PERATURAN DAN PERUNDANG-UNDANGAN DALAM BIDANG JASA KONSTRUKSI

Nama

: Bagus Prahutdi Endang Lesmana Inti Lestari Mashudi Ali Wike Widya Lastin

(16309813) (16309828) (16309836) (16309841) (16309873)

Kelompok Mata Kuliah Dosen

: 3 : Aspek Hukum Dalam Pembangunan : Tri Handayani, ST

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN UNIVERSITAS GUNADARMA 2012

laut dan Udara) c. Bidang Perairan (PSDA) b. Bidang Konstruksi bangunan Serta berikan contoh-contoh dalam pelaksanannya !!! Catatan : Dikerjakan berkelompok (6 orang/tim) Di print Out pada kertas A4. seperti : a.TUGAS Carilah Peraturan atau Perundang-undangan yang isinya mengatur tentang pembangunan dalam bidang jasa konstruksi. margin standar Dikumpulkan Jum¶at 3 Februari 2012 . Bidang Transportasi (Darat.

Undang-Undang Tentang Pembangunan Dalam Bidang Konstruksi .

Pasal 2 Lingkup pengaturan penyelenggaraan pekerjaan konstruksi meliputi pemilihan penyedia jasa. pelelangan terbatas. . dan pemilihan langsung secara lengkap. b. Pasal 15 Pengguna jasa dalam pemilihan penyedia jasa berkewajiban untuk : a. pemilihan langsung. larangan persekongkolan. b) mencairkan jaminan penawaran dan selanjutnya memiliki uangnya dalam hal penyedia jasa tidak memenuhi ketentuan pelelangan. dan sanksi administratif. dan c) menolak seluruh penawaran apabila dipandang seluruh penawaran tidak menghasilkan kompetisi yang efektif atau seluruh penawaran tidak cukup tanggap terhadap dokumen pelelangan. y tata cara pelelangan dan atau pemilihan mencakup prosedur. dan benar serta dapat dipahami. persyaratan. PP No 29 Tahun 2000 yaitu Peraturan Pemerintah tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi. kegagalan bangunan. jelas. dan pengawas konstruksi oleh pengguna jasa dapat dilakukan dengan cara pelelangan umum. yang memuat : y petunjuk bagi penawaran. atau penunjukan langsung.Undang ± Undang Jasa Konstruksi Bidang Konstruksi Bangunan Undang ± undang jasa konstruksi dalam bidang konstruksi bangunan diantaranya : 1. dan kewenangan. pelaksana konstruksi. y persyaratan kontrak mencakup syarat umum dan syarat khusus. Pasal 16 Pengguna jasa dalam pemilihan penyedia jasa berhak untuk : a) memungut biaya penggandaan dokumen pelelangan umum dan pelelangan terbatas dari penyedia jasa. dan y ketentuan evaluasi. penyelesaian sengketa. penyelenggaraan pekerjaan konstruksi. pelelangan terbatas. kontrak kerja konstruksi. Pasal 3 (1) Pemilihan penyedia jasa yang meliputi perencana konstruksi. menerbitkan dokumen pelelangan umum. mengumumkan secara luas melalui media massa dan papan pengumuman setiap pekerjaan yang ditawarkan dengan cara pelelangan umum atau pelelangan terbatas.

kontrak kerja konstruksi untuk pekerjaan pelaksanaan. Pasal 33 Pemerintah berwenang untuk mengambil tindakan tertentu apabila kegagalan pekerjaan konstruksi mengakibatkan kerugian dan atau gangguan terhadap keselamatan umum. Pasal 34 Kegagalan Bangunan merupakan keadaan bangunan yang tidak berfungsi. perencana konstruksi. Pasal 24 Penyelenggaraan pekerjaan konstruksi wajib dimulai dengan tahap perencanaan yang selanjutnya diikuti dengan tahap pelaksanaan beserta pengawasannya yang masingmasing tahap dilaksanakan melalui kegiatan penyiapan. (2) Pelaksana konstruksi bebas dari kewajiban untuk mengganti atau memperbaiki kegagalan pekerjaan konstruksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 yang disebabkan kesalahan pengguna jasa.Pasal 17 dan 18 tentang Kewajiban dan Hak Penyedia Jasa. Pasal 20 (1) Kontrak kerja konstruksi pada dasarnya dibuat secara terpisah sesuai tahapan dalam pekerjaan konstuksi yang terdiri dari kontrak kerja konstruksi untuk pekerjaan perencanaan. . (4) Penyedia jasa wajib mengganti atau memperbaiki kegagalan pekerjaan konstruksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 yang disebabkan kesalahan penyedia jasa atas biaya sendiri. dan pengawas konstruksi. perencana konstruksi. Pasal 32 (1) Perencana konstruksi bebas dari kewajiban untuk mengganti atau memperbaiki kegagalan pekerjaan konstruksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 yang disebabkan kesalahan pengguna jasa. dan pengakhiran. pengerjaan. manfaat. dan pelaksana konstruksi. dan kontrak kerja konstruksi untuk pekerjaan pengawasan. pelaksana konstruksi. Pasal 31 Kegagalan pekerjaan konstruksi adalah keadaan hasil pekerjaan konstruksi yang tidak sesuai dengan spesifikasi pekerjaan sebagaimana disepakati dalam kontrak kerja konstruksi baik sebagian maupun keseluruhan sebagai akibat kesalahan pengguna jasa atau penyedia jasa. baik secara keseluruhan maupun sebagian dari segi teknis. (3) Pengawas konstruksi bebas dari kewajiban untuk mengganti atau memperbaiki kegagalan pekerjaan konstruksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 yang disebabkan kesalahan pengguna jasa. dan pengawas konstruksi. keselamatan dan kesehatan kerja.

bangunan gedung darurat. (3) Persyaratan teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi persyaratan tata bangunan dan persyaratan keandalan bangunan gedung. (2) Persyaratan administratif bangunan gedung sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi persyaratan status hak atas tanah. 2. (2) Pemerintah Daerah wajib menyediakan dan memberikan informasi secara terbuka tentang persyaratan peruntukan dan intensitas bangunan gedung bagi masyarakat yang memerlukannya. arsitektur bangunan gedung. status kepemilikan bangunan gedung. (2) Persyaratan tata bangunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan lebih lanjut dalam rencana tata bangunan dan lingkungan oleh Pemerintah Daerah. dan izin mendirikan bangunan. . dan persyaratan pengendalian dampak lingkungan. (3) Ketentuan mengenai tata cara penyusunan rencana tata bangunan dan lingkungan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 10 (1) Persyaratan peruntukan dan intensitas bangunan gedung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) meliputi persyaratan peruntukan lokasi. UU No 22 Tahun 2002 Tentang Bangunan Gedung Pasal 7 (1) Setiap bangunan gedung harus memenuhi persyaratan administratif dan persyaratan teknis sesuai dengan fungsi bangunan gedung.dan atau keselamatan umum sebagai akibat kesalahan Penyedia Jasa dan atau Pengguna Jasa setelah penyerahan akhir pekerjaan konstruksi. bangunan gedung semi permanen. (5) Persyaratan administratif dan teknis untuk bangunan gedung adat. (4) Penggunaan ruang di atas dan/atau di bawah tanah dan/atau air untuk bangunan gedung harus memiliki izin penggunaan sesuai ketentuan yang berlaku. kepadatan. dan jarak bebas bangunan gedung yang ditetapkan untuk lokasi yang bersangkutan. Pasal 9 (1) Persyaratan tata bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) meliputi persyaratan peruntukan dan intensitas bangunan gedung. ketinggian. dan bangunan gedung yang dibangun pada daerah lokasi bencana ditetapkan oleh Pemerintah Daerah sesuai kondisi sosial dan budaya setempat.

(2) Kenyamanan ruang gerak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) merupakan tingkat kenyamanan yang diperoleh dari dimensi ruang dan tata letak ruang yang memberikan kenyamanan bergerak dalam ruangan. (4) Persyaratan keseimbangan. fungsi lindung kawasan. dan keandalan bangunan gedung. kondisi udara dalam ruang. tata ruang dalam. dan selaras dengan lingkungannya. (3) Persyaratan tata ruang dalam bangunan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus memperhatikan fungsi ruang. keserasian. . serasi. (2) Persyaratan penampilan bangunan gedung sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus memperhatikan bentuk dan karakteristik arsitektur dan lingkungan yang ada di sekitarnya. (2) Bangunan gedung yang dibangun di atas. dan ayat (4) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. dan/atau di bawah tanah. Pasal 26 (1) Persyaratan kenyamanan bangunan gedung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) meliputi kenyamanan ruang gerak dan hubungan antar ruang. pandangan. serta pertimbangan adanya keseimbangan antara nilai-nilai sosial budaya setempat terhadap penerapan berbagai perkembangan arsitektur dan rekayasa. arsitektur bangunan gedung. dan/atau fungsi prasarana dan sarana umum yang bersangkutan. ayat (2). keseimbangan. Pasal 14 (1) Persyaratan arsitektur bangunan gedung sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) meliputi persyaratan penampilan bangunan gedung. tata ruang dalam.Pasal 11 (1) Persyaratan peruntukan lokasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1) dilaksanakan berdasarkan ketentuan tentang tata ruang. (3) Ketentuan mengenai pembangunan bangunan gedung sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. dan/atau prasarana dan sarana umum tidak boleh mengganggu keseimbangan lingkungan. keserasian. keseimbangan. dan keselarasan bangunan gedung dengan lingkungannya. dan keselarasan bangunan gedung dengan lingkungannya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus mempertimbangkan terciptanya ruang luar bangunan gedung. ruang terbuka hijau yang seimbang. serta tingkat getaran dan tingkat kebisingan. (5) Ketentuan mengenai penampilan bangunan gedung. air. ayat (3). dan keselarasan bangunan gedung dengan lingkungannya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).

(5) Kenyamanan pandangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) merupakan kondisi dimana hak pribadi orang dalam melaksanakan kegiatan di dalam bangunan gedungnya tidak terganggu dari bangunan gedung lain di sekitarnya. dilakukan oleh pengkaji teknis dan pengadaannya menjadi kewajiban pemilik bangunan gedung. kecuali untuk rumah tinggal. (7) Ketentuan mengenai kenyamanan ruang gerak. tingkat kondisi udara dalam ruangan. (6) Kenyamanan tingkat getaran dan kebisingan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) merupakan tingkat kenyamanan yang ditentukan oleh suatu keadaan yang tidak mengakibatkan pengguna dan fungsi bangunan gedung terganggu oleh getaran dan/atau kebisingan yang timbul baik dari dalam bangunan gedung maupun lingkungannya. Contoh aplikasi undang-undang jasa konstruksi bangunan gedung ini diantaranya pembangunan gedung bertingkat tinggi seperti apartemen dan mall. dan/atau . b. ayat (4). ayat (5). (5) Ketentuan mengenai tata cara pembongkaran bangunan gedung. (4) Kenyamanan kondisi udara dalam ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) merupakan tingkat kenyamanan yang diperoleh dari temperatur dan kelembaban di dalam ruang untuk terselenggaranya fungsi bangunan gedung. dan ayat (6) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 39 (1) Bangunan gedung dapat dibongkar apabila: a. (2) Bangunan gedung yang dapat dibongkar sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a dan b ditetapkan oleh Pemerintah Daerah berdasarkan hasil pengkajian teknis. ayat (3). pandangan. (4) Pembongkaran bangunan gedung yang mempunyai dampak luas terhadap keselamatan umum dan lingkungan harus dilaksanakan berdasarkan rencana teknis pembongkaran yang telah disetujui oleh Pemerintah Daerah. c. serta tingkat getaran dan kebisingan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2). (3) Pengkajian teknis bangunan gedung sebagaimana dimaksud dalam ayat (2). tidak memiliki izin mendirikan bangunan. dapat menimbulkan bahaya dalam pemanfaatan bangunan gedung lingkungannya. tidak laik fungsi dan tidak dapat diperbaiki.(3) Kenyamanan hubungan antarruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) merupakan tingkat kenyamanan yang diperoleh dari tata letak ruang dan sirkulasi antarruang dalam bangunan gedung untuk terselenggaranya fungsi bangunan gedung. tata hubungan antarruang.

b. dan jalan lokal. sarana dan prasarana perkeretaapian diatur dalam Undangundang nomor 23 tahun 2007. Undang-undang ini berisi segala hal yang menyangkut bidang . Jasa Konstruksi Perkeretaapian. umum dan lingkungan yang nantinya sangat berhubungan dalam perencanaan jalan yang akan dibangun. 2. Bidang Konstruksi Transportasi darat : a. bagian jalan. Dalam bab ini hanya undang-undang yang mengatur jasa konstruksi pembangunan transportasi baik darat. salah satu angkutan paling efektif dan efisien di Indonesia ialah kereta api. Jasa konstruksi bidang transportasi jalan diatur dalam undang-undang nomor 38 Tahun 2004. peran . c.Undang-Undang Jasa Konstruksi Bidang Transportasi Wilayah Nusantara yang luas dan berkedudukan di khatulistiwa pada posisi silang antara dua benua dan dua samudera dengan keadaan alamnya yang memiliki berbagai keunggulan komparatif merupakan modal dasar pembangunan nasional dengan wilayah yang bercirikan kepulauan dan kelautan sebagai faktor dominannya. sehingga tercipta fasilitas transportasi yang aman dan nyaman bagi masyarakat pengguna jasa. jalan kolektor. Undang-undang ini telah diperbarui menjadi undang-undang nomor 17 tahun 2008. dan jasa termasuk informasi. Dalam penyelenggaraan pembangunan fasilitas transportasi sangat perlu untuk mengetahui aturan-aturan yang berlaku dalam pembangunan tersebut sehingga pembangunan dapat dilaksanakan dengan lancar sesuai aturan yang berlaku dan memenuhi spesifikasi teknis pembangunan. pengelompokan jalan yang terdiri dari jalan arteri. Bidang Konstruksi Transportasi Laut : Jasa Konstruksi Bidang transportasi laut diatur dalam undang-undang nomor 17 1998 tentang pelayaran. Untuk itu. barang.26 tahun 1985. perhubungan harus diselenggarakan secara efisien sehingga makin memperlancar arus lalu lintas orang. Jasa konstruksi bidang transportasi darat lainnya berupa pembangunan jembatan yang perencanaannya diatur dalam SNI 2833-2008 tentang perencanaan ketahanan gempa bagi konstruksi jembatan.berisi tentang ketentuan umum penggunaanatau fungsi jalan.Selain UU nomor 38 tahun 2004 peraturan yang mengatur menganai jalan ialah PP No. Undang-undang tersebut ialah : 1. laut maupun udara.

aturan yang ada diantaranya mengenai jenis-jenis angkutan laut. f. k. pengelolaan kapal (ship management). kenavigasian. reklamasi. depo peti kemas. Diatur dalam peraturan direktur jendral perhubungan dalam SKEP 77-VI-2005. peraturan ini berisi tentang aturan-aturan yang berlaku dalam perencanaan Bandar udara. Singkatnya dalam perencanaan Bandar udara pada aplikasinya yang terpokok ialah perencanaan Runway yaitu jalan untuk landing dan take off bagi pesawat. Bidang Konstruksi Transportasi Udara : Jasa Konstruksi Bidang transportasi udara tentunya berkaitan dengan transportasi udara yaitu pesawat terbang. h. dan perawatan dan perbaikan kapal (ship repairing and maintenance). perandan fungsi. d. . persyaratan teknis pengoperasian fasilitas sisi darat. e. g. perantara jual beli dan/atau sewa kapal (ship broker). persyaratan teknis pengoperasian fasilitas teknik bandar udara (Bandar Udara Khusus Perairan. i.. c. dan Helideck). keagenan kapal. kegiatan kapal yang diizinkan di pelabuhan. Taxi way yaitu fasilitas penghubung landas pacu dan Apron yang merupakan bagian bandar udara yang melayani terminal sehingga harus dirancang sesuai dengan kebutuhan dan karakteritik terminal tersebut. perizinan angkutan. angkutan perairan pelabuhan. transportasi penerbangan diatur dalam undang-undang nomor 1 tahun 2009. Surface Level Heliport. b.pelayaran dan transportasi laut. alur dan perlintasan. penyewaan peralatan angkutan laut /jasa terkait dengan angkutan laut tally mandiri. bongkar muat barang. 3. keagenan Awak Kapal (ship manning agency). Selain SKEP 77VI-2005. Elevated Heliport. jasa pengurusan transportasi. peralatan pemeliharaan fasilitas teknik bandar udara. Peraturan ini berisi tentang persyaratan teknis pengoperasian fasilitas sisi udara . pekerjaan bawah air. j. usaha jasa terkait angkutan laut yakni : a. fasilitas yang diperlukan ialah Bandar udara yakni tempat pesawat dapat mendarat (landing)dan terbang (take off) beserta fasilitas pendukungnya.

dan Ketentuan Penutup. Operasi dan Pemeliharaan. Sanksi Administratif. Pendayagunaan Sumber Daya Air. Ketentuan Pidana. Sistem Informasi. Pengendalian Daya Rusak Air. Pembiayaan. Landasan Pengelolaan Sumber Daya Air. Perizinan Dalam Pengelolaan Sumber Daya Air. Pendayagunaan Sumber Daya Air. Pengawasan. Penyelesaian Sengketa. Sumber Daya Air Bendungan Sungai 1. Pelaksanaan Konstruksi. Perencanaan Pengelolaan Sumber Daya Air. maka akan Dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp500. Wewenang dan Tanggung Jawab. 2. Konservasi. Sumber Daya Air a. b. . Pembiayaan. Perencanaan. 3. 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air Berisi tentang penjelasan keseluruhan baik Ketentuan Umum.Undang-Undang Jasa Konstruksi Bidang Perairan (SDA) Agar lebih mempermudah rangkuman bidang perairan akan dibagi menjadi tiga subbidang. Hak. Gugatan Masyarakat dan Organisasi. Kewajiban dan Peran Masyarakat. Koordinasi. dan Ketentuan Penutup. Operasi dan Pemeliharaan.000. Sistem Informasi Sumber Daya Air. yakni : 1.00 (lima ratus juta rupiah). Konservasi Sumber Daya Air.000. Pelaksanaan Konstruksi. Pemberdayaan Pengawasan. Ketentuan Peralihan. Contoh pelaksanaan : Setiap kegiatan pelaksanaan konstruksi pada sumber air ( prasana sumber daya air) harus mendapat ijin dari pemerintah serta harus mematuhi aturan dan norma yang berlaku. PP No. Apabila tidak. UU No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air Berisi tentang penjelasan keseluruhan baik Ketentuan Umum. Penyidikan. Ketentuan Peralihan. Pengendalian Daya Rusak Air.

Kedudukan. Berisi tentang penjelasan keseluruhan mengenai Kedudukan. Berisi tentang penjelasan keseluruhan mengenai keselamatan pada pekerjaan konstruksi bendungan. kelompok Jabatan Fungsional. Berisi tentang penjelasan keseluruhan mengenai Ketentuan Umum. Susunan Organisasi dan Tata Kerja. lokasi dan Ketentuan Penutup. Pembentukan. Contoh Pelaksanaan : Kegiatan pekerjaan konstruksi bendungan merupakan kegiatan yang mempunyai resiko tinggi terhadap terjadinya kecelakaan kerja dan gangguan kesehatan kerja bagi para tenaga kerja maka perlunya perlindungan terhadap keselamatan dan kesehatan kerja. Susunan organisasi.Contoh pelaksanaan : Dalam hal pelaksanaan konstruksi prasarana sumber daya air dan/atau operasi dan pemeliharaan prasarana sumber daya air menimbulkan kerusakan pada sumber air dan/atau lingkungan di sekitarnya. Pembiayaan. c. Tugas. . dan Fungsi. Hubungan Kerja Antarwadah Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air. KepMen-KimprasWil No. pemrakarsa wajib melakukan upaya pemulihan dan/atau perbaikan atas kerusakan yang ditimbulkannya. Tugas dan Fungsi. 2. Tata Kerja. Kabupaten/Kota. 25 Tahun 2006 tentang Organisasi dan Tata Kerja balai Bendungan. 384 Tahun 2004 tentag Pedoman Teknis Keselamatan dan Kesehatan Kerja pada Tempat Kegiatan konstruksi Bendungan. b. Kriteria dan Mekanisme Pemilihan Anggota. Bendungan a. PerMenPU No. PerMen No. eselonisasi. dan Wilayah Sungai. ketentuan Peralihan dan Ketentuan Penutup. 4 Tahun 2008 tentang Pedoman Pembentukan Wadah Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air pada Tingkat Provinsi.

Untuk itu perlu adanya peraturan yang mengatur hal tersebut seperti peraturan ini. gangguan keselamatan. . Berisi tentang penjelasan keseluruhan mengenai Ruang Lingkup. Contoh Pelaksanaan: Adanya persepsi negatif terhadap proses rekruitmen tenaga kerja yang tidak adil/transparan serta adanya potensi konflik antara masyarakat dengan pelaksana pembangunan (akibat adanya gangguan kesehatan. Istilah dan Definisi. 39 Tahun 1989 tentang pembagian Wilayah Sungai. Sungai a. Ketentuan Peralihan dan Ketentuan Penutup.c. PP No. 37 Tahun 2010 tentang Bendungan. Pembiayaan Rekayasa Sosial dan Pemantauan serta Evaluasi rekayasa Sosial. Berisi tentang penjelasan keseluruhan mengenai ketentuan Umum. Pembiayaan. Pembangunan Bendungan. Keamanan Bendungan. Contoh Pelaksanaan : Ketentuan umum secara keseluruhan mengenai pembangunan bendungan mulai dari dokumen kontrak sampai proses pengelolaan bendungan diatur pada peraturan ini. Ketentuan dan Persyaratan. Pelibatan Masyarakat. d. Kriteria Sungai dan Daftar Sungai-sungai di Indonesia. PerMen No. Peningkatan Kapasitas Pemangku Kepentingan. Acuan Normatif. Sanksi Administratif. prinsip-prinsip Pendekatan Rekayasa Sosial Dalam Pembangunan Bendungan. PerMenPU No. Tata Cara Rekayasa Sosial. 3. Peran Pemangku Kepentingan. Tak ketinggalan yaitu mengenai hal yang mengatur apabila terjadinya kegagalan bendungan. 3 Tahun 2009 beserta lampiran tentang Pedoman Rekayasa Sosial Pembangunan Bendungan. Pengorganisasian. dan gangguan keamanan) sangat mungkin terjadi pada pelaksanaan konstruksi. Peran Masyarakat. Pengelolaan Bendungan. Pembentukan dan Pengembangan Kelompok. Pengawasan. Potensi Permasalahan Sosial. Berisi tentang penjelasan keseluruhan mengenai Penetapan dan Pembagian Wilayah Sungai. Dokumentasi dan Informasi.

Ketentuan Lain-lain.b. Kriteria Penetapan Wilayah Sungai dan Ketentuannya. 38 Tahun 2011 tentang Sungai. Berisi tentang penjelasan keseluruhan mengenai Pengertian Wilayah Sungai. PerMen No. 48 Tahun 1990 tentang Pengelolaan atas Air dan Sumber Air pada Wilayah Sungai. Organisasi Pelaksana. dan Ketentuan Penutup. PerMenPU No. Ruang Sungai dan Pengelolaannya. Penetapan Wilayah Sungai. c. . Berisi tentang pemnjelasan keseluruhan mengenai Pengelolaan Sumber Daya Air. Wilayah Sungai. Perizinan. 11A Tahun 2006 tentang kriterian dan Penetapan Wilayah Sungai. Wewenang Pengelolaan. PP No. Contoh Pelaksanaan: Setiap pelaksanaan konstruksi pada ruang sungai dan pelaksanaan konstruksi yang mengubah aliran dan/atau alur sungai harus dapat ijin dari pemerintah dan harus sesuai dengan peraturan yang berlaku. Pemberdayaan Masyarakat. Sistem Informasi Sungai. d. Beirisi tentang penjelasan umum mengenai Ketentuan Umum. dan Ketentuan Penutup. Air dan Sumber Air.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful