P. 1
Pengalaman

Pengalaman

|Views: 163|Likes:
Published by Fidelis Harefa

More info:

Published by: Fidelis Harefa on Feb 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/12/2013

pdf

text

original

“PENGALAMAN”

Michael Downey (ed.), The New Dictionary of Catholic Spirituality (Collegeville, Minnesota: A Michael Glazier Book, The Liturgical Press - The Order of St. Benedict, Inc., 1993), hlm. 365-377. 1. Pengalaman Pengalaman merupakan sesuatu hal yang penting bagi orang kristen. Berkat pengalaman orang dapat mencari Tuhan Allah dengan segala perasaan, hati, jiwa, dan dengan segala kekuatan. Sejak Yesus menjadi penguasa tunggal, manusia berusaha mencari arti pengalaman yang menunjuk pada peristiwa-peristiwa yang ada dalam Kitab suci. Pengalaman merupakan langkah seseorang untuk berhubungan dengan Tuhan, masuk dalam kehidupan yang diberikan oleh Kristus. Dari situ orang sadar bahwa hidup manusia itu berasal dari Tuhan. Karl Rahner dan Bernard Lonergan memiliki suatu pengertian dalam perjalanan hidup spiritual. Mereka mengatakan tentang kebenaran keberadaan Tuhan dan tindakan atas nama Kristus dan Roh kudus. Pernyataan kebenaran itu memberikan sesuatu yang penting dalam hidup spiritual. Menurut mereka, pengalaman merupakan bagian dalam teologi antropologi, yakni suatu studi tentang manusia sebagai saudara Tuhan. Pengalaman itu mempunyai dua sifat: sifat manusia dan ilahi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan. Sejak awal, Konsili Vatikan II membuat suatu penegasan tentang: apakah Yesus dan Roh kudus itu sama sebagai dasar pengalaman kristiani. Teologi antropologi menegaskan bahwa sabda Tuhan dan roh dapat mendekatkan manusia kepada Tuhan. Tuhan menyatakan kemanusiaan-Nya dalam diri manusia itu sendiri. Jadi, pengalaman merupakan suatu studi tentang spiritualitas Kristiani, yaitu pengharapan religius atau pengalaman mistik sebagai jalan menuju Tuhan. Pengalaman manusia itu membuat Tuhan merendahkan diri seperti kita, karena itu kita mempunyai tugas untuk menguji pengalaman di mana Allah memberikan diri kepada kita melalui sabda dan roh. 2. Pengalaman merupakan prekondisi Pengalaman mempunyai hubungan timbal-balik antara peristiwa-peristiwa dari dalam dan dari luar. Peristiwa-peristiwa dari dalam misalnya: kebutuhan-kebutuhan biologis, ketakutanketakutan instingtif, dan prasangka-prasangka. Peristiwa-peristiwa dari dalam ini seolah-olah menuntut aktivitas kelima indera kita yakni: dengan melihat, mendengar, mengecap, merasa, dan mencium. Sementara pengalaman dari luar tidak mudah disalurkan ke dalam pikiran kita melalui

www.harefa.com

kelima indera ini. Konsep ini sangat relevan bila dikaitkan dengan peristiwa sejarah, terutama peristiwa Musa yang melihat semak bernyala atau Elia yang mendengar bisikan angin sepoi-sepoi. Peristiwa ini meskipun nampak secara visual, namun toh tetap tidak lepas dari peristiwa yang muncul dari dalam diri, yakni kepercayaan, harapan, dan keinginan menuju sesuatu yang baik. Dorongan inilah yang memungkinkan Musa dan Elia melihat peristiwa yang mereka alami sebagai pengalaman kehadiran Tuhan. Musa dan Elia mau mengungkapkan kepada kita bahwa pengalaman yang kita alami (yang tertangkap dari luar) sebetulnya dipengaruhi oleh apa yang ada dalam hati kita. Kerinduan Musa dan Elia akan Allah, misalnya, justru memudahkan mereka melihat kehadiran Allah lewat semak bernyala dan mendengar suara-Nya lewat bisikan angin sepoi-sepoi. Demikianlah dapat dimengerti bahwa pengalaman-pengalaman yang kita alami sangat dipengaruhi oleh minat-minat, kebutuhan-kebutuhan psikologis yang ada dalam diri kita; dan kebutuhan-kebutuhan itu merupakan prasyarat menuju pengalaman yang konkret. 3. Pengalaman adalah sumber pengertian Pengalaman kita dibentuk atau ditentukan oleh jenis kelamin, usia, suku, dan kebangsaan kita. Namun demikian hal ini tidak berarti bahwa pengalaman kita hanya dibentuk oleh beberapa elemen itu saja. Masih banyak unsur lain yang turut memberikan andil dalam membentuk pengalaman kita. Sadar atau tidak, orang menemukan kehadiran Allah itu dari pengalaman biasa atau pengalaman hidup sehari-hari. Orang bisa menemukan siapa diri Allah dari pelbagai pengalaman hidupnya. Dalam diri Allah orang dapat menemukan arti hidup bagi dirinya. Hal ini penting karena Yesus mensahkan pengalaman spiritualnya melalui pengalaman pengurbanan diri-Nya di kayu salib. Pengalaman salib-Nya ini merupakan bentuk pengorbanan yang bernilai sangat dalam. Kita mengalami prinsip-prinsip iman yang penting dalam perjalanan hidup religius. Iman sebetulnya menghantar kita kepada permenungan bagaimana pengalaman kita memberikan pemahaman pada pengalaman Yesus dan bagaimana pengalaman-pengalaman itu memberi arti bagi kita. Iman kita dibangun di atas pengalaman iman para murid Yesus, karena mereka belajar dari pengalaman hidup Yesus yang sungguh-sungguh mengungkapkan pemberian diri-Nya secara total. Melalui sejarah kita bisa melihat tradisi iman semacam ini yang sering kehilangan artinya karena orang mulai lupa pada iman yang nyata. Mereka hanya melihat tradisi sebagai pengulangan kata-kata dan rutinitas ritus yang dibentuk dan dimuat dalam rubrik. Ada indikasi penting lainnya yakni pengalaman merupakan pemahaman karena pengalaman itu sendiri merupakan pengalaman asli seseorang. Seseorang yang memperoleh pengalaman akan Allah dapat menjadi tempat untuk berkonsultasi tentang spiritual bagi orang lain. Dalam tulisan
www.harefa.com

Lukas, Petrus dan Kisah para rasul, para murid mempunyai kuasa untuk berkhotbah dan mengajar karena pengalaman hidup mereka bersama Yesus. Menurut Paulus, seseorang dikatakan rasul apabila ia mendasarkan pengalamannya pada kebangkitan Kristus. Yohanes dalam injilnya menggambarkan Maria Magdalena dan murid-murid Yesus yang dikasihi-Nya sebagai pemimpin spiritual yang mempunyai kuasa dalam Gereja karena pengalaman mereka bersama Yesus. Kuasa itu sangat bergantung kepada pengalaman cinta dan kesetiaan mereka pada Yesus. Secara prinsipial, kuasa itu bukanlah sekedar menerima suatu jabatan, jubah, atau cincin, tetapi lebih kepada pengalaman untuk meneladani Yesus dan hidup-Nya. Banyak orang membuat permenungan hanya sampai pada tingkat konsep belaka. Sementara Yesus dengan jelas telah menunjukkan kebenaran kemanusiaan-Nya, sehingga Ia dapat berbicara dengan wanita Samaria di sumur Yakub. Yesus menentang hal-hal yang dianggap tabu oleh bangsa Yahudi waktu itu, di mana orang dilarang berbicara dengan wanita Samaria. Di samping itu kita juga diajak untuk merenungkan kisah Yudit dan Yeremia yang menanggapi undangan Allah. Hal ini mengajak kita untuk patut bertanya pada diri sendiri, “Bagaimana orang ini dapat berhadapan dengan otoritas religius?” Lewat permenungan ini kita akan dapat membawa tradisi atau kebiasaan hidup orang kudus ke dalam Gereja dan dunia yang penuh dengan kuasa. 1. Pengalaman itu bersifat mendua (ambigu) Sangat penting mencari makna atau arti pengalaman. Namun tidaklah gampang mencari arti sebenarnya dari pengalaman itu, karena dari dirinya sendiri pengalaman itu bersifat mendua. Pengalaman tidak secara langsung menunjuk arti yang sebenarnya, karena pengalaman dipengaruhi kejadian dari luar dan dari dalam diri. Hal itu terjadi baik pada sisi perasaan/kejiwaan maupun dalam sejarah hidup kita. Pada sisi sejarah hidup, tertemukan kebiasaan orang-orang lain, arti percakapan harian yang sukar dipahami, cara-cara kita memecahkan persoalan yang biasa. Pada sisi kejiwaan, terkadang kita menolak arti pengalaman. Misalnya: situasi neurosis, satu komunitas kadangkadang mudah untuk menunjukkan “kekayaan” mereka, tetapi tidak mudah mengakui kelebihan komunitas lain. Yang kemudian terjadi adalah adanya kemalasan intelektual: orang tidak berusaha mencari suatu makna yang lebih dalam kalau suatu pertanyaan dapat dijawab secara singkat. Kemenduaan pengalaman dapat ditemukan pada pengalaman religius, pemikiran religius serta pengalaman mistik. Pengalaman religius sendiri perlu diklarifikasikan, karena sifatnya yang mendua. Misalnya: suatu rasa terpesona akan Allah, harus diuji apakah hal itu benar. Konsolasi intens yang dialami oleh Ignatius dari Loyola dan Theresia dari Avilla membawa mereka kepada perasaan tidak layak. Mutu dari unsur liturgi tidak tergantung dari kekuatan perasaan yang dibangkitkan, tetapi sering
www.harefa.com

tergantung pada nilai injili yang dirayakan. Suatu nilai kadang-kadang meminta suatu bentukbentuk perayaan yang semarak, di lain pihak nilai yang sama meminta perayaan yang sederhana. Pemikiran religius. Para murid Yesus tidak mudah memahami Yesus sendiri, walaupn mereka sudah mengabdikan diri pada-Nya. Pertanyaan retoris: mudahkah orang-orang kristen merumuskan apa itu “kabar gembira” yang sebenarnya? Pengalamana mistik. Mistikus tidak mudah menerangkan apa yang mereka alami. Karena itu perlu pembedaan roh. Mistisisme kadang-kadang “tercampur” dengan sisi politis. a. Ambiguitas pengharapan Selain ambiguitas pengalaman neurotik, pengalaman religius, pemikiran religius dan mistisisme, ada lagi satu ambiguitas yang hadir dalam semua pengalaman, yaitu: ambiguitas pengharapan dan ambiguitas waktu. Ketika seseorang merasakan tiada arti dalam pengalaman hariannya, serentak juga ada suatu harapan di dalamnya. Tidak mungkin berbicara dengan tegas tentang harapan dan keputusasaan. Pengalaman itu merupakan campuran dari keduanya. Konkretnya ada ambigiutas pengharapan dalam gap antara “harapan dan keputusasaan”. Harapan-harapan kita diputuskan dalam tujuan-tujuan konkret. Sedangkan pengharapan bisa menyatakan pengharapan individual kita. Pengharapan bukanlah kepastian dan bukan pula keyakinan atas keputusankeputusan yang kita targetkan. Pengharapan lebih dari sebuah keyakinan perasaan yang mungkin miskin akan keputusan. b. Ambiguitas waktu Waktu merupakan ambiguitas lain dari pengalaman. Pengalaman kita selalu terkait dengan waktu. Waktu kita rasakan berlalu begitu cepat dan waktu ini tidak kan pernah berakhir. Pada saat kita bersenang-senang waktu terasa berlalu begitu cepat; begitu pula pada saat kita bekerja secara produktif, waktu juga tampaknya mengukur aliran pengalaman kita. Kita mengupas pengalaman kita, menciptakan pola, memberi arah dan menyusun bagianbagian pengalaman kita. Pengalaman kita berkaitan dengan waktu yang ada dalam sejarah. Gambaran kita tentang sejarah dapat kita bayangkan sebagaimana kita bekerja setiap hati: setiap orang dilibatkan di dalamnya. Walaupun gambaran kita tentang sejarah agak samar-samar, namun ia membentuk spiritualitas kita. Persoalannya adalah gambaran tentang sejarah untuk setiap orang tentunya berbeda-beda. Di bawah ini akan dipaparkan empat gambaran sejarah yang dialami setiap hari. Sejarah merupakan lingkaran atau siklus Gambaran waktu sebagai lingkaran menunjukkan bahwa hukum-hukum yang mengatur alam semesta pada dasarnya sama dengan hukum-hukum yang mengatur sejarah. Sejarah merupakan suatu proses yang lahirnya bersamaan di mana-mana. Anak-anak manusia mengulangi dosa-dosa dan kesuksesan-kesuksesan yang dibuat oleh orangtuanya. Tidak ada sesuatu yang sungguh-sungguh baru
www.harefa.com

di bawah matahari, demikianlah pandangan para pengarang Perjanjian Lama. Pandangan ini merupakan sesuatu yang baku. Waktu adalah sesuatu yang terus berputar. Sejarah sebagai ketidakteraturan Di sini segala sesuatu dilihat secara baru, khusus, istimewa, dan mengherankan. Variasivariasi dosa dan rahmat tak terbatas. Allah menggunakan keilahian-Nya atas sejarah. Sejarah meniru pengalaman petir dan gempa bumi yang datang secara tiba-tiba, bintang/meteor, dan pelangipelangi. Waktu adalah tanda panah yang menuju kepada kekekalan. Spiritualitas itu sendiri menjadi dasar kebenaran. Kelebihan pandangan ini adalah bahwa setiap pribadi dan setiap peristiwa adalah Kristus. Ini menyerupai injil Yohanes, yang membuat waktu lampau selalu menjadi waktu sekarang. Kelemahannya bahwa ia menolak semua rencana jangka panjang. Sejarah adalah pergerakan Dalam gambaran ini sejarah seperti biji pohon yang ditanam, yang akhirnya menjadi sebuah pohon. Ia senantiasa bergerak. Model pengalaman yang sama dengan hal ini adalah pertumbuhan bunga-bunga, anak-anak dan apa yang disebut dalam zaman modern yakni evolusi. Kita mengalami kesulitan untuk menggambarkan budaya dunia yang pernah hilang, baik lewat ilmu maupun seni. Waktu merupakan sesuatu tanda yang membuat kita bangkit secara perlahan-lahan. Spiritualitas adalah pusat kebenaran. Kelebihan pandangan ini yakni penemuan kebajikan dalam segala sesuatunya dan memanfaatkan setiap peluang untuk membawa rahmat kepada dunia. Kelemahannya adalah bahwa ia tidak memerlukan cintakasih. Sejarah adalah perjuangan Setiap peristiwa manusiawi merupakan akibat dari benturan kekuatan-kekuatan yang ada dalam diri kita. Penderitaan merupakan induk dari kebijaksanaan. Hidup adalah perjuangan. Pandangan ini merupakan suatu dialektika yang wajar; sebagaimana hukum rimba dan perjuangan berada di antara keinginan yang berlawanan yang ada di dalam diri kita. Waktu merupakan tanda akhir dari suatu putaran, sebelum pemenang diumumkan. Spiritualitas berpusat pada pembedaan roh. Kelebihannya adalah bahwa pandangan ini tidak menutup tempat bagi dosa dan rahmat dalam arena keinginan-keinginan manusiawi. Kelemahannya adalah bahwa ia mendukung kebencian musuh dan mendukung perang melawan orang-orang yang dianggap berbeda. 6. Pengalaman sebagai rahmat Untuk menemukan kesaksian keberadaan rahmat, kita tidak hanya mengandalkan diri pada Kitab suci. Kita juga memakai pengalaman pribadi maupun angan-angan kita. Di saat kita berada
www.harefa.com

dalam situasi terdesak, tiba-tiba kita optimis untuk mengatasi semua rintangan; dan kita tidak tahu bagaimana tiba-tiba ada sesuatu tenaga yang mendorong dari dalam jiwa kita. Ada dua aspek sumber pengalaman yaitu aspek di dalam dan di luar. Contoh: orang yang tiba-tiba memutuskan untuk menceritakan suatu rahasia pengalaman kerja atau pengalaman iman yang ditemukan oleh orang yang melihat Yesus dari Nazaret. Karena kasih, hati kita didorong untuk mau dan mampu mendengarkan cerita teman yang sedang mengalami kegelapan dan keputusasaan. Kita diberi keberanian untuk keluar dari kekacauan dan keputusasaan ini. Inti keberanian (aspek dari dalam) dipertemukan dengan aspek di luar diri kita yang memungkinkan adanya pengharapan. Pengharapan merupakan suatu keinginan dalam perjuangan untuk mencapai tujuan-tujuan terbaik. Pengalaman rahmat merupakan pengalaman iman, kasih dan pengharapan yang berdasar pada hati dan sejarah. Untuk mengenali pengalaman rahmat itu kita tidak hanya memerlukan logika, melainkan lebih kepada pengalaman-pengalaman manusiawi dalam menanggapi nilai-nilai manusiawi tersebut. Pengalaman dilalui, secara tiba-tiba atau sedikit-demi-sedikit, dengan kesadaran bahwa Allah berkarya di dalam hati kita dan dalam sejarah hidup kita. Orang-orang kristen dalam empat abad pertama merefleksikan perasaan manusia. Perasaan menggembirakan menghasilkan iman sebagai buah pertama dari perubahan, dikenali sebagai buah pengalaman orang yang percaya. Iman adalah pintu kepada kebenaran, yang memecah sifat kemenduaan (ambigu) pengalaman. Iman secara esensial merupakan suatu pertimbangan atas nilai: baik untuk melakukan ini dan baik untuk mempercayai hal itu. Iman merupakan pedoman yang menuntut liku-liku pemikiran dan perasaan-perasaan religius yang tidak menentu. Yang ada dalam diri kita adalah bahwa Allah mencintai kita. Untuk mencoba iman dalam pengharapan ini: kita kembali kepada realitas hidup kita sehari-hari, dengan tetap melihat pribadi Yesus yang tersalib, sebagaimana para murid memandang-Nya di Gunung Transfigurasi. Nilai-nilai pewahyuan dan kebenaran karena iman merupakan pengalaman-pengalaman religius yang mendasar. Demikian juga perasaan-perasaan dan pemikiran merupakan sesuatu yang mendukung; di mana perasaan–perasaan dan pemikiran itu berasal dari pengalaman iman pribadi, bahkan dari orang lain. Sifat ambigu pengalaman sehari-hari muncul karena pertimbangan nilai-nilai dan fakta yang muncul dari kasih Allah, bukan dari psikologi atau teologi sistematis. Ujian atas iman terjadi bukan dalam hal percaya, tetapi dalam perbuatan dan dalam ungkapan kasih. Misalnya: mengunjungi orang yang terpenjara dan menyambut orang asing. Yang mau ditekankan adalah pengalaman religius bukan hanya terletak pada nilai-nilai dan kebenaran yang dinyatakan oleh Yesus Kristus, tetapi juga melalui pengalaman hidup kita setiap hari. Berbeda dengan pengalaman pengharapan. Allah memberkati kita untuk melakukan sesuatu, tetapi yang ada dalam batin kita tetaplah ada ambiguitas, karena kita tidak dapat mengontrol hasil-hasil pengalaman itu. Kita hanya dapat berbuat dengan iman dan kasih dengan bersandar kepada pengharapan. Pengharapan kita itu kita tetapkan pada kebenaran Tuhan Yesus, yang telah
www.harefa.com

memberikan sabda yang melimpah, karena Bapa telah memberikan segalanya kepada Putera-Nya. Kita menetapkan pengharapan kita pada Roh kudus yang mencari dan menghadirkan inkarnasi Yesus Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Selain ambiguitas pengharapan, dalam pewahyuan juga terdapat ambiguitas waktu. Roh dalam hati kita mengenal sejarah yang secara dialektis berkuasa. Di satu pihak roh menggerakkan kerangka tubuh dan mengembangkan lebih banyak karya yang dilakukan secara konservatif, interuptif dan progressif. Di lain pihak kita mempunyai pengalaman untuk mengontrol sesuatu secara terus-menerus, dengan kombinasi konservatif, interuptif dan progressif pula. Dalam hal ini kita mengalami: suatu atraksi dan penolakan berkenaan dengan manusia yang sama. Pada diri Yesus naluri konservatif muncul dalam gerak hati berkenaan dengan hari Sabat dan pengusiran para pedagang hewan di Bait Allah. Yesus menasehatkan kepada kita untuk percaya seperti burung-burung di udara dan menyandarkan diri pada rahmat penyelenggaraan Allah. Ia memberi tugas progresif untuk mewartakan injil sampai ke ujung bumi, misalnya dengan pergi berdua-dua yang dilakukan oleh para murid-Nya. Pengalaman rahmat merupakan pengalaman yang diambil dari berbagai macam nafas. Ada dua macam ketajaman. Di pihak pertama bagian dalam, pengalaman kita melihat adanya pergerakan-pergerakan dalam jiwa kita. Pada bagian luar adanya kekurangan dalam hukum-hukum tradisi kristen. Kisah-kisah yang salah cenderung mudah dikenali, pengalaman orang yang dibatasi untuk diceritakan, kecenderungan mengagungkan orang-orang tertentu, dan memusatkan orang itu daripada apa yang dikerjakan oleh orang tersebut. Misalnya: aksi pangilan di seminari, yang menekankan pada tokoh bukan pada karyanya. Hukum ilahi pengalaman Pengalaman merupakan suatu ujian kebenaran, dasar atas otoritas yang benar, dan ambiguitas tanpa pengalaman-pengalaman lanjut atas iman, harapan dan kasih. Bila kita membedakan antara yang imanen dan transenden atas pengalaman manusiawi, kita membedakannya terbatas pada dunia dan berpuncak pada surga. Allah terus bekerja dalam seluruh pengalaman kita. Bahkan pengalaman dosa merupakan pengalaman melawan kesadaran yang transenden. Apakah kita mengenalnya atau tidak, apakah semua pengalaman itu merupakan pengalaman religius, tergantung cara kita membicarakannya. Allah bermaksud untuk berbagi terus-menerus keilahian-Nya sendiri dengan kebakaan ciptaan. Pembagian ini bersifat total, yaitu kita menjadi ilahi, berbagi dalam keilahian Kristus yang telah mengosongkan diri untuk berbagi dengan kemanusiaan kita. Secara metaforis dapat dikatakan bahwa kita serupa atau secitra dengan Allah. Kita nyata keuturunan Allah. Kita berkarya dan bekerja sama dengan Allah, yang kita alami selamanya.

www.harefa.com

Rumusan pusat hidup Allah sebagai berikut: Allah terus-menerus bersabda dan hadir dalam diri kita. Firman itu adalah Allah, yang hadir secara berbeda tetapi tetap terkait antara satu dengan yang lainnya. Perbedaan itu dalam Allah tidak disangkal kesatuan ilahi-Nya. Dalam menilai suatu keputusan secara bijaksana, kita membedakannya untuk memutuskan keputusan dan penilaian itu yang telah diputuskan. Dengan demikian kita menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik, lebih sempurna, lebih maju dalam membuat keputusan. Kita menguji pengalaman-pengalaman itu dalam kemajemukan dan bukan untuk melawan kesatuan. Refleksi: Kita patut besyukur kepada Tuhan atas penyertaan-Nya dalam hidup kita melalui pengalaman di luar dan di dalam diri kita. Allah menciptakan kita untuk menemukan realitas melalui pengalaman di luar dan di dalam, yaitu bahwa kita dimungkinkan untuk menerima Allah sebagai Allah yang nyata, yang selalu melahirkan dan menerima keilahian-Nya sendiri, selalu melahirkan sabda dan selalu mencintai kita dalam roh. Kita mempunyai dua aspek: di luar dan di dalam pengalaman kita, sehingga Allah hadir dalam diri kita sebagai Firman dalam sejarah hidup kita dan sebagai roh dalam hati kita. Karakter atau sifat ganda pengalaman manusia merupakan aneka ragam ide dalam diri Allah untuk menemukan ciptaan yang dapat dibagikan dalam intimitas kehidupan ilahi secara nyata. Sebagaimana Allah melahirkan diri-Nya yang ilahi melebihi waktu, 'kelahiran' kita terisi dalam inkarnasi nilai-nilai ilahi bagi orang lain di dalam pengalaman. Kita menjadi bagian dari keilahian Kristus, sebagai kepala tubuh dan kita adalah anggota-anggotanya. Kita adalah alinea-alinea yang mengisi ceritera Kristus. Sebagaimana Allah menghadirkan keilahian-Nya sendiri melebihi waktu, 'kehadiran' kita mengisi dalam pencarian nilai-nilai ilahi. Kita hidup dalam sebuah dunia yang berdosa. Kita berjuang untuk menjadi pribadi-pribadi yang baik untuk menjalani pengalaman itu bersama orang lain. Kita menderita bersama Allah sebagai roh dalam perbuatan besar yaitu anak yang lahir untuk membawa hidup bagi dunia. Kita lahir, hidup dan berjuang di dunia ini untuk mengalami belaskasih Allah dengan ‘penglahiran’ dan ‘penerimaan’ sabda Allah.

www.harefa.com

“PENGALAMAN”
Michael Downey (ed.), The New Dictionary of Catholic Spirituality (Collegeville, Minnesota: A Michael Glazier Book, The Liturgical Press - The Order of St. Benedict, Inc., 1993), hlm. 365-377. 1. Pengalaman Pengalaman merupakan sesuatu hal yang penting bagi orang kristen. Berkat pengalaman orang dapat mencari Tuhan Allah dengan segala perasaan, hati, jiwa, dan dengan segala kekuatan. Sejak Yesus menjadi penguasa tunggal, manusia berusaha mencari arti pengalaman yang menunjuk pada peristiwa-peristiwa yang ada dalam Kitab suci. Pengalaman merupakan langkah seseorang untuk berhubungan dengan Tuhan, masuk dalam kehidupan yang diberikan oleh Kristus. Dari situ orang sadar bahwa hidup manusia itu berasal dari Tuhan. Karl Rahner dan Bernard Lonergan memiliki suatu pengertian dalam perjalanan hidup spiritual. Mereka mengatakan tentang kebenaran keberadaan Tuhan dan tindakan atas nama Kristus dan Roh kudus. Pernyataan kebenaran itu memberikan sesuatu yang penting dalam hidup spiritual. Menurut mereka, pengalaman merupakan bagian dalam teologi antropologi, yakni suatu studi tentang manusia sebagai saudara Tuhan. Pengalaman itu mempunyai dua sifat: sifat manusia dan ilahi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan. Sejak awal, Konsili Vatikan II membuat suatu penegasan tentang: apakah Yesus dan Roh kudus itu sama sebagai dasar pengalaman kristiani. Teologi antropologi menegaskan bahwa sabda Tuhan dan roh dapat mendekatkan manusia kepada Tuhan. Tuhan menyatakan kemanusiaan-Nya dalam diri manusia itu sendiri. Jadi, pengalaman merupakan suatu studi tentang spiritualitas Kristiani, yaitu pengharapan religius atau pengalaman mistik sebagai jalan menuju Tuhan. Pengalaman manusia itu membuat Tuhan merendahkan diri seperti kita, karena itu kita mempunyai tugas untuk menguji pengalaman di mana Allah memberikan diri kepada kita melalui sabda dan roh. 2. Pengalaman merupakan prekondisi Pengalaman mempunyai hubungan timbal-balik antara peristiwa-peristiwa dari dalam dan dari luar. Peristiwa-peristiwa dari dalam misalnya: kebutuhan-kebutuhan biologis, ketakutanketakutan instingtif, dan prasangka-prasangka. Peristiwa-peristiwa dari dalam ini seolah-olah menuntut aktivitas kelima indera kita yakni: dengan melihat, mendengar, mengecap, merasa, dan mencium. Sementara pengalaman dari luar tidak mudah disalurkan ke dalam pikiran kita melalui

www.harefa.com

kelima indera ini. Konsep ini sangat relevan bila dikaitkan dengan peristiwa sejarah, terutama peristiwa Musa yang melihat semak bernyala atau Elia yang mendengar bisikan angin sepoi-sepoi. Peristiwa ini meskipun nampak secara visual, namun toh tetap tidak lepas dari peristiwa yang muncul dari dalam diri, yakni kepercayaan, harapan, dan keinginan menuju sesuatu yang baik. Dorongan inilah yang memungkinkan Musa dan Elia melihat peristiwa yang mereka alami sebagai pengalaman kehadiran Tuhan. Musa dan Elia mau mengungkapkan kepada kita bahwa pengalaman yang kita alami (yang tertangkap dari luar) sebetulnya dipengaruhi oleh apa yang ada dalam hati kita. Kerinduan Musa dan Elia akan Allah, misalnya, justru memudahkan mereka melihat kehadiran Allah lewat semak bernyala dan mendengar suara-Nya lewat bisikan angin sepoi-sepoi. Demikianlah dapat dimengerti bahwa pengalaman-pengalaman yang kita alami sangat dipengaruhi oleh minat-minat, kebutuhan-kebutuhan psikologis yang ada dalam diri kita; dan kebutuhan-kebutuhan itu merupakan prasyarat menuju pengalaman yang konkret. 3. Pengalaman adalah sumber pengertian Pengalaman kita dibentuk atau ditentukan oleh jenis kelamin, usia, suku, dan kebangsaan kita. Namun demikian hal ini tidak berarti bahwa pengalaman kita hanya dibentuk oleh beberapa elemen itu saja. Masih banyak unsur lain yang turut memberikan andil dalam membentuk pengalaman kita. Sadar atau tidak, orang menemukan kehadiran Allah itu dari pengalaman biasa atau pengalaman hidup sehari-hari. Orang bisa menemukan siapa diri Allah dari pelbagai pengalaman hidupnya. Dalam diri Allah orang dapat menemukan arti hidup bagi dirinya. Hal ini penting karena Yesus mensahkan pengalaman spiritualnya melalui pengalaman pengurbanan diri-Nya di kayu salib. Pengalaman salib-Nya ini merupakan bentuk pengorbanan yang bernilai sangat dalam. Kita mengalami prinsip-prinsip iman yang penting dalam perjalanan hidup religius. Iman sebetulnya menghantar kita kepada permenungan bagaimana pengalaman kita memberikan pemahaman pada pengalaman Yesus dan bagaimana pengalaman-pengalaman itu memberi arti bagi kita. Iman kita dibangun di atas pengalaman iman para murid Yesus, karena mereka belajar dari pengalaman hidup Yesus yang sungguh-sungguh mengungkapkan pemberian diri-Nya secara total. Melalui sejarah kita bisa melihat tradisi iman semacam ini yang sering kehilangan artinya karena orang mulai lupa pada iman yang nyata. Mereka hanya melihat tradisi sebagai pengulangan kata-kata dan rutinitas ritus yang dibentuk dan dimuat dalam rubrik. Ada indikasi penting lainnya yakni pengalaman merupakan pemahaman karena pengalaman itu sendiri merupakan pengalaman asli seseorang. Seseorang yang memperoleh pengalaman akan Allah dapat menjadi tempat untuk berkonsultasi tentang spiritual bagi orang lain. Dalam tulisan
www.harefa.com

Lukas, Petrus dan Kisah para rasul, para murid mempunyai kuasa untuk berkhotbah dan mengajar karena pengalaman hidup mereka bersama Yesus. Menurut Paulus, seseorang dikatakan rasul apabila ia mendasarkan pengalamannya pada kebangkitan Kristus. Yohanes dalam injilnya menggambarkan Maria Magdalena dan murid-murid Yesus yang dikasihi-Nya sebagai pemimpin spiritual yang mempunyai kuasa dalam Gereja karena pengalaman mereka bersama Yesus. Kuasa itu sangat bergantung kepada pengalaman cinta dan kesetiaan mereka pada Yesus. Secara prinsipial, kuasa itu bukanlah sekedar menerima suatu jabatan, jubah, atau cincin, tetapi lebih kepada pengalaman untuk meneladani Yesus dan hidup-Nya. Banyak orang membuat permenungan hanya sampai pada tingkat konsep belaka. Sementara Yesus dengan jelas telah menunjukkan kebenaran kemanusiaan-Nya, sehingga Ia dapat berbicara dengan wanita Samaria di sumur Yakub. Yesus menentang hal-hal yang dianggap tabu oleh bangsa Yahudi waktu itu, di mana orang dilarang berbicara dengan wanita Samaria. Di samping itu kita juga diajak untuk merenungkan kisah Yudit dan Yeremia yang menanggapi undangan Allah. Hal ini mengajak kita untuk patut bertanya pada diri sendiri, “Bagaimana orang ini dapat berhadapan dengan otoritas religius?” Lewat permenungan ini kita akan dapat membawa tradisi atau kebiasaan hidup orang kudus ke dalam Gereja dan dunia yang penuh dengan kuasa. 1. Pengalaman itu bersifat mendua (ambigu) Sangat penting mencari makna atau arti pengalaman. Namun tidaklah gampang mencari arti sebenarnya dari pengalaman itu, karena dari dirinya sendiri pengalaman itu bersifat mendua. Pengalaman tidak secara langsung menunjuk arti yang sebenarnya, karena pengalaman dipengaruhi kejadian dari luar dan dari dalam diri. Hal itu terjadi baik pada sisi perasaan/kejiwaan maupun dalam sejarah hidup kita. Pada sisi sejarah hidup, tertemukan kebiasaan orang-orang lain, arti percakapan harian yang sukar dipahami, cara-cara kita memecahkan persoalan yang biasa. Pada sisi kejiwaan, terkadang kita menolak arti pengalaman. Misalnya: situasi neurosis, satu komunitas kadangkadang mudah untuk menunjukkan “kekayaan” mereka, tetapi tidak mudah mengakui kelebihan komunitas lain. Yang kemudian terjadi adalah adanya kemalasan intelektual: orang tidak berusaha mencari suatu makna yang lebih dalam kalau suatu pertanyaan dapat dijawab secara singkat. Kemenduaan pengalaman dapat ditemukan pada pengalaman religius, pemikiran religius serta pengalaman mistik. Pengalaman religius sendiri perlu diklarifikasikan, karena sifatnya yang mendua. Misalnya: suatu rasa terpesona akan Allah, harus diuji apakah hal itu benar. Konsolasi intens yang dialami oleh Ignatius dari Loyola dan Theresia dari Avilla membawa mereka kepada perasaan tidak layak. Mutu dari unsur liturgi tidak tergantung dari kekuatan perasaan yang dibangkitkan, tetapi sering
www.harefa.com

tergantung pada nilai injili yang dirayakan. Suatu nilai kadang-kadang meminta suatu bentukbentuk perayaan yang semarak, di lain pihak nilai yang sama meminta perayaan yang sederhana. Pemikiran religius. Para murid Yesus tidak mudah memahami Yesus sendiri, walaupn mereka sudah mengabdikan diri pada-Nya. Pertanyaan retoris: mudahkah orang-orang kristen merumuskan apa itu “kabar gembira” yang sebenarnya? Pengalamana mistik. Mistikus tidak mudah menerangkan apa yang mereka alami. Karena itu perlu pembedaan roh. Mistisisme kadang-kadang “tercampur” dengan sisi politis. a. Ambiguitas pengharapan Selain ambiguitas pengalaman neurotik, pengalaman religius, pemikiran religius dan mistisisme, ada lagi satu ambiguitas yang hadir dalam semua pengalaman, yaitu: ambiguitas pengharapan dan ambiguitas waktu. Ketika seseorang merasakan tiada arti dalam pengalaman hariannya, serentak juga ada suatu harapan di dalamnya. Tidak mungkin berbicara dengan tegas tentang harapan dan keputusasaan. Pengalaman itu merupakan campuran dari keduanya. Konkretnya ada ambigiutas pengharapan dalam gap antara “harapan dan keputusasaan”. Harapan-harapan kita diputuskan dalam tujuan-tujuan konkret. Sedangkan pengharapan bisa menyatakan pengharapan individual kita. Pengharapan bukanlah kepastian dan bukan pula keyakinan atas keputusankeputusan yang kita targetkan. Pengharapan lebih dari sebuah keyakinan perasaan yang mungkin miskin akan keputusan. b. Ambiguitas waktu Waktu merupakan ambiguitas lain dari pengalaman. Pengalaman kita selalu terkait dengan waktu. Waktu kita rasakan berlalu begitu cepat dan waktu ini tidak kan pernah berakhir. Pada saat kita bersenang-senang waktu terasa berlalu begitu cepat; begitu pula pada saat kita bekerja secara produktif, waktu juga tampaknya mengukur aliran pengalaman kita. Kita mengupas pengalaman kita, menciptakan pola, memberi arah dan menyusun bagianbagian pengalaman kita. Pengalaman kita berkaitan dengan waktu yang ada dalam sejarah. Gambaran kita tentang sejarah dapat kita bayangkan sebagaimana kita bekerja setiap hati: setiap orang dilibatkan di dalamnya. Walaupun gambaran kita tentang sejarah agak samar-samar, namun ia membentuk spiritualitas kita. Persoalannya adalah gambaran tentang sejarah untuk setiap orang tentunya berbeda-beda. Di bawah ini akan dipaparkan empat gambaran sejarah yang dialami setiap hari. Sejarah merupakan lingkaran atau siklus Gambaran waktu sebagai lingkaran menunjukkan bahwa hukum-hukum yang mengatur alam semesta pada dasarnya sama dengan hukum-hukum yang mengatur sejarah. Sejarah merupakan suatu proses yang lahirnya bersamaan di mana-mana. Anak-anak manusia mengulangi dosa-dosa dan kesuksesan-kesuksesan yang dibuat oleh orangtuanya. Tidak ada sesuatu yang sungguh-sungguh baru
www.harefa.com

di bawah matahari, demikianlah pandangan para pengarang Perjanjian Lama. Pandangan ini merupakan sesuatu yang baku. Waktu adalah sesuatu yang terus berputar. Sejarah sebagai ketidakteraturan Di sini segala sesuatu dilihat secara baru, khusus, istimewa, dan mengherankan. Variasivariasi dosa dan rahmat tak terbatas. Allah menggunakan keilahian-Nya atas sejarah. Sejarah meniru pengalaman petir dan gempa bumi yang datang secara tiba-tiba, bintang/meteor, dan pelangipelangi. Waktu adalah tanda panah yang menuju kepada kekekalan. Spiritualitas itu sendiri menjadi dasar kebenaran. Kelebihan pandangan ini adalah bahwa setiap pribadi dan setiap peristiwa adalah Kristus. Ini menyerupai injil Yohanes, yang membuat waktu lampau selalu menjadi waktu sekarang. Kelemahannya bahwa ia menolak semua rencana jangka panjang. Sejarah adalah pergerakan Dalam gambaran ini sejarah seperti biji pohon yang ditanam, yang akhirnya menjadi sebuah pohon. Ia senantiasa bergerak. Model pengalaman yang sama dengan hal ini adalah pertumbuhan bunga-bunga, anak-anak dan apa yang disebut dalam zaman modern yakni evolusi. Kita mengalami kesulitan untuk menggambarkan budaya dunia yang pernah hilang, baik lewat ilmu maupun seni. Waktu merupakan sesuatu tanda yang membuat kita bangkit secara perlahan-lahan. Spiritualitas adalah pusat kebenaran. Kelebihan pandangan ini yakni penemuan kebajikan dalam segala sesuatunya dan memanfaatkan setiap peluang untuk membawa rahmat kepada dunia. Kelemahannya adalah bahwa ia tidak memerlukan cintakasih. Sejarah adalah perjuangan Setiap peristiwa manusiawi merupakan akibat dari benturan kekuatan-kekuatan yang ada dalam diri kita. Penderitaan merupakan induk dari kebijaksanaan. Hidup adalah perjuangan. Pandangan ini merupakan suatu dialektika yang wajar; sebagaimana hukum rimba dan perjuangan berada di antara keinginan yang berlawanan yang ada di dalam diri kita. Waktu merupakan tanda akhir dari suatu putaran, sebelum pemenang diumumkan. Spiritualitas berpusat pada pembedaan roh. Kelebihannya adalah bahwa pandangan ini tidak menutup tempat bagi dosa dan rahmat dalam arena keinginan-keinginan manusiawi. Kelemahannya adalah bahwa ia mendukung kebencian musuh dan mendukung perang melawan orang-orang yang dianggap berbeda. 6. Pengalaman sebagai rahmat Untuk menemukan kesaksian keberadaan rahmat, kita tidak hanya mengandalkan diri pada Kitab suci. Kita juga memakai pengalaman pribadi maupun angan-angan kita. Di saat kita berada
www.harefa.com

dalam situasi terdesak, tiba-tiba kita optimis untuk mengatasi semua rintangan; dan kita tidak tahu bagaimana tiba-tiba ada sesuatu tenaga yang mendorong dari dalam jiwa kita. Ada dua aspek sumber pengalaman yaitu aspek di dalam dan di luar. Contoh: orang yang tiba-tiba memutuskan untuk menceritakan suatu rahasia pengalaman kerja atau pengalaman iman yang ditemukan oleh orang yang melihat Yesus dari Nazaret. Karena kasih, hati kita didorong untuk mau dan mampu mendengarkan cerita teman yang sedang mengalami kegelapan dan keputusasaan. Kita diberi keberanian untuk keluar dari kekacauan dan keputusasaan ini. Inti keberanian (aspek dari dalam) dipertemukan dengan aspek di luar diri kita yang memungkinkan adanya pengharapan. Pengharapan merupakan suatu keinginan dalam perjuangan untuk mencapai tujuan-tujuan terbaik. Pengalaman rahmat merupakan pengalaman iman, kasih dan pengharapan yang berdasar pada hati dan sejarah. Untuk mengenali pengalaman rahmat itu kita tidak hanya memerlukan logika, melainkan lebih kepada pengalaman-pengalaman manusiawi dalam menanggapi nilai-nilai manusiawi tersebut. Pengalaman dilalui, secara tiba-tiba atau sedikit-demi-sedikit, dengan kesadaran bahwa Allah berkarya di dalam hati kita dan dalam sejarah hidup kita. Orang-orang kristen dalam empat abad pertama merefleksikan perasaan manusia. Perasaan menggembirakan menghasilkan iman sebagai buah pertama dari perubahan, dikenali sebagai buah pengalaman orang yang percaya. Iman adalah pintu kepada kebenaran, yang memecah sifat kemenduaan (ambigu) pengalaman. Iman secara esensial merupakan suatu pertimbangan atas nilai: baik untuk melakukan ini dan baik untuk mempercayai hal itu. Iman merupakan pedoman yang menuntut liku-liku pemikiran dan perasaan-perasaan religius yang tidak menentu. Yang ada dalam diri kita adalah bahwa Allah mencintai kita. Untuk mencoba iman dalam pengharapan ini: kita kembali kepada realitas hidup kita sehari-hari, dengan tetap melihat pribadi Yesus yang tersalib, sebagaimana para murid memandang-Nya di Gunung Transfigurasi. Nilai-nilai pewahyuan dan kebenaran karena iman merupakan pengalaman-pengalaman religius yang mendasar. Demikian juga perasaan-perasaan dan pemikiran merupakan sesuatu yang mendukung; di mana perasaan–perasaan dan pemikiran itu berasal dari pengalaman iman pribadi, bahkan dari orang lain. Sifat ambigu pengalaman sehari-hari muncul karena pertimbangan nilai-nilai dan fakta yang muncul dari kasih Allah, bukan dari psikologi atau teologi sistematis. Ujian atas iman terjadi bukan dalam hal percaya, tetapi dalam perbuatan dan dalam ungkapan kasih. Misalnya: mengunjungi orang yang terpenjara dan menyambut orang asing. Yang mau ditekankan adalah pengalaman religius bukan hanya terletak pada nilai-nilai dan kebenaran yang dinyatakan oleh Yesus Kristus, tetapi juga melalui pengalaman hidup kita setiap hari. Berbeda dengan pengalaman pengharapan. Allah memberkati kita untuk melakukan sesuatu, tetapi yang ada dalam batin kita tetaplah ada ambiguitas, karena kita tidak dapat mengontrol hasil-hasil pengalaman itu. Kita hanya dapat berbuat dengan iman dan kasih dengan bersandar kepada pengharapan. Pengharapan kita itu kita tetapkan pada kebenaran Tuhan Yesus, yang telah
www.harefa.com

memberikan sabda yang melimpah, karena Bapa telah memberikan segalanya kepada Putera-Nya. Kita menetapkan pengharapan kita pada Roh kudus yang mencari dan menghadirkan inkarnasi Yesus Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Selain ambiguitas pengharapan, dalam pewahyuan juga terdapat ambiguitas waktu. Roh dalam hati kita mengenal sejarah yang secara dialektis berkuasa. Di satu pihak roh menggerakkan kerangka tubuh dan mengembangkan lebih banyak karya yang dilakukan secara konservatif, interuptif dan progressif. Di lain pihak kita mempunyai pengalaman untuk mengontrol sesuatu secara terus-menerus, dengan kombinasi konservatif, interuptif dan progressif pula. Dalam hal ini kita mengalami: suatu atraksi dan penolakan berkenaan dengan manusia yang sama. Pada diri Yesus naluri konservatif muncul dalam gerak hati berkenaan dengan hari Sabat dan pengusiran para pedagang hewan di Bait Allah. Yesus menasehatkan kepada kita untuk percaya seperti burung-burung di udara dan menyandarkan diri pada rahmat penyelenggaraan Allah. Ia memberi tugas progresif untuk mewartakan injil sampai ke ujung bumi, misalnya dengan pergi berdua-dua yang dilakukan oleh para murid-Nya. Pengalaman rahmat merupakan pengalaman yang diambil dari berbagai macam nafas. Ada dua macam ketajaman. Di pihak pertama bagian dalam, pengalaman kita melihat adanya pergerakan-pergerakan dalam jiwa kita. Pada bagian luar adanya kekurangan dalam hukum-hukum tradisi kristen. Kisah-kisah yang salah cenderung mudah dikenali, pengalaman orang yang dibatasi untuk diceritakan, kecenderungan mengagungkan orang-orang tertentu, dan memusatkan orang itu daripada apa yang dikerjakan oleh orang tersebut. Misalnya: aksi pangilan di seminari, yang menekankan pada tokoh bukan pada karyanya. Hukum ilahi pengalaman Pengalaman merupakan suatu ujian kebenaran, dasar atas otoritas yang benar, dan ambiguitas tanpa pengalaman-pengalaman lanjut atas iman, harapan dan kasih. Bila kita membedakan antara yang imanen dan transenden atas pengalaman manusiawi, kita membedakannya terbatas pada dunia dan berpuncak pada surga. Allah terus bekerja dalam seluruh pengalaman kita. Bahkan pengalaman dosa merupakan pengalaman melawan kesadaran yang transenden. Apakah kita mengenalnya atau tidak, apakah semua pengalaman itu merupakan pengalaman religius, tergantung cara kita membicarakannya. Allah bermaksud untuk berbagi terus-menerus keilahian-Nya sendiri dengan kebakaan ciptaan. Pembagian ini bersifat total, yaitu kita menjadi ilahi, berbagi dalam keilahian Kristus yang telah mengosongkan diri untuk berbagi dengan kemanusiaan kita. Secara metaforis dapat dikatakan bahwa kita serupa atau secitra dengan Allah. Kita nyata keuturunan Allah. Kita berkarya dan bekerja sama dengan Allah, yang kita alami selamanya.

www.harefa.com

Rumusan pusat hidup Allah sebagai berikut: Allah terus-menerus bersabda dan hadir dalam diri kita. Firman itu adalah Allah, yang hadir secara berbeda tetapi tetap terkait antara satu dengan yang lainnya. Perbedaan itu dalam Allah tidak disangkal kesatuan ilahi-Nya. Dalam menilai suatu keputusan secara bijaksana, kita membedakannya untuk memutuskan keputusan dan penilaian itu yang telah diputuskan. Dengan demikian kita menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik, lebih sempurna, lebih maju dalam membuat keputusan. Kita menguji pengalaman-pengalaman itu dalam kemajemukan dan bukan untuk melawan kesatuan. Refleksi: Kita patut besyukur kepada Tuhan atas penyertaan-Nya dalam hidup kita melalui pengalaman di luar dan di dalam diri kita. Allah menciptakan kita untuk menemukan realitas melalui pengalaman di luar dan di dalam, yaitu bahwa kita dimungkinkan untuk menerima Allah sebagai Allah yang nyata, yang selalu melahirkan dan menerima keilahian-Nya sendiri, selalu melahirkan sabda dan selalu mencintai kita dalam roh. Kita mempunyai dua aspek: di luar dan di dalam pengalaman kita, sehingga Allah hadir dalam diri kita sebagai Firman dalam sejarah hidup kita dan sebagai roh dalam hati kita. Karakter atau sifat ganda pengalaman manusia merupakan aneka ragam ide dalam diri Allah untuk menemukan ciptaan yang dapat dibagikan dalam intimitas kehidupan ilahi secara nyata. Sebagaimana Allah melahirkan diri-Nya yang ilahi melebihi waktu, 'kelahiran' kita terisi dalam inkarnasi nilai-nilai ilahi bagi orang lain di dalam pengalaman. Kita menjadi bagian dari keilahian Kristus, sebagai kepala tubuh dan kita adalah anggota-anggotanya. Kita adalah alinea-alinea yang mengisi ceritera Kristus. Sebagaimana Allah menghadirkan keilahian-Nya sendiri melebihi waktu, 'kehadiran' kita mengisi dalam pencarian nilai-nilai ilahi. Kita hidup dalam sebuah dunia yang berdosa. Kita berjuang untuk menjadi pribadi-pribadi yang baik untuk menjalani pengalaman itu bersama orang lain. Kita menderita bersama Allah sebagai roh dalam perbuatan besar yaitu anak yang lahir untuk membawa hidup bagi dunia. Kita lahir, hidup dan berjuang di dunia ini untuk mengalami belaskasih Allah dengan ‘penglahiran’ dan ‘penerimaan’ sabda Allah.

www.harefa.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->