P. 1
Dinamika Pemerintahan Orde Baru

Dinamika Pemerintahan Orde Baru

|Views: 201|Likes:
Published by Rhavel Aphenk

More info:

Published by: Rhavel Aphenk on Feb 16, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/05/2015

pdf

text

original

DINAMIKA PEMERINTAHAN ORDE BARU AA. Ciri-Ciri Pokok Kebijakan Orde Baru 1.

Latar Belakang Lahirnya Orde Baru. Surat Perintah Sebelas Maret (SP 11 Maret) merupakan dasar lahirnya suatu pemerintahan yang kemudian disebut dengan nama orde baru. Surat perintah yang beradasal dari Presiden Soekamo tanggal 11 Maret 1966 ditujukan kepada Letnan Jenderal Soeharto yang bertugas atas nama presiden untuk mengambil tindakan guna menjamin keamanan dan ketertiban negara. Langkah-langkah yang diambil setelah adanya supersemar adalah 1. Membubarkan PKI dan ormasnya pada 12 Maret 1966. 2. Mengamankan menteri-menteri dalam Kabinet Dwikora yang terlibat dalam G-30-S/PKI yaitu, (1) Soebandrio, (2) Dr. Chaerul Shaleh, (3) Ir. Setiadi Reksoprojo, (4) Sumarjo, (5) Oei Tju Tat,SH, (6) Ir.Surachman, (7) Yusuf Muda Dalam, (8) Armunanto, (9) Sutomo Marto Pradata, (10) A.Sastra Winata, SH., (11) Mayjen Achmadi, (12) Drs. Mochammad Achadi, (13) Letkol. Syafei, (14) J.K. Tumakaka, (15) Mayjen Dr. Soemarno. 3. Pengemban Supersemar, pada 18 Maret 1966 menunjuk beberapa menteri ad interim guna mengisi pos-pos menteri yang kosong. Langkah yang dilakukan Orde Baru adalah mengadakan pembersihan ditubuh Kabinet Dwikora yang disempurnakan, yaitu dengan mengadakan sidang DPR-GR yang dihadiri oleh ratusan mahasiswa yang membacakan nota politiknya. Pada 17 Mei 1966 DPR-GR berhasil menyusun kepengurusan DPR-GR dan berhasil membersihkan anggotanya dengan memecat 65 anggota yang mewakili Partai Komunis Indonesia. Sejak tanggal 22 Oktober 1965 sebenamya status keanggotaan DPRGR yang mendukung G-30-S/PKI dibekukan. Kabinet Dwikora mengalami beberapa kali perombakan untuk menghilangkan pengaruh menteri yang diduga terlibat G-30-S/PKI. Namun tuntutan terhadap pemerintah untuk melakukan perubahan politik terus berlangsung, seperti aksi mahasiswa di gedung DPR-GR tanggal 2 Mei 1966. Sebagai reaksi tekanan berbagai pihak, Presiden Soekamo secara sukarela menyampaikan pidato pertanggungjawaban pada 22 Juni 1966, pada saat pelantikan pimpinan MPRS. Namun pidato pertanggungjawaban yang berjudul "Nawaksara" itu tidak diterima MPRS. Sejak pertengahan tahun 1966, perkembangan politik nasional semakin kompleks. Melalui Tap MPRS No. XIII/MPRS/1966, Letjen Soeharto

mahasiswa. 2. Perkembangan Kekuasaan Orde Baru . organisasi massa. Pada 25 Juli 1966 Presiden Soekarno melaksanakan Ketetapan MPRS No. Kabinet Dwikora dibangan dalam tiga unsur yaitu (1) Pimpinan kabinet: Presiden Soekamo. Kesatuan aksi ini kemudian terkenal dengan sebutan angkatan 66 antara lain Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). dan lain-lain. pemuda.(3) Mengangkat pengemban Tap Nomor IX/MPRS/1966 tentang supersemar itu sebagai pejabat presiden hingga terpilihnya presiden menurut hasil pemilihan umum. Majlis Permusyawaratan Rakyat Sementara berhasil merumuskan ketetapan Nomor : XXXIII/MPRS/1967 yang berisi hal-hal sebagai berikut: (1) Mencabut kekuasaan pemerintahan dari tangan Presiden Soekarno. Tugas pokok kabinet Ampera disebut "Dwi Dharma" yaitu : (1) mewujudkan stabilitas politik (2) menciptakan stabilitas ekonomi. XIII/MPRS/1966 tentang Kabinet Ampera dan membubarkan Kabinet Dwikora. Selanjutnya MPRS mengadakan sidang. 12 Maret 1967.(3) Anggota kabinet terdiri dari 24 menteri. jabatan presiden tetap Soekarno. Kabinet Ampera dibentuk melalui Keppres No. (2) Menarik kembali mandat MPRS dari Presiden Soekarno dengan segala kekuasaannya sesuai UUD 1945. Kesatuan Aksi Wanita Indonesia (KAWI). Kabinet Ampera dirombak pada tanggal 11 Oktober 1966. Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI). Melalui Sidang Istimewa pada 7-12 Maret 1967 . perorangan. Masyarakat luas yang terdiri dari berbagai unsur seperti kalangan partai politik. pelajar. Akibatnya dualisme kepemimpianan nasional mulai terjadi.(2) Lima orang Menteri Utama yang merupakan suatu presedium. 163 tanggal 25 Juli 1966 yang ditandatangani Presiden Soekamo. Letnan Jenderal Soeharto diangkat sebagai perdana menteri yang memiliki kekuasaan eksekutif dalam Kabinet Ampera yang disempumakan.ditugasi untuk membentuk Kabinet Ampera. Jenderal Soeharto dilantik dan diambil sumpah oleh Ketua MPRS Jenderal TN1 Abdul Haris Nasution. Namun. Pada akhir Sidang Istimewa MPRS. Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI). kaum wanita secara kompak membentuk kesatuan aksi dalam bentuk Front Pancasila untuk menghancurkan para pendukung G30S/PKI yang diduga melakukan pemberontakan terhadap negara dengan menuntut agar ada penyelesaian politik terhadap mereka yang terlibat dalam gerakan pemberontakan tersebut.

Marxisme. Kemudian direspon oleh MPRS dengan membuat keputusan sebagai berikut: (1) Pengukuhan tindakan pengemban surat perintah sebelas maret yang membubarkan PKI berserta ormas-ormasnya. Sementara partai-partai politik terpecah belah dalam kelompok-kelompok yang saling bertentangan. Pada 20 Pebruari 1967 Presiden Soekarno menyerahkan kekuasaan pemerintahan kepada Soeharto yang kemudian dikukuhkan di dalam Sidang Istimewa MPRS dalam ketetapan nomor XXXIII/MPRS/1967 mencabut kekuasaan pemerintahan negara dari Presiden Soekarno dan mengangkat Soeharto sebagai pejabat presiden Republik Indonesia. Perjuangan rakyat seperti yang dikemukan para pelajar dan mahasiswa dalam demonstrasi pada 8 Januari 1966 menuju gedung sekretariat negara dan dilajutkan pada 12 Januari 1966 berbagai kesatuan aksi yang tergabung dalam Front Pancasila berdemonstrasoi di depan gedung DPR-GR yang menuntut penyelesaian stabilitas negara pasca peristiwa G30S/PKI yang dikenal dengan Tiga Tuntutan Rakyat (Tritura) yaitu: (1) pembubaran PKI beserta organisasi massanya (2) pembersihan Kabinet Dwi Kora (3) Penurunan harga-harga barang Pada hakekatnya tuntutan rakyat tersebut merupakan keinginan rakyat yang mendalam untuk melaksanakan kehidupan bernegara sesuai dengan aspirasi kehidupan dalam situasi yang kongret. dengan ketetapan nomor IV/MPRS/1966 dan nomor IX/MPRS/1966 (2) pelarangan faham dan ajaran Komunisme. Dengan demikian langkah awal diperlukan stabilitas nasional yang dinamis untuk mendukung kehidupan politik yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. dan negara yang diletakkan pada kemurnian pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 atau sebagai koreksi terhadap penyelewengan-penyelewengan yang terjadi dimasa lampau. Adanya ketetapan ini maka situasi konflik yang merupakan sumber instabilitas politik nasional telah berakhir secara konstitusional. antara penentang dan pendukung kebijakan Presiden Soekarno. bangsa. (3) pelurusan kembali tertib . Kondisi politik negara sudah mulai kondusif namun demikian kristalisasi Orde Baru belum selesai maka diperlukan penataan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dalam kerangka Orde Baru. dengan ketetapan nomor XXV/MPRS/1966. Leninsme di Indonesia.Dengan surat perintah 11 Maret 1966 Soeharto mengatasi keadaan yang serba tidak menentu dan sulit terkendali sebagai dampak peristiwa G30S/PKI negara dilanda instabilitas politik akibat tidak tegasnya kepemimpinan Presiden Soekarno dalam mengambil keputusan atas peristiwa tersebut. Kemudian dibuatlah suatu pengertian bahwa Orde Baru adalah tatanan seluruh kehidupan rakyat.

Partai Katolik. IPKI. PSII. Presiden Soeharto dengan surat keputusan nomor 43 telah menetapkan organisasi-organisasi yang dapat ikut serta dalam pemilihan umum dan anggota DPR/DPRD yang diangkat. dan (10) organsiasi golongan karya yang dapat ikut serta dalam pemilihan umum adalah Sekretariat Bersama Golongan Karya (Sekber Golkar). Organisasi politik yang dapat ikut pemilihan umum yaitu partai politik yang pada waktu pemilihan umum sudah ada dan diakui serta memiliki wakil di DPR/DPRD. dan Perti. Usaha penataan kembali kehidupan politik pada awal 1968 dengan penyegaran anggota DPR-Gotong Royong yang bertujuan untuk menumbuhkan hak-hak demokrasi dan mencerminkan kekuatankekuatan yang ada dalam masyarakat. Kebijakan Pemerintah Orde Baru Tujuan perjuangan Orde Baru adalah menegakkan tata kehidupan bernegara yang didasarkan atas kemurnian pelaksanaan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. keormasan. Partai Muslimin Indonesia. organisasi petani dan nelayan. organisasi pemuda. 3. (8) Partai Nasional Indonesia. (2) Murba. organisasi seniman. Usaha ini dimulai tahun 1970 dengan mengadakan serangkaian konsultasi dengan pimpinan partai-partai politik. dan Murba. Sejalan dengan tujuan tersebut maka ketika kondisi politik bangsa Indonesia mulai stabil untuk melaksanankan amanat masyarakat maka pemerintah mencanangkan pembangunan nasional yang diupakan melalui program pembangunan jangka pendek dan pembangunan . Hasil konsultasi itu maka muncullah tiga kelompok di DPR yaitu: (1) Kelompok Demokrasi Pembangunan yang terdiri dari partai politik PNI. (9) Partai Syarikat Islam Indonesia. Pada 23 Mei 1970. Komposisi anggota DPR terdiri dari wakil-wakil partai politik dan golongan karya. (2) Kelompok Persatuan Pembangunan yang terdiri dari partai politik Partai NU. Partai-partai itu adalah (1) Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia. Sebagai negara berkedaulatan rakyat maka Orde Baru mulai menyiapkan menghadapi pemilihan umum. (7) Partai Muslimin Indonesia. (5) Partai Katolik. Parkindo. (3) Nahdlatul Ulama. (4) Partai Islam Persatuan Tarbiyah Islam. dan kekaryaan dengan cara pengelompokan partai-partai politik dan golongan karya. (3) Kelompok organisasi profesi seperti organisasi buruh. Kemudian dilanjutkan pada tahap penyederhanaan kehidupan kepartaian. dan lain-lain yang tergabung dalam kelompok Golongan Karya. (6) Partai Kresten Indonesia.konstitusional berdasarkan Pancasila dan tertib hukum dengan ketetapan nomor XX/MPRS/1966.

Pada masa ini pengertian pembangunan nasional adalah suatu rangkaian upaya pembangunan yang berkesinambungan yang meliputi seluruh kehidupan masyarakat. GBHN merupakan pola umum pembangunan nasional dengan rangkaian program-programnya yang kemudian dijabarkan dalam rencana pembangunan lima tahun (Repelita). Pembangunan nasional dilakukan untuk melaksanakan tugas mewujudkan tujuan nasioanl yang tercantum dalam pembukaan UUD 1945 yaitu melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. dan (3) stabilitas nasional yang sehat dan dinamis. serta ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. Pemerintahan Orde Baru senantiasa berpedoman pada tiga konsep pembangunan nasional yang terkenal dengan sebutan Trilogi Pembangunan. khususnya pangan. dan keadilan sosial. Kemudian terkenal dengan konsep Pembangunan Jangka Panjang Tahap I (1969-1994) menurut indikator saat itu pembangunan dianggap telah berhasil memajukan segenap aspek kehidupan bangsan dan telah meletakkan landasan yang cukup kuat bagi bangsa Indonesia untuk memasuki Pembangunan Jangka Panjang Tahap II (1995-2020). dan negara. (2) pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan. yaitu : (1) pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat. Oleh karena itu sejak Pembangunan Lima Tahun Tahap III (1 April 1979-31 Maret 1984) maka pemerintahan Orde Baru menetapkan Delapan Jalur Pemerataan. dan perumahan. Pembangunan jangka pendek dirancang melalui pembangunan lima tahun (Pelita) yang didalamnya memiliki misi pembangunan dalam rangka mencapai tingkat kesejahteraan bangsa Indonesia. bangsa. (2) pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi. dalam repelita ini dimulai sejak tahun 1969 sebagai awal pelaksaan pembangunan jangka pendek dan jangka panjang. meningkatkan kesejahteraan umum. yaitu : (1) pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya yang menuju pada terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat.jangka panjang. mencerdaskan kehidupan bangsa. (3) pemerataan . Adapun Repelita yang berisi program-program kongkrit yang kakan dilaksanakan dalam kurun waktu lima tahun. perdamaian abadi. Dalam usaha mewujudkan tujuan nasional maka Majlis Permusyawaratan Rakyat sejak tahun 1973-1978-1983-1988-1993 menetapkan garis-garis besar haluan negara (GBHN). sandang. Konsekuensi dari pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi sbagi akibat pelaksanaan pembangunan tidak akan bermakna apabila tidak diimbangi dengan pemerataan pembangunan.

pembagian pendapatan. XI/MPRS/1966 yaitu pada 5 Juli 1968. Pemerintahan Orde Baru berusaha meningkatkan peran negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. sehingga langkah-langkah yang diambil adalah mencapai stabilitas ekonomi dan politik. (4) melanjutkan perjuangan anti imperialisme dan kolonialisme dalam segala bentuk dan manifestasinya. PROSES MENGUATNYA PERAN NEGARA PADA MASA ORDE BARU Berkuasanya Orde Baru ternyata menimbulkan banyak perubahan yang dicapai bangsa Indonesia melalui tahapan pembangunan di segala bidang. B. fungsi.(3) Melaksanakan politik luar negeri yang bebas aktif untuk kepentingan nasional. Merujuk hasil Sidang Umum IV MPRS yang mengambil suatu keputusan untuk menugaskan Jenderal Soeharto selaku pengembang Surat Perintah Sebelas Maret yang sudah ditingkatkan menjadi ketetapan MPRS No. dan hubungan antar lembaga negara tertinggi sesuai dengan yang diatur dalam UUD 1945 C. Sedangkan program kerja terkenal dengan sebutan Catur Karya Kabinet Ampera. Kabinet baru diberi nama Kabinet Ampera yang merupakan singkatan dari Kabinet Amanat Penderitaan Rakyat selanjutnya diberi tugas untuk menciptakan stabilitas politik dan ekonomi sebagai persyaratan dalam melaksanakan pembangunan nasional. Stabilitas dan Rehabilitasi Ekonomi . (7) pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh wilayah tanah air. (5) pemerataan kesempatan berusaha. PEMBANGUNAN NASIONAL INDONESIA MASA ORDE BARU 1. IX/MPRS/1966 untuk membentuk kabinet baru. XI/MPRS/1966. Tugas ini yang dikelak terkenal dengan sebutan ”Dwi Darma Kabinet Ampera”. yang dilaporkan pertama kali bahwa telah dilaksanakan usaha mendudukkan kembali posisi. dan (8) pemerataan kesempatan memperoleh keadilan. (6) pemerataan kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan. Pada 21 Maret 1968 Jenderal Soeharto selaku Pejabat Presiden menyampaikan laporan kepada Sidang Umum V MPRS Tahun 1968 tentang pelaksanaan Dwi Darma dan Catur Karya Kabinet Ampera. sesuai dengan Tap No. yaitu: (1) memperbaiki kehidupan rakyat terutama dibidang sandang dan pangan. (2) melaksanakan pemilihan umum dalam batas waktu seperti yang tercantum dalam ketetapan MPRS No. (4) pemerataan kesempatan kerja. khususnya bagi generasi muda dan kaum wanita.

program stabilisasi.005. ekspor. Oleh karena itu pemerintah mengeluarkan beberapa peraturan penting pada bulan Oktober 1966 yang memuat pokok usaha. yaitu: (1) anggaran belanja yang berimbang untuk menghilangkan salah satu sebab bagi inflasi yaitu difisit dalam anggaran belanja. (3) berhasil pula mengembalikan perak seberat 100 kg. prasarana dan industri. Prioritas utama yang dilakukan dengan tindakan mengambil uang yang menjadi hak negara dan menertibkan prosedur-prosedur keuangan. 494. (2) dapat mengembalikan emas seberat 1. menyelamatkan keuangan negara dan mengamankan kebutuhan pokok pangan rakyat.381.571. 2.Pada masa awal Orde Baru program khusus pemerintah semata-mata ditujukan untuk menyelamatkan ekonomi nasional. (2) pengekangan perluasan kredit untuk usaha-usaha produktif meliputi pangan.37. Kemudian MPRS menggariskan tiga program yang harus dilaksanakan pemerintah secara bertahap. (2) pencukupan kebutuhan pangan. dan Rp. Yen 145. Pembangunan Sebelum Pelaksanaan Pembangunan Lima Tahun (Pelita) Kebijakan yang dimulai sejak oktober 1966 hingga pertengahan tahun 1968 yaitu kebijakan stabilisasi yang bersifat operasional penyelamatan dengan tujuan menertibkan penggunaan keuangan negara. tetapi harus didahulukan dengan melaksanakan stabilisasi dan rehabilitasi ekonomi.33. (4) peningkaan kegiatan ekspor. Dengan membumbung tinggi harga kebutuhan pokok pada awal 1966 dan tingkat inflasi 650 % setahun membuat pemerintah tidak dapat melaksanakan pembangunan dengan segera.403 kg. (4) penanaman modal asing guna memberi kesempatan pada luar negeri untuk membuka alam Indonesia supaya membuka kesempatan kerja dan membantu usaha peningkatan pendapatan nasional. (2) penghematan . dan program pembangunan. (3) rahabilitasi prasarana ekonomi. yaitu program penyelamatan.947.442.761. Adapun program stabilisasi dan rehabilitasi merupakan program jangka pendek dengan skala prioritas: (1) pengendalian inflasi.586.Hasil-hasil positif yang telah dicapai oleh pemerintah sebagai berikut: (1) berhasil mengembalikan uang negara sebesar US $ 9. dalam bentuk memberantas korupsi. Tindakan pemerintah untuk perbaikan ekonomi adalah sebagai berikut: (1) mengadakan operasi pajak diutamakan di kota-kota besar untuk meneliti sampai sejauhmana perusahaan besar milik negara dan swasta memenuhi kewajiban bayar pajak. (3) penundaan pembayaran utang-utang luar negeri serta usaha untuk mendapatkan kredit baru.

Dampak dari bimas dan inmas tersebut pada tahun 1967 produksi padi menunjukkan kenaikan 3 % dan pada tahun 1968 naik menjadi 5 %. Pada tanggal 19-30 September 1966 di kota Tokyo-Jepang diadakan perundingan Indonesia dengan para negara kreditor Perancis.pengeluaran dibidang pemerintahan. tetapi perlu untuk mengimpor bahan-bahan baku.7 milyar sehingga kesulitan menurunkan laju inflasi ke titik yang lebih aman dalam perekonomian Indonesia. khususnya untuk pengeluaran yang konsumtif dan rutin serta penghapusan terhadap subsidi perusahaan-perusahaan. Belanda. oleh karena itu pemerintah Orde Baru meminta kepada negara-negara kreditor untuk menunda pembayaran utang-utang tersebut. Italia. Peningkatan produksi pangan pada tahun 1968 disebabkann oleh adanya perubahan kebijakan dalam penggunaan bea masuk untuk berbagai macam tekstil dengan tujuan untuk memberikan proteksi pada produksi dalam negeri. penggunaan bibit unggul seperti jenis padi PB-5 dan PB-8.2 – 2. suku cadang. Amerika Serikat yang disponsori oleh Japang. Inggris. Usaha mencukupi kebutuhan pangan dilakukan pemerintah dengan memperhatikan peningkatan produksi pangan di dalam negeri khususnya beras. untuk meningkatkan produksi beras diselenggarakan bimbingan masal (bimas) dan intensifikasi masal (inmas) yang meliputi perbaikan prasarana irigasi. Kemajuan ekonomi yang berhasil dicapai oleh pemerintah dari laju inflasi 650 % menjadi 120 % pada tahun 1967. dan sebagainya agar keadaan ekonomi Indonesia bisa menjadi lebih baik lagi. Para negara kreditor menanggapi dengan serius apa yang telah dikemukakan pemerintah Indonesia maka perlu ditindaklanjuti dengan pertemuan lagi dalam pertemuan di Paris-Perancis yang menghasilkan: (1) utang Indonesia yang seharusnya dibayar tahun 1968 ditunda pembayarannya hingga tahun 1972-1978. Pemerintah masih mengalami kesulitan mengelola keuangan negara dampak dari utangutang peninggalan Orde Lama yang mencapai US $ 2. pada kesempatan ini pemerintah Indonesia mengemukakan bahwa devisa ekspor sebagai pembayaran utang. Akibatnya situasi ekonomi dan keuangan masih meprihatinkan. (2) Utang yang seharusnya dibayar tahun 1969 dan 1970 dipertimbangkan untuk ditunda pembayarannya dengan syarat yang sama lunaknya dengan utang- . Jerman Barat. (3) kredit bank dibatasi dan kredit impor dihapuskan. Kredit ekspor diberikan apabila bank yakin akan terlangsungnya ekspor. penyediaan pupuk dan obat-obatan merupakan keharusan serta penyuluhan penanaman padi secara teknis.

dan (8) pemerataan kesempatan memperoleh keadilan. B. Hasilnya memperoleh bantuan untuk melangsungkan pembangunan dan penangguhan serta memberi keringanan syaratsyarat pembayaran kembali utang-utang peninggalan Orde Lama. pupuk. Sehingga anggaran pembangunan dalam bentuk rupiah itu berasal dari penjualan barang-barang konsumtif. (5) pemerataan kesempatan berusaha. Bukti Ekspor yang diwujudkan dalam bentuk barang-barang konsumtif itu dijual oleh pemerintah dan hasilnya dimasukkan dalam Anggaran Belanja Pemerintah dan kemudian dipakai untuk anggaran pembangunan. khususnya bagi generasi muda dan kaum wanita. Pemerintahan Orde Baru berusaha meningkatkan peran negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. pembagian pendapatan. (7) pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh wilayah tanah air. Dengan demikian bantuan luar negeri dismpaing untuk mengimpor barang-barang yang perlu dan hasil penjualannya dipakai pula untuk membiayai pembangunan pula. (4) pemerataan kesempatan kerja. yaitu : (1) impor. Perundingan antara Indonesia dengan para kreditor itu kemudian dikenal dengan istilah Tokyo Club dan Paris Club. sehingga langkah-langkah yang diambil adalah mencapai stabilitas ekonomi dan politik. Berdirinya IGGI (Inter Govermental Group fo Indonesia) bermula dari lanjutan pertemuan Paris Cub antara Indonesia dengan para kreditor yang dilaksanakan di Kota Amsterdam-Belanda pada 23-24 Pebruari 1967 pertemuan ini membicarkan kebutuhan Indonesia akan bantuan luar negeri serta kemungkinan-kemungkinan memberi bantuan dengan syarat lunak. PROSES MENGUATNYA PERAN NEGARA PADA MASA ORDE BARU Berkuasanya Orde Baru ternyata menimbulkan banyak perubahan yang dicapai bangsa Indonesia melalui tahapan pembangunan di segala bidang. Bukti Ekspor untuk impor pangan memungkinkan devisa pemerintah bisa digunakan untuk keperluan lain yang lebih produktif. Bukti Ekspor dapat digunakan untuk impor barang-barang ekonomi seperti suku cadang. (2) proyekproyek pembangunan. dan (3) pangan. dan obat hama.utang yang seharusnya dibayar dalam tahun 1968. (6) pemerataan kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan. Pinjaman-pinjaman dari luar negeri digunakan untuk tiga macam hal yang disebut dengan Bukti Ekspor (BE). Merujuk hasil Sidang Umum IV MPRS yang mengambil suatu keputusan untuk menugaskan Jenderal Soeharto selaku pengembang .

(3) Melaksanakan politik luar negeri yang bebas aktif untuk kepentingan nasional. dan hubungan antar lembaga negara tertinggi sesuai dengan yang diatur dalam UUD 1945 C. yang dilaporkan pertama kali bahwa telah dilaksanakan usaha mendudukkan kembali posisi. yaitu: (1) memperbaiki kehidupan rakyat terutama dibidang sandang dan pangan.Surat Perintah Sebelas Maret yang sudah ditingkatkan menjadi ketetapan MPRS No. dan program pembangunan. Sedangkan program kerja terkenal dengan sebutan Catur Karya Kabinet Ampera. IX/MPRS/1966 untuk membentuk kabinet baru. (2) pencukupan kebutuhan pangan. Stabilitas dan Rehabilitasi Ekonomi Pada masa awal Orde Baru program khusus pemerintah semata-mata ditujukan untuk menyelamatkan ekonomi nasional. Kabinet baru diberi nama Kabinet Ampera yang merupakan singkatan dari Kabinet Amanat Penderitaan Rakyat selanjutnya diberi tugas untuk menciptakan stabilitas politik dan ekonomi sebagai persyaratan dalam melaksanakan pembangunan nasional. (2) melaksanakan pemilihan umum dalam batas waktu seperti yang tercantum dalam ketetapan MPRS No. Tugas ini yang dikelak terkenal dengan sebutan ”Dwi Darma Kabinet Ampera”. menyelamatkan keuangan negara dan mengamankan kebutuhan pokok pangan rakyat. XI/MPRS/1966 yaitu pada 5 Juli 1968. fungsi. (3) rahabilitasi prasarana ekonomi. tetapi harus didahulukan dengan melaksanakan stabilisasi dan rehabilitasi ekonomi. Dengan membumbung tinggi harga kebutuhan pokok pada awal 1966 dan tingkat inflasi 650 % setahun membuat pemerintah tidak dapat melaksanakan pembangunan dengan segera. Oleh karena itu pemerintah mengeluarkan beberapa peraturan penting pada bulan Oktober 1966 yang memuat pokok usaha. Kemudian MPRS menggariskan tiga program yang harus dilaksanakan pemerintah secara bertahap. PEMBANGUNAN NASIONAL INDONESIA MASA ORDE BARU 1. program stabilisasi. Pada 21 Maret 1968 Jenderal Soeharto selaku Pejabat Presiden menyampaikan laporan kepada Sidang Umum V MPRS Tahun 1968 tentang pelaksanaan Dwi Darma dan Catur Karya Kabinet Ampera. (4) peningkaan kegiatan ekspor. (4) melanjutkan perjuangan anti imperialisme dan kolonialisme dalam segala bentuk dan manifestasinya. Adapun program stabilisasi dan rehabilitasi merupakan program jangka pendek dengan skala prioritas: (1) pengendalian inflasi. yaitu: (1) . sesuai dengan Tap No. XI/MPRS/1966. dalam bentuk memberantas korupsi. yaitu program penyelamatan.

Peningkatan produksi pangan pada tahun 1968 disebabkann oleh adanya perubahan kebijakan dalam penggunaan bea masuk untuk .Hasil-hasil positif yang telah dicapai oleh pemerintah sebagai berikut: (1) berhasil mengembalikan uang negara sebesar US $ 9. 2.33. untuk meningkatkan produksi beras diselenggarakan bimbingan masal (bimas) dan intensifikasi masal (inmas) yang meliputi perbaikan prasarana irigasi.586. khususnya untuk pengeluaran yang konsumtif dan rutin serta penghapusan terhadap subsidi perusahaan-perusahaan. Dampak dari bimas dan inmas tersebut pada tahun 1967 produksi padi menunjukkan kenaikan 3 % dan pada tahun 1968 naik menjadi 5 %.005. 494. Pembangunan Sebelum Pelaksanaan Pembangunan Lima Tahun (Pelita) Kebijakan yang dimulai sejak oktober 1966 hingga pertengahan tahun 1968 yaitu kebijakan stabilisasi yang bersifat operasional penyelamatan dengan tujuan menertibkan penggunaan keuangan negara. dan Rp.anggaran belanja yang berimbang untuk menghilangkan salah satu sebab bagi inflasi yaitu difisit dalam anggaran belanja. Kredit ekspor diberikan apabila bank yakin akan terlangsungnya ekspor. penyediaan pupuk dan obat-obatan merupakan keharusan serta penyuluhan penanaman padi secara teknis. (3) kredit bank dibatasi dan kredit impor dihapuskan. ekspor. (2) pengekangan perluasan kredit untuk usaha-usaha produktif meliputi pangan. (2) penghematan pengeluaran dibidang pemerintahan.442. Prioritas utama yang dilakukan dengan tindakan mengambil uang yang menjadi hak negara dan menertibkan prosedur-prosedur keuangan. penggunaan bibit unggul seperti jenis padi PB-5 dan PB-8.381.403 kg. (2) dapat mengembalikan emas seberat 1.761. (4) penanaman modal asing guna memberi kesempatan pada luar negeri untuk membuka alam Indonesia supaya membuka kesempatan kerja dan membantu usaha peningkatan pendapatan nasional. Tindakan pemerintah untuk perbaikan ekonomi adalah sebagai berikut: (1) mengadakan operasi pajak diutamakan di kota-kota besar untuk meneliti sampai sejauhmana perusahaan besar milik negara dan swasta memenuhi kewajiban bayar pajak. (3) berhasil pula mengembalikan perak seberat 100 kg. (3) penundaan pembayaran utang-utang luar negeri serta usaha untuk mendapatkan kredit baru.947. Usaha mencukupi kebutuhan pangan dilakukan pemerintah dengan memperhatikan peningkatan produksi pangan di dalam negeri khususnya beras.571. Yen 145. prasarana dan industri.37.

7 milyar sehingga kesulitan menurunkan laju inflasi ke titik yang lebih aman dalam perekonomian Indonesia. dan obat hama. dan sebagainya agar keadaan ekonomi Indonesia bisa menjadi lebih baik lagi.berbagai macam tekstil dengan tujuan untuk memberikan proteksi pada produksi dalam negeri. Hasilnya memperoleh bantuan untuk melangsungkan pembangunan dan penangguhan serta memberi keringanan syaratsyarat pembayaran kembali utang-utang peninggalan Orde Lama. Italia. Belanda. (2) proyekproyek pembangunan.2 – 2. suku cadang. Pinjaman-pinjaman dari luar negeri digunakan untuk tiga macam hal yang disebut dengan Bukti Ekspor (BE). pada kesempatan ini pemerintah Indonesia mengemukakan bahwa devisa ekspor sebagai pembayaran utang. oleh karena itu pemerintah Orde Baru meminta kepada negara-negara kreditor untuk menunda pembayaran utang-utang tersebut. Kemajuan ekonomi yang berhasil dicapai oleh pemerintah dari laju inflasi 650 % menjadi 120 % pada tahun 1967. tetapi perlu untuk mengimpor bahan-bahan baku. Bukti Ekspor untuk impor pangan memungkinkan devisa . Akibatnya situasi ekonomi dan keuangan masih meprihatinkan. Pemerintah masih mengalami kesulitan mengelola keuangan negara dampak dari utangutang peninggalan Orde Lama yang mencapai US $ 2. (2) Utang yang seharusnya dibayar tahun 1969 dan 1970 dipertimbangkan untuk ditunda pembayarannya dengan syarat yang sama lunaknya dengan utangutang yang seharusnya dibayar dalam tahun 1968. dan (3) pangan. Berdirinya IGGI (Inter Govermental Group fo Indonesia) bermula dari lanjutan pertemuan Paris Cub antara Indonesia dengan para kreditor yang dilaksanakan di Kota Amsterdam-Belanda pada 23-24 Pebruari 1967 pertemuan ini membicarkan kebutuhan Indonesia akan bantuan luar negeri serta kemungkinan-kemungkinan memberi bantuan dengan syarat lunak. Inggris. pupuk. Para negara kreditor menanggapi dengan serius apa yang telah dikemukakan pemerintah Indonesia maka perlu ditindaklanjuti dengan pertemuan lagi dalam pertemuan di Paris-Perancis yang menghasilkan: (1) utang Indonesia yang seharusnya dibayar tahun 1968 ditunda pembayarannya hingga tahun 1972-1978. Perundingan antara Indonesia dengan para kreditor itu kemudian dikenal dengan istilah Tokyo Club dan Paris Club. yaitu : (1) impor. Bukti Ekspor dapat digunakan untuk impor barang-barang ekonomi seperti suku cadang. Pada tanggal 19-30 September 1966 di kota Tokyo-Jepang diadakan perundingan Indonesia dengan para negara kreditor Perancis. Jerman Barat. Amerika Serikat yang disponsori oleh Japang.

Bukti Ekspor yang diwujudkan dalam bentuk barang-barang konsumtif itu dijual oleh pemerintah dan hasilnya dimasukkan dalam Anggaran Belanja Pemerintah dan kemudian dipakai untuk anggaran pembangunan. Dengan demikian bantuan luar negeri dismpaing untuk mengimpor barang-barang yang perlu dan hasil penjualannya dipakai pula untuk membiayai pembangunan pula. Sehingga anggaran pembangunan dalam bentuk rupiah itu berasal dari penjualan barang-barang konsumtif.pemerintah bisa digunakan untuk keperluan lain yang lebih produktif. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->