Pedoman Teknis Instalasi Rawat Inap

PENDAHULUAN

BAGIAN - I

BAGIAN - I PENDAHULUAN

1.1.

Latar belakang.
Keberhasilan pembangunan kesehatan tidak semata-mata ditentukan oleh hasil kerja keras dari sektor kesehatan, tetapi sangat dipengaruhi oleh hasil kerja keras serta konstribusi positif dari berbagai sektor pembangunan lainnya. Untuk optimalisasi hasil serta kontribusi positip tersebut, harus dapat diupayakan masuknya upaya kesehatan sebagai asas pokok program pembangunan nasional. Dengan perkataan lain untuk dapat terwujudnya INDONESIA SEHAT 2010, para penanggung jawab pembangunan harus memasukkan pertimbangan-pertimbangan kesehatan dalam semua kebijakan pembangunannya. Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2010 adalah

meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar mewujudkan peningkatan derajat kesehatan masyarakat, bangsa dan negara Indonesia yang ditandai oleh penduduknya hidup dalam lingkungan dan perilaku yang sehat, memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang optimal diseluruh wilayah Republik Indonesia. Usaha kesehatan mencakup usaha peningkatan (promotif) pencegahan (preventif), penyembuhan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif). Salah satu upaya penyembuhan pasien adalah melalui pengobatan dan perawatan yang dilaksanakan dalam ruang rawat inap di rumah sakit. Ruang rawat inap yang aman dan nyaman merupakan faktor penting yang dapat mempengaruhi proses penyembuhan pasien, oleh karena itu dalam merancang ruang rawat inap harus memenuhi persyaratan tertentu yang mendukung terciptanya ruang rawat inap yang sehat, aman dan nyaman.

PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP (UMUM)

1

PENDAHULUAN

BAGIAN - I

Selama ini terutama di daerah-daerah, belum ada pedoman yang mengatur mengenai perancangan ruang rawat inap di rumah sakit, sehingga perlu dibuat “Pedoman Teknis Sarana dan Prasarana Bangunan Instalasi Rawat Inap” ini agar tercapai satu kesatuan visi dalam perancangan ruang rawat inap di rumah sakit.

1.2.

Maksud dan tujuan.
Perencanaan dan pengelolaan bangunan instalasi rawat inap rumah sakit pada dasarnya adalah suatu upaya dalam menetapkan fasilitas fisik, tenaga dan peralatan yang diperlukan untuk memberikan pelayanan kesehatan bagi

masyarakat sesuai dengan kebutuhan. Pedoman Teknis Sarana dan Prasarana Bangunan Instalasi Rawat Inap ini bertujuan untuk memberikan petunjuk agar dalam perencanaan dan pengelolaan suatu bangunan instalasi rawat inap di rumah sakit memperhatikan kaidah-kaidah pelayanan kesehatan, sehingga bagunan instalasi rawat inap yang akan dibuat dapat menampung kebutuhan-kebutuhan pelayanan dan dapat digunakan oleh pemakai, pengelola serta tidak berakibat buruk bagi keduanya.

1.3

Sasaran.
Pedoman Teknis ini diharapkan dapat digunakan sebagai pegangan dan acuan bagi Dinas Kesehatan dan pihak Pengelola Rumah Sakit. Disamping itu pedoman ini juga dipakai sebagai acuan bagi konsultan perencana dalam membuat perencanaan suatu banguan instalasi rawat inap di rumah sakit sehingga masing-maing pihak dapat mempunyai persepsi yang sama.

1.4

Kebijakan
Sebagai upaya pengembangan pelayanan kesehatan rujukan rumah sakit, maka program yang dicanangkan oleh Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik, melalui visi Indonesia sehat 2010 adalah sebagai gambaran masyarakat Indonesia di masa depan yang ingin dicapai melalui pembangunan kesehatan adalah masyarakat, bangsa dan negara yang ditandai oleh penduduknya hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku hidup sehat, memiliki kemampuan yang menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya diseluruh wilayah Republik Indonesia.

PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP (UMUM)

2

PENDAHULUAN

BAGIAN - I

Sejalan dengan misi yang ada maka pelayanan yang diharapkan pada masa depan adalah pelayanan yang kondusif bagi terwujudnya keadaan sehat, serta tersedianya pelayanan penunjang pada fasilitas sarana, prasarana, dan alat yang memadai.

1.5
1.5.1

Batasan dan pengertian.
Ruang pasien rawat inap. Ruang untuk pasien yang memerlukan asuhan dan pelayanan keperawatan dan pengobatan secara berkesinambungan lebih dari 24 jam. Untuk tiap-tiap rumah sakit akan mempunyai ruang perawatan dengan nama sendiri-sendiri sesuai dengan tingkat pelayanan dan fasilitas yang diberikan oleh pihak rumah sakit kepada pasiennya.

1.5.2

Ruang Pos Perawat. Ruang untuk melakukan perencanaan, pengorganisasian asuhan dan pelayanan keperawatan (pre dan post conference, pengaturan jadwal), dokumentasi sampai dengan evaluasi pasien.

1.5.3

Ruang Konsultasi. Ruang untuk melakukan konsultasi oleh profesi kesehatan kepada pasien dan keluarganya.

1.5.4

Ruang Tindakan. Ruangan untuk melakukan tindakan pada pasien baik berupa tindakan invasive ringan maupun non-invasive.

1.5.5

Ruang administrasi. Ruang untuk menyelenggarakan kegiatan administrasi khususnya pelayanan pasien di ruang rawat inap. Ruang ini berada pada bagian depan ruang rawat inap dengan dilengkapi loket/counter, meja kerja, lemari berkas/arsip, dan telepon/interkom. Kegiatan administrasi meliputi : (a). Pendataan pasien.

PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP (UMUM)

3

1.8 Ruang Loker.5.11 Ruang linen kotor.7 Ruang perawat. Ruang Dokter. perawat dan petugas rawat inap. Ruang Dokter terdiri dari 2 ruangan. Sedangkan pada kamar istirahat hanya diperlukan sofa dan tempat tidur. 1.5.5. Penandatanganan surat pernyataan keluarga pasien (apabila diperlukan tindakan bedah).5.6 Rekam medis pasien. Ruang untuk menyimpan bahan-bahan linen bersih yang akan digunakan di ruang rawat. Ruang untuk istirahat perawat/petugas lainnya setelah melaksanakan kegiatan pelayanan pasien atau tugas jaga. Ruang ganti pakaian Dokter.I (b).PENDAHULUAN BAGIAN . Pada kamar kerja harus dilengkapi dengan beberapa peralatan dan furnitur.9 Ruang kepala rawat inap. diantaranya pembuatan program kerja dan pembinaan. Ruang tempat kepala rawat inap melakukan manajemen asuhan dan pelayanan keperawatan. 1. yaitu kamar kerja dan kamar istirahat/kamar jaga.5. Ruangan untuk menyimpan bahan-bahan linen kotor yang telah digunakan di ruang rawat inap sebelum di bawa ke ruang cuci (laundri). Ruang Dokter dilengkapi dengan bak cuci tangan (wastafel) dan toilet. 1.5. 1. (c) 1.10 Ruang linen bersih. Ruang perawat harus diatur sedemikian rupa untuk mempermudah semua pihak yang memerlukan pelayanan pasien sehingga apabila ada keadaan darurat dapat segera diketahui untuk diambil tindakan terhadap pasien. PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP (UMUM) 4 .

18 Bangunan gedung. tempat manusia melakukan kegiatannya.PENDAHULUAN BAGIAN . baik untuk tempat tinggal. Pada ruang spoehoek juga harus disediakan kran air bersih untuk mencuci tempat cairan atau cuci tangan.14 Pantri.5.5. PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP (UMUM) 5 . di atas tanah/perairan. 1. 1.5. Ruang tempat spoelhoek ini harus menghadap keluar/berada di luar area rawat inap ke arahj koridor kotor.16 Gudang bersih.5.5. dan harus dijaga kebersihannya karena dengan kamar mandi/toilet yang bersih citra rumah sakit khususnya ruang rawat inap akan baik. Gudang adalah ruangan tempat penyimpanan barang-barang/bahan-bahan bekas pakai. Ruang tempat menyimpan dan mencuci alat-alat pembersih ruangan rawat inap. 1.I 1. Tempat untuk menyiapkan makanan dan minuman bagi mereka yang ada di ruang rawat inap rumah sakit. adalah konstruksi bangunan yang diletakkan secara tetap dalam suatu lingkungan. maupun kegiatan sosial dan budaya. Fasilitas diatur sesuai kebutuhan. Gudang adalah ruangan tempat penyimpanan barang-barang/bahan-bahan dan peralatan untuk keperluan ruang rawat inap.15 Ruang Janitor.12 Spoolhoek. 1. 1. bentuk bak atau kloset dengan leher angsa (water seal). berusaha. Spoelhoek dihubungkan ke septic tank khusus atau jaringan IPAL. Spoelhoek dala.5.5. ataupun di bawah tanah/perairan. 1.17 Gudang kotor. Terdiri dari toilet pasien dan toilet staf.13 Kamar mandi/Toilet. Fasilitas untuk membuang kotoran bekas pelayanan pasien khusnya yang berupa cairan.

adalah gabungan/kumpulan dari ruang-ruang/kamar-kamar di unit rumah sakit yang saling berhubungan dan terkait satu sama lain dalam rangka pencapaian tujuan pelayanan kesehatan.I 1.19 Banguan instalasi di rumah sakit. PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP (UMUM) 6 .5.PENDAHULUAN BAGIAN .

1 – Skema alur kegiatan di ruang rawat inap PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP (UMUM) 7 .1.KEGIATAN DI BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP BAGIAN .II BAGIAN – II KEGIATAN DI BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP 2. Kamar Mayat Dokter Perawat Laundri Ruang Ganti (Loker) Ruang Linen Bersih Ruang Dokter Ruang Perawat Gudang Bersih Meninggal Dunia Ruang Konsultasi Pos Perawat Ruang Linen Kotor Ruang Rawat Inap Spoolhoek & Gudang Kotor Pasien Pulang Sehat Ruang Tunggu Pengantar Ruang Administrasi & Pendaftaran INSTALASI RAWAT INAP Instalasi Gawat Darurat Pasien+Pengantar Instalasi Bedah Instalasi Rawat Jalan Pasien+Pengantar Instalasi ICU Pasien+Pengantar Pasien+Pengantar Gambar 2.1 Alur kegiatan Alur kegiatan di bangunan rawat inap seperti ditunjukkan pada gambar 2.

2. (2). masuk ke ruang perawat untuk ganti pakaian. Staf. Alur Pasien. (a). Perawat. Pasien ganti pakaian. Perawat . (5).II 2. (a). (1). masuk ke ruang staf untuk ganti pakaian. (1) (2) Pasien pulang ke rumah setelah sehat. atau Pasien meninggal dikirim ke kamar janazah. Dokter masuk ke ruang dokter untuk ganti pakaian. Alur Dokter. (4). 2. PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP (UMUM) 8 . (b). Pasien masuk ruang rawat inap. Pasien mendapatkan Nomor Rekam Medis. (3). (b). Dokter. Serah terima & orientasi di pos perawat (Nurse Station). Pasien selanjutnya dirawat lebih lanjut di ruang rawat inap. staf ke luar melalui alur yang sama. Staf.KEGIATAN DI BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP BAGIAN .3. Pasien masuk ruang rawat inap dari IGD/COT/Rawat jalan melalui admisi. Perawat. (2). Pasien meninggalkan ruang rawat inap. (1). (3). Akan bertugas. Setelah selesai tugas.

Kecepatan bergerak merupakan salah satu kunci keberhasilan perancangan. 2 Denah. (3) Akses pencapaian ke setiap blok/ruangan harus dapat dicapai dengan mudah. Pengelompokan ruang berdasarkan kelompok aktivitas yang sejenis hingga tiap kegiatan tidak bercampur dan tidak membingungkan pemakai bangunan. (a).PERSYARATAN TEKNIS SARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP BAGIAN .1 Lokasi.III BAGIAN . aman dan nyaman. (2) Perletakan ruangannya terutama secara keseluruhan perlu adanya hubungan antar ruang dengan skala prioritas yang diharuskan dekat dan sangat berhubungan/membutuhkan. Bangunan rawat inap harus terletak pada lokasi yang tenang. (a)i.III PERSYARATAN TEKNIS SARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP 2. PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP (UMUM) 9 . (1). dan bising dari mesin/generator. Alur petugas dan pengunjung dipisah. (6) (7). Sinar matahari pagi sedapat mungkin masuk ke dalam ruangan. Persyaratan umum. sehingga blok unit sebaiknya sirkulasinya dibuat secara linier/lurus (memanjang) (5) Jumlah kebutuhan ruang harus disesuaikan dengan kebutuhan jumlah pasien yang akan ditampung. tetapi tetap memiliki kemudahan aksesibiltas atau pencapaian dari sarana penunjang rawat inap. (b) Bangunan rawat inap sebaiknya terletak jauh dari tempat-tempat pembuangan kotoran. 2. (4).

2.III (8) Besaran ruang dan kapasitas ruang harus dapat memenuhi persyaratan minimal seperti ditunjukkan dalam tabel 2. Persyaratan khusus. Ruang ganti/Locker Ruang kepala rawat inap. Ruang perawat.PERSYARATAN TEKNIS SARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP BAGIAN . PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP (UMUM) 10 .8 Kebutuhan minimal luas ruangan pada bangunan rawat inap Nama ruang Ruang rawat inap : VIP Kelas I Kelas II Kelas III Ruang Pos perawat Ruang Konsultasi. Ruang administrasi Ruang Dokter. terdiri dari : a) b) c) d) (2). Khusus untuk pasien-pasien tertentu harus dipisahkan (Ruang Isolasi).a. (1) Tipe ruang rawat inap. Ruang linen kotor.a. Spoelhoek Kamar mandi/Toilet Pantri. seperti : a) Pasien yang menderita penyakit menular.2. Ruang rawat inap 1 tempat tidur setiap kamar (VIP).8 Tabel 2. Ruang Janitor/service Gudang bersih Gudang kotor Luas 18 12 10 8 20 12 24 9 20 20 9 12 18 9 9 25 9 9 18 18 Satuan m2/tempat tidur m2/tempat tidur m2/tempat tidur m2/tempat tidur m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 m2 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 (b). Ruang rawat inap 2 tempat tidur setiap kamar (Kelas 1) Ruang rawat inap 4 tempat tidur setiap kamar (Kelas 2) Ruang rawat inap 6 tempat tidur atau lebih setiap kamar (kelas 3). Ruang Tindakan. Ruang linen bersih.

sehingga pengawasan terhadap pasien menjadi lebih efektif dan efisien.PERSYARATAN TEKNIS SARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP BAGIAN . (b). (d) (e) Pintu kamar mandi pasien.4. terdiri dari pintu ganda. dan sebagainya). minimal lebarnya 85 cm. Langit-langit harus rapat dan kuat. tidak berongga. (c) Pertemuan dinding dengan lantai harus melengkung (hospital plint). minimal harus ada 1 kamar mandi berukuran lebar 90 cm. agar memudahkan pembersihan dan tidak menjadi tempat sarang abu dan kotoran. Lantai. c) Pasien yang gaduh gelisah (mengeluarkan suara dalam ruangan). masing-masing dengan lebar 90 cm dan 40 cm. (b) (c) Pintu masuk ke kamar mandi umum. Bahan penutup lantai dapat terdiri dari bahan vinyl yang rata atau keramik dengan nat yang rata sehingga abu dari kotoran-kotoran tidak bertumpuk. ganggrein. Lokasi Pos perawat sebaiknya tidak jauh dari ruang rawat inap yang dilayaninya. untuk setiap kelas.3.III b) Pasien dengan pengobatan yang menimbulkan bau (seperti penyakit tumor. Pintu toilet umum untuk penyandang cacat harus terbuka ke luar. Langit-langit. diabetes. Lantai harus kuat dan rata. (c) Pos Perawat (Nurse Station). (a) Pintu masuk ke ruang rawat inap. 2. 2. mudah dibersihkan. Pintu masuk ke kamar mandi pasien. PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP (UMUM) 11 . harus terbuka ke luar kamar mandi. Pada sisi pintu dengan lebat 90 cm. Keseluruhan ruang-ruang ini harus terlihat jelas dalam kebutuhan jumlah dan jenis pasien yang akan dirawat.5 Pintu. di pasang kaca intai. 2. tidak mudah terbakar. tidak rontok dan tidak menghasilkan debu atau kotoran lain. diperuntukkan bagi penyandang cacat. (a).

shower (pancuran air) dan bak cuci tangan (wastafel). dan cukup rapat. (e) (f) Toilet umum. (a) Kamar mandi pasien. (d) Jumlah kamar mandi untuk penyandang cacat.PERSYARATAN TEKNIS SARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP BAGIAN . yang mudah pemeliharaannya. PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP (UMUM) 12 . Lebih disukai menggunakan jendela kaca sorong.III 2. (b) Khusus untuk kamar mandi bagi penyandang cacat mengikuti pedoman atau standar teknis yang berlaku. dengan persyaratan sesuai pedoman atau standar yang berlaku. 2. 1 (satu) buah untuk setiap kelas.7 Jendela. Disediakan 1 (satu) Toilet umum untuk penyandang cacat di lantai dasar. terdiri dari kloset. terdiri dari kloset dan bak cuci tangan (wastafel).6 Kamar mandi.

(d) Struktur bangunan instalasi bedah harus direncanakan secara detail sehingga pada kondisi pembebanan maksimum yang direncanakan.1 Struktur bangunan. (b) Kemampuan memikul beban diperhitungkan terhadap pengaruh-pengaruh aksi sebagai akibat dari beban-beban yang mungkin bekerja selama umur layanan struktur. 4. Keselamatan pada bangunan fasilitas kesehatan”. sesuai SNI 03 – 7011 – 2004. (e) Ketentuan lebih lanjut mengenai pembebanan.PERSYARATAN TEKNIS PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP BAGIAN . dan perhitungan strukturnya mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku. dan kemungkinan pelaksanaan konstruksinya.IV BAGIAN – IV PERSYARATAN TEKNIS PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP 4. apabila terjai keruntuhan. harus diperhitungkan memikul pengaruh gempa rencana sesuai dengan zona gempanya.1 Persyaratan keselamatan bangunan. keawetan. Pelayanan pada bangunan instalasi rawat inap. (c) Dalam perencanaan struktur bangunan instalasi rawat inap terhadap pengaruh gempa. (a) Bangunan instalasi bedah. baik beban muatan tetap maupun beban muatan sementara yang timbul akibat gempa dan angin. lokasi. kondisi strukturnya masih dapat memungkinkan pengguna bangunan instalasi rawat inap menyelamatankan diri. PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP (UMUM) 13 . semua unsur struktur bangunan instalasi bedah. baik bagian dari sub struktur maupun struktur bangunan. termasuk “daerah pelayanan kritis”. dan stabil dalam memikul beban/kombinasi beban dan memenuhi persyaratan kelayanan (serviceability) selama umur layanan yang direncanakan dengan mempertimbangkan fungsi bangunan instalasi rawat inap.1. ketahanan terhadap gempa dan/atau angin. strukturnya harus direncanakan kuat/kokoh.

3 Sistem proteksi Kebakaran. (a) Bangunan instalasi rawat inap yang berdasarkan letak. volume bangunan. geometri ruang. (a) Bangunan instalasi rawat inap. dan pasien harus segera dipindahkan dari tempat berbahaya.. klasifikasi. (d) Bilamana terjadi kebakaran di ruang rawat inap. serta melindungi manusia di dalamnya. pemeliharaan instalasi sistem proteksi petir mengikuti SNI 03 – 7015 – 2004. jika dimungkinkan. harus dilindungi terhadap bahaya kebakaran dengan sistem proteksi pasif dan proteksi aktif. sifat geografis.PERSYARATAN TEKNIS PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP BAGIAN .1. dan/ atau jumlah dan kondisi penghuni dalam bangunan instalasi rawat inap. (c) Penerapan sistem proteksi aktif didasarkan pada fungsi. bentuk. bahan bangunan terpasang. Peralatan pemadam kebakaran harus dipasang diseluruh rumah sakit .2 Sistem proteksi petir. Semua petugas harus tahu peraturan tentang cara-cara proteksi kebakaran. Mereka harus tahu persis tata letak kotak alarm kebakaran dan tahu menggunakan alat pemadam kebakaran. atau pedoman dan standar teknis lain yang berlaku. (b) Sistem proteksi petir yang dirancang dan dipasang harus dapat mengurangi secara nyata risiko kerusakan yang disebabkan sambaran petir terhadap bangunan instalasi rawat inap dan peralatan yang diproteksinya. ketinggian dan penggunaannya berisiko terkena sambaran petir. dan/atau jumlah dan kondisi penghuni dalam bangunan instalasi rawat inap. PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP (UMUM) 14 .IV 4. luas. (e) Api harus dipadamkan di ruang rawat inap.1. peralatan yang terbakar harus segera disingkirkan dari sekitar sumber oksigen atau outlet pipa yang dimasukkan ke ruang rawat inap untuk mencegah terjadinya ledakan. harus dilengkapi dengan instalasi proteksi petir. (b) Penerapan sistem proteksi pasif didasarkan pada fungsi/klasifikasi risiko kebakaran. pemasangan. 4. ketinggian. (c) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan. Sistem proteksi petir pada bangunan gedung.

Tata cara perencanaan. dan pemeliharaan sistem proteksi pasif dan proteksi aktif mengikuti : (1) SNI 03 – 3988 – 19950. Tata cara perancangan sistem proteksi pasif untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung.IV (f) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan. Pengujian kemampuan pemadaman dan penilaian alat pemadam api ringan. (2) SNI 03 – 1736 – 2000. (5) SNI 03 – 3989 – 2000. atau edisi terakhir. (4) SNI 03 – 3985 – 2000. (2) Kolom yang bisa diperpanjang dengan ditarik. harus dilindungi terhadap belokan yang berulang-ulang sepanjang track. atau edisi terakhir. (1) Kabel listrik dari peralatan yang dipasang di langit-langit tetapi yang bisa digerakkan. bila terjadi gangguan pada sumber daya listrik normal. PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP (UMUM) 15 . (3) SNI 03 – 1745 – 2000. atau edisi terakhir. (6) atau pedoman dan standar teknis lain yang berlaku.1. menghindari bahayabahaya tersebut. pemasangan dan pengujian sistem deteksi dan alarm kebakaran untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung.4 Sistem kelistrikan. Sumber daya listrik pada bangunan instalasi bedah. atau edisi terakhir. di mana sumber daya listrik normal dilengkapi dengan sumber daya listrik siaga untuk menggantikannya. (b) Jaringan. 4.Tata cara perencanaan dan pemasangan sistem pipa tegak dan slang untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung.PERSYARATAN TEKNIS PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP BAGIAN . pemasangan. (a) Sumber daya listrik. Tata cara perencanaan dan pemasangan sistem springkler otomatik untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung. termasuk katagori “sistem kelistrikan esensial 2” . untuk mencegah terjadinya retakan-retakan dan kerusakan-kerusakan pada kabel. atau edisi terakhir.

Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL 2000). Sistem harus memastikan bahwa tidak ada bagian peralatan yang dibumikan melalui tahanan yang lebih tinggi dari pada bagian lain peralatan yang disebut dengan sistem penyamaan potensial pembumian (Equal potential grounding system). (e) Peringatan.IV (3) Sambungan listrik pada kotak hubung singkat harus diperoleh dari sirkitsirkit yang terpisah. b) Karena gas-gas yang mudah terbakar dan uap-uap lebih berat dari udara dan akan menyelimuti permukaan lantai bila dibuka. Keselamatan pada bangunan fasilitas kesehatan” (2) Sakelar. atau pedoman dan standar teknis yang berlaku. (d) Pembumian.5 m) di atas permukaan lantai. dan harus dari jenis tahan ledakan. Sistem ini memastikan bahwa hubung singkat ke bumi tidak melalui pasien. minimal 4 buah. dapat membahayakan petugas. (c) Terminal. Ini menghindari akibat dari terputusnya arus karena bekerjanya pengaman lebur atau suatu sirkit yang gagal yang menyebabkan terputusnya semua arus listrik pada saat kritis. PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP (UMUM) 16 . padamnya tenaga listrik. c) Jumlah kotak kontak untuk setiap tempat tidur di daerah pelayanan kritis. sesuai SNI 03 – 7011 – 2004. Kabel yang menyentuh lantai. Sajekar yang dipasang dalam sirkit pencahayaan harus memenuhi SNI 04 – 0225 – 2000. (1) Kotak Kontak (stop kontak) a) Setiap kotak kontak daya harus menyediakan sedikitnya satu kutub pembumian terpisah yang mampu menjaga resistans yang rendah dengan kontak tusuk pasangannya. Semua petugas harus menyadari bahwa kesalahan dalam pemakaian listrik membawa akibat bahaya sengatan listrik. dan bahaya kebakaran. Kotak kontak listrik harus dipasang 5 ft ( 1.PERSYARATAN TEKNIS PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP BAGIAN .

harus segera diuji dan dilengkapi dengan sistem pembumian yang benar sebelum digunakan. Sistem pasokan daya listrik darurat menggunakan energi tersimpan. Outlet-outletnya bisa dipasang di dinding. atau digantung di langit-langit. atau edisi terakhir. (f) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan. (2) SNI 04 – 7018 – 2004. pada langit-langit. (2) Peralatan jinjing (portabel). Peralatan harus mempunyai kabel yang cukup panjang dan harus mempunyai kapasitas yang cukup untuk menghindari beban lebih. (3) Segera menghentikan pemakaian dan melaporkan apabila ada peralatan listrik yang tidak benar.1. pasokan oksigen dan nitrous oksida dapat ditutup alirannya dari panel-panel yang berada di koridor-koridor. (4) 4. atau edisi terakhir. atau petugas. PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP (UMUM) 17 .5 atau pedoman dan standar teknis lain yang berlaku Sistem gas medik dan vakum medik. Bahaya ini dapat dicegah dengan : (1) Memakai peralatan listrik yang dibuat khusus untuk instalasi rawat inap. dan nitrous oksida disalurkan dengan pemipaan ke ruang bedah. atau edisi terakhir.IV Kesalahan dalam instalasi listrik bisa menyebabkan arus hubung singkat. Keselamatan pada bangunan fasilitas keehatan. Bel dapat dimatikan. tersengatnya pasien.PERSYARATAN TEKNIS PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP BAGIAN . dan pemeliharaan sistem kelistrikan pada bangunan instalasi rawat inap mengikuti (1) SNI 03 – 7011 – 2004. (a) Vakum. pemasangan. udara tekan medik. tetapi lampu indikator yang memonitor gangguan/kerusakan yang terjadi tetap menyala sampai gangguan/kerusakan teratasi. Sistem pasokan daya listrik darurat dan siaga. (3) SNI 04 – 7019 – 2004. (b) Bilamana terjadi gangguan pada suatu jalur. oksigen. sebuah lampu indikator pada panel akan menyala dan alarm bel berbunyi. untuk keamanan ruang-ruang lain.

1 Persyaratan kesehatan bangunan.. Sistem ventilasi dalam instalasi rawat inap harus terpisah dari sistem ventilasi lain di rumah sakit. (d) Penerapan sistem ventilasi harus dilakukan dengan mempertimbangkan prinsip-prinsip penghematan energi dalam bangunan instalasi bedah. (e) Ventilasi di daerah pelayanan kritis pasien harus pasti merupakan ventilasi tersaring dan terkontrol. (c) Ventilasi mekanik/buatan harus disediakan jika ventilasi alami tidak dapat memenuhi syarat. atau pedoman dan standar teknis lain yang berlaku. PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP (UMUM) 18 . (b) Bangunan instalasi rawat inap harus mempunyai bukaan permanen. dokter anestesi dapat memindahkan sambungan gas medisnya yang semula secara sentral ke silinder-silinder gas cadangan pada mesin anestesi.IV (c) Selama terjadi gangguan. 4. Sistem ventilasi. (h) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan. Tata cara perancangan sistem ventilasi dan pengkondisian udara pada bangunan gedung . (a) Untuk memenuhi persyaratan sistem ventilasi. Pertukaran udara dan sirkulasi memberikan udara segar dan mencegah pengumpulan gas-gas anestesi dalam ruangan. bangunan instalasi rawat inap harus mempunyai ventilasi alami dan/atau ventilasi mekanik/ buatan sesuai dengan fungsinya. pemasangan. (f) (g) Sepuluh kali pertukaran udara per jam di instalasi rawat inap yang dianjurkan.PERSYARATAN TEKNIS PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP BAGIAN . dan pemeliharaan sistem ventilasi alami dan mekanik/buatan pada bangunan instalasi bedah mengikuti SNI 03 – 6572 – 2001. kisi-kisi pada pintu dan jendela dan/atau bukaan permanen yang dapat dibuka untuk kepentingan ventilasi alami.2 4.2.

(a) Bangunan instalasi rawat inap harus mempunyai pencahayaan alami dan/atau pencahayaan buatan. (g) (h) Pencahayaan umum disediakan dengan lampu yang dipasang di langit-langit. harus dilengkapi dengan pengendali manual. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan. (i) (j) Pencahayaan harus didistribusikan rata dalam ruangan. pemasangan. dan/atau otomatis. tetapi dapat juga menggunakan lampu pijar. penghematan energi. (f) Semua sistem pecahayaan buatan.PERSYARATAN TEKNIS PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP BAGIAN .2. (c) Pencahayaan alami harus optimal. oleh pengguna ruang. serta ditempatkan pada tempat yang mudah dibaca dan dicapai. dan penempatannya tidak menimbulkan efek silau atau pantulan. dan pemeliharaan sistem pencahayaan pada bangunan instalasi rawat inap mengikuti : PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP (UMUM) 19 . Lampu-lampu recessed tidak mengumpulkan debu. termasuk pencahayaan darurat sesuai dengan fungsinya. (e) Pencahayaan buatan yang digunakan untuk pencahayaan darurat harus dipasang pada bangunan instalasi rawat inap dengan fungsi tertentu. (b) Bangunan instalasi rawat inap harus mempunyai bukaan untuk pencahayaan alami. serta dapat bekerja secara otomatis dan mempunyai tingkat pencahayaan yang cukup untuk evakuasi yang aman. kecuali yang diperlukan untuk pencahayaan darurat. Kebanyakan pencahayaan ruangan menggunakan lampu fluorecent.2 Sistem pencahayaan. (d) Pencahayaan buatan harus direncanakan berdasarkan tingkat iluminasi yang dipersyaratkan sesuai fungsi ruang dalam bangunan instalasi rawat inap dengan mempertimbangkan efisiensi. disesuaikan dengan fungsi bangunan instalasi rawat inap dan fungsi masing-masing ruang di dalam bangunan instalasi rawat inap.IV 4.

(2) Sumber air bersih dapat diperoleh dari sumber air berlangganan dan/atau sumber air lainnya yang memenuhi persyaratan kesehatan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Sistem Plambing 2000. atau pedoman dan standar teknis lain yang berlaku. sistem pembuangan air kotor dan/atau air limbah. Untuk memenuhi persyaratan sistem sanitasi. (4) 4. (2) Pertimbangan jenis air kotor kotor dan/atau air limbah diwujudkan dalam bentuk pemilihan sistem pengaliran/pembuangan dan penggunaan peralatan yang dibutuhkan. kotoran dan sampah. (b) Sistem pembuangan air kotor dan/atau air limbah. setiap bangunan instalasi rawat inap harus dilengkapi dengan sistem air bersih. pemasangan. (2) SNI 03 – 6575 – 2001.2. dan pemeliharaan. tanda arah dan tanda peringatan.IV (1) SNI 03 – 2396 – 2001. (3) SNI 03 – 6574 – 2001. (1) Sistem pembuangan air kotor dan/atau air limbah harus direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan jenis dan tingkat bahayanya. (a) Sistem air bersih. PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP (UMUM) 20 . Tata cara perancangan sistem pencahayaan buatan pada bangunan gedung. Tata cara perancangan sistem pencahayaan darurat. (3) Perencanaan sistem distribusi air bersih dalam bangunan instalasi rawat inap harus memenuhi debit air dan tekanan minimal yang disyaratkan. Tata cara perancangan sistem pencahayaan alami pada bangunan gedung. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan.PERSYARATAN TEKNIS PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP BAGIAN . Sistem Sanitasi. sistem air bersih pada bangunan instalasi rawat inap mengikuti SNI 03 – 6481 – 2000 atau edisi terakhir.3 atau pedoman dan standar teknis lain yang berlaku. serta penyaluran air hujan. (1) Sistem air bersih harus direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan sumber air bersih dan sistem distribusinya.

(2) Pertimbangan fasilitas penampungan diwujudkan dalam bentuk penyediaan tempat penampungan kotoran dan sampah pada bangunan rehabilitasi medik. (1) Sistem penyaluran air hujan harus direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan ketinggian permukaan air tanah. dan volume kotoran dan sampah. dan pemeliharaan. dan pengolahan fasilitas pembuangan kotoran dan sampah pada bangunan instalasi bedah mengikuti pedoman dan standar teknis lain yang berlaku. jumlah penghuni. sistem pembuangan air kotor dan/atau air limbah pada bangunan instalasi rawat inap mengikuti SNI 03 – 6481 – 2000 atau edisi terakhir. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan. atau pedoman dan standar teknis lain yang berlaku. (1) Sistem pembuangan kotoran dan sampah harus direncanakan dan dipasang dengan mempertimbangkan fasilitas penampungan dan jenisnya.IV (3) Pertimbangan tingkat bahaya air kotor dan/atau air limbah diwujudkan dalam bentuk sistem pengolahan dan pembuangannya. dan ketersediaan jaringan drainase lingkungan/kota. (d) Sistem penyaluran air hujan. masyarakat dan lingkungannya. pemasangan.PERSYARATAN TEKNIS PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP BAGIAN . (3) Pertimbangan jenis kotoran dan sampah diwujudkan dalam bentuk penempatan pewadahan dan/atau pengolahannya yang tidak mengganggu kesehatan penghuni. yang diperhitungkan berdasarkan fungsi bangunan. (2) Setiap bangunan instalasi bedah dan pekarangannya harus dilengkapi dengan sistem penyaluran air hujan. PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP (UMUM) 21 . permeabilitas tanah. (c) Sistem pembuangan kotoran dan sampah. Sistem Plambing 2000. pemasangan. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan.

(d) Uap air memberikan suatu medium yang relatip konduktif.3.PERSYARATAN TEKNIS PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP BAGIAN . (b) Untuk mendapatkan tingkat temperatur dan kelembaban udara di dalam ruangan dapat dilakukan dengan pengkondisian udara dengan mempertimbangkan : (1) fungsi ruang. maka penyaluran air hujan harus dilakukan dengan cara lain yang dibenarkan oleh instansi yang berwenang. air hujan harus diserapkan ke dalam tanah pekarangan dan/atau dialirkan ke sumur resapan sebelum dialirkan ke jaringan drainase lingkungan/kota sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kelembaban relatip yang tinggi harus dipertahankan. pemasangan. (e) Temperatur ruangan dipertahankan sekitar 680F sampai 800F (200C sampai 260C). . letak. Loncatan bunga api dapat terjadi pada kelembaban relatip yang rendah. dan penggunaan bahan bangunan.IV (3) Kecuali untuk daerah tertentu. dan 60% yang dianjurkan. (4) Bila belum tersedia jaringan drainase kota ataupun sebab lain yang dapat diterima. (a) Untuk mendapatkan kenyamanan kondisi udara ruang di dalam bangunan instalasi bedah. pengelola bangunan instalasi rawat inap harus mempertimbangkan temperatur dan kelembaban udara. Sistem pengkondisian udara. jumlah pengguna. Sistem ini mengontrol kelembaban yang dapat menyebabkan terjadinya ledakan.3 4.1 Persyaratan kenyamanan. (2) (3) (c) kemudahan pemeliharaan dan perawatan. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan. 4. (5) Sistem penyaluran air hujan harus dipelihara untuk mencegah terjadinya endapan dan penyumbatan pada saluran. jenis peralatan. dan pemeliharaan mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku. dan prinsip-prinsip penghematan energi dan kelestarian lingkungan. PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP (UMUM) 22 . volume ruang. yang menyebabkan muatan listrik statik bisa mengalir ke tanah secapat pembangkitannya. Untuk lokasi anestesi mudah terbakar tidak kurang dari 50% .

pengelola bangunan instalasi rawat inap harus mempertimbangkan jenis kegiatan. atau edisi terakhir. (h) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan.3. 4. atau pedoman dan standar teknis lain yang berlaku. dan/atau sumber bising lainnya baik yang berada pada bangunan instalasi rawat inap maupu di luar bangunan instalasi rawat inap (b) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan tingkat kenyamanan terhadap kebisingan pada bangunan instalasi rawat inap mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku. 4. Tata cara perancangan sistem ventilasi dan pengkondisian udara pada bangunan gedung . (g) Saluran udara (ducting) harus dibersihkan secara teratur. PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP (UMUM) 23 .3 Getaran.PERSYARATAN TEKNIS PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP BAGIAN . unit pengkondisian udara bisa menjadi sumber micro-organisme yang datang melalui filterfilternya. Filter-filter ini harus diganti pada jangka waktu yang tertentu. dan pemeliharaan kenyamanan kondisi udara pada bangunan instalasi rawat inap mengikuti SNI 03 – 6572 – 2001.IV (f) Sekalipun sudah dilengkapi dengan kontrol kelembaban dan temperatur. dan/atau sumber getar lainnya baik yang berada pada bangunan instalasi rawat inap maupun di luar bangunan instalasi rawat inap.2 Kebisingan (a) Untuk mendapatkan tingkat kenyamanan terhadap kebisingan pada bangunan instalasi rawat inap. pengelola bangunan instalasi rawat inap harus mempertimbangkan jenis kegiatan. (b) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan tingkat kenyamanan terhadap getaran pada bangunan instalasi rawat inap mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku. penggunaan peralatan. penggunaan peralatan.3. (a) Untuk mendapatkan tingkat kenyamanan terhadap getaran pada bangunan instalasi rawat inap. pemasangan.

(c) Arah bukaan daun pintu dalam suatu ruangan dipertimbangkan berdasarkan fungsi ruang dan aspek keselamatan. dalam suatu ruangan dipertimbangkan berdasarkan besaran ruang. ukuran. ukuran dan konstruksi sarana hubungan vertikal harus berdasarkan fungsi bangunan rumah sakit. ram.PERSYARATAN TEKNIS PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP BAGIAN . fungsi ruang dan jumlah pengguna. (a) Setiap bangunan rumah sakit bertingkat harus menyediakan sarana hubungan vertikal antarlantai yang memadai untuk terselenggaranya fungsi bangunan rumah sakit tersebut berupa tersedianya tangga. pemasangan.IV 4. Kemudahan hubungan horizontal. dan/atau lantai berjalan/travelator.4. (b) Jumlah. lif. serta keselamatan pengguna bangunan rumah sakit. (e) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan.4. PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP (UMUM) 24 .2 Kemudahan hubungan vertikal. dan jumlah pengguna ruang. (d) Lif kebakaran dapat berupa lif khusus kebakaran atau lif penumpang biasa atau lif barang yang dapat diatur pengoperasiannya sehingga dalam keadaan darurat dapat digunakan secara khusus oleh petugas kebakaran. dan jenis pintu. luas bangunan. fungsi ruang. dan pemeliharaan lif. mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku. 4.4 4. (b) Jumlah. dan jumlah pengguna ruang. tangga berjalan/ eskalator. harus menyediakan lif kebakaran. (d) Ukuran koridor sebagai akses horizontal antarruang dipertimbangkan berdasarkan fungsi koridor. (c) Setiap bangunan rumah sakit yang menggunakan lif. (a) Setiap bangunan rumah sakit harus memenuhi persyaratan kemudahan hubungan horizontal berupa tersedianya pintu dan/atau koridor yang memadai untuk terselenggaranya fungsi bangunan instalasi rumah sakit tersebut. (e) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan pintu dan koridor mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku.1 Persyaratan kemudahan.

PERSYARATAN TEKNIS PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP BAGIAN .3 Sarana evakuasi.4. harus menyediakan sarana evakuasi yang meliputi sistem peringatan bahaya bagi pengguna. (c) Penyediaan fasilitas dan aksesibilitas disesuaikan dengan fungsi. jumlah dan kondisi pengguna bangunan rumah sakit. tangga. telepon umum. pintu eksit. (b) Penyediaan sistem peringatan bahaya bagi pengguna. dan jalur evakuasi yang dapat dijamin kemudahan pengguna bangunan rumah sakit untuk melakukan evakuasi dari dalam bangunan rumah sakit secara aman apabila terjadi bencana atau keadaan darurat. jumlah fasilitas dan aksesibilitas bagi penyandang cacat mengikuti ketentuan dalam pedoman dan standar teknis yang berlak PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP (UMUM) 25 . konstruksi. jalur pemandu.IV 4. (d) Ketentuan tentang ukuran. (a) Setiap bangunan rumah sakit. 4. (c) Sarana pintu eksit dan jalur evakuasi harus dilengkapi dengan tanda arah yang mudah dibaca dan jelas. dan jalur evakuasi disesuaikan dengan fungsi dan klasifikasi bangunan gedung. (d) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara perencanaan sarana evakuasi mengikuti pedoman dan standar teknis yang berlaku. pintu. (b) Fasilitas dan aksesibilitas sebagaimana dimaksud meliputi toilet. pintu eksit.3 Aksesibilitas. rambu dan marka. aman nyaman dan mandiri. serta jarak pencapaian ke tempat yang aman.4. (a) Setiap bangunan rumah sakit harus menyediakan fasilitas dan aksesibilitas untuk menjamin terwujudnya kemudahan bagi penyandang cacat dan lanjut usia masuk ke dan ke luar dari bangunan rumah sakit serta beraktivitas dalam bangunan rumah sakit secara mudah. dan lif bagi penyandang cacat dan lanjut usia. ram. luas dan ketinggian bangunan rumah sakit.

1 Pedoman Teknis Sarana dan Prasarana Bangunan Instalasi rawat inap ini diharapkan dapat digunakan sebagai rujukan oleh pengelola bangunan rumah sakit. instansi Dinas Kesehatan.V BAB – V PENUTUP 5.3 Sebagai pedoman/petunjuk pelengkap dapat digunakan pedoman dan standar teknis terkait lainnya. penyedia jasa konstruksi. PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP (UMUM) 26 . 5. dan instansi terkait dengan kegiatan pengaturan dan pengendalian penyelenggaraan pembangunan bangunan rumah sakit dalam pencegahan dan penanggulangan dan guna menjamin keamanan dan keselamatan bangunan rumah sakit dan lingkungan terhadap bahaya penyakit. Pemerintah Daerah.PENUTUP BAGIAN .2 Persyaratan-persyaratan yang lebih spesifik dan atau bersifat alternatif serta penyesuaian “Pedoman Teknis Sarana dan Prasarana Bangunan Instalasi rawat inap” pada bangunan rumah sakit oleh masing-masing daerah disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan kelembagaan di daerah. 5.

Gambar L2 – Contoh ruang rawat inap 2 tempat tidur PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP (UMUM) 27 .LAMPIRAN LAMPIRAN Gambar L1 – Contoh ruang rawat inap VIP.

LAMPIRAN Gambar L3 – Contoh ruang rawat inap 4 tempat tidur Gambar L4 – Contoh ruang rawat inap 6 tempat tidur PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP (UMUM) 28 .

LAMPIRAN Gambar 5 – Contoh detail ruang rawat inap PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP (UMUM) 29 .

LAMPIRAN Gambar 6 – Contoh Instalasi Rawat Inap 1 2 3 4 5 6 7 8 Saf Toilet Ruang perawat Ruang peralatan Ruang perlengkapan Pos Perawat Ruang peralatan Ruang panel listrik 9 10 11 12 13 14 15 Ruang Dokter Ruang Pantri Saf Ruang tindakan Gudang kotor. Tangga darurat Atrium PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP (UMUM) 30 .

ASHRAE. 5. 2004.KEPUSTAKAAN KEPUSTAKAAN 1. American Society of Heating.D. American Society of Heating. Tata McGraw-Hill Publishing Company Limited. Fuller. Applications. tentang Bangunan Gedung. Joanna R. 1974 Edition. Saunders. 2003 edition. 3. Hospitals. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. Principles and Practice. ASHRAE. Facilities Planning and Management. 4. Surgical Technology. Refrigerating and Air Conditionign Engineers. PEDOMAN TEKNIS SARANA DAN PRASARANA BANGUNAN INSTALASI RAWAT INAP (UMUM) 31 . Refrigerating and Air Conditionign Engineers. 2. Handbook. 36 Tahun 2005. tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002. Kunders. HVAC Design Manual for Hospitals and Clinics. G.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful