P. 1
TEOREMA TITIK TETAP DALAM RUANG 2-METRIK SEMI QUASI Bab 2

TEOREMA TITIK TETAP DALAM RUANG 2-METRIK SEMI QUASI Bab 2

|Views: 90|Likes:
Published by Sofa Mawon
BAB II TEORI PENUNJANG

Untuk menunjang pembahasan pada bab selanjutnya, pada bab ini akan dibahas beberapa definisi, teorema dan contoh yang mendukung materi pokok. Bab ini terdiri dari tujuh subbab yaitu hasil kali Kartesius, fungsi, titik tetap, nilai mutlak, determinan, vektor di R-3, ruang metrik, infimum dan supremum.

2.1.1

Hasil Kali Kartesius Dalam subbab ini dibahas hasil kali Kartesius (Cartesian product) yang

merupakan dasar dari pembahasan berikutnya. Untuk lebih jelas berikut dib
BAB II TEORI PENUNJANG

Untuk menunjang pembahasan pada bab selanjutnya, pada bab ini akan dibahas beberapa definisi, teorema dan contoh yang mendukung materi pokok. Bab ini terdiri dari tujuh subbab yaitu hasil kali Kartesius, fungsi, titik tetap, nilai mutlak, determinan, vektor di R-3, ruang metrik, infimum dan supremum.

2.1.1

Hasil Kali Kartesius Dalam subbab ini dibahas hasil kali Kartesius (Cartesian product) yang

merupakan dasar dari pembahasan berikutnya. Untuk lebih jelas berikut dib

More info:

Published by: Sofa Mawon on Feb 15, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/19/2013

pdf

text

original

4

BAB II
TEORI PENUNJANG

Untuk menunjang pembahasan pada bab selanjutnya, pada bab ini akan
dibahas beberapa definisi, teorema dan contoh yang mendukung materi pokok.
Bab ini terdiri dari tujuh subbab yaitu hasil kali Kartesius, fungsi, titik tetap, nilai
mutlak, determinan, vektor di R-3, ruang metrik, infimum dan supremum.

2.1.1 Hasil Kali Kartesius
Dalam subbab ini dibahas hasil kali Kartesius (Cartesian product) yang
merupakan dasar dari pembahasan berikutnya. Untuk lebih jelas berikut diberikan
definisi dari hasil kali Kartesius.

Definisi 2.1 [3]
Misalkan Adan B adalah dua himpunan tak kosong. Hasil kali Kartesius antara A
dan B, dinotasikan dengan A × B, adalah himpunan semua pasangan terurut (o, b)
dengan o e A dan b e B. Secara matematis dapat dituliskan dengan
A × B = {(o, b)|o e A uan b e B]

Contoh 2.1
Misalkan A = {1, 2} dan B = {3, 4, 5}, maka
A × B = {(1, 3), (1, 4), (1, 5), (2, 3), (2, 4), (2, 5)}

5

B × A = {(3, 1), (3, 2), (4, 1), (4, 2), (5, 1), (5, 2)}
Dari contoh di atas terlihat bahwa pada umumnya A × B = B × A, kecuali untuk
A = B.

2.2 Fungsi
Dalam subbab ini akan dibahas tentang fungsi. Istilah fungsi ini digunakan
dalam pembahasan selanjutnya, misalnya seperti pada konsep fungsi metrik,
fungsi 2-metrik dan fungsi 2-metrik semi quasi.

Definisi 2.2 [1]
Misalkan A dan B adalah dua himpunan tak kosong. Suatu fungsi ˦ dari
himpunan A ke himpunan B, ditulis ˦: A - B, adalah suatu aturan yang
memasangkan setiap elemen dalam himpunan A dengan hanya satu elemen dalam
himpunan B.

Jika fungsi ˦ memasangkan elemen o dengan elemen b, maka ditulis
˦(o) = b yang mengatakan bahwa b adalah bayangan (image) dari o karena ˦(o)
adalah nalai dari ˦ pada o.
Himpunan A disebut daerah asal (domain) dari fungsi ˦ dan himpunan B
disebut daerah kawan (kodomain) dari fungsi ˦, sedangkan himpunan dari semua
bayangan di B disebut daerah hasil (range) dari fungsi ˦.


6

Contoh 2.2
Misal A = {ŵ,Ŷ,ŷ,Ÿ,Ź] dan B = {Ŵ,Ŷ,Ÿ,ź,8,ŵŴ,ŵŶ]. Definisikan ˦(o) = Ŷo untuk
o e A. Diberikan himpunan ˦ = {(ŵ,Ŷ), (Ŷ,Ÿ), (ŷ,ź), (Ÿ,8), (Ź,ŵŴ)] ʃ A × B,
sehingga ˦ merupakan fungsi dari A ke B, karena untuk setiap o e A terdapat
dengan tunggal b e B sedemikian hingga (o, b) e ˦.






2.3 Titik Tetap
Dalam suatu fungsi terdapat kasus khusus di mana suatu elemen dari
sebarang himpunan tak kosong dipasangkan terhadap dirinya sendiri. Elemen
yang mempunyai sifat ini disebut dengan titik tetap fungsi.

Definisi 2.3 [4]
Misalkan ˂ adalah suatu himpunan tidak kosong dan ˠ adalah fungsi dari ˂ ke ˂.
Titik ˲ e ˂ disebut titik tetap dari ˠ jika dan hanya jika ˲ = ˠ˲.

Contoh 2.3
Diberikan himpunan semua bilangan real ț. Fungsi ˠ: ț - ț yang didefinisikan
dengan ˠ˲ = ˲
2
untuk setiap ˲ e ț mempunyai dua titik tetap, yaitu 0 dan 1.
Gambar 2.1 Contoh fungsi dari himpunan A ke himpunan B
0
12
A
B
1
2
3
4
5
2
4
6
8
10
˦
7

Contoh 2.4
Diberikan himpunan semua bilangan real ț. Akan ditunjukkkan bahwa fungsi
ˠ: ț - ț yang didefinisikan dengan ˠ˲ = Ŷ
2x+1
untuk setiap ˲ e ț tidak
mempunyai titik tetap.
a) Jika ˲ ¸ -
1
2
maka Ŷ
2x+1
¸ ŵ sehingga diperoleh
Ŷ
2x+1
- ˲ ¸ ŵ - Ә-
1
2
ә
Ŷ
2x+1
- ˲ ¸
3
2

b) Jika ˲ < -
1
2
maka Ŵ < Ŷ
2x+1
< ŵ. Mengingat ˲ < -
1
2
jika dan hanya jika
-˲ >
1
2
dan Ŷ
2x+1
> Ŵ untuk setiap ˲ e ț maka Ŷ
2x+1
-˲ >
1
2
.
Jadi nilai dari Ŷ
2x+1
- ˲ selalu positif (definit positif). Oleh karena itu, persamaan
Ŷ
2x+1
- ˲ = Ŵ tidak mempunyai penyelesaian. Hal ini menunjukkan bahwa
fungsi ˠ˲ = Ŷ
2x+1
tidak mempunyai titik tetap.

2.4 Nilai Mutlak
Nilai mutlak suatu bilangan adalah panjang atau jarak bilangan tersebut
dari bilangan 0. Nilai mutlak -7 adalah 7, nilai mutlak 0 adalah 0, dan seterusnya.

Definisi 2.4 [5]
Nilai mutlak dari bilangan real ˲, ditulis |˲|, didefinisikan sebagai:
|˲| = _
˲, jika ˲ ¸ Ŵ
-˲, jika ˲ < Ŵ

8

Contoh 2.5
Nilai dari |-8| adalah -(-8) = 8 sedangkan nilai dari |ŷ| adalah 3.

Teorema 2.1 [5]
Untuk setiap ˲ e ț berlaku :
(a) -|˲| ¸ ˲ ¸ |˲|.
(b) Jika o ¸ Ŵ, maka |˲| ¸ o = -o ¸ ˲ ¸ o.
(c) Jika o ¸ Ŵ, maka |˲| ¸ o = ˲ ¸ -o atau ˲ ¸ o.

Bukti:
(a) Dengan menggunakan definisi 2.4 diperoleh:
Jika ˲ ¸ Ŵ maka ˲ = |˲|.
Jika ˲ < Ŵ maka ˲ = -|˲|.
Sehingga untuk setiap ˲ e ț selalu berlaku -|˲| ¸ ˲ ¸ |˲|.
(b) Dengan menggunakan definisi 2.4 diperoleh:
Jika ˲ ¸ Ŵ maka |˲| ¸ o = ˲ ¸ o.
Jika ˲ < Ŵ maka |˲| ¸ o = -˲ ¸ o = ˲ ¸ -o.
Sehingga berlaku |˲| ¸ o = -o ¸ ˲ ¸ o.
(c) Dengan menggunakan definisi 2.4 diperoleh:
Jika ˲ ¸ Ŵ maka |˲| ¸ o = ˲ ¸ o.
Jika ˲ < Ŵ maka |˲| ¸ o = -˲ ¸ o = ˲ ¸ -o.
Sehingga berlaku |˲| ¸ o = ˲ ¸ -o atau ˲ ¸ o. æ

9

Contoh 2.6
Akan ditentukan penyelesaian dari pertidaksamaan |˲ - 9| ¸ ŷ dan |Ŷ˲ - ŷ| ¸ Ż.
1. Dengan menggunakan teorema 2.1 bagian (b) diperoleh:
|˲ -9| ¸ ŷ = -ŷ ¸ ˲ - 9 ¸ ŷ
= ź ¸ ˲ ¸ ŵŶ
Jadi, penyelesaiannya adalah {˲ e ț|ź ¸ ˲ ¸ ŵŶ}.
2. Dengan menggunakan teorema 2.1 bagian (c) diperoleh :
|Ŷ˲ - ŷ| ¸ Ż = (Ŷ˲ - ŷ) ¸ -Ż atau (Ŷ˲ - ŷ) ¸ Ż
= Ŷ˲ ¸ -Ÿ atau Ŷ˲ ¸ ŵŴ
= ˲ ¸ -Ŷ atau ˲ ¸ Ź
Jadi, penyelesaiannya adalah {˲ e ț|˲ ¸ -Ŷ atau ˲ ¸ Ź}.

2.5 Determinan Matriks
Dalam subbab ini akan dibahas tentang determinan matriks persegi
berordo 2 dan 3 beserta contoh-contohnya. Karena determinan ini merupakan
dasar yang sering dipakai dalam pembahasan selanjutnya. Namun sebagai
permulaan, berikut diberikan definisi dari matriks terlebih dahulu.

Definisi 2.5 [1]
Matriks adalah susunan bilangan-bilangan yang disusun secara persegi atau
persegi panjang (dalam baris dan kolom). Bilangan-bilangan disebut entri dari
suatu matriks.

10

Contoh 2.7
Diberikan suatu matriks ˓ = _
o
11
o
12
o
21
o
22
. o
1n
. o
2n
. .
o
m1
o
m2
. .
. o
mn
_. Matriks ˓ ini memiliki ˭
baris dan n kolom, maka ordo dari matriks ˓ adalah ˭ × n.

Terdapat bermacam-macam jenis matriks. Jenis matriks yang menunjang
dalam pembahasan tugas akhir ini diberikan dalam definisi berikut.

Definisi 2.6 [1]
Matriks persegi adalah suatu matriks dimana banyaknya baris sama dengan
banyaknya kolom.

Contoh 2.8
Matriks ˓ = _
Ŷ -ŷ Ŵ
-ŵ Ŵ Ź
Ź ŵ -Ż
_ merupakan matriks persegi ordo ŷ × ŷ.

Definisi 2.7 [1]
Jika matriks ˓ = Ӛ
o b
c ˤ
ӛ maka determinan matriks A ditentukan oleh
uet ˓ = uet Ӛ
o b
c ˤ
ӛ = (oˤ - bc).

Contoh 2.9
Misalkan matriks ˓ = Ӛ
-Ÿ ŷ
ŵ -Ŷ
ӛ maka determinan dari matriks A adalah
uet ˓ = uet Ӛ
-Ÿ ŷ
ŵ -Ŷ
ӛ = (-Ŷ)(-Ÿ) - ŷ = Ź
11

Definisi 2.8 [1]
Jika ˓ adalah matriks persegi berordo 3 yang dituliskan dalam bentuk:
˓ = _
o
11
o
12
o
13
o
21
o
22
o
23
o
31
o
32
o
33
_
maka determinan matriks A dituliskan sebagai uet ˓ = uet _
o
11
o
12
o
13
o
21
o
22
o
23
o
31
o
32
o
33
_ .

Nilai determinan matriks A dapat ditentukan dengan cara menjabarkan
mengikuti baris atau mengikuti kolom. Misalnya, nilai uet ˓ yang dijabarkan
mengikuti baris pertama adalah:
uet ˓ = o
11
. uet Ӛ
o
22
o
23
o
32
o
33
ӛ - o
12
. uet Ӛ
o
21
o
23
o
31
o
33
ӛ +o
13
. uet Ӛ
o
21
o
22
o
31
o
32
ӛ

Contoh 2.10
Misalkan matriks ˓ = _
ŵ Ŷ ŷ
ŵ ŷ Ÿ
ŵ Ÿ ŷ
_ maka determinan dari matriks ˓ adalah
uet ˓ = uet _
ŵ Ŷ ŷ
ŵ ŷ Ÿ
ŵ Ÿ ŷ
_ = ŵ. uet Ӛ
ŷ Ÿ
Ÿ ŷ
ӛ - Ŷ. uet Ӛ
ŵ Ÿ
ŵ ŷ
ӛ + ŷ. uet Ӛ
ŵ ŷ
ŵ Ÿ
ӛ
= ŵ(ŷ.ŷ - Ÿ.Ÿ) - Ŷ(ŵ.ŷ - ŵ.Ÿ) + ŷ(ŵ.Ÿ - ŵ.ŷ)
= -Ŷ
Jadi, determinan matriks ˓ atau uet ˓ = -Ŷ.

2.6 Vektor di R-3
Vektor di R-3 dapat dinyatakan secara geometrik sebagai garis berarah
atau anak panah. Arah anak panah menunjukkan arah vektor, sementara panjang
12

anak panah menunjukkan besarnya. Ekor anak panah disebut titik awal (initial
point) dari vektor dan ujung anak panah disebut titik akhir (terminal point). Pada
tugas akhir ini, vektor disimbolkan dengan huruf kecil yang diberi tanda panah di
atas huruf itu, misalnya a Ȏ, k
Ȏ
, vȎ, w Ȏ dan x Ȏ.
Jika titik awal dari suatu vektor vȎ adalah A dan titik akhirnya adalah B,
sebagaimana yang tampak pada Gambar 2.2, maka vektor vȎ dapat ditulis sebagai
vȎ = AB
Ȏ
dan panjang (norm) vektor dituliskan ˰Ȏ sebagai ȉvȎȉ atau [AB
Ȏ
[.




Definisi 2.9 [1]
Jika vȎ dan w Ȏ adalah dua vektor sebarang, maka jumlah vȎ + w Ȏ adalah vektor yang
ditempatkan sedemikian rupa sehingga titik awalnya berimpit dengan titik akhir vȎ.
Vektor vȎ + w Ȏ diwakili oleh anak panah dari titik awal vȎ hingga titik akhir w Ȏ.





Pada Gambar 2.3 digambarkan dua penjumlahan, vȎ + w Ȏ (anak panah
hitam) dan w Ȏ + vȎ (anak panah putus-putus). Di sini terlihat bahwa vȎ +w Ȏ = w Ȏ + vȎ
dan jumlah tersebut berhimpit dengan diagonal paralelogram (jajaran genjang)
B
A

Gambar 2.3 Penjumlahan vektor dengan aturan jajaran genjang
w Ȏ
vȎ vȎ + w Ȏ
Gambar 2.2 Vektor vȎ sebagai wakil dari vektor AB
Ȏ

13

yang terbentuk oleh vȎ dan w Ȏ jika kedua vektor ini ditempatkan sedemikian rupa
sehingga keduanya memiliki titik awal yang sama.
Untuk menentukan kedudukan atau letak titik di dalam R-3 dapat
digunakan sistem koordinat dengan sumbu X, Y dan Z dengan masing-masing
sumbu saling tegak lurus dan berpotongan di sebuah titik O, suatu titik P disajikan
dalam pasangan berurutan (˲, ˳, ˴) dalam sumbu kartesius seperti pada Gambar
2.4 berikut :









Jarak P sampai bidang YOZ adalah x atau PP
1
= x
p
Jarak P sampai bidang XOZ adalah y atau PP
2
= y
p

Jarak P sampai bidang XOY adalah z atau PP
3
= z
p


Dengan demikian vektor posisi P adalah 0P
Ȏ
yang dapat dinyatakan secara
tunggal sebagai kombinasi linear dari vektor-vektor basis i, j dan k, yaitu r = 0P
Ȏ

= x i + y j + z k dengan i, j dan k merupakan vektor satuan dalam koordinat ruang
Gambar 2.4 Vektor basis di R-3
Z
O
z
p
k
j
ˇ
P
3
P
2

P
1
X
Y
x
p
y
p
P(x,y,z)
z)
14

(i vektor satuan pada sumbu X; j vektor satuan pada sumbu Y dan k vektor satuan
pada sumbu Z) atau dalam bentuk vektor kolom sebagai 0P
Ȏ
= Ӡ
˲
˳
˴
ӡ.

Definisi 2.10 [1]
1. Dua vektor u Ȏ = _
˯
1
˯
2
˯
3
_ dan vȎ = _
˰
1
˰
2
˰
3
_ pada R-3 disebut sama (equal) jika
˯
1
= ˰
1
, ˯
2
= ˰
2
, ˯
3
= ˰
3
.
2. Jumlah u Ȏ + vȎ didefinisikan sebagai u Ȏ + vȎ = _
˯
1
+ ˰
1
˯
2
+ ˰
2
˯
3
+ ˰
3
_
3. Jika ˫ adalah suatu skalar sebarang, maka kelipatan skalar ˫u Ȏ
didefinisikan sebagai ˫u Ȏ = ˫ _
˯
1
˯
2
˯
3
_ = _
˫˯
1
˫˯
2
˫˯
3
_

Contoh 2.11
Misalkan a Ȏ = _
ŷ
Ŷ

_ dan b
Ȏ
= _
Ŷ

Ÿ
_, maka a Ȏ + b
Ȏ
= _
ŷ
Ŷ

_ + _
Ŷ

Ÿ
_ = _
Ź

ŷ
_ dan
ŷa Ȏ = ŷ _
ŷ
Ŷ

_ = _
9
ź

_.

Jika titik asal suatu vektor di R-3 tidak di titik 0(Ŵ,Ŵ,Ŵ) maka ruas garis
berarah AB
Ȏ
yang mewakili vektor p Ȏ (Gambar 2.5) dengan titik asal A(o
1
, o
2
, o
3
)
dan titik akhir B(b
1
, b
2
, b
3
) dapat dinyatakan sebagai berikut:

15







Berdasarkan aturan penjumlahan vektor diperoleh
0B
Ȏ
+ AB
Ȏ
= 0B
Ȏ
= AB
Ȏ
= 0B
Ȏ
- 0A
Ȏ

Oleh karena 0A
Ȏ
mewakili vektor a Ȏ = _
o
1
o
2
o
3
_ dan 0B
Ȏ
mewakili vektor b
Ȏ
= _
b
1
b
2
b
3
_
maka AB
Ȏ
= b
Ȏ
- a Ȏ = _
b
1
- o
1
b
2
- o
2
b
3
- o
3
_.
Titik 0(Ŵ,Ŵ,Ŵ) dapat dipandang sebagai vektor nol dan dinotasikan dengan
Ŵ
Ȏ
, semua komponen-komponennya merupakan bilangan nol atau Ŵ
Ȏ
= _
Ŵ
Ŵ
Ŵ
_.

Definisi 2.11 [1]
Norma atau panjang dari suatu vektor u Ȏ = _
˯
1
˯
2
˯
3
_ pada R-3 didefinisikan sebagai
ȉ u Ȏȉ = _
˯
1
˯
2
˯
3
_ = ¸˯
1
2
+ ˯
2
2

3
2


Contoh 2.12
Misalkan u Ȏ = _
ŵ
Ŷ

_, maka ȉu Ȏȉ = _
ŵ
Ŷ

_ = ¸(ŵ)
2
+ (Ŷ)
2
+ (-Ŷ)
2
= ŷ.
A
O
X
B
Y

Z

b
Ȏ

Gambar 2.5 Vektor pȎ sebagai wakil dari vektor AB
Ȏ

16

θ
Definisi 2.12 [1]
Jika u Ȏ = _
˯
1
˯
2
˯
3
_ dan vȎ = _
˰
1
˰
2
˰
3
_ adalah vektor-vektor sebarang pada R-3 dan 0 adalah
sudut antara u Ȏ dan (Ŵ ¸ 0 ¸ n), maka hasil kali titik (dot product) u Ȏ ʬ vȎ
didefinisikan dengan u Ȏ ʬ vȎ = ȉu ȎȉȉvȎȉ cos û.






Contoh 2.13
Misalkan panjang dari vektor u Ȏ dan vȎ berturut-turut adalah 4 dan 5. Jika kedua
vektor itu membentuk sudut źŴ°, maka nilai dari hasil kali titik antara vektor u Ȏ
dan vȎ adalah u Ȏ ʬ vȎ = ȉu ȎȉȉvȎȉ cos û = Ÿ × Ź × cos źŴ° =ŵŴ.

Teorema 2.3 [1]
Jika u Ȏ = _
˯
1
˯
2
˯
3
_ dan vȎ = _
˰
1
˰
2
˰
3
_ adalah vektor-vektor pada R-3 dan ˫ adalah suatu
skalar sebarang, maka :
(a) ȉu Ȏȉ ¸ Ŵ
(b) ȉu Ȏȉ = Ŵ jika dan hanya jika u Ȏ merupakan vektor nol atau u Ȏ = Ŵ
Ȏ
.
(c) ȉ˫u Ȏȉ = |˫|ȉu Ȏȉ
(d) ȉu Ȏ + vȎȉ ¸ ȉu Ȏȉ + ȉvȎȉ
z
x
y
Gambar 2.6 Hasil kali titik antara vektor uȎ dan vȎ
u(u
1
, u
2
, u
3
)

v(v
1
, v
2
, v
3
)

17

Bukti (a):
ȉu Ȏȉ = ¸˯
1
2
+ ˯
2
2
+ ˯
3
2
¸ Ŵ
Bukti (b):
ȉu Ȏȉ = ¸˯
1
2
+ ˯
2
2
+ ˯
3
2
= Ŵ
˯
1
2
+ ˯
2
2
+ ˯
3
2
= Ŵ
˯
1
= Ŵ, ˯
2
= Ŵ, ˯
3
= Ŵ
sehingga u Ȏ = _
Ŵ
Ŵ
Ŵ
_ = Ŵ
Ȏ
.
Bukti (c):
ȉ˫u Ȏȉ = ¸(˫˯
1
)
2
+ (˫˯
2
)
2
+ (˫˯
3
)
2

= |˫|_˯
1
2
+ ˯
2
2
+ ˯
3
2

= |˫|ȉu Ȏȉ
Bukti (d):
Diperhatikan bahwa |u Ȏ ʬ vȎ| = |ȉu ȎȉȉvȎȉ cos û| = ȉu ȎȉȉvȎȉ|cos û| ¸ ȉu ȎȉȉvȎȉ.
Dengan menggunakan hasil ini, maka
ȉu Ȏ + vȎȉ
2
= (u Ȏ + vȎ) ʬ (u Ȏ + vȎ) = (u Ȏ ʬ u Ȏ) + Ŷ(u Ȏ ʬ vȎ) + (vȎ ʬ vȎ)
= ȉu Ȏȉ
2
+ Ŷ(u Ȏ ʬ vȎ) + ȉvȎȉ
2

¸ ȉu Ȏȉ
2
+ Ŷȉu ȎȉȉvȎȉ + ȉvȎȉ
2

= (ȉu Ȏȉ + ȉvȎȉ)
2

= ȉu Ȏ + vȎȉ ¸ ȉu Ȏȉ + ȉvȎȉ æ


18

Definisi 2.13 [1]
Jika u Ȏ = _
˯
1
˯
2
˯
3
_ dan vȎ = _
˰
1
˰
2
˰
3
_ adalah vektor-vektor pada R-3, maka hasil kali
silang (cross product) u Ȏ × vȎ adalah vektor yang didefinisikan sebagai
u Ȏ × vȎ = uet _
ˇ ˈ ˉ
˯
1
˯
2
˯
3
˰
1
˰
2
˰
3
_

Contoh 2.14
Misalkan vektor u Ȏ = _
ŷ

ŷ
_ dan vektor vȎ = _
Ŷ
ŵ

_. Maka
1) u Ȏ × vȎ = uet _
ˇ ˈ ˉ
ŷ -Ŷ ŷ
Ŷ ŵ -Ŷ
_
= {(-Ŷ)(-Ŷ) - ŷ.ŵ]ˇ + {ŷ.Ŷ - ŷ. (-Ŷ)]ˈ + {ŷ.ŵ - (-Ŷ). Ŷ]ˉ
= ˇ + ŵŶˈ + Żˉ
Jadi, u Ȏ × vȎ = ˇ + ŵŶˈ +Żˉ atau u Ȏ × vȎ = _
ŵ
ŵŶ
Ż
_
2) vȎ × u Ȏ = uet _
ˇ ˈ ˉ
Ŷ ŵ -Ŷ
ŷ -Ŷ ŷ
_
= {ŵ.ŷ - (-Ŷ)(-Ŷ)]ˇ + {(-Ŷ). ŷ - Ŷ.ŷ]ˈ + {Ŷ. (-Ŷ) - ŵ.ŷ]ˉ
= -ˇ - ŵŶˈ - Żˉ
Jadi, vȎ × u Ȏ = -ˇ - ŵŶˈ - Żˉ atau vȎ × u Ȏ = -_
ŵ
ŵŶ
Ż
_
Berdasarkan hasil perhitungan pada Contoh 2.10 di atas, dapat dilihat
bahwa u Ȏ × vȎ = -(vȎ × u Ȏ). Hasil ini menunjukkan bahwa hasil kali silang tidak
komutatif.
19

2.7 Ruang Metrik
Sebarang himpunan tidak kosong yang dilengkapi dengan suatu fungsi
jarak atau metrik akan membangun sebuah ruang yang disebut dengan ruang
metrik.

Definisi 2.14 [4]
Misalkan ˂ adalah himpunan tak kosong. Suatu fungsi o: ˂ × ˂ - ț yang
memenuhi kondisi
M(1) : o(˲, ˳) ¸ Ŵ dan ˤ(˲, ˳) = Ŵ jika dan hanya jika ˲ = ˳, v˲, ˳ e ˂.
M(2) : o(˲, ˳) = ˤ(˳, ˲) untuk v˲, ˳ e ˂.
M(3) : o(˲, ˳) ¸ o(˲, ˴) + o(˴, ˳) untuk v˲, ˳, ˴ e ˂.
dikatakan sebagai fungsi jarak atau metrik pada ˂ dan pasangan (˂, o) disebut
ruang metrik.

Contoh 2.15
Misalkan ː = (˲
1
, ˲
2
, ˲
3
) dan ˑ = (˳
1
, ˳
2
, ˳
3
) adalah dua elemen di ț
3
. Akan
diperlihatkan bahwa fungsi o: ț
3
× ț
3
- ț yang didefinisiskan dengan
o(ː, ˑ) = ¸(˲
1
- ˳
1
)
2
+ (˲
2
- ˳
2
)
2
+ (˲
3
- ˳
3
)
2

untuk setiap ː, ˑ e ț
3
merupakan fungsi metrik dan pasangan (ț
3
, o) merupakan
ruang metrik.
1. Karena (˲
1

1
)
2
+ (˲
2
- ˳
2
)
2
+ (˲
3
- ˳
3
)
2
¸ Ŵ, maka
¸(˲
1
- ˳
1
)
2
+ (˲
2
- ˳
2
)
2
+ (˲
3
- ˳
3
)
2
= o(ː, ˑ) ¸ Ŵ
dan
20

o(ː, ː) = ¸(˲
1
- ˲
1
)
2
+ (˲
2
- ˲
2
)
2
+ (˲
3
- ˲
3
)
2

= ¸(Ŵ)
2
+ (Ŵ)
2
+ (Ŵ)
2

= Ŵ
2. o(ː, ˑ) = ¸(˲
1
- ˳
1
)
2
+ (˲
2
- ˳
2
)
2
+ (˲
3
- ˳
3
)
2

= ¸(˳
1
- ˲
1
)
2
+(˳
2
- ˲
2
)
2
+ (˳
3
- ˲
3
)
2

= o(ˑ, ː)
3. Misalkan ˒ = (z
1
, z
2
, z
3
) adalah sebarang titik di ț
3
, maka untuk setiap
ː, ˑ, ˒ e ț
3
dan dengan menggunakan teorema 2.3 diperoleh
o(ː, ˑ) = ¸(˲
1
- ˳
1
)
2
+ (˲
2
- ˳
2
)
2
+ (˲
3
- ˳
3
)
2

= ȉx Ȏ - yȎȉ
= ȉx Ȏ - zȎ + zȎ - yȎȉ
¸ ȉx Ȏ - zȎȉ + ȉzȎ - yȎȉ
= o(ː, ˒) + o(˒, ˑ).
= o(ː, ˑ) ¸ o(ː, ˒) +o(˒, ˑ)
Sehingga o merupakan fungsi jarak atau fungsi metrik dan pasangan (ț
3
, o)
merupakan ruang metrik.

2.8 Infimum dan Supremum
Berikut ini diperkenalkan konsep tentang infimum dan supremum. Namun
sebelumnya, akan diberikan terlebih dahulu definisi dari batas atas dan batas
bawah dari suatu himpunan semua bilangan real ț.

21

Definisi 2.15 [3]
Misalkan A suatu himpunan bagian tak kosong dari ț.
(i) Suatu bilangan o e ț disebut batas atas A apabila ˲ ¸ o untuk semua ˲ e A.
(ii) Suatu bilangan b e ț disebut batas bawah A apabila ˲ ¸ b untuk semua
˲ e A.
(iii) Himpunan A dikatakan terbatas apabila A memilki batas atas dan batas
bawah.

Berdasarkan definisi di atas, jika A memiliki batas atas, maka A akan
memiliki tak terhingga batas atas sebab jika o merupakan batas atas A maka setiap
bilangan c yang lebih besar dari o akan merupakan batas atas A juga. Demikian
juga jika A memiliki batas bawah, maka A akan memiliki tak terhingga batas
bawah.

Contoh 2.16
a. Himpunan A = {ŵ,ŷ,Ż,ŵŵ,ŵ9]. Bilangan 1 dan sebarang bilangan yang
lebih kecil dari 1 merupakan batas bawah A, kemudian bilangan 19 dan
sebarang bilangan yang lebih besar dari 19 merupakan batas atas dari A,
artinya A merupakan himpunan terbatas.
b. Himpunan B = {˲ e ț |˲ < Ź] adalah himpunan terbatas ke atas, bilangan
5 dan sebarang bilangan yang lebih besar dari 5 merupakan batas atas B.
22

c. Himpunan C = {˲ e ț |˲ > ŷ] adalah himpunan terbatas ke bawah,
bilangan 3 dan sebarang bilangan yang lebih kecil dari 3 merupakan batas
bawah C.
d. Himpunan D = {˲ e ț |˲ < Ÿ atau ˲ > 9] bukan merupakan himpunan
terbatas karena tidak memiliki batas atas maupun batas bawah. Sebarang
bilangan b e ț bukan merupakan batas atas, karena terdapat ˲ e D
sehingga b < ˲. Demikian juga untuk sebarang bilangan o e ț bukan
merupakan batas bawah, karena terdapat ˳ e D sehingga o > ˳.

Selanjutnya akan diberikan definisi tentang infimum dan supremum dari
sebuah himpunan bagian dari bilangan real.

Definisi 2.16 [3]
Misalkan A suatu himpunan bagian tak kosong dari ț.
(i) Sebuah bilangan ˯ e ț disebut supremum (batas atas terkecil) A,
dinotasikan dengan s˯p A, apabila
a) ˯ batas atas A,
b) jika ˱ batas atas A, maka ˱ ¸ ˯.
(ii) Sebuah bilangan ˰ e ț disebut infimum (batas bawah terbesar) A,
dinotasikan dengan ˩n˦ A, apabila
a) ˰ batas bawah A,
b) jika ˱ batas bawah A, maka ˱ ¸ ˰.

23

Contoh 2.17
a. Himpunan A = {ŵ,ŷ,Ż,ŵŵ,ŵ9]. Bilangan 1 merupakan ˩n˦ A karena ŵ e A
dan merupakan batas bawah A. Bilangan 19 merupakan s˯p A karena
ŵ9 e A dan merupakan batas atas A.
b. Himpunan B = {˲ e ț |˲ < Ź] tidak mempunyai batas bawah sehingga
tidak memiliki infimum. Bilangan 5 merupakan batas atas B. Untuk
menunjukkan bahwa 5 = s˯p B tinggal ditunjukkan syarat kedua, yaitu
jika ˱ sebarang batas atas B maka ˱ ¸ 5. Andaikan terdapat ˱ batas atas
B sedemikian sehingga ˱ < 5. Karena ˱ < 5, terdapat ˴ = (˱ + 5) / 2 e B
sedemikian hingga ˱ < ˴ < 5. Akibatnya ˱ bukan batas atas. Karena ˱
diambil sebarang, jadi jika ˱ batas atas maka ˱ ¸ 5.
c. Dengan cara yang sama pada Contoh 2.7 bagian b, diperoleh bahwa
himpunan C = {˲ e ț |˲ > ŷ] tidak memiliki supremum dan 3 adalah
infimum-nya.
d. Karena himpunan D = {˲ e ț |˲ < Ÿ atau ˲ > 9] tidak memiliki batas
atas maupun batas bawah, maka D tidak memiliki supremum maupun
infimum.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->