MD
Plus
Singkatan

Perencanaan partisipatif
Pembangunan Masyarakat Desa
Perencanaan partisipatif
Pembangunan Masyarakat Desa
Plus Penganggaran
Tujuan

· Meningkatkan mutu
perencanaan pembangunan
di desa sesuai dengan
kebutuhan masyarakat dan
keadaan setempat.
· Menumbuhkan rasa memiliki
masyarakat terhadap
program/kegiatan
pembangunan yang di
Desanya sehingga lebih
bersungguh2 dan
bertanggungjawab.
· Menumbuhkan dan
mendorong peranserta
masyarakat dalam
pengelolaan pembangunan
yang telah disepakati
bersama.
· Menerapkan P3MD secara
konsisten di desa.
· Penganggaran
pembangunan desa yang
memanfaatkan ADD dan
dana pembangunan lainnya
yang dikelola desa.
· Desa memiliki kewenangan
dan keleluasaan
(kemandirian) didalam
merencanakan dan
menganggarkan kebutuhan
pembangunannya.
Formulir

Menggunakan 7 (tujuh) formulir Menggunakan 4 (empat) formulir
Prinsip

1. Terbuka
2. Selektif
3. Cermat
4. Proses berulang
5. Penggalian informasi
6. Pemeriksaan berulang

Selain prinsip-prinsip yang
sudah ada:
1. Mendorong keterlibatan
perempuan dan kaum yang
terpinggirkan.
2. Penekanan pada
pemenuhan hak dasar
3. Menumbuh-kembangkan
Kemandirian Desa.
4. Efisiensi dan efektivitas
penggunaan Anggaran Desa
dalam arti terarah, terukur,
dan terkendali.
Hasil

RPJMDesa yang dibuat tiap
tahun.
RPTDes
DURPDes

- RPJMDes yang dibuat satu
kali per lima tahun.
- RKPDes
- RKADes
- RAPBDes





Halaman | 39

Minta-
lah kelompok lain
untuk mengamati
saat peragaan
simulasi
“Musrenbang”
Sub Bagian 1.6: Membangun Strategi Penyelenggaraan
Musrenbangdus-Musrenbangdes secara Partisipatif

Tujuan
· Peserta memahami pengertian dan manfaat Musrenbang.
· Peserta mengetahui siapa saja pemeran utama dan yang diharapkan terlibat
dalam penyelenggaraan Musrenbangdus-des.
· Peserta mengetahui kapan tepatnya Musrenbangdus-des dilaksanakan sebagai
bagian dari Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.
· Peserta mengetahui apa-apa saja yang perlu disiapkan sebelum
Musrenbangdus-des dilaksanakan.
· Peserta mengetahui apa-apa yang dihasilkan dari pelaksanaan Musrenbangdus-
des.
· Peserta mampu dan terampil melaksanakan Musrenbangdus-des yang
partisipatif.

Bahan dan Alat
Kertas coklat/bekas kalendar, Spidol dan perlengkapan tulis lainnya yang
tersedia sesuai kondisi di desa.

Waktu
80 menit

Langkah-Langkah
· Sesi Simulasi dalam Kelompok
 Mintalah satu atau dua kelompok Peserta
mensimulasikan tentang proses
pelaksanaan Musrenbang berdasarkan
pengalaman di Desanya dengan
memperhatikan beberapa poin berikut:
o Siapa yang melaksanakan?
o Siapa saja yang hadir? Berapa
perbandingan kehadiran laki-laki dan
perempuan?
o Kapan?
o Dimana?
o Bagaimana tahapannya?
o Apa hasilnya?
o dll.

30 menit

Sesi Diskusi Pleno
 Setiap kelompok diminta mempresentasikan hasil diskusi
kelompoknya.
30 menit
 Fasilitator terus menggali pikiran peserta dengan pertanyaan-
pertanyaan kritis seperti berikut:
o Apakah ada proses yang terlupakan?
o Tahapan mana yang paling sulit?





Halaman | 40

o Apakah masih ada sesuatu yang mau ditambahkan?
 Fasilitator mencatat masukan-masukan dari hasil pengamatan
sebagai bahan untuk penegasan materi.



Sesi Penegasan
 Fasilitator bersama-sama peserta menemukan apa-apa yang
masih kurang dari pelaksanaan dan manfaat Musrenbangdus-
des.
20 menit
 Pada sesi ini juga, fasilitator terus menggali pikiran peserta lewat
pengajuan pertanyaan-pertanyan kritis terkait perencanaan,
partisipatif, pembangunan, dan desa. Semuanya itu untuk
memberikan penyadaran akan pentingnya Musrenbangdus-des.



Pertanyaan Kunci
 Apa itu Musrenbang dan mengapa perlu?
 Siapa pemeran utama Musrenbangdus-des?
 Siapa yang diharapkan hadir?
 Apa saja yang perlu disiapkan?
 Siapa buat apa?
 Bagaimana pelaksanaannya?
 Kapan dilaksanakan?
 Penyiapan Tempat?
 Bagaimana mengumumkan pelaksanaan Musrenbang kepada masyarakat?
 Penyiapan Fasilitator?
 Penyiapan Alat dan bahan?






Halaman | 41




Bahan Bacaan


PEMAHAMAN DASAR TENTANG P3MD, P3MD PLUS, MUSRENBANG, SERTA
PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN



Peraturan Perundang-undangan (PPu) utama tentang P3MD, P3MD Plus, Musrenbang,
serta Perencanaan dan Penganggaran adalah UU 25/2004 beserta petunjuk teknisnya
berupa SEB Meneg PPN/Kepala Bappenas dan Mendagri No. 0008/M.PPN/01/2007-
050/264A/SJ Th. 2007. Disamping itu, juga UU 32/2008 beserta PP 72/2005. Dalam
PDH tersebut, baik P3MD maupun P3MD Plus disebut dengan istilah Musyawarah
Perencanaan Pembangunan atau disingkat Musrenbang. (Perencanaan Partisipatif
Pembangunan Masyarakat Desa), P3MD Plus, dan Musrenbang.

P3MD atau Perencanaan Partisipatif Pembangunan Masyarakat Desa merupakan
metode perencanaan di tingkat desa dengan pendekatan partisipatif, yang telah
dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Pemberdayaan Masyarakat dan Desa,
Departemen Dalam Negeri sejak tahun 1995. Berdasarkan kajian Pemerintah Provinsi
NTT, metode ini perlu dilanjutkan dan diselaraskan dengan sejumlah PPu baru serta
pengalaman penerapan metode P3MD selama ini. Penyelarasan dimaksud terutama
berupa penyederhanaan instrumen, pemantapan penerapan metode, serta keterkaitan
dan konsistensi antara perencanaan dengan penganggaran yang dikaitkan dengan
adanya kebijakan ketersediaan dana khusus untuk desa berupa Alokasi Dana Desa
(ADD).


Sehubungan dengan penyelarasan, penyederhanaan, dan pemantapan penerapan
metode seperti disebutkan diatas, ditambah dengan mengaitkan perencanaan dengan
penganggaran pembangunan desa, kemudian disepakati bahwa metode ini disebut
Keterkaitan dan konsistensi perencanaan dengan penganggaran ini harus
menjadi hal yang pasti, kalau pemerintahan desa memperhatikan amanat pasal
153 UU 32/2004 dan demi pemerataan kesejahteraan warga, meskipun amanat
tersebut lebih ditujukan untuk perencanaan pembangunan daerah. Biarlah desa
memberi contoh kepada daerah dalam hal konsistensi perencanaan dan
penganggaran, walaupun baru sebatas dana yang bersumber dari ADD dan
swadaya warga desa saja. Mudah-mudahan hal ini dapat menyadarkan atau
LEBIH menyadarkan pemerintahan daerah (baca: pemerintah dan anggota
DPRD) untuk dapat memperhatikan peningkatan kesejahteraan serta jeritan
kelompok yang terpinggirkan, miskin, dan kaum perempun khususnya dan
masyarakat pedesaan umumnya.




Halaman | 42

P3MD Plus. Perlu dikemukakan bahwa istilah P3MD sebagai metode perencanaan
partisipatif lahir lima tahun sebelum hadirnya era otonomi saat itu, sehingga perlu
perjuangan tersendiri untuk mengawali prinsip partisipatif dalam perencanaan
pembangunan. Untuk itu, istilah P3MD baik untuk dipertahankan, walaupun tentu perlu
diselaraskan dan dimantapkan dalam penerapannya. Secara kebetulan, sejak awal
penerapannya, GTZ memberikan dukungan penuh dalam memfasilitasi dan melakukan
pendampingan, khususnya di Sumatera Barat, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Timur
semasa IDT, selanjutnya ke NTB dan NTT hingga sekarang.

P3MD Plus dirancang untuk digunakan sebagai metode atau cara memproses dan
memfasilitasi penyelenggaraan Musrenbang atau Musyawarah Perencanaan
Pembangunan seperti yang diamanatkan dalam UU 25/2004 dan untuk tingkat desa
diatur pelaksanaannya dalam SEB Kepala Bappenas-Mendagri Tahun 2007 seperti
tersebut diatas. Perlu dipahami bahwa SEB memang tidak mempunyai kekuatan hukum
yang mengikat, namun dari sisi isinya sangat bermanfaat sebagai pedoman
pelaksanaan di tingkat Desa dan Kelurahan.

Menurut tingkat administrasi pemerintahan, Musrenbang terdiri dari Musrenbang
Nasional, Provinsi, Kabupaten/Kota, (Kecamatan), dan Musrenbang Desa/Kelurahan.
Sedangkan menurut periode atau jangka waktunya, Musrenbang dibagi dalam tiga jenis,
yaitu: 1. Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) untuk periode 20 tahun;
Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) untuk periode lima tahun; dan
Rencana Kerja Pembangunan (RKP) untuk periode satu tahun.

Khusus untuk tingkat desa, ada Musrenbang Desa yang dibagi menjadi dua jenis
periode, yaitu: Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM Desa) untuk
periode lima tahun, dan Rencana Kerja Pembangunan Desa (RKPDesa) untuk periode
satu tahun.

Beberapa Diktum dalam PPu Terkait
Sebagai upaya untuk dapat lebih memahami peraturan perundang-undangan yang
terkait dengan P3MD, P3MD Plus, Musrenbang, serta Perencanaan dan Penganggaran,
beberapa ketentuan dapat disajikan dibawah ini
3
.

= Undang-Undang 25/2004
Ada delapan pengertian dan satu ketentuan yang tertuang dalam UU 25/2004
yang dapat bermanfaat bagi Fasilitator P3MD Plus, khususnya dalam rangka
pengembangan penyelenggaraan RPJMDes yang akan datang tetap dalam
kaitannya dengan perencanaan dan penganggaran.
1). Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan
yang tepat, melalui urutan pilihan, dengan memperhitungkan sumber daya
yang ada (pasal 1 ayat 1).
2). Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir
periode perencanaan (pasal 1 ayat 12).
3). Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan
untuk mewujudkan visi (pasal 1 ayat 13).

3
Pada sebagian penyajian, ditandai dengan “garis bawah” yang dimaksudkan untuk mempermudah arah
perhatian para Fasilitator P3MD Plus.




Halaman | 43

4). Strategi adalah langkah berisikan program-program indikatif untuk
mewujudkan visi dan misi (pasal 1 ayat 14).
5). Kebijakan adalah arah/tindakan yang diambil oleh Pemerintah Pusat/Daerah
untuk mencapai tujuan (pasal 1 ayat 15).
6). Program adalah instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang
dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga untuk mencapai sasaran atau
tujuan serta memperoleh alokasi anggaran atau kegiatan masyarakat yang
dikoordinasikan oleh instansi pemerintah (pasal 1 ayat 16).
7). Musyawarah Perencanaan Pembangunan yang selanjutnya disingkat
Musrenbang adalah forum antar pelaku dalam rangka menyusun rencana
pembangunan Nasional dan rencana pembangunan Daerah (ayat 17).
8). Pemangku kepentingan adalah pihak-pihak yang langsung atau tidak langsung
mendapatkan manfaat atau dampak dari perencanaan dan pelaksanaan
pembangunan daerah (ayat 18).
9). Perencanaan pembangunan didasarkan pada data dan informasi yang akurat
dan dapat dipertanggungjawabkan (pasal 152 ayat 1, juga tertuang dalam UU
25/2004 pasal 31 ayat 1).

= Undang-undang 32/2004
Satu-satunya aturan mengenai perencanaan dan penganggaran hanya ada di UU
32/2004, tertuang dalam pasal 153 yang mengamanatkan bahwa perencanaan
pembangunan disusun untuk menjamin keterkaitan dan konsistensi antara
perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan. Namun sayang
bahwa dalam penerapannya masih cukup banyak kendala, karena beda yang
menyusun rencana (pemerintah), lain yang memutuskan anggaran (DPRD/DPR).
Bahkan DPRD ibarat tidak mau tahu bahwa proses perencanaan telah disusun
dengan susah payah yang melibatkan berbagai unsur masyarakat dengan metode
jaringan aspirasi yang tidak mudah dan memakan waktu. Beruntung bahwa untuk
Desa sudah ada ADD, walaupun disana-sini masih ada yang belum memadai
pengaturan perhitungannya untuk setiap desa dan belum tepat tata cara
penggunaannya di tingkat desa.

Berikut ini disampaikan dua pasal terkait dari UU 32/2004.
1). Perencanaan pembangunanan daerah didasarkan pada data dan informasi
yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan (pasal 152 ayat 1).
2). Data dan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup:
a. penyelenggaraan pemerintahan daerah;
b. organisasi dan tata laksana pemerintahan daerah;
c. kepala daerah, DPRD, perangkat daerah, dan PNS daerah;
d. keuangan daerah;
e. potensi sumber daya daerah;
f. produk hukum daerah;
g. kependudukan;
h. informasi dasar kewilayahan; dan
i. informasi lain terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan daerah.
3). Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah, untuk tercapainya daya
guna dan hasil guna, pemanfaatan data dan informasi sebagaimana dimaksud
pada ayat (2) dikelola dalam sistem informasi daerah yang terintegrasi secara
nasional.




Halaman | 44


Penjelasan pasal 152 ayat 2 huruf b
Yang dimaksud dengan organisasi dan tata laksana dalam ketentuan ini
termasuk kecamatan, kelurahan, dan desa.

Perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud dalam pasal 152
disusun untuk menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan,
penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan (pasal 153)

= Peraturan Pemerintah 72/2005
Beberapa ketetapan yang perlu dipahami dari PP 72/2003, khususnya yang tekait
dengan Musrenbang adalah pasal 63-66 pada Bab VI tentang Perencanaan
Pembangunan Desa.
1). Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan desa disusun perencanaan
pembangunan desa sebagai satu kesatuan dalam sistem perencanaan
pembangunan daerah Kabupaten/Kota (pasal 63 ayat 1).
2). Perencanaan pembangunan desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
disusun secara partisipatif oleh pemerintahan desa sesuai dengan
kewenangannya (pasal 63 ayat 2).
3). Dalam menyusun perencanaan pembangunan desa sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) wajib melibatkan lembaga kemasyarakatan desa (pasal 63 ayat
3).
4). Perencanaan pembangunan desa sebagaimana dimaksud dalam pasal 63 ayat
(2) disusun secara berjangka dan meliputi (pasal 64 ayat 1):
o Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa yang selanjutnya disebut
RPJMDes untuk jangka waktu lima tahun (pasal 64 ayat 1 angka 1).
o Rencana Kerja Pembangunan Desa, selanjutnya disebut RKPDes,
merupakan penjabaran dari RPJMDes untuk jangka waktu 1 (satu) tahun
(pasal 64 ayat 2 angka 2).
5). RPJMDes sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a ditetapkan dengan
Peraturan Desa dan RKPDesa ditetapkan dalam Keputusan Kepala Desa
berpedoman pada Peraturan Daerah (pasal 64 ayat 2).
6). Perencanaan pembangunan desa sebagaimana dimaksud pada pasal 64 ayat
1 didasarkan pada data dan informasi yang akurat dan dapat di-pertanggung-
jawab-kan (pasal 65).
7). Data dan informasi sebagaimana dimaksud pada pasal 64 ayat 2 mencakup:
a. penyelenggaraan pemerintahan desa;
b. organisasi dan tata laksana pemerintahan desa;
c. keuangan desa;
d. profil desa;
e. informasi lain terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan desa dan
pemberdayaan masyarakat.
8). Ketentuan lebih lanjut mengenai tahapan, tata cara penyusunan,
pengendalian, dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan desa diatur
dengan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota (pasal 66).





Halaman | 45

= Surat Edaran Bersama Meneg PPN/Kepala Bappenas dan Mendagri
Yang disajikan dibawah ini seluruhnya diambil dari yang tertulis dalam SEB,
khususnya yang terkait dengan Musrenbang Desa/Kelurahan. SEB tersebut
merupakan Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Musrenbang Tahun 2007 (dapat
disingkat dengan „Juknis Musrenbang 2007‟). Didalamnya terdiri dari Juknis
Musrenbang Desa/Kelurahan-Kecamatan-Kabupaten/Kota sampai Musrenbang
Nasional (Musrenbangnas). SEB ini diedarkan ke seluruh Departemen dan
Lembaga Pemerintah Non-Departemen (LPND) di tingkat Pusat, Gubernur-
Bupati/Walikota, dan DPRD Provinsi-Kabupaten seluruh Indonesia.

SEB bukan perangkat hukum yang mempunyai kekuatan mengikat, namun
bermanfaat untuk menjadi pedoman dalam penyelenggaraan Musrenbangdes dan
bacaan terkait lainnya.

a. Pengertian
1) Musrenbang Desa/Kelurahan adalah forum musyawarah tahunan yang
dilaksanakan secara partisipatif oleh para pemangku kepentingan
(stakeholders) desa/kelurahan (pihak yang berkepentingan untuk
mengatasi permasalahan desa/kelurahan dan pihak yang akan terkena
dampak hasil musyawarah) untuk menyepakati rencana kegiatan tahun
anggaran berikutnya.
2) Musrenbang Desa/Kelurahan dilaksanakan dengan memperhatikan
rencana pembangunan jangka menengah desa/kelurahan, kinerja
implementasi rencana kegiatan tahun berjalan, serta masukan dari nara
sumber dan peserta yang mengggambarkan permasalahan nyata yang
sedang dihadapi.
3) Narasumber adalah pihak pemberi informasi yang perlu diketahui peserta
Musrenbang untuk proses pengambilan keputusan hasil Musrenbang.
4) Peserta adalah pihak yang memiliki hak pengambilan keputusan dalam
Musrenbang Desa/Kelurahan melalui pembahasan yang disepakati
bersama.
5) Hasil Musrenbang Desa terdiri dari:
a) Daftar Kegiatan Prioritas yang akan dilaksanakan sendiri oleh Desa
yang bersangkutan yang akan dibiayai dari Anggaran Pendapatan
dan Belanja Desa (APB-Desa), serta swadaya gotong-royong
masyarakat Desa;
b) Daftar Kegiatan Prioritas yang akan diusulkan ke Kecamatan untuk
dibiayai melalui APBD Kabupaten/Kota dan APBD Provinsi;
c) Daftar nama anggota Delegasi yang akan membahas hasil
Musrenbang Desa pada forum Musrenbang Kecamatan.

b. Tujuan
1) Menampung dan menetapkan kegiatan prioritas sesuai kebutuhan
masyarakat yang diperoleh dari musyawarah perencanaan pada
tingkat di bawahnya (Musyawarah Dusun/Kelompok).
2) Menetapkan kegiatan prioritas desa/kelurahan yang akan dibiayai
melalui Alokasi Dana Desa/Kelurahan yang berasal dari APBD
Kabupaten/Kota maupun sumber pendanaan lainnya.




Halaman | 46

3) Menetapkan kegiatan prioritas yang akan diajukan untuk dibahas pada
Forum Musrenbang Kecamatan (untuk dibiayai melalui APBD
Kabupaten/Kota atau APBD Provinsi).

c. Masukan
Hal-hal yang perlu disiapkan untuk penyelenggaraan Musrenbang Desa
adalah:

1) Dari Tingkat Desa:
a) Daftar Prioritas Masalah pada satuan wilayah di bawah Desa
(Dusun) dan kelompok-kelompok masyarakat, seperti kelompok
tani, kelompok nelayan, perempuan, pemuda dan kelompok
lainnya sesuai dengan kondisi setempat;
b) Daftar Permasalahan Desa, seperti peta kerawanan, kemiskinan,
dan pengangguran;
c) Daftar Masalah, dan Usulan Kegiatan Prioritas Desa/Kelurahan
hasil identifikasi pelaku program pembangunan di tingkat
desa/kelurahan yang dibiayai oleh hibah/bantuan Luar Negeri;
d) Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RJPM)
Desa;
e) Hasil evaluasi pelaksanaan kegiatan pembangunan desa/
kelurahan pada tahun sebelumnya.

2) Dari Kecamatan dan Kabupaten/Kota:
a) Kode Desa/Kelurahan (dua angka/digit) dan kode kecamatan
(dua angka/digit) yang dapat memudahkan Satuan Kerja
Perangkat Daerah (SKPD) dan Bappeda mengetahui
desa/kelurahan dan kecamatan yang mengusulkan kegiatan
prioritas;
b) Formulir yang memudahkan desa dan kelurahan untuk
menyampaikan daftar usulan kegiatan prioritas ke tingkat
kecamatan;
c) Hasil evaluasi pemerintah kabupaten/kota dan kecamatan atau
masyarakat terhadap perkembangan penggunaan Anggaran dan
Belanja Desa/Kelurahan tahun sebelumnya dan pendanaan
lainnya dalam membiayai program pembangunan
desa/kelurahan;
d) Informasi dari pemerintah kabupaten/kota tentang indikasi jumlah
Alokasi Dana Desa/Kelurahan, bagi hasil pajak daerah dan
rertibusi daerah kabupaten/kota, bantuan dari pemerintah,
pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota yang akan
diberikan kepada desa/kelurahan untuk tahun anggaran
berikutnya.





Halaman | 47

d. Mekanisme
Tahapan pelaksanaan Musrenbang Desa terdiri dari:
1) Tahap Persiapan:
a) Kepala Desa menetapkan Tim Fasilitator Musrenbang Desa yang
terdiri dari BPD dan aparat pemeintah desa lainnya. Tugas Tim
Fasilitator Musrenbang Desa adalah memfasilitasi pelaksanaan
Musrenbang Desa;
b) Masyarakat di tingkat dusun/rukun warga (RW) dan kelompok-
kelompok masyarakat (misalnya, kelompok tani, kelompok
nelayan, perempuan, pemuda dan lain-lain) melakukan
musyawarah. Keluaran dari musyawarah Dusun/RW/Kelompok
adalah:
Daftar masalah dan kebutuhan;
Gagasan dan atau usulan kegiatan prioritas masing-masing
Dusun/RW/Kelompok disesuaikan dengan kondisi setempat);
Wakil/Delegasi Dusun/RW/Kelompok yang akan hadir dalam
kegiatan Musrenbang Desa (jumlah wakil/delegasi masing-
masing Dusun/RW/Kelompok disesuaikan dengan kondisi
setempat).
c) Kepala Desa menetapkan Tim Penyelenggara Musrenbang Desa.
d) Tim Penyelenggara Musrenbang Desa melakukan hal-hal sebagai
berikut:
Menyusun jadwal dan agenda Musrenbang Desa;
Mengumumkan secara terbuka tentang jadwal, agenda, dan
tempat Musrenbang Desa minimal 7(tujuh) hari sebelum
kegiatan dilakukan agar peserta dapat melakukan pendaftaran
dan atau diundang;
Membuka pendaftaran dan atau mengundang calon peserta
Musrenbang Desa;
Menyiapkan tempat, peralatan, dan bahan/materi serta
notulen
4
untuk Musrenbang Desa.

2) Tahap Pelaksanaan:
a) Pendaftaran peserta.
b) Pemaparan Camat tentang Prioritas Kegiatan Pembangunan di
Kecamatan yang bersangkutan.
c) Pemaparan Camat atau masyarakat terhadap perkembangan
penggunaan Anggaran dan Belanja Desa tahun sebelumnya dan
pendanaan lainnya dalam membiayai Program Pembangunan
Desa, dengan memuat jumlah usulan yang dihasilkan pada forum
sejenis.
d) Pemaparan Kepala Desa/Lurah tentang prioritas kegiatan untuk
tahun berikutnya. Pemaparan ini bersumber dari dokumen
Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RJPM) Desa.
e) Penjelasan Kepala Desa tentang perkiraan jumlah Alokasi Dana
Desa yang dibutuhkan untuk tahun berikutnya.

4
Notulen adalah catatan hal-hal penting dan yang disepakati bersama oleh para peserta musyawarah.




Halaman | 48

f) Pemaparan masalah utama yang dihadapi masyarakat Desa oleh
beberapa perwakilan dari masyarakat misalnya: ketua kelompok
tani, komite sekolah, kepala dusun, dan lain-lain.
g) Pembahasan dan penetapan prioritas kegiatan (masukan:
kegiatan prioritas pembangunan tahun yang akan datang sesuai
dengan potensi serta permasalahan di Desa.
h) Pemisahan kegiatan berdasarkan: i) kegiatan yang akan
diselesaikan sendiri di tingkat Desa, dan; ii) kegiatan yang
menjadi tanggung jawab Satuan Kerja Perangkat Daerah yang
akan dibahas dalam Musrenbang Kecamatan.
i) Perumusan kriteria untuk menyusun kegiatan prioritas sebagai
metode untuk menyeleksi usulan kegiatan.
j) Pemilihan dan penetapan perwakilan masyarakat/delegasi Desa
(1-5 orang) untuk menghadiri Musrenbang Kecamatan. Delegasi
ini harus menyertakan perwakilan perempuan.
k) Penandatanganan Berita Acara Musrenbang Desa oleh
Lurah/Kepala Desa, Camat, Perwakilan Masyarakat dan BPD.


Catatan:
Dalam hal kondisi dokumen penunjang tidak lengkap atau
keterbatasan nara sumber, Musrenbang Desa tetap dilaksanakan,
agar prioritas dan kegiatan prioritas tahunan Desa dapat disusun
melalui Musrenbang Desa setempat. Semua kondisi ini dicatat
oleh notulen dalam Berita Acara Musrenbang Desa.


3) Keluaran:
a) Dokumen Rencana Kerja Pembangunan Desa yang berisi:
Prioritas Kegiatan Pembangunan Skala Desa yang akan
didanai oleh Alokasi Dana Desa dan atau swadaya;
Prioritas Kegiatan pembangunan yang akan dilaksanakan
melalui Satuan Kerja Perangkat Daerah yang dilengkapi
dengan kode Desa dan Kecamatan, dan akan dibahas pada
Forum Musrenbang Kecamatan.
b) Daftar nama delegasi untuk mengikuti Musrenbang Kecamatan.
c) Berita Acara Musrenbang Desa.

4) Peserta:
Peserta Musrenbang Desa adalah perwakilan komponen masyarakat
(individu atau kelompok) yang berada di Desa, seperti: Ketua RT/RW
Kepala Dusun, Tokoh Agama, Ketua Adat, Wakil Kelompok Perempuan,
Wakil Kelompok Pemuda, Organisasi Masyarakat, Pengusaha,
Kelompok Tani/Nelayan, Komite Sekolah dan lain-lain.

5) Narasumber:
Kepala Desa/Lurah, Ketua dan para Anggota Badan Perwakilan Desa
(BPD), Camat dan Aparat Kecamatan, Kepala Sekolah, Kepala




Halaman | 49

Puskesmas, pejabat instansi yang ada di desa atau kecamatan, dan
LSM yang bekerja di desa yang bersangkutan.

6) Tugas Tim Penyelenggara:
a) Menyusun jadwal dan agenda Musrenbang Desa.
b) Bersama-sama Tim Fasilitator Desa memfasilitasi dan memantau
pelaksanaan musyawarah dusun/RW, kelompok-kelompok
masyarakat yang kurang mampu, kelompok perempuan dan lain-
lain.
c) Membantu Tim Fasilitator Desa dalam memfasilitasi proses
musrenbang.
d) Mengumumkan secara terbuka tentang jadwal, agenda dan
tempat Musrenbang Desa.
e) Menyiapkan tempat, peralatan dan bahan/materi serta notulensi
pelaksanaan Musrenbang Desa.
f) Mendaftar calon peserta Musrenbang.
g) Membantu para delegasi Desa dalam menjalankan tugasnya di
Musrenbang di Kecamatan.
h) Menyusun Dokumen Rencana Kerja Pembangunan Desa.
i) Merangkum berita acara hasil Musrenbang Desa yang sekurang-
kurangnya memuat prioritas kegiatan yang disepakati dan daftar
nama delegasi yang akan mengikuti Musrenbang Kecamatan.
j) Menyebarluaskan Dokumen Rencana Kerja Pembangunan Desa.

7) Tugas Delegasi Desa
a) Membantu Tim Penyelenggara menyusun Dokumen Rencana
Kerja Pembangunan Desa.
b) Memaparkan Daftar Prioritas Kegiatan Pembangunan Desa pada
Forum Musrenbang Kecamatan.
c) Setelah memperoleh kepastian mengenai berbagai kegiatan
pembangunan yang akan dilaksanakan di desa/kelurahan serta
sumber pendanaannya (seperti: Alokasi Dana Desa maupun dari
sumber pendanaan lainnya), maka Tim Penyelenggara
Musrenbang dan Delegasi Desa membantu Kepala Desa/Lurah
mengumumkan program-program pembangunan yang akan
dilaksanakan dan mendorong masyarakat untuk melakukan
pemantauan terhadap pelaksanaan kegiatan-kegiatan tersebut.

Selanjutnya dalam rangka pelembagaan forum musyawarah
perencanaan yang diselenggarakan di semua tingkat pemerintahan,
Pemerintah Kabupaten dan Kota up. Bappeda Kabupaten/Kota, perlu
melakukan hal-hal sebagai berikut:
a) Bersama Badan/Kantor PMD Kabupaten/Kota memfasilitasi
penyelenggaraan Musrenbang Desa.
b) Bersama Badan/Kantor PMD Kabupaten/Kota memfasilitasi
penyelenggaraan Musrenbang Kecamatan.
c) Mengkoordinasikan seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah
(SKPD) Kabupaten/Kota, terutama dalam memfasilitasi
penyelenggaraan Forum Satuan Kerja Perangkat Daerah




Halaman | 50

Kabupaten/Kota (Forum SKPD Kabupaten/Kota) yang membahas
usulan program dan kegiatan yang diajukan dari tingkat
kecamatan, desa dan kelurahan.
d) Menyelenggarakan Musrenbang Kabupaten/Kota untuk
membahas rancangan Rencana Kerja Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota Tahun 2008.
e) Pembiayaan penyelenggaraan Musrenbang Desa, Musrenbang
Kecamatan, Forum SPKD Kabupaten/Kota dan Musrenbang
Kabupaten/Kota dibebankan pada APBD Kabupaten/Kota.




Halaman | 51

Bagian II
PANDUAN
PERENCANAAN


Tujuan Umum:
1. Membangun pemahaman bersama tentang aturan-aturan perencanaan dan
penganggaran yang berlaku
2. Mampu melakukan analisis potensi dan masalah bersama masyarakat
3. Mampu melakukan pemeringkatan masalah dan menemukan tindakan untuk
perencanaan bersama masyarakat.


Sub Bagian 2.1: Membangun Pemahaman Bersama Tentang Aturan-
aturan Perencanaan dan Penganggaran yang
Berlaku.

Tujuan
· Peserta tahu apa aturan-aturan yang mendasari penggunaan metode P3MD
Plus bagi penyelenggaraan Musrenbangdus-des.
· Peserta mampu menyebutkan peraturan perundang-undangan yang berkaitan
dengan perencanaan dan penganggaran.

Bahan dan Alat
Kertas Plano, Spidol dan ATK lainnya yang ada

Waktu Kegiatan
90 menit

Langkah Kegiatan

· Sesi Ceramah dan Tanya-jawab
 Narasumber menjelaskan kepada peserta mengenai peraturan
perundang-undangan yang berkaitan dengan Perencanaan dan
Penganggaran Pembangunan Desa, antara lain:
o UU No. 25/ 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional.
o UU No. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah.
o UU No. 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.
o PP No. 72 / 2005 tentang Desa.
o PP No. 79 / 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan
75 menit




Halaman | 52

Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah.
o Permendagri No. 32/2006 tentang Pedoman administrasi desa
o Permendagri No. 4 / 2007 tentang Pedoman Pengelolaan
Kekayaan Desa.
o Permendagri No. 37/2007 tentang Pedoman Pengelolaan
Kuangan Desa.
o Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 140/1841/SJ
Tahun 2006.
o Peraturan-peraturan Daerah yang dibuat terkait Perencanaan
dan Penganggaran Pembangunan Desa.
o Peraturan Desa yang dibuat Desa.
o Gambaran hubungan antar unsur pemerintah di setiap desa
dan peran masing masing unsur untuk penerapan aturan-
aturan perancanaan dan penganggaran.


· Sesi Penegasan
Sesi ini menutup sesi-sesi sebelumnya dengan rangkuman Fasilitator
berkaitan dengan materi yang disampaikan.
15 menit

Pertanyaan Kunci
· Bagaimana kaitan antara berbagai peraturan perundang-undangan yang
disebutkan dengan P3MD Plus?
· Bagaimana penerapan berbagai peraturan perundang-undangan tersebut di
Desa?
· Bagaimana keterkaitan peraturan perundang-undangan dengan pihak
pemerintahan dan lembaga kemasyarakatan di desa dalam menerapkan
UU/Peraturan?
· Apakah sudah ada peraturan desa yang mengatur perencanaan?






Halaman | 53




Bahan Bacaan 2.1


MEMAKNAI P3MD PLUS MENUJU OTONOMI DESA


P PE EN ND DA AH HU UL LU UA AN N

1. Pengantar
Kebijakan pelatihan, uji coba, dan pendampingan penerapan metode P3MD Plus
dan kebijakan mendayagunakan dana Alokasi Dana Desa (ADD), pada
hakekatnya merupakan komitmen Pemda NTT menuju terwujudnya Otonomi Desa
dengan Tata kepemerintahan yang Baik, di tingkat Daerah dan Desa. Ditandai
dengan keluarnya SK Gubernur No 242/KEP/HK/2007 tentang „Pembentukan Tim
Kerja Penyusunan Panduan Perencanaan dan Penganggaran Partisipatif di tingkat
Dusun, Desa, dan Kecamatan‟ (selanjutnya disebut „Tim Kerja‟), yang bertugas
menyusun Panduan P3MD Plus.

P3MD Plus merupakan proses partisipatif dan demokratis dalam melakukan
perencanaan pembangunan, khususnya di tingkat desa, sedangkan ADD
merupakan kebijakan nyata dalam proses penyejahteraan masyarakat. Perlu
diingat bahwa arah pemberian otonomi adalah untuk „mempercepat terwujudnya
kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan dan
peran serta masyarakat‟ yang diiringi dengan perwujudan „kehidupan
berdemokrasi‟ (baca penjelasan umum UU 32/2004 angka 1 huruf a alinea
pertama kalimat kedua dan ketiga; serta pasal 27 ayat 1 huruf d). Dalam kaitan ini
masyarakat, termasuk kaum perempuan, kelompok miskin dan kelompok
tertinggal lainnya, akan diajak dan dibiasakan untuk ikut merencanakan,
membahas, dan memutuskan apa yang akan dibangun bagi kepentingan mereka
sendiri, agar sesuai dengan kebutuhan, aspirasi dan sumber daya dan dana yang
ada.

Dengan datangnya era otonomi dan desentralisasi, yang biasa disebut juga era
reformasi, metode Perencanaan Partisipatif Pembangunan di tingkat Desa, seperti
halnya P3MD Plus, telah menghadirkan sejumlah peraturan dan dasar hukum
(PDH), di pusat dan daerah, termasuk di NTT. Di NTT antara lain ditandai dengan
terbitnya Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten tentang P3MD.

Memperhatikan dan mendukung komitmen tersebut diatas, dibawah ini akan
dikenalkan sebagian PDH serta beberapa kutipan ketetapan atau diktum-
diktumnya, untuk dapat lebih menambah pemahaman dan keterkaitannya antara
P3MD Plus, ADD, dan otonomi desa beserta tata kepemerintahan yang baik.
Harapannya agar dapat dipelajari secara bertahap oleh fasilitator P3MD Plus




Halaman | 54

khususnya dan pembaca pada umumnya, sesuai kesempatan dan kebutuhan
yang dirasakan.

Disamping itu, juga terpikir harapan dapat menjadi bahan sosialisasi atau
pemasyarakatan PDH sebagaimana diwajibkan oleh UU 10/2004 pasal 52 dan
penjelasannya. Pasal tersebut menetapkan bahwa Pemerintah Daerah wajib
memenyebarluaskan Peraturan Perundang-Undangan atau Peraturan Daerah
yang telah diundangkan. Selanjutnya merupakan hal yang sangat berarti apabila
Pemda di NTT berkenan menjadikan fasilitator P3MD Plus sebagai fasilitator yang
handal dan kompetitif, yang mampu menggunakan kapasitas metodologinya untuk
memfasilitasi diskusi atau pembahasan-pembahasan materi diluar isu P3MD Plus,
karena metode ini memungkinkan untuk itu. Kapasitas itu dapat tercapai
berdasarkan pengamatan bahwa rata-rata para fasilitator memiliki semangat tinggi
dalam penguasaan metodologi dan tentu saja penguasaan materinya, serta
dikelola oleh Tim Fasilitator yang dedikatif. Bahkan sangat jelas mereka mampu
berkompetisi misalnya dengan kapasitas fasilitator PNPM (Program Nasional
Pemberdayaan Masyarakat) yang dikelola oleh pusat, padahal sudah ada otonomi
daerah, dan daerah pasti mampu melaksanakan, kalau dikehendaki oleh pusat.
Alasan penyerahan ke daerah pun jelas, terutama efsisiensi, keberhasilan, dan
lebih terjaminnya keberlanjutan (sustainability) program.

Perlu dikemukakan bahwa para fasilitator P3MD Plus dapat menambahkan sendiri
berbagai peraturan dan dasar hukum yang terbit di daerah masing-masing.
Caranya antara lain dengan mencari informasi apakah sejumlah peraturan dari
pusat telah dituangkan dalam peraturan dan dasar hukum di tingkat Kabupaten,
seperti misalnya peraturan daerah (Perda), Peraturan Bupati (Perbup), Surat
Keputusan (SK) Bupati, mungkin juga Surat Edaran (SE) Bupati, atau lain-lain.
Sekiranya hal tersebut mampu dilakukan oleh mereka, maka bukan tidak mungkin
diantara mereka, secara keterpilihan (selektif) dapat ditingkatkan statusnya
menjadi fasilitator Otonomi Desa.

Selanjutnya perlu disampaikan bahwa pada sebagian kata dan kalimat dalam
uraian dibawah, diberi tanda garis bawah, sekedar untuk mempermudah arah
perhatian.

Tujuan Penulisan Bahan Bacaan Khusus
a. Tersedianya bahan bacaan tentang pemahaman dan kertekaitan antara
P3MD Plus, ADD, Otonomi Desa beserta Tata kepemerintahan yang Baik.
b. Terbantunya fasilitator P3MD Plus khususnya dan pembaca umumnya untuk
lebih memahami P3MD Plus, ADD, Otonomi Desa, beserta Tata
kepemerintahan Daerah dan Desa yang Baik.
c. Tersedianya referensi tambahan untuk sosialisasi, pemasyarakatan, atau
beberapa peraturan dan dasar hukum yang terkait dengan otonomi desa,
yang selama ini mungkin belum sempat dilakukan oleh pihak-pihak terkait
secara memadai.

2. Sistematika bahan bacaan khusus ini disusun sebagai berikut:
a. Pengantar.
b. Beberapa Peraturan dan Dasar Hukum




Halaman | 55

c. Pemahaman tentang P3MD, P3MD Plus, dan Musrenbang
d. Pemahaman tentang Otonomi Desa dan Tata Pemerinahan yang Baik.
e. Pemahaman Dasar tentang ADD
f. Kesimpulan dan Saran Umum
g. Penutup

B Be eb be er ra ap pa a P Pe er ra at tu ur ra an n d da an n D Da as sa ar r H Hu uk ku um m

1. Undang-Undang No. 25 Th. 2004 (UU 25/2004) tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional (SPPN).
2. UU 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah
3. UU 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan
Pemerintahan Daerah.
4. UU 10/2004 tentang Pembuatan Peraturan Perundang-Undangan (PPP).
5. UU 28/1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari
Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN).
6. Peraturan Pemerintah No. 8 Th. 2008 tentang Tahapan, Tata cara Penyusunan,
Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Pembangunan Daerah
7. PP No. 72 Th. 2005 (PP 72/2005) tentang Desa (sebagai salah satu petunjuk
pelaksanaan UU 32/2004).
8. PP 65/2001 tentang Pajak Daerah, khususnya pasal 78 ayat 1, 2, 3.
9. PP 66/2001 tentang Retribusi Daerah, khususnya pasal 15 ayat 1.
10. Peraturan Daerah Kabupaten Belu No. 8 Th. 2006 (Perda Belu 8/2006) tentang
Sumber Pandapatan Desa.
11. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 37 Th. 2007 (Permendagri 37/2007) tentang
Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa.
12. Surat Edaran Bersama Menteri Negara Perencanaan Pembangunan
Nasional/Kepala Bappenas dan Menteri Dalam Negeri No. 0008/M.PPN/01/2007-
050/264A/SJ (SEB Meneg PPN/Ketua Bappenas-Mendagri tentang Juknis
Musrenbang 2007 , sebagai petunjuk teknis UU 25/2004) tentang Petunjuk Teknis
Penyelenggaraan Musrenbang Tahun 2007.
13. Surat Edaran Mendagri No. 140/640/SJ Th. 2005 tertanggal 22 Maret 2007
tentang Pedoman Alokasi Dana Desa.
14. Surat Mendagri No. 140/161/SJ Th. 2007 tentang Pedoman Umum Pengelolaan
Keuangan Desa.






Halaman | 56



P Pe em ma ah ha am ma an n D Da as sa ar r t te en nt ta an ng g O Ot to on no om mi i D Da ae er ra ah h d da an n D De es sa a


1. Pengantar

Beberapa acuan utama dalam pembahasan ini adalah UU 32/2004 beserta PP
72/2005, UU 33/2004. Selanjutnya juga UU 10/2004 dan UU 28/1999 yang
diantaranya memberikan hak kepada masyarakat untuk ikut serta dalam
penyusunan kebijakan Pemerintah, khususnya yang menyangkut kepentingan
umum.

Dibawah ini akan disampaikan beberapa ketetapan yang dipandang perlu menjadi
pokok perhatian dari masing-masing acuan tersebut, termasuk kewajiban
pemerintah Desa.

2. Beberapa Kutipan dari UU 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah

a. Pengertian

Dari 23 pengertian sebagaimana tertuang dalam Ketentuan Umum pasal
1 UU 32/2004, ada 8 diantaranya yang sedikit banyak perlu menjadi
perhatian Fasilitator, yaitu:
1) Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah adalah Presiden
Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara
Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia (ayat 1)

2) Pemerintahan daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan
oleh pemerintah daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas
pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan
prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud
dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
(ayat 2).

3) Pemerintah daerah adalah Gubernur, Bupati, atau Walikota dan
perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah
(ayat 3).

4) Otonomi daerah adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah otonom
untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan
kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-
undangan (ayat 5).

5) Daerah otonom, selanjutnya disebut daerah, adalah kesatuan
masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang
berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan
kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri




Halaman | 57

berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan
Republik Indonesia (ayat 6).

6) Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh
Pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus
urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik
Indonesia (ayat 7).

7) Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang pemerintahan oleh
Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah dan/atau
kepada instansi vertikal di wilayah tertentu (ayat 8).

8) Tugas pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada daerah
dan/atau desa dari pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan/atau
desa serta dari pemerintah kabupaten/kota kepada desa untuk
melaksanakan tugas tertentu (ayat 9).

9) Peraturan daerah selanjutnya disebut Perda adalah peraturan daerah
provinsi dan/atau peraturan daerah kabupaten/kota (ayat 10).

10) Peraturan kepala daerah adalah peraturan Gubernur dan/atau peraturan
Bupati/Walikota (ayat 11).

11) Desa atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut desa,
adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah
yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan
masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat
yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan
Republik Indonesia (ayat 12).

b. Beberapa ketetapan lain

1) Arah dan prinsip pemberian otonomi adalah mempercepat terwujudnya
kesejahteraan masyarakat melalui peningkaan pelayanan,
pemberdayaan dan partisipasi masyarakat dengan selalu
memperhatikan kepentingan dan aspirasi yang tumbuh dalam
masyarakat (penjelasan butir 1.a alinea 1 dan 1.b alinea 3).

2) Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat
hukum adat beserta hak tradisionalnya dan sesuai dengan
perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik
Indonesia/NKRI (pasal 2 ayat 9).

3) Daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan untuk memberi
pelayanan, peningkatan peranserta, prakarsa, dan pemberdayaan
masyarakat yang bertujuan pada peningkaan kesejahteraan masyarakat
(penjelasan ayat 1 huruf b).





Halaman | 58

4) Daerah harus mampu memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan,
keadilan, keistimewaan dan kekhususan serta potensi dan
keanekaragaman daerah dalam sistem NKRI (penjelasan umum ayat 1
huruf a).

5) Pemerintah Daerah menjalankan otonomi dengan tujuan meningkatkan
kesejahteraan masyarakat, pelayanan umum, dan daya saing daerah
(pasal 2 ayat 3).

6) Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah mempunyai kewajiban (a.l.)
melaksanakan prinsip tata kepemerintahan yang bersih dan baik (pasal
27 huruf h).

7) Anggota DPRD mempunyai kewajiban (a.l.) melaksanakan kehidupan
demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah (pasal 45 ayat
b), memperjuangkan peningkatan kesejahteraan rakyat di daerah (ayat
d), menyerap, menampung, menghimpun, dan menindaklanjuti aspirasi
masyarakat (ayat e).

8) Perencanaan pembangunan didasarkan pada data dan informasi yang
akurat dan dapat dipertanggungjawabkan (pasal 152 ayat 1, juga
tertuang pada pasal 31 ayat 1).

9) Pemerintah desa terdiri atas kepala desa dan perangkat desa (pasal
202 ayat 1).

10) Perangkat desa terdiri dari sekretaris desa dan perangkat desa lainnya
(pasal 202 ayat 2).

11) Sekretaris desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diisi dari pegawai
negeri sipil yang memenuhi persyaratan (pasal 202 ayat 3).

12) Pemilihan kepala desa dalam kesatuan masyarakat hukum adat beserta
hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan yang diakui
keberadaannya berlaku ketentuan hukum adat setempat yang
ditetapkan dalam Perda dengan berpedoman pada Peraturan
Pemerintah (pasal 203 ayat 3).

13) Masa jabatan kepala desa adalah 6 (enam) tahun dan dapat dipilih
kembali hanya untuk 1 (satu) kali masa jabatan berikutnya (pasal 204).

14) Pengelolaan keuangan desa sebagaimana dimaksud pada pasal 212
ayat (2) dilakukan oleh kepala desa yang dituangkan dalam peraturan
desa tentang anggaran pendapatan dan belanja desa.

15) Landasan pemikiran dalam pengaturan mengenai desa adalah
keanekaragaman, partisipasi, otonomi asli, demokratisasi dan
pemberdayaan masyarakat. Undang-undang ini mengakui otonomi yang
dimiliki oleh desa. Sedang terhadap desa di luar desa geneologis yaitu




Halaman | 59

desa yang bersifat administratif seperti desa yang dibentuk karena
pemekaran desa ataupun karena transmigrasi ataupun karena alasan
lain yang warganya pluralistis, majemuk, ataupun heterogen, maka
otonomi desa akan diberikan kesempatan untuk tumbuh dan
berkembang (Disarikan dari penjelasan umum ayat 10 alinea 1 dan 2).

3. Beberapa Kutipan dari PP 8/2008 tentang Tahapan, Tatacara Penyusunan,
Pengendalian, dan Evaluasi Pelaksanaan Pembangunan Daerah.

a. Pengantar

PP 8/2008 merupakan peraturan lebih lanjut dari UU 32/2004 pasal 154 UU
32/2004. Beberapa kutipan disampaikan dibawah ini, diantaranya mengenai
pengertian dan istilah-istilah yang sering digunakan dalam pembicaraan
otonomi dan tata pemetintahan yang baik. Demikian juga tentang
Musrenbang Daerah, Musrenbang RKPD (Rencana Kerja Pemerintah
Daerah), dan tentang Forum konsultasi publik, yang semuanya menetapkan
pentingnya penjaringan aspirasi masyarakat dalam peroses perencanaan
pembangunan daerah.

b. Pengertian

Dari 19 pengertian yang tertuang pada pasal 1, ada 2 diantaranya yang baik
untuk diketahui, terutama mengenai keterlibatan masyarakat atau pemangku
kepentingan dalam proses dan arah pembangunan daerah.
1) Perencanaan Pembangunan Daerah adalah suatu proses penyusunan
tahapan-tahapan kegiatan yang melibatkan berbagai unsur pemangku
kepentingan didalamnya, guna pemanfaatan dan pengalokasian sumber
daya yang ada dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial dalam
suatu lingkungan wilayah/daerah dalam jangka waktu tertentu (Pasal 1
ayat 3).
2) Pemangku kepentingan adalah pihak-pihak yang langsung atau tidak
langsung mendapatkan manfaat atau dampak dari perencanaan dan
pelaksanaan pembangunan daerah (Penjelasan, pasal 1 ayat 17).

c. Beberapa ketetapan lain

1) Pasal 3
a) „Transparan‟ adalah membuka diri terhadap hak masyarakat untuk
memperoleh informasi yang benar, jujur dan tidak diskriminatir
tentang penyelenggaraan negara dengan tetap memperhatikan
perlindungan atas hak asasi pribadi, golongan, dan rahasia
negara.
b) „Responsif‟ adalah dapat mengatasi berbagai potensi, masalah,
dan perubahan yang terjadi di daerah.
c) „Efisien‟ adalah pencapaian keluaran tertentu dengan masukan
terencah atau masukan terencah dengan pengeluaran maksimal.
d) „Efektif‟ adalah kemampuan mencapai target dengan sumber daya
yang dimiliki dengan cara atau proses yang paling optimal.




Halaman | 60

e) „Akuntabel‟ adaalah setiap kegiatan dan hasil akhir dari
perencanaan pembangunan daerah harus dapat
dipertanggungjawabkan kepada masayarakat atau rakyat sebagai
p[emegang kedaultan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
f) Partisipatif‟ adalah merupakan hak masyarakat untuk terlibat
dalama setiao proses tahapan perencanaan pembangunan
daerah dan bersifat inklusif terhadap kelompok yang
termarginalkan melaui jalur khusus komunikasi untuk
mengakomodasi aspirasi kelompok masyarakat yang tidak
memiliki akses dalam pengambilan kebijakan.
g) „Terukur‟ adalah penetapan target kinerja yang akan dicapai dan
cara-cara untuk mencapainya.
h) „Berkeadilan‟ adalah prinsip keseimbangan antarwilayah, sektor,
pendapatan, gender, dan usia.

2) Yang dimaksud dengan „Musrenbang Daerah‟ adalah upaya penjaringan
masyarakat yang antara lain ditujukan mengakomodasi aspirasi
kelompok masyarakat yang ridak memiliki akses dalam pengambilan
kebijakan melalui jalur khusus komunikasi (Pasal 4 ayat 2 huruf a).

3) Musrenbang RKPD (Rencana Kerja Pemerintah Daerah)
kabupaten/kota dimulai dari Musrenbang desa atau sebutan
lain/kelurahan, kecamatan atau sebutan lain (Pasal 20 ayat 1).

4) Forum konsultasi publik merupakan wadah penampungan dan
penjaringan aspirasi masyarakat dan dunia usaha untuk
penyempurnaan rancangan kebijakan. Hal ini menujukkan sistem
perencanaan bawah-atas (bottom-up planning) berdasarkan asas
demokratisasi dan desentralisasi (Pasal 38 ayat 1).

4. Beberapa kutipan dari PP 72/2005 tentang Desa

a. Pengantar

PP 72 merupakan aturan lebih lanjut dari UU 32/2004 pasal 216 ayat 1
khusus yang terkait dengan desa. Didalamnya ada berbagai pengertian dan
ketetapan lain, termasuk diantaranya tentang pemerintahan, sumber
pendapatan dan kekayaan, serta perencanaan pembangunan desa.

b. Pengertian

Dari 16 pengertian sebagaimana tertuang dalam Ketentuan Umum pasal
1 PP 72/2005 ada 13 diantaranya yang sedikit banyak perlu menjadi
perhatian Fasilitator, yaitu:

1) Kecamatan adalah wilayah kerja camat sebagai perangkat daerah
kabupaten dan daerah kota.





Halaman | 61

2) Desa atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut desa,
adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah
yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan
masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat
yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan
Republik Indonesia (sama seperti pengertian pada UU 32/2004).

3) Pemerintahan Desa adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh
Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa dalam mengatur
dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul
dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem
Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

4) Pemerintah Desa atau yang disebut dengan nama lain adalah Kepala
Desa dan Perangkat Desa sebagai unsur penyelenggara pemerintahan
desa.

5) Badan Permusyawaratan Desa atau yang disebut dengan nama lain,
selanjutnya disingkat BPD, adalah lembaga yang merupakan
perwujudan demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan desa
sebagai unsur penyelenggara pemerintahan desa.

6) Lembaga Kemasyarakatan atau yang disebut dengan nama lain adalah
lembaga yang dibentuk oleh masyarakat sesuai dengan kebutuhan dan
merupakan mitra pemerintah desa dalam memberdayakan masyarakat.

7) Alokasi Dana Desa adalah dana yang dialokasikan oleh Pemerintah
Kabupaten/Kota untuk desa, yang bersumber dari bagian dana
perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh
Kabupaten/Kota.

8) Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa selanjutnya disingkat
APBDesa adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan desa yang
dibahas dan disetujui bersama oleh Pemerintah Desa dan BPD, yang
ditetapkan dengan Peraturan Desa.

9) Peraturan Daerah adalah Peraturan Daerah Provinsi dan Peraturan
Daerah Kabupaten/Kota.

10) Peraturan Desa adalah peraturan perundang-undangan yang dibuat
oleh BPD bersama Kepala Desa.
11) Pembinaan adalah pemberian pedoman, standar pelaksanaan,
perencanaan, penelitian, pengembangan, bimbingan, pendidikan dan
pelatihan, konsultasi, supervisi, monitoring, pengawasan umum dan
evaluasi pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan desa.

12) Menteri adalah Menteri Dalam Negeri.





Halaman | 62

c. Beberapa ketetapan lain

1) Perencanaan Pembangunan Desa

a) Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan desa disusun
perencanaan pembangungan desa sebagai satu kesatuan dalam
sistem perencanaan pembangunan daerah kabupaten/Kota (pasal
63 ayat 1).

b) Perencanaan pembangunan desa sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) disusun secara partisipatif oleh pemerintahan desa sesuai
dengan kewenangannya (pasal 63 ayat 2).

c) Dalam menyusun perencanaan pembangunan desa sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) wajib melibatkan lembaga
kemasyarakatan desa (pasal 63 ayat 3).

d) Perencanaan pembangunan desa sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 63 ayat (2) disusun secara berjangka meliputi (pasal 64
ayat 1):
· Rencana pembangunan jangka menengah desa yang
selanjutnya disebut RPJMD untuk jangka waktu 5 (lima) tahun
(pasal 64 ayat 1.a).
· Rencana kerja pembangunan desa, selanjutnya disebut RKP-
Desa, merupakan penjabaran dari RPJMD untuk jangka waktu
1 (satu) tahun (pasal 64 ayat 1.b).

e) RPJMD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a ditetapkan
dengan Peraturan Desa dan RKP-Desa ditetapkan dalam
Keputusan Kepala Desa berpedoman pada Peraturan Daerah
(asal 64 ayat 2)

f) Perencanaan pembangunan desa sebagaimana dimaksud pada
Pasal 64 ayat (1) didasarkan pada data dan informasi yang akurat
dan dapat dipertanggungjawabkan (pasal 65 ayat 1).

g) Data dan informasi sebagaimana dimaksud pada pasal 65 ayat 1)
mencakup:
· penyelenggaraan pemerintahan desa;
· organisasi dan tata laksana pemerintahan desa;
· keuangan desa;
· profil desa;
· informasi lain terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan
desa dan pemberdayaan masyarakat.

h) Ketentuan lebih lanjut mengenai tahapan, tata cara penyusunan,
pengendalian, dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan
desa diatur dengan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota (pasal 66).





Halaman | 63

2) Sumber pendapatan desa (pasal 68 ayat 1):

a) Sumber pendapatan desa terdiri atas:

· pendapatan asli desa, terdiri dari hasil usaha desa, hasil
kekayaan desa, hasil swadaya dan partisipasi, hasil gotong
royong, dan lain-lain pendapatan asli desa yang sah;
· bagi hasil pajak daerah Kabupaten/Kota paling sedikit 10%
(sepuluh per seratus) untuk desa dan dari retribusi
Kabupaten/Kota sebagian diperuntukkan bagi desa;
· bagian dari dana perimbangan keuangan pusat dan daerah
yang diterima oleh Kabupaten/Kota untuk Desa paling sedikit
10% (sepuluh per seratus), yang pembagiannya untuk setiap
Desa secara proporsional yang merupakan alokasi dana desa;
· bantuan keuangan dari Pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan
Pemerintah Kabupaten/Kota dalam rangka pelaksanaan
urusan pemerintahan;
· hibah dan sumbangan dari pihak ketiga yang tidak mengikat.

b) Bantuan keuangan dari Pemerintah, Pemerintah Provinsi, dan
Pemerintah Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud ayat (1)
huruf d disalurkan melalui kas desa.

c) Sumber pendapatan desa yang telah dimiliki dan dikelola oleh
desa tidak dibenarkan diambil alih oleh pemerintah atau
pemerintah daerah.

3) Kekayaan Desa

Kekayaan Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68 ayat (1) huruf a
terdiri atas:

a) tanah kas desa;
b) pasar desa;
c) pasar hewan;
d) tambatan perahu;
e) bangunan desa;
f) pelelangan ikan yang dikelola oleh desa; dan
g) lain-lain kekayaan milik desa.

4) Pemerintah dan Pemerintah Provinsi wajib membina penyelenggaraan
pemerintahan desa dan lembaga kemasyarakatan (pasal 98 ayat 1)

5) Pemerintah Kabupaten/Kota dan Camat wajib membina dan mengawasi
penyelenggaraan pemerintahan desa dan lembaga kemasyarakatan
(pasal 98 ayat 2).

6) Pembinaan Pemerintah (sebagaimana dimaksud dalam Pasal 98 ayat 1),
antara lain:




Halaman | 64


a) memberikan pedoman dan standar pelaksanaan urusan
pemerintahan desa dan lembaga kemasyarakatan;
b) memberikan pedoman tentang bantuan pembiayaan dari
pemerintah, pemerintah provinsi dan kabupaten/ kota kepada
desa;
c) memberikan pedoman pendidikan dan pelatihan;
d) memberikan pedoman penyusunan perencanaan pembangunan
partisipatif;
e) memberikan penghargaan atas prestasi yang dilaksanakan dalam
penyelenggaraan pemerintahan desa dan lembaga
kemasyarakatan;
f) menetapkan bantuan keuangan langsung kepada Desa;
g) melakukan pendidikan dan pelatihan tertentu kepada aparatur
pemerintah daerah yang bertugas membina Pemerintahan Desa;
h) melakukan upaya-upaya percepatan atau akselerasi
pembangunan perdesaan; dan
i) pembinaan lainnya yang diperlukan.

7) Pembinaan Pemerintah Provinsi (sebagaimana dimaksud dalam Pasal
98 ayat 1), antara lain:

a) menetapkan bantuan keuangan dari pemerintah provinsi;
b) memfasilitasi keberadaan kesatuan masyarakat hukum adat, nilai
adat istiadat, lembaga adat beserta hak-hak tradisionalnya dalam
pelaksanaan pemerintahan desa;
c) memberikan penghargaan atas prestasi penyelenggaraan
pemerintahan desa dan lembaga kemasyarakatan tingkat
provinsi; dan
d) melakukan upaya-upaya percepatan atau akselerasi
pembangunan perdesaan skala provinsi.

8) Pembinaan dan pengawasan Pemerintah Kabupaten/Kota
(sebagaimana dimaksud dalam Pasal 98 ayat 2), antara lain:

a) menetapkan pengaturan kewenangan kabupaten/kota yang
diserahkan pengaturannya kepada desa;
b) memberikan pedoman pelaksanaan tugas pembantuan dari
kabupaten/kota ke desa;
c) memberikan pedoman penyusunan peraturan desa dan peraturan
kepala desa;
d) memberikan pedoman teknis pelaksanaan dan pengembangan
lembaga kemasyarakatan;
e) memberikan pedoman penyusunan perencanaan pembangunan
partisipatif;

f) melakukan evaluasi dan pengawasan peraturan desa;
g) menetapkan pembiayaan alokasi dana perimbangan untuk desa;




Halaman | 65

h) mengawasi pengelolaan keuangan desa dan pendayagunaan
aset desa;
i) melakukan pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan
pemerintahan desa dan lembaga kemasyarakatan;
j) memfasilitasi keberadaan kesatuan masyarakat hukum adat, nilai
adat istiadat, lembaga adat beserta hak-hak tradisionalnya dalam
pelaksanaan pemerintahan desa;
k) menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan bagi pemerintah
desa dan lembaga kemasyarakatan;
l) memberikan penghargaan atas prestasi yang dilaksanakan dalam
penyelenggaraan pemerintahan desa dan lembaga
kemasyarakatan; dan
m) memberikan sanksi atas penyimpangan yang dilakukan oleh
kepala desa sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-
undangan;
n) melakukan upaya-upaya percepatan atau akselerasi
pembangunan perdesaan.

9) Pembinaan dan pengawasan Camat (seperti dimaksud dalam Pasal 98
ayat 2), anatara lain:

a) memfasilitasi penyusunan peraturan desa dan peraturan kepala
desa;
b) memfasilitasi pelaksanaan tugas kepala desa dan perangkat
desa;
c) memfasilitasi pelaksanaan tugas, fungsi, dan kewajiban lembaga
kemasyarakatan;
d) memfasilitasi penyusunan perencanaan pembangunan partisipatif;
e) memfasilitasi kerjasama antar desa dan kerjasama desa dengan
pihak ketiga;
f) memfasilitasi pelaksanaan pemberdayaan masyarakat desa.;
g) memfasilitasi kerjasama antar lembaga kemasyarakatan dan
kerjasama lembaga kemasyarakatan dengan pihak ketiga;
h) memfasilitasi bantuan teknis dan pendampingan kepada lembaga
kemasyarakatan; dan
i) memfasilitasi koordinasi unit kerja pemerintahan dalam
pengembangan lembaga kemasyarakatan.

5. Beberapa Kutipan dari UU 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan antara
Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah

a. Pengertian

Dari 34 pengertian sebagaimana tertuang dalam Ketentuan Umum pasal
1 UU 33/2004 ada 2 diantaranya yang sedikit banyak ada kaitannya
dengan desa, yaitu:

1) Tugas Pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada Daerah
dan/atau desa atau sebutan lain dengan kewajiban melaporkan dan




Halaman | 66

mempertanggung jawabkan pelaksanaannya kepada yang
menugaskan.

2) Dana Perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan
APBN yang dialokasikan kepada Daerah untuk mendanai kebutuhan
Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi.

b. Beberapa ketetapan lain

1) Keuangan Daerah dikelola secara tertib, taat pada peraturan
perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan
bertanggung jawab dengan memperhatikan keadilan, kepatutan, dan
manfaat untuk masyarakat (pasal 66 ayat 1);

2) Pemerintah menyelenggarakan Sistem Informasi Keuangan Daerah
secara nasional ( pasal 101 ayat 1);

3) Daerah menyelenggarakan Sistem Informasi Keuangan Daerah (pasal
102);

4) Informasi yang dimuat dalam Sistem Informasi Keuangan Daerah
merupakan data terbuka yang dapat diketahui, diakses, dan diperoleh
masyarakat (pasal 103);

5) Penyelenggaraan Sistem Informasi Keuangan Daerah sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 101, Pasal 102, dan Pasal 103, diatur lebih
lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

6. Beberapa kutipan dari UU 10/2004 tentang Pembuatan Peraturan Perundang-
Undangan (PPP)

Yang ingin diuraikan sekilas mengenai UU 10/2004, bahwa masyarakat
mempunyai hak untuk ikut serta dalam tata cara Pembuatan Peraturan
Perundang-Undangan ini, termasuk misalnya membuat Peraturan Desa atau
Perdes. Dibawah ini disampaikan 3 butir ketetapan yang menggambarkan hak-hak
itu, agar dapat menjadi wacana bagi masyarakat di perdesaan.

a. Pasal 53 menyatakan bahwa: Masyarakat berhak memberikan masukan
secara lisan atau tertulis dalam rapat penyiapan atau pembahasan
rancangan undang-undang dan rancangan peraturan daerah.

b. Pada pasal 52 menyatakan kewajiban bagi Pemerintah Pusat dan Daerah
untuk memenyebarluaskan Peraturan Perundang-Undangan atau Peraturan
Daerah yang telah diundangkan.

c. Dalam penjelasan pasal 52 dinyatakan bahwa "menyebarluaskan" dilakukan
misalnya, melalui media elektronik seperti TVRI dan RRI, stasiun daerah,
atau media cetak yang terbit di daerah yang bersangkutan. Sedangkan hak
masyarakat dilaksanakan sesuai dengan Peraturan Tata Tertib DPRD.




Halaman | 67


7. Beberapa Kutipan dari UU 28/1999 tentang Penyelenggara Negara yang
Bersih dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme

Pasal 3, 8, dan 9 menyatakan ada tujuh asas umum serta hak dan tanggung
jawab masyarakat untuk berpartisipasi mewujudkan penyelenggaraan negara
yang bersih dan bebas KKN. Dua asas umum diantaranya adalah transparansi
dan akuntabilitas, sedangkan hak masyarakat diantaranya adalah hak
memperoleh informasi, pelayanan yang adil, dan hak memperoleh perlindungan
hukum.














a. Pengertian

Dari 7 pengertian yang tertuang dalam Ketentuan Umum pasal 1 UU
28/1999 ini, ada 5 diantaranya yang sedikit banyak ada kaitan dan
mendukung perwujudan otonomi dan tata pemnerintahan yang baik di
tingkat desa., yaitu:

1) Penyelenggara Negara yang bersih adalah Penyelenggara Negara
yang menaati asas-asas umum penyelenggaraan negara dan bebas
dari praktek korupsi, kolusi, dan nepotisme, serta perbuatan tercela
lainnya.

2) Korupsi adalah tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ketentuan
peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang tindak pidana
korupsi.

3) Kolusi adalah permufakatan atau kerjasama secara melawan hukum
antar-Penyelenggara Negara atau antara Penyelenggara Negara dan
pihak lain yang merugikan orang lain, masyarakat dan atau negara.

4) Nepotisme adalah setiap perbuatan Penyelenggara Negara secara
melawan hukum yang menguntungkan kepentingan keluarganya dan
atau kroninya di atas kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara.

Asas umum penyelenggaraan negara meliputi: asas keterbukaan,
akuntabilitas, kepastian hukum, profesionalitas, kepentingan umum,
tertib penyelenggaraan negara, dan asas proporsionalitas (pasal 3).

Peranserta masyarakat diwujudkan dalam bentuk: (1). hak mencari,
memperoleh, dan memberikan informasi; (2). hak memperoleh pelayanan
yang sama dan adil; (3) hak menyampaikan saran dan pendapat secara
bertanggung jawab terhadap kebijakan Penyelenggara Negara, dan (4).
hak memperoleh perlindungan hukum atas pelaksanaan hak.





Halaman | 68

b. Beberapa ketetapan lain

Satu hal yang perlu diperhatikan dalam ketetapan undang-undang ini adalah
hak masyarakat untuk berperan serta atau berpartisipasi dalam proses
pembuatannya dalam rangka perwujudan Penyelenggara Negara yang
bersih. Diktum tersebut tertuang dalam pasal 8 dan 9.

1) Pasal 8

a) Peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan negara
merupakan hak dan tanggungjawab masyarakat untuk ikut
mewujudkan Penyelenggara Negara yang bersih.
b) Hubungan antara Penyelenggara Negara dan masyarakat
dilaksanakan dengan berpegang teguh pada asas-asas umum
penyelenggaraan negara sebagaimana dimaksud dalam pasal 3.
c) Peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan negara
merupakan hak dan tanggungjawab masyarakat untuk ikut
mewujudkan Penyelenggara Negara yang bersih.
d) Hubungan antara Penyelenggara Negara dan masyarakat
dilaksanakan dengan berpegang teguh pada asas-asas umum
penyelenggaraan negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3.


Catatan:
Pasal 3 berisi 6 asas umum penyelenggaraan negara, meliputi: 1.
Asas Kepastian Hukum; 2. Asas Tertib Penyelenggaraan Negara;
3. Asas Kepentingan Umum; 4. Asas Keterbukaan; 5. Asas
Proporsionalitas; 5. Asas Profesionalitas; dan 6. Asas
Akuntabilitas.


2) Pasal 9

a) Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8
diwujudkan dalam bentuk:
· hak mencari, memperoleh, dan memberikan informasi
tentang penyelenggaraan negara;
· hak untuk memperoleh pelayanan yang sama dan adil dari
Penyelenggara Negara;
· hak menyampaikan saran dan pendapat secara
bertanggungjawab terhadap kebijakan Penyelenggara
Negara; dan
· hak memperoleh perlindungan hukum dalam hal:
- Melaksanakan haknya sebagaimana dimaksud dalam
huruf a, b, dan c;
- Diminta hadir dalam proses Penyelidikan, penyidikan,
dan disidang pengadilan sebagai saksi pelapor, saksi,
atau saksi ahli, sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.




Halaman | 69


b) Hak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku
dan dengan menaati norma agama dan norma sosial lainnya.

c) Ketentuan mengenai tata cara pelaksanaan peran serta
masyarakat dalam penyelenggaraan negara sebagaimana
dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan
Pemerintah.

8. Tata kepemerintahan yang Baik di Indonesia

Dalam suatu Seminar Nasional Otonomi Indonesia pada tanggal 22-24 Oktober
2001 di Jakarta, telah disetujui 10 prinsip-prinsip tata kepemerintahan yang baik,
yang layak diterapkan di Indonesia. Seminar diselenggarakan oleh Departemen
Dalam Negeri (DEPDAGRI) bekerjasama dengan UNDP (Program Pembangunan
Perserikatan Bangsa-Bangsa), dihadiri diantaranya oleh unsur-unsur DEPDAGRI
dan sejumlah unsur pemerintah daerah beserta DPRD. Termasuk juga unsur-
unsur asosiasi pemerintah daerah dan DPRD, provinsi maupun kabupaten/kota.

Dengan prinsip-prinsip tata kepemerintahan yang baik, diharapkan dapat
meningkatkan mutu penyelenggaraan pemerintahan, lebih cepat menghasilkan
perubahan sikap dan kepedulian untuk maju. Percepatan perubahan sikap
tersebut, tentu saja terutama harus terjadi di tingkat kabupaten (dan kota), karena
titik berat otonomi daerah ada di tingkat itu.

Dari 10 prinsip tersebut, ada beberapa prinsip yang dapat diterapkan di tingkat
Desa, dalam rangka otomnomi desa serta keterkaitannya dengan penerapan
P3MD Plus dan ADD, yaitu prinsip 1: Partisipasi, 3: Transparansi, 4: Kesetaraan,
5: Daya tanggap, dan prinsip 7: Akuntabilitas. Selebihnya dapat diterapkan sesuai
dengan kepentingan dan aspirasi masyarakat berdasarkan permasalahan yang
muncul di tingkat desa. Sepuluh prinsip tersebut selengkapnya adalah:

Prinsip 1: Partisipasi
Mendorong setiap warga untuk mempergunakan hak dalam menyampaikan
pendapat dalam proses pengambilan keputusan, yang menyangkut kepentingan
masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Prinsip 2: Penegakan Hukum
Mewujudkan adanya penegakan hukum yang adil bagi semua pihak tanpa
pengecualian, menjunjung tinggi HAM dan memperhatikan nilai-nilai yang hidup di
masyarakat.

Prinsip 3: Transparansi
Menciptakan kepercayaan timbal balik antara pemerintah dan masyarakat melalui
penyedian informasi dan menjamin kemudahan didalam memperoleh informasi
yang akurat dan memadai.





Halaman | 70

Prinsip 4: Kesetaraan
Memberi peluang yang sama bagi setiap anggota masyarakat, baik itu laki-laki
maupun perempuan, untuk meningkatkan kesejahteraannya.

Prinsip 5: Daya Tanggap
Meningkatkan kepekaan para penyelenggara pemerintahan terhadap aspirasi
masyarakat, tanpa kecuali.

Prinsp 6: Wawasan Kedepan
Membangun daerah berdasarkan visi dan strategi yang jelas dan
mengikutsertakan warga dalam seluruh proses pembangunan, sehingga warga
merasa memiliki dan ikut bertanggung jawab terhadap kemajuan daerahnya.

Prinsip 7: Akuntabilitas
Meningkatkan akuntabilitas para pengambil keputusan dalam segala bidang yang
menyangkut kepentingan masyarakat luas.

Prinsip 8: Pengawasan
Meningkatakan upaya pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan dan
pembangunan dengan mengusahakan keterlibatan swasta dan masyarakat luas.

Prinsip 9: Efisiensi & Efektifitas
Menjamin terselenggaranya pelayanan kepada masyarakat dengan menggunakan
sumber daya yang tersedia secara optimal dan bertanggung jawab.

Prinsip 10: Profesionalisme
Meningkatkan kemampuan dan moral penyelenggara pemerintahan agar mampu
memberi pelayanan yang mudah, cepat, tepat dengan biaya yang terjangkau.






Halaman | 71

P Pe en nu ut tu up p
Buku Bacaan Khusus untuk fasilitator P3MD Plus ini tentu saja masih banyak
kekurangan dan kelemahannya. Oleh karena itu bagi yang berkenan memberikan saran,
komentar, bahkan kreksi konstruktif, sangat diharapkan, dan akan menjadi bahan
pertimbangan untuk penyempurnaan berikutnya agar bahan bacaan dapat lebih
bermanfaat.

Penulis memang ingin sekali fasilitator P3MD Plus bersama Tim Penyusun Panduan
P3MD Plus dapat menjadi kelompok atau forum atau apapun namanya, yang serba
guna bagi perwujudan otonomi daerah dan desa serta tata kepemerintahan yang baik di
NTT.




Halaman | 72

Sub Bagian 2.2: Analisis Potensi dan Masalah Bersama Masyarakat

Tujuan
· Peserta mengenal dan terampil melaksanakan langkah-langkah memfasilitasi 3
(tiga) alat kajian P3MD plus.
· Peserta mampu memetakan dan merumuskan potensi dan masalah.
· Peserta mampu melakukan analisis masalah dan penyebab.

Bahan dan Alat
Kertas Plano, Spidol dan ATK lainnya yang ada.

Waktu
120 menit

Langkah Kegiatan
· Sesi Curah Pendapat dan Simulasi
o Fasilitator menanyakan, apa yang peserta tahu tentang tiga alat kajian
(sketsa desa, kalender musim, dan bagan kelembagaan)?
o Fasilitator membantu peserta untuk mensimulasikan pembuatan sketsa desa,
kalender musim, dan bagan kelembagaan.
o Fasilitator mengarahkan peserta untuk mengenal lebih jauh manfaat dari tiga
alat kajian tersebut.

· Sesi Diskusi Kelompok
o Fasilitator mengelompokkan peserta berdasarkan desa-nya masing-masing.
o Masing-masing kelompok diminta untuk membuat sketsa desa dan
mengidentifikasi potensi dan masalahnya.
o Fasilitator dan co-fasilitator membantu peserta memetakan potensi dan
masalah yang telah diidentifikasi.

Catatan:
- Saat pemetaan potensi dan masalah dilakukan, fasilitator perlu
mengingatkan peserta akan pentingnya tiga bidang kebutuhan dasar,
yaitu: bidang Pendidikan, Kesehatan, dan Ekonomi.
- Tiga langkah diatas diulang untuk masing-masing kalender musim dan
bagan kelembagaan.

o Fasilitator meminta peserta untuk mengelompokkan potensi dan masalah
dari ketiga alat kajian.
o Peserta diminta untuk melakukan pemeringkatan masalah dengan
menggunakan formulir penentuan peringkat masalah (formulir F1).





Halaman | 73

· Sesi Penegasan
o Fasilitator memberi penegasan tentang keutamaan masing-masing alat
kajian dalam merumuskan masalah.
o Fasilitator pada sesi ini, harus bisa menunjukkan perbedaan tahapan untuk
merumuskan masalah P3MD dangan P3MD Plus.
o Fasilitator memberikan ilustrasi tentang cara kerja dokter dalam
mendiagnosa penyakit pasien sebelum memberi obat.

Pertanyaan Kunci
· Apa saja potensi dan masalah yang bisa diambil dari masing-masing alat kajian
P3MD Plus?
· Apa-apa saja tahapan dalam menggunakan masing-masing Alat Kajian?
· Mengapa sketsa desa dipakai sebagai alat pertama?
· Apa itu lembaga?
· Apa keutamaan alat-alat kajian P3MD Plus dalam merumuskan potensi dan
masalah?





Halaman | 74




Bahan Bacaan 2.2


PENGKAJIAN POTENSI DAN MASALAH


PENGKAJIAN MENGGUNAKAN SKETSA DESA

Tujuan
· Menyadarkan peserta tentang: jenis, jumlah, dan mutu sumber daya, serta cara,
bentuk dan tingkat penggunaan sumber daya
· Menggali masalah dan potensi
· Menyamakan pandangan tentang masalah yang dihadapi.

Apa yang Digambarkan pada Sketsa Desa?
· Sumber daya alam
· Sumber daya buatan
· Sumber daya manusia.

Cara Memfasilitasi
1. Jelaskan kepada peserta tentang:
o Apa itu sketsa desa?
o Apa tujuan mereka membuat sketsa desa?
o Apa-apa saja yang digambarkan didalam sketsa desa?
o Bagaimana langkah-langkah pembuatannya?
2. Berikan contoh-contoh tentang:
o Membuat simbol/tanda-tanda potensi serta menyepakatinya
o Cara meletakkan simbol/tanda pada tempat yang sesuai pada contoh sketsa.
3. Mulailah meminta peserta untuk menggambarkan sketsa desa yang diawali oleh
kelompok wanita dan selanjutnya dibahas dan dilengkapi oleh kelompok pria.
4. Amati cara para peserta menggambar dan menentukan simbol serta
meletakkannya.
5. Jika ada kemacetan dalam membuat sketsa desa, berikan saran atau
kemungkinan pemecahannya untuk disepakati bersama.
6. Doronglah peserta yang pasif untuk bergabung atau pancing dengan
pertanyaan-pertanyaan agar mereka tergerak untuk aktif berperan.
7. Jika gambar sudah selesai, tanyakan kepada peserta:
o Adakah yang kurang? Tentang apa?
o Adakah yang perlu diperbaiki?
o Apakah sketsa yang tergambar sudah cukup mampu menggambarkan
potensi-potensi dan masalah-masalah dalam desa?
8. Sepakati sketsa desa yang telah dipandang mampu menggambarkan situasi
desa.





Halaman | 75

Langkah-langkah Pembuatan Sketsa Sketsa
1) Sepakati media penggambaran sketsa desa (pada permukaan tanah, kertas, papan,
atau apa saja yang bisa digunakan).
2) Tentukan arah mata angin.
3) Tentukan jenis sumber daya yang ada di desa (sumber
daya alam, buatan dan manusia).
4) Sepakati simbol/tanda untuk menggambarkan tiap
sumber daya.
5) Gambarkan garis batas desa.
6) Letakkan simbol/tanda yang menggambarkan sumber
daya sesuai letaknya didalam wilayah desa.
7) Gambarkan lokasi jalan dan bangunan-bangunan publik,
seperti: gereja, sekolah, Puskesmas, pasar, dsb, untuk
memperjelas lokasi sebenarnya dari masing-masing
sumber daya.
8) Lengkapi sketsa jika ada yang kurang.

Menggali Potensi dan Masalah dari Sketsa Desa

Cara memfasilitasi:
1) Jelaskan dahulu cara-cara menggali masalah dan cara
membaca sketsa desa.
2) Berikan contoh atau peragakan cara menggali masalah.
3) Tanyakan kepada peserta, apakah sudah paham? Jika
belum paham, ulangi lagi dengan contoh yang lain.
4) Mulailah melakukan penggalian masalah yang
didasarkan pada titik awal yang telah disepakati.
5) Apabila masalah-masalah telah terdefinisikan, maka
tanyakan potensi apa yang diperlukan untuk mengatasi
masing-masing masalah.
6) Mintalah pendapat dari kelompok wanita baru kelompok
pria bagi tiap masalah.
7) Sempurnakan dan tegaskan jika ada pernyataan atau
perumusan potensi dan masalah yang kurang tepat.

Catatan:
Tuliskan masalah dan potensi yang ditemukan pada
potongan kartu plano ukuran 9.5 cm x 20 cm.



8) Siapkan Formulir 1 untuk Pengelompokkan dan Pemeringkatan Masalah.
9) Tempelkan kartu plano yang telah diisi masalah pada kolom masalah dan potensi
pada kolom potensi di Formulir 1.
10) Jika dipandang telah cukup, maka bangunlah kesepakatan dengan peserta akan
hasil yang telah dicantumkan dalam Formulir 1.

Pengalaman Memfasilitasi Sketsa Desa
saat Uji Coba Panduan:
 Fasilitator meminta peserta untuk
mensimulasikan alat kajian sketsa
desa sementara peserta lain
mengambil peran sebagai peserta
Musrenbangdes.
 Fasilitator merangsang dengan
pertanyaan-pertanyaan agar peserta
dan fasilitator mengingat kembali
prinsip-prinsip yang sudah dibangun
sebelumnya.
 Pertanyaan-pertanyan refleksi juga
diajukan selama sesi ini, misalnya:
bagaiamana menemukan masalah
melalui alat kajian ini , mengapa alat
kajian ini digunakan sebagai alat
pertama dalam P3MD Plus?.
 Setelah pemahaman dasar dapat
dipahami peserta, fasilitator
mendemonstrasikan bagaimana
memfasilitasi alat kajian P3MD
sebagai mana langkah-langkah dalam
bahan bacaan.
 Penegasan yang penting diberikan
bahwa alat kajian ini digunakan
sebagai alat untuk memberikan
kebanggan masyarakat terhadap
desanya bahwa mereka memiliki
potensi/kekayaan sumberdaya baik
itu manusia, lembaga, alam dan
buatan. Tahapan ini penting untuk
mendorong partisipasi masyarakat
dalam pembangunan di desanya.
 Sebagai akhir sesi ini, fasilitator
meminta peserta untuk
mensimulasikan di kelompoknya
masing masing sehingga peserta
lebih trampil memfasilitasi.




Halaman | 76

PENGKAJIAN MENGGUNAKAN KALENDER MUSIM

Tujuan
· Mengetahui masalah-masalah yang berhubungan dengan pemenuhan
kebutuhan dasar dan kesejahteraan.
· Untuk mengetahui masa-masa kritis.
· Untuk mengetahui pola kehidupan masyarakat di desa.

Cara Memfasilitasi
1. Jelaskan kepada peserta Musrenbangdes tentang:
o Tahap-tahap pembuatan kalender musim.
o Cara penggalian potensi dan masalah menggunakan kalender musim.
2. Buatlah tabel kalender musim yang masih kosong dan tempelkan pada lokasi
yang dapat dilihat jelas oleh semua peserta.
3. Beri contoh cara mengisi tabel kalender musim tersebut.
4. Bahas dan sepakati bersama akan simbol-simbol musim yang mengandung
potensi dan masalah yang akan dipakai, misalnya:
o Musim hujan atau musim kemarau. Pada bulan apa dimulai musim hujan dan
kapan berakhirnya. Pada bulan apa dimulai musim kemarau dan kapan
berakhirnya?
o Musim buah-buahan tertentu, seperti mangga, pisang, dsb.
o Musim panen tanaman pangan, seperti jagung, padi, ubi kayu, dsb.
o Musim panen tanaman kacang-kacangan, seperti kacang tanah, kacang
merah, kacang beras, dsb.
o Musim panen tanaman perkebunan, seperti, kelapa, kemiri, asam, dsb.
o Musim kelaparan – (bulan-bulan dimana makanan sangat susah didapat).
o Musim banjir.
o Musim kering – (bulan-bulan dimana air sangat susah didapat).
o dll.
5. Mintalah peserta untuk menyepakati bulan apa yang menjadi awal pembahasan
potensi dan masalah berdasarkan musim selama satu tahun kehidupan.
Misalnya, bulan Agustus sebagai awal musim kekurangan air. Contoh satu tahun
periode adalah Agustus 2008 hingga Juli 2009.

Agustus 2008 September 2008
.........dst hingga
Juli 2009


Contoh simbol kritis
*** sangat kritis
** cukup kritis
* tidak kritis

6. Pisahkan para perempuan dari laki-laki pada dua tempat terpisah.
7. Mintalah kepada peserta perempuan dan laki-laki untuk membahas tentang:
o Hal apa saja yang terjadi dalam kehidupan masyarakat desa selama satu
tahun?
o Apa saja masalah kebutuhan dasar manusia yang berkaitan dengan musim
kemarau dan hujan?
o Kegiatan apa saja yang dilakukan masyarakat pada musim-musim tersebut?




Halaman | 77

8. Catat dan tuliskan di kertas plano pendapat dari peserta wanita dan pria serta
tempelkan pada kolom masalah/keadaan/kegiatan pada gambar kalender musim.
9. Ajaklah peserta untuk memberi nilai pada musim masalah/keadaan/kegiatan
yang didasarkan pada frekwensi dan kekuatan dampak. Sesuai dengan sifat
musim yang tercantum, jika sifatnya merugikan penduduk, maka semakin besar
nilai yang diberikan, semakin gawat gambaran kondisi musim yang bersangkutan.
Sebaliknya, apabila sifat musimnya adalah menguntungkan penduduk, maka
semakin besar nilai yang diberikan, semakin baik gambaran kondisi musim yang
bersangkutan.
10. Jika gambar kalender musim telah dianggap selesai, maka periksa kembali untuk
disepakati bersama para peserta Musrenbangdes.


Penggalian Potensi dan Masalah Kalender Musim

Cara Memfasilitasi
1) Ajaklah peserta musyawarah untuk memperhatikan
kelender musim yang telah diisi.
2) Mulailah menggali pemikiran peserta akan permasalahan
yang terkandung dalam:
o Masalah-masalah yang mendapatkan nilai tertinggi
dari setiap keadaan atau kegiatan yang tercantum
dalam tabel.
Bahaslah bersama-sama mereka dan gunakan
pertanyaan-pertanyaan pancingan yang kurang lebih
seperti berikut:
o Bagaimana situasi kehidupan anda pada musim
……………. yang berlangsung dari bulan…….hingga
bulan………? (gunakan informasi yang terkandung
dalam tabel Kalender Musim untuk mengetahui
periode musim kemarau-nya)
o Apa saja dampak terburuk yang dialami?
3) Catatlah jawaban yang dikemukakan para peserta dan
bahaslah dengan peserta yang lain untuk dibuatkan
rumusan masalahnya.
4) Luangkan waktu secara khusus untuk menggali
pemikiran kaum perempuan yang hadir dalam pertemuan.
5) Bagi kepentingan mengatasi rumusan permasalahan
yang telah mengemuka, maka tanyakan pula potensi apa
saja yang ada di desa yang dapat digunakan untuk
memecahkan masalah terkait. Gunakan pertanyaan-
pertanyaan pancingan seperti berikut:
o Apa saja yang saat itu anda lakukan untuk
mengurangi akibat dari dampak musim yang
bersangkutan?
o Apa saja dari lingkungan sekitar tempat tinggal anda
atau desa anda yang saat itu anda manfaatkan untuk
mengatasi masalah dalam musim tersebut?
Pengalaman Memfasilitasi Kalender
Musim saat Uji Coba Panduan:
 Fasilitator meminta salah satu peserta
untuk memfasilitasi memfasilitasi alat
kajian ini.
 Pengalaman sesi ini, biasanya ada
bagian yang dilupakan fasilitator
selama memfasilitasi alat ini, untuk itu
Fasilitator bisa saja membantu agar
fasilitator mengingat kembali
tahapannya. Termasuk mengingatkan
kembali akan musim-musim apa saja
yang terjadi di desa.
 Setelah melakukan simulasi, fasilitator
menanyakan kepada peserta ”Apa
langkah selanjutnya yang perlu kita
buat?” Biasanya peserta mengatakan
kita akan menemukan masalah,
kemudian Fasilitator menanyakan
bagaimana menemukan masalah
dengan alat kajian ini.
 Pengalaman memfasilitasi sesi ini
biasanya fasilitator menemukan
masalah tetapi tidak datang dari alat
kajian ini. Untuk itu Fasilitator perlu
untuk selalu dalam satu periode
waktu tertentu mendemonstrasikan
bagaimana menemukan masalah dari
alat kajian ini.
 Sesi akhir, Fasilitator meminta
peserta untuk melatih teknik-teknik
memfasilitasi pengkajian potensi dan
masalah menggunakan alat Kalender
Musim dikelompoknya masing-
masing.




Halaman | 78

6) Catatlah tiap jawaban yang dikemukakan pada media papan tulis yang tersedia dan
tanyakan pada peserta yang lain, apakah mereka setuju dengan yang telah
dikemukakan atau tidak. Jika mereka tidak setuju, tanyakan apa saja alternatif
jawaban yang dapat mereka kemukakan dan catat juga di papan. Lingkarilah
jawaban mana yang selanjutnya disepakati agar perhatian peserta tertuju pada apa
yang telah disepakati tersebut.

Catatan:
Tuliskan setiap jawaban masalah maupun potensi yang telah disepakati pada kertas
plano ukuran 9.5 cm x 20 cm.


7) Siapkan Formulir 1 untuk Pengelompokkan dan Pemeringkatan Masalah.
8) Tempelkan kartu plano yang telah diisi masalah pada kolom masalah dan potensi
pada kolom potensi di Formulir 1.
9) Jika dipandang telah cukup, maka bangunlah kesepakatan dengan peserta akan
hasil yang telah dicantumkan dalam Formulir 1.






Halaman | 79

PENGKAJIAN MENGGUNAKAN BAGAN KELEMBAGAAN

Tujuan
Untuk menggali potensi dan masalah di desa yang berhubungan dengan peran dan
manfaat yang diberikan oleh ragam lembaga di desa bagi masyarakat desa yang
bersangkutan.

Cara memfasilitasi

Mendaftar Lembaga di Desa
1. Terangkan kepada peserta tentang apa itu lembaga
dan beri contoh yang relevan.
2. Bagikan potongan kertas (9.5 cm x 20 cm) kepada
seluruh peserta.
3. Sesuai dengan pengertian yang baru mereka didapat,
mintalah kepada peserta untuk menuliskan nama
lembaga apa saja yang mereka kenal di desa.
4. Ajak para peserta untuk menempelkan pendapat
mereka di papan yang telah tersedia di depan.
5. Kelompokkan lembaga mana yang sama, sehingga
diperoleh beberapa kelompok nama lembaga.

Catatan:
Ajaklah peserta untuk selalu mencocokkan
keberadaan lembaga yang berkaitan erat dengan
pengelolaan Sumber Daya Alam yang mereka
sampaikan dengan gambaran yang telah ada pada
Sketsa Desa. Misalnya, lembaga Kelompok Tani.
Apabila pada sketsa desa tidak tergambarkan lokasi
pertanian desa, maka kesempatan ini dapat
digunakan untuk baik itu konfirmasi gambar pada
sketsa desa maupun keberadaan kelompok tani
tersebut. Sehingga, pada akhirnya, apa yang
tercantum dalam sketsa desa sejalan dengan apa
yang dikemukakan pada bagian Bagan Kelembagaan
ini.


6. Pilihlah mana diantara lembaga-lembaga tersebut
yang dipandang sebagai “kunci” dalam pembangunan
desa.
7. Singkirkan lembaga-lembaga yang telah disepakati
sebagai yang bukan lembaga “kunci” dari papan,
sehingga yang nampak didepan hanyalah lembaga-
lembaga “kunci” dalam pembangunan desa.
8. Sepakati hasilnya untuk pembahasan selanjutnya.


Lembaga adalah suatu wadah pengelolaan
bersama yang memiliki tujuan tertentu
untuk dipenuhi. Dan merupakan komponen
sosial yang jelas pemisahannya dari
lingkungan sosial di sekitarnya.

Untuk menjamin penyelenggaraan lembaga
yang selalu berdasarkan kesepakatan
bersama, maka suatu lembaga wajib untuk
memiliki sederetan aturan. Contoh,
Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah
Tangga (AD/ART)

Untuk memenuhi tujuan lembaga,
diperlukan langkah-langkah pengelolaan
yang meliputi Perencanaan-
penganggaran, Pembagian Tanggung-
jawab, Penugasan, Pengarahan, dan
Pengontrolan jalannya lembaga.

Pengontrolan mengandung makna
pengawasan rutin dan evaluasi rutin.

Kinerja lembaga diawasi secara mandiri
berdasarkan ragam masukan baik itu dari
dalam lembaga sendiri maupun dari luar
lembaga yang selalu berinteraksi dengan
lembaga yang bersangkutan.

Lembaga formal adalah lembaga yang
mempunyai dasar hukum (SK/AD/ART).
Contoh-contoh lembaga formal adalah
Pemerintah Desa, BPD, LPM, RT/RW,
PKK, Puskesmas, Pustu, Polindes,
Posyandu, Kelompok Tani, dll.

Lembaga non formal adalah suatu lembaga
yang ada di masyarakat yang mempunyai
tujuan bersama, tetapi belum atau tidak
memiliki dasar hukum (SK/AD/ART).
Beberapa contoh lembaga non-formal
adalah: Kelompok Doa, Kelompok Arisan,
Kelompok Simpan-pinjam, Kader
Pembangunan Desa, Kelompok Pemuda
Gereja, dll.





Halaman | 80

Membuat Bagan Kelembagaan
1) Terangkan kepada peserta tentang:
o Cara membuat bagan kelembagaan
o Cara menentukan manfaat lembaga bagi
masyarakat
o Cara menentukan hubungan (jarak) lembaga
dengan masyarakat.
2) Peragakan kepada peserta tentang cara menentukan
ukuran bidang/bulatan kertas dan cara meletakkan
lingkaran (jarak antara masyarakat) dengan lembaga
tersebut.
3) Ajaklah peserta untuk mulai membuat bagan
kelembagaan. Bisa di lantai, tanah, atau kertas di
dinding.
4) Berikan saran, pelurusan dan alternatif
pemecahannya jika terjadi kemacetan dalam
pembuatan bagan kelembagaan.
5) Jika gambar telah selesai ajaklah peserta membahas
tentang:
o Ketetapan dalam menentukan ukuran lingkaran
o Ketetapan perbandingan pria dan wanita dalam
lembaga itu
o Ketetapan dalam penempatan bidang/ lembaga
yang menggambarkan hubungan dengan
masyarakat.
Jika dirasakan ada yang kurang tepat, fasilitator dapat
memberikan saran perubahan.










o Bahaslah lembaga kunci yang terpilih untuk menentukan manfaat yang ditandai
dengan bulatan besar, sedang, dan kecil.
o Tulislah nama lembaganya pada bidang/bulatan kertas yang telah disepakati
sesuai besar/kecil-nya bulatan.
o Bahaslah ”hubungan” dari masing-masing lembaga yang telah ditulis pada
lingkaran kertas untuk menentukan jarak dengan bulatan/bidang yang
menggambarkan masyarakat.
o Buatlah gambar bagan kelembagaan:
- Buat garis batas desa
- Pilih lembaga yang berada di dalam dan di luar desa
- Tempelkan lingkaran masyarakat di dalam batas desa dan lembaga-lembaga
yang lain sesuai jarak yang telah disepakati
Contoh ukuran bulatan:





Bermanfaat cukup bermanfaat kurang bermanfaat
Terdapat dua hal dari Bagan
Kelembagaan yang harus diperhatikan,
yakni: ukuran lingkaran lembaga dan jarak
antara lingkaran tersebut dengan lingkaran
masyarakat.

Pertama-tama, tempatkanlah satu
lingkaran bertuliskan masyarakat di tengah-
tengah bidang kerja. Kemudian, mintalah
para peserta untuk menuliskan nama
lembaga-lembaga yang mereka ingat pada
lingkaran-lingkaran yang telah disediakan.

Terdapat tiga ukuran lingkaran, yakni,
lingkaran besar, sedang, dan kecil.
Lingkaran besar menandakan manfaat
lembaga terhadap masyarakat adalah
besar. Lingkaran sedang menandakan
manfaat lembaga terhadap masyarakat
adalah biasa-biasa saja. Sedangkah,
lingkaran kecil menandakan manfaat
lembaga terhadap masyarakat kurang atau
tidak ada.

Selanjutnya, mintalah peserta untuk
menempelkan lingkaran-lingkaran lembaga
pada bidang kerja dengan memperhatikan
jarak lingkaran terhadap lingkaran
masyarakat di tengah-tengah bidang kerja.

Semakin dekat jarak lingkaran lembaga
terhadap lingkaran masyarakat
menunjukkan kinerja sebenarnya yang baik
dari lembaga yang bersangkutan saat ini.
Sebaliknya, semakin jauh lingkaran
lembaga dari lingkaran masyarakat
menunjukkan kinerja lembaga tersebut
tidak baik.





Halaman | 81

- Berikan tanda jarak antara lembaga dengan masyarakat.
o Tentukan perbandingan jumlah anggota lembaga antara pria dan wanita pada
masing-masing lingkaran lembaga.
Contoh simbol:

Pria: ♂ Wanita: ♀

Misalnya :

Artinya jumlah pengurus LPM lebih banyak
pria dari wanita


o Bahaslah bagan kelembagaan tersebut dengan menggunakan teknik wawancara
mendalam untuk menggali potensi dan masalah yang terkandung didalamnya.


Penggalian Potensi dan Masalah dengan Bagan Kelembagaan

Cara Memfasilitasi:
1) Mintalah peserta untuk mengamati dan mencermati bagan kelembagaan tersebut
dan ajaklah peserta untuk menyepakati lembaga mana yang akan dibahas pertama
kali.
2) Ajukan pertanyaan-pertanyaan yang sekiranya dapat merangsang peserta untuk
lancar mengemukakan pendapatnya. Gunakan skema berpikir SWOT untuk
mempermudah pembahasan ini.

Nama Lembaga Strength -
Kekuatan
Weakness -
Kelemahan
Opportunity -
Peluang
Threat -
Ancaman



3) Catatlah jawaban dari peserta dan bahaslah dengan seluruh peserta untuk
mendapatkan kesimpulan.
4) Beri tanda pada tiap kesimpulan terkait potensi dan masalah yang telah disepakati
oleh para peserta.
5) Tuliskan potensi dan masalah pada kertas plano berukuran 9.5 cm x 20 cm.
6) Siapkan Formulir 1 untuk Pengelompokkan dan Pemeringkatan Masalah.
7) Tempelkan kartu plano yang telah diisi masalah pada kolom masalah dan potensi
pada kolom potensi di Formulir 1.
LPM
♂♀




Halaman | 82

8) Jika dipandang telah cukup, maka bangunlah
kesepakatan dengan peserta akan hasil yang telah
dicantumkan dalam Formulir 1.






















Berikut adalah beberapa contoh pertanyaan sebagai alat
bantu wawancara mendalam guna mendapatkan rumusan
potensi dan masalah:
- Mengapa lembaga simpan pinjam dirasakan kecil
manfaatnya oleh masyarakat? Siapa pemanfaat lembaga
ini? Berapa perbandingan pemanfaat laki-laki dengan
pemanfaat perempuan?
- Apa saja yang menyebabkan manfaatnya besar/kecil
bagi masyarakat?
- Mengapa jarak antara lembaga dengan masyarakat
jauh?
- Adalah potensi (sumber daya atau hal positif lainnya)
untuk memecahkan masalah tersebut?




Beberapa contoh potensi yang biasanya timbul saat menggunakan alat kajian bagan
kelembagaan adalah:
- Jumlah pengurus lengkap
- Tenaga terampil cukup
- Jumlah anggota banyak
- Ada program pelatihan.

Bagan kelembagaan:
POKTAN
♀♂

LKMD
♀♂

MASYA
RAKAT
MUDI
KA
♀♂

PEMDES
♀♂

PKK
♀♂

USP
♀♂

RT
♀♂

KUD
♀♂

KATAR
♀♂
Pengalaman Memfasilitasi Bagan
Kelembagaan saat Uji Coba Panduan:
 Sesi ini diawali dengan penjelasan
bahwa dari tiga alat kajian P3MD, alat
kajian bagan kelembagaan
merupakan alat yang seringkali keliru
difasilitasi oleh banyak orang.
 Kemudian Fasilitator meminta salah
satu peserta memfasilitasi alat bagan
kelembagaan.
 Peserta dan fasilitator sulit untuk
menentukan kriteria besar, sedang
dan kecil yang
menggambarkan ”Manfaat” dari
lembaga dan ”Kedekatan” lembaga
dengan masyarakat.
 Fasilitator berulang-ulang
menanyakan pemahaman peserta
akan masing-masing lembaga.
 Setelah peserta paham kerangka
dasar alat ini, fasilitator kembali
mendemonstrasikan bagaimana
menggunakan alat kajian ini
menerangkan apa yang berbeda dari
alat kajian ini dibandingkan dengan
dua alat sebelumnya.
Kelebihan dari alat ini adalah mampu
untuk lebih menemukan persoalan
peningkatan yang berkaitan dengan
peningkatan kapasitas dari potensi
sumberdaya manusia serta
kelembagaan yang ada di desa.
Peningkatan kapasitas manusia
seringkali dilupakan oleh banyak
orang dan untuk itulah alat ini
digunakan.
 Fasilitator juga menegaskan akan
peranan penting dari tiap lembaga,
sehingga pengetahuan peserta akan
peran dan manfaat dari tiap lembaga
yang ada di desa menjadi
terperbaharui.
 Setelah itu, peserta diminta
mensimulasikan di kelompoknya
masing masing agar lebih trampil.





Halaman | 83

Sub Bagian 2.3: Peringkat Masalah dan Menemukan Tindakan untuk
Perencanaan Bersama Masyarakat.

Tujuan
· Peserta mampu menemukan masalah dan potensi untuk mencari penyebab-
penyebabnya.
· Peserta mampu membandingkan masalah serta penyebabnya dengan potensi
yang tersedia.
· Peserta mampu menentukan criteria criteria untuk menentukan prioritas tindakan
layak
· Peserta mampu menghitung dan mempertimbangkan berbagai kegiatan yang
dapat dilakukan untuk pemecahan masalah.
· Peserta mampu memilih kegiatan layak yang dianggap paling dapat
memecahkan masalah.

Bahan dan Alat
Kertas Plano, Spidol dan ATK lainnya yang ada
Waktu
120 menit

Cara Memfasilitasi
· Menemukan Peringkat Masalah
o Fasilitator mengajukan pertanyaan-pertanyaan
yang dapat merangsang peserta untuk
melakukan pemeringkatan masalah. Misalnya:
- “Apa yang harus kita lakukan dengan
daftar masalah ini?”
- “Apakah kita dapat menyelesaikan semua
masalah ini?”
- “Bagaimana caranya agar kita dapat
menyelesaikan semua masalah yang
timbul?”
- dsb.
o Bila ada peserta yang punya pengalaman
melakukan pemeringkatan, maka mintalah
peserta tersebut untuk mendemonstrasikan
teknik pemeringkatan masalah dengan
menggunakan daftar masalah yang ada.
Harapannya, peserta yang lain dapat lebih
mudah mengerti akan makna dibalik kegiatan
pemeringkatan masalah ini.
o Fasilitator menampilkan tabel pemeringkatan
masalah yang telah disiapkan dan
menjelaskan makna rentang skor dari masing-masing kriteria yang ada
dalam kaitannya dengan pemeringkatan masalah.

Skor bagi kepentingan pemeringkatan ini
adalah 1 – 2 – 3 – 4 – 5.

Teknik 1 – 3 – 5 adalah teknik memfasilitasi
pemberian skor pada pemeringkatan
masalah maupun kegiatan dengan
menonjolkan penjelasan pada skor 1 yang
mengandung makna Tidak Baik, skor 3
yang mengandung makna Cukup, dan skor
5 yang mengandung makna Sangat Baik.

Fasilitator selalu harus terlebih dahulu
menjelaskan makna dari masalah atau
kegiatan pembangunan terhadap skor 1 – 3
– 5 sebelum meminta peserta menentukan
skor. Dengan sendirinya, para peserta
akan dapat lebih mudah memahami dan
dapat memberikan skor dengan lebih
akurat termasuk skor 2 dan 4 walaupun
tidak selalu disebutkan.





Halaman | 84

Catatan:
Apabila terdapat kriteria lain yang dipandang penting oleh peserta, maka
tambahkanlah kriteria tersebut pada tabel pemeringkatan.



o Gunakan teknik 1 – 3 – 5 untuk memudahkan peserta menentukan skor yang
cocok bagi tiap kriteria terhadap tiap masalah.
o Skoring dilakukan secara vertikal. Artinya, ujilah semua masalah terhadap
satu kriteria dulu, baru pindah ke kriteria berikut.
o Agar peserta tidak bias dengan jumlah skor yang tercantum untuk masing-
masing kriteria terhadap tiap masalah, maka gunakan teknik buka-tutup
“jendela”. Kolom kriteria yang aktif atau yang sedang dibahas saja yang
terbuka, sedangkan kolom-kolom kriteria yang lain harus ditutup.
Contoh:
No Masalah
Pembangunan
Ada
Potensi
Dirasakan
Banyak
Orang
Sering
Terjadi
Mengham-
bat
Pening-
katan
Pendapa-
tan
Mengham-
bat Akses
pada
Pendidikan
Mengham-
bat
Pencapaian
Hidup Sehat
Berpengaruh
terhadap
Perempuan
dan Anak-
anak.
Total
Skor
Peringkat
1 Kekurangan
air bersih
pada
musim
kemarau di
Dusun A.
3
2 Kurang
tenaga guru
di SD
Inpres
Nefokoko.
4
3 Jalan di
Dusun B
rusak saat
musim
hujan yang
lalu.
1

: Kolom tertutup

o Jika seluruh kriteria telah diterapkan pada semua masalah, maka bukalah
semua “jendela” penutup kolom dan hitunglah Total Skor dari masing-masing
masalah.
o Beri nomor peringkat menggunakan angka Romawi I, II, III, IV, V, dst.
o Mintalah peserta untuk melakukan simulasi pemeringkatan pada
kelompoknya masing masing sebagai latihan untuk menjadi lebih terampil.

· Menemukan Pengkajian Tindakan Bersama
o Ajak peserta untuk memperhatikan daftar masalah prioritas yang telah
disepakati.
o Pilih salah satu masalah dan buatkan contoh kalimat yang mengandung
makna “Tindakan untuk Menyelesaikan Masalah”.




Halaman | 85

o Mulai dari prioritas masalah pertama, mintalah seorang peserta untuk
mendefinisikan “Tindakah untuk Menyelesaikan Masalah”. Diskusikan definisi
Tindakan tersebut dengan peserta lain untuk menarik kesepakatan.
o Ulangi pada prioritas masalah selanjutnya hingga selesai.
o Catatlah semua kesepakatan pada daftar “Tindakan untuk Menyelesaikan
Masalah”.

· Menemukan Peringkat Tindakan
Gunakan langkah-langkah yang sama seperti yang diterapkan pada bagian
Menemukan Peringkat Masalah diatas. Gantilah kolom ”Masalah Pembangunan”
dengan kolom ”Kegiatan Pembangunan”.

Pertanyaan Kunci
· Bagaimana kita membuat peringkat?
· Apa itu rencana tindakan?
· Apa kriteria peringkat masalah?
· Apa kriteria peringkat tindakan?
· Kenapa kriteria itu digunakan?
· Apakah ada kriteria lain?





Halaman | 86




Bahan Bacaan 2.3


PENGELOMPOKKAN DAN PEMERINGKATAN


KRITERIA

Apa yang Dimaksud dengan Kriteria?
Kriteria adalah alat ukur atau parameter yang digunakan untuk membedakan tingkat
kepentingan atau keutamaan satu bidang pengembangan (penyaring kepentingan)
dengan bidang yang lain.

1). Apa pentingnya kriteria?
Kriteria penting agar setiap kesepakatan ataupun keputusan diambil dengan
pembahasan yang obyektif dan adil dengan tingkat ketelitian tertentu sesuai
dengan kemufakatan yang telah dimusyawarahkan sebelumnya.

2). Apa prasyarat atau ciri-ciri kriteria?
(1) Rumusan harus spesifik dan tajam.
(2) Kriteria harus bebas, tidak saling mempengaruhi dan tidak serupa antara satu
dengan lainnya.


Catatan:
Makin banyak kriteria, makin baik hasil pilihan, namun makin lama waktu
pemilihannya yang dapat berdampak pada anggapan peserta musyawarah
bahwa proses pemilihan ini sulit.


PEMERINGKATAN MASALAH

Apakah Penentuan Peringkat Masalah?
Penentuan peringkat masalah merupakan proses kegiatan mengkaji berat-ringan-nya
masalah termasuk penyusunan urutan, sesuai kemampuan dan kondisi masyarakat.

Apakah Tujuan Penentuan Peringkat Masalah?
 Memilih dan menentukan secara tepat masalah yang dilakukan dengan segera.
 Diperolehnya daftar urutan masalah sebagai masukan bagi penyusunan rencana
pembangunan.





Halaman | 87

Bagaimana Caranya?
 Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menentukan masalah. Misalnya, melalui
pengkajian akar masalah, melalui pengkajian dengan menggunakan tabel skor, dsb.
 Untuk kegiatan di masyarakat “cocok” atau tepat menggunakan cara tabel skor.
 Tabel skor adalah suatu kegiatan penentuan peringkat melalui pemberian skor
terhadap suatu masalah.
 Temukan secara musyawarah kriteria-kriteria atau dasar penilaian yang akan
dijadikan ukuran untuk memilah-milah peringkat masalah yang hendak diatasi;
misalnya: Ada Potensi, Dirasakan Banyak Orang, Sering Terjadi, Menghambat
Peningkatan Pendapatan, dll

1. Jelaskan kepada peserta tentang tujuan dan cara pengisian dan penentuan
peringkat masalah.

Contoh Formulir 1: Pengelompokan dan Peringkat Masalah

No Masalah
Pembangunan
Ada
Potensi
Dirasakan
Banyak
Orang
Sering
Terjadi
Mengham-
bat Pening-
katan
Pendapa-
tan
Mengham-
bat Akses
pada
Pendidikan
Mengham-
bat
Pencapaian
Hidup
Sehat
Menghambat
Pemenuhan
Kebutuhan
Perempuan
dan Anak-
anak.
Total
Skor
Peringkat




Penjelasan Pengisian Kolom:
Kolom 1-2: diisi dengan nomor, masalah yang berasal dari tiga alat pengkajian
keadaan desa (sketsa desa, kelender musim, dan bagan kelembagaan).
Kolom 3-7: kolom-kolom kriteria atau dasar penilaian yang dijadikan ukuran.
Kolom 8: yaitu jumlah skor dari masing-masing masalah dari beberapa kriteria dan
ukuran.
Kolom 9: prioritas atau peringkat.

2. Terapkan secara musyawarah untuk menggunakan kisaran skor antara 1-5 bisa juga
kisaran 1-3

Contoh 1 :
Dirasakan banyak orang: Nilai 3: Dirasakan banyak orang
Nilai 2: Dirasakan sebagian orang
Nilai 1: Kurang dirasakan oleh sebagian besar orang.

Contoh 2: Nilai 3: Sangat banyak
Nilai 2: Cukup Banyak
Nilai 1: Sedikit.





Halaman | 88

PENGKAJIAN TINDAKAN BERSAMA

Apakah Pengkajian Tindakan Bersama Itu?
Kegiatan yang mengkaji masalah dengan berbagai penyebab yang dibandingkan
dengan potensi pendukungnya.

Apa Saja Kegiatan yang Dilakukan?
 Menguraikan masalah untuk dicari penyebab-penyebabnya.
 Membandingkan masalah serta penyebabnya dengan potensi yang tersedia.
 Mempertimbangkan berbagai kegiatan yang dapat dilakukan oleh masyarakat sendiri
berdasarkan penyebab dan potensi yang ada.
 Memilih kegiatan yang dianggap bisa dilakukan bersama-sama dengan pihak luar.

Bagaimana cara pengkajian tindakan bersama?

1. Siapkan Formulir 2: Pengkajian Tindakan Bersama sebagai berikut:

No Masalah Penyebab Tindakan yang Bisa
Dibuat Sendiri oleh
Masyarakat.
Tindakan yang Hanya Bisa
Dibuat Masyarakat Jika
Didukung Pihak Luar







2. Jelaskan cara pengisian Formulir 2:
 Isi kolom 1 dengan nomor urut.
 Isi kolom 2 dengan hasil penentuan peringkat masalah pada Formulir 1.
 Isi kolom 3 dengan penyebab masalah. Penyebab masalah adalah penyebab
langsung dari masalah tersebut.
 Isi kolom 4 dengan tindakan yang bisa dibuat masyarakat berdasarkan potensi
yang dimiliki, yaitu tindakan yang paling mudah dilakukan kerena tersedia
potensi yang dimiliki.
 Isi kolom 5 dengan tindakan yang masyarakat rasakan sebagai kegiatan yang
perlu didukung oleh pihak luar.

3. Teliti kembali dengan seluruh peserta musyawarah untuk mengetahui kemungkinan
masih ada kesalahan.

4. Sepakati hasilnya jika dirasa tidak ada lagi perubahan.





Halaman | 89

PEMERINGKATAN TINDAKAN

Apakah Penentuan Peringkat Tindakan?
Penentuan peringkat tindakan merupakan suatu kegiatan untuk menerapkan urutan
peringkat tindakan melalui scoring.
Kegiatan ini dimaksudkan untuk menetapkan urutan tindakan yang ada formulir
sebelumnya.

Apa Tujuan Penentuan Tindakan?
 Mengkaji lebih lanjut tindakan pemecahan masalah pada kegiatan sebelum ini.
 Diperolehnya urutan tindakan yang layak dilaksanakan di desa.

Bagaimana Cara Menentukan Peringkat Tindakan?
1. Siapkan Formulir 3: Penentuan Peringkat Tindakan pada kertas lebar untuk
ditempelkan pada papan tulis atau dinding.

No Tindakan yang
Layak
Dukungan
Potensi
Dukungan
Banyak
Orang
Mendukung
Pening-
katan
Pendapa-
tan
Mendukung
Akses pada
Pendidikan
Mendukung
Pencapaian
Hidup
Sehat
Memenuhi
Kebutuhan
Perempuan
dan Anak-
anak.
Total
Skor
Peringkat




Penjelasan Pengisian Kolom:
Kolom 1-2: diisi dengan nomor, Tindakan yang Layak dari kolom 4 dan 5 pada
Formulir 2.
Kolom 3-7: kolom-kolom kriteria atau dasar penilaian yang dijadikan ukuran.
Kolom 8: yaitu jumlah skor dari masing-masing masalah dari beberapa kriteria
dan ukuran.
Kolom 9: prioritas atau peringkat.

2. Bahas dan sepakati bersama kriteria-kriteria yang akan digunakan, misalnya:
 Pemenuhan kebutuhan orang banyak,
 Dukungan peningkatan pendapatan,
 Dukungan potensi,
 Pemenuhan hak dasar,
 Pemenuhan perempuan dan anak,
 dsb.

3. Sepakati nilai terendah dan tertinggi yang akan digunakan dalam memilih tindakan
layak.

Contoh 1:
Pemenuhan Kebutuhan Orang Banyak: Nilai 3: Memenuhi kebutuhan banyak orang
Nilai 2: Cukup memenuhi
Nilai 1: Kurang Memenuhi.





Halaman | 90

Contoh 2:
Dukungan Potensi: Nilai 3: Sangat banyak
Nilai 2: Cukup/sedang
Nilai 1: Sedikit sekali.

4. Berikan penilaian secara musyawarah pada tindakan-tindakan tersebut sesuai
kriteria yang telah disepakati.





Halaman | 91

Bagian III
PANDUAN
PENGANGGARAN


Tujuan Umum:
1. Peserta mampu untuk memadukan Rencana Tindakan dengan Penganggaran
melalui Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) Tahunan.
2. Peserta mampu untuk menyusun Rencana Kerja/Kegiatan dan Anggaran
3. Peserta mampu untuk secara mandiri memanfaatkan potensi yang ada pada
desa baik itu ADD maupun sumber pendapatan lainnya untuk membiayai
program dan kegiatan selama satu tahun anggaran.
4. Peserta mampu untuk menyusun RAPBDes.


Sub Bagian 3.1: Memadukan Rencana Tindakan dengan
Penganggaran melalui Rencana Kerja Pemerintah
Desa (RKPDes) Tahunan

Tujuan
· Peserta mampu memadukan tindakan layak yang sudah diprioritaskan pada
formulir 3 dengan sumber pembiayaan.
· Peserta mampu untuk mengedepankan pemanfaatan dana skema ADD dan
swadaya masyarakat sebagai syarat untuk memastikan adanya kegiatan
pembangunan desa di tahun yang bersangkutan.
· Peserta mampu menghitung jumlah biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan
kegiatan selama satu tahun dengan perkiraan target maksimal.
· Peserta mampu menggali sumber pembiayaan lainnya bagi penyelenggaraan
pembangunan desa.

Bahan dan Alat
Kertas Plano, Metaplan, Spidol, Papan Tulis atau Lainnya sesuai dengan yang
dimiliki tetapi dapat berfungsi kurang lebih sama.

Waktu
210 menit





Halaman | 92

Langkah Kegiatan

· Sesi Curah Pendapat
 Fasilitator mengawali proses diskusi dengan menanyakan kepada
peserta dengan beberapa pertanyaan sebagai berikut:
o apa itu penganggaran?
o Mengapa penganggaran itu penting?
o Berdasarkan pengalaman bapak/ibu, siapa yang menyususun
anggaran di desa selama ini?
o Apa dasar penyusunan angaran?
 Fasilitator mencatat semua masukan atau jawaban peserta
terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada papan
tulis/kertas plano
 Fasiltator merangkum semua jawaban dalam sebuah kesimpulan
curah pendapat.

15 menit

· Sesi Diskusi Kelompok dan Pleno
 Fasilitator mengumpulkan peserta dalam beberapa kelompok
dengan memperhatikan pemerataan unsur-unsur masyarakat,
khususnya keterwakilan kaum perempuan dan kelompok
masyarakat yang terpinggirkan.
 Fasilitator bersama peserta memasukan Tindakan Layak kedalam
Formulir RKPDES.
 Gunakan tabel bayangan untuk membantu perhitungan perkiraan
biaya kegiatan pembangunan.
 Fasilitator mensimulasikan cara pengisian formulir RKPDes
berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang ada diatas. Gunakan
salah satu contoh tindakan untuk disimulasikan!
 Fasilitator memberikan kesempatan kepada kelompok untuk
mendiskusikan RKPDes dalam kelompok sesuai dengan waktu
yang telah disepakati.
 Fasilitator memberikan kesempatan kepada kelompok untuk
mempresentasikan hasil diskusi kelompok. Jika salah satu
kelompok mempresentasikan, kelompok lain menanggapi.

Catatan:
Fasilitator mempersiapkan informasi harga yang dikumpulkan
sesuai dengan daftar tindakan layak hasil musrenbangdus.
Informasi tersebut dapat berupa standar pemerintah dan atau hasil
survey harga pasar.

Sebaiknya fasilitator bersama peserta menargetkan nilai rupiah
paling maksimal dalam pengisian formulir RKPDes.

Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan penuntun yang dapat
merangsang peserta untuk aktif terlibat: -Lihat Formulir RKPDes!-
o Apa tindakan layak yang sudah diprioritaskan pada formulir
tindakan layak (formulir 3)?
180 menit




Halaman | 93

o Sebutkan alasan mendasar apa yang melatari usulan prioritas
tersebut agar diakomodir oleh sektor?
o Berapa volume dari tindakan layak tersebut?
o Siapa saja sasaran dari tindakan layak dan berapa banyak?
o Apa sifat dari tindakan layak dimaksud? Apakah berupa
kegiatan lanjutan, kegiatan pengembangan/peningkatan atau
kegiatan baru?
o Dimana lokasi kegiatan tersebut akan dilakukan?
o Kapan kegiatan hendaknya dilaksanakan? Bulan berapa, Tahun
berapa?
o Berapa perkiraan besar biaya yang dibutuhkan?
o Apakah pembiayaan dapat dilakukan secara swadaya
masyarakat desa?
o Apakah dapat dibiayai menggunakan ADD dan dana lain yang
dikelola desa?
o Sumber-sumber pembiayaan mana saja yang diharapkan akan
mampu membiayai?
o Berapa besaran dana yang dibutuhkan?
o Apa bentuk pembiayaan yang dibutuhkan? Berupa uang atau
sumbangan material atau sumbangan tenaga dan keahlian?
o Jika bentuk pembiayaannya tidak berupa uang, berapa rupiah
sumbangan-sumbangan non-uang tersebut jika di-uang-kan?
o Berapa biaya yang dibutuhkan dari APBDes (ADD dan dana-
dana lain yang dikelola desa)? APBD II? APBD I dan
sumbangan dana lain yang akan mendukung pelaksanaan
kegiatan dimaksud?
o Apabila sumber pembiayaan berasal dari APBD I atau APBD II,
sektor/badan apa yang seharusnya menjadi penanggung-jawab
kegiatan?


· Sesi Penegasan
Fasilitator mengakhiri materi sub bagian ini dengan memberikan
penegasan-penegasan tentang:
o Berbagai hal yang berkembang dalam diskusi pleno (hal-hal
yang masih kurang dimengerti oleh peserta)
o Pentingnya RKPDes dalam proses perencanaan dan
penganggaran partisipatif masyarakat Desa

15 menit

Pertanyaan Kunci
· Apa itu penganggaran?
· Bagaimana memadukan rencana tindakan dengan penganggaran?
· Bagaimana merumuskannya dalam formulir RKPDes??





Halaman | 94




Bahan Bacaan 3.1


PENGANGGARAN PEMBANGUNAN DESA


- Penganggaran adalah suatu pembuatan rencana kerja dalam jangka waktu satu
tahun yang dinyatakan dalam bentuk moneter. Penganggaran mengandung
makna penaksiran kebutuhan sumber daya keuangan yang dibutuhkan bagi
pelaksanaan rencana kegiatan pembangunan.

- Lebih jauh lagi, penganggaran merupakan wujud tanggung-jawab pengelolaan
uang negara yang adalah uang rakyat juga bagi sebesar-besarnya kemakmuran
rakyat. Oleh karena itu dalam penganggaran, selain tercantum daftar kegiatan
pembangunan yang telah disepakati bersama rakyat, juga terdapat pernyataan
tentang penerimaan, pembelanjaan, dan pembiayaan untuk periode satu tahun.
Berdasarkan pengertian diatas, dibentuklah Anggaran Penerimaan dan Belanja
Desa atau APBDes.

- APBDes merupakan Rencana Keuangan Tahunan Pemerintahan Desa yang
disetujui oleh masyarakat desa.

- Penerimaan Desa adalah uang yang masuk ke kas desa.

- Pengeluaran Desa adalah uang yang keluar dari kas desa.

- Belanja Desa adalah kewajiban Pemerintah Desa yang diakui sebagai
pengurang nilai kekayaan bersih desa, termasuk didalamnya Pengeluaran Desa.

- Pembiayaan Desa adalah penerimaan yang perlu dipakai untuk membayar.
Dengan kata lain, pengeluaran yang berdampak baik bagi perkembangan desa
dan pertumbuhan kesejahteraan masyarakat desa, baik itu yang terwujud dalam
tahun anggaran berjalan maupun dalam tahun-tahun anggaran di masa yang
akan datang. Pembiayaan dapat berupa uang maupun non-uang. Artinya,
pembiayaan merupakan kegiatan Belanja Desa dengan tujuan tertentu yang
terukur dan terarah bagi perwujudan amanah rakyat seperti yang terkandung
didalam Rencana Kegiatan Pembangunan Desa hasil kesepakatan
permerintahan desa bersama masyarakat.

- Biaya dan Sumber biaya adalah besarnya sumber daya yang diperlukan dalam
melaksanakan kegiatan dan darimana sumber daya tersebut diperoleh (dari
dalam desa yang disebut dengan Pendapatan Asli Desa, Pemerintah Daerah,
sumbangan pihak ketiga, dan lain-lain sumber pendapatan yang sah).





Halaman | 95

- Barang Milik Desa adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban
APBDes. Artinya, semua barang yang dibeli atau diperoleh dengan
menggunakan uang desa merupakan Barang Milik Desa.

- Rencana Kegiatan Pembangunan Desa atau RKPDes adalah rangkaian kegiatan
yang saling melengkapi dalam rangka mewujudkan impian bersama segenap
masyarakat desa selama satu tahun.

- Rencana Kerja Pembangunan Desa merupakan penjabaran dari Rencana
pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes).

- Kepala desa bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD) menyusun
RKPDesa yang merupakan penjabaran dari RPJMDesa berdasarkan hasil
Musyawarah Rencana Pembangunan Desa.

- Penyusunan RKPDesa diselesaikan paling lambat akhir bulan Januari tahun
anggaran sebelumnya

- RPJMDes untuk jangka waktu 5 (lima) tahun merupakan penjabaran visi dan
misi dari kepala desa yang terpilih.

- Setelah berakhir jangka waktu RPJMD,Kepala desa terpilih menyusun kembali
RPJMD untuk jangka waktu 5 (lima) tahun.

- RPJMDesa sebagaimana dimaksud diatas ditetapkan paling lambat 3(tiga) bulan
setelah kepala desa dilantik.


- Untuk itu ketersediaan sumber daya pembangunan yang dimiliki perlu dipadukan
dengan rencana kegiatan pembangunan, sehingga sumber daya yang ada dapat
digunakan secara tepat sasaran dan tepat guna berdasarkan kebutuhan yang
ada pada masyarakat yang telah disepakati bersama didalam forum Musrenbang.
Lihat lampiran tabel sinkronisasi perencanaan dengan anggaran!





Halaman | 96

Sub Bagian 3.2: Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA)
Desa

Tujuan
· Peserta mampu mengelompokan kegiatan utama hasil rujukan yang tertuang
dalam RKPdes yang dibiayai oleh APBDes, APBD (APBD II, APBD I), APBN dan
sumber dana lainya
· Peserta mampu mendata belanja operasional/rutin yang akan dibiayai oleh
APBDes untuk satu tahun anggaran
· Peserta mampu menyusun RKA berdasarkan formulir RKA

Bahan dan Alat
Kertas Plano, Metaplan, Spidol, Papan Tulis atau Lainnya sesuai dengan yang
dimiliki tetapi dapat berfungsi kurang lebih sama.

Waktu
120 menit

Langkah Kegiatan

· Sesi Curah Pendapat
 Sebagai ilustrasi, fasilitator mengajak peserta untuk mendiskusikan
tentang tahapan-tahapan kegiatan dalam sebuah pernikahan.

Beberapa pertanyaan kunci yang dapat digunakan untuk membawa
peserta pada imajinasi tahapan-tahapan kegiatan dapat berupa:
o Apa rincian kegiatan yang perlu dilakukan agar suatu
pernikahan dapat terlaksana?
o Berapa lama waktu pelaksanaan tiap kegiatan?
o Berapa besar biaya yang dibutuhkan per kegiatan?
o dll.

 Fasilitator mencatat apa saja yang disampaikan oleh peserta
 Fasilitator membuat rangkuman terhadap hasil curah pendapat

15 menit

· Sesi Diskusi Kelompok dan Pleno
 Fasilitator mengumpulkan peserta dalam beberapa kelompok
dengan memperhatikan pemerataan unsur-unsur masyarakat,
khususnya keterwakilan kaum perempuan dan kelompok
masyarakat yang terpinggirkan.
 Minta peserta untuk mengelompokan kegiatan hasil RKPDes
berdasarkan sumber pembiayaan. Kegiatan-kegiatan yang dibiayai
oleh APBDes dan dibiayai oleh APBD II, APBD I, dan sumber
pembiayaan lainnya. Bagi kegiatan-kegiatan yang tidak bisa
dibiayai oleh APBDes akan dibawa ke tingkat Kecamatan dengan
menggunakan formulir Musrenbang Kecamatan terlampir.
 Peserta diminta mendata sumber-sumber pendapatan yang ada
90 menit




Halaman | 97

dalam desa.
Berikut adalah beberapa pertanyaan penuntun:
o Berapa besar uang yang masuk ke kas desa tahun lalu?
o Pihak mana saja yang menyumbangkan uang tersebut?
o Berapakah jumlah masing-masing sumber pendapatan
tersebut?
o dsb.

 Minta peserta untuk membagi prosentasi peruntukan bagi belanja
terhadap sumber pendapatan. Misalnya, ADD: 30% untuk belanja
rutin dan 70 % untuk belanja pembangunan; PADes: 20 % untuk
belanja rutin dan 80 % untuk belanja pembangunan; Bantuan
Pemerintah lainnya: 20 % untuk belanja rutin dan 80 % untuk
belanja pembangunan.
 Minta peserta untuk memasukan hasil pengelompokan kegiatan
yang dibiayai oleh APBDes kedalam formulir RKA Bagian A sebagai
belanja Pembangunan.

Berikut adalah beberapa pertanyaan penuntun:
o Apa rincian kegiatan atau tahapan pelaksanaan dari masing-
masing kegiatan utama?
o Berapa volumenya?
o Siapa saja penerima manfaat dari kegiatan utama? Dimana?
o Apa manfaat dari kegiatan utama tersebut?
o Bagaimana dengan pembiayaanya? Berapa besar biaya yang
berasal dari swadaya masyarakat?
o Apa bentuk pembiayaan yang dibutuhkan? Berupa uang atau
sumbangan material atau sumbangan tenaga dan keahlian?
o Jika bentuk pembiayaannya tidak berupa uang, berapa rupiah
sumbangan-sumbangan non-uang tersebut jika di-uang-kan?
o Berapa besar biaya yang berasal dari PADes?
o Berapa besar biaya yang berasal dari ADD?
o Berapa besar biaya yang berasal dari bantuan atau sumbangan
lainya yang pasti?

 Minta peserta untuk mendata belanja rutin-operasional sekaligus
mengisi kedalam formulir RKA Bagian B.

Berikut adalah beberapa pertanyaan penuntun:
o Apa rincian kegiatan atau tahapan pelaksanaan dari masing-
masing kegiatan utama?
o Berapa volumenya?
o Siapa saja penerima manfaat dari kegiatan utama? Dimana?
o Apa manfaat dari kegiatan utama tersebut?
o Bagaimana dengan pembiayaanya? Berapa besar biaya yang
berasal dari swadaya masyarakat?
o Apa bentuk pembiayaan yang dibutuhkan? Berupa uang atau
sumbangan material atau sumbangan tenaga dan keahlian?
o Jika bentuk pembiayaannya tidak berupa uang, berapa rupiah




Halaman | 98

sumbangan-sumbangan non-uang tersebut jika di-uang-kan?
o Berapa besar biaya yang berasal dari PADes?
o Berapa besar biaya yang berasal dari ADD?
o Berapa besar biaya yang berasal dari bantuan atau sumbangan
lainya yang pasti?

Catatan:
Acuan pengisian RKA mengacu pada formulir RKA terlampir
(lampiran 2)



 Peserta diminta memplenokan hasil diskusi kelompok (perwakilan
kelompok dan atau semua kelompok memprentasikan, kelompok
lain diminta untuk memberikan tanggapan dan masukan).


· Sesi Penegasan
Fasilitator mengakhiri materi sub bagian ini dengan memberikan
penegasan-penegasan tentang:
o Berbagai hal yang berkembang dalam diskusi pleno, khususnya,
hal-hal yang masih kurang dimengerti oleh peserta.
o Pentingnya RKA dalam proses perencanaan dan penganggaran
partisipatif masyarakat Desa
o Bagi kegiatan-kegiatan yang tidak bisa dibiayai oleh APBDes akan
dibawa ketingkat kecamatan dengan menggunakan formulir
Musrenbang kecamatan terlampir. Fasilitator juga melengkapi
formulir Musrenbang kecamatan dengan catatan-catatan terkait
latar belakang timbulnya suatu tindakan prioritas yang layak.

15 menit

Pertanyaan kunci
· Apa itu RKA?
· Apa beda RKPDes dengan RKA?
· Apa makna dan isi dari RKA?
· Apa sumber pembiayaan RKA?
· Pada tahapan mana RKA disusun?
· Bagaimana cara menyusun RKA?




Halaman | 99




Bahan Bacaan 3.2


RENCANA KERJA PEMERINTAH DESA (R K P DES),
RENCANA KEGIATAN DAN ANGGARAN DESA (R K A DES), DAN ALOKASI
DANA DESA (A D D)


- Dokumen perencanaan pembangunan tahunan desa yang selanjutnya disebut
Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) secara administrasi diperuntukan
bagi pencapaian tujuan pembangunan desa sedangkan dari aspek manajemen
berkaitan dengan pola pengelolaan kegiatan-kegiatan akan dibiayai dari
berbagai sumber dana baik dari swadaya, APBDes mapun APBD Kabupaten,
Propinsi dan sumber pendanaan lainya yang sah. Dalam penentuan sumber
dana dari masing-masing sumber pengalokasianya merupakan target tertinggi.
- Sedangkan Dokumen Rencana Kegiatan dan Anggaran (RKA) secara
administrasi diperuntukan bagi pencapaian tujuan pembangunan di desa dan
secara rinci dianggarkan. Sedangkan, dari aspek manajemen berkaitan dengan
pola pengelolaan kegiatan-kegiatan rinci atau tahapan kegiatan dari kegiatan
utama yang dibiayai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes).
- Rencana Kegiatan dan Anggaran (RKA) terdiri dari dua bagian pokok yaitu: 1).
perencanaan anggaran pembangunan dan 2). perencanaan anggaran
rutin/operasional. Sedangkan, rinciannya terdiri dari kegiatan, rincian kegiatan,
volume, sasaran dan manfaat, serta sumber pendanaan.
- Sumber pendanaan dalam Rencana Kegiatan dan Anggaran (RKA) berasal dari
swadaya masyarakat yang dinilai dalam rupiah, ADD, PADes, dana sumbangan
provinsi dan kabupaten serta sumber pendanaan lainnya yang sah dan pasti.
- Dalam siklus perencanaan tahunan di desa RKA disusun setelah Rencana Kerja
Pemerintah Desa (RKPDes) dimana dari rumusan kegiatan utama yang ada
dalam RKPDes yang dibiayai oleh APBDes dituangkan secara terperinci dalam
RKA sebagai dokumen perhitungan anggaran tahunan dalam satu tahun
anggaran yang selanjutnya dijadikan sebagai acuan penyusunan RAPBDes.
- Karena itu dalam penyusunan RKA sangat diharapkan ketelitian pengalokasian
anggaran dari masing-masing sumber pendanaan dengan menggunakan standar
harga atau rata-rata hasil survei pasar yang berlaku disetiap daerah kabupaten.





Halaman | 100

Formulir 4: RENCANA KERJA PEMERINTAH DESA TAHUNAN (RKPDes 1 TAHUN)

No
Kegiatan
Umum/Tin
dakan
umum volume
Sasaran
Kegiatan/
manfaat
Sifat
(Lanjut
an/re-
hab/ba
ru) Lokasi
Waktu
(Periode)
Pelaksana
an
Besaran Dana yang Dibutuhkan
Ketera
ngan
Tamba
han
dari Masyarakat
APBD
ES
dari Pemerintah
Daerah
Lain-lain
yang Sah Rupiah
Materi
al atau
non-
uang
APBD
II
APBD
I
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)






















Halaman | 101

Cara pengisian Formulir RENCANA KERJA PEMERINTAH DESA TAHUNAN (RKPDes 1 TAHUN):

1 : cukup jelas
2 : mencantumkan/mengisi kegiatan utama yang sudah diprioritaskan sebagai tindakan dalam formulir 3 tindakan layak
prioritas
3 : mencantumkan jumlah unit/jarak/hari
4 : mengisi/mencantumkan kelompok dan berapa banyak penerima manfaat/manfaat artinya apa manfaat yang akan
diterima atau diperoleh dari sebuah kegiatan utama
5 : mengisi sifat yang dimaksud adalah sifat dari kegiatan utama (apakah baru/pengembangan/lanjutan)
6 : lokasi mengisi tempat kegiatan utama dilakukan/dilaksanakan (dusun/Rt/RW)
7 : waktu periode - tahun berapa dan bulan apa kegiatan utama dilaksanakan
8 : besaran uang kontan yang disumbangkan oleh masyarakat
9 : nilai rupiah dari sumbangan material atau non-uang masyarakat
10 : total dari APBDes yang dibutuhkan untuk membiayai sebuah kegiatan utama
11 – 12 – 13 : berapa jumlah dana yang dibutuhkan dari APBD II/APBD I/sumber dana lain yang sah
14 : cukup jelas






Halaman | 102

P Pe em ma ah ha am ma an n D Da as sa ar r t te en nt ta an ng g A AD DD D


1. Pengantar

PDH utama tentang ADD tertuang dalam UU 32/2004, PP 72/2005 beserta SE
Mendagri 140/640/SJ 20;05. Dalam UU 32/2004 disebutkan bahwa salah satu
sumber pendapatan desa adalah ‟bagian dari dana perimbangan keuangan pusat
dan daerah yang diterima oleh kabupaten/kota‟. Bagian dari dana perimbangan
tersebut kemudian dalam PP 72/2004 disebut sebagai ADD, yang diperuntukkan
bagi desa dan pembagiannya paling sedikit 10% (sepuluh per seratus) untuk setiap
Desa secara proporsional.

2. Pengertian

Alokasi Dana Desa atau ADD sebagaimana ditetapkan dalam UU 32/2004 pasal
212 ayat (3) huruf c dan dalam PP 72/2005 pasal 1 ayat 11, adalah: bagian dari
dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh kabupaten/kota
dan dialokasikan untuk desa.

3. Maksud dan Tujuan

a. Maksud

Alokasi Dana Desa dimaksudkan untuk membiayai program Pemerintahan
Desa dalam melaksanakan kegiatan pemerintahan dan pemberdayaan
masyarakat.

b. Tujuan

1) Meningkatkan pelayanan pemerintahan desa dalam melaksanakan
pelayanan pemerintahan, pembangunan dan pemberdayaan
masyarakat sesuai kewenangannya.
2) Meningkatkan kemampuan lembaga kemasyarakatan di desa dalam
perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian pembangunan secara
partisipatif sesuai dengan potensi desa.
3) Meningkatkan pemerataan pendapatan, kesempatan bekerja dan
kesempatan berusaha bagi masyarakat desa.
4) Mendorong peningkatan swadaya gotong royong masyarakat.

4. Prinsip-prinsip Pengelolaan ADD

1) Pengelolaan ADD merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
pengelolaan keuangan desa dalam APBDesa.
2) Seluruh pembiayaan yang didanai ADD direncanakan, dilaksanakan, dan
dievaluasi secara terbuka dengan melibatkan seluruh unsur masyarakat di
desa.




Halaman | 103

3) Seluruh kegiatan harus dapat dipertanggung-jawaban secara administratif
dan hukum.
4) ADD dilaksanakan dengan menggunakan prinsip hemat dan terarah.


K Ke es si im mp pu ul la an n d da an n S Sa ar ra an n U Um mu um m

Dari keseluruhan uraian diatas, dapat disimpulkan dan sarankan secara umum
beberapa pemahaman, kebijakan, dan keterkaitan antara P3MD Plus, ADD, dan
Otonomi Desa beserta Tata kepemerintahan Desa yang Baik.

1). Bahwa dengan hadirnya era otonomi dan desentralisasi sejak 1989, yang sering
juga disebut sebagai era reformasi, telah banyak membawa perubahan tata cara
penyelenggaraan pemerintahan menuju kearah yang lebih baik. Didukung dengan
terbitnya sejumlah peraturan perundang-undangan, diantaranya adalah Undang-
Undang (UU) 25/2004 tentang „Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional‟
(SPPN), UU 32/2004 tentang „Pemerintahan Daerah‟, UU 33/2004 tentang
„Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah‟, UU
10/2004 tentang „Pembuatan Peraturan Perundang-Undangan‟, dan UU 28/1999
tentang „Penyelenggara Pemerintahan yang Baik dan Bebas dari KKN‟ (Korupsi,
Kolusi, dan Nepotisme). Disamping itu juga ada beberapa peraturan pelaksanaan
dari undang-undang termaksud diatas.

Ke-lima undang-undang tersebut antara lain mengamanatkan pentingnya
partisipasi, demokrasi, transparansi, dan akuntabilitas dalam penyelenggaraan
pemerintahan dan pembangunan, termasuk proses perencanaan pembangunan,
pelayanan, dan pemberdayaan masyarakat. Sasarannya adalah terwujudnya tata
kepemerintahan yang baik di semua tingkatan pemerintahan, nasional, daerah
(provinsi dan kabupaten/kota) serta di tingkat desa, serta terwujudnya masyarakat
yang sejahtera dan mandiri. Amanat tersebut secara umum tertuang dalam UU
32/2004 dan ditujukan kepada dan sekaligus menjadi kewajiban Kepala Daerah
dan Wakil Kepala Daerah serta anggota DPRD (pasal 1 ayat 2, pasal 2 ayat 3,
pasal 27 terutama ayat b, d, dan h, pasal 45 terutama ayat b, d, e, dan g).

Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah mempunyai 11 kewajiban, satu
diantaranya adalah melaksanakan prinsip tata kepemerintahan yang bersih dan
baik (pasal 27 huruf h). Selain itu juga kewajiban untuk memberikan laporan
penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah. Sedangkan anggota
DPRD mempunyai 9 kewajiban, 3 diantaranya adalah melaksanakan kehidupan
demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah; memperjuangkan
peningkatan kesejahteraan rakyat di daerah; serta menyerap, menampung,
menghimpun, dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat.

Selanjutnya UU 33/2004 menetapkan bahwa Pemerintah Daerah
menyelenggarakan Sistem Informasi Keuangan Daerah (SIKDA) secara nasional
( pasal 101 ayat 1), berupa data terbuka yang dapat diketahui, diakses, dan
diperoleh masyarakat (pasal 103). Pengaturan mengenai SIKDA ditetapkan lebih
lanjut dalam Peraturan Pemerintah.





Halaman | 104

Undang-undang 10/2004 memberi hak kepada masyarakat untuk ikut serta dalam
tata cara Pembuatan Peraturan Perundang-Undangan, termasuk misalnya
membuat Peraturan Desa atau Perdes. Masyarakat berhak memberikan masukan
secara lisan atau tertulis dalam rapat penyiapan atau pembahasan rancangan
undang-undang dan rancangan peraturan daerah (pasal 53). Pasal 52 mewajibkan
kepada Pemerintah Pusat dan Daerah untuk memenyebarluaskan Peraturan
Perundang-Undangan atau Peraturan Daerah yang telah diundangkan. Dalam
penjelasan pasal 52 tersebut menyatakan bahwa "menyebarluaskan" dilakukan
misalnya, melalui media elektronik seperti TVRI dan RRI, stasiun daerah, atau
media cetak yang terbit di daerah yang bersangkutan. Sedangkan hak masyarakat
dilaksanakan sesuai dengan Peraturan Tata Tertib DPRD.

Undang-undang 28/1999 pasal 1 menetapkan pengertian tentang korupsi, kolusi,
dan nepotisme (KKN). Korupsi adalah tindak pidana sebagaimana dimaksud
dalam ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang tindak
pidana korupsi (ayat 3). Kolusi adalah permufakatan atau kerjasama secara
melawan hukum antar-Penyelenggara Negara atau antara Penyelenggara Negara
dan pihak lain yang merugikan orang lain, masyarakat dan atau negara (ayat 4).
Sedangkan Nepotisme adalah setiap perbuatan Penyelenggara Negara secara
melawan hukum yang menguntungkan kepentingan keluarganya dan atau
kroninya di atas kepentingan masyarakat, bangsa, dan negara (ayat 5).

Pasal 3, 8, dan 9 menyatakan ada tujuh asas umum serta hak dan tanggung
jawab masyarakat untuk berpartisipasi mewujudkan penyelenggaraan negara
yang bersih dan bebas KKN. Dua asas umum diantaranya adalah transparansi
dan akuntabilitas, sedangkan hak masyarakat diantaranya adalah hak
memperoleh informasi, pelayanan yang adil, dan hak memperoleh perlindungan
hukum. Masyarakat juga mempunyai hak untuk berpartisipasi dalam proses
pembuatannya dalam rangka perwujudan Penyelenggara Negara yang Bersih dan
Bebas KKN.

Hak masyarakat diwujudkan dalam bentuk: (1). hak mencari, memperoleh, dan
berperanserta memberikan informasi; (2). hak memperoleh pelayanan yang sama
dan adil; (3) hak menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggung jawab
terhadap kebijakan Penyelenggara Negara, dan (4). hak memperoleh
perlindungan hukum atas pelaksanaan hak.

Berkaitan dengan 10 prinsip Tata kepemerintahan yang Baik, 5 prinsip
diantaranya, disarankan dapat diterapkan di tingkat desa, yaitu prinsip partisipasi,
transparansi, kesetaraan, daya tanggap, dan prinsip akuntabilitas. Penerapan 5
prinsip tersebut bersamaan dengan proses penerapan P3MD Plus sekaligus
perwujudan otonomi desa. Selebihnya dapat diterapkan sesuai dengan
kepentingan dan aspirasi masyarakat serta kemungkinan ada.

2). Kebijakan Pemerintah NTT untuk mengembangkan metode ataupun model P3MD
Plus (Penganggaran) dengan mendayagunakan dana Alokasi Dana Desa (ADD),
merupakan salah satu bentuk komitmen mewujudkan Otonomi Desa dan Tata
kepemerintahan Daerah dan Desa yang Baik. Diantaranya dalam penyusunan
perencanaan dan penganggaran pembangunan yang diproses secara partisipatif




Halaman | 105

bersama unsur-unsur masyarakat, dilengkapi dengan data dan informasi yang
akurat sesuai dengan amanat UU 32/2007 pasal 152 ayat (1) dan UU 25/2004
pasal 31. Dengan demikian hasilnya diharapkan sesuai dengan aspirasi dan
kebutuhan nyata mereka. Proses yang dilakukan dengan metode partisipatif
tersebut sekaligus menunjukkan kehidupan dan perilaku demokratis dan
transparan, sehingga hasilnya dapat dipertanggung njawabkan.

Kondisi seperti diuraikan diatas, patut mendapatkan dukungan semua pihak terkait
di NTT, baik masyarakat, jajaran pemerintah daerah termasuk Badan-Dinas-
Kantor-Instansi, jajaran DPRD serta lembaga swadaya masyarakat. Dukungan
tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk antisipasi alokasi anggaran secara
memadai, khususnya melalui anggaran APBD di tingkat kabupaten, setelah
sebagian kecil sudah tertolong oleh antipasi anggaran melalui dana ADD. Tentu
saja sangat diharapkan agar pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota
memenuhi kewajiban mengalokasikan anggaran sebagai sumber pendapatan
desa secara konsisten, berdasarkan amanat UU 32/2004 pasal 212, minimal
sesuai dengan prosentase yang ditetapkan PP 72/2005 pasal 68 ayat 1.

Bahan bacaan inipun menunjukkan dukungan dan konsistensi jajaran pemerintah
provinsi dan kabupaten, kecamatan dan desa, serta jajaran LSM terkait di NTT,
dengan bantuan fasilitasi GTZ-GLG. Bahan bacaan ini merupakan kesepakatan
dan kerja keras „Tim Kerja‟. Hendaknya „Tim Kerja‟ inipun dapat bekerja tuntas
sampai pada pendampingan, pendesiminasian metode, dan penuangannya dalam
rumusan kebijakan daerah melalui pembuatan peraturan-peraturan yang
diperlukan untuk kepentingan pemerintahan dan masyarakat desa.

Yang masih perlu diperhatikan oleh „Tim Kerja‟ seperti dikemukakan diatas, adalah
terkawalnya pengelolaan ADD, agar disamping dapat dilakukan secara terbuka
atau transparan dan bertanggung jawab, juga harus merupakan bagian yang tak
terpisahkan dari pengelolaan keuangan dana APBDesa. Dana ADD disalurkan
melalui Kas Desa dan menjadi salah satu pos anggaran dalam APBDesa dan
kedua-duanya dituangkan dalam Peraturan Desa (Perdes). Lebih dari itu
pemerintah dan masyarakat desa masih harus ditingkatkan kapasitasnya dalam
pengelolaan keuangan desa sebara sederhana, baik ADD maupun pengelolaan
dana APBDesa secara keseluruhan. Seandainya belum memungkinkan dilakukan
pelatihan untuk kepentingan pengeloaan keuangan, bisa juga dengan memberikan
kepada fasilitator desa, bahan bacaan tentang tata cara pengelolaan keuangan
desa secara sederhana.

Juga sangat diharapkan agar fasilitator P3MD Plus dapat selalu peduli dan
mencari kesempatan untuk membaca dan menambah bacaan agar semakin
berkualitas dalam melakukan fasilitasi. Hal tersebut menjadi lebih penting
seandainya suatu saat nanti diperlukan kemampuan dan pengalamannya untuk
memberikan pelatihan ataupun fasilitasi di desa lain dalam kecamatan setempat
maupun kecamatan lain. Bahkan jangan segan-segan untuk memanfaatkan dan
mencari kesempatan untuk membantu pemerintah kabupaten setempat ataupun
kabupaten lain di NTT untuk melakukan sosialisasi berbagai PDH yang sudah
diperintahkan oleh pasal 52 UU 10/2004. Seperti diuraikan sekilas diatas, undang-
undang tersebut mewajibkan kepada Pemerintah Daerah untuk




Halaman | 106

memenyebarluaskan Peraturan Perundang-Undangan atau Peraturan Daerah
yang telah diundangkan.

Sekiranya hal tersebut dapat dilakukan oleh mereka, maka bukan tidak mungkin
diantara mereka, secara keterpilihan dapat ditingkatkan statusnya menjadi
fasilitator Otonomi Desa. Kapasitas itu dapat tercapai berdasarkan pengamatan
bahwa mereka rata-rata memiliki semangat tinggi dalam penguasaan metodologi
dan tentu saja penguasaan materinya, serta dikelola oleh Tim Fasilitator yang
dedikatif. Bahkan dengan dukungan Tim tersebut mereka akan mampu
berkompetisi misalnya dengan kapasitas fasilitator PNPM (Program Nasional
Pemberdayaan Masyarakat) yang dikelola oleh pusat, yang seandainya
diserahkan ke daerah, niscaya akan lebih efisien, berhasil dan lebih terjamin
keberlanjutannya.

3). Adapun keterkaitan antara P3MD Plus, ADD, dan Otonomi Desa beserta Tata
kepemerintahan Desa yang Baik, dapat dikemukakan beberapa hal, diawali
dengan pengertian otonomi desa.

Pertama, bahwa dalam undang-undang maupun peraturan pemerintah memang
belum ada ketetapan secara khusus tentang pengertian otonomi desa. Berbeda
dengan pengertian tentang otonomi daerah yang secara jelas ditetapkan dalam
UU 32/2004 pasal 1 ayat 5, yaitu: hak, wewenang, dan kewajiban untuk mengatur
dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat
setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Padahal secara usal-usul, desa sudah memiliki otonomi sejak sebelum
penjajahan, dibanding dengan daerah yang otonominya merupakan pemberian
negara saat hadirnya era reformasi. Dengan demikian, sekilas sepertinya pembuat
undang-undang memang kurang memperhatikan secara sungguh-sungguh
tentang keberadaan desa dengan kepemilikan keaslian otonominya.

Namun pasti tidak menjadi masalah karena dalam undang-undang yang sama (UU
32/2004) ada potongan-potongan kalimat yang mengarah pada pengertian
otonomi desa, seperti misalnya dapat disarikan dari penjelasan umum UU 32/2004
pasal 1 ayat 10 alinea 1 dan 2: (i) bahwa landasan pemikiran dalam pengaturan
mengenai desa adalah keanekaragaman, partisipasi, otonomi asli, demokratisasi
dan pemberdayaan masyarakat; (ii) bahwa UU 32/2004 mengakui otonomi yang
dimiliki oleh desa. Bahkan juga (iii) bahwa terhadap desa yang dibentuk karena
pemekaran desa ataupun karena transmigrasi ataupun karena alasan lain,
otonomi desa akan diberikan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang.
Terakhir, (iv) ada pengertian tentang Desa (bukan otonomi desa), yang secara
ringkas adalah: kesatuan masyarakat hukum yang berwenang untuk mengatur dan
mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat
istiadat setempat (UU 32/2004 pasal 1 ayat 12).

Dengan demikian, serasi dengan pengertian otonomi daerah dan penjelasan-
penjelasan tentang otonomi asli desa, serta pengertian tentang desa, dapat
disampaikan sekedar gambaran bahwa otonomi desa adalah: hak, wewenang,
dan kewajiban desa untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan




Halaman | 107

dan kepentingan masyarakat desa setempat sesuai asal-usul dan adat istiadat
yang diakui dan dihormati berdasarkan peraturan perundang-undangan.

Kedua, dalam pengertian DESA sebagai kesatuan masyarakat hukum yang
berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, maka
tercermin bahwa tidak hanya mengatur kepentingan masyarakat di bidang
pemerintahan yang mengacu pada prinsip-prinsip tata kepemerintahan yang baik.
Disamping itu, juga berkewajiban mengurus kepentingan masyarakat, yaitu
tercapainya kesejahteraan mereka yang disesuaikan dengan aspirasi mereka
melalui proses yang partisipatif dana demokratis.

Dalam kaitan seperti termaksud diatas, telah nampak proses awal yang mendasar
dalam mengurus kepentingan masyarakat, yaitu dengan pendayagunaan Alokasi
Dana Desa (ADD) yang perencanaan penggunaaannya diproses dengan metode
P3MD Plus. Dalam proses tersebut, sekaligus merupakan arena untuk tumbuhnya
partisipasi dan pemberdayaaan masyarakat, dalam kehidupan demokrasi,
transparansi dan akuntabel atau bertanggung jawab. Hal itu merupakan langkah-
langkah perwujudan otonomi desa dan penerapan prinsip-prinsip
penyelenggaraan Tata kepemerintahan yang Baik di tingkat Desa.

Pola pikir seperti diuraikan sekilas diatas ini merupakan gambaran keterkaitan
antara P3MD Plus, ADD, otonomi desa, serta tata kepemerintahan desa yang baik.
Intinya bahwa keempat komponen tersebut merupakan satu kesatuan yang saling
mendukung, dalam rangka perwujudan otonomi dan tata kepemerintahan yang
baik di tingkat desa. Pola pikir ini secara bertahap perlu ditingkatkan kualitas atau
mutunya, diperluas pemasyarakatan dan jenis komponennya, misalnya dibidang
pembentukan peraturan desa (Perda), menanggapi dan mengantisipasi program,
proyek, atau kegiatan lain yang masuk ke desa, dan lain-lain.





Halaman | 108

Sub Bagian 3.3: Penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan
Belanja Desa (RAPBDes)

Tujuan
· Peserta dapat menjelaskan pengertian RAPBDes.
· Peserta dapat memahami struktur RAPBDes sesuai Permendagri 37 tahun 2007.
· Peserta dapat menjelaskan tahapan penyusunan RAPBDes.
· Peserta dapat mendata sumber-sumber pendapatan, belanja dan pembiayaan
yang ada dalam desa.
· Peserta dapat memasukan hasil RKA kedalam struktur RAPBDes.

Bahan dan Alat
Kertas Plano, Metaplan, Spidol, Papan Tulis atau Lainnya sesuai dengan yang
dimiliki tetapi dapat berfungsi kurang lebih sama.

Waktu
155 menit

Langkah kegiatan
· Sesi Curah Pendapat
 Fasilitator menggali pemahaman peserta dengan pertanyaan-
pertanyaan penuntun sebagai berikut:
o Mengapa disebut RAPBDes?
o Bagaimana struktur RAPBDes?
o Apa arti dari masing-masing Pos (Pendapatan, Belanja
langsung dan Belanja Tidak Langsung, dan Pembiayaan) yang
tercantum dalam struktur RAPBDes?
o Bagaimana proses penyusunan RAPBDes?
o Siapa yang bertangungjawab dan terlibat dalam proses
penyusunan RAPBDes?
 Fasilitator membuat rangkuman terhadap hasil curah pendapat
berdasarkan Permendagri 37 tahun 2007 Tentang Pedoman
Pengelolaan keuangan Desa
20 menit

· Sesi Diskusi Kelompok dan Pleno
 Fasilitator mengumpulkan peserta kedalam beberapa kelompok.
 Peserta mencantumkan atau memasukan hasil RKA kedalam
Struktur RAPBDes.
 Peserta diminta memasukan hasil identifikasi sumber-sumber
pendapatan desa (hasil langkah kerja 3 penyusunan RKA sesi
diskusi kelompok) kedalam Pos Pendapatan pada struktur
RAPBDes.
 Peserta diminta memasukan hasil penyusunan RKA bagian A
(Belanja Pembangunan) kedalam pos Belanja Langsung pada
struktur RAPBDes.
 Peserta diminta memasukan hasil penyusunan RKA bagian B
(Belanja Operasional/Rutin) kedalam pos Belanja Tidak Langsung
pada struktur RAPBDes.
120 menit




Halaman | 109

 Peserta diminta mengisi Pos Pembiayaan pada struktur RAPBDes
(jika jenis pembiayaan belum ada maka diisi tiap jenisnya dengan
angka nol)

Lihat Formulir struktur RAPBDes

Catatan:
Untuk setiap kolom keterangan belanja rutin dan pembangunan
sebaiknya mencantumkan berapa besar anggaran yang digunakan
dan darimana sumber dana tersebut.
Hal ini dimaksudkan agar mempermudah cara membaca anggaran
APBDes oleh Auditor (Badan Pengawas, dll).

 Peserta diminta memplenokan hasil diskusi kelompok (perwakilan
kelompok dan atau semua kelompok memprentasikan, kelompok
lain diminta untuk memberikan tanggapan/masukan).


· Sesi Penegasan
Fasilitator mengakhiri materi sub bagian ini dengan memberikan
penegasan-penegasan tentang:
o Hal-hal yang masih kurang dimengerti dalam diskusi pleno yang
berkembang dan terlihat dalam diskusi pleno.
o Pentingnya RAPBDes dalam:
- Proses Perencanaan dan Penganggaran Partisipatif Masyarakat
Desa
- Pelaksanaan pembangunan di desa.

15 menit

Pertanyaan Kunci
· Apa itu RAPBDes?
· Bagaimanakah struktur RAPBDES?
· Bagaimana cara menyusun RAPBDes?
· Siapa saja yang terlibat dalam proses penyusunan RAPBDes?
· dll.





Halaman | 110




Bahan Bacaan 3.3


RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA
(R A P B DES)


RAPBDes adalah proses perencanaan dalam bentuk rancangan terhadap penerimaan,
belanja dan pembiayaan dalam satu tahun anggaran.

Penyusunan RAPBDes didasari pada Rencana Kegiatan dan Anggaran (RKA) Desa.

· Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDES) adalah perkiraan penerimaan
dari berbagai sumber dan semua pengeluaran desa dalam rangka melaksanakan
tugas umum pemerintahan untuk mensejahterakan masyarakat dalam tahun
anggaran berjalan.

· Barang Milik Desa adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban
APBDes. Artinya, semua barang yang dibeli atau diperoleh dengan menggunakan
uang desa merupakan Barang Milik Desa.


· Struktur RAPBDes yang kemudian menjadi APBDes berdasarkan Permendagri
nomor 37 Tahun 2007 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa adalah

Anggaran pendapatan dan belanja Desa (APBDesa) terdiri dari :
a. Pendapatan desa
b. Belanja desa dan
c. Pembiayaan desa

Pendapatan Desa meliputi semua penerimaan uang melalui rekening desa yang
merupakan hak desa dalam 1 (satu)tahun anggaran yang tidak perlu dibayar kembali
oleh desa.

Pendapatan desa terdiri dari :
a. Pendapatan Asli Desa (PADesa);
b. Bagi hasil pajak kabupaten/kota;
c. Bagian dari retribusi kabupaten/kota
d. Alokasi Dana Desa(ADD);
e. Bantuan keuangan dari pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah
kabupaten, dan lainnya;
f. Hibah;
g. Sumbangan pihak ketiga





Halaman | 111

Belanja desa meliputi semua pengeluaran dari rekening desa yang merupakan
kewajiban desa dalam 1 (satu) tahun anggaran yang tidak akan diperoleh
pembayarannya kembali oleh desa.

Belanja desa diatas terdiri dari :
a. Belanja langsung, dan
b. Belanja tidak langsung

Belanja langsung merupakan semua pengeluaran dari rekening desa yang
pemanfaatannya untuk menunjang pelayanan publik dalam satu tahun anggaran
berjalan. Dengan kata lain, belanja langsung adalah belanja yang timbul sebagai
akibat dari adanya program.
Belanja langsung terdiri dari:
1. Belanja Barang dan Jasa;
2. Belanja Modal.

Belanja tidak langsung adalah semua jenis pengeluaran dari rekening desa yang
rutin berdasarkan hasil musyawarah pembangunan.
Belanja tidak langsung terdiri dari:
1. Belanja Pegawai/penghasilan Tetap;
2. Belanja Subsidi;
3. Belanja Hibah (Pembatasan hibah);
4. Belanja Bantuan Sosial;
5. Belanja Bantuan Keuangan;
6. Belanja Tak Terduga.

Pembiayaan desa meliputi semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau
pengeluaran yang akan diterima kembali baik pada tahun anggaran yang
bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya.

Pembiayaan desa terdiri dari:
a. Penerimaan pembiayaan;dan
b. Pengeluaran pembiayaan.

Penerimaan pembiayaan mencakup:
a. Sisa lebih perhitungan anggaran (SILPA) tahun sebelumnya.
b. Pencairan dana cadangan
c. Hasil penjualan kekayaan desa yang dipisahkan
d. Penerimaan pinjaman

Pengeluaran pembiayaan mencakup :
a. Pembentukan dana cadangan
b. Penyertaan modal desa
c. Pembayaaran utang






Lampiran – lampiran Bahan Bacaan 3.3

1. Formulir Musrenbang Kecamatan

2. Formulir Rancangan Kerja/Kegiatan dan Anggaran Desa (RKADes)

3. Struktur RAPBDes







Lampiran 1


Formulir MUSRENBANG KECAMATAN

No

Bidang

Kegiatan
Utama

Kegiatan
Rinci
Volume




Sasaran/
manfaat
Hasil yang
diharapkan
Swadaya

Usulan
APBD I/
APBD II/
APBN


Total Anggaran
yang
Dibutuhkan
Dinas/sektor yang
bertanggung-
jawab Rupiah
Materi/non-
uang
(1) (2) (3) (4) (5)

(6) (7) (8) (9)

(10) (11) (12)












































Lampiran 2


Formulir RENCANA KERJA/KEGIATAN DAN ANGGARAN DESA (RKA)

A. PERENCANAAN ANGGARAN PEMBANGUNAN
No

Bidang

Kegiatan
Utama

Kegiatan
Rinci
Volume

Sasaran/
manfaat

Swadaya APBDES

Total
Anggaran
Yang
Dibutuhkan

Kete-
rangan Rupiah
Materi/
non-
uang PADes ADD
Bantuan
/Sum-
bangan
Peme-
rintah
Pusat,
Pro-
pinsi,
Kabu-
paten
Lain-
Lain
yang
Sah
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)







B. PERENCANAAN ANGGARAN RUTIN/OPERASIONAL
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14)













Lampiran 3


RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA
DESA …………………… KECAMATAN …………………………….
TAHUN ANGGARAN


KODE
REKENING
URAIAN
TAHUN
SEBELUMNYA
TAHUN
BERJALAN
KET.
1. PENDAPATAN
1.1 Pendapatan Asli Desa
1.1.1 Hasil Usaha Desa
1.1.1.1 Dst …………………………

1.1.2 Hasil Pengelolaan Kekayaan Desa
1.1.2.1 Tanah Kas Desa : (*)
1.1.2.1.1 Tanah Desa
1.1.2.1.2 Dst ………………………..

1.1.2.2 Pasar Desa
1.1.2.3 Pasar Hewan
1.1.2.4 Tambatan Perahu
1.1.2.5 Bangunan Desa
1.1.2.6 Pelelangan Ikan yang dikelola Desa
1.1.2.7 Lain-lain Kekayaan Milik Desa
1.1.2.8 Dst …………………………

1.1.3 Hasil Swadaya dan Partisipasi
1.1.3.1 Dst …………………………….

1.1.4 Hasil Gotong Royong
1.1.4.1 Dst ………………………….

1.1.5 Lain-lain Pendapatan Asli Desa yang
sah

1.1.5.1 Dst …………………………..

1.2 Bagi Hasil Pajak:
1.2.1 Bagi hasil pajak kabupaten/kota
1.2.2 Bagi hasil PBB
1.2.3 Dst ……………………

1.3 Bagi Hasil Retribusi
1.3.1 Dst ……………………

1.4 Bagian Dana Perimbangan Keuangan
Pusat dan Daerah

1.4.1 ADD
1.4.2 Dst …………………….

1.5 Bantuan Keuangan Pemerintah





Provinsi, Kabupaten/Kota, dan desa
lainnya
1.5.1 Bantuan Keuangan Pemerintah:
1.5.1.1 Dst …………………………

1.5.2 Bantuan Keuangan Pemerintah Provinsi
1.5.2.1 Dst ……………………………

1.5.3 Bantuan Keuangan Pemerintah
Kabupaten/Kota.

1.5.3.1 Dana Tambahan penghasilan tetap
Kepala Desa dan Perangkat Desa

1.5.3.2 Dst ……………..

1.5.4 Bantuan Keuangan Desa lainnya :
1.5.4.1 Dst ………………

1.6 Hibah
1.6.1 Hibah dari pemerintah
1.6.2 Hibah dari pemerintah provinsi
1.6.3 Hibah dari pemerintah kabupaten/kota
1.6.4 Hibah dari badan/lembaga/organisasi
swasta

1.6.5 Hibah dari kelompok masyarakat/
perorangan

1.6.6 Dst ………………………..
1.7 Sumbangan Pihak Ketiga
1.7.1 Sumbangan dari ………..
1.7.2 Dst ……………………….

JUMLAH PENDAPATAN
2 BELANJA
2.1 Belanja Langsung
2.1.1 Belanja Pegawai/Honorarium :
2.1.1.1 Honor tim/panitia
2.1.1.2 Dst …………………..

2.1.2 Belanja Barang/Jasa :
2.1.2.1 Belanja perjalanan dinas
2.1.2.2 Belanja bahan/material
2.1.2.3 Dst …………………………

2.1.3 Belanja Modal
2.1.3.1 Belanja Modal Tanah
2.1.3.2 Belanja Modal jaringan
2.1.3.3 Dst …………………………

2.2 Belanja Tidak Langsung
2.2.1 Belanja Pegawai/Penghasilan Tetap
2.2.1.1 Dst …………………………

2.2.3 Belanja Hibah






2.2.3.1 Dst …………………………

2.2.4 Belanja Bantuan Sosial :
2.2.4.1 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
2.2.4.2 Dst ……………………

2.2.5 Belanja Bantuan Keuangan
2.2.5.1 Dst ………………………

2.2.6 Belanja tak terduga
2.2.6.1 Keadaan darurat
2.2.6.2 Bencana alam
2.2.6.3 Dst…………………

JUMLAH BELANJA

3 PEMBIAYAAN
3.1 Penerimaan Pembiayaan
3.1.1 Sisa Lebih Perhitungan Anggaran
(SILPA) tahun sebelumnya.

3.1.2 Hasil penjualan kekayaan Desa yang
dipisahkan.

3.1.3 Penerimaan Pinjaman
3.2 Pengeluaran Pembiayaan
3.2.1 Pembentukan Dana Cadangan
3.2.2 Penyertaan Modal Desa
3.2.3 Pembayaran utang

JUMLAH PEMBIAYAAN


……………., ……………………

KEPALA DESA


……………………………….

Catatan :
* Tanah Kas Desa atau istilah lainnya seperti : Tanah
Titi Sara, Suguh Dayoh, Bengkok, Bondo Deso,
kokoan, Timbul, Pangonan, Tanah Pembelian Desa,
dsb.













































Good Local Governance
Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah
Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia
Gedung Utama, Lt. 2, Ruang Segitiga
Jl. TMP Kalibata No. 20
Jakarta 12750

T/F +62 21 798 9446, 7918 4928
www.gtz-decentralization.or.id

Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia Jl. TMP Kalibata No. 20, Jakarta T +62 21 794 2635 ext. 205 Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi NTT Jl. Polisi Militer No. 2, Kupang Nusa Tenggara Timur (85111) T/F +62 380 831 712, 833 462 InCrEaSe Jl. Asoka No. 20, Oetona Kupang – Nusa Tenggara Timur T +62 380 829 096 Bengkel APPeK Shopping Center Gang Portu Kelurahan Fatululi Kecamatan Oebobo Kupang – Nusa Tenggara Timur T/F +62 380 838 107 Yayasan Pengembangan dan Pelayanan Masyarakat Alfa Omega Jl. Timor Raya km 13, Desa Mata Air Kecamatan Kupang Tengah Kabupaten Kupang – Nusa Tenggara Timur T/F +62 380 855 1644 E yaotimor@plasa.com Good Local Governance (GLG) Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia Gedung Utama, Lt. 2, Ruang Segitiga Jl. TMP Kalibata No. 20, Jakarta T/F +62 21 798 9446, 7918 4928 www.gtz-decentralization.or.id

InCrEaSe

Panduan Fasilitator

Perencanaan Partisipatif Pembangunan Masyarakat Desa Plus Penganggaran

(P3MD Plus)
Jilid I

Tim Pengembangan Panduan P3MD Plus:
Pemerintah Provinsi NTT
Djose Nai Buti Yos Laku Mali Abraham Klakik Mukmin Syukur Benyamin Daga

Pemerintah Kabupaten TTS
Alm. Th. Bambang Purwanto John Asbanu Yan Mella

Pemerintah Kabupaten Belu
Yohanes Pari Beny Ngalu Florensia N. Tety Marsel Payong Agustinus Lisu

Lembaga nonPemerintah
Fary Franscis Vinsen Bureni Susan Marey Dominggus Umbu Zasa Sarah Lery Mboeik Eliaser Neonufa Yorni Nokas Theresia R. Nubi Andreas Parera

GLG

Konsultan

Florencio Mario Vieira Marvel J. P. Ledo

Susmanto Irwan Sucahyo

Editing, Setting, dan Lay-out: Marvel J. P. Ledo

.

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur telah melakukan serangkaian kegiatan dan kajian tentang praktek penerapan model pendekatan P3MD di sejumlah desa di kabupaten Timor Tengah Selatan dan Belu. khususnya di tingkat desa. Serangkaian kegiatan dan kajian dilakukan bekerjasama dengan GTZ-GLG. Hal tersebut telah menimbulkan rasa kecewa dan ke-tidak-peduli-an masyarakat terhadap Musrenbang Desa walaupun itu telah dilakukan dengan pendekatan partisipatif model P3MD (Perencanaan Partisipatif Pembangunan Masyarakat Desa). di Kupang 4-6 Juni 2007. atau kegiatan pembangunan. Tujuannya adalah untuk melakukan pemantapan model P3MD yang sekaligus dikaitkan dengan upaya alokasi penganggarannya. Padahal sudah ada peraturan perundang-undangan yang mengamanatkan bahwa ‟perencanaan pembangunan harus didasarkan pada data dan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan‟ (UU 25/2004 pasal 31 dan UU 32/2004 pasal 152 ayat 1). Memperhatikan dan untuk mengatasi kedua kelemahan diatas. Disamping itu. Telah menjadi kebijakan pemerintah untuk menyediakan ADD dari dana perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah. melalui proses sebagai berikut:   Studi perkiraan kebutuhan program penguatan pemerintahan desa di Kabupaten TTS dan Belu. Penyelenggaraan Lokakarya ”Membangun Pemahaman dan Komitmen Bersama Tanggung-gugat Tata Pemerintahan Desa yang Baik/Good Village Governance dan Menyusun Aksi Bersama/Joint Detail Implementation Plan”. khususnya yang diterima oleh kabupaten. Dengan demikian juga diharapkan dapat menopang terselenggaranya tata kepemerintahan daerah yang baik atau sering disebut dengan ’good local governance’. Penganggaran tersebut terutama ditujukan bagi pemanfaatan dana Alokasi Dana Desa (ADD) yang adalah hak desa.Kata Pengantar Gubernur Nusa Tenggara Timur Dewasa ini masih banyak terjadi bahwa perencanaan program. dilaksanakan tanpa dilengkapi dengan data dan informasi wilayah atau kelompok sasaran yang lengkap dan akurat. Kajian Pengalaman Penerapan Perencanaan Masyarakat Desa (P3MD). Partisipatif Pembangunan   Penyusunan Panduan P3MD yang diselaraskan dengan peraturan perundangundangan yang ada dan dikaitkan dengan alokasi penganggarannya. Panduan ini Halaman | i . Februari dan April 2007. proyek. Oktober 2007. Kajian seperti yang disebutkan diatas. juga dilakukan dalam rangka perwujudan otonomi desa dan terselenggaranya tata kepemerintahan desa yang baik. banyak kenyataan menunjukkan bahwa hasil musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) desa yang telah disusun. tidak dikaitkan dengan upaya alokasi penganggaran yang memadai.

kemudian disebut Perencanaan Partisipatif Pembangunan Masyarakat Desa Plus Penganggaran atau disingkat P3MD Plus. dan Kecamatan‟. kebijakan ini dirancang untuk dituangkan dalam bentuk peraturan yang dikeluarkan oleh setiap kabupaten di wilayah NTT selambat-lambatnya pada akhir 2008. Drs. yang dibentuk berdasarkan SK Gubernur No 242/KEP/HK/2007Novermber 2007 dan terdiri dari multi unsur (Pemerintah Provinsi-Kabupaten. Frans Lebu Raya Halaman | ii . yang telah bekerja secara tekun dan terus menerus sejak Juni 2007 sampai Maret 2008. Saya mengharapkan Panduan ini dapat berfungsi sebagai landasan operasional awal kerjasama hingga akhir masa kerjasama nanti. model P3MD Plus ini telah diterapkan sejak awal tahun anggaran 2008. dan GTZ-GLG). dan semua pihak terkait. Desa. Terima kasih saya sampaikan kepada ‟Tim Kerja Penyusunan Panduan Perencanaan dan Penganggaran Partisipatif di tingkat Dusun. Untuk penerapan secara berkelanjutan. Desember 2007-Maret 2008. GTZ-GLG. Dengan menyadari masih adanya sejumlah kekurangan namun dengan tekad memperbaiki secara berkelanjutan. 28 Juli 2008 GUBERNUR NUSA TENGGARA TIMUR. Penyusunannya dilakukan oleh oleh Tim Kerja Penyusunan Panduan Fasilitator P3MD Plus. Kupang.  Pelatihan dan Praktek Lapangan serta Ujicoba Panduan P3MD Plus serta Penyempurnaan Penerapan Panduan pasca Ujicoba. LSM.

5: Pemahaman Dasar P3MD Plus Bahan Bacaan 1.2: Partisipasi Masyarakat Sebagai Bagian dari Tata Kepemerintahan yang Baik .3: Peringkat Masalah dan Menemukan Tindakan untuk Perencanaan Bersama Masyarakat.3: Membangun Pertemanan dan Rasa Mandiri Masyarakat Bahan Bacaan 1.Sejarah Penyusunan Panduan P3MD Plus . Bagian 1: Panduan Persiapan Persiapan Fasilitator .Cara Menggunakan Panduan P3MD Plus.Sub Bagian 2.Sub Bagian 1. Bahan Bacaan 1.Sub Bagian 2.1: Apa dan Bagaimana Fasilitator P3MD Plus? Bahan Bacaan 1.Sub Bagian 2.DAFTAR ISI Kata Pengantar Gubernur Nusa Tenggara Timur Daftar Isi Pendahuluan . Musrenbang.2: Pengkajian Potensi dan Masalah .6: Membangun Strategi Penyelengaraan MusrenbangdusMusrenbangdes secara Partisipatif.3: Pengelompokkan dan Pemeringkatan ii iii v viii viii 1 4 17 19 24 26 30 33 35 37 39 41 51 53 72 74 83 86 Halaman | iii . P3MD Plus.5: Dari P3MD ke P3MD Plus .Sub Bagian 1.1: Memaknai P3MD Plus Menuju Otonomi Desa .3: Masyarakat Mampu untuk Mandiri .1: Membangun Pemahaman Bersama Tentang AturanAturan Perencanaan dan Penganggaran yang Berlaku Bahan Bacaan 2.Sub Bagian 1.Sub Bagian 1.Untuk Siapa Panduan P3MD Plus ini Disusun . Bahan Bacaan 2.4: Mendorong Peran Serta Perempuan dan Kaum yang Terpinggirkan Lainnya dalam Pembangunan Desa.2: Analisis Potensi dan Masalah Bersama Masyarakat Bahan Bacaan 2. serta Perencanaan dan Penganggaran Bagian 2: Panduan Perencanaan .4: Partisipasi Perempuan dalam Pembangunan Persiapan Pelaksanaan Musrenbang . Bahan Bacaan 1.Sub Bagian 1.2: Partisipasi adalah Hak Masyarakat Bahan Bacaan 1.6: Pemahaman Dasar tentang P3MD.Suba Bagian 1.1: Pemahaman Dasar tentang Fasilitator dan Fasilitasi Partisipatif .

Sub Bagian 3.2: Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes).Sub Bagian 3.  Surat Edaran Bersama Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dan Menteri Dalam Negeri tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Musrenbang Tahun 2007.3: Penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (RAPBDes) Bahan Bacaan 3.Bagian 3: Panduan Penganggaran . nomor 140/640/SJ. 91 94 96 99 103 105 Halaman | iv .2: Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) Desa Bahan Bacaan 3. Rencana Kegiatan dan Anggaran Desa (RKADes).1: Penganggaran Pembangunan Desa . dan Alokasi Dana Desa (ADD) .1: Memadukan Rencana Tindakan dengan Penganggaran melalui Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) Tahunan Bahan Bacaan 3.Sub Bagian 3.3: Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (RAPBDes) Lampiran-Lampiran:  Surat Edaran Menteri Dalam Negeri tentang Pedoman Alokasi Dana Desa dari Pemerintah Kabupaten/Kota kepada Pemerintah Desa.

Berdasarkan situasi yang demikian. yakni Kabupaten TTS dan Kabupaten Belu. Diskusi pertama dilaksanakan di Hotel Kristal Kupang. Penentuan usulan prioritas hampir tidak melibatkan keseluruhan masyarakat sama sekali. maka dipandang perlu untuk melaksanakan pelatihan dan penguatan kapasitas fasilitator Musrenbang di Desa agar kualitas MusrenbangDes meningkat. Asumsi lain yang digunakan adalah sifat bentuk kehidupan masyarakat yang homogen1. Hasil kajian fakta lapangan yang didapat adalah sebagai berikut:  Mekanisme musyawarah kurang berjalan dengan baik sebagai akibat dari banyaknya lembaga atau organisasi yang melakukan perencanaan dengan metode yang berbeda-beda dan waktu yang berbeda-beda. Keterwakilan itu-pun sebagian besarnya tidak melakukan penggalian gagasan/kebutuhan dari masyarakat yang diwakili tetapi berdasarkan cara pandang orang-orang yang mewakili saja. pada tanggal 3-6 Juni 2007 yang menghasilkan suatu pernyataan bersama bahwa perlu dilakukan penguatan kapasitas kelembagaan di tingkat desa dalam hal perencanaan dan penganggaran untuk APBDes termasuk didalamnya pengelolaan dana ADD bagi pembangunan desa. Yang terbaik yang pernah terjadi hanyalah menggunakan prinsip keterwakilan. maka dilakukanlah kegiatan kajian fakta lapangan di delapan desa yang ada di dua Kabupaten. Potensi tidak dijadikan sebagai kekuatan untuk pelaksanaan pembangunan tetapi hanya didasarkan pada pemikiran untuk memenuhi syarat-syarat formal    1 Yang dimaksudkan dengan homogen disini adalah adanya kesamaan kondisi sosial dan nilai-nilai budaya masyarakat. baik itu yang berada di daerah pesisir pantai. Halaman | v . dataran menengah. Metode ini sempat dikenal oleh banyak aparat desa namun tidak lagi dipraktekkan sebagaimana konsep dasar dan prinsip P3MD itu sendiri. Untuk mewujudkannya. termasuk cara hidup pemenuhan ekonomi masyarakat. dilaksanakanlah beberapa diskusi yang melibatkan pihak pemerintah daerah dengan lembaga-lembaga non-pemerintah di Timor Barat untuk mendalami praktek penyelenggaraan MusrenbangDes yang notabene menggunakan metode P3MD. tapi melibatkan masyarakat dari desa yang sama. Untuk memperjelas pemikiran bersama tersebut dan agar upaya yang nanti dilakukan didasarkan pada situasi yang sebenarnya dari pengembangan rencana pembangunan di desa. Pemilihan 8 (delapan) desa ini dilakukan secara acak dengan mempertimbangkan lokasi desa. maupun di dataran tinggi.PENDAHULUAN Sejarah Penyusunan Panduan P3MD Plus Metode Perencanaan Partisipatif Pembangunan Desa (P3MD) merupakan suatu metode proses pembahasan dan penyusunan rencana pembangunan dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan di Tingkat Desa (MusrenbangDes) yang dilakukan secara terbuka dan obyektif bersama masyarakat.

Proses penggunaan anggaran masih tertutup bagi masyarakat dan hanya diketahui oleh aparat desa dan ketua BPD. di TTS pembelian mesin kompos dan sepeda motor.      saja. 2. kaitannya dengan item kegiatan pembangunan lainnya. misalnya. baik Aparat Desa maupun Kader Desa yang memfasilitasi. Contohnya. Sering Halaman | vi . pembangunan kantor desa. Terkesan untuk memenuhi formalitas mendapatkan ADD. semuanya terjebak hanya melakukan pengisian formulir tanpa memaknai konsep dasar dan prinsip P3MD itu sendiri. Lebih jauh di tingkat Kabupaten. namun prakteknya.untuk memenuhi syarat Musrenbang. Kecamatan. Desa Wekmidar Belu sudah membutuhkan air bersih sejak 20 tahun silam tetapi yang dijawab adalah pembukaan jalan dan pembuatan kantor BPD. sehingga. Contoh 1. maka formulir yang diisi hanya untuk mendapatkan ADD . pengelolaan ADD disamaratakan untuk pembangunan fisik. untuk memperoleh ADD. Desa Nefokoko TTS dari hasil wawancara menunjukan bahwa 40% responden membutuhkan peningkatan pelayanan pendidikan dan kesehatan melalui pendidikan dan pelatihan tenaga pendidik dan paramedik. Penentuan anggaran masih bukan menjadi bagian dari perencanaan masyarakat artinya perencanaan jalan sendiri sementara penyusunan anggaran jalan sendiri (APBDes) sehingga sering dalam APBDes yang dibiayai bukan hasil MusrenbangDes.  Menilai kinerja hanya pada besaran anggaran yang digunakan bukan pada hasil. Dengan demikian. dsb) dan tidak sesuai dengan kebutuhan dasar masyarakat desa setempat. Hal ini terlihat dalam fakta bahwa Kepala Desa hanya melakukan pertanggungjawaban kepada pemerintah tingkat atas sementara kepada masyarakat tidak dilakukan. Hal ini membuka peluang adanya intervensi dari pihak yang lebih mementingkan diri sendiri terhadap pengelolaan anggaran di tingkat desa. Tidak ada dokumen perencanaan/Musrenbang di tingkat desa. masyarakat tidak tahu tentang sumber dana dan (arah) pengelolaannya. Contohnya. tetapi yang dipenuhi adalah membangun bangunan Polindes dan menambah ruang kelas sekolah. didapati beberapa fakta sebagai berikut:  Belum ada komitmen Pemerintah Desa. Pengelolaan ADD masih diintervensi pihak kabupaten. dll. Tidak jelas siapa yang akan mengoperasionalkan bangunan-bangunan tersebut. Hal ini karena belum ada alat monitoring dan evaluasi yang praktis dan memadai untuk digunakan dalam menilai implementasi proses pembangunan. APBDes hanya disusun oleh Kepala Desa dan pihak kecamatan. Di Kabupaten Belu. Tidak ditemukan dokumen RPJMDes (atau Renstra Desa) dan RKPDes (atau Rencana Kerja Tahunan Desa). dan Kabupaten untuk menjadikan Renstra dan Propeda sebagai acuan Musrenbang dan penganggaran (wawancara Tim TTS dengan Bapppeda dan PMD TTS). Fakta di Kecamatan Amanuban Selatan menunjukan bahwa dari 15 desa yang ada hanya satu desa yang melakukan perencanaan. dampak. Prioritas pembangunan di desa masih berorientasi fisik (jalan. walaupun Kabupaten Belu dan TTS telah mengeluarkan Peraturan Daerah (PERDA) bagi penggunaan Metode P3MD. semua desa membangun kantor BPD.

9. 8. Peraturan Pemerintah RI Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa. Oleh karena itu. Arti dari “Plus” adalah tidak hanya penyederhanaan panduan agar dapat dilaksanakan oleh masyarakat desa sendiri tetapi juga bagaimana masyarakat mampu merencanakan. Berdasarkan hal itulah. “Kami tidak tahu bagaimana menggunakan metode P3MD. maka disepakati nama panduan menjadi “Panduan P3MD Plus”.72/2005 memberikan kepastian hukum terhadap perimbangan keuangan pusat dan daerah dimana desa memperoleh hak dalam bentuk Alokasi Dana Desa (ADD). 3. mengelola. dan mengevaluasi ADD sebagai haknya yang merupakan bagian dari penganggaran desa. Permendagri Nomor 29 Tahun 2006 tentang Pedoman Pembentukan dan Mekanisme Penyusunan Peraturan Desa. Permendagri Nomor 37 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa. UU No 32/2004 yang kemudian diatur lebih lanjut dalam PP. 4. Permendagri Nomor 19 Tahun 2007 tentang Pelatihan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa/Kelurahan. Beberapa peraturan perundang-undangan terkait Perencanaan Pembangunan Desa yang dipakai sebagai rujukan adalah: 1. Halaman | vii . metode P3MD perlu diperkuat dengan panduan penyusunan penganggaran. 10. Permendagri 67 Tahun 2007 tentang Pendataan Program Pembangunan Desa/Kelurahan. memonitor. Permendagri Nomor 7 Tahun 2007 tentang Kader Pemberdayaan Masyarakat.didapati komentar aparat desa seperti demikian. Permendagri 66 Tahun 2007 tentang Perencanaan Pembangunan Desa. 6. Permendagri Nomor 30 Tahun 2006 tentang Tatacara Penyerahan Urusan Pemerintahan Kabupaten/Kota kepada Desa.” Untuk itulah. Undang Undang RI Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. 2. 5. 7. penyederhanaan pemahaman dan melengkapi konsep dasar P3MD menjadi kebutuhan guna memperbaiki mekanisme perencanaan dan penganggaran partisipatif di Desa. Permendagri Nomor 32 Tahun 2006 tentang Pedoman Administrasi Desa.

Untuk Siapa Panduan P3MD Plus Penganggaran ini Disusun? Panduan ini dibuat untuk melatih calon fasilitator yang akan memfasilitasi MusrenbangDes menggunakan pendekatan P3MD plus. Diharapkan, kesadaran kritis dan ketrampilan mereka dapat tumbuh dalam menyusun rencana dan anggaran pembangunan desa secara partisipatif. Walaupun demikian, pihak manapun, baik itu dari kalangan pemerintahan maupun nonpemerintah yang pernah mengikuti pelatihan P3MD maupun P3MD plus dapat tetap memanfaatkan Panduan ini bagi pengayaan dan pembaharuan pemahaman akan metode P3MD (Plus). Tujuan Pelatihan P3MD Plus  Meningkatkan keberdayaan dan kemandirian masyarakat agar warga desa dapat berpartisipasi aktif dalam proses pengelolaan pembangunan, dimulai dari perencanaan dan penganggaran.  Meningkatkan kualitas perencanaan pembangunan desa berdasarkan kajian masalah, potensi, aspirasi dan sumber daya yang tersedia.  Meningkatkan partisipasi dan swadaya gotong royong masyarakat serta peran dan fungsi lembaga masyarakat dalam pembangunan yang bertumpu pada kemampuan sendiri.  Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menggunakan hak partisipasi dalam penyelenggaraan pemerintahan desa. Cara Menggunakan Panduan Panduan ini bukan dimaksudkan untuk diikuti secara kaku langkah per langkah-nya. Penyesuaian sesuai situasi perlu dilakukan agar pemahaman peserta pelatihan terhadap inti dari konsep metode P3MD Plus dapat terbangunkan. Satu hal yang perlu selalu diingat adalah kriteria dalam penentuan peringkat masalah dan peringkat usulan kegiatan pembangunan yang perlu untuk mendorong semua pihak agar selalu memperhatikan kepentingan kaum perempuan dan anak-anak. Hendaknya para fasilitator sudah terlebih dahulu memiliki informasi yang cukup tentang pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang sudah dan belum dimiliki calon fasilitator yang akan dilatih untuk menerapkan panduan ini. Langkah-langkah yang disusun dalam panduan ini merupakan rujukan dari kumpulan pengalaman. Fasilitator perlu untuk mencatat temuan-temuan baru dari pengalamannya pada “Lembaran Temuan Fasilitator” yang telah disediakan. Jika pelatihan calon fasilitator dilakukan di Desa, maka pelatih dapat menciptakan atau menggunakan media lain yang sekiranya akan memudahkan penerapan materi. Panduan ini bukan berarti yang terakhir tentang Panduan P3MD plus, P3MD sebagai metode harus terus diuji bersama masyarakat sehingga tidak dikenal sebagai hasil akhir atau kesimpulan, melainkan sebuah proses belajar secara terus menerus.

Halaman | viii

Untuk efektivitas penggunaan Panduan Pelatihan Fasilitator Desa ini, maka jumlah peserta ideal bagi pelatihan adalah antara 25-35 orang. Minimal 30% dari total jumlah fasilitator adalah perempuan.

Halaman | ix

5. 3. Membangun strategi penyelenggaraan Musrenbangdus-des secara partisipatif.1: Apa dan Bagaimana Fasilitator P3MD Plus? Tujuan  Peserta mengerti pengertian. mintalah kepada peserta membentuk kelompok. Jumlah kelompok disesuaikan dengan jumlah peserta (satu kelompok tidak lebih dari 7 orang).  Peserta mengetahui bagaimana menjadi Fasilitator P3MD plus. dan ciri-ciri Fasilitator P3MD Plus. Memahami dasar P3MD Plus. kriteria.  Peserta memahami peran penting keahlian Fasilitator dalam P3MD plus. Memahami bahwa partisipasi adalah hak masyarakat. spidol dan perlengkapan tulis lainnya yang tersedia sesuai kondisi di desa.Bagian I PANDUAN PERSIAPAN Tujuan Umum: 1. 4. Waktu Kegiatan 100 menit Langkah Kegiatan  Sesi Kerja Kelompok o Curah pendapat. 2. 6. Mendorong peran serta perempuan dan kaum yang terpinggirkan lainnya dalam pembangunan desa. Mengetahui apa dan bagaimana Fasilitator P3MD Plus. Membangun pertemanan dan rasa mandiri masyarakat. menggunakan pertanyaan: “Apa pengertian fasilitator?” o Perangkuman hasil curah pendapat o Kemudian. Bahan dan Alat Kertas coklat/bekas kalendar. Persiapan Fasilitator Sub Bagian 1. 10 menit 5 menit 5 menit Halaman | 1 .

Halaman | 2 .o Fasilitator meminta peserta mendiskusikan dalam kelompok tentang:  Siapa yang memfasilitasi Musrenbang?  Apa peran fasilitator saat itu? (minta peserta menyebutkan paling sedikit lima peran!) Lama  Apa yang Boleh dan Tidak Boleh waktu diskusi sebagai fasilitator? sebaiknya disepakati bersama peserta. 20 menit  Sesi Diskusi Pleno o Setiap kelompok diminta mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya.  dll. 20 menit Pertanyaan Kunci  Apa ciri-ciri seorang Fasilitator?  Mengapa Fasilitator penting?  Apa peran Fasilitator?  Bagaimana sikap seorang Fasilitator yang benar?  dll.  “apakah masih ada sesuatu yang penting tapi belum terungkap?”. sebaiknya fasilitator mendorong para peserta untuk mengajukan pertanyaan dan juga pemikiran-pemikiran berbeda terhadap setiap presentasi. o Fasilitator juga memberikan penekanan bahwa pelatihan ini tidak akan memberikan penjelasan fasilitator yang baik seperti apa tetapi peserta sendiri akan melihat dan menemukan fasilitator yang baik seperti apa. o Fasilitator terus menggali pemikiran peserta dengan pertanyaanpertanyaan kritis seperti berikut:  “apakah ada peran lain?”. 40 menit  Sesi Penegasan o Fasilitator memberikan penekanan pada beberapa poin yang dirasa masih kurang dipahami dengan benar dan kemudian bersama-sama menemukan pengertian fasilitator dan mengapa fasilitator menjadi unsur penting dalam proses perencanaan pembangunan secara partisipatif.  “apakah ada yang terlupakan?”.

Halaman | 3 .Langkah Alternatif Langkah Pleno dapat dipresentasikan dalam bentuk role play atau bermain peran.

5). DAN BAGAIMANA? 1). dan Bagaimana? Fasilitasi Partisipatif. Apa saja Jenis Metode Fasilitasi Partisipatif? Apa yang dimaksud dengan kriteria dalam memfasilitasi P3MD Plus? Apa yang dimaksud dengan peragaan atau visualisasi? Sebagai catatan perlu dikemukakan bahwa dalam uraian nanti.1 PEMAHAMAN DASAR TENTANG FASILITATOR DAN FASILITASI PARTISIPATIF 1. 3). FASILITATOR: APA. mudah-mudahan tidak menghambat pemahaman pembaca. Halaman | 4 . 2). PENGANTAR Ada beberapa pemahaman dasar yang perlu dikuasai oleh setiap Fasilitator Perencanaan Pembangunan Partisipatif sebelum melaksanakan tugasnya. MENGAPA. agar setiap anggota Fasilitator P3MD Plus mempunyai wacana yang mendasar dalam kedudukannya sebagai yang memperlancar musyawarah. diskusi. Pengantar. 2. dalam hal ini Fasilitator P3MD Plus. ataupun pembahasan suatu materi penyajian yang akan difasilitasi. Pemahaman tersebut terutama tentang Fasilitator dan Fasilitasi Partisipatif. adalah: seorang atau sekelompok orang yang bertugas membantu kelompok masyarakat perencana pembangunan di desa yang diproses secara partisipatif. Harapannya. ada beberapa kata yang berasal dari bahasa Inggris yang diterjemahkan atau dijelaskan dalam bahasa Indonesia. Sistimatika penulisan topik ini adalah sebagai berikut: 1). Fasilitator dapat atau biasa juga disebut sebagai Fasilitator. Fasilitator: Apa. Apa yang dimaksud dengan Fasilitator? Fasilitator. Mengapa perlu Fasilitator? Agar proses P3MD Plus dapat berjalan secara terbuka dalam menjaring 2). 6). 4). Peran Fasilitator adalah memperlancar dan mempermudah proses fasilitasi P3MD Plus agar mendapat hasil-hasil yang sesuai dengan prinsip partisipasi masyarakat sebagai yang terutama. khususnya Fasilitator Perencanaan Partisipatif Pembangunan Masyarakat Desa Plus atau disingkat dengan P3MD Plus. Mengapa.Bahan Bacaan 1.

Bagaimana sikap-sikap Fasilitator yang etis? (1) Sikap pribadi antara lain:  Simpatik. (4) Mempunyai pengetahuan tentang data. sehingga dapat diterima baik oleh peserta. atau pihak lainnya. sesama anggota Tim Fasilitator. (9) Memahami isu gender (relasi laki-laki dan perempuan) yang ada dalam masyarakat. 3). agar aktif berpendapat dan menyimpulkan bersama. peta. Satu senyum bagaikan matahari yang dapat menghalau kabut gelap hati yang sedang keruh. (2) Sikap pada waktu memfasilitasi:  Tidak memihak pada seseorang atau suatu kelompok tertentu. yang dapat dimiliki melalui pelatihan. maupun mungkin para pengamat dan narasumber. dan praktek lapangan. Apa pentingnya Etika Fasilitator? Etika fasilitator menjadi penting karena keberhasilan seorang Fasilitator banyak ditentukan oleh pengendalian tingkah lakunya dalam menghadapi peserta musyawarah. 6).  Akrab dengan peserta. 4). (3) Memberikan bantuan kemudahan dalam memperlancar proses musyawarah. (2) Mempunyai keterampilan berkomunikasi dengan baik. Halaman | 5 . 5).  Ramah. saling menghormati dan saling percaya diantara peserta musyawarah. dengan harapan usulan pembangunan yang dihasilkan merupakan hasil pertimbangan semua peserta secara obyektif dan setara.aspirasi para peserta. dan menyimpulkan berbagai pendapat dari peserta. (3) Diterima oleh kelompok musyawarah terkait. Tingkah laku Fasilitator itu harus dapat menciptakan suasana nyaman. (7) Mampu menghargai pendapat orang lain. menganalisis. (5) Berkedudukan sebagai teman yang ditokohkan. Tingkah laku Fasilitator seperti itu hanya dapat tercipta bila Fasilitator tersebut memenuhi tata krama atau sopan santun. Apa tugas dan peranan Fasilitator? (1) Memotivasi atau menumbuhkan partisipasi para peserta musyawarah. Apa syarat dan kriteria menjadi Fasilitator? (1) Menguasai metode fasilitasi partisipatif. (6) Sabar dan mampu mengendalikan diri. (2) Menampung pendapat para peserta diskusi atau musyawarah dan menyimpulkan bersama.  Saling menghormati sesama Fasilitator. dan arah musyawarah yang akan dilakukan. orientasi. penyelenggara musyawarah. tanpa pemihakan kepada peserta atau kelompok peserta tertentu. (8) Mampu bersikap terbuka dan tidak memihak.  Tidak menggurui.

titik simpul tersebut dikemukakan ke forum. (7) Membangkitkan kepercayaan orang lain. misalnya dalam menempelkan kertas plano atau menuliskan aspirasi dan saran serta pemikiran para peserta. Di dalam pelaksanaan tugasnya perlu disepakati pembagian dan pembidangan secara jelas materi yang akan disajikan oleh masing-masing Fasilitator. (4) Senantiasa menciptakan suasana saling terbuka.  Apabila terjadi silang pendapat antar peserta. walaupun pendapat itu tidak disetujui. Untuk itu. saling percaya. (8) Selalu menggugah orang untuk mengemukakan pendapatnya terkait materi bahasan. melainkan membantu orang lain untuk memecahkan permasalahan mereka sendiri. kompak. bisa saja maju ke depan untuk membantu fasilitator yang sedang bertugas di depan. tanpa ada yang merasa dirugikan atau dipojokkan. Tim Fasilitator perlu berada dibawah koordinasi seorang Ketua Tim. (6) Tidak mendikte orang lain. diperlukan kerjasama yang baik. Fasilitator harus mampu menemukan titik simpul dari pokok-pokok bahasan yang didiskusikan dalam musyawarah. jawaban peseta dapat menghindari perbedaan pendapat atau keraguan yang muncul sebelumnya. Dengan demikian. Seorang fasilitator atau Mitra Fasilitator yang tidak sedang bertugas di depan kelas. Fasilitator harus mampu mengambil kesimpulan yang tepat dan cepat. singkat. dan santun antar Fasilitator. (5) Menhadapi suasana konflik dan tegang dengan hati dingin dan pemikiran yang arif. Selanjutnya dengan cara-cara bijaksana. Apa kiat-kiat Fasilitator (1) Sampaikan materi bahasan secara jelas. Menghargai pendapat peserta. tanpa memihak kepada salah seorang atau sekelompok peserta. Fasilitator dapat mengemukakan dalam bentuk pertanyaan. diantaranya adalah: Halaman | 6 . Pentingnya kerjasama Tim Fasilitator Dalam suatu forum musyawarah perencanaan pembangunan. 8). Catatan:  Dalam beberapa situasi. (2) Mampu mengendalikan diri sedemikian rupa sehingga persoalan pribadi tidak dicampur-adukkan dengan persoalan masyarakat. Bersedia menerima saran dan pendapat orang lain. dan saling menghormati. dan tepat. Yang perlu diperhatikan untuk dihindari. Dalam menyampaikan pendapat atau kesimpulan. (9) Membantu orang lain menemukan jawaban dari suatu permasalahan. (3) Aktif mendengarkan pendapat orang lain. sehingga kesepakatan yang diputuskan oleh peserta tidak merupakan keputusan yang diusulkan oleh Fasilitator.  7).

semua peserta dapat dengan mudah memperhatikan apa-apa yang disampaikan oleh Fasilitator. Hal-hal lain yang harus diperhatikan oleh Fasilitator: (1) Seorang Fasilitator harus mampu menguasai atau memahami ruang lingkup pokok bahasan yang akan disajikan. Fasilitator harus mampu mengelola dan memanfaatkan waktu yang sudah dijadwalkan dan disepakati bersama peserta. Hal tersebut dapat mengurangi atau merusak kepercayaan peserta kepada Fasilitator. Misalnya. Fasilitator yang di depan dapat memberikan tanda atau kode-kode kepada Mitra-Fasilitator tertentu. Tidak boleh sering melewati batas-batas waktu yang telah Halaman | 7 . (4) Jika ruangan memungkinkan. 9). posisi duduk peserta sebaiknya disusun dalam posisi setengah lingkaran. Sebaliknya. untuk mengharapkan bantuan atau memberikan pemikiran tambahan. (5) Dengan jumlah peserta antara 20-25 atau 30 orang. jarak kursi perlu direnggangkan agar dapat memudahkan para peserta dalam bergerak sesuai dinamika pelatihan. (2) Seorang Fasilitator harus berdiri di depan peserta dengan posisi menghadap kepada peserta (tidak membelakangi peserta). (6) Sedapat mungkin. terutama kepada Fasilitator yang sedang bertugas dan kerjasama Tim Fasilitator dapat menjadi rusak. Kalau terpaksa lebih dari 1 baris.(1) Seorang Mitra Fasilitator tidak boleh maju ke depan untuk membantu penjelasan materi atau menjawab pertanyaan peserta TANPA IJIN Fasilitator yang sedang bertugas di depan kelas! Dalam hal demikian sepatutnya Mitra Fasilitator atau para Mitra Fasilitator. sebaiknya Fasilitator tidak menggunakan alat pengeras suara agar kedua tangannya dapat leluasa menggunakan alat-alat bantu yang diperlukan. dan lantang. untuk menulis dan menempel metaplan yang memerlukan kedua tanggannya. diusahakan agar susunan bangku peserta hanya satu baris. (2) Jangan tunjukkan dengan gamblang konflik atau perbedaan persepsi antara Fasilitator yang sedang bertugas di depan kelas dengan para Mitra Fasilitator di hadapan para peserta. (3) Untuk mencapai jarak pandang kepada peserta secara merata. Diusahakan agar posisi Fasilitator berada ditengah-tengah peserta sehingga dapat menjangkau semua peserta dengan mudah. Hal ini untuk memudahkan Fasilitator mendekat kepada peserta agar lebih akrab. terlebih dulu memberi tanda (atau kode-kode gerakan tubuh yang telah disepakati sebelumnya) kepada Fasilitator yang di depan. Tentu saja suara Fasilitator harus diusahakan keras. Untuk mempermudah saling memberi tanda atau kode-kode tersebut. Atau sebaliknya. sebaiknya para Mitra Fasilitator mengambil posisi duduk di belakang tempat duduk para peserta. Dengan penguasaan dan pemahaman tersebut diharapkan Fasilitator mampu mempertahankan perannya dalam proses pencapaian kesepakatan atau keputusan musyawarah. tegas.

 Curah pendapat.  Kerja perorangan. Dengan demikian. peserta yang keliru tersebut dengan sendirinya tidak akan merasa direndahkan. 3. fasilitasi yang partisipatif biasanya menggunakan alat dan media peragaan atau visualisasi yang dapat merangsang peserta untuk mengembangkan pemikirannya. (2) Adanya Fasilitator. Halaman | 8 . (5) Adanya kriteria dan skoring (pemberian nilai. maka Fasilitator menggunakan contoh atau ilustrasi yang dapat menggambarkan situasi.  Praktek lapangan. (4) Adanya peragaan atau visualisasi. agar penetapan prioritas usulan kegiatan pembangunan. dan hasil diskusi. proses. agar diskusi dapat lebih terarah dan sistematis. Dalam pelaksanaannya.  Simulasi. agar diskusi dapat dilakukan secara terbuka dan obyektif. Jika perlu waktu tambahan. karena pengertiannya hanya diuji dan ternyata dia menyadari sendiri bahwa pengertiannya tersebut tidak tepat. 4. Pengertian Merupakan aktivitas yang memudahkan peserta untuk berpartisipasi aktif dalam suatu diskusi atau musyawarah. Apa ciri-ciri Fasilitasi Partisipatif? (1) Adanya keterlibatan semua unsur terkait. lalu membiarkan para peserta sendiri yang menyimpulkan secara tidak langsung. mempunyai alasan yang jelas sesuai tingkat kepentingannya.  Diskusi kelompok. peringkat ataupun bobot). APA SAJA JENIS METODE FASILITASI PARTISIPATIF? 1) Apa saja jenis-jenis Fasilitasi Partisipatif?  Ceramah. (3) Adanya metode tertentu.(7) disepakati bersama peserta. 2).  Kerja kelompok.  Tanya jawab. Semua peserta mendapat kesempatan yang sama dalam memahami materi yang disajikan.  Diskusi pleno. dalam hal ini adalah semua unsur perencana dan masyarakat agar dapat berpartisipasi dalam membahas dan memutuskan. Hendaklah Fasilitator tidak mengemukakan kesalahan peserta di depan peserta lain. agar tidak ada dominasi dan pemihakan kepada peserta atau kelompok peserta tertentu. Apabila dirasa perlu demi kelancaran diskusi atau musyawarah. sebaiknya dibahas bersama peserta. FASILITASI PARTISIPATIF 1). (6) Adanya dokumentasi langsung tentang materi.

kartu plano. Langkah-langkah yang dilakukan:  Fasilitator memperkenalkan dalam bentuk pertanyaan tentang materi bahasan tertentu yang memerlukan pendapat peserta. Seorang penceramah hendaklah mengenal terlebih dahulu para pendengarnya. Hal ini berguna bagi pengaplikasian strategi ceramah. membahas secara singkat. hal tujuan musyawarah dan penggunaan alat kajian perencanaan dan penganggaran. Semua peserta bebas menyatakan pendapatnya. Salah satu strategi yang cocok untuk digunakan agar para pendengar benar-benar sadar secara mendalam akan apa yang didengar dan dipahaminya adalah pedagogi kritis.2) Cara Fasilitasi Partisipatif (1) Ceramah Seseorang yang memberikan ceramah adalah orang yang berperan sebagai fasilitator atau penolong bagi para pendengarnya dalam suatu proses belajar. serta  Melaksanakan ceramah dengan suara yang jelas. (2) Curah Pendapat Metode Curah Pendapat ini pertama kali diperkenalkan oleh Alex Faickney Osborn pada tahun 1930. Strategi ini memberikan peluang yang seluas-luasnya bagi para pendengar untuk mempertanyakan atau menantang apa yang disampaikan sang penceramah. Pertanyaan tersebut ditulis di papan tulis dengan huruf yang cukup besar dan jelas agar mudah dibaca oleh peserta dari jarak 2 Diterjemahkan secara bebas dari http://en. Halaman | 9 . dan bagan.org/wiki/Brainstorming. misalnya.wikipedia. Definisi Curah Pendapat adalah teknik kreatif berkelompok yang didisain untuk menghasilkan sekelompok besar ide yang selanjutnya digunakan untuk mendapatkan solusi2. dan menyimpulkan pendapat seluruh peserta mengenai materi bahasan tertentu. serta memberi contoh-contoh.  Mempersiapkan alat-alat pendukung ceramah. Tujuan penggunaan metode ceramah kritis dalam panduan ini adalah agar terbuka peluang yang seluas-luasnya bagi keberlanjutan penggunaan keahlian Fasilitasi Perencanaan dan Penganggaran Partisipatif di Desa sebagai akibat dari pemahaman yang benar akan berbagai informasi terkait yang disampaikan. Tujuan penggunaan metode curah pendapat dalam panduan ini adalah untuk mengumpulkan. menantang peserta untuk mempertanyakan dan berdialog. Misalnya. Adapun langkah-langkah yang dilakukan adalah:  Mempersiapkan materi ceramah lengkap dengan penjelasannya. alat tulis.

 Mengulas dan memperjelas jawaban-jawaban peserta. antara lain dengan meminta kepada setiap peserta untuk menyampaikan pendapatnya dan akan ditulis oleh fasilitator di papan tulis. Kemudian para peserta diminta untuk menuliskan pendapatnya masing-masing pada kartu. baik itu pendapat lepas sendiri maupun pendapat yang terkait dengan pendapat yang Halaman | 10 .  Fasilitator menjelaskan cara-cara mengemukakan pendapatnya. Caranya adalah dengan konsisten terus meminta satu atau lebih peserta menjelaskan pertanyaan tersebut. maka Fasilitator membaca satu per satu kartu tersebut sambil selalu meminta persetujuan para peserta dalam pengelompokkan kartu sesuai topik besar yang memayungi isi tiap kartu. Kemudian.  Mengajukan pertanyaan kepada peserta. Metode ini biasanya digunakan bersamaan atau untuk melengkapi metode lain yang sedang digunakan. Suatu pertemuan dua atau lebih orang dapat dikatakan sedang berdiskusi apabila terdapat dua atau lebih orang yang secara aktif mengemukakan pendapat. Peserta harus difasilitasi untuk menyatakan pendapatnya sendiri tanpa dipengaruhi pendapat dari peserta lainnya. Ucapkan terimakasih dan penghargaan atas kesediaan peserta memberikan pendapatnya. Kartu-kartu tersebut dibagikan ke setiap peserta. Fasilitator harus memastikan bahwa pertanyaan tersebut dipahami oleh seluruh peserta. Fasilitator menyimpulkan pendapat-pendapat yang tertulis tersebut. Setelah setiap kartu terkumpulkan.maksimal lima meter. Setelah menuliskan sejumlah pendapat yang disampaikan. Cara lain untuk menampung pendapat adalah dengan menggunakan kartu plano. Fasilitator membacakan pertanyaan tersebut sambil menunjuk huruf-huruf yang dibacanya dan mengamati reaksi dari peserta. kartu-kartu tersebut dikumpulkan dan ditempelkan di papan depan kelas.   (3) Tanya-jawab Tujuan penggunaan metode tanya-jawab adalah untuk mengetahui tingkat pemahaman/kegiatan peserta terhadap suatu pokok bahasan. Langkah-langkah yang dilakukan:  Merumuskan pertanyaan. (4) Diskusi Kelompok Prinsip dasar dari suatu diskusi adalah adanya suatu dialog atau pengajuan pendapat atau argumen secara interaktif (dua arah secara aktif) dimana setiap peserta diskusi sama kesempatannya dalam mengemukakan pendapat.

 Membuat petunjuk dengan jelas tentang tugas yang akan dilakukan oleh setiap kelompok. Langkah-langkah yang dilakukan:  Tentukan masalah yang akan didiskusikan.  Memantau dan melancarkan jalannya diskusi kelompok. (6) Kerja Kelompok Tujuan penggunaan metode Kerja Kelompok adalah:  Apabila ingin memberikan sesuatu kemampuan tertentu.  Mencatat hasil diskusi kelompok.  Mintakan tanggapan dari peserta musyawarah lain. Suatu pendapat yang dikemukakan dapat merupakan pendapat yang menguatkan pendapat orang lain maupun pendapat yang bertentangan sama sekali. Halaman | 11 .  Jelaskan tugas masing-masing kelompok agar memahami topik khusus yang harus didiskusikan. Langkah-langkah yang digunakan:  Tentukan pokok bahasan yang akan didiskusikan. Langkah-langkah yang dilakukan:  Siapkan deskripsi tugas dan alat (kalau ada). (5) Diskusi pleno Tujuan penggunaan metode diskusi antar peserta (diskusi pleno) adalah untuk mengetahui perbedaan/persamaan pendapat yang terjadi diantara peserta atau antar kelompok peserta musyawarah perencanaan dan penganggaran.dikemukakan orang lain. Setiap pendapat selalu didasarkan pada bukti pendukung yang jelas. Tujuan penggunaan metode diskusi kelompok adalah menjamin terlaksananya pengkajian yang lebih mendalam pada topik atau subtopik tertentu.  Apabila ingin mengetahui tingkat kemampuan peserta terhadap sesuatu pengetahuan dan keterampilan tertentu.  Mintalah 1 sampai 3 orang peserta musyawarah untuk lebih dahulu menjelaskan pertanyaan tersebut.  Tariklah ”benang merah” hasil tanggap-menanggap para peserta musyawarah menjadi kesimpulan dari hasil pembahasan.  Persiapkan bahan/alat yang akan digunakan dalam diskusi kelompok.  Minta kelompok untuk melakukan tugas tersebut. Misalnya. atau topik yang ada dibagi kedalam sub-sub topik tertentu baru kemudian disatukan kembali. jika kelompok perencana terlalu besar jumlahnya maka dapat dibagi dalam kelompok-kelompok yang lebih banyak.  Hasil pekerjaan kelompok disampaikan atau disajikan pada diskusi pleno untuk dapat ditanggapi.

dan pihakpihak yang terkait di lapangan.  Meminta peserta melakukan praktek lapangan.  Meminta komentar para peserta lain yang berperan sebagai pengamat simulasi. pengetahuan. Pemahaman yang telah terbentuk tersebut akan mempermudah Fasilitator dalam menyampaikan inti dari suatu pokok bahasan terkait.  Menunjuk beberapa peserta untuk memainkan peran-peran tertentu tersebut. Dengan demikian. Manfaat dari diskusi terbuka ini adalah para peserta dapat secara mandiri menilai hasil kerja perorangan mereka.  Melaksanakan permainan peran itu. dan ketrampilan peserta dalam menerapkan atau menguji teori. Halaman | 12 .(7) Kerja Perorangan Tujuan penggunaan metode Kerja Perorangan adalah:  Untuk mengetahui tingkat kemampuan peserta terhadap suatu pengetahuan dan keterampilan tertentu.  Membuat petunjuk dengan jelas tentang tugas yang akan dilakukan oleh setiap peserta.  Untuk merangsang bangkitnya suatu kemampuan tertentu. Langkah-langkah yang dilakukan:  Merumuskan panduan praktek lapangan. terbukalah peluang bagi tercapainya kesadaran secara mendalam akan makna jawaban yang paling benar.  Minta setiap peserta melakukan tugas tersebut. Praktek lapangan dapat memperkaya wawasan. Langkah-langkah yang dilakukan:  Merumuskan masalah dan peran-peran tertentu yang akan dimainkan peserta. dan langkahlangkah yang akan dilakukan oleh peserta latihan.  Melakukan diskusi terbuka dengan semua peserta akan jawaban yang paling tepat. peralatan. tujuan.  Mendiskusikan pendapat para ”pengamat” tersebut untuk dibuatkan kesimpulan. (8) Simulasi atau Bermain Peran Tujuan penggunaan metode simulasi adalah untuk membawa peserta kepada pengertian suatu hal tertentu secara mandiri berdasarkan pengalaman masing-masing peserta. Langkah-langkah yang dilakukan:  Siapkan uraian tugas dan alat-alat pendukung (kalau ada). (9) Praktek Lapangan Metode Praktek Lapangan digunakan untuk mengetahui tingkat ketepatan aplikasi teori yang telah didapat dalam pertemuan di kelas.  Mempersiapkan lokasi praktek lapangan.  Meminta peserta merefleksikan hasil praktek lapangan.

1). dengan prosentase penyerapan yang lebih baik). yaitu: 84%. Merumuskan kesimpulan dari hasil praktek lapangan. Peragaan akan lebih memudahkan penyampaian pendapat.5 cm. untuk kemudian dibahas bersama. bentuk awan atau segi empat ukuran lain-lain. peraba: 1%. putih. Halaman | 13 . dapat juga dibuat dalam bentuk lain. sangat tinggi. Perbedaan pendapat dan unsur-unsur pembedanya akan lebih mudah dimengerti. biru. seperti: bulat. terutama apabila peserta berasal dari latar belakang budaya. Apa manfaat dan keunggulan peragaan? (1) Daya serap peragaan melalui penglihatan. sehingga dapat menghindari salah pengertian. sehingga akan memudahkan mereka yang tidak atau terlambat hadir untuk ikut memahami materi diskusi yang telah berlangsung. golongan. dan pengecap: 1% (lihat gambar dan diagram dibawah pada Ilustrasi 1: „Persentase Perbandingan Daya Serap Informasi‟ dan Ilustrasi 2: „Hubungan antara yang dilihat. Fungsinya adalah sebagai lembar penulisan pendapat peserta musyawarah. Mempermudah dan memperlancar proses dokumentasi dan penyusunan laporan hasil pembahasan atau diskusi.  Selanjutnya.  Meminta komentar terhadap hasil praktek lapangan. Tahapan diskusi tergambar melalui peragaan. dapat dibuat dengan kertas apa saja namun dapat memenuhi fungsinya. oval. Apa saja alat bantu peragaan itu? (1) Kartu metaplan  Kartu metaplan adalah potongan kertas manila dalam bentuk standar segi empat berukuran 20 cm x 9. didengar. yang dapat digunakan untuk penegasan atau tanda dan rambu-rambu lain dalam proses pembahasan dan pendokumentasian. dan jabatan yang berbeda. hijau. 5. APA YANG DIMAKSUD DENGAN PERAGAAN ATAU VISUALISASI? Peragaan atau visualisasi adalah suatu cara penyampaian informasi dengan menggunakan alat atau media tertentu agar dapat dilihat dan didengar. seperti: merah.  Kartu (sebaiknya) terbuat dari potongan kertas manila (agar mudah ditulisi. dan daya serap indera manusia seharihari‟. kuning. sehingga apa yang disampaikan menjadi lebih mudah dimengerti. Diskusi dapat lebih terarah atau terfokus pada sasaran pokok bahasan. (2) (3) (4) (5) (6) (7) Gagasan dan saran menjadi lebih mudah diingat. dirasakan. penciuman: 3%. selain bentuk standar segi empat. tidak mudah terlupakan dan hilang. 2). dibanding dengan pendengaran: 11%. dibaca dan dipindahkan atau dilepas dan dilekatkan kembali) serta terdiri dari berbagai warna. Namun apabila tidak memungkinkan bagi kondisi setempat.

Dinamakan papan tancap karena digunakan untuk menancapkan kartu-kartu informasi dengan jarum atau paku tancap. dimodifikasi dengan menempelkan styropor atau matras pada landasan tulis. sehingga tintanya tidak cepat habis atau mengering. Flipchart ditempatkan pada standar dengan tinggi sekitar 179 cm (tinggi kaki + 75 cm). Apabila styropor juga tidak ada. Alternatif pengganti papan tancap: Apabila di suatu forum pertemuan tidak tersedia papan tancap.5 cm.  Kertas flipchart Kertas flipchart adalah lembar kertas tulis lebar berukuran 96 x 70 cm. (3) Papan dan kertas flipchart  Flipchart Flipchart adalah papan berwarna putih berukuran 104 x 74 cm. kecuali. Apabila pernyataan tidak termuat dalam satu kartu. tetapi. dapat juga menggunakan papan tulis putih (whiteboard) besar atau landasan tulis lain berukuran panjang 200 x tinggi 123 cm. atau kayu. Setiap tulisan harus rata-kiri dan hindari penggunaan huruf kapital/besar semua. setelah selesai setiap penulisan agar spidol ditutup. Jenis kertas dapat terdiri dari: kertas kalender. hindari menggunakan tulisan dengan warna merah. styropor atau karpet karet hitam. dengan bingkai metal atau aluminium.  Agar tulisan pada kartu metaplan dapat terbaca dengan mudah.(2) Bagaimana cara penulisan pada kartu metaplan?  Tulisan harus jelas dan dengan warna jelas. maka tulisan tersebut harus cukup besar sehingga satu kartu dapat menampung maksimum tiga baris tulisan secara wajar. Bingkai papan dapat terbuat dari metal atau kayu yang ringan. kertas dinding atau kertas lebar lainnya sesuai dengan kondisi setempat. dimana huruf awal selalu huruf besar dan huruf-huruf selanjutnya adalah huruf kecil. maka kartu-kartu Halaman | 14 . dapat menggunakan dua kartu atau lebih. Alat penjepit kertas pada flipchart dapat terdiri dari bermacam-macam model: dapat berupa skrup besar yang menyatu dengan papan atau dapat juga menggunakan penjepit kertas besar (terlepas dari papan flipchart). atau alat tancap lainnya.  Apabila menggunakan alat tulis spidol. (4) Papan tancap (pinboard. gunakanlah formulir penulisan biasa. terbuat dari bubuk kayu pres. softboard) dan kertas warna coklat  Papan tancap Papan tancap adalah landasan tulis berukuran 150 x 123 cm. atau matras dengan tebal 1. dan dapat digunakan sebagai papan tulis putih (whiteboard).  Setiap kartu hanya ditulisi dengan satu pernyataan pribadi (bukan atas pengaruh orang lain). singkatan. sehingga papan mudah dipindah-pindahkan.

dimana penjelasan sudah dituliskan dan dirancang sebelumnya. lem UHU atau bahan perekat lain. Papan tancap ditempatkan pada standar dengan tinggi 195 cm. dapat ditempelkan pada dinding terbuka.metaplan dilekatkan pada landasan tulis dengan selotip. dimana kartu-kartu metaplan ditancapkan dan kemudian direkatkan pada lembaran tersebut. dengan harapan tidak mudah robek. sebelum dimasukkan ke dalam komputer atau lembar dokumentasi lain. dan digunakan untuk: * Melapisi papan tancap. agar peserta dapat melihat dan membaca kembali hasil pembahasan yang telah dilakukan dan disepakati. tahun 1997 Halaman | 15 . Lembaran yang telah berisi kartu dan telah selesai didiskusikan. Lembaran tersebut juga berfungsi sebagai sumber dokumentasi asli suatu pembahasan. Disarankan agar diusahakan untuk mengusahakan yang tebal. Ilustrasi 1 Prosentase Perbandingan Daya Serap Informasi Penglihatan Pendengaran Penciuman Peraba Pengecap : : : : : 84% 11% 3% 1% 1% Sumber: GTZ KUF. bahwa ada 2 jenis kertas coklat.  Kertas warna coklat Kertas warna coklat adalah lembaran kertas berukuran 140 x 125 cm. Modul Pelatihan Rapat Koordinasi Pembangunan Pertanian. * Selanjutnya perlu dikemukakan. yaitu kertas pembungkus (tebal) dan jenis kertas sampul (tipis). * Untuk menjelaskan tujuan pelatihan atau topik lain dalam suatu penyajian oleh fasilitator atau siapapun. ataupun perekat`yang dapat dibuat sendiri sesuai kondisi setempat.

5 1 1. oleh Balai Pengkaderan PMD.5% Tangan Daya ingat berdasarkan indera dan waktu yang digunakan Daya ingat Lihat + Dengar Lihat saja Dengar saja 100% 85% 80% 65% 60% Setelah 3 jam Waktu Setelah 3 jam Setelah 3 hari Setelah 3 jam Setelah 3 hari Setelah 3 jam Setelah 3 hari Persentase 85% 65% 72% 20% 70% 10% 72% 70% Setelah 3 hari 40% 20% 20% 10% 0% Lihat + Dengar Lihat saja Dengar saja Sumber: Materi pelatihan „Pemantapan P3MD bagi Tim Pembina LKMD Tk.5% 1% Melalui Mata Telinga Hidung Lidah Presentase 83 11 3. II dan Kecamatan‟. Halaman | 16 . Yogyakarta.5 11% 1.Ilustrasi 2 Prosentase Perbandingan Daya Serap Informasi Daya ingat berdasarkan indera yang digunakan 83% 3.

Kegiatan apa saja yang biasa menyertakan masyarakat untuk berpartisipasi? Siapa yang berperan sebagai pengambil keputusan? Buatlah daftar terpilah dengan cara Lama mengidentifikasi apakah semua kegiatan diikuti oleh laki-laki saja.Kembangkanlah kesimpulan pengertian dari pendapat laki-laki dan perempuan terkait partisipasi. hak.  Peserta dapat menjelaskan hak-haknya untuk berpartisipasi dalam perencananan pembangunan di desanya. dan kebutuhan. atau laki-laki dan disesuaikan dengan perempuan. 75 menit Halaman | 17 . . Mintalah peserta untuk menerjemahkan kedalam bahasa daerah masing masing tentang partisipasi. Hal-hal apa saja yang disepakati bersama menunjukan adanya partisipasi? peserta. hak.2: Partisipasi adalah Hak Masyarakat Tujuan  Peserta dapat menjelaskan hak-hak dasar masyarakat dalam pembangunan.Buatlah tabel yang dapat memisahkan jawaban laki-laki dari jawaban perempuan. Bersama peserta semua kelompok. o Mintalah peserta mendiskusikan dalam kelompok yang sama tentang: . hak.Apa yang peserta ketahui tentang partisipasi. waktu diskusi ini perempuan saja. Spidol dan perlengkapan tulis lainnya yang tersedia sesuai kondisi di desa.  Peserta menggunakan hak partisipasi dalam wadah Musrenbang dan forum musyawarah lainnya.Apa beda Hak dan Kebutuhan? . . tariklah satu kesimpulan umum akan pengertian partisipasi. o o o Mintalah tiap kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya.Sub Bagian 1. dan kebutuhan. dan kebutuhan. Bahan dan Alat Kertas coklat/bekas kalendar. kondisi dan . Waktu 120 menit Langkah Kegiatan  Sesi Kerja Kelompok o Fasilitator mengawalinya dengan suatu role-play atau game yang inspiratif dan dapat mengantar peserta pada pemahaman akan segala sesuatu terkait partisipasi masyarakat.

o Fasilitator juga memberikan penekanan pada Hak-hak Dasar Manusia yang harus diakomodir oleh setiap kegiatan pembangunan. o Fasilitator memberikan masukan melalui media/bahan bacaan terlampir. 15 menit Pertanyaan Kunci  Apa itu Partisipasi?  Apa itu Hak-hak Dasar?  Apa syarat bahwa proses perencanaan pembangunan telah memenuhi hak partisipasi masyarakat?  Apa-apa saja wadah partisipasi masyarakat dalam pembangunan di desa?  Pada tahap apa saja masyarakat berperan serta? Dan bagaimana cara keterlibatannya? Halaman | 18 . o Fasilitator juga memberikan penegasan mengenai syarat syarat apa saja yang harus dipenuhi agar dapat disebut partisipatif dengan menggunakan acuan pertanyaan-pertanyaan kritis berikut: o Apakah lembaga pemerintahan desa memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berperan serta? o Bagaimana sebaiknya agar proses penyusunan rencana dan anggaran semakin banyak melibatkan kelompok-kelompok masyarakat? o Bagaimana agar kaum perempuan dan kaum yang terpinggirkan juga dapat terlibat? 30 menit  Sesi Penegasan o Sesi ini ditutup dengan penekanan Fasilitator tentang partisipasi sebagai salah satu prinsip tata kepemerintahan yang baik. agar peserta mendapatkan jawaban jawaban dari pertanyan-pertanyaan kritis tersebut. Sesi Pleno o Fasilitator selalu menantang peserta dengan pertanyaanpertanyaan kritis.

o Mengembangkan diri seluas-luasnya. dan perumahan. o Memiliki usaha ekonomi. wajib untuk bertanggungjawab terhadap setiap kebijakan publik yang dibuat. Halaman | 19 . status sosial. suku. o Perempuan berhak mendapatkan perawatan dan bantuan istimewa terkait tugas reproduksinya dan anak-anak berhak mendapat perawatan dan bantuan istimewa bagi pertumbuhan tubuh dan jiwanya yang sehat. pakaian. Pembangunan Berdasarkan Hak  Semua hak-hak asasi manusia harus dijamin oleh pembangunan. o Bebas dari kekerasan dan berbagai diskriminasi (pembedaanpembedaan secara tidak adil) hanya karena berbeda jenis kelamin. dan agama.  Disebut Tata kepemerintahan yang Baik karena semua hal diatas dilaksanakan bebas dari korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan serta berdasarkan hukum. o Memiliki pekerjaan.  Tanggung-gugat. o Mendapat pendidikan. dan menjamin perwujudan penerapan upaya menjamin hak-hak asazi manusia. pangan.2 PARTISIPASI MASYARAKAT SEBAGAI BAGIAN DARI TATA KEPEMERINTAHAN YANG BAIK Apa itu Tata kepemerintahan yang Baik?  Tata kepemerintahan adalah suatu proses dimana institusi-institusi publik milik pemerintah menyelesaikan masalah-masalah publik.Bahan Bacaan 1. o Jaminan sosial dan kebudayaan. Nilai-nilai Tata kepemerintahan yang Baik:  Selalu meresponi kebutuhan masyarakat  Terbuka (Tranparan)  Tanggung-gugat (Akuntabel)  Partisipasi Masyarakat  Demokratis  Mendukung kesetaraan laki-laki dan perempuan (gender equality). ras. mengelola sumber dayasumber daya publik.  Setiap penyelenggara pembangunan berdasarkan mandat yang diterima dari rakyat. Contoh hak-hak asasi manusia adalah: o Jaminan kesehatan. karena masyarakat bisa menggugat jika tidak dibuat sejahtera.

Sedangkan. tetapi diberikan kuasa. Kalimat mudahnya: otonomi adalah kewenangan untuk mengatur dan mengurus pemerintahan dan kepentingan masyarakat berdasarkan prakarsa dan aspirasi mereka. Halaman | 20 . Kemudian diakhiri dengan aspek evaluasi. untuk mempergunakan hak menyampaikan pendapat dalam proses pengambilan keputusan yang terkait dengan kepentingan masyarakat banyak. Oleh karena itu. Juga terlihat bagaimana keikutsertaan masyarakat dalam pelaksanaannya termasuk manfaat (langsung) apa yang bisa didapat oleh masyarakat yang harus disepakati sejak awal perencanaan. dan disediakan akses untuk aktif didalam penyelenggaraan pembangunan. adalah kesatuan masyarakat hukum yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat. partisipasi merupakan salah satu prinsip yang harus dikembangkan. kelompok-kelompok masyarakat.  Partisipasi non-diskriminatif  masyarakat. dimana pada pembangunan daerah. Manfaat langsung ini pada hakekatnya merupakan salah satu ciri yang membedakannya dengan pembangunan daerah. Perlu dicatat bahwa yang dimaksud disini adalah manfaat langsung yang dapat diterima oleh masyarakat setelah kegiatan proyek atau progam selesai. Partisipasi dalam Peratutaran Pemerintahan di Indonesia Partisipasi pada hakekatnya merupakan wahana atau sarana pendorong bagi setiap warga. termasuk perempuan dan kelompok-kelompok masyarakat yang terpinggirkan. desentralisasi merupakan salah satu sarana atau instrumen untuk mendorong tata kepemerintahan yang baik (good governance). intinya adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh pemerintah pusat kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan. Desentralisasi. menurut undangundang yang sama pasal 1 ayat 6. menurut UU 32/2004 pasal 1 ayat 7. semuanya mempunyai hak untuk terlibat dalam penyelenggaraan pembangunan. Pada gambar dibawah ini terlihat jelas empat ciri atau aspek dalam proses partisipasi. ditingkatkan kemampuannya.  masyarakat bukan hanya sekedar menerima. Penguatan atau pengembangan masyarakat. dalam rangka penerapan otonomi dan desentralisasi. bahwa ciri utama dan pertama dalam partisipasi adalah keikutsertaan masyarakat atau warga dalam pengambilan atau pembuatan keputusan. kita akan bicara tentang partisipasi dan tata kepemerintahan yang baik di tingkat desa (Good Village Governance) melalui penyelenggaraan otonomi desa. seseorang tidak bisa serta merta menuntut manfaat langsung yang akan diterima. Partisipasi sebagai Hak Masyarakat Sejak awal perlu dipahami. Masyarakat mempunyai hak untuk ikut serta dalam melakukan evaluasi. Dibawah ini. nasional atau semacamnya. Sedangkan daerah otonom.

Beberapa yang menyebutkan partisipasi atau peran serta masyarakat. 1 huruf b).Empat aspek dan Rangkaian Proses Partisipasi Empat Aspek dan Proses Partisipasi Pembuatan Keputusan (A) (B) Pelaksanaan (C) Manfaat (D) Evaluasi Sumber: Cohen and Uphoff (1976) Dalam peraturan perundang-undanggan yang ada. hak partisipasi warga dan bagaimana masyarakat mendapatkan hak tersebut. kalimat terakhir alinea 1 dan 2). otonomi asli. Yang ada misalnya tentang petunjuk perlunya partisipasi atau peran serta masyarakat dalam kaitannya dengan otonomi desa.  Landasan pemikiran dalam pengaturan mengenai desa adalah keanekaragaman. termasuk dalam UU 32/2004 dan PP 72/2005. Penjelasan umum No. demokratisasi dan pemberdayaan masyarakat (UU 32/2004. Penjelasan Umum no. 10. huruf a). diantaranya dapat disebutkan diawah ini:  Pemberian otonomi luas kepada daerah diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan. Penjelasan Umum no. Halaman | 21 . prakarsa. partisipasi. pemberdayaan dan peran serta masyarakat (UU 32/2004. peningkatan peran-serta.  Perencanaan pembangunan desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun secara partisipatif oleh pemerintahan desa sesuai dengan kewenangannya (pasal 63 ayat 2). dan pemberdayaan masyarakat yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat (UU 32/2004.  Daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan daerah untuk memberi pelayanan. tidak ada uraian pengertian dan penjelasan rinci tentang partisipasi.

Namun demikian harus diakui bahwa berbagai harapan positif dalam desentralisasi. Disamping itu. Uraian diatas memperlihatkan dengan jelas dan pasti bahwa partisipasi masyarakat. tidak selalu serta merta atau tidak dengan sendirinya dapat meningkatkan kinerja pemerintahan daerah yang semakin baik. disana sini partisipasi masyarakat itu masih merupakan hal yang mudah diucapkan. rakyat dan pemerintahnya. transparansi dalam tindakan pemerintah. dengan partisipasi dapat lebih menjamin terdengar dan diterimanya aspirasi masyarakat oleh pemerintah. memperoleh. disamping diakui merupakan salah satu prinsip otonomi daerah dan desa. khususnya pemerintah daerah. kelompok miskin dan kelompok marjinal atau kelompok terbelakang lainnya. › hak untuk memperoleh pelayanan yang sama dan adil dari Penyelenggara Negara. Disamping itu. dan ke-hemat-an. dan partisipasi warga. Seandainya sudah seperti itu. Menurut pengamatan para ahli. Juga dapat mempermudah pemahaman. khususnya dalam proses pembangunan. daya guna dan hasil guna. › hak menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggung-jawab terhadap kebijakan Penyelenggara Negara. juga menjadi hak masyarakat dan didukung oleh sejumlah peraturan perundang-undangan. hal tersebut dapat mencerminkan makin baiknya hubungan dan dukungan masyarakat terhadap pemerintah. dengan penyelenggaraan desentralisasi. masyarakat tidak lagi semata-mata sebagai obyek atau pemanfaat pembangunan. tetapi sulit untuk dilaksanakan. Oleh karena itu. ke-seksama-an. bahwa desentralisasi dapat mendekatkan pemerintah dengan rakyatnya. perlu diperhitungkan secara bersamaan dengan ke-cermatan. tetapi sekaligus merupakan pelaku atau subyek. dapat lebih mendekatkan hubungan warga dan negara. Dengan keikutsertaan warga dalam proses pengambilan keputusan.  Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan atau tertulis dalam rapat penyiapan atau pembahasan rancangan undang-undang dan rancangan peraturan daerah (UU 10/2004 pasal 53). Halaman | 22 . kebijakan anggaran. Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 diwujudkan dalam bentuk: › mencari. dari hasil sejumlah kajian. Untuk terjadinya hal tersebut masih ada sejumlah ketergantungan untuk berhasilnya kinerja desentralisasi yaitu: kerangka kerja hukum. Disamping itu. Dengan demikian. harus disadari bahwa partisipasi dapat mempengaruhi dan mengakibatkan biaya tinggi dan waktu pencapaian yang lebih lama. termasuk aspirasi perempuan. Peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan negara merupakan hak dan tanggung-jawab masyarakat untuk ikut mewujudkan Penyelenggara Negara yang bersih (UU 28/1999 pasal 8). dan memberikan informasi tentang hak penyelenggaraan negara. diharapkan kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggara dan lembaga pemerintahan dapat menjadi semakin baik.

Peran serta semua wakil unsur masyarakat, termasuk kelompok miskin dan yang terpinggirkan, perlu dikembangkan. Keikutsertaan kelompok-kelompok tersebut menjadi mutlak, karena mereka merupakan sasaran pemerataan hasil-hasil pembangunan yang perlu dijaring aspirasinya, sesuai amanat dan prinsip otonomi daerah. Disamping itu, bagi Negara berkembang seperti Indonesia, kelalaian dalam memperhatikan kelompokkelompok tersebut dapat dikatakan dengan tidak sedang melakukan pembangunan, karena bagian terbesar dari penduduk Indonesia masuk dalam kategori miskin dan terpinggirkan. Sebagai gambaran, dibawah ini disampaikan gambar hasil penelitian tentang Pola Partisipasi Masyarakat dalam bentuk piramida. Unsur-unsur masyarakat yang sering diikutsertakan dalam pengambilan keputusan, sebagian besar hanya kelompok atas. Untuk masyarakat kelompok menengah hanya kadang-kadang dan untuk kelompok bawah yang jumlahnya jauh lebih melebihi kelompok elit dan menengah jarang ikut membuat keputusan.

Pola Partisipasi Masyarakat

Kelompok elit desa/Toma* (Formal dan informal leaders)

Sering ikut membuat keputusan

Kelompok Menengah

Kadang 2 ikut membuat keputusan

Kelompok Bawah/ Marginal

Jarang ikut membuat keputusan

Sumber: LFN- LIPI, People's Participation in Rural Development, Bandung, 1985, hal. 12

* Tokoh Masyarakat

Pemerintah adalah penanggung jawab utama dalam pengembangan partisipasi. Pemerintah adalah unsur yang diberi tugas dan tanggung-jawab dalam penyelenggaraan pembangunan. Selain pemerintah, tentu saja dapat ditumbuhkan oleh siapa saja yang sadar dan peduli, seperti para Akademisi, lembaga swadaya masyarakat (LSM), swasta, organisasi atau kelompok-kelompok masyarakat, ataupun orang perorangan. Halaman | 23

Sub Bagian 1.3: Membangun Pertemanan dan Rasa Mandiri Masyarakat
Tujuan  Peserta dapat menjelaskan arti dan manfaat dari pertemanan dengan masyarakat.  Peserta dapat mengenal siapa-siapa orang yang tepat untuk dibangun pertemanan dengan masyarakat.  Peserta mampu untuk membangun komunikasi dan relasi dengan masyarakat.  Peserta mampu mengajak masyarakat untuk Berpikir dan Menyadari bahwa Masyarakat sebenarnya memiliki kemampuan untuk memecahkan persoalan mereka dan dapat memperbaiki kehidupannya oleh mereka sendiri.  Peserta mampu merumuskan kegiatan-kegiatan konkrit yang dapat dilakukan tanpa dukungan dari pihak luar desa. Bahan dan Alat Kertas coklat/bekas kalendar, Spidol dan perlengkapan tulis lainnya yang tersedia sesuai kondisi di desa. Waktu 120 menit Langkah Kegiatan  Sesi Curah Pendapat Fasilitator menggali pemahaman peserta dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sbb: o Untuk apa kita berteman dengan masyarakat? o Siapa dari masyarakat jadi teman kita? o Bagaimana cara berteman dengan masyarakat tanpa janji-janji? 

20 menit

Sesi Diskusi Kelompok Fasilitator membagi peserta kedalam kelompok untuk mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan berikut: o Siapa masyarakat? Kapan masyarakat ada? Kenapa masyarakat bertahan dan berkembang? Kegiatan apa saja yang dilakukan masyarakat tanpa dukungan dari pihak luar di desanya? Lama o Apa saja keunikan masyarakat desa anda dibandingkan dengan masyarakat desa waktu diskusi ini lain? disesuaikan dengan o Potensi apa saja yang belum dan sudah kondisi dan menjadi andalan masyarakat di desa anda? disepakati bersama o Bagaimana potensi-potensi tersebut telah peserta. dimanfaatkan? o Apa saja kesulitan-kesulitan yang dihadapi saat mengembangkan potensi-potensi tersebut?

40 menit

Halaman | 24

o 

Dan bagaimana masyarakat telah menjaga dan melestarikannya?

Sesi Diskusi Pleno  Fasilitator meminta tiap kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi mereka dan ditanggapi oleh kelompok lain.  Fasilitator terus menggali pikiran peserta akan: o Apa saja hak dan kewajiban yang dimiliki masyarakat dalam hal pengelolaan potensi sumber daya alam dan potensi sumber daya manusia? o Apa saja aturan setempat dalam hal pengelolaan potensi yang sedang berlaku? o Apa bentuk tanggungjawab masyarakat bagi pengelolaan yang baik bagi kepentingan orang banyak? Penggalian pikiran-pikiran masyarakat ini baik bagi penonjolan hal betapa pentingnya masyarakat didalam bekerja bersama atau sebagai rekan kerja pihak luar dalam membangun desa tempat tinggal masyarakat.

30 menit

Sesi Penegasan Sesi ini ditutup dengan penegasan Fasilitator tentang bagaimana membangun pertemanan dengan masyarakat dan membangun desa tanpa dukungan dari pihak luar. Beberapa pertanyaan refleksi dipertegas, diantaranya: o Bagaimana sebaiknya pertemanan dengan masyarakat itu dibangun? o Bagaimana cara masyarakat bertahan tanpa pihak luar? o Kapan Pemerintah/pihak luar masuk ke Desa?

30 menit

Pertanyaan Kunci  Apa dasar sebuah pertemanan itu?  Untuk apa pertemanan? Apakah kita biasanya membangun pertemanan untuk atau dikarenakan adanya sebuah proyek?  Dengan siapa orang yang tepat di desa bagi kita untuk membangun pertemanan?  Bagaimana kita memperkenalkan diri kita kepada masyarakat.

Halaman | 25

sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan antar entitas-entitas. Gillin sepakat bahwa adanya saling bergaul dan interaksi ini karena ada nilai-nilai. Dari Penerima Manfaat ke Mitra Kerja Sekarang coba kita cermati apa yang terjadi dengan pendekatan bantuan untuk suatu program pemberdayaan masyarakat yang sebenarnya tidak hanya dialami NTT tetapi Halaman | 26 . sumber daya manusia. Dengan kesamaan-kesamaan tersebut. Lebih abstraknya. Kebutuhan ini terpicu oleh sistem adat tertentu dan terikat oleh suatu identitas bersama. dll) yang didasarkan pada aturan dan tanggung jawab. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Dengan demikian. Sedangkan kata masyarakat berasal dari kata bahasa Arab yaitu syirk. Boleh juga dikatakan masyarakat itu merupakan jaringan perhubungan antara pelbagai individu. Adanya pergaulan ini tentu karena ada bentukbentuk aturan hidup. Umumnya. norma-norma. Munandar Solaeman: 22). cara-cara dan prosedur yang merupakan kebutuhan bersama. Para ahli seperti MacIver dan J.P. istilah masyarakat digunakan untuk mengacu pada sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur. Asal katanya adalah socius. yang bukan disebabkan oleh manusia sebagai perseorangan tetapi oleh unsur-unsur kekuatan lain dalam lingkungan sosial yang merupakan kesatuan (M. pengetahuan. Sekelompok manusia dapat dikatakan sebagai sebuah masyarakat apabila memiliki pemikiran. dari bahasa Latin yang berarti kawan. perasaan. Masyarakat (society) merupakan istilah yang digunakan untuk menerangkan komuniti tinggal bersama-sama. Masyarakat adalah sekelompok orang yang membentuk sebuah sistem semi tertutup (atau semi terbuka). yang artinya bergaul. PKPM (Pengembangan Kemitraan untuk Pemberdayaan Masyarakat) merupakan suatu proyek yang digagas Bappenas bekerja sama dengan JICA mendefinisikan masyarakat sebagai sekelompok orang yang mempunyai tata kelola terhadap hak-hak bersama (common properties) yang dimiliki (sumber daya alam. masyarakat adalah suatu unit kehidupan sehari-hari. bukan sematamata sebuah unit produksi. serta sistem aturan yang sama. unit analisis dan unit terapan (pendekatan yang terpadu satu sama lain) bukan juga sebagai “elit-elit desa” atau “sekelompok orang terpilih”.3 MASYARAKAT MAMPU UNTUK MANDIRI Siapa itu Masyarakat? Masyarakat dalam kata bahasa Inggris disebut society.Bahan Bacaan 1. manusia kemudian berinteraksi dengan sesama mereka berdasarkan tujuan bersama.

bila kita tidak memiliki alat dan mesin maka minta bantuan teknologi. Coba perhatikan. sebenarnya kehadiran kita sebagai “outsiders”. kita juga selalu mencari apa yang kita tidak punya tanpa melihat apa yang kita punya. bila kita tidak mempunyai sumberdaya manusia yang berpendidikan tinggi maka solusinya minta beasiswa dan pelatihan. apa yang terjadi dengan kita sebagai pihak luar datang ke masyarakat kemudian membagi masyarakat menjadi dua kelompok berbeda. yaitu kecenderungan untuk menyeragamkan penilaian dan berpikir bahwa desa juga harus menjadi seperti Kota jika ingin maju. mungkin sudah saatnya relasi kerja yang dibangun berangkat pada titik bahwa masyarakat bukanlah penerima manfaat (beneficiaries) lagi. Kita hanyalah setitik dari kekayaan masyarakat yang berusaha mendampingi masyarakat sejauh dapat. Bila kita tidak berhatihati dengan pendekatan ini disitulah dosa besar kita sebagai pihak luar dimana peran mereka untuk saling berbagi kita rampas dan pada satu ketika bila kelompok yang mendapat bantuan mengalami persoalan. masyarakat sendirilah yang harus berjuang untuk mengembangkan kehidupannya menjadi lebih baik. Pendek kata “tidak ada di sini minta dari luar”. tetapi mulai dengan apa yang mereka miliki. Toh. maka mereka telah kehilangan apa yang disebut dengan ”people to people aid” atau bantuan dari masyarakat terhadap masyarakat. tapi apakah semua ini benar dan efektif untuk keberlanjutan hidup masyarakat yang berkualitas? Mungkin ada baiknya bercermin dari kehidupan masyarakat. dapat kita amati tidak terhitung jumlah kasus dalam kehidupan mereka yang mampu dipecahkan sendiri atas inisiatif yang datang dari mereka sendiri. Prinsipnya. khazanah kultur dan kearifan lokal yang mereka hidupi. atau kita selalu menganggap bahwa pihak luar mempunyai hal-hal yang lebih baik daripada yang kita miliki. Belajar dari semua ini. Digabung menjadi satu. Jika diperhatikan dengan seksama pendekatan bantuan yang ada sering bermotif seperti kalau tidak mempunyai modal kita minta bantuan modal. Satu kelompok sebagai sasaran bantuan dan satu kelompok yang tidak disentuh. jika kita berada dekat dengan mereka. persoalan-persoalan itu sanggup mereka atasi secara bijak. mereka itu sudah mendapat bantuan dari pihak luar dan itu urusan pihak luar untuk membantu mereka bukan bagian dari kita lagi.” Jika sudah seperti itu. Kita juga acapkali berpikir bahwa hal-hal yang kuno dan tradisional harus diganti yang baru. kemudian kelompok yang tidak disentuh mengatakan ”ah.juga hampir semua pendekatan yang ada di Negara berkembang. Kita selalu menjelekkan diri sendiri sambil membandingkannya dengan pihak luar atau kita selalu lebih percaya hal-hal yang ada di luar daripada yang ada di dalam. dan kita Halaman | 27 . Dengan demikian. Ini berarti dari dalam dirinya sendiri masyarakat sebenarnya mempunyai daya hidup (elan vital) yang memampukan mereka untuk bertahan dan terus berkembang. Dengan potensi yang mereka miliki. kita tidak membawa sesuatu yang baru dan asing dari luar komunitas. yang selama ini sebenarnya mereka adalah satu adanya saat dimana terjadi persoalan maka yang memiliki kelebihan akan membantu yang mengalami kekurangan. bukanlah obat mujarab bagi persoalan masyarakat. Kazuhisa Matsui menulis dalam jurnalnya tahun 2007 ”Membangun Kemandirian Daerah” mengungkapkan gangguan dalam hal pendekatan bantuan.

bila alur berpikir salah. Hal ketergantungan seperti inilah yang harus dihindari. tetapi mitra masyarakat atau lebih tepat lagi kita dan masyarakat adalah kawan seperjuangan. Seperti demikian seharusnya seorang fasilitator bekerja. Setelah itu. Tujuan berpikir dari seorang dokter adalah menyembuhkan penyakit yang artinya menghentikan sakit-penyakit yang sedang diderita pasiennya. Sebelum dokter menyembuhkan penyakit. Proses berpikir dan berasa inilah yang kemudian mendasari bagaimana fasilitator mendampingi masyarakat. Ini berarti proses berpikir seorang fasilitator menjadi penting untuk dipahami?. Sensivitas rasa yang kurang diperhatikan dalam proses fasilitasi menjadikan masyarakat sebagai tong sampah yang bisa menampung segala hal yang dibuat dan dikatakan fasilitator. Jadi fasilitator memiliki arti seorang yang dapat membuat mudah agar sesuatu dapat dipahami dan dilakukan oleh orang lain yang berbeda. Cara berpikir fasilitator ibarat cara berpikir seorang dokter. Sebaliknya. Pendek kata. Alur berpikir yang benar akan menimbulkan fasilitasi yang benar. Beberapa catatan penting:  Masyarakat sebenarnya memiliki kemampuan untuk ”membangun diri mereka sendiri” dengan memecahkan persoalan mereka dan dapat menciptakan kehidupannya oleh mereka sendiri. yang berarti ”activate to action” atau melakukan suatu kegiatan. seorang fasilitator haruslah bisa “berpikir” dan “berasa” secara sehat. Masyarakat selama ini telah mampu melakukan analisis masalah. Dapat dicontohkan sebagai berikut. fasilitasi yang diciptakan juga akan keliru. Halaman | 28 . menyusun rencana. Banyak kasus dimana pada akhirnya masyarakat tidak memahami bahkan masyarakat menjadi tergantung pada fasilitator. masyarakat mempunyai rasa kolektif yang perlu dihargai karena menjadi patokan kebenaran bagi mereka. melaksanakan. sang dokter akan membangun komunikasi dengan sang pasien. sering kita perhatikan fasilitator yang datang ke masyarakat telah terlebih dahulu membawa resep (rencana aksi) bahkan ironisnya tidak sedikit yang sudah membawa obat (materi) yang belum tentu itu penyakit (issue) masyarakat. barulah sang dokter menetapkan rencana tindak medik. sebenarnya masyarakat dapat melakukan sendiri. seorang fasilitator berupaya memberikan pemahaman sedemikian rupa sehingga anakanak atau nenek-nenek dapat mengerti dan dapat melakukan apa yang fasilitator jelaskan. Namun prakteknya amatlah sulit kita membedakan antara para fasilitator dan para pakar yang membuat apa saja sukar. dengan sendirinya ia harus menentukan penyakit apa yang ada pada pasien. Dalam melakukan diagnosis. monitoring dan evaluasi suatu kegiatan dengan memanfaatkan sumber daya yang dimiliki maupun yang dari luar serta dapat membangun kerjasama dengan orang luar. yang dalam terminologi kedokteran disebut melakukan diagnosis. Dalam kamus bahasa Inggris. Ketepatan analisa dokter salah satunya bergantung pada ketepatan informasi yang diberikan oleh sang pasien dan adalah tugas sang dokter untuk selalu menggalinya dengan lebih mendalam. Sayang seribu sayang. Dari Fasilitator Proyek ke Fasilitator Masyarakat Bercermin dari sini.bukanlah pemberi manfaat (benefactor) lagi. Padahal. Dan ”ate”. istilah fasilitator berasal dari dua kata yaitu ”facilis” yang berarti ”to make easier” atau untuk membuat orang-orang lain yang berbeda bisa dengan mudah mengerti. dalam suatu kegiatan yang melibatkan anak-anak dan nenek-nenek.

dan berbagi pengetahuan dalam rangkaian proses pemberdayaan masyarakat. tetapi untuk jangka panjang tidak ada perbaikan berarti. Mengapa sebuah masyarakat menjadi penting? Masyarakat adalah sebuah unit kehidupan sehari-hari.    Pada intinya. pendekatan Pemberdayaan Masyarakat adalah masyarakat di dampingi oleh pihak luar untuk memecahkan masalahnya sendiri dengan mengakses dan menggunakan sumber daya setempat. berbagi ketrampilan. Terlalu sering kita ke masyarakat tanpa pengetahuan dan ketrampilan yang cukup mengenai masyarakat. pemecahan masalah dan pengembangannya berkelanjutan dan ketergantungan masyarakat pada pihak-pihak dan bantuan dari luar dapat dikurangi. Kita harus mempunyai pemahaman yang benar mengenai apa dan siapa masyarakat sebelum ke masyarakat. manfaat dari bantuan tersebut pun selesai. Halaman | 29 . Dengan demikian. Disinilah poin yang berkaitan dengan berbagi pengalaman. dan Unit Terapan (pendekatan yang terpadu satu sama lain) bukan juga sebagai “elit-elit desa” atau “sekelompok orang terpilih”. Seringkali masyarakat mendapat bantuan dari pihak luar. Unit Analisa. Namun seringkali juga bantuan tidak berlanjut dan setelah program selesai. bukan semata-mata sebuah Unit Produksi. Untuk jangka pendek masalah dapat dipecahkan.

 Peserta mampu menjelaskan bahwa laki-laki.  Apa itu yang terpinggirkan? Siapa-siapa yang termasuk dalam kelompok yang terpinggirkan?  Bagaimana proses pengambilan keputusan di desa anda? Siapasiapa saja yang terlibat?  Bagaimana keterwakilan kaum perempuan dan kaum yang terpinggirkan dalam proses pengambilan keputusan tersebut? 30 menit Halaman | 30 . Tujuan  Peserta mampu untuk menjelaskan perbedaan dan persamaan laki-laki dan perempuan. dan kelompok yang terpinggirkan mempunyai kesempatan. perempuan. tanggungjawab.  Peserta mampu untuk menjelaskan pengertian yang terpinggirkan dan siapasiapa yang termasuk dalam kelompok yang terpinggirkan. termasuk hak untuk mengambil keputusan dan memanfaatkan hasil-hasil pembangunan. dan tanggung-gugat yang sama didalam proses pembangunan.Sub Bagian 1. Bahan dan Alat Kertas coklat/bekas kalendar.  Peserta mampu untuk menggali nilai-nilai dan pengalaman setempat yang mendukung keterlibatan laki-laki dan perempuan dalam proses pembangunan. Spidol dan perlengkapan tulis lainnya yang tersedia sesuai kondisi di desa. Waktu 150 menit Langkah Kegiatan  Sesi Curah Pendapat Fasilitator meminta pendapat peserta tentang:  Apa perbedaan dan persamaan laki-laki dan perempuan?  Manakah dari perbedaan tersebut yang bersifat kodrati dan yang bersifat bentukan masyarakat (konstruksi sosial) yang dapat berubah-ubah sesuai waktu Fasili dan tempat? tator membantu  Apa dampak yang dialami laki-laki dan merumuskan hasil perempuan dalam kehidupan sehari-hari curah pendapat terkait dengan perbedaan yang bersifat bentukan masyarakat itu? peserta.4: Mendorong Peran Serta Perempuan dan Kaum yang Terpinggirkan Lainnya dalam Pembangunan Desa.

 Fasilitator terus menggali pikiran peserta akan apa saja hak dan kewajiban yang dimiliki masyarakat dalam hal pengelolaan potensi sumber daya alam dan potensi sumber daya manusia. apa-apa saja program pembangunan desa saat ini yang telah melibatkan kaum yang terpinggirkan dan apa saja bentuk keterlibatan mereka! 45 Menit Lama waktu diskusi ini disesuaikan dengan kondisi dan disepakati bersama peserta.15 menit catatan atau rangkuman yang telah dibuat selama proses. Halaman | 31 . Apa saja aturan setempat dalam pengelolaan potensi tersebut yang sedang berlaku? Apa bentuk tanggungjawab masyarakat bagi pengelolaan yang baik bagi kepentingan orang banyak? Penggalian pikiran-pikiran masyarakat ini baik bagi penonjolan hal betapa pentingnya masyarakat didalam bekerja bersama atau sebagai rekan kerja pihak luar dalam membangun desa tempat tinggal masyarakat. Sesi Diskusi Kelompok  Mintalah peserta berkelompok sesuai dengan asal desa masingmasing.  Sesi Diskusi Pleno  Fasilitator meminta tiap kelompok untuk mempresentasikan hasil 60 menit diskusi mereka dan ditanggapi oleh kelompok lain.  Sesi Penegasan  Fasilitator menegaskan isi materi dengan menggunakan catatan.  Fasilitator memberi penegasan mengenai tujuan-tujuan yang hendak dicapai dalam sub-bagian ini.  Masing-masing kelompok mendiskusikan topik-topik yang telah disiapkan sebagai berikut: o Bagaimana peran laki-laki dan perempuan dalam rumah tangga? o Apa peran yang biasa diambil oleh laki-laki dan perempuan dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan dan pembangunan desa? o Sebutkan dan jelaskan.

Pertanyaan Kunci  Sebutkan dan jelaskan peran laki-laki yang sudah mulai dilakukan oleh kaum perempuan! Sebutkan juga sebaliknya!  Bagaimana kontrol dan evaluasi dilakukan terhadap pelaksanaan program-program pembangunan di desa? Siapa-siapa saja yang melaksanakan kontrol dan evaluasi tersebut?  Pendekatan macam apa yang diterapkan guna memastikan bahwa perempuan dan laki-laki sama terlibat dalam keputusan pembangunan di desa?  Untuk apa perempuan terlibat. apa manfaat untuk semua pihak?  Bagaimana memastikan bahwa laki-laki dan perempuan dapat berbagi tanggungjawab untuk meningkatkan standar hidup keluarga dan masyarakat? Halaman | 32 .

 Turut aktif berperan serta dalam bidang-bidang kegiatan pembangunan pokok. pelaksanaan. kegiatan ekonomi. perempuan juga memiliki hak untuk terlibat dalam pengaturan dan pengelolaan semua aspek dalam kehidupan. Halaman | 33 . kegiatan pendidikan. kegiatan kesehatan. pemantauan.  Mendorong agar Perempuan bersama-sama merancang kegiatan untuk memecahkan masalah mereka dan masalah komunitas. Perubahan lebih merupakan “proses” mengidentifikasi masalah daripada usaha “pemecahan” masalah dan proses daur ulang harus selalu terjadi.  Perempuan memiliki kesempatan untuk menentukan prioritas masalah/kebutuhannya.  Aktif mengembangkan diri dalam arti yang seluas-luasnya.4 PARTISIPASI PEREMPUAN DALAM PEMBANGUNAN Partisipasi Perempuan dalam Pembangunan dapat diartikan sebagai berikut:  Turut serta dalam seluruh proses pembangunan. misalnya.  Perempuan memiliki kesempatan untuk menetapkan masalah baru yang perlu diatasi.  Menciptakan suasana dimana Perempuan dapat menyatakan apa yang mereka rasakan sebagai masalah. dsb.  Kemampuan dan kemauan perempuan adalah sumber potensial yang belum secara penuh teroptimalkan bagi pembangunan. Proses partisipasi perempuan dalam program:  Proses konsultasi melibatkan perempuan agar cara pandang perempuan turut tergali dan diperhitungkan.Bahan Bacaan 1.  Partisipasi perempuan berkontribusi pada pemerataan dan keadilan bagi pertumbuhan manusia secara keseluruhan.  Mengobservasi dan mempelajari bersama Perempuan. dan menilai hasil-hasilnya. sejak perencanaan dan penganggaran. Strategi pendekatan partisipasi perempuan:  Menunggu dan mendengarkan dengan penuh perhatian.  Mendapatkn manfaat dari proses dan hasil pembangunan. Mengapa partisipasi perempuan?  Seperti laki-laki.  Perempuan memiliki kesempatan untuk mengorganisir diri.  Terlibat secara aktif dalam pembuatan keputusan yang akan mempengaruhi kehidupannya. dan evaluasi. yakni. memonitor kemajuan pelaksanaan program.

Halaman | 34 . Membiarkan yang pasif tetap pasif dan yang bergantung tetap bergantung adalah membahayakan masa depan bangsa. . Kemiskinan struktural: . .Hambatan-hambatan partisipasi dipihak perempuan disebakan oleh beberapa faktor: 1.Laki-laki semakin kuat kedudukannya untuk: o Menentukan – ditentukan o Mengidentifikasi–diidentifikasi o Memutuskan – diputuskan. 2.Sikap mengelak diri dari masalah dan bukan menghadapinya karena dikondisikan oleh lingkungan untuk selalu menjadi “orang belakang”. hakekatnya merupakan upaya mendasar agar semua unsur pelaku dan pemanfaat pembangunan berpartisipasi dalam proses dan pengelolaan pembangunan.Perempuan cenderung terpaksa mengikuti keinginan laki-laki.Banyak yang bersikap pasif dan tergantung sebagai dampak dari tuntutan budaya dan lingkungan. Partisipasi perempuan dalam pembangunan. disamping sebagai hak dan sesuai prinsip kemitrasejajaran. .Perempuan terkadang merasa lebih aman bila diam.Perempuan juga tanpa disadari bersikap memperkuat posisi laki-laki. Sikap dan tindak tanduk perempuan dalam hidup bermasyarakat . .

Spidol dan perlengkapan tulis lainnya yang tersedia sesuai kondisi di desa. Sesi Diskusi Kelompok  Setelah curah pendapat.5: Pemahaman Dasar P3MD Plus Tujuan  Peserta dapat menjelaskan apa itu P3MD  Peserta dapat membedakan P3MD dari P3MD plus. ya. kapan digunakan? o Apa itu desa? o Apa itu pembangunan? o Apa itu perencanaan? o Apa itu penganggaran? o Apa itu partisipatif?  30 Menit Fasili tator membantu merumuskan hasil curah pendapat peserta. Ajukanlah pertanyaanpertanyaan yang kurang lebih seperti berikut ini: o Apakah pernah mendengar istilah P3MD? o Apa kepanjangan dari P3MD? o Apakah pernah menggunakan P3MD? Jika.PERSIAPAN PELAKSANAAN MUSRENBANG Sub Bagian 1.  Peserta dapat menjelaskan kerangka panduan dan langkah-langkah P3MD Plus untuk dipakai dalam musyawarah perencanaan pembangunan desa (Musrenbangdes) Bahan dan Alat Kertas coklat/bekas kalendar. Waktu 120 menit Langkah Kegiatan  Sesi Curah Pendapat  Fasilitator memulai dengan curah pendapat. fasilitator meminta peserta mendiskusikan dalam kelompok mengenai beberapa pertanyaan sebagai berikut: o Hal-hal apa saja yang menunjukkan bahwa perencanaan pembangunan bisa dikatakan partisipatif? (paling sedikit lima hal) o Apa saja manfaat perencanaan partisipatif (paling sedikit lima manfaat) o Sebutkan tahapan-tahapan dalam P3MD yang diketahui? 30 Menit Halaman | 35 .

30 Menit  Sesi Penegasan  Fasilitator memberikan penekanan berupa sesuatu yang masih 30 Menit kurang dan kemudian bersama-sama menemukan “missing point” dari pemahaman mengenai perencanaan partisipatif dan manfaatnya dari P3MD. Pertanyaan Kunci  Apa itu P3MD?  Apa manfaat dalam penerapan P3MD di Desa?  Apa saja hambatan yang ditemui dalam penerapan P3MD?  Apa beda P3MD dengan P3MD plus?  Apa saja tahapan atau langkah-langkah penerapan P3MD Plus.  Mengapa perlu pembahasan Penganggaran. dan MONEV? Halaman | 36 . fasilitator memberikan informasi tentang: Apa perbedaan P3MD dan P3MD plus? Mengapa Plus dan Sejarah Penyusunan Panduan P3MD Plus. Pelaksanaan.  Fasilitator kemudian menutup sesi ini dengan memberikan penegasan akan kerangka atau tahapan dalam P3MD Plus. Langkah Alternatif Debat Kampung menggunakan Topik “Perbedaaan P3MD dengan P3MD Plus”  Skenario Debat harus diciptakan terlebih dahulu.  Pada sesi ini juga. Sesi Diskusi Pleno  Fasilitator meminta salah satu kelompok mempresentasikan hasil diskusi kelompok mereka dan kelompok-kelompok lainnya menanggapi dengan memanfaatkan hasil diskusi kelompok mereka masing-masing.

Bahan Bacaan 1. P3MD bersemangat untuk mendorong terciptanya masyarakat yang adalah Subyek sekaligus sebagai Obyek pembangunan yang pada akhirnya dapat memecahkan masalah mereka secara mandiri. sampai pada tingkatan tertentu masyarakat tetap harus menyelesaikan masalah mereka bersama-sama dengan pemerintah. Maksud P3MD Plus: Agar penyusunan Rencana dan Anggaran Pembangunan Desa itu dilakukan secara terbuka dan obyektif sesuai kebutuhan dan masalah pembangunan masyarakat di Desa. P3MD Plus Penganggaran merupakan hasil dari upaya pengembangan partisipasi masyarakat yang lebih luas lagi bagi terwujudnya Otonomi Desa dalam membangun. Masyarakat merencanakan dan menganggarkan pembangunan desa secara bersamasama lewat wadah musyawarah untuk mufakat. Halaman | 37 .5 DARI P3MD KE P3MD PLUS P3MD adalah singkatan dari Perencanaan Partisipatif Pembangunan Masyarakat Desa. Tetapi.

Menggunakan 7 (tujuh) formulir 1. RPTDes DURPDes Halaman | 38 . . terukur. Efisiensi dan efektivitas penggunaan Anggaran Desa dalam arti terarah.Perbandingan Substansial P3MD dengan P3MD Plus: Aspek Singkatan P3MD Perencanaan partisipatif Pembangunan Masyarakat Desa  Meningkatkan mutu perencanaan pembangunan di desa sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan keadaan setempat. 2. Tujuan Formulir Prinsip Menggunakan 4 (empat) formulir Selain prinsip-prinsip yang sudah ada: 1.  Penganggaran pembangunan desa yang memanfaatkan ADD dan dana pembangunan lainnya yang dikelola desa. 6.RAPBDes Hasil RPJMDesa yang dibuat tiap tahun. Menumbuh-kembangkan Kemandirian Desa. dan terkendali. 5.  Desa memiliki kewenangan dan keleluasaan (kemandirian) didalam merencanakan dan menganggarkan kebutuhan pembangunannya. . 2.  Menumbuhkan rasa memiliki masyarakat terhadap program/kegiatan pembangunan yang di Desanya sehingga lebih bersungguh2 dan bertanggungjawab. 4. Mendorong keterlibatan perempuan dan kaum yang terpinggirkan. Terbuka Selektif Cermat Proses berulang Penggalian informasi Pemeriksaan berulang Penekanan dalam P3MD Plus Perencanaan partisipatif Pembangunan Masyarakat Desa Plus Penganggaran  Menerapkan P3MD secara konsisten di desa. Penekanan pada pemenuhan hak dasar 3.  Menumbuhkan dan mendorong peranserta masyarakat dalam pengelolaan pembangunan yang telah disepakati bersama. 3. 4.RPJMDes yang dibuat satu kali per lima tahun.RKADes .RKPDes .

 Peserta mengetahui apa-apa yang dihasilkan dari pelaksanaan Musrenbangdusdes.  Peserta mampu dan terampil melaksanakan Musrenbangdus-des yang partisipatif. 30 menit Mintalah kelompok lain untuk mengamati saat peragaan simulasi “Musrenbang” Sesi Diskusi Pleno  Setiap kelompok diminta mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya.  Peserta mengetahui apa-apa saja yang perlu disiapkan sebelum Musrenbangdus-des dilaksanakan. Bahan dan Alat Kertas coklat/bekas kalendar.6: Membangun Strategi Penyelenggaraan Musrenbangdus-Musrenbangdes secara Partisipatif Tujuan  Peserta memahami pengertian dan manfaat Musrenbang.Sub Bagian 1.  Peserta mengetahui siapa saja pemeran utama dan yang diharapkan terlibat dalam penyelenggaraan Musrenbangdus-des. Spidol dan perlengkapan tulis lainnya yang tersedia sesuai kondisi di desa. Waktu 80 menit Langkah-Langkah  Sesi Simulasi dalam Kelompok  Mintalah satu atau dua kelompok Peserta mensimulasikan tentang proses pelaksanaan Musrenbang berdasarkan pengalaman di Desanya dengan memperhatikan beberapa poin berikut: o Siapa yang melaksanakan? o Siapa saja yang hadir? Berapa perbandingan kehadiran laki-laki dan perempuan? o Kapan? o Dimana? o Bagaimana tahapannya? o Apa hasilnya? o dll.  Peserta mengetahui kapan tepatnya Musrenbangdus-des dilaksanakan sebagai bagian dari Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.  Fasilitator terus menggali pikiran peserta dengan pertanyaanpertanyaan kritis seperti berikut: o Apakah ada proses yang terlupakan? o Tahapan mana yang paling sulit? 30 menit Halaman | 39 .

o Apakah masih ada sesuatu yang mau ditambahkan?  Fasilitator mencatat masukan-masukan dari hasil pengamatan sebagai bahan untuk penegasan materi. dan desa. partisipatif. Sesi Penegasan  Fasilitator bersama-sama peserta menemukan apa-apa yang masih kurang dari pelaksanaan dan manfaat Musrenbangdusdes. 20 menit Pertanyaan Kunci  Apa itu Musrenbang dan mengapa perlu?  Siapa pemeran utama Musrenbangdus-des?  Siapa yang diharapkan hadir?  Apa saja yang perlu disiapkan?  Siapa buat apa?  Bagaimana pelaksanaannya?  Kapan dilaksanakan?  Penyiapan Tempat?  Bagaimana mengumumkan pelaksanaan Musrenbang kepada masyarakat?  Penyiapan Fasilitator?  Penyiapan Alat dan bahan? Halaman | 40 .  Pada sesi ini juga. Semuanya itu untuk memberikan penyadaran akan pentingnya Musrenbangdus-des. fasilitator terus menggali pikiran peserta lewat pengajuan pertanyaan-pertanyan kritis terkait perencanaan. pembangunan.

serta keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan dengan penganggaran yang dikaitkan dengan adanya kebijakan ketersediaan dana khusus untuk desa berupa Alokasi Dana Desa (ADD). P3MD PLUS. Departemen Dalam Negeri sejak tahun 1995. pemantapan penerapan metode. 0008/M. dan pemantapan penerapan metode seperti disebutkan diatas. Musrenbang. kalau pemerintahan desa memperhatikan amanat pasal 153 UU 32/2004 dan demi pemerataan kesejahteraan warga. Penyelarasan dimaksud terutama berupa penyederhanaan instrumen. (Perencanaan Partisipatif Pembangunan Masyarakat Desa). P3MD Plus. P3MD atau Perencanaan Partisipatif Pembangunan Masyarakat Desa merupakan metode perencanaan di tingkat desa dengan pendekatan partisipatif. dan Musrenbang. Disamping itu. dan kaum perempun khususnya dan masyarakat pedesaan umumnya. penyederhanaan. meskipun amanat tersebut lebih ditujukan untuk perencanaan pembangunan daerah. SERTA PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN Peraturan Perundang-undangan (PPu) utama tentang P3MD. Mudah-mudahan hal ini dapat menyadarkan atau LEBIH menyadarkan pemerintahan daerah (baca: pemerintah dan anggota DPRD) untuk dapat memperhatikan peningkatan kesejahteraan serta jeritan kelompok yang terpinggirkan. 2007. yang telah dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Pemberdayaan Masyarakat dan Desa.Bahan Bacaan PEMAHAMAN DASAR TENTANG P3MD. P3MD Plus. juga UU 32/2008 beserta PP 72/2005. metode ini perlu dilanjutkan dan diselaraskan dengan sejumlah PPu baru serta pengalaman penerapan metode P3MD selama ini. Biarlah desa memberi contoh kepada daerah dalam hal konsistensi perencanaan dan penganggaran. baik P3MD maupun P3MD Plus disebut dengan istilah Musyawarah Perencanaan Pembangunan atau disingkat Musrenbang. Keterkaitan dan konsistensi perencanaan dengan penganggaran ini harus menjadi hal yang pasti. walaupun baru sebatas dana yang bersumber dari ADD dan swadaya warga desa saja. Sehubungan dengan penyelarasan. serta Perencanaan dan Penganggaran adalah UU 25/2004 beserta petunjuk teknisnya berupa SEB Meneg PPN/Kepala Bappenas dan Mendagri No. miskin. MUSRENBANG. ditambah dengan mengaitkan perencanaan dengan penganggaran pembangunan desa. kemudian disepakati bahwa metode ini disebut Halaman | 41 . Dalam PDH tersebut. Berdasarkan kajian Pemerintah Provinsi NTT.PPN/01/2007050/264A/SJ Th.

dan Rencana Kerja Pembangunan Desa (RKPDesa) untuk periode satu tahun. namun dari sisi isinya sangat bermanfaat sebagai pedoman pelaksanaan di tingkat Desa dan Kelurahan. Sedangkan menurut periode atau jangka waktunya. walaupun tentu perlu diselaraskan dan dimantapkan dalam penerapannya. Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) untuk periode 20 tahun. 3). Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi (pasal 1 ayat 13). Perlu dipahami bahwa SEB memang tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat. khususnya di Sumatera Barat. Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) untuk periode lima tahun. Menurut tingkat administrasi pemerintahan. P3MD Plus. Kabupaten/Kota. sehingga perlu perjuangan tersendiri untuk mengawali prinsip partisipatif dalam perencanaan pembangunan. Beberapa Diktum dalam PPu Terkait Sebagai upaya untuk dapat lebih memahami peraturan perundang-undangan yang terkait dengan P3MD. serta Perencanaan dan Penganggaran. P3MD Plus dirancang untuk digunakan sebagai metode atau cara memproses dan memfasilitasi penyelenggaraan Musrenbang atau Musyawarah Perencanaan Pembangunan seperti yang diamanatkan dalam UU 25/2004 dan untuk tingkat desa diatur pelaksanaannya dalam SEB Kepala Bappenas-Mendagri Tahun 2007 seperti tersebut diatas. yaitu: 1. dengan memperhitungkan sumber daya yang ada (pasal 1 ayat 1). Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat. Perlu dikemukakan bahwa istilah P3MD sebagai metode perencanaan partisipatif lahir lima tahun sebelum hadirnya era otonomi saat itu. istilah P3MD baik untuk dipertahankan.P3MD Plus. yaitu: Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM Desa) untuk periode lima tahun. ada Musrenbang Desa yang dibagi menjadi dua jenis periode. 1). Kalimantan Barat. Khusus untuk tingkat desa. dan Musrenbang Desa/Kelurahan. sejak awal penerapannya. Secara kebetulan. 3 Pada sebagian penyajian. dan Kalimantan Timur semasa IDT. dan Rencana Kerja Pembangunan (RKP) untuk periode satu tahun. (Kecamatan). beberapa ketentuan dapat disajikan dibawah ini3. ditandai dengan “garis bawah” yang dimaksudkan untuk mempermudah arah perhatian para Fasilitator P3MD Plus. Musrenbang. Musrenbang terdiri dari Musrenbang Nasional. GTZ memberikan dukungan penuh dalam memfasilitasi dan melakukan pendampingan. 2).  Undang-Undang 25/2004 Ada delapan pengertian dan satu ketentuan yang tertuang dalam UU 25/2004 yang dapat bermanfaat bagi Fasilitator P3MD Plus. khususnya dalam rangka pengembangan penyelenggaraan RPJMDes yang akan datang tetap dalam kaitannya dengan perencanaan dan penganggaran. Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan (pasal 1 ayat 12). melalui urutan pilihan. selanjutnya ke NTB dan NTT hingga sekarang. Untuk itu. Provinsi. Halaman | 42 . Musrenbang dibagi dalam tiga jenis.

2). walaupun disana-sini masih ada yang belum memadai pengaturan perhitungannya untuk setiap desa dan belum tepat tata cara penggunaannya di tingkat desa. penyelenggaraan pemerintahan daerah. d. informasi dasar kewilayahan. b. 8). Pemangku kepentingan adalah pihak-pihak yang langsung atau tidak langsung mendapatkan manfaat atau dampak dari perencanaan dan pelaksanaan pembangunan daerah (ayat 18). Beruntung bahwa untuk Desa sudah ada ADD. kependudukan. c. dan PNS daerah. Bahkan DPRD ibarat tidak mau tahu bahwa proses perencanaan telah disusun dengan susah payah yang melibatkan berbagai unsur masyarakat dengan metode jaringan aspirasi yang tidak mudah dan memakan waktu. untuk tercapainya daya guna dan hasil guna. potensi sumber daya daerah. g. Namun sayang bahwa dalam penerapannya masih cukup banyak kendala.  Undang-undang 32/2004 Satu-satunya aturan mengenai perencanaan dan penganggaran hanya ada di UU 32/2004. Program adalah instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah/lembaga untuk mencapai sasaran atau tujuan serta memperoleh alokasi anggaran atau kegiatan masyarakat yang dikoordinasikan oleh instansi pemerintah (pasal 1 ayat 16). lain yang memutuskan anggaran (DPRD/DPR). Strategi adalah langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi (pasal 1 ayat 14). produk hukum daerah. 6). Halaman | 43 . dan pengawasan. DPRD. e. Berikut ini disampaikan dua pasal terkait dari UU 32/2004. perangkat daerah. keuangan daerah. Perencanaan pembangunan didasarkan pada data dan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan (pasal 152 ayat 1. Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah. pemanfaatan data dan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dikelola dalam sistem informasi daerah yang terintegrasi secara nasional. h. 7). informasi lain terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan daerah. 5). tertuang dalam pasal 153 yang mengamanatkan bahwa perencanaan pembangunan disusun untuk menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. juga tertuang dalam UU 25/2004 pasal 31 ayat 1). Kebijakan adalah arah/tindakan yang diambil oleh Pemerintah Pusat/Daerah untuk mencapai tujuan (pasal 1 ayat 15). karena beda yang menyusun rencana (pemerintah). kepala daerah. pelaksanaan. Data dan informasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup: a. f. organisasi dan tata laksana pemerintahan daerah. 1).4). dan i. 3). Perencanaan pembangunanan daerah didasarkan pada data dan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan (pasal 152 ayat 1). Musyawarah Perencanaan Pembangunan yang selanjutnya disingkat Musrenbang adalah forum antar pelaku dalam rangka menyusun rencana pembangunan Nasional dan rencana pembangunan Daerah (ayat 17). 9). penganggaran.

5). keuangan desa. informasi lain terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan desa dan pemberdayaan masyarakat. 1). pelaksanaan. dan desa. profil desa. b. kelurahan. 8). penganggaran. Perencanaan pembangunan desa sebagaimana dimaksud pada pasal 64 ayat 1 didasarkan pada data dan informasi yang akurat dan dapat di-pertanggungjawab-kan (pasal 65). Perencanaan pembangunan desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun secara partisipatif oleh pemerintahan desa sesuai dengan kewenangannya (pasal 63 ayat 2). o Rencana Kerja Pembangunan Desa. Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan desa disusun perencanaan pembangunan desa sebagai satu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan daerah Kabupaten/Kota (pasal 63 ayat 1). 2). Data dan informasi sebagaimana dimaksud pada pasal 64 ayat 2 mencakup: a. Perencanaan pembangunan daerah sebagaimana dimaksud dalam pasal 152 disusun untuk menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan. khususnya yang tekait dengan Musrenbang adalah pasal 63-66 pada Bab VI tentang Perencanaan Pembangunan Desa. 6). dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan desa diatur dengan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota (pasal 66). dan pengawasan (pasal 153)  Peraturan Pemerintah 72/2005 Beberapa ketetapan yang perlu dipahami dari PP 72/2003. penyelenggaraan pemerintahan desa. e.Penjelasan pasal 152 ayat 2 huruf b Yang dimaksud dengan organisasi dan tata laksana dalam ketentuan ini termasuk kecamatan. pengendalian. c. 7). Dalam menyusun perencanaan pembangunan desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib melibatkan lembaga kemasyarakatan desa (pasal 63 ayat 3). merupakan penjabaran dari RPJMDes untuk jangka waktu 1 (satu) tahun (pasal 64 ayat 2 angka 2). selanjutnya disebut RKPDes. RPJMDes sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a ditetapkan dengan Peraturan Desa dan RKPDesa ditetapkan dalam Keputusan Kepala Desa berpedoman pada Peraturan Daerah (pasal 64 ayat 2). tata cara penyusunan. Ketentuan lebih lanjut mengenai tahapan. 3). Perencanaan pembangunan desa sebagaimana dimaksud dalam pasal 63 ayat (2) disusun secara berjangka dan meliputi (pasal 64 ayat 1): o Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa yang selanjutnya disebut RPJMDes untuk jangka waktu lima tahun (pasal 64 ayat 1 angka 1). 4). d. organisasi dan tata laksana pemerintahan desa. Halaman | 44 .

4) Peserta adalah pihak yang memiliki hak pengambilan keputusan dalam Musrenbang Desa/Kelurahan melalui pembahasan yang disepakati bersama. a. SEB tersebut merupakan Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Musrenbang Tahun 2007 (dapat disingkat dengan „Juknis Musrenbang 2007‟). b) Daftar Kegiatan Prioritas yang akan diusulkan ke Kecamatan untuk dibiayai melalui APBD Kabupaten/Kota dan APBD Provinsi. 2) Menetapkan kegiatan prioritas desa/kelurahan yang akan dibiayai melalui Alokasi Dana Desa/Kelurahan yang berasal dari APBD Kabupaten/Kota maupun sumber pendanaan lainnya. serta swadaya gotong-royong masyarakat Desa. serta masukan dari nara sumber dan peserta yang mengggambarkan permasalahan nyata yang sedang dihadapi. GubernurBupati/Walikota. SEB bukan perangkat hukum yang mempunyai kekuatan mengikat. Surat Edaran Bersama Meneg PPN/Kepala Bappenas dan Mendagri Yang disajikan dibawah ini seluruhnya diambil dari yang tertulis dalam SEB. c) Daftar nama anggota Delegasi yang akan membahas hasil Musrenbang Desa pada forum Musrenbang Kecamatan. b. SEB ini diedarkan ke seluruh Departemen dan Lembaga Pemerintah Non-Departemen (LPND) di tingkat Pusat. 3) Narasumber adalah pihak pemberi informasi yang perlu diketahui peserta Musrenbang untuk proses pengambilan keputusan hasil Musrenbang. Tujuan 1) Menampung dan menetapkan kegiatan prioritas sesuai kebutuhan masyarakat yang diperoleh dari musyawarah perencanaan pada tingkat di bawahnya (Musyawarah Dusun/Kelompok). 2) Musrenbang Desa/Kelurahan dilaksanakan dengan memperhatikan rencana pembangunan jangka menengah desa/kelurahan. Didalamnya terdiri dari Juknis Musrenbang Desa/Kelurahan-Kecamatan-Kabupaten/Kota sampai Musrenbang Nasional (Musrenbangnas). kinerja implementasi rencana kegiatan tahun berjalan. Halaman | 45 . namun bermanfaat untuk menjadi pedoman dalam penyelenggaraan Musrenbangdes dan bacaan terkait lainnya. 5) Hasil Musrenbang Desa terdiri dari: a) Daftar Kegiatan Prioritas yang akan dilaksanakan sendiri oleh Desa yang bersangkutan yang akan dibiayai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APB-Desa). Pengertian 1) Musrenbang Desa/Kelurahan adalah forum musyawarah tahunan yang dilaksanakan secara partisipatif oleh para pemangku kepentingan (stakeholders) desa/kelurahan (pihak yang berkepentingan untuk mengatasi permasalahan desa/kelurahan dan pihak yang akan terkena dampak hasil musyawarah) untuk menyepakati rencana kegiatan tahun anggaran berikutnya. dan DPRD Provinsi-Kabupaten seluruh Indonesia. khususnya yang terkait dengan Musrenbang Desa/Kelurahan.

3)

Menetapkan kegiatan prioritas yang akan diajukan untuk dibahas pada Forum Musrenbang Kecamatan (untuk dibiayai melalui APBD Kabupaten/Kota atau APBD Provinsi).

c.

Masukan Hal-hal yang perlu disiapkan untuk penyelenggaraan Musrenbang Desa adalah: 1) Dari Tingkat Desa: a) Daftar Prioritas Masalah pada satuan wilayah di bawah Desa (Dusun) dan kelompok-kelompok masyarakat, seperti kelompok tani, kelompok nelayan, perempuan, pemuda dan kelompok lainnya sesuai dengan kondisi setempat; b) Daftar Permasalahan Desa, seperti peta kerawanan, kemiskinan, dan pengangguran; c) Daftar Masalah, dan Usulan Kegiatan Prioritas Desa/Kelurahan hasil identifikasi pelaku program pembangunan di tingkat desa/kelurahan yang dibiayai oleh hibah/bantuan Luar Negeri; d) Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RJPM) Desa; e) Hasil evaluasi pelaksanaan kegiatan pembangunan desa/ kelurahan pada tahun sebelumnya. Dari Kecamatan dan Kabupaten/Kota: a) Kode Desa/Kelurahan (dua angka/digit) dan kode kecamatan (dua angka/digit) yang dapat memudahkan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan Bappeda mengetahui desa/kelurahan dan kecamatan yang mengusulkan kegiatan prioritas; b) Formulir yang memudahkan desa dan kelurahan untuk menyampaikan daftar usulan kegiatan prioritas ke tingkat kecamatan; c) Hasil evaluasi pemerintah kabupaten/kota dan kecamatan atau masyarakat terhadap perkembangan penggunaan Anggaran dan Belanja Desa/Kelurahan tahun sebelumnya dan pendanaan lainnya dalam membiayai program pembangunan desa/kelurahan; d) Informasi dari pemerintah kabupaten/kota tentang indikasi jumlah Alokasi Dana Desa/Kelurahan, bagi hasil pajak daerah dan rertibusi daerah kabupaten/kota, bantuan dari pemerintah, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten/kota yang akan diberikan kepada desa/kelurahan untuk tahun anggaran berikutnya.

2)

Halaman | 46

d.

Mekanisme Tahapan pelaksanaan Musrenbang Desa terdiri dari: 1) Tahap Persiapan: a) Kepala Desa menetapkan Tim Fasilitator Musrenbang Desa yang terdiri dari BPD dan aparat pemeintah desa lainnya. Tugas Tim Fasilitator Musrenbang Desa adalah memfasilitasi pelaksanaan Musrenbang Desa; b) Masyarakat di tingkat dusun/rukun warga (RW) dan kelompokkelompok masyarakat (misalnya, kelompok tani, kelompok nelayan, perempuan, pemuda dan lain-lain) melakukan musyawarah. Keluaran dari musyawarah Dusun/RW/Kelompok adalah:  Daftar masalah dan kebutuhan;  Gagasan dan atau usulan kegiatan prioritas masing-masing Dusun/RW/Kelompok disesuaikan dengan kondisi setempat);  Wakil/Delegasi Dusun/RW/Kelompok yang akan hadir dalam kegiatan Musrenbang Desa (jumlah wakil/delegasi masingmasing Dusun/RW/Kelompok disesuaikan dengan kondisi setempat). c) Kepala Desa menetapkan Tim Penyelenggara Musrenbang Desa. d) Tim Penyelenggara Musrenbang Desa melakukan hal-hal sebagai berikut:  Menyusun jadwal dan agenda Musrenbang Desa;  Mengumumkan secara terbuka tentang jadwal, agenda, dan tempat Musrenbang Desa minimal 7(tujuh) hari sebelum kegiatan dilakukan agar peserta dapat melakukan pendaftaran dan atau diundang;  Membuka pendaftaran dan atau mengundang calon peserta Musrenbang Desa;  Menyiapkan tempat, peralatan, dan bahan/materi serta notulen4 untuk Musrenbang Desa. 2) Tahap Pelaksanaan: a) Pendaftaran peserta. b) Pemaparan Camat tentang Prioritas Kegiatan Pembangunan di Kecamatan yang bersangkutan. c) Pemaparan Camat atau masyarakat terhadap perkembangan penggunaan Anggaran dan Belanja Desa tahun sebelumnya dan pendanaan lainnya dalam membiayai Program Pembangunan Desa, dengan memuat jumlah usulan yang dihasilkan pada forum sejenis. d) Pemaparan Kepala Desa/Lurah tentang prioritas kegiatan untuk tahun berikutnya. Pemaparan ini bersumber dari dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RJPM) Desa. e) Penjelasan Kepala Desa tentang perkiraan jumlah Alokasi Dana Desa yang dibutuhkan untuk tahun berikutnya.

4

Notulen adalah catatan hal-hal penting dan yang disepakati bersama oleh para peserta musyawarah.

Halaman | 47

f) g) h)

i) j) k)

Pemaparan masalah utama yang dihadapi masyarakat Desa oleh beberapa perwakilan dari masyarakat misalnya: ketua kelompok tani, komite sekolah, kepala dusun, dan lain-lain. Pembahasan dan penetapan prioritas kegiatan (masukan: kegiatan prioritas pembangunan tahun yang akan datang sesuai dengan potensi serta permasalahan di Desa. Pemisahan kegiatan berdasarkan: i) kegiatan yang akan diselesaikan sendiri di tingkat Desa, dan; ii) kegiatan yang menjadi tanggung jawab Satuan Kerja Perangkat Daerah yang akan dibahas dalam Musrenbang Kecamatan. Perumusan kriteria untuk menyusun kegiatan prioritas sebagai metode untuk menyeleksi usulan kegiatan. Pemilihan dan penetapan perwakilan masyarakat/delegasi Desa (1-5 orang) untuk menghadiri Musrenbang Kecamatan. Delegasi ini harus menyertakan perwakilan perempuan. Penandatanganan Berita Acara Musrenbang Desa oleh Lurah/Kepala Desa, Camat, Perwakilan Masyarakat dan BPD.

Catatan: Dalam hal kondisi dokumen penunjang tidak lengkap atau keterbatasan nara sumber, Musrenbang Desa tetap dilaksanakan, agar prioritas dan kegiatan prioritas tahunan Desa dapat disusun melalui Musrenbang Desa setempat. Semua kondisi ini dicatat oleh notulen dalam Berita Acara Musrenbang Desa. 3)

Keluaran: a) Dokumen Rencana Kerja Pembangunan Desa yang berisi:  Prioritas Kegiatan Pembangunan Skala Desa yang akan didanai oleh Alokasi Dana Desa dan atau swadaya;  Prioritas Kegiatan pembangunan yang akan dilaksanakan melalui Satuan Kerja Perangkat Daerah yang dilengkapi dengan kode Desa dan Kecamatan, dan akan dibahas pada Forum Musrenbang Kecamatan. b) Daftar nama delegasi untuk mengikuti Musrenbang Kecamatan. c) Berita Acara Musrenbang Desa. Peserta: Peserta Musrenbang Desa adalah perwakilan komponen masyarakat (individu atau kelompok) yang berada di Desa, seperti: Ketua RT/RW Kepala Dusun, Tokoh Agama, Ketua Adat, Wakil Kelompok Perempuan, Wakil Kelompok Pemuda, Organisasi Masyarakat, Pengusaha, Kelompok Tani/Nelayan, Komite Sekolah dan lain-lain. Narasumber: Kepala Desa/Lurah, Ketua dan para Anggota Badan Perwakilan Desa (BPD), Camat dan Aparat Kecamatan, Kepala Sekolah, Kepala

4)

5)

Halaman | 48

pejabat instansi yang ada di desa atau kecamatan. Tugas Delegasi Desa a) Membantu Tim Penyelenggara menyusun Dokumen Rencana Kerja Pembangunan Desa. 6) Tugas Tim Penyelenggara: a) Menyusun jadwal dan agenda Musrenbang Desa. peralatan dan bahan/materi serta notulensi pelaksanaan Musrenbang Desa. g) Membantu para delegasi Desa dalam menjalankan tugasnya di Musrenbang di Kecamatan. terutama dalam memfasilitasi penyelenggaraan Forum Satuan Kerja Perangkat Daerah Halaman | 49 7) .Puskesmas. c) Mengkoordinasikan seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kabupaten/Kota. perlu melakukan hal-hal sebagai berikut: a) Bersama Badan/Kantor PMD Kabupaten/Kota memfasilitasi penyelenggaraan Musrenbang Desa. f) Mendaftar calon peserta Musrenbang. dan LSM yang bekerja di desa yang bersangkutan. maka Tim Penyelenggara Musrenbang dan Delegasi Desa membantu Kepala Desa/Lurah mengumumkan program-program pembangunan yang akan dilaksanakan dan mendorong masyarakat untuk melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan kegiatan-kegiatan tersebut. b) Bersama-sama Tim Fasilitator Desa memfasilitasi dan memantau pelaksanaan musyawarah dusun/RW. c) Setelah memperoleh kepastian mengenai berbagai kegiatan pembangunan yang akan dilaksanakan di desa/kelurahan serta sumber pendanaannya (seperti: Alokasi Dana Desa maupun dari sumber pendanaan lainnya). Bappeda Kabupaten/Kota. d) Mengumumkan secara terbuka tentang jadwal. i) Merangkum berita acara hasil Musrenbang Desa yang sekurangkurangnya memuat prioritas kegiatan yang disepakati dan daftar nama delegasi yang akan mengikuti Musrenbang Kecamatan. h) Menyusun Dokumen Rencana Kerja Pembangunan Desa. agenda dan tempat Musrenbang Desa. b) Bersama Badan/Kantor PMD Kabupaten/Kota memfasilitasi penyelenggaraan Musrenbang Kecamatan. b) Memaparkan Daftar Prioritas Kegiatan Pembangunan Desa pada Forum Musrenbang Kecamatan. kelompok-kelompok masyarakat yang kurang mampu. c) Membantu Tim Fasilitator Desa dalam memfasilitasi proses musrenbang. kelompok perempuan dan lainlain. j) Menyebarluaskan Dokumen Rencana Kerja Pembangunan Desa. Pemerintah Kabupaten dan Kota up. e) Menyiapkan tempat. Selanjutnya dalam rangka pelembagaan forum musyawarah perencanaan yang diselenggarakan di semua tingkat pemerintahan.

Musrenbang Kecamatan. Menyelenggarakan Musrenbang Kabupaten/Kota untuk membahas rancangan Rencana Kerja Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota Tahun 2008. Pembiayaan penyelenggaraan Musrenbang Desa. Halaman | 50 .d) e) Kabupaten/Kota (Forum SKPD Kabupaten/Kota) yang membahas usulan program dan kegiatan yang diajukan dari tingkat kecamatan. desa dan kelurahan. Forum SPKD Kabupaten/Kota dan Musrenbang Kabupaten/Kota dibebankan pada APBD Kabupaten/Kota.

Mampu melakukan analisis potensi dan masalah bersama masyarakat 3. 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. Tujuan  Peserta tahu apa aturan-aturan yang mendasari penggunaan metode P3MD Plus bagi penyelenggaraan Musrenbangdus-des. antara lain: o UU No. Membangun pemahaman bersama tentang aturan-aturan perencanaan dan penganggaran yang berlaku 2. Spidol dan ATK lainnya yang ada Waktu Kegiatan 90 menit Langkah Kegiatan  Sesi Ceramah dan Tanya-jawab  Narasumber menjelaskan kepada peserta mengenai peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan Perencanaan dan Penganggaran Pembangunan Desa. o UU No.1: Membangun Pemahaman Bersama Tentang Aturanaturan Perencanaan dan Penganggaran yang Berlaku. Sub Bagian 2. 25/ 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.Bagian II PANDUAN PERENCANAAN Tujuan Umum: 1. 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah. o UU No. o PP No. 79 / 2005 tentang Pedoman Pembinaan dan 75 menit Halaman | 51 . Bahan dan Alat Kertas Plano. Mampu melakukan pemeringkatan masalah dan menemukan tindakan untuk perencanaan bersama masyarakat.  Peserta mampu menyebutkan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan perencanaan dan penganggaran. 72 / 2005 tentang Desa. o PP No.

o o o o o o o Pengawasan Penyelenggaraan Pemerintah Daerah. 4 / 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Kekayaan Desa. Peraturan Desa yang dibuat Desa. 37/2007 tentang Pedoman Pengelolaan Kuangan Desa. 32/2006 tentang Pedoman administrasi desa Permendagri No. Peraturan-peraturan Daerah yang dibuat terkait Perencanaan dan Penganggaran Pembangunan Desa. Pertanyaan Kunci  Bagaimana kaitan antara berbagai peraturan perundang-undangan yang disebutkan dengan P3MD Plus?  Bagaimana penerapan berbagai peraturan perundang-undangan tersebut di Desa?  Bagaimana keterkaitan peraturan perundang-undangan dengan pihak pemerintahan dan lembaga kemasyarakatan di desa dalam menerapkan UU/Peraturan?  Apakah sudah ada peraturan desa yang mengatur perencanaan? Halaman | 52 .  Sesi Penegasan Sesi ini menutup sesi-sesi sebelumnya dengan rangkuman Fasilitator 15 menit berkaitan dengan materi yang disampaikan. Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor 140/1841/SJ Tahun 2006. Gambaran hubungan antar unsur pemerintah di setiap desa dan peran masing masing unsur untuk penerapan aturanaturan perancanaan dan penganggaran. Permendagri No. Permendagri No.

di pusat dan daerah. membahas. dan Kecamatan‟ (selanjutnya disebut „Tim Kerja‟). untuk dapat lebih menambah pemahaman dan keterkaitannya antara P3MD Plus. Harapannya agar dapat dipelajari secara bertahap oleh fasilitator P3MD Plus Halaman | 53 . Pengantar Kebijakan pelatihan. aspirasi dan sumber daya dan dana yang ada. yang bertugas menyusun Panduan P3MD Plus.Bahan Bacaan 2. dan memutuskan apa yang akan dibangun bagi kepentingan mereka sendiri. uji coba. serta pasal 27 ayat 1 huruf d). ADD. khususnya di tingkat desa. telah menghadirkan sejumlah peraturan dan dasar hukum (PDH). dan pendampingan penerapan metode P3MD Plus dan kebijakan mendayagunakan dana Alokasi Dana Desa (ADD). yang biasa disebut juga era reformasi. seperti halnya P3MD Plus. akan diajak dan dibiasakan untuk ikut merencanakan. pemberdayaan dan peran serta masyarakat‟ yang diiringi dengan perwujudan „kehidupan berdemokrasi‟ (baca penjelasan umum UU 32/2004 angka 1 huruf a alinea pertama kalimat kedua dan ketiga.1 MEMAKNAI P3MD PLUS MENUJU OTONOMI DESA PENDAHULUAN 1. di tingkat Daerah dan Desa. Memperhatikan dan mendukung komitmen tersebut diatas. Dengan datangnya era otonomi dan desentralisasi. termasuk kaum perempuan. pada hakekatnya merupakan komitmen Pemda NTT menuju terwujudnya Otonomi Desa dengan Tata kepemerintahan yang Baik. Ditandai dengan keluarnya SK Gubernur No 242/KEP/HK/2007 tentang „Pembentukan Tim Kerja Penyusunan Panduan Perencanaan dan Penganggaran Partisipatif di tingkat Dusun. Dalam kaitan ini masyarakat. termasuk di NTT. Desa. Perlu diingat bahwa arah pemberian otonomi adalah untuk „mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan. agar sesuai dengan kebutuhan. Di NTT antara lain ditandai dengan terbitnya Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten tentang P3MD. sedangkan ADD merupakan kebijakan nyata dalam proses penyejahteraan masyarakat. kelompok miskin dan kelompok tertinggal lainnya. dibawah ini akan dikenalkan sebagian PDH serta beberapa kutipan ketetapan atau diktumdiktumnya. metode Perencanaan Partisipatif Pembangunan di tingkat Desa. P3MD Plus merupakan proses partisipatif dan demokratis dalam melakukan perencanaan pembangunan. dan otonomi desa beserta tata kepemerintahan yang baik.

padahal sudah ada otonomi daerah. maka bukan tidak mungkin diantara mereka. mungkin juga Surat Edaran (SE) Bupati. yang selama ini mungkin belum sempat dilakukan oleh pihak-pihak terkait secara memadai. Sekiranya hal tersebut mampu dilakukan oleh mereka. karena metode ini memungkinkan untuk itu. Selanjutnya perlu disampaikan bahwa pada sebagian kata dan kalimat dalam uraian dibawah. yang mampu menggunakan kapasitas metodologinya untuk memfasilitasi diskusi atau pembahasan-pembahasan materi diluar isu P3MD Plus. ADD. Otonomi Desa beserta Tata kepemerintahan yang Baik. Terbantunya fasilitator P3MD Plus khususnya dan pembaca umumnya untuk lebih memahami P3MD Plus. sesuai kesempatan dan kebutuhan yang dirasakan. Bahkan sangat jelas mereka mampu berkompetisi misalnya dengan kapasitas fasilitator PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) yang dikelola oleh pusat. Caranya antara lain dengan mencari informasi apakah sejumlah peraturan dari pusat telah dituangkan dalam peraturan dan dasar hukum di tingkat Kabupaten. Peraturan Bupati (Perbup). ADD. Surat Keputusan (SK) Bupati. kalau dikehendaki oleh pusat. Tujuan Penulisan Bahan Bacaan Khusus a. b. Sistematika bahan bacaan khusus ini disusun sebagai berikut: a. Perlu dikemukakan bahwa para fasilitator P3MD Plus dapat menambahkan sendiri berbagai peraturan dan dasar hukum yang terbit di daerah masing-masing. Tersedianya referensi tambahan untuk sosialisasi. atau beberapa peraturan dan dasar hukum yang terkait dengan otonomi desa.khususnya dan pembaca pada umumnya. Pasal tersebut menetapkan bahwa Pemerintah Daerah wajib memenyebarluaskan Peraturan Perundang-Undangan atau Peraturan Daerah yang telah diundangkan. 2. sekedar untuk mempermudah arah perhatian. dan lebih terjaminnya keberlanjutan (sustainability) program. Tersedianya bahan bacaan tentang pemahaman dan kertekaitan antara P3MD Plus. diberi tanda garis bawah. pemasyarakatan. Selanjutnya merupakan hal yang sangat berarti apabila Pemda di NTT berkenan menjadikan fasilitator P3MD Plus sebagai fasilitator yang handal dan kompetitif. keberhasilan. b. serta dikelola oleh Tim Fasilitator yang dedikatif. Otonomi Desa. Kapasitas itu dapat tercapai berdasarkan pengamatan bahwa rata-rata para fasilitator memiliki semangat tinggi dalam penguasaan metodologi dan tentu saja penguasaan materinya. juga terpikir harapan dapat menjadi bahan sosialisasi atau pemasyarakatan PDH sebagaimana diwajibkan oleh UU 10/2004 pasal 52 dan penjelasannya. Beberapa Peraturan dan Dasar Hukum Halaman | 54 . secara keterpilihan (selektif) dapat ditingkatkan statusnya menjadi fasilitator Otonomi Desa. atau lain-lain. Disamping itu. c. Pengantar. seperti misalnya peraturan daerah (Perda). dan daerah pasti mampu melaksanakan. Alasan penyerahan ke daerah pun jelas. terutama efsisiensi. beserta Tata kepemerintahan Daerah dan Desa yang Baik.

5. UU 28/1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. P3MD Plus. Surat Edaran Bersama Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dan Menteri Dalam Negeri No. g. dan Nepotisme (KKN). 0008/M. dan Musrenbang Pemahaman tentang Otonomi Desa dan Tata Pemerinahan yang Baik. 7. Pengendalian dan Evaluasi Pelaksanaan Pembangunan Daerah PP No. 8. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 9. 2. 4. 140/161/SJ Th. d. 2007 (Permendagri 37/2007) tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa. 14. PP 66/2001 tentang Retribusi Daerah. 2007 tentang Pedoman Umum Pengelolaan Keuangan Desa. Surat Mendagri No. Pemahaman Dasar tentang ADD Kesimpulan dan Saran Umum Penutup Beberapa Peraturan dan Dasar Hukum 1. 12. 72 Th. 13. Kolusi. 6. 11. Undang-Undang No. 3. e. Pemahaman tentang P3MD. khususnya pasal 15 ayat 1. 2. 140/640/SJ Th. Tata cara Penyusunan. 2005 (PP 72/2005) tentang Desa (sebagai salah satu petunjuk pelaksanaan UU 32/2004). Peraturan Daerah Kabupaten Belu No. Surat Edaran Mendagri No. UU 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah UU 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. sebagai petunjuk teknis UU 25/2004) tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Musrenbang Tahun 2007. 2008 tentang Tahapan. f.PPN/01/2007050/264A/SJ (SEB Meneg PPN/Ketua Bappenas-Mendagri tentang Juknis Musrenbang 2007 . 10. 2005 tertanggal 22 Maret 2007 tentang Pedoman Alokasi Dana Desa. PP 65/2001 tentang Pajak Daerah. 2004 (UU 25/2004) tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN). UU 10/2004 tentang Pembuatan Peraturan Perundang-Undangan (PPP). 3. khususnya pasal 78 ayat 1. 37 Th. 8 Th.c. 2006 (Perda Belu 8/2006) tentang Sumber Pandapatan Desa. Halaman | 55 . Peraturan Pemerintah No. 8 Th. 25 Th.

Bupati. Dibawah ini akan disampaikan beberapa ketetapan yang dipandang perlu menjadi pokok perhatian dari masing-masing acuan tersebut. Beberapa Kutipan dari UU 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah a. atau Walikota dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah (ayat 3). Pemerintah daerah adalah Gubernur. Daerah otonom. yaitu: 1) Pemerintah Pusat. khususnya yang menyangkut kepentingan umum. selanjutnya disebut daerah. selanjutnya disebut Pemerintah adalah Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia (ayat 1) 2) Pemerintahan daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (ayat 2). UU 33/2004. Selanjutnya juga UU 10/2004 dan UU 28/1999 yang diantaranya memberikan hak kepada masyarakat untuk ikut serta dalam penyusunan kebijakan Pemerintah. Pengertian Dari 23 pengertian sebagaimana tertuang dalam Ketentuan Umum pasal 1 UU 32/2004. ada 8 diantaranya yang sedikit banyak perlu menjadi perhatian Fasilitator.Pemahaman Dasar tentang Otonomi Daerah dan Desa 1. Pengantar Beberapa acuan utama dalam pembahasan ini adalah UU 32/2004 beserta PP 72/2005. termasuk kewajiban pemerintah Desa. wewenang. dan kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundangundangan (ayat 5). Otonomi daerah adalah hak. 2. adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri 3) 4) 5) Halaman | 56 .

pemberdayaan dan partisipasi masyarakat dengan selalu memperhatikan kepentingan dan aspirasi yang tumbuh dalam masyarakat (penjelasan butir 1. 2) 3) Halaman | 57 . peningkatan peranserta.b alinea 3). Daerah memiliki kewenangan membuat kebijakan untuk memberi pelayanan. selanjutnya disebut desa. 7) 8) 9) 10) Peraturan kepala daerah adalah peraturan Gubernur dan/atau peraturan Bupati/Walikota (ayat 11). b. 6) Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia (ayat 7). dan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan pada peningkaan kesejahteraan masyarakat (penjelasan ayat 1 huruf b).berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia (ayat 6). Beberapa ketetapan lain 1) Arah dan prinsip pemberian otonomi adalah mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkaan pelayanan.a alinea 1 dan 1. Peraturan daerah selanjutnya disebut Perda adalah peraturan daerah provinsi dan/atau peraturan daerah kabupaten/kota (ayat 10). adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat. prakarsa. 11) Desa atau yang disebut dengan nama lain. berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia (ayat 12). Negara mengakui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak tradisionalnya dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia/NKRI (pasal 2 ayat 9). Tugas pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada daerah dan/atau desa dari pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa serta dari pemerintah kabupaten/kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu (ayat 9). Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah dan/atau kepada instansi vertikal di wilayah tertentu (ayat 8).

pelayanan umum. Perencanaan pembangunan didasarkan pada data dan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan (pasal 152 ayat 1. Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah mempunyai kewajiban (a. demokratisasi dan pemberdayaan masyarakat. 14) Pengelolaan keuangan desa sebagaimana dimaksud pada pasal 212 ayat (2) dilakukan oleh kepala desa yang dituangkan dalam peraturan desa tentang anggaran pendapatan dan belanja desa. 5) 6) 7) 8) 9) 10) Perangkat desa terdiri dari sekretaris desa dan perangkat desa lainnya (pasal 202 ayat 2).) melaksanakan prinsip tata kepemerintahan yang bersih dan baik (pasal 27 huruf h).4) Daerah harus mampu memperhatikan prinsip demokrasi. otonomi asli. Sedang terhadap desa di luar desa geneologis yaitu Halaman | 58 . dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat (ayat e). Anggota DPRD mempunyai kewajiban (a. memperjuangkan peningkatan kesejahteraan rakyat di daerah (ayat d). 11) Sekretaris desa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diisi dari pegawai negeri sipil yang memenuhi persyaratan (pasal 202 ayat 3). dan daya saing daerah (pasal 2 ayat 3). partisipasi. Undang-undang ini mengakui otonomi yang dimiliki oleh desa.) melaksanakan kehidupan demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah (pasal 45 ayat b). Pemerintah Daerah menjalankan otonomi dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. pemerataan. menghimpun.l. menampung. keistimewaan dan kekhususan serta potensi dan keanekaragaman daerah dalam sistem NKRI (penjelasan umum ayat 1 huruf a). 12) Pemilihan kepala desa dalam kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan yang diakui keberadaannya berlaku ketentuan hukum adat setempat yang ditetapkan dalam Perda dengan berpedoman pada Peraturan Pemerintah (pasal 203 ayat 3). 15) Landasan pemikiran dalam pengaturan mengenai desa adalah keanekaragaman. menyerap. juga tertuang pada pasal 31 ayat 1). Pemerintah desa terdiri atas kepala desa dan perangkat desa (pasal 202 ayat 1). keadilan. 13) Masa jabatan kepala desa adalah 6 (enam) tahun dan dapat dipilih kembali hanya untuk 1 (satu) kali masa jabatan berikutnya (pasal 204).l.

d) „Efektif‟ adalah kemampuan mencapai target dengan sumber daya yang dimiliki dengan cara atau proses yang paling optimal. Musrenbang RKPD (Rencana Kerja Pemerintah Daerah). jujur dan tidak diskriminatir tentang penyelenggaraan negara dengan tetap memperhatikan perlindungan atas hak asasi pribadi. guna pemanfaatan dan pengalokasian sumber daya yang ada dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial dalam suatu lingkungan wilayah/daerah dalam jangka waktu tertentu (Pasal 1 ayat 3). Pengertian Dari 19 pengertian yang tertuang pada pasal 1. b. c. Halaman | 59 . golongan. Beberapa Kutipan dari PP 8/2008 tentang Tahapan. pasal 1 ayat 17). dan rahasia negara. maka otonomi desa akan diberikan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang (Disarikan dari penjelasan umum ayat 10 alinea 1 dan 2). diantaranya mengenai pengertian dan istilah-istilah yang sering digunakan dalam pembicaraan otonomi dan tata pemetintahan yang baik. 1) Perencanaan Pembangunan Daerah adalah suatu proses penyusunan tahapan-tahapan kegiatan yang melibatkan berbagai unsur pemangku kepentingan didalamnya.desa yang bersifat administratif seperti desa yang dibentuk karena pemekaran desa ataupun karena transmigrasi ataupun karena alasan lain yang warganya pluralistis. 3. Demikian juga tentang Musrenbang Daerah. c) „Efisien‟ adalah pencapaian keluaran tertentu dengan masukan terencah atau masukan terencah dengan pengeluaran maksimal. masalah. Tatacara Penyusunan. dan perubahan yang terjadi di daerah. 2) Pemangku kepentingan adalah pihak-pihak yang langsung atau tidak langsung mendapatkan manfaat atau dampak dari perencanaan dan pelaksanaan pembangunan daerah (Penjelasan. Beberapa ketetapan lain 1) Pasal 3 a) „Transparan‟ adalah membuka diri terhadap hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar. b) „Responsif‟ adalah dapat mengatasi berbagai potensi. Pengantar PP 8/2008 merupakan peraturan lebih lanjut dari UU 32/2004 pasal 154 UU 32/2004. a. terutama mengenai keterlibatan masyarakat atau pemangku kepentingan dalam proses dan arah pembangunan daerah. dan tentang Forum konsultasi publik. dan Evaluasi Pelaksanaan Pembangunan Daerah. yang semuanya menetapkan pentingnya penjaringan aspirasi masyarakat dalam peroses perencanaan pembangunan daerah. ada 2 diantaranya yang baik untuk diketahui. ataupun heterogen. Pengendalian. Beberapa kutipan disampaikan dibawah ini. majemuk.

pendapatan. sektor. termasuk diantaranya tentang pemerintahan. Didalamnya ada berbagai pengertian dan ketetapan lain. dan usia. „Berkeadilan‟ adalah prinsip keseimbangan antarwilayah. Musrenbang RKPD (Rencana Kerja Pemerintah Daerah) kabupaten/kota dimulai dari Musrenbang desa atau sebutan lain/kelurahan. Beberapa kutipan dari PP 72/2005 tentang Desa a. Forum konsultasi publik merupakan wadah penampungan dan penjaringan aspirasi masyarakat dan dunia usaha untuk penyempurnaan rancangan kebijakan. kecamatan atau sebutan lain (Pasal 20 ayat 1). Yang dimaksud dengan „Musrenbang Daerah‟ adalah upaya penjaringan masyarakat yang antara lain ditujukan mengakomodasi aspirasi kelompok masyarakat yang ridak memiliki akses dalam pengambilan kebijakan melalui jalur khusus komunikasi (Pasal 4 ayat 2 huruf a). Hal ini menujukkan sistem perencanaan bawah-atas (bottom-up planning) berdasarkan asas demokratisasi dan desentralisasi (Pasal 38 ayat 1). gender. sumber pendapatan dan kekayaan. yaitu: 1) Kecamatan adalah wilayah kerja camat sebagai perangkat daerah kabupaten dan daerah kota. Partisipatif‟ adalah merupakan hak masyarakat untuk terlibat dalama setiao proses tahapan perencanaan pembangunan daerah dan bersifat inklusif terhadap kelompok yang termarginalkan melaui jalur khusus komunikasi untuk mengakomodasi aspirasi kelompok masyarakat yang tidak memiliki akses dalam pengambilan kebijakan. „Terukur‟ adalah penetapan target kinerja yang akan dicapai dan cara-cara untuk mencapainya. Pengantar PP 72 merupakan aturan lebih lanjut dari UU 32/2004 pasal 216 ayat 1 khusus yang terkait dengan desa.e) f) g) h) 2) „Akuntabel‟ adaalah setiap kegiatan dan hasil akhir dari perencanaan pembangunan daerah harus dapat dipertanggungjawabkan kepada masayarakat atau rakyat sebagai p[emegang kedaultan tertinggi negara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Halaman | 60 . 3) 4) 4. serta perencanaan pembangunan desa. b. Pengertian Dari 16 pengertian sebagaimana tertuang dalam Ketentuan Umum pasal 1 PP 72/2005 ada 13 diantaranya yang sedikit banyak perlu menjadi perhatian Fasilitator.

adalah lembaga yang merupakan perwujudan demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan desa sebagai unsur penyelenggara pemerintahan desa.2) Desa atau yang disebut dengan nama lain. selanjutnya disingkat BPD. 12) Menteri adalah Menteri Dalam Negeri. bimbingan. Pemerintah Desa atau yang disebut dengan nama lain adalah Kepala Desa dan Perangkat Desa sebagai unsur penyelenggara pemerintahan desa. 11) Pembinaan adalah pemberian pedoman. adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas-batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat. Pemerintahan Desa adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Desa dan Badan Permusyawaratan Desa dalam mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. monitoring. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa selanjutnya disingkat APBDesa adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan desa yang dibahas dan disetujui bersama oleh Pemerintah Desa dan BPD. Halaman | 61 . pengawasan umum dan evaluasi pelaksanaan penyelenggaraan pemerintahan desa. supervisi. Badan Permusyawaratan Desa atau yang disebut dengan nama lain. pendidikan dan pelatihan. 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) Peraturan Desa adalah peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh BPD bersama Kepala Desa. konsultasi. berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam sistem Pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia (sama seperti pengertian pada UU 32/2004). pengembangan. Peraturan Daerah adalah Peraturan Daerah Provinsi dan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota. yang bersumber dari bagian dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh Kabupaten/Kota. perencanaan. selanjutnya disebut desa. Lembaga Kemasyarakatan atau yang disebut dengan nama lain adalah lembaga yang dibentuk oleh masyarakat sesuai dengan kebutuhan dan merupakan mitra pemerintah desa dalam memberdayakan masyarakat. Alokasi Dana Desa adalah dana yang dialokasikan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota untuk desa. penelitian. yang ditetapkan dengan Peraturan Desa. standar pelaksanaan.

 profil desa. merupakan penjabaran dari RPJMD untuk jangka waktu 1 (satu) tahun (pasal 64 ayat 1.  keuangan desa. RPJMD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a ditetapkan dengan Peraturan Desa dan RKP-Desa ditetapkan dalam Keputusan Kepala Desa berpedoman pada Peraturan Daerah (asal 64 ayat 2) Perencanaan pembangunan desa sebagaimana dimaksud pada Pasal 64 ayat (1) didasarkan pada data dan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan (pasal 65 ayat 1). b) c) d) e) f) g) h) Halaman | 62 .b). tata cara penyusunan. selanjutnya disebut RKPDesa.  organisasi dan tata laksana pemerintahan desa.c. dan evaluasi pelaksanaan rencana pembangunan desa diatur dengan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota (pasal 66). Dalam menyusun perencanaan pembangunan desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib melibatkan lembaga kemasyarakatan desa (pasal 63 ayat 3). Beberapa ketetapan lain 1) Perencanaan Pembangunan Desa a) Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan desa disusun perencanaan pembangungan desa sebagai satu kesatuan dalam sistem perencanaan pembangunan daerah kabupaten/Kota (pasal 63 ayat 1). Perencanaan pembangunan desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun secara partisipatif oleh pemerintahan desa sesuai dengan kewenangannya (pasal 63 ayat 2). Ketentuan lebih lanjut mengenai tahapan. Data dan informasi sebagaimana dimaksud pada pasal 65 ayat 1) mencakup:  penyelenggaraan pemerintahan desa.  informasi lain terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan desa dan pemberdayaan masyarakat. Perencanaan pembangunan desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 ayat (2) disusun secara berjangka meliputi (pasal 64 ayat 1):  Rencana pembangunan jangka menengah desa yang selanjutnya disebut RPJMD untuk jangka waktu 5 (lima) tahun (pasal 64 ayat 1.a). pengendalian.  Rencana kerja pembangunan desa.

Sumber pendapatan desa yang telah dimiliki dan dikelola oleh desa tidak dibenarkan diambil alih oleh pemerintah atau pemerintah daerah. antara lain: Halaman | 63 6) . yang pembagiannya untuk setiap Desa secara proporsional yang merupakan alokasi dana desa. c) 3) Kekayaan Desa Kekayaan Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 68 ayat (1) huruf a terdiri atas: a) b) c) d) e) f) g) tanah kas desa. Pembinaan Pemerintah (sebagaimana dimaksud dalam Pasal 98 ayat 1). hasil swadaya dan partisipasi. hibah dan sumbangan dari pihak ketiga yang tidak mengikat. bagi hasil pajak daerah Kabupaten/Kota paling sedikit 10% (sepuluh per seratus) untuk desa dan dari retribusi Kabupaten/Kota sebagian diperuntukkan bagi desa. Pemerintah Provinsi. 4) 5) Pemerintah dan Pemerintah Provinsi wajib membina penyelenggaraan pemerintahan desa dan lembaga kemasyarakatan (pasal 98 ayat 1) Pemerintah Kabupaten/Kota dan Camat wajib membina dan mengawasi penyelenggaraan pemerintahan desa dan lembaga kemasyarakatan (pasal 98 ayat 2).2) Sumber pendapatan desa (pasal 68 ayat 1): a) Sumber pendapatan desa terdiri atas:    pendapatan asli desa. dan Pemerintah Kabupaten/Kota dalam rangka pelaksanaan urusan pemerintahan. pasar hewan.   b) Bantuan keuangan dari Pemerintah. terdiri dari hasil usaha desa. pelelangan ikan yang dikelola oleh desa. pasar desa. hasil kekayaan desa. Pemerintah Provinsi. bantuan keuangan dari Pemerintah. dan lain-lain kekayaan milik desa. hasil gotong royong. bangunan desa. dan lain-lain pendapatan asli desa yang sah. dan Pemerintah Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf d disalurkan melalui kas desa. tambatan perahu. bagian dari dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh Kabupaten/Kota untuk Desa paling sedikit 10% (sepuluh per seratus).

memberikan penghargaan atas prestasi yang dilaksanakan dalam penyelenggaraan pemerintahan desa dan lembaga kemasyarakatan. memberikan pedoman tentang bantuan pembiayaan dari pemerintah. memberikan penghargaan atas prestasi penyelenggaraan pemerintahan desa dan lembaga kemasyarakatan tingkat provinsi. menetapkan bantuan keuangan langsung kepada Desa. melakukan pendidikan dan pelatihan tertentu kepada aparatur pemerintah daerah yang bertugas membina Pemerintahan Desa. memberikan pedoman pendidikan dan pelatihan. antara lain: a) b) c) d) menetapkan bantuan keuangan dari pemerintah provinsi. 8) Pembinaan dan pengawasan Pemerintah Kabupaten/Kota (sebagaimana dimaksud dalam Pasal 98 ayat 2).a) b) c) d) e) f) g) h) i) 7) memberikan pedoman dan standar pelaksanaan urusan pemerintahan desa dan lembaga kemasyarakatan. antara lain: a) b) c) d) e) f) g) menetapkan pengaturan kewenangan kabupaten/kota yang diserahkan pengaturannya kepada desa. Halaman | 64 . melakukan upaya-upaya percepatan atau akselerasi pembangunan perdesaan. memfasilitasi keberadaan kesatuan masyarakat hukum adat. memberikan pedoman penyusunan perencanaan pembangunan partisipatif. pemerintah provinsi dan kabupaten/ kota kepada desa. lembaga adat beserta hak-hak tradisionalnya dalam pelaksanaan pemerintahan desa. memberikan pedoman penyusunan peraturan desa dan peraturan kepala desa. memberikan pedoman pelaksanaan tugas pembantuan dari kabupaten/kota ke desa. dan melakukan upaya-upaya percepatan atau akselerasi pembangunan perdesaan skala provinsi. nilai adat istiadat. dan pembinaan lainnya yang diperlukan. melakukan evaluasi dan pengawasan peraturan desa. Pembinaan Pemerintah Provinsi (sebagaimana dimaksud dalam Pasal 98 ayat 1). memberikan pedoman teknis pelaksanaan dan pengembangan lembaga kemasyarakatan. menetapkan pembiayaan alokasi dana perimbangan untuk desa. memberikan pedoman penyusunan perencanaan pembangunan partisipatif.

memfasilitasi penyusunan perencanaan pembangunan partisipatif. nilai adat istiadat. anatara lain: a) b) c) d) e) f) g) h) i) memfasilitasi penyusunan peraturan desa dan peraturan kepala desa. Pembinaan dan pengawasan Camat (seperti dimaksud dalam Pasal 98 ayat 2). memfasilitasi kerjasama antar desa dan kerjasama desa dengan pihak ketiga. menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan bagi pemerintah desa dan lembaga kemasyarakatan. memfasilitasi keberadaan kesatuan masyarakat hukum adat. memfasilitasi kerjasama antar lembaga kemasyarakatan dan kerjasama lembaga kemasyarakatan dengan pihak ketiga. 5. memberikan penghargaan atas prestasi yang dilaksanakan dalam penyelenggaraan pemerintahan desa dan lembaga kemasyarakatan. lembaga adat beserta hak-hak tradisionalnya dalam pelaksanaan pemerintahan desa. melakukan pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan desa dan lembaga kemasyarakatan. fungsi. memfasilitasi pelaksanaan pemberdayaan masyarakat desa. dan kewajiban lembaga kemasyarakatan. Pengertian Dari 34 pengertian sebagaimana tertuang dalam Ketentuan Umum pasal 1 UU 33/2004 ada 2 diantaranya yang sedikit banyak ada kaitannya dengan desa. Beberapa Kutipan dari UU 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah a.. dan memberikan sanksi atas penyimpangan yang dilakukan oleh kepala desa sebagaimana diatur dalam peraturan perundangundangan. yaitu: 1) Tugas Pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada Daerah dan/atau desa atau sebutan lain dengan kewajiban melaporkan dan Halaman | 65 . melakukan upaya-upaya percepatan atau akselerasi pembangunan perdesaan. memfasilitasi pelaksanaan tugas. memfasilitasi bantuan teknis dan pendampingan kepada lembaga kemasyarakatan. dan memfasilitasi koordinasi unit kerja pemerintahan dalam pengembangan lembaga kemasyarakatan. memfasilitasi pelaksanaan tugas kepala desa dan perangkat desa.h) i) j) k) l) m) n) 9) mengawasi pengelolaan keuangan desa dan pendayagunaan aset desa.

dan diperoleh masyarakat (pasal 103). Informasi yang dimuat dalam Sistem Informasi Keuangan Daerah merupakan data terbuka yang dapat diketahui. Dibawah ini disampaikan 3 butir ketetapan yang menggambarkan hak-hak itu. agar dapat menjadi wacana bagi masyarakat di perdesaan. transparan. dan bertanggung jawab dengan memperhatikan keadilan. diakses. Dalam penjelasan pasal 52 dinyatakan bahwa "menyebarluaskan" dilakukan misalnya. dan Pasal 103. c. b. stasiun daerah. dan manfaat untuk masyarakat (pasal 66 ayat 1). Daerah menyelenggarakan Sistem Informasi Keuangan Daerah (pasal 102). Pasal 53 menyatakan bahwa: Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan atau tertulis dalam rapat penyiapan atau pembahasan rancangan undang-undang dan rancangan peraturan daerah. taat pada peraturan perundang-undangan. Pasal 102. Pada pasal 52 menyatakan kewajiban bagi Pemerintah Pusat dan Daerah untuk memenyebarluaskan Peraturan Perundang-Undangan atau Peraturan Daerah yang telah diundangkan. diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. termasuk misalnya membuat Peraturan Desa atau Perdes. efektif.mempertanggung menugaskan. atau media cetak yang terbit di daerah yang bersangkutan. Beberapa ketetapan lain 1) Keuangan Daerah dikelola secara tertib. b. a. bahwa masyarakat mempunyai hak untuk ikut serta dalam tata cara Pembuatan Peraturan Perundang-Undangan ini. kepatutan. Penyelenggaraan Sistem Informasi Keuangan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 101. Sedangkan hak masyarakat dilaksanakan sesuai dengan Peraturan Tata Tertib DPRD. Pemerintah menyelenggarakan Sistem Informasi Keuangan Daerah secara nasional ( pasal 101 ayat 1). efisien. melalui media elektronik seperti TVRI dan RRI. Halaman | 66 . Beberapa kutipan dari UU 10/2004 tentang Pembuatan Peraturan PerundangUndangan (PPP) Yang ingin diuraikan sekilas mengenai UU 10/2004. 2) jawabkan pelaksanaannya kepada yang Dana Perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah untuk mendanai kebutuhan Daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi. 2) 3) 4) 5) 6. ekonomis.

serta perbuatan tercela lainnya. (3) hak menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggung jawab terhadap kebijakan Penyelenggara Negara. Pengertian Dari 7 pengertian yang tertuang dalam Ketentuan Umum pasal 1 UU 28/1999 ini. Beberapa Kutipan dari UU 28/1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dari Korupsi. dan (4). Asas umum penyelenggaraan negara meliputi: asas keterbukaan. hak memperoleh perlindungan hukum atas pelaksanaan hak. memperoleh. kolusi. Nepotisme adalah setiap perbuatan Penyelenggara Negara secara melawan hukum yang menguntungkan kepentingan keluarganya dan atau kroninya di atas kepentingan masyarakat.7. sedangkan hak masyarakat diantaranya adalah hak memperoleh informasi. profesionalitas. a. hak mencari. dan memberikan informasi. masyarakat dan atau negara. kepastian hukum. (2). akuntabilitas. pelayanan yang adil.. yaitu: 1) Penyelenggara Negara yang bersih adalah Penyelenggara Negara yang menaati asas-asas umum penyelenggaraan negara dan bebas dari praktek korupsi. 8. Peranserta masyarakat diwujudkan dalam bentuk: (1). Kolusi adalah permufakatan atau kerjasama secara melawan hukum antar-Penyelenggara Negara atau antara Penyelenggara Negara dan pihak lain yang merugikan orang lain. hak memperoleh pelayanan yang sama dan adil. dan 9 menyatakan ada tujuh asas umum serta hak dan tanggung jawab masyarakat untuk berpartisipasi mewujudkan penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas KKN. Korupsi adalah tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang tindak pidana korupsi. 2) 3) 4) Halaman | 67 . tertib penyelenggaraan negara. ada 5 diantaranya yang sedikit banyak ada kaitan dan mendukung perwujudan otonomi dan tata pemnerintahan yang baik di tingkat desa. bangsa. dan asas proporsionalitas (pasal 3). dan negara. kepentingan umum. Dua asas umum diantaranya adalah transparansi dan akuntabilitas. Kolusi dan Nepotisme Pasal 3. dan nepotisme. dan hak memperoleh perlindungan hukum.

dan c. Asas Kepentingan Umum. atau saksi ahli. Hubungan antara Penyelenggara Negara dan masyarakat dilaksanakan dengan berpegang teguh pada asas-asas umum penyelenggaraan negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3.  hak untuk memperoleh pelayanan yang sama dan adil dari Penyelenggara Negara. saksi. Asas Proporsionalitas. Hubungan antara Penyelenggara Negara dan masyarakat dilaksanakan dengan berpegang teguh pada asas-asas umum penyelenggaraan negara sebagaimana dimaksud dalam pasal 3. 2) Pasal 9 a) Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 diwujudkan dalam bentuk:  hak mencari. Asas Profesionalitas. b. 3. dan 6. 5. 2. Asas Tertib Penyelenggaraan Negara.  hak menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggungjawab terhadap kebijakan Penyelenggara Negara. 1) Pasal 8 a) b) c) d) Peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan negara merupakan hak dan tanggungjawab masyarakat untuk ikut mewujudkan Penyelenggara Negara yang bersih. Catatan: Pasal 3 berisi 6 asas umum penyelenggaraan negara. Asas Keterbukaan. Asas Akuntabilitas. Peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan negara merupakan hak dan tanggungjawab masyarakat untuk ikut mewujudkan Penyelenggara Negara yang bersih.Diminta hadir dalam proses Penyelidikan. 4. Halaman | 68 . sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.b. dan memberikan informasi tentang penyelenggaraan negara. dan  hak memperoleh perlindungan hukum dalam hal: . Diktum tersebut tertuang dalam pasal 8 dan 9. meliputi: 1. 5.Melaksanakan haknya sebagaimana dimaksud dalam huruf a. memperoleh. Asas Kepastian Hukum. penyidikan. Beberapa ketetapan lain Satu hal yang perlu diperhatikan dalam ketetapan undang-undang ini adalah hak masyarakat untuk berperan serta atau berpartisipasi dalam proses pembuatannya dalam rangka perwujudan Penyelenggara Negara yang bersih. . dan disidang pengadilan sebagai saksi pelapor.

provinsi maupun kabupaten/kota. 4: Kesetaraan. Prinsip 3: Transparansi Menciptakan kepercayaan timbal balik antara pemerintah dan masyarakat melalui penyedian informasi dan menjamin kemudahan didalam memperoleh informasi yang akurat dan memadai. Percepatan perubahan sikap tersebut. Halaman | 69 . ada beberapa prinsip yang dapat diterapkan di tingkat Desa. Dari 10 prinsip tersebut. Termasuk juga unsurunsur asosiasi pemerintah daerah dan DPRD. Prinsip 2: Penegakan Hukum Mewujudkan adanya penegakan hukum yang adil bagi semua pihak tanpa pengecualian. Sepuluh prinsip tersebut selengkapnya adalah: Prinsip 1: Partisipasi Mendorong setiap warga untuk mempergunakan hak dalam menyampaikan pendapat dalam proses pengambilan keputusan. yang menyangkut kepentingan masyarakat. tentu saja terutama harus terjadi di tingkat kabupaten (dan kota). lebih cepat menghasilkan perubahan sikap dan kepedulian untuk maju. Dengan prinsip-prinsip tata kepemerintahan yang baik. karena titik berat otonomi daerah ada di tingkat itu.b) Hak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dengan menaati norma agama dan norma sosial lainnya. yaitu prinsip 1: Partisipasi. Selebihnya dapat diterapkan sesuai dengan kepentingan dan aspirasi masyarakat berdasarkan permasalahan yang muncul di tingkat desa. yang layak diterapkan di Indonesia. 3: Transparansi. 5: Daya tanggap. baik secara langsung maupun tidak langsung. diharapkan dapat meningkatkan mutu penyelenggaraan pemerintahan. Seminar diselenggarakan oleh Departemen Dalam Negeri (DEPDAGRI) bekerjasama dengan UNDP (Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa). dihadiri diantaranya oleh unsur-unsur DEPDAGRI dan sejumlah unsur pemerintah daerah beserta DPRD. menjunjung tinggi HAM dan memperhatikan nilai-nilai yang hidup di masyarakat. Tata kepemerintahan yang Baik di Indonesia Dalam suatu Seminar Nasional Otonomi Indonesia pada tanggal 22-24 Oktober 2001 di Jakarta. Ketentuan mengenai tata cara pelaksanaan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan negara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. dalam rangka otomnomi desa serta keterkaitannya dengan penerapan P3MD Plus dan ADD. dan prinsip 7: Akuntabilitas. c) 8. telah disetujui 10 prinsip-prinsip tata kepemerintahan yang baik.

tepat dengan biaya yang terjangkau. Prinsip 7: Akuntabilitas Meningkatkan akuntabilitas para pengambil keputusan dalam segala bidang yang menyangkut kepentingan masyarakat luas. Prinsip 9: Efisiensi & Efektifitas Menjamin terselenggaranya pelayanan kepada masyarakat dengan menggunakan sumber daya yang tersedia secara optimal dan bertanggung jawab. Prinsp 6: Wawasan Kedepan Membangun daerah berdasarkan visi dan strategi yang jelas dan mengikutsertakan warga dalam seluruh proses pembangunan. tanpa kecuali. baik itu laki-laki maupun perempuan. sehingga warga merasa memiliki dan ikut bertanggung jawab terhadap kemajuan daerahnya. Halaman | 70 .Prinsip 4: Kesetaraan Memberi peluang yang sama bagi setiap anggota masyarakat. Prinsip 5: Daya Tanggap Meningkatkan kepekaan para penyelenggara pemerintahan terhadap aspirasi masyarakat. cepat. Prinsip 10: Profesionalisme Meningkatkan kemampuan dan moral penyelenggara pemerintahan agar mampu memberi pelayanan yang mudah. Prinsip 8: Pengawasan Meningkatakan upaya pengawasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan dengan mengusahakan keterlibatan swasta dan masyarakat luas. untuk meningkatkan kesejahteraannya.

Penulis memang ingin sekali fasilitator P3MD Plus bersama Tim Penyusun Panduan P3MD Plus dapat menjadi kelompok atau forum atau apapun namanya. sangat diharapkan. Halaman | 71 . yang serba guna bagi perwujudan otonomi daerah dan desa serta tata kepemerintahan yang baik di NTT. Oleh karena itu bagi yang berkenan memberikan saran.Penutup Buku Bacaan Khusus untuk fasilitator P3MD Plus ini tentu saja masih banyak kekurangan dan kelemahannya. komentar. bahkan kreksi konstruktif. dan akan menjadi bahan pertimbangan untuk penyempurnaan berikutnya agar bahan bacaan dapat lebih bermanfaat.

dan bagan kelembagaan. Halaman | 72 .Tiga langkah diatas diulang untuk masing-masing kalender musim dan bagan kelembagaan. Kesehatan.Saat pemetaan potensi dan masalah dilakukan. o Fasilitator mengarahkan peserta untuk mengenal lebih jauh manfaat dari tiga alat kajian tersebut. kalender musim. o Fasilitator dan co-fasilitator membantu peserta memetakan potensi dan masalah yang telah diidentifikasi. yaitu: bidang Pendidikan. fasilitator perlu mengingatkan peserta akan pentingnya tiga bidang kebutuhan dasar. Waktu 120 menit Langkah Kegiatan  Sesi Curah Pendapat dan Simulasi o Fasilitator menanyakan. kalender musim. dan bagan kelembagaan)? o Fasilitator membantu peserta untuk mensimulasikan pembuatan sketsa desa.  Peserta mampu melakukan analisis masalah dan penyebab. . dan Ekonomi. apa yang peserta tahu tentang tiga alat kajian (sketsa desa.2: Analisis Potensi dan Masalah Bersama Masyarakat Tujuan  Peserta mengenal dan terampil melaksanakan langkah-langkah memfasilitasi 3 (tiga) alat kajian P3MD plus. Bahan dan Alat Kertas Plano.  Peserta mampu memetakan dan merumuskan potensi dan masalah. o o Fasilitator meminta peserta untuk mengelompokkan potensi dan masalah dari ketiga alat kajian.Sub Bagian 2.  Sesi Diskusi Kelompok o Fasilitator mengelompokkan peserta berdasarkan desa-nya masing-masing. Peserta diminta untuk melakukan pemeringkatan masalah dengan menggunakan formulir penentuan peringkat masalah (formulir F1). Catatan: . Spidol dan ATK lainnya yang ada. o Masing-masing kelompok diminta untuk membuat sketsa desa dan mengidentifikasi potensi dan masalahnya.

o Fasilitator pada sesi ini. harus bisa menunjukkan perbedaan tahapan untuk merumuskan masalah P3MD dangan P3MD Plus. Pertanyaan Kunci  Apa saja potensi dan masalah yang bisa diambil dari masing-masing alat kajian P3MD Plus?  Apa-apa saja tahapan dalam menggunakan masing-masing Alat Kajian?  Mengapa sketsa desa dipakai sebagai alat pertama?  Apa itu lembaga?  Apa keutamaan alat-alat kajian P3MD Plus dalam merumuskan potensi dan masalah? Halaman | 73 . Sesi Penegasan o Fasilitator memberi penegasan tentang keutamaan masing-masing alat kajian dalam merumuskan masalah. o Fasilitator memberikan ilustrasi tentang cara kerja dokter dalam mendiagnosa penyakit pasien sebelum memberi obat.

serta cara. 3. 5. Halaman | 74 . Apa yang Digambarkan pada Sketsa Desa?  Sumber daya alam  Sumber daya buatan  Sumber daya manusia. dan mutu sumber daya. 4. Doronglah peserta yang pasif untuk bergabung atau pancing dengan pertanyaan-pertanyaan agar mereka tergerak untuk aktif berperan. tanyakan kepada peserta: o Adakah yang kurang? Tentang apa? o Adakah yang perlu diperbaiki? o Apakah sketsa yang tergambar sudah cukup mampu menggambarkan potensi-potensi dan masalah-masalah dalam desa? 8.Bahan Bacaan 2. 6.2 PENGKAJIAN POTENSI DAN MASALAH PENGKAJIAN MENGGUNAKAN SKETSA DESA Tujuan  Menyadarkan peserta tentang: jenis. Jika gambar sudah selesai. Berikan contoh-contoh tentang: o Membuat simbol/tanda-tanda potensi serta menyepakatinya o Cara meletakkan simbol/tanda pada tempat yang sesuai pada contoh sketsa. berikan saran atau kemungkinan pemecahannya untuk disepakati bersama. Jelaskan kepada peserta tentang: o Apa itu sketsa desa? o Apa tujuan mereka membuat sketsa desa? o Apa-apa saja yang digambarkan didalam sketsa desa? o Bagaimana langkah-langkah pembuatannya? 2. jumlah. Cara Memfasilitasi 1. bentuk dan tingkat penggunaan sumber daya  Menggali masalah dan potensi  Menyamakan pandangan tentang masalah yang dihadapi. 7. Jika ada kemacetan dalam membuat sketsa desa. Mulailah meminta peserta untuk menggambarkan sketsa desa yang diawali oleh kelompok wanita dan selanjutnya dibahas dan dilengkapi oleh kelompok pria. Sepakati sketsa desa yang telah dipandang mampu menggambarkan situasi desa. Amati cara para peserta menggambar dan menentukan simbol serta meletakkannya.

pertanyaan-pertanyaan agar peserta seperti: gereja. 3) Tentukan jenis sumber daya yang ada di desa (sumber Pengalaman Memfasilitasi Sketsa Desa daya alam. ulangi lagi dengan contoh yang lain. Tahapan ini penting untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam pembangunan di desanya. Penegasan yang penting diberikan bahwa alat kajian ini digunakan sebagai alat untuk memberikan kebanggan masyarakat terhadap desanya bahwa mereka memiliki potensi/kekayaan sumberdaya baik itu manusia. dsb. Sebagai akhir sesi ini. 4) Mulailah melakukan penggalian masalah yang didasarkan pada titik awal yang telah disepakati. untuk dan fasilitator mengingat kembali memperjelas lokasi sebenarnya dari masing-masing prinsip-prinsip yang sudah dibangun sebelumnya. 6) Mintalah pendapat dari kelompok wanita baru kelompok pria bagi tiap masalah. papan. Puskesmas. misalnya: bagaiamana menemukan masalah melalui alat kajian ini . alam dan buatan. lembaga. Catatan: Tuliskan masalah dan potensi yang ditemukan pada potongan kartu plano ukuran 9.  Fasilitator merangsang dengan 7) Gambarkan lokasi jalan dan bangunan-bangunan publik. 9) Tempelkan kartu plano yang telah diisi masalah pada kolom masalah dan potensi pada kolom potensi di Formulir 1. mengapa alat kajian ini digunakan sebagai alat pertama dalam P3MD Plus?. atau apa saja yang bisa digunakan). kertas.Langkah-langkah Pembuatan Sketsa Sketsa 1) Sepakati media penggambaran sketsa desa (pada permukaan tanah. Setelah pemahaman dasar dapat dipahami peserta. 7) Sempurnakan dan tegaskan jika ada pernyataan atau perumusan potensi dan masalah yang kurang tepat. sumber daya. sekolah. mensimulasikan alat kajian sketsa 5) Gambarkan garis batas desa.  Pertanyaan-pertanyan refleksi juga 8) Lengkapi sketsa jika ada yang kurang. diajukan selama sesi ini. 3) Tanyakan kepada peserta. buatan dan manusia). 10) Jika dipandang telah cukup. desa sementara peserta lain mengambil peran sebagai peserta 6) Letakkan simbol/tanda yang menggambarkan sumber Musrenbangdes. daya sesuai letaknya didalam wilayah desa. fasilitator mendemonstrasikan bagaimana memfasilitasi alat kajian P3MD sebagai mana langkah-langkah dalam bahan bacaan.    8) Siapkan Formulir 1 untuk Pengelompokkan dan Pemeringkatan Masalah. 5) Apabila masalah-masalah telah terdefinisikan. pasar. maka bangunlah kesepakatan dengan peserta akan hasil yang telah dicantumkan dalam Formulir 1. Halaman | 75 .5 cm x 20 cm. fasilitator meminta peserta untuk mensimulasikan di kelompoknya masing masing sehingga peserta lebih trampil memfasilitasi. apakah sudah paham? Jika belum paham. maka tanyakan potensi apa yang diperlukan untuk mengatasi masing-masing masalah. Menggali Potensi dan Masalah dari Sketsa Desa Cara memfasilitasi: 1) Jelaskan dahulu cara-cara menggali masalah dan cara membaca sketsa desa. saat Uji Coba Panduan: 4) Sepakati simbol/tanda untuk menggambarkan tiap  Fasilitator meminta peserta untuk sumber daya. 2) Tentukan arah mata angin. 2) Berikan contoh atau peragakan cara menggali masalah.

seperti jagung.dst hingga Juli 2009 Contoh simbol kritis  sangat kritis  cukup kritis  tidak kritis 6. bulan Agustus sebagai awal musim kekurangan air. kemiri. Misalnya. o Musim panen tanaman pangan. seperti mangga.. dsb. o Musim banjir. padi. kacang merah.PENGKAJIAN MENGGUNAKAN KALENDER MUSIM Tujuan  Mengetahui masalah-masalah yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan dasar dan kesejahteraan.. 5. Mintalah peserta untuk menyepakati bulan apa yang menjadi awal pembahasan potensi dan masalah berdasarkan musim selama satu tahun kehidupan. ubi kayu. o Musim kering – (bulan-bulan dimana air sangat susah didapat). dsb. seperti. 2. Pisahkan para perempuan dari laki-laki pada dua tempat terpisah. Beri contoh cara mengisi tabel kalender musim tersebut. 3. asam. dsb.... pisang. Mintalah kepada peserta perempuan dan laki-laki untuk membahas tentang: o Hal apa saja yang terjadi dalam kehidupan masyarakat desa selama satu tahun? o Apa saja masalah kebutuhan dasar manusia yang berkaitan dengan musim kemarau dan hujan? o Kegiatan apa saja yang dilakukan masyarakat pada musim-musim tersebut? Halaman | 76 .  Untuk mengetahui pola kehidupan masyarakat di desa. Bahas dan sepakati bersama akan simbol-simbol musim yang mengandung potensi dan masalah yang akan dipakai. Pada bulan apa dimulai musim kemarau dan kapan berakhirnya? o Musim buah-buahan tertentu.  Untuk mengetahui masa-masa kritis. Jelaskan kepada peserta Musrenbangdes tentang: o Tahap-tahap pembuatan kalender musim. dsb.. o Cara penggalian potensi dan masalah menggunakan kalender musim. Agustus 2008 September 2008 .. Buatlah tabel kalender musim yang masih kosong dan tempelkan pada lokasi yang dapat dilihat jelas oleh semua peserta. misalnya: o Musim hujan atau musim kemarau. 4. Cara Memfasilitasi 1.. Pada bulan apa dimulai musim hujan dan kapan berakhirnya. o dll. kacang beras. Contoh satu tahun periode adalah Agustus 2008 hingga Juli 2009. o Musim panen tanaman perkebunan. 7. kelapa. seperti kacang tanah. o Musim kelaparan – (bulan-bulan dimana makanan sangat susah didapat). o Musim panen tanaman kacang-kacangan.

 Pengalaman memfasilitasi sesi ini biasanya fasilitator menemukan masalah tetapi tidak datang dari alat kajian ini.8. Gunakan pertanyaanpertanyaan pancingan seperti berikut: o Apa saja yang saat itu anda lakukan untuk mengurangi akibat dari dampak musim yang bersangkutan? o Apa saja dari lingkungan sekitar tempat tinggal anda atau desa anda yang saat itu anda manfaatkan untuk mengatasi masalah dalam musim tersebut? Pengalaman Memfasilitasi Kalender Musim saat Uji Coba Panduan:  Fasilitator meminta salah satu peserta untuk memfasilitasi memfasilitasi alat kajian ini. Sebaliknya. Jika gambar kalender musim telah dianggap selesai. 5) Bagi kepentingan mengatasi rumusan permasalahan yang telah mengemuka. Penggalian Potensi dan Masalah Kalender Musim Cara Memfasilitasi 1) Ajaklah peserta musyawarah untuk memperhatikan kelender musim yang telah diisi. Bahaslah bersama-sama mereka dan gunakan pertanyaan-pertanyaan pancingan yang kurang lebih seperti berikut: o Bagaimana situasi kehidupan anda pada musim ……………. Termasuk mengingatkan kembali akan musim-musim apa saja yang terjadi di desa. 2) Mulailah menggali pemikiran peserta akan permasalahan yang terkandung dalam: o Masalah-masalah yang mendapatkan nilai tertinggi dari setiap keadaan atau kegiatan yang tercantum dalam tabel. kemudian Fasilitator menanyakan bagaimana menemukan masalah dengan alat kajian ini. Untuk itu Fasilitator perlu untuk selalu dalam satu periode waktu tertentu mendemonstrasikan bagaimana menemukan masalah dari alat kajian ini.  Setelah melakukan simulasi.  Pengalaman sesi ini. 4) Luangkan waktu secara khusus untuk menggali pemikiran kaum perempuan yang hadir dalam pertemuan. Catat dan tuliskan di kertas plano pendapat dari peserta wanita dan pria serta tempelkan pada kolom masalah/keadaan/kegiatan pada gambar kalender musim. Sesuai dengan sifat musim yang tercantum. maka tanyakan pula potensi apa saja yang ada di desa yang dapat digunakan untuk memecahkan masalah terkait. 9. jika sifatnya merugikan penduduk. untuk itu Fasilitator bisa saja membantu agar fasilitator mengingat kembali tahapannya. yang berlangsung dari bulan……. fasilitator menanyakan kepada peserta ”Apa langkah selanjutnya yang perlu kita buat?” Biasanya peserta mengatakan kita akan menemukan masalah. Ajaklah peserta untuk memberi nilai pada musim masalah/keadaan/kegiatan yang didasarkan pada frekwensi dan kekuatan dampak. maka semakin besar nilai yang diberikan. apabila sifat musimnya adalah menguntungkan penduduk. semakin baik gambaran kondisi musim yang bersangkutan.  Sesi akhir. semakin gawat gambaran kondisi musim yang bersangkutan.hingga bulan………? (gunakan informasi yang terkandung dalam tabel Kalender Musim untuk mengetahui periode musim kemarau-nya) o Apa saja dampak terburuk yang dialami? 3) Catatlah jawaban yang dikemukakan para peserta dan bahaslah dengan peserta yang lain untuk dibuatkan rumusan masalahnya. Halaman | 77 . 10. maka periksa kembali untuk disepakati bersama para peserta Musrenbangdes. maka semakin besar nilai yang diberikan. Fasilitator meminta peserta untuk melatih teknik-teknik memfasilitasi pengkajian potensi dan masalah menggunakan alat Kalender Musim dikelompoknya masingmasing. biasanya ada bagian yang dilupakan fasilitator selama memfasilitasi alat ini.

6) Catatlah tiap jawaban yang dikemukakan pada media papan tulis yang tersedia dan tanyakan pada peserta yang lain. 8) Tempelkan kartu plano yang telah diisi masalah pada kolom masalah dan potensi pada kolom potensi di Formulir 1.5 cm x 20 cm. Catatan: Tuliskan setiap jawaban masalah maupun potensi yang telah disepakati pada kertas plano ukuran 9. Jika mereka tidak setuju. maka bangunlah kesepakatan dengan peserta akan hasil yang telah dicantumkan dalam Formulir 1. Lingkarilah jawaban mana yang selanjutnya disepakati agar perhatian peserta tertuju pada apa yang telah disepakati tersebut. 9) Jika dipandang telah cukup. Halaman | 78 . 7) Siapkan Formulir 1 untuk Pengelompokkan dan Pemeringkatan Masalah. apakah mereka setuju dengan yang telah dikemukakan atau tidak. tanyakan apa saja alternatif jawaban yang dapat mereka kemukakan dan catat juga di papan.

7. Sesuai dengan pengertian yang baru mereka didapat. Pustu. 5. maka kesempatan ini dapat digunakan untuk baik itu konfirmasi gambar pada sketsa desa maupun keberadaan kelompok tani tersebut. sehingga yang nampak didepan hanyalah lembagalembaga “kunci” dalam pembangunan desa. Contoh-contoh lembaga formal adalah Pemerintah Desa. dan Pengontrolan jalannya lembaga. Dan merupakan komponen sosial yang jelas pemisahannya dari lingkungan sosial di sekitarnya. Puskesmas. Untuk menjamin penyelenggaraan lembaga yang selalu berdasarkan kesepakatan bersama. Bagikan potongan kertas (9. Ajak para peserta untuk menempelkan pendapat mereka di papan yang telah tersedia di depan. 6. Kelompok Simpan-pinjam. Pengontrolan mengandung makna pengawasan rutin dan evaluasi rutin. 2. maka suatu lembaga wajib untuk memiliki sederetan aturan. dll. Contoh. dll. Lembaga non formal adalah suatu lembaga yang ada di masyarakat yang mempunyai tujuan bersama. tetapi belum atau tidak memiliki dasar hukum (SK/AD/ART). 4. Cara memfasilitasi Mendaftar Lembaga di Desa 1. Posyandu. Kelompok Arisan. Singkirkan lembaga-lembaga yang telah disepakati sebagai yang bukan lembaga “kunci” dari papan. Pembagian Tanggungjawab. Kelompok Tani. BPD. Sepakati hasilnya untuk pembahasan selanjutnya. Lembaga adalah suatu wadah pengelolaan bersama yang memiliki tujuan tertentu untuk dipenuhi.5 cm x 20 cm) kepada seluruh peserta. sehingga diperoleh beberapa kelompok nama lembaga. apa yang tercantum dalam sketsa desa sejalan dengan apa yang dikemukakan pada bagian Bagan Kelembagaan ini.PENGKAJIAN MENGGUNAKAN BAGAN KELEMBAGAAN Tujuan Untuk menggali potensi dan masalah di desa yang berhubungan dengan peran dan manfaat yang diberikan oleh ragam lembaga di desa bagi masyarakat desa yang bersangkutan. Halaman | 79 . Beberapa contoh lembaga non-formal adalah: Kelompok Doa. mintalah kepada peserta untuk menuliskan nama lembaga apa saja yang mereka kenal di desa. Polindes. Terangkan kepada peserta tentang apa itu lembaga dan beri contoh yang relevan. 8. Pengarahan. Kelompok Pemuda Gereja. lembaga Kelompok Tani. Kader Pembangunan Desa. LPM. Pilihlah mana diantara lembaga-lembaga tersebut yang dipandang sebagai “kunci” dalam pembangunan desa. Kinerja lembaga diawasi secara mandiri berdasarkan ragam masukan baik itu dari dalam lembaga sendiri maupun dari luar lembaga yang selalu berinteraksi dengan lembaga yang bersangkutan. Lembaga formal adalah lembaga yang mempunyai dasar hukum (SK/AD/ART). Catatan: Ajaklah peserta untuk selalu mencocokkan keberadaan lembaga yang berkaitan erat dengan pengelolaan Sumber Daya Alam yang mereka sampaikan dengan gambaran yang telah ada pada Sketsa Desa. PKK. diperlukan langkah-langkah pengelolaan yang meliputi Perencanaanpenganggaran. Apabila pada sketsa desa tidak tergambarkan lokasi pertanian desa. Penugasan. RT/RW. Misalnya. Sehingga. Kelompokkan lembaga mana yang sama. pada akhirnya. Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Untuk memenuhi tujuan lembaga. 3.

tanah. lingkaran kecil menandakan manfaat lembaga terhadap masyarakat kurang atau tidak ada. 4) Berikan saran.Membuat Bagan Kelembagaan 1) Terangkan kepada peserta tentang: o Cara membuat bagan kelembagaan o Cara menentukan manfaat lembaga bagi masyarakat o Cara menentukan hubungan (jarak) lembaga dengan masyarakat. Sebaliknya. Lingkaran besar menandakan manfaat lembaga terhadap masyarakat adalah besar. dan kecil. Sedangkah. Contoh ukuran bulatan: Bermanfaat cukup bermanfaat kurang bermanfaat o o o o Bahaslah lembaga kunci yang terpilih untuk menentukan manfaat yang ditandai dengan bulatan besar. atau kertas di dinding. dan kecil. Terdapat dua hal dari Bagan Kelembagaan yang harus diperhatikan. tempatkanlah satu lingkaran bertuliskan masyarakat di tengahtengah bidang kerja. yakni: ukuran lingkaran lembaga dan jarak antara lingkaran tersebut dengan lingkaran masyarakat. sedang. Pertama-tama. 3) Ajaklah peserta untuk mulai membuat bagan kelembagaan. mintalah para peserta untuk menuliskan nama lembaga-lembaga yang mereka ingat pada lingkaran-lingkaran yang telah disediakan. lingkaran besar. pelurusan dan alternatif pemecahannya jika terjadi kemacetan dalam pembuatan bagan kelembagaan.Buat garis batas desa . Semakin dekat jarak lingkaran lembaga terhadap lingkaran masyarakat menunjukkan kinerja sebenarnya yang baik dari lembaga yang bersangkutan saat ini. fasilitator dapat memberikan saran perubahan. Kemudian. sedang. Tulislah nama lembaganya pada bidang/bulatan kertas yang telah disepakati sesuai besar/kecil-nya bulatan. semakin jauh lingkaran lembaga dari lingkaran masyarakat menunjukkan kinerja lembaga tersebut tidak baik.Tempelkan lingkaran masyarakat di dalam batas desa dan lembaga-lembaga yang lain sesuai jarak yang telah disepakati Halaman | 80 . Selanjutnya. Bisa di lantai. Buatlah gambar bagan kelembagaan: . Jika dirasakan ada yang kurang tepat. Bahaslah ”hubungan” dari masing-masing lembaga yang telah ditulis pada lingkaran kertas untuk menentukan jarak dengan bulatan/bidang yang menggambarkan masyarakat. Terdapat tiga ukuran lingkaran. 5) Jika gambar telah selesai ajaklah peserta membahas tentang: o Ketetapan dalam menentukan ukuran lingkaran o Ketetapan perbandingan pria dan wanita dalam lembaga itu o Ketetapan dalam penempatan bidang/ lembaga yang menggambarkan hubungan dengan masyarakat. yakni. 2) Peragakan kepada peserta tentang cara menentukan ukuran bidang/bulatan kertas dan cara meletakkan lingkaran (jarak antara masyarakat) dengan lembaga tersebut. mintalah peserta untuk menempelkan lingkaran-lingkaran lembaga pada bidang kerja dengan memperhatikan jarak lingkaran terhadap lingkaran masyarakat di tengah-tengah bidang kerja. Lingkaran sedang menandakan manfaat lembaga terhadap masyarakat adalah biasa-biasa saja.Pilih lembaga yang berada di dalam dan di luar desa .

Berikan tanda jarak antara lembaga dengan masyarakat. 6) Siapkan Formulir 1 untuk Pengelompokkan dan Pemeringkatan Masalah. Contoh simbol: Pria: ♂ Misalnya : Wanita: ♀ LPM ♂♀ o Artinya jumlah pengurus LPM lebih banyak pria dari wanita Bahaslah bagan kelembagaan tersebut dengan menggunakan teknik wawancara mendalam untuk menggali potensi dan masalah yang terkandung didalamnya. 5) Tuliskan potensi dan masalah pada kertas plano berukuran 9.o . Nama Lembaga Strength Kekuatan Weakness Kelemahan Opportunity Peluang Threat Ancaman 3) Catatlah jawaban dari peserta dan bahaslah dengan seluruh peserta untuk mendapatkan kesimpulan.5 cm x 20 cm. Gunakan skema berpikir SWOT untuk mempermudah pembahasan ini. Tentukan perbandingan jumlah anggota lembaga antara pria dan wanita pada masing-masing lingkaran lembaga. Halaman | 81 . 4) Beri tanda pada tiap kesimpulan terkait potensi dan masalah yang telah disepakati oleh para peserta. 2) Ajukan pertanyaan-pertanyaan yang sekiranya dapat merangsang peserta untuk lancar mengemukakan pendapatnya. 7) Tempelkan kartu plano yang telah diisi masalah pada kolom masalah dan potensi pada kolom potensi di Formulir 1. Penggalian Potensi dan Masalah dengan Bagan Kelembagaan Cara Memfasilitasi: 1) Mintalah peserta untuk mengamati dan mencermati bagan kelembagaan tersebut dan ajaklah peserta untuk menyepakati lembaga mana yang akan dibahas pertama kali.

Jumlah pengurus lengkap .  Setelah peserta paham kerangka dasar alat ini.Apa saja yang menyebabkan manfaatnya besar/kecil bagi masyarakat? . Halaman | 82 . alat kajian bagan kelembagaan merupakan alat yang seringkali keliru difasilitasi oleh banyak orang.  Fasilitator berulang-ulang menanyakan pemahaman peserta akan masing-masing lembaga.  Kemudian Fasilitator meminta salah satu peserta memfasilitasi alat bagan kelembagaan. Bagan kelembagaan: POKTAN ♀♂ PEMDES ♀♂ LKMD ♀♂ MASYA RAKAT PKK ♀♂ MUDI KA ♀♂ USP ♀♂ KUD ♀♂ RT ♀♂ KATAR ♀♂ Berikut adalah beberapa contoh pertanyaan sebagai alat bantu wawancara mendalam guna mendapatkan rumusan potensi dan masalah: . sedang dan kecil yang menggambarkan ”Manfaat” dari lembaga dan ”Kedekatan” lembaga dengan masyarakat. maka bangunlah kesepakatan dengan peserta akan hasil yang telah dicantumkan dalam Formulir 1. 8) Jika dipandang telah cukup.Mengapa jarak antara lembaga dengan masyarakat jauh? .  Peserta dan fasilitator sulit untuk menentukan kriteria besar.Adalah potensi (sumber daya atau hal positif lainnya) untuk memecahkan masalah tersebut? Beberapa contoh potensi yang biasanya timbul saat menggunakan alat kajian bagan kelembagaan adalah: .  Setelah itu.Mengapa lembaga simpan pinjam dirasakan kecil manfaatnya oleh masyarakat? Siapa pemanfaat lembaga ini? Berapa perbandingan pemanfaat laki-laki dengan pemanfaat perempuan? .Jumlah anggota banyak . peserta diminta mensimulasikan di kelompoknya masing masing agar lebih trampil. Peningkatan kapasitas manusia seringkali dilupakan oleh banyak orang dan untuk itulah alat ini digunakan. Kelebihan dari alat ini adalah mampu untuk lebih menemukan persoalan peningkatan yang berkaitan dengan peningkatan kapasitas dari potensi sumberdaya manusia serta kelembagaan yang ada di desa.Ada program pelatihan. fasilitator kembali mendemonstrasikan bagaimana menggunakan alat kajian ini menerangkan apa yang berbeda dari alat kajian ini dibandingkan dengan dua alat sebelumnya. sehingga pengetahuan peserta akan peran dan manfaat dari tiap lembaga yang ada di desa menjadi terperbaharui.  Fasilitator juga menegaskan akan peranan penting dari tiap lembaga.Pengalaman Memfasilitasi Bagan Kelembagaan saat Uji Coba Panduan:  Sesi ini diawali dengan penjelasan bahwa dari tiga alat kajian P3MD.Tenaga terampil cukup .

 Peserta mampu memilih kegiatan layak yang dianggap paling dapat memecahkan masalah. maka mintalah kegiatan pembangunan terhadap skor 1 – 3 peserta tersebut untuk mendemonstrasikan – 5 sebelum meminta peserta menentukan teknik pemeringkatan masalah dengan skor.Sub Bagian 2. dan skor timbul?” 5 yang mengandung makna Sangat Baik.“Apa yang harus kita lakukan dengan daftar masalah ini?” Teknik 1 – 3 – 5 adalah teknik memfasilitasi . peserta yang lain dapat lebih akurat termasuk skor 2 dan 4 walaupun mudah mengerti akan makna dibalik kegiatan tidak selalu disebutkan.  Peserta mampu membandingkan masalah serta penyebabnya dengan potensi yang tersedia. . para peserta akan dapat lebih mudah memahami dan menggunakan daftar masalah yang ada. pemeringkatan masalah ini. Misalnya: adalah 1 – 2 – 3 – 4 – 5. o Fasilitator menampilkan tabel pemeringkatan masalah yang telah disiapkan dan menjelaskan makna rentang skor dari masing-masing kriteria yang ada dalam kaitannya dengan pemeringkatan masalah. Fasilitator selalu harus terlebih dahulu o Bila ada peserta yang punya pengalaman menjelaskan makna dari masalah atau melakukan pemeringkatan.dsb. .“Bagaimana caranya agar kita dapat mengandung makna Tidak Baik. skor 3 menyelesaikan semua masalah yang yang mengandung makna Cukup. Halaman | 83 . Bahan dan Alat Kertas Plano.“Apakah kita dapat menyelesaikan semua pemberian skor pada pemeringkatan masalah maupun kegiatan dengan masalah ini?” menonjolkan penjelasan pada skor 1 yang . dapat memberikan skor dengan lebih Harapannya. Tujuan  Peserta mampu menemukan masalah dan potensi untuk mencari penyebabpenyebabnya.  Peserta mampu menentukan criteria criteria untuk menentukan prioritas tindakan layak  Peserta mampu menghitung dan mempertimbangkan berbagai kegiatan yang dapat dilakukan untuk pemecahan masalah. Spidol dan ATK lainnya yang ada Waktu 120 menit Cara Memfasilitasi  Menemukan Peringkat Masalah o Fasilitator mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat merangsang peserta untuk Skor bagi kepentingan pemeringkatan ini melakukan pemeringkatan masalah.3: Peringkat Masalah dan Menemukan Tindakan untuk Perencanaan Bersama Masyarakat. Dengan sendirinya.

Skoring dilakukan secara vertikal. III. Contoh: No Masalah Pembangunan Ada Potensi Dirasakan Banyak Orang Sering Terjadi Menghambat Peningkatan Pendapatan Menghambat Akses pada Pendidikan Menghambat Pencapaian Hidup Sehat Berpengaruh terhadap Perempuan dan Anakanak. baru pindah ke kriteria berikut. Menemukan Pengkajian Tindakan Bersama o Ajak peserta untuk memperhatikan daftar masalah prioritas yang telah disepakati. V. Artinya. Jalan di Dusun B rusak saat musim hujan yang lalu. maka tambahkanlah kriteria tersebut pada tabel pemeringkatan. maka gunakan teknik buka-tutup “jendela”. sedangkan kolom-kolom kriteria yang lain harus ditutup. Halaman | 84 . II. Mintalah peserta untuk melakukan simulasi pemeringkatan pada kelompoknya masing masing sebagai latihan untuk menjadi lebih terampil. Kurang tenaga guru di SD Inpres Nefokoko. IV.Catatan: Apabila terdapat kriteria lain yang dipandang penting oleh peserta. o Pilih salah satu masalah dan buatkan contoh kalimat yang mengandung makna “Tindakan untuk Menyelesaikan Masalah”. ujilah semua masalah terhadap satu kriteria dulu. Kolom kriteria yang aktif atau yang sedang dibahas saja yang terbuka. Total Skor Peringkat 1 2 3 Kekurangan air bersih pada musim kemarau di Dusun A. dst. maka bukalah semua “jendela” penutup kolom dan hitunglah Total Skor dari masing-masing masalah. Beri nomor peringkat menggunakan angka Romawi I. 3 4 1 : Kolom tertutup o o o  Jika seluruh kriteria telah diterapkan pada semua masalah. o o o Gunakan teknik 1 – 3 – 5 untuk memudahkan peserta menentukan skor yang cocok bagi tiap kriteria terhadap tiap masalah. Agar peserta tidak bias dengan jumlah skor yang tercantum untuk masingmasing kriteria terhadap tiap masalah.

mintalah seorang peserta untuk mendefinisikan “Tindakah untuk Menyelesaikan Masalah”. Diskusikan definisi Tindakan tersebut dengan peserta lain untuk menarik kesepakatan.o o o  Mulai dari prioritas masalah pertama. Pertanyaan Kunci  Bagaimana kita membuat peringkat?  Apa itu rencana tindakan?  Apa kriteria peringkat masalah?  Apa kriteria peringkat tindakan?  Kenapa kriteria itu digunakan?  Apakah ada kriteria lain? Halaman | 85 . Menemukan Peringkat Tindakan Gunakan langkah-langkah yang sama seperti yang diterapkan pada bagian Menemukan Peringkat Masalah diatas. Gantilah kolom ”Masalah Pembangunan” dengan kolom ”Kegiatan Pembangunan”. Catatlah semua kesepakatan pada daftar “Tindakan untuk Menyelesaikan Masalah”. Ulangi pada prioritas masalah selanjutnya hingga selesai.

sesuai kemampuan dan kondisi masyarakat. 1). tidak saling mempengaruhi dan tidak serupa antara satu dengan lainnya.Bahan Bacaan 2. PEMERINGKATAN MASALAH Apakah Penentuan Peringkat Masalah? Penentuan peringkat masalah merupakan proses kegiatan mengkaji berat-ringan-nya masalah termasuk penyusunan urutan. namun makin lama waktu pemilihannya yang dapat berdampak pada anggapan peserta musyawarah bahwa proses pemilihan ini sulit. Apa pentingnya kriteria? Kriteria penting agar setiap kesepakatan ataupun keputusan diambil dengan pembahasan yang obyektif dan adil dengan tingkat ketelitian tertentu sesuai dengan kemufakatan yang telah dimusyawarahkan sebelumnya. Apakah Tujuan Penentuan Peringkat Masalah?  Memilih dan menentukan secara tepat masalah yang dilakukan dengan segera. (2) Kriteria harus bebas.3 PENGELOMPOKKAN DAN PEMERINGKATAN KRITERIA Apa yang Dimaksud dengan Kriteria? Kriteria adalah alat ukur atau parameter yang digunakan untuk membedakan tingkat kepentingan atau keutamaan satu bidang pengembangan (penyaring kepentingan) dengan bidang yang lain. 2). Halaman | 86 . Apa prasyarat atau ciri-ciri kriteria? (1) Rumusan harus spesifik dan tajam.  Diperolehnya daftar urutan masalah sebagai masukan bagi penyusunan rencana pembangunan. Catatan: Makin banyak kriteria. makin baik hasil pilihan.

2.  Untuk kegiatan di masyarakat “cocok” atau tepat menggunakan cara tabel skor. Sering Terjadi. Terapkan secara musyawarah untuk menggunakan kisaran skor antara 1-5 bisa juga kisaran 1-3 Contoh 1 : Dirasakan banyak orang: Nilai 3: Dirasakan banyak orang Nilai 2: Dirasakan sebagian orang Nilai 1: Kurang dirasakan oleh sebagian besar orang. Dirasakan Banyak Orang. misalnya: Ada Potensi. dll 1. Contoh Formulir 1: Pengelompokan dan Peringkat Masalah No Masalah Pembangunan Ada Potensi Dirasakan Banyak Orang Sering Terjadi Menghambat Peningkatan Pendapatan Menghambat Akses pada Pendidikan Menghambat Pencapaian Hidup Sehat Menghambat Pemenuhan Kebutuhan Perempuan dan Anakanak. Kolom 9: prioritas atau peringkat. Kolom 8: yaitu jumlah skor dari masing-masing masalah dari beberapa kriteria dan ukuran. Halaman | 87 . Menghambat Peningkatan Pendapatan. kelender musim. Contoh 2: Nilai 3: Sangat banyak Nilai 2: Cukup Banyak Nilai 1: Sedikit.  Temukan secara musyawarah kriteria-kriteria atau dasar penilaian yang akan dijadikan ukuran untuk memilah-milah peringkat masalah yang hendak diatasi. Misalnya.Bagaimana Caranya?  Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menentukan masalah. Total Skor Peringkat Penjelasan Pengisian Kolom: Kolom 1-2: diisi dengan nomor.  Tabel skor adalah suatu kegiatan penentuan peringkat melalui pemberian skor terhadap suatu masalah. dan bagan kelembagaan). melalui pengkajian dengan menggunakan tabel skor. Jelaskan kepada peserta tentang tujuan dan cara pengisian dan penentuan peringkat masalah. masalah yang berasal dari tiga alat pengkajian keadaan desa (sketsa desa. Kolom 3-7: kolom-kolom kriteria atau dasar penilaian yang dijadikan ukuran. dsb. melalui pengkajian akar masalah.

Penyebab masalah adalah penyebab langsung dari masalah tersebut.  Membandingkan masalah serta penyebabnya dengan potensi yang tersedia. Sepakati hasilnya jika dirasa tidak ada lagi perubahan.  Isi kolom 2 dengan hasil penentuan peringkat masalah pada Formulir 1.PENGKAJIAN TINDAKAN BERSAMA Apakah Pengkajian Tindakan Bersama Itu? Kegiatan yang mengkaji masalah dengan berbagai penyebab yang dibandingkan dengan potensi pendukungnya. yaitu tindakan yang paling mudah dilakukan kerena tersedia potensi yang dimiliki. Tindakan yang Hanya Bisa Dibuat Masyarakat Jika Didukung Pihak Luar 2.  Isi kolom 3 dengan penyebab masalah.  Isi kolom 5 dengan tindakan yang masyarakat rasakan sebagai kegiatan yang perlu didukung oleh pihak luar.  Isi kolom 4 dengan tindakan yang bisa dibuat masyarakat berdasarkan potensi yang dimiliki. Halaman | 88 .  Memilih kegiatan yang dianggap bisa dilakukan bersama-sama dengan pihak luar. Jelaskan cara pengisian Formulir 2:  Isi kolom 1 dengan nomor urut. 3.  Mempertimbangkan berbagai kegiatan yang dapat dilakukan oleh masyarakat sendiri berdasarkan penyebab dan potensi yang ada. Siapkan Formulir 2: Pengkajian Tindakan Bersama sebagai berikut: No Masalah Penyebab Tindakan yang Bisa Dibuat Sendiri oleh Masyarakat. 4. Bagaimana cara pengkajian tindakan bersama? 1. Apa Saja Kegiatan yang Dilakukan?  Menguraikan masalah untuk dicari penyebab-penyebabnya. Teliti kembali dengan seluruh peserta musyawarah untuk mengetahui kemungkinan masih ada kesalahan.

 Dukungan potensi.  dsb.  Dukungan peningkatan pendapatan.  Diperolehnya urutan tindakan yang layak dilaksanakan di desa. Tindakan yang Layak dari kolom 4 dan 5 pada Formulir 2. Bahas dan sepakati bersama kriteria-kriteria yang akan digunakan.  Pemenuhan perempuan dan anak. Total Skor Peringkat Penjelasan Pengisian Kolom: Kolom 1-2: diisi dengan nomor. 3. Siapkan Formulir 3: Penentuan Peringkat Tindakan pada kertas lebar untuk ditempelkan pada papan tulis atau dinding. Halaman | 89 . No Tindakan yang Layak Dukungan Potensi Dukungan Banyak Orang Mendukung Peningkatan Pendapatan Mendukung Akses pada Pendidikan Mendukung Pencapaian Hidup Sehat Memenuhi Kebutuhan Perempuan dan Anakanak. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menetapkan urutan tindakan yang ada formulir sebelumnya. 2. Apa Tujuan Penentuan Tindakan?  Mengkaji lebih lanjut tindakan pemecahan masalah pada kegiatan sebelum ini.  Pemenuhan hak dasar. Bagaimana Cara Menentukan Peringkat Tindakan? 1.PEMERINGKATAN TINDAKAN Apakah Penentuan Peringkat Tindakan? Penentuan peringkat tindakan merupakan suatu kegiatan untuk menerapkan urutan peringkat tindakan melalui scoring. Kolom 8: yaitu jumlah skor dari masing-masing masalah dari beberapa kriteria dan ukuran. misalnya:  Pemenuhan kebutuhan orang banyak. Contoh 1: Pemenuhan Kebutuhan Orang Banyak: Nilai 3: Memenuhi kebutuhan banyak orang Nilai 2: Cukup memenuhi Nilai 1: Kurang Memenuhi. Sepakati nilai terendah dan tertinggi yang akan digunakan dalam memilih tindakan layak. Kolom 3-7: kolom-kolom kriteria atau dasar penilaian yang dijadikan ukuran. Kolom 9: prioritas atau peringkat.

4. Halaman | 90 .Contoh 2: Dukungan Potensi: Nilai 3: Sangat banyak Nilai 2: Cukup/sedang Nilai 1: Sedikit sekali. Berikan penilaian secara musyawarah pada tindakan-tindakan tersebut sesuai kriteria yang telah disepakati.

Papan Tulis atau Lainnya sesuai dengan yang dimiliki tetapi dapat berfungsi kurang lebih sama.  Peserta mampu menghitung jumlah biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan selama satu tahun dengan perkiraan target maksimal. Peserta mampu untuk memadukan Rencana Tindakan dengan Penganggaran melalui Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) Tahunan. Spidol. Bahan dan Alat Kertas Plano.Bagian III PANDUAN PENGANGGARAN Tujuan Umum: 1. 2.  Peserta mampu untuk mengedepankan pemanfaatan dana skema ADD dan swadaya masyarakat sebagai syarat untuk memastikan adanya kegiatan pembangunan desa di tahun yang bersangkutan.1: Memadukan Rencana Tindakan dengan Penganggaran melalui Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) Tahunan Tujuan  Peserta mampu memadukan tindakan layak yang sudah diprioritaskan pada formulir 3 dengan sumber pembiayaan.  Peserta mampu menggali sumber pembiayaan lainnya bagi penyelenggaraan pembangunan desa. Sub Bagian 3. Peserta mampu untuk menyusun Rencana Kerja/Kegiatan dan Anggaran 3. 4. Metaplan. Peserta mampu untuk secara mandiri memanfaatkan potensi yang ada pada desa baik itu ADD maupun sumber pendapatan lainnya untuk membiayai program dan kegiatan selama satu tahun anggaran. Peserta mampu untuk menyusun RAPBDes. Waktu 210 menit Halaman | 91 .

Jika salah satu kelompok mempresentasikan. Catatan: Fasilitator mempersiapkan informasi harga yang dikumpulkan sesuai dengan daftar tindakan layak hasil musrenbangdus.  Gunakan tabel bayangan untuk membantu perhitungan perkiraan biaya kegiatan pembangunan.  Fasilitator memberikan kesempatan kepada kelompok untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok. kelompok lain menanggapi. Gunakan salah satu contoh tindakan untuk disimulasikan!  Fasilitator memberikan kesempatan kepada kelompok untuk mendiskusikan RKPDes dalam kelompok sesuai dengan waktu yang telah disepakati.  Fasilitator mensimulasikan cara pengisian formulir RKPDes berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang ada diatas.Langkah Kegiatan  15 menit Sesi Curah Pendapat  Fasilitator mengawali proses diskusi dengan menanyakan kepada peserta dengan beberapa pertanyaan sebagai berikut: o apa itu penganggaran? o Mengapa penganggaran itu penting? o Berdasarkan pengalaman bapak/ibu. siapa yang menyususun anggaran di desa selama ini? o Apa dasar penyusunan angaran?  Fasilitator mencatat semua masukan atau jawaban peserta terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada papan tulis/kertas plano  Fasiltator merangkum semua jawaban dalam sebuah kesimpulan curah pendapat.  Fasilitator bersama peserta memasukan Tindakan Layak kedalam Formulir RKPDES. Informasi tersebut dapat berupa standar pemerintah dan atau hasil survey harga pasar. khususnya keterwakilan kaum perempuan dan kelompok masyarakat yang terpinggirkan. Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan penuntun yang dapat merangsang peserta untuk aktif terlibat: -Lihat Formulir RKPDes!o Apa tindakan layak yang sudah diprioritaskan pada formulir tindakan layak (formulir 3)? Halaman | 92 . Sebaiknya fasilitator bersama peserta menargetkan nilai rupiah paling maksimal dalam pengisian formulir RKPDes.  180 menit Sesi Diskusi Kelompok dan Pleno  Fasilitator mengumpulkan peserta dalam beberapa kelompok dengan memperhatikan pemerataan unsur-unsur masyarakat.

Tahun berapa? Berapa perkiraan besar biaya yang dibutuhkan? Apakah pembiayaan dapat dilakukan secara swadaya masyarakat desa? Apakah dapat dibiayai menggunakan ADD dan dana lain yang dikelola desa? Sumber-sumber pembiayaan mana saja yang diharapkan akan mampu membiayai? Berapa besaran dana yang dibutuhkan? Apa bentuk pembiayaan yang dibutuhkan? Berupa uang atau sumbangan material atau sumbangan tenaga dan keahlian? Jika bentuk pembiayaannya tidak berupa uang. berapa rupiah sumbangan-sumbangan non-uang tersebut jika di-uang-kan? Berapa biaya yang dibutuhkan dari APBDes (ADD dan danadana lain yang dikelola desa)? APBD II? APBD I dan sumbangan dana lain yang akan mendukung pelaksanaan kegiatan dimaksud? Apabila sumber pembiayaan berasal dari APBD I atau APBD II. kegiatan pengembangan/peningkatan atau kegiatan baru? Dimana lokasi kegiatan tersebut akan dilakukan? Kapan kegiatan hendaknya dilaksanakan? Bulan berapa.o o o o o o o o o o o o o o o Sebutkan alasan mendasar apa yang melatari usulan prioritas tersebut agar diakomodir oleh sektor? Berapa volume dari tindakan layak tersebut? Siapa saja sasaran dari tindakan layak dan berapa banyak? Apa sifat dari tindakan layak dimaksud? Apakah berupa kegiatan lanjutan. sektor/badan apa yang seharusnya menjadi penanggung-jawab kegiatan?  15 menit Sesi Penegasan Fasilitator mengakhiri materi sub bagian ini dengan memberikan penegasan-penegasan tentang: o Berbagai hal yang berkembang dalam diskusi pleno (hal-hal yang masih kurang dimengerti oleh peserta) o Pentingnya RKPDes dalam proses perencanaan dan penganggaran partisipatif masyarakat Desa Pertanyaan Kunci  Apa itu penganggaran?  Bagaimana memadukan rencana tindakan dengan penganggaran?  Bagaimana merumuskannya dalam formulir RKPDes?? Halaman | 93 .

 Biaya dan Sumber biaya adalah besarnya sumber daya yang diperlukan dalam melaksanakan kegiatan dan darimana sumber daya tersebut diperoleh (dari dalam desa yang disebut dengan Pendapatan Asli Desa.  Belanja Desa adalah kewajiban Pemerintah Desa yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih desa. dan pembiayaan untuk periode satu tahun. selain tercantum daftar kegiatan pembangunan yang telah disepakati bersama rakyat. Penganggaran mengandung makna penaksiran kebutuhan sumber daya keuangan yang dibutuhkan bagi pelaksanaan rencana kegiatan pembangunan. pembiayaan merupakan kegiatan Belanja Desa dengan tujuan tertentu yang terukur dan terarah bagi perwujudan amanah rakyat seperti yang terkandung didalam Rencana Kegiatan Pembangunan Desa hasil kesepakatan permerintahan desa bersama masyarakat.  Pembiayaan Desa adalah penerimaan yang perlu dipakai untuk membayar. Berdasarkan pengertian diatas. sumbangan pihak ketiga. Pemerintah Daerah. Artinya.1 PENGANGGARAN PEMBANGUNAN DESA  Penganggaran adalah suatu pembuatan rencana kerja dalam jangka waktu satu tahun yang dinyatakan dalam bentuk moneter. Oleh karena itu dalam penganggaran.  Penerimaan Desa adalah uang yang masuk ke kas desa. penganggaran merupakan wujud tanggung-jawab pengelolaan uang negara yang adalah uang rakyat juga bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.  APBDes merupakan Rencana Keuangan Tahunan Pemerintahan Desa yang disetujui oleh masyarakat desa. Pembiayaan dapat berupa uang maupun non-uang. Halaman | 94 . baik itu yang terwujud dalam tahun anggaran berjalan maupun dalam tahun-tahun anggaran di masa yang akan datang.Bahan Bacaan 3. dibentuklah Anggaran Penerimaan dan Belanja Desa atau APBDes.  Lebih jauh lagi. juga terdapat pernyataan tentang penerimaan. pengeluaran yang berdampak baik bagi perkembangan desa dan pertumbuhan kesejahteraan masyarakat desa. Dengan kata lain. termasuk didalamnya Pengeluaran Desa. dan lain-lain sumber pendapatan yang sah).  Pengeluaran Desa adalah uang yang keluar dari kas desa. pembelanjaan.

 Untuk itu ketersediaan sumber daya pembangunan yang dimiliki perlu dipadukan dengan rencana kegiatan pembangunan.  Penyusunan RKPDesa diselesaikan paling lambat akhir bulan Januari tahun anggaran sebelumnya  RPJMDes untuk jangka waktu 5 (lima) tahun merupakan penjabaran visi dan misi dari kepala desa yang terpilih.  RPJMDesa sebagaimana dimaksud diatas ditetapkan paling lambat 3(tiga) bulan setelah kepala desa dilantik.  Setelah berakhir jangka waktu RPJMD.  Rencana Kegiatan Pembangunan Desa atau RKPDes adalah rangkaian kegiatan yang saling melengkapi dalam rangka mewujudkan impian bersama segenap masyarakat desa selama satu tahun. Lihat lampiran tabel sinkronisasi perencanaan dengan anggaran! Halaman | 95 .  Kepala desa bersama Badan Permusyawaratan Desa (BPD) menyusun RKPDesa yang merupakan penjabaran dari RPJMDesa berdasarkan hasil Musyawarah Rencana Pembangunan Desa. sehingga sumber daya yang ada dapat digunakan secara tepat sasaran dan tepat guna berdasarkan kebutuhan yang ada pada masyarakat yang telah disepakati bersama didalam forum Musrenbang.  Rencana Kerja Pembangunan Desa merupakan penjabaran dari Rencana pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes). Barang Milik Desa adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBDes. Artinya. semua barang yang dibeli atau diperoleh dengan menggunakan uang desa merupakan Barang Milik Desa.Kepala desa terpilih menyusun kembali RPJMD untuk jangka waktu 5 (lima) tahun.

Beberapa pertanyaan kunci yang dapat digunakan untuk membawa peserta pada imajinasi tahapan-tahapan kegiatan dapat berupa: o Apa rincian kegiatan yang perlu dilakukan agar suatu pernikahan dapat terlaksana? o Berapa lama waktu pelaksanaan tiap kegiatan? o Berapa besar biaya yang dibutuhkan per kegiatan? o dll.2: Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) Desa Tujuan  Peserta mampu mengelompokan kegiatan utama hasil rujukan yang tertuang dalam RKPdes yang dibiayai oleh APBDes. Waktu 120 menit Langkah Kegiatan  Sesi Curah Pendapat  Sebagai ilustrasi. APBN dan sumber dana lainya  Peserta mampu mendata belanja operasional/rutin yang akan dibiayai oleh APBDes untuk satu tahun anggaran  Peserta mampu menyusun RKA berdasarkan formulir RKA Bahan dan Alat Kertas Plano. Kegiatan-kegiatan yang dibiayai oleh APBDes dan dibiayai oleh APBD II. APBD (APBD II. Metaplan. Papan Tulis atau Lainnya sesuai dengan yang dimiliki tetapi dapat berfungsi kurang lebih sama.  Peserta diminta mendata sumber-sumber pendapatan yang ada 90 menit Halaman | 96 . fasilitator mengajak peserta untuk mendiskusikan tentang tahapan-tahapan kegiatan dalam sebuah pernikahan. APBD I.Sub Bagian 3. khususnya keterwakilan kaum perempuan dan kelompok masyarakat yang terpinggirkan. APBD I).  Fasilitator mencatat apa saja yang disampaikan oleh peserta  Fasilitator membuat rangkuman terhadap hasil curah pendapat  15 menit Sesi Diskusi Kelompok dan Pleno  Fasilitator mengumpulkan peserta dalam beberapa kelompok dengan memperhatikan pemerataan unsur-unsur masyarakat.  Minta peserta untuk mengelompokan kegiatan hasil RKPDes berdasarkan sumber pembiayaan. Spidol. dan sumber pembiayaan lainnya. Bagi kegiatan-kegiatan yang tidak bisa dibiayai oleh APBDes akan dibawa ke tingkat Kecamatan dengan menggunakan formulir Musrenbang Kecamatan terlampir.

Misalnya.  Minta peserta untuk memasukan hasil pengelompokan kegiatan yang dibiayai oleh APBDes kedalam formulir RKA Bagian A sebagai belanja Pembangunan.  Minta peserta untuk membagi prosentasi peruntukan bagi belanja terhadap sumber pendapatan. Bantuan Pemerintah lainnya: 20 % untuk belanja rutin dan 80 % untuk belanja pembangunan. Berikut adalah beberapa pertanyaan penuntun: o Apa rincian kegiatan atau tahapan pelaksanaan dari masingmasing kegiatan utama? o Berapa volumenya? o Siapa saja penerima manfaat dari kegiatan utama? Dimana? o Apa manfaat dari kegiatan utama tersebut? o Bagaimana dengan pembiayaanya? Berapa besar biaya yang berasal dari swadaya masyarakat? o Apa bentuk pembiayaan yang dibutuhkan? Berupa uang atau sumbangan material atau sumbangan tenaga dan keahlian? o Jika bentuk pembiayaannya tidak berupa uang. berapa rupiah Halaman | 97 .dalam desa. Berikut adalah beberapa pertanyaan penuntun: o Berapa besar uang yang masuk ke kas desa tahun lalu? o Pihak mana saja yang menyumbangkan uang tersebut? o Berapakah jumlah masing-masing sumber pendapatan tersebut? o dsb. Berikut adalah beberapa pertanyaan penuntun: o Apa rincian kegiatan atau tahapan pelaksanaan dari masingmasing kegiatan utama? o Berapa volumenya? o Siapa saja penerima manfaat dari kegiatan utama? Dimana? o Apa manfaat dari kegiatan utama tersebut? o Bagaimana dengan pembiayaanya? Berapa besar biaya yang berasal dari swadaya masyarakat? o Apa bentuk pembiayaan yang dibutuhkan? Berupa uang atau sumbangan material atau sumbangan tenaga dan keahlian? o Jika bentuk pembiayaannya tidak berupa uang. ADD: 30% untuk belanja rutin dan 70 % untuk belanja pembangunan. berapa rupiah sumbangan-sumbangan non-uang tersebut jika di-uang-kan? o Berapa besar biaya yang berasal dari PADes? o Berapa besar biaya yang berasal dari ADD? o Berapa besar biaya yang berasal dari bantuan atau sumbangan lainya yang pasti?  Minta peserta untuk mendata belanja rutin-operasional sekaligus mengisi kedalam formulir RKA Bagian B. PADes: 20 % untuk belanja rutin dan 80 % untuk belanja pembangunan.

Fasilitator juga melengkapi formulir Musrenbang kecamatan dengan catatan-catatan terkait latar belakang timbulnya suatu tindakan prioritas yang layak.o o o sumbangan-sumbangan non-uang tersebut jika di-uang-kan? Berapa besar biaya yang berasal dari PADes? Berapa besar biaya yang berasal dari ADD? Berapa besar biaya yang berasal dari bantuan atau sumbangan lainya yang pasti? Catatan: Acuan pengisian RKA mengacu pada formulir RKA terlampir (lampiran 2)  Peserta diminta memplenokan hasil diskusi kelompok (perwakilan kelompok dan atau semua kelompok memprentasikan. 15 menit  Sesi Penegasan Fasilitator mengakhiri materi sub bagian ini dengan memberikan penegasan-penegasan tentang: o Berbagai hal yang berkembang dalam diskusi pleno. khususnya. kelompok lain diminta untuk memberikan tanggapan dan masukan). hal-hal yang masih kurang dimengerti oleh peserta. o Pentingnya RKA dalam proses perencanaan dan penganggaran partisipatif masyarakat Desa o Bagi kegiatan-kegiatan yang tidak bisa dibiayai oleh APBDes akan dibawa ketingkat kecamatan dengan menggunakan formulir Musrenbang kecamatan terlampir. Pertanyaan kunci  Apa itu RKA?  Apa beda RKPDes dengan RKA?  Apa makna dan isi dari RKA?  Apa sumber pembiayaan RKA?  Pada tahapan mana RKA disusun?  Bagaimana cara menyusun RKA? Halaman | 98 .

Sedangkan.2 RENCANA KERJA PEMERINTAH DESA (R K P DES).  Dalam siklus perencanaan tahunan di desa RKA disusun setelah Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) dimana dari rumusan kegiatan utama yang ada dalam RKPDes yang dibiayai oleh APBDes dituangkan secara terperinci dalam RKA sebagai dokumen perhitungan anggaran tahunan dalam satu tahun anggaran yang selanjutnya dijadikan sebagai acuan penyusunan RAPBDes. sasaran dan manfaat.  Karena itu dalam penyusunan RKA sangat diharapkan ketelitian pengalokasian anggaran dari masing-masing sumber pendanaan dengan menggunakan standar harga atau rata-rata hasil survei pasar yang berlaku disetiap daerah kabupaten. serta sumber pendanaan. rinciannya terdiri dari kegiatan.  Sumber pendanaan dalam Rencana Kegiatan dan Anggaran (RKA) berasal dari swadaya masyarakat yang dinilai dalam rupiah. Dalam penentuan sumber dana dari masing-masing sumber pengalokasianya merupakan target tertinggi. volume. dari aspek manajemen berkaitan dengan pola pengelolaan kegiatan-kegiatan rinci atau tahapan kegiatan dari kegiatan utama yang dibiayai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes).Bahan Bacaan 3. rincian kegiatan. ADD. perencanaan anggaran pembangunan dan 2). Halaman | 99 . Sedangkan. APBDes mapun APBD Kabupaten. DAN ALOKASI DANA DESA (A D D)  Dokumen perencanaan pembangunan tahunan desa yang selanjutnya disebut Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) secara administrasi diperuntukan bagi pencapaian tujuan pembangunan desa sedangkan dari aspek manajemen berkaitan dengan pola pengelolaan kegiatan-kegiatan akan dibiayai dari berbagai sumber dana baik dari swadaya. RENCANA KEGIATAN DAN ANGGARAN DESA (R K A DES). perencanaan anggaran rutin/operasional. PADes.  Sedangkan Dokumen Rencana Kegiatan dan Anggaran (RKA) secara administrasi diperuntukan bagi pencapaian tujuan pembangunan di desa dan secara rinci dianggarkan.  Rencana Kegiatan dan Anggaran (RKA) terdiri dari dua bagian pokok yaitu: 1). Propinsi dan sumber pendanaan lainya yang sah. dana sumbangan provinsi dan kabupaten serta sumber pendanaan lainnya yang sah dan pasti.

Formulir 4: RENCANA KERJA PEMERINTAH DESA TAHUNAN (RKPDes 1 TAHUN) Besaran Dana yang Dibutuhkan dari Pemerintah dari Masyarakat Daerah Materi al atau nonAPBD APBD APBD Rupiah uang ES II I (8) (9) (10) (11) (12) No (1) Kegiatan Umum/Tin dakan umum (2) volume (3) Sasaran Kegiatan/ manfaat (4) Sifat (Lanjut an/rehab/ba ru) (5) Lokasi (6) Waktu (Periode) Pelaksana an (7) Lain-lain yang Sah (13) Ketera ngan Tamba han (14) Halaman | 100 .

Cara pengisian Formulir RENCANA KERJA PEMERINTAH DESA TAHUNAN (RKPDes 1 TAHUN): 1 2 cukup jelas mencantumkan/mengisi kegiatan utama yang sudah diprioritaskan sebagai tindakan dalam formulir 3 tindakan layak prioritas 3 : mencantumkan jumlah unit/jarak/hari 4 : mengisi/mencantumkan kelompok dan berapa banyak penerima manfaat/manfaat artinya apa manfaat yang akan diterima atau diperoleh dari sebuah kegiatan utama 5 : mengisi sifat yang dimaksud adalah sifat dari kegiatan utama (apakah baru/pengembangan/lanjutan) 6 : lokasi mengisi tempat kegiatan utama dilakukan/dilaksanakan (dusun/Rt/RW) 7 : waktu periode .tahun berapa dan bulan apa kegiatan utama dilaksanakan 8 : besaran uang kontan yang disumbangkan oleh masyarakat 9 : nilai rupiah dari sumbangan material atau non-uang masyarakat 10 : total dari APBDes yang dibutuhkan untuk membiayai sebuah kegiatan utama 11 – 12 – 13 : berapa jumlah dana yang dibutuhkan dari APBD II/APBD I/sumber dana lain yang sah 14 : cukup jelas : : Halaman | 101 .

Meningkatkan pelayanan pemerintahan desa dalam melaksanakan pelayanan pemerintahan. kesempatan bekerja dan kesempatan berusaha bagi masyarakat desa. 2. Halaman | 102 .Pemahaman Dasar tentang ADD 1. Maksud Alokasi Dana Desa dimaksudkan untuk membiayai program Pemerintahan Desa dalam melaksanakan kegiatan pemerintahan dan pemberdayaan masyarakat. yang diperuntukkan bagi desa dan pembagiannya paling sedikit 10% (sepuluh per seratus) untuk setiap Desa secara proporsional. Prinsip-prinsip Pengelolaan ADD 1) 2) Pengelolaan ADD merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengelolaan keuangan desa dalam APBDesa. Meningkatkan pemerataan pendapatan. b. Meningkatkan kemampuan lembaga kemasyarakatan di desa dalam perencanaan. pembangunan dan pemberdayaan masyarakat sesuai kewenangannya. 3. Tujuan 1) 2) 3) 4) 4. Bagian dari dana perimbangan tersebut kemudian dalam PP 72/2004 disebut sebagai ADD. Mendorong peningkatan swadaya gotong royong masyarakat. dilaksanakan. adalah: bagian dari dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh kabupaten/kota dan dialokasikan untuk desa. pelaksanaan dan pengendalian pembangunan secara partisipatif sesuai dengan potensi desa. Dalam UU 32/2004 disebutkan bahwa salah satu sumber pendapatan desa adalah ‟bagian dari dana perimbangan keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh kabupaten/kota‟. Pengantar PDH utama tentang ADD tertuang dalam UU 32/2004. PP 72/2005 beserta SE Mendagri 140/640/SJ 20. Seluruh pembiayaan yang didanai ADD direncanakan. Maksud dan Tujuan a. Pengertian Alokasi Dana Desa atau ADD sebagaimana ditetapkan dalam UU 32/2004 pasal 212 ayat (3) huruf c dan dalam PP 72/2005 pasal 1 ayat 11. dan dievaluasi secara terbuka dengan melibatkan seluruh unsur masyarakat di desa.05.

satu diantaranya adalah melaksanakan prinsip tata kepemerintahan yang bersih dan baik (pasal 27 huruf h). d. Selain itu juga kewajiban untuk memberikan laporan penyelenggaraan pemerintahan daerah kepada Pemerintah. Bahwa dengan hadirnya era otonomi dan desentralisasi sejak 1989. memperjuangkan peningkatan kesejahteraan rakyat di daerah. pasal 27 terutama ayat b. dan menindaklanjuti aspirasi masyarakat. transparansi. serta terwujudnya masyarakat yang sejahtera dan mandiri. serta menyerap. Kesimpulan dan Saran Umum Dari keseluruhan uraian diatas. dan keterkaitan antara P3MD Plus. berupa data terbuka yang dapat diketahui. menghimpun. menampung. d.3) 4) Seluruh kegiatan harus dapat dipertanggung-jawaban secara administratif dan hukum. Sasarannya adalah terwujudnya tata kepemerintahan yang baik di semua tingkatan pemerintahan. dan akuntabilitas dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. diakses. daerah (provinsi dan kabupaten/kota) serta di tingkat desa. pelayanan. Halaman | 103 . dan pemberdayaan masyarakat. kebijakan. Amanat tersebut secara umum tertuang dalam UU 32/2004 dan ditujukan kepada dan sekaligus menjadi kewajiban Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah serta anggota DPRD (pasal 1 ayat 2. nasional. Disamping itu juga ada beberapa peraturan pelaksanaan dari undang-undang termaksud diatas. dan Otonomi Desa beserta Tata kepemerintahan Desa yang Baik. dan diperoleh masyarakat (pasal 103). pasal 45 terutama ayat b. dan UU 28/1999 tentang „Penyelenggara Pemerintahan yang Baik dan Bebas dari KKN‟ (Korupsi. diantaranya adalah UndangUndang (UU) 25/2004 tentang „Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional‟ (SPPN). dan Nepotisme). Sedangkan anggota DPRD mempunyai 9 kewajiban. e. Ke-lima undang-undang tersebut antara lain mengamanatkan pentingnya partisipasi. dan h. 1). yang sering juga disebut sebagai era reformasi. telah banyak membawa perubahan tata cara penyelenggaraan pemerintahan menuju kearah yang lebih baik. UU 32/2004 tentang „Pemerintahan Daerah‟. demokrasi. UU 10/2004 tentang „Pembuatan Peraturan Perundang-Undangan‟. Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah mempunyai 11 kewajiban. ADD. dan g). Pengaturan mengenai SIKDA ditetapkan lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. Selanjutnya UU 33/2004 menetapkan bahwa Pemerintah Daerah menyelenggarakan Sistem Informasi Keuangan Daerah (SIKDA) secara nasional ( pasal 101 ayat 1). Kolusi. UU 33/2004 tentang „Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah‟. pasal 2 ayat 3. 3 diantaranya adalah melaksanakan kehidupan demokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. termasuk proses perencanaan pembangunan. Didukung dengan terbitnya sejumlah peraturan perundang-undangan. dapat disimpulkan dan sarankan secara umum beberapa pemahaman. ADD dilaksanakan dengan menggunakan prinsip hemat dan terarah.

yaitu prinsip partisipasi. atau media cetak yang terbit di daerah yang bersangkutan.Undang-undang 10/2004 memberi hak kepada masyarakat untuk ikut serta dalam tata cara Pembuatan Peraturan Perundang-Undangan. 2). Kolusi adalah permufakatan atau kerjasama secara melawan hukum antar-Penyelenggara Negara atau antara Penyelenggara Negara dan pihak lain yang merugikan orang lain. Hak masyarakat diwujudkan dalam bentuk: (1). Sedangkan hak masyarakat dilaksanakan sesuai dengan Peraturan Tata Tertib DPRD. Kebijakan Pemerintah NTT untuk mengembangkan metode ataupun model P3MD Plus (Penganggaran) dengan mendayagunakan dana Alokasi Dana Desa (ADD). Pasal 52 mewajibkan kepada Pemerintah Pusat dan Daerah untuk memenyebarluaskan Peraturan Perundang-Undangan atau Peraturan Daerah yang telah diundangkan. (3) hak menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggung jawab terhadap kebijakan Penyelenggara Negara. masyarakat dan atau negara (ayat 4). Sedangkan Nepotisme adalah setiap perbuatan Penyelenggara Negara secara melawan hukum yang menguntungkan kepentingan keluarganya dan atau kroninya di atas kepentingan masyarakat. disarankan dapat diterapkan di tingkat desa. Undang-undang 28/1999 pasal 1 menetapkan pengertian tentang korupsi. Pasal 3. hak mencari. dan berperanserta memberikan informasi. dan (4). dan 9 menyatakan ada tujuh asas umum serta hak dan tanggung jawab masyarakat untuk berpartisipasi mewujudkan penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas KKN. dan negara (ayat 5). memperoleh. kolusi. dan nepotisme (KKN). Dua asas umum diantaranya adalah transparansi dan akuntabilitas. Selebihnya dapat diterapkan sesuai dengan kepentingan dan aspirasi masyarakat serta kemungkinan ada. 8. Penerapan 5 prinsip tersebut bersamaan dengan proses penerapan P3MD Plus sekaligus perwujudan otonomi desa. Diantaranya dalam penyusunan perencanaan dan penganggaran pembangunan yang diproses secara partisipatif Halaman | 104 . hak memperoleh pelayanan yang sama dan adil. Berkaitan dengan 10 prinsip Tata kepemerintahan yang Baik. daya tanggap. sedangkan hak masyarakat diantaranya adalah hak memperoleh informasi. Masyarakat juga mempunyai hak untuk berpartisipasi dalam proses pembuatannya dalam rangka perwujudan Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas KKN. stasiun daerah. pelayanan yang adil. kesetaraan. termasuk misalnya membuat Peraturan Desa atau Perdes. dan prinsip akuntabilitas. melalui media elektronik seperti TVRI dan RRI. hak memperoleh perlindungan hukum atas pelaksanaan hak. transparansi. merupakan salah satu bentuk komitmen mewujudkan Otonomi Desa dan Tata kepemerintahan Daerah dan Desa yang Baik. (2). Dalam penjelasan pasal 52 tersebut menyatakan bahwa "menyebarluaskan" dilakukan misalnya. Korupsi adalah tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang tindak pidana korupsi (ayat 3). Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan atau tertulis dalam rapat penyiapan atau pembahasan rancangan undang-undang dan rancangan peraturan daerah (pasal 53). bangsa. 5 prinsip diantaranya. dan hak memperoleh perlindungan hukum.

provinsi. dan penuangannya dalam rumusan kebijakan daerah melalui pembuatan peraturan-peraturan yang diperlukan untuk kepentingan pemerintahan dan masyarakat desa. dilengkapi dengan data dan informasi yang akurat sesuai dengan amanat UU 32/2007 pasal 152 ayat (1) dan UU 25/2004 pasal 31. Kondisi seperti diuraikan diatas.bersama unsur-unsur masyarakat. setelah sebagian kecil sudah tertolong oleh antipasi anggaran melalui dana ADD. dan kabupaten/kota memenuhi kewajiban mengalokasikan anggaran sebagai sumber pendapatan desa secara konsisten. sehingga hasilnya dapat dipertanggung njawabkan. adalah terkawalnya pengelolaan ADD. Dengan demikian hasilnya diharapkan sesuai dengan aspirasi dan kebutuhan nyata mereka. undangundang tersebut mewajibkan kepada Pemerintah Daerah untuk Halaman | 105 . Bahan bacaan inipun menunjukkan dukungan dan konsistensi jajaran pemerintah provinsi dan kabupaten. pendesiminasian metode. minimal sesuai dengan prosentase yang ditetapkan PP 72/2005 pasal 68 ayat 1. agar disamping dapat dilakukan secara terbuka atau transparan dan bertanggung jawab. Hal tersebut menjadi lebih penting seandainya suatu saat nanti diperlukan kemampuan dan pengalamannya untuk memberikan pelatihan ataupun fasilitasi di desa lain dalam kecamatan setempat maupun kecamatan lain. Yang masih perlu diperhatikan oleh „Tim Kerja‟ seperti dikemukakan diatas. Seandainya belum memungkinkan dilakukan pelatihan untuk kepentingan pengeloaan keuangan. baik masyarakat. Juga sangat diharapkan agar fasilitator P3MD Plus dapat selalu peduli dan mencari kesempatan untuk membaca dan menambah bacaan agar semakin berkualitas dalam melakukan fasilitasi. Dana ADD disalurkan melalui Kas Desa dan menjadi salah satu pos anggaran dalam APBDesa dan kedua-duanya dituangkan dalam Peraturan Desa (Perdes). Bahkan jangan segan-segan untuk memanfaatkan dan mencari kesempatan untuk membantu pemerintah kabupaten setempat ataupun kabupaten lain di NTT untuk melakukan sosialisasi berbagai PDH yang sudah diperintahkan oleh pasal 52 UU 10/2004. Hendaknya „Tim Kerja‟ inipun dapat bekerja tuntas sampai pada pendampingan. Seperti diuraikan sekilas diatas. Proses yang dilakukan dengan metode partisipatif tersebut sekaligus menunjukkan kehidupan dan perilaku demokratis dan transparan. Lebih dari itu pemerintah dan masyarakat desa masih harus ditingkatkan kapasitasnya dalam pengelolaan keuangan desa sebara sederhana. khususnya melalui anggaran APBD di tingkat kabupaten. Bahan bacaan ini merupakan kesepakatan dan kerja keras „Tim Kerja‟. jajaran pemerintah daerah termasuk Badan-DinasKantor-Instansi. bahan bacaan tentang tata cara pengelolaan keuangan desa secara sederhana. bisa juga dengan memberikan kepada fasilitator desa. Tentu saja sangat diharapkan agar pemerintah pusat. serta jajaran LSM terkait di NTT. patut mendapatkan dukungan semua pihak terkait di NTT. Dukungan tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk antisipasi alokasi anggaran secara memadai. kecamatan dan desa. dengan bantuan fasilitasi GTZ-GLG. jajaran DPRD serta lembaga swadaya masyarakat. baik ADD maupun pengelolaan dana APBDesa secara keseluruhan. juga harus merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pengelolaan keuangan dana APBDesa. berdasarkan amanat UU 32/2004 pasal 212.

yang secara ringkas adalah: kesatuan masyarakat hukum yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat. otonomi desa akan diberikan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang. demokratisasi dan pemberdayaan masyarakat. niscaya akan lebih efisien. serta pengertian tentang desa. Padahal secara usal-usul. Adapun keterkaitan antara P3MD Plus. desa sudah memiliki otonomi sejak sebelum penjajahan. diawali dengan pengertian otonomi desa. dibanding dengan daerah yang otonominya merupakan pemberian negara saat hadirnya era reformasi. maka bukan tidak mungkin diantara mereka. Bahkan juga (iii) bahwa terhadap desa yang dibentuk karena pemekaran desa ataupun karena transmigrasi ataupun karena alasan lain. dapat disampaikan sekedar gambaran bahwa otonomi desa adalah: hak. wewenang. yaitu: hak. Terakhir. Dengan demikian. berhasil dan lebih terjamin keberlanjutannya. 3). Namun pasti tidak menjadi masalah karena dalam undang-undang yang sama (UU 32/2004) ada potongan-potongan kalimat yang mengarah pada pengertian otonomi desa. yang seandainya diserahkan ke daerah. serta dikelola oleh Tim Fasilitator yang dedikatif. seperti misalnya dapat disarikan dari penjelasan umum UU 32/2004 pasal 1 ayat 10 alinea 1 dan 2: (i) bahwa landasan pemikiran dalam pengaturan mengenai desa adalah keanekaragaman. wewenang. bahwa dalam undang-undang maupun peraturan pemerintah memang belum ada ketetapan secara khusus tentang pengertian otonomi desa. partisipasi. Bahkan dengan dukungan Tim tersebut mereka akan mampu berkompetisi misalnya dengan kapasitas fasilitator PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) yang dikelola oleh pusat. (iv) ada pengertian tentang Desa (bukan otonomi desa). Sekiranya hal tersebut dapat dilakukan oleh mereka. berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat (UU 32/2004 pasal 1 ayat 12). serasi dengan pengertian otonomi daerah dan penjelasanpenjelasan tentang otonomi asli desa. ADD. secara keterpilihan dapat ditingkatkan statusnya menjadi fasilitator Otonomi Desa. (ii) bahwa UU 32/2004 mengakui otonomi yang dimiliki oleh desa. sekilas sepertinya pembuat undang-undang memang kurang memperhatikan secara sungguh-sungguh tentang keberadaan desa dengan kepemilikan keaslian otonominya. dan kewajiban untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pertama.memenyebarluaskan Peraturan Perundang-Undangan atau Peraturan Daerah yang telah diundangkan. dan Otonomi Desa beserta Tata kepemerintahan Desa yang Baik. Berbeda dengan pengertian tentang otonomi daerah yang secara jelas ditetapkan dalam UU 32/2004 pasal 1 ayat 5. otonomi asli. dan kewajiban desa untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan Halaman | 106 . dapat dikemukakan beberapa hal. Dengan demikian. Kapasitas itu dapat tercapai berdasarkan pengamatan bahwa mereka rata-rata memiliki semangat tinggi dalam penguasaan metodologi dan tentu saja penguasaan materinya.

otonomi desa. Kedua. yaitu dengan pendayagunaan Alokasi Dana Desa (ADD) yang perencanaan penggunaaannya diproses dengan metode P3MD Plus. sekaligus merupakan arena untuk tumbuhnya partisipasi dan pemberdayaaan masyarakat. Intinya bahwa keempat komponen tersebut merupakan satu kesatuan yang saling mendukung. serta tata kepemerintahan desa yang baik. Dalam kaitan seperti termaksud diatas. dalam kehidupan demokrasi. juga berkewajiban mengurus kepentingan masyarakat. atau kegiatan lain yang masuk ke desa. ADD. Pola pikir seperti diuraikan sekilas diatas ini merupakan gambaran keterkaitan antara P3MD Plus. yaitu tercapainya kesejahteraan mereka yang disesuaikan dengan aspirasi mereka melalui proses yang partisipatif dana demokratis. Pola pikir ini secara bertahap perlu ditingkatkan kualitas atau mutunya. dalam pengertian DESA sebagai kesatuan masyarakat hukum yang berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat. telah nampak proses awal yang mendasar dalam mengurus kepentingan masyarakat. Disamping itu. Halaman | 107 . maka tercermin bahwa tidak hanya mengatur kepentingan masyarakat di bidang pemerintahan yang mengacu pada prinsip-prinsip tata kepemerintahan yang baik. proyek.dan kepentingan masyarakat desa setempat sesuai asal-usul dan adat istiadat yang diakui dan dihormati berdasarkan peraturan perundang-undangan. menanggapi dan mengantisipasi program. dan lain-lain. Hal itu merupakan langkahlangkah perwujudan otonomi desa dan penerapan prinsip-prinsip penyelenggaraan Tata kepemerintahan yang Baik di tingkat Desa. Dalam proses tersebut. misalnya dibidang pembentukan peraturan desa (Perda). transparansi dan akuntabel atau bertanggung jawab. dalam rangka perwujudan otonomi dan tata kepemerintahan yang baik di tingkat desa. diperluas pemasyarakatan dan jenis komponennya.

20 menit 120 menit Halaman | 108 .  Peserta diminta memasukan hasil identifikasi sumber-sumber pendapatan desa (hasil langkah kerja 3 penyusunan RKA sesi diskusi kelompok) kedalam Pos Pendapatan pada struktur RAPBDes. Bahan dan Alat Kertas Plano.  Peserta diminta memasukan hasil penyusunan RKA bagian B (Belanja Operasional/Rutin) kedalam pos Belanja Tidak Langsung pada struktur RAPBDes. Waktu 155 menit Langkah kegiatan  Sesi Curah Pendapat  Fasilitator menggali pemahaman peserta dengan pertanyaanpertanyaan penuntun sebagai berikut: o Mengapa disebut RAPBDes? o Bagaimana struktur RAPBDes? o Apa arti dari masing-masing Pos (Pendapatan.Sub Bagian 3. Spidol. Belanja langsung dan Belanja Tidak Langsung.  Peserta dapat menjelaskan tahapan penyusunan RAPBDes.  Peserta dapat mendata sumber-sumber pendapatan.  Peserta diminta memasukan hasil penyusunan RKA bagian A (Belanja Pembangunan) kedalam pos Belanja Langsung pada struktur RAPBDes.  Peserta dapat memahami struktur RAPBDes sesuai Permendagri 37 tahun 2007. Metaplan. dan Pembiayaan) yang tercantum dalam struktur RAPBDes? o Bagaimana proses penyusunan RAPBDes? o Siapa yang bertangungjawab dan terlibat dalam proses penyusunan RAPBDes?  Fasilitator membuat rangkuman terhadap hasil curah pendapat berdasarkan Permendagri 37 tahun 2007 Tentang Pedoman Pengelolaan keuangan Desa  Sesi Diskusi Kelompok dan Pleno  Fasilitator mengumpulkan peserta kedalam beberapa kelompok. belanja dan pembiayaan yang ada dalam desa.  Peserta mencantumkan atau memasukan hasil RKA kedalam Struktur RAPBDes.3: Penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (RAPBDes) Tujuan  Peserta dapat menjelaskan pengertian RAPBDes. Papan Tulis atau Lainnya sesuai dengan yang dimiliki tetapi dapat berfungsi kurang lebih sama.  Peserta dapat memasukan hasil RKA kedalam struktur RAPBDes.

 Peserta diminta mengisi Pos Pembiayaan pada struktur RAPBDes (jika jenis pembiayaan belum ada maka diisi tiap jenisnya dengan angka nol) Lihat Formulir struktur RAPBDes Catatan: Untuk setiap kolom keterangan belanja rutin dan pembangunan sebaiknya mencantumkan berapa besar anggaran yang digunakan dan darimana sumber dana tersebut. o Pentingnya RAPBDes dalam: .Pelaksanaan pembangunan di desa.Proses Perencanaan dan Penganggaran Partisipatif Masyarakat Desa .  Peserta diminta memplenokan hasil diskusi kelompok (perwakilan kelompok dan atau semua kelompok memprentasikan. kelompok lain diminta untuk memberikan tanggapan/masukan). Halaman | 109 . Pertanyaan Kunci  Apa itu RAPBDes?  Bagaimanakah struktur RAPBDES?  Bagaimana cara menyusun RAPBDes?  Siapa saja yang terlibat dalam proses penyusunan RAPBDes?  dll. dll).  15 menit Sesi Penegasan Fasilitator mengakhiri materi sub bagian ini dengan memberikan penegasan-penegasan tentang: o Hal-hal yang masih kurang dimengerti dalam diskusi pleno yang berkembang dan terlihat dalam diskusi pleno. Hal ini dimaksudkan agar mempermudah cara membaca anggaran APBDes oleh Auditor (Badan Pengawas.

Penyusunan RAPBDes didasari pada Rencana Kegiatan dan Anggaran (RKA) Desa.Bahan Bacaan 3. Bantuan keuangan dari pemerintah. Barang Milik Desa adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBDes. Pembiayaan desa Pendapatan Desa meliputi semua penerimaan uang melalui rekening desa yang merupakan hak desa dalam 1 (satu)tahun anggaran yang tidak perlu dibayar kembali oleh desa. Hibah.  Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDES) adalah perkiraan penerimaan dari berbagai sumber dan semua pengeluaran desa dalam rangka melaksanakan tugas umum pemerintahan untuk mensejahterakan masyarakat dalam tahun anggaran berjalan. Artinya. Alokasi Dana Desa(ADD). g. Belanja desa dan c. Pendapatan desa terdiri dari : a. Pendapatan Asli Desa (PADesa).3 RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA (R A P B DES) RAPBDes adalah proses perencanaan dalam bentuk rancangan terhadap penerimaan. Bagi hasil pajak kabupaten/kota. Bagian dari retribusi kabupaten/kota d. pemerintah provinsi. belanja dan pembiayaan dalam satu tahun anggaran. e.   Struktur RAPBDes yang kemudian menjadi APBDes berdasarkan Permendagri nomor 37 Tahun 2007 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa adalah Anggaran pendapatan dan belanja Desa (APBDesa) terdiri dari : a. dan lainnya. Sumbangan pihak ketiga Halaman | 110 . c. f. pemerintah kabupaten. Pendapatan desa b. b. semua barang yang dibeli atau diperoleh dengan menggunakan uang desa merupakan Barang Milik Desa.

Belanja langsung terdiri dari: 1. Penerimaan pembiayaan mencakup: a. b. Belanja Pegawai/penghasilan Tetap. Hasil penjualan kekayaan desa yang dipisahkan d. Sisa lebih perhitungan anggaran (SILPA) tahun sebelumnya. Belanja Hibah (Pembatasan hibah). Belanja tidak langsung Belanja langsung merupakan semua pengeluaran dari rekening desa yang pemanfaatannya untuk menunjang pelayanan publik dalam satu tahun anggaran berjalan. Dengan kata lain. Belanja Bantuan Keuangan. Belanja Bantuan Sosial. 4. 6. 2. Pembayaaran utang Halaman | 111 . Pembiayaan desa terdiri dari: a. Pembiayaan desa meliputi semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. dan b. Belanja Tak Terduga. 3. belanja langsung adalah belanja yang timbul sebagai akibat dari adanya program. Pencairan dana cadangan c.dan b. Belanja desa diatas terdiri dari : a. Pembentukan dana cadangan b. Penerimaan pembiayaan. Belanja Modal. Penyertaan modal desa c. Belanja Barang dan Jasa. Pengeluaran pembiayaan. Belanja tidak langsung adalah semua jenis pengeluaran dari rekening desa yang rutin berdasarkan hasil musyawarah pembangunan. Belanja tidak langsung terdiri dari: 1. Belanja langsung.Belanja desa meliputi semua pengeluaran dari rekening desa yang merupakan kewajiban desa dalam 1 (satu) tahun anggaran yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh desa. Belanja Subsidi. Penerimaan pinjaman Pengeluaran pembiayaan mencakup : a. 5. 2.

.

3 1. Formulir Rancangan Kerja/Kegiatan dan Anggaran Desa (RKADes) 3. Formulir Musrenbang Kecamatan 2. Struktur RAPBDes .Lampiran – lampiran Bahan Bacaan 3.

Lampiran 1 Formulir MUSRENBANG KECAMATAN Swadaya No Bidang Kegiatan Utama Kegiatan Rinci (4) Volume Sasaran/ manfaat (6) Hasil yang diharapkan (7) Rupiah (8) Materi/nonuang (9) Usulan APBD I/ APBD II/ APBN Total Anggaran yang Dibutuhkan Dinas/sektor yang bertanggungjawab (12) (1) (2) (3) (5) (10) (11) .

Propinsi.Lampiran 2 Formulir RENCANA KERJA/KEGIATAN DAN ANGGARAN DESA (RKA) A. PERENCANAAN ANGGARAN RUTIN/OPERASIONAL (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) . PERENCANAAN ANGGARAN PEMBANGUNAN Swadaya APBDES Bantuan /Sumbangan Pemerintah Pusat. Kabupaten (11) No (1) Bidang (2) Kegiatan Utama (3) Kegiatan Rinci (4) Volume (5) Sasaran/ manfaat Rupiah (6) (7) Materi/ nonuang (8) PADes (9) ADD (10) LainLain yang Sah (12) Total Anggaran Yang Dibutuhkan (13) Keterangan (14) B.

1.1 1.2. Bagi Hasil Pajak: Bagi hasil pajak kabupaten/kota Bagi hasil PBB Dst …………………… Bagi Hasil Retribusi Dst …………………… Bagian Dana Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah ADD Dst …………………….3 1.8 1. 1.1.2.2.Lampiran 3 RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA DESA …………………… KECAMATAN …………………………….1.5 1.1.2.1 1.2.4.7 1.3.1.2 1. .3 1.2.2.3.1.2.1 1. Pasar Desa Pasar Hewan Tambatan Perahu Bangunan Desa Pelelangan Ikan yang dikelola Desa Lain-lain Kekayaan Milik Desa Dst ………………………… Hasil Swadaya dan Partisipasi Dst …………………………….3 1.1 1.1.5.1 1.1.2 1.1 1.5 1.4.3 1.2.1.2..4 1.1 1. Bantuan Keuangan Pemerintah TAHUN SEBELUMNYA TAHUN BERJALAN KET.1.1 1.2 1.1.1 1.1.1.1.6 1..4 1.2.1 1.1.2 1.2.2.1.1 1. TAHUN ANGGARAN KODE REKENING 1.2 1.1.4.1.1. Hasil Gotong Royong Dst ………………………….4 1.1.2 1.1.1.5 URAIAN PENDAPATAN Pendapatan Asli Desa Hasil Usaha Desa Dst ………………………… Hasil Pengelolaan Kekayaan Desa Tanah Kas Desa : (*) Tanah Desa Dst ………………………. Lain-lain Pendapatan Asli Desa yang sah Dst ………………………….

1.4..2.6.2 2.1 2.5.2.2 1.5.1.1 2.5.1 1.5.3.1 2.1 2.4 1.1 1.6.1.1.7.6 1.7 1.1 2.6.2 1.3 2.3 1.1.2.2. Bantuan Keuangan Desa lainnya : Dst ……………… Hibah Hibah dari pemerintah Hibah dari pemerintah provinsi Hibah dari pemerintah kabupaten/kota Hibah dari badan/lembaga/organisasi swasta Hibah dari kelompok masyarakat/ perorangan Dst ……………………….2.1 1.2.2.5.1. Belanja Barang/Jasa : Belanja perjalanan dinas Belanja bahan/material Dst ………………………… Belanja Modal Belanja Modal Tanah Belanja Modal jaringan Dst ………………………… 2.5 1. JUMLAH PENDAPATAN BELANJA Belanja Langsung Belanja Pegawai/Honorarium : Honor tim/panitia Dst ………………….1 2.1.2 Belanja Tidak Langsung Belanja Pegawai/Penghasilan Tetap Dst ………………………… Belanja Hibah 2 2. Sumbangan Pihak Ketiga Sumbangan dari ………..3. Dana Tambahan penghasilan tetap Kepala Desa dan Perangkat Desa Dst …………….2 Provinsi.1.7. dan desa lainnya Bantuan Keuangan Pemerintah: Dst ………………………… Bantuan Keuangan Pemerintah Provinsi Dst …………………………… Bantuan Keuangan Pemerintah Kabupaten/Kota.2 2..1.5.3 2.1. Dst ……………………….5.2 1.1 1.6.3.1.1.1 1.6.1.2 2.1 1.3.3 .1.3 2.1.1 2.3 1.2 2..3.5.6 1.6.1 1.5. Kabupaten/Kota.1.4 1.

3 Dst ………………………… Belanja Bantuan Sosial : Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Dst …………………… Belanja Bantuan Keuangan Dst ……………………… Belanja tak terduga Keadaan darurat Bencana alam Dst………………… JUMLAH BELANJA 3 3.1.2.2. Hasil penjualan kekayaan Desa yang dipisahkan.6..2.2.2. Pangonan.4 2.1. Bengkok.2.2.1 3.5 2.3 3.1 3.1 2.1 3.1 2. kokoan.2.6.6. Timbul.1 2.2 3. Bondo Deso.2 3.2 2.2. Catatan : * Tanah Kas Desa atau istilah lainnya seperti : Tanah Titi Sara.2. …………………… KEPALA DESA ……………………………….5.2.2. Tanah Pembelian Desa.2 3.3 PEMBIAYAAN Penerimaan Pembiayaan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA) tahun sebelumnya.2.4. dsb. Suguh Dayoh.2.1.6 2.4.3.2 2. .1 2. Penerimaan Pinjaman Pengeluaran Pembiayaan Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal Desa Pembayaran utang JUMLAH PEMBIAYAAN …………….

or. 20 Jakarta 12750 T/F +62 21 798 9446. Lt.Good Local Governance Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia Gedung Utama. 7918 4928 www. TMP Kalibata No. Ruang Segitiga Jl.id . 2.gtz-decentralization.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful