Materi Kuliah Matematika Ekonomi

BAGIAN 1 KONSEP DASAR TEORI BARIS DAN DERET SERTA PENGGUNAANNYA DALAM BISNIS DAN EKONOMI

Diskripsi Mata Kuliah Memberikan gambaran dan dasar-dasar pengertian serta pola pikir yang logis sehubungan dengan barisan dan deret bilangan yang tersusun secara teratur dengan perubahan-perubahannya yang tertentu. Selanjutnya memberikan tuntunan dalam menggunakan rumus-rumus yang telah diperoleh untuk menghitung nilai-nilai yang ingin diketahui dari baris dan deret yang ada, seperti menghitung kesamaan suatu nilai dari dua beris atau deret yang diketahui, mencari perubahan dari suatu baris atau suatu deret. Tutjuan Khusus Menerapkan pengetahuan tentang baris dan deret tersebut dalam menghitung perasalahan-perasalahan bisnis dan ekonomi di antaranya masalah perkembangan usaha sejauh mana pertumbuhannya yang konstan dari waktu ke waktu, masalah nilai uang dalam hal pinjam-meminjam, investasi jangkan panjang yang dihubungkan dengan tingkat suku bunga yang diasumsikan tetap dari waktu ke waktu, dan menghitung pertumbuhan penduduk di suatu daerah serta jumlah penduduknya pada suatu waktu tertentu.

A. TEORI BARIS DAN DERET 1. Pengertian Baris Baris yang dimaksud adalah bilangan yang tersusun secara teratur dengan suatu pola perubahan tertentu dari satu suku ke suku berikutnya. Penggolongan baris dapat didasarkan pada : Jumlah suku yang membentuknya, dibedakan menjadi : 1. Baris berhingga 2. Baris tak berhingga Pola perubahannya, sehingga dibedakan menjadi 1. Baris Hitung 2. Baris Ukur 3. Baris Harmoni 2. Baris Hitung Baris hitung yaitu baris bilangan di mana pola perubahan dari satu suku ke suku berikutnya besarnya tetap dan pola perubahan tersebut dapat diperoleh dari selisih antara sutu suku ke suku sebelumnya. Contoh : 2, 4, 6, 8, 10, 12 ......................Sn S1 (suku pertama) = 2 S1 = a = 2 S2 (suku kedua) = 4 S2 = a + b = 2 + 2 = 4 S3 (suku ketiga) = 6 S3 = a + 2b = 2 + (2)2 = 6 S4 (suku keempat) = 8 S4 = a + 3b = 2 + (3)2 = 8 Sn (suku ke n) Maka untuk suku ke n di peroleh rumus : Sn = a + ( n – 1 ) b. Dimana a = suku pertama, b = pembeda dan n = suku ke n

Contoh soal : Diberikan suku ke tiga dan suku ke tujuh masing-masing sebesar 150 dan 170. Carilah suku ke sepuluhnya dari baris hitung tersebut. 1

S3 = a + ( n – 1 ) b = 150 = a + 2b S7 = a + (n – 1 ) b = 170 = a + 6b - 20 = - 4b b = -20 / -4 = 5 150 = a + 2b  150 = a + 2.5  150 = a + 10 a = 150 – 10  a = 140 S10 = a + (n – 1) b = 140 + (10 -1) 5  140 + 45 = 185 3. Deret Hitung Deret hitung yaitu deretan bilangan yang tersusun dengan aturan dimana suku pertamannya sama dengan suku pertama baris hitungnya, suku keduanya merupakan penjumlahan dua suku pertama baris hitungnya, suku ketiganya merupakan penjumlahan tiga suku pertama baris hitungnya, dan seterusnya. Contoh : (dari contoh baris hitung di atas) Baris hitung : 2, 4, 6, 8, 10, 12 ..... Maka Deret hitung : 2, 6, 12, 20, 30, 42, ... D1 = 2, D2 = 2 + 4 = 6, D3 = 2 + 4 + 6 = 12 D4 = 2 + 4 + 6 + 8 = 20 Dst dimana Dn = n/2 ( a + Sn ) atau Dn = n/2 { 2a + ( n – 1 ) b} Contoh Soal : Sebuah baris hitung mempunyai suku pertama yang bernilai 140. Beda antar suku 5. Hitunglah suku ke-10nya ? Berapakah Jumlah lima suku pertamanya ?. a = 140, b = 5 S10 = 140 + ( 10 – 1 ) 5 = 140 + 45 = 185 D5 = 5/2 ( 2.140 + ( 5 – 1 ) 5 ) = 5/2 ( 280 + 20 ) = 5/2 ( 300 ) = 750 4. Baris Ukur Baris ukur yaitu baris bilangan di mana pola perubahan dari satu suku ke suku berikutnya besarnya tetap dan pola perubahan tersebut dapat diperoleh dari perbandingan antara satu suku sengan suku sebelumnya Contoh : 2, 6, 18, 54, 162, ...... Sn S1 (suku pertama) = 2 S2 (suku kedua) = 6 S3 (suku ketiga) = 18 S4 (suku keempat) = 54 S5 (suku kelima) = 162 Sn (suku ke n) = dst. Pola perubahan dari satu suku ke suku berikutnya dilambangkan dengan r (rasio) dan perbesarannya adalah perbandingan atara dua suku yang berurutan dengan suku berikutnya, sehingga r = 6/2 = 18/6 = 54/18 = 162/54. maka r = 3. S1 (suku pertama) = a = 2 S2 (suku kedua) = ar = 2.3 = 6 S3 (suku ketiga) = ar2 = 2.32 = 2.9 = 18 S4 (suku keempat) = ar3 = 2.33 = 2.27 = 54 S5 (suku kelima) = ar4 = 2.34 = 2.8 = 162 Sn (suku ke n) Untuk menentukan suku ke n diperoleh rumus Sn = ar n-1

2

5. Deret Ukur Deret Ukur yaitu deretan bilangan yang tersusun dengan aturan di mana suku pertamanya sama dengan suku pertama baris ukurnya, suku keduanya merupakan penjumlahan dua suku pertama baris ukurnya, suku ketiganya merupakan penjumlahan tiga suku pertama baris ukurnya, dan seterusnya. Contoh : (dari contoh baris ukur di atas) Baris Ukur : 2, 6, 18, 54, 162, ....... maka Deret Ukur : 2, 8, 26, 80, 242, ..... D1 = 2 D2 = 2 + 6 = 8 D3 = 2 + 6 + 18 = 26 Dst. Dn dapat dirumuskan :

Dn

a 1 rn ,r 1 1 r

atau

Dn

a rn 1 ,r 1 1 r

Contoh Soal : Sebuah baris ukur mempunyai suku pertama yang bernilai 20. Ratio antar sukunya 2. Hitunglah suku ke-6nya ! Berapa jumlah lima suku pertamanya. a = 20, r = 2 S6 = arn-1 = 20. 26-1 = 20. 25 = 20. 32 = 640 20 2 6 1 20.63 = = 1260 D6 2 1 1 B. PENERAPAN TEORI BARIS DAN DERET DALAM EKONOMI 1. Perkembangan Usaha Perkembangan usaha yang dimaksud adalah sejauh usaha-usaha yang pertubuhannya konstan dari waktu ke waktu mengikuti perubahan baris hitung. Contoh Soal 1. Perusahaan keramik menghasilkan 5.000 buah keramik pada bulan pertama produksinya. Dengan adanya penambahan tenaga kerja, maka jumlah produk yang dihasilkan juga ditingkatkan. Akibatnya, perusahaan tersebut mampu menambah produksinya sebanyak 300 buah setiap bulannya. Jika perkembangan produksinya konstan setiap bulan, berapa jumlah keramik yang dihasilkannya pada bulan ke 12 ?. Berapa buah jumlah keramik yang dihasilkannya selama tahun pertama produksinya ? Jawab : Jumlah keramik yang dihasilkannya pada bulan ke 12. S12 = a + (n – 1) b = 5.000 + (12 – 1) 300 = 5.000 + (11) 300 = 5.000 + 3.300 = 8.300 Jadi pada bulan ke 2 perusahaan tersebut dapat menghasilkan 8.300 buah keramik. Jumlah keraik yang dihasilkan dalam satu tahun pertama. D12 = n/2 (a + s12) = 12/2 (5.000 + 8.300) = 6 (13.300) = 79.800 2. Teori Nilai Uang (bunga Majemuk) Perluasan deret ukur digunakan dalam masalah bunga berbunga, masalah pinjam meminjam serta masalah investasi yang dihubungkan dengan tingkat suku bunga dalam jangka waktu tertentu yang besarnya diasumsikan tetap dari waktu ke waktu. Misalkan suatu modal sebesar P 0‟ akan dibungakan per-satu tahun selama jangka waktu n tahun. Tingkat suku bunga yang berlaku yang berlaku adalah r % per-tahun, diasumsikan tetap dari tahun ke tahun selama n tahun. Sehingga menghitung modal awal tahun ke-n yang diperoleh melalui pembungaan setiap satu tahun dapat dirumuskan Pn = po ( 1 + r )n , atau Pn = po ( 1 + r /m)n.m Pn = Modal pada tahun ke-n (di masa yang akan datang) Po = Modal saat sekarang, saat t = 0 r = Tingkat suku bungan per-tahun 3

n i = persentase pertumbuhan penduduk per tahun & n = jumlah tahun Contoh soal : Penduduk suatu kota berjumlah 100.708144) 4 .000 botol kecap pada tahun ke-6 operasinya. Sebuah baris hitung mempunyai suku pertama bernilai 210.48024) = 148.000 ( 1.6 juta bungkus pada tahun ketujuh. tingkat pertumbuhannya 4 persen per tahun.000 (1 + 0.( 1 + i )n Di mana Pn = populasi penduduk pada tahun basis (tahun ke-1) P0 = populasi penduduk pada tahun ke. 10 juta dalam jangka waktu 5 tahun. Berapa suku pertama baris hitung tersebut ? Berapakah nilai suku kesepuluhnya ? Berapa jumlah sepuluh suku pertamanya.11 ) 5 = 10. Penduduk suatu kota metropolitan tercatat 3. a) Berapa botol penurunan produksinya per tahun ? b) Pada tahun ke berapa pabrik kecap tersebut tidak berproduksi (tutup) c) Berapa botol kecap yang ia hasilkan selama operasinya ?.000 jiwa pada tahun 1995. Beda antar suku 15. Yang drumuskan : Pn = P0. Hitunglah suku ke 10 nya ! Berapakah jumlah lima suku pertammanya ? 2.000. diperkirakan menjadi 4.000. sebagaimana pernah dinyatakan oleh Malthus. a) Andaikata perkembangan produksinya konstan. 6. Jika diketahui suku kedua besarnya 275 dan suku keenam besarnya 375. penduduk dunia tumbuh mengikuti pola deret ukur. Pembungaan depositonya setahun sekali dengan tingkat bunga yang diasumsikan konstan sebesar 11% per-tahun. Pembungaan depositonya dengan tingkat bunga yang diasumsikan konstan sebesar 11% per-tahun Berapa jumlah uang yang diterimanya pada akhir tahun kelima jika didepositokan dengan pembungaan tiap 6 bulan sekali ? dan Berapa jumlah uang yang diterimanya jika didepositokan dengan pembungaan tiap tiga bulan.5 juta bungkus rokok ? d) Berapa bungkus rokok yang telah ia hasilkan sampai dengan tahun ke – 16 ?. Periode waktu : 2005 -1995 = 10 tahun Pn = P0.000 ( 1 + 0.024 Latihan Soal 1.000 (1. berapa persen pertumbuhannya ? Berapa Jumlah penduduknya pada tahun 2015 ? Jawaban latihan soal. Jawab jumlah uang dengan pembungaan tiap 6 bulan sekali Pn = P0 (1 + r/m)n.000 (1. Seorang nasabah merencanakan mendepositokan uangnya di Bank sebanyak Rp. Karena persaingan keras dari kecap-kecap merek lain.5 jiwa pada tahun 2013. produksinya terus menurus secara konstan sehingga pada tahun ke-10 hanya memproduksi 18.2 = 10.000 ( 1. 10 juta dalam jangka waktu 5 tahun.000.( 1 + i )n = 100. 3.11 )5 = 10.000. Bantulah nasabah itu untuk menghitung berapa jumlah uang yang akan diterima pada akhir tahun ke-5 ? Pn = P0 ( 1 + r )n = 10.n = tahun ke m = periode per-tahun Contoh Soal : Seorang nasabah merencanakan mendepositokan uangnya di Bank sebanyak Rp. 5. dan 1.55 3.000 botol. Pabrik rokok “Kurang Garam” menghasilkan sejuta bungkus rokok pada tahun pertama berdirinya.000.000 ( 1 + 0. Jika tahun 2008 dianggap tahun dasar.11/2)5.685058155) = 16.055)10 = 10.04 )10 = 100. 4.000 (1 + 0.581. Hitunglah jumlah penduduk kota tersebut pada tahun 2005.000.04 )10 = 100. Pertumbuhan Penduduk Penerapan deret ukur yang paling konvensional di bidang ekonomi adalah dalam hal perhitungan pertumbuhan penduduk.25 juta jiwa pada tahun 2008. 5.m = 10. Pabrik kecap “Nambewan” memproduksi 24.850. berapa tambahan produksinya per tahun ? b) Berapa produksinya pada tahun kesebelas ? c) Pada tahun ke berapa produksinya 2.000 ( 1.

5 = 3.5/3.58.000 (1 + 0.13 juta.4 = 10.25 (1 + i)2013-2008 4. P2015 = P2008 (1 + i)2015-2008 = 3.38461/5 . 17.000. Jawab jumlah uang dengan pembungaan tiap 6 bulan sekali Pn = P0 (1 + r/m)n.25 (1 + i)5 4.577632) = 5.58 Jadi dalam waktu lima tahun uang nasabah tersebut yang dibungakan setiap enam bulan sekali menjadi Rp.720428431) = 17.38461/5 = 1 + i i = 1.000.31 Jadi dalam waktu lima tahun uang nasabah tersebut yang dibungakan setiap enam bulan sekali menjadi Rp.284.11/4)5. Daftar Pustaka : 5 .73%)7 = 3.444. Jawab persentase pertumbuhan penduduk : Pn = P0 (1 + i)n 4.= 17.204.000 (1 + 0.3846 = (1 + i)5 1.m = 10.13 Jadi jumlah penduduk kota metropolitan pada tahun 205 sebanyak 5.204.73 % Jadi persentase pertumbuhan penduduknya 6.5 = 3.25 (1 + 6.0275)20 = 10.284.3.444.25 = (1 + i)5 1.73 % Jumlah penduduk pada tahun 2015.1 i = 0. 6.000 (1.000.25 (1.081. 17.0673 i = 6.081.

bahkan agar perusahaan dapat memperoleh keuntungan. Contoh : 1. Lebih jauh lagi berapa pendapatan minimum agar dapat menabung.2. 2.2. menutup totol biaya. Fungsi-fungsi yang bersifat linier tersebut dapat saling berhimpit.1. Menggambarkan bagaimana fungsi linier dapat dipergunakan untuk mmenghitung berapa produk yang sebaiknya diproduksi dan dijual oleh perusahaan agar perusahaan dapat menutup biaya-biaya tetapnya. TEORI FUNGSI LINIER DAN PENERAPANNYA DALAM BISNIS DAN EKONOMI 2. Dalam suatu fungsi. Yang dimaksud dengan koefisien ialah bilangan atau angka yang diletakkan tepat di depan suatu variabel. Perilaku konsumen dicerminkan melalui fungsi permintaan.2.BAGIAN 2 KONSEP DASAR TEORI FUNGSI. terkait dengan variabel yang bersangkutan.Tujuan Khusus 1. sedangkan perilaku produsen dicerminkan dengan fungsi penawaran.1. Konstanta sifatnya tetap dan tidak terkait dengan suatu variabel apa pun. TEORI FUNGSI DAN TEORI FUNGSI LINIER 1. Uraian Materi A. sedangkan variabel terikat yaitu variabel yang diterangkan oleh variabel lain. PENYAJIAN 2 .1. 3.1 PENDAHUKUAN : 2. dan konstanta. Unsur-unsur pembentukan fungsi yaitu variabel. Disebut Analisis Break-Even Analusis. 4. Untuk mencari perpotongan dua fungsi yang linier digunakan metode eliminasi. y adalah variabel terikat x adalah variabel bebas 3 adalah koefisien ( terletak didepan variabel y) 4 adalah koefisien ( terletak didepan variabel x) -8 adalah konstanta 2. Menggambarkan bagaimana fungsi linier dapat membantu menghitung berapa pendapatan nasional yang harus diperoleh suatu negara agar tidak mengalami defisit akibat konsumsi yang lebih besar dari pada pendapatan. Penggolongan variabel dibedakan menjadi variabel bebas dan variabel terikat dimana variabel bebas yaitu variabel yang menerangkan variabel lain. Menggabarkan bagaimana fungsi linier dapat dipergunakan untuk mencerminkan perilaku baik perilaku konsumen maupun perilaku produsen. Yang dimaksud dengan variabel ialah unsur yang sifatnya berubah-ubah dari satu keadaan ke keadaan lainnya. Diskripsi Mata Kuliah Memperkenalkan unsur-unsur fungsi ialah variabel bebas dan variabel terikat. Pertemuan antara keduanya merupakan titik keseimbangan pasar. 2. secara umum jika dikatakan bahwa y adalah fungsi dari x maka ditulis y = f(x). sejajar atau bahkan berpotongan. 3y = 4x – 8. dimana x adalah variabel bebas dan y adalah variabel terikat. y = x ½ y adalah variabel terikat x adalah variabel bebas 6 . Menggambarkan pendapatan nasional dapat menghitung melalui pendekatan pengeluaran yang linier. Keseimbangan pasar ini dapat bergeser sejajar akibat adanya capur tangan pemerintah dalam bentuk pajak maupun subsidi 2. Pengertian Fungsi Fungsi yaitu hubungan matematis antara suatu variabel dengan variabel lainnya. Koevisien dan konstanta. yang saling berkaitan satu sama lain dala hubungan yang dapat dijelaskan secara ateatis yaitu hubungan yang linier. koefisien. substitusi atau dengan cara determinan.1.

Bentuk umum :Y = a0 + a1x1 + a2x2 Contoh : Y = 1 ... a0 = + . negatif. a1= +  a0 = + .. 3..3x2 + 4x3 +. Bentuk umum :Y = a0 + a1x1 + a2x2 + a3x3 + a3x4 Contoh :Y = 1 + 2x1 + 3x2 + 4x3 + 5x4 Fungsi Pangkat :Fungsi yang variabel bebasnya berpangkat suatu bilangan riil positif Bentuk umum : Y = xn ...+ anxn. a1= .x Y = 0 +a1x  Y = 0 – a1x Y = 4 + 2x Y = 4 – 2x Y = 4 + 0. n bilangan riil negatif 3. Bentuk umum Y = a0 + a1x1 Contoh: Y = 1 + 2x1 Fungsi Kuadrat :Fungsi polinom yang variabel bebasnya memiliki pangkat paling tinggi adalah dua.... 5.. 8.. a0 = + . n = 11 Fungsi Linier : Fungsi polinom yang variabel bebasnya memiliki pangkat paling tinggi adalah satu. atau nol a1 Koefisien. a1 = . a0 = . nilainya positif.. Bentuk umum :Y = a0 + a1x1 +a2x2 + a3x3 Contoh : Y = 1 + 2x1 – 3x2 + 4x3 Fungsi Bikuadrat:Fungsi polinom yang fariabel bebasnya memiliki pangkat paling tinngi adalah empat.Y variabel terikat. 2. n bilangan riil negatif Contoh :Y = x-2 . nilainya positif. Pengertian Fungsi Linier Fungsi linier adalah fungsih polinom yang variabel bebasnya memiliki pangkat paling tinggi adalah satu : Y = a0 + a1x1 ... 4.+ 12x11)1/11 Fungsi Polinom : Fungsi yang memiliki banyak suku Bentuk umum : Y = a0 + a1x1 + a2x2 + a3x3 + .. x variabel bebas a0 konstanta. a1= 0  a0 = . maka alternatif yang mungkin untuk fungsi linier : Y= a0 + a1x1 yaitu : misal a0 = 4 dan a1 = 2 1. negatif atau nol Untuk nilainya a0 dan a1 yang memungkinkan positif.. x = y-2 y adalah variabel bebas x adalah variabel terikat -2 adalah konstanta 2..3x2 + 4x3 +. atau nol.4 Y = 0 + 2x Y=0–2x 7 ..x = 4 Y = .Jika x adalah fungsi dari y maka ditulis x = f(y). a1 = + a0 = 0 ..4 + 0. Jenis-jenis Fungsi Fungsi Irrasional : Fungsi yang memiliki Bentuk umum Y = n√ a0 + a1x1 + a2x2 + a3x3 + ... Bentuk umum :Y = nx Contoh :Y = 2x Fungsi logaritma : Fungsi yang merupakan invers fungsi eksponen Bentuk umum Y = n log x Contoh :Y = 4 log x Fungsi Hiperbola :Fungsi yang variabel bebasnya berpangkat bilangan riil negatif Bentuk umum :Y = xn ..2x1 . a1 = +  a0 = . dimana y adalah variabel bebas dan x adalah variabel terikat. 6...-12x11..4 + 2x Y=-4–2x Y = .+ anxn.... n bilangan bulat positif contoh :Y = (1+2x1 .x  Y = -a0 +a1x  Y = -a0 – a1x Y = -a0 + 0.. a1 = 0  a0 = 0 .. 7.. Contoh : 1... x = -2 x adalah variabel terikat -2 adalah konstanta 2.3x2 Fungsi Kubik :Fungsi polinom yang variabel bebasnya memiliki pangkat paling tinggi adalah tiga..x = . a1 = . Y = a0 + a1x  Y = a0 – a1x  Y = a0 + 0.bilangan bulat positif Contoh: Y = 1 + 2x1 . negatif. n bilangan riil positif Contoh :Y = x2 Fungsi Eksponen : Fungsi yang variabel bebasnya merupakan pangkat suatu konstanta.

x = 0 4..-4) Y = -4 – 2x 6.x  Y = 0 + 0.4 + 2 x dua buah titik yang dibutuhkan untuk menggambarkannya (0.4) 0 (0. a0 = 0 ..4) (Y = 4) 4. Y = . Y = 4 titik yang dibutuhkan untuk mengambarkannya (0.4) dan (-2..4) 0 (2.0) (0.4) dan ( .0) 5.4) dan (2.0) 0 (0.9.0) (-2.4 – 2 x dua buah titik yang dibutuhkan untuk menggambarkannya (0. Penggambaran Fungsi Linier Penggambaran fungsi linier dari berbagai alternatif untuk a 0 = 4 dan a1 = 2 Y = 4 + 2x (0.0) Y = 4 – 2x 3.4) 0 (0.4) dan (2. Y = . a1 = 0 Y = 0 + 0.0) 0 2.-4) (2.2.4) 1. Y = 4 + 2x dua buah titik yang dibutuhkan untuk mengambarkannya (0. Y = 4 – 2x dua buah titik yang dibutuhkan untuk mengambarkannya (0.0) (-2.0) 0 (0. Y = .-4) Y = -4 8 .4 titik yang dibutuhkan untuk menggambarkannya (0.

0) 8. Y = 0 dua buah titik yang dibutuhkan untuk menggambarkannya (0.0) dan (2. gradien 4 3. maka a0 = a0‟ dan a1 = a1‟ Contoh : Fungsi linier pertama : Y = 4 + 4x .0) (0. Berhimpit Y = a0 + a1x Y‟ = a‟0 +a‟1x karena berhimpit. intersep 4. Sejajar Y = a0 + a1x Y‟ = a‟0 +a‟1x Karena sejajar.0) dan (2..0) (2. Y = 0 –2x dua buah titik yang dibutuhk untuk menggambarkannya (0.4) (0.4) Y = 0 + 2x (2. intersep 2.0) dan (2. maka a0 = a0‟ dan a1 = a1‟ contoh : Fungsi linier Pertama : Y = 4 + 2x . gradien 4/2 = 2 2.4) 2 (0. Hubungan Dua Fungsi Linier Ada dua fungsi linier dimana fungsi linier pertama yaitu : Y = a 0 + a1 x dan fungsi linier yang kedua yaitu : Y‟ = a0‟ + a1‟ x.-4) Y = 0 – 2x -4 9. gradien 4 Fungsi linier kedua : Y = 2 +4x . Berpotongan Y = a0 + a1x Y‟ = a‟0 +a‟1x 0 Karena Berpotongan. intersep 4. maka dan a1 = a1‟ untuk kondisi seperti pada gambar a0 = a0‟ 9 . Kedua Fungsi Linier tersebut berada dalam berbagai keadaan: 1.7. intersep 8/2 = 4 . Y = 0 + 2 x dua buah titik yang dibutuhkan untuk menggambarkannya (0.0) 2 (2. gradien 2 Fungsi linier kedua : 2Y = 8 + 4x .0) 5.

Untuk kondisi seperti pada gambar a0 = a0‟. gradien –1/4 6. intersep 2.1.. gradien – 4 4. gradien 4 Fungsi linier kedua : Y = 2 – 4x .* x + 2 y = 1 .. maka untuk mencari titik potongnya dapat dilakukan dengan cara : 1... Cara Substitus 2x+3y=4 . a0) Contoh : fungsi linier pertama : Y = 2 + 4x. maka a1 = a1‟ dan a1. gradien – 4 dan perpotongan pada titik (0.Contoh : Fungsi linier pertama Y = 4 + 4x . a1‟ = -1 Untuk kondisi seperti pada gambar a0 = a0‟ dan berpotongan pada titik (0.2) 5. Berpotongan tegak lurus Y = a0 + a1x Y‟ = a‟0 +a‟1x 0 Karena berpotongan tegak lurus.. a0) Contoh : fungsi linier pertama : Y = 2 + 4x . intersep 4.x = 1 – 2 y . Contoh : fungsi linier pertama : Y = 4 + 4x. intersep 2 .4) 10 . gradien 4 fungsi linier kedua : Y = 2 – 1/ 4x. maka dan a1 = a1‟ Untuk kondisi seperti pada gambar a0 = a0‟ dan perpotongan pada titik (0.. intersep 2..a1‟. Titik Potong Linier Untuk fungsi linier yang saling berpotongan.. Berpotongan Y = a 0 + a 1x Y‟ = a‟0 +a‟1x 0 Karena berpotongan. Substitusi 2. gradien – ¼ dan perpotongan pada titik (0... Determinan Contoh : Carilah titik potong dari garis yang berpotongan yaitu 2 x + 3 y = 4 dan x + 2 y = 1 Jawab : 1. gradien 4 Fungsi linier kedua : Y = 2 – 4x .. gradien 4 fungsi linier kedua : Y = 2 – 1/ 4x. maka a1 = a1‟ dan a1. intersep 2 .2) 6. Eliminasi 3. intersep 4... = . Berpotongan tegak lurus Y = a0 + a1x Y‟ = a‟0 +a‟1x 0 Karena berpotongan tegak lurus.. intersep 2.** memasukkan ** pada* 2x+3y=4 2 (1 – 2 y) + 3 y = 4 maka x=1–2y 2 (1) – 2 (2 y) + 3 y = 4 x = 1 – 2 (-2) 2–4y+3y=4 x = 1 – ( . intersep 2..

7) maka : Y–3 = x–3 7–3 = 5–3 Y–3 = x–3 4 2 Y – 3 = 4 / 2 ( x – 3) Y–3 = 2x–6 Y = 2x–6+3 Y = 2x–3 Jadi garis yang melalui titik (3.3) dan (5.= ---. Jawab : misalkan (x1.= 5 | 2 3 | (2)(2) – (1)(3) 4–3 1 | 1 2 | | 2 4 | | 1 1 | (2)(1) – (1)(4) 2–4 -2 y = -----------. y1) dan B (x2. Gambar : B(X2.3) dan (x2.Y2) A(X1.7) adalah Y = 2 x – 3 11 .y2) = (5. Penamaan Fungsi Linier 1.= ---.= -2 | 2 3 | (2)(2) – (1)(3) 4–3 1 | 1 2 | Baik dengan cara eliminasi.4) x–4 x x 3.= ------.7). Cara Eliminasi 2 x + 3 y = 4 (x 1) --- x + 2 y = 1 (x 2) --- maka x + 2 y x=1+4 x=5 2x+3y=4 2x+4y=2 _ -y=2 =1 =1 =1 =1+4 =5 y=-2 =1 x + 2 (. 7. pasti akan diperoleh nilai yang sama. substitusi.= ------.Y1) Untuk mengetahui garis yang tepat melalui kedua titik tesebut dapat diperoleh dengan menggunakan rumus di bawah ini : Y – Y1 = X – X1 Y2 – Y1 = X2 – X1 Contoh : Carilah garis yang melalui titik (3.= ----------------.2–y=4 -y = 4 – 2 -y = 2 y=-2 2. y2). Cara Determinan 2x +3y=4 x+2y=1 | 4 3 | | 1 2 | (4)(2) – (1)(3) 8–3 5 x = -----------. ataupun determinasi.2) x + (.3) dan (5.= ----------------.y1) = (3. Jika diketahui dua buah titik yaitu A (x1.

m = ∆Y/∆x Contoh : Carilah garis yang melalui titik (3.P1.3) dan m = 5 Maka : Y – Y1 = m(x – x1) Y – 3 = 5 (x – 3) Y – 3 = 5x – 15 Y = 5x – 15 + 3 Y = 5x – 12 Jadi garis yang melalui titik (3.000 buah.12 B. yaitu : Fungsi permintaan.)= (3. quantity demand).2.3) dengan kecondongan sebesar 5 Jawab : Misalkan (x1.000) Fungsi permintaannya dicari dengan rumus : P . Ditulis: P= f(Qd). Bagaimana fungsi permintaanya ? Gambarkan fungsi permintaan tersebut pada Grafik Kartesius. Pendahuluan Penerapan fungsi linier dalam bisnis dan teori ekonomi mikro. P = 30 .P1 = Qd – Qd1 P2 – P1 Qd2 – Qd1 12 . 4. y1) dan gradiennya / kemiringannya m Gambar : A(x1.laku sebanyak 3.000. maka jumlah permintaan terhadap barang tersebut meningkat menjadi 6. Fungsi penerimaan. Keseimbangan pasar.3) dengan kemiringannya 5 adalah Y = 5x . jika harga mengalami penurunan maka jumlah barang yang diminta akan mengalami peningkatan. price) suatu barang dengan variabel jumlah barang yang diminta (Qd .) = (6. jika dijual dengan harga lebih murah yaitu Rp 4. Demikian sebaliknya.000) dan (Qd2.000. jika dijual seharga Rp 5.2 Qd 2. dan ‘ break-even analsis ‘. Fungsi Permintaan Fungsi permintaan merupakan fungsi yang mencermintan hubungan antara variabel harga (P . Sifat demikian jika digambarkan pada Grafik Kartesius dengan sumbu datarnya jumlah barang yang diminta (Qd) dan sumbu tegaknya harga barang yang bersangkutan (P).000 per-buah akan. maka jumlah barang yang diminta akan mengalami penurunan. Suatu barang. Pengaruh pajak dan subsidi terhadap keseimbangan pasar. maka fungsi permintaan suatu barang dicerminkan sebagai berikut : Sifat monoton turun : P‟ > P maka Qd‟ < Qd P” < P maka Qd” > Qd Contoh : 1. PENERAPAN DALAM BISNIS DAN EKONOMI 1. Penerapan fungsi linier dalam ekonomi mikro. Jika diketahui sebuah titik A (x1. PENERAPAN DALAM BISNIS DAN TEORI EKONOMI MIKRO 2.000 buah.y1) = (3. Fungsi penawaran. yaitu : fungsi pendapatan yang terdistribusi menjadi fungsi konsumsi dan fungsi tabungan fungsi pendapatan nasional yang dihitung melalui pendekatan pengeluaran. Fungsi biaya.y1) n 0 Untuk mengetahui garis yang tepat melalui titik tersebut dengan kecondongantertentu dapat diperoleh dengan menggunakan rumus di bawah ini : Y – Y1 = m (x – x1).P2. Akan tetapi.5. Jawab : Diketahui (Qd1. Qd = 15 – P Contoh Soal : 1.000 per-buah. Fungsi ini mencerminkan perilaku konsumen di pasar di mana sifat yang berlaku yaitu bahwa jika harga barang mengalami peningkatan. dimana perubahan harga „sebanding‟ dengan perubahan jumlah barang yang diminta (fungsi linier).

000 6.000 Qd .000 ) 3.5 Qd + 42.000 P – 5. Qd = .1/3 Qd + 6.000 0 Qd= 18.000 P .250 Fungsi penawarannya diperoleh dengan rumus : ( P – P1 ) = m (Qd – Qd1 ) dengan m = P / Qd = 1.500 Jadi fungsi prmintaanya : P = .000 = -5 Qd + 2.000 P – 5.3. apabila setiap kenaikan harga sebanyak 1.000 3.1.000 = -5 Qd – ( 5 )( .250 / (.500 0 Catatan : Gradien fungsi permintaan yang dinyatakan dengan rumus m=Δ P / Δ Qd nilainya Senantiasa negatif.000 ( Qd – 3.250 ) = -5 Maka ( P – 40.1.P .3.000 Gambar Grafik Kartesiusnya ( P vs Qd ) : P 6000 P = .Qd1 ) = ( 40. Jika dinyatakan adanya peningkatan harga akan menyebabkan peningkatan jumlah barang yang diminta Menjadikan : 13 .000 + 5. sebagaimana fungsi permintaannya dan gambarkan fungsi permintaanya dan gambarkan fungsi permintaan tersebut pada grafik kartesius Jawab : Diketahui ( P1 .000.500 P = .500 + 40.3.250 akan menyebabkan jumlah permintaan mengalami penurunan sebanyak 250.250 . Permintaan suatu barang sebanyak 500 Buah pada saat harganya 40.500 ) P – 40.5.000 .000 ) = -5 ( Qd – 500 ) P – 40.000.000 P – 5.000 .5. 500 ) dan p = 1.000 . Jika dinyatakan adanya penurunan harga akan menyebabkan peningkatan jumlah barang yang diminta : Menjadikan : M = Δ P = negatif = negatif atau ΔQd positif 2.000 -1/3 Qd + 6. sebab : 1.000) -1/3 Qd – 1/3 (.000 – 5.000 P = -5 Qd + 42.500 P = -5 Qd + 2.5 Qd + 42.000 P P = = = = = = Qd .500 Gambar Fungsi Penawaran tersebut pada grafik Kartesius : 42.000) -1/3 Qd + 1.000 -1/3 (Qd – 3.000 = 4.3.000 Contoh Soal : 2.

000 P = 1/3 Qs + 4.000) 3.000 P – 5.000 6. Fungsi ini mencerminkan perilaku produsen dipasar dimana sifat yang berlaku yaitu bahwa jika harga barang mengalami peningkatan.000 – 5. harga dipasarnya Rp 5.000) Fungsi penawarannya dicari dengan rumus : P – P1 = Qs – Qs1 P2 – P1 Qs2 – Qs1 P – 5. Apabila setiap kenaikan harga sebanyak 1.000 per-buah. Sifat demikian jika digambarkan pada Grafik Kartesius dengan sumbu datarnya jumlah barang yang ditawarkan (Qs) dan sumbu tegaknya harga barang bersangkutan (P).000 = 1/3 (Qs – 3.000 = 1.250.000) P = 1/3 Qs – 1.000) dan (P2.000 6.000.000 P – 5. ∆Qs = 250 Fungsi penawarannya diperoleh dengan rumus : ( P – Pı ) = m (Qs – Qsı) dengan m = ∆P / ∆Qs = 1250 / 250 =5 maka (P – 40.Qsı) = (40.000 + 5.000.000 buah.000 = 5Qs – 2. 6.000 buah.000 = 1/3 Qs + (1/3) (-3. Jawab : Diketahui (P1.000) P – 5. Fungsi Penawaran Fungsi penawaran merupakan fungsi yang mencerminkan hubungan antara variabel harga ( P : price ) suatu barang dengan variabel jumlah barang yang ditawarkan ( Qd : Quantity Supply ).000 1. jika harga lebih tinggi yaitu menjadi Rp 6.000 Jadi fungsi penawarannya adalah : P = 1/3 Qs + 4. maka fungsi penawaran suatu barang dicerminkan sebagai berikut : Contoh : 1.500 14 . jika harga barang mengalami penurunan maka jumlah barang yang ditawarkan akan mengalami penurunan.000 = Qs – 3. maka jumlah barang yang ditawarkan oleh produsen akan bertambah menjadi 6. Demikian sebaliknya. Ditulis : P = f ( Qs ).000.000 = 5Qs + (5)(-500) P – 40. 3. maka jumlah barang yang ditawarkan akan mengalami peningkatan.000 (Qs – 3. ¼ P = 8Qs + 125 Contoh Soal : 1.000 per buah maka produsen akan menawarkan sebanyak 3. dimana perubahan harga „sebanding‟ dengan perubahan jumlah barang yang ditawarkan (fungsi linier).000 P = 5Qs + 37.000. Akan tetapi.000 P – 5.000 Gambar Grafik Kartesiusnya (P vs Qs) : Contoh Soal : 2. bagaimana fungsi penawarannya dan gambarkan fungsi penawaran tersebut pada Grafik Kartesius.Qs1) = (5.500 P = 5Qs – 2.000 – 3.500 + 40. 500) dan ∆P = 1. Qs = -40 + ¼ P 3.000 = Qs – 3.000) = 5(Qs – 500) P – 40.M=Δ P = Δ Qd positif negatif = negatif 3. Bagaimanakah fungsi penawarannya ? Gambarkan fungsi penawarannya tersebut pada Grafik Kartesius. P = 120 + 4Qs 2. Penawaran suatu barang sebanyak 500 buah pada saat harganya 40.Qs2) = (6.000 3. Jawab : Diketahui (Pı. Suatu barang.250 akan menyebabkan jumlah penawaran mengalami peningkatan sebanyak 250.

500 Gambar fungsi penawaran tersebut pada Grafik Kartesius : P P = 5Qs + 37. digambarkan sebagai berikut : P P = f (Qs) Pe P = f(Qd) 0 Qe Qd Contoh Soal : 1. menjadikan : m = ∆ P = negatif = positif atau ∆Qs positif 1. menjadikan : m = ∆ P = positif = positif] ∆Qd positif 4.000 jumlah pemintaan barang tersebut sebanyak 20 buah dan untuk kenaikan harga menjadi Rp 10.000 maka jumlah barang yang ditawarkan juga meningkat sebanyak 20.000 jumlah permintaannya berkurang menjadi 10 buah. Untuk suatu barang. pada harga Rp 6. Keseimbangan Pasar Keseimbangan pasar atau ‘Eqiullibrium’ adalah suatu kondisi dimana keseimbangan harga (Pe) tercapai Jumlah barang yang diminta = Jummlah barang yang ditawarkan Qe ›› Qd = Qs Keseimbangan harga (Pe) tercapai : Jumlah barang yang diminta = Jumlah barang yang ditawarkan Qe ›› Qd = Qs Atau Keseimbangan kuantitas (Qe) tercapai : Harga barang yang diminta = Harga barang yang ditawarkan Pe ›› P = P Fungsi permintaan dan fungsi penawaran pada sebuah grafik Kartesius dengan keseimbangan harga (Pe) dan keseimbangan Kuantitasnya (Qe).500 0 Qs Catatan : Gradien fungsi penawaran yang dinyatakan dengan rumus: m = ∆ P nilainya senatiasa positif. Bagaimanakah fungsi permintaan dan fungsi penawaran barang tersebut ? Gambarkan kedua fungsi tersebut pada sebuah Grafik Kartesius. Jika dinyatakan adanya penurunan harga akan menyebabkan penurunan jumlah barang yang ditawarkan. ∆Qs = 20 Fungsi penawarannya diperoleh dengan rumus : (P – P1) = m (Qs – Qs1) 15 .000 pengusaha menawarkan barang tersebut sebanyak 30 buah.Jadi fungsi penawarannya : P = 5Qs + 37. dan setiap kenaikan harga sebanyak Rp 2.500 37. sebab : ΔQs 1. Pada harga Rp 5.30) dan ∆P = 2000. Jawab : Mencari fungsi penawaran : Diketahui (P1.Qs1) = (6.000. Jika dinyatakan adanya peningkatan harga akan menyebabkan peningkatan jumlah barang yang ditawarkan.

000 (Qd – 20) -10 P – 5.000 Pe = 5.Qd1) = (5.000 – 3.000 + 6.000 P = -500Qd + 15.000 = 600Q Qe = 12.000 Pe = -10.000 P = 100Qs – 3.000 = 100Q + 3.000 Qe = 20 Qd.000 = Qd – 20 5000 -10 P – 5.000 Mencari fungsi permintaan : Diketahui (P1. Qs 2.000 Jadi fungsi penawarannya : P = 100Qs + 3.000 + 5.10) Fungsi permintaannya dicari dengan rumus : P – P1 = Qd – Qd1 P2 – P1 Qd2 – Qd1 P – 5.000 Jadi fungsi permintaannya adalah : P = -500 Qd + 15.000 = -500(Qd – 20) P – 5.000 – 5.000 Pe = 5.000 Keseimbangan Kuantitas (Q) tercapai : Harga barang yang diminta = Harga barang yang ditawarkan -500Q + 15.20) dan (P2.Qd2) = (10.000 = Qd – 20 10.000 = -500Qd + (-500) (-20) P – 5.000 Pe = -500 (20) + 15.dengan m = ∆P / ∆Qs = 2000 / 20 = 100 maka (P – 6.000 P = -500Qd + 10.000 Pe = 2.000 P = 100Qs + 3.000 = -500Qd + 10.000 Jadi keseimbangan harga tercapai pada harga Rp 5.000 10 – 20 P – 5.000 = 5.000 15.000 = 100Q + 500Q 12.000 atau Pe = 100Qe + 3.000.000 = 100Qs + (100)(-30) P – 6.000. Fungsi permintaan dan fungsi penawaran suatu barang diberikan sebagai berikut : Qd = 11P dan Qs = -4 +2P Dimanakah keseimbangan harga (Pe) dan keseimbangan kuantitas (Qe) tercapai ? Gambarkan kedua fungsi tersebut pada sebuah grafik kartesius.000 600 Qe = 20 Jadi keseimbangan kuantitas tercapai pada 20 unit barang.000 3000 0 P = -500 Qd + 15. 16 .000 + 15.000 + 3.000) = 100 (Qs – 30) P – 6.000 Pe =100(20) + 3.000 = 100Qs – 3. Untuk Keseimbangan Harga (Pe) diperoleh dengan cara : Pe = -500 Qe + 15.000 Pe = 5.000 Grafiknya digambarkan sebagai berikut : P P = 100 Qs + 3.

yaitu diberikan fungsi permintaan dan fungsi penawaran sebagai berikut : Qd = 11 – P dan Qs = -4 + 2P. Berapa total pajak yang diterima pemerintah. Pengaruh Pajak terhadap Keseimbangan Pasar Pemerintah mengenakan pajak penjualan kepada para produsen. Sehingga keseimbangan kuantitasnya (Qe) dapat dicari : Qe = 11 – P atau Qe = . Pajak penjualan tersebut dinyatakan dengan : tarif pajak (t) = satuan unit uang / satuan unit barang.Jawab : Keseimbangan harga (Pe) tercapai : Jumlah barang yang diminta = Jumlah barang yang ditawarkan Qe ›› Qd = Qs 11 – P = -4 + 2P 11 + 4 = 3P + P 15 = 3P Pe = 5 Jadi keseimbangan harga di pasar tercapai pada harga 5. (iii). (i). (ii). Carilah keseimbangan harga dan kuantitas di pasar sesudah ada pajak.4 + 2P Qe = 11 – 5 Qe = -4 + 2(5) Qe = 6 Qe = -4 + 10 Qe = 6 Jadi keseimbangan kuantitas di pasar tercapai pada jumlah 6 Grafik digambarkan sebagai berikut : Qd. 17 . Gambarkan perubahan akibat pajak tersebut. (vii). (v). Berapa tarif pajak yang ditanggung konsumen. Pengaruh pajak terhadap keseimbangan harga dan kuantitas di pasar Sebelum ada pajak Fungsi Penerimaan Fungsi Penawaran P = f(Qd) P = f(Qs) Sesudah ada pajak (Tarif Pajak (t) P = f(Qd) P = f(Qs) + t Contoh Soal : Dari contoh soal yang sebelumnya.P P 5. (iv). Arsirlah total pajak masing-masing pada gambar di atas. Berapa total pajak yang ditanggung produsen. (viii). Berapa tarif pajak yang ditanggung produsen. pemerintah mengenakan pajak dengan terif pajak sebesar t = 3 / unit barang. Berapa total pajak yang ditanggung konsumen. (vi). Qs Qs = -4 + 2P 11 Qe = 6 0 2 -4 Pe = 5 Qd = 11 . Kepada produsen tersebut.

Qd P = ½ Qs + 2 Sesudah ada pajak (Tarif Pajak (t)) P = 11 . Sedangkan fungsi penawaran sesudah kena pajak menjadi : P = ½ Qs + 5. Grafiknya digambarkan sebagai berikut : Jika hendak digambarkan dengan fungsi P sebagai fungsi tegak dan fungsi Qd. Fungsi penawaran sebelum kena pajak adalah : P = ½ Qs + 2. Akan tetapi. Dari perhitungan sebelumnya telah diketahui bahwa keseimbangan harga tercapai pada Pe = 5 dan keseimbangan kuantitasnya pada Qe = 6. Akibat adanya pajak maka fungsi penawaran mengalami perubahan.Qd 0 Qe = 6 Qd. Terlihat bahwa fungsi penawaran baik yang sebelum dikenakan pajak maupun yang sesudah kena pajak ternyata memiliki gradien (kemiringan) yang sama sebesar yaitu + ½.Qs pada sumbu datar maka kita harus melakukan perubahan sebagai berikut : Fungsi permintaan : Qd = 11 – P atau P = 11 – Qd Fungsi penawaran : Qs = -4 + 2P atau Qs + 4 = 2P Maka P = ½ Qs + 4/2 P = ½ Qs + 2 Gambarnya menjadi : P P = ½ Qs +2 Pe = 5 2P = 11 . tidak demikian dengan fungsi penawaran. Perubahan tersebut mengakibatkan terjadinya pergeseran keseimbangan harga maupun keseimbangan kuantitas di pasar. Menurut teori fungsi linier dikatakan bahwa dua buah garis yang memiliki 18 . Keseimbangan harga dan kuantitas di pasar sesudah dikenakan pajak Keseimbangan kuantitas (Qe‟) tercapai : Harga barang yang diminta = Harga barang yang ditawarkan 11 – Qe‟ = ½ Qe‟ + 5 11 – 5 = ½ Qe‟ + Qe‟ 6 = 3/2 Qe‟  12 = 3 Qe‟  Qe‟ = 4 Jadi keseimbangan kuantitas setelah kena pajak tercapai pada 4 unit barang. maka Sebelum ada pajak Fungsi Penerimaan Fungsi Penawaran P = 11 .Qd P = ½ Qs + 2 + t P = ½ Qs + 2 + 3 P = ½ Qs + 5 Dari tabel di atas terlihat bahwa fungsi permintaan tidak mengalami perubahan. Fungsi penawaran sebelum kena pajak adalah : P = ½ Qs + 2. Sedangkan intersepnya berbeda satu sama lainya. Sedangkan fungsi penawaran sesudah kena pajak menjadi : P = ½ Qs + 5.Keseimbangan harga dan kuantitas di pasar sebelum dikenakan pajak.Qs Akibat dikenakan pajak. Untuk keseimbangan Harga (Pe) diperoleh dengan cara : Pe‟ = 11 – Qe‟ atau Pe‟ = 1/2Qe‟ + 5 Pe‟ = 11 – 4 Pe‟ = 1/2(4) + 5 Pe‟ = 7 Pe‟ = 2 + 5 Pe‟ = 7 Jadi keseimbangan harga setelah kena pajak tercapai pada harga 7 Perubahan fungsi penawaran (akibat adanya pajak) yang mengakibatkan perubahan keseimbangan di pasar pada grafiknya dicerminkan juga oleh pergeseran fungsi penawaran.

maka jika digambarkan akan terlihat bahwa kedua garis tersebut dalam keadaan sejajar.4 + 2 P kepada produsen tersebut. Subsidi tersebut dinyatakan dengan : tarif subsidi (s) = satuan unit uang / satuan unit barang. Keseimbangan harga setelah ada pajak lebih tinggi dari pada keseimbangan harga sebelum ada pajak : Pe‟ = 7 sedangkan Pe = 5. Pengaruh Subsidi terhadap Keseimbangan Pasar Pemerintah memberikan subsidi kepada para produsen. maka fungsi permintaan. fungsi penawaran sebelum kena pajak dan fungsi penawaran setelah kena pajak digambarkan bersama-sama dalam sebuah Grafik Kartesius. Pengaruh subsidi terhadap keseimbangan harga dan kuantitas di pasar Contoh soal : Dari contoh soal yang sebelumnya. produsen tidak mau menaggungnya sendiri. dan fungsi penawaran setelah ada pajak. Agar perubahannya terlihat jelas.gradien yang sama tetapi intersepnya masing-masing berbeda satu sama lainnya. iii) Berapa tarif subsidi yang diterima konsumen. Fungsi permintaan. viii) Arsirlah total subsidi masing-masing pada gambar di atas. Beban tarif pajak yang dibebankan oleh produsen kepada konsumen terasakan oleh adanya kenaikan keseimbangan harga dari Pe = 5 menjadi Pe‟ = 7. serta keseimbangan harga dan kuantitas sebelum ada pajak digambarkan di bawah ini : P Pe = 7 Pe = 5 E“ E P = ½ Qs + 5 P = ½ Qs + 2 0 Qe‟ = 4 Qe = 6 Qd.Qs Keterangan gambar : E : keseimbangan sebelum ada pajak Qe : keseimbangan kuantitas sebelum ada pajak Pe : keseimbangan harga sebelum ada pajak E‟ : keseimbangan setelah ada pajak Qe‟ : keseimbangan kuantitas setelah ada pajak Pe‟ : keseimbangan harga setelah ada pajak Adanya pengenaan pajak dari pemerintah kepada produsen ternyata mengakibatkan : 1. Tarif pajak dan Total Pajak : 6. iv) Berapa tarif subsidi yang di terima produsen. pemerintah memberikan subsidi dengan tarif subsidi dengan tarif subsidi sebesar s = 1 / unit barang. ii) Gambarkan perubahan akibat subsidi tersebut. sedangkan yang ditanggung produsen berarti tinggal sisanya. i) Carilah keseimbangan harga dan kuantitas dipasar sesudah ada subsidi. 19 . vi) Berapa total subsidi yang dinikmati konsumen. Akan tetapi. fungsi penawaran sebelum ada pajak. v) Berapa total subsidi yang diberikan pemerintah. Sebagian dari pajak tersebut dibebankannya kepada konsumen. Maka : Pe‟ > Pe 2. Keseimbangan kuantitas setelah ada pajak lebih rendah dari pada keseimbangan kuantitas sebelum ada pajak : Qe‟ = 4 sedangkan Qe = 6 Maka : Qe‟ < Qe Tarif pajak yang dikenakan oleh pemerintah kepda produsen t = 3/unit. vii) Berapa total subsidi yang dinikmati produsen. yaitu diberikan fungsi permintaan dan fungsi penawaran sebagai berikut :Qd = 11 – P dan Qs = .

67 Jadi keseimbangan kuantitas setelah ada subsidi tercapai pada 6. Agar perubahannya terlihat dengan jelas. Menurut teori fungsi linier dikatakan bahwa dua buah garis yang memiliki gradien yang sama tetapi intersepnya masing. Dari tabel di atas terlihat bahwa fungsi permintaan tidak mengalami perubahan. Sedangkan intersepnya berbeda satu sama lainnya. 67 Pe’ = 1 / 2 (6. P Pe = 5 Pe = 4.33 Jadi keseimbangan harga setelah ada subsidi tercapai pada harga 4.Keseimbangan harga dan kuantitas dipasar sebelum dikenakan subsidi. Keseimbangan harga dan kuantitas di pasar sesudah ada subsidi Keseimbangan kuantitas (Qe’) tercapai : Harga barang yang diminta = Harga barang yang ditawarkan 11 – Qe’ = ½ Qe’ + 1 11 – 1 = ½ Qe’ + Qe’ 10 = 3/2 Qe’ 20 = 3 Qe’ Qe’ = 6.67 Keterangan gambar E : Keseimbangan sebelum ada subsidi Qe : Keseimbangan kuantitas sebelum ada subsidi Pe : Keseimbangan harga sebelum ada subsidi E’ : Keseimbangan setelah ada subsidi Qe’: Keseimbangan kuantitas setelah ada subsidi Pe’ : Keseimbangan harga setelah ada subsidi Qd. Sedangkan fungsi penawaran sesudah ada subsidi menjadi : P = ½ Qs + 1. yang mengakibatkan perubahan keseimbangan di pasar pada grafiknya dicerminkan juga oleh pergeseran fungsi penawaran. 33 Pe’ = 3. perubaha tersebut mengakibatkan terjadinya pengeseran keseimbangan harga maupun keseimbangan kuantitas di pasar. maka dari perhitungan sebelumnya telah diketahui bahwa keseimbangan harga tercapai pada Pe = 5 dan keseimbangan kuantitasnya pada Qe = 6. Akibat adanya subsidi maka fungsi penawaran mengalami perubahan. Terlihat bahwa fungsi penawaran baik yang sebelum ada subsidi maupun yang sudah ada subsidi ternyata memiliki gradien (kemiringan) yang sama sebesar yaitu + ½ .33 E E′ P = ½ Qs + 2 P = ½ Qs + 1 0 Qe‟ = 6 Qe = 6. 67 unit barang Untuk keseimbangan harga (Pe’) diperoleh dengan cara : Pe’ = 11 – Qe’ atau Pe’ = 1 / 2 Qe’ + 1 Pe’ = 11 – 6.Qs 20 .33 + 1 Pe’ = 4. maka fungsi permintaan. Akan tetapi. maka jika di gambarkan akan terlihat bahwa kedua garis tersebut dalam keadaan sejajar. 67) + 1 Pe’ = 4.masing berbeda satu sama lainya. Fungsi penawaran sebelum ada subsidi adalah : P = ½ Qs + 2. tidak demikian dengan fungsi penawaran. Akibat dikenakan subsidi. Sedangkan fungsi penawaran sesudah ada subsidi menjadi : P = ½ Qs + 1.33 Perubahan fungsi penawaran (akibat adanya subsidi). Fungsi penawaran sebelum ada subsidi adalah : P = ½ Qs + 2. fungsi penawaran sebelum kena subsidi dan fungsi penawaran setelah kena subsidi digambarkan bersama sama dalam sebuah Grafik Kartesius.

Jika P adalah harga jaul per unit.Adanya pemberian subsidi dari pemerintah kepada produsen ternyata mengakibatkan : 1.000 Q 21 P : Harga jual per unit dan Q : jumlah produk yang dijual . Akan tetapi.33 sedangkan Pe = 5 . Tarif subsidi yang diberikan oleh produsen kepada konsumen tersakan oleh adanya penurunan keseimbangan harga dari Pe = 5 menjadi Pe’ = 4. Sebagian dari subsidi tersebut diberikannya kepada konsumen. produsen tidak menikmatinya sendiri.33. : merupakan penjumlahan antara luas area yang menggambarkan ukuran total subsidi yang dinikmati produsen dengan luas aera yang menggambarkan ukuran total subsidi yang dinikmati konsumen S = Sk + Sp 7. Keseimbangan kuantitas setelah ada subsidi lebih tinggi dari pada keseimbangan kuantitas sebelum ada subsidi : Qe’ = 6. Bagaimanakah fungsi permintaannya? Gambarkan fungsi permintaan tersebut dengan Grafik. Jawab : R=PxQ R = 5. Fungsi penerimaan merupakan fungsi dari Output : R = f (Q) dengan Q : jumlah produk yang laku terjual. Dilambangkan dengan R (Revenue) atau TR (total revenue).Qs Gambar yang menunjukan total subsidi. sedangkan yang diterima produsen berarti tinggal sisanya.67 sedangkan Qe = 6 Maka : Qe’ > Qe Tarif subsidi yang dikenakan oleh pemerintah kepada produsen s = 1 / unit.33 E E′ P = ½ Qs + 2 P = ½ Qs + 1 0 Qe‟ = 6 Qe = 6. S : Luas area yang menggambarkan ukuran total subsidi yang diberikan pemerintah. Keseimbangan harga setelah ada subsidi lebih rendah dari pada keseimbangan harga selum ada subsidi : Pe’ = 4.000 per unit barang. P Pe = 5 Pe = 4. Keterangan gambar : Sp : Luas area yang menggambarkan ukuran total subsisi yang dinikmati produsen. Maka : Pe’ < Pe 2. Fungsi penerimaan merupakan hasil kali antara harga jual per unit dengan jumlah barang yang diproduksi dan laku terjual. Sk : Luas area yang menggambarkan ukuran total subsidi yang dinikmatikonsumen.67 Qd. Fungsi Penerimaan Fungsi penerimaan disebut juga fungsi pendapatan atau fungsi hasil penjualan. maka : R = P x Q dengan Contoh : Misalkan suatu produk dijual dengan harga Rp 5.

000.0) dengan grdiennya positif.Gambar : Karena intersepnya tidak ada (nol) maka fungsi penerimaan dengan gradiennya positif : R = 5.000 per unit. Gambar Fungsi Biaya Tetap : FC = 100.000. Fungsi Biaya Dilambangkan dengan C (Cost) atau TC (Total Cost). dimana biaya produksi per unit senantiasa lebih kecil dibandingkan harga jual per unit barang. Bagaimanakah fungsi biaya tetapnya dan gambarkan fungsi tersebut pada Grafik Kartesius? Jawab : FC = 100.000.000 0 2. Bagaimanakah fungsi biaya variabelnya dan gambarkan fungsi tersebut dengan grafik. Fixed Cost atau fungsi biaya tetap (FC) merupakan fungsi yang tidak tergantung pada jumlah produk yang diproduksi. maka VC = P x Q dengan P : biaya produksi per unit dan Q: Produk yang diproduksi Contoh: Suatu produk diproduksikan dengan biaya produksi Rp 3.000. Jawab : VC = P x Q VC = 3.000. Variabel Cost atau Fungsi Biaya yang berubah-ubah (VC).0) 0 8. Terdiri atas dua jenis fungsi biaya: 1. Merupakan hasil kali antara harga jual per unit dengan jumlah barang yang diproduksi. Jika P adalah biaya produksi per unit. Jadi : VC = f(Q). 22 .000 Q Karena intersepnya tidak ada (nol) maka fungsi biaya variabel digambarkan melalui titik (0. Merupakan fungsi biaya yang besarnya tergantung dari jumlah produk yang diproduksi. Jadi fungsi biaya biaya tetap adalah fungsi konstanta : FC = k dengan k adalah konstanta positif Contoh : Suatu perusahaan mengeluarkan biaya tetap sebesar Rp 100.000 Q digambarkan melalui titik (0.

000 Q TC = 100.000 + 3. Gambar Fungsi Biaya Tetap. maka barulah perusahaan tersebut dapat menikmati keuntungan: Untung : TR > TC Jika penerimaan masih belum dapat menutup biaya-biaya yang dikeluarkan baik biaya tetap maupun biaya variabelnya. TC = FC + VC Contoh : Untuk contoh diatas.000 + 3000 Q VC= 3000 Q FC =100. Rugi Contoh Soal: Dari contoh sebelumnya diperoleh bahwa Fungsi Fixed Cost : Fungsi Variabel Cost: Fungsi Total Cost : Fungsi Revenue : R FC = 100. maka perusahaan dinyatakan dalam keadaan merugi.000.FC) dan sejajar dengan grafik VC. Biaya Variabel.000. maka TC = 100.000 Q.000 9.000 + 3. Keadaan tersebut digambarkan sebagai berikut: ‘ Break-Even’ TR = TC Jika penerimaan sudah dapat melebihi biaya-biaya yang dikeluarkan.000 Q = 5. Hal ini mencerminkan bahwa penggambaran fungsi total biaya haruslah melalui titik (0.000 Q : TR < TC Untuk lebih menjelaskan hal tersebut dibawah ini diberikan contoh.000. Ternyata intersep dari fungsi total biaya adalah sama dengan biaya tetapnya dan gradienya sama dengan gradien fungsi biaya tetap. Analisis ‘Break-Even’ Yang dimaksud dengan ‘Break-Even’ yaitu suatu kondisi dimana perusahaan tidak untung maupun tidak rugi.000 Q 0 3.000. total Biaya : TC=100.000. Hal ini disebabkan karena seluruh penerimaan perusahaan dibayarkan untuk menutup biaya tetap maupun biaya variabelnya.000Q. Fungsi Total Cost (TC) merupakan penjumlahan antara biaya tetap dengan biaya variabel. dimana biaya tetap yang dikeluarkan sebuah perusahaan sebesar Rp 100.000 dan biaya variabelnya : 3. baik biaya tetap maupun biaya variabelnya.000 VC = 3.000. Berapa produk yang harus diproduksi dan dijual agar perusahaan tersebut dapat menutup Biaya tetapnya? Berapakah penerimaan yang diperoleh? 23 .Gambar Fungsi Biaya Variabel : VC = 3.

000. Untuk itu perusahaan harus memproduksi produk sebanyak lebih dari 50.000.000.000Q 2000Q = TC = 100.000 unit barang.000Q = 100.000Q = 100.Berapakah produk yang harus diproduksi dan dijual agar perusahaan tersebut dapat menutup seluruh biaya yang dikeluarkannya? Berapakah penerimaan yang diperoleh?Berapa produk yang harus diproduksi dan dijual agar perusahaan tersebut mendapatkan keuntungan? Berapakah kontribusi marginnya? Jawab: Output yang diproduksi agar penerimaan dapat menutup biaya tetap : TR = FC 5.000 Jadi agar perusahaan dapat menutup biaya tetap yang dikeluarkannya. maka Kontribusi margin= Harga jual per unit – Biaya produksi per unit Kontribusi margin= Rp 5.000.000. Tingkat penerimaannya : R = FC = 100.000.000 unit dengan penerimaannya akan lebih dari Rp 250. maka perusahaan tersebut harus dapat memproduksi sebanyak 20.TC.000 Q = 100.000. Q = 50. seluruh penerimaan sebesar Rp 250.R TR” TC” VC TC‟ 250.000.000 seluruh penerimaan sebesar Rp 100.000 = 250.000 Jadi agar perusahaan dapat menutup biaya produksinya. Tingkat penerimaanya sama dengan total biaya.000.000 Output yang diproduksi agar penerimaan dapat menutup seluruh biaya yang dikeluarkan : TR 5.000 x 50.000 + 3.000 Keadaan ‘Break-Even Analysis’ tersebut digambarkan dalam grafik sebagai berikut : TR FC.000 Kontribusi margin yaitu keuntungan per unit.000 dipergunakan untuk menutup 24 Q‟ Q* Q” Q TC .000 Q’ = 20.000 TR‟ FC 100.000.000. Q = 20.000 unit barang. yaitu‟ R = TC = 5. maka perusahaan tersebut harus dapat memproduksi sebanyak 50.000.000 = Rp 2.000.000 dipergunakan untuk menutup biaya tetapnya sebesar Rp 100.000 – Rp 3.000 dipergunakan untuk menutup total biaya yang juga sebesarRp 250.000 Q* = 50.000.000 0 Keterangan gambar : Q* Q‟ : Pada titik ini.000Q-3.000 Agar perusahaan dapat menikmati keuntungan. maka total penerimaan harus melebihi total biaya.VC.000 5.000 : Pada titik ini.

Co > 0 (1 – b ) : Marginal Propensity to Save. b = Konsumsi yang bergantung pada pendapatan. Fungsi tabungannya diperoleh dari : Y=C+S Y = (Co + By) + S Y – (Co + By) = S Y – Co – b S = S Y – Co – by = S Y(1 – b) – Co = S .000. Jika perusahaan berproduksi tepat pada Q*. b : 1–b Kesimpulan yang diperoleh: Marginal propensity to consume : Marginal propensity to save Karena Maka : B + (1 – b) = 1 MPC + MPS = 1 25 . 0 < (1 – b) < 1 .Co (1 – b) = Tabungan yang tidak tergantung pada besarnya pendapatan. jika ada. maka perusahaan tidak memperoleh keuntungan maupun tidak mengalami kerugian karena terjadi TR = TC Jika perusahaan sudah mampu berproduksi pada tingkat yang melebihi Q*. perusahaan Rugi Q” : Untuk Q” terlihat bahwa TR” > TC”. PENERAPAN DALAM TEORI EKONOMI MAKRO 10. = Konsumsi yang bergantung pada pendapatan.Co + (1 – b)Y = S atau S = . perusahaan untung! Jika perusahaan berproduksi pada tingkat yang masih lebih rendah dari Q*.biaya tetapnya sebesar Rp100. Fungsi Pendapat Nasional yang terdistribusi Menjadi fungsi Konsumsi dan Fungsi Tabungan. dinyatakan dengan fungsi : Y = C + S Y = Pendapatan Nasional (National Income) C = Konsumsi (Comsumption) S = Tabungan (Saving) Fungsi konsumsi dinyatakan dengan fungsi : C = Co + bY Co = Autonomous Consumption. 0 < b < 1 Keterangan : Co = Konsumsi yang tidak bergantung pada besarnya pendapatan. Pendapatan suatu negara terdistribusi karena digunakan untuk kebutuhan konsumsi dan sisanya. maka perusahaan akan mengalami kerugian karena masih terjadi TR < TC. maka perusahaan akan memperoleh keuntungan karena sudah terccapai TR > TC.000. ditabung.Co + (1-b)Y – Co : Autonomous Saving. Co > 0 B = Marginal Propensity to Consume. Sekaligus dapat terlihat pada gambar bahwa pada titik Q‟ terjadi TR‟ < TC‟.

Contoh Soal : Suatu negara diketahui memiliki konsumsi otonominya sebesar Rp 300.000.000. Marginal propensity to save-nya sebesar 0,45. Bangunlah fungsi konsumsinya ! Bangunlah fungsi tabungannya ! Berapa yang dikonsumsi jika pendapatan nasional 1 miliar? Berapakah yang ditabung jika pendapatan nasional 1 miliar? Pada pendapatan nasional berapakah dimana tidak ada yang ditabung? Gambarkan fungsi konsumsi, fungsi tabungan, dan fungsi pendapatan nasional pada sebuah grafik! Jawab : Fungsi konsumsinya: C = Co + bY C = 300.000.000 + (1 – 0,45)1.000.000.000 C = 300.000.000 + 0,55 Y Fungsi tabungannya : S = - 300.000.000 + 0,45 Y Jika pendapatan nasionalnya 1 miliar: Fungsi konsumsi: C = 300.000.000 + 0,55 x 1.000.000.000 C = 300.000.000 + 550.000.000 C = 850.000.000 Fungsi tabungan: S = - 300.000.000 + 0,45 x 1.000.000.000 S = - 300.000.000 + 450.000.000 S = 150.000.000 Jadi pada tingkat pendapatan nasional sebesar 1 miliar, maka Rp 850.000.000 dipergunakan untuk kebutuhan konsumsi dan Rp 150.000.000 ditabung. Tidak ada pendapatan yang dapat ditabung, artinya S = 0 Y=C+S Y=C+0 Y=C Tidak ada pendapatan yang ditabung maka berarti seluruh pendapatan habis dikonsumsi. Tingkat pendapatan yang akan seluruhnya habis dikonsumsi yaitu : Y Y – bY = Co + bY = Co

Y ( 1 – b ) = Co

Y
Y

1 (1 b)

x Co

1 x Co (1 0,55)

26

Y

1 x 300.000.000 (0,45)

Y = 2,22 x 300.000.000 Y = 666.000.000 Jadi pada tingkat pendapatan sebesar Rp 666.000.000 seluruh pendapatan dikonsumsi. Gambar Fungsi Konsumsi, Fungsi Tabungan, dan Fungsi Pendapatan Nasional diberikan bawah ini : C,S,Y Y=C Y=C+5 C = 300.000.000 + 0,55Y 300.000.000 S = - 300.000.000 + 0,45Y 0 S=0 Disaving - 300.000.000 11. Fungsi Pendapatan Nasional yang Dihitung Melalui Pendekatan Pengeluaran Untuk menghitung besarnya pendapatan nasional suatu negara, salah satu pendekatannya adalah dengan menghitung pengeluaran dari masing-masing sektor. Sektor-sektor yang mungkin terlibat dalam perhitungan tersebut ialah : 1. Sektor rumah tangga, di mana pengeluarannya dikenal sebagai konsumsi (C) 2. Sektor pengusaha, di mana pengeluarannya dikenal dengan investasi (I) 3. Sektor pemerintah, di mana pengeluarannya yaitu pengeluaran pemerintah (G) 4. Sektor perdagangan luar negeri, terdiri atas ekspor dan impor (X – M) Jika yang terlibat sektor rumah tangga dan pengusaha, maka model pendapatan nasionalnya ditulis : Y=C+I Jika yang terlibat sektor rumah tangga, pengusaha dan pemerintah, maka model pendapatan nasionalnya ditulis : Y=C+I+G Jika yang terlibat sektor rumah tangga, pengusaha, pemerintah, dan perdagangan luar negeri maka model pendapatan nasionalnya ditulis : Y=C+I+G+(X–M) Pendapatan Disposibel ( Yd ) Yang dimaksud dengan pendapatan disposibel yaitu pendapatan yang dapat langsung dikonsumsi. Jika ada ‘transfer payment’ ( R ), maka pendapatan diposibel merupakan penjumlahan antara pendapatan dengan ‘trasfer payment’ : Yd = Y + R Jadi ‘trasfer payment’ menambah pendapatan disposibel. Jika ada pajak (T), maka pendapatan baru menjadi pendapatan disposibel setelah dikurangi dengan pajak : Yd = Y + T Jadi pajak mengurangi pendapatan disposibel. Jika ada pajak dan ‘transfer payment’, maka haru dipertimbangkan keduanya : Yd = Y + R – T Saving Y

27

Jika tidak ada pajak maupun ‘trasfer payment’ maka pendapatan disposibel adalah merupakan pendapatan : Yd = Y Trasfer Payment’ ( R ) Yang dimaksud dengan ‘trasfer payment’ yaitu pembayaran yang dialihkan, misalnya tunjangan kesehatan, tunjangan hari raya, dan lain-lain. Pajak (T) Pajak terdiri atas dua jenis : 1. Pajak yang tidak bergantung pada besarnya pendapatan : To ( Autonomous Tax ), To > 0 2. Pajak yang bergantung pada besarnya pendapatan : tY ; t ( income tax rate ), 0 < T < 1 maka alternatif fungsi pajaknya : Jika tidak ada pendapatan : T = To Jika ada pendapatan Fungsi Konsumsi ( C ) Konsumsi terdiri atas dua jenis : 1. Konsumsi yang tidak bergantung pada besarnya pendapatan : Co (Autonomous Consumtion), Co >0 2. Konsumsi yang bergantung pada besarnya pendapatan : bY ; b (marginnal propensity to consume), 0 < b < 1 maka alternatif fungsi konsumsinya : Jika tidak ada pendapatan : C = Co Jika ada pendapatan dan ada pajak : C = b Y d atau maka: C = b (Y – T) atau C = Co + bYd, di mana Yd = Y – T C = Co + b (Y – T) : T = tY atau T = To + tY

Jika ada pendapatan dan ‘trasfer payment’ : C = b Yd atau C = Co + bYd, di mana Yd = Y + R Maka : C = b (Y – R) atau C = Co + b (Y + R) Jika ada pendapatan, pajak dan ‘trasfer payment’ : C = b Yd atau C = Co + bYd, dimana Yd = Y + R – T Maka : C = b (Y + R – T) atau C = Co + bYd atau Maka : C = Co + b Y atau Fungsi Investasi 1. Fungsi investasi merupakan variabel eksogen yang tidak dipengaruhi oleh tingkat suku bunga, maka ditulis : I = Io 2. Jika dipengaruhi oleh tingkat suku bunga ditulis : I = Io – i r, r : tingkat suku bunga I : proporsi I terhadap i Fungsi Pengeluaran Pemerintah Pengeluaran pemerintah terdiri atas : 1. Pengeluaran pemerintah yang tidak bergantung pada pendapatan : G (Government Expenditure), Go > 0 C = Co + b (Y + R – T) C = b Y, C=bY dimana Yd = Y Jika ada pendapatan tetapi tidak ada pajak dan ‘trasfer payment’ :

28

2. Pengeluaran pemerintah yang bergantung pada pendapatan : gY .8 Investasinya = 75 Pengeluaran pemerintah = 30. Ada berapa variabel eksogen. maka ditulis : X = Xo Fungsi Impor Impor terdiri atas : 1. Xo > 0 2. Impor yang bergantung pada pendapatan : mY. 0 < m < 1 maka alternatif impor : Jika tidak ada pendapatan : M = Mo Jika ada pendapatan : M = mY atau Variabel Eksogen Variabel eksogen adalah variabel yang nilainya tidak diperoleh dari perhitungan model. Contoh Soal : 1.8) 1 0. g (proporsi pengeluaran pemerintah terhadap pendapatan. Impor yang tidak bergantung pada pendapatan : M (Autonomous Import). Go = 30 Yang terlibat tiga sektor. b = 0. Go. variabel endogen dan parameternya ? Bagaimanakah model pendapatan nasionalnya serta angka penggandaannya ? Carilah semua nilai dari variabel endogenya ? Jawab : Diketahui Co = 135.3 . Io. seperti : Co. Parameter Diberi lambang dengan huruf kecil. Xo. 0 < g < 1 maka alternatif fungsi pengeluaran pemerintah : Jika tidak ada pendapatan : G = Go Jika ada pendapatan : G = gY atau G = Go + gY Fungsi Ekspor Fungsi Investasi merupakan variabel eksogen. Mo Variabel Endogen Variabel endogen adalah variabel yang nilainya diperoleh dari perhitungan model. Biasanya dilambangkan dengan simbol yang diberi tambahan „0‟. Marginal Propensity to Consume (MPC) = 0. Io = 75.2 5 29 Angka penggandaan untuk . yaitu : sektor rumah tangga. sektor pengusaha dan Pemerintah : Model Pendapatan Nasionalnya : Y=C+I+G di mana C = Co + b Y I = Io G = Go maka Y Y = (Co + b Y) + Io + Go = Co + b Y + Io + Go M = Mo + mY Y – b Y = Co + Io + Go Y(1 – b) = Co + Io + Go Y 1 (1 b) x (Co Io Go) 1 (1 b) 1 (1 0. To. Hitunglah pendapatan nasional suatu negara jika diketahui autonomous consumption : masyarakatnya sebesar 135.m (marginal propensity to import).

yaitu : ‘Marginal Propensity to Consume’ (b) Variabel endogennya ada dua. yaitu : 1.bY = Co – bTo + lo Y (1 – b) = Co – b To + lo 30 .8 Y C = 135 + 0. 2. Autonomous consumption suatu negara = 100. maka akan menyebabkanpeningkatan pendapatan nasional (Y) sebanyak lima kali.4 dari pendapatan disposibel. MPC = 1 – MPS .2) Y = 5 (240) = 1200 Menghitung variabel endogen konsumsi(C): C = Co + bY C = 135 + 0. Investasi nasionalnya = 40 dan autonomous tax = 50. Autonomous Consumption (Co) Investment (lo) Government Expenditure (Go) Parameternnya ada satu. 2.Model di atas Ini berarti bahwa jika terjadi peningkatan faktor – faktor ‘autonomous consumption’ (Co).8 (1200) C = 135 + 960 C = 1095 2. ataupun ‘government expenditure’ (Go) sebanyak satu. lo = 40 . yaitu: 1. ‘investment’ (lo). Carilah model pendapatan nasional ? Hitunglah angka penggandaannya ? Carilah semua nilai variabel endogennya ? Jawab : Diketahui : Co = 100 .8) 1 x (240) (0. Model pendapatan nasionalnya : Y =C+I dimana C = Co + b Yd Yd = Y – To I = lo Sehingga Y = Co + b (Y – To) + lo Y = Co + bY – b To + lo Y . To = 50 = 1 – 0. Variabel eksogennya ada tiga.6 Ada dua sektor yang terlibat yaitu : sektor rumah tangga dan sektor pengusaha.4 = 0. 3. dengan MPS-nya = 0. Pendapatan nasional (Y) Consumtion (C) Menghitung variabel endogen pendapatan nasional (y): Y Y Y 1 (1 b) x (Co Io Go) 1 x (135 75 30) (1 0.

9 Semua sektor terlibat sehingga model pendapatan nasionalnya . sedang pengeluaran di sektor pemerintah = 65. Xo = 80.9 Dinyatakan : Carilah model pendapatan nasional ? Hitung angka penggandaannya ? Carilah nilai variabel endogennya ? Jawab : Diketahui lo = 90. Transaksi ekspor terhitung = 80.19. Pengeluaran di sektor pengusaha = 90. Go = 65. Konsumsi masyarakatnya terlihat dari fungsi sebagai berikut : C = Co + b Y di mana autonomous consumption = 70 dan MPC = 0. Co = 70.6) (225) C = 100 + 135 C = 235 3.6 (275 – 50) C = 100 + (0.19.6 (Y – 50) C = 100 + 0.4 = 2.Y Angka penggandaan : 1 = = 1 1 (Co – b To + lo) = 1 0.6)50 40) (1 0. b = 0.4) Y = 2.19 Y sehingga Y = C + l + G + (X – M) Y = (Co + bY) + lo + Go + (Xo – Mo + mY) Y = Co + bY + lo + Go + Xo + Mo + mY 31 . m = 0. Mo = 40. Transaksi impor terhitung = 40 dengan marginal propensity to import = 0.5 (1 – b) (1 – b) (1 – 0.5 (110) Y = 275 Jadi pendapatan nasionalnya sebesar 275 Menghitung variabel endogen konsumsi ( C ) : C = Co + b Yd C = Co + b (Y – To) C = 100 + 0.6) Menghitung variabel endogen pendapatan nasional (Y) : Y Y Y 1 (1 b) x (Co bTo Io) 1 x (100 (0.6) 1 x (100 30 40) (0. Y = C + I + G + (X – M) di mana C= Co + b Y C = 70 + 0.9 Y I = lo = 90 G = Go = 65 X = Xo = 80 M = Mo + mY = 40 + 0.

29) Y = 3.6068 Jadi impornya = 213.72) M = 213.91) 1 0.9 0.348 Jadi konsumsinya = 892.9 (913.448 ( 265 ) Y = 913.19) 1 (265) (0.72 Jadi pendapatan nasionalnya = 913.Y – bY + mY = Co + lo + Go + Xo – Mo Y (1 – b + m) = Co + lo + Go + Xo – Mo Y 1 (Co Io Go (1 b m) Xo Mo) Angka Penggandaannya 1 (1 b m) 1 (1 0.448 Menghitung variabel endogen pendapatan nasional (Y) : Y Y Y 1 (Co Io Go (1 b m) Xo Mo) 1 (70 90 65 80 40) (1 0.72 Menghitung variabel endogen konsumsi ( C ) : C = Co + bY C = 70 + 0.6068 32 .29 3.72) C = 892.19 (913.348 Menghitung variabel endogen impor ( M ) : M = Mo + mY M = 40 + 0.9 0.

Q R = 3Q2+27Q Fungsi marginal pendapatan (Marginal Revenue) MR = dR/dQ = 6Q + 27 33 . serta terangkan artinya. Mepelajari Penerapan Diferensial Parsial. Optimasi (Nilai Maksimum dan Minimum) III. Laju Pertumbuhan II. seperti maksimasi pendapatan atau miniasi biaya. Laju Pertumbuhan (Fungsi Marginal) Fungsi Marginal merupakan turunan pertama dari fungsi-fungsi total yang merupakan fungsi ekonomi.BAGIAN 3 KONSEP DASAR TEORI DIFERENSIAL DAN PENERAPANNYA DALAM BISNIS DAN EKONOMI Tujuan Umum Mempelajari perubahan variabel terikat perubahan variabel bebasnya. Juga dipelajari perbandingan antara perubahan variabel terikat tersebut dengan perubahan variabel bebasnya yang disebut “kuosien Difference”. Fungsi permintan diberikan P = 3Q+27. dan Diferensial berantai. Fungsi Marginal menggambarkan laju pertumbuhan suatu variabel terikat akibat perubahan variabel bebasnya. menghitung elastisitas dan enghitung optiasi. Mempelajari Penerapan Diferensial Berantai seperti dalam fungsi produksi menghitung Marginal Physical Product of Capital. Elastis titik: Analisis Fungsi dan Grafis. Jawab : fungsi total pendapatan (Total Revenue) R = P. di mana perubahan variabel bebasnya erupakan perubahan yang sangat kecil sekali. Contoh soal : Marginal Pendapatan (Marginal Revenue) 1. PERAPAN DALAM BISNIS DAN EKONOMI Penerapan Teori Diferensial Biasa Teori Diferensial biasa diterapkan dalam berbagai masalah diantaranya untuk mencari : I. Diferensial Parsial. Marginal Physical Product of Labor. maka y berkurang atau sebaliknya jika x berkurang 1 unit maka y akan bertambah. yang artinya jika x bertambah 1 unit. Mempelajari penerapan Diferensial Biasa seperti mencari laju pertumbuhan. Lebih jauh lagi : Jika fungsi marginal itu hasilnya positif. di mana P: Price (harga) dan Q: Output. Menghitung Optimasi untuk dua variabel serta mmencari Marginal Rate of Technical Substitusi. seperti enghitung Price Elasticity of Deand.Bagaimanakah fungsi marginal pendapatannya (Marginal Revenue) dan berapa nilai marginal pendapatannya jika perusahaan memproduksi 10 output. PENERAPAN TEORI DIFERENSIAL DALAM BISNIS DAN EKONOMI B. artinya jika x bertambah 1 unit maka y akan bertambah pula atau sebaliknya jika x berkurang 1 unit maka y akan berkurang pula. 1.Q R = (3Q+27). fungsi arjinal. maka dikatakan perubahannya tidak searah. Secara umum jika diberikan fungsi total sebagai berikut: y = f (x). Juga dipelajari kaidah-kaidah Diferensial serta jenis-jenis diferensial yang terdiri atas Diferensial Biasa. arginal Revenue Product of Capital dan Marginal Revenue Product of Labor. dikatakan perubahan searah. maka diperolehlah fungsi Marginalnya dy/dx : laju perubahan y akibat perubahan x sebanyak 1 unit. 2. 3. Jika fungsi marginal hasilnya negatif. dan Income Elasticity of Demand. Cross Elasticity of Demand. Tutjuan Khusus 1.

dimana harus diubah dahulu menjadi P = 6/5 –1/5Q Barulah mencari fungsi total pendapatan (Total Revenue): R = P.2) = 60 e 34 .sebaliknya untuk setiap penurunan penjualan Q yang dijual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya pengurangan pendapatan sebesar 4/5. 4.e Q/2 = 30.serta terangkan artinya.8(7) = 80 – 56 = 24 Artinya: untuk setiap peningkatan output Q yang di jual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya tambahan pendapatan sebesar 24.Q R=(30.Jika perusahan berproduksi pada tingkat output Q = 10 .2/5 = 4/5 artinya :untuk setiap peningkatan penjualan Q yang dijual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya tambahan pendapatan sebesar 4/5. sebaliknya untuk setiap penurunan 3.e Q/2 Maka MR= dR/dQ = U‟ V+U V‟ = 30. maka MR = dR/dQ = 6Q + 27 = 6(10) + 27 = 60 +27 = 87 Artinya : untuk setiap peningkatan penjualan Q yang dijual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya tambahan pendapatan sebesar 87. e Q/2 Bagaimanakah fungsi marginal pendapatannya (Marginal Revenue) dan berapakah nilai marginal pendapatannya jika perusahaan memproduksi 2 penjualan. Jawab: Karena fungsi permintaanya Q = 6 . Sehingga U‟=30 Dan V = e Q/2 Sehingga V‟=1/2. serta terangkan artinya. Q R = (80 – 4 Q) Q R = 80 Q – 4 Q2 Fungsi marginal pendapatan (Marginal Revenue) : MR = dR/dQ = 80 . sebaliknya untuk setiap penurunan penjualan Q yang dijual sebanyak 1 unit akan banyak menyebabkan adanya pengurangan pendapatan sebesar 87 2.2/5.2/5Q Jika perusahaan berproduksi pada tingkat output Q = 1.5P. e Q/2 = e Q/2(30+15 Q) Jika perusahaan berproduksi pada tingkat output Q = 2 Maka MR = dR/dQ = e Q/2 ( 30+15 Q) = e 2/2 ( 30+15. Jawab : Funsi total pendapatan (Total Revenue) : R=AR. Fungsi Permintaan diberikan Q = 6 .Fungsi pendapatan rata-rata (Average Revenue) di berikan AR = 30.e Q/2)Q R=30Q. dimana P: Price (harga) dan Q: Penjualan. Fungsi Pendapatan Rata-rata (Average Revenue) diberikan AR = 80 – 4 Q Bagaimanakah fungsi marginal pendapatannya (Marginal Revenue) dan berapakah nilai marginal pendapatannya jika perusahaan memproduksi 7 output. maka MR = dR/dQ = 80 . serta terangkan artinya. maka MR= dR/dQ = 6/5 .Q R = (6/5 – 1/5Q) Q R = 6/5Q-1/5Q2 Fungsi marginal pendapatan (Marginal Revenue): MR = dR/dQ = 6/5 .5P.8 Q Jika perusahaan memproduksi pada tingkat output Q = 7.e Q/2+15 Q. Jawab: Fungsi total pendapatan ( Total Revenue) : R = AR .e Q/2+30 Q.e Q/2 Fungsi marginal pendapatan (Marginal Revenue) : Dengan mengambil U = 30 Q.(1) = 6/5 . sebaliknya untuk setiap penurunan penjualan Q yang di jual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya pengurangan pendapatan sebesar 24. Bagaimanakah Fungsi marginal pendapatanya (Marginal Revenue) dan berapakah nilai marginal pendapatanya jika perusahaan memproduksi baru 1 penjualan .1/2.

Berapakah x yang akan memberikan y optimum? Jika itu telah terjawab. Jawab: Fungsi total pendapatan: P = . Berapakah y yang optimum tersebut? Untuk menjawab pertanyaan pertama. langkah-langkahnya dijelaskan dibawah ini: Untuk fungsi yang mengandung satu variabel y= f(x) Maksimum Langkah I Langkah II Y‟ = 0 Y” < 0 Minimum Y‟ = 0 Y” > 0 Diperoleh titik X Menjamin Nilainya Optimum (Maksimum atau Minimum) Contoh: memaksimasi total pendapatan (total revenue) 1.2Q2 + 16Q Langkah pertama mencari turunan pertama fungsi total pendapatan kemudian dibuat = 0 R‟ = .2Q + 16 R = P.8(2) + 10 = 12 – 16 + 10 = 6 Artinya: Untuk setiap peningkatan penjualan Q yang dijual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya tambahan biaya sebesar 6.2(4)2 + 16(4) R = 32 35 .8Q + 10 Jika perusahaan berproduksi pada tingkat penjualan Q = 2. permasalahannya: i.4 < 0 sehingga diperoleh nilai maksimum Jadi output yang harus diproduksi dan dijual agar diperoleh total pendapatan maksimum yaitu sebanyak 4. ada dua pertanyaan yang senantiasa diajukan. sebaliknya untuk setiap penurunan penjualan Q yang di jual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya pengurangan pendapatan sebesar 60 e. maka pertanyaan selanjutnya baru bisa dijawab yaitu: ii. Fungsi Total Biaya suatu perusahaan dinyatakan sebagai berikut: C = Q3 .2Q2 + 16Q R = .4 Ternyata R” = .2Q + 16. maka lakukanlah langkah kedua yaitu mencari turunan kedua fungsi total pendapatan: R” = .4Q2 + 10Q + 75 Bagaimanakah fungsi marginal biayanya (Marginal cost) dan berapakah nilai marginal biaya tersebut jika perusahaan memproduksi 2 penjualan.8Q + 10 = 3(2)2 . tentukan berapa output yang harus diproduksi dan dijual agar diperoleh total pendapatan maksimum. maka MC = C‟= 3Q2 .4Q + 16 = 0 4Q = 16 Q=4 Agar dijamin bahwa jika menjual sebanyak Q = 4 maka akan diperoleh total pendapatan maksimum. serta terangkan arti.Q = (. Total pendapatan maksimumnya: R = . Harga jual barang P = . Jawab: Fungsi total biaya (total biaya): C = Q3 . Contoh soal: Marginal Biaya (Marginal Cost) 5.4Q2 + 10Q + 75 Fungsi Marginal Biaya (marginal cost): C‟ = 3Q2 .Artinya : untuk setiap peningkatan penjualan Q yang di jual 1 unit akan menyebabkan adanya tambahan pendapatan sebesar 60 e.2Q + 16) Q R = . Optimasi Satu Variabel (Nilai Ekstrim Maksimum atau Minimum) Dalam masalah optimasi. Misalkan untuk fungsi dengan satu variabel y= f (x). sebaliknya untuk setiap penurunan penjualan Q yang dijual sebanyak 1 unit akan menyebabkan adanya pengurangan biaya sebesar 6.

Berapakah marginal pendapatan maksimum tersebut? Jawab: Fungsi permintaan: P = 16 .1000Q + 85000 C‟= 10Q – 1000 = 0 10Q = 1000 Q = 100 C” = 10 > 0 Jadi total biaya minimum akan tercapai jika berproduksi sebanyak 100 unit. Biaya total dinyatakan dengan C(Cost) = 5Q2 . Marginal pendapatan maksimumnya: MR = 16Q .Jadi ketika menjual produk sebanyak 4.180Q + 2800 = 3(30)2 .2Q.2Q Fungsi total pendapatan: R = P.180(30) + 2800 = 100 Jadi marginal biaya minimum akan tercapai jika berproduksi sebanyak 30 unit:100 2.4 < 0 Jadi output yang harus diproduksi dan dijual agar diperoleh marginal pendapatan maksimum sebanyak 4. tentukan berapa output yang harus diproduksi dan dijual agar diperoleh marginal pendapatan maksimum.180Q + 2800 Turunan pertama: MC‟= 6Q – 180 = 0 6Q = 180 Q = 30 Turunan kedua: MR” = 6 > 0 Jadi output yang harus diproduksi agar diperoleh marginal biaya minimum sebanyak 30. Marginal biaya minimum: MC = 3Q2 .Q = (16 .2Q2 Turunan pertama: MR‟ = 16 .1000Q + 85000 C = 5(100)2 . Biaya total dinyatakan dengan C (Cost) = Q3 -90Q2 + 2800Q + 56500 Pada tingkat produksi berapakah akan menyebabkan marginal biaya minimum? Berapakah marginal biaya minimum tersebut? Jawab: Fungsi total biaya: C = Q3 .2Q2 = 16(4) . Total biaya minimumnya sebesar: C = 5Q2 .4Q = 0 16 = 4Q Q=4 Turunan kedua: MR” = .1000Q + 85000 Pada tingkat produksi berapakah akan menyebabkan total biaya minimum? Berapakah total biaya minimum tersebut? Jawab: C = 5Q2 .2(4)2 = 48 contoh soal: Meminimumkan Total Biaya (Total Cost) 3.1000(100) + 85000 C = 35000 Jadi total biaya minimumnya sebesar: 35000 Contoh soal: Meminimasi Marginal Biaya (Marginal Cost) 4.2Q) Q = 16Q – 2Q2 Fungsi marginal pendapatan: MR = 16Q . maka akan diperoleh total pendapatan maksimum sebesar 32. 36 . Contoh soal: Memaksimasi Marginal Pendapatan (marginal revenue) Harga jual barang P = 16 .90Q2 + 2800Q + 56500 Fungsi marginal biaya: MC = 3Q2 .

59Q2 + 1315Q + 2000) Laba = .6(35) + 114 = .2Q2 Dan C = 3Q Berapakah tarif pajak yang sebaiknya di kenakan pemerintah kepada pengusaha agar pemerintah memperoleh total pajak maksimum ? Berapakah total pajak maksimum yang di peroleh ? Jawab: Dari sudut pandang pengusaha: Laba = R – C – t Q = 15 Q – 2 Q2 – 3Q – t Q = -2 Q2 + 12Q – t Q Turunan pertama: Laba‟ = . Total pajak yang akan di terima perintah : T = t.315Q .2000 Turunan pertama: Laba = -3Q2 + 114Q .2Q Dan C = Q3 .2Q).59Q2 +1315Q + 2000 Fungsi laba: Laba = Pendapatan – biaya Laba = (1000Q .59Q2 + 1315Q + 2000 Berapakah produk yang harus di produksi dan di jual sehingga dapat di peroleh laba yang maksimum ? Berapakah laba maksimum tersebut ? Jawab: Fungsi pendapatan: R = P.2Q2) . 6. Dari sudut pandang pengusaha setelah ada pengenaan pajak dari pemerintah: Laba = pendapatan – (biaya + pajak) = R – (C+T). maka turunan ke dua = .2000 = .Q R = (1000 . Laba maksimum nya sebesar : Laba = . misalnya pajak penjualan yang di kenakan pemerintah terhadap setiap unit yang di produksi dan di jual oleh pengusaha.6Q + 114 Untuk Q1 = 3.Q3 + 57Q2 .315(35) . Total pendapatan dan total biaya di berikan sebagai berikut : R = 15Q .315 = Q2 . Contoh soal : Memaksimasi laba / keuntungan / provit Di berikan fungsi permintaan dan fungsi biaya masing-masing sebagai berikut: P = 1000 .5. maka turunan ke dua = . Untuk itu pemerintah harus menentukan berapa tarif pajak yang akan di berlakukannya sehingga akan di peroleh pajak maksimum.38Q + 105 = (Q . R: Pendapatan =R–C–T C: Biaya =R–C–tQ T: Pajak Q :Tingkat output yang di produksi dan di jual oleh pengusaha. Q* di mana t: tarif pajak yang di kenakan pemerintah dan Q*= Jumlah output yang di produksi dan di jual pengusaha sehingga di peroleh laba maksimum.35) = 0 Q1 = 3 Dan Q2 = 35 Turunan kedua: Laba” = .4Q + 12 – t = 0 12 – t = 2Q 37 .2000 = 13925 Jadi dengan memproduksi dan menjual output sebanyak 35 akan di peroleh laba maksimum sebanyak : 13925 Contoh soal: Memaksimasi Penerimaan Pajak Salah satu sumber penerimaan pemerintah adalah dengan penarikan pajak.(35)3 + 57(35)2 . maka labanya akan minimum. yang telah mempertimbangkan biaya pajak.3) (Q . Untuk Q2 = 35.315Q .6(3) + 114 = 96 > 0 Berarti jika di produksi output sebanyak 3.Q3 + 57Q2 . maka labanya akan maksimum. yang memberikan laba maksimum setelah mempertimbangkan adanya pajak penjualan dan pemerintah.Q R = 1000 Q . Pemerintah berupaya untuk memaksimumkan penerimaan pajak tersebut.2 Q2 Fungsi biaya: C = Q3 .96 < 0 Berarti jika di produksi output sebanyak 35.(Q3 .

4 < 0 Jadi dengan memproduksi sebanyak Q* = 3 – ¼ t.5 Q2 – (100 Q – 4 Q2) – t Q = 360 Q – 10.t = 12 . Q* = 1.5 = 9 Jadi total pajak yang yang di terima pemerintah sebesar: 9 Contoh soal: Fungsi penerimaan dan fungsi biaya suatu produk di nyatakan sebagai berikut: R = 360 Q – 10. 38 .t 4 Q* = b – ¼ t Turunan ke dua: Laba = .2Q Q* = 12 . pengusaha akan memperoleh laba maksimum.5 = 1. berapakah tarif pajak yang harus di kenakan pemerintah kepada perusahaan tersebut? Berapakah total pajak maksimum yang di dapat pemerintah? Berapakah laba maksimum yang di terima perusahaan setelah di kenakan pajak ? Jawab: Dari sudut pandang pengusaha: Laba = R – C – t Q = 360 Q – 10.5 Q2 Dan C = 100 Q – 4 Q2 Berapakah produk harus di buat dan di jual perusahaan agar di peroleh laba maksimum? Berapakah laba maksimum tersebut? Jika pemerintah ingin memperoleh pajak penjualan yang maksimum.5 Q2 – t Q Turunan pertama: Laba‟ = 260 – 13 Q – t = 0 260 – t = 13 Q Q = 260 – t 13 Q*= 20 – 1 t 13 Turunan ke dua : Laba‟‟ = . pengusaha akan memperoleh laba maksimum.2/13 Jadi taruf pajak yang memberikan total pajak maksimum sebesar : 130 Karena Q2 = 20 – 1 t 13 = 20 – 1 (130) 13 = 20 – 10 = 10 7.13 < 0 Jadi dengan memproduksi sebanyak Q* = 20 – 1/ 13 t. Dari sudut pandang pemerintah: Pajak: T =t (3 – ¼ t) =3t – 1/4 t2 Turunan pertama: T1 = 3 – ½ t = 0 T=6 Turunan ke dua : T” = -½ Jadi tarif pajak yang memberikan total pajak maksimum sebesar: 6 Karena Q* = 3 ¼ t = 3 – 6/4 (6) = 3 – 1.5 Q2 – 100 Q + 4 Q2 – t Q = 260 Q – 6.5 Maka total pajak maksimum: T = t . Dari sudut pandang pemerintah: Pajak: T = t Q* = t (20 – 1/13 t) = 20 t – 1/3 t 2 Turunan pertama : T‟ = 20 – 2/13 t = 0 20 = 2/13 t t = 130 Turunan ke dua : T‟‟ = .

2. untuk kemudian akan sangat sulit jika berusaha untuk mencoba mengembalikan pangsa pasarnya kembali karena berhubungan dengan kepercayaan pelanggan serta di butuhkan investasi yang sangat besar misalkan untuk biaya pemasarannya (periklanannya) Biaya. Hal tersebut kemudian berdampak dapat mengakibatkan perusahaan yang bersangkutan kehilangan pelanggan. Jumlah kebutuhan barang. biaya pemesanan tidak bergantung pada jumlah barang. biaya yang di timbulkan akibat kekurangan persediaan sehingga menghambat proses produksi atau pemasaran. sub-periode kedatangan panjangnya tetap. tidak terjadi kekurangan persediaan sehingga tidak ada biaya yang di timbulkan akibat kekurangan persediaan.biaya yang ada hubungan dengan masalah persediaan. dalam suatu periode waktu tertentu di ketahui jumlahnya tetap dari tiap-tiap periode waktu. kehilangan pangsa pasarnya. sebaliknya jika persediaan bahan mentah di perhitungkan sedikit saja. Laba maksimum yang di terima oleh pemerintah besarnya: Laba = 260 Q – 6. Q* = 130 . 3. maka pada akhirnya para konsumen akan mencoba untuk menutup kebutuhannya dengan cara melirik produk dari pesaing.Maka Total pajak maksimum: T = t . 3. Akan tetapi. biaya pemesanan. 2. Jika kelangkaan barang tersebut terjadi berlarut-larut.5(10)2 – (130)(10) = 2600 – 65 – 1300 = 1235 Jadi pemerintah menerima laba maksimum sebesar 1235 Contoh soal : Meminimasi Total Biaya Persediaan Dalam hal persediaan. 4. manajemen perusahaan senantiasa di perhadapkan kepada permasalahan yaitu jika jumlah persediaan bahan mentah maupun persediaan barang jadi di perhitungkan banyak. yang berarti jumlah pemesanan barang. Perusahaan tersebut. 10 = 1300 Jadi total pajak yang di terima pemerintah sebesar 1300. Model pengendalian persediaan dengan kedatangan berkala dalam model ini di asumsikan bahwa : 1. Demikian pula jika persediaan barang jadi di perhitungkan sedikit maka akanmenimbulkan keluhan pada konsumen akibat kelangkaan barang (permasalahan dalam pemasaran). biaya penyimpanan. Pola kedatangan barang persediaan digambarkan seperti gambar berikut ini: Persediaan ( Q ) Q/2 Jumlah Rata-rata Persediaan Waktu D: kebutuhan jumlah barang per periode waktu yang kemudian dibagi sama besar menjadi beberapa kali pemesanan Q: jumlah pemesanan per sub-periode waktu C: biaya total persediaan C: biaya pemesanan setiap kali memesan 39 . hal itu berarti menimbulkan biaya penyimpanan. Model yang akan di bahas dalam buku ini yaitu: model pengendalian persediaan dengan kedatangan berkala (batch arrival model). di antaranya: 1. maka akan ada resiko yaitu menimbulkan hambatan dalam proses produksi.5Q2 – t Q = 260 (10) – 6.

C1.Q1 .100.C1 Q2 –D. Total biaya penyimpanan: Rata-rata sepanjang periode waktu terdapat Q/2 persediaan sehingga biaya total penyimpanan per periode waktu: (Q/2) C2 Jadi total biaya persediaan = total biaya pemesanan + total biaya penyimpanan C = Q C1 + Q C2 D 2 Yang menjadi permasalahan adalah berapakah jumlah unit atau barang yang harus dipesan agar dapat diperoleh total biaya persediaan yang minimum? Untuk menjawab permasalahan tersebut. Biaya pemesanan setiap kali memesan sebesar Rp. C2 2 Turunan pertama: C′ = D. Untuk menjawab pertanyaan tersebut. 2 D.C1 > 0 menjamin biaya persediaan minimum.C1 + ½ C2 =0 Q2 ½ C2 Q2 Q = = –D. 2500 per-pemesanan.Q-2 + ½ C2 =0 –D.C 1 C2 Turunan kedua: C” = 2D. Jumlah yang harus dipesan: Q Q = Q = 50 40 = 8. maka akan dihitung total biaya pemesanan dan total biaya penyimpanan sebagai berikut: Total biaya pemesanan: Misalakan dibutuhkan 100 kg yang akan dipesan sebanyak 25 kg.2500 200 . 2500 C2: Biaya penyimpanan: Rp.C2: biaya penyimpanan per-periode waktu Masalahnya adalah berapa unit barang yang harus dipesan setiap kali pemesanan (Q) agar biaya total persediaan (C) minimum. Berapakah kg yang harus dipesan setiap kali memesan? Berapa kali pemesanan harus dilakukan dalam satu bulan? Berapakah total biaya persediaan minimumnya? Jawab: Jika diketahui bahwa: D : Jumlah total pemesanan per-bulan:100 kg C1: Biaya pemesanan: Rp. 50 per-minggu.(-1) . maka D = 100 dan Q = 25 sehingga setiap periode waktu akan ada kedatangan akibat pemesanan sebanyak D/Q dengan biaya total pemesanan: (D/Q) C1. sedangkan biaya penyimpanannya Rp. C1.C 1 C2 2.C1 ½ C2 = 2 D. perlu dicari: jumlah produk yang harus dipesan setiap kali pemesanan sehingga diperoleh total biaya persediaan yang minimum: Q Q Total biaya persediaan: C = C1 + C2 D 2 Q = D. Q3 Contoh soal: seorang penjaja kue kering memerlukan tepung terigu sebanyak 100 kg setiap bulan. 50 per-minggu = Rp 200 per-bulan.

5(12) = 8 – 6 = 2 Jadi EqdP3 =12 = dQd/dP3 = -0.5 = -0.000 Jadi total biaya persediaan minimum : Rp 10. Misal: y = f(x).000 Elastisitas Titik: Analisis Fungsi dan Grafis.0. Elastisitas mengukur derajat kepekaan variabel terikat akibat adanya perubahan variabel bebasnya. dan P3 = 12 Jawab: Untuk titik P1 = 4 maka Qd = 8 .5 P. 4 = -1 Qd / P1 6/4 6 3 Besar elastisitas permintaan dititik P1 = 4 adalah -1/3 1 / 3 =1/3 <1 (INELASTIS) Jenis elastisitas permintaan dititik P1 = 4 adalah E Untuk titik P2 = 8 maka Qd = 8 .12 = -3 Qd/P3 2/12 2 Besar elastisitas permintaan dititik P3 = 12 adalah -3 3 E = -3 = 3 > 1 (ELASTIS) Jenis elastisitas permintaan dititik P3 = 12 adalah E Analisa Grafis: Elastisitas permintaan Contoh soal: 4.5(8) = 8 – 4 = 4 Jadi EQDP2 = 8 = dQd/dP2 = -0.0. jika diketahui fungsinya. Grafik fungsinya: 1 4 0 4 Qd EQDP1=4 = = = 3 16 4 12 8 8 0 EQDP2=8 = = =1 8 16 8 12 EQDP3=12 = 12 0 = =3 4 16 12 P 41 .0. Di tulis Eyx.5.Jadi setiap kali memesan akan dipesan sebanyak 50 kg.8 = -1 Qd/P1 4/8 4 Besar elastisitas permintaan dititik P2 = 8 adalah -1 1 = 1 (UNITARY ELASTIS) Jenis elastisitas permintaan dititik P2 = 8 adalah E Untuk titik P3 = 12 maka Qd = 8 .5 = -0. Analisis fungsi Untuk menghitung besarnya elastisitas terhadap x.5 P Hitunglah besar dan jenis elastisitas pada titik P1 = 4.5. Untuk contoh soal di atas di mana fungsi permintaan: Qd = 8 – 0.0.5 . Dalam waktu satu bulan dilakukan pemesanan sebanyak: D/Q = 100/50 =2 kali pemesanan. Total biaya persediaan: C = Q C1 + Q C2 D 2 50 100 C= 2500 + 200 2 50 C = 10. maka seberapa jauh perubahan y akibat perubahab x di sebut „elastisitas y terhadap x‟. Diberikan fungsi permintaan sebagai berikut: Qd = 8 . digunakan Rumus: Eyx = y/y atau Eyx = y/ x x/x y/x untuk perubahan yang kecil rumusnya menjadi : Eyx=dy/dx y/x contoh soal: Elastisitas Permintaan 1.5(4) = 8 – 2 = 6 Jadi EQDP1 = 4 = dQd/dP1= -0.5 = -0. P2 = 8.

Untuk contoh soal di atas di mana fungsi permintaan: Qd = 6 + 2P. 4 = 8 = 4 Qs/P1 14/4 14 14 7 Besar elastisitas permintaan di titik P1 = 4 adalah 7 Jenis elastisitas permintaan di titik P1 = 4 adalah E = +4/14 = 7 < 1 (INELASTIS) Untuk titik P2 = 8 maka Qs = + 2 (8) = 6 + 16 = 22 Jadi E QdP2 = 8 = dQs/Dp2 = + 2 = + 2 . sebaliknya # untuk setiap pengurangan tenaga kerja sebanyak 1 orang akan menyebabkan pengurangan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 4 unit 42 . # untuk setiap penambahan tenaga kerja sebanyak 1 orang akan menyebabkan penambahan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 4 unit. Marginal Revenue Product Of Capital (MRP C)* Contoh Soal: Marginal Revanue Product Of Labour (MRPL) 1. Jika jumlah tenaga kerja yang ada 10 orang:  Berapakah „Marginal Physical Product Of Labour (MRP L)’ Dan jelaskan artinya!  Berapakah „Marginal Revenue Product Of Labour (MRP L)’ Dan jelaskan artinya! Jawab: Fungsi Produksi: Q = 4 L Sehingga dQ Marginal Physical product of labour (MRP L): =4 dL Artinya: Pada tingkat tenaga kerja berjumlah 10 orang.Contoh soal: Elastisitas penawaran 5.Q2 = 140 Q + 5 DI Mana Q adalah produksi. Fungsi pendapatan dari suatu pabrik di berikan sebagai berikut: R = . 8 = 16 = 8 Qs/P2 22/8 22 22 11 Besar elastisitas permintaan di titik P2 = 8 adalah 8/11 Jenis elastisitas permintaan di titik P2 = 8 adalah E = 8/11 < 1 (INELASTIS) Untuk titik P3 = 12 maka Qs = 6 + 2 (12) = 6 + 24 = 30 Jadi E QdP3 = 12 = dQs/dP3 = + 2 = + 2 . Di berikan fungsi penawaran sebagai berikut: Qs = 6 + 2P Hitunglah besar dan jenis elastisitas pada titik P1 = 4. Dan P3 = 12 Jawab: Untuk titik P1 = 4 Maka Qs = 6 + 2(4) = 6 + 8 = 14 Jadi E QdP1 = 4 = dQs/Dp1= + 2 = + 2 . 12 = 24 = 4 Qs/P3 30/12 30 30 5 Besar elastisitas permintaan di titik P3 = 12 adalah = 4/5 Jenis elastisitas permintaan di titik P3 = 12 adalah E = + 4/5 = 4/5 < 1 (INELASTIS) Analisis Grafis: Elastisitas Penawaran Contoh soal : 6. sedangkan fungsi produksinya Q = 4 L. Marginal Revenue Product Of Labour (MRP L)* II. P2 = 8. grafik fungsinya: QS Qd= 6 + 2P 14 6 8 4 EQDP1=4 = = = 30 14 0 14 7 22 16 22 6 8 EQDP2=8 = = = 22 22 0 11 14 24 4 6 EQDP3=12 = 30 6 = = 30 5 30 0 4 8 12 P Penerapan Teori Diferensial Berantai Teori diferensial berantai di terapkan dalam masalah produksi di antaranya untuk mencari: I.

3000Q2 + 410000Q + 7 di mana Q adalah produksi.Q2 + 140Q + 5 dR = . Fungsi pendapatan: R = -3000Q2 + 410000Q + 7 maka dR Marginal revenue: = -6000Q + 410000 dQ Mencari Marginal Revenue Product of Capital (MRPC): dR dR dQ = . # untuk setiap penambahan kapital sebanyak 1 akan menyebabkan penambahan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 3 unit. sedangkan fungsi produksinya Q = 3C.32 L + 560 Untuk tenaga kerja sebanyak 10 orang. dC dQ dC dR = (-6000Q + 410000) (3) dC dR = -18000Q + 1230000000 dC Jadi marginal revenue product of capital (MRP L) = -18000Q+1230000000 = -18000(3C)+1230000000 = -54000C+1230000000 Untuk kapital sebanyak 1000 maka MRPL = -54000C+1230000000 = -54000(1000)+1230000000 43 .2Q + 140 dQ Mencari Marginal Revenue Product of Labour (MRP L): dR dR dQ = . sebaliknya # untuk setiap pengurangan kapital sebanyak 1 akan menyebabkan pengurangan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 3 unit. Fungsi pendapatan dari suatu pabrik diberikan sebagai berikut: R = . sebaliknya # untuk setiap pengurangan tenaga kerja sebanyak 1 orang akan menyebabkan pengurangan pendapatan sebanyak 240 contoh soal: marginal revenue product of capital (MRPC) 2. maka MRPL = -32(10) + 560 = -320 + 560 = 240 Artinya: Pada tingkat tenaga kerja berjumlah 10 orang. # untuk setiap penambahan tenaga kerja sebanyak 1 orang akan menyebabkan penambahan pendapatan sebanyak 240.Fungsi pendapatan: ´Marginal Revenue: R = .8Q + 560 =. Jika kapital yang dimiliki 1000: Berapakah „Marginal Physical Product of Capital (MPPC)´ dan jelaskan artinya! Berapakah Marginal Revenue Product of Capital (MRPC)´ dan jelaskan artinya! Jawab: Fungsi produksi: Q = 3C sehingga Marginal Physical Product of capital (MRPC): Dq = 3dC Artinya: Pada tingkat kapital sebanyak 1000.8 (4L) + 560 = . dL dQ dL dR = (-2Q + 140) (4) dL dR = -8Q + 560 dL Jadi Marginal Revenue Product of Labour (MRP L) = .

maka hubungan antar komoditi adalah substitusi. yaitu: kepekaan fungsi permintaan barang 1 (Qd1). fungsi permintaannya masing-masing dapat di tuliskan sebagai berikut: Qd1 = f (P1. dan pendapatan (Y). Demikian pula dengan fungsi permintaan barang 2 di pengaruhi oleh harga barangnya sendiri (P2). harga barang lain (P1). Misalnya ada dua barang yaitu barang 1 dan barang 2.P2. sedangkan # jika hasil dari perhitungan cross elasticity of demand negatif. Price elastisity of demand Mencari kepekaan fungsi permintaan terhadap perubahan harga barangnya sendiri. akibat perubahan harga barangnya (P1) maupun kepekaan fungsi permintaan barang 2 (Qd2) akibat perubahan harga barangnya (P2): Jadi E QdP1 = dQd 1 / dP1 dQd 2 / dp 2 dan E QdP2 = Qd 1 / p1 Qd 2 / p 2 Cross Elasticity of demand Mencari kepekaan fungsi permintaan terhadap perubahan harga barang lain. dan besarnya pendapatan (Y). yaitu: kepekaan fungsi permintaan barang 1 (Qd1) akibat perubahan harga barang lain (P2) maupun kepekaan fungsi permintaan barang 2 (Qd2) akibat perubahan harga barang lain (P1): dQd 1 / dP 2 dQd 2 / dP1 Jadi E QdP1 = dan EQdp2 = Qd 1 / P 2 Qd 2 / P1 Income Elasticity of Demand Mencari kepekaan fungsi permintaan terhadap perubahan pendapatan: Yaitu: kepekaan fungsi permintaan barang 1 (Qd1) akibat perubahan pendapatan (Y) maupun kepekaan fungsi permintaan barang 2 (Qd2) akibat perubahan pendapatan (Y). Mencari marginal rate technical substitution(MRTS) Elastisitas Persial Fungsi permintaan suatu barang tentu di tentukan oleh harga barang itu sendiri. maka hubungan antar komoditi adalah komplementer. Akan tetapi.= -54000000+1230000000 = 1176000000 Artinya: Pada tingkat kapital sebanyak 1000. Elastisitas Parsial II. maka # untuk setiap penambahan kapital sebanyak 1 akan menyebabkan penambahan pendapatan sebanyak 1176000000 sebaliknya # untuk setiap pengurangan kapital sebanyak 1 akan menyebabkan pengurangan pendapatan sebanyak 1176000000 Penerapan Teori Diferensial Parsial Teori Diferensial Parsial diterapkan dalam berbagai masalah di antaranya untuk mencari: I.P2. 44 . dQd 1 / dY dQd 2 / dY Jadi E QdP1 = dan E QdP2 = Qd 1 / Y Qd 2 / Y Hubungan antar-komoditi: # jika hasil dari perhitungan cross elasticity of demand positif.Y) Dan Qd2 = f (P1.Y) Fungsi permintaan barang 1 di pengaruhi oleh harga barangnya sendiri (P 1). Di samping itu juga di tentuka oleh pendapatan. juga ternyata di tentukan oleh harga barang lain tersebut merupakan barang substitusinya atau barang komplementernya. Optimasi 2 variabel: Maksimasi pendapatan Minimasi biaya Maksimasi laba/keuntungan III. harga barang lain (P2).

Contoh soal: 1. Qdr = 2Pj - 30 Pr + 0,05 Y Untuk Pj = 3000, Pr = 100, dan Y = 30000 Carilah: - Price Elasticity of Demand - Cross Elasticity of Demand - Income Elasticity of Demand Bagaimanakah hubungan antara komoditi j dan r? Jawab: Price Elasticity of Demand: dQdr / d Pr 30 2 30 E QdPr = = = = Qdr / pr 4500 / 100 3 45 Cross Elasticity of Demand: dQdr / dPj 2 60 4 E QdPr = Qdr / pj 4500 / 3000 45 3 Income Elasticity of Demand: dQdr / dY 0,05 15 1 E QdPr = Qdr / Y 4500 / 30000 45 3 Hubungan antara komoditi r dan j: Karena Cross Elasticity of Demand hasilnya positif, maka hubungan antara komoditi r dan komoditi j adalah Subtitusi. Optimasi Dua Variabel. Fungsi yang mengandung 2 variabel misalnya dituliskan sebagai berikut: Y=f(x1,x2) Dalam setiap permasalahan optimasi, selalu memunculkan dua pertanyaan: 1. Berapakah x1 dan x2 yang akan memberikan Y optimum (maksimum atau minimum) 2. Berapakah Y optimumnya (maksimum atau minimum) Untuk dapat menjawab pertanyaan pertama tersebut, maka diberikan langkah-langkahnya sebagai berikut: Optialisasi dua variabel Y = f ( x1 ,x2 ) Maksium Langkah I Turunan pertama Y1 = 0 , Y2 = 0 Minimum Turunan pertama Y1 = 0 , Y2 = 0 Diperoleh X1 dan X2

Langkah II

Turunan kedua dan Matriks Hessian: H = Y11 Y12 Y21 Y22 D1 = Y11 < 0
Difinit negatif, Menjamin Y maksium

Langkah III

D1 = Y11 > 0
Difinit positif, Menjamin Y minimum

Diperoleh Titik ekstrim maksium atau titik ekstrim minimum

Langkah-langkah dalam tabel tersebut membantu untuk memperoleh X1 dan X2 yang pasti akan menjamin bahwa Y optimal, jadi ke tiga langkah tersebut di atas hanyalah untuk menjawab pertanyaan pertama saja. Belum di peroleh berapa besar Y yang optimal tersebut. Untuk mendapatkan nilai Y yang optimal maka nilai X1 dan X2 harus di masukan dalam persamaan Y tersebut.untuk memberikan penjelasan yang lebih jelas, maka di bawah ini di berikan tiga contoh yang merupakan permasalahan optimal dua variabel, yaitu: maksimasi pendapatan, minimasi biaya, maksimasi laba.

45

Contoh soal: Maksimasi pendapatan 1. Di berikan fungsi pendapatan : R = 160 Q1 – 3 Q12 – 2 Q1 Q2 – 2Q22 + 120 Q2 –180 Berapakah jumlah produk 1 dan produk 2 yang harus di produksi dan di jual sehingga dapat di peroleh pendapatan maksimum? Berapakah pendapatan maksimumnya? Jawab: jumlah produk 1 dan 2 yang harus di jual : Langkah pertama ialah mencari turunan pertama fungsi pendapatan: R1 = 160 – 6 Q1 – 2 Q2 = 0 R2 = 120 – 2 Q1 – 4 Q2 = 0 Untuk mencari Q1 dan Q2 menggunakan aturan determinan: Fungsinya menjadi: 6 Q1 – 2 Q2 = - 160 2 Q1 – 4 Q2 = - 120 Maka 160 2 120 4 (-160)(-4) - (-2)(-120) 640 - 240 400 Q1 = = = = = 20 6 2 (-6) (-4) - (2) (-2) 20 24 4 2 4

6 160 2 120 (-6)(-120) - (-2)(-160) 720 - 320 400 Q2 = = = = = 20 6 2 (-6) (-4) - (2) (-2) 20 24 4 2 4 Langkah ke dua adalah mencari turunan keduannya: R11 = -6, R12 = -2, R21 = -2, R22 = -4 R 11 R12 - 6 - 2 Matriks hessiannya: H = R21 R22 -2 -4
Matriks pertamanya : D1 = - 6 < 0
-6 -2 -2 -4 = (-6)(-4) – (-2)(-2) = 24 – 4 = 20 > 0 karena D1 < 0 dan D2 > 0, maka definit negatif, menjamin pendapatan maksimum. Pendapatan maksimumnya: R = 160Q1 - 3Q12 - 2Q1Q2 - 2Q22 + 120Q2 – 180 R = 160(20) - 3(20)2 - 2(20)(20) -2(20)2 +120(20) – 180 R = 2620

Matriks keduannya : D2 = H =

Contoh soal: Minimasi biaya 2. di berikan fungsi biaya sebagai berikut: C = 8Q12 + 6Q22 - 2Q1Q2 - 40Q1 - 42Q2 + 180 Berapakah jumlah produk 1 dan produk 2 yang harus di produksi sehingga di peroleh biaya minimum? Berapakah biaya minimumnya? Jawab: jumlah produk 1 dan 2 yang harus di produksi: Langkah pertama ialah mencari turunan pertama fungsi biaya: C1 = 16Q1 – 2Q2 – 40 = 0 C2 = -2Q1 + 12Q2 – 42 = 0 Untuk mencari Q1 dan Q2 menggunakan aturan determinan: Fungsinya menjadi: 16Q1 – 2Q2 = 40 -2Q1 + 12Q2 = 42 Maka 40 - 2 Q1 =

42 12 16 - 2 - 2 12

=

(40)(12) ( 2)( 42) 480 84 564 = = =3 (16)(12) ( 2)( 2) 192 188

46

Q2 =

- 6 - 160 - 2 - 120 16 - 2 - 2 12

=

( 6)( 120) ( 2)( 160) 400 720 320 = = = 2,12 = 2 (16)(12) ( 2)( 2) 188 192

Langkah kedua adalah mencari turunan keduanya: R11=16, R12 = -2, R21 = -2, R22 = 12 16 -2 R 11 R 12 16 -2 Matriks Hessiannya: H = 12 R 21 R 22 - 2 Matriks pertamanya : D1 = 16 > 0 Matriks keduanya : D2 = H = 16 -2 - 2 12 =(16) (12) – (-2) (-2) =192 – 4 =188 > 0 Karena D1 > 0 dan D2 > 0, maka definit positif, menjamin biaya minimum. Biaya minimumnya: C = 8Q12 + 6Q22 - 2Q1 Q2 - 40Q1 - 42Q2 + 180 C = 8(3)2 + 6(2)2 - 2(3) (2)- 40 (3)- 42 (2)+180 C = 60 Contoh soal: maksimasi laba / keuntungan 2. Diberikan fungsi pendapatan dan fungsi biaya sebagai berikut: R = 12 Q1 + 8 Q2 dan C = 3 Q12 + 2 Q22 Berapakah jumlah produk 1 dan produk 2 yang harus diproduksi dan dijual sehingga diperoleh laba maksimum? Berapakah laba maksimumnya?

Jawab: Fungsi labanya: Laba = R – C = 12Q1`+ 8Q2 - ( 3 Q12 + 2 Q22) = 12Q1 + 8Q2 - 3Q12 - 2Q22 Langkah pertama ialah mencari turunan pertama fungsi laba: Laba1 = 12 – 6 Q1 = 0, maka Q1 = 2 Laba2 = 8 – 4 Q2 = 0, maka Q2 = 2 Langkah kedua adalah mencari turunan keduanya: Laba11 = - 6, Laba12 = 0, Laba22 = - 4 Matriks Hessiannya: H = Laba 11 Laba 12 = -6 0 Laba 21 Laba 22 0 -4 Matriks pertamanya: D1 = - 6 < 0 Matriks keduanya : D2 = H = - 6 0 0 -4 = -(0)(0) (-6) (-4) = 24 – 0 = 24 > 0 Karena D1 < 0 dan D2 > 0, maka definit negatif, menjamin laba maksimum. Pendapatan maksimumnya: Laba = 12 Q1+8 Q2-3Q12-2Q22 Laba = 12(2) +8(2)-3(2)2-2(2)2 Laba = 24+16-12-8 Laba = 20 47

7 0.3) K 0.7 K = 210 dan L = 70 Hitunglah MRTS-nya dan jelaskan artinya! Jawab: dQ / dL MRTS = dQ / dK = = = 96 K 0.7 7K MRTS = 3L 7.3 K 0.1 Mencari Marginal Rate of Technical Substitution (MRTS) dK dL Jika diketahui Fungsi Produksi Q=f(K.L).4 L 0.3 (0. 7 L0.3 L 0.5 160 40 MRTS = 4 4 MRTS = – 4 . Di mana K = 160 dan L = 40 Hitunglah MRTS-nya dan jelaskan artinya! Jawab: dQ / dL MRTS = dQ / dK 0 0.7 1 96(0.5) K ) 0. 7 7 K 0.7 K 0.5 1 = 0. maka mencari MRTS-nya dengan dQ / dL dQ dQ dQ dK dK MRTS = : .7) L0.8(0.70 MRTS = – 7 PENYELESAIAN SOAL-SOAL Fungsi marginal pendapatan (marginal revenue) 1.210 MRTS = 3.8L 0.5 1 0 = = MRTS = 0.7.2(0.3 1 L0.3) K 0.3.1K 0. Q R = (16 – Q) .3 L0.3 (0.5.5 K 4 L 4 0.5 0. dQ / dK dL dK dL dQ dL Rumus: MRTS = Contoh soal: 1. carilah fungsi marginal pendapatannya untuk fungsi P = 16 – Q jawab: fungsi permintaan: P = 16 – Q fungsi pendapatan: R = P . Diberikan fungsi produksi sebagai berikut: Q = 96 K 0. 7 3L0.3 L 0. Q* R = 16 Q – Q2 Maka fungsi marginal pendapatannya: MR = 16 – 2Q 48 .2K 0.5) L0. 2 MRTS = – 8 2. Di berikan fungsi produksi sebagai berikut: Q = 0.5 + 0.

Total biaya minimum: TC = Q3 – 4Q2 + 4Q + 4 TC = (2)3 – 4(2)2 + 4(2) + 4 = 4 49 .Maksimasi total pendapatan (Total Revenue) 2. Q2 = 2 Turunan kedua fungsi total biaya: TC″= 6Q – 8 Untuk Q1 = 2/3 maka TC″= 6 (2/3) – 8 = . Pendapatan maksimum: TR maksimum = 120 Q – 6 Q2 R maksimum = 120(10) – 6(10)2 = 1200 – 600 = 600 jadi pendapatan maksimumnya diperoleh sebesar 600 fungsi pendapatan rata-rata: AR = 120 – 6 Q fungsi marginal pendapatan: TR′= MR = 120 – 12 Q maka grafik dari kedua fungsi tersebut di gambarkan sebagai berikut: AR. Q = 120 Q – 6 Q2 Turunan pertama fungsi pendapatan: TR′ = 120 – 12Q = 0 120 = 12Q Q = 10 Turunan kedua fungsi pendapatan: TR″ = -12 < 0 menjamin pendapatan maksimum.2 = 0.4 < 0 Untuk Q2 = 2 maka TC″= 6 (2) – 8 = 4 >0 Jadi output yang memberikan total biaya minimum adalah yang TC″>0. Q = (120 – 6Q) .MR 120 AR = 120 .2)(Q . Jadi pada tingkat output Q = 10 menjamin pendapatan maksimum. Q1 = 2/3 Q . Total biaya suatu perusahaan dinyatakan dalam fungsi sebagai berikut: TC = Q3 – 4Q2 + 4Q +4 # Pada output berapakah yang akan memberikan total biaya minimum? # Berapakah total biaya minimumnya? Jawab: Fungsi total biaya: TC = Q3 – 4Q2 + 4Q + 4 Turunan pertama fungsi total biaya: TC‟= 3Q2 – 8Q + 4 = 0 (3Q .2) = 0 3Q . fungsi pendapatan rata-rata (Average Revenue) di berikan di bawah ini: AR = 120 – 6 Q # Pada tingkat output berapakah yang memberikan pendapatan maksimum? # Berapakah pendapatan maksimum yang diperoleh? # Gambarkan fungsi pendapatan rata-rata dan marginal pendapatan pada sebuah grafik! Jawab: Fungsi pendapatan rata-rata: AR = 120 – 6 Q Fungsi pendapatan: TR = AR .2 = 0.6Q MR =120 – 12Q 10 20 Q Minimasi total biaya (Total Cost) 3. yaitu Q = 2.

Q* = 12.5 t – 1/10 t 2 turunan pertama: T′ = 2.5 – 1/5 t = 0 2.5 – 1/10 t = 2.biaya pemesanan tiap kali memesan sebesar Rp 6000 per pemesanan.5= 1/5 t t = 12. Total biaya persediaan: Q= 50 .6000 1200 Q = 120 jadi setiap kali memesan akan dipesan sebanyak 120 kg. Seorang penjaja kue kering memerlukan tepung terigu sebanyak 1440 kg tiap bulan.C1 Q= C2 2.5 turunan kedua: T″= -1/5 < 0 Jadi tarif pajak yang memberikan total pajak maksimum sebesar: t = 12.5 – 1/10(12.5 – 1/10 t.5 – 1/10 t) = 2.25 = 15. Dalam waktu satu bulan dilakukan pemesanan sebanyak: D/Q = 1440/120 = 12 kali pemesanan. sedangkan biaya penyimpanannya Rp 300 per minggu.5 – 1.1440.625 Jadi total pajak yang diterima pemerintah sebesar: 15. 1.625 Minimasi total biaya persediaan 5.5 – 1/10 t Turunan kedua: Laba″ = -10 < 0 Jadi dengan memproduksi Q* = 2.25 = 1.5) = 2.5 .Maksimasi penerimaan total pajak 4. Total pendapatan dan total biaya di berikan sebagai berikut: P = .5Q + 100 dan C = 5Q2 – 30Q Berapakah tarif pajak yang sebaiknya dikenakan pemerintah kepada pengusaha agar pemerintah memperoleh total pajak maksimum? Berapakah total pajak maksimum yang diperoleh pemerintah? Jawab: Dari sudut pandang pengusaha: Laba = P . pengusaha memperoleh laba maksimum. # berapakah kg yang harus dipesan setiap kali memesan? # berapa kali pemesanan harus dilakukan dalam satu bulan? # berapakah total biaya persediaan minimumnya? Jawab: Jika diketahui bahwa: D : jumlah total pemesanan per bulan : 1440 kg C1: biaya pemesanan : Rp 6000 C2: biaya penyimpanan : Rp 300 per minggu = Rp 1200 per bulan Jumlah yang harus di pesan : 2 D.5 Karna Q* = 2. Jadi sudut pandang pemerintah: Pajak: T = t Q* = t (2.25 Maka total pajak maksimum: T = t . Q – C – t Q = -5Q + 100 – (5Q2-30Q) – tQ = -5Q2 + 25Q – Tq + 100 Turunan pertama: Laba′ = -10Q + 25 – t = 0 25 – t = 10Q Q* = 25 – t 10 Q* = 2.

P3 = 40.8 P2 + P3 + Y Untuk P1 = 20. maka hubungan antara komoditi 1 dan komoditi 3 adalah subtitusi. dan Y = 40 # carilah Price Elasticity of Demand dan jenisnya! # carilah Cross Eelasticity of Demand dan jenisnya! # carilah Income Elasticity of Demand dan jenisnya! # bagaimana hubungan antara komoditi-komoditi tersebut? Jelaskan! Jawab: Qd1 = 16 – 0.4 P1 – 0.8 1 E Qd1P2 = Qd 1 / Pr 2 80 / 10 10 dQd 1 / dP3 1 1 E Qd1P3 = Qd 1 Pr 3 80 / 40 2 Income elasticity of demand dQd 1 / dY 1 1 E Qd1Y = Qd 1 / Y 80 / 40 2 Hubungan antara komoditi 1 dan 2: Karena Cross Elasticity of Demand hasilnya negatif.4(20) – 0. dengan K = 4. maka # hitunglah Marginal Physical Product of Labour! # hitunglah Marginal Physical Product of Capital! jawab: fungsi produksi: Q = ½ K ½ L ½ Q = ½ 4 ½ 16 ½ Q=½.8 Q=4 Sehingga: Marginal Physical Product of Labour (MPRL): 1 1 1 dQ 1 2 L2 2 .8 P2 + P3 + Y Qd1 = 16 – 0.4 P1 – 0. maka hubumgan antara komoditi 1 dan komoditi 2 adalah subtitusi.1 / 2 K dL 51 . P2 = 10. Marginal Physical and Revenue Product of Labour and Capital 7. fungsi produksi : Q = 1/2K ½L = ½. Hubungan antara komoditi 1 dan 3: Karena Cross Elasticity of Demand hasilnya positif . L = 16 # hitunglah Marginal Physical Product of Labour! # hitunglah Marginal Physical Product of Capital! Jika fungsi pendapatan R = 2Q.fungsi permintaan suatu komoditi diberikan sebagai berikut: Qd = 16 – 0.8(10) + 40 + 40 Qd1 = 80 Price elasticity of demand: dQd 1 / dP1 0.C= C= D C1 Q Q C2 2 1440 120 6000 1200 120 2 C = 144000 Jadi total biaya persediaan minimum: Rp 144000 Elastisitas persial 6.4 4 E Qd1P1 = Qd 1 Pr 1 80 / 20 400 Cross elasticity of demand dQd 1 / dP 2 0.

(1/2) dL dR 1 dL Jadi Marginal Revenue Product of Labour (MRPL)=1 Artinya: Pada tingkat tenaga kerja berjumlah 16 orang. # untuk setiap penambahan kapital sebanyak 1 akan menyebabkan penambahan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 1/8 unit. sebaliknya # untuk setiap pengurangan tenaga kerja sebanyak 2 orang akan menyebabkan pengurangan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 1 unit Marginal Physical Product of Capital (MRPC): dQ = ½.1 1 dQ 1 2 L2 4K dL 1 dQ 1 4 L 2 1 dL K 2 1 dQ 14 16 2 1 dL 42 dQ 1 dL 2 Artinya: Pada tingkat tenaga kerja berjumlah 16 orang # untuk setiap penambahan tenaga kerja sebanyak 2 orang akan menyebabkan penambahan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 1 unit. # untuk setiap penambahan tenaga kerja sebanyak 1 orang akan menyebabkan penambahan pendapatan sebanyak 1. dL dQ dL dR (2). sebaliknya # untuk setiap pengurangan tenaga kerja sebanyak 1 orang akan menyebabkan pengurangan pendapatan sebanyak 1. 1/2L ½dC dQ = ¼ K 1/2 L -1/2 dC 1 dQ 1 4 K 2 1 dC L2 1 dQ 1 4 4 2 1 dC 16 2 dQ 1 = dC 8 Artinya : Pada tingkat investasi sebesar 4. sebaliknya # untuk setiap pengurangan kapital sebanyak 1 orang akan menyebabkan pengurangan jumlah barang yang diproduksi sebanyak 1/8 unit jika fungsi pendapatan: R = 2Q sehingga dR ′ Marginal Revenue: 2 dQ Mencari Marginal Revenue Product of Labour (MRPL): dR dR dQ . Mencari Marginal Revenue Product of Capital (MRPC): dR dR dQ . K½. dC dQ dC dR = (2).(1/4) dC 52 .

9 + 4. laba21= 0 .8Q1 + 32 = 0 makaQ1 = 4 Laba2 = . Biaya22= 8 Biaya11 Biaya12 24 0 Matriks Hessiannya : H= Biaya21 Biaya22 0 8 Matriks pertamanya : D1 = 24 Matriks keduanya : D2 = H= 0 24 0 0 8 = (24) (8) .4 .4Q2 +12 = 0 makaQ2 = 3 Langkah kedua adalah mencari turunan keduanya: Laba11= . laba22= . laba12= 0 .8 0 Matriks Hessiannya: H= Biaya21 Biaya22 0 -4 Matriks pertamanya: D1 = 8 0 53 .0 = 192 > 0 Karena D1> 0 dan D2> 0.4Q12 . Fungsi biaya dari perusahaan yang menghasilkan dua produk sebagai berikut: Biaya = 12 Q12 + 4Q2 2 – 8 Q1 – 16 Q2 # Berapakah jumlah produk 1 dan produk 2 yang harus diproduksi agar dapat diperoleh biaya minimum? # Berapakah biaya minimum yang diperoleh? Jawab: Fungsi Biayanya: 12 Q12 + 4Q2 2 – 8 Q1 – 16 Q2 Langkah pertama ialah mencari turunan pertama fungsi biaya: Biaya1 = 24 Q1 – 8 = 0.24-32 Biaya = 68 Dengan memproduksi produk pertama sebanyak 3 dan produk kedua sebanyak 2 maka akan berproduksi pada biaya minimum sebesar 68.8Q 1+ 16Q2 Biaya = 12 (3)2 + 4(2)2. maka Q1=3 Biaya2 = 8 Q2 – 16 = 0.2Q22 + 32Q1+12Q2 Berapakah jumlah produk 1 dan produk 2 yang harus diproduksi dan dijual sehingga dapat diperoleh laba maksimum? Berapakah laba maksimum yang diperoleh? Jawab: Fungsi Labanya : .8 .4 Biaya11 Biaya12 .4Q12 .dR = 1/4 dC Jadi Marginal Revenue Product of Capital (MRPC)=1/4 Artinya: Pada tingkat investasi berjumlah 4 orang. Minimasi Biaya dari Dua Produk 8. sebaliknya # untuk setiap pengurangan tenaga kerja sebanyak 4 orang akan menyebabkan pengurangan pendapatan sebanyak 1. Maksimasi Laba/Keuntungan dari dua produk 9.8(3) +16(2) Biaya = 12. Jadi perusahaan sebaiknya memproduksi produk pertama sebanyak 3 dan produk kedua sebanyak 2 agar berproduksi pada tingkat biaya minimum. Biaya minimumnya: Biaya = 12 Q12 + 4Q22. menjamin biaya minimum. Biaya12= 0 . Biaya21= 0 . Fungsi Laba diberikan Laba = .2Q22 + 32Q1+12Q2 Langkah pertama ialah mencari turunan pertama fungsi laba: Laba1 = .(0) (0) = 192 . maka definit positif. # untuk setiap penambahan investasi sebanyak 4 orang akan menyebabkan penambahan pendapatan sebanyak 1. maka Q2=2 Langkah kedua adalah mencari turunan keduanya: Biaya11= 24 .

carilah nilai dan jenis elastisitas di masing-masing titik! Q (P1. Matriks keduanya : D2 = H= Laba = .4(4)2-2(3)22+ 32(4) +12(3) Laba = .Q2) = (24.-8 0 0 -4 = (-8) (-4) – (0) (0) = 32 > 0 Karena D1 < 0 dan D2 > 0. Jadi sebaiknya di produksikan produk pertama sebanyak 4 dan produk kedua sebanyak 3 agar diperoleh laba maksimum.3Q1 Q2 + 12Q2 – 24 Q1 – 10 Q2 # Pada tingkat output (Q1 dan Q2) berapakah yang akan membuat perusahaan memperoleh total biaya minimum! # Berapakah total biaya minimum tersebut? 5. menjamin laba maksimum.6) (P3. maka # hitunglah Marginal Physical Product of Labour! # hitunglah Marginal Physical Product of Capital! 4.4 + 12.4Q12 .2.3) 0 48 P 54 .25 Y Untuk P1 = 200.Q3) = (36.fungsi permintaan suatu komoditi diberikan pada gambar dibawah ini .9) (P2.komoditi tersebut? Jelaskan! 2.9 + 32.fungsi produksi: Q = 0. Laba maksimumnya: SELESAIKANLAH SOAL-SOAL LATIHAN DIBAWAH INI 1. P3 = 500 dan Y = 5000 # carilah Price Elasticity of Demand dan jenisnya! # carilah Cross Eelasticity of Demand dan jenisnya! # carilah Income Elasticity of Demand dan jenisnya! # bagaimana hubungan antara komoditi . maka definit negatif.Q1) = (12. fungsi permintaan suatu komoditi diberikan sebagai berikut : Qd2 = 5200 + 4P1 – 3P2 – 8P3 + 0. P2 = 100. dengan K = 20 L = 40 # hitunglah Marginal Physical Product of Labour! # hitunglah Marginal Physical Product of Capital! Jika fungsi pendapatan R = 3Q.diberikan fungsi total biaya suatu perusahaan sebagai berikut: TC = 6Q12.3 Laba = 82 Dengan memproduksikan produk pertama sebanyak 4 dan produk kedua sebanyak 3 maka akan diperoleh laba maksimum sebesar 82.5 K2 + 2KL + L2.2Q22 + 32Q1 + 12Q2 Laba = .4.total pendapatan dan total biaya diberikan sebagai berikut: R = 221Q + 5100 – 2Q2 dan C = 125Q + 4100 # berapakah tarif pajak yang sebaiknya dikenakan pemerintah kepada pengusaha agar pemerintah memperoleh total pajak maksimum? # berapakah jumlah produk yang harus diproduksi dan dijual oleh perusahaan tersebut sehingga diperoleh laba maksimum setelah mempertimbangkan masalah pejak? # berapakah total pajak maksimum yang diperoleh pemerintah ? # berapakh laba maksimum yang diperoleh perusahaan tersebut? 3.16 .

INTEGRAL TAK TENTU Integral tak tentu merupakan konsep yang berhubungan dengan perincian fungsi asal atau fungsi totalnya dari fungsi turunannya yang diketahui secara umum penulisannya: F ( x) K f ( x)dx Dengan K : konstanta pengintegral yang tak tentu nilainya f (x ) : integral dx : diferensial F ( x) K : fungsi asal atau fungsi total Disebut sebagai integral tak tentu akibat hasil pengintegralannya berupa F(x)+ K dimana K adalah konstanta yang nilainnya tak tentu. Ini merupakan peenerapan Integral Tidak Tentu. TEORI INTEGRAL BAGIAN 3 TEORI INTEGRAL DAN PENERAPANNYA DALAM BISNIS DAN EKONOMI Tujuan Umum Mempelajari Jenis Integral baik integral Tak Tentu maupun Integral Tertentu serta mempelajari kaidahkaidah dari masing-masing jenis integral.TEORI INTEGRAL DAN PENERAPANNYA DALAM BISNIS DAN EKONOMI TUJUAN UMUM Mempelajari jenis integral baik integral tak tentu maupun integral tentu serta mempelajari kaidah-kaidah dari masing-masing jenis integral. # Integral juga digunakan dalam menghitung surplus konsumen dan surplus produsen dengan cara menghitung luas dibawah kurva. Tutjuan Khusus 1. TUJUAN KHUSUS # Integral digunakan dalam mencari suatu fungsi total atau fungsi asalnya jika di ketahui fungsi turunannya. 55 . Ini merupakan penerapan integral tidak tentu. Ini merupakan penerapan Integral tertentu. Integral juga digunakan dalam menghitung Surplus Konsumen dan Surplus Produsen dengan cara menghitung luas di bawah kurva. Integral digunakan dalam encari suatu fungsi asalnya jika diketahui fungsi turunannya. Ini merupakan penerapan integral tentu. PENDAHULUAN Pada dasarnya integral terdiri atas dua jenis yang dikenal dengan integral tak tentu dan integral tentu.

f ( x). formula pangkat xndx contoh : Xn 1 n 1 K.KAIDAH-KAIDAH INTEGRAL TAK TENTU Kaidah 1.n 1 Kaidah 2. formula eksponensial e x dx e x K contoh : e 2 x dx Kaidah 4. formula substitusi du f ( x)dx f (u ) dx F (u ) K dx contoh: misalkan u x 2 maka du dx dx du x 2 u Inu K In( x 2) K contoh : e 2 x 1dx misalkan : u e2x 2z 1 maka du 2. formulasi pengurangan f ( x) g ( x) dx f ( x)dx g ( x)dx contoh : x2 e x dx x 2 dx e x dx 1 / 3x 3 e x Kaidah 6.dx dx 1 / 2 1 u dx e 1 / 2du 1 / 2 e 4 du 1 / 2u K 1 / 2e 2 x 1 K 56 .InX x x Kaidah 3.d x K contoh : 5 x 4 dx 5 x 4 dx 5. e2x K K formulasi penjumlahan f ( x) g ( x) dx f ( x)dx x2 e x dx x 2 dx g ( x)dx contoh : e x dx 1 / 3x 3 e x K Kaidah 5. 1 dx 4 contoh : X3 1 K 3 1 4 x = K 4 formula logaritma x 3 dx Inx 3 1 dx 3 dx 3. formula perkalian K .1 / 5 x 5 K x5 4 Kaidah 7. f ( x)dx K .

formula sebagian-sebagian u.dx u.dv u.b a f(x) dx contoh: 2 4 x2 dx = .e . a b f(x) dx = .e x e x K e x ( x 1) K Integral Tentu Integral tentu adalah integral dimana nilai dari variabel bebasnya memiliki batasan-batasan tertentu.ex v.du Contoh : xe x dx Misalkan u x maka du dx dv e x .4 2+1 2+1 2+1 2+1 =23 .v v.v x. a a f(x) dx = F(x) a a = F(a) – F(a) = 0 contoh: 2 2 x2 dx = 2 2 x2 dx = 2 3 – 2 3 = 0 3 3 kaidah 3.dx ex x.dx dan maka v x x. Secara umum penulisannya: f ( x). a b k f(x) dx = k a b f(x) dx contoh: 2 4 6x2 dx = 6.43 3 3 = 56 3 kaidah 4. 4 2 – 6. a b f(x) dx = F(x) a b =F(b)-F(a) .dv u.dx dengan: F ( x) b a F (b) F (a) f ( x)dx : integral f (x ) terhadap x wilayah untuk rentang a hingga b F (b) F (a) b a : hasil integral fungsi f (x) antara a dan b : batas atas integrasi : batas bawah integrasi Kaidah-Kaidah Integral Tentu Kaidah 1.2 4 x2 dx = 6. Integral tentu merupakan konsep yang berhubungan dengan pencarian luas suatu daerah yang dibatasi oleh kurva-kurva serta batasan-batasan nilai yang membatasi dengan tepat area yang dimaksud. a<c<b Contoh: 2 4 x2 dx = x2+1 2 4 = 4 2+1 – 2 2+1 2+1 2+1 2+1 = 43–23 3 3 = 56 3 Kaidah 2. x3 2 4 3 = 6.4 2 x2 dx 2 4 x2 dx = x2+1 2 4 = 4 2+1. 2 2 57 .Kaidah 8.du e x .2 2+1 2+1 2+1 2+1 =43–23 3 3 x2+1 4 2 = 2 2+1.

4 = 32 – 8 = 24 PENYELESAIAN SOAL-SOAL Kaidah 1. a b [f(x)+g(x)] dx = a b f(x) dx+a b g(x) dx contoh: 2 4 [6x2+4x] dx = 2 4 6.4 2 – 4. 16 – 4/2. 4 + 4/2 .3 2 2 2 2 2 = 4/2. 4 3 – 6.4 3 – 6.4 2 .9 – 4/2 .3 3 = 2. 16 – 4 .4. 4 = 125 – 16 + 64 – 16 = 160 kaidah 6. 16 – 4/2 . a b [f(x) – g(x)] dx = a b f(x) dx – a b g(x) dx contoh: 2 4 [6x2 – 4x] dx = 2 4 6.22 2 2 = 4 . x2 4 2 =4. formula logaritma Contoh: = 33 1 dx x = 33 .2 2 + 4.48] – [4. In x + k 58 .4 + 4 .4] = 128 – 16 – 64 + 16 = 64 kaidah 7.x3 2 4 – 4x2 2 4 3 = [6.42–4. a b [f(x) + c d f(x) dx = a d f(x) dx contoh: 2 3 4x dx + 3 3 4x dx = 2 4 4x dx 2 3 4x dx + 3 4 4x dx = 4x2 2 3 + 4x2 3 4 2 2 = 4.8 =8 kaidah 5.9 = 18 – 8 + 32 – 18 = 24 2 4 4x dx = 4 .x2 dx+2 4 4x dx = 6.16 – 4. 64 – 2.64 – 2.3 2 – 4. formula pangkat Contoh: x8 dx = x 8 + 1 8+1 = x9 9 = 1/9 x9 4 contoh: 2 x8 dx = x 8+1 2 4 8+1 =49–29 9 9 Kaidah 2. x3 2 [4 + 4x2 2]4 3 = 2.x2 dx – 2 4 4x dx = 6.64 – 2. 2 2 3 3 = 2 .2 2] 3 3 = [2.4 2 – 4.2 3] – [4. 2 3 + 4.

Fungsi Total Utility (TU) dapat diperoleh dengan cara mengintergralkan fungsi marginal MU . 1 2 dU 1 2 .dQ 14 2Q 14 2. maka untuk mengetahui persamaan fungsi marginal digunakan perhitungan diferensial.dU 1 1 1 2 4 . sedangkan Integral tertentu diantaranya digunakan untuk mencari Surplus Konsumen dan Surplus Produsen FUNGSI TOTAL Jika yang diketahui adalah persamaan fungsi total.Q.dQ 3. Contoh : 1. Integral tak tentu dapat dipergunakan di antaranya untuk mencari persamaan fungsi total. U 2 .4 Contoh: 2 33 dx = 33 2 4 1 dx = 33 . Sebaliknya. In x 2 4 = 33(In4 – In2) x 33 dx x x Kaidah 3.dQ revenuenya : TR 2.dQ utilitynya : TU Contoh Soal : Carilah Fungsi Total Revenue sebesar MR Jika berproduksi pada Q = 25 Jawab : TR MR. maka mencari persamaan fungsi totalnya dipergunakan hitungan Integral.dQ Misalkan U = 14+2Q maka dU = 2dQ Dan dQ = ½ dU 14 2QdQ Sehingga: U . Fungsi Total Revenue (TR) dapat diperoleh dengan cara mengintegralkan fungsi marginal MR. Fungsi Total Cost (TC) dapat diperoleh dengan cara mengintegralkan fungsi marginal Costnya : TC MC. formula eksponensial Contoh: ex dx = ex + k Contoh: 2 4 ex dx = ex 2 4 = e4 – e2 = -e4 –e2 Kaidah 4. 12U .U 1 2 1 2 1 59 . jika yang diketahui adalah persamaan fungsi marginal. formula penjumlahan Contoh: [x17 + e x+2] dx = x17 dx + e x+2 dx = 1/18 x18 2 4 + e x+2 + k contoh: 2 4[x17 + e x+2] dx = 2 4 x17 dx + 2 4 e x+2 2 4 = 1/18 x18 2 4 + ex+2 2 4 = 1/18 [4 18 – 2 18] + e4+2 – e2+2 = 1/18 [4 18 – 2 18 PENERAPAN INTEGRAL DALAM BISNIS DAN EKONOMI PENERAPAN DALAM BISNIS DAN EKONOMI Dalam bidang ekonomi.

63) Fungsi Qd = 75 – 3P 2 merupakan kurva parabola yang terbuka di bawah dengan titik puncaknya (P. Bpk Alfreed Marshall menyebutnya surplus konsumen.Qd) = (0. dihitung dengan rumus Qe 1. SK 0 f (Q)dQ Atau p Qe.4 Qe = 75 – 12 Qe = 63 Jadi (Pe. maka bagi setiap konsumen yang pada dasarnya memiliki keinginan untuk membeli barang tersebut dan memiliki kesanggupan untuk membeli barang tersebut walaupun harganya diatas Pe dinyatakan bahwa konsumen tersebut mengalami keuntungan.Pe 2.1 4 1 2 U 1 14 2Q 14 2.dP Contoh soal: Diberikan fungsi permintaan sebagai berikut : Qd = 75 – 3P 2 gambarkan fungsi tersebut pada sebuah grafik Qd vs P ! carilah surplus konsumenya jika harga pasar Pe = 2 Jawab : Qd = 75 – 3P 2 Qe = 75 – 3.jika permintaan suatu barang dinyatakan dengan persamaan P= f (Qd)dan ternyata bahwa harga barang tersebutdipasar sebesar Pe.75). SK pe f ( p).25 8 Jadi total revenue-nya pada Q = 25 diperoleh sebesar 1/32 TR 4 1 4 1 4 1 32 Surplus Konsumen Yaitu : Keuntungan lebih (surplus)yang dinikmati oleh konsumen karna konsumen tersebut dapat membeli barang dengan harga pasar yang lebih murah daripada harga yang sanggup dibayarnya. Penggambaran : P P' Surplus konsumen (SK) Pe 0 Qe Q' Q Surplus konsumen = Luas daerah yang diarsir .(Kesanggupan bayar > harga).surplus konsumen tersebut dapat dihitung dengan menggambarkan fungsi permintaanya serta menghitung luas area di bawah kurva yang bersangkutantetapi diatas harga pasar Pe.Qe) = (2.penggunaan grafiknya : 60 .2 2 Qe = 75 – 3.

maka bagi setiap produsen yang pada dasarnya ingin menawarkan barang tersebut serta memiliki kesanggupan untuk menjual barang tersebut di atas harga pasar Pe dinyatakan bahwa produsen tersebut mengalami keuntungan.5 75.Bapak Alfred Marshall menyebutnya surplus produsen.dq f ( p) dP 2 5 (2.Qd 75 63 Surplus konsuemen 0 63 2 5 P SK 0 5 f (Q).63) SK (75 3P 2 )dP 2 5 5 2 5 5 3 2 75 dP 3 p .2 52 22 2.Pe) Surplus Produsen P1 0 Qe Q surplus produsen = Luas daerah yang diarsir . dihitung dengan rumus : 61 .surplus produsen tersebut dapat dihitung dengan menggambarkan fungsi penawaranya serta menghitung luas area diatas kurva yang bersangkutan tetapi di atas harga pasar Pe Penggambaran : P Pe E(Qe.dP 2 2 p 2 75.75 150 = 125 – 125 + 8 =8 125 8 SURPLUS PRODUSEN Yaitu : keuntungan lebih (surplus)yang dinikmati oleh produsen karena produsen tersebut dapat menjual barang dengan harga lebih tinggi daripada harga yang sanggup dijualnya.(kesanggupan menjual < harga pasar) Jika fungsi penawaran suatu barang dinyatakan dengan persamaan P = f(Qs) dan ternyata bahwa harga barang tersebut dipasar sebesar Pe.

maka Untuk Pe = 40 Qe = 1/5P – 4 Qe = 1/5. Surplus produsen : Qe SP Pe.Qe 0 4 f (Q)dQ (20 5Q)dQ 0 40.4 2 5 2 0 2 40 atau 62 .4) Penggambaran grafiknya Pe = 20 – 5Qs Pe = 40 Surplus Produsen P11= 20 0 4 Qs Daerah yang diarsir menunjukkan surplus produsen yaitu keuntungan yang diperoleh akibat harga dipasar di atas (lebih tinggi)dari kesanggupan menjual.dQ 0 0 (20.Qe 1. Perhitungan mencari surplus produsen sebagai berikut.Qe) = (40.Qe 0 f (Q)dQ atau Pe SP P f ( p)dP Contoh soal: Diberikan fungsi penawaran sebagai berikut : P = 20 + 5Qs gambarkan fungsi tersebut pada sebuah grafik P vs Q ! carilah surplus produsenya untuk harga pasar sebesar 40.0) 5 2 . Jawab: Fungsi penawaranya P = 20 +5Qs P – 20 = 5Qs 5Qs = P – 20 Qs = 1/5 P – 20/5 Qs = 1/5 P – 4 Diketahui bahwa harga keseimbangan pasar adalah 40.4 4 4 160 160 20 dQ (5 Q.4) 20.40 – 4 Qe = 8 – 4 Qe = 4 Jadi (Pe. SP Pe.

40 4.dV U .2Q.e Q Q 2 .2Q.40 2 .Pe 40 SP Pu f ( P)dP 20 1 1 2 P 4 dP P 5 10 40 40 4P 20 20 1 1 .V Diperoleh : TR Q 2 .e Q TR TR Q 2 .e Q TR TR Q 2 .e Q 2 Q. Q.e Q 2 Q.e Q . Fungsi permintaan dan penawaran suatu barang masing – masing ditunjukan dengan fungsi sebagai berikut : Qd = 30 – 2P dan Qs = – 6 + P Hitunglah surplus konsumenya! Jawab: Mencari harga dipasar dengan cara : Qd = Qs 30 – 2P = – 6 +P 30 + 6 = P + 2P 36 = 3P maka Pe=12 dan Qe = –6 + 12 Qe = 6 Fungsi perimintaan : Qd = 30 – 2P Fungsi penawaran : Qs = – 6 + P 2p = 30 – Qd Qs + 6 = P P = 15 – ½ Qd P = Qs + 6 63 ..e Q e Q .20 10 10 160 40 160 80 40 PENYELESAIAN SOAL – SOAL Fungsi total 4. carilah fungsi total revenue dari fungsi marginal revenue : MR = Q 2eQ .dQ Sehingga V = eQ V .dengan Q adalah julah output yang diproduksi dan di jual.dQ Dan dV = eQ.dV U .e Q 2Q.dU Maka dengan rumus : U .e Q 2Q.dQ Misalkan U = Q Sehingga dU = dQ Q Dan dV = e .20 2 4.e Q e Q .e Q 2e Q Jadi fungsi Total Revenue : TR Surplus konsumen 5.dQ 2 e Q .dQ Sehingga V = eQ V .dQ 2.V Diperoleh : TR Q 2 .dQ q 2 e Q . Jawab: TR MR.dU Maka dengan rumus : U .e Q Q 2 .dQ Misalkan U = Q2 Sehingga dU = 2Q.dQ eQ 2e Q Q 2 .

Q ) 2 jika berproduksi dari range Q = 4 hingga Q = 8. Surplus Produsen 6. dari soal no 2 hitunglah surplus produsenya! Jawab Surplus produsen 6 6 6 1. Fungsi penawaran dan permintaan suatu barang dipasar masing – masing dinyatakan sebagai berikut : Qd = 30 – 2 P dan Qs = – 66 + 10 64 .15 30.6 72 90 9 72 9 4 atau 15 (30 2P)dP 30P 12 12 P 2 12 30.6 72 18 36 18 maka akan diperoleh surplus produsen sebesar 18. 2.6) 6 15Q 0 1 2 Q 4 6 72 15.6 0 f (Q)dQ 72 0 (Q 6)dQ 72 1 2 Q 2 6 6 6Q 0 0 72 1 2 6 2 6. SELESAIKAN SOAL – SOAL LATIHAN DIBAWAH INI 1. Fungsi penawaran dan permintaan suatu barang dipasar masing – masing dinyatakan sebagai berikut : Qd = 40 – 10P dan Qs = 12P – 4 Carilah keseimbangan harga dan kuantitasnya dipasar! Gambarkan kedua fungsi tersebut pada grafik (p vs Qs)! Carilah surplus konsumenya! Carilah surplus produsenya! 5.Penggambaranya : P Surplus Konsumen P = Qs + 6 atau Qs = – 6 + P P´=15 Pe=12 Surplus Produsen P11= 6 P = 15 – ½ Qd atau Qd = 30 – 2P 0 6 Qe = 6 6 30 PSurplus Konsumen : SK 0 f (Q)dQ Pe . berapakah surplus produsenya bila ternyata bahwa tingkat harga di pasar adalah 25? Gambarkanlah fungsi tersebut pada grafik (p vs Qs)dan lakukanlah perhitungannya dengan dua cara! 3.6 0 15 15 1 2 . Carilah fungsi total biaya dari fungsi marginal biaya sebesar : MC ( Q .12 152 12 2 9 baik menghitung dengan menggunakan rumus ke-1 maupun dengan rumus ke-2 diperoleh surpl. SP pe . Fungsi permintaan suatu barang dinyatakan sebagai berikut: Q = 120 – 6P berapakah surplus konsumenya bila ternyata tingkat harga adalah 60? Gambarkanlah fungsi tersebut pada grafik (p vs Qs)dan lakukanlah perhitungannya dengan dua cara! 4.us konsumenya sebesar 9.Qe 0 f (Q)dQ 12.5 Qs +15.Qe 0 (15 1 / 2Q)dQ (12. Seorang produsen mempunyai fungsi penawaran terhadap suatu barang P 1.

Situasi perekonomian seringkali mengharuskan pengoptimuman suatu fungsi di bawah beberapa kendala pertidaksamaan. dan 2 jam untuk pengepakan. Jika kendala-kendalanya tersebut. dan 16 jam untuk pengepakan setiap minggu. dan 1 jam untuk pengepakan (C). Pendekatan grafik untuk maksimasi dan minimisasi diperagakan masing masing dalam contoh. terbatas variabel. pertidaksamaan yang keempat merupakan suatu kendala ketidaknegatifan (nonnegativity constrain) yang ditentukan pada setiap soal untuk menghindarkan nilai negatif(karena itu tak dapat diterima)dari penyelesaian. Kendala dari A : 2.x2 ≥ 0 Tiga pertidaksamaan pertama merupakan kendala – kendala teknis (echnical constrain) yang ditentukan oleh keadaan teknologi dan tersedianya input. Margin laba adalah Rp.pendakatan ini diperagakan dalam empat langkah yang mudah.5x1 (a) (b) 65 . 30 jam untuk pemolesan. kendala penyelesaian yang termudah adalah dengan pendekatan grafik. menjadi Π = 3x1 + 4x2 Di bawah kendala. maka linier programming adalah lebih mudah. Pendekatan grafik digunakan dibawah ini untuk mencari bauran (output mix) yang akan memaksimumkan laba mingguan perusahaan tersebut. dan gambarkan grafiknya. Setiap meja memerlukan 2.1 Penyelesaian dengan Grafik Tujuan linier programming adalah untuk menetapkan alokasi sumberdaya yang langka secara optimal di antara produk atau aktivitas yang saling bersaing. 3 jam untuk pemolesan. 3 jam untuk pemolesan (B).fungsi obyektifnya.fungsi yang akan dioptiumkan. betapapun banyaknya.5x1 Dari B x2 = 10 – x1 Dari C x2 = 8 – 0.5x1 + x2 ≤ 20 Kendala dari B : 3x1 + 3x2 ≤ 30 Kendala dari C : x1 + 2x2 ≤ 16 Kendala ketidaknegatifan : x1. selesaikan masing – masing untuk x2 dalam kaitanya dengan x1 . 1. 2. Apabila kendala pertidaksamaan yang dilibatkan lebih dari satu. 3 per meja dan Rp.Carilah keseimbangan harga dan kuantitasnya dipasar! Gambarkan kedua fungsi tersebut pada grafik (p vs Qs)! Carilah surplus konsumenya! Carilah surplus produsenya! Linier Programming Suatu Pendekatan Grafik 13. Contoh 1 Sebuah pabrik memproduksi meja (x1) dan bangku (x2). Setiap bangku memerlukan 1 jam untuk perakitan. 4 per bangku.5 jam untuk perakitan (A). Nyatakan data tersebut dalam persamaan atau pertidaksamaan. Perusahaan tersebut tidak dapat menggunakan lebih dari 20 jam untuk perakitan. betapapun banyaknya. Perlakukan ketiga kendala pertidaksamaan tersebut sebagai persamaan.jadi Dari A x2 = 20 – 2.

(7.0) dalam gambar 13 – 1. Daerah yang digelapkan disebut daerah yang memungkinkan (feasible region). gambarkan fungsi obyektif sebagai suatu seri garis isoprofit.-.0). Metode grafik digunakaqn dibawah ini untuk menentukan kombinasi biaya yang paling murah dari y1 dan y2 yang akan memenuhi semua kebutuhan minimum.6). Dengan mensubstitusikan dalam (13.(10. Semuanya disebut penyelesaian dasar (basic solution) tetapi hanya lima terakhir yang merupakan penyelasaian dasar yang mungkin (basic feasible solution) karena penyelesaian – penyelesaian tersebut tidak melanggar kendala yang manapun.1 Grafik dari pertidaksamaan asal “ lebih kecil atau sama dengan ” akan mencakup semua titik – titik pada garis dan disebelah kiri garis.kendala ketidaknegatifan x1.gambar 13 .y2 ≥ 0 dimana kendala teknisnya dibaca ≥ karena kebutuhan minimum harus dipenuhi tetapi ungkin dilampaui 2. Perhatikan bahwa terdapat sepuluh titik ekstrim : (0.1).dan harga y2 adalah Rp 4. Di (7. kendala dari A : 2y1 + y2 ≥ 14 kendala dari B : y1 + y2 ≥ 12 kendala dari C : y1 + 3y2 ≥ 18 kendala ketidaknegatifan y1. 1.(8.B dan C. Π = 3 (7) + 4(3) = 31 yang lebih rendah dari Π = 36 diatas. Daerah yang digelapkan merupakan daerah yang mungkin memuat semua titik – titik yang memenuhi semua ketiga kendala kebutuhan ditambah kendala ketidaknegatifan. fungsi obyektif yang akan diminimumkan adalah c = 2y1 + 4y2 di bawah kendala . 12 untuk B. laba dimaksimumkan pada ekstrim(extreme point).(16.kita menemukan garis isoprofit yang menunjukan laba terbesar yang memungkinkan menyentuh daerah yang mungkin di E. Daerah itu memuat semua titik – titik yang memenuhi ketiga kendala ditambah kendala ketidaknegatifan.(0.yang disebut titik . masing – masing digambarkan oleh sumbuh tegak (vertikal) dan sumbu datar (horisontal).3) upamanya.0) dan (0. 13. produk y2 mempunyai satu unit masing – masing A dan B dan tiga unit C.(4.dan satu unit masing – masing B dan C. Lihat gambar 13 – 2 (a). Dengan menggambarkan suatu seri garis isoprofit (garis putus – putus) yng menunjukan laba(profit)yang semakin besar. 3 x2 x1 4 4 Jadi.x1 dan x2 disebut variabel keputusan atau struktural (decision or stuktural variables). 66 perpotongan kedua kendala tersebut.lihat gambar 13 – 1 (a). untuk memperoleh pemecahan yang optimal dalam daerah yang memungkinkan.(6.harga y1 adalah Rp 2. Biasanya hanya salah satu dari penyelesaian dasar yang mungkin tersebut yang akan optimal.2).garis isoprofit tersebut mempunyai kemiringan .5).10).2 DALIL TITIK EKSTRIM Dalil titik ekstrim menyatakan bahwa jika suatu nilai optimal yang memungkinkan (optimal feasible value) dari fungsi obyektif ada. 4..¾.0). nilai tersebut akan ditenukan pada salah satu titik ekstrim (atau sudut) dari batas tersebut.x2 ≥ 0.(0. Perlakukan pertidaksamaan selesaikan masing – masing untuk y2 dalam satuan y1 dan gambarkan grafiknya. Kebutuhan harianya adalah 14 untuk A. 3. Dengan menggunakan prosedur yang digunakan dalam contoh 1.3). Contoh 2. seorang petani ingin mengetahui bahwa ternak gembalanya memperoleh kebutuhan harian minimum dari tiga bahan pokok makanan pokok A.dan 18 untuk C.(a) yang terakhir adallah perpotongan kendala – kendala ketidaknegatifan.jika ada. Dimana x1 4 dan x 2 6 lihat gambar 13 – 1 (b). = 3(4) + 4(6) = 36. Produk y1 mempunyai dua unit A. Grafik dari pertidaksamaan “ lebih besar atau sama dengan ” akan mencakup semua titik – titik pada garis dan disebelah kanan garis.8).

jika 5x1 + 3x2 = 30. 2y1 + y2 .s1 = 14 y1 + y2 . (0.5 1 1 0 0 3 3 0 1 0 1 2 0 01 x2 s1 s2 20 30 16 s3 sebaliknya dalam contoh 2 semua kendala adalah “ lebih besar atau sama dengan ”.(a) gambar 13 . variabel slack s = 0.3 VARIABEL SLACK DAN VARIABEL SURPLUS Soal yang melibatkan lebih dari dua variabel berada di luar lingkup pendekatan grafik dua dimensi yang disajikan dalam bab sebelumnya. x1 2. sistem perttidaksamaan linear harus dirubah menjadi sistem persamaan linear. Suatu pertidaksamaan “ lebih besar atau sama dengan ” seperti 4x 1 + 7x2 ≥ 0 sedemikian rupa sehingga 4x1 + 7x2 – s = 60.10).c = 2(2) + 4(10)[untuk soal meminimasi. Untuk memperoleh penyelesaian optimal.0) tidak dalam daerah yang memungkinkan] 13. Umpamanya di (2.jika 4x1 + 7x2 = 60. gambarkan grafik fungsi obyektif sebagai suatu seri garis isocost (garis putus-putus) Dari (13.lihat contoh 3.variabel surplus s = 0 jika 4x1 + 7x2 = 60. s adalah suatu nilai positif yang sama dengn selisih antara 4x 1 + 7x2 dan 60 CONTOH 3 karena kendala – kendala teknis dala contoh 1 semua melibatkan pertidaksamaan “ lebih kecil atau sama dengan ” variabel slack ditambah sebagai berikut : 2.s2 = 12 y1 + 3y2 . jika 5x1 + 3x2 < 30.5x1 + x2 + s1 = 20 3x1 + 3x2 + s2 = 30 x1 + 2x2 + s3 = 16 dinyatakan dalam bentuk matriks.ini dilakukan dengan memasukan suatu variabel slack atau surplus yang terpisah (si) kedalam masing – masing pertidaksamaan (kendala ke i) dalam sistem tersebut. s adalah suatu nilai positif yang sama dengan selisih antara 5x 1 + 3x2 dan 30.karena perlunya persamaan.2 (b) 3.2) y2 c 4 1 y1 2 Garis isocost terendah yang akan menyinggung dareah yang memungkinkan adalah garis singgung (tangen) di y1 9 dan y 2 3 dalam gambar 13 – 2 (b).s3 = 18 67 .jadi c = 2(9) + 3(3) = 30 yang menunjukan suatu biaya yang lebih rendah ketimbang di titik ekstrim yang mungkin lainya. sedemikian rupa sehingga 5x1 + 3x2 + s = 30. karena itu variabel surplus dikurangkan. Suatu pertidaksamaan “ lebih kecil atau sama dengan ” seperti 5x 1 + 3x2 ≤ 30 dapat dirubah menjadi suatu persamaan dengan menambahkan suatu variabel slack s ≥ 0.

jadi s1 = -14. banyaknya titik ekstrim adalah terhingga.s2 = -12 dan s3 = -18 merupakan penyelesaian dasar.empat puluh jam tersedia untuk peleburan. n!/[m!(n-m)] dan dengan mensubstitusikan parameter – parameter yang diketahui. 1.Dalil dasar menyatakan bahwa untuk suatu sistem m persamaan dan n variabel.perhitungan untuk menentukan (1) banyaknya variabel yang harus ditetapkan sama dengan nol untuk memperoleh suatu penyelesaian dasar dan (2) besarnya penyelesaian dasar yang ada. 14 12 18 SOAL DAN JAWABAN PERNYATAAN MATEMATIS ATAS MASALAH EKONOMI 1.m variabel harus sama dengan nol untuk penyelesaian dasar 5 – 3 atau 2 variabel harus sama dengan nol untuk suatu penyelesaian dasar atau titik ekstrim.diperlihatkan dibawah ini. Jadi 5(4) (3) (2) (1) 10 3(2) (1) (2) (1) CONTOH 5.akan tetapi.Dalam bentuk matriks.jadi s1 = 20.4 DALIL DASAR Untuk suatu sistem persamaan m yang konsisten dan variabel n.s2 = 30 dan s3 = 16 merupakan suatu penyelesaian dasar yang dapat dibaca secara langsung dari atriks tersebut. dengan menggunakan rumus untuk besarnya penyelesaian dasar.nyatakan data tersebut dalam persamaan – persamaan dan pertidaksamaan yang perlu untuk menetapkan bauran output yang akan memaksimumkan laba.dengan menetapkan x1 = 0 dan x2 = 0 akan menghasilkan suatu matriks identitas untuk s1.4 jam untuk percetakan dan 10 jam untuk pemotongan.suatu titik ekstrim. karena terdapat 3 persamaan dan 5 variabel . tipe dua memerlukan 5 jam untuk peleburan. Maksimumkan Π = 24 g1 +8 g2 Dibawah 2 g1 + 5 g2 ≤ 40 kendala peleburan 68 . Dalam atriks pertama.lihat contoh 3. Jadi dengan menetapkan n – m variabel sama dengan nol menyelesaikan m persamaan untuk m variabel yang tersisa.s2. 5! 3!(2)! dimana 5! = 5(4) (3) (2) (1).dimana n > m suatu penyelesaian dimana sedikitnya n . y1 2 1 -1 0 0 1 1 0 -1 0 1 3 0 0 1 y2 s1 s2 s3 13. Beberapa dasar dapat dibaca secara langsung dari matriks tanpa suatu manipulasi aljabar.besarnya penyelesaian dasar dapat diberikan dengan rumus n! m!(n m)! dimana n! Dibaca n factorial lihat contoh 4 CONTOH 4 dengan mereduksi pertidaksamaan menjadi persamaan dalam contoh 3 menghasilkan tiga persamaan dan lima variabel. Akan tetapi. Dalam matriks kedua.s3.perhatikan bahwa penyelesaian dasar tersngebut bukan suatu penyelesaian dasar yang memungkinkan karena melanggar kendala ketidaknegatifan. 2.atau penyelesaian dasar dapat diperoleh.dan n.dengan menetapkan y1 = 0 dan y2 = 0 akan menghasilkan suatu matriks identitas yang negatif untuk s1. Sebuah pabrik khusus baja memproduksi dua tipe baja (g1 dan g2) tipe satu memerlukan 2 jam untuk peleburan.s3.dua puluh jam untuk percetakan dan 60 jam untuk pemotongan.untuk tipe 2 adalah 8.1 jam untuk percetakan dan 5 jam untuk pemotongan.s2.m variabel saa dengan nol merupakan titik ekstrim. dimana n > m akan terdapat sejumlah penyelesaian yang tak terhingga.marjin laba untuk tipe 1 adalah 24.

Jagung (x1) memberikan 2 unit zat besi dan 5 unit vitamin.padi – padian (x3) memberikan 2 unit zat besi dan 1 unit vitamin. 5 jam untuk pengayakan dan 8 jam untuk pengeringan. 3) Hitunglah kemiringan fungsi obyektif. Tepung tulang (x2) memberikan 4 unit zat besi dan 1 unit vitamin. Merk 2 harganya Rp 4.dan memberikan 3 unit vitamin A. Maksimumkan Dibawah Π = 24 g1 + 8 g2 2 g1 + 5 g2 ≤ 40 kendala 1 4 g1 + g2 ≤ 20 kendala 2 69 .. Pak samin memastikan bahwa ayam – ayamnya mendapatkan paling sedikit 24 unit zat besi dan 8 unit vitamin setiap hari. bagaimanakah kombinasi paling murah yang menjamin kebutuhan harian? Minimumkan Dibawah c = 3 y1 + 4 y2 2 y1 + 3 y2 ≥ 36 kendala vitamin A 2 y1 + 2 y2 ≥ 28 kendala vitamin C 8 y1 + 2 y2 ≥ 32 kendala vitamin D y1 + y2 ≥ 0 4..bagaimana makanan – makanan tersebut harus dicampur untuk memberikan pemmenuhan yang paling murah atas kebutuhan harian jika harga makanan tersebut masing – masing Rp 40.dan tariklah suatu garis putus – putus.taruhlah penggaris diatas kemiringan ini gerakkan penggaris tersebut ke titik singgung dengan fungsi obyektif. dan 32 unit vitamin D setiap hari. Dari soal 1.dan Rp 60.4 g1 + g2 ≤ 20 kendala percetakan 10 g1 + 5 g2 ≤ 60 kendala pemotongan g1 + g2 ≥ 0 2.Rp 20. Marjin laba untuk batu kasar adlah 40. 1) Gambarkan grafik kendala – kendala pertidaksamaan setelah menyelesaikan masing – masing untuk g2 dalam g1 2) Grafikan kembali dan hitamkan daerah yang memungkinkan(feasible region).dan memberikan 2 unit vitamin A. Tentukan bauran output yang memaksimumkan laba dengan menyederhanakan data ini menjadi persamaan – persamaan dan pertidaksamaan. Di perusahaan tersebut tersedia waktu 36 jam untuk penghancuran. x2. Seorang yang gandrung model hidup sehat ingin memperoleh minimum 36 unit vitamin A..Dengan memakai persamaan persamaan dan pertidaksamaan. kasar (x1) dan halus (x2). Merk 1 harganya Rp 3. Sebuah perusahaan gilingan batu untuk pekarangan rumah memproduksi dua macam batu.batu kerikil yang kasar memerlukan 2 jam untuk penghancuran. 30 jam untuk pengayakan dan 40 jam untuk pengeringan. untuk batu halus adalah 50. 28 unit vitamin C. 2 unit vitamin C dan 2 unit vitamin D. dengan menggunakan data dibawah. Maksimumkan Dibawah Π = 40 x1 + 50 x2 2 x1 + 6 x2 ≤ 36 kendala penghancuran 5 x1 + 3 x2 ≤ 30 kendala pengayakan 8 x1 + 2 x2 ≤ 40 kendala pengeringan x1 + x2 ≥ 0 3. x3 ≥ 0 GRAFIK UNTUK PENYELESAIAN 5. 2 unit vitamin Cdan 8 unit vitamin D. 4) Bacalah setiap nilai kritis untuk g1dan g2 pada titik singgung.Minimumkan c = 40 x1 + 20 x2 + 60 x3 Dibawah 2 x1 + 4 x2 + 2 x3 ≥ 24 kendala vitamin zat besi 5 x1 + x2 + x3 ≥ 24 kendala vitamin x1. dan evaluasilah fungsi obyektif pada nilai – nilai ini. 3 jam untuk pengayakan dan 2 jam untuk pengeringan. batu halus memerlukan 6 jam untuk penghancuran..

4 (b) untuk daerah yang memungkinkan. kemiringan = .3 (b) 6.4/5. g1 = 4 dan g2 = 4. x1 =3 dan x2 = 5. Dari fungsi obyektif. di titik singgung. gambar 13. dalam gambar 13. dari g2 = 8 – 2/5 g1.g1 = 20. dengan menggunakan data berikut.3 (b).g2=Π/8– 3 g1. Dari fungsi obyektif. jadi Π = 40(3) + 50 (5) = 370 (a) gambar 13. kemiringan = -3.4 (b). Kerjakan kembali seperti soal diatas apabila diketahui data berikut : Minimumkan c = 4 x1 + 2 x2 Dibawah 4 x1 + x2 ≥ 20 kendala 1 2 x1 + x2 ≥ 14 kendala 2 x1 + 6 x2 ≥ 18 kendala 3 x1.untuk kendala 1.gkin dignh 10 g1 + 5 g2 ≤ 60 kendala 3 g1 + g2 ≥ 0 kendala – kendala pertidaksamaan tersebut harus digrafikan seperti terlihat dalam gambar 13.jadi Π= 24(4) + 8(4) = 128 (a) gambar 13. Daerah yang mungkin digrafikan dalam gambar 13.4 (b) PENYELESAIAN OPTIMAL BERGANDA 7. yang diperoleh dalam soal 2 Maksimumkan Π = 40 x1 + 50 x2 Dibawah 2 x1 + 6 x2 ≤ 36 kendala 1 5 x1 + 3 x2 ≤ 30 kendala 2 8 x1 + 2 x2 ≤ 40 kendala 3 x1 + x2 ≥ 0 lihat gambar 13.apabila g2 = 0. perhatikan bahwa kendala ketidaknegatifan hanya membatasi analisis pada kuadran pertama. kerjakan kembali seperti soal 5. x2 = Π /50 – 4/5 x1. x2 ≥ 0 70 .4 (a) untuk kendala yang digrafikan. g2 = 8.3 (a). apabila g1 = 0.

2 x1 + 3 x2 . x2 ≥ 0 (a) untuk pertidaksamaan “lebih besar atau sama dengan”.2) juga termasuk dalam penyelesaian optimal.5 dengan garis isocost menyinggung kendalan kedua. 2 y1 + 5 y2 + s1 = 40 4 y1 + y2 + s2 = 20 10 y1 + 5 y2 + s3 = 60 y1 (b) 2 5 1 4 1 0 10 5 0 0 0 1 0 0 1 y2 s1 s2 s3 40 20 60 9. Dala kasus ini. Tambahkan variabel slack. Perhatikan bahwa penyelesaian optimal berganda tidak menyangkal dalil titik ekstrim. Maksimumkan Π = 24 y1 + 8 y2 Dibawah 2 y1 + 5 y2 ≤ 40 4 y1 + y2 ≤ 20 10 y1 + 5 y2 ≤ 60 y1 .penyelesaian optimal berganda (multiple optial solution) akan terjadi bilamana terdapat ketergantungan linear antara fungsi obyektif dan salah satu kendala.s2 = 28 8 x1 + 2 x2 . maka tidak terdapat penyelesaian tunggal optimal yang memungkinkan. fungsi obyektif dan kendala 2 adalah secara linear tergantung (tak bebas) karena yang satu dapat dinyatakansebagai penggandaan dari yang lain.jadi.8) dan (6. Kerjakan seperti soal di atas untuk yang berikut : Minimumkan c = 60 x1 + 80 x2 Dibawah 2 x1 + 3 x2 ≥ 36 2 x1 + 2 x2 ≥ 28 8 x1 + 2 x2 ≥ 32 x1.2) akan meminimumkan fungsi obyektif dibawah kendala tersebut.s1 = 36 2 x1 + 2 x2 .karena titik – titik ekstrim (3.8) dan (6. (a) ubahlah kendala – kendala pertidaksamaan dalam data berikut menjadi persamaan dengan menambahkan variabel slack atau mengurangkan variabel surplus dan (b) nyatakan persamaan tersebut dalam bentuk matriks. Setiap titik antara garis (3. kurangkan variabel surplus. yaitu c = 4(3) = 38 atau c = 4(6) + 2(2) = 28 VARIABEL SLACK DAN SURPLUS 8. y2 ≥ 0 (a) untuk pertidaksamaan “lebih kecil atau sama dengan”.jadi.s3 = 32 71 .5 Dalamgambar 13.(a) (b) gambar 13.

Tentukan (b) banyaknya variabel yang harus ditetapkan sama dengan nol untuk memperoleh penyelesaian dasar dan (c) banyaknya penyelesaian dasar yang ada. apabila ditentukan Π = 5x1 + 3x2 Di bawah kendala.g3 ≥ 0 g1 (a) 6 4 5 -1 0 6 g1 + 4 g2 + 5g3 ≥ 30 3 6 5 0 -1 g2 g3 s1 s2 30 20 3 g1 + 6 g2 + 5g3 ≥ 20 (b) (c) karena terdapat dua persamaan dan 5 variabel. (a) Reduksikan kendala – kendala pertidaksamaan dari data berikut ini menjadi persamaan dan nyatakan dalam bentuk matriks. sembari selalu menyempurnakan penyelesaian sebelumnya. maka sebanyak n – m = 5 – 2 = 3 variabel harus ditetapkan sama dengan nol untuk suatu penyelesaian dasar. penyelesaian dasar pertamanya adalah s1 30 dan s2 20 . Contoh . karna paling sedikit n – m variabel harus sama dengan noluntuk suatu penyelesaian dasar. 6x1 + 2x2 ≤ 36 2x1 + 4x2 ≤ 28 72 .variabel – variabel yang disamakan dengan nol pada langkah tertentu disebut tidak dalam basis atau tidak dalam penyelesaian.g2. sampai penyelesaian optimal dicapai. Algoritma simpleks digunakan sebagai berikut untuk memeksimumkan laba.x1 (b) 2 3 -1 0 0 2 2 0 -1 0 8 2 0 0 -1 x2 s1 s2 s3 36 28 32 10. (d) tentukanlah penyelesaian dasar pertama dari matriks tersebut. Algoritma simpleks adalah suatu metode(atau prosedur perhitungan) untuk menentukan penyelesaian dasar yang memungkan atas asuatu sistem persamaan dan pengujian keoptimalan penyelesaian tersebut. Minimumkan c = 54 g1 + 48 g2 + 50g3 Di bawah 6 g1 + 4 g2 + 5g3 ≥ 30 3 g1 + 6 g2 + 5g3 ≥ 20 g1. Algoritma bergerak dari satu penyelesaian dasar yang mungkin ke penyelesaian dasar yang lain. dan penyelesaian diperoleh dengan menyelesaikan m persamaan untuk m variabel sisanya. n – m variabel ditetapkan saa dengan nol dala setiap langkah dari prosedur tersebut. ALGORITMA SIMPLEKS : MAKSIMASI Algoritma adalah suatu kaidah aatau suatu prosedur sistematis untuk mendapatkan penyelesaian suatu soal.karena keduanya negatif penyelesaian – penyelesaian ini tidak dapat menjadi suatu penyelesaian dasar yang memungkinkan LIN EAR PROGRAMMING ALGORITMA SIMPLEKS : 14. Banyaknya penyelesaian adalah n! m!(n m) (d) 5! 2!(3!) 5(4)(3)(2)(1) 2(1)(3)(2)(1) 10 Dengan menetapkan g1 = g2 =g3 = 0.1. variabel – variabel yang tidak ditetapkan saa dengan nol disebut dalam basis atau dalam penyelesaian. Metode simpleks diilustrasikan dalam contoh 1 untuk maksimisasi dan dalam contoh 3 untuk miniisasi. Atau lebih sederhana variabel – variabel dasar.

fungsi obyektif mempunyai nilai nol.akan menentukan variabel yang meninggalkan baris. Baris dengan ratio pemindahan terkecil (yaitu baris pivot) dengan mengabaikan rasio – rasio lebih kecil atau sama dengan nol. maka s1 akan meninggalkan basis. Elemen kolom konstanta dari baris terakhir adalah juga nol. s2 = 40. 2.5x1 + 5x2 ≤ 40 1. Untuk bergerak kesuatu penyelesaian mendasar baruyang mungkin. ii) Variabel yang dieliminasi ditentukan oleh rasio pemindahan (displacement ratio).sesuai deng n nilai fungsi obyektif di titik asal (kalau x 1 = x2 = 0) Tabel simpleks awal : x1 x2 s1 s2 s3  2 1 0 0 5 5 0 1 0 2 4 0 0 1 -5 -3 0 0 0 indikator konstanta 36 40 28 0 iv) Penyelesaian mendasar pertama yang mungkin dapat dibaca dari tabel s impleks awal. Dengan menetapkan x1 = 0 dan x2 = 0. Tabel Sipleks Awal x1.s1 = 36. x1 di asukan ke dalam basis x1enjadi kolom pivot dan ditandai dengan anak panah. suatu penyelesaian mendasar yang baru diperiksa. Karena 36 memberikan rasio terkecil 36 40 28 . Karena vektor 6 6 5 2 satuan (unit vektor) dengan 1 dalm baris pertamanya berada dibawah kolo s 1. s3 = 28 pada penyelesaian mendasar pertama yang mung kin tersebut. Proses pemilihan variabel yang dimasukan dan variabel yang dikeluarkan tersebut dinamakan perubahan basis (change of basis) i) Indikator negatif dengan nilai absolut terbesar akan menentukan variabel yang asuk ke dala basis. Rasio pemindahan diperoleh dengan membagi elemen kolom konstan dengan elemen kolom pivot. Karna -5 dalam kolom pertama (atau x1)merupakan indikator negatif dengan nilai absolut terbesar. suatu variabel diasukan kedalam basis dan salah satu variabel sebelumnya berada dalam basis harus dikeluarkan. Elemen Pivot dan Perubahan Dasar (basis) Untuk menaikan nilai fungsi obyektif. Elemen pivotnya adalah  elemen pada perpotongan kolom variabel 73 . seperti dalam contoh 5 bab 3. x1 6 2 1 0 0 5 5 0 1 0 2 4 0 0 -1 x2 s1 s2 36 40 28 s3 iii) Susunlah suatu tabel simpleks awal yang terdiri dari matriks koefisien dari persamaan kendala dan vektor kolom dari konstanta letakan diatas satu baris dari indiktor yang merupakan negatif – negatif dari koefisien fungsi obyektif dan sebuah koefisien nol untuk masing – masing variabel slack. baris1 merupakan baris pivot.x2 ≥ 0 i) Ubahlah pertidaksamaan menjadi persamaan dengan menambahkan variabel – variabel slack 6x1 + 2x2 + s1 = 36 5x1 + 5x2 + s2 = 40 2x1 + 4x2 + s3 = 28 ii) Nyatakan persamaan – persamaan kendala dalam bentuk matriks.

ini memberikan tabel kedua x1 x2 s1 s2 s3 1 0 0 0 1 3 konstanta 6 10 16 0 30 1 6 5 6 1 3 5 6 0 1 0 0 10 3 10 3 4 3 0 1 0 Penyelesaian mendasar kedua yang mungkin dapat dilihat secara langsung dari tabel kedua.dan s3 = 16. eleen terakhir dala baris terakhir (dalam hal ini. Pivoting Pivoting adalh proses penyelesaian m persamaan dalam bentuk m varibel yang sekarang berada dala basis. 3 i. Karena vector satuan dengan 1 dalam baris keduanya adalah dibawah s2 . Karena hanya satu variabel baru yang memasukibasis pada setiap langkah proses. maka s2 akan meninggalkan basis untuk mempivot.dan langkah sebelumnya selalu melibatkan suatu matriks identitas. Kalikan baris2 dengan 10 x1 x2 s1 s2 s3 1 0 0 0 1 3 konstanta 6 3 16 30 74 1 6 1 4 1 3 5 6 0 3 10 0 0 1 10 3 4 3 0 1 0 0 . 6 Tabel kedua: x1 x2 s1 s2 s3 1 1 3 konstanta 6 40 28 0 1 6 0 0 5 5 0 1 0 2 4 0 0 1 -5 -3 0 0 0 ii) Setelah mereduksi elemen pivot menjadi 1. seperti dala metode eliminasi Gauss ( lihat butir 10.12). Dengan menetapkan x2 = 0 dan s1 = 0 . Jadi 10 3 menjadi elemen pivot yang baru. s2 = 0.2 kali baris1 dari baris3 dan tambahkan 5 kali baris1 ke baris4. Maka x2 3 dimasukan kedalam basis. 4. kolom2 menjadi kolom pivotnya. Dengan membagi kolom konstanta dengan kolom pivot memperlihatkan bahwa rasio terkecil adalah dalam baris kedua. kalikan baris1 dengan 1 . Dengan mengubah basis dan melakukan pivoting kontinu menurut kaidah di atas sampai hal ini di capai. pivoting hanya meliputi pengubahan elemen pivot menjadi 1 dan semua eleen lainya dalam kolom pivot menjadi nol. Optimisasi Fungsi obyektif di maksimumkan kalau tidak terdapat indikator negative dalam baris terakhir. rampungkan kolom pivotnya. Di sini.yang masuk ke basis dan baris yang berhubungan dengan variabel yang meninggalkan basis(yaitu elemen pada perpotongan baris pivot dan kolo pivot) 3. Karena 4 dalam kolom kedua merupakan satu – satunya indikator negative. kurangkan 5 kali baris1 dari baris2.swebagai berikut : i) Kalikan baris pivot dengan kebalikan (reciprocal) dari eleen pivot. Dalam hal ini. 30) merupakan nilai fungsi obyektif pada penyelesaian mendasar kedua yang mungkin. sekarang tinggal suatu atriks identitas yang memberikan x1 = 6.

11. fungsi obyektif tersebut mencapai suatu maksimum pada 34 . seringkali akan lebih mudah untuk menyelesaikan soal – soal minimasi dengan memakai dua. nilai negative yang dihasilkan oleh variabel surplus menghadirkan suatu soal istimewa.ii. alam contoh 1. 1.tidak akan menambah sesuatupun pada fungsi laba). dan sebesar 0 untuk kenaikan satu unit dalam nilai konstanta dari kendala 3.lihat contoh 3. Jadi. erarti tidak sepenuhnya dimanfaatkan penyelesaian optimal dan nilai marginalnya adalah nol (yaitu penambahan satu lagi unit lain. dari (14. Π = 5x1 + 3x2 5x1 + 5x2 + s2 = 40 = 5(5) + 3(3) = 34 5(5) + 5(3) + 0 = 40 6x1 + 2x2 + s1 = 36 2x1 + 4x2 + s3 = 28 6(5) + 2(3) + 0= 36 2(5) + 4(3) + 6 = 28 2. menghasilkan table ketiga Tabel ketiga x1 x2 1 0 0 0 0 1 0 0 s1 1 4 1 4 10 3 kali baris2 dari baris3. 75 . 14. Untuk gabar grafik lihat contoh 13. Kemudian kurangkan 1 kali baris2 dari baris1. Nilai indicator dibawah setiap variabel slack dalam tabel terakhir menyatakan nilai marginal (marginal value) atau harga bayangan (Shadow price) dari input yang berhubungan dengan variabel tersebut.2. ini merupakan penyelesaian optimal. para mahasiswa mungkin lebih baik membaca bab 15 terlebih dahulu. s1 0 . yaitu berapa banyak fungsi obyektif akan berubah sebagai akibat dari kenaikan satu unit dalam input tersebut.1) dan (2) mengevaluasi jimlah nilai marginal dari sumberdaya (resources). jawaban pada contoh 1 dapat dicek dengan (1) substitusi nilai – nilai kritis baik dalam persamaan fungsi obyektif maupun persamaan kendala dalam (14. karena kendala 3 mempunyai variabel slack positif.3.3. oleh karena itu. x 2 3 . CONTOH 2. dan sebesar 5 atau 40 sen untuk kenaikan satu unit dalam nilai konstanta dari kendala 2. ALGORITMA SIMPLEKS : MINIMISASI Apabila algoritma simpleks digunakan untuk mencari suatu nilai minimal. 6 unit dari input yang ketiga tetap tidak terpadu. 3 kali baris2 ke baris4. Π = MPA (A) + MPB (B) + MPC (C) = 1 2 (36) + 2 5 (40) + 0 (28) = 34 14.1) tidak terdapat variabel slack dalam dua kendala yang pertama dan dua input yang pertama semuanya habis. Akan tetapi.dan tambahkan 4 3 s2 1 10 3 10 s3 0 0 1 0 konstanta 5 3 6 34 1 2 1 2 -1 2 5 Penyelesaian mendasar ketiga yang memungkinkan dapat dibaca secara langsung dari tabel tersebut. dengan s 3 6 . Umpamakan A.B. s 2 0 . laba akan naik sebesar ½ unit atau 2 50 sen untuk perubahan satu unit dalam nilai konstanta dari kendala 1.C melambangkan berbagai konstanta dalam kendala 1. Karena tidak terdapat indicator negative yang tertinggal dalam baris terakhir. s 3 6 . Elemen terakhir dalam baris terakhir menunjukan bahwa x1 5 . Nilai optimal dari fungsi dari fungsi obyektif akan selalu sama dengan penjumlahan dari nilai marginal setiap input dikalikan kuantitas yang tersedia dari masing – masing input. yang di bahas dalam bab 15. NILAI MARGINAL ATAU HARGA BAYANGAN. Dengan s1 0 dan s 2 0 . Semua sarat harus dienuhi untuk suatu optimum.2.

i. Fungsi obyektif mempunyai koefisien – koefisiennol untuk variabel surplus dan koefisien – koefisien M variabel – variabel buatan. x2 ≥ 0 1.2) diatas baris indicator yang negatif dari koefisien – koefisien fungsi obyektif. Variabel buatan (Ai ≥ 0)adalah suatu variabel kosong (dummy variable) yang ditambahkan dengan maksud khusus untuk menghasilkan suatu penyelesaian dasar awal yang mungkin. Tabel Simpleks Awal yang Disesuaikan untuk Meminimisasi. dengan y sekarang dig anti x. tabel simpleks awal (sedikit dimodifikasi) i. Untuk mengatasi masalah tersebut. s2 = -12. dimana c = 2 x1+ 2 x2 . Variabel tersebut tidak mempunyai makna ekonomi. seperti dalam simpleks awal untuk maksimisasi. dibawah kendala – kendala gizi. Sutu variabel yang terpisah ditambahkan untuk masing – masing pertidaksamaan asal yang bersifat “lebih besar atau sama dengan”. ubahlah pertidaksamaan menjadi persamaan dengan mengurangkan variabel – variabel surplus 2 x1+ x2 – s1 = 14 x1+ x2 – s2 = 12 x1+ 3 x2 – s2 = 18 ii. Jadi. x1 2 1 -1 0 0 1 1 0 -1 0 1 3 0 0 -1 x2 s1 s2 s3 Dari matriks tersebut jelas bahwa jika x1 = 0 dan x2 = 0. Data tersebut berasal dari contoh 2 dalam bab13. 2 x1+ x2 ≥ 14 x1+ x2 ≥ 12 x1+ 3 x2 ≥ 18 x1 . Tambahkan variabel – variabel buatan. dimana M adalah suatu bilangan besar yang tidak mungkin (impossibly large number) untuk meyakinkan bahwa A akan dikeluarkan dari penyelesaian optimal.CONTOH 3. x1 x2 s1 s2 s3 A1 A2 A3 konstanta 2 1 -1 0 0 1 0 1 1 0 -1 0 0 1 1 3 0 0 -1 0 0 -2 -4 0 0 0 -M -M indikator 0 0 1 -M 14 12 18 76 . s3 = -18 dan nilai negatif adalah tidak mungkin (nonfeasible). x1 14 12 18 x2 2 1 -1 0 0 1 0 1 1 0 -1 0 0 1 1 3 0 0 -1 0 0 0 0 1 s1 s2 s3 A1 A2 A3 14 12 18 2. Nyatakan persamaan kendala dalam bentuk matriks. harus di msukan variabel – varaibel buatan (artificial variables). iii. algoritma simpleks digunakan di bawah ini untuk meminimumkan biaya. penyelesaian dasar tidak mungkin karena s 1 = -14. Buatlah tabel simpleks awal dengan meletakan matriks koefisien dan vector kolom dari konstanta dalam (14.

suatu bilangan besar yang tidak mungkin. Dengan mengandaikan x1 = x2 = s1 = s2 = s3 = 0. Pengulangan (Reiterasi) 77 .ii. Rampungkan kolom pivot dengan engurangkan baris3 dari baris1 dan baris2. A2 = 12. Elemen Fivot i. A3 = 18. Pivoting i. sebagaimana ditandai dengan anak panah. indicator positif terbesar akan menentukan kolom pivot dan variabel yang memasuki basis.ini akan menghasilkan tabel awal. 3. elemen pivot pada perpotongan kolom pivot dan baris pivot adalah 3. 4. Untuk menimasi. Untuk menurunkan biaya. Tabel awal x1 x2 s1 s2 s3 A1 A2 A3 konstanta 2 1 -1 1 1 0 1  0 4M-2 5M-4 -M 0 -1 0 -M 0 0 -1 -M 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 14 12 18 44M Penyelesaian mendasar pertama yang unkindapat dilihat secara langsung dari tabel awal tersebut. bukan indicator .2 0 -M -M 0 -5M 4 3 5. dan (5M-4) kali baris3 dari baris4 Tabel kedua : x1 x2 s1 s2 s3 A1 A2 A3 konstanta 5 3 2 3 1 3 0 0 1 3 -1 0 0 0 -1 0 1 3 1 3 1 0 0 0 0 1 0 -1 3 -1 3 1 3 8 6 6 14M + 24 -1 3 2M .4 3 7M . dan fungsi obyektifnya adalah 44M. persis untuk soal maksimisasi. Baris pivot dan variabel yang meninggalkan basis ditentukan oleh rasio terkecil yang dihasilkan dari pembagian elemen – elemen kolom pivot. Kurangi elemen pivot menjadi 1 dengan mengalikan baris 3 oleh 2 1 1 3 1 3 1 1 1 -1 0 0 0 0 -1 0 0 -1 3 1 0 0 0 1 0 0 0 0 1 3 14 12 6 44M 4M-2 5M-4 -M -M -M 0 0 ii. maka baris3 menjadi baris pivot. carilah perubahan basis. 5M – 4 merupakan indicator positif terbesar. Jadi x 2 menjadi kolom pivot. penyelesaian mendasar pertama yang memungkinkan adalah A1 = 14. ii. karena 18 6 merupakan rasio terkecil yang dihasilkan. Kemudian pindahkan M dari kolom variabel buatan dengan menambahkan M kali ( baris1 + baris2 + baris3). Karena elemen terakhir dari baris paling bawah . A3 3 akan meninggalkan basis karena vector satuan dengan 1 dalam baris ketiga adalah berhubungan dengan A3. 44M .

2 5 M-6 5 0 -6M 6 5 . Tabel keempat x1 1 0 0 0 x2 0 0 1 0 s1 0 1 1 5 s2 -3 2 5 2 s3 1 2 1 2 2 5 A1 0 -1 -1 5 -M A2 3 2 5 2 A3 .Selama masih ada suatu indikator positif.2 -M -M 0 -5M 4 3 ii. 6. x1 1 0 0 0 x2 0 0 1 0 s1 3 -5 2 5 1 5 1 3 baris1 dari baris3. Kalikan baris1 dengan 1 2 3 1 3 3 5 .elemen pivotnya adalah 5 . proses tersebut berjalan terus. Rampungkan kolom1 dengan mengurangkan 2 baris1 dari baris2.`12 2 5 24 5 1 1 5 -1 -1 5 . Tambahkan 5 baris2 ke baris1.`12 2 5 konstanta 9 7 3 30 78 0 -1 0 0 -1 -M+1 -M+1 . dan (7M s2 0 -1 0 -M s3 1 5 1 5 2 5 A1 3 5 2 5 A2 0 1 0 2 A3 -1 5 -1 5 2 5 konstanta 24 5 14 5 -1 5 .7M 5 2 14 5 0 -M 0 0 22 5 2M .`12 . menghasilkan tabel ketiga. 3 i. 3 -5 0 0 1 0 3 0 -1 0 1 5 1 3 3 5 0 1 0 -1 3 -1 3 1 3 24 5 0 0 0 0 0 6 6 14M + 24 -1 3 2M .7M 5 22 5 14M 136 5 2M .2 5 M-6 5 . dan kurangkan 1 baris2 dari baris3 dan [2M – 2)/5] baris2 dari 5 baris4. jadi x1 masuk ke basis dan A1 meninggalkan basis. baris pivot yang baru adalah baris1.6M 6 5 14M 136 5 3 ii. Kalikan baris2 dengan 5 2 1 0 0 0 0 0 1 0 3 -5 0 5 2 1 5 1 2 2 5 3 5 0 5 2 -1 5 . Pivot Keempat i.4 3 7M . 3 – 2)/3] baris1 dari baris4. Kolo pivot yang baru menjadi kolom1.

Ini harus selalu cocok untuk suatu penyelesaian optimal. A2. x 2 3 .misalkan A.C melambangkan konstan . suatu penyelesaian optimal yang mungkin telah dicapai. Dengan indicator untuk s1 sama dengan nol.s2. dan (2) mengevaluasi jumlah biaya marginal sumberdaya. suatu variabel buatan tidak akan pernah tampak dalam basis tabel terakhir jika suatu penyelesaian dasar optimal yang mungkin telah dicapai. dimana c 30 Beberapa hal penting untuk diperhatikan : 1. tidak terdapat surplus.B.-. Jawaban pada contoh 1 dapat dicek dengan (1) substitusi nilai – nilai kritis baik dalam persamaan fungsi obyektif maupun persamaan kendala. Ini harus cocok dalam setiap yang berurutan dapat membantu dalam menemukan kesalahnmatematis.3.Dengan semua indikator negatif.konstan dalam kendala 1. kebutuhan kedua dn ketiga dipenuhi secara tepat . dan memperhatikan bahwa vector satuan untuk x 2 dan s1 berbalikan. Dengan s 2 s 3 0 . lihat contoh 4 dan 5 dalam bab 15. indikator darivariabel – variabel buatan semuanya negatif dalam tabel terakhir. dan s 3 0 . Untuk penyelesaian dual soal pada soal yang sama. 4. c = 2x1 + 4x2 x1 + x2 – s2 = 12 = 2(9) + 4(3) = 30 9 + 3 – 0 =12 2x1 + x2 – s1 = 14 x1 + 3x2 – s3 = 18 2(9) + 3 – 7 = 14 9 + 3(3) – 0 = 18 2. s1 7 . Dengan s1 7 kebutuhan pertama dipenuhi secara berlebih sebesar 7 unit. Nilai absolut dari indicator untuk variabel – variabel surplus memberikan nilai marginal atau harga bayangan dari kendala. CONTOH 4.dengan memishkan matriks identitas. c = MCA(A) + MCB(B) + MCC(C) = 0(14) + 1(12) + 1(18) = 30 79 . 5. biaya total akan sama dengan jumlah dari berbagai kebutuhan dikalikan harga bayangan masing – masing. karena nilai absolut indikator untuk s2 dan s3 adalah 1.2. A3). 1.s3) selalu sama dengan negatif dari elemen – elemen koefisien untuk variabel – variabel buatanya yang berkaitan (A1. s 2 0 . pengurangan satu unit dalam kebutuhan gizi pertama tidak akan mengurangi biaya. sebagaimana halnya nilai marginal. pengurangan satu unit dalam kebutuhan gizi kedua dan ketiga akan mengurangi biaya sebesar Rp 1. 2. penyelesaian dasar optimal yang memungkinkan tersebut dapat dibaca secara langsung dari tabel keempat x1 9 . Akan tetapi. elemen – elemen koefisien dari dari variabel surplus(s1. nilai fungsi obyektif ditunjkan oleh elemen terakhir dari baris terakhir. 3.

Maksimumkan Π = 3y1 + 4y2 Yang terikat pada 2. 1 1 0 0 3 0 1 0 1 0 0 1 2 -4 0 0 0 20 30 8 0 Rampungkan kolom pivot dengan mengurangkan baris3 dari baris1 . Tambahkan variabel slack pada kendala untuk membuatnya jada persamaan . i. pada penyelesaian mendasar pertama yang mungkin tersebut. 5 2 3 1 2 -3 ii. Pivot. 2. Nyatakan persamaan – persamaan tersebut dalam nentuk matriks y1 2. 3.5y1 + y2 ≤ 20 3y1 + 3y2 ≤ 30 y1 + 2y2 ≤ 16 y1. elemen pada perpotongan baris pivot dan kolom pivot. Gunakan algoritma simpleks untuk menyelesaikan system persamaan dan pertidaksamaan berikut. y2 s1 s2 20 30 16 s3 Bentuklah tabel simpleks awal yang terdiri dari matriks koefisien persamaan kendala dan vector kolom konstan yang diletakan diatas baris indikator yang negatif dari koefisien – koefisien fungsi obyektif dengan koefisien nol untuk variabel awal : Tabel awal : y1 5 2 y2 s1 s2 s3 1 3  -4  1 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 0 konstanta 20 30 16 0 3 1 -3 Dengan menetapkan y1 = y2 = 0. 2. Ubahlah elemen pivot menjdin1 dengan mengalikan baris3 dengan ½ . 3 kali baris3 dari baris2 . Indikator negatif dengan nilai absolute terbesar (anak panah) menentukan kolom pivot. Jadi.5 1 1 0 0 3 3 0 1 0 1 2 0 0 1 iii. s2 = 30. Rasio pemindahan terkecil yang diperoleh dari pembagian elemen kolom konstanta dengan elemen kolom pivot menentukan baris pivot. dan s3 = 16. penyelesaian mendasar pertama yang mungkin adalah s1 = 20.y2 ≥ 0 1. Tentukan harga bayangan dari input (atau kebutuhan) untuk kendalanya. Merubah basis. Π = 0.SOAL DAN JAWABAN MAKSIMISASI 1. dan tambahkan 4 kali baris3 ke baris4 80 .5y1 + y2 + s1= 20 3y1 + 3y2 + s2 = 30 y1 + 2y2 + s3= 16 ii. Buatkan tabel simpleks awal i.  menjadi elemen pivot.

½ kali baris2 dari baris3. Kolom 1 adalah kolom pivot.Tabel kedua : y1 2 3 2 1 2 y2 s1 s2 s3 0 0 1 0 0 1 -1 2 -3 2 1 2 konstanta 12 6 1 0 0 8 -1 0 0 0 2 32  4. s 2 0 .s1= 36 2 x1 + 2 x2 . baris2 baris pivot. Ubahlah basis pada pivotnya sekali lagi. Rampungkan kolom pivot dengan mengurangkan 2 kali baris 2 dari baris1 . Tabel final : y1 0 1 0 0 y2 s1 0 0 1 0 s2 s3 3 2 konstanta 4 4 6 36 1 -4 3 0 2 3 -1 1 2 0 -1 3 0 2 3 1 Karena tidak terdapat indikator negatif yang tertinggal. dan 3 adalah elemen pivot.s3= 32 81 . Gunakan algoritma simpleks untuk menyelesaikan system persamaan dan pertidaksamaan yang diberikan di bawah ini. Harga bayangan dari input berturut – turut adalah 0. 2 x1 + 3 x2 . 2 dan 1. Miniumkan Yang terikat pada c = 60 x1 + 80 x2 2 x1 + 3 x2 ≥ 36 8 x1 + 2 x2 ≥ 32 2 x1 + 2 x2 ≥ 28 x1. s1 4 . Ubahlah pertidaksamaan menjadi persamaan dengan mengurangkan variabel – variabel surplus. dan nyatakan dalam bentuk matriks. Dengan mengoreksi fakta bahwa vektor – vektor satuan dari matriks identitas tidak beraturan (out of order). y 1 4 . 2 i. tbel fina dapat diperoleh. Tentukan harga bayangan dari masing – masing persyaratan kendalanya. 3 MINIMISASI 2.s2 = 28 8 x1 + 2 x2 . y 2 6 . Kalikan baris2 dengan 2 1 1 2 3 2 0 0 1 0 0 2 3 -1 2 -1 1 2 12 4 8 32 -1 1 0 0 0 0 0 2 ii. s 3 0 . dan Π = 36. dan tambahkan barsi2 ke baris4.x2 ≥ 0 1. lihat contoh 1 dalam bab 13 dimana x digunakan sebagai pengganti y.

x1 2 2 8 -60 x2 3 2 2 -80 s1 -1 0 0 0 s2 0 -1 0 0 s3 0 0 -1 0 A1 1 0 0 -M A2 0 1 0 -M A3 0 0 1 -M konstanta 36 28 32 30 14 12 18 Rampungkan kolom – kolom variabel buatan M dengan menambahkan M dikalikan (baris1 + baris2 + baris3) ke baris4 untuk mendapatkan tabel awal. Kalikan baris3 dengan 2 2 1 3 2 1 4 1 8 -1 0 0 -M 0 -1 0 -M 0 0 -1 8 -M 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 8 36 28 4 96M 12M-60 7M-80 0 82 . 8 i.x1 2 2 8 3 2 2 -1 0 0 0 -1 0 0 0 -1 x2 s1 s2 20 30 16 s3 Karena penyelesaian dasar pertamanya tidak akan mungkin. Tabel awal x1 x2 s1 -1 0 0 0 s2 0 -1 0 0 s3 0 0 -1 0 A1 1 0 0 -M A2 0 1 0 -M A3 0 0 1 -M konstanta 36 28 32 30 2 3 2 2  2 12M-60 7M-80 3. dan koefisien yang secara semu (M) untuk variabel – variabel buatan. Karena 12M -60 merupakan indikator positif terbesar dan 32 adalah rasio pemindahan terkecil. Pilihlah elemen pivotnya dan pivotkan. 8 adalah elemen pivotnya. tambahkan variabel – variabel buatan x1 x2 2 1 -1 0 0 1 0 1 1 0 -1 0 0 1 1 3 0 0 -1 0 0 0 0 1 s1 s2 s3 A1 A2 A3 2. Buatlah tabel awal dengan melengtakan matriks koefisien dan vektor kolom dari konstanta di atas negatif darikoefisien – koefisien fungsi obyektif yang mempunyai koefisien nol untuk variabel – variabel surplus.

10 1 .20 3 20 4 1 3M 5 26 -M  M 1 8M 26 0 5 10 11M 10 48M + 240 5. s1 s2 0 -1 0 s3 1 10 1 10 1 4 baris1 dari baris3. Pivotkan untuk ketiga kali. Pivotkan lagi i. 2 kali baris3 dari baris2.10 56 5 16 3 6 3 1 1 10 -5 3 0 26 -M M 10 1 6 3 .10 -1 6 3 20 0 26 0 3M 5 1 8M 5 11M 10 1 16M 5 968 =+ + 1 ii. dan (12M-60) kali baris3 dari baris4 Tabel kedua : x1 x2 s1 s2 s3 A1 A2 A3 konstanta 0 0 1 0 5 2 3 2 1 4 -1 0 0 0 -1 0 M 1 4 1 4 1 8 1 0 0 15 0 1 0 0 0 0 1 3M 2 15 28 20 4 48M + 240 4M-65 -M -M 0 2 4. Kalikan baris2 dengan 5 3 0 1 10 2 3 0 0 1 0 1 0 0 0 2 -5 0 5 3 1 .10 56 5 -1 4 1 8 3M 15 2 20 4 48M+ 240 - 0 0 4M–65 -M -M =+ + + ii. Kurangkan 2 kali baris3 dari baris1.10 16 5 3 . i. 5 merupakan eleen pivot yang baru.10 56 5 konstanta 2 -5 3 5 1 10 3 -5 1 .20 -1 1 .ii. 2 5 kali baris2 dari baris3 dan 83 . dan (4M – 65) baris1 dari baris4 A1 2 3 A2 0 1 0 A3 1 . Dengan engingat bahwa eleen negatif tidak dapat digunakan 3 dalam penyebut dari rasio pemindahan. Kalikan baris1 dengan 2 5 0 -1 0 1 10 1 4 1 8 M 15 2 2 3 0 0 1 0 1 3 2 1 4 -2 3 0 0 0 0 1 0 0 1 . Kurangkan x1 0 0 1 0 x2 1 0 0 0 3 2 baris1 dari baris2.26]kali baris2 dari baris4 iii. Tambahkan 10 kali baris2 ke baris1 dan kurangkan + [(3M/5).

Pivotkan keempat kali i. tambahkan kali baris2 ke baris3. s1 s2 0. Buatlah tabel awal Tabel awal . Gunakan algoritma simpleks untuk menyelesikan persamaan dan pertidaksamaan – pertidaksamaan berikut Minimukan c = 4x1 + 2x2 Yang terikat pada 4x1 + x2 ≥ 20 x1 + 6x2 ≥ 18 2x1 + x2 ≥ 14 x1. Kalikan baris2 dengan 6.Tabel keempat : x1 0 0 1 0 x2 1 0 0 0 s1 0 1 0 0 s2 -2 3 5 3 s3 1 6 1 6 A1 0 -1 0 -M A2 2 3 A3 -1 6 -1 6 1 6 konstanta 40 3 16 3 2 3 5 3 1 6 -1 6 -1 6 M 130 3 130 3 10 3  M 10 3 3320 3 6. Harga bayangan dari persyaratan yang erupakan kendala masing – masing adalah 20. PENYELESAIAN OPTIMAL BERGANDA 3. dan kurangkan kali baris2 dsari baris4 Tabel final : x1 x2 s1 s2 s3 0 0 1 0 1 0 0 0 -1 1 6 -10 1 -3 2 -20 -10 A1 A2 A3 -0 -1 0 -M konstanta 8 32 6 1000 0 1 -1 1 -6 10 3 0 -1 2 0 -M+20 -M +10 Dengan memperhatikan urutan dari vektor – vektor unit. x2 8 .x2 ≥ 0 1. Kurangkan 10 3 kali baris2 dari baris1.10. x1 x2 s1 -1 0 0 -M s2 0 -1 0 -M s3 0 0 -1 -M A1 1 0 0 0 A2 0 1 0 0 A3 0 0 1 0 konstanta 20 14 18 52M 4 1 2 1 1  7M-4 8M-2 84 . dan c 1000 . dan s 3 32 . dan 0. x1 6 . 1 6 0 0 1 0 1 0 0 0 0 6 0 0 1 6 -2 3 10 1 6 0 -6 0 -M 2 3 -1 6 -1 1 6 40 3 1 1 6 10 -1 6 32 2 3 130 3 10 3 M 130 3 M 1 6 10 3 3320 3 ii.

Karena fungsi obyektif telah berada pada optimum.23 konstanta 102 23 66 23 52 23 .2. Dan c 28 . (2) memberikan cara yang cepat untuk menentukan apakah suatu pemakaian terdapat pemecahan sebelum di coba. kurangkan Tabel final . 11 6 kali baris1 dari x1 x2 1 0 0 0 0 0 1 0 s1 6 .11 1 11 1 23 23 11 . dan [(17 – 11)3] kali baris1 dari baris4 Tabel ketiga . Kalikan baris3 dengan 1 setelah menurunkan elemen pivot menjadi 1. Dasar – Dasar Aljabar Matriks atau Linear 1. Kemudian tambahkan 6 23 kali baris2 ke kali baris2 dari baris3. Kemudian kurangkan +6 baris3. s 3 . 6 kurangkan baris3 dari baris1 dan dan dari baris2 dan (8M – 2) kali baris3 dari baris4 menghasilkan tabel kedua Tabel kedua . Ini berarti bahwa variabel s3 dapat dimasukan ke basis tanpa mempengaruhi nilai fungsi obyektif.23 11 23 s2 0 -1 0 22 s3 1 23 2 23 4 .23 2 1 .23 1 23 0 22 4 23 25M 4 23 11M 23 -M 34M 23 0 66M 23 512 4. fungsi obyektif pasti mempunyai penyelesaian optimal berganda. yang tidak terdapat basis terakhir. Bilamana suatu variabel yang tidak berada dalam basis mempunyai indikator nol. Pivot sekali lagi. x1 1 0 0 0 x2 s1 0 0 1 0 0 1 0 0 s2 6 . mempunyai indikator nol.11 23 1 .1 PERANAN ALJABAR MATRIKS Alajabar matriks (1) memungkinkan untuk menyatakan suatu system persamaan yang rumit dalam suatu cara yang ringkas dan sederhana. maka pasti terdapat lebih dari satu penyelesaian optimal. dan (3) memberikan 85 . Akan tetapi. dan [(11M – 22/23)] kali baris2 dari baris4 s3 1 11 2 11 2 11 A1 0 -1 0 -M A2 6 11 23 11 1 11 A3 1 .11 23 . x 2 2 . Kalikan baris1 dengan 23 . Pivot ketiga kali.11 2 11 konstanta 6 6 2 28 - - -2 0 -M+2 -M Dari tabel final x1 6 .23 2M 4 23 A1 6 23 A2 A3 1 0 . s1 6 . Pivotkan. s 3 0 . x1 x2 s1 s2 s3 A1 A2 A3 konstanta 23 6 11 6 0 0 1 11 -1 0 0 -M 0 -1 0 -M 1 6 1 6 1 0 0 0 0 1 0 0 1 6 1 6 1 6 4 1 3 17 11 3 28M + 6 1 6 -1 6 M 1 3 17M 3 0  6 3. s 2 0 . Kalikan baris2 dengan baris1.11 2 .

DEVINISI DAN ISTILAH Matriks adalah deretan bilangan. bilangan baris selalu mendahului bilangan kolom. kolom ketiga. yang pertama menunjukan baris dimana elemen tersebut berada dan yang kedua menunjukan kolomnya. Bilangan pada deretan vertkal disebut kolom. Contoh 3. Akan tetapi. mungkin untuk membantu mengingat subscript tersebut dengan istilah BK atau beberapa cara yang lain untuk nmembantu mengingat. Jika matriks terdiri dari satu kolom tunggal sedemikian rupa sehingga dimensinya m x 1. dan kemudian di selesaikan dengan aljabar matriks. Jadi matriks tersebut adlah matriks bujur sangkar.2. Dengan mambaca menurun suatu kolom matriks. yang di baca m kali n. kolom kedua. Karena banyak hubungan ekonomi dapat di dekati dengan persamaan linear dan yang lain dapat dikonversikan menjadi hubungan linear. α32 adalah elemen yan berada pada baris ketiga. Perhatikan bahwa tidak ada tanda baca yang memisahkan elemen – elemen suatu matrik. diketahui a 11 a 12 a 13 a 23 a 33 (3x3) A a 21 a 22 a 31 a 32 B 3 9 8 4 2 7 C (2x3) 7 4 5 D (3x1) 3 0 1 (1x3) A adalah matriks umum terdiri dari 3 x 3 = 9 elemen. Jika matriks terdiri dari stu baris. Karena baris selalu mendahului kolom dalam notasi matriks. Matriks yang mengkonversikan baris A menjadi kolm dan kolom A menjadi baris disebut transpose A dan diberi tanda A' (atau AT). Dalam matriks bujur sangkar square matrix). yang masing – masing mempunyai tempat yang ditata secara cermat dalam matriks. aljabar matriks hanya dapat diterapkan pada system persamaan linear. parameter atau variabel yang disusun segi empat. Jadi α23 adalah elemen yang berada pada baris kedua. seperti fungsi produksi Cobb-Douglas yang umum Q=AKα Lβ Dapat dengan mudah dikonversikan menjadi fungsi linear dangan mencari logaritma masing – masing ruas. perusahaan deapat menentukan tingkat persediaan dalam setiap saluran distribusinya. Bilangan – bilangan ( parameter atau variabel) disebut sebagai elemen matriks. untuk sebuah perusahaan dengan beberapa saluran distribusi yang menjual beberapa produk yang berbeda. dengan dimensi 1 x n. pembatasan ini umumnya tidak memberikan persoalan yang serius. 1.temali 120 180 175 140 110 180 190 170 90 210 160 180 pakaian ski 150 110 80 140 Dengan membaca menyusun baris matriks. 86 . yang di susun dalam 3 baris dan 3 kolom.sebagai berikut : Log Q = log A + α log K +β log L Dengan cara serupa. perusahaan dapat menentukan persediaan setiap jenis produksinya. Penempatanya adalah tepat dalam matriks. fungsi eksponensial dan fungsi pangkat yang lain dapat dengan mudah dikonversikan menjadi fungsi linear. Elemen – elemen tersebut semuanya mempunyai subscript ganda. saluran 1 2 3 4 papan luncur tongkat tali . jumlah baris sama dengan jumlah kolom ( yaitu m = n ). matiks tersebut adalah vekor kolom. maka matriks tersebut adlah vector baris. Contoh 2. Banyaknya baris (m) dan kolom (n) menentukan dimensi matriks ( m x n ). matriks memberikan cara yang ringkas untuk mengendalikan persediaan. Contoh 1. suatu fungsi non linear.sarana penyelesain system persamaan.

elemen b12 -nya adlah 9.diperoleh sebagai berikut . Prosesnya disebut perkalian skalar (scalar multiplication)karena menaikan atau menurunkan matriks tersebut menurut besarnya skalar. penjumlahan A + B di hitung dibawah ini.0. 8 9 7 1 3 6 A 3 6 2 4 5 10 B (3x3) 5 2 4 7 9 2 (3x3) A B 8 1 9 3 7 6 3 5 6 2 2 4 4 7 5 9 10 2 (3x3) 9 12 13 8 8 6 11 14 12 ( 3 x 3) Selisih C – D. Contoh 4. bilangan sederhana seperti 12. apabila diketahui matiks – matriks C dan D. D adalah vector baris dengan dimensi (1 x 3).07 disebut skalar. Perkalian matriks dengan bilangan atau scalar meliputi perkalian setiap elemen dari matriks tersebut dengan bilangan itu. Setiap elemen matriks yang satu kemudian ditambahkan ke (dikurangkan dari) b11 dalam B. D 40 20 50 10 25 30 10 60 15 0 40 70 60 40 10 50 Untuk mendapatkan tingkat persediaan yang baru. dengan mengetahui matriks A dan matriks B.7 2-5 6-4 (2x2) 3 2 -3 2 (2x2) Contoh 5.-2.B adalah matriks 2 x 3. S D 120 200 175 140 40 25 15 60 110 20 180 30 190 0 170 40 90 210 160 180 50 10 40 10 150 110 80 140 10 60 70 50 160 225 190 200 130 210 190 210 140 220 200 190 160 170 150 190 1.4. dengan menjumlahkan elemen – elemen yang bersesuaian dari masing – masing matriks tersebut. misalkan pengiriman D dilakukan ke saluran – saluran distribusi perusahaan dalam contoh 1. C adalah vector kolom dengan dimensi (3 x 1). elemen b21 -nya adlah 4. hasil perkalian skalar k A. apabila diketahui k = 8 dan 87 .berapa tingkat persediaan yang baru?. PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN MATRIKS Penjumlahan (dan pengurangan) dua matriks A + B (atau A – B) mengharuskan matriks – matriks tersebut berdimensi sama.α12 ke b12. PERKALIAN SKALAR Dalam aljabar matriks. Contoh 6. C 4 9 2 6 D (2x2) 1 7 5 4 C (2x2) D 4 -1 9 . dan seterusnya.3. Transpose A adalah a 11 a 21 a 31 A' a 12 a 13 a 22 a 23 a 32 a 33 5 Dan transpose C adalah C' 7 4 1. misalkan matriks mula – mula S dan selesaikan S + D.

8(6) 8(9) 6 9 2 7 8 4 (3x2) kA 8(2) 8(7) 8(8) 8(4) (3x2) 48 72 16 56 64 32 (3x2) 1. PERKALIAN MATRIKS Perkalian dua matriks berdimensi (m x n)1 dan (m x n)2. AB = 4(12) + 7(1) + 2(5) + 9(6) = 48 + 7 + 10 + 54 = 119 Hasilkali vektor – vektor berikut : A adalah 3 6 8 (1x3) A 2 4 5 (3x1) CD = (3 x 2) + (6 x 4) + (8 x 5) = 6 + 24 + 40 = 70 Perhatikan bahwa karena masing – masing pasangan vektor diatas mempunyai jumlah elemen yang sama. atau jumlah kolom pada 1. Pembalikan susunan perkalian dalam salah satu vektor di atas dan dengan diperolehnya perkalian vektor kolom – baris (BA atau DC) akan menghasilkan jawaban yang sama sekali berbeda. Hasilkali baris – kolom tersebut disebut hasilkali dalam (inner product). hasilkali baris – kolom kemudian di pakai sebagai elemen dalam formasi dari matriks hasilkali sedemikian rupa. Diketahui 88 .6. hasilkalinya didapatkan dengan mengalikan elemen – elemen individual dari vektor baris dengan elemen – elemen yang beresesuaian dengan vektor kolom. mensyaratkan bahwa kedua matriks tersebut bersesuaian yaitu bahwa n1 = m2. Contoh 7. Kemudian.5. Ini dipakai sebagai dasar untuk semua perkalian matriks. PERKALIAN VEKTOR Perkalian vektor baris (A) dengan vektor kolom (B) mensyaratkan masing – masing vektor mempunyai jumlah elemen yang persis sama.5. perkalian adalah mungkin. sehinga setiap elemen cij dari atriks hasilkali C adlah suatu skalar yang berasal dari perkalian baris ke i dari matriks awal dan kolom ke j dari matriks akhir. 1. Perkalian vektor baris kolom adlah penting sekali. hasilkali AB dari vektor baris A dan vektor kolom B. apabila diketahui 12 1 A A 4 7 2 9 (1x4) 5 6 (4x1) di hitung sebagai berikut. Setiap vektor baris pada matriks awal kemudian dikalikan dengan setiap vektor kolom dari matriks akhir. Jadi hasil perkalian baris – kolom akan merupakan suatu bilangan tunggal atau scalar. Contoh 8.A Diperlihatkan dibawah ini. dan menjumlahkan hasilnya : AB = (a11 x b11) + (a12 x b21) + (a13 x b31) dan seterusnya. menurut kaidah untuk perkalian vektor baris dan vektor kolom yang di bahas dalam butir 1. matriks akhir (lag matriks). matriks awal (lead matriks) saa dengan jumlah di bahbaris pada 2.

Jadi AC tidak di tetapkan. Jika mereka sama. Jadi untuk AB. Pertama. (2 x 3) = (3 x 2) (2x 2) matriks – matriks tersebut memenuhi syarat persesuaian dan dimensi dari matriks hasil kali AB adalah (2 x 2). hasil kali dari dua matriks itu dapat di cari. kalikan baris pertama matriks awal dengan kolom pertama matriks akhir untuk mecari elemen pertama d11 matriks hasil kali D. Dengan mengacu ke contoh 1. dalam susunan yang benar.dan pakaian ski Rp 150. akhirnya. misalkan bahwa harga papan luncur adlah Rp 200.A 3 6 12 9 7 11 B (2x3) 6 12 5 10 13 2 A (3x2) 1 7 2 4 8 3 (2x3) Suatu pengujian ringkas (cepat) untuk melihat adanya persesuaian (conformability). nyatakan harga tersebut sebagai sebuah vector kolom (P). AB dikatakan telah di tetapkan (defined) untuk BC. adlah dengan menata dua pasang dimensi tersebut dalam mana matriks – matriks tersebut akan dikalikan. kalikan baris kedua matriks awal dengan kolom kedua matriks akhir untuk mendapatkan d22. dan kalikan S dengan P : V SP 120 200 175 140 110 180 190 170 90 210 160 180 150 110 80 140 ( 4 x 4) 200 50 100 150 ( 4 x1) Matriks – matriks tersebut bersesuaian dan matriks hasil kalinya merupakan 4 x 1. dengan menggunakan metode yang sama : 6(1) 12(2) 6(7) 12(4) 6(8) 12(3) 30 90 84 BC E 5(1) 10(2) 5(7) 10(4) 5(8) 10(3) 25 75 70 13(2) 2(2) 13(7) 2(4) 13(8) 2(3) (3x3) 17 99 110 (3x3) Contoh 10. Kalikan baris kedua matriks awal dengan kolom pertama matriks akhir untuk mendapatkan d12. setelah menentukan persesuaian AB dalam contoh 8. karena tidak ada lagi kolom yang tersisa dalam matriks akhir. dua matriks tersebut akan sesuai untuk perkalian dalam susunan yang diberikan. tongkat Rp 50. jadi. yang akan di terapkan sebelum melakukan setiap perkalian mmatriks. Untuk BC (2 x 3) ≠ (2 x 3) A dan C tidak bersesuaian untuk perkalian. kemudian kalikan baris pertama matriks awal dengan kolom kedua matriks akhiruntuk mendapatkan d12. (3 x 2) = (2 x 3) (3 x 3) matriks – matriks tersebut adalah bersesuaian dan dimensi dari matriks hasil kali BC merupakan (3 x 3). Untuk mencari nilai persediaan (V) pada berbagai saluran distribusi.karena (4 x 4) = (4 x 1) 89 . tali Rp 100. kemudian dalam hati lingkarilah bilangan terakhir dari pasang pertama dan dan bilangan pertama dari pasang kedua. 3(6) 6(5) 7 (13) 3(12) 6(10) 7 (2) 139 110 AB D 12(6) 9(5) 11(13) 12(12) 9(10) 11(2) (2x2) 260 256 (2x2) Hasil kali BC dihitung dibawah ini.. bergeraklah ke baris kedua matriks awal. Contoh 9.-.. dimensi dari matriks hasil kali. dan bilangan – bilangan di luar lingkaran akan menunjukan.. Apabila dua matriks seperti AB adalah bersesuaian.-.

2 6 1 4 11 4 Contoh 12. Perkalian matriksm. (2 x 3) = (3 x 2). Diketahui. buktikan bahwa (1) A + B = B + A dan (2) A – B = –B + A. adalah tidak komutatif (yaitu AB ≠ BA). Untuk alas an yang sama. Karena pengurangan matriksA – B dapat dirubah mebjadi penjumlahan matriks A + (-B). Y(c x d). Tunduk pada sarat yang sama ini. dan susunan penjumlahan tidak dipentingkan. dengan beberapa perkecualian.500 72. HUKUM KOMUTATIF. AB 6(3) 12(12) 5(3) 10(12) 13(3) 2 (12) 6(6) 12(9) 5(6) 10(9) 13(6) 2(9) BA akan menjadi 3 x 2 6(7) 12(11) 162 5(7) 10(11) 135 13(7) 2(11) (3x3) 63 144 120 96 174 145 113 (3x3) karena itu AB ≠ BA. Jika terdapat tiga atau lebih matriks yang bersesuaian. hukum asosiatif akan berlaku selama matriks – matriks tersebut dikalikan dalam urutan persesuaian (conformability). A 3 6 7 12 9 11 B ( 2 x 3) 6 12 5 10 13 2 (3 x 2) Dapat di buktikan bahwa perkalian atriks tidak komutatif dengan membuktikan AB ≠ BA.6 17 . Perhitungan tersebut diperlihatkan di bawah ini 4 3 11 7 7 18 3 4 7 11 7 18 A B B A (1). (XY)Z = X(YZ). Jadi. sebagai berikut : AB adalah sesuai.7 11 . perkalian scalar adalah komutatif (yaitu kA = Ak).500 75. Diketahui.Z(e x f) dimana b = c dan d = e. yaitu X(a x b). (A + B) + C = A + (B + C).500 ( 4 x1) 1. maka pengurangan matriks juga komutatif dan asosiatif.3 4 . Akan tetapi. 17 6 6 2 23 8 6 17 2 6 23 8 (2).penjumlahan matriks juga asosiatif. Contoh 11. 4 11 3 7 A B 17 6 6 2 Untuk membuktikan bahwa penjumlahan dan pengurangan matriks adalah komutatif. karena penjumlahan matriks hanya melibatkan penjumlahan elemen – elemen yang bersesuaian dari dua matriks.seringkali matriks – matriks tidak bersesuaian dalam dua arah. Diketahui.7. A B 4 3 11 7 17 6 6 2 1 4 11 4 B A .(4 x 1) Jadi. perkalian matriks juga distributive A(B + C) = AB + AC. ASOSIATIF DAN DISTRIBUTIF DALAM ALJABAR MATRIKS Penjumlahan matriks adalah komutatif (yaitu A + B = B + A). hal yang sama berlaku untuk pengurangan matriks. 90 . V 120(200) 200(200) 175(200) 140(200) 110(50) 90(100) 150(150) 180(50) 210(100) 110(150) 190(50) 160(100) 80(150) 170(50) 180(100) 140(150) ( 4 x1) 61.000 86. AB akan menjadi 2 x 2 3(6) 6(5) 7 (13) 3(12) 6(10) 7 (2) 139 110 AB 12(6) 9(5) 11(13) 12(12) 9(10) 11(2) (2x2) 260 256 (2x2) BA adalah bersesuaian (3 x 2) = (2 x 3). Contoh 13.

Penjumlahan atau pengurangan matriks null tidak membawa perubahan terhadap matriks asalnya. Matriks null terdiridari semuanya nol dan dapat berdimensi sembarang . (2) perkalian dengan suatu matriks null menghasilkan matriks null. Matriks simetris untuk mana A x A = A. tidak perlu bujur sangkar. Contoh 14. yaitu AI = A.8. Lihat contoh 14. perhitungan – perhitungan tersebut diperlihatkan di bawah ini 7 10 14 1 2 3 6 7 0 0 0 1 0 0 0 1 7(1) 9(1) 1(1) 10(0) 2(0) 3(0) 14(0) 6 (0) 7 (0) 7(0) 9(0) 1(0) 10(1) 2(1) 3(1) 14(0) 6 (0) 7 (0) 7(0) 9(0) 1(0) 10(0) 2(0) 3(0) 14(1) 6 (1) 7 (1) (1). apabila diketahui. 5(0) 12(0) 5(0) 12(0) 20(0) 4(0) 20(0) 4(0) 5 0 12 0 20 0 4 0 5 12 20 4 terbukti terbukti PERNYATAAN MATRIKS DARI SERANGKAIAN PERSAMAAN LINEAR 91 . perkalian dengan matriks null menghasilkan matriks null. A 7 9 1 10 14 2 6 3 7 B 5 12 20 4 N 0 0 0 0 I 1 0 0 0 1 0 0 0 1 Dapat dibuktikan bahwa : (1) perkalian dengan suatu matriks identitas tidak menimbulkan tambahan terhadap matriks asalnya. perkalian suatu matriks identitas dengan dirinya sendiri meninggalkan matriks identitas tidak berubah : I x I = I2= I.adalah matriks idempotent (idempotent matrix). yaitu BN = N dan (3) penjumlahan atau pengurangan matriks null tidak mengakibatkan matriks asalnya berubah. MATRIKS IDENTITAS DAN MATRIKS NULL Matriks identitas I adalah suatu matriks bujur sangkar yang mempunyai 1 untuk setiap elemen pada diagonal utama dari kiri ke kanan dan nol di setiap tempat yang lain. setiap matriks utuk mana A = A' adalah matriks simetris (symmetric matrix).n menunjukan dimensi matriks (m x n). matriks identitas serupa dengan bilangan 1 dalam aljabar karea perkalian suatu matriks dengan matriks identitas tidak membawa perubahan terhadap matriks asal (yaitu AI = IA = A). perhitunganya adalah sebagai berikut : A 7(4) 5(2) 1(4) 3 (2) 8(4) 6(2) 38 10 44 93 27 108 7(9) 5(6) 1(9) 3 (6) 8(9) 6(6) 95 25 110 2 6 7 7(10) 5(5) 1(10) 3 (5) 8(10) 6(5) ( 3 x 3) 38 10 44 93 27 108 95 25 110 ( 3 x 3) ( AB)C ( 3 x 3) ( 3 x1) 38(2) 93(6) 95(7) 10(2) 27 (6) 25(7) 44(2) 108(6) 110(7) ( 3 x1) 1299 357 1506 ( 3 x1) BC 4(2) 9(6) 10(7) 2(2) 6(6) 5(7) ( 2 x1) 132 75 ( 2 x1) A( BC ) 7 1 8 5 3 6 132 75 (3 x 2) (2 x) 7(132) 5(75) 1(132) 3(75) 8(132) 6(75) ( 3 x1) 1299 357 1506 terbukti ( 3 x1) 1. 1. yaitu (AB)C = A(BC). seperti pada In.9. Matriks identitas adalah simetri dan idempotent. (3). yaitu B + N = B. apabila subscript digunakan.A 7 1 8 5 3 6 B (3 x 2) 4 9 2 6 10 5 B ( 2 x 3) 2 6 7 ( 3 x1) Untuk membuktikan bahwa perkalian matriks adalah asosiatif. AI 9 1 AI 7 9 1 BN B N 10 14 2 6 3 7 terbukti 0 0 0 0 (2).

dalam hati balikan susunan perkalian matriks: w 8 12 . yang menghasilkan 92 . untuk membuktikan bahwa AX = B dengan tepat menggambarkan sistem persamaanyang diberikan dalam seksi 1. dengan mengandaikan A = matriks koefisien. Contoh 16. Saling menukar dua baris tersebut : 8x + 4y = 28 5x + 2y = 16 2. dan AX AX 7 3 x1 4 5 x2 B: 7x 1 3x 2 4x 1 5x 2 ( 2 x1) 45 terbukti 4x 1 5x 2 29 dari sini. dapatkan hasil kali AX. dan (3) setiap kelipatan suatu baris ditambahkan ke atau dikurangkan dari baris yang lain. diilustrasikan di bawah ini. dan B = vektor kolom konstanta. (2) setiap baris atau baris – baris dakalikan dengan suatu konstanta. tiga operasi barisdasar memungkinkan (1) setiap dua baris suatu matriks saling tukar. meskipun penampilanya seperti itu. yang tentunya sudah tidak asing lagi dari aljabar.9. sistem persamaan yang diketahui tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk matriks A(2x4)W(4x1) =B(2x1) 1. Mengalikan suatu baris dengan suatu konstanta. Perkalian adalah mungkin karena AX adalah bersesuaian. Contoh 15. Contoh 17.dengan mengetahui 5x + 2y = 16 8x + 4y = 2n8 Tanpa suatu perubahan dalam hubungan linear. operasi baris.7 2 x 139 3 .kita dapat 1. OPERASI BARIS Operasi baris (row operation) berarti penerapan operasi aljabar yang sederhana pada baris. AX adalah vektor kolom (2 x 1) karena setiap baris terdiri dari suatu elemen tunggal yang tidak dapat disederhanakan lebih lanjut melalui penjumlahan. X dan B akan selalu berupa vektor kolom.baris suatu matriks. W = vektor kolom variabel. Sebagai ilustrasai sederhana.10. diketahui 8w +12x – 7y +2z = 139 3w +13x + 4y +9z = 242 untuk menyatakan sistem persamaan ini dalam notasi matrik. Tanpa suatu perubahan dalam hubungan linear. di sini 8x + 4y = 28 dengan 1/4. perhatikan bahwa sistem persamaan linear 7x1 + 3x2 = 45 4x1 + 5x2 = 29 dapat dinyatakan dalam bentuk matriks AX = B x1 45 7 3 B A X Dimana dan 29 x2 4 5 A adalah matriks koefisien (coefisien matrix). asalkan konstanta tersebut tidak sama dengan nol.Aljabar matriks memungkinkan pengungkapan secara ringkas suatu sistem persamaan linear.13 4 9 ( 2 x 4) y 242 ( 2 x1) z ( 4 x1) kemudian.X adalah vektor penyelesaian (solution vector). dan B adalah vektor unsur konstanta (vector of constan terms). dan matriks hasil kali menjadi 2 x 1 (2 x 2) = (2 x 1) (2 x 1) 7x 1 3x 2 jadi.

Kalikan baris kedua dengan 1 untuk mendapatkan1 pada a22 44 1 6 20 0 1 3 93 .a dapatkan 1 pada posisi a11 dari matriks koefisien. untuk sistem persamaan dalam butir1. kemudian gunakan operasi baris untuk mendapatkan nol disetiap tempat yang lain pada kolom pertama. 1 untuk endapatkan 1 pada posisi a11 2 1 6 20 8 4 28 1b. bergeraklah sepanjang sumbu utama. Kurangkan 8 kali baris kedua untuk merampungkan kolom pertama 1 6 20 0 . yang menghasilkan 5x + 2y = 16 -4x – 2y = -14 x =2 1. metode eliminasi gauss di gunakan dibawah ini untuk mencari x 1 dan x2 dalam sistem persamaan 2x1 + 12x2 = 40 8x1 + 4x2 = 28 pertama nyatakan persamaan tersebut dalam suatu matriks perbesaran AB 2 12 40 8 4 28 kemudian. Berikutnya dapatkan 1 pada 0posisi a22 dan gunakan operasi baris untuk mendapatkan nol disetiap tempat yang lain pada kolom mendapatkan nol disetiap tempat yang lain pada kolom tersebut. Contoh 18.11.44 132 1a. Pertam. Kalikan baris pertaa dengan 2a.12. matriks perbesaran A/B untuk 4x1 + 5x2 + 7x3 = 42 2x1 + 3x2 + 8x3 = 40 6x1 + 4x2 + x3 = 18 Adalah AB 4 5 2 3 6 4 7 42 8 40 1 18 1. Mengurangkan kelipatan satu baris dari yang lain. di sini 2(2x + y = 7) dari 5x + 2y = 16.9. Penyelesaian atas system persamaan kemudian dapat di baca dari elemen – elemen yang tinggal dalam vektor kolom B (lihat contoh 19). Jadi. yang dipisahkan dengan suatu garis atau kisi. diletakan disampingnya. MATRIKS PERBESARAN (AUGMENTED) Diketahui suatu system persamaan dalam bentuk matriks AX = B matriks perbesaran A/B adalah matriks koefisien A dengan vector kolom konstanta B. Teruskan memperoleh 1 sepanjang diagonal utama dan kemudian rampungkan kolomnyasampai matriks identitas tersebut sempurna. AB 7 3 45 4 5 29 Matriks perbesaran digunakan sebagai sarana penyelesaian system persamaan linear. METODE GAUSS UNTUK MENYELESAIKAN PERSAMAAN LINEAR Penggunaan metode eliminasi gauss dalam menyelesaikan persamaan linear semata – mata dengan menyatakan system persamaan tersebut sebagai suatu matriks perbesaran dan menerapkan operasi baris berulang – ulang pada matriks perbesaran sampai matriks koefisien A di sederhanakan menjadi suatu matriks identitas.2x + y = 7 5x + 2y = 16 3. Untuk mengubsh matriks koefisien kedalam uatu matriks identitas. Contoh 19.

x2 = 3 karena x1 1 0 2 0 1 x2 3 x1 + 0 = 2 0 + x2 = 3 94 . Kurangkan 6 kali baris kedua dari baris pertama untuk merampungkan kolom kedua 1 0 2 0 1 3 hasilnya adalah x1 = 2.2b.

95 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful