P. 1
Book Report PAI

Book Report PAI

|Views: 131|Likes:

More info:

Published by: Jessica Garci Puspita on Feb 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/17/2012

pdf

text

original

BOOK REPORT

RAMALAN IMAM MAHDI Akankah Ia Datang pada 2015? (sebuah jawaban untuk Jaber Bolushi) Oleh: Armansyah

Disusun Oleh:

JESSICA GARCI PUSPITA 1002518

JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG 2011

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang Di zaman yang penuh kekacauan seperti sekarang ini, saat harga kebutuhan bahan pokok terus melambung tinggi, panen gagal akibat banjir yang tiada henti, minyak tanah susah didapat, bangunan rusak oleh gempa bumi dan bencana alam lainnya,

terkontaminasinya susu formula oleh berbagai bakteri membahayakan, belum lagi eskalasi politik yang tidak menentu membuat kita menjadi masyarakat beresiko. Masyarakat muslim dihujani oleh berbagai malapetaka dan kekalutan di setiap tempat, seperti Irak, Iran, Afganistan, Rusia, Palestina, Indonesia, Jerman, Srilanka, Prancis, dan seterusnya, termasuk penghinaan terhadap Nabi Muhammad saw. Di Denmark, Portugal atau Amerika Serikat. Kondisi tersebut telah membuat banyak orang berharap akan tibanya era baru yang penuh keadilan, kemakmuran, ketentraman, kedamaian serta menghancurkan semua kesemrawutan dunia. Harapan demi harapan selalu terperanjatkan dalam setiap doa dan seminar-seminar. Orang berbicara mengenai pembaruan agama, berbincang dengan pentingnya khilafah Islamiyah, dan ada pula orang yang berbicara tentang pengharapannya atas kedatangan imam mahdi, mesiah Islam yang ditunggu-tunggu sejak “penganiayaan” ahli bait Nabi Muhammad ratusan tahun yang silam. Kerinduan atas hadirnya imam mahdi di tengah umat Islam tidak jarang membentuk penyelewengan-penyelewengan terhadap teks-teks (nushush) keagamaan. Sehingga, di setiap masa bermunculan orang-orang yang mengaku sebagai imam mahdi yang dijanjikan. Bahkan, mereka mengaku sebagai nabi baru yang diutus kepada umat manusia. Mereka berbicara atas nama Allah, atas nama Rasulullah, dan atas nama wahyu yang diturunkan kepada diri mereka. Kita kemudian mengenal nama Faraj ibn utsman, Mirza Ghulam Ahmad, Rashad Khalifah, Lia Aminudin, Ahmad Musaddiq, Sakti A. Sihite, Sayuti, dan sebagainya. Jumlah mereka banyak sekali, nama-nama yang sudah disebutkan di atas hanyalah segelintir dari seluruh jumlah yang ada. Nama-nama nabi palsu lainnya niscaya akan semakin bertambah pada masamasa yang akan datang. Mereka yang selamat dari pengakuan diri sebagai mesiah adakalanya berharap mencoba untuk menumbuhkan semangat baru menunggu masa yang penuh keemasan dan kegemilangan dalam peradaban Islam melalui berbagai cara. Yakni, mulai dari klaim mereka yang mengatakan telah didatangi dan dijumpai secara pribadi oleh imam mahdi sampai dengan kalkulasi tambal sulam dari ayat Quranik dan hadist yang menghasilkan ramalan

mengenai kedatangan tokoh legendaris dari dinasti Nabi Muhammad saw. itu. Satu diantara peramal-peramal mesianisme ini adalah Jaber Bolushi. Sebagai pendukung ahli bait rasul, Jaber Bolushi boleh saja memberikan harapanharapan kepada umat Islam akan kehadiran imam al-mahdi. Namun, sayangnya harapanharapan yang diberikan tersebut disisipi oleh berbagai ramalan yang kebenaran akurasinya berani dipastikan sendiri. Bahkan, ramalan ini dilengkapi dengan data-data tertentu sehingga terkesan lebih objektif-ilmiah dan meyakinkan. Fakta justru berbicara lain. Umat Islam menjadi bingung dan resah atas karyanya itu; sesuatu yang terlalu berlebihan dan patut diberikan jawaban melalui kajian-kajian argumentatif yang juga bersifat ilmiah. Semua temuan ilmiah tidak terbebas dari absolutisme, karena ada falsifikasi atau pembantahan yang membantu mengoreksi dan menyanggah asumsi-asumsi argumentasinya. B. Identitas Buku Ramalan Imam Mahdi karangan Armansyah, seorang habib, yang artinya masih bagian dari geneologi keturunan (nasab) Nabi Muhammad yang mulia dan penulis buku Rekonstruksi Sejarah Isa al-Masih: Sebuah Pelurusan Sejarah dan Jawaban untuk Dinasti Yesus dan Jejak Nabi Palsu: Dari Mirza Ghulam Ahmad, Lia Aminudin hingga Ahmad Musaddiq. Kini dia menetap di kota kelahirannya, Palembang, Sumatera Selatan. Sejak SMA, Armansyah menyukai ilmu-ilmu keagamaan, khususnya yang berkaitan dengan perbandingan agama, mazhab, dan mitos-mitos yang berkembang di masyarakat. Buku ini datang pada saat yang tepat. Setelah memberi jawaban teologis mengenai kemunculan Imam Mahdi dalam tradisi Islam sekaligus Yahudi dan Kristen. Buku ini membantah ramalan Jaber Bolushi tentang kiamat 2015. Buku ini menguak manipulasi data, aksi “akrobat ayat”, hitung-hitungan yang problematis, dan kecerobohan perhitungan yang dilakukan Bolushi. Polemik dibingkai dalam telusur ilmu pengetahuan yang mudah dicerna dan tidak spekulatif. Diulas secara ringan dan mengalir, buku ini menyajikan, untuk kesekian kalinya, tegangan antara sains dan agama yang masih memungkinkan adanya titik temu dalam belantara kemisteriusan Tuhan. Sang penulis mampu meletakkan ramalan kedatangan Imam Mahdi dalam argumentasi yang proporsional. Selain meluruskan akidah, buku ini kaya data menarik dalam sejarah, sains, dan peramalan. C. Fokus Buku 1. Siapakah Imam Mahdi? 2. Hubungan Dajjal, Imam mahdi, dan Isa al-Masih; 3. Ramalan Jaber Bolushi; 4. Jawaban untuk sang peramal.

BAB II RAMALAN IMAM MAHDI Akankah Ia Datang pada 2015 (sebuah jawaban untuk Jaber Bolushi) Oleh: Armansyah

A. Siapakah Imam Mahdi? Isu kehadiran mesianisme sesudah kematian Nabi Muhammad (yang dikenal dengan gelar “imam al mahdi) telah menjadi bagian dari keyakinan mayoritas umat Islam di dunia, termasuk dua kelompok besar Sunni dan Syiah. Meski demikian, konsepsi serta pemahaman kedua kelompok ini memiliki perbedaan yang cukup signifikan tentangnya. Hal ini karena hadis-hadis yang menjadi dasar hukum utama dari eksistensi imam al mahdi pun terbagi atas beberapa bagian. Di antaranya, secara garis besar adalah hadis-hadis yang bercerita tentang kaitan imam al mahdi dengan ahli bait Nabi Muhammad saw. dan hadis-hadis yang sebaliknya, yakni tidak berkaitan dengan ahli bait nabi atau kelompok manapun di dalam Islam. Lainnya adalah hadis-hadis yang bercerita mengenai hubungan imam al mahdi dengan turunnya Nabi Isa al Masih yang dipercaya sebagai salah satu tanda akhir zaman menjelang. Adapun salah satu hadis yang berbicara mengenai keterkaitan imam al mahdi dengan ahli bait Nabi Muhammad saw. adalah: Dari „Awf ibn Malik, Nabi saw. bersabda, “Akan datang fitnah yang gelap gulita, diikuti oleh fitnah-fitnah yang satu terhadap yang lain, sehingga keluarlah seorang laki-laki dari ahli baitku yang disebut al-mahdi. Maka, apabila kamu menjumpainya ikutilah dia, dan jadilah kamu tergolong orang-orang yang mendapat petunjuk.” (HR Thabrrani)

Selain hadis yang melukiskan keniscayaan imam al mahdi itu berasal dari keturunan Nabi Muhammad secara umum, ada pula hadis serupa tetapi langsung memberikan ciri-ciri karakteristik dari imam al mahdi tersebut secara lebih detail, mulai dari namanya, nama ayahnya, bentuk fisik tubuhnya, dan lain sebagainya. Salah satu hadis tersebut adalah:

Dari Abdullah yang langsung bersumber dari Nabi saw. terdapat riwayat. Beliau bersabda, “Seandainya tidak tersisa dari (usia) dunia ini kecuali hanya sehari, niscaya Allah akan memanjangkan hari itu hingga Dia membangkitkan seseorang dariku (dari ahli baitku) yang namanya sama dengan namaku dan nama ayahnya sama dengan

nama ayahku. Ia akan menghiasi bumi ini dengan keadilan sebagaimana ia telah dijejali oleh kezaliman dan kelaliman.” (HR Abu Dawud dengan sanad dari Zaydah, dari „Ashim, dari Zurr, dari Abdullah)

Di sisi lain, terdapat hadis yang bercerita mengenai hubungan imam al mahdi dengan Nabi Isa al-Masih yang konon masih hidup sejak ribuan tahun lalu dan akan turun bersamaan dengan kehadirannya menjelang akhir zaman. Salah satu hadis itu adalah:

Tidaklah bertambah urusan melainkan semakin sulit. Dunia semakin rusak. Manusia semakin bakhil; kiamat tidak akan terjadi kecuali atas manusia yang paling jelek. Tidak ada al mahdi kecuali Isa ibn Maryam. (HR Ibn Majah, al-Hakim)

Imam al mahdi berasal dari kata imam dan al mahdi. Arti dari istilah imam berarti pemimpin, panutan, ketua atau leader. Sementara al mahdi lebih kurang artinya adalah petunjuk atau orang yang mendapatkan petunjuk sehingga istilah “imam al mahdi” secara ringkas bisa berarti pemimpin yang mendapat petunjuk dari Allah. Siapa pun yang mendapat petunjuk Allah harus pula berlaku sebagai seorang pemimpin dari suatu kaum, umat atau bangsa. Sifat dari imam al mahdi itu sendiri adalah berperan sebagai orang yang akan menegakkan keadilan dan berperang menghadapi para pendusta agama. Hal tersebut hanya bisa diwujudkan apabila individu yang bersangkutan memiliki pengaruh serta kekuasaan yang ditopang oleh kekuatan dan kepatuhan kepada Tuhan. Banyak kritikan sanad pada hadis yang bercerita mengenai imam al mahdi. Terlepas dari sisi kritik sanad yang disampaikan, ide penyebutan nama seseorang yang kelak datang pada suatu masa semacam ini pada hakikatnya beranjak dari contoh yang ada di dalam kitab suci Alquran. Yakni, satu ayat dalam Surah al-Shaff yang menceritakan ramalan dari Nabi Isa al-Masih tentang kehadiran mesiah berikutnya yang bernama Ahmad. Benarkah kata “Ahmad” di sana merujuk pada nama individu tertentu (yaitu nama diri) ataukah merupakan bentuk sifat dari individu tersebut. Dari penulusuran ayat-ayat di dalam kitab suci Alquran, diperoleh sedikitnya empat kali Allah menyebutkan langsung identitas Rasulullah saw. dengan nama “Muhammad”. Ayat-ayat itu antara lain Surah Al „Imran [3]: 144, kemuadian Surah al-Ahzab [33]: 40, selanjutnya ada pada Surah Muhammad [47]: 2, lalu yang terakhir ada pada Surah al-Fath [48]: 29. Selain keempat ayat Alquran tersebut, Allah menggunakan istilah “Ya ayyuha al-rasulu” yang artinya “Wahai rasul” atau juga menggunakan istilah “al-nabi” untuk merujuk kepada pribadi Rasulullah Muhammad saw.

Fakta bahwa istilah “Ahmad” hanya satu kali disinggung oleh Alquran dalam Surah al-Shaff [61]: 6 yang juga merupakan nubuat dari Nabi Isa al-Masih kepada umatnya, Bani Israel, adalah sesuatu yang tidak bisa diingkari. Mengapa nama “Ahmad” tersebut tidak disebut-sebut kembali bila memang itu dirujukkan sebagai nama pribadi lain atau “nama alias” (laqab) dari Muhammad? Imam Bukhari meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya dari Zubayr ibn Mut‟im, dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, „Aku memiliki beberapa nama. Aku adalah Muhammad dan Ahmad. Aku adalah al-Mahi karena akulah maka Allah menghancurkan kekufuran. Aku adalah al-Hashir yang akan dibangkitkan terlebih dahulu sebelum orangorang lainnya. Aku juga adalah al-Aqih, yaitu yang tidak ada nabi lagi sesudahku.” (Hadis ini diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dari al-Zuhri dari Zubayr) Riwayat di atas memberikan data kepada kita bahwa baginda Rasul sedang membicarakan eksistensi sifat dirinya yang diwakili oleh nama-nama tertentu. Ini bisa kita lihat dengan paralelisasi nama al-Mahi, al-Hashir serta al-Aqib yang sebelumnya didahului oleh nama Muhammad serta Ahmad. Kedua nama terakhir ini beranjak dari akar yang sama, yaitu (ha, mim, dal), dan kedua nama ini bermakna “yang terpuji”. Istilah “Ahmad” merupakan af’al tafdhil (superlatif) dari istilah “hamidah”, yang menunjukkan bahwa pujian yang dipersembahkannya atau telah dilakukannya kepada Tuhan, lebih utama dari pujian orang-orang terhadap dirinya. Dengan kata lain, istilah “Ahmad” berarti “orang yang paling banyak memuji (aktsaru hamdan lillahi)”. Sementara nama “Muhammad” menunjukkan sifat kebesarannya, kemenangan dan kemuliaan, yakni yang lazim disebut sifat jalali. Sedangkan nama “Ahmad” lebih menunjukkan sifat keindahan, keelokan dan kehalusan budi atau jamali. Adapun hadis yang menjadi pegangan bila hadis-hadis yang bercerita mengenai imam al mahdi lainnya batal sesuai kritik sanad adalah: Dari Ali, dan ia memandang putranya Hasan, ia berkata, “Sungguh anakku adalah seorang sayyid, sebagaimana Nabi saw. menamakannya. Akan lahir seorang laki-laki dari tulang sulbinya yang diberi nama dengan nama nabi kalian yang menyerupai sifatnya, tetapi tidak serupa kejadiannya, kemudian menyebutkan sebuah kisah (al Mahdi) akan memenuhi bumi dengan keadilan. (HR Abu Dawud) Dari Abdullah ibn Mas‟ud, ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah dunia akan lenyap sehingga negeri Arab dikuasai oleh seorang laki-laki dari ahli baitku yang namanya sama dengan namaku.” (HR Ahmad, Abu Dawud)

Konsekuensi logis dari hadis-hadis di atas dan yang serupa dengannya, kita memperoleh kesimpulan bahwa nama imam mahdi yang akan datang harus sesuai dengan nama sifat dari Muhammad, yaitu Ahmad. Di sini tidak ada standar lagi apakah “Ahmad” itu merupakan putra dari Abdullah ataukah putra dari Tuan X yang tidak bernama Abdullah. Sama seperti nubuat Nabi Isa sebelumnya tentang kehadiran Muhammad melalui penyebutan nama sifat beliau saw. oleh karena itu, bisa jadi akan datang seorang pemimpin besar umat Islam dengan nama yang memiliki kata Ahmad secara sebagian namanya ataupun keseluruhannya.

B. Hubungan Dajjal, Imam Mahdi dan Isa al-Masih Salah satu fungsi dari kehadiran imam mahdi menjelang akhir zaman adalah untuk memerangi huru-hara yang dilakukan oleh Dajjal. Arti dari istilah “Dajjal” sendiri, secara etimologis, adalah “al-khalath” yang bermakna “mencampur, mengacau atau membuat bingung”. Hal ituu berarti bahwa ia memiliki sifat yang suka mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan, sehingga masyarakat menjadi bingung dalam mencari kebenaran yang sebenarnya. Ia mampu memanipulasi data sedemikian rupa sehingga hitam bisa menjadi putih dan putih dapat menjadi hitam. Oleh sebab itu, ada pula yang memaknai kata “Dajjal itu” diambil dari kata “al-dajl” yang berarti “al-tamwith”, yaitu pembohong atau pendusta. Bentuk jamak dari kata “Dajjal” ini adalah “Dajjalun”. Nabi Muhammad saw. pernah bersabda bahwa Dajjal itu ada pada setiap masa manusia. Dajjal merupakan salah satu bentuk sifat manusia yang selalu memperturutkan nafsunya dalam hidup ini. Seperti yang kita ketahui bersama, manusia ini tercipta dengan dua potensi dasar: fujuraha dan taqwaha. Potensi durja dan potensi takwa. Berbagai tafsir berkembang atas masalah Dajjal ini. Mulai dari yang

mempersonifikasikannya sebagai wujud seorang manusia dengan kekuatan atau kesaktian yang luar biasa, wujud setan dengan tampang garang dan berperawakan menyeramkan sampai kepada bentuk-bentuk metafora seperti lambang dari sebuah keangkaramurkaan yang berwujud negara adikuasa. Mereka yang memberi penafsiran dalam bentuk manusia mendasarkan pendapatnya pada sejumlah riwayat yang dinisbahkan kepada Rasul, yaitu:

Tiada seorang pun nabi yang diutus Allah, melainkan nabi tersebut akan menakutnakuti umatnya perkara Dajjal. Dajjal akan keluar kepada kamu semua, kemudian tidak samar-samar lagi bagimu semua akan hal-ihwalnya dan tidak samar-samar untukmu semua, bahwa Tuhanmu itu tidak bermata sebelah yang tidak dapat digunakan sebelah kanannya, seolah-olah matanya itu menonjol ke muka. (HR Bukhari dam Muslim)

Dajjal adalah seorang laki-laki yang gemuk, berkulit merah, dan berambut keriting ...” (HR Bukhari dan Muslim)

Jadi, menurut sejumlah riwayat serta hadis-hadis yang bercerita mengenai Dajjal, Dajjal adalah manusia biasa. Ia pandai bermain sihir dan mampu memanipulasi pandangan lahiriah manusia akan haq dengan bathil. Ia pandai berbicara sehingga banyak orang terhasut dan percaya kepadanya, dakwa-dakwanya, dan lain sebagainya. Pada pihak ini menyifati Dajjal sebagai individu tertentu beberapa tahun terakhir ini seolah mendapatkan pembenaran pemahamannya pada sosok dari India yang bernama Bhagavan Sri Sathya Saibaba alias Satyanarayana Raju. Beberapa fisik Dajjal di dalam hadis Nabi (seolah secara kebetulan) ada pada diri Saibaba seperti berpostur tubuh pendek, gembal, berambut kribo, berkaki bengkok (agak pengkor), mata buta sebelah (tadinya buta, tapi kemudian berhasil sembuh), mandul, lahir dari daerah yang bernama Khurasan di India Selatan, dan mampu melakukan banyak hal yang ajaib. Saibaba juga disebut-sebut mengaku sebagai imam mahdi, Yesus Kristus, dan bahkan Tuhan semesta alam. Tetapi, konsepsi tersebut pada hakikatnya menurut kelompok yang menafsirkannya secara metafora hanyalah simbol-simbol keberadaan suatu bangsa yang mampu menguasai dunia dengan semua ilmu dan teknologinya. Bangsa ini kelak akan menipu banyak orang terperangkap dalam jeratan politik praktisnya yang licik, menggantungkan sendi-sendi perekonomian, militer, serta budaya kepadanya. pihak ini mencontohkan bangsa tersebut tidak lain dari negara adikuasa bernama Amerika Serikat. Amerika tergolong negara yang baru lahir atau perusia pendek. Namun, kegigihannya dalam menguasai banyak hal mengubah Amerika menjadi bangsa besar atau gemuk serta memiliki kekuatan di berbagai bidang (ekonomi, teknologi, militer, dan politik). Amerika adalah bangsa dengan mayoritas penduduk berkulit putih, bertipikal jahat, serta cabul. Kekerasan dimana-mana, pembunuhan, seks bebas, pelacuran sudah bukan barang asing di masyarakatnya. Nafsu Amerika untuk menguasai dunia ibarat napas memburu yang keluar dari hidung. Imam mahdi adalah orang yang tepat untuk mengatasi semua kekacauan tersebut. Dia datang dengan sebuah negara berbasis Islam berdarah ahli bait, memiliki kekuatan serta semangat tempur yang didukung oleh prajurit-prajurit muslim yang siap gugur menjadi martir (syuhada). Angkatan perangnya gabungan dari berbagai kelompok Islam serta bangsa-bangsa lain yang sudah muak dengan dominasi Dajjal di pentas dunia. Di tangan panji-panji Tuhan akan ditegakkan, serangannya tidak hanya menggunakan kavaleri berkuda atau taktik gerilya, tetapi juga melibatkan nuklir, bom atom, persenjataan modern, peluru kendali serta pesawat-

pesawat siluman yang mampu menembus pertahanan Dajjal. Kekuatan imannya kepada Islam akan mengalahkan semua Dajjal kecil yang menjadi pembantu negara Dajjal besar tersebut. Semua akan dihancurkan sampai ke akar-akarnya. Itu akan terjadi, sampai-sampai konon batu pun seolah mampu berbicara akibat kehebatan pemindaian/deteksi peralatan tempur imam mahdi yang bisa melihat lokasi persembunyian Dajjal. Ketika buku ini ditulis, penulis menunjuk salah satu sosok imam mahdi pada saat ini, yaitu Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejad. Kesederhanaannya, kecerdasannya, serta keberaniannya membuat karismanya di pentas internasional sedikit banyak memenuhi kriteria kemahdian. Beliau adalah pemimpin sebuah bangsa yang dikenal dengan kefanatikkannya terhadap ahli bait Nabi Muhammad. Namanya pun memiliki unsur sifat dari Muhammad, yaitu Ahmad. Disaat menjabat sebagai pemimpin, Republik Islam Iran berhasil menjadi suatu negara yang disegani banyak pihak termasuk Amerika Serikat. Beberapa kali Iran membuktikan bila mereka telah berhasil menguasai ilmu dan teknologi modern. Tidak itu saja, Ahmadinejad secara berani menyebutkan Israel telah melakukan kebohongan atas peristiwa Holocaust. Ahmadinejad juga tanpa gentar memenuhi undangan sejumlah pihak di Amerika dan melakukan banyak manuver politik yang menentang Amerika secara terangterangan. Ini hanya dugaan kecil yang masih sangat subjektif dari penulis. Bisa benar bisa juga salah. Hanya Allah yang Maha Mengetahui kebenaran sejatinya. Namun, melihat konsepsi imam mahdi yang sudah dijabarkan sebelumnya, maka Ahmadinejad bisa diklasifikasikan ke dalam salah satu tanda-tanda mahdiyah atau mesianisme yang ada untuk zaman sekarang. Pemberitaan mengenai kehadiran imam mahdi dan Dajjal menjelang akhir zaman hampir selalu dikaitkan dengan isu turunan Nabi Isa al-Masih putra Maryam dari langit guna membantu perjuangan imam mahdi menghadapi sang Dajjal. Cukup banyak hadis yang disandarkan kepada Nabi Muhammad perihal tersebut. Sebagian ulama menyebutkan sebagai hadis Ahad, sementara lainnya justru menyebutnya sebagai sahih yang mutawir (kolektif). Seperti yang diyakini bersama, ide turunnya Nabi Isa al-Masih menjelang akhir zaman pada awalnya berpangkal pada ide yang ada dalam teologi kristian. Ini berkaitan erat dengan cerita atau pemahaman seputar Anti-Kristus yang akan datang sebelumnya. Penafsiran bahwa Yesus naik ke langit dan akan turun kembali dari langit bersumber pada sejumlah ayat dari Al kitab di Perjanjian Baru. Kenaikan Yesus tersebut terjadi setelah beliau diceritakan selamat dari peristiwa penyaliban yang dikenakan pada dirinya dan kembali ke tengah komunitas para murid serta keluarga besar lainnya di Yerusalem. Kaitan antara kedatangan Nabi Isa yang disebut memberitahukan pengetahuan tentang kiamat adalah tertuju pata peringatannya kepada Bani Israel tentang hakikat hidup di dunia ini

yang hanya sementara. Ada hari esok yang menanti pertanggungjawaban semua perbuatan semasa hidup. Ini misi yang diemban oleh setiap nabi dan rasul, termasuk risalah Muhammad saw. Bisa pula sabda tersebut berkolerasi dengan nubuat Nabi Isa tentang kehadiran nabi Muhammad selaku nabi akhir zaman seperti yang tertuang dalam Surah al-Shaf [61]: 6. Artinya, konteks ayat yang menyebutkan bahwa Nabi Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat atau hari akhir adalah memberitajan eksistensi rasul yang akan datang sesudah beliau menjelang akhir zaman. Dengan demikian, tidaklah tepat bila sampai dinyatakan kitab suci Alquran mendukung konsepsi kenaikan Nabi Isa secara fisik ke langit dan akan turun kembali dari kenaikannya itu. Kalaupun ada yang mengatakan seperti itu, tentu hal tersebut hanyalah penafsiran sepihak dari sang musafir. Ide-ide kenaikan Nabi Isa seperti itu, mungkin (sebagaimana klaim dari sebagian ulama) adalah pengaruh yang datang dari orang-orang kristiani yang pindah ke agama Islam dan melakukan kolerasi tafsir antara Alquran dan kitab mereka sebelumnya (Perjanjian Baru). Beberapa penemuan arkeologis terkini seputar sejumlah situs purbakala yang mengarah pada makam Nabi Isa al-Masih harusnya menjadi pemikiran positif bagi umat Islam tentang kisah sebenarnya dari akhir kehidupan nabi penutup bangsa Israel yang lahir secara parthenogenesis tersebut. Terutama, dengan adanya pembenaran ayat-ayat Alquran yang bercerita mengenai wafatnya beliau sekarang ini. Situs-situs arkeologis itu bisa disebut diantaranya adalah situs Qumran (sebelah barat Laut Mati, Palestina), Srinagar (India), Shingo (Jepang), dan terakhir adalah Talpiot di Yerusalem. Perdebatan panjang seputar lokasi pasti kuburan Nabi Isa dan Maryam sang ibunda maupun para keluarga beliau yang lain cukup menarik, tetapi di dalam Islam sendiri bukan isu yang terlalu penting untuk dibahas. Umat Islam tidak menganggap kuburan-kuburan seperti itu sebagai sesuatu yang perlu dikeramatkan atau disucikan. Islam adalah agama yang menjujnjung tinggi kebersihan akidah dari penyakit syirik atau penyekutuan terselubung terhadap Allah. Sehingga, kalaupun situssitus arkeologis tersebut benar-benar marupakan makam Nabi Isa al-Masih itu tidak akan mengubah syariat apa pun di dalam teologi Islam. Meski demikian, kita tetap akan menghormati orang-orang Islam yang masih berpandangan terhadap kehadiran Nabi Isa menjelang akhir zaman dalam wujud sebenarnya. Fakhr al-Din al-Razi (wafat tahun 606H/1210M) dari generasi salaf, salah seorang salaf teologi muslim (mutakallim) yang dikenal cerdas dan memiliki pengetahuan luas dalam filosofi serta teguh dalam memegang syariat Islam, pernah mengatakan bahwa timbulnya beragam penafsiran sehubungan dengan masalah Nabi Isa ini haruslah disesuaikan dengan kenyataan sejarah yang sesungguhnya (al-tawattur). Apabila orang mau berlaku jujur

terhadap sejarah, tentu mereka menyesuaikan hadis itu dengan sejarah, baik dalam garis besar maupun dalam perinciannya, tanpa mengecualikan sumber lain yang tidak cocok dengan yang ada dalam Alquran.

C. Ramalan Jaber Bolushi “Meramal” artinya melakukan suatu prediksi atau dugaan terhadap sesuatu. Dalam dunia ilmiah, istilah ini lebih populer disebut sebagai hipotesis. Sebagai sebuah hipotesis, tentu saja hasil kebenaran akhir tidak bisa dipastikan sampai pada batas maksimal. Ia tetap memiliki nilai yang bisa benar dan bisa juga salah. Rasio perbandingannya sendiri bergantung pada akurasi data-data yang diolah sebelum dikembangkan lebih jauh. Menjadi satu keprihatinan bagi kita melihat kenyataan yang berlaku terhadap klaim beberapa orang atas hipotesis-hipotesisnya. Mereka terjebak dalam memastikan hasil akhir dari prediksi menjadi sebuah kebenaran, yang pada hakikatnya hanya pembenaran. Bagaimanapun, sebagai makhluk kita tidak mungkin dapat mengetahui apa-apa yang akan terjadi pada diri kita sendiri. Apalagi pada skala yang lebih luas dari itu. Dalam dunia ilmiah, sebuah hipotesis harus didukung oleh data-data penunjang yang membuatnya sampai pada kesimpulan akhir. Lalu, seberapa akurat data-data penunjang yang disampaikan oleh Jaber Bolushi tersebut ditinjau dari kacamata Alquran, sunnah maupun ilmu pengetahuan modern? 1. Ramalan Kitab Daniel Sebagai awal dari uraian bukunya, Jaber Bolushi memuat ramalan Nabi Daniel yang terdapat dalam Kitab Perjanjian Lama. Tulisan Jaber tersebut ada pada halaman 20 sampai dengan halaman 23. Ramalan Daniel tersebut menyangkut mimpi raja Nebukadnezar pasal 2 ayat 26 sampai dengan 45. Jaber Bolushi memberi tafsir atas ramalan kitab Daniel bahwa batu yang terungkit lepas tanpa perbuatan tangan manusia dalam pasal 2 ayat 34 merupakan batu asteroid yang akan jatuh ke bumi pada 2019. Maksud dari kata “tanpa perbuatan tangan manusia” tidak lain adalah benda tersebut berasal dari Allah. Pernyataan Jaber Bolushi ini jelas tidak memiliki dasar argumentasi yang kuat. Dari sisi kajian Kristologi, batu yang terungkit lepas tanpa perbuatan tangan manusia itu merupakan bahasa metafora atau perumpamaan (tamtsil). Tamtsil dari eksistensi “batu yang terungkit lepas tanpa perbuatan tangan manusia” bukan berupa asteroid seperti dugaan Jaber Bolushi, melainkan hal itu kerajaan Tuhan yang tidak akan binasa selamanya serta tidak beralih lagi pada bangsa lain, kala kerajaan Tuhan itu akan meremukkan kerajaan-kerajaan lainnya. Inilah tamtsil yang sebenarnya. 2. Ramalan tentang Asteroid

Adapun asteroid yang dimaksud oleh Jaber Bolushi itu dikenal dengan nama “(89959) 2002 NT7. Nama lainnya adalah “Asteroid 2002 NT7” atau biasa disebut “NT7” saja. Pihak NASA sendiri secara terbuka dalam situsnya di internet menyatakan tentang Asteroid tersebut sebagai berikut: Asteroid 2002 NT7 saat ini berada pada daftar halaman resiko benturan kami (di NASA) karena adanya prediksi dalam skala kecil bahwa dia akan membentur bumi pada tanggal 1 Februari 2019. Karena prediksi ini merupakan kesimpulan secara ilmiah, kemungkinan benturan itu sendiri tidak akan cukup besar seperti yang dikhawatirkan banyak orang. Hal senada dikemukakan pula dalam Ensiklopedia bebas Wikipedia: Berdasarkan laporan yang diberikan kepada pers, benda itu memiliki kemungkinan tingkat benturan yang sangat kecil, dengan perbandingan satu berbanding satu juta. Pada 1 Agustus 2002, asteroid itu dibuang dari daftar berbahaya, setidaknya sampai seratus tahun dari sekarang. Menurut para ahli itu, kalkulasi baru menunjukkan bahwa karang monster tersebut akan melewati Bumi dengan aman. Tindakan Jaber Boluushi melalui beragam prediksinya yang ditulis dalam bukunya terbukti hanyalah sebuah pembenaran diri yang berangkat dari ketidakjujurannya. Dia tidak memaparkan semua hal yang terkait, tetapi hanya memberikan pernyataan-pernyataan yang dianggapnya mendukung apa yang dia pahami termasuk Korelasi Jaber Bolushi atas sejumlah kemungkinan benturan asteroid terhadap kemunculan Imam Mahdi pada 2015 lebih banyak subjektifnya ketimbang objektifnya. 3. Selisih Perhitungan Jarak Antarkota Jaber Bolushi juga menyinggung jarak kota Makkah ke Damaskus yang dinyatakannya sejauh 1.383 kilometer. Sebagai orang yang memiliki latar belakang pendidikan ilmu komputer serta berkecimpung dalam dunia teknologi dan informasi, penulis berusaha menelusuri kebenaran dari pernyataan yang disampaikan oleh Jaber Bolushi tersebut melalui komputerisasi. Penulis sudah mencari dengan berbagai metode yang objektif melalui akses-akses terpercaya dan akurasinya bisa dipertanggungjawabkan mengenai kalkulasi tersebut, tetapi sayangnya tidak berhasil mendapatkan angka 1.383 tersebut. Dari situs “Geobyte Online” didapat jarak dari kota Makkah ke Damaskus sejauh 1.388 kilometer. Artinya, ada perbedaan lebih kurang 5 kilometer dengan jarak yang disampaikan oleh Jaber Bolushi. Sementara, pembuktian dari situs “Time and Date Online” yang dilengkapi oleh penunjuk peta dunia berdasar pencitraan satelit NASA

(http://visibleearth.nasa.gov/) serta satuan bujur setiap daerah menghasilkan data 1.381 kilometer jarak dari kota Makkah di Arab Saudi menuju ke Damaskus. Nilai ini pun berbeda sekitar 2 kilometer dari jarak yang dimuat oleh Jaber Bolushi. Tidak puas dengan hasil yang diberikan situs “Date and Time Online” maupun “Geobyte Online”, maka penulis mengunduh aplikasi “MapSource versi 6.13.6” yang tampaknya juga digunakan oleh Jaber Bolushi. Tapi

hasilnya pun sama, berbeda dengan yang disampaikan oleh Bolushi. Jarak Makkah-Damaskus adalah 1.384 kilometer dan bukan 1.383 kilometer. Akhirnya, setelah melalui sejumlah pembuktian yang akurat menyangkut jarak antarkota, memang tidak mendapatkan kebenaran dari data-data yang diajukan oleh Jaber Bolushi yang dijadikannya rujukan mengenai sejumlah klaimnya. Hal ini menjadikan data tersebut lebih bersifat subjektif atau pembenaran diri semata serta tidak dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Dengan kemungkinan lain dia sedang mencari popularitas saja. 4. Akurasi Sistem Penanggalan Selain bermain dengan manipulasi angka dalam jarak antarkota, Jaber Bolushi kerap bermain dengan angka-angka penanggalan tertentu yang dikaitkan kepada ayat-ayat Alquran. Angka-angka tersebut lalu dikait-kaitkan sedemikian rupa terhadap berbagai kejadian yang terdapat di dalam nash Alquran maupun sunnah. Beranjak dari sini, Jaber Bolushi memberikan kepastian secara meyakinkan mengenai peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Sebagai contoh adalah perhitungan Jaber Bolushi mengenai masa depan Irak yang diambil dari ayat ke-6 Surah al-Isra‟ [17] yang katanya berjumlah 67 karakter, lantas dinisbahkan pada tahun 1967. Angka 67 pada ayat tersebut disamakan olehnya dengan angka tahun 1967. Padahal, jika memang ayat tersebut menubuatkan tahun 1967, harusnya jumlah yang didapat memang 1967, bukan sekedar ujungnya saja yang tertera 67. Jelas, ini sebuah pemaksaan alias pembenaran sepihak dari jaber Bolushi untuk mengukuhkan pendapatnya. Lalu Jaber Bolushi mengaitkan tahun berdirinya Israel (1948) dengan jumlah ayat dari Surah al-Isra‟ [17]: 2 sampai ke-6 pada hitungan ke-55 (yaitu ayat dengan bunyi al-karrah/al-kurah alias giliran), sehingga diperoleh angka 2003 dan dinisbahkan sebagai tahun kehancuran Irak. Secara realistis, ramalan tersebut kurang tepat sasaran. Sebab, Irak baru bisa dikatakan hancur, dalam skala kecil, pada tahun 2006 manakala Saddam Husain (yaitu pemimpin utama Irak) dihukum gantung. Sementara tahun 2003 adalah awal invasi Amerika yang didukung Zionis untuk menundukan Irak dan bukan tahun kehancuran Irak itu sendiri. Bahkan, Irak tidak pula tepat disebut sudah hancur sekarang ini, sebab ia telah kembali menjadi satu negara dengan kepemimpinan yang berasal dari rakyatnya sendiri. Jaber Bolushi menghitung kalkulasi tanggal 1-1-1440 H dengan rumus yang tidak jelas (“pemampatan”, 1+1+0+4+4+1 sehingga didapat hasil 11) yang menurutnya adalah tanggal keruntuhan menara kembar WTC, yaitu tanggal 11 untuk tahun Masehi. Dari apa penulis ketahui selama belajar ilmu Matematika dan Alghorithma, kaidah pemampatan seperti itu tidaklah dikenal.

Jaber Bolushi juga melakukan penambahan angka dari tahun Hijriah, 1440, sehingga diperoleh nilai 1+4+4+0 menjadi angka 9 yang oleh Jaber dinisbahkan sebagai bulan 9 atau September, sehingga cocoklah menurutnya hitung-hitungan ini sebagai inisial 11/9. Tetapi yang heran, Jaber Bolushi justru bungkam seribu bahasa mengenai tahun terjadinya (yaitu tahun 2001). Mungkin semua kalkulasinya error untuk prediksi tersebut. Inti dari ini semua yang ingin penulis sampaikan adalah kalkulasi-kalkulasi “konyol” Jaber Bolushi yang mengambil ayat-ayat Alquran, lalu dicocokkan dengan penanggalan Masehi maupun Hijriah, tidaklah bisa dijadikan pegangan. Apalagi untuk penentuan penanggalan Hijriah sendiri, setiap bangsa atau umat Islam di dunia memiliki perselisihan satu dengan yang lain bergantung metode penerapannya, terbukti dari perbedaan pelaksanaan Idul Fitri maupun 10 Dzulhijjah sepanjang zaman. Sehingga, akurasi suatu peristiwa dalam ramalan Jaber Bolushi yang mengaitkan dengan penanggalan tertentu dalam hitungan Hijriah adalah lemah.

D. Jawaban untuk Sang Peramal Sifat ingin mengetahui sesuatu yang akan terjadi di masa depan merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Hal tersebut merupakan kondisi merata di seluruh kalangan dan lapisan masyarakat, mulai dari yang awam sampai cendekiawan. Motifnya bisa jadi berbeda antara satu orang dengan orang lainnya. Dalam ilmu matematika dikenal kaidah probabilitas. Yaitu, nilai kemungkinan terjadinya suatu kejadian. Nilainya di antara 0 dan 1. Kejadian yang mempunyai nilai probabilitas 1 adalah kejadian yang pasti terjadi. Sedangkan suatu kejadian yang mempunyai nilai probabilitas 0 adalah kejadian yang mustahil atau tidak mungkin terjadi. Pada kasuskasus ramalan para nabi yang merupakan manusia-manusia yang disucikan dan mendapat bimbingan wahyu dari Allah, maka probabilitas yang ada pada mereka memiliki nilai 1. Sehingga, apa-apa yang telah mereka nubuatkan pasti akan terjadi, baik dalam jangka waktu yang singkat maupun lama. Karena itulah Nabi memperingatkan umatnya, “Barang siapa mendatangi peramal dan membenarkan apa yang dikatakannya, sungguh ia telah ingkar (kufur) dengan apa yang dibawa Muhammad.” “Barang siapa mendatangi peramal dan menanyakan sesuatu lalu membenarkannya, maka tidak diterima salatnya 40 malam.” Orang-orang seperti Jaber Bolushi atau Rashad Khalifah telah memilih untuk menggunakan pengetahuan empiris sebagai jembatan popularitas mereka. Pengetahuan empiris ini bersentuhan langsung dengan organ-organ indrawi setiap orang, sehingga efek yang dihasilkan akan menjadi sangat luar biasa. Ruang gerak pengetahuan mereka ini meliputi

ilmu logika, ilmu filsafat, ilmu matematika, dan ilmu agama yang etrkesan sangat ilmiah. Mereka memanfaatkan konsepsi-konsepsi agama yang mudah diserap oleh akal pikiran melalui dunia empiris, sehingga akhirnya akan menerima begitu saja akibat pameo yang dihadirkan. Bagaimanapun, sejumlah analisis yang sudah dilakukan dalam buku ini memberikan bukti-bukti ketidakakuratan data yang disampaikan oleh Jaber Bolushi. Ia cenderung memanipulasi angka dan informasi, dari ramalan yang ada dalam Kitab Daniel, jatuhnya asteroid, turunnya Nabi Isa al-Masih, masih hidupnya Khidr, konsepsi al-taqlidi dan alshaghir sampai pada jarak antarkota di dunia. Jaber Bolushi menulis tentang ramalan yang didapatnya melalui sejumlah periwayatan bahwa pada tahun 2015 nanti akan ada seruan malaikat jibril dari langit yang menyebut nama imam mahdi dan bapaknya yang terdengar dari timur sampai ke barat dalam semua bahasa. Riwayat tersebut tidaklah dapat diterima dari sisi ‘aql maupun naql. Karena, riwayat itu mengindikasikan betapa tingginya derajat sang imam mahdi, sehingga kedatangannya begitu fantastis dan menggemparkan dunia melalui kejadian adikodrati tertentu, sementara untuk kedatangan sang khatam al-nabiyyin yang namanya disandingkan dengan nama Allah Azza Wajalla sendiri, yaitu Muhammad ibn Abdullah tidak begitu fantastis seperti itu. Padahal, Nabi Muhammad adalah orang yang paling pantas dan paling rasional untuk disambut secara luar biasa kedatangannya. Eksistensi imam mahdi, melalui pemaparan yang panjang lebar memang tidak bisa dimungkiri. Akan tetapi, apa dan bagaimana perwujudan dari imam mahdi itu sendiri, mungkin inilah yang menebar polemik tidak berkesudahan di sepanjang zaman. Yang jelas bahwa imam mahdi berasal dari benih Rasulullah saw., memiliki kekuatan dalam hal pasukan, teknologi, kekuasaan, dan dukungan dari seluruh umat Islam. Lebih tegasnya untuk mengalahkan Dajjal-Dajjal yang telah merongrong dunia dengan isme-isme taghut (tiranik).

E. Kesimpulan Isu kedatangan imam mahdi dan tanda-tanda akhir zaman memang menjadi isu yang memukau banyak pihak. Terutama pihak-pihak yang merasa prihatin dengan keadaan dunia yang dipenuhi kezaliman dan kemunafikan. Harapan-harapan yang dibangun atas nama pencerahan dan kedamaian telah membangkitkan angan-angan melalui berbagai ramalan yang tidak jarang patah di tengah jalan; tergilas oleh kenyataan yang berkata lain. Gagasan peramalan datangnya ratu adil atau satria piningit yang menjadi juru selamat manusia dengan menggunakan teks-teks keagamaan bukan hanya dominasi dari umat Islam. Kita hanya

mewariskan secara “serampangan” dari tradisi umat-umat lain yang mengalami penindasanpenindasan dalam sejarah panjang mereka. Sebagai umat yang memiliki dasar iman yang kokoh dan terbuka atas semua pemikiran, klaim-klaim seperti ini harusnya dibawa ke medan epistemologi. Yaitu, suatu disiplin ilmu yang menganalisis dan mengevaluasi berbagai pengetahuan dan metode penalaran manusia dalam memperoleh dasar pengetahuan. Sehingga, diharapkan lahirlah kesimpulan-kesimpulan analitis yang kritis, objektif, serta rasional. Sudah lumrah bahwa umumnya kita sering bertindak terlalu apatis terhadap kebenaran yang diungkapkan oleh orang lain, terlebih jika orang tersebut memiliki cara pandang yang berseberangan dengan apa yang kita yakini kebenarannya. Padahal, belum tentu semua yang ada dalam pemikiran orang tersebut salah dan sebaliknya, belum tentu juga setiap pikir dan tindakan kita bernilai benar. Bisa saja, kita bersikap konsisten terhadap nilai-nilai yang kita anut sehingga kita menyebutnya sebagai sebuah kebenaran. Namun, bukan tidak mungkin konsistensi kita hanya sebuah ilusi ketika pikiran kita sesungguhnya berjalan sesuai pola logika yang bisa bergeser dan menyimpang. Artinya, pikiran ataupun asumsi kita memang tidak menyimpang jika kita bandingkan dengan standar kita sendiri. Padahal, standar kita dibentuk oleh pikiran kita. Jadi, pikiran kita faktanya ternyata tidak menyimpang dari pikiran kita sendiri. Di sini, kita bisa terjebak dalam cacat berpikir oleh diri kita sendiri. Seberapa jauh kebenaran ramalan Jaber Bolushi atau termasuk juga di dalamnya Bassam Nahad Jarrar dan Rashad Khalifah menjadi kenyataan? Biarlah perjalanan waktu yang kelak dengan izin Allah akan membuktikan kepada kita. Akankah kita ikut menjadi saksi tumbangnya kembali ramalan-ramalan pembenaran yang mengatasnamakan teks-teks agama atau bahkan melampaui rencana Tuhan sendiri? Wallahu a’lam bi al-shawab. Wallahu kharyr al-makirin. Sebaik-baik balasan dan tipu daya hanya datang dari Allah.

BAB III ANALISIS

1. Siapakah Imam Mahdi? Imam Mahdi adalah sebuah nama gelar sebagaimana halnya dengan gelar khalifah, amirul mukminin dan sebagainya. Imam Mahdi dapat diartikan "Pemimpin yang telah diberi petunjuk". Dalam bahasa Arab, kata Imam berarti "pemimpin", sedangkan Mahdi berarti "orang yang mendapat petunjuk". Telah bersabda Rasulullah saw., “Sungguh, bumi ini akan dipenuhi oleh kezhaliman dan kesemena-menaan. Dan apabila kezhaliman serta kesemena-menaan itu telah penuh, maka Allah SWT akan mengutus seorang laki-laki yang berasal dari umatku, namanya seperti namaku, dan nama bapaknya seperti nama bapakku. Maka ia akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kemakmuran, sebagaimana ia (bumi) telah dipenuhi sebelum itu oleh kezhaliman dan kesemena-menaan. Di waktu itu langit tidak akan menahan setetes pun dari tetesan airnya, dan bumi pun tidak akan menahan sedikit pun dari tanaman-tanamannya. Maka ia akan hidup bersama kamu selama 7 tahun, atau 8 tahun, atau 9 tahun.” (HR. Thabrani)

Telah bersabda Rasulullah saw., "Pada akhir zaman akan muncul seorang khalifah yang berasal dari umatku, yang akan melimpahkan harta kekayaan selimpahlimpahnya. Dan ia sama sekali tidak akan menghitung-hitungnya.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Tidak ada seorang pun dimuka bumi ini yang mengetahui tentang Imam Mahdi dan ciri-cirinya , kecuali Rasulullah, karena Rasululah dibimbing oleh wahyu. Oleh karena itu bagi kita sebaik-baiknya tempat untuk merujuk tentang perkara ini adalah apa yang baginda Rasulullah katakan dalam hadist-hadistnya sebagai berikut: Telah bersabda Rasulullah saw., “Al-Mahdi berasal dari umatku, berkening lebar, berhidung panjang dan mancung. Ia akan memenuhi bumi ini dengan keadilan dan kemakmuran, sebagaimana ia (bumi ini) sebelum itu dipenuhi oleh kezhaliman dan kesemena-menaan, dan ia (umur kekhalifahan) berumur tujuh tahun.” (HR. Abu Dawud dan al-Hakim)

Telah bersabda Rasulullah saw., “Al-Mahdi berasal dari umatku, dari keturunan anak cucuku.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan al-Hakim)

Kemunculan Imam Mahdi bukan karena kemauan Imam Mahdi itu sendiri melainkan karena takdir Allah yang pasti berlaku. Bahkan Imam Mahdi sendiri tidak menyadari bahwa dirinya adalah Imam Mahdi melainkan setelah Allah SWT mengislahkannya dalam suatu malam, seperti yang dikatakan dalam sebuah hadist berikut: “Al-Mahdi berasal dari umatku, yang akan diislahkan oleh Allah dalam satu malam.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Kemunculan Imam Mahdi akan di dahului oleh beberapa tanda-tanda sebagaimana yang disebutkan dalam beberapa hadist berikut: Aisyah Ummul Mukminin RA telah berkata: “Pada suatu hari tubuh Rasulullah SAW bergetar dalam tidurnya. Lalu kami bertanya, 'Mengapa engkau melakukan sesuatu yang belum pernah engkau lakukan wahai Rasulullah?' Rasulullah SAW menjawab, 'Akan terjadi suatu keanehan, yaitu bahwa sekelompok orang dari umatku akan berangkat menuju baitullah (Ka'bah) untuk memburu seorang laki-laki Quraisy yang pergi mengungsi ke Ka'bah. Sehingga apabila orang-orang tersebut telah sampai ke padang pasir, maka mereka ditelan bumi.' Kemudian kami bertanya, 'Bukankah di jalan padang pasir itu terdapat bermacam-macam orang?' Beliau menjawab, 'Benar, di antara mereka yang ditelan bumi tersebut ada yang sengaja pergi untuk berperang, dan ada pula yang dipaksa untuk berperang, serta ada pula orang yang sedang berada dalam suatu perjalanan, akan tetapi mereka binasa dalam satu waktu dan tempat yang sama. Sedangkan mereka berasal dari arah (niat) yang berbeda-beda. Kemudian Allah SWT akan membangkitkan mereka pada hari berbangkit, menurut niat mereka masing-masing.” (HR. Bukhary, Muslim) Telah bersabda Rasulullah saw., “Seorang laki-laki akan datang ke Baitullah (Ka'bah), maka diutuslah suatu utusan (oleh penguasa) untuk mengejarnya. Dan ketika mereka telah sampai di suatu gurun pasir, maka mereka terbenam ditelan bumi.” (HR. Muslim)

Telah bersabda Rasulullah saw., “Suatu kaum yang mempunyai jumlah dan kekuatan yang tidak berarti akan kembali ke Baitullah. Lalu diutuslah (oleh penguasa) sekelompok tentara untuk mengejar mereka, sehingga apabila mereka telah sampai pada suatu padang pasir, maka mereka ditelan bumi.” (HR. Muslim) Telah bersabda Rasulullah saw., “Sungguh, Baitullah ini akan diserang oleh suatu pasukan, sehingga apabila pasukan tersebut telah sampai pada sebuah padang pasir, maka bagian tengah pasukan itu ditelan bumi. Maka berteriaklah pasukan bagian depan kepada pasukan bagian belakang, dimana kemudian semua mereka ditenggelamkan bumi dan tidak ada yang tersisa, kecuali seseorang yang selamat, yang akan mengabarkan tentang kejadian yang menimpa mereka.” (HR. Muslim, Ahmad, Nasai, dan Ibnu Majah)

Dalam hadist yang disebutkan di atas Imam Mahdi akan memimpin selama 7 atau 8 atau 9 tahun. Semasa kepemimpinannya Imam Mahdi akan membawa kaum muslimin untuk memerangi kezaliman, hingga satu demi satu kedzaliman akan tumbang takluk dibawah kekuasaanya. Kemenangan demi kemenangan yang diraih Imam Mahdi dan pasukannya akan membuat murka raja kezaliman (Dajjal) sehingga membuat Dajjal keluar dari

persembunyiannya dan berusaha membunuh Imam Mahdi serta pengikutnya. Penulis menyimpulkan bahwa nama imam mahdi yang akan datang harus sesuai dengan nama sifat dari Muhammad, yaitu Ahmad. Di sini tidak ada standar lagi apakah “Ahmad” itu merupakan putra dari Abdullah ataukah putra dari Tuan X yang tidak bernama Abdullah. Sama seperti nubuat Nabi Isa sebelumnya tentang kehadiran Muhammad melalui penyebutan nama sifat beliau saw. oleh karena itu, bisa jadi akan datang seorang pemimpin besar umat Islam dengan nama yang memiliki kata Ahmad secara sebagian namanya ataupun keseluruhannya. Dari hadis di atas “maka Allah SWT akan mengutus seorang laki-laki yang berasal dari umatku, namanya seperti namaku, dan nama bapaknya seperti nama bapakku” memang butuh pemikiran yang matang untuk bisa memahami kalimat ini, apakah benar nama imam mahdi adalah “Muhammad” yang menunjukkan sifat kebesarannya, kemenangan dan kemuliaan, yakni yang lazim disebut sifat jalali ataukah “Ahmad” yang lebih menunjukkan sifat keindahan, keelokan dan kehalusan budi atau jamali. WALLAHU A'LAM. Manusia hanya bisa memahami, memperkirakan dan mengamalkan apa yang telah diberikan Allah swt dan Nabi Muhammad saw.

2. Hubungan Dajjal, Imam mahdi, dan Isa al-Masih; Di antara permasalahan ghaib yang sering menjadi kontroversi adalah masalah kemunculan Imam Mahdi dan Dajjal. Kontroversi bukan hanya karena perbedaan pandangan tentang apa dan siapa Imam Mahdi dan Dajjal, tetapi ditambah dengan munculnya orangorang yang menyatakan diri sebagai Mahdi. Mirzza ghulam Ahmad pendiri Ahmadiyah, dan Bahaullah, adalah contoh orang yang mendakwakan diri sebagai Al-Mahdi, yang kemudian menimbulkan kontroversi di kalangan umat Islam. Hal ini tidak hanya terjadi di kalangan Islam tetapi juga di berbagai kalangan agama atau kepercayaan lain. Di kalangan Kristiani terkenal dengan Mesiah-nya, sedang dalam kepercayaan Jawa ada keyakinan tentang Ratu Adil. Pertama kali harus dikatakan bahwa kepercayaan adanya Dajjal dan Imam Mahdi memang memiliki dasar yang kuat dalam hadis-hadis, baik Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, dll. Masalah Dajjal, turunnya Isa bin Maryam, dan Munculnya Al-Mahdi adalah berkaitan dengan tanda-tanda hari kiamat. Kapan terjadinya hari Akhir Rasulullah menyatakan beliau tidak tahu, tetapi beliau banyak memberi gambaran tentang tanda-tanda hari Akhir di antaranya adalah kemunculan Dajjal, turunnya Isa dan Al-Mahdi.

Hudhaifa B. Usaid Ghifari meriwayatkan, Rasulullah mengatakan hari Akhir tidak akan datang hingga muncul 10 tanda dam beliau menyebutkan : munculnya asap, Dajjal, makhluk buruk, terbitnya matahari dari barat, turunnya Isa bin Maryam as, Ya'juj Ma'juj, retakan tanah di tiga tempat, barat, timur dan di Arabia .... (sahih Muslim, kitab Al-Fitan)

Ad-Dajjāl (

) adalah seorang tokoh kafir yang jahat dalam Eskatologi Islam, ia

akan muncul menjelang Kiamat. Dajjal pembawa fitnah di akhir zaman, menurut Al-hadits, Nabi Muhammad SAW bersabda: “"Sejak Allah swt menciptakan Nabi Adam a.s. sampai ke hari kiamat nanti, tidak ada satu ujian pun yang lebih dahsyat daripada Dajjal." Dajjal tidak disebut dalam Al-Quran, tetapi terdapat dalam hadis dan Sunah yang menguraikan sifat-sifat Dajjal. Berdasarkan kepercayaan yang telah umum dalam kalangan muslim, karakteristik ad-Dajjal adalah sebagai berikut:

Dajjal memiliki cacat fisik berupa mata kiri yang buta, dan mata kanan yang dapat melihat tetapi berwarna gelap (hitam). Dalam beberapa hadis menjelaskan ia hanya memiliki sebuah mata. Ia akan menunggangi keledai putih yang satu langkahnya sama

dengan satu mil jaraknya. Keledai tersebut memakan api dan menghembus asap, dapat terbang di atas daratan dan menyeberangi lautan.

Dajjal seorang pemuda posturnya gemuk, kulitnya kemerah-merahan, berambut keriting, matanya sebelah kanan buta, dan matanya itu seperti buah anggur yang masak‟ (tak bersinar), serupa dengan Abdul Uzza bin Qathan (lelaki Quraisy dari Khuza‟ah yang hidup di zaman Jahiliyah).[2]

Dia akan menipu para umat muslim dengan mengajari mereka tentang surga, tapi ajaran tersebut adalah sebaliknya (Neraka).

Huruf Arab Kaf Faa Raa (kafir, bermakna kufur) akan muncul pada dahinya dan akan mudah dilihat oleh orang muslim yang bisa membaca maupun yang buta huruf.

   

Dia dapat melihat dan mendengar di banyak tempat pada waktu bersamaan. Dia mempunyai keahlian untuk menipu manusia. Dia akan coba meletakkan manusia pada tingkatan Tuhan. Dia akan menyatakan dirinya adalah Tuhan dan akan menipu manusia dalam berpikir. Ia mengatakan bahwa ia telah bangun dari kematian. Salah satu orang penting akan ia bunuh dan kemudian ia akan menghidupkannya. Sesudah itu Allah akan menghidupkan apa yang ia bunuh tersebut, setelah itu ia tidak memiliki kekuatan ini lagi. Berdasarkan sumber lain tentang akhirat yang ditulis Anwar al-Awlaki), seorang lelaki beriman akan datang dari Madinah terus ke Dajjal, berdiri pada atas Uhud, dan dengan beraninya mengatakan bahwa Dajjal adalah Dajjal. Kemudian ia akan bertanya, "Apakah kamu percaya bahwa aku adalah Tuhan jika aku membunuhmu dan kemudian menghidupkan kamu?" Lalu Dajjal membunuh lelaki beriman tersebut, setelah itu menghidupkannya kembali, namun lelaki itu akan berkata bahwa dia semakin tidak percaya bahwa Dajjal adalah Tuhan.

Siapa saja yang menolak dan tidak percaya dengannya, mereka akan menderita kemarau dan kelaparan. Siapa saja yang menerimanya akan hidup dalam kehidupan senang.

   

Sebagian besar ajaran Islam mempercayai bahwa ia muncul di Kota Isfahan Dia tidak bisa memasuki Makkah atau Madinah karena dijaga para malaikat. Imam Mahdi akan melawannya atas nama Islam. Dia akan dibunuh oleh Nabi Isa dekat pintu gerbang Lud yang merupakan wilayah Israel saat ini. Dari berbagai hadis yang bercerita tentang Dajjal, para penafsir membagi 3 kelompok

gambaran Dajjal. Dajjal sebagai wujud seorang manusia dengan kekuatan atau kesaktian yang

luar biasa, wujud setan dengan tampang garang dan berperawakan menyeramkan sampai kepada bentuk-bentuk metafora seperti lambang dari sebuah keangkaramurkaan yang berwujud negara adikuasa. Tahun terakhir ini sosok Saibaba selalu dikaitkan dengan Dajjal karena ciri-ciri yang dimilikinya sama dengan yang digambarkan pada hadis-hadis. Mungkin Saibaba adalah salah satu dari ribuan manusia yang diperkirakan seorang Dajjal. Lain halnya dengan Dajjal yang dimaksudkan dengan sebuah bentuk metafora seperti lambang yang berwujud negara. kelompok ini mencontohkan negara tersebut adalah Amerika Serikat. Amerika tergolong negara yang baru lahir atau perusia pendek. Namun, kegigihannya dalam menguasai banyak hal mengubah Amerika menjadi bangsa besar atau gemuk serta memiliki kekuatan di berbagai bidang (ekonomi, teknologi, militer, dan politik). Amerika adalah bangsa dengan mayoritas penduduk berkulit putih, bertipikal jahat, serta cabul. Kekerasan dimana-mana, pembunuhan, seks bebas, pelacuran sudah bukan barang asing di masyarakatnya. Nafsu Amerika untuk menguasai dunia ibarat napas memburu yang keluar dari hidung. Pada kelompok yang menggambarkan Dajjal berwujud setan, pemahaman ini mungkin lebih banyak mengadosi dari dunia Kristen yang meyakini kebangkitan Lucifer dari tidur panjangnya. Lucifer adalah nama dari malaikat yang jatuh pada dosa dan ingin menjadi tandingan Tuhan. Pemahaman ini juga umumnya tidak lepas dari simbolisme angka 666 sebagaimana yang diramalkan oleh kitab Wahyu, salah satu yang terdapat dalam Perjanjian Baru. Dari ketiga penafsiran di atas, kemungkinan ada benarnya dan juga ada salahnya. Selagi pemahaman dan pemikiran tersebut dari manusia hasilnya tidak tepat benar, selalu ada kemungkinan di dalamnya. Sebagai mahkluk yang sempurna, manusia diberi akal dan hati oleh sang Pencipta, boleh saja kita menafsirkan Dajjal yang akan datang pada hari kiamat seperti apa asalkan ada sandaran dari mana kita tahu Dajjal itu berwujud manusia, sebuah bentuk metafora yang diwujudkan negara atau bangsa bahkan berwujud iblis yang tampangnya menyeramkan. Namun, sebagai manusia yang beriman haruslah kita mempercayai adanya Dajjal, mau seperti apapun itu, Dajjal pasti akan datang di akhir zaman.

Berkaitan dengan Imam Mahdi dan Isa bin Masyam as, berbagai riwayat menunjukkan sebagai berikut : 1. Imam Mahdi tidaklah sama dengan Isa as. Imam Mahdi bukanlah Isa bin Maryam, tetapi orang lain. Imam Mahdi akan turun dari kalangan Ahlul Bait (keturunan Nabi). Hal ini berdasarkan berbagai hadis Abu Daud, Trimidzi, Ahmad, Al-Hakim, dll.

Rasulullah saw bersabda : "Meskipun waktu yang tersisa untuk dunia tinggal hanya sehari (sebelum Hari Pembalasan), Allah akan memperpanjang hari itu, untuk memberi seorang raja dari Ahlul Baitku yang akan dipanggil dengan namaku. Dan dia akan mengisi dunia dengan kedamaian dan keadilan setelah sebelumnya penuh dengan kedzaliman dan tirani. ( Abu Daud, Tirmidzi, Ahmad, hakim, dll)

Rasulullah saw bersabda:"Al-Mahdi adalah dari kita, anggota Ahlul-Bayt"(Sunan Ibn Majah) Rasulullah saw bersabda:"Al-Mahdi adalah dari keluargaku, keturunan Fatimah"(Abu Daud, Ibn Majah, Baihaki)

Rasulullah saw bersabda:"Kami Bani Abdul Mutalib adalah pemipin dari penghuni sorga, yaitu aku sendiri (Rasulullah), Hamzah, Ali, Ja'far, Hasan, Husein, dan AlMahdi" (Ibn Majah, Al-Hakim) 2. Nama Imam Mahdi adalah sama dengan Rasulullah saw. Rasulullah saw bersabda : "Dunia tidak akan hancur, hingga muncul seseorang di kalangan Arab yang namanya sama dengan namaku" (At-Tirmidzi) Sebagian riwayat menyatakan Al-Mahdi keturunan al-Hasan, sedang riwayat lain dari alHusein. 3. Imam Mahdi akan membawa kedamaian, keadilan dan sangat dermawan. Setelah sebelumnya terdapat berbagai kesulitan dan kedzaliman. Masa kepemimpinan Al-Mahdi antara 7 - 9 tahun. Sebagaimana hadis di atas, juga disebutkan di antaranya:

Dari Jabir Ibn Abdillah., Rasulullah saw berkata, "Akan datang di akhir waktu seorang khalifah yang akan membagi-bagikan banyak harta kepada orang-orang tanpa perhitungan" (Sahih Muslim).

Di Akhir masa, umatku akan mengalami masalah yang sangat berat yang belum pernah terjadi, sehingga manusid tidak dapat mencari jalan keluar. Kemudian Allah memunculkan seorang dari Ahl Baitku, yang akan mengisi dunia dengan keadilan setelah sebelumnya dipenuh kedzaliman. Penghuni bumi dan langit akan mencintainya. langit akan menurunkan air di manapun, dan bumi akan memberi apa yang diperlukan dan akan mencari hijau di mana pun (Al-Hakim, Al-Haitami) Rasulullah saw berkata,"Al-Mahdi akan muncul dalam umatku. Dia akan muncul selama sedikitnya 7 tahun dan paling banyak 9 tahun. Umatku akan mengalami

perasaan yang tidak dialami sebelumnya. Akan terjadi limpahan makanan, yang tidak perlu disimpan sama sekali, harta pada saat itu berlimpah, sehingga jika seorang manusia meminta Mahdi, dia akan berkata: "Ini, ambil" (Ibn Majah) 4. Isa bin Maryam akan muncul dan shalat bersama Al-Mahdi. Di beberapa riwayat, yang menjadi imam adalah Al-Mahdi.

Jabir Ibn Abdillah al-Ansari (RA) berkata: Aku mendengar rasulullah bersabda: "Suatu kelompok dari umatku akan berperang untuk kebenaran hingga mendekati Hari Perhitungan ketika Isa bin Maryam akan turun, dan pemimpin mereka akan meminta dia untuk mengimami shalat, tetapi Isa menolak dan berkata : "Tidak, sesungguhnya Allah telah menjadikan pemimpin untuk lainnya dan Dia memberikan rahmatnya kepada mereka." (Sahih Muslim, Ahmad, dll) Rasulullah bersabda: "Bagagimana keadaanmu jika Isa bin Maryam turun kepada kamu dan imammu adalah diantara kamu" (Sahih Bukhari) Ibn Hajar menyatakan : "Imam Mahdi adalah dari umat ini, dan Isa as turun dan shalat di belakangnya " (Fathul Bari, syarh Sahih Bukhari) 5. Isa bin Maryam akan membunuh Dajjal, dibantu oleh Imam Mahdi.

Ibn Hajar dalam Al-Sawaiq, mengutip Abu al-Husain al-Ajiri : Sunah Nabi telah diriwayatkan melalui banyak rantai yang melebihi derajat mutawatir bahwa dia (AlMahdi) adalah Ahlul Baitnya, akan mengisi dunia dengan kebaikan, dan Isa bin Maryam akan turun pada saat itu dan dia (Al-Mahdi) akan membantu Isa membunuh Dajal di Palestina dan dia (Al-Mahdi) akan memimpin dunia dan Isa akan shalat di belakangnya. Sehubungan dengan Al-Mahdi, Al-Sayid Sabiq, ulama Ikhwanul Muslimin dalam Al'Aqa'id al-Islamiyyah, menyatakan : " Gagasan mengenai Al-Mahdi adalah betul-betul valid, dan itu adalah salah satu keyakinan Islam yang harus dipercaya" Fatwa yang diberikan di Mekkah oleh Rabitatul 'Alamil Islami) on Oct. 11, 1976 (23 Shawwal 1396), menyatakan : Para hafidz (penghafal hadis) dan Ulama hadis telah memverifikasi bahwa terdapat hadis sahih dan hasan mengenai Al-Mahdi. Kebanyakan hadishadis ini melalui banyak rawi (mutawatir). Tidak diragukan bahwa kedudukan riwayat ini

adalah sahih dan mutawatir. ... Dan bahwa kepercayaan akan Al-Mahdi adalah salah satu kepercayaan Ahl Al-Sunah wal Jamaah. Hanya orang tidak tahu Sunah dan pembuat bid'ah yang menolaknya.

3. Ramalan Jaber Bolushi; Pada bahasan ini penulis sangat kontra dengan ramalan-ramalan yang dijabarkan oleh Jaber Bolushi pada bukunya yang berjudul 2015, Imam Mahdi Akan Datang, dari Ramalan Kitab Daniel hingga Akurasi Sistem Penanggalan. Penulis membantah bahwa batu yang terungkit lepas tanpa perbuatan tangan manusia dalam pasal 2 ayat 34 merupakan batu asteroid yang akan jatuh ke bumi pada 2019. Maksud dari kata “tanpa perbuatan tangan manusia” adalah benda tersebut berasal dari Allah. Menurutnya, pernyataan Jaber tersebut tidak memiliki dasar argumentasi yang kuat. Kemudian sebuah asteroid yang akan menumbuk bumi pada tahun 2019 yang bernama “Asteroid 2002 NT7”, selisih perhitungan jarak antarkota, Jaber Bolushi menyinggung jarak kota Makkah ke Damaskus yang dinyatakannya sejauh 1.383 kilometer, tetapi dari hasil perhitungan penulis melalui situs “Date and Time Online” maupun “Geobyte Online” serta aplikasi “MapSource versi 6.13.6”, tidak menunjukkan 1.383 kilometer. Terakhir adalah akurasi penanggalan, penulis terheran-heran dari mana Jaber Bolushi mendapatkan perhitungan semacam itu. Sebagai contoh adalah perhitungan Jaber Bolushi mengenai masa depan Irak yang diambil dari ayat ke-6 Surah al-Isra‟ [17] yang katanya berjumlah 67 karakter, lantas dinisbahkan pada tahun 1967, Lalu Jaber Bolushi mengaitkan tahun berdirinya Israel (1948) dengan jumlah ayat dari Surah al-Isra‟ [17]: 2 sampai ke-6 pada hitungan ke-55 (yaitu ayat dengan bunyi al-karrah/al-kurah alias giliran), sehingga diperoleh angka 2003 dan dinisbahkan sebagai tahun kehancuran Irak, Jaber Bolushi menghitung kalkulasi tanggal 1-1-1440 H dengan rumus yang tidak jelas (“pemampatan”, 1+1+0+4+4+1 sehingga didapat hasil 11) yang menurutnya adalah tanggal keruntuhan menara kembar WTC, yaitu tanggal 11 untuk tahun Masehi. Penulis cukup tanggap dalam memahami ramalan-ramalan Jaber yang menurutnya melenceng jauh dari kebenaran. Inilah keberanian penulis yang sudah memberikan tanggapannya yang sangat kontra. Di kala orang-orang sedang memusingkan urusan dunia, datanglah ramalan-ramalan yang membuat banyak orang percaya walaupun dengan argumentasi seadanya. Bukannya saya memihak penulis yang kontra terhadap pernyataan Jaber Bolushi, tetapi saya pun sependapat dengan penulis bahwa sebuah ramalan adalah dugaan pada sesuatu yang belum tentu kebenarannya. Jaber Bolushi meramalkan banyak hal dengan sandaran yang tidak kuat dan entah dari mana perhitungan-perhitungan yang ia

gunakan. Dalam ilmu matematika dikenal kaidah probabilitas. Yaitu, nilai kemungkinan terjadinya suatu kejadian. Nilainya di antara 0 dan 1. Kejadian yang mempunyai nilai probabilitas 1 adalah kejadian yang pasti terjadi. Sedangkan suatu kejadian yang mempunyai nilai probabilitas 0 adalah kejadian yang mustahil atau tidak mungkin terjadi. Pada kasuskasus ramalan para nabi yang merupakan manusia-manusia yang disucikan dan mendapat bimbingan wahyu dari Allah, maka probabilitas yang ada pada mereka memiliki nilai 1. Sehingga, apa-apa yang telah mereka nubuatkan pasti akan terjadi, baik dalam jangka waktu yang singkat maupun lama. Namun, kembali pada hakikat manusia yang hanya bisa memahami, memprediksi, dan mengamalkan apa yang telah Allah beri, Jaber pun tak salah dalam memberikan pernyataan-pernyataan tersebut. Hal yang terpenting adalah sevalid apakah pernyataan yang ditunjukkan Jaber kepada khalayak banyak dengan memberikan bukti-bukti yang kuat serta berita yang disampaikan Alquran dan As-sunnah. Manusia adalah makhluk sempurna tetapi tidak ada yang sesempurna dari yang menciptanya.

4. Jawaban untuk sang peramal. Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari akhir; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS Luqman [31] :34) Mereka menanyakan kepadamu tentang hari akhir : “Kapankah terjadinya ?”. Katakanlah:”Sesungguhnya pengetahuan tentang itu ada pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat bagi yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah:”Sesungguhnya pengetahuan tentang hari kiamat itu adalah di sisi Tuhan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS AL-A‟raaf [7] :187) Dan kepunyaan Allah-lah segala apa yang tersembunyi di langit dan di bumi. Tidak ada adalah kejadian kiamat itu, melainkan seperti sekejap mata atau lebih cepat (lagi). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS AN-Nahl [16]: 77) Adalah hal yang sah-sah saja apabila kita menduga-duga dan memprediksi apabagaimana-bilakah kiamat akan terjadi, namun seyogyanya semua asumsi-asumsi tersebut tidak dijadikan sebuah bentuk pemastian mengenainya apalagi untuk hal yang diatasnamakan

agama terlebih dasar pijakannyapun masih sangat layak untuk diperdebatkan dalam forumforum ilmiah serta keagamaan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->