HUKUM ACARA PERADILAN AGAMA

*)
I. Pendahuluan. Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, pada pasal 2 menyatakan : ³Peradilan Agama adalah salah satu pelaku kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara tertentu sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang ini´. Anak kalimat ´perkara tertentu sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang ini´ dapat ditemukan petunjuknya dalam pasal 49 yang menyatakan : Pengadilan Agama bertugas dan berwenang memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam di bidang : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. perkawinan ; waris ; wasiat ; hibah ; wakaf ; zakat ; infaq ; shadaqah ; dan ekonomi syari¶ah.

Bidang-bidang tersebut adalah perkara perdata. Maka hukum acara yang dimaksud dengan judul di atas adalah Hukum Acara Perdata Peradilan Agama.

1. Pengertian Hukum Acara Peradilan Agama. Menurut Prof. Dr. Wiryono Prodjodikoro, SH., hukum acara perdata adalah rangkaian peraturan-peraturan yang memuat cara bagaimana orang harus bertindak di muka pengadilan dan cara bagaimana pengadilan harus bertindak satu sama lain untuk melaksanakan berjalannya peraturan-peraturan hukum perdata. R. Suparmono SH. memberikan definisi hukum acara perdata adalah keseluruhan peraturan hukum yang mengatur tentang cara-cara bagaimana mempertahankan, melaksanakan dan menegakkan hukum perdata materiil melalui proses peradilan (peradilan negara). Prof. Dr. Soedikno Mertokusumo, SH. menyatakan, hukum acara perdata mengatur tentang bagaimana caranya mengajukan tuntutan hak, memeriksa serta memutusnya dan pelaksanaan dari putusannya.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Hukum Acara Peradilan Agama adalah rangkaian peraturan-peraturan yang memuat cara bagaimana orang harus bertindak di muka pengadilan yang terdiri dari cara mengajukan tuntutan dan mempertahankan hak, cara bagaimana pengadilan harus bertindak untuk memeriksa serta memutus perkara dan cara bagaimana melaksanakan putusan tersebut di lingkungan Peradilan Agama.

2. Sumber Hukum Acara Peradilan Agama. Pasal 54 Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama menyatakan, Hukum Acara yang berlaku pada Pengadilan dalam lingkungan Peradilan Agama adalah Hukum Acara Perdata yang berlaku dalam lingkungan Peradilan Umum, kecuali yang telah diatur secara khusus dalam Undang-undang ini. Oleh karena itu dapat tegaskan bahwa sumber hukum acara Peradilan Agama antara lain : 1. Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. 2. Undang-undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. 3. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1947 tentang Peradilan Ulangan di Jawa dan Madura. 4. Undang-undang Nomor 5 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung. 5. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Peraturan Pemerintah Nomor 9 tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974. 6. Undang-undang Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf. 7. Het Herziene Indonesisch Reglement (HIR) untuk Jawa dan Madura. 8. Rechtsreglement Buitengewesten (RBg.) untuk luar Jawa dan Madura. 9. Reglement op de Burgerlijke Rechtsvordering (Rv). 10. Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 1991 tentang penggunaan Kompilasi Hukum Islam sebagai pedoman dalam penyelesaian masalah-masalah di bidang Perkawinan, Perwakafan dan Kewarisan. 11. Yurisprudensi, yaitu kumpulan yang sistematis dari Putusan Mahkamah Agung yang diikuti oleh Hakim lain dalam putusan yang sama. 12. Surat Edaran Mahkamah Agung sepanjang menyangkut Hukum Acara Perdata.

3. Asas-asas Hukum Acara Perdata Peradilan Agama. Sebagai landasan Hukum Acara Peradilan Agama, perlu dipedomani Asas-asas Hukum Acara Peradilan Agama sebagai berikut :

). Hakim wajib mendamaikan para pihak (pasal 130 HIR. pasal 142 ayat (1) RBg. 5. Hakim mendengar kedua belah pihak (pasal 121 HIR. Peradilan dilakukan dalam persidangan Majelis dengan sekurang-kurangnya tiga orang Hakim dan salah satunya sebagai Ketua. pasal 184 ayat (1)dan pasal 195 RBg. pasal 58 ayat (2) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989). 19.pasal 145 RBg. memutus dan menyelesaikan perkara berdasarkan hukum Islam (pasal 2. Hakim membantu para pihak (pasal 5 ayat (2) Undang-undang Nomor 4 tahun 2004. 12. 11. Hakim pasif (pasal 118 ayat (1) HIR. Peradilan Agama menetapkan dan menmegakkan hukum berdasarkan keadilan berdasarkan Pancasila (pasal 3 ayat (2) Undang-undang Nomor 4 tahun 2004). 154 RBg. Tidak harus diwakilkan (pasal 123 HIR. Hakim wajib menghadili setiap perkara yang diajukan kepadanya (pasal 16 ayat (1) Undang-undang Nomor 4 tahun 2004).). . pasal 58 ayat (3) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989). Persidangan bersifat terbuka untuk umum (pasal 19 ayat (1) Undang-undang Nomor 4 tahun 2004). Pihak yang diadili mempunyai hak ingkar terhadap Hakim yang mengadili (pasal 29 ayat (1) Undang-undang Nomor 4 tahun 2004). Peradilan Agama adalah Peradilan Negara (pasal 3 ayat (1) Undang-undang No. 4. Putusan harus disertai alasan (pasal 25 ayat (1) Undang-undang Nomor 4 tahun 2004. 15. Peradilan dilakukan demi keadilan berdasarkan Ke Tuhanan Yang Maha Esa (pasal 4 Undang-undang Nomor 4 tahun 2004. 20.) 14. 4 Tahun 2004. 9. 7. 13. pasal 62 ayat (1) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989. pasal 145 ayat (4) RBg. pasal 58 ayat (3) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989). Beracara dikenakan biaya (pasal 121 ayat (1) HIR. pasal 147 RBg. 18.). cepat dan biaya ringan (pasal 2 ayat (2) Undang-undang Nomor 4 tahun 2004. Hakim bersifat menunggu (pasal 49 Undang-undang Nomor 3 tahun 2006). 16. 49 dan Penjelasan Umum Undang-undang Nomor 3 tahun 2006). Peradilan dilakukan bebas dari pengaruh dan campur tangan dari luar (pasal 4 ayat (3) Undang-undang Nomor 4 tahun 2004). 10. 3. Peradilan Agama adalah peradilan bagi orang-orang yang beragama Islam (pasal 1 angka 1 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989). 6. 17. pasal 57 ayat (3) Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989).1. pasal 39 ayat (2) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974). pasal 57 ayat (1) Undang-undang Nomor 3 tahun 2006). Peradilan Agama memeriksa. pasal 5 ayat (1) Undang-undang Nomor 4 tahun 2004. (2) dan (3) Undang-undang Nomor 4 tahun 2004). sedang yang lain sebagai anggota. 8.. 2. Peradilan dilakukan dengan sederhana. Peradilan dilakukan menurut hukum dan tidak membeda-bedakan orang (pasal 5 ayat (1) Undang-undang Nomor 4 tahun 2004. pasal 2 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989 jo Undang-undang Nomor 3 tahun 2006. dibantu oleh Panitera Sidang (pasal 17 ayat (1).

22 dan 23 Undang-undang Nomor 4 tahun 2004). 294 K/Sip/1971 tanggal 7 Juli 1971 menyebutkan. 142 RBg). tidak dapat digugat di muka pengadilan). II. Surat gugatan itu menurut ketentuan pasal 8 Nomor 3 Rv. Tuntutan itu harus mengandung kepentingan hukum. geen belang geen actie (tidak ada ada kepentingan. dapat mengajukan tuntutan hak kepada Pengadilan untuk menyelesaikannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. kasasi dan peninjauan kembali (pasal 21. Seseorang yang merasa haknya dilanggar oleh orang lain dan ia tidak dapat menyelesaikan sendiri masalahnya itu. Tiap putusan dimulai dengan kalimat ³Bismillahir rahmaanir rahiim´ diikuti dengan ³Demi Keadilan Berdasarkan Ke Tuhanan Yang Maha Esa´ (pasal 57 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989). Putusan MARI No. Pelaksanaan putusan Pengadilan wajib menjaga terpeliharanya peri kemanusiaan dan peri keadilan (pasal 36 ayat (4) Undang-undang Nomor 4 tahun 2004). umur. pasa 96 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1989). 23. Semua putusan Pengadilan hanya sah dan mempunyai kekuatan hukum apabila diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum (pasal 20 Undang-undang Nomor 4 tahun 2004). poit d¶action. Tiap-tiap pemeriksaan dan perbuatan hakim dalam penyelesaian perkara harus dibuat berita acara (pasal 186 HIR. Identitas para pihak. ia dapat mengajukan secara lisan kepada Ketua Pengadilan yang akan mencatat atau menyuruh mencatat Hakim yang ditunjuk.21. 22. 25. gugatan tersebut dalam Catatan Surat Gugatan. Fundamentum petendi atau dasar tuntutan yang terdiri dari : . point d¶interet. atau jika Penggugat buta huruf. pekerjaan dan tempat tinggal serta kedudukan para pihak dalam perkara yang diajukan. Gugatan diajukan secara tertulis kepada Ketua Pengadilan di tempat tinggal Tergugat (pasal 118 HIR. 1. pada pokoknya harus memuat : 1. Pengajuan Tuntutan Hak. 2. gugatan harus diajukan oleh orang yang mempunyai hubungan hukum. Terhadap setiap putusan diberikan jalan upaya hukum berupa banding. Surat gugatan. 24. Catatan Surat Gugatan tersebut ditanda tangani oleh Ketua Pengadilan atau Hakim yang ditunjuk itu. Terdiri dari nama.

Pembebanan biaya perkara. Misalnya gugatan cerai diajukan bersama dengan gugatan penguasaan anak. Petitum. 3. Tuntutan subsider atau pengganti. 3. antara lain : i. yaitu masuknya pihak ke tiga atas kehendak sendiri dengan bergabung pada salah satu pihak Penggugat atau Tergugat. mohon putusan yang seadil-adilnya. Tuntutan pokok atau primer. Gugatan secara cuma-cuma (prodeo). Penggabungan/kumulasi gugatan. 2.1. ii. terdiri dari : 1. Uraian tentang adanya hak atau hubungan hukum yang menjadi dasar yuridis pengajuan gugatan yang harus dibuktikan di Pengadilan. Voeging. dikenakan biaya perkara (pasal 121 ayat (4) dan pasal 182 HIR. yaitu penggabungan lebih dari satu tuntutan dalam satu perkara. Tuntutan uitvoerbaar bij voorraad. Tuntutan tambahan. nafkah isteri. Vrijwaring. 2. yaitu pihak ke tiga ditarik oleh Tergugat dengan maksud agar ia menjadi penanggung bagi Tergugat. Tuntutan agar Tergugat dihukum membayar uang paksa (dwangsom). Yaitu permohonan. Terdiri dari : 1. atau sebaliknya seorang Penggugat melawan beberapa orang Tergugat. Namun dalam hal Penggugat dan Tergugat tidak mampu. 3. pasal 4 ayat (2) Undang-undang Nomor 4 tahun 2004). 3. Atau menjelaskan tentang duduk perkaranya sehingga Penggugat merasa hak dilanggar/dirugikan dan menuntut haknya ke Pengadilan. v. ia dapat mohon kepada Ketua Pengadilan untuk berperkara secara cuma-cuma. Misalnya beberapa orang Penggugat melawan seorang Tergugat. Tuntutan provisionil. ialah pihak ketiga masuk dalam satu proses perkara yang sedang berjalan untuk membela kepentingannya sendiri. Penggabungan subyektif. harta bersama. Tuntutan pembayaran bunga moratoir. apabila Hakim berpendapat lain. 2. yaitu apa yang diminta/dituntut agar diputus oleh Hakim dalam persidangan. 2. iv. Penggabungan obyektif. Penggabungan/kumulasi gugatan dapat dibedakan menjadi tiga macam yaitu : 1. Tussenkomst. Pada dasarnya beracara di Pengadilan dalam gugatan perdata. sebelum perkara pokok . Uraian tentang kejadian atau peristiwa yang menjadi dasar pengajuan gugatan. iii. Yaitu penggabungan para pihak berperkara yang terdiri lebih dari seorang. 3. Intervensi. 2. yaitu ikut sertanya pihak ke tiga kedalam proses perkara.

Uraian tentang cata cara sita yang meliputi permohonan. Perubahan gugatan tidak diatur dalam HIR dan RBg. Sita persamaan . Sita eksekusi. Sita adalah suatu tindakan hukum oleh Hakim yang bersifat eksepsional. . dirusak atau dimusnahkan oleh pihak yang menguasai barangbarang tersebut. selama tidak merugikan kepentingan kedua belah pihak. Sita marital. Ketentuannya terdapat dalam Rv pasal 127. Hukum Acara Peradilan Agama mengenal beberapa macam sita yaitu : 1. tidak perlu persetujuan dari pihak Tergugat. beslag). 6. Sita conservatoir. karena Tergugat secara langsung belum mengetahui tentang adanya gugatan/belum tersentuh kepentingannya. Permohonan diajukan dengan melampirkan Surat Keterangan Tidak Mampu yang dibuat oleh Kepala Desa dan diketahui Camat. undang-undang menyediakan sarana untuk menjamin hak tersebut dengan penyitaan (arrest. 4. yang menyatakan bahwa pencabutan gugatan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : 1. Pencabutan gugatan tidak diatur dalam HIR dan RBg. 2. Perubahan gugatan. Perubahan gugatan diperbolehkan. Upaya menjamin hak. Pencabutan gugatan. 5. 4. 5. Sebelum gugatan diperiksa dalam persidangan. yaitu sepanjang tetap berdasarkan pada hubungan hukum yang menjadi dasar tuntutan semula. Untuk kepentingan Penggugat agar terjamin haknya sekiranya gugatannya dikabulkan. untuk menjamin agar putusan Hakim nantinya dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya. pemeriksaan. pelaksanaan dan halhal lain yang berkenaan dengan penyitaan dilakukan dalam pembahasan tersendiri. untuk mengamankan barang-barang sengketa atau yang menjadi jaminan dari kemungkinan dipindah tangankan.diperiksa oleh Pengadilan (pasal 237 HIR. dan tidak merubah kejadian materiil yang menjadi dasar gugatannya. Sita revindicatoir. Ketentuannya terdapat dalam Rv pasal 271. atas permohonan salah satu pihak yang bersengketa. dibebani suatu jaminan. pasal 273 RBg). 3.

didahului dengan persiapan persidangan yang meliputi Penetapan Majelis Hakim.2. maka gugatan tersebut dibacakan dan diteruskan pada tahap berikutnya yaitu : 1. III. Jika tidak berhasil dilanjutkan pada tahap berikutnya yaitu : 2. Sebelum Tergugat memberi jawaban. 2. Setelah para pihak menghadap ke persidangan. sebelum pemeriksaan perkara Hakim wajib mendamaikan antara para pihak berperkara. diajukan agar supaya pokok perkaranya ditolak pemeriksaannya oleh Majelis Hakim. pasal 155 RBg). Pada permulaan persidangan. juga tidak perlu mendapat persetujuan Tergugat. ada yang berupa : 1. pasal 154 RBg). Sebelum pembacaan gugatan ada beberapa kemungkinan yang dilakukan Penggugat yaitu: 1. Sesudah Tergugat memberi jawaban. Penetapan Hari Sidang (uraiannya dilakukan dalam pembahasan tersendiri). Sejalan dengan asas Hukum Acara Peradilan Agama bahwa Hakim harus mendengar keterangan kedua belah pihak sebagaimana diuraikan di atas. Eksepsi formil atau Prosesual eksepsi. Penyampaian jawaban oleh Tergugat. karena sudah tersentuh kepentingannya. Pemeriksaan Perkara. 3. Upaya perdamaian (pasal 130 HIR. Pembacaan surat gugatan. Pemeriksaan perkara. Exeptief verweer (bantahan yang tidak langsung mengenai pokok perkara) terdiri dari : 1. pencabutan harus terlebih dulu mendapat persetujuan Tergugat. untuk menghadap ke persidangan (uraian lebih lanjut dalam pembahasan tersendiri). (pasal 131 HIR. pemeriksaan perkara dilakukan dalam sebuah persidangan yang dinyatakan terbuka untuk umum (pasal 19 ayat (1) Undangundang Nomor 4 tahun 2004). Mempertahankan gugatan. Jika gugatan dipertahankan. maka Hakim dengan perantaraan Juru Sita/Juru Sita Pengganti memanggil kedua belah pihak dengan secara resmi dan patut. Merubah gugatan 3. meliputi : . Selanjutnya proses pemeriksaan perkara dilangsungkan melalui beberapa tahapan yang pada garis besarnya sebagai berikut : 1. oleh Hakim dibuat Akta Perdamaian yang mempunyai kekuatan sebagai putusan. Mencabut gugatan. Penunjukan Panitera Sidang. Jika perdamaian berhasil.

Eksepsi aan hanging geding. . menyangkut pokok gugatan. pasal 157 dan pasal 158 RBg). Apabila Tergugat dalam jawabannya mengakui dalil gugatan. Pengakuan. yaitu bahwa gugatan kabur tidak jelas permasalahannya dan tidak beralasan. 5.Eksepsi peremptoir. yaitu bahwa yang digugat seharusnya termasuk Tergugat lain. tetapi menyerahkan kepada kebijaksanaan hakim. Tergugat hanya menunggu putusan Hakim. Referte. Verweer ten principale (bantahan yang langsung berhubungan dengan pokok perkara). Penggugat salah menentukan pihak Tergugat. meliputi: Eksepsi dilatoir. Rekonpensi atau gugatan balik yang diajukan oleh Tergugat terhadap Penggugat dalam sengketa yang sedang berjalan (pasal 132 a dan pasal 132 b HIR. adalah bantahan langsung yang bertujuan melumpuhkan dalil gugatan berupa fakta kejadian/peristiwa hukum yang berkenaan dengan posita.Eksepsi plurium litis consortium. berkenaan dengan perkara yang bersangkutan bukan kewenangan lingkungan Peradilan Agama melainkan kewenangan lingkungan peradilan lain. berkenaan gugatan yang bersangkutan pernah diputus oleh Hakim Pengadilan yang terdahulu dan putusannya telah berkekuatan hukum tetap. . . . karena gugatan belum tiba saatnya diajukan oleh Penggugat. atau karena Tergugat telah dibebaskan dari kewajiban membayar. 4. 3. yaitu bahwa Penggugat tidak mempunyai hak untuk mengajukan gugatan. .Eksepsi disqualificatoir. . jawaban yang membenarkan seluruh atau sebagian dalil gugatan. seperti gugatan telah lampau waktunya. tidak hanya Tergugat sendiri. - 2. maka dalil gugatan dianggap terbukti dan gugatan dapat dikabulkan.Eksepsi absolut.Eksepsi obscuur libel.Eksepsi relatif berkenaan dengan perkara yang bersangkutan adalah kewenangan Pengadilan laian dalam satu lingkungan Peradilan yang sama. 2. Atau gugatan belum memenuhi syarat hukum.Eksepsi karena petitum yang diajukan tidak didukung oleh positanya. . yaitu perkara yang sama masih bergantung dalam proses pengadilan lain dan belum ada putusan yang berkekuatan hukum tetap. .Eksepsi van gewijsde zaak. jawaban dengan tidak membantah atau membenarkan gugatan. menyingkirkan kekuatan pembuktian dalil gugatan dengan alat bukti lain yang sah sesuai dengan batas minimum pembuktian dan sebagainya. Eksepsi materiil atau material eksepsi. diajukan agar Hakim yang memeriksa perkara tidak melanjutkan pemeriksaan karena dalil gugatannya bertentangan dengan hukum perdata materiil. .

Yang dibebani wajib pembuktian adalah seseorang yang mengaku mempunyai hak dan seseorang yang membantah hak orang lain.Tujuannya : 1. 2. Diajukan bersama-sama dengan jawaban. 3. Penyampaian duplik dari Tergugat. sehingga perlu dibuktikan kebenarannya. Menurut pendapat lain sampai dengan sebelum pembuktian. Yaitu tanggapan terhadap replik Tergugat. 6. 2. 4. 5. Pembuktian. Hakim tidak boleh melampaui batas-batas yang diajukan oleh pihak yang berperkara. Penyampaian Replik dari Penggugat. 3. Mempermudah prosedur. Pembuktian adalah suatu upaya para pihak untuk meyakinkan hakim tentang dalil-dalil yang dikemukakan dalam suatu perkara yang dipersengketakan di hadapan sidang Pengadilan. Dalam acara perdata yang dicari adalah kebenaran formil. 4. sehingga tidak secara tegasmensyaratkan adanya keyakinan hakim. 2. 3. Yaitu tanggapan terhadap jawaban Tergugat. atau dibuktikan kebenarannya. Menghindarkan putusan-putusan yang saling bertentangan. pasal 283 RBg. 5. Tujuannya untuk memperoleh kepastian bahwa suatu peristiwa/kejadian yang diajukan itu merupakan fakta yang benar terjadi. 5. pasal 1865 KUH Perdata). Bukan mengenai pelaksanaan putusan 4. Yang harus dibuktikan adalah peristiwa atau kejadian yang dikemukakan oleh para pihak dalam hal yang belum jelas atau yang menjadi sengketa. Hanya mengenai perkara yang bersifat sengketa kebendaan. atau bersikap seperti Penggugat dalam repliknya. dengan tetap mempertahankan gugatannya. dengan tetap mempertahankan jawabannya. maka acara dilanjutkan ke tahap pembuktian. Diajukan masih dalam lingkup kewenangan Pengadilan yang bersangkutan. Apabila jawab menjawab dianggap cukup. 1. Syarat-syarat gugatan rekonpensi : 1. Menggabungkan dua tuntutan yang saling berhubungan. atau Penggugat merubah sikap dengan membenarkan jawaban/ bantahan Tergugat. 5. Diajukan terhadap Penggugat dalam kwalitas yang sama. Mempersingkat dan menyederhanakan pembuktian. Rekonpensi tidak dapat diajukan dalam tingkat banding atau kasasi. dan terdapat hal-hal yang tidak disepakati. dengan membuktikan adanya hak atau peristiwa yang didalilkan (pasal 163 HIR. sehingga nampak adanya hubungan hukum antara para pihak. Menghemat biaya. . 4.

Surat yang tampak lahirnya seperti akta dan memenuhi syarat yang ditentukan. suatu akta yang ditandatangani dan dibuat dengan maksud dijadikan alat bukti suatu perbuatan hukum tanpa bantuan seorang pejabat. membuktikan kepastian tentang materi suatu akta. Alat bukti surat/tulisan. baik dengan maupun tanpa bantuan yang berkepentingan. didasarkan atas keadaan yang tampak lahirnya. Akta di bawah tangan. pasal 284 RBg dan pasal 1866 KUH Perdata berupa : 1. yang memuat peristiwa yang menjadi dasar suatu hak atau perikatan. 6. 2. Kekuatan pembuktian formil. menurut ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan. membuktikan kebenaran dari pada apa yang dilihat. Kekuatan pembuktian akta otentik ada 3 macam : 1. dianggap mempunyai kekuatan seperti akta sepanjang tidak terbukti sebaliknya. sesuai dengan pasal 164 HIR. 3.7. bahwa pejabat atau para pihak yang membuat akta menyatakan dan melakukan seperti apa yang dimuat dalam akta. Kekuatan pembuktian akta dibawah tangan : . Alat-alat bukti dalam perkara perdata di Peradilan Agama. 5. serta kebenaran tanda tangan di bawah akta tersebut. yang dibuat sejak semula dengan semula untuk pembuktian. Akta ialah surat yang diberi tanda tangan. Surat yaitu segala sesuatu yang memuat tanda-tanda bacaan yang dimaksudkan untuk mencurahkan isi hati atau menyampaikan buah pikiran seseorang dan dipergunakan sebagai pembuktian. Alat-alat bukti. Dibuat oleh Pejabat Otentik Akta Dibuat di hadapan Pejabat Surat Di bawah tangan Bukan Akta 1. yang mencatat apa yang dimintakan untuk dimuat didalamnya oleh yang berkepentingan. Kekuatan pembuktian lahir. akta yang dibuat oleh atau dihadapan pejabat yang diberi wewenang membuatnya. Kekuatan pembuktian materiil. didengar dan dilakukan pejabat pembuat akta terutama tanggal dan tempat akta dibuat. Akta otentik. 2. 3. 4.

4. jadi tidak cukup hanya keterangan bahwa ia telah tahu. 2. didengar dan dilihat sendiri oleh saksi. 4. Mengangkat sumpah menurut agama yang dianutnya. Kesaksian adalah kepastian yang diberikan kepada hakim di persidangan tentang peristiwa yang disengketakan dengan jalan pemberitahuan secara lisan dan pribadi oleh orang yang bukan salah satu pihak dalam perkara. Keterangan yang diberikan oleh saksi harus saling bersesuaian satu dengan yang lain dan alat bukti yang sah (pasal 172 HIR. pasal 309 Rbg). 1. Memberikan keterangan di depan Pengadilan 2. 3. Keterangan saksi yang berdasarkan pendengaran orang lain (testimonium de auditu) tidak mempunyai nilai kekuatan pembuktian. 1. surat yang dibuat tidak dengan tujuan sebagai alat bukti dan belum tentu ditandatangani. Alat bukti saksi. Yang tidak boleh menjadi saksi (pasal 145 HIR. Syarat formil saksi : 1. 2. Bagi kelompok yang berhak mengundurkan diri (pasal 146 a ayat (4) HIR. letter C tanah dsb. pasal 308 ayat (2) Rbg). Syarat materiil saksi : 1. surat-surat rumah tangga. pasal 174 RBg).1. 7. Bukan orang yang dilarang untuk didengar sebagai saksi (pasal 145 HIR. 3. Tidak mampu absolut : . pasal 308 ayat (1) Rbg). Misalnya buku register. Apabila suatu akta dibawah tangan. pasal 172 RBg).pasal 172 RBg) : 1. Pendapat atau persangkaan saksi berdasarkan akal pikiran tidak bernilai sebagai alat bukti (pasal 171 ayat (2) HIR. Keterangan yang diberikan harus mengenai peristiwa yang dialami. maka akta tersebut mempunyai kekuatan pembuktian seperti akta otentik. yang dipanggil dalam persidangan. Kekuatan pembuktyiannya diserahkan pada pertimbangan hakim. Syarat-syarat saksi : 1. menyatakan kesediaan menjadi saksi. Surat bukan akta. isi dan tanda tngan akta diakui oeh yang mebuatnya. 1. pasal 306 Rbg). Keterangan seorang saksi tanpa dikuatkan alat bukti lain bukan bukan kesaksian (unus testis nullus testis) (pasal 169 HIR. 2. 2. Keterangan yang diberikan saksi harus menyebutkan sebab-sebab ia mengetahui (pasal 171 ayat (1) HIR. maka pihak yang mengajukan akta harus berusaha membuktikan kebenaran tanda tangan itu. Apabila tanda tangan dalam akta disangkal oleh pihak yang menanda tangani.

2. Persangkaan ada 2 macam : 1. Contoh : Perkawinan yang tidak memenuhi syarat. Persangkaan yang berupa kesimpulan yang ditarik oleh Hakim dari keadaan yang timbul di persidangan. Contoh : Adanya 3 (tiga) surat tanda pembayaran (kuitansi) tiga bulan terakhir berturut-turut. Orang gila meskipun kadang-kadang ingatannya terang. timbul persangkaan angsuran bulan-bulan sebelumnya telah dibayar lunas. 2. tak bisa berdiri sendiri. Persangkaan sebagai alat bukti bersifat sementara. 3. Diatur pada pasal 173 HIR. Suami isteri salah satu pihak meskipuin telah bercerai. Tidak mampu relatif : 1. Yang boleh mengundurkan sebagai saksi (pasal 146 HIR. 312 dan 313 RBg. tetapi diambil dari alat bukti lain. 2. 2. Bukti pengakuan. Bukti persangkaan. 4. pasal 311. 3. jabatan/hubungan kerja syang sah diwajibkan menyimpan rahasia. 1.1. . ipar laki-laki dan perempuan dari saalah satu pihak. 175 dan 176 HIR. dianggap tidak sah menurut undang-undang (pasal 2 ayat (1) Undang-undang No 1 tahun 1974). Keluarga sedarah dan semenda dalam keturunan lurus salah satu pihak. 1. Diatur pasal 174. pasal 310 RBg. Persangkaan adalah kesimpulan yang ditarik dari suatu peristiwa yang telah dikenal atau dianggap terbukti ke arah suatu peristiwa yang tidak dikenal atau belum terbukti. pasal 174 RBg) : 1. Persangkaan berdasarkan undang-undang. Anak belum berumur 15 tahun. Keluarga sedarah menurut keturunan lurus dan saudara laki-laki dan perempuan dari suami/isteri salah satu pihak. Semua orang yang karena martabat. Saudara laki-laki dan perempuan.

-. dapat pula diberikan secara 3. yaitu sumpah yang atas perintah Hakim setelah ada bukti permulaan. pasal 182 RBg) ada 3 macam : 1. Pengakuan dengan kualifikasi. Ada tiga macam pengakuan : 1. 3. Ada dua macam sumpah : 1.000. Sumpah assertoir atau confirmatoir. Sumpah promissoir. Sumpah aestimatoir (penaksiran) yaitu sumpah atas perintah Hakim hanya kepada Penggugat saja. 5. 2. untuk menentukan jumlah uang ganti rugi atau sejumlah uang tertentu dengan rincian yang dituntutnya. Sumpah suppletoir (tambahan/pelengkap).dari Tergugat. 1. Pengakuan murni yaitu pengakuan yang bersifat sederhana dan sesuai sepenuhnya dengan tuntutan pihak lawan. Sumpah ialah pernyataan yang khidmat yang diberikan atau diucapkan pada waktu berjanji atau keterangan dengan mengingat sifat Maha Kuasa Tuhan dan percaya bahwa jika janji atau keterangan itu tidak benar. yaitu pengakuan disertai keterangan tambahan yang bersifat membebaskan. Contoh : Penggugat menyatakan telah menerima uang sebesar Rp. ditambah dengan sumpah tersebut.185 dan 314 RBg. Bukti sumpah. Pengakuan dengan kalusula. yang memberikan keterangan akan dihukum oleh-Nya. Sumpah sebagai alat bukti ( pasal 155 HIR. dan Tergugat mengaku telah menerima uang dari Penggugat tetapi hanya Rp. Pengakuan ialah pernyataan seseorang tentang dirinya sendiri.000. yaitu sumpah untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Misalnya sumpah saksi atau saksi ahli. 3. Dilakukan sesudah memberikan kesaksian. Misalnya hanya ada satu saksi (bukti permulaan) karena belum mencukupi.000.158 dan 177 HIR. 2. 2. pasal 182. Pengakuan dapat diberikan di muka Hakim di persidangan atau diluar persidangan. bersifat sepihak dan tidak memerlukan persetujuan pihak lain. pengakuan disertai penyangkalan sebagian . . suami mengakui benar tidak memberi nafkah karena isteri nusyuz. Dilakukan sebelum memberikan kesaksian. yaitu sumpah untuk meneguhkan bahwa sesuatu hal/peristiwa itu benar demikian atau tidak. 1.000.1. Contoh : Isteri menyatakan suami tidak memberi nafkah selama 3 tahun. Diatur pasal 155 . 2. 5.

IV. 3. Sumpah decissoir (pemutus). jika tidak ada pembuktian apapun dan dapat dilakukan setiap saat selama proses pemeriksaan di persidangan. memperoleh gambaran atau keterangan yang memberi kepastian tentang peristiwa yang menjadi sengketa. pasal 215 Rv. 1. yang dilakukan di luar gedung atau tempat kedudukan Pengadilan. Saksi ahli. Keterangan saksi ahli yaitu keterangan pihak ke tiga yang obyektif bertujuan untuk membantu Hakim dalam pemeriksaan guna menambah pengetahuan Hakim sendiri. yaitu sumpah yang dilakukan atas permintaan salah satu pihak kepada lawannya. 2. Saksi ahli harus memberikan keterangan secara jujur dan obyektif serta tidak memihak. Oleh karena itu sumpah decissoir harus berkenaan dengan hal yang pokok dan bersifat tuntas atau menentukan serta menyelesaikan sengketa. Yaitu pemeriksaan mengenai perkara oleh Hakim karena jabatannya. Putusan. Keterangan saksi ahli (expertise) diatur pada pasal 154 HIR. Tujuannya agar Hakim memperoleh kebenaran dan keadilan pada masalah yang bersangkutan. Dengan sumpah ini kebenaran peristiwa yang dimintakan sumpah menjadi pasti. Orang yang tidak boleh didengan sebagai saksi juga tidak boleh didengar sebagai saksi ahli. agar Hakim dengan melihat sendiri. Diatur pada pasal 153 HIR. Sebelum memberikan keterangan harus bersumpah bahwa ia akan memberikan pendapat tentang soal-soal yang diperiksa menurut pengetahuan/keahliannya dengan sebaik-baiknya. Setelah tahapan pembuktian dalam pemeriksaan perkara dilalui. . 6. para pihak diberikan kesempatan untuk mengajukan kesimpulan jika ada. Syarat-syarat saksi ahli : 1. 1. Pemeriksaan Setempat. pasal 181 RBg. 2. pasal 180 RBg dan 211 Rv.3. Menolak untuk mengucapkan sumpah akan berakibat dikalahkan. 2. Majelis Hakim kemudian bermusyawarah untuk merumuskan keputusan.

Pemeriksaan berperkara cuma-cuma Pemeriksaan eksepsi tisak berwenang. Sumpah penaksir. diucapkan di persidangan terbuka untuk umum. Putusan gugur. Macam-macam Putusan Hakim : 1. Sumpah decissoir. Putusan yang menyatakan Pengadilan tidak berwenang memeriksa. ada dua macam yaitu : 1. Putusan tidak menerima. Putusan Akhir. Putusan. Dari hasil pemeriksaan perkara di persidangan ada dua macam produk keputusan Hakim/Pengadilan : 1. Putusan Akhir yang dijatuhkan sebelum sampai tahap akhir pemeriksaan adalah : 1. 3. Penetapan 2. baik yang telah melalui semua tahap pemeriksaan maupun yang belum/tidak menempuh semua tahap pemeriksaan. sebagi hasil dari pemeriksaan perkara gugatan (contentious). Putusan Akhir. 2. 3. diucapkan di persidangan terbuka untuk umum. Sumpah supletoir. yaitu putusan yang mengakhiri pemeriksaan di persidangan. apakah pertimbangan itu baik atau tidak. Putusan Hakim adalah suatu pernyataan yang oleh Hakim sebagai pejabat negara yang diberi wewenang untuk itu. dikaitkan dengan ketepatan analisis kasus perkaranya dan kejadian atau peristiwanya berdasarkan fakta hukum. 5. Putusan Sela ialah putusan yang dijatuhkan masih dalam proses pemeriksaan perkara dengan tujuan untuk memperlancar jalannya pemeriksaan. Putusan Sela. 5. 4. 2. 2. Putusan sela dilakukan dalam hal : 1. Putusan Verstek yang tidak diajukan verzet. 4. bertujuan untuk mengakhiri atau menyelesaikan sengketa antar para pihak. 4. Dari segi fungsinya dalam mengakhiri perkara.1. . sebagi hasil dari pemeriksaan perkara permohonan (voluntair). Penetapan Hakim adalah suatu pernyataan yang oleh Hakim sebagai pejabat negara yang diberi wewenang untuk itu. 3. 2. Nilai suatu putusan Hakim terletak pada pertimbangan hukumnya.

Beberapa jenis Putusan Sela : 1. Terhadap putusan ini penggugat tidak dapat mengajukan banding. putusan sela sebagai persiapan putusan akhir. 2. Yaitu putusan yang dijatuhkan karena tergugat tidak hadir dan tidak mewakilkan kepada orang lain. 1. Putusan verstek. Putusan gugur. 1. ada tiga macam yaitu : 1. 2. karena gugatannya tidak memenuhi syarat hukum formil maupun materiil. Dijatuhkan pada sidang pertama atau sesudahnya sebelum pembacaan gugatan. . eksepsi kewenangan. Menolak gugatan Penggugat seluruhnya. Putusan Praeparatoir. 3. Dari segi isinya terhadap gugatan ada empat macam : 1. intervensi. pemeriksaan setempat. Putusan Insidentil. Menurut HIR/RBg cukup dicatat dalam Berita Acara Persidangan. Yaitu putusan yang menyatakan Hakim tidak menerima gugatan penggugat atau gugatan penggugat tidak diterima. Putusan contradictoir. Dapat dijatuhkan pada sidang pertama atau sesudahnya setelah pembacaan gugatan sebelum tahap jawaban tergugat. 7. Pemeriksaan gugatan provisionil. tidak berpengaruh terhadap pokok perkara dan putusan akhir. Yaitu yang pada saat dijatuhkan/diucapkan dalam sidang tidak dihadiri salah satu pihak atau para pihak. yaitu putusan yang berisi memerintahkan pembuktian seperti pemeriksaan saksi. Pemeriksaan gugatan insidentil (intervensi). Dalam putusan contradictoir. 3. setelah dipanggil dengan resmi dan patut. tetapi dapat mengajukan perkara baru. Yaitu putusan yang menyatakan gugatan gugur karena penggugat tidak hadir setelah dipanggil dengan resmi dan patut. sehubungan dengan adanya peristiwa misalnya permohonan prodeo. Dari segi hadir tidaknya para pihak. disyaratkan baik penggugat maupun tergugat pernah hadir dalam sidang.6. 2. Tidak menerima gugatan. Putusan Interlocutoir.

dan seluruh dalil gugatan yang mendukung petitum telah terbukti. menyatakan boleh tidaknya suatu perbuatan hukum dsb. 3. Yaitu putusan yang dijatuhkan di mana syarat-syarat gugatan dipenuhi. Declaratoir. 1. 3. Constitutif. atau menyerahkan sesuatu kepada pihak lawan untuk memenuhi prestasi. kecuali dalam putusan serta merta (uitvoerbaar bijvoorraad). Yaitu putusan yang hanya menyatakan suatu keadaan tertentu yang resmi menurut hukum. 4. berbeda dengan keadaan hukum sebelumnya. Dari segi sifatnya terhadap hukum yang ditimbulkan. Apabila putusan telah memperoleh kekuatan hukum tetap. Yaitu putusan di mana dalil gugatan ada yang terbukti dan ada yang tidak terbukti. Yaitu suatu putusan yang menciptakan atau menimbulkan keadaan hukum baru. Mengabukan gugatan Penggugat seluruhnya. atau tidak memenuhi syarat syarat hukum formil maupun materiil. 1. Mengabulkan gugatan Penggugat untuk sebagian dan menolak/tidak menerima selebihnya. maka atas permohonan penggugat. putusan dapat dilaksanakan dengan paksa oleh Pengadilan yang memutusnya. Misalnya putusan yang menyatakan sah atau tidaknya suatu perbuatan hukum atau status hukum. yaitu : 1.Yaitu putusan yang dijatuhkan setelah ditempuh semua tahap pemeriksaan tetapi dalil-dalil gugatan tidak terbukti. 2. pembatalan perkawinan. pihak terhukum tidak mau melaksanakan isi putusan. Misalnya putusan perceraian. Dalil yang tidak memenuhi syarat diputus dengan tidak diterima. Dalil gugatan yang tidak terbukti tuntutannya ditolak. 2. 3. Putusan condemnatoir dapat berupa penghukuman untuk : . Condemnatoir. Yaitu putusan yang bersifat menghukum kepada salah satu pihak untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Dalil gugatan yang terbukti tuntutannya dikabulkan. ada tiga macam.

Suatu putusan mempunyai kekuatan hukum tetap apabila terhadap putusan tersebut. Putusan Hakim harus dianggap dan tidak boleh diajukan lagi perkara baru mengenai hal yang sama antara pihak-pihak yang sama. Putusan Hakim itu mengikat para pihak yang berperkara. 3. Kekuatan eksekutorial. karena salah satu pihak atau para pihak merasa dirugikan kepentingannya dalam . V. 4. 7. Membayar sejumlah uang. sampai dengan habisnya masa upaya hukum yang ditetapkan menurut undang-undang. Upaya Hukum.1. Menghentikan suatu perbuatan/keadaan. 6. oleh karena itu putusan hakim dimungkinkan untuk diperiksa ulang melalui upaya hukum. bahkan kadangkadang bersifat memihak. Kekuatan putusan Hakim : Putusan Hakim mempunyai tiga macam kekuatan yaitu : 1. Kekuatan hukum tetap. Setiap putusan hakim. Oleh karena itu setiap putusan Hakim harus memuat titel eksekutorial yaitu kalimat ³Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa´. 2. Dengan putusan Hakim itu telah diperoleh kepastian tentang sesuatu yang terkandung dalam putusan. Menyerahkan suatu barang. para pihak harus tunduk dan menghormati putusan itu 2. Kekuatan mengikat. dan menjadi bukti bagi kebenaran sesuatu yang termuat di dalamnya. tidak dapat luput dari kekeliruan atau kekhilafan. tidak dimintakan upaya hukum. 5. Kekuatan pembuktian. 3. Upaya hukum adalah suatu upaya untuk mencegah atau memperbaiki kekeliruan dalam suatu putusan. Yaitu kekuatan untuk dilaksanakannya apa yang telah ditetapkan dalam itu secara paksa oleh alat-alat negara. Mengosongkan tanah/rumah. Melakukan suatu perbuatan tertentu.

ia dapat mengajukan perlawanan terhadap putusan itu (pasal 378 Rv). Kasasi. karena ditemukannya hal-hal baru (novum) yang dahulu tidak diketahui oleh Hakim. Banding. Verzet.memperoleh keadilan dan perlindungan/kepastian hukum. Pelaksanaan Putusan. menurut cara-cara yang ditentukan undang-undang. Tetapi ada pihak ke tiga yang merasa hak-haknya dirugikan oleh suatu putusan. Upaya hukum biasa terdiri dari : 1. Ada dua macam upaya hukum : 1. Yaitu permohonan supaya perkara yang telah diputus oleh Pengadilan Tingkat Pertama diperiksa ulang oleh Pengadilan Tinggi (tingkat banding) karena merasa tidak puas atas putusan Pengadilan Tingkat Pertama. Upaya hukum luar biasa yaitu : Peninjauan kembali. Pelaksanaan putusan atau eksekusi adalah realisasi dari kewajiban para pihak untuk memenuhi prestasi yang telah ditetapkan dalam putusan tersebut. VI. menurut cara-cara yang ditentukan undang-undang. 3. . Pada asasnya putusan Hakim hanya mengikat para pihak yang berperkara dan tidak mengikat pihak ke tiga. 3. menurut cara-cara yang ditentukan undang-undang. Perlawanan Pihak Ke Tiga (derdenverzet). Yaitu peninjauan kembali putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. sehingga apabila hal itu diketahui maka putusan hakim akan menjadi lain. Verzet atau perlawanan merupakan upaya hukum terhadap putusan yang dijatuhkan di luar hadirnya Tergugat (verstek). 2. Yaitu upaya hukum yang merupakan wewenang Mahkamah Agung untuk memeriksa kembali putusan dari Pengadilan-pengadilan terdahulu. 2.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2006. 2. Secara suka rela oleh para pihak yang bersengketa. Eman Suparman. Himpunan Peraturan Perundang-undangan Dalam Lingkungan Peradilan Agama. Abdul Manan. Cetakan Pertama Jakarta. 5. 1996. masalah pelaksanaan putusan/eksekusi dilakukan dalam Daftar pustaka.... Dr. 4. Mahkamah Agung RI. 5. Mukti Arto. Putusan yang menghukum salah satu pihak untuk melakukan suatu perbuatan tertentu.SH. Yogyakarta.Pelaksanaan putusan hakim dapat dilakukan : 1. Putusan yang menghukum salah satu pihak untuk menyerahkan suatu barang. Direktorat Pembinaan Badan Peradilan Agama.. Dr. Secara paksa dengan menggunakan alat negara.. Praktek Perkara Perdata Pada Pengadilan Agama. Drs. 2.. . Putusan yang dapat dimohonkan eksekusi/pelaksanaannya hanyalah putusan yang bersifat condemnatoir. Kitab Undang-undang Peradilan Umum. MHum. Jakarta. 3.SH..MH. 2004. SIP. Departemen Agama. apabila pihak terhukum tidak mau melaksanakan secara sukarela. Cetakan Pertama.. Putusan yang menghukum salah satu pihak untuk menghentikan suatu perbuatan/keadaan. Eksekusi riil dalam bentuk penjualan lelang. 4.SH. HA. 6. 2006. Putusan yang menghukum salah satu pihak untuk membayar sejumlah uang. yayasan Al Hikmah. H.. 3. 2003. Penerapan Hukum Acara Perdata si Lingkungan Peradilan Agama. Pembicaraan lebih lanjut pembahasan tersendiri. Ada beberapa jenis pelaksanaan putusan : 1. Putusan yang menghukum salah satu pihak untuk mengosongkan tanah/rumah. 2. Bandung. Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama. Cetakan Pertama. Pustaka Pelajar. Jakarta. 2000. 1. Fokusmedia.

JCT. Mandar Maju. 1958.. Hukum Acara Perdata Indonesia. Dr. 1996. Soebekti.. Simorangkir. 8. 9.. Soeparmono. R. di PTA Suarabaya. *) Disampaikan pada Pelatihan Panitera/Jurusita Pengganti. Dr... Hukum Acara Perdata dan Yurisprudensi.. Cetakan ke sembilan belas. 1988. Prof. Liberty. Prof..SH. Hukum Acara Perdata Pengadilan Negeri. 1977. Bandung. fasco.. 1987. Cetakan Pertama. 2000.. BPHN.R.. 7. 11. Jakarta. Mr. Prof.6.. SH. Komentar HIR. Supomo... Jakarta. Hukum Acara Perdata. edisi ke tiga. Jakarta. R. Tresna. SH. Aksara Baru. Bandung.. 10. Kamus Hukum. Pradnya Paramita. Bina Cipta. tanggal 19 Juni 2007 23 .SH. R. Sudikno Mertokusumo.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful