BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Remaja dalam memasuki masa peralihan tanpa pengetahuan yang memadai tentang seksual pranikah. Hal ini disebabkan orang tua merasa tabu membicarakan masalah seksual dengan anaknya dan hubungan orang tua anak menjadi jauh sehingga anak berpaling ke sumber-sumber lain yang tidak akurat khususnya teman. (Sarwono, 2007). Remaja banyak yang tidak sadar dari pengalaman yang tampaknya menyenangkan justru dapat menjerumuskan, salah satu problema dari kaum remaja apabila kurangnya pengetahuan seksual pranikah adalah kehamilan yang tidak diinginkan, aborsi tidak aman dan juga penyakit kelamin (Chyntia, 2008). Pengetahuan tentang seksual pranikah dapat mempengaruhi sikap individu tersebut terhadap seksual pranikah (Adikusuma, 2007) Sikap seksual pranikah remaja dipengaruhi oleh banyak hal, selain dari faktor pengetahuan juga dipengaruhi oleh faktor kebudayaan, orang lain yang dianggap penting, media massa, pengalaman pribadi, lembaga pendidikan, lembaga agama dan emosi dari dalam individu. Sikap seksual pranikah remaja bisa berwujud positif ataupun negatif, sikap positif kecenderungan tindakan adalah mendukung seksual pranikah sedangkan sikap negatif kecenderungan tindakan adalah menghindari seksual pranikah remaja (Azwar, 2009)

Remaja mulai mempersiapkan diri menuju kehidupan dewasa, termasuk dalam aspek seksualnya. Dengan demikian memang dibutuhkan sikap yang bijaksana 9 dari para orang tua, pendidik dan masyarakat pada umumnya serta tentunya dari remaja itu sendiri, agar mereka dapat melewati masa transisi itu dengan selamat (Sarwono, 2007). Hasil penelitian yang dilakukan Suryoputro (2007) dengan judul ´Faktorfaktor yang mempengaruhi seksual remaja di Jawa Tengah: implikasinya terhadap kebijakan dan layanan kesehatan seksual dan reproduksi´, pada umumnya terdapat sikap negatif terhadap hubungan seksual pranikah. Laporan dari jurnal kependudukan dan pembangunan dalam tahun 2007 menunjukkan tentang penelitian terhadap 164 orang terdiri atas 139 subjek laki ± laki dan 29 subjek wanita pada siswa ± siswi kelas III SMA di kota Surakarta dengan hasil 43,17 % subjek laki ± laki kadang ± kadang melakukan onani, 36% subjek wanita tidak pernah melakukan masturbasi, 41,73% subjek laki ± laki melakukan hubungan seks pada usia 15 ± 17 tahun dan 60% subjek wanita pada usia 15 tahun, 42,45% laki ± laki melakukan hubungan seks pada usia 18- 19 tahun dan 28% subjek wanita. Terdapat 2,88% subjek laki ± laki dan 11,5% subjek wanita melakukan hubungan seks pada usia 12-14 tahun. Sebagian besar alasan subjek laki ± laki adalah bukti rasa cinta sebanyak 47,73%. Sedangkan 44% subjek wanita melakukanan hubungan seks pertama kali didasari keinginan untuk mencoba (Kasturi, 2007).

B. tetapi diberikan melalui pelajaran biologi. sedangkan penelitian sebelumnya adalah jenis kelamin. variabel bebasnya adalah pengetahuan. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas dapat diambil rumusan masalah ´Adakah hubungan antara pengetahuan dengan sikap seksual pranikah remaja ?´ . Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti merasa tertarik untuk mengambil judul ´ Hubungan antara pengetahuan dengan sikap seksual pranikah remaja ´. Tempat yang akan penulis lakukan penelitian adalah di SMAN 3 Surakarta dengan pertimbangan bahwa SMAN 3 Surakarta merupakan salah satu SMAN favorit di Surakarta dimana kualitas input dari aspek kognitif sangat bagus. Pada penelitian ini. Pada penelitian sebelumnya meneliti tentang perilaku seksual pranikah remaja. Kurikulum pendidikan seks tidak berdiri sendiri. Perbedaannya dengan penelitian yang akan dilakukan oleh penulis adalah terdapat pada variabel 10 yang diteliti. sedangkan pada penelitian ini meneliti tentang sikap seksual pranikah remaja. tempat dan waktu. proses kehamilan. beberapa materi yang diberikan yaitu reproduksi sehat. KB dan organ-organ reproduksi.Penelitian tentang seksual pranikah pernah dilakukan oleh Suhartin (2007) dengan judul ´Perbedaan sikap tentang Perilaku Seks Pranikah antara Remaja Laki-laki dan Perempuan di SMAN 1 Tenggarang Bondowoso´.

Tujuan Umum Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dengan sikap seksual pranikah remaja . Tujuan khusus a.11 2. b. . Profesi bidan Sebagai sumbangan aplikatif bagi tenaga kesehatan terutama bidan agar lebih meningkatkan perhatian dalam memberikan informasi mengenai pengetahuan seksual pranikah remaja dalam kaitannya dengan pembentukan sikap seksual pranikah remaja. b. D. Manfaat 1.Untuk mengetahui sikap seksual pranikah remaja . 2. Manfaat Aplikatif a. Manfaat teoretis Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan tentang hubungan antara pengetahuan dengan sikap seksual pranikah remaja. Institusi sekolah Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi institusi sekolah untuk memberikan pengetahuan seksual pranikah remaja dalam kaitannya dengan pembentukan sikap seksual pranikah remaja. Untuk mengetahui tingkat pengetahuan seksual pranikah remaja.C. Tujuan penelitian 1.

Remaja dan masyarakat Manfaat bagi remaja dan masyarakat adalah untuk membuka wawasan tentang pengetahuan seksual pranikah sehingga terbentuk sikap seksual pranikah yang memadai. Penelitian selanjutnya Hasil penelitian dapat dimanfaatkan sebagai referensi penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan masalah pengetahuan dan sikap seksual pranikah remaja.12 d.c. .

Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil dari tahu. dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pancaindera manusia. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkatan ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifk dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima 2) Memahami (comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untukmenjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui. penciuman. yakni indera penglihatan. dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. rasa dan raba. Pengetahuan Seksual Pra Nikah Remaja a. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo. . 2007) Menurut Notoatmodjo (2007) pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan yaitu: 1) Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. pendengaran. Tinjauan Teori 1.

dan masih ada kaitannya satu sama lain.67 3) Aplikasi (application) Aplikasi diarttikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).8 . tetapi masih di dalam struktur organisasi. sedang ekonomi dikaitkan dengan pendidikan. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut Notoatmodjo (2007) yaitu: 1) Sosial ekonomi Lingkungan sosial akan mendukung tingginya pengetahuan seseorang. 6) Evaluasi (evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap sutu materi atau objek. 5) Sintesis (syntesis) Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. 4) Analisis (analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen. ekonomi baik tingkat pendidikan akan tinggin sehingga tingkat pengetahuan akan tinggi juga.

bahwa pendidikan yang tinggi maka pengalaman akan luas. dimana pasangan terikat komitmen dan tanggung jawab moral (Jernih. 3) Pendidikan Semakin tinggi pendidikan maka ia akan mudah menerima hal-hal baru dan mudah menyesuaikan dengan hal yang baru tersebut. sedangkan semakin tua umur seseorang maka pengalaman akan semakin banyak. karena informasi yang baru akan disaring kira-kira sesuai tidak dengan budaya yang ada dan agama yang dianut. Seksual pranikah remaja adalah hubungan seksual yang dilakukan remaja sebelum menikah (BKKBN. agama) Budaya sangat berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan seseorang. b. Oleh karena itu hubungan seksual harus dilakukan dalam ikatan yang sah. 2007). Definisi yang dirumuskan oleh WHO. Kenikmatan yang diperoleh dari hubungan tersebut merupakan karunia Tuhan kepada manusia dalam melaksanakan fungsinya meneruskan keturunan. Seksual Pra nikah Remaja Hubungan seksual adalah suatu hal yang sakral dan bertujuan untuk mengembangkan keturunan.2) Kultur (budaya. remaja adalah suatu masa ketika . 2010). 4) Pengalaman Berkaitan dengan umur dan pendidikan individu.

Aspek seksual pada remaja mempunyai kekhususan antara lain pengalaman berfantasi dan mimpi basah.kanak menjadi dewasa. Faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan seksual yang pertama dialami oleh remaja menurut Soetjiningsih (2007) yaitu: 1) waktu/ saat mengalami pubertas 2) kontol sosial kurang tepat (terlalu ketat atau terlalu longgar).individu berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai saat ia mencapai kematangan seksual. remaja pertengahan (14-16 tahun). terjadi peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif lebih mandiri (Sarwono. . tetapi ternyata masih sering dialami sampai pada saat dewasa. walaupun tidak jarang menimbulkan konflik dalam dirinya sehingga sebagian merasa berdosa dan cemas (Soetjiningsih. Perkembangan seorang remaja menurut Smith dan Anderson dalam Dhamayanti (2009) terbagi menjadi tiga tipe yaitu remaja dini (10-13 tahun). remaja akhir (17-21 tahun). 2007). Remaja menginginkan kebebasan yang lebih banyak dan kadang-kadang ingin lebih leluasa melakukan aktifitas seksual. remaja tidak tahu batas-batas mana yang boleh dan mana yang tidak boleh. Fantasi ini tidak hanya dialami oleh para remaja. 2007). kurangnya kontrol dari orang tua. 9 individu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari kanak.

Cara mengendalikannya yaitu dengan taat beribadah. adanya keinginan untuk menunjukkkan cinta pada pacarnya. remaja memahami tugas utamanya misalnya belajar dan bekerja. 6) tekanan dari teman sebaya. 5) korban pelecehan seksual. merasa sudah saatnya untuk melakukan aktivitas seksual sebab sudah merasa matang secara fisik.10 4) status ekonomi. kondisi keluarga yang tidak memungkinkan untuk mendidik anak-anak untuk memasuki masa remaja dengan baik. .faktor yang meningkatkan dorongan seksual pada remaja menurut BKKBN (2007) yaitu menonton film porno. 7) sekedar menunjukkan kegagahan dan kemampuan fisiknya. Faktor. hubungan antar mereka semakin romantis. penerimaan aktifitas seksual pacarnya. berduaan di tempat sepi. berkhayal tentang seksual. Menurut Smith dan Anderson dalam Dhamayanti (2009) munculnya dorongan seksual terjadi pada remaja pertengahan. minat dan kemampuan misalnya olahraga. menggunakan zat perangsang atau napza. mendengar cerita porno. 8) terjadi peningkatan rangsangan seksual akibat peningkatan kadar hormon reproduksi atau seksual. mengisi waktu sesuai dengan bakat. melihat gambar porno. kesenian dan berorganisasi. penggunaan obat-obat terlarang dan alcohol.3) frekuensi pertemuan dengan pacarnya.

c. dsb. perlu diupayakan adanya pemberian informasi mengenai pengetahuan . baik melalui pendidikan formal maupun informal. membaca buku porno. 11 2) Aborsi tidak aman Menggugurkan kandungan dengan cara aborsi tidak aman dapat mengakibatkan kematian. Hubungan seks satu kali saja dapat menularkan penyakit bila dilakukan dengan orang yang tertular salah satu penyakit kelamin. Pengetahuan Seksual Pranikah Remaja Pengetahuan seksual pranikah remaja penting diberikan kepada remaja. Mengingat selama ini banyak remaja yang memperoleh ³pengetahuan´ seksnya dari teman sebaya. Upaya ini perlu dilakukan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. 3) Penyakit kelamin Definisi penyakit kelamin menurut Sa¶abah (2008) yaitu penyakit yang diakibatkan oleh infeksi diikuti peradangan dan ditularkan melalui hubungan seksual. menonton film porno. Oleh karena itu.Akibat terjadinya hubungan seksual pranikah bagi remaja menurut Chyntia (2008) yaitu: 1) Kehamilan Hubungan seks satu kali saja bisa mengakibatkan kehamilan bila dilakukan pada masa subur/ masa ovulasi.

dan kurangnya informasi dari sumber yang benar (Soetjiningsih.seksual pranikah dikalangan remaja (Chyntia. senggama 1-2 kali saja. menyebabkan awet muda. Masyarakat masih sangat mempercayai pada mitos-mitos seksual yang merupakan salah satu pemahaman yang salah tentang seksual. 2007) .ganti pasangan seksual tidak menambah resiko PMS. Kurangnya pemahaman ini 12 disebabkan oleh berbagai faktor antara lain : adat istiadat. Pengetahuan seksual pranikah remaja terdiri dari dari pemahaman tentang seksualitas yang dilakukan sebelum menikah yang terdiri dari pengetahuan tentang fungsi hubungan seksual. dan faktor yang mendorong seksual pranikah (Sarwono 2007). akibat hubungan seksual (mitos yang berkembang yaitu tidak akan hamil kalau senggama terputus. agama. pacaran perlu variasi antara lain bercumbu. 2007). 2008). sekali berhubungan seksual tidak akan tertular PMS. budaya. Ilustrasi dari adanya informasi yang tidak benar di kalangan remaja terdiri dari pengetahuan tentang fungsi hubungan seksual (mitos yang berkembang adalah hubungan seksual dapat mengurangi frustasi. berenang dan berciuman bisa menyebabkan kehamilan). dan sebagainya) (Sarwono. menambah semangat belajar). mau berhubungan seksual berarti serius dengan pacar. dan yang mendorong hubungan seksual pranikah (mitos yang berkembang adalah ganti. akibat seksual pranikah. hanya menempelkan alat kelamin.

2007). Secara umum. 3) Komponen konatif (conative) Komponen konatif dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya. Sikap Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau obyek (Notoatmojo. Kaitan ini didasari oleh asumsi bahwa kepercayaan dan perasaan banyak mempengaruhi perilaku. dengan tendensi kecenderungan berperilaku sebagai komponen konatif seperti itulah yang menjadi landasan dalam usaha . Sikap Seksual pranikah remaja a. Struktur sikap terdiri atas tiga komponen menurut Azwar (2009) yaitu: 1) Komponen kognitif (cognitive) Komponen kognitif berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi objek sikap.2.13 2) Komponen afektif (affective) Komponen afektif menyangkut masalah emosional subjektif seseorang terhadap suatu sikap. perasaan sebagai komponen afektif. komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki terhadap sesuatu. Konsistensi antara kepercayaan sebagai komponen kognitif.

seseorang harus mempunyai pengalaman yang berkaitan dengan obyek psikologis. Seseorang yang kita anggap . Apabila kita hidup dalam budaya sosial yang sangat mengutamakan kehidupan berkelompok. 3) Orang lain yang dianggap penting Orang lain di sekitar kita merupakan salah satu diantara komponen sosial yang ikut mempengaruhi sikap kita. Faktor . Untuk dapat mempunyai tanggapan dan penghayatan. maka sangat mungkin kita akan mempunyai sikap negatif terhadap kehidupan individualisme yang mengutamakan kepentingan perorangan. Apabila kita hidup dalam budaya yang mempunyai norma longgar bagi pergaulan heteroseksual. Tanggapan akan menjadi salah satu dasar terbentuknya sikap.penyimpulan sikap yang dicerminkan oleh jawaban terhadap skala sikap. sangat mungkin kita akan mempunyai sikap yang mendukung terhadap masalah kebebasan pergaulan heteroseksual.14 2) Kebudayaan Kebudayaan dimana kita hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap kita.faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap menurut Azwar (2009) adalah: 1) Pengalaman pribadi Sesuatu yang telah dan sedang kita alami akan ikut membentuk dan mempengaruhi penghayatan kita terhadap stimulus sosial.

Berbagai bentuk media massa seperti televisi. seseorang yang tidak ingin kita kecewakan atau seseorang yang berati khusus bagi kita. Diantara orang yang biasanya dianggap penting bagi individu adalah orang tua. majalah dll. 5) Institusi/ lembaga pendidikan dan lembaga agama Lembaga pendidikan serta lembaga agama sebagai suatu sistem mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap karena keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri ndividu. orang yang satatus sosialnya lebih tinggi. istri tau suami dan lain-lain. garis pemisah antara sesuatu yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan diperoleh dari pendidikan dan dari . sesorang yang kita harapkan persetujuannya bagi setiap gerak dan tingkah dan pendapat kita. mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini dan kepercayaan orang. Adanya informasi baru mengenai sesuatu hal memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut.penting. guru. teman kerja. Penyampaian 15 informasi sebagai tugas pokoknya. teman dekat. 4) Media massa Media massa sebagai sarana komunikasi. akan banyak mempengaruhi pembentukan sikap kita terhadap sesuatu. radio. Pemahaman akan baik-dan buruk. surat kabar. teman sebaya. Media massa membawa pula pesanpesan yang berisi sugesti yang dapat mengarahkan opini seseorang.

b. Selain dari faktor-faktor diatas yang mempengaruhi pembentukan sikap. Sikap seseorang terhadap suatu objek menunjukkan pengetahuan tersebut mengenai objek yang bersangkutan. Pengetahuan merupakan hasil dari tahu. menurut Walgito(2008) adalah faktor pengetahuan.pusat keagamaan serta ajaran-ajarannya. Sikap Seksual Pranikah Remaja Sikap seksual adalah respon seksual yang diberikan oleh seseorang setelah melihat. gambar-gambar yang berbau porno dalam wujud suatu orientasi atau kecenderungan dalam bertindak. Sikap yang dimaksud adalah sikap remaja . dengan pengalamannya untuk memperoleh pengetahuan. mendengar atau membaca informasi serta pemberitaan. Sikap demikian dapat merupakan sikap yang sementara dan segera berlalu begitu frustasi telah hilang akan tetapi dapat pula merupakan sikap yang lebih persisten dan bertahan lama. 6) Faktor emosi dalam diri individu Bentuk sikap tidak semuanya ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang. Kadang-kadang. dan hal ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. individu mempunyai dorongan untuk 16 mengerti. suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi yang berfungsi sebagai semacam penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego.

Secara tidak langsung dapat dilakukan dengan pernyataan pernyataan hipotesis kemudian dinyatakan pendapat responden melalui kuesioner (Notoadmojo. tingkat sosial ekonomi maupun tingkat . sangat tidak setuju (Hidayat. Kuesioner mengacu pada skala likert dengan bentuk jawaban pertanyaan atau pernyataan terdiri dari jawaban sangat setuju. 2009): 1) Sikap positif kecenderungan tindakan adalah mendekati. tidak setuju. 2) Sikap negatif terdapat kecenderungan untuk menjauhi. Hubungan antara pengetahuan dengan sikap seksual pranikah remaja Pengetahuan seksual pranikah remaja merupakan pengetahuan yang dapat menolong muda-mudi untuk menghadapi masalah hidup yang bersumber pada dorongan seksual. mengingat yang paling tahu keadaan anak adalah orang tuanya sendiri. 2008). Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. mengharapkan obyek tertentu. Sikap dapat bersifat positif dan dapat pula bersifat negatif (Azwar. Selain itu.17 B. menyenangi. membenci. Dalam hal ini pengetahuan seksual pranikah idealnya diberikan pertama kali oleh orangtua di rumah. Secara langsung dapat dinyatakan bagaimana pendapat dan pernyataan responden terhadap suatu obyek. 2008). tidak menyukai obyek tertentu. Tetapi sayangnya di Indonesia tidak semua orangtua mau terbuka terhadap anak di dalam membicarakan permasalahan seksual.terhadap perilaku seksual pranikah (Bungin. setuju. 2007). menghindari.

Dalam hal ini maka sebenarnya peran dunia pendidikan sangatlah besar (Chyntia. Pengetahuan seksual pranikah dapat mempengaruhi sikap individu tersebut terhadap seksual pranikah (Adikusuma. 2007). Remaja yang mendapat informasi yang benar tentang seksual pranikah maka mereka akan cenderung mempunyai sikap negatif.pendidikan yang heterogen di Indonesia menyebabkan ada orang tua yang mau dan mampu memberikan penerangan tentang seks tetapi lebih banyak yang tidak mampu dan tidak memahami permasalahan tersebut. Sebaliknya remaja yang kurang pengetahuannya tentang seksual pranikah cenderung mempunyai sikap positif/ sikap menerima adanya perilaku seksual pranikah sebagai kenyataan sosiologis (Bungin. 2007). 2008). .

b. Kerangka konseptual Variabe bebas Pengetahuan seksual pranikah remaja Variabel Terikat Sikap seksual pranikah remaja Faktor yang mempengaruhi pengetahuan 1. Kultur 3. Pendidikan 4. Lembaga pendidikan 6. Pengaruh orang lain 3. Pengalaman pribadi 2.1. Definisi Operasional Variabel Definisi operasional adalah definisi berdasarkan karakteristik yang diaamati dari sesuatu yang didefinisikan tersebut. Faktor emosional Gambar 2. Karakteristik yang dapat diamati (diukur) itulah yang merupakan kunci definisi operasional (Nursalam. 2008). Sosial ekonomi 2. Lembaga agama 7.Bab 3 Metodologi penelitian a. Pengaruh kebudayaan 4. Media massa 5. Kerangka Konsep Penelitian Hubungan antar pengetahuan dengan sikap seksual pranikah remaja Keterangan : . Pengalaman Faktor lain yang mempengaruhi pembentukan sikap: 1.

: diteliti : tidak diteliti D. . Hipotesis Penelitian Ada hubungan antara pengetahuan dengan sikap seksual pranikah remaja.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful