1

KONSEP LINGKUNGAN HIDUP DAN PENDIDIKAN ISLAM
dalam Perspektif Teologi Pendidikan
Oleh: Imam Nasruddin
1



Pendahuluan
Islam adalah agama yang komprehensip (syaamil), sempurna (kaamil) dan
menyempurnakan semua sistem yang lain (mutakaamil). Islam mengatur semua sisi
kehidupan manusia. Islam adalah sistem hidup yang diturunkan oleh Yang Maha
Mengetahui dan Maha Bijaksana, hal ini didasarkan pada firman Alah swt : “Pada
hari ini Aku sempurnakan bagimu agamamu dan Aku cukupkan atasmu nikmatku,
dan Aku ridhai Islam sebagai aturan hidupmu” (5: 3). Oleh karena itu, aturan Islam
haruslah mencakup semua sisi yang dibutuhkan oleh manusia dan kehidupannya.
Demikian tinggi, indah dan terperincinya aturan Sang Maha Rahman dan Rahim ini,
sehingga bukan hanya mencakup bagi sisi sesama manusia saja, melainkan juga
terhadap alam dan lingkungan hidupnya.
Jika Islam itu artinya tunduk dan patuh kepada iradah (kehendak) Allah,
maka kehendak-kehendak Allah itu perlu kita kenal dan pelajari agar kita dapat
memahami serta mematuhinya sebagai muslim yang baik (M. Imaduddin
Abdurrahim, 2002: 15). Memahami alam adalah bagian yang tidak terpisahkan agar
terjadi keseimbangan dan keharmonisan antara manusia dengan alam tetap
terjamin.
Berkaitan dengan keharmonisan alam ini, Imaduddin melukiskan bahwa
kelestarian dan keharmonisan alam jagat raya ini telah dijamin oleh Allah swt.
Selanjutnya Allah memberikan tantangan bagi manusia agat meneliti andai manusia
menemukan cacat, ketidaksempurnaan atau kerusakan di dalam ciptaan-Nya. Allah
berfirman dalam al Quran (67: 3-4):

1
Pendidik di MAN Sakatiga Kabupaten Ogan Ilir Provinsi Sumatera Selatan.

2
_¸¦ _l> _¯,. ¸,´¡... !·!,¸L !. _¸. ¸· ¸_l> ¸_.´.-¯¸l¦ _¸. ¸,'¡.±. ¸_¸>¯¸!· ´¸.,l¦
¯_> _¸. _¸. ¸¸¡L· ¸_¸ ¯¡. ¸_¸>¯¸¦ ´¸.,l¦ ¸_,.¯¸´ `¸¸l1., ,,l¸| ¸.,l¦ !´.¸.l> ´¡>´¸ ¸,¸.> ¸_¸

(3.) “Yang Telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. kamu sekali-kali tidak
melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang.
Maka Lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? (4.)
Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu
dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan
payah.”
Ayat ini memberikan pemahaman bahwa al Quran sangat menggalakkan
manusia memperhatikan bahkan meneliti alam dan menemukan ayat-ayat yang
mengatur fenomena alam. Ibnu Rusyd mengatakan “alam raya ini adalah kitab Allah
pertama yang diturunan sebelum kitab-kitab lain yang berbentuk kumpulan wahyu-
Nya.” Gejala alam telah berbicara kepada mereka yang mau mengganti akan ayat-
ayat Allah yang telah dipatuhi itu (M. Imaduddin Abdurrahim, 2002: 26).
Penciptaan alam raya termasuk lingkungan kosmos manusia (tanah, air dan
udara) telah ditentukan qadar-nya (ukurannya atau ketentuannya) yang harus
senantiasa dijaga dan dilestarikan. Maka, siapa yang merusaknya berarti telah
merusak qadar Allah. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam al-Quran (15: 19-20):
“Dan kami Telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung
dan kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan kami Telah
menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan
pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezki kepadanya.”
Hal ini berarti bahwa masyarakat dunia membutuhkan peran agama guna
menumbuhkan kesadaran otentik dalam diri manusia, yaitu nilai-nilai agama.
Nilai-nilai ini dipercaya memiliki kemampuan tinggi dalam mempengaruhi
sikap dan perilaku pemeluknya dalam kehidupan. Artinya, pemahaman agama saat
ini tidak lagi berkutak pada masalah-masalah spiritual dan eskatologis, tetapi juga
harus beranjak ke aspek-aspek nyata masyarakat pemeluknya. Dengan nilai-nilai

3
agama, manusia akan memiliki kecakapan mengatasi dan ketajaman membaca
tanda-tanda zaman berikut kemampuan menciptakan seperangkat nilai untuk
melestarikan lewat hukum dan sejumlah peraturan.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, lingkungan sangat berguna bagi
kehidupan manusia. Manusia sangat membutuhkan lingkungan dan berperan dalam
lingkungan hidup. Lingkungan mencakup segala sesuatu yang ada di sekitar manusia.
Bahkan manusia pun dapat dikategorikan sebagai lingkungan hidup. Pembentukan
lingkungan yang baik menjadi tugas dan tanggungjawab manusia. Dalam konteks
tulisan ini fokusnya adalah prinsip-prinsip al Quran tentang lingkungan hidup.

Pengertian Lingkungan
Manusia wajib memelihara dan menjaga lingkungan hidup agar tetap lestari
dan alami. Hal ini disebabkan, karena lingkungan menjadi bagian yang tidak
terpisahkan dala kehidupan manusia. Lingkungan hidup menurut Undang-undang
Nomor 23 Tahun 1997, didefiniikan sebagai “kesatuan ruang dengan semua benda,
daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang
mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta
makhluk hidup”. Dalam pengelolaan lingkungan hidup, manusia mempunyai
peranan yang sangat penting. Karena pengelolaan lingkungan hidup itu sendiri,
pada akhirnya ditujukan untuk keberlangsungan kehidupan manusia di muka bumi
ini.
Selanjutnya lingkungan hidup (Human Ecology) menurut H.A. Mattulada
(1994) meliputi makhluk biologis, makhluk bermasyarakat dan sebagai insan
budaya. Dapat dikatakan, lingkungan hidup manusia terdiri atas: 1) lingkungan bio-
fisik, 2) lingkungan sosial, dan 3) lingkungan budaya. Adapun Yusuf al-Qardhawi
(2002) (dalam Jalaluddin, 2008: 3) menilai lingkungan hidup meliputi yang dinamis
(hidup) dan yang statis (mati).
Lingkungan dinamis (hidup), lanjut al Qardhawi meliputi wilayah manusia,
hewan, dan tumbuhan. Sedangkan lingkungan statis (mati) meliputi alam (thabi‟ah)
yang diciptakan Allah, dan industri (shinaiyyah) yang diciptakan manusia.

4
Lingkungan statis ini dapat dibedakan dalam dua kategori pokok. Pertama, bahwa
seluruh alam ini diciptakan untuk kemaslahatan manusia, membantu dan memenuhi
semua kebutuhan mereka. Kedua, bahwa lingkungan dengan seisinya, satu sama lain
saling mendukung, saling menyempurnakan, saling menolong, sesuai dengan
sunnah-sunnah Allah yang berlaku di jagat raya ini.
Di sini terlihat, bahwa “naturnya” lingkungan itu berada dalam sebuah sistem
tatanan yang harmonis. Menurut H.A. Mattulada (1994), saling hubungan dan
ketergantungan antara segenap anasir melahirkan apa yang disebut “sistem
lingkungan” (ecosystem). Suatu sistem yang berlaku pada lingkungan hidup sosial
dan lingkungan hidup budaya, sebagai keseluruhan lingkungan hidup manusia.
Ketiga lingkungan hidup (alam fisik, sosial dan budaya) itu pun berada dalam saling
berhubungan dan saling ketergantungan (dalam Jalaluddin, 2008: 4).
Dari pendapat di atas dapatlah disimpulkan bahwa lingkungan itu sebenarnya
ada dua, yaitu lingkungan manusia dan lingkungan selain manusia atau disebut juga
lingkungan alam (hewan, tumbuhan, sosial, benda, daya, keadaan dan termasuk
juga perilaku manusia). Atau dengan kata lain, lingkungan mencakup segala sesuatu
yang berada di sekitar manusia. Bahkan manusia pun dapat dikategorikan sebagai
lingkungan. Pembentukan lingkungan yang baik menjadi tugas dan tanggung jawab
manusia.
Setiap lingkungan memiliki esensi keperluan memelihara kelangsungannya.
Lingkungan bio-fisik, amat ditentukan kelangsungan hidupnya oleh air. Lingkungan
sosial kelangsungannya ditentukan oleh ketertiban hidup dan keteraturan hubungan.
Sedangkan lingkungan budaya kelangsungannya ditentukan oleh kelanjutan adanya
kreatifitas (daya cipta) dari pendukungnya.
Berangkat dari pemahaman ini terlihat peran strategis manusia dalam
hubungannya dengan pelestarian lingkungan. Nilai-nilai ajaran Islam
mengakomodasi peran tersebut dalam konsep Khalifah Allah fi al-Ard . Menurut M.
Quraish Shihab (1992), pengertian khalifah mencakup : 1) orang yang diberi
kekuasaan untuk mengelola wilayah luas ataupun terbatas; dan 2) memiliki potensi
untuk mengemban tugasnya, namun juga dapat berbuat kesalahan dan kekeliruan.

5
Walaupun memperoleh anugerah status khalifah, namun sebagai makhluk
manusia memiliki kelemahan. Di awal penciptaannya, para malaikat sempat
mengendus sifat-sifat buruk pada manusia yang dinilai berpotensi untuk membuat
kerusakan di muka bumi ( QS, 2: 30). Namun, sesuai dengan kedudukan yang
diamanatkan kepadanya, Sang Khalik menganugerahkan peralatan lengkap kepada
manusia. Adam As. sebagai manusia pertama dianugerahi ilmu pengetahuan (Asma
Kullaha) dan teknologi („Aradhahum) melalui proses pendidikan langsung dari
Allah, seperti dalam al-Quran (2: 31), sebagai berikut:

´¡l.´¸ ¸:¦´, ´,!.-¸¦ !¸l´ ¯¡. ¯¡·¸.´¸. _ls ¸«>¸¸.l.l¦ _!1· _¸.¡:¸,.¦ ¸,!.`.!¸, ¸,¸¡.> ¿¸| ¯¡..´
_,¸·¸... ¸_¸¸

“Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya,
Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah
kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang
benar!"”.

Babakan awal penciptaan manusia ini menggambarkan adanya hubungan
antara tugas kekhalifahan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek), serta
nilai-nilai imani. Manusia hanya akan mampu melaksanakan tugas kekhalifahan
dimaksud, bila didasarkan pada prinsip utamanya, yakni iman kepada Allah dan
kreatifitas yang bersumber dari ilmu pengetahuan yang ia miliki. Keduanya
terangkum dalam kata-kata kunci amanu dan amil al-shalihat yang mengacu kepada
tugas dan tanggungjawab bersama.

Pendidikan Islam
Sebelum kita mengartikan apa sebenarnya pendidikan Islam itu, ada baiknya
kita mengetahui dahulu apa pengertian pendidikan secara luas dan arti pendidikan
secara sempit. Dalam hal ini Hasan Langgulung, mengartikan pendidikan secara luas

6
meliputi hampir semua bidang aktifitas manusia semenjak yang paling sederhana
seperti mencari kayu bakar untuk keperluan memasak nasi sampai kepada aktifitas
yang kompleks seperti berpikir secara individu dan secara kolektif. Pendeknya ia
mencakup bidang-bidang yang sama luasnya dengan peradaban itu sendiri. Ia
meliputi bidang-bidang seperti politik, ekonomi, seni, kemiliteran, ilmu, sastra,
pertukangan, pertanian, perdagangan, filsafat, matematik dan lain sebagainya.
Sedang pendidikan dalam arti sempit hanya meliputi aktifitas manusia untuk
memelihara kelanjutan hidupnya sebagai individu dan sebagai masyarakat. Dalam
proses pemeliharaan diri ini termasuklah pewarisan berbagai nilai, ilmu, dan
keterampilan dari orang ke orang dan dari generasi ke generasi untuk memelihara
identitasnya dari zaman ke zaman (
1
Hasan Langgulung, 2003: 4).
Pada pengertian lain „pendidikan‟ diartikan sebagai usaha sadar mengarahkan
perkembangan manusia yang bertujuan untuk mendewasakan manusia, agar mereka
mampu menolong dirinya sendiri. Dari pengertian ini dapat disimpulkan bahwa
manusia memerlukan pendidikan untuk kelangsungan hidupnya (Mahmud dan Tedi
Priatna, 2005: 81).
Di kalangan ahli teologi dan ahli filsafat Islam, Pendidikan Islam dapat
diartikan sebagai usaha menurunkan sifat-sifat Allah kepada peserta didik. Contoh,
Tuhan ini memiliki sifat qudrat yang dengan sifat ini dapat berbuat apa saja yang
dikehendakinya, rasional maupun tidak menurut ukuran manusia. Tetapi Tuhan
sekaligus menempatkan dirinya sebagai Dzat dengan karakter yang rahman dan
rahim, sehingga betapapun agung dan besarnya kekuasaan Tuhan, Ia tetap menjadi
penolong dan pelindung bagi yang tertindas dan bagi mereka yang lemah.
Di perspektif ini, pendidikan Islam semakna dengan penguatan potensi
manusia yang memiliki sifat Tuhan yang Qudrat sekaligus Quwwat. Sifat ketuhanan
ini seharusnya tetap dilekatkan kepada anak didik sebagai usaha untuk menjaga
fitrah manusia. Tujuannya agar kelak anak didik mampu membaca tanda-tanda
kekuasaan (masy‟ah dan iradah) Tuhan di realita alam ini. Pun demikian, perlu juga
dicatatkan bahwa pendidikan Islam dituntut mentransformasikan sifat Allah lain
dalam rahman dan rahim itu, sehingga potensi untuk membaca tanda-tanda

7
kebesaran Tuhan itu, dapat dibombing oleh sikap dan sifat lemah-lembut dengan
menebarkan rasa kasih sayang kepada seluruh hamba Tuhan (Cecep Sumarna, 2007:
61-62).
Makna pendidikan Islam yang demikian setidaknya dapat diambil dengan
asumsi bahwa manusia dalam perspektif ahli kalam dan filosof Muslim berada dalam
dua posisi sinergis; hamba dan sekaligus khalifah Allah. Oleh karena itu, pendidikan
Islam pada hakekatnya adalah bagaimana mempertahankan dua fungsi kemanusiaan
sebagai abdullah dan sekaligus khalifah Allah yang memiliki potensi untuk
mengalami perubahan positif-negatif baik secara jismiyah (perbuatan fisik) maupun
‟aqliyah (perbuatan unfisik). Di wilayah ini, pendidikan Islam dapat diartikan
sebagai melakukan pemerdekaan manusia dari segala perbudakan. Sebab dalam
posisi sebagai abdullah manusia, hanya tunduk dan patuh kepada Allah dengan
harus menafikan seluruh ilah kecuali Allah (Cecep Sumarna, 2007: 62).
Ahmad Tafsir (1995: 137) mengartikan pendidikan Islam sebagai ilmu
pendidikan yang berdasarkan Islam, berdasarkan nilai-nilai Islami yang terdapat
dalam al Qur‟an dan Sunnah Nabi. Pendapat A. Tafsir ini meski terkesan sangat
sederhana, tetapi jika diperhatikan dengan menyebut bahwa dasar pendidikan Islam
itu al Qur‟an dan al Sunnah, maka kajian terhadap makna pendidikan akan menjadi
luas dan memerlukan waktu serta energi yang tidak sedikit. Belum kalau makna-
makna literatur dalam ayat-ayat al Qur‟an dan Sunnah tadi didekati secara
hermeuneutik, pasti akan melahirkan perbedaan yang sulit memperoleh titik temu.
Omar Muhammad Al-Toumy al-Syaebany (1975: 339), menjelaskan
pendidikan Islam sebagai usaha mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan
pribadinya atau kemasyarakatannya dan kehidupan dalam alam sekitarnya melalui
proses kependidikan. Usaha melakukan perubahan ini harus dilandasi oleh nilai-nilai
Islami, yakni nilai-nilai yang terdapat dalam al Qur‟an dan al Sunnah Nabi.
Kalau disimpulkan dari beberapa pendapat tadi, maka pendidikan Islam itu
sebenarnya diperuntukkan untuk manusia itu sendiri yang akhirnya akan
membentuk abdullah (dalam arti tunduk dan patuh kepada aturan sang Pencipta),
akan tetapi juga sebagai khalifah dalam arti yang lebih luas lagi. Bukan hanya

8
khalifah untuk umat manusia saja, akan tetapi juga mengatur alam dan kehidupan
agar lebih bersinergi dengan kehidupan manusia sesuai tuntutan Sang Pencipta tadi.

Nilai-nilai Teologi Pendidikan
Jagat raya dan seisinya ini adalah ciptaan Allah, karenanya disebut sebagai
makhluk Allah. Manusia, bumi, langit dan lainnya adalah bagian dari alam.
Walaupun demikian manusia merupakan makhluk yang paling mulia. Allah telah
menciptaan manusia tidak hanya berbeda dengan makhluk lain, tetapi juga
memberikan kelebihan yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya. Allah
menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya, seperti yang tertera dalam al-
Quran (95: 4), sebagai berikut:
.1l !´.1l> ´_..·¸¸¦ _¸· ¸_.>¦ ¸¸,¸¡1. ¸_¸
“Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-
baiknya” .
Sebagai makhluk yang mulia dan dianugerahi akal, maka manusia dapat
berpikir, memilih, dan memilah yang benar dan yang salah, memilih yang baik dan
yang buruk, dan dengan akal manusia dapat mengembangkan kehidupannya. Oleh
karena itu, manusia tidak boleh menimbulkan kerusakan terhadap alam dan
lingkungan bahkan ia harus memelihara alam dan lingkungannya seperti dalam al-
Quran (30: 41), sebagai berikut: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut
disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supay Allah merasakan kepada
mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan
yang benar)”.
Lebih lengkap lagi, menurut Jalaluddin ( 2002: 34-36), secara garis besarnya
potensi yang diberikan kepada manusia itu terdiri atas empat potensi utama yang
secara fitrah sudah dianugerahkan Allah kepadanya, yaitu:



9
a). Hidayat al-Gharizziyat (potensi naluriah)
Dorongan ini merupakan dorongan primer yang berfungsi untuk memelihara
keutuhan dan kelanjutan hidup manusia. Diantaranya dorongan berupa instink
untuk memelihara diri, seperti makan, minum dan penyesuaian tubuh dengan
lingkungan. Dorongan yang kedua yaitu dorongan untuk mempertahankan diri.
Bentuk dorongan ini berupa nafsu marah, bertahan atau menghindar dari gangguan
yang mengancam dirinya. Dorongan yang ketiga, berupa dorongan untuk
mengembangkan jenis. Dorongan ini berupa naluri seksual.
Ketiga macam dorongan tersebut melekat pada diri manusia secara fitrah.
Diperoleh tanpa harus melalui proses belajar. Karena itu dorongan ini disebut
sebagai dorongan naluriah (instinktif). Dorongan yang siap pakai, sesuai dengan
kebutuhan dan kematangan perkembangannya.

b). Hidayat al-Hassiyat (potensi indrawi)
Potensi indrawi erat kaitannya dengan peluang manusia untuk mengenal
sesuatu di luar dirinya. Melalui indra yang dimilikinya, manusia dapat mengenal
suara, cahaya, warna, rasa, bau dan aroma maupun bentuk sesuatu. Jadi indera
berfungsi sebagai media yang menghubungkan manusia dengan dunia luar dirinya.
Potensi indrawi yang umum dikenal terdiri atas indera penglihat, pencium,
peraba, pendengar dan perasa. Namun di luar itu masih ada sejumlah alat indera
dalam tubuh manusia seperti antara lain indera keseimbangan dan taktil. Potensi
tersebut difungsikan melalui pemanfaatan alat indera yang sudah siap pakai seperti
mata, telinga, hidung, lidah, kulit dan otak maupun fungsi syaraf.

c). Hidayat al-Aqliyyat (potensi akal)
Hidayat ini hanya dianugerahkan Allah kepada manusia. Adanya potensi ini
menyebabkan manusia dapat meningkatkan dirinya melebihi makhluk-makhluk lain
ciptaan Allah.
Potensi akal memberi kemampuan kepada manusia untuk memahami simbol-
simbol, hal-hal yang abstrak, menganalisa, membandingkan maupun membuat

10
kesimpulan dan akhirnya memilih maupun memisahkan antara yang benar dari yang
salah. Kemampuan akal mendorong manusia berkreasi dan berinovasi dalam
menciptakan kebudayaan serta peradaban. Manusia dengan kemampuan akalnya
mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknoogi, mengubah serta merekayasa
lingkungannya, menuju situasi kehidupan yang lebih baik, aman dan nyaman.

d). Hidayat al-Diniyyat (potensi keagamaan)
Pada diri manusia sudah ada potensi keagamaan, yaitu berupa dorongan untuk
mengabdi kepada sesuatu yang dianggapnya memiliki kekuasaan yang lebih tinggi.
Dalam pandangan antropolog, dorongan ini dimanifestasikan dalam bentuk percaya
terhadap kekuasaan supernatural (believe in supernatural being).
Secara ekologis pelestarian lingkungan merupakan keniscayaan yang tidak
dapat ditawar oleh siapa pun dan kapan pun. Oleh karena itu, pelestarian
lingkungan tidak boleh tidak harus dilakukan oleh manusia. Sedangkan secara
spiritual fiqhiyah Islamiyah, Allah memiliki kepedulian ekologis yang paripurna.
Paling tidak dua pendekatan ini memberikan keseimbangan pola pikir bahwa
lingkungan yang baik berupa sumber daya alam yang melimpah yang diberikan
Allah kepada manusia tidak akan lestari dan pulih (recovery) apabila tidak ada
campur tangan manusia.
Seperti yang dimuat dalam Disertasi Cecep Sumarna (2007: 4), salah satu
kegagalan pendidikan adalah mengantisipasi krisis lingkungan. Saat ini alam berada
dalam keadaan yang labil karena terlalu banyak campur tangan manusia. Kasus
Tsunami yang terjadi 26 Desember 2004 di Aceh, Jogyakarta dan Pangandaran
pada tanggal 17 Juli 2006, yang telah menewaskan ratusan ribu orang, dalam
beberapa hal kejadian ini dapat disebut sebagai kegagalan manusia modern
“meramahkan” lingkungan dan hidup secara harmonis dan berdampingan dengan
alam. Dan, masih segar dalam ingatan kita di mana pada tanggal 2 September 2009
terjadilah gempa yang mengguncang Tasikmalaya Jawa Barat yang konon mencapai
skala 7,6 SR (skala richter), gempa ini terasa juga sampai di Kota Bandung pada
pukul 14.50 wib selama lebih kurang 20 detik. Ribuan nyawa manusia melayang,

11
kehilangan harta benda, rumah, binatang dan terlebih lagi kehilangan anggota
keluarganya. Bahkan, sampai hari ini, katanya, penanganan korban gempa termasuk
perumahannya belum terselesaikan.

Penutup
Kesalahan manusia yang tak termaafkan, adalah karena terlalu mengandalkan
konsep produk pemikiran manusia untuk mengatasi segala permasalahan
kehidupannya, tanpa mencari penyelesaiannya dengan menggunakan manual peran
agama guna menumbuhkan kesadaran otentik dalam diri manusia, yaitu nilai-nilai
agama. Padahal kegagalan telah menyeret dunia ke dalam jurang penderitaan. Salah
satu diantaranya adalah dalam masalah penanganan lingkungan hidup manusia itu
sendiri.
Untuk itu, maka diperlukan pendidikan yang selalu memadukan nilai-nilai
Ilahiyat dengan nilai-nilai modern yang akan membawa dunia lebih maju pada taraf
posmoderen akan tetapi dengan tetap tidak kehilangan aroma nilai-nilai ilahiyat
tadi.
Ajaran Ilahiyat telah jelas, bukan hanya larangan merusak lingkungan
kehidupan dan lingkungan alam, akan tetapi juga perintah melestarikannya agar
kelak sampai kepada generasi penerus pada zaman yang akan datang, sehingga nilai-
nilai Islami tetap lestari seperti yang umat Islam cita-citakan selama ini. Karena
pelestarian alam itu membutuhkan manusia, maka campur tangan manusia tetap
diperlukan akan tetapi tentu dengan bimbingan dan arahan Tangan Tuhan yang
Maha Kuasa, agar tidak terjadi kerusakan yang lebih fatal nantinya.






Nilai-nilai ini dipercaya memiliki kemampuan tinggi dalam mempengaruhi sikap dan perilaku pemeluknya dalam kehidupan. Artinya. Penciptaan alam raya termasuk lingkungan kosmos manusia (tanah. Ibnu Rusyd mengatakan “alam raya ini adalah kitab Allah pertama yang diturunan sebelum kitab-kitab lain yang berbentuk kumpulan wahyuNya.) “Yang Telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. yaitu nilai-nilai agama.) Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam al-Quran (15: 19-20): “Dan kami Telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. air dan udara) telah ditentukan qadar-nya (ukurannya atau ketentuannya) yang harus senantiasa dijaga dan dilestarikan. Maka Lihatlah berulang-ulang. 2002: 26).” Ayat ini memberikan pemahaman bahwa al Quran sangat menggalakkan manusia memperhatikan bahkan meneliti alam dan menemukan ayat-ayat yang mengatur fenomena alam. Maka. Dan kami Telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup.                                (3. tetapi juga harus beranjak ke aspek-aspek nyata masyarakat pemeluknya. siapa yang merusaknya berarti telah merusak qadar Allah. Dengan nilai-nilai 2 . kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. pemahaman agama saat ini tidak lagi berkutak pada masalah-masalah spiritual dan eskatologis.” Hal ini berarti bahwa masyarakat dunia membutuhkan peran agama guna menumbuhkan kesadaran otentik dalam diri manusia. Imaduddin Abdurrahim.” Gejala alam telah berbicara kepada mereka yang mau mengganti akan ayatayat Allah yang telah dipatuhi itu (M. Adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? (4. dan (Kami menciptakan pula) makhluk-makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezki kepadanya.

Sedangkan lingkungan statis (mati) meliputi alam (thabi‟ah) yang diciptakan Allah. Dalam pengelolaan lingkungan hidup. Bahkan manusia pun dapat dikategorikan sebagai lingkungan hidup. Dalam konteks tulisan ini fokusnya adalah prinsip-prinsip al Quran tentang lingkungan hidup. dan tumbuhan. Dapat dikatakan. Adapun Yusuf al-Qardhawi (2002) (dalam Jalaluddin. yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup”. termasuk manusia dan perilakunya. Berdasarkan beberapa pendapat di atas. didefiniikan sebagai “kesatuan ruang dengan semua benda. daya. keadaan. lingkungan hidup manusia terdiri atas: 1) lingkungan biofisik. makhluk bermasyarakat dan sebagai insan budaya.agama. Mattulada (1994) meliputi makhluk biologis. dan makhluk hidup. Hal ini disebabkan. 3 . Pengertian Lingkungan Manusia wajib memelihara dan menjaga lingkungan hidup agar tetap lestari dan alami. 2008: 3) menilai lingkungan hidup meliputi yang dinamis (hidup) dan yang statis (mati). lingkungan sangat berguna bagi kehidupan manusia. Lingkungan dinamis (hidup). manusia akan memiliki kecakapan mengatasi dan ketajaman membaca tanda-tanda zaman berikut kemampuan menciptakan seperangkat nilai untuk melestarikan lewat hukum dan sejumlah peraturan. dan industri (shinaiyyah) yang diciptakan manusia. Manusia sangat membutuhkan lingkungan dan berperan dalam lingkungan hidup. Lingkungan mencakup segala sesuatu yang ada di sekitar manusia. karena lingkungan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dala kehidupan manusia. hewan. 2) lingkungan sosial. manusia mempunyai peranan yang sangat penting. lanjut al Qardhawi meliputi wilayah manusia. pada akhirnya ditujukan untuk keberlangsungan kehidupan manusia di muka bumi ini. Lingkungan hidup menurut Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997. Pembentukan lingkungan yang baik menjadi tugas dan tanggungjawab manusia.A. Karena pengelolaan lingkungan hidup itu sendiri. dan 3) lingkungan budaya. Selanjutnya lingkungan hidup (Human Ecology) menurut H.

tumbuhan. membantu dan memenuhi semua kebutuhan mereka. 4 . keadaan dan termasuk juga perilaku manusia). bahwa seluruh alam ini diciptakan untuk kemaslahatan manusia. yaitu lingkungan manusia dan lingkungan selain manusia atau disebut juga lingkungan alam (hewan. Menurut H. namun juga dapat berbuat kesalahan dan kekeliruan. Atau dengan kata lain. Quraish Shihab (1992). Pertama. daya. Mattulada (1994). saling menolong. Setiap lingkungan memiliki esensi keperluan memelihara kelangsungannya. Bahkan manusia pun dapat dikategorikan sebagai lingkungan. Lingkungan sosial kelangsungannya ditentukan oleh ketertiban hidup dan keteraturan hubungan. 2008: 4). dan 2) memiliki potensi untuk mengemban tugasnya. bahwa lingkungan dengan seisinya. Sedangkan lingkungan budaya kelangsungannya ditentukan oleh kelanjutan adanya kreatifitas (daya cipta) dari pendukungnya. amat ditentukan kelangsungan hidupnya oleh air. saling hubungan dan ketergantungan antara segenap anasir melahirkan apa yang disebut “sistem lingkungan” (ecosystem). Suatu sistem yang berlaku pada lingkungan hidup sosial dan lingkungan hidup budaya. lingkungan mencakup segala sesuatu yang berada di sekitar manusia. Menurut M. saling menyempurnakan. pengertian khalifah mencakup : 1) orang yang diberi kekuasaan untuk mengelola wilayah luas ataupun terbatas. Lingkungan bio-fisik. sebagai keseluruhan lingkungan hidup manusia. Nilai-nilai ajaran Islam mengakomodasi peran tersebut dalam konsep Khalifah Allah fi al-Ard . bahwa “naturnya” lingkungan itu berada dalam sebuah sistem tatanan yang harmonis. sosial. sesuai dengan sunnah-sunnah Allah yang berlaku di jagat raya ini. Di sini terlihat. Berangkat dari pemahaman ini terlihat peran strategis manusia dalam hubungannya dengan pelestarian lingkungan. satu sama lain saling mendukung. Pembentukan lingkungan yang baik menjadi tugas dan tanggung jawab manusia. Ketiga lingkungan hidup (alam fisik. Kedua. benda.A.Lingkungan statis ini dapat dibedakan dalam dua kategori pokok. sosial dan budaya) itu pun berada dalam saling berhubungan dan saling ketergantungan (dalam Jalaluddin. Dari pendapat di atas dapatlah disimpulkan bahwa lingkungan itu sebenarnya ada dua.

para malaikat sempat mengendus sifat-sifat buruk pada manusia yang dinilai berpotensi untuk membuat kerusakan di muka bumi ( QS. mengartikan pendidikan secara luas 5 . Keduanya terangkum dalam kata-kata kunci amanu dan amil al-shalihat yang mengacu kepada tugas dan tanggungjawab bersama. namun sebagai makhluk manusia memiliki kelemahan. seperti dalam al-Quran (2: 31). yakni iman kepada Allah dan kreatifitas yang bersumber dari ilmu pengetahuan yang ia miliki. 2: 30). ada baiknya kita mengetahui dahulu apa pengertian pendidikan secara luas dan arti pendidikan secara sempit.Walaupun memperoleh anugerah status khalifah. Sang Khalik menganugerahkan peralatan lengkap kepada manusia. Pendidikan Islam Sebelum kita mengartikan apa sebenarnya pendidikan Islam itu. Di awal penciptaannya. bila didasarkan pada prinsip utamanya. Manusia hanya akan mampu melaksanakan tugas kekhalifahan dimaksud. serta nilai-nilai imani. Namun. Dalam hal ini Hasan Langgulung. sesuai dengan kedudukan yang diamanatkan kepadanya. Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"”. sebagai berikut: dari                 “Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya. Babakan awal penciptaan manusia ini menggambarkan adanya hubungan antara tugas kekhalifahan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Adam As. sebagai manusia pertama dianugerahi ilmu pengetahuan (Asma Kullaha) dan teknologi („Aradhahum) melalui proses pendidikan langsung Allah.

Pendeknya ia mencakup bidang-bidang yang sama luasnya dengan peradaban itu sendiri. Contoh. Pada pengertian lain „pendidikan‟ diartikan sebagai usaha sadar mengarahkan perkembangan manusia yang bertujuan untuk mendewasakan manusia. agar mereka mampu menolong dirinya sendiri. Dari pengertian ini dapat disimpulkan bahwa manusia memerlukan pendidikan untuk kelangsungan hidupnya (Mahmud dan Tedi Priatna. perlu juga dicatatkan bahwa pendidikan Islam dituntut mentransformasikan sifat Allah lain dalam rahman dan rahim itu. ekonomi.meliputi hampir semua bidang aktifitas manusia semenjak yang paling sederhana seperti mencari kayu bakar untuk keperluan memasak nasi sampai kepada aktifitas yang kompleks seperti berpikir secara individu dan secara kolektif. sastra. sehingga potensi untuk membaca tanda-tanda 6 . Tujuannya agar kelak anak didik mampu membaca tanda-tanda kekuasaan (masy‟ah dan iradah) Tuhan di realita alam ini. Di kalangan ahli teologi dan ahli filsafat Islam. filsafat. Sifat ketuhanan ini seharusnya tetap dilekatkan kepada anak didik sebagai usaha untuk menjaga fitrah manusia. seni. perdagangan. rasional maupun tidak menurut ukuran manusia. ilmu. Tuhan ini memiliki sifat qudrat yang dengan sifat ini dapat berbuat apa saja yang dikehendakinya. Sedang pendidikan dalam arti sempit hanya meliputi aktifitas manusia untuk memelihara kelanjutan hidupnya sebagai individu dan sebagai masyarakat. pertanian. dan keterampilan dari orang ke orang dan dari generasi ke generasi untuk memelihara identitasnya dari zaman ke zaman (1 Hasan Langgulung. Pendidikan Islam dapat diartikan sebagai usaha menurunkan sifat-sifat Allah kepada peserta didik. kemiliteran. Dalam proses pemeliharaan diri ini termasuklah pewarisan berbagai nilai. 2005: 81). Di perspektif ini. Ia tetap menjadi penolong dan pelindung bagi yang tertindas dan bagi mereka yang lemah. sehingga betapapun agung dan besarnya kekuasaan Tuhan. 2003: 4). Pun demikian. pertukangan. ilmu. Ia meliputi bidang-bidang seperti politik. pendidikan Islam semakna dengan penguatan potensi manusia yang memiliki sifat Tuhan yang Qudrat sekaligus Quwwat. Tetapi Tuhan sekaligus menempatkan dirinya sebagai Dzat dengan karakter yang rahman dan rahim. matematik dan lain sebagainya.

Belum kalau maknamakna literatur dalam ayat-ayat al Qur‟an dan Sunnah tadi didekati secara hermeuneutik. pendidikan Islam pada hakekatnya adalah bagaimana mempertahankan dua fungsi kemanusiaan sebagai abdullah dan sekaligus khalifah Allah yang memiliki potensi untuk mengalami perubahan positif-negatif baik secara jismiyah (perbuatan fisik) maupun ‟aqliyah (perbuatan unfisik). Ahmad Tafsir (1995: 137) mengartikan pendidikan Islam sebagai ilmu pendidikan yang berdasarkan Islam. Kalau disimpulkan dari beberapa pendapat tadi. Oleh karena itu. Pendapat A. Di wilayah ini. Makna pendidikan Islam yang demikian setidaknya dapat diambil dengan asumsi bahwa manusia dalam perspektif ahli kalam dan filosof Muslim berada dalam dua posisi sinergis. hamba dan sekaligus khalifah Allah. maka pendidikan Islam itu sebenarnya diperuntukkan untuk manusia itu sendiri yang akhirnya akan membentuk abdullah (dalam arti tunduk dan patuh kepada aturan sang Pencipta). hanya tunduk dan patuh kepada Allah dengan harus menafikan seluruh ilah kecuali Allah (Cecep Sumarna. maka kajian terhadap makna pendidikan akan menjadi luas dan memerlukan waktu serta energi yang tidak sedikit. tetapi jika diperhatikan dengan menyebut bahwa dasar pendidikan Islam itu al Qur‟an dan al Sunnah. berdasarkan nilai-nilai Islami yang terdapat dalam al Qur‟an dan Sunnah Nabi. Sebab dalam posisi sebagai abdullah manusia. Bukan hanya 7 . yakni nilai-nilai yang terdapat dalam al Qur‟an dan al Sunnah Nabi. pendidikan Islam dapat diartikan sebagai melakukan pemerdekaan manusia dari segala perbudakan. akan tetapi juga sebagai khalifah dalam arti yang lebih luas lagi. Usaha melakukan perubahan ini harus dilandasi oleh nilai-nilai Islami. 2007: 62). 2007: 61-62).kebesaran Tuhan itu. menjelaskan pendidikan Islam sebagai usaha mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan pribadinya atau kemasyarakatannya dan kehidupan dalam alam sekitarnya melalui proses kependidikan. Tafsir ini meski terkesan sangat sederhana. dapat dibombing oleh sikap dan sifat lemah-lembut dengan menebarkan rasa kasih sayang kepada seluruh hamba Tuhan (Cecep Sumarna. Omar Muhammad Al-Toumy al-Syaebany (1975: 339). pasti akan melahirkan perbedaan yang sulit memperoleh titik temu.

supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka. memilih yang baik dan yang buruk. seperti yang tertera dalam alQuran (95: 4). tetapi juga memberikan kelebihan yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya. yaitu: 8 . secara garis besarnya potensi yang diberikan kepada manusia itu terdiri atas empat potensi utama yang secara fitrah sudah dianugerahkan Allah kepadanya. Allah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya. Sebagai makhluk yang mulia dan dianugerahi akal. Oleh karena itu. Allah telah menciptaan manusia tidak hanya berbeda dengan makhluk lain. akan tetapi juga mengatur alam dan kehidupan agar lebih bersinergi dengan kehidupan manusia sesuai tuntutan Sang Pencipta tadi. Manusia. sebagai berikut: “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia. memilih. bumi. sebagai berikut:        “Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaikbaiknya” .khalifah untuk umat manusia saja. karenanya disebut sebagai makhluk Allah. menurut Jalaluddin ( 2002: 34-36). dan dengan akal manusia dapat mengembangkan kehidupannya. Walaupun demikian manusia merupakan makhluk yang paling mulia. agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. Lebih lengkap lagi. Nilai-nilai Teologi Pendidikan Jagat raya dan seisinya ini adalah ciptaan Allah. langit dan lainnya adalah bagian dari alam. manusia tidak boleh menimbulkan kerusakan terhadap alam dan lingkungan bahkan ia harus memelihara alam dan lingkungannya seperti dalam alQuran (30: 41). maka manusia dapat berpikir. dan memilah yang benar dan yang salah.

membandingkan maupun membuat 9 . bau dan aroma maupun bentuk sesuatu. Dorongan yang ketiga. Hidayat al-Hassiyat (potensi indrawi) Potensi indrawi erat kaitannya dengan peluang manusia untuk mengenal sesuatu di luar dirinya. Hidayat al-Gharizziyat (potensi naluriah) Dorongan ini merupakan dorongan primer yang berfungsi untuk memelihara keutuhan dan kelanjutan hidup manusia. Jadi indera berfungsi sebagai media yang menghubungkan manusia dengan dunia luar dirinya. Diantaranya dorongan berupa instink untuk memelihara diri. hidung. menganalisa. rasa. hal-hal yang abstrak. Potensi akal memberi kemampuan kepada manusia untuk memahami simbolsimbol. Namun di luar itu masih ada sejumlah alat indera dalam tubuh manusia seperti antara lain indera keseimbangan dan taktil. warna. Melalui indra yang dimilikinya. c). kulit dan otak maupun fungsi syaraf. Adanya potensi ini menyebabkan manusia dapat meningkatkan dirinya melebihi makhluk-makhluk lain ciptaan Allah. Potensi indrawi yang umum dikenal terdiri atas indera penglihat. minum dan penyesuaian tubuh dengan lingkungan. pendengar dan perasa. telinga. Dorongan ini berupa naluri seksual. manusia dapat mengenal suara. cahaya. b). bertahan atau menghindar dari gangguan yang mengancam dirinya. Karena itu dorongan ini disebut sebagai dorongan naluriah (instinktif). seperti makan. lidah. Hidayat al-Aqliyyat (potensi akal) Hidayat ini hanya dianugerahkan Allah kepada manusia. peraba. sesuai dengan kebutuhan dan kematangan perkembangannya. Dorongan yang siap pakai. pencium. berupa dorongan untuk mengembangkan jenis. Dorongan yang kedua yaitu dorongan untuk mempertahankan diri. Potensi tersebut difungsikan melalui pemanfaatan alat indera yang sudah siap pakai seperti mata. Ketiga macam dorongan tersebut melekat pada diri manusia secara fitrah. Bentuk dorongan ini berupa nafsu marah.a). Diperoleh tanpa harus melalui proses belajar.

menuju situasi kehidupan yang lebih baik. Kasus Tsunami yang terjadi 26 Desember 2004 di Aceh. Ribuan nyawa manusia melayang. yang telah menewaskan ratusan ribu orang. mengubah serta merekayasa lingkungannya. salah satu kegagalan pendidikan adalah mengantisipasi krisis lingkungan.6 SR (skala richter). yaitu berupa dorongan untuk mengabdi kepada sesuatu yang dianggapnya memiliki kekuasaan yang lebih tinggi. Secara ekologis pelestarian lingkungan merupakan keniscayaan yang tidak dapat ditawar oleh siapa pun dan kapan pun. dalam beberapa hal kejadian ini dapat disebut sebagai kegagalan manusia modern “meramahkan” lingkungan dan hidup secara harmonis dan berdampingan dengan alam. Oleh karena itu. aman dan nyaman. Dalam pandangan antropolog. Allah memiliki kepedulian ekologis yang paripurna. pelestarian lingkungan tidak boleh tidak harus dilakukan oleh manusia. 10 . Jogyakarta dan Pangandaran pada tanggal 17 Juli 2006. Sedangkan secara spiritual fiqhiyah Islamiyah. d). Seperti yang dimuat dalam Disertasi Cecep Sumarna (2007: 4).kesimpulan dan akhirnya memilih maupun memisahkan antara yang benar dari yang salah. Dan. gempa ini terasa juga sampai di Kota Bandung pada pukul 14.50 wib selama lebih kurang 20 detik. Manusia dengan kemampuan akalnya mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknoogi. Hidayat al-Diniyyat (potensi keagamaan) Pada diri manusia sudah ada potensi keagamaan. masih segar dalam ingatan kita di mana pada tanggal 2 September 2009 terjadilah gempa yang mengguncang Tasikmalaya Jawa Barat yang konon mencapai skala 7. Kemampuan akal mendorong manusia berkreasi dan berinovasi dalam menciptakan kebudayaan serta peradaban. Paling tidak dua pendekatan ini memberikan keseimbangan pola pikir bahwa lingkungan yang baik berupa sumber daya alam yang melimpah yang diberikan Allah kepada manusia tidak akan lestari dan pulih (recovery) apabila tidak ada campur tangan manusia. dorongan ini dimanifestasikan dalam bentuk percaya terhadap kekuasaan supernatural (believe in supernatural being). Saat ini alam berada dalam keadaan yang labil karena terlalu banyak campur tangan manusia.

adalah karena terlalu mengandalkan konsep produk pemikiran manusia untuk mengatasi segala permasalahan kehidupannya. Salah satu diantaranya adalah dalam masalah penanganan lingkungan hidup manusia itu sendiri. katanya. Untuk itu. Ajaran Ilahiyat telah jelas. maka diperlukan pendidikan yang selalu memadukan nilai-nilai Ilahiyat dengan nilai-nilai modern yang akan membawa dunia lebih maju pada taraf posmoderen akan tetapi dengan tetap tidak kehilangan aroma nilai-nilai ilahiyat tadi. Bahkan. yaitu nilai-nilai agama. akan tetapi juga perintah melestarikannya agar kelak sampai kepada generasi penerus pada zaman yang akan datang. Karena pelestarian alam itu membutuhkan manusia. sampai hari ini. Penutup Kesalahan manusia yang tak termaafkan. penanganan korban gempa termasuk perumahannya belum terselesaikan. bukan hanya larangan merusak lingkungan kehidupan dan lingkungan alam. agar tidak terjadi kerusakan yang lebih fatal nantinya. rumah. binatang dan terlebih lagi kehilangan anggota keluarganya. Padahal kegagalan telah menyeret dunia ke dalam jurang penderitaan. 11 . tanpa mencari penyelesaiannya dengan menggunakan manual peran agama guna menumbuhkan kesadaran otentik dalam diri manusia. sehingga nilainilai Islami tetap lestari seperti yang umat Islam cita-citakan selama ini.kehilangan harta benda. maka campur tangan manusia tetap diperlukan akan tetapi tentu dengan bimbingan dan arahan Tangan Tuhan yang Maha Kuasa.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful