P. 1
Tinjuan Pustaka PCOS

Tinjuan Pustaka PCOS

|Views: 612|Likes:
Published by RizdwanMohdYunus

More info:

Published by: RizdwanMohdYunus on Feb 13, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/15/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN Sindroma ovarium polikistik (SOPK) merupakan kelainan kompleks endokrin dan metabolik yang ditandai dengan

adanya anovulasi kronik dan atau hiperandrogenisme yang diakibatkan oleh kelainan dari fungsi ovarium dan bukan oleh sebab lain. Pertama kali diperkenalkan oleh Stein dan Leventhal (1935) dalam bentuk penyakit ovarium polikistik (polycyctic ovary disease/ PCOS/ Stein-Leventhal Syndrome), di mana gambaran dari sindroma ini terdiri dari polikistik ovarium bilateral dan terdapat gejala ketidakteraturan menstruasi sampai amenorea, riwayat infertil, hirsutisme, retardasi pertumbuhan payudara dan kegemukan. Sindroma ini dicirikan dengan sekresi gonadotropin yang tidak sesuai, hiperandrogenemia, peningkatan konversi perifer dari androgen menjadi estrogen, anovulasi kronik, dan ovarium yang skerokistik dengan demikian sindroma ini merupakan satu dari penyebab paling umum dari infertilitas. Dalam perkembangannya manifestasi dari sindroma ini menjadi lebih kompleks. Sindroma ini dapat disertai atau tanpa adanya kelainan morfologi di ovarium. Stephen dkk mendapatkan sebanyak 75% wanita dengan ovarium polikistik mengalami menstruasi yang tidak teratur. Peneliti lain mendapatkan dari 350 wanita dengan hirsutisme hanya 50% memiliki ovarium polikistik dengan siklus tidak teratur. Sebaliknya Fox mendapatkan 14% wanita dengan hirsutisme dan oligomenorea tidak dijumpai adanya peningkatan jumlah folikel pada pemeriksaan USG. Sementara dengan Pache dkk mendapatkan 50% wanita dengan SOPK secara klinis mempunyai ovarium yang normal. Kenyataan ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang tetap antara gambaran klinis dan perubahan histologis ovarium. Dengan demikian maka sindroma Stein-Leventhal hanya merupakan bagian dari spektrum yang luas dengan kondisi klinik berbeda yang berhubungan dengan kista ovarium, yang mempunyai konotasi sedikit terbatas. Penelitian Burghen dkk (1980) menunjukkan korelasi linear positif antara hiperandrogenisme dan hiperinsulinemia pada wanita obese dengan SOPK dan jangka panjang wanita dengan SOPK mempunyai resiko yang meningkat menderita hipertensi, diabetes maupun penyakit kardiovaskuler. Kenyataan ini menunjukkan bahwa saat ini spektrum klinik dari OPK lebih luas dari pada saat pertama kali diperkenalkan oleh Stein dan Leventhal pada tahun 1935. Kelainan dari patofisiologi yang mendasari hingga saat ini masih

1

belum diketahui, akan tetapi sindroma ini berhubungan dengan keadaan resistensi insulin, hiperandrogenisme dan perubahan dinamis dari hormon gonadotropin. Oleh karena SOPK sering menunjukkan beragam manifestasi klinis maka pemahaman gejala klinis sangat penting sehingga diagnosis dapat ditegakkan seakurat mungkin, dengan demikian penatalaksanaan yang diberikan dapat serasional mungkin dan bermanfaat baik secara medikamentosa ataupun operatif.

.

2

BAB II ANATOMI DAN EMBRIOLOGI ANATOMI DAN EMBRIOLOGI OVARIUM Gambar 1: Anatomi Ovarium 3 .

(3) sel-sel primordial. dimana akan tertanam didorsal epitel yolk sac. Hanya 450 sel telur yang tersisa selama masa reproduktif sampai usia 35tahun. Ovarium berasal dari 3 sumber. Pada hari ke-40. yang berjumlah kurang lebih 6-7 juta. 4 . ovarium dan testis secara histologis sudah berbeda. Dari proses multipikasi ini akan dihasilkan oogonia. Sel-sel germinal ini dapat dikenali sejak usia kehamilan 4 minggu. Sel-sel tersebut akan mulai bermigrasi menuju lokasi primordial gonad sejak kehamilan 5 minggu. dan 15 % menetap sampai usia 25 tahun. Dalam perjalanan menuju lokasi tersebut sel-sel germinal primordial tersebut akan mengalami multipikasi mitosis yang akan terus berlanjut meski sel-sel tersebut sudah mencapai lokasi yang dituju. yaitu: (1) epitel soelomik. germ sel akan berhenti bermultiplikasi dan melanjutkan perkembangan meiosis. Mereka melekat pada permukaan posterior dan legamentum latum dalam fosa peritoneal yang dangkal. iliaka eksterna dan ureter. terletak antara a. (2) sel mesenkim pada mesonephric ridge. Satu juta folikel primordial akan tampak pada saat kelahiran.Ovarium adalah sepasang organ yang terletak disamping uterus. Menuju ketrimester III dari kehidupan janin. hanya 70 % menetap pada saat pubertas.

terjadi perubahan yang karakteristik dengan hipertropi dan akumulasi lemak. Selama periode reproduksi folikel yang dominan berkembang setiap bulan menjadi folikel De graaf. yang mirip dengan sel granulosa dan sel teka yang bentuk unit fungsional sama untuk setiap ovum. Lapisan mesenkim dan kortek ovarium terdiri dari bentuk kumparan sel seperti fibroblas. Pada usia kehamilan 20 minggu oogonia akan mengalami transformasi menjadi oosit.Gambar 2: Perkembangan folikel primer menjadi ovum dalam ovarium Perkembangan gonad menjadi ovarium diawali dengan terbentuknya folikel primordial. dan jika berat disebut “mittelschmerz”. Folikel dini ini terdiri dari oosit yang perkembangnnya berhenti pada tahap profase dari proses poembelahan meiosis fase pertama dan dikelilingi selapis sel mirip sel-sel sequamosa serta dipisahkan dari stroma dengan suatu membran basalis. Ini tidak jarang dibinggungkan dengan appendisitis. Sel-sel germinal wanita memiliki sifat yang berbeda dibandingkan dengan pria. Ovulasi itu sendiri sering berhubungan dengan nyeri kram yang ringan. Sel-sel kuboid ini akan menjadi granulosa yang akan dapat dibedakan dengan sel-sel epiteloid di perifer yang memanjang disebut sebagai sel teka interna. Sel dari stroma ovarium yang asli termasuk hilus sel dan menyerupai sel luteinizing dari teka interna. di mana keduanya 5 . Mengikuti ovulasi sel granulosa dari folikel luteinizing. Perubahan dari folikel primordial menjadi folikel yang dikelilingi berlapis-lapis sel. Folikel yang kolaps akan menjadi kuning terang dan menjadi korpus luteum (yellow body). dan mensekresikan progesteron sebagai tambahan estrogen. Komplek dari germ sel dan sel granulosa diketahui pertama kali sebagai folikel primordial. Sel-sel germinal wanita tampaknya didistribusikan melalui pita-pita dari sel yang terdapat pada korteks. yang kemudian ruptur selama ovulasi.

DEFINISI Sindroma ovarium polikistik merupakan serangkaian gejala yang dihubungkan dengan hiperandrogenisme dan anovulasi kronik yang berhubungan dengan kelainan endokrin dan metabolik pada wanita tanpa adanya penyakit primer pada kelenjar hipofise 6 .berespon terhadap hormon hipofisis. yang menstimulasi proliferasi target organ. BAB III SINDROMA OVARIUM POLIKISTIK A. seperti uterus. Mereka menghambat fungsi hipotalamus dengan arus balik negatif. Sel yang khusus ini mensintesis dan mensekresi baik hormon androgen dan estrogen.

dan kanker endometrial.4 Data epidemiologis SOPK sangat variabel karena kriteria diagnosis yang dapat diterima bervariasi. dengan prevalensi sekitar 4%. frekuensi obesitas.8% dan 6. diabetes melitus gestasional. Setiap keadaan yang menyebabkan anovulasi persisten dapat menyebabkan perubahan bentuk polikistik pada ovarium.9 Data-data yang terbaru menunjukkan SOPK berakibat risiko penyakit jangka panjang. Kondisi–kondisi yang dihubungkan dengan SOPK termasuk diabetes mellitus tipe 2. terjadi perubahan kadar hormon yang sebelumnya fluktuaktif menjadi relatif menetap atau steady state. Anovulasi kronik terjadi akibat kelainan sekresi gonadotropin sebagai akibat dari kelainan sentral dimana terjadi peningkatan frekuensi dan amplitudo pulsasi GnRH dengan akibat terjadi peningkatan kadar LH serum dan peningkatan rasio LH/ FSH serta androgen.2%. hipertensi.5% di pulau Greek Lesbos dan diantara wanita kaukasian di Madrid Spanyol. Lebih dari 60% dari wanita-wanita ini hirsutisme dan 90% mempunyai konsentrasi LH atau androgen yang meningkat. resistensi insulin dan insiden diabetes mellitus pada SOPK juga terbukti bervariasi secara bermakna di antara kelompok etnis. 6 Gejala klinis. hipertensi yang ditimbulkan oleh kehamilan. Data penelitian terbaru 7 . Dua buah studi mendapatkan prevalen SOPK dengan berdasarkan oligomenore dan hiperandrogen sebesar 4. Penelitian oleh Knochenhauer dkk yang mendasarkan pada etnisitas menemukan tidak adanya perbedaan yang bermakna pada ras kulit hitam dan putih di Amerika Serikat.6% dengan rentang sekitar 3. timbulnya jerawat (akne). 30% wanita amenore dan 75% wanita dengan oligomenorea menunjukkan gambaran ovarium polikistik.5 Demikian pula Diamanti-Kandarkis menemukan prevalensi 6.4-11. penyakit jantung. alopesia akibat androgen dan naiknya konsentrasi serum androgen khususnya testosteron dan androstenedion. B. Pada keadaan anovulasi yang terus menerus. Hiperandrogenisme secara klinis dapat ditandai dengan hirsutisme. Sedangkan kelainan metabolik berhubungan dengan timbulnya keadaan hiperandrogenisme dan anovulasi kronik.7. EPIDEMIOLOGI Prevalensi sindroma ovarium polikistik diperkirakan sebanyak 5-10%.8. hiperkolesterolemia. Pada suatu penelitian terhadap 175 wanita yang mengalami anovulasi yang datang ke klinik reproduksi.atau adrenal yang mendasari. Studi berdasarkan ultrasonografi untuk mengidentifikasi adanya ovarium polikistik melaporkan bahwa SOPK mempunyai prevalensi 21-22% diantara wanita yang dipilih secara acak.

mengelilingi stroma. Disregulasi P450 c 17 (defek gen pembentuk P450 c 17α. Hiperandrogenemia 3. Terdapat pada 16-25% wanita normal dan pada wanita amenora dengan etiologi yang lain. Distribusi lemak sama dengan kelainan metabolik seperti hipertensi. ETIOLOGI 1. Hampir 80% wanita dengan hiperandrogenemia mempunyai ovarium polikistik. atau intoleransi glukosa.3 C. Resistensi insulin 2. hal ini dibuktikan dengan terjadinya penurunan resistensi insulin dan penyembuhan siklus menstruasi setelah pengurangan berat badan. dan terjadi 2-5 % wanita dengan hirsutisme.2. adalah ovarium dengan folikular kista yang multipel dan kecil (<10mm).1. jerawat dan alopesia). yang mengkode aktivitas 17αhidroksilase dan 17.20-lyase) 8 . Lebih dari 65% wanita dengan SOPK mempunyai indek masa tubuh lebih dari 27. Obesitas nampaknya mengakibatkan kelainan metabolik lain.2. namun hal ini bisa tidak muncul pada wanita yang menggunakan obat kontrasepsi oral.menunjukkan adanya hubungan antara SOPK dengan kanker payudara dan kanker ovarium. agen sensisitasi insulin. Akantosis nigrikan timbul oleh karenan stimulasi insulin pada lapisan basal epidermis.2 Beberapa gejala lain yang timbul dengan berbagai frekuensi adalah obesitas. atau bentuk lain supresi ovarium. Definisi klinis dari SOPK yang paling banyak disetujui adalah terdapatnya hiperandrogenisme yang berhubungan dengan anovulasi kronik pada wanita tanpa adanya kelainan dasar spesifik pada adrenal atau kelenjar hipofisa. Hampir seluruh wanita tersebut menyatakan pertambahan berat badan yang bermakna muncul pada pertengahan belasan tahun dan awal usia 20 tahun. akantosis nigrikan dan ovarium polikistik.10 Sindroma ovarium polikistik (SOPK) merupakan kelainan endokrin yang paling sering terjadi pada wanita usia reproduktif. dislipidemia. Sebuah studi lain membuktikan pengurangan berat badan 10-15 % akan menyebabkan konsepsi spontan pada 75% kasus SOPK. Ovarium polikistik. Gejala klinis yang terdapat pada syndroma ini adalah siklus menstruasi yang iregular (oligomenore dan amenore) dan gejala kelebihan androgen (hirsutisme. resistensi insulin. Kelainan produksi hormon gonadotropin 4.1.

dan pada beberapa pasien akan meningkatkanb sekresi dari inhibinm-F suatu peptida nonsterois yang dihasilkan oleh sel-sel granulosa. 1. dan peningkatan rasio LH/FSH akan menyebabkan rendahnya pertumbuhan folikel pada stadium midantral. dan ovarium sebagai organ target. dan walaupun faktor-faktor yang menginisiasinya belumlah sepenuhnya dimengerti. Secara garis besar. yang dikonversi di perifer. utamanya di dalam jaringan lemak. terjadi anovulasi. akan menghambat sekresi FSH. dan testoteron dalam jumlah yang lebih sedikit meningkat. proses terjadinya ovulasi melibatkan susunan saraf pusat suprahipotalamus. Ovulasi normal merupakan suatu proses kejadian yang sangat kompleks. Kelainan metabolik berupa hiperinsulinemia dan resistensi insulin ikut berperan dalam timbulnya SOPK. berlawanan dengan pasien-pasien dengan hipertekosis. mungkin karena inaktivasi dari sistem aromatese FSH dependent pada sel-sel granulosa. perlu telebih dahulu mengetahui mekanisme terjadinya ovulasi normal. dan ovarium yang sklerokistik. LH menstimulasi sel-sel teka interna folikel untuk memproduksi androstenedion. yang menyebabkan peningkatan rasio E1/E2. hipofisis. menjadi estron (E1). PATOFISIOLOGI Patofisiologi dari SOPK sangat komplek. Selain itu dijumpai pula peningkatan kadar androgen. menyangkut interaksi berbagai organ neuroimunoendokrin yang akhirnya secara teratur menghasilkan ovum yang dapat dibuahi. Genetik Ada kecenderungan penurunan sifat secara autosomal dominan D. Sintesis estrogen intrafolikel. karakteristik gangguan endokrin dari SOPK sekali terjadi maka akan berlangsung terus menerus. Kadar estradiol (E2) tetap normal atau sedikit dibawah normal. Peningkatan rasio LH/FSH merupakan temuan yang khas pada PCO. Temuan utama adalah peningkatan tonik dari kadar LH serum dan FSH yang rendah atau normal. Kelainan neuro endokrin Untuk mengetahui patofisiologi terjadinya anovulasi.5. Sejumlah kelainan akan menyebabkan hiperestronemia dan perubahan sekresi 9 . Produksi estrogen ovarium pada pasien PCO secara nyata berkurang seperti dari jaringan ovarium. Peningkatan kadar E1. Peningkatan estrogen yang bersirkulasi tampaknya akan menin gkatkan sekresi dari Luteinizing hormone relasing factor (LHRF) dan mempertinggi sensitifitas sel-sel pituitari yang memproduksi LH terhadap LHRF.

dan terjadinya penekanan langsung terhadap gonadotropin baik pada tingkat hipotalamus maupun hipofisis. sebagaimana dimanifestasikan dengan peningkatan kadar dehydroepiandrosterone sulphate (DHES) adrenal androgen dan respons androgen adrenal yang abnormal terhadap adrenocorticotropic hormone (ACTH) dan metapion. yang dapat menyebabkan terjadinya ovulasi lagi. Akibatnya adalah terganggunya perkembangan seksual. Dalam hal ini LH lebih jelas dipengaruhi daripada FSH. • Perifer Terjadi gangguan pada tingkat ovarium dan folikel. penelitian lain telah menyimpulkan bahwa itu adalah sekunder dari kelainan hormonal.gonadotropin secara potensial berperan dalam inisiasi atau terjadinya SPOK yang terus menerus. Terapi deksametason dapat mengoreksi rasio LH/FSH yang abnormal pada beberapa pasien dengan SPOK. Peristiwa ini yang menerangkan kerapnya infertilitas dan ketidakteraturan haid pada wanita dengan hiperandrogen. Walaupun beberapa penelitian percaya bahwa pada pasien-pasien SPOK. abnormalitas adrenal adalah gangguan yang primer. Pengaruh androgen yang berlebihan serta mekanisme kerjanya sebagai berikut: • Sentral Peningkatan kadar androgen dalam darah terutama akan mengganggu gonadostat di hipotalamus dan akan menekan GnRH. Ini berarti bahwa peningkatan androgen yang beredar dalam darah mengganggu keserasian poros hipotalamus-hipofisis-ovarium. Terjadi pemutusan androgen dalam sel-sel perifolikuler. Hiperandrogenisme • Kelebihan androgen adrenal Kontribusi adrenal pada pool androgen meningkat pada banyak pasien SPOK. 10 . Peningkatan androgen adrenal dapat menyebabkan hiperestronomeia karena akan memanjangkan fase folikuler dan memendekkan fase luteal dan konsekuensinya terjadi peningkatan rasio LH/FSH. Belum jelas adanya hambatan pada reseptor gonadotropin maunpun penjenuhan dengan androgen. sehingga folikel ovarium menjadi resistem terhadap rangsangan gonadotropin. Tetapi yang jelas ialah kadar androgen lokal yang tinggi akan menyebabkan perkembangan folikel ovarium yang resisten. 2.

Pada penelitian in vitro telah memperlihatkan bahwa insulin meningkatkan produksi androgen yang diinduksi oleh LH dari sel teka yang normal. Lebih lanjut. bukti yang jelas memperlihatkan bahwa hiperinsulinemia mungkin berperan dalam perubahan metabolik dan reproduksi pada sindrom ini. Ini merupakan bentuk lain dari androgen dalam mengganggu mekanisme ovulasi. Bagaimanapun.Pada pihak lain. Selanjutnya keadaan tersebut akan mengganggu pelepasan folikel dan pecahannya bintik ovulasi. 3. Secara klinis dengan menekan kadar androgen yang tinggi akan menyebabkan folikel ovarium menjadi lebih peka terhadap gonadotropin endogen dan eksogen. hiperandrogen endogen akan menebalkan tunika albuginea ovarium. Juga ternyata bahwa pemberian androgen eksogen yang berlebihan dapat menebalkan kapsul ovarium. 11 . peningkatan pada sensitivitas insulin melalaui pemebrian obat-obatan penurun insulin telah diikuti dengan penurunana kadar androgen serum tanpa berpengaruh pada konsentrasi LH di sirkulasi. Hiperinsulinemia dan resistensi insulin Peranan resistensi insulin dan hiperinsulinemia pada SOPK merupakan penyebab utama belum dapat ditegakkan.

Gambar 3: Aksis Hipotalamus – Hipofisis – Ovarium dan peranan Insulin 12 .

Gangguan yang diturunkan secara familial Beberapa laporan menekankan bahwa SOPK adalah gangguan familial dan diturunkan herediter. Oleh karena itu cara penurunan masih belum jelas dan menunjukkan tidak hanya 1 kelainan gen yang berpartisipasi dalam patogenesis sindroma ini. SOPK nampaknya merupakan kelainan yang melibatkan beberapa gen. Meskipun demikian dasar genetis dari sindroma ini masih kontroversial. Gen Yang Mengkode Enzim Steroidogenik Gen 17α-hidroksilase / 17.10 5. Satu studi pada 150 orang menunjukkan bahwa modus penurunannya berupa autosomal dominan dengan mempertimbangkan kebotakan awal pada pria sebagai fenotip pria utama. Gen-gen yang diduga adalah gen yang ada pada reproduksi. Pada penelitian lain yang meneliti keluarga-keluarga dengan prevalensi SOPK tinggi modus herediter tidak dapat dijelaskan dengan hukum Mendel. belum adanya kriteria diagnosis yang diterima semua pihak. Sitokrom P450c17α merupakan enzim dengan 2 fungsi karena memiliki aktivitas 17α-hidroksiprogesteron hidroksilase dan 17. serta gen yang mengkode enzim-enzim steroidogenik pada jalur biosentesis androgen. gen yang berhubungan dengan sekresi dan aksi insulin.20-liase. Akhir–akhir ini perhatian lebih ditujukan kepada gen-gen yang berhubungan dengan sekresi dan aksi insulin. dan kompensasi terhadap hiperinsulinemia. dan gejala klinis maupun biokemisnya sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti diet dan olah raga. Cara penurunan dari gangguan ini masih sulit ditentukan karena gejala klinis sindroma yang bermacam-macam. dan SOPK terutama hanya mengenai umur reproduktif.14.10. dan yang beruhubungan dengan obesitas dan pengaturan energi. tidak ada gejala yang sama pada fenotip pria.4. Keadaan tersebut membentuk asumsi bahwa gen yang berhubungan dengan sekresi dan aksi insulin juga mempunyai peran terhadap patogenesis SOPK.20-liase (CYP17) Beberapa studi terakhir menunjukkan SOPK terjadi akibat fungsi yang berlebihan dari enzim yang mengkatalisa produksi androgen (Sitokrom P450c17α).15 Wanita yang menderita SOPK baik obesitas maupun tidak mempunyai resistensi insulin dengan berbagai tingkat (resistensi insulin pada otok skelet dan hati). 13 .

Hasil ini menyebabkan perhatian terfokus pada CYP17.20-liase yang juga berarti sekresi androgen.20 lyase dimediasi oleh P450c17α Di dalam sel teka. 3β-HSD. P450scc.21 14 . yang terdapat pada kromosom 10q24.20 liase. tampak tidak ada hubungan bermakna pada frekuensi polimorfisme CYP17 pada SOPK dan kontrol. Namun pada studi kasus-kontrol lain dengan melibatkan lebih banyak sampel.20. 17b-hidrokssteroid dehidrogenase. Terjadi banyak peningkatan aktivitas 17αhidroksiprogesteron hidroksilase dan sedikit pada aktivitas 17. Aktivitas 17α-hidrokslase and 17. 3β-hidroksisteroid dehidrogenase and Δ5-isomerase. yaitu gen yang mengkode sitokrom P450c17α. dan juga tidak ada hubungan antara kejadian polimorfisme dengan level testosteron. Hal ini menyimpulkan bahwa gen tersebut tidak berperan nyata dalam etiologi SOPK. hal ini diduga menjadi satu etiologi yang sama pada SOPK yang menimbulkan resistensi insulin dan hiperandrogenemia (gambar 3). P450c17α mengubah progesteron menjadi 17α-hidroksiprogesteron melalui aktivitas 17α-hidroksilase dan mengubah 17α-hidroksiprogesteron menjadi androstenedione melalui aktivitas 17. Telah diketahui bahwa serin fosforilase juga terlibat dalam regulasi post-translasi dari aktivitas 17.Gambar 4: Jalur biosentitis steroid pada kortek adrenal dan sel teka. Studi klinis menunjukkan pada SOPK terdapat abnormalitas dari regulasi dua enzim ini.20-liase.3. 17bHSD. cholesterol side chain cleavage.

15 .Gambar 5: Diagram hipotesis keterlibatan serin fosforilase pada patofisiologi SOPK E. Bila keadaan ini tidak segera diatasi. Gangguan tersebut antara lain adalah: Hormon ovarium: Bila kadar hormon pemicu ovulasi tidak normal maka ovarium tidak akan melepaskan sel telur setiap bulan. Bila tubuh tidak dapat menggunakan insulin dengan baik maka kadar gula darah akan meningkat. dalam ovarium terbentuk kistakista kecil yang menghasilkan androgen. Pada beberapa penderita. Satu hormon merupakan pemicu bagi hormon lainnya. Hal ini akan menimbulkan lingkaran setan dari suatu gangguan keseimbangan hormonal dalam sistem endokrin. Kadar androgen yang tinggi: Kadar androgen yang tinggi pada wanita menyebabkan timbulnya jerawat dan pola pertumbuhan rambut seperti pria serta terhentinya ovulasi. maka dapat terjadi diabetes kelak dikemudian hari. GEJALA KLINIS Gejala dan keluhan PCOS disebabkan oleh adanya perubahan hormonal. Kadar insulin dan gula darah yang meningkat: Sekitar 50% tubuh penderita SOPK bermasalah dalam penggunaan insulin yaitu mengalami resistensi insulin.

rambut pada dada diantara payudara dan rambut pada abdomen.5% akan berkembang menjadi diabetes yang menetap setelah usia 40 tahun. • Hirsutisme Hirsutisme pada wanita digambarkan dengan pertumbuhan rambut yang terjadi pada pria. Papila kulit mengekspresikan reseptor androgen yang secara langsung mempengaruhi ukuran dari folikel rambut dan juga produksi rambut. Pada pasien dengan SOPK insidens terjadinya hirsutisme sebesar 70%. Lemak abdominal adalah sering. Obesitas meningkatkan risiko untuk mendapat diabetes tipe 2 dan lebih dari 30% wanita dgn SOPK yang obesitas mempunyai toleransi glukosa terganggu dan selanjutnya 7. endorfin hipotalamik dan leptin meningkat pada wanita obesitas yang anovulasi. Obesitas sentral dipikirkan merupakan faktor yang signifikan mempengaruhi peningkatan risiko 7 kali untuk infark miokard pada pasien SOPK. Hirsutisme pada SOPK mengambarkan kelebihan produksi androgen. Keuntungan dari penurunan berat badan secara konsisten diperlihatkan. 50% dengan oligomenorea dan 20% amenorea. mengembalikan ovulasi dan menormalkan indeks biokimiawi.Gejala klinis sindrom ovarium polikistik4: • Gangguan haid Pada penelitian yang luas tentang wanita dengan SOPK. Akibatnya. • Obesitas Pada penelitian yang luas 35-50% wanita dengan SOPK adalah kelebigan berat badan (BMI > 25) atau obesitas (BMI > 27). khususnya resistensi insulin. Penurunan berat badan telah memperlihatkan perbaikan pada hirsutisme. Hubungan antara obesitas dengan SOPK tidak secara jelas dimengerti. dengan memperbaiki frekuensi siklus haid. dengan peningkatan rasio pinggang-pinggul (waist – hip ratio). Goldzieher dan Green melaporkan kurang lebih 8590% wanita dengan oligomenorea dan lebih dari 30-40% dengan amenorea. Balen dkk melaporkan bahwa 1871 wanita dengan minimal 1 gejala dari SOPK hampir 30% mempunyai siklus haid yang teratur. Gambaran yang umum adalah kelebihan rambut pada wajah. mayoritas wanita dengan SOPK mempunyai siklus haid yang abnormal dan paling sering polanya adalah haid yang jarang yang dihubungkan dengan anovulasi. meskipun hal ini diketahui bahwa meningkatkan kadar insulin serum. Estrogen eksogen (seperti pada pil kontrasepsi kombinasi oral) akan menekan produksi androgen 16 . akan mempunyai SOPK. LH dan androgen. umumnya akibat dihidrotestosteron lokal.

Wanita dengan aloplesia mempunyai kadar testosteron. alopesia androgenik. androstenedion dan androgen bebas yang lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol. dan laboratorium. dibandingkan dengan 4% pada kontrol. hirsutism. Masalah utama pada wanita dengan jerawat adalah peningkatan sekresi sel sebaseus dan kadar androgen serum yang sering tidak meningkat. 17 . • Jerawat (Acne) Jerawat adalah penyakit inflamasi dari folikel rambut dan dihubungkan dengan kelenjar sebaseus dan apokrin. tidak seperti pada hirsutisme dan aloplesia. dan leher. secara umum diagnostik SOPK dapat digolongkan menjadi kriteria klinis. ultrasonografis. Ini merupakan tanda resistensi insulin dan kompensasi dari peningkatan sekresi insulin. 21% juga hirsutisme. obesitas. Dapat ditemukan pada wanita dengan SOPK antara 1-3% kasus dan lebih sering terjadi pada orang dewasa. Meskipun demikian. Bermanifestasi dengan peningkatan pigmen dan piplomatosis. Untuk menampakkan aloplesia membutuhkan faktor predisposisi keluarga dan dihubungkan juga dengan peningkatan androgen di sirkulasi. • Aloplesia androgenik Digambarkan dengan pola kehilangan rambut kepala yang progresif yang sering pada pria dan jarang terjadi pada wanita. Pada wanita dengan aloplesia androgenik. DIAGNOSIS Heterogenitas tampilan klinis pasien SOPK menyebabkan belum adanya satupun kriteria yang disepakati untuk meneggakkan diagnosis SOPK sampai saat ini. Terdapat pada lebih dari sepertiga wanita dengan SOPK. • Acanthosis nigricans Adalah suatu erupsi mukokutaneus yang terjadi lebih sering pada axilla. lipatan kulit. yang akan menurunkan testosteron yang bebas di sirkulasi. akibatnya tidak semua wanita dengan kelebihan androgen akan menjadi aloplesia.ovarium dan menstimulasi sex-hormone binding globulin (SHBG). achantosis nigricans. Kriteria klinis: Meliputi gangguan haid berupa oligomenorhea hingga ammenorhea sekunder. F. acne.

Kriteria minor: Adanya resistensi insulin. Gambaran klinis hiperandrogenemia (hirsutisme. akne) d. hirsutisme. dan LH/FSH (Luteinizing Hormone/Follicle-Stimulating Hormone). Penebalan stroma 50% 2. Harus didapatkan gambaran ovarium polikistik dengan USG b. androstenedion.5 dan gmbaran ovrium polikistik pada USG. Volume ovarium lebih dari 8 cm3 3. rasio LH/FSH lebih dari 2. Kriteria diagnostik jika memakai USG transvaginal: 1. dengan menyingkirkan penyebab lain hiperandrogenemi. c. b. Kriteria mayor: Anovulasi kronis dan hiperandrogenemia. Tidak diperlukan pemeriksaan laboratorium untuk menegakkan diagnosis SOPK. Gambaran ovarium polikistik tidak harus ada. dehidroepiandrosteron (DHEA) atau dehidroepiandrosteron sulfat (DHEAS). Lebih dari 10 folikel berdiameter 2-8 mm di subkorteks dalam satu bidang. testosteron bebas. Disisi lain Negara Eropa menetapkan Konsesus Diagnostik lain. Diagnosis SOPK ditegakkan jika memenuhi SATU kriteria mayor dan sekurangnya DUA kriteria minor. insulin. dan atau c. obesitas.Kriteria Ultrasonografi: Kriteria diagnostik jika memakai USG transabdominal: 1. Konsensus Diagnostik menurut konferensi National Institute of Health (NIH) di Amerika Serikat: a. dan dehidrotestosteron (DHT). Penebalan stroma 2. Konsensus Diagnostik menurut negara di Eropa: a. 18 . Lebih dari 15 folikel dengan diameter 2-10 mm dalam satu bidang Kriteria Laboratorium: Pemeriksaan kadar hormon androgen. Kadar androgen yang dapat diperiksa adalah: testosteron. Gangguan menstruasi (oligomenore atau amenore).

Kriteria awal yang harus ada: a. b. Akne d. perbandingan glukosa puasa: insulin puasa kurang dari 4. peningkatan testosteron bebas (dengan menyingkirkan hiperplasi adrenal). Infertilitas anovulasi 2. tumor-tumor sel steroid dan beberapa lesi nonneoplastik seperti hiperplasia sel Leydig dan hipertekosis troma. hiperplasia adrenal kongenital. Diagnosis SOPK dapat ditegakkan jika ditemukan satu/lebih abnormalitas: peningkatan testosteron serum. Diagnosis ditegakkan cukup dengan memperoleh gambaran ovarium polikistik pada USG. maka dilakukan pemeriksaan laboratorium. Hirsutisme c. G. Gangguan menstruasi b. Lesi adrenal. peningkatan LH (luteinizing hormone). misalnya sindroma Cushing. Gangguan hipotalamus-pituitari primer c. 3. Jika tidak ditemukan gambaran ovarium polikistik pada USG.5. Kriteria praktis dari Homburg (2002): 1. dan tumor-tumor adrenal virilisasi. DIAGNOSIS BANDING Diagnosis banding termasuk variasi yang luas dari sejumlah gangguan lain yang berakibat pada abnormalitas pelepasan gonadotropin. Homburg mengajukan proposal yang bersifat praktis dan menyatukan kedua pendapat tersebut. dan dapat disertai: a. Lesi-lesi ovarium yang memproduksi jumlah yang berlebihan dari estrogen atau androgen. 19 . termasuk tumor-tumor sex-cord stromal. anovulasi kronik. Ovarium yang sklerokistik merupakan ekspresi morfologi yang nonspesifik dari anovulasi kronik pada pasien-pasie premenopause.Untuk mencapai kesepakatan antara kedua pendapat besar itu. dan ovarium yang sklerokistik.

• Hirsutisme Pilihan pengobatan untuk pasien dengan hirsutisme mencakup langkah-langkah lokal. bersama-sama dengan diet rendah kalori. dan mengurangi sequelae jangka panjang resistensi insulin. Berat badan harus didorong pada perempuan datang dengan hirsutisme karena penurunan berat badan akan mengakibatkan peningkatan tingkat hormon seks pengikat globulin. sehingga mengurangi kadar testosteron bebas. setelah terapi androgen jangka panjang pada wanita agar menjadi pria transeksual dan ditemukan normal pada individu-indivudi prespubertas. pemutih. • Obesitas Jika pasien kelebihan berat badan atau obesitas (BMI ≥ 26 kg / m 2). modifikasi gaya hidup dalam bentuk moderat pembatasan kalori dan olahraga sangat penting tidak peduli apa intervensi lain dipilih. 9 dari 18 wanita dengan siklus yang tidak teratur kembali ovulasi teratur dan 2 dari 18 perempuan menjadi hamil.Ovarium sklerokistik juga terjadi pada pasien-pasien dengan ooforitis autoimun. seperti bercukur. depilatories. khususnya dengan obesitas perut (yakni. Strategi terapi awal dalam pengelolaan PCOS diarahkan pada pengelolaan dengan medikamentosa. Telah menunjukkan bahwa metformin (glucophage). dan terapi laser serta terapi farmakologi. mengoptimalkan fungsi reproduksi mereka yang ingin kesuburan. terkait dengan penurunan berat badan lebih rendah daripada kalori makanan saja. Pembedahan I. Medikamentosa Tujuan utama pengobatan meliputi penurunan kadar androgen untuk memperbaiki hirsutisme. sebuah biguanide antihyperglycemic.. melindungi endometrium. Medikamentosa 2. elektrolisis. lingkar pinggang> 35 inci). Pengobatan farmakologi ditujukan untuk 20 . berhubungan dengan adhesi periovarium. setelah penggunaan kontrasepsi oral jangka panjang. PENATALAKSANAAN Manajemen: 1. Satu studi menunjukkan bahwa pembatasan kalori moderat yang menghasilkan 2% sampai 5% berat badan menghasilkan 21% penurunan testosteron bebas. H.

Tindakan utamanya adalah bahwa hambatan pertumbuhan rambut. Pasien yang menggunakan antiandrogen sendiri cenderung mengalami pendarahan rahim yang tidak teratur dan dapat manfaat dari penggunaan OCS karena alasan ini. Flutamide telah terbukti seefektif spironolactone tetapi. Spironolactone yang paling sering digunakan karena aman. sehingga mengurangi gratis. meskipun data belum menunjukkan bahwa terapi kombinasi secara signifikan lebih baik untuk pengobatan hirsutisme dari agen tunggal saja. Vaniqa dapat digunakan bersama dengan metode lain hair removal (misalnya. atau laser). Eflornithine (vaniqa) krim topikal disetujui untuk digunakan dalam perawatan wajah hirsutisme. pertumbuhan rambut biasanya kembali ke tingkat perlakuan pendahuluan dalam waktu sekitar 8 minggu. Daerah yang dirawat tidak boleh dicuci setidaknya selama 4 jam setelah aplikasi obat. Dianjurkan agar Spironolakton dihentikan 3 bulan sebelum konsepsi karena hubungannya dengan menstruasi dan mungkin efek teratogenik. Untuk wanita dengan SOPK yang hirsutisme tidak berkurang secara signifikan dengan antiandrogen terapi. Meskipun tidak ada OCS tertentu telah terbukti menjadi perlakuan yang lebih baik untuk hirsutisme. Harus diterapkan dua kali sehari minimal 8 jam. Yang paling umum digunakan antiandrogen adalah spironolactone (aldactone) dan flutamide (Eulexin). Kontrasepsi oral (OCS). elektrolisis. terjadi selama berbulan-bulan. Seperti dengan OCS. obat-obat ini belum disetujui untuk pengobatan hirsutisme. waxing. dan bahwa terapi medis membatasi pertumbuhan rambut baru tapi tidak mempengaruhi rambut yang ada. telah terbukti juga meningkatkan hormon seks pengikat globulin produksi dalam hati. antiandrogen dapat dikombinasikan dengan OCS. sebuah pil Monophasic ethinyl mengandung 30 mcg estradiol dan 3 mg drospirenone (analog dari spironolactone) telah ditunjukkan untuk menekan kedua ovarium dan androgen adrenal produksi. tingkat testosteron yang beredar. pengobatan dengan agen kepekaan insulin. tetapi bukan merupakan obat menghilangkan rambut. meskipun tidak disetujui oleh US Food and Drug Administration untuk pengobatan hirsutisme. Yasmin. Penting untuk dicatat bahwa respons terhadap agen farmakologi lambat.menghalangi tindakan androgen pada folikel rambut atau menekan produksi androgen. seperti metformin (glucophage) atau thiazolidinedione (Actos) dapat digunakan. mencabut. atau terikat. dan fungsi hati harus dimonitor secara teratur. obat ini dapat hepatotoxik. dan lebih murah daripada antiandrogen lain. Setelah Eflornithine (vaniqa) tersebut akan terhenti. 21 . tersedia.

yang akan efek samping yang tidak diinginkan pada populasi pasien ini. Peningkatan dalam hirsutisme dan jerawat.21 mengamati bahwa modifikasi gaya hidup adalah manajemen awal terbaik untuk wanita gemuk ingin meningkatkan fungsi reproduksi mereka. dan Glukokortikoid. Perlindungan endometrium dari dilawan estrogen 3. seperti medroksiprogesteron asetat (Provera) 5-10 mg PO setiap hari selama 5 sampai 10 hari atau micronized progesteron (prometrium) 400 mg PO setiap hari selama 10 hari untuk mempromosikan penarikan pendarahan. Sebuah alternatif lain OCS untuk melindungi siklik endometrium adalah administrasi dari progestin. Pendekatan terapi awal pada infertilitas pada wanita dengan SOPK adalah penurunan berat badan melalui diet dan olahraga. Glukokortikoid cenderung meningkatkan resistensi insulin. Penurunan sekresi LH dan konsekuensinya pengurangan sekresi androgen ovarium 4. Sebuah uji klinis acak membandingkan OCS dan metformin (glucophage) pada wanita gemuk dengan SOPK menemukan bahwa menstruasi teratur terjadi lebih sering dengan penggunaan OCS daripada dengan metformin (glucophage). Setelah anovulasi telah didiagnosis dan masalah lain seperti oklusi tuba telah dikecualikan. • Irreguler Menstruasi Kontrasepsi oral memiliki manfaat yang jelas dalam pengobatan disfungsi menstruasi berhubungan dengan SOPK. langkah berikutnya adalah farmakoterapi. Peningkatan tingkat hormon seks pengikat globulin dan karenanya bebas pengurangan testosterone 5. karena hiperandrogenisme SOPK adalah hasil dari tidak ovarium dan androgen adrenal produksi. Di samping itu. Ini termasuk: 1. HuberBuchholz et al. seperti deksametason. Strategi adalah menggunakan dosis terendah mungkin untuk memulai 22 . Jika pasien terus menjadi anovulatoir. • Infertilitas Sebuah alasan umum bahwa wanita dengan SOPK mencari perawatan ketidaksuburan. Induksi penarikan reguler pendarahan 2.Terapi farmakologi yang tidak ditunjukkan dalam pengobatan hirsutisme meliputi panjang bertindak gonadotropin-releasing hormone terapi agonis (Lupron) karena hypoestrogenic menginduksi sebuah negara bagian. Clomiphene citrate (Clomid) adalah obat pilihan untuk merangsang ovulasi induksi untuk wanita dengan SOPK. pengobatan induksi ovulasi.

Dosis awal adalah 50 mg / hari. dan hipertensi harus dilakukan. The glisemik indeks dari karbohidrat adalah ukuran tertentu postprandial item makanan berpengaruh pada kadar glukosa darah. dosis dan / atau durasi pengobatan dapat ditingkatkan. 8 dari 11 perempuan berovulasi memakai rejimen clomiphene citrate plus metformin (glucophage) yang diberikan 500 mg TID.ovulasi.11. Latihan fisik tambahan yang penting dalam perbaikan sensitivitas insulin dan keseluruhan homeostasis glukosa. semakin sedikit mempengaruhi karbohidrat telah di postprandial glukosa dan insulin. Semakin rendah indeks glisemik. dan penyaringan untuk diabetes. Jika pasien terus menjadi anovulatoir.5. meskipun data terbatas. Jika tidak ada perkembangan folikel dengan dosis ini. meskipun beberapa penelitian telah dievaluasi pada pasien SOPK.18 Dalam sebuah kelompok kecil wanita dengan PCOS yang gagal berovulasi sebagai jawaban atas 150 mg / hari clomiphene sitrat. 23 . Sensitivitas insulin juga telah ditunjukkan untuk memperbaiki dengan modifikasi diet seperti diet glisemik rendah. Diet serat. selama 5 hari (biasanya hari 5-9). konseling tentang nutrisi dan olahraga harus ditekankan. Latihan nyata dapat meningkatkan sensitivitas insulinstimulasi pengambilan glukosa di otot rangka. Jangka panjang Risiko Kesehatan Beberapa wanita dengan SOPK dapat mencari perawatan kesehatan karena kekhawatiran tentang kesehatan jangka panjang risiko. dan kromium semua telah ditunjukkan untuk meningkatkan sensitivitas insulin. minyak ikan. walaupun jangka panjang data mengenai penggunaan metformin pada SOPK tidak tersedia. sekitar 80% dari wanita yang diobati dengan clomiphene sitrat akan ovulasi. Tergantung pada hasil tes ini. pengobatan farmakologi spesifik untuk kondisi ini harus dimulai dalam hubungannya dengan dokter perawatan utama mereka Karena dampak baik pada tingkat insulin dan lipid. metformin mungkin berguna dalam keseluruhan manajemen dari wanita ini. Secara keseluruhan. metformin (glucophage) dapat ditambahkan ke rejimen pengobatan. D-chiro-inositol. Sebagaimana dicatat di atas. dibandingkan dengan hanya 3 dari 14 wanita yang berovulasi memakai rejimen ditambah plasebo clomiphene sitrat. jika pasien kelebihan berat badan. dislipidemia.

Pembedahan (surgery) Tindakan pembedahan merupakan alternatif pengobatan SOPK apabila pengobatan medikamentosa belum dapat menyelesaikan masalah pasien. TEKO (Tusukan ElektroKauter pada Ovarium) Terapi TEKO dengan laparoskopi lebih baik dibandingkan dengan EBOB karena angka perlekatan pascoperasi yang lebih rendah.II. a. 24 . EBOB (Eksisi Baji Ovarium Bilateral) b.

Hal-hal yang terlibat adalah modulator intraovarium dan hormon baik hormon gonadotropin dan hormon steroid. dan abnormalitas lipid. perlindungan endometrium. metabolik. dan pengurangan risiko jangka panjang dari diabetes dan komplikasi kardiovaskular. dan kardiovaskular. Sebagai sindrom. 25 . Resistensi insulin juga tampaknya meningkatkan risiko intoleransi glukosa.BAB IV KESIMPULAN KESIMPULAN SOPK merupakan salah satu gangguan yang paling umum yang mempengaruhi wanita usia subur. ia memiliki beberapa komponen. Bagi banyak wanita dengan sindrom ini. dengan jangka panjang masalah kesehatan yang melintasi hidup. Walaupun tidak dipahami dengan baik. memperbaiki kemandulan adalah tujuan utama terapi Tujuh puluh lima persen penderita SOPK akan mengalami anovulasi dan bisa menyebabkan infertilitas. resistensi insulin tampaknya mendasari banyak manifestasi klinis SOPK. Pengobatan gangguan ini harus fokus pada pengurangan gejala-gejala terkait androgen. diabetes tipe 2. Mekanisme anovulasi ini sangat kompleks. termasuk reproduksi.

Norman RJ. European Journal of Endocrinology 2002. BMJ 1998. 19: 597-632. Schroeder BM. ACOG releases guidelines on diagnosis and management of polycystic ovary syndrome. Chang L. 2. Current perspectives in polycystic ovary syndrome. A prospective study of the prevalence of the polycystic ovary syndrome in unselected Caucasian women from Spain. 167: 1807–1812. Diabetes 1993. Doesethnicity influence the prevalence of adrenal hyperandrogenism and insulin resistance in polycystic ovary syndrome? American Journal of Obstetrics and Gynecology 1992. Dumesic DA. A survey of the polycystic ovary syndrome in the Greek island of Lesbos: hormonal and metabolic profile.DAFTAR PUSTAKA 1. Hopkinson ZEC. Filandra FA. Chang RJ. Diamanti-Kandarakis E.67(7):1619-1620. 3. Carmina E. Georgiou I. Bergiele AT. 11. 333(13):853-861. Am Fam Physician 2002.174:1-5. Jakarta. Kouli CR. Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism 2000. Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism 1999. 8. Xita N. 26 . 68:697-704. in: Yen and Jave’s Reproductive Endrocrinology fifth edition 2004. Richardson MR. 7. in: Clinical Gynecologic Endocrinology and Infertility fifth edition 1994. Glass RH. N Engl J Med 1995. Journal of endocrinology 2002. Polycystic ovarian syndrome: the metabolic syndrome comes to gynaecology. Situmorang H. 13: 457-82. Developmental origin of polycystic ovary syndrome – a hypothesis. Sindrom ovarium polikistik. 4. Abbott DH. Delson R & Green G. Hadisaputra W. Fleming R. BMJ 2003. Kase NG. 147: 717-25. 6. 14. Metformin in polycystic ovary syndrome: systematic review and meta-analysis. Anovulation and the Polycystic Ovary. Tsatsoulis. Polycystic ovary syndrome and hiperandrogenic states. Koyama T. Polycystic ovary syndrome. 327: 951. Asuncion M. 2003 12.317:329-332.1622. Sorbara L. Calvo RM. 85: 434–2438. Ethnicity and polycystic ovary syndrome are associated with independent and additive decreases in insulin action in CaribbeanHispanic women. Puspa Swara. Stanczyk FZ & Lobo RA. Sancho J. 84: 4006–4011. 9. Lord JM. 42: 1462–1468.Tsianateli C. Dunaif A. Am Fam Physician 2003. Speroff L. Flight IHK. Spina GG et al. The genetic basis of polycystic ovary syndrome. Franks S. Sattar N. 5. Avila S &Escobar-Morreale HF. 13. Greer IA. San Millan JL. Frank S. 10.

24.335:617-23. 23. Clayton RN. Proc Natl Acad Sci USA 1999.179:S94-100. Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism 1999. Dunaif A. Decreases in ovarian cytochrome p450c17a activity and serum free testosterone after reduction of insulin secretion in polycystic ovary syndrome. Molecular mysteries of polycystic ovary syndrome. Nestler JE.15. Obhrai MS. Taylor AE. Jakubowicz DJ. 85: 3484–3488.96:8573-8. 22. Rajkowa M et al. Mol Endo 1999. 18. Lancet 1997 349 986–990.84:38-43. 84: 1711–15. 16. McCarthy MI. Strauss JF. Taylor AE. Fertility and sterility 2003. Linkage and association of insulin gene VNTR regulatory polymorphism with polycystic ovary syndrome. N Engl J Med 1996. 27 . Bennett ST. 20. Thirty-seven candidate genes for polycystic ovary syndrome: Strongest evidence for linkage is with follistatin. Association of the steroid synthesis gene CYP11a with polycystic ovary syndrome and hyperandrogenism. Govind A. Misfud A. Gharani N. J Clin Endocrinol Metab 1999. Goodarzi MO. 13(6): 800-05 17. Androgen receptor gene CAG trinucleotide repeats in anovulatory infertility and polycystic ovaries. Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism 2000. Hague S. 21. Urbanek M. Koivunen R. Human molecular genetics 1997. Tapanainen JS. Clayton RN.6(3):397402. Understanding the underlying metabolic abnormalities of polycystic ovary syndrome and their implications. The importance of insulin resistance in polycystic ovary syndrome. Waterworth DM. Gharani N. Am J Obstet Gynecol 1998. et al. Batty S et al. A new contributing factor to polycystic ovary syndrome: the genetic variant of luteinizing hormone. Ramirez S & Yong EL. 80(2):255-8. Fauser BC. et al. 19. Korenman SG. Polycystic Ovaries Are Inherited as an Autosomal Dominant Trait: Analysis of 29 Polycystic Ovary Syndrome and 10 Control Families.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->