P. 1
Dampak Dibentuknya KPK Terhadap Kinerja Kejaksaan RI

Dampak Dibentuknya KPK Terhadap Kinerja Kejaksaan RI

|Views: 523|Likes:
Published by Vidhi Athena

More info:

Published by: Vidhi Athena on Feb 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/02/2013

pdf

text

original

PERENCANAAN JUDUL DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH METODE PENELITIAN SOSIAL OLEH

Meidhi Alkibzi ( 082030079) A
DENGAN JUDUL : DAMPAK DIBENTUKNYA KPK TERHADAP KINERJA KEJAKSAAN RI DALAM RANAH PENEGAKAN HUKUM DI INDONESIA

JURUSAN HUBUNGAN INTERNASIONAL FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS PASUNDAN BANDUNG 2010/2011

Kegunaan Penelitian D) KERANGKA TEORITIS DAN HIPOTESIS 1. Lokasi Penelitian 2. Perumusan Masalah C) TUJUAN DAN KEGUNAAN PENELITIAN 1. Metode Penelitian 2. Lama Penelitian G) DAFTAR PUSTAKA H) SISTEMATIKA LAPORAN PENELITIAN . Tujuan Penelitian 2.DATAR ISI A) LATAR BELAKANG B) IDENTIFIKASI MASALAH 1. Pembatasan masalah 2. Teknik Pengumpulan Data F) LOKASI DAN LAMA PENELITIAN 1. Hipotesis E) METODE PENELITIAN DAN TEKNIK PENGUMPULAN DATA 1. Kerangka Teorotis 2.

Hal tersebut di latarbelakangi terhadap tumpang tindihnya batasan-batasan jangkauan kerja dari KPK terhadap Kejaksaan RI yang merupakan memiliki satu kesamaan sebagai lembaga penegak hukum. serta penuntututan memberikan goncangan yang cukup signifikan terhadap kedudukan dan fungsi kejaksaan yang mendapat kewenangan yang sama dalam bidang penyelidikan dan penuntutan tersebut.30 tahun 2002 tentang Komisi pemberantasan tindak pidana korupsi1 menjadi lembaga penegak hukum di Indonesia yang akhir-akhir ini banyak menimbulkan masalah. . Latar belakang penelitian Mencermati terhadap hadirnya Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi ( KPK ) pada tanggal 29 Desember 2003 berdasarkan Keppres No. Kejaksaan sebagai institusi penegak hukum harus menanggung beban dengan kewenangannya yang berkurang tersebut. Pemberian kewenangan yang luar biasa besar kepada KPK untuk melakukan penyidikan-penyidikan. 1 Undang-undang RI no 30 thn 2002. Pernyataan undang-undang ini merupakan cikal-bakal yang mempengaruhi kinerja Kejaksaan RI terlebih dalam jangkauan sebagai lembaga Negara yang bertugas mengakkan hukum yang berlaku di Indonesia. Komisi Pemberantasan Korupsi. 266/M/2003 yang merupakan tindak lanjut dari Undangundang No. tidak bisa dipungkiri juga bahwa telah terjadi banyak penyimpangan-penyimpangan dalam penyelesaian kasus-kasus TIPIKOR ( Tindak Pidana Korupsi ). Penjelasan Undang-undang Nomor 5 tahun 1991 Pasal 2 yang menyatakan bahwa Kejaksaan adalah satu-satunya lembaga pemerintah pelaksana kekuasaan Negara yang mempunyai tugas dan wewenang di bidang penuntutan. namun bukan berarti tidak mampu melaksanakan tugas dan wewenangnya sebagaimana yang diamanatkan oleh undang-undang. meskipun banyak kontribusi-kontribusi positif yang telah di sumbangsihkan demi tegaknya hukum di Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI ) namun.A.

Dorongan untuk mengungkap judicial corruption yang terjadi di tubuh penegak hukum tidak cukup berhenti pada lembaga kejaksaan. yang pada akhirnya akan menimbulkan kelambanan hukum dalam mengatasi problematika hukum di Indonesia terlebih pada pelanggaran hukum berupa Korupsi. bukan hanya sekedar memenuhi tuntutan publik tetapi benar-benar mendorong transformasi judicial tranparancy di Kejaksaaan. Keluar-biasaan metode penegakan hukum harus dibuktikan dengan komitmen untuk melakukan pemberantasan disemua lembaga negara tanpa terkecuali. kolusi dan Nepotisme. seperti halnya yang di ungkapkan oleh KPK Tertangkapnya Jaksa UTG & Artalyta oleh KPK berkaitan dengan dugaan kasus BLBI menimbulkan efek bola salju yang menggelinding dan membentuk ‘bola salju’ yang lebih besar.Dalam tubuh lembaga kejaksaan memang tidak bisa di pungkiri bahwa juga terdapat aparat yang bertolakbelakang dengan hukum atau melanggar hukum. Kejaksaan & Kepolisian). Rencana Kejaksaan agung untuk memeriksa jaksa yang terlibat dalam percakapan tersebut perlu didorong. Efek ‘bola salju’ hendaknya terus didorong untuk terus ‘menggelinding’ membongkar judicial corruption yang terjadi di lembaga penegak hukum Mahkejapol (Mahkamah Agung. . Rekaman tersebut mempertautkan peran jaksa-jaksa di Kejagung dalam proses hukum kasus BLBI-nya Syamsul Nursalim. Hal tersebut untuk dilakukan untuk menghindari terjadinya white propaganda yang dilakukan oleh KPK yang dipersonalisasi oleh aparatur KPK itu sendiri. Pertanyaannya adalah apakah ‘bola salju’ akan berkonsekuensi terjadinya penghancuran terhadap segala benda yang berada didepannya yang menghalangi kehendak laju dari ‘bola salju’ tersebut? Bola Salju dimaksud adalah ditampilkannya ke publik rekaman percakapan antara Artalyta dengan beberapa jaksa pada saat pemeriksaan di pengadilan khusus Tipikor.sehingga tidak memunculkan kelemahan dan ketidakmandirian serta independennya institusi kejaksaan RI.

Selasa.Seharusnya kejaksaan menjadi pelopor pemberantasan KKN dan mafia peradilan. kejaksaan mengabaikan instruksi Presiden Yudhoyono untuk menciptakan pemerintahan yang bersih sesuai Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas KKN2. Hal ini membuat rakyat kian skeptis. Tak mengherankan bila kalangan yang apriori bertanya. bubarkan dan posisikan kejaksaan di bawah KPK. 15 Juli 2008 . Skandal jaksa Urip membuktikan. Tudingan media asing bahwa Indonesia sebagai the sick man of Asia karena korupsi seharusnya memacu kejaksaan meningkatkan pemberantasan korupsi. Kurangnya kepercayaan rakyat disebabkan kejaksaan tak berdaya memberantas. Berdasarkan sumber-sumber dan kejadian yang melanda lembaga penegak hukum seperti yang telah di jelaskan diatas . Kinerja kejaksaan di negeri ini kian kurang dipercaya dengan terkuaknya kebobrokan yang ada dalam tubuh lembaga itu. Kejaksaan perlu belajar dari keberhasilan KPK menangani korupsi.sehingga melatarbelakangi penulis untuk memberikan judul “Dampak Dibentuknya KPK Terhadap Kinerja Kejaksaan RI Dalam Ranah Penegakan Hukum Di Indonesia. tetapi justru terlibat korupsi. korupsi di Indonesia dinilai amat parah dibanding negara lain. Sebab. 2 News. Harian Kompas. ”Masih perlukah lembaga kejaksaan?” Atau. Keterlibatan kejaksaan sebagai ”pemain” dalam mafia peradilan dan kesan melindungi korps yang terlibat harus diakhiri.

Pembatasan Masalah Meninjau akan luasnya masalah mengenai penegakan hukum yang di lakukan oleh lembaga-lembaga penegak hukum. 2. Identifikasi Masalah Berdasarkan Problematika diatas dalam hal untuk mempermudah penelitian.B. maka penulis memberikan gambaran terhadap identifikasi masalah sebagai berikut : a) Apa yang memprakarsai maraknya tindak pidana yang di ketemukan oleh KPK terhadap lembaga Hukum Khusunya Kejaksaan RI? b) Bagaimana Koherensi yang seharusnya di jadikan landasan bagi KPK dan Kejaksaan RI Untuk Berjalan Seiring dalam penegakan hukum di Indonesia? c) Sejauh mana tindakan progresif pemerintah dalam mengatasi kesenjangan pada lembaga hukum KPK dan Kejaksaan RI? d) Apakah transformasi judicial tranparancy (Transparasi hukum) yang di lakukan KPK akan berdampak positif pada Kejaksaan RI sebagai lembaga penentu peradilan? 1. Oleh karena itu penulis membatasi perspektif pembahasan menjadi tinjauan masalah yang terkait dengan pemberian kewenangan penyelidikan kepada KPK terhadap Independensinya Kejaksaan RI yang memiliki kewenangan yang sama seperi yang di amanatkan Undang-undang. maka penulis mencoba membuat suatu pembatasan masalah yang bertujuan agar masalah yang dibahas terarah pada satu tujuan pembahasan. Perumusan Masalah Berdasarkan tinjauan pada identifikasi masalah dan pembatasan masalah yang telah dipaparkan diatas maka penulis .

membuat rumusan masalah yaitu “ Bagaimana kinerja Kejaksaan RI dalam kiprahnya pada penegakan hukum jika kewenangan penyelidikan yang dimiliki lembaga KPK di batasi”. .

b) Memberikan penekanan bahwasanya sangatlah penting pembagianpembagaian tugas yang jelas dalam tiap-tiap lembaga Negara. d) Agar memberi kesadaran kepada masyarakat dan kejaksaan menjadi pelopor pemberantasan KKN dan mafia peradilan. . c) Agara dapat menumbuhkan kesadaran hukum kepada aparatur Negara pada khusunya. khususnya TIPIKOR (tindak pidana korupsi). d) Memahami Putusan-putusan serta kebijakan yang di ambil oleh lembaga penegak hukum demi terciptanya situasi hukum yang kondusif di tiap-tiap lembaga hukum. . b) Untuk mengetahui keterkaitan dari Lembaga penegak Hukum (KPK dan Kejaksaan) dalam penanganan tindak pidana korupsi. Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian Adapun penelitian ini dilakukan dengan berbagai tujuan antara lain : a) Untuk memahami sejauh mana kontribusi lembaga-lembaga hukum dalam penegakan hukum di Negara Indonesia. c) Untuk mengetahui fungsi dari lembaga hukum khususya dalam hal hak-hak atau wewenang tiap lembaga hukum dalam penyelesaian masalah pelanggaran hukum. 2.C. Kegunaan Penelitian Adapun kegunaan atau manfaat dari penulisan penelitian adalah sebagai berikut : a) Agar dapat memberikan gambaran kepada publik tentang lembaga penegak hukum di Indonesia dalam penyelesaian masalah hukum. agar tidak terjadi singgungan ataupun perselisihan yang dapat mengganggu kinerja dari lembaga yang bersangkutan. dan masyrakat pada umumnya.

Kerangka Teoritis Dan Hipotesis 1. Empat tokoh bersih ini jadi tanpa taji ketika hasil temuan atas kasus korupsi di Pertamina.D. Kemudian. sama sekali tidak digubris oleh pemerintah. Pertamina. Lemahnya posisi komite ini pun menjadi alasan utama. menanggulangi dan memberantas korupsi di Indonesia. Mr Wilopo. Tjokroaminoto. Komisi ini didirikan berdasarkan kepada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2002 mengenai Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi3 Pada masa awal Orde Baru. Kerangka Teoritis Pengertian KPK Komisi Pemberantasan Korupsi. CV Waringin. dan A. yang tidak mampu memberantas korupsi dalam hubungan dengan demokrasi yang terpusat ke istana. adalah komisi di Indonesia yang dibentuk pada tahun 2003 untuk mengatasi. Pidato itu seakan memberi harapan besar seiring dengan dibentuknya Tim Pemberantasan Korupsi (TPK). I. misalnya. sehingga Opstib pun hilang 3 Wikisource naskah sumber yang berkaitan dengan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 . Namun. atau disingkat menjadi KPK. seperti Prof Johannes.J. Soeharto terang-terangan mengkritik Orde Lama. dibentuklah Operasi Tertib (Opstib) dengan tugas antara lain juga memberantas korupsi. yang diketuai Jaksa Agung. ketika Laksamana Sudomo diangkat sebagai Pangkopkamtib. melalui pidato kenegaraan pada 16 Agustus 1967. Bulog. dan lain-lain. Kasimo. dengan tugas utama membersihkan Departemen Agama. PT Mantrust. Perselisihan pendapat mengenai metode pemberantasan korupsi yang bottom up atau top down di kalangan pemberantas korupsi itu sendiri cenderung semakin melemahkan pemberantasan korupsi. ternyata ketidakseriusan TPK mulai dipertanyakan dan berujung pada kebijakan Soeharto untuk menunjuk Komite Empat beranggotakan tokoh-tokoh tua yang dianggap bersih dan berwibawa. Telkom.

khususnya di bidang penuntutan. sehingga KPKPN sendiri hilang dan menguap. Sebagai badan yang berwenang dalam penegakan hukum dan keadilan.Marwan Effendy. Artinya.Yahdil Abdi Harahap. dengan dibentuknya Komisi Pemberantasan Korupsi. di tengah semangat menggebu-gebu untuk memberantas korupsi dari anggota tim ini.seiring dengan makin menguatnya kedudukan para koruptor di singgasana Orde Baru Di era reformasi. seperti Komisi Pengawas Kekayaan Pejabat Negara (KPKPN). dan Kejaksaan Negeri merupakan kekuasaan negara khususnya dibidang penuntutan. MH 5 Kejaksaan RI dalam Perspektif hukum. melalui suatu judicial review Mahkamah Agung. Habibie dengan mengeluarkan UU Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi.H. KPPU. membentuk Tim Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (TGPTPK) melalui Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2000. Abdurrahman Wahid. dan Nepotisme berikut pembentukan berbagai komisi atau badan baru. Kejaksaan dipimpin oleh Jaksa Agung yang dipilih oleh dan bertanggung jawab kepada Presiden.I. dimana semuanya merupakan satu kesatuan yang utuh yang tidak dapat dipisahkan. 16 Tahun 2004 yang menggantikan UU No. Nasib serupa tapi tak sama dialami oleh KPKPN. Namun. SH. TGPTPK akhirnya dibubarkan dengan logika membenturkannya ke UU Nomor 31 Tahun 1999. 5 Mengacu pada Undang-Undang No. KPK-lah lembaga pemberantasan korupsi terbaru yang masih eksis4. Kejaksaan Agung. atau Lembaga Ombudsman. adalah lembaga negara yang melaksanakan kekuasaan negara. . Kejaksaan Tinggi. Kejaksaan sebagai salah satu lembaga penegak hukum dituntut untuk 4 Wikisource Gempa KPK dan Benturan antarlembaga penegak hukum12 October 2009 . Presiden berikutnya.. usaha pemberantasan korupsi dimulai oleh B. Dr. PENGERTIAN KEJAKSAAN Kejaksaan R. Kolusi.S. 5 Tahun 1991 tentang Kejaksaan R.I. tugas KPKPN melebur masuk ke dalam KPK.J.

Kejaksaan RI sebagai lembaga negara yang melaksanakan kekuasaan negara di bidang penuntutan harus melaksanakan fungsi. dan . Lembaga Kejaksaan sebagai pengendali proses perkara (Dominus Litis). Sehingga. perlindungan kepentingan umum. Kolusi. dan wewenangnya secara merdeka. 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia juga mengisyaratkan bahwa lembaga Kejaksaan berada pada posisi sentral dengan peran strategis dalam pemantapan ketahanan bangsa. terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah dan pengaruh kekuasaan lainnya (Pasal 2 ayat 2 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004). yaitu dapat mewakili Pemerintah dalam Perkara Perdata dan Tata Usaha Negara sebagai Jaksa Pengacara Negara. dan wewenang lain berdasarkan Undang-Undang. Perlu ditambahkan. karena hanya institusi Kejaksaan yang dapat menentukan apakah suatu kasus dapat diajukan ke Pengadilan atau tidak berdasarkan alat bukti yang sah menurut Hukum Acara Pidana. Kejaksaan juga memiliki peran lain dalam Hukum Perdata dan Tata Usaha Negara.lebih berperan dalam menegakkan supremasi hukum. Jaksa sebagai pelaksana kewenangan tersebut diberi wewenang sebagai Penuntut Umum serta melaksanakan putusan pengadilan. serta pemberantasan Korupsi. dan Nepotisme (KKN). tugas. Karena Kejaksaan berada di poros dan menjadi filter antara proses penyidikan dan proses pemeriksaan di persidangan serta juga sebagai pelaksana penetapan dan keputusan pengadilan. Dalam menjalankan tugas dan wewenangnya. Pengertian kejaksaan Republik Indonesia Kejaksaan RI adalah sebuah lembaga pemerintah yang melaksanakan kekuasaan negara khususnya dibidang penuntutan. UU No. Kejaksaan juga merupakan satu-satunya instansi pelaksana putusan pidana (executive ambtenaar). Kejaksaan dipimpin oleh Jaksa Agung yang membawahi enam Jaksa Agung Muda serta 31 Kepala Kejaksaan Tinggi pada tiap provinsi. penegakan hak asasi manusia. Selain berperan dalam perkara pidana. Di dalam UU Kejaksaan yang baru ini.

Pengawasan tertinggi dalam hal urusan kepercayaan c. Kejaksaan di zaman sebelum penjajahan Diawali pada zaman kerajaan Hindu-Jawa khususnya pada zaman kerajaan Majapahit yang menunjukkan ada beberapa jabatan di negara tersebut yang dinamakan Dhyaksa (Hakim Pengadilan). dan DarmaDhyaksa mempunyai tiga arti : a.wikipedia.2/1945 sejak berdirinya Kejaksaan RI secara Yuridis-Formal adalah bertepatan dengan saat mulai berdirinya negara RI ialah tanggal 17 Agustus 1945.3/1942. Kejaksaan di zaman Republik Indonesia merdeka Berdasarkan pasal II Aturan Peralihan UUD 1945 yang di perjelas oleh Peraturan Pemerintah (PP) No. Adhyaksa (Hakim Tertinggi). Kejaksaan Tinggi dan Kejaksaan Negeri merupakan kekuasaan negara khususnya dibidang penuntutan. b. dimana semuanya merupakan satu kesatuan yang utuh yang tidak dapat dipisahkan. Ketua pengadilan 2.Kejaksaan Agung.org/wiki/kejaksaan RI. Kejaksaan dalam kurun waktu sebelum berdirinya negara Republik Indonesia 1.6 A. 6 http://id.49/1944. Kejaksaan di zaman penjajahan a) Kejaksaan di zaman VOC b) Zaman pemerintahan Daendels c) Zaman Rafless d) Zaman Hindia Belanda e) Zaman pemerintahan bala tentara pendudukan Jepang 2.2/1944 dan No.(UU Nomor 16 Tahun 2004) Istilah Kejaksaan secara resmi digunakan oleh UU pemerintah zaman pendudukan tentara Jepang No. . Kejaksaan dipimpin oleh Jaksa Agung yang dipilih oleh dan bertanggung jawab kepada Presiden. No.sebagai badan yang berwenang dalam penegakan hukum dan keadilan. Pengawas tertinggi dari kerajaan suci. 1/1942 yang kemudian diganti oleh Osamu Seirei No.

3. terakhir pada tanggal 22 Juli 1968 dari Jalan Imam Bonjol 66 Jakarta ke gedungnya yang permanen di Jalan Sultan Hasanuddin No.1 Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Sejak tahun 1946 hingga tahun 1968 kantor Kejaksaan Agung tercatat lebih dari 6 kali berpindah tempat. maka perihal penempatan Kejaksaan dalam lingkungan Departemen Kehakiman yang diputuskan dalam rapat PPKI pada tanggal 19 Agustus 1945 cukup memiliki dasar. Untuk memenuhi ketentuan pasal 159 KRIS mengenai pengaturan pengadilan di lingkungan ketentaraan dikeluarkan UU Darurat No.37/1948 sebagaimana telah diubah dan ditambah yang pernah berlaku di negara RI.3/1942. dari tanggal 29 Desember 1949 sampai 17 Agustus 1950. Istilah Kejaksaan secara resmi digunakan oleh UU pemerintah zaman pendudukan tentara Jepang No.49/1944. Pada gedung yang baru ini peletakan batu pertamanya pada tanggal 10 November 1961 dilakukan oleh Jaksa Agung ke VI adalah Mr. .6/1950 yang mulai berlaku tanggal 31 Maret 1950. Kejaksaan di zaman Republik Indonesia Serikat Di zaman Republik Indonesia Serikat. Kejaksaan di zaman Republik Indonesia kesatuan Setelah dibubarkannya RIS dan berdirinya negara kesatuan tidak segera terjadi perubahan dalam peraturan-peraturan dan perundangundangan yang berlaku bagi penegakan hukum dan disiplin dalam lingkungan ketentaraan di zaman RIS.5/1950 tidak banyak berbeda dengan PP No. No.Dengan demikian.7 4. Goenawan yang diresmikan pada tanggal 22 Juli 1968 oleh Jaksa Agung ke IX adalah Soegih Arto. 1/1942 yang kemudian diganti oleh Osamu Seirei No.2/1944 dan No. Dilihat sepintas nampak bahwa UU No.info/wp-content/uploads/2009/10/KPK--POLRI--KEJAKSAAN. Dengan demikian maka 7 http://ardhie.

sebab bukan hanya secara formal dan material saja Kejaksaan menjadi departemen tersendiri.kedudukan jaksa serta peranannya dalam badan-badan peradilan ketentaraan tidak berubah pula. 1977 dan 1982 serta MPR pada tahun 1973. terutama setelah kelahiran orde baru pada tanggal 11 Maret 1966 dan khususnya setelah Sidang Umum IV MPRS. 5. Hipotesis .204/1960 yang berlaku sejak 22 Juli 1960. yang kemudian disusul dengan tersusunnya DPR pada tahun 1972. 1978 dan 1983. 2. Melalui kernagka yang telah dipaparkan diatas merupakan perspektif dari lembaga penegak hukum yang ada di Indonesia khususnya KPK dan Kejaksaan RI. Kejaksaan di zaman setelah dekrit Pada tanggal 22 Juli 1960.1/1958. Perubahan-perubahan baru terjadi pada tahun 1954 dan 1958 dalam UU Hukum Acara Pidana pada pengadilan ketentaraan dengan UU No. Kejaksaan di zaman orde baru Situasi dan kondisi nasional pada umumnya dan bidang penegakkan hukum pada khususnya telah banyak mengalami perubahan setelah diundangkannya UU Pokok Kejaksaan tanggal 30 Juni 1961. kabinet dalam rapatnya memutuskan bahwa kejaksaan menjadi departemen dan keputusan tersebut dituangkan dalam surat Keputusan Presiden RI tertanggal 1 Agustus 1960 No.29/1954 tentang pertahanan negara RI dan UU Darurat No. tetapi lebih jauh dari pada itu mempunyai dasar yang bernilai spiritual. Dengan demikian tanggal 22 Juli ini merupakan pancangan tonggak sejarah yang mempunyai nilai penting bagi Kejaksaan. 6.

a. Terdapat indikator dalam hipotesis yaitu : @ Jika Pemberian kewenangan penyelidikan pada KPK sebagaimana yang di amantkan undang-undang tidak mengalmi amandemen (perubahan). maka Kinerja Kejaksaa RI dapat berjalan dengan baik tanpa intervensi dari lembaga lain.Jika Pembentukan KPK (komisi pemberantasan korupsi) di batasi pada kewenangan yang terarah dan terfokus. Maka kinerja kejaksaan RI akan tertanggu. Maka akan mengganggu indpendensinya suatu lembaga hukum. b. Maka akan terjadi banyak penyimpangan dalam lembaga hukum. khususnya lembaga kejaksaan RI. @ Maka Undang-undang tentang kewenangan penyelidikan lembaga hukum perlu di kaji sebagaimana mestinya. Jika batasan-batasan jangkaun kerja lembaga tidak terfokus dengan baik. c. . b. a. Jika kewenangan tidak berjalan pada “rel” yang sebenarnya atau menyimpang dari penggunaannya.

@ Joyuz Net. brosur. megklarifikasi. serta mengklarifikasi data-data atau fenomena-feomena yang didasarkan atas hasil pengamatan dari berbagai kejadian serta problematika dari bahasan yang akan di jadikan penelitian. Koran (surat kabar) .bandung. * Lama Penelitian . Metode Penelitian Dan Teknik Pengumpulan Data 1. Dalam hal ini data-data yang diperoleh merupakan data -yang berkaitan dengan Komisi Pemberantasan korupsi dan sudut Perspektifnya yaitu Kejaksaan RI. 2. yaitu merupakan suatu metode yang pada dasarnya menggambarkan.E. Lokasi dan Lama Penelitian * Lokasi Penelitian Karena dalam penelitian ini menggunakan metode deskriftif dan studi kepustakaan maka lokasi pengumpulan dat adalh sebagai berikut : @ Gramedia . Teknik Pengumpulan Data Dalam pengumpulan data penulis menggunakan Studi Kepustakaan yaitu pengumpulan data-data yang relevan melalui buku. @ Reconnect Internet shop. F.internet dan media elektronik lainnya.artikel-artikel.majalah. @ Perpustakaan Universitas pasundan. Metode Penelitian Dalam melakukan penelitian ini penulis menggunakan metode Deskriptif.

Sumber Pengumpulan Data Media Cetak Media Elektronik Kompas. Kompas pikiran rakyat Kompas pikiran rakyat Televisi. Internet Internet Televisi Lama PengumpulanData Skala Ket waktu 2X seminggu 3 – 4 hari dalam seminggu Setiap Hari 1-3 jam 1-2 jam 1-2 jam November Desember Januari Tahap Penyelesain ******************************************* .pikira Televisi. n rakyat.

com Wikisource Gempa KPK dan Benturan antarlembaga penegak hukum12 October 2009 .wikipedia.H.G. Selasa. MH http://www.. Kejaksaan RI (posisi dan fungsi perspektif hukum)Dr.Yahdil Abdi Harahap.Gramedia Pustaka Utama 2005. Daftar Pustaka YOHANES USFUNAN Guru Besar Hukum Tata Negara Universitas Udayana Denpasar Harian Kompas.undang-undang republic Indonesia.. http://ardhie.Marwan Effendy.S.com Http://www.Kejaksaan Ri.pikiran –rakyat.info/wp-content/uploads/2009/10/KPK--POLRI--KEJAKSAAN. Indonesia. 30/11/09) Oleh Nazaruddin Sjamsuddin∗ http://www. http://:www.kompas.org/wiki/kejaksaan RI. 15 Juli 2008 Wikisource naskah sumber yang berkaitan dengan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 Untuk Saldi Isra (Kompas.pemantau –peradilan. SH.detik.Jakarta.com http://id.com .No 16 tahun 2004 .

Teknik Pengumpulan Data Lokasi dan Lama Penelitian 1. Perencanaan Sistematika Penulisan BAB I : Pendahuluan a) Latar Belakang b) Idnetifikasi Masalah 1.Lama Penelitian BAB II BAB III BAB IV : Operasional Variabel Bebas @ Tinjauan Tentang Variabel Bebas : Operasional Variabel Terikat @ Tinjauan Variabel Terikat : Analisis @ Mencerminkan Hubungan Antara Dua Variabel Yang Ada Dalam Penelitian @ Menjawab Indetifikasi masalah BAB V : Kesimpulan @ Hasil Pembahasan . Metode Peneltian 2. Kerangka Teoritis 2. Lokasi 2.H. Pembatasan Masalah 2. Perumusan Masalah c) Tujuan dan Kegunaan Penelitian 1. Tujuan Penelitian 2 Kegunaan Penelitian d) Kerangka Teoritis dan Hipotesis 1. Hipotesis e) Metode Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data 1.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->