LEMBAGA KEBIJAKAN PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH

REPUBLIK INDONESIA
PERATURAN
KEPALA LEMBAGA KEBIJAKAN PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH
NOMOR : 7 T AHUN 2011
TENTANG
PETUNJUK TEKNIS OPERASIONAL DAFT AR HIT AM
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
KEPALA LEMBAGA KEBIJAKAN PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH,
Menimbang a. bahwa Pengadaan Barang/Jasa yang transparan dan akuntabel sangat
diperlukan untuk melindungi Penyedia Barang/Jasa atau Penerbit
Jaminan yang jujur dan bersaing secara sehat. sehingga didapatkan
Penyedia Barang/Jasa atau Penerbit Jaminan yang andal serta dapat
dipercaya;
b. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 134 ayat (2) Peraturan
Presiden Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2010 tentang
Pengadaaan Barang/Jasa Pemerintah diperlukan suatu petunjuk teknis
operasional tentang daftar hitam dalam Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah;
bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a
dan b, perlu menetapkan Peraturan Kepala Lembaga Kebijakan
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah;
Mengingat 1. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2010 Tentang
Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah;
1
2. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 106 Tahun 2007 Tentang
Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah;
3. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 101/M tahun 2010
tentang Pengangkatan Pejabat Eselon I Lembaga Kebijakan Pengadaan
Barang/Jasa Pemerintah;
4. Peraturan Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah Nomor PER.001/KEP.LKPP/05/2008 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah;
MEMUTUSKAN:
Menetapkan PERATURAN KEPALA LEMBAGA KEBIJAKAN PENGADAAN
BARANG/JASA PEMERINTAH TENT ANG PETUNJUK TEKNIS
OPERASIONAL DAFT AR HIT AM.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Bagian Kesatu
Istilah dan Pengertian
Pasal1
Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan:
1. Daftar Hitam ada/ah daftar yang memuat identitas Penyedia Barang/Jasa dan/atau
Penerbit Jaminan yang dikenakan sanks; oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna
Anggaran berupa larangan ikut serta dalam proses pengadaan barang/jasa diseluruh
Kementerian/Lembaga/Satuan K e ~ a Perangkat Daerah/lnstitusi lainnya.
2. Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang selanjutnya disebut dengan Pengadaan
Barang/Jasa adalah kegiatan untuk memperoleh Barang/Jasa oleh
Kementerian/Lembaga/Satuan K e ~ a Perangkat Daerah/lnstitusi lainnya yang prosesnya
dimulai dar; perencanaan kebutuhan sampai diselesaikannya seluruh kegiatan untuk
memperoleh barang/jasa.
2
3. Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah/lnstitusi lainnya, yang selanjutnya
disebut KlLlD/I adalah instansilinstitusi yang menggunakan Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara (APBN) dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
4. Kepala Daerah adalah Gubemur, Bupati, atau Walikota.
5. Lembaga Lain adalah mitra pemerintah atau lembaga pemberi pinjaman dan hibah luar
negeri.
6. Pengguna Anggaran yang selanjutnya disebut PA adalah pejabat pemegang kewenangan
penggunaan anggaran K/LID/I atau pejabat yang disamakan pada Institusi lain Pengguna
APBN/APBD.
7. Kuasa Pengguna Anggaran yang selanjutnya disebut KPA adalah pejabat yang
ditetapkan oleh PA untuk menggunakan APBN atau ditetapkan oleh Kepala Daerah untuk
menggunakan APBD.
8. Pejabat Pembuat Komitmen yang selanjutnya disebut PPK adalah pejabat yang
bertanggung jawab atas pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa.
9. Unit Layanan Pengadaan yang selanjutnya disebut ULP adalah unit organisasi
pemerintah yang berfungsi melaksanakan Pengadaan Barang/Jasa di K/L/DII yang
bersifat permanen, dapat berdiri sendin atau melekat pada unit yang sudah ada.
10. Pejabat Pengadaan adaJah personil yang memiliki sertifikat keahlian Pengadaan
Barang/Jasa yang melaksanakan Pengadaan Barang/Jasa.
11. Penyedia Barang/Jasa adalah badan usaha atau orang perseorangan yang menyediakan
Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Konsultansi/Jasa Lainnya.
11
12. Penerbit Jaminan adalah Bank Umum, Perusahaan Asuransi atau Perusahaan
Penjaminan yang mengeluarkan jaminan untuk diserahkan oleh Penyedia Barang/Jasa
kepada PPKlULP untuk menjamin terpenuhinya kewajiban Penyedia Barang/Jasa
sebagaimana dipersyaratkan dalam Dokumen Pengadaan/Kontrak Pengadaan
Barang/Jasa.
13. Kontrak Pengadaan Barang/Jasa yang selanjutnya disebut Kontrak adalah perjanjian
tertulis antara PPK dengan Penyedia Barang/Jasa.
14. Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang selanjutnya disebut LKPP
adaJah Jembaga pemerintah yang bertugas mengembangkan dan merumuskan kebijakan
Pengadaan Barang/Jasa sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Presiden Republik
3
Indonesia Nomor 106 Tahun 2007 tentang Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa
Pemerintah.
15. Layanan Pengadaan Secara Elektronik yang selanjutnya disebut LPSE adalah unit k e ~ a
KlLlD/I yang dibentuk untuk menyelenggarakan sistem pelayanan Pengadaan
Barang/Jasa secara elektronik.
16. Portal Pengadaan Nasional adalah pintu gerbang sistem informasi elektronik yang terkait
dengan informasi Pengadaan Barang/Jasa secara nasional yang dikelola oleh LKPP
dengan alamat situs www.inaproc.lkpp.go.id.
Bagian Kedua
Ruang Lingkup
Pasal 2
Ruang lingkup Peraturan Kepala ini meliputi Penyedia Barang/Jasa dan/atau Penerbit Jaminan
yang terlibat dalam:
a. Pengadaan Barang/Jasa di lingkungan KlLlD/I yang pembiayaannya baik sebagian atau
seluruhnya bersumber dari APBN/APBD;
b. Pengadaan Barang/Jasa untuk investasi di lingkungan Bank Indonesia, Badan Hukum
Milik Negara dan Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah yang
pembiayaannya sebagian atau seluruhnya dibebankan pada APBN/APBD.
BAB II
PELANGGARAN YANG DIKENAKAN SANKSI DAFT AR HITAM
Pasal3
(1) Penyedia Barang/Jasa pada proses pemilihan dikenakan sanksi Daftar Hitam apabila:
a. terbukti melakukan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme, kecurangan dan/atau pemalsuan
dalam proses Pengadaan yang diputuskan oJeh instansi yang berwenang;
b. mempengaruhi ULP/Pejabat PengadaanlPPKlpihak lain yang berwenang dalam
bentuk dan cara apapun, baik langsung maupun tidak langsung dalam penyusunan
Dokumen Pengadaan dan/atau HPS yang mengakibatkan terjadinya persaingan tidak
sehat;
4
c. mempengaruhi ULPlPejabat Pengadaan/pihak lain yang berwenang dalam bentuk
dan cara apapun, baik langsung maupun tidak langsung guna memenuhi
keinginannya yang bertentangan dengan ketentuan dan prosedur yang telah
ditetapkan dalam Dokumen Pengadaan/Kontrak, dan/atau ketentuan peraturan
perundang-undangan;
d. melakukan persekongkolan dengan Penyedia Barang/Jasa lain untuk mengatur
Harga Penawaran diluar prosedur pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa, sehingga
mengurangi/menghambat/memperkecil dan/atau meniadakan persaingan yang sehat
dan/atau merugikan orang lain;
e. membuat dan/atau menyampaikan dokumen dan/atau keterangan lain yang tidak
benar untuk memenuhi persyaratan Pengadaan Barang/Jasa yang ditentukan dalam
Dokumen Pengadaan;
f. mengundurkan diri dari pelaksanaan Kontrak dengan alasan yang tidak dapat
dipertanggungjawabkan dan/atau tidak dapat diterima oleh ULP/Pejabat Pengadaan;
g. membuat dan/atau menyampaikan dokumen dan/atau keterangan lain yang tidak
benar untuk memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam Dokumen Pengadaan;
h. mengundurkan diri pada masa penawarannya masih berlaku dengan alasan yang
tidak dapat diterima oleh ULP/Pejabat Pengadaan;
i. menolak untuk menaikkan nilai jaminan pelaksanaan untuk penawaran dibawah 80%
HPS;
j. mengundurkan diri/tidak hadir bagi calon pemenang dan calon pemenang cadangan
1 (satu) dan 2 (dua) pada saat pembuktian kualifikasi dengan alasan yang tidak dapat
dite5ima oleh ULP/Pejabat Pengadaan dalam pelaksanaan pengadaan
barang/pekerjaan konstruksiljasa lainnya;
k. mengundurkan diri/tidak hadir bagi pemenang dan pemenang cadangan 1 (satu) dan
2 (dua) pada saat klarifikasi dan negosiasi teknis dan biaya dengan alasan yang tidak
dapat diterima oleh ULP/Pejabat Pengadaan dalam pelaksanaan pengadaan jasa
konsultansi;
I. memalsukan data tentang Tingkat Komponen Dalam Negeri;
m. mengundurkan diri bagi pemenang dan pemenang cadangan 1 (satu) dan 2 (dua)
pada saat penunjukan Penyedia Barang/Jasa dengan alasan yang tidak dapat
diterima oleh PPK; danlatau
5
n. mengundurkan diri dari peraksanaan penandatanganan kontrak dengan arasan yang
tidak dapat dipertanggungjawabkan dan/atau tidak dapat diterima oleh PPK.
(2) Penyedia Barang/Jasa yang terah terikat kontrak dikenakan sanksi Daftar Hitam apabila:
a. terbukti merakukan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme, kecurangan dan/atau pemalsuan
dalam proses pelaksanaan kontrak yang diputuskan oleh instansi yang berwenang;
b. menolak menandatangani Berita Acara Serah Terima Pekerjaan;
c. mempengaruhi PPK dalam bentuk dan cara apapun, baik langsung maupun tidak
langsung guna memenuhi keinginannya yang bertentangan dengan ketentuan dan
prosedur yang telah ditetapkan dalam Kontrak, dan/atau ketentuan peraturan
perundang-undangan;
d. melakukan pemalsuan dokumen yang berkaitan dengan pelaksanaan kontrak
termasuk pertanggungjawaban keuangan;
e. melakukan perbuatan lalai/cidera janji dalam melaksanakan kewajiban dan tidak
memperbaiki kelalaiannya dalam jangka waktu yang telah ditetapkan sehingga
dilakukan pemutusan kontrak sepihak oleh PPK;
f. meninggalkan pekerjaan sebagaimana yang diatur kontrak secara tidak
bertanggungjawab;
g. memutuskan kontrak secara sepihak karena kesalahan Penyedia Barang/Jasa;
dan/atau
h. tidak menindaklanjuti hasil rekomendasi audit pihak yang berwenang yang
mengakibatkan timbulnya kerugian keuangan Negara.
(3) Penerbit Jaminan dikenakan sanksi Daftar Hitam apabila tidak mencairkan jaminan
#
dengan tanpa syarat (unconditional) sebesar nilai Jaminan dalam waktu paling lambat 14
(empat belas) hari kerja setelah surat pernyataan wanprestasi dari PPKlULP diterima oleh
Penerbit Jaminan.
Pasal4
(1) Sanksi Daftar Hitam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) dikenakan kepada
orang perserorangan atau Badan Usaha dan individu yang menandatangani Penawaran.
(2) Sanksi Daftar Hitam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) dikenakan kepada
orang perseorangan atau Badan Usaha dan individu yang menandatangani Kontrak.
6
(3) Sanksi Daftar Hitam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) dikenakan kepada
penerbit jaminan.
(4) Penetapan sanksi Daftar Hitam bagi Penyedia Barang/Jasa berbentuk Badan Usaha
diberlakukan dengan ketentuan jika:
a. badan usaha yang berkedudukan sebagai Pusat dikenakan sanksi Daftar Hitam,
maka sanksi tersebut juga berlaku untuk seluruh kantor cabang/perwakilan Badan
Usaha yang bersangkutan; dan
b. badan usaha yang berkedudukan sebagai Kemitraan. maka sanksi Daftar Hitam
dikenakan kepada masing-masing Badan Usaha.
(5) Penetapan sanksi Daftar Hitam bagi Penerbit Jaminan diberlakukan dengan ketentuan
jika:
a. penerbit jaminan yang berkedudukan sebagai Pusat dikenakan sanksi Daftar Hitam,
maka sanksi tersebut juga berlaku untuk seluruh kantor cabang/perwakilan Badan
Usaha yang bersangkutan;
b. penerbit jaminan yang berkedudukan sebagai Cabang/Perwakilan dikenakan sanksi
Daftar Hitam. maka sanksi tersebut hanya berlaku untuk cabang/perwakilan Badan
Usaha yang bersangkutan.
(6) Sanksi Daftar Hitam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 berupa larangan untuk
mengikuti kegiatan Pengadaan Barang/Jasa di seluruh KlUD/I selama 2 (dua) tahun
kalender.
(7) Sanksi Daftar Hitam berlaku sejak tanggal ditetapkan.
~
BAB III
TATACARA PENETAPAN SANKSI DAFTAR HITAM
Bagian Kesatu
Pejabat Yang Berwenang Menetapkan Sanksi Daftar Hitam
Pasal5
PA/KPA berwenang menetapkan Daftar Hitam terhadap Penyedia BarangtJasa dan/atau
Penerbit Jaminan pada penyelenggaraan Pengadaan Barang/Jasa di KlUDtl.
7
Bagian Kedua
Tahapan
Pasal6
Tahapan sanksi Oaftar Hitam adalah sebagai berikut :
a. pengusulan;
b. penetapan;
c. penginman; dan
d. pengumuman.
Paragraf1
Pengusulan
Pasal7
(1) PPKlULP/Pejabat Pengadaan mengusulkan penetapan sanksi Oaftar Hitam kepada
PAIKPA.
(2) Usulan penetapan sanksi Oaftar Hitam sebagaimana dimaksud ayat (1). dilakukan paling
lambat 5 (lima) han kerja sejak ditemukan bukti pelanggaran yang dilakukan Penyedia
8arang/Jasa dan/atau Penerbit Jaminan.
(3) Usulan penetapan sanksi Oaf tar Hitam sebagaimana dimaksud ptlda ayat (1) sekurang­
kurangnya memuat:
a. Paket Pekerjaan;
b. Nilai HPSlKontrak;
c. Identitas:
1. peserta/penyedia barang/jasa orang perseorangan;
2. peserta/penyedia barang/jasa badan usaha;
3. penerbit jaminan; dan/atau
4. individu yang menandatangani surat penawaran/surat perjanjian atau surat
jaminan.
d. Jenis Pelanggaran.
8
(4) Identitas peserta/penyedia barang/jasa orang perseorangan sebagaimana dimaksud
pada ayat (3) huruf c, sekurang-kurangnya memuat:
a. nama lengkap;
b. alamat;
c. nomor Identitas (KTP/SIM/Paspor); dan
d. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).
(5) Identitas peserta/penyedia barang/jasa badan usaha dan/atau penerbit jaminan
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf C , sekurang-kurangnya memuat:
a. nama badan usaha;
b. alamat badan usaha;
c. nomor ijin usaha Badan Usaha; dan
d. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) Badan Usaha.
(6) Identitas individu yang menandatangani surat penawaran/surat atau surat
jaminan sekurang-kurangnya memuat:
a. nama lengkap;
b.
c. alamat;
d. nomor Identitas (KTP/SIM/Paspor); dan
e. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).
Paragraf 2
Penetapan
Pasal8
(1) PA/KPA setelah mendapatkan usulan dari PPKlPokja ULP/Pejabat Pengadaan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7, membuat penetapan sanksi Daftar Hitam.
(2) Penetapan sanksi sebagaimana dimaksud pad a ayat (1) ditembuskan kepada
PPKlULP/Pejabat Pengadaan dan LKPP.
9
(3) PA/KPA menetapkan sanksi Daftar Hitam terhadap Penyedia Barang/Jasa dan/atau
Penerbit Jaminan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), paling lambat 5 (lima) hari k e ~ a
sejak menerima usulan dari PPKlULPlPejabat Pengadaan.
(4) Penetapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat informasi Penyedia
Barang/Jasa dan/atau Penerbit Jaminan yang meliputi:
a. Nama Paket Pekerjaan;
b. Nilai Kontrak;
c. Identitas:
1. peserta/penyedia barang/jasa orang perseorangan;
2. peserta/penyedia barang/jasa badan usaha;
3. penerbit jaminan; dan/atau
4. individu yang menandatangani surat penawaran/surat perjanjian atau surat
jaminan.
d. Jenis Pelanggaran;
e. Jangka waktu berlakunya sanks; daftar Hitam.
Paragraf 3
Pengiriman
Pasal 9
(1) PA/KPA memberitahukan Penetapan Sanksi Daftar Hitam sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 8 kepada Penyedia 8arang/Jasa danlatau Penerbit Jaminan paling lambat 1 (satu)
,.
hari k e ~ a sejak tanggal ditetapkannya.
(2) PA/KPA mengirimkan dokumen Penetapan Sanksi Daftar Hitam kepada :
a. penyedia barang/jasa dan/atau Penerbit Jaminan yang dikenakan Daftar Hitam;
b. PPK IULP/Pejabat Pengadaan yang mengusulkan; dan
c. Kepala LKPP.
(3) Pengiriman dokumen sanksi Daftar Hitam oleh PAlKPA sebagaimana dimaksud pada
ayat (2). dilakukan dengan cara:
a. melalui jasa pengiriman pos;
b. melalui surat elektronik; danlatau
c. diantar langsung.
10
Paragraf 4
Pengumuman
Pasal10
(1) Kepala LKPP mengumumkan penetapan Sanksi Daftar Hitam melalui Portal Pengadaan
NasionaL
(2) Kepala LKPP dapat melakukan konfirmasi atas kebenaran identitas pengirim dokumen
penetapan sanksi Daftar Hitam.
(3) Pengumuman melalui Portal Pengadaan Nasional oleh Kepala LKPP sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling lambat 5 (lima) hari kerja sejak diterima
dokumen penetapan sanksi Daftar Hitam dari PAIKPA.
(4) Pengumuman Penyedia 8arang/Jasa dan/atau Penerbit Jaminan yang dikenakan sanksi
Daftar Hitam melalui Portal Pengadaan Nasional dimutakhirkan setiap saat oleh LKPP.
BAB VII
KETENTUAN PERALIHAN
PasaL11
,
Perusahaan/individu yang dikenakan sanksi berdasarkan Surat Edaran Kepala LKPP Nomor:
02 ISEI KAl2009 Perihal Daftar Nama Perusahaan/lndividu yang masuk dalam Daftar Hitam
dinyatakan masih dikenakan sanksi sampai dengan berakhirnya masa berlaku sanksi.
BAB VIII
KETENTUAN LAIN-LAIN
Pasal12
KlLlDII atau Lembaga Lain yang berwenang dapat menyampaikan dokumen pengenaan
sanksi daftar hitam yang terkait dengan pelaksanaan pengadaan barang/jasa kepada LKPP
untuk diumumkan melalui Portal Pengadaan Nasional.
11
BABIX
KETENTUAN PENUTUP
Pasal13
Dengan berlakunya Peraturan Kepala ini, maka Surat Edaran Kepala
LKPP Nomor : 02 ISEI KA/2009 Perihal Daftar Nama Perusahaan/lndividu yang masuk dalam
Daftar Hitam dinyatakan tidak berlaku.
Pasal14
Peraturan Kepala LKPP ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.
Ditetapkan di Jakarta
padatanggal 20 Juni 2011
KEPALA LEMBAGA KEBIJAKAN
BARANG/JASA PEMERINTAH,
12

3. MEMUTUSKAN: Menetapkan PERATURAN KEPALA LEMBAGA KEBIJAKAN PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH TENT ANG PETUNJUK TEKNIS OPERASIONAL DAFT AR HIT AM. Peraturan Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Nomor PER. perencanaan kebutuhan sampai diselesaikannya seluruh kegiatan untuk memperoleh barang/jasa.001/KEP. 4. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 106 Tahun 2007 Tentang Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. BAB I KETENTUAN UMUM Bagian Kesatu Istilah dan Pengertian Pasal1 Dalam Peraturan ini yang dimaksud dengan: 1.LKPP/05/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Daftar Hitam ada/ah daftar yang memuat identitas Penyedia Barang/Jasa dan/atau Penerbit Jaminan yang dikenakan sanks. Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang selanjutnya disebut dengan Pengadaan Barang/Jasa adalah kegiatan Ke~a untuk memperoleh Barang/Jasa oleh Kementerian/Lembaga/Satuan Perangkat Daerah/lnstitusi lainnya yang prosesnya dimulai dar.2. 2 . Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 101/M tahun 2010 tentang Pengangkatan Pejabat Eselon I Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. 2. oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran berupa larangan ikut serta dalam proses pengadaan barang/jasa diseluruh Kementerian/Lembaga/Satuan Ke~a Perangkat Daerah/lnstitusi lainnya.

yang selanjutnya disebut KlLlD/I adalah instansilinstitusi yang menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Pejabat Pembuat Komitmen yang selanjutnya disebut PPK adalah pejabat yang bertanggung jawab atas pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa. 13. Kuasa Pengguna Anggaran yang selanjutnya disebut KPA adalah pejabat yang ditetapkan oleh PA untuk menggunakan APBN atau ditetapkan oleh Kepala Daerah untuk menggunakan APBD. dapat berdiri sendin atau melekat pada unit yang sudah ada. 6. 14. Pengguna Anggaran yang selanjutnya disebut PA adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan anggaran K/LID/I atau pejabat yang disamakan pada Institusi lain Pengguna APBN/APBD. Penerbit Jaminan adalah Bank Umum. 4. Perusahaan Asuransi atau Perusahaan Penjaminan yang mengeluarkan jaminan untuk diserahkan oleh Penyedia Barang/Jasa kepada PPKlULP untuk menjamin terpenuhinya kewajiban Penyedia Barang/Jasa sebagaimana Barang/Jasa. 10. 8.3. Pejabat Pengadaan adaJah personil yang memiliki sertifikat keahlian Pengadaan Barang/Jasa yang melaksanakan Pengadaan Barang/Jasa. Bupati. Kepala Daerah adalah Gubemur. atau Walikota. Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah yang selanjutnya disebut LKPP adaJah Jembaga pemerintah yang bertugas mengembangkan dan merumuskan kebijakan Pengadaan Barang/Jasa sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Presiden Republik 3 11 dipersyaratkan dalam Dokumen Pengadaan/Kontrak Pengadaan . 7. Unit Layanan Pengadaan yang selanjutnya disebut ULP adalah unit organisasi pemerintah yang berfungsi melaksanakan Pengadaan Barang/Jasa di K/L/DII yang bersifat permanen. 5. 11. Kontrak Pengadaan Barang/Jasa yang selanjutnya disebut Kontrak adalah perjanjian tertulis antara PPK dengan Penyedia Barang/Jasa. Kementerian/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah/lnstitusi lainnya. 9. Penyedia Barang/Jasa adalah badan usaha atau orang perseorangan yang menyediakan Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Konsultansi/Jasa Lainnya. 12. Lembaga Lain adalah mitra pemerintah atau lembaga pemberi pinjaman dan hibah luar negeri.

Portal Pengadaan Nasional adalah pintu gerbang sistem informasi elektronik yang terkait dengan informasi Pengadaan Barang/Jasa secara nasional yang dikelola oleh LKPP dengan alamat situs www. Pengadaan Barang/Jasa di lingkungan KlLlD/I yang pembiayaannya baik sebagian atau seluruhnya bersumber dari APBN/APBD. Bagian Kedua Ruang Lingkup Pasal 2 Ruang lingkup Peraturan Kepala ini meliputi Penyedia Barang/Jasa dan/atau Penerbit Jaminan yang terlibat dalam: a. kecurangan dan/atau pemalsuan dalam proses Pengadaan yang diputuskan oJeh instansi yang berwenang. Pengadaan Barang/Jasa untuk investasi di lingkungan Bank Indonesia.lkpp. Layanan Pengadaan Secara Elektronik yang selanjutnya disebut LPSE adalah unit ke~a KlLlD/I yang dibentuk untuk menyelenggarakan sistem pelayanan Pengadaan Barang/Jasa secara elektronik.id. b.inaproc. Kolusi. Badan Hukum Milik Negara dan Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah yang pembiayaannya sebagian atau seluruhnya dibebankan pada APBN/APBD. baik langsung maupun tidak langsung dalam penyusunan Dokumen Pengadaan dan/atau HPS yang mengakibatkan terjadinya persaingan tidak sehat. 4 .go. BAB II PELANGGARAN YANG DIKENAKAN SANKSI DAFT AR HITAM Pasal3 (1) Penyedia Barang/Jasa pada proses pemilihan dikenakan sanksi Daftar Hitam apabila: a. dan Nepotisme. mempengaruhi ULP/Pejabat PengadaanlPPKlpihak lain yang berwenang dalam bentuk dan cara apapun.Indonesia Nomor 106 Tahun 2007 tentang Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. 16. 15. b. terbukti melakukan Korupsi.

mengundurkan diri/tidak hadir bagi pemenang dan pemenang cadangan 1 (satu) dan 2 (dua) pada saat klarifikasi dan negosiasi teknis dan biaya dengan alasan yang tidak dapat diterima oleh ULP/Pejabat Pengadaan dalam pelaksanaan pengadaan jasa konsultansi. k. memalsukan data tentang Tingkat Komponen Dalam Negeri. f. membuat dan/atau menyampaikan dokumen dan/atau keterangan lain yang tidak benar untuk memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam Dokumen Pengadaan. e. menolak untuk menaikkan nilai jaminan pelaksanaan untuk penawaran dibawah 80% HPS. mengundurkan diri dari pelaksanaan Kontrak dengan alasan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dan/atau tidak dapat diterima oleh ULP/Pejabat Pengadaan. mengundurkan diri/tidak hadir bagi calon pemenang dan calon pemenang cadangan 1 (satu) dan 2 (dua) pada saat pembuktian kualifikasi dengan alasan yang tidak dapat dite5ima oleh ULP/Pejabat Pengadaan dalam pelaksanaan pengadaan barang/pekerjaan konstruksiljasa lainnya. dan/atau ketentuan peraturan perundang-undangan.c. danlatau 5 . mengundurkan diri pada masa penawarannya masih berlaku dengan alasan yang tidak dapat diterima oleh ULP/Pejabat Pengadaan. baik langsung maupun tidak langsung guna memenuhi keinginannya yang bertentangan dengan ketentuan dan prosedur yang telah ditetapkan dalam Dokumen Pengadaan/Kontrak. I. j. g. m. sehingga mengurangi/menghambat/memperkecil dan/atau meniadakan persaingan yang sehat dan/atau merugikan orang lain. d. melakukan persekongkolan dengan Penyedia Barang/Jasa lain untuk mengatur Harga Penawaran diluar prosedur pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa. h. mengundurkan diri bagi pemenang dan pemenang cadangan 1 (satu) dan 2 (dua) pada saat penunjukan Penyedia Barang/Jasa dengan alasan yang tidak dapat diterima oleh PPK. membuat dan/atau menyampaikan dokumen dan/atau keterangan lain yang tidak benar untuk memenuhi persyaratan Pengadaan Barang/Jasa yang ditentukan dalam Dokumen Pengadaan. i. mempengaruhi ULPlPejabat Pengadaan/pihak lain yang berwenang dalam bentuk dan cara apapun.

c. dan/atau h. e.n. meninggalkan pekerjaan sebagaimana yang diatur kontrak secara tidak bertanggungjawab. menolak menandatangani Berita Acara Serah Terima Pekerjaan. terbukti merakukan Korupsi. Kolusi. melakukan perbuatan lalai/cidera janji dalam melaksanakan kewajiban dan tidak memperbaiki kelalaiannya dalam jangka waktu yang telah ditetapkan sehingga dilakukan pemutusan kontrak sepihak oleh PPK. Pasal4 (1) Sanksi Daftar Hitam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) dikenakan kepada orang perserorangan atau Badan Usaha dan individu yang menandatangani Penawaran. f. memutuskan kontrak secara sepihak karena kesalahan Penyedia Barang/Jasa. (2) Penyedia Barang/Jasa yang terah terikat kontrak dikenakan sanksi Daftar Hitam apabila: a. dan/atau ketentuan peraturan perundang-undangan. (2) Sanksi Daftar Hitam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) dikenakan kepada orang perseorangan atau Badan Usaha dan individu yang menandatangani Kontrak. berwenang yang (3) Penerbit Jaminan dikenakan sanksi Daftar Hitam apabila tidak mencairkan jaminan # dengan tanpa syarat (unconditional) sebesar nilai Jaminan dalam waktu paling lambat 14 (empat belas) hari kerja setelah surat pernyataan wanprestasi dari PPKlULP diterima oleh Penerbit Jaminan. mempengaruhi PPK dalam bentuk dan cara apapun. 6 . baik langsung maupun tidak langsung guna memenuhi keinginannya yang bertentangan dengan ketentuan dan prosedur yang telah ditetapkan dalam Kontrak. d. g. kecurangan dan/atau pemalsuan dalam proses pelaksanaan kontrak yang diputuskan oleh instansi yang berwenang. dan Nepotisme. mengundurkan diri dari peraksanaan penandatanganan kontrak dengan arasan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dan/atau tidak dapat diterima oleh PPK. b. melakukan pemalsuan dokumen yang berkaitan dengan pelaksanaan kontrak termasuk pertanggungjawaban keuangan. tidak menindaklanjuti hasil rekomendasi audit pihak yang mengakibatkan timbulnya kerugian keuangan Negara.

badan usaha yang berkedudukan sebagai Kemitraan. (6) Sanksi Daftar Hitam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 berupa larangan untuk mengikuti kegiatan Pengadaan Barang/Jasa di seluruh KlUD/I selama 2 (dua) tahun kalender. (5) Penetapan sanksi Daftar Hitam bagi Penerbit Jaminan diberlakukan dengan ketentuan jika: a. (7) Sanksi Daftar Hitam berlaku sejak tanggal ditetapkan. maka sanksi tersebut juga berlaku untuk seluruh kantor cabang/perwakilan Badan Usaha yang bersangkutan. (4) Penetapan sanksi Daftar Hitam bagi Penyedia Barang/Jasa berbentuk Badan Usaha diberlakukan dengan ketentuan jika: a. maka sanksi tersebut juga berlaku untuk seluruh kantor cabang/perwakilan Badan Usaha yang bersangkutan. penerbit jaminan yang berkedudukan sebagai Cabang/Perwakilan dikenakan sanksi Daftar Hitam.(3) Sanksi Daftar Hitam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) dikenakan kepada penerbit jaminan. dan b. penerbit jaminan yang berkedudukan sebagai Pusat dikenakan sanksi Daftar Hitam. b. badan usaha yang berkedudukan sebagai Pusat dikenakan sanksi Daftar Hitam. maka sanksi Daftar Hitam dikenakan kepada masing-masing Badan Usaha. maka sanksi tersebut hanya berlaku untuk cabang/perwakilan Badan Usaha yang bersangkutan. ~ BAB III TATACARA PENETAPAN SANKSI DAFTAR HITAM Bagian Kesatu Pejabat Yang Berwenang Menetapkan Sanksi Daftar Hitam Pasal5 PA/KPA berwenang menetapkan Daftar Hitam terhadap Penyedia BarangtJasa dan/atau Penerbit Jaminan pada penyelenggaraan Pengadaan Barang/Jasa di KlUDtl. 7 .

(2) Usulan penetapan sanksi Oaftar Hitam sebagaimana dimaksud ayat (1). (3) Usulan penetapan sanksi Oaftar Hitam sebagaimana dimaksud ptlda ayat (1) sekurang­ kurangnya memuat: a. b. c. Paragraf1 Pengusulan Pasal7 (1) PPKlULP/Pejabat Pengadaan mengusulkan penetapan sanksi Oaftar Hitam kepada PAIKPA. dilakukan paling lambat 5 (lima) han kerja sejak ditemukan bukti pelanggaran yang dilakukan Penyedia 8arang/Jasa dan/atau Penerbit Jaminan. Identitas: 1. peserta/penyedia barang/jasa orang perseorangan. c. b. individu yang menandatangani surat penawaran/surat perjanjian atau surat jaminan. dan pengumuman. Paket Pekerjaan. pengusulan. penginman. penerbit jaminan. d. dan/atau 4. 8 . Nilai HPSlKontrak. d. penetapan. 3. 2. peserta/penyedia barang/jasa badan usaha. Jenis Pelanggaran.Bagian Kedua Tahapan Pasal6 Tahapan sanksi Oaftar Hitam adalah sebagai berikut : a.

(4) Identitas peserta/penyedia barang/jasa orang perseorangan sebagaimana pada ayat (3) huruf c. c. peserta/penyedia barang/jasa badan usaha dan/atau penerbit dimaksud Identitas jaminan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf C . atau surat alamat. d. dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) Badan Usaha. nomor Identitas (KTP/SIM/Paspor). nama lengkap. alamat badan usaha. e. jabatan/peke~aan. alamat. c. d. b. dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). nomor Identitas (KTP/SIM/Paspor). (2) Penetapan sanksi sebagaimana dimaksud pad a ayat (1) ditembuskan kepada PPKlULP/Pejabat Pengadaan dan LKPP. dan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). sekurang-kurangnya memuat: a. Paragraf 2 Penetapan Pasal8 (1) PA/KPA setelah mendapatkan usulan dari PPKlPokja ULP/Pejabat Pengadaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. c. (5) nama lengkap. membuat penetapan sanksi Daftar Hitam. nomor ijin usaha Badan Usaha. d. b. b. 9 . sekurang-kurangnya memuat: a. (6) nama badan usaha. pe~anjian Identitas individu yang menandatangani surat penawaran/surat jaminan sekurang-kurangnya memuat: a.

PPK IULP/Pejabat Pengadaan yang mengusulkan. diantar langsung. Nama Paket Pekerjaan. dan c. dilakukan dengan cara: a. danlatau c. (2) PA/KPA mengirimkan dokumen Penetapan Sanksi Daftar Hitam kepada : a. Paragraf 3 Pengiriman Pasal 9 (1) PA/KPA memberitahukan Penetapan Sanksi Daftar Hitam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 kepada Penyedia 8arang/Jasa danlatau Penerbit Jaminan paling lambat 1 (satu) . peserta/penyedia barang/jasa orang perseorangan. b. individu yang menandatangani surat penawaran/surat perjanjian atau surat jaminan. 3. Kepala LKPP. penyedia barang/jasa dan/atau Penerbit Jaminan yang dikenakan Daftar Hitam. peserta/penyedia barang/jasa badan usaha. Identitas: 1. paling lambat 5 (lima) hari sejak menerima usulan dari PPKlULPlPejabat Pengadaan. dan/atau 4. b. melalui surat elektronik.(3) PA/KPA menetapkan sanksi Daftar Hitam terhadap Penyedia Barang/Jasa dan/atau Penerbit Jaminan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Nilai Kontrak. c. daftar Hitam. 10 . Jangka waktu berlakunya sanks.. 2. e. melalui jasa pengiriman pos. d. penerbit jaminan. (3) Pengiriman dokumen sanksi Daftar Hitam oleh PAlKPA sebagaimana dimaksud pada ayat (2). b. (4) Penetapan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat informasi Penyedia ke~a Barang/Jasa dan/atau Penerbit Jaminan yang meliputi: a. hari ke~a sejak tanggal ditetapkannya. Jenis Pelanggaran.

Paragraf 4 Pengumuman Pasal10 (1) Kepala LKPP mengumumkan penetapan Sanksi Daftar Hitam melalui Portal Pengadaan NasionaL (2) Kepala LKPP dapat melakukan konfirmasi atas kebenaran identitas pengirim dokumen penetapan sanksi Daftar Hitam. 11 . BAB VII KETENTUAN PERALIHAN PasaL11 . (4) Pengumuman Penyedia 8arang/Jasa dan/atau Penerbit Jaminan yang dikenakan sanksi Daftar Hitam melalui Portal Pengadaan Nasional dimutakhirkan setiap saat oleh LKPP. (3) Pengumuman melalui Portal Pengadaan Nasional oleh Kepala LKPP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan paling lambat 5 (lima) hari kerja sejak diterima dokumen penetapan sanksi Daftar Hitam dari PAIKPA. BAB VIII KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal12 KlLlDII atau Lembaga Lain yang berwenang dapat menyampaikan dokumen pengenaan sanksi daftar hitam yang terkait dengan pelaksanaan pengadaan barang/jasa kepada LKPP untuk diumumkan melalui Portal Pengadaan Nasional. Perusahaan/individu yang dikenakan sanksi berdasarkan Surat Edaran Kepala LKPP Nomor: 02 ISEI KAl2009 Perihal Daftar Nama Perusahaan/lndividu yang masuk dalam Daftar Hitam dinyatakan masih dikenakan sanksi sampai dengan berakhirnya masa berlaku sanksi.

BABIX KETENTUAN PENUTUP Pasal13 Dengan berlakunya Peraturan Kepala ini. 12 . Pasal14 Peraturan Kepala LKPP ini berlaku sejak tanggal ditetapkan. maka Surat Edaran Kepala LKPP Nomor : 02 ISEI KA/2009 Perihal Daftar Nama Perusahaan/lndividu yang masuk dalam Daftar Hitam dinyatakan tidak berlaku.AN BARANG/JASA PEMERINTAH. Ditetapkan di Jakarta padatanggal 20 Juni 2011 KEPALA LEMBAGA KEBIJAKAN ~~~lGJlIDA.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful