P. 1
Komisi Pengawasan Pupuk Dan Pestisida

Komisi Pengawasan Pupuk Dan Pestisida

|Views: 96|Likes:
Published by Santyka Sabria

More info:

Published by: Santyka Sabria on Feb 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/17/2012

pdf

text

original

Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida(KP 3) Trenggalek yang terdiri dari Dinas Pertanian, Diskoperindagtamben, Polres dan beberapa

Instansi terkait melakukan monitoring ke PT Kaltim dan Petro Kimia Gresik serta kios resmi bersubsidi dan kelompok tani beberapa minggu ini. Hal ini dilakukan untuk menindaklanjuti terjadinya kenaikan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi oleh Pemerintah pusat. Selain sebagai upaya prefentif mengatasi kelangkaan pupuk di pasaran, menurut keterangan dari Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Sigid Agus Hari Basoeki, monitoring ini bertujuan untuk memberi kemudahan pemenuhan pupuk bersubsidi HET secara enam tepat, juga upaya untuk memperdayakan seluruh produsen pupuk agar lebih efisien dalam pengadaan dan pendistribusian pupuk bersubsidi di wilayah yang menjadi tanggung jawab mereka. Sementara itu, berdasarkan keterangan dari Mulya handaka, Kepala Bagian (Kabag) perekonomian Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Trenggalek, kenaikan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi oleh Pemerintah pusat naik berkisar 30-50 persen. Pupuk yang mengalami kenaikan harga diantaranya pupuk Urea, pupuk Za dan pupuk NPK. Selanjutnya, Kabag Perekonomian tersebut berharap Kelompok Tani ikut berperan aktif menghimbau petani untuk lebih bijaksana dalam menggunakan pupuk, terutama pupuk non organik. Dari hasil monitoring oleh tim Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KP 3) didapatkan kesimpulan bahwa penyerapan pupuk musim kemarau 1 (MK 1) masih rendah. Hal ini dinyatakan oleh Mulya Handaka, Kepala Bagian (Kabag) perekonomian Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Trenggalek.

Pemerintah melalui Peraturan Presiden RI No. 77 tahun 2005 telah menetapkan bahwa tetap mempertahankan subsidi pupuk untuk petani dan mengklasifikan pupuk / benih bersubsidi sebagai barang dalam pengawasan dan tidak bebas diperdagangkan. Produsen melalui distributor mendistribusikan kepada pengecer resmi (kios) yang telah mendapat rekomendasi menjual pupuk / benih tersebut kepada petani yang tergabung dalam kelompok tani. Kenyataan di lapangan banyak permasalahan yang muncul terkait distribusi pupuk / benih bersubsidi dan cenderung terjadi setiap tahun atau setiap musim tanam tiba mulai dari pengadaan, penyaluran maupun dalam penggunaannya. Kebijakan pemerintah telah berulang kali disesuaikan dan disempurnakan, namun penerapan di lapangan masih banyak ditemukan penyimpangan

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->