Pusat Pembinaan JFA BPKP

I. PENDAHULUAN Berdasarkan Pasal 271 Keputusan Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Nomor: Kep-06.00.00-080/K/2001 tanggal 20 Pebruari 2001 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Badan Pengawasan Keuangan Dan Pembangunan, Pusat Pembinaan Jabatan Fungsional Auditor (PUSBIN JFA) mempunyai tugas melaksanakan penelaahan dan penyusunan peraturan, standar, pedoman, program pembinaan, dan pelaksanaan sertifikasi serta evaluasi pelaksanaan sertifikasi, angka kredit, dan efektivitas tim penilai jabatan fungsional auditor di lingkungan BPKP dan APIP lainnya. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana tersebut di atas, PUSBIN JFA menyelenggarakan fungsi: a. penyusunan rencana dan program pembinaan jabatan fungsional auditor; b. penelaahan dan penyusunan peraturan, standar dan pedoman jabatan fungsional auditor; c. penyusunan materi ujian jabatan fungsional auditor. d. pengelolaan data pejabat fungsional auditor; e. pelaksanaan seleksi dan penentuan kelulusan peserta pendidikan dan pelatihan jabatan fungsional auditor; f. evaluasi dan penyusunan laporan kegiatan sertifikasi, penilaian angka kredit, dan efektivitas tim penilai. Dalam melaksanakan tugas dan fungsi tersebut, Pusbin JFA telah melaksanakan berbagai kegiatan. Salah satu kegiatan pembinaan JFA di lingkungan BPKP yang dilaksanakan secara rutin setiap tahun, sejak tahun 1999, adalah penyelenggaraan Forum Komunikasi (Rapat Koordinasi) JFA dan Kepegawaian. Forum Komunikasi (Rapat Koordinasi) JFA dan Kepegawaian merupakan forum yang dihadiri oleh utusan dari seluruh unit kerja BPKP dan bertujuan untuk mengangkat, mendiskusikan, dan merumuskan jawaban atau penyelesaian atas permasalahan yang berkenaan dengan JFA, kepegawaian, dan kediklatan yang terdapat pada unit-unit tersebut. Disamping itu, forum dimaksud juga bertujuan
Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003

1

Pusat Pembinaan JFA BPKP

untuk

terus

menggali

dan

mengembangkan

pemikiran

inovatif

untuk

pengembangan profesionalisme PFA. Forum Komunikasi Tahun 1999 dan 2000 diselenggarakan oleh Biro

Kepegawaian dan Organisasi bekerja sama dengan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan (Pusdiklatwas), sedangkan Forum Tahun 2001 sampai dengan 2003 diselenggarakan oleh Pusbin JFA bekerja sama dengan Biro Kepegawaian dan Organisasi, serta Pusdiklatwas. Untuk Timur, tahun 2003, tema dalam Forum Komunikasi JFA dan Kepegawaian JFA telah dan dan

diselenggarakan pada tanggal 16 sampai dengan 19 Juni 2003 di Malang, Jawa dengan “Meningkatkan rangka kualitas pembinaan Kepegawaian peningkatan profesionalisme

pengembangan SDM BPKP”. Secara umum, permasalahan yang dibahas dalam forum dapat dikelompokkan sebagai berikut: 1. Permasalahan yang solusinya dapat dirumuskan dari ketentuan yang ada. Rumusan pertanyaan dan jawaban yang berkenaan dengan JFA, kemudian dirangkum dan diterbitkan dalam bentuk Buku Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA. 2. Permasalahan yang solusinya telah diatur dalam ketentuan yang ada, namun untuk pelaksanaannya diperlukan adanya kesepakatan forum. Hal-hal yang telah disepakati dalam forum, yang berkenaan dengan JFA, kemudian dirangkum dan diterbitkan dalam bentuk Surat Edaran Kepala Pusbin JFA perihal Penegasan Hasil Forum. Solusi atas permasalahan tersebut tercantum juga dalam Buku Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA. 3. Permasalahan yang belum secara memadai diatur dalam ketentuan yang ada dan memerlukan pengaturan lebih lanjut. Terhadap permasalahan yang berkenaan dengan JFA dilakukan kajian lebih lanjut oleh Tim Revisi Ketentuan JFA untuk kemudian diproses lebih lanjut sesuai ketentuan yang berlaku.

Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003

2

Pusat Pembinaan JFA BPKP

Buku Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA sebagai salah satu hasil Forum Komunikasi menghimpun permasalahan dan solusi yang telah dirumuskan dan disajikan dalam bentuk pertanyaan dan jawaban yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan rujukan dalam menyelesaikan permasalahan seputar JFA. Pertanyaan dan Jawaban yang dihimpun dalam buku ini pada dasarnya berkenaan dengan permasalahan JFA yang dialami oleh unit-unit kerja di lingkungan BPKP. Namun demikian, buku ini juga dapat dimanfaatkan oleh unitunit pengawasan di lingkungan APIP sebagai bahan rujukan apabila mengalami permasalahan serupa. Jawaban yang diberikan dalam buku ini mengacu pada Himpunan Peraturan Jabatan Fungsional Auditor dan Angka Kreditnya di Lingkungan Aparat Pengawasan Fungsional Pemerintah dan Surat Edaran Kepala BPKP Nomor SE06.04.00-22/K/1999 serta ketentuan terkait lainnya. Dengan diterbitkannya Buku Himpunan Tanya Jawab Edisi Tahun 2003 ini, maka secara keseluruhan, telah diterbitkan 5 (lima) edisi Buku Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA, yaitu Edisi Tahun 1999, 2000, 2001, 2002, dan 2003. II. DASAR HUKUM 1. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999. 2. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1994 tentang Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil; 3. Peraturan Pemerintah Nomor 99 Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2002. 4. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 1999 tentang Rumpun Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil; 5. Keputusan MENPAN Nomor 19 Tahun 1996 tanggal 2 Mei 1996 tentang Jabatan Fungsional Auditor dan Angka Kreditnya;

Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003

3

Mutasi.Pusat Pembinaan JFA BPKP 6.00-125/K/1997 tgl 5 Maret 1997 tentang Pelaksanaan JFA dan Angka Kreditnya di Lingkungan Aparat Pengawasan Fungsional Pemerintah. maupun pejabat lainnya dalam menerapkan ketentuan dalam JFA. Meningkatkan keseragaman dalam memahami ketentuan-ketentuan JFA. Keputusan Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan No. 8. Nomor 49/SK/K/1996 dan Kep-386/K/1996 tanggal 6 Juni 1996 tentang Petunjuk Teknis Ketentuan dan Pelaksanaan Jabatan Fungsional Auditor dan Angka Kreditnya. dan Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. Memberikan acuan/panduan bagi Pejabat Fungsional Auditor. Tim Penilai Angka Kredit. Nomor 10 Tahun 1996. Keputusan Bersama Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara. Memberikan jawaban atas berbagai pertanyaan dan permasalahan yang terjadi berkaitan dengan pelaksanaan dan pengembangan JFA. Surat Edaran Kepala BPKP Nomor SE-06. III.04. Tata Usaha. dan 3. Sekretaris Jenderal Badan Pemeriksa Keuangan. 9. dan Tata Kerja Penetapan Angka Kredit bagi Pejabat Fungsional Auditor di Lingkungan BPKP.00-1485/DI/1999 tanggal 23 Desember 1999 tentang Pelaksanaan Jabatan Fungsional Auditor di Lingkungan BPKP. Surat Edaran Deputi Bidang Administrasi Nomor Se-06. TUJUAN Penerbitan Buku Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Edisi Tahun 2003 bertujuan untuk: 1. 7. 2.04.00. KEP-13. Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 4 .00-22/K/1999 tanggal 11 Januari 1999 tentang Organisai.

00. 19 Tahun 1996 tentang Jabatan Fungsional Auditor dan Angka Kreditnya. pendidikan / ijazah yang dapat diberikan angka kredit unsur utama adalah pendidikan sekolah yang sesuai dengan bidang tugas auditor yang bersangkutan.00125/K/1997 tgl 5 Maret 1997.Pusat Pembinaan JFA BPKP IV. Penentuan kualifikasi pendidikan yang sesuai dengan bidang tugas auditor yang bersangkutan ditentukan oleh Kepala / Pimpinan Unit Organisasi masing-masing setelah mendapat persetujuan Instansi Pembina (BPKP). KEP-13.1 Keputusan Kepala BPKP No.1 Lampiran 1 A dan 1 B Keputusan MENPAN No. Mutasi. permasalahan yang telah dibahas dalam Forum Komunikasi JFA dan Kepegawaian Tahun 2003 mengenai topik ini antara lain adalah mengenai: Kualifikasi Pendidikan yang Dikategorikan Sebagai Unsur Utama Berdasarkan angka VI huruf C. Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 5 . Secara garis besar. TANYA JAWAB Permasalahan yang dibahas dalam himpunan tanya jawab ini terdiri dari 74 pertanyaan yang dikelompokkan sebagai berikut: • • • • • • Pendidikan Formal Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan Pengembangan Profesi Penunjang Pengawasan Organisasi. PENDIDIKAN FORMAL Permasalahan yang dibahas dalam kelompok ini berkenaan dengan kegiatan pada unsur Pendidikan. dan Tata Usaha JFA 2 Pertanyaan 4 Pertanyaan 22 Pertanyaan 20 Pertanyaan 8 Pertanyaan 18 Pertanyaan A. sub unsur “Mengikuti Pendidikan Sekolah dan Mencapai Gelar/Ijazah” yang merupakan bagian dari Unsur Utama Kegiatan PFA sebagaimana tercantum dalam huruf A.

1095 per 1 April 2003.00-1485/DI/1999 tanggal 23 Desember 1999 perihal Pelaksanaan Jabatan Fungsional Auditor di Lingkungan BPKP dan Keputusan Deputi Bidang Administrasi BPKP Nomor Kep-05. perihal kualifikasi pendidikan ini telah diungkapkan dalam Buku Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Edisi Tahun 2002 (halaman 5).I/2000 tanggal 6 Januari 2000 tentang Pemberian Ijin Pendidikan Di luar Kedinasan dan Penyesuaian Ijazah di lingkungan BPKP.04. Untuk itu. dan S3 jurusan Akuntansi dan Manajemen sesuai Surat Edaran Deputi Bidang Administrasi Nomor SE-06. Sekretaris Utama BPKP. selaku Instansi Pembina. Kualifikasi pendidikan untuk unit pengawasan lainnya di lingkungan APIP ditentukan oleh Kepala / Pimpinan unit organisasi masing-masing setelah memperoleh persetujuan Kepala BPKP. Secara rinci. S2. namun yang bersangkutan belum dapat mengikuti Diklat Pindah Jalur karena Ijazah yang dimilikinya adalah S1 jurusan Ilmu Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 6 . permasalahan yang berkenaan dengan pendidikan Formal beserta solusinya diuraikan dalam tanya jawab berikut: 1. DIV.06-33/D. Pada dasarnya. S1. Pertanyaan: Seorang PFA berIjazah Sarjana (S1) telah memperoleh angka kredit sejumlah 173.02. Inspektur Utama / Inspektur LPND agar menetapkan kualifikasi pendidikan yang sesuai dengan tugas auditor di lingkungan unit pengawasan masing-masing setelah memperoleh persetujuan Kepala BPKP. sedangkan perolehan Ijazah di luar kualifikasi tersebut diberikan angka kredit sebagai Unsur Penunjang.Pusat Pembinaan JFA BPKP Terhadap perolehan ijazah yang berasal dari pendidikan dengan jurusan yang sesuai dengan kualifikasi yang telah ditetapkan Kepala / Pimpinan Unit Organisasi dapat diberikan angka kredit sebagai Unsur Utama. telah menyampaikan kepada Inspektur Jenderal Departemen. Kualifikasi pendidikan untuk auditor di lingkungan BPKP adalah DIII. melalui surat Nomor S-1380/SU/2002 tanggal 16 Agustus 2002 perihal Kualifikasi Pendidikan PFA dan Angka Kreditnya.

04. Seharusnya. mohon dipertimbangkan agar kualifikasi pendidikan yang diakui sebagai Unsur Utama tidak terbatas pada jurusan akuntansi dan manajemen saja. terdapat seorang PFA yang memiliki Ijazah Diploma III diberikan angka kredit kurang dari 50 untuk unsur Pendidikan. 19 Tahun 1996. Sehubungan dengan perkembangan jenis kegiatan BPKP belakangan ini.Pusat Pembinaan JFA BPKP Pasti Kealaman. Perluasan kualifikasi pendidikan unsur utama untuk jurusan selain akuntansi dan manajemen masih dalam kajian. untuk itu masing-masing unit kerja diharapkan segera mengirimkan kajian akademis mengenai usulan jenis kualifikasi pendidikan yang akan ditambahkan sebagai unsur utama.06-33/D.I/2000 tanggal 6 Januari 2000 tentang Pemberian Ijin Pendidikan Di luar Kedinasan dan Penyesuaian Ijazah di lingkungan BPKP.001485/DI/1999 tanggal 23 Desember 1999 perihal Pelaksanaan Jabatan Fungsional Auditor di Lingkungan BPKP dan Keputusan Deputi Bidang Administrasi BPKP Nomor Kep-05. Apakah kesalahan ini dapat langsung dikoreksikan pada penetapan angka kredit periode berjalan tanpa harus melakukan ralat terhadap SK Penyesuaian tersebut di atas? Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 7 . sesuai dengan Lampiran 1 A Keputusan MENPAN No. mengingat kualifikasi pendidikan yang dapat diakui sebagai unsur utama selama ini di lingkungan BPKP hanya pendidikan dalam bidang akuntansi dan manajemen. sampai saat ini belum dapat mengikuti Diklat Pindah Jalur dan belum dapat dialihkan menjadi Auditor Ahli. besaran angka kredit untuk Ijazah Diploma III adalah 50.02. sesuai dengan Surat Edaran Deputi Bidang Administrasi BPKP Nomor: SE-06. tapi diperluas ke multi disiplin lainnya. serta dalam rangka peningkatan wawasan auditor. 2. Pertanyaan: Pada saat penyesuaian dari jabatan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (PKP) menjadi JFA per 1 Oktober 1996. Jawaban: Bagi Auditor Trampil di lingkungan BPKP yang memiliki ijazah selain jurusan akuntansi dan manajemen.

sub unsur “Mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Kedinasan serta Memperoleh STTPL” yang merupakan bagian dari Unsur Utama Kegiatan PFA sebagaimana tercantum dalam huruf A. permasalahan yang telah dibahas dalam Forum Komunikasi JFA dan Kepegawaian Tahun 2003 mengenai topik ini antara lain adalah sebagai berikut: Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 8 . Atas koreksi tersebut.Pusat Pembinaan JFA BPKP Jawaban: Pada dasarnya. • Koreksi dilakukan dengan memindahkan sejumlah kekurangan angka kredit ijazah D III tersebut dari unsur Pengawasan ke unsur Pendidikan. dalam hal terjadi kesalahan sebagaimana tersebut di atas. dalam ketentuan JFA.2 Lampiran 1 A dan 1 B Keputusan MENPAN No. sepanjang tidak merubah jumlah angka kredit secara keseluruhan. 19 Tahun 1996 tentang Jabatan Fungsional Auditor dan Angka Kreditnya. maka koreksi angka kredit dapat dilakukan pada penilaian angka kredit periode berjalan. PENDIDIKAN DAN PELATIHAN (DIKLAT) Permasalahan yang dibahas dalam kelompok ini berkenaan dengan kegiatan pada unsur Pendidikan. agar dicantumkan penjelasan koreksi pada BA-PAK dengan diketahui Pimpinan Unit Kerja. Namun demikian. Secara garis besar. tidak terdapat ketentuan yang secara tegas mengatur mengenai tata cara pembetulan atau perbaikan atas kesalahan yang terjadi dalam penyusunan surat keputusan. dapat ditempuh pembetulan dengan cara sebagai berikut: • Apabila ijazah D III tersebut sesuai dengan ketentuan kualifikasi pendidikan yang berlaku (jurusan akuntansi atau manajemen) dan telah diakui dalam SK Kepangkatan per 1 Oktober 1996 (pada saat penyesuaian dari PKP ke JFA). tanpa meralat SK Inpassing. B.

00-847/K/1998 tanggal 11 Nopember 1998 tentang Pola Pendidikan dan Pelatihan Auditor bagi Aparat Pengawasan Fungsional Pemerintah. sebagian Tim penilai menganggap bahwa kegiatan tersebut merupakan satu kesatuan dengan pendidikan S2/S3 yang dijalani. salah satu persyaratan calon peserta Diklat Sertifikasi Auditor adalah “Diusulkan oleh Kepala / Pimpinan Unit Organisasi yang bersangkutan”. Terhadap kegiatan ini.Pusat Pembinaan JFA BPKP Rekomendasi Pimpinan Dalam Pengusulan Calon Peserta Diklat Sertifikasi Sesuai dengan ketentuan pada Bab IX Lampiran Keputusan Kepala BPKP Nomor: Kep-06. Sebagai contoh. dengan mempertimbangkan penilaian terhadap unsur kecakapan. Dengan adanya persyaratan tersebut. dan pertimbangan lainnya. sebelum mengusulkan calon peserta diklat sertifikasi Auditor.1/2003 tanggal 31 Januari 2003 perihal Penegasan Hasil Rakor JFA Kepegawaian dan JFA Tahun 2002. Hal ini telah dibahas dalam Rapat Koordinasi Kepegawaian dan JFA tahun 2002 dan telah dituangkan dalam Surat Edaran Kepala Pusbin JFA Nomor: SE91/JF. Diklat Dalam Rangka Mengikuti Pendidikan S2/S3 di luar Negeri Dalam proses memenuhi persyaratan untuk mengikuti pendidikan S2/S3 di luar negeri. seorang PFA mungkin diwajibkan untuk mengikuti program diklat tertentu (misalnya Kursus Bahasa atau program “antara” yang kelulusannya merupakan persyaratan untuk dapat mengikuti pendidikan S2/S3). Dalam Surat Edaran tersebut ditegaskan Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 9 .04. dalam pengusulan calon peserta Diklat Penjenjangan Pengendali Teknis. terdapat perbedaan persepsi dan perlakuan dalam penilaian angka kredit. secara implisit terkandung makna bahwa Pimpinan Unit Organisasi. terlebih dahulu melakukan seleksi intern di lingkungannya sesuai dengan kebutuhan organisasi berdasarkan professional judgement. Pimpinan Unit Organisasi terlebih dahulu mempertimbangkan apakah calon peserta yang akan diusulkan tersebut dinilai cakap dan mampu untuk nantinya ditugaskan dalam peran Pengendali Teknis. sementara PFA berpendapat bahwa kegiatan tersebut dapat diberikan angka kredit tersendiri karena dilaksanakan sebelum memasuki pendidikan S2/S3 dimaksud. kemampuan.

misalnya kecakapan. persyaratan peserta Diklat Penjenjangan Peran (hal. 56-58) antara lain adalah terpenuhinya angka kredit yang dipersyaratkan dan diusulkan oleh Pimpinan unit kerja yang bersangkutan. menuntut untuk dapat mengikuti diklat secara otomatis. sepanjang memperoleh sertifikat mengikuti / lulus dan kegiatan tersebut dilakukan sebelum memasuki kegiatan pembelajaran dalam pendidikan S2/S3 tersebut. Apakah hal itu dibenarkan? Apakah tidak sebaiknya dipersyaratkan pula adanya rekomendasi atasan / pimpinan? Jawaban: Sesuai dengan Keputusan Kepala BPKP Nomor: 06. dapat diberikan angka kredit sub unsur “Mengikuti Diklat Kedinasan serta memperoleh STTPL”. Umumnya bila PFA telah memenuhi angka kredit dan DP3 baik. termasuk Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 10 . apakah dapat diikutsertakan diklat tanpa melihat faktor lainnya. Pertanyaan: Bagi PFA yang telah mempunyai angka kredit yang dipersyaratkan untuk mengikuti diklat penjenjangan dan DP3 tahun terakhir bernilai baik. kemampuan dll. sebelum mengikuti pendidikan S2/S3. berdasarkan waktu / jam pelatihan yang diikuti. Berdasarkan ketentuan tersebut. karena pada hakekatnya persyaratan tersebut mempunyai makna adanya rekomendasi/pertimbangan Pimpinan Unit Kerja terhadap PFA berdasarkan professional judgement. Persyaratan yang mewajibkan adanya usulan Pimpinan Unit Kerja merupakan mekanisme penyaringan dalam pengusulan diklat.04.00-847/K/1998 tentang Pola Pendidikan dan Pelatihan Auditor bagi Aparat Pengawasan Fungsional Pemerintah. permasalahan yang berkenaan dengan diklat beserta solusinya diuraikan dalam tanya jawab berikut: 3. Secara rinci. terpenuhinya angka kredit merupakan salah satu persyaratan pengusulan Diklat Penjenjangan Peran.Pusat Pembinaan JFA BPKP bahwa terhadap kegiatan persiapan (misalnya Kursus Bahasa) atau keharusan mengikuti program “antara”.

III/d) yang diangkat kembali ke jabatan fungsional auditor dengan angka kredit 400. Jawaban: Dalam Surat Edaran Kepala Pusbin JFA No. dapat diberikan angka kredit kegiatan “Mengikuti Diklat Kedinasan serta memperoleh STTPL” berdasarkan waktu/jam pelatihan yang diikuti sepanjang memperoleh sertifikat/lulus dan kegiatan tersebut dilakukan sebelum dimaksud. Yang bersangkutan belum pernah menjabat sebagai PFA sehingga belum mempunyai sertifikat JFA. SE-91/ JF. Pertanyaan: Seorang PFA mengikuti pendidikan bahasa / kursus bahasa dalam rangka persiapan tugas belajar ke luar negeri (yang bersangkutan mengikuti 4 kali pendidikan dan memperoleh 4 sertifikat kelulusan). Sampai dengan saat ini yang bersangkutan belum bisa diikutkan Diklat Penjenjangan Pengendali Teknis karena yang bersangkutan belum diberi kesempatan untuk mengikuti UBM memasuki kegiatan pembelajaran dalam pendidikan S2/S3 Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 11 . 5. dan pertimbangan lainnya. 4. kemampuan. Apakah kegiatan tersebut diberikan angka kredit tersendiri sebagai unsur diklat atau merupakan satu kesatuan dengan unsur pendidikan S2 yang diikuti? Menurut PFA yang bersangkutan. Pertanyaan: Terdapat seorang mantan pejabat struktural eselon IV (Gol. dengan adanya bukti sertifikat kelulusan. Kursus Bahasa).1/2003 tanggal 31 Januari 2003 tentang Penegasan Hasil Rakor Kepegawaian dan JFA Tahun 2002. Terhadap kegiatan persiapan dan keikutsertaaan dalam program antara (mis.Pusat Pembinaan JFA BPKP dalam hal ini penilaian terhadap unsur kecakapan. maka kegiatan tersebut seharusnya dapat dinilai sebagai unsur pendidikan. pada point 1 telah ditegaskan mengenai “Angka Kredit bagi PFA yang Ditugaskan Mengikuti Pendidikan di Luar Negeri“.

S. Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 12 . dan jika lulus dapat segera dipakai untuk kenaikan pangkat. namun sampai dengan saat ini yang bersangkutan belum diberi kesempatan untuk mengikuti Diklat Penjenjangan Pengendali Teknis. supaya persiapan untuk ujian dapat maksimal. Diusulkan agar jarak waktu tersebut tidak terlalu lama. Terhadap PFA yang belum memperoleh kesempatan mengikuti diklat tersebut akan diprioritaskan dalam penetapan sebagai peserta diklat oleh Biro Kepegawaian dan Organisasi. sampai saat ini belum seluruh calon peserta diklat yang diusulkan oleh unit kerja dapat diakomodasi dalam diklat yang diselenggarakan. terdapat pula seorang mantan pejabat struktural eselon IV (Gol. Namun demikian.736/SU. Seyogyanya. dari ujian dengan pengumuman hasil ujian.Pusat Pembinaan JFA BPKP Disamping itu. III/d) yang diangkat kembali ke Jabatan Fungsional Auditor dengan angka kredit 334. dan dari pengumuman hasil ujian dengan diterbitnya sertifikat atau diterimanya sertifikat oleh PFA. Hal ini bertentangan dengan Surat SESMA No. bagi mantan pejabat struktural yang diangkat kembali ke JFA mendapat prioritas untuk dapat mengikuti Diklat Sertifikasi JFA Jawaban: Mengingat adanya keterbatasan dana dalam penyelenggaraan diklat. 02/2003 tanggal 30 April 2003 tentang Penetapan Peserta Diklat Penjenjangan Peran Auditor Pengendali Teknis pada butir catatan yang menyebutkan bahwa peserta diklat yang berasal dari eks struktural digunakan angka kredit saat inpassing/ pengangkatan kembali sekurang – kurangnya 300. Pertanyaan Terlalu lama waktunya antara selesainya diklat sertifikasi dengan waktu ujian. dalam Kalender Diklat 2003 masih terdapat penyelenggaraan Diklat Matrikulasi Ketua Tim dan Diklat Pengendali Teknis. 6.

19 Tahun 1996 tentang Jabatan Fungsional Auditor dan Angka Kreditnya. Hal ini dilakukan tumpang penugasan Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 13 . Pusbin JFA akan senantiasa bekerja sama dengan Biro Kepegawaian dan Organisasi untuk mengatasi masalah tersebut. Jarak waktu antara ujian. bukan untuk setiap kelas/ angkatan. namun dalam hal frekuensi diklat cukup banyak. C. Secara garis besar. yang merupakan bagian dari Unsur Utama Kegiatan PFA sebagaimana tercantum dalam huruf B Lampiran 1 A dan 1 B Keputusan MENPAN No. dan penerbitan sertifikat dari waktu ke waktu selalu diupayakan percepatan untuk dapat memenuhi persyaratan kenaikan pangkat. Apabila sertifikat kelulusan belum diterima pada saat pemrosesan dokumen kenaikan pangkat. hal tersebut tidak mungkin dilakukan. PENGAWASAN Permasalahan yang dibahas dalam kelompok ini berkenaan dengan kegiatan pada unsur Pengawasan. Untuk itu perlu diupayakan penyelenggaraan diklat dapat dilaksanakan berdekatan dengan waktu penyelenggaraan ujian.Pusat Pembinaan JFA BPKP Jawaban Jarak waktu antara diklat dan ujian terjadi karena ujian dilakukan secara nasional sesuai dengan kalender diklat (dua kali dalam satu tahun). permasalahan yang telah dibahas dalam Forum Komunikasi JFA dan Kepegawaian Tahun 2003 mengenai pengawasan antara lain adalah sebagai berikut: Hari Pengawasan (HP) Maksimal Sejak Forum Komunikasi (Rapat Koordinasi) Tahun 2002. pengumuman. disarankan agar proses pengusulan kenaikan pangkat tetap dilanjutkan. unit-unit kerja di lingkungan mengingat BPKP sering menyepakati terjadinya diperlukannya tindih suatu waktu batasan maksimal yang penggunaan HP dalam perhitungan angka kredit PFA.

sebagaimana diatur dalam Surat Edaran Kepala Pusbin JFA Nomor: SE-06. Perencanaan waktu penugasan bagi Pengendali Teknis dan Pengendali Mutu pada dasarnya merupakan bagian dari perencanaan penugasan Tim Mandiri secara keseluruhan. Dalam Surat Edaran Kepala Pusbin JFA Nomor SE-91/JF. Uraian kesepakatan secara rinci dapat dilihat dalam jawaban pertanyaan No. Dengan demikian. anggaran waktu penugasan Pengendali Teknis dan Pengendali Mutu harus juga dituangkan dalam formulir KM3 (Anggaran Waktu) dan KM4 (Kartu Penugasan) sesuai dengan kegiatan yang direncanakan akan dilaksanakan.1/2003 tanggal 14 Juli 2003 perihal Penegasan Hasil Forum Komunikasi JFA dan Kepegawaian Tahun 2003.Pusat Pembinaan JFA BPKP menyebabkan jumlah HP secara keseluruhan melebihi batas kewajaran. 7. Kesepakatan penetapan HP Maksimal sejumlah 237 hari dan 289 hari per tahun (untuk unit kerja dengan 5 dan 6 hari kerja per minggu) yang ditetapkan dalam Forum (Rakor) tahun 2002. pengaturan mengenai pembatasan HP Pengendali Teknis dan Pengendali Mutu. sebagaimana diuraikan di atas.1/2003 tanggal 31 Januari 2003 perihal Penegasan Hasil Rakor Kepegawaian dan JFA Tahun 2002 telah dinyatakan bahwa formulir KM3 dan KM4 hendaknya dimodifikasi sehingga Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 14 . Tumpang tindih kegiatan penugasan tersebut umumnya menjadi permasalahan karena kurang cermatnya perencanaan waktu penugasan. sehingga kesepakatan tersebut kemudian diperbaharui dalam Forum Tahun 2003. atau karena adanya penugasan baru yang harus segera diselesaikan bersamaan dengan penugasan yang ada (crash program).00-27/PJFA/2002 tanggal 18 Januari 2002 telah dinyatakan tidak berlaku lagi. sebagaimana juga telah dituangkan dalam Surat Edaran Kepala Pusbin JFA No. Kewajaran HP bagi Pengendali Teknis dan Pengendali Mutu Sejalan dengan penetapan HP Maksimal dalam Forum (Rakor) Tahun 2002.04. SE-769/JF. ternyata pada pelaksanaannya masih menimbulkan beberapa pertanyaan dan permasalahan.

surat tugas (ST) ditandatangani oleh minimal pejabat eselon II. untuk kepentingan penilaian angka kredit. Pada pelaksanaannya. perpanjangan Surat Tugas yang bersifat ekstern hendaknya dilakukan dengan Surat Tugas yang ditandatangani oleh minimal pejabat eselon II. Dengan dicantumkannya anggaran waktu penugasan Pengendali Teknis dan Pengendali Mutu dalam KM3 dan KM4. agar dimintakan pengesahan dari Kepala Perwakilan serta didukung dengan formulir anggaran waktu (KM3).00-1485/DI/1999. Ketua Tim. kembali ditegaskan kepada seluruh unit kerja di lingkungan BPKP. maka batasan HP Maksimal sebagaimana diuraikan di atas juga berlaku bagi Pengendali Teknis dan Pengendali Mutu.00-1485/DI/1999 tanggal 23 Desember 1999 perihal Pelaksanaan Jabatan Fungsional Auditor di Lingkungan BPKP. untuk penugasan yang bersifat ekstern. sedangkan untuk penugasan intern dapat ditandatangani oleh minimal pejabat eselon III. terdapat beberapa perpanjangan Surat Tugas untuk penugasan yang bersifat ekstern yang dituangkan dalam bentuk Nota / Memo Dinas yang ditandatangani oleh Kepala Bidang (Eselon III).04.04. Dalam hal perpanjangan ST untuk penugasan ekstern telah dilakukan dengan Memo Dinas atau Nota Dinas dari Kabid. HP perpanjangan dapat saja melebihi ST awal sepanjang didasarkan atas pertimbangan profesional. Dalam Forum Komunikasi Tahun 2003.Pusat Pembinaan JFA BPKP dapat terlihat jumlah HP yang direncanakan untuk setiap peran PFA (Pengendali Mutu. Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 15 . dan Anggota Tim). bahwa sesuai SE-06. Perpanjangan ST hendaknya didukung juga dengan formulir Anggaran Waktu (KM3) yang menggambarkan perencanaan kegiatan yang akan dilakukan dalam masa perpanjangan ST tersebut. Pengendali Teknis. Surat Tugas atau Nota Dinas Perpanjangan Penugasan Berdasarkan butir VIII Surat Edaran Deputi Bidang Administrasi Nomor SE06.

00-65/PJFA. dengan Surat maupun Surat Edaran sebagai berikut: 1. Surat Nomor S-1086/JF. maka telah disusun kesepadanan antara kegiatan baru tersebut dengan kegiatan sesuai Keputusan MENPAN Nomor 19 Tahun 1996.1/2002 tanggal 17 Desember 2002 perihal Kesepadanan Kegiatan Di luar Kegiatan Yang Diberikan Angka Kredit Berdasarkan Keputusan MENPAN No. pengelompokan kegiatan pengawasan ke dalam 44 butir kegiatan tersebut dirasakan tidak memadai lagi. Mengingat proses revisi Keputusan MENPAN Nomor 19 Tahun 1996 memerlukan kajian yang komprehensif. Surat Edaran Nomor SE-1054/JF. Dengan adanya perkembangan kegiatan di lingkungan APIP.1/2002 tanggal 31 Desember 2002 perihal Kesepadanan Kegiatan Di lingkungan Pusdiklatwas BPKP Dengan Kegiatan Yang Diberikan Angka Kredit Berdasarkan Keputusan MENPAN Nomor 19/1996 Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 16 . 19/1996 Di lingkungan BPKP. sedangkan penilaian angka kredit kegiatan-kegiatan baru di luar 44 butir kegiatan tersebut perlu segera direalisasikan. Sosial. dan Keamanan BPKP 4. Pusbin JFA telah menerbitkan kesepadanan kegiatan kegiatan yang belum tercantum dalam 44 butir kegiatan pengawasan. Surat Nomor S-06. Surat Nomor S-1090/JF. Pusbin JFA bersama-sama dengan Unit Kerja terkait di lingkungan APIP selalu mengupayakan penetapan kesepadanan atas kegiatan baru di luar 44 butir kegiatan pengawasan.1/2002 tanggal 31 Desember 2002 perihal Kesepadanan Kegiatan Di luar Kegiatan Yang Diberikan Angka Kredit Berdasarkan Keputusan MENPAN Nomor 19/1996 Di lingkungan Deputi Pengawasan Instansi Pemerintah Bidang Politik.04. sehingga diperlukan adanya revisi atas Keputusan MENPAN tersebut di atas. Sampai saat ini. 3.1/2002 tanggal 21 Pebruari 2002 perihal Besaran Angka Kredit Kegiatan Yang Berkaitan Dengan AKIP 2.Pusat Pembinaan JFA BPKP Kesepadanan kegiatan Dalam Keputusan MENPAN Nomor 19 Tahun 1996 tercantum adanya 44 butir kegiatan pengawasan Auditor yang dapat diberikan angka kredit.

seperti kegiatan Policy Evaluation. Pengendali Teknis. Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 17 . evaluasi SAKD. masih terdapat beberapa kegiatan. maka penilaian angka kredit diberikan berdasarkan peran yang seharusnya sesuai dengan jabatan dan sertifikat yang dimiliki. Pengendali Teknis. dan Anggota Tim.Pusat Pembinaan JFA BPKP 5. Namun demikian. Ketua Tim. dan GCG yang saat ini masih dimintakan masukan dari Deputi teknis terkait dalam rangka penyusunan kesepadanan. Peran dalam Penugasan Kegiatan Pengawasan Sebagaimana diketahui. dan Anggota Tim. Surat Nomor S-1091/JF. terutama di lingkungan BPKP. apabila dalam penugasan pengawasan tidak secara jelas mencantumkan peran Auditor yang bersangkutan. susunan tim dalam penugasan kegiatan Sosialisasi dan Asistensi umumnya tidak secara lengkap mencantumkan adanya peran Pengendali Mutu. Sesuai hasil pembahasan dalam Forum Komunikasi. Namun. sejalan dengan perkembangan tugas pengawasan. dalam ketentuan JFA. secara konseptual.1/2002 tanggal 31 Desember 2002 perihal Kesepadanan Kegiatan Pengawasan Di lingkungan Lembaga Informasi Nasional RI Dengan Kegiatan Yang Diberikan Angka Kredit Berdasarkan Keputusan MENPAN Nomor 19/1996 Dengan telah tersusunnya kesepadanan dengan Surat maupun Surat Edaran tersebut di atas. penugasan tidak selalu dapat dilaksanakan sesuai format Tim Mandiri sebagaimana dimaksud di atas. Disamping itu. Sebagai contoh. sebagian besar kegiatan-kegiatan yang belum terangkum dalam Keputusan MENPAN Nomor 19/1996 telah ditetapkan kesepadanannya. penugasan PFA dilaksanakan dalam suatu Tim Mandiri yang terdiri dari Pengendali Mutu. Ketua Tim. Pusbin JFA masih selalu menghimbau unit-unit kerja pengawasan di lingkungan APIP untuk segera mengusulkan kesepadanan atas kegiatankegiatan di lingkungan masing-masing yang dipandang belum tercakup dalam Keputusan MENPAN Nomor 19/1996.

Apakah sisa cuti tersebut bisa ditambahkan? 2) Sebagai Tim Penilai Angka Kredit harus ada ketentuan yang tegas sebagai dasar penilaian. permasalahan yang berkenaan dengan pengawasan dan solusinya diuraikan dalam tanya jawab berikut: 7. sebagaimana tertuang dalam Surat Edaran Kepala Pusbin JFA No. dalam Rapat Koordinasi Kepegawaian dan JFA Tahun 2002. hari libur. hari libur dan lain sebagainya. karena PFA cenderung mensiasati penuh dengan menggunakan HP maksimal. seminarseminar. Pertanyaan Dalam rangka menghindari adanya pengajuan angka kredit dengan jumlah Hari Pengawasan (HP) yang melebihi kewajaran. Permasalahan Harus ada ketentuan yang tegas (misalnya surat edaran) yang berkaitan dengan: 1) Penggunaan HP maksimal per semester 119.Pusat Pembinaan JFA BPKP Secara rinci. telah memperhitungkan cuti. PKS-PKS. SE-91/JF. telah disepakati bahwa HP maksimal yang dapat diberikan angka kredit adalah 237 hari per tahun (bagi unit kerja dengan 5 hari kerja per minggu) dan 289 hari per tahun (bagi unit kerja dengan 6 hari kerja per minggu). Seandainya seorang PFA tidak mengambil cuti tahunan. b. tetapi dengan tidak menutup kemungkinan perlakuan khusus untuk orang Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 18 . bagaimana dengan HP maksimal bisa ditambahkan (119 + 12) atau mengambil cuti tidak penuh sebagian. sehingga HP bagi PFA tersedia maksimal setelah diperhitungkan cuti. antara lain: a. Permasalahan Pembatasan HP dalam satu tahun sebaiknya digunakan sebagai standar. diklat-diklat dan workshop dan pelatihan-pelatihan serta lainnya. Dalam pelaksanaan kesepakatan tersebut.1/2003 tanggal 31 Januari 2003. ternyata masih terdapat beberapa permasalahan yang diajukan oleh unit-unit kerja.

dan menjadi tanggung jawab kepala unit. mengajar. Akibatnya pada suatu saat pekerjaan menumpuk/tumpang tindih karena semua harus dilayani. Permasalahan Pada saat ini sebagian aktivitas pengawasan BPKP sangat dipengaruhi oleh pihak luar. Apakah hal tersebut dapat diterima dan dibenarkan? d. karena faktanya ada. misalnya kegiatan di Bidang Akuntabilitas Pemda. Permasalahan Dalam Surat Edaran Kepala Pusbin JFA No. sehingga mengakibatkan jumlah HP melebihi HP maksimal (237 HP dalam 1 tahun) dapat diakui angka kreditnya? 2) Bagaimana perlakuan HP maksimal (237 dalam 1 tahun) kepada PFA yang tidak mengambil dan atau tidak mengambil seluruh cutinya? e. Permasalahan 1) Apakah Surat Tugas baru yang diberikan kepada PFA setelah menyelesaikan Surat Tugas sebelumnya secara lebih cepat dari Hari Pemeriksaan (HP) yang direncanakan. namun disaat Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 19 . Yang masih menjadi permasalahan apakah jumlah HP tersebut semata – mata HP untuk pemeriksaan atau termasuk hari yang digunakan untuk kegiatan lain seperti PKS.Pusat Pembinaan JFA BPKP – orang yang “exceptional”. (PFA ditempat kami bersikeras bahwa HP tersebut tidak termasuk hari yang digunakan untuk kegiatan lainnya). di saat yang lain kurang atau tidak ada permintaan. c.1/2003 tanggal 31 Januari 2003 butir 3 Hari Pengawasan (HP) maksimal dalam satu tahun sebesar 237 hari/ tahun untuk unit kerja dengan 5 hari kerja/ minggu atau 289 hari/ tahun untuk unit kerja dengan 6 hari kerja/ minggu. diklat dll. sehingga HP untuk pengawasan/ pemeriksaan berkurang sebanyak hari yang digunakan untuk kegiatan lain tersebut. pada suatu saat permintaan untuk memberikan Asistensi AKIP/LAKIP datang bersamaan dari beberapa Kabupaten/Kota. SE – 91/JF.

Pusat Pembinaan JFA BPKP yang lain menganggur.1/2002 perihal Penegasan Hasil Rakor Kepegawaian dan JFA tahun 2002 angka 3 mengenai Hari Pengawasan (HP) maksimal dalam satu tahun ditentukan bahwa HP maksimal 237 hari untuk unit kerja dengan 5 hari kerja per minggu dan 289 hari kerja untuk unit kerja dengan 6 hari kerja per minggu. Misalnya 2 hari kemudian diberi tugas. Apakah HP yang tumpang tindih dapat diperkenankan dan memperoleh angka kredit? f. sehingga PFA dapat menyelesaikan lebih cepat 6 hari. maka tim dapat menyelesaikan tugas tersebut selama 14 hari.50 jam per hari) memerlukan waktu 20 hari. maka maksimal HP yang diperkenankan pada semester tersebut belum diatur dengan jelas. Permasalahan 1) Apakah HP maksimal sebesar 237 hari per tahun (untuk 5 hari kerja / minggu) hanya untuk unsur pengawasan atau mencakup semua unsur kegiatan angka kredit? 2) Mengingat periode penilaian angka kredit adalah per semester. HP untuk suatu obrik bila dikerjakan secara normal (7. Permasalahan 1) Menurut Surat Edaran Kepala Pusbin JFA No. dan dapat menyelesaikan tugas lebih cepat dari dead line. namun karena dikerjakan 11 jm per hari. apakah setengah 237 hati atau bebas saja asal dalam setahunnya tidak boleh melebihi 237 hari? 3) Apakah penetapan maksimal 237 hari per tahun tersebut mengikuti tahun kalender atau bebas saja asalkan satu tahun (dua semester)? g. 91/JF. Misalnya. demikian seterusnya sehingga secara teoritis dalam satu tahun PFA tersebut dapat ditugaskan lebih dari 237 hari kerja karena PFA Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 20 . Permasalahannya bahwa banyaknya HP per tahun dibatasi 237/289 hari kerja tidak sejalan dengan filosofi sistem angka kredit yang memungkinkan PFA yg memang mempunyai kemampuan lebih diberikan penghargaan lebih.

dengan demikian apakah kerja PFA selama 12 HP dan tidak mengambil cuti tersebut tidak dihargai? 4) Hal lain yang terjadi adalah adanya PFA yang beberapa kali diperintahkan untuk melaksanakan tugas pada hari Sabtu dan Minggu. namun berdasarkan ketentuan. beberapa PFA sering diberi tugas yang overlap sehingga dikerjakan pada malam hari dalam hal ada keperluan mendadak. Hal ini tidak sesuai dengan norma hasil dalam penghitungan angka kredit. apakah boleh menolak tugas tanpa sanksi bila diberi tugas pada bulan Nopember dan Desember? 3) Jumlah HP 237 hari per tahun tersebut sudah diperhitungkan dengan cuti pegawai selama 12 hari. Kalau ada pembatasan HP maksimum per tahun. Permasalahan Terdapat PFA yang melaksanakan kegiatan pengawasan melampaui 237 hari dalam satu tahun. 2) Pertanyaan lebih lanjut. h.Pusat Pembinaan JFA BPKP tersebut bekerja keras dan mampu untuk melaksanakan tugas tersebut. kalau PFA tersebut pada bulan Oktober perolehan angka kreditnya telah mencapai 237 hari. Kalau kelebihan HP tersebut tidak diberikan angka kredit berarti kemampuan dan rajinnya PFA tersebut dihargai. Dalam hal Perwakilan telah membuat perencanaan yang memadai (misal dalam bentuk KM1 dan KM2). hari kerja yang dapat dihitung angka kreditnya adalah 237 hari. apakah hal tersebut tidak layak diberikan angka kredit karena adanya pembatasan HP maksimum per tahun? 5) Selain itu. Dalam kenyataannya banyak pegawai yang tidak sempat cuti karena dibebani kerja yang banyak. tugas semacam itu berarti tidak dihargai karena tidak diberikan angka kreditnya. seorang PFA yang direncanakan bekerja dengan anggaran waktu yang telah maksimal 237 hari akan menutup minat PFA tersebut untuk menambah penugasan dan bekerja melampaui anggaran Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 sama sekali tidak 21 .

SE-769/JF.1/2003 tanggal 14 Juli 2003. seorang PFA mendapat penugasan yang melebihi 237 HP setahun (HP maksimal). padahal semua penugasan tersebut resmi disetujui oleh Pimpinan Unit Kerja.Pusat Pembinaan JFA BPKP waktu yang direncanakan karena jam kerja yang dijalaninya tidak dapat diperhitungkan angka kreditnya. Mengapa angka kredit yang diusulkan dalam DUPAK dicoret oleh Tim Penilai Angka kredit? Jawaban Dalam Forum Komunikasi JFA dan Kepegawaian Tahun 2003. Permasalahan Dalam penugasan selama tahun 2002. sebagai berikut: a. Kegiatan-kegiatan pengawasan yang menggunakan HP dan merupakan unsur dalam perhitungan HP Maksimal adalah : o Mengikuti Pendidikan dan Pelatihan o Pelatihan di Kantor Sendiri o Semua kegiatan pengawasan (44 butir kegiatan dan kesepadanannya) o Berpartisipasi secara aktif dalam pemaparan (Ekspose) o Melakukan studi banding di bidang pengawasan o Mengajar/melatih pada pendidikan dan pelatihan (Diklat) pegawai o Mengikuti konfrensi/seminar/lokakarya Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 22 . b. seluruh permasalahan mengenai HP Maksimal telah dibahas secara khusus oleh Tim Ad Hoc dan telah dihasilkan kesepakatan baru. i. sebagaimana tertuang dalam Surat Edaran Kepala Pusbin JFA No. Definisi HP Maksimal HP (Hari Pengawasan) Maksimal adalah jumlah batas maksimal penggunaan hari kerja untuk kegiatan pengawasan yang dapat diberikan angka kredit dalam satu tahun.

d Desember). Kegiatan-kegiatan pengawasan yang tidak menggunakan HP dan tidak merupakan unsur dalam perhitungan HP Maksimal adalah : o Mengikuti pendidikan sekolah dan mencapai gelar ijazah o Membuat karya tulis/karya ilmiah di bidang pengawasan o Menerjemahkan/menyadur buku dan bahan-bahan lain di bidang pengawasan o Berpartisipasi dalam penerbitan buku di bidang pengawasan o Menjadi anggota organisasi profesi o Menjadi anggota Tim Penilai JFA o Memperoleh penghargaan/tanda jasa o Memperoleh gelar kesarjanaan lainnya o Menjadi anggota kepanitiaan intra atau antar instansi o Memperoleh sertifikat Brevet Pajak. dengan demikian PFA dapat mengajukan angka kredit untuk periode penilaian 1 Januari s. adalah jumlah hari kerja efektif tersedia per tahun.d 30 Juni dengan jumlah HP yang lebih dari separuh HP Maksimal setahun. d.Pusat Pembinaan JFA BPKP o Kegiatan penilaian angka kredit oleh Tim Penilai Angka Kredit sesuai dengan surat tugas (Audit Buril) c. yaitu sejumlah 237 HP (untuk unit kerja dengan lima hari kerja/minggu) dan 289 HP (untuk unit kerja dengan enam hari kerja/minggu ditambah sisa cuti yang tidak digunakan. e. Penjelasan lebih lanjut mengenai perhitungan HP Maksimal adalah sebagai berikut: 1) Penetapan HP Maksimal 237 hari atau 289 hari adalah untuk masa 1 (satu) tahun takwim (Januari s. CFE. sepanjang jumlah HP setahun tidak melebihi jumlah HP maksimal setahun yang telah disepakati. Jumlah batas maksimal penggunaan hari kerja untuk kegiatan pengawasan yang dapat diberikan angka kredit dalam satu tahun. Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 23 . UBM yang diperoleh tanpa diklat atau diklat di luar jam kantor.

maka HP Maksimal tahun 2003 bagi PFA tersebut adalah sejumlah 177 hari (237 hari dikurangi 60 hari cuti besar). 5) Dalam hal PFA diaktifkan kembali dalam tugas-tugas pengawasan pada bulan-bulan tertentu dalam tahun berjalan (bukan pada awal Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 24 . dalam tahun 2003 menggunakan cuti tahunan selama 4 hari (tanpa memandang apakah cuti tersebut menggunakan hak cuti tahun berjalan atau tahun sebelumnya). Misalnya : Seorang PFA. yang bertugas pada unit kerja dengan 5 hari kerja per minggu. dalam tahun 2003 menggunakan cuti tahunan selama 15 hari. maka HP Maksimal bagi PFA tersebut dikurangi sejumlah kelebihan penggunaan cuti tahunan dimaksud. maka jumlah HP Maksimal tahun 2003 bagi PFA tersebut adalah sejumlah 245 hari (237 hari ditambah 8 hari hak cuti tahunan yang tidak digunakan) 3) Sebaliknya. maka jumlah HP Maksimal tahun 2003 bagi PFA tersebut adalah sejumlah 234 hari (237 hari dikurangi 3 hari penggunaan cuti yang melebihi dari 12 hari cuti yang tersedia dalam tahun berjalan) 4) Cuti lainnya yang diambil harus dikurangkan dari jumlah HP maksimal. Misalnya : Seorang PFA. yang bertugas pada unit kerja dengan 5 hari kerja per minggu.Pusat Pembinaan JFA BPKP 2) Apabila PFA tidak menggunakan cuti tahunan maka HP Maksimal 237 hari atau 289 hari ditambah dengan jumlah cuti tahunan pada tahun tersebut yang tidak diambil (dengan batasan jumlah cuti 12 hari setahun dikurangi cuti wajib sesuai ketentuan yang berlaku) Misalnya : Seorang PFA yang bertugas pada unit kerja dengan 5 hari kerja per minggu. apabila PFA menggunakan hak cuti tahunan lebih dari 12 (dua belas) hari dalam setahun (karena adanya hak cuti tahun sebelumnya). dalam tahun 2003 menggunakan cuti besar selama 60 hari kerja.

diharapkan tidak timbul lagi adanya wacana “penolakan” atau “penghindaran” PFA terhadap penugasan yang diberikan. dapat dikenakan hukuman disiplin sesuai ketentuan yang berlaku. Ketentuan mengenai HP Maksimal sebagaimana diuraikan diatas diberlakukan sejak 1 Januari 2003. Pengendali Teknis. g. Dengan adanya pengakuan angka kredit atas penugasan dengan HP tumpang tindih. sebagaimana dinyatakan dalam huruf g di atas. diaktifkan kembali.Pusat Pembinaan JFA BPKP tahun). h. Hal ini berlaku untuk seluruh peran auditor. maka berkas cuti tahun berjalan agar dilampirkan dalam berkas DUPAK. Misalnya : Seorang PFA yang telah menyelesaikan tugas belajar. Ketua Tim. i. yang karena kondisi tertentu. 8. Untuk memudahkan perhitungan HP Maksimal. Pertanyaan: Bagaimana perlakuan pemberian angka kredit terhadap kegiatan seminar yang dilaksanakan pada hari Sabtu (libur) ? Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 25 . per 1 September 2003. maka HP Maksimal bagi PFA tersebut adalah sejumlah hari kerja yang tersedia sejak pengaktifannya sampai dengan akhir tahun dimaksud. diberikan pada waktu yang bersamaan untuk beberapa penugasan (HP tumpang tindih) dapat diberikan angka kredit untuk seluruh penugasan sepanjang tidak melebihi HP maksimal setahun. dan Pengendali Mutu. dan didukung dengan KM3 dan KM4 yang menunjukkan anggaran waktu kegiatan Anggota Tim. Atas penolakan atau penghindaran PFA terhadap penugasan yang diberikan. pada unit kerja dengan 5 hari kerja per minggu. Pemberian penugasan. maka HP Maksimal tahun 2003 bagi PFA tersebut adalah sejumlah 84 hari (hari kerja tersedia sejak 1 September sampai dengan 31 Desember 2003) f.

Jawaban: Sebagaimana telah diuraikan dalam jawaban pertanyaan nomor 7 di atas. apakah dapat ditetapkan suatu standar HP untuk penyusunan pedoman yang dapat dinilai angka kreditnya. Atasan langsung PFA dalam penyusunan pedoman tersebut bertanggung jawab terhadap kewajaran HP masing-masing PFA. terhadap kegiatan seminar yang diikuti/dilaksanakan PFA pada hari libur (Sabtu. Minggu. Pertanyaan: Untuk keseragaman penilaian angka kredit. 9. dimana hari Sabtu tetap masuk. atau hari libur lainnya) dapat diakui angka kreditnya sepanjang tidak melebihi HP Maksimal yang telah disepakati. 10. Namun demikian. Pertanyaan: Diklat selama ini kadang-kadang dilaksanakan 6 hari dalam seminggu. Sebagaimana diketahui. dalam jumlah HP maksimal sebesar 237 HP setahun tidak diperhitungkan hari Sabtu dan Minggu.Pusat Pembinaan JFA BPKP Jawaban: Sesuai kesepakatan Forum Komunikasi JFA dan Kepegawaian Tahun 2003. namun dalam penilaian angka kreditnya. Jawaban: Jumlah HP yang direncanakan untuk penyusunan berbagai pedoman sangat bervariatif tergantung dari jenis dan bobot pedoman yang akan disusun. Hal tersebut menimbulkan kerugian bagi perhitungan angka kredit PFA. unit kerja dapat mengajukan hasil kajian apabila dipandang terhadap penyusunan pedoman dapat ditetapkan suatu standarisasi HP (waktu yang dibutuhkan untuk penyusunan pedoman) Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 26 . diklat yang diikuti PFA pada hari Sabtu dapat diakui angka kreditnya sepanjang tidak melebihi HP Maksimal yang telah disepakati. jumlah hari diklat tersebut langsung dikurangkan dari HP maksimal.

12. Jumlah HP maksimal bagi Pengendali Teknis dan Pengendali Mutu tetap mengacu pada kesepakatan HP maksimal per tahun. para Kepala Bidang dalam membuat Memo Penugasan Perpanjangan Surat Tugas kadang-kadang melebihi jumlah ST awal.Pusat Pembinaan JFA BPKP 11. Namun demikian. telah disepakati bahwa HP Pengendali Teknis direncanakan dalam KM-3 (Formulir Anggaran Waktu Penugasan) dengan jumlah hari yang wajar. Jawaban: HP Pengendali Teknis dan Pengendali Mutu harus direncanakan sebelum penugasan dan dituangkan dalam formulir anggaran waktu (KM3) sesuai dengan rincian kegiatan yang akan dilakukan. Disamping itu. Kewajaran HP ditentukan oleh waktu yang dibutuhkan sesuai rencana pelaksanaan kegiatan yang disusun. perpanjangan Surat Tugas berdasarkan pada Memo Kabid tersebut bertentangan dengan SE-1485 yang menyatakan ST Perpanjangan waktu ke pihak eksternal ditandatangani oleh pejabat minimal eselon II. Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 27 . apakah HP nya dapat melebihi jumlah HP dalam Surat Tugas? Pada kenyataannya. Untuk itu diperlukan modifikasi formulir KM3 sehingga dapat terlihat jumlah HP yang direncanakan untuk setiap peran PFA dalam penugasan. penilaian angka kredit atas perpanjangan ST berdasarkan memo Kabid tetap dilaksanakan sesuai keputusan rapat Tim Penilai tingkat perwakilan dengan asumsi bahwa Kabid yang lebih mengetahui realisasi atas surat tugas. Pertanyaan: Dalam hal perpanjangan Surat Tugas oleh Kepala Bidang (eselon III). karena diantara satu PFA dengan PFA yang lain tidak mempunyai persepsi yang sama. Dalam prakteknya tidak mudah menentukan hari yang wajar tersebut. Pertanyaan: Sesuai dengan hasil Rapat Koordinasi Kepegawaian dan JFA Tahun 2002.

agar dimintakan pengesahan dari Kepala Perwakilan dan didukung dengan formulir anggaran waktu (KM3). Dalam hal nota dinas tersebut bersifat perorangan maka perhitungan angka kredit didasarkan pada peran sesuai jabatan PFA yang bersangkutan. pertanyaan No. yang akan Perpanjangan ST hendaknya didukung juga dengan dalam masa perpanjangan ST tersebut. HP formulir Anggaran Waktu (KM3) yang menggambarkan perencanaan kegiatan dilakukan perpanjangan dapat saja melebihi ST awal sepanjang didasarkan atas pertimbangan profesional. Pertanyaan: Bagaimana perhitungan angka kredit untuk Surat Tugas / Nota Dinas Perorangan yg dikeluarkan oleh Kepala Perwakilan / Kepala Bidang untuk kegiatan intern? Jawaban: Perhitungan angka kredit terhadap nota dinas yang dikeluarkan oleh Kepala Perwakilan atau oleh Kepala Bidang diperlakukan sama seperti penugasan lainnya. 13. (Lihat juga Himpunan Tanya Jawab Tahun 2002.04.Pusat Pembinaan JFA BPKP Jawaban: Berdasarkan SE-06. sedangkan untuk penugasan intern dapat ditandatangani oleh minimal pejabat eselon III. pertanyaan No. 31 Hal 14). 19 Tahun 1996). Apabila penugasan tersebut tidak termasuk dalam 44 butir Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 28 .00-1485/DI/1999. yaitu didasarkan pada jumlah hari dan peran dalam nota dinas. pada butir VIII – Penugasan Pengawasan dan Penilaian Angka Kredit. 100 Hal 79 dan Himpunan Tanya Jawab Tahun 2001. untuk penugasan yang bersifat ekstern maka surat tugas (ST) ditandatangani oleh minimal pejabat eselon II. Dalam hal perpanjangan ST untuk penugasan ekstern telah dilakukan dengan Memo Dinas atau Nota Dinas dari Kabid. Dalam Nota Dinas hendaknya secara jelas menyebutkan jenis penugasan (salah satu dari 44 butir kegiatan pengawasan sesuai Keputusan MENPAN No.

Jalan keluar yang dilakukan adalah penyetaraan dengan kegiatan audit. perubahan paradigma tersebut belum terlihat dalam butir-butir kegiatan pengembangan profesi. Perolehan angka kredit atas kegiatan tersebut dapat disepadankan dengan 44 butir kegiatan pengawasan sebagaimana diatur dalam Keputusan Menpan No. Dalam pelaksanaannya selama ini. seperti pemberian jasa konsultasi. Pusbin JFA bersama-sama dengan Deputi terkait selalu mengupayakan membuat kesepadanan atas kegiatan baru di luar 44 butir kegiatan pengawasan. asistensi. dan evaluasi dalam lingkup LAKIP. 15. Lebih lanjut mengenai pengaturan kesepadanan atas kegiatan tersebut dapat dilihat pada S-06. terdapat beberapa kegiatan yang sudah tidak sesuai dengan pengelompokan kegiatan audit selama ini. Jawaban: Pemberian jasa konsultasi. 14. 19/1996.04. agar disepadankan dengan kegiatan yang paling mendekati. 19/1996.1/2002 tanggal 21 Pebruari 2002 perihal Besaran Angka Kredit Kegiatan Yang Berkaitan Dengan AKIP. evaluasi LAKIP. Pertanyaan: Melihat perkembangan jenis kegiatan BPKP.00-65/PJFA.1/2002 tanggal 17 Desember 2002 perihal Kesepadanan Kegiatan Di luar Kegiatan Yang Diberikan Angka Kredit Berdasarkan Keputusan MENPAN No. Pertanyaan : Visi BPKP sebagai katalisator pembaharuan manajemen pemerintahan melalui pengawasan yang profesional seharusnya diiringi dengan perubahan paradigma bagi kegiatan PFA. penyetaraan tersebut hanya baru dilakukan untuk kegiatan Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 29 . dan SE1054/JF.Pusat Pembinaan JFA BPKP kegiatan dimaksud. GCG. GCG dan SAKD merupakan pengembangan dari kegiatan pengawasan yang dilakukan oleh BPKP dan bukan merupakan kegiatan pengembangan profesi. Namun demikian. dan SAKD.

sehingga kegiatan Evaluasi LAKIP disepadankan dengan Audit Akuntabilitas. Agar tidak merugikan perolehan angka kredit terhadap PFA yang melakukan tugas-tugas pengawasan yang terus berkembang dan belum termasuk dalam 44 butir kegiatan pengawasan sebagaimana diatur dalam Kepmenpan No. Idealnya. 46 dan 47). Namun demikian. karena fokus perhatian saat ini lebih pada pengembangan substansi kegiatan. Jawaban: Dalam 44 butir kegiatan pengawasan yang dapat diberikan angka kredit pada dasarnya telah memperhitungkan segala kegiatan pengawasan yang ada (kegiatan audit dan non-audit) dan mengantisipasi pengembangan atau perluasan kegiatan pengawasan yang mungkin terjadi. Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 30 . Untuk setiap kegiatan baru. 19/1996. kesepadanan angka kredit difikirkan bersama dengan konseptor kegiatan baru dimaksud. penyusunan kesepadanan angka kredit seringkali kurang mendapat prioritas. Namun. Inovasi demikian nampaknya masih terus diperlukan di masa-masa mendatang. jenis kegiatan BPKP terus berkembang sejalan dengan kebutuhan stakeholders dan perkembangan auditan.Pusat Pembinaan JFA BPKP tertentu dan penyetaraan tersebut dilakukan setelah kegiatan yang dilakukan tersebut selesai. istilah yang digunakan dalam tabel angka kredit adalah “Melaksanakan Audit Akuntabilitas”. (Lihat juga Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2001 Hal 20 No. dengan mempertimbangkan kegiatan yang telah dilaksanakan dan kegiatan yang mungkin akan dilaksanakan sehubungan dengan tugas baru di bidang pengawasan. sementara ini diatur dalam kesepadanan. seperti evaluasi SAKD dan GCG selalu dimintakan masukan dari Deputi teknis terkait dalam rangka revisi ketentuan. Sebagai contoh kegiatan “sosialisasi” disepadankan dengan kegiatan “Melaksanakan Penyuluhan di bidang Pengawasan”. Untuk kegiatan Evaluasi LAKIP.

Telah diselenggarakan pertemuan antara Tim Penilai di lingkungan ketiga unit kerja tersebut bersama dengan Pusbin JFA untuk menyamakan persepsi penilaian angka kredit atas kegiatan dalam lingkup policy evaluation. 17. Deputi / Pejabat lainnya. belum dibuat angka kesepadanan terhadap kegiatan Policy Evaluation (PE) mulai dari tahap penyusunan proposal sampai dengan penerbitan laporan kegiatan. Pertanyaan Terdapat perbedaan perlakuan pemberian angka kredit bagi PFA yang ditugaskan sebagai Policy Evaluation antara Deputi Polsoskam. Kesepadanan terhadap kegiatan ini sangat diperlukan karena kegiatan policy evaluation merupakan pengembangan dari tugas pengawasan yang ada dan untuk menciptakan keseragaman perlakuan pada setiap unit kerja yang melaksanakan kegiatan policy evaluation tersebut. dan Perwakilan BPKP DKI Jakarta I. apakah dinilai sebagai unsur pengembangan profesi yang disepadankan dengan pembuatan karya ilmiah atau dinilai sebagai unsur pengawasan yang disepadankan dengan menyiapkan bahan untuk tujuan tertentu. sepanjang mengenai bidang pengawasan. Jawaban: Permasalahan ini telah disampaikan kepada Tim Policy Evaluation dari Deputi Polsoskam untuk dimintakan usulan kesepadanannya dan disepakati untuk segera diselesaikan. Deputi Akuntan Negara. Jawaban: Kegiatan membuat/menyiapkan bahan sambutan/pidato Kepala BPKP. Pertanyaan : Terhadap kegiatan membuat / menyiapkan bahan sambutan / pidato Kepala BPKP. Bagaimana jalan keluar yang harus ditempuh untuk mengatasi hal ini? Disamping itu. yang memakan waktu kurang lebih sembilan bulan. dapat disepadankan dengan kegiatan “Menyiapkan bahan untuk tujuan tertentu”.Pusat Pembinaan JFA BPKP 16. Hasil Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 31 . Deputi/Pejabat lainnya.

18. 21 Pebruari 2002. Pertanyaan: Ketentuan yang mengatur kesepadanan atas kegiatan baru. Pusbin JFA telah mempertimbangkan masukan-masukan dari unit kerja di lingkungan BPKP. sehingga tidak selalu diketahui PFA dan Instansi / Perwakilan.Pusat Pembinaan JFA BPKP kesepakatan mengenai penilaian terhadap kegiatan policy evaluation akan digunakan sebagai masukan penetapan kesepadanan kegiatan untuk diberlakukan pada semua unit kerja. Jawaban: Pelaksanaan Sosialisasi disepadankan dengan kegiatan “Melaksanakan Penyuluhan di Bidang Pengawasan”. sedangkan Bimbingan Teknis (Bimtek) disepadankan dengan kegiatan “Melaksanakan Asistensi dan Konsultasi di Bidang Pengawasan”. S-06. Apabila terdapat masukan baru. sedangkan pada kondisi di lapangan pelaksanaan Bimtek lebih sulit. Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 32 .00. terpisah dengan Keputusan Menpan Nomor 19/1996 tentang Jabatan Fungsional Auditor dan Angka Kreditnya dan penyebarannya terbatas. kegiatan Sosialisasi memperoleh angka kredit yang lebih besar dari Bimtek. Besaran angka kredit kegiatan melaksanakan penyuluhan memang sedikit lebih besar dari pada melaksanakan asistensi dan konsultasi. Pertanyaan: Menurut Surat Kepala Pusbin JFA No. akan dikonsultasikan kembali dengan Deputi Teknis terkait.04. namun dalam penetapan pengaturan kesepadanan. Pejabat yang berwenang menetapkan angka kredit dapat melakukan koreksi terhadap SK PAK yang telah diterbitkan dalam hal kesepakatan dalam pertemuan tersebut menyatakah hal yang berbeda dari yang telah diterapkan.65/PJFA/2002 tgl. 19.

Luas cakupan audit. Pada saat ini perhitungan angka kredit JFA dilakukan berdasarkan peran yang dilakukan dan jenis kegiatan pengawasan. sehingga seluruh ketentuan yang diterbitkan dapat mudah diperoleh dan diketahui oleh pihak-pihak yang berkepentingan . seperti ahli statistik dan ahli perpajakan. 20. Perlu diciptakan model penilaian angka kredit yang tidak hanya berdasarkan peran. diluar keahliannya sebagai auditor. Pada dasarnya semua surat yang terkait dengan kesepadanan maupun pengaturan umum pembinaan JFA telah didistribusikan ke seluruh unit kerja. Pertanyaan : Model penilaian angka kredit bagi PFA didasarkan pada pembagian peran dalam struktur penugasan. Keahlian tertentu tersebut bukan di luar keahlian sebagai Auditor namun melekat sebagai keahlian Auditor. namun belum terlihat adanya model penilaian yang didasarkan pada spesialisasi keahlian. namun mempertimbangkan pada hal-hal berikut : • • Spesialisasi keahlian tertentu. Model tersebut didasarkan Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 33 . antara audit yang yang memerlukan maksimalisasi keahlian sebagai auditor dengan audit yang hanya melengkapi Format yang telah ditetapkan (seperti audit IKMN) Jawaban: Usulan untuk membedakan perolehan angka kredit berdasarkan keahlian tertentu yang dimiliki. Saat ini Pusbin JFA sedang berupaya menyusun kumpulan ketentuan yang berkaitan dengan JFA untuk selanjutnya dibukukan (Kodifikasi Ketentuan).Pusat Pembinaan JFA BPKP Jawaban: Pengaturan kesepadanan yang dilakukan saat ini merupakan pengaturan transisi dan merupakan bahan revisi SK Menpan 19/1996. saat ini belum dapat dilaksanakan karena pada dasarnya setiap Auditor sudah seharusnya memiliki atau minimal mengenal keahlian yang sesuai dengan core business dari auditannya.

Perhitungan angka kredit didasarkan atas jabatan Auditor. (Lihat juga Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2001 Hal. Model-model tersebut sampai saat ini dinilai masih cukup memadai untuk pengukuran kinerja Auditor. bukan didasarkan pada kepangkatan. 108). b. Pengendali Teknis. Perhitungan angka kredit untuk penugasan yang tidak menyebutkan peran masing-masing Auditor adalah dihitung sesuai dengan peran yang seharusnya dilaksanakan berdasarkan sertifikasi yang dimiliki dan jabatan yang diduduki oleh PFA yang bersangkutan. Pertanyaan: a.Pusat Pembinaan JFA BPKP bahwa pada tiap tingkatan peran Auditor tercermin kewenangan. tetapi PFA tersebut masih golongan II/d dan SK III/a baru terbit per 1 Oktober 2002. Bagaimana menghitung besarnya angka kredit dan HP dimana dalam suatu penugasan tidak disebutkan peran masing-masing PFA (Pengendali Mutu. maka sejak 1 Juni 2002 (tmt kenaikan jabatan) perhitungan angka kredit yang bersangkutan dilakukan dengan menggunakan tarif kegiatan pada jabatan Auditor Pelaksana Lanjutan. Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 34 . profesionalisme. dan Anggota Tim) Jawaban: a. dan wawasan yang berbeda dan berjenjang. Bagaimana cara menentukan besarnya angka kredit yang bersangkutan periode Juli – Oktober 2002. apakah besarnya angka kredit Auditor Pelaksana (II/d) atau besarnya angka kredit Auditor Pelaksana Lanjutan (III/a) b. Ketua Tim. 44 pertanyaan No. Seorang PFA telah diangkat dalam jabatan Auditor Pelaksana Lanjutan per 1 Juni 2002 karena angka kreditnya telah sampai 100 untuk golongan III/a. 21. Dalam JFA dikenal pula adanya tugas limpah dalam pelaksanaan penugasan untuk mengakomodir kemampuan dan profesionalisme yang dimiliki oleh Auditor. tanggung jawab. tugas.

Pengusulan angka kreditnya harus didukung oleh KM3 dan KM4 yang menyebutkan proporsi HP masing-masing Auditor sesuai dengan peran dalam penugasannya. maka dibuat Nota Dinas oleh Pejabat BPKP terkait dengan menyebutkan jumlah HP. maka perhitungan angka kredit dilakukan dengan menggunakan tarif pada jabatan Auditor Ahli Madya dengan peran yang sesuai dengan jabatannya. Dalam hal penugasan dari pihak ketiga tersebut tidak menyebutkan jangka waktu penugasan. dalam Forkom 2003 disepakati bahwa angka kreditnya diperhitungkan sesuai dengan proporsional waktu penugasan dalam masing-masing jabatan. Untuk penugasan yang dilakukan dalam masa peralihan jabatan. yaitu Pengendali Teknis. yaitu dari tanggal 24 Maret 2003 sampai dengan 7 April 2003 (6 hari bulan Maret dan 4 hari bulan April 2003). Jika dalam penugasan Auditor yang bersangkutan tidak berperan sebagai Pengendali Teknis. Jawaban: Penugasan dari pihak ke-tiga sudah dapat dipergunakan sebagai dasar pengajuan angka kredit sepanjang menyebutkan jenis penugasan dan jangka waktu kegiatan tersebut dilaksanakan. Bagaimana perhitungan angka kreditnya? Jawaban Angka Kredit untuk kegiatan pengawasan Auditor dihitung berdasarkan jabatan yang diduduki dan peran dalam penugasan.Pusat Pembinaan JFA BPKP 22. Pertanyaan: PFA dengan peran Pengendali Teknis naik pangkat dari Gol. Pertanyaan: Penugasan oleh pihak ketiga (Kepala Daerah / Kejati / Polisi) apakah harus didukung Surat Tugas / Nota Dinas / Surat Perintah dari Kepala Perwakilan. maka angka kreditnya diperhitungkan sebagai Tugas Limpah. 23. III/d ke Gol IV/a per 1 April 2003. Jika PFA tersebut ditugaskan pada instansi “X” selama 10 hari. (Lebih Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 35 . Apabila dalam periode penugasan tersebut yang bersangkutan telah menduduki jabatan Auditor Ahli Madya.

0220 per jam selama 6 hari (sebagai Auditor Ahli Muda) untuk penugasan yang dilaksanakan pada bulan Maret 2003 dan 0. Untuk contoh di atas. apabila tidak terdapat Auditor yang sesuai dengan jenjang jabatan untuk melaksanakan kegiatan pengawasan (Pasal 8 Kepmenpan 19/1996). Pertanyaan: Apakah ada aspek (konsekuensi) hukum yang perlu diperhatikan jika seorang PFA bersertifikat Dalnis tidak diperankan sebagai Dalnis. masing-masing PFA diharapkan selalu meningkatkan / memelihara pengetahuan dan profesionalismenya agar mencerminkan jenjang jabatan yang disandangnya. PFA yang bersangkutan diberikan angka kredit 0. Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 36 . sementara masih terdapat PFA yang tidak bersertifikat Dalnis tetapi diperankan sebagai Dalnis? Jawaban Peran PFA dalam penugasan pengawasan suatu Tim Mandiri sepenuhnya merupakan kewenangan pimpinan unit kerja yang didasarkan pada kompetensi PFA yang bersangkutan dan pertimbangan profesional. perlu diseragamkan dokumen yang harus disertakan dalam DUPAK sebagai dasar pemberian angka kredit dengan basis normal hasil. Oleh karena itu.0300 per jam selama 4 hari (sebagai Auditor Ahli Madya) untuk penugasan yang dilaksanakan pada bulan April 2003. Di dalam ketentuan JFA dikenal adanya suatu tugas limpah untuk kegiatan pengawasan.Pusat Pembinaan JFA BPKP lanjut dapat dilihat dalam Surat Edaran Kepala Pusbin JFA No. Kesesuaian tersebut dapat diartikan luas yang tidak hanya dari jenjang jabatan namun juga dari kemampuan dan kompetensi. 25. SE769/JF/1/2003 tanggal 14 Juli 2003 perihal Penegasan Hasil Forum JFA dan Kepegawaian Tahun 2003). Pertanyaan: a. 24. Dengan makin beragamnya produk jasa BPKP (asistensi/sosialisasi).

Atasan langsung dalam kegiatan tersebut bertangggung jawab terhadap kewajaran HP penugasan baik dari sisi perencanaan maupun realisasinya. Dalam prakteknya kegiatan sosialisasi dan atau asistensi tidak dilakukan sepenuhnya sesuai dengan HP. Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 37 .3 yang menyatakan bahwa atasan langsung PFA bertanggungjawab atas kewajaran perhitungan angka kredit yang diajukan oleh PFA yang berada di bawah supervisinya sehingga perhitungan angka kredit yang diajukan dalam SPMK sesuai dengan prestasi PFA yang bersangkutan.00. dapat digantikan dengan routing slip yang menggambarkan tahap-tahap pelaksanaan kegiatan. Hal ini sejalan dengan Surat Edaran Kepala BPKP No. untuk setiap kegiatan sosialisasi / asistensi sebagai dasar penyusunan surat tugas hendaknya disusun anggaran waktu (modifikasi dari KM3 untuk pemeriksaan) yang menggambarkan jumlah HP yang direncanakan untuk setiap pelaksanaan asistensi / sosialisasi. Jawaban a. Format laporan sosialisasi / asistensi sebaiknya diseragamkan untuk masing-masing jenis sosialisasi / asistensi. Dalam jangka pendek diharapkan Pimpinan Unit Kerja setempat sebagai Pejabat yang Berwenang Menetapkan Angka Kredit dapat membakukan bentuk dokumen sosialisasi / asistensi yang harus disertakan dalam DUPAK untuk penilaian setempat. Pada dasarnya angka kredit dapat diberikan apabila norma hasil kegiatan telah tercapai. b. Namun demikian. Jumlah HP untuk kegiatan sosialisasi / asistensi harus disesuaikan dengan kebutuhan.Pusat Pembinaan JFA BPKP b. Norma hasil kegiatan sosialisasi / asistensi adalah berupa laporan tentang pelaksanaan kegiatan. Laporan pelaksanaan sosialisasi / asistensi.22/K/1999 tanggal 11 Januari 1999 angka III huruf B. misalnya dengan jangka waktu tugas 40 hari efektif yang dilaksanakan hanya 20 – 25 hari sehingga pemberian angka kredit sebanyak 40 hari patut dipertanyakan. sebagai bukti pencapaian norma hasil. SE-06.00.

24) adalah : SPMK Formulir anggaran waktu pengawasan Foto copy Surat Tugas Kartu penugasan kegiatan pengawasan Dokumen yang menunjukkan hasil kegiatan pengawasan. seperti jadual kegiatan dan daftar hadir. Pertanyaan: Untuk pengajuan angka kredit Penugasan Asistensi / Bimbingan Teknis SAKD dan sejenisnya. yang dapat berupa foto copy sampul laporan hasil pengawasan atau routing slip penyusunan laporan Dokumen pendukung lainnya Dokumen-dokumen tersebut pada hakekatnya diperlukan untuk meyakini bahwa penugasan telah selesai dilaksanakan dan telah terpenuhinya norma hasil. Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 38 . Lebih lanjut dalam Keputusan Kepala BPKP No Kep-817/K/JF/2002 tanggal 3 Desember 2002 tentang SOP Penilaian dan Penetapan Angka Kredit Di lingkungan APIP. sesuai dengan norma hasil. Apabila diperlukan. karena penugasan tersebut dalam kurun waktu lama namun tidak dilaksanakan setiap hari sejak mulai sampai selesai? Jawaban Penugasan asistensi/bimbingan teknis SAKD merupakan kegiatan pengawasan yang disepadankan dengan “melaksanakan asistensi dan konsultasi di bidang pengawasan”. dapat saja dimintakan dokumen pendukung lainnya yang dapat dijadikan sebagai bukti Formal untuk meyakini terpenuhinya norma hasil. Untuk kegiatan tersebut dapat disusun Anggaran Waktu pelaksanaan kegiatan (sejenis formulir KM3 yang dimodifikasi sesuai kebutuhan) yang dapat digunakan sebagai dasar perhitungan angka kredit.Pusat Pembinaan JFA BPKP 26. dokumen yang diperlukan untuk usulan angka kredit kegiatan pengawasan (hal. bukti pendukung apa yang harus dilengkapi sebagai bukti penugasan telah dilaksanakan? Selain itu berapa jam penugasan yang diakui.

Perhitungan angka kredit tersebut diberlakukan untuk masing-masing surat tugas. (Lihat juga Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2002 Hal 40 dan 43.00-1485/DI/1999. sehingga ada unsur mengembangkan profesi PFA. Pertanyaan: Bagaimana perhitungan angka kredit magang bagi PFA yang akan diangkat untuk pertama kali maupun PFA yang akan diangkat kembali. dsb. Tidak termasuk dalam kegiatan unsur pengembangan profesi. Jawaban Kegiatan mempersiapkan diri untuk pelaksanaan sosialisasi/asistensi. penyusunan modul. perhitungan angka kredit untuk pengangkatan pertama kali ke dalam JFA dihitung berdasarkan jam pengawasan dengan tarif jam diklat. apakah dari setiap Surat Tugas dihitung menggunakan jam diklat ataukah secara keseluruhan jumlah HP dari kumpulan Surat Tugas dalam periode ajuan dihitung menggunakan jam diklat sampai tercapai angka kredit minimal untuk pengangkatan tersebut terpenuhi? Jawaban: Sesuai dengan SE-06. seperti mempelajari bahan-bahan / literatur baru.04. Pertanyaan: Pada prakteknya. 28. Terhadap kegiatan-kegiatan tersebut dapat diberikan angka kredit unsur pengawasan kegiatan “mempersiapkan bahan untuk tujuan tertentu” yang didasarkan pada surat tugas/nota dinas minimal dari pejabat eselon III. Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 39 . pertanyaan nomor 49). dalam melaksanakan kegiatan sosialisasi / asistensi diperlukan adanya pemaparan yang mengharuskan PFA mempersiapkan diri mempelajari bahan-bahan / literatur baru dan sebagainya. penyiapan bahan. Dalam surat tugas/nota dinas tersebut agar dicantumkan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan bahan tersebut dan nama kegiatan sosialisasi yang akan dilakukan.Pusat Pembinaan JFA BPKP 27.

00-125/K/1997 angka VI huruf E (hal. maka perhitungan angka kredit selanjutnya dilakukan sesuai dengan jam dan tarif jenis kegiatan pengawasannya. Ruang III/a yang akan diangkat.d 180). PENGEMBANGAN PROFESI Permasalahan yang dibahas dalam kelompok ini berkenaan dengan kegiatan pada unsur Pengembangan Profesi yang merupakan bagian dari Unsur Utama Kegiatan PFA sebagaimana tercantum dalam huruf C Lampiran 1 A dan 1 B Keputusan MENPAN No.00. Sebagai contoh. pertanyaan no.Pusat Pembinaan JFA BPKP Perhitungan dengan menggunakan tarif angka kredit berdasarkan jam diklat dilakukan sampai dengan angka kredit kumulatif minimal yang diperlukan pada kepangkatannya terpenuhi. seorang calon PFA berIjazah S1 Akuntansi dengan Gol. dapat menggunakan tarif angka kredit berdasarkan jam diklat sampai memperoleh angka kredit sejumlah 100 (angka kredit kumulatif minimal yang diperlukan untuk Gol. Kep-13. melalui pengangkatan pertama. Apabila angka kredit kumulatif minimal telah terpenuhi. D. angka kredit yang harus diperoleh atau wajib Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 40 . dalam jabatan Auditor Ahli Pertama. Berdasarkan kesepakatan Forum Komunikasi JFA dan Kepegawaian Tahun 2002. 175 s. (Lihat Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2002 halaman 24 dan halaman 30. Secara garis besar. 31). permasalahan yang telah dibahas dalam Forum Komunikasi JFA dan Kepegawaian Tahun 2003 mengenai pengembangan profesi antara lain adalah sebagai berikut: Perolehan angka kredit pengembangan profesi sebagai salah satu syarat kenaikan pangkat Berdasarkan Keputusan Kepala BPKP No. Ruang III/a). hal tersebut berlaku pula bagi pengangkatan kembali JFA yang dibebaskan sementara karena mengikuti tugas belajar lebih dari 6 (enam) bulan. 19 Tahun 1996 tentang Jabatan Fungsional Auditor dan Angka Kreditnya.

dengan ketentuan sebagai berikut: 1. III/c).Auditor Ahli Pertama . Perolehan angka kredit Pengembangan Profesi ini bersifat penambahan baru (“delta”) selama dalam pangkat terakhir.Auditor Pelaks.Pusat Pembinaan JFA BPKP dikumpulkan untuk pengembangan profesi bagi Auditor Trampil dan Ahli untuk naik pangkat setingkat lebih tinggi adalah sekurang-kurangnya sebagai berikut: Jabatan Auditor Trampil . Profesi 1 1 1 2 2 4 1. yang merupakan selisih dari angka kredit minimal untuk Gol. untuk naik pangkat ke Penata Tk. dengan komposisi minimal 80 % Unsur Utama dan maksimal 20% Unsur Penunjang. seorang Auditor Ahli Muda berpangkat Penata (Gol. III/d (sejumlah 300). Mengumpulkan angka kredit secara total sejumlah 100. Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 41 . dan bukan kumulatif.5 3 3 8 8 15 15 15 30 15 Perolehan angka kredit P.Auditor Ahli Madya .Auditor Penyelia Auditor Ahli .Auditor Ahli Muda . seorang PFA disyaratkan memperoleh angka kredit sejumlah tertentu dari unsur Pengembangan Profesi yang dikumpulkan selama dalam pangkat terakhir. Sebagai contoh. untuk dapat naik pangkat setingkat lebih tinggi.Auditor Pelaksana . Profesi Selama dlm pkt II/b Selama dlm pkt II/c Selama dlm pkt II/d Selama dlm pkt III/a Selama dlm pkt III/b Selama dlm pkt III/c Setiap 2 tahun Selama dlm pkt III/a Selama dlm pkt III/b Selama dlm pkt III/c Selama dlm pkt III/d Selama dlm pkt IV/a Selama dlm pkt IV/b Selama dlm pkt IV/c Selama dlm pkt IV/d Setiap 2 tahun Sesuai dengan ketentuan tersebut di atas. III/c (sejumlah 200) dan angka kredit minimal gol. III/d).Auditor Ahli Utama Pangkat II/b II/c II/d III/a III/b III/c III/d III/a III/b III/c III/d IV/a IV/b IV/c IV/d IV/e Angka Kredit utk naik pkt 20 20 20 50 50 100 30 50 50 100 100 150 150 150 200 50 Angka Kredit P. disyaratkan untuk mengumpulkan angka kredit. disamping memenuhi persyaratan lainnya. I (Gol. Lanjutan .

sebagaimana diuraikan dalam angka 1 di atas. Pengangkatan Perpindahan. untuk naik pangkat dari Gol. selama dalam gol. dan tidak merupakan persyaratan dalam Pengangkatan ke dalam JFA baik melalui mekanisme Pengangkatan Pertama. III/c. III/c). Misalnya. Perolehan angka kredit ini bersifat delta (diperoleh selama dalam pangkat terakhir). sebagaimana diuraikan di atas. dalam arti apabila yang bersangkutan telah memiliki angka kredit sejumlah 225 pada saat naik pangkat ke Gol III/c. Demikian pula. namun. PFA tersebut memperoleh angka kredit Pengembangan Profesi sejumlah 10 (melebihi yang dipersyaratkan sejumlah 8). kelebihan angka kredit sejumlah 2 tersebut tetap diakui secara total angka kredit sebagai “tabungan” untuk kenaikan pangkat berikutnya (dari Gol III/d ke IV/a). dalam arti angka kredit Pengembangan Profesi yang diperoleh dalam pangkat sebelumnya (Gol. III/c tidak mengurangi kewajiban mengumpulkan angka kredit Pengembangan Profesi dalam pangkat berikutnya. Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 42 . III/c. adalah salah satu persyaratan untuk Kenaikan Pangkat / Jabatan. maupun Pengangkatan Kembali. III/b) tidak dapat mengurangi kewajiban memperoleh angka kredit Pengembangan Profesi selama dalam Gol. dengan memperhatikan komposisi Unsur Utama dan Penunjang tersebut di atas. III/d). PFA yang bersangkutan disyaratkan untuk mengumpulkan angka kredit dari unsur Pengembangan Profesi sejumlah 8 yang wajib diperoleh selama dalam pangkat Penata (Gol. yang bersangkutan cukup mengumpulkan angka kredit sejumlah 75. PFA tersebut tetap diwajibkan untuk mengumpulkan angka kredit Pengembangan Profesi sejumlah 8 selama dalam Gol. III/d ke IV/a. Dalam pengumpulan angka kredit total. maka untuk mencapai angka kredit sejumlah 300 (angka kredit minimal Gol.Pusat Pembinaan JFA BPKP Jumlah angka kredit ini bersifat kumulatif. 2. Kewajiban mengumpulkan angka kredit sejumlah tertentu dari unsur Pengembangan Profesi. Pengangkatan Inpassing. kelebihan perolehan angka predit Pengembangan Profesi selama dalam Gol. III/d.

Pusat Pembinaan JFA BPKP Kewajiban untuk mengumpulkan angka kredit Pengembangan Profesi juga dapat dipertimbangkan untuk belum diberlakukan pada kenaikan pangkat pertama setelah pengangkatan ke dalam JFA. Berpartisipasi secara aktif dalam penerbitan di bidang pengawasan 4. kegiatan Auditor yang dapat diberikan angka kredit sebagai unsur Pengembangan Profesi adalah sebagai berikut: 1. Melakukan pelatihan di kantor sendiri 5. (Misalnya. maka waktu yang tersedia baginya untuk memperoleh angka kredit Pengembangan Profesi relatif tidak memadai). kegiatan yang termasuk dalam unsur Pengembangan Profesi Pengawasan adalah kegiatan-kegiatan yang bersifat mengembangkan dan meningkatkan profesionalitas PFA di bidang pengawasan secara berkelanjutan. Menerjemahkan / menyadur karya tulis ilmiah di bidang pengawasan 3. belum termasuk adanya diklat yang bersifat Pendidikan Profesi Berkelanjutan / PPL (Continuing Professional Education) yang seharusnya juga merupakan kegiatan Pengembangan Profesi. dalam jenis-jenis kegiatan unsur Pengembangan Profesi. Namun demikian. Diklat yang dikategorikan sebagai pengembangan profesi Berdasarkan Lampiran 1 A dan 1 B Keputusan MENPAN No. Membuat karya ilmiah / karya tulis di bidang pengawasan 2. apabila seorang PNS diangkat ke dalam JFA pada saat yang bersangkutan telah 3 tahun dalam pangkat terakhir. Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 43 . 19/1996. sesuai Keputusan MENPAN No. 19/1996 tersebut di atas. Berpartisipasi secara aktif dalam pemaparan (ekspose) draft / pedoman / modul / fatwa di bidang pengawasan 6. Melakukan studi banding di bidang pengawasan Pada dasarnya. dengan pertimbangan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulkan angka kredit dari unsur pengembangan profesi tersebut mungkin “tidak penuh” selama dalam suatu pangkat/jabatan tertentu.

Diklat TOT Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 44 . Diklat Teknis 1) Diklat Audit BLN 2) Diklat Audit Perminyakan 3) Diklat Audit Akuntabilitas 4) Diklat Komputer Audit 5) Diklat Pemeriksaan Khusus 6) Diklat Audit Kinerja 7) Diklat Teknis Lainnya yang disepakati antara instansi yang bersangkutan dengan Instansi Pembina 2. Diklat SPAMEN / Diklatpim II e. telah ditetapkan beberapa jenis diklat yang dapat dan tidak dapat dikelompokkan ke dalam unsur Pengembangan Profesi Pengawasan sesuai surat edaran Kepala Pusbin JFA No. yaitu: 1.Pusat Pembinaan JFA BPKP Berdasarkan pertimbangan adanya kegiatan diklat yang pada hakikatnya merupakan kegiatan Pengembangan Profesi. Diklat Yang Dapat Dikategorikan Sebagai Unsur Pengembangan Profesi a. Diklat Manajerial Pengawasan f. Diklat ADUM / Diklatpim IV c.04. dan Alokasi Angka Kredit.0027/PJFA/2002 tanggal 18 Januari 2002 perihal Penjelasan Unsur Pengembangan Profesi. SE-06. Diklat Prajabatan b. Jam Kerja. Diklat Yang Tidak Dapat Dikategorikan Sebagai Unsur Pengembangan Profesi a. Diklat SPAMA / Diklatpim III d. Diklat Fungsional 1) Sertifikasi Pindah Jalur 2) Sertifikasi Penjenjangan/Pengembangan Peran Ketua Tim 3) Sertifikasi Penjenjangan/Pengembangan Peran Pengendali Teknis 4) Sertifikasi Penjenjangan/Pengembangan Peran Pengendali Mutu b.

dan dalam DUPAK diajukan sebagai perolehan angka kredit Unsur Pendidikan. Diklat lainnya yang tidak ada hubungannya (tidak berhubungan langsung) dengan tugas Auditor. Berpartisipasi secara aktif dalam pemaparan (ekspose) draft Dalam penerapan ketentuan JFA. angka kredit kegiatan tersebut dihitung dengan menggunakan tarif angka kredit sub unsur “Mengikuti Diklat Kedinasan serta memperoleh STTPL” (sub unsur kegiatan Pendidikan). Bagi PFA yang memperoleh Sertifikat Mengikuti (untuk diklat yang tidak mengharuskan ujian) atau Sertifikat Lulus (untuk diklat yang mengharuskan ujian) atas diklat yang dapat dikategorikan sebagai unsur Pengembangan Profesi. pemahaman mengenai kegiatan “Berpartisipasi secara aktif dalam pemaparan (ekspose) draft pedoman / modul / fatwa di bidang pengawasan” sering dianggap sama dengan “ekspose” yang lazim dilakukan oleh auditor pada saat pemaparan hasil pemeriksaan kepada Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 45 . dapat mengajukannya kepada Pusbin JFA. untuk disepakati sebagai unsur Pengembangan Profesi. namun dalam DUPAK diajukan sebagai perolehan angka kredit Unsur Pengembangan Profesi. sesuai dengan jumlah jam pelatihan yang tercantum dalam sertifikat. namun belum termasuk dalam Surat Edaran tersebut di atas.Pusat Pembinaan JFA BPKP g. disertai dengan deskripsi singkat tujuan dan materi diklat tersebut. Bagi Unit-Unit Pengawasan di lingkungan APIP yang memiliki atau menyelenggarakan diklat yang dipandang dapat dikategorikan sebagai unsur Pengembangan Profesi. Angka kredit kegiatan tersebut dihitung dengan menggunakan tarif angka kredit sub unsur “Mengikuti Diklat Kedinasan serta memperoleh STTPL” (sub unsur kegiatan Pendidikan). sesuai dengan jumlah jam pelatihan yang tercantum dalam sertifikat. dapat mengajukan angka kredit sebagai unsur Pengembangan Profesi. Bagi PFA yang mengikuti / lulus diklat yang tidak dapat dikategorikan sebagai unsur Pengembangan Profesi.

Pusat Pembinaan JFA BPKP

pihak kejaksaan, atau pemaparan hasil pemeriksaan oleh tim audit di hadapan pejabat eselon I dan II, sehingga diperlukan penjelasan yang membedakan kegiatan-kegiatan tersebut. Yang dimaksud dengan “pemaparan (ekspose) draft pedoman / modul / fatwa di bidang pengawasan” dalam ketentuan JFA adalah merupakan bagian kegiatan yang dilakukan dalam proses penyusunan pedoman / modul / fatwa di bidang pengawasan. Pemaparan (ekspose) draft pedoman / modul / fatwa merupakan kegiatan “due process” yang dilakukan untuk memperoleh masukan atas draft yang sedang disusun. Kegiatan ini termasuk dalam unsur Pengembangan Profesi, karena dalam pemaparan tersebut, PFA berpartisipasi secara aktif berdiskusi dan mengembangkan wacana di bidang pengawasan dalam rangka memberikan masukan untuk penyempurnaan draft dimaksud. Dalam kegiatan ini, setiap PFA yang berpartisipasi aktif (baik pemapar maupun pemberi masukan) memperoleh angka kredit unsur Pengembangan Profesi. Dilain pihak, kegiatan “ekspose” yang lazim dilakukan oleh auditor pada saat pemaparan hasil pemeriksaan kepada pihak kejaksaan, atau pemaparan hasil pemeriksaan oleh tim audit di hadapan pejabat eselon I dan II, adalah merupakan bagian dari kegiatan “Pengawasan” dan tidak termasuk kegiatan Pengembangan Profesi. Perlakuan angka kredit atas kegiatan ini adalah sebagai berikut: 1. Apabila kegiatan ekspose atau pemaparan tersebut dilakukan sebelum diterbitkannya Laporan Hasil Audit (sebagai norma hasil kegiatan audit), maka angka kreditnya merupakan satu kesatuan dengan angka kredit yang diperoleh dari kegiatan audit yang bersangkutan. 2. Apabila kegiatan ekspose atau pemaparan tersebut dilakukan setelah diterbitkannya Laporan Hasil Audit (sebagai norma hasil kegiatan audit), maka kegiatan pemaparan/ekspose tersebut diberikan angka kredit sebagai kegiatan “Memaparkan Hasil Pengawasan”.

Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003

46

Pusat Pembinaan JFA BPKP

Secara rinci, permasalahan yang berkenaan dengan pengembangan profesi dan solusinya diuraikan dalam tanya jawab berikut: 29. Pertanyaan: Apakah benar bahwa dalam pengangkatan kembali sebagai Auditor Pelaksana Lanjutan (III/a) tidak mempertimbangkan perolehan angka kredit dari unsur pengembangan profesi, yang penting jumlah angka kredit kumulatifnya mencapai 100 Jawaban: Komposisi perolehan angka kredit yang mensyaratkan adanya perolehan angka kredit sejumlah tertentu (delta) dari unsur pengembangan profesi digunakan untuk kenaikan pangkat/jabatan. Hal ini sesuai dengan Keputusan Kepala BPKP No. Kep-13.00.00-125/K/1997 angka VI huruf E hal. 175. Untuk pengangkatan pertama, pengangkatan inpassing, pengangkatan perpindahan, pengangkatan kembali, dan kenaikan pangkat pertama setelah pengangkatan perolehan tidak diberlakukan dari persyaratan pemenuhan komposisi dengan angka kredit unsur pengembangan profesi,

pertimbangan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulkan angka kredit dari unsur pengembangan profesi tersebut “tidak penuh” selama dalam suatu pangkat/jabatan tertentu. Oleh karena itu, pertimbangan perolehan angka kreditnya lebih ditekankan pada perolehan angka kredit kumulatif minimal pada pangkat/jabatannya. 30. Pertanyaan: Angka kredit untuk pengembangan profesi jika melebihi yang diperlukan untuk kenaikan pangkat tidak bisa ditabung untuk periode kenaikan pangkat berikutnya dan jika tidak dimasukkan pada periode kenaikan pangkat sekarang akan hangus tidak bisa dipakai untuk mendapatkan angka kredit lagi. Hal tersebut sangat membatasi kreativitas PFA yang aktif misalnya dalam hal menulis artikel, dan menyusahkan PFA yang agak susah untuk mendapatkan angka kredit dari pengembangan profesi.
Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003

47

Pusat Pembinaan JFA BPKP

Jawaban: Sebagaimana telah dijelaskan pada halaman 41, pada dasarnya perolehan angka kredit dari unsur pengembangan profesi merupakan salah satu prasyarat untuk dapat naik pangkat setingkat lebih tinggi. Hakekat dari pengembangan profesi adalah jumlah jam tertentu yang harus disediakan oleh masing-masing PFA untuk menjaga dan mengembangkan kemampuan dan profesionalismenya, agar tetap “layak” menyandang jabatannya. Oleh sebab itu, pengakuan angka kreditnya tidak dapat di shifting (digeser) antar jenjang jabatan. Namun demikian, kelebihan perolehan angka kredit dari unsur pengembangan profesi dapat diperhitungkan untuk kenaikan pangkat berikutnya secara kumulatif angka kredit, tetapi tidak dapat diperhitungkan sebagai pengurang persyaratan perolehan tambahan (delta) angka kredit pengembangan profesi yang dibutuhkan untuk kenaikan pangkat berikutnya. Sebagai contoh, seorang Auditor Pelaksana gol. II/b memiliki angka kredit pengembangan profesi 1,5 atau lebih besar 0,5 dari yang dipersyaratkan untuk kenaikan pangkat ke gol II/c. Pada saat yang bersangkutan akan naik pangkat dari II/c ke II/d tetap diharuskan memperoleh angka kredit pengembangan profesi 1 angka kredit. Kelebihan angka kredit sebesar 0,5, yang diperoleh pada saat yang bersangkutan berada gol II/c, tidak dapat diperhitungkan untuk mengurangi persyaratan angka kredit pengembangan profesi untuk kenaikan pangkat berikutnya. Ketentuan tersebut secara implisit menunjukkan bahwa Auditor senantiasa dituntut untuk selalu mengembangkan dan mempertahankan kemampuan profesionalnya secara berkelanjutan. (Lihat juga Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2001 hal. 24 pertanyaan no. 56) 31. Pertanyaan: Dalam Prosedur Kegiatan Baku Penilaian dan Penetapan Angka Kredit (SOP PPAK) disebutkan antara lain bahwa kegiatan pengembangan profesi tidak memerlukan Surat Tugas, sebagai berikut :
Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003

48

secara aktif dalam pemaparan draft / pedoman / modul / fatwa. antara lain : o Membuat karya tulis/karya ilmiah di bidang pengawasan o Menerjemahkan/menyadur buku dan bahan-bahan lain di bidang pengawasan o Berpartisipasi dalam penerbitan buku di bidang pengawasan (Lihat juga penjelasan mengenai HP Maksimal pada pertanyaan no 7 di atas). terdapat beberapa kegiatan pengembangan profesi yang perhitungan (tarif) angka kreditnya tidak didasarkan pada HP dan oleh karena itu tidak merupakan unsur dalam perhitungan HP Maksimal. Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 49 . Untuk kegiatan yang dilaksanakan dengan menggunakan hari pengawasan seperti kegiatan PKS dan Berpartisipasi. Sebagai contoh adalah kegiatan menerjemahkan buku dan berpartisipasi secara aktif dalam penerbitan. penggunaan HP dibuktikan dengan daftar hadir dan notulen. Berpartisipasi secara aktif dalam penerbitan 3. Berdasarkan kesepakatan Forum Komunikasi JFA dan Kepegawaian Tahun 2003. Hasil dari kegiatan-kegiatan tersebut dapat diberikan angka kredit walaupun tanpa disertai surat tugas dan tidak mempengaruhi jumlah HP Maksimal dalam periode yang dinilai.Pusat Pembinaan JFA BPKP 1. Menerjemahkan / menyadur Karya Tulis Ilmiah 2. Jawaban: Pada dasarnya kegiatan pengembangan profesi merupakan suatu kegiatan yang inisiatifnya berasal dari diri PFA yang bersangkutan dalam upayanya menjaga dan mengembangkan profesinya. Melakukan PKS 4. Berpartisipasi secara aktif dalam pemaparan draft / pedoman / modul / fatwa Padahal Surat Tugas diperlukan untuk meyakini legalitas maupun jumlah HP dalam DUPAK.

04. Namun demikian.00-27/PJFA/2002 tanggal 18 Januari 2002 tidak semata-mata dimaksudkan dalam rangka membantu para PFA Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 50 . Jawaban: Untuk kepentingan pengusulan angka kredit unsur pengembangan profesi dari kegiatan mengikuti diklat dapat dilakukan dengan surat keterangan lulus dari Kepala Pusdiklatwas. jangan justru mengaburkan yang sebelumnya telah jelas Jawaban: Dasar pemikiran mengelompokkan beberapa jenis diklat yang diatur dalam SE Kapusbin JFA No. sementara STTPP sering terlambat terbit. Kami menghargai ide tersebut karena dilakukan dalam rangka membantu para PFA mendapatkan nilai dari unsur Pengembangan Profesi. ide tersebut harus didukung dengan rasionalisasi yang jelas. namun dapat diberikan berdasarkan keterangan lulus dari Kepala Pusdiklatwas atau Kepala Pusbin JFA. maka unsur pendidikan yang dapat dinilai angka kreditnya menjadi rancu. 6 di atas) 33. Untuk mengatasi masalah tersebut. Pengakuan angka kredit yang dilakukan setelah terbitnya STTPP dapat menghambat kenaikan pangkat karena angka kredit tersebut dibutuhkan untuk unsur pengembangan profesi. SE-06. sehingga STTPP bukan sekedar hanya untuk kenaikan jabatan. diusulkan agar angka kredit dapat diberikan kepada PFA tanpa harus menunggu terbitnya STTPP. Pertanyaan: Dengan terbitnya SE baru yang membedakan Diklat sebagai unsur Pendidikan dan Diklat yang menjadi unsur Pengembangan Profesi. namun untuk dokumen usulan kenaikan pangkat/jabatan tetap harus melampirkan sertifikat STTPP karena pihak BKN menghendaki bukti fisik legal (Lihat juga jawaban pertanyaan no. Pertanyaan: Diklat sertifikasi dapat diperhitungkan sebagai unsur pengembangan profesi dan perhitungannya dilakukan setelah terbit sertifikat kelulusan (STTPP).Pusat Pembinaan JFA BPKP 32.

Apakah diklat dari luar Pusdiklatwas seperti PPL Profesi dapat diberikan AK yang sepadan? Jawaban Kegiatan PPL Profesi yang dilakukan di luar kedinasan (diluar Pusdiklatwas) dapat diberikan angka kredit apabila materi yang diberikan terkait dengan pengawasan dan peningkatan kemampuan PFA di bidang pengawasan. PFA diberikan angka kredit pada pengembangan profesi. 19/1996. Agar kegiatan tersebut dapat dinilai angka kreditnya. 23) 35. 11 pertanyaan no. belum mengakomodasi adanya kegiatan tersebut.Pusat Pembinaan JFA BPKP mendapatkan angka kredit dari unsur Pengembangan Profesi. maka terhadap beberapa jenis Pendidikan Profesi Lanjutan (PPL) diberikan angka kredit Pengembangan Profesi. tetapi lebih didasarkan pada pemikiran bahwa dari segi substansi terdapat diklat-diklat yang bersifat sebagai Pendidikan Profesi Lanjutan (Continuing Professional Education) yang seharusnya merupakan salah satu jenis dari kegiatan Pengembangan Profesi Auditor. Hal ini juga terdapat di Amerika Serikat (sebagai contoh). bahwa suatu diklat memang dirancang sebagai PPL untuk asosiasi profesi tertentu dengan angka kredit tertentu. Pertanyaan: a. 34. Pertanyaan: AK pengembangan profesi dari selain PKS dan Diklat sulit diperoleh oleh pegawai secara umum. harus memenuhi persyaratan yang ditentukan. antara lain didukung dengan surat penugasan oleh Pejabat yang berwenang dan sertifikat atas kegiatan tersebut. Mengingat dalam kelompok sub unsur Pengembangan Profesi pada tabel angka kredit sesuai lampiran Kep MENPAN No. (Lihat juga Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2001 hal. yang menjadi masalah adalah pada waktu Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 51 . PFA telah diperintahkan untuk mengikuti Diklat misalnya LAKIP atau SAKD. setelah mengikuti. sementara Diklat sendiri belum dapat merata kepada seluruh pegawai.

18) b. PFA yang mengikuti diklat LAKIP atau SAKD dapat diberikan angka kredit pengembangan profesi apabila didukung dengan dokumen norma hasil yang memadai. Untuk kegiatan mensosialisasikan kepada unit kerja lain. 91/JF. diberlakukan sebagai berikut: Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 52 . pada point 6 disebutkan bahwa pemberian angka kredit untuk kegiatan sosialisasi antar unit. 19 pertanyaan no. namun dalam DUPAK dan SK PAK dikelompokkan sebagai perolehan angka kredit unsur pengembangan profesi. misalnya dalam sosialisasi Akuntabilitas. (Lihat juga Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2002 Hal. dan lainnya yang dilakukan oleh PFA dari BPKP Pusat ke Perwakilan atau dari Perwakilan ke unit kerja lain. sebagai pemrasaran.Pusat Pembinaan JFA BPKP pemberian nilai/ angka kredit tarif apa yang dipakai. Pemberian angka kredit untuk diklat yang termasuk dalam kelompok Pengembangan Profesi adalah dengan menggunakan besaran angka kredit unsur pendidikan sub unsur “mengikuti diklat kedinasan serta memperoleh STTPP” sesuai Lampiran 1 Keputusan Menpan No. 19/1996. misalnya Bawasda. 1079/JF. Apakah pada kegiatan melakukan sosialisasi tersebut PFA yang mensosialisasikan diberikan angka kredit peserta PKS (Pemrasaran) atau sebagai angka kredit penunjang (mengajar) Jawaban a. SAKD.1/2003 tentang Penegasan Hasil Rakor JFA dan Kepegawaian 2002. maka PFA yang menyampaikan materi tersebut diberikan angka kredit pengembangan profesi kegiatan PKS.1/2002 sebagaimana telah diubah dengan SE No. Dalam hal PFA yang telah mengikuti diklat ditugaskan menyampaikan materi diklat (mensosialisasikan) kepada PFA lainnya pada unit kerja yang sama (dalam forum PKS). apakah tarif jam diklat atau tarif lainnya yang ada pada kegiatan pengembangan profesi (misalnya : tarif peserta PKS atau tarif lainnya) b. dalam SE No. Permasalahan lain yang timbul adalah bila PFA yang telah menerima pelajaran selama Diklat tersebut diperintahkan untuk mensosialisasikan kepada PFA lainnya dalam PKS.

sehingga tidak dibutuhkan adanya moderator dan notulis. 37. (Lebih lanjut lihat Surat Edaran Kepala Pusbin JFA No.Pusat Pembinaan JFA BPKP 1) Bagi PFA yang melakukan sosialisasi diberikan angka kredit yang disepadankan dengan kegiatan “melaksanakan penyuluhan di bidang pengawasan” 2) Bagi PFA yang menerima/mengikuti sosialisasi diberikan angka kredit sebagai kegiatan “PKS”. Pertanyaan: Pedoman penyusunan makalah bagi PFA belum seragam. Kegiatan workshop umumnya berupa interaksi antara Instruktur dan Peserta. Pertanyaan: Apakah ada persyaratan yang mengatur mengenai penyelenggaran workshop. sedangkan bagi Peserta merupakan kegiatan PKS. dalam Forum 2003 disepakati bahwa pada dasarnya suatu workshop (bengkel kerja) adalah merupakan pelatihan mengenai suatu topik atau keahlian tertentu. mengakibatkan : a. berapa angka kredit yang diberikan untuk penyelenggaraan (moderator. 36. Menimbulkan peluang menjiplak milik orang lain dalam upaya memperoleh angka kredit dari unsur penyusunan makalah Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 53 . tidak diatur secara spesifik mengenai penyelenggaraan workshop. mulai dari penetapan judul sampai dengan perolehan angka kredit dari Tim Penilai Makalah. notulen) maupun bagi peserta? Jawaban Dalam ketentuan JFA. SE-769/JF/1/2003 tanggal 14 Juli 2003 perihal Penegasan Hasil Forum JFA dan Kepegawaian Tahun 2003). Angka kredit bagi Instruktur disepadankan dengan kegiatan “Melaksanakan Penyuluhan di bidang Pengawasan”. Ada berbagai persepsi penyusunan makalah yang mengarah kepada penyederhanaan dalam usaha memperoleh angka kredit maksimal b.

Pinjaman Hibah Luar Negeri dan diklat teknis lainnya. Pertanyaan : Bagi para PFA yang telah mengikuti diklat teknis tertentu misal Audit Perminyakan.00125/K/1997 huruf c angka 2 hal. pada Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 54 . Kep-13. 39. Jawaban: Pedoman penyusunan karya tulis/karya ilmiah yang disusun oleh Pusbin JFA telah memasuki tahap due process. Apabila unit kerja telah menyusun suatu pedoman karya tulis/karya ilmiah yang berlaku setempat. Kep-13. 163. penentuan kriteria khusus karya tulis/karya ilmiah untuk penilaian angka kredit diserahkan kepada Pejabat yang Berwenang Menetapkan Angka Kredit dengan memperhatikan kriteria umum sebagaimana diuraikan dalam Keputusan Kepala BPKP No. Sementara pedoman tersebut dalam proses penyusunan. Jawaban: Warta Pengawasan dapat dianggap sebagai majalah ilmiah sebagaimana dimaksud dalam Keputusan Kepala BPKP No.00.00. dengan memperhatikan kolom / rubrik yang disediakan untuk tulisan ilmiah. 163-167 dan kelaziman yang diterima secara umum. Penetapan lebih lanjut kriteria majalah ilmiah akan dituangkan dalam pedoman karya tulis/karya ilmiah yang masih dalam proses penyusunan.00-125/K/1997 huruf c angka 2 hal. 38. Pertanyaan Apakah majalah Warta Pengawasan termasuk majalah ilmiah atau majalah populer dan mohon dapat dibuatkan kriteria majalah ilmiah dan majalah populer berikut contohnya.Pusat Pembinaan JFA BPKP Untuk itu diusulkan agar Pusbin JFA segera menetapkan Pedoman Penyusunan Karya Tulis / Karya Ilmiah. diharapkan pedoman tersebut disampaikan pula ke Pusbin JFA sebagai masukan dalam perumusan pedoman yang sedang dilakukan.

Dalam Surat Edaran Kepala Pusbin JFA No.1079/JF1/2002 tanggal 20 Desember 2002. (Lihat juga Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2002 hal. 2) Berapa jumlah maksimum sebagai notulis dalam melakukan setiap kegiatan PKS b. Perolehan angka kredit untuk moderator atau nara sumber dalam PKS disamakan dengan peran pemrasaran dalam PKS tersebut. butir 8 dinyatakan bahwa perolehan sertifikat brevet pajak dapat diberikan angka kredit unsur pengembangan profesi. maka PFA yang menyampaikan materi tersebut diberikan angka kredit pengembangan profesi kegiatan PKS. Sedangkan jumlah notulis dalam suatu kegiatan PKS disesuaikan dengan kebutuhan. Pertanyaan: a. 54).Pusat Pembinaan JFA BPKP saat yang bersangkutan selesai mengikuti diklat memperoleh angka kredit sebagai pengembangan profesi. Jawaban 1. Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 55 . 46 pertanyaan no. Terdapat PFA yang memiliki sertifikat brevet pajak yang diperoleh pada tahun 2000 yang belum diberi angka kredit karena SE baru keluar tahun 2002. SE. moderator dan notulis. Kemudian apabila sekembalinya dari diklat yang bersangkutan memberikan PKS tersebut kepada PFA di unitnya bagi yang menerima/ peserta PKS sebagai pengembangan profesi sementara bagi pemberi materi PKS sebagai unsur penunjang ? Jawaban Dalam hal PFA yang telah mengikuti diklat ditugaskan menyampaikan materi diklat (mensosialisasikan) kepada PFA lainnya pada unit kerja yang sama (dalam forum PKS). (Lihat juga jawaban pertanyaan no. 40. 1) Apakah dapat diberikan angka kredit kepada moderator yang memandu penyajian makalah dan berapa angka kreditnya. sebagai pemrasaran. kami membuat susunan yang ada sebagai penyaji makalah. Dalam melaksanakan PKS. 35 huruf b diatas).

Pertanyaan : a. sehingga kapan tim PE dapat memperoleh angka kredit pengembangan profesinya? d. 41.B Keputusan MENPAN No. Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 56 .Pusat Pembinaan JFA BPKP 2.1/2003 tentang Penegasan Hasil Rakor JFA dan Kepegawaian 2002. Dalam pelaksanaan kegiatan PKS apakah diperkenankan Pemrasaran dan Notulen lebih dari satu orang dan jika diperkenankan berapa angka kredit yang dapat diberikan untuk masing – masing pemrasaran dan notulis? b. jadi masing – masing mendapat nilai 0. Moderator/ pembahas/ nara sumber lebih dari satu atau ekstrimnya tujuh orang apakah pemberian angka kreditnya masing – masing mendapat angka kredit 3 atau 2 tergantung perannya atau 3 atau 2 dibagi 7. moderator/ pembahas/ nara sumber mungkin bisa lebih dari satu orang.A dan I. misalnya kalau satu orang mendapat nilai 3 atau 2. bagi penerima/ peserta dianggap sebagai kegiatan pengawasan (karena tugasnya adalah melakukan sosialisasi). c. Sertifikat brevet pajak yang diperoleh pada tahun 2000 tidak dapat diberikan angka kredit karena SE-1079/JF.1/2002 sebagaimana telah dirubah dengan SE-91/JF.285 Jawaban a. Dalam pelaksanaan kegiatan Seminar dalam prakteknya sebagai pemrasaran. Bagi para PFA yang ditempatkan di Tim Policy Evaluation sering melaksanakan kegiatan sebagai instruktur PE. mohon delta nilai pengembangan profesi untuk setiap jenjang kenaikan pangkat/ jabatan dapat ditinjau kembali besarannya. mulai diberlakukan per 1 Juli 2002.19/1996.428 atau 0. Apabila dalam suatu kegiatan PKS terdapat dua orang Pemrasaran. Sehubungan banyaknya PFA yang akan naik pangkat terganjal dengan persyaratan delta nilai pengembangan profesi dari kenaikan pangkat sebelumnya ke kenaikan pangkat berikutnya. masing-masing diberikan angka kredit sesuai lampiran I. maka apabila Pemrasaran. namun pemberian angka kreditnya dibedakan.

00-27/PJFA/2002. c. 35 huruf b diatas).00-125/1997 angka VI huruf E. Dengan demikian apabila dalam suatu seminar terdapat narasumber lebih dari satu. masing-masing PFA agar aktif melakukan kegiatan pengembangan profesi. antara lain dengan mengusulkan materi/penyelenggaraan PKS. PFA yang ditugaskan dalam kegiatan Policy Evaluation dapat memperoleh angka kredit pengembangan profesi apabila menjadi Pemrasaran dalam PKS (untuk lingkungan unit kerjanya sendiri) dan apabila melakukan kegiatan pengembangan profesi sebagaimana diatur dalam lampiran I A dan I B Keputusan MENPAN No. Oleh karena itu. Pemberlakuan persyaratan/perolehan angka kredit unsur pengembangan profesi sudah disepakati bersama dalam rangka meningkatkan dan mengembangkan profesionalisme PFA.00. Besaran angka kredit pengembangan profesi adalah sebagaimana diatur dalam Keputusan Kepala BPKP Nomor Kep-13. 42. Adanya usulan untuk merubah ketentuan memerlukan pembahasan yang mendalam dan komprehensif. (Lihat juga jawaban pertanyaan No. 19/1996. tanpa dilakukan pembagian berdasarkan jumlah nara sumber. masing-masing memperoleh angka kredit sesuai lampiran I A dan I B Keputusan MENPAN No. Angka kredit sebagaimana diatur dalam ketentuan di atas adalah untuk setiap kali kegiatan oleh seorang PFA. 19/1996.Pusat Pembinaan JFA BPKP b.SE-06.04. Angka kredit unsur penunjang sub unsur mengikuti konperensi / seminar / lokakarya di bidang pengawasan adalah sebagaimana diatur dalam lampiran IA dan IB Keputusan MENPAN No. Pertanyaan: Banyak persepsi yang berbeda mengenai syarat PKS di unit-unit di daerah karena belum dibuatkan pedoman tersendiri secara teknis mengenai pelaksanaan PKS Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 57 . 19/1996 dan Surat Edaran Kepala Pusbin JFA no. Usulan ditampung sebagai masukan bagi Tim Revisi Ketentuan JFA. d.

Dapatkah PKS tersebut memperoleh angka kredit satu kali kegiatan? Jawaban: Perhitungan angka kredit yang diakui untuk kegiatan PKS adalah per hari kegiatan. 25 menyebutkan bahwa apabila di lingkungan unit telah ditetapkan adanya koordinator PKS. maka lamanya pelaksanaan PKS diharapkan tidak kurang dari 5 jam per hari. 44. 69).00. 43. Pedoman lebih lanjut dapat dilihat dalam Kep-817/K/JF/2002 tentang SOP Penilaian dan Penetapan Angka Kredit. dan Notulen hasil PKS yang berisi kesimpulan. dokumen pendukung di atas dapat diganti dengan Laporan PKS yang dibuat oleh Koordinator PKS dan ditandatangani oleh Kepala / Pimpinan Unit.00-125/K/1997/1997 (Juknis) pada hal. Makalah dari Pemrasaran.Pusat Pembinaan JFA BPKP Jawaban: Bukti fisik pelaksanaan PKS yang dapat diusulkan dalam penilaian angka kredit berdasarkan Kep-13. Jawaban: Kedua kegiatan (pemeriksaan dan PKS) dapat diakui angka kreditnya sepanjang tidak melebihi HP maksimal 237 hari per tahun (untuk unit dengan 5 hari kerja/minggu) atau 289 hari per tahun (untuk unit dengan 6 hari kerja Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 58 . (Lihat juga Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2001 hal. Daftar Hadir. (Lihat juga Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2002 halaman 47 pertanyaan No. 28 pertanyaan no. Pertanyaan: Pelaksanaan PKS bersamaan dengan pelaksanaan tugas pemeriksaan dan PFA mengklaim angka kredit keduanya. 56). Agar memberikan manfaat bagi peserta PKS. Pertanyaan: Seringkali pelaksanaan PKS kurang dari 5 jam sebagaimana diharapkan agar memberikan manfaat bagi peserta PKS. 168 adalah Rencana PKS dari Kepala / Pimpinan Unit Organisasi. yakni pada hal.

sehingga tidak dapat diberikan angka kredit terpisah sebagai unsur pengembangan profesi kegiatan “berpartisipasi secara aktif dalam pemaparan (expose) di bidang pengawasan”. 7 di atas). Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 59 . Jawaban: Kegiatan expose pada para pejabat Pemda di atas dilakukan dalam kaitannya dengan kegiatan asistensi dan sosialisasi LAKIP. tetapi diklasifikasikan ke dalam unsur pengawasan butir kegiatan “Mempersiapkan bahan untuk tujuan tertentu”. dan pikiran lebih banyak dari pada menyiapkan kegiatan PKS Jawaban: Kegiatan memberikan masukan (dalam tahap due. baik bagi peserta maupun pemrasaran. 45. Apakah kegiatan ini tidak bisa dimasukkan dalam unsur Pengembangan Profesi. Tim juga melaksanakan expose kepada para pejabat Pemda. 46. Pertanyaan: Ketika Tim melaksanakan sosialisasi dan asistensi LAKIP. mengingat diperlukan tenaga. Kegiatan memberikan masukan terhadap draft/pedoman/modul/ fatwa di bidang pengawasan dapat dikelompokkan ke dalam unsur pengembangan profesi apabila dilakukan dalam suatu kegiatan ekspose (pemaparan) dan diskusi/pembahasan.process) secara tertulis atas draft / pedoman / modul / fatwa di bidang pengawasan tidak dapat diklasifikasikan sebagai unsur pengembangan profesi.process).Pusat Pembinaan JFA BPKP per tahun). (Lihat juga jawaban mengenai HP Maksimal pada pertanyaan no. waktu. tetapi atas kegiatan tersebut tidak diberikan angka kredit expose (Pengembangan Profesi). Kegiatan expose yang dimaksud dalam unsur pengembangan profesi adalah kegiatan memberikan masukan (dalam tahap due. Pertanyaan: PFA sering diminta memberikan masukan perbaikan atau komentar mengenai draft / pedoman audit dari BPKP Pusat.

Pihak Kejaksaan maupun Kepolisian sering mengadakan expose baik di Kantor Perwakilan BPKP maupun di kantor mereka terkait dengan kasus yang dimintakan audit atau menghitung kerugian negara dengan dihadiri pejabat dan beberapa PFA yang ditunjuk. 30). 14 pertanyaan no. Bersama ini minta pertimbangan lagi karena biasanya expose di Kejaksaan agak jauh waktunya dari lingkup waktu surat tugas audit khususnya dan expose di Kejaksaan bukan satu-satunya hasil akhir suatu audit khusus sehingga penghargaan kepada tim yang berhasil membawa kasus tersebut ke Kejaksaan dapat dalam bentuk angka kredit dari hasil expose tersebut. 48. bagi PFA yang terlibat dalam Tim pemeriksaan tersebut. Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 60 . Untuk PFA yang mengikuti expose tersebut apakah mendapat angka kredit melalui pengembangan profesi? b. Jawaban: Angka kredit ekspose pemeriksaan khusus. tidak dapat dianggap sebagai ekspose intern atau ekstern. Expose hasil audit khusus di Kejaksaan tidak mendapat angka kredit dari unsur pengembangan profesi pada sub unsur expose hasil pengawasan dengan argumentasi hal itu merupakan satu kesatuan dengan audit khususnya. tetapi merupakan bagian dari hasil pemeriksaan. Pertanyaan: a. Pertanyaan: Sesuai dengan pedoman yang berlaku sekarang bahwa ekspose terhadap pemeriksaan khusus atau pemeriksaan lainnya. dihitung berdasarkan jam penugasan pemeriksaan khusus (unsur pengawasan) dengan pertimbangan bahwa ekspose dimaksud merupakan bagian dari tahapan pemeriksaan khusus. Bagi PFA yang tidak terlibat dalam pemeriksaan tersebut namun mengikuti pemaparan. dapat diberikan angka kredit pengembangan profesi sebagai peserta PKS dan dalam pengusulan angka kreditnya harus dilengkapi dengan dokumen-dokumen terkait dengan pelaksanaan PKS.Pusat Pembinaan JFA BPKP 47. (Lihat juga Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2000 hal.

kegiatan tersebut dapat disepadankan dengan unsur pengawasan kegiatan “Memaparkan Hasil Pengawasan” E. mengingat angka kredit yang tercantum dalam Keputusan MENPAN No. 19 Tahun 1996 tentang Jabatan Fungsional Auditor dan Angka Kreditnya. Ekspose audit khusus yang dilakukan dalam rangka mematangkan materi temuan yang akan dituangkan dalam LHP merupakan bagian dari penugasan audit khusus. Secara garis besar. PENUNJANG PENGAWASAN Permasalahan yang dibahas dalam kelompok ini berkenaan dengan kegiatan pada Unsur Penunjang Kegiatan PFA sebagaimana tercantum dalam huruf D Lampiran 1 A dan 1 B Keputusan MENPAN No. permasalahan yang telah dibahas dalam Forum Komunikasi JFA dan Kepegawaian Tahun 2003 mengenai topik ini antara lain adalah sebagai berikut: Mengajar/melatih pada diklat pegawai Kegiatan mengajar / melatih pada diklat pegawai adalah merupakan salah satu kegiatan yang termasuk dalam Unsur Penunjang. Bagi PFA yang menjadi peserta dalam ekspose baik di Kantor Perwakilan BPKP maupun di kantor kejaksaan/kepolisian. 19/1996 hanyalah atas kegiatan mengajar / melatih (dengan besaran angka kredit 0. Untuk ekspose hasil audit khusus yang dilakukan setelah LHP terbit (penugasan audit khusus telah selesai). terkait dengan kasus yang dimintakan audit atau menghitung kerugian negara. Hal yang umumnya dipertanyakan mengenai kegiatan ini adalah mengenai perlakuan angka kredit atas kegiatan persiapan yang dilakukan dalam rangka melaksanakan kegiatan mengajar / melatih dimaksud. Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 61 . sehingga tidak diberikan angka kredit tersendiri.Pusat Pembinaan JFA BPKP Jawaban: a. dapat diberikan angka kredit Pengembangan Profesi sebagai Peserta PKS.024 setiap 2 jam). b.

organisasi profesi bersifat nasional apabila kegiatan dan keanggotaannya bersifat nasional. 19/1996 didefinisikan bahwa Organisasi Profesi yang dimaksudkan dalam ketentuan JFA adalah organisasi yang kegiatannya mengkhususkan pada keahlian tertentu yang tidak dapat dikerjakan oleh semua orang. Sebagai contoh. seorang instruktur / pengajar umumnya membutuhkan waktu untuk mempersiapkan bahan ajar. Ikatan Auditor Intern Departemen X. Hal lain yang umumnya dipertanyakan adalah mengenai ruang lingkup suatu organisasi profesi (Tingkat Internasional / Nasional / Provinsi). organisasi ini bukan merupakan organisasi profesi. Dalam Forum Komunikasi disepakati bahwa kegiatan mempersiapkan materi / bahan dalam rangka mengajar/melatih pada diklat pegawaian dapat diberikan angka kredit unsur pengawasan kegiatan “mempersiapkan bahan untuk tujuan tertentu” yang didasarkan pada surat tugas/nota dinas minimal dari pejabat eselon III. dan bukan berdasarkan keahlian tertentu yang bersifat universal. slide. Keanggotaan organisasi profesi Dalam pasal 1 Keputusan MENPAN No. misalnya menyiapkan transparansi. serta bersifat Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 62 . Dalam Forum Komunikasi JFA dan Kepegawaian Tahun 2003 disepakati bahwa kriteria organisasi profesi yang bersifat internasional / nasional / provinsi antara lain didasarkan pada ruang lingkup kegiatan dan keanggotaannya. Organisasi profesi ini hendaknya dibedakan dengan organisasi yang bersifat perkumpulan (paguyuban) yang pada dasarnya lebih bersifat kelompok yang anggotanya memiliki kesamaan latar belakang. Organisasi profesi dianggap bersifat internasional apabila ruang lingkup kegiatan dan keanggotaannya meliputi antar negara. Demikian pula. atau bahan ajar lainnya. seperti Ikatan Akuntan Indonesia (IAI).Pusat Pembinaan JFA BPKP Dalam tahap persiapan. bahan diskusi. Dalam surat tugas/nota dinas tersebut hendaknya dicantumkan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan bahan tersebut dan nama diklat pegawai yang akan dilakukan. dan lebih bersifat sebagai perkumpulan (paguyuban).

dan negara. Provinsi. bangsa. terdapat PFA yang mengajukan angka kredit sebagai perolehan Penghargaan / Tanda Jasa atas perolehan “Piagam Penghargaan” dari Pemerintah Daerah karena yang bersangkutan telah melakukan Sosialisasi dan Asistensi dalam bidang tertentu (misalnya dalam rangka penyusunan LAKIP). Sesuai dengan Keputusan MENPAN No. dan negara. Memperoleh Penghargaan / Tanda Jasa Dalam pasal 1 Keputusan MENPAN No. Penghargaan / Tanda Jasa tersebut dapat bersifat Internasional / Nasional. Dalam prakteknya. sehingga tidak dapat diberikan angka kredit tersendiri yang terpisah dari angka kredit atas kegiatan Sosialisasi dan Asistensi. serta Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 63 . IAI (Ikatan Akuntan Indonesia) baik Pusat maupun Cabang adalah organisasi yang bersifat nasional. negara asing.Pusat Pembinaan JFA BPKP Provinsi apabila kegiatan dan keanggotannya hanya berada dalam ruang lingkup suatu Provinsi. Prestasi tersebut dicapai karena pengabdian secara terus menerus dan berkesinambungan dalam waktu yang relatif lama. Penghargaan / Tanda Jasa yang dapat diberikan angka kredit adalah yang diperoleh karena prestasi yang dicapai seseorang dalam pengabdian kepada nusa. maupun Kabupaten. bangsa. 19/1996. disepakati bahwa Piagam Penghargaan seperti tersebut di atas tidak termasuk dalam pengertian Penghargaan / Tanda Jasa sebagaimana dimaksud dalam Keputusan MENPAN No. Penghargaan / Tanda Jasa tersebut diperoleh karena prestasi yang dicapai seseorang dalam pengabdian kepada nusa. 19/1996 didefinisikan bahwa Penghargaan / Tanda Jasa adalah tanda kehormatan yang diberikan oleh Pemerintah RI. atau organisasi nasional / internasional yang mempunyai reputasi baik di kalangan masyarakat ilmiah. 19/1996. Dalam Forum Komunikasi. sehingga seorang PFA yang menjadi anggota IAI Cabang pada Provinsi X juga dianggap sebagai anggota organisasi profesi yang bersifat nasional.

selain proses mengajar. atau keduanya. Selama ini. Pertanyaan: Kegiatan Mengajar / Melatih pada Diklat Pegawai diberikan angka kredit yang terlalu kecil yaitu 0. PFA harus menyiapkan transparan bahan yang akan diajarkan. kami sependapat dengan anda bahwa dalam kenyataannya PFA memang sering ditugaskan untuk “Mengajar dan Melatih pada Diklat Pegawai” atau mempersiapkan transparan bahan yang akan diajarkan. Secara rinci. transparan dan persiapan lainnya merupakan bidang tugas / domain jabatan fungsional Widyaiswara. Dalam rangka mengajar. Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 64 .024 setiap 2 jam. permasalahan yang berkenaan dengan unsur penunjang dan solusinya diuraikan dalam tanya jawab berikut: 49. termasuk penyiapan bahan ajar berupa modul. Oleh sebab itu. Jawaban Pada dasarnya berbagai kegiatan “Mengajar dan Melatih pada Diklat Pegawai”. Namun demikian.Pusat Pembinaan JFA BPKP prestasi tersebut dicapai karena pengabdian secara terus menerus dan berkesinambungan dalam waktu yang relatif lama. Dalam surat tugas/nota dinas tersebut agar dicantumkan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan bahan tersebut dan nama diklat pegawai yang akan dilakukan. dalam “Forum Komunikasi JFA dan Kepegawaian” telah disepakati bahwa kegiatan mempersiapkan materi / bahan dalam rangka mengajar / melatih pada diklat pegawaian dapat diberikan angka kredit unsur pengawasan kegiatan “mempersiapkan bahan untuk tujuan tertentu” yang didasarkan pada surat tugas/nota dinas minimal dari pejabat eselon III. untuk hal yang demikian tidak dipertimbangkan dalam penilaian angka kredit.

PFA yang memiliki kartu keanggotaan IAI cabang Jakarta. Jawaban: Dalam ketentuan JFA.50 per tahun. untuk penugasan yang bersifat ekstern maka surat tugas (ST) ditandatangani oleh minimal pejabat eselon II. (Lihat juga Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2002 pertanyaan no. 100 Hal 79 dan Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2001 pertanyaan no. tidak diatur secara tegas batasan organisasi profesi tingkat nasional JFA dan dan internasional. 51. Kepegawaian Namun Tahun demikian. Pertanyaan: Siapa yang berhak menandatangani Surat Tugas mengajar.00-1485/DI/1999. 31 Hal 14). sedangkan untuk penugasan intern dapat ditandatangani oleh minimal pejabat eselon III. IAI merupakan organisasi yang bersifat nasional. Pertanyaan: PFA pada Perwakilan BPKP di daerah menjadi anggota IAI cabang Jakarta. apakah ada persyaratan lainnya yang harus dilengkapi untuk pengajuan angka kredit? Jawaban Berdasarkan SE-06.Pusat Pembinaan JFA BPKP 50. 2003 dalam Forum bahwa Komunikasi disepakati berdasarkan ruang lingkupnya. Jika diperlukan untuk lebih meyakinkan bahwa kegiatan tersebut telah dilaksanakan dapat pula diminta materi ajar yang disampaikan. PFA yang bersangkutan mengajukan usulan agar diberikan angka kredit 0. usulan angka kredit untuk kegiatan mengajar/melatih pada diklat pegawai harus dilengkapi dengan fotocopy surat dari penyelenggara yang disertai dengan jadwal dan jumlah jam. dapat diberikan angka kredit unsur penunjang sebesar 0. walaupun yang bersangkutan dipindahtugaskan ke Perwakilan/Unit Kerja di luar Jakarta.04. pada butir VIII – Penugasan Pengawasan dan Penilaian Angka Kredit.75 per Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 65 . Berdasarkan SOP PPAK.

IAI (Ikatan Akuntan Indonesia) baik Pusat maupun cabang adalah organisasi yang bersifat nasional. 52. dan PFA yang menjadi anggota aktif memperoleh angka kredit 0. Pertanyaan: Apa kriteria menjadi anggota organisasi profesi (Ikatan Akuntan Publik) tingkat Internasional / Nasional? Berapa angka kredit untuk keanggotaan Ikatan Akuntan Indonesia bagi PFA yang berada di BPKP Perwakilan? Jawaban: Kriteria organisasi profesi yang bersifat internasional / nasional / provinsi antara lain didasarkan pada ruang lingkup kegiatan dan keanggotaannya. Jawaban: Surat Penghargaan yang diperoleh PFA bersangkutan didasarkan pada kegiatan sosialisasi/asistensi LAKIP (kegiatan pengawasan yang dilaksanakan dengan rentang waktu sesuai dengan penugasan yang diberikan). PFA yang bersangkutan mengusulkan agar diberikan angka kredit atas Surat Penghargaan yang diterima dari Bupati/Walikota. Untuk meyakinkan bahwa PFA yang bersangkutan adalah anggota aktif hendaknya memindahkan keanggotaannya ke cabang IAI setempat. PFA yang bersangkutan menerima surat penghargaan dari Bupati/Walikota.00-125/K/1997 angka VI huruf c dinyatakan bahwa kriteria pemberian penghargaan atau Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 66 . Setelah selesai penugasan. Pertanyaan: PFA melakukan sosialisasi/asistensi LAKIP di lingkungan Pemerintah kabupaten/Kota. Sesuai Keputusan Kepala BPKP No. Organisasi profesi dianggap bersifat internasional apabila ruang lingkup tersebut meliputi antar negara.13.00. 53.75 per tahun.Pusat Pembinaan JFA BPKP tahun (keanggotaan organisasi tingkat nasional) sepanjang kartu keanggotaan tersebut masih berlaku dan untuk tahun tersebut belum diusulkan angka kreditnya. Kep.

Pertanyaan: Menjadi anggota dalam Satgas tidak diakui/ diberi nilai angka kredit Kepanitiaan Jawaban: Atas penunjukkan PFA sebagai bagian dari Satgas tidak diberikan angka kredit “kepanitian”. 55. penghargaan oleh Bupati/Walikota dimaksud tidak memenuhi kriteria penghargaan sebagaimana dimaksud. Pertanyaan: Unsur kegiatan kepanitiaan secara teknis tidak jelas. sehingga angka kredit yang diberikan atas kegiatan tersebut adalah sebagai kegiatan sosialisasi/asistensi. kepada nusa/bangsa dan negara. panitia apa saja yang boleh diajukan dalam DUPAK. Sesuai Kep-817/K/JF/2002 tentang SOP Penilaian dan Penetapan Angka kredit. Perumusan lebih lanjut mengenai kriteria batasan dan jenis Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 67 . Namun tetap tidak jelas.Pusat Pembinaan JFA BPKP tanda jasa adalah karena adanya prestasi kerja yang dicapai seseorang dalam pengabdian. namun atas penugasan-penugasan yang dilakukan diberikan angka kredit sesuai dengan kegiatannya yang dibuktikan dengan ST/ND masing-masing kegiatan. 54.5 sehingga diperoleh angka kredit 5 per semester dari unsur kepanitiaan. sehingga di perwakilan terdapat PFA mengajukan 10 jenis kepanitiaan dalam satu semester dikali tarif 0. (Lihat juga Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2002 halaman 54 pertanyaan nomor 68). Dengan demikian. secara terus menerus dalam waktu yang relatif lama. angka kredit kepanitiaan yang dapat diusulkan adalah hanya satu kali kepanitiaan dalam satu tahun. kepanitiaan apa saja yang boleh dan tidak boleh diajukan angka kreditnya ? Jawaban: Sesuai SK Menpan 19/1996. kepanitiaan yang dapat diberikan angka kredit adalah kepanitiaan intra atau antar instansi dan memperoleh angka kredit 0.5 per tahun.

Untuk kepanitiaan dengan jangka waktu lebih dari 1 tahun.1/2003 perihal Penegasan Hasil Rakor JFA dan Kepegawaian 2002. Pertanyaan: Sub unsur menjadi anggota dalam kepanitiaan intra atau antar instansi. (Lihat juga Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2002 halaman 55 pertanyaan no. F. SE91/JF. telah ditegaskan bahwa periode penilaian angka kredit JFA dilakukan pada: Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 68 . diberikan angka kredit sekali dalam kepanitiaan (0. mekanisme mutasi PFA. mutasi. permasalahan yang telah dibahas dalam Forum Komunikasi JFA dan Kepegawaian Tahun 2003 mengenai organisasi. Jawaban: Angka kredit kepanitiaan diberikan sesuai dengan keanggotaan dalam panitia tersebut tanpa melihat jangka waktu atau masa kerja dalam kepanitiaan. dan penatausahaan kegiatan yang menyangkut JFA. ORGANISASI.50) setahun. 56. angka kredit dapat diajukan setiap tahun. Secara garis besar. MUTASI. 70). DAN TATA USAHA JFA Permasalahan yang dibahas dalam bagian ini berkenaan dengan organisasi JFA. dan tata usaha JFA antara lain adalah sebagai berikut: Periode penilaian angka kredit Berdasarkan Prosedur Kegiatan Baku (SOP) Penilaian dan Penetapan Angka Kredit Di lingkungan APIP (Keputusan Kepala BPKP No.Pusat Pembinaan JFA BPKP kepanitiaan yang dapat diberikan angka kredit akan dilakukan oleh Tim Revisi Ketentuan JFA. Kep-817/K/JF/2002 tanggal 3 Desember 2002) dan Surat Edaran Kepala Pusbin JFA No. Angka kredit kepanitiaan dengan jangka waktu kepanitiaan kurang dari 1 tahun dapat diajukan segera setelah selesainya kepanitiaan tersebut. Masih rancu karena belum jelas berapa lama umur/ kegiatan dimaksud.

19/1996.Pusat Pembinaan JFA BPKP 1. angka kreditnya belum memenuhi syarat untuk naik pangkat dan diperkirakan dapat mencapai tambahan angka kredit yang dibutuhkan pada periode 2 (dua) bulan berikutnya. atau pengangkatan kembali/pengangkatan pertama ke dalam JFA. antara lain: 1. baik karena permintaan sendiri maupun untuk kepentingan dinas. telah aktif melaksanakan tugas di unit kerja baru. Adanya “pegawai titipan” yang perpindahannya ke unit kerja baru belum didukung secara formal dengan SK Pindah. mengalami perpindahan unit kerja. Periode Lainnya Penilaian angka kredit dilakukan untuk keperluan tertentu. Pada kegiatan penilaian ini seluruh PFA diwajibkan untuk menyampaikan DUPAK. Permasalahan yang timbul antara lain berkaitan dengan penentuan Pejabat Yang Berwenang Menetapkan Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 69 .d Desember) dan Juli (untuk kegiatan periode Januari s. Penilaian dalam periode tambahan ini dilakukan dengan memperhatikan bahwa SK PAK tersebut harus ditetapkan sebelum tanggal kenaikan pangkat dan batas waktu pengajuan usulan kenaikan pangkat ke BKN.d Juni) sesuai dengan Pasal 13 Keputusan MENPAN No. Periode Reguler Setiap bulan Januari (untuk kegiatan periode Juli s. sambil menunggu terbitnya SK Pindah. sering timbul permasalahan berkaitan dengan administrasi kepegawaian PFA yang bersangkutan. seperti pada saat akan dilakukan pembebasan sementara. PFA yang dapat mengajukan DUPAK untuk periode tambahan adalah PFA yang telah menyampaikan DUPAK pada periode reguler. Periode Tambahan Khusus bagi PFA yang pada periode penilaian reguler. perpindahan unit kerja. dapat mengajukan DUPAK untuk masa paling lama periode 2 (dua) tersebut. Yang bersangkutan. 3. 2. Umumnya hal ini terjadi pada PFA yang pindah karena mengikuti kepindahan suami ke unit kerja baru. Tertib Administrasi JFA Dalam Perpindahan Unit Kerja Pada saat PFA.

Disamping itu. agar secara pro aktif membantu Pejabat Pengelola Kepegawaian dalam pemroresan administrasi kepegawaian. PFA yang akan pindah ke unit kerja lain. 2. Pejabat Pengelola Kepegawaian pada unit kerja lama agar segera memproses administrasi kepegawaian yang terkait dengan kepindahan PFA ke unit lain.Pusat Pembinaan JFA BPKP Angka Kredit bagi PFA tersebut atas penugasan yang dilaksanakannya di unit kerja baru. antara lain berupa penerbitan SK Pembebasan Sementara dari JFA (bagi PFA yang diangkat dalam jabatan struktural / tugas belajar lebih dari 6 bulan /ditugaskan di luar JFA pada unit kerja lain). Masih terdapat PFA dan unit-unit kerja di lingkungan BPKP yang belum secara penuh melaksanakan tertib administrasi PFA dalam hal terjadi perpindahan unit kerja. maka status dan pembinaan kepegawaian PFA yang bersangkutan secara formal masih berada pada unit kerja lama sampai diterbitkannya SK Mutasi secara formal. mengingat kepindahan yang bersangkutan ke unit tersebut belum secara fomal didukung dengan SK Pindah. Permasalahan yang timbul umumnya berupa belum diterbitkannya SK Pembebasan Sementara dan SK PAK sampai dengan penugasan terakhir PFA yang bersangkutan pada unit kerja lama. sebagaimana disebutkan di atas. Pada dasarnya Pejabat Yang Berwenang Menetapkan Angka Kredit adalah Pejabat Yang Berwenang di lingkungan unit kerja yang memberikan penugasan. Oleh karena itu. antara lain dengan cara segera mengajukan DUPAK sampai dengan penugasan terakhir pada unit lama serta menyampaikan dokumen-dokumen terkait yang dibutuhkan untuk pemroresan tersebut. Sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas. maka Pejabat Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 70 . dalam hal PFA pindah ke unit kerja baru dengan status sebagai “pegawai titipan” dan belum secara fomal didukung dengan SK Pindah. Namun demikian. 2. dan penerbitan SK PAK (sampai dengan penugasan terakhir PFA tersebut pada unit kerja lama). dalam Forum Komunikasi telah ditegaskan hal-hal sebagai berikut: 1.

Pusat Pembinaan JFA BPKP

Yang Berwenang Menetapkan Angka Kredit terhadap penugasan yang diberikan oleh unit baru untuk sementara tetap Pejabat Yang Berwenang pada unit kerja lama. SK PAK diterbitkan oleh unit kerja lama berdasarkan hasil penilaian yang dilakukan oleh Tim Penilai angka kredit pada unit baru (yang menerima titipan). Pengangkatan Kembali Ke dalam JFA Dalam proses Pengangkatan Kembali ke dalam JFA bagi PFA yang Dibebaskan Sementara dari JFA, terdapat beberapa permasalahan yang umumnya diajukan oleh unit-unit kerja di lingkungan BPKP, antara lain: 1. Dalam proses pengaktifan kembali seorang PNS yang telah selesai menjalani Cuti Di luar Tanggungan Negara (CLTN), adakalanya yang bersangkutan telah aktif dan melaksanakan penugasan pada unit kerja di lingkungan BPKP sebelum secara formal diterbitkan SK Pengaktifan Kembali sebagai PNS. Dalam hal ini timbul permasalahan mengenai pengakuan angka kredit yang bersangkutan atas penugasan tersebut, mengingat yang bersangkutan secara formal belum diaktifkan kembali sebagai PNS. 2. Dalam Pengangkatan Kembali ke dalam JFA bagi PFA yang Dibebaskan Sementara dari JFA karena mengikuti tugas belajar D IV STAN, umumnya yang bersangkutan harus mengumpulkan angka kredit yang relatif besar untuk memenuhi angka kredit kumulatif minimal yang dipersyaratkan sesuai dengan pangkat terakhirnya. Pada dasarnya yang bersangkutan dapat dianggap “magang” kembali untuk menduduki jabatan dalam JFA sesuai dengan Ijazah barunya, sehingga yang bersangkutan seharusnya dapat menggunakan “jam diklat” dalam perhitungan angka kreditnya sampai mencapai angka kredit kumulatif minimal yang dipersyaratkan tersebut. Namun demikian, sesuai Surat Edaran Deputi Bidang Administrasi No. SE06.04.00-1485/DI/1999 tanggal 23 Desember 1999, penugasan yang dilaksanakan oleh lulusan D IV STAN, sebelum diangkat kembali ke dalam JFA, adalah menggunakan “jam pengawasan”.
Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003

71

Pusat Pembinaan JFA BPKP

3. Dalam pengumpulan angka kredit kumulatif minimal yang dipersyaratkan untuk Pengangkatan Kembali Ke dalam JFA bagi lulusan D IV STAN, sebagaimana diuraikan dalam angka 2 tersebut di atas, terdapat PFA yang belum mencapai angka kredit dimaksud selama 4 (empat) tahun dalam pangkat terakhir (Penata Muda, Gol. III/a). Mengingat PFA tersebut memenuhi syarat untuk diproses kenaikan pangkatnya secara kenaikan pangkat reguler, maka yang bersangkutan diproses kenaikan pangkatnya menjadi Penata Muda Tk. I (Gol. III/b) melalui kenaikan pangkat reguler. Pertanyaan yang timbul dari kondisi ini adalah apakah terhadap penugasan yang dilaksanakan selama dalam pangkat Penata Muda (Gol. III/a) dapat diakui angka kreditnya untuk memenuhi angka kredit kumulatif minimal yang dipersyaratkan untuk Pengangkatan Kembali Ke dalam JFA? Sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas, dalam Forum Komunikasi telah ditegaskan hal-hal sebagai berikut: 1. Sesuai dengan Pasal 2 ayat (2) Keputusan MENPAN No. 19/1996, JFA hanya dapat diduduki oleh seorang yang telah berstatus sebagai PNS. Dengan demikian, Pengangkatan Kembali Ke dalam JFA bagi PFA yang Dibebaskan Sementara karena menjalani Cuti Di Luar Tanggungan Negara dapat dilakukan setelah yang bersangkutan secara formal diaktifkan kembali sebagai PNS. Namun demikian, terhadap penugasan yang telah dilaksanakan sejak yang bersangkutan diaktifkan dalam penugasan (sejak tanggal Surat Pernyataan Melaksanakan Tugas / SPMT) tetap dapat diberikan angka kredit sebagaimana mestinya. 2. Dalam Rakor Tahun 2002 disepakati akan diusulkan kepada Sekretaris Utama untuk merevisi isi SE-06.04.00-1485/DI/1999 yang berkaitan dengan angka kredit pada masa magang, terutama penerapan penggunaan angka kredit dengan jam diklat bagi pengangkatan kembali JFA yang dibebaskan sementara karena tugas belajar. Rakor JFA dan Kepegawaian 2002 menyepakati bahwa penggunaan jam diklat seyogyanya diberlakukan juga bagi Pengangkatan Kembali para PFA
Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003

72

Pusat Pembinaan JFA BPKP

yang dibebaskan sementara karena mengikuti tugas belajar lebih dari 6 (enam) bulan mengingat yang bersangkutan dapat dianggap magang sebelum melaksanakan tugas barunya sesuai ijazah yang telah diperolehnya. Menunggu selesainya revisi terhadap SE-06.04.00-1485/DI/1999,

kesepakatan-kesepakatan yang diambil dalam Rakor JFA 2002 dapat dijadikan sebagai acuan yurisprudensi karena pengaturan Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Edisi Tahun 2002 dilakukan dengan Surat Edaran Kepala BPKP No. SE-820/K/JF/2002. 3. Berdasarkan Pasal 10 ayat (3) SKB Kepala BAKN, Sekjen BEPEKA, dan Kepala BPKP No. 10 Tahun 1996; No. 49/SK/S/1996; No. Kep-386/K/1996, PFA yang Dibebaskan Sementara karena tugas belajar dapat dipertimbangkan kenaikan pangkatnya secara kenaikan pangkat reguler. Dengan demikian, sepanjang yang bersangkutan berstatus Dibebaskan Sementara dan belum memenuhi syarat untuk Diangkat Kembali Ke dalam JFA, maka lulusan D IV STAN dengan pangkat Penata Muda (Gol. III/a) dapat diproses kenaikan pangkatnya menjadi Penata Muda Tk. I (Gol. III/b). Sesuai dengan ketentuan dalam angka IX, Keputusan Kepala BPKP No. Kep-13.00.00-125/K/1997, angka kredit yang digunakan untuk Pengangkatan Kembali Ke dalam JFA bagi PFA yang Dibebaskan Sementara karena Tugas Belajar, adalah sejumlah angka kredit pada saat Pembebasan Sementara ditambah angka kredit yang diperoleh selama Pembebasan Sementara. Dengan demikian, terhadap penugasan yang dilaksanakan selama dalam pangkat Penata Muda (Gol. III/a) dapat diberikan angka kredit sebagaimana mestinya. Secara rinci, permasalahan yang berkenaan dengan organisasi, mutasi, dan tata usaha JFA serta solusinya diuraikan dalam tanya jawab berikut:

Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003

73

Dalam SOP Penilaian dan Penetapan angka kredit (Kep-817/K/JF/2002 tgl. 3 Desember 2002) dan SE-91/JF. dan penjenjangan serta pengembangan peran karir Auditor. Periode Reguler Setiap bulan Januari (untuk kegiatan periode Juli s. Penilaian dalam periode tambahan ini dilakukan dengan memperhatikan bahwa SK PAK tersebut harus ditetapkan sebelum tanggal kenaikan pangkat dan batas waktu pengajuan usulan kenaikan pangkat ke BKN. 19 Tahun 1996 pada prakteknya sulit dilakukan. Jawaban: Pengaturan periode penilaian angka kredit dilakukan dengan salah satu tujuannya adalah terwujudnya penetapan angka kredit secara tepat waktu. sebagai dasar untuk kenaikan pangkat.d Desember) dan Juli (untuk kegiatan periode Januari s.1/2003 perihal Penegasan Hasil Rakor JFA dan Kepegawaian 2002. Pertanyaan: Penetapan periode penilaian DUPAK sebanyak dua kali dalam setahun sesuai Keputusan MENPAN No. angka kreditnya belum memenuhi syarat untuk naik pangkat dan diperkirakan dapat mencapai tambahan angka kredit yang dibutuhkan pada periode 2 (dua) bulan berikutnya. dapat mengajukan DUPAK untuk masa paling lama periode 2 (dua) tersebut. Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 74 . telah ditegaskan bahwa periode penilaian angka kredit JFA dilakukan pada: a. b. 19/1996. PFA yang dapat mengajukan DUPAK untuk periode tambahan adalah PFA yang telah menyampaikan DUPAK pada periode reguler. Periode Tambahan Khusus bagi PFA yang pada periode penilaian reguler.Pusat Pembinaan JFA BPKP 57. Pada kegiatan penilaian ini seluruh PFA diwajibkan untuk menyampaikan DUPAK. bahan perencanaan kepesertaan diklat.d Juni) sesuai dengan Pasal 13 Keputusan MENPAN No.

Dalam hal dijumpai keraguan atas hasil penilaian angka kredit dari unit baru. 58. perpindahan unit kerja. 59. Periode Lainnya Penilaian angka kredit dilakukan untuk keperluan tertentu. Untuk mengatasi kondisi tersebut perlu dilakukan koordinasi antara dua unit terkait. diterapkan pengaturan sebagai berikut : Pada dasarnya penilaian angka kredit dilakukan oleh tim penilai pada unit kerja dimana PFA yang bersangkutan melaksanakan tugas (unit kerja baru). mengingat status dan pembinaan kepegawaian PFA yang bersangkutan secara formal masih berada pada unit kerja lama sampai diterbitkannya SK Mutasi secara formal. seperti pada saat akan dilakukan pembebasan sementara. mengingat penugasan diberikan oleh pimpinan unit kerja baru. Pertanyaan: Untuk pegawai-pegawai titipan (tanpa SK) karena mengikuti suami dan lainlain. pindah ke Perwakilan BPKP XYZ. untuk tertib administrasi penilaian angka kredit. Jadi SK PAK tetap diterbitkan oleh pimpinan unit kerja lama. Pada perwakilan asal. Pertanyaan: Seorang PFA gol.Pusat Pembinaan JFA BPKP c. III/d tmt 1 Oktober 2002. Unit kerja asal atau unit kerja yang menerima titipan ? Jawaban: Hal ini tidak secara tegas diatur dalam ketentuan JFA. jabatan Auditor Penyelia. Namun demikian. siapa yang harus menerbitkan SK PAK-nya. Hasil penilaian angka kredit tersebut kemudian dikirimkan kepada unit kerja lama sebagai dasar penerbitan SK PAK. sementara jabatannya saat ini adalah Auditor Penyelia dan tunjangan Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 75 . yang bersangkutan telah memiliki SK Pengangkatan dalam jabatan Auditor Ahli Muda (III/c) tmt 1 Juli 2000. atau pengangkatan kembali/pengangkatan pertama ke dalam JFA. pimpinan unit kerja lama dapat mengonfirmasikan hal tersebut ke pimpinan unit kerja baru.

350. dan pada tanggal 1 Oktober 2002 aktif kembali di unit kerja BPKP. bagaimana dengan SK yang telah dibuat di perwakilan asal. sesuai dengan peran yang akan diduduki dalam jabatan Auditor Ahli Muda. III/c – III/d). Pertanyaan: Seorang pegawai menjalani Cuti di luar Tanggungan Negara (CLTN) sejak 1 Oktober 1998.Pusat Pembinaan JFA BPKP yang dibayar sebesar Rp. Sampai saat ini belum ada SK pengaktifan kembali. Peralihan jabatan dapat dilakukan setelah yang bersangkutan lulus sertifikasi diklat penjenjangan Ketua Tim. jabatan dan tunjangan yang saat ini diterima oleh yang bersangkutan telah sesuai dengan ketentuan yaitu Auditor Penyelia dengan tunjangan Rp 350.-.000. apakah perlu dibuatkan SK Alih Jabatan menjadi Auditor Ahli Muda? Apabila harus dibuat.000. apakah otomatis batal. hendaknya Perwakilan BPKP XYZ berkoordinasi dengan perwakilan tersebut untuk menyelesaikan permasalahan ini. akibatnya pegawai yang bersangkutan belum bisa diangkat kembali sebagai PFA. Apakah angka kredit PNS tersebut sejak aktif hingga terbitnya SK pengaktifan kembali. Terhadap SK alih jabatan yang terlanjur telah diterbitkan pada perwakilan asal. Setelah yang bersangkutan lulus sertifikasi KT. 60. atau harus dibuat surat pembatalannya oleh perwakilan asal? Jawaban: Peralihan jabatan Auditor Penyelia ke Auditor Ahli Muda (gol. dapat dihitung dan tidak hangus meskipun lebih dari satu tahun s/d SK pengaktifan kembali yang bersangkutan diterbitkan BKN. selain memenuhi persyaratan kenaikan jenjang pendidikan Formal (DIII ke S1).00. Saat ini yang bersangkutan telah mengikuti diklat Penjenjangan Ketua Tim dan belum lulus. juga harus memiliki sertifikat lulus diklat pindah jalur dan diklat penjenjangan Ketua Tim. Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 76 . Dari kasus di atas.

menyebutkan bahwa Pimpinan Unit Kerja menyampaikan usul pengangkatan kembali dalam Jabatan Fungsional Auditor kepada Pejabat Yang Berwenang Mengangkat.00 – 22/K/1999 Romawi V huruf H angka 3. Pertanyaan Dalam Rakor tahun 2002 diusulkan kepada Sesma untuk merevisi SE Deputi Bidang Administrasi No. Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 77 .1485/1999 mengenai pengangkatan kembali PFA tugas belajar 6 bulan setelah mendapat ijazah baru. dan Memberhentikan PFA. Sambil menunggu SK pengaktifan kembali dari BKN. Membebaskan Sementara. Sehingga pengangkatan kembali yang bersangkutan ke dalam JFA baru dapat dilakukan setelah diterbitkannya SK Pengaktifan kembali sebagai PNS dan terpenuhinya persyaratan lain sesuai ketentuan yang berlaku (antara lain pemenuhan angka kredit kumulatif minimal dan lulus diklat sertifikasi yang dipersyaratkan pada jabatannya). apakah kiranya untuk PFA ybs dapat diterbitkan SK pengaktifan kembali sebagai PFA dan apakah angka kredit periode 1 Nopember 1996 s/d 1 September 1998 dapat dinilai dengan catatan didukung dengan bukti Formal.Pusat Pembinaan JFA BPKP SK PAK terakhir yang bersangkutan adalah s/d 1 Oktober 1996 dan sejak 1 Nopember 1996 s/d tanggal cuti di luar tanggungan negara belum sempat diajukan DUPAK-nya. Kumulatif angka kredit yang digunakan sebagai dasar pengangkatan kembali berasal dari SK PAK yang dimiliki pada saat pembebasan sementara ditambah dengan angka kredit kegiatan Auditor yang dilakukan setelah yang bersangkutan aktif kembali di unit kerja BPKP (dihitung mulai dari tmt Surat Pernyataan Melaksanakan Tugas yang ditandatangani oleh Pimpinan Unit Kerja). bagi PFA yang telah selesai menjalani cuti di luar tanggungan negara dan telah diaktifkan kembali pada unit kerja semula.00. Jawaban: Berdasarkan SE Kepala BPKP No. 0604. 61.04. SE-06.

00-1485/DI/1999 yang berkaitan dengan angka kredit pada masa magang.04.04. Menunggu selesainya revisi terhadap SE-06. revisi tersebut belum dilakukan karena akan dilakukan bersamaan dengan revisi terhadap pengangkatan ajun khusus ke dalam JFA yang juga diatur dalam ketentuan tersebut. Lulusan program DIV STAN dapat menghitung angka kredit sejak diaktifkan dalam pengawasan.00-1485/DI/1999. Sampai dengan saat ini. Sesuai dengan Surat Edaran Deputi Kepala BPKP Bidang Administrasi No. kesepakatan-kesepakatan yang diambil dalam Rakor JFA 2002 dapat dijadikan sebagai acuan yurisprudensi karena pengaturan Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Edisi Tahun 2002 dilakukan dengan Surat Edaran Kepala BPKP No.Pusat Pembinaan JFA BPKP Jawaban: Dalam Rakor Tahun 2002 disepakati akan diusulkan kepada Sekretaris Utama untuk merevisi isi SE-06. SE-820/K/JF/2002. (Lihat juga Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2002 hal 24 dan 30 pertanyaan no. 31) Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 78 . Rakor JFA dan Kepegawaian 2002 menyepakati bahwa penggunaan jam diklat seyogyanya diberlakukan juga bagi Pengangkatan Kembali para PFA yang dibebaskan sementara karena mengikuti tugas belajar lebih dari 6 (enam) bulan mengingat yang bersangkutan dapat dianggap magang sebelum melaksanakan tugas barunya sesuai ijazah yang telah diperolehnya. untuk pengangkatan pertama ke dalam JFA perhitungan angka kredit sampai dengan terpenuhinya angka kredit kumulatif minimal sesuai pangkat terakhirnya (masa magang) dilakukan dengan menggunakan jam diklat.04. SE-06. terutama penerapan penggunaan angka kredit dengan jam diklat bagi pengangkatan kembali JFA yang dibebaskan sementara karena tugas belajar.00-1485/DI/1999. Apabila angka kredit kumulatif minimal telah terpenuhi perhitungan angka kredit berikutnya dilakukan dengan menggunakan jam pengawasan.

Hal ini dilakukan agar secara angka kredit tidak merugikan PFA tersebut. 63. sementara yang bersangkutan mengerjakan tugas-tugas PFA pada saat yang bersangkutan diangkat sebagai pejabat struktural.Pusat Pembinaan JFA BPKP 62. namun telah berada pada golongan/pangkat selama empat tahun atau lebih meminta diangkat ke Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 79 . Kep-13. Kegiatan selama menjabat struktural tidak dapat diberikan angka kredit karena penilaian kinerja pejabat struktural bukan didasarkan pada angka kredit sebagaimana di dalam jabatan fungsional dan para pejabat struktural memperoleh Kenaikan Pangkat Pilihan sesuai persyaratan yang berlaku dalam jabatan struktural. Pertanyaan: Terdapat seorang lulusan D. PFA tersebut dapat menggunakan angka kredit yang lebih besar antara perhitungan tabel dengan saat dibebaskan sementara. Disamping itu.00-125/K/1997.IV STAN tahun 2000 Gol.III/a tmt 1 April 2000 sampai saat ini belum diangkat ke dalam JFA. Atas penugasan tersebut tidak diberikan angka kredit. Pejabat struktural tersebut kemudian diangkat kembali menjadi PFA dengan angka kredit sesuai perhitungan dalam tabel yang besarnya lebih kecil dari angka kredit pada saat PFA tersebut dibebaskan sementara dari JFA dan diangkat sebagai pejabat struktural. terdapat pula auditor yang belum diangkat sebagai PFA karena belum memiliki sertifikat pembentukan.00. Jawaban: Angka kredit untuk pengangkatan kembali PFA yang dibebaskan sementara karena melaksanakan tugas-tugas struktural menggunakan angka kredit yang lebih besar antara SK PAK pada saat pembebasan sementara atau berdasarkan tabel angka kredit perpindahan sebagaimana dimaksud pada Lampiran II Keputusan Kepala BPKP No. Pertanyaan: Terdapat pejabat struktural yang ditugaskan dalam tugas-tugas PFA. Dengan demikian PFA tersebut mempunyai waktu yang terbuang tanpa perolehan angka kredit.

apakah dapat diperankan sebagai Ketua Tim atau Pengendali Tehnis sedangkan ybs tidak pernah mengikuti Diklat Ketua Tim. apakah dapat diperkenankan melakukan penugasan pemeriksaan dan bagaimana konsekwensinya apabila pangkatnya III/c atau IV/a. c. apakah dapat dihitung mulai sejak penugasan setelah mulai lulus D IV STAN b. Apabila yang bersangkutan memilih jalur kenaikan pangkat reguler. Pertanyaan: Terdapat beberapa lulusan D IV STAN yang sampai saat ini belum membuat DUPAK atau belum mengumpulkan angka kredit dan mereka memilih jalur kenaikan pangkat reguler. Apabila yang bersangkutan tersebut di atas ingin jadi PFA. a. maka kenaikan pangkat yang bersangkutan dapat dilakukan berdasarkan kenaikan pangkat reguler. Bagaimana cara membuat SPMK masing – masing kegiatan apakah dapat dibuat sekaligus sejak mulai lulus atau di SPMK per tahun sejak mulai lulus.Pusat Pembinaan JFA BPKP pangkat / golongan setingkat lebih tinggi dengan pengangkatan secara reguler. atau Pengendali Tehnis dan ada pula yang masih trampil diperankan sebagai Ketua Tim sedangkan yang ahli masih ada. Lulusan program DIV STAN dapat menghitung angka kredit sejak diaktifkan dalam pengawasan. dengan alasan angka kredit untuk pengangkatan ke dalam JFA tidak mencukupi. 64. bagaimana menghitung angka kredit. Sesuai dengan Surat Edaran Deputi Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 80 . Jawaban: a. Apakah yang bersangkutan dapat dinaikkan pangkatnya terlebih dahulu secara reguler? Jawaban: Sepanjang seorang PNS dibebaskan sementara dari JFA dan atau belum diangkat ke dalam JFA.

31) b. (Lihat juga Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2002 hal 24 dan 30 pertanyaan no. SE-06. Berdasarkan SOP PPAK pada BAB IV huruf D disebutkan bahwa untuk menciptakan tertib administrasi dan pemrosesan tepat waktu. Idealnya memang hanya PFA yang dapat diberikan penugasan pengawasan. Namun untuk kasus diatas. Peran seorang PFA atau pejabat lainnya dalam penugasan diserahkan pada pertimbangan profesional pimpinan unit. selama atasan langsung PFA ybs dalam penugasan tidak berubahubah. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa SPMK ditandatangani oleh atasan langsung dalam penugasan yang dilaksanakan. namun sampai dengan saat ini hal tersebut belum dapat diterapkan dan belum ada ketentuan yang melarang seorang yang belum diangkat JFA ditugaskan melakukan pengawasan.04. untuk pengangkatan pertama ke dalam JFA perhitungan angka kredit sampai dengan terpenuhinya angka kredit kumulatif minimal sesuai pangkat terakhirnya (masa magang) dilakukan dengan menggunakan jam diklat. Dalam Rakor JFA dan Kepegawaian 2002 disepakati bahwa penggunaan jam diklat seyogyanya diberlakukan juga bagi Pengangkatan Kembali para PFA yang dibebaskan sementara karena mengikuti tugas belajar lebih dari 6 (enam) bulan mengingat yang bersangkutan dapat dianggap magang sebelum melaksanakan tugas barunya sesuai ijazah yang telah diperolehnya.00-1485/DI/1999. PFA menyusun SMPK untuk setiap kegiatan yang telah selesai dilaksanakan dan dilengkapi dokumen pendukung kegiatannya.Pusat Pembinaan JFA BPKP Kepala BPKP Bidang Administrasi No. Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 81 . satu SPMK dapat dibuat untuk beberapa penugasan sepanjang didukung dengan dokumen yang dipersyaratkan. Apabila angka kredit kumulatif minimal telah terpenuhi perhitungan angka kredit berikutnya dilakukan dengan menggunakan jam pengawasan. c.

Baru beberapa hari ikut diklat. setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan. Penugasan di BPK dapat diberikan angka kreditnya sepanjang dalam lingkup kegiatan pengawasan dan didukung dengan berkas penugasan serta bukti pencapaian norma hasil. Harapan dari yang bersangkutan adalah : • • Selama penugasan di BPK dapat diakui angka kreditnya Segera diangkat menjadi PFA tanpa diklat. yaitu menggunakan tarif angka kredit diklat sebagaimana dimaksud pada jawaban pertanyaan no. 64 diatas. maka yang bersangkutan harus memperoleh angka kredit minimal sesuai pangkat terakhirnya (misalnya 150 untuk gol. maka pengangkatan ke dalam JFA dapat melalui mekanisme Pengangkatan Kembali. dan sampai saat ini belum diangkat ke dalam JFA. sehingga terpaksa meninggalkan diklat. Pada saat diperbantukan di BPK belum membuat DUPAK. Untuk pengangkatan kembali. karena sebelumnya pernah menjadi PKP Jawaban: Apabila yang bersangkutan adalah eks PKP yang belum disesuaikan menjadi PFA pada saat penyesuaian nomenklatur jabatan (per 1 Oktober 1996) dan memiliki SK Pembebasan Sementara dari PKP. III/b). sesuai surat Deputi Bidang Administrasi No.Pusat Pembinaan JFA BPKP 65.00-610/DI/99 tanggal 24 Juni 1999 tentang Penyelesaian eks PKP yang belum disesuaikan ke dalam nama Jabatan Fungsional Auditor. Angka kredit tersebut berasal dari angka kredit pada saat pembebasan sementara dari PKP ditambah perolehan angka kredit dari perolehan ijazah D IV dan penugasan-penugasan yang dilaksanakan. S-06. Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 82 . Pemenuhan angka kredit yang bersangkutan dapat dilakukan dengan menggunakan ketentuan magang. Pertanyaan: Seorang eks.04. PKP setelah lulus DIV STAN mengikuti diklat JFA pindah jalur tahun 2002. yang bersangkutan dipanggil untuk diperbantukan pada BPK.

Sertifikat Auditor Ahli Anggota Tim telah dimiliki. Sebagai contoh bila PFA tersebut telah menduduki gol III/c dan akan diangkat menjadi Auditor Ahli Muda.04. c. Selama di Ortala. III/b) angka kredit yang diperlukan 150 untuk proses pengangkatan kembali dalam JFA. penugasan bersifat administratif selama hampir 2 tahun. dan tahun 2003 ditempatkan di Deputi Akuntan Negara. yang bersangkutan harus memperoleh sertifikat lulus diklat yang dipersyaratkan sesuai jenjang jabatan yang akan didudukinya.Pusat Pembinaan JFA BPKP Selain pemenuhan angka kredit minimal sebagaimana tersebut di atas. Ybs sampai saat ini belum diangkat dalam JFA. b. yang bersangkutan tidak melakukan penugasan audit. Bagaimana penyelesaian untuk proses pengangkatan kembali ke dalam JFA Jawaban: Apabila ybs eks PKP yang belum disesuaikan menjadi PFA pada saat penyesuaian nomenklatur jabatan (per 1 Oktober 1996) dan memiliki SK Pembebasan Sementara dari PKP. ybs dapat langsung diangkat ke dalam JFA melalui mekanisme Pengangkatan Kembali. Tahun 1996 yang bersangkutan lulus DIV STAN dan ditempatkan di Biro Kepegawaian dan Organisasi (Bag Organisasi dan Tatalaksana / Ortala).00-610/DI/99 tanggal 24 Juni 1999 tentang Penyelesaian eks PKP yang belum disesuaikan ke dalam nama Jabatan Fungsional Auditor. Saat ini ybs berpangkat Penata Muda Tk. sesuai surat Deputi Bidang Administrasi No. yang bersangkutan tugas belajar ke Australia. S06. a. Tahun 2000. Tahun 2002 selesai tugas belajar S2. setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan. I (Gol. angka kredit 60. 66. Pertanyaan: Pegawai yang pada tahun 1993 dibebaskan dari PKP karena tugas belajar D IV STAN. Sangat sulit mengumpulkan angka kredit minimal. maka harus memiliki sertifikat lulus diklat Pindah Jalur dan diklat penjenjangan peran Ketua Tim. Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 83 .

(Lihat juga jawaban pertanyaan no. dijatuhi hukuman disiplin sedang atau berat. Dengan demikian. 65 di atas). Pertanyaan : Seorang PFA mengalami kelambatan dalam kenaikan pangkat dari III/b ke III/c karena belum memiliki sertifikat Ketua Tim. Apakah dengan dibebaskan sementara dapat naik pangkat secara reguler? Jawaban: Pembebasan sementara JFA didasarkan pada dua hal yaitu tidak diperolehnya angka kredit kumulatif minimal untuk kenaikan pangkat dan hal lainnya. namun belum memperoleh sertifikat yang dipersyaratkan. ybs harus memperoleh angka kredit minimal sesuai pangkat terakhirnya (misalnya 150 untuk gol. dan diberhentikan sementara sebagai PNS. III/b). Angka kredit tersebut berasal dari angka kredit pada saat pembebasan sementara dari PKP ditambah perolehan angka kredit dari perolehan ijazah D IV dan penugasan-penugasan yang dilaksanakan. dengan golongan pangkat terakhir III/d (2 tahun) tidak dapat dipertimbangkan naik pangkat ke golongan IV/a karena Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 84 . Pertanyaan: Seorang PFA memiliki ijazah S1 dan sudah lulus UPI. terhadap PFA yang telah 6 tahun dalam pangkat terakhir dan telah memenuhi angka kredit kumulatif untuk naik pangkat. sampai akhirnya melewati masa 6 tahun : a. tidak perlu dibebaskan sementara dari JFA. 68.Pusat Pembinaan JFA BPKP Untuk dapat diangkat melalui mekanisme tersebut. seperti penugasan sebagai struktural/fungsional lain. padahal dari perolehan angka kredit telah memenuhi. Apakah ybs harus dibebaskan sementara? b. CLTN. hukuman disiplin. Diklat Pindah Jalur serta Diklat Penjenjangan Ketua Tim. tugas belajar. SE-769/JF/1/2003 tanggal 14 Juli 2003 perihal Penegasan Hasil Forum Komunikasi JFA dan Kepegawaian Tahun 2003. Lebih lanjut hal ini ditegaskan dalam Surat Edaran Kepala Pusbin JFA No. 67.

Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 85 . Sekjen BPK. Salah satu syarat kenaikan jabatan dari Auditor Ahli Muda menjadi Auditor Ahli Madya adalah perolehan sertifikat lulus diklat peran Pengendali Teknis. kenaikan pangkat PFA ke dalam pangkat yang berada dalam jenjang jabatan yang berbeda.Pusat Pembinaan JFA BPKP belum lulus peran Pengendali Tehnis. 69. misalnya dari gol III/d (berada dalam jenjang Auditor Ahli Muda) ke gol IV/a (berada dalam jenjang Auditor Ahli Madya). Nomor : 49/SK/S/1996.00-286/K/2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja Perwakilan BPKP. 85). Pertanyaan: Organisasi JFA tidak mempunyai unit kesekretariatan Jawaban: Dalam Kep-06. dan Kepala BPKP Nomor : 10 Tahun 1996. Dalam konteks administrasi kepegawaian dan angka kredit. Jawaban: Sesuai dengan Pasal 10 SKB Kepala BAKN. dan Nomor : Kep386/K/1996. fungsi kesekretariatan bagi organisasi JFA berada pada pejabat pengelola kepegawaian (Sekretaris Tim Penilai Angka Kredit).00. Dengan demikian. Diusulkan agar PFA tersebut tetap diproses kenaikan pangkatnya ke golongan IV/a walaupun mengikuti yang Diklat bersangkutan belum mendapatkan kesempatan Penjenjangan Pengendali Tehnis. belum secara jelas diatur mengenai organisasi Kelompok JFA. dapat dipertimbangkan setelah yang bersangkutan telah terlebih dahulu dinaikkan jabatannya. salah satu persyaratan kenaikan pangkat PFA adalah “Masih dalam jenjang jabatan yang sama’’.00. (Lihat juga Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2002 Hal 70 pertanyaan no.00-080/K/2001 tentang Organisasi dan Tata Kerja BPKP dan dan Kep-06.

apakah termasuk Pejabat Fungsional Analis Kepegawaian? c. Siapa yang dimaksud dengan pejabat yang mengurusi kepegawaian di BPKP Perwakilan.04. Apakah ada Format baku Surat Tugas bagi BPKP Perwakilan yang telah memberlakukan Organisasi Kelompok PFA? Bagaimana pencantuman Pengendali Teknis yang diperankan sebagai Pengendali Mutu dan pencantuman Kepala Bidang dalam surat tugasnya? b. 70. Apakah Surat Edaran Kepala BPKP Nomor : SE-060400-22/K/1999 tanggal 11 Januari 1999 masih berlaku? d. kartu penugasan dll. Pada hal.Pusat Pembinaan JFA BPKP Apabila dirasa perlu. 19/1996 tanggal 2 Mei 1996 dan tidak sesuai dengan Surat Edaran Kepala BPKP Nomor : SE820/K/JF/2002 tanggal 4 Desember 2002)? Jawaban: a. Pertanyaan: a. Dalam Lampiran Keputusan Kepala BPKP Nomor: KEP-817/K/JF/2002 tanggal 3 Desember 2002 tentang Prosedur Kegiatan Baku Penilaian dan Penetapan Angka Kredit Bagi Jabatan Fungsional Auditor di Lingkungan Aparat Pengawasan Internal Pemerintah telah diuraikan beberapa contoh surat tugas. Formulir anggaran waktu pengawasan.00-22/K/1999 tanggal 11 Januari 1999 huruf C angka 2 dinyatakan : ”Dalam hal dijumpai keraguan atau kejanggalan atas hasil kegiatan pengawasan. Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 86 . 25 Surat Edaran Kepala BPKP Nomor : SE-06. pimpinan unit kerja dapat saja membentuk sekretariat bagi kelompok JFA yang bertugas untuk membantu kelancaran administrasi pengawasan. Pejabat Pengusul wajib menanyakan hal tersebut kepada Atasan Langsung PFA yang bersangkutan … dst” Apakah atas dasar hal itu pejabat pengusul dapat mengembalikan berkas usulan angka kredit yang diajukan oleh PFA dan atau mengoreksi usulan angka kredit dari PFA yang dipandang ada kejanggalan (angka kredit yang diajukan tidak sesuai dengan Lampiran 1A dan atau 1B Keputusan Menpan No.

Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 87 . c. Jika dalam usulan tersebut terdapat keraguan.Pusat Pembinaan JFA BPKP Dalam contoh kartu penugasan misalnya terdapat anggaran waktu Pengendali Mutu. b.04. Pejabat Pengusul wajib menanyakan hal tersebut kepada Atasan Langsung PFA yang bersangkutan … dst” tercantum pula dalam Keputusan Kepala BPKP Nomor: KEP817/K/JF/2002 pada Prosedur I huruf F. Pengendali Teknis. d. Pejabat Pengusul dapat melakukan konfirmasi kepada PFA yang bersangkutan dan melakukan koreksi apabila dipandang perlu. Hal ini didasarkan bahwa DUPAK yang disampaikan oleh PFA merupakan ukuran kinerja dari PNS yang berada dalam lingkup pembinaan kepegawaian Pejabat Pengusul tersebut dan secara formal penandatanganan DUPAK oleh Pejabat Pengusul menunjukkan bahwa yang bersangkutan menyetujui usulan PFA untuk dinilai oleh Tim Penilai Angka Kredit. Istilah tersebut digunakan mengingat pada beberapa unit kerja yang mengelola kepegawaian adalah Kasubbag TU atau Kasubbag TU Perbantuan. Yang dimaksud dengan Pejabat yang mengelola kepegawaian pada Perwakilan BPKP dalam konteks pengaturan JFA adalah Kepala Sub Bagian Kepegawaian. Surat Edaran Kepala BPKP Nomor: SE-06. Ketentuan tersebut memberi kewenangan kepada Pejabat Pengusul Angka Kredit JFA untuk melakukan koreksi terhadap DUPAK yang diajukan oleh Pejabat Fungsional Auditor yang dinilainya tidak wajar/memunculkan keraguan. Pengendali Teknis yang ditugaskan sebagai Pengendali Mutu. dalam surat tugas dicantumkan sebagai Pengendali Mutu. Ketua Tim dan Anggota Tim. Kepala Bidang yang ditugaskan menggantikan Pengendali Mutu hendaknya tetap dicantumkan sebagai Kepala Bidang / Pembantu Penanggung jawab. Ketentuan bahwa ”Dalam hal dijumpai keraguan atau kejanggalan atas hasil kegiatan pengawasan.00-22/K/1999 tanggal 11 Januari 1999 sampai saat ini tetap berlaku di lingkungan BPKP.

dalam surat tugas hendaknya yang bersangkutan dicantumkan sebagai Pembantu Penganggungjawab. Tidak adanya pengaturan yang memuat ketentuan seorang Kepala Bidang yang belum bersertifikasi Pengendali Mutu. Belum jelasnya hubungan struktural dan fungsional sampai saat ini.Pusat Pembinaan JFA BPKP 71. 72. b. Pertanyaan: Belum jelasnya hubungan jabatan fungsional dan struktural sehingga di perwakilan terjadi hal-hal sebagai berikut: a. b. Diciptakan pola hubungan struktural dan fungsional. Pertanyaan: a. Kepala Bidang tidak disyaratkan harus memiliki sertifikat Pengendali Mutu. Pedoman pola hubungan struktural-fungsional saat ini masih sedang dalam tahap pembahasan akhir. b. sedangkan dalam struktur organisasi perwakilan BPKP. guna menghindari kesimpangsiuran pelaksanaan tugas. Diharapkan pada akhir tahun 2003 pedoman tersebut sudah dapat diterbitkan dan diedarkan kepada seluruh unit kerja di lingkungan BPKP. Dalam hal Kepala Bidang melaksanakan peran Pengendali Mutu. Jawaban: a. Diusulkan agar: a. Disusun peraturan yang jelas. Kelompok JFA berada dalam kelompok tersendiri. Sebagai pejabat struktural. Kepala Bidang Teknis berperan sebagai Daltu dan menjadi atasan langsung PFA yang ditempatkan / diberdayakan pada bidang-bidang teknis tersebut. namun memerankan tugas sebagai Pengendali Mutu dalam penugasan audit. yang memuat ketentuan mengenai dapat tidaknya Kepala Bidang yang belum bersertifikasi Pengendali Mutu untuk memerankan tugas sebagai Pengendali Mutu dalam melaksanakan penugasan audit. Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 88 .

Pertanyaan: Pelaksanaan penilaian angka kredit bagi PFA golongan IV (Auditor Ahli Madya . Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 89 . Penjelasan koreksi tidak disampaikan kepada PFA yang dinilai apabila PFA tersebut tidak memintanya. Diharapkan pada akhir tahun 2003 pedoman tersebut sudah dapat diterbitkan dan diedarkan kepada seluruh unit kerja di lingkungan BPKP. Jawaban: Mulai periode penilaian untuk DUPAK 2002. 73. Jawaban: Pedoman pola hubungan struktural-fungsional saat ini masih sedang dalam tahap pembahasan akhir. Penjelasan ini sangat penting agar yang bersangkutan dapat memperbaiki dalam pengajuan angka kredit berikutnya. Penjelasan tertulis mengenai selisih koreksi penilaian sebaiknya disampaikan kepada PFA yang dinilai melalui pejabat pengusul baik diminta maupun tidak diminta. Pusbin JFA selaku Sekretariat Tim Penilai Pusat telah mengirimkan penjelasan selisih penilaian angka kredit kepada setiap PFA melalui unit kerja masing-masing. Penyampaian penjelasan selisih tersebut selain ditujukan untuk melakukan perbaikan dalam pengajuan angka kredit juga diharapkan dapat menjadi acuan bagi Tim Penilai Setempat dalam melakukan penilaian dan bahan evaluasi bagi Pejabat Pengusul. Penjelasan ini sangat penting agar yang bersangkutan dapat memperbaiki dalam pengajuan angka kredit berikutnya. sehingga timbul permasalahan bagi PFA yang diberdayakan di Bidang Investigasi dan Akuntan Negara dengan perolehan HP lebih sedikit dibandingkan Bidang IPP dan APD akibat dari berkurangnya obrik di kedua bidang tsb.Auditor Ahli Utama) adalah oleh Tim Penilai Pusat. Pemberdayaan PFA di bidang teknis tersebut berakibat tugas PFA hanya melaksanakan kegiatan yang ada di bidang teknis ybs.Pusat Pembinaan JFA BPKP b.

Pusat Pembinaan JFA BPKP 74. Dalam hal yang bersangkutan belum memenuhi syarat. ϕ Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 90 . Auditor yang telah memenuhi syarat untuk dialihkan menjadi Auditor Ahli agar segera diproses alih jabatannya. apakah proses kenaikan pangkatnya menunggu yang bersangkutan lulus diklat / sertifikat terbit (sesuai persyaratan kenaikan pangkat PFA Ahli) atau diproses kenaikan pangkat dengan ketentuan PFA Terampil. Jawaban: Sesuai dengan SE Kapusbin No. Pertanyaan: Untuk PFA Trampil yang angka kreditnya telah mencukupi untuk kenaikan pangkat dan sedang mengikuti diklat pindah jalur atau telah lulus diklat pindah jalur namun sertifikatnya belum terbit. SE-91/JF/1/2003 tentang Penegasan Hasil Rakor Kepegawaian dan JFA Tahun 2002. seperti memperoleh sertifikat lulus diklat yang dipersyaratkan pada jenjang Auditor Ahli (diklat pindah jalur dan atau penjenjangan peran). maka yang bersangkutan dapat diproses kenaikan pangkatnya sebagai Auditor Trampil.

04.04. SE-06. 5. Keputusan Kepala BPKP Nomor: Kep-06. berikut ini adalah ketentuan-ketentuan lain yang merupakan referensi yang digunakan dalam Tanya Jawab di atas : 1. Surat Edaran Kepala Pusbin JFA No. 8. dan Alokasi Angka Kredit.00.00-610/DI/1999 tanggal 24 Juni 1999 perihal Penyelesaian eks PKP yang belum disesuaikan ke dalam nama Jabatan Fungsional Auditor.1/2002 tanggal 21 Pebruari 2002 perihal Besaran Angka Kredit Kegiatan Yang Berkaitan Dengan AKIP Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 91 . Surat Deputi Bidang Administrasi No.00-080/K/2001 tanggal 20 Pebruari 2001 tentang Organisasi Dan Tata Kerja Badan Pengawasan Keuangan Dan Pembangunan 3.04.00-847/K/1998 tanggal 11 Nopember 1998 tentang Pola Pendidikan dan Pelatihan Auditor bagi Aparat Pengawasan Fungsional Pemerintah 2. Surat Sekretaris Utama BPKP Nomor S-1380/SU/2002 tanggal 16 Agustus 2002 perihal Kualifikasi Pendidikan PFA dan Angka Kreditnya 7. Surat Kepala Pusbin JFA Nomor S-06.Pusat Pembinaan JFA BPKP DAFTAR REFERENSI PERATURAN Disamping ketentuan-ketentuan umum mengenai JFA sebagai mana telah diuraikan angka II (Dasar Hukum). 6. Jam Kerja. Keputusan Kepala BPKP Nomor: Kep-06.06-33/D. Keputusan Kepala BPKP No Kep-817/K/JF/2002 tanggal 3 Desember 2002 tentang SOP Penilaian dan Penetapan Angka Kredit Di lingkungan APIP 4. S-06.I/2000 tanggal 6 Januari 2000 tentang Pemberian Ijin Pendidikan Di luar Kedinasan dan Penyesuaian Ijazah di lingkungan BPKP.02.00-65/PJFA. Keputusan Deputi Bidang Administrasi BPKP Nomor Kep-05.04.00-27/PJFA/2002 tanggal 18 Januari 2002 perihal Penjelasan Unsur Pengembangan Profesi.

Sosial. 10. Surat Edaran Kepala Pusbin JFA No. Surat Kepala Pusbin JFA Nomor S-1086/JF.1/2002 tanggal 31 Desember 2002 perihal Kesepadanan Kegiatan Pengawasan Di lingkungan Lembaga Informasi Nasional RI Dengan Kegiatan Yang Diberikan Angka Kredit Berdasarkan Keputusan MENPAN Nomor 19/1996 13.1/2002 tanggal 31 Desember 2002 perihal Kesepadanan Kegiatan Di lingkungan Pusdiklatwas BPKP Dengan Kegiatan Yang Diberikan Angka Kredit Berdasarkan Keputusan MENPAN Nomor 19/1996 12. Surat Kepala Pusbin JFA Nomor S-1091/JF. SE-91/PJFA/2003 tanggal 31 Januari 2003 perihal Penegasan Hasil Rapat Koordinasi Kepegawaian dan JFA Tahun 2002 14. dan Keamanan BPKP 11.1/2002 tanggal 31 Desember 2002 perihal Kesepadanan Kegiatan Di luar Kegiatan Yang Diberikan Angka Kredit Berdasarkan Keputusan MENPAN Nomor 19/1996 Di lingkungan Deputi Pengawasan Instansi Pemerintah Bidang Politik. Surat Kepala Pusbin JFA Nomor S-1090/JF. Surat Edaran Kepala Pusbin JFA No. 19/1996 Di lingkungan BPKP. Surat Edaran Kepala Pusbin JFA Nomor SE-1054/JF. SE-769/JF/1/2003 tanggal 14 Juli 2003 perihal Penegasan Hasil Forum Komunikasi JFA dan Kepegawaian Tahun 2003 ϕ Himpunan Tanya Jawab Seputar JFA Tahun 2003 92 .1/2002 tanggal 17 Desember 2002 perihal Kesepadanan Kegiatan Di luar Kegiatan Yang Diberikan Angka Kredit Berdasarkan Keputusan MENPAN No.Pusat Pembinaan JFA BPKP 9.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful