P. 1
Agama Menurut Pandangan Emile Durkheim

Agama Menurut Pandangan Emile Durkheim

|Views: 2,099|Likes:

More info:

Published by: Laurina Pingkan Waya Dimpudus on Feb 15, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/06/2013

pdf

text

original

Agama Menurut Pandangan Emile Durkheim

Agama, secara historis memiliki citra integrafik dari sumber konflik. Dari khazanah ilmu-ilmu sosiologi modern, agama ternyata tidak dikaitkan dengan konflik, melainkan lebih kepada integrasi. Emile Durkheim sebagai salah seorang Sosiolog abad ke-19, menemukan hakikat agama yang pada fungsinya sebagai sumber dan pembentuk solidaritas mekanis. Ia berpendapat bahwa agama adalah suatu pranata yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk mengikat individu menjadi satukesatuan melalui pembentukan sistem kepercayaan dan ritus. Melalui simbol-simbol yang sifatnya suci. Agama mengikat orang-orang kedalam berbagai kelompok masyarakat yag terikat satu kesamaan. Durkheim membedakan antara solidaritas mekanis dengan solidaritas organis. Dengan konsep ini ia membedakan wujud masyarakat modern dan masyarakat tradisional. Ide tentang masyarakat adalah jiwa dari agama, demikian ungkap Emile Durkheim dalam The Elementary Form of Religious Life (1915). Berangkat dari kajiannya tentang paham totemisme masyarakat primitive di Australia, Durkheim berkesimpulan bahwa bentuk-bentuk dasar agama meliputi : 1. Pemisahan antara `yang suci' dan `yang profane' 2. Permulaan cerita-cerita tentang dewa-dewa 3. Macam-macam bentuk ritual. Dasar-dasar ini bisa digeneralisir di semua kebudayaan, dan akan muncul dalam bentuk sosial. Masyarakat baik di Barat maupun di Timur, menunjukkan adanya suatu kebutuhan social yang berupa `kebaikan permanent'. Menurut teori Durkheim, Agama bukanlah `sesuatu yang di luar', tetapi `ada di dalam masyarakat' itu sendiri, agama terbatas hanya pada seruan kelompok untuk tujuan menjaga kelebihan-kelebihan khusus kelompok tersebut. Oleh karena itu, agama dengan syariatnya tidak mungkin berhubungan dengan seluruh manusia. Kritikan lain yang dikemukakan oleh Emile Durkheim; bahwa Animisme dan Fetishisme yang bersifat individualistik, tidak dapat menjelaskan agama sebagai sebuah fenomena sosial dan kelompok. Menurut Durkheim, Intelektualisme yang meyakini bahwa jelmaan pertama kali agama dalam bentuk kelompok adalah ritual nenek moyang, yang menyembah para ruh nenek moyang mereka. Kedudukan agama di sini sama dengan kedudukan kekerabatan, kesukuan, dan komunitaskomunitas lain yang masih diikat dengan nilai-nilai primordial. Masyarakat yang masih sederhana, dengan tingkat pembagiab kerja yang rendah terbentuk oleh solidaritas mekanis. Ikatan yang terjadi bukan karena paksaan dari luar atau karena intensif ekonomi semata,

seperti yang tercermin dalam teori Durkheim. Ada dua persepsi mengenai timbulnya konflik pada masa industialisasi yang bersifat kapitalis itu. Dengan solidaritas mekanis tersebutmasyarakat menjadi homogen dengan kesadaran kolektif yang tinggi tetapi menenggelamkan identitas pribadi untuk agar tercipta kebersamaan. maka keharmonisan yang sederhana mulai terancam dan potensi konflik mulai membesar. Dalam pembicaraan mengenai agama sebagai faktor integratif dan pencipta harmoni. Menurut pendapatnya pada masyarakat yang semakin haterogen. sebagai suatu bentuk konflik yangtelah direduksi menjadik konflik yang terkendali.melainkan kesadaran bersama yang didasarkan pada kepercayaan yang sama dan nilai-nilai yang disepakati sebagai standar moral dan pedoman tingkah laku. maka agama dalam tradisisi pemikiran sosiologi. Dengan perkataan lain bahwa. agama adalah penerima dampak dari proses perubahan. Dan kedua timbul karena dampak destruktif kapitalisme terhadap ikatan-ikatan tradisional dan kesepakatan-kesepakat normatif. Solidaritas mekanis akan segera tergantikan oleh solidaritas organis. suatu solidaritas baru yang didasarkan pada kesadaran terhadap kondisi pluralitas yang terbentuk apabila apabila dalam masyarakat yang telah mengalami proses individualisasi itu telah timbul kesadaran adanya saling ketergantungan di antara mereka dan timbul pula rasa saling membutuhkan. perkembangan kapitalisme dan proses terbentuknya masyarakat modern. Durkheim bersifat pesimistis dalam melihat kedudukan dan peran . yang berhadapan denga proses-proses diatas memang mengalaimi disintegrasi. sebagai sistem kepribadian. Dalam masyarakat modern yang cirinya adalah diferensiasi fungsional yang tinggi dan pembagian kerja yang rumit. Agama. Pada waktu itu Durkheim yang hidup pada masa perkembangan Kapitalisme dan Revolusi Industri. Di sini agama memang bisa berhadapan dengan nilai-nilai baru. tersembunyi suatu asumsi tertentu mengenai konflik. Dalam proses disintegrasi itu akan timbul konflik. Tetapi sumber konflik itu bukanlah agama melainkan proses terbentuknya masyarakat ekonomi baru yang menimbulkan persaingan. guna mencari dasar-dasar baru bagi suati intergritas masyarakat modern. Dlam konteks ini konflik dilihat sebagai gejala patologis yang tampak sebagai suatu penyakit dalam masyarakat. yang menjadi sumber informasi penting bagi lahirnya Sosiologi. sistem sosial dan sisstem budaya. berdasarkan kerangkan aturan main yang disepakati. apabila agama dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Masalah ini kemudian menjadi keprihatinan umum diantara para pemikir abad ke-19 termasuk Emile Durkheim. Agama bisa dikatakan sebagai hambatan bagi suatu proses yang dikehendaki. Pandangan positif mengenai agama sebagai kekuatan integratif. Revolusi Industri dan perkembangan Kapitalis awal di Eropa Barat pada abad ke-19 ditandai oleh timbulnya konflik yang memuncak dan kerap kali berakhir dengan revolusi. Oleh sebab itu konflik merupakan gejala yang mendapat perhatian besar bagi para pemikir di masa itu dalam ramgka untuk memahami gejala harmoni dan faktor-faktor integrasi. Pertama konflik timbul karena persainganm dalam akses terhadap sumber daya dan perebutan manfaat. Maka dari itu masyarakat yang berdasarkan system kekeluragaan dan kekerabatan serta kegotong-royongan yang dipertahankan oleh asas keharmonisan. dan agama memeng menghadapi konflik. Itulah mengapa orang seprti Durkheim kembali menengok kembali pada masyarakat pra-industri untuk mengetahui sebab-sebab hakiki dari konflik dan harmoni dalam masyarakat. bertolak dari asumsi ini. telah memeberikan jawaban. tidak dipersepsikan sebagai sumber konflik. Dengan melihat pada latar belakang industrialisasi. Persoalan yang timbul dari perebutan sumberdaya akan akan menyeret agama kedalam suatu konflik. ikatan-ikatan primordial yang semula mengikat individu dalam simbol-simbol kebersamaan akan mulai memudar.

Ideologi nasional itu tidak saja memberikan makna. Sebab dalam agama -pada umumnya. banyak yang menentang Pandangan Durkheim bahwa seruan Tuhan itu terbatas hanya pada seruan kelompok saja. sebenarnya dimaksudkan juga sebagai substitusi terhadap institusi agama. Hari-hari besar untuk di peringati. Karena itulah maka ia berusaha mencari substitusi agama yang ia temukandalam ideologi sosialisme. bendera kebangsaan. Namun. dan lembaga negara itu sendiri. tetapi juga merupakan pedoman tingkah laku.agama dalam masyarakat modern. museum. dainggap tidak benar dan bahkan kebalikan yang terdapat dalam agama. dimana masyarakat tidak lagi memiliki pegangan normatif yang menjadikan hidup kosong nilai. Disinilah terjadi integrasi penuh antara agama dengan negara. Menurut analisis Durkheim. sosialisme adalah merupakan protes kaum pekerja terhadap situasi disintegrasi yang terjadi pada ikatan-ikatan sosial dan sistem tradisional dan bukannya perjuangan untuk menghapus institusi hak milik pribadi. maka negara juga menciptakan obyek-obyek suci yang berusaha mengikat individu melalui upacaraupacara repetitif sebagai bentuk ritual baru. Negara sebagai produk modernitas. patung-patung. terutama sosialisme gilda guild sosialism.seruan Tuhan tidak membatasi suatu kelompok tertentu. Pemberontakan timbul karena situasi anomi. Upacara. melainkan juga bertindak dengan sikap mengabdi. Upacara –upacara dimaksudkan untuk membentuk referensi spiritual mengikat individu dalam solidaritas mekanis dan menimbulkan komitmen nilai yang telah ditetapkan oleh negara. Ada kalanya negara modern membentuk suatu ideologi nasional yang mewadahi nilai-nilai luhur yang dirumuskan sebagai kesepakatan. Bahkan seruan Tuhan menyeluruh untuk semua manusia pada persamaan dan persaudaraan Diposkan oleh ILMAN HAKIM di 2:25 PM 0 komentar: Post a Comment Newer Post Older Post Home Subscribe to: Post Comments (Atom) Followers Top of Form Search Bottom of Form SPONSOR About Me . tugu-tugu. pahlawan. setiap warga negara tidak saja diharapkan patuh kepada pimpinan nasional atau aturan birokrasi.upacara yang dilakukan negara denga khidmat dan disikapin secara religius. Sebagaimana halnya agama. Dengan ideologi. kuburan para pemimpin negara.

.. ○ ▼ May (11)  William Graham Summer (1840-1910)  KITA MASIH MUDA  MASS SOCIETY  TAFSIR SOSIAL ATAS KENYATAAN  MATERIALISME  Labeling  Auguste Comte (1798 – 1857)  PENGERTIAN ANTROPOLOGI  PATTERNS OF CULTURE .ILMAN HAKIM Semarang... Indonesia View my complete profile Blog Archive • ► 2010 (8) ○ ► May (2)  Interaksionisme simbolik dan pemelajaran social  METHODS OF INVESTIGATION ○ ► January (6)  SOSIALISASI  KEBERFUNGSIAN SOSIAL / SOCIAL FUNCTION  KURIKULUM BERBASIS GENDER  PENGERTIAN POST-MODERNISME  RESIPROSITAS PADA MASYARAKAT DESA SENGON KECAMATAN. Jawa Tengah.  Quadragesimo Anno • ▼ 2009 (18) ○ ► August (1)  buat anak2 sosiologi antropologi 09 ○ ► June (4)  Pendaftaran SNMPTN 2009  Jadwal Kegiatan Mahasiswa Baru Angkatan 2009  Jadwal Kegiatan Mahasiswa Baru Angkatan 2009  PENGUMUMAN HASIL SPMU MAHASISWA SOSIOLOGI ANTROPOL.

Lunax Free Premium Blogger™ template by Introblogger mencari makna dari setiap kata MAHASISWA SEKOLAH TINGGI FILSAFAT DRIYARKARA Agama dan Perubahan Sosial: (Sebuah Telaah Pemikiran Karl Marx dan Emile Durkheim) REP | 15 March 2011 | 12:40 1040 0 2 dari 2 Kompasianer menilai menarik . Agama Menurut Pandangan Emile Durkheim  INTERAKSIONISME SIMBOLIK ○ ► April (2)  Fenomena Sosial  Salam Sosial Create your own visitor map! counter Copyright 2010 Sosiologi Antropologi Dasar .

Perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat merupakan hal yang tidak bisa terlepas dari keterikatannya dengan adanya agama. Agama dan Masyarakat Keberadaan agama atau kepercayaan tidak dapat dilepaskan dari kehidupan masyarakat. Kesadaran diri sebagai manusia jelas tidak dapat dilepaskan dari adanya manusia lain di luar dirinya yang kemudian membentuk masyarakat atau kelompok manusia. Uraian berikut ini merupakan suatu bentuk pemaparan yang mencoba menelaah dan mendalami pandangan Karl Marx dan Emile Durkheim tentang agama dalam kaitannya dengan perubahan sosial yang terjadi di dalam masyarakat. yang diakibatkan oleh kekuatan-kekuatan yang sebagian besar berada diluar kontrol kita. animisme dan dinamisme mulai berkembang. pada satu sisi dapat menjadi penentang perubahan dan pada sisi lain dapat menjadi pendorong adanya perubahan sosial. Di sini. Pengantar Fenomena perubahan sosial dewasa ini menggambarkan dan menjelaskan kepada kita bahwa agama menjadi salah satu faktor perubahan sosial itu sendiri. II. bahwa tidak ada kemungkinan sedikitpun untuk menghentikannya. Perubahan sosial dalam masyarakat atau komunitas manusia tertentu dapat berakibat atau berdampak positif maupun negatif. Agama sebagai kepercayaan kolektif dapat dikatakan terbentuk setelah adanya masyarakat. hidup dan berkembang dalam masyarakat memiliki peranan penting dalam perubahan sosial tersebut. dari berburu dan meramu untuk memenuhi kebutuhan hidup menjadi bercocok tanam. Bersamaan dengan kesadaran dan tindakan penyembahan ini. juga agama. adalah hasil dari proses kreatif-produktif masyarakat melalui pengembangan kemampuannya sebagai mahluk rasional (homo sapiens) tetapi sekaligus manusia spiritual (homo religius). menggagas pemikiran tentang hubungan antara agama dan perubahan sosial bertitik-tolak dari pengandaian bahwa perubahan sosial merupakan suatu fakta yang sedang berlangsung. Seorang individu menyadari dirinya sebagai manusia ketika ia mengalami manusia lain yang ada di luar dirinya. yang ada. Agama tidak dapat dipandang sebagai kepercayaan individu belaka yang berusaha mengenali kekuatan di luar dirinya lepas dari masyarakat. Agama dalam pengertian inilah yang hendak dihubungkan dengan masyarakat. Masyarakat muncul ketika ada pergeseran cara hidup manusia dari nomaden menjadi manusia menetap. Di satu sisi masyarakat .I. disposisi agama. Manusia pada awalnya menyadari bahwa ada kekuatan yang melampaui kekuatan yang ada pada dirinya. Dalam hal ini. Kenyataan perubahan itulah yang kemudian menarik minat para pemikir dan pengamat sosial untuk merumuskan dan menjelaskan mengapa hal tersebut sampai bisa terjadi. Pokok tersebut menjadi jelas bahwa agama dapat dibedakan dari kepercayaan pribadi dalam hal sifat sosial-kolektif yang dimilikinya. Saat itulah manusia mulai berkelompok dan menemukan dirinya berada dalam ketegangan antara kepentingannya dengan kepentingan orang lain dalam kelompok itu. manusia lalu menciptakan agama dan secara serentak pula bersamaan mereka menciptakan karya-karya seni. Karya seni. Agama sebagai hasil kebudayaan. Karenanya manusia mulai menyembah dewa-dewa.

masyarakat yang terbentuk itu membawa dampak negatif berupa persaingan sumber daya alam yang berfungsi vital demi kelangsungan hidup bangsa manusia itu sendiri. lebih khusus lagi bagi kelompoknya masing-masing. maka terlebih dahulu perlulah melihat garis besar gagasan dan pandangannya tentang agama. Penindasan yang dipahami oleh Marx adalah suatu perilaku eksploitatif-ekonomistik. Kenyataan yang demikian dengan jelas menggambarkan suatu warna atau gejaka ketertindasan. Agama pada titik ini dijadikan sebagai tempat perlindungan yang aman bagi penguasa untuk melanggengkan kekuasaan mereka. upacara keagamaan. Marx yakin bahwa orang jatuh dalam kemiskinan karena tindakan-tindakan penindasan ”kelas atas. larangan-larangan praktis dari pada keimanan. Berhadapan dengan struktur-struktur yang menindas dan memiskinan itu. di mana manusia dijadikan objek yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan tertentu. di dunia lain dari kehidupan manusia. Dengan jelas ia katakan bahwa ”agama adalah candu rakyat. Dengan kata lain. menurut Karl Marx. III. Karl Marx : Tentang Relasi Agama dan Perubahan Sosial Dalam kerangka memahami dan menganalisa hubungan antara agama dan perubahan sosial.” Keterkaitan yang demikian erat antara agama dan masyarakat ini berdampak pada pemanfaatan fungsi kolektif agama untuk menggerakkan masyarakat demi perubahan sosial atau juga demi tujuan tertentu yang entah menguntungkan atau merugikan masyarakat itu sendiri.yang terbentuk itu mendorong terbentuknya peradaban manusia yang mengangkat harkat dan martabatnya sebagai makhluk berakal budi ke tingkat yang lebih tinggi. Sosiolog seperti Robertson Smith dan Emile Durkheim memandang kemunculan agama secara positif sejalan dengan perkembangan masyarakat. kemiskinan itu disebabkan oleh struktur-struktur ekonomi masyarakat yang menindas.” Pernyataan Marx ini menyatakan dan memuat suatu serta sering diartikan sebagai tuduhan bahwa agama dengan menjanjikan kebahagiaan di alam sesudah kematian. membuat orang miskin dan tertindas semakin tertindas serta menerima nasib mereka daripada memberontak terhadapnya. yang diciptakan oleh para kapitalis demi memperbesar modal mereka. Dua macam dampak kemunculan masyarakat ini dapat menjadi kunci kepada dua corak teori asal-usul agama. orang tidak bisa berbuat lain kecuali pasrah dan akhirnya bersimpuh di hadapan Tuhan yang diciptakannya sendiri. Agama Sebagai Alat Penindasan Pemahaman terhadap pemikiran Marx mau tidak mau perlu memahami dan mengikuti pemikirannya dan memasukkan agama ke dalam suatu kerangka kehidupan bermasyarakat. di tengah derita yang menimpa wujud kasadnya. Agama adalah “…usaha manusia untuk menemukan makna dan arti kehidupan. Di lain pihak pemikir seperti Marx memandang kemunculan agama sebagai reaksi manusia atas keadaan masyarakat yang ‘rusak’. A. para pemilik modal” terhadap mereka yang dikategorikan dalam ”kelas bawah. agama menjadi instrumen kekuasaan. Agama bagi mereka bukanlah persoalan individu melainkan representasi kolektif dari masyarakat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa masyarakat secara positif berperan dalam terbentuknya atau munculnya agama. Akan tetapi di sisi lain. Kenyataan masyarakat yang terbagi dalam kelas-kelas sosial mendorong sekelompok orang dari kelas yang tertindas untuk melarikan diri dari keadaan struktural masyarakat yang represif dan kemudian melarikan impian dan harapannya kepada agama. Marx memang bahwa agama hanyalah merupakan suatu gejala sosial yang berupaya meyakinkan masyarakat kelas bawah yang kemudian berdampak pada kelanggengan kekuasaan kelas atas atau kelompok yang berkuasa. para buruh”. Mereka menekankan bahwa agama pertama-tama adalah aksi bersama dari masyarakat dalam bentuk ritual-ritual. Inilah yang disebut oleh Marx sebagai alienasi bahwa dalam agama alienasi itu terjadi .

Hal itu terjadi karena di dalam agama. Berangkat dari perihal di atas. Di dalam doktrin itu orang diharuskan hidup saleh dengan olah tapa yang berat dan menerima penderitaan dengan sukarela agar dapat memperoleh kemenangan di surga. muncul sebagai penyimpulan artikulasi kepentingan kelompok kasta rendah yang menghendaki kesetaraan status sosial. kendati hal itu berkait dengan hidup bersama. Lalu muncul pertanyaan mengapa setiap masyarakat mempunyai agama? Tanggapan Marx bahwa agama mendukung dan melayani kepentingan tertentu yang terkait dengan dominasi kelas dan penundukan kelas. akan tetapi realisasi diri tetap dimungkinkan. Gerakan keagamaan yang terjadi di India pada masa pra penjajahan Inggris dan pasca penjajahan Inggris merupakan perwujudan dari protes masyarakat kasta rendah atas ketidakadilan struktural yang disebabkan oleh sistem kasta. Marx kemudian menawarkan apa yang disebut dengan masyarakat komunis bahwa dalam masyarakat komunis setiap inidividu akan menikmati kehidupan yang aktif. Marx kemudian menjelaskan bagaimana usaha agama untuk melestarikan diri. Pada titik ini. khususnya terhadap sistem kasta. Manusia tidak lagi otonom. Manusia dalam agama hanyalah orang-orang yang takluk di bawah otoritas orang yang lebih berkuasa daripadanya. menurut saya teori Marx tentang agama mengandung kebenaran. kaya. Sehingga baginya agama hanya akan berakhir ketika kondisi-kondisi yang diperlukan untuk survivenya –kesengsaraan. B. manusia hanya boleh tunduk dan tidak terbuka bagi dialog yang memberikan kemungkinan bagi setiap individu untuk mengekspresikan dirinya. Keadaan mayoritas masyarakat yang direpresi oleh elit kecil dalam masyarakat mendorong mayoritas masyarakat untuk ‘melarikan diri’ dalam gerakan keagamaan yang menghibur dan memberi harapan. Agama dan keterasingan Manusia Marx sendiri meyakini bahwa masyarakat kapitalistik memang menawarkan terjadinya realisasi diri manusia. dalam tindakan serta praksis keagamaan semacam itu memungkinkan orang tergantung pada ciptaannya sendiri. Misalnya gerakan keagamaan di India. agama akan melanggengkan kemiskinan. Menurut Marx. Akan tetapi tidak seperti teori Marx. Marx juga mengatakan bahwa dalam agama tidak ada bentuk realisasi diri yang sesungguhnya. agama adalah proyeksi manusia yang mencari penghiburan dari kenyataan hidup yang represif maka dapat dikatakan agama sebagai tempat pelarian itu bersifat menghibur dan menyemangati kembali manusia yang mengalami keterpurukan nasib. agama yang hanya mampu menghukum pemeluknya adalah agama ciptaan kaum kapitalis untuk menindas orang-orang kecil dengan doktrin-doktrin kesalehan. Gerakan keagamaan yang menuntut perubahan keadaan. agama tidak lain adalah instrumen penindas yang diciptakan manusia sendiri. Kebenaran terori Marx terletak pada sifat menghibur. Lepas dari kritik terhadap gagasan Marx tentang agama sebagai proyeksi manusia belaka. dengan sendirinya manusia merendahkan martabatnya sendiri sehingga ia semakin asing dengan dirinya sendiri. Dengan demikian menjadi jelas bahwa bagi Marx. ‘Pelarian ke dalam agama’ tersebut tidak memperlemah masyarakat India pada waktu itu untuk menghadapi . kesengsaraan. Dia menyebutkan bahwa agama dari sudut sosialitasnya adalah rengekan golongan masyarakat yang tertindas. kekuasaan kelas. dan bermakna. Agar tetap exist. Marx melihat bahwa hal tersebut hanya merupakan ciptaan masyarakat. Dengan demikian. Jika.karena manusia tunduk dan berada di bawah entitas suci yang diciptakannya sendiri. dan perbudakan. karena manusia hanya tergantung pada otoritas semu yang diciptakannya sendiri. tetapi hal itu hanya terjadi bagi segelintir orang dan bukan bagi seluruh masyarakat. eksploitasi komoditasdihilangkan. ciptaan penguasa. menyemangati dan memotivasi yang ada pada agama. untuk memperkuat hegemoni dan melanggengkan kekuasaannya terhadap masyarakat kecil yang dipimpinnya. Agama tidak mengembangkan jati diri manusia secara utuh. menurut Marx. bahkan andaipun penghiburan itu hanya ilusi dan tidak nyata. Dengan menciptakan Tuhan.

sebab pada dasarnya agama mengajarkan dan mewartakan perdamaian. struktur yang dibentuk oleh agama dapat pula melahirkan kesadaran akan ketertindasan dan memunculkan gerakan untuk memberontak atau melakukan perubahan terhadap struktur masyarakat yang tidak adil. yang melibatkan cirinya yang bersifat kudus dan yang terungkapkan dalam “praktekpraktek ritual” agama. yang dituntut atau yang menandakan adanya perubahan sosial adalah suatu kondisi kehidupan masyarakat di mana ada kesetaraan dan perubahan nasib serta tatanan hidup para anggotanya. menurut Durkheim. Di situlah agama tampil sebagai instrumen pembebasan dan bukan sebagai bagian dari penindasan yang mempermiskin dan mengasingkan manusia dari diri dan dunia realnya. Durkheim juga melihat agama sebagai sesuatu yang selalu memiliki hubungan dengan masyarakatnya.kenyataan hidup yang pahit. pandangan Marx yang menyatakan bahwa agama melanggengkan hegemoni kelas atas memiliki kelemahan. Pelarian pada agama justru menguatkan mereka untuk berjuang. Dari sinilah kesetaraan dan keharmonisan dapat terjadi asalkan para penganutnya mau dan setia melaksanakan ajaran agama dengan baik dan benar. Agama sungguh menjadi suatu realitas sosial. agama menurut analisa Marx. Pendobrakan terhadap struktur dan tatanan masyarakat yang telah ‘mantap’ di tangan para penguasa memungkinkan suatu perubahan sosial. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa agama di satu sisi. yang menjadi syarat adanya agama. melainkan sebagai lembaga yang membangun dan menghidupkan masyarakat bersama menuju bonum commune. Hemat saya. didefinisikan sebagai suatu “sistem kepercayaan dan praktek yang telah dipersatukan yang berkaitan dengan hal-hal yang kudus. Dengan demikian. Sehingga agama bukanlah menjadi instrumen penindas. Ini berarti bahwa agama memberikan sumbangan besar bagi masyarakat yang memungkinkan masyrakat tersebut dapat hidup secara baik serta berkembang dalam kedamaian. bila penghayatan ajaran agama dijalankan secara baik dan benar maka konflik maupun pertentangan sedapat mungkin dihindari dan tidak mungkin terjadi. yang hidup dalam dunia real manusia. melainkan dari bentuknya. IV. dengan kompleksitasnya. Fenomen yang ada dan justru terjadi dewasa ini adalah bahwa orang yang beragama turut berpatisipasi dan terjun langsung ke lapangan dan secara bersama berupaya menyelesaikan segala persoalan yang dihadapi masyarakat. kebenaran yang diajarkan agama mendapat tempat perwujudan ajarannya pada dunia masyarakat yang real. kehidupan yang harmonis demi kebaikan bersama. Pada titik ini dapat kita lihat bahwa agama bukan semata-mata ditilik dari substansi isinya.” Definisi ini menyiratkan dua unsur yang penting. Dapatlah dikatakan bahwa dalam agama yang terus ‘menidurkan’ masyarakat kelas bawah tidak akan terjadi perubahan sosial. Agama berupaya untuk menerjemahkan pandangannya dalam masyarakat yang nyata. sebab agama hanya melanggengkan kekuasaan masyarakat kelas atas. Inilah kekecualian yang tidak dilihat oleh Marx dalam teorinya. alat pelanggeng kekuasaan. Maksudnya bahwa agama sungguh berpijak pada dunia real. dan bersama dengan pemeluknya bergelut dengan kemelut real kemasyarakatan. Lebih dari itu. agama dengan demikian tidak serta merta melibatkan konsep adanya suatu makhluk supranatural. Prasyarat itu adalah “sifat kudus” agama dan “praktek-praktek ritual” agama. Sementara itu. ‘Sifat Kudus’ Agama . kepercayaan-kepercayaan dan praktek-praktek yang bersatu menjadi suatu komunitas moral yang tunggal. Bertitik tolak dari pengertian atau pengartian yang dikatakan sebelumnya. dapat secara terus menerus ‘mengamankan’ kelompok masyarakat kelas atas dan tidak mendatangkan perubahan sosial. di sisi lain. a. Tidak hanya itu. Emile Durkheim: Tentang Relasi Agama dan Perubahan Sosial Agama. dan memiliki sifat yang historis. Anggapan bahwa agama dapat menjadi salah satu faktor yang memicu konflik dalam masyarakat ala Marx tidak seluruhnya benar.

Hal tersebut menunjukkan bahwa “kekudusan” suatu obyek tidak tergantung dari sifat-sifat obyek itu an sich. berupaya menyatukan diri dengan keimanan secara lebih khusuk. Praktek ritual ini ditentukan oleh suatu bentuk lembaga yang pasti. Di wilayah ini. yaitu totem. b. Pertama. merepresentasikan masyarakat dalam agama. Praktek tersebut menjamin agar kedua dunia. Lain halnya dengan Totemisme di Amerika Utara dan Melanesia. individu dapat membangun hubungan yang khusus dengan Yang . dan kemalangan. yang memaksakan pemisahan radikal dari yang duniawi. Praktek-praktek ritual yang negatif itu memiliki fungsi untuk tetap membatasi antara yang kudus dan yang duniawi. Pemisahan ini menjadi dasar dari eksistensi “kekudusan” itu. yang berwujud dalam bentuk pantangan-pantangan atau larangan-larangan dalam suatu upacara keagamaan. ada tiga obyek yang dianggap kudus. benda-benda yang berada di dalam alam semesta dianggap sebagai bagian dari kelompok totem tertentu. Durkheim menyambungkan lahirnya pengudusan ini dengan perkembangan masyarakat.‘Sifat kudus’ yang dimaksud Durkheim dalam kaitannya dengan pembahasan agama tidak dalam artinya yang bersifat teologis. menjadi tempat bersatunya individu-individu. dan dengan demikian berfungsi untuk memperbaharui tanggung-jawab seseorang terhadap ideal-ideal keagamaan. Sebuah aturan moral hanya bisa hidup apabila ia memiliki sifat “kudus”. Di dalam totemisme. praktek ritual yang positif. Durkheim kemudian menjelaskan fenomena totemisme untuk menjelaskan fenomen keagamaan. Totemisme Australia tidak memisahkan secara jelas antara obyek-obyek totem dengan kekuatan kudusnya. yaitu melalui ketaantan kepada aturan-aturan keagamaan. Pada totemisme Australia. frustrasi. Hal ini berwujud dalam bentuk upacara-upacara keagamaan itu sendiri dan merupakan intinya. kekuatan kudus itu jelas terlihat berbeda dari obyek-obyek totemnya. Setiap individu. sehingga memiliki tempat tertentu di dalam organisasi masyarakat. c. oleh Durkheim. Karena itu semua benda di dalam totemisme Australia memiliki sifat yang kudus. Adapun praktek-praktek ritual yang positif -yang adalah upacara keagamaan itu sendiri-. Sifat kudus itu dapat diartikan sebagai sesuatu yang “kudus” itu “dikelilingi oleh ketentuan-ketentuan tata cara keagamaan dan larangan-larangan. melainkan sosiologis. Dalam agama. Ritual Agama Agama juga selalu melibatkan ritual tertentu. “kekudusan”-pun merupakan prasyarat bagi suatu aturan moral untuk dapat hidup di dalam masyarakat. dan disebut berdasarkan nama yang disematkan padanya. Fungsi Agama Teori keagamaan Emile Durkheim menyatakan fungsi agama sebagai pemersatu masyarakat. sehingga setiap upaya untuk menghilangkan sifat “kudus” dari moralitas akan menjurus kepada penolakan dari setiap bentuk moral. Agama. persoalan dan kebutuhan hidup pribadi atau individu tertentu. dengan demikian. Melalui upacara keagamaan. Agama bagi Durkheim adalah sebuah kekuatan kolektif dari masyarakat yang mengatasi individu-individu dalam masyarakat. bahkan ketika terjadi banyak perbedaan antara individu karena agama sebagai kekuatan kolektif masyarakat bersifat mengatasi kekuatan-kekuatan individual.” Sifat kudus ini dibayangkan sebagai suatu kesatuan yang berada di atas segala-galanya. Selain itu. lambang totem dan para anggota suku itu sendiri. misalnya dengan menjalankan ritual-ritual keagamaan. Contohnya adalah liburan pada hari raya besar keagamaan tertentu. Kedua. Totemisme yang ada pada masyarakat tertentu. Dengan demikian. agama juga turut menjawab masalah. Ada dua jenis praktek ritual yang terjalin dengan sangat erat satu sama lain. sebaliknya. Ia menyatakan bahwa ‘Sifat kudus’ itu juga terdapat dalam aturan moral. yaitu yang “kudus” dan yang “profan” tidak saling mengganggu atau menekan satu sama lain. praktek ritual yang negatif. tetapi tergantung dari pemberian sifat “kudus” itu oleh masyarakatnya. individu merasa dikuatkan dalam menghadapi derita. dikembangkan dan dijadikan suatu titik pijak untuk menjelaskan fenomena moralitas yang ada dalam masyarakat.

V. I. Agama dengan demikian tidak dapat dipandang melulu sebagai tempat pelarian kaum terdesak dan akan hilang dengan membaiknya keadaan masyarakat dengan alasan: Pertama. Karen. di mana suatu wilayah kekuasaan hanya dihidupi oleh kaum elit atau masyarakat kelas atas. Melalui ritual-ritual keagamaan individu-individu dalam masyarakat disatukan oleh kekuatan moral dan sentimen moral maupun sosial . Elster. kebebasan dan tanggung jawab atas nilai-nilai moral dalam masyarakat. agama hendaknya memelopori masyarakat yang terbuka terhadap perubahan. Armstrong. Imam Muhni. Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Bambang. (Sudarmaji-penerj.1995. 1994. 2006. Agama diperlukan agar masyarakat tidak terpecah belah dalam aneka kepentingan yang tidak dapat diartikulasikan bersama. Raya Hamilton.Ilahi. Kuasa dan Moral . Kepustakaan *. Marxisme: Analisis Kritis. Jakarta: PT Prestasi Pustaka *. Normanorma dan nilai-nilai agama hendaknya dapat menjadi pegangan dan petunjuk bagi kehidupan bersama yang lebih harmonis. kita mengetahui bahwa justru agama adalah sumber motivasi dan kekuatan yang membebaskan orang dari keadaan tertindas menuju keadaan merdeka. bahkan jika terjadi banyak perbedaan antar individu atau golongan. Moral dan Religi Menurut Emile Durkheim&Henry Bergson. Djuretna A. Kecenderungan merosotnya penghayatan keagamaan dalam masyarakat mapan menjadi petunjuk bahwa agama harus senantiasa memperbaharui dan membenahi diri agar ‘pesan kenabiannya’ tetap dapat diterima masyarakat dari berbagai jaman. agama dengan segala ritual yang ada dan hidup serta yang dijalankan oleh para pemeluknya sesungguhnya dapat berdampak pada perubahan sosial dan membentuk tatanan masyarakat yang terintegrasi. dapatlah ditarik suatu kesimpulan bahwa. 1993. dari pengalaman gerakan keagamaan.Jakarta: Gramedia _________________.The Sociology of Religion. Sebab agama dan nilai-nilai sejati hanya dan justru akan mempertahankan diri apabila mampu menghadapi dan menyikapi perubahan sosial secara positif. 2001. ‘tidak mempunyai kekuatan’ yang didominasi oleh sekelompok kecil saja kalangan elit. Penutup Agama memang tidak dapat bertahan jika agama tidak berani menggaungkan suaranya dan mempunyai disposisi yang memihak masyarakat. Jon. Magnis-Suseno. Kedua. Yogyakarta: Kanisius *. Dengan demikian menjadi jelas bahwa agama dapat menjadi kekuatan yang menyatukan masyarakat. VI. London: Routledge *. Ritus-ritus itu memberi jaminan akan hidup.Pemikiran Karl Marx. 2000. Tidak hanya itu. agama sebagai kekuatan pemersatu masyarakat justru amat dibutuhkan saat ini dimana nilai-nilai kolektivitas atau kebersamaan digerus bahkan dihancurkan oleh nilai-nilai individualis-pragmatis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama _________________. Jogjakarta: Kanisius . Agama dengan demikian menjadi sarana bagi tercapainya bonum commune. agama juga berfungsi untuk menjalankan dan menegakkan serta memperkuat perasaan dan ide kolektif yang menjadi ciri persatuan masyarakat.Jogjakarta: Kanisius *.Wajah Baru Etika dan Agama. Sugiharto. Malcolm B. Dalam hal menyatukan masyarakat ritual-ritual keagamaan mempunyai tempat yang vital. 2000. Fenomena agama dalam dari perspektif Durkheim menjadi sangat positif yang mana melekatkan agama dengan penciptaan suatu masyarakat yang harmonis dan yang mengutamakan serta membangkitkan semangat kebersamaan dalam perkembangan dan perubahan kehidupan bermasyarakat. Lebih dari itu. Bandung: Mizan *. Menalar Tuhan.) 2000. Franz. apalagi jika terdapat artikulasi kepentingan-kepentingan yang membuahkan ideologi bersama. Dengan berdasar pada pandangan Emile Durkheim di atas. Faktanya mayoritas masyarakat adalah orang biasa. Sejarah Tuhan.

Bastian Gaguk • • • Laporkan Tanggapi Beri Nilai ○ Aktual ○ Inspiratif ○ Bermanfaat ○ Menarik KOMENTAR BERDASARKAN : TANGGAL Tulis Tanggapan Anda Top of Form Submit Bottom of Form Top of Form search 01431469027054 Bottom of Form FORID:11 UTF-8 SEARCH ONLINE BLOGSHOP Internet & Social Media 2011 in Numbers Seberapa Fatal ‘Sih’ Pengaruh Salah Eja dalam Tulisan? Rahasia Filosofi Memasak Bandung .

php? n=a8b4734e&amp.php? zoneid=639&amp.n=a8b4734e' border='0' alt='' /></a> TEREKOMENDASI • Briptu Norman Diberhentikan dengan Tidak Hormat? Sudah Selayaknya! Philip Ayus | 14 jam yang lalu • Piknik ke Rumah Masa Depan (Oleh-oleh dari Montreal) Megawati Mustafa | 14 jam yang lalu • Murahnya Biaya Hidup di Kairo (Dibanding Jakarta!) Ilyani Sudardjat | 14 jam yang lalu • Mama.kompasads.kompasads.com/new/www/delivery/avw.com/new/www/delivery/ck.cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE' target='_blank'><img src='http://ads3.<a href='http://ads3.cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&amp. Aku Hamil…! Langit | 20 jam yang lalu • Benarkah Air Es Penyebab Kanker Rahim Bagi Ibu Hamil dan Perempuan Haid? Dokter Kandungan yang Gitaris Itu pun Gusar linda | 22 jam yang lalu • • • • • • BERITA ADMIN LETTER TO ADMIN » Ngariung di Kompasiana Blogshop … » Rincian Acara KOMPASIANIVAL 2011 » Pemenang “Semarak Ultah Alfamart Shop & … » Cara Ikutan KOMPASIANIVAL INDEX .

Hingga Kelelahan Itu Lelah Mengikutimu ”Ngintip Bikin Timbilan” Tangis Perempuan Bernama Pertiwi Andai Abraham sebagai Petinju [Test Mirror] Darah yang Menggenang (Cermin) Aku Bukan Wanita Penghibur! Kemasan Susu Indomilk Mengandung Pesan Abnormalitas asal usul grup galauers di amik bsi jogja Penanaman Bibit Pohon di Lereng Merapi Kacau Inspiratif Bermanfaat Menarik • • • • • Membongkar Gurita Perusahaan Milik Ibas Yudhoyono Pernyataan Dubes Palestina yang Mengejutkan Tourist Asal Indonesia Dikacangiin di Korea Hati-hati Menggunakan Jas Hujan Model Jubah/Ponco Andik dan Baju David Beckham Ditawar Seharga Rumah SUBSCRIBE AND FOLLOW KOMPASIANA: About Kompasiana | Terms & Conditions | Tutorial | FAQ | Contact Us | Kompasiana Toolbar . Penumpang Wajib Tegar [MIRROR] Contoh Postingan Mirror Teruslah Bergerak.• • » Perbaikan URL » Mencari File Anggota Kompasiana KIRIM SURAT Teraktual • • • • • • • • • • • • • • Anda Membolos? Nih 4 Milyar Munculnya Gerakan Ekstrem Kanan sebagai Reaksi Terhahap … LION selalu Benar.

© 2008 – 2011 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->