Al-Qur’an Secara Etimologi

November 28, 2010 tauhidullah Tinggalkan komentar Go to comments

Rate This Ditinjau dari segi kebahasaan, Al-Qur’an berasal dari bahasa Arab yang berarti “bacaan” atau “sesuatu yang dibaca berulang-ulang”. Kata Al-Qur’an adalah bentuk kata benda (masdar) dari kata kerja qara’a yang artinya membaca. Konsep pemakaian kata ini dapat juga dijumpai pada salah satu surat Al-Qur’an sendiri yakni pada ayat 17 dan 18 Surah Al-Qiyamah yang artinya: “Sesungguhnya mengumpulkan Al-Qur’an (di dalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggungan Kami. (Karena itu,) jika Kami telah membacakannya, hendaklah kamu ikuti {amalkan} bacaannya”.(75:17-75:18)

Terminologi
Sebuah cover dari mushaf Al-Qur’an Dr. Subhi Al Salih mendefinisikan Al-Qur’an sebagai berikut: “Kalam Allah SWT yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan ditulis di mushaf serta diriwayatkan dengan mutawatir, membacanya termasuk ibadah”. Adapun Muhammad Ali ash-Shabuni mendefinisikan Al-Qur’an sebagai berikut: “Al-Qur’an adalah firman Allah yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantaraan Malaikat Jibril a.s. dan ditulis pada mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir, serta membaca dan mempelajarinya merupakan ibadah, yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas“ Dengan definisi tersebut di atas sebagaimana dipercayai Muslim, firman Allah yang diturunkan kepada Nabi selain Nabi Muhammad SAW, tidak dinamakan Al-Qur’an seperti Kitab Taurat yang diturunkan kepada umat Nabi Musa AS atau Kitab Injil yang diturunkan kepada umat Nabi Isa AS. Demikian pula firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang membacanya tidak dianggap sebagai ibadah, seperti Hadits Qudsi, tidak termasuk Al-Qur’an. Jaminan Tentang Kemurnian Al-Quran dan Bukti-Buktinya Kemurnian Kitab Al-Quran ini dijamin langsung oleh Allah, yaitu Dzat yang menciptakan dan menurunkan Al-Quran itu sendiri. Dan pada kenyataannya kita bisa melihat, satu-satu kitab yang mudah dipelajari bahkan sampai dihafal oleh beribu-ribu umat Islam.

Nama-nama lain Al-Qur’an
Dalam Al-Qur’an sendiri terdapat beberapa ayat yang menyertakan nama lain yang digunakan untuk merujuk kepada Al-Qur’an itu sendiri. Berikut adalah nama-nama tersebut dan ayat yang mencantumkannya:

• • • • • • • • •

Al-Kitab, QS(2:2),QS (44:2) Al-Furqan (pembeda benar salah): QS(25:1) Adz-Dzikr (pemberi peringatan): QS(15:9) Al-Mau’idzah (pelajaran/nasehat): QS(10:57) Al-Hukm (peraturan/hukum): QS(13:37) Al-Hikmah (kebijaksanaan): QS(17:39) Asy-Syifa’ (obat/penyembuh): QS(10:57), QS(17:82) Al-Huda (petunjuk): QS(72:13), QS(9:33) At-Tanzil (yang diturunkan): QS(26:192)

• • • • • • • • •

Ar-Rahmat (karunia): QS(27:77) Ar-Ruh (ruh): QS(42:52) Al-Bayan (penerang): QS(3:138) Al-Kalam (ucapan/firman): QS(9:6) Al-Busyra (kabar gembira): QS(16:102) An-Nur (cahaya): QS(4:174) Al-Basha’ir (pedoman): QS(45:20) Al-Balagh (penyampaian/kabar) QS(14:52) Al-Qaul (perkataan/ucapan) QS(28:51)

$4If’s (alumni DALWA)

Definisi Hadits
ULUMU AL-HADITS
A. Terminologi Hadits Nabawi 1.Definisi dan Perbedan Antara Hadits, Sunnah, Atsar, dan Khabar.

Dari makna inilah diambil perkataan hadits. Sunnah adalah “suatu suruhan yang tidak difardlukan dan tidak diwajibkan. ketetapan. perkataan. pengajaran. Menurut arti lain Hadits adalah “segala sesuatu yang disadarkan pada Nabi SAW baik berupa perkataan.a. dan ketetapan beliau yang menjadi dalil syara’ “. • Perbedaan sunnah dan hadits . Sunnah adalah ” segala sesuatu yang bersumber dari Nabi baik perkataan. yang terpuji ataupun jelek. perbuatan. sifat. tempatnya dan yang bersangkut paut dengannya. Hadits Hadits menurut Etimologi adalah: o Jadid. Hadits menurut terminologi adalah : Segala ucapan. pekerjaan. Yang dimaksud keadaan adalah segala yang diriwayatkan dalam kitab sejarah. seperti kelahirannya. Menurut fuqoha’.yang belum lama terjadi o Khobar: warta yaitu sesuatu yang di percakapkan dan dipindahkan dari seseorang kepada seseorang yang lain. kelakuan. Hadits adalah: ‘segala perkataan. Sunnah Sunnah menurut Etimologi adalah: Jalan yang dijalani. maupun sifat beliau yang adakalanya itu disunnahkan/dijelaskan pada umat Islam ataupun khusus untuk Nabi”. baik berupa perkataan. Menurut istilah syara’. pekerjaan. perbuatan. Menurut Ahli Ushul. Sunnah menurut Terminologi adalah: Segala yang dinukil dari Nabi SAW. lawan dari qodim: yang baru o Qorib: yang dekat. takrir. dan perjalanan hidup beliau sebelum diutus atau sesudahnya. dan keadaan Nabi. dan takrir Nabi yang berhubungan denga hukum”.[1] b. yang tidak berat suruhannya”.

Majah). Peganglah ia dengan teguh”. Sebagian ulama ada yang memasukkan perkataan dan perbuatan sahabat dan tabi’in dalam pengertian Sunnah. Ada yang berpendapat: hadits khusus dengan perkataan dan perbuatan. Hal ini dikarenakan tahdits (pembicaraan) artinya tidak lain adalah ikhbar (pemberitaan). c. Sunnah adalah sebutan bagi amaliah yang mutawatiroh yakni cara Rasul melaksanakan suatu ibadah yang dinukilkan kepada kita dengan amaliah yang mutawatir. sedangkan sunnah lebih umum. Menurut Al-Imam Al-Kamal Ibnu Humam. Yaitu : Hadits adalah segala peristiwa yang disandarkan pada Nabi walaupun hanya sekali saja terjadinya dalam sepanjang hidup Nabi walaupun hanya diriwayatkan satu oarang saja . Sunnah adalah: segala yang diriwayatkan dari Nabi baik perkataan atau perbuatan . Khabar Khabar memiliki arti yang hampir sama dengan hadits.sedang hadist tentu perkataan saja”. Dan “Muhaddist” diberikan untuk ulama ahli hadits atau sannah. Yang mendukung pendapat ini adalah hadits yang berbunyi : ‫حدّث َنا عب ْدُ الل ّه ب ْن أ َحمدَ ب ْن ب َشير ب ْن ذَك ْوان الدّمشقي حدّث َنا ال ْوليدُ ب ْن مسل ِم ٍ حدّث َنا‬ َ َ َ ِ َ َ َ َ ِ َ َ ّ ِ ْ َ َ ْ ُ ُ َ ْ ُ ِ ِ ِ ِ ‫عب ْدُ الل ّه ب ْن ال ْعلء حدّث َني ي َحيى ب ْن أ َبي ال ْمطاع قال سمعت ال ْعرباض ب ْن ساري َة‬ َ َ ِ َ َ ِ ِ َ ْ ِ َ ْ َ ِ َ َ ُ ْ ِ َ َ َ ِ َ ُ ُ َ ِ ُ ّ َ ِ ُ ُ َ َ ِ َ َ ُ ُ ‫ي َقول: قام فينا رسول الل ّه صلى الل ّه عل َي ْه وسل ّم ذات ي َوم ٍ فوعظَنا موعظَة ب َليغة‬ ً َ ِ ً ِ ْ َ َ َ َ َ َ َ َ َ َ ِ َ ُ ْ َ ُ َ َ َ ِ َ ُ ُ ُ ‫وجل َت من ْها ال ْقلوب وذَرفت من ْها ال ْعيون فقيل يا رسول الل ّه وعظْت َنا موعظَة مودّع‬ َ َ ِ ِ ْ َ َ َ ِ ْ َ َ َ ُ ُ ُ َ ِ ْ ِ َ ٍ َ ُ َ ‫فاعهدْ إ ِل َي ْنا ب ِعهد فقال عل َي ْك ُم ب ِت َقوى الل ّه والسمع والطاعة وإ ِن عب ْدا حب َشيا‬ َ َ َ َ ٍ ْ َ َ ّ ِ َ ً َ ْ َ ِ َ ّ َ ْ َ ْ َ ِ ْ ّ َ ِ َ ْ ً َ ْ ‫وست َرون من ب َعدي اخت ِلفا شديدا فعل َي ْك ُم ب ِسن ّتي وسن ّة ال ْخل َفاء الراشدين‬ ِ َ ُ ِ ُ ِ ُ َ ِ ْ ْ ِ َ ْ َ َ َ َ َ ً ِ َ َ ِ ِ ّ ْ ّ ‫ال ْمهديين عضوا عل َي ْها بالن ّواجذ وإ ِياك ُم وال ُمور ال ْمحدَثات فإ ِن ك ُل ب ِدْعة ضلل َة‬ ٌ َ َ ٍ َ ّ َ َ ّ ِ ْ َ ّ َ ِ َ ْ ُ ّ َ ِ ِ َ ِ َ َ َ ُ ْ َ ْ “Hendaklah kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin sesudahku. Hadits rasulullah adalah berita – berita yang disandarkan kepada Nabi saw. . Sehingga khabar lebih layak dijadikan sinonim hadits daripada sunnah. hanya saja kata “Akhbary” digunakan untuk menyebut orang–orang yang menekuni bidang sejarah.Dapat disimpulkan garis pebedaan antara keduanya.(Sunan Ibn.

Bahkan juga yang hanya berhenti sampai tingkatan tabi’in (maqtu’) saja. Oleh karenanya. Yang disampaikan dalam berbagai hal dan keadan yang diterbelakangi oleh berbagai tujuan. Al Imam Al-Nawawi menerangkan bahwa fuqoha’ khurosan menamai perkataan sahabat ( hadist mauquf ) dengan atsar. Artinya.[3] 2. Sunnah.Pergeseran makna ini memberikan implikasi pada pada kedua lafad tersebut. tabiin dan lain-lain. d. para ahli hadits lantas memandang Atsar yang diidintikkan dengan Hadits Sahabat (mauquf) atau Tabiin (maqtu’)[2] Atsar menurut istilah jumhur artinya sama dengan khobar dan hadits. Hadits atau sunnah memberikan pengertian bahwa perawi mengutip hadits yang disandarkar kepada Rasulullah saw (marfu’). Ada yang mengatakan atsar lebih umum daripada khobar. Atsar Atsar menurut Etimologi adalah : Bekas / Sisa sesuatu Atsar menurut Terminologi adalah: Pengertian untuk Hadits. dan Khabar yang disandarkan kepada Sahabat dan Tabiin. dan menamai hadist Nabi dengan Khabar. Qauliyyah Hadits / Sunnah Qauliyyah adalah Hadits-hadits Nabi saw. antara lain: a. sahabat. Setiap hadits itu pasti khabar dan tidak sebaliknya. Yakni antara hadits dan khabar ada pengertiaan umum dan khusus. Sedang khabar tidak hanya mencakup hadits marfu’ saja akan tetapi juga mengakomodasi yang mauquf (perawi hanya bersumber dari sahabat saja tidak sampai pada rasulullah). Tapi para muhadditsin umumnya menamai hadist Nabi dan perkataan sahabat dengan atsar juga.Bentuk-bentuk Hadits Nabawi Hadits ataupun Sunnah terbagi menjadi beberapa bentuk. seperti beliau bersabda: . dan setengah ulama memakai pula kata atsar untuk perkataan-perkataan tabiin saja. Para fuqoha’ memakai perkataan Atsar untuk perkataan ulama salaf. tidak setiap khabar itu hadits.

yang mana redaksi dan subtansinya maknanya berasal dari Allah swt. Sedang secara terminologi adalah hadits yang Nabi riwayatkan dari Allah selain Al-Quran yang redaksinya dari Nabi sendiri. a. Haji dan lain-lain. Fi’liyyah Hadits / Sunnah Fi’liyyah adalah semua perbuatan Nabi saw. b.w.Perbedaan antra al-Qur’an.a. . Taqririyyah Hadits / Sunnah Taqririyyah adalah Hadits yang berupa ketetapan atau penelitian Rasulullah saw.‫حدّث َنا محمدُ ب ْن ك َثير أ َخب َرنا سفيان حدّث َني ي َحيى ب ْن سعيد عن محمد ب ْن إ ِب ْراهيم‬ ِ َ َ ْ ٍ ِ َ ْ َ ُ َ ْ ُ َ ُ َ ِ َ ّ َ ُ َ ِ ِ ّ َ ُ ْ َ ٍ ِ َ ُ ّ َ ِ َ َ ُ ُ ‫الت ّي ْمي عن عل ْقمة ب ْن وقاص الل ّي ْث ِي قال سمعت عمر ب ْن ال ْخطاب ي َقول: قال‬ َ َ َ َ ْ َ ّ ِ َ ِ ّ َ َ َ ُ ُ ْ ِ َ َ َ ّ ٍ ّ َ ِ ُ ُ َ ‫رسول الل ّه صلى الل ّه عل َي ْه وسل ّم إ ِن ّما ال َعمال بالن ّيات وإ ِن ّما ل ِك ُل امرئ ما ن َوى‬ َ ٍ ِ ْ ّ َ َ ِ ّ َ َ َ َ ِ َ ُ ِ ُ َ ْ ْ َ َ ُ َ ْ ِ َ ِ َ ُ َ ْ ِ ْ َ ْ َ َ ِ َ ْ َ َ ‫فمن كان َت هجرت ُه إ ِلى الل ّه ورسول ِه فهجرت ُه إ ِلى الل ّه ورسول ِه ومن كان َت هجرت ُه‬ ُ َ َ ِ ُ َ َ ِ ُ َ ْ ِ ْ َ ُ َ ْ ِ َ َ ُ ّ َ (‫ل ِدُن ْيا ي ُصيب ُها أ َو امرأ َة ي َت َزوجها فهجرت ُه إ ِلى ما هاجر إ ِل َي ْه )سنن أبي داود‬ ِ ٍ َ ْ ْ َ َ ِ َ َ َ َ b. seperti yang dikabarkan oleh Shahabat[4]: َ ّ ْ ّ َ َ َ َ َ ْ ْ َ ُ ْ ُ َ ‫حدّث َنا ي َحيى ب ْن أ َبي ب ُك َي ْر حدّث َنا شعب َة عن ت َوب َة قال قال الشعب ِي ل َقدْ صحب ْت اب ْن‬ َ َ ٍ َ ْ َ ُ ِ َ َ ِ ُ ّ َ ِ ً ِ َ ّ َ َ َ ِ َ ُ ‫عمر سن َة ون ِصفا فل َم أ َسمعه ي ُحدّث عن رسول الل ّه صلى الل ّه عل َي ْه وسل ّم إ ِل حديثا‬ ْ َ ً ْ َ ً َ َ َ ُ ِ ُ َ ْ َ ُ َ ُ ْ َ ْ ّ َ ِ َ َ َ َ ِ َ ُ َ َ َ َ ّ َ َ َ ً ِ َ ‫واحدا قال ك ُنا مع رسول الل ّه صلى الل ّه عل َي ْه وسل ّم فأ ُت ِي ب ِضب فجعل ال ْقوم‬ ُ ْ َ ِ ُ َ َ َ ّ َ (‫ي َأ ْك ُلون )مسند أحمد‬ َ ُ 3. Puasa. Hadits Qudsi. Hadits Qudsi secara etimologi berarti suci. Al-Qur’an adalah wahyu yang diturunkan oleh Allah melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad s. Contoh: َ ‫حدّث َنا عث ْمان ب ْن أ َبي شي ْب َة قال حدّث َنا جرير عن من ْصور عن أ َبي وائ ِل عن حذَي ْفة‬ َ َ ُ َ ُ َ ُ ْ َ ٍ َ َ َ َ َ ِ ْ َ ٍ ُ َ ْ َ ٌ ِ َ َ ِ ُ َ ّ َ ّ َ ُ ُ َ َ ‫قال: كان الن ّب ِي صلى الل ّه عل َي ْه وسل ّم إ ِذا قام من الل ّي ْل ي َشوص فاهُ بالسواك‬ َ َ ِ َ ّ ْ ِ َ َ َ َ َ َ ِ َ ُ ِ ِ (‫)صحيح البخاري‬ c. Terhadap perkataan atau perbuatan Shahabat. Yang disampaikan oleh sahabat kepada kita seperti tatcara beliau Shalat. Dalam hal ini Rasul tidak memiliki otoritas sama sekali unutuk merangkai kata-kata al-Qur’an. dan Hadist Nabawi.

serta menyandarkan kepada Alloh. Kodifikasi Hadist 1. setiap orang yang membacanya dicatat sebagai ibadah. Sedangkan dalam Hadits Qudsi statemen yang dipakai adalah: ”Allah telah meriwayatkan kepadaku”. . Hadits Nabawi adalah yang mana bahasa maupun maknanya berasal dari Nabi saw sendiri. dan tidak sah sholat seseorang tanpa ada surat Al Quran.Menurut Al-Thibi “hadits Qudsi adalah Titah Allah yang disampaikan kepada Nabi dalam mimpi.‫وماينطقوا عن الهوى ان هوالوحي يوحى‬ Akan tetapi mempunyai pengertian bahwa Hadits Nabawi dalam proses terjadinya dari Nabi tidak harus menunggu intruksi wahyu dari Allah.Alasan Tertundanya Penulisan Hadist . c. lalu beliau menerangkan mimpinya dengan susunan pekataan beliau sendiri. sedang Hadits Qudsi tidak begitu “diturunkan melalui mimpi/ilham”. Sedangkan Hadaits Qudsi adalah “wahyu yang redaksinya dari Rasul sedang maknanya dari Allah diturunkan dengan jalan ilham atau mimpi. o Dan masih banyak perbedaan-perbedaan lainnya yang tidak munglin saya sebutkan semuanya disini. sedang hadits Qudsi tidak seperti itu o Pernyataan yang digunakan nabi dalam al-Qur’an adalah: ”Allah telah berfirman”. karena hal ini bertentangan dengan al-Qur’an surat al-Najm ayat 4 yang berbunyi: o Setiap makna dan lafad Al-Quran dari Allah dan menjadi wahyu yang agung. [5] • Secara garis besar keduanya dapat dibedakan sebagai berikut: dan diturunkan secara mutawatir melaui jibril. Meskipun demikian bukan berarti apa yang dikatakan oleh Nabi merupakan sesuatu yang berasal dari nafsu belaka. o Mushaf al-Qur’an hanya boleh dipegang oleh orang yang dalam keadaan bersih (suci). Menurut Abdul Baqi Al-Ukbari Al-Quran adalah “wahyu yang lafad dan maknanya dari Allah”. sedangkan Hadits Qudsi tidak. o Al-Quran sebagiai mu’jizat. atau jalan ilham.[6] B.

Karena itu Al-qur’an bebas dari segala bentuk kekeliruan atau perubahan. Penundaan penulisan hadits ini akibatnya yang berbahaya telah membawa sekelompok orang melimpahkan kesalahan kepada Nabi. tetap jika penentangan itu dinisbatkan kepada yang lain. Sadangkan kasus Haditst – menurut keyakinan kami – meskipun ada izin atau perintah Nabi dalam kaitannya dengan penulisan hadits. dan pertentangan ini banyak melahirkan masalah yang berkaitan dengan hadits. Disitu mereka mempelajari dengan agama Islam. Karena kejelasan dan ketegasan inilah dan karena alasan-alasan lainnya. namun tugas penulisan hadits bukan saja tidak diperhatikan akan tetapi ditentang. hidup di tengah-tengah masyarakat pada umumnya dan di tengah sahabat pada khususnya. seperti hadits yang telah diriwayatkan oleh Abu sa’id Al-Khudri yang berbunyi: jangan tulis dariku kecuali al-Qur’an. Mula-mula mereka tinggal di rumah al-Arqam bin Abdu Manaf. Bersamaan berjalannya akhirnya Islampun mulai berkembang. dan bagi siapapun yang menulisnyahendaknya menghapusnya. a. Alasan kami menolak hadits ini adalah sebagai berkut: 2. Mereka tau bahwa penentangan penulisan hadits datang dari Nab. Pada masa permulaan ini jumlah umat Islam hanyalah beberapa gelintir orang saja. dan meskipun kenyataannya hadits telah ditulis selama masa hidup Nabi. sehingga membentuk komunitas yang lebih .Sajak pertama Nabi mencurahkan Perhatian besar bagi penulisan Al-qur’an. maka kelemahan mereka terungkap karena menisbat larangan tersebut kepada Nabi. waktu mempelajari al-Quran. Sesuai dengan penjelasan ini. Pernyataan ini sudah jelas dan gamblang sekali bahwa penulisan hadits tidak diizinkan. yang terletak secara di kota Madinah. Periode pertama Periode pertama adalah masa wahyu dan pembentukan masyarakat. tidak akan dianggap salah karena Nabi adalah Ma’shum (terjaga). baik sewaktu tinggal di Makkah maupun setelah Hijrah ke Madinah. tiap orang yang elah menulis apa saja tentang Hadist wajib memusnahkannya.Masa Kodifikasi dan Pengumpulan Hadits. serta mereka melakukan dakwah yang pada awalnya mereka lakukan sembunyi-sembunyi. Pada masa ini Nabi SAW. kami tidak mendapat menerima keshahian pernyataan ini atau pernyataan lain yang seperti ini.

Adapun hadist pada waktu itu. Maka pada awal-awal perkembangan itu. Muslim . ‫لتكتبوا عنى شيئا غيرالقران فمن كتب عنى شيئاغيرالقران فليمحه‬ Artinya “ Jangan menulis apa-apa selain al-Quran dari saya. Dan nabi memprioritaskan terhadap penulisan al-Quran. Dia memiliki kumpulan hadist yang dikenal dengan Sahifah as-Sadiqah. dapat disebutkan beberapa cara sahabat dalam menerima hadist. Berikut ini contoh Hadist Nabi SAW yang melarang penulisan hadits. belum begitu diperhatikan seperti halnya alQuran yang sejak awal mendapatkan perhatian khusus. . Disamping itu dijumpai sebuah kitab hadist Sahifah Jabir bin Abdillah yang ditulis oleh Jabir bin Abdulloh al-Ansari (16-74H). Diantara para sahabat yang telah mendapatkan lisensi adalah Abdulloh bin Amr bin Ash (7SH65H).besar. Di era tersebut Kota Madinah masih memiliki sembilan masjid.[dari Abu Said a-Khudry)[7 Namun ada sebuah riwayat yang mengatakan bahwa Nabi SAW memberikan izin kepada sebagian sahabatnya untuk menulis hadist. [8] Contoh hadist yang memperbolehkan penglodifikasian hadist adalah. Namun pada ujungnya disaat periode terakhir masa-masa kehidupan Nabi mereka mengkodifikasikannya. Sehingga pada saat itu hadist terdokumentasikan dalam bentuk hafalan saja. Karena dikhawatirkan akan tercampur dengan al-Quran.(HR. Bahkan pada awal-awal turunnya wahyu.[10] Pertama hadist diterima secara langsung. ‫اكتبواعني فوالذى نفسى بيده ماخرج من فمى الحق‬ Artinya “ Tulislah dari saya demi zat yang diriku di dalam kekuasaan-Nya. dan juga supaya semua potensi ditujukan dan diarahkan pada al-Quran. dan yang terakhir Sahifah Sahihah yang disusun oleh Human bin Munabbih (40-131H). Nabi memerintahkan kepada umat Islam untuk mempelajari baca tulis.[9] Di masa ini. Hal itu bertujuan untuk membantu dalam proses hafalan mereka. Nabi SAW melarang para sahabatnya untuk menulis hadist. barang siapayang menulis dari saya selain al-Quran maka hendaklah menghapusnya”. tidak keluar dari mulutku kecuali yang hak “. sahifah ini memuat seribu hadist.

b. yang merambat pada lahirnya berbagai macam fitnah dan intrik. Periode kedua Tepatnya periode ini adalah masa kepemimpinan khulafa ar-Rasyidin. Kedua hadist diterima secara tidak langsung. Persaan malu untuk bertanya langasung kepada Nabi SAW. Persoalan-persoalan tersebut menumbuhkan perpecahan dikalangan intern umat. Selain karena sebab-sebab diatas factor lain adalah tingkat kemampuan termasuk tingkat kecerdasan diantara mereka yang menetukan kualitas penerimaan hadist. yang disebabkan beberapa factor. Abu Bakar as-Siddik. Jadi pada masa ini terdapat perbedaan tingkat penerimaan hadist dilkalangan sahabat. Adanya perilaku umat yang disaksikan oleh nabi secara langsung dan menghendaki panjelasan dari nabi. Sehingga wajar kalau Abu Bakar dan Umar menyerukan pada umat Islam . Tempat tinggal sahabat yang jauh. Ada peristiwa yang langsung dialami Nabi SAW dan para sahabat menyaksikannya. Yang pada tataran selanjutnya Hadist pun juga tak luput dari dampak tersebut. Persoalan yang menonjol serta banyak menyita perhatian para sahabat pada periode ini. Ustman bin Affan.Melalui majlis pengajian nabi yang diadakan pada waktu-waktu tertentu. Ali bin Abi Tholib (10H-40H). Kesibukan yang dialami sahabat. Pertanyaan yang diajukan oeh sahabat atau permintaan penjelasan sahabat kepada Nabi SAW. Umar bi Khattab. disamping usaha penyebarluasan Islam adalah soal ketatanegaran dan soal kepemimpinan umat.

Semua itu menunjukkan bahwa betapa ketatnya para sahabat dalam menerima hadist. Contohnya sahabat Ali. yang tepatnya di masa pemerintahan Ali dan Ustman maka larangan terhadap periwatan hadist tidak lagi dapat dilakukan dengan tegas seperti pada masa Abu Bakar dan Umar. Kedatangan sahabat tersebut dimanfaatkan oleh golongan tabiin untuk mendengarkan pengajaran-pengajaran daripadanya. at-Tabari. Karena banyak dari sahabat yang sudah berpencar ke daerah-daerah baru. Periode ketiga Periode ini disebut periode penyebaran riwayat. dan al-Baihaki disebutkan bahwa Jabir pernah pergi ke Syam menanyakan sebuah hadist kepada seorang sahabat yang tinggal disana. [11] Adapun penyeberan hadist pada masa ini menggunakan lisan. Hal itupun juga diikuti sahabat-sahabat yang lainnya. Maka pada saat itulah hadist baru dipakai untuk menyelesaikan permasalahan tersebut[12]. Sehingga pada masa itu muncullah istilah “Bendaharawan Hadist”. yaitu para sahabat yang meriwayatkan hadist lebih dari seribu hadist. Akibatnya penyebaran dan pengembangan riwayat secara lebih jauh tidak terhindarkan lagi. Persia (21H). dan hanya pada saat yang diperlukan. Samarkand (56H). . dan Spanyol (93H) menuntut para sahabat untuk berpindah ke tempat-tempat baru dengan tujuan mengajarkan agama Islam. yang belum pernah didengarnya merasa perlu melakukan pengecekan dengan melawat ke kota di mana sahabat yang meriwayatkan hadist tersebut tinggal. Hal demikian juga pernah dilakukan oleh Ayyub al-Anshari yang melawat ke Mesir hanya untuk menemui Uqbah bin Nafi. Penakhlukan beberapa kota diantaranya Syam dan Irak (17H). Adapun perkembangan selanjutnya sahabat yang mendengar riwayat (Hadist) . Ini berlangsung pada masa sahabat kecil dan tabiin besar.untuk berhati-hati dan cermat dalam meriwayatkan Hadist. Periode ini ditandai oleh aktifnya generasi tabiin menyerap hadist dari generasi sahabat. c. Beberapa sumber mengatakan bahwa Abu Bakar dan Umar tidak akan menerima hadist kalau tidak disaksikan kebenarannya oleh saksi yang lain. Mesir (20H). Namun berkenaan dengan semakin luasnya wilayah Islam. Serta meminta para sahabat untuk secara teliti memeriksa riwayat Hadist yang mereka terima.[13] Dalam riwayat Bukhori Ahmad. Misalnya jika umat Islam menghadapi suatu permasalahan yang menuntut penjelasan dari hadist. Ia tidak menerima hadist sebelum yang meriwayatkan disumpah terlebih dahulu.

Umar bin Abdul Aziz dan Qobisah bin Zuaib di Syam. dan Muawaiyah cs. meriwayatkan (1660 hadist). Aisyah.menyedikitkan riwayat. Abdullah bin Umar bin Khattab. meriwayatkan (1540 hadist). Abu Qotadah dan Muahmmad bin Sirin di Basra. meriwayatkan (1170 hadist). (meriwayatkan 2630 hadist). . Contoh hadist palsu yang dibuat golongan syiah.Diantara mereka adalah Abu Hurairah (meriwayatkan 5374 hadist). asy-Sya’bi dan Ibrahim an-Nakhai di Kufah. Abu Khoir Marsad al-Yazini dan Yazid bin Habib di Mesirl. Perseteruan itu banyak membawa korban dikalangan umat Islam.”[14] Contoh hadist palsu yang dibuat golongan Muawiyah. meriwayatkan (1210 hadist). . dan Taus bin Khoiman di al-Yamani serta Wahab bin Muanabbih di Yaman. mereka takut terjerumus dalam kedustaan. Alasannya. Abu Qotadah dan Muahmmad bin Sirin di Basra. maka hendaklah mati sebagai orang Yahudi atau Nasrani. karena persoalan kholifah dan politik.meriwayatkan (2266 hadist). Jabir bin Abdullah. Abu Khoir Marsad al-Yazini dan Yazid bin Habib di Mesirl. Pada akhirnya situasi perpolitikan yang demikian itu memberi peluang berkembangnya pemalsuan hadist. Hadist palsu tersebut digunakan untuk menjastifikasi golongan mereka masing-masing. Ikrimah dan Ata bin Abi Robbah di Makkah. Abu Said al-Khudari. Sedangkan dari golongan tabiin yang tercatat sebagai tokoh hadist pada periode ini adalah Said dan Urawah di Madinah. Anas bin Malik. Sedangkan dari golongan tabiin yang tercatat sebagai tokoh hadist pada periode ini adalah Said dan Urawah di Madinah. Abdullah bin Abbas. Umar bin Abdul Aziz dan Qobisah bin Zuaib di Syam. Az-Zubair dan Zaid bin Arqom adalah contoh dari sekian sahabat yang mengambil sikap seperti itu. ‫من مات وفى قلبه بغض لعلى فليمت يهد يااو نصرانيا‬ Artinya: “siapa yang mati dan dalam hatinya ada rasa benci kepada Ali. dan Taus bin Khoiman di al-Yamani serta Wahab bin Muanabbih di Yaman. Pada era tersebut juga terdapat beberapa sahabat yang . Ikrimah dan Ata bin Abi Robbah di Makkah. serta takut akan banyaknya hadist yang terlupakan dikarenakan usianya yang telah lanjut. Perkembangan selanjutnya terjadi perpecahan dikalangan umat Islam. asy-Sya’bi dan Ibrahim an-Nakhai di Kufah. Dan hal itu merembet pada perang saudara antara Ali cs.

Hasyim bin Basyr (104-183H) di Wasit. Ma’mar bin Rosyd (95153H) di Yaman. Kekhawatiran itulah yang menyebabkan kholifah memerintahkan Gubernur Madinah Abu Bakar Muhammad bin Amru bi Hazm (w 117H) untuk membukukan hadist yang terdapat pada penghafal Amrah binti Abdurrahman bin Saad bin Zuhairah bin Ades (ahli fiqih murid Aisyah RA) serta hadist yang ada pada Qosim bin Muhammad bin Abu Bakar as-Siddiq. ar-Rabbi bin Sabih (w 160H). dan Muhammad bin Ishak (w 151H) di Madinah. Sufyan as-Sauri (w161H) di Kufah. Selain itu beliau juga terkenal jujur. Jarir bin Abdul Hamid (110-188H) di Rayy dan Abdullah bin Wahab (125-197H) di Mesir. serta semakin berkembangnya hadist palsu. Para tokoh tersebut misalnya: Abdul Malik bin Abdu Aziz bin Juraij (w 159H) di Makkah. maka tergeraklah hatinya untuk mengkodifikasikan hadist. Ia khawatir kalau tidak segera dibukukan maka hadist pasti akan berangsurangsur hilang. Abdurrahman bin Amr al-Auzi (88-157H) di Syam. membentuk pribadi yang cinta akan ilmu pengetahuan. . yang selanjutnya melahirkan banyak penulis dan penghimpun hadist. Abdullah bin alMubarak (118-181H) di Khurasan. Dan dalam kitab ini hadist masih bercampur dengan fatwa sahabat dan tabiin. Sehingga ketika Ia menangkap kenyataan bahwa banyak dari para penghafal hadist yang wafat. Malik bin Anas / Imam Malik (94-179H).‫المناء عندالله ثل ثة : انا وجبريل ومعويه‬ Artinya: “ orang yang terpercaya oleh Alloh hanya tiga. d. si pengarang menghimpun semua hadist mengenai masalah-masalah yang sama dalam satu kitab karangan saja. dan Hammad bin salamah bin Dinar alBasri (w167H) di Basra. Periode keempat Periode keempat berlangsung dari masa Kholifah Umar bin Abdul Aziz (99H102H) sampai akhir abad kedua Hijriah. hadist Mauquf. Selain itu kholifah juga memerintahkan Muhammad bin Syihab az-Zuhri (w 124 H) untuk mengumpulkan hadist yang ada pada para penghafal Hijaz dan Syuriah. Muawiyah”. Belum ada pemilahan mana hadist yang Marfu’.[15] Selanjutnya bertolak dari sini berkembanglah pengkodifikasian hadist. Said bin Urabah (w 167H). yakni Aku (Nabi). Kholifah Umar bin Abdul Aziz yang tumbuh dalam ikllim keilmuan. Sistem pembukuan hadist pada stadium ini adalah. Jibril. Masa ini dicatat oleh sejarah sebagai masa kodifikasi resmi.

Ini berlangsung dari awal abad ke 3 H sampai sampai akhir abad ke 3.ataupun hadist Maqtu’. penyehatan. Misalnya Musnad as-Syafii. Sebab para ulama telah berhasil memisahkan hadist-hadist Nabi SAW dari yang bukan hadist (fatwa sahabat dan Tabiin) . Periode kelima Periode kelima disebut dengan periode pemurnian. Pada masa ini timbul pertentangan yang hebat antara ulama kalam (khususnya Mu’tazilah) dengan Ulama hadist. yang dengan sabar menjaga kemurnian dan kesucian ajaran Nabi SAW. dan maqtu’. membuat klasfikasi hadist marfu’. kegiatan-kegiatan lainnya di masa ini adalah:[17] lawatan ke daerah-daerah yang semakin jauh guna menghimpun hadist dari para perowinya. Beberapa buku tersebut ada yang dinamakan al-Jami. al-Musnad. Namun ditengah-tengah kegentingan tersebut lahirlah ulamaulama besar termasuk Ulama hadist. serta antara hadist Sohih. Hasan. dan Dhoif. Antara lain al-Makmun (218H) . dan umat Islam umumnya yang mayoritas beraliran Ahlu Sunnah. al-Musannaf dan lain-lain. mauquf.[16] Masa ini dapat dikatakan sebagai masa keemasan dalam sejarah kodifikasi hadist. . Pertentangan itu berkutat di sekitar apakah al-Quran itu makhluk atau Bukan? Golongan Mu’tazilah beropini bahwa Quran adalah makhluk. Musannaf al-Auzai dan al-Muwatta karya Imam Malilk yang disusun atas permintaan kholifah Abu Ja’far al-Mansur (144H). dan penyempurnaan. a. Instruksi tersebut banyak mendapat tentangan dari Ulama hadist khususnya. Pada periode tersebut banyak dari golongan ulama yang dipenjara dan di siksa. antara lain Ahmad bin Hambal karena menentang kholifah al-Makmun dan penggantinya al-Mu’tasim (w 227 H) dan Watsiq (w 232 H). Ia menginstruksikan kepada seluruh Gubernur di Bagdad untuk menindak dengan tegas kepada siapa saja yang tidak mau mengatakan bahwa Quran itu makhluk. Pendapat ini mendapat suport dari kholifah-kholifah pada waktu itu. Bahkan Ia melarang keras kepada Ulama hadist untuk berfatwa dan meriwayatkan Hadist kalau tidak mengatakan demikian.

Tapi mereka mendengar langsung hadsit-hadist itu dari guru-gurunya dan mengadakan penelitian sendiri tentang matan serta perowinya.[19] . f. penambahan. Imam-imam hadist lainnya. mulai menyusun kitab-kitab sunan mereka. Ini dimulai dari abad ke 4 sampai jatuhnya Kota Bagdad (656H). dan ulama yang hidup sesudah abad 4 H (Muataakhirin). Oleh sebab itu dirasakan tidak perlu lagi melakukan lawatan ke berbegai negeri untuk mencari hadist. Begitu pula Imam Hambali dengan kitab musnadnya. Untuk itu mereka mengadakan lawatan-lawatan ke berbagai daerah untuk mencek kebenaran hadist-hadist yang didengarnya. at-Tirmidzi. penertiban.[18] Adapun Ulama Mutaakhirin pada umumnya bersandar pada karya-karya Ulama Mutakadimin dalam arti kumpulan-kumpulan hadist mereka adalah hasil petikan atau nukilan dari kitab-kitab Mutakadimin. Usaha ini dilanjutkan oleh Imam Bukhori. Kitab Sunan dan Kitab Musnad. dan penghimpunan hadist. Perbedaan antara keduanya adalah Ulama Mutakadimin melakukan kegiatannya secara mandiri. Jadi para ulama periode ini berlombalomba untuk mengahafal sebanyak-banykanya hadist yang sudah terkodifikasi. dan Nuaim bin Ahmad al-Kazai. dan Ibnu Majja. Musaddad al-Basri. an-Nasai. Term-term ini jadikan sebagai pemisah antara ulama yang hidup sebelum abad ke 4 H (mutakadimin). Penyusun kitab musanad lainnya adalah Musa al-Abbasi. Asad bin Musa. sehingga tersusunkah sebuah kitab yang sistematis berdasarkan bab-bab yang diberi nama Sahih Bukhori. Pada masa ini bangkit Imam hadist yang besar yaitu Ishaq bin Ruwaih yang merintis usaha memisahkan antara hadist Sahih dan tidak. Dalam arti mereka himpunan hadist-hadistnya tidak dengan jalan mengutipnya dari kitab-kitab hadist yang ada sebelumnya. Pada masa ini lahir istilah ulama Mutakadimin dan ulama Mutaakhirin. Pada stadium enam ini tumbuh sebuah asumsi bahwa sudah merasa cukup dengan hadist-hadist yang dihimpun ulama-ulama Mutakadimin. Semangat yang tumbuh pada masa ini adalah semangat untuk memelihara. Sebagai tindak lanjut dari pengklasifikasian hadist. lahirlah buku-buku baru yang dinamakan Kitab Sahih. Periode keenam Periode keenam merupakan periode pemeliharaan. seperti Abu Daud.menghimpun kritik-kritik yang diarahkan baik pada rowi maupun matan serta memberi jawabannya.

kemudian menjelaskan seluruh sanad dari matan itu baik sanad dari kitab yang dikutip maupun kitab lain. dengan sanad sendiri yang berbeda dengan sanad hadist rujukannya. Usaha-usaha perbaikan tersebut memunculkan beberapa Kitab hadist diantaranya:[20] kitab syarh. yaitu kitab hadist yang memuat hadist dari kitab hadist yang ada. kitab Jam’i yang menghimpun hadist-hadist yan telah termuat dalam kitabkitab yang telah ada. Kemudian menakhlukkan Mesir dan melenyapkan Kholifah Abbasiyah. Sejak itu kholifah islamiyah ini dipindahkan ke Kota Konstantinopel dan sejak itu raja Turki memakai sebutan Kholifah. yang menghimpun hadist-hadist yang memiliki syarat-syarat Bukhori Muslim atau salah satu dari keduanya saja. pentarjihan serta pengeluaran riwayat. Turki semakin kuat dan daerahnya makin . kitab Mustadrak. Akibat dari kejadian itu maka pindahlah pemerintahan Abbasiyah ini ke Cairo Mesir.[21] Pada akhir abad ke 7 Turki menguasai daerah-daerah Islam kecuali daerah barat (Maroko dan sebagainya). perhimpunan. Selain itu juga muncul kitab Mustakhraj. mengumpulkan yang masih berserakan dan memudahkan jalan-jalan pengumpulan hadist. Periode ini bertepatan dengan masa penghancuran Kota Bagdad sebagai pusat pemerintahan Abbasiyah oleh pasukan Hulugu Khan (656 H). namun kholifahnya hanya simbol saja. sedangkan yang berkuasa pada hakekantnya adalah Raja Mesir dari Mamalik. kitab Atraf yang menyebut hanya sebagian dari matan atau tesk hadist. Bahkan pada abad 9 Turki di bawah pemerintahan Ottoman (dinasti Ustmaniyah) merebut Kota Konstantinopel dan dijadikan ibukotanya. g.Selain itu ulama dalam periode ini berusaha memperbaiki susunan kitab. yang mengomentari kitab hadist tertentu. Periode ketujuh Periode ketujuh bisa dikatakan periode pensyarahan.

Hal-149 [9] Masjfuk zuhdi. mengembngkannya. Hal-19.Cit. membuat pembahasanpembahasannya atau membuat ringkasan-ringkasan.Cit. Pengantar Ilmu Hadist. Hal-95 [22] Ibid.Cit. Hal-81 [10] Penyusun Ensiklipedi Islam. 1993.2. Usul al-Hadist Ulumuhu wa Musthalahuhu. Sejarah & pengantar Ilmu Hadits. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve.1. (Surabaya: Bina Ilmu). atau lht Muhammad Hasbi Ash shiddiqi. Hal-17 [5] Muhammad bin Ali al-Maliki / Muhamad Hasbi As-Sidiqi.cit. Op. P. Hal-45. Yang umum adalah mempelajari kitab-kitab hadist yang ada. 96 . [15] Penyusun Ensiklopedi Islam. Hal-149 [16] Masjfuk Zuhdi. Pada dekade ini jarang sekali detemuakan ulama-ulama yang mampu menyampaikan periwayatan hadist beserta sanadnya secara hafalan yang sempurna. Op.Ci.1999. [1] Muhammad bin Ali al-Maliki. Jld. Hal-1. Op.15 [6] Sya’ban Muhammad Ismail. Al-Hadist Al-Qudsi. Op.cit.6. Op. Ulum al-Hadist. Sahar al-Mamlakah al-arabiyah.Loc. [14] Masjfuk Zuhdi. Semarang. Loc. Op.Cit. Hal-47 [20] Ibid [21] Masjfuk Zuhdi.Cit. Jld. Op Cit.4. Hal-43 [11] Ibid. tapi sayangnya pada waktu yang sama pemerintahan Islam di Andalus hancur. Jiddah. al-Manhalal-Latif fi Usul al-Hadis al-Syarif. Maksudnya adalah sang guru memberikan izin kepada sang murid untuk meriwayatkan hadist dari guru tersebut. Op. 1990. Mereka kadang-kadang menggunakan jalan surat menyurat dan ijazah. op. cet. Hal-88. Hal-92 [19] Penyusun Ensiklopedi Islam.89 [17] Penyusun Ensiklopedi Islam. Pustaka Rizqi Putra. Hal-80 [8] Penyusun Ensiklipedi Islam.luas. [3]Muhammad bin Ali al-Maliki / Muhamad Hasbi As-Sidiqi. Hal-47 [18] Masjfuk Zuhdi. [2] M. 1998. 44 [12] Masjfuk Zuhdi.Cit. Ensiklopedi Islam. Maka padamlah cahaya Islam yang pernah menerangi negeri tersebut selama kurang lebih delapan abad. Op. Loc.Cit. Hal-82 [13] Penyusun Ensiklopedi Islam. Kemudian imperialisme Barat berhasil menakhlukkan negeri-negeri Islam. Hal-52 / 5-15 [4] Muhammad Ahmad dan Muhammad Mudzakkir. cit.Cit.T.[22] Situasi dan kondisi tersebut secara otomatis juga menggeser cara penerimaan dan penyampaian hadist. Hal-41&51. Hal-52 / 5. Hal-87 [7] Masjfuk Zuhdi. ‘Ajjaj al-Khatib. Dan sejak itu Islam mengalami kemunduran. Hal-84.

Fill in your details below or click an icon to log in: • • • Email (wajib) (Belum diterbitkan) Nama (wajib) Situs web Beritahu saya balasan komentar lewat surat elektronik.Tinggalkan Balasan Top of Form Enter your comment here... Bottom of Form Top of Form Bottom of Form My family .

my article • • • • • • • Al-Jarah Wa Al-Ta’dil Definisi Hadits Hadist Ditinjau Dari Aspek Kuantitas Sanad Hadits Ditinjau Dari Aspek Kualitas Hadits Mu’an-an dan Mu’annan Syudzudz & Illat Hadits Tahamul & Ada’ul Hadits my town • asal-usul udink’z Relasi Link • • • • • game’s Hamzex’ MUTU my pondok nurul anwar SAVEKING situs mine • • • FB friendster myspace ANDA ADALAH TAMU KE: Desember 2011 S S R K J S M « Feb 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 .

. Theme: Sapphire by Michael Martine.Desember 2011 S S R K J S M 2 3 4 5 6 7 8 1 2 2 2 2 2 2 9 0 1 2 3 4 5 2 2 2 2 3 3 6 7 8 9 0 1 Blog pada WordPress.com.