P. 1
al quran

al quran

|Views: 24|Likes:
Published by Aang Kunaefi

More info:

Published by: Aang Kunaefi on Feb 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/18/2012

pdf

text

original

Al-Qur’an Secara Etimologi

November 28, 2010 tauhidullah Tinggalkan komentar Go to comments

Rate This Ditinjau dari segi kebahasaan, Al-Qur’an berasal dari bahasa Arab yang berarti “bacaan” atau “sesuatu yang dibaca berulang-ulang”. Kata Al-Qur’an adalah bentuk kata benda (masdar) dari kata kerja qara’a yang artinya membaca. Konsep pemakaian kata ini dapat juga dijumpai pada salah satu surat Al-Qur’an sendiri yakni pada ayat 17 dan 18 Surah Al-Qiyamah yang artinya: “Sesungguhnya mengumpulkan Al-Qur’an (di dalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggungan Kami. (Karena itu,) jika Kami telah membacakannya, hendaklah kamu ikuti {amalkan} bacaannya”.(75:17-75:18)

Terminologi
Sebuah cover dari mushaf Al-Qur’an Dr. Subhi Al Salih mendefinisikan Al-Qur’an sebagai berikut: “Kalam Allah SWT yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan ditulis di mushaf serta diriwayatkan dengan mutawatir, membacanya termasuk ibadah”. Adapun Muhammad Ali ash-Shabuni mendefinisikan Al-Qur’an sebagai berikut: “Al-Qur’an adalah firman Allah yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantaraan Malaikat Jibril a.s. dan ditulis pada mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir, serta membaca dan mempelajarinya merupakan ibadah, yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas“ Dengan definisi tersebut di atas sebagaimana dipercayai Muslim, firman Allah yang diturunkan kepada Nabi selain Nabi Muhammad SAW, tidak dinamakan Al-Qur’an seperti Kitab Taurat yang diturunkan kepada umat Nabi Musa AS atau Kitab Injil yang diturunkan kepada umat Nabi Isa AS. Demikian pula firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang membacanya tidak dianggap sebagai ibadah, seperti Hadits Qudsi, tidak termasuk Al-Qur’an. Jaminan Tentang Kemurnian Al-Quran dan Bukti-Buktinya Kemurnian Kitab Al-Quran ini dijamin langsung oleh Allah, yaitu Dzat yang menciptakan dan menurunkan Al-Quran itu sendiri. Dan pada kenyataannya kita bisa melihat, satu-satu kitab yang mudah dipelajari bahkan sampai dihafal oleh beribu-ribu umat Islam.

Nama-nama lain Al-Qur’an
Dalam Al-Qur’an sendiri terdapat beberapa ayat yang menyertakan nama lain yang digunakan untuk merujuk kepada Al-Qur’an itu sendiri. Berikut adalah nama-nama tersebut dan ayat yang mencantumkannya:

• • • • • • • • •

Al-Kitab, QS(2:2),QS (44:2) Al-Furqan (pembeda benar salah): QS(25:1) Adz-Dzikr (pemberi peringatan): QS(15:9) Al-Mau’idzah (pelajaran/nasehat): QS(10:57) Al-Hukm (peraturan/hukum): QS(13:37) Al-Hikmah (kebijaksanaan): QS(17:39) Asy-Syifa’ (obat/penyembuh): QS(10:57), QS(17:82) Al-Huda (petunjuk): QS(72:13), QS(9:33) At-Tanzil (yang diturunkan): QS(26:192)

• • • • • • • • •

Ar-Rahmat (karunia): QS(27:77) Ar-Ruh (ruh): QS(42:52) Al-Bayan (penerang): QS(3:138) Al-Kalam (ucapan/firman): QS(9:6) Al-Busyra (kabar gembira): QS(16:102) An-Nur (cahaya): QS(4:174) Al-Basha’ir (pedoman): QS(45:20) Al-Balagh (penyampaian/kabar) QS(14:52) Al-Qaul (perkataan/ucapan) QS(28:51)

$4If’s (alumni DALWA)

Definisi Hadits
ULUMU AL-HADITS
A. Terminologi Hadits Nabawi 1.Definisi dan Perbedan Antara Hadits, Sunnah, Atsar, dan Khabar.

Hadits adalah: ‘segala perkataan.yang belum lama terjadi o Khobar: warta yaitu sesuatu yang di percakapkan dan dipindahkan dari seseorang kepada seseorang yang lain. Dari makna inilah diambil perkataan hadits. baik berupa perkataan.a. perbuatan. sifat. Sunnah adalah “suatu suruhan yang tidak difardlukan dan tidak diwajibkan. lawan dari qodim: yang baru o Qorib: yang dekat. Menurut fuqoha’. Menurut Ahli Ushul. tempatnya dan yang bersangkut paut dengannya. • Perbedaan sunnah dan hadits . ketetapan. dan ketetapan beliau yang menjadi dalil syara’ “. Hadits Hadits menurut Etimologi adalah: o Jadid. perkataan. dan takrir Nabi yang berhubungan denga hukum”. yang terpuji ataupun jelek.[1] b. maupun sifat beliau yang adakalanya itu disunnahkan/dijelaskan pada umat Islam ataupun khusus untuk Nabi”. takrir. dan perjalanan hidup beliau sebelum diutus atau sesudahnya. dan keadaan Nabi. seperti kelahirannya. Yang dimaksud keadaan adalah segala yang diriwayatkan dalam kitab sejarah. Sunnah adalah ” segala sesuatu yang bersumber dari Nabi baik perkataan. perbuatan. pekerjaan. Sunnah Sunnah menurut Etimologi adalah: Jalan yang dijalani. Menurut istilah syara’. pekerjaan. pengajaran. kelakuan. Sunnah menurut Terminologi adalah: Segala yang dinukil dari Nabi SAW. Menurut arti lain Hadits adalah “segala sesuatu yang disadarkan pada Nabi SAW baik berupa perkataan. Hadits menurut terminologi adalah : Segala ucapan. yang tidak berat suruhannya”.

Hadits rasulullah adalah berita – berita yang disandarkan kepada Nabi saw. Menurut Al-Imam Al-Kamal Ibnu Humam. sedangkan sunnah lebih umum. . Sehingga khabar lebih layak dijadikan sinonim hadits daripada sunnah. Sunnah adalah: segala yang diriwayatkan dari Nabi baik perkataan atau perbuatan . Peganglah ia dengan teguh”. Ada yang berpendapat: hadits khusus dengan perkataan dan perbuatan. c.Dapat disimpulkan garis pebedaan antara keduanya.sedang hadist tentu perkataan saja”. Dan “Muhaddist” diberikan untuk ulama ahli hadits atau sannah. Hal ini dikarenakan tahdits (pembicaraan) artinya tidak lain adalah ikhbar (pemberitaan). Yang mendukung pendapat ini adalah hadits yang berbunyi : ‫حدّث َنا عب ْدُ الل ّه ب ْن أ َحمدَ ب ْن ب َشير ب ْن ذَك ْوان الدّمشقي حدّث َنا ال ْوليدُ ب ْن مسل ِم ٍ حدّث َنا‬ َ َ َ ِ َ َ َ َ ِ َ َ ّ ِ ْ َ َ ْ ُ ُ َ ْ ُ ِ ِ ِ ِ ‫عب ْدُ الل ّه ب ْن ال ْعلء حدّث َني ي َحيى ب ْن أ َبي ال ْمطاع قال سمعت ال ْعرباض ب ْن ساري َة‬ َ َ ِ َ َ ِ ِ َ ْ ِ َ ْ َ ِ َ َ ُ ْ ِ َ َ َ ِ َ ُ ُ َ ِ ُ ّ َ ِ ُ ُ َ َ ِ َ َ ُ ُ ‫ي َقول: قام فينا رسول الل ّه صلى الل ّه عل َي ْه وسل ّم ذات ي َوم ٍ فوعظَنا موعظَة ب َليغة‬ ً َ ِ ً ِ ْ َ َ َ َ َ َ َ َ َ َ ِ َ ُ ْ َ ُ َ َ َ ِ َ ُ ُ ُ ‫وجل َت من ْها ال ْقلوب وذَرفت من ْها ال ْعيون فقيل يا رسول الل ّه وعظْت َنا موعظَة مودّع‬ َ َ ِ ِ ْ َ َ َ ِ ْ َ َ َ ُ ُ ُ َ ِ ْ ِ َ ٍ َ ُ َ ‫فاعهدْ إ ِل َي ْنا ب ِعهد فقال عل َي ْك ُم ب ِت َقوى الل ّه والسمع والطاعة وإ ِن عب ْدا حب َشيا‬ َ َ َ َ ٍ ْ َ َ ّ ِ َ ً َ ْ َ ِ َ ّ َ ْ َ ْ َ ِ ْ ّ َ ِ َ ْ ً َ ْ ‫وست َرون من ب َعدي اخت ِلفا شديدا فعل َي ْك ُم ب ِسن ّتي وسن ّة ال ْخل َفاء الراشدين‬ ِ َ ُ ِ ُ ِ ُ َ ِ ْ ْ ِ َ ْ َ َ َ َ َ ً ِ َ َ ِ ِ ّ ْ ّ ‫ال ْمهديين عضوا عل َي ْها بالن ّواجذ وإ ِياك ُم وال ُمور ال ْمحدَثات فإ ِن ك ُل ب ِدْعة ضلل َة‬ ٌ َ َ ٍ َ ّ َ َ ّ ِ ْ َ ّ َ ِ َ ْ ُ ّ َ ِ ِ َ ِ َ َ َ ُ ْ َ ْ “Hendaklah kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin sesudahku. Sunnah adalah sebutan bagi amaliah yang mutawatiroh yakni cara Rasul melaksanakan suatu ibadah yang dinukilkan kepada kita dengan amaliah yang mutawatir. Sebagian ulama ada yang memasukkan perkataan dan perbuatan sahabat dan tabi’in dalam pengertian Sunnah. hanya saja kata “Akhbary” digunakan untuk menyebut orang–orang yang menekuni bidang sejarah. Yaitu : Hadits adalah segala peristiwa yang disandarkan pada Nabi walaupun hanya sekali saja terjadinya dalam sepanjang hidup Nabi walaupun hanya diriwayatkan satu oarang saja . Khabar Khabar memiliki arti yang hampir sama dengan hadits. Majah).(Sunan Ibn.

Tapi para muhadditsin umumnya menamai hadist Nabi dan perkataan sahabat dengan atsar juga. d. Ada yang mengatakan atsar lebih umum daripada khobar. Sunnah. sahabat.[3] 2. Setiap hadits itu pasti khabar dan tidak sebaliknya. seperti beliau bersabda: . Atsar Atsar menurut Etimologi adalah : Bekas / Sisa sesuatu Atsar menurut Terminologi adalah: Pengertian untuk Hadits. Bahkan juga yang hanya berhenti sampai tingkatan tabi’in (maqtu’) saja. Oleh karenanya. Hadits atau sunnah memberikan pengertian bahwa perawi mengutip hadits yang disandarkar kepada Rasulullah saw (marfu’). antara lain: a. Para fuqoha’ memakai perkataan Atsar untuk perkataan ulama salaf. dan setengah ulama memakai pula kata atsar untuk perkataan-perkataan tabiin saja. tabiin dan lain-lain. tidak setiap khabar itu hadits.Bentuk-bentuk Hadits Nabawi Hadits ataupun Sunnah terbagi menjadi beberapa bentuk. Artinya. dan Khabar yang disandarkan kepada Sahabat dan Tabiin. para ahli hadits lantas memandang Atsar yang diidintikkan dengan Hadits Sahabat (mauquf) atau Tabiin (maqtu’)[2] Atsar menurut istilah jumhur artinya sama dengan khobar dan hadits. Yang disampaikan dalam berbagai hal dan keadan yang diterbelakangi oleh berbagai tujuan. Qauliyyah Hadits / Sunnah Qauliyyah adalah Hadits-hadits Nabi saw. dan menamai hadist Nabi dengan Khabar.Pergeseran makna ini memberikan implikasi pada pada kedua lafad tersebut. Al Imam Al-Nawawi menerangkan bahwa fuqoha’ khurosan menamai perkataan sahabat ( hadist mauquf ) dengan atsar. Yakni antara hadits dan khabar ada pengertiaan umum dan khusus. Sedang khabar tidak hanya mencakup hadits marfu’ saja akan tetapi juga mengakomodasi yang mauquf (perawi hanya bersumber dari sahabat saja tidak sampai pada rasulullah).

Hadits Qudsi secara etimologi berarti suci. Taqririyyah Hadits / Sunnah Taqririyyah adalah Hadits yang berupa ketetapan atau penelitian Rasulullah saw. Contoh: َ ‫حدّث َنا عث ْمان ب ْن أ َبي شي ْب َة قال حدّث َنا جرير عن من ْصور عن أ َبي وائ ِل عن حذَي ْفة‬ َ َ ُ َ ُ َ ُ ْ َ ٍ َ َ َ َ َ ِ ْ َ ٍ ُ َ ْ َ ٌ ِ َ َ ِ ُ َ ّ َ ّ َ ُ ُ َ َ ‫قال: كان الن ّب ِي صلى الل ّه عل َي ْه وسل ّم إ ِذا قام من الل ّي ْل ي َشوص فاهُ بالسواك‬ َ َ ِ َ ّ ْ ِ َ َ َ َ َ َ ِ َ ُ ِ ِ (‫)صحيح البخاري‬ c. Yang disampaikan oleh sahabat kepada kita seperti tatcara beliau Shalat. yang mana redaksi dan subtansinya maknanya berasal dari Allah swt. dan Hadist Nabawi. b. seperti yang dikabarkan oleh Shahabat[4]: َ ّ ْ ّ َ َ َ َ َ ْ ْ َ ُ ْ ُ َ ‫حدّث َنا ي َحيى ب ْن أ َبي ب ُك َي ْر حدّث َنا شعب َة عن ت َوب َة قال قال الشعب ِي ل َقدْ صحب ْت اب ْن‬ َ َ ٍ َ ْ َ ُ ِ َ َ ِ ُ ّ َ ِ ً ِ َ ّ َ َ َ ِ َ ُ ‫عمر سن َة ون ِصفا فل َم أ َسمعه ي ُحدّث عن رسول الل ّه صلى الل ّه عل َي ْه وسل ّم إ ِل حديثا‬ ْ َ ً ْ َ ً َ َ َ ُ ِ ُ َ ْ َ ُ َ ُ ْ َ ْ ّ َ ِ َ َ َ َ ِ َ ُ َ َ َ َ ّ َ َ َ ً ِ َ ‫واحدا قال ك ُنا مع رسول الل ّه صلى الل ّه عل َي ْه وسل ّم فأ ُت ِي ب ِضب فجعل ال ْقوم‬ ُ ْ َ ِ ُ َ َ َ ّ َ (‫ي َأ ْك ُلون )مسند أحمد‬ َ ُ 3. . Haji dan lain-lain. a. Sedang secara terminologi adalah hadits yang Nabi riwayatkan dari Allah selain Al-Quran yang redaksinya dari Nabi sendiri. Al-Qur’an adalah wahyu yang diturunkan oleh Allah melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad s. Hadits Qudsi. Terhadap perkataan atau perbuatan Shahabat.a.w.Perbedaan antra al-Qur’an. Fi’liyyah Hadits / Sunnah Fi’liyyah adalah semua perbuatan Nabi saw.‫حدّث َنا محمدُ ب ْن ك َثير أ َخب َرنا سفيان حدّث َني ي َحيى ب ْن سعيد عن محمد ب ْن إ ِب ْراهيم‬ ِ َ َ ْ ٍ ِ َ ْ َ ُ َ ْ ُ َ ُ َ ِ َ ّ َ ُ َ ِ ِ ّ َ ُ ْ َ ٍ ِ َ ُ ّ َ ِ َ َ ُ ُ ‫الت ّي ْمي عن عل ْقمة ب ْن وقاص الل ّي ْث ِي قال سمعت عمر ب ْن ال ْخطاب ي َقول: قال‬ َ َ َ َ ْ َ ّ ِ َ ِ ّ َ َ َ ُ ُ ْ ِ َ َ َ ّ ٍ ّ َ ِ ُ ُ َ ‫رسول الل ّه صلى الل ّه عل َي ْه وسل ّم إ ِن ّما ال َعمال بالن ّيات وإ ِن ّما ل ِك ُل امرئ ما ن َوى‬ َ ٍ ِ ْ ّ َ َ ِ ّ َ َ َ َ ِ َ ُ ِ ُ َ ْ ْ َ َ ُ َ ْ ِ َ ِ َ ُ َ ْ ِ ْ َ ْ َ َ ِ َ ْ َ َ ‫فمن كان َت هجرت ُه إ ِلى الل ّه ورسول ِه فهجرت ُه إ ِلى الل ّه ورسول ِه ومن كان َت هجرت ُه‬ ُ َ َ ِ ُ َ َ ِ ُ َ ْ ِ ْ َ ُ َ ْ ِ َ َ ُ ّ َ (‫ل ِدُن ْيا ي ُصيب ُها أ َو امرأ َة ي َت َزوجها فهجرت ُه إ ِلى ما هاجر إ ِل َي ْه )سنن أبي داود‬ ِ ٍ َ ْ ْ َ َ ِ َ َ َ َ b. Puasa. Dalam hal ini Rasul tidak memiliki otoritas sama sekali unutuk merangkai kata-kata al-Qur’an.

karena hal ini bertentangan dengan al-Qur’an surat al-Najm ayat 4 yang berbunyi: o Setiap makna dan lafad Al-Quran dari Allah dan menjadi wahyu yang agung. Meskipun demikian bukan berarti apa yang dikatakan oleh Nabi merupakan sesuatu yang berasal dari nafsu belaka. dan tidak sah sholat seseorang tanpa ada surat Al Quran. setiap orang yang membacanya dicatat sebagai ibadah. serta menyandarkan kepada Alloh. .[6] B. o Mushaf al-Qur’an hanya boleh dipegang oleh orang yang dalam keadaan bersih (suci). c. o Dan masih banyak perbedaan-perbedaan lainnya yang tidak munglin saya sebutkan semuanya disini. Sedangkan dalam Hadits Qudsi statemen yang dipakai adalah: ”Allah telah meriwayatkan kepadaku”. lalu beliau menerangkan mimpinya dengan susunan pekataan beliau sendiri.Alasan Tertundanya Penulisan Hadist . sedangkan Hadits Qudsi tidak. Kodifikasi Hadist 1.‫وماينطقوا عن الهوى ان هوالوحي يوحى‬ Akan tetapi mempunyai pengertian bahwa Hadits Nabawi dalam proses terjadinya dari Nabi tidak harus menunggu intruksi wahyu dari Allah. Sedangkan Hadaits Qudsi adalah “wahyu yang redaksinya dari Rasul sedang maknanya dari Allah diturunkan dengan jalan ilham atau mimpi. [5] • Secara garis besar keduanya dapat dibedakan sebagai berikut: dan diturunkan secara mutawatir melaui jibril. Hadits Nabawi adalah yang mana bahasa maupun maknanya berasal dari Nabi saw sendiri. sedang hadits Qudsi tidak seperti itu o Pernyataan yang digunakan nabi dalam al-Qur’an adalah: ”Allah telah berfirman”. o Al-Quran sebagiai mu’jizat. Menurut Abdul Baqi Al-Ukbari Al-Quran adalah “wahyu yang lafad dan maknanya dari Allah”.Menurut Al-Thibi “hadits Qudsi adalah Titah Allah yang disampaikan kepada Nabi dalam mimpi. atau jalan ilham. sedang Hadits Qudsi tidak begitu “diturunkan melalui mimpi/ilham”.

Sadangkan kasus Haditst – menurut keyakinan kami – meskipun ada izin atau perintah Nabi dalam kaitannya dengan penulisan hadits. Mereka tau bahwa penentangan penulisan hadits datang dari Nab. Bersamaan berjalannya akhirnya Islampun mulai berkembang. baik sewaktu tinggal di Makkah maupun setelah Hijrah ke Madinah. tiap orang yang elah menulis apa saja tentang Hadist wajib memusnahkannya. Mula-mula mereka tinggal di rumah al-Arqam bin Abdu Manaf. tidak akan dianggap salah karena Nabi adalah Ma’shum (terjaga). namun tugas penulisan hadits bukan saja tidak diperhatikan akan tetapi ditentang. Periode pertama Periode pertama adalah masa wahyu dan pembentukan masyarakat. Disitu mereka mempelajari dengan agama Islam. waktu mempelajari al-Quran. kami tidak mendapat menerima keshahian pernyataan ini atau pernyataan lain yang seperti ini. dan meskipun kenyataannya hadits telah ditulis selama masa hidup Nabi. maka kelemahan mereka terungkap karena menisbat larangan tersebut kepada Nabi. Pada masa permulaan ini jumlah umat Islam hanyalah beberapa gelintir orang saja. serta mereka melakukan dakwah yang pada awalnya mereka lakukan sembunyi-sembunyi.Sajak pertama Nabi mencurahkan Perhatian besar bagi penulisan Al-qur’an. Karena itu Al-qur’an bebas dari segala bentuk kekeliruan atau perubahan. a. dan pertentangan ini banyak melahirkan masalah yang berkaitan dengan hadits. Pernyataan ini sudah jelas dan gamblang sekali bahwa penulisan hadits tidak diizinkan. Pada masa ini Nabi SAW. Karena kejelasan dan ketegasan inilah dan karena alasan-alasan lainnya. Penundaan penulisan hadits ini akibatnya yang berbahaya telah membawa sekelompok orang melimpahkan kesalahan kepada Nabi. seperti hadits yang telah diriwayatkan oleh Abu sa’id Al-Khudri yang berbunyi: jangan tulis dariku kecuali al-Qur’an. hidup di tengah-tengah masyarakat pada umumnya dan di tengah sahabat pada khususnya. dan bagi siapapun yang menulisnyahendaknya menghapusnya. Sesuai dengan penjelasan ini. tetap jika penentangan itu dinisbatkan kepada yang lain. yang terletak secara di kota Madinah. sehingga membentuk komunitas yang lebih . Alasan kami menolak hadits ini adalah sebagai berkut: 2.Masa Kodifikasi dan Pengumpulan Hadits.

Nabi SAW melarang para sahabatnya untuk menulis hadist. Muslim . Nabi memerintahkan kepada umat Islam untuk mempelajari baca tulis. Adapun hadist pada waktu itu. dan yang terakhir Sahifah Sahihah yang disusun oleh Human bin Munabbih (40-131H). belum begitu diperhatikan seperti halnya alQuran yang sejak awal mendapatkan perhatian khusus. Berikut ini contoh Hadist Nabi SAW yang melarang penulisan hadits. dapat disebutkan beberapa cara sahabat dalam menerima hadist.[10] Pertama hadist diterima secara langsung. . Maka pada awal-awal perkembangan itu. tidak keluar dari mulutku kecuali yang hak “. ‫لتكتبوا عنى شيئا غيرالقران فمن كتب عنى شيئاغيرالقران فليمحه‬ Artinya “ Jangan menulis apa-apa selain al-Quran dari saya.(HR. Namun pada ujungnya disaat periode terakhir masa-masa kehidupan Nabi mereka mengkodifikasikannya. Bahkan pada awal-awal turunnya wahyu. Dia memiliki kumpulan hadist yang dikenal dengan Sahifah as-Sadiqah. Disamping itu dijumpai sebuah kitab hadist Sahifah Jabir bin Abdillah yang ditulis oleh Jabir bin Abdulloh al-Ansari (16-74H).[9] Di masa ini. Sehingga pada saat itu hadist terdokumentasikan dalam bentuk hafalan saja. Di era tersebut Kota Madinah masih memiliki sembilan masjid. sahifah ini memuat seribu hadist. Diantara para sahabat yang telah mendapatkan lisensi adalah Abdulloh bin Amr bin Ash (7SH65H). Dan nabi memprioritaskan terhadap penulisan al-Quran. Hal itu bertujuan untuk membantu dalam proses hafalan mereka. barang siapayang menulis dari saya selain al-Quran maka hendaklah menghapusnya”. Karena dikhawatirkan akan tercampur dengan al-Quran.besar. ‫اكتبواعني فوالذى نفسى بيده ماخرج من فمى الحق‬ Artinya “ Tulislah dari saya demi zat yang diriku di dalam kekuasaan-Nya. dan juga supaya semua potensi ditujukan dan diarahkan pada al-Quran.[dari Abu Said a-Khudry)[7 Namun ada sebuah riwayat yang mengatakan bahwa Nabi SAW memberikan izin kepada sebagian sahabatnya untuk menulis hadist. [8] Contoh hadist yang memperbolehkan penglodifikasian hadist adalah.

Selain karena sebab-sebab diatas factor lain adalah tingkat kemampuan termasuk tingkat kecerdasan diantara mereka yang menetukan kualitas penerimaan hadist.Melalui majlis pengajian nabi yang diadakan pada waktu-waktu tertentu. yang merambat pada lahirnya berbagai macam fitnah dan intrik. Persoalan-persoalan tersebut menumbuhkan perpecahan dikalangan intern umat. b. Jadi pada masa ini terdapat perbedaan tingkat penerimaan hadist dilkalangan sahabat. Adanya perilaku umat yang disaksikan oleh nabi secara langsung dan menghendaki panjelasan dari nabi. Periode kedua Tepatnya periode ini adalah masa kepemimpinan khulafa ar-Rasyidin. Kesibukan yang dialami sahabat. Sehingga wajar kalau Abu Bakar dan Umar menyerukan pada umat Islam . yang disebabkan beberapa factor. Ali bin Abi Tholib (10H-40H). disamping usaha penyebarluasan Islam adalah soal ketatanegaran dan soal kepemimpinan umat. Tempat tinggal sahabat yang jauh. Ada peristiwa yang langsung dialami Nabi SAW dan para sahabat menyaksikannya. Umar bi Khattab. Abu Bakar as-Siddik. Persoalan yang menonjol serta banyak menyita perhatian para sahabat pada periode ini. Ustman bin Affan. Persaan malu untuk bertanya langasung kepada Nabi SAW. Pertanyaan yang diajukan oeh sahabat atau permintaan penjelasan sahabat kepada Nabi SAW. Kedua hadist diterima secara tidak langsung. Yang pada tataran selanjutnya Hadist pun juga tak luput dari dampak tersebut.

Periode ketiga Periode ini disebut periode penyebaran riwayat. Persia (21H). [11] Adapun penyeberan hadist pada masa ini menggunakan lisan. Hal itupun juga diikuti sahabat-sahabat yang lainnya. Sehingga pada masa itu muncullah istilah “Bendaharawan Hadist”. Namun berkenaan dengan semakin luasnya wilayah Islam. Akibatnya penyebaran dan pengembangan riwayat secara lebih jauh tidak terhindarkan lagi. Misalnya jika umat Islam menghadapi suatu permasalahan yang menuntut penjelasan dari hadist. Adapun perkembangan selanjutnya sahabat yang mendengar riwayat (Hadist) .untuk berhati-hati dan cermat dalam meriwayatkan Hadist. Samarkand (56H).[13] Dalam riwayat Bukhori Ahmad. Ini berlangsung pada masa sahabat kecil dan tabiin besar. Hal demikian juga pernah dilakukan oleh Ayyub al-Anshari yang melawat ke Mesir hanya untuk menemui Uqbah bin Nafi. Karena banyak dari sahabat yang sudah berpencar ke daerah-daerah baru. dan al-Baihaki disebutkan bahwa Jabir pernah pergi ke Syam menanyakan sebuah hadist kepada seorang sahabat yang tinggal disana. dan hanya pada saat yang diperlukan. Beberapa sumber mengatakan bahwa Abu Bakar dan Umar tidak akan menerima hadist kalau tidak disaksikan kebenarannya oleh saksi yang lain. Semua itu menunjukkan bahwa betapa ketatnya para sahabat dalam menerima hadist. . Serta meminta para sahabat untuk secara teliti memeriksa riwayat Hadist yang mereka terima. Penakhlukan beberapa kota diantaranya Syam dan Irak (17H). Kedatangan sahabat tersebut dimanfaatkan oleh golongan tabiin untuk mendengarkan pengajaran-pengajaran daripadanya. Contohnya sahabat Ali. at-Tabari. Periode ini ditandai oleh aktifnya generasi tabiin menyerap hadist dari generasi sahabat. Maka pada saat itulah hadist baru dipakai untuk menyelesaikan permasalahan tersebut[12]. dan Spanyol (93H) menuntut para sahabat untuk berpindah ke tempat-tempat baru dengan tujuan mengajarkan agama Islam. Mesir (20H). yang tepatnya di masa pemerintahan Ali dan Ustman maka larangan terhadap periwatan hadist tidak lagi dapat dilakukan dengan tegas seperti pada masa Abu Bakar dan Umar. yaitu para sahabat yang meriwayatkan hadist lebih dari seribu hadist. yang belum pernah didengarnya merasa perlu melakukan pengecekan dengan melawat ke kota di mana sahabat yang meriwayatkan hadist tersebut tinggal. Ia tidak menerima hadist sebelum yang meriwayatkan disumpah terlebih dahulu. c.

(meriwayatkan 2630 hadist). Pada akhirnya situasi perpolitikan yang demikian itu memberi peluang berkembangnya pemalsuan hadist.”[14] Contoh hadist palsu yang dibuat golongan Muawiyah. Contoh hadist palsu yang dibuat golongan syiah. Az-Zubair dan Zaid bin Arqom adalah contoh dari sekian sahabat yang mengambil sikap seperti itu. Hadist palsu tersebut digunakan untuk menjastifikasi golongan mereka masing-masing. maka hendaklah mati sebagai orang Yahudi atau Nasrani. Abu Qotadah dan Muahmmad bin Sirin di Basra. Abu Said al-Khudari. . karena persoalan kholifah dan politik. Perseteruan itu banyak membawa korban dikalangan umat Islam. Ikrimah dan Ata bin Abi Robbah di Makkah. meriwayatkan (1540 hadist). dan Taus bin Khoiman di al-Yamani serta Wahab bin Muanabbih di Yaman. serta takut akan banyaknya hadist yang terlupakan dikarenakan usianya yang telah lanjut. Perkembangan selanjutnya terjadi perpecahan dikalangan umat Islam. Abdullah bin Abbas. Abdullah bin Umar bin Khattab. mereka takut terjerumus dalam kedustaan. Umar bin Abdul Aziz dan Qobisah bin Zuaib di Syam. Ikrimah dan Ata bin Abi Robbah di Makkah. asy-Sya’bi dan Ibrahim an-Nakhai di Kufah. . Abu Khoir Marsad al-Yazini dan Yazid bin Habib di Mesirl. Umar bin Abdul Aziz dan Qobisah bin Zuaib di Syam. Alasannya. Aisyah. meriwayatkan (1210 hadist). Anas bin Malik. Pada era tersebut juga terdapat beberapa sahabat yang . dan Muawaiyah cs. Sedangkan dari golongan tabiin yang tercatat sebagai tokoh hadist pada periode ini adalah Said dan Urawah di Madinah.Diantara mereka adalah Abu Hurairah (meriwayatkan 5374 hadist). meriwayatkan (1660 hadist). meriwayatkan (1170 hadist). Dan hal itu merembet pada perang saudara antara Ali cs.menyedikitkan riwayat. ‫من مات وفى قلبه بغض لعلى فليمت يهد يااو نصرانيا‬ Artinya: “siapa yang mati dan dalam hatinya ada rasa benci kepada Ali.meriwayatkan (2266 hadist). Abu Qotadah dan Muahmmad bin Sirin di Basra. Abu Khoir Marsad al-Yazini dan Yazid bin Habib di Mesirl. dan Taus bin Khoiman di al-Yamani serta Wahab bin Muanabbih di Yaman. Jabir bin Abdullah. Sedangkan dari golongan tabiin yang tercatat sebagai tokoh hadist pada periode ini adalah Said dan Urawah di Madinah. asy-Sya’bi dan Ibrahim an-Nakhai di Kufah.

Masa ini dicatat oleh sejarah sebagai masa kodifikasi resmi. Jarir bin Abdul Hamid (110-188H) di Rayy dan Abdullah bin Wahab (125-197H) di Mesir. Kholifah Umar bin Abdul Aziz yang tumbuh dalam ikllim keilmuan. Hasyim bin Basyr (104-183H) di Wasit. ar-Rabbi bin Sabih (w 160H). Said bin Urabah (w 167H). Muawiyah”. dan Muhammad bin Ishak (w 151H) di Madinah. si pengarang menghimpun semua hadist mengenai masalah-masalah yang sama dalam satu kitab karangan saja. Jibril. Periode keempat Periode keempat berlangsung dari masa Kholifah Umar bin Abdul Aziz (99H102H) sampai akhir abad kedua Hijriah. Sistem pembukuan hadist pada stadium ini adalah. hadist Mauquf. Para tokoh tersebut misalnya: Abdul Malik bin Abdu Aziz bin Juraij (w 159H) di Makkah. yakni Aku (Nabi). Ma’mar bin Rosyd (95153H) di Yaman. Selain itu beliau juga terkenal jujur.[15] Selanjutnya bertolak dari sini berkembanglah pengkodifikasian hadist. Kekhawatiran itulah yang menyebabkan kholifah memerintahkan Gubernur Madinah Abu Bakar Muhammad bin Amru bi Hazm (w 117H) untuk membukukan hadist yang terdapat pada penghafal Amrah binti Abdurrahman bin Saad bin Zuhairah bin Ades (ahli fiqih murid Aisyah RA) serta hadist yang ada pada Qosim bin Muhammad bin Abu Bakar as-Siddiq. d. Dan dalam kitab ini hadist masih bercampur dengan fatwa sahabat dan tabiin. yang selanjutnya melahirkan banyak penulis dan penghimpun hadist. Malik bin Anas / Imam Malik (94-179H). serta semakin berkembangnya hadist palsu. membentuk pribadi yang cinta akan ilmu pengetahuan. Abdurrahman bin Amr al-Auzi (88-157H) di Syam. dan Hammad bin salamah bin Dinar alBasri (w167H) di Basra. maka tergeraklah hatinya untuk mengkodifikasikan hadist. Sufyan as-Sauri (w161H) di Kufah. Belum ada pemilahan mana hadist yang Marfu’. . Ia khawatir kalau tidak segera dibukukan maka hadist pasti akan berangsurangsur hilang.‫المناء عندالله ثل ثة : انا وجبريل ومعويه‬ Artinya: “ orang yang terpercaya oleh Alloh hanya tiga. Sehingga ketika Ia menangkap kenyataan bahwa banyak dari para penghafal hadist yang wafat. Abdullah bin alMubarak (118-181H) di Khurasan. Selain itu kholifah juga memerintahkan Muhammad bin Syihab az-Zuhri (w 124 H) untuk mengumpulkan hadist yang ada pada para penghafal Hijaz dan Syuriah.

Misalnya Musnad as-Syafii. .ataupun hadist Maqtu’. kegiatan-kegiatan lainnya di masa ini adalah:[17] lawatan ke daerah-daerah yang semakin jauh guna menghimpun hadist dari para perowinya. dan maqtu’. yang dengan sabar menjaga kemurnian dan kesucian ajaran Nabi SAW. Ini berlangsung dari awal abad ke 3 H sampai sampai akhir abad ke 3. al-Musnad.[16] Masa ini dapat dikatakan sebagai masa keemasan dalam sejarah kodifikasi hadist. Namun ditengah-tengah kegentingan tersebut lahirlah ulamaulama besar termasuk Ulama hadist. Musannaf al-Auzai dan al-Muwatta karya Imam Malilk yang disusun atas permintaan kholifah Abu Ja’far al-Mansur (144H). Ia menginstruksikan kepada seluruh Gubernur di Bagdad untuk menindak dengan tegas kepada siapa saja yang tidak mau mengatakan bahwa Quran itu makhluk. serta antara hadist Sohih. Periode kelima Periode kelima disebut dengan periode pemurnian. Hasan. dan penyempurnaan. membuat klasfikasi hadist marfu’. Pada periode tersebut banyak dari golongan ulama yang dipenjara dan di siksa. Pada masa ini timbul pertentangan yang hebat antara ulama kalam (khususnya Mu’tazilah) dengan Ulama hadist. antara lain Ahmad bin Hambal karena menentang kholifah al-Makmun dan penggantinya al-Mu’tasim (w 227 H) dan Watsiq (w 232 H). al-Musannaf dan lain-lain. dan umat Islam umumnya yang mayoritas beraliran Ahlu Sunnah. Sebab para ulama telah berhasil memisahkan hadist-hadist Nabi SAW dari yang bukan hadist (fatwa sahabat dan Tabiin) . dan Dhoif. Instruksi tersebut banyak mendapat tentangan dari Ulama hadist khususnya. Antara lain al-Makmun (218H) . penyehatan. a. Bahkan Ia melarang keras kepada Ulama hadist untuk berfatwa dan meriwayatkan Hadist kalau tidak mengatakan demikian. Pendapat ini mendapat suport dari kholifah-kholifah pada waktu itu. Beberapa buku tersebut ada yang dinamakan al-Jami. Pertentangan itu berkutat di sekitar apakah al-Quran itu makhluk atau Bukan? Golongan Mu’tazilah beropini bahwa Quran adalah makhluk. mauquf.

menghimpun kritik-kritik yang diarahkan baik pada rowi maupun matan serta memberi jawabannya.[18] Adapun Ulama Mutaakhirin pada umumnya bersandar pada karya-karya Ulama Mutakadimin dalam arti kumpulan-kumpulan hadist mereka adalah hasil petikan atau nukilan dari kitab-kitab Mutakadimin. Usaha ini dilanjutkan oleh Imam Bukhori. Periode keenam Periode keenam merupakan periode pemeliharaan. Ini dimulai dari abad ke 4 sampai jatuhnya Kota Bagdad (656H). dan Nuaim bin Ahmad al-Kazai. Kitab Sunan dan Kitab Musnad. Dalam arti mereka himpunan hadist-hadistnya tidak dengan jalan mengutipnya dari kitab-kitab hadist yang ada sebelumnya. f. penambahan. Oleh sebab itu dirasakan tidak perlu lagi melakukan lawatan ke berbegai negeri untuk mencari hadist. Penyusun kitab musanad lainnya adalah Musa al-Abbasi. dan Ibnu Majja. Jadi para ulama periode ini berlombalomba untuk mengahafal sebanyak-banykanya hadist yang sudah terkodifikasi. Tapi mereka mendengar langsung hadsit-hadist itu dari guru-gurunya dan mengadakan penelitian sendiri tentang matan serta perowinya. seperti Abu Daud. Asad bin Musa. an-Nasai. lahirlah buku-buku baru yang dinamakan Kitab Sahih.[19] . dan penghimpunan hadist. Term-term ini jadikan sebagai pemisah antara ulama yang hidup sebelum abad ke 4 H (mutakadimin). mulai menyusun kitab-kitab sunan mereka. penertiban. at-Tirmidzi. Pada masa ini bangkit Imam hadist yang besar yaitu Ishaq bin Ruwaih yang merintis usaha memisahkan antara hadist Sahih dan tidak. Sebagai tindak lanjut dari pengklasifikasian hadist. Musaddad al-Basri. dan ulama yang hidup sesudah abad 4 H (Muataakhirin). Perbedaan antara keduanya adalah Ulama Mutakadimin melakukan kegiatannya secara mandiri. Pada stadium enam ini tumbuh sebuah asumsi bahwa sudah merasa cukup dengan hadist-hadist yang dihimpun ulama-ulama Mutakadimin. sehingga tersusunkah sebuah kitab yang sistematis berdasarkan bab-bab yang diberi nama Sahih Bukhori. Untuk itu mereka mengadakan lawatan-lawatan ke berbagai daerah untuk mencek kebenaran hadist-hadist yang didengarnya. Begitu pula Imam Hambali dengan kitab musnadnya. Semangat yang tumbuh pada masa ini adalah semangat untuk memelihara. Imam-imam hadist lainnya. Pada masa ini lahir istilah ulama Mutakadimin dan ulama Mutaakhirin.

dengan sanad sendiri yang berbeda dengan sanad hadist rujukannya. kemudian menjelaskan seluruh sanad dari matan itu baik sanad dari kitab yang dikutip maupun kitab lain. Kemudian menakhlukkan Mesir dan melenyapkan Kholifah Abbasiyah. Akibat dari kejadian itu maka pindahlah pemerintahan Abbasiyah ini ke Cairo Mesir. Sejak itu kholifah islamiyah ini dipindahkan ke Kota Konstantinopel dan sejak itu raja Turki memakai sebutan Kholifah. perhimpunan. kitab Mustadrak. yang mengomentari kitab hadist tertentu. Usaha-usaha perbaikan tersebut memunculkan beberapa Kitab hadist diantaranya:[20] kitab syarh. sedangkan yang berkuasa pada hakekantnya adalah Raja Mesir dari Mamalik. Bahkan pada abad 9 Turki di bawah pemerintahan Ottoman (dinasti Ustmaniyah) merebut Kota Konstantinopel dan dijadikan ibukotanya. g. Selain itu juga muncul kitab Mustakhraj. pentarjihan serta pengeluaran riwayat.[21] Pada akhir abad ke 7 Turki menguasai daerah-daerah Islam kecuali daerah barat (Maroko dan sebagainya). mengumpulkan yang masih berserakan dan memudahkan jalan-jalan pengumpulan hadist. kitab Atraf yang menyebut hanya sebagian dari matan atau tesk hadist. Turki semakin kuat dan daerahnya makin . Periode ketujuh Periode ketujuh bisa dikatakan periode pensyarahan. namun kholifahnya hanya simbol saja. Periode ini bertepatan dengan masa penghancuran Kota Bagdad sebagai pusat pemerintahan Abbasiyah oleh pasukan Hulugu Khan (656 H). yang menghimpun hadist-hadist yang memiliki syarat-syarat Bukhori Muslim atau salah satu dari keduanya saja. kitab Jam’i yang menghimpun hadist-hadist yan telah termuat dalam kitabkitab yang telah ada.Selain itu ulama dalam periode ini berusaha memperbaiki susunan kitab. yaitu kitab hadist yang memuat hadist dari kitab hadist yang ada.

Hal-95 [22] Ibid.Cit. Yang umum adalah mempelajari kitab-kitab hadist yang ada.T. Hal-41&51. Kemudian imperialisme Barat berhasil menakhlukkan negeri-negeri Islam. Hal-92 [19] Penyusun Ensiklopedi Islam. cit. [2] M. mengembngkannya. Op. Hal-43 [11] Ibid.Cit. Op. atau lht Muhammad Hasbi Ash shiddiqi. Hal-149 [16] Masjfuk Zuhdi.2. Hal-17 [5] Muhammad bin Ali al-Maliki / Muhamad Hasbi As-Sidiqi. Mereka kadang-kadang menggunakan jalan surat menyurat dan ijazah.Cit.Cit. Sahar al-Mamlakah al-arabiyah. Pada dekade ini jarang sekali detemuakan ulama-ulama yang mampu menyampaikan periwayatan hadist beserta sanadnya secara hafalan yang sempurna. Hal-1. Hal-47 [20] Ibid [21] Masjfuk Zuhdi. Op.cit. tapi sayangnya pada waktu yang sama pemerintahan Islam di Andalus hancur. Hal-45.Ci. Hal-52 / 5. [3]Muhammad bin Ali al-Maliki / Muhamad Hasbi As-Sidiqi. op.4. Maksudnya adalah sang guru memberikan izin kepada sang murid untuk meriwayatkan hadist dari guru tersebut. Maka padamlah cahaya Islam yang pernah menerangi negeri tersebut selama kurang lebih delapan abad. Loc. (Surabaya: Bina Ilmu). Op Cit.[22] Situasi dan kondisi tersebut secara otomatis juga menggeser cara penerimaan dan penyampaian hadist.89 [17] Penyusun Ensiklopedi Islam.Loc. [14] Masjfuk Zuhdi. Sejarah & pengantar Ilmu Hadits.Cit. 96 . [1] Muhammad bin Ali al-Maliki. Hal-81 [10] Penyusun Ensiklipedi Islam. al-Manhalal-Latif fi Usul al-Hadis al-Syarif. Ulum al-Hadist. Hal-47 [18] Masjfuk Zuhdi. Op. Hal-19. Hal-84. Jld. Pustaka Rizqi Putra. Op. Hal-88. Op. 1993.Cit. Op. ‘Ajjaj al-Khatib. Semarang. Loc. Dan sejak itu Islam mengalami kemunduran. Jld. Op. [15] Penyusun Ensiklopedi Islam. 1998.6. Hal-80 [8] Penyusun Ensiklipedi Islam.Cit. membuat pembahasanpembahasannya atau membuat ringkasan-ringkasan.1999.luas. Ensiklopedi Islam. Usul al-Hadist Ulumuhu wa Musthalahuhu.15 [6] Sya’ban Muhammad Ismail.cit. Jiddah.1. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve. 1990. Hal-87 [7] Masjfuk Zuhdi. 44 [12] Masjfuk Zuhdi. P.Cit. Hal-149 [9] Masjfuk zuhdi. cet. Hal-52 / 5-15 [4] Muhammad Ahmad dan Muhammad Mudzakkir. Hal-82 [13] Penyusun Ensiklopedi Islam. Al-Hadist Al-Qudsi. Pengantar Ilmu Hadist.

Tinggalkan Balasan Top of Form Enter your comment here. Bottom of Form Top of Form Bottom of Form My family ... Fill in your details below or click an icon to log in: • • • Email (wajib) (Belum diterbitkan) Nama (wajib) Situs web Beritahu saya balasan komentar lewat surat elektronik.

my article • • • • • • • Al-Jarah Wa Al-Ta’dil Definisi Hadits Hadist Ditinjau Dari Aspek Kuantitas Sanad Hadits Ditinjau Dari Aspek Kualitas Hadits Mu’an-an dan Mu’annan Syudzudz & Illat Hadits Tahamul & Ada’ul Hadits my town • asal-usul udink’z Relasi Link • • • • • game’s Hamzex’ MUTU my pondok nurul anwar SAVEKING situs mine • • • FB friendster myspace ANDA ADALAH TAMU KE: Desember 2011 S S R K J S M « Feb 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 .

Desember 2011 S S R K J S M 2 3 4 5 6 7 8 1 2 2 2 2 2 2 9 0 1 2 3 4 5 2 2 2 2 3 3 6 7 8 9 0 1 Blog pada WordPress. .com. Theme: Sapphire by Michael Martine.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->