BERBAGAI MASALAH HUKUM SHALAT JUM’AT

Oleh : Moh. Mujib Zunun @lmisri Program Magister Manajemen Pendidikan Islam STAIN Tulungagung Pengantar Masalah khilafiah merupakan persoalan yang terjadi dalam realitas kehidupan manusia. Di antara masalah khilafiah tersebut ada yang menyelesaikannya dengan cara yang sederhana dan mudah, karena ada saling pengertian berdasarkan akal sehat. Tetapi dibalik itu masalah khilafiah dapat menjadi ganjalan untuk menjalin keharmonisan di kalangan umat Islam karena sikap ta’asub (fanatik) yang berlebihan, tidak berdasarkan pertimbangan akal sehat dan sebagainya. Perbedaan pendapat dalam lapangan hukum sebagai hasil penelitian (ijtihad), tidak perlu dipandang sebagai faktor yang melemahkan kedudukan hukum Islam, bahkan sebaliknya bisa memberikan kelonggaran kepada orang banyak sebagaimana yang diharapkan Nabi :

(‫اختلف امتى رحمة )رواه البيهقى فى الرسالة الشعرية‬
“Perbedaan pendapat di kalangan umatku adalah rahmat” (HR. Baihaqi dalam Risalah al-Asy’ariyyah). Hal ini berarti, bahwa orang bebas memilih salah satu pendapat dari pendapat yang banyak itu, dan tidak terpaku hanya kepada satu pendapat saja. Sebenarnya ikhtilaf telah ada di masa sahabat, hal ini terjadi antara lain karena perbedaan pemahaman di antara mereka dan perbedaan nash (sunnah) yang sampai kepada mereka, selain itu juga karena pengetahuan mereka dalam masalah hadis tidak sama dan juga karena perbedaan pandangan tentang dasar penetapan hukum dan berlainan tempat.1 Sebagaimana diketahui, bahwa ketika agama Islam telah tersebar meluas ke berbagai penjuru, banyak sahabat Nabi yang telah pindah tempat dan berpencar-pencar ke negara yang baru tersebut. Dengan demikian, kesempatan untuk bertukar pikiran atau bermusyawarah memecahkan sesuatu masalah sukar dilaksanakan. Sampai saat ini Fiqih ikhtilaf terus berlangsung, mereka tetap berselisih paham dalam masalah furu’iyyah, sebagai akibat dari keanekaragaman sumber dan aliran dalam memahami nash dan mengistinbatkan hukum yang tidak ada nashnya. Perselisihan itu terjadi antara pihak yang memperluas dan mempersempit, antara yang memperketat dan yang memperlonggar, antara yang cenderung rasional dan yang cenderung berpegang pada zahir nash, antara yang mewajibkan mazhab dan yang melarangnya. 1 M. Ali Hasan, Perbandingan Mazhab Fiqih, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, Cet. I, 1997, hlm 12. 1

Pengertian Mazhab Menurut Bahasa “mazhab” berasal dari shighah mashdar mimy (kata sifat) dan isim makan (kata yang menunjukkan tempat) yang diambil dari fi’il madhi “dzahaba” yang berarti “pergi”3. maka fokus pembahasan yang dilakukan oleh penulis adalah berkaitan erat dengan pandangan mazhabmazhab fiqih terhadap berbagai masalah hukum sekitar sholat Jum’at. Masing-masing mazhab tersebut memiliki pokok-pokok pegangan yang berbeda yang akhirnya melahirkan pandangan dan pendapat yang berbeda pula. Perbedaan pendapat inilah yang kemudian melahirkan mazhab-mazhab Islam yang masih menjadi pegangan orang sampai sekarang. Seperti kita ketahui dari sejarah bahwa peristiwa “tahkim” adalah titik awal lahirnya mazhab-mazhab teologi dalam Islam.2 aliran-aliran teologi dalam Islam ada yang bercorak liberal. perbedaan pendapat di kalangan umat ini. Hidakarya Agung. Untuk itu penulis mencoba memaparkan pandangan berbagai mazhab dalam Islam mengenai berbagai masalah sekitar sholat jum’at. sampai kapan pun dan di tempat mana pun akan terus berlangsung dan hal ini menunjukkan kedinamisan umat Islam. tetapi juga terjadi pada lapangan teologi. Sementara bisa juga berarti al-ra’yu yang artinya “pendapat”4. maka penulis jelaskan terlebih dahulu pengertian tentang mazhab. atau mengistinbatkan hukum Islam. Jakarta : PT. 2003.. 2002. Kamus Arab-Indonesia. 3 Mahmud Yunus. Selanjutnya Imam Mazhab dan mazhab itu berkembang pengertiannya menjadi kelompok umat Islam yang mengikuti cara 2 Harun Nasution. Pengantar Perbandingan Mazhab. 2 . Cet. hlm.Ikhtilaf bukan hanya terjadi para arena fiqih. Jakarta : Logos. Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan. termasuk di antaranya adalah pandangan mereka terhadap berbagai masalah hukum sekitar sholat Jum’at. Sebelum masuk pada pembahasan tentang berbagai pandangan mazhab-mazhab tentang hal tersebut. hlm. III. Jakarta : UI Press. ada yang tradisional dan ada pula yang bercorak antara liberal dan tradisional. Masing-masing mazhab teologi tersebut masing-masing memiliki corak dan kecenderungan yang berbeda-beda seperti dalam mazhab-mazhab fiqih.135 4 Huzaemah Tahido Yanggo. 1990. 71. Perbedaan pendapat pada aspek teologi ini juga memiliki implikasi yang besar bagi perkembangan pemahaman umat Islam terhadap ajaran Islam itu sendiri. Menurut Harun Nasution. Sedangkan secara terminologis pengertian mazhab adalah pokok pikiran atau dasar yang digunakan oleh imam Mujtahid dalam memecahkan masalah. karena pola pikir manusia terus berkembang. Karena pembahasan ini lebih berkaitan dengan aspek hukum. Menurut hemat penulis.

140. Mazhab al-Laitsi 5 Ahmad satori Ismail. b. Imamiyah dan Ibadiyah. Mustofa Imbabi. Mazhab adalah fatwa atau pendapat seorang Imam Mujtahid tentang hukum suatu peristiwa yang diambil dari al-Qur’an dan hadis. Hambali. halaman 76 3 . Cet. Cet. 7 Huzaemah Tahido Yanggo.istinbath Imam Mujtahid tertentu atau mengikuti pendapat Imam Mujtahid tentang masalah hukum Islam. Syi’ah a. ahl al-Hadis terdiri atas : 1) Mazhab Maliki 2) Mazhab Syafi’I 3) Mazhab Hambali 2. Mazhab adalah jalan pikiran atau metode yang ditempuh seorang Imam Mujtahid dalam menetapkan hukum suatu peristiwa berdasarkan kepada alQur’an dan hadis. hlm. Syi’ah Zaidiyah b. ahl al-Ra’yi kelompok ini dikenal pula dengan Mazhab Hanafi b. I. 94 6 M. Adapun mazhab-mazhab lainnya telah tiada. Maliki. maka hanya beberapa mazhab saja yang bisa bertahan sampai sekarang. Mazhab al-Zhahiri c. Syafii. Kairo : al-Maktabah al-tijariyyah al-kubro. Zaidiyah. Musthofa Imbabi.cit. Syi’ah Imamiyah 3. 2003. Tarikh Tasyri’ al-Islami. IX. Menurut M. Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah a. para ahli sejarah fiqh telah berbeda pendapat sekitar bilangan mazhab-mazhab. Pasang Surut Perkembangan Fiqh Islam. Dalam perkembangan mazhab-mazhab fiqih telah muncul banyak mazhab fiqih. Tidak ada kesepakatan para ahli sejarah fiqh mengenai berapa jumlah sesungguhnya mazhab-mazhab yang pernah ada. Jakarta : Pustaka Tarbiatuna.6 Sementara Huzaemah Tahido Yanggo mengelompokkan mazhab-mazhab fiqih sebagai berikut :7 1. Namun dari begitu banyak mazhab yang pernah ada. Jadi bisa disimpulkan bahwa yang dimaksud mazhab meliputi dua pengertian a. Menurut Ahmad Satori Ismail5. Mazhab al-Auza’i b. Khawarij 4. op. Mazhab-mazhab yang telah musnah a. hlm. mazhab-mazhab yang masih bertahan sampai sekarang hanya tujuh mazhab saja yaitu : mazhab Hanafi. Mazhab al-Thabari d.

) 2. Sufyan ibn Uyainah (w.dibandingkan hari-hari lainnya. dapat disimpulkan bahwa mazhab-mazhab yang pernah ada dalam sejarah umat Islam sangat sulit untuk dipastikan berapa bilangannya. 204 H.) 8.) 6. untuk itu untuk menjelaskan berbagai pandangan mazhab tentang berbagai masalah hukum di sekitar sholat Jum’at secara keseluruhan bukanlah persoalan mudah sebab harus mengkaji dan mencari setiap literatur berbagai pandangan mazhab-mazhab tersebut. Namun. III.bersabda: "Sebaik-baik hari adalah hari Jum'at. 175 H. Di antara keistimewaan itu adalah hari Jum'at yang juga merupakan hari raya bagi umat Islam. Abu Sa’id al-Hasan ibn Yasar al-Bashri (w. 157 H. 2003.) 13. mempunyai kedudukan yang agung dan merupakan hari yang paling utama.) 12. Abu Hanifah al-Nu’man ibn Tsabit ibn Zuthi (w. berikut penulis jelaskan tentang Keutamaan Sholat Jum’at. Hari jum'at adalah hari yang penuh keberkahan. 70-71 4 .) 3.) 5. 270 H. tidak semua aliran itu dapat diketahui dasar-dasar dan metode istinbat hukumnya.) Dari penjelasan di atas. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu. 310 H. 241 H. Tidak ada perbedaan di kalangan Ulama bahwa hari Jum'at adalah hari yang paling afdhal (utama) dari hari-hari lainnya. 110 H.) 4.) 7. Adapun di antara pendiri tiga belas aliran itu adalah sebagai berikut : 1. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya. Ketiga belas aliran ini berafiliasi dengan aliran ahlu al-Sunnah. Cet. Sebelum membahas beberapa aspek hukum dalam pelaksanaan Sholat Jum’at. 179 H.) 11. Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal (w. bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam. hlm. Al-Laits ibn Sa’ad (w. Muhammad ibn Jarir ibn Yazid al-Thabari (w. 238 H. Keutamaan Hari Jum’at Allah telah menganugerahkan bermacam-macam keistimewaan dan keutamaan bagi umat Islam. Muhammad ibn Idris al-Syafi’i (w.) 10. Daud ibn ‘Ali al-Ashbahani al-Baghdadi (w. Abu Tsaur Ibrahim ibn Khalid al-Kalabi (w. Pandangan empat mazhab yang akan penulis jabarkan di bawah ini antara lain merupakan kutipan dari buku Al-Fiqh ‘ala al-Mazahib al-Arba’ah karya Syekh Abdurrahman al-Juzairi. Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam.Sementara itu Thaha Jabir Fayald al-‘Ulwani8 menjelaskan bahwa mazhab fiqh yang muncul setelah sahabat dan kibar al-Tabi’in berjumlah 13 aliran. untuk itu yang akan penulis jelaskan hanya terbatas pada pandangan empat mazhab yang masyhur. pada hari itu Nabi Adam 'Alaihi Wasallam 8 Jaih Mubarok. Ishaq bin Rahawaih (w. 150 H. 240 H. 160 H. 198 H.) 9. Malik ibn Anas al-Bahi (w. Sufyan ibn Sa’id ibn Masruq al-Tsauri (w. Hari yang paling mulia -selama matahari masih terbit. Al-Auza’i Abu ‘Amr ‘Abd Rahman ibn ‘Amr ibn Muhammad ( w.

Zaadul Ma'ad. Juz 1. Hari ini dibandingkan dengan hari-hari lainnya dalam sepekan. dan hari qiamat tidak akan terjadi kecuali pada hari Jum'at. (HR. laksana bulan Ramadhan dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. hal. sudah tentu hari itu lebih utama dari hari-hari lainnya dalam berbagai segi9. beliau berkata : ‫صلة الجمعة ركعتان تمام غير قصر على لسان نبيكم صلى ال عليه وسلم‬ “Sholat Jum’at itu dua rakaat. sedangkan hari 'Arafah dan 'Idul adha adalah hari yang paling utama dalam setahun. al-Nasai dan Ibnu Majah dengan sanad Hasan). t. 398 5 . menerangkan beberapa perbedaan Ulama tentang keutamaan hari Jum'at dengan hari 'Arafah. ( ini adalah lafadz Muslim dari Abu Hurairah. berdasarkan hadist ini.Ibnu Hibban) Hadits lain dari Aus bin Aus. "Mana yang lebih afdhal (utama) hari Jum'at atau hari 'Arafah?.10 A. Sholat Jum’at itu dua rakaat berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Umar r. 9 Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Waktu mustajab pada hari Jum'at seperti waktu mustajab pada malam lailatul qodar di bulan Ramadhan”. 59-60 10 Ibid. Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya yang mukmin berkumpul untuk melaksanakan ibadah kepada-Nya”. Qadhi Abu Ya'la menyebutkan sebuah riwayat Imam Ahmad bahwa malam Jum'at lebih utama dari malam lailatur qadar. "Sebaik-baik hari -selama matahari masih terbitadalah hari Jum'at".a.th. dilaksanakan dengan sempurna tanpa qoshor berdasarkan lisan Nabi SAW. Sholat Jum’at adalah fardhu bagi setiap orang yang memenuhi syaratsyarat yang akan dijelaskan nanti. Muslim). hlm. Ibnu Qayyim Al-Jauziyah berkata: “Hari Jum'at adalah hari ibadah.Yang benar bahwa hari Jum'at adalah hari yang paling utama dalam seminggu.diciptakan.) Ada yang mengatakan. dengan demikian bila hari Jum'at bertepatan dengan hari 'Arafah." Sebuah riwayat dari Ibnu Hibban dalam "shahihnya" dari hadits Abu Hurairah ia mengatakan: "Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda. sedangkan lafadz Ibnu Hibban "sesungguhnya sebaik-baik hari-hari kalian adalah hari Jum'at". karena umat Islam berkumpul pada hari itu setiap pekan di balai-balai pertemuan yang luas. sebagian ulama berpendapat bahwa hari Jum'at lebih utama dari hari Arafah. demikian juga halnya dengan malam lailatul qadar dan malam Jum'at. karena artinya merupakan turunan dari kata al-jam'u yang berarti perkumpulan. pada hari itu dia dimasukkan ke sorga. pada hari itu dia dikeluarkan dari surga. AlHafidz Ibnu Katsir berkata: "Hari ini dinamakan Jum'at. Hukum Sholat Jum’at dan Dalilnya. (HR. Beliau mengatakan bila ada yang bertanya. "Tidak ada hari yang lebih mulia selama matahari terbit dan terbenam selain hari Jum'at".

Dalil mengenai ketentuan waktu sholat Jum’at adalah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam kitab “Shahih Bukhori” dari Anas bin Malik ra. 6 . Bila ketinggalan maka wajib melaksanakan sholat Zhuhur empat rakaat. kemudian akan aku bakar rumah mereka (laki-laki) yang meninggalkan sholat Jum’at. Imam Muslim meriwayatkan dari Salamah bin al-Akwa’ ia berkata : ‫كنا نجمع مع رسول ال صلى ال عليه وسلم اذا زالت الشمس ثم نرجع نتتبع‬ ‫الفئ‬ “Kami melaksanakan sholat jum’at bersama Rasulullah SAW ketika matahari telah tergelincir. di antaranya adalah sabda Rasulullah SAW yang menyatakan : ‫لقد هممت أن أمر رجل يصلى بالناس ثم أحرق على رجال يتخلفون عن الجمعة‬ ‫بيوتهم‬ “Aku pernah berkehendak untuk menyuruh seorang laki-laki melaksanakan sholat bersama orang-orang. Al-Jumu’ah : 9) Adapun ketentuan yang terdapt dalam Sunnah. Adapun Ketetapan yang terdapat dalam al-Qur’an adalah firman Allah : ‫يا أيها الذين امنوا اذا نودي للصلة من يوم الجمعة فاسعوا الى ذكر ال وذروا‬ ‫البيع‬ “Hai orang-orang yang beriman.Sholat Jum’at itu hukumnya fardhu’ain bagi setiap mukallaf yang mampu dan memenuhi syarat-syaratnya. Waktu sholat Jum’at adalah sama dengan waktu sholat Zhuhur. Imam Muslim).S. Dan (atas dasar dalil-dalil tersebut) telah diadakan ijma’ bahwa sholat Jum’at itu hukumnya fardhu ‘ain. B. apabila diseru untuk menunaikan sholat pada hari jum’at. Sunnah dan Ijma’. yaitu dari tergelincirnya matahari hingga ukuran bayangan sesuatu sama dengannya. (Q. : ‫كان النبي صلى ال عليه وسلم يصلى الجمعة حين تميل الشمس‬ “Nabi SAW melaksanakan sholat Jum’at ketika matahari condong (tergelincir)”. kemudian kami pulang mengikuti bayangan”. dan ia bukan pengganti sholat Zhuhur. Waktu Sholat Jum’at dan Dalilnya. Hukum fardhu sholat Jum’at itu ditetapkan dalam al-Qur’an. maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli”.” (HR.

04 Km. sekalipun ada orang yang dapat membawanya (menuntunnya). maka sholat Jum’at itu tidak wajib bagi anak kecil yang belum mencapai usia baligh. 1 mil sama dengan 6. Di dalam kota. sekalipun mereka tidak dating secara keseluruhan. Inilah yang difatwakan oleh sebagian besar fuqaha mazhab Hanafiyah. Berikut penulis sebutkan di bawah pendapat masing-masing dalam masalah ini : Hanafiyah : Mereka berpendapat bahwa syarat-syarat sholat Jum’at yang tidak termasuk dalam syarat-syarat sholat lainnya dapat dibagi menjadi dua bagian. 6.000 hasta. yaitu : 1. Sholat Idul Fitri dan Sholat Idul Adha tidaklah dilaksanakan kecuali di negeri yang luas atau kota besar. maka sholat Jum’atnya sah dan cukup baginya sebagai pengganti sholat Zhuhur. Sehat. Jika ia tidak mampu pergi ke mesjid dengan jalan kaki. Maka menurut mereka sholat Jum’at itu sah dilaksanakan di setiap daerah yang meng-kota yang di dalamnya terdapat banyak masjid yang dipakai untuk mendirikan sholat 7 . Jika ia mukim di daerah yang jauh dari tempat sholat Jum’at. Sholat Tasyriq. yaitu 3 mil. maka sholat Jum’at itu tidak wajib bagi wanita. Baligh. maka sholat Jum’atnya itu sah. Perbedaan antara kota dan desa. 3. maka sholat Jum’at itu tidak wajib bagi hamba sahaya. bahwa kota itu adalah suatu tempat (daerah) di mana paling besarnya mesjid yang ada di dalamnya tidak cukup untuk menampung penduduknya yang mukallaf untuk melaksanakan sholat Jum’at.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam kitabnya. 5. Akan tetapi apabila ia menghadiri dan melaksanakannya. Laki-laki. Sedangkan syarat sahnya sholat Jum’at ada tujuh. Syarat wajib sholat Jum’at menurut mereka ada enam : 1. maka sholat Jum’at itu tidak wajib bagi orang gila dan yang hukumnya sama dengannya. Menurut mereka yang dimaksud jarak jauh adalah jarak 1 farsakh. maka kewajiban melaksanakan sholat Jum’at itu gugur. sesuai dengan kesepakatan Hanafiyah. Merdeka. berdasarkan sabda Rasulullah SAW : “Sholat Jum’at. yaitu 5. Bermukim di daerah tempat didirikannya sholat Jum’at atau dekat dengannya. maka sholat Jum’at itu tidak wajib bagi orang sakit yang tidak dapat pergi menghadiri sholat Jum’at dengan jalan kaki. Akan tetapi bila ia menghadirinya. maka sholat Jum’at itu tidak diwajibkan kepada orang yang tinggal di desa. maka sholat Jum’at tidak wajib baginya. yang sanadnya Mauquf di Ali ra. Berakal. yaitu syarat wajib dan syarat sah.Syarat-syarat Sholat Jum’at Mengenai syarat-syarat sholat Jum’at terdapat perbedaan dari masingmasing mazhab. 4. Demikian juga hadits ini diriwayatkan al-Razzaq). 2.

Hendaknya ia berada di negeri tempat tinggalnya. maka sholat Jum’at itu tidak sah apabila dilaksanakan sendirian. yaitu : 1. Ada izin dari penguasa (pemimpin) atau wakilnya yang dipercayakan. atau jiwanya. Jum’at. maka sholat Jum’at itu tidak diwajibkan kepada wanita. 3. Laki-laki. Berjamaah. Tidak ada uzur yang membolehkan untuk meninggalkan sholat Jum’at. Di masjid Jami’. Ia tidak khawatir ada seorang zalim memenjarakannya atau memukulnya untuk aniaya. 5. 4. Bukan pada waktu panas membakar atau dingin mencekam. 6. Tinggal di suatu kota atau daerah di mana ia hidup di kota tersebut selamanya dalam keadaan aman dari orang-orang pendatang yang dapat menguasainya. 5. 2. 6. 4. Orang tersebut dapat melihat. Syafi’iyah : Mereka berpendapat bahwa syarat-syarat sholat Jum’at itu dibagi menjadi dua bagian. Imam tersebut seorang yang mukim atau musafir yang berniat mukim selama empat hari.2. Ia tidak mengkhawatirkan hartanya. maka sholat Jum’at tidak diwajibkan kepada orang buta. Dihadiri dua belas orang selain imam. Malikiyah : Mereka berpendapat bahwa syarat Jum’at itu dibagi menjadi dua bagian. Merdeka 3. Imam. 4. 8. Syarat wajibnya yaitu : 1. karena tidak ada satu desapun di mana paling besarnya masjid yang ada cukup untuk menampung seluruh penduduknya yang mukallaf. 5. Namun Syafi’iyah menganggap sah sholat 8 . yaitu syarat wajib dan syarat sah. 7. maka sholat Jum’at itu tidak sah dilaksanakan si suatu tempat yang mana sebagian orang dilarang masuk ke tempat tersebut. b. yaitu syarat wajib atau syarat sah. Adapun syarat-syarat wajibnya sama dengan syarat wajib yang 10 sebagaimana pendapat Malikiyah. 9. 7. Dua khutbah. Sedangkan syarat sah sholat Jum’at ada lima perkara. Khutbah itu dilakukan sebelum sholat. maka sholat Jum’at tidak sah kecuali apabila waktu zhuhur telah masuk. 3. kehormatannya. Yang menjadi imam adalah orang yang menjadi khatib. 2. Ia bermukim di suatu kota yang di sana didirikan sholat Jum’at. Diperkenankan untuk masyarakat umum oleh Imam (penguasa). Bukan seorang tua bangka yang sulit baginya untuk hadir. Berkhutbah. atau bermukim di suatu desa atau kemah jauhnya dari kota itu berjarak 3⅓ mil. kecuali ada orang yang membawanya. 10. Masuk waktu. Tentang imam disyaratkan dua hal : a.

Adapun syarat sahnya sholat Jum’at ada empat yaitu : 1. Jumlah jamaahnya mencapai empat puluh orang. Masuk waktu. 3. Syarat wajibnya juga hampir sama dengan mazhab lainnya yaitu : 1. 9 . Keseluruhan sholat Jum’at dan kedua khutbahnya jatuh pada waktu Zhuhur dengan yakin. 4. ataupun bangunan di bawah tanah. Tidak takut dipenjarakan dan lain sebagainya karena dizalimi. 3. 7. Laki-laki. 6. Adapun syarat sahnya sholat Jum’at menurut Syafi’iyah ada 6 perkara yakni : 1. gua dalam gunung. Dihadiri empat puluh orang atau lebih termasuk imamnya. Mendahulukan dua khutbah lengkap dengan rukun dan syaratnya. 6. Sholat Jum’at dilaksanakan secara berjamaah. Sholat Jum’at itu hendaknya dilakukan terlebih dahulu dari sholat lainnya di tempat sholat Jum’at itu dilaksanakan. Tidak khawatir akan kehilangan harta atau mengkhawatirkan kehormatan atau jiwanya. Sholat Jum’at itu didirikan di sebuah gedung (bangunan). 4. 2. Tidak ada uzur yang membolehkan untuk meninggalkan sholat Jum’at.Jum’atnya wanita dan hamba sahaya. Bukan pada waktu panas membakar atau dingin mencekam. Dilaksanakan dalam suatu bangunan yang luas (memadai). 5. 2. 4. 8. 2. 5. Sementara itu Syafi’iyah juga mensyaratkan hendaklah dapat mendengar seruan azan bagi orang ysng bermukim atau dekat tempat didirikannya. desa. 3. baik bangunan itu di kota. Hanabilah : Mereka juga berpendapat sama dengan tiga mazhab sebelumnya tentang adanya syarat wajib dan syarat sah sholat Jum’at. Hendaknya berukim di suatu kota atau desa. kampung. Merdeka. Hendaklah orang itu dapat melihat. Dua khutbah lengkap dengan syarat-syarat dan hukum-hukumnya.

Ketika zaman Utsman bin Affan dan banyaknya umat Islam di kota Madinah.R. Di mana mereka yang menafikannya mengatakan bahwa tidak ada satu pun hadits tentang itu yang shahih. agar mereka bergegas ke Masjid. sehingga ini merupakan Ijma' Sahabat. Berikut pandangan dari mazhabmazhab tersebut : Malikiyah : Mereka berpendapat bahwa batas minimal jumlah jamaah yang sah untuk sholat Jum’at adalah dua belas orang laki-laki selain imam. Yang ada hanyalah hadits-hadits lemah saja.Hukum Sholat Qabliyah Jum’at Tiga mazhab (Hanafiyah. Sedangkan satu mazhab lagi yaitu As-Syafi'iyah menyatakan sebaliknya. Bukhari. Malikiyah dan Hanabilah) menyatakan bahwa shalat Qabliyah Jumat itu tidak ada dasar pensyariatannya. C. Inti perbedaan pendapat mereka terletak pada hadis-hadis yang meriwayatkan praktek shalat qabliyah jumat itu. yaitu mengqiyaskan shalat Jumat dengan shalat Zhuhur. Beliau mengambil jalan qiyas. Muazin malaksanakan azan di depan khatib. Akan tetapi mereka berselisih pendapat tentang jumlah jamaah yang sah untuk sholat Jum’at. Pendapat Usman ternyata tidak ditentang para sahabat lain yang ada saat itu. disunnahkan untuk melakukan shalat sunnah sebelumnya. Azan sholat Jum’at Pada zaman Rasulullah Azan sholat Jum'at hanya sekali. Jumlah Jamaah Sholat Jum’at yang Sah Para imam mazhab sepakat bahwa sholat Jum’at itu tidak sah kecuali dilaksanakan dengan berjamaah. sekalipun mereka tidak menghadiri khutbah Jum’at. yaitu ketika Khatib telah naik ke atas mimbar dan duduk. Baihaqi dll). Sehingga kalau sebelum shalat Zhuhur disunnahkan untuk melakukan shalat sunnah sebelumnya. (H. maka beliau menganjurkan azan pertama untuk tujuan mengingatkan kepada penduduk Madinah akan masuknya waktu sholat Jum'at. maka demikian juga dengan shalat Jumat. 10 . Hanafiyah : Mereka berpendapat bahwa jamaah yang sah untuk sholat Jum’at disyaratkan ada tiga orang selain imam. Namun Syafi'iyah memang tidak melandaskan pendapatnya pada hadits yang lemah sebagaimana dituduhkan.

Syafi’iyah dan Hanabilah : Mereka berpendapat bahwa jamaah yang sah untuk sholat Jum’at jumlahnya empat puluh orang beserta imamnya. Dan disunnahkan mengulangi khutbahnya bila tidak membaca shalawat. Rukun ini harus dilakukan dalam masing-masing khutbah pertama dan kedua. khususnya dalam khutbah kedua. Membaca shalawat kepada Rasulullah SAW dan harus dengan menggunakan lafadz shalawat. Memuji Allah. dan dalam kedua khutbah itu tidak disyaratkan menggunakan kalimat bersajak. 2. 5. sekali tasbih dan sekali tahlil. Jika ia berkhutbah dengan menggunakan kalimat-kalimat puitis atau prosa. Membaca sholawat atas Nabi SAW pada masing-masing dari kedua khutbah. 3. Berwasiat (berpesan) agar supaya bertaqwa (kepada Allah) dalam masingmasing dari kedua khutbah sekalipun tidak menggunakan lafadz “wasiat”. Berdoa untuk orang-orang mukmin dan mukminat. yaitu hendaknya khutbah itu mencakup kabar gembira dan kabar menakutkan. Membaca satu ayat dari Al-Qur’an dalam salah satu dari kedua khutbah. 4. Dan disyaratkan hendaknya ayat tersebut sempurna atau sebagian dari ayat yang panjang dan hendaknya dapat dipahami maknanya. Berikut di bawah ini pendapat-pendapat masing-masing mazhab : Hanafiyah : Mereka berpendapat bahwa khutbah itu mempunyai satu rukun. Pujian tersebut disyaratkan berupa “bacaan pujian” dan hendaknya pujian itu mencakup lafadz Jalalah (Allah). Syafi’iyah : Mereka berpendapat bahwa rukun khutbah itu ada lima : 1. Membacanya pada khutbah pertama lebih utama. maka yang demikian sah. Malikiyah : Mereka berpendapat bahwa khutbah itu mempunyai satu rukun. Dalam hal ini terjadi perbedaan pandangan mazhab dalam hal ini. Hanabilah : Mereka berpendapat bahwa rukun dua khutbah itu ada empat : 1. Maka untuk memenuhi ketentuan khutbah yang difardhukan cukup dengan sekali tahmid. Memuji Allah pada awal dari masing-masing kedua khutbah dengan lafadz “Alhamdulillah”. yaitu harus berupa bacaan dzikir mencakup yang sedikit dan yang banyak. 2. 11 . Maka sholat Jum’at itu tidak sah dengan jumlah jamaah kurang dari itu. Rukun Dua Khutbah Jum’at Sebuah ibadah dikatakan sah apabila telah dipenuhi rukun dan syaratnya. Oleh karena itu supaya khutbah yang disampaikan dalam pelaksanaan sholat Jum’at menjadi sah maka kita harus mengetahui rukun khutbah.

Penutup Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa telah terjadi perbedaan dalam berbagai masalah hukum sekitar sholat Jum’at di kalangan mazhab-mazhab 12 . dan ayat tersebut harus utuh dalam makna dan hukumnya 4. Syarat-syarat Dua Khutbah Jum’at Ada beberapa pertanyaan yang sering diajukan kepada penulis tentang hal ini.3. 5. Hendaklah kedua khutbah tersebut menggunakan Bahasa Arab menurut pandangan Hanabilah dan Malikiyah maskipun jamaahnya bukan orang Arab yang tidak mengerti Bahasa Arab. Hendaklah khatib mengeraskan kedua khutbahnya agar dapat didengar oleh hadirin. contohnya pertanyaan berikut ini : Apakah khutbah Jum’at itu disyaratkan harus dengan Bahasa Arab ? Apakah untuk kedua khutbah itu disyaratkan berniat ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut kita harus mengetahui Syarat-syarat Khutbah Jum’at. menurut Hanafiyah dan Hanabilah jika khatib berkhutbah tanpa niat. Untuk kedua khutbah Jum’at disyaratkan beberapa hal berikut : 1. apabila kedua khutbah itu dilakukan setelah sholat. Tentang syarat ini tiga mazhab yang lain tidak setuju dengan pendapat Syafi’iyah. Maka tidak ia tidak dianggap sebagai khutbah Jum’at bila dilakukan setelah sholat sesuai dengan kesepakatan tiga imam mazhab. maka khutbahnya batal. selain itu tidak disyaratkan menggunakan Bahasa Arab. Jika ia bersin dan mengucapkan alhamdulillah. Malikiyah menyangkal pendapat ini. Berwasiat (berpesan) agar bertaqwa kepada Allah SWT sedikitnya dengan mengucapkan ‫ اتقوا ال‬dan lain semacamnya. Membaca satu ayat al-Qur’an. Dalam pandangan Syafi’iyah yang disyaratkan menggunakan Bahasa Arab adalah rukun-rukun kedua khutbah. Hanya saja Syafi’iyah mensyaratkan hendaknya khatib tidak menyimpang dari khutbah. Sedangkan Hanafiyah berpendapat bahwa khutbah itu boleh disampaikan dengan selain Bahasa Arab. Berniat untuk berkhutbah. Hendaklah kedua khutbah dilakukan pada waktunya (waktu zhuhur). maka khutbahnya itu tidak diperhitungkan. Menurut Malikiyah. Jika ia berkhutbah sebelum waktunya dan melaksanakan sholat. maka yang demikian itu tidak sah secara sepakat. Sedangkan Syafi’iyah dan Malikiyah berpendapat bahwa niat itu bukan syarat sahnya khutbah. 4. 3. 6. Khutbah tersebut dilakukan sebelum sholat. 2. maka yang diulangi sholatnya saja sedangkan kedua khutbahnya sah dan tidak perlu diulang. Hendaklah khatib tidak memisahkan antara khutbah dan sholat Jum’at dengan tenggang waktu yang lama.

M. Cet. 2002. t. Yanggo. hingga sampai pada suatu titik kesimpulan bahwa berbeda itu tidak identik dengan bertentangan --selama perbedaan itu bergerak menuju kebenaran-dan Islam adalah satu dalam keragaman. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada. Harun. Pasang Surut Perkembangan Fiqh Islam. Yunus. Ahmad satori. Pendapat yang berbeda tersebut tentunya menuntut kesiapan kita untuk bersikap terbuka dan arif dalam memandang serta memahami arti perbedaan.th..th. Cet. Sejarah dan Perkembangan Hukum Islam. III. Daftar Pustaka Al-Jauziyyah. Kairo : al-Maktabah al-tijariyyah alkubro. Kairo : Mathba’ah al-Istiqomah. Ali Perbandingan Mazhab Fiqih. 1986 Ismail. Nasution. Cet. 13 . 2003. Juz 1. Tarikh Tasyri’ al-Islami. I. Pengantar Perbandingan Mazhab. Jakarta : PT. Al-Juzairi. Teologi Islam Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan. Jakarta : Logos. Mahmud. Jakarta : Pustaka Tarbiatuna. IX. Cet.Islam. I. Remaja Rosdakarya. Jakarta : UI Press. Kamus Arab-Indonesia. Hidakarya Agung. M. Bandung : PT. Cet. Huzaemah Tahido. khususnya mazhab-mazhab ahlus-sunnah. Zaadul Ma'ad. Al-Fiqh ‘Ala al-Mazahib al-Arba’ah. Hasan. III. 2003 Mubarok. Ibnu Qayyim. 1997 Imbabi. 2003. Jaih. Perbedaan pendapat di kalangan para fuqaha ini merupakan sebuah bukti konkret yang lahir dari semangat perbedaan dalam satu kesatuan (Islam). Musthofa. 1990. t.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful