P. 1
Filsafat Pendidikan Kristen Dan Filsafat Sekolah Kristen

Filsafat Pendidikan Kristen Dan Filsafat Sekolah Kristen

|Views: 1,120|Likes:
Published by Otniol Seba

More info:

Published by: Otniol Seba on Feb 10, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/29/2012

pdf

text

original

Paper

Filsafat Pendidikan Kristen
dan

Filsafat Sekolah Kristen

Oleh:

Otniol H. Seba
Program: M.A.C.E

Untuk Memenuhi Tugas Akhir

Mata Kuliah: Pendidikan Orang Dewasa
Dosen: A. Areng Mutak, Ed. D

Lawang – Jawa Timur
3 Juni 2011

1

Filsafat Pendidikan Kristen
dan

Filsafat Sekolah Kristen
I. Latar Belakang Historis Penggunaan istilah Filsafat pendidikan Kristen dan filsafat sekolah Kristen tidak lepas dari latar belakang pengaruh Liberalisme yang melanda Eropa dan Amerika pada abad 19. Kehadiran Liberalisme tidak hanya menolak paham teologi ortodoks, tetapi berimplikasi terhadap semua kehidupan masyarakat secara umum, termasuk di dalam dunia pendidikan. Penekanan kepada moralitas (baik dan buruk) sangat bergantung kepada pribadi seseorang dan tidak ditentukan oleh agama dan keyakinan, secara khusus iman Kristen. Bagi para penganut Liberalisme, pendidikan harus lepas dari bayang-bayang iman Kristen. Ketika Liberalisme berkembang dan gereja terhisap di dalamnya, maka secara tidak langsung gereja tidak lagi menekankan mandat Alkitab di dalam dunia pendidikan, melainkan hanya menekankan kebaikan-kebaikan moral semata-mata1. Penekanan pada moralitas sebagaimana ditekankan oleh Dewey, merupakan suatu usaha yang dibangun atas dasar untuk membebaskan masyarakat (Amerika) dari keyakinan terhadap Allah menjadi kunci utama berkembangnya sekularisme relatif di dalam dunia pendidikan2. Bagi Dewey dunia pendidikan harus lepas dari paham dan iman Kristen3. Menurut Dewey, kemutlakan dogma hanya sekedar hipotesis, kebenaran-kebenarannya hanyalah sebuah pendapat, keyakinan-keyakinannya hanya merupakan hipotesis yang diverifikasi dengan pengalaman. Semua sumber, otoritas dan kriteria-kriteria di dalam seluruh keyakinan seseorang berakar di dalam pengalamannya4. Memasuki abad 20, di Amerika telah terjadi pemisahan besar, di mana pendidikan agama khususnya iman Kristen tidak lagi diajarkan di sekolah-sekolah pada umumnya (public school). Oleh karena itu pemahaman mengenai pendidikan Kristen hanya berlaku dan dibatasi di dalam lingkup-lingkup gereja, organisasi-organisasi keagamaan interRichard A. Riesen, Piety and Philosophy – A Primer for Christian Schools. (Arizona: ACW Press, 2002), p. 33. Riesen menyatakan: that the church turned classical liberal education to its own purposes is a good thing, not a bad thing. But the point is that it is not a Christian invention based on a biblical mandate. 2 Lihat dalam buku, D. Bruce Lockerbie, A Passion for Learning – A History of Christian Thought On Education. (Colorado: Purposeful Design Publication – A Division of ACSI, 2007), p. 301. 3 Catatan: Sampai dengan akhir abad 18, sistem pendidikan di Eropa dan Amerika sangat menekankan pandangan Kristen yang didasarkan pada Alkitab dan pemahaman tentang Allah menjadi dasar filosofi pendidikannya. 4 Ibid, p. 302.
1

2

denominasi dan kelurga-keluarga Kristen yang masih sangat kuat menjaga tradisi imannya. Dengan demikian filosofi pendidikan Kristen tidak dapat dipahami di dalam sistem pendidikan formal secara umum, melainkan hanya dipahami di dalam sistem pendidikan informal secara khusus, terbatas pada gereja-gereja, organisasi-organisasi keagamaan interdenominasi dan keluarga-keluarga. Pada pertengahan abad 19 terjadi kebangunan rohani besar-besaran yang melanda Amerika dan Eropa, di mana kaum injili kembali menegakkan supremasinya dengan “kebangunan-kebangunan” rohani yang melanda orang-orang Kristen dan gereja Tuhan. Akibatnya membawa dampak positif di dalam kehidupan gereja dan masyarakat, termasuk juga di dalam dunia pendidikan. Para tokoh-tokoh penting di dalam sejarah pendidikan Kristen (di antaranya: Charlotte M. Mason, Frank E. Gaebelein, Henry Zylstra, Zomone Weil5) mencoba mengembalikan dunia pendidikan di dalam kerangka filsafat pendidikan Kristen yang solid dengan prinsip-prinsip dasar iman Kristen yang berakar kuat di dalam Alkitab. Hal ini berdampak luas dengan dibukanya sekolah-sekolah Kristen oleh lembagalembaga Kristen, gereja dan pribadi-pribadi yang memiliki visi dan misi yang sangat solid didasarkan kepada Alkitab yang adalah Firman Allah. Jadi dapat kita lihat, bahwa di satu sisi Filsafat Pendidikan Kristen yang diterapkan di sekolah-sekolah secara umum ditentang oleh kaum Liberalisme yang menekankan “sekularisme” dan didasarkan pada kebaikan-kebaikan moralitas semata-mata. Hal ini menjadikan filsafat pendidikan Kristen hanya diajarkan dan terbatas pada gereja-gereja, lembaga keagamaan dan keluarga-keluarga6. Tetapi di sisi yang lain ketika Amerika dilanda dengan “kebangunan-kebangunan” rohani, maka secara tidak langsung muncul tokoh-tokoh Kristen yang memperjuangkan filsafat pendidikan Kristen yang secara khusus diterapkan di sekolah-sekolah Kristen, bukan sekolah umum (public school). Dengan demikian muncullah sekolah-sekolah Kristen dengan filsafat pendidikan Kristen yang didasarkan kepada Alkitab dan berakar kuat di dalam tradisi kekristenan.

II.

Definisi Filsafat Pendidikan Kristen Menjadi suatu kesulitan tersendiri di dalam memahami filsafat pendidikan Kristen

filsafat sekolah Kristen. Mengapa demikian? Karena tidak ada batasan yang jelas dari para
Ibid, p. 311-361 Filosofi mengenai pendidikan ini dapat dilihat di dalam pemikiran Rudolf Crump Miller, PAK yang Teologis Sentris. Dalam buku Robert Boehlke. Sejarah Perkembangan Pemikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen: Dari Yohanes Amos Comenius sampai Perkembangan PAK di Indonesia. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005), h. 690.
6 5

3

pakar pendidikan Kristen yang membedakan antara fisafat pendidikan Kristen dengan filsafat sekolah Kristen. Setidaknya ada 2 alasan mendasar mengenai hal ini: Pertama, kedua filsafat ini menggunakan dasar pemikiran yang berakar kuat di dalam pemahaman Alkitabiah dan filsafat Kristen. Kedua, kedua filsafat ini, baik filsafat pendidikan Kristen mapun filsafat sekolah Kristen bertumbuh dan berkembang di dalam tradisi kekristenan yang kuat, baik di Amerika maupun di Eropa. Namun hal yang perlu digaris bawahi Kedua hal ini tidak bersifat tumpang tindih (overlap), melainkan filsafat pendidikan Kristen menjadi ”payung” yang menangungi bagi filsafat sekolah Kristen7. Oleh sebab itu di dalam bagian ini tidak akan dipisahkan antara filsafat pendidikan Kristen dan filsafat sekolah Kristen Istilah filsafat, dapat didefinisikan secara umum sebagai ”cinta kebenaran”. Hal ini lebih menunjuk kepada dunia abstrak di dalam kategori berfikir manusia. Blackburn menuliskan, “Philosophy (Greek, love of knowledge or wisdom) The study of the most general and abstract features of the world and categories with which we think: mind, matter, reason, proof and truth, etc”8. Lebih dari itu filsafat menunjuk kepada pertanyaanpertanyaan penting yang berkaitan dengan kehidupan. Moreland and Craig menuliskan hal ini demikian, Accordingly, philosophy may be defined as the attempt to think rationally and critically about life’s most important question in order to obtain knowledge and wisdom about them9. Konsep mengenai filsafat ini memiliki hubungan dengan pernyataan Alkitab, baik Perjanjian Lama, maupun Perjanjian Baru. Di dalam Perjanjian Lama, Amsal 1:7 dan 9:10, menyatakan bahwa ”hikmat itu harus dimulai dengan takut akan Tuhan”. Mengapa demikian? Karena hikmat asalnya dari Tuhan (Amsal 2:6). Di dalam Perjanjian Baru, Kolose 2:3 menyatakan hal yang sama bahwa ”sebab di dalam Dialah tersembunyi segala harta hikmat dan pengetahuan.” Secara akademis, filsafat ini berusaha untuk mencari keherensi yang terorganisai dengan seluruh pengetahuan dan khususnya dialamatkan bagi
Beberapa pakar pendidikan Kristen menegaskan di dalam tulisan mereka, bahwa Filsafat Pendidikan Kristen juga meliputi Filsafat Sekolah Kristen. Lihat dalam Horace Bushnell, Christian Nurture. Dalam buku Robert Boehlke. Sejarah Perkembangan Pemikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen: Dari Yohanes Amos Comenius sampai Perkembangan PAK di Indonesia. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005), h. 451-503. Lihat juga Louis Berkhof & Cornelius Van Til, Foundation of Christian Education – Addresses to Christian Teachers. (New Jersey: Presbyterian and Reformed Publishing Company, 1990) 8 Simon Blackburn, The Oxford Dictionary of Philosophy. (Oxford: University Press, 2005), p. 276. 9 J.P. Moreland and William Lane Craig, Philosophical Foundations For A Christian Worldview. (Illinois: Inter Vasity Press, 2003), p. 13.
7

4

manusia yang berusaha untuk menemukan kebenaran, kebaikan realita dan nilai-nilai di dalamnya. Secara umum filsafat dapat didefinisikan sebagai suatu disiplin intelektual yang memusatkan perhatian pada natur dari realitas, dan investigasi secara umum tentang prinsipprinsip dari pengetahuan, eksistensi dan kebenaran. Filsafat Kristen lebih memusatkan pada realita dan kebenaran Allah. Geisler dan Feinberg menuliskan, ”karena kebenaran adalah milik Allah, dan filsafat adalah upaya untuk mencari kebenaran, maka filsafat dapat membantu kita dalam memahami Allah dan dunia-Nya”10. Hal ini bisa terjadi demikian, karena keyakinan Kristen menyatakan Allah adalah sumber dari semua kebenaran dan realita hidup. Di dalam analisis terakhir, menunjukkan dasar hubungan dari filsafat Kristen memiliki hubungan yang dalam dengan Allah, sang Pencipta dan Penebus11. Istilah pendidikan (=education) merupakan sebuah istilah yang memiliki banyak pengertian yang dapat ditinjau dari berbagai sudut pandang. Redja Mudyaharjo mendefinisikan pendidikan di dalam arti luas dan arti sempit. Dalam arti yang luas, pendidikan dapat didefinisikan sebagai keseluruhan pengalaman belajar setiap orang sepanjang hidupnya. Pendidikan ini berlangsung sepanjang hidup, tidak terbatas dalam satu jenis lingkungan serta tidak terbatas pada kegiatannya 12. Dalam arti sempit, pendidikan dapat diartikan sebagai sekolah atau persekolahan (schooling). Sekolah sebagai hasil rekayasa manusia diciptakan untuk menyelenggarakan pendidikan, dan penciptaannya berkaitan erat dengan penguasaan bahasa tertulis dalam masyarakat, yang berkembang makin sistematis dan meningkat 13. Hal yang berbeda dipaparkan oleh Veverka yang menjelaskan konsep pedidikan dalam arti formal dan informal. Pendidikan Formal berkaitan dengan pendidikan yang dilaksanakan di sekolah, sedangkan pendidikan informal atau pendidikan nonformal dalam dilakukan di dalam konteks masyarakat dan diperoleh di dalam pengalaman-pengalaman hidup14. Oleh karena definisi pendidikan itu sendiri cukup luas, maka di dalam paper ini kita akan secara khusus membahas dan membatasi pada pendidikan Kristen.

Norman L. Geisler dan Paul D. Feinberg, Filsafat dari Perspektif Kristiani. (Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas, 2002), h. 21. 11 Lihat di dalam Robert W. Pazmino, Foundational Issues In Christian Education: An Introduction in Evangelical Perspective. (Michigan: Baker Book House, 1990), p. 76. 12 Dr. Redja Mudyahardjo, Filsafat Ilmu Pendidikan – Suatu Pengantar. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008), hl. 45-46. 13 Ibid, h. 49. 14 Lihat dalam, Pazmino, Foundational Issues In Christian Education: An Introduction in Evangelical Perspective, p. 77.

10

5

Secara umum pendidikan Kristen memiliki beberapa definisi, sebagaimana diungkapkan oleh Michel J. Anthony yang mengutip Pazmino, Warner C. Graendorf and Norman DeJong. Pendidikan Kristen sebagaimana dituliskan oleh Michael J. Anthony yang mengutip Pazmino, mendefinisikan sebagai: Christian Education as, deliberate, systematic, and sustained divine and human effort to share or appropriate the knowledge, values, attitudes, skills, sensivities, and behaviors the comprise or are consistent with the Christian faith. It fosters of person, groups and structures by the power of the Holy Spirit to Conform to the revealed will of God as expressed in the Old Testament and New Testament and preeminently in the person of Jesus Christ, as well as any outcomes of that effort.15”. Pemahaman yang lain mengenai pendidikan Kristen didefinisikan oleh Warner C. Graendorf, demikian: “Christian Education is a Bible-based, Holy Spirit-empowered (Christ-centered) teaching-learning process. It seek to guide individuals at all levels of growth through contemporary teaching means towards knowing and experiencing God’s purpose and plan through Christ in every aspect of living. It also equips people for effective ministry, with the overall focus on Christ the Master Educator’s example and his command to make mature disciples”16 DeJong juga memberikan pemahaman yang berbeda mengenai pendidikan Kristen tersebut. Ia menuliskan, Education is the divinely investigated and humanly cooperative process whereby persons grow and develop in life, taht is, in godly knowledge, faith, hope and love through Christ17 Oleh karena itu Pendidikan Kristen harus berbeda dengan pendidikan lainnya. Mengapa demikian? Karena pendidikan Kristen memiliki “presuposisi” yang berbeda dari pendidikan lainnya. Pendidikan Kristen harus didasarkan kepada Allah dan Firman-Nya Sebagaimana diungkapkan oleh Shortt, We began to talk of Christian ‘presuppositions’ making a difference to our view of everything, including education. This is what distinguishes Christian education, we say. It is based on different presuppositions from all
Dikutip dari buku, Michael J. Anthony, Introduction Christian Education – Foundation for The Twenty-First Century. (Michigan: Baker Academic, 2001), p. 27. 16 Graendorf, Werner. C, Introduction to Biblical Christian Education, (Chicago: Moody Press, 1981), p. 16 17 Norman DeJong, Education in the Truth. (New Jersey: Presbyterian and Reformed, 1974), p. 118.
15

6

other views of education. We have a different set of basic beliefs derived from the Scriptures18. Jadi melalui beberapa hal di atas, kita dapat membuat rumusan mengenai Filsafat Pendidikan Kristen sebagai berikut: Filsafat Pendidikan Kristen adalah konsep pendidikan Kristen yang dibangun dan di dasarkan atas Alkitab dan doktrin Tritunggal yang diterapkan atau diaplikasikan di dalam proses pendidikan, di mana tujuan akhir dari proses ini adalah supaya setiap peserta didik memiliki wawasan yang luas, pertumbuhan karakter yang sesuai, dan dengan memiliki keyakinan iman yang menjadi jaminan kehidupan kekal di dalam seluruh proses kehidupan pribadinya.

III. Aspek-Aspek Yang Berhubungan Dengan Filsafat Pendidikan Kristen Filsafat Pendidikan Kristen tidak pernah lepas dari dasar-dasar teologis yang berhubungan erat dengan iman Kristen. Hal ini jelas yang dikatakan oleh Gaebelein sebagai berikut: What, then, does it mean to build a Christian philosophy of education upon them and upon the specific Biblical data such as the texts we have considered? Well, it means a realization of the farreaching implications of these Biblical distinctives. If God is the Creator of all things, the loving Sovereign of the universe, then naturalism is ruled out of our educational philosophy once and for all. If man is a fallen creature, then the sin that so easily besets us has radically distorted our life and thought. If Christ is the only Redeemer, then the distortion that began with the Fall can be corrected only by His work and by His truth, and education, along with all else, needs to be set right in Him. Everything true is of Him. For if, as Scripture affirms, God is the God of truth, if His Son is the Lord of truth, if His Spirit is the Spirit of truth, then the truth in its boundless dimensions, unknown and undiscovered as well as known and discovered, must be at once the context and goal of our education19 Oleh karena itu di dalam bagian ini akan diuraikan secara singkat aspek-aspek penting di dalam doktrin Kristen yang memiliki keterkaitan dengan Filsafat Pendidikan Kristen, sebagaimana diuraikan pada bagian berikutnya:

Lihat dalam, John Shortt, Christian Education Does Mean Something. The CARE Review, June 1997; Volume 9, Issue 1. 19 Frank S. Gaebelain, Towards a Christian Philosophy of Education. In Grace Journal V3 #3:3–11—Fall 1962, p. 8-9

18

7

A.

Doktrin tentang Alkitab Aspek pertama yang cukup penting di dalam Filsafat pendidikan Kristen adalah

mengenai dasar Filsafat Kristen itu sendiri yang berakar kuat di dalam Alkitab yang adalah Firman Allah. Firman Allah itu memberikan dasar yang kuat mengenai filsafat pendidikan Kristen yang dihubungkan dengan Allah sendiri sebagai sang kebenaran. Hal ini jelas terlihat di dalam pandangan Herman A. Hoyt, demikian: The person to whom ultimate appeal is made, according to the text, is God. A Christian student is urged to present himself approved unto God. This is basic. All else in this text goes for nothing if this fact is not clearly understood. The material with which the student works is the “word of truth.” This truth is related to God, and therefore it is to be understood that the word of truth is the Word of God. Since this is the Word of God, it is God that gives value to that word, for He is the God of truth20. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa Firman Allah menjadi dasar yang kokoh untuk membangun filsafat pendidikan Kristen itu sendiri. B. Doktrin tentang Allah Hal penting lainnya untuk diketahui bahwa filsafat pendidikan Kristen harus didasarkan kepada pemahaman teologis yang benar. Filsafat pendidikan Kristen harus berkaitan erat dengan pemahaman mengenai Allah yang benar21, sebagaimana dijelaskan di dalam kitab suci. Klaus Issler menegaskan bahwa filsafat pendidikan Kristen sangat berhubungan erat dengan studi tentang Allah: Theology is the study of God – who God is and what he has provided for his creation, both now and forever. Studying theology is especially important for Christian educator … first, to understand anything about life, we must begin with God and his revealed instruction. Second, human nature is designed by God to become Christlike – the goal toward which we educate. Finally, becoming like Jesus involves a “divinely ordined process” with which Christian educator must work. Each of these factors requires theological understanding and must inform how we educate Christians22.
Herman A. Hoyt, A Christian Philosophy of Education. In the Grace Journal – V3 #1 Winter 1962. p. 3-4. 21 Van Till said, Only upon a Reformed basis can God really be made central in education. Dikutip dari: The Reformed View of Education. Dalam Reformed Perspectives Magazine, Volume 9, Number 7, February 11 to February 17, 2007. 22 Klaus Issler, Theological Foundations of Christian Education. Lihat dalam, Anthony, Introduction Christian Education, p. 35.
20

8

Studi tentang Allah yang benar akan memberikan pemahaman yang benar mengenai filsafat Pendidikan Kristen. C. Doktrin tentang Kristus Selanjutnya mengenai filsafat pendidikan Kristen juga sangat berkaitan dengan Kristus sebagai dasar dari segala segala hikmat Allah, sebagaimana yang diungkapkan di dalam Kolose 2:3 dan 4:6. Hal ini ditegaskan oleh Hoyt dalam “A Christian Philosophy of Education, demikian: In speaking of the mystery of Christ, that is, the secret of His person, he said, “in whom are hid all the treasures of wisdom and knowledge” (Col 2:3; 4:16 ). Christ is the alpha and the omega. All truth has its beginning and ending in Him. It is His person that gives value and permanence to all truth. It is therefore clearly evident that the only real foundation for Christian education is the God of truth. And that God is revealed in the person of the Lord Jesus Christ 23 Hal yang penting untuk dipahami bahwa filsafat pendidikan Kristen memang harus didasarkan kepada Yesus Kristus, karena Karena Dialah Alfa dan Omega dan seluruh kebenaran Allah yang nyata di dalam seluruh ciptaan-Nya berawal dan berakhir di dalam Dia. Seluruh komitmen, panggilan, pelayanan dan kehidupan mahkluk ciptaan Allah harus didasarkan dan dikembalikan di dalam Yesus Kristus. D. Doktrin Roh Kudus Doktrin Roh Kudus memiliki signifikansi penting di dalam filsafat pendidikan Kristen. Hal ini jelas terlihat di dalam seluruh tindakan dan karya dari Roh Kudus yang berkaitan dengan pendidikan. Pazmino memberikan gambaran yang singkat mengenai hal ini. Ia menuliskan: The Holy Spirit is the activator and sustainer of life, the spirit of the truth, and the transformer of persons. The Holy Spirit applies, complements, and corrects human teaching. The Human quest for truth is education must be seen in relation to God being the source of all truth. The Holy Spirit enlightens the minds of persons to discern truth in general revelation. The holy spirit is agent for working personal and social transformation among persons in the world24.
Lihat, Hoyt, A Christian Philosophy of Education, p. 4 Lihat, Pazmino, Foundational Issues In Christian Education: An Introduction in Evangelical Perspective, p. 61.
24 23

9

Di dalam memahami doktrin Roh Kudus yang berkaitan dengan pendidikan Kristen harus diperhatikan bahwa Roh Kudus bukanlah “sarana” atau “media” yang diapaki Allah untuk membuat suatu perubahan. Harus ditekankan di dalam pendidikan Kristen bahwa Roh Kudus, adalah pribadi Allah yang hadir dan memberikan perubahan, baik secara konseptual maupun secara rohani di dalam diri setiap para peserta didik, di dalam konteks pendidikan Kristen.

IV. Definisi Sekolah Kristen Ada banyak pemahaman yang salah mengenai sekolah Kristen. Bagi sebagian orang, sekolah Kristen berarti sekolah yang terdiri dari komunitas Kristen, di mana pendidik dan peserta didik menganut keyakinan Kristen dan segala atribut yang menunjukkan sekolah itu adalah sekolah Kristen. Ini adalah pemahaman yang tidak berdasar. Secara historis di dalam tradisi kekristenan, Sekolah Kristen memiliki hubungan yang erat sekali dengan gereja dan keluarga. Ketiganya merupakan elemen yang terkait satu dengan yang lainnya. Sekolah Kristen juga memegang peranan penting, bukan saja hanya sebagai sarana untuk mengajarkan dan mengembangkan kebenaran-kebenaran umum di dalam ranah kognitif (pengetahuan) dan karakter, tetapi lebih dari itu sebagai sarana untuk membawa peserta didik di dalam pengenalan (iman dan pengetahuan) yang benar, kepada Kristus sang penebus hidup manusia. Di dalam konteks ini, Tan Giok Lie menghubungkan anugerah umum di dalam sekolah Kristen sebagai sarana untuk menyatakan anugerah khusus di dalam karya penebusan Kristus. Lie mengungkapkan demikian: “…sekolah Kristen memegang peranan dan fungsi esensial terkait implikasi anugerah umum Allah, karena dalam konteks sekolah Kristen anugerah umum-Nya sangat potensial bagi terbukanya akses terhadap anugerah khusus di dalam karya penebusan Kristus yang memberikan hidup berkelimpahan dan makna hidup sejati…”25 Dengan demikian, penting sekali merumuskan pengertian sekolah Kristen secara tepat. Secara umum Sekolah Kristen dapat diartikan sebagai tempat di mana para peserta didik dapat belajar memiliki dan mengembangkan pengetahuan (secara kognitif), bertumbuh di dalam karakternya sesuai dengan tingkat kedewasaannya, serta memiliki keyakinan iman di dalam hubungannya dengan Allah melalui Yesus Kristus. Definisi yang sederhana ini tidak
Tan Giok Lie, Implikasi Anugerah Umum Dalam Penyelenggaraan Pendidikan Umum Di Sekolah Kristen, dalam buku, Sola Gratia dan Pergumulan Masa Kini – Bunga Rampai. Togardo Siburian (Edit.). (Bandung: Penerbit STT Bandung, 2007), h. 258.
25

10

hanya memberikan gambaran mengenai tempat dan proses belajar, namun lebih dari itu harus menyatakan esensi pendidikan di dalam sekolah Kristen. Riesen menjelaskan mengenai sekolah Kristen ini demikian: To be is Christian school is by definition to be both of school and Christian; and to be Christian School means both a Christian approach academic work and an understanding that we are not saved by erudition. Because Christianity is not primarily about education, Christian education has the opportunity, the obligation, to remind, students that in Christ are hid all the treasures of wisdom and knowledge (Colosians 2:3), and that it was not by man’s wisdom that God choose to save the world, but by the foolishness of the Cross (1 Corinthians 1.18-21)… in other words, you cannot have a thoroughly Christian education without a thorough understanding of what Christianity is, and that leads to Christ and our relationship to him26. Hal ini secara jelas menyatakan bahwa tujuan keberadaan sekolah Kristen adalah melalui proses pengajaran yang ada di dalam sekolah Kristen dapat membangun dan membuat jembatan untuk para siswa (peserta didik) dapat memiliki hubungan yang erat dengan Kristus melalui keselamatan yang telah mereka terima dengan iman. Miller meringkaskan tujuan dari pendidikan Kristen di dalam sekolah Kristen dengan kerangka membangun hubungan menjadi anak Allah. Miller menegaskan: segala tenaga, dana dan sarana yang dihabiskan jemaat demi rencana pengalaman belajar-mengajar di kalangannya hendaknya ditujukan kepada usaha menolong setiap orang mengenal dirinya adalah anak Allah27. Selain memiliki tujuan yang jelas di dalam membangun kognitif, karakter dan iman di dalam Kristus, Sekolah Kristen haruslah menjadi komunitas Kristen di dalam arti yang memberi pendidikan (maksudnya pendidikan seutuhnya). Hal itu akan tercermin dari kurikulum sekolah Kristen sendiri yang memuat tujuan daripada pendidikan Kristen. Nicholas P. Wolterstoff menjelaskan empat hal penting terkait dengan sekolah Kristen sebagai komunitas Kristen, yaitu: berkaitan dengan struktur kurikulum, isi kurikulum, pedagogi serta struktur dan cara kerja komunitas yang merupakan perkara-perkara yang perlu kita renungkan di dalam terang kesetiaan dan relevansi. Semuanya itu harus sejalan dengan Injil dan responsif terhadap kebutuhan murid 28.
Riesen, Piety and Philosophy – A Primer for Christian Schools, p. 115. Miller, 2005, h. 691. 28 Lihat diskusi ini di dalam Nicholas P. Wolterstoff, Mendidik Untuk Kehidupan – Refleksi mengenai Pengajaran dan Pembelajaran Kristen. (Surabaya: Penerbit Momentum, 2007), h. 99100.
27 26

11

V.

Implementasi Filsafat Pendidikan Kristen di dalam Sekolah Kristen Hal yang perlu dipikirkan lebih lanjut adalah implementasi filsafat pendidikan Kristen

di dalam sekolah-sekolah Kristen. Bagaimanana mengimplementasikan hal tersebut? Seringkali yang ditemukan di dalam realita adalah kegagalan mengimplementasikan filsafat pendidikan Kristen di dalam sekolah-sekolah Kristen di dalam proses belajar setiap hari. Hal yang umum terjadi adalah setelah orang-orang tertentu dididik di dalam sekolahsekolah Kristen, para peserta didik ini tidak mampu mengimplementasi pemahaman dan pengetahuannya tentang imannya yang berakar kuat dari Alkitab, Allah dan Yesus Kristus di dalam kehidupan sehari-hari. Trevor Cooling menjelaskan ini demikian: “All too often children complete their study of Christianity in school knowing something about what Christians do and a few Bible stories, but have little or no conception of why Christians do these things or what significance the Bible stories have.”29. Oleh karena Pendidikan Kristen di dalam sekolah Kristen bukan sekedar kegiatan belajar-mengajar saja yang membawa manusia memiliki pengetahuan yang banyak, namun sebetulnya terpisah dari Allah. Oleh sebab itu pendidikan Kristen di dalam sekolah Kristen harus berusaha membawa pendidik dan peserta didiknya belajar mengenal Allah dalam berbagai aspek hidupnya. Seharusnya pengenalan akan Allah merupakan proses kegiatan yang bersifat dinamis dan berlangsung sepanjang hidup. Dalam hal inilah sekolah Kristen harus dapat merumuskan dan menerapkan filsafat pendidikan Kristen dengan tepat di dalam proses belajar-mengajar yang dilakukan di dalam sekolah. Filsafat Kristen yang diterapkan di dalam sekolah Kristen memberikan kesempatan yang besar bagi usaha untuk memperkenalkan Kristus dan menjadikan setiap pendidik dan peserta didik menjadi muridmurid Kristus, memiliki karakter Kristus dan bertumbuh di dalam iman serta pengenalan yang benar tentang Dia. Hal ini dapat terjadi jikalau penyusunan kurikulum dan hal terkait dengan proses pendidikan itu sendiri dapat mencerminkan Injil Kristus dan merespon akan kebutuhan para peserta didik.

VI. Kesimpulan Dari pembahasan di atas ada beberapa kesimpulan penting berkaitan dengan Filsafat Pendidikan Kristen dan Filsafat Sekolah Kristen yang harus diperhatikan:

Trevor Cooling, Concept Cracking – Exploring Christian Belief in School (The Stapleford Centre, 1994), p. 5. Cooling wrote, “All too often children complete their study of Christianity in school knowing something about what Christians do and a few Bible stories, but have little or no conception of why Christians do these things or what significance the Bible stories have.”

29

12

Pertama, bahwa filsafat pendidikan Kristen dan Filsafat Sekolah Kristen sama-sama memiliki dasar Alkitabiah dan dasar teologis yang kokoh untuk membentuk pendidikan Kristen yang solid Kedua, keberadaan sekolah Kristen harus mampu membangun jembatan untuk para siswa (peserta didik) dapat memiliki hubungan yang erat dengan Kristus melalui keselamatan yang telah mereka terima dengan iman melalui proses pengajaran yang dilakukan dalam sekolah Kristen Ketiga, bahwa Filsafat Pendidikan Kristen harus bisa merumuskan dengan tepat pengertian yang benar tentang arti dan tujuan Pendidikan Kristen di dalam Sekolah Kristen, sehingga proses tercapainya pendidikan Kristen itu sesuai dengan maksud dan tujuannya. Keempat, bahwa Filsafat Pendidikan Kristen harus dapat diimplementasikan di dalam sekolah Kristen sebagai dasar pelaksanaan proses pendidikan dan pembelajaran yang bermuara untuk membangun pemahaman dan pengetahuan iman peserta didik yang benar yang berakar kuat dari Alkitab, Allah dan Yesus Kristus. Soli Deo Gloria

Buku-Buku Sumber Anthony, Michael J., Introduction Christian Education – Foundation for The Twenty-First Century. (Michigan: Baker Academic, 2001) Berkhof, Louis., & Van Til, Cornelius., Foundation of Christian Education – Addresses to Christian Teachers. (New Jersey: Presbyterian and Reformed Publishing Company, 1990) Boehlke, Robert., Sejarah Perkembangan Pemikiran dan Praktek Pendidikan Agama Kristen: Dari Yohanes Amos Comenius sampai Perkembangan PAK di Indonesia. (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005). Blackburn, Simon., The Oxford Dictionary of Philosophy. (Oxford: University Press, 2005). DeJong, Norman., Education in the Truth. (New Jersey: Presbyterian and Reformed, 1974) Geisler, Norman L., dan Feinberg, Paul D., Filsafat dari Perspektif Kristiani. (Malang: Yayasan Penerbit Gandum Mas, 2002) Graendorf, Werner. C, Introduction to Biblical Christian Education, (Chicago: Moody Press, 1981) Lockerbie, D. Bruce., A Passion for Learning – A History of Christian Thought On Education. (Colorado: Purposeful Design Publication – A Division of ACSI, 2007)

13

Moreland, J.P., and Craig, William Lane., Philosophical Foundations For A Christian Worldview. (Illinois: Inter Vasity Press, 2003) Mudyahardjo, Redja., Filsafat Ilmu Pendidikan – Suatu Pengantar. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2008) Pazmino, Robert W., Foundational Issues In Christian Education: An Introduction in Evangelical Perspective. (Michigan: Baker Book House, 1990) Riesen, Richard A., Piety and Philosophy – A Primer for Christian Schools. (Arizona: ACW Press, 2002) Siburian, Togardo, (Edit.)., Sola Gratia dan Pergumulan Masa Kini – Bunga Rampai. (Bandung: Penerbit STT Bandung, 2007) Wolterstoff, Nicholas P., Mendidik Untuk Kehidupan – Refleksi mengenai Pengajaran dan Pembelajaran Kristen. (Surabaya: Penerbit Momentum, 2007) Artikel dan Jurnal Cooling, Trevor., Concept Cracking – Exploring Christian Belief in School (The Stapleford Centre, 1994). Gaebelain, Frank S., Towards a Christian Philosophy of Education. In the Grace Journal V3 #3:3–11—Fall 1962 Hoyt, Herman A., A Christian Philosophy of Education. In the Grace Journal – V3 #1 Winter 1962 Shortt, John., Christian Education Does Mean Something. The CARE Review, June 1997; Volume 9, Issue 1. Van Till, Cornelius., The Reformed View of Education. Reformed Perspectives Magazine, Volume 9, Number 7, February 11 to February 17, 2007.

14

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->