Al-Qur’an Secara Etimologi

November 28, 2010 tauhidullah Tinggalkan komentar Go to comments

Rate This Ditinjau dari segi kebahasaan, Al-Qur’an berasal dari bahasa Arab yang berarti “bacaan” atau “sesuatu yang dibaca berulang-ulang”. Kata Al-Qur’an adalah bentuk kata benda (masdar) dari kata kerja qara’a yang artinya membaca. Konsep pemakaian kata ini dapat juga dijumpai pada salah satu surat Al-Qur’an sendiri yakni pada ayat 17 dan 18 Surah Al-Qiyamah yang artinya: “Sesungguhnya mengumpulkan Al-Qur’an (di dalam dadamu) dan (menetapkan) bacaannya (pada lidahmu) itu adalah tanggungan Kami. (Karena itu,) jika Kami telah membacakannya, hendaklah kamu ikuti {amalkan} bacaannya”.(75:17-75:18)

Terminologi
Sebuah cover dari mushaf Al-Qur’an Dr. Subhi Al Salih mendefinisikan Al-Qur’an sebagai berikut: “Kalam Allah SWT yang merupakan mukjizat yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan ditulis di mushaf serta diriwayatkan dengan mutawatir, membacanya termasuk ibadah”. Adapun Muhammad Ali ash-Shabuni mendefinisikan Al-Qur’an sebagai berikut: “Al-Qur’an adalah firman Allah yang tiada tandingannya, diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW penutup para Nabi dan Rasul, dengan perantaraan Malaikat Jibril a.s. dan ditulis pada mushaf-mushaf yang kemudian disampaikan kepada kita secara mutawatir, serta membaca dan mempelajarinya merupakan ibadah, yang dimulai dengan surat Al-Fatihah dan ditutup dengan surat An-Nas“ Dengan definisi tersebut di atas sebagaimana dipercayai Muslim, firman Allah yang diturunkan kepada Nabi selain Nabi Muhammad SAW, tidak dinamakan Al-Qur’an seperti Kitab Taurat yang diturunkan kepada umat Nabi Musa AS atau Kitab Injil yang diturunkan kepada umat Nabi Isa AS. Demikian pula firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang membacanya tidak dianggap sebagai ibadah, seperti Hadits Qudsi, tidak termasuk Al-Qur’an. Jaminan Tentang Kemurnian Al-Quran dan Bukti-Buktinya Kemurnian Kitab Al-Quran ini dijamin langsung oleh Allah, yaitu Dzat yang menciptakan dan menurunkan Al-Quran itu sendiri. Dan pada kenyataannya kita bisa melihat, satu-satu kitab yang mudah dipelajari bahkan sampai dihafal oleh beribu-ribu umat Islam.

Nama-nama lain Al-Qur’an
Dalam Al-Qur’an sendiri terdapat beberapa ayat yang menyertakan nama lain yang digunakan untuk merujuk kepada Al-Qur’an itu sendiri. Berikut adalah nama-nama tersebut dan ayat yang mencantumkannya:

• • • • • • • • •

Al-Kitab, QS(2:2),QS (44:2) Al-Furqan (pembeda benar salah): QS(25:1) Adz-Dzikr (pemberi peringatan): QS(15:9) Al-Mau’idzah (pelajaran/nasehat): QS(10:57) Al-Hukm (peraturan/hukum): QS(13:37) Al-Hikmah (kebijaksanaan): QS(17:39) Asy-Syifa’ (obat/penyembuh): QS(10:57), QS(17:82) Al-Huda (petunjuk): QS(72:13), QS(9:33) At-Tanzil (yang diturunkan): QS(26:192)

• • • • • • • • •

Ar-Rahmat (karunia): QS(27:77) Ar-Ruh (ruh): QS(42:52) Al-Bayan (penerang): QS(3:138) Al-Kalam (ucapan/firman): QS(9:6) Al-Busyra (kabar gembira): QS(16:102) An-Nur (cahaya): QS(4:174) Al-Basha’ir (pedoman): QS(45:20) Al-Balagh (penyampaian/kabar) QS(14:52) Al-Qaul (perkataan/ucapan) QS(28:51)

$4If’s (alumni DALWA)

Definisi Hadits
ULUMU AL-HADITS
A. Terminologi Hadits Nabawi 1.Definisi dan Perbedan Antara Hadits, Sunnah, Atsar, dan Khabar.

a. Hadits adalah: ‘segala perkataan. seperti kelahirannya. Sunnah Sunnah menurut Etimologi adalah: Jalan yang dijalani. Sunnah adalah “suatu suruhan yang tidak difardlukan dan tidak diwajibkan. perbuatan. yang tidak berat suruhannya”. sifat.[1] b. Dari makna inilah diambil perkataan hadits. Menurut istilah syara’. dan takrir Nabi yang berhubungan denga hukum”. pekerjaan. kelakuan. pekerjaan. Menurut fuqoha’. takrir. baik berupa perkataan. Hadits menurut terminologi adalah : Segala ucapan. Menurut Ahli Ushul. Sunnah adalah ” segala sesuatu yang bersumber dari Nabi baik perkataan. perbuatan. dan perjalanan hidup beliau sebelum diutus atau sesudahnya. yang terpuji ataupun jelek. lawan dari qodim: yang baru o Qorib: yang dekat.yang belum lama terjadi o Khobar: warta yaitu sesuatu yang di percakapkan dan dipindahkan dari seseorang kepada seseorang yang lain. pengajaran. maupun sifat beliau yang adakalanya itu disunnahkan/dijelaskan pada umat Islam ataupun khusus untuk Nabi”. • Perbedaan sunnah dan hadits . Sunnah menurut Terminologi adalah: Segala yang dinukil dari Nabi SAW. perkataan. Yang dimaksud keadaan adalah segala yang diriwayatkan dalam kitab sejarah. dan ketetapan beliau yang menjadi dalil syara’ “. Menurut arti lain Hadits adalah “segala sesuatu yang disadarkan pada Nabi SAW baik berupa perkataan. ketetapan. Hadits Hadits menurut Etimologi adalah: o Jadid. dan keadaan Nabi. tempatnya dan yang bersangkut paut dengannya.

sedang hadist tentu perkataan saja”. Yang mendukung pendapat ini adalah hadits yang berbunyi : ‫حدّث َنا عب ْدُ الل ّه ب ْن أ َحمدَ ب ْن ب َشير ب ْن ذَك ْوان الدّمشقي حدّث َنا ال ْوليدُ ب ْن مسل ِم ٍ حدّث َنا‬ َ َ َ ِ َ َ َ َ ِ َ َ ّ ِ ْ َ َ ْ ُ ُ َ ْ ُ ِ ِ ِ ِ ‫عب ْدُ الل ّه ب ْن ال ْعلء حدّث َني ي َحيى ب ْن أ َبي ال ْمطاع قال سمعت ال ْعرباض ب ْن ساري َة‬ َ َ ِ َ َ ِ ِ َ ْ ِ َ ْ َ ِ َ َ ُ ْ ِ َ َ َ ِ َ ُ ُ َ ِ ُ ّ َ ِ ُ ُ َ َ ِ َ َ ُ ُ ‫ي َقول: قام فينا رسول الل ّه صلى الل ّه عل َي ْه وسل ّم ذات ي َوم ٍ فوعظَنا موعظَة ب َليغة‬ ً َ ِ ً ِ ْ َ َ َ َ َ َ َ َ َ َ ِ َ ُ ْ َ ُ َ َ َ ِ َ ُ ُ ُ ‫وجل َت من ْها ال ْقلوب وذَرفت من ْها ال ْعيون فقيل يا رسول الل ّه وعظْت َنا موعظَة مودّع‬ َ َ ِ ِ ْ َ َ َ ِ ْ َ َ َ ُ ُ ُ َ ِ ْ ِ َ ٍ َ ُ َ ‫فاعهدْ إ ِل َي ْنا ب ِعهد فقال عل َي ْك ُم ب ِت َقوى الل ّه والسمع والطاعة وإ ِن عب ْدا حب َشيا‬ َ َ َ َ ٍ ْ َ َ ّ ِ َ ً َ ْ َ ِ َ ّ َ ْ َ ْ َ ِ ْ ّ َ ِ َ ْ ً َ ْ ‫وست َرون من ب َعدي اخت ِلفا شديدا فعل َي ْك ُم ب ِسن ّتي وسن ّة ال ْخل َفاء الراشدين‬ ِ َ ُ ِ ُ ِ ُ َ ِ ْ ْ ِ َ ْ َ َ َ َ َ ً ِ َ َ ِ ِ ّ ْ ّ ‫ال ْمهديين عضوا عل َي ْها بالن ّواجذ وإ ِياك ُم وال ُمور ال ْمحدَثات فإ ِن ك ُل ب ِدْعة ضلل َة‬ ٌ َ َ ٍ َ ّ َ َ ّ ِ ْ َ ّ َ ِ َ ْ ُ ّ َ ِ ِ َ ِ َ َ َ ُ ْ َ ْ “Hendaklah kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah Khulafa’ur Rasyidin sesudahku. Sehingga khabar lebih layak dijadikan sinonim hadits daripada sunnah. c. Majah). Dan “Muhaddist” diberikan untuk ulama ahli hadits atau sannah. Hadits rasulullah adalah berita – berita yang disandarkan kepada Nabi saw. . Sebagian ulama ada yang memasukkan perkataan dan perbuatan sahabat dan tabi’in dalam pengertian Sunnah. sedangkan sunnah lebih umum. Yaitu : Hadits adalah segala peristiwa yang disandarkan pada Nabi walaupun hanya sekali saja terjadinya dalam sepanjang hidup Nabi walaupun hanya diriwayatkan satu oarang saja .Dapat disimpulkan garis pebedaan antara keduanya. hanya saja kata “Akhbary” digunakan untuk menyebut orang–orang yang menekuni bidang sejarah. Sunnah adalah sebutan bagi amaliah yang mutawatiroh yakni cara Rasul melaksanakan suatu ibadah yang dinukilkan kepada kita dengan amaliah yang mutawatir. Khabar Khabar memiliki arti yang hampir sama dengan hadits. Ada yang berpendapat: hadits khusus dengan perkataan dan perbuatan. Menurut Al-Imam Al-Kamal Ibnu Humam. Sunnah adalah: segala yang diriwayatkan dari Nabi baik perkataan atau perbuatan . Hal ini dikarenakan tahdits (pembicaraan) artinya tidak lain adalah ikhbar (pemberitaan).(Sunan Ibn. Peganglah ia dengan teguh”.

Hadits atau sunnah memberikan pengertian bahwa perawi mengutip hadits yang disandarkar kepada Rasulullah saw (marfu’).[3] 2. antara lain: a. dan Khabar yang disandarkan kepada Sahabat dan Tabiin. Qauliyyah Hadits / Sunnah Qauliyyah adalah Hadits-hadits Nabi saw. Tapi para muhadditsin umumnya menamai hadist Nabi dan perkataan sahabat dengan atsar juga. dan setengah ulama memakai pula kata atsar untuk perkataan-perkataan tabiin saja.Bentuk-bentuk Hadits Nabawi Hadits ataupun Sunnah terbagi menjadi beberapa bentuk. Para fuqoha’ memakai perkataan Atsar untuk perkataan ulama salaf. tabiin dan lain-lain. Yang disampaikan dalam berbagai hal dan keadan yang diterbelakangi oleh berbagai tujuan. Oleh karenanya. Setiap hadits itu pasti khabar dan tidak sebaliknya. sahabat. Al Imam Al-Nawawi menerangkan bahwa fuqoha’ khurosan menamai perkataan sahabat ( hadist mauquf ) dengan atsar. Sedang khabar tidak hanya mencakup hadits marfu’ saja akan tetapi juga mengakomodasi yang mauquf (perawi hanya bersumber dari sahabat saja tidak sampai pada rasulullah). dan menamai hadist Nabi dengan Khabar. Atsar Atsar menurut Etimologi adalah : Bekas / Sisa sesuatu Atsar menurut Terminologi adalah: Pengertian untuk Hadits. Artinya. tidak setiap khabar itu hadits. para ahli hadits lantas memandang Atsar yang diidintikkan dengan Hadits Sahabat (mauquf) atau Tabiin (maqtu’)[2] Atsar menurut istilah jumhur artinya sama dengan khobar dan hadits. Yakni antara hadits dan khabar ada pengertiaan umum dan khusus. Sunnah. d. Ada yang mengatakan atsar lebih umum daripada khobar. seperti beliau bersabda: . Bahkan juga yang hanya berhenti sampai tingkatan tabi’in (maqtu’) saja.Pergeseran makna ini memberikan implikasi pada pada kedua lafad tersebut.

b. Yang disampaikan oleh sahabat kepada kita seperti tatcara beliau Shalat.‫حدّث َنا محمدُ ب ْن ك َثير أ َخب َرنا سفيان حدّث َني ي َحيى ب ْن سعيد عن محمد ب ْن إ ِب ْراهيم‬ ِ َ َ ْ ٍ ِ َ ْ َ ُ َ ْ ُ َ ُ َ ِ َ ّ َ ُ َ ِ ِ ّ َ ُ ْ َ ٍ ِ َ ُ ّ َ ِ َ َ ُ ُ ‫الت ّي ْمي عن عل ْقمة ب ْن وقاص الل ّي ْث ِي قال سمعت عمر ب ْن ال ْخطاب ي َقول: قال‬ َ َ َ َ ْ َ ّ ِ َ ِ ّ َ َ َ ُ ُ ْ ِ َ َ َ ّ ٍ ّ َ ِ ُ ُ َ ‫رسول الل ّه صلى الل ّه عل َي ْه وسل ّم إ ِن ّما ال َعمال بالن ّيات وإ ِن ّما ل ِك ُل امرئ ما ن َوى‬ َ ٍ ِ ْ ّ َ َ ِ ّ َ َ َ َ ِ َ ُ ِ ُ َ ْ ْ َ َ ُ َ ْ ِ َ ِ َ ُ َ ْ ِ ْ َ ْ َ َ ِ َ ْ َ َ ‫فمن كان َت هجرت ُه إ ِلى الل ّه ورسول ِه فهجرت ُه إ ِلى الل ّه ورسول ِه ومن كان َت هجرت ُه‬ ُ َ َ ِ ُ َ َ ِ ُ َ ْ ِ ْ َ ُ َ ْ ِ َ َ ُ ّ َ (‫ل ِدُن ْيا ي ُصيب ُها أ َو امرأ َة ي َت َزوجها فهجرت ُه إ ِلى ما هاجر إ ِل َي ْه )سنن أبي داود‬ ِ ٍ َ ْ ْ َ َ ِ َ َ َ َ b. Sedang secara terminologi adalah hadits yang Nabi riwayatkan dari Allah selain Al-Quran yang redaksinya dari Nabi sendiri. Dalam hal ini Rasul tidak memiliki otoritas sama sekali unutuk merangkai kata-kata al-Qur’an. Hadits Qudsi.a. Hadits Qudsi secara etimologi berarti suci. Taqririyyah Hadits / Sunnah Taqririyyah adalah Hadits yang berupa ketetapan atau penelitian Rasulullah saw. dan Hadist Nabawi. Contoh: َ ‫حدّث َنا عث ْمان ب ْن أ َبي شي ْب َة قال حدّث َنا جرير عن من ْصور عن أ َبي وائ ِل عن حذَي ْفة‬ َ َ ُ َ ُ َ ُ ْ َ ٍ َ َ َ َ َ ِ ْ َ ٍ ُ َ ْ َ ٌ ِ َ َ ِ ُ َ ّ َ ّ َ ُ ُ َ َ ‫قال: كان الن ّب ِي صلى الل ّه عل َي ْه وسل ّم إ ِذا قام من الل ّي ْل ي َشوص فاهُ بالسواك‬ َ َ ِ َ ّ ْ ِ َ َ َ َ َ َ ِ َ ُ ِ ِ (‫)صحيح البخاري‬ c.w. Terhadap perkataan atau perbuatan Shahabat.Perbedaan antra al-Qur’an. . Haji dan lain-lain. Fi’liyyah Hadits / Sunnah Fi’liyyah adalah semua perbuatan Nabi saw. seperti yang dikabarkan oleh Shahabat[4]: َ ّ ْ ّ َ َ َ َ َ ْ ْ َ ُ ْ ُ َ ‫حدّث َنا ي َحيى ب ْن أ َبي ب ُك َي ْر حدّث َنا شعب َة عن ت َوب َة قال قال الشعب ِي ل َقدْ صحب ْت اب ْن‬ َ َ ٍ َ ْ َ ُ ِ َ َ ِ ُ ّ َ ِ ً ِ َ ّ َ َ َ ِ َ ُ ‫عمر سن َة ون ِصفا فل َم أ َسمعه ي ُحدّث عن رسول الل ّه صلى الل ّه عل َي ْه وسل ّم إ ِل حديثا‬ ْ َ ً ْ َ ً َ َ َ ُ ِ ُ َ ْ َ ُ َ ُ ْ َ ْ ّ َ ِ َ َ َ َ ِ َ ُ َ َ َ َ ّ َ َ َ ً ِ َ ‫واحدا قال ك ُنا مع رسول الل ّه صلى الل ّه عل َي ْه وسل ّم فأ ُت ِي ب ِضب فجعل ال ْقوم‬ ُ ْ َ ِ ُ َ َ َ ّ َ (‫ي َأ ْك ُلون )مسند أحمد‬ َ ُ 3. Al-Qur’an adalah wahyu yang diturunkan oleh Allah melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad s. Puasa. yang mana redaksi dan subtansinya maknanya berasal dari Allah swt. a.

Menurut Al-Thibi “hadits Qudsi adalah Titah Allah yang disampaikan kepada Nabi dalam mimpi. [5] • Secara garis besar keduanya dapat dibedakan sebagai berikut: dan diturunkan secara mutawatir melaui jibril. o Dan masih banyak perbedaan-perbedaan lainnya yang tidak munglin saya sebutkan semuanya disini. o Al-Quran sebagiai mu’jizat. sedang Hadits Qudsi tidak begitu “diturunkan melalui mimpi/ilham”. Hadits Nabawi adalah yang mana bahasa maupun maknanya berasal dari Nabi saw sendiri. Sedangkan Hadaits Qudsi adalah “wahyu yang redaksinya dari Rasul sedang maknanya dari Allah diturunkan dengan jalan ilham atau mimpi.Alasan Tertundanya Penulisan Hadist . atau jalan ilham. Meskipun demikian bukan berarti apa yang dikatakan oleh Nabi merupakan sesuatu yang berasal dari nafsu belaka. Menurut Abdul Baqi Al-Ukbari Al-Quran adalah “wahyu yang lafad dan maknanya dari Allah”. dan tidak sah sholat seseorang tanpa ada surat Al Quran. c. Kodifikasi Hadist 1. setiap orang yang membacanya dicatat sebagai ibadah. o Mushaf al-Qur’an hanya boleh dipegang oleh orang yang dalam keadaan bersih (suci). Sedangkan dalam Hadits Qudsi statemen yang dipakai adalah: ”Allah telah meriwayatkan kepadaku”. sedang hadits Qudsi tidak seperti itu o Pernyataan yang digunakan nabi dalam al-Qur’an adalah: ”Allah telah berfirman”. lalu beliau menerangkan mimpinya dengan susunan pekataan beliau sendiri. .‫وماينطقوا عن الهوى ان هوالوحي يوحى‬ Akan tetapi mempunyai pengertian bahwa Hadits Nabawi dalam proses terjadinya dari Nabi tidak harus menunggu intruksi wahyu dari Allah. karena hal ini bertentangan dengan al-Qur’an surat al-Najm ayat 4 yang berbunyi: o Setiap makna dan lafad Al-Quran dari Allah dan menjadi wahyu yang agung. sedangkan Hadits Qudsi tidak.[6] B. serta menyandarkan kepada Alloh.

Bersamaan berjalannya akhirnya Islampun mulai berkembang. dan pertentangan ini banyak melahirkan masalah yang berkaitan dengan hadits. kami tidak mendapat menerima keshahian pernyataan ini atau pernyataan lain yang seperti ini. Mereka tau bahwa penentangan penulisan hadits datang dari Nab. serta mereka melakukan dakwah yang pada awalnya mereka lakukan sembunyi-sembunyi. waktu mempelajari al-Quran. Karena kejelasan dan ketegasan inilah dan karena alasan-alasan lainnya. seperti hadits yang telah diriwayatkan oleh Abu sa’id Al-Khudri yang berbunyi: jangan tulis dariku kecuali al-Qur’an. Pernyataan ini sudah jelas dan gamblang sekali bahwa penulisan hadits tidak diizinkan. Disitu mereka mempelajari dengan agama Islam. sehingga membentuk komunitas yang lebih . Sesuai dengan penjelasan ini. baik sewaktu tinggal di Makkah maupun setelah Hijrah ke Madinah. Sadangkan kasus Haditst – menurut keyakinan kami – meskipun ada izin atau perintah Nabi dalam kaitannya dengan penulisan hadits. Alasan kami menolak hadits ini adalah sebagai berkut: 2. Periode pertama Periode pertama adalah masa wahyu dan pembentukan masyarakat. maka kelemahan mereka terungkap karena menisbat larangan tersebut kepada Nabi. Mula-mula mereka tinggal di rumah al-Arqam bin Abdu Manaf. tidak akan dianggap salah karena Nabi adalah Ma’shum (terjaga). tetap jika penentangan itu dinisbatkan kepada yang lain.Masa Kodifikasi dan Pengumpulan Hadits. Pada masa permulaan ini jumlah umat Islam hanyalah beberapa gelintir orang saja.Sajak pertama Nabi mencurahkan Perhatian besar bagi penulisan Al-qur’an. dan meskipun kenyataannya hadits telah ditulis selama masa hidup Nabi. yang terletak secara di kota Madinah. Karena itu Al-qur’an bebas dari segala bentuk kekeliruan atau perubahan. dan bagi siapapun yang menulisnyahendaknya menghapusnya. hidup di tengah-tengah masyarakat pada umumnya dan di tengah sahabat pada khususnya. Penundaan penulisan hadits ini akibatnya yang berbahaya telah membawa sekelompok orang melimpahkan kesalahan kepada Nabi. Pada masa ini Nabi SAW. a. tiap orang yang elah menulis apa saja tentang Hadist wajib memusnahkannya. namun tugas penulisan hadits bukan saja tidak diperhatikan akan tetapi ditentang.

tidak keluar dari mulutku kecuali yang hak “. dan juga supaya semua potensi ditujukan dan diarahkan pada al-Quran.(HR.[9] Di masa ini. . belum begitu diperhatikan seperti halnya alQuran yang sejak awal mendapatkan perhatian khusus.[10] Pertama hadist diterima secara langsung. dapat disebutkan beberapa cara sahabat dalam menerima hadist. Disamping itu dijumpai sebuah kitab hadist Sahifah Jabir bin Abdillah yang ditulis oleh Jabir bin Abdulloh al-Ansari (16-74H). Dia memiliki kumpulan hadist yang dikenal dengan Sahifah as-Sadiqah. Hal itu bertujuan untuk membantu dalam proses hafalan mereka. Muslim . ‫اكتبواعني فوالذى نفسى بيده ماخرج من فمى الحق‬ Artinya “ Tulislah dari saya demi zat yang diriku di dalam kekuasaan-Nya. Nabi memerintahkan kepada umat Islam untuk mempelajari baca tulis. sahifah ini memuat seribu hadist. Nabi SAW melarang para sahabatnya untuk menulis hadist. Di era tersebut Kota Madinah masih memiliki sembilan masjid. Dan nabi memprioritaskan terhadap penulisan al-Quran. Maka pada awal-awal perkembangan itu. Bahkan pada awal-awal turunnya wahyu. Diantara para sahabat yang telah mendapatkan lisensi adalah Abdulloh bin Amr bin Ash (7SH65H). barang siapayang menulis dari saya selain al-Quran maka hendaklah menghapusnya”. Karena dikhawatirkan akan tercampur dengan al-Quran. Berikut ini contoh Hadist Nabi SAW yang melarang penulisan hadits. Namun pada ujungnya disaat periode terakhir masa-masa kehidupan Nabi mereka mengkodifikasikannya. [8] Contoh hadist yang memperbolehkan penglodifikasian hadist adalah.besar. Adapun hadist pada waktu itu. ‫لتكتبوا عنى شيئا غيرالقران فمن كتب عنى شيئاغيرالقران فليمحه‬ Artinya “ Jangan menulis apa-apa selain al-Quran dari saya. Sehingga pada saat itu hadist terdokumentasikan dalam bentuk hafalan saja.[dari Abu Said a-Khudry)[7 Namun ada sebuah riwayat yang mengatakan bahwa Nabi SAW memberikan izin kepada sebagian sahabatnya untuk menulis hadist. dan yang terakhir Sahifah Sahihah yang disusun oleh Human bin Munabbih (40-131H).

Pertanyaan yang diajukan oeh sahabat atau permintaan penjelasan sahabat kepada Nabi SAW. Ada peristiwa yang langsung dialami Nabi SAW dan para sahabat menyaksikannya. Tempat tinggal sahabat yang jauh. yang merambat pada lahirnya berbagai macam fitnah dan intrik. Ali bin Abi Tholib (10H-40H). disamping usaha penyebarluasan Islam adalah soal ketatanegaran dan soal kepemimpinan umat. Persaan malu untuk bertanya langasung kepada Nabi SAW. Sehingga wajar kalau Abu Bakar dan Umar menyerukan pada umat Islam . Adanya perilaku umat yang disaksikan oleh nabi secara langsung dan menghendaki panjelasan dari nabi. Yang pada tataran selanjutnya Hadist pun juga tak luput dari dampak tersebut. Persoalan yang menonjol serta banyak menyita perhatian para sahabat pada periode ini. Jadi pada masa ini terdapat perbedaan tingkat penerimaan hadist dilkalangan sahabat. Periode kedua Tepatnya periode ini adalah masa kepemimpinan khulafa ar-Rasyidin. b. Ustman bin Affan. Selain karena sebab-sebab diatas factor lain adalah tingkat kemampuan termasuk tingkat kecerdasan diantara mereka yang menetukan kualitas penerimaan hadist. yang disebabkan beberapa factor. Umar bi Khattab.Melalui majlis pengajian nabi yang diadakan pada waktu-waktu tertentu. Abu Bakar as-Siddik. Kedua hadist diterima secara tidak langsung. Kesibukan yang dialami sahabat. Persoalan-persoalan tersebut menumbuhkan perpecahan dikalangan intern umat.

Sehingga pada masa itu muncullah istilah “Bendaharawan Hadist”. Samarkand (56H). c. Hal demikian juga pernah dilakukan oleh Ayyub al-Anshari yang melawat ke Mesir hanya untuk menemui Uqbah bin Nafi. Kedatangan sahabat tersebut dimanfaatkan oleh golongan tabiin untuk mendengarkan pengajaran-pengajaran daripadanya.[13] Dalam riwayat Bukhori Ahmad. Akibatnya penyebaran dan pengembangan riwayat secara lebih jauh tidak terhindarkan lagi. Persia (21H). at-Tabari. Maka pada saat itulah hadist baru dipakai untuk menyelesaikan permasalahan tersebut[12]. Periode ketiga Periode ini disebut periode penyebaran riwayat. Penakhlukan beberapa kota diantaranya Syam dan Irak (17H). Serta meminta para sahabat untuk secara teliti memeriksa riwayat Hadist yang mereka terima. Karena banyak dari sahabat yang sudah berpencar ke daerah-daerah baru. dan al-Baihaki disebutkan bahwa Jabir pernah pergi ke Syam menanyakan sebuah hadist kepada seorang sahabat yang tinggal disana. Mesir (20H). Ini berlangsung pada masa sahabat kecil dan tabiin besar. dan hanya pada saat yang diperlukan. Adapun perkembangan selanjutnya sahabat yang mendengar riwayat (Hadist) . Semua itu menunjukkan bahwa betapa ketatnya para sahabat dalam menerima hadist. yang belum pernah didengarnya merasa perlu melakukan pengecekan dengan melawat ke kota di mana sahabat yang meriwayatkan hadist tersebut tinggal. Ia tidak menerima hadist sebelum yang meriwayatkan disumpah terlebih dahulu. [11] Adapun penyeberan hadist pada masa ini menggunakan lisan. Periode ini ditandai oleh aktifnya generasi tabiin menyerap hadist dari generasi sahabat. yang tepatnya di masa pemerintahan Ali dan Ustman maka larangan terhadap periwatan hadist tidak lagi dapat dilakukan dengan tegas seperti pada masa Abu Bakar dan Umar. yaitu para sahabat yang meriwayatkan hadist lebih dari seribu hadist. Namun berkenaan dengan semakin luasnya wilayah Islam. Beberapa sumber mengatakan bahwa Abu Bakar dan Umar tidak akan menerima hadist kalau tidak disaksikan kebenarannya oleh saksi yang lain. Contohnya sahabat Ali. Hal itupun juga diikuti sahabat-sahabat yang lainnya. .untuk berhati-hati dan cermat dalam meriwayatkan Hadist. Misalnya jika umat Islam menghadapi suatu permasalahan yang menuntut penjelasan dari hadist. dan Spanyol (93H) menuntut para sahabat untuk berpindah ke tempat-tempat baru dengan tujuan mengajarkan agama Islam.

(meriwayatkan 2630 hadist).”[14] Contoh hadist palsu yang dibuat golongan Muawiyah. Alasannya. Abu Qotadah dan Muahmmad bin Sirin di Basra. Abu Khoir Marsad al-Yazini dan Yazid bin Habib di Mesirl. meriwayatkan (1170 hadist). . meriwayatkan (1210 hadist). asy-Sya’bi dan Ibrahim an-Nakhai di Kufah. Umar bin Abdul Aziz dan Qobisah bin Zuaib di Syam. Abu Qotadah dan Muahmmad bin Sirin di Basra. Contoh hadist palsu yang dibuat golongan syiah. Sedangkan dari golongan tabiin yang tercatat sebagai tokoh hadist pada periode ini adalah Said dan Urawah di Madinah. dan Taus bin Khoiman di al-Yamani serta Wahab bin Muanabbih di Yaman. ‫من مات وفى قلبه بغض لعلى فليمت يهد يااو نصرانيا‬ Artinya: “siapa yang mati dan dalam hatinya ada rasa benci kepada Ali. Pada era tersebut juga terdapat beberapa sahabat yang . Abdullah bin Abbas. dan Muawaiyah cs. karena persoalan kholifah dan politik. Perseteruan itu banyak membawa korban dikalangan umat Islam. Abu Said al-Khudari. Jabir bin Abdullah. maka hendaklah mati sebagai orang Yahudi atau Nasrani. Hadist palsu tersebut digunakan untuk menjastifikasi golongan mereka masing-masing. mereka takut terjerumus dalam kedustaan. Sedangkan dari golongan tabiin yang tercatat sebagai tokoh hadist pada periode ini adalah Said dan Urawah di Madinah. meriwayatkan (1540 hadist).Diantara mereka adalah Abu Hurairah (meriwayatkan 5374 hadist). Dan hal itu merembet pada perang saudara antara Ali cs. Pada akhirnya situasi perpolitikan yang demikian itu memberi peluang berkembangnya pemalsuan hadist. Abu Khoir Marsad al-Yazini dan Yazid bin Habib di Mesirl.menyedikitkan riwayat.meriwayatkan (2266 hadist). serta takut akan banyaknya hadist yang terlupakan dikarenakan usianya yang telah lanjut. Anas bin Malik. Ikrimah dan Ata bin Abi Robbah di Makkah. Aisyah. Umar bin Abdul Aziz dan Qobisah bin Zuaib di Syam. meriwayatkan (1660 hadist). Ikrimah dan Ata bin Abi Robbah di Makkah. asy-Sya’bi dan Ibrahim an-Nakhai di Kufah. . dan Taus bin Khoiman di al-Yamani serta Wahab bin Muanabbih di Yaman. Abdullah bin Umar bin Khattab. Az-Zubair dan Zaid bin Arqom adalah contoh dari sekian sahabat yang mengambil sikap seperti itu. Perkembangan selanjutnya terjadi perpecahan dikalangan umat Islam.

dan Muhammad bin Ishak (w 151H) di Madinah. Sufyan as-Sauri (w161H) di Kufah. Said bin Urabah (w 167H). maka tergeraklah hatinya untuk mengkodifikasikan hadist. Sistem pembukuan hadist pada stadium ini adalah. Abdullah bin alMubarak (118-181H) di Khurasan. dan Hammad bin salamah bin Dinar alBasri (w167H) di Basra. Selain itu kholifah juga memerintahkan Muhammad bin Syihab az-Zuhri (w 124 H) untuk mengumpulkan hadist yang ada pada para penghafal Hijaz dan Syuriah. Malik bin Anas / Imam Malik (94-179H). ar-Rabbi bin Sabih (w 160H). Periode keempat Periode keempat berlangsung dari masa Kholifah Umar bin Abdul Aziz (99H102H) sampai akhir abad kedua Hijriah. yang selanjutnya melahirkan banyak penulis dan penghimpun hadist. d. Sehingga ketika Ia menangkap kenyataan bahwa banyak dari para penghafal hadist yang wafat. Masa ini dicatat oleh sejarah sebagai masa kodifikasi resmi. Dan dalam kitab ini hadist masih bercampur dengan fatwa sahabat dan tabiin. Muawiyah”. Jarir bin Abdul Hamid (110-188H) di Rayy dan Abdullah bin Wahab (125-197H) di Mesir. Ma’mar bin Rosyd (95153H) di Yaman. Para tokoh tersebut misalnya: Abdul Malik bin Abdu Aziz bin Juraij (w 159H) di Makkah.‫المناء عندالله ثل ثة : انا وجبريل ومعويه‬ Artinya: “ orang yang terpercaya oleh Alloh hanya tiga. si pengarang menghimpun semua hadist mengenai masalah-masalah yang sama dalam satu kitab karangan saja. Hasyim bin Basyr (104-183H) di Wasit. yakni Aku (Nabi). Selain itu beliau juga terkenal jujur. membentuk pribadi yang cinta akan ilmu pengetahuan. hadist Mauquf. serta semakin berkembangnya hadist palsu. Abdurrahman bin Amr al-Auzi (88-157H) di Syam. Jibril. Ia khawatir kalau tidak segera dibukukan maka hadist pasti akan berangsurangsur hilang. Kholifah Umar bin Abdul Aziz yang tumbuh dalam ikllim keilmuan. . Kekhawatiran itulah yang menyebabkan kholifah memerintahkan Gubernur Madinah Abu Bakar Muhammad bin Amru bi Hazm (w 117H) untuk membukukan hadist yang terdapat pada penghafal Amrah binti Abdurrahman bin Saad bin Zuhairah bin Ades (ahli fiqih murid Aisyah RA) serta hadist yang ada pada Qosim bin Muhammad bin Abu Bakar as-Siddiq.[15] Selanjutnya bertolak dari sini berkembanglah pengkodifikasian hadist. Belum ada pemilahan mana hadist yang Marfu’.

ataupun hadist Maqtu’.[16] Masa ini dapat dikatakan sebagai masa keemasan dalam sejarah kodifikasi hadist. al-Musannaf dan lain-lain. dan Dhoif. kegiatan-kegiatan lainnya di masa ini adalah:[17] lawatan ke daerah-daerah yang semakin jauh guna menghimpun hadist dari para perowinya. antara lain Ahmad bin Hambal karena menentang kholifah al-Makmun dan penggantinya al-Mu’tasim (w 227 H) dan Watsiq (w 232 H). mauquf. dan penyempurnaan. dan umat Islam umumnya yang mayoritas beraliran Ahlu Sunnah. Pertentangan itu berkutat di sekitar apakah al-Quran itu makhluk atau Bukan? Golongan Mu’tazilah beropini bahwa Quran adalah makhluk. Bahkan Ia melarang keras kepada Ulama hadist untuk berfatwa dan meriwayatkan Hadist kalau tidak mengatakan demikian. Misalnya Musnad as-Syafii. serta antara hadist Sohih. Pendapat ini mendapat suport dari kholifah-kholifah pada waktu itu. Beberapa buku tersebut ada yang dinamakan al-Jami. a. Antara lain al-Makmun (218H) . al-Musnad. Sebab para ulama telah berhasil memisahkan hadist-hadist Nabi SAW dari yang bukan hadist (fatwa sahabat dan Tabiin) . yang dengan sabar menjaga kemurnian dan kesucian ajaran Nabi SAW. Ini berlangsung dari awal abad ke 3 H sampai sampai akhir abad ke 3. Musannaf al-Auzai dan al-Muwatta karya Imam Malilk yang disusun atas permintaan kholifah Abu Ja’far al-Mansur (144H). Instruksi tersebut banyak mendapat tentangan dari Ulama hadist khususnya. Pada periode tersebut banyak dari golongan ulama yang dipenjara dan di siksa. Hasan. Ia menginstruksikan kepada seluruh Gubernur di Bagdad untuk menindak dengan tegas kepada siapa saja yang tidak mau mengatakan bahwa Quran itu makhluk. penyehatan. membuat klasfikasi hadist marfu’. Periode kelima Periode kelima disebut dengan periode pemurnian. Pada masa ini timbul pertentangan yang hebat antara ulama kalam (khususnya Mu’tazilah) dengan Ulama hadist. Namun ditengah-tengah kegentingan tersebut lahirlah ulamaulama besar termasuk Ulama hadist. . dan maqtu’.

Semangat yang tumbuh pada masa ini adalah semangat untuk memelihara.[18] Adapun Ulama Mutaakhirin pada umumnya bersandar pada karya-karya Ulama Mutakadimin dalam arti kumpulan-kumpulan hadist mereka adalah hasil petikan atau nukilan dari kitab-kitab Mutakadimin. Dalam arti mereka himpunan hadist-hadistnya tidak dengan jalan mengutipnya dari kitab-kitab hadist yang ada sebelumnya. Imam-imam hadist lainnya. Perbedaan antara keduanya adalah Ulama Mutakadimin melakukan kegiatannya secara mandiri. dan Ibnu Majja. Begitu pula Imam Hambali dengan kitab musnadnya. Tapi mereka mendengar langsung hadsit-hadist itu dari guru-gurunya dan mengadakan penelitian sendiri tentang matan serta perowinya. Pada masa ini bangkit Imam hadist yang besar yaitu Ishaq bin Ruwaih yang merintis usaha memisahkan antara hadist Sahih dan tidak. Pada masa ini lahir istilah ulama Mutakadimin dan ulama Mutaakhirin. Untuk itu mereka mengadakan lawatan-lawatan ke berbagai daerah untuk mencek kebenaran hadist-hadist yang didengarnya. an-Nasai. dan ulama yang hidup sesudah abad 4 H (Muataakhirin). lahirlah buku-buku baru yang dinamakan Kitab Sahih. Penyusun kitab musanad lainnya adalah Musa al-Abbasi. penambahan. Ini dimulai dari abad ke 4 sampai jatuhnya Kota Bagdad (656H). dan penghimpunan hadist. Usaha ini dilanjutkan oleh Imam Bukhori. Oleh sebab itu dirasakan tidak perlu lagi melakukan lawatan ke berbegai negeri untuk mencari hadist. Pada stadium enam ini tumbuh sebuah asumsi bahwa sudah merasa cukup dengan hadist-hadist yang dihimpun ulama-ulama Mutakadimin. Sebagai tindak lanjut dari pengklasifikasian hadist. Jadi para ulama periode ini berlombalomba untuk mengahafal sebanyak-banykanya hadist yang sudah terkodifikasi. mulai menyusun kitab-kitab sunan mereka. seperti Abu Daud. Kitab Sunan dan Kitab Musnad. dan Nuaim bin Ahmad al-Kazai. Musaddad al-Basri. Asad bin Musa. sehingga tersusunkah sebuah kitab yang sistematis berdasarkan bab-bab yang diberi nama Sahih Bukhori.[19] . Term-term ini jadikan sebagai pemisah antara ulama yang hidup sebelum abad ke 4 H (mutakadimin). penertiban. at-Tirmidzi. f.menghimpun kritik-kritik yang diarahkan baik pada rowi maupun matan serta memberi jawabannya. Periode keenam Periode keenam merupakan periode pemeliharaan.

kemudian menjelaskan seluruh sanad dari matan itu baik sanad dari kitab yang dikutip maupun kitab lain. yaitu kitab hadist yang memuat hadist dari kitab hadist yang ada. perhimpunan. yang menghimpun hadist-hadist yang memiliki syarat-syarat Bukhori Muslim atau salah satu dari keduanya saja. yang mengomentari kitab hadist tertentu. Selain itu juga muncul kitab Mustakhraj. Usaha-usaha perbaikan tersebut memunculkan beberapa Kitab hadist diantaranya:[20] kitab syarh. Akibat dari kejadian itu maka pindahlah pemerintahan Abbasiyah ini ke Cairo Mesir. mengumpulkan yang masih berserakan dan memudahkan jalan-jalan pengumpulan hadist. kitab Mustadrak.Selain itu ulama dalam periode ini berusaha memperbaiki susunan kitab. pentarjihan serta pengeluaran riwayat.[21] Pada akhir abad ke 7 Turki menguasai daerah-daerah Islam kecuali daerah barat (Maroko dan sebagainya). g. Turki semakin kuat dan daerahnya makin . dengan sanad sendiri yang berbeda dengan sanad hadist rujukannya. Periode ini bertepatan dengan masa penghancuran Kota Bagdad sebagai pusat pemerintahan Abbasiyah oleh pasukan Hulugu Khan (656 H). Bahkan pada abad 9 Turki di bawah pemerintahan Ottoman (dinasti Ustmaniyah) merebut Kota Konstantinopel dan dijadikan ibukotanya. Kemudian menakhlukkan Mesir dan melenyapkan Kholifah Abbasiyah. Periode ketujuh Periode ketujuh bisa dikatakan periode pensyarahan. sedangkan yang berkuasa pada hakekantnya adalah Raja Mesir dari Mamalik. Sejak itu kholifah islamiyah ini dipindahkan ke Kota Konstantinopel dan sejak itu raja Turki memakai sebutan Kholifah. kitab Atraf yang menyebut hanya sebagian dari matan atau tesk hadist. kitab Jam’i yang menghimpun hadist-hadist yan telah termuat dalam kitabkitab yang telah ada. namun kholifahnya hanya simbol saja.

4.Cit. Op. 1998. Hal-95 [22] Ibid. Loc.Cit. Hal-81 [10] Penyusun Ensiklipedi Islam. Hal-87 [7] Masjfuk Zuhdi.T. Hal-41&51. Al-Hadist Al-Qudsi. atau lht Muhammad Hasbi Ash shiddiqi.2. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve. Hal-149 [9] Masjfuk zuhdi. 1990. [1] Muhammad bin Ali al-Maliki. Sahar al-Mamlakah al-arabiyah. Hal-43 [11] Ibid.[22] Situasi dan kondisi tersebut secara otomatis juga menggeser cara penerimaan dan penyampaian hadist. Op.6. Ensiklopedi Islam. Jld. cet. Op. [2] M. Semarang.89 [17] Penyusun Ensiklopedi Islam.Loc. Hal-52 / 5. Hal-84. Pada dekade ini jarang sekali detemuakan ulama-ulama yang mampu menyampaikan periwayatan hadist beserta sanadnya secara hafalan yang sempurna. (Surabaya: Bina Ilmu). mengembngkannya. P.Cit. Jld. Hal-17 [5] Muhammad bin Ali al-Maliki / Muhamad Hasbi As-Sidiqi. Hal-88. Hal-149 [16] Masjfuk Zuhdi.1. Hal-47 [18] Masjfuk Zuhdi.Cit. Loc. Hal-52 / 5-15 [4] Muhammad Ahmad dan Muhammad Mudzakkir. Op.1999.15 [6] Sya’ban Muhammad Ismail. Sejarah & pengantar Ilmu Hadits. cit. Op.cit. Hal-80 [8] Penyusun Ensiklipedi Islam. Hal-82 [13] Penyusun Ensiklopedi Islam. al-Manhalal-Latif fi Usul al-Hadis al-Syarif.cit. op.Cit. [14] Masjfuk Zuhdi. Maksudnya adalah sang guru memberikan izin kepada sang murid untuk meriwayatkan hadist dari guru tersebut.Cit. Pustaka Rizqi Putra. Hal-1. Dan sejak itu Islam mengalami kemunduran. Hal-47 [20] Ibid [21] Masjfuk Zuhdi.Cit. Op. tapi sayangnya pada waktu yang sama pemerintahan Islam di Andalus hancur. Hal-92 [19] Penyusun Ensiklopedi Islam. [15] Penyusun Ensiklopedi Islam.luas.Ci.Cit. Mereka kadang-kadang menggunakan jalan surat menyurat dan ijazah. Usul al-Hadist Ulumuhu wa Musthalahuhu. Hal-19. Kemudian imperialisme Barat berhasil menakhlukkan negeri-negeri Islam. Jiddah. ‘Ajjaj al-Khatib. Op. Op Cit. Pengantar Ilmu Hadist. membuat pembahasanpembahasannya atau membuat ringkasan-ringkasan. Yang umum adalah mempelajari kitab-kitab hadist yang ada. 96 . Ulum al-Hadist. Op. [3]Muhammad bin Ali al-Maliki / Muhamad Hasbi As-Sidiqi. Maka padamlah cahaya Islam yang pernah menerangi negeri tersebut selama kurang lebih delapan abad. Hal-45. 44 [12] Masjfuk Zuhdi. 1993.

.Tinggalkan Balasan Top of Form Enter your comment here. Fill in your details below or click an icon to log in: • • • Email (wajib) (Belum diterbitkan) Nama (wajib) Situs web Beritahu saya balasan komentar lewat surat elektronik.. Bottom of Form Top of Form Bottom of Form My family .

my article • • • • • • • Al-Jarah Wa Al-Ta’dil Definisi Hadits Hadist Ditinjau Dari Aspek Kuantitas Sanad Hadits Ditinjau Dari Aspek Kualitas Hadits Mu’an-an dan Mu’annan Syudzudz & Illat Hadits Tahamul & Ada’ul Hadits my town • asal-usul udink’z Relasi Link • • • • • game’s Hamzex’ MUTU my pondok nurul anwar SAVEKING situs mine • • • FB friendster myspace ANDA ADALAH TAMU KE: Desember 2011 S S R K J S M « Feb 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 .

Desember 2011 S S R K J S M 2 3 4 5 6 7 8 1 2 2 2 2 2 2 9 0 1 2 3 4 5 2 2 2 2 3 3 6 7 8 9 0 1 Blog pada WordPress. .com. Theme: Sapphire by Michael Martine.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful