P. 1
Final - Panduan Pelatihan P3MD Plus Buku I

Final - Panduan Pelatihan P3MD Plus Buku I

|Views: 1,355|Likes:
Published by Hadi Wibawa

More info:

Published by: Hadi Wibawa on Feb 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/10/2013

pdf

text

original

Panduan Fasilitator

Perencanaan Partisipatif Pembangunan
Masyarakat Desa
Plus Penganggaran

(P3MD Plus)

Jilid 1

Oleh:
Tim Pengembangan Panduan P3MD

InCrEaSe

Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah

Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia
Jl. TMP Kalibata No. 20, Jakarta
T +62 21 794 2635 ext. 205

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi NTT

Jl. Polisi Militer No. 2, Kupang
Nusa Tenggara Timur (85111)
T/F +62 380 831 712, 833 462

InCrEaSe

Jl. Asoka No. 20, Oetona
Kupang – Nusa Tenggara Timur
T +62 380 829 096

Bengkel APPeK

Shopping Center Gang Portu
Kelurahan Fatululi
Kecamatan Oebobo
Kupang – Nusa Tenggara Timur
T/F +62 380 838 107

Yayasan Pengembangan dan Pelayanan Masyarakat Alfa
Omega

Jl. Timor Raya km 13, Desa Mata Air
Kecamatan Kupang Tengah
Kabupaten Kupang – Nusa Tenggara Timur
T/F +62 380 855 1644
E yaotimor@plasa.com

Good Local Governance (GLG)

Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah
Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia
Gedung Utama, Lt. 2, Ruang Segitiga
Jl. TMP Kalibata No. 20, Jakarta
T/F +62 21 798 9446, 7918 4928
www.gtz-decentralization.or.id

Panduan Fasilitator

Perencanaan Partisipatif
Pembangunan Masyarakat Desa
Plus Penganggaran

(P3MD Plus)

Jilid I

Tim Pengembangan Panduan P3MD Plus:

Pemerintah Provinsi
NTT

Pemerintah Kabupaten
TTS

Pemerintah Kabupaten
Belu

Djose Nai Buti
Yos Laku Mali
Abraham Klakik
Mukmin Syukur
Benyamin Daga

Alm. Th. Bambang Purwanto
John Asbanu
Yan Mella

Yohanes Pari
Beny Ngalu
Florensia N. Tety
Marsel Payong
Agustinus Lisu

Lembaga non-
Pemerintah

GLG

Konsultan

Fary Franscis
Vinsen Bureni
Susan Marey
Dominggus Umbu Zasa
Sarah Lery Mboeik
Eliaser Neonufa
Yorni Nokas
Theresia R. Nubi
Andreas Parera

Florencio Mario Vieira
Marvel J. P. Ledo

Susmanto
Irwan Sucahyo

Editing, Setting, dan Lay-out:
Marvel J. P. Ledo

Halaman | i

Kata Pengantar

Gubernur Nusa Tenggara Timur

Dewasa ini masih banyak terjadi bahwa perencanaan program, proyek, atau kegiatan
pembangunan, khususnya di tingkat desa, dilaksanakan tanpa dilengkapi dengan data
dan informasi wilayah atau kelompok sasaran yang lengkap dan akurat. Padahal sudah
ada peraturan perundang-undangan yang mengamanatkan bahwa ‟perencanaan
pembangunan harus didasarkan pada data dan informasi yang akurat dan dapat
dipertanggungjawabkan‟ (UU 25/2004 pasal 31 dan UU 32/2004 pasal 152 ayat 1).

Disamping itu, banyak kenyataan menunjukkan bahwa hasil musyawarah perencanaan
pembangunan (Musrenbang) desa yang telah disusun, tidak dikaitkan dengan upaya
alokasi penganggaran yang memadai. Hal tersebut telah menimbulkan rasa kecewa dan
ke-tidak-peduli-an masyarakat terhadap Musrenbang Desa walaupun itu telah dilakukan
dengan pendekatan partisipatif model P3MD (Perencanaan Partisipatif Pembangunan
Masyarakat Desa).

Memperhatikan dan untuk mengatasi kedua kelemahan diatas, Pemerintah Provinsi
Nusa Tenggara Timur telah melakukan serangkaian kegiatan dan kajian tentang praktek
penerapan model pendekatan P3MD di sejumlah desa di kabupaten Timor Tengah
Selatan dan Belu. Tujuannya adalah untuk melakukan pemantapan model P3MD yang
sekaligus dikaitkan dengan upaya alokasi penganggarannya. Penganggaran tersebut
terutama ditujukan bagi pemanfaatan dana Alokasi Dana Desa (ADD) yang adalah hak
desa. Telah menjadi kebijakan pemerintah untuk menyediakan ADD dari dana
perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah, khususnya
yang diterima oleh kabupaten.

Kajian seperti yang disebutkan diatas, juga dilakukan dalam rangka perwujudan otonomi
desa dan terselenggaranya tata kepemerintahan desa yang baik. Dengan demikian juga
diharapkan dapat menopang terselenggaranya tata kepemerintahan daerah yang baik
atau sering disebut dengan ’good local governance’. Serangkaian kegiatan dan kajian
dilakukan bekerjasama dengan GTZ-GLG, melalui proses sebagai berikut:

Studi perkiraan kebutuhan program penguatan pemerintahan desa di Kabupaten
TTS dan Belu, Februari dan April 2007.

Penyelenggaraan Lokakarya ”Membangun Pemahaman dan Komitmen Bersama
Tanggung-gugat Tata Pemerintahan Desa yang Baik/Good Village Governance dan
Menyusun Aksi Bersama/Joint Detail Implementation Plan”, di Kupang 4-6 Juni
2007.

Kajian Pengalaman Penerapan Perencanaan Partisipatif Pembangunan
Masyarakat Desa (P3MD), Oktober 2007.

Penyusunan Panduan P3MD yang diselaraskan dengan peraturan perundang-
undangan yang ada dan dikaitkan dengan alokasi penganggarannya. Panduan ini

Halaman | ii

kemudian disebut Perencanaan Partisipatif Pembangunan Masyarakat Desa Plus
Penganggaran atau disingkat P3MD Plus. Penyusunannya dilakukan oleh oleh Tim
Kerja Penyusunan Panduan Fasilitator P3MD Plus, yang dibentuk berdasarkan SK
Gubernur No 242/KEP/HK/2007Novermber 2007 dan terdiri dari multi unsur
(Pemerintah Provinsi-Kabupaten, LSM, dan GTZ-GLG).

Pelatihan dan Praktek Lapangan serta Ujicoba Panduan P3MD Plus serta
Penyempurnaan Penerapan Panduan pasca Ujicoba, Desember 2007-Maret 2008.

Dengan menyadari masih adanya sejumlah kekurangan namun dengan tekad
memperbaiki secara berkelanjutan, model P3MD Plus ini telah diterapkan sejak awal
tahun anggaran 2008. Untuk penerapan secara berkelanjutan, kebijakan ini dirancang
untuk dituangkan dalam bentuk peraturan yang dikeluarkan oleh setiap kabupaten di
wilayah NTT selambat-lambatnya pada akhir 2008.

Terima kasih saya sampaikan kepada ‟Tim Kerja Penyusunan Panduan Perencanaan
dan Penganggaran Partisipatif di tingkat Dusun, Desa, dan Kecamatan‟, GTZ-GLG, dan
semua pihak terkait, yang telah bekerja secara tekun dan terus menerus sejak Juni 2007
sampai Maret 2008. Saya mengharapkan Panduan ini dapat berfungsi sebagai landasan
operasional awal kerjasama hingga akhir masa kerjasama nanti.

Kupang, 28 Juli 2008
GUBERNUR NUSA TENGGARA TIMUR,

Drs. Frans Lebu Raya

Halaman | iii

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Gubernur Nusa Tenggara Timur

ii

Daftar Isi

iii

Pendahuluan

- Sejarah Penyusunan Panduan P3MD Plus

v

- Untuk Siapa Panduan P3MD Plus ini Disusun

viii

- Cara Menggunakan Panduan P3MD Plus.

viii

Bagian 1: Panduan Persiapan
Persiapan Fasilitator

- Sub Bagian 1.1: Apa dan Bagaimana Fasilitator P3MD Plus?

1

Bahan Bacaan 1.1: Pemahaman Dasar tentang Fasilitator dan Fasilitasi
Partisipatif

4

- Suba Bagian 1.2: Partisipasi adalah Hak Masyarakat

17

Bahan Bacaan 1.2: Partisipasi Masyarakat Sebagai Bagian dari Tata
Kepemerintahan yang Baik

19

- Sub Bagian 1.3: Membangun Pertemanan dan Rasa Mandiri Masyarakat 24
Bahan Bacaan 1.3: Masyarakat Mampu untuk Mandiri

26

- Sub Bagian 1.4: Mendorong Peran Serta Perempuan dan Kaum yang
Terpinggirkan Lainnya dalam Pembangunan Desa.

30

Bahan Bacaan 1.4: Partisipasi Perempuan dalam Pembangunan

33

Persiapan Pelaksanaan Musrenbang

- Sub Bagian 1.5: Pemahaman Dasar P3MD Plus

35

Bahan Bacaan 1.5: Dari P3MD ke P3MD Plus

37

- Sub Bagian 1.6: Membangun Strategi Penyelengaraan Musrenbangdus-
Musrenbangdes secara Partisipatif.

39

Bahan Bacaan 1.6: Pemahaman Dasar tentang P3MD, P3MD Plus,
Musrenbang, serta Perencanaan dan Penganggaran

41

Bagian 2: Panduan Perencanaan

- Sub Bagian 2.1: Membangun Pemahaman Bersama Tentang Aturan-
Aturan Perencanaan dan Penganggaran yang Berlaku

51

Bahan Bacaan 2.1: Memaknai P3MD Plus Menuju Otonomi Desa

53

- Sub Bagian 2.2: Analisis Potensi dan Masalah Bersama Masyarakat

72

Bahan Bacaan 2.2: Pengkajian Potensi dan Masalah

74

- Sub Bagian 2.3: Peringkat Masalah dan Menemukan Tindakan untuk
Perencanaan Bersama Masyarakat.

83

Bahan Bacaan 2.3: Pengelompokkan dan Pemeringkatan

86

Halaman | iv

Bagian 3: Panduan Penganggaran

- Sub Bagian 3.1: Memadukan Rencana Tindakan dengan Penganggaran
melalui Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes)
Tahunan

91

Bahan Bacaan 3.1: Penganggaran Pembangunan Desa

94

- Sub Bagian 3.2: Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) Desa

96

Bahan Bacaan 3.2: Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes), Rencana
Kegiatan dan Anggaran Desa (RKADes), dan Alokasi
Dana Desa (ADD)

99

- Sub Bagian 3.3: Penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan
Belanja Desa (RAPBDes)

103

Bahan Bacaan 3.3: Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa
(RAPBDes)

105

Lampiran-Lampiran:

Surat Edaran Menteri Dalam Negeri tentang Pedoman Alokasi Dana Desa
dari Pemerintah Kabupaten/Kota kepada Pemerintah Desa, nomor
140/640/SJ.
Surat Edaran Bersama Menteri Negara Perencanaan Pembangunan
Nasional/Kepala Bappenas dan Menteri Dalam Negeri tentang Petunjuk
Teknis Penyelenggaraan Musrenbang Tahun 2007.

Halaman | v

PENDAHULUAN

Sejarah Penyusunan Panduan P3MD Plus

Metode Perencanaan Partisipatif Pembangunan Desa (P3MD) merupakan suatu metode
proses pembahasan dan penyusunan rencana pembangunan dalam Musyawarah
Perencanaan Pembangunan di Tingkat Desa (MusrenbangDes) yang dilakukan secara
terbuka dan obyektif bersama masyarakat. Metode ini sempat dikenal oleh banyak
aparat desa namun tidak lagi dipraktekkan sebagaimana konsep dasar dan prinsip
P3MD itu sendiri.

Berdasarkan situasi yang demikian, dilaksanakanlah beberapa diskusi yang melibatkan
pihak pemerintah daerah dengan lembaga-lembaga non-pemerintah di Timor Barat
untuk mendalami praktek penyelenggaraan MusrenbangDes yang notabene
menggunakan metode P3MD.

Diskusi pertama dilaksanakan di Hotel Kristal Kupang, pada tanggal 3-6 Juni 2007 yang
menghasilkan suatu pernyataan bersama bahwa perlu dilakukan penguatan kapasitas
kelembagaan di tingkat desa dalam hal perencanaan dan penganggaran untuk APBDes
termasuk didalamnya pengelolaan dana ADD bagi pembangunan desa. Untuk
mewujudkannya, maka dipandang perlu untuk melaksanakan pelatihan dan penguatan
kapasitas fasilitator Musrenbang di Desa agar kualitas MusrenbangDes meningkat.

Untuk memperjelas pemikiran bersama tersebut dan agar upaya yang nanti dilakukan
didasarkan pada situasi yang sebenarnya dari pengembangan rencana pembangunan di
desa, maka dilakukanlah kegiatan kajian fakta lapangan di delapan desa yang ada di
dua Kabupaten, yakni Kabupaten TTS dan Kabupaten Belu. Pemilihan 8 (delapan) desa
ini dilakukan secara acak dengan mempertimbangkan lokasi desa, baik itu yang berada
di daerah pesisir pantai, dataran menengah, maupun di dataran tinggi. Asumsi lain yang
digunakan adalah sifat bentuk kehidupan masyarakat yang homogen1
.

Hasil kajian fakta lapangan yang didapat adalah sebagai berikut:

Mekanisme musyawarah kurang berjalan dengan baik sebagai akibat dari
banyaknya lembaga atau organisasi yang melakukan perencanaan dengan
metode yang berbeda-beda dan waktu yang berbeda-beda, tapi melibatkan
masyarakat dari desa yang sama.
Penentuan usulan prioritas hampir tidak melibatkan keseluruhan masyarakat
sama sekali. Yang terbaik yang pernah terjadi hanyalah menggunakan prinsip
keterwakilan.
Keterwakilan itu-pun sebagian besarnya tidak melakukan penggalian
gagasan/kebutuhan dari masyarakat yang diwakili tetapi berdasarkan cara
pandang orang-orang yang mewakili saja.
Potensi tidak dijadikan sebagai kekuatan untuk pelaksanaan pembangunan
tetapi hanya didasarkan pada pemikiran untuk memenuhi syarat-syarat formal

1

Yang dimaksudkan dengan homogen disini adalah adanya kesamaan kondisi sosial dan nilai-nilai budaya
masyarakat, termasuk cara hidup pemenuhan ekonomi masyarakat.

Halaman | vi

saja. Contohnya, untuk memperoleh ADD, maka formulir yang diisi hanya untuk
mendapatkan ADD - untuk memenuhi syarat Musrenbang.
Tidak ada dokumen perencanaan/Musrenbang di tingkat desa. Tidak ditemukan
dokumen RPJMDes (atau Renstra Desa) dan RKPDes (atau Rencana Kerja
Tahunan Desa). Fakta di Kecamatan Amanuban Selatan menunjukan bahwa
dari 15 desa yang ada hanya satu desa yang melakukan perencanaan.
Penentuan anggaran masih bukan menjadi bagian dari perencanaan masyarakat
artinya perencanaan jalan sendiri sementara penyusunan anggaran jalan sendiri
(APBDes) sehingga sering dalam APBDes yang dibiayai bukan hasil
MusrenbangDes. Hal ini membuka peluang adanya intervensi dari pihak yang
lebih mementingkan diri sendiri terhadap pengelolaan anggaran di tingkat desa.
Pengelolaan ADD masih diintervensi pihak kabupaten. Contohnya, di TTS
pembelian mesin kompos dan sepeda motor. Di Kabupaten Belu, pengelolaan
ADD disamaratakan untuk pembangunan fisik, misalnya, semua desa
membangun kantor BPD.
APBDes hanya disusun oleh Kepala Desa dan pihak kecamatan. Terkesan untuk
memenuhi formalitas mendapatkan ADD.
Proses penggunaan anggaran masih tertutup bagi masyarakat dan hanya
diketahui oleh aparat desa dan ketua BPD. Hal ini terlihat dalam fakta bahwa
Kepala Desa hanya melakukan pertanggungjawaban kepada pemerintah tingkat
atas sementara kepada masyarakat tidak dilakukan, sehingga, masyarakat tidak
tahu tentang sumber dana dan (arah) pengelolaannya.
Prioritas pembangunan di desa masih berorientasi fisik (jalan, pembangunan
kantor desa, dsb) dan tidak sesuai dengan kebutuhan dasar masyarakat desa
setempat. Contoh
1. Desa Wekmidar Belu sudah membutuhkan air bersih sejak 20 tahun silam
tetapi yang dijawab adalah pembukaan jalan dan pembuatan kantor BPD.
2. Desa Nefokoko TTS dari hasil wawancara menunjukan bahwa 40%
responden membutuhkan peningkatan pelayanan pendidikan dan
kesehatan melalui pendidikan dan pelatihan tenaga pendidik dan
paramedik, tetapi yang dipenuhi adalah membangun bangunan Polindes
dan menambah ruang kelas sekolah. Tidak jelas siapa yang akan
mengoperasionalkan bangunan-bangunan tersebut.

Lebih jauh di tingkat Kabupaten, didapati beberapa fakta sebagai berikut:
Belum ada komitmen Pemerintah Desa, Kecamatan, dan Kabupaten untuk
menjadikan Renstra dan Propeda sebagai acuan Musrenbang dan
penganggaran (wawancara Tim TTS dengan Bapppeda dan PMD TTS).
Menilai kinerja hanya pada besaran anggaran yang digunakan bukan pada hasil,
dampak, kaitannya dengan item kegiatan pembangunan lainnya, dll. Hal ini
karena belum ada alat monitoring dan evaluasi yang praktis dan memadai untuk
digunakan dalam menilai implementasi proses pembangunan.

Dengan demikian, walaupun Kabupaten Belu dan TTS telah mengeluarkan Peraturan
Daerah (PERDA) bagi penggunaan Metode P3MD, namun prakteknya, baik Aparat
Desa maupun Kader Desa yang memfasilitasi, semuanya terjebak hanya melakukan
pengisian formulir tanpa memaknai konsep dasar dan prinsip P3MD itu sendiri. Sering

Halaman | vii

didapati komentar aparat desa seperti demikian, “Kami tidak tahu bagaimana
menggunakan metode P3MD.”

Untuk itulah, penyederhanaan pemahaman dan melengkapi konsep dasar P3MD
menjadi kebutuhan guna memperbaiki mekanisme perencanaan dan penganggaran
partisipatif di Desa.

UU No 32/2004 yang kemudian diatur lebih lanjut dalam PP.72/2005 memberikan
kepastian hukum terhadap perimbangan keuangan pusat dan daerah dimana desa
memperoleh hak dalam bentuk Alokasi Dana Desa (ADD). Oleh karena itu, metode
P3MD perlu diperkuat dengan panduan penyusunan penganggaran.

Berdasarkan hal itulah, maka disepakati nama panduan menjadi “Panduan P3MD Plus”.
Arti dari “Plus” adalah tidak hanya penyederhanaan panduan agar dapat dilaksanakan
oleh masyarakat desa sendiri tetapi juga bagaimana masyarakat mampu merencanakan,
mengelola, memonitor, dan mengevaluasi ADD sebagai haknya yang merupakan bagian
dari penganggaran desa.

Beberapa peraturan perundang-undangan terkait Perencanaan Pembangunan Desa
yang dipakai sebagai rujukan adalah:

1. Undang Undang RI Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan

Nasional.

2. Peraturan Pemerintah RI Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa.

3. Permendagri Nomor 7 Tahun 2007 tentang Kader Pemberdayaan Masyarakat.

4. Permendagri Nomor 19 Tahun 2007 tentang Pelatihan Pemberdayaan Masyarakat dan
Desa/Kelurahan.

5. Permendagri Nomor 37 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa.

6. Permendagri 66 Tahun 2007 tentang Perencanaan Pembangunan Desa.

7. Permendagri 67 Tahun 2007 tentang Pendataan Program Pembangunan
Desa/Kelurahan.

8. Permendagri Nomor 29 Tahun 2006 tentang Pedoman Pembentukan dan Mekanisme
Penyusunan Peraturan Desa.

9. Permendagri Nomor 30 Tahun 2006 tentang Tatacara Penyerahan Urusan Pemerintahan
Kabupaten/Kota kepada Desa.

10. Permendagri Nomor 32 Tahun 2006 tentang Pedoman Administrasi Desa.

Halaman | viii

Untuk Siapa Panduan P3MD Plus Penganggaran ini Disusun?

Panduan ini dibuat untuk melatih calon fasilitator yang akan memfasilitasi
MusrenbangDes menggunakan pendekatan P3MD plus. Diharapkan, kesadaran kritis
dan ketrampilan mereka dapat tumbuh dalam menyusun rencana dan anggaran
pembangunan desa secara partisipatif.

Walaupun demikian, pihak manapun, baik itu dari kalangan pemerintahan maupun non-
pemerintah yang pernah mengikuti pelatihan P3MD maupun P3MD plus dapat tetap
memanfaatkan Panduan ini bagi pengayaan dan pembaharuan pemahaman akan
metode P3MD (Plus).

Tujuan Pelatihan P3MD Plus

Meningkatkan keberdayaan dan kemandirian masyarakat agar warga desa dapat
berpartisipasi aktif dalam proses pengelolaan pembangunan, dimulai dari
perencanaan dan penganggaran.
Meningkatkan kualitas perencanaan pembangunan desa berdasarkan kajian
masalah, potensi, aspirasi dan sumber daya yang tersedia.
Meningkatkan partisipasi dan swadaya gotong royong masyarakat serta peran dan
fungsi lembaga masyarakat dalam pembangunan yang bertumpu pada kemampuan
sendiri.

Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menggunakan hak partisipasi dalam
penyelenggaraan pemerintahan desa.

Cara Menggunakan Panduan

Panduan ini bukan dimaksudkan untuk diikuti secara kaku langkah per langkah-nya.
Penyesuaian sesuai situasi perlu dilakukan agar pemahaman peserta pelatihan
terhadap inti dari konsep metode P3MD Plus dapat terbangunkan.

Satu hal yang perlu selalu diingat adalah kriteria dalam penentuan peringkat masalah
dan peringkat usulan kegiatan pembangunan yang perlu untuk mendorong semua pihak
agar selalu memperhatikan kepentingan kaum perempuan dan anak-anak.

Hendaknya para fasilitator sudah terlebih dahulu memiliki informasi yang cukup tentang
pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang sudah dan belum dimiliki calon fasilitator yang
akan dilatih untuk menerapkan panduan ini.

Langkah-langkah yang disusun dalam panduan ini merupakan rujukan dari kumpulan
pengalaman. Fasilitator perlu untuk mencatat temuan-temuan baru dari pengalamannya

pada “Lembaran Temuan Fasilitator” yang telah disediakan.

Jika pelatihan calon fasilitator dilakukan di Desa, maka pelatih dapat menciptakan atau
menggunakan media lain yang sekiranya akan memudahkan penerapan materi.

Panduan ini bukan berarti yang terakhir tentang Panduan P3MD plus, P3MD sebagai
metode harus terus diuji bersama masyarakat sehingga tidak dikenal sebagai hasil akhir
atau kesimpulan, melainkan sebuah proses belajar secara terus menerus.

Halaman | ix

Untuk efektivitas penggunaan Panduan Pelatihan Fasilitator Desa ini, maka jumlah
peserta ideal bagi pelatihan adalah antara 25-35 orang. Minimal 30% dari total jumlah
fasilitator adalah perempuan.

Halaman | 1

Bagian I
PANDUAN PERSIAPAN

Tujuan Umum:

1. Mengetahui apa dan bagaimana Fasilitator P3MD Plus.
2. Memahami bahwa partisipasi adalah hak masyarakat.
3. Membangun pertemanan dan rasa mandiri masyarakat.
4. Mendorong peran serta perempuan dan kaum yang terpinggirkan lainnya dalam
pembangunan desa.
5. Memahami dasar P3MD Plus.
6. Membangun strategi penyelenggaraan Musrenbangdus-des secara partisipatif.

Persiapan Fasilitator

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->