P. 1
Menakar Dampak Pilkada Langsung

Menakar Dampak Pilkada Langsung

|Views: 1,181|Likes:
Published by Inspektur Satu

More info:

Published by: Inspektur Satu on Feb 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/28/2013

pdf

text

original

MENAKAR DAMPAK PILKADA LANGSUNG: Studi Pilkada Langsung Gubernur Jawa Timur 2008 Surwandono dan Witri Elvianti

surwan04@yahoo.com.au dan Fisipol Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Abstrak Artikel ini menjelaskan tentang relasi biaya sosial, ekonomi, politik dan budaya yang harus ditanggung oleh pemerintah dan masyarakat lokal terkait dengan proses demokratisasi local. Diskursus ini sedemikian mengemuka untuk menakar produktivitas demokrasi langsung di dalam arena politik local. Studi ini menunjukan bahwa biaya politik yang ditanggung oleh pemerintah dan masyarakat local masih sebanding dengan berkembangnya demokratisasi local. Pilkada langsung mampu mentransformasi maupun mendekonstruksi nilai-nilai local menjadi lebih demokratis. Metode yang digunakan dalam analisis ini adalah metode kualitatif dengan melakukan interpretasi terhadap dokumen-dokumen, wawancara terhadap narasumber yang relevan.

Key Words: Biaya Politik, Dampak Pilkada Langsung, Demokrasi Lokal

Pengantar Sejak runtuhnya rezim otoriter orde baru, secercah harapan untuk demokrasi yang tidak semu mulai hadir di benak masyarakat Indonesia. Segera setelah otonomi daerah digelar, pemilihan kepala daerah langsung (Pilkada) seolah menjadi menu utama pemerintah pusat dengan tujuan masyarakat Indonesia telah siap masuk ke dalam babak baru era demokrasi. Ironisnya, sekali lagi, tidak hanya kabar baik yang mengiringnya,

sederet kabar buruk akan terjadinya disintegrasi, konflik etnik dan ketidakseimbangan pertumbuhan ekonomi terus membayangi demokratisasi di Indonesia terlebih lagi pada saat Pilkada tersebut diselenggarakan. Sejak tahun 2005 hingga Agustus 2008, Indonesia telah mencatat prestasi yang terang benderang. Tercatat bahwa sebanyak 360 kali Pilkada tingkat kabupaten dan 20 tingkat provinsi telah dilaksanakan di Indonesia, sebagai bukti betapa kuatnya komitmen rezim SBY terhadap pengejawantahan nuansa demokrasi. Dari total provinsi dan kabupaten yang melaksanakan Pilkada ini, secara umum, ada dua partai politik besar yang masih mendominasi arena perpolitikan nasional dan lokal, yaitu PDI Perjuangan dan Golkar. PDI Perjuangan berhasil memenangkan Pilkada di 15 Provinsi dan 166 kabupaten/kota sementara Partai Golkar berhasil menorehkan tinta emasnya di hanya 7 provinsi dan 154 kabupaten/kota.1 Barangkali Indonesia perlu berbangga hati dengan keberhasilan tersebut karena besarnya kuantitas pemilihan kepala daerah langsung yang telah dilaksanakan. Namun, rezim pemerintah tidak perlu melulu menjualnya sebagai bukti keberhasilan pemerintah mengingat realita politik yang ada. Pelaksanaan Pilkada tidak semuanya berjalan dengan mulus dan bebas hambatan. Pilkada di tingkat provinsi dan kabupaten/kota hingga saat ini menunjukkan kecenderungan akan terjadinya demokrasi transaksional dan terjebak dalam nuansa elektoralisme. Seharusnya, Pilkada menjalankan perannya dalam bingkai dictum penguatan demokrasi kerakyatan sebagai bentuk dukungan atas pelembagaan demokrasi di tingkat lokal. Namun, yang terjadi adalah Pilkada kerap berubah menjadi media transaksi politk dengan motif ekonomi segelintir elit politik lokal. Pilkada tidak disertakan dengan kedewasaan berpolitik dan profesionalitas penyelenggaraan sehingga seringkali menuai konflik horizontal antar elemen masyarakat setempat. Perlu diketahui pula, hampir 40% dari total daerah penyelenggara Pilkada menghadapi konflik dan sejumlah kasus hukum.2 Tak jarang, ajang penguatan pelembagaan demokrasi lokal itu diwarnai dengan tindakan
1

Nur Iman Subono dalam Dari “Civil Society” ke “Blok Demokratik”: Masalah dan Tantangannya di Indonesia, Jakarta, Oktober 2008. 2 Dilaporkan oleh seorang wartawan surat kabar harian SuaraKarya, Yudhiarma MK, dalam Menyoal Legitimasi dan Potensi “Kudeta” Pasca Pilkada. Dapat diakses di http://www.suarakaryaonline.com/news.html?id=114440 yang diakses pada 15 September 2009

Jawa Timur melaksanakan perhelatan akbar. Aceh. Sebagai catatan. maupun di Jawa Timur. banyak pengamat politik yang menggarisbawahi signifikansi pengawalan ekstra ketat terhadap persiapan dan penyelenggaraan Pilkada Jawa Timur tersebut. Deputi Bidang Pengkajian dan Pengembangan Sistem Informasi Lembaga Informasi Nasional. hukum dan keamanan serta sosial dan budaya. Ibarat dua mata koin yang saling bersebelahan. Hal ini dikarenakan keberagaman etnik. Terdapat temuan yang menarik dari penelitian yang dilakukan oleh LIN bahwa konflik etnis di daerah konflik sangat berhubungan erat dengan proses pemilihan kepala daerah. Alhasil. Hingga pelaksanaan pemilihan putaran kedua. Jakarta. Poso. Kecurangan itu berkisar pada data fiktif DPT.3 Issue etnik sengaja dipilih oleh para kandidat 3 Lihat lebih jauh dalam Dinamika Konflik dalam Transisi Demokrasi: Informasi Potensi Konflik dan Potensi Integrasi Bangsa (Nation and Character Building). Kerangka Dasar Teoretik Lembaga Informasi Nasional (LIN) selama 5 tahun terakhir melakukan penelitian terhadap konflik-konflik etnis di Indonesia. Hasil akhir dari pemilihan putaran pertama menghasilkan dua pasang kandidat dengan suara mayoritas yaitu Syaifullah Yusuf dengan Sukarwo (KarSa) dan Kofifah dengan Mudjiyono (KaJi). baik di Papua. dan latar belakang sejarah yang pernah melibatkan etnis tertentu dalam konflik sosial yang masif dan destruktif beberapa waktu yang silam. 2004 . Departemen Dalam Negeri mencatat sedikitnya 23 daerah mengalami konflik Pilkada. SampitDayak. dampak tersebut bisa menjadi sesuatu yang konstruktif namun juga boomerang. Konflik diawali dengan penemuan kecurangan yang dilakukan baik selama persiapan Pilkada hingga tahap penyelenggaraan.anarkis berupa pengrusakan dan pembakaran fasilitas umum bahkan bentrokan fisik antar pendukung yang mengusung masing-masing calon kepala daerah. Ambon. konflik horizontal yang melanda Pilkada Jawa Timur tersebut berdampak pada dimensi masyarakat Jawa Timur secara ekonomi dan politik. adanya pengaruh tokoh agama yang kuat dengan masyarakat sehingga ada kekhawatiran gerakan memobilisasi grass root oleh elit lokal. Sementara itu. Pemilihan kepala daerah langsung digelar. Pada 23 Juli 2008. Pilkada Jawa Timur didominasi oleh konflik horizontal yang cenderung mengarah pada disintegrasi atau pembelahan sosial. proses penyusunan DPT yang tidak transparan.

maka kemudian dimaknai sebagai kekalahan etnik. penyelesaian menggunakan pendekatan keamanan justru membuat konflik horisontal menjadi sangat akut dan sulit terselesaikan.kepala daerah untuk meningkatkan derajat representasi di depan publik.4 Studi yang dilakukan oleh majalah Tempo dalam pelaksanaan Pilkada di Indonesia juga menggambarkan bahwa . setelah mengalami ekskalasi yang sangat serius menjadi konflik yang bersifat primordial. Juli 2007 . Bahkan juga ditemukan fakta konflik Pilkada tersebut menjadi konflik yang kemudian berhubungan erat dengan aktivitas terorisme. yang justru lebih sarat dengan muatan politis. telah menggubah peta konflik dari konflik lokal menjadi nasional bahkan internasional. sehingga jika suatu kandidat dari etnik tertentu kalah dalam Pilkada. Dari beberapa konflik pilkada di Maluku Utara maupun Poso. Temuan yang juga menarik adalah adanya kecenderungan besar bahwa adanya kekurangsiapan kelembagaan dan instrumen politik untuk menghadapi ledakan konflik seputar pilkada. pilkada diwarnai oleh konflik horizontal. dan akhirnya menjadi konflik horisontal yang bernuansakan etnik. Di beberapa tempat KPUD 4 Lihat lebih jauh analisis Surwandono dalam “Poso dan Fogging DPO”. Pengelola pilkada seperti KPUD dan pemerintah daerah seringkali terlambat melakukan respon yang memadai sehingga ekskalasi konflik pilkada menjadi meluas. Dalam studi yang dilakukan oleh Surwandono terlihat bahwa konflik Pilkada di Ambon maupun Poso. atau sering dikenal dengan konsep negative peace. Pada sisi yang lain. Penyelesaian konflik horisontal melalui pendekatan keamanan sesungguhnya mengambarkan bahwa kapasitas politik dari pemerintah daerah dan KPUD yang didukung oleh Panwaslu maupun aparat keamanan tidak mampu mengelola Pilkada secara komprehensif. Di banyak tempat. Kelompok Islam maupun Kristen dari luar Poso maupun Ambon kemudian saling berkonflik secara intensif. Makna seperti inilah yang kemudian dikelola oleh para elit politik yang kalah dalam politik untuk melakukan bargaining politik melalui penciptaan konflikkonflik horisontal. penyelesain dengan menggunakan security approach hanya menciptakan perdamaian secara sementara. ada kecenderungan proses penyelesaian konflik cenderung menggunakan pendekatan security approach dibandingkan dengan political approach. daripada konflik sosial-kultural. Bukan tidak mungkin. Republika.

bentrokan dengan petugas keamanan. Tanah Bumbu (Kalimantan Selatan). pengepungan kantor KPUD. Gowa (Sulsel). pelaksanaan kampanye pilkada. “In-House Discussion Komunikasi Dialog Partai Politik”. KPUD terpaksa mengundurkan pengumuman nama calon.com 7 Jawa Pos. demo massa mendorong KPUD untuk melakukan koordinasi dengan desk pilkada. Dan keempat. ketidakpuasan terhadap KPUD "diekspresikan" dengan membakar kantor tersebut. 16 November 2007 . makalah yang disampaikan pada . Papua. Di Indragiri Hulu. yang ditandai dengan tidak netralnya PPS maupun tidak adanya Tim Pemantau Independen. Kedua. berkaitan dengan pencalonan salah satu kandidat. konflik sebelum pelaksanaan pilkada. penggelembungan suara Metode Penelitian 5 6 Majalah Mingguan TEMPO Edisi 24 Juli 2005 Lihat lebih jauh dalam http://www. kelompok pendukung calon juga bentrok dengan panitia pengawas daerah. Semarang dan Sukoharjo (Jawa Tengah). Di Padang Pariaman (Sumatra Barat) misalnya. Biaya Ekonomi. Mataram (NTB). maupun mobilisasi pemilih melalui money politics dari kandidat. melalui politik pencitraan secara sefihak. dan sejenisnya terjadi di tempattempat seperti Depok (Jawa Barat).menjadi langganan demo massa pendukung calon yang tidak lulus verifikasi.ijrsh. yang diselenggarakan oleh Komunitas Indonesia Untuk Demokrasi (KID) Jakarta. Selain dengan KPUD. yang ditandai dengan konflik seputar keabsahan penghitungan.wordpress. Cilegon (Jawa Barat). Aksi pendudukan. atau kelompok pendukung dari calon lainnya. baik dengan menggunakan black campaign maupun negative campaign. Gorontalo. Di Jember. penghitungan suara dan penetapan pemenang Pilkada oleh KPUD. “Catatan Kritis Atas Pilkada di Beberapa Daerah: Depdagri Akar Konflik Pilkada. di mana ditandai dengan konflik antar kandidat. Toli-Toli (Sulawesi Tengah).5 Studi yang dilakukan oleh Suwandi Sumartias 6 menunjukkan beberapa fakta kekerasan dan konflik horizontal. pertama. pilkada berbuntut perusakan kantor KPUD setempat. Di Jayapura. 3 Oktober 2005 dalam Kajung Maridjan. Akuntabilitas Politik dan Demokrasi Lokal”. biasanya terkait dengan persoalan Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang seringkali tidak up-date ataupun banyak nama-nama ganda. Laporan yang mendalam yang dilakukan oleh Jawa Pos tentang beragam konflik dalam Pilkada di beberapa propinsi di Jawa7 menunjukkan bahwa konflik dalam pelaksanaan pilkada terbagi dalam 4 kelompok besar. dan Kaur (Bengkulu). “Pilkada Langsung: Resiko Politik. pelaksanaan pemungutan suara. Ketiga.

KPU dan Bawaslu terhadap kemungkinan terjadinya konflik horizontal dalam pilkada langsung. Tekhnik pengumpulan data Data penelitian diperoleh dari berbagai sumber. merupakan lembaga yang memiliki fungsi secara langsung dalam proses pengawasan pelaksanaan Pemilu. Terkait dengan Pilkada di Jatim. M.A. Yang dipetakan dari anggota DPR adalah bagaimana produk UU tentang Partai Politik dan Pilkada Langsung memiliki instrument yang memungkinkan bisa merespon secara cepat terhadap kemungkinan konflik yang . Langkah untuk mengetahui penyebab dan pola konflik horizontal dalam pelaksanaan Pilkada langsung sebagai berikut 1) bagaimana stakeholders dari Pilkada langsung. baik dalam bentuk data primer maupun data sekunder dari para stakeholders dan pengelola pilkada langsung. kandidat kepala daerah. media massa. Bawaslu. 1. Pendekatan Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk mendapatkan pemahaman yang menyeluruh tentang factor-faktor yang menyebabkan konflik horizontal maupun pola-pola ekskalasi dalam pelaksanaan pilkada secara langsung. Ada sekitar 15 orang narasumber yang menjadi rujukan dalam deep interview ini. Panwaslu. Salah seorang personel Bawaslu yang telah dilakukan wawancara adalah dengan Bambang Eka Cahya Widodo. organisasi social dan kemasyarakat. baik di tingkat nasional maupun propinsi.IP. maupun Pilkada Langsung. dalam memandang konflik horizontal dalam pilkada langsung 2) bagaimana kesiapan sistemik dari pemerintah dan pengelola pilkada langsung baik KPUD. DPR. B. baik partai politik.S. baik melalui pengumpulan dokumen-dokumen kebijakan politik terkait dengan pilkada langsung. Untuk memperoleh data primer terkait dengan upaya mengetahui penyebab kritikal dan pola ekskalasi konflik dilakukan melalui deep interview dengan para narasumber yang kompeten.Si tentang tata aturan Bawaslu dalam proses pengawasan dan laporan hasil pengawasan terhadap sejumlah pelaksanaan Pemilu. diperoleh dari wawancara dengan Panwas Propinsi Jawa Timur 2. maupun dokumen dari media massa yang melakukan proses peliputan maupun framing terhadap konflik yang muncul dalam pelaksanaan pilkada langsung. dalam hal ini terkait dengan proses pembuatan UU Partai Politik.

3. baik dalam persoalan DPT fiktif. Sedari awal memang tidak terdapat kandidat dari cagub maupun cawagub yang berasal dari anggota Muhammadiyah.S. Untuk memperkuat pandangan para politisi dalam memandang UU tentang Pilkada Langsung juga dilakukan wawancara dengan Takdir Ali Mukti. Yang ditelusur adalah kebijakan pelembagaan mengantisipasi konflik. Wawancara juga dilakukan terhadap ketua JPPR wilayah Jatim. dalam hal ini dilakukan terhadap laporan dan analisis pelaksanaan Pilkada Jatim. dan pencobolosan ulang di beberapa kabupaten baik Sampang. yang selama ini aktif menjadi pengawas Pemilu yang berasal dari unsure birokrasi. yang selama dua periode telah menjadi anggota DPRD di Yogyakarta. Organisasi Sipil. terkait dengan pelaksanaan Pilkada Jatim yang berlangsung di tahun 20082009. Wawancara dilakukan terhadap Sugeng Pudjiatmoko. di mana sekarang ini sudah ada pergantian pengurus KPUD Jawa Timur per Maret 2009. maupun masalah penghitungan suara ulang. yakni Muhammadiyah dan NU. Bangkalan dan Pamekasaan. Panwas Jatim. yakni mantan Kapolda Jatim (yang mengundurkan diri) dalam proses pelaksanaan Pilkada Jatim. anggota fraksi PKS di DPR. Sukardjo. maupun social budaya. tentang kebijakan-kebijakan yang dilakukan Kepolisian Daerah Jawa Timur dalam proses mengantisipasi konflik pilkada Jatim Timur. Dalam hal ini dilakukan wawancara dengan Agus Purnomo. maupun dengan Kapolda Jatim definitif. KPUD Jatim. Ada dua organisasi sipil yang dipilih.IP. dalam hal ini dilakukan interview kepada mantan pengurus KPUD Jatim. baik melalui pendekatan keamanan. dalam hal ini dilakukan deep interview dengan dua orang. 6. Kepolisian. namun posisi Muhammadiyah tetap penting . 5. maupun proses penetapan. Wawancara dilakukan terhadap 2 anggota KPUD Jawa Timur yakni Arief Budiman dan Didik . Data yang diperoleh dari mantan anggota KPUD Jatim adalah terkait seputar konflik dalam pilkada Jatim. untuk memperdalam persoalan pelanggaran selama pelaksanaan Pilkada Jatim yang berlangsung sampai 3 putaran. 4. sebab-sebab konflik terjadi. penyelenggaran. politik. baik konflik karena aturan penyelenggaraan. dan factor-faktor yang menyebabkan ketidakpuasan dalam proses Pilkada Langsung tidak memicu lahirnya konflik horizontal.muncul dalam pelaksanaan Pilkada.

7. bahkan ada seorang kandidat yang kebetulan menjadi pengurus di PWNU Jatim. terutama dari Karsa dan Kaji. Tim Sukses. Nur Hidayat. yang menjadi payung organisasi para kandidat kepala daerah. yang juga memberikan jawaban tertulis terhadap pendalaman pertanyaan yang disampaikan tim peneliti. Yang akan ditelusur adalah mengapa Muhammadiyah terlibat dalam konteks kampanye politik damai meskipun tidak ada anggota Muhammadiyah yang menjadi bakal calon. Yang ditelusur adalah bagaimana NU. Sedangkan NU. Ahmad Faisal. Untuk menggali informasi ini maka dilakukan wawancara dengan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur. dan 5) bagaimana tim sukses menaati aturan main pelaksanaan Pilkada. Ustadz Munthalib Sukandar. Data yang ditelusur adalah 1) bagaimana tim sukses suatu calon memandang dan mempersepsi calon lain. seputar kebijakan NU dalam mengantisipasi mobilisasi konflik dengan menggunakan instrumentintrumen keorganisasian NU. 2) bagaimana tim sukses memandang proses kompetisi sebagai bagian dari konflik. Wawancara juga dilakukan terhadap sekretaris Lakspedam NU. Dalam penelitian ini dilakukan wawancara dengan wakil sekretaris Pimpinan Wiayah NU. dari proses soft campaign. Informasi tentang strategi dan pilihan politik Kaji. maupun pembentukan Halaqah Maslahah ‘Ammah menjelang Pilkada. Mirdasy. Wawancara dilakukan terhadap anggota tim sukses Khofifah-Mujiono. Tim sukses merupakan mesin politik dari pasangan calon untuk mendapatkan suara melalui proses mobilisasi massa. negative campaign sampai dengan black campaign. kemudian memilih mengundurkan diri guna memuluskan jalan dalam pencalonannya. yang menjelaskan seputar kebijakan dasar NU terkait dengan Pilkada. Muh. melakukan politik managemen konflik untuk mengantisipasi kemungkinan konflik yang terjadi sesama warga NU. . 4) Bagaimana tim sukses memaknai proses kalah dan menang dalam Pilkada. bahkan terkadang melakukan politisasi issue. 3) bagaimana tim sukses merespon issue yang memojokkan ataupun memprovokasi calon yang didukung.karena sedari awal pula PW Muhammadiyah melakukan sosialisasi secar massif untuk mendorong pelaksanaan Pilkada langsung secara damai. khususnya dengan Ketua Majlis Hikmah. merupakan satu-satunya organisasi yang menyumbangkan semua kandidat.

Ketiga. 8. Wawancara ini untuk mengeksplorasi beberapa issue krusial seperti tradisi kekerasan dalam menyelesaikan konflik (Carok). Kedua. Namun karena kesibukan yang sangat padat. Sehingga dalam upaya membangun obyektivikasi lebih mengandalkan kepada release yang disampaikan tim sukses Karsa dalam media massa. melakukan interpretasi dari berbagai temuan dokumen. . dan Pamekasan. Hal ini terkait dengan saran dari beberapa stakeholders pilkada Jatim yang menempatkan media massa sebagai salah satu unsur penting dalam pemberitaan konflik Pilkada. Junaidi dan H. melakukan analisis isi terhadap dokumen-dokumen kebijakan politik dan perundangan-undangan yang terkait langsung dengan pelaksanaan pilkada langsung. dilakukan analisis secara bertahap. melakukan analisis framing terhadap ekspos media massa terhadap pemilu maupun konflik horizontal yang terjadi selama pelaksanaan pilkada langsung. untuk mengetahui pengaruh kebijakan. dilakukan terhadap Martono maupun Ana Luthfie. untuk mengetahui posisi media dalam konflik. instrument maupun sumber daya yang dipergunakan untuk mengelola konflik selama pilkada langsung. apakah menjalankan peran sebagai media massa damai. wawancara mendalam untuk membuat benang merah hubungan antar variable yang menyebabkan . baik di Bangkalan. Sampang. Abdul Manan. merupakan tokoh masyarakat Madura di daerah Pamekasan. Untuk mengetahui informasi ini dilakukan wawancara terhadap KH. atau justru menjadi media massa provocator.juga diperoleh dari beberapa anggota pimpinan wilayah NU Jawa Timur yang menjadi simpatisan dan pendudung pasangan ini. Teknis analisis data Untuk mendapatkan obyektivikasi yang tinggi dalam penelitian ini. maupun issue mobilisasi dukungan melalui organisasi social keagamaan dan praktek politik uang dalam Pilkada serta persoalan pandangan masyarakat Madura terhadap pelaksanaan Pilkada yang berlangsung sampai 3 kali putaran. Sedangkan untuk wawancara terhadap tim sukses Sukarwo-Syaifullah Yusuf. Pertama. keduanya tidak bisa diwawancara secara langsung dan hanya memberikan gambaran secara umum. C. Tokoh masyarakat di Madura.

Warga NU memiliki keterikatan dan kepatuhan yang sangat besar dengan para agamawan. NU dan kancah politik bukan hal yang terpisah. Pada era 1950an. Secara singkat. Syaifullah Yusuf (calon wakil gubernur dari pasangan KarSa) dan Khafifah Indar Parawansa (calon gubernur dari pasangan KaJi) sejatinya memiliki afiliasi ideologi yang sama. Bila berkaca pada pengalaman silam. Meskipun saling berkompetisi demi memenangkan kontestasi politik. keduanya masih menjabat posisi strategis di dua lembaga otonom NU. bergulirnya era reformasi di Indonesia . Hal ini diakibatkan karena budaya NU yang dipandang masih tradisionil. Sejak kedua tokoh muda NU tersebut memutuskan untuk bersaing dalam kancah Pilkada. isu pecahnya suara ulama NU telah mulai terdengar. bagi warga NU mendapatkan izin politis dari para ulama adalah hal yang istimewa. Bukan suatu hal yang biasa. NU mendukung suara politiknya dari masa ke masa. Kondisi kultural seperti ini sangat rawan dengan bias kepentingan. Pada saat Pilkada. Hasil interprestasi ini digunakan sebagai bahan dasar bagi penyusunan kebijakan early warning system dalam mengantisipasi konflik pilkada secara langsung. dengan jelas dan lantang. kader NU diperbolehkan terjun dalam arena politik demi menyebarluaskan misi dakwah NU untuk mewujudkan Islam sebagai agama yang menyejukkan semesta alam. Namun. Dampak Politik: Bipolarisasi Masyarakat Sipil Pemilihan putaran kedua telah meloloskan dua pasang kandidat yaitu KarSa dan KaJi.konflik sekaligus memetakan pola ekskalasi konflik. Syaifullah sebagai ketua Gerakan Pemuda Anshor sementara Khafifah sebagai ketua Muslimat. organisasi perempuan terbesar milik NU. Keduanya adalah kader utama NU. Aktivitas politik NU telah lama terlibat dalam dunia politik. Inilah. mulai dari terbentuknya partai Masyumi untuk beberapa dekade hingga akhirnya suara NU terakomodasikan oleh PPP. ketaatan dan kepatuhan para santri dan warga Nahdlyin seringkali disalah-gunakan oleh segelintir oknum yang ingin meloloskan kepentingan politisnya.

para ulama bisa memaksimalkan peran nya sebagai social control dan moral forces hingga bisa memantau kecurangankecurangan yang mungkin saja dilakukan oleh kader NU sendiri. Biaya Ekonomi. kader politik NU terpecah. Menurut Larry Diamond dan Brian C Smith. Sementara itu. pemerintah daerah sangat membutuhkan kemandirian dan kedewasaan politik para elit politik lokal dan civil society 8 Kacung Maridjan. NU terbelah menjadi dua kubu utama yakni antara pemilih pasangan SoekarwoSyaifullah Yusuf (KarSa) dan pasangan Khofifah Indar Parawansa-Mudjiono (KaJi). Kekuatan civil society sangat mempengaruhi perjalanan pelembagaan dan perwujudan substansial demokratisasi. setahun yang lalu.paska runtuhnya rezim Soeharto. esensi dari demokratisasi pemerintah lokal adalah untuk memperluas kesempatan check and balances antara pemerintah lokal dan pemerintah pusat. Jakarta. banyak pihak yang mengkhawatirkan pecahnya kekuatan NU selama Pilkada Jawa Timur diselenggarakan. November 2007. Hal ini akan mengancam peranan NU yang sebenarnya.8 Karenanya. Seharusnya warga NU terlebih lagi para pemimpin dan ulamanya bisa mengambil arti pelajaran dan pengalaman yang penting dari sejarah. Jadilah. Kondisi miris ini sangat bertentangan dengan semangat demokrasi yang baru sekitar lima tahun ini menerpa perpolitikan lokal di Indonesia. KaJi yang didukung penuh oleh PPP dan aliansi 12 partai gurem tanpa ada embel-embel PKB. KarSa dengan basis dukungan Partai Demokrat. Masingmasing kandidat sibuk mencari restu para ulama. PKS dan PAN mendapatkan restu dari kiai sepuh. dan beberapa kiai langitan penting seperti Hasyim Muzadi. Dengan mulusnya. karena mayoritas kiai sepuh masih memandang kepemimipinan perempuan dalam wilayah publik dan politik adalah hal yang tabu dan tidak sesuai dengan prinsip Islami. kesatuan suara pun terancam dengan kehadiran banyak partai politik yang mengaku berafiliasi dengan NU. Bipolarisasi politik melanda warga NU. ekspektasi ini tidak terjadi selama Pilkada Jawa Timur. Banyak pengamat konflik sosial berharap penyelenggaraan Pilkada Jawa Timur tidak akan memecah belah suara NU karena ini akan berkomplikasi pada efek detrimental yang tidak diinginkan. Alih-alih mencerahkan. dan Demokrasi Lokal. . Akuntabilitas Politik. juga mengantongi dukungan politik penuh dari organisasi yang dipimpinnya. perpecahan politik hanya akan memperburuk kondisi umat. dalam Resiko Politik. Akan tetapi. Tentu saja.Muslimat. Sejatinya.

Hal ini tentu sangat mempengaruhi kondisi psiko-sosial kader grass root NU yang barangkali apolitis dan acuh dengan sikap politik para kyai nya. 10 R Ferdian Andi R. Hal ini terjadi karena masyarakat sudah jenuh dengan drama politk yang dipertontonkan oleh beberapa kyai. Tidak ada yang salah jika perbedaan pandangan politik mekar di tubuh NU. di Bojonegoro. Dalam pandangan Direktur Eksekutif Lembaga Survei dan Kajian Nusantara (Laksnu) Gugus Joko Waskito. Stigmatisasi dan fragmentasi ini berimplikasi pada degradasi kepercayaan public atau warga NU terhadap peran ulama dalam dimensi kehidupan yang lebih luas. kisruh pilkada Jawa Timur menjadi bukti bahwa kyai NU lebih memilih terlena menikmati “berkah” dari komparador politik daripada mengurus warga NU. Namun. sesuai dengan khitah politik warga NU. secara jelas. Intervensi politik Hasyim Muzadi dengan segala maneuver politik nya dianggap sudah melampaui batas sehingga berpotensi memicu terjadinya keretakan sosial dan melemahnya ukhuwwah islamiyah di kalangan NU.10 Bipolarisasi konfigurasi politik NU telah memunculkan stigma baru yaitu kyai vs santri. Sebagai catatan penting. Jatim Terbentur. Masyarakat memandang.com/berita/pemilu-2009/2008/12/02/65748/jatim-terbentur-nu-babak-belur/ yang diakses pada 10 Oktober 2009 . dapat diakses di http://www. NU Babak Belur.com Jakarta.inilah. secara ideal. yang merepresentasikan dukungan terhadap KaJi. Apa yang terjadi di Pilkada Jawa Timur sangat berbeda dengan harapan idealita tersebut.organization seperti NU9. NU secara institusi terbuai oleh pragmatisme politik sempit yang dimotori oleh kader dan petinggi organisasi. Kyai dipandang sebagai kekuatan penuh para “orang tua” yang tertuju pada KarSa sementara terminologi “santri” diarahkan pada “anak muda” yang melakukan perlawanan ideologi. telah ditemukan adanya indikasi melemahnya kepercayaan public terhadap peran ulama di Bojonegoro (baik selama Pilkada Bojonegoro maupun Pilkada Jawa Timur kemarin). tidak ada 9 Beberapa akademisi beranggapan bahwa kehadiran NU dan Muhammadiyah merupakan titik sejarah awal lahirnya gerakan civil society di Indonesia. para kaum intelektual NU harus bisa memposisikan diri kapan dan dimana mereka harus mengenakan seragam jami’yyah (institusi) atau kendaraan politik pribadi. inilah. Justru hal ini menandakan awal dari kedewasaan berpolitik itu sendiri. kadang-kadang. Hal ini. untuk melakukan kontrol sosial politik dan pendidikan politik bagi masyarakat.

Menurutnya. Kacung Maridjan membenarkan hal itu. Hal ini juga menurun pada level daerah. Dirujuk oleh Akhmad Zaini dalam Nu dan Pilkada Bojonegoro. 12 Ibid. Oleh Kacung Maridjan. para santri mengatakan bahwa mereka masih menjadikan kiai sebagai rujukan dalam masalah agama tapi tidak untuk masalah politik.11 Lagipula. kiai tidak lagi merepresentasikan suara politik ideal sehingga bukanlah sebuah dosa jika santri tidak patuh dengan pilihan politik kiai. .kesesuaian antara apa yang disampaikan dengan apa yang diperlakukan oleh banyak kiai NU.12 Jika kemudian di Jawa Timur telah terjadi bipolarisasi konfigurasi politik NU maka setidaknya realita ini juga memiliki tendensi atas pelemahan politik secara nasional. Jawa Timur seringkali dijadikan barometer politik nasional. demi terwujudnya perbaikan kehidupan demokrasi di Indonesia. Dipublikasikan di Jawa pos. Oleh karena itu. Menurut Brian C Smith. Delegitimasi Pilkada Sebagai Pelembagaan Demokratisasi Selain berimplikasi pada bipolarisasi konfigurasi politik lokal seperti yang terjadi di Jawa Timur. ada korelasi positif antara penguatan demokrasi lokal dengan perbaikan demokrasi pada tingkat nasional. penurunan secara drastis atas dukungan atau bahkan kepatuhan santri dan warga NU terhadap keputusan politik para kiai dalam Pilkada dikarenakan polarisasi dukungan politik sejumlah kiai ke beberapa partai politik yang diawali pada Pemilu 2004 lalu. 12 Desember 2007. Merujuk pada bangunan teori kelembagaan baru (new institutionalism) bahwa pilihan disain kelembagaan yang dianut oleh suatu Negara memiliki pengaruh terhadap wajah demokrasi yang dimiliki. pemerintah memberlakukan pemilihan kepala daerah sebagai media alternatif yang efektif untuk penguatan pelembagaan demokratisasi di tingkat daerah.. dituliskan bahwa pada awalnya. sebuah penelitan Komunitas Tabayun oleh Prof Dr Nur Syam dilakukan di beberapa pesantren besar di Jawa Timur. Bagi para santri. Namun. Salah satu hasil pentingnya. Temperatur politik yang kian memanas di Jawa Timur selama penyelenggaraan Pilkada menjadi ancaman tersendiri bagi kader NU secara nasional mengingat Jawa Timur adalah basis utama dan terbesar massa NU di Indonesia. konflik horizontal juga berpotensi atas delegitimasi Pilkada sebagai sarana pelembagaan demokrasi lokal. fakta di 11 Pada Juni-Juli 2007. disain kelembagaan yang ditempuh untuk menumbuhkan demokrasi adalah melalui pembukaan system multi partai dan adanya pemilu yang bebas dan adil.

729. Sikapi Pilkada Jatim Secara Dewasa. Pilkada Jawa Timur juga mengalami hal yang sama.sinarharapan. Pemerintah lupa.721 suara atau 49. pasangan KarSa berhasil memenangkan perolehan akhir suara dengan jumlah suara 7. pada saat KPU Provinsi sedang mengumumkan hasil rekapitulasi suara pada pemilihan putaran ke dua. melakukan langkah antisipatif atas kecurangan-kecurangan.co. 13 13 Chusnun Hadi. Angka golput pada Pilkada Jawa Timur putaran ke dua mencapai 13. Di Sumatra Utara angka golput mencapai 41.880. penyalahgunaan wewenang dan fenomena raja kecil daerah yang meracuni kesaktian Pilkada itu sendiri. menentang keputusan KPU provinsi yang dipandang memihak ke salah satu calon.944 suara atau sekitar 50.id/berita/0811/12/sh01. Pelanggaran dan ketidakjelasan data DPT adalah hal utama yang menyebabkan gesekan politik kerap terjadi di antara tim sukses khususnya antara KaJi dan KarSa. tim sukses dan masa pendukung KaJi melakukan unjuk rasa dan aksi masa.html yang diakses pada 5 September 2009 . www. Angka partisipasi masyarakat dalam Pilkada Jawa Timur putaran kedua yang berlangsung 4 November 2008 lalu ternyata masih sangat rendah.669. masa tim KaJi mengepung kantor KPU guna menekan KPU agar tidak mengumumkan KarSa sebagai kandidat terpilih dikarenakan kecurangan yang terjadi secara masif. Pelanggaran dan ketidak-jelasan data daftar pemilih tetap oleh KPU disinyalir sebagai akibat tingginya angka golput pada pelaksanaan pemilihan gubernur di daerah. Eksekutif Indo Barometer. Berulang kali.805 suara atau 47%. Mohamad Qodari menyatakan bahwa perlu adanya kedawasaan berpolitik dari pasangan calon jika tidak maka konflik horizontal Pilkada Jawa Timur bisa berubah menjadi malapetaka yang lebih destruktif dari apa yang terjadi di Maluku Utara. Tidak berbeda dengan kasus konflik Pilkada di daerah yang lain.83% dan di Jawa Tengah melebihi angka tersebut dan mencapai hampir 50% masyarakat Jawa Tengah tidak menyuarakan pilihan politik mereka. Pernah. Sesuai dengan perhitungan KPUD Jawa Timur. walau cenderung damai.80%.20% sementara itu KaJi meraih 7. atau mungkin belum siap.lapangan berbicara lain. Data kecurangan pilkada yang kemudian memicu konflik antar masa dan tim sukses calon kepala daerah banyak ditemukan di lapangan.

Sebagaimana yang dilaporkan oleh the Wahid Institute. konflik Pilkada telah meluas hingga menyentuh tatanan relasi sosial antar agamawan. Jumat 26 September 2008. Juga. Situasi ini membuat derajat ketampakan konflik horizontal semakin dekat dengan masyarakat. hubungan antar ulama dan pesantre menjadi renggan dan rapuh.06 Juli 2005. Modus yang digunakan adalah “Nomor Induk Kependudukan” (NIK) digandakan untuk beberapa pemilih serta pemilik dengan NIK dan nama yang sama tetapi alamat tinggal berbeda. Pemenang sebuah Pilkada yang curang tidak akan memiliki wibawa dan legitimasi yang kuat untuk memimpin sebuah daerah. dalam Mengelola Potensi Konflik Pilkada. Dalam masalah ini.15 Di Jawa Timur.thewahidinstiture. Para ulama dan pesantren kini telah mengarah pada golongan-golongan. situasi ini akan menjadikan suasana semakin keruh. Tuntutan dari sejumlah pihak untuk mempertanyakan efektifitas Pilkada sebagai jembatan menuju demokratisasi lokal muncul kembali. Dengan kenyataan ini.16 Lebih berbahaya lagi. dimuat di surat kabar harian Kompas. terjadi pengotakan pesantren yang ada di Madura. Pilkada di Kabupaten Sampang yang diperparah dengan pemilihan ulang telah merusak hubungan kultural antara kiai dengan santri. 16 www. NU yang 14 Syamsuddin Haris. Praktik curang pada Pilkada Jawa Timur merupakan kecurangan yang tersistematis.org yang diakses pada 27 September 2009 .14 Apalagi pada level daerah. Praktik manipulasi daftar suara pemilih merupakan pelanggaran serius dalam proses pemilu dan akhirnya mengancam demokrasi di tingkat lokal hingga nasional. 15 Ryas Raasyid dalam Suara Karya .Konflik memanas dan memuncak pada saat pasangan calon KaJi memaksa KPU pusat untuk segera membentuk dewan kehormatan KPU untuk menghakimi anggota KPUD Jawa Timur yang diduga melakukan kecurangan data fiktif. peneliti utama Pusat Penelitian Politik LIPI. masyarakat memiliki kedekatan hubungan emosional dan personal dengan calon kepala daerah mereka. Beberapa pihak menduga adanya pemanfaatan pola intervensi dan manipulasi data pemilih hingga ratusan ribu suara pemilih yang digandakan. Akibatnya. maka legitimasi rendah pemenang Pilkada Jawa Timur dan banyaknya kecurangan yang ditemukan di lapangan pada saat pelaksanaan Pilkada akan menjadi sumber delegitimasi dan instabilitas kepala daerah dan pemerintah daerah terpilih selama lima tahun masa jabatan.

Pilkada Langsung Harus Segera Dihentikan. maka potensi “kudeta” politik lokal yang ditandai dengan aksi boikot politik oleh masa akan merajalela dan mencederai proses demokratisasi. Belum lagi dengan orang Madura yang lebih menonjolkan kepemilikan sebagai orang Madura daripada orang Jawa Timur. Meskipun masyarakat Jawa Timur masuk dalam kategori suku Jawa. Nuansa etnisitas ditandai dengan kedekatan emosional antar kerabat dan rasa eksklusif satu kelompok suku dengan kelompok suku yang lain. tapi ada beberapa pengecualian dan excuses di sini. menyatakan hal demikian. suku Madura tidak ingin dikatakan sama secara budaya dengan suku Jawa.nu. Bagi NU. PB NU menarik konklusi bahwa penyelenggaraan Pilkada telah memancing berbagai kenaifan dan ironi yang berseberangan dengan tujuan awal dari Pilkada. Jika demikian. Orang Jember tentu berbeda secara kultural dengan orang Surabaya. konflik semakin meluas.18 Situasi kemajemukan sosial dan budaya seperti ini sering menyeret Jawa Timur dalam kasus konflik etnik yang dituding sebagai aksi 17 Berita online. Oleh karena itu perbedaan-perbedaan kultural ini keduanya disebut sebagai sebuah kelompok etnik yang berbeda walaupun keduanya sama-sama suku Jawa di Jawa Timur.or. masyarakat Jawa Timur dikenal dengan keragaman suku dan kekentalan nuansa etnisitas (ethnicity). beredar sebuah hipotesa bahwa keragaman suku di Jawa Timur menjadi polemic tersendiri bagi terlaksananya pemilihan kepala daerah langsung guna mewujudkan akselerasi demokratisasi di daerah tersebut. Dampak Sosial Budaya: Rekonstruksi Diskursus Sosial Budaya Seringkali.php?lang=id&menu=news_vie&news_id=14797 yang diakses pada November 2009 di 10 .17 Konflik horizontal Pilkada akan memperkeruh suasana politik dan berimbas pada delegitimasi pemerintahan yang terpilih. demikian pula sebaliknya..“terkorbankan” dalam Pilkada Jawa Timur setahun lalu. Dalam banyak literatur antropologi Indonesia. dapat diakses http://www. selama ini Pilkada tidak banyak memberikan bukti akan perbaikan politik dan bidang kehidupan lainnya. Justru. orang Jember tidak ingin disebut sebagai orang Surabaya. Misalnya. Keragaman suku Jawa Timur dibalut dengan kebanggaan atas symbol-simbol kebudayaan yang dieratkan dengan garis keturunan (keturunan ulama atau tidak). Sehingga.id/page. Pilkada hanya memperluas friksi sosial politik.

Jika dilihat dari sisi pembangunan dan transformasi ekonomi. konflik Banyuwangi karna kasus pocong yang dipelintir sebagai politisasi dari kelompok elit politik tertentu di Jakarta. tapi konflik pilkada yang terjadi di Tuban tetap telah melukai perjalanan demokratisasi di Indonesia. Namun di saat Pilkada Tuban berlangsung. Isu ini sengaja dihembuskan untuk mencekal salah satu calon wakil bupati yang berasal dari etnis China. ternyata masyarakat Tuban masih terlalu mudah disulut api provokasi. Namun. Pada saat pelaksanaan Pilkada di Tuban misalnya. Tuban dikenal sebagai kota yang tenang dan aman dari ancaman konflik etnik. bupati incumbent.id/Student/GSB/IAD/Dinamika %20Kelompok%20Etnik. pendapa kabupaten. Semisal. Isu SARA juga merebak di Tuban. sehingga diskursus ini menimbulkan kekhawatiran oleh 18 Kusnadi dalam Dinamika Kelompok Etnik.rah%20%28Konflik%20Sosial%20dalam.politisasi. diduga melakukan banyak kecurangan dan rekayasa sehingga memantik aksi anarkis masa.ciputra. Etnisitas & Pembangunan Daerah (Konflik Sosial dalam Perebutan Sumberdaya).. Go Tjong Ping.. Dapat diakses di http://share. kerusuhan melanda Tuban. Lemlit UNEJ. Walaupun banyak pihak menyatakan konflik hanya bersifat sementara. Sekitar 5000 orang mengamuk dan membakar kantor Komisi Pemilihan Umum Kabupaten setempat.ac.pdf yang diakses pada 15 November 2009 . Tuban mengalami percepatan yang cukup pesat. Sabtu 29 April 2006. Sebelum Pilkada. hotel. Dari fakta kasus Tuban tersebut kita bisa menarik hipotesis sementara bahwa beberapa lapisan masyarakat Jawa Timur memiliki kerentanan yang relative tinggi terhadap potensi konflik Pilkada. isu primordialisme sudah menjadi senjata lama bagi para kandidat untuk saling menjatuhkan kompetitor politiknya. yaitu ‘anti China’ atau orang ‘China tidak boleh jadi bupati’. makalah yang dipresentasikan dalam seminar rutin CERIC Universitas Jember. namun konflik Pilkada telah mengubah situasi tenang tersebut. Haeny. Meskipun konflik etnik tidak pernah melanda Tuban. Dalam konteks pelaksanaan Pilkada di Jawa Timur. dan stasiun pengisian bahan bakar untuk umum. rumah pribadi. Sabtu 02 Juli 2005. Terlepas dari kondisi sosial ekonomi yang tidak terlalu terbelakang.%20Etni.

Tipekal masyarakat Surabaya yang metropolitan dan cosmopolitan menjadikan masyarakat lebih pragmatis dalam berpolitik. Harus diakui bahwa selama masa kampanye pemilihan gubernur Jawa Timur. Pengerahan masa oleh tim sukses yang dianggap belum siap kalah tidak mampu memaksa publik melakukan tindakan anarkis. Bagi mereka. sekarang kita bisa melihat bahwa Jawa Timur berhasil membuktikan bahwa kisruh sengketa pilkada hanya terjadi antara tim sukses saja. Hal ini dimanfaatkan oleh pasangan KarSa yang menjual jargon ‘masyarakat santri’ dalam strategi kampanyenya. sebelum penyelenggaraan pemunguan suara putaran pertama. Selain itu. Akan tetapi. KPU yang tidak jelas atau bahkan sikap pragmatis para . ketampakan figure yang maju dalam Pilkada tidak terlalu besar seperti kedekatan emosional dalam Pilkada kabupaten. dan Madura serta pernyataan dan anggapan miring tentang pilihan politik masyarakat Jawa Timur tidak semuanya terjadi selama pemilihan gubernur Jawa Timur. kelima pasang calon sering membawa isu etnik sebagai bumbu politiknya. Peliknya DPT. Beberapa kasus konflik etnis dan konflik Pilkada kabupaten memang pernah menerpa Jawa Timur tetapi tidak untuk pemilihan gubernur. Meskipun banyak pelanggaran dan kecurangan yang terjadi dalam Pilkada Jawa Timur. Tentu. Masyarakat Jawa Timur memang kental dengan nilai agama. beberapa pengasuh pondok pesantren di Jember mengakui bahwa masyarakat Jawa Timur masih mengedepankan garis keturunan dan latar belakang agama dibandingkan dengan target pembangunan dan program politik lainnya. Banyuwangi.beberapa pihak jika pasangan kandidat membawa isu primordialisme dalam Pilkada Jawa Timur seperti yang terjadi di Pilkada beberapa Kabupaten di Jawa Timur sebelumnya. ini bisa memancing sensitivitas masyarakat Jawa Timur. Kondisi ini adalah antithesis dari apa yang pernah diduga sebelumnya. situasi yang terjadi di Tuban. Di banyak baliho. Tapi tidak berarti agama selamanya bisa dipelintir oleh kepentingan politik. Hal ini terlihat dari imunitas politik masyarakat Jawa Timur paska Pilkada putaran pertama. putaran kedua dan penghitungan ulang di tiga kabupaten di Madura. Masyarakat Jawa Timur sekarang cenderung memilih untuk bersikap secara rasional. pamflet dan atribut kampanye lainnya mengandung kalimat yang mengandung sentiment agama yang cukup kuat. secara umum dapat dikatakan tidak ada social disorder yang masif. Paska konflik Pilkada Jawa Timur ini.

kiai tidak serta merta menyeret masyarakat Jawa Timur masuk ke dalam ring of fire. Meskipun Khafifah . Bagi mereka. namun masyarakat Jawa Timur dengan kekentalan ketaatan pada pemuka agama telah membukakan hati bagi sosok perempuan untuk terlibat lebih jauh dalam wilayah sosial dan politik masyarakat Jawa Timur. Konflik Pilkada Jawa Timur telah memaksa tim KaJi untuk berjuang dengan maksimal. Khafifah merepresentasikan perempuan NU yang cakap dalam berpolitik dan kepemimpinan nasional. Dampak yang kedua adalah mulai diakuinya keberadaan perempuan dalam dunia perpolitikan oleh masyarakat Jawa Timur. Khafifah dinilai oleh banyak pengamat politik lokal sebagai figure calon pemimpin yang mengetahui akar permasalahan di Jawa Timur. Hal ini menandakan adanya perubahan paradigmatik masyarakat Jawa Timur dalam memandang dan memposisikan perempuan pada tempat dan dengan kesempatan yang sama dengan kaum adam dalam kontes politik. masih ada pemikiran konservatif yang mendiskreditkan peran perempuan dalam wilayah kemajemukan sosial. Kondisi ini adalah cikal bakal rekonstruksi sosial budaya Jawa Timur. Mereka justru bisa diantisipasi lebih cepat dan cenderung kooperatif. Konflik pilkada tidak selamanya berujung pada konflik yang anarkis. membiarkan perempuan memimpin sebuah negeri adalah sebuah penghianatan agama. Para ulama tradisionil memandang tabu bila perempuan menjadi pemimpin skala kewilayahan provinsi. Di tengah arus modernisasi yang melanda masyarakat di wilayah periperi di Jawa Timur. Meskipun masifnya usaha beberapa oknum yang meminimalisir pengaruhnya dalam Pilkada. Tapi juga bisa mengerucut pada proses pendewasaan manusia yang sebenarnya. Perilaku politik para tim sukses KaJi seolah menguatkan proses pencitraan peran perempuan dalam pelembagaan demokratisasi di Jawa Timur. Khafifah Indar Parawansa telah akan menjadi gubernur perempuan pertama di Indonesia jika ia berhasil melaju dan menyingkirkan rival politiknya pada Pilkada Jawa Timur yang lalu. Ini adalah intangible positive impact (dampak positive yang tak terlihat) dari konflik pilkada Jawa Timur. Masyarakat Jawa Timur nota bene nya adalah masyarakat dengan tingkat homegenitas ideologi yang cukup tinggi.

anggaran biaya penyelenggaraan satu putaran Pilkada provinsi rata-rata mencapai sekitar Rp 500 miliar.isei. Robert A Dahl mungkin akan membenarkan hal itu karena memang demokrasi menimbulkan efek detrimental yang tidak hanya populis bagi kaum elit. dan adanya kesejahteraan. terdapatnya kesempatan untuk menentukan posisi diri individu. tapi Khafifah justru berhasil melenggang ke putaran kedua pemilihan kepala daerah Jawa Timur. Jakarta 16 November 2007. selama ini terdapat pandangan bahwa demokrasi hanya akan berjalan dengan baik di Negara yang telah memiliki tingkat kesejahteraan tinggi.19 Paling tidak. pemekaran memakan biaya pemerintah daerah dalam jumlah yang sangat tidak minimalis. pemerintah paling tidak harus membiayai terselenggaranya Pilkada di sebanyak 33 provinsi dan 465 kabupaten/kota. Berdasarkan catatan empiris.id/page. dan Demokrasi Lokal. Dengan demikian.awalnya hanya dianggap calon yang underdog. selain untuk menghindari tirani politik. Menurut pandangannya. Pemekaran daerah telah menjebak pemerintah pada pengeluaran yang sangat tinggi.or. demokrasi juga dimaksudkan untuk menciptakan tujuang-tujuan yang lain. terdapatnya kesamaan politik.php? id=5jan094 yang diakses pada 15 AGustus 2009 . Sejalan dengan teorisasi demokrasi oleh Dahl. Akuntabilitas Politik. 20 Sudaryadi dalam Mengendalikan Pemekaran Wilayah. Dampak Ekonomi Demokrasi itu memang mahal. Sementara untuk satu putaran Pilkada kabupaten/kota menghabiskan dana sebesar Rp 25 miliar. Di antaranya adalah terwujudnya hak-hak esensial individu. 20 19 Kacung Maridjan dalam Pilkada Langsung: Resiko Politik. pemerintah Indonesia berniat untuk memasifkan arus demokrasi melalui pemekaran wilayah. hal 13. Barangkali ini adalah kalimat pertama yang seringkali masyarakat lontarkan jika mereka harus berbicara tentang demokrasi. jumlah kebutuhan anggaran biaya yang harus disediakan pemerintah untuk kepentingan Pilkada adalah sebesar Rp 28 triliun. Pemekaran wilayah akhirnya menjadi rutinitas pemerintah SBY sejak lima tahun silam. dapat dilihat di http://www. munculnya moral otonomi. Biaya Ekonomi. Ditambah dengan pelaksanaan Pilkada. Bayangkan juga.

pilkada tidak dapat dikelola dengan baik maka penyalahgunaan wewenang berupa bisnis keamanan oleh oknum tertentu dalam mengatasi konflik pilkada akan semakin sering terjadi. Kerawanan itu berupa keamana yang menjadi lahan bisnis oleh aparat penegak keamanan. Dana ini belum termasuk biaya yang harus dikeluarkan untuk menyelenggarakan pemungutan suara ulang dan penghitungan ulang di tiga kabupaten di Madura.htm yang diakses pada 10 Oktober 2009 . maka terdapat konsekuensi kerawanan keamanan yang cukup tinggi. Haryadi. Dampak Hukum dan Keamanan Secara umum Pilkada Jawa Timur (pemilihan gubernur) tidak berdampak pada terancamnya system keamanan. “Eksploitasi kerawanan Pilkada yang berlebihan bisa melahirkan praktik bisnis keamana. Dan. yang dirugikan adalah masyarakat dan pemerintah daerah setempat. Kondisi ini tampak berbanding terbalik dengan situasi yang sedang dihadapi oleh korban lumpur lapindo. Jika penyalahgunaan ini terus terjadi maka pihak yang menjadi korban adalah masyarakat dan pemerintah daerah setempat. Putaran pertama Pilkada Jawa Timur mampu mencapai biaya sebesar Rp 500 miliar. biaya ekonomi yang tinggi tidak disertai dengan empati sosial politik pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Ironis memang. Disusul dengan putaran kedua yang berhasil menelan APBD sebesar Rp 200 miliar. jika kita melihat pada pelaksanaan Pilkada di 16 kabupaten.Pilkada Jawa Timur dan sengketa politik yang mewarnainya telah memecah rekor nasional sebagai Pilkada termahal. Jika kemudian.suaramerdeka. Hal ini senada dengan apa yang diungkapkan oleh seorang pengamat politik FISIP Universitas Airlangga Surabaya. Tetapi. karena alokasi anggaran untuk keamanan menjadi berlipat ganda”21 21 Pilkada Rawan Timbulkan Bisnis Keamanan.com/harian/0502/26/nas09. www. Total biaya yang hampir mencapai Rp 800 miliar ini tidak disertakan dengan tingkat partisipasi politik masyarakat yang memuaskan dengan angka golput hampir mencapai 50%.

Pilkada dan Dinamika Politik Lokal. Pustaka Pelajar. Leo.Haryadi juga menambahkan. Baginya. dengan konflik horizontal Pilkada Jawa Timur. Chairul. berdasarkan informasi yang dia dapat dari penemuannya diketahui bahwa ada pematokan anggaran biaya yang dilakukan oleh oknum tertentu. . dengan melebarnya penyelesaian kasus sengketa Pilkada Jawa Timur berdampak pada system perundang-udangan yang masih belum akomodatif atas terselenggaranya Pilkada yang lebih professional. 2009 Anam. maka ada kecenderungan ketidakpercayaan pada independensi para penegak hukum dalam menindaklanjuti pihak-pihak yang diduga melakukan penyelewengan wewenang. Meskipun calon gubernur terpilih telah dilantik. Diduga. Tambahan pula. Masih berkaitan dengan DPT. Pilkada Jawa Timur paling kotor: Ada Kecurangan dibiarkan. anggaran biaya ini dianggap terlalu besar dan mengalami eksploitasi besar-besaran.artikel. Wahyudi Purnomo dan Arif Budiman. dampak hukum dari konflik Pilkada Jawa Timur menuntut profesionalitas dan independensi dari para penegak hukum seperti Polri dan Kejaksaan Agung. konflik ini juga dipicu oleh intervensi patronase politik para tim sukses yang sejatinya duduk di lembaga legislative. Pihak polres tertentu (setingkat kabupaten/kota) mematok biaya sekitar Rp 3 miliar untuk pengamanan pilkada di salahsatu kabupaten di Jawa Timur. Kafifah menduga ada keterlibatan anggota KPU. Selain itu. Yogyakarta. namun kasus pelanggaran hukum tetap harus diusut tuntas jika tidak maka konflik horizontal Pilkada Jawa Timur akan meluas dan melebar hingga paska konflik pilkada. Daftar Pustaka Agustino. Kekecewaan tim sukses atau bahkan rekan separtai atas kekalahan kandidat yang diusung oleh partai politiknya menghasilkan lobi politik yang curang dan tidak mewakili semangat demokratis itu sendiri. Sementara itu. Dalam kasus pelanggaran Pilkada Jawa Timur telah mengakibatkan mantan pejabat polda Jawa Timur mengundurkan diri karena kecewa dengan proses penyidikan kasus data DPT fiktif.

and Ted Robert Gurr. Journal of Conflict Resolution Vol. dalam Year Book 2005 Politik BBM. J.S. DC: U. artikel tertanggal 2 Juni 2008 Gurr. Nur. Institute for Peace Dinamika Konflik dalam Transisi Demokrasi: Informasi Potensi Konflik dan Potensi Integrasi Bangsa (Nation and Character Building). International IDEA. Minorities at risk. 1998. Early warning of communal conflict and genocide. 1 John Davis.S.Amirudin dan A. 1998. Lanham. Jenkins. Heru. Political Crisis. Pustaka Pelajar. Berpegang pada pedoman politik NU. 2000. Chang. 1998.Peter. William. 1996. Jogjakarta. 1996. and Kurt Schock. Early warning of ethnopolitical rebellion: In Preventive measures. MD: Rowman & Littlefield -------------. . Kompas 2 Februari 2001 Chester A. 2005. and Barbara Harff. MD: Rowman & Littlefield. 1986. Demokrasi dan Konflik yang Mengakar: Sejumlah Pilihan untuk Negosiator. Faishal. Journal of Conflict Resolution 4:553-79. Ben. 2006 Cahyono. Thurber. Washington. Jakarta. Preventive measures: Building risk assessment and crisis early warning systems. Deputi Bidang Pengkajian dan Pengembangan Sistem Informasi Lembaga Informasi Nasional. dan Reilly. Washington. Managing global chaos: Sources of and responses to international conflict. Ted Robert. 2001. 2004. (ed. 45 No. Jakarta. and Mark Lichbach. Craig Jenkins. Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Zainal Bisri. Institute for Peace Harris. NY Westview Press. Jakarta. James A. J. Dimensi etnis konflik sosial. and Reconstruction: A Framework for the Early Warning of Political System Vulnerability. “Conflict-Carrying Capacity. Campaigns and Elections American Style. Forecasting internal conflict: A competitive evaluation of empirical theories. 2004 Doug.). 2nd edition. Ted Robert. Craig Bond. DC: U. Lanham. and Fen Osler Hampson. 1997. Crocker. Pilkada Langsung: Problem dan Prospek: Sketsa Singkat Perjalanan Pilkada 2005. Konflik dan Pelanggaran pada Pilkada Langsung 2005: Elite Politik Hendak Kemana. “Mapping mass political conflict and civil society”. Charles Taylor. Tokyo: United Nations University Press Gurr. Comparative Political Studies -------------.

Kisruh DPT Pilkada Jatim. Yoyarib. yang diselenggarakan Dewan Pakar Propinsi Jawa Timur.. Skripsi tidak diterbitkan Muchith Muzadi. dalam Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial. Majalah Matan: Pilkada Jawa Timur. 21 Oktober 2008. Artikel disampaikan dalam "in house disscusion" komunikasi partai politik yang diselenggarakan oleh Komunitas Indonesia untuk demokrasi ( KID ) 17 November 2007.suarakaryaonline.. Agama dan Resolusi Konflik dalam Pilkada. Kacung. Universitas Airlangga.. 2006. edisi 11 Mei 2008. Abdul. Marijan. 16 November 2008 Mau. akuntabilitas politik dan demokrtasi lokal.. Paulus. Ridha. kannutuan. 2005. 58/XXVIII/IV/2005. 2006. beaya ekonomi.com Najib. Ichsan. Artikel. Orientasi politik warga Muhammadiyah ( Studi deskriptif tentang orientasi politik warga Muhammadiyah Surabaya menjelang Pilgub Jatim 2008. Sofwan.com Malik.Pengelolaan dan Antisipasi Ancaman Konflik di Jawa Timur. 2006 Maliki. Khalista Surabaya 2006 Mujiran. http://www. Zainuddin. tanggal 14 Juni 2006 di Balitbang Propinsi Jawa Timur.Karim Elha H. KPU jangan sampai diintervensi. Jakarta. Unisia No. Polda Jatim antisipasi kecurangan. Mohammad. Maya. . . UII. Mengenal Nahdlatul Ulama. Pilkada langsung: resiko politik. Konflik Pilkada Ujian Demokrasi Lokal. www.Makalah disampaikan dalam Diskusi . Kompas.. Muhammadiyah dalam Pilkada. Peta dan Ancaman Konflik di Jawa Timur. Yogyakarta. Manual Pelatihan Pembangunan Perdamaian dan Pencegahan Konflik. Koran Tempo. SERAP.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->