P. 1
Materi Suhu Dan Kalor

Materi Suhu Dan Kalor

|Views: 362|Likes:
Published by seriusrius

More info:

Published by: seriusrius on Feb 17, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/15/2014

pdf

text

original

1.1 Materi Pokok 2.3.1 Suhu dan kalor A. Suhu Dan Termometer.

Suhu merupakan salah satu besaran pokok dalam fisika,pada saat SMP, suhu didefenisikan sebagai ukuran atau derajat panas dinginya suatu benda atau sistem. Namun hakikatnya,suhu adalah ukuran energi kinetik rata ±rata yang dimiliki oleh molekul- molekul suatu benda. Suhu pada suatu benda dapat mengalami perubahan. Perubahan suhu tersebut dapat mengakibatkan berubahnya sift ± sifat benda. Sifat ±sifat benda yang dapat berubah akibat adanya perubahan suhu yang disebut ³ Sifat Termometrik¶¶. Sifat ±sifat termometrik zat pada berupa : 1. Pemuaian zat padat 2. Pemuaian zat cair 3. Pemuaian gas 4. Tekanan zat cair 5. Tekanan udara 6. Rengangan zat padat 7. Hambatan zat terhadap arus listrik 8. Intesistas cahaya (radiasi benda) B. Termometer Termometer adalah alat untuk mengukur suhu suatu benda. Berdasarkan pada sifat ± sifat termometrik zat, dapat di buat berbagai jenis termometer seperti yang terlihat di bawah ini :

Jenis termometer Air raksa Dalam pipa Hambatan Platina

Jangkauan Ukur suhu ( C) -39s/d.500

Sifat termometrik zat Volum zat cair bertambah (memuai) jika dipanaskan dan berkurang (menyusut) jika didinginkan.

-200s/d.1.200

Hambatan listrik pada seuntas kawat logam akan bertambah jika dinaskan.

Termokopel

-250s/d.1.500

Perbedaan pemuaian antara dua logam berbeda yang ujungnya disentuhkan akan menghasilkan gaya gerak listrik (ggl).

Gas volum Konstan pyrometer

-270s/d.1.500 Diatas.1.000

Gas yang dipanaskan pada volum tetap mengakibatkan bertambahnya tekanan. Intesitas radiasi yang dipancarkan oleh benda yang sangat panas.

Pembuatan skala pada termometer memerlukan dua titik referensi, yaitu titik tetap atas atau yang disebut titik didih, dan titik tetap bawah atau yang disebut titik beku. Terdapat empat macam skala yang bisa digunakan dalam pengukuran suhu yaitu : skala Celsius, skala Reamur , skala Farhreheit, dan skala Kelvin. Dan perbandingan antara keempat skala tersebut diperlihatakan dalam gambar berikut ini :

C0

0

R

F

K

100-.... 80-.... 212-.... 373-.......titik tetap atas 90807060504030201070605040302010192172152132112927252363353343333323313303293283-

0- ... 0- .... 32- ... 273-.......titik tetap bawah

Skala kelvin disebut sebagai Skala suhu mutlak (absolut) atau skala termodinamik. Dan satuan ini digunakan sebagai satuan SI untuk suhu. Hubungan antara skala Celsius,Reamur, Farhrenhei, dan kelvin adalah sebagai berikut :

C =  R =   

( F ± 23 ) = K ± 237

1.1.2 Kalor Kalor adalah suatu bentuk energi yang berpindah dari benda bersuhu tinggi ke benda bersuhu rendah. Benda yang menerima kalor, suhunya akan naik atau wujudnya berubah. Dan benda yang melepas kalor , suhunya akan turun atau wujudnya akan berubah. Besarnya kalor yang diserap atau di lepas oleh suatu benda berbanding lurus dengan : a. Massa benda b. Kalor jenis benda c. Perubahan suhu. Besarnya kalor tersebut dirumuskan sebagai : Q = m c ¨T Dengan m = massa benda ( kg,g ) ¨T = T2 ± T1 = Kenaikan Suhu (0C,K) C = kalor jenis benda ( kal/g 0C, J/kg K ) Dalam sistem SI, satuan kalor adalah joul ( j ). 1 kalor = 4,184 joul 1 joul = 0,24 kalor Satu kalori adalah banyaknya kalor yang di perlukan untuk menaikkan suhu 10C air murni yang massanya 1 gram.

Jika dua buah benda yang suhunya berbeda dicampurkan , lama ± kelamaan suhu kedua benda tersebut akan menjadi sama. Dalam hal ini, ada sesuatu yang berpindah dari benda yang lebih panas ke benda yang lebih dingin sehingga terjadi pemerataan suhu. Sesuatu yang berpindah dan menyebabkan pemerataan suhu disebut Kalor. Sebelum mempelajari sifat kalor, kita mengetahui pengertian dari kalor. Untuk itu ada beberapa teori atau pendapat mengenai kalor tersebut, diantaranya adalah sebagai berikut. 1. Rumford ( 1753-1814). Adalah seorang ahli fisika dari Amerika. Beliau mengemukakan bahwa kalor adalah salah satu energi dan bukan sebuah zat. 2. Julius Mayer (1814-1878). Adalah seorang ahli fisika dari jerman. Beliau mengemukakan bahwa kalor adalah salah satu bentuk energi. 3. James joule (1818-1889). Adalah seorang ilmuwan berkebangsaan inggris memperlihatkan hasil kegiatan bahwa kalor adalah salah satu bentuk energi. Dengan menggunakan alat kalori meter ,james joule berhasil memperoleh kesetaraan antara kalori dan joule yaitu sebagai berikut: 1 kalor = 4,184 joul 1 joul = 0,24 kalor Dari teori atau beberapa pendapat tersebut dapat kita ketahui bahwa ³ kalor adalah salah satu bentu energi,seperti halnya Usaha. Dengan demikian suatu kalor dapat dinyatakan dengan kalori dan dalam sistem internasional satuan kalor adalah ³joul. 1. Kalor jenis dan kapasitas kalor Kalor jenis (C) adalah banyaknya kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu 1 kg zat sebesar 1 k atau 10C. Zat yang paling tinggi kalor jenisnya adalah air, sehingga air merupakan zat terbaik untuk menyimpan energi termal ( dimanfaatkan pada panel surya ) atau memindahkan panas ( dimanfaatkan pada radiator mobil). Kalor jenis setiap jenis zat ditentukan dengan persamaan:

C= 

Kapasitas kalor ( C ) adalah banyaknya kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu benda sebesar 1 K atau 1 0C dan dirumuskan sebagai berikut.

C= 

Satuan kapasitas kalor adalah J/K atau JK -1. Hubungan kapasitas kalor ( c ) dengan kalor jenis (c) dapat dinyatakan dengan persamaan: C = m.c atau c = 

Hukum kekalan Energi Kalor ( Ajas Bleck). ³Pada pencampuran dua zat banyaknya kalor yang di lepas zat bersuhu lebih tinggi sama dengan banyaknya kalor yang diterima zat bersuhu lebih rendah.´ Atau dapat di tulis dengan persamaan:

Qlepas = Qterima
Hukum kekekalan energi kalor diatas hanya berlaku untuk sistem tertutup.kalorimeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur kalor. Adapun jenis-jenis kalorimeter adalah seperti berukut: 1. Kalorimeter aluminium 2. Kalorimeter elektrik, di gunakan untuk mengukur kalor jenis zat cair. 3. Kalorimeter bom, di gunakan untuk menentukan kandungan energi dalam makan dan lemak. Perubahan wujud zat Ada tiga jenis wujud zat, yaitu zat padat,zat cair, dan gas. Apabila sebuah zat diberikan kalor, maka pada zat tersebut akan terjadi perubahan wujud zat, seperti terlihat pada gambar di bawah ini. gambar

Pada proses melebur, menguap, dan deposisi diperlukan kalor (panah yang terletak di dalam). Sedangkan pada proses membeku, mengembun, dan menyublin dilepaskan kalor (panah yang terletak di luar). Besarnya kalor yang di perlukan atau di lepaskan selama proses perubahan wujud zat memenuhi persamaan: Q = m.L Dimana : Q = kalor yang di perlukan / dilepaskan (J,kal) M = massa zat (g, kg) L = kalor laten ( J/kg, kal/gr ) Kalor laten adalah kalor yang di perlukan oleh tiap satuan massa zat untuk mengubah wujudnya. Adapun jenis-jenis kalor laten adalah sebagai berikut: a. Kalor lebur (Lf) adalah banyaknya kalor yang di perlukan untuk mengubah wujud 1kg zat padat menjadi zat cair. b. Kalor beku (Lb) adalah banyaknya kalor yang di lepaskan untuk mengubah wujud 1kg zat cair menjadi zat padat. c. Kalor uap atau kalor didih (Lv) adalah banyaknya kalor yang di perlukan umtuk mengubah wujud 1kg zat cair menjadi gas. d. Kalor embun (Le) adalah banyaknya kalor yang di lepaskan untuk mengubah 1kg gas menjadi zat cair

1.1.3 Pemuaian pada umumnya,zat padat,zat cair,dan gas akan memuai ketikan dipanaskan dan menyusut ketika didinginkan, kecuali air. Air memiliki suatu keistimewaan, yaitu jika di panaskan dari suhu 00C sampe pada 40C maka air akan menyusut dan jika didinginkan dari suhu 40C maka air akan memuai. 1. Pemuaian Zat Padat.

Pemuaian zat padat terdiri atas pemuaian panjang,pemuaian luas,dan pemuaian volum/ruang. a. Pemuaian panjang Pada pemuaian panjang untuk zat padat berlaku rumus:

¨L = =

Lo ¨T

L= Lo (1 +
Gambar

¨T )

Dengan Lo L

= panjang benda mula ± mula(cm) = panjang benda setelah pemuaian (cm)

¨L = L-Lo = pertambahan panjang benda akibat pemuaian (cm) = koefisien muai panjang (oC-1K-1) ¨T =T ± To = kenaikan suhu( 0C atau K)
b. Pemuaian Luas Pada pemuaian luas untuk zat padat berlaku rumus :

¨A = =

AO ¨T  

¨T dan B = 2

A = Ao(1+ ¨T )
Dengan A = luas benda setelah pemuaian (cm2 )

Ao == luas benda mula-mula (cm2)

¨A = A ± Ao = pertambahan luas benda akibat pemuaian (cm2 )
muai laus (oC -1 atau K -1 )

= koefisien

¨T = T ± To = kenaikan suhu (oC atau K)
c. Pemuaian volum/Ruang Pada pemuaian volum untuk zat padat berlaku rumus:

¨V = Vo ¨T =
dan

=3 ¨T )

V = Vo ( 1 +

Dengan V = volom benda setelah pemuaian (cm3 ) Vo = volum benda mula ± mula ( cm 3 )

¨V = V ± Vo = pertambahan volum benda akibat pemuaian ( cm3 ) = koefisien muai volum ( oC atau K-1) ¨T = T ± To = kenaikan suhu ( oC atau K )
Kerugian akibat pemuaian zat padat. Pemuaian zat padat menimbulkan beberapa kerugian,adalah sebagai berikut: a. Retaknya beton pembatas jalan b. Bengkoknya Rel kereta Api c. Runtuhnya jembatan Cara mengatasi masalah akibat pemuaian zat padat adalah sebagai berikut: a. Beton pembatas jalan dibuat terputus ± putus b. Pada sambungan dua buah rel kereta api di buat celah pemuaian atau model sambungan rel kereta api dibuat runcing pada masing ± masing ujungnya

c. Pada ujung jembatan dibuat celah pemuaian 2.Pemuaian Zat Padat Pada zat cair hanya terjadi pemuaian volum/ruang saja, yang di rumuskan dengan: V = Vo (1+

¨T)

Pada zat cair, ketika suhunya naik, volumnya akan bertambah, sementara massanya tetap. Akibatnya,massa jenis zat berkurang. Massa jenis zat cair setelah pemuaian dirumuskan dengan.

=
Dengan
o  

= massa jenis zat mula ± mula (g/cm-3)

Telah disebutkan sebelumnya bahwa pada pemuaian, air memiliki suatu keistimewaan. Dan keistimewaan itu disebut anomali air, anomali air dapat dinyatakan dengan grafik berikut ini : V(cm3) (g/cm)

0

4

T (0C)

0

4

T(0C)

Perubahan volum Terhadap suhu 3.Pemuaian Gas

perubahan massa jenis terhadap suhu

Seperti halnya pada zat cair, pada gas juga hanya terjadi pemuaian volum/ruang saja. Besar koefisien muai volum untuk semua jenis gas adalah sama yaitu:
gas = 

1.1.4 Perpindahan Kalor

Kalor berpindah dari benda yang suhunya tinggi ke benda yang suhunya rendah. Ada 3 cara perpindahan kalor, yaitu konduksi, konveksi, radiasi. 1. Perpindahan Kalor Secara Konduksi. Konduksi adalah proses perpindahan kalor tanpa disertai perpindahan partikel. Setiap zat dapat menghantar kalor secara konduksi baik zat yang tergolong konduktor, maupun isolator. Laju konduksi kalor yang melalui sebuah dinding bergantung pada 4 besaran yaitu: a. Suhu , jika perbedaan suhu ¨T = T1 ± T2 diantara kedua permukaan makin besar, maka perpindahan kalor makin cepat. b. Ketebalan dinding (d),makin tebal dinding, maka perpindahan kalor makin lambat. c. Luas permukaan (A) makin luas permukaan, maka perpindahan kalor makin cepat. d. Konduktivitas termal zat (k) merupakan ukuran kemampuan zat menghantarkan kalor,makin besar nilai k, maka perpindahan kalor makin besar. Dengan demikian, banyaknya kalor (Q) yang mulai dingin selama waktu t, dinyatakan sebagai berikut.

= 

  

Apabila terdapat 2 batang logam berbeda jenis yang di sambungkan maka berlaku bahwa laju aliran kalor dalam kedua batang adalah sama besar atau di tulis:    

§ 

 

= 

 

2. Perpindahan Kalor Secara Konveksi. Konveksi adalah proses perpindahan kalor yang di lakukan oleh pergerak fluida akibat perbedaan massa jenis. Ada 2 jenis konveksi, yaitu konveksi alamia, dan konveksi buatan. Laju kalor ( ) ketika sebuah benda panas memundahkan kalor kefluida sekitarnya secara konveksi adalah sebanding dengan luas permukaan benda (A) yang bersentuhan dengan fluida dan beda suhu (¨T) diantara benda dan fluida, atau ditulis: 

= h . A . ¨T

Dengan h = koefisien konveksi yang nilainya bergantung pada bentuk dan kedudukan permukaan. 3. Perpindahan Kalor Secara Radiasi Radiasi atau pancara adalah perpindahan energi kalor dalam bentuk gelombang elektromagnetik. Sebagai contoh, perpindahan kalor dari matahari kepermukaan bumi. ³Hukum Stefan ± Boltzmann´ ³Energi yang di pancarkan oleh suatu permukaan hitam dalam bentuk radiasi kalor tiap satuan waktu( 

) sebanding dengan luas permukaan (A) dan sebanding dengan pangkat empat suhu

mutlak permukaan itu (T4)´. Secara Matematis Ditulis: 

=e.

A T4

Dengan e : emisitas Emisitas adalah suatu ukuran seberapa besar pemancar radiasi kalor suatu benda dibanding dengan benda hitam sempurna. Emisitas tidak memiliki satuan,nilai mulia dari 0 sampai dengan 1 (0 ” e ” 1). Permukaan mengkilat memiliki nilai e yang lebih kecil dari pada permukaan kasar. Pemantulan sempurna (penyerap paling buruk ) memiliki e = 0, sedangkan penyerap sempurna sekaligus pemancar sempurna (benda hitam sempurna) memilki e =1. 1.1.5 Teori Kinetika Gas 1. Pengertian Gas Ideal Dalam pembahasan teori kinetik gas, gas yang akan ditinjau adalah gas ideal. Gas ideal memiliki asumsi ± asumsi sebagai berikut: a. Gas ideal terdiri atas partikel ± partikel (atom ± atom maupun molekul ± molekul ) dalam jumlah yang banyak sekali. b. Ukuran partikel gas dapat di abaikan terhadap ukuran wadah.

c. Setiap pertikel gas selalu bergerak dengan arah sembarang (acak ). d. Partikel gas paling terbesar merata pada seluruh ruangan dalam wadah. e. Gaya tarik- menarik antara partikel diabaikan. f. Partikel gas memenuhi hukum newton tentang gerak. g. Setiap tumbukan yang terjadi bersifat lenting sempurna. 2. Tekana Gas Ideal. Persamaan tekanan gas ideal dirumuskan sebagai berikut: 


P=  

Dengan N : banyak partikel gas = 6,02x1023 M : massa partikel gas (kg) v : kevepatan partikel gas (m/s) V : vomem gas (m3) P : tekanan gas ideal (N/m2) Oleh karena Ek = ½ mv2, maka persamaan diatas dapat di ubah menjadi:

P= 

 

Ek = energi kinetik gas (J).

3. Persamaan gas Ideal. Gas ideal memenuhi persamaan: pV = nRT atau pV = NkT dengan N = jumlah partikel gas n = jumlah mol gas R = tetapan gas umum = 8,31x103M/mol K = 0,0821 Lt. Atm/mol K

Jumlah mol gas (n) dapat ditentukan dengan menggunakan rumus:

N=

atau n = 

Dengan N0 = bilangan afugadro, 6,02x1023 Mr = massa molekul relatif gas m = massa partikel gas 4. Energi Alam Gas Ideal. Setiap partikel gas ideal selalu bergerak dengan energi kinetik. Ek = 3/2 kT Besarnya energi kinetik untuk N buah partikel dinyatakan dengan rumus:

Ek = 3/2 NkT atau Ek = 3/2 nRT Dalam gas ideal hanya terdapat energi kinetik, yidak ada energi lain, sehingga energi kinetik disebut juga energi dalam (U). Besarnya energi dalam untuk monoatomik ditentukan oleh: U = 3/2 NkT atau U = 3/2 nRT Untuk gas diatomok, besar energi dalam bergantung pada besarnya suhu, yaitu: a. Pada suhu rendah ( 300K), U = 3/2 NkT b. Pada suhu sedang ( 500K), U = 5/2 NkT c. Pada suhu tinggi ( 1.000K), U = 7/2 NkT 5. Kecepatan Partikel Gas Ideal. Telah kita ketahui bahwa energi untuk setiap partikel gas ideal sebesar: Ek = 3/2 kT atau Ek = 3/2 nRT. Ek = 3/2 kT

½ mv2 = 3/2 kT V2 = V= 
  

Dengan demikian, kecepatan partikel gas ideal dapat ditentukan dengan menggunakan rumus: V= 


atau V = 

 

atau V = 

 

Rumus kecepatan partikel gas ideal dapat ditentukan dari rumus tekanan yaitu: P= Oleh karena 


V2 = = maka V = 

   

, P = massa jenis gas ideal (kg/m3)

Termonidamika dalam termodinamika dikenal dua istilah yang saling berkaitan, yaitu sistem dan lingkungan. Sistem merupakan sejumlah gas dalam benda bervolume tertutup, sedangkan lingkungan merupakan benda-benda di luar sistem. 1. Kesetaraan kalor dan energi Energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, tetapi dapat diubah dari suatu bentuk ke bentuk lainnya. Kalor merupakan salah satu bentuk energi. Kesetaraan kalor dan energi dinyatakan sebagai berikut. 1 kalori = 4,186 joule = 4,2 joule 1 joule = 0,24 kalori 2. Gas dapat menerima usaha dari lingkungannya Gaya sebesar F yang diperlukan oleh pistol yang mempunnyai luas penampang A, untuk menekan gas didalam ruang tertutup sebesar p, dirumuskan: F = pA Usaha yang dilakukan oleh gas adalah : W = pA (H2 ± H1)

Oleh karena Ah = V, maka : W = p (V2 ± V1) atau W = p ¨ V Dengan : V1 = volum mula-mula (m3) V2 = volum akhir (m3) ¨ V = perubahan volum (m3) W = usaha luar yang dilakukan gas (J) P Bila W > 0 W<0 = tekanan gas (N/m2) gas (sistem) melakukan usaha (V2 > V1) gas (sistem) menerima usaha dari lingkungan (V2 < V1)

Usaha luar gas untuk beberapa proses yang dialami gas ideal adalah sebagai berikut: a. Proses Isotemis (suhu knstan) Usaha luar gas (W) sebanding dengan luas dearah di bawah kurva W = œ dW = œv1 p dV W = œv2 


dV = n RT œv2 W = n RT n v2 



b. Proses isokkhorik (Volum Konstan) W=p¨V=P.0=0 c. Proses isobarik (tekanan konstan) W = p ¨ V =p (V2 ± V1) d. Proses adiabatik Proses adiabatik adalah proses perubahan sistem tanpa ada kalor yagn masuk atau keluar dari sistem. Pada proses adiabatik berlaku persamaan : P V y = tetap ; y = Dengan: y = konstanta laplace Cp = kalor jenis gas pada tekanan tetap Cv = kalor jenis gas pada volum tetap Sistem tidak melepas atau menerima kalor, maka usaha yagn dilakukan oleh sistem hanya untuk merubah energi dalam, yagn besarnya adalah :

W===

(P1 V1 ± P1 V2 )

Menentukan usaha luar secara grafik Usaha luar yang dilakukan oleh gas pada tekanan tidak tetap dapat dinyatakan p ± V, yang besarnya sebanding dengan luas daerah di bawah kurva a. Proses ke arah kanan V2 > V1 berarti W positif W = p (V2 ± V1) b. Proses ke arah kiri V2 < V1 berarti W negatif W = -p (V2 ± V1) c. Proses berbentuk siklus Proses 1 ke 2 W = 0 Proses 2 ke 3 W = positif Proses 3 ke 4 W = 0 Proses 4 ke 1 W = negatif Wtotal = ¨p x ¨v = (P2 ± P1) x (V2 ± V1) 3. Hukum I Termodinamika Hukum I termodinamika menyatakan bahwa sejumlah kallor (Q) yang diterima dan usaha (W) yang dilakukan suatu gas dapat digunakan untuk menambah energi dalam (¨U) Q ± W = ¨U atau Q = ¨U + W Dengan : Q = kalor yagn diterima/dilepas oleh sistem (j) W = usaha luar yang dilakukan sistem (j) ¨U = perubahan energi dalam (j) Catatan : Q positif, sistem menerima kalor Q negatif sistem nelepas kalor W positif sistem melakukan usaha ¨U positif, terjaddi penambahan energi dalam pada sistem ¨U negatif, terjadi paenuurnan energi dalam pada sistem Penerapan hukum termodinamika I 1. Proses isotermis ¨T = 0 ¨U = 0

Q=W 2. Proses isokhorik ¨V = 0 W=0 Q = ¨U 3. Proses isobarik ¨Q = 0 W=p¨V Q = ¨U + W 4. Proses adiabatik ¨Q=0 ¨U=W T1 V1 y = T2 V2y Kapasitas kalor gas Kapasiatas kalor adalah jumlah kalor yagn diperlukan Q untuk menaikkan suhu gas. C== Dengan : Q = jumlah kalor yang diterima (j) ¨T = Perubahan suhu gas (k) C = kapasitas kalor gas (j/k) Kapasitas kalor untuk gas ada dua macam yaitu : a. Kapasitas kalor pada volum tetap (C) Cy = 


nR

b. Kapasitas kalor pada tekanan tetap (Cy) Cy = 


nR

Dari kedua persamaan di atas, diperroleh hubungan Cy, dengan Cp yaitu Cp ± Cy = n R

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->