P. 1
Monotone

Monotone

|Views: 505|Likes:
Published by boedhimargono

More info:

Published by: boedhimargono on Nov 19, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/16/2011

pdf

text

original

Sections

Percakapanku Dengan Seorang Bartender Sejenak ia menatapku penuh perhatian, lalu berkata: “Aku sudah lama disini, bang

, dan aku kenal dengan banyak orang. Kebanyakan yang datang kesini adalah bajingan.Ya ini kerja di bar. Seks berkeliaran di mana-mana, dan juga narkoba, you know? Apa lagi yang diharapkan oleh orang datang kesini selain itu?” Aku amati wajahnya yang lelah. Masih saja penuh senyum. “Mau minum apa?” “Anggur putih, tanpa es.” aku berkata cepat. Kutatap pipi bersih dan mulus itu. Wajahnya cukup ganteng. Aku menjilat bibir membayangkan betapa nikmat minuman itu sambil ditemani olehnya. “Anggur?” ia bertanya. Ia menatapku dalam-dalam, dan kemudian tersenyum lagi. “Kau tahu, bang. Aku membedakan orang berdasarkan apa yang mereka minum.” “Seperti apa itu?” kutatap gerakan tangannya yang terampil dan cepat menggelegakkan cairan putih bening dari botol, menyodorkannya sempurna padaku. “Orang yang terbaik, tentu minum anggur. Yang kedua peminum teh, dan yang terburuk adalah peminum sirop. Tentu saja diantaranya banyak sekali antara. Peminum kopi termasuk yang terburuk. Saya lebih suka orang yang suka minum bir.” “So. Kau adalah peminum anggur mestinya?” aku tersenyum melihat wajahnya berkejapkejab diantara lampu-lampu bar yang melintas dalam kegelapan. Terus terang aku tersanjung atas pujiannya. Membuat jantungku berdesir halus. “Dan aku benci beberapa hal, bang. Polisi, orang fanatik agama. Ya kira-kira orang-orang seperti mereka lah. Abang tahu khan?” “Yep.” “Yang jelas saya bukan pemabuk atau pengguna narkoba. Tetapi di bisnis ini, kita akan selalu saja kena stigma.” “Begitu?” tanyaku tersenyum simpul menikmati semburat merah kemarahan yang meluap dari pipinya yang hitam manis itu. “Ya.” mereka cuma tahu aturan-aturan anjing itu. Abang tahu orang-orang yang ditangkap disini. Mereka yang terjerat itu, saya tahu mereka semua, orang-orang baik.” katanya, sambil menggeser tangannya dan perlahan meletakkannya ke meja. Tangannya berbulu. Aku diam dan tersenyum. Tangannya tadi berdekatan dengan tanganku yang sedang menggenggam gelas sloki yang tergeletak di meja. Hatiku berdesir. Tapi aku tak berani memegangnya. Kini ia sibuk melayani pembeli di sampingku. Wajahnya tampan. Nampaknya sebuah modal yang amat penting bagi bartender. “Saya benci jika ada fanatik-fanatik agama saat musim puasa. Mereka bikin kisruh. Kita tak pernah kisruh, itu kerjaan mereka. Saya sebut mereka bajingan, dan juga tak bisa berfikir. Mereka tak tahu apa-apa.” “Menurutmu apa yang tak mereka tahu?’ “Abang tahu? Bahwa hukum selalu memojokkan orang-orang seperti kami. Kami tak pernah merugikan orang lain, hanya ingin fun.” “Tapi kalian khan ada juga yang menjual narkoba, menyebarkan virus HIV, dan juga halhal buruk lainnya untuk anak-anak muda. Apa salah mereka jika menggerebeg kalian jika begitu?” Ia menatap wajahku heran. Wow. Matanya besar dan berbulu panjang melengkung lentik. Aduh tampannya!! Namun ia nampak sangat terkejut dengan kata-kataku dan merasa terpukul. Ia berkata pelan, sedikit bergetar, ”Abang kok bilang gitu?” “Aku?” aku menunjuk diriku sendiri dengan gelasku itu, dan berkata pelan kepadanya setelah menyeruput sedikit anggurku. “Aku? Aku sih ikut saja suara orang banyak.” Aku pun tertawa terbahak-bahak.

1

“Ah, jangan begitu bang.” “Sudah-sudah. Sekarang aku minta anggur lagi.” “Baiklah bang” ia mengangkat botol anggurnya dan mengucurkannya lagi ke gelasku. “Penuh.” kataku. “Penuh? “Ya. Penuh.” “Baik” katanya. Ia mengucurkan penuh ke dalam gelasku. Kuseruput anggur dalam gelasku, dan menikmati rasa manis pahitnya. Kutatap semua orang yang bergembira ria malam ini. Tercenung. Mungkin aku melamun. Bartender itu nampak cemas atas wajahku yang pasti nampak tertekuk jelek. “Ada apa, bang? Nggak enak anggurnya? Atau ada sesuatu yang tak memuaskan?” “Nggak... enak kok.” Selama beberapa waktu kami berdiam. Aku menikmati anggur itu dalam-dalam, menyeruputnya pelan. “Disini orang datang menikmati suasana, bukan untuk membeli minuman murah.” batinku ironis. Tapi entah kenapa, tiba-tiba kini aku melihat petugas bar nampak sibuk bergegas kesana kemari. Mereka nampak membisiki para pelanggan, membuat para pelanggan nampak pucat. Musik dihentikan. Lampu dihidupkan. Mataku jadi beerkejab-kerjab silau. “Lho ada apa ini?” “Nampaknya malam ini ada kejadian. Abang perlu deh pulang cepat.” “Apa??” “Semestinya FPI menyerbu malam ini.” “Hah??? Dapat info dari mana?” tanyaku agak panik. “Orang dalam. Dari orang FPI sendiri dan polisi. Kita punya tangan disana. So, we have to get out of here, Sir. As soon as possible.” “Secepat itu?” “Ya. ya... Dan kami akan padamkan lampunya. Malam ini saya nampaknya bisa tidur nyenyak.” “Kesempatan yang amat genting. Harus segera dimanfaatkan. Jika tidak aku akan kehilangan dia!!!” pikirku. Campuran senang tapi juga panik. “Santai saja. Kalau begitu ikut saja denganku. Aku punya bar sendiri di rumahku. Kau mau mampir?” kataku dengan hati berdesir. “Benarkah?” “Tak ada gunanya aku berbohong.” “Tetapi abang bukan pemakai kan?” dia bertanya dengan penuh kecurigaan. Aku tergelak dengan cepat. “ tidak-tidak. Tak ada narkoba. Aman. Hanya anggur, dan minuman reguler yang lain. Teh jika kau mau. Juga ada teman-temanku yang datang. Kukenalkan nanti.” “Tak ada ganja?” “Tidak” Ia nampak merenung agak lama, menimbang-nimbang. Aku tahu bahwa dunia dugem seperti ini adalah dunia yang berbahaya. Dan tentunya ia sudah terbiasa dengannya, dan aku tak yakin bahwa ia pun tidak menyukai sebuah eksperimentasi, seksual misalnya. Aku berharap. Aku menunggu dengan sabar, sambil menghabiskan isi gelasku. “Bolehkah aku aku membayar billnya sekarang?” tanyaku tak membiarkan waktu sempit itu terbuang percuma. Tapi aku tak mau kelihatan menggegas kegiatan dia memberesi barnya. “Tentu saja. Silakan.” katanya datar. “Tentu saja.” Aku pun melangkah meninggalkan dia menuju konter kasir dekat pintu keluar. Nampak wajah cewek penjaga kasir yang kelelahan dan khawatir. Kubayarkan berapa yang tertera dalam bill-ku, dan segera aku beranjak menuju bar lagi. Nampak bartender itu tersenyum padaku.

2

“Disini saya jarang sekali bisa minum. Abang tahu khan disiplin seorang bartender? Kami hanya bisa minum saat tamu semua telah pulang. Seperti ritual bunuhdiri terakhir saja.” “Dan kau akan minum dulu disini...” kataku. “Tidak lah. Waktunya sangat genting.” “So kita bisa minum-minum di rumahku saja. Ya kan?” kataku agak memaksa dia. Ia diam saja. Ia segera menutup barnya dengan cepat, menyelamatkan botol-botol minuman terbaiknya ke dalam ceruk terlindung besi yang tersembunyi di lantai bar, ia menumpuknumpukkan botol-botol dan peralatan bartender dengan cepat, dan setelah itu menguncinya dengan palang besi. Nampak sangat rata dengan lantai ubin yang kemilau di sekelilingnya. Ia kemudian menutupnya dengan karpet. Banyak orang sibuk dalam kegiatan itu. Ia dibantu beberapa pekerja yang lain meringkas semua benda yang lain. Aku menatap peristiwa itu dengan takjub, juga saat semua tamu berhamburan keluar dengan cepat dan tergesa-gesa menghilang dalam kegelapan malam. Dalam hitungan menit semuanya telah selesai. Kini aku tinggal bersama hanya beberapa orang pekerja yang tersisa, juga dengan beberapa pelanggan yang nampaknya hendak menyertai para pekerja pulang. Aku beranjak dari tempat duduk di bar, dan kemudian menarik lengannya. “Ayo.” Ia kelihatan menurut saja seperti terhipnotis. Mengikuti langkahku. Kami pergi dalam pandangan acuh-tak acuh dari teman-temannya yang lain. Beberapa orang sempat menyampaikan salam seperti biasa dan segera berlalu. Kami berdua berjalan cepat dalam kegelapan malam menuju tempat parkir. Aku membuka pintu mobilku dan berkata, ”Jangan takut. Sekali lagi aku tak suka memaksamu melakukan apa yang kau tak biasa lakukan. Dan juga tak ada narkoba di rumahku. Aku bersih.” “Thanks God.” “Masuklah.” “Baiklah bang” Maka ia pun masuk ke dalam mobilku, dan aku pun segera duduk di belakang kemudi. Tanpa sadar aku pun bersiul. Wajahku pasti nampak demikian gembira terlihat dari kaca spion. Nampak ia sedikit curiga. Mobilku mulai kulajukan kencang. Ia nampak terdiam di sampingku. Ia menyulut rokoknya, dan kemudian menghisapnya pelan. Aku pun tersenyum simpul melihat sikap itu. aku menangkap sebuah ketakutan dan kecurigaan, dan kerja kerasnya untuk bersikap santai. Tetapi aku pun selalu harus kerja keras untuk bisa menyantaian diriku. Tentu saja. “Mobil abang bagus. Abang orang kaya, pasti.” “Lumayan.” “Kerja apa?’ ”Ah kerja biasa saja.” “Tidak. Asal bukan seorang polisi saja. Tetapi saya tahu semua polisi disini.” “Hah. Jangan menghina. Aku bukan polisi.” “Lantas?” “Tebak coba.” “Paling bisnismen atau kalau tidak, ya pejabat. Seperti semua orang yang lain yang kutemui.” “Dosen. Aku seorang profesor.” Aku menikmati sekali wajah tertegun dan terkejutnya. Nampak sangat tampan. Tapi...tapi...Tubuhnya mencondong menjauh. Menempel ke pintu mobilku, memegangi kenop bukaan pintu. Ia nampak pucat pasi. “Pasti anda gay. Pasti. Anda menjebakku kan?” kini katakatanya berubah agak kasar, tak lagi sopan seperti biasanya. Aku mulai berdebar. Setiap saat kegagalan bisa menghadangku untuk bisa membawa dia ke rumah. “Tidak, lah.”

3

“Saya tahu semua dosen yang ketempat dugem adalah gay. Laki perempuan. Mereka semua gay.” “Kau sangat paranoid. Apa salahnya menjadi gay. Aku punya banyak teman gay, dan mereka adalah orang-orang yang baik. Andaikan aku cewek cakep pasti kau tak akan menjadi histeris seperti ini.” “Itu karena saya bukan gay.” katanya sedikit histeris. “Sudahlah. Baiklah. OK. OK. Aku memang gay. Tetapi memangnya kenapa dengan hal itu? Aku toh bukan orang jahat. Hanya seorang yang ingin berteman denganmu.” aku tahu jika diriku sudah kalah dalam tawar menawar ini. “Kau juga dengan kejam telah memberikan stigma atas kaumku....” kataku lirih. Ia pun terdiam dan kemudian memusatkan pandangannya ke depan. Tubuhnya masih merapat di pintu mobilku. Aku berdebar-debar. Jangan-jangan ia mau melompat keluar. Hal itu amat berbahaya. Maka aku pun mulai melambatkan mobilku, meminggirkannya ke trotoar. Ia berkata pelan, “Saya berhenti disini saja.” “Kenapa kau? Pleaseee....” kataku memohon. “Maafkan saya bang, tetapi saya sama sekali tak merasa nyaman malam ini. Mau pulang saja ke rumah. Saya mau istirahat. Lelah.” “Aku menakutkanmu kah? Kenapa? Maafkan abang dong.” kataku berusaha tidak kelihatan genit. Tapi nampak tubuhnya bergetar, pasti sedikit merinding. “Maafkan saya juga, bang. Tetapi saya harus pulang. Saya ingin pulang saja.” “Baiklah kalau begitu. Di mana rumahmu? Kuantarin ya...” aku mencoba membujuknya halus. “Saya jalan kaki saja deh.” Permintaannya membuat hatiku perih dan terhina. Siapa merasa senang dirinya ditolak? Tapi aku tak berdaya. Kuberhentikan mobilku pelan, dan ia pun membuka pintunya, segera beranjak keluar. “Terimakasih atas tumpangannya, bang. Maafkan saya juga kalau membuat abang tak enak hati.” katanya pelan dari luar pintu mobil. “Tak apa. Benarkah itu keinginanmu?” aku menatapnya sambil tersenyum sayu. Aku masih saja berusaha bersikap sopan padanya, mengharap konyol agar ia mengurungkan niatnya, dan bisa ikut denganku. Kuhentikan mobilku, membiarkan beberapa menit kami berlalu dalam diam. Ia nampak berdiri gelisah. Ia masih saja bersikap sopan padaku. Seolah adalah dosa membuatku marah. Sungguh pelayan yang baik. Aku merasa kasihan padanya. ”Ya. Selamat malam.” ia memecah keheningan. Pasti sudah tak betah. “Ya?” “Ya.” “Ya sudah. Besok aku akan ke bar itu lagi. Aku suka minumannya, kok. Selamat malam.” kataku berusaha keras tersenyum tulus. “Selamat malam, bang. Mungkin besok malam kami belum bisa buka. Kami pasti harus membersihkan kerusakan hasil kerjaan FPI terlebih dahulu.” “Ya. Pasti.” aku berkata pelan. Ia pun beranjak pergi. Aku pun melajukan mobilku lagi pelan meninggalkan dia. “Hampir saja.” Aku mengeluh dalam hati. “Bah gagal lagi. Sudahlah.” Kuputar radio dalam mobilku menyetel sebuah stasiun radio berita yang kusukai, dan terdengar siaran langsung tentang penyerbuan sebuah bar. Bar tempatku minum barusan. FPI tengah mengobrak-abrik bar yang sudah kosong sepi itu. Dari latar belakang terdengar suara suara gemuruh penghancuran disertai pekikan takbir dan juga teriakan-teriakan keras lainnya. Aku menyalakan rokokku dan segera mengepulkan asap perlahan. Kulajukan mobilku pulang ke rumah. Kutahu disana telah menunggu bar pribadi dengan koleksi minuman keras terbaikku. “Bodoh sekali bartender itu.” kataku dalam hati. mencoba menghibur diri. Kupindah stasiun radio, dan terdengar musik jazz yang merdu. Mobilku kugeber kencang melewati jalan-jalan yang semakin sepi, makin mendekati rumahku.

4

Memasuki pintu rumahku, aku segera bergegas masuk ke ruang besarku, kulihat dengan cermat barku yang sengaja kuletakkan di ruang keluarga. Sangat lengkap. Aku merogoh kantongku, dan segera mendial nomer komunitiku. Terdengar beberapa orang yang berhasil kuhubungi secara bersamaan di teleponku. Ada Rudi, ada Adi, ada Ivan, juga berapa teman yang lain. “Hai. Datang ya malam ini.” “Apa?” tanya Rudi. “Kita minum lagi disini. Dan main-main lagi bareng. Asyik kan?” “Lagi? Dasar pria mesum.” kata Rudi. “Ya, biarlah. Itu hidup dan perjuangan kita, kan?” “Kau berhasil atau gagal bawa orang baru?” tanya Rudi lagi. “Ya... gimana ya...” kataku malu. “Bah. Dasar bodoh. Gimana siiiiih?” rutuk Ivan, si pemuda yang paling feminin di antara kami. “Please..... jangan marah begitu dong.” kataku mendesis pelan. “OK. OK. Kita bahas itu nanti lagi. Tapi kenapa sih kau selalu saja gagal membawa cowok baru ke pesta kita? Ada apa denganmu? Aku harus komplain atas hal ini.” kata Rudi. Si maskulin. “Yah aku khan tidak bisa memaksa orang melakukan cara kita.” “Paling karena kau berhasil membuat mereka berfikir bahwa kaum gay semuanya jahat dan mengerikan.” Rudi berkata agak marah. “Tidak dong. Aku....” “Yah... kamu lagi... kamu lagi... bosan ahhhh...” si Ivan mengomel. “Kalian mau datang atau tidak?” kataku tak sabar dan mulai sebal. “Ya. Kami datang...” terdengar suara malas-malasan dari beberapa orang yang kuhubungi itu. “Tetapi aku harus mengajar besok pagi. Jadi aku tak ingin terlalu lelah. “So kita pesta apa enaknya?” “69?” “Kau suka sekali main emut. Apakah kau takut anusmu rusak?” “Tentu saja tidak. Minyak sodomiku hampir habis. Sekarang sulit mencarinya di pasaran.” “Oh. Dasar pelit.” kata Ivan. Kini tidak lagi terdengar genit. Aku sebal sekali. Aku pun segera menutup line telepon selularku, dan segera masuk ke kamar mandi untuk kencing sebanyak-anyaknya, sambil menggerutu. Cuuurrrrrrr. Ah enaknya. Aku membuka seluruh bajuku. Kubuka kran shower dan aku pun pelan menggosok tubuhku, mandi dengan semburan air hangat yang segar. Aku pun mulai berkhayal mandi digosok oleh Rudi dan Ivan. Mhhhh... asyiknya. Hal itu cukup meredakan kepenatan dan rasa marah sesaatku tadi. Kubayangkan pesta penuh gelora asmara kami nanti malam, dan aku pun mulai ereksi lagi. Menunggu mereka datang sungguhlah menyiksa, membuat geloraku seksku makin menjadi-jadi. Kenapa lama benar? Aku merasakan hari-hari berlalu begitu saja. Banyak hal tak berarti yang terjadi. Aku seorang pendidik yang tentu saja tak akan sembarangan mengajarkan pada murid-muridku tentang gaya hidup berminum-minuman keras dan berkebebasan seksual, paling tidak di negeri dimana aku tinggal sekarang ini. Di kehidupan sosial pun aku masih harus terjebak pada rutinitas sopan santun umum. Kubiarkan semua orang tak tahu tentang orientasi seksualku. Semua itu makin membuat rambut di kepalaku membotak. Sungguh tak enak menjadi munafik. Toh syukurlah, aku masih saja memiliki uang, gaji anggota senat gurubesar, dan memiliki kawankawan sejenis yang memahami dan selalu mendukungku. Aku pun mengucapkan rasa syukur walau tak bisa benar-benar tulus, “Thanks God.” Cara Memasak Rumput yang Baik

5

Sapi dan kerbau, juga kambing, dan banyak binatang yang lainnya makan rumput. Dan ternyata mereka berhasil melewati masa-masa kehidupan yang baik, gemuk-gemuk, dan pandai berlari. Tetapi mereka memang bukan mahluk serakah seperti manusia. Yang menjadi persoalan bagi orang modern adalah pertama kenikmatan dan yang kedua adalah rasa aman. Hal itu merupakan bentuk pergeseran yang sungguh unik sejak manusia mengalami fase kebinatangan, fase berburu dan meramu, bertani, dan kemudian modern. Dulunya rasa aman dan kemampuan bertahan hidup adalah nilai yang paling utama dan pertama. Dan kini semuanya dinilai pertama dalam kerangka kenikmatan, termasuk dalam persoalan diet. Memang rumput nampaknya tidaklah terlalu menjanjikan kenikmatan untuk dimakan, terkecuali jika dicampur dengan daging ataupun bumbu-bumbu yang lain seperti garam, merica, ataupun bawang. Tetapi akan sangat lain jika kemudian memakan rumput menjadi sebuah trend yang sangat funky dan cool. Itu yang menjadi harapan bagi para pemikir diet post-alternatif.Yang menjadi pertanyaan selanjutnya lagi adalah apakah juga rumput hanya bisa di sop, ataukah juga bisa digoreng, ataukah juga bisa dijadikan dalam bentuk instan. Ada sebuah laporan bahwa sebuah perusahaan makanan ringan mencoba membuat chips/keripik siap saji dengan rasa rumput. Sayangnya kemudian perusahaan itu tidak bertahan lama dalam perebutan pasar keripik instan di Indonesia. Memang sebanyak mungkin cara yang bisa dilakukan untuk bisa dimakan membuat rumput dan jenis-jenis serupa seperti alang-alang ataupun juga bentuk yang lainnya seperti perdu-perduan menjadi layak tidak hanya untuk sekedar bertahan hidup. Ada juga pertanyaan apakah rumput dan sebagainya, tidaklah beracun, meskipun ini adalah pertanyaan yang sangat minor dan ironis dalam era budaya konsumer. Dan ternyata jawabannya adalah toh menjadi sangatlah bersifat politis, meninggalkan perdebatan tanpa henti. Nampaknya memang ada jenis-jenis rumput yang beracun, dan nampaknya kita bisa meminta tolong pada sapi maupun kerbau kita untuk menentukan apakah rumput tertentu beracun atau tidak. Kenyataannya makanan-makanan utama manusia seperti padi, kacang polong, maupun kentang di dalam era revolusi hijau justru lebih beracun dan mematikan. Tumbuhan-tumbuhan itu dengan semena-mena kita tumpahruahi dengan pestisida dan pupuk, direkayasa tak karuan gennya, sekedar untuk memaksa mereka agar bisa memenuhi kebutuhan diet masyarakat dunia yang semakin lama semakin membengkak jumlahnya ini. Dan tentunya akan sangat ironis pertanyaan lugu apakah rumput ini dan itu beracun untuk dimakan, ketika kita tak faham apa esensi dari kata racun itu lagi. Tetapi ada banyak sekali jenis rumput yang sama sekali tidak beracun, bahkan memiliki kandungan gizi yang tinggi, justru karena ia merupakan bentuk gulma. Sifatnya yang selalu merebut kesempatan hidup dari tumbuhan-tumbuhan yang lain membuatnya menyerap kandungan gizi yang luarbiasa. Ada sebuah cerita yang sangat terkenal di Tibet tentang seorang yogi besar bernama Milarepa yang hampir sepanjang waktu hidup bertapanya bertahan hanya dengan memakan rumput ilalang yang ia rebus dalam periuk tanahnya. Saya juga punya pengalaman dalam memakan rumput yang bernama rumput teki. Hal itu saya lakukan saat saya masih kanak-kanak dibimbing oleh orang tua saya sendiri. Umbi dari rumput teki itu membesar sedikit seperti ketela kecil, memiliki rasa yang sangat enak, pedas-pedas manis gimana gitu. Konon menurut orang tua saya, terutama nenek saya, rumput teki sangat berguna untuk meningkatkan daya tahan tubuh kita dari penyakitpenyakit seperti flu, tetanus, maupun hepatitis. Selain itu jika sering memakan rumput teki akan meningkatkan kecerdasan otak anak. Dan juga harus difahami bahwa bawang, serai, tebu, padi, jewawut, dan sebagainya adalah bagian dari keluarga rumput-rumputan. Toh juga banyak orang yang hidupnya sangat tergantung pada bawang. Ia tak mau makan jika tak ada bawang goreng atau spring onion di dalam sup atau burgernya. Ada sebuah tulisan bahwa seorang dokter Belanda di sebuah kamp interniran di zaman Jepang bernama Dr. Pieter Geyl yang sangat merasa khawatir terhadap kondisi gizi warga interniran Belanda yang semakin lama semakin memburuk. Menurut catatannya begitu banyak kasus kekurangan gizi yang membuat warga kamp tewas secara berturut-turut, dan hal itu terutama karena kekurangan vitamin dan mineral.

6

Berdasarkan pengalamannya sendiri, rumput mengandung begitu banyak vitamin dan mineral, selain kandungan karbohidrat dan proteinnya. Kandungan vitamin C dan B1, B2, B6, B12, maupun vitamin E rumput ternyata melebihi kandungan dalam bayam dalam proporsi menu yang sama. Selain itu kandungan Zinc, zat besi, dan juga kalsiumnya sangatlah besar. Menurut perhitungannya kandungan karbohidrat dalam rumput secara umum setara dengan kandungan dalam daun selada maupun kubis dalam proporsi berat basah yang sama, sementara kandungan proteinnya justru secara mengejutkan lebih besar 3 kalilipat dari kandungan protein dalam beras yang banyak dikonsumsi masyarakat Hindia Belanda pada saat itu. Ia memandang secara obyektif bahwa rumput yang begitu banyak tersedia di sekeliling kamp merupakan kesempatan untuk memperjuangkan kehidupan warga kamp. Ia membuat sebuah antisipasi berani dengan memasak banyak sekali rumput di kuali besar, dan menyarankan setiap orang di kamp dalam sehari paling tidak memakan sup rumput itu sebanyak 1 pint. 1 pint kira-kira setara dengan ½ liter. Memang kemudian tercatat dalam laporannya bahwa warga kamp hampir semuanya menolak untuk tetap melanjutkan mengikuti anjuran dan jejak langkahnya setelah kali pertama percobaan yang gagal, karena rasa sup rumput itu menurut mereka sama sekali tidaklah enak. Tetapi terbukti bahwa beberapa orang yang bertekad keras untuk mengikuti anjurannyalah yang kemudian berhasil bertahan hidup hingga saat-saat Jepang menyerah oleh sekutu 3,5 tahun setelahnya. Termasuk sang dokter sendiri. Nampaknya kegagalan membuat sajian masakan sup rumput itu lebih banyak disebabkan karena keterbatasan-keterbatasan bumbu yang tersedia pada saat itu, selain juga karena keawaman kulinari sang dokter yang pantas dimaklumi dalam memahami cara memasak sup dari bahan sayuran secara baik dan ideal. Fakta-fakta historis seperti itu sungguhlah penting untuk meyakinkan orang-orang bahwa memakan rumput sangatlah berguna tak hanya bagi seorang pertapa seperti Milarepa ataupun warga interniran maupun kamp konsentrasi, tetapi juga pada para bisnisman, politisi, pemikir dan bahkan yang terpenting adalah orang-orang melarat di seluruh dunia. Dalam kasus Milarepa, memang karena ia terus menerus memakan rumput ilalang, diceritakan bahwa seluruh tubuhnya kemudian berubah warna menjadi hijau. Tetapi alangkah noraknya jika warna hijau seperti itu kemudian dianggap buruk. Rumput mengandung banyak sekali klorofil yang tentunya mengandung efek yang alami bagi tubuh, sama saja dengan jika kita terlalu banyak makan daging dan lemak mengakibatkan obesitas (kegemukan), penyakit jantung dan kolesterol. Semua hal seperti itu adalah konsekuensikonsekuensi logis yang patut diterima dengan lapang dada. Dan juga warna hijau tentunya adalah warna yang indah. Toh banyak sekali warga indonesia yang mengharapkan warna rambutnya menjadi pirang atau paling tidak kecoklat-coklatan, dan matanya menjadi biru, sehingga mereka terpaksa harus membayar mahal di salon-salon kecantikan dan membeli kontak lens untuk meniru-niru biji mata orang bule. Warna hijau tubuh sungguh keren dan funky. Apalagi jika kemudian hal itu menular pada warna rambut ataupun matanya. Tentunya saya tidak tahu apakah warna mata kemudian bisa berubah menjadi hijau, tetapi alangkah indahnya sebuah proses pembuktian. Oleh karena sedikit sekali orang melarat maupun bisnisman yang punya kesempatan mengadakan penelitian yang komprehensif tentang gizi rumput memerlukan uluran bantuan dari para pemikir biologi maupun antropologi gizi. Sampai saat ini, kecenderungan yang ada adalah bahwa penelitian-penelitian ilmiah tentang makanan alternatif sangatlah sedikit mendapatkan uluran bantuan dana, karena kepentingan-kepentingan kapitalis dan politik memang mengarah pada pemenuhan kebutuhan yang sifatnya komersial dan sesaat. Sangatlah menohok perasaan bagaimana kasus revolusi hijau yang menghancurkan tanah dan kondisi air di negeri berkembang, meracuni gen masyarakat dunia ketiga, kemudian diteruskan dengan penelitian-penelitian transgenetik tumbuhan yang lebih beresiko lagi. Padahal rumput tersedia luas dari padang Zaire di Afrika yang panas hingga Siberia yang sebeku apapun, dengan resiko bahaya yang hampirhampir bisa dibuktikan dengan pengalaman empiris yang sangat sederhana belaka. Memang kemudian ada pertanyaan klasik, jika masyarakat tradisional tidak menggunakan rumput untuk makanan sejak zaman dahulu, tentunya rumput memang tidak layak untuk dimakan. Jawabannya adalah bahwa, memang benar bahwa hampir tak ada satu pun etnis di dunia yang memanfaatkan

7

rumput untuk menjadi bagian alami dari diet mereka. Tetapi tidak berarti bahwa tidak ada kasuskasus tertentu yang tidak mengharuskan sebuah masyarakat memakan rumput, dan juga, tidak bisa kita memaksakan diri dengan fakta-fakta logis yang terbatas seperti itu bahwa kebijaksanaan tradisional akan selalu 100% benar. Selalu ada kondisi-kondisi meleset, dan juga ketidakkonsistenan kultural yang harus dihapus dan dirombak, seperti contohnya dalam kasus Milarepa maupun kamp interniran. Sama saja seperti bahwa meskipun hampir tak ada sebuah etnis di dunia pun yang memasukkan cacing sebagai bagian dari pola diet mereka, hal itu tidaklah kemudian bisa meruntuhkan nilai ilmiah dari sebuah penelitian independen yang sangat terkenal yang menemukan fakta bahwa cacing memiliki kandungan protein yang luarbiasa, dan rasanya enak. Jadi memang persoalannya kembali pada persoalan politik, estetika, dan juga kemauan membuka mata pada pengalaman-pengalaman baru. Dan jika persoalannya seperti itu maka giliran paling utama yang bisa mengambil peran adalah kaum expert kulinari. Yaitu para koki, chef, ibu rumahtangga, anak-anak kost, dan juga para pengamat/pencicip makanan. Persoalannya akhirnya menjadi cuma dua hal: bagaimana menjamin bahwa bahan makanan dari rumput aman untuk dimakan, dan yang kedua adalah bagaimana cara memasaknya sehingga rasanya enak. Cara paling sederhana dalam melihat apakah rumput tertentu beracun apakah tidak adalah dengan mencoba membubuhinya dengan apa yang oleh orang Jawa disebut kapur injet. Setelah ditoreh akan kelihatan apakah warna kapur itu kemudian tetap putih atau kemudian berubah menjadi biru atau bahkan ungu. Jika berwarna biru atau ungu, berarti rumput jenis tertentu itu jelas sekali mengandung racun. Dan setelah dibuktikan lewat kebijaksaan tradisional seperti itu, selanjutnya akan ditemukan dan didefinisikan jenis-jenis rumput yang aman untuk dimakan. Selanjutnya bisa dipilih dan dicoba-coba apakah jenis rumput tertentu enak untuk dimakan apakah tidak. Rumput tertentu seperti rumput jepang sangatlah keras sehingga memerlukan waktu yang sangatlah lama untuk dimasak hingga lunak, sementara rumput-rumput jenis yang lain lebih lunak dan memiliki kandungan klorofil yang lebih banyak. Selanjutnya adalah fase memasak dan membumbui. Fase terpenting yang difahami jelas dan mutlak oleh para koki seluruh penjuru dunia. Saya akan memberikan sebuah usul resep masakan sup rumput yang paling mudah, sederhana, murah, dan bisa dilakukan oleh semua orang. Bahan: 1. kumpulkan rumput berupa daun kira-kira ½ kilogram. 2. garam dapur kira-kira ½-1 ons. 3. gula ¼ ons 4. bawang putih 5 siung. 5. bawang merah 3 siung. 6. cabai rawit 5-10 biji 7. merica 1 sdk makan. 8. tepung maizena atau sagu ±8 sendok makan. 9. minyak sayur/wijen 3 sndk makan Alat-alat: 1. kompor 2. periuk besar/panci rebus. 3. pengaduk panjang dari kayu. 4. sendok sup besar. 5. mangkuk saji & sendok-sendok. Cara memasak: 1. rendam rumput dalam air garam selama ± 2 jam. 2. setelah direndam hingga lunak, bilas rumput dengan air hingga bersih. 3. siapkan kuali/panci berisi air 2½ liter.

8

4. potonglah rumput hingga kecil-kecil, kira-kira sepanjang ½ - 1 cm. Jika bisa menggunakan food proccessor akan lebih menghemat tenaga. 5. kupas bawang, bawang putih, dan kemudian geprak gingga gepeng. 6. potong cabai rawit kecil-kecil 7. rebus air dalam kuali itu hingga hampir mendidih dalam api medium. 8. masukkan rumput secara perlahan-lahan. 9. aduk perlahan-lahan dan tetaplah terus diaduk biarpun telah mendidih. 10. terus rebus hingga adonan rumput menjadi lembut, dan volume air menyusut hingga ± 75% dari semula. 11. masukkan bawang putih dan bawang merah, cabe rawit, dan disusul oleh merica. 12. masukkan juga tepung maizena/sagu secara sepat, dan kemudian aduk, jaga jangan sampai menggumpal. 13. masukkan garam dan gula, cicipi sampai rasanya pas. 14. aduk terus dalam api medium hingga adonan menjadi kental dan berwarna hijau lembut. 15. tambahkan minyak sayur/wijen ke dalam adonan dan aduk hingga merata. 16. masakan sop rumput siap dihidangkan, cukup untuk porsi 5 orang. Alternatif resep yang lainnya adalah bakwan rumput: Bahan: 1. rumput ½ ons 2. cabai merah 5 biji 3. cabai jumprit 3-5 biji 4. bawang 3-5 siung 5. garam 6. tepung terigu ¼ kg 7. minyak goreng untuk menggoreng Alat-alat: 1. kompor 2. wajan/pan 3. mangkuk 4. piring-piring saji dan sendok garpu 5. sothil Cara memasak: 1. rumput direndam 1-2 jam dalam air bersih, kemudian dibersihkan. Cacah hingga lembut 2. cacahlah cabai, dan bawang hingga lembut. 3. sediakan mangkuk, dan buatlah adonan tepung terigu dengan air hingga kental didalamnya. 4. masukkan cacahan rumput itu kedalam adonan tepung dan aduk hingga kental. 5. masukkan garam, bawang, dan cabai ke dalam adonan, dan diaduk hingga merata. 6. panaskan minyak goreng dalam wajan hingga mendidih dalam api medium. 7. dengan sendok besar masukkan adonan satu per satu ke dalam minyak mendidih hingga coklat dan berbau gurih. 8. bolak-balik, dan angkat dan ditiriskan. Sajikan di piring besar. Masakan bakwan rumput siap untuk disajikan bagi 5 orang. Variasi-variasi memasak rumput yang lain juga bisa dilakukan, misalnya dengan menambahkan daging ayam ataupun udang, kacang, kentang, wortel, maupun bumbu yang lain seperti bumbu kari ataupun juga berbagai jenis cabai. Dengan kesempatan dan keberanian kreatif dari ahli-ahli kulinari seperti itu, maka diharapkan bisa dibuat selanjutnya resep-resep masakan rumput yang lebih beraneka ragam, nikmat, dan berkesadaran kultural. Sekaligus juga memberikan sumbangan bagi dunia kesehatan, demokrasi, dan kebebasan bagi masyarakat dunia.

9

Cara mengumpulkan rumput yang baik Mengumpulkan rumput bukan sesuatu yang sangat sukar. Tentu saja artinya adalah gampang, sepanjang disana musimnya memadai, atau iklimnya mendukung. Artinya kita mengumpulkan rumput di daerah yang bukan padang pasir, atau bukan di saat musim dingin yang bersalju, atau bukan di padang artik-antartik. Mencari rumput di padang pasir artinya kita harus mencari daerah tertentu dimana memang semua tumbuhan berarti untuk hidup, biarpun itu rumput. Dan mencari di masa musim dingin membuat kita akan berhadapan dengan rumput yang mengering berwarna coklat tua, dan tentu saja sudah kehilangan zat-zat yang penting untuk pencernaan kita1. Ada juga tempat-tempat yang sangat sukar untuk mencari rumput meskipun disana adalah daerah iklim tropis sekalipun. Di tempat dimana beton-beton menjulang sangatlah sedikit rumput tumbuh2, meskipun kita bisa mencarinya-tetapi akan menguras tenaga kita. Dengan berkeliling sepanjang hari di tempat-tempat seperti itu, kita hanya akan mendapatkan satu tangguk-dua tangguk rumput yang hanya cukup untuk satu kuali masak saja. Juga di daerah-daerah jalan aspal, atau lebih jauh lagi plaza-plaza yang mewah. Saat ini memang amatlah mustahil mencari rumput di daerah-daerah dimana kapitalisme tumbuh pesat dan berkuasa. Misalnya—amatlah sulit untuk berkeliaran di halaman gedung-gedung pemerintahan atau swasta untuk sekedar mengumpulkan rumput, meskipun kita tahu bahwa rumput di sana tumbuh cukup banyak. Risikonya kita akan ditangkap satpam dan dituduh melakukan tindakan percobaan pencurian mobil, melanggar batas wilayah, atau bahkan lebih buruk lagi—dianggap sebagai teroris yang mencoba meledakkan gedung-gedung tempat kaki mereka mengangkang3. Mencari rumput di pinggir jalan raya kota juga akan mengakibatkan asap kendaraan akan masuk ke tenggorokan kita, ke paru-paru dan seluruh pembuluh darah kita, dan mengurangi umur4. Selain itu kita akan dianggap orang aneh dan gila (meskipun kita tahu bahwa justru karena perjuangan kita dalam melawan kapitalisme itu kita memang sering dianggap gila oleh masyarakat luas), meskipun ada juga cara lain dengan cara menyamar sebagai tukang pembersih jalan atau tukang kebun. Selain itu kita akan terganggu dan mengganggu orang lewat yang demikian banyak. Mungkin ada saat yang baik untuk mengumpulkannya di waktu sore hari atau malam. Tetapi juga banyak rampok dan preman berkeliaran. Tentu saja hal itu berbahaya. Selain itu tahitahi anjing, ludah orang yang berkeliaran di siang hari, juga pijakan kaki yang kotor, penuh dengan
Untuk persoalan penyimpanan bahan makanan untuk persiapan musim dingin atau kekeringan, hal itu akan dibahas lebih lanjut dalam tulisan saya yang selanjutnya. Hal tersebut sangatlah penting, karena juga menyangkut penyimpanan, pengolahan, alat-alat penyimpan yang murah dan hemat energi, dan juga persoalan yang rumit dalam soal hygiene. 2 Ada pandangan lain yang menjelaskan bahwa rumput yang bsia tumbuh di daerah-daerah berbeton seperti gedunggedung justru merupakan rumput yang terbaik untuk dimasak. Ia memiliki kandungan kekuatan zat hidup yang sangat luarbiasa. Tetapi yang menjadi masalah juga, tempat-tempat seperti itu juga merupakan tempat-tempat terkotor di dunia, dimana tikus-tikus, kecoak-kecoak, juga berbagai macam sampah dan bahan buangan beracun bertaburan dan mengendap. Sangatlah tidak aman untuk mengkonsumsinya tanpa ada sebuah penjelasan yang benar untuk hidup kita. 3 Meminta izin pada fihak yang menguasai gedung atau daerah tersebut merupakan alternatif, tetapi tidak menjamin apapun juga selain kita kemudian menjadi bagian dari orang yang terkontrol kembali. Perjuangan melawan kezaliman kapitalisme kemudian akan runtuh dengan sangat mudah oleh keabaian ideologis kita sendiri karena ketakutan terhadap norma, estetika, dan hukum. Kita menjadi pengamin terhadap kekuasaan mereka. 4 Karbon monoksida, timbel, debu mikroskopik, plastik terbakar, juga virus-virus yang beraneka ragam.
1

10

bibit penyakit yang menakutkan tengah mengumpul dan menanti kita untuk memunguti mereka. Rumput yang tumbuh di kota adalah rumput dengan kualitas yang terburuk dalam sejarah peradaban manusia. Terkecuali jika kita benar-benar lapar dan membutuhkan makanan, maka tidak ada jalan lain. Mana tahan. Mungkin kita harus mencuci rumput-itu berkali-kali di WC umum5. Jika kita memiliki rumah atau tempat kost sendiri hal itu akan sangat nyaman, karena kita bisa mengambil air dari tempat kita sendiri. Tentu saja tempat terbaik untuk mencari rumput adalah di daerah terbuka, di lapangan, di hutan-hutan yang masih bersih, di lembah-lembah yang menghijau, atau di padang stepa yang luas. Tentu saja di tempat seperti itu bahan makanan yang lain yang lebih enak dan bergizi juga tersedia dengan mudah, sehingga sangatlah ironis bagi seseorang untuk mencari rumput untuk dibuat sop atau tepung rumput, terkecuali untuk makanan ternak. Hal tersebut memang merupakan paradoks yang luarbiasa menyedihkan6. Tetapi terlepas dari itu semuanya, ada sebuah kesadaran yang sangat penting yang harus selalu dipegang, bahwa perjuangan makan rumput adalah perjuangan ideologis untuk menawarkan konsep kebebasan dan kesederhanaan -- selain juga untuk melawan lapar. Perjuangan ideologis artinya akan melatih diri kita untuk menikmati makanan yang tidak enak tetapi berguna, dimana segala sesuatunya kita perhitungkan masak-masak, demi perjuangan kesederhanaan dan melawan keangkaramurkaan7. Jadi, mencari rumput di manapun adalah tindakan baik. Sepanjang kita bisa menjamin kebersihannya. Juga sepanjang kita tahu kondisi keuangan dan ideologis kita. Dan juga kalau kita tak cerewet tentang nilai kebersihan yang serba steril. Artinya jika kita miskin dan bukan boss, atau kaum kapitalis, dan kita berani untuk menanggalkan perhitungan enak tidak, jijik atau tidak, bermoral atau tidak, maka sudah waktunya kita menjalankan mencari dan makan rumput – begitulah. Nah – sekarang saatnya untuk mencari tahu bagaimana teknis mencabut atau memotong rumput tersebut. Hal yang harus kita perhitungkan tetaplah higiene. Pertama kita akan mencari kantung yang cukup besar, bisa kantung pandan, atau kantung plastik, bahkan juga tas sekolah. Yang penting ia adalah bersih, dan mudah dicuci. Tentu saja kita harus memperhitungkan besar kecil dari kantung tersebut sesuai dengan rencana kita dalam mengumpulkan rumput tersebut. Selain itu kita perlu alat untuk memotong atau mencukil rumput tersebut. Zaman dahulu atau di desa-desa sekarang, para angon kebo atau kambing selalu membawa sebuah alat bernama arit. Sebuah parang yang melengkung dan tajam di bagian dalam. Alat itu demikian efektif dan ergonomis untuk memotong rumput ddalam jumlah sekaligus banyak dengan menghemat demikian banyak tenaga. Kita bisa mencari alat bernama arit tersebut di toko-toko bangunan atau di pasar-pasar tradisional. Jika kita mencari rumput di daerah padang-padang atau tempat terbuka bebas, membawa-bawa arit tidaklah terlalu berbahaya. Tetapi jika kita mencari rumput di kota, maka kita setiap saat bisa ditangkap polisi karena dianggap membawa senjata
Hal itu tergantung pada kemampuan kota untuk memfasilitasi masyarakatnya. Seperti di Bradford sangatlah sukar mencari WC umum. WC umum kota ada di daerah pusat kota dengan harus membayar 10 pence, sebuah harga yang tak sepadan dengan harga rumput yang kita kumpulkan. Ada juga beberapa supermarket yang menyediakan WC umum gratis, juga stasiun kereta api maupun bis juga menyediakan WC umum gratis. Tentu saja kita harus sangat berhati-hati untuk mencuci di tempat itu. Di satu sisi hal tersebut bisa menimbukan pertengkaran dengan orang lain, meskipun bertengkar untuk alasan kebebasan dan ideologis seperti itu juga sangatlah penting bagi kita sebagai bagian dari kampanye. Semua itu tergantung keinginan kita. Di daerah miskin seperti Indonesia, justru kita akan mudah mencari WC umum yang murah. Dengan harga 100 di Yogyakarta atau 500 di Jakarta kita bisa mencuci rumput dengan bebas. Kita bisa menghemat pengeluaran dengan cara mengumpulkan rumput sebanyak-banyaknya pada suatu waktu dan mencucinya secara sekaligus di WC umum. 6 Tak ada gunanya untuk marah terhadap apa yang sudah terjadi. 7 Saya tak tahu apakah hal itu akan bisa disebut sebagai pandangan utilitarianisme, sebuah pandangan dan juga cara hidup yang sangat penting dalam melawan “tirani kekuasaan dan kebenaran”.
5

11

tajam8. Arit, karena sifat ergonomiknya yang demikian tinggi dalam memotong rumput, ternyata juga secara historis sedemikian ergonomisnya pula untuk membabat leher dan perut manusia. Karena sama-sama setiap saat bisa dihukum, maka sebenarnya kita juga bisa mengumpulkan rumput di kota dengan menggunakan celurit, parang, tombak, ataupun pedang9. Kalau berani. Cara yang lebih tidak mengundang perhatian tentunya dengan penggunakan alat-alat kecil seperti pisau lipat atau alat cukur jenggot, meskipun alat-alat ini pun bisa digunakan sebagai alasan oleh polisi untuk menangkap kita. Alat yang lain bisa menggunakan pisau roti atau bahkan juga keris, kalau mau. Sebenarnya di daerah pertanian padi di daerah rural Jawa ada sebuah alat kecil yang biasa digunakan oleh kaum perempuan dalam memanen padi, bernama ani-ani. Ia adalah alat kecil dari kayu dengan sebuah pisau melengkung melintang kecil di tengah yang sangat ergonomis pula untuk memotong batang-batang tumbuhan lunak. Cuma masalahnya, alat ini demikian efektif untuk memotong padi yang batangnya tinggi, dimana yang dimanfaatkan hanya untaian yang ada di bagian atas saja, sementara untuk rumput, secara ideologis dan juga praktis, semua bagian dari batang (bahkan umbi rumput10) sangatlah penting untuk dimanfaatkan. Untuk memotong rumput yang panjang seperti alang-alang atau rumput genjah, tentu saja alat ini cukup berguna, tetapi jika rumput yang kita panen panjangnya sangatlah minimal, tentu saja alat ini tak ada gunanya sama sekali. Bahkan bisa melukai dan memotong jari-jari kita yang manis dan masih penuh guna. Dalam keadaan hukum dan kekuasaan fasistik yang luarbiasa11, dimana kita tercekam bahaya saat membawa senjata tajam sekecil apapun12, nyatanya kita tetap bisa mengumpulkan rumput dengan tangan kita yang masih terbuka lebar dan bebas. Dengan cara mencabutinya, tentu saja. Saudara-saudaraku. Perjuangan kita tak akan selesai, sebelum zaman berubah, dimana manusia bakalan kembali kedalam kesederhanaan dan penghargaan terhadap alam. Kembali pada makanan yang sehat – dan bukan sekedar pada makanan yang enak, bermerk, ataupun indah13.

Bagi kaum radikal yang ingin menantang hukum, ia bisa saja membiarkan dirinya ditangkap dan dibawa ke meja hakim, untuk menjelaskan secara gambling dan penuh kesadaran ideologis tentang kebutuhannya untuk mencari rumput demi makan. Hal tersebut merupakan bagian dari kritik yang amat demikian tajam terhadap nilai hukum modern yang korup dan kapitalisme itu sendiri. Kita akan membutuhkan pengacara yang baik, juga hubungan yang solid antar elemen-elemen gerakan bebas pemakan rumput. 9 Pertanyaan yang sama dibandingkan dengan banyaknya kaum milisia dari partai-partai fasis di negeri kita yang berkeliaran dengan pentungan dan pedang di jalan-jalan kota yang menurut mereka merupakan basis kekuatan mereka, dan bisa mereka kontrol. Mereka menggunakan pedang dan pentungan bukan untuk mencari rumput tetapi untuk memuaskan kebuasan biologis dan ideologis mereka. 10 Saya pernah menyebutkan bahwa umbi rumput teki sangatlah enak. Selain itu secara umum, umbi dari semua tumbuhan berumbi merupakan tempat dimana gizi-gizi tumbuhan terkonsentrasi. 11 Keadaan yang sulit dan tidak demokratis seperti itu, menurut analisa dari Amartya Sen (jika saya tak salah ingat) adalah saat-saat dimana kelaparan merajalela. Saat itu, kita harus semakin menggiatkan kampanye untuk memakan rumput bagi masyarakat yang tertindas. 12 Atau justru kemanapun harus membawa senjata tajam. Dalam keadaan itu, perhatian kita dalam urusan bunuh membunuh sering lebih besar daripada urusan mempertahankan kehidupan dengan mencari makan yang efektif. Tetapi bagaimanapun juga kita sebisa mungkin harus tetap rasional. Kelengahan dan terseret arus kebencian yang meluap-luap hanya akan menyebabkan keadaan tragedi kemanusiaan seperti Rwanda 90-an, Ethiopia tahun 80-an, Aceh 2005, Senayan 1945 - 2008, dan entah nanti mana lagi akan terjadi. 13 Dan juga mahal. Saya gunakan istilah ini di catatan kaki, karena pada beberapa kenyataan kontemporer, sejak awal peradaban modern hingga modernitas lanjut saat ini -- keadaan dimana manusia modern mengkonsumsi sesuatu karena image-image. Image dan mitos-mitos itu bisa saja berupa rasa, penampilan, kelangkaan, bahkan juga sekedar harga atau merek bahan makanan itu. Fucking shit.

8

12

Dendam Kesumat Nanang merasa demikian sakit hati. Kegeramannya seperti hendak tumpah ruah. Tubuhnya menggigil, bergetar hebat memandang gerobak dagangannya hancur berkeping-keping dihantam tongkat-tongkat kayu para Petugas Trantib. Para pedagang yang lain telah semburat menjauh dari tempat itu, menyelamatkan diri mereka masing-masing. Menyeret pergi barang dagangan yang bisa mereka raih. Tapi Nanang terpaku di atas tanah, tak bisa menggerakkan kakinya sedikit pun. Tersihir kaku. Dengan kelu ia memandang reruntukan itu. Disanalah ia tiap hari berusaha menabung uang sepeser demi sepeser. Kini semuanya musnah tak bersisa. Tubuhnya perlahan-lahan merosot menggelusur di konblok yang basah dan kotor. Disana ia dengan histeris memukul-mukul tanah dengan kepalan hingga buku-buku jarinya terluka. “Bangsat!” Teriaknya tersedan. “He! Ngapain kamu. Bilang bangsat ke kami, ya? Bajingan!! Yang bangsat itu kamu. Dasar tak bisa diatur. Kubabat sekalian kepalamu.” Kata seorang Petugas Trantib berkumis tebal melintir. Dengan sabetan keras, ia mengayunkan tongkat panjangnya ke punggung ceking Nanang. Nanang mengaduh saat rasa sakit menerpanya. “He cepat minggir, menyingkir kau bajingan! Kau tahu tak boleh berjualan disini. Dasar orang miskin. Rasain sendiri akibatnya jika melawan peraturan pemerintah.” Tendang seorang Petugas Trantib lain dengan sepatu lars ke dada Nanang. Ia pun terjengkang ke belakang. Kepalanya membentur lantai konblok. “Jdug!!” Semua pedagang asongan telah lari jauh, hingga tak bisa menolong Nanang yang kini menjadi bulan-bulanan tendangan dan sabetan kayu para Petugas Trantib. Ketua Petugas Trantib nampak dari jarak jauh berkacakpinggang, mengacung-acungkan pistolnya kepada para warga yang berlarian menjauh. Ia tadi sempat mengancam akan menembak siapapun, baik lelaki maupun perempuan, yang berani melakukan tindakan premanisme dengan cara melawan para petugas Petugas Trantib. Ia berteriak garang lewat corong megaphone, “Siapapun yang melanggar prosedur, kami akan siap menghadapi!! Kami akan bertindak tegas sesuai dengan peraturan!!” Di kejauhan beberapa aparat kepolisian nampak berjaga-jaga, menonton santai sambil duduk di mobil mereka. Senapan-senapan mereka terselempang santai di bahu. Mereka terlihat sibuk bercakap-cakap dan merokok sendiri. Sejenak kemudian huru-hara usai, dan tempat itu kembali sepi. Gerobak-gerobak yang bagus, beserta barang-barang dagangan telah diangkut ke dalam truk Petugas Trantib. Polisi pun sudah pergi, mengawal para Petugas Trantib kembali ke markas mereka. Di markas mereka, para Petugas Trantib bakalan bersukaria berebut memunguti barang-barang berharga dari gerobakgerobak sitaan itu. Mereka biasanya bisa membawa pulang dan mengoleh-olehi anak istri dengan berbagai jenis jam tangan palsu, kacamata murahan, batu batere Made in China, boneka kain, bahkan juga butiran-butiran bakso dan mie ayam yang enak. Untuk diri mereka sendiri, akan saling berbagi puluhan boks rokok kretek beraneka merk. Kini para pedagang asongan itu, dengan wajah kuyu kembali ke tempat bencana, tempat sebelumnya mereka berusaha giat berdagang. Wajah mereka pucat pasi dan marah. Mulut mereka mengumpat-umpat, menghujat tak karuan. “Bajingan!!!” “Asu!” “Dasar anjing pemerintah!!” “Kakitangan walikota penindas rakyat” Beberapa ibu-ibu pedagang sisir dan bando menangis menggerung mengamati dagangan mereka berceceran dan ringsek terbenam dalam genangan air comberan. Barang mereka lumat dipijak sepatu-sepatu lars para petugas itu. Semua pedagang asongan faham bahaya serangan

13

Petugas Trantib adalah serupa dengan serangan serigala di hutan rimba. Bisa terjadi kapan saja, juga tanpa ampun, dan hanya akan menyisakan duka di hati dan jiwa mereka. Tobias pedagang kaos kaki mendekati Nanang, yang pelan-pelan duduk. Tubuhnya kotor dengan rasa sakit yang menyengat. Perlahan, dibantu seorang mahasiswa yang kebetulan lewat, Tobias memapah Nanang. Nanang mengaduh kesakitan saat terpaksa ia berjalan berjingkat. Rasa nyeri masih menyerang tulang keringnya yang dipukuli Petugas Trantib berkumis baplang. “Mana yang sakit, Nang?” tanya Tobias. Perlahan ia mendudukkan Nanang di pagar gedung Istana Negara lama. “Nggak papa, Tob.... Makasih ya..” Ujar Nanang lemas, menyandarkan punggungnya ke jeruji pagar. ‘Aduh....” Teriaknya tertahan, saat punggungnya yang biru lebam terasa sakit tersentuh lempeng besi pagar. “Bah. Jahanam-jahanam itu!! Semoga Tuhan membalasnya segera!!” Sendat Tobias. “Aku akan membalasnya, Tob...” Nanang dengan bibir gemeletar berkata pelan, sambil memeluk lengan kekar Tobias. Nanang mulai menitikkan air matanya. Kedua bolamatanya lebam dan sembab basah mengalirkan bulir-bulir airmata. Pelupuknya hitam kelam. Perlahan Nanang mengusap airmatanya dengan telapak tangannya yang berlumpur. Tobias menghela nafas panjang. Diam. Kelu. “Heh, sudah... Nanti ada masalah lagi. Sudah. Kita orang miskin memang selalu begini nasibnya. Nrimo aja lah.” Kata Slamet, sang pedagang akik, dengan enteng melangkah lontanglantung melewati tempat mereka berdua duduk. “Heh. Kau mau dihajar juga ya? Kau saja yang nrimo. Tapi aku selamanya tidak sudi melakukannya. Dasar kau bangsat penakut!!” Teriak Tobias kencang. Wajah Slamet yang bopeng menjadi pucat ketakutan dan ia pun segera lari menjauh dari hadapan mereka. “Aku dendam. Sungguh dendam.” Kata Nanang perlahan. Lebih seperti berbicara kepada dirinya sendiri. --Sore hari mengurangi pekat asap knalpot kendaraan, dan deru bising jalan raya menghilang. Orang-orang berjalan mencari rasa hangat di plaza itu, karya belai cahaya matahari sore. Pasar utama kota telah tutup, membuat keramaian dagang di sekelilingnya berganti dengan riuh suara obrolan para pejalan santai dan turis yang mencari suasana khas kota. Kini plaza kecil di depan Istana Negara lama itu dipenuhi oleh pemuda-pemudi yang duduk santai. Biasanya disanalah dahulu para pedagang asongan berkerumun menunggu pembeli, berbaur dengan para pelancong yang melihat-lihat. Mereka menawarkan berbagai baju dan pernik asesoris khas kota itu. Kini, memang para warga kota dapat duduk nyaman di bangku-bangku baru yang indah. Tempat itu pun terlihat bersih, tentu saja dari perspektif para penguasa kota. Tetapi disini hanya ada tanaman rumput yang artifisial. Hanya ada tampilan rapi yang steril dan mandul. Tak ada lagi gerombolan para penjual yang ramah, dan rentengan pernik-pernik seronok asesori khas. Tak ada lagi para seniman yang menawarkan lukis wajah pada para pasangan berpacaran. Disana kini telah bercokol bangku-bangku semen besar yang dibangun atas perintah walikota, sengaja untuk mengusir ruang pedagang kakilima dan artis jalanan. Di pagar putih kotor Istana itu, Nanang masih bersandar tercenung tak peduli pada keindahan dan nikmatnya sore. Matanya kosong memandang bawah, ke timbunan ludah yang ia muncratkan di konblok merah. Sekali-kali ia meludah lagi, mengeluarkan sisa-sisa darah dari mulut yang terluka. Beberapa orang melengos jijik saat memandang tindakannya. Perlahan mentari sore pun habis redup, gelap datang, dan lampu-lampu jalan mulai menyala dengan otomatis. Kini tubuhnya sudah amat penat. Nanang sudah tak tahan lagi bertahan duduk. Dengan lunglai, ia bangkit dan berjalan menyelusuri gang-gang sempit dan kumuh di utara, tempat ia mengontrak kamar bersama banyak rekannya. Disana ia berpapasan dengan beberapa pedagang angkringan yang berangkat berjualan, mendorong gerobak kayu

14

dengan sigap. Mereka memandang Nanang yang berkerut muram. Semua terdiam, seakan faham apa yang telah terjadi. Sesampai di kamar Nanang menghempaskan diri ke samping tubuh beberapa temannya yang berbaring lelap, beralaskan tikar. “Kena gusur Nang?” Tanya Agus hambar, menengok sejenak. “Apa lagi yang mungkin?” Jawab Nanang dengan sama hambarnya. Ia merebahkan dirinya ke tikar, berdempet, berdesak mencari tempat kosong diantara baringan tubuh-tubuh yang juga kelelahan. Nanang perlahan menghela nafas panjang. Terdengar suara suara keroncongan dari perutnya yang kurus. “Kau sudah makan?” tanya Agus lagi. Kini bangkit dan duduk memandang tubuh Nanang yang terbaring lemas. “Belum.” Kata Nanang. “Ambil saja dua bungkus nasi di gerobakku. Juga lauk pauk. Apa saja yang kaubutuhkan. Catat saja di buku biru. Kapan-kapan saja mbayarnya. Kau kena gebuk di mana?” kata Agus mengernyit. Nanang memandang temannya dengan mata pilu. Tetapi ia tetap berbaring, menutup matanya pelan dan tak menjawab. Ia perlahan tertidur pulas. Dalam mimpinya yang dalam, Nanang seperti terbang naik dan menuruni bukit-bukit kapur. Ia melihat sebuah kampung miskin di bawah. Ia sangat ingat gubug reot itu. Gubug tempat ia dilahirkan dan dibesarkan oleh ibunya tercinta. Nanang melongok girang ke arah seorang perempuan tua. Ia berteriak gembira. Tetapi mulut dan kerongkongannya senyap tak mampu mengeluarkan nada. Ia lihat sosok itu kini telah demikian tua dan rapuh. Kerontang dimakan cuaca. Nanang merasa aliran nyaman menerpa hatinya, saat sosok yang teramat ia sayangi itu terlihat makin jelas. Tubuh Nanang menurun ke bawah, mendekat.Ia melihat ibunya yang keriput kurus kering dengan rambut putihnya yang tergelung. Tubuh keriput itu sedang duduk melengkung di balai-balai reotnya. Tangannya yang gemetaran dan kurus kering tengah menguliti timbunan kacang tanah. Ibunya menembangkan sebuah kidung lama. Suaranya bergetar, membuat hati Nanang tercekat. “Mingkar mingkuring angkoro, akarono karenan mardi siwi....” Geletar suaranya membuat rongga dada Nanang rekat tak bisa bernafas, karena rindu dan pilu. Juga rasa tidak rela. Ia tahu ibunya dibayar oleh pak lurah pelit, sang pemilik bisnis kacang goreng, 100 rupiah untuk setiap kilogram kacang tanah yang berhasil dia kuliti. Dengan uang hasil kerjanya seharian penuh, ibunya cuma bisa membeli garam dan ikan teri basi untuk teman makan jagung rebus hasil panenan dari tegalan sempitnya. Nanang menangis lagi sedih. Tersedu sedan, tubuhnya perlahan melayang turun, berusaha memeluk sosok ibundanya. Tangannya menggapai-gapai. Nanang menangis tersedu dan berseru memanggil, “Simbokkkkk....” Tetapi sebelum ia berhasil memeluknya, ia terbangun dengan tubuh bermandi peluh dan berurai air mata. Tubuhnya diguncang-guncang keras oleh beberapa orang rekannya. “Hehhhh. Sadar Nang. Sadar. Nyebut. Ini kamu mimpi atau kerasukan setan sih? Keras banget.” Kata Agus. Nampak di sekelilingnya, Nurdin, Tugiyo, Wage, Rudi dan beberapa teman sekamarnya yang lain. Rudi bertanya,”Kamu mimpi apa nang? Mimpi gerobakmu lagi ya? Kok nyebut simbokmu segala?” Nanang masih tersedu sedan. Kepalannya memukul-mukul lantai semen beralas lembaran plastik kembang. “Sudah. Yang sudah ya sudah. Uang bisa dicari lagi...” kata Wage mengelus punggung Nanang, berusaha menghibur. Nanang semakin tersedu, dipandangi heran oleh teman-temannya yang tak berdaya menghiburnya. Mereka pun akhirnya menyerah dan kembali menggeletak tidur. Sudah biasa mereka melihat sesama rekan tiba-tiba menangis karena putusasa. Bahkan sesekali seorang

15

diantara mereka mengamuk histeris, mungkin tak tahan lagi melawan dan menahan kekejaman kota. -Hari ini Nanang mendatangi gedung megah dan mewah itu. Gedung tempat walikota tinggal. Nanang mengenakan pakaian yang terrapi dan tersantun yang ia miliki. Rambutnya tersisir rapi, mengenakan sepatu pinjaman. Seorang provos menghentikannya di gerbang depan dan bertanya ketus, “Siapa kamu? Ada perlu apa?” Nanang berusaha menjawab dengan tenang dan santun, “Saya tukang kebon pak, diminta pak wali memangkas cemara di halaman belakang.” “OK. Sebentar. Saya cek dulu.” Kata provos menunjuk kursi plastik butut, menyuruh Nanang duduk menunggu. Provos menelepon dari gardu, berbicara entah pada siapa. “OK. Yak. Memang ada janji untuk tukang kebon. Kamu ya? Tinggalkan KTPmu. Kamu masuk. Tapi lewat samping, ya...” Kata provos. “Baik pak. Terimakasih...” Kata Nanang. Ia merogoh dompet dari saku bokongnya, menarik lembaran KTPnya yang sudah lusuh, dan menyodorkannya pelan. Provos menerimanya acuh, dan kemudian menyuruh masuk Nanang dengan isyarat kepalanya. Nanang berdebar berjalan memasuki halaman yang amat luas dan sejuk. Di tengah halaman itu ia melihat dengan kagum muncratan air mancur yang melengkung turun dengan indah. Airnya terlihat begitu bersih dan jernih. Nanang meneguk ludahnya sendiri menahan dahaga dan gentar, berjalan masuk dengan kakinya yang gemerutuk. Gerbang samping itu dijaga oleh seorang pegawai laki-laki yang memandanginya curiga. Nanang menyeka perlahan peluh dingin dari dahi dan lehernya, menunduk menghindari tatapan. Perlahan ia menapaki halaman belakang yang juga sangat luas. Disana terlihat kolam renang besar yang berair biru bening. Terlihat di sekelilingnya tumbuhan bunga dan pepohonan rindang beraneka ragam. Ia melihat ke arah cemara rimbun itu. Disinilah ia harus memangkas. Ia teringat bagaimana ia berhasil melobi temannya seorang tukang kebun agar menggantikan tugasnya memangkas tanaman di rumah pak walikota. “Boleh saja. Aku juga nggak begitu suka mangkas di sana. Byuh-byuh. Si pelit itu mbayarnya cuma 20 ribu. Padahal aku bekerja setengah mati seharian. Walikota edan.” Kata tukang kebun itu meludah ke tanah. Nanang menatap kekiri dan kekanan. Di tembok berukir, tergantung beberapa peralatan pangkas. Ada gunting besar. Ada pisau dahan. Ia segera merapat ke tembok, cepat mengantungi pisau itu ke saku celananya. Untung ia bergerak cepat, karena sejenak kemudian seorang petugas rumahtangga walikota nampak datang mendekatinya. Ia menyuruh Nang mengikutinya dan menunjukkan Nanang sebatang pohon cemara berbentuk tak karuan di sudut, dan berkata, “Mulailah kerja. Yang cepat saja, ya. Jangan sampai bapak bangun dari tidur siangnya. Nanti kita semua dimarahi lagi.” Kata lelaki itu meninggalkan Nanang. Nanang membiarkan lelaki itu menghilang. Ia menunggu semenit, dua menit dengan dada berdebar kencang. Nanang menoleh ke kanan kiri. Sepi. Ia melihat pintu rumah belakang yang berukir rumit itu. Terbuka lebar. Perlahan ia menoleh ke kanan dan kekiri lagi. Tak juga terlihat seorang pun. Perlahan ia berjingkat ke pintu, masuk ke ruang mewah itu. Sepatunya yang basah dan kotor membekas di lantai granit berwarna-warni. Nanang dengan kagum melihat piano berkaki tiga, meja kursi ukir, dan juga televisi raksasa. Tetapi ia sedang tak minat mencuri apapun. Berjingkat-jingkat ia mendekati kamar itu. “Kamar walikota bangsat itu ada di kiri. Yang di depannya ada lukisan besar pemandangan. Setelah itu kau bisa lakukan kemauanmu.” Kata tukang kebun temannya, sambil meringis tertawa mesum, memperlihatkan gigi yang menghitam.

16

Nanang memandang lukisan itu, dan mendengus. “Lukisan jelek.” Batinnya. Di sinilah tempatnya. Ia merasakan tangannya berpeluh dingin. Nanang menghela nafas sejenak, dan kemudian dengan menguatkan hati meraih kenop. Ia memutar kenop tembaga ukir itu. Kretttt. Ia mendorong pelan, membuka pintu yang berat itu. Nanang melongok ke ruangan luas itu. Gelap gulita. Sejenak ia berusaha menyesuaikan pupil matanya dengan gulita ruang. Pelan ia berhasil melihat kemewahan disana-sini. Semilir dingin AC yang digenjot penuh, membuat hidung Nanang mulai berair. Nanang perlahan melangkah, dan mengusap ingus yang meleleh turun. Ia leletkan ingus itu ke tembok ruangan. Ia memandang ranjang merah keemasan, melihat sesosok lelaki tambun tidur menelentang. Telanjang dada. “Grokkkkkk. Grokkkkkk....gerokkkkkk!!!!” Nanang tertawa mengejek dalam hati. “Seorang walikota tidur ngorok.” Batinnya. Dendamnya demikian membara membuat jari tangannya mengepal menggeretuk. Perlahan ia merogoh saku celananya, menggenggam dan menghunus pisau dahan. Ia angkat tinggi-tinggi. Berjingkat ia mendekat. Dadanya berdebar bercampur gembira. Dengan sekuat tenaga ia menghunjamkan pisau ke perut tambun itu. “Blusssss!!!!” pisau melesak masuk ke perut lelaki itu. Membuat darah merah muncrat ke atas. Lelaki itu berusaha berteriak, tetapi mulutnya dibekap erat-erat oleh Nanang. Dengan ganas ia menusuk berkali-kali tubuh malang itu. Darah memancar kemana-mana, membasahi baju Nanang, mengalir menyatu dengan warna sprei ranjang mewah itu. Tubuh itu menggeliatgeliat tak karuan, sebelum akhirnya menyentak-nyentak sekarat. Akhirnya sentakan berhenti total, dan sang walikota terdiam beku dengan mata membelalak. “Mati kau!! Jahanam.” Batin Nanang meludahi muka itu. Nanang pun keluar dari kamar, keluar lewat pintu depan. Tangannya menggenggam pisau itu erat, berjalan tegap dan dada membusung. Nanang berjalan lurus gardu itu. Ia memandang tenang provos yang menoleh heran ke arahnya. Provos itu nampak tercekat melihat sosok Nanang yang berlumuran darah, menggenggam pisau terhunus. Nampak di halaman para pegawai rumah walikota berhamburan kebingungan dan ketakutan. Beberapa pembantu rumahtangga perempuan berteriak histeris. Nampak seorang pembantu wanita keluar dari pintu depan dan berteriak keras menangis menggerung, “Pak walikota mati dibunuh oleh bangsat itu.....” Dengan gelagapan provos itu meraih senapannya yang tersandar, dan mulai mengokang. Tangannya gemetaran saat mengarahkan ujung laras membidik Nanang. Provos itu berteriak keras, “Berhenti. Angkat tangan atau kutembak!!” Nanang tetap berjalan tenang. Matanya menerawang jauh sambil tersenyum puas. Sekarang ia mulai berlari kencang mendekati provos itu, mengacungkan pisau dahan tinggi-tinggi. “Stop. Atau kutembakkkkk!!!” Teriak provos itu. Dengan gemetar dan pucat pasi ia akhirnya menekan picu senapan. “Dorrrrr. Dorrrr. Dorrrr.” Cahaya menyilaukan. Muntahan api yang haus darah menerjang menyayat secepat kilat. Menghunjam daging dan tulang. Nanang merasakan tubuhnya tiba-tiba limbung dan perlahan ia pun jatuh terkapar. Langit biru berputar. Matahari merah cerah berputar dan tertawa terbahak. Mendung datang menangis. Perlahan Nanang memejamkan mata, meresapi waktu-waktunya yang terakhir. Ia coba nikmati rasa sakit luarbiasa yang berasal dari dadanya yang bolong-bolong tertembus timah panas. Pelan, rasa itu hilang. Beban itu hilang. Pelan-pelan kesadarannya melayang, meninggalkan raganya yang mendingin. Ia merasa tubuh barunya berbinar-binar melayang jauh ke angkasa, meninggalkan tubuh kurusnya beku, dikerubuti para budak belian walikota. Tubuh halusnya ringan melayang jauh ke angkasa, melewati mendung-mendung hitam, meninggalkan kota sumpek itu ke selatan. Bersama angin pagi ia mengelana melewati bukit-bukit kapur tandus, melewati bekas sungai-sungai yang kering dan pecah retak. Ia melihat ladang-ladang jagung yang

17

kerontang. Pelan ranggasan angin pagi menyeret tubuh halusnya, membelai tubuhnya dan berbisik-bisik resah. Melaporkan derita lara para penduduk desa. Tubuhnya melayang jauh ke selatan, mendekati kembali sebuah desa kecil yang miskin, tempat sebuah gubug reot. Disanalah semasa kecil ia ditimang manja oleh ibundanya yang perkasa. Batinnya tercekat lagi. Adukan rasa rindu dan lara mendera batinnya. Kini ia memandang sedih sosok tubuh perempuan renta, yang masih saja duduk terbungkuk-bungkuk di balai-balai reotnya, sibuk menguliti timbunan kacang-kacang tanah. Tanpa akhir. Tanpa henti. Dari mulut keriputnya, serak terlantun tembang anak-anak,”Bapak pocung, dudu watu dudu gunung, sabane neng sendang, pencokane lambung kering, prapting wismo, si pocung muntah guwoyo....” perlahan tangannya yang keriput menyeka sebulir air mata yang mengalir dari sudut mata tuanya. Catatan1: cerpen ini kelihatan amat klise, menceramahi dan menggurui, serta berpola hitam putih. Seorang teman berkata, tokoh antagonisnya tampil terlalu jahat. Yang benar-benar mau saya akui, tulisan ini memang bersifat agitatif. Toh bagaimanapun gores potret realitas seperti dalam cerpen ini biasa terjadi dalam hajat hidup rakyat jelata kita, terkecuali (tentu saja!!!) pada bagian pembalasan dendam Nanang. Kenapa demikian? Catatan2: Beberapa hari ini ada beberapa berita di TV tentang amuk massa pedagang Makassar yang digusur. Mereka dengan sangat berani (khas masyarakat Makassar) melawan tindakan penggusuran semena-mena yang dilakukan para petugas Petugas Trantib itu. Seorang bapak bahkan berani menelentangkan tubuhnyaq ke depan mobil Petugas Trantib. Pada akhirnya para pedagang dan warga yang telah menyatupadu pun menyandera mobil itu selama setengah jam. Para pedagang dan warga itu juga marah karena ada warung yang kebetulan dibacking/dimiliki seorang polisi yang tidak ikut digusur. Polisi pemilik warung yang bertubuh tegap kekar itu menantang warga yang marah, tetapi dengan berani warga pun melawannya, menjotosinya, hingga ia pun akhirnya terbirit masuk ke dalam warungnya. Kita ingat zaman dahulu ibu-ibu pedagang sayur yang dengan berani mengangkat kain penutup tubuhnya, membuka auratnya, berdemonstrasi melawan serbuan para Petugas Trantib itu. Hak untuk tetap bisa bertahan hidup memang lebih berharga daripada apapun juga. Sebuah aksi perlawanan simbolik yang luarbiasa. Di Jakarta hari ini juga ada berita bagaimana seorang penjaga lahan informal ditembak oleh ketua Petugas Trantib yang menggusurnya. Hingga saat ini ia masih terbaring kritis, koma di RS Moh Husni Thamrin Jakarta. Dia tertembus peluru mulai dari tenggorokan tembus hingga proyektil mengeram didalam batok kepalanya. Seorang bekas Wakil Kepala Petugas Trantib saat diwawancarai oleh TV berkata garang bahwa selama ini para petugas Petugas Trantib sudah melakukan segala sesuatu sesuai dengan prosedur. Dengan intimidatif ia berkata akan menghadapi siapa saja (maksudnya masyarakat kecil) yang berani melakukan tindakan premanisme(?), dan melawan prosedur. Stasiun TV itu dengan cerdik sempat menzoom sejenak barang-barang yang tertata rapi di meja mantan Wakil Kepala Trantib itu. Disana terpampang secara demonstratif sebuah hiasan besar, berupa sebilah belati asli yang terhunus. Mewah namun mengerikan. Bilah belati itu nampak begitu tajam, berkilat-kilat putih dikerjap sorot lampu kamera.

Gigi Crott…. Ludah menyambar ke mata, hidung, dan bibir beberapa mahasiswa yang duduk di depan. Buah-buah, hoek. Sungguh menyebalkan. Tetapi mereka hanya bersikap dalam hati. Mereka nanti akan membasuh muka di luar setelah selesai kuliah. Kini mereka harus sabar dan membiarkannya mengering dulu secara alami, dan kalau tidak naas, disemprot sekali lagi oleh Profesor Usman.

18

Professor Usman sedang berbicara lantang dengan penuh keseriusan, tentang norma hukum positif. Padahal semua orang tahu jika giginya yang mekar dan berkeliaran ke mana mana itu jika dibayangkan secara surealistik, akan mengingatkan pada besi-besi beton di tempat bangunan, berkecambah mengerikan kesana kemari. Itu mengakibatkan mulutnya sama sekali tidak terkatup. Sedang jika ngomong, maka airmancur berbau harum akan memancar sejauh satu meter. Lebih tepat lagi seperti hairspray raksasa ke segala penjuru. Mungkin dengan radian 45 derajad ke samping kiri dan kanan. Sungguh luarbiasa. Bagaimana seorang punya tandon ludah sebanyak itu. Tetapi professor Usman tetap jumawa. Berbicara berteriak-teriak di kelas, dan bergantian para murid terkena ludahnya, basah kuyup. Para murid memang selalu berebut mencari tempat duduk paling belakang untuk menghindari semprotan ludah. Tetapi dengan cerdik Profesor Usman selalu berkeliling dalam kelas dan dengan adil membagi curahan ludahnya pada semua anak yang hadir. Orang hebat itu memang beruntung, karena karirnya yang cemerlang di bidang ilmu hukum, membuatnya dihormati hingga luar negeri. Sungguh tak terbayangkan orang-orang bule dengan takzim menerima giliran diludahi olehnya satu persatu. Yang lebih luarbiasa lagi ia begitu percaya diri, dan mungkin sedikit banyak sengaja menggunakan kelemahannya itu untuk membikin repot kolega-kolega dan murid-muridnya. Sampai sekarang ia tidak mau operasi mulut. Itu rumor yang campur baur di antara para mahasiswa. Konon memang semua anggota dewan dosen sudah menyarankan dia untuk operasi mulut, mungkin karena mereka sudah lebih dulu harus terus menerima curahan air liur Profesor Usman tersebut. Profesor Usman ternyata marah besar pada mereka dan ingin balas dendam. Ia kemudian kasak kusuk dari satu dosen ke dosen yang lain untuk membuat kacau kantor. Ia dekati mereka satu demi satu, memanaskan hati mereka terhadap satu dengan yang lainnya. Hal itu, konon sekali lagi, membuat ketegangan besar terjadi di antara dosen. Intrik yang dulu terpendam menjadi terbuka. Mengakibatkan persoalan-persoalan di luar masalah utama muncul. Betapa kemudian muncul ungkit-ungkit tentang persoalan dua orang dosen yang berebut seorang mahasiswi. Kemudian rumor tentang salah seorang dosen yang homoseksual terungkap sampai ke rektorat. Begitu juga rahasia memalukan dua orang dosen perempuan yang belum kunjung menikah juga menjadi ikut terungkit-ungkit ke mana-mana. Juga persoalan uang yang ditilep oleh ketua jurusan, soal perseteruan ide dan logika ilmupengetahuan antar dosen. Juga tentang persoalan rebutan jatah rumah dinas. Semuanya tersebar ke telinga anak-anak didik mereka, tersiar sampai keluar fakultas. Lengkap sudah balas dendam Profesor Usman yang kejam itu. Akhirnya dewan dosen nyata terbelah menjadi dua kubu. Entah kubu apa. Pokoknya kubu yang satu berhadapan dengan kubu yang lainnya. Pokoknya ngawur semua. Dendam-dendam para ilmuwan bertebaran. Jika mahasiswa masuk ke kamar dosen itu dijamin ia akan bisa merasakan hawa panas menyengat seperti bara dari kompor arang. Dan itu semua gara-gara gigi Profesor Usman. Semua mahasiswa tahu dan cekikikan membicarakan di kantin. Memang akhirnya mahasiswa toh terbelah juga, menjadi dua kubu. Tetapi itu cuma antara orang-orang yang ingin dapat proyek atau ingin menjadi dosen. Mereka nantinya akan menjadi penerus dari intrik-intrik itu juga natinya. Dan toh jumlah mereka cuma sedikit dibanding ratusan mahasiwa lainnya yang bloon-bloon menengah. Sementara itu Profesor Usman dengan gigi mencongotnya tetap mengajar dengan cuek, mengajar tentang konsepkonsep etika hukum. Jadi semua anak di kelas menerima kebatilan dari gigi dan mulut profesor Usman lagi dan lagi. Ludahnya bertebaran rata di wajah-wajah belia yang penuh harap akan ilmu dan pekerjaan. Tetapi mereka menerimanya sebagai sesuatu yang jujur. Bukan kelemahan yang pernah ditutup-tutupi. Itulah yang membuat mereka akhirnya lebih menghormati Profesor Usman dibanding dosen-dosen yang lainnya. Handphone lumayan. kenyal. dingin, tetapi empuk. fikir Soeharto sambil mengunyah perlahan. mmmhhh. enakk. mmmhh. kenyal enak. dingin, empuk. mmmhh. enak.

19

berulang ulang Soeharto berkata. sambil tak henti-hentinya ia mengunyah. saus berlepotan di bibirnya. menetes perlahan ke bawah pangkuannya. tetapi ia tak peduli. sangat jarang ia makan sesuatu seenak itu. biarpun terasa dingin. tetapi memang makan impor selalu disajikan dingin, fikir Soeharto naif. anggapan senaif seperti itu sah-sah saja. toh ia sedang duduk di meja restoran itu, sambil mengganyang makanan itu perlahan-lahan. mulutnya tak habis-habis mengunyah. rasanya legit, gurih, dan membuatnya ingin menggigit dan mengunyah terus. tangannya memegang erat makanan itu. ia merasa seperti di surga, dan masuk ke kelas sosial yang paling tinggi sejagad, setaraf dengan orang-orang yang memiliki ponsel yang bertiiit setiap beberapa menit di sampingnya. ia menatap makanan mereka, sama dengan dirinya. mereka pun mengunyah dan menikmati dengan cara yang sama pula. mmmhhh. betapa asyiknya makanan dari luar negeri seperti ini. Soeharto benar-benar sejak dulu ingin makan makanan seperti ini. sekeping demi sekeping ia kumpulkan uang hasil jualan koran di bis, dan akhirnya setelah ia rasa cukup, ia putuskan untuk masuk ke rumah makan itu. dengan mengenakan setelannya yang terbaik, menggunakan celana jeans yang ia banggakan, dan dengan rambut disisir rapi ke belakang. ia bubuhi dengan pomade banyak-banyak. ia berjalan setenang mungkin masuk ke dalam restoran itu. dulunya ia takut ditolak oleh pelayan restoran ini. tetapi ternyata perasaan waswasnya terlalu berlebihan. ia melihat pelayanan terhadap dirinya sama baiknya dengan terhadap orang-orang yang berhandpon di sampingnya. sebenarnya Soeharto terkesiap juga melihat bon yang diberikan pelayan. edan!! fikirnya. masak ada makanan semahal ini. tetapi ia bayar juga di depan. memang setahu dia dari teman-temannya, kalau makan di restoran itu harus bayar dulu sebelum dilayani, tidak seperti kalau ia biasa makan di warung Tegal samping kontrakannya tepat di gang sempit dekat mesjid. Soeharto sangat teliti. sebelum ia datang ke situ ia membuat riset terlebih dulu. tanya sana sini tentang caranya, berapa harganya, bagaimana cara makan yang sopan, dan sebagainya pada teman-temannya. teman-temannya sebagian besar sudah sering makan makanan seperti itu saat gajian mereka tiba. ya biar, biar miskin kita harus pernah ngrassain jadi orang kota sedikit lah. demikian kata temannya. Soeharto setuju belaka dengan teori itu. kini ia makan makanan itu. sungguh lezat dan membuat ia lupa diri. apalagi di restoran diperdengarkan musik jedang-jedung. sebenarnya Soeharto lebih suka musik dangdut. tetapi nggak apalah, fikirnya. pokoknya aku harus bisa menyesuaikan diri dengan cara-cara dan kesukaan orang kaya. toh nggak setiap hari aku begini. ia teringat kenapa ia repot-repot menabung untuk bisa makan makanan itu. ahh hari ini adalah hari ulang tahunnya. ulang tahun harus dirayakan dengan cara yang paling hebat. umur bertambah, berarti pengalaman harus bertambah dong. begitu fikir Soeharto. Soeharto menatap orang-orang yang datang dan pergi. orang-orang muda yang berwajah perlente. sebagian besar mereka datang berpasang-pasangan. dan nampak semuanya membawa handpon. wah ia bayangkan bisa punya handpon seperti itu, bisa ia banggakan pada temantemannya. wah tetapi mahal. ia berfikir ulang, dan tidak ingin macam-macam. ia sudah bisa menikmati makanan seperti ini sudah sangat senang dan bangga. ia berkonsentrasi pada makanannya lagi. mmmhh enak, mmmhhh kenyal, mmmh dingin. wah tinggal sedikit. sudah hampir dua jam ia duduk di meja itu sambil menggigit, menggerogoti perlahan-lahan makanan itu. barang mahal harus dihemat-hemat, begitu fikirnya. ia melihat ke samping kanan kiri depan, orang berseliweran tak karuan. mereka makan ngebut seperti dikejar setan. orang kaya kok hidup tergesa-gesa semuanya kayak gitu. nggak bisa nikmati makanan enak. eh, tapi mereka khan tiap hari makanannya ini, fikirnya geli. ya sudah aku memang miskin jadi nikmati makanan seperti ini juga perlahan-lahan. ia lihat orang-orang di sampingnya sudah beranjak pergi. orang-orang kaya yang meninggalkan sisa makanan banyak sekali di meja. minuman merka tak dihabiskan. dan tanpak separoh makan yang seperti dimakan oleh Soeharto kini tergeletak di meja, terkapar begitu saja.

20

Soeharto melihatnya dengan mengelus dada. orang-orang itu meninggalkan meja dengan segera dan dengan canda tawa mereka dengan bahasa gaul bergegas keluar. nampak dua orang memencet-mencet handponnya. Soeharto menatap meja yang kini kosong itu. melihat sisa-sisa makanan berceceran di meja. ia mengeluh dengan wajah masam. ia sedikit tersinggung sebenarnya. tetapi kini ia melihat sesuatu tergeletak di kursi. benda berwarna biru tua. bentuknya kecil, kotak. ahhh handpon ketinggalan. jeritnya dalam hati. ia sedikit tegang. ia ingin beranjak dan mendekati meja. Soeharto menoleh kanan kiri. para pelayan sibuk mengantar makanan dalam hingar-bingar restoran yang penuh celoteh. tak ada orang yang memperhatikan dirinya. Soeharto menahan nafas. menahan diri sebentar. aku bisa mengambilnya. tetapi jangan sampai ketahuan. jangan cepat-cepat, perlahan-lahan, santai saja. bisiknya dalam hati. ia menoleh lagi ke kanan dan kiri. tetap tak ada seorang pun yang memperhatikannya. nampaknya semua orang memang sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. kini dengan tegang Soeharto beringsut perlahan. ia punya ide. ia bangkit berdiri dan pergi ke meja itu. ia melihat ada makanan empuk separuh, sisa orang-orang tadi. ia ambil dengan tangan kirinya. nampak di dekatnya seorang pelayan meliriknya dengan jijik. ih.. makan makanan sisa. dasar norak. mungkin fikirnya. tetapi itu memang rencana Soeharto. ia seolah mengambil makanan itu, dan perlahan hampir tak terlihat, ia menyorongkan tubuhnya ke depan, menutupi pandangan orang terhadap kursi tempat handpon tergeletak. tangan kirinya beraksi. ia gaet handpon itu. yak. ia ambil dan masukkan saku celananya. ah, aku mencuri. katanya dalam hati. kalau aku ketahuan pasti penjara. masuk bui. hiii. tetapi jika handpon ini kujual, pasti harganya mahal. aku bisa makan ke restoran lain. tidak ke sini lagi. toh siapa yang tahu nama dan wajahku. biar orang tadi mencari-cari handponnya. Soeharto dengan segera berlagak makan makanan sisa itu. sang pelayan melihatnya makin jijik, kemudian berpaling. dan Soeharto bersorak di dalam hati. Sesaat, akhirnya dengan gerak sesantai mungkin ia pergi keluar. berjalan keluar pintu. tiba-tiba, terdengar dering suara.. tiittiit-tiit. Soeharto terkesiap. hatinya berdegup. handpon itu berbunyi. ia tak tahu bagaimana cara menggunakan handpon. mas-mas handponnya bunyi. kata seorang pengunjung yang duduk dekat pintu keluar. semua orang memandang dia. tiba-tiba saja seakan-akan semua orang memandang dirinya. Soeharto kelabakan. dengan keberanian tersisa, ia merogoh handpon di saku celananya. suara handpon sekarang telah berhenti. tertulis di sana missed call. Soeharto tak tahu apa artinya. ia menatap handpon itu, dan ia punya ide. ah, pura-pura menerima telepon saja. kemudian ia mendekatkan handpon ke telinganya, dan berkata. hallo.. oh ya.. ya. mmhh,.. ya. ya nanti oh… ia berpura-pura berbincang sambil berjalan menuju keluar pintu. tepat hampir tiba di pintu, saat ia masih berpura-pura berbincang-bincang, tiba-tiba handpon itu berdering kembali. tuuut-tuuut. Karena suara keras itu Soeharto terperanjat, kaget sekali, dan tak sengaja handpon itu tergelincir dari tangannya, jatuh ke lantai. sambil terus berdering. semua orang di ruangan restoran menatap dia. restoran tiba-tiba terasa hening sekali, semua orang terdiam, pelayan-pelayan berhenti melayani tetamu. Soeharto terpaku di ambang pintu keluar, mulutnya lebar ternganga. -V`Àcatatan: Saya lupa kapan tepatnya menulis cerpen ini. Mungkin sekitar tahun 2001, ketika handphone masih merupakan barang mewah bagi masyarakat Indonesia pada umumnya. Saat itu pun teringat jelas sekali, saya dan istri saya hanya memiliki satu buah handphone untuk dipakai berdua. Tetapi saat ini (tahun 2005) kami sudah berkali-kali berganti berbagai merk handphone, dan bahkan kini sedang memiliki 4 batangan handphone bersama-sama, yang justru kini kerap membikin repot karena kadang membuat sesak kantong-kantong baju kami. Handphone low end beserta nomer telepon serta pulsanya (baik GSM maupun CDMA) telah menjadi demikian murah

21

dan dapat dijangkau kocek masyarakat bawah. Sangat umum saat ini, untuk menyaksikan para pedagang bakso atau mie ayam tengah sibuk memencet-mencet tombol handphone-nya (terutama untuk saling ber-sms), sembari dengan nafas ngos-ngosan tetap saja berusaha mendorong gerobak butut mereka, di tengah terikpanas jalanan kota yang ganas meranggas. Meski demikian handphone mewah yang berharga sangat mahal dan berfasilitas amat canggih pun bertaburan di pasaran, dengan beragam janji kenikmatan, keselalubaruan, dan keindahannya. Dan segmen high end ini nampaknya tetap merupakan hak prerogratif para orang kaya dan berkuasa. Jadi, bagaimanapun juga, mencuri handphone masih kerap dilakukan (sekerap orang mencuri sandal di masjid); bukan hanya karena tindakan itu bisa menguntungkan secara ekonomis, tetapi juga karena handphone nampaknya telah menjadi kebutuhan dan “hak” masyarakat umum, bahkan sejak kanak-kanak --ketika mereka mulai menginjakkan dirinya di bangku sekolah untuk pertama kali. Kini sebaliknya, mungkin para rakyat kecil seperti halnya Soeharto masih amat jarang dan segan untuk berhobi memakan junkfood yang harganya mahal (bagi ukuran orang-orang miskin di Indonesia) tapi tak bermutu gizi itu; sama segannya dengan saya dan banyak orang lain, yang cerewet dengan persoalan kesehatan gizi serta keadilan global. Apakah kata “kerap” boleh dipergantikan dengan kata “patut”? Indonesia!! Indonesia! Kereta berdesak-desak tak karuan, sementara bergerak dengan amat cepat. Semua orang nampak sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Beberapa orang pedagang sedang berjualan racun tikus. Beberapa orang berdiri atau duduk terkantuk-kantuk. Sutiyoso, salah seorang penumpang kereta itu, sudah tak mampu lagi melawan kehendak yang seperti meluap-luap dalam batinnya, sebuah kehendak yang selama bertahun-tahub berusaha ia lawan keras-keras, karena ia tahu hal itu merupakan sesuatu yang melawan moral, melawan hukum. Hampir tak terpikirkan, ia sendiri merasa sedemikian kaget pada apa yang telah ia lakukan. Saat itu ia ada di bibir kereta api. Di depannya bergelantung seorang bapak-bapak yang tepat berdiri di depan Sutiyoso. Sesaat tangan Sutiyoso bergerak, seperti tak terkendali, dan… Ia dorong laki-laki itu dari pintu kereta api listrik. Dan orang itu jatuh, seperti layang-layang, langsung seperti sampah, melayang tertelan jatuh ke jurang. Tertelan oleh udara dan deru laju kereta listrik yang berjalan demikian cepat. Sedetik ia merasa puas sekali, lalu menjadi pucatpasi. Dan orang-orang yang ada di sekelilingnya menjadi demikian terpana, ibu-ibu dan perempuanperempuan muda nampak berteriak-teriak histeris, kemudian seperti ada aba-aba gaib yang hadir, orang-orang, mulai dari bapak-bapak, para mahasiswa, dan juga beberapa penjual barang aneka ragam segera menerkam dirinya, dan tak ayal beberapa orang mulai menanamkan bogem mentahnya pada Sutiyoso. Beberapa orang mahasiswi berteriak histeris dan juga ibu-ibu nampak demikian terpukul dan terpukau pada peristiwa itu. Bagi mereka tragedi yang aneh dan tidak bermoral seperti itu tentu saja bisa saja difikirkan, karena mereka sangat akrab dengan segala macam kekerasan virtual. Mereka juga akrab dengan tawuran pelajar, dan tentu saja mengerti jika ada orang yang hendak terbunuh atau membunuh karena adanya kebencian atau karena dendam kelompok. Tetapi ini, seperti ada sebuah ketololan. Apa yang bisa diharapkan untuk menjelaskan tindakan orang itu? Dua orang laki-laki yang nampaknya tidak saling kenal, dan nampaknya salah satu orang itu, si Sutiyoso yang kita kenal, tiba-tiba mendorong orang itu jatuh keluar dari kereta yang melaju demikian kencang. Tentu saja pasti orang yang didorong mati. Pasti mati. Lihatlah di bawah pintu kereta yang melaju kencang itu, pemandangan yang langsung anjlok ke bawah, ke arah kerumunan dari rumah-rumah bedeng yang nampak demikian kecil di bawah. Kereta sedang melintasi jurang. Pasti orang yang didorong itu akan muncrat seluruh isi batok kepalanya, seluruh isi perutnya, muncrat-muncrat darah. Dan sempat orang-orang, termasuk si Sutiyoso sendiri

22

menikmati pemandangan itu. Lelaki itu melayang, tanpa teriakan sedikitpun. Mungkin saking kagetnya. Hanya orang-orang di dalam kereta yang berteriak-teriak. Kini mereka meringkus. Dan kini Sutiyoso telah babak belur. Satu orang berkata. "Panggil polisi!" "Kita buang aja dia juga dari kereta..." "Jangan! Kita jangan seperti dia." "Lalu gimana" "Bakar saja" "Jangan di sini." "Nanti." "Jangan.... kita butuh hukum. Kita serahkan polisi. Kita semua sebagai saksi." "Tetapi aku nanti terlambat ke kantor.." "Wooo, dasar." "Pokoknya gebuki saja dulu." Maka dengan segenap tenaga orang-orang, para laki-laki, terdiri dari para pekerja, mahasiswa, dan mungkin juga para copet, segera mendaratkan bogem mentahnya lagi ke seluruh penjuru tubuh Sutiyoso. Sutiyoso nampak meringkuk demikian mengenaskan di lantai karet kereta listrik yang kotor dan penuh liudah itu. Nampak wajahnya bonyok dan mulutnya mengucurkan darah segar. Tubuh dan pakaiannya sekarang penuh dengan lumpur dan ludah dari orang-orang yang sesaat kemudian meludahinya. "Bajingan!!" "Siapa dia?" "Nggak tahu." "Orang tak waras. Jahat. Bajingan." Demikainlah umpatan-umpatan yang bervariasi mengalir ke Sutiyoso yang sekarang sudah tak terlihat bergerak lagi. Nampak nafasnya tertatih-tatih dan tersendat. "Mati loe" "Biarin." "Orang seperti ini tak layak hidup bermasyarakat." kata orang yang lain. Maka perlahan-lahan mereka mulai bangkit dan menendangi Sutiyoso dengan sepatu dan sandal mereka. Bak-buk-bak-buk!!! Ke arah muka, tubuh, kaki Sutiyoso. Nampak tubuh Sutiyoso tersentak-sentak sedikit dan perlahan-lahan kemudian ia mulai tak bergerak. Nafasnya nampak mulai habis dan putus. "Mati..." "Hah?" "Mati. Ya mati. Wong digebuki begitu." "Panggil ambulan." "Hush. Pokoknya gimana ini? Kita pasti ditangkap polisi semua." "Aduh" “Kita ternyata juga jahat, ya…” “Ah diem lu.. udah terlanjur.” “Iya udah terlanjur.” “Lalu gimana?” "Ya. Ayo kita segera turun dari sini." "Ya mumpung polisi dan kondektur tak ada." "Biar nanti ditemukan orang." "Ya. Ayo dekat sini stasiun. Pokoknya kita punya perjanjian bahwa kita sama sekali tak saling kenal. Nah itu ibu-ibu dan perempuan yang lain juga turun. Nanti jadi masalah harus bersaksi dan sebagainya. Ayo turun semuanya." “Memang kita saling tidak kenal, kok” gerutu salah seorang penumpang sambil memalingkan wajah dan menjauh dari depan pintu tempat sosok mendiang Sutiyoso tergolek.

23

Nampak beberapa perempuan nampak menangis histeris dan beberapa orang menutupi wajah mereka dengan tangan mereka. Mereka demikian merasa muak pada peristiwa keji tersebut. Beberapa orang laki-laki muda juga nampak memalingkan wajah, dan tidak ikut terlibat dengan peristiwa itu. Tetapi mereka tidak berbicara apa-apa dan hanya sebentar-sebentar melirik mencuri pandang penuh minat pada peristiwa itu. Beberapa orang nampak melongok pada kerumunan yang mengelilingi Sutiyoso. Seorang berkata pada mereka semuanya. "Kita harus memastikan bahwa bajingan ini sudah mati beneran. Gimana kalau kita periksa dia, dan kalau dia masih hidup kita mampusin sekalian? Biar urusannya beres. "Akur." "Setuju!!" “Jangan. Kalau ia hidup biarlah hidup.” “Hushh. Ia bisa bersaksi di depan polisi.” “Wah gawat jika begitu.” “Makanya….” Maka beberapa orang kemudian menunduk sejenak di dekat tubuh Sutiyoso yang tergolek, nampak mereka meneliti-neliti, meskipun tak ada seorang pun yang berkehendak untuk menyentuh tubuh Sutiyoso. Dan kemudian salah seorang berkata. "Wah nampaknya masih bernafas." "Wah masih hidup dong kalau begitu." “Gimana?" "Kok gimana. Kita tonjok lagi biar mampus." "Aku punya cara yang lebih asyik." Kata seorang berperawakan kokoh, berrambut cepak, dan dengan wajah dingin. Nampak warna pakaian hijaunya menyolok sekali di udara siang yang terik itu. “Gimana?" "Lihat nih.." Maka laki-laki itu kemudian segera berjongkok lebih dekat ke tubuh Sutiyoso, lalu kemudian memegang kepala Sutiyoso dari samping. Ia genggam bongkahan bulat bonyok itu dengan kedua tangannya yang kukuh. Kepala Sutiyoso terkulai. Kemudian secara tiba-tiba kemudian laki-laki berotot itu lalu memuntirkan kepala itu ke arah belakang. Sesaat kemudian terdengar suara krekkk yang keras dari leher Sutiyoso. "Wahhhh" kata orang-orang, begitu kaget dan ngeri. “Hiiiiii. Sadis.” "Patah. Puas khan?" Beberapa perempuan dan ibu-ibu nampak memekik dan kemudian terdengar isak tangis makin keras dari beberapa sudut ruangan gerbong. "Yahhh, berarti kita memang membunuhnya. Ayo segera kita keluar dari sini. Tuh kereta api sudah melambat." Dengan berbondong-bondong maka orang-orang berloncatan turun dari kereta saat kereta melambatkan dirinya dan sampai di sebuah stasiun kecil. Semua orang nampak keluar begegasgegas, sementara para perempuan dan orang-orang yang takut pada kematian sadis itu nampak keluar cepat-cepat lewat pintu antar gerbong sebelum entah turun atau meneruskan perjalanan mereka. Nampak mereka nampak demikian shock. Semua orang turun, meninggalkan Sutiyoso yang tergolek dengan mengenaskan. Almarhum. Mati. Tewas. Mampus. Sesaat kemudian pintu gerbong kereta api itu semburat dijejali kembali oleh orang-orang yang berebut masuk ke dalam kereta. Sementara itu sosok mayat Sutiyoso masih juga tergeletak di dekat pintu kereta. Beberapa orang penumpang melihat sosok Sutiyoso, dan kemudian seorang berkata. "Lho kok ada orang tergeletak."

24

"Hah, gimana?" “Ada-apa-ada apa---?” "Kayaknya gelandangan. Kotor sekali tubuhnya." "Heh-- tapi ada darah di sana-sini." "Ya itu bekas gebukan" "Berarti ini orang dikeroyok." "Masih hidup nggak?" "Ayo diperiksa saja." "Nggak mau. Nanti dikira aku yang melukai dia." "Ya kita semua khan jadi saksi." "Kalau begitu kita periksa bersama-sama." Beberapa perempuan dan ibu-ibu, serta beberapa laki-laki yang hendak masuk nampak mengurungkan niat mereka saat melihat peristiwa yang menghebohkan itu. Mereka segera bergegas mencari gerbong-gerbong yang lain. Beberapa orang laki-laki yang sudah terlanjur naik tetap mengerumuni tubuh Sutiyoso. Dan segera kereta pun bergerak dengan sangat cepat meninggalkan stasiun itu, sambil membawa serta para penumpang gerbong yang mengerumuni Sutiyoso serta tubuh Sutiyoso yang tergolek. Lalu beberapa orang berjongkok dan kemudian seorang memegang nadinya. Seorang memegang dadanya. Seorang lagi memegang antara hidungnya. "Mati!!!" "Mati? Waahhhhhh...." "Hiiii" "Ngeri sekali." "Teganya orang-orang. Salah apa dia?" "Mungkin copet.." "Ya, mungkin saja." “Kalau begitu kita lapor sama kondektur." "Tapi mana kondekturnya?" "Iya-ya..." "Kalau begitu siapa bawa telpon genggam lapor polisi atau rumah sakit." Kemudian salah seorang yang memegang handphone memencet-mencet tombol dan kemudian menelepon entah kemana. "Telepon kemana tadi pak?" "Rumah sakit saja. Biar mereka yang ngurusi dulu. Daripada polisi, nanti kita dilibatlibatkan." "Kalau begitu lebih baik kita turun segera di stasiun terdekat." "Pindah saja ke gerbong lain khan bisa.." "Penuh. Semua penuh." "Wah runyam. Kalau begitu baiklah. Kita tunggu sebentar. Paling 3 menit." Benar. Setelah sekitar 3 atau 5 menit, kemudian kereta berhenti, dan orang-orang berhamburan keluar dari kereta. Cepat-cepat. Nampak mereka berusaha menutupi wajah-wajah mereka dan berusaha menunduk dan melangkah cepat-cepat menuju peron stasiun yang pesing menguning. Sesaat kemudian gerbong itu dimasuki lagi oleh orang-orang yang hendak menumpang. Mereka sebagian berteriak, perempuan-perempuan muda dan ibu-ibu nampak mengurungkan diri untuk naik ke kereta. Mereka semua demikian kaget dengan sosok Sutiyoso yang tergeletak tak bergerak dengan mata mendelik tepat di depan pintu masuk gerbong yang kotor dan penuh ludah itu. Sebagian orang mulai berkerumun di tempat yang demikian sempit dan ramai itu, dan seorang berkata, "Ada orang tergeletak." "Mungkin gelandangan." "Tetapi nampaknya korban pengeroyokan."

25

"Mungkin copet atau apa.." "Ya mungkin." "Kalau begitu kita segera keluar saja dari kereta ini..." "Pindah saja ke gerbong lain, yuk.." "Penuh..." "Kalau begitu paling tidak kita lapor polisi atau rumah sakit. Siapa punya handphone?....." “Kita turun saja sebelum kereta mulai berangkat.” “Baiklah kalau begitu. Mending saya naik bis kota saja.” Maka orang-orang pun bergegas keluar lagi dari gerbong kereta itu, nampak saling berbisik-bisik, atau tidak berbicara sama sekali. Mereka segera bergegas meninggalkan tempat itu. Nampak beberapa orang yang hendak naik ke gerbong itu juga mengurungkan niatnya, dan segera setelah itu kereta mulai bergerak dengan suara mendesing berat dan bengis, meninggalkan stasiun itu. Seorang lelaki yang duduk di stasiun berkata pada temannya saat melihat kereta itu melintas, “Tumben kok ada gerbong yang kosong. Padahal gerbong yang lain isi penuh semuanya.” Temannya menjawab, “Iya…ya…” “Paling ada apa-apa di sana.” “Paling nanti juga ada di koran” “Iya.” ***

Jalan Harmoko tiap hari melewati jalan yang becek di gang kosnya di Jakarta. Melewati jalur tempat pembuangan sampah sementara yang bergumpal bertumpuk-tumpuk. Tiap berjalan di pinggir jalan itu ia mencincing celananya karena takut kakinya secara tak sengaja mencipratkan sendiri lumpur bau itu ke celananya. Sambil berjalan ia berusaha menahan nafas semaksimal mungkin, menghindari rasa mual yang kini telah menyerang seluruh syarafnya. Sungguh sial ia pergi keluar jalan hanya memakai sandal jepit. Bagi orang lain hal itu mungkin tak berarti apa-apa, apalagi mengingat Harmoko waktu itu hanya ingin membeli puyer untuk sakit giginya. Tetapi betapa mengkalnya hati Harmoko saat tiap langkah kaki, membuat cipratan tak tanggungtanggung pada celananya. Padahal laundry di jakarta sangatlah mahal. Satu celana bisa dipatok biaya 5000 rupiah, sementara Harmoko sendiri orang yang sangat malas untuk mencuci sendiri. Setelan baju yang ia pakai kini sudah ia kenakan pada hari ke 15, dan ia rencanakan untuk bisa ia pakai sampai sebulan penuh. “Menghemat”, katanya suatu kali. Paling banter ia hanya mempersering mandi. Itu pun tak mampu menutupi bau dari baju dan celana yang akhirnya meresap lagi ke tubuhnya yang kecil dan dekil. Hampir putus asa ia berjalan sehati-hati mungkin. Tetapi tak mampu mengatasi efek dari cara berjalan jingkatnya. Setiap langkah hati-hatinya menyipratkan lumpur lagi, sekali lagi. Ia begitu mendongkol. Ia sudah sampai di tengah jalan, dan celana itu sudah kotor sekali. Meneruskan perjalanan ataupun kembali ke kos sama saja, hanya memperparah cipratan. Dengan pasrah ia berhenti diam. Cara berjalannya memang sangat unik. Sejak kecil ia cenderung untuk berjalan berjingkat. Konon kabarnya karena saat bayi ia tak belajar untuk berjalan terlebih dahulu, tetapi langsung berlari. Seorang teman pernah mengatakan cara berjalannya persis seperti setan dalam gambar-gambar di gereja. Harmoko dengan keras kepala membantah dan tak percaya. Tetapi betapa mendongkolnya ia saat pernah melihat film humor Cina tentang vampir-

26

vampir, dimana diceritakan tentang ciri orang yang dikuasai oleh roh jahat.. cirinya salah satunya adalah berjalan berjingkat. Kini ia berdiri diam di tengah jalan becek itu. Persis dekat sekali dengan timbunan sampah berderet-deret. Ia lihat para pengumpul sampah bersliweran dekatnya dengan tubuh kotor. Sementara bau menyengat menyebar menusuk hidungnya. Campuran antara tai manusia, kencing, bangkai, sayuran busuk, kertas terbakar, entah apa lagi. Harmoko bergidik, mual. Ia heran dan berfikir, betapa mengerikannya hidup sebagai tukang sampah. Bersekutu dengan kotoran, dan mungkin sekali bakal segera tertular segala macam koreng, lepra, dan anekaragam penyakit menjijikkan lainnya. Ia tak sadar ia juga sosok amat menjijikkan bagi teman-temannya, karena tak pernah berganti pakaian. Perlahan ia berjingkat, dan cepret, terciprat juga celananya oleh comberan busuk itu. Apakah aku harus membuka sandalku, dan berjalan bercakar ayam? Fikirnya dalam hati. Hiiiihh. Ia lihat kakinya yang berjingkat-jingkat itu. Sebenarnya tapak kaki hingga punggung kakinya sudah berlepot lumpur penuh bau mengerikan itu. Tetapi ia tetap jijik untuk mencopot sandalnya. Hal itu berarti celananya akan lebih kotor lagi. Gawat!! Fikirnya. Ia akhirnya pasrah. Berjalan seperlahan-lahan mungkin, meloncat-loncat perlahan diantara kubangan. Mencari tempat yang tidak menggenang. Ia berjalan seperti kijang amatir. Sia-sia saja. Ia mengutuk kebodohannya karena pergi keluar memakai sandal jepit itu. Ia pandangi sekali lagi celana bagian belakangnya. Penuh lumpur sudah. Jijik deh. Ia bergidik perlahan hingga seluruh bulu badannya berdiri. Beberapa mobil melintas santun dan perlahan di sampingnya. Ia bersyukur karena ia berjalan di lintasan kampung yang sempit. Hingga hampir mustahil mobil-mobil untuk ngebut dan menceprot dirinya. Sesungguhnya ia sering iri pada orang-orang yang kaya, dan punya mobil itu. Ia selalu melirik kagum pada segala macam merk mobil mewah. Ia teringat zaman SMA dahulukala sering duduk di depan parkiran sambil berbincang-bincang ribut dengan temantemannya soal merk-merk mobil terbaru, meskipun seumurhidup mereka tak pernah sempat duduk di dalamnya. Ia mengingat dirinya yang miskin dengan sedikit marah dan kecewa. Mereka bekerja apa ya sehingga bisa kaya seperti itu, sih? Fikirnya. Tetapi kini ia sudah terbiasa dengan ketimpanganketimpangan itu. Apalagi di Jakarta ia tak sendiri. Orang yang lebih miskin darinya pun seabrek. Kini ia lebih peduli pada kerjanya sebagai pegawai cetak yang punya gaji dan menabung sedikitsedikit. Dan ia kini lebih peduli untuk bisa menghindari comberan daripada mengenang kosa kata tentang jenis mobil jreng zamannya yang tentu saja sudah kadaluarsa. Kini jalan telah sepi. Ia berjalan perlahan, setengah melamun. Ia hampir tak peduli ketika dari belakang terdengar deru mesin. Harmoko akhirnya terkesiap, nalarnya berjalan, tetapi terlambat. Aduh, mobil.. fikir Harmoko. Ia menyadari mobil itu ngebut. Tak bisa dihindari. Ruuung.. ruuuung!! mobil melintas cepat. Melintasi dengan congkak ke diri Harmoko yang sial. Menggilas lumpur di tengah jalan itu… dan… ceproooottttt. Musibah bagi Harmoko. Harmoko hampir tak percaya. Ia diam sedetik, memandang tubuhnya. Mulutnya ternganga lucu. Ia berdiri setengah meringkuk menyipitkan matanya. Ia rasakan basah di seluruh tubuhnya, menetes-netes. Perlahan ia membuka lebar matanya…. Dan ia mulai mengumpat-umpat. Ia lihat, mobil apa yang leintas tadi. Mercedes warna merah yang bagus sekali. Tetapi ia hanya melihat bokongnya saja. Asuuuu.. ia berteriak keras. Tentu tak terdengar dari dalam mobil yang tertutup rapat itu. Asuuuu. Ia mengumpat sekali lagi. Ia melihat mercedes itu berhenti di depan rumah mewah satu-satunya yang ada di kampung itu. Dari matanya yang membelalak ia melihat pemandangan ini: keluarlah seorang pemuda yang berbaju perlente menggandeng seorang gadis yang cantik sekali. Lelaki muda itu sedang sibuk menerima telepon genggam dan dengan cuek menggenggam tangan gadis cantik itu dan masuk ke dalam gerbang yang kini dibukakan dengan takzim oleh seorang satpam berseragam.

27

Asuuu.. rutuk Harmoko lagi. Harmoko melihat dirinya dengan kecewa dan haru. Ia lihat ke sekujur badannya. Basah kuyup dengan cairan lendir berwarna coklat kehitaman. Ia lihat tangannya, berlepot dengan cairan yang sama. Wajahnya terciprat banyak sekali. Tanpa sadar ia raba wajahnya dengan telapak tangannya. Terasa lendir menetes basah hampir memenuhi wajahnya, menetes dan hiieeekkk, buhhhh-buuuuhhhh cairan hitam itu menetes-netes hingga bibirnya, masuk ke dalam mulutnya. Bau membusuk menyeruak memenuhi seluruh paru-parunya. Buh-buh-buh. Harmoko meludah tak karuan. Hampir-hampir Harmoko ingin menangis. Campuran antara tangis sedih, tangis marah, dan tak berdaya. Oh, ternyata ia takut pada orang kaya. Asu… teriaknya. Terdengar suara sekedar bisikan. Harmoko baru sadar bahwa ia takut untuk berteriak marah-marah pada orang-orang kaya itu. Ia merutuki kepengecutannya. Ia malu untuk terus berjalan sampai di depan rumah mewah itu. Namun, ia tak punya pilihan lain… berjalan mendekati mobil dan rumah mewah itu. Ia berjalan terus dan hampir melewati mobil itu. tanpa sadar ia masih sempat mengagumi mobil mercedes itu. memang luarbiasa gerutunya dalam hati. Luarbiasa indah. Aku selalu suka pada bagian depannya yang khas. Nampak di jauh sampingnya, laki-laki itu sedang menelepon dengan telepon genggamnya. Nampak ia melirik sesaat pada Harmoko. Ia nampak mengernyit jijik. Dan kemudian sibuk kembali nyerocos lewat telepon genggamnya. Asuuu. Rutuk Harmoko. Ia mengkerut nyalinya. Kini ia kok malah cuma bisa mengumpat dalam hati. Seperti orang tolol yang hanya berjalan perlahan sambil menoleh ke rumah, mobil, dan pemuda perlente itu. Wajahnya diam tak berkedip, mungkin berusaha berekspresi marah tetapi gagal. Bagaimana ini. Ia sudah berhenti sekitar semenit di depan orang itu. Persis seperti pengemis hendak meminta derma. Atau rakyat jelata yang berdemonstrasi pasrah di depan alunalun kerajaan. Lelaki itu tetap menelepon dengan telepon genggamnya. Bahkan kini ia sama sekali tak melirik kepada Harmoko yang berdiri santun penuh harap. Ia sebenarnya pantas sekali marah untuk ukuran Jakarta yang keras ini. Jika ia mengamuk pasti orang kampung akan membelanya sebagai sesama orang miskin yang punya sentimen pada kaum berada. Tetapi kini ia tak tahu bagaimana caranya untuk marah. Ia merasa bloon sekali. Di tengah kemarahannya ia merasa sangat grogi melihat mobil mewah itu, merasa sangat iri dan tak berdaya di hadapan lelaki perlente itu. Ia juga takut pada satpam itu. Ketiga orang di depannya tetap dengan cuek sibuk dengan urusannya sendiri. Meninggalkan Harmoko terpana dengan wajah campuran geram, tersinggung, marah, sedih, dan bloon. Dengan perlahan Harmoko akhirnya beringsut. Sambil tetap mengusap-usap lumpur wajahnya yang kini telah mengering dan membentuk kerak, Harmoko berlalu. Sambil menggerutu. Ia berjalan jauh. Ia tak tahu harus apa kini. Ia berjalan lagi. Makin menjauh, meneruskan perjalanan. Ia menundukkan wajah ke bawah, malu pada dirinya sendiri. Menyaruk-nyaruk, tanpa peduli pada kekotoran seluruh tubuhnya, ia berjalan membenamkan kakinya ke genangan lumpur. Ia tak berani melihat ke belakang lagi. Ia sudah lupa hendak apa tadi. Pokoknya pergi, gerutunya dalam hati. Ia melihat ke tanah becek itu dan tangannya mengepal erat. Dadanya mendidih, tetapi ia ingin menangis. Kenapa orang kaya selalu beruntung? Dan bisa seenaknya semena-mena bersikap pada orang miskin seperti aku? Dalam genangan comberan tengik itu ia seperti melihat bayangan dirinya sendiri. Mungkin bagi mereka aku pun juga semacam comberan. Tak terasa air matanya mulai mengalir membasahi lumpur di pipinya. Air matanya melarutkan lumpur di pipinya, membuatnya wajahnya makin kumal. Matanya nyalang menatap bawah. Tiba-tiba matanya tertumbuk pada batu yang bercahaya. Sebuah batu yang cukup besar. Tergeletak di genangan comberan, nampak berkilatkilat. Jalan Harmoko terhenti sejenak. Naluri harga dirinya berdesir naik dalam nadinya. Terlintas dalam benaknya. “Ambil. Lempar!! Lemparlah kaca mobil itu. Hancurkan kesombongan dan ketidakpedulian orang-orang kaya itu!!!”, Darahnya menghangat. “Ya. Itu harus dilakukan, sebagai bentuk perlawanan kita sebagai orang melarat.”

28

Dengan tangan dan tubuh gemetar ia berjongkok, mengambil batu itu. Ia menggenggam. Batu itu terasa berat, dan rasa sakit di hatinya seakan bisa berpindah mengalir ke batu itu. Ia tatap batu hitam itu dengan dekat, nampak makin bercahaya. Dadanya berdegub kencang. Ada rasa menyenangkan yang luarbiasa. Terbangun lagi rasanya harkat kemanusiaannya yang sempat tercabik barusan. Harmoko berbalik. Dengan wajah yang binar bercahaya ia berjalan. Ia lupakan rasa perih karena lumpur di atas matanya mulai mengalir ke bawah masuk ke matanya. Ia lupakan bau apak dan memualkan dari seluruh tubuhnya. Ia lupakan tubuhnya yang kuyup hitam. Ia berjalan gagah seperti tentara yang melangkah ke medan perang, mengikuti genderang musik. Ia berjalan menyusuri jalan berlumpur itu, siap bertempur. Matanya tajam memancarkan cahaya. Ia berjalan tegap seperti pejuang. Tegap, ….telapak kakinya tak lagi berjingkat-jingkat.... Jembatan Jembatan itu sangat tua. Mungkin sejak tahun 60-an ia tak diperbaiki. Kukenali hal itu dari lobang-lobang di kaki-kaki kukuhnya yang menghunjam tanah. Lubang peluru AK yang bulat sempurna… sangat bagus. Warna pejal putih jembatan itu karena dipelihara oleh penduduk setempat yang melaburnya tiap akan menyambut tanggal 17 Agustus. Entah mengapa mereka tak kunjung menambal lubang-lubang peluru itu. Manusia-manusia sederhana ini pandai memilih cara asyik itu untuk mengenang sejarah secara apa-adanya. Blok-blok batu ditumpuk dengan sangat rapi, menyerupai piramida atau trapesium. Panas matahari saat itu begitu menyengat, menggetarkan orang-orang yang lewat dengan caping-caping mereka. Nampak dua orang tua yang bercakap perlahan. Caping mereka menutupi mata, tapi tak menyembunyikan kerut merut wajah mereka. Tangan-tangan hitam, dan kaki-kaki kurus kering, kuat hanya karena memang harus hidup. Perlahan-lahan mereka berjalan, serasi sekali dengan alam yang serba murni tak bermesin. Gabah-gabah di dekat kaki, luas di belakang sawah yang kering. Memang ini daerah petani, lama tak tertembus oleh asap motor dan listrik. Dan jembatan itu pun tertawa tak bergeming pada perubahan. Semuanya membuatku berdiri tercenung di sini. Jembatan di Jawa selalu mengandung bencana dan karunia sekaligus. Seorang tua bercerita bahwa dahulu, zaman Indonesia masih dikuasai Belanda, ketika segalanya masih makmur, dan harga-harga masih terraih, mulailah dibangun piramida putih itu, membelah sungai deras. Insinyur-insinyur kulit putih berdatangan, hilir mudik dengan wajah-wajah mereka yang cerdas, dengan mata mereka yang dalam dan biru bening. Mereka memandangi para kuli yang nampak kecil tapi liat, dan mereka terus sibuk berfikir. Demikianlah para penjajah selalu bersikap. Tetapi jangan kaget saudara, bahwa di dalam tanah itu terkandung 4 mayat yang nampak mendelik dengan mulut menganga, di setiap batang tiang beton cor. Andaikan tiang beton itu dibelah, akan mengelontok keluar mayat yang sudah habis dimakan ngengat dan belatung. Disana akan kita temui cetakan sempurna manusia yang terikat ke belakang. Tangan dan kaki terbelenggu, dengan tubuh meliuk-liuk tak karuan. Akan nampak raut-raut wajah kengerian, pasrah terbekukan. Hasil karya kekejaman luarbiasa dari manusia kepada manusia yang lain. Mungkin suatu saat batang beton itu bisa dijual mahal di balailelang terbaik di Singapura. Apakah para Belanda itu yang telah melakukan? Mungkin mereka tahu, dan mengikuti tradisi orang jajahan mereka. Dan para penjajah Belanda selalu sangat berhati-hati terhadap tradisi. Bagi rakyat terjajah tumbal memang harus ada. Untuk membuat mereka bisa kembali berkhayal bahwa mereka tidaklah terletak di rantai makanan terbawah. Mungkin tak difahami oleh fikiran rasional orang Belanda. Tetapi di sini lain, karena manusia hidup dikungkung baik oleh alam maupun kekuasaan raja-raja. Maka muncul hantu-hantu, gendruwo-gendruwo, mulailah penduduk menjadi korban para mahluk halus itu. Kita mengenang calon arang, mengenang leak

29

dan santet yang membuat partai-partai politik kini lebih serupa mandor-mandor itu. Demikianlah ratusan tahun berlalu dan kejadian berulang. Tentu saja kepala kerbau tak bisa digunakan karena jembatan itu demikian besar, sementara gendruwo minta ganti rugi penggusuran yang setimpal. Pasti nanti banyak terjadi kecelakaan karena dedemit gendruwo penunggu sungai itu akan tersinggung dengan sajian yang terlalu sederhana. Seperti andaikata kita sekarang menjamu seorang tamu negara dengan sekedar semangkok indomi rebus. Seperti pendahuluku para antropolog kolonial, aku selalu mencoba bertanya dan membedah otak para petani sederhana itu. Kubuat mereka terkesan oleh kesopansatunanku, dan kubuat mulut mereka mulai berbicara panjanglebar, sementara kuaktifkan mikrofon kecilku dalam saku. Nenek kecil rapuh itu bercerita bahwa pada suatu saat banyak para pekerja yang mengalami kecelakaan yang aneh. Aku membayangkan bagi statistika kolonial itu berarti inefisiensi yang besar. Seorang mati jatuh, langsung tertusuk oleh kawat-kawat baja, tembus dari dada ke punggung. Tentu saja mati, seperti daging sate. Kemudian seorang kejatuhan beton blok yang akan digunakan sebagai kunci antar lembar jembatan. Tentu juga mati, plus gepeng. Kemudian ada lagi, salah seorang kerabat nenek itu terperosok ke dalam mesin adonan semen, hingga membuat adonan bubur semen itu merah oleh puing-puing tubuh dan darah. Semuanya mengerikan sekali, dan membuat mandor gelisah. Ya, ia punya istri, mungkin gundik, yang harus dibiayai. Ia ingin mempertahankan jabatannya. Kata nenek itu, dikuatkan seorang kakek: di malam hari sering terdengar lolongan dan tangisan dari arah jembatan yang tengah dibangun, membuat para penduduk dan kuli ketakutan setengah mati. Pernah terjadi di suatu malam sesosok tubuh datang ke warung nasi. Ia ikut berteduh. Setelah dilongok pemilik warung, ternyata tak punya wajah sama sekali. Darah menetes-netes dari wajah gepeng itu. Tentu hal itu membuat perempuan warung menjerit ketakutan dan pingsan. Besoknya orang melihat sisa darah menetes-netes di warung, tercecer berkitar-kitar sekeliling bangku kayu dan makanan di meja. Demikianlah kemudian berturut-turut ada gendruwo datang, ada pocongan, ada gundul pringis. Kampung menjadi demikian tercekam. Sudah menjadi kebiasaan untuk mencari seorang pintar. Ya, biasanya seorang yang dihormati di kampung, atau justru sangat ditakuti. Dukun yang ada di kampung sebenarnya sudah pernah memperingatkan untuk memberi tumbal manusia. Zaman dahulu para raja dan Sultan pun dengan penuh khidmat mengikuti petunjuk itu. Belanda jelas melarang praktek-praktek penting itu. Hal itu tentu adalah sesuatu yang tidak bisa diterima oleh para penjajah yang serius dan berfikir modern. Mereka hanya tahu bahwa semua pembangunan menjadi sama sekali tidak beres, karena para kuli menjadi malas-malasan, dan mereka sebal menangkap nada-nada ketakutan indigeneous itu. Tetapi sepanjang zaman para penjajah agung melihat, bahwa memang demikianlah sikap ras yang lebih rendah. Dikuasai oleh takhayul dan kebodohan. Dan tugas mereka sebagai pegawai jajahan adalah membangun jembatan secara bagus, kuat, tepat waktu, dan dengan biaya yang efisien. Dan hal itu diganggu kebodohan-kebodohan itu. Mereka marahmarah pada para mandor, mengumpat dalam bahasa ibu mereka. Mereka dengan putusasa memberi uang, candu, mengancam, dan sebagainya, asal semuanya lancar. Demikian usaha Belanda merubah keadaan. Para mandor pun punya cara sebndiri. Mereka membayar orang untuk menculik 4 orang lelaki. Asal culik saja. Mereka dibayar banyak. Asal bisa dapat 4 orang untuk dijadikan tumbal jembatan. “Culiklah di dusun tetangga yang jauh, culik mereka yang tak punya siapa-siapa lagi. Culiklah mereka yang miskin. Ikat mereka dan jangan sampai ketahuan oleh polisi kolonial, karena nantinya kamu yang akan digantung. Jika kamu tertangkap, maka diantara kita tidak terdapat hubungan apa-apa. Paham?” Nampaknya demikian cara omong para mandor itu. Malam hari, empat sosok terikat dengan digulung oleh tikar basah, nampak menggeliatgeliat dan berusaha berteriak, namun mulut mereka terkunci rapat oleh tali yang melilit bibir dan gigi mereka. Saat molen beton mulai berputar mengecor dengan suara bergemuruh, mengaduk semen menjadi adonan yang rata dan kental, mereka mulai akan dimasukkan ke dalam rongga cetak. Perlahan-lahan dengan kerekan tali, tubuh-tubuh yang menggeliat-geliat ngeri itu

30

dimasukkan dalam cetakan itu. Tegak dengan kepala di atas. Mereka nampak menggapai-gapai ketakutan. Mungkin ada yang terkencing-kencing atau mengeluarkan tinja. Dan mata mereka mendelik, berusaha melepaskan ikatan di kaki dan tangan merka. Nampak para pekerja lain yang pucat menatap nasib absurd itu. Para mandor berteriak-teriak memerintah diantara bunyi molen yang bergemuruh. Dan mulailah orang-orang malang itu dibenami adonan semen, sampai pinggang. Mereka makin meronta. Adonan sudah sampai ke dada mereka. Mereka makin meronta, dan nampak air mata berlinang. Dan perlahan adonan sampai leher, hingga mereka semuanya lemas. Perlahan-lahan wajah dan kepala mereka tertutup oleh semen dan beton. Dan semua wajah pekerja nampak lega. Wajah para mandor pun menjadi tidak lagi tegang. Mereka mulai tertawa-tawa santai. Segala tatacara sudah selesai, dan kini tinggal menunggu cetakan itu mengering sempurna dan bisa digunakan besok untuk empat tiang pancang yang diletakkan di ujung-ujung jembatan. Demikainlah cerita ibu itu, dan dibenarkan oleh bapak di sampingnya. Mereka semuanya terbatuk-batuk karena sakit tua. Mereka orang desa yang selalu berkata dengan kata-kata yang sederhana dan jujur. Mata mereka yang sudah rabun nampak tulus, semurni minuman teh suguhan mereka padaku yang dibumbui garam pengganti gula. Saat aku mengecap air teh garam itu, terasa sensasi seperti meminum darah segar. Mulutku berdecap-decap. Mungkin memang manusia diberi bakat untuk membantai dan memangsa tetangganya. Dan aku tidak punya hasrat sama sekali untuk tidak mempercayai mereka. Mempercayai kata-kata orang sederhana seperti sebuah ibadah sunyi. Saat ini aku ada di atas jembatan itu, menatap tiang-tiang pancang di bawahku dengan muram. Panas matahari seperti gelap malam yang kacau. Aku melihat beton hitam itu nampak demikian kokoh, mengalahkan kekokohan bangunan-bangunan yang dibangun saat kami sudah merdeka. Kurasakan sensasi melihat mayatmayat itu menggantung dan tercetak sempurna dalam blok beton itu. Kurasakan nuansa kekejaman itu sebagai sebuah kenyataan biasa. Nampak di antara jembatan itu mengalir keluar masuk orang. Mereka selalu yakin pada cara tradisional. Kubayangkan kini menjadi salah seorang arsitek Belanda yang penuh rasio, yang sangat terkejut dan marah mengetahui bahwa mandor-mandor yang ada di bawah kendaliku melakukan pengorbanan manusia yang menjijikkan dan brutal. Aku kemudian muntah-muntah, dan mengundurkan diri dari proyek-proyek memuakkan di negeri tropis yang indah dan hangat ini, yang dipenuhio pribumi bodoh dan kejam. Tetapi aku ingat juga tentang peluru-peluru yang membenam di dalam tembok tua ini juga. Saat pemberontakan dan semangat untuk merdeka bergemuruh, para pemuda dusun mulai mencincang semua Belanda congkak itu. Mungkin mayat-mayat di dasar beton itu akan mendelik dengan isi tubuh mereka yang sudah menjadi lumpur, melihat nanar kekacauan itu. Dingin dan beku. Tetapi mayat-mayat dari Belanda dan pribumi yang berjatuhan di atas air, sama-sama pucat dan membeku. Begitu juga saat mengetahui bagaimana leher-leher menganga, tersembelih saat salah satu partai terlarang dibantai habis oleh pemuda-pemuda masjid dan tentara AD. Lelaki wanita, anak-anak digorok. Sebagian lagi diberondong peluru, sebagian besar tak diberi kesempatan untuk mendelik dan megap-megap seperti orang-orang yang diculik itu. Aku mendapat cerita bagaimana warna putih dari jembatan ini pernah tiba-tiba menjadi merah dan berbau busuk ratusan mayat merana anggota partai. Air di bawah menjadi merah dan mayatmayat menyembul diantara lalat-lalat yang beterbangan gembira campur heran. Selalulah demikian di sebuah medan pembantaian. Betapa tak berartinya kematian 4 orang dalam beton masif itu. Dusun menjadi penuh hantu kembali. Bertahun-tahun terdengar lagi erangan, tangis, dan teriakan hantu di malam hari. Malam-malam sering muncul gendruwo, gundul pringis, pocongan, dan sebagainya. Betapa menggusarkannya jembatan yang sederhana dan kokoh ini. Betapa banyak tumbal digunakan untuk kenikmatan sesaat. Nampak di atasnya dua orang tua menuntun sepeda mereka. Wajah mereka yang kerutmerut mungkin telah merekam berbagai hal peristiwa. Kurasakan betapa berbahayanya peradaban. Dan sesaat aku tersadar, betapa leganya aku

31

terbakar panas matahari, sendirian berdiri di atas beton putih kokoh ini. Lega karena asing. Dadadada manusia selalu diisi oleh darah yang panas, yang akan mudah tertumpah setiap saat. Tanpa mereka tahu kenapa bisa begitu. Kota “Bah! Ditolak mentah-mentah!!” Sudah sekian banyak lamaran yang diajukan oleh Syahnakri kepada pabrik-pabrik. Sudah dua bulan penuh ia mencari pekerjaan. Sedih sekali merasakan di PHK. Tetapi mau apa lagi. Ia tak menyalahkan pabrik. Sejak dulu ia faham bahwa memang posisi sebagai buruh itu sulit. Apalagi saat krisis datang. Meski orang yang berfikiran sederhana, Syahnakri toh tetap sempat mendengarkan berita di radio, atau menyempatkan diri melihat TV bersama teman-teman di kontrakannya. Pabrik-pabrik gulung tikar. Para pekerja di PHK massal, dan demo merebak di mana-mana. Ia sempat dulu saat kerusuhan turut mengambil radio yang sekarang menjadi hiburan satu-satunya di kamarnya yang sempit. Ia menyewa kamar itu bersama dengan dua orang temannya. Pokoknya malam bisa tidur sudah cukup deh. Dempet-dempetan kayak gini malah anget. Asal nggak bool-boolan saja. Ia masih suka perempuan, demikian juga dengan temanteman satu kamarnya. Jadi ia merasa lega. Saat ia diPHK ia sedikit gembira karena Hartinah gacoannya tak turut diPHK. Yah, memang gaji perempuan khan memang lebih rendah. Jadinya pabrik milih tetap mempekerjakan buruh perempuan. Sementara itu Syahnakri naas. Termasuk yang terkena. Ia memang mendapatkan pesangon. Tetapi sebagian sudah ia buat makan, sebagian dikirim ke desa, dan sebagian ia gunakan mabuk. Bukan karena ia suka mabuk, tetapi karena stress. Nganggur memang bikin sakit kepala dan uring-uringan. Mending mabuk aja. Tepati sebulan ia minumminum langsung bobotnya turun drastis, dan kepalanya sering pusing, dan ia kerap masuk angin. “Nah luh. Rasain, kata temannya. Untung lu belon kena lever. Jika kena bikin repot kita semua. Sadar kek kenapa sih? Sono cari kerjaan. Atau pulang ke kampung lo, macul lagi.” “Huh. Enak saja mereka ngomong. Emangnya aku di desa punya sawah. Dulu bapak simbok buruh tani. Sekarng aku buruh di kota. Sama aja. Tapi sekarang tanah di desa remuk karena dibangun pabrik juga kok. Cuma aku pilih ke kota sini karena cari pengalaman. Juga cari pacar. Biar nggak cuma dapat bini anak tetangga melulu.” “Emang kenapa jika dapat tetangga? Malah asyik” “Diam luh. Udah deh. Gua mau tidur”, katanya membalikkan badan ke tikar bututnya. Ia menyetel radio ke saluran ndangdut. “Aku harus bayar kos bulan ini. Aduh makk. Duh gusti tulungin aku dapat kerja.” Ia berdoa. Dalam hati ia berjanji tidak akan mabuk lagi. Dan ia perlahan terlelap. Besoknya ia bangun, dengan dongkol. Pasti ditolak lagi deh hari ini. Ah. Pokoknya jalan dulu. Ia sarapan ke warung Tegal, minum the tawar hangat dan merokok sebatang Jarum 76. Dengan letoy ia berjalan keluar, menghadang sinar matahari yang mulai terik. Ia berjalan menyaruk keluar masuk gang dan sampai di jalan raya. Mencegat bis jalur kota. “Lama bener sih?”, umpatnya. Untung segera setelah itu bis datang. Dan ia segera naik. Ia melihat keluar jendela bis, melongok dari samping ketiak orang yang berdiri di depannya. Ia cari kesana-kemari musti ada pabrik nih. Harus ada. Kalau nggak makin parahlah nasibku ini, fikirnya dalam hati setengah berharap setengah mengutuk. Dengan sia-sia ia melihat kesana kemari dan ternyata yang ia lewati adalah pabrik yang kemarin-kemarin juga. “Bangsat ini kota. Apes deh.” katanya dalam hati. Sampai di pasar ia putuskan turun saja. Ia berjalan gontai. Dengan mulut yang haus dan ingin merokok. Ia keluarkan uang di saku.

32

“Eh Cuma gopek. Mau cari warung cuma bisa beli rokok dua batang, makannya terus gimana?”, fikirnya. Akhirnya dengan nekat ia pilih warung dan membeli rokok juga. “Laper boleh tapi kagak ngerokok? Amit-amit,” fikirnya dalam hati. Dengan makin letoy ia berjalan lagi di antara kerumunan orang-orang. Dia lihat dengan tubuhnya yang pendek itu orang-orang sedang memilih barang-barang. Pedagang kakilima tersebar di mana-mana. Syahnakri sempat berfikir keras. “Jika aku jualan batu batere di bis gimana ya, atau jualan sisir di atas jembatan layang? Atau jualan koran saja? Kayaknya aku bisa hidup deh.” Ia menatap pedagang-pedagang itu dengan iri. “Atau aku ngamen saja. Paling aku malah bisa kaya. Hi-hi-hi.” Ia tertawa sendiri. Tetapi dasar watak kuli, ia merasa segan harus bertarung seperti itu. ia berjalan dan menepiskan ide-ide itu. baginya itu penuh resiko. “Gimana kalau aku rugi? Aku khan orang miskin. Jualan tetap harus pakai modal. Modalku sekarang cuma duit pesangon. Secuil. Juga kalau aku keliling kota perlu makan banyak. Kalau nggak bisa pingsan aku. Duitnya dari mana juga?” Fikirnya melayanglayang. Suara bis berseliweran. Cepat sekali. Ramai, dan kacau. Ia menatap. “Ah, jadi sopir bis atau kenek. Ah tapi aku nggak punya kenalan, juga nggak bisa nyupir. Paling bisa jadi tukang ojek sepeda doang.” Ia menggerutu pada ketidakmampuan dan keterbatasannya. Ia menatap orang, menatap mobil-mobil mewah yang berseliweran. Ia tatap perempuanperempuan cantik yang masuk ke pertokoan mewah, dan terdengar tulalit-tulalit suara handpon mereka seperti mengejeknya. “Jadi orang miskin di kota besar susah benar. Mending bunuh diri saja gimana ya? Fikirnya. Ah nanti pulang beli racun tikus saja terus kuminum. Ahh..... Astaghfirullah”, jerit hati nuraninya. “Masak aku menyia-nyiakan hidupku dan mudah putus asa?” Ia dengan kesal berjalan lagi, sambil nyengir menatap barang dagangan di pasar yang membikinnya ngiler. “Andaikan aku ada duit kubelikan Hartinah kalung monel dengan batu akik. Kubelikan juga radio kecil dengan hedpon. Terus kawin. Hihihi.” Ia berfikir sambil tertawa. Tetapi kini ia menatap jalan raya yang ruwet dan pusing sendiri. Jam pasti sudah sekitar jam dua. Paling semua kantor sudah hampir tutup. Dan nampaknya Syahnakri sudah tak begitu bergairah lagi mencari lowongan pekerjaan. Ia pilih putar-putar saja di pasar. Perutnya keroncongan. Dan batang rokok tinggal satu. Ia sulut dengan cepat. Kretek-kretek, nampak api bara rokok muncrat menghibur hatinya. Uffhh. Asyiknya. Ia menatap jalan sekali lagi. Keruwetan ada di mana-mana. Kenek bis berteriak-teriak, dan pedagang kakilima nampak lesu. Udara menyesakkan sekali, dan siang terik menerpa kepalanya yang pening. Asap knalpot bau dan ia tahu itu racun. Tetapi ia hirup juga dengan cuek. Ada masalah yang lebih penting. Perutnya sudah keroncongan. Ia tak punya uang lagi di kantong…. Lelaki di Atas Rel

Kereta api berjalan cepat sekali. Tetapi sesosok tubuh nampak berdiri meliuk-liuk di tengah rel kereta api, tepat di pintu perlintasan kereta api yang sepi itu. Ia melambaikan tangannya di depan rel keretas, seperti mengejek pada masinis yang dengan begitu panik membunyikan klakson keretanya berkali-kali. Tetapi orang itu nampak menari-nari dengan penuh gaya, menjentit-jentitkan bokongnya ke arah kereta api yang tentunya tak bisa distop begitu saja. “Tetttttt—tetttttt-tetttttt” klakson kereta api berkumandang makin dekat. Dan orang itu belum beranjak juga dari tarian yang memuakkan itu. Dengan wajah putus asa, masinis untuk terakhirkalinya membunyikan klakson.. “Teetttttttttttttttttttt” kini makin keras. Nampak ia kemudian mengeluarkan bagian tubuhnya dari jendela kereta api. Topi merahnya berkibar-kibar sementara tangannya melambai menyuruh orang itu untuk minggir. Nampak wajahnya memerah campuran

33

antara kemarahan dan keputusasaan. Tepat sebelum 10 meter kereta itu hendak menyambar, maka orang itu kemudian meloncat turun ke pematang yang penuh dengan kerikil, sambil tertawatawa penuh ejekan. Nampak dengan sigap ia mendaratkan kakinya ke antara kerikil-kerikil yang tajam. Kereta melaju dengan keras dan cepat, membuat rambut awut-awutan lelaki itu berkibarkibar. Tertinggal di depan, masinis menoleh ke belakang sambil mengepalkan tangan kirinya sambil berteriak nyaring sekali. “Asu!! Bajingan!!” Orang itu terkekeh-keheh memandangi kereta yang menderu melaju di depannya, meninggalkan dirinya sendiri. Kini, di tengah cuaca yang panas kerontang, ia berdiri di jalur yang demikian panjang dan sepi. Udara berhembus lembut menyuarakan desau yang lembut dan melenakan. Jauh di sana domba-domba merumput dan tak peduli pada perilaku nekat dan mengesalkan dari orang tersebut. Dengan perlahan orang itu berjalan melintasi jalan setapak yang biasa dilalui oleh dombadomba dan para penggembala. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, berjalan demikian perlahan. Terdengar siulan yang tak begitu jelas dan sumbang yang berasal dari suaranya. Ia melewati jalan setapak itu menuju ke sebuah gubuk yang terletak menjorok di atas tegalan yang kering. Nampak beberapa domba mengembik di depannya. Dengan penuh perasaan ia berkata pada domba itu, “Hebat khan aku, wahai kambing-kambing? Cuma kalian yang mengerti aku selama ini..” katanya sambil berusaha meraih kepala seekor domba paling muda untuk dieluselus. Tetapi domba itu dengan segera lari menghindar dari tangannya yang kukuh liat dan hitam legam. Setengah terpana orang itu terlihat demikian kecewa dan terpukul atas peristiwa itu. Dan berkata pelan, melanjutkan kata-katanya, “Bahkan kambing?”. Ia mengusap tengkuknya yang hitam terbakar matahari, dan kemudian melangkahkan kakinya secara cepat menuju gubuk kecil itu. Saat tiba di gubuk, ia menghempaskan dirinya ke seluruh papan dari kayu yang tersandar melintang. Semilir angin yang sejuk membuat lelehan keringatnya menetes perlahan-lahan di dahinya. Kaus singlet putih yang sudah berwarna coklat itu nampak basah kuyup oleh keringatnya sendiri. Ia kemudian mengibas-kibaskannya dengan cepat, memperlihatkan seluruh dadanya yang legam. Sesaat ia terdiam. Secara tiba-tiba ia seperti kerkesiap oleh sebuah ingatan, dan sesaat berteriak mengumpat perlahan-lahan, “Bajingan juga!!” Tiba-tiba ia tertawa tergelak-gelak lagi. Mungkin ia mengingat sikap masinis yang barusan. Perlahan ia menatap ke arah lintasan kereta yang panjang. Ia menyelusuri dengan matanya jelujuran panjang rel yang seperti ular tak berpangkal. Perlahan ia menyenandungkan sebuah lagu yang tidak jelas dan sumbang. Wajahnya tetap nampak muram durjana. Ia menghela nafas, dan kemudian membaringkan tubuhnya yang kurus tapi keras penuh otot ke papan kayu itu. Nampak wajahnya kosong dan matanya menerawang jauh ke lintasan awan yang ada di atas dahinya. Terdengar celoteh burung-burung dan suara domba yang mengembik di sana sini. Ia seperti orang yang terlelap dalam doa yang tak berkesudahan. Ia mulai memejamkan matanya dan sesaat kemudian terlelap dalam mimpi yang resah. Semenit, dua menit, entah berapa menit. Suara celoteh burung dan domba bersahut-sahutan panjang pendek. Suara kelintingan yang biasa diikatkan pada leher domba bergemerincing. Suara desau angin menggesek daun-daunan di pohon-pohonan yang bergoyang keras. Bergemerisik seperti desis ular. Orang itu tetap terlelap, hingga terdengar suara klakson kereta api perlahan di kejauhan. “Tettttttt” Pupil mata lelaki itu bergerak cepat, dan matanya terbuka terbeliak. Senyumnya yang aneh mulai berkembang. Ia bangkit dan duduk tegak di atas papan. Ia menoleh pada domba-domba itu dan berkata agak keras, “Mau lihat pertunjukanku wahai kambing-kambing?” Kambing-kambing mengembik keras dan mulai berlarian menjauh dengan kakinya yang jenjang, membawa lari tali-temali kusam yang menjerat leher mereka, berserabutan kesanakemari. Lelaki itu bangkit perlahan dari duduknya, dan melangkah dengan cepat, mulai mendaki tumpukan kerikil-kerikil tajam. Tangan dan kakinya yang legam dan berotot merayap di sela kerikil yang tajam dan panas. Dengan susah payah ia mencapai besi rel dan sesaat kemudian mulai

34

berusaha tegak berdiri, sesaat kemudian mulai menari-nari, menjentit-jentitkan bokongnya, dan melantunkan lagu-lagu yang tak jelas maknanya. Suara kereta api diesel melaju memperdengarkan derunya yang bengis, makin dekat dan dekat. Suara klakson berulang-ulang berkaok-kaok, nampak seorang masinis mengeluarkan badannya dari jendela lokomotif, dan mulai mengibas-kibaskan tangannya ke udara—menyuruh lelaki itu minggir. Tetapi ia seolah tak peduli. Lelaki itu tersenyum memandangi sosok masif yang menuju lurus ke arahnya berdiri. Ia merentangkan tangannya seperti seekor burung berusaha membentangkan sayapnya. Suara klakson kereta api berteriak-teriak serak, “Tettttt-tettttt”, demikian keras, membahana. Tetapi lelaki itu tetap merentangkan tangannya, berdiri tegak tepat di atas rel kereta api, persis seperti patung perunggu yang gagah. Ia mulai memejamkan matanya yang gelap dan basah itu. Dan mulutnya nampak menyunggingkan senyuman puas. Uang Hari sudah mulai sore. Sugeng terpaku berdiri di tempatnya. Tubuhnya meliuk ke depan dengan kaku. Udara malam mulai berdesir dan menciumkan aroma malam yang dingin ke wajahnya yang tirus. Matanya tak kunjung lepas dari lembaran uang yang tergeletak di tanah. Pecahan yang besar, 100.000 itu tergeletak di pinggir kuburan. Sugeng melihatnya saat berjalan bergegas pulang. Toh akhirnya ia tertarik. Sejenak ia berfikir. Ada sedikit kejerian. Ambil, atau tidak ambil… Sebagai orang yang dilahirkan di desa ia akrab dengan cerita-cerita horror, ia perlu menimbang dengan serius. Fikirannya bekerja keras. Konon ada ilmu yang berkembang di daerah desanya di Godean, Yogyakarta. Seseorang memasang uang logam atau uang kertas pecahan besar di dekat pasar, atau kuburan. Siapa yang mengambilnya, maka keberuntungan hidupnya akan diambil oleh pemasangnya. Sering terjadi malah, si pengambil mengalami kesialan atau kecelakaan bertubi-tubi. Semakin besar nilai mata uang yang ditaruh, makin gawatlah bahaya yang mengancam. Sugeng menatap lembaran uang yang tergeletak itu. Ia merasa sangsi dan jeri. Siapa tahu di kota besar seperti ini pun ada seorang pencari pesugihan yang berkeliaran mencari mangsa. Uang seratusribu tentulah sesuatu yang amat besar bagi dirinya. Ia sudah bayangkan bisa makan enak beberapa hari dengan uang itu. ia bandingkan dengan penghasilannya sebagai pedagang koran di atas bis. Wuihhh jauh sekali. Sehari paling ia bisa mengumpulkan uang 10.000. Itu pun dengan kelelahan tubuh yang luar biasa. Kini ia dihadapkan pada uang pecahan besar. Gratis lagi. Mana bisa aku meninggalkannya begitu saja. Tetapi jika aku kesantet gimana? Aku bisa sial, atau celaka bertubi-tubi. Dengan bimbang ia menimbang-nimbang terus. Ia membungkuk dan melihat lebih jelas. Ia belum berani memegang atau bahkan memungutnya. Dengan perlahan ia mengheningkan cipta dan berdoa. “Sluman-slumun slamet. Dhemitdhemit lungaa. Ojo ngganggu aku, anak turune Ki Ageng Giring. Ambil, tidak, ambil, tidak.” Ah tetap takut. Bahkan ia kini merinding. Bulu kuduknya berdiri. brrrr. Ia melihat kanan kiri, sepi sekali. Nampak tunggul-tunggul nisan berdiri dalam kegelapan. Jantung Sugeng berdegub kendang. Ambil, tidak, sial, tidak sial, santet, uang biasa. Ia merasakan dirinya diamati mahlukmahluk beraneka ragam yang menakutkan. Kakinya sedikit lemas, tetapi hatinya masih ia kuatkuatkan. Fikirannya sudah kacau balau. Saat ia dengan menguatkan hati mulai mencoba memungut uang itu, di matanya uang itu sudah seperti sudah berubah menjadi lembaran kertas merah yang penuh dengan ajian-ajian ilmu hitam. Dengan semakin menguatkan hati ia berjongkok, dan perlahan-lahan tangannya memegang uang itu. Aduh, ia setengah menyesal, setengah lega. Ia sudah memegang uang itu, sudah separuh jalan untuk memungutnya. Dengan memegang uang itu, Sugeng merasa sudah setengah kemungkinan untuk mengalami kesialan.

35

Kesialan mungkin saja sudah masuk ke seluruh pori-porinya, dan si tukang santet sudah tertawa terbahak-bahak. Tetapi di sisi lain ia juga membayangkan besok akan makan enak. Makan bakso dua mangkok, dan beli koka-kola. Asyiknya. Dengan berdebar ia memegang dengan jarinya. Jarinya bergetar perlahan, tetapi tiba-tiba saja tangannya mulai tenang dan mantap. Sudah kadung dipegang, masak kulepas lagi. Sudah kubawa saja. Peduli amat, pokoknya percaya pada gusti Allah saja, pasrah. Aku orang miskin. Apa yang akan dicari oleh tukang santet. Mati atau hidup pun aku miskin, nggak mungkin akan menjadi kaya. Perlahan ia ambil, ia dekatkan pada wajahnya. Uang itu nampak mengerikan, mungkin lebih karena jeri di hatinya, dan juga saking jarangnya memegang uang sebesar itu. Ia bergumam, pokoknya besok makan bakso. Nanti kalau mencret ya sudah, mungkin sakit perut, peduli amat. Hari-hari biasanya ia sering lapar. Ia tatap uang itu lagi, kini mulai ia lipat perlahanlahan. Bersama dengan lipatan-lipatannya, ia mulai bergumam semampunya membaca ayat suci seingatnya. Entah berapa, mungkin tiga atau empat lipatan. Ia masukkan saku celana. Pasrah dan puas. Dan ia mulai berjalan melanjutkan perjalanan. Meninggalkan kuburan ngeri itu, pulang ke tempat kosnya yang sumpek. Besok pagi ia akan makan bakso dua mangkok dan minum koka kola. Terbayang di benaknya kenikmatan yang akan diraih besok. Sugeng berjalan menembus malam yang kelam. Bayangan tubuhnya memanjang dan perlahan menghilang ditelan jalan setapak. Sementara kuburan itu tertinggal dalam kegelapan, menyisakan bayang-bayang tunggul-tunggul nisan yang kaku. Daun-daun bergemerisik, dan suara angin menyuarakan desis malam. Tanpa henti. Secarik daun perlahan jatuh ke tanah, dan berubah menjadi selembar uang 100.000 rupiah. Joker Satu jenis peradaban mungkin tidak pernah tampil sendirian. Contohnya: Dalam acara kehidupan dan kematian selalu saja ada pelawak yang bertugas mencuri perhatian dari kenyataan, bertugas sebagai sang pelucu. Adalah para pelawak istana di zaman Kasunanan Solo dahulu yang dengan beringas dan seolah tanpa akal menggotong penis raksasa dari kayu bercat merah dan hitam, dan berlarian mengejar para penonton perempuan. Demikianlah cara orang mensiasati kepedihan dari kejumudan dunia tatatertib keraton. Kejorokan pun harus dipuja, walaupun hanya untuk kembali dihina. Dimana kepatutan dan peradaban perlu diyakinkan lagi fungsinya, saat tekanan jiwa yang bertumpuk selalu menerpa. Dua orang sahabat berbincang, dalam kekerdilan tubuh mereka, dalam wajah mereka yang lucu sekaligus mengerikan. Mereka dengan susah payah duduk bersila di suatu pojok yang lembab di keraton itu. Sang tua yang lebih berkerut wajahnya, yang memiliki tangan-tangan yang menekuk seperti busur terpentang berkata dengan tajam, menggelegak menahan marah. Sang cebol muda nampak tersenyum dengan santai dan berkata: “Hilangkan dahulu semua ide-ide konyolmu itu, dan segalanya akan beres. Kita nikmati hari ini, dan esok. Apa perlunya perubahan, jika kemudian membuat kita menderita dan semakin menderita?” “Tidak. Kau ikut aku atau tidak terserah. Tapi sebagai teman aku perlu mengingatkanmu untuk bisa lepas dari keadaan mandeg ini. Ini yang selalu membuatku menderita.” “Itu yang membuatmu selalu saja tidak puas. Kau perlu sabar mengikuti aliran nasib.” “Aku tahu apa itu nasib. Aku jauh lebih tua daripadamu.” “Aku akan bertahan. Disini aku bisa makan dan minum, dan tidur. Dan bisa mengangkat kontol-kontol kayu itu mengejar perempuan-perempuan cantik.” “Kita juga bisa melakukannya di desa-desa. Meski kita hanya para pelawak. Kita tukar baju mahal kita ini dengan karung goni dan berkeliling dari desa ke desa. Melawak dan berakrobat.

36

Dan kita akan mendapatkan sepicis untuk makan. Dan tak perlu kita menghamba pada raja mesum itu. Kalau perlu kita bisa membuat lawakan baru yang lebih lucu, daripada menggotong kesana kemari kontol kayu itu. Dimana letak lucunya?” “Apa lagi? Banyak yang membuatku ingin tetap bertahan disini. Aku takut pada para prajurit itu. Jika kita lari, maka tak ayal kita akan dikejar, dibasmi. Kau ingat bagaimana anak istri Suta si begal pasar. Mereka dibantai habis di alun-alun. Semuanya dipicis.” “Dan kita bisa lari dimana raja-raja dibenci. Apakah kau suka mengabdi pada orang yang sukaria memicis orang seenaknya? Di rakyatlah sana kita bersembunyi.” “Sampai kapan?” “Sampai mati. Sampai anak cucu kita lahir dan besar, dan bisa bertani sendiri.” “Hah!! Bertani?Aku ingin hidup enak untuk selamanya! Justru dengan bekerja disini aku membayangkan hidupku berjalan dengan nyaman, tanpa harus berkubang dalam lumpur. Mungkin memang kematian dan ketakutan bersliweran dengan mudah di keraton ini. Tetapi itu kan wajar. Dimana saja seluruh dunia juga seperti ini.” “Tidak benar. Kau jangan menutup matamu. Apa banyak dunia yang belum pernah kaulihat.” “Untuk apa seorang cebol mencoba melihat dunia. Selama ada orang yang kasihan dan menggunakan tenagaku, aku akan mengabdi padanya.” “Baiklah kau suka mengabdi. Apakah kau tahan menghadapi kebobrokan ini? Andaikan mengabdi, lebih baik mengabdi pada Diponegoro” “Sttttt. Jangan keras-keras. Lantas kau akan ikut memberontak?” “Kenapa tidak?” Kedua orang teman lama itu terdiam dengan lama. Nampak beberapa orang abdi dalem berjalan di sekeliling mereka, nampak tertawa menggoda sekaligus menjauh menjaga jarak dari keduanya. Apakah rasa lucu ada hubungannya dengan rasa kejijikan di dunia keraton ini? Aneh sekali. “Aku akan bergabung dengan Diponegoro. Tangan dan kakiku cacat, tetapi hatiku tidak.” Hah? Kau gila. Kau tidak sadar tentang tubuh kita ini? Kita adalah cebol. Dengan tangan dan kaki yang demikian lemah dan tidak sempurna. Bagaimana kita bisa memegang senjata? Memegang jarum pun tanganmu bergemeletar. Dan aku sendiri juga bukan seorang yang terlalu percaya dengan pangeran muda itu. Pangeran yang terlalu banyak berdoa.” “Kita pun lebih kini banyak berdoa daripada tertawa. Kita mungkin merasa telah membuat orang lain tertawa terbahak-bahak. Padahal kita lebih banyak membuat mereka tertawa mencemooh dan jijik pada kita. Dibandingkan dengan rasa gembira, kita lebih banyak merasa sakit hati dan ketakutan. Terkutuklah semua raja beserta semua keraton-keratonnya.” “Dan Diponegoro pun nantinya akan menajdi raja jika ia menang. Apa bedanya?” “Jelas berbeda.” “Apa coba? Karena ia alim?” “Ia akan selalu kalah.” “Hahahaha......” “Kenapa kau tertawa?’ “Kau seperti ahli nujum. Mungkin kau lebih baik menjadi abdi dalem nujum saja. Sekalian membuat seluruh isi keraton ini ketakutan terhadap wajah mengerikan dan tubuh cebolmu.” “Aku menujum seperti ini karena aku tidak bodoh. Aku awas terhadap jagad langit dan bumi. Dan aku tahu karena aku adalah cebol.” “Apa hubungannya.” “Lihatlah orang-orang Belanda itu.” “Ya apa?” “Tubuh mereka besar. Otak mereka pun besar, dan benar-benar mereka pakai. Dan hasilnya mereka bisa buat itu senapan dan meriam, dan mereka mau menghitung bulan dan bintang. Sementara itu, raja kita lebih banyak ngaceng memelototi tubuh para selirnya, dan

37

bersetubuh tanpa henti, minum arak tanpa henti, dan juga bermimpi tentang keunggulan ajaib kekuasaan batinnya yang omong kosong itu. Dan rakyatnya tunduk lesu dengan penuh takzim di bawah kakinya. Takut untuk berfikir. Apa yang membuatnya akan menang?” “Tapi yang akan kaubela khan Diponegoro? Mestinya kau ingin ia menang. Ia banyak berdoa.” “Apa bedanya. Sama saja. Saat ia akan menjadi raja, seperti katamu, ia akan sama saja busuknya. Biarpun agamanya baik, bukan berarti akan membuat tindakannya benar. Bangsa Jawa ini adalah bangsa yang demikian bodohnya. Terikat pada kekuasaan bangsawanbangsawan itu.” “Kau sangat sinis. Lantas apa yang kau mau?” “Aku membayangkan dunia yang dipenuhi rakyat yang bebas. Yang bisa menciptakan meriam itu sendiri, dan menghitung jumlah bintang. Masa depan dimana anak cucuku bebas dari penindasan, dimana mereka berani bertarung untuk hal itu.” “Nah. Dan kita punya pujangga besar sekarang ini. Hahaha....” “Mereka sang penguasa adalah penipu. Semuanya. Kini dan masa depan.” “Jika kau menujum tentang kekalahan Diponegoro, apakah kau juga tidak menipu? Menipu harapan rakyat Jawa melawan para bule itu?” “Tidak. Karena aku tidak menghitung nasib untuk zaman sekarang saja. Aku menghitung kenyataan demi kenyataan. Menghitung harapan sejati dari kawula suatu saat nanti.” “Ah sudahlah. Aku akan tetap tinggal disini. Kau mau apa dan kemana?” “Medan perang. Kalau begitu, temanku. Selamat tinggal.” “Yaaahhhh. Teman... Semoga kau selamat... aku mungkin tak seberani dirimu. Tetapi doaku selalu bersama jalanmu. Berhati-hatilah selalu.” Kedua orang cebol itu saling bertatap muka untuk terakhir kalinya, dan akhirnya saling membuangmuka. Rasa kesedihan yang dalam telah melekat erat di tembok-tembok yang lembab dan tebal itu. Nampak beberapa abdi dalem berjalan lagi dan tertawa cekikikan melihat mereka. Si tua bangkit dan berdiri. Ia menatap nanar pada langit yang mulai meredup. Kini saatnya melupakan segala masalalu, dan segera melangkahkan kakinya. Ia bisa mencium api, dan dimana ada api ada semangat. kesana ia akan menuju. Sang cebol melangkah tertatih-tatih, menghilang di balik tembok terluar ruang pengap abdi dalem. Berapa lamakah ia akan berjalan di dalam jalanan keraton yang berliku seperti labirin, menghilang menuju keramaian rakyat jelata yang setiap saat bisa membuatnya mati kelaparan atau terbunuh? Tapi tak seorang pun yang boleh menghadangnya, melarangnya pergi. Sebuah keyakinan dasar yang membuatnya untuk pertama kali tersenyum gembira secara tulus. Ia melangkah jauh, dengan kaki-kakinya yang cacat, perlahan demi perlahan. Tubuhnya bergoyang susah saat berjalan, ke kanan dan kekiri. Dan keringat mengucur deras dari dahinya. Ia memandang keraton yang nampak misterius dan gelap gulita itu. Ia tersenyum sinis. Kini ia harus menentukan jalan hidupnya sendiri di jalanan nasib yang abadi. ------&&&-----Gelegar perang yang berkecamuk sudah berhenti di sekeliling keraton. Dahulu teriakan manusia dan hewan beradu dengan teriakan kematian dan kesakitan. Dahulu lembing saling bersahutan, anak-anak panah menghujan, senapan dan meriam berdentam menghamburkan api neraka. Tetapi kini segalanya sudah jelas, Diponegoro sudah kalah dan ditawan, dan dua ratus ribu rakyat Jawa terkapar mati membusuk dalam kekejaman perang besar itu. Nampak di antara puing-puing itu seorang cebol tua dengan rambut putihnya berjalan terseok-seok di jalanan yang kotor dan becek. Rumah-rumah hangus terbakar, dan orang-orang nampak berlarian kesana kemari mencari-cari kerabat mereka yang masih bisa diselamatkan. Sang cebol itu dengan menghela nafas berjalan pelan seakan tak peduli lagi. Nampak ia sudah semakin tua, alis matanya sudah memutih seperti warna deretan gunung gamping. Tubuhnya semakin gering,

38

tetapi otot-otot tubuhnya makin liat. Nampak sebilah pisau keris terselip di pinggangnya, menonjol mengganggu gerak langkahnya. Tetapi ia takkan mau membuangnya. Selama lima tahun ia eraterat menggenggamnya mengacungkannya berperang, dan kini bilah dingin itu adalah bagian dari dirinya sendiri. Ia melangkah ke gunung selatan, dan dengan kaki telanjangnya yang kecil menjejak kerikil-kerikil padas. Ia bergumam pendek ke arah keraton yang nampak kecil dan mengepulkan asap sisa pertempuran. Angin bersemilir sejuk. Ia teringat akan temannya yang bertahan di dalam keraton. Ia teringat akan kontol kayu besar yang ia pernah sangga bersama-sama mengejar menggodai para abdi dalem perempuan, dan sang raja yang tertawa terkekeh sambil meneguk anggur Madeiranya. Segalanya akan kembali kepada tatatertib sediakala. Tetapi tentu saja tanpa dia, sang pemberontak kerdil. “Kalian menang lagi seperti biasa, wahai para bajingan kulit putih dan orang-orang bangsawan Jawa yang bodoh. Entah sampai kapan semua ini akan terjadi.” Ia langkahkan kaki pendeknya yang telanjang itu ke jalanan tanah yang menanjak. Kakinya sakit sekali. Panas menyengat, namun semilir angin sedikit menghiburnya. Hatinya teriris mengingat kekalahan-demi kekalahan dalam pertempuran. Ia melihat banyak kematian rakyat, membuat hatinya hancur luluh. Gemuruh perang yang harusnya membanggakan telah sirna. Kini ia mengungsi ke arah bukit-bukit kapur itu. ------&&&----Seorang pemuda yang bertubuh tinggi dan langsing menatap catatan berhuruf Jawa di tangannya. Daluwang yang sudah sangat menguning. Kakinya memijak di aspal panas, di keringnya batas jalan terakhir tanjakan bukit selatan tempat ia dilahirkan. Ia berhenti sejenak dari kendaraan sepedamotor bututnya. Duduk di batas tebing yang terbuat dari besi panjang, ia buka lembar-demi lembar daluwang itu. Terbata-bata ia mulai mengeja huruf melingkar-lingkar itu dengan bantuan karton cetak alfabet Jawa, bagian utama pedoman pelajaran bausastra bahasa Jawi untuk anak-anak SD. Ia masih bingung tentang apa isinya. Namun ia menangkap sebuah jiwa pemberontak dari moyangnya. Ia bingung tentang istilah kontol kayu yang disebut berulang kali. Tetapi ia tahu pasti, nama Diponegoro, perang Jawa, dan juga sebuah kraton bernama Kasunanan. Ia menatap jalan berliku beraspal di bawahnya, seakan bisa melihat bayangan keraton yang disebut dalam buku menguning itu. Ia melangkah setapak ke bawah, melongok dengan lehernya yang jenjang. Berpegangan pada ranting-ranting pohon yang meranggas. Entah kenapa ia berfikir tentang kematian dan juga tentang perang. Ia teringat cerita kekalahan Diponegoro, dan bagaimana seluruh keluarganya selalu saja membangga-banggakan kakek moyangnya yang berperang melawan Belanda dan para bangsawan tengik. Ketika kecil ia diberitahu bagaimana kakek moyangnya pergi dari keraton karena sumpeg melihat tanda-tanda buruk zaman, turut berperang menjadi laskar Diponegoro. Ia tahu dari koran-koran dan buku sejarah bagaimana keraton itu telah kehilangan artinya. Bagaimana dahulu para rajanya membela dan menjilat telapak kaki Belanda tanpa daya. Dan bagaimana akhirnya di zaman modern seluruh keraton itu ludes termakan api. Kehilangan arti. Ia meraba tas hitamnya. Terasa sebuah benda menonjol. Lima tahun yang lalu ayahnya memberikan warisan yang membuatnya serba salah. Sebilah keris pendek yang aneh, pendek kerdil dengan bilah lebar. Bilah berangka kayu keras, dan dibungkus kain mori putih. Ayahnya berkata: “Ini diwariskan turun-temurun. Oleh para nenek moyang kita yang selalu melawan para penjajah.” Pemuda itu tersenyum. “Kenapa melawan penjajah pakai keris kerdil, bukan memakai senapan atau pedang panjang?” Ia bertanya dalam hati.Tetapi saat itu ia diam saja. Bersama dengan waktu, ia mulai bisa menikmati membawa keris itu kesana kemari. Di langit biru yang keras dan panas, angin tetap semilir sejuk, mendesiskan suara daundaunan jati. Lelaki langsing itu memandang ke arah bawah, ke titik-titik rumah yang tak terhingga,

39

membuatnya merinding takut. Nampak asap abu-abu mengepul dari arah kota itu, membayang kelam seperti jamur pekat, tempat kendaraan bermotor dan keriuhan manusia bertarung menyangga beban hidup mereka. Disanalah pemuda itu juga hendak ikut bertarung, berebut mencari pekerjaan. Pendekar Pembela Masyarakat Siang hari ini aku tidak berpuasa karena harus mendapatkan asupan gizi yang cukup untuk membantu proses penyembuhan luka di jari manis tangan kiriku. Hari ini adalah tanggal 11 November 2004, sebentar masa saja menuju hari raya Idul Fitri. Dan aku baru saja sadar bahwa aku telah memimpikan sesuatu jenis mimpi yang istimewa. Padahal bahkan sangatlah jarang aku bisa mengingat kembali mimpi sesederhana apapun itu, saat aku biasa terbangun di keesokan hari. Aku teringat bahwa di pagi hari ini aku bangun dengan tubuh agak lelah, walau aku kemarin malam berangkat tidur cukup dini. Dan aku akhirnya sesiang ini berhasil merekonstruksikan kembali mimpiku. Mimpi tentang sebuah petualangan yang hebat. Dalam mimpi itu, aku telah terjebak di sebuah kampung kecil, dimana seluruh penduduknya tengah ketakutan kepada sebuah mahluk tinggi kurus yang dengan demikian ganasnya telah membunuh dan membrakot orangorang kampung yang sedang berladang di tegalan-tegalan mereka yang berteras-teras indah. Kampung kecil itu memang terletak di sebuah kaki pegunungan yang tinggi, dengan udara yang sangat sejuk. Saat siang hari pun, selalu nampak kabut yang menggelayut dan bergerak sangat cekatan menembus rumah-rumah indah bertingkat yang umumnya terbuat dari kayu. Beberapa kali saat kabut itu dengan cepat menembus wajahku, terasa beban udara pekat berisi air dingin yang luarbiasa, memasuki paru-paruku. Dengan terpaksa, kuusaha-hangatkan kembali kantung dadaku dengan desis asap rokok lintingan kegemaranku. Tetapi apa arti keindahan dan kenyamanan suasana itu jika semua orang disana harus tercekam ketakutan kepada sesosok mahluk tinggi kurus yang mengerikan. Kata beberapa orang yang telah selamat dari serangannya, mahluk itu matanya sangat tajam menusuk, merah membara, dan giginya lancip-lancip seperti mata gergaji kayu. Tangannya yang panjang konon demikian kuat sehingga mampu mencabut putus leher dan lengan-kaki para penduduk dengan demikian mudahnya. Mahluk itu diberitakan pula suka memakan otak anak-anak kecil yang tertangkap tangan olehnya. Beberapa orang anak kecil katanya telah ditemukan tergolek di pinggiran kampung dengan kepala pecah terkoyak dan terburai habis isinya. Tetua kampung telah berusaha menghubungi polisi dan petugas hutan yang tinggal di lereng lebih bawah dari kaki pegunungan ini. Tetapi siapakah pejabat yang mau peduli dengan nasib segerombolan orang-orang tua miskin itu, yang tentunya dianggap sebelah mata oleh mereka. Tak ada tanggapan apapun dari aparat yang dianggap berwenang itu. Dan penduduk pun melanjutkan menikmati perasaan takut yang tercekam seperti biasa setiap harinya. Nenek-nenek tua di kampung yang ketakutan pun akhirnya terpaksa menyekap dan tidak memperbolehkan cucu-cucunya bermain keluar rumah. Di sejuknya siang itu, aku dengan penuh rasa ingin tahu melongok dari dalam benteng pertahanan kami yang terbuat dari balok-balok besar kayu. Kutatap deretan rumah di bawah mataku, nampak seperti kotak-kotak kecil yang berwarna merah. Kulihat kampung kecil itu demikian sepi, pintu-pintu rumah dan jendela terpalang rapat. Bagaimana suatu masyarakat normal bisa hidup dengan kondisi seperti itu? Maka aku pun dengan sangat terpaksa berusaha menolong para penduduk itu. Bersama dengan beberapa voluntir aku memutuskan untuk berusaha menangkap dan membunuh raksasa itu. Pertama memang sulit meyakinkan orang-orang kampung itu bahwa aku adalah seorang yang benar-benar teguh dan tulus ikhlas ingin membantu mereka. Hal itu memang wajar karena aku toh hanya seorang pelancong yang kebetulan terjebak dalam pemukiman senyap di pegunungan yang sama sepi itu. Aku sebenarnya sudah hendak komplain dengan tour travel yang membuatku terjebak dalam situasi sulit ini, tetapi HP-ku tak sanggup menangkap sinyal apapun dalam ketinggian itu,

40

sementara saat aku hendak mencoba menelepon dari wartel satu-satunya di kampung itu, pintu gedung sempit itu tertutup rapat-rapat. Beberapa menit aku menggedornya, tetapi tak ada jawaban sedikit pun dari dalam. Aku memang tertidur sepanjang perjalanan saat berada dalam bis travel, dan dengan menurut demikian saja dibangunkan dan ditinggalkan begitu saja di kampung yang indah ini oleh bus travelku yang terbirit turun. Akhirnya dengan serba kesulitan berhasil kubujuk beberapa penduduk lelaki tua untuk bersamaku bertahan di sebuah benteng tua kecil yang terbuat dari kayu, peninggalan para petugas penjaga hutan. Sebenarnya benteng itu lebih serupa seperti sebuah pos gardu pandang seperti yang sering kita lihat di lereng-lereng pegunungan. Aku menanyakan pada penduduk tentang asal-usul mahluk itu, dan para lelaki tua itu bercerita bahwa sejak zaman dahulu memang selalu ada legenda mahluk itu. Biasanya ibu-ibu menceritakan tentang mahluk itu pada anak-anaknya yang nakal dan bengal, yang tanpa takut dengan jiwa mudanya bermain menembus pinggiran hutan mengejar binatang-binatang kecil yang lucu. Tetapi semua penduduk saat itu selalu dalam kondisi aman. Hanya kadangkala terdengar raungan mengerikan dari arah hutan. Dulu para petugas hutan selalu berhasil menghalau mahluk itu agar tidak masuk ke wilayah pemukiman. Petugas-petugas itu selalu siaga dengan senapan yang siap dengan peluru besarnya. Mahluk itu pun, dahulu saat dipergoki, akhirnya selalu lari kembali ke dalam hitam dan gelapnya hutan yang rapat dan misterius di sekeliling kampung itu. Tetapi kini saat hutan menjadi hilang dibabat penduduk dan pencuri kayu yang lain, dan korps penjaga hutan dihapuskan oleh pemerintah daerah demi penghematan, penduduk kampung pun menjadi terteror oleh mahluk yang kelaparan itu. Para pemuda dan pemudi telah lama meninggalkan kampung itu, meninggalkan para kakek-nenek bersama dengan cucu-cucu mereka. Anak-anak muda itu kebanyakan bertarung mencari sesuap nasi, menjadi TKI di Malaysia atau Arab Saudi. Kini kami para penduduk kampung, bersama aku, seorang pelancong bingung, harus mempertahankan diri kami sendiri. Seorang tukang jam bertahan di dalam dekat jendela utama benteng merancang alat jebakan untuk mendeteksi raksasa itu. Ia memasang tali yang bersliweran di sekeliling benteng, dihubungkan dengan beberapa weker bekas yang telah ia modifikasi. Beberapa orang dengan berani berjaga-jaga sambil membawa senjata seadanya. Orang-orang tua yang renta itu sebenarnya nampak menggelikan saat menggenggam alat-alat pembunuh itu. Ada diantara mereka yang membawa tombak panjang, ada yang membawa pedang-pedang tua. Dan aku, sebilah pedang besar dan panjang nampak tergenggam erat di tangan kananku. Perlu kuceritakan, bahwa pedangku itu sesungguhnya adalah sebuah bilahan plat besi yang kebetulan kutemukan di sebuah kandang kambing Ettawa di kampung ini. Entah apa guna bilahan itu zaman dahulu, mungkin semacam gerendel besar sebagai penghalang pencuri menyikat kambing-kambing yang ada di sana. Tetapi kini siapa di kampung ini peduli dengan pencuri kambing, saat pencuri nyawa manusia dengan sangat bebasnya berkeliaran? Kubalut bilahan besi itu dengan kain gombal, yang juga kutemukan di kandang itu, di bagian ujungnya sebagai pegangan tanganku. Sementara itu, untuk menajamkan sisi-sisi pembunuhnya, kuserut plat besi nan keras itu dengan bungkah batu hitam yang kutemukan di pinggiran jalan kampung. Aku telah menyerutnya berjam-jam dengan bantuan air ludahku, sehingga akhirnya kedua sisinya menjadi demikian tajam dan membuatku yakin bahwa pedang itu bisa digunakan untuk membunuh mahluk apapun yang bernyawa, selama aku berhasil membabatkan dengan tepat ke bagian-bagian vitalnya. Dan pada akhirnya, setelah malam menjelang, saat aku akhirnya terseliut tidur di pojokan benteng kayu kami, terjadi kegaduhan dan kekacauan luarbiasa. Saat yang ditunggu-tunggu telah tiba. Rancangan bel jebakan pak tukang jam terbukti berhasil, dan terdengar suara deringan amat keras yang membangunkan orang-orang yang berjaga di dalam benteng kayu kami. Nampaknya raksasa itu dengan tololnya telah menyerimpang jalinan dan rentangan tali yang dibelitkan pak tukang jam di sekeliling benteng kayu kami. Raksasa itu nampak kebingungan, dan dengan buas akhirnya menyerang orang-orang kampung yang berusaha mempertahankan benteng kami yang dengan tombak-tombak terhunus mencoba mencolok-colok monster itu. Dia dengan suara bergetar keras mencoba mendobrak pintu benteng kecil kami yang terbuat dari papan kayu tebal. Dan ia berhasil. Pintu benteng kami pun jebol. Ia

41

berlari masuk mengitari kami dalam ruangan benteng yang sempit itu. Kami yang ketakutan bagaimanapun juga berusaha bertahan hidup dan berjuang keras menangkap dia. Ini adalah pertaruhan hidup dan mati kami. Memang pada awalnya, kami justru seperti terkurung oleh geraknya yang demikian cepat dan giras. Kebanyakan diantara orang-orang yang bersamaku saat itu adalah bapak-bapak tua renta yang loyo karena kelelahan bertani di ladang yang luas dan mendaki. Beberapa orang dari kami sudah tersungkur dengan perut atau dada yang robek. Sebagian dari para orang tua berlarian serabutan, tetapi aku berusaha memberikan contoh keberanian kepada mereka. Dengan gigih, aku berteriak-teriak dengan energi kemarahan dan segera menyerbu ke arahnya, membabat tubuhnya dengan pedangku. Ia nampak dengan gesit mengelak. Nampak seorang penduduk menusukkan tombaknya melewati sisi kanan kepalaku. Dada mahluk yang menyeringai mengerikan itu nampak tertusuk dan mengucurkan darah merah kehitaman. Aku mencium bau anyir yang luarbiasa yang berasal dari lukanya yang menganga. Kami semua pun bersorak gempita. Dengan gerakan cepat kusabetkan pedangku ke arah kakinya. Nampak kakinya dengan cepat terpenggal, dan ia meraung ganas, mungkin karena kesakitan dan marah. Ia tersungkur seperti sebuah bongkahan gedebog yang tertetak putus. Darah mahluk itu berbau sangat busuk, tercecer menggenang di lantai, dan aku pun sempat terpeleset olehnya. Kurasakan diriku semakin kalap, kusabetkan pedangku ke kanan dan kekiri, menyayat-nyayat tubuh dan lengan-lengan tangannya yang berjuang mempertahankan wajah dan nyawanya. Entah berapa kali sabetanku itu mengenai bagian apa dari dirinya. Para penduduk kampung yang menyertaiku dalam pertahanan benteng itu pun dengan cepat menyerbu ke arah tubuh raksasa yang tersungkur itu, dan dengan ganas menusuk-nusukkan berbagai benda tajam ke arahnya. Terdengar raungan mengerikan dan memilukan dari mulut mahluk itu. Di malam itu sorot mata yang mengerikan itu seolah berubah menjadi sorot takut dan berharap belas kasihan dari kami, tetapi kami tetap saja melakukan kerja kejam kami secara sistematis dan tanpa ampun. Proses pembantaian itu berjalan hingga malam semakin menggelayut. Akhirnya kegaduhan itu berubah menjadi suasana sunyi senyap, bersama tewasnya mahluk itu. Para kakek itu nampak terdiam memandang onggokan daging yang tercacah-cacah kecil. Di malam itu api berkobar membakar tubuh monster yang sudah terburai-burai itu. Bau kucuran bensin yang terbakar di onggokan almarhum monster itu membuat kami semua penduduk kampung bersukaria. Semua penduduk kampung keluar dari rumahnya. Anak-anak bermain-main dan berlarian bercanda dengan teman-teman mereka, gembira diterangi api unggun dari hasil pembakaran mahluk jahanam itu. Ibu-ibu membawa berbagai nyamikan kepada kami para lelaki yang malam itu telah berjuang keras membantai mahluk yang telah menteror mereka selama ini. Suara musik dangdut bertalu-talu dari tape compo milik seorang tetua dukuh. Beberapa orang yang luka dirawat oleh bidan satu-satunya di kampung kecil itu. Dan aku pun menghirup udara dingin malam yang telah berubah menjadi hangat oleh api unggun yang menjilat panjang ke angkasa. Kucium bau daging yang hangus, berasal dari tubuh mahluk raksasa yang kini berubah menjadi onggokan arang menghitam. Aku mendongak ke atas bukit, menembus tempat gundul yang dahulunya mestinya adalah hutan yang sangat lebat. Kulihat kabut tetap saja berarak di atas kepalaku, bergerak cepat menembus rumah-rumah bertingkat yang terbuat dari kayu. Kuhisap rokok lintinganku dalamdalam. Kutatap pedangku yang masih berlumuran darah mahluk itu. Di bilahnya yang terwarnai merah, nampak membias bayangan wajahku yang kelelahan. Wajah dan sorot mataku nampak kuyu dan masih terpana, merah kelam. Aku pun bergidik. Dengan gugup aku pun melangkahkan kakiku berbaur dengan penduduk yang menyambut kehadiranku dengan penuh kegembiraan, hormat, dan rasa terimakasih. Aku dipersilakan duduk di tempat yang terhormat di tengah kerumunan pesta itu. Tentu saja hal itu kutolak dengan halus, dan kupilih tempat duduk di sebuah bangku tua dekat dengan meja tempat botol-botol anggur KTI ditaruh. Dan dengan sopan aku pun menerima gelas anggur KTI yang disuguhkan oleh seorang ibu tua yang nampak demikian gembira menatap masa depan baru kampungnya. Kuhirup dengan nikmat bergelas-gelas cairan legit nan harum itu. Kurasakan rasa nyaman dan percaya diri yang tumbuh perlahan demi perlahan. Kurenungkan siapa diriku ini kini. Inilah diriku sang pendekar pembela warga kampung.

42

Kunikmati terus gelas yang selalu terisi kembali, sebagai buah layanan ibu tua itu yang dengan sangat sabar menungguiku. Perlahan-lahan kepala dan tubuhku menjadi terasa ringan dan melayang nyaman. Kutatap dengan mataku, pemandangan sekelilingku agak bergoyang-goyang dan kabur. Kukerjap-kerjapkan mataku dan kuusap-usap dengan tanganku yang masih berkeringat. Perlahan kini penglihatanku makin membaik. Namun kini, entah kenapa aku merasakan sebuah perasaaan tidak suka yang semakin aneh. Suara pesta kampung ini seolah berubah menjadi kumpulan raungan yang mengerikan dan tak beraturan. Kini, dengan hati yang tercekat kutatap sekelilingku, nampak yang dahulunya adalah para penduduk itu nampak telah berubah bentuk menjadi raksasa-raksasa yang secara menjijikkan tengah gembira ria berpesta. Wajah-wajah mereka menyeringai menakutkan, monster-monster jantan, betina, dan anak-anak dengan beringas mengelilingi api unggun seperti suku-suku biadab berpesta kanibal. Bentuk dan wajah mereka sangatlah persis dengan raksasa yang telah kubunuh malam ini. Dengan gemetar kugenggam erat kembali pedangku, dan kuangkat dengan perlahan ke depan wajahku. Keringat meleleh dari dahiku. Butiran bening itu menetes menjatuhi bilahan pedangku bagian bawah, menyatu dengan merah darah monster itu yang menempel di bilah, dan meleleh kembali ke kedua tanganku yang menggenggam erat balutan gombal di pedangku. Seluruh nadi dan ototku mengeras, jantungku berdegup kencang, darahku tersirap naik ke ubun-ubunku. Sedetik waktu tak boleh berlalu. Aku harus menyelesaikan tugasku, sebagai pendekar penyelamat kampung, membasmi raksasa-raksasa jahat itu. Pohon dan Rokok; malaikat yang bodoh Aku naik bersama keponakanku yang masih amat kecil, mungkin berumur 4 tahun, aku lupa sekali. Bayangkan! Orang tua mana yang tega-teganya membiarkan anaknya balita memanjat pohon rambutan yang begitu tinggi? Tetapi memang demikianlah nasib orang miskin yang hidup di antara bahaya kematian kecelakaan ataukah mati karena kelaparan. Lihatlah wajah imut dari anak muda ini, begitu menggemaskan, terlihat binar di senyumnya yang bertakik lesung pipit. Tentu saja aku bukan pedofil yang suka pada anak kecil secara seksual, sama sekali tidak, tetapi binar itu benar-benar membuatku terpesona. Sambil menyeka keringat yang berpeluh keras sekali, aku mengisap rokok kretekku, terasa nikmat bukan main. Ibu anak itu yang membuat, masih saudara jauhku. Paling tidak aku masih bisa memanggil anak kecil ini keponakan. Lihatlah tangannya yang kecil dan indah, ramping, dan halus itu.. betapa menyenangkannya kemudaan, dan tak kelihatan bekas penderitaan dan lapar yang biasa kami alami sehari-hari. Kulirik tanganku sendiri, dan terlihat sisik-sisik kering, dan juga keriput-keriput. Tak ingin kulirik wajahku sendiri. Ya.. aku memang menganggur. Siapa lelaki sebayaku yang akan punya waktu untuk naik pohon rambutan dan mengupas bola-bola berambut merah itu, dan menelannya dengan rakus, tepat di siang bolong; jika bukan penganggur siapa lagi. Tetapi paling tidak aku tak bergerombol dengan orang-orang itu dan bermain judi. Aku berkumpul dengan anak ini, dan menikmati sesuatu yang alami, tak kehilangan duit, juga tidak mati karena tertusuk belati gara-gara tengkar soal duit taruhan. Anak kecil itu, keponakanku memanjat makin ke atas, sambil tertawa dan berceloteh padaku. Aku terpana pada keberaniannya. Kaki-kaki kecil yang tangkas luarbiasa, dan juga keberanian yang tak tertandingi. Bayangkan jika aku setinggi dia, tentunya akan melihat 10 meter ke bawah dengan perasaan takut luarbiasa. Tetapi mungkin anak kecil memang lain. Aku teringat zaman dulu ketika kecil berani turun ke sumur bersama temanku pakai tali dari karet ban bekas. Sekarang paling tidak aku akan ketakutan terkena gas beracun, seperti nasib mbah Adi yang tinggal di sebelah. Mati. Yah, biarlah dia memanjat. Aku sendiri takut jika dia jatuh, karena bahayanya tentu nyawanya akan terancam. Tetapi nampaknya ia memang cekatan sekali. Aku kalah. Maka

43

kubiarkan dia melangkah makin ke atas, menembus dahan-dahan yang makin lama makin kecil, menggoyang-goyanglkan daun hingga rambutan-rambutan yang sudah memerah berjatuhan berdetam di atas tanah yang berlumpur itu. Dan ia makin berani, menggelayut seperti monyet. Aku terpaksa mengingatkannya, “Haii. Jangan ke atas-atas. Bahaya. Sini turun dekat paman saja. Duduk sambil makan.” Tetapi ia tertawa seperti mengejekku dan tetap bergelayut dengan beraninya. Sekarang tangannya berpegang tanpa pijakan kaki. Aku terkesiap atas tindakannya yang nekad itu. “Heiii--- ayo jangan. Bahaya. Jangan gelayutan. Cepat pijakkan kaki, nanti kamu jatuh, aku nanti dimarahi ibumu!” kataku demikian cemas. “Nggak apa-apa kok paman.. aduh…” Gawat!! Ia nampak terpeleset sedikit, dan nampak berusaha memijak sebisa mungkin di antara dahan-dahan, tetapi ia begitu kecil dan dahan-dahan bersebelahan jauh-jauh. Ia pasti akan jatuh. “Paman!!” teriaknya kecil dan parau. Aku terkesiap dan segera bangkit dari dudukku di dahan yang nyaman ini, dan segera bergegas ke atas menyusulnya. Aku berteriak padanya, “Jangan panik. Tetap berpegang eraterat!! Paman akan segera meraihmu.” Kataku. Dan aku segera bergegas memanjat satu-persatu ranting licin yang kuanggap paling aman dan kuat. Kutahu bahwa ranting rambutan amatlah rapuh. Tetapi perasaan bertanggung jawab mengalahkan ketakutanku sendiri, dan aku segera saja menyusul dia makin ke atas. Kudongakkan kepala ke arahnya dan ia nampak pucat pasi. Aku berdebar kencang. Keringat di dahiku makin mengucur keras, dan kubayangkan ia akan jatuh dan mati. Maka segera kubergegas, hampir kuraih tubuhnya. Sekarang aku tepat berada di bawahnya, dan andaikan ia jatuh pasti akan menimpaku terlebih dahulu. Maka kukencangkan peganganku ke dahan yang terdekat, membayangkan ngeri bahwa tangan mungil itu tak akan kuat lagi berpegangan. Sementara itu dahan yang ia pegang terlalu kecil untukku, andai kuraih pasti akan segera patah. “Pamaaaaan!” tangisnya. Dan tepat benar sebelum aku sadar, ia mulai meluncur jatuh menimpa tubuhku, sebelum aku sempat bisa menggenggam erat leher pohon yang terkuat. Dan aku terseret oleh beban tubuhnya. Aduh sakit sekali!! Tubuhku yang ringkih karena terlalu banyak merokok dan kurang makan meluncur ke bawah bersama-sama dengan tubuhnya, terserempetserempet daun-daun dan dahan pohon yang segera berpatahan. Hatiku berdesir cepat sekali, tetapi tak lagi sempat berteriak. Serasa ada campuran rasa kenikmatan, ketakutan, dan kekagetan yang aneh dalam waktu sedetik itu. Dan akhirnya kami berdua berdebum jatuh ke atas tanah yang becek itu. Bummm!! Aku jatuh lebih dulu dengan mula kepala, sedangkan keponakanku berdebam jatuh menimpa tubuhku. Ia selamat. ** Nampak malaikat itu bersidekap di depan mejanya yang kotor. Nampak ia mencoba meraba-raba menerka apakah ada kebohongan tersirat di dalam mataku. Ia berkata, “Jadi?” “Ya, leher saya patah. Mati, begitu saja.” Kataku merasa aneh terhadap pertanyaannya. Aku pun masih merasa asing dengan arwahku yang terasa ringan dan tanpa kontrol hendak melayang terbang. “Anda mengatakan bahwa dengan begitu akan bisa masuk surga?” Tanya malaikat itu. Uh betapa menjengkelkannya birokrasi. Bahkan di akhirat pun masih ada birokrasi bertele-tele seperti ini. “Saya mati dan hidup bukan kehendak saya, pak!” Kataku, seperti jika mencoba membantah saat ditilang oleh polisi di jalan. Malaikat itu seperti mengerti tentang fikiranku. Sebenarnya aku ketakutan sekali andaikan dibawa ke dalam neraka. Tetapi barusan saja sebelum aku bertemu dengannya aku bertemu dengan malaikat pengurus registrasi yang menyatakan bahwa ia bisa menjamin aku lolos dari neraka. Aku sampai bersorak demikian hebat. Dan menggenggamkan beberapa lembar uang akhirat ke tangannya untuk membalas budibaiknya.

44

“Jadi anda masuk surga....” Akhirnya ia berkata. Seolah tak rela. Aku tak merasa bergembira atas sikapnya itu. Bagiku bertemu ia hanya membuang waktuku saja. Aku sudah sejak dari tadi ingin merasakan rasanya surga, makan enak, dan bertemu dengan para bidadari. “Tetapi ada sesuatu yang harus saya sampaikan, mas..” kata malaikat itu sambil memegangi pundakku. Terasa dingin sekali. “Apa, pak?” “Waktu hidup khan anda nganggur.” Aku demikian tersinggung oleh kata-katanya, namun terpaksa menjawab, “Itu juga bukan kemauan saya pak..” “Tetapi itu justru letak persoalannya, kok. Jangan takut.” “Maksudnya? Saya khan tetap akan bisa di surga khan pak? Jangan dimasukkan neraka atau jadi hantu. Tak mau.” “Tidak-tidak…” katanya. Ekspresinya persis polisi yang dulu pernah menangkap aku karena masih saja bermain mercon bersama beberapa anak-anak kampung. Aku dulu dilepaskan, karena dianggap lelaki dewasa yang masih kekanak-kanakan. “Lantas gimana pak? Saya harus apa?” Aku mulai menangkap maksudnya. “Ada yang harus anda kerjakan di sini, sebelum masuk benar-benar ke surga.” Katanya. “Apa saja, deh pak. Asalkan saya masuk surga.” Kataku. ** Maka aku pun bertugas menjadi penjaga anak-anak surgawi yang suka sekali memanjat pohon-pohon keemasan. Paling tidak aku bersyukur karena jika mereka jatuh tak akan mati. Dan aku menikmati situasi bermain bersama mereka. Selama tiga bulan aku melihat sosok anak-anak yang bersinar terang itu, mengingatkanku pada keponakanku tersayang yang selamat karena jatuh tepat di atas perutku. Aku sempat melihat ia menangis menggerung-gerung di tanah saat keranda jenasahku dibawa oleh orang kampung ke pekuburan desa. Ibunya nampak memegangi erat tubuh mungilnya, dan nampak air matanya menetes pula. Sementara arwahku terbang menembus makin jauh ke awan. Kini setelah tiga bulan, aku melapor pada malaikat, dan berkata, daripada masuk surga lebih baik bisa bergelayutan terus di pohon seperti saat aku masih hidup. Dengan muram sersan kepala malaikat yang menyuruhku menjaga anak-anak itu bergegas melapor menuju gunung Surgawi yang nampak bersalju di depanku. Lapor pada Tuhan. Toh aku tahu bahwa permohonanku akan dikabulkan juga oleh Tuhan. Betapa sulitnya mencari penjaga anak-anak di dalam arus kenikmatan yang memabukkan dan tanpa batas ini, kecuali jika Tuhan berani mempekerjakan orang-orang yang dihukum di neraka. Pasti mereka akan rebutan. Hanya satu yang tak kusukai di sini: rokok kretek yang disediakan di sini sangat artifisial. Aroma dan rasanya begitu wangi seperti parfum hingga membuatku pusing-pusing, sama sekali tidak mirip dengan rasa kretek kesukaanku di saat hidup. Padahal jika pusing-pusing di sini aku segera melayang-layang ke udara. Suasana yang tak terlalu menyenangkan diriku mengingat aku dulu mati karena terjatuh dari ketinggian. Ternyata akherat pun tidak sempurna. Ramuan Rahasia Dengan tersenyum simpul Robert menumpahkan kaldu sapi ke dalam panci prestonya. Kemudian ia masukkan beberapa jenis sayurmayur yang sudah ia cincang, antara lain wortel, sawi hijau, kapri, bayam, dan berbagai jenis biji-bijian. Biji-bijian itu antara lain adalah biji kacang polong, kacang hijau, dan berbagai jenis yang yang lain. Ia masukkan semua dengan cepat dan ia ratakan, kemudian dengan tangan yang basah, ia memutar kunci panci hingga klik mengatup. Ia taruh panci itu ke atas kompor. Dengan perlahan dan hati-hati ia nyalakan kompor gas, ia atur api pada posisi menengah, dan ia tinggalkan. Robert menepuk-nepuk tangan puas, menunggu.

45

Setelah setengah jam terdengar desis peluit. Terlihat panci presto mengepulkan uap panas. Ia mematikan api, menunggu selama sekitar 10 menit hingga panci agak dingin. Ia kemudian membukanya. Wah, ternyata sudah berubah menjadi bubur hijau. Semacam adonan kental berbau sapi. Sebenarnya Robert merasa mual memandang adonan aneh itu, tetapi ia tetap harus menjalankan apa perintah dukunnya. Perlahan-lahan ia ciduk bubur aneh itu dengan ciduk logam. Ia muntahkan ke dalam mangkok porselen putih. Masih panas, mengepulkan uap. Kental dan berbau basin. Robert memencet hidungnya, tidak berani menghirup nafas. Dengan usaha keras ia berkonsentrasi, dan perlahan menyendok bubur itu, memasukkannya ke rongga mulutnya yang ia buka lebar. Perlahan-lahan ia menelan. Terasa amat nek. Rasanya ada cairan lendir yang asin, kental, amis, meleleh masuk ke kerongkongannya. Cairan itu terasa hendak berbalik melalui lubang hidungnya. Tetapi terus coba ia tahan. Ia suap lagi yang kedua. Ia telan. Suap ketiga, keempat, kelima, hingga akhirnya adonan habis, berpindah ke dalam perutnya. Dengan terengah-engah Robert menahan rasa melilit dan teraduk-aduk di perut. Ada rasa yang luarbiasa memualkan, hendak muncrat menggelegak menyesakkan. Ia menahan nafas. Tetapi toh akhirnya ia tak bisa bertahan lagi. Tiba-tiba mual luarbisa itu memuncak, dan sejurus kemudian ia pun muntah semuntahnya. Ia tak sempat berlari menuju kamar mandi, hingga sebagian besar ceceran muntahan berhambur di ruang itu, berceceran di lantai. Ia pun berlari sambil menyeka mulut, menutup rasa mual susulan menuju WC. Tiba disana, ia berjongkok meneruskan muntah. Lendir yang berbuih berwarna hijau dan kuning tumpah ruah, campuran bau sapi dengan anyir ludah, bau busuk perut dan berbagai bentuk lendir aneh lain. Hooekkkk. Hoooekkkk. Robert muntah terus menerus hingga isi perutnya terkuras habis, bahkan isi empedunya pun terasa lepas keluar. Di mulut ia rasa muntahan yang asin dan anyir, lalu rasa pahit yang menggigit.Terasa sakit meninggalkan bau asam lambung dan pahit menyengat sangat. Ia lihat warna hijau yang tercecer di bawah tubuhnya meleleh melebar, menumpuk seperti adonan di panci prestonya. “Bajingan.” Katanya dengan terngah-engah. “Ia berbohong. Kurangajar. Hoeeeekkkkk.” Robert pun muntah lagi tak karuan, sebelum akhirnya duduk lemas di lantai. Ia tak peduli rasa basah yang masuk di celananya, campuran antara muntahan berlendir dan air kloset yang kotor. Ia bersandar ke dinding WC beristirahat, menikmati dingin air merembesi celana dan kausnya. “Bajingan. Kurangajar. Anjing. Kunyuk. Babi ngepet. Aku ditipu.” Kata Robert terengahengah. Ia menyeka bibirnya dengan tangannya yang basah oleh air kloset. Ia menghela nafas panjang. Hambur keluar nafas lebih panjang. Tarik nafas lagi, keluaaaarrr...... dan perlahqan ia pun tertidur. Beberapa menit. Ketika terjaga, ia pelan bangkit, membuka kaosnya yang basah oleh keringat dingin. Ia rasakan hawa segar menerpa dada dan punggungnya yang ceking. Ia akhirnya mencopot lepas celananya yang kuyup oleh lendir dan air jamban bau. Dengan lemas ia membuka keran bak mandi, dan menciduk air. Ia hamburkan air itu ke kepala, turun meluncur membasahi seluruh tubuhnya. Ia guyur berulang-ulang, dan ia bilas dengan sabun mandi. Ia pun keramas dengan shampoo terbagus yang ia miliki. “Segar.” Batinnya dalam hati. “Kapok.” Katanya, sambil mencari-cari handuk di atas ring, untuk menyeka tubuhnya kering. Dan ia pun keluar dengan lilitan handuk di pinggang. Ia menoleh ke panci presto, ke ceceran muntahan di lantai dapurnya. Ia merasa mual lagi. Ia pun berlari ke depan menghindari muntah, dan duduk di depan meja telepon. Ia putar nomer telepon dukun itu. Tak sabar ia menunggu respon. Terdengar beberapa nada dering, sebelum akhirnya diangkat. “Haloooo...” Suara mengantuk, khas dukun itu. “Halooo. Anda bohong!! Menjijikkan sekali. Gimana ini. Katanya dengan makan itu saya bisa jadi sakti? Mana buktinya?” Cerocos Robert geram. “Sabar nak....” Kata bapak dukun sabar. “Tidak bisa begitu. Ini gimana sekarang? Saya harus bersihkan muntahan saya, tapi lihat muntahan itu saya jadi mual lagi. Pokoknya lihat sendiri kesini!” Kata Robert lagi keras.

46

“Sabar nak...” “Sabar.. sabar... saya sudah habis banyak untuk membayar bapak. Tak ada hasilnya. Dasar penipu.” “Sabar nakk....!!!” “Baaaahhhhhhhh!!!!!!!” Teriak Robert sambil membanting telepon. Ia pun tercenung menatap telepon hitam dalam sunyi. Ia pun bangkit, masuk ke kamar tidur, dan menghempaskan tubuhnya ke ranjang, menghela nafas panjang, dan perlahan tertidur lelap. ---&&&--Robert bangun dengan kepala pening, seperti habis mabuk berat. Namun ia punya cara menghilangkan perasaan tidak enak itu. Ia mengunci pintu kamar, dan menghidupkan monitor TV kecilnya. Ia melongok pemandangan gang dari televisi yang tersambung ke kamera CCTV. Ia beli peralatan itu beberapa bulan yang lalu di Glodog. Dengan puas ia melihat pemandangan di gang itu. “Aman.” Batinnya. Ia kemudian membuka laci lemarinya, mengambil tabung kaca kecil beserta botol berisi serbuk kristal berwarna kecoklatan yang ia sembunyikan dalam-dalam. Ia ambil korek untuk menyulutnya, perlahan-lahan. Ia pun menikmati suasana malam dengan perlahan dan sejahtera. Robert mengepul dan menelan asap yang halus putih. Terasa angkatan dan desiran halus, rasa yang nyaman dan sederhana. Sebuah kedamaian dan kegembiraan yang tak terperi, menerobos masuk ke sisi tersembunyi dari kesadarannya. Ia pun tenggelam di kenikmatan azasi itu Tiba-tiba terdengar suara dobrakan yang amat keras menggeretak dari luar pintu kamarnya. Brak. Pintu itu pun berderai, menyisakan kunci yang remuk. Robert masih tak sadar tentang apa yang sedang terjadi. Beberapa orang berambut gondrong dengan pistol teracung menerobos masuk dari pintu yang pecah jebol. “Angkat tangan. Kami polisi. Tak ada gunanya melawan!” Kata orang itu cepat. Mereka membekuk dan menelikung tangan Robert yang letoy. Robert hanya bisa pasrah. Ia masih bisa tahu apa yang tengah terjadi. Ia sedang tertangkap tangan. Tak ada gunanya untuk melawan. Dengan keras dan kasar Robert pun diinterogasi bermacam-macam hal secara bertubitubi. “Dari mana kamu beli? Cepat jawab!!” “Siapa bandarmu? Kamu bandar ya?” “Kamu sembunyikan di mana benda yang lainnya? Cepat jawab!!” “Siapa bossmu?” Robert tak kuasa menjawab. Ia masih bingung dan fly. Hal itu tentu saja membuat polisipolisi berang. Beberapa kali pipinya ditempeleng. Tetapi ia diam saja menahan rasa sakit. Akhirnya para reserse itu bosan pada kediaman Robert dan berkeputusan untuk mengobrak-abrik ruangan kamar Robert. Mereka mengaduk-aduk lemari, dan menemukan beberapa paket kristal yang tersimpan rapi. Mereka juga menemukan beberapa bong kaca di atas para-para kamar. Ruangan itu menjadi hiruk pikuk. Sementara itu Robert tercenung hening menatap yang terjadi di sudut kamar. Tangannya terborgol erat, dan kepalanya beberapa kali ditampar keras oleh seorang reserse gendut. Ialah yang paling galak padanya. Saat ia tak juga menjawab, maka kepala belakangnya pun diantukkan keras ke tembok. Sakit sebenarnya. Tapi Robert tetap saja diam, meringis. Akhirnya Robert pun diseret keluar, hingga tersuruk-suruk. Beberapa polisi nampak bingung melihat panci presto dan cairan hijau yang menggumpal di lantai. Seorang petugas forensik mengambil kantung plastik dari bajunya untuk mengambil sampel. Nampaknya polisi itu sudah terbiasa melihat ceceran darah atau tubuh mayat yang membusuk. Ia dengan santai menjumputi cairan itu.

47

Robert diseret keluar gang. Disana sudah menunggu beberapa orang yang mengacungkan-acungkan kamera. Mereka adalah beberapa wartawan stasiun TV acara kriminal. Cahaya lampu yang demikian terang menerpa wajahnya tanpa ampun. Robert berusaha menutupi wajahnya dengan kaus, namun dengan kasar tangannya ditarik oleh para polisi dan rambut kepalanya dijambak keatas. Ia akhirnya pasrah saja, membiarkan wajahnya menjadi bulanbulanan pers. Nampak beberapa tetangganya menyembulkan kepala dari halaman-halaman rumah, makfum tentang apa yang sedang terjadi. Sebagian mencibir, sebagian yang lain kelihatan iba. Ia digelandang menuju ke mobil kijang gelap yang standby di depan gang. Entah kenapa kamera CCTV-nya gagal mendeteksi, mungkin karena para polisi itu bergerak amat cepat, dan menyergap mendadak. Atau mungkin karena ia tadi terlampau fly, sehingga tidak waspada. Mungkin juga ia sudah lama diintai para reserse itu. Dengan kaki gemetaran Robert digelandang ke pintu mobil kijang itu yang menganga mengerikan. Kepalanya dicekal seorang polisi reserse bertubuh gempal, dan ia pun didorong dengan kasar masuk ke dalamnya. Di kanan kirinya beberapa polisi mengepung. Mereka tertawa-tawa puas. Wajah-wajah itu berseri-seri karena hasil intaian mereka selama beberapa hari tercokok basah. Malam ini mereka bisa pulang dan beristirahat bersama keluarga. ---&&&--Robert menghela nafas. Ia merasakan pengap udara menyergap dadanya dari jok kulit sintetis. Ia sesak nafas, dan kehilangan orientasi ruang. Ketakutan utamanya adalah ganjaran penjara beserta siksaan seksual dari rekan-rekan sesel. Hal itu membuatnya gemeretuk ketakutan. Di antara ciutnyalinya itu, ia berfikir keras, berdoa, berharap, berkhayal tentang sebuah operasi penyelamatan yang dilakukan oleh teman-temannya geng pemakai obat. Dalam pelupuk matanya, terkhayal beberapa orang dengan balaclava penutup wajah menyerbu masuk dan menembaki para polisi hingga kocar-kacir. Persis seperti di film-film Hongkong yang kadang ia lihat di TV. Tetapi akhirnya Robert sadar bahwa hal itu adalah impian yang absurd. Ia pun kebingungan mencari akal lain. Ia sempat hendak nekad memberontak dan lari dari mobil polisi itu. Kakinya sempat mengejang, bersiap-siap menerjang. Tetapi ia teringat kisah temannya yang tertangkap, lalu nekad lari, sehingga akhirnya saat tertangkap lagi lalu ditembak kepalanya oleh polisi hingga tewas. Ia pun merinding ciut ketakutan. “Apa yang harus kulakukan?” Ia menggeram putusasa. Namun tiba-tiba matanya berbinar, dengan senyum harapan menyembul dari wajah pucatnya. Ia masih ingat ajian yang diajarkan oleh gurunya sebelum ia membuat adonan itu. ada sebuah mantra. Ia bergumam. “Omyamyemyi hohahitler, proprabhataridurgayi, tulalitut kaliyuyujha, sifata balthazary ilangsun, nyap zap, kersaning al-lusyifar!!” Ia gumamkan mantra aneh itu. Iseng. Ia pun menunggu kelu. Beberapa menit berlalu. Tak terjadi apapun juga. Ia pasrah. “Mampus deh gua.” Rutuknya. Namun tiba-tiba ia merasakan hal aneh. Tubuhnya tiba-tiba melembek, meluntur dan mengelupas, meleleh perlahan-lahan, mencair menjadi adonan hijau. Kini wajah Robert terlihat meringis, menampakkan gigi dan bola mata yang pelan-pelan bergulir jatuh ke jok mobil, membuat para polisi itu tersirap ketakutan. Seorang polisi reserse yang berambut gondrong berteriak kaget dan histeris. Robert pun terus saja mencair. Cairan Robert pun bergoyang-goyang pelan dan menguap menggelitik, menyeruakkan baunya ke seluruh sendi para polisi itu. Mereka pun merasa geli jijik dan berteriak kaget. Mobil polisi pun berdecit direm secara mendadak hingga hampir saja terguling di jalanan yang licin. Para polisi di dalamnya berteriak-teriak panik. “Stop.......” “Tolong. Ia mencair.” “Ia meleleh. Hiiiiii matanya lepas!!!”

48

“Waaaahhhhhhh!!! Tolong.!!” “Ia punya ilmu gaib.” “Setan....” Adonan itu pun perlahan habis menguap, membuat beberapa polisi muntah-muntah karena mual dan rasa geli menjijikkan yang meruak di persendian, lambung, dan kepala mereka. Uap hijau keluar dari sela kaca dan lubang AC mobil. Meliuk-liuk menuju angkasa yang gelap, berpendar seperti gambar film horor murahan. Para polisi berhamburan keluar. Beberapa kru televisi acara kriminal yang menguntit dari belakang pun tak tinggal diam. Mereka dengan rakus menyorot dan merekam seluruh peristiwa aneh itu, yakin bahwa rekaman peristiwa itu bakal hit di acara kriminal maupun acara dunia gaib. Hingga malam hari berganti pagi dini, para wartawan tetap berdesak-desakan mengulas peristiwa itu dengan penuh gairah. Sementara itu para polisi nampak tertunduk lesu menyaksikan kegagalan dan kekalahan mereka. Beberapa orang diantaranya gemetaran tak karuan. Beberapa polisi yang lain nampak beregegas berdatangan dan mengepung TKP, menghamparkan pita batas polisi di sekeliling mobil kijang mereka. ---&&&--Di langit malam yang kelam, Robert melayang-layang, memandang senang ke bawah. Ia menatap peristiwa itu dengan perasaan kaget dan bangga. Ia terlongong menyaksikan apa yang terjadi, masih mencoba untuk tak percaya. Ia bisa melihat tubuh mayanya melayang-layang diangkasa. Ia tatap tangannya yang bening, memandang ke bawah, ke arah orang-orang yang panik, para polisi yang tertunduk lesu, para wartawan yang buas dan haus berita. Dengan tubuh transparannya ia pun turun cepat, berusaha melihat lebih dekat. Ia mendekati seorang polisi muda yang duduk tepekur di atas batu besar. Tatapan mata polisi itu nampak kosong melompong karena syok. Robert dengan iseng menghembuskan nafas busuknya ke wajah polisi itu. Polisi itu tercekat kaget dan berteriak histeris, membuat rekanrekannya serta para wartawan kembali heboh. Robert pun tertawa terbahak-bahak. “Hahahahaha. Aku sakti. Aku sakti. Terimakasih pak dukun terimakasih.” Tangan gaibnya mengepal dan mengacung-acungkan jari tengah mengejek para polisi. Robert akhirnya berlalu dari TKP, melayang jauh ke angkasa. Melayang tak henti-henti, semakin lama semakin cepat hingga menembus awan-awan menghitam, bersatu dengan kilasan petir dan bias rembulan. Satu Jam Dan kemudian hari-hari pun berlalu di hadapan sebatas tembok yang disuluri oleh tumbuhan itu. Seminggu sebelumnya seorang pekerja berhelm kuning telah mengguntingi dahandahan kecilnya, naik berlama-lama dengan tangga yang berbentuk seperti segitiga. Kini sulursulur itu nampak sedikit rapi, dan hijau daun-daunnya yang jarang-jarang kembali terpanggang terik panas matahari. Beberapa orang pengemis yang biasa berteduh di bawahnya nampak mengeluh panjang pendek dan segera bangkit dan berjalan dengan kaki-kaki kerontang mereka, berpindah naik ke atas jembatan penyeberangan besi. Udara gelap. Semestinya saat-saat hujan datang. Dan saat-saat becek akan menyerap bau knalpot dalam lumpurnya. Kini, bis-bis tetap berlari di jalan mulus itu. Mereka menurunkan tarif, walaupun harga barang-barang naik seperti hantu-hantu mengejar-ngejar. Tak ada liangliang lagi nampaknya, setelah jalur bis merah megah di tengah itu hadir menyita ruang-ruang lama, dan seperti merusak bebangkangan awak cuap berbaju hijau-hijau itu. Dan di sudut tikungan dekat pusat perbelanjaan yang tegap besar dan modern itu para pedagang yang lusuh

49

menahan nyeri urat di trotoar yang lusuh, tetap berteriak-teriak pada orang yang berjalan berlarian, merengek-rengek membendungi jalan-jalan becek itu agar tak dilalui terbirit oleh para pelanggan. Para entertain itu konon telah menusuk sejarah besar ke dalam ranting lain, di hadapan kegalauan jalan dan nasib yang pengap. Dan orang-orang berteriak bersama banyak deru yang lain, dalam lumpur yang lain. Nampak di trotoar terluar dan terkotor seorang perempuan pengamen tua duduk bersimpuh tanpa peduli basah yang merambat di kaki dan pantatnya yang lunglai. Ia menggenjrengkan gitar ukulele birunya, ditemani oleh beberapa anak kecil kurus kering yang bernyanyi cepat dan riang, duduk melingkar di sekelilingnya. Kepang perempuan tua itu nampak berkibar, membiarkan orang melihat betapa gagahnya sebuah nada berhasil membela sebentuk kehidupan. Beberapa orang yang budiman nampak melemparkan kepingan receh ke baskom seng itu. Dan orang-orang yang lainnya tetap berjalan tegak mendongak ke atas, bahagiannya yang terbesar bergerak menaiki tangga-tangga granit gedung perbelanjaan megah itu. Hingar-bingar, dan orang-orang seperti ingin melupakan semua makna di rumah-rumah mereka untuk kegiatan pasar itu. Mereka denmgan tekun melihat vision yang hebat dan menilai kantong dan keinginan, dari lem tikus, baju yang lumayan ngejreng, sampai radio brengsek yang berbentuk seperti HP mewah. Beberapa satpol PP nampak mengistirahatkan punggung mereka di pagar tinggi, bertampang garang, menahan agar orang-orang miskin itu tak meruak masuk ke lingkaran elit lantai-lantai granit gedung mewah itu. “Blok M terakhir. Blok M akhir. Ayo nggak masuk terminal. Ayo mbak-ayo mbakk-mbak.” Seorang kernet turun dari bisnya sejenak seperti tentara lari keluar dari pansernya. Dan tangannya bergerak memegang pundak orang-orang. Tubuhnya kecil dan lusuh, dan berwajah hitam. Nampak matanya merah. Tangannya kecil tetapi berotot, dan wajahnya seperti seorang Batak atau Aceh. “Tarik”, dan bis berjalan meninggalkan dengan banyak asap hitam. Suara musik dangdut yang membenging dari atas bis berlalu hilang bersama dengan deru mesinnya yang menghebat. Suara bis dan mobil di belakang merobek sisa suara itu hingga tak berjejak lagi. Seorang pejalan kaki, dengan bajunya yang hitam seperti berlari, menembus jalan-jalan trotoar di samping. Sudah berapa kilo ia berjalan. Peluh mengalir dari atas dahinya. Dan sudah seharusnya ia lupa, melihat dari ketidakpedulian kota itu pada para pedestriannya. Mungkin saat 1, 2 kilo pertama dengan perlahan ia menyeka wajahnya yang lelah itu. setelah itu, ada banyak waktu untuk mengumpat, bersenggolan dengan para pedagang asongan, atau pencopet. Sang pejalan, Ia, berhenti di hadapan penjual koran dan menatap sekilas dengan mata miring pada judul-judul. Penjual koran bertanya padanya, “Mau beli apa, Pak? Kompas, Indopos, Batavia yang banyak bolanya..” Lelaki itu nampak mundur setapak, dan menegakkan tubuh. “Mmmhh, nggak.” Jawabnya. Ia berjalan menjauh dan makin cepat, di bawah bayangan tolehan leher penglihatan penjual koran. Mulut pak tua itu terlihat masam di balik topi mindringnya. Lelaki pejalan itu ngacir menyelinap di jalan yang panjang dan berpetak tegel merah, luruh dan lusuh bersama dengan para pejalan yang bergerak tanpa henti, berpagutan seperti semut yang kekenyangan. Tetapi nampaknya manusia-manusia itu lapar semuanya. Banyak jenis lapar. Contohnya, saat lelaki itu bertemu dengan penjual koran lain, ia segera melirik ke arah koran-koran yang beraneka macam itu untuk meneruskan mencicipi sedikit nikmatnya informasi gratis. Siang hari sudah merangkak demikian jelas. Matahari tegak lurus, namun perlahan-lahan bergerak lewat ubun menggelincir ke pipi, dan tentu orang-orang banyak itu bukan mahluk-mahluk yang rela tenggelam dalam neraka lembab dan panas itu. Tetapi terik di atas awan hitam itu tetap mencengkeram hingga ke otak-otaknya. Idiotnya kota berlangsung terus ke arah barat dari arah jalan itu. Ada perempuan berblazer hitam yang nampak lelah berjalan juga, seperti mengejar jejakjejak dari lelaki itu. Ia nampak miskin walau berblazer, karena nampak blazernya jenis yang murah dan tidak fit dengan bentuk ukuran tubuhnya. Ia berjalan tak secepat lelaki itu, dan ada berbagai

50

lagi jenis perbedaan lain. Ia tak melirik penjual koran. Ia seperti melihat ke depan, dan sedikit melirik dengan mulut sedikit terbuka pada tembok yang ditumbuhi oleh tumbuhan sulur itu. Selambat apapun berjalan ia segera menyelinap di antara berbagai orang yang hilir mudik. Penjual koran bertanya pada seorang temannya. Berbisik. Tak terdengar jelas. Nampak keringat yang melelah itu. memang mereka semua terlindung oleh besi jembatan penyeberangan yang berbentuk V terjungkir, tetapi api tropis bukan milik para pejabat. Itu adalah milik rakyat. Terdengar suara tinggi yang timbul tenggelam di balik deru deram derap kendaraan. “Lu, udah dapet itu barang?” “Belon” “Cepetan dong. Paksa dia dikit ngapain kek. Emangnya duit nenekmoyangnya? Bisa seenaknya saja nahan barang kayak gitu.” “Udah deh nanti juga beres. Lu kagak usah takut. Lu kan tau aku tak pernah ngebo’ongin siape-siape.” Dan suara percakapan mereka tiba-tiba hilang tenggelam oleh deru sebuah bajaj yang menurunkan seorang ibu tua bersanggul. Sebuah bis merah nampak berhenti berdecit, dan memuntahkan beberapa orang lelaki dengan tas-tas hitam mereka. Kenek selanjutnya berteriak menunjukkan arah, sambil menggerungkan mesinnya menunggu penumpang. Sebuah mobil taksi, nampak dengan cemas menunggu di belakang pantat bis itu. Diam saja. Di kios koran itu, batangan rokok satu orang diantaranya, yaitu sang lelaki yang lebih tua dengan topi mindring, nampak tersulut. Sebuah cetusan butiran kretek terlontar, bersama dengan luapan api merah di ujung sigaret dan gelembung asap yang mengepul dari antaranya. Percik api itu terloncat, menerpa celana orangtua itu. Dan ia pun berjingkat cepat, mengibaskan butir bara itu ke bawah, sambil mengumpat pendek. Entah bolong atau tidak celana birunya yang dekil itu. Tetapi panas seperti hari ini sudah demikian mengalahkan api. Tak ada seorangpun yang nampak tak berkerut berjalan di trotoar itu. Seorang pemuda keriting nampak berjalan melewati kedua pedagang koran itu, nampak berjalan menunduk sambil memencet-mencet HP dengan sangat cepat. Ya. Seorang berjalan dengan memainkan SMS. Handphonenya kelihatan besar. Ia pun berpeluh. Dan celananya agak kependekan sedikit. Ia nampaknya bukan seorang fundamentalis, tetapi hanya seorang yang tak begitu peduli dengan penampilan. Di samping badannya tas tersandang. Dengan terseok ia bergerak cepat, dengan sigap, dan gesit melintas zigzag menghindari orang-orang yang bebapapasan dengannya. Jarinya terus saja memencet tombol HP-nya. Sungguh mengesankan, berhasil meliuk tanpa cela. Dua orang berjalan melewatinya, nampak mereka sedang memegang sesuatu di dekat telinganya. Nampaknya sejenis freehand canggih. Nampaknya mereka orang kaya, karena pakaiannya bagus sekali dan licin, si laki-laki memakai kemeja biru yang bagus dan rapi, sementara sang perempuan mengenakan blazer biru yang fit dengan tubuhnya yang ramping. Mereka berjalan dengan cepat, sambil nyerocos ke arah freehandnya. Entah kenapa mereka berjalan di suasana panas menyengat itu. Nampak kacamata mereka berdua bagus sekali. hebat sekali, berkerjab memantulkan cahaya matahari kuning. Si perempuan muda dan cantik itu berbicara cepat kepada lelaki di sampingnya, sambil memegang dan mengamati layar handphonnya, menunjukkan sesuatu. Sang lelaki nampak memandang sejenak, sambil tetap berjalan pelan di sampingnya. Saat berpapasan dengan pemuda keriting yang memegang handphone itu mereka nampak tak peduli. Tidak melihat sama sekali, demikian juga dengan si orang miskin tetap memainkan SMS dengan tangannya, tak peduli pada piranti canggih handphone orang-orang kaya itu. Kelihatannya lelaki keriting itu sudah selesai dan memencet tanda send. Pedagang koran yang sedang bercakap menatap mereka bertiga yang berjalan cepat. Ia menghembuskan asap rokoknya sejauh-jauhnya, hingga menerpa sisa bayangan tubuh mereka, disambut oleh tiubuh-tubuh baru manusia yang berjalan menggantikan sosok-sosok itu. Udara tetap masam dan memuakkan.

51

Dan akhirnya ia pun menghilang diantara orang-orang yang berjalan di kanan dan kirinya, berjalan searah atau berlawanan arah. Sebuah bajaj nampak berjhenti kembali, menurunkan dua orang penumpang lelaki perempuan muda. Nampak pak bajaj meludah ke arah jalan, dan kemudian berhenti tawar menawar dengan seorang ibu yang nampak kelelahan menenteng barang belanjaannya. Ibu itu nampak merengut, dan pengemudi bajaj itu pun berlalu dengan mesin roda tiganya, menyentak dan menggeram mengejar lalulintas sepi. Di trotoar yang sempit itu nampak melintas lagi seorang berambut cepak, dan seorang lagi yang berambut gondrong. Kaus mereka kumuh, namun bergambar unik. Salah satu berkaus hitam bergambar wajah Che, sementara yang lainnya, sang gondrong bertuliskan sebuah slogan panjang. Di lengan mereka banyak asesori dan pin, dan nampak gitar disandang oleh si gondrong. Apakah mereka mahasiswa seni, pengamen, atau cuma pemuda kampung? Nampak si rambut cepak, melongok ke dalam kantong bekas bungkusan plastik permen yang besar. Sayup-sayup terdengar ia berkata pada temannya. “Busset. Tak ada lagi yang tersisa.” Dan mereka melewati pedagang koran, dan si rambut cepak melirik berita dalam koran. Ia berkata cepat sambil berpaling. Wajahnya nampak puas. Giginya, ompong, giginya tanggal satu tepat di sebelah kiri. Tak ada luka lain di wajah atau lengannya. Ia nampak bersih walaupun hitam, dan berkata, “Nah loh, si Adiguna kena!” “Sukurin…” kata temannya cepat dan wajahnya yang sedikit lebih putih, nampak cukup riang. Nampak kumis tipis mempertegas keriangannya. Tangannya merentang cepat dan bergelombang, seperti menggenggam sesuatu di udara. Mungkin sebuah ekspresi perayaan kecil menyambut sedikit bencana bagi sang kaya. Mereka berjalan makin cepat, seperti berbaris menembus kelokan dengan ranting ranggas itu. Nampak bis-bis mempercepat jalan mereka biarpun mereka melambai-lambaikan tangan. Tinggalan asap hitam mereka hirup dengan sukarela. Dan mereka pun kembali berjalan berbaris. Seharusnya mereka tak mencegat bis disana, karena letaknya yang tepat di tikungan masuk terminal. Nampak memang orang-orang tak ada yang hendak naik. Hanya ada orang-orang turun. Semntara itu di trotoar sempit dan melengkung itu, orang-orang hanya dalam dua arah seperti semut, dari dan ke kompleks terminal dan perbelanjaan itu. Panas matahari sedikit tereduksi oleh semacam awan. Mungkin hadiah kecil permen lolipop dari dewa. Tetapi orang tak ada seorangpun yang menatap ke atas langit untuk berterimakasih apalagi memuja. Walaupun demikian dewa dan malaikat tetap saja tersenyum membantu mereka, mungkin karena saat-saat yang lain lebih seperti bencana. Bis-bis dan mobil berjalan dengan cepat, hanya sesekali berhenti dengan suara berdecit. Mobil mewah banyak berjalan juga. Ada Mercedes, dan ada BMW juga, semuanya terlihat jreng dan baru. Keadaan ternyata aman-aman saja. Tak ada tukang gores atau palak, karena di ujung sana dua orang polisi nampak mengatur lalulintas. keduanya kelihatan kerdil di tengah rutukan dendam kesumat jalanan itu, dan terlihat pasrah seperti onggokan coklat insan yang tertimbun asap dari kendaraan racun. Tangan si polisi kecil bergerak-gerak, geraknya hampir sama dengan gerak para pengamen menggenjreng ukulele. Gerak ritmis yang terpotong dan keliru ritmenya. Konon Itulah gerak pengamen. Di sini tempat lebih sempit dibandingkan dengan tempat ia berdiri. Tetapi bau apek dari keringat orang toh kalah oleh deru knalpot. Di sana polisi-polisi itu langsung berhadapan dengan moncong-moncong kendaraan dan terterkam oleh asap yang hitam, dan menimbulkan awan kelabu di atas. Tetap tak ada seorang pun yang memandang ke arah langit. Dan orang tetap berjalan dengan mata-mata seperti cermin, membiaskan cermin-cermin dan tembok, semuanya berwarna kelabu di atas batako yang berwarna merah itu. Nampak warna merahnya kelam oleh debu dan kotoran lain, tetapi tak ada sampah. Kemana para pengemis tadi? Nampaknya tempat itu makin ramai dan sesak saja. Biasanya mereka berjongkok atau duduk di tempat yang terlindung. Tetapi lahan di bawah

52

jembatan penyeberangan itu sudah dikuasai oleh penjual koran. Nampaknya mereka sejak tadi tetap bertahan di atas jembatan penyeberangan. Satu jam sudah berlalu, dan aku pun sudah harus pulang ke kosku. Aku bangkit dari rasa panas di bokongku. Tempat dudukku kelihatan basah oleh keringat dari pantatku. Nampak orang tetap berlalu lalang, aku melangkah dengan gontai seperti tak berdaya, terserap dalam arus itu. Aku pun bersatu lebur dengan kepenatan itu. Star Wars Bentuk-bentuk ajaib bersliweran diantara tubuhku. Berbagai wajah-wajah dan tubuh yang mengerikan, dan memilukan menampakkan diri mereka. Namun mungkin hanya sedikit orang yang yang bisa menyaksikan mereka dengan mata telanjang, bukan hanya dengan mata batin, dan salah seorang diantara yang mendapatkan karunia itu adalah diriku. Mereka, para dedemit dan siluman itu dengan menangis-nangis datang kepadaku, untuk mengadukan sesuatu hal yang amat penting. Nampak beberapa di antara mereka bergantung-gantung di beranda rumah, membuat suamiku yang sedang membaca buku di kamar depan demikian gelisah. Ia tak bisa melihat mereka, namun bisa merasakan kehadirannya. “Ma, kok aku merinding ma. Udara jadi terasa dingin sekali. Itu teman-temanmu nampaknya datang.” Kata suamiku agak masam. Dan aku pun segera bergegas masuk ke dalam ruangan khususku dan menyuruh suamiku untuk menutup dan menjaga pintunya. Memang kali ini aku harus keras menghadapi kegiatan berbahaya ini. Ini adalah kerja pengabdian seorang cenayang demokrat untuk menolong para mahluk ghaib yang tertindas. Jin itu nampak mengelus pipinya yang hijau, menghapus airmatanya yang hitam legam. Matanya yang merah dan melotot makin melotot besar, memperlihatkan urat-urat darahnya yang kehitaman. Ia mengguguk dan mencoba memelukku. Untung aku segera bisa membaca mantra untuk menenangkan hatinya yang mungkin sedang pecah berkeping. Juga tentu saja untuk menghindari pelukan tubuhnya yang meremukkan tulang itu. “Ada apa, wahai jin malang. Amat jarang kau nampak demikian bersedih seperti sekarang ini” tanyaku perlahan, sambil memejamkan mata bermeditasi. “Oh, ibu... bagaimana kami bisa bertahan dalam penderitaan ini. Kami dianggap jahat. Dan kami tak bisa melawan lagi, tak bisa membela hak kami lagi. Seakan kami tak punya hak untuk hidup layak sebagai mahluk semesta.” Kata jin itu dengan suara menggelegar. Nampak beberapa sundelbolong melirik genit dari baju putih panjang mereka, dan tiba-tiba mereka pun ikut-ikutan menangis, keras dan melengking nyaring, membuat kepalaku sedikit pusing. “Ada apa sebenarnya?” tanyaku lagi meminta mereka semua tenang. Perlahan aku dekati jin hijau itu, dan menatap matanya yang mengerikan itu dalam-dalam. “Orang-orang itu, ibu. Yang ada di TV. Kami saat itu sedang duduk di rumah kami, saat kemudian mereka datang mengusir kami. Aku melawan dengan sekuat tenaga. Tetapi tak kuasa. Anakku ditangkap dan dimasukkan ke dalam botol mereka.” Kata jin itu lagi. Kini menangis makin keras, “Huuuuuuaaaaaaaaa.......” Kuambil empat batang dupa dari meja kerjaku dan segera kuhidupkan ujungnya dengan sulutan api, dan segera kutancapkan ke pedupaan yang dipenuhi oleh beras dan biji-bijian kacang. Perlahan kuambil pisau upacaraku, dan melihat cermin suci anti serangan gaib di sana. Bagaimanapun jin itu tetap mahluk berbahaya. Menjadi konselor untuk mahluk-mahluk gaib sama saja bahayanya seperti resiko kerja pawang ular atau buaya. “Para pemburu hantu itu mengusik kehidupanmu?” tanyaku. “Ya, ibu. Mereka menangkap anakku. Huhuhuuuuuuuu.” Tangisnya makin mengeras. “Kau ingin aku melakukan apa, nak?” tanyaku lagi pelan. Mataku sedikit tertunduk. “Aku ingin anakku lagi, ibu... aku rindu....” kata jin itu lagi.

53

“Ya, bu. Mereka kemarin juga menangkap ayahku. Sekarang aku menjadi sebatang kara. Entah apa yang akan mereka lakukan pada ayahku, memenjarakannya, menyiksanya, memaksanya untuk berpindah kepercayaan?” Kata sesosok siluman macan muda, nampak sangat bersedih. Wajahnya yang berbulu, dan bermata kuning, nampak sendu. Taringnya pun bergetar hebat karena menahan marah. “Tetapi mereka khan sangat kuat. Apa kau tak kasihan pada ibumu ini, jika hancur kalah?” tanyaku. “Tetapi kepada siapa lagi kami akan mengadu ibu?” tanya seorang tuyul, sambil memainmainkan gelang kristal yang kuberikan padanya. Aku memandang wajah-wajah dan bentuk-bentuk yang mengelilingiku di ruangan ini. Dan menghela nafas panjang sekali. “Biarkan ibu bermeditasi sejenak, anak-anak. Ibu ingin minta petunjuk pada para leluhur ibu dahulu. Tanpa bantuan mereka, tindakan ibu hanyalah sebentuk bunuhdiri.” Kataku pelan. Nampak wajah mereka menunduk lesu, menyisakan harapan-harapan yang mulai menipis dan memudar. Tetapi mereka nampak masih mengandalkanku, membuatku sejenak berusaha tersenyum lebar pada mereka semua. Perlahan-lahan wewujudan itu mulai pergi lenyap dari ruangan kerjaku. Membiarkan aku kembali sendirian. Suamiku nampak pelan-pelan membuka pintu kerjaku. Nampak wajahnya yang masih belum bercukur itu mengkernyit, bertanya-tanya tentang apa yang sedang terjadi. “Ada apa gerangan lagi, ma?” Tanyanya. Aku menatapnya kosong, mungkin semenit dua menit. Sebelum akhirnya membuka mulutku. “Itu. Aku nampaknya harus menghadapi lagi para pemburu hantu itu.” Wajah suamiku nampak menjadi murung, dan ia berjalan pun masuk ke dalam kamar kerjaku. Perlahan duduk di samping kiriku. “Kau sadar siapa yang kauhadapi?” tanyanya tajam. “Ya. tetapi aku harus. Kau tahu kenapa aku menggeluti bidang ini?” kataku lagi. “Tetapi apakah kau tak bisa melakukan hal yang aman-aman saja? Seperti jadi peramal tarot misalnya. Dengan itu kau khan sudah mendapatkan uang yang amat cukup, tanpa harus membahayakan nyawamu?” katanya. Ia tak bisa lagi menyembunyikan keresahannya. Selalu saja ia mempersoalkan hal itu. Membuatku sebal. Tetapi aku tahu betapa ia sangat mencintaiku. Mungkin karena hal itulah ia selalu meminta aku menjadi seorang peramal biasa saja. “Tetapi aku khan punya banyak hutang budi pada mereka.” bantahku. “Ya. tetapi kau khan saat ini sendirian, bagaimana bisa melawan kebengisan para pemburu hantu itu?” tanyanya. Wajahnya kelihatan makin pucat saja, membuat guratan wajahnya yang mulai menua makin kelihatan kelelahan. “Aku akan minta bantuan para tetua.” kataku. “Apa mereka akan mau? Dan bisa apa mereka?” tanyanya. “Sudah 500 tahun. Mungkin mereka sudah tak sabar lagi untuk bertindak.” kataku sedikit berharap. “Ya, sudahlah. Mana mungkin aku bisa melarangmu. Tetapi ingatlah. Hati-hatilah selalu. Jika para tetua tak mau, jangan nekad ya...” ia memeluk dan mencium pipiku mesra. Rasanya agak geli juga bulu kasar berbulu itu menyentuh pipiku. Aku pun tersenyum saja. Memandanginya berlalu dari kamar kerjaku, dengan perlahan-lahan menutup lagi pintu kayu berukirkan mantra tulisan kuno, yang selalu tak lupa kulapisi dengan bendera doa khusus warisan dari guru besarku. Aku kembali memejamkan mata, menyedot dalam-dalam bau wangi dupa. Tanganku pelan-pelan memutarkan gerakan khusus sambil menggengam erat tongkat sihir dan pisau suci. Di depanku sepuluh buah keping koin tembaga kuno yang berserak, menandakan sesuatu makna gaib peperangan. Sementara itu sebuah cawan besi, bergoyang-goyang pelan menggetarkan permukaan cairan arak merah upacara yang berbau harum di dalamnya. Papan suciku kutatap

54

dalam-dalam, meresapi huruf-huruf yang seperti cacing itu, yang seolah menyedot diriku masuk ke dalam meditasi yang makin lama makin dalam. Nampak di dalam keheningan samadi, beberapa wajah kawan-kawan. Lelaki perempuan. Tua muda. Mereka semua bergumam melantunkan kode-kode mantra yang menjadi pemersatu gerakan perlawanan kami. Seorang tetua nampak mendekatiku dengan wajahnya yang bergurat-gurat keras ditempa perjuangan dan penantian.”Kenapa anakku, kau bersikeras melawan mereka? Kau tahu bahwa sudah limaratus tahun kita menyerah kalah pada kekuatan mereka. Belum waktunya kita kembali lagi.” Ia menatapku dengan tajam, separuh mencela. “Oh, tetua. Apa lagi jawabanku, terhadap kesedihan para mahluk yang menderita? Apakah tetua juga akan tinggal diam jika menghadapi kondisi seperti yang saya alami?” kataku ganti mencelanya. Ia nampak sedikit terkejut, tetapi tidak bisa marah. Mungkin kata-kataku adalah sebuah kenyataan yang membuat mulutnya terbungkam, dan hatinya pun pasti kembali teriris karena sakit hati, terhadap kesewenang-wenangan para penindas ghaib yang melanda tanah Jawa ini. Pelan-pelan seorang tetua yang lain, dengan sanggulnya yang berwarna putih mendekat.”Kau tahu nak, kita pun ingin melakukan kerja perlawanan ini. Tetapi apakah sekarang saatnya?” “Saya tak tahu, wahai guru. Jika saya tahu, maka saya tak akan mengganggu samadi sunyi kalian.” kataku pelan. “Betul guru. Betul guru. Kita lawan mereka.” teriak beberapa teman-teman sebayaku, nampak mengacung-acungkan tongkat sakti mereka. Tetua mengangkat tangannya ke atas, memamerkan tongkat emasnya yang berbalutkan pisau bajranya, meminta semua diam terlebih dahulu. Perlahan suara teriakan surut dalam landasan tak berbatas dan diselimuti mega putih ini. “Baiklah. Saudara-saudara. Hal ini bukan hal yang mudah, dan resikonya adalah besar sekali. Mungkin kita nanti akan menang, atau akan terusir selamanya dari muka bumi ini. Jadi camkan sebelum kalian menentukan pilihan kalian. Kita akan voting.” Katanya. Kebijakannya itu membuat kami semuanya puas. Pelan-pelan kami pun segera berderet memasukkan jarum kuning ke dua buah kotak gaib yang menunjukkan tanda setuju dan tidak setuju untuk bertarung mengahdapi para pemburu hantu itu. Nampak berratus-ratus cenayang liberal antri memasukkan pilihan mereka. Nampak wajah mereka yang tegang, walau sebenarnya sebagian besar nampak demikian gembira karena harapan perjuangan sedikit terbuka. Biasalah, anak muda suka pada petualangan. Setelah semua orang memilih, dan mulai duduk bersila lagi melingkar di atas awan gaib itu, pelan-pelan tetua pun mengangkat dan memangku kedua kotak itu di antara kedua lututnya, dan mulai membacakan himne yang sangat indah, tentang kebebasan dan perubahan-perubahan tanda alam. Ia menyebut berbagai nama rasi bintang, jenis-jenis mahluk hidup, dan bagaimana mereka berlarian menuruni bukit dan sungai, menyambut kehidupan yang keras namun penuh janji. Dan kami semua para cenayang muda pun mengikuti lirik itu dengan himne kami sendiri, seolah mengisi ceritanya dengan cerita-cerita lain, tetapi dengan ruh dan jiwa yang sama. Pelanpelan ia pun membuka kedua kotak emas itu, dan nampak di mata kami, bahwa kotak “melawan” mendapatkan jumlah jarum yang amat banyak. Air mataku pelan-lahan mengalir karena haru dan girang. Nampak banyak wajah yang gembira dan mengikuti tangisku dengan tangis mereka, sebagian lagi bersorak sorai dengan gempita. Nampak para tetua tersenyum dengan wajah-wajah keriput mereka. Rambut-rambut memutih dan panjang mereka, nampak berkibar-kibar pelan terkena angin langit samadi, dan pelan-pelan langit pun menjadi semakin kelam di sekelilingku. Aku pun bisa melihat meja kayuku kembali, dan mencium lagi bau harum gabungan terbakarnya hio dan uap arak merah. Aku pun menghela nafas panjang. Dalam meja ruangan kerjaku, kubawa TV 5 inciku, dan mulai memutar chanel stasiun TV itu. Nampak beberapa sosok dengan jubah dan surban putih berputar-putar dengan keras dan

55

mengerikan, membuatku merinding karena tahu apa yang mereka inginkan. Nampak mereka berguling-guling dan berlari mengejar-ngejar beberapa mahluk gaib yang hendak mereka usir atau tangkap dari tempat tinggal mereka selama mungkin berabad-abad. Aku sampai menangis sedih menatap peristiwa itu, sama seperti saat aku melihat bagaimana para Trantib mengejar-ngejar dan mengobrak-abrik barang dagangan pedagang kakilima di kotaku. Bagiku yang bisa melihat nyata secara gaib, aku bisa melihat bagaimana para penggusur yang berjubah dan bersorban putih itu nampak menghancurkan mejakursi, perabotan, bahkan harta-harta warisan dan foto-foto keluarga para mahluk gaib itu. Nampak anak-anak para mahluk gainb menangis, sementara orangtua mereka sedang bertarung mati-matian menghadapi para penggusur itu. Sementara itu para manusia pemilik rumah yang menginginkan penderitaan para mahluk gaib itu nampak demikian kagum dan terpana pada akting para pemburu hantu itu. Pada satu sken, ibu pemilik rumah dibuka mata batinnya perlahan sehingga ia bisa melihat wewujudan mengerikan yang sedang marah. Aku tahu bahwa mahluk-mahluk itu mengerikan. Namun mereka pasti tak tahu dan tak bisa membayangkan, bagaimana sama marahnya mereka jika tiba-tiba rumahnya digusur dengan kekerasan oleh pemerintah, apalagi jika penggusuran itu didasarkan dengan alasan-alasan kebenaran yang manipulatif dan penuh kebohongan. Aku sudah tak tahan lagi melihat peristiwa itu. Perlahan aku menghapus airmataku, dan menghela nafas panjang, menghilangkan kesesakan di dadaku. Kini aku pun mulai menyerang mereka, bersama-sama dengan teman-temanku yang sama-sama sedang menyaksikan acara televisi. Kubacakan mantra penyerangan yang paling kuat kepada mereka. Nampak seorang pemburu hantu yang paling muda bergulingan kesakitan saat halilintar suciku menghantam dadanya. Dua temannya berlarian panik dan kaget sambil membaca ayat suci, saat tahu bahwa temannya terkena serangan gaib. Seorang teman seniornya bergerak gesit memasang benteng bola emas gaib ke tubuh teman mudanya, saat salah satu tokoh antagonis berjubah yang lain, yang terlihat paling senior dengan jenggot tebalnya mulai membacakan wirid untuk balas menyerangku. Aku tersenyum, tahu bahwa tindakannya akan sia-sia. Tubuhku sudah terlindungi oleh salah seorang temanku bernama Gopi. Brummmmmm. Aku tiba-tiba kaget sekali. Perutku terasa sakit sekali, ketika sebuah ayat suci telah berubah menjadi pedang melengkung yang menusuk perutku. Ternyata serangan mereka bisa masuk. “Bajingan kalian. Aku hanya memperingatkan kalian untuk tak berbuat jahat, sementara kalian kini hendak langsung membunuhku.” Kataku keras secara batin, kepada mereka. Tanganku mulai memutarkan gerakan roda suci untuk memasang pisau Xena. Siap untuk bertarung matimatian. Nampak di layar gaibku teman-temanku pun sudah mulai memasang senjata-senjata mematikan mereka. Tiba-tiba terdengar sebuah suara melengking. “Kami sudah siap, wahai dukun kafir. Kami dilindungi juga oleh kekuatan batin para aulia. Aku peringatkan. Sadarlah, dan taubatlah, sebelum kami menghancurkan kalian.” kata lelaki berjubah putih itu berusaha tersenyum memuakkan. “Taubat? Mending kalian yang taubat dari kejahatan kalian. Huh dasar penindas tak tahu diuntung.” kataku keras. Tanganku deras memutar piringan Xena, sambil membaca mantra perang. “Jika kalian tak mau bertobat. Maka biarlah kalian musnah dan memasuki neraka.” kata lelaki itu tajam, membaca ayat sucinya lagi. Aku menjadi demikian marah, karena merasakan betapa kelamnya energi yang ia kirimkan kepadaku. Aku pun memejamkan mata dan mulai melontarkan piringanku ke orang itu. Zinggggg. Lemparanku menerjang deras, dan ia pun terpental hebat ke belakang dengan wajah kaget dan kesakitan. Ia muntah darah. Tiba-tiba saja acara TV itu menjadi kacau. Pembawa acara perempuan itu nampak berlarian mendekat panik ketika melihat salah satu tokoh penangkap hantu jatuh tertelungkup sambil muntah darah.

56

“Cut-cut.cut” teriak seorang berjubah dari belakang yang berlarian panik, sambil mengangkat ujung jubah ke atas. Aku tak tahu siapa dia. Auranya berwarna lembayung. Aku belum pernah melihat sosoknya selama ini, walau bisa merasakan energinya yang demikian besar dan kelam. Oh ternyata ialah yang selama ini berada di balik layar acara itu. Biji-bijian tasbihnya nampak memerah siap digunakan untuk berperang. Tiba-tiba saja acara TV itu terhenti, dan terdapat tulisan besar, “Maaf acara terhenti karena gangguan teknis.” Tiba-tiba saja acara TV itu berubah menjadi pertunjukan sirkus. Aku pun tersenyum simpul. Aku memasang ulang dupaku, dan mulai mengangkat cawan suci berisi arak, dan meminumnya habis hingga tubuhku menjadi hangat. Kutuang lagi cawan itu dengan anggur dari botol Shirash di mejaku. Terasa sebuah serangan yang hebat lagi masuk keruanganku. Blung. Terasa meja-meja bergetar, sementara bendera suci di ruanganku bergoyang-goyang. Foto diri guruku nampak berderak, lalu berdebum jatuh. “Kurangajar. Bedebah kalian.” Teriakku marah, sambil menyerang lagi mereka dengan pisau suci di tangan kiriku. Kuacungkan benda itu tinggi-tinggi dan kuhunjamkan ke kepala seorang lawanku. Nampak surbannya lerlempar dari kepalanya yang pecah berantakan, dan ia pun jatuh berdebum. Aku makin memicingkan mata, dengan keringat bercucuran. Nampak di layar lembaran suci di atas mejaku pertunjukan pertempuran ini, seperti sebuah perang star-wars. Aku mendengar berita gaib dari seorang kolegaku, bahwa seorang rekan telah tewas terkena serangan gaib dari sebuah kota tua di Jawa Timur. Kini nampaknya peperangan ini sudah melanda pulau ini secara menyeluruh. Aku pun mendapatkan serangan-serangan dengan jumlah tak terkira dari berbagai jurusan. Aku pun balik menyerang, sambil melindungi diriku dengan bola telur kristal raksasa yang diperkuat dengan jeruji gaib dari tanah es utara. Seranganku perlahan menyergap beberapa penyerangku, sehingga lima orang diantaranya terjatuh karena stroke, sementara salah seorang yang lain tewas karena jantungnya tak kuat. ---Peperangan ini berjalan alot, dan berlangsung berhari-hari, membuatku kelelahan luarbiasa. Kami membuat shift setiap 8 jam sekali, sehingga kami semua bisa saling melindungi. Banyak diantara kawan dan lawan yang tewas. Kejadian ini merupakan hal yang luarbiasa. Banyak berita media yang mengulas tentang kematian tokoh-tokoh penting yang misterius dan bertubi-tubi. Entah berapa lama lagi konflik ini akan berlangsung. Nampaknya peperangan ini tak akan berpengaruh cepat pada kehidupan negeri ini. Karena pertarungan kami adalah pertarungan yang tak difahami oleh masyarakat awam. Mereka hanya hidup dengan keyakinan-keyakinan dan pemahaman rasional biasa, dan demikian juga kehidupan diatur oleh hal-hal yang rasional dan awam pula. Sementara kami berperang, kehidupan masyarakat tetap berjalan normal. Sementara itu, kami telah secara gaib berhasil menguasai secara total sebuah kawasan gunung suci di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kami pun mulai mengungsikan para mahluk gaib yatim piatu dan pengungsi-pengungsi gaib lainnya di sana. Kini nampaknya para pemimpin lawan kami faham, bahwa kekuasaan mereka perlahan-lahan akan habis pupus dari pulau ini. Mungkin perubahan yang nyata dalam kehidupan rakyat akan terasa sekitar 10 tahun lagi, saat liberalisme dan demokrasi benar-benqar akan difahami oleh masyarakat banyak. Aku yakin sejak waktu itu, para mahluk gaib akan bisa hidup berdampingan secara damai dan saling menguntungkan bersama manusia. tao

57

tanaman-tanaman bergerak melawan arah tumbuh mereka yang biasa. kebanyakan dari perduperdu itu langsung nyungslep ke dalam tanah berdebu yang tak memiliki arah lurus sejarah. dan dengan serta-merta semua tanah merekah retak kesana-kemari memperlihatkan diri pada matahari yang bergulir bosan, menyatakan bahwa ada semacam intruder yang tidak berguna sedang menusuk-nusuk bilur-bilur mereka. apakah gunanya daun-daunan yang tumbuh duri di dalam tanah yang basin dan kerontang merah itu? apakah untuk menyembunyikan dirinya dari matahari yang tak juga peduli? tetapi memang tak pernah lagi ada air atau oksigen yang datang ke dalam tanah dengan gratis. semuanya harus dibayar dengan berbagai bangkai binatang dan manusia yang turut juga nyungslep ke dalam tanah itu. seakan menjadi semacam kutukan yang pasti dari sang mahakuasa, bahwa memang tanah itu adalah pusat tumbuh dan mati. andaikan ada semacam gambaran tentang realitas yang bisa direntangkan.. bahwa tanah itu.. seluas sekitar 100 meter persegi saja, memuat sejarah semilyar suara sekarat. jadi semua orang akan kaget terkaget-kaget pada fenomena yang luarbiasa tersebut. dan kemudian akan bersembahyang khusuk, penuh ketakutan dan pasrah. tanah itu berwarna coklat, seperti biasa tanah yang tak direstui oleh mahluknya, hanya menyisakan kenangan bahwa dalam setiap sentimeter kubiknya terdapat proses makan memakan, dan disitu, segala kehidupan bergantung pada kuburan dan bangkai. tak ada kebijaksanaan apapun, karena yang ada adalah realitas dan kiat-kiat hidup belaka. dan segala macam ulat, kadal, daun, lidah-lidah manusia yang membusuk, kotoran, dan penyakit bersatu padu seperti melakukan sebuah meditasi akbar yang menjijikkan. dan bahkan muntahan dari orang-orang dan binatang berakal lain yang muak dan sedih atas realitas itu bakal terserap masuk dan turut terolah menjadi comberan kehidupan itu. demikianlah segala yang dinamakan tanah sejengkal dan sepetak itu dengan kebijakan alami, tao of reality. Piano Sebuah Memoir Kecil

Aku masih ingat. Tuts piano itu kupegang-pegang, kuketuk-ketuk. Tung…!! Suara nyaring terdengar, membuat hatiku khusuk. Saat kecil aku sering dolan ke RRI saat siang pulang sekolah dijemput oleh ibuku. Karena ibuku biasa pulang kantor jam 4 sore maka aku terpaksa sering jalanjalan menggelandang ke berbagai sudut RRI, masuk ke koridor-koridor sempit yang tenang dan bersih, menatap langit-langit yang begitu tinggi, disangga dinding –dinding yang sangat kokoh dan tebal. Hawa di sana sangatlah sejuk, dan suara sekecil apapun akan terdengar menggema, dan kemudian bergaung hingga ke ruangan-ruangan lain di sekelilingnya. Gedung kuno itu memang menyimpan banyak rahasia. Banyak lorong-orong yang mungkin orang RRI sendiri jarang memasuki. Salah satu ruangan itu adalah sebuah studio kuno, dengan penerangan remang-remang. Di sana tersimpan Cello, dan kontra-bass kuno, sebuah piano, dan sebuah drum yang sudah jebol. Ruang studio itu tak pernah lagi dimasuki orang karena saat itu tiga studio lain yang lebih modern sudah sangat mencukupi untuk siaran-siaran mereka. akhirnya ruangan itu memang lebih serupa seperti gudang alat musik belaka. Aku saat itu kecil, dengan tubuh kurus dengan mata cekung yang murung, duduk beringsut dengan suntuk di depan piano yang sudah kuanggap menjadi milikku sendiri. Semua pegawai RRi sudah tahu tentang diriku, sehingga aku dengan santai bisa keluar masuk ke ruangan itu. Apalagi menurut mereka tak ada barang berharga disana. Yah, saat itu memang negara ini masih cukup kaya untuk bisa mengonggokkan alat-alat musik mahal itu hingga berdebu. Aku ingat sekali ciri-ciri piano itu. Sebuah piano grand panjang berwarna coklat, nampak demikian kokoh dengan tiga kakinya yang berukir-ukir. Kapnya selalu terbuka, dan setiap ketuk tuts menggaungkan nada-nadanya ke seantero ruangan.Tetapi nada-nada atasnya sudah kacau

58

balau, mungkin karena lama tidak disetem. Toh bagiku itu adalah ciri-ciri yang istimewa darinya. Membuat aku bisa mengenali ia luar dalam, memahami luka-lukanya. Pernah aku iseng membawa tang ayahku, dan mencoba menyetem sendiri dawai-dawainya. Kuputar sekuat tenaga, dan kucoba ketuk-ketuk tutsnya menyesuaikan nada. Dengan repot aku tak berhasil menemukan nada yang sesuai, dan malah membuatku keringatan penuh di ruangan itu. Aku saat itu sangat takut andaikan ketahuan oleh pegawai studio. Untung saja mereka seperti biasa tak kunjung hadir. Aku tetap sendirian di sana, penuh peluh di tubuh kurusku. Paling tidak aku pernah mencoba memperbaikinya. Aku beringsut, duduk menunduk di depan piano itu. menekan tuts. “Tungg!! Tung-tungg!!”, terdengar nada yang lain, beraneka ragam. Aku sebenarnya tak bisa main musik apapun. Bahkan sekedar harmonika ataupun suling pun, kumainkan di pelajaran kesenian dengan sumbang. Tetapi di sini aku merasa santai sekali, dan merasa seperti seorang grandmaster piano yang tengah memainkan sebuah resital termegah. Dengan penuh perhatian dan perasaan kumainkan jari-jariku di piano itu. kuketuk-ketuk dengan mengira-ira gabungan suara-suara dengan naluriku. Kumainkan cepat, lambat, keras, lunak, dengan segala macam cara kukerahkan nalarku untuk menemukan sebuah harmoni. Dengan keras kepala aku berusaha menemukan nada-nada terindah yang bisa kubayangkan. Apapun nada yang kurangkai, perasaanku selalu menjadi terhanyut seperti masuk di alam yang tak pernah bisa diduga. Setiap aku memainkan, selalu hadir suasana hati yang selalu berbeda. Suatu saat menyenangkan, suatu saat begitu menyedihkan, bahkan membuatku ingin berteriak histeris. Nada-nada yang kumainkan seakan menuntunku ke arah sebuiah penjiwaan. Selain itu suasana hatiku pun mengarahkan aku pada nada-nada tertentu. Nada-nada tertentu seperti membuncah perasaan-perasaan tertahan yang kupendam. Sering aku baru berhenti bermain saat diriku sudah menangis mengguguk di depan piano itu. Sering kupegang dan kuelus deretan-deretan rapi putih hitam itu. Deretan yang sangat matematis dan membuat naluri-naluriku menemukan formula dan formasi-formasi nada unik daripada dan terhadapnya. Sering kutatap deretan itu, sambil kuusap, menghilangkan debu-debu. Ada sebuah tuts yang retak, dan kuanggap sebagai luka ciri utamanya, yang makin membuatku makin sayang dan ingin melindunginya. Yah, setiap hari aku bercanda dengan benda itu. Suasana remang-remang dan sendirian membuatku tenggelam dalam permainan itu. Sejauh itu, aku lebih banyak merasakan kesenduan, kemurungan. Ia kuanggap teman dan juga juru bicaraku yang jujur. Kurasakan rasa itu mengalir bersama jari, bersama nada yang terdengar, dan seperti menembus ke langit-langit, dan juga menghantam-hantam dadaku. Kumainkan keras lebut, tust warna putih dan hitam. Dan ia dengan berani dan jujur menyatakan nada, mewakili rasa-rasa dan fikiranku. Aku sering merasakan menemukan sebuah karya. Kuingat-ingat dan kucoba mainkan lagi terus. Kuanggap karya yang luarbiasa, dan membuatku bangga, melupakan kesedihan-kesedihan yang sering datang tiba-tiba padaku. Kini aku telah sedikit lupa urut-uruitan nadanya, tetapi kuyakin saat memegang piano itu lagi akan teringat. Kini aku sudah tak pernah lagi datang ke gedung itu. Ibuku kini telah meninggal, dan perlahan-lahan kulupakan banyak detail dalam gedung itu. Beranjak dewasa kutinggalkan kota kenangan kecilku itu. Meninggalkan segala gedung-gedung dan orang-orang yang kukenal. Tetapi masih kuingat rasa dentam bening itu di dadaku. entah apakah piano itu masih ada, ataukah ruangan itu sudah digunakan untuk membuat sebuah studio yang lebih canggih dan modern. Warung Sesat

“Apakah botol itu masih terisi banyak?”

59

“Beres. Cukup banyak untuk memuaskan nafsu makan seribu orang.” “Tetapi harus sangat irit. Jangan lebih dari satu sendok. Jika lebih dari itu maka akan ketahuan.” “Beres. Siapa mau usaha busuk kita ini ketahuan?” “Dan jangan ulangi kata-kata beresmu itu lagi.” Kata Tari sambil bersungut-sungut. Nampak Rina tersenyum masam dan berbalik, berjalan pelan-pelan sembari memeluk botol besar berwarna hijau itu. Disanalah sumber pendapatan ekonomi mereka paling bergantung. Tari menatap tubuh rekannya yang berbalik dan keluar dari ruang penyimpanan rahasia kami. Disini banyak hal-hal aneh yang tersimpan. Bahkan baginya pun yang menjadi pemilik, semua hal itu adalah barang-barang ajaib dan menjijikkan. Tari merinding sejenak saat memandang salahsatu botol yang tergeletak dekat dengan dirinya. Di dalamnya terdapat larutan arak yang merendam hingga terbenam sewujud ular berwarna hitam bersisik merah, yang kini sudah mulai mengelupas warnanya, menyatu dengan warna bening arak yang berbau harum. Tari menggigil lagi saat melihat botol lain yang tergeletak, sebuah botol hijau yang menyembunyikan cakar buaya yang sama-sama terendam arak. Botol kecil lain menyimpan lintahlintah yang mulai mencair karena direndam dalam minyak zaitun dan garam. Semuanya menjijikkan. Tetapi hal-hal menjijikkan itu masih kurang mengerikan dibanding beberapa botol toples besar yang terderet rapi di atas rak. Tari memandangnya pelan, lalu menggigil, karena mual. “Dengan ramuan-ramuan ini, maka mi akan terasa enak.” Tari masih ingat apa yang dikatakan oleh Yeni, pasangannya berbisnis. Yeni adalah seorang mahasiswa kedokteran yang agak aneh, yang dengan kacamata tebalnya selalu berhasil menyembunyikan rona mata coklatnya yang tajam menusuk. Mereka bertiga, bersama Rina, mengelola warung mi ini. Saat ini Yeni sedang PTT di pulau Alor, NTT. Selama ini tugas Yenilah yang memasok barang-barang aneh dari laboratorium kampusnya di Salemba. Tari toh selalu saja berdebar-debar, masih teringat bahaya yang sedang dilakukan Rina. Tari ingat apa yang dibawa oleh Rina, botol rendaman satu ons ganja yang begitu sulit ia impor secara khusus dari Aceh. Konon setelah ia mendapatkan ganja itu, saat para penyelundup itu mencoba mengirim lagi dos-dos ganja mereka ke Jawa, mereka tertangkap tangan di terminal bis di Medan. Entah bagaimana nasib mereka, dan berapa tahun hukuman penjara mereka harus lakoni. Tari menghela nafas panjang, dan sedikit berdebar karena bersitan perlahan ketakutan dan rasa bersalah. Ia tercenung menatap ke arah kanan. Satu buah botol lain yang tersembunyi dalam kotak khusus itu adalah rendaman satu gram bunga poppy. Mungkin orang akan lebih memahaminya sebagai opium. Mungkin asalnya dari Birma, atau bahkan Afghanistan. Ia tahu bahwa Rina tak terlalu berhati-hati. Apa gerangan yang menyebabkan mereka menyimpan hal-hal yang aneh dan berbahaya itu? Jika kita menilik tempat itu dari luar, yang terlihat adalah sebuah warung bakmi yang amat laris didatangi pembeli. Nampak gerombolan pembeli duduk-duduk, berkipas-kipas, dan antri untuk bisa menikmati bakmi goreng atau bakmi rebus buatan mereka. Sebagian besar tak tahu apa yang menjadi rahasia sejati kenikmatan yang membuat mereka kecanduan makan disana. Setiap mangkok mie rebus atau goreng, Tari dan Rina selalu membubuhkan satu sendok ramuan khusus. Di pojok ruangan itu nampak seorang lelaki berkernyit heran. Kepalanya yang berambut cepak dan wajahnya yang keras, menyiratkan sebuah paduan abadi kecurigaan dan semangat pembuktian kasus-kasus kejahatan. Ia memang dilahirkan untuk terus mencuriga. Dan penciuman dan nalurinya pun setajam anjing pelacak. Dan ia adalah seorang serse yang faham tentang barang apa yang sedang ia nikmati sekarang ini di depan hidungnya dan sedang mengalir di lidah dan mulutnya. Bakmi ganja. Ia sadar, namun juga agak heran. “Ini ganja dan apa lagi ya? Agak aneh rasanya legit-legit anyir gimana gitu. Brrr.... apa mereka campurkan daging bayi, seperti kasus tahun 80-an dulu?” Serse itu menggigil ngeri dan pelahan memuntahkan mi itu ke luar pagar.

60

Pelan-pelan ia mengambil HP di saku celananya dan mulai membuka fitur new text message. Ctik-cti-ctik. Ia pun mulai menulis sms ke kesatuannya. “ada ganja disini.jg ada yg aneh.segera dtg bw bantuan.wrng mi,jl.bungur13 jaksel.jm12pm, hati-hati&jgn menyolok.” Selesai. Dan kemudian ia segera mengirimkannya. Send... Delivered... Ia pelan-pelan mencoba bersikap wajar dan tetap duduk di depan meja makannya, dan tak sadar mulai menghirup kopi panas yang masih mengepul di depannya. Tiba-tiba ia sadar diri dan menyemburkan kopi itu lagi keluar, khawatir ada zat-zat aneh lagi yang masuk ke dalam perutnya. Di ruangan penyimpanan, nampak Tari menatap nanar pada perilaku aneh yang dilakukan oleh serse itu di warungnya. Ia memantau terus lewat kamera CCTV kecil yang ia letakkan empat buah di ruangan warungnya, langsung ia sambungkan ke monitor komputer di ruangan itu. Dengan mousenya ia perlahan men-zoom apa yang ditulis lelaki itu di layar HP. Tari terkesiap membaca teks yang tertulis, dan dengan cepat ia pun mulai mengontak Rina dan kru yang lain dengan HP-nya. Ia menginsert template khusus langsung ke badan teks, “kita ketahuan.kode alertA&tindakan secepatnya.” Send...delivered... Itu berarti gerakan cepat untuk menyembunyikan semua bukti yang tertinggal dalam warung itu. Atau lari secepatnya. Dengan cepat lima orang kru Tari segera keluar mendatangi meja-meja, dan mengambil secara tergesa-gesa dan pakssa mangkok-mangkok mie yang masih tersisa di luar. “Lho, kok diambil. Aku masih separoh makan.” Gerutu seorang pelanggan saat mangkuknya tiba-tiba diambil paksa oleh kru warung. “Nanti mbak. Nanti akan diganti lagi yang lebih enak. Sekarang ini kami harus mengambilnya karena makanan ini nampaknya kurang matang.” Kata kru dengan kaus hitam itu sedikit mendelik. “Lho.... kok kasar gegitu?” ibu itu nampak pucat pasi melihat apa yang dilakukan orang itu. Ia sangat heran dan curiga terhadap apa yang terjadi. Tetapi ia membiarkan saja tindakan itu, dan mulai mengemasi barang-barang belanjaannya sembari menyeret anak lelakinya yang mulai menangis keras, membawanya pergi cepat-cepat keluar dan mencegat taksi. “He. Jangan diambil dulu. Saya masih ingin makan. Ini gimana sih.” Teriak serse itu bersitegang dengan kru yang berbadan tegap itu. Ia saling tarik menarik mangkok dengan kru itu, hingga sebagian kuahnya berhamburan tumpah ke lantai. “Kasar sekali kalian. Jangan main-main ya... Saya polisi. Jangan dikira saya bodoh. Saya tahu apa isi mi ini. Kalian semua akan kutangkap.” Teriak serse itu sadar bahwa gerak-geriknya selama ini telah ketahuan oleh fihak pemilik kedai mi itu. “Tidak peduli pak serse. Saya harus mengambil mie ini. Dan anda tak punya kemampuan lagi untuk melarang tindakan kami. Atau kami akan melakukan tindakan tegas pada anda.” Kata kru berbadan besar itu. Nampak dua orang kru lainnya lagi yang berbadan tegap dan berwajah seram mendatangi dan mengepungnya. Serse itu nampak sangat tegang menghadapi peristiwa itu, dan dengan cepat merogoh sesuatu di balik jaketnya. Tetapi sebelum ia sempat menarik pistol yang selalu siap sedia ia selipkan di ketiak kirinya, ia merasakan sebuah rasa sakit menyengat di lengannya. Ia menoleh dan ia melihat kedua lengannya telah dicengkeram erat oleh lelaki-lelaki tegap berkaus hitam itu, dan kini secara paksa disuntik dengan sebuah cairan berwarna kehitaman. Ia terkesiap dan berteriak memberontak. Tetapi matanya pelan-pelan menjadi berkunang-kunang, dan ia merasakan tubuhnya lemas sekali. Secara cepat dunia menjadi gelap gulita baginya. “Tidak sempat lagi. Tidak sempat lagi. Kita evakuasi.” Teriak Tari panik. Ia segera berlari ke arah luar dan masuk ke mobil kijang kapsulnya, menstarter. “Hoi semuanya. Masuk. Sudah tinggalkan saja. Kita harus segera pergi dari sini.” “Baik.” Kata empat orang kru itu serempak sembari berlarian masuk ke mobil. Disusul dari belakang oleh Rina yang berlari terseok-seok dengan sepatu hak tingginya, masih saja sibuk mengemasi tas berisi uang dan di tangan kanannya, dan oh.... ia masih sempat hendak membawa botol hijau berisi ganja.

61

“Tinggalkan saja botol itu. Lemparkan saja ke tong sampah, bodoh!! Cepat masuk. Jangan sampai saat kita digeledah di jalan ketahuan bawa itu.” Teriak Tari marah pada Rina. Rina pun dengan pucat membuang botol itu ke kotak sampah di luar warung mereka, dan berlari masuk ke dalam mobil, duduk di samping Tari yang berada di belakang kemudi. Terdengar dari arah kejauhan suara raungan sirene menakutkan yang selalu mereka bayangkan. Tari dengan cepat tancap gas, meninggalkan tempat itu. “Nguing...nguingg...” nampak beberapa mobil polisi berwarna coklat datang ngebut dan berhenti di depan warung. Nampak banyak serse dengan jaket-jaket kulit tebal bergerak cepat, menyerbu dengan pistol teracung. “Angkat tangan semuanya. Kalian ditangkap!!” teriak salah seorang polisi itu sambil mendobrak masuk ke ruangan dalam warung. Ia menoleh ke arah samping dan melihat rekannya, sang serse malang itu, yang sedang duduk melongo kosong di ruangan warung. “Hai Din. Dimana tersangkanya?” tanya polisi itu tak faham apa yang sedang terjadi. Ia mendekati Didin dengan gembira, dan mulai menepuk bahunya. “Ha.. apa?” kata Didin sambil terheran-heran. Ia sudah mulai siuman, dan kini duduk separuh tergeletak di kursi warung. “Kau ini gimana. Laporanmu tentang warung mi ganja ini. Gimana?” tanya polisi itu lagi sambil membentak sedikit kesal pada Didin yang menatap dengan mata kosong melompong itu. Sementara itu rombonganpolisi lain nanpak secara berhati-hati berkeliling mengepung dan mendobrak masuk ke ruangan-ruangan yang kini sudah tak bermanusia lagi, tak ada sesuatu pun yang tertinggal. Yang ada hanya kompor minyak dan kursi-kursi plastik yang bertebaran di lantai serampangan. Hanya tertinggal serse Didin yang linglung. “Lapor. Para tersangka lari pak.” kata reserse itu menghormat tegap pada atasannya yang berdiri sambil merokok. “Aduh. Ini Didin gimana sih. Mana dia?” kata Ajun komisaris yang berkumis itu, sambil menyedot dalam-dalam rokok kreteknya.” “Di luar pak. Linglung.” lapor polisi itu lagi. “Hah? Apa yang terjadi?” “Kami tak tahu pak. Mungkin di dalam makanannya terdapat racun atau obat bius pak..” “Sembrono sekali dia. Harusnya ia tak menikmati makanan atau minuman lagi jika tahu kalau disini ada yang nggak beres.” kata ajun komisaris itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Para polisi itu berkeliling dan mengobrak-abrik seluruh sudut ruangan-ruangan warung itu. Ada tiga ruangan. Satu ruangan yang ada di depan adalah tempat makan, di belakangnya terdapat dapur, dan di belakangnya lagi terdapat ruangan gudang makanan. Seorang polisi tua masuk ke ruangan gudang itu. Dan tiba-tiba terdengar teriakan dari dalam ruangan itu. “Huaaaa....” “Apa? Apa?” para polisi lain berhamburan masuk ke gudang itu, sambil mengacungkan pistol mereka. Dan mereka pun terkesiap melihat pemandangan yang ada di dalam gudang itu. Dalam ruangan gelap itu mereka menemukan beberapa botol besar. Dalam botol itu, mereka melihat pemandangan keji dan mengerikan. Selain ular yang melingkar-lingkar mati dalam rendaman arak, terlihat beberapa toples bening besar yang berisi potongan-potongan tubuh manusia. Ada tangan. Ada kaki. Ada jantung, dan juga otak besar yang berwarna keabu-abuan. Yang paling mengerikan adalah sesosok janin bayi membengkak yang terendam penuh dalam cairan kehijauan. Nampak matanya mendelik terbuka. Semuanya terendam dalam cairan arak, atau entah apa. “Panggil forensik. Juga bawa Didin segera ke RS kita. Cepat-cepat.” Teriak Ajun Komisaris agak tergeragap. Ia tak mengira penggerebegan ini akan menuju persoalan yang lebih serius. “Siap.” Kata seorang polisi, sejurus kemudian berderap lari, menuju mobilnya. Menjemput dokter forensik. Nampak dua orang polisi lain memapah Didin masuk ke mobil itu.

62

“Jahanam. Padahal aku pernah membawa istri dan anak-anakku makan di sini.” Teriak seorang polisi setengah baya dengan perut gendutnya. Wajahnya terlihat mual. “Ya. aku pun pernah makan di sini. Memang enak sih. Tak tahunya karena daging manusia. Hiiiii.... Bagaimana keadaan Didin?” “Wah. Entahlah. Ia tak kunjung sadar. Sekarang dibawa ke RS.” “Masyaallah. Bagaimana kita akan cerita pada istrinya nanti?” “Biar pak kepala saja. Kini tugas kita menggeledah tempat aneh ini.” “Moga-moga tak ada apa-apa pada Didin.” “Kayaknya tak apa-apa. Ia sepertinya hanya dibius saja.” Sementara itu sebuah mobil kijang kapsul melaju cepat menuju jalan tol Jagorawi. Di dalamnya terdapat dua orang perempuan muda dan empat orang lelaki tegap dengan kaos hitamnya. Ya. Tari, Rina dan empat kru khusus nampak berwajah tegang melaju masuk ke antrian tol. “Kita sudah aman belum?” tanya Rina. “Stttt. Belum. Belum sama sekali. Mungkin para polisi itu sedang mengejar kita. Jangan kelihatan tegang.” “Ya. OK. Kita kemana sekarang?” tanya Rina lagi tak sabar. Nampak ia gemetar mengambil sebatang rokok Mild dari saku blusnya, dan perlahan menyulutnya. Ia menyedot dalam-dalam rokok itu, dan mengembusnya dalam-dalam keluar jendela mobil. “Kita akan dijemput Yeni. Kita istirahat dulu di Alor.” ”Alor. Wah. Disana nggak ada apa-apa.” Gerutu Rina, sambil menyedot rokok Mildnya makin dalam. Kini batang itu tinggal separuh. “Juga tak ada polisi.” Kata Tari lagi masam. “Mas-mas. Kita berpisah dulu sampai di bandara. Kalian kemana saja nanti?” “Kami akan pulang ke Malang, bu. Naik flight yang paling cepat.” kata lelaki gempal itu tenang. Seakan tak ada apa-apa. “Sori ya, kami menyeret kalian dalam kejadian ini.” “Nggak apa-apa. Kami profesional. Sudah biasa menghadapi seperti ini. Tiba-tiba laju mobil itu terhenti mendadak. Di depan mereka nampak beberapa mobil polisi berderet menghalang jalan. Tari menunduk lesu dan berkata pada teman-temannya. “Kita tertangkap, kawan-kawan....” Dalam mobil malang itu, keenam sosok tubuh itu duduk diam lesu, dikepung oleh para polisi yang kini nampak siap siaga. Seorang polisi menghormat pelan, dan menyuruh mereka membuka pintu kaca. Nampak seorang serse melongok ke arah mereka. “Maaf semuanya. Kami perlu memeriksa mobil dan surat-surat kalian.” Ujarnya tegas. “Si.. silakan.” Kata Tari pucat. Ia memberi kode lirikan pada teman-temannya untuk segera keluar dari mobil. Para polisi itu kemudian menggeledah jok mobil, mengaduk-aduk karpet mobil, dan membuka laci-laci. Seorang polisi melapor pada Ajun polisi yang nampak duduk di dalam mobil polisi menunggu proses penggeledahan anak buahnya. “Bukan mereka pak.” Lapor polisi itu. “Mereka bukan yang kita cari. Mobilnya memang warnanya sama. Tapi nomer seri kendaraan beda, dan serinya sah. Asli. Kata petugas tol, mobil buruan kita sudah melaju sejam yang lalu.” “Matilah awak. Wah ya sudah. Sekarang kau catat informasi anak-anak muda itu, tahan mereka sejenak disini sampai kau yakin mereka bersih. Baru boleh dilepas. Kita segera mengejar lagi di jalan tol. Hati-hati. Aku ngeri lihat kau membawa mobil ini ngebut.” kata ajun komisaris. Di sekitar mobil Tari, keenam anak muda itu bersungut-sungut dengan wajah tegang dan pucat pasi. Mereka kini sedang ditanyai nama, asal, alamat, dan tujuan mereka bepergian. Dengan berusaha tetap tenang Tari pun menjawab semua pertanyaan, dan menunjukkan KTP,

63

STNK dan SIMnya. Demikian juga Rina dan keempat lelaki itu dengan ogah-ogahan menunjukkan KTP mereka. Sejurus kemudian para polisi itu terlihat yakin terhadap mereka dan menyilakan mereka pergi. “Fuiiiih. Aku pikir kita semua sudah tamat.” Seru Rina pucat, menyeka kilauan peluh yang mengalir di lehernya. Rina mengambil lagi batang rokoknya. Menyelipkannya di bibirnya yang pucat dan gemetar. “Ya. kita harus segera keluar dari tempat ini.” kata Tari. “Tenang bu. Kita aman.” kata kru lelaki di belakangnya, yang paling berpengalaman sebagai preman. “Oh ya?” “Ya bu. Kita sudah selesai sekarang. Di bandara, para polisi itu akan kehilangan jejak kita.” Segera Tari memacu mobilnya melaju menuju bandara Sukarno-Hatta. Mereka berenam kini duduk terdiam, berdebar-debar sambil mengharap mobil mereka segera sampai di bandara. “Wah!!! Kenapa semuanya ini bisa terjadi. Bagaimana ini. Mereka sudah sampai dimana?” tanya Ajun itu sambil menyedot rokok kreteknya lagi. “Tidak tahu pak. Yang jelas kami mendapatinya sudah diparkir dua hari dua malam di bandara Sukarno Hatta. “Goblok!! Ini siapa yang goblok? Aduhhhh....” teriak Ajun Komisaris lagi sambil memukul jidatnya sendiri. “Didin sudah sadar?” “Sudah pak. Dan ia sudah membuat sketsa para tersangka. Katanya empat orang lelaki tegap gempal. Selain itu ia tak tahu lagi. “Terus para polisi pengejar rampok di jalan tol itu bisa memberikan info tentang dua perempuan itu apa nggak?” tanya ajun itu lagi. “Tidak pak. Mereka tidak sempat mencatat nama-nama mereka. Kayaknya mereka ingat nama Nina, atau siapa gitu.” “Gobloooooookkkkkk.” teriak ajun komisaris itu lagi. Ia pun mengangkat telepon genggamnya. Sejurus kemudian ia pun mulai terlibat perdebatan dan perbantahan seru dengan koleganya, seorang ajun komisaris yang sempat menghentikan mobil Tari di jalan tol menuju bandara. Polisi bawahannya itu nampak sungkan dan perlahan mundur diam-diam dari hadapan ajun komisaris itu. Di pantai Alor, ketiga teman akrab itu nampak tercenung menatap deburan ombak yang mendekat dan pergi, mengenai kaki-kaki mereka yang telanjang. “Sampai kapan kita akan berada di sini? Lama-lama kita akan ketahuan juga.” tanya Rina kepada Yeni. “Kalian akan berangkat ke Filipina segera. Melewati Bali, Makassar, Manado, terus langsung ke Manila.” kata Yeni. “Disana ada siapa? Dan kita bisa apa?” tanya Tari bersungut-sungut. “Ada Manuel. Ia akan menjemput kalian di bandara. Aku akan memberi fotonya kepada kalian. Dia akan membantu menyediakan segala kebutuhan kalian. Setelah itu kalian bisa berganti identitas dan pulang ke Jakarta. Atau ke Yogyakarta saja, lebih aman.” kata Yeni. “Uang kita masih banyak khan?” “Ya. Masih banyak sekali. Bisnis kita memang berjaya.” tawa Tari tergelak kecut. “Kau tidak ikut Yen?” tanya Rina. “Aku adalah seorang dokter Rin. Aku tak bisa meninggalkan pasien-pasienku yang ada disini. Mereka membutuhkan perhatianku. Di pulau ini hanya aku dokter seorang. Apalagi aku disini bakal aman-aman saja. Polisi tak tahu kita saling kenal.” kata Yeni tersenyum sambil memandang tajam ke depan, ke laut yang memerah hasil bias matahari Timor yang sungguh cemerlang, seperti lempengan gelombang tembaga berselaput darah. Nampak di depan mata mereka matahari sore yang merah dan hangat semburat itu membias di pantai Alor yang berpasir putih. Semilir angin laut Alor pun membelai rambut ketiga sahabat itu, membuatnya berkibar-kibar deras. Di kejauhan, nampak beberapa nelayan mulai

64

menggulung jala-jala panjang mereka, sambil tertawa gembira, menyanyikan lagu tradisional Timor yang tengah disiarkan stasiun radio lokal. Para nelayan itu menyetel radio mereka keraskeras, berusaha menyaingi deru suara deburan ombak pantai. Berkelompok, tangan-tangan berotot itu perlahan mendorong perahu-perahu bercadik turun ke air yang dingin. Lelaki-lelaki legam itu dengan bersemangat berjalan menuju cipakan dan riakan ombak yang memecah di bibir pantai yang landai, mulai naik ke kapal yang terlihat reot itu. Dengan gembira, mereka menyongsong gelap, bersiap-siap hendak berlayar memburu kawanan ikan yang sedang jatuh sial.

65

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->