P. 1
Suku Kaili Adat Istiadat Sulawesi Tengah

Suku Kaili Adat Istiadat Sulawesi Tengah

|Views: 1,518|Likes:
Published by Ribut Hariyani

More info:

Published by: Ribut Hariyani on Feb 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/31/2013

pdf

text

original

Suku Kaili Adat Istiadat Sulawesi Tengah Sulawesi Tengah, didiami berbagai macam suku bangsa, antara lain

suku Kaili, Kulawi, Lore, Pamona, Mori, Bungku, Saluan, Banggai, Balantak, Buol, Toli-toli dan masih banyak yang lain. Di setiap etnis itu, masih ada lagi sub-etnis yang lain. Sebut saja misalnya etnis Kaili, ada ratusan sub-etnisnya seperti Kaili Ledo, Kaili Tara, Kaili Rai, Kaili Doi, Kaili Unde, Kaili Da'a dan banyak lagi yang lain. Dengan demikian, setiap sub etnis itu memiliki bahasa sendiri-sendiri dan ada kemiripan satu sama lainnya. Pun halnya dengan adat istiadatnya, termasuk upacara-upacara adat yang cukup beragam dan sangat banyak.Proses untuk membuka ladang baru hingga panen saja, suku-suku ini memiliki upacara adat sendiri yang disebut upacara Adan Tane. Upacara ini berisikan perbuatan suci dan kepercayaan leluhur atau nenek moyang kepada yang dianggap pengusaha tanah, yaitu To Manuru, yang memberikan kesuburan, kebersihan atau kegagalan. Dalam kontak dan komunikasi dengan penguasa itu, diadakanlah upacara-upacara adat. Hapri Ika Poigi, salah seorang budayawan di Palu mengatakan, bag masyarakat suku Kaili upacara tersebut meliputi upacara pembukaan ladang baru yang disebut Balia Tampilangi, upacara menebang hutan atau Nantahu upacara mengelilingi benih padi disebut Nalili bane, upacara Nabalia, upacara menanam benih atau Notuda. Tidak hanya itu, Hapri Ika Poigi juga menambahkan, saat padi yang ditanam itu sudah mulai berisi, mereka pun mengadakan upacaranya yang disebut No Unju Bosu, upacara mengadakan sesajian yang disebut Nomparaya, upacara Modindi, Upacara No Ktot memetik padi, upacara Nopinji yaitu memberi sesajian, upacara Nanjalo yaitu pesta selamatan panen dan upacara Nowunja pesta panen secara massal yang mengambil lokasi di sekitar baruga atau rumah adat masyarakat Kaili. Belum lagi soal siklus kehidupan manusia. Bagi masyarakat Sulawesi Tengah secara keseluruhan, selalu ada upacaranya. Misalnya dimulai sejak sebelum kelahiran bayi, yakni upacara masa hamil, kemudian adat dan upacara kelahiran, adat dan upacara sebelum dewasa, adat dan upacara perkawinan dan upacara kematian. Dari sekian banyak upacara tersebut, maka upacara peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa dilakukan sangat unik. Dalam catatan sejarah upacara adat masyarakat Sulawesi Tegah, ketika seorang anak meningkat dewasa, yakni sekitar umur 12 tahun ke atas, diadakan upacara Nakeso dan Naloso. Upacara ini merupakan yang sangat besar dan dibesarkan karena saat ini putra putri telah mengakhiri masa kanak-kanaknya, sehingga kepadanya diharuskan mengikuti upacara ini, dan mereka diberi nama Toniasa. Artinya, Tona nipaka asa atau orang dibuat tenang atau didewasakan. Selama satu bulan sebelum upacara ini, Toniasa ini dikurung dalam suatu tempat tertutup dan tidak boleh keluar serta menginjak tanah. Dalam kurungan ini mereka harus melaksanakan peraturan dan disiplin yang diajarkan menurut adat, sedangkan untuk keperluan mereka seperti makan, minum dan lainnya, harus didahului dengan memukul tambur atau membunyikan seruling dari bambu. Arifin Sunusi, pengurus Dewan Kesenian Palu mengatakan, dahulu yang digunakan untuk mengurung putra-putri tersebut adalah bangunan bertangga bambu yang disebut Songi, dan

tapi sudah ke panggung-panggung hiburan dan festival. "Biasanya. putra-putra itu pun dilantik dan dinyatakan sudah menjadi orang dewasa." ujarnya. putra maupun putri. semua jenis upacara ini selalu diadakan di berbagai media. dan Toniasa duduk di atas kepala kerbau didampingi Toniasa yang lain. maka kepalanya sebagai pengganti kepala kerbau ini. Apabila mereka melanggar adat. pada malam hari kuku-kuku tangan dan kaki diberi pacar. masih tetap dipertahankan hingga kini." katanya. Bahlan. Pagi harinya. tidak hanya di kampung-kampung.ditutup dengan mbesa sejenis kain kulit kayu yang khusus dipakai untuk upacara adat. nakeso itu dilakukan di bantaya atau Baruga (balai pertemuan adat) yang dilakukan oleh kepala adat. Selanjutnya dilakukan upacara Nakeso.Semua tradisi masyarakat Sulawesi Tengah. Puncak upacara adalah setelah Toniasa mengakhiri latihan Songi. Kemudian kepala kerbau diambil dan diletakkan di depan balai adat. toniasa digendong ke sungai untuk dimandikan dan selanjutnya diberi pakaian adat seperti halnya orang dewasa. "Saat itulah. sementara selama pemberian pacar berlangsung diperdengarkan lagu Rano yang dinyanyikan secara bersahut-sahutan oleh orang-orang tua dengan iringan bunyi-bunyian. Terakhir kepala Toniasa yang tertua diharuskan menombak kerbau yang diikuti oleh mereka yang menjalani upacara ini sampai kerbau tersebut mati. untuk mempopulerkannya kepada publik. yakni menggosok gigi atau pemotongan gigi dengan menggunakan bebatuan khusus dan disaksikan banyak orang. . Upacara ini diebut Naloso. Selanjudnya toniasa diturunkan dan diarak mengelilingi balai adat atau bantaya yang sudah dihiasi daun kelapa dan bambu kuning.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->