P. 1
Laporan Golongan Uji MIC

Laporan Golongan Uji MIC

|Views: 1,017|Likes:

More info:

Published by: Muhammad Idham Zuhdi on Feb 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/20/2014

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN I.

1 Latar Belakang Pada masyarakat luas, sekarang ini sedang ditingkatkan kesadaran masyarakat sendiri mengenai pentingnya kesehatan itu. Banyak hal yang dilakukan untuk mewujudkan hal ini, misalnya saja dengan menggunakan berbagai bahan-bahan yang mendukung untuk kebersihan tubuh, maupun lingkungan. Untuk menjaga kebersihan rumah dan lingkungan serta peralatan rumah tangga umumnya masyarakat menggunakan suatu desinfektan. Dewasa ini di masyarakat beredar berbagai macam produk sediaan yang bertujuan untuk membunuh kuman atau mikroorganisme. Produk tersebut ada yang digunakan pada lingkungan yang sering disebut desinfektan dan ada juga yang digunakan untuk makhluk hidup yang sering disebut antiseptik. Desinfektan adalah suatu zat / bahan kimia yang dapat membunuh atau menghentikan pertumbuhan mikroorganisme yang digunakan pada benda mati atau lingkungan sekitar kita. Antiseptik adalah suatu zat / bahan kimia yang dapat membunuh atau menghentikan pertumbuhan

mikroorganisme yang digunakan pada jaringan hidup. Banyaknya iklan dan promosi tentang kemampuan desinfektan maupun antisepik ini membuat sebagian besar masyarakat membeli produk

sediaan yang diiklankan tersebut. Padahal belum tentu sediaan yang dipasarkan tersebut mempunyai kemampuan seperti yang diiklankan. Dan untuk memeriksa baik tidaknya bahan-bahan yang digunakan untuk desinfektansia dalam industri, rumah sakit, maupun dalam

laboratorium, maka perlu diadakan tes, salah satunya yaitu MIC (Minimum Inhibitory Concentration). Minimum Inhibitory Concentration adalah

konsentrasi terendah yang masih dapat menghambat pertumbuhan mikroba. Percobaan ini dilakukan dengan tujuan untuk menilai sejauh mana tingkat kemampuan sediaan desinfektan dan antiseptik dalam membunuh kuman sehingga masyarakat dapat benar-benar memilih produk sediaan yang tepat.

I.2 I.2.1

Maksud dan Tujuan Maksud Percobaan Mengetahui dan memahami cara-cara penentuan nilai MIC suatu

desinfektansia atau antiseptika. I.2.2 Tujuan Percobaan Menentukan nilai MIC (Minimum Inhibitory Concentration) dari listerin®, desinfektan domestos wipol® dan superpel®, sabun kesehatan detol® dan bebek kloset® dengan menggunakan bakteri uji Staphylococcus aureus, Salmonella typhosa, E-coli.

desinfektan domestos wipol® dan superpel®. sabun kesehatan detol® dan bebek kloset® berdasarkan penghambatan pertumbuhan bakteri uji Staphylococcus aureus. Salmonella typhosa. E-coli dalam medium Nutrien Broth (NB) yang telah diberi berbagai tingkat pengenceran sampel desinfektansia yang diinkubasikan pada suhu 37º C selama 1 x 24 jam dimana hasil menunjukkan positif jika terjadi kekeruhan atau adanya endapan dalam medium NB.I.3 Prinsip Percobaan Penentuan nilai MIC dari sampel listerin®. .

Bila bakteri-bakteri itu tertarik dan bergerak menuju kearah zat kimia kita sebut chemotaxis (+) dan sebaliknya kita sebut chemotaxis (-). Hingga sekarang makin banyak zat-zat kimia yang dipakai untuk yang ada dalam waktu yang sesingkat mungkin dan tanpa merusak bahan yang didesinfeksi (1). Peristiwa. dan kedua pengertian itu tidak berlaku bagi .1 Teori Umum Membunuh atau mengurangi jumlah mikroorganisme dan penemuan bakteri muncul di pasaran. Zay yang dapat membunuh bakteri disebut desinfektan. pertumbuhan koloninya dapat dipengaruhi oleh zat-zat kimia peristiwa itu disebut chemotropis(1) Zat-zat yang hanya menghambat pembiakan bakteri dengan tiada membunuhnya disebut zat antiseptik atau zat bakteriostatik. maka bakteri seperti bergerak menuju atau menjauhi zat kimia itu. Bakteri-bakteri yang tidak bergerak. Untuk menentukan batas-batas antara kedua pengertian bakteriostatik dan bakterisida itu sangatlah sukar. Oleh karena itu tidak adanya bahan kimia yang ideal atau dapat dipergunakan untuk segala macam keperluan maka pilihan akan jatuh pada bahan kimia yang mampu untuk membunuh mikroorganisme.BAB II TINJAUAN PUSTAKA II. Pertumbuhan dan pengerasan bakteri-bakteri dipengaruhi oleh berbagai macam zat kimia dalam lingkungan karena pengaruh zat kimia. germisida atau bakterisida.

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi suatu desinfektan adalah (4) 1. 2. Waktu dan lamanya kontak dengan mikroba Suhu desinfektan Konsentrasi desinfektan . lamanya berada di bawah pengaruh desinfektan.spora-spora dan bagi bakteri tahan asam seperti Mycobacterium tuberculosis (2). yaitu (3) : 1. Istilah ini pada umumnya digunakan dalam proses membebaskan benda-benda mati dari infeksi. Desinfektasia menghilangkan atau adalah bahan atau zat yang baik digunakan patogen untuk menghancurkan bakteri maupun nonpatogen. Untuk memeriksa baik tidaknya bahan-bahan yang digunakan untuk desinfektan dalam industri maupun rumah sakit. Selanjutnya medium dapat juga menawar daya desinfektan (2). terutama bakteri yang membahayakan (patogen). maka perlu dilakukan beberapa tes. Pekat encernya konsentrasi. 3. dan aman untuk dipakai dalam bidang industri atau pada rumah sakitrumah sakit atau industri-industri makanan/minuman dan industri farmasi (3). merupakan faktor-faktor yang masuk pertimbangan pula. Pada umumnya bakteri yang muda itu kurang daya tahannya terhadap desinfektan daripada bakteri yang tua. Minimal inhibitiry concentration (MIC Test) Rideal Walker Test. 2.

dan komponen ini mempunyai sifat bakteriostatik atau fungisid. Suatu bakteri dikatakan mempunyai aktivitas yang tinggi bila MIC terjadi pada kadar rendah tetapi mempunyai daya bunuh atau daya hambat yang besar. misalnya senyawa tertentu yang terdapat pada rempah-rempah.4. Kecepatan penghambatan . dan etilen oksida yang efektif terhadap spora. tetapi hanya menghambat pertumbuhannya. cara kerja. (5) Dalam memilih bahan kimia sebagai suatu desinfektan atau antiseptik perlu diperhatikan hal-hal berikut (6) : 1. 3. 5. serta potensi pada MIC. Jumlah dan tipe dari mikroorganisme Keadaan bahan yang didesinfektan Bahan kimia yang menimbulkan suatu pengaruh yang lebih selektif terhadap jasad renik dibandingkan dengan perlakuan fisik seperti panas dan radiasi. Aktivitas anti bakteri ditentukan oleh spectrum kerja. Sifat mikrosida (membunuh jasad renik) Spora pada umumnya lebih tahan daripada bentuk vegetatif dan hanya beberapa desinfektan sebagaihalogen. Sifat mikrostatik (menghambat pertumbuhan jasad renik) Beberapa komponen kimia pada konsentrasi rendah tidak dapat membunuh jasad renik. formalin. 2. MIC.

Beberapa komponen organik dapat menghambat kerja desinfektan. Larut dalam air dan stabil dalam larutan.3 Uraian Mikroba . dan deterjen kationik. Sifat-sifat lain Dalam pemilihan suatu desinfektan harus disesuaikan dengan harga yang tidak mahal.Komponen kimia mempunyai kecepatan membunuh yang berbedabeda terhadap jasad renik. II. Bahan kimia yang menimbulkan suatu pengaruh yang lebih selektif terhadap jasad renik dibandingkan dengan perlakuan fisik seperti panas dan radiasi. Sel yang sedang tumbuh atau berkembang biak lebih sensitive dan mudah dibunuh dibandingkan dengan sel dalam keadaan istirahat atau statik. Beberapa komponen lainnya hanya efektif setelah beberapa jam. sedangkan sabuk dan deterjen sintetik anionik dapat membantu penyerapan. misalnya halogen. 4. garam merkuri. sifat iritasi pada kulit dan warna yang ditinggalkan. Juga perlu diperhatikan sifat racunnya. efektivitasnya tetap dalam waktu yang lama.

1 Klasifikasi 1. Terutama berasosiasi dengan kulit.II. Dinding sel mengandung dua komponen utama : peptidoglikan serta asam tekoat yang berkaitan dengannya.5 µm terdapat tunggal dan berpasangan. Anaerob fakultatif. berdiameter 0. Staphylococcus aureus (7 : 123) Kingdom : Protista Divisio Classis Ordo Familia Genus Spesies : Protophyta : Schizomycetes : Enterobacteriales : Micrococcaceae : Staphylococcus : Staphylococcus aureus A. tumbuh lebih cepat dan lebih banyak dalam keadaan aerobik. Morfologi (10 : 175) Sel-sel berbentuk bola. Metabolisme dengan respirasi dan fermentatif. .5 sampai 1.3. Non motil. Kemoorganotrof. dan secara khas membelah diri pada lebih dari satu bidang sehingga membentuk gerombol yang tidak teratur. Suhu optimum 35 – 400C. dan selaput lendir hewan berdarah panas. Gram positif.

75 % : 800 ml Domestos Wipol®. dll. Domestos Wipol® sangat cocok digunakan untuk menghilangkan bau di kamar mandi. Bahan aktifnya efektif membunuh kuman Perhatian : . memiliki daya kerja yang efektif membersihkan dan membunuh kuman pada lantai dan kamar mandi. Membersihkan. Bahan pembersihnya menjadikan lantai bersih dan kesat. dan berkilauan dalam penampakannya. II. Membunuh kuman. segera hubungi dokter dan tunjukkan kemasan atau label produk . Karbol wangi yang ekonomis dengan keharuman khas cemara. segar dan higinis.Jangan sampai terkena mata. WC . . dan koloninya buram dan tidak tembus cahaya. Menghilangkan bau. kandang binatang. smooth. tempat sampah. Menjadikan ruangan harum.5 %. bilas dengan air yang banyak dan segera hubungi dokter. Bila terkena mata.Pertumbuhan pada medium agar abundant. BAC 0.Bila terminum. got.4 Uraian Sampel Domestos Wipol® Bahan aktif Netto : Pine Oil 0.

Jauhkan Domestos wipol dari jangkauan anak-anak. PD.0502100246 .. Gunung Putri-Bogor untuk PT Unilever Indonesia Tbk. Produksi PT.Milenium Masa Manunggal.

5 ml kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 9. rak tabung. Dari pengenceran 1 : 20. cawan petri. spoit III. medium NB.BAB III METODE KERJA III. sabun kesehatan detol® dan bebek kloset®. Disiapkan alat dan bahan.1 Alat Alat-alat yang digunakan adalah autoklaf.1 Alat dan Bahan III.1. 2. Kemasan disterilkan dengan cara disemprot dengan alkohol 70 % 3. diambil 5 ml dengan spoit dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 5 ml medium LB. Diambil sampel sebanyak 0. lampu spiritus. listerin®. dikocok hingga homogen (pengenceran 1 : 40) .1.5 ml medium LB dikocok hingga homogen (pengenceran 1 : 20) 4.2 Bahan Bahan-bahan yang dugunakan adalah alkohol. aquadest steril. III.2 Cara Kerja A. desinfektan domestos wipol® dan superpel®. aluminium foil. Listerin® 1. botol pengenceran. handsprayer. inkubator.

Disiapkan alat dan bahan. dikocok hingga homogen (pengenceran 1 : 40) 5.5 ml medium LB dikocok hingga homogen (pengenceran 1 : 20) 4. 1 : 320. 6. dan 1 : 1280. Wipol® 1. Dari pengenceran 1 : 1280. diambil 5 ml dengan spoit dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. 1 : 160. Diamati kekeruhan yang terjadi. diambil 5 ml dengan spoit dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Dari pengenceran 1 : 20. 1 : 640. 1 : 640. 1 : 160.5. Dari pengenceran 1 : 1280. dikocok hingga homogen ( sebagai kontrol ) 7. Dilakukan hal yang sama untuk pengenceran 1 : 80. 6. Kemasan disterilkan dengan cara disemprot dengan alkohol 70 % 3. Diambil sampel sebanyak 0. dikocok hingga homogen ( sebagai kontrol ) . 2. Dilakukan hal yang sama untuk pengenceran 1 : 80. diambil 5 ml dengan spoit dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 5 ml medium LB. dan 1 : 1280. Diinkubasikan pada suhu 37o C selama 1 x 24 jam 8. B. 1 : 320.5 ml kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 9.

2. Superpel® 1. Dari pengenceran 1 : 1280. Disiapkan alat dan bahan. 1 : 160. Diambil sampel sebanyak 0. C. diambil 5 ml dengan spoit dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Kemasan disterilkan dengan cara disemprot dengan alkohol 70 % . 1 : 320. D. Kemasan disterilkan dengan cara disemprot dengan alkohol 70 % 3. diambil 5 ml dengan spoit dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 5 ml medium LB. Sabun Detol® 1.5 ml kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 9. dikocok hingga homogen (pengenceran 1 : 40) 5. 2. dan 1 : 1280. Diamati kekeruhan yang terjadi.7. Disiapkan alat dan bahan. Dilakukan hal yang sama untuk pengenceran 1 : 80. Diinkubasikan pada suhu 37o C selama 1 x 24 jam 8.5 ml medium LB dikocok hingga homogen (pengenceran 1 : 20) 4. Diinkubasikan pada suhu 37o C selama 1 x 24 jam 8. 6. 1 : 640. Dari pengenceran 1 : 20. Diamati kekeruhan yang terjadi. dikocok hingga homogen ( sebagai kontrol ) 7.

dikocok hingga homogen (pengenceran 1 : 40) 5. Dari pengenceran 1 : 20. dan 1 : 1280. Dari pengenceran 1 : 1280. 6. Disiapkan alat dan bahan. Dilakukan hal yang sama untuk pengenceran 1 : 80. Bebek Kloset® 1.3.5 ml kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 9. 1 : 160. Diambil sampel sebanyak 0. Diamati kekeruhan yang terjadi. diambil 5 ml dengan spoit dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Kemasan disterilkan dengan cara disemprot dengan alkohol 70 % 3. 1 : 640. Diambil sampel sebanyak 0.5 ml medium LB dikocok hingga homogen (pengenceran 1 : 20) 4. diambil 5 ml dengan spoit dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 5 ml medium LB. Diinkubasikan pada suhu 37o C selama 1 x 24 jam 8. dikocok hingga homogen ( sebagai kontrol ) 7. E.5 ml kemudian dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 9.5 ml medium LB dikocok hingga homogen (pengenceran 1 : 20) . 1 : 320. 2.

diambil 5 ml dengan spoit dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. 6. Dari pengenceran 1 : 1280. 1 : 160. dikocok hingga homogen (pengenceran 1 : 40) 5. 1 : 640. dikocok hingga homogen ( sebagai kontrol ) 7. 1 : 320. Dilakukan hal yang sama untuk pengenceran 1 : 80. diambil 5 ml dengan spoit dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 5 ml medium LB. .4. dan 1 : 1280. Dari pengenceran 1 : 20. Diamati kekeruhan yang terjadi. Diinkubasikan pada suhu 37o C selama 1 x 24 jam 8.

BAB IV HASIL PENGAMATAN IV. - 1:20 1:40 + + + + 1:80 ++ + + 1:160 1:320 1:640 1:1280 1:2560 ++ ++ ++ ++ ++ + + ++ + + + + + + ++ + + + + ++ ++ ++ ++ ++ Nilai MIC 1:20 1:40 1:20 1:60 1:10 = tidak ada penentuan mikroba = keruh b. ++ = keruh sekali . + c.1 Data Pengamatan Klp I II III IV V Ket: a.

Pengenceran 1 : 320 F. Pengenceran 1 : 80 D. Pengenceran 1 : 1280 H. Sumbat Kapas 2.2 Gambar LABORATORIUM MOKROBIOLOGI FARMASI UNIVERSITAS HASANUDDIN Keterangan : 1. Koloni Bakteri A. Tabung Reaksi 3. Pengenceran 1 : 160 E. Pengenceran 1 : 640 G.IV. Pengenceran 1 : 20 B. Pengenceran 1 : 2560 I. Pengenceran 1 : 5120 J. Pengenceran 1 : 10240 A B C D E F G H I J Uji Minimum Inhibitory Consentration (MIC) . Pengenceran 1 : 40 C.

Sedangkan antiseptik merupkan bahan atau zat yang dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang digunakan pada makhluk hidup sedangkan desinfektan merupakan bahan atau zat yang . Beberapa dari produk yang paling sering digunakan adalah desinfektansia dan juga antiseptic. di lantai.BAB V PEMBAHASAN Seiring dengan meningkatnya tingkat pengetahun manusia maka keinginan untuk hidup sehatpun semakin tinggi. Untuk maksud tersebut penggunaaan antiseptic dan desinfekan oleh masyarakat semakin meningkat Akan tetapi ada beberapa hal yang patut disadari oleh masyarakat bahwa belum tentu antiseptik atau desinfektan yang digunakannya efektif untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Dalam kehidupan manusia selalu berusaha agar dapat memperoleh derajat kesehatan yang tinggi. Misalnya. Oleh karena itu manusia menggunakan berbagai produk untuk menjaga kesehatannya. Dengan berpedomana pada hal tersebut maka orang cenderung ingin membebaskan diri dan lingkungannya dari mikroorganisme yang dapat menyebabkan penyakit. dan lain-lain. Dilain pihak. Desinfektansia adalah merupakan suatu zat yang dapat mematikan mikroba yang umumnya terdapat pada benda mati. kamar mandi. harus dihindari juga penggunaan antiseptik atau desinfektan yang berlebihan karena kemungkinan dapat menyebabkan toksisitas pada individunya.

1: 80 dan 1 : 160 serta 1 : 320 juga menunjukkan keadaan jernih. Dilain pihak. dan V dengan perbandingan masing-masing 1 : 20. III IV. Berdasarkan hasil pengamatan terlihat bahwa tabung reaksi kontrol yang tidak berisi mikroba berada dalam keadaan jernih. Tabung reaksi I. Kekeruhan yang terjadi disebabkan karena adanya pertumbuhan dari mikroorganisme akibat dari ketidakmampuan listerin untuk menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus yang diinokulasikan. yaitu tabung reaksi VI sampai IX terlihat keruh. 1 :40. sedangkan tabung reaksi yang lain. . Percobaan ini dilakukan dengan membuat beberapa tingkat pengenceran sampel untuk melihat sejauh mana kemampuan dari antiseptic atau desinfektan tersebut untuk mrenghambat pertumbuhan mikroorganisme. harus dihindari juga penggunaan antiseptik atau desinfektan yang berlebihan karena kemungkinan dapat menyebabkan toksisitas pada individunya. Dalam percobaan ini akan dilakukan uji MIC yaitu untuk menentukan nilai Minimum Inhibitory Concentration atau menentukan nilai konsentrasi minimum dari desinfektan atau antiseptik yang masih mampu untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Akan tetapi ada beberapa hal yang patut disadari oleh masyarakat bahwa belum tentu antiseptik atau desinfektan yang digunakannya efektif untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme. II.mampu menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang digunakan pada lingkungan.

superpel® 1:60. Semakin besar nilai MIC yang diperoleh maka semakin tinggi kemampuan suatu sediaan untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme. sehingga dapat dikatakan bahwa semakin besar nilai MIC maka semakin efektif pula sediaan tersebut sebagai antiseptik ataupun desinfektan. Dari hasil yang diperoleh. dan bebek kloset® 1:20. desinfektan domestos wipol® 1:40. BAB VI PENUTUP .Berdasarkan data diatas maka dapat ditentukan bahwa nilai MIC dari sediaan Sabun sirih adalah 1 : 320 yang berarti bahwa pada konsentrasi tersebut sediaan listerin masih mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. terlihat bahwa nilai MIC dari antiseptik listerin cukup tinggi sehingga bisa dikatakan bahwa sediaan tersebut tidak cukup efektif melawan bakteri Staphylococcus aureus. sabun kesehatan detol® 1:20. Maka diperoleh nilai MIC untuk sampel listerin® 1:10.

VI. superpel® 1:60. . desinfektan domestos wipol® 1:40. dan bebek kloset® 1:20. sabun kesehatan detol® 1:20. VI.2 Saran Bahan-bahan di dalam bisa dilengkapi lagi sehingga praktikan tidak perlu membeli baha lagi.1 Kesimpulan Dari hasil percobaan diperoleh hasil bahwa nilai Minimum Inhibitory Consentration (MIC) dari sampel listerin® 1:10.

Depkes RI : Jakarta 8.. M.W. Djiwoseputro. (1988). UI Press. 5. 1995. Yogyakarta. (1982). J. A. Dirjen POM.S. Djambatan. (1988). (1976. Jutomo... Volk. dr... 10. J.. Yogyakarta. Depkes RI : Jakarta 9. Soemarno.. “Mikrobilogi”. Suriawiria. Jakarta. Jakarta.. (1975). Unus. “Dasar-Dasar Mikrobiologi”. edisi III. Wattimena. Chan. Farmakope Indonesia Edisi III. “Mikrobiologi Pangan”. “Pengantar Mikrobiologi Umum”. 3. (1989).W. . (1986). dan Margareth.R. “Dasar-Dasar Mikrobiologi”.C. 6. Fardiaz. Erlangga. Farmakope Indonesia Edisi IV.. jilid I.DAFTAR PUSTAKA 1. 4. “Farmakodinamik dan Terapi Antibiotik”. Jakarta. Makassar. F. Unhas. Penerbit Angkasa. Pangan dan Gizi IPP. Dirjen POM. 1979. Pelczar. Malang. E. 2. D. S. “Mikrobilogi untuk Perguruan Tinggi”. LEPHAS (Lembaga Penerbitan Universitas Hasanuddin). UGM Press. Universitas Gajah Mada Press. 7.. Bandung. Prof. “Mikrobiologi Dasar”. (1992).

Komposisi Medium 1.LAMPIRAN I.0 g 1000 ml .0 g 3.0 g 3.0 g 15 g 1000 ml 5. Nutrien Broth (NB) Pepton Ekstrak daging sapi Aquadest 2. Medium NA (Nutrien Agar) Peptone Ekstrak beef Agar Aquadest 5.

5 ml Biakan Bakteri Staphylococcus 0.II.02 ml 5 ml 5ml 5 ml 5ml 5 ml 5 ml 5 ml 5 ml 5 ml 9. Skema Kerja Sampel aureus 0.5 ml 5ml 5 ml 5 ml 5 ml 5 ml 5 ml 5 ml 5 ml 5 ml 5 NB ml NB NB NB NB NB NB NB NB NB NB Inkubasi 1 x 24 jam suhu 37 C Pengamatan/penentuan nilai MIC .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->