Al-Qur’an Secara Etimologi

November 28, 2010 tauhidullah Tinggalkan komentar Go to comments

Rate This Ditinjau dari segi kebahasaan, Al-Qur’an berasal dari bahasa Arab yang berarti “bacaan” atau “sesuatu yang dibaca berulang-ulang”. Kata Al-Qur’an adalah bentuk kata benda (masdar) dari kata kerja qara’a yang artinya membaca. Konsep pemakaian kata ini dapat juga dijumpai pada salah satu surat Al-Qur’an sendiri yakni pada ayat 17 dan 18 Surah Al-Qiyamah yang artinya: “Sesungguhnya mengumpulkan Al-Qur’an (di dalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggungan Kami. (Karena itu,) jika Kami telah membacakannya, hendaklah kamu ikuti {amalkan} bacaannya”.(75:17-75:18)

Terminologi
Sebuah cover dari mushaf Al-Qur’an Dr. Subhi Al Salih mendefinisikan Al-Qur’an sebagai berikut: “Kalam Allah SWT yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan ditulis di mushaf serta diriwayatkan dengan mutawatir, membacanya termasuk ibadah”. Adapun Muhammad Ali ash-Shabuni mendefinisikan Al-Qur’an sebagai berikut: “Al-Qur’an adalah firman Allah yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantaraan Malaikat Jibril a.s. dan ditulis pada mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir, serta membaca dan mempelajarinya merupakan ibadah, yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas“ Dengan definisi tersebut di atas sebagaimana dipercayai Muslim, firman Allah yang diturunkan kepada Nabi selain Nabi Muhammad SAW, tidak dinamakan Al-Qur’an seperti Kitab Taurat yang diturunkan kepada umat Nabi Musa AS atau Kitab Injil yang diturunkan kepada umat Nabi Isa AS. Demikian pula firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang membacanya tidak dianggap sebagai ibadah, seperti Hadits Qudsi, tidak termasuk Al-Qur’an. Jaminan Tentang Kemurnian Al-Quran dan Bukti-Buktinya Kemurnian Kitab Al-Quran ini dijamin langsung oleh Allah, yaitu Dzat yang menciptakan dan menurunkan Al-Quran itu sendiri. Dan pada kenyataannya kita bisa melihat, satu-satu kitab yang mudah dipelajari bahkan sampai dihafal oleh beribu-ribu umat Islam.

Nama-nama lain Al-Qur’an
Dalam Al-Qur’an sendiri terdapat beberapa ayat yang menyertakan nama lain yang digunakan untuk merujuk kepada Al-Qur’an itu sendiri. Berikut adalah nama-nama tersebut dan ayat yang mencantumkannya:

• • • • • • • • •

Al-Kitab, QS(2:2),QS (44:2) Al-Furqan (pembeda benar salah): QS(25:1) Adz-Dzikr (pemberi peringatan): QS(15:9) Al-Mau’idzah (pelajaran/nasehat): QS(10:57) Al-Hukm (peraturan/hukum): QS(13:37) Al-Hikmah (kebijaksanaan): QS(17:39) Asy-Syifa’ (obat/penyembuh): QS(10:57), QS(17:82) Al-Huda (petunjuk): QS(72:13), QS(9:33) At-Tanzil (yang diturunkan): QS(26:192)

• • • • • • • • •

Ar-Rahmat (karunia): QS(27:77) Ar-Ruh (ruh): QS(42:52) Al-Bayan (penerang): QS(3:138) Al-Kalam (ucapan/firman): QS(9:6) Al-Busyra (kabar gembira): QS(16:102) An-Nur (cahaya): QS(4:174) Al-Basha’ir (pedoman): QS(45:20) Al-Balagh (penyampaian/kabar) QS(14:52) Al-Qaul (perkataan/ucapan) QS(28:51)

$4If’s (alumni DALWA)

Definisi Hadits
ULUMU AL-HADITS
A. Terminologi Hadits Nabawi 1.Definisi dan Perbedan Antara Hadits, Sunnah, Atsar, dan Khabar.

Hadits adalah: ‘segala perkataan. dan ketetapan beliau yang menjadi dalil syara’ “. Hadits menurut terminologi adalah : Segala ucapan. Menurut istilah syara’. seperti kelahirannya. yang tidak berat suruhannya”. perbuatan. pekerjaan. Sunnah Sunnah menurut Etimologi adalah: Jalan yang dijalani. dan keadaan Nabi. perkataan.a. ketetapan. • Perbedaan sunnah dan hadits . Menurut fuqoha’. Sunnah adalah ” segala sesuatu yang bersumber dari Nabi baik perkataan. kelakuan. Menurut arti lain Hadits adalah “segala sesuatu yang disadarkan pada Nabi SAW baik berupa perkataan.[1] b. perbuatan. Menurut Ahli Ushul. Hadits Hadits menurut Etimologi adalah: o Jadid. tempatnya dan yang bersangkut paut dengannya.yang belum lama terjadi o Khobar: warta yaitu sesuatu yang di percakapkan dan dipindahkan dari seseorang kepada seseorang yang lain. pengajaran. dan takrir Nabi yang berhubungan denga hukum”. sifat. takrir. Yang dimaksud keadaan adalah segala yang diriwayatkan dalam kitab sejarah. dan perjalanan hidup beliau sebelum diutus atau sesudahnya. Sunnah menurut Terminologi adalah: Segala yang dinukil dari Nabi SAW. yang terpuji ataupun jelek. pekerjaan. Dari makna inilah diambil perkataan hadits. lawan dari qodim: yang baru o Qorib: yang dekat. baik berupa perkataan. Sunnah adalah “suatu suruhan yang tidak difardlukan dan tidak diwajibkan. maupun sifat beliau yang adakalanya itu disunnahkan/dijelaskan pada umat Islam ataupun khusus untuk Nabi”.

hanya saja kata “Akhbary” digunakan untuk menyebut orang–orang yang menekuni bidang sejarah. sedangkan sunnah lebih umum. Yaitu : Hadits adalah segala peristiwa yang disandarkan pada Nabi walaupun hanya sekali saja terjadinya dalam sepanjang hidup Nabi walaupun hanya diriwayatkan satu oarang saja . c. Dan “Muhaddist” diberikan untuk ulama ahli hadits atau sannah. Peganglah ia dengan teguh”. Sunnah adalah sebutan bagi amaliah yang mutawatiroh yakni cara Rasul melaksanakan suatu ibadah yang dinukilkan kepada kita dengan amaliah yang mutawatir. Sebagian ulama ada yang memasukkan perkataan dan perbuatan sahabat dan tabi’in dalam pengertian Sunnah. Menurut Al-Imam Al-Kamal Ibnu Humam.Dapat disimpulkan garis pebedaan antara keduanya. Hadits rasulullah adalah berita – berita yang disandarkan kepada Nabi saw. Sehingga khabar lebih layak dijadikan sinonim hadits daripada sunnah. Yang mendukung pendapat ini adalah hadits yang berbunyi : ‫حدّث َنا عب ْدُ الل ّه ب ْن أ َحمدَ ب ْن ب َشير ب ْن ذَك ْوان الدّمشقي حدّث َنا ال ْوليدُ ب ْن مسل ِم ٍ حدّث َنا‬ َ َ َ ِ َ َ َ َ ِ َ َ ّ ِ ْ َ َ ْ ُ ُ َ ْ ُ ِ ِ ِ ِ ‫عب ْدُ الل ّه ب ْن ال ْعلء حدّث َني ي َحيى ب ْن أ َبي ال ْمطاع قال سمعت ال ْعرباض ب ْن ساري َة‬ َ َ ِ َ َ ِ ِ َ ْ ِ َ ْ َ ِ َ َ ُ ْ ِ َ َ َ ِ َ ُ ُ َ ِ ُ ّ َ ِ ُ ُ َ َ ِ َ َ ُ ُ ‫ي َقول: قام فينا رسول الل ّه صلى الل ّه عل َي ْه وسل ّم ذات ي َوم ٍ فوعظَنا موعظَة ب َليغة‬ ً َ ِ ً ِ ْ َ َ َ َ َ َ َ َ َ َ ِ َ ُ ْ َ ُ َ َ َ ِ َ ُ ُ ُ ‫وجل َت من ْها ال ْقلوب وذَرفت من ْها ال ْعيون فقيل يا رسول الل ّه وعظْت َنا موعظَة مودّع‬ َ َ ِ ِ ْ َ َ َ ِ ْ َ َ َ ُ ُ ُ َ ِ ْ ِ َ ٍ َ ُ َ ‫فاعهدْ إ ِل َي ْنا ب ِعهد فقال عل َي ْك ُم ب ِت َقوى الل ّه والسمع والطاعة وإ ِن عب ْدا حب َشيا‬ َ َ َ َ ٍ ْ َ َ ّ ِ َ ً َ ْ َ ِ َ ّ َ ْ َ ْ َ ِ ْ ّ َ ِ َ ْ ً َ ْ ‫وست َرون من ب َعدي اخت ِلفا شديدا فعل َي ْك ُم ب ِسن ّتي وسن ّة ال ْخل َفاء الراشدين‬ ِ َ ُ ِ ُ ِ ُ َ ِ ْ ْ ِ َ ْ َ َ َ َ َ ً ِ َ َ ِ ِ ّ ْ ّ ‫ال ْمهديين عضوا عل َي ْها بالن ّواجذ وإ ِياك ُم وال ُمور ال ْمحدَثات فإ ِن ك ُل ب ِدْعة ضلل َة‬ ٌ َ َ ٍ َ ّ َ َ ّ ِ ْ َ ّ َ ِ َ ْ ُ ّ َ ِ ِ َ ِ َ َ َ ُ ْ َ ْ “Hendaklah kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin sesudahku. Sunnah adalah: segala yang diriwayatkan dari Nabi baik perkataan atau perbuatan .(Sunan Ibn. Khabar Khabar memiliki arti yang hampir sama dengan hadits. .sedang hadist tentu perkataan saja”. Hal ini dikarenakan tahdits (pembicaraan) artinya tidak lain adalah ikhbar (pemberitaan). Majah). Ada yang berpendapat: hadits khusus dengan perkataan dan perbuatan.

Atsar Atsar menurut Etimologi adalah : Bekas / Sisa sesuatu Atsar menurut Terminologi adalah: Pengertian untuk Hadits. dan setengah ulama memakai pula kata atsar untuk perkataan-perkataan tabiin saja. d. Setiap hadits itu pasti khabar dan tidak sebaliknya. tidak setiap khabar itu hadits. tabiin dan lain-lain. Tapi para muhadditsin umumnya menamai hadist Nabi dan perkataan sahabat dengan atsar juga. dan menamai hadist Nabi dengan Khabar. para ahli hadits lantas memandang Atsar yang diidintikkan dengan Hadits Sahabat (mauquf) atau Tabiin (maqtu’)[2] Atsar menurut istilah jumhur artinya sama dengan khobar dan hadits. dan Khabar yang disandarkan kepada Sahabat dan Tabiin.[3] 2. Yakni antara hadits dan khabar ada pengertiaan umum dan khusus. Yang disampaikan dalam berbagai hal dan keadan yang diterbelakangi oleh berbagai tujuan. Sedang khabar tidak hanya mencakup hadits marfu’ saja akan tetapi juga mengakomodasi yang mauquf (perawi hanya bersumber dari sahabat saja tidak sampai pada rasulullah). Para fuqoha’ memakai perkataan Atsar untuk perkataan ulama salaf. Qauliyyah Hadits / Sunnah Qauliyyah adalah Hadits-hadits Nabi saw. Sunnah. Bahkan juga yang hanya berhenti sampai tingkatan tabi’in (maqtu’) saja. seperti beliau bersabda: .Bentuk-bentuk Hadits Nabawi Hadits ataupun Sunnah terbagi menjadi beberapa bentuk. Oleh karenanya. sahabat. Al Imam Al-Nawawi menerangkan bahwa fuqoha’ khurosan menamai perkataan sahabat ( hadist mauquf ) dengan atsar. Hadits atau sunnah memberikan pengertian bahwa perawi mengutip hadits yang disandarkar kepada Rasulullah saw (marfu’).Pergeseran makna ini memberikan implikasi pada pada kedua lafad tersebut. antara lain: a. Ada yang mengatakan atsar lebih umum daripada khobar. Artinya.

Perbedaan antra al-Qur’an. b. Dalam hal ini Rasul tidak memiliki otoritas sama sekali unutuk merangkai kata-kata al-Qur’an.a. Fi’liyyah Hadits / Sunnah Fi’liyyah adalah semua perbuatan Nabi saw. a. Yang disampaikan oleh sahabat kepada kita seperti tatcara beliau Shalat. Hadits Qudsi secara etimologi berarti suci. Taqririyyah Hadits / Sunnah Taqririyyah adalah Hadits yang berupa ketetapan atau penelitian Rasulullah saw. Contoh: َ ‫حدّث َنا عث ْمان ب ْن أ َبي شي ْب َة قال حدّث َنا جرير عن من ْصور عن أ َبي وائ ِل عن حذَي ْفة‬ َ َ ُ َ ُ َ ُ ْ َ ٍ َ َ َ َ َ ِ ْ َ ٍ ُ َ ْ َ ٌ ِ َ َ ِ ُ َ ّ َ ّ َ ُ ُ َ َ ‫قال: كان الن ّب ِي صلى الل ّه عل َي ْه وسل ّم إ ِذا قام من الل ّي ْل ي َشوص فاهُ بالسواك‬ َ َ ِ َ ّ ْ ِ َ َ َ َ َ َ ِ َ ُ ِ ِ (‫)صحيح البخاري‬ c. Sedang secara terminologi adalah hadits yang Nabi riwayatkan dari Allah selain Al-Quran yang redaksinya dari Nabi sendiri. yang mana redaksi dan subtansinya maknanya berasal dari Allah swt. Puasa.‫حدّث َنا محمدُ ب ْن ك َثير أ َخب َرنا سفيان حدّث َني ي َحيى ب ْن سعيد عن محمد ب ْن إ ِب ْراهيم‬ ِ َ َ ْ ٍ ِ َ ْ َ ُ َ ْ ُ َ ُ َ ِ َ ّ َ ُ َ ِ ِ ّ َ ُ ْ َ ٍ ِ َ ُ ّ َ ِ َ َ ُ ُ ‫الت ّي ْمي عن عل ْقمة ب ْن وقاص الل ّي ْث ِي قال سمعت عمر ب ْن ال ْخطاب ي َقول: قال‬ َ َ َ َ ْ َ ّ ِ َ ِ ّ َ َ َ ُ ُ ْ ِ َ َ َ ّ ٍ ّ َ ِ ُ ُ َ ‫رسول الل ّه صلى الل ّه عل َي ْه وسل ّم إ ِن ّما ال َعمال بالن ّيات وإ ِن ّما ل ِك ُل امرئ ما ن َوى‬ َ ٍ ِ ْ ّ َ َ ِ ّ َ َ َ َ ِ َ ُ ِ ُ َ ْ ْ َ َ ُ َ ْ ِ َ ِ َ ُ َ ْ ِ ْ َ ْ َ َ ِ َ ْ َ َ ‫فمن كان َت هجرت ُه إ ِلى الل ّه ورسول ِه فهجرت ُه إ ِلى الل ّه ورسول ِه ومن كان َت هجرت ُه‬ ُ َ َ ِ ُ َ َ ِ ُ َ ْ ِ ْ َ ُ َ ْ ِ َ َ ُ ّ َ (‫ل ِدُن ْيا ي ُصيب ُها أ َو امرأ َة ي َت َزوجها فهجرت ُه إ ِلى ما هاجر إ ِل َي ْه )سنن أبي داود‬ ِ ٍ َ ْ ْ َ َ ِ َ َ َ َ b. seperti yang dikabarkan oleh Shahabat[4]: َ ّ ْ ّ َ َ َ َ َ ْ ْ َ ُ ْ ُ َ ‫حدّث َنا ي َحيى ب ْن أ َبي ب ُك َي ْر حدّث َنا شعب َة عن ت َوب َة قال قال الشعب ِي ل َقدْ صحب ْت اب ْن‬ َ َ ٍ َ ْ َ ُ ِ َ َ ِ ُ ّ َ ِ ً ِ َ ّ َ َ َ ِ َ ُ ‫عمر سن َة ون ِصفا فل َم أ َسمعه ي ُحدّث عن رسول الل ّه صلى الل ّه عل َي ْه وسل ّم إ ِل حديثا‬ ْ َ ً ْ َ ً َ َ َ ُ ِ ُ َ ْ َ ُ َ ُ ْ َ ْ ّ َ ِ َ َ َ َ ِ َ ُ َ َ َ َ ّ َ َ َ ً ِ َ ‫واحدا قال ك ُنا مع رسول الل ّه صلى الل ّه عل َي ْه وسل ّم فأ ُت ِي ب ِضب فجعل ال ْقوم‬ ُ ْ َ ِ ُ َ َ َ ّ َ (‫ي َأ ْك ُلون )مسند أحمد‬ َ ُ 3. Haji dan lain-lain. Terhadap perkataan atau perbuatan Shahabat. Al-Qur’an adalah wahyu yang diturunkan oleh Allah melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad s. dan Hadist Nabawi.w. Hadits Qudsi. .

Hadits Nabawi adalah yang mana bahasa maupun maknanya berasal dari Nabi saw sendiri. sedang Hadits Qudsi tidak begitu “diturunkan melalui mimpi/ilham”. Sedangkan dalam Hadits Qudsi statemen yang dipakai adalah: ”Allah telah meriwayatkan kepadaku”. dan tidak sah sholat seseorang tanpa ada surat Al Quran. sedangkan Hadits Qudsi tidak. lalu beliau menerangkan mimpinya dengan susunan pekataan beliau sendiri. o Mushaf al-Qur’an hanya boleh dipegang oleh orang yang dalam keadaan bersih (suci). sedang hadits Qudsi tidak seperti itu o Pernyataan yang digunakan nabi dalam al-Qur’an adalah: ”Allah telah berfirman”.Menurut Al-Thibi “hadits Qudsi adalah Titah Allah yang disampaikan kepada Nabi dalam mimpi. o Al-Quran sebagiai mu’jizat.Alasan Tertundanya Penulisan Hadist . o Dan masih banyak perbedaan-perbedaan lainnya yang tidak munglin saya sebutkan semuanya disini. karena hal ini bertentangan dengan al-Qur’an surat al-Najm ayat 4 yang berbunyi: o Setiap makna dan lafad Al-Quran dari Allah dan menjadi wahyu yang agung. [5] • Secara garis besar keduanya dapat dibedakan sebagai berikut: dan diturunkan secara mutawatir melaui jibril.[6] B. Kodifikasi Hadist 1. serta menyandarkan kepada Alloh. Sedangkan Hadaits Qudsi adalah “wahyu yang redaksinya dari Rasul sedang maknanya dari Allah diturunkan dengan jalan ilham atau mimpi. Menurut Abdul Baqi Al-Ukbari Al-Quran adalah “wahyu yang lafad dan maknanya dari Allah”. atau jalan ilham. c. Meskipun demikian bukan berarti apa yang dikatakan oleh Nabi merupakan sesuatu yang berasal dari nafsu belaka. . setiap orang yang membacanya dicatat sebagai ibadah.‫وماينطقوا عن الهوى ان هوالوحي يوحى‬ Akan tetapi mempunyai pengertian bahwa Hadits Nabawi dalam proses terjadinya dari Nabi tidak harus menunggu intruksi wahyu dari Allah.

waktu mempelajari al-Quran. Bersamaan berjalannya akhirnya Islampun mulai berkembang. Penundaan penulisan hadits ini akibatnya yang berbahaya telah membawa sekelompok orang melimpahkan kesalahan kepada Nabi. dan pertentangan ini banyak melahirkan masalah yang berkaitan dengan hadits. Pada masa ini Nabi SAW. serta mereka melakukan dakwah yang pada awalnya mereka lakukan sembunyi-sembunyi. a. Alasan kami menolak hadits ini adalah sebagai berkut: 2. tidak akan dianggap salah karena Nabi adalah Ma’shum (terjaga). Pada masa permulaan ini jumlah umat Islam hanyalah beberapa gelintir orang saja. Sesuai dengan penjelasan ini. tetap jika penentangan itu dinisbatkan kepada yang lain. tiap orang yang elah menulis apa saja tentang Hadist wajib memusnahkannya. namun tugas penulisan hadits bukan saja tidak diperhatikan akan tetapi ditentang. hidup di tengah-tengah masyarakat pada umumnya dan di tengah sahabat pada khususnya. maka kelemahan mereka terungkap karena menisbat larangan tersebut kepada Nabi. Mula-mula mereka tinggal di rumah al-Arqam bin Abdu Manaf.Masa Kodifikasi dan Pengumpulan Hadits. yang terletak secara di kota Madinah. Mereka tau bahwa penentangan penulisan hadits datang dari Nab. sehingga membentuk komunitas yang lebih . dan bagi siapapun yang menulisnyahendaknya menghapusnya.Sajak pertama Nabi mencurahkan Perhatian besar bagi penulisan Al-qur’an. Karena itu Al-qur’an bebas dari segala bentuk kekeliruan atau perubahan. Karena kejelasan dan ketegasan inilah dan karena alasan-alasan lainnya. seperti hadits yang telah diriwayatkan oleh Abu sa’id Al-Khudri yang berbunyi: jangan tulis dariku kecuali al-Qur’an. Disitu mereka mempelajari dengan agama Islam. dan meskipun kenyataannya hadits telah ditulis selama masa hidup Nabi. Periode pertama Periode pertama adalah masa wahyu dan pembentukan masyarakat. baik sewaktu tinggal di Makkah maupun setelah Hijrah ke Madinah. Sadangkan kasus Haditst – menurut keyakinan kami – meskipun ada izin atau perintah Nabi dalam kaitannya dengan penulisan hadits. Pernyataan ini sudah jelas dan gamblang sekali bahwa penulisan hadits tidak diizinkan. kami tidak mendapat menerima keshahian pernyataan ini atau pernyataan lain yang seperti ini.

Di era tersebut Kota Madinah masih memiliki sembilan masjid. Muslim .[9] Di masa ini. Dan nabi memprioritaskan terhadap penulisan al-Quran. Berikut ini contoh Hadist Nabi SAW yang melarang penulisan hadits. Maka pada awal-awal perkembangan itu. Sehingga pada saat itu hadist terdokumentasikan dalam bentuk hafalan saja. dan yang terakhir Sahifah Sahihah yang disusun oleh Human bin Munabbih (40-131H).besar. Namun pada ujungnya disaat periode terakhir masa-masa kehidupan Nabi mereka mengkodifikasikannya.[10] Pertama hadist diterima secara langsung. Bahkan pada awal-awal turunnya wahyu. Hal itu bertujuan untuk membantu dalam proses hafalan mereka. ‫لتكتبوا عنى شيئا غيرالقران فمن كتب عنى شيئاغيرالقران فليمحه‬ Artinya “ Jangan menulis apa-apa selain al-Quran dari saya. dan juga supaya semua potensi ditujukan dan diarahkan pada al-Quran.(HR. . Dia memiliki kumpulan hadist yang dikenal dengan Sahifah as-Sadiqah.[dari Abu Said a-Khudry)[7 Namun ada sebuah riwayat yang mengatakan bahwa Nabi SAW memberikan izin kepada sebagian sahabatnya untuk menulis hadist. Nabi memerintahkan kepada umat Islam untuk mempelajari baca tulis. Diantara para sahabat yang telah mendapatkan lisensi adalah Abdulloh bin Amr bin Ash (7SH65H). Nabi SAW melarang para sahabatnya untuk menulis hadist. Karena dikhawatirkan akan tercampur dengan al-Quran. Adapun hadist pada waktu itu. belum begitu diperhatikan seperti halnya alQuran yang sejak awal mendapatkan perhatian khusus. barang siapayang menulis dari saya selain al-Quran maka hendaklah menghapusnya”. tidak keluar dari mulutku kecuali yang hak “. [8] Contoh hadist yang memperbolehkan penglodifikasian hadist adalah. ‫اكتبواعني فوالذى نفسى بيده ماخرج من فمى الحق‬ Artinya “ Tulislah dari saya demi zat yang diriku di dalam kekuasaan-Nya. Disamping itu dijumpai sebuah kitab hadist Sahifah Jabir bin Abdillah yang ditulis oleh Jabir bin Abdulloh al-Ansari (16-74H). dapat disebutkan beberapa cara sahabat dalam menerima hadist. sahifah ini memuat seribu hadist.

Ali bin Abi Tholib (10H-40H). Persoalan-persoalan tersebut menumbuhkan perpecahan dikalangan intern umat. Selain karena sebab-sebab diatas factor lain adalah tingkat kemampuan termasuk tingkat kecerdasan diantara mereka yang menetukan kualitas penerimaan hadist. Pertanyaan yang diajukan oeh sahabat atau permintaan penjelasan sahabat kepada Nabi SAW. Ada peristiwa yang langsung dialami Nabi SAW dan para sahabat menyaksikannya. Tempat tinggal sahabat yang jauh.Melalui majlis pengajian nabi yang diadakan pada waktu-waktu tertentu. yang disebabkan beberapa factor. Yang pada tataran selanjutnya Hadist pun juga tak luput dari dampak tersebut. Umar bi Khattab. yang merambat pada lahirnya berbagai macam fitnah dan intrik. Kedua hadist diterima secara tidak langsung. Periode kedua Tepatnya periode ini adalah masa kepemimpinan khulafa ar-Rasyidin. Persoalan yang menonjol serta banyak menyita perhatian para sahabat pada periode ini. b. Kesibukan yang dialami sahabat. Persaan malu untuk bertanya langasung kepada Nabi SAW. Ustman bin Affan. Abu Bakar as-Siddik. disamping usaha penyebarluasan Islam adalah soal ketatanegaran dan soal kepemimpinan umat. Sehingga wajar kalau Abu Bakar dan Umar menyerukan pada umat Islam . Jadi pada masa ini terdapat perbedaan tingkat penerimaan hadist dilkalangan sahabat. Adanya perilaku umat yang disaksikan oleh nabi secara langsung dan menghendaki panjelasan dari nabi.

Karena banyak dari sahabat yang sudah berpencar ke daerah-daerah baru. Contohnya sahabat Ali. Persia (21H). Hal itupun juga diikuti sahabat-sahabat yang lainnya. dan al-Baihaki disebutkan bahwa Jabir pernah pergi ke Syam menanyakan sebuah hadist kepada seorang sahabat yang tinggal disana. c. Samarkand (56H). Ini berlangsung pada masa sahabat kecil dan tabiin besar. Periode ketiga Periode ini disebut periode penyebaran riwayat. dan hanya pada saat yang diperlukan. Periode ini ditandai oleh aktifnya generasi tabiin menyerap hadist dari generasi sahabat. Penakhlukan beberapa kota diantaranya Syam dan Irak (17H). Sehingga pada masa itu muncullah istilah “Bendaharawan Hadist”. Kedatangan sahabat tersebut dimanfaatkan oleh golongan tabiin untuk mendengarkan pengajaran-pengajaran daripadanya. Ia tidak menerima hadist sebelum yang meriwayatkan disumpah terlebih dahulu. Maka pada saat itulah hadist baru dipakai untuk menyelesaikan permasalahan tersebut[12]. yang tepatnya di masa pemerintahan Ali dan Ustman maka larangan terhadap periwatan hadist tidak lagi dapat dilakukan dengan tegas seperti pada masa Abu Bakar dan Umar. yang belum pernah didengarnya merasa perlu melakukan pengecekan dengan melawat ke kota di mana sahabat yang meriwayatkan hadist tersebut tinggal. Beberapa sumber mengatakan bahwa Abu Bakar dan Umar tidak akan menerima hadist kalau tidak disaksikan kebenarannya oleh saksi yang lain. Semua itu menunjukkan bahwa betapa ketatnya para sahabat dalam menerima hadist. . Mesir (20H). Hal demikian juga pernah dilakukan oleh Ayyub al-Anshari yang melawat ke Mesir hanya untuk menemui Uqbah bin Nafi. dan Spanyol (93H) menuntut para sahabat untuk berpindah ke tempat-tempat baru dengan tujuan mengajarkan agama Islam. Akibatnya penyebaran dan pengembangan riwayat secara lebih jauh tidak terhindarkan lagi. Adapun perkembangan selanjutnya sahabat yang mendengar riwayat (Hadist) . Misalnya jika umat Islam menghadapi suatu permasalahan yang menuntut penjelasan dari hadist.untuk berhati-hati dan cermat dalam meriwayatkan Hadist. at-Tabari.[13] Dalam riwayat Bukhori Ahmad. [11] Adapun penyeberan hadist pada masa ini menggunakan lisan. yaitu para sahabat yang meriwayatkan hadist lebih dari seribu hadist. Namun berkenaan dengan semakin luasnya wilayah Islam. Serta meminta para sahabat untuk secara teliti memeriksa riwayat Hadist yang mereka terima.

Abu Said al-Khudari.”[14] Contoh hadist palsu yang dibuat golongan Muawiyah. Pada era tersebut juga terdapat beberapa sahabat yang . . asy-Sya’bi dan Ibrahim an-Nakhai di Kufah.Diantara mereka adalah Abu Hurairah (meriwayatkan 5374 hadist). Aisyah. Contoh hadist palsu yang dibuat golongan syiah. dan Muawaiyah cs. Dan hal itu merembet pada perang saudara antara Ali cs.menyedikitkan riwayat. Ikrimah dan Ata bin Abi Robbah di Makkah. Abu Khoir Marsad al-Yazini dan Yazid bin Habib di Mesirl. Anas bin Malik. karena persoalan kholifah dan politik. Ikrimah dan Ata bin Abi Robbah di Makkah. dan Taus bin Khoiman di al-Yamani serta Wahab bin Muanabbih di Yaman. Az-Zubair dan Zaid bin Arqom adalah contoh dari sekian sahabat yang mengambil sikap seperti itu. Abu Qotadah dan Muahmmad bin Sirin di Basra. dan Taus bin Khoiman di al-Yamani serta Wahab bin Muanabbih di Yaman. Perseteruan itu banyak membawa korban dikalangan umat Islam. Abu Khoir Marsad al-Yazini dan Yazid bin Habib di Mesirl. Umar bin Abdul Aziz dan Qobisah bin Zuaib di Syam. asy-Sya’bi dan Ibrahim an-Nakhai di Kufah. (meriwayatkan 2630 hadist). mereka takut terjerumus dalam kedustaan. Abdullah bin Umar bin Khattab. Perkembangan selanjutnya terjadi perpecahan dikalangan umat Islam. . Abdullah bin Abbas. Hadist palsu tersebut digunakan untuk menjastifikasi golongan mereka masing-masing. Pada akhirnya situasi perpolitikan yang demikian itu memberi peluang berkembangnya pemalsuan hadist. meriwayatkan (1540 hadist). meriwayatkan (1660 hadist). Sedangkan dari golongan tabiin yang tercatat sebagai tokoh hadist pada periode ini adalah Said dan Urawah di Madinah. serta takut akan banyaknya hadist yang terlupakan dikarenakan usianya yang telah lanjut.meriwayatkan (2266 hadist). Jabir bin Abdullah. Abu Qotadah dan Muahmmad bin Sirin di Basra. ‫من مات وفى قلبه بغض لعلى فليمت يهد يااو نصرانيا‬ Artinya: “siapa yang mati dan dalam hatinya ada rasa benci kepada Ali. Umar bin Abdul Aziz dan Qobisah bin Zuaib di Syam. Alasannya. maka hendaklah mati sebagai orang Yahudi atau Nasrani. Sedangkan dari golongan tabiin yang tercatat sebagai tokoh hadist pada periode ini adalah Said dan Urawah di Madinah. meriwayatkan (1170 hadist). meriwayatkan (1210 hadist).

Muawiyah”. Sehingga ketika Ia menangkap kenyataan bahwa banyak dari para penghafal hadist yang wafat. maka tergeraklah hatinya untuk mengkodifikasikan hadist. dan Muhammad bin Ishak (w 151H) di Madinah. Dan dalam kitab ini hadist masih bercampur dengan fatwa sahabat dan tabiin. yang selanjutnya melahirkan banyak penulis dan penghimpun hadist. Abdullah bin alMubarak (118-181H) di Khurasan.‫المناء عندالله ثل ثة : انا وجبريل ومعويه‬ Artinya: “ orang yang terpercaya oleh Alloh hanya tiga. yakni Aku (Nabi). Hasyim bin Basyr (104-183H) di Wasit. Sufyan as-Sauri (w161H) di Kufah. Ma’mar bin Rosyd (95153H) di Yaman. Para tokoh tersebut misalnya: Abdul Malik bin Abdu Aziz bin Juraij (w 159H) di Makkah. si pengarang menghimpun semua hadist mengenai masalah-masalah yang sama dalam satu kitab karangan saja. Belum ada pemilahan mana hadist yang Marfu’. Periode keempat Periode keempat berlangsung dari masa Kholifah Umar bin Abdul Aziz (99H102H) sampai akhir abad kedua Hijriah. Abdurrahman bin Amr al-Auzi (88-157H) di Syam. Masa ini dicatat oleh sejarah sebagai masa kodifikasi resmi. Selain itu kholifah juga memerintahkan Muhammad bin Syihab az-Zuhri (w 124 H) untuk mengumpulkan hadist yang ada pada para penghafal Hijaz dan Syuriah. Kholifah Umar bin Abdul Aziz yang tumbuh dalam ikllim keilmuan.[15] Selanjutnya bertolak dari sini berkembanglah pengkodifikasian hadist. Sistem pembukuan hadist pada stadium ini adalah. membentuk pribadi yang cinta akan ilmu pengetahuan. dan Hammad bin salamah bin Dinar alBasri (w167H) di Basra. d. Jarir bin Abdul Hamid (110-188H) di Rayy dan Abdullah bin Wahab (125-197H) di Mesir. hadist Mauquf. serta semakin berkembangnya hadist palsu. Ia khawatir kalau tidak segera dibukukan maka hadist pasti akan berangsurangsur hilang. Malik bin Anas / Imam Malik (94-179H). ar-Rabbi bin Sabih (w 160H). Kekhawatiran itulah yang menyebabkan kholifah memerintahkan Gubernur Madinah Abu Bakar Muhammad bin Amru bi Hazm (w 117H) untuk membukukan hadist yang terdapat pada penghafal Amrah binti Abdurrahman bin Saad bin Zuhairah bin Ades (ahli fiqih murid Aisyah RA) serta hadist yang ada pada Qosim bin Muhammad bin Abu Bakar as-Siddiq. . Selain itu beliau juga terkenal jujur. Said bin Urabah (w 167H). Jibril.

Namun ditengah-tengah kegentingan tersebut lahirlah ulamaulama besar termasuk Ulama hadist. al-Musnad. mauquf. kegiatan-kegiatan lainnya di masa ini adalah:[17] lawatan ke daerah-daerah yang semakin jauh guna menghimpun hadist dari para perowinya.[16] Masa ini dapat dikatakan sebagai masa keemasan dalam sejarah kodifikasi hadist. Ia menginstruksikan kepada seluruh Gubernur di Bagdad untuk menindak dengan tegas kepada siapa saja yang tidak mau mengatakan bahwa Quran itu makhluk. dan umat Islam umumnya yang mayoritas beraliran Ahlu Sunnah. membuat klasfikasi hadist marfu’. Sebab para ulama telah berhasil memisahkan hadist-hadist Nabi SAW dari yang bukan hadist (fatwa sahabat dan Tabiin) . dan penyempurnaan.ataupun hadist Maqtu’. serta antara hadist Sohih. Hasan. Musannaf al-Auzai dan al-Muwatta karya Imam Malilk yang disusun atas permintaan kholifah Abu Ja’far al-Mansur (144H). . Pertentangan itu berkutat di sekitar apakah al-Quran itu makhluk atau Bukan? Golongan Mu’tazilah beropini bahwa Quran adalah makhluk. antara lain Ahmad bin Hambal karena menentang kholifah al-Makmun dan penggantinya al-Mu’tasim (w 227 H) dan Watsiq (w 232 H). dan Dhoif. Bahkan Ia melarang keras kepada Ulama hadist untuk berfatwa dan meriwayatkan Hadist kalau tidak mengatakan demikian. Misalnya Musnad as-Syafii. Antara lain al-Makmun (218H) . Beberapa buku tersebut ada yang dinamakan al-Jami. Pada periode tersebut banyak dari golongan ulama yang dipenjara dan di siksa. Instruksi tersebut banyak mendapat tentangan dari Ulama hadist khususnya. Periode kelima Periode kelima disebut dengan periode pemurnian. Pada masa ini timbul pertentangan yang hebat antara ulama kalam (khususnya Mu’tazilah) dengan Ulama hadist. a. dan maqtu’. Ini berlangsung dari awal abad ke 3 H sampai sampai akhir abad ke 3. Pendapat ini mendapat suport dari kholifah-kholifah pada waktu itu. al-Musannaf dan lain-lain. penyehatan. yang dengan sabar menjaga kemurnian dan kesucian ajaran Nabi SAW.

Pada masa ini lahir istilah ulama Mutakadimin dan ulama Mutaakhirin. an-Nasai. dan ulama yang hidup sesudah abad 4 H (Muataakhirin). Begitu pula Imam Hambali dengan kitab musnadnya. Periode keenam Periode keenam merupakan periode pemeliharaan. mulai menyusun kitab-kitab sunan mereka. dan Nuaim bin Ahmad al-Kazai. Sebagai tindak lanjut dari pengklasifikasian hadist. Term-term ini jadikan sebagai pemisah antara ulama yang hidup sebelum abad ke 4 H (mutakadimin). Imam-imam hadist lainnya. Dalam arti mereka himpunan hadist-hadistnya tidak dengan jalan mengutipnya dari kitab-kitab hadist yang ada sebelumnya. Tapi mereka mendengar langsung hadsit-hadist itu dari guru-gurunya dan mengadakan penelitian sendiri tentang matan serta perowinya. Pada masa ini bangkit Imam hadist yang besar yaitu Ishaq bin Ruwaih yang merintis usaha memisahkan antara hadist Sahih dan tidak. Asad bin Musa. Semangat yang tumbuh pada masa ini adalah semangat untuk memelihara. Usaha ini dilanjutkan oleh Imam Bukhori. dan Ibnu Majja. f. penambahan. at-Tirmidzi. penertiban. seperti Abu Daud. Oleh sebab itu dirasakan tidak perlu lagi melakukan lawatan ke berbegai negeri untuk mencari hadist. Musaddad al-Basri. sehingga tersusunkah sebuah kitab yang sistematis berdasarkan bab-bab yang diberi nama Sahih Bukhori. Ini dimulai dari abad ke 4 sampai jatuhnya Kota Bagdad (656H). Pada stadium enam ini tumbuh sebuah asumsi bahwa sudah merasa cukup dengan hadist-hadist yang dihimpun ulama-ulama Mutakadimin. Penyusun kitab musanad lainnya adalah Musa al-Abbasi. dan penghimpunan hadist. lahirlah buku-buku baru yang dinamakan Kitab Sahih.menghimpun kritik-kritik yang diarahkan baik pada rowi maupun matan serta memberi jawabannya.[19] . Kitab Sunan dan Kitab Musnad. Untuk itu mereka mengadakan lawatan-lawatan ke berbagai daerah untuk mencek kebenaran hadist-hadist yang didengarnya. Perbedaan antara keduanya adalah Ulama Mutakadimin melakukan kegiatannya secara mandiri.[18] Adapun Ulama Mutaakhirin pada umumnya bersandar pada karya-karya Ulama Mutakadimin dalam arti kumpulan-kumpulan hadist mereka adalah hasil petikan atau nukilan dari kitab-kitab Mutakadimin. Jadi para ulama periode ini berlombalomba untuk mengahafal sebanyak-banykanya hadist yang sudah terkodifikasi.

Periode ini bertepatan dengan masa penghancuran Kota Bagdad sebagai pusat pemerintahan Abbasiyah oleh pasukan Hulugu Khan (656 H). sedangkan yang berkuasa pada hakekantnya adalah Raja Mesir dari Mamalik. Sejak itu kholifah islamiyah ini dipindahkan ke Kota Konstantinopel dan sejak itu raja Turki memakai sebutan Kholifah. kitab Jam’i yang menghimpun hadist-hadist yan telah termuat dalam kitabkitab yang telah ada. mengumpulkan yang masih berserakan dan memudahkan jalan-jalan pengumpulan hadist.[21] Pada akhir abad ke 7 Turki menguasai daerah-daerah Islam kecuali daerah barat (Maroko dan sebagainya). perhimpunan. pentarjihan serta pengeluaran riwayat. yaitu kitab hadist yang memuat hadist dari kitab hadist yang ada. kitab Atraf yang menyebut hanya sebagian dari matan atau tesk hadist. kemudian menjelaskan seluruh sanad dari matan itu baik sanad dari kitab yang dikutip maupun kitab lain. yang menghimpun hadist-hadist yang memiliki syarat-syarat Bukhori Muslim atau salah satu dari keduanya saja.Selain itu ulama dalam periode ini berusaha memperbaiki susunan kitab. kitab Mustadrak. Kemudian menakhlukkan Mesir dan melenyapkan Kholifah Abbasiyah. Selain itu juga muncul kitab Mustakhraj. yang mengomentari kitab hadist tertentu. Usaha-usaha perbaikan tersebut memunculkan beberapa Kitab hadist diantaranya:[20] kitab syarh. Turki semakin kuat dan daerahnya makin . Bahkan pada abad 9 Turki di bawah pemerintahan Ottoman (dinasti Ustmaniyah) merebut Kota Konstantinopel dan dijadikan ibukotanya. namun kholifahnya hanya simbol saja. dengan sanad sendiri yang berbeda dengan sanad hadist rujukannya. Periode ketujuh Periode ketujuh bisa dikatakan periode pensyarahan. Akibat dari kejadian itu maka pindahlah pemerintahan Abbasiyah ini ke Cairo Mesir. g.

15 [6] Sya’ban Muhammad Ismail. Hal-82 [13] Penyusun Ensiklopedi Islam. Mereka kadang-kadang menggunakan jalan surat menyurat dan ijazah. Op.cit.Cit. P. [2] M. Hal-81 [10] Penyusun Ensiklipedi Islam. Pustaka Rizqi Putra.1. Pengantar Ilmu Hadist. Hal-149 [9] Masjfuk zuhdi. cit. Jld. Hal-92 [19] Penyusun Ensiklopedi Islam. Hal-45.Cit. 1998. Kemudian imperialisme Barat berhasil menakhlukkan negeri-negeri Islam.Cit. Op.6.4. Op. Hal-43 [11] Ibid. [14] Masjfuk Zuhdi. Hal-84. [1] Muhammad bin Ali al-Maliki. Op.luas. Hal-47 [20] Ibid [21] Masjfuk Zuhdi. Jiddah.T. Pada dekade ini jarang sekali detemuakan ulama-ulama yang mampu menyampaikan periwayatan hadist beserta sanadnya secara hafalan yang sempurna. Hal-149 [16] Masjfuk Zuhdi. Hal-52 / 5. 44 [12] Masjfuk Zuhdi. Ulum al-Hadist.2. Usul al-Hadist Ulumuhu wa Musthalahuhu. atau lht Muhammad Hasbi Ash shiddiqi. Hal-95 [22] Ibid. Op. Dan sejak itu Islam mengalami kemunduran. Yang umum adalah mempelajari kitab-kitab hadist yang ada. Hal-41&51. membuat pembahasanpembahasannya atau membuat ringkasan-ringkasan.Loc. Op.89 [17] Penyusun Ensiklopedi Islam. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve. Op.Cit. Hal-52 / 5-15 [4] Muhammad Ahmad dan Muhammad Mudzakkir. tapi sayangnya pada waktu yang sama pemerintahan Islam di Andalus hancur.cit. [15] Penyusun Ensiklopedi Islam. 1990. [3]Muhammad bin Ali al-Maliki / Muhamad Hasbi As-Sidiqi. Maksudnya adalah sang guru memberikan izin kepada sang murid untuk meriwayatkan hadist dari guru tersebut.Cit. Hal-1. cet.Cit. 1993. Hal-47 [18] Masjfuk Zuhdi. Ensiklopedi Islam. Op Cit.1999. Loc. (Surabaya: Bina Ilmu).Cit.[22] Situasi dan kondisi tersebut secara otomatis juga menggeser cara penerimaan dan penyampaian hadist. mengembngkannya.Ci.Cit. Hal-88. Hal-19. Sejarah & pengantar Ilmu Hadits. 96 . al-Manhalal-Latif fi Usul al-Hadis al-Syarif. Hal-80 [8] Penyusun Ensiklipedi Islam. Maka padamlah cahaya Islam yang pernah menerangi negeri tersebut selama kurang lebih delapan abad. Hal-87 [7] Masjfuk Zuhdi. Semarang. ‘Ajjaj al-Khatib. Jld. op. Sahar al-Mamlakah al-arabiyah. Al-Hadist Al-Qudsi. Loc. Hal-17 [5] Muhammad bin Ali al-Maliki / Muhamad Hasbi As-Sidiqi. Op.

Fill in your details below or click an icon to log in: • • • Email (wajib) (Belum diterbitkan) Nama (wajib) Situs web Beritahu saya balasan komentar lewat surat elektronik.. Bottom of Form Top of Form Bottom of Form My family ..Tinggalkan Balasan Top of Form Enter your comment here.

my article • • • • • • • Al-Jarah Wa Al-Ta’dil Definisi Hadits Hadist Ditinjau Dari Aspek Kuantitas Sanad Hadits Ditinjau Dari Aspek Kualitas Hadits Mu’an-an dan Mu’annan Syudzudz & Illat Hadits Tahamul & Ada’ul Hadits my town • asal-usul udink’z Relasi Link • • • • • game’s Hamzex’ MUTU my pondok nurul anwar SAVEKING situs mine • • • FB friendster myspace ANDA ADALAH TAMU KE: Desember 2011 S S R K J S M « Feb 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 .

Theme: Sapphire by Michael Martine. .com.Desember 2011 S S R K J S M 2 3 4 5 6 7 8 1 2 2 2 2 2 2 9 0 1 2 3 4 5 2 2 2 2 3 3 6 7 8 9 0 1 Blog pada WordPress.