2. Contoh analisis mitos dengan menggunakan paradigma fungsional: a.

Paparan Kisah Sunan Mas dan upacara Nyadran di dusun Poyahan, Seloharjo, Pundong Bantul. Pada waktu Raden Mas Sutikna (Putra Sunan Amangkurat II Mataram Islam) dan pasukannya menumpas pemberontakan Trunajaya sampai di wilayah pegunungan selatan, ia kemudian beristirahat. Untuk menghimpun kekuatan dan bersemedi, RM. Sutikna dengan dibantu oleh Demang Somabrata dan pengikutnya kemudian membuat goa di daerah pegunungan selatan tersebut. Pada saat membuat goa, RM. Sutikna disapa oleh Ki Joko Umar. Ki Joko Umar adalah putra dari Nyi Glenggangjati garwa ampil dari Ki Ageng Giring IV yang memerintah di wilayah Gunung Kidul. Ki Joko Umar heran melihat pembuatan goa yang hanya dilakukan dengan menatah batu tebing. Merasa ada yang memperhatikan pekerjaannya, RM. Sutikna menanyakan kepada Joko Umar apakah ia sanggup membantu pembuatan goa tersebut. Joko Umar menyanggupi, kemudian ia bekerja dengan caranya sendiri, mengambil tempat di sebelah goa yang dibuat oleh RM. Sutikna dan menggaruk tebing terjal itu dengan bathok kelapa. Goapun jadi dan diberi nama Goa Sunan Mas. Merasa ditolong oleh Joko Umar, RM. Sutikna menjanjikan akan memberikan hadiah kepadanya. RM. Sutikna kemudian mengutus salah satu pengikutnya menghadap ke Kraton Mataram untuk melaporkan keberadaan RM. Sutikna dan R. Sukra (putra Trunajaya) belum dapat ditangkap. Mendapat laporan tersebut Sunan Amangkurat II yang ketika itu sudah menginjak usia tuanya, segera memerintahkan prajurit untuk menangkap dan menghukum R. Sukra. Setelah R. Sukra ditangkap dan dihukum gantung, RM. Sutikna kembali ke Mataram dengan dikawal oleh Demang Somabrata dan pengikutnya. Ia kemudian menggantikan ayahandanya (Sunan Amangkurat II) yang wafat, memerintah Mataram dengan gelar Sunan Amangkurat III (Sunan Mas). Sementara itu, Ki Joko Umar telah dewasa. Ia kemudian memperistri seorang putri Kedu Bagelen dan menurunkan dua orang putra. Seorang laki-laki bernama Mertalaya dan seorang putri yang tidak jelas namanya yang tinggal di daerah Kedu Bagelen. Singkat cerita Ki Joko Umar kemudian meninggal dan jenasahnya dikebumikan di wilayah Ngrangkah sebelah barat Dusun Biro. Menurut cerita yang berkembang, jenasah Ki Joko Umar telah dicuri oleh orang-orang dari Kedu Bagelen. Sepeninggal Joko Umar, putranya yang bernama Mertalaya dipanggil menghadap ke Mataram dan diberi kedudukan sebagai Patuh (Lurah) di dalam kraton. Hal ini dilakukan karena besarnya jasa Joko Umar terhadap Mataram. Pada suatu malam hari menjelang pisowanan para Patuh, Patuh Mertalaya mencukur bulu kumisnya. Rontoknya bulu kumis terlihat bercahaya seperti percikan api yang jatuh ke tanah. Melihat hal tersebut, para Patuh kemudian melaporkan kejadian itu kepada Sunan Mas. Mendengar laporan para Patuh, Sunan Mas memanggil Mertalaya untuk menghadap. Waktu itu, Sunan Mas masih perang batin dengan Raden Pragula yang terlihat diam namun batinnya tidak setuju dengan diangkatnya RM. Sutikna sebagai Sunan Amangkurat III. Raden Pragula adalah salah satu bupati di pesisir utara (Pati) yang sejak jaman Kanjeng Sunan Amangkurat I selalu menjadi

dan sebagai permohonan keselamatan serta keberhasilan kaum tani dalam mengolah lahan pertaniannya. Hal ini menunjukkan spiritual masyarakat dusun Poyahan dalam hal keyakinan. . Songsong Empok Lampit. Sunan Mas kemudian mengadakan selamatan di lingkungan kraton atas kemenangannya tersebut. Hal ini merupakan usaha masyarakat pendukungnya dalam hal pelestarian tradisi. Adapun penggarapan tanah untuk pertanian tentu saja memerlukan air. Mertalaya menyanggupi perintah itu. dan ia tidak meminta dikawal dengan prajurit yang banyak. Selanjutnya. Begitu juga dengan tradisi Nyadran di dusun Poyahan.penghalang raja-raja di Mataram. b. Mertanegara kemudian meneruskan adat selamatan tersebut di lokasi peninggalan Sunan Mas pada hari Rabu Kliwon bertepatan dengan hari kemenangannya. Pragula. Maka itulah Sunan Mas kawatir dan memerintahkan Mertalaya untuk menumpas R. Tumenggung Mertanegara kembali ke Biro dengan dianugrahi Kuda Boncengsari. Tradisi isi tetap dilaksanakan setiap tahunnya dalam rangka fungsifungsi tertentu. Setelah kembali ke daerah asalnya. Untuk itu. mereka mengadakan upacara sebagai sarana pepeling atas kemenangan Mertanegara. yakni sebagai pelestarian tradisi. Tanah yang mereka terima sebagai imbalan pengabdian terhadap kerajaan (plungguh) harus digarap untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Pragula. dan fungsi sosial. Pragula dengan membawa prajurit secukupnya. meski sebagian besar masyarakatnya beragama Islam upacara tradisi tersebut masih terus dilaksanakan. Caping Sigar Jongkang. tradisi selamatan adalah perilaku budaya masyarakat terhadap konsep animisme dan dinamisme. fungsi spiritual. pada waktu ini tradisi selamatan masih dilaksanakan dengan memasukkan unsur-unsur Islam didalamnya (doa-doanya dalam versi Islam). sedangkan empat orang pengawalnya dianugrahi pangkat dan kedudukan sebagai bekel. namun cukup dengan empat orang prajurit yang ia anggap tangguh dan kuat. Analisis Kisah Sunan Mas dan Mertanegara yang dalam hal ini dianggap sebagai pepundhen atas keberadaan kolektif masyarakat Poyahan merupakan kisah yang mendasari adanya perayaan upacara tradisional Nyadran di wilayah tersebut. dan dikawal 40 prajurit. dengan penyelenggaraan upacara tersebut mereka akan terhindar dari marabahaya. Sesuai dengan kondisi wilayahnya. dan Ki Penthungpinanggul. kini diwujudkan untuk permohonan kemakmuran dan keselamatan masyarakat pendukungnya. Namun pada kenyataannya. dengan jalan tetap mengadakan upacara di komplek sumber air peninggalan Sunan Mas sebagai wujud penghormatan terhadap leluhur. Ki Rujakbeling. Tradisi yang dulu dilaksanakan Sunan Mas dan Mertanegara sebagai perwujudan selamatan atas kemenangan perang. Patuh Mertalaya dianugrahi pangkat Tumenggung dan kedudukan sebagai Bupati di Kraton Mataram dengan nama Tumenggung Mertanegara (Kanjeng Raden Tumenggung Mertanegara). Pada masa pra Islam. mendapatkan ketentraman dan hasil bumi yang mencukupi. upacara tersebut mulai dikaitkan dengan kegiatan pertanian. Singkat cerita Patuh Mertalaya bersama empat orang prajurit tersebut akhirnya dapat menangkap dan membunuh R. Empat orang itu adalah: Ki Jogasatru. Mereka percaya. Lima orang tersebut kemudian kembali ke Mataram dengan membawa mayat R. Ki Gobangkinosek.

Contoh analisis mitos dengan menggunakan paradigma fungsionalisme struktural: a. pamannya. Mengetahui kejadian itu. upacara tersebut secara tidak langsung berfungsi sebagai sarana sosial. Kekhusukan tapa Panembahan Senopati menimbulkan huru-hara di Kraton Laut Selatan. pelaksanaan hingga penutupan kegiatan. pada saat beliau mulai berambisi untuk melepaskan diri dari Kasultanan Pajang. Kanjeng Ratu Kidul memohon agar Panembahan Senopati menghentikan tapanya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa secara fungsional mitos Sunan Mas merupakan kisah yang mendasari penyelenggaraan upacara Nyadran di dusun Poyahan. Hal ini dapat dilihat dari perilaku pendukung upacara dari persiapan. Keinginannya hanya satu. Kanjeng Ratu Kidul juga berjanji akan ikut membantu menjaga ketentraman kerajaan Mataram nantinya secara turun temurun. Mendengar pernyataan dan janji Ratu Kidul. lalu ia duduk disebuah batu gilang untuk bertapa. menawarkan jasa untuk menggendongnya ke dasar samudra. Begitu melihat Panembahan Senopati yang sedang bertapa. oleh masyarakat pendukungnya kemudian diselenggarakan secara turun temurun. Penyelenggaran upacara ini tentunya mengalami berbagai perubahan. Karena itu. Hal tersebut sesuai dengan konsep budaya yang bersifat dinamis. dimana mereka tidak dapat terlepas dari interaksi sosial untuk mewujudkan upacara tersebut. fungsi pelestarian tradisi. dan pengendali sosial. Air laut seakan mendidih. Upacara daerah yang melibatkan banyak orang. Kanjeng Ratu Kidul lalu memberi tahu bahwa keinginannya akan terkabul. yaitu Juru Martani menyarankan agar Panembahan Senopati memohon petunjuk kepada Tuhan dengan bertapa di pantai laut selatan. angin bertiup kencang menjadi badai dan taufan. dapat disimpulkan bahwa mitos Sunan Mas yang mengadakan upacara di dusun Poyahan. Paparan Mitos Percintaan Ratu Kidul dengan Panembahan Senopati Sebelum Panembahan Senopati menjadi raja. Panembahan Senopati menolak. 3. Panembahan Senopati lalu mengapung di Kali Opak. Kesimpulan Dari analisis yang dilakukan. Sebagai contoh adalah tujuan penyelenggaraan upacara yang pada mulanya merupakan selamatan atas kemenangan perang Sunan Mas dengan Pragulapati.Jika dilihat dari sosial-kemasyarakatannya. Antara lain menunjukkan adanya kerukunan. mengikuti arus sampai ke muaranya di pantai laut selatan. . Ketika Panembahan Senopati sampai di muara Sungai Opak. c. yaitu di Parangkusuma. dan fungsi spiritual (menunjukkan keyakinan tertentu). yaitu mohon petunjuk atas keinginannya untuk menjadi raja Mataram. muncul seekor ikan bernama Tunggul Wulung. kegotong-royongan. Kanjeng Ratu Kidul sebagai penguasa Lautan Selatan tergopoh-gopoh keluar dari laut untuk melihat hal apakah yang menyebabkan huru-hara di kerajaannya. banyak ikan mati terlempar ke pantai. Air bergelombang bagaikan diaduk. Panembahan Senopati tidak menghiraukan permohonan Kanjeng Ratu Kidul tersebut. Sementara Ki Juru Martani akan memohon petunjuk Tuhan dengan bertapa di Gunung Merapi. kemudian difungsikan sebagai media permohonan keselamatan dan keberhasilan dalam mengolah lahan pertanian oleh masyarakatnya. Dia akan menjadi raja besar di Mataram. secara tidak langsung juga menunjukkan adanya fungsi sosial (kerukunan dan pengendali sosial). selalu mencari bentuk baru sesuai dengan kondisi sosial masyarakat pendukungnya.

Beliau akan mengirimkan pasukan makhluk halusnya untuk menyebarkan penyakit dan berbagai macam musibah yang akan menimbulkan mala petaka bagi rakyat dan kerajaan. yaitu: (1) Ki Juru Martani menyarankan agar Panembahan Senopati bertapa di pantai Laut Selatan agar terlepas dari Pajang dan nantinya menjadi raja di tanah Jawa. Apabila kewajiban itu diabaikan oleh anak cucu Panembahan Senopati yang memerintah Mataram. Kanjeng Ratu Kidul tetap menjadi kekasih para raja Mataram keturunan Panembahan Senopati. Sejak saat itulah Kanjeng Ratu Kidul menjadi kekasih Panembahan Senopati. Kanjeng Ratu Kidul akan murka.Panembahan Senopati lalu menghentikan tapanya. dan selalu siap membantu apapun yang dibutuhkan Kerajaan Mataram. Kanjeng Ratu Kidul akan membantu menjaga ketentraman Kerajaan Mataram. Sementara Panembahan Senopati sebagai manusia masa hidupnya terbatas. maka Kanjeng Ratu Kidul akan senantiasa ikut membantu keselamatan rakyat dan Kerajaan Mataram. raja-raja Mataram keturunan Panembahan Senopati-pun meneruskan tradisi itu. Sebagai makhluk halus. maka menurut kepercayaan. namun P. (3) Dalam perjalanannya ia bertemu dengan seekor ikan bernama Tunggul Wulung yang menawarkan jasa untuk mengantar Panembahan Senopati sampai dasar samudra. (2) Panembahan Senopati mengapungkan diri di Kali Opak mengikuti arus sampai muara pantai Laut Selatan. Sebagai balasannya. Panembahan Senopati memberikan persembahan dalam bentuk upacara labuhan sebagai imbalannya. Akan tetapi. apabila anak cucu Panembahan Senopati senantiasa memenuhi kewajibannya untuk menyelenggarakan labuhan. (5) Oleh karena kekhusukan tapanya menyebabkan timbulnya huru-hara di Kraton Lautan Selatan (6) Mengetahui hal tersebut. Bahkan menurut kepercayaan masyarakat. Kanjeng Ratu Kidul hidup sepanjang masa. Cara Analisis Langkah analisis yang pertama adalah mengambil ceriteme-ceriteme yang terdapat dalam mitos tersebut. b. Ratu Kidul datang menemui Panembahan Senopati dan memohon untuk menghentikan tapanya. Untuk menjaga kelangsungan hubungan baik antara kerajaan Mataram dengan Kanjeng Ratu Kidul. Senopati menolak. Oleh Kanjeng Ratu Kidul. Persembahan itu berupa barang-barang tertentu sebagai pernyataan cintanya kepada Kanjeng Ratu Kidul. upacara labuhan sebagai persembahan ungkapan tanda kasih terus dilaksanakan oleh raja-raja Mataram. . Setelah Panembahan menjadi raja. Beliau diajak masuk ke Kraton Laut Kidul di dasar Samudra Indonesia sebagai tamu agung dan sekaligus mengikat jalinan percintaan. (4) Panembahan Senopati duduk bertapa di atas batu gilang. Oleh karena itu.

Masa pra Hindu. (8) Mendengar pernyataan dan janji Ratu Kidul. dan masuk akal (Ahimsa-Putra. Sebagai imbalannya. Analisis selanjutnya dengan mencari relasi-relasi fungsi yang terdapat dalam struktur mitos Ratu Kidul tersebut. 2006: 361). kisah percintaan Panembahan Senopati dengan Ratu Kidul terjadi ketika sebagian besar orang Jawa masih memeluk agama Hindu-Budha. Panembahan Senopati mengadakan labuhan dengan mempersembahkan barang-barang tertentu sebagai wujud pernyataan cintanya pada Ratu Kidul. Anak keturunan Panembahan Senopati tetap menjalankan tradisi labuhan. dimana keduanya mengalami sinkretisasi. Budha dan Islam di Jawa kemudian tidak dipandang sebagai bagian yang mencolok dan terpisahpisah. (9) Panembahan Senopati kemudian diajak masuk ke Kraton Lautan Selatan sebagai tamu agung dan sekaligus mengikatkan jalinan kasih dengan Ratu Kidul. Ada kesinambungan budaya dalam proses internalisasi Islam pada masa peralihan tersebut. Ratu Kidul bersedia membantu Kerajaan Mataram secara turun temurun. merupakan kisah yang dapat dimaknai sebagai perembesan budaya secara damai. c. Kisah persekutuan Panembahan Senopati yang berstatus sebagai Raja Mataram dengan Ratu Kidul sebagai Ratu Kraton Laut Selatan (penguasa makhluk halus) membuktikan adanya upaya kerjasama demi keberlangsungan masing-masing wilayahnya. Hal ini berkaitan dengan adanya mitos Ratu Kidul merupakan kisah pra-Islam (Hindu-Budha) dan Panembahan Senopati sebagai penguasa kerajaan Islam Mataram. (10). Panembahan Senopati kemudian menghentikan tapanya. Melalui mitos tersebut.(7) Ratu Kidul memberi tahu bahwa keinginan Panembahan Senopati akan terkabul dan Ratu Kidul juga berjanji akan menjaga wilayah kekuasaan Panembahan Senopati kelak dikemudian hari secara turun temurun. Sebagai imbalannya. damai. Panembahan Senopati yang seolah-olah lebih superior dibanding Ratu Kidul. Jika ditinjau dari sejarahnya. (11). namun tidak terkesan menguasai. Kesimpulan . Panembahan Senopati berhasil menjadi Raja Mataram Islam. kehadiran Islam di Kraton Jawa kemudian terasa sah.

kisah tersebut merupakan sanara legitimasi politik kekuasaan Mataram Islam. Dengan demikian secara fungsional-struktural. mitos persekutuan Panembahan Senopati dan Ratu Kidul tersebut menunjukkan legitimasi kekuasaan raja dan agama Islam melalui sinkretisme budaya. dimana Panembahan yang terkenal sakti tersebut akan semakin mudah memperluas wilayahnya dengan bantuan pasukan makhluk halus Ratu Kidul.Dari analisis yang telah dilakukan. tidak terputus. dapat disimpulkan bahwa: adanya persekutuan Panembahan Senopati sebagai penguasa Mataram dan Ratu Kidul sebagai penguasa makhluk halus Kraton Lautan Selatan. . proses internalisasi agama Islam di Kraton Mataram waktu peralihan menunjukkan adanya perembesan agama dan budaya secara damai. Disamping itu. sambung-menyambung dan dapat diterima oleh masyarakatnya (Raja berpengaruh terhadap penyebaran agama di wilayahnya). Dengan demikian. menyatakan adanya hubungan Raja dengan Ratu sebagai pemegang kekuasaan wilayah yang dipimpinnya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful