ASUHAN KEPERAWATAN POST PARTUM, SEKSIO SESAREA, DAN PREEKLAMSIA

A. Konsep Dasar Teori 1. Periode Pasca Partum a. Pengertian Periode pasca partum ialah masa enam minggu sejak bayi lahir sampai organ-organ reproduksi kembali ke keadaan normal sebelum hamil. Periode ini kadang-kadang disebut puerperium atau trimester keempat kehamilan (Bobak, 2004). b. Perubahan fisiologis Periode Pasca Partum 1) Tanda vital a) Tekanan Darah Tekanan darah sedikit berubahan atau menetap. Hipotensi ortostatik, yang diindikasikan oleh rasa pusing dan seakan ingin pingsan segera setelah berdiri, dapat timbul dalam 48 jam pertama. Hal ini merupakan akibat pembengkakan limpa yang terjadi setelah wanita melahirkan. b) Nadi Denyut nadi dan volume sekuncup serta curah jantung tetap tinggi selama jam pertama setelah bayi lahir. Kemudian mulai menurun dengan frekuensi yang tidak diketahui. Pada minggu ke-8 sampai ke-10 setelah melahirkan, denyut nadi kembali ke frekuensi sebelum hamil. c) Pernapasan Pernapasan harus berada dalam rentang normal sebelum melahirkan. d) Temperatur Selama 24 jam pertama dapat meningkat sampai 38 derajat celcius sebagai akibat efek dehidrasi persalinan. Setelah 24 jam wanita harus tidak demam 2) Sistem kardiovaskuler Perubahan volume darah tergantung pada beberapa faktor, misalnya kehilangan darah selama melahirkan dam mobilisasi serta pengeluaran cairan ekstravaskuler (edema fisiologis). Kehilangan darah merupakan akibat penurunan volume darah total yang cepat, tetapi terbatas. Setelah itu terjadi perpindahan normal cairan tubuh yang menyebabkan volume darah biasanya menurun sampai mencapai volume sebelum hamil. Hipervolemia yang diakibatkan kehamilan (peningkatan sekurang-kurangnya 40% lebih dari volume tidak hamil) menyebabkan kebanyakan ibu bisa menoleransi kehilangan darah saat melahirkan. Banyak ibu kehilangan 300-400 ml darah sewaktu melahirkan bayi tunggal pervaginam atau sekitar dua kali lipat jumlah ini pada saat operasi sesarea. Denyut jantung, volume sekuncup, dan curah jantung meningkat sepanjang masa hamil. Segera setelah melahirkan, keadaan ini akan meningkat bahkan lebih tinggi selama 30 sampai 60 menit. Selama 72 jam pertama setelah bayi lahir volume plasma yang hilang lebih besar daripada sel darah yang hilang. Penurunan volume plasma dan peningkatan sel darah merah dikaitkan dengan peningkatan hematokrit pada hari ketiga sampai hari ketujuh pascapartum. Semua kelebihan sel darah merah akan menurun secara bertahap sesuai dengan usia sel darah merah tersebut. Leukosit normal pada kehamilan rata-rata sekitar 12.000/mm3. Selama 10-12 hari pertama setelah bayi lahir, nilai leukosit antara 20.000-25.000/mm3 merupakan hal yang umum.

Pada wanita yang tidak menyusui kadar estrogen mulai meningkat pada minggu kedua setelah melahirkan dan lebih tinggi daripada wanita yang menyusui pada pasca partum hari ke 17. Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu satu bulan setelah wanita melahirkan. atau hemoroid. pigmentasi pada daerah tersebut akan menetap. kaki wanita tidak mengalami perubahan . ibu mulai membuang kelebihan cairan yang tertimbun dijaringan selama hamil. tonus kandung kemih biasanya akan pulih kembali dalam lima sampai tujuh hari setelah bayi lahir. Ibu sering kali sudah menduga nyeri saat defekasi karena nyeri yang dirasakannya diperinium akibat apisiotomi. Akan tetapi. Dalam 12 jam setelah melahirkan. terjadi perubahan hormon yang besar. Penurunan kadar estrogen berkaitan dengan pembengkakan payudara dan diuresis cairan ekstraseluler berlebih yang terakumulasi selama masa hamil. Keadaan hiperkoagulasi yang bisa diiringi kerusakan pembuluh darah dan imobilitas. peningkatan kapasitas kandung kemih setelah bayi lahir. Sistem urinaria Perubahan hormonal pada masa hamil (kadar steroid yang tinggi) turu menyebabkan peningkatan fungsi ginjal.organ tersebut. walaupun semua sendi kembali ke keadaan normal sebelum hamil. Diaforesis ialah perubahan yang paling jelas terlihat pada sistem integumen. Dengan mengosongkan kandung kemih secara adekuat. Sistem endokrin Selama periode pasca partum. laserasi. abdomen. Kehilangan cairan melalui keringat dan peningkatan jumlah urine menyebabkan penurunan berat badan 2. tetapi rambut kasar yang timbul sewaktu hamil biasanya menetap.3) 4) 5) 6) 7) Faktor-faktor pembekuan darah dan fibrinogen biasanya meningkat selama masa hamil dan tetap meningkat pada awal puerperium. atau dehidrasi. paha. Kombinasi taruma akibat kelahiran. Kadar estrogen dan progesteron menurun secara mencolok setelah plasenta keluar. Sistem integumen Kloasma yang muncul pada masa hamil biasanya menghilang saat kehamilan berakhir. Kulit yang meregang pada payudara.5 kg selama pascapartum. dan efek konduksi anastesi menyebabkan keinginan untuk berkemih menurun. tetapi tidak hilang seluruhnya. Pada beberapa wanita. Rambut halus yang tumbuh dengan lebat pada waktu hamil biasanya akan menghilang setelah wanita melahirkan. Pengeluaran placenta menyebabkan penurunan signifikan hormon-hormon yang diproduksi oleh organ. kurang makan. Apabila terjadi distensi berlebih pada kandung kemih dapat mengalami kerusakan lebih lanjut (atoni). Keadaan ini bisa disebabkan karena tonus otot usus menurun selama persalinan dan pada awal pasca partum. Adaptasi ini mencakup hal-hal yang mambantu relaksasi dan hipermobilitas sendi dan perubahan pusat berat ibu akibat pembesaran rahim. dan panggul mungkin memudar. mengakibatkan peningkatan risiko tromboembolisme. yakni sewaktu bayi melewati jalan lahir. Sistem defekasi Buang air besar secara spontan bisa tertunda selama dua sampai tiga hari setelah ibu melahirkan. Kebiasaan buang air yang teratur perlu dicapai kembali setelah tonus usus kembali ke normal. Sistem muskuloskletal Adaptasi sistem muskuluskletal ibu yang terjadi selama masa hamil berlangsung secara terbalik pada masa pascapartum. Hiperpigmentasi di areola dan linea nigra tidak menghilang seluruhnya setelah bayi lahir.Trauma bisa terjadi pada uretra dan kandung kemih selama proses melahirkan. Stabilisasi sendi lengkap pada minggu ke-6 sampai ke-8 setelah wanita melahirkan. diare sebelum persalinan. kadar terendahnya dicapai kira-kira satu minggu pasca partum. enema sebelum melahirkan.

Uterus. aliran lokhea yang keluar harus semakin berkurang. Hemostatis pascapartum dicapai akibat kompresi pembuluh darah intramiometrium. uterus berada di garis tengah. dan kebocoran cairan serebrospinalis ke dalam ruang tulang punggung untuk anestesi. Lokhea Rabas uterus yang keluar setelah bayi lahir sering kali disebut Lokhea. Karena penting sekali untuk mempertahankan kontraksi uterus selama masa ini. tinggi fundus mencapai kurang lebih 1 cm diatas umbilikus. Wanita yang baru menjadi ibu akan memerlukan sepatu yang ukurannya lebih besar. stres. Lokhea rubra terutama mengandung darah dan debris desidua serta debris trofoblastik. Setelah waktu tersebut. Pada minggu keenam. beratnya menjadi 50 sampai 60 g. Seminggu setelah melahirkan uterus berada di dalam panggul sejati lagi. Pada primipara. . mula-mula berwarna merah. Dalam waktu 12 jam. Hormon oksigen yang dilepas dari kelenjar hipofisis memperkuat dan mengatur kontraksi uterus. Kontraksi uterus Intensitas kontraksi uterus meningkat secara bermakna setelah bayi lahir. kecuali pada bekas tempat plasenta. dan membantu hemostasis. Lama nyeri kepala bervariasi dari 1-3 hari sampai beberapa minggu. Regenerasi endometrium selesai pada akhir minggu ketiga pascapartum. kemudian berubah menjadi merah tua atau merah coklat. Dalam beberapa hari kemudian. Pada saat ini besar uterus kira-kira sama dengan besar uterus sewaktu usia kehamilan 16 minggu kira-kira sebesar grapefruit (jeruk asam) dan beratnya kira-kira 1000 g. berinvolusi menjadi kira-kira 500 g 1 minggu setelah melahirkan dan 350 g (11 sampai 12 ons) 2 minggu setelah lahir. perubahan involusi berlangsung dengan cepat. Aliran menyembur. bukan oleh agregasi trombosit dan pemnentukan pembekuan. Selama 1-2 jam pertama pascapartum intensitas kontraksi bisa berkurang dan menjadi tidak teratur. termasuk hipertensi akibat kehamilan. Nyeri kepala pascapartum bisa disebabkan berbagai keadaan. menjadi merah muda atau coklat setelah 3 sampai 4 hari (Lokhea serosa). kira-kira 2 cm dibawah umbilikus dengan bagian fundus bersandar pada promontorium sakralis. biasanya suntikan oksitoksin secara intravena atau intramuskular diberikan segera setelah plasenta lahir. tonus uterus meningkat sahingga fundus pada umumnya tetap kencang. yang pada waktu hamil penuh beratnya 11 kali berat sebelum hamil. Fundus turun kira-kira 1 sampa 2 cm setiap 24 jam. diduga terjadi sebagai respon terhadap penurunan volume intrauterin yang sangat besar. Alat Reproduksi Involusi uterus Pada akhir tahap ketiga persalinan.8) 9) a) b) c) setelah melahirkan. mengompresi pembuluh darah. Regenerasi pada tempat ini biasanya tidak selesai sampai enam minggu setelah melahirkan. Sistem neurologi Perubahan neurologis selama puerperium merupakan kebalikan adaptasi neurologis yang terjadi saat wanita hamil dan disebabkan trauma yanng dialami wanita saat bersalin dan melahirkan. jumlah cairan yang keluar dari uterus tidak boleh lebih dari jumlah maksimal yang keluar selama menstruasi. Uterus tidak dapat dipalpasi pada abdomen di hari ke-9 pascapartum. tergantung pada penyebab dan efektivitas pengobatan. Selama 2 jam pertama setelah lahir. Rabas ini dapat mengandung bekuan darah kecil. Relaksasi dan kontraksi yang periodik sering dialami multipara dan bisa menimbulkan nyeri yang bertahan sepanjang awal peurperium.

Sekresi dan ekskresi kolostrum menetap selama beberapa hari pertama setelah wanita melahirkan. teraba suatu massa (benjolan). Pada hari ketiga dan keempat pascapartum bisa terjadi pembengkakan (engorgement). terutama jika disertai demam. yakni kolostrum. Apabila wanita mendapatkan pengobatan oksitoksin. Sebelum laktasi dimulai.Lokhea serosa terdiri darah lama (old blood). mukus. Namun. Rasa nyeri akan menetap sekitar 48 jam. dikeluarkan dari payudara. sebagai kebalikan dari inversi. sel epitel. tetapi hal ini tidak sama dengan perdarahan. jika klien melakukan ambulasi dan menyusui. desidua. walaupun tidak akan semenonjol wanita nulipara. Lokhea rubra yang menetap pada awal periode pascapartum menunjukkan perdarahan berlanjut sebagai akibat fragmen plasenta atau membran yang tertinggal. tetapi kantong susu yang terisi berubah possisi dari hari ke hari. 10) Payudara/Laktasi Konsentrasi hormon yang menstimulasi perkembangan payudara selama wanita hamil (estrogen. perdarahan mungkin disebabkan oleh infeksi. Lokhea serosa atau Lokhea alba yang berlanjut bisa menandakan endometritis. setelah 3-4 minggu. serviks memendek dan konsistensinya menjadi lebih padat dan kembali kebentuk semula. rasa sakit. enam sampai delapan minggu setelah bayi lahir. d) Serviks Serviks menjadi lunak segera setelah ibu melahirkan. bau yanng tidak sedap biasanya menandakan infeksi. e) Vagina Estrogen pascapartum yang menurun berperan dalam penipisan mukosa vagina dan hilangnya rugae. serum. dan bakteri. dan insulin) menurun dengan cepat setelah bayi lahir. payudara teraba lunak dan suatu cairan kekuningan. progesteron. Setelah berbaring ditempat tidur selama kurun waktu yang lama. prolaktin. bau Lokhea menyerupai bau cairan menstruasi. Apabila wanita memilih untuk tidak mennyusui kadar prolaktin akan turun dengan cepat. Rugae akan kembali terlihat pada sekitar minggu keempat. Human Chrionic gonadotropin. Cairan lokhea biasanya meningkat. Kekurangan estrogen menyebabkan penurunan jumlah pelumas vagina dan penipisan vagina. atau nyeri tekan pada abdomen yang dihubungkan dengan pengeluaran cairan. Puting susu harus diperiksa untuk dikai erektilitasnya. Sekitar 10 hari setelah bayi lahir. Lokhea alba bisa bertahan selama dua sampai enam minggu setelah bayi lahir. payudara terba hangat dan keras ketika disentuh. 18 jam pascapartum. jumlah lokhea yang keluar lebih sedikit. Waktu yang dibutuhkan hormon-hormon ini kembali ke kadar sebelum hamil sebagian di tentukan oleh apakah ibu menyusui atau tidak. Lokhea alba mengandung leukosit. 11) Abdomen . leukosit. Stelah laktasi dimulai. Vagina yang semula sangant teregang akan kembali seperti sebelum hamil. menutup secara bertahap. Lokhea yang mengalir biasanya sedikit sampai efek obat hilang. wanita dapat mengeluarkan semburan darah saat ia berdiri. Kekeringan lokal dan rasa tidak nyaman saat koitus (dispareunia) menetap sampai fungsi ovarium kembali normal dan menstruasi dimulai lagi. Ketika laktasi terbentuk. Pembengkakan dapat hilang dengan sendirinya dan rasa tidak nyaman biasanya berkurang dalam 24-36 jam. tanpa memandang cara pemberiannya. Setelah operasi sesarea. Penebalan mukosa vagina terjadi seiring pemulihan fungsi ovarium. dan untuk menemukan apakah ada fisura atau keretakan. dan debris jaringan. serum. warna cairan ini menjadi kuning sampai putih (Lokhea alba). Muara serviks. yang berdilatasi 10 cm sewaktu melahirkan. Terjadinya perdarahan ulang setelah hari ke-10 pascapartum menandakan adanya perdarahan pada bekas tempat plasenta yanng mulai memulih.

Menceritakan pengalaman kehamilan dan melahirkan. abdomennya akan menonjol dan membuat wanita tersebut tampak seperti masih hamil. ibu yang tidak punya keluarga. Fokus hanya pada diri sendiri. tetapi sejumlah kecil strie menetap. Ibu dan keluarga berinteraksi sebagai suatu sistem. Kelelahan. Verbalisasi : butuh ³tidur´ dan ³makan´ Melepas tanggung jawab. 2005). Fase penyesuaian maternal Menurut Ihsan (2010) yang mengutip dari Bobak (2004) penyesuaian ibu (Maternal Adjusment) ada 3 fase : Fase Dependent (Taking in) Terjadi pada hari ke 1 s/d 2 post partum. after pain Fase Dependen ± Independen (Taking hold) Ibu mulai muncul keinginan untuk tidak tergantung. Post Partum Blues and Depresi : Perubahan emosi tiba-tiba pada hari ke 10. Konflik peran. mulai tidak ketergantungan. mulai antusias melakukan perawatan bayi. gangguan makan dan tidur. mempercayakan kepada orang lain untuk memenuhi rasa nyaman/istirahat (immediate post partum). Seksio sesarea a. Seksio sesarea adalah pembedahan untuk melahirkan janin dengan membuka dinding perut dan dinding rahim (Mansjoer dkk. 2000). Terjadi setelah hari ke 2 ± 3. Penerimaan adanya bayi sebagai bagian dari dirinya. 1) a) b) c) d) e) f) g) 2) a) b) c) d) e) f) 3) a) b) c) d) e) 4) a) b) c) d) e) f) Apabila wanita berdiri dihari pertama setelah melahirkan. Ibu yang memerlukan dorongan : Primipara. Fluktuasi hormonal. 2. Menangis irritable. Kegembiraan berlebihan. Kulit kembali memeproleh elastisitasnya. . independensi dalam perawatan diri dan bayi. hemoroid. Rasa tidak nyaman : episiotomi.c. sering terjadi pada primipara. Fase Independen (Letting go) Peningkatan kemampuan. dalam menentukan karir/merawat bayi. Mulai terbuka untuk belajar tentang perawatan dirinya dan bayi. Rasa tidak puas. Sering terjadi stress. Diperlukan sekitar enam minggu untuk dinding abdomen kembali ke keadaan sebelum hamil. dimana janin dilahirkan melalui suatu insisi pada dinding rahim dengan syarat rahim dalam keadaan utuh serta janin di atas 500 gram (Wiknjosastro. Dalam perawatan diri. Pengertian Seksio sesarea adalah suatu persalinan buatan. ketergantungan sangat dominan pada ibu (pasif). Terjadi setelah hari ke 3. wanita karir. Dalam dua minggu setelah melahirkan. penampilan post partum. Fokus meluas ke bayinya. dinding abdomen wanita itu akan rileks.

Kerugiannya adalah : a) Kesembuhan luka operasi relatif sulit b) Kemungkinan terjadinya ruptura uteri pada kehamilan berikutnya lebih besar c) Kemungkinan terjadinya perlekatan dengan dinding abdomen lebih besar.b. 2) Seksio Sesarea Transperitoneal Profunda menurut Kehrer Menurt Keher seksio sesarea dapat dilakukan atas dasar : Indikasi yang berasal dari ibu ( etiologi ) Pada primigravida dengan kelainan letak Primi para tua disertai kelaiana letak. ruptur uteri Kehamilan disertai penyakit. seperti penyakit jantung dan diabetes mellitus Atas permintaan Indikasi yang berasal dari Janin Gawat janin Malpresentasi dan malposisi kedudukan janin Prolapsus tali pusat dengan pembukaan kecil Kegagalan persalinan vakum atau forsep ekstraksi Keunggulan insisi segmen bawah rahim menurut Kehrer ialah : Segmen bawah rahim lebih tenang Kesembuhan lebih baik Tidak banyak menimbulkan perlekatan Kerugiannya insisi segmen bawah rahim menurut Kehrer adalah : Terdapat kesulitan pada waktu mengeluarkan janin Terdapat perluasan luka insisi dan menimbulkan perdarahan Seksio Sesarea-histerektomi menurut Porro a) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) b) (1) (2) (3) (4) a) b) c) a) b) 3) . Keuntungan operasi seksio sesarea menurut Sanger adalah mudah dilakukan karena lapangan operasi relatif luas. Jenis seksio sesarea Menurut Manuaba (1999) jenis seksio sesarea adalah : 1) Seksio Sesarea Klasik (insisi pada korpus uteri) Seksio sesarea klasik menurut Sanger lebih mudah dimulai dari insisi segmen bawah rahim. mioma uteri. disproporsi sefalo pelvik (disproporsi janin/panggul) Sejarah kehamilan dan persalinan yang buruk Terdapat kesempitan panggul Plasenta previa terutama pada primigravida Solusio plasenta Komplikasi kehamilan yaitu preeklampsi ±eklampsia Setelah operasi plstik vaginal Gangguan perjalanan persalinan karena kista. karsinoma serviks. e) Grande multipara yang diikuti dengan histerektomi. dengan indikasi : a) Seksio sesarea yang diikuti dengan sterilisasi b) Terdapat pembuluh darah besar sehingga diperkirakan akan terjadi robekan segmen bawah rahim dan perdarahan c) Pada janin besar letak lintang d) Kepala bayi telah masuk pintu atas pinggul.

d. yang sesuai dengan indikasi medis. herpes genital. fundus uterus. misalnya : hipertensi. Perawatan pascapartum Perawatan wanita setelah melahirkan secara sesarea merupakan kombinasi antara asuhan keperawatan bedah dan maternitas. perawatan payudara. syok. dan derajat nyeri. dimana normalnya terletak di dinding rahim.Operasi seksio sesarea / histerektomi menurut Porro dilakukan secara histerektomi supravaginali untuk menyelamatkan jiwa ibu dan janin dengan indikasi : a) Seksio sesarea disertai infeksi berat b) Seksio sesarea dengan antonia uteri dan perdarahan c) Seksio disertai uterus solusio plasenta d) Seksio yang disertai tumor pada otot rahim. 2005). ibu akan dipindahkan ke area pemulihan. Setelah pembedahan selesai. misalnya : tumor pada jalan lahir. 5) Gawat janin. Pengkajian keperawatan segera setelah melahirkan meliputi pemulihan dari efek anastesi. Membantu mengubah posisi dan melakukan nafas dalam serta obat-obatan mengatasi nyeri dapat diberikan. dimana karena hal-hal tertentu terjadi penurunan kondisi umum bayi hingga ke keadaan darurat janin. Indikasi Seksio Sesarea Menurut Suci (2007) indikasi untuk dilakukan seksio sesarea adalah : 1) Panggul sempit absolut 2) Adanya hambatan dalam jalan lahir. dimana ukuran panggul ibu lebih kecil dibanding kepala bayi. dan Lokhea. dan jumlah lokhea dikaji. insisi. c. atau HIV-AIDS. dan perawatan higienis rutin. demikian pula masukan dan haluaran. kista ovarium 3) Plasenta previa yaitu ari-ari yang menutupi jalan lahir. anemia berat sebelum diatasi. 2004). mioma serviks. 4) Disporposi sefalo pelvik (cephalo pelvik disporpotion / CPD) yaitu ketidaksesuaian antara ukuran panggul ibu dengan kepala bayi. Bunyi nafas. bising usus. 8) Letak bayi melintang atau sungsang. 9) Proses persalinan normal berlangsung lama sehingga terjadi kelelahan persalinan atau terjadi kegagalan persalinan normal (dystosia). dan eliminasi urine serta defekasi juga dikaji (Bobak. Tanda-tanda vital diukur selama 15 menit selama 1 sampai 2 jam atau sampai wanita itu stabil. fundus. 5) Seksio Sesarea Vaginal. e. kelainan kongenital berat (Wiknjosastro. . Kontra Indikasi Seksio Sesarea Pada umumnya Seksio sesarea tidak dilakukan pada janin mati. 6) Ruptur uteri 7) Ibu hamil dengan penyakit tertentu. tanda homans. 4) Seksio Sesarea Ekstraperitoneal Operasi tipe ini tidak dikerjakan lagi karena perkembangan antibiotik dan untuk menghindarkan kemungkinan infeksi yang dapat ditimbulkannya. Tujuan dari seksio sesarea ekstrakperitoneal adalah menghindari kontaminasi kavum uteri oleh infeksi yang terdapat diluar uterus. status pasca operasi dan pasca-melahirkan. Perawatan sehari-hari meliputi perawatan perineum. 10) Punya riwayat sectio caesar sebelumnya. Kondisi balutan insisi. Perawat mengkaji tanda-tanda vital. Kepatenan jalan nafas dipertahankan dan posisi diatur untuk mencegah kemungkinan aspirasi.

Perubahan ini membuat organ maternal menurun. dan penurunan tekanan osmotik koloid. Tanda dan Gejala Menurut Mitayani (2009) Preeklamsi dapat di klasifikasikan menjadi 2 macam : . Predisposisi genetik dapat merupakan faktor imunologi lain. janin besar. morbid obesitas (Bobak. infeksi saluran kemih. Preeklampsia adalah suatu penyakit vasospastik. medikasi dan tanda-tanda komplikasi. hipertensi. Akan tetapi ada beberapa faktor resiko yang berkaitan dengan perkembangan penyakit : primigravida. dan proteinuria (Bobak. Teori ini didukung oleh peningkatan insiden pre eklamsi pada ibu baru dan ibu hamil dari pasangan baru (materi genetik yang berbeda). perawatan payudara. Preeklamsi Pengertian Pre eklamsi adalah timbulanya hipertensi disertai proteinuria dan edema akibat kehamilan setelah usia 20 minggu atau segera setelah persalinan (Mansjoer dkk. pembatasan aktifitas. 2004). latihan fisik. plasenta. grand multigravida. atau janin bisa membangkitkan respon imunologis lanjut. 2004). 2000). Pada pre eklamsi volume plasma yang beredar menurun sehingga terjadi hemokonsentrasi dan peningkatan hematokrit maternal. Vasospasme merupakan akibat peningkatan sensifitas terhadap tekanan peredaran darah. dan kontrasepsi.f. Serta perawatan bayi. termasuk perfusi ke unit janin-uteroplasenta. Dapat terjadi aspirasi. aktivitas seksual. Rencana pulang terdiri dari informasi tentang diet. seperti angiotensin II dan kemungkinan suatu ketidakseimbagan antara prostasiklin prostaglandin dan tromboksan A2. Selain kerusakan endotelial vasospasme arterial menyebabkan peningkatan permeabilitas kapiler. infeksi luka. yang melibatkan banyak system yang ditandai oleh hemokonsentrasi. Resiko janin lahir prematur jika usia gestasi tidak dikaji dengan akurat dan resiko cidera janin dapat terjadi selama pembedahan. Frekuensi pre eklamsi dan eklamsi pada anak dan cucu wanita yang memiliki riwayat eklamsi. Keadaan ini meningkatkan edema dan lebih lanjut menurunkan volume intravaskular. emboli pulmoner. Keberadaan protein asing. vasodilatasi penurunan resistensi vaskular sistemik (systemic vascular resistance[SVRI]). Hubungan sistem imun dengan pre eklamsi menunjukkan bahwa faktor-faktor imunologi memainkan peran penting dalam pre eklamsi. Komplikasi Seksio Sesarea Kelahiran sesarea bukan tanpa komplikasi baik bagi ibu maupun janinnya. sehingga kapasitas oksigen maternal menurun. cedera pada kandung kemih atau usus. c. peningkatan curah jantung. d. Etiologi Tidak ada profil tertentu yang mengidentifikasi wanita yang akan menderita preeklampsia. kehamilan dengan janin lebih dari satu. mempredisposisi pasien yang mengalami pre eklamsi mudah mengalami edema paru. yang menunjukkan suatu gen resesif autoso yang mengatur respon imun maternal. Vasospasme siklik lebih lanjut menurunkan perfusi organ dengan menghancurkan sel-sel darah merah. Adaptasi fisiologis normal pada kehamilan meliputi peningkatan volume plasma darah. perdarahan. b. a. Patofisiologi Patofisiologi pre eklamsi-eklamsi setidaknya berkaitan dengan perubahan fisiologis kehamilan. Pre eklamsi merupakan suatu kondisi spesifik kehamilan dimana hipertensi terjadi setelah minggu ke-20 pada wanita yang sebelumnya memiliki tekanan darah normal. 3. tromboflebitis.

6. dan kemungkinan pertumbuhan janin lambat. Bila sukar tidur dapat di berikan fenobarbital 1-2 x 30 mg atau asesotal 1 x 80 mg. pidodol 1-3 x 5 mg. suhu. 3.1) a) b) 2) a) b) c) d) e) f) g) e. perasaan panas. elevated liver enzymes. Pada pasien rawat jalan. 8. Rawat pasien bila tidak ada perbaikan dalam 2 minggu pengobatan rawat jalan. 7. selama dua kali berturut-turut atau tampak tanda-tanda preeclampsia berat . Tekanan darah dapat dipertahankan 140-150/90-100 mmHg. low platelet count) Ablasio retina KID (koagulasi intravaskuler diseminata) Gagal ginjal Perdarahan di otak Edema paru Gagal jantung Syok sampai kematian . Sebelum memberikan MgSO4 perhatikan reflek patella. tak perlu diberikan diit rendah garam. nadi. Segera rawat pasien di rumah sakit. dalam infuse Dextrosa 5% dengan kecepatan 15-20 tetes per menit. Selama pemberian parhatikan tekanan darah. 4. Periksa tekanan darah.dkk (2000) penatalaksanaan medis pre eklamsi dibagi menjadi : Pre eklampsia ringan Secara klinis. adalat retard 2-3 x 20 mg. Berikan MgSO . pernapasan 16 kali/menit. Ini diberikan sampai 24 jam pasca persalinan atau dihentikan 6 jam pasca persalinan ada perbaikan nyata ataupun tampak tanda-tanda intoksikasi.0000 / mm3 Microangiopathic hemolysis ( increase LDH ) Nyeri kepala atau gangguan visual persisten Nyeri epigastrium Penatalaksanaan Medis Menurut Mansjoer. 5. pastikan usia kehamilan. nifedipine 3-8 x 5-10 mg. BB meningkat berlebihan > 1 kg/minggu. Komplikasi Menurut Irga (2009) yang termasuk komplikasi antar lain : Atonia uteri Sindrom HELLP (hemolysis. Preeklamsi Ringan dengan tanda gejala TD • 140/90 mmHg pada kehamilan > 20 minggu Proteinuria • 300 mg/24 jam atau • 1+ dispstick Preeklamsi Berat disertai dengan satu atau lebih gejala berikut : TD • 160/110 mmHg pada kehamilan > 20 minggu Proteinuria 2. beri obat antihipertensi metildopa 3 x 125 mg. Berikan nefidipine 3-4 x 10 mg oral (dosis maksimum 80 mg/hari).2 mg/dL (kecuali bila sebelumnya sudah abnormal ) Trombosit < 100. Pasang kateter kantong urin setiap 6 jam. 1) 2) f. kematangan cerviks. Dosis awal MgSO 2 g intravena dalam 10 menit selanjutnya 2 g/jam dalam drip infuse sampai tekanan darah stabil 140-150/90-100 mmHg. tujuannya adalah untuk penurunan tekanan darah 20% dalam 6 jam. 9. dan melahirkan bayi dengan trauma sekecil-kecilnya pada ibu dan bayi. pernapasan tiap jam. 2.0 g/24 jam • 2+ (dispstick) Serum Creatinine > 1. Pre eklampsia Berat Upaya pengobatan ditujukan untuk mencegah kejang. serta wajah merah. 1. anjurkan istirahat baring 2 jam siang hari dan tidur 8 jam malam hari. memulihkan organ vital pada keadaan normal.

j. Asuhan Keperawatan Proses keperawatan adalah suatu pendekatan untuk pemecahan masalah yang memampukan perawat untuk mengatur dan memberikan asuhan keperawatan (Potter & Perry. Mulut mungkin kering. f. ureum. Keamanan Balutan abdomen dapat tampak sedikit noda atau kering dan utuh. 2005). misalnya pertumbuhan janin terhambat dam prematuritas (http://www. distensi kandung kemih-abdomen. Pemeriksaan diagnostik Urin : protein. insisi dan nyeri penyerta. SGOT. bilirubun. Sirkulasi Kehilangan darah selama prosedur pembedahan kira-kira 600-800 ml. Pemeriksaan diagnostik . LDH. samar atau jelas. Mungkin mengekspresikan ketidak mampuan untuk menghadapi situasi baru. Neorosensori Kerusakan gerakan dan sensasi di bawah tingkat anastesi spinal epidural. bila digunakan paten dan sisi bebas eritema. perencanaan (termasuk identifikasi hasil yang diperkirakan). dan bilirubin. Pernapasan Bunyi paru jelas dan vesikular. c. 2001) yaitu : a. d. kreatinin. Integritas ego Dapat menunjukkan labilitas emosional dari kegembiraan sampai ketakutan. k. reduksi. Klien/pasangan dapat memiliki pertanyaan atau salah terima peran dalam pengalaman kelahiran. Eliminasi Kateter urinarius mungkin terpasang. Adapun hasil pengkajian yang ditemukan pada klien dengan Seksio Sesarea berdasarkan rencana keperawatan maternal/bayi (Doenges & Moorhouse. diagnosa keperawatan.g. Jalur parenteral. Makan atau cairan Abdomen lunak dengan tidak ada distensi pada awal.irwanashari. verifikasi. Aliran lokhia sedang dan bebas bekuan berlebihan/banyak. efek-efek anestesi. urine jernih pucat dan bising usus tidak ada. implementasi dan evaluasi. e. i. Kerangka kerja proses keperawatan mencakup langkah pengkajian. marah atau menarik diri. Pengkajian Pengkajian adalah proses sistematis dari pengumpulan. dan komunikasi data tentang klien (Potter & Perry. USG B. Seksualitas Fundus kontraksi kuat dan terletak di umbilikus. 1) 2) 3) Komplikasi pada janin berhubungan dengan akut atau kronisnya insufisiensi utero plasental. bengkak dan nyeri tekan.com). g. Nyeri/ketidanyamanan Mungkin mengeluh ketidaknyaman dari berbagai sumber misalnya trauma bedah. 2005). Pengkajian dasar data klien Tinjau ulang catatan pranatal dan intraoperatif dan adanya indikasi untuk kelahiran sesarea b. 1. sedimen urin Darah : trombosit. h.

efek-efek hormonal (perpindahan cairan dan atau penigkatan aliran plasma ginjal). Diagnosa Keperawatan Diagnosa Keperawatan adalah penilaian klinis tentang respons individu. dan lokhia. transmisi atau kontak interpersonal. efek-efek anetesi. 2005). 2. vaginal. Hasil yang diperkirakan c. . Intervensi Intervensi perawat adalah respons perawat terhadap kebutuhan perawatan kesehatan dan diagnosa keperawatan klien (Potter & Perry. g) Konstipasi berhubungan dengan penurunan tonus otot. keluarga. periode pemulihan. efek-efek anestesi. b) Nyeri (akut)/ketidaknyamanan berhubungan dengan prosedur pembedahan. Karakteristik diagnosa keperawatan b. Diagnosa keperawatan memberikan dasar terhadap pemilihan intervensi keperawatan untuk mencapai hasil dimana perawat dapat bertanggung gugat (Doenges & Moorhouse. ancaman pada konsep diri. Dasar riset (pengetahuan keperawatan) untuk intervensi d. krisis situasi. tromboemboli. 2004). peningkatan anggota keluarga. Perubahan (ikatan) proses keluarga berhubungan dengan perkembangan transisi. atau komunitas terhadap masalah-masalah kesehatan/proses kehidupan yang aktual dan potensial. trauma jaringan atau kulit rusak. Menurut Doenges dan Moorhouse (2001) dikatakan bahwa diagnosa keperawatan pada klien melahirkan Seksio Sesarea adalah : a) Perubahan (ikatan) proses keluarga berhubungan dengan perkembangan transisi-peningkatan anggota keluarga. Urinalisis : kultur urin. hemoglobin/hematokrit (Hb/Ht) : mengkaji perubahan dari kadar praoperasi dan mengevaluasi efek kehilangan darah pada pembedahan. j) Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan truma /diversi mekanis. : keluarga menerima kehadiran anggota baru dengan baik.juan Jumlah darah lengkap. efek-efek hormonal. trauma jaringan. kurang masukan. h) Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) mengenai perubahan fisiologis. a. Adapun 6 faktor untuk memilih intervensi keperawatan adalah sebagai berikut (Bobak. perawatan diri dan kebutuhan perawatan bayi berhubungan dengan tidak mengenal sumbersumber i) Kurang perawatan diri berhubungan penurunan kekuatan dan ketahanan. Keberterimaan klien f. 2001). 3. ketidak nyamanan fisik. krisis situasi. distensi kandung kemih/abdomen. rendah situasional berhubungan dengan merasa gagal dalam peristiwa kehidupan e) Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan efek-efek anestesi. kebutuhan tidak terpenuhi. d) Harga diri. f) Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasif dan atau peningkatan pemajanan lingkungan. penurunan Hb malnutrisi. darah. Kemungkinan untuk dikerjakannya intervensi e. Kompetensi perawat Adapun rencana tindakan keperawatan pada klien dengan Seksio Sesarea menurut Doenges dan Moorhouse (2001) adalah sebagai berikut : a. nyeri perineal atau rektal. c) Ansietas berhubungan dengan krisis.

2) Membantu memudahkan ikatan/kedekatan di antara ayah dan bayi. bantu sesuai dengan kebutuhan. 3) Mulai secara aktif mengikuti tugas perawatan bayi baru lahir dengan tepat. penggunanaan posisi wajah. 3) Kontak mata dengan mata. 4) Kedatangan anggota keluarga baru. Nyeri (akut)/ketidaknyamanan berhubungan dengan prosedur pembedahan. distensi kandung kemih/abdomen. perhatikan infus oksitosin pasca operasi. 3) Klien tampak rileks. memerlukan penyatuan anak baru kedalam kelurga yang ada. efek-efek hormonal. 5) Berikan kesempatan kepada orang tua untuk mengungkapkan perasaannya. 2) Berikan kesempatan pada ayah atau pasangan untuk menyentuh dan menggendong bayi. bahkan bila siinginkan dan diantisipasi. perhatikan perilkau yang dianggap menandakan ikatan kedekatan 4) Perhatikan pengungkapan/perilaku yang menunjukkan kekecewaan atau kurang minat/kedekatan. Tujuan : nyeri berkurang atau hilang kriteria hasil : 1) Mengidentifikasi dan menggunakan intevensi untuk mengatasi nyeri atau ketidaknyamanan dengan tepat.Kriteria hasil : 1) Menggendong bayi. perhatikan isyarat/verbal dan non verbal. 3) Evaluasi tekanan darah dan nadi. tergantung pada kondisi klien dan bayi baru lahir. istirahat dengan tepat. mampu tidur. 6) Membantu pasangan untuk memproses dan mengavaluasi informasi yang diperlukan. 2) Mengungkapkan berkurangnya nyeri. Rasionalisasi : 1) Jam pertama setelah kelahiran memberikan kesempatan unik untuk ikatan keluarga untuk terjadi karena ibu dan bayi secara emosional menerima isyarat satu sama lain. 2) Perhatikan adanya nyeri tekan uterus dan adanya/karekteristik nyeri penyerta. Rencana tindakan : 1) Anjurkan klien untuk menggendong. perhatikan perubahan perilaku. menciptakan periode sementara dari disekuilibrium. . kurangi rangsangan yang berbahaya dan berikan gosokan punggung. efek-efek anetesi. menyentuh dan memeriksakan bayi. 6) Anjurkan ambulasi dini dan menghindari makanan atau cairan pembentuk gas. yang memulai kedekatan dan proses pengenalan. Rencana tindakan : 1) Tentukan karakteristik dan lokasi ketidaknyamanan. berbicara pada suara nada yang tinggi dan menggendong bayi dengan dekat dihubungkan dengan kedekatan pada budaya barat. 5) Konflik tidak teratasi selama proses pengwalan awal orang tua-bayi dapat mempunyai efek-efek negatif jangka panjang pada masa depan hubungan orang tua-anak. bila kondisi ibu dan neonatus memungkinkan. 3) Observasi dan catat interaksi keluarga/bayi. b. anjurkan teknik relaksasi dan distraksi. 4) Berikan informasi dan petunjuk antisipasi mengenai penyebab ketidaknyamanan dan intervensi yang tepat. 2) Mendemostrasikan prilaku kedekatan dan ikatan yang tepat. 5) Ubah posisi klien. 6) Berikan informasi sesuai dengan kebutuhan tentang keamanan dan kondisi bayi. dukung pasangan sesuai kubutuhan.

3) Nyeri dapat menyebabkan gelisah serta TD dan nadi meningkat. dan ini berlanjut selama 2-3 hari berikutnya. 6) Menurunkan pembentukan gas dan meningkatkan peristaltik usus dan menghilangkan ketidaknyamanan. 3) Melaporkan bahwa ansietas sudah menurun ketingkat yang dapat diatasi. Ansietas berhubungan dengan krisis. 3) Mengekspresikan harapan diri yang positif. .juan Rasionalisasi : 1) Klien mungkin tidak secara verbal melaporkan nyeri dan ketidaknyamanan secara langsung. 5) Mulai kontak antara klien/pasangan dengan bayi sesegera mungkin. mengurangi perasaan ansietas. d. 2) Selama 12 jam pertama pascapartum. ancaman pada konsep diri. Rencana tindakan : 1) Tentukan tingkat ansietas klien dan sumber dari masalah. kebutuhan tidak terpenuhi. 5) Mengurangi ansietas yang mungkin berhubungan dengan penanganan bayi. Identifikasi perilaku positif selama proses prenatal dan antepratal. kontraksi uterus kuat dan teratur. Tujuan : ansietas terkontrol Kriteria hasil : 1) Mengungkapkan kesadaran akan perasaan ansietas. membantu mengurangi nyeri dengan ansietas. 4) Khayalan yang disebabkan oleh kurangnya informasi atau kesalahpahaman dapat meningkatkan tingkat ansietas. 2) Mengidentifikasi cara untuk menurunkan atau menghilangkan ansietas. c. Rencana Tindakan 1) tentukan respon emosional klien/ pasangan terhadap kelahiran sesarea 2) tinjau ulang partisipasi klien/ pasangan dan peran dalam pengalaman kelahiran. 3) Bantu klien/pasangan dalam mengidentifikasi makanisme koping yang lazim dan perkembangan strategi koping baru jika dibutuhkan. Rasionalisasi : 1) Kelahiran sesarea mungkin dipandang sebagai kegagalan hidup. 4) Meningkatkan pemecahan masalah. 3) Tekankan kemiripan antara kelahiran sesarea dan vagina 4) Rujuk klien / pasangan konseling professional bila reaksi maladaptif. 4) Berikan informasi yang akurat tentang keadaan klien/bayi. 3) Membantu memfasilitasi adaptasi yang positif terhadap peran baru. 4) Pasien kelihatan rileks/dapat tidur/istirahat dengan benar. transmisi atau kontak interpersonal. dan mengalihkan perhatian dari sensasi nyeri. 2) Memberikan keberadaan/partisipasi dari pasangan. Harga diri rendah situasional berhubungan dengan merasa gagal dalam peristiwa kehidupan : mengungkapakan perasaan negatif diri dalam situasi Kriteria hasil : 1) Mendiskusikan masalah sehubungan dengan peran dalam dan persepsi terhadap pengalaman kelahiran dari klien / pasangan 2) Mengungkapakan pemahaman mengenai factor individu yang dapat mencetuskan situasi saat ini. 5) Merileksasikan otot. 2) Dorong keberadaan/partisipasi dari pasangan.

4) Urine yang mengandung darah atau bekuan menunjukkan kemungkinan trauma kandung kemih. perubahan perilaku. Rasionalisasi : 1) Tekanan darah yang tinggi dapat menandakan terjadinya atau berlanjutnya hipertensi. . mencegah efek-efek teratogenik pada kehamilan selanjutnya. 6) Meningkatkan aliran balik vena. trauma jaringan atau kulit rusak. dan zat besi. Rencana tindakan : 1) Kaji status nutrisi klien. catat keadaan kulit. Tujuan : infeksi tidak menjadi aktual. 2) Inspeksi balutan terhadap perdarahan berlebihan. 4) Pantau masukan cairan dan halauran urine 5) Tinjau ulang catatan pranatal dan intranatal terhadap faktor-faktor yang mempredisposisikan klien pada komplikasi. Tujuan : cedera tidak terjadi Kriteria hasil : 1) Mendemonstrasikan prilaku untuk menurunkan faktor-faktor resiko dan atau perlindungan diri . 4) Perhatikan sistem drianase urine tertutup yang steril. suhu. 5) Tinjau ulang HB/HT pranatal. 2) Luka Basah dan merembes menunjukkan terjadinya komplikasi. f. nadi. kriteria hasil : Menunjukkan luka bebas dari drainase purulen dengan tanda awal penyembuhan. e. 6) Catat frekwensi/jumlah dan karakteristik urine. 3) Klien dapat mengubah persepsinya tentang pengalaman kelahiran sesarea sebagaimana persepsinya tentang kesehatannya atau penyakitnya berdasarkan sikap professional. trauma jaringan. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasif dan atau peningkatan pemajanan lingkungan. Catat kadar Hb dan kehilangan darah operatif.Rasional : 1) Kedua anggota pasangan mungkin mengalami reaksi emosi negative terhadap kelahiran sesarea. 7) Berikan perawatan perineal dan kateter. 2) Inspeksi balutan abdominal terhadap rembesan atau eksudat. perhatikan adanya kondisi yang mempredisposisikan klien pada infeksi pasca operasi. dan penggantian pengalas 8) Dorong masukan cairan oral dan diet tinggi protein. 3) Aliran lokhea dan tonjolan uterus mengakibatkan peningkatan aliran dan kehilangan darah. 2) Respon berduka dapat berkurang bila ibu dan ayah mampu saling berbagi akan pengalaman kelahiran. uterus lunak/tidak nyeri tekan aliran dan karakter lokhea normal. perlambatan pengisian kapiler/sianosis. tromboemboli. 4) Klien tidak mampu mengatasi rasa berduka atau perasaan negatif memerlukan bantuan professional lebih lanjut. Resiko tinggi terhadap cedera berhubungan dengan efek-efek anestesi. penurunan Hb malnutrisi. 5) Tromboflebitis pranatal memungkinkan klien rentan terhadap komplikasi pasca operasi. 2) Bebas dari komplikasi Rencana tindakan : 1) Pantau tekanan darah. vitamin C. 6) Anjurkan ambulasi dini dan latihan dan bantu klien pada ambulasi awal. 3) Perhatikan kateter dan jumlah aliran lokhea dan konsistensi fundus. 3) Inspeksi sekitar infus terhadap eritema atau nyeri tekan.

9) 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) g. Rencana Tindakan : Auskultasi bising usus pada keempat kuadran setiap 4 jam setelah kelahiran Seksio Sesarea. Mencegah introduksi bakteri bila kateter indwelling. 1) 2) 1) 2) 3) 4) 1) 2) 3) 4) h. Rasionalisasi : Anemia dan malnutrisi lebih rentan terhadap infeksi pascapartum dan dapat memrelukan diet khusus. dan memungkinkan terjadinya komplikasi. Stasis urinarius meningkatkan resiko infeksi. Membantu menghilangkan media pertumbuhan bakteri dan meningkatkan hygiene. Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar). Mencegah dehidrasi dan memaksimalkan volume sirkulasi dan aliran urin. Latihan kaki mengencangkan otot-otot abdomen dan memperbaiki mortilitas abdomen. Balutan steril yang menutup luka membantu melindungi luka dari cedera dan kontaminasi. Rasionalisasi : Menentukan kesiapan terhadap pemberian makan peroral. dan pseudomonas. Berikan rencana penyuluhan tertulis dengan menggunakan format yang distandarisasi atau ceklis. perawatan dini dan kebutuhan perawatan bayi. Buah dan sayuran dapat meningkatkan cairan yang menghasilkan bulk dan merangsang eliminasi. diabetes dan persalinan lama sebelum kelahiran sesarea meningkatkan resiko infeksi dan perlambatan penyembuhan. . Melakukan aktivitas/prosedur yang perlu dengan benar. Menandakan pembentukan gas dan akumulasi atau kemungkinan ileus paralitik. periode pemulihan. Anemia. Mendapatkan kembali pola eliminasi biasanya/optimal dalam 4 hari postpartum. Tanda-tanda ini menandakan infeksi luka. kebutuhan-kebutuhan individu sesuai hasil yang diharapkan. 1) 2) 1) 2) 3) Anjurkan dan gunakan tehnik mencuci tangan dengan cermat. Tujuan : pengetahuan klien bertambah Kriteria hasil : Mengungkapkan pemahaman tentang perubahan fisiologis. Rencana Tindakan : Kaji kesiapan dan motivasi klien untuk belajar. kurang masukan. dan biasanya disebabkan oleh streptokokus. Tingkatkan ambulasi dini Anjurkan cairan oral yang adekuat dan peningkatan diet makanan kasar dan buah-buahan serta sayuran dengan bijinya. Kaji keadaan fisik klien. stapilokokus. perhatikan distensi atau ketidaknyamanan. Membantu mencegah atau membatasi penyebaran infeksi. nyeri perineal/rektal. Tujuan : BAB lancar/normal seperti biasanya Kriteria hasil : Mendemostrasikan kembalinya mortilistas usus dibuktikan oleh bising usus aktif dan keluarga. Palpasi abdomen. mengenai perubahan fisiologis. Konstipasi berhubungan dengan penurunan tonus otot.

ketidaknyamanan fisik. 8) Tinjau ulang kebutuhan-kebutuhan perawatan diri dan anjurkan partisipasi dalam perawatan diri bila klien mampu. i. 2) Ketidaknyaman berkurang pada hari ketiga pascapartum dan dapat memberikan konsentrasi penuh untuk penyuluhan. 5) Demonstrasikan tehnik-tehnik perawatan bayi. 7) Diskusikan rencana-rencana untuk penatalaksanaan di rumah.4) Berikan informasi yang berhubungan dengan perubahan fisiologis dan psikologis yang normal berkenaan dengan kelahiran Seksio Sesarea dan kebutuhan yang berkenaan dengan periode postpartum. 4) Ubah posisi klien setiap 1 ± 2 jam. 1) Nyeri berat mempengaruhi respon emosi dan prilaku 2) Klien yang menjalani anasthesi spinal dapat diarahkan untuk berbaring detar dan tanpa bantal untuk 6-8 jam 3) Membantu mencegah komplikasi bedah seperti plebitis dan pneumonia. ambulasi dan latihan kaki. efek-efek hormonal (perpindahan cairan dan atau penigkatan aliran plasma ginjal). Rasionalisasi : Pengalaman nyeri fisik mungkin disertai dengan nyeri mental yang mempengaruhi keinginan klien dan motivasi untuk mendapatkan otonomi. perhatikan adanya pesanan atau protokol mengenai perubahan posisi. Kurang perawatan diri berhubungan dengan penurunan kekuatan dan ketahanan. dan kompetisi. Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan trauma/ diversi mekanis. dan meningkatkan pemulihan. bantu dalam latihan paru. 6) Perhatikan status psikologis dan respon terhadap kelahiran Seksio Sesarea serta peran menjadi ibu. Tujuan : perawatan terhadap diri sendiri meningkat Kriteria hasil : 1) Mendemostrasikan tehnik-tehnik untuk memenuhi kebutuhankebutuhan perawatan diri. an : untuk mendapatkan pola berkemih yang biasa/optimal setelah pengangkatan kateter ria Hasil : Mengosongkan kandung kemih setiap berkemih . pemilihan jus. Rencana Tindakan : 1) Kaji status pisikologis klien. 8) Memudahkan otonomi. 6) Kekecewaan pengalaman kelahiran dan masalah-masalah dengan perpisahan anak akan memberikan dampak negatif pada kemampuan belajar. 3) Membantu menjamin kelengkapan informasi yang diterima orangtua dari staf. 2) Mengidentifikasi/menggunakan sumber-sumber yang tersedia. jadwal mandi dll) 10. 4) Memperbaiki pilihan bila mungkin (mis. 4) Membantu klien mengenali perubahan normal dari respon-respon abnormal yang mungkin. efek-efek anestesi. 3) Tentukan tipe-tipe anasthesi. 2) Pastikan berat/durasi ketidaknyamanan. 5) Membantu orangtua dalam penguasaan tugas-tugas baru. 7) Klien yang Seksio Sesarea memerlukan bantuan lebih banyak dari klien partus normal. maturitas. Rasionalisasi : 1) Periode pascapartum dapat menjadi pengalaman positif dan dapat membantu mengembangkan pertumbuhan ibu. 5) Berikan bantuan sesuai kebutuhan dengan higyenis. membantu mencegah infeksi.

interpersonal. mis. b. mengakibatkan peningkatan pengisian kandung kemih. perawat mengevaluasi rencana untuk menentukan kebutuhan bantuan dan tipe yang dibutuhkan. Klien harus berkemih dalam 6-8 jam setelah pengangkatan kateter. Berikan volume cairan per oral . Mengkomunikasikan intervensi. ketidakadekuatan penggantian cairan. Beberapa hal yang dapat dilakukan pada pasien dengan post seksio sesarea adalah memberikan kesempatan untuk ayah/pasangan untuk menyentuh dan menggendong bayi dan bantu dalam perawatan bayi sesuai kemungkinan situasi.. Gunakan metoda-metoda untuk memudahkan mengangkat kateter setelah berkemih. Instruksikan untuk melakukan latihan senam keggel setiap hari setelah efek-efek anastesi berkurang. sebelum mengimplementasikan asuhan. perhatikan isyarat verbal . Aliran plasma ginjal. c. Melakukan latihan kegel 100 kali perhari meningkatkan sirkulasi perineum. tetap tinggi pada minggu pertama pascapartum. Rasional : Oliguria mungkin disebabkan oleh kelebihan kehilangan cairan. tentukan karateristik dan lokasi ketidaknyamanan. Mengidentifikasi area bantuan. e. Ketika dituliskan. yang meningkat 25%-50%5 selama periode perinatal. d. atau efek-efek antidiuretik dari nfus oksitoksin Proses katalik berkenaan dengan involsi uterus mengakibatkan proteinuria normal selama 2 hari pertama pascapartum. 6 sampai 8 gelas per hari bila cepat Palpasi kandung kemih Perhatikan tanda dan gejala infeksi saluran kemih (ISK). Rencana tindakan : Perhatikan dan catat jumlah. praktik keperawatan terdiri atas keterampilan kognitif. Komponen implementasi dari proses keperawatan mempunyai lima tahap : Mengkaji ulang klien. Cairan meningkatkan hidrasi dan fungsi ginjal. Menelaah dan memodifikasi rencana asuhan yang sudah ada. yang merupakan komponen dari proses keperawatan. dan konsentrasi drainase urin Tes urine terhadap albumin dan aseton. adalah kategori dari perilaku keperawatan dimana tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan dan hasil yang diperkirakan dari asuhan keperawatan dilakukan dan diselesaikan (Potter & Perry. Mengimplementasikan intervensi keperawatan. Implementasi Implementasi. 2005).1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 4. Setelah intervensi diterapkan. meskipun rencana asuhan keperawatan telah dikembangkan sesuai diagnosa keperawatan yang terindetisikasi selama pengkajian. intervensi keperawatan di tulis atau dikomunikasikan secara verbal. intervensi keperawatan dipadukan kedalam rencana asuhan keperawatan dan catatan medis klien. warna. respons klien terhadap pengobatan dicatatkan pada lembar yang catatan yang sesuai. dorong keberadaan atau partisifasi dari pasangan. a. fase pengkajian ulang terhadap komponen implementasi memberikan mekanisme bagi perawat untuk menentukan apakah tindakan keperawatan yang diusulkan masih sesuai. Setiap keterampilan diperlukan untuk mengimplementasikan intervensi. dan psikomotor (teknis). perubahan dalam status klien mungkin mengharuskan modifikasi asuhan keperawatan yang telah direncanakan. Adanya kateter indwelling mempredisposisikan klien pada masuknya bakteri dan ISK. dalam membantu mencegah stasis kandung kemih.

Laporan tentang pemeriksaan diagnostik m. 2001). Rencana pemulangan dan ringkasan tentang pemulangan. perubahan proses keluarga. dan jumlah sel darah putih. tidak terjadi harga diri. 6. Laporan tentang pemeriksaan fisik l. Surat izin untuk pengobatan dan prosedur c. Ringkasan tentang prosedur operatif n. Catatan tentang tindakan asuhan keperawatan dan evaluasi keperawatan g. pola eliminasi urine normal.dan non-verbal seperti meringis. Riwayat keperawatan saat masuk d. palpasi abdomen dan perhatikan distensi atau ketidak nyamanan . paham terhadap perubahan fisiologis. Adapun metode pelaksanaan evaluasi sumatif terdiri dari interview akhir pelayanan. DAFTAR PUSTAKA . Evaluasi Evaluasi respons klien terhadap asuhan yang diberikan dan pencapaian hasil yang diharapkan (yang dikembangkan dalam fase perencanaan dan didokumentasikan dalam rencana keperawatan) adalah tahap akhir dari proses keperawatan (Doenges & Moorhouse. Evaluasi proses atau formatif : fokus tipe evaluasi adalah aktivitas dari proses keperawatan dan hasil kualitas pelayanan tindakan keperawatan. dan pertanyaan kepada pasien dan keluarga. Rencana asuhan keperawatan atau multidisiplin f. pertemuan akhir pelayanan. Identifikasi klien dan data demografi klien b. Semua catatan secara mendasar mengandung informasi berikut : a. kaku dan gerakan melindungi atau terbatas. perhatikan status psikologis dan respon terhadap kelahiran seksio sesarea serta peran menjadi ibu. 5. infeksi tidak ada. periode pemulihan. 2005). kostipasi teratasi. nyeri/ketidak nyamanan hilang atau berkurang. Evaluasi keperawatan yang diharapkan pada pasien seksio sesarea adalah. Catatan perkembangan medis dan disiplin kesehatan k. rendah situasional. Sistem penulisan pada tahap evaluasi ini bias menggunakan sistem ³SOAP´ atau model dokumentasi lainnya. ansietas tidak ada atau teratas. Evaluasi hasil (sumatif) : fokus evaluasi hasil adalah perubahan perilaku atau status kesehatan pasien pada akhir tindakan keperawatan. Riwayat medis h. Diagnosa keperawatan atau masalah keperawatan e. perawatan diri dan kebutuhan perawatan bayi. nadi. cedera tidak terjadi. b. kaji suhu.kaji status psikologis klien. Diagnosa medis i. memerikan cairan per oral 6-8 gelas per hari. Dokumentasi Keperawatan Dokumentasi didefiniskan sebagai segala sesuatu yang tertulis atau tercetak yang dapat diandalkan sebagai catatan tentang bukti bagi individu yang berwenang (Potter & Perry. tentukan respon emosional klien/pasangan terhadap kelahiran seksio. bila tepat. perawatan diri terpenuhi. Ada dua komponen untuk mengevaluasi kualitas tindakan keperawatan yaitu : a. Pesananan terapeutik j.

(2004). Psikologi Pada Ibu Yang Mengalami Nifas. (2000). Ida Bagus Gde. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien Edisi 3. M. (2001).com Doenges & Moorhouse. Muhammad. (1999). (1999). dkk. (2010).irwanashari. Geissler.Jakarta : EGC Doenges. Angka kematian Ibu Masih tinggi. Operasi kebidanan.com/2009/12/preeklamsi-berat. Moorhouse. Perawatan Maternitas dan Ginekologi. Jakarta : EGC Hidayat & Uliyah. diakses pada 18 Juli 2010 dari http://dinkeskaltim. (2009). Jakarta : EGC . Jakarta : EGC Dinkes Kaltim. Jakarta : EGC Hinchliff. Jakarta : Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Manuaba. Kandungan dan KB untuk Dokter Umum. Kamus Keperawatan Edisi 17. Diakses pada 20 Juli 2010 dari http://www. Irena. Diakses pada http://www.html 19 Juli 2010 dari Mansjoer. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I Edisi ketiga. Buku Saku Praktikum Kebutuhan Dasar Manusia. (1999). Rencana Perawatan Maternal/Bayi. Preeklamsi Berat. (2009).Bobak.docstoc.com Irga. Jakarta : EGC Ikhsan. (2004).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful