PERHITUNGAN KEBUTUHAN GURU

Posted Jum, 29/07/2011 - 20:27 by SUAIDIN Hasil studi Dirjen PMPTK Depdiknas menunjukkan masih banyak guru yang mismatch, masih banyak sekolah yang kekurangan guru mata pelajaran tertentu, masih banyak penumpukan guru pada sekolah tertentu dan masih banyak guru yang belum memenuhi kualifikasi pendidikan minimal. Dalam rangka membina dan mengembangkan profesi guru dan untuk menunjang kelancaran pelaksanaan pengelolaan guru, perlu direncanakan pemenuhan kebutuhan, pemindahan, dan pemerataan guru baik guru PNS maupun nonPNS pada sekolah negeri maupun swasta. TUJUAN 1. Menghitung kebutuhan guru di setiap sekolah 2. Menentukan jumlah kekurangan atau kelebihan guru, baik guru kelas maupun guru mata pelajaran 3. Mengambil kebijakan dalam rangka pengusulan formasi baru atau meredistribusi ketenagaan guru DASAR PERHITUNGAN 1. Dasar untuk menghitung kebutuhan guru pada setiap sekolah : ü jumlah siswa ü jumlah kelas/ rombongan belajar (rombel) ü jumlah jam setiap mata pelajaran sesuai kurikulum ü beban wajib mengajar bagi guru ü jenis dan jenjang satuan pendidikan sesuai dengan tipe sekolah 2. Jumlah jam wajib mengajar guru : ü Guru mata pelajaran dan guru kelas adalah 24 jam pelajaran (jpl) per minggu ü Kepala Sekolah 6 jam pelajaran perminggu ü Wakil Kepala Sekolah 12 jam pelajaran perminggu ü Guru BK minimal membina 150 siswa atau maksimal 225 siswa 3. Dalam hal menghitung kebutuhan guru untuk formasi CPNS, guru dihitung berdasarkan ü Sekolah yang dianalisis adalah sekolah negeri ü Guru yang dianalisis hanya guru PNS Hasil perhitungan kebutuhannya adalah merupakan formasi CPNS 4. Perhitungan kebutuhan guru pada sekolah juga memperhitungkan guru honorer atau Guru Tidak Tetap (GTT) yang ada pada sekolah tersebut untuk setiap mata pelajaran 5. Perhitungan untuk mata pelajaran IPS pada jenjang SMP meliputi guru mata pelajaran Ekonomi, Sejarah, dan Geografi. Sedangkan untuk jenjang SMA dirinci dalam mata pelajaran Ekonomi, Sosiologi dan Geografi 6. Perhitungan guru mata pelajaran IPA untuk jenjang SMP meliputi guru mata pelajaran Fisika dan Biologi. Sedangkan, untuk jenjang SMA dirinci dalam mata pelajaran Fisika, Kimia dan Biologi PRINSIP PERHITUNGAN GURU SD/MI

Setiap kelas harus memiliki 1 (satu) orang guru kelas. Apabila disekolah terdapat lebih dari 1 (satu) pendidikan agama yang diajarkan. Setiap 1 (satu) orang guru mata pelajaran memiliki beban mengajar wajib minimal 24 jam pelajaran perminggu. Setiap SD/MI harus memiliki 1 (satu) orang Kepala Sekolah 3. Wakil Kepala Sekolah wajib mengajar sekurang-kurangnya 12 jam pelajaran perminggu atau memberikan bimbingan dan konseling sekurang-kurangnya 70 orang siswa. 2 (dua) Wakil Kepala Sekolah . Untuk SMP/MTs.Rombongan Belajar 10-18. disesuaikan dengan kebutuhan dan peraturan yang berlaku Formulasi Perhitungan Kebutuhan Guru SMP/MTs KG = (SMP1 x SK1) + (SMP2 x SK2) + (SMP3 x SK3) SW KG : Kebutuhan Guru ™MP : Jumlah jam mata pelajaran perminggu pada mata pelajaran tertentu di satu tingkat ™K : Jumlah Kelas pada suatu tingkat yang mengikuti pelajaran tertentu . maka perhitungan guru Agama disesuaikan dengan kebutuhan dan peraturan yang berlaku Formulasi Perhitungan Kebutuhan Guru SD/MI KG = ™ K + 1 KS + 1 GA + 1 GP KG : Kebutuhan Guru ™K : Jumlah Rombongan Belajar KS : Kepala Sekolah GA : Guru Agama GP : Guru Pendidikan Jasmani dan Kesehatan PRINSIP PERHITUNGAN GURU SMP/MTs 1. 4 (empat) Wakil Kepala Sekolah 4. Kepala Sekolah wajib mengajar tatap muka 6 jam pelajaran perminggu atau wajib membimbing dan memberikan bimbingan dan konseling kepada sekurang-kurangnya 40 orang siswa. 3 (tiga) Wakil Kepala Sekolah . 2. 2. dan sekurang-kurangnya 1 (satu) orang Guru BK untuk satu sekolah 6. kriteria jumlah Wakil Kepala Sekolah adalah : . tergantung jumlah siswa dan keberadaan jumlah kelas yang ada. 5. Wakil Kepala Sekolah minimal 1 (satu) orang dan maksimum 4 (empat) orang.Rombongan Belajar <9.Rombongan Belajar >28. Khusus untuk Guru Agama.1. 1 (satu) orang guru membimbing 150-225 orang siswa. Setiap SD/MI harus memiliki minimal 1 (satu) orang guru Agama dan 1 (satu) orang guru Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Jika sekolah terdapat siswa yang menganut lebih dari 1 (satu) Agama. rumus dibawah hanya dipakai untuk 1 (satu) agama. Untuk Guru Bimbingan dan Konseling (BK). 1 (satu) Wakil Kepala Sekolah .Rombongan Belajar 19-27. 3.

rumus dibawah hanya dipakai untuk 1 (satu) agama. dan sekurang-kurangnya 1 (satu) orang Guru BK untuk satu sekolah 6.. 3. 2. 5. 3 (tiga) Wakil Kepala Sekolah . Setiap 1 (satu) orang guru mata pelajaran memiliki beban mengajar wajib minimal 24 jam pelajaran perminggu.. tergantung jumlah siswa dan keberadaan jumlah kelas yang ada.Rombongan Belajar 19-27. 1 (satu) orang guru membimbing 150-225 orang siswa. 4 (empat) Wakil Kepala Sekolah 4. 1 (satu) Wakil Kepala Sekolah . Untuk SMA/MA. Khusus untuk Guru Agama. kriteria jumlah Wakil Kepala Sekolah adalah : .Rombongan Belajar 10-18. Apabila disekolah terdapat lebih dari 1 (satu) pendidikan agama yang diajarkan. Untuk Guru Bimbingan dan Konseling (BK). Wakil Kepala Sekolah wajib mengajar sekurang-kurangnya 12 jam pelajaran perminggu atau memberikan bimbingan dan konseling sekurang-kurangnya 70 orang siswa. Jika di SMA A terdapat : Kelas X : ada 6 kelas @ 4 jam/minggu = 6 x 4 = 24 jam/minggu Kelas XI IPA : ada 4 kelas @ 4 jam/minggu = 4 x 4 = 16 jam/minggu Kelas XI IPS : ada 1 kelas @ 4 jam/minggu = 1 x 4 = 4 jam/minggu Kelas XI Bhs : ada 1 kelas @ 3 jam/minggu = 1 x 3 = 3 jam/minggu Kelas XII IPA : ada 4 kelas @ 4 jam/minggu = 4 x 4 = 16 jam/minggu Kelas XII IPS : ada 1 kelas @ 4 jam/minggu = 1 x 4 = 4 jam/minggu Kelas XII Bhs : ada 1 kelas @ 3 jam/minggu = 1 x 3 = 3 jam/minggu Jumlah = 70 jam/minggu . 2 (dua) Wakil Kepala Sekolah . (SMPn x SKn) SW KG : Kebutuhan Guru ™MP : Jumlah jam mata pelajaran perminggu pada mata pelajaran tertentu di satu tingkat ™K : Jumlah Kelas pada suatu tingkat yang mengikuti pelajaran tertentu ™W : Jumlah jam wajib mengajar perminggu CONTOH Kebutuhan guru mata pelajaran Matematika di SMA A.Rombongan Belajar <9.™W : Jumlah jam wajib mengajar perminggu PRINSIP PERHITUNGAN GURU SMA/MA 1.Rombongan Belajar >28. disesuaikan dengan kebutuhan dan peraturan yang berlaku Formulasi Perhitungan Kebutuhan Guru SMA/MA KG = (SMP1 x SK1) + (SMP2 x SK2) + (SMP3 x SK3) + . Kepala Sekolah wajib mengajar tatap muka 6 jam pelajaran perminggu atau wajib membimbing dan memberikan bimbingan dan konseling kepada sekurang-kurangnya 40 orang siswa. Wakil Kepala Sekolah minimal 1 (satu) orang dan maksimum 4 (empat) orang.

. Penetapan formasi guru baru didasarkan atas kebutuhan riil satuan pendidikan. dapat dilakukan mempromosikan guru sebagai pengawas sekolah atau memprogramkan alih spesialisasi sesuai keahlian lainnya. Pelaksanaan rekrutmen guru baru didasarkan atas pertimbangan obyektif. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dan PP No. Kebijakan Redistribusi untuk Pemerataan Guru 1. Pemindahan guru ke sekolah ± sekolah pedalaman/terpencil bukan merupakan bagian dari hukuman kepada guru yang melanggar disiplin. 3. transparan dan akuntabel.91 atau 3 orang guru. baik untuk guru kelas maupun guru mata pelajaran. 2. Kekurangan jumlah kebutuhan guru pada satuan pendidikan berimplikasi pada penetapan formasi dan kebijakan rekrutmen guru baru. Penempatan CPNS guru perlu direncanakan sebagai bagian dan upaya pemerataan guru untuk setiap kab/kota. No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pemindahan guru dari sekolah yang kekurangan guru perlu direncanakan sebaik-baiknya serta disosialisasikan kepada guru yang akan dipindahkan. 6. 3. 4. Rekrutmen guru baru didasarkan atas pertimbangan persyaratan minimum kualifikasi dan kompetensi sesuai dengan UU. Kelebihan jumlah kebutuhan guru pada satuan pendidikan menuntut adanya kebijakan redistribusi dalam rangka pemerataan guru. IMPLIKASI KEBIJAKAN 1. Secara bertahap dilakukan redistribusi atau pemindahan guru dari sekolah yang kelebihan guru ke sekolah yang membutuhkannya.Maka kebutuhan guru mata pelajaran Matematika di SMA A adalah 70/24 atau 2. 5. 2. Kebijakan Penetapan Formasi dan Rekrutmen Guru 1. Apabila telah dilakukan pemerataan ke sekolah lain tetapi masih tersisa. 2. Perlu diciptakan keseimbangan jumlah guru sehingga tercipta komposisi guru yang merata pada setiap sekolah.