P. 1
SANITASI 2010

SANITASI 2010

|Views: 395|Likes:
Published by Joko Raharjo

More info:

Published by: Joko Raharjo on Feb 12, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/27/2013

pdf

text

original

PETUNJUK PELAKSANAAN PENGGUNAAN DANA ALOKASI KHUSUS
BIDANG INFRASTRUKTUR SUB BIDANG SANITASI

KATA PENGANTAR

Memperhatikan kondisi yang ada saat ini serta tantangan yang dihadapi di masa depan, disadari bahwa pengembangan sanitasi lingkungan yang meliputi pengelolaan air limbah, pengelolaan persampahan dan penanganan drainase tidak dapat dilakukan hanya oleh satu institusi. Diperlukan suatu kerjasama multi pihak yang bersifat sinergis dari segenap stakeholder baik yang ada di pusat maupun di daerah meliputi pemerintah, perguruan tinggi/akademisi, lembaga profesi, LSM, masyarakat dan swasta. Mengingat keterbatasan kemampuan yang dimiliki pemerintah baik pusat maupun daerah, diperlukan upayaupaya terobosan yang bersifat merubah paradigma dalam pengembangan sanitasi lingkungan. Beberapa upaya bisa dilakukan misalnya pengelolaan air limbah skala komunitas berbasis masyarakat melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat yang bertujuan untuk menjamin keberlanjutan pengelolaan; pengurangan sampah di sumbernya melalui gerakan mengurangi, memanfaatkan kembali dan mendaur ulang atau reduce, reuse dan recycle (3R) yang bertujuan untuk mengurangi volume sampah yang dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA); serta upaya membuat keseimbangan tata air melalui pembangunan kolam retensi yang bertujuan untuk memperlama laju aliran permukaan supaya tidak langsung terbuang ke badan air penerima. Sejalan dengan amanat UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, Pemerintah lebih berperan sebagai regulator dan fasilitator terkait dengan tugas-tugasnya dalam pengaturan, pembinaan dan pengawasan pengembangan sanitasi lingkungan. Dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan, Pemerintah melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) menyediakan program sanitasi lingkungan bagi masyarakat berpenghasilan rendah di lingkungan padat penduduk, kumuh dan rawan sanitasi, yang disebut dengan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat. Kegiatan Dana Alokasi Khusus Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat ini mencakup: prioritas pertama yaitu pengembangan prasarana dan sarana air limbah komunal. Apabila prioritas pertama sudah dipenuhi (tidak ada Buang Air Besar sembarangan) maka dapat melaksanakan prioritas kedua yaitu pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce, reuse dan recycle) dan pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri yang berwawasan lingkungan. Dalam rangka menjamin keberlanjutan program, disusun Petunjuk Pelaksanaan Dana Alokasi Khusus Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat yang dimaksudkan untuk menjadi acuan bagi Pemerintah Kabupaten/Kota dalam melaksanakan penyediaan prasarana dan sarana air limbah permukiman, persampahan dan drainase mandiri berwawasan lingkungan berbasis masyarakat.

Jakarta, April 2010 Direktur Jenderal Cipta Karya

Budi Yuwono

ii .

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang………………………………………………………..……………………………………… 1.2 Maksud …………………………………………..…………………………………………………………... 1.3 Tujuan ………………………………………………………………………………………………………… 1.4 Acuan Normatif ………………………………………….………………………………………………….. 1.5 Sasaran ………………………………………………….…………………………………………………... 1.6 Ruang Lingkup Petunjuk Pelaksanaan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat …………. PENDEKATAN, PRINSIP DAN POLA PENYELENGGARAAN DAK SANITASI LINGKUNGAN BERBASIS MASYARAKAT 2.1 Pendekatan …………………………………………………………………………………………..……… 2.2 Prinsip-Prinsip Penyelenggaraan …………………………………………………………………..….…. 2.3 Pola Penyelenggaraan …………………………………………………………………………….….…… 2.4 Prasarana Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat …………………………………………………. 1 1 1 2 2 2

BAB II

3 3 3 4

BAB III

PENGELOLAAN SANITASI LINGKUNGAN BERBASIS MASYARAKAT 3.1 Air Limbah Komunal Berbasis Masyarakat …………………………………………………….………… 5 3.2 Sampah Pola 3R Berbasis Masyarakat ……………………………………………………… ……..…... 7 3.3 Drainase Mandiri Berwawasan Lingkungan Berbasis Masyarakat …………………………….……… 9 TAHAPAN PELAKSANAAN 4.1 Umum …………………………………………………………………………………………………….… 4.2 Tahap Persiapan ………………………………………………………………………………… ……….… 4.2.1 Sosialisasi ……………………………………………………………………………………..….… 4.2.2 Rapat Konsultasi Teknis Regional ……………………………………………………………….. 4.2.3 Rencana Kegiatan Definitif ……………………………………….…………………………..…… 4.3 Tahap Seleksi Lokasi 4.3.1 Persiapan Tenaga Fasilitator Lapangan ………………………………………………………… 4.3.2 Syarat Lokasi…………………………………………………………………………………..……. 4.3.3 Daftar Panjang Lokasi …………………………………………………………………..…………. 4.3.4 Daftar Pendek Lokasi …………………………………………………….…………..……………. 4.3.5 Sosialisasi Kampung ……………………………………………………..…………………..……. 4.3.6 Seleksi Kampung ……………………………………………………….……………………..…… 4.3.7 Monitoring dan Evaluasi ……………………………………………………….……………..…… 4.4 Tahap Penyusunan RKM 4.4.1 Rencana Kegiatan Masyarakat ……………………………………………………………...…… 4.4.2 Pembentukan KSM …………………………………………………………………………...…… 4.4.3 Pilihan Teknologi Sanitasi ………………………………………………………………………… 4.4.4 Dokumen Rencana Pembangunan …………………………………………………………….… 4.4.5 Monitoring dan Evaluasi …………………………………………………………………..…….… 4.5 Tahap Konstruksi 4.5.1 Persiapan Pelaksanaan ……………………………………………………………………….….. 4.5.2 Proses Pelaksanaan …………………………………………………………………………....... 4.5.3 Etika Pelaksanaan …………………………………………………………………….………....... 4.5.4 Pelaksanaan Kegiatan Pemberdayaan …………………………………………………….…… 4.5.5 Pelaksanaan Konstruksi ………………………………………………………….………….…... 12 12 12 12 12 12 16 16 17 18 18 28 28 36 37 49 49 49 50 51 52 53 iii

BAB IV

4.5.6 BAB V

Monitoring dan Evaluasi …………………………………………………………………….……. 55 60 62 62 69 70 71 73 73 73 75 75 75

OPERASI DAN PEMELIHARAAN 5.1 Aspek Operasi dan Pemeliharaan ………………………………………………………………………... 5.2 Dukungan Pemerintah Kabupaten/Kota ……………………………………………………………..…... 5.3 Air Limbah Komunal Berbasis Masyarakat ………………………………………………………….…… 5.4 Sampah Pola 3R Berbasis Masyarakat …………………………………………………………….…… 5.5 Drainase Mandiri Berwawasan Lingkungan Berbasis Masyarakat …………………………………… 5.6 Monitoring dan Evaluasi …………………………………………………………………………………… PEMBIAYAAN 6.1 Sumber Pembiayaan ….……………………………………………………………………………………. 6.2 Rencana Pembiayaan ……………………………………………………………………………………… 6.3 Pembiayaan Komponen Kegiatan …………………………………………………………………...…… 6.4 Penyaluran Dana …………………………………………………………………………………………... 6.5 Pengelolaan Dana dan Pengawasan ……………………………………………………………………. 6.6 Pelaporan …………………………………………………………………………………………………… PENUTUP

BAB VI

BAB VII

LAMPIRAN ……………………………………………………………………………………………………………………… … 79

iv

DAFTAR GAMBAR Gambar 3.1. Gambar 3.2. Gambar 4.1. Gambar 4.2. Gambar 4.3. Gambar 4.4. Gambar 4.5 Gambar 4.6 Gambar 4.7. Gambar 4.8. Gambar 4.9 Gambar 4.10. Gambar 4.11. Gambar 4.12. Gambar 4.13. Gambar 4.14. Gambar 4.15. Gambar 4.16. Gambar 4.17. Gambar 4.18. Gambar 5.1. Gambar 6.1 Contoh Alat Pengumpul Sampah Contoh Alat Pembuat Kompos Bagan Alir Pelaksanaan DAK Sanitasi Lingkungan Masyarakat Berbasis Masyarakat Skema dan Prosedur Implementasi Contoh Venn Diagram Overview Pelaksanaan RPA dalam Tahap Implementasi Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) Tahapan Rencana Kegiatan Masyarakat (RKM) Kegiatan dalam Tahap Penyusunan Rencana Kegiatan Masyarakat (RKM) Contoh Peta Sanitasi Masyarakat Contoh Bagan Organisasi Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Contoh MCK Umum Contoh Saluran Pembuangan Limbah Bersama/Komunal Tangki Septik Bersama Bio-Digester Baffled Reaktor/Tangki Septik Bersusun Contoh Pewadahan Contoh Komposter Contoh Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Sistem Drainase Mandiri dengan Kolam Tampungan di Samping Saluran yang Bermuara di Badan Air/Sungai Sistem Drainase Mandiri dengan Kolam Tampungan Segaris dengan Saluran atau Berada dalam Saluran, Outlet Kolam Tampungan Langsung Bermuara ke Badan Air/Sungai Bagan Struktur Organisasi Badan Pengelola Pasca Konstruksi Bagan Sumber Pendanaan

v

9.13 Tabel 4.8. Tabel 4. Tabel 4.1. Tabel 4. Tabel 4.1.2.14.5.11. Tabel 4. Tabel 5.DAFTAR TABEL Tabel 4.4 Ketersediaan Lahan Contoh Venn Diagram CS4. Tabel 4.12 Tabel 4.1 Kondisi Drainase CS3.1 Jenis Informasi dan Alat RPA yang digunakan Contoh Timeline CS1. Tabel 4.2 Toilet/Jamban CS3.7.2. Tabel 6.10. Tabel 4.1 Kesediaan Masyarakat Untuk Mengeluarkan Biaya CS3.3.4. Tabel 4.1 Ketersediaan Lembaga-Lembaga Setempat* CS5.6.1 Pengalaman Membangun Prasarana* secara Gotong-Royong Contoh Ladder – 1* CS2.1 Rencana Perbaikan Sanitasi* Topik dan Metode yang digunakan dalam Penyusunan RKM Contoh Alokasi Waktu RKM Biaya Pengoperasian dan Pemeliharaan Sistem MCK untuk 250 Jiwa Biaya Pengoperasian dan Pemeliharaan Sistem Komunal untuk 750 Jiwa Pembiayaan per Komponen Kegiatan vi .3 Ketersediaan Air CS3. Tabel 5. Tabel 4. Tabel 4.

lingkungan hidup.1 Latar Belakang Pembangunan prasarana dan sarana air limbah permukiman.2 Maksud Petunjuk pelaksanaan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) ini dimaksudkan sebagai acuan bagi para pemangku kepentingan (stakeholder) khususnya di kabupaten/kota dalam melaksanakan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat. yang diimplementasikan melalui kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). 3. Membina masyarakat dalam pengelolaan prasarana dan sarana air limbah. membentuk kelompok dan melakukan pembangunan fisik termasuk mengelola kegiatan operasi dan pemeliharaannya. Memfasilitasi masyarakat dalam penyediaan prasarana dan sarana air limbah. persampahan dan drainase bagi masyarakat berpenghasilan rendah di lingkungan padat penduduk. persampahan dan drainase 6. Membina organisasi/kelompok masyarakat. persampahan dan drainase di Indonesia saat ini belum mencapai kondisi yang diinginkan terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah di lingkungan permukiman padat penduduk. 1. Akses penduduk kepada prasarana dan sarana air limbah permukiman. Menumbuhkan inisiatif masyarakat/pokmas dalam pengembangan kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) 1. Meningkatkan peran serta dan pelibatan masyarakat. Hasil berbagai pengamatan dan penelitian telah membuktikan bahwa semakin besar akses penduduk kepada fasilitas prasarana dan sarana air limbah permukiman. persampahan dan drainase yang berbasis masyarakat dengan pendekatan tanggap kebutuhan.BAB I PENDAHULUAN 1. Pemerintah menyediakan program sanitasi lingkungan melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) dalam penyediaan prasarana dan sarana air limbah permukiman. dalam rangka meningkatkan kondisi sanitasi lingkungan permukiman kumuh perkotaan. kumuh dan rawan sanitasi di perkotaan. 4. sosial budaya serta kemiskinan. masyarakat memilih sendiri prasarana dan sarana air limbah permukiman. yang bersifat melengkapi berbagai pedoman dan petunjuk lain yang berlaku. 2. ikut aktif menyusun rencana aksi. Tujuan Petunjuk pelaksanaan penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur Sub Bidang Sanitasi ini bertujuan agar para pemangku kepentingan dapat mengerti dan memahami penyelenggaraan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) sehingga dapat: 1. Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk melaksanakan pola hidup sehat. pendidikan. bahkan bila perlu mengembangkannya. reuse dan recycle) dan (3) pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri yang berwawasan lingkungan. (2) pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce. Melalui pelaksanaan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat ini. Kegiatan Dana Alokasi Khusus Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat ini mencakup: (1) pengembangan prasarana dan sarana air limbah komunal. persampahan dan drainase pada dasarnya erat kaitannya dengan aspek kesehatan. persampahan dan drainase yang sesuai.3 1 . persampahan dan drainase (serta pemahaman tentang hygiene) semakin kecil kemungkinan terjadinya kasus penyebaran penyakit yang ditularkan melalui media air (waterborne diseases). kumuh dan rawan sanitasi. yaitu sebuah inisiatif untuk mempromosikan penyediaan prasarana dan sarana air limbah permukiman. persampahan dan drainase 5.

5. 7. Pemerintah Pusat. Pemerintah Provinsi. 6. Penyiapan Tenaga Fasilitator.6 2 . pembentukan KSM. dan 5. konstruksi. berupa kegiatan sosialisasi kepada seluruh stakeholder tentang penyelenggaraan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). yaitu: 1. berupa pelatihan-pelatihan Tenaga Fasilitator Lapangan.PPN/11/2008. pembentukan forum pengguna. DED & RAB. berupa dokumen yang memuat sarana terpilih. Tukang. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah 4. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 21/PRT/M/2006 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Persampahan (KSNP-SPP) 8. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum 5. Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Surat Edaran Menteri Pekerjaan Umum Nomor KU. Seleksi Lokasi.4 Acuan Normatif 1. Ruang Lingkup Petunjuk Pelaksanaan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat Ruang lingkup Petunjuk pelaksanaan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) ini meliputi tahaptahap: 1. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 42/PRT/M/2007 tentang Petunjuk Teknis Penggunaan Dana Alokasi Khusus Bidang Infrastruktur 10. berupa tata cara pemilihan lokasi sesuai kriteria. 3. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. SEB Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri. pengoperasian dan pemeliharaan. Teknis Pelaksanaan dan Evaluasi Pemanfaatan Dana Alokasi Khusus 13. Pemerintah Kabupaten/Kota. Persiapan. daftar pendek (shortlist) sampai dengan penetapan lokasi terpilih. Swasta. Penyusunan Rencana Kegiatan Masyarakat (RKM). yaitu TFL Teknis dan TFL Pemberdayaan di setiap lokasi yang akan bertugas mendampingi masyarakat dalam tahap seleksi kampung. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 20 Tahun 2009 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Dana Alokasi Khusus di Daerah 12. Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota 7. tentang Ruang Lingkup Penggunaan DAK Bidang Infrastruktur Tahun 2010 Sasaran Sasaran dari tersedianya Petunjuk pelaksanaan kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat.01.07/2009 tentang Alokasi dan Pedoman Umum Dana Alokasi Khusus Tahun Anggaran 2010 11. 4. Nomor 0239/M. Kelompok Masyarakat. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 16/PRT/M/2008 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Air Limbah Permukiman (KSNP-SPALP) 9. 2. rencana pembiayaan. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 175/PMK. 1. berupa seleksi dan pelatihan 2 (dua) orang Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL). berupa tata cara pengoperasian dan pemeliharaan. Calon Operator dan Calon Pengguna. jadwal konstruksi. Pemantauan. Penguatan Kelembagaan. mulai dari daftar panjang (longlist). Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara 2. Mandor. Pengoperasian dan Perawatan.5 1. Pembiayaan. 3.01-Mn/678. daftar calon penerima manfaat. SE 1722/MK/07/2008 dan 900/3556/SJ Tanggal 21 November 2008 perihal Petunjuk Pelaksanaan. 4. rencana pelatihan serta rencana pengoperasian dan pemeliharaan sarana yang dibangun. penyusunan RKM. tanggal 15 Desember 2009. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air 3. Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan 6.1. 2.

Mendorong prakarsa lokal dengan iklim keterbukaan. 2. hanya memfasilitasi inisiatif kelompok masyarakat. merencanakan. dengan difasilitasi oleh TFL atau konsultan pendamping yang bergerak secara profesional dalam bidang teknologi pengolahan limbah. PRINSIP DAN POLA PENYELENGGARAAN DAK SANITASI LINGKUNGAN BERBASIS MASYARAKAT 2. Prinsip-Prinsip Penyelenggaraan Prinsip Dasar DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) adalah : 1.1 Pendekatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) merupakan salah satu kegiatan pembangunan prasarana air limbah. Masyarakat menentukan. drainase maupun bidang sosial. 3.BAB II PENDEKATAN. pelaksanaan. persampahan dan drainase yang menggunakan pendekatan pemberdayaan masyarakat melalui : 1. Program ini bersifat tanggap kebutuhan. 5. Keswadayaan. 4. dimana orientasi kegiatan baik dalam proses maupun pemanfaatan hasil ditujukan kepada penduduk miskin yang bermukim di permukiman padat perkotaan berdasarkan kebutuhan. 4. pengelolaan kegiatan harus dapat dipertanggung jawabkan kepada seluruh lapisan masyarakat. 2. masyarakat yang layak mengikuti DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) akan bersaing mendapatkan kegiatan ini dengan cara menunjukkan komitmen serta kesiapan untuk melaksanakan sistem sesuai pilihan mereka. dimana masyarakat terlibat secara aktif dalam proses perencanaan.3 Pola Penyelenggaraan Pola penyelenggaraan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) dilakukan oleh masyarakat dengan difasilitasi Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) atau Konsultan Pendamping yang memiliki kemampuan teknis dan sosial kemasyarakatan. monitoring dan evaluasi. Dapat dipertanggungjawabkan. Keberpihakan pada warga yang berpenghasilan rendah. Berkelanjutan. pengelolaan kegiatan dapat memberikan manfaat kepada masyarakat secara berkelanjutan. 3. baik proses perencanaan. Dapat diterima. pengawasan. Namun jika dalam tahap pelaksanaan konstruksi terdapat kegiatan yang secara teknis tidak mampu dilaksanakan oleh masyarakat sendiri. membangun dan mengelola sistem yang mereka pilih sendiri. pengawasan. Transparan. Pengambilan keputusan berada sepenuhnya di tangan masyarakat. yaitu ditandai dengan adanya manfaat bagi pengguna serta pemeliharaan dan pengelolaan sarana dilakukan secara mandiri oleh masyarakat pengguna. pelaksanaan. 2. pengawasan. 3 2. pelaksanaan. maka dapat ditunjuk pihak ketiga dengan melalui Kerja Sama Operasional (KSO) sehingga terjadi kerja sama kelompok masyarakat setempat. Prinsip Penyelenggaraan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) adalah : 1. pengelolaan kegiatan dilakukan secara terbuka dan diketahui oleh seluruh lapisan masyarakat dan aparatur sehingga dapat diawasi dan dievaluasi oleh semua pihak. pemanfaatan dan pengelolaan. Otonomi dan desentralisasi. 2. Partisipatif. Pemerintah daerah tidak sebagai pengelola sarana. dimana kemampuan masyarakat menjadi faktor pendorong utama dalam keberhasilan kegiatan. hanya sebatas sebagai fasilitator. 3. dimana masyarakat memperoleh kepercayaan dan kesempatan yang luas dalam proses perencanaan. pengorganisasian. sedangkan peran pemerintah atau Swasta. dimana masyarakat menyampaikan permasalahan dan merumuskan kebutuhannya secara demokratis dan transparan. pilihan kegiatan berdasarkan musyawarah sehingga memperoleh dukungan dan diterima masyarakat. mulai dari perencanaan.2 . maupun pemanfaatan hasil kegiatan. persampahan. 4. pemanfaatan dan pengelolaan hasilnya. pelaksanaan.

sepanjang kondisi lapangan memenuhi persyaratan. Prioritas ke-2 Apabila prioritas pertama sudah dipenuhi (tidak ada BAB sembarangan) maka dapat dikembangkan: a.300 juta/Ha.2. 4 . reuse dan recycle) berbasis masyarakat adalah penyelengaraan prasarana persampahan yang meliputi kegiatan mengurangi (reduce). Pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri yang berwawasan lingkungan berbasis masyarakat adalah penyelengaraan prasarana drainase yang menunjang kegiatan konservasi dan keseimbangan lingkungan. 1 modul pengelolaan sampah pada 3R (reduce. pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri yang berwawasan lingkungan Prasarana sanitasi yang dimaksud adalah sebagai berikut: 1.-masing unit tangki septik dimanfaatkan oleh 4 atau 5 rumah. Prioritas pertama: Pengembangan prasarana dan sarana air limbah komunal berbasis masyarakat. reuse dan recycle) dan 3. Pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce. Untuk prasarana drainase ini membutuhkan dana pembangunan fisik sekitar Rp. Modul C berupa sistem jaringan perpipaan air limbah skala lingkungan (100-200 KK). pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce. 2.300 juta dan mempunyai 3 alternatif utama: Modul A berupa unit tangki septik komunal yang masing. Modul ini merupakan modul yang disarankan. Salah satu modul pengelolaan air limbah komunal berbasis masyarakat membutuhkan dana pembangunan fisik sekitar Rp. sarana cuci. dan unit pengolahan air limbahnya. reuse dan recycle) berbasis masyarakat membutuhkan dana pembangunan dan pelatihan sekitar Rp. mengguna ulang (reuse) dan mendaur ulang (recycle) sampah. adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk menyediakan prasarana penyehatan lingkungan permukiman berbasis masyarakat. Modul ini dibangun untuk rumah yang berkelompok dan hanya tersedia lahan yang terbatas. Modul B berupa 1 unit MCK Plus++ yang dapat dimanfaatkan oleh 100-200 KK terdiri dari kamar mandi. terdiri dari: 1. adalah penyelenggaraan prasaran air limbah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat berdasarkan kebutuhan dan kesesuaian masyarakat itu sendiri.4 Prasarana Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM).300 juta b. pengembangan prasarana dan sarana air limbah komunal. 2.

yang berdasarkan penelitian Kantor Kementerian Lingkungan Hidup mencapai 60%. 5 . serta rencana pengembangan kota. Sistem Pengolahan Air Limbah Terpusat (Off Site System). Oleh karena itu.BAB III PENGELOLAAN SANITASI LINGKUNGAN BERBASIS MASYARAKAT 3. prasarana dan sarana pembuangan air limbah secara individu maupun komunal perlu diupayakan keberadaannya sehingga setiap penduduk dapat memanfaatkannya. Dalam rangka meningkatkan taraf kesehatan untuk mencapai kualitas hidup yang optimal. Sistem pengolahan air limbah terpusat merupakan sistem pengolahan dimana fasilitas instalasi pengolahan air limbah berada di luar persil atau dipisahkan dengan batas tanah atau jarak. Salah satu upaya untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan pengelolaan air limbah domestik yang dilakukan secara baik dan teratur. cuci. yang pada akhirnya menyebabkan beberapa masalah. perkantoran. sebelum air limbah dialirkan ke sungai atau meresap ke dalam tanah perlu diolah terlebih dahulu. dan daya beli masyarakat. Air limbah ini berasal dari air bekas memasak. maka diperlukan adanya sistem pengelolaan lingkungan secara baik dan terpadu. Air limbah domestik adalah pencemar badan air di daerah perkotaan. yaitu: kerusakan keseimbangan ekologi di aliran sungai. Kondisi dan permasalahan dalam pengelolaan air limbah domestik/sanitasi saat ini adalah: • Pesatnya pembangunan di perkotaan yang tidak diimbangi oleh penyediaan sarana dan prasarana air limbah sehingga mengakibatkan menurunnya kualitas lingkungan. • Sesuai untuk daerah dengan kepadatan tinggi. masalah kesehatan penduduk yang memanfaatkan air sungai secara langsung. Kelebihan system pengolahan air limbah terpusat : • Menyediakan pelayanan yang terbaik. rumah makan (restauran). 1. Masuknya air limbah domestik ke lingkungan tanpa diolah akan mengakibatkan menurunnya kualitas air di badan air penerima seperti sungai. serta kerusakan perikanan di muara. yaitu Sistem Pengolahan Air Limbah Terpusat (Off Site System) dan Sistem Pengolahan Air Limbah Setempat (On Site System). yang dapat menurunkan derajat kesehatan masyarakat dan meningkatkan angka kematian akibat penyakit infeksi air. apartemen dan asrama. Pada dasarnya semua penduduk harus mempunyai akses kepada fasilitas pembuangan air limbah yang benar dan secara teknis dapat dipertanggungjawabkan. mandi. Sistem pengolahan air limbah terpusat adalah suatu system pengelolaan air limbah dengan menggunakan suatu sistem jaringan perpipaan untuk menampung dan mengalirkan air limbah ke suatu tempat untuk selanjutnya diolah. Sistem pengolahan air limbah domestik secara garis besar dikelompokkan menjadi dua jenis. sedangkan sistem pengolahan air limbah setempat merupakan sistem dimana fasilitas pengolahan air limbah berada di dalam persil atau batas tanah yang dimiliki. Apabila meresap ke dalam tanah atau masuk ke dalam sungai. bertambahnya biaya pengolahan air minum (PAM).1 Air Limbah Komunal Berbasis Masyarakat Air limbah domestik merupakan air limbah yang berasal dari usaha dan atau kegiatan permukiman. dan kakus. • Pembangunan sarana dan prasarana air limbah masih banyak yang belum sesuai dengan kondisi setempat. maka unsur tersebut akan mencemari air tanah dan lingkungan. perniagaan. Air limbah domestik mengandung bahan organik tinggi dan bakteri yang berbahaya bagi kehidupan. kebutuhan.

Pemilihan modul diserahkan kepada kelompok masyarakat yang bersangkutan. • Operasi dan pemeliharaan sulit dilaksanakan. • Pengoperasian dan pemeliharaan oleh masyarakat.Modul C : berupa sistem jaringan perpipaan air limbah skala lingkungan (100-200 KK). sarana cuci. Kekurangan sistem pengolahan air limbah terpusat : • Memerlukan biaya investasi. dan rawan sanitasi di perkotaan. • Manfaat secara penuh diperoleh setelah selesai jangka panjang.Modul B : berupa satu unit MCK Plus++ yang dapat dimanfaatkan oleh 100-200 KK.Modul A : berupa beberapa unit tangki septik komunal yang masing-masing unit tangki septik dimanfaatkan oleh 4 atau 5 rumah. • Dapat menampung semua air limbah. • Tidak dapat dilakukan oleh perseorangan. seperti modul yang selama ini dikembangkan di Indonesia. sepanjang kondisi lapangan memenuhi persyaratan teknis. Kekurangan sistem pengolahan air limbah setempat : • Tidak dapat diterapkan pada setiap daerah. tingkat kepadatan. • Masyarakat dan tiap-tiap keluarga dapat menyediakan sendiri. • Memerlukan pengelolaan. Sistem Pengolahan Air Limbah Setempat (On Site System) Sistem pengolahan air limbah setempat sebagai sistem dimana fasilitas pengolahan air limbah berada di dalam persil atau batas tanah yang dimiliki. 300 Juta dan mempunyai 3 alternatif utama yaitu : . Modul ini merupakan modul yang disarankan. yaitu : 6 . Modul ini dibangun untuk rumah yang berkelompok dan hanya tersedia lahan yang sedikit karena dibangun di bawah tanah. tidak melayani air limbah kamar mandi dan air bekas mencuci. • Waktu yang lama dalam perencanaan dan pelaksanaan. Kelebihan sistem pengolahan air limbah setempat : • Menggunakan teknologi sederhana. terdiri dari kamar mandi. • Menggunakan teknologi tinggi. dan pemeliharaan yang baik 2. • Fungsi terbatas hanya dari buangan kotoran manusia. dan unit pengolahan air limbahnya. . Untuk menjembatani atau meminimalisir kekurangan dan memaksimalkan kelebihan dari kedua sistem pengolahan air limbah diatas adalah dengan mengembangkan prasarana dan sarana air limbah komunal berbasis masyarakat. kumuh. dan pemeliharaan yang tinggi. • Manfaat dapat dirasakan secara langsung. Modul ini sesuai diterapkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah di kawasan permukiman padat. karena memiliki gabungan kelebihan dari sistem pengolahan air limbah terpusat (off site system) dan sistem pengolahan air limbah setempat (on site system). dan lain-lain. operasi. misalkan tergantung pada sifat permeabilitas tanah. yaitu Sanitasi Berbasis Masyarakat (SANIMAS). operasi. • Memiliki masa guna lebih lama.• Pencemaran terhadap air tanah dan badan air dapat dihindari. . yaitu penyelenggaraan prasarana air limbah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat berdasarkan kebutuhan dan kesesuaian masyarakat itu sendiri. Satu modul pengelolaan air limbah komunal berbasis masyarakat membutuhkan dana pembangunan fisik sekitar Rp. • Memerlukan biaya yang rendah.

Sampah Pola 3R Berbasis Masyarakat Pemilahan Sampah Pemilahan sampah dilakukan untuk memilah sampah menurut jenisnya sehingga mendukung kegiatan / proses penanganan selanjutnya. Menggunakan teknologi sederhana.2. kertas. .• • • • • • • • Menyediakan pelayanan yang terbaik.2. Pemilahan hendaknya dilakukan secara bertahap sesuai dengan kesiapan masyarakat dan proses selanjutnya. 2. Memiliki masa guna lebih lama. Wadah sampah organik 2. misalnya untuk jamban sendiri bila pilihan teknologinya adalah tangki septik bersama atau perpipaan komunal. logam.2. becak sampah. misal plastik. dan LSM). karena sampah yang terlalu basah akan menyebabkan kadar air bahan kompos menjadi tinggi sehingga proses pengomposan akan terganggu. Pemerintah Pusat. sampah non organik dapat dipilah atas komponen lainnya sesuai kebutuhan. 2. Masyarakat dan tiap-tiap keluarga dapat menyediakan sendiri. motor sampah atau alat angkut lain yang sesuai dengan kondisi setempat 7 3.1 3.2 3. Sebagai contoh bila akan dilakukan proses pengomposan maka sampah organik hendaknya dipilah terlebih dahulu. Metode pengumpulan sampah dapat dilakukan oleh petugas dari rumah ke rumah atau masyarakat membawa sendiri sampahnya ke Wadah/Bin Komunal/Kontainer yang sudah ditentukan. . • Manfaat dapat dirasakan secara langsung. Saringan plastik untuk meniriskan air dari sisa sayur Pengumpulan Sampah 1.1 Metode 1. Awal pemilahan dianjurkan untuk memisahkan sampah menjadi 2 bagian yaitu sampah organik bahan kompos dan sampah non organik. Untuk sampah berupa sisa sayur sebaiknya ditiriskan terlebih dahulu dengan menggunakan saringan plastik. sisa sayur dan daun. Memerlukan biaya yang rendah. Pencemaran terhadap air tanah dan badan air dapat dihindari. sisa buah. Sampah organik dikumpulkan dalam wadah yang yang terpisah dengan sampah non organik. Sampah kertas dan kayu sebenarnya merupakan jenis sampah organik. Dapat menampung semua air limbah. dan lain-lain. kaca. • Pengoperasian dan pemeliharaan oleh masyarakat.2 3.1.Sampah non organik meliputi : plastik. maka keduanya tidak disertakan dalam kategori sampah organik bahan kompos. • Melibatkan semua pihak untuk bekerja sama (Masyarakat. dan sifatnya yang memerlukan waktu lama untuk proses pengomposan (misal kayu). Pemerintah Daerah. tetapi mengingat kandungannya (pada kertas mengandung tinta dll) yang berpotensi mengganggu kualitas kompos.Bila kondisi memungkinkan.2 . karet. 3. kaca.Sampah bahan organik kompos meliputi : sisa makanan. logam. seperti gerobak sampah. Wadah sampah non organik 3.1. Sesuai untuk daerah dengan kepadatan tinggi.2. . dan bahan lain yang tidak membusuk. Fasilitas Untuk pemilahan sampah akan diperlukan beberapa fasilitas/peralatan yang dapat meliputi : 1. Peralatan pengumpulan sampah di kawasan perumahan dapat dilakukan dengan menggunakan alat angkut. 3.

8 . mie instan dll) sebaiknya dimanfaatkan untuk barang-barang kerajinan atau bahan baku lain. Motor/Gerobak sampah yang mengumpulkan sampah terpilah dapat dimodifikasi dengan sekat atau dilengkapi karung-karung besar (3 unit atau sesuai dengan jenis sampah). 4.3. 2.1. Fasilitas TPST 1. sedangkan sampah yang sudah terpilah 80%. logam/kaca dapat dilakukan seminggu sekali. pemilahan sebaiknya dilakukan sejak di sumber. 4. b. Contoh Alat Pengumpul Sampah 3. Pemasaran produk daur ulang dapat dilakukan melalui kerja sama dengan pihak lapak atau langsung dengan industri pemakai. plastik. Fasilitas TPST meliputi wadah komunal. Sampah yang didaur ulang minimal adalah kertas. barrier (pagar tanaman hidup) dan gudang penyimpan bahan daur ulang maupun produk kompos serta biodigester (opsional) c. TPST dengan luas < 200 m² sebaiknya hanya menampung sampah tercampur 20%. Luas TPST bervariasi. TPST dengan luas 1000 m² dapat menampung sampah dengan atau tanpa proses pemilahan sampah di sumber. sedangkan untuk sampah yang masih tercampur harus dilakukan minimal seminggu 2 kali.2. tergantung kapasitas pelayanan dan tipe kawasan. areal pemilahan dan areal composting dan juga dilengkapi dengan fasilitas penunjang lain seperti saluran drainase. minuman dalam kemasan. Sedangkan untuk cakupan pelayanan skala RW (200 rumah). diperlukan TPST dengan luas 200 – 500 m² 2. Untuk kawasan perumahan baru (cakupan pelayanan 2000 rumah) diperlukan TPST dengan luas 1000 m². 3. listrik. Lokasi 1. Gambar 3. air bersih. Daur Ulang 1. 4. TPST dengan luas < 500 m² hanya dapat menampung sampah dalam keadaan terpilah (50%) dan sampah campur 50%. Daur ulang kemasan plastik (air mineral. Daur ulang sampah B3 Rumah tangga (terutama batu baterei dan lampu neon) dikumpulkan untuk diproses lebih lanjut sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku (PP 18 tahun 1999 tentang pengelolaan sampah B3). 3.3 Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Skala Kawasan a. Jadual pengumpulan sampah non organik terpilah seperti kertas. plastik dan logam yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan untuk mendapatkan kualitas bahan daur ulang yang baik.

Pemasaran produk kompos dapat bekerja sama dengan pihak Koperasi dan Dinas (Kebersihan. saluran.P. Sampah yang digunakan sebagai bahan baku kompos adalah sampah dapur (terseleksi) dan daun-daun potongan tanaman. Pembuatan Kompos 1. Pertamanan.3 Drainase Mandiri Berwawasan Lingkungan Berbasis Masyarakat Pelestarian prasarana dan sarana drainase mandiri berbasis masyarakat sangat bergantung pada kemauan dan kemampuan masyarakat dalam mengoperasikan. Secara umum aspek yang perlu diperhatikan dalam pelestarian adalah pengelolaan prasarana dan sarana.3.K dan logam berat. 2. pintu-pintu air atau pompa (kalau ada)) Jumlah prasarana dan sarana yang tersedia Jumlah prasarana dan sarana yang digunakan Target/sasaran perencanaan Standar prosedur operasional dan pemeliharaan Standar kriteria teknis prasarana dan sarana Rencana pengembangan sarana di masa datang Untuk mencapai keberhasilan pengelolaan. 3. Pengelolaan Pengelolaan pada dasarnya merupakan aspek dan sendi utama keberlangsungan hasil fisik konstruksi.2. Badan/Kelompok/Organisasi Pengelola harus melakukan langkahlangkah berikut: Melakukan pemantauan rutin untuk mengetahui kondisi prasarana dan sarana Mengetahui kerusakan sedini mungkin agar dapat disusun rencana perawatan dan pemeliharaan yang baik 9 3. Metode pembuatan kompos dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain dengan open windrow. kadar N.1 . memanfaatkan. 4. Perlu dilakukan analisa kualitas terhadap produk kompos secara acak dengan parameter antara lain warna. Contoh Alat Pembuat Kompos 3. Pertanian dll) Gambar 3. dan memelihara prasarana dan sarana yang ada.d. penyuluhan dan pedoman pemeliharaan. Pengelola prasarana dan sarana perlu memperhatikan beberapa hal: Kinerja prasarana yang dikelola (kolam tampungan. C/N rasio.

Melakukan pengelolaan sesuai dengan petunjuk operasi pemeliharaan ataupun standar operasi prosedur yang ada 10 .Melakukan rehabilitasi tepat waktu Melakukan evaluasi kinerja pelayanan secara berkala Melakukan pengelolaan sesuai standar operasional prosedur Untuk mencapai keberhasilan pengelolaan. Melakukan evaluasi kinerja sistem drainase mandiri berwawasan lingkungan dan pelayanannya secara berkala 5. Mengetahui kerusakan sedini mungkin agar dapat disusun rencana perawatan dan pemeliharaan yang baik terhadap pompa dan pintu-pintu air 3. Melakukan rehabilitasi tepat waktu terhadap saluran-saluran air dan sistem drainase 4. kolam tampungan harus dalam keadaan kosong (tidak ada air) • Pintu-pintu air dalam keadaan siap digunakan • Pompa dan daya listrik siap digunakan • Saringan sampah dalam keadaan bersih 2. Badan/Kelompok/Organisasi Pengelola harus melakukan langkahlangkah berikut: 1. Melakukan pemantauan rutin untuk mengetahui kondisi prasarana dan sarana • Dalam keadaan tidak hujan.

DED. Penguatan Kelembagaan.1. Pelatihan) SELEKSI LOKASI Longlist. Penyusunan Petunjuk Pelaksanaan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat Sosialisasi Kepada Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota Persiapan PENYIAPAN TFL (Seleksi.BAB IV TAHAPAN PELAKSANAAN 4. Penyusunan RKM.1 Umum Tahapan pelaksanaan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) meliputi: Persiapan. Konstruksi. Pilihan Teknologi dan Sarana. RAB dan Jadwal Kegiatan Dokumen RKM Pelelangan Material • • PELATIHAN OPERATOR SOSIALISASI PENGGUNA KONSTRUKSI Pelaksanaan dan pengawasan/ pengendalian oleh masyarakat Sarana Siap Digunakan Pelaksanaan Fisik O&M Operasi. Bagan Alir Pelaksanaan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat 11 . Pemeliharaan • Air Limbah Komunal Berbasis Masyarakat Pendampingan • Sampah Pola 3R O&M Berbasis Masyarakat • Drainase Mandiri Berwawasan Lingkungan Berbasis Masyarakat Gambar 4. Operasi dan Pemeliharaan sarana terbangun. Shortlist Lokasi terpilih Penyiapan Masyarakat oleh TFL • • • • PEMBENTUKAN KSM PELATIHAN KSM PELATIHAN MANDOR PELATIHAN TUKANG PENYUSUNAN RKM Organisasi. Seleksi lokasi.

Untuk itu pelaksanaan pelatihan TFL perlu memasukkan pengetahuan dasar teknologi dan teknis disamping segi pemberdayaan masyarakat. review dokumen-dokumen yang berkaitan dengan tugas pekerjaan dari kelompok sasaran dan tujuan kegiatan pada tahap seleksi masyarakat dan penyusunan rencana kerja masyarakat (tahap perencanaan)...3 4.. memutuskan dan mengelola Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Rencana Kegiatan Definitif Penandatanganan Rencana Kegiatan definitif antara Pemerintah Pusat. program Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) diikuti dengan persiapan Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) baik yang berasal dari pemerintah kabupaten/kota maupun masyarakat..2 4... sehingga fasilitator dapat membantu masyarakat dalam mengidentifikasi masalah. 4. wawancara. misalnya observasi.... Mengenal kondisi lingkungan calon lokasi.2..3. yaitu dengan RPA dan dikombinasikan dengan metode/teknik lain yang dianggap efektif. Penyusunaan Daftar Panjang (Longlist).1 Tahap Persiapan Sosialisasi Sosialisasi kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) kepada seluruh pemerintah Kabupaten/Kota pada akhir tahun anggaran sebelumnya yang diselenggarakan bersamaan dengan Sosialisasi DAK oleh Kementerian Pekerjaan Umum.1..2....2 4.3 4.1 4... Kegiatan penyusunan daftar panjang dapat dilakukan bersamaan dengan kegiatan persiapan fasilitator lapangan.. dan Seleksi Kampung/Masyarakat.... 5... Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) mencakup 70% kegiatan pemberdayaan dan 30% kegiatan teknis. persampahan dan drainase 7. tahap konstruksi dan capacity building (tahap pelaksanaan konstruksi) serta tahap evaluasi dan support OM (fase pascakonstruksi)..1 4.3.. merencanakan.. Pendidikan minimal D3/sederajat 2. Penetapan Daftar Pendek (Shortlist). Tahap Seleksi Lokasi Tahap kegiatan setelah penandatanganan nota kesepahaman oleh stakeholder.3. Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota.. Bersedia tinggal dan bekerjasama dengan masyarakat di lokasi terpilih 8.2.. Program pelatihan dirancang berdasarkan kebutuhan yang diidentifikasi dan dianalisis dengan metode yang sistematis dan partisipatif.. serta meningkatkan kemampuan (capacity) fasilitator. TFL tersebut diseleksi sesuai dengan kriteria sebagai berikut: 1. Rapat Konsultasi Teknis Regional Rapat Konsultasi Teknis regional yang dilaksanakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum. melaksanakan.... Memiliki cukup waktu untuk melaksanakan tugas TFL 6.2 12 ..4. (syarat tambahan oleh Masyarakat) Pelatihan Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) Tujuan diselenggarakan pelatihan adalah memberi bekal pengetahuan tentang program dan tahapan sanitasi berbasis masyarakat kepada fasilitator.... Penyiapan Tenaga Fasilitator Lapangan Seleksi TFL Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL) terdiri dari TFL Pemda yang ditugaskan oleh Dinas penanggung jawab dan TFL masyarakat..... Sehat jasmani dan rohani 4..1.... Presentasi/Sosialisasi Kampung. Penduduk asli/setempat atau mampu berkomunikasi dan menguasai bahasa serta adat setempat 3. Memiliki pengetahuan/pengalaman dasar tentang air limbah. .

• Menyiapkan daftar longlist kampung padat/kumuh/miskin sesuai form dan membuat laporan kepada Kepala Dinas.3. Kementerian Pekerjaan Umum untuk mengikuti pelatihan. Penyusunan rencana kerja masyarakat (RKM) • Penentuan calon penerima manfaat/pengguna sarana • Pemetaan rumah dan infrastruktur sanitasi kampung • Pemilihan sarana teknologi sanitasi • Kontribusi masyarakat • Lembaga Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) di tingkat masyarakat • Penyusunan buku RKM dan Legalisasi RKM 5. 6.1. Kementerian Pekerjaan Umum ke masing-masing Pemerintah Kabupaten/Kota untuk mengusulkan nama calon fasilitator dalam rangka pemilihan tenaga fasilitator lapangan sesuai kriteria. 13 . Prinsip-prinsip dasar Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). antara lain: 1.Hal-hal yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut: 1. • Mengisi form shortlist kampung berdasarkan hasil pengecekan lapangan dan minta pengesahan dari Kepala Dinas. Penyampaian surat oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya. 4. Kementerian Pekerjaan Umum. 2. 2. Capacity Building (pelatihan-pelatihan dalam Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM)) • Pelatihan KSM • Pelatihan Mandor/Tukang • Pelatihan Operator dan Pengguna 7. TFL Pemda • Mengadakan rapat koordinasi dengan instansi terkait untuk mendapatkan daftar kampung dari dinasdinas bersangkutan. yang terdiri dari 1 (satu) orang fasilitator teknis dan 1 (satu) orang fasilitator pemberdayaan masyarakat untuk masing-masing rencana lokasi kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). 3. Prinsip dan metode seleksi masyarakat • Longlist dan shortlist kampung • Rapid Participatory Assessment (RPA) • Community self selection stakeholders meeting 4. Penyampaian nama calon fasilitator oleh Bupati/Walikota ke Direktorat Jenderal Cipta Karya. Pelatihan tenaga fasilitator lapangan diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Cipta Karya.3 Tugas dan Tanggung Jawab TFL Setiap TFL (Dinas & Masyarakat) mempunyai tugas dan tanggung jawab sebagai berikut: 1. 3. Materi pelatihan TFL disesuaikan dengan tugas dan tanggung jawab yang ada. • Melakukan pengecekan lapangan sesuai persyaratan teknis minimal bersama TFL-masyarakat dan pendamping/Satker Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Provinsi. Tahap Seleksi Masyarakat a. Evaluasi dan Support untuk operasi dan pemeliharaan • Support OP pascakonstruksi • Kampanye kesehatan bagi para pengguna Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) • Pengukuran dampak program (pengukuran dampak kesehatan dan pengukuran kualitas air di sekitar sarana Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM)). Tahap-tahap pelaksanaan Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) secara umum. Penyusunan Rencana Teknis Rinci (Detail Engineering Design/DED) sarana teknologi Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) dan penyusunan Rencana Anggaran Biaya untuk persiapan fase pelaksanaan konstruksi berdasarkan sarana dan teknologi yang dipilih oleh masyarakat.

• Mengkomunikasikan kepada Pendamping dan Satker Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Provinsi. • Membuat Berita Acara kegiatan sesuai kebutuhan. penyusunan rencana kontribusi. • Menindaklanjuti penjelasan kepada masyarakat (jika ada permintaan) bersama TFL Pemda. • Mengisi form shortlist kampung berdasarkan hasil pengecekan lapangan bersama TFL Pemda. • Mengadakan pertemuan koordinasi dengan dinas-dinas terkait untuk melaporkan perkembangan kegiatan Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). • Membantu TFL Pemda untuk mengundang stakeholder masyarakat (dalam shortlist) untuk sosialisasi Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). • Membuat Berita Acara kegiatan sesuai kebutuhan dan menyusun laporan secara berkala ke dinas penanggung jawab di Kabupaten/Kota dan Satker Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Provinsi. pemilihan sarana teknologi sanitasi. • Membuat Berita Acara seleksi kampung. penyusunan rencana kontribusi. TFL Masyarakat • Melakukan pertemuan awal dengan masyarakat (bersama TFL Pemda). • Membantu TFL Pemda untuk mengadakan pertemuan koordinasi dengan dinas-dinas terkait untuk melaporkan perkembangan Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). • Mengkomunikasikan kepada Pimpinan Kegiatan/Kepala Dinas tentang jadwal dan agenda pertemuan untuk penyusunan RKM. • Membuat Berita Acara seleksi kampung serta menyusun laporan berkala ke dinas penanggung jawab kabupaten/kota serta Satker Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Provinsi. Tahap Penyusunan Rencana Kerja Masyarakat (RKM) a. • Membantu masyarakat melakukan survey harga-harga material yang dibutuhkan. • Melakukan RPA di kampung yang mengirim undangan dan memfasilitasi community self-selection stakeholders meeting bersama dengan tim pendamping. • Membuat dokumen RKM dan meminta pengesahan/legalisasi RKM kepada semua stakeholder (bersama TFL Pemda). b. • Mengkomunikasikan kepada pendamping/Satker Pengembangan Kinerja Pengelolaan PLP Provinsi tentang jadwal dan agenda pertemuan untuk penyusunan RKM. 14 . pembentukan dan pengesahan KSM/Kelompok Swadaya Masyarakat. TFL Pemda • Melakukan pertemuan awal dengan masyarakat (bersama TFL-masyarakat). b. • Melakukan pengecekan lapangan sesuai persyaratan teknis minimal bersama TFL Pemda. • Memfasilitasi pertemuan masyarakat (bersama dengan TFL Pemda) untuk penentuan calon penerima manfaat program. • Membantu masyarakat melakukan survey harga-harga material yang dibutuhkan. pembentukan dan pengesahan KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat). • Memfasilitasi pertemuan masyarakat (bersama dengan TFL-masyarakat)untuk penentuan calon penerima manfaat program. pemilihan sarana teknologi sanitasi. TFL Masyarakat • Membantu TFL Pemda menyiapkan daftar longlist kampung.• Mengundang stakeholder masyarakat (dalam shortlist) untuk menyelenggarakan pertemuan/ sosialisasi Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). • Melakukan RPA (Rapid Participatory Appraisal atau penilaian cepat secara partisipatif) di kampung yang mengirim undangan dan memfasilitasi community self-selection stakeholders meeting atau pertemuan masyarakat untuk seleksi sendiri bersama dengan tim TFL pendamping. dan kegiatan lain sampai tersusunnya RKM. • Membuat dokumen RKM dan meminta pengesahan/legalisasi RKM kepada semua stakeholder (bersama TFL-masyarakat). dan kegiatan lain sampai tersusunnya RKM. 2.

• Ikut memberikan persetujuan keluar-masuknya material sesuai kualitas yang dipersyaratkan. • Meyakinkan bahwa semua rencana berjalan sesuai RKM. • Menyusun laporan keuangan dan ajuan pencairan dana sesuai perkembangan fisik.Masyarakat). TFL Pemda • Melakukan persiapan (survey dan pengukuran) dengan masyakarat untuk pembangunan sarana (bersama dengan TFL-Masyarakat). tenaga kerja. TFL Pemda • Menyelenggarakan pelatihan bagi operator dan pengguna (bersama dengan TFL. • Membuat Berita Acara kegiatan sesuai kebutuhan. • Membantu TFL Pemda dalam menyusun laporan keuangan dan ajuan pencairan dana sesuai perkembangan fisik. tenaga kerja. 15 . • Membuat Berita Acara pengecekan final teknis. kelembagaan. • Meyakinkan bahwa semua rencana berjalan sesuai RKM. • Melakukan pengawasan pekerjaan fisik dan tenaga kerja (bersama TFL Pemda). • Melakukan pengawasan pekerjaan fisik dan tenaga kerja (bersama TFL. • Meyakinkan bahwa semua rencana berjalan sesuai RKM. TFL-Masyarakat • Menyelenggarakan pelatihan bagi operator dan pengguna (bersama dengan TFL Pemda). Mandor/pengawas dan Tukang sesuai perencanaan (bersama dengan TFL Pemda). • Melakukan pengawasan pekerjaan fisik dan tenaga kerja. • Memberikan pedoman monitoring kualitas air dan hasil survei Indeks Status Perilaku Kesehatan kepada dinas terkait. TFL-Masyarakat • Melakukan persiapan (survey dan pengukuran) dengan masyakarat untuk pembangunan sarana (bersama dengan TFL Pemda).Masyarakat). material dan gudang.Masyarakat). Tahap Evaluasi dan Support Operasional dan Pemeliharaan a. b. • Ikut memberikan persetujuan keluar-masuknya material sesuai kualitas yang dipersyaratkan. dsb.3.Masyarakat). termasuk kontribusi dari berbagai pihak. • Menyusun laporan keuangan dan ajuan pencairan dana sesuai perkembangan fisik. dsb. dan keuangan • Melaporkan seluruh perkembangan kegiatan dan kemajuan pekerjaan kepada Satker Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Provinsi . dsb. material dan gudang. • Menyelenggarakan pelatihan KSM. kelembagaan. dan keuangan • Melaporkan seluruh perkembangan kegiatan dan kemajuan pekerjaan kepada Pimpinan Kegiatan/Kepala Dinas. • Memberikan persetujuan terhadap semua pengeluaran dana KSM dan administrasi keuangannya untuk pelaporan. material dan gudang. tukang. • Membantu persiapan peresmian sarana. tukang. • Menyelenggarakan kegiatan evaluasi partisipatif bersama masyarakat (TFL.Masyarakat). Mandor/pengawas dan Tukang sesuai perencanaan (bersama dengan TFL. 4. tenaga kerja. b. • Memberikan persetujuan terhadap semua pengeluaran dana KSM dan administrasi keuangannya untuk pelaporan. Tahap Konstruksi dan Capacity Building a. • Memfasilitasi pertemuan rutin masyarakat (bersama dengan TFL. termasuk kontribusi dari berbagai pihak. termasuk kontribusi dari berbagai pihak. • Menyelenggarakan evaluasi kegiatan bersama dengan dinas-dinas terkait. alat-alat pengawasan material. alat-alat pengawasan material. • Memfasilitasi pertemuan rutin masyarakat (bersama dengan TFL Pemda). alat-alat pengawasan material. • Membuat Berita Acara pengecekan final teknis. • Menyelenggarakan pelatihan KSM. • Membantu masyarakat melakukan persiapan peresmian sarana. tukang.

Penentuan lokasi terpilih dilakukan dengan metode seleksi-sendiri atau oleh perwakilan masyarakat dengan sistem kompetisi terbuka. Oleh karena itu perlu disusun pemetaan prasarana dan sarana sanitasi lingkungan sehingga penanganan sanitasi lingkungan akan lebih tepat sasaran dan skala prioritas. • Menyelenggarakan kegiatan evaluasi partisipatif bersama masyarakat (TFL Pemda). reuse. kumuh dan rawan sanitasi yang terdaftar dalam administrasi pemerintahan Kabupaten/Kota.4 16 . Lokasi yang rawan sanitasi b. Pemerintah Kabupaten/Kota bersama dengan fasilitator pendamping akan menyusun daftar-pendek sesuai persyaratan teknis minimal yang ditetapkan dan melalui pengecekan lapangan. • Memberikan persetujuan terhadap semua pengeluaran dana KSM dan administrasi keuangannya untuk pelaporan. c. Pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri yang berwawasan lingkungan berbasis masyarakat. Terdapat masalah fisik sanitasi. Pengembangan pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce. 5. Kriteria Umum: 1. Selalu masuk di semua program penataan kampung kumuh/penataan kawasan di semua dinas. Syarat Lokasi 1. bukan kumuh kaya). Kriteria lokasi kegiatan pengelolaan air limbah skala kawasan: 1.2 Seleksi Lokasi 1. Lingkungan masyarakat berpendapatan rendah (kumuh miskin. 4. Kriteria lokasi kegiatan pengelolaan persampahan skala kawasan: 1. Kumuh secara fisik.3. Penetapan daftar-panjang (minimal 5 lokasi) didasarkan pada wilayah yang merupakan urutan prioritas Pengembangan prasarana dan sarana air limbah komunal berbasis masyarakat. 2. Tersedia lahan yang cukup. • Membuat Berita Acara kegiatan sesuai kebutuhan. Adanya saluran/sungai/badan air untuk menampung efluen pengolahan air limbah dan drainase mandiri. Kawasan permukiman padat. 3. 6. 6. 3. 3. Seleksi Lokasi dimulai dengan Pemerintah Kota/Kabupaten menetapkan calon lokasi penerima Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) dalam bentuk daftar-panjang permukiman/kampung/kelurahan. 5. 4. dan recycle) berbasis masyarakat. Batasan administrasi lahan TPST dalam batas administrasi yang sama dengan area pelayanan 4. 4. Memiliki masalah kesehatan/kasus diare kejadian luar biasa. atau 200 m2 untuk pengolahan sampah pola 3R dan kolam yang sebaiknya cukup menampung 150 m3/ha kawasan permukiman untuk drainase mandiri 4. atau kawasan pasar dan permukiman sekitarnya (permukiman atau pasar legal sesuai peruntukannya dalam RTRW Kabupaten/Kota) 2. 150 m2 untuk 1 (satu) MCK Plus++. Memiliki permasalahan sanitasi yang mendesak untuk segera ditangani seperti pencemaran limbah. banyaknya sampah tidak terangkut atau terjadinya genangan. Masyarakat yang bersangkutan menyatakan tertarik dan bersedia untuk berpartisipasi melalui kontribusi. barang maupun tenaga.3.3. Kepadatan > 700 jiwa/Km2 (Wilayah Jawa & Bali). 2. Daftar Panjang Lokasi Daftar panjang merupakan data sekunder calon lokasi yang diusulkan oleh pemerintah daerah kota/ kabupaten pada saat MoU.• Memfasilitasi pertemuan rutin masyarakat (bersama TFL Pemda). Lokasi yang berada di kawasan permukiman perkotaan 2.3 4. 100 m2 untuk 1 (satu) unit bangunan Instalasi Pengolah Air Limbah/IPAL. • Menyusun laporan keuangan dan ajuan pencairan dana sesuai perkembangan fisik. baik dalam bentuk uang. Tersedia sumber air (PDAM/sumur/mata air/air tanah). • Melakukan pengawasan pekerjaan fisik dan tenaga kerja (bersama dengan TFL Pemda). dengan ketentuan memiliki kriteria kelayakan sebagai berikut: a.

Lokasi berada di kawasan permukiman perkotaan 2. 8. 7. Tersedia lahan: 4. Kelayakan pelaksanaan Kolam Retensi dan Sistem Polder harus berdasarkan tiga faktor antara lain: biaya konstruksi. Bersedia untuk berkontribusi (in cash + in kind). Permukaan air tanah di TPST >10 m 2. Pembuatan Kolam Retensi dan Sistem Polder disusun dengan memperhatikan faktor sosial ekonomi antara lain perkembangan kota dan rencana prasarana dan sarana kota serta dilaksanakan berdasarkan prioritas zona yang telah ditentukan dalam Rencana Induk Sistem Drainase. 6. Tersedia sumber air (PDAM. mata air). 5. 4. 8. 150 m2 (untuk Community Sanitation Center (CSC) atau MCK Plus++) 5. biaya operasi dan biaya pemeliharaan. Jarak lokasi ke permukiman lebih dari 200 m dari permukiman. Ukuran lahan minimal 200 m2 4. Terdaftar dalam administrasi pemerintahan Kabupaten/Kota (Legal/proses legal) & cakupan 50-100 KK – RT/RW/Lingkungan/Kampung. sumur gali. 3. Tertarik untuk mengimplementasikan kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). 3. 100 m2 (Simplified Sewerage System (SSS) atau komunal) dan min. Lokasi merupakan kawasan rawan genangan 3. Lahan yang diusulkan memang telah di manfaatkan/ difungsikan sebagai lokasi TPS Sampah. Kriteria lokasi kegiatan pengelolaan air limbah skala kawasan: 1. Mempunyai program lingkungan berbasis masyarakat. identifikasi lokasi dan sosialisasi awal. Terletak 500 m dari jalan raya 17 . 4. dan saluran untuk pembuangan air limbah (saluran drainase/riol kota/sungai).pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat. Sebaiknya data sekunder calon lokasi sejumlah minimal 5 (lima) kampung lokasi kumuh/miskin/padat penduduk perkotaan. Ketersediaan dan tata guna lahan Daftar panjang tersebut bertujuan untuk mempermudah TFL dalam menentukan lingkup lokasi. 6.3. b. sehingga efektifitas dan target sasaran dapat tercapai. 2. Status kepemilikan lahan milik pemerintah atau lainnya dengan surat pernyataan bersedia digunakan untuk prasarana dan sarana pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat. Kriteria lokasi kegiatan pengelolaan persampahan skala kawasan: 1) Kriteria Fisik lingkungan: 1. Tujuan penyusunan daftar pendek adalah mempermudah dan mengefektifkan sosialisasi stakeholder kampung dan seleksi kampung sasaran program. Bebas banjir. 5. Luas min. Kriteria lokasi kegiatan pengelolaan drainase mandiri berwawasan lingkungan berbasis masyarakat: 1. Jalan keluar/masuk menuju dan dari TPST datar dengan kondisi baik dan lebar jalan yang cukup untuk mobilisasi keluar/masuk motor/gerobak sampah. Masalah sampah sudah mulai mengganggu masyarakat d. 3.5 Daftar Pendek Lokasi Daftar Pendek merupakan data primer yang ditentukan berdasarkan hasil survai dan identifikasi daftar panjang (longlist) yang dilakukan oleh TFL dan dinas penanggung jawab kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) berdasarkan kriteria kelayakan maksimal. 4. survey. Jarak dengan jalan besar ± 100 m. Memiliki masalah fisik sanitasi yang sama (tidak terpengaruh batas RT/RW). Berada di lahan datar. 5. Berada didalam area yang memang direncanakan diperuntukkan sebagai lokasi TPS Sampah atau Rencana pemanfaatan rendah untuk fasilitas umum/taman. 7. Syarat kriteria kelayakan lokasi sasaran kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM): a. 2.

karang taruna. Berdampak minimal terhadap tata guna lahan. • Adanya surat undangan dari masyarakat untuk melakukan survai cepat partisipatif (Rapid Paticipatory Assessment/ RPA). 2. Masyarakat bersedia mengoperasikan dan memelihara sistem sendiri serta bersedia membentuk kelompok pengurus O/P Pemilihan maksimal 3 (tiga) kampung yang masuk dalam Daftar Pendek (shortlist) yang dilakukan oleh TFL (Pemda dan Masyarakat) dan disahkan oleh Kepala Dinas penanggung jawab. Materi presentasi/sosialisasi berupa penjelasan tentang kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) oleh Dinas penanggung jawab dan TFL. club manula. Rapid Participatory Assessment (RPA) Rapid Participatory Assessment (RPA) merupakan metode yang digunakan untuk melakukan pemetaan kondisi sanitasi masyarakat.1 18 . Daerah genangan dan parameter genangan yang meliputi luas genangan. 4. Muka air di kolam retensi/kolam polder direncanakan dari dasar muka tanah terendah di daerah perencanaan dan ditarik dengan lamanya tertentu sesuai dengan kemiringan lahan.3. Lokasi Kolam Retensi yang akan dijadikan tempat penampungan kelebihan air permukaan dan perkirakan batas luas Kolam Retensi tersebut. 3. Sosialisasi kampung merupakan syarat mengikuti seleksi kampung. 3. Adanya sistem. Ada tokoh masyarakat yang disegani dan mempunyai wawasan lingkungan yang kuat. 5.7. masalah yang mereka hadapi.3. Undangan terdiri dari 3-5 orang wakil dari masing-masing stakeholder kampung yang masuk dalam shortlist (telah memenuhi syarat kelayakan). klub jantung sehat. Terdapat zona penyangga dan kegiatan operasionalnya tidak terlihat dari luar. tinggi genangan. arah aliran dan outlet 6. 5. atau bersama-sama masyarakat. Daerah pengaliran saluran primer (DPSAL) yang mengalir ke Kolam Retensi melalui peta topografi. 4. remaja mesjid. Penerimaan masyarakat untuk melaksanakan program 3R merupakan kesadaran masyarakat secara spontan. Masyarakat bersedia membayar retribusi pengolahan sampah. pengelola kebersihan/sampah. Elevasi muka air di muara saluran lebih tinggi dari elevasi muka tanah di daerah genangan. Kriteria lokasi kegiatan pengelolaan drainase berwawasan lingkungan berbasis masyarakat: 1. 4.7 4. serta kebutuhan untuk memecahkan masalah sanitasi secara cepat dan dilakukan secara partisipatif. Seleksi Kampung Kegiatan seleksi kampung dilakukan dengan metode Rapid Participatory Assessment (RPA) dan Community Self Selection Stakeholders Meeting. 2) Kriteria Sosial Ekonomi 1. lamanya genangan dan frekuensi genangan. Sudah memiliki kelompok aktif di masyarakat seperti PKK.3. Cakupan pelayanan mendekati 600 KK. 10. Adanya badan air/sungai berada dekat lokasi kegiatan 8.6 Sosialisasi Kampung Presentasi atau sosialisasi kampung dilaksanakan oleh dinas penanggung jawab kegiatan kota/ kabupaten bersama dengan TFL dan bertempat di dinas penanggung jawab kegiatan. Forum-forum kepedulian terhadap lingkungan. dengan hasil yang diharapkan antara lain: • Adanya surat undangan dari stakeholder kampung kepada TFL dan dinas penanggung jawab kegiatan untuk melakukan presentasi kepada stakeholder kampung yang berminat di balai pertemuan Kampung/ Lingkungan/RT/RW. 4. dll c. 7. 2.9.

Hasil RPA ini akan dipresentasikan pada sesi Seleksi Lokasi Sendiri oleh masyarakat bersama-sama dengan hasil RPA dari kampung lain dalam 1 (satu) kabupaten/kota. dan cepat. yaitu : 1. Jenis Informasi dan Alat RPA yang digunakan No Jenis Informasi 1 2 3 4 5 Pengalaman membangun infrastruktur kampung Kesiapan masyarakat untuk berkontribusi Kelayakan teknis untuk infrastruktur sanitasi Kesiapan lembaga setempat untuk mengelola Prioritas perbaikan sanitasi RPA Tools Timeline Ladder—1 Transect Walk Venn Diagram Problem Tree 19 .1. RPA dilakukan setelah kegiatan Presentasi Konsep Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) kepada stakeholder masyarakat. Tabel 4. Kelayakan teknis untuk infrastruktur Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Sebagai salah satu media pemberdayaan masyarakat pada tingkat bawah (grass root level). 4. tujuan RPA adalah teridentifikasinya masalah sanitasi dan keinginan masyarakat untuk memecahkannya atas dasar kemampuan sendiri yang dilakukan secara partisipatif.Alasan penggunaan metode ini adalah : 1. dimana undangan/permintaan menjadi salah satu indikator kebutuhan untuk memecahkan masalah sanitasi yang mereka hadapi. 3. Memberikan ”ruang” kepada masyarakat untuk menyampaikan aspirasi dan keinginannya. Prioritas perbaikan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Kesiapan masyarakat untuk berkontribusi. Pengalaman membangun infrastruktur kampung. Tujuan akhirnya adalah terseleksinya masyarakat yang paling siap untuk implementasi kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). 2. 2. Memposisikan masyarakat sebagai subyek. Dalam tahap implementasi kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). RPA akan dilakukan hanya jika ada undangan atau permintaan dari masyarakat setelah mereka memahami konsep kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) melalui presentasi. sistematis. Tujuan RPA Secara umum. Untuk menilai kesiapan masyarakat akan diukur dengan 5 (lima) variabel. Hal ini sesuai dengan pendekatan Demand Responsive Approach (DRA). 5. yang bertujuan untuk menentukan lokasi masyarakat yang paling siap untuk implementasi Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Kesiapan lembaga setempat untuk mengelola sarana. 3. Sesi ini dinamakan Self-Selection Stakeholders Meeting.

Skor ini sangat penting gunanya dalam Self-selection Stakeholder Meeting. Maka. dan tokoh formal maupun informal. Penetapan Skor dan Pembobotan (Nilai) Dalam RPA. setiap indikator dalam variabel akan diberi skor. Skema dan Prosedur Implementasi Partisipan RPA Partisipan RPA terdiri dari maksimum 20 orang berasal dari berbagai komponen masyarakat yang ada di kampung yang bersangkutan. dan 100. 25. Penetapan skor dan pembobotan (nilai) ini penting dalam rangka penyederhanaan dalam memberikan penilaian tentang kondisi masyarakat secara obyektif. laki-laki.Pemetaan Sanitasi Kampung Diagram Venn Timeline Transect Walk Ladder-1 Problem Tree Community Self-selection Stakeholder Meeting Gambar 4. Maka.2. dan 4. TFL bertugas memberikan ”tongkat komando” kepada masyarakat ketika mereka sudah siap dan memahami tujuan dan cara kerjanya. dimana penentuan kampung yang lolos seleksi didasarkan pada total skor yang dimiliki oleh masing-masing kampung. maka semakin tinggi skornya. ice breaking. kaya-miskin. Fasilitator (TFL) sangat berperan penting dalam RPA karena bertanggung jawab atas proses dan hasil RPA sesuai dengan rencana. sedangkan Nilai berkisar antara 0. dan begitu pula sebaliknya. Tempat yang dibutuhkan untuk pelaksanaan RPA adalah tempat pertemuan besar (untuk pertemuan awal/introduksi dan pertemuan akhir/presentasi hasil) dan tempat pertemuan kecil (untuk penerapan teknik20 . kampung yang mengumpulkan skor nilai tertinggi yang dianggap paling siap untuk implementasi Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Skor berkisar antara 0. 1. 75. Kemudian skor tersebut akan dikonversikan ke dalam nilai. Waktu yang dibutuhkan untuk implementasi RPA adalah 390 menit (6. Prinsipnya semakin banyak komponen masyarakat yang terlibat dalam proses pelaksanaan RPA ini adalah semakin baik. yaitu perempuan. Nilai tersebut merupakan kuantifikasi dari setiap pernyataan yang bersifat kualitatif.5 jam). Jika ditambah untuk introduksi. pembagian kelompok. 2. dan minimal 1 minggu sebelumnya. 3. 50. komponen masyarakat yang perlu terlibat dalam RPA harus dibicarakan secara jelas dengan ketua RT/RW setempat. Sebelum RPA dimulai. Penentuan Waktu dan Tempat Waktu pelaksanaan RPA perlu disepakati bersama antara tim fasilitator dengan masyarakat (misalnya ketua RT/RW dan tokoh masyarakat) agar proses pelaksanaan dapat berjalan lancar. dan penutupan maksimal 90 menit (1.5 jam). Logikanya : semakin miskin kondisi kampung dan semakin besar tingkat keswadayaan masyarakat. total waktu yang dibutuhkan adalah 480 menit (8 jam) atau 1 hari efektif.

1 Pengalaman Membangun Prasarana* secara Gotong-Royong Pilihan Tidak ada pengalaman/belum pernah dilakukan Pernah dilakukan.2. Sejarah organisasi kelurahan dan sistem pengorganisasian pada saat melaksanakan pembangunan.7. Hasil yang diharapkan adalah peta atau sketsa keadaan sumber daya umum kampung atau peta dengan topik tertentu (peta sanitasi). berbentuk hibah/ bantuan dari luar Pernah dilakukan. hasilnya harus digambar kembali di atas kertas agar hasilnya tidak hilang.3. perkembangan yang terjadi dan siapa yang terlayani. Selotip. Bahan-bahan lokal seperti bijibijian atau kacang-kacangan. dsb) 3. daun-daunan dan biji-bijian. Untuk itu lebih efektif dan efisien penggambaran peta sanitasi langsung di atas kertas besar/ plano. Alat dan Bahan yang perlu disiapkan Alat dan bahan yang diperlukan untuk kegiatan RPA terdiri dari : Kertas lebar (plano). masyarakat berkontribusi uang dan in-kind (tenaga+material) Pernah dilakukan. masyarakat berkontribusi uang dan in-kind (tenaga+material). Lampu (jika ada kegiatan di malam hari). Kain lebar. Terjadinya wabah penyakit (malaria. papan tulis atau di atas kertas. Indikator dan Variabel penilaian TIMELINE Tabel 4. pengelolaan persampahan skala kawasan dan pengelolaan drainase lingkungan) 21 . masyarakat berkontribusi in-kind (tenaga+material) Pernah dilakukan.3. panitia pembangunan dan pengelola yang dibentuk masih ada sampai sekarang Skor 0 1 2 3 4 Konversi ke 0 25 50 75 100 Keterangan * = untuk masing-masing kegiatan prioritas (pengelolaan air limbah skala kawasan. 2. Media pemetaan dapat dilakukan di atas tanah. Jika digambar di tanah. Untuk menggambar di atas media tanah.teknik RPA). Akan sangat baik jika ada rekaman video/kamera yang dapat dipergunakan untuk melengkapi laporan.2 Peta Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) Pemetaan kampung adalah salah satu teknik PRA (participatory rural appraisal) untuk memfasilitasi masyarakat dalam mengungkapkan keadaan wilayah di kampung mereka beserta lingkungannya. 4. yang perlu diperhatikan adalah proporsi luas lahan yang akan digunakan sehingga banyak orang/masyarakat yang dapat terlibat. Metode penyusunan peta kampung umumnya menggunakan simbol-simbol dan peralatan yang sederhana seperti tongkat. Spidol besar aneka warna. CS1. Contoh Timeline No Proyek Pembangunan Tahun Pendanaan Informasi yang diharapkan dari kegiatan timeline adalah: 1. asal-usul perintis pembangunan. batu-batuan. Sejarah terbentuknya pembangunan bersangkutan. Gunting. Lem/perekat. Alat tulis. Spidol kecil aneka warna. Tempat pertemuan ini diusahakan di tempat yang luas dan mudah dijangkau/diakses oleh masyarakat. muntaber. DB. Tabel 4.

4. waktu. Urutan manfaat-manfaat dengan memperhatikan kesesuaian kontribusi (dalam bentuk uang.5.7. Pandangan kelompok mengenai keberadaan setiap jenis manfaat yang dialami oleh mereka. 3. lalu dibuat rata-ratanya. atau gambar.3 Ladder-1 (Kesediaan Berkontribusi) Ladder-1 bertujuan untuk mengenali dan mengkaji manfaat dan nilai guna iuran yang dirasakan oleh masyarakat dalam kegiatan pembangunan sarana sanitasi kampung. simbol.3. 7. Contoh Ladder – 1* No Proyek Pembangunan Sarana Sanitasi 1 dst Total Skor = Rata-rata = Keterangan * = untuk masing-masing kegiatan prioritas (pengelolaan air limbah skala kawasan. Manfaat-manfaat yang memperhatikan isu gender dan pelaksanaan pembagiannya. Skor untuk nilai manfaat dan nilai iuran dijumlahkan dan diisikan ke kolom total. 4. 3. tenaga.1 Kesediaan Masyarakat Untuk Mengeluarkan Biaya Pilihan Tidak bersedia memberikan kontribusi Bersedia memberikan kontribusi hanya untuk biaya pembanguan toilet Bersedia memberikan kontribusi untuk pembangunan prasarana & sarana serta biaya pengoperasian & perawatan komponen terpilih lainnya Skor 0 1 2 Konversi ke 0 25 50 Manfaat (1-10) Biaya dibayarkan (1-10) 22 . kemudian ditulis pada kertas flip chart (satu kartu satu manfaat) dengan tulisan. dan cara penerapan teknik ini. Gunakan biji-bijian untuk menghitung skor. CS2. Proses Ladder-1 adalah : 1. 6.4. Kegiatan dilakukan secara terpisah antara masyarakat laki-laki dan perempuan. TFL mengajak peserta untuk menilai kesanggupan mereka untuk berkontribusi terhadap pembangunan/perbaikan sarana sanitasi yang akan dilakukan dengan cara memilih kartu-kartu yang didalamnya sudah ada nilai yang disediakan oleh TFL. Mulai berdiskusi mengenai manfaat yang dirasakan oleh masyarakat terhadap sarana sanitasi yang ada saat ini. 2. serta digunakan untuk menilai kesiapan masyarakat berkontribusi dalam pembangunan infrastruktur sanitasi. 8. pengelolaan persampahan skala kawasan dan pengelolaan drainase lingkungan) Informasi yang diharapkan dari kegiatan ladder-1 adalah : 1. Tabel 4. Berdasarkan hasil analisis ini. Kartu yang dipilih adalah nilai yang dimiliki oleh masyarakat yang nanti akan dijumlahkan dengan skor yang lain pada sesi Community Self-selection Stakeholders Meeting. dan antar masyarakat kaya dan miskin (jika memungkinkan). 5. harta benda. maksud. TFL memfasilitasi dan mengarahkan peserta untuk memberikan penilaian atas manfaat yang dapat dirasakan dibandingkan dengan besarnya iuran yang telah mereka berikan terhadap pembangunan sarana sanitasi. 2. atau bentuk lainnya). TFL menjelaskan tujuan. Indikator dan Variabel penilaian Ladder – 1* Tabel 4.

dsb. • (contoh cek list teknis dapat dilihat pada lampiran) 2. • Muka air tanah. • Pola penggunaan sarana sanitasi. biaya 3 75 pengoperasian & perawatan komponen terpilih lainnya. dan (3) menilai tingkat kelayakan teknis sebagai prasyarat pembangunan infrastruktur sanitasi yang direncanakan dengan cara melakukan observasi langsung oleh TFL bersama-sama dengan masyarakat. Secara acak pilihlah titik dengan proporsional (10% dari total) dari masing-masing kategori. • Saluran drainase. Untuk lokasi yang pernah mendapat proyek jamban/sarana sanitasi. pengelolaan persampahan skala kawasan dan pengelolaan drainase lingkungan) 4. 3. kolam. Menentukan. Tugas TFL dan masyarakat di kegiatan transect walk adalah : 1. dan setelah intervensi proyek dengan cara menjumlahkan semua jamban/sarana sanitasi pada ketiga kategori tersebut dan digambarkan persentase perbandingan masing-masing kategori. selama. Kemudian catat hasil temuannya. perlu dipilih secara acak jamban/sarana sanitasi yang dibangun sebelum. desain. nilai manfaat yang dirasakan dari kontribusi untuk memperoleh layanan tersebut. (2) menilai tingkat kepuasan masyarakat terhadap fasilitas sanitasi yang ada. dengan menggunakan skala penilaian dari setiap rumah tangga yang dikunjungi selama transect. penggunaan untuk anak-anak. • Material lokal.3. dan seluruh dari biaya pembangunan komponen lainnya Keterangan * = untuk masing-masing kegiatan prioritas (pengelolaan air limbah skala kawasan. & sebagian dari biaya pembangunan komponen lainnya Bersedia memberikan kontribusi untuk biaya pembangunan prasarana 4 100 & sarana. laporan mengenai layanan kepada pengguna dengan catatan terpisah untuk pria dan wanita. kemudian mendiskusikan dengan masyarakat yang ada di sekitar lokasi sarana sanitasi/jamban tentang pemeliharaan (keberadaan dan keteraturannya). dan pemeliharaan serta menggunakan jamban keluarga. lingkup dan pemakaian. Menilai kepuasan layanan yang diterima (demand responsiveness). 23 . kemudahan penggunaan dan pemeliharaan. 5.4 Transect Walk (Kesiapan Teknis) Transect walk bertujuan untuk (1) mengenali dan mengkaji kondisi sarana sanitasi kampung yang sudah ada. kualitas konstruksi. sungai.7. Penilaian menggunakan checklist terhadap kualitas konstruksi. Masyarakat dapat membantu memilih aspek penilaian kepuasan layanan. Melakukan observasi dan pencatatan kualitas konstruksi dengan menggunakan format observasi jamban/sanitasi. 4. serta konflik kepentingannya. biaya pengoperasian & perawatan komponen terpilih lainnya. antara lain : • Lokasi yang dicalonkan masyarakat untuk bangunan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). operasi. • Sarana sanitasi yang digunakan masyarakat saat ini : jamban. Menilai kepuasan penggunaan sarana meliputi tingkat akses layanan.Pilihan Skor Konversi ke Bersedia memberikan kontribusi untuk biaya pembangunan toilet. mengobservasi serta melakukan diskusi dengan masyarakat. Mencatat semua sanitasi yang dibangun oleh proyek sebelumnya atau oleh pribadi. • Ketersediaan lahan.

masak.7. digunakan sebagian kecil penduduk. CS3.9. & mencuci Air hanya mencukupi untuk minum. mencuci & mandi Air mencukupi untuk semua kebutuhan Tabel 4.8. ATAU. CS3. CS3. ATAU. Hanya sebagian kecil Rumah yang mempunyai jamban + tangki septik sendiri Sebagian kecil penduduk buang air besar di tempat terbuka/sungai. ATAU.2 Toilet/Jamban Pilihan Ada jamban lengkap dengan Tangki Septik di masing-masing rumah Ada MCK yang berfungsi. Sebagian besar penduduk buang air besar di tempat terbuka/sungai.4 Ketersediaan Lahan Kondisi Tidak tersedia lahan milik perorangan/negara di dalam atau dekat kampung Ada lahan milik perorangan (100-200 m2) di dekat kampung Ada lahan milik negara (100-200 m2) di dekat kampung Tersedia lahan milik perorangan (100-200 m2) di dalam kampung Tersedia lahan milik negara (100-200 m2) di dalam kampung Skor 0 1 2 3 4 Konversi ke 0 25 50 75 100 Skor 0 1 2 3 4 Konversi ke 0 25 50 75 100 Skor 0 1 2 3 4 Konversi ke 0 25 50 75 100 Skor 0 1 2 3 4 Konversi ke 0 25 50 75 100 24 . masak.6. Sebagian kecil Jamban disalurkan langsung ke sungai. digunakan sebagian besar penduduk.Indikator dan Variabel penilaian Transect Walk Tabel 4.3 Ketersediaan Air Pilihan Air tidak mencukupi meskipun untuk minum Air hanya mencukupi untuk minum Air hanya mencukupi untuk minum. Tabel 4. Sebagian besar Jamban disalurkan langsung ke sungai. ATAU.1 Kondisi Drainase Pilihan Tidak ada saluran drainase Ada saluran drainase tetapi sudah rusak Ada saluran drainase tetapi mampet Ada saluran drainase tetapi air mengalir lambat Ada saluran drainase yang mengalir lancar Tabel 4. Setengah dari keseluruhan rumah telah mempunyai jamban + tangki septik sendiri Ada MCK yang berfungsi. CS3.

Tempatkan organisasi terdekat di lingkaran pertama dan seterusnya. manfaat dan tingkat kedekatan hubungannya dengan masyarakat.3. Buat Lingkaran atau orbit sesuai banyaknya organisasi atau lembaga. Secara khusus dapat digunakan pula untuk menilai tingkat kesiapan masyarakat untuk mengelola sanitasi secara kelembagaan lokal. CS4.11. Contoh Venn Diagram Indikator dan Variabel penilaian Venn Diagram Tabel 4. rutin berinteraksi dengan masyarakat. 4. ukuran kertas makin besar). Tabel 4. Contoh Venn Diagram Organisasi/ Lembaga A B C D Tingkat kedekatan dengan masyarakat 3 1 4 2 4 C 1 3 2 MASYARAKAT D A B Gambar 4.10. 3.5 Venn Diagram Venn diagram bertujuan untuk mengenali dan mengkaji keberadaan lembaga lokal yang ada dalam masyarakat. Diskusikan dan urutkan organisasi atau lembaga yang ada menurut kedekatannya dengan warga.1 Ketersediaan Lembaga-Lembaga Setempat* Pilihan Tidak ada lembaga lokal yang sangat penting atau bermanfaat bagi sebagian besar warga Ada lembaga lokal yang penting dan bermanfaat untuk sebagian besar warga. Venn diagram dilaksanakan masyarakat dengan difasilitasi TFL. tapi tidak dekat dengan masyarakat (jarang berinteraksi dengan masyarakat) Ada lembaga lokal yang penting dan bermanfaat untuk sebagian besar warga. Langkah-langkah kegiatan venn diagram sebagai berikut : 1. Diskusikan dan urutkan organisasi atau lembaga yang ada berdasarkan nilai ”pentingnya” dalam metaplan berbeda ukuran (makin penting. Meminta warga menuliskan organisasi-organisasi atau lembaga-lembaga kemasyarakatan yang ada di kampung mereka. namun tidak memperoleh pengakuan resmi dari pemerintah Skor 0 1 2 Konversi ke 0 25 50 25 .3. 2. 5.7.4.

serta mengkaji ide/gagasan/rencana masyarakat untuk memecahkan masalah sanitasi yang mereka hadapi. rutin berinteraksi dengan masyarakat. 3. 2.4.Pilihan Skor Konversi ke Ada lembaga lokal yang penting dan bermanfaat untuk sebagian besar 3 75 warga. dan memperoleh pengakuan resmi dari pemerintah Ada lembaga lokal yang penting dan bermanfaat untuk sebagian besar 4 100 warga. 6. Lakukan analisis hubungan sebab-akibat dengan cara memberi tanda panah antara kartu satu dengan kartu lain dan tetap mengacu pada core problemnya. pengelolaan persampahan skala kawasan dan pengelolaan drainase lingkungan) 4. Teliti kartu-kartu lainnya yang menyebabkan terjadinya masalah inti tersebut dan letakkan kartu-kartu tersebut di bawah masalah inti. tujuan. Tanyakan kepada mereka tentang ide/gagasan/rencana/action plan perbaikan sanitasi. perbaikilah untuk menjamin keabsahan dan kelengkapan analisis permasalahan sanitasi.7. Contoh Rencana Perbaikan Sanitasi 26 . Problem tree dilaksanakan oleh masyarakat dengan difasilitasi oleh TFL. 8. lalu tulislah di kertas lain. 4. Jelaskan maksud. 7. padat dan jelas sesuai pandangan/perasaan masyarakat pada kartu-kartu dan tempelkan pada papan. dan proses kajian masalah sanitasi. lalu letakkan kartukartu tersebut di atas masalah inti. Mintalah kepada masyarakat untuk menentukan masalah inti. rutin berinteraksi dengan masyarakat. Tulis masalah secara singkat.6 Problem Tree (Rencana Perbaikan Sanitasi) Kegiatan problem tree bertujuan untuk mengkaji dan mengenali masalah-masalah sanitasi yang ada di masyarakat dan hubungan sebab-akibat yang timbul dalam masalah sanitasi yang mereka hadapi. menentukan masalah-masalah inti sanitasi (sanitation core problems). memperoleh pengakuan resmi dari pemerintah. dan apabila diperlukan. memanfaatkan layanan pembukuan) Keterangan * = untuk masing-masing kegiatan prioritas (pengelolaan air limbah skala kawasan. AKIBAT MASALAH SANITASI 1 AKIBAT MASALAH SANITASI 2 AKIBAT MASALAH SANITASI 3 PENYEBAB MASALAH SANITASI 1 PENYEBAB MASALAH SANITASI 2 dst dst Gambar 4. Periksalah diagram secara keseluruhan. 5. Langkah-langkah problem tree sebagai berikut : 1. dan memiliki akses keuangan (memiliki rekening bank. Minta warga menulis di kartu lain hal-hal yang menjadi akibat dari masalah inti tersebut.3.

Bila pemenang ke-1 bermasalah. kemudian wakil masyarakat tiap kampung mempresentasikan hasil RPA langkah terakhir dengan difasilitasi oleh TFL dan dilakukan perhitungan hasil skoring tiap kampung secara terbuka seperti Tabel Konsolidasi Skor RPA (terlampir) Berita Acara Seleksi Kampung Penandatanganan berita acara seleksi kampung dilakukan: 1.3.7. Sanitasi dan pilihan pemecahannya dibahas.8 . Memberi tenggat waktu tertentu untuk konfirmasi lahan dan sebagainya kepada pemenang ke-1.3. Kegiatan tersebut diikuti oleh kampung shortlist yang telah melaksanakan RPA dengan difasilitasi oleh TFL. tetapi tidak ada rencana kerja khusus. 2. terlaksana & MoU TFL terseleksi Briefing TFL oleh konsultan terlaksana Gambar 4.1 Rencana Perbaikan Sanitasi* Pilihan Sanitasi tidak muncul dalam analisis masyarakat Sanitasi muncul tapi tidak dibahas lebih lanjut dalam analisis Sanitasi dan beberapa pilihan pemecahannya dibahas dalam analisis Sanitasi dan pilihan pemecahannya dibahas. 7 MoU ditandatangani Presentasi kepada stakeholder masyarakat terselenggara RPA oleh TFL dan Konsultan terlaksana di maks. Kegiatan tersebut diawali dengan mengundang masyarakat tiap lokasi/ kampung yang telah melaksanakan RPA. 7 MoU ditandatangani 1-2 masyarakat terseleksi per Kabupaten/Kota Kabupaten/ Kota terseleksi.12 CS5.7 Community Self Selection Stakeholders Meeting Community self selection stakeholder meeting atau pertemuan perwakilan kampung dalam proses seleksi pemilihan kampung merupakan alat untuk menentukan 1 (atau lebih sesuai kesiapan dana Pemerintah Kabupaten/Kota) lokasi yang paling siap dengan sistem skoring.4. dan rencana kerja khusus telah disusun oleh masyarakat Skor 0 1 2 3 4 Konversi ke 0 25 50 75 100 Keterangan * = untuk masing-masing kegiatan prioritas (pengelolaan air limbah skala kawasan. Overview Pelaksanaan RPA dalam Tahap Implementasi Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) 4.Indikator dan Variabel penilaian problem tree Tabel 4. beri kesempatan kepada pemenang berikutnya.7. 27 4.3 per Kab/ Pertemuan stakeholder seleksi sendiri masyarakat kota/kab. pengelolaan persampahan skala kawasan dan pengelolaan drainase lingkungan) Kabupaten/Kot a terseleksi.

Rencana Teknis Rinci (Detail Engineering Design/DED) dan Rencana Anggaran Biaya (RAB). Memastikan lokasi terpilih sesuai dengan syarat teknis. serta Penjaminan Sistem. lahan/lokasi tidak dalam kondisi konflik serta mendapat persetujuan masyarakat.1 28 .4 4.8 Monitoring Monitoring dan evaluasi pelaksanaan kegiatan penyusunan daftar panjang/long list. Persiapan Pelaksanaan • Persiapan Tim Fasilitator 4. 3. • Teridentifikasinya mekanisme untuk mengenal sejumlah indikator untuk kesinambungan dengan memperhatikan perlengkapan pelayanan sanitasi serta proses untuk melakukan penilaian terhadap partisipasi masyarakat. Rencana Kerja Masyarakat (RKM). kualitas pelayanan dan pengelolaan oleh masyarakat. terdokumentasikan secara terbuka (transparancy) serta dapat terukur (accountability). RKM ini dibuat dan diajukan oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). 2. Konstruksi dan Supervisi. Penguatan Kelembagaan (Capacity Building). • Teridentifikasinya informasi tentang kesetaraan akses pada pelayanan yang ada. TAHAPAN PENYUSUNAN RKM Rencana Kegiatan Masyarakat Rencana kegiatan masyarakat (RKM) merupakan bukti dokumen resmi perencanaan perbaikan sanitasi oleh masyarakat. 4. partisipasi dalam pengambilan keputusan. baik manajemen maupun teknis. Pekerjaan yang membutuhkan keahlian teknis diserahkan kepada tenaga ahli. baik laki-laki dan perempuan.4. Tujuan RKM secara khusus adalah : • Mengumpulkan informasi sanitasi secara kwantitatif-sistematis dengan menggunakan alat-alat participatory. Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM).3. Dokumen RKM ini berisi mengenai Prasarana dan Sarana Sanitasi Lingkungan Terseleksi. • Teridentifikasinya kebutuhan dan rencana masyarakat untuk memecahkan masalah sanitasi.4. Mekanisme dan Jadwal Pencairan Kontribusi. Tujuan RKM secara umum adalah: Teridentifikasinya kebutuhan masyarakat. Memastikan syarat dan ketentuan calon lokasi terseleksi pada tahap awal (tahap daftar panjang dan daftar pendek serta lama waktu proses seleksi) telah sesuai. untuk menilai kesinambungan dan ketanggapan terhadap kebutuhan. namun tetap melibatkan masyarakat. integritas dan sosiometri yang sesuai dengan kriteria. • Teridentifikasinya kebutuhan pelatihan untuk mengembangkan kemampuan dengan tujuan agar pelayanan dapat berkesinambungan. Penyusunan RKM dilakukan dengan pendekatan partisipatif. artinya semaksimal mungkin melibatkan masyarakat dalam semua kegiatan yang dilakukan. sekaligus sebagai dasar untuk pencairan dana/material dari berbagai stakeholder yang telah memberikan komitmen. Daftar Pendek/short list dan seleksi kampung dilakukan untuk : 1. RKM Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) hanya akan dilakukan oleh masyarakat yang kampungnya terseleksi sebagai lokasi. maupun kelompok kaya-miskin untuk memecahkan masalah sanitasi yang ada berdasarkan kemampuan masyarakat itu sendiri. yang kemudian disetujui oleh semua stakeholder yang terlibat. Memastikan fasilitator pendamping masyarakat memiliki kapasitas. Memastikan proses dan keluaran tahap-tahapan survey cepat (RPA) telah sesuai. kebutuhan dan kepuasan pengguna. Pengoperasian dan Perawatan (O & P).

Kontak person di masyarakat • Menentukan waktu dan tempat • Melaksanakan pertemuan sesuai jadwal dan kesepakatan • Komunikasi dan koordinasi dengan semua stakeholders Tabel 4. dan pemeliharaan sarana. • Pemetaan Sanitasi Kampung oleh Masyarakat. Venn Diagram Participatory Training Assessment Tahapan RKM sebagai berikut : • Klasifikasi Kesejahteraan. • Pembagian Kerja berdasarkan Peran Gender. menengah. • Siapa Melakukan Apa. jenis pekerjaan.Penyiapan logistik. miskin) menurut kriteria khusus dan istilah setempat. Transect Walk untuk data teknis Presentasi opsi-opsi kontribusi. yaitu mengetahui peranan laki-laki dan perempuan pada tahap perencanaan. • Partisipasi dan Kontribusi. • Transect Walk II. yaitu menilai dan menganalisa kesetaraan dan transparansi pengguna saat dan pasca pembangunan sarana. materi dan alat-alat untuk RKM . pembangunan. yaitu menilai dan menganalisa pembagian kerja. Ladder-2 Presentasi opsi KSM.13 Topik dan Metode yang digunakan dalam Penyusunan RKM No 1 2 3 4 5 Topik Penentuan calon penerima manfaat program/pengguna sarana Pilihan Prasarana dan Sarana Sanitasi Lingkungan Rencana Teknis Rinci (Detail Engineering Design/DED) & RAB Rencana kontribusi masyarakat KSM Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) Rencana Pelatihan Penguatan Kelembagaan (Capacity Building) Metode Partisipatif Wealth Classification & Community Mapping Presentasi Pilihan Teknologi Sanitasi (ICC). yaitu mempelajari keadaan masyarakat menyangkut sarana air bersih dan sanitasi. 29 .Siapa berperan sebagai apa dan kapan . dan pekerjaan yang dibayar atau tidak. yaitu mengklasifikasi jumlah penduduk kampung ke dalam kategori tingkat kesejahteraan (kaya. yaitu mempelajari akses masyarakat terhadap sarana sanitasi yang ada..

O & P. panitia Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat. kaya-miskin. maupun tokoh formal dan informal. rencana monitoring dan OP) Metode-metode partisipatif (CPA) yang terkait dengan kegiatan : seleksi teknologi. kontribusi. terlaksana di tiap masyarakat Gambar 4.Gambar 4. Sebelum proses penyusunan RKM dimulai. kontribusi.6 Kegiatan dalam Tahap Penyusunan Rencana Kegiatan Masyarakat (RKM) Peserta/Partisipan Partisipan terdiri dari berbagai komponen masyarakat yang ada di kampung yang bersangkutan. Prinsipnya. RAB.5 Tahapan Rencana Kegiatan Masyarakat (RKM) Presentasi teknis ICC & Pilihan teknologi terseleksi Penyusunan DED & RAB berdasarkan klasifikasi kesejahteraan KSM Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat terbentuk Skema dan mekanisme kontribusi disepakati Rencana konstruksi. O&P tersusun Pembukaan rekening S Minimal 1 kampung terseleksi per kota/kabupaten Rencana Kerja Masyarakat (RKM) difinalisasikan (DED. laki-laki. komponen masyarakat yang perlu terlibat harus dibicarakan secara jelas pada saat pertemuan awal. semakin banyak komponen masyarakat yang terlibat dalam proses penyusunan RKM ini adalah semakin baik. rencana pendanaan dan pelatihan. pelatihan. baik perempuan. 30 .

Waktu dan Tempat Pertemuan Waktu pelaksanaan RKM (hari, tanggal, dan durasi per-pertemuan) disesuaikan dengan kesepakatan warga. Keseluruhan waktu yang dibutuhkan untuk implementasi RKM yang terdiri dari 6 tools adalah 20 jam efektif. Dengan demikian, apabila dalam satu hari masyarakat bisa meluangkan waktu 2-4 jam (biasanya malam jam 19.00 s/d jam 23.00), 2-3 kali seminggu, maka penerapan RKM ini bisa selesai dalam 3 bulan. Untuk tempat pertemuan, yang perlu diperhatikan adalah cukup luas, bersifat netral, dan mudah diakses oleh masyarakat. Tabel 4.14. Contoh Alokasi Waktu RKM Minggu ke 1 Kegiatan Perkenalan: tim, apa itu Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM), bagaimana proses Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM), siapa partisipan, Kontrak belajar: Kapan, siapa dan berapa partisipan, bagaimana mengikuti proses, hasil apa saja yang hendak dicapai: - Klasifikasi Kesejahteraan - Pemetaan sosial - Diskusi hasil mapping - Presentasi Katalog Pilihan Informasi Sanitasi (ICC) - Mengidentifikasi Pilihan Teknologi yg dipilih - Transect walk - Pembentukan KSM & Panitia Pembangunan - Siapa melakukan apa - Identifikasi took dan harga material - Review pertemuan minggu lalu - Memilih teknologi yang diinginkan - Rencana Teknis Rinci (Detail Engineering Design/DED) dan Rencana Anggaran Biaya (RAB) - Kontribusi - Partisipasi saat pembangunan pelayanan - Pembagian kerja berdasarkan peran gender dan waktu kerja (Ladder-2) - Review pertemuan minggu lalu - Rencana Teknis Rinci (Detail Engineering Design/DED) dan revisi Rencana Anggaran Biaya (RAB) lanjutan - Kontribusi lanjutan - Rekening Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) dibuka - Review pertemuan minggu lalu - Rencana Pelatihan - Finalisasi buku RKM Kebutuhan Waktu 4 – 5 Jam

2-3

4 – 5 Jam

4-6

4 – 5 Jam

7-9

4 – 5 Jam

10 - 12

4 – 5 Jam

4.4.1.1

Klasifikasi Kesejahteraan (Wealth Classification). Tujuan: • Mengklasifikasikan jumlah penduduk RT/RW/Kelurahan kedalam kategori tingkat kesejahteraan (kaya, miskin, sedang), menurut kriteria khusus setempat dan sesuai dengan istilah setempat, serta proporsi populasi masing-masing klasifikasi status sosial untuk tiap kategori; • Klasifikasi kesejahteraan digunakan untuk mengidentifikasi kelompok yang terlibat pelaksanaan forum discussion group (FGD), untuk memetakan akses orang miskin dan kaya terhadap sarana, fungsi dan pekerjaan, serta mengidentifikasi perbedaan tingkat partisipasi masyarakat dan sebagainya.

31

Proses: 1. Dimulai diskusi kelompok dengan menyertakan wanita dalam masyarakat, tentang bagaimana membedakan rumah tangga dalam komunitas mereka; 2. Mencatat tingkatan status sosial yang ada di masyarakat serta menetapkan kriteria tiap tingkat status sosial, dengan media kertas dan spidol/pena fasilitator mengarahkan masyarkat untuk menggambar orang kayapada umumnya dalam masyarakat; 3. Setelah satu kelompok sibuk, fasilitator mengarahkan 2 (dua) kelompok untuk menggambar orang miskin dan menengah, hasil dari ketiga gambar tersebut diletakkan secara berderet dan terpisah; 4. Fasilitator mengarahkan masyarakat untuk mendeskripsikan serta menulis di bawah masing-masing gambar tentang kriteria kaya, menengah dan miskin (minimal 6-7 kriteria pada masing-masing strata); 5. Fasilitator menggali keterangan rasional atau alasan khusus di balik kriteria yang keluar. Setelah itu diklarifikasikan ke masyarakat tentang kebiasaan mereka, apakah mereka mengutamakan sumber tunggal? sosio-ekonomi mereka? serta seberapa jauh generalisasi dapat dilakukan; 6. Dengan mendistribusikan 100 benih/batu (menunjukkan populasi total masyarakat) menurut ketiga status sosial, dimana jumlah benih pada setiap tingkat status sosial menunjukkan prosentase populasi pada tiap kategori; strata 7. Kelompok kemudian menulis karakteristik dan prosentase hasil diskusi dalam lembaran kertas yang besar sebagai acuan pekerjaan berikutnya maupun pekerjaan yang membutuhkan pengelompokkan. Informasi minimum yang diharapkan adalah : a. Kesepakatan kriteria klasifikasi keluarga kaya, menengah, dan miskin; b. Perkiraan distribusi keluarga/rumah tangga untuk setiap kategori yang muncul; c. Memberikan informasi diatas untuk proses pemetaan sosial dan identifikasi peserta untuk berpartisipasi dalam kelompok terfokus. 4.4.1.2 Pemetaan Sanitasi Kampung oleh Masyarakat Pemetaan sanitasi kampung oleh masyarakat ini dilaksanakan pada lokasi/lingkungan yang telah terpilih melalului proses seleksi kampung. Tujuan: • Mempelajari kondisi sarana air bersih dan sanitasi masyarakat (tradisional maupun yang berasal dari bantuan); • Mempelajari akses keluarga kaya, menengah dan miskin terhadap sarana tersebut; • Mempelajari dari keluarga kelas sosial apa (kaya, menengah dan miskin) anggota badan pengelola, baik laki–laki atau perempuan yang bekerja dalam bidang pelayanan sarana air bersih, sanitasi dan promosi hidup sehat/bersih, serta siapa yang pernah atau akan mendapat pelatihan. Proses: 1) Minimal sehari sebelum proses pemetaan, fasilitator berdiskusi dengan wakil masyarakat (laki atau perempuan) mengenai kelurahan yang akan dipetakan (dalam beberapa kasus, gambarkan peta secara umum), sistem penyediaan air bersih baik yang tradisonal maupun yang baru (proyek), serta rumah keluarga kaya, menengah, maupun miskin berdasarkan kriteria yang telah dibuat pada saat klasifikasi kesejahteraan., Kemudian pilih satu atau dua RT/RW/Lingkungan yang dipilih mewakili kelurahan, baik dari keluarga mampu maupun tidak mampu. Pastikan warga yang akan ikut proses pemetaan berasal dari lokasi yang akan dipetakan, baik laki-laki atau perempuan, serta si kaya maupun miskin; 2) Idealnya acara diadakan di lokasi yang mudah diakses orang banyak, cukup penerangan dan jauh dari gangguan cuaca; 3) Fasilitator menjelaskan tujuan dari kegiatan ini, serta mengembangkan legenda yang akan digunakan dalam pemetaan ini, seperti : • Jalan, gang/lorong, jalan setapak; • Rumah (tandai sesuai kategori kesejahteraan yang telah dibuat masyarakat); 32

4) 5) 6) 7) 8) 9)

• Tanda-tanda utama seperti sekolah, dll; • Tempat ibadah : Masjid, Gereja, Pura, dll; • Sumber air : alami atau buatan; • Sarana sanitasi umum dan rumah-rumah yang memiliki jamban (bantuan atau lainnya); • Rumah badan pengelola (laki-laki atau perempuan) pelayanan sarana air bersih dan program sanitasi; • Rumah masyarakat yang telah menerima bantuan pelatihan dalam bentuk apapun. Tandai dalam peta mengenai akses masyarakat terhadap sarana air bersih maupun Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM), baik maupun buruk. Perlu juga diketahui penyebabnya, kurang air atau jauh dsb; Kelompok laki-laki dan perempuan, secara gabungan atau terpisah, tergantung hubungan gender, menggambar peta permukiman setempat di atas kertas besar, dan dapat dilakukan di atas lantai atau ditempel di papan, serta dilakukan di ruang terbuka; Lakukan reproduksi (menyalin) hasil gambar peta ke dalam kertas, setelah kegiatan selesai; Kelompok diskusi memberi skor/nilai mengenai keadaan akses terhadap sarana air bersih dan sanitasi; Fasilitator mengisi lembar isian, jumlah titik air dan fasilitas sanitasi dalam peta; Peta tersebut digunakan oleh tim untuk acuan kegiatan lanjutan, terutama untuk merencanakan jalur dan partisipan yang terlibat dalam transect walk.

Gambar 4.7. Contoh Peta Sanitasi Masyarakat Hal-hal yang perlu diperhatikan pada proses pemetaan sanitasi : a. Ada perwakilan dari masing-masing lokasi (RT, RW, Banjar, Lingkungan) baik laki-laki maupun perempuan; b. Media yang digunakan dapat memberikan keleluasaan bagi masyarakat untuk terlibat dalam kegiatan pemetaan, yakni : • Media cukup luas, sehingga gambar/simbol tidak berhimpitan; • Pelaksanaan kegiatan dilakukan di ruang umum sehingga tiap orang mudah untuk hadir (miskin/kaya); • Ruang kegiatan terlindung dari gangguan cuaca (angin, hujan, dll). 33

maka ada kemungkinan mereka yang berkontribusi lebih besar akan menggunakan hal tersebut sebagai alasan untuk melakukan kontrol terhadap pelayanan. Bentuk kontribusi dapat berupa tenaga kerja. Membangun kesadaran dan pengertian tugas-tugas rumah tangga dan kemasyarakatan yang dilakukan. Kegiatan transect walk II dilakukan lebih detail dari kegiatan transect walk awal (RPA). Dilakukan di lokasi yang telah disepakati oleh masyarakat penerima bantuan kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). maka perlu mencari tahu bagaimana keputusan tersebut dibuat : oleh satu orang. sumbangan berupa bahan-bahan setempat maupun uang. disamping juga dalam bentuk bahan makanan untuk para pekerja dan tukang. Proses: 1. Proses/Tahap Kegiatan: 34 . seperti menggali lubang. yaitu: untuk mengenali dan mengkaji kondisi sarana sanitasi kampung.c.4 Partisipasi dan Kontribusi Tujuan kegiatan partisipasi dan kontribusi adalah: • Menilai dan menganalisa kesetaraan dan transparansi kontribusi pengguna saat pembangunan dan paska pembangunan sarana. serta mendapat kesepakatan dan persetujuan dari masyarakat. b. pembangunan dan pemeliharaan sarana sanitasi. 4.1. Apakah laki-laki dan perempuan punya pengertian yang beda tentang kontribusi. tokoh elit setempat. Mengetahui peran laki-laki dan perempuan pada tahap perencanaan. 4. baik oleh perempuan maupun laki-laki. 4) Apabila kelompok miskin memberi kontribusi lebih sedikit. atau laki-laki dan perempuan anggota masyarakat. 2. Sebagai contoh. laki-laki dan perempuan yang terlibat dalam badan pengelola setempat atau masyarakat yang terlibat dalam pembangunan. kemiskinan maupun kontrol mereka saat pelaksanaan. Contoh lembar kerja. termasuk keterwakilan gender. serta menilai tingkat kelayakan teknis sebagai prasyarat pembangunan infrastruktur sanitasi yang direncanakan dengan cara melakukan observasi langsung oleh TFL bersama-sama dengan masyarakat. 5) Perlu diketahui sumber pendapatan dari kaum laki-laki maupun perempuan. c. Partisipasi Saat dan Pasca Pembangunan Sarana dapat dilihat pada Lampiran. 4. Jika penentuan variasi kontribusi yang disesuaikan dengan kemampuan membayar hanya dilakukan oleh elit. 3) Melakukan diskusi kelompok. pengelolaan pengeluaran rumah tangga. Buat terlebih dulu simbol/legenda yang disepakati oleh masyarakat.1.3 Perjalanan Transect (Transect Walk II) Transect walk II memiliki tujuan yang sama dengan transect walk I (RPA).4.1. maupun pola kontribusi untuk pelayanan sarana sanitasi pada suatu lingkungan masyarakat. 2) Fasilitator menanyakan kepada peserta arti kontribusi oleh laki-laki dan perempuan. • Menilai dan menganalisa komposisi serta pengaruh badan pengelola masyarakat selama pembangunan sarana layanan. membahas tentang siapa berkontribusi apa pada saat pembangunan.4.5 Siapa Melakukan Apa Kegiatan ini bertujuan: a. menilai tingkat kepuasan masyarakat terhadap fasilitas sanitasi yang ada.4. Mengidentifikasi perubahan tugas yang sangat diperlukan dan layak yang telah dialokasikan. Proses/Tahapan kegiatan: 1) Pemberian nilai sejarah pembangunan pelayanan yang dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan yang tinggal dalam masyarakat serta mengetahui sejarah dari pengalamannya.

1. • Beban kerja antara laki-laki dan perempuan. memimpin rapat memiliki status yang paling tinggi. tempatkan gambar tersebut di bawah gambar laki-laki. diantaranya meliputi : • Siapa melakukan apa. pemeliharaan dan manajemen sarana yang telah dibangun. dengan masing-masing kelompok beranggotakan sebanyak 5 . Proses/tahapan kegiatan: 1) Fasilitator melakukan diskusi kelompok terfokus laki-laki dan perempuan. 2) Kelompok menentukan tugas/pekerjaan yang berhubungan dengan sarana sanitasi yang ada. serta pekerjaan yang dibayar maupun tidak dibayar. pembagian kerja berdasarkan gender : Siapa Melakukan Apa dapat dilihat pada Lampiran. 2) Membagi kelompok. jika ada ide kelompok yang belum ditunjukkan oleh gambar. kaya dan miskin. Jika kelompok diskusi tidak setuju dengan arti sebuah gambar. batu.1) Fasilitator memfasilitasi diskusi kelompok untuk mengulang pelajaran apa yang telah diperoleh pada pertemuan sebelumnya. 35 . Setelah itu. Peserta dengan kemampuan baca tulis rendah dapat membuat gambar dari pekerjaan atau tugas yang terkait dengan konstruksi. 4. • Sebagai alat kaji ulang bagi data dari tools lain. Apabila kelompok setuju. 5) Dengan menggunakan potongan kertas berwarna. sedangkan pekerjaan yang membutuhkan kemampuan fisik seperti membersihkan sarana dan memperbaiki kerusakan merupakan pekerjaan dengan status rendah. dengan menjelaskan pilihan mereka dan menjawab beberapa pertanyaan.4. • Hal-hal potensial untuk perubahan tugas yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan 6) Menugaskan tiap kelompok untuk mengidentifikasi peran mana yang akan merubah atau memodifikasi halhal yang layak untuk mengembangkan sanitasi dan kesehatan pribadi. kemudian menentukan mana pekerjaan yang membutuhkan keahlian/pelatihan seperti pengelolaan administrasi keuangan dan sistem iuran. maka fasilitator membuat gambar tersebut atau menulis di kertas baru. Contoh lembar kerja. serta apa yang masyarakat suka dan tidak suka dari kegiatan ini. 5) Masing-masing kelompok mempresentasikan pilihan mereka. 4) Fasilitator membuat gambar-gambar yang terkait dengan pembangunan dan pemeliharaan sarana. • Keuntungan dan kerugian pergantian tugas yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan. serta kaya dan miskin. pasangan laki-laki dan perempuan secara bersama-sama. 7) Memfasilitasi diskusi kelompok tentang apa yang menjadi pembelajaran dari kegiatan ini.6 Pembagian Kerja Berdasarkan Gender dan Waktu Kerja (Ladder II) Pembagian kerja berdasarkan gender dan waktu kerja (ladder II) bertujuan: • Untuk menilai dan menganalisa pembagian kerja. serta satu set gambar yang memperlihatkan tugas yang berbeda. • Bagaimana perbedaan beban kerja yang ada bisa mempengaruhi alokasi pekerjaan untuk menanggulangi penularan penyakit diare. Sebaliknya. Dilihat dari sisi status pekerjaan. terkait dengan pelayanan sarana antara perempuan dan laki-laki. Untuk gambar pasangan laki-laki dan perempuan artinya keduanya melakukan pekerjaan tersebut. perempuan. 4) Memfasilitasi kelompok untuk bekerja dengan gambar yang mereka miliki dan mendiskusikan temuantemuan mereka. kelompok berdiskusi tentang siapa biasanya yang melakukan pekerjaan tersebut.8 peserta. biji-bijian atau bahan lokal lainnya peserta menandakan pekerjaan yang dilakukan oleh perempuan dan laki-laki. dengan cara peserta menuliskan tiap jenis pekerjaan pada sebuah kartu. merekam kesimpulan-kesimpulan hasil identifikasi tersebut untuk dimanfaatkan pada kegiatan monitoring selanjutnya. 3) Setiap kelompok diberi gambar seorang laki-laki. jenis pekerjaan serta menentukan pekerjaan yang perlu dibayar atau tidak. 3) Dengan diskusi kelompok. perempuan atau pasangan laki-laki dan perempuan yang menjadi pilhan kelompok. maka sisihkan gambar tersebut. Kelompok bisa melepas dan menempelkan kertas yang menggambarkan tugas laki-laki dan perempuan di atas kertas kosong.

Seksi Kontribusi.Membantu dalam penyuluhan kesehatan masyarakat. Sekretaris.Mengalokasikan material sesuai dengan kebutuhan pekerjaan konstruksi. • Sekretaris: . dan mengelola kegiatan pembangunan.Bertanggung jawab terhadap hal-hal teknis. . Dengan tugas sebagai berikut: • Ketua: . .Pengawasan kepada pekerja dan bekerjasama dengan mandor. • Kelompok Pengelola terdiri dari Ketua. . • Seksi Kontribusi: . Seksi Tenaga Kerja. Contoh lembar kerja. • Seksi Kampanye Kesehatan: .2 Pembentukan KSM Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) adalah organisasi pengelola berdasarkan pendekatan budaya dan kebutuhan masyarakat dan ditetapkan/disahkan dalam berita acara yang ditandatangani minimal 2/3 peserta atau ditetapkan melalui surat keputusan pejabat yang berwenang. Secara umum tugas KSM adalah memonitor.6) Fasilitator memfasilitasi diskusi hasil temuan dan hasil dari pertemuan.Mengkoordinasikan perencanaan kegiatan pembangunan. .Mengatur dan mengkoordinir material yang diperlukan. . menyimpan dan mengeluarkan/membayar sesuai dengan RAB yang telah ditetapkan. . 4.Melakukan inventarisasi tenaga kerja.Membuat laporan tentang keadaan material. dan Seksi Logistik.Melakukan pengelolaan administrasi keuangan dan pembukuan realisasi serta laporan pertanggungjawaban keuangan yang dikelola mingguan dan bulanan.Memimpin pelaksanaan tugas panitia dan kegiatan rapat-rapat.Menyusun rencana kebutuhan dan melaksanakan kegiatan tata usaha serta dokumentasi. Bendahara. 36 . Seksi Operasi dan Pemeliharaan.Bertanggung jawab terhadap keamanan material selama pembangunan. Seksi Kontribusi. Contoh Bentuk Kelompok: • Kelompok Pembangunan terdiri dari Ketua. apabila dibutuhkan. . pembagian kerja berdasarkan gender dan waktu kerja/Ladder-2 dapat dilihat pada Lampiran. . . supervisi.Mengatur tenaga kerja di lapangan. Sekretaris. serta mengelola sarana Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). . • Seksi Operasi & Pemeliharaan: .Melaksanakan surat-menyurat.Melakukan penarikan kontribusi dari masyarakat berupa uang dan menyetorkan pada bendahara • Seksi Tenaga Kerja: . pembentukan/kepengurusan KSM dan AD/ART KSM dapat dilegalkan melalui notaris setempat.Melakukan rekrutmen tenaga kerja.Mengorganisir kegiatan kampanye kesehatan di masyarakat. . • Bendahara: .Menerima. Namun. Seksi Kampanye Kesehatan.Melaksanakan pelaporan kegiatan pembangunan secara bertahap.4. sehingga dalam membentuk maupun menyusun organisasinya disesuaikan dengan kepentingan kegiatan-kegiatan tersebut. • Seksi Logistik: .Mengoperasikan dan memelihara sarana sanitasi yang telah dibangun. . Bendahara.

pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce. pengembangan prasarana dan sarana air limbah komunal. Untuk daerah tertentu. adalah penyelenggaraan prasaran air limbah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat berdasarkan kebutuhan dan kesesuaian masyarakat itu sendiri.4.Mekanisme kerja KSM tercantum dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) yang disepakati oleh pengurus KSM dan seluruh calon pengguna/penerima manfaat. .- Melakukan monitoring terhadap upaya penyehatan lingkungan. pembentukan KSM ini perlu legalitas notaris untuk kepentingan pembukaan rekening masyarakat. Salah satu modul pengelolaan air limbah 37 . RAPAT ANGGOTA PENGURUS Ketua Sekretaris Bendahara BADAN PENASEHAT PEMBANGUNAN PENGELOLAAN Seksi Kontribusi Seksi Tenaga Kerja Seksi Logistik Seksi Kontribusi Seksi OP Seksi Kampanye ANGGOTA-ANGGOTA (PENGGUNA/PEMANFAAT SARANA) Keterangan : = Garis wewenang = Garis pengawasan = Garis Pelayanan Gambar 4. 5. Prioritas pertama: Pengembangan prasarana dan sarana air limbah komunal berbasis masyarakat. Contoh Bagan Organisasi Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) 4. reuse dan recycle) dan 6. terdiri dari: 4.3 Pilihan Teknologi Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). adalah kegiatan yang dilaksanakan untuk menyediakan prasarana penyehatan lingkungan permukiman berbasis masyarakat. Catatan: .8. pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri yang berwawasan lingkungan Prasarana sanitasi yang dimaksud adalah sebagai berikut: 3.Status pembentukan KSM disahkan dengan Surat Keputusan (SK) Lurah yang diketahui oleh Camat setempat.

-masing unit tangki septik dimanfaatkan oleh 4 atau 5 rumah. sarana cuci. reuse dan recycle) berbasis masyarakat membutuhkan dana pembangunan dan pelatihan sekitar Rp.300 juta/Ha. Prioritas ke-2 Apabila prioritas pertama sudah dipenuhi (tidak ada BAB sembarangan) maka dapat dikembangkan: c. Sistem prasarana kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) dipilih oleh masyarakat sesuai keinginan mereka dan kondisi lingkungan setempat berdasarkan asas keberlanjutan (sustainability).300 juta dan mempunyai 3 alternatif utama: Modul A berupa unit tangki septik komunal yang masing. Setiap jamban melayani 6 KK (25 orang). dan unit pengolahan air limbahnya. 4. Untuk prasarana drainase ini membutuhkan dana pembangunan fisik sekitar Rp. Sesuai untuk pemukiman yang kebanyakan tidak memiliki jamban 38 . sarana cuci dan pengolahan air limbah.300 juta d. penjelasan dan diskusi pilihan-pilihan teknologi berdasarkan buku Pemilihan Teknologi Sanitasi (Informed Choice Catalogue/ICC) dilaksanakan dalam pertemuan masyarakat. Pengembangan fasilitas pengurangan sampah dengan pola 3R (reduce. Menggunakan sistem leher angsa untuk menghindari bau dan serangga. Modul B berupa 1 unit MCK Plus++ yang dapat dimanfaatkan oleh 100-200 jiwa (25-100 KK) terdiri dari kamar mandi. bisa dilengkapi kamar mandi. Modul ini dibangun untuk rumah yang berkelompok dan hanya tersedia lahan yang terbatas. WC Individual Biasanya ditempatkan di dalam rumah atau luar rumah. 1 modul pengelolaan sampah pada 3R (reduce. Sarana sanitasi terpilih menjadi dasar untuk menyusun Rencana Teknis Rinci (Detail Engineering Design/DED) dan Rencana Anggaran Biaya (RAB). Presentasi.1 Komponen-komponen sistem Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM): Air Limbah Komunal Berbasis Masyarakat Komponen Tolilet: 1. Modul ini merupakan modul yang disarankan. Pengembangan prasarana dan sarana drainase mandiri yang berwawasan lingkungan berbasis masyarakat adalah penyelengaraan prasarana drainase yang menunjang kegiatan konservasi dan keseimbangan lingkungan. Modul C berupa sistem jaringan perpipaan air limbah skala lingkungan 100-200 jiwa (25-100 KK).3. dan sehat jika air tersedia secara teratur KEKURANGAN: • Dibutuhkan air yang tersedia secara teratur • Diperlukan sistem pemipaan dan pengolahan untuk air buangan 2. reuse dan recycle) berbasis masyarakat adalah penyelengaraan prasarana persampahan yang meliputi kegiatan mengurangi (reduce). mengguna ulang (reuse) dan mendaur ulang (recycle) sampah. 4. bersih. sepanjang kondisi lapangan memenuhi persyaratan.komunal berbasis masyarakat membutuhkan dana pembangunan fisik sekitar Rp. MCK Umum Terdiri dari sejumlah pintu jamban.4. KELEBIHAN: • Kloset paling umum di Indonesia • Biaya pembangunan. Tinja disiram air dengan gayung. pengoperasian dan perawatan murah • Tidak memerlukan tenaga ahli • Lokasi bangunan bisa di mana saja • Nyaman.

gang.Gambar 4. Membutuhkan bak kontrol pada tiap 20 m dan di titik-titik pertemuan saluran. Pipa biasanya diletakkan di halaman depan. Saluran Pembuangan Limbah Bersama/Komunal Menggunakan sistem pemipaan PVC. air limbah dijauhkan dari area pemukiman KEKURANGAN: • Memperlukan proses perencanaan matang • Perawatan yang tidak rutin. Contoh Saluran Pembuangan Limbah Bersama/Komunal KELEBIHAN: • Lebih hemat daripada sistem pembuangan air limbah konvensional • Masyarakat dapat berperan dalam proses perencanaan dan konstruksi • Nyaman untuk pengguna.9 Contoh MCK Umum KELEBIHAN: • Sistem sarana dasar sanitasi terpusat • Nyaman untuk pemukiman padat • Memungkinkan untuk meningkatkan sistem KEKURANGAN: • Memerlukan pengawasan konstruksi • Pengoperasian dan perawatan oleh kelompok masyarakat dan penyedia jasa swasta yang mampu 3. Gambar 4. menyebabkan kegagalan sistem secara total 39 .10. atau halaman belakang.

Tangki Septik Bersama KELEBIHAN: • Sesuai untuk rumah yang berkelompok • Butuh lahan sedikit karena dibangun dibawah tanah • Biaya konstruksi kecil • Pengoperasian dan perawatan mudah dan murah KEKURANGAN: • Efisiensi pengolahan rendah • Perlu pengolahan tambahan • Memerlukan pengurasan yang sering 2. Bio-Digester Menghasilkan biogas.Komponen Pengolahan: 1. sebagai energi alternatif untuk memasak dan penerangan. Air limbah yang berada di tengah (bagian bersih) mengalir keluar. Sesuai untuk limbah WC dan industri tahu/tempe. yang dibangun di bawah tanah. Gambar 4.11. Dalam tangki septik terdapat dua proses pengolahan: pengendapan dan pengapungan. Tangki Septik Bersama Air limbah dialirkan melalui pipa ke tangki septik. Gambar 4. Bio-Digester KELEBIHAN: • Efektif sebagai pengolahan awal • Biaya konstruksi dan perawatan rendah • Kebutuhan lahan sedikit • Air hasil olahan tidak berbau • Menghasilkan gas KEKURANGAN: • Masih diperlukan pengolahan lanjutan • Diperlukan tenaga ahli untuk desain. mengawasi dan membangun 40 . RPH dan ternak. Air hasil pengolahan belum efisien tetapi sudah berbau dan tidak terlalu berbahaya.12.

Hal ini tergantung pada cara pengolahan dan derasnya aliran sungai 41 .13.3. bak berikutnya menguraikan yang lebih sulit terurai. bak pertama menguraikan zat yang mudah terurai. Komponen Pembuangan/Pemanfaatan Ulang (Dibuang ke Sungai) Air limbah dapat dibuang ke sungai jika air tersebut telah memenuhi beberapa syarat yang ditetapkan. Anaerobik Filter atau Tangki Septik Bersusun dengan Filter Pengolahan biologis oleh organisme anaerobik di filter (batu apung atau bio-ball) KEKURANGAN: • Biaya konstruksi tinggi jika bahan filter tidak tersedia di tempat itu • Diperlukan tenaga ahli untuk desain dan pengawasan KELEBIHAN: • Butuh lahan sedikit karena dibangun di bawah tanah • Biaya investasi kecil • Pengoperasian dan perawatan murah dan mudah • Efisiensi pengolahan tinggi 5. Pengolahan air limbah harus efisien supaya air limbah yang dibuang tidak mencemari badan air (sungai). KELEBIHAN: • Pilihan pembuangan paling murah • Dapat diterapkan oleh masyarakat • Tidak memerlukan pengoperasian dan perawatan KEKURANGAN: • Konsumsi dan penggunaan air sungai mentah di bagian muara tidak dianjurkan • Kemungkinan kelebihan beban pada sungai sangat memungkinkan. Baffled Reaktor/Tangki Septik Bersusun Terdiri beberapa bak. Gambar 4. Baffled Reaktor/Tangki Septik Bersusun KELEBIHAN: • Lahan yang dibutuhkan sedikit karena dibangun dibawah tanah • Biaya pembangunan kecil • Biaya pengoperasian dan perawatan murah dan mudah • Efisiensi pengolahan tinggi KEKURANGAN: • Diperlukan tenaga ahli untuk desain dan pengawasan • Tukang ahli diperlukan untuk pekerjaan plester kualitas tinggi 4.

Untuk itu pada perencanaan perlu dirujuk hasil penelitian lapangan komposisi sampah setempat. Pengurasan dengan Truk Tinja Jika lumpur tidak diolah setempat. maka harus dikeluarkan dan dibuang dengan bantuan jasa penguras. • Bahan wadah paling baik dapat diperoleh secara lokal. maka ada beberapa kriteria yang sebaiknya diikuti secara benar yaitu : • Volume pewadahan minimal dapat menampung sampah dari penghuni untuk jangka waktu minimal 3 hari untuk sampah non organik dan 1 hari untuk sampah organik. 1. maka warna wadah sebaiknya spesifik untuk setiap jenis sampah. • Mudah dalam operasi pemasukan sampah maupun pengosongan sampah. • Pada metoda pewadahan terpilah sesuai prinsip 3R maka setiap wadah dapat menyimpan sesuai jenis sampah yang akan disimpan.4. Pengurasan lumpur dengan truk tinja dilakukan setiap 2 tahun untuk kemudian lumpur diolah di Instalasi Pengolah Lumpur Tinja (IPLT). subsistem pengumpulan. Truk penguras sebaiknya terletak tidak lebih dari 50 meter (untuk menyesuaikan panjang selang penguras = 50 m). tahan basah untuk sampah organik.2 Sampah Pola 3R Berbasis Masyarakat Teknologi atau metoda yang berkaitan dengan pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat sangat terkait erat dengan sistem pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat yang pada umumnya terdiri dari subsistem pewadahan. Truk penguras dihubungkan ke bak pengolah dengan pipa dan pompa sedot. Contoh Pewadahan 42 . dan subsistem pengolahan sampah terpusat untuk kawasan.14. sehingga umur teknis dari pewadahan minimal dapat mencapai 6 bulan. Teknologi Pewadahan Subsistem pewadahan merupakan subsistem awal dalam sistem pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat yang merupakan subsistem yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Harus diperhatikan bahwa pengurasan hanya mengambil lumpur "hitam" saja.6.3. Gambar 4. KELEBIHAN: • Pilihan pembuangan berbiaya murah • Masyarakat tidak perlu melakukan pengoperasian dan perawatan • Pembuangan lumpur yang aman KEKURANGAN: • Perlu jasa penguras • Truk penguras mungkin belum tersedia • Perlu dibangun IPLT 4. • Terbuat dari bahan yang cukup kuat. • Pada metoda pewadahan terpilah 3R. • Untuk menambah estetika yang lebih baik maka wadah dilengkapi dengan tutup. Dalam pemilihan teknologi untuk pewadahan. subsistem komposter rumah tangga. • Mudah dalam perawatan.

2. • Terdapat lubang pengudaraan yang cukup • Bahan pembuatan komposter paling baik dapat diperoleh secara lokal. maka diperoleh perkiraan timbulan sampah per orang per hari pada lokasi terpilih.Wadah sampah non organik: (jumlah hunian rata-rata) x timbulan sampan non organik/orang/hari x 3 hari. volume wadah disesuaikan dengan jenis sampah yang akan dipilah sebagai berikut : . diperoleh : 43 .15. Penggunaan komposter dalam proses pengkomposan sampah organik di rumah tangga. asumsi rata–rata 3 liter/orang/hari • Dari penelitian sosial. • Mudah dalam operasi pemasukan maupun pengosongan sampah. • Untuk sampah campuran.Warna gelap untuk sampah yang mudah membusuk .Jumlah hunian rata-rata pada rumah tangga . Pada perencanaan pengkomposan sampah organik skala rumah tangga. volume wadah dihitung berdasarkan : (jumlah hunian rata-rata) x 3 liter/orang/hari x 3 hari. • Untuk program 3R.Perencanaan penentuan wadah sampah di sumbernya dilakukan melalui tahapan sebagai berikut : • Dari penelitian komposisi dan timbulan sampah. Teknologi Pengkomposan dengan Komposter Dalam sistem pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat maka pengolahan sampah di rumah tangga merupakan salah satu kegiatan penting dalam daur ulang sampah.Warna merah untuk bahan berbahaya dan beracun. sehingga umur teknis dari komposter minimal dapat mencapai 1 tahun. . maka dilakukan beberapa tahapan antara lain: • Dari penelitian komposisi dan timbulan sampah. • Dari penelitian sosial. tahan basah untuk sampah organik.Kebiasaan masyarakat membuang sampah. Contoh Komposter Kriteria dalam pemilihan komposter rumah tangga adalah : • Volume komposter minimal dapat menampung sampah organik dari dapur untuk jangka waktu minimal 40 hari. • Terbuat dari bahan yang cukup kuat. • Harus dilengkapi dengan tutup. • Mudah dalam perawatan. maka diperoleh perkiraan timbulan sampah per orang per hari pada lokasi terpilih. diperoleh : .Warna terang untuk sampah kering non organik (dapat lebih dari satu tergantung jenis sampah yang dipilah) . • Satu rumah minimal menyediakan 2 (dua) unit komposter. • Pemilihan warna dilakukan dengan menggunakan kriteria sebagai berikut : . Beberapa teknologi komposter rumah tangga yang sekarang ini banyak digunakan antara lain: Gambar 4.Wadah sampah organik: (jumlah hunian rata-rata) x timbulan sampah organik/orang/hari x 1 hari.

pengolah karet bekas. Pengumpulan sampah dapat dilakukan langsung oleh kendaraan pengangkut sampah atau tidak langsung melalui penggunaan gerobak atau motor sampah. Teknologi Pengumpulan Sampah Pengumpulan sampah merupakan subsistem setelah pewadahan. 4. dll) Untuk limbah yang dikategorikan sebagai bahan B3.• • . Dalam perencanaan teknologi pengumpulan maka digunakan beberapa kriteria sebagai berikut : • Volume gerobak atau motor sampah 1 m3 sehingga satu unit pengumpul dapat melayani 300 jiwa atau sekitar 60 KK untuk timbulan sampah 3 liter/orang/hari. dapat dilaksanakan dengan cara menjalin kerjasama dengan pihak lapak besar atau langsung dengan industri/organisasi pengguna bahan tersebut (misal industri kertas daur ulang. Pada kasus sistem pengelolaan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat maka pengumpulan dilakukan melalui penggunaan gerobak atau motor sampah. namun dalam pelaksanaannya memerlukan penanganan khusus (pemilahan sesuai jenis dan bahan penyusunnya). Teknologi Daur Ulang Sampah Non Organik Skala Rumah Tangga Daur ulang sampah non organik untuk kertas dan plastik dapat dilakukan di rumah tangga. dengan tata cara penggunaan. 3. sebaiknya bahan ini hanya dikumpulkan dalam wadah khusus yang tidak mudah bocor dan diberi label. Rata-rata volume komposter 50 liter.Tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan . Bahan ini memiliki nilai ekonomi tinggi. maka dapat digunakan kelipatannya. antara lain: Sampah yang akan didaur ulang sebaiknya berupa bahan yang terdiri dari kertas. hiasan plastik. merupakan bahan daur ulang kualitas baik.Gerobak atau motor 3R yang tersekat sesuai jenis sampah yang terpilah digunakan sesuai hasil pemilahan 44 . komposter yang sudah penuh perlu didiamkan selama sebulan lagi dan dipanen jika komposter satunya sudah penuh. perencanaan kegiatan daur ulang sampah non-organik dapat dilaksanakan berdasarkan beberapa hal dibawah ini.Tidak berbahaya bagi kesehatan . plastik. Volume komposter sampah organik dari dapur dapat ditentukan melalui perkiraan sebagai berikut : (jumlah hunian rata-rata) x timbulan sampah organik/orang/hari x 40 hari x 0.Mudah dilaksanakan Secara umum. Dari best practice yang dilakukan oleh masyarakat di beberapa daerah di Indonesia. industri pengolah logam. daur ulang sampah non organik kertas dan plastik biasanya untuk membuat barang seni seperti kertas seni.Kebiasaan masyarakat membuang sampah. jika tingkat hunian lebih dari 5 orang. Daur ulang bahan B3 ini sebaiknya di koordinasikan dengan pihak pengumpul resmi yang memiliki ijin atau dinas kebersihan kabupaten/kota.2. Diperlukan minimal dua komposter untuk setiap rumah tangga.Tidak menggunakan bahan kimia beracun . Kriteria daur ulang sampah non organik : . karet/kulit dan logam. Untuk timbulan yang berbeda (sesuai hasil penelitian lapangan) maka cakupan pelayanan satu unit pengumpul dapat diperkirakan sebagai berikut : 1000 liter/(timbulan sampah dalam liter/orang/hari). • Kondisi topografi yang berbukit hanya dapat dilayani dengan motor sampah • Kondisi topografi yang datar dapat menggunakan gerobak atau motor sampah. dan dipilah sejak dari sumbernya Pemasaran produk daur ulang.Jumlah hunian rata-rata pada rumah tangga . tas plastik. • Pengumpulan sampah terpilah dapat dilakukan : . dll.

45 . panjang 2 meter.Areal pengkomposan . panjang 1 meter. • Pemilihan jenis pengumpul dilihat dari topografi lokasi • Penyusunan anggaran investasi sesuai harga satuan setempat • Penyusunan anggaran operasi pengumpulan yang terdiri dari : .Biaya tetap : · Pegawai · Asuransi · Pemeliharaan . b. Luas lahan yang paling baik mendekati 1. Karakteristik proses pengomposan : • Volume tumpukan sampah untuk pengkomposan dengan open windrows mempunyai ukuran lebar 2 meter.000 m2 untuk keperluan lahan pengomposan.Gudang penyimpanan c. dan tinggi 1 meter. pengkomposan dan proses pengemasan bahan non organik untuk daur ulang. Bangunan pelindung untuk : .• • . Perencanaan pengumpulan sampah terpadu 3R berbasis masyarakat menggunakan beberapa tahapan sebagai berikut : • Pendataan jumlah warga pada lokasi terpilih • Penentuan jumlah gerobak atau motor 3R yang dibutuhkan dengan cara : ((jumlah warga x jumlah timbulan sampah/orang/hari)/1000 liter/rit per hari.5 meter dan panjang minimal 2 meter (dapat lebih dari ini sesuai lahan yang ada). Data yang dibutuhkan : • Jumlah warga yang terlayani • Jumlah sampah yang akan diolah di TPST. • Tersedianya data komposisi sampah. kantor pengendalian. Dari TPST ini akan keluar produk berupa kompos dan bahan lapak.Gerobak tanpa sekat digunakan dengan jadwal tertentu Mempunyai umur teknis minimal 1 tahun Menggunakan ban angin. Peralatan mesin pendukung: • Pencacah organik • Pengayak kompos • Pencacah plastik • Buffer Zone d. Tempat pengolahan sampah terpadu berdasarkan best practice yang ada biasanya terdiri dari proses pemilahan. Pada perencanaan teknologi pada TPST maka ada beberapa kriteria antara lain: Fasilitas TPST terdiri dari: a. • Volume tumpukan sampah untuk pengkomposan dengan metode caspary lebar 1 meter. Teknologi Pengolahan Sampah Skala Kawasan Teknologi pengolahan sampah terpadu skala kawasan yang disebut juga dengan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). • Volume tumpukan sampah untuk pengkomposan dengan metode open bin : lebar 1 meter. tinggi 1. e. dan tinggi 1 meter.Kantor pengendali . dan gudang penyimpanan.Biaya variabel : · Bahan bakar • Penyusunan jadwal pengumpulan 5.Areal pemilahan .

Pengembangan permukiman baru dan pengembangan kembali di bagian hulu dapat menyebabkan banjir di bagian hilir di bawahnya sehingga untuk mencegah aliran air masuk ke badan air secara bersamaan. metode yang akan digunakan.16. • Bersama-sama warga menentukan metoda atau teknologi yang akan diterapkan. 46 . untuk perhitungan detail teknis saluran dan kolam tampungannya dapat mengacu pada Tata Cara Pembuatan Kolam Retensi dan Polder dengan saluran-salurannya. teknologi caspary dan open bin sesuai dengan tenaga dan biaya yang ada. juga akan ikut mencegah air hujan mengalir secara berlebihan di bagian hilir yang menyebabkan banjir di bagian hilir. untuk pengkomposan sampah ada beberapa pilihan: teknologi open windrows.3.Biaya variabel : · Bahan bakar · Listrik 4. Tujuannya agar daerah permukiman yang sering tergenang akibat hujan dapat terbebas dari genangan serta untuk menjamin pengembangan baru tidak akan menambah puncak banjir di daerah bagian hilir dan sekitarnya pada saat hujan besar sampai periode ulang 2-5 tahun melalui pengelolaan partisipatif berbasis masyarakat. dapat diperkirakan jumlah sampah yang harus diolah yang terdiri dari jumlah sampah organik dan sampah non organik. Contoh Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Perencanaan teknologi pengolahan sampah skala kawasan dilakukan pada beberapa tahapan : • Penentuan wilayah/jumlah warga yang akan dilayani • Dari penelitian komposisi dan timbulan sampah. yang dapat menyebabkan debit naik secara ekstrim maka perlu dibuat kolam tampungan di daerah hulunya. • Menentukan organisasi pengelola • Penyusunan anggaran investasi sesuai harga satuan setempat • Penyusunan anggaran operasi pengumpulan yang terdiri dari: . Di bawah ini contoh pilihan sistem drainase mandiri berwawasan lingkungan.4. dan bentuk lahan yang ada.3 Drainase Mandiri Berwawasan Lingkungan Berbasis Masyarakat Drainase mandiri berwawasan lingkungan adalah drainase suatu kawasan atau lingkungan yang mempunyai sistem independen dan mempunyai tampungan/kolam sendiri yang mampu mengatasi curah hujan/limpasan air di kawasannya sendiri.Biaya tetap : · Pegawai · Asuransi · Pemeliharaan . Drainase mandiri ini selain akan mengelola air hujan di kawasannya sendiri. Kemudian air dari kolam tampungan dibuang secara bertahap dengan debit moderat. Pilihan teknologi drainase mandiri berwawasan lingkungan berbasis masyarakat mempertimbangkan keadaan topografi dan lingkungan di lokasi.Gambar 4. • Menentukan layout dari TPST dengan memperhatikan jumlah sampah organik yang akan dikomposkan.

17. . Saringan sampah g. Kolam tampungan/kolam retensi/kolam tandon b. Diperlukan juga pembuatan tanggul apabila air dari badan air sering melimpas ke area kawasan e.Apabila elevasi muka air kolam tampungan relatif lebih tinggi dari elevasi muka air badan air/sungai. Pintu inlet ke kolam tampungan f.Apabila elevasi muka air kolam tampungan lebih rendah dari elevasi muka air badan air maka selain membutuhkan pintu air outlet. Tidak mengganggu sistem aliran yang ada 47 . Kapasitas bisa optimal apabila lahan tersedia c. maka perlu memakai pintu air untuk saluran pembuangannya. diperlukan pompa untuk membuang air ke badan air/sungai. Kelengkapan tambahan (apabila diperlukan) d.1.Apabila elevasi muka air kolam tampungan tidak berbeda jauh dengan elevasi muka air badan air/sungai. Sistem Drainase Mandiri dengan Kolam Tampungan di Samping Saluran yang Bermuara di Badan Air/Sungai • Kelengkapan Dasar: a. pengatur debit cukup memakai saluran outlet dengan dimensi dan kapasitas terbatas sesuai perhitungan teknis. Sistem drainase mandiri dengan kolam tampungan di samping saluran yang bermuara di badan air/sungai Gambar 4. Sistem drainase internal kawasan c. Dipakai apabila tersedia lahan kolam retensi b. Pengatur debit: . . Kolam penangkap sedimen/grit chamber • Kesesuaian tipe: a.

Tidak mengganggu sistem aliran yang ada 3.18. Sistem drainase internal kawasan c. dapat berupa lahan tanah terbuka atau peresapan buatan seperti sumur-sumur resapan Kelengkapan yang diperlukan apabila elevasi muka air badan air/sungai lebih tinggi dari muka air saluran outlet c. outlet kolam tampungan langsung bermuara ke badan air/sungai Gambar 4. diperlukan pompa untuk membuang air ke badan air/sungai Kelengkapan tambahan (apabila diperlukan) d. Saringan sampah g. Sistem drainase internal kawasan dengan kapasitas memadai. Pintu air di ujung saluran outlet. Sistem drainase mandiri dengan kolam tampungan segaris dengan saluran atau berada dalam saluran. Resapan air untuk mengurangi limpasan air permukaan.2.Apabila elevasi muka air kolam tampungan lebih rendah dari badan air maka selain membutuhkan pintu air. Sistem drainase mandiri tanpa kolam tampung. Diperlukan juga pembuatan tanggul apabila air dari badan air sering melimpas ke area kawasan e. yang akan difungsikan juga sebagai tampungan sementara (long storage) b. Dipakai apabila tersedia lahan kolam retensi b.Apabila elevasi muka air kolam tampungan relatif lebih tinggi atau tidak berbeda jauh dengan elevasi muka air badan air/sungai. Sistem Drainase Mandiri dengan Kolam Tampungan Segaris dengan Saluran atau Berada dalam Saluran. Kapasitas bisa optimal apabila lahan tersedia c. menggunakan saluran drainase internal kawasan sebagai penampung air sementara • Kelengkapan Dasar: a. maka perlu memakai pintu air untuk saluran pembuangannya. Outlet Kolam Tampungan Langsung Bermuara ke Badan Air/Sungai • Kelengkapan Dasar: a. Pintu inlet ke kolam tampungan f. Kolam tampungan/kolam retensi/kolam tandon b. kapasitas pompa dihitung sesuai dengan kondisi sistem 48 . terutama bila fluktuasi muka air pada badan air/sungai cukup besar d. . Pengatur debit berada di kolam tandon yang berhadapan langsung dengan badan air/sungai . Pompa air di ujung saluran outlet. Kolam penangkap sedimen/grit chamber • Kesesuaian tipe: a.

kapasitas yang akan dilayani. kemampuan masyarakat untuk mengoperasikan dan merawat sarana sanitasi.4 Dokumen Rencana Pembangunan Merupakan dokumen resmi perencanaan perbaikan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Monitoring dan pengendalian ini digunakan untuk : 1. Kesepakatan kontribusi. Pemilihan Teknologi Sanitasi sampai dengan Penyusunan Buku/dokumen Rencana Pembangunan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Memastikan keterlibatan semua status sosial yang ada di masyarakat serta gender dalam proses penerimaan masyarakat akan kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) untuk memperbaiki kondisi sanitasi lingkungan maupun penerimaan masyarakat untuk berkontribusi sesuai dengan kemampuan masyarakat. Perencanaan Teknis Rinci (Detail Engineering Design/DED) dan Rencana Anggaran Biaya (RAB) 6.5 Monitoring dan Evaluasi Monitoring dan evaluasi yang dilaksanakan pada waktu proses pelaksanaan rencana kegiatan masyarakat. Ketersediaan Lahan 3. Pemeliharaan dan pengoperasian dilakukan secara rutin 4. 3. Rencana Kerja Masyarakat • Rencana Konstruksi • Rencana Kontribusi Masyarakat • Rencana Pelatihan • Rencana Operasi dan Pemeliharaan. Dipakai apabila lahan sulit didapat b. Berisi tentang: 1. Bak penangkap sedimen/grit chamber pada saluran sebelum masuk ke pompa g. Pembentukan KSM.1 TAHAPAN KONSTRUKSI Persiapan Pelaksanaan Tahapan kegiatan konstruksi dilaksanakan setelah Rencana Kerja Masyarakat (RKM) mendapatkan persetujuan 49 . Memonitor proses pengalokasian dana terutama APBD II serta pencairan/penyerapan dana sesuai dengan progres dan kebijakan dalam Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Tanggul keliling apabila air dari badan air/sungai sering melimpas ke area kawasan Kelengkapan tambahan (apabila diperlukan) f.4. Memastikan proses pembentukan kelompok swadaya masyarakat dilakukan secara musyawarah dan transparan. Dokumen Perencanaan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) diusulkan dan disahkan dalam forum musyawarah di lokasi pelaksanaan. Profil lokasi 2. Pengelolaan Keuangan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) (Rekening Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Pemilihan Teknologi Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) 5. Administrasi pembukuan dana Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Saringan sampah di depan pompa air • Kesesuaian tipe: a.5 4. 4.4. serta adanya transfer pengetahuan kepada masyarakat. pemilihan lokasi dan pemilihan teknologi pengolahan limbah domestik telah sesuai dengan lokasi.5. Mekanisme Pendanaan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) (Mekanisme Pencairan Dana) 8. Kelembagaan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) 7. Mekanisme pembelanjaan dan Laporan keuangan) 9. Penentuan Calon Pengguna 4. Pendanaan.e. 2. 4.

4. 4. Identifikasi tenaga terampil dan pendaftaran calon pekerja untuk pekerjaan yang akan dilaksanakan sendiri. apabila SPP disetujui. 3. Bendahara/Administrasi Kegiatan adalah Ketua Unit Pengelola Keuangan/Bendaharawan KSM. • Satu orang Mandor atau lebih Mandor adalah orang yang menguasai pekerjaan lapangan sesuai dengan jenis pekerjaannya. Pendaftaran tenaga kerja dapat diteruskan selama pelaksanaan bila terdapat calon tenaga kerja baru. masyarakat mempunyai tugas dan kewajiban melaksanakan kegiatan sesuai dengan RKM dan kesepakatan yang tertuang di dalam kontrak. Dalam pelaksanaannya. seperti pembelian material. Memeriksa dan menyiapkan kontribusi masyarakat berupa tenaga (in-kind) dan material (in-kind). Persiapan pelaksanaan dilakukan oleh KSM dibantu TFL pada forum rembug kampung. Menyusun organisasi pelaksanaan pembangunan Struktur Organisasi Pelaksanaan untuk pekerjaan yang dikerjakan sendiri adalah: • Sekurang-kurangnya terdapat Satu Kepala Pelaksana Kepala Pelaksana mewakili Ketua KSM dalam memberikan arahan serta mengawasi jalannya pelaksanaan di lapangan. dan berfungsi membantu Kepala Pelaksana dalam menangani satu maçam pekerjaan atau lebih. KPPN akan menerbitkan SPM (Surat Perintah Membayar) kepada KSM. meliputi: 1. maka pihak kedua (KSM) berhak untuk melaksanakan pekerjaan tersebut dalam RKM. 5. sehingga perlu dilakukan klarifikasi untuk mendapatkan pertimbangan suatu pekerjaan dapat dikerjakan oleh pihak ketiga sebagai sub pemasok/subkontraktor terhadap KSM. 2. Mengecek dan merubah Jadwal Pelaksanaan yang telah disusun di dalam RKM. dan berfungsi sebagai pembantu Kepala Pelaksana dalam masalah administrasi keuangan lapangan.5. Dalam melaksanakan kegiatan KSM difasilitasi oleh Tenaga Fasilitator Lapangan (TFL). • Bendahara/Administrasi Kegiatan adalah orang yang menguasai sistem pembukuan kegiatan. 50 . dan sebagainya. ada bagian pekerjaan yang bila ditinjau dari jenis dan sifat pekerjaannya tidak memungkinkan untuk dilaksanakan sendiri oleh masyarakat. Mandor sebaiknya adalah anggota Unit Kerja Teknis atau orang lain yang terampil/menguasai jenis pekerjaan yang akan dilaksanakan. Dalam hal ini KSM akan berfungsi sebagai Kontraktor/Pemasok.dan telah ditandatangani. pengeluaran untuk pekerja. Pelaksanaan Kegiatan Dengan Partisipasi Masyarakat (Swakelola) Setelah Surat Kontrak ditandatangani oleh kedua belah pihak. Kemudian. Mengecek kembali rekening KSM untuk memastikan bahwa kontribusi masyarakat berupa uang (in-cash) sudah masuk ke dalam Rekening Bersama. baik dari segi teknik maupun administrasi kegiatan.2 Proses Pelaksanaan Proses pelaksanaan kegiatan yang didanai KSM ini semaksimal mungkin dapat dilaksanakan secara swakelola (Pelaksanaan Kegiatan dengan Partisipasi Masyarakat) oleh masyarakat kampung. 1. disesuaikan dengan kondisi terkini (bila diperlukan). Kepala Pelaksana adalah Ketua Unit Teknis KSM atau anggota KSM lain yang mampu untuk mengemban tugas tersebut. Hasil dari rembug kampung yang memenuhi kegiatan di atas adalah pernyataan kesiapan masyarakat untuk melaksanakan kegiatan pembangunan. Calon pekerja harus digolongkan menurut jenis kelamin. dan sebagai penghubung dengan pihak luar sehubungan dengan pelaksanaan pekerjaan. Pernyataan kesiapan diajukan kepada Pimbagpro kabupaten/kota terkait sebagai kelengkapan “kontrak” dan sebagai dasar disetujuinya Surat Perintah Pembayaran (SPP) yang diajukan kepada Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN). Orang yang tergolong kurang mampu harus mendapatkan prioritas.

mandiri atas dasar kejujuran dan mencegah terjadinya penyimpangan dalam 51 . Dengan kemampuan panitia yang terbatas untuk melakukan evaluasi terhadap pekerjaan tersebut. maka pihak kedua (KSM) diperbolehkan untuk melaksanakan pekerjaan dengan disubkontrakkan melalui pihak ketiga. Bekerja secara operasional.5. Ketentuan upah tukang dan pekerja akan didasarkan pada harga pasar di kampung tersebut dengan membandingkan harga dari daerah sekitarnya (minimal 3 kampung). setelah dievaluasi secara bersama-sama dengan pihak TFL masyarakat. 4. Panitia Penerima bertugas melakukan evaluasi atau pengecekan pekerjaan yang dikerjakan oleh KSM maupun pihak ketiga sesuai dengan spesifikasi teknis atau Kerangka Acuan Kerja dalam kontrak. Dalam pertemuan-pertemuan tersebut sekali waktu perlu dihadiri oleh pihak Dinas PU Kabupaten/Kota dan Konsultan Kabupaten/Kota. Disamping pelaksanaan pekerjaan sendiri oleh masyarakat. kemudian akan dievaluasi oleh Tim penerima barang/jasa yang dibentuk oleh Dinas PU Kabupaten/Kota. Pelaksanaan Kegiatan Dengan Subkontraktor/ Pemasok Pelaksanaan pekerjaan yang dianggap oleh masyarakat tidak mampu dikerjakan oleh masyarakat sendiri karena memerlukan keahlian khusus atau pekerjaan yang memerlukan modal yang besar. Panitia Penerima bertugas melakukan evaluasi atau pengecekan pekerjaan (Cek List Pekerjaan) yang dikerjakan oleh pihak kedua atau pihak ketiga (Subkontraktor/Pemasok) sesuai dengan spesifikasi teknis atau Kerangka Acuan Kerja dalam kontrak.3 Etika Pelaksanaan Baik penyedia barang/jasa (KSM dan Subkontraktor/Pemasok) maupun pengguna barang (KSM dan Dinas PU Kabupaten/Kota) harus memenuhi etika pelaksanaan pengadaan barang/pekerjaan konstruksi sebagai berikut: 1. Melaksanakan tugas secara tertib. 2.Tata cara/metode pelaksanaan pengadaan barang maupun jasa konstruksi dengan Partisipasi Masyarakat (community participation) ini dimaksudkan sebagai suatu sistem peran serta masyarakat dengan mengandalkan masyarakat itu sendiri dalam mengelola pengadaan barang maupun pekerjaan konstruksi. KSM juga akan melakukan pertemuanpertemuan secara berkala dalam rangka memantau kemajuan pekerjaan yang telah dicapai oleh subkontraktor/pemasok serta permasalahan-permasalahan yang timbul di lapangan. Dalam pelaksanaan ini KSM akan dibantu oleh TFL yang secara periodik ditentukan jadwal pertemuan pelaksanaan yang akan membahas kemajuan-kemajuan pekerjaan dan penyelesaian permasalahan yang timbul di lapangan. Setiap kontrak yang selesai dilaksanakan oleh subkontraktor akan diperiksa oleh KSM terlebih dahulu dan dibantu oleh konsultan. Dalam pelaksanaannya KSM akan melakukan pengawasan terhadap kinerja subkontraktor dengan dibantu oleh Tim Fasilitator Masyarakat. disertai rasa tanggung jawab untuk mencapai sasaran kelancaran dan ketetapan tercapainya tujuan dalam pelaksanaan pengadaan barang 2. Setiap kontrak yang selesai dilakukan oleh KSM akan dievaluasi oleh Tim penerima barang/jasa yang dibentuk oleh Dinas PU Kabupaten/Kota. maka Kegiatan dapat mengundang tenaga ahli Konsultan Kabupaten/Kota untuk melaksanakan evaluasi atau pengecekan tersebut. KSM juga dapat secara langsung melakukan teguran-teguran di lapangan baik lisan maupun tertulis kepada subkontraktor terhadap kualitas pekerjaan maupun kemampuan tukang yang tidak memadai. Hal itu didasarkan pada pengamatan dan pengalaman sendiri secara gotong-royong dengan memanfaatkan tukang dan pekerja khusus yang ada di kampung atau dari kampung sekitarnya. terutama yang berkaitan dengan kemungkinan adanya perubahan atau revisi pekerjaan yang menyangkut teknis maupun keuangan. Dalam melakukan pengawasan.

Materi Pelatihan yang diberikan antara lain: 1.5. Tidak menerima. Menghindari dan mencegah terjadinya pemborosan dalam pelaksanaan pekerjaan ini 5. misalnya: sebagai Ketua.5.) 4. Perempuan dapat berperan sesuai kapasitasnya sebagai tenaga terampil dalam pelaksanaan konstruksi (sesuai jabatan di KSM. tidak menawarkan dan atau tidak menjanjikan untuk memberi atau menerima hadiah/imbalan berupa apapun kepada siapa saja yang diketahui patut diduga berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan ini 4. baik langsung maupun tidak langsung 7. atau pihak lain yang secara langsung atau tidak langsung merugikan Negara 6. golongan. Dalam pelaksanaan kegiatan kegiatan. 52 . Laki-laki dan perempuan memperoleh hak yang sama untuk mendapatkan pelatihan ini. Sistem pelatihan dapat dilakukan di kelas atau langsung di lapangan agar lebih mudah dimengerti oleh masyarakat (on the job training). Pelatihan Pelatihan pada tahap pelaksanaan diperlukan sesuai dengan kebutuhan KSM dan masyarakat. Konsultan atau pihak lain yang ditentukan kemudian. Gender 1. Menghindari dan mencegah penyalahgunaan wewenang dan atau melakukan kegiatan bersama dengan tujuan keuntungan pribadi.4 Pelaksanaan Kegiatan Pemberdayaan Untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam melaksanakan kegiatan kegiatan dapat dilakukan dengan cara melakukan pelatihan yang dilakukan oleh TFL masyarakat. Menerima dan bertanggung jawab atas segala keputusan dalam rapat lapangan sesuai kesepakatan dengan pihak terkait 4. Menghindari dan mencegah pertentangan dengan pihak terkait. baik laki-laki maupun perempuan dapat terlibat aktif selama pembangunan sarana sanitasi (pelaksanaan konstruksi) 2. Perempuan dapat melakukan monitoring pada saat pekerjaan konstruksi 4. 2. Menghindari dan mencegah terjadinya pemborosan dalam pelaksanaan pekerjaan ini 8. Cara membaca gambar teknis 2.pelaksanaan 3. Administrasi dan keuangan Salah satu cara pelatihan di lapangan adalah bersama-sama dengan tukang yang terampil membangun jamban lengkap dengan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) atau memasang pipa (riol) dari rumah ke IPAL. Tata cara pengawasan pekerjaan (quality control) dan cara menghitung kemajuan kegiatan (progress fisik) 4.5 Pelaksanaan Konstruksi Pelaksanaan konstruksi dilaksanakan setelah pencairan dana Tahap I dan pelatihan-pelatihan bagi KSM dan Masyarakat yang ada hubungannya dengan konstruksi selesai dilaksanakan. bendahara dsb. 1. sehingga mampu dan terampil melakukan kegiatan sesuai dengan kebutuhan yang tertuang dalam RKM. Pelatih untuk KSM dapat berasal dari Dinas PU. Konsultan Kabupaten/Kota ataupun Pihak ketiga. Perempuan dapat menyediakan konsumsi sehingga pelaksanaan pekerjaan konstruksi dapat berjalan lancar 5. Pengetahuan tentang spesifikasi teknis dan batasan-batasannya 3. Usaha lain untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dapat dilakukan dengan cara pendampingan secara terus-menerus oleh TFL selama proses pelaksanaan kegiatan. Perempuan dapat terlibat dalam pelaksanaan konstruksi sebagai tenaga terampil ataupun kurang terampil 3.

administrasi keuangan. Pekerjaan Perencanaan sarana Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) dan Rencana Konstruksi diperlihatkan kepada calon masyarakat pengguna 4. Pembuatan papan informasi harus dimusyawarahkan dengan masyarakat/warga kampung agar secara bersama-sama menetapkan pembiayaan.2 Lokasi Papan Informasi Papan informasi dipasang di tempat yang strategis dan mudah diakses oleh masyarakat. lokasi pemasangan. Mempermudah masyarakat untuk turut mengawasi secara langsung pelaksanaan kegiatan fisik dan penggunaan dana kegiatan 4. periode pembayaran.menerus melakukan monitoring kemajuan pembangunan selama pelaksanaan pekerjaan.5. Masyarakat ikut melakukan gotong-royong sesuai jadwal Pelaksanaan Konstruksi oleh masyarakat mempergunakan organisasi dan sumber daya yang telah disusun dalam rembug kampung. rancangannya harus dibuat menarik. kampung maupun lokasi kegiatan. sedang dan akan dilakukan. Papan informasi tersebut dipasang di tempat strategis agar mudah terlihat dan dibaca oleh seluruh lapisan masyarakat baik di kecamatan. Pekerjaan konstruksi dilakukan oleh tukang yang dipekerjakan oleh KSM. TFL masyarakat mendampingi. mandor dan masyarakat pengguna sarana yang berminat 2. Pelaksanaan Konstruksi secara garis besar adalah: 1. sedangkan supervisi dilakukan oleh KSM bersama-sama dengan TFL dan Dinas PU kabupaten/Kota 3.5. seperti pembelian material. tidak mudah rusak dan berukuran ideal agar dapat terlihat dari jarak tertentu. tukang.5 meter dan biaya yang dibutuhkan untuk pembuatan papan informasi pada prinsipnya ditanggung oleh masyarakat sendiri. KSM dan Masyarakat dengan dukungan TFL masyarakat secara terus. memberikan bimbingan teknis dan persetujuan terhadap kegiatan yang telah. 53 . perencanaan. dan langsung dapat melaksanakan pekerjaan dengan sumber pendanaan dari Rekening KSM.5. Hal ini untuk mempercepat langkah-langkah yang dapat segera diambil bila terdapat penyimpangan dari Rancangan Rinci yang ada dalam Rencana Kerja Masyarakat (RKM). Agar masyarakat mudah membaca pengumuman yang tercantum di papan informasi tersebut. Mempermudah masyarakat untuk berpartisipasi dalam seluruh tahapan pelaksanaan kegiatan dimulai dari persiapan. TFL akan memfasilitasi kepada KSM atau anggota masyarakat yang berminat mengenai cara pelaksanaan dari kegiatan percontohan untuk sarana sanitasi. Pada umumnya ukuran yang digunakan sekitar 1 x 1. kelurahan. Tujuan utama digunakan papan informasi adalah untuk: 1.Pelaksanaan konstruksi dapat dilakukan oleh masyarakat sendiri atau pihak ketiga (kontraktor/subkontraktor) bila masyarakat mengalami kesulitan secara teknik dan resiko. baik untuk jamban komunal maupun untuk jamban pribadi yang telah dipilih masyarakat. dimana penggunaannya dibukukan sesuai dengan peraturan yang ada. Mempermudah masyarakat memperoleh informasi mengenai kegiatan secara terbuka 2.5.1 Papan Informasi Papan informasi merupakan papan pemberitahuan atau pengumuman dengan ukuran tertentu yang memuat informasi mengenai kebijakan dan pelaksanaan kegiatan di lokasi tertentu. Penjelasan teknis konstruksi dilakukan kepada KSM. pembuat dan penanggung jawab dalam perawatan dan perbaikannya. 4. pelaksanaan sampai dengan pengoperasian dan pemeliharaan 3. Wakil dari KSM dan Mandor melakukan pengawasan setiap hari di lokasi 5. dsb. kualitas pekerjaan.

Jumlah dana kegiatan yang harus diterima masyarakat melalui rekening KSM 2. Penggunaan tenaga luar tersebut berbasis upah harian/mingguan/bulanan atau bisa berbasis pada borongan. Pada prinsipnya pelaksanaan kegiatan di tingkat kampung dilakukan oleh masyarakat sendiri (partisipasi masyarakat) melalui suatu wahana organisasi yang dibentuk masyarakat sendiri dan disebut KSM. Laporan perkembangan pelaksanaan kegiatan 5. Bila ada bagian pekerjaan tertentu yang tidak terdapat tenaga di kampung bersangkutan. dsb) akan ditangani oleh masyarakat sendiri secara gotong-royong. kegiatan Kesehatan Masyarakat dan sekolah. Kecamatan. Besarnya upah yang wajar tersebut ditetapkan bersama oleh KSM dan Fasilitator Lapangan. tukang pasang pipa) dipilih dari masyarakat setempat. • Melakukan pengoperasian dan pemeliharaan guna melerestarikan hasil yang dicapai oleh masyarakat Tenaga Pelaksana 1. Melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan bersama rnasyarakat dan telah dituangkan dalam RKM. • Melakukan pekerjaan administrasi kegiatan di tingkat desa. sesuai harga setempat. papan informasi harus dipasang di tempat yang banyak dikunjungi orang. Nama Kecamatan/Desa/kampung dan alamat KSM Agar informasi dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara luas. 5. maka KSM bersama Fasilitator Lapangan dapat mencari tenaga yang dibutuhkan dari tempat lain (artinya kampung lain. Fasilitator Lapangan bertugas untuk membantu KSM dalam identifikasi tenaga yang dibutuhkan dan melakukan perundingan mengenai harga yang wajar.Jenis informasi minimal yang harus tercantum dalam papan informasi antara lain: 1. 4. Sistem pencairan dana 4. Tenaga inti diberi upah (kompensasi) sesuai dengan norma yang wajar di kampung tersebut. dsb). • Melakukan Pembelanjaan dana guna pengadaan bahan & material yang diperlukan. Kabupaten. 2. 2.3 Tugas Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Tugas-tugas Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) adalah : 1. Papan informasi dilindungi kaca atau plastik untuk mengurangi kemungkinan informasi dirusak orang 5.5. seperti administrasi keuangan. pengumpulan dokumen pendukung dan pelaporan. 3.5. Papan informasi harus dipasang agak tinggi agar tidak mudah dirusak 3. Sedangkan kebutuhan tenaga lain yang sifatnya pembantu umum (seperti tenaga angkut. Laporan pertanggungjawaban pencairan dan penggunaan dana 6. dengan bantuan Fasilitator Lapangan. Informasi harus selalu diperbaharui sesuai perkembangan pelaksanaan kegiatan 4. asalkan jelas dan terbaca dengan baik 6.5. Tenaga Fasilitator Lapangan Masyarakat bertugas untuk memberikan bimbingan kepada mereka. galian. sesuai dengan Petunjuk Pelaksanaan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) dan spesifikasi teknis. Informasi yang ditempel di papan informasi dapat berupa fotokopi atau tulisan tangan.5. menetapkan personel dan/atau tukang yang ditugaskan untuk melaksanakan setiap kegiatan tersebut di atas. beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah: 1.4 54 . Tulisan agak besar. 3. Proses partisipasi masyarakat tersebut diharapkan menjadi wujud pemberdayaan dan memberi kesempatan agar masyarakat menjadi pelaku dalam menangani kegiatan yang mereka inginkan. 6. tetapi aman dari gangguan 2. pengelolaan dana. dan hal tersebut merupakan bagian dari kontribusi 4. Pelaksanaan kegiatan tersebut termasuk: • Membentuk unit pelaksana untuk kegiatan fisik pembangunan (sarana sanitasi). Jumlah kontribusi masyarakat 3. Tenaga inti pelaksana yang diperlukan dalam pelaksanaan (misalnya tukang batu. Mengatur pengadaan dan pengelolaan dana tunai. kalimat sederhana dan singkat disertai gambar berwarna agar menarik perhatian dan minat pembacanya 4. bahan lokal dan tenaga gotong-royong sesuai yang telah disepakati sebagai kontribusi masyarakat.

penyelenggaraan pelatihan dan lainnya.5 Administrasi dan Pelaporan 1.5. 4. Selain itu.5. Proses yang dijalankan dan berbagai permasalahan yang dihadapi oleh kegiatan. Evaluasi pelaksanaan kegiatan dan laporan berkala digunakan untuk mengetahui kinerja dalam hubungannya dengan tujuan dan target yang ingin dicapai dengan menggunakan indikator pencapaian hasil serta menyarankan tindakan korektif yang sesuai apabila diperlukan. Sistem Monitoring dan Evaluasi (M&E) dalam kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) juga dilakukan secara patisipatif oleh masyarakat untuk mengetahui keberlangsungan yang dicapai. Nota Pembayaran. Sistem pemantauan perkembangan pelaksanaan kegiatan memerlukan rencana kegiatan yang terstruktur dengan baik. Laporan berkala mencakup data informasi yang dibutuhkan dan dimonitor secara teratur baik secara bulanan maupun triwulan. memungkinkan manajer kegiatan dan pelaksana kegiatan bersangkutan serta lembaga penyandang dana mengetahui kinerja kegiatan dan mengenali hambatan serta kesenjangan yang ada sebagai dasar untuk pengendalian kegiatan dan melakukan tindakan korektif bila diperlukan. KSM harus rnenyebarluaskan lkatan Kontrak (jika ada) dengan subpemasok/ subkontraktor melalui papan informasi. dsb. masalah yang dihadapi dan alternatif pemecahan oleh masyarakat langsung dengan mengunakan metode MP.5. Pelaksanaan SIM dengan baik dapat menyediakan data dan informasi bagi kepentingan manajemen kegiatan.6. Pihak Kedua berkewajiban untuk melaporkan kemajuan kegiatan masyarakat setiap bulan sesuai dengan Petunjuk Pelaksanaan Operasional Tingkat Kampung berupa laporan fisik dan biaya serta ditempel pada papan informasi.6 4. Sistem pengumpulan dan pengolahan data ini merupakan dasar utama Sistem Informasi Manajemen (SIM). Unit Keuangan harus melakukan pencatatan. 55 4. terhadap pengadaan dan pelaksanaan konstruksi fisik prasarana. reqruitment staf. Fasilitator Masyarakat bertugas untuk memberikan dukungan dan bimbingan kepada KSM dalarn urusan administrasi dan pelaporan tersebut 5. 3. baik terhadap administrasi kegiatan maupun kegiatan di lapangan. serta kegiatan pengawasan yang dilakukan oleh kegiatan. Selain itu.masyarakat.1 . Selain pemantauan dilakukan melalui pencatatan dan pelaporan secara berjenjang dan sistematis.5. Faktur. Kemajuan pelaksanaan suatu program/kegiatan. Kegiatan ini juga mencakup evaluasi kinerja pelaksana dan stakeholder dalam bidang keuangan. Data tersebut dikumpulkan dan diklasifikasikan dalam formulir-formulir isian yang diolah dan dianalisis. 3. Catatan atau dokumen pendukung harus bersifat transparan 4. Keberlanjutan dari kegiatan. data dan informasi terkait lainnya dapat diperoleh melalui survei data dasar dan survei pemantuan serta evaluasi dampak dan studistudi lainnya. ketepatan waktu operasi dan realisasi. Seluruh catatan dan dokumen pendukung penggunaan dana tersebut harus tersedia pada waktu diadakan pemeriksaan oleh pihak kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) Kabupaten/Kora. monitoring kegiatan dapat juga dilakukan dengan cara supervisi untuk melakukan pengawasan langsung. penyusunan dan penyimpanan dokumen pendukung untuk pengeluaran dana. 2. 6. Dokumen pendukung tersebut diantaranya: kwitansi. Dengan informasi dan data yang sudah terkumpul. Bon. atau provinsi. teknis. Monitoring dan Evaluasi Ruang Lingkup Monitoring Monitoring merupakan kegiatan pemantauan yang dilaksanakan secara berkelanjutan dan teratur untuk mengetahui: 1. 2.

dan menyediakan informasi bagi Pemerintah maupun Bank Penyandang Dana. Konsultan) 3. Tujuan khusus dari Monitoring dan evaluasi kegiatan antara lain untuk: 1. sedangkan evaluasi dampak dilakukan oleh institusi independen pada tengah dan akhir tahun pelaksanaan kegiatan.5. Pengelola kegiatan (Pusat. Pihak Ketiga yang ditunjuk khusus untuk melakukan monitoring dan evaluasi. pengendalian. Dalam rangka mempermudah pelaksana kegiatan mengikuti dan mengetahui perkembangan pelaksanaan kegiatan kegiatan secara keseluruhan. Selain itu evaluasi dilakukan oleh masyarakat secara partisipatif (Community Self Evaluation) dengan menggunakan metode MPA.3 Pelaksanaan Monitoring Monitoring dan evaluasi dilaksanakan oleh pelaksana di semua tingkat administrasi dimulai dari masyarakat penerima manfaat kegiatan. Tujuan umum pemantauan dan evaluasi kegiatan kegiatan adalah untuk pengawasan. kinerja kegiatan dan pengambilan keputusan. 3. 2. evaluasi dan Sistem informasi Manajemen (SIM) Kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) dilaksanakan melalui 3 (tiga) tahap.4 .5. kegiatan monitoring dilakukan juga melalui supervisi yang pada umumnya menghasilkan tambahan data dan informasi yang tidak terlaporkan melalui sistem pelaporan. Memantau kemajuan pelaksanaan kegiatan. masyarakat yang menerima manfaat kegiatan. dampak kegiatan. tentang seluruh kinerja dan dampak akhir dari kegiatan serta merumuskan pelajaran-pelajaran yang dapat ditarik dari pengalaman kegiatan.6.2 Mekanisme Monitoring dan Evaluasi Monitoring. serta Tim Koordinator Propinsi/Kabupaten/Kota. Tujuan dilaksanakannya evaluasi oleh masyarakat. Memantau kinerja pelaksana dan institusi pelaksana kegiatan dalam menjamin keberhasilan kegiatan. 56 4.6. TPP. efektivitas dan manfaat serta kesinambungan kegiatan kegiatan. Memantau proses pelaksanaan. Pemda Kabupaten/Kota. TKK. pelaksanaan dan kemajuan kegiatan.Laporan tengah dan akhir kegiatan biasanya disiapkan oleh pelaksana kegiatan setelah mid-term dan final evaluation menjelang tengah dan akhir pelaksanaan kegiatan. TKP. TKKc. Dalam pelaksanaan kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Evaluasi pelaksanaan kegiatan secara berkala dapat dilakukan oleh pelaksana kegiatan atau Executing Agency. Selain itu monitoring & evaluasi bertujuan untuk mengukur efisiensi. pengolahan data (proses). agar: a) masyarakat dapat mengetahui keberhasilan yang dicapai dan permasalahan yang dihadapi.5. evaluasi dilakukan oleh Dinas PU Kabupaten/ Kota. Pelaksana di setiap tahap adalah: 1. 4. Laporan ini merupakan dasar bagi Penilaian Akhir Kegiatan. 4. 4. 2. Tujuannya adalah menilai pencapaian hasil kegiatan dan keseluruhan keberhasilan. SNVT Provinsi. Evaluasi Evaluasi merupakan kegiatan membandingkan tahap pelaksanaan suatu kegiatan atau hasil yang dicapai pada tiap tahap pelaksanaan kegiatan dengan suatu pembanding tertentu seperti rencana kegiatan atau sasaran pencapaian yang telah ditetapkan.6. selain data dan informasi yang dikumpulkan dan dilaporkan melalui sistem monitoring. yaitu pengumpulan data (input). evaluasi dan sistem informasi manajemen. dan pelaporan (output) di masing-masing tingkat administrasi. Mengevaluasi dampak untuk menentukan apakah kegiatan atau intervensi yang dilakukan telah mencapai tujuan yang telah ditetapkan bagi penerima manfaat dan stakeholder lainnya.

57 . 3) begitu konstruksi selesai 4) 1 tahun setelah konstruksi selesai. dan dengan pihak lain yang secara langsung maupun tidak langsung terlibat dalam pelaksanaan kegiatan. Materi yang digunakan sebagai alat evaluasi adalah field book yang akan dilaksanakan oleh KSM didampingi TFL masyarakat di bawah supervisi. SNVT Provinsi. pada tahap: 1) baseline data (analisa awal). 2) setelah penyusunan RKM (namun belum disetujui). tindakan. secara berkala sedangkan evaluasi dampak dilakukan pada tengah dan tahap akhir kegiatan oleh institusi independen untuk mengetahui hasil dan dampak pelaksanaan kegiatan yang dicapai secara keseluruhan terhadap masyarakat penerima manfaat. perempuan atau pemuda untuk menumbuhkan rasa memiliki terhadap sarana yang dibangun. khususnya kelompok tertentu seperti keluarga miskin (berpenghasilan rendah). pelayanan. c) sebagai alat untuk masyarakat penerima manfaat berpatisipasi aktif dalam mengawasi jalannya pelaksanaan kegiatan dan d) membudayakan masyarakat Kampung.b) sebagai alat komunikasi baik secara vertikal maupun horizontal diantara staf kegiatan pada semua tingkatan dan lokasi. Evaluasi kegiatan dapat dilakukan oleh Dinas PU Kabupaten/Kota. dan fasilitas lain yang disediakan kegiatan.

58 .

Penyuluhan Kesehatan • Melakukan kampanye tentang kesehatan rumah tangga dan lingkungan. maka diperlukan organisasi untuk mengelola sarana sanitasi setelah masa pelaksanaan konstruksi. serta siapa petugas yang melakukan pemeriksaan dan perbaikan kalau terjadi kerusakan dan menentukan besarnya biaya operasi rutin seperti honor petugas. Tugas-tugas pokok pascakonstruksi adalah : 1. yang disusun dan diputuskan bersama-sama secara musyawarah antar anggota badan pengelola dengan masyarakat agar semua pihak dapat mengetahui dan mematuhinya. Badan pengelola ini berfungsi setelah adanya keputusan dari pemerintah kampung dan kelurahan (yang ditanda tangani oleh Kepala Kampung/Lurah).BAB V OPERASI DAN PEMELIHARAAN Agar pelaksanaan operasional dan pemeliharaan dapat berjalan lancar. membuat perencanaan belanja. waktu pembayaran iuran. Setiap pengguna wajib untuk memelihara sarana dan prasarana yang ada. dll. yang mengatur siapa penerima manfaat. biaya listrik. Badan pengelola juga harus memiliki aturan-aturan organisasi dan operasional prasarana dan sarana. Badan pengelola harus mempunyai aturan sesuai dengan kondisi setempat. besarnya iuran yang harus dibayar. sehingga masih diperlukan pelatihan lanjutan untuk memperkuat kapasitas dan meningkatkan jaringan kerja bagi Badan Pengelola. Pada tahap ini berfungsinya Badan Pengelola untuk operasional dan pemeliharaan berperan penting untuk keberlanjutan kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Peningkatan kapasitas Badan Pengelola tetap dibutuhkan untuk keberlanjutan proyek sanitasi berbasis masyarakat. membukukan dan melaporkan secara rutin. Jika terjadi pelanggaran dapat ditindak. Pengoperasian & Pemeliharaan • Mengoperasikan dan memelihara sarana fisik Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) • Mengontrol semua saluran pemipaan secara rutin • Mengembangkan mutu pelayanan & jumlah sarana pengguna 3. 59 . Badan Pengelola sebaiknya berasal dari Kelompok Pemanfaat. 2. Iuran Pengguna : • Membicarakan tentang besarnya iuran pemanfaatan sarana • Mengumpulkan iuran.

Pengelola prasarana dan sarana perlu memperhatikan beberapa hal: • Kinerja prasarana yang dikelola • Jumlah prasarana dan sarana yang tersedia • Jumlah prasarana dan sarana yang digunakan • Target/sasaran perencanaan • Standar prosedur operasional dan pemeliharaan • Standar kriteria teknis prasarana dan sarana • Rencana pengembangan sarana di masa datang Untuk mencapai keberhasilan pengelolaan.1.1 60 .1. dan memelihara prasarana dan sarana yang ada. dan pedoman pemeliharaan. Badan Pengelola harus melakukan langkah-langkah berikut: • Melakukan pemantauan rutin untuk mengetahui kondisi prasarana dan sarana • Mengetahui kerusakan sedini mungkin agar dapat disusun rencana perawatan dan pemeliharaan yang baik • Melakukan rehabilitasi tepat waktu • Melakukan evaluasi kinerja pelayanan secara berkala • Melakukan pengelolaan sesuai standar operasional prosedur 5.1 Aspek Operasi dan Pemeliharaan Pelestarian prasarana dan sarana Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) sangat bergantung pada kemauan dan kemampuan masyarakat dalam mengoperasikan.1. Dalam pelaksanaan pelestarian prasarana & sarana. 5. Secara umum aspek yang perlu diperhatikan dalam pelestarian adalah pengelolaan prasarana dan sarana. penyuluhan.Ketua Pelindung Sekretaris & Bendahara Seksi Iuran Pengguna Seksi O&P Seksi Kesehatan Gambar 5.2 Penyuluhan Dari hal-hal di atas. Melalui kegiatan O&P diharapkan dapat mencapai umur teknis prasarana dan sarana sesuai dengan target dan standar perencanaan. Pengelolaan Pengelolaan pada dasarnya merupakan aspek dan sendi utama pelestarian hasil fisik terbangun. memanfaatkan. diharapkan pemerintah kabupaten/kota dapat berperan aktif memberikan dukungan teknis kepada masyarakat (penyuluhan) agar mereka mampu mengoperasikan dan memanfaatkan prasarana dan sarana yang ada. Bagan Struktur Organisasi Badan Pengelola Pasca Konstruksi 5. kelompok pengguna diharapkan mampu menindaklanjuti pengoperasian dan pemeliharaan (O&P) secara tepat.

Dalam upaya mencapai keberhasilan pengelolaan perlu didukung organisasi yang handal. SPBU (Pom Bensin).1. Komponen yang perlu dipertimbangkan dalam menghitung biaya pengoperasian dan pemeliharaan meliputi: 1. lama periode kepengurusan dan mekanisme pemilihannya. Pedoman ini disusun oleh pengurus bersama Kelompok pemanfaat. 3. dan melakukan inventarisasi kerusakan serta usulan perbaikannya. listrik. 2.4 Pendanaan Sumber dana berasal dari masyarakat. dll) 4. dimusyawarahkan bersama dalam forum musyawarah desa. Kemampuan untuk menyusun rencana kegiatan operasi dan pemeliharaan (O&P) serta pelaksanaannya. 2. Mampu melakukan hubungan kerja dengan lembaga lain di luar Badan Pengelola. toilet/kakus umum. dsb. Biaya penggantian komponen yang rusak sesuai dengan sistem sarana yang dibangun. seperti: 1. terminal. Selain itu dalam upaya melestarikan prasarana terbangun perlu adanya dukungan kemampuan teknis. misalnya Mandi Cuci Kakus (MCK) di pasar. yang akan menjadi acuan dalam melakukan kegiatannya. dapat disusun mekanisme pendanaan pengelolaannya. Badan Pengelola perlu mengenal tipe dan jenis prasarana. juga diperlukan aturan untuk organisasi Badan pengelola itu sendiri. Kemampuan menyusun rencana operasional dan pemeliharaan. 3. misalnya toilet/kakus di sekolah. yang di dalamnya mengatur hak dan kewajiban anggota serta pengurusnya. kemampuan dan budaya yang ada di daerahnya masing-masing. dll. Biaya Operasional (solar. yang dimanfaatkan oleh orang banyak dapat dilakukan melalui pengenaan tarif kepada 61 . dan setelah dicapai mufakat disahkan oleh Kepala Lurah. 2. Mampu menerapkan sanksi organisasi bagi anggota yang melanggar peraturan. Prasarana dan Sarana Kelompok Adalah prasarana terbangun yang dimanfaatkan oleh kelompok anggota masyarakat tertentu. Sesuai dengan tipe dan jenis prasarana dan sarana.1. Kemampuan untuk mempelajari prinsip dasar cara kerja prasarana terbangun. 4. Setiap Kampung dapat mengembangkan pedoman kerjanya sendiri. stasiun kereta api. Pendanaan untuk prasarana dan sarana kelompok dapat dilakukan dengan mekanisme penarikan pembayaran atas penggunaan/pemanfaatan prasarana dan sarana atau iuran bersama masyarakat. berupa iuran yang dihitung berdasarkan kesepakatan bersama akan kebutuhan operasional dan pemeliharaan serta rencana pengembangan sarana di masa datang. Honorarium pengelola. sesuai dengan kondisi. Pendanaan diperuntukkan bagi operasional dan pemeliharaan ditambah honorarium pengelola untuk melakukan operasional dan pemeliharaan serta orang yang bertugas untuk melakukan perbaikan jika terjadi kerusakan. Biaya perbaikan sarana.3 Pedoman Badan pengelola perlu menyusun pedoman. dan sebagainya. Selain pedoman untuk operasional kegiatan. 5. 5. dimana organisasi tersebut harus: 1. 3. musyawarah berkala untuk pertanggung-jawaban pengurus. Mampu mengorganisasikan anggotanya untuk mendukung program kerja yang telah dibuat. Sedangkan pendanaan untuk prasarana umum. prasarana dan sarana dapat dikategorikan sebagai berikut: 1.5. Berdasarkan pengguna/pemanfaatnya. Dapat menjamin kepentingan pemanfaat dan mencarikan alternatif pemecahan permasalahan yang dihadapi. 2. MCK di kawasan kelompok beberapa kepala keluarga (KK). Depresiasi alat/sarana Terkait dengan pendanaan prasarana dan sarana terbangun. Prasarana Umum Adalah prasarana terbangun yang dimanfaatkan oleh banyak orang (publik) tanpa pembatasan.

Listrik 250 Watt (Pompa air dan lampu) 3. lampu.Rp /Bulan 200. 3000. Secara rinci mengenai Operasi dan Pemeliharaan mengacu pada Petunjuk Pelaksanaan kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) di tingkat masyarakat. 750..500.1. Pada dasarnya yang membiayai Badan Pengelola adalah warga pemanfaat prasarana berlandaskan gotongroyong dan kesadaran bahwa pemeliharaan. kran.500 Rp.000. Bentuk pembinaan dan bantuan yang diberikan dapat berupa bantuan teknis dan/atau bantuan pendanaan. Mencuci & ambil air * 1 KK = 5 ORANG 62 .Rp. Biaya Pengoperasian dan Pemeliharaan Sistem MCK untuk 250 Jiwa Kebutuhan Keterangan 1. Operator & Penjaga Pekerjaan yang tidak tetap 2. 750.Rp. Pengurus Badan Pengelola dapat mencari sumber dana dari Ormas.- 3. Peralatan Pembersih Sabun dan pembersih lantai.350.9./ Tahun 6.s/d Rp. Bantuan Pemerintah Pemerintah Daerah dapat memberikan bantuan kepada Badan Pengelola yang bersumber dari APBD yang sudah dituangkan dalam peraturan kampung. 2000.000.000. dan pengembangan prasarana adalah tugas bersama. 2.. 250.. Namun hal ini tidak menutup kemungkinan pengurus Badan Pengelola untuk mencari sumber dana di luar iuran warga pemanfaat. Bantuan dari pihak lain yang tidak mengikat. cat dinding. diantaranya adalah: 1. 100. 5.000. / Pakai Rata2 per KK/hari Rp.100. dimana hal ini disesuaikan dengan kemampuan Daerah masing-masing. Orsospol. perbaikan.400 150 .2 Dukungan Pemerintah Kabupaten/Kota Sesuai dengan definisi pelestarian sebelumnya.s/d Rp.pengguna.000.3 Air Limbah Komunal Berbasis Masyarakat a. Perbaikan Pompa Rp.20.1. Perusahaan Swasta atau Yayasan selama bantuan ini tidak bersifat mengikat 3.-/ 2 tahun 4.20. SISTEM MCK Tabel 5.000. Kamar Mandi WC/Jamban 150 – 600 150 . Usaha lain yang sesuai dengan peraturan yang ada. BIAYA PEMAKAIAN Fasilitas 1. Pemerintah Daerah sebagai pembina atau fasilitator kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) diharapkan dapat meneruskan bantuannya pada tahap pelestarian. 750.000. dll 5. LSM. 5. Pengurasan IPAL Rp. dll Total biaya pengoperasian dan pemeliharaan II.. 2.000.000.s/d 2. Lain-lain Serok.

WC maupun tempat cuci Petunjuk Pelaksanaan Bagi Pengelola MCK/Operator 2 kali per hari gunakan pel untuk membersihkan teras luar (gunakan bahan pembersih jika sangat kotor saja) Setiap hari bersihkan gayung dengan sikat atau sabut Setiap hari bersihkan saringan di lantai KM/WC dari kotoran padat/sampah Setiap hari buang sampah dalam KM/WC dan bersihkan tempat sampah 63 .Petunjuk Pelaksanaaan Bagi Pengguna Mck Jangan memasukkan benda padat karena akan menyumbat saluran Buang sampah di tempat sampah yang disediakan Hindari air sabun dari air mandi maupun cuci masuk ke dalam kloset Jangan membuang bahan kimia karena akan mematikan bakteri Gunakan sabun cuci sehemat mungkin Jangan corat-coret di dinding kamar mandi.

Setiap hari kuras bak dengan sikat (gunakan bahan pembersih jika sangat kotor saja) Setiap hari bersihkan/sapu taman 1 kali per minggu rapikan taman (tanaman dan rumput) 1 kali per minggu kuras dan bersihkan tangki/tandon air dari lumut dan kotoran lain 1 kali per bulan bersihkan langit-langit KM/WC dari sarang laba-laba 1 kali per minggu periksa bak kontrol. dilanjutkan ke bak-bak berikutnya Ambil kotoran tepat di bawah manhole Gunakan alat T untuk mengumpulkan kotoran tepat di bawah manhole Keluarkan semua kotoran yang terkumpul sampai tidak ada yang tersisa 64 . jika terdapat kotoran padat/sampah. keluarkan kemudian buang ke tempat sampah 1 kali per 6 bulan buang kotoran padat dan kotoran yang mengapung tepat di bawah manhole Mulai dari bak inlet.

COD. Minta pemeriksaan untuk: pH. TSS. lemak Petunjuk Pelaksanaan Pengurasan IPAL MCK 1 kali per 2 tahun. masing-masing 2 liter dalam botol terpisah Bawa 2 botol sample ke laboratorium yang dirujuk. sedot mulai dari bak pertama Lumpur yang disedot adalah lumpur yang berwarna hitam Hentikan pengurasan jika lumpur sudah berwarna coklat 65 . Test Kualitas Air Limbah Telpon dinas terkait Ambil 2 sample air limbah dari bak inlet dan bak outlet.Mintalah tukang untuk memperbaiki semua kebocoran secepat mungkin dan lihat sebabnya 1 kali per 6 bulan. BOD5. pengurasan dengan truk tinja Telpon perusahaan jasa pengurasan tinja Buka semua tutup manhole pada IPAL Angkat kotoran mengapung dan buang ke tempat sampah Masukkan pipa sedot dari truk tinja sampai ke dasar bak.

Jamban Biaya pengoperasian dan perawatan menjadi tanggung jawab setiap pengguna (KK) II./ Inspeksi 2. 25.000. IPAL.00 3.94 Dibulatkan 2.952.10.000.000.000.2.00 Asumsi: perbaikan pipa 40 m' setiap 2 tahun Total Biaya Pengoperasian dan Pemeliharaan 155. Operator Inspeksi 4x/bulan di IPAL./Bulan I.. Pipa Utama dan IPAL 1.000.500.500.00 Sekunder @ Rp. Lain-lain: Perbaikan pipa. baik untuk sistem pengolahan dan menghemat 66 Buanglah hanya limbah cair dari kamar mandi dan dapur dan beri saringan untuk memisahkan limbah padat .00 Petunjuk Pelaksanaan Bagi Pengguna Sistem Komunal IPAL akan berfungsi dengan baik jika Anda memasukkan limbah yang benar. Pengurasan setiap 2 tahun Rp. bak kontrol. 250. Pipa Utama.b. lemaknya dapat menyumbat pipa Jangan membuang bahan kimia ke saluran karena akan mematikan bakteri di IPAL Jangan menanam pohon di dekat saluran perpipaan dan IPAL karena bisa merusak pipa Gunakan secukupnya sabun cuci dan pembersih. SISTEM KOMUNAL Tabel 5. Pipa 100.00 Biaya Pengoperasian dan Pemeliharaan /KK/Bulan 1. Sambungan dari Rumah III. Jangan membuang minyak bekas ke saluran pembuangan dapur karena ketika mengering. 45. Biaya Pengoperasian dan Pemeliharaan Sistem Komunal untuk 750 Jiwa Biaya Pengoperasian dan Pemeliharaan Rp. IPAL bukan tempat pembuangan semua jenis sampah! Jangan memasukkan limbah padat ke jamban karena akan menyumbat saluran.

mungkin pipa tersumbat. segera perbaiki jika ada kerusakan pipa Sogok dari bak kontrol ke bak kontrol lain 67 . pasir/lumpur. Hentikan kegiatan di rumah. mungkin pipa tersumbat atau rusak Hentikan kegiatan di rumah Buka pemipaan. minta tukang untuk memperbaiki kerusakan Jika ada luapan air dari bak kontrol. kumpulkan dalam tas plastik Bawa ke tempat pembuangan sampah Bawa ke tempat pembuangan sampah Petunjuk Pelaksanaaan Bagi Operator Sistem Komunal Lakukan 1 Kali per minggu Periksa setiap bak kontrol pada sistem perpipaan Buang limbah padat dan kotoran mengapung Jika tidak ada aliran air dalam bak kontrol.Ambil kotoran mengapung dari bak penangkap lemak setiap 3 hari sekali Periksa bak kontrol di rumah setiap 3 hari sekali Buang limbah padat. dengan sekop/serok.

Minta tukang untuk memperbaiki kerusakan secepatnya Buang limbah padat dan kotoran mengapung dari bak inlet dengan sekop Kumpulkan semua kotoran. 1 kali per 2 minggu: buang kotoran padat dan kotoran yang mengapung tepat di bawah manhole Mulai dari bak inlet. Semua tutup bak kontrol dan manhole IPAL harus bisa Buang ke tempat sampah dibuka untuk mempermudah pengoperasian dan pemeliharaan. dilanjutkan ke bak-bak berikutnya Ambil kotoran tepat di bawah manhole Gunakan alat T untuk mengumpulkan kotoran tepat di bawah manhole Keluarkan semua kotoran yang terkumpul sampai tidak ada yang tersisa 68 . masukkan dalam tas plastik.

Pemeliharaan gerobak/becak sampah 1. Gerobak/becak dijaga agar tidak berlubang sehingga tidak ada sampah yang tercecer c. Setelah digunakan. pengurasan dengan truk tinja Telpon perusahaan jasa pengurasan tinja Buka semua tutup manhole pada IPAL Angkat kotoran mengapung dan buang ke tempat sampah Masukkan pipa sedot dari truk tinja sampai ke dasar bak. Pemeliharaan Motor Sampah 1. Setelah digunakan. Pemeliharaan Wadah/Bin 1. sedot mulai dari bak pertama Lumpur yang disedot adalah lumpur yang berwarna hitam 5. Perbaikan segera dilakukan jika ada kerusakan 4. Usahakan tidak ada sampah yang menyangkut di roda gerobak/becak sampah 3. Pemeliharaan alat pencacah sampah 1. Motor sampah dilengkapi dengan manual pengoperasian dan pemeliharaan 2.Petunjuk Pelaksanaan Pengurasan IPAL Komunal 1 kali per 2 tahun. seminggu sekali 2. Penggantian oli dilakukan secara berkala sesuai dengan spesifikasi teknis/manualnya 3. Pengelola harus mengetahui lokasi penjualan suku cadang terdekat d. Pemeliharaan motor sampah sesuai dengan manual dari fabrikan 3. Pisau pencacah dijaga ketajamannya dengan cara diasah secara berkala 69 . Alat pencacah dilengkapi dengan manual 2. Pengelola mengetahui lokasi penjualan suku cadang terdekat 4. wadah/bin sampah dibersihkan secara teratur setiap hari b.4 Sampah Pola 3R Berbasis Masyarakat Hentikan pengurasan jika lumpur sudah berwarna coklat a. gerobak/becak sampah harus dibersihkan secara berkala.

5. Lakukan pembersihan terutama dari sampah-sampah plastik yang dapat merusak poros dan propeller pompa. sesuai dengan kecepatan naiknya elevasi muka air di dalam kolam retensi dengan kapasitas pompa menurut ketentuan di dalam SOP. Pemeliharaan Hanggar 3R 1. Sebab semua petugas operasional pompa harus tetap siaga menjaga kemungkinan terjadi banjir dadakan. Geser sakelar utama pada posisi “ON”. Outlet dan Pembagi 1. Proses pemilahan kompos daur ulang sesuai dengan SOP 3. Secara berkala stasiun pompa harus dicat agar dari segi estetika indah dan nyaman untuk dijadikan sarana rekreasi bila perlu. Alat pengayak dilengkapi dengan manual b. Kebersihan hanggar harus selalu dijaga 2. Untuk sistem drainase mandiri dengan kolam tampungan di samping saluran yang bermuara di badan air/sungai i. c. ii. Pemeliharaan Stasiun Pompa 1. 4. 2. arus listrik sesuaikan dengan ketentuan atau SOP. Hidupkan mesin diesel sesuai SOP atau petunjuk kerja yang berlaku atau kontakkan handle sakelar utama apabila menggunakan PLN. 70 . supaya air limbah dari saluran tidak masuk ke dalam kolam retensi. agar tidak ada sampah yang mengganggu aliran air 5. Periksa secara rutin panel operasi jangan sampai ada kabel yang putus karena termakan usia atau oleh binatang pengerat seperti tikus dll. agar air tidak masuk ke kolam retensi. Atur aliran air dari saluran yang masuk ke dalam kolam retensi dengan pintu air terutama pada musim kering. sehingga air dari saluran drainase akan masuk dan mengisi kolam retensi. frekuensi.5 Drainase Mandiri Berwawasan Lingkungan Berbasis Masyarakat a. Perhatikan engsel-engsel pintu instalasi agar jangan sampai kering. Pemeliharaan Alat pengayak a. Apabila pengaturan air masuk ke dalam kolam retensi dengan pintu air.. Pada saat banjir datang pintu pembagi ditutup. b. Matikan pompa apabila elevasi muka air di dalam kolam retensi sudah mencapai elevasi normal sesuai dengan ketentuan di dalam SOP. Pada saat banjir di sungai telah surut. 3. Kebersihan alat pengayak selalu dijaga f. Sebaliknya pintu inlet dibuka. Penyiraman debu dilakukan secara berkala 4. 2. Selain itu pintu air inlet harus ditutup. 4. Hal ini dilakukan bersamaan dengan pengoperasian pompa. 5. Saluran drainase dijaga kebersihannya. 3. Untuk itu secara rutin petugas harus menjaga kebersihan lingkungan instalasi. maka pintu pembagi dibuka agar air di saluran drainase bisa mengalir ke sungai secara gravitasi. Pengoperasian Pintu Air Inlet. Uji Coba dan Pengoperasian Pompa 1. 7. Pastikan tegangan. Lakukan kegiatan seperti butir 3. Stasiun pompa sekalipun dibangun dengan konstruksi beton bertulang tetap harus dipelihara agar jangan terkesan angker dan kumuh.e. Sewaktu pompa tidak dioperasikan periksa kelengkapan saringan sampah di bagian depan pompa. Hidupkan pompa apabila elevasi muka air di dalam kolam retensi melebihi elevasi normal sesuai dengan ketentuan di dalam SOP. 6.

Cegah sedini mungkin penyerobotan terhadap lahan dan bantaran kolam retensi dari bangunanbangunan pemukiman liar. Bersihkan saluran inlet/outlet secara rutin. 4. e. Lakukan perbaikan secara berkala untuk bangunan air yang mengalami kerusakan. Lakukan perbaikan secara berkala untuk pintu-pintu air yang mengalami kerusakan. d. Untuk sistem drainase mandiri dengan kolam tampungan segaris dengan saluran atau berada dalam saluran. akuntabilitas publik maupun kontrol sosial tetap berjalan. Di musim kemarau pintu air inlet ditutup. outlet kolam tampungan langsung bermuara ke badan air/sungai i. Membersihkan sampah atau endapan di pintu-pintu air. Proses pengelolaan dilakukan berdasarkan hasil musyawarah masyarakat pengguna. serta mungkin dapat diolah menjadi gas bio. 2. 7. sehingga di kolam retensi tetap ada air. 3.6 Monitoring dan Evaluasi Setelah konstruksi selesai dilaksanakan diperlukan pengoperasian dan pemeliharaan yang tepat agar sarana yang dibangun dapat berfungsi dengan baik dan berkelanjutan. Hal ini dilakukan bersamaan dengan pengoperasian pompa. Operasi dan pemeliharaan dilakukan oleh operator yang ditunjuk oleh KSM sesuai dengan petunjuk operasional (SOP). Angkat saringan sampah secara berkala bersihkan dan cat kembali. maka pintu outlet dibuka agar air di kolam retensi bisa mengalir ke sungai secara gravitasi. 2. Atau kolam retensi dilengkapi dengan saluran gendong biasanya saluran tersebut tepi kanan dan kirinya dilapisi dengan pasangan batu kali. 1. 3. 8. Pemeliharaan Pintu Air Inlet. Pada tahap ini masyarakat memperoleh fasilitasi baik dari aparat. transparansi. Tembok pasangan batu yang rusak segera diperbaiki. untuk ini harus secara rutin dilakukan inspeksi terutama pada stalling basin pintu inlet. iii. Pengelolaan tersebut dapat menggunakan kelembagaan masyarakat yang sudah ada ataupun dengan membentuk kelembagaan baru sesuai dengan kebutuhan. Bersihkan kolam retensi yang ditumbuhi gulma seperti eceng gondok. Secara berkala keruk sedimen yang terlanjur masuk ke kolam retensi agar fungsi daya tampung kolam retensi tidak menyusut. Pada saat banjir di sungai telah surut. ii. 4. Outlet dan Pembagi 1. Melumasi pintu-pintu air. agar muka air di kolam retensi dalam keadaan normal. Mekanisme pengelolaan pada tahap pemanfaatan dilakukan sebagaimana proses pelaksanaan kegiatan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) dimana proses musyawarah.iii. 5. tenaga pendamping maupun pihak-pihak lain yang berkompeten. Bila perlu ajak pihak swasta untuk memanfaatkan eceng gondok menjadi komoditi yang berguna seperti pembuatan tas. Pada saat banjir datang pintu outlet ditutup. 6. sesekali dibuka hanya untuk memasukkan air ke kolam retensi. 2. 71 . Pemeliharaan Kolam Tampungan/Kolam Retensi/Kolam Tandon 1. 2. Sarana yang sudah dibangun dikelola oleh KSM. Di musim kemarau pintu outlet dibuka secukupnya. Pengecatan pintu-pintu air. Pembersihan sampah-sampah yang menyangkut di saringan sampah secara rutin. air dari saluran drainase akan masuk dan mengisi kolam retensi. 5.

72 .

2. Biaya operasi dan pemeliharaan yang ditanggung oleh masyarakat. 3.1 Sumber Pembiayaan Pembiayaan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) ini berasal dari berbagai sumber. Pemberdayaan. Swadaya Masyarakat berupa dana tunai (on cash) serta kontribusi dalam bentuk barang (in kind) berupa lahan. yang terdiri dari: Persiapan.3 73 . tukang dan operator dari dana APBD. Pengoperasian dan Pemeliharaan. Seleksi. b. Konstruksi. Biaya Konstruksi dibiayai oleh: a. Pendampingan. Pemerintah Kabupaten/Kota (DAK dan APBD). Gambar 6. biaya pelatihan bendahara. Biaya sosialisasi DAK. material dan lain-lain. 6.1. Monitoring dan Evaluasi dapat dilihat pada tabel 6. pelatihan TFL dan pelatihan Ketua KSM serta mandor dibiayai dari dana APBN. dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. c.2 Rencana Pembiayaan Untuk setiap lokasi kegiatan. rencana pembiayaan diperlukan kontribusi dari masing-masing sumber. yaitu: Pemerintah Pusat (APBN). Penyusunan RKM. Dana pihak swasta yang dapat dikumpulkan melalui berbagai upaya lain yang saling menguntungkan. Pembiayaan per Komponen Kegiatan Pembiayaan per komponen kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM). Pemerintah Daerah (DAK dan APBD) untuk biaya material dan upah. Biaya pemberdayaan masyarakat termasuk gaji TFL.1 Bagan Sumber Pembiayaan 6. 4. tenaga kerja.BAB VI PEMBIAYAAN 6. swadaya masyarakat dan swasta/donor.

Tabel 6.1 Pembiayaan per Komponen Kegiatan No. I Komponen Kegiatan Persiapan Sosialisasi Kab/Kota Workshop Regional Pelatihan TFL Seleksi Kampung Daftar Panjang (Long List) Daftar Pendek (Short List) Sosialisasi Kajian Cepat Partisipatif (Rapid Participatory Assessment) Penyusunan RKM Penentuan pengguna Pilihan Teknologi DED + RAB Kelompok Swadaya Masyarakat Rencana Kerja Masyarakat Dokumentasi dan legalisasi RKM Pemberdayaan Masyarakat Pelatihan Ketua KSM Pelatihan Bendahara KSM Pelatihan Mandor Pelatihan Pengelola Kampanye kesehatan Konstruksi Material Upah pekerja Lahan Pendampingan: TFL Masyarakat (Sosial) TFL Pemda (Teknis) Pengoperasian & Pemeliharaan Monitoring & Evaluasi APBN √ √ √ DAK APBD Masyarakat II √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ III IV √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ V VI VII VIII √ √ √ 74 .

Sedangkan pengawasan berkala dilakukan setahun 1-3 kali oleh Pemerintah Pusat bersama dengan Pemerintah Daerah. 6. DAK dan APBD 1. Dana masyarakat dikumpulkan berdasarkan kesepakatan hasil musyawarah masyarakat calon pengguna/penerima manfaat program dalam bentuk iuran pembangunan setiap minggu atau setiap bulan. 6. Dana DAK dan APBD berupa bantuan (langsung) ke masyarakat diwujudkan dalam bentuk tunai yang ditransfer langsung ke rekening KSM. KSM membuat laporan kegiatan harian yang berisi kemajuan pelaksanaan pembangunan dan keuangan. Pengawasan Pengawasan dilakukan secara berjenjang dan bersama-sama antara masyarakat. 6. Pemerintah Daerah dan Pemerintah Pusat.5 6. 2. Pengelolaan Dana dan Pengawasan Pengelolaan Dana Pengelolaan dana sepenuhnya dilakukan oleh KSM sesuai dengan perencanaan yang disusun.6 75 .1.1 6. Pelaporan 1. Jika ada dana pemberdayaan maka disalurkan langsung ke rekening bersama KSM. KSM dan mandor. Laporan yang bersifat administrasi proyek dilakukan oleh masing-masing Instansi (Penanggung jawab kegiatan) yang mengikuti aturan pelaporan berjenjang berupa laporan bulanan. Penyaluran Dana APBN 1. 3. 2.2. 2. 3. Pada tahap pembangunan pengawasan dilakukan oleh masyarakat dibantu oleh Pemerintah Daerah. KSM melaporkan kondisi fisik prasarana.5. Dana swasta/donor adalah dalam bentuk hibah sebagai bentuk kontribusi swasta dalam kegiatan perbaikan sanitasi masyarakat 2. Swasta/Donor 1.6. Pengumpulan dana masyarakat dilakukan oleh panitia/KSM yang dibentuk dimulai dari sejak terpilihnya sarana teknologi sanitasi. 3. Dana dari masyarakat dalam bentuk tunai dimasukkan ke rekening bersama atas nama 3 (tiga) orang yaitu: ketua KSM. disampaikan setiap minggu kepada masyarakat.5.2. tiga bulanan dan tahunan.4. Pencairan dana dilakukan sesuai peraturan yang berlaku di masing-masing perusahaan/lembaga atau institusi yang bersangkutan setelah ada rencana kerja masyarakat/RKM.4 6.4. Penyaluran dana APBN dilakukan melalui Satker Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman Kementerian Pekerjaan Umum di Provinsi yang digunakan untuk melakukan pelatihan TFL. wakil Dinas Penanggung Jawab Pemerintah Kabupaten/Kota dan fasilitator.4. Penyaluran dana DAK dan APBD dilakukan melalui Satker Perangkat Daerah sesuai dengan tata cara penyaluran dan pencairan dana yang berlaku setelah ada rencana kerja masyarakat/RKM. 3. Dana dari Swasta/Donor diwujudkan dalam bentuk tunai yang ditransfer langsung ke rekening bersama KSM.3 6. Masyarakat 1.4.4 6. serta hasil pemeriksaan laboratorium terhadap efluen pengolahan air limbah setiap enam (6) bulan kepada instansi penanggung jawab di daerah.

76 .

BAB VII PENUTUP Petunjuk Pelaksanaan Kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) ini diharapkan dapat menjadi pegangan bagi seluruh pelaku yang terkait dalam pelaksanaan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) pada berbagai tingkatan. pelaksanaan kegiatan DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) di lapangan dapat mencapai kinerja seperti yang diharapkan. sehingga dengan adanya Petunjuk Pelaksanaan Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat (SLBM) ini. 77 .

78 .

LAMPIRAN 79 .

80 .

. Berita acara ini ditandatangani oleh: 1. 3...... Ketua Panitia . yaitu: 1... Seleksi kampung tersebut telah diikuti oleh 3 (tiga) kampung..... ..... transparan dan demokratis oleh masyarakat sendiri. Sekretaris .. Wakil Masyarakat ............... tahun ... 5.................... tanggal .... Seleksi tersebut telah dilaksanakan dengan menggunakan metode Rapid Participatory Assesment/RPA... Kampung ………… skor …….. Sesuai dengan hasil skor yang dikumpulkan oleh masing-masing kampung...... telah dilaksanakan Seleksi Kampung dalam rangka implementasi program DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat.... Kabupaten ………….... Seluruh proses seleksi telah dilaksanakan secara fair. Wakil Masyarakat .......... skor .. 2. bulan ........................ 3....... maka telah disepakati bersama bahwa kampung yang paling siap untuk implementasi DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat adalah Kampung ……………………… Demikian berita acara ini dibuat agar dapat digunakan sebagaimana mestinya.... 6........ …………........ 4......... Kampung ..............Contoh Berita Acara Proses Seleksi Kampung BERITA ACARA PELAKSANAAN PROSES SELEKSI KAMPUNG KABUPATEN ……………………………… _________________________________________________________________ Pada hari ini.... Wakil Masyarakat ... ………………................. 2.. 81 ...... bertempat di Ruang Rapat Kantor ………………................. Wakil Ketua . Kampung . skor ...... ……................. yang beralamat di jalan …………………...

jarak 82 m m m2 m buah m m m cm cm cm Check Deskripsi .Contoh Lembar Kerja Pemetaan Sanitasi Kampung Data Teknis Saluran air hujan/drainase Air biasa mengalir/menggenang Terjadi penyumbatan/tidak Ada bau tidak sedap/tidak Ukuran dalam lantai dasar saluran Ukuran lebar saluran Tinggi air dari lantai dasar saluran Bahan material saluran Keterangan Sumber Air Jumlah rumah yang memakai PAM Kondisi PAM : Jumlah sumur Kedalaman sumur Kedalaman air di musim hujan Kedalaman air di musim kemarau Sumber air lainnya → (sebutkan) Kondisi : Keterangan : Kondisi Tanah Jenis tanah : Lempung/liat/cadas/pasir/batu/kapur/biasa Lokasi Permukiman : Bantaran sungai/bantaran rel KA/area industri/ permukiman nelayan/perumnas/kampung kota/kampung desa. jarak Ada/tidak adanya saluran/got di dekatnya. Dan lain-lain → (Sebutkan) Tinggi air tanah Ketersediaan Lahan : Ada lahan/tidak ada lahan Ukuran luas Kepemilikan tanah Ada/tidak ada sungai di dekatnya.

Jauh/dekat jarak angkut material dari penjual bahan bangunan ke lokasi pengolahan limbah. Ada/tidak ada pekerja tukang Ada tidak ada bahan bangunan di tempat Air : Batu bata : Check m m m m m Deskripsi Ketersediaan tenaga bangunan Ketersediaan bahan bangunan 83 . jarak Ada/tidak adanya kebun/sawah di dekatnya. jarak Ada/tidak ada jalan yang cukup untuk keluar masuk mobil angkut bahan bangunan ke lokasi pengolahan limbah.Data Teknis Ada/tidak adanya sumur di dekatnya. jarak Ada/tidak adanya industri/pabrik di dekatnya. jarak Ada/tidak adanya rumah di dekatnya. jarak Keterangan : KM/WC Ada/tidak ada di tiap rumah Ada/tidak ada MCK umum Kebiasaan buang air selain di KM/WC/MCK umum. sebutkan Keterangan kondisi KM/WC/MCK umum Septicktank/pengolahan limbah Air limbah dari KM/WC langsung disalurkan ke sungai/danau/saluran kota/septictank Air limbah dari MCK umum langsung disalurkan ke sungai/danau/saluran/kota/septik Ada/tidak peresapan dari tangki septik Air dari peresapan disalurkan ke sungai/danau/saluran kota/diresapkan ke tanah & kebun Ada/tidak ada bau dari septicktank/pengolahan limbah yang ada Keterangan : Topografi/bentuk muka tanah Ada/tidak ada kemiringan tanah Ada aliran air menggenang Ada kemiringan jalan Ada/tidak ada instalasi yang tertanam (pipa air/listrik/ telepon/gas/air limbah) Keterangan : Struktur permukiman Ada/tidak ada jarak antara rumah. jarak Ada/tidak adanya MCK di dekatnya.

Ada/tidak ada pengganti pekerja/tukang Check Deskripsi Pengaruh kultur social terhadap pelaksanaan pembangunan 84 ..Data Teknis Pasir : Tradisi sosial pelaksanaan pembangunan pada bulan …………………………………….

Laki Waktu Dimulai Anak Perempuan Anak Laki .Contoh Lembar Kerja Klasifikasi Kesejahteraan (Wealth Classification) Klasifikasi Kesejahteraan 1 Nama Kelurahan 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Kecamatan/Kab/Kota/Provinsi Kegiatan Tanggal Nama Ketua Fasilitator Anggota Fasilitator Jumlah Peserta yang Hadir Perempuan Laki .Laki RT/RW/Lingkungan 85 .

Kelompok Agama. Suku. Kelas Sosial 86 . Periksa Kesehatan.Kategori Tingkat Kesejahteraan Indikator Pola Makan Aset/Kepemilikan Komposisi Rumah Tangga* Pekerjaan Akases Terhadap Pelayanan Pendidikan Formal dan NonFormal Rasa Aman Sosial dan Psikologis Masyarakat Lain – Lain** Mampu Menengah Tidak Mampu * ** Termasuk Bila Kepala Rumah Tangga Adalah Perempuan.

Komposisi Masyarakat Berdasarkan Klasifikasi Kesejahteraan Kode Pertanyaan Jumlah P 1.3 Jumlah Rumah Tangga Mampu Jumlah Rumah Tangga Menengah Jumlah Rumah Tangga Tidak Mampu Catatan untuk Pembuat Rencana Kegiatan Masyarakat Waktu Selesai 87 . P.2 P.

Contoh Lembar Kerja Partisipasi dan Kontribusi Partisipasi Saat dan Paska Pembangunan Sarana Lembar Catatan 1 2 3 4 5 6 7 8 Nama Kelurahan Kecamatan/Kab/Kota/Provinsi Kegiatan Tanggal Jumlah Peserta Perempuan Posisi dalam Organisasi Jumlah Peserta Laki-laki Posisi dalam Organisasi RT/RW/Lingkungan/Banjar Waktu Dimulai 88 .

H2 Jenis dan Pembagian Kontribusi dari Sudut Pandang Gender dan Kemiskinan Tipe Kontribusi Perempuan Miskin Laki-Laki Miskin Perempuan Kaya Laki-Laki Kaya Tidak berkontribusi Satu jenis kontribusi (Uang. Bahan-bahan. atau tenaga) Dua jenis kontribusi Tiga jenis kontribusi Lebih dari tiga jenis kontribusi 89 .

termasuk oleh perempuan dan kelompok miskin : Monitoring dan control terhadap kontribusi dari dalam (dari sumbangan rumah tangga) : Monitoring dan control terhadap pengerjaan oleh pihak luar (kontraktor. instansi lain) : Peranan perempuan dalam monitoring : Apa relevansinya untuk pembuatan RKM : Waktu Selesai 90 .Analisa Temuan dan Diskusi Kesetaraan dalam kontribusi.

PENGARAH Budi Yuwono Susmono PENYELIA Rudy A. Kementerian Pekerjaan Umum EDITOR Meytri Wilda Ayuantari Suhaeniti . Ditjen Cipta Karya. Arifin Handy Bambang Legowo Kati Andraini Darto Endang Setyaningrum Djoko Mursito PENYUSUN Tim Satgas DAK Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat KONTRIBUTOR Bali Fokus BEST BORDA LPTP Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->