Laporan Golongan Uji MIC

BAB I PENDAHULUAN I.

1 Latar Belakang Pada masyarakat luas, sekarang ini sedang ditingkatkan kesadaran masyarakat sendiri mengenai pentingnya kesehatan itu. Banyak hal yang dilakukan untuk mewujudkan hal ini, misalnya saja dengan menggunakan berbagai bahan-bahan yang mendukung untuk kebersihan tubuh, maupun lingkungan. Untuk menjaga kebersihan rumah dan lingkungan serta peralatan rumah tangga umumnya masyarakat menggunakan suatu desinfektan. Dewasa ini di masyarakat beredar berbagai macam produk sediaan yang bertujuan untuk membunuh kuman atau mikroorganisme. Produk tersebut ada yang digunakan pada lingkungan yang sering disebut desinfektan dan ada juga yang digunakan untuk makhluk hidup yang sering disebut antiseptik. Desinfektan adalah suatu zat / bahan kimia yang dapat membunuh atau menghentikan pertumbuhan mikroorganisme yang digunakan pada benda mati atau lingkungan sekitar kita. Antiseptik adalah suatu zat / bahan kimia yang dapat membunuh atau menghentikan pertumbuhan

mikroorganisme yang digunakan pada jaringan hidup. Banyaknya iklan dan promosi tentang kemampuan desinfektan maupun antisepik ini membuat sebagian besar masyarakat membeli produk

sediaan yang diiklankan tersebut. Padahal belum tentu sediaan yang dipasarkan tersebut mempunyai kemampuan seperti yang diiklankan. Dan untuk memeriksa baik tidaknya bahan-bahan yang digunakan untuk desinfektansia dalam industri, rumah sakit, maupun dalam

laboratorium, maka perlu diadakan tes, salah satunya yaitu MIC (Minimum Inhibitory Concentration). Minimum Inhibitory Concentration adalah

konsentrasi terendah yang masih dapat menghambat pertumbuhan mikroba. Percobaan ini dilakukan dengan tujuan untuk menilai sejauh mana tingkat kemampuan sediaan desinfektan dan antiseptik dalam membunuh kuman sehingga masyarakat dapat benar-benar memilih produk sediaan yang tepat.

I.2 I.2.1

Maksud dan Tujuan Maksud Percobaan Mengetahui dan memahami cara-cara penentuan nilai MIC suatu

desinfektansia atau antiseptika. I.2.2 Tujuan Percobaan Menentukan nilai MIC (Minimum Inhibitory Concentration) dari listerin®, desinfektan domestos wipol® dan superpel®, sabun kesehatan detol® dan bebek kloset® dengan menggunakan bakteri uji Staphylococcus aureus, Salmonella typhosa, E-coli.

. sabun kesehatan detol® dan bebek kloset® berdasarkan penghambatan pertumbuhan bakteri uji Staphylococcus aureus. desinfektan domestos wipol® dan superpel®.I. E-coli dalam medium Nutrien Broth (NB) yang telah diberi berbagai tingkat pengenceran sampel desinfektansia yang diinkubasikan pada suhu 37º C selama 1 x 24 jam dimana hasil menunjukkan positif jika terjadi kekeruhan atau adanya endapan dalam medium NB.3 Prinsip Percobaan Penentuan nilai MIC dari sampel listerin®. Salmonella typhosa.

germisida atau bakterisida. Oleh karena itu tidak adanya bahan kimia yang ideal atau dapat dipergunakan untuk segala macam keperluan maka pilihan akan jatuh pada bahan kimia yang mampu untuk membunuh mikroorganisme. dan kedua pengertian itu tidak berlaku bagi .1 Teori Umum Membunuh atau mengurangi jumlah mikroorganisme dan penemuan bakteri muncul di pasaran. Peristiwa. Zay yang dapat membunuh bakteri disebut desinfektan. Bakteri-bakteri yang tidak bergerak. Untuk menentukan batas-batas antara kedua pengertian bakteriostatik dan bakterisida itu sangatlah sukar.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II. Bila bakteri-bakteri itu tertarik dan bergerak menuju kearah zat kimia kita sebut chemotaxis (+) dan sebaliknya kita sebut chemotaxis (-). Pertumbuhan dan pengerasan bakteri-bakteri dipengaruhi oleh berbagai macam zat kimia dalam lingkungan karena pengaruh zat kimia. pertumbuhan koloninya dapat dipengaruhi oleh zat-zat kimia peristiwa itu disebut chemotropis(1) Zat-zat yang hanya menghambat pembiakan bakteri dengan tiada membunuhnya disebut zat antiseptik atau zat bakteriostatik. Hingga sekarang makin banyak zat-zat kimia yang dipakai untuk yang ada dalam waktu yang sesingkat mungkin dan tanpa merusak bahan yang didesinfeksi (1). maka bakteri seperti bergerak menuju atau menjauhi zat kimia itu.

maka perlu dilakukan beberapa tes. yaitu (3) : 1. 2. Selanjutnya medium dapat juga menawar daya desinfektan (2). Waktu dan lamanya kontak dengan mikroba Suhu desinfektan Konsentrasi desinfektan . Istilah ini pada umumnya digunakan dalam proses membebaskan benda-benda mati dari infeksi.spora-spora dan bagi bakteri tahan asam seperti Mycobacterium tuberculosis (2). merupakan faktor-faktor yang masuk pertimbangan pula. Pekat encernya konsentrasi. Minimal inhibitiry concentration (MIC Test) Rideal Walker Test. Untuk memeriksa baik tidaknya bahan-bahan yang digunakan untuk desinfektan dalam industri maupun rumah sakit. lamanya berada di bawah pengaruh desinfektan. 2. dan aman untuk dipakai dalam bidang industri atau pada rumah sakitrumah sakit atau industri-industri makanan/minuman dan industri farmasi (3). Pada umumnya bakteri yang muda itu kurang daya tahannya terhadap desinfektan daripada bakteri yang tua. Desinfektasia menghilangkan atau adalah bahan atau zat yang baik digunakan patogen untuk menghancurkan bakteri maupun nonpatogen. 3. terutama bakteri yang membahayakan (patogen). Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi suatu desinfektan adalah (4) 1.

3. Kecepatan penghambatan . Sifat mikrosida (membunuh jasad renik) Spora pada umumnya lebih tahan daripada bentuk vegetatif dan hanya beberapa desinfektan sebagaihalogen. serta potensi pada MIC. formalin. cara kerja. misalnya senyawa tertentu yang terdapat pada rempah-rempah. dan etilen oksida yang efektif terhadap spora. Aktivitas anti bakteri ditentukan oleh spectrum kerja. Jumlah dan tipe dari mikroorganisme Keadaan bahan yang didesinfektan Bahan kimia yang menimbulkan suatu pengaruh yang lebih selektif terhadap jasad renik dibandingkan dengan perlakuan fisik seperti panas dan radiasi. Sifat mikrostatik (menghambat pertumbuhan jasad renik) Beberapa komponen kimia pada konsentrasi rendah tidak dapat membunuh jasad renik. 2.4. 5. (5) Dalam memilih bahan kimia sebagai suatu desinfektan atau antiseptik perlu diperhatikan hal-hal berikut (6) : 1. Suatu bakteri dikatakan mempunyai aktivitas yang tinggi bila MIC terjadi pada kadar rendah tetapi mempunyai daya bunuh atau daya hambat yang besar. dan komponen ini mempunyai sifat bakteriostatik atau fungisid. tetapi hanya menghambat pertumbuhannya. MIC.

Beberapa komponen lainnya hanya efektif setelah beberapa jam. Sifat-sifat lain Dalam pemilihan suatu desinfektan harus disesuaikan dengan harga yang tidak mahal. Bahan kimia yang menimbulkan suatu pengaruh yang lebih selektif terhadap jasad renik dibandingkan dengan perlakuan fisik seperti panas dan radiasi. 4. garam merkuri. Beberapa komponen organik dapat menghambat kerja desinfektan. Larut dalam air dan stabil dalam larutan. Juga perlu diperhatikan sifat racunnya. misalnya halogen.3 Uraian Mikroba .Komponen kimia mempunyai kecepatan membunuh yang berbedabeda terhadap jasad renik. dan deterjen kationik. sedangkan sabuk dan deterjen sintetik anionik dapat membantu penyerapan. II. efektivitasnya tetap dalam waktu yang lama. sifat iritasi pada kulit dan warna yang ditinggalkan. Sel yang sedang tumbuh atau berkembang biak lebih sensitive dan mudah dibunuh dibandingkan dengan sel dalam keadaan istirahat atau statik.

Gram positif. Anaerob fakultatif. Morfologi (10 : 175) Sel-sel berbentuk bola. Terutama berasosiasi dengan kulit. Dinding sel mengandung dua komponen utama : peptidoglikan serta asam tekoat yang berkaitan dengannya. berdiameter 0. Staphylococcus aureus (7 : 123) Kingdom : Protista Divisio Classis Ordo Familia Genus Spesies : Protophyta : Schizomycetes : Enterobacteriales : Micrococcaceae : Staphylococcus : Staphylococcus aureus A. tumbuh lebih cepat dan lebih banyak dalam keadaan aerobik. dan secara khas membelah diri pada lebih dari satu bidang sehingga membentuk gerombol yang tidak teratur.5 sampai 1. Suhu optimum 35 – 400C.II. Non motil. dan selaput lendir hewan berdarah panas. .5 µm terdapat tunggal dan berpasangan. Kemoorganotrof.3.1 Klasifikasi 1. Metabolisme dengan respirasi dan fermentatif.

Bahan pembersihnya menjadikan lantai bersih dan kesat. dll. Membersihkan. memiliki daya kerja yang efektif membersihkan dan membunuh kuman pada lantai dan kamar mandi.75 % : 800 ml Domestos Wipol®. II. segar dan higinis. Membunuh kuman. dan koloninya buram dan tidak tembus cahaya. kandang binatang. .5 %. got. dan berkilauan dalam penampakannya. segera hubungi dokter dan tunjukkan kemasan atau label produk .Pertumbuhan pada medium agar abundant. WC . tempat sampah. bilas dengan air yang banyak dan segera hubungi dokter. smooth. Bahan aktifnya efektif membunuh kuman Perhatian : .Bila terminum. Karbol wangi yang ekonomis dengan keharuman khas cemara. Domestos Wipol® sangat cocok digunakan untuk menghilangkan bau di kamar mandi. Menjadikan ruangan harum. Menghilangkan bau. Bila terkena mata.Jangan sampai terkena mata. BAC 0.4 Uraian Sampel Domestos Wipol® Bahan aktif Netto : Pine Oil 0.

Jauhkan Domestos wipol dari jangkauan anak-anak.Milenium Masa Manunggal. PD.. Gunung Putri-Bogor untuk PT Unilever Indonesia Tbk. Produksi PT.0502100246 .

dikocok hingga homogen (pengenceran 1 : 40) . handsprayer. cawan petri.2 Cara Kerja A.BAB III METODE KERJA III. rak tabung.1.5 ml medium LB dikocok hingga homogen (pengenceran 1 : 20) 4.2 Bahan Bahan-bahan yang dugunakan adalah alkohol. listerin®. Kemasan disterilkan dengan cara disemprot dengan alkohol 70 % 3. lampu spiritus. Disiapkan alat dan bahan. aquadest steril. 2. Diambil sampel sebanyak 0. inkubator.5 ml kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 9. Dari pengenceran 1 : 20.1 Alat dan Bahan III.1. desinfektan domestos wipol® dan superpel®. diambil 5 ml dengan spoit dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 5 ml medium LB. Listerin® 1.1 Alat Alat-alat yang digunakan adalah autoklaf. III. sabun kesehatan detol® dan bebek kloset®. medium NB. aluminium foil. spoit III. botol pengenceran.

Dari pengenceran 1 : 1280. 1 : 320.5 ml kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 9. diambil 5 ml dengan spoit dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 5 ml medium LB. 1 : 640.5 ml medium LB dikocok hingga homogen (pengenceran 1 : 20) 4. Kemasan disterilkan dengan cara disemprot dengan alkohol 70 % 3. 2. 1 : 320. Dari pengenceran 1 : 20. 6. dan 1 : 1280. 1 : 640. Disiapkan alat dan bahan. dikocok hingga homogen ( sebagai kontrol ) 7. Diinkubasikan pada suhu 37o C selama 1 x 24 jam 8. dan 1 : 1280. dikocok hingga homogen ( sebagai kontrol ) . Diambil sampel sebanyak 0. Dilakukan hal yang sama untuk pengenceran 1 : 80. Dari pengenceran 1 : 1280. B. diambil 5 ml dengan spoit dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi.5. Dilakukan hal yang sama untuk pengenceran 1 : 80. diambil 5 ml dengan spoit dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. 6. Diamati kekeruhan yang terjadi. Wipol® 1. dikocok hingga homogen (pengenceran 1 : 40) 5. 1 : 160. 1 : 160.

Dari pengenceran 1 : 1280. dikocok hingga homogen (pengenceran 1 : 40) 5. Diinkubasikan pada suhu 37o C selama 1 x 24 jam 8. Disiapkan alat dan bahan. Diamati kekeruhan yang terjadi. Kemasan disterilkan dengan cara disemprot dengan alkohol 70 % . Disiapkan alat dan bahan. Kemasan disterilkan dengan cara disemprot dengan alkohol 70 % 3. Diinkubasikan pada suhu 37o C selama 1 x 24 jam 8. Diambil sampel sebanyak 0. Dilakukan hal yang sama untuk pengenceran 1 : 80.5 ml medium LB dikocok hingga homogen (pengenceran 1 : 20) 4. Diamati kekeruhan yang terjadi.7. dan 1 : 1280. D. diambil 5 ml dengan spoit dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 5 ml medium LB. 1 : 160. Sabun Detol® 1. 1 : 640. 2. dikocok hingga homogen ( sebagai kontrol ) 7. C.5 ml kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 9. 1 : 320. Superpel® 1. diambil 5 ml dengan spoit dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. 2. 6. Dari pengenceran 1 : 20.

dikocok hingga homogen (pengenceran 1 : 40) 5. 1 : 640.3. dikocok hingga homogen ( sebagai kontrol ) 7. Bebek Kloset® 1. dan 1 : 1280. E. Dilakukan hal yang sama untuk pengenceran 1 : 80. Diambil sampel sebanyak 0. 1 : 160. diambil 5 ml dengan spoit dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Dari pengenceran 1 : 20. Diinkubasikan pada suhu 37o C selama 1 x 24 jam 8.5 ml kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 9. Diamati kekeruhan yang terjadi.5 ml kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 9. 1 : 320. Diambil sampel sebanyak 0. Kemasan disterilkan dengan cara disemprot dengan alkohol 70 % 3.5 ml medium LB dikocok hingga homogen (pengenceran 1 : 20) . 6. Dari pengenceran 1 : 1280. diambil 5 ml dengan spoit dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 5 ml medium LB. Disiapkan alat dan bahan.5 ml medium LB dikocok hingga homogen (pengenceran 1 : 20) 4. 2.

1 : 320. dikocok hingga homogen (pengenceran 1 : 40) 5. diambil 5 ml dengan spoit dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 5 ml medium LB. Dari pengenceran 1 : 20. dan 1 : 1280. Dari pengenceran 1 : 1280. 1 : 640.4. diambil 5 ml dengan spoit dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. 1 : 160. Diinkubasikan pada suhu 37o C selama 1 x 24 jam 8. Dilakukan hal yang sama untuk pengenceran 1 : 80. . 6. Diamati kekeruhan yang terjadi. dikocok hingga homogen ( sebagai kontrol ) 7.

BAB IV HASIL PENGAMATAN IV. + c. ++ = keruh sekali .1 Data Pengamatan Klp I II III IV V Ket: a. - 1:20 1:40 + + + + 1:80 ++ + + 1:160 1:320 1:640 1:1280 1:2560 ++ ++ ++ ++ ++ + + ++ + + + + + + ++ + + + + ++ ++ ++ ++ ++ Nilai MIC 1:20 1:40 1:20 1:60 1:10 = tidak ada penentuan mikroba = keruh b.

Koloni Bakteri A. Sumbat Kapas 2. Pengenceran 1 : 5120 J. Pengenceran 1 : 320 F. Pengenceran 1 : 1280 H. Tabung Reaksi 3. Pengenceran 1 : 160 E. Pengenceran 1 : 40 C.IV. Pengenceran 1 : 2560 I. Pengenceran 1 : 20 B. Pengenceran 1 : 640 G.2 Gambar LABORATORIUM MOKROBIOLOGI FARMASI UNIVERSITAS HASANUDDIN Keterangan : 1. Pengenceran 1 : 10240 A B C D E F G H I J Uji Minimum Inhibitory Consentration (MIC) . Pengenceran 1 : 80 D.

BAB V PEMBAHASAN Seiring dengan meningkatnya tingkat pengetahun manusia maka keinginan untuk hidup sehatpun semakin tinggi. harus dihindari juga penggunaan antiseptik atau desinfektan yang berlebihan karena kemungkinan dapat menyebabkan toksisitas pada individunya. Dilain pihak. di lantai. Untuk maksud tersebut penggunaaan antiseptic dan desinfekan oleh masyarakat semakin meningkat Akan tetapi ada beberapa hal yang patut disadari oleh masyarakat bahwa belum tentu antiseptik atau desinfektan yang digunakannya efektif untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Beberapa dari produk yang paling sering digunakan adalah desinfektansia dan juga antiseptic. Desinfektansia adalah merupakan suatu zat yang dapat mematikan mikroba yang umumnya terdapat pada benda mati. Oleh karena itu manusia menggunakan berbagai produk untuk menjaga kesehatannya. kamar mandi. Dalam kehidupan manusia selalu berusaha agar dapat memperoleh derajat kesehatan yang tinggi. dan lain-lain. Misalnya. Dengan berpedomana pada hal tersebut maka orang cenderung ingin membebaskan diri dan lingkungannya dari mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit. Sedangkan antiseptik merupkan bahan atau zat yang dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang digunakan pada makhluk hidup sedangkan desinfektan merupakan bahan atau zat yang .

yaitu tabung reaksi VI sampai IX terlihat keruh. harus dihindari juga penggunaan antiseptik atau desinfektan yang berlebihan karena kemungkinan dapat menyebabkan toksisitas pada individunya. Berdasarkan hasil pengamatan terlihat bahwa tabung reaksi kontrol yang tidak berisi mikroba berada dalam keadaan jernih. 1: 80 dan 1 : 160 serta 1 : 320 juga menunjukkan keadaan jernih. Tabung reaksi I. dan V dengan perbandingan masing-masing 1 : 20. Percobaan ini dilakukan dengan membuat beberapa tingkat pengenceran sampel untuk melihat sejauh mana kemampuan dari antiseptic atau desinfektan tersebut untuk mrenghambat pertumbuhan mikroorganisme. Dalam percobaan ini akan dilakukan uji MIC yaitu untuk menentukan nilai Minimum Inhibitory Concentration atau menentukan nilai konsentrasi minimum dari desinfektan atau antiseptik yang masih mampu untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme. III IV. Kekeruhan yang terjadi disebabkan karena adanya pertumbuhan dari mikroorganisme akibat dari ketidakmampuan listerin untuk menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus yang diinokulasikan. 1 :40.mampu menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang digunakan pada lingkungan. sedangkan tabung reaksi yang lain. . Akan tetapi ada beberapa hal yang patut disadari oleh masyarakat bahwa belum tentu antiseptik atau desinfektan yang digunakannya efektif untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Dilain pihak. II.

dan bebek kloset® 1:20. terlihat bahwa nilai MIC dari antiseptik listerin cukup tinggi sehingga bisa dikatakan bahwa sediaan tersebut tidak cukup efektif melawan bakteri Staphylococcus aureus. sehingga dapat dikatakan bahwa semakin besar nilai MIC maka semakin efektif pula sediaan tersebut sebagai antiseptik ataupun desinfektan.Berdasarkan data diatas maka dapat ditentukan bahwa nilai MIC dari sediaan Sabun sirih adalah 1 : 320 yang berarti bahwa pada konsentrasi tersebut sediaan listerin masih mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. BAB VI PENUTUP . Dari hasil yang diperoleh. desinfektan domestos wipol® 1:40. Maka diperoleh nilai MIC untuk sampel listerin® 1:10. sabun kesehatan detol® 1:20. superpel® 1:60. Semakin besar nilai MIC yang diperoleh maka semakin tinggi kemampuan suatu sediaan untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme.

VI.2 Saran Bahan-bahan di dalam bisa dilengkapi lagi sehingga praktikan tidak perlu membeli baha lagi. . superpel® 1:60. sabun kesehatan detol® 1:20. desinfektan domestos wipol® 1:40. dan bebek kloset® 1:20. VI.1 Kesimpulan Dari hasil percobaan diperoleh hasil bahwa nilai Minimum Inhibitory Consentration (MIC) dari sampel listerin® 1:10.

. 1995. “Mikrobiologi Pangan”. “Dasar-Dasar Mikrobiologi”. (1986). Prof. D. (1982).. Unhas. “Mikrobilogi untuk Perguruan Tinggi”. Penerbit Angkasa. Farmakope Indonesia Edisi IV. Makassar.. “Pengantar Mikrobiologi Umum”. (1989). . Farmakope Indonesia Edisi III.S..C. Depkes RI : Jakarta 9. edisi III. (1988)..DAFTAR PUSTAKA 1. Bandung. Dirjen POM. 10. “Mikrobilogi”. 5. Soemarno. Universitas Gajah Mada Press.. “Mikrobiologi Dasar”. (1992).. Jakarta. dr. UGM Press. J. Pangan dan Gizi IPP. Depkes RI : Jakarta 8. 3. Pelczar. Djambatan. 7. Fardiaz. (1976. Chan. J. Jakarta. Unus. “Dasar-Dasar Mikrobiologi”. Malang. E. Yogyakarta.W. LEPHAS (Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin). Dirjen POM. Suriawiria.. Volk. “Farmakodinamik dan Terapi Antibiotik”. dan Margareth.W. Wattimena.. S. A. Djiwoseputro. jilid I. (1975).. M. Erlangga. F. UI Press. Yogyakarta. 4. (1988). 1979. 6. 2. Jutomo. Jakarta.R.

0 g 3.LAMPIRAN I. Nutrien Broth (NB) Pepton Ekstrak daging sapi Aquadest 2. Komposisi Medium 1.0 g 15 g 1000 ml 5. Medium NA (Nutrien Agar) Peptone Ekstrak beef Agar Aquadest 5.0 g 3.0 g 1000 ml .

5 ml Biakan Bakteri Staphylococcus 0.5 ml 5ml 5 ml 5 ml 5 ml 5 ml 5 ml 5 ml 5 ml 5 ml 5 NB ml NB NB NB NB NB NB NB NB NB NB Inkubasi 1 x 24 jam suhu 37 C Pengamatan/penentuan nilai MIC .02 ml 5 ml 5ml 5 ml 5ml 5 ml 5 ml 5 ml 5 ml 5 ml 9.II. Skema Kerja Sampel aureus 0.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful