Metode Hermeneutika untuk Al-Qur’an

Oleh Ahmad Fuad Fanani

Al-Qur’an sebagai kitab petunjuk (hudan) memiliki posisi sentral dalam kehidupan manusia. Ia bukan saja sebagai landasan bagi pengembangan dan perkembangan ilmu-ilmu keislaman, namun ia juga merupakan inspirator, pemandu dan pemadu gerakan-gerakan umat Islam sepanjang empat belas abad lebih sejarah umat manusia. Hal ini bisa terlihat dari dari bermunculannya gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir, Jam’at Islami di Pakistan, Wahabi di Saudi Arabia, maupun NU, Muhammadiyah, baik organisasi Islam lainnya di seluruh dunia. Al-Qur’an sebagai kitab petunjuk (hudan) memiliki posisi sentral dalam kehidupan manusia. Ia bukan saja sebagai landasan bagi pengembangan dan perkembangan ilmu-ilmu keislaman, namun ia juga merupakan inspirator, pemandu dan pemadu gerakan-gerakan umat Islam sepanjang empat belas abad lebih sejarah umat manusia. Hal ini bisa terlihat dari dari bermunculannya gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir, Jam’at Islami di Pakistan, Wahabi di Saudi Arabia, maupun NU, Muhammadiyah, baik organisasi Islam lainnya di seluruh dunia. Al-Qur’an sebagai sebuah teks, menurut Nasr Hamid Abu Zayd, pada dasarnya adalah produk budaya. (Tekstualitas Al-Qur’an, 2000) Hal ini dapat dibuktikan dengan rentang waktu terkumpulnya teks Al-Qur’an dalam 20 tahun lebih yang terbentuk dalam realitas sosial dan budaya. Oleh karena itu, perlu adanya dialektika yang terus-menerus antara teks (Al-Qur’an) dan kebudayaan manusia yang senantiasa berkembang secara pesat. Jika hal ini tidak dilakukan, maka teks Al-Qur’an akan hanya menjadi benda atau teks mati yang tidak berarti apa-apa dalam kancah fenomena kemanusiaan. Teks al-Qur’an masih sangat mungkin menjadi obat mujarab, bacaan shalat, atau perhiasaan bacaan yang dikumandangkan tiap waktu. Akan tetapi visi transformatif dan kemanusiaan Al-Qur’an akan bisa hilang begitu saja. Mohammed Arkoun menegaskan, bahwa sebuah tradisi akan kering, mati, dan mandeg jika tidak dihidupkan secara terus- menerus melalui penafsiran ulang sejalan dengan dinamika sosial. (Rethinking Islam, 1999) Al-Qur’an sebagai teks yang telah melahirkan tradisi pemikiran, pergerakan, bahkan perilaku keagamaan yang sangat luas dalam rentang waktu panjang, tentu saja tidak bisa mengabaikan hal ini. Oleh karena berbagai macam metode penafsiran dan model tafsir dalam kurun waktu sejarah Islam adalah upaya yang patut dibanggakan sebagai usaha mendinamiskan Al-Qur’an yang sangat universal itu. Dalam usaha menangkap dan mendapatkan pesan dari teks Allah berwujud dalam Al-Qur’an tentu saja mengandung problem. Karena, setiap usaha menerjemahkan, menafsirkan, atau mencari pemahaman terhadap teks klasik yang berjarak waktu, budaya, tempat sangat jauh dengan pembacanya, selalu digelayuti problem hermeneutika (penafsiran). Dengan adanya problem penafsiran teks tersebut, maka ada sebuah teori filsafat yang digunakan menganalisis problem penafsiran, sehingga teks bisa dipahami secara benar dan komprehensif. Tawaran Hermeneutik Hermeneutika sebagai sebuah metode interpretasi sangat relevan kita pakai dalam memahami pesan Al-Qur’an agar subtilitas inttelegendi (ketepatan pemahaman) dan subtilitas ecsplicandi (ketepatan penjabaran) dari pesan Allah bisa ditelusuri secara komprehensif. Maksudnya, pesan Allah yang diturunkan pada teks al-Qur’an melalui Nabi Muhammad itu tidak hanya kita pahami secara tekstual, juga bisa kita pahami secara kontekstual dan menyeluruh dengan tidak membatasi diri pada teks dan konteks ketika Al-Qur’an turun. Maka, teks Al-Qur’an beserta yang melingkupinya dapat digunakan agar selaras dan cocok dengan kondisi ruang, waktu, dan

dalam tafsir klasik atau modern. yaitu skema otoritas Tuhan. disamping harus memahami kaidah tata bahasa. Pertama Wahyu sebagai firman Allah yang transenden. tak terbatas. memahami pesan AlQur’an secara adikuat dan efektif. ketiga kategori wahyu itu tidak dibedakan sehingga menempatkan wahyu ketiga kategori di atas menjadi satu otoritas. sehingga jika memahami teks Al-Qur’an hanya bertumpu pada satu dimensi tanpa mempertimbangkan dimensi yang lainnya. Munculnya kitab tafsir Al-Qur’an yang berjilid-jilid yang masih dan akan terus berkembang menunjukkan bahwa pemahaman ulama’ pada Al-Qur’an dan tradisi kenabian tidak pernah final. Belum tuntasnya penggunaan hermeneutika dalam tafsir Al-Qur’an itu justru merupakan kelemahan Rahman dalam penafsiran Al-Qur’an untuk mencapai tujuan dasarnya. Wahyu sebagaimana tertulis dalam Mushaf dengan huruf dan berbagai macam tanda yang ada di dalamnya. berarti pihak pembaca memiliki ruang kebebasan dan otonomi. Mohammed Arkoun mungkin orang yang secara tuntas mencoba menggunakan hermeneutika dalam penafsiran Al-Qur’an. Menurut Rahman. karena problem hermeneutika adalah problem bahasa. dengan memperkenalkan tiga level “perkataan Tuhan” atau tingkatan Wahyu. dan bukan pemahaman secara ayat per ayat. terutama metode yang diperkenalkan oleh Gadamer. Atau dengan kata lain. Bahkan secara ekstrem dikatakan bahwa sebuah teks akan berbunyi dan hidup ketika dipahami. 1995). Fazlur Rahman meskipun belum secara langsung menggunakan hermeneutika sebagai metodetafsirnya. Di masa modern ini. Arkoun meminjam teori hermeneutika dari Paul Ricour. dan diajak dialog oleh pembacanya. yaitu wahyu al-Lauh Mahfudz dan Umm al-Kitab. dunia pengarang. dan dunia pembaca. diperhatikan. akan terlihat jelas bahwa dalam setiap pemahaman teks. pemahaman secara menyeluruh terhadap perkembangan kronologisnya. istilah teknis yang diciptakan Ferdinand de Saussure di atas –seorang ahli bahasa dari Swis adalah hubungan yang dialektis antara teks dan wacana. Berkenaan dengan Al-Qur’an. Wahyu yang nampak dalam proses sejarah. yaitu mengedepankan etika dalam Al-Qur’an. Hal ini menjadi teks Al-Qur’an terbongkar dari selubung-selebung ideologis dan klaim kebenaran penafsiran yang sudah tidak relevan lagi. Ketiga komponen itu memiliki konteks sendiri-sendiri. Kedua. ia telah membongkar sesuatu di balik penyejarahan ketiga kategori otoritas tersebut. Karena itu. tidak terkecuali pada teks Al-Qur’an. ada dua mufassir terkemuka yang menggunakan metode hermeneutika yaitu Fazlur Rahman dan Mohammed Arkoun. Dalam tradisi hermeneutika. dalam memahami teks Al-Qur’an. yang tak diketahui oleh manusia. pemahaman yang diperoleh tidak akan luas dan miskin. Arkoun melihat secara kritis otoritas dari masing-masing teks Al-Qur’an itu. Untuk kepentingan analisisnya. selalu terdapat tiga faktor yang senantiasa dipertimbangkan. Ketiga. yaitu dunia teks. Sehingga masing-masing tidak dicampurkadukkan begitu saja. merupakan sebuah kemutlakan. Filsafat Barat Abad XX. Bagi Arkoun. Diskursus hermeneutika tidak bisa kita lepaskan dari bahasa. Sebuah penafsiran dan usaha pemahaman terhadap Al-Qur’an jika memakai metode hermeneutika. Ketiga tingkatan pemahaman wahyu di atas tentu saja memberikan implikasi pada penafsiran.tempat di mana kita berada dan hidup. . hal ini menunjuk pada realitas Firman Allah sebagaimana diturunkan dalam bahasa Arab kepada Nabi Muhammad selama kurang lebih dua puluh tahun.namun ia telah memberikan bobot besar pada kontekstualitas. Dalam proses dialog. unsur subyektivitas penafsir tidak mungkin disingkirkan. juga mengandaikan suasana psikologis dan sosio historis (wacana) yang teks tersebut. Dengan demikian. (K. Ini menunjuk pada al-Mushaf al-Usmani yang dipakai orang-orang Muslim hingga hari ini. Bertens.

Dalam kebanyakan ayat Al-Qur’an. Analisis tersebut telah mampu membongkar yang selama ini tidak tersentuh (unthoucable) oleh akal klasik maupun modern. Oleh karena itu. serta pengekangan keberagamaan. namun tetap menaruh perhatian pada situasi yang serta memiliki kesadaran sejarah. umat Islam Indonesia harus memelopori penafsiran Al-Qur’an yang berimplikasi pada pembebasan sosial. tetapi juga risalah yang agung bagi transformasi sosial dan tantangan bagi kepentingan-kepentingan pribadi. Usaha yang dilakukan Farid Esack dalam menumbangkan rezim apartheid di Afrika Selatan. Menurutnya. Maka ke depan. hermeneutika yang merupakan metode penafsiran yang memadai pada saat sekarang. Ia tidak hanya berhenti dan memperkaya horizon pengalaman beragama individual. dan berdiri pada garda terdepan menumbangkan segala ketidakadilan. dengan merekontruksi sejarah Kenabian dan mecermati ulang Al-Qur’an. Sedangkan ayat-ayat Madaniyah mengindikasikan semangat revolusi sosiologis terhadap tatanan dan struktur sosial kehidupan masyarakat dengan menjadikan keadilan dan kemakmuran sebagai doktrin sandaran.Signifikansi Hermeneutika Pembebasan Analisis yang dilakukan oleh Arkoun dan Rahman di atas memang harus diakui sebagai prestasi intelektual yang briliyan. perlu memberikan tujuan penafsiran yang tegas dan jelas. untuk membebaskan budak-budak. yaitu apakah analisis itu hanya sebagai kajian epistemologis yang tidak mempunyai implikasi praktis dan humanis? Padahal. sosial. Tauhid ini juga menegaskan semangat egalitarianisme sebagai simbol perlawanan terhadap perbudakan dan kejahatan kemanusiaan yang terjadi di Makkah. | # . Namun analisis Arkoun itu masih menyisakan problem yang belum terjawab. ia berdampak meningkatkan kualitas penghayatan individu terhadap universalitas nilainilai kemanusiaan. budaya. Sudah waktunya para agamawan terjun untuk membebaskan penindasan. Eksploitasi itu bisa berbentuk ekonomi. Dari periodesasi ayat-ayat Al-Qur’an beserta implikasi revolusinya. Zakat bertujuan untuk distribusi kekayaan bagi fakir miskin. 1993) Hal terbukti dari ayat-ayat pertama yang turun kepada Nabi. politik. Bahkan. Fakta bahwa Islam yang bertumpu pada Al-Qur’an lebih dari sekedar agama formal. membayar hutang bagi para penghutang. [] 16/02/2002 | Kolom. layak dipertimbangkan sebagai pemandu gerakan dan wacana keilmuan.problem agama lainnya. dibuktikan oleh penekanannyan pada shalat dan zakat. mengungkapkan keprihatinan yang mendalam terhadap situasi sosial yang terjadi di Mekkah. Tugas hermeneutika AlQur’an yang mendesak pada saat sekarang adalah untuk pembebasan sosial kemanusiaan dari berbagai ekspoitasi yang merugikan. umat Islam sekarang sedang mengalami kemunduran besar yang tidak cukup hanya bisa dipecahkan dengan teori minus aksi! Al-Qur’an sesungguhnya mempunyai visi transformatif dan liberatif untuk kemanusiaan. shalat tidak pernah disebut tanpa diiringi oleh zakat. dan membantu problem. tetapi juga berlanjut implikasinya pada dimensi sosial. wahyu secara esensial bersifat religius. Asghar Ali Engineer berkesimpulan bahwa Islam yang bertumpu pada Al-Qur’an mempunyai perhatian sentral pada keadilan sosial untuk membebaskan kaum lemah dan tertindas serta menciptakan masyarakat egalitarian. dapatlah dipahami bahwa semangat dan nilai Al-Qur’an itu bergerak. Ayatayat mengawali misi penurunan Al-Qur’an dengan mengadakan revolusi teologis. (Islam dan Pembebasan. Revolusi teologis ini mengartikulasikan substansinya melalui jargon “Tauhid” yang menegasikan seluruh sesembahan selain Allah. Wallahu A’lam. membela hak-hak wanita. Dengan kata lain.

al-quran bukanlah teks budaya. descending) sebelum mulai membahas tentang penafsiran atau hermeneutika al-Qur’an. Posted by Lukman Hakim on 01/04 at 01:20 AM al-quran adalah kalamullah yang mulia lagi agung. menggunakan pendekatan dari epistemologi Kristen (hermeneutika) kedalam epistemologi Islam secara langsung tanpa proses adapsi tentunya tidak akan memperjelas tetapi justru akan mengacaukan. bahkan al-quran dengan tegas menentang budaya arab yang jahil seperti membunuh anak perempuan. Sesuatu yang mudah dan sederhana. Tapi orang yang menganggap Allah Swt tidak memiliki kekuasaan untuk mengendalikan proses yang ada di dunia karena ada proses yang tidak diketahuinya. menyembah berhala. dll Posted by RIVAT QARDHAWI on 06/09 at 08:36 AM Top of Form Bottom of Form . bahwa kesamaan pesan pada level 1. Posted by James Brolin on 01/29 at 01:44 PM Ada satu retakan dalam pemikiran Arkoun yang tidak disadarinya ketika mengadopsi pikiran Ricour. mereka akan beranggapan pastilah ada distorsi dari level 1 ke level 2. Secara ringkas. Atau setidaknya. 5 komentar terakhir. kedua “perkataan Tuhan” yang telah dikonversi pada bahasa sebagai sistem berpikir manusia dan ketiga “perkataan Tuhan” yang telah dikonversi kedalam bahasa tulisan. Ricour membagi “wahyu” ke dalam tiga tingkatan pertama “perkataan Tuhan” yang tidak bisa diketahui manusia. al-quran bukanlah teks bahasa. Disinilah iman menunjukkan perannya. tanpa keimanan. kemungkinan sama atau tidak sama dari ketiga level itu ada (karena pada keduanya kita tidak punya alat untuk membuktikannya). tetapi implikasinya sangat mengerikan. Retakan inilah yang tidak disadari oleh Arkoun dan kebanyakan Muslim yang menggunakan Hermeneutika dalam analisis Al Qur’an. Tapi ada sesuatu yang terlupa. Sekilas logika ini benar dari sudut pandang manusia. pasti mereka akan berkata “Apa yang diucapkan Nabi adalah sama persis dengan apa yang dimaksudkan Allah” (Allah memiliki cara untuk membuat Nabi mengatakan sesuatu persis sama dengan keinginan-Nya). karena perlu dipahami bahwa konsep kitab suci menurut epistemologi Islam dan Kristen (hermenutika lahir dari perkembangan eksegesis bible) berbeda. 2 dan 3 bukanlah sesuatu yang tidak mungkin. lebel kedua hanya diketahui oleh Nabi dan level ketiga baru dapat diketahui oleh umat”. dan sayangnya retakan itu terjadi pada sesuatu yang amat mendasar. bagi orang yang percaya bahwa Allah SWT Maha Kuasa dan tahu persis terhadap segala fenomena yang terjadi di dunia ini. meminum khamar. Ricour dan juga Arkoun seolah menyatakan bahwa “Level pertama hanya diketahui oleh Tuhan.Komentar Masuk (3) (Tampil maks. konsep tentang alQur’an itu apa harus dijelaskan terlebih dahulu untuk mengetahui perspektif yang akan digunakan. sehingga ada kata dalam al-quran yang penduduk arab tidak mengenal sebelumnya bahkan al-quran dan hadist menjadi alat ukur kebenaran bahasa masyarakat arab.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful