Membangun Basis Sosial Memahami Realitas Perubahan Masyarakat Perubahan masyarakat mempunyai arti yang luas.

Dapat diartikan sebagai pertumbuhan atau perkembangan, baik dalam arti positif maupun negatif. Pada umumnya motivasi dari proses perubahan di masyarakat dipengaruhi oleh adanya perubahan harapan dan kebutuhan-kebutuhan baik mental maupun materi. Faktor lain yang juga menyebabkan terjadinya perubahan juga dikarenakan adanya kemajuan teknik atau technical change. Penemuan sebuah teknik sendiri mempunyai akibat tidak saja menguntungkan, namun juga merugikan. Perubahan sosial atau di sebut juga transformasi sosial merupakan suatu keniscayaan dalam sebuah kehidupan manusia, baik secara individu maupun secara kolektif. Hal ini terjadi karena manusia secara alami memiliki sifat tidak statis dalam sebuah kondisi, Ia cenderung aktif merespons sejumlah kejadian yang ada di sekelilingnya. Respons inilah yang membuat hidup manusia selalu dinamis dan pada akhirnya menciptakan sejumlah gagasan dan ide-ide baru dalam rangka memenuhi harapan serta kebutuhannya. Dengan kondisi seperti tadi suasana bumi semakin hari semakin penuh dengan dinamika. Dalam perjalanan kehidupan bumi, dengan sendirinya akan semakin banyak hasil budaya (artefak) yang bisa kita jumpai dari tahun ke tahun serta abad ke abad. Itu semua tidak lepas dari wujud dinamika aktivitas manusia yang merupakan refresentasi kegiatan olah akal serta pengembangan sejumlah gagasan, ide serta pikiran yang terus di sempurnakan manusia dari waktu ke waktu. Hal inilah yang jelas membedakan tugas, peran dan fungsi manusia dari mahkluk lainnya, termasuk pula jika kita bandingkan dengan misalnya malaikat, yang diciptakan Allah SWT dengan fungsi, tugas dan peran yang statis sepanjang masa penciptaannya. Dalam realitas sehari-hari, kita bisa dengan mudah melihat bagaimana kondisi krisis multidimensi (nilai, moral, sosial, ekonomi dan politik) akhirnya akan berpengaruh besar pada teralienasi-nya sistem kekuasaan--terutama elitnya--dari kehidupan masyarakatnya. Alienasi yang terusmenerus terjadi mengakibatkan proses marginalisasi massa--rakyat--dari agenda perubahan bangsa. Penguasa pada akhirnya membutakan diri dari realitas sosial yang terjadi. Akumulasi persoalan ini akan menumbuhkan harapan (The rise expectation), sekaligus rasa prustasi (The rise of prustation) yang pada kondisi yang cukup parah akan sampai pada situasi penghancuran kepercayaan diri secara massal (The mass prustation). Kondisi prustasi akibat ketidakjelasan banyak hal pada saatnya nanti akan menjadi daya pendorong yang besar bagi terciptanya perubahan sebuah sistem. Perubahan ini dalam konteks sosial lazim disebut dengan tranformasi sosial. Ada dua pilihan metode untuk melahirkan sebuah kondisi baru sebagai sebuah terapi bagi kondisi yang hendak di perbaiki tadi, pertama dengan cara evolusi dan kedua dengan cara revolusi.

hal ini mengingat target dari perubahan yang diinginkan dengan cepat bisa di evaluasi. apalagi di negara-negara Dunia Ketiga yang perubahan politiknya secara umum masih cukup eksplosif. Revolusi sosial yang terjadi di Barat kondisinya berbeda dengan apa yang terjadi di Timur.1. Konsekunsi logis dari perubahan model ini akan menempatkanrezim yang sedang asyik berada dalam tampuk kekuasaanya dengan leluasa memilih agenda-agenda perubahan yang ada berdasarkan “aman atau tidak” bagi kekuasaannya. yang tentu saja sangat bias kepentingan. karena sepenuhnya kewenangan hendak kemana arah perubahan yang terjadi terletak di tangan penguasa sendiri. Perubahan seperti ini secara umum bertujuan pada perubahan secara politik. kecemasan serta ketidakpastian akan kondisi yang sedang terjadi. Cara seperti ini kalau dihitung interval waktu yang dibutuhkannya ternyata relatif lebih singkat dari cara evolusi. Akan tetapi dalam kondisi tertentu cara ini cukup beresiko. Alienasi ini terjadi karena kekuasaan yang ada semakin meninggalkan kepentingan-kepentingan rakyat dan justeru seolah menjadi bagian lain dari pranata yang ada. cara ini juga dengan mudah dapat diketahui sejauhmana tingkat keberhasilannya. Figur-figur di luar lingkaran kekuasaan hanya memberikan respons-respons minimal sebatas masukan atau paling maksimal adalah melakukanpressure. Dalam prosesnya. Model Evolusi Cara evolusi merupakan cara yang paling mudah di lakukan. maka kita hampir tidak akan bisa memisahkan diri dari kaitannya dengan masalah politik di sebuah negara. khususnya perubahan tampuk kekuasaan yang ada. Elit penguasa serta pihak-pihak tertentu saja yang bisa terlibat dalam merumuskan berbagai persoalan yang ada. Saat kita membicarakan tentang perubahan sosial secara revolutif. Tidak perlu tokoh yang cukup kharismatik atau terkenal dalam model ini. Pemikiran tentang revolusi sendiri memiliki banyak varian pengertian dan pada umumnya berangkat dari sebuah proses kegelisahan. Model Revolusi Cara revolusi merupakan cara yang cukup populer di kalangan beberapa gerakan sosial atau gerakan pembebasan. biasanya terjadi suatu proses alienasi kekuasaan. Tidaklah mengherankan model ini kurang populer. 2. Hasil dari cara ini bisa dengan mudah “ditampilkan” untuk dengan segera dapat di analisa apakah sesuai dengan tujuan revolusi itu atau tidak. Proses perubahan seperti ini juga cenderung hanya “melingkar” di tingkat elit saja dan sedikit sekali mengakomodasikan input dari grass root yang muncul ke permukaan sebagai reaksi atas berbagai kebijakan elit yang selama ini berkuasa. Barat cenderung menunjukkan nilai-nilai perubahan itu berawal dari terancamnya nilai-nilai . aman bagi jalannya sistem yang sedang berlaku tapi dari sisi waktu tempuh akan banyak menghabiskan hitungan yang tidak sedikit. Sebelum sebuah revolusi sosial terjadi. Bisa jadi dalam prosesnya yang singkat tersebut meminta banyak korban sebagai pra syarat dari prosesnya yang memang cukup reaktif dan terkesan sporadis dari sisi waktu maupun agenda-agenda yang di lakukan. itu pun jika ada ruang kebebasan yang cukup untuk melakukan hal itu.

Dunia Timur. Timur juga memiliki “nilai tambah” yang lain dalam sisi sumber energi yang menumbuhkan kekuatan untuk bergerak dan melakukan perlawanan di kalangan mereka. Perbedaan ini tentu saja mendapatkan legitimasi yang kuat dari seluruh elemen masyarakat Jawa saat itu. merupakan revolusi sosial masyarakat Jawa-khususnya di Yogyakarta dan sekitarnya--yang merasa hak-hak mereka di rampas dan kemerdekaan mereka di tindas oleh kekuatan Belanda sebagai sebuah kekuatan asing yang secara ideologi jelas berbeda. juga memiliki lingkungan eksternal yang juga tidak sama. Sang tokoh ini lah yang pada gilirannya nanti akan banyak menghasilkan produk pemikiran yang akan banyak di konsumsi oleh masyarakat. yakni perang. Kasus perang Jawa (1825-1830) misalnya. Kondisi obyektif golongan mayoritas yang sedang berada di bawah pengaruh kekuatan dominan ini sama sekali tidak memiliki political bargaining yang cukup sehingga hanya jadi obyek eksploitasi tirani minoritas yang sedang berkuasa. namun secara jelas mampu mencerminkan tentang adanya sebuah pertentangan yang keras antara sebuah kekuatan yang berbeda yang kemudian di selesaikan dengan jalan kekerasan. seorang bangsawan sekaligus tokoh spiritual yang mereka cintai terjun langsung melakukan perlawanan bersama-sama mereka. apalagi kekuatan itu merupakan kekuatan asing yang memiliki perbedaan yang tegas dari sisi nilainilai agama. Pemikiran- . yakni agama. Perlawanaan ini walaupun pada ending-nya berakhir dengan kekalahan di pihak Jawa. Apabila kita bicara tentang hakikat revolusi. Pembenaran inilah yang kemudian menjadikan suluh utama yang membakar hebat semangat anti perlawanan terhadap Belanda. akan kita jumpai ada banyak perbedaan antara gagasan revolusi yang digagas para tokoh revolusi yang ada di dunia. baik dari golongan adat hingga para Kyai serta Ulama yang ada. Revolusi-revolusi sosial yang terjadi baik di dunia Barat maupun di dunia Timur secara garis besar di mulai saat ada seorang tokoh yang memang terus-menerus menyuarakan sebuah perubahan dan kemudian Ia konsisten dengan perubahan tersebut. sebagai dunia yang secara historis tidak bisa dilepaskan dengan pertumbuhan serta perkembangan agama-agama besar dunia. Paratokoh ini selain karena latar belakang yang memang berbeda. Barangkali hal ini yang mempengaruhi kenapa ada kekhasan-kekhasan dari sejumlah peristiwa revolusi di berbagai negara. Ada saat tertentu yang justeru bisa lebih baik penyelesaiannya tidak dengan perang. memiliki energi dan semangat yang cukup kuat untuk tetap bertahan dan kemudian bangkit melawan kekuatan yang mendominasinya.kebebasan individu atau kelompok oleh sebuah sistem yang dominan dan atau sedang berkuasa sedangkan revolusi di dunia Timur justeru berawal dari adanya sistem atau kekuatan dominan yang berlaku sewenang–wenang dengan mengabaikan kepentingan mayoritas yang ada. Revolusi yang terjadi biasanya terkait erat dengan sitausi sosial masyarakat yang terjadi saat revolusi itu mulai digulirkan. Perang sebagai sebuah jalan penyelesaian dari sebuah masalah besar sesungguhnya tidak selalu mampu menyelesaikan berbagai masalah yang terjadi. Konsistensi terhadap ide perubahan seperti inilah yang akan menempatkan tokoh tadi di garda depan sebuah proses revolusi. Selain kondisi ini. Semangat yang menyala ini kemudian bertambah lagi saat Pangeran Diponegoro.

maka akan semakin sukarlah kekuatan yang sedang dominan atau lazim di sebut kaum penguasa meredam arus yang berlawanan arah tadi. maka dengan sendirinya akan sampi pada kondisivis-à-vis antara dua kekuatan yang berbeda. Model Reformasi Kedua pilihan tadi pada dasarnya tidak akan terlepas dari sejumlah kelebihan dan kekurangan. Revolusi sosial. 3. dipenjarakan atan bahkan “di habisi” pihak penguasa--maka harus ada tokoh lain yang menggantikan posisi kunci ini. kebudayaan maupun politik secara kelahirannya tidak terlalu jauh berbeda kondisinya. dimana ibarat orang membuat bola salju kemudian di gelindingkan maka lama kelamaan bola salju ini akan membesar sedikit demi sedikit menjadi sebuah kekuatan yang sukar untuk di hadang dengan cara apapun. Dalam wacana revolusi apabila kekuatan lawan sudah memilki kekuatan yang cukup.maka akan semakin besar sebuah issu bisa menggelinding ke tingkat massa. yang satu sama lain siap saling mengalahkan--bahkan menghabisi--musuhnya. Konsep jalan tengah ini ter-representasikan sekaligus mengilhami kalangan terbesar . Semakin banyak tokoh yang muncul ke permukaan untuk melawan arus besar ide atau gagasan yang sedang berkembang--atau bahkan barangkali sudah di anggap mapan-. Ketika kekuatan perlawanan yang ada semakin besar. suksesnya sebuah revolusi ditandai dengan tumbangnya sistem lama dan kemudian digantikan oleh sistem/tatanan baru. Bukankah secara sederhana. dalam beberapa hal cara ini merupakan cara kompromis antara penguasa dengan rakyatnya. Hal ini memang tidak berlaku mutlak. Kondisi ini kemudian tinggal di lihat saja mana yang mampu mengungguli lawannya Ia lah yang akan jadi pemenangnya. tapi paling tidak ini lah yang umumnya terjadi pada sebuah perubahan baru yang hendak dilahirkan lewat sebuah proses revolusi. pilihan terhadap cara ini bisa kita saksikan dalam rentang perjalanan sejarah bangsa ini saat mengambil middle way sebagai sebuah pilihan dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. paling tidak masih ada cara Ketiga yang ternyata banyak negara menggunakannya untuk merombak sistem yang sedang berjalan. Apabila sang tokoh ini mengalami “kecelakaan sejarah”--dengan misalnya di tangkap. Cara ini pun sebenarnya bukan cara yang bersih dari bakal adanya korban yang jatuh tapi. Dalam konteks Indonesia. Cara ini kalau bisa berjalan dengan baik akan menjembatani kehawatirankehawatiran yang muncul berkaitan dengan prediksi akan adanya korban yang ada.pemikiran yang berkembang inilah yang sedikit banyak akan menyumbangkan arahan ke depan seperti apa proses perubahan besar--revolusi--yang hendak di capai. maka tentu saja sejarah akan menilai revolusi yang terjadi itu tidak mendapatkan dukungan mayoritas massa karena terbukti tidak mampu menggerakan massa untuk secara bersama mengganti sisten lama yang sedang berlaku. Kondisi demikian di kenal dengan snow ball effect. Kalau kekuatan yang hendak merubah mengalami kekalahan sebelum berkembang. Ia lahir dari sebuah pertentangan hebat antara dua buah kekuatan yang saling berhadapan.

Sedangkan orang yang berislam secara umum disebut seorang muslim. orang-orang miskin. Islam tidak hanya melengkapinya dengan jaminan hukum. musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang yang meminta-minta. Islam telah dilengkapi dengan standard moral yang tertinggi. dalam Islam di sebut moral baik. anak-anak yatim. Islam sendiri kalau kita kaji secara lebih dalam. Islam sangat menekankan pentingnya kecintaan kepada Allah dan kecintaan kepada sesama manusia. kepatuhan dan ketaatan. Demikianlah. apapun yang mengarah kepada kesejahteraan individu atau masyarakat. Pertama karena kompleksnya cara pemahaman terhadap Islam. Perubahan Masyarakat dalam Pandangan Islam Ketika muncul pertanyaan bagaimana Islam memandang perubahan sosial. nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya. dan dalam peperangan. Ada begitu banyak persoalan-persoalan yang terkait dengan jawaban pertanyaan tadi.bangsa ini dalam mereformasi dirinya pada peristiwa puncak reformasi di bulan Mei 1998 sebagai sebuah momentum perubahan besar bangsa. mendirikan shalat. Satu kelompok dengan kelompok lainnya. Islam ini jika jika kita artikan secara sederhana dalam bahasa Arab bisa berarti damai. tapi juga sistem moral yang sangat efektif. dan menentang formalisme. Al-Baqarah : 177) Dengan meletakan ridha Allah sebagai tujuan hidup manusia. Ia juga bekerja untuk membangun masyarakat manusia di atas dasar tauhid. Perhatikan ayat Al Quran berikut ini : ”Bukankah kebajikan itu engkau hadapkan wajah ke arah Timur dan Barat akan tetapi kebajikan itu ialah beriman kepada Allah. kedua karena perspektif tiap bagian dari umat bisa saja berbeda dalam pengambilan metode atau cara dalam melakukan perjuangan dan pengimplementasian dari berbagai cara pandang yang berbeda tadi. bisa saja menerapkan a langkah dan metode yang berbeda. walaupun sama-sama Islam. dan menunaikan zakat. Untuk menjalankannya. hari kemudian. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya). malaikat. Ini membuka cakrawala yang tak terbatas bagi perkembangan moral . dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa” (QS. kitab-kitab. Islam telah menetapkan hak-hak asasi manusia yang menyeluruh. dan (memerdekakan) hamba sahaya. Pengertian dari seorang muslim adalah seseorang yang mempercayai Allah dan berupaya mengatur seluruh kehidupannya berdasarkan petunjuk yang diturunkan-Nya serta sunah-Nya. Hak-hak ini harus dilaksanakan dan dihormati dalam setiap keadaan. dan apapun yang merugikan di sebut moral buruk. Maka sesungguhnya jawaban ini tidak sederhana. dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan. Dien Islam juga dapat berarti penerimaan total terhadap ajaran dan petunjuk Allah sebagaimana diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. tidak bisa disampaikan secara singkat. maka akan sampai pada kesimpulan bahwa Islam adalah agama yang memang sempurna bagi aturan kehidupan manusia. Seperti apa model yang dikehendaki Islam dalam menata sejumlah permasalahan sosial dan model perubahan apa yang paling sesuai dengan Islam ?. penderitaan.

tapi sangat transendental sekali sifatnya. Masyarakat dalam konteks pemberdayaan berfungsi bukan menjadi obyek tapi menjadi subyek.manusia dalam berhubungan dengan manusia yang lain. yang akan memandu serta mengorientasikan ke arah mana perubahan akan dilakukan. Fasilitator adalah bagian lain dari masyarakat yang berupaya menjadi jembatan bagi peningkatan. Dalam konteks perubahan sosial. terutama pemerintah. Fasilitator juga bukan bos. dan memperbesar kemampuan masyarakat. Tokoh hebat yang mampu membantu setiap orang melakukan segalanya tanpa kesulitan yang berarti. Konsekuensi hal ini. yakni samasama makhluk Allah yang punya kewajiban mengabdi dan menyembah kepada-Nya. Maksudnya. lambat (evolusi) ataupun tengah-tengah antara keduanya (reformasi) menjadi kurang penting. fasilitator bukan menjadikan dirinya menjadi Supermen. Dalam lingkup seperti inilah proses pembangunan masyarakat berjalan. pengembangan dan perubahan masyarakat menjadi lebih baik. Masyarakat akhirnya hanya mampu menggantungkan proses peningkatan dan pengembangannya pada pemerintah. tapi juga membutuhkan nilai-nilai yang jelas. Merekalah yang secara bersama-sama akan menentukan ke arah mana mereka akan berkembang. Pemberdayaan Masyarakat Menuju Perubahan Sosial Pemberdayaan masyarakat secara substansi berarti proses memajukan. baik yang diinginkan dirubah dalam waktu cepat (revolusi). masyarakat yang ada bukan saja diarahkan pada kemajuan fisik (materi) namun juga pada kemajuan nilai-nilai non materi. Selama ini. Perlakuan inilah yang “membunuh” potensi kemandirian masyarakat secara perlahan. hal ini sangat relevan karena apapun agenda perubahan. seringkali berfungsi menjadi bos bagi masyarakat. Aturan hubungan sesama manusia jika begitu bukan sebatas kepatutan atau sopan santun semata. yang justeru menjadi hal utama adalah bahwa perubahan yang dilakukan harus dalam bingkai nilai-nilai Islam. begitu bantuan dari pemerintah berkurang maka masyarakat . Ini artinya cepat lambatnya perubahan tidak terlalu menjadi persoalan dalam cara pandang Islam. jelas fasilitator pemberdayaan (atau pihak yang akan mengajak pada perubahan) harus mampu “berdekatan secara sehat” dengan masyarakat. Jika begitu. itu merupakan implikasi dari proses yang terjadi. mengembangkan. Masyarakat diperlakukan menjadi obyek dari berbagai kebijakan yang dibuat oleh pemerintah. Makanya tidak mengherankan. maka antara manusia yang satu dengan manusia yang lain punya kewajiban sama. yang tanpa diminta membagi-bagikan uang kepada siapapun. Dengan begitu pemberdayaan masyarakat bukan saja membutuhkan SDM (masyarakat atau fasilitator). maka perubahan yang ada harus tetap dilakukan dengan cara-cara yang akhsan(baik) sehingga dengan hampir tidak mungkin perubahan dilakukan dengan cara radikal atau penuh dengan kekerasan. Dalam kaitan ini. apabila kita gunakan perspektif Islam. Kalaupun ada korban. modal dan sarana. Dan mengenai korban yang umumnya terjadi dalam proses perubahan. pihak-pihak pengembang masyarakat.

Dalam proses panjang tersebut. Ini semua tidak lain dilakukan untuk meningkatkan kemampuan dan kemandirian masyarakat dalam meningkatkan taraf hidupnya. Mengidentifikasi dan mengkaji permasalahan dan potensinya. atau dikenal dengan model 'Pemberdayaan Masyarakat'. Hal ini biasanya disebabkan adanya anggapan untuk mencapai efisiensi dalam pembangunan bagi masyarakat. Masyarakat sering kali diikutkan tanpa diberikan pilihan dan kesempatan untuk memberi masukan. Dalam visi ini masyarakat ditempatkan pada posisi yang membutuhkan bantuan dari luar. Program yang dilakukan dengan pendekatan dari atas ke bawah sering tidak berhasil dan kurang memberi manfaat kepada masyarakat. Dari kondisi ini. pemberdayaan masyarakat diharapkan akan berjalan secara terus menerus dengan partisipasi masyarakat yang juga utuh. masyarakat diupayakan secara bersama-sama: a. baik sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Rencana program pengembangan masyarakat biasanya dibuat di tingkat pusat (atas) dan dilaksanakan oleh Instansi Propinsi dan Kabupaten. Kemudian rencana perlu disesuaikan atau. Dari yang tadinya masyarakat sebagai obyek menjadi masyarakat sebagai subyek. Ini barangkali yang menyebabkan pemerintah mengalami kesulitan ketika akan kembali lagi “mendekati” masyarakat dengan maksud mengembangkannya. Mengembangkan rencana kegiatan kelompok berdasarkan hasil kajian Menerapkan rencana tersebut Secara terus-menerus memantau dan mengkaji proses dan hasil kegiatannya (Monitoring dan Evaluasi) Kemudian temuan-temuan monitoring dan evaluasi dikaji (kembali ke tahap (a. c. masyarakat tidak mempunyai kemampuan untuk menganalisa kondisi dan merumuskan persoalan serta kebutuhankebutuhannya. Proses ini bertitik tolak untuk memandirikan masyarakat agar dapat meningkatkan taraf hidupnya. Dari proses yang berjalan selama ini. Dasar proses Pemberdayaan Masyarakat ini sendiri adalah adanya penggabungan dari dua unsur yang ada dalam masyarakat. persoalan perencanaan dan pengambilan keputusan dalam program pembangunan kerapkali dilakukan oleh pemerintah dengan model keputusan dari atas ke bawah ('top-down'). karena masyarakat kurang terlibat sehingga mereka merasa kurang bertanggung jawab terhadap program dan keberhasilannya. konsep perubahan masyarakat sekarang mulai mengalami pergeseran. kalau tujuan sudah tercapai. Pelaksanaan tahap-tahap di atas sering jalan bersamaan dan lebih bersifat proses . b. Pendekatan tersebut lebih bersifat memberdayakan masyarakat. yakni pengalaman dan pengetahuan masyarakat tentang keberadaannya yang sangat luas dan berguna serta kemauan mereka untuk menjadi lebih baik. Pendekatan yang dilakukan kemudian dikembangkan dengan menempatkan masyarakat sebagai pihak utama atau pusat pengembangan.langsung menjadi panik.)).)). d. menggunakan dan mengakses sumber daya setempat sebaik mungkin. akan disusun rencana pengembangan baru (tahap (b. Dengan begitu.

Tim inilah yang akan melakukan upaya-upaya pemberdayaan masyarakat secara intens. Tujuan dan Keluaran 'Pelatihan Pemberdayaan Masyarakat' Untuk lebih fokusnya pemberdayaan yang dilakukan. Wallahua’lam Bishowwab. jelas tidak mungkin kalau fasilitator yang akan diterjunkan tanpa melalui pelatihan yang intensif. . wawasan serta pengalaman yang memadai sebagai fasilitator lapangan untuk program pemberdayaan masyarakat. yang dilakukan dengan pendekatan workshop akan mempermudah peserta pelatihan sampai pada kemampuan praktis. sampai kapanpun. Untuk pengembangan kelompok ada kegiatan-kegiatan khusus yang sedang dilaksanakan dan juga ada kegiatan lainnya. susun barisan dalam memberdayakan masyarakat. secara ideal para pengembang masyarakat (fasilitator) harus memiliki kemampuan. diharapkan muncul sebuah tim yang siap terjun ke masyarakat. Ingat.yang diulangi terus-menerus. Pelatihan ini diperlukan bukan saja untuk membekali ilmu dan wawasan fasilitator. kita tidak akan pernah punya pengalaman memberdayakan masyarakat. Memfasilitasi proses Pemberdayaan Masyarakat memerlukan pengetahuan dan ketrampilan khusus. kelancaran dan keberhasilannya sangat tergantung fasilitator. Sekali lagi. Tim ini secara ideal terdiri dari petugas lapang serta staf lain dari Instansi yang terlibat dalam Pemberdayaan Masyarakat. bahwa tanpa ada kemauan untuk mencoba melakukan pemberdayaan. Pengalaman-pengalaman dalam pelatihan. Sangatlah penting petugas lapangan memahami konsep dan tahap-tahap Pemberdayaan Masyarakat: mereka akan menjadi fasilitator proses tersebut. Kaitan dengan hal tersebut. Pemberdayaan Masyarakat yang difasilitasi secara serius oleh sebuah tim diarapkan akan mampu mempercepat proses perbaikan yang ada. pelatihan sangat penting agar mereka bisa menyesuaikan kegiatan-kegiatan Instansi serta sistem koordinasi dan manajemennya dengan kegiatan yang dilaksanakan di lapangan Yang ada dalam seluruh penjelasan tadi. mari rapatkan shaf. Pemberdayaan masyarakat kerapkali dilakukan melalui pendekatan kelompok di mana anggota bekerjasama dan berbagi pengalaman dan pengetahuannya. tapi juga akan membekali fasilitator dengan berbagai metode dan pemecahan masalah yang akan dihadapi di lapangan. Sasaran. Untuk staf lain yang berkaitan dengan proses PM. tentu saja akan tinggal konsep semata kalau tanpa ada kemauan yang kuat dan kemampuan yang memadai dari para pengambil kebijakan yang ada. Paska pelatihan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful