Aspek Sosial Budaya yang Berhubungan dengan Kesehatan Ibu

ASPEK SOSIAL BUDAYA YANG BERHUBUNGAN KESEHATAN IBU Berdasarkan UU No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan, Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) adalah pelayanan kesehatan ibu dan anak yang meliputi pelayanan ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas, keluarga berencana, kesehatan reproduksi, pemeriksaan bayi, anak balita dan anak prasekolah sehat. Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) di Indonesia selalu menjadi masalah pelik yang tak kunjung membaik keadaannya. Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak tersebut diyakini memerlukan kondisi sosial politik, hukum dan budaya yang kondusif. Situasi kesehatan ibu dan bayi baru lahir di Indonesia sama sekali belum bisa dikatakan menggembirakan. Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2002/2003 angka kematian ibu di Indonesia masih berada pada angka 307 per 100 ribu kelahiran. Tingginya angka kematian ibu dan bayi sebesar 307 per 100 ribu kelahiran hidup, menjadi salah satu indikatornya buruknya pelayanan kesehatan ibu dan anak. Kendati berbagai upaya perbaikan serta penanganan telah dilakukan, namun disadari masih diperlukan berbagai dukungan. Angka Kematian Ibu (AKI) menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 1994 masih cukup tinggi, yaitu 390 per 100.000 kelahiran. Penyebab kematian ibu terbesar (58,1%) adalah pendarahan dan eklampsia. Kedua sebenarnya dapat dicegah dengan pemeriksaan kehamilan (antenatal care/ANC) yang memadai. Walaupun proporsi perempuan usia 15-49 tahun yang melakukan ANC minimal satu kali telah mencapai lebih dari 80%, tetapi menurut SDKI 1994, hanya 43,2% yang persalinannya ditolong oleh tenaga kesehatan.Persalinan oleh tenaga kesehatan menurut SDKI 1997, masih tetap rendah, di mana sebesar 54% persalinan masih ditolong oleh dukun bayi.Usia kehamilan pertama ikut berkontribusi kepada kematian ibu di Indonesia. Data Survei Kesehatan Ibu dan Anak (SKIA) 2000 menunjukkan umur median kehamilan pertama di Indonesia adalah 18 tahun.SDKI 1997 melaporkan 57,4% Pasangan Usia Subur (PUS) menggunakan alat kontrasepsi dan sebanyak 9,21% PUS sebenarnya tidak ingin mempunyai anak atau menunda kehamilannya, tetapi tidak memakai kontrasepsi (unmet need). Krisis ekonomi yang terjadi sejak pertengahan 1997 menjadi sebab utama menurunnya daya beli PUS terhadap alat dan pelayanan kontrasepsi. Angka kematian ibu adalah jumlah kematian ibu akibat proses reproduktif per 100.000 kelahiran hidup.Kematian ibu adalah kematian perempuan pada saat hamil atau kematian dalam kurun waktu 42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lamanya kehamilan atau tempat persalinan, yakni kematian yang disebabkan karena kehamilannya atau pengelolaannya, tetapi bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan, terjatuh dll (Budi, Utomo. 1985). Kemudian kematian ibu dapat diubah menjadi rasio kematian ibu dan dinyatakan per 100.000 kelahiran hidup, dengan membagi angka kematian dengan angka fertilitas umum. Jumlah Kematian Ibu yang dimaksud adalah banyaknya kematian ibu yang disebabkan karena kehamilan, persalinan sampai 42 hari setelah melahirkan pada daerah dan tahun tertentu. Jumlah kelahiran Hidup adalah banyaknya bayi yang lahir hidup pada tahun tertentu,didaerahtertentu. Konstanta= 1000 bayi lahir hidup. Sebab kematian ibu adalah :

larangan untuk memakan buah-buahan seperti pisang. Masyarakat Betawi : ‡ berlaku pantangan makan ikan asin. perdarahan berkaitan abortus. Misalnya mengurut perut yang bertujuan untuk mengembalikan rahim ke posisi semula. 3. perdarahan akibat lokasi plasenta abnormal atau ablasio plasenta (plasenta previa dan absupsio plasenta). 2. perdarahan akibat kehamilan ektopik. . Secara tradisional. pantangan-pantangan atau anjuran masih diberlakukan juga pada masa pasca persalinan.‡Perdarahan ‡Hipertensi ‡Infeksi Perdarahan yang dapat menyebabkan kematian ibu terdiri atas perdarahan post partum. atau memberi jamu tertentu untuk memperkuat tubuh (Iskandar et al. Daerah Subang : ‡ ibu hamil pantang makan dengan menggunakan piring yang besar karena khawatir bayinya akan besar sehingga akan mempersulit persalinan.komplikasi serius kehamilan dan persalinan. ada makanan tertentu yang sebaiknya dikonsumsi untuk memperbanyak produksi ASI. Aspek budaya di kalangan masyarakat terhadap kesehatan Ibu Berikut budaya yang ada di beberapa daerah terhadap kesehatan ibu hamil : 1. tromboflebitis dan bakteriemia. Dan memang. 4. berat badan bayi yang dilahirkan juga rendah. keseimbangan asam-basa pada komplikasi. Alasan menurunnya angka kematian ibu : ‡ Transfusi darah ‡ Anti mikroba ‡ Pemeliharaan cairan elektrolit. dan perdarahan karena ruptur uteri. selain ibunya kurang gizi. ada pula makanan tertentu yang dilarang karena dianggap dapat mempengaruhi kesehatan bayi. 1996). Hipertensi umumnya disertai edema dan proteinuria (pre eklamsia). Selain itu. Selain pada masa hamil. Jawa Tengah : ‡ bahwa ibu hamil pantang makan telur karena akan mempersulit persalinan dan pantang makan daging karena akan menyebabkan perdarahan yang banyak. Hipertensi yang dapat menyebabkan kematian ibu terdiri atas hipertensi yang diinduksi kehamilan dan hipertensi yang diperberat kehamilan. Pada kasus berat disertai oleh kejang-kejang dan koma (eklamsia).Tentunya hal ini sangat mempengaruhi daya tahan dan kesehatan si bayi. (Wibowo. Jawa Barat : ‡ ibu yang kehamilannya memasuki 8-9 bulan sengaja harus mengurangi makannya agar bayi yang dikandungnya kecil dan mudah dilahirkan. nenas. ikan laut. Infeksi nifas atau infeksi panggul post partum biasanya dimulai oleh infeksi uterus atau parametrium tetapi kadang-kadang meluas dan menyebabkan peritonitis. ketimun dan lain-lain bagi wanita hamil juga masih dianut oleh beberapa kalangan masyarakat terutama masyarakat di daerah pedesaan.. ada praktek-praktek yang dilakukan oleh dukun beranak untuk mengembalikan kondisi fisik dan kesehatan si ibu . memasukkan ramuan-ramuan seperti daun-daunan kedalam vagina dengan maksud untuk membersihkan darah dan cairan yang keluar karena proses persalinan. udang dan kepiting karena dapat menyebabkan ASI menjadi asin. Pantangan ataupun anjuraan ini biasanya berkaitan dengan proses pemulihan kondisi fisik misalnya.1993).

menumbuhkan kesadaran masyarakat akan potensi yang dimilikinya untuk menolong diri mereka sendiri dalam meningkatkan mutu hidup mereka b. baik dalam bidang kesehatan maupun bidang dalam bidang yang berkaitan dengan kesehatan. Pengertian yPembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD) adalah rangkaian kegiatan masyarakat yang dilakukan berdasarkan gotong-royong. Disamping itu kegiatan pelayanan kesehatan yang diberikan juga dapat mendorong timbulnya kreativitas dan inisiatif setiap individu atau kelompok masyarakat untuk ikut secara aktif dalam programprogram kesehatan di daerahnya dan menentukan prioritas program sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat yang bersangkutan. dimana dalam mengembangkan kegiatan-kegiatan kesehatan oleh lembaga ini diikutsertakan anggota-anggota masyarakat di Pedusunan melalui segala pengarahan untuk menimbulkan kesadaran secara aktif di dalam ikut membantu memecahkan dan mengembangkan usaha-usaha kesehatan di Desanya (Dirjen Binkesmas Depkes RI. yPKMD adalah kegiatan pelayanan kesehatan yang pelaksanaannya didasarkan melalui sistem pelayanan puskesmas.A. Tujuan khusus a. mengembangkan kemampuan dan prakarsa masyarakat untuk berperan secara aktif dan berswadaya dalam meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri c. Tujuan 1. (Kanwil Depkes Jawa Timur) B. 1976) yPKMD adalah kegiatan atau pelayanan kesehatan berdasarkan sistem pendekatan edukatif masalah kesehatan melalui Puskesmas dimana setiap individu atau kelompok masyarakat dibantu agar dapat melakukan tindakan-tindakan yang tepat dalam mengatasi kesehatan mereka sendiri. terampil serta mau berperan aktif dalam pembangunan desa d. Tujuan umum Untuk meningkatkan kemampuan masyarakat menolong diri sendiri dibidang kesehatan dalam rangka meningkatkan mutu hidup 1. menghasilkan lebih banyak tenaga-tenaga masyarakat setempat yang mampu. agar mampu memelihara kehidupannya yang sehat dalam rangka meningkatkan mutu hidup dan kesejahteraan masyarakat. swadaya masyarakat dalam rangka menolong mereka sendiri untuk mengenal dan memecahkan masalah atau kebutuhan yang dirasakan masyarakat. meningkatnya kesehatan masyarakat dalam arti memenuhi beberapa indikator : .

Kesehatan adalah salah satu unsur dari masyarakat Indonesia yang sejahtera.angka kesakitan menurun . . FILOSOFI PEMBANGUNAN KESEHATAN Filosofi pembangunan bidang kesehatan pada hakekatnya diarahkan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat agar kualitas sumber daya manusia sebagai modal utama pembangunan semakin kuat. yaitu tercapainya hak atas hidup sehat bagi seluruh lapisan masyarakat melalui sistem kesehatan yang dapat menjamin terlindunginya masyarakat dari berbagai risiko yang dapat mem-pengaruhi kesehatan dan tersedianya pelayanan kesehatan yang bermutu. Seperti banyak anak-anak di pelosok desa yang orangtuanya hanya sekedar memberi kebutuhan gizi sekedarnya saja pada anak mereka. Kesehatan sebagai investasi akan menghasilkan penduduk yang sehat dan produktif sebagai SDM pembangunan yang berkelanjutan serta memiliki daya saing global. Padahal ini malah akan menjadi penghambat kesehatan anak.angka kelahiran menurun . Sehingga anak mudah sekali terserang penyakit.angka kematian menurun. terutama angka kematian bayi dan anak .Jika rambut anak anda basah maka anak anda akan masuk angin. Banyak sekali kasus anak-anak yang terkena penyakit tertentu karena tidak tercukupi kebutuhan gizinya. Aspek budaya (mitos) yang berkembang di masyarakat yang berhubungan dengan kesehatan anak : 1. Terutama mitos mengenai kesehatan anak.menurunnya angka kekurangan gizi pada anak balita C. orang zaman dahulu mempercayai bahwa jika melakukan sesuatu yang telah lama dilakukan oleh pendahulunya maka mereka juga akan melakukan itu pada anak-anak mereka. ASPEK SOSIAL BUDAYA BERKAITAN DENGAN KESEHATAN ANAK ASPEK SOSIAL BUDAYA YANG BERHUBUNGAN DENGAN KESEHATAN BAYI Kesehatan anak sekarang ini sangan memprihatinkan. terjangkau dan merata..

2. Tetapi saat beranjak dewasa . sisanya keluar melalui kaki. Hal tersebut dibenarkan karena kepala bayi memiliki presentasi lebih besar daripada bagian tubuh yang lainnya. dan masuk angin pada bayi. Dan ada juga kebiasaan memberikan roti. 2. dan tangan. Aspek sosial (mitos) yang berkembang di masyarakat yang berkaitan dengan kesehatan anak : 1. muntah . para ibu nifas biasa memberikan nasi pakpak (nasi yang telah dikunyah oleh ibunya terlebih dahulu ) kepada bayinya agar bayinya tumbuh sehat dan kuat . Mereka percaya bahwa apa yang keluar dari mulut ibu merupakan yang terbaik untuk bayi.Asupan lain ketika ASI belum keluar Masyarakat Kerinci di Sumatera Barat . Dimana hingga kini masyarakat baik di perkotaan maupun pedesaan masih menjalankan kepercayaan tersebut. Tetapi ada baiknya jika masyarakat juga mempertimbangkan dengan pemahaman menurut para medis karena para medis lebih memahami tentang mana yang baik dalam tumbuh kembang kesehatan anak. 4. " Kedinginan belum tentu mempengaruhi sistem kekebalan tubuh secara langsung". bubur nasi. . lengan . Kolostrum dianggap sebagai susu yang sudah rusak Masyarakat tradisional menganggap kolostrum sebagai susu yang sudah rusak dan tak baik diberikan pada bayi karena warnanya yang kekuning-kuningan. Setelah beberapa jam.Anak akan kehilangan 75% panas melalui kepala Mitos ini berkembang karena keharusan bahwa kepala bayi yang baru lahir ditutupi ketika cuaca dingin ataupun panas. pisang . Timbulnya penyakit sebagai pertanda Demam atau diare yang terjadi pada bayi dianggap pertanda bahwa bayi tersebut akan bertambah kepandaiannya. Jika seseorang banyak cairan maka akan mudah terserang penyakit begitupun sebaliknya. ada yang menganggap kolostrum dapat menyebabkan diare.Anak perlu makan ketika kedinginan dan meminum banyak air ketika demam Hal yang seharusnya dilakukan adalah menjaga keseimbangan komposisi cairan tubuh . keluarnya panas melalui kepala hanya10%. Selain itu. Dukun sebagai penyembuh Masyarakat pada beberapa daerah beranggapan bahwa bayi yang mengalami kejang-kejang disebabkan karena kemasukan roh halus. dan teh manis kepada bayi baru lahir sebelum ASI keluar. Kesehatan anak juga dipengaruhi oleh faktor budaya dan sosial. Hal tersebut disebabkan karena kebiasaan yang telah turun temurun terjadi . 3.nasi yang sudah dilumatkan ataupun madu.Seorang Pakar Kesehatan Jims Scars mengatakan dari riset yang pernah dilakukannya di Inggris dimana setengah kelompok anak dibiarkan berada dalam ruangan hangat sedangkan sisanya berada di lorong dengan kondisi basah kuyup.Makanan yang keluar dari mulut ibu yang terbaik bagi bayi Suku Sasak di Lombok. seperti sudah bisa untuk berjalan. dan dipercaya hanya dukun yang dapat menyembuhkannya. 5. 6. kelompok yang berada di lorong tadi tidak mengalami flu. dan lain-lain. pada usia 1 bulan bayi sudah diberi bubur tepung.Meskipun demikian anak tidak perlu mengonsumsi minuman elektrolit bila tidak mengalami dehidrasi ataupun diare.

Dengan demikian.5 persen). Disini dibutuhkan peran bidan dalam memberikan promosi kesehatan melalui program deteksi dini dan pengajaran. March 22.9 persen. cukup tinggi.ASPEK SOSIAL BUDAYA BERKAITAN DENGAN PRA PERKAWINAN DAN PERKAWINAN Tuesday. Sedangkan bagi perempuan. dan penyakit-penyakit lain pada pasangan pra perkawinan. jumlahnya 4. Bila disertai kekurangan energi dan protein. hampir 50 persen perempuan Indonesia menikah pertama kali pada usia di bawah 20 tahun. Juga termasuk pengajaran bagi pasangan pra perkawinan dengan usia dini dimana perkawinan dini masih menjadi masalah penting dalam kesehatan reproduksi perempuan di Indonesia. akan menimbulkan masalah kesehatan yang dapat berakibat kematian bagi ibu saat melahirkan dan juga bayinya dan resiko hamil muda sangat tinggi. 10-14 tahun. 2011 Masa pra perkawinan adalah masa pasangan untuk mempersiapkan diri ke jenjang perkawinan dimana individu mengalami perubahan-perubahan sikap untuk lebih dewasa dan saling terbuka dan mengerti satu sama lain. serta Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah masingmasing 7 persen ini sangat berhubungan dengan sosial budaya pada daerah tersebut. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) mencatat.8 persen dari jumlah perempuan usia 10-59 tahun. . Usia perkawinan dini yang cukup tinggi pada perempuan mengindikasikan rentannya posisi perempuan di masyarakat. Program kesehatan komunitas berfokus pada promosi kesehatan dan pencegahan penyakit. Sedangkan yang menikah dalam rentang usia 16-19 tahun berjumlah 41. Provinsi dengan persentase perkawinan dini tertinggi adalah Kalimantan Selatan (9 persen). menikah artinya harus siap hamil pada usia sangat muda. Jawa Barat (7. anak perempuan yang menikah pertama kali pada usia sangat muda. Misalnya deteksi dini penyakit kanker payudara.

Pada fase pertama adalah bulan madu pasangan masih menjalani hidup dengan penuh kebahagian. termasuk peran bidan. Inisiatif bidan sangat menentukan derajat kesehatan perempuan pra perkawinan dan perkawinan. Pada fase ketiga mulai terjadi krisis perkawinan terjadi proses penyesuaian akan adanya perbedaan yang terjadi. saling memberi dan menerima cinta. Aspek sosial budaya yang berkaitan dengan perkawinan dan pra perkawinan Aspek sosial budaya pada setiap perkawinan Berdasarkan pada aspek sosial budaya pola penyesuaian perkawinan dilakukan secara bertahap. kemampuan mengenali masalah dan mencari solusi bersama masyarakat menjadi kemampuan dasar yang harus dimiliki bidan. Pada fase kedua pengenalan kenyataan. Kalimantan Tengah. saling terbuka antara suami istri. seperti tecermin dalam program Pos Bhakti Bidan-Srikandi Award 2010 pada Desember lalu. Apabila sukses dalam menerima kenyataan maka akan dilanjutkan dengan fase menerima kenyataan.Peran layanan kesehatan menjadi sangat penting. Para bidan dalam Pos Bhakti Bidan program yang dicanangkan Ikatan Bidan Indonesia untuk layanan kesehatan perempuan bersama tokoh dan anggota masyarakat di tempat bidan berada menjadi tumpuan ibu hamil dan remaja putri yang membutuhkan layanan kesehatan reproduksi. Faktor pendukung keberhasilan penyesuaian perkawinan terletak dalam hal: 1. pasangan mengetahui karakteristik dan kebiasaan yang sebenarnya dari pasangan. harus mengubah adat setempat memberikan santan segar kepada bayi baru lahir. Bidan Asiwei E Tigoi dari Palangkarya. Tantangan konkret yang dihadapi bidan adalah kemiskinan. dan budaya. pendidikan rendah. Karena itu. 2. Apabila pasangan sukses mengatasi problema keluarga dengan berapatasi dan membuat aturan dan kesepakatan dalam rumah tangga maka fase kebahagiaan sejati akan diperolehnya. 3. Hal tersebut tercermin pada bagaimana pasangan suami istri menjaga kualitas hubungan antar pribadi dan pola-pola perilaku yang dimainkan oleh suami maupun istri. serta kemampuan menghadapi dan menyikapi perbedaan yang muncul. misalnya. saling menghormati dan menghargai. . Bidan Nuryati Alinti dari Kota Gorontalo berhadapan dengan masalah anemia remaja putri karena kehamilan pada usia belum 15 tahun.

Terdapat faktor yang mendorong sehingga mendukung perubahan. pola penyesuaian yang dimainkan dan munculnya hal-hal baru dalam perkawinan. suami maupun istri tidak bisa menerima perubahan sifat dan kebiasaan pasangagnya di awal pernikahan. perbedaan. sehingga masing. Tiga orientasi agensi dalam merespon kekangan struktur. 4 . 2. yaitu : y y y Aspek Iterational Aspek Projectivity Aspek Practical Dualitas praktik perkawinan Minangkabau y Dualitas yang menggambarkan dalam praktik Minangkabau menjadi sebuah sintesis yang cerdas bagi masyarakat Minangkabau dalam menghadapi dan mengatasi tekanan adaik agar selalu berkesesuaian dengan berbagai kepentingan dam harapan kehidupan yang sedang dihadapi. 3.suami maupun istri tidak tahu peran dan tugasnya dalam rumah tangga. sehingga berbagai aktivitas yang dilakukan juga sesuai dengan aturan adaik yang berlaku. perkawinan masyarakat Minangkabau disebut sebagai politik perkawinan.masing pasangan gagal dalam menyesuaikan diri satu sama lain. Hal tersebut tercermin pada bagaimana pasangan suami istri menyikapi perubahan.Menurut aspek sosial budaya faktor penghambat yang mempersulit penyesuaian perkawinan : 1.blogspot. meskipun perubahan tersebut diharapkan dan direncanakan. yang kesemuanya itu dirasa kurang membawa kebahagiaan hidup berumah tangga. Contoh Aspek sosial budaya perkawinan di Mingkabau perkawinan adalah sebuah peristiwa adaik. Daftar pustaka : http://miamisland. suami maupun istri tidak berinisiatif menyelesaikan masalah. . perbedaan budaya dan agama diantara suami dan istri.html Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan sosial budaya Terjadinya sebuah perubahan tidak selalu berjalan dengan lancar.com/2010/03/aspek-sosial-budaya-pdsetiap. tetapi juga ada faktor penghambat sehingga perubahan tidak berjalan sesuai yang diharapkan.

toleransi dapat diberikan agar semakin tercipta hal-hal baru yang kreatif. Masyarakat tidak lagi mempermasalahkan status sosial dalam menjalin hubungan dengan sesamanya. Keadaan demikian merupakan pendorong terjadinya perubahan-perubahan baru dalam masyarakat untuk mencapai keselarasan sosial. Toleransi terhadap perbuatan-perbuatan yang menyimpang. Orientasi ke masa depan Kondisi yang senantiasa berubah merangsang orang mengikuti dan menyesusikan dengan perubahan. 6. dan perlu sebuah perubahan atau tidak. rasional. 3. Hal ini dapat mendorong terjadinya perubahan dan tentu akan memperkaya kebudayaan yang ada. 2. Sebuah hasil karya bisa memotivasi seseorang untuk mengikuti jejak karya. dan ideologi yang berbeda akan mudah terjadi pertentangan yang dapat menimbulkan kegoncangan sosial. 8. Hal ini membuka kesempatan kepada para individu untuk dapat mengembangkan kemampuan dirinya. Terjadinya kontak atau sentuhan dengan kebudayaan lain. Menurut Soerjono Soekanto ada sembilan faktor yang mendorong terjadinya perubahan sosial. dan berbagai gerakan revolusi untuk mengubahnya. dan objektif. baik dari budaya asli maupun budaya asing. Open stratification atau sistem terbuka memungkinkan adanya gerak sosial vertikal atau horizontal yang lebih luas kepada anggota masyarakat. Masyarakat heterogen dengan latar belakang budaya. Penyimpangan sosial sejauh tidak melanggar hukum atau merupakan tindak pidana. Sikap menghargai hasil karya orang dan keinginan untuk maju. Ketidakpuasan masyarakat terhadap bidang-bidang tertentu Rasa tidak puas bisa menjadi sebab terjadinya perubahan. yaitu: 1. dan bahkan hasil perpaduannya.Faktor pendorong perubahanZ Faktor pendorong merupakan alasan yang mendukung terjadinya perubahan. Hal ini akan memberikan kemampuan manusia untuk menilai apakah kebudayaan masyarakatnya memenuhi perkembangan zaman. Ketidakpuasan menimbulkan reaksi berupa perlawanan. Untuk itu. dapat merupakan cikal bakal terjadinya perubahan sosial budaya. . Pendidikan telah membuka pikiran dan membiasakan berpola pikir ilmiah. Sistem pendidikan formal yang maju. Bertemunya budaya yang berbeda menyebabkan manusia saling berinteraksi dan mampu menghimpun berbagai penemuan yang telah dihasilkan. 7. ras. Sistem terbuka dalam lapisan-lapisan masyarakat. Penduduk yang heterogen. 4. pertentangan. Orang yang berpikiran dan berkeinginan maju senantiasa termotivasi untuk mengembangkan diri. Pendidikan merupakan salah satu faktor yang bisa mengukur tingkat kemajuan sebuah masyarakat. 5. Pemikiran yang selalu berorientasi ke masa depan akan membuat masyarakat selalu berpikir maju dan mendorong terciptanya penemuan-penemuan baru yang disesuaikan dengan perkembangan dan tuntutan zaman.

7. Usaha merupakan keharusan bagi manusia dalam upaya memenuhi kebutuhannya yang tidak terbatas dengan menggunakan sumber daya yang terbatas. Nilai bahwa manusia harus selalu berusaha untuk perbaikan hidup. 3. Adat dan kebiasaan tertentu dalam masyarakat yang cenderung sukar diubah. Faktor penghambat perubahanZ Banyak faktor yang menghambat sebuah proses perubahan. Rasa takut terjadinya kegoyahan pada integrasi kebudayaan dan menimbulkan perubahan pada aspek-aspek tertentu dalam masyarakat. 5. Usaha-usaha ini merupakan faktor terjadinya perubahan. Sikap masyarakat yang mengagungkan tradisi masa lampau dan cenderung konservatif. Prasangka terhadap hal-hal baru atau asing. terutama yang berasal dari Barat. . 4. Menurut Soerjono Soekanto. Adanya kepentingan pribadi dan kelompok yang sudah tertanam kuat (vested interest). Perkembangan ilmu pengetahuan yang terlambat. Hambatan-hambatan yang bersifat ideologis. yaitu: 1. Kurangnya hubungan dengan masyarakat lain.9. ada delapan buah faktor yang menghalangi terjadinya perubahan sosial. 2. 8. 6.

1Mira 2.Supiyati AKADEMI KEBIDANAN SISMADI TAHUN AJARAN 2011 / 2012 JAKARTA .RANGKUMAN ISBD ASPEK SOSIAL BUDAYA BERHUBUNGAN DENGAN y Kesehatan anak y Kesehatan ibu y Pembaguna kesehatan ASPEK SOSIAL BUDAYA BERHUBANGAN DENGAN y Pra perkawinan y Perkawinan Disusun oleh : .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful