13 Rudi Hilmanto - FP

Kembali

LOCAL ECOLOGICAL KNOWLEDGE DALAM TEKNIK PEMUPUKAN PADA SISTEM AGROFORESTRI (LOCAL ECOLOGICAL KNOWLEDGE IN THE TECHNIQUE OF FERTILIZER APPLICATION IN AGROFORESTRY SYSTEM) Rudi Hilmanto
Jl. Soemantri Brojonegoro No. 1 Program Studi Manajemen Hutan Fakultas Pertanian Unila. e-mail: rudihilmanto@gmail.com. Telp 0721784863/08127287225 Abstract Farmers in hamlet of Lubuk Baka in the province of Lampung, possesed Local Ecological Knowledge (LEK) in the land management technique in agroforestry system. This research used method of Knowledge Base System (KBS) with the objectives of identifying, comparing LEK and it’s practice, and obtaining descriptive ideas on LEK. For improving production sustainability and maintaining land ecosystem with principle of LEK, the community of Lubuk Baka hamlet practiced land management technique which was adjusted with the timing arrangement of their agriculture / farming practice. Similarity of LEK with its practice was due to direct and continuous contact with communities from various ethnic groups (Javanese, Sundanese, and Semendo), whereas the difference was affected by background of community culture of each ethnic group, land conflict, and farming activities being conducted. Several differences between LEK and its practice fertilizer application affected the annual average production level of crop of each ethnic group, so that this phenomena affected income level. Community knowledge in the technique of land management created interaction between components in ecosystem, and constituted a description of model of LEK of Lubuk Baka hamlet community. Keywords: Local Ecological Knowledge (LEK), Knowledge Base System (KBS), ethnic groups, land management technique, agroforestry. PENDAHULUAN Masyarakat Dusun Lubuk Baka, Desa Padang Cermin, Kabupaten Pesawaran, Propinsi Lampung yang tergabung dalam SHK PBL (Sistem Hutan Kerakyatan Pesawaran Bina Lestari) terdiri dari Etnis Jawa, Sunda, dan Semendo dalam melakukan teknik pengelolaan sumberdaya alam didasarkan pada Local Ecological Knowledge (LEK). Lahan yang dimanfaatkan/dikelola hampir seluruhnya (96,82%) merupakan ekosistem lahan kering. Sistem pengelolaan sumberdaya alam berbasis masyarakat yang selama ini mampu mendukung kehidupan masyarakat perlu didokumentasikan untuk menumbuh kembangkan model-model pengelolaan sumberdaya alam secara tradisional yang berbasis kearifan lokal dalam kehidupan modern ini dan sebagai upaya menyelamatkan model-model tersebut dari kepunahan, yaitu dengan melestarikan ciri khas pengelolaan sumberdaya alam yang dapat bersinergi dengan scientific models (Wijatnika 2009). Perubahan lingkungan, sosial, ekonomi dan budaya yang cepat di berbagai daerah yang dihuni oleh masyarakat lokal dapat membahayakan bagi LEK. Mereka akan sulit menghadapi tekanan kuat dari luar, sehingga mereka mengganggap LEK mungkin menjadi kurang relevan lagi. Generasi yang lebih mudapun akan memperoleh dan menerapkan pengetahuan baru yang berbeda dengan pengetahuan lokal karena adanya pengaruh globalisasi. Karena anggapan kurang relevan tersebut, maka aliran pengetahuan tradisionalpun akan putus, ini berarti bahwa generasi yang lebih tua akan mati tanpa mewariskan pengetahuannya pada anakcucunya. Jika proses ini terus berlangsung tanpa usaha untuk melestarikannya maka basis pengetahuan yang ada akan menjadi semakin lemah bahkan mungkin hilang tak berbekas (Sunaryo & Joshi 2003). Kegiatan pemupukan alami oleh masyarakat petani saat ini mulai ditinggalkan. Petani lebih menyukai menggunakan pupuk anorganik karena alasan hemat tenaga, kebutuhan benih yang rakus hara, ditambah dengan kemudahan memperoleh pupuk anorganik tersebut di
Seminar Hasil Penelitian & Pengabdian Kepada Masyarakat, Unila, 2009

Kanem. Apit Kayu (Hapitkayu). Untuk membentuk representasi formal satuan pernyataan. Talang Muara Pojodadi. Karo. dan Mareng (musim peralihan ke musim kemarau). (3) Memperoleh gambaran model LEK dalam teknik pemupukan pada sistem agroforestri di Dusun Lubuk Baka. dan Semendo). Kesongo (Kasanga). Pengambilan sampel dilakukan berdasarkan kerangka kerja (framework) pada metode KBS dan dilakukan secara bertahap yang terdiri dari scoping. Responden diperoleh sebanyak 32 responden. Setiap bulan memiliki ciri-ciri alam yang berbeda sebagai dasar untuk menentukan teknik dalam pemupukan. Rendheng (musim banyak turun hujan). Kawolu (Kawalu). proses teknik pemupukan. teknik pemupukan yang dilakukan sesuai dengan tata waktu pertanian dapat Seminar Hasil Penelitian & Pengabdian Kepada Masyarakat. Kecamatan Padang Cermin. akan tetapi lebih dari itu. labuh (musim sering turun hujan). Praktek diperoleh dari wawancara tentang kegiatan-kegiatan pengelolaan yang dilakukan dan dicocokkan dengan keadaan lahan responden. Musim katigo dibagi menjadi bulan: Kaso (Kasa). Musim Labuh dibagi menjadi bulan: Kapat. Masing-masing musim tersebut dibagi lagi menjadi beberapa bulan yang berbeda. dan generalisasi (generalisation) (Dixon et al. dan Katigo (Katiga). Talang Sinar Lestari. 2009 . dan menganalisisnya dapat dilakukan dengan bantuan program komputer Agroecological Knowledge Toolkit 5 (AKT 5) menggunakan metode Knowledge Base System (KBS). dan Talang Tegal Sari. Musim Mareng dibagi menjadi bulan: Kesepuluh (Kadasa). dan Metode Pengumpulan Data Dusun Lubuk Baka terletak di Desa Padang Cermin. Tata waktu pertanian dengan cara menggunakan Pranata Mongso/Mangsa dan cara perhitungan waktu pada prinsipnya sama yaitu mengedepankan ciri-ciri alam. kompilasi (compilation). Kalimo (Kalima). HASIL DAN PEMBAHASAN LEK dalam Teknik Pemupukan pada Sistem Agroforestri Menurut masyarakat teknik pemupukan disesuaikan dengan tata waktu pertanian. Musim Rendheng dibagi menjadi bulan: Kapitu. Sunda. METODE PENELITIAN Tempat. Unila. Permasalahannya adalah bagaimana mendokumentasikan model LEK petani yang menggambarkan teknik pemupukan pada sistem agroforestri di Dusun Lubuk Baka secara sederhana dan sistematis sehingga diperoleh artikulasi pengetahuan tidak hanya sekedar deskripsi sederhana akan suatu praktek ataupun tindakan bertani. Selain tata waktu pertanian dengan menggunakan Pranata Mongso/Mangsa mereka memiliki cara lain untuk menentukan tata waktu pertanian yaitu dengan melakukan perhitungan waktu dalam menentukan teknik pemupukan.B-95 pasaran. menyimpannya. Menurut masyarakat. mengaksesnya. Panentuan Pranata Mongso/Mangsa dibagi menjadi musim: katigo (musim kering). Sikap petani ini mengakibatkan lambat laun hilangnya Local Ecological Knowledge (LEK) dan keterampilan petani untuk membuat kompos atau pupuk hijau yang baik pengaruhnya pada struktur tanah (Prasodjo 2008). pendefinisian cakupan pengetahuan (definition of domain). . Talang Anjam. 2001). Penelitian ini bertujuan: (1) Mengidentifikasi LEK dalam teknik pemupukan pada sistem agroforestri yang diterapkan oleh masyarakat di Dusun Lubuk Baka. Responden. dan interaksinya yang terjadi. Metode Pengolahan dan Analisis Data LEK diperoleh dari wawancara mendalam dan observasi lapangan yaitu komponen-komponen. Talang Sinar Rejo. Talang Umbul Delapan. Talang Sumber Sari. (2) Membandingkan LEK dan prakteknya dalam teknik pemupukan pada sistem agroforestri di Dusun Lubuk Baka berdasarkan perbedaan etnis (Jawa. Masyarakat menyebutnya Pranata Mongso (Etnis Jawa) dan Pranata Mangsa (Etnis Sunda). Data-data tersebut kemudian disusun menjadi pernyataan (statements) berdasarkan rumus (grammar) yang telah diterapkan pada program AKT 5. Apit lemah (Hapitlemah). LEK dalam teknik pemupukan pada sistem agroforestri digali melalui serangkaian wawancara terhadap petani. Metode pengambilan sampel menggunakan purposive sampling berdasarkan perbedaan etnis dengan teknik snowball sampling. Kabupaten Pesawaran anggota SHK PBL terdiri dari Talang Margo Mulyo. Kemudian data-data tersebut diolah dengan menggunakan program AKT 5 dan dianalisis secara deskriptif.

selaras dengan alam. jika kelompok-kelompok manusia yang mempunyai kebudayaan yang berbeda-beda bertemu dan mengadakan kontak secara langsung dan terus menerus. Kehidupan para petani itu sangat terikat erat dengan tanah yang diolah. tetapi masyarakat Etnis Sunda hingga saat ini masih mengalami trauma yang mendalam akibat dari konflik lahan sehingga semangat kerja mereka Seminar Hasil Penelitian & Pengabdian Kepada Masyarakat. dan kondisi geografis setempat (jenis tanah. kematian. 2009 . rajaban. Masyarakat Etnis Sunda memiliki sifat yang sama seperti masyarakat Etnis Jawa yaitu suka bekerja keras. yang kemudian menimbulkan perubahan dalam pola-pola pengetahuan yang asli dari salah satu etnis atau pada kedua-duanya (Atmadja 1987). Tabel 1 Praktek Local Ecological Knowledge dalam teknik pemupukan masyarakat Dusun Lubuk Baka berdasarkan perbedaan etnis LEK dan praktek Pemupukan Jawa Dilakukan awal penanaman. Masyarakat Etnis Jawa (Bagelen) masuk ke Lampung melalui transmigrasi sebagian besar masyarakat transmigrasi adalah petanipetani sawah (Dispar 1991). sehingga terbentuklah satu kesatuan pemahaman mengenai pengetahuan masyarakat dalam pemupukan. Faktor yang Mempengaruhi Perbedaan LEK dan Praktek Pemupukan antara Etnis Perbedaan LEK dan prakteknya terjadi karena dipengaruhi oleh budaya daerah asal. Masyarakat Etnis Jawa. dan mempunyai semangat kerja yang tinggi. etnis. LEK yang sama merupakan fenomena yang timbul sebagai hasil. Masyarakat lokal dalam melakukan teknik pemupukan meliputi: pemupukan organik dan pemupukan anorganik. dan tata air). Awalnya pertanian lahan kering merupakan hal yang baru bagi mereka. Masyarakat Etnis Sunda memiliki LEK yang berasal dari daerah asal mereka kemudian mereka melakukan adaptasi dan inovasi yang diturunkan dari generasi kegenerasi untuk mengelola lahan kering dengan tanaman keras di Lampung. ruwahan. Unila. kesuburan. Masyarakat Etnis Jawa umumnya memiliki semangat kerja yang tinggi. dan dapat mengurangi dampak buruk secara ekologi. iklim. karena tanah itulah yang memberikan kehidupan dan kebahagiannya (Atmadja 1987). semangat gotong-royong yang kuat di antara warga petani. Kegiatan mauludan. khitanan. meskipun terjadi konflik lahan di Dusun Lubuk Baka masyarakat Etnis Jawa masih memiliki semangat kerja yang tinggi. Masyarakat Etnis Jawa sangat mencintai desa yang ditempatinya dan tanah garapannya.B-96 meningkatkan hasil produksi berkelanjutan pada tanaman. dan Semendo merupakan masyarakat pendatang. LEK dan Praktek pemupukan masyarakat dapat dilihat pada Tabel 1. dusun yang ditempatinya. LEK dan Praktek pada Masyarakat Berdasarkan Etnis Masyarakat Dusun Lubuk Baka memiliki LEK yang cukup memadai tentang pemupukan. dan ±1 tahun setelah tanam menggunakan pupuk kandang Pranata Mongso/ Perhitungan waktu Etnis Sunda Dilakukan Awal penanaman tanam dan ±1 tahun setelah tanam jika tersedia pupuk kandang Pranata Mangsa/ perhitungan waktu Semendo Dilakukan pada awal penanaman jika tersedia pupuk dan menggunakan pupuk kandang Perhitungan waktu Tata waktu pertanian Sumber: Data primer (2009) Faktor yang Mempengaruhi Persamaan LEK dan Praktek Pemupukan antara Etnis Masyarakat semua etnis di Dusun Lubuk Baka hidup bercocok tanam dan bertempat tinggal yang berdekatan dengan lahan pertaniannya. Sunda. pernikahan. hubungan timbal-balik yang mendalam. Masyarakat Etnis Sunda (Banten) pada umumnya di daerahnya adalah petani sawah dan ladang (Dispar 1991). dan juga sebagai sarana bertukar pikiran serta informasi untuk meningkatkan stabilitas organisasi dan pengetahuan bertani pada kelompok SHK PBL. dan kegiatan/kejadian dari daerah yang ditempati (Soemarwoto & Conway 1992). peralatan yang digunakan dalam kegiatan bertani. ±3-4 bulan. Unsur-unsur masyarakat dan budaya petani berbeda saling berhubungan dan saling terkait. hal ini terbukti pada kemampuan masyarakat Etnis Jawa umumnya adalah pengelola lahan pertanian sawah di daerah asalnya mereka dapat beradaptasi dan melakukan inovasi dengan pertanian lahan kering. ataupun pengajian bergilir di gubuk masing-masing talang dilakukan untuk menambah pengetahuan terhadap nilainilai agama. cukuran bayi. Semangat kerja dan pengetahuan lokal diturunkan dari generasi ke generasi hingga saat ini. terbuka.

000). terung. dan adanya konflik lahan yang terjadi menimbulkan trauma yang mendalam menyebabkan semangat kerja mereka dalam mengelola lahan lebih rendah dibandingkan masyarakat Etnis Jawa dan Sunda. Seminar Hasil Penelitian & Pengabdian Kepada Masyarakat. lada. Penggunaan pupuk kandang dan serasah daun lebih baik karena menyebabkan tanah menjadi longgar/kegemburannya lebih tahan lama.5. Gambaran Model Local Ecological Knowledge (LEK) Masyarakat Pemupukan Masyarakat melakukan pemupukan bertujuan menambah kandungan unsur hara tanah dan meningkatkan pertumbuhan tanaman. buah.B-97 lebih rendah dibandingkan masyarakat Etnis Jawa. Penggunaan pupuk organik yang berasal dari bagian jenis tumbuhan itu sendiri (daun. pupuk kandang. pada umumnya adalah petani lahan kering dengan jenis tanaman keras (Dispar 1991). durian. lada. kakao. Pupuk dapat terserap dengan optimal dengan cara tanah di sekeliling tanaman digemburkan. contoh: daun tanaman kakao merupakan bahan pupuk yang baik dibandingkan penggunaan daun kopi atau tanaman lain untuk memupuk tanaman kakao. pisang. Pengetahuan masyarakat di atas membentuk interaksi antara komponen di dalam ekosistem dapat dilihat pada Gambar 1. durian. kemudian Etnis Sunda. Tata waktu menggunakan Pranata Mongso/Mangsa yaitu bulan Kaso.310. jengkol. selain pada waktu tersebut praktek pemupukan juga dilakukan jika pertumbuhan tanaman terlihat kurang sehat/baik.000). Kanem dan Kawolu. melinjo. ±3-4 bulan setelah penanaman dan kurang lebih satu tahun setelah penanaman. Sunda. Masyarakat Etnis Semendo memiliki semangat kerja lebih rendah dibandingkan dengan masyarakat etnis Jawa dan Sunda hal ini disebabkan masyarakat Etnis Semendo sudah sejak dulu melakukan pengelolaan lahan kering dengan tanaman keras. dan bayam) Masyarakat Etnis Jawa (Rp.000). kakao. dan tanaman sayuran (cabai. cengkeh. penanaman. Tingkat Produksi Rata-Rata Tahunan tiap Jenis Tanaman dan Tingkat Pendapatan Rata-Rata per Rumah Tangga dari Usaha agroforestri di Dusun Lubuk Baka Berdasarkan Etnis Tingkat produksi rata-rata tahunan tiap jenis tanaman secara berurutan tertinggi pada masyarakat Etnis Jawa. Menurut masyarakat hal ini terjadi karena ada perbedaan pada teknik pemupukan yang dilakukan oleh masing-masing etnis (Jawa. inovasi dalam pengelolaan lahan kering. dan Semendo) pada teknik: pengolahan tanah. kemiri. 2009 . tomat. kelapa. dan tanaman sayuran (cabai. Unila. terung. dan penyiangan. dan Semendo jenis tanaman tersebut adalah: tanaman kopi. batang. dan lain-lain) memberikan hasil yang baik dalam meningkatkan produktifitas dan pertumbuhan tanaman tersebut. sistem pembuatan drainase. Tingkat pendapatan bulanan rata-rata per rumah tangga berdasarkan etnis (Jawa. sehingga mereka kurang melakukan adaptasi. kelapa. Masyarakat Etnis Semendo (Rp. Kapat. Pupuk yang biasa digunakan adalah serasah daun. dan Semendo) dari 16 komoditas yang diperdagangkan yaitu: kopi. tomat.4.793. petai. Masyarakat Etnis Semendo masyarakat berasal dari Ulu Lunas dan Mangkakau (Sumatera Selatan).009. pisang. Masyarakat Etnis Sunda (Rp. pemupukan. Sunda. Pemupukan menggunakan perhitungan waktu dilakukan pada awal penanaman. cengkeh. dan bayam). pinang. Karo. Pupuk anorganik jarang digunakan karena harganya mahal dan jika terlalu sering menyebabkan tanah menjadi keras dan tandus.3. dan pupuk anorganik (kimia).

pupuk kandang. Pemakaian pupuk organik sangat penting dalam kesuburan tanah. Lahan kering akan mampu menyediakan air dan hara yang cukup bagi tanaman jika struktur pada tanah baik sehingga mendukung peningkatan efisiensi pemupukan (Abdurachman et al. Pupuk kimia adalah zat subtitusi kandungan hara tanah yang dibutuhkan oleh tumbuhan. Mo. Sementara itu unsur lain yang dibutuhkan tanaman tidak itu saja melainkan ada 16 macam unsur yang terbagi atas unsur hara makro (C. kompos. (2) LEK dan prakteknya dalam pemupukan masing-masing etnis ada beberapa persamaan dan perbedaan. Kondisi awal pemupukan tumbuhan akan terlihat subur tetapi jadi tidak subur dimasa akan datang. Petani dalam menerapkan kegiatan pertanian terutama dalam pemupukan sudah menjadi kegiatan yang biasa dilakukan hanya mengandalkan pupuk konvensional seperti Urea. pupuk organik juga mempunyai peran penting memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah. Mn. P. misal dari tanaman yang mati kemudian dimakan binatang pengerat/ herbivora.Ca.Mg dan S) dan unsur mikro (Fe. pupuk kandang.H.O. cacing. B. 2003). jamur dan lainnya. Unila. jika mengunakan pupuk kimia terutama bila melebihi dosis yang ditentukan maka akan memutuskan siklus hara tanah tersebut lebih cepat terutama akan mematikan organisme tanah. sedangkan perbedaan disebabkan Seminar Hasil Penelitian & Pengabdian Kepada Masyarakat. SP-36. Pupuk organik dapat bersumber dari sisa tanaman. 2009 .P. kompos atau sumber bahan organik lainnya. dan Cl) Pengolahan lahan untuk pertanian secara terus menerus akan menyebabkan lahan menjadi kurus sehingga untuk keberlanjutan produksi tanaman perlu input banyak untuk mengembalikan hara tanah yang sudah banyak diserap tanaman. Tetapi seharusnya unsur hara tersebut ada di tanah secara alami dengan adanya “siklus hara tanah”. KESIMPULAN (1) Masyarakat Dusun Lubuk untuk meningkatkan keberlanjutan produksi. Pupuk organik selain menyumbang hara yang tidak terdapat dalam pupuk anorganik yaitu: unsur hara mikro. Untuk itu sebenarnya perlu dijaga dengan pola tetap menggunakan pupuk organik.K.B-98 Gambar 1 Model LEK pemupukan. KCl maupun ZA yang semuanya hanya dapat memenuhi unsur hara salah satu makro seperti N. kotorannya atau sisa tumbuhan tersebut diuraikan oleh organisme seperti bakteri. Siklus inilah yang harusnya dijaga. dan menjaga kestabilan ekonomi dan menjaga ekosistem lahan agar tetap baik didasarkan pada LEK dengan cara melakukan teknik dalam pemupukan yaitu: pemupukan secara organik yang disesuaikan dengan tata waktu pertanian berdasarkan pada ciri-ciri alam. K atau S saja. dan/atau sumber bahan organik lainnya (Afrizon 2009). Salah satu alternatif untuk menyelamatkan keberlanjutan penggunaan lahan adalah dengan mengurangi input yang berasal dari bahan kimia dan beralih kepada pemakaian pupuk organik yang berasal dari bahan organik sisa tanaman. Faktor yang mempengaruhi persamaan pada LEK dan prakteknya disebabkan adanya kontak secara langsung dan terus menerus dari masyarakat. Penggunaan pupuk anorganik yang tidak berimbang secara terus menerus untuk proses produksi dapat merusak lahan dan dalam jangka waktu panjang lahan menjadi tidak efektif lagi untuk usaha pertanian.Zn. CU. TSP.N.

University of Wales. konflik lahan yang terjadi. [publication] http://www. penanaman. 2003.psp3ipb.R.27(2). 2009. Seminar Hasil Penelitian & Pengabdian Kepada Masyarakat. kegiatan daerah yang ditempati (pertanian masing-masing etnis). Joshi L. Jurnal Lingkungan. Sunaryo.or. Lampung: WALHI. 1991. Pengelolaan Agroekosistem LahanKering. Prasodjo NW. London: Imperial College of Science and Technology. Widya Duta. Mulyani. [publication]. http/uwityangyoyo. Perbedaan tersebut pada teknik: pengolahan tanah. DAFTAR PUSTAKA Abdurachman. 2008. Lampung: Dinas Pariwisata. pembuatan sistem drainase. 1992. Beberapa perbedan LEK dan prakteknya dari masing-masing etnis. Dariah.2009. SARAN (1) Masyarakat SHK PBL hendaknya meningkatkan keberlanjutan produksi tanaman dan kesinambungan pendapatan dengan cara melakukan teknik pemupukan organik .B-99 budaya daerah asal.com. Computer Software and Manual. 2008. Unila. Strategi dan Teknologi Pengelolaan Lahan Kering Mendukung Pengadaan Pangan Nasional. 2001. [Dispar] Dinas Pariwisata Propinsi Lampung. Inisiatif Pengelolaan Hutan Lestari dan Berkelanjutan Oleh Kelompok Pendukung SHK di Lampung. The Javanese Home Garden. Afrizon. Bogor: World Agroforestri Centre (ICRAF). (3) Gambaran model LEK masyarakat yaitu: untuk tujuan konservasi lahan dan meningkatkan keberlanjutan produksi tanaman. Sumarwoto O . [psp3ipb]. Dixon JH et al. Atmadja P. Bangor: School of Agricultural and Forest Science. pemupukan dan penyiangan. Conway G. Informasi Pembangunan dan Kepariwisataan Daerah Lampung. Journal for Farming Systems Research-Extension 2 (3): 95-118. Agroforestry Knowledge Toolkit for Windows (WinAKT): Methodological Guidelines. (2) Untuk pengembangan agroforestri di Dusun Lubuk Baka dan sekitarnya dapat mengadopsi model LEK lainnya dan dimungkinkan dilakukan perpaduan dengan model pengetahuan ilmiah (scientific model) tetapi sebelum melakukan hal tersebut diperlukan kajian dan penelitian lebih lanjut agar sesuai dengan kondisi ekologi masyarakat setempat. Wijatnika. Jurnal Litbang Pertanian. 1987. Pengetahuan Lokal dalam Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Citanduy. Sosiologi Antropologi. Pusat Studi Pembangunan Lembaga Penelitian IPB. mereka menerapkan teknik penggunaan pupuk organik. 2009 . Widya Duta Press. Pengetahuan masyarakat tersebut membentuk interaksi antara komponen di dalam ekosistem berupa model LEK.[30 Mei 2009]. Surakarta. berpengaruh kepada tingkat produksi tanaman sehingga berpengaruh pada tingkat pendapatan masyarakat dari tanaman.wordpress. Peranan Local Ecological Knowledge dalam sistem agroforestri.id/uploaded/wp14.2008.

2009 . Unila.B-100 LAMPIRAN Tanah mengandung humus Tanah menjadi longgar Penyiangan rumput liar Struktur tanah Pemberian herbisida Struktur tanah padat Pembuatan lubang angin Tingkat penyerapan pupuk kimia Banyaknya air yang terserap Pembuatan gulud Porositas tanah Penggunaa pupuk organik Tersedianya unsur hara tanah Keterangan: Pembakaran rumput Banyaknya unsur hara yang terserap = Hubungan antar komponen = Sifat benda. Seminar Hasil Penelitian & Pengabdian Kepada Masyarakat. proses atau kegiatan = Kegiatan petani Gambar 1 Model Local Ecological Knowledge pemupukan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful