P. 1
Daya Pembeda

Daya Pembeda

|Views: 2,872|Likes:
Published by yudikareza

More info:

Published by: yudikareza on Feb 18, 2012
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/18/2013

pdf

text

original

Daya Pembeda (DP) Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu butir soal dapat membedakan antara warga belajar

/siswa yang telah menguasai materi yang ditanyakan dan warga belajar/siswa yang tidak/kurang/belum menguasai materi yang ditanyakan. Manfaat daya pembeda butir soal adalah seperti berikut ini. 1) Untuk meningkatkan mutu setiap butir soal melalui data empiriknya. Berdasarkan indeks daya pembeda, setiap butir soal dapat diketahui apakah butir soal itu baik, direvisi, atau ditolak. 2) Untuk mengetahui seberapa jauh setiap butir soal dapat mendeteksi/membedakan kemampuan siswa, yaitu siswa yang telah memahami atau belum memahami materi yang diajarkan guru. Apabila suatu butir soal tidak dapat membedakan kedua kemampuan siswa itu, maka butir soal itu dapat dicurigai "kemungkinannya" seperti berikut ini. ‡ Kunci jawaban butir soal itu tidak tepat. ‡ Butir soal itu memiliki 2 atau lebih kunci jawaban yang benar ‡ Kompetensi yang diukur tidak jelas ‡ Pengecoh tidak berfungsi ‡ Materi yang ditanyakan terlalu sulit, schingga banyak siswa yang menebak ‡ Sebagian besar siswa yang memahami materi yang ditanyakan berpikir ada yang salah informasi dalam butir soalnya Indeks daya pembeda setiap butir soal biasanya juga dinyatakan dalam bentuk proporsi. Semakin tinggi indeks daya pembeda soal berarti semakin mampu soal yang bersangkutan membedakan warga belajar/siswa yang telah memahami materi dengan warga belajar/peserta didik yang belum memahami materi. Indeks daya pembeda berkisar antara -1,00 sampai dengan +1,00. Semakin tinggi daya pembeda suatu soal, maka semakin kuat/baik soal itu. Jika daya pembeda negatif (<0) berarti lebih banyak kelompok bawah (warga belajar/peserta didik yang tidak memahami materi) menjawab benar soal dibanding dengan kelompok atas (warga belajar/peserta didik yang memahami materi yang diajarkan guru). Daya Pembeda. Salah satu tujuan analisis kuantitatif soal adalah untuk menentukan dapat tidaknya suatu soal membedakan kelompok dalam aspek yang diukur sesuai dengan perbedaan yang ada dalam kelompok itu. Indeks yang digunakan dalam membedakan antara peserta tes yang berkemampuan rendah adalah indeks daya pembeda (item discrimination).

Indeks daya pembeda soal-soal yang ditetapkan dari selisih proporsi yang menjawab dari masing-masing kelompok. Indeks ini menunjukkan kesesuaian antara fungsi soal dengan fungsi tes secara keseluruhan. Dengan demikian validitas soal ini sama dengan daya pembeda soal yaitu daya dalam membedakan antara peserta tes yang berkemampuan tinggi dengan peserta tes yang berkemampuan rendah. Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda berkisar antara -1 sampai dengan +1.

Tanda negatif menunjukkan bahwa peserta tes yang kemampuannya rendah dapat menjawab benar sedangkan peserta tes yang kemampuannya tinggi menjawab salah. Dengan demikian soal indeks daya pembedanya negatif menunjukkan terbaliknya kualitas peserta.

Indeks diskriminasi item umumnya diberi lambang dengan huruf D (singkatan dari discriminatory power). Indeks Dsikriminasi Item (D) Klasifikasi Interpretasi Butir item yang bersangkutan daya < 0,20 pembedanya Poor dianggap lemah sekali (jelek), tidak memiliki daya

pembeda yang baik Butir item yang bersangkutan telah 0,20 ± 0,40 Satisfactory memiliki daya pembeda yang cukup (sedang) 0,40 ± 0,70 Good Butir item yang bersangkutan telah memiliki daya pembeda yang baik Butir item yang bersangkutan 0,70 ± 1,00 Excellent telah

memiliki daya pembeda yang baik sekali Butir item yang bersangkutan daya

Bertanda negatif (-)

-

pembedanya negative sekali (jelek sekali)

Fungsi Distraktor. Pada saat membicarakan tes objektif bentuk multiple choice item tersebut untuk setiap butir item yang dikeluarkan dalam tes hasil belajar telah dilengkapi dengan beberapa kemungkinan jawab, atau yang sering dikenal dengan istilah option atau alternatif. Option atau alternatif itu jumlahnya berkisar antara 3 sampai dengan 5 buah, dan dari kemungkinan-kemungkinan jawaban yang terpasang pada setiap butir item itu, salah satu diantaranya adalah merupakan jawaban betul (kunci jawaban), sedangkan sisanya adalah merupakan jawaban salah. Jawaban-jawaban salah itulah yang biasa dikenal dengan istilah distractor (pengecoh). Menganalisis fungsi distraktor sering dikenal dengan istilah lain, yaitu : menganalisis pola penyebaran jawaban item. Adapun yang dimaksud dengan pola penyebaran jawaban item adalah suatu pola yang dapat menggambarkan bagaimana testee menentukan pilihan jawabnya terhadap kemungkinan-kemungkinan jawab yang telah dipasangkan pada setiap butir item.

Suatu kemungkinan dapat terjadi, yaitu bahwa dari keseluruhan alternatif yang dipasang pada butir item tertentu, sama sekali tidak dipilih oleh testee. Dengan kata lain, testee menyatakan ³blangko´. Pernyataan blangko ini sering dikenal dengan istilah omiet dan biasa diberi lambang dengan huruf O. Distraktor dinyatakan telah dapat menjalankan fungsinya dengan baik apabila distraktor tersebut sekurang-kurangnya sudah dipilih oleh 5 % dari seluruh peserta tes. Sebagai tindak lanjut atas hasil penganalisaan terhadap fungsi distraktor tersebut maka distraktor yang sudah dapat menjalankan fungsinya dengan baik dapat dipakai lagi pada tes-tes yang akan datang, sedangkan distraktor yang belum dapat berfungsi dengan baik sebaiknya diperbaiki atau diganti dengan distraktor yang lain. Reliabilitas. Keajegan dan ketidakajegan skor tes merupakan fokus dari pengkajian tentang reliabilitas. Berikut adalah faktor yang mempengaruhi perolehan skor peserta didik (Thorndike) yang berakibat pada ketidakajegan terhadap skor. Analisis Butir Soal Secara Manual Analisis soal dilakukan untuk mengetahui berfungsi tidaknya sebuah soal. Analisis pada umunya dilakukan melalui 2 cara, yaitu analisis kualitatif (qualitative control) dan analisis kuantitatif (quantitative control). Analisis kualitatif sering pula dinamakan sebagai validitas logis (logical validity) yang dilakukan sebelum soal digunakan untuk melihat berfungsi tidaknya sebuah soal. Analisis soal secara kuantitatif sering pula dinamakan sebagai validitas sempiris (empirical validity) yang dilakukan untuk melihat lebih berfungsi tidaknya sebuah soal, setelah soal itu diujicobakan kepada sampel yang representatif. Tujuan dilakukannya analisis butir soal adalah untuk meningkatkan kualitas soal, yaitu pakah suatu soal: dapat diterima karena telah didukung data statistik yang memadai, diperbaiki karena terbukti terdapat beberapa kelemahan, atau bahkan tidak digunakan sama sekali arena terbukti secara empiris tidak berfungsi sama sekali. Daya Pembeda Tujuannya adalah untuk menentukan dapat tidaknya suatu soal membedakan kelompok dalam spek yang diukur sesuai dengan perbedaan yang ada dalam kelompok itu. Indeks daya pembeda ini didapat dari selisih proporsi yang menjawab dari masing-masing kelompok. Indeks ini menunjukkan kesesuaian antara fungsi soal dengan fungsi tes secara kesuluruhan. Dengan demikian, validitas soal ini sama dengan daya pembeda soal, yaitu daya dalam membedakan antara peserta tes yang berkemampuan tinggi dengan peserta tes yang berkemampuan rendah. Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda berkisar antara -1 sampai dengan +1. Tanda negatif menandakan bahwa peserta tes yang kemampuannya rendah dapat menjawab benar, sedangkan peserta tes yang kemampuannya tinggi menjawab salah. Dengan demikian, soal yang indeks daya pembedanya negatif menunjukkan terbaliknya kualitas peserta tes. Kriteria yang digunakan untuk menganalisa soal adalah sebagai

berikut:
Tabel 5.5. Kategori Indeks Daya Pembeda Nilai D Klasifikasi Interpretasi > 0.20 Poor Daya pembeda lemah sekali (jelek), dianggap tidak memiliki daya pembeda yang baik 0.20 ± 0.40 Satisfactory Memiliki daya pembeda yang cukup (sedang) 0.40 ± 0.70 Good Memiliki daya pembeda yang baik 0.70 ± 1.00 Excellent Memiliki daya pembeda yang baik sekali Bertanda negatif - Daya pembedanya negative (jelek sekali)

Akhirnya sebagai tindak lanjut atas hasil penganalisaan mengenai daya pembeda butir hasil belajar tersebut adalah: 1) Butir soal yang telah memiliki daya pembeda item yang baik (satisfactory, good, dan excellent) hendaknya dimasukkan dalam bank soal dan bisa digunakan kembali pada tes yang akan datang. 2) Butir soal yang daya pembedanya masih rendah (poor) ada 2, yaitu: diperbaiki atau didrop. 3) Khusus butir soal yang angka indeksnya bertanda negative, sebaiknya pada tes hasil belajar yang akan datang tidak dikeluarkan kembali. Untuk memahami konsep daya pembeda ini, maka anda bisa mempelajarinya dari contoh berikut ini. Masih menggunakan data pada tabel 5.3, carilah daya pembedanya.
Hasil Daya Pembeda Soal PA PB D Kategori 1 1 0.6 0.4 Satisfactory 2 1 0.5 0.5 Good 3 1 1 0 Poor 4 1 1 0 Poor 5 0 0 0 Poor 6 1 1 0 Poor 7 0.9 0.8 0.1 Poor 8 1 1 0 Poor 9 1 0.9 0.1 Poor 10 0 0 0 Poor

Sebagai catatan: untuk mendapatkan kelompok kelas atas dan bawah, sebelumnya anda harus mengurutkan hasil tes siswa dari yang tinggi sampai ke yang rendah. Setelah itu jika jumlah peserta didik _ 100, maka jumlah peserta di bagi atas 2 atau 50 %, sedangkan jika jumlah peserta _ 100, maka jumlah peserta dibagi 27% atas dan 27% bawah (kelompok yang diantaranya tidak digunakan)

ANALISIS BUTIR SOAL
Analisis butir soal atau analisis item adalah pengkajian pertanyaan-pertanyaan tes agar diperoleh perangkat pertanyaan yang memiliki kualitas yang memadai.

Untuk melakukan analisis terhadap sebuah butir soal ada dua pendekatan yang bisa digunakan yaitu dengan teori tes klasik dan teori respon butir. selain itu, soal juga dapat di analisis dengan menggunakan analisis kualitatif (teoritis) dan kuantitatif (empiris). Insya Allah penulis akan sedikit membahas keempat hal tersebut. akan tetapi untuk saat ini, penulis akan membahas analisis soal dengan cara kualitatif atau teoritis. Analisis secara kualitatif dilakukan dengan melakukan penelaahan terhadap setiap butir soal dari aspek materi, konstruksi dan bahasa. Aspek materi yang ditelaah berkaitan dengan substansi keilmuan yang ditanyakan dalam butir tes serta tingkat kemampuan yang sesuai dengan tes. Analisis konstruksi dimaksudkan untuk melihat hal-hal yang berkaitan dengan kaidah penulisan tes. Analisis bahasa dimaksudkan untuk menelaah tes berkaitan dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar menurut Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Telaah secara kualitatif dilakukan oleh tiga orang yang memiliki kompetensi sesuai dengan aspek materi konstruksi dan bahasa. Setiap penelaah melakukan analisis terhadap setiap butir soal berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya dengan menuliskan huruf Y jika butir sesuai dengan kriteria dan huruf T jika butir tidak sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Ada dua jenis analisis butir soal, yakni anasisis tingkat kesukaran soal dan analisis daya pembeda disamping validitas dan reliabilitas. Menganalisis tingkat kesukaran soal artinya mengkaji soal-soal tes dari segi kesulitannya. Sehingga dapat diperoleh soal-soal mana yang termasuk mudah, sedang, dan sukar. Sedangkan menganalisis daya pembeda artinya mengkaji soal-soal tes dari segi kesanggupan tes tersebut dalam membedakan siswa yang termasuk kedalam kategori lemah atau rendah dan kategori kuat atau tinggi prestasinya. Sedangkan validitas dan reliabilitas mengkaji kesulitan dan keajegan pertanyaan tes. A. ANALISIS TINGKAT KESULITAN Asumsi yang digunakan untuk memperoleh kualitas soal yang aik, di samping memenuhi validitas dan reliabilitas, adalah adanya keseimbangan dari tingkat kesulitan soal tersebut. Keseimbangan yang dimaksudkan adalah adanya soal-soal yang termasuk mudah, sedang, dan sukar secara proporsional. Tingkat kesukaran soal

dipandang dari kesanggupan atau kemampuan siswa dalam menjawabnya, buan dilihat dari sudut guru sebagai pembuat soal. Persoalan yang penting dalam melakukan analisis tingkat kesukaran soal adalah penentuan proporsi dan kriteria soal yang termasuk mudah, sedang, dan sukar. Ada beberapa dasar pertimbangan dalam menentukan proporsi jumlah soal kategori mudah, sedang, dan sukar. Pertimbangan pertama adalah adanya keseimbangan, yakni jumlah soal sama untuk ketiga kategori tersebut. Pertimbangan kedua proporsi jumlah soal untuk ketiga kategori tersebut didasarkan atas kurva normal. Artinya, sebagian besar soal berada dalam kategori sedang, sebagian lagi termasuk ke dalam kategori mudah dan sukar dengan proporsi yang seimbang. Tingkat kesukaran soal dipandang dari kesanggupan atau kemampuan siswa salam menjawabnya, bukan dilihat dari sudut guru sebagai pembuat soal. Persoalan yang penting dalam melakukan analisis tingkat kesukaran soal adalah penentuan proporsi dan criteria soal termasuk mudah, sedang, dan sukar. Soal yang baik adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sukar. Soal yang terlalu mudah tidak merangsang siswa untuk mempertinggi usaha memecahkannya. Sebaliknya soal yang terlalu sukar akan menyebabkan siswa akan menjadi putus asa dan tak mempunyai semangat untuk mencoba lagi karena di luar jangkauan. Bilangan yang menunjukan sukar dan mudahnya sesuatu soal disebut indeks kesukaran (difficulty indeks). Besarnya indeknya kesukaran antara 0.00 sampai dengan 1.0 indeks kesukaran ini menunjukan taraf kesukaran soal. Soal dengan indeks kesukaran 0.0 menunjukan bahwa soal itu terlalu sukar, sebaliknya indeks 1,0 menunjukan bahwa soalnya terlalu mudah,. 0,0 1,0 Sukar mudah Persoalan lain adalah menentukan kriteria soal, yaitu ukuran untuk menentukan apakah soal tersebut termasuk mudah, sedang, atau sukar. Dalam menentukan kriteria

ini digunakan judgment dari guru berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Pertimbangan tersebut antara lain adalah: 1. Ailitas yang diukur dalam pertanyaan tersebut. Misalkan untuk bidang kognitif, aspek pengetahuan atau ingatan dan pemahaman termasuk kategori mudah, aspek penerapan dan analisis termasuk kategori sedang, dan aspek sintesis dan evaluasi termasuk kategori sukar. 2. Sifat materi yang diujikan atau ditanyakan. Misalnya ada fakta, konsep, prinsip dan hukum, serta generalisasi. Fakta termasuk ke dalam mudah, konsep dan hukum termasuk ke dalam kategori sedang, dan generalisasi (menarik kesimpulan) termasuk ke dalam kategori sukar. 3. Isi bahan yang ditanyakan sesuai dengan bidang keilmuan, baik luasnya atau kedalamannya. Tentang persoalan isi bahan yang akan diujikan, guru sendiri harus sudah bisa mennentukan mana yang termasuk mudah, sedang, atau sukar. 4. Bentuk soal. Misalnya dalam tes objektif, tipe soal benar salah lebih mudah daripada pilihan berganda dengan option tiga atau empat. Menjodohkan relatif leih sulit daripada pilihan berganda jika terdapat lima atau leih yang harus dipasangkan. Hal yang sama berlaku dalam menyusun tes uraian (esai). Artinya soal-soal jenis esai hendaknya memperhatikan pula tingkat kesukaran soal. Mengingat sifatnya, menentukan tingkat kesukaran soal tes uraian jauh lebih mudah dari pada tes objektif. Melalui analisis abilitas yang diukur serta isi dan sifat bahan yang ditanyakan, dalam tes uraian dapat dengan mudah menentukan tingkat kesukaran. Cara melakuakan analisis untuk menentukan tingkat kesukaran soal adalah dengan menggunakan rumus sebagai berikut: I B N = Indeks kesulitan untuk setiap butir soal = Banyaknya siswa yang menjawab benar setiap butir soal = Banyaknya siswa yang memberikan menjawab pada soal yang dimaksudkan Cara lain dalam melakuakn analisis tingat kesukaran soal adalah dengan menggunakan Tabel Rose dan Stanley. Kriterianya adalah: Persentase Option Kategori

2 16 50 84 Keterangan: 0,16n 0,5n 0,84n

3 0,213n 0,667n 0,20n

4 0,24n 0,75n 1,26n

5 0,25n 0,80n 0,344n Mudah Sedang Sukar

- Option 2 adalah bentuk benar salah - Option 3, 4, 5 adalah bentuk pilihan berganda - - n adalah 27% dari banyaknya peserta yang mengikuti tes Dalam menghitung indeks kesukaran soal. Rumusnya adalah sebagai berikut: SR ST - SR adalah siswa yang menjawab salah dari kelompok rendah - ST adalah siswa yang menjawab salah dari kelompok tinggi Daya Pembeda (DP) Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu butir soal d a p a t membedakan antara warga belajar/siswa yang telah menguasai materiya ng d it a n y a k a n d a n w a r g a be l a j a r / s i s w a ya ng t i d a k / k u r a n g / b e l u m menguasai materi yang ditanyakan. Manfaat daya pembeda but ir soaladalah seperti berikut ini.1 ) U n t u k m e n i n g k a t k a n m u t u s e t i a p b u t i r s o a l m e l a l u i d a t a e m p i r i k n ya . B e r d a s a r k a n i n d e k s d a ya p e mb e d a , s e t ia p b u t i r s o a l dapat diketahui apakah butir soal itu baik, direvisi, atau ditolak.2 ) U n t u k m e n g e t a h u i s e b e r a p a j a u h s e t i a p b u t i r s o a l d a p a t mendeteksi/membedakan kemampuan siswa, yaitu siswa yang telahm e m a h a m i a t a u b e l u m m e m a h a m i m a t e r i ya n g d i a j a r k a n g u r u . A p a b i l a s u a t u butir soal tidak dapat membedakan keduakemampuan siswa itu, maka butir soal itu dapat d i c u r i g a i "kemungkinannya" seperti berikut ini. ‡ Kunci jawaban butir soal itu tidak tepat. ‡ B u t ir s o a l it u m e m i l i k i 2 a t a u l e b i h k u n c i j a w a b a n yang benar ‡ Kompetensi yang diukur tidak jelas ‡ Pengecoh tidak berfungsi ‡ Materi yang ditanyakan terlalu sulit, schingga banyaksiswa yang menebak ‡

S e b a g i a n b e s a r s i s w a ya n g m e m a h a m i m a t e r i ya n g d i t a n y a k a n b e r p i k i r a d a y a n g s a l a h i n f o r m a s i d a l a m b u t i r soalnyaIndeks daya pembeda set iap but ir soal biasanya juga dinyatakan dalamb e nt u k p r o p o r s i. S e m a k i n t i ng g i i n d e k s d a ya p e m b e d a s o a l b e r a r t is e m a k i n m a m p u s o a l y a n g bersangkutan membedakan wargabe la ja r / s is w a ya ng t e l a h m e m a h a m i m a t e r i d e n g a n w a r g a bela jar/peserta d i d i k y a n g b e l u m m e m a h a m i m a t e r i . I n d e k s d a y a pembeda berkisar antara -1,00 sampai dengan +1,00. Semakin tinggidaya pembeda suatu soal, maka semakin kuat/baik soal itu. Jika dayap e m b e d a ne g a t if ( < 0 ) b e r a r t i l e b i h b a n y a k k e l o m p o k ba w a h ( w a r g a belajar/peserta didik yang tidak memahami materi) menjawab benar14 Panduan Analisis Butir Soal soal dibanding dengan kelompok atas (warga belajar/peserta didik yangmemahami materi yang diajarkan guru).U nt u k m e ng e t a hu i d a ya p e m b e d a s o a l be nt u k p i l i h a n g a nd a a d a l a h dengan menggunakan rumus berikut ini. N BBBADP 21 í= atau N BBBADP )(2 í= DP = daya pembeda soal,BA = jumlah jawaban benar pada kelompok atas,BB = jumlah jawaban benar pada kelompok bawah, N=jumlah siswa yangmengerjakan tes.Di samping rumus di atas, untuk mengetahui daya pembeda soal bentukpilihan ganda dapat dipergunukan rumus korelasi point biserial (r pbis)dan korelasi biserial (r bis) (Millman and Greene, 1993: 359-360) dan(Glass and Stanley, 1970: 169-170) seperti berikut. pqSDs X b X p r b i s í= dan nnunnsnbSDsY bY ri b s íí= 2 .. Xb, Yb adalah rata-rata skor warga belajar/siswa yang menjawab benarXs, Ys adalah rata-rata skor warga belajar siswa yang menjawab salahSDt adalah simpangan baku skor totaln b d a n n , a d a l a h j u m l a h s i s w a ya n g m e n j a w a b b e n a r d a n j u m l a h s i s w a ya n g menjawab salah, serta nb + n, = n.p adalah proporsi jawaban benar terhadap semua jawaban siswaq adalah I ±pU adalah ordinat kurva normal. U n t u k m e ng e t a h u i d a ya p e m b e d a s o a l b e nt u k u r a i a n a d a l a h d e n g a n menggunakan rumus berikut ini. aimlm a pn o ukepem aDP la Soon oe sk o kts k mb M M sa k mra e w l k h o í= Hasil perhitungan dengan menggunakan rumus di atas d a p a t me ng g a m b a r k a n t i ng k a t k e m a m p u a n s o a l d a l a m m e mb e d a k a n

a nt arp e s e r t a d i d i k y a n g s u d a h m e m a h a m i m a t e r i y a n g d i u j i k a n denganpeserta did ik yang belu m/t idak me maha mi mat eri yang d i u j i k a n . Adapun klasifikasinya adalah seperti berikut ini (Crocker dan Algina,1986: 315).0 , 4 0 - 1 , 0 0 s o a l d i t e r i m a b a i k 0 , 3 0 - 0 , 3 9 s o a l d it e r i m a t et ap i per lu d ip er ba ik i B. ANALISIS DAYA PEMBEDA Analisis daya pembeda mengkaji butir-butir soal dengan tujuan untuk mengetahui kesanggupan soal dalam membedakan siswa yang tergolong mampu (tinggi prestasinya dengan siswa yang tergolong kurang atau lemah prestasinya. Tes dikatakan tidak memiliki daya pembeda apabila tes tersebut, jika diujikan kepada anak yang prestasinya tinggi, hasilnya rendah, tetapi bila diberikan kepada anak yang lemah, hasilnya tinggi. Atau jika diberikan kepada kedua kategori siswa tersebut hasinya sama. Dengan demikian, tes yang tidak memiliki daya pembeda, tidak akan menghasilkan gambaran hasil yang sesuai dengan kemampuan siswa yang sebenarnya. Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu butir soal dapat membedakan antara warga belajar/siswa yang telah menguasai materi yang ditanyakan dan warga belajar/siswa yang tidak/kurang/belum menguasai materi yang ditanyakan. Manfaat daya pembeda butir soal adalah seperti berikut ini. 1) Untuk meningkatkan mutu setiap butir soal melalui data empiriknya. Berdasarkan indeks daya pembeda, setiap butir soal dapat diketahui apakah butir soal itu baik, direvisi, atau ditolak. 2) Untuk mengetahui seberapa jauh setiap butir soal dapat mendeteksi/membedakan kemampuan siswa, yaitu siswa yang telah memahami atau belum memahami materi yang diajarkan guru. Apabila suatu butir soal tidak dapat membedakan kedua kemampuan siswa itu, maka butir soal itu dapat dicurigai

"kemungkinannya" seperti berikut ini. y Kunci jawaban butir soal itu tidak tepat. y Butir soal itu memiliki 2 atau lebih kunci jawaban yang benar y Kompetensi yang diukur tidak jelas

y Pengecoh tidak berfungsi y Materi yang ditanyakan terlalu sulit, schingga banyak siswa yang menebak y Sebagian besar siswa yang memahami materi yang ditanyakan berpikir ada yang salah informasi dalam butir soalnya Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks diskriminasi, disingkat D (d besar). Seperti halnya indeks kesukaran, indeks diskriminasi (daya pembeda) ini berkisar antara 0,00-1,00. Hanya bedanya, indeks kesukaran tidak mengenal tanda negatif (-), tetapi pada indeks diskriminasi dipergunakan jika sesuatu soal terbaik menunjukkan kualitas tes tersebut. Apa itu anak pandai disebut bodoh dan anak bodoh disebut pandai. Dengan demikian ada tiga titik pada daya pembeda, yaitu : -1, 00 0, 00 1, 00 Daya pembeda Daya pembeda Daya pembeda Negatif Rendah Tinggi (positif) Cara yang dilakukan dalam analisis daya pembeda adalah dengan menggunakan tabel atau criteria dari pase dan Stanley sport dalam analisis tingkat kesukaran soal. Rumusnya adalah : SR ST Criteria pengujian daya pembeda adalah sebagai berikut : Bila SR ST sama atau lebih besar dari nilai tabel, artinya butir soal itu mempunyai

daya pembeda. y Cara menentukan daya pembeda (nilai D) Untuk ini perlu dibedakan antara kelompok kecil (kurang dari 100) dan kelompok besar (100 orang ke atas). a. Untuk Kelompok Kecil Seluruh kelompok tes tersebut dibagi dua sama besar, 50 % kelompok atas dan 50 % kelompok bawah. Contoh :

Siswa A B C D E F G H I J

Skor Kelompok atas (JA) 9 8 7 7 6 5 Kelompok bawah (JB) 5 4 4 3

Seluruh pengikut tes, dideretkan mulai dari skor teratas sampai terbawah lalu dibagi 2 b. Untuk Kelompok Besar Mengingat biaya dan waktu untuk menganalisis, maka untuk kelompok besar biasanya hanya diambil kedua kutubnya saja, yaitu 27 % skor teratas sebagai kelompok atas (JA) dan 27 % skor terbawah sebagai kelompok bawah (JB). JA = Jumlah kelompok atas JB = Jumlah kelompok bawah Contoh : 9 27 % sebagai JA 9 8 8 8 . .

. . . . . . . . 27 % sebagai JB 2 1 1 1 0 Rumus mencari D Rumus untuk menentukan indeks diskriminasi adalah : D= BA JA BB JB = PA - PB

Dimana : J = Jumlah peserta tes JA = Banyaknya peserta kelompok atas JB = Banyaknya peserta kelompok bawah BA = Banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal itu dengan benar BB = Banyak peserta kelompok bawah yang menjawab soal itu dengan benar PA = Proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar (ingat P sebagai indeks kesukaran) PB = Proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar c. Pola Jawaban Soal Yang dimaksud pola jawaban soal disini adalah distribusi tes tersebut dalam hal menentukan pilihan jawaban pada soal bentuk pilihan ganda. Pola jawaban soal diperoleh dengan menghitung banyaknya tes tersebut yang

memilih pilihan jawaban a, b, c atau d atau yang tidak memilih pilihan manapun (blangko). Dalam istilah evaluasi disebut objek disingkat O Dengan melihat pola jawaban soal, dapat diketahui : 1. Taraf kesukaran soal 2. Daya pembeda soal 3. Baik dan tidaknya distraktor Sesuatu distroktor dapat diperlakukan dengan 3 cara : a. Diterima, karena sudah baik b. Ditolak, karena tidak baik c. Ditulis kembali karena kurang baik Menulis soal adalah suatu pekerjaan yang sulit, sehingga apabila masih dapat diperbaiki sebaiknya diperbaiki saja, tidak dibilang suatu distroktor dapat dikatakan berfungsi baik jika paling sedikit dipilih 5 % pengikut tes. Cara lain menghitung daya pembeda adalah dengan menempuh langkah sebagai berikut: 1. Memeriksa jawaban soal semua siswa peserta tes. 2. Membuat daftar peringkat hasil tes berdasarkan skor yang dicapainya. 3. Menentukan jumlah sampel 27% dari jumlah peserta tes untuk kelompuk siswa pandai(peringkat atas) dan 27% untuk kelompok siswa kurang (peringkat bawah). 4. Melakukan analisis butir soal, yakni menghitung jumlah siswa yang menjawab salah dari semua nomor soal, baik pada kelompok pandai maupun pada kelompok kurang. 5. Menghitung selisih jumlah siswa yang salah menjawab pada kelompok kurang dan kelompok pandai (SR-ST). 6. Membandingkan nilai selisih yang diperoleh dengan table Rose dan Stanley. 7. Menentukan ada tidaknya daya pembeda ppada setiap nomor soal dengan kriteria memiliki daya pembeda bil selisih jumlah siswa yang menjawab salah anatar kelompok kurang dengan kelompok pandai(SR-ST) sama atau lebih besar dari nilai table. Butir soal yang tidak memiliki daya pembeda diduga terlalu mudah atau terlalu sukar sehingga perlu diperbaiki atau diganti dengan pertanyaan lain. idealnya semua

butir soal memiliki daya pembeda dan tingat kesukaran. Tes yang telah dibakuan, di samping memenuhi validitas dan reliabilitas, juga memenuhi tingkat kesukaran dan daya pembeda. Kriteria Untuk Menentukan Soal Yang Baik dan Tidak Baik Untuk menentukan apakah suatu soal dikatakan baik atau tidak baik sehingga perlu direvisi, digunakan kriteria sebagai berikut : a. Untuk soal yang berbentuk benar-salah (true-false) : - Jika tingkat kesukarannya sama atau lebih kecil dari 0, 16, dikategorikan soal yang suka. - Jika tingkat kesukarannya sama atau lebih besar dari 0, 84, dikategorikan soal yang mudah. b. Untuk soal yang berbentuk pilihan ganda (multiple choice) : - Untuk pilihan ganda dengan option 3, jika tingkat kesukarannya sama atau lebih kecil dari 0,21, dikategorikan soal yang sukar, sedangkan Jika tingkat kesukarannya sama atau lebih besar dari 0,79, dikategorikan soal yang mudah. - Untuk pilihan ganda dengan option 4, Jika tingkat kesukarannya sama atau lebih kecil dari 0,24, dikategorikan soal yang sukar; sedangkan Jika tingkat kesukarannya sama atau lebih besar dari 0,76, dikategorikan soal yang mudah. c. Jika daya pembeda soal ini adalah 0 (nol) atau negatif (minus), maka soal itu perlu direvisi.diperbaiki. d. Untuk menentukan daya pembeda suatu soal, di samping kriteria pada c tersebut di atas dapat juga dicari dengan menggunakan tabel koefisien biserial dengan mencari R bis dari tabel tersebut. Tabel tersebut digunakan untuk menghitung daya pembeda yang didasarkan atas perhitungan 27 % Upper Group dan 27 % Lower Group. 1. Daya Pembeda Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu butir soal dapat membedakan antara peserta didik yang telah menguasai materi yang ditanyakan dan peserta didik yang tidak/kurang/belum menguasai materi yang ditanyakan. Indeks daya pembeda setiap butir soal biasanya juga dinyatakan dalam bentuk proporsi. Semakin tinggi indeks daya pembeda soal berarti semakin mampu soal yang bersangkutan membedakan peserta didik yang telah memahami materi dengan

peserta didik yang belum memahami materi. Indeks daya pembeda berkisar antara -1,00 sampai dengan +1,00. Semakin tinggi daya pembeda suatu soal, maka semakin kuat/baik soal itu. Jika daya pembeda negatif (<0) berarti lebih banyak kelompok bawah (peserta didik yang tidak memahami materi) menjawab benar dibanding dengan kelompok atas (peserta didik yang memahami materi yang diajarkan pendidik). Analisis daya pembeda soal bentuk pilihan ganda adalah dengan menggunakan rumus berikut ini: Keterangan:
y y y y

DP adalah daya pembeda soal, BA adalah jumlah jawaban benar pada kelompok atas, BB adalah jumlah jawaban benar pada kelompok bawah, N adalah jumlah peserta yang mengerjakan tes

Selain rumus di atas, untuk mengetahui daya pembeda soal bentuk pilihan ganda dapat dipergunakan rumus korelasi point biserial (r pbis) dan korelasi biserial (r bis) (Miliman , Ireene, 1993: 359-360) dan (Glass, Stanley, 1970: 169-170) seperti berikut: Keterangan:
y y y y y y

Xb, Yb adalah rata-rata skor warga belajar/siswa yang menjawab benar Xs, Ys adalah rata-rata skor warga belajar siswa yang menjawab salah SD adalah simpangan baku skor total nb dan n, adalah jumlah siswa yang menjawab benar dan jumlah siswa yang menjawab salah, serta nb + n, = n. p adalah proporsi jawaban benar terhadap semua jawaban siswa q adalah I ±p

Hasil perhitungan dengan menggunakan rumus di atas dapat menggambarkan tingkat kemampuan soal dalam membedakan antar peserta didik yang sudah memahami materi yang diujikan dengan peserta didik yang belum/tidak memahami materi yang diujikan. Adapun klasifikasinya adalah seperti berikut ini. 1. 2. 3. 4. 0,40 ± 1,00 0,30 ± 0,39 0,20 ± 0,29 0,19 ± 0,00 : soal diterima baik : soal diterima tetapi perlu diperbaiki : soal diperbaiki : soal tidak dipakai/dibuang

(Crocker, Algina, 1986: 315) 1. 3. Pola Penyebaran Jawaban

Pola penyebaran jawaban adalah distribusi peserta dalam menentukan pilihan jawaban pada soal dengan bentuk pilihan ganda (Arikunto, 2002:219). Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui berfungsi tidaknya jawaban yang tersedia. Suatu pilihan jawaban (pengecoh) dapat dikatakan berfungsi apabila pengecoh tersebut:

1. Paling tidak dipilih oleh 5% peserta tes/siswa, 2. Lebih banyak dipilih oleh kelompok siswa yang belum paham materi. Secara statistik, pola penyebaran (distribusi) jawaban dapat dihitung dengan menghitung Standar Deviasi (SD) dari soal tersebut. Jika semua peserta menjawab pada butir jawaban yang sama, maka standar deviasinya 0 (nol). 1. 4. Validitas Butir Soal

Sebuah butir soal (item) dikatakan valid apabila mempunyai dukungan yang besar terhadap skor total. Skor pada item menyebabkan skor total menjadi tinggi atau rendah (Arikunto, 2002: 76). Butir soal yang memiliki validitas yang tinggi jika skor pada item mempunyai kesejajaran dengan skor total. Kesejajaran ini dapat diartikan dengan korelasi sehingga untuk mengetahui validitas item digunakan rumus korelasi product moment seperti berikut: Keterangan: rx N ™xy ™x ™y x2 y2 = koefisien korelasi antara skor butir soal dan skor total, = jumlah peserta tes, = jumlah perkalian x dengan y (skor butir soal dengan skor total) = jumlah x (jumlah skor butir soal) = jumlay y (jumlah skor total) = kuadrat dari x (kuadrat dari skor butir soal) = kuadrat dari y (kuadrat dari skor total)

Hasil perhitungan ini berkisar diantara -1,00 sampai +1,00. Sedangkan interpretasi hasil perhitungan ini akan menentukan besarnya koefisien korelasi (validitas item) dengan klasifikasi (Arikunto, 2002: 75) sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 0,8 ± 1,00 0,6 ± 0,8 0,4 ± 0,6 0,2 ± 0,4 0 ± 0,2 : sangat tinggi : tinggi : cukup : rendah : sangat rendah

1. 5.

Reliabilitas Skor tes

Tujuan utama menghitung reliabilitas skor tes adalah mengetahui tingkat ketepatan (precision) dan keajegan (consistency) skor tes. Indeks reliabilitas ini berkisar antara 0 sampai 1. Semakin tinggi koefisien reliabilitas suatu tes (mendekati 1), makin tinggi pula keajegan/ketepatannya.

Untuk mengetahui koefisien reliabilitas tes soal bentuk pilihan ganda dapat digunakan rumus Kuder-Richardson 20 (KR-20) seperti berikut: Keterangan: k = jumlah butir soal

(SD)2 = varian p = proporsi peserta yang menjawab benar

™p(1-p)= jumlah proporsi peserta yang menjawab benar dan proporsi peserta yang menjawab salah KR-20 = koefisien reliabilitas tes Analisis Kebutuhan Sistem Fitur analisis soal mampu melakukan analisis tes hasil belajar bentuk soal pilihan ganda. Fitur ini dikembangkan dalam bentuk sebuah block dan module dan fitur ini dapat diintegrasi serta memenuhi standar pengembangan block/module yang ditetapkan oleh MOODLE. Pemakai fitur ini adalah guru, pengampu atau tutor. Guru/tutor selaku pihak yang bertanggungjawab memasang sendiri fitur ini pada mata kuliah/course yang diampunya dan bertanggung-jawab merancang dan melaksanakan pembelajaran sampai pada evaluasi hasil belajar dengan prasyarat menggunakan model tes tertulis dengan bentuk soal pilihan ganda. Sistem e-learning yang dilengkapi fitur analisis butir soal memiliki kemampuan untuk 1) mendeteksi soal bentuk pilihan ganda pada tiap mata kuliah/course yang menggunakan fitur ini 2) mampu melakukan analisis tes hasil belajar yang mengacu pada beberapa parameter yaitu 1) Tingkat Kesukaran Soal, 2) Daya Pembeda Soal, 3) Pola Distribusi Soal/Standar Deviasi, 4) Validitas Soal dan 5) Reliabilitas Tes hasil belajar. 3) merekam tiap proses analisis yang dilakukan pada basisdatanya sendiri dan terpisah dari question engine. 4) mengkoleksi soal yang telah dianalisis dalam bentuk bank soal tersandar.

PROSEDUR

ANALISIS

ITEM

YANG

LEBIH

SEDERHANA

UNTUK

NORM-

REFERENCED TEST

Ada beberapa prosedur analisis item yang dapat dilakukan terhadap normreferenced test (Thorndike, 1971). Bagi tes-tes hasil belajar yang informal yang digunakan dalam pengajaran, agaknya diperlukan prosedur yang sederhana saja. Langkah-langkah berikut merupakan prosedur yang simple, tetapi efektif. Misalnya kita akan menganalisis 32 lembar jawaban tes multiple choice dengan 5 option. Maka langkah-langkahnya adalah sebagai berikut: 1. Susunlah 32 lembar jawaban tes tersebut pada skor yang paling tinggi sampai kepada skor yang paling rendah. 2. Ambil s sepertiga dari jumlah lembar jawaban tes itu yang mendapat skor tinggi, dan sebutlah ini Upper Group (10 lembar). Dan ambil pula s sepertiga dari jumlah lembar jawaban tes itu yang mendapat skor rendah, dan sebut Lower Group (10 lembar pula). Pisahkan yang selebihnya, yaitu yang termasuk Middle Group (12 lembar). Meskipun lembaran Middle Group ini dapat dimasukkan ke dalam analisis, penggunaan Upper dan Lower Group saja sudah cukup menyederhanakan prosedur pengelolaan (analisis) 3. Untuk tiap Item, hitunglah jumlah siswa dari Upper Group yang memilih tiap alternatif (option), kemudian kerjakan. Begitu juga pada Lower Group. 4. Catatlah jumlah dari langkah 3 tersebut di dalam catatan tes dalam kolom dimana alternatif itu dipilih. Atau untuk digunakan kartu item yang terpisah seperti berikut :

Item no. 1 Alternatif Upper 10 Lower 10

A

B*

C

D

E

0 3

6 2

3 2

1 3

0 0

Jawaban yang benar 5. Taksirlah Tingkat Kesukaran soal (item difficulty) dengan menghitung persentase siswa ymenjawab Item itu dengan benar. Prosedur sederhana ini adalah untuk mendasarkan penaksiran itu hanya pada siswa-siswa yang termasuk di dalam kelompok analisis item itu. Dengan demikian, jumlah siswa dalam Upper dan Lower

Group (10 + 10 = 20) yang memilih jawaban benar pada Item no. 1 di atas adalah 6 + 2 = 8. Dari situ kita dapat menghitung Indeks Kesukaran soal sebagai berikut : Index of item difficulty = Meskipun perhitungan kita hanya didasarkan atas kelompok Upper dan Lower, hasilnya akan menyediakan suatu taksiran mendekati kebenaran yang berlaku untuk jumlah kelompok seluruhnya. Ini berarti bahwa indeks kesukaran no. 1 sebesar 40 % itu berlaku untuk kelompok (32 orang) yang mengerjakan tes itu. Dengan demikian, karena tingkat kesukaran itu menunjukkan persentase jawaban item yang benar , maka makin kecil persentase menunjukkan makin sulit item itu. Rumus untuk menghitung item difficulty adalah sebagai berikut : P= P = Persentase yang menjawab item itu dengan benar R = Jumlah yang menjawab item itu dengan benar T = Jumlah total (siswa) yang mencoba menjawab item itu. 6. Taksirlah daya pembeda (diseriminating power) item itu dengan membandingkan jumlah siswa dalam Upper Group dan Lower Group yang menjawab item dengan benar. Dari contoh di atas ternyata bahwa 6 siswa pada Upper Group dan 2 siswa pada Lower Group menjawab dengan benar. Ini menunjukkan daya pembeda yang positif karena item itu dapat membedakan siswa yang pandai (upper) dan siswa yang kurang (lower); yang menjawab benar dari Upper Group jumlahnya lebih banyak daripada yang menjawab benar dari Lower Group. Dari item no. 1 kita dapat menghitung besarnya daya pembeda item itu sebagai berikut : Index of item discriminating power = Rumus daya pembeda : DP = DP = Daya pembeda atau discriminating power yang dicari U = Jumlah jawaban yang benar dari Upper-Group L = Jumlah jawaban yang benar dari Lower Group ½ T = Setengah dari jumlah Upper dan Lower-Group Daya pembeda dari suatu item dinyatakan dengan pecahan decimal dan indeks maksimum daya pembeda yang positif = 1, 00

Daya pembeda nol (0, 00) diperoleh jika jumlah siswa yang sama pada kedua kelompok (Upper dan Lower) menjawab item itu dengan benar. Jadi : DP = Daya pembeda negatif diperoleh jika yang menjawab benar suatu item pada Lower Group jumlahnya lebih besar ketimbang pada Upper Group. Jadi : DP = Jika dari hasil analisis suatu item diperoleh DP = 0 (nol) atau DP = - (minus), item yang bersangkutan harus dibuang atau diganti dengan yang baru. 7. Tentukan keefektifan distruktornya dengan membandingkan jumlah siswa pada Upper Group dan Lower Group yang memilih tiap alternative yang salah. INTERPRETASI DATA ANALISIS ITEM TES NORM-REFERENCED Jika kita menggunakan jumlah siswa yang relative kecil dalam menganalisis item tes hasil belajar kelas, informasi analisis item hendaknya diinterpretasikan dengan sangat berhati-hati. Baik tingkat kesukaran maupun daya pembeda suatu item dapat berubah-ubah atau berbeda-beda antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain. Jika suatu item menunjukkan indeks positif dalam diskriminasi, jika semua alternatifnya berfungsi secara efektif, dan jika item itu mengukur secara pedagogis hasil yang disignifikasi, item itu hendaknya dipertahankan dan disimpan dalam file item untuk digunakan pada waktu yang akan datang. Jika items itu disimpan dalam file dan digunakan kembali sesudah beberapa saat tertentu, data hasil analisis item itu sebaiknya dicatat pada kartu setiap saat item itu digunakan. Kumpulan data semacam itu akan memperlihatkan variabilitas dalam indeks kesukaran item dan daya pembedanya, dan dengan demikian informasi itu lebih interpretable. PROSEDUR ANALISIS ITEM UNTUK CRITERION-REFERENCED TESTS Dasar pemikiran dalam, mengevaluasi items dalam tes penguasaan criterionreferenced adalah sampai sejauh mana tiap item dapat mengukur hasil pengajaran (effects of instruction). Jika suatu item dapat dijawab dengan benar oleh semua siswa,

baik sebelum maupun sesudah diajari, jelaslah bahwa item itu tidak mengukur hasil pengajaran. Demikian juga, jika suatu item dijawab salah oleh semua siswa, baik sebelum maupun sesudah siswa mendapat pelajaran, item tersebut tidak berfungsi sebagai alat evaluasi. Kedua-duanya merupakan contoh yang ekstrem; namun, kedua contoh tersebut memberikan petunjuk penting bagi pencapaian pengukuran hasil pengajaran sebagai satu dasar bagi penentuan kualitas item. Indeks sensitivitas bagi keberhasilan pengajaran (sensitivity of instructional effect) (S) dapat dihitung dengan menggunakan rumus berikut : RA - RB S= T S = Sensitivitas keberhasilan yang dicari RA = Jumlah siswa yang menjawab benar item itu sesudah pengajaran RB = Jumlah siswa yang menjawab benar item itu sebelum pengajaran T = Jumlah total jawaban item itu yang benar kedua-duanya, sebelum dan dan sesudah pengajaran. Misalkan suatu item dijawab salah oleh semua siswa (32 orang) sebelum pengajaran, dan dijawab benar oleh semua siswa sesudah pengajaran. Dengan menggunakan rumus di atas akan kita peroleh sebagai berikut: 32 0 S = = 1,00 32 Jadi maksimum sensitivitas keberhasilan pengajaran dinyatakan dengan indeks 1,00. Indeks items yang efektif akan berada di antara 0,00 dan 1,00 dan makin besar nilai positif yang diperoleh menunjukkan bahwa item itu sensitivitas keberhasilan pengajarannya makin besar pula. Dengan kata lain, makin besar angka indeks yang diperoleh, makin besar pula sensitivitas keberhasilan pengajarannya. Ada beberapa pembatasan dan penggunaan indeks sensitivitas itu. Pertama, guru harus memberikan tes itu dua kali untuk menghitung indeks. Kedua, suatu indeks yang rendah tidak selalu benar menunjukkan item yang tidak efektif atau pengajaran yang tidak efektif.

Ketiga, respons para siswa terhadap item-item itu sesudah menerima pelajaran, mungkin sedikit-banyak dipengaruhi oleh pengerjaan mereka pada tes yang telah dilakukan pada waktu sebelum menerima pelajaran. Pembatasan yang berakhir ini akan terlihat dan dirasakan siswa jika pengajaran itu diberikan dalam waktu yang singkat. Daftar Pustaka Arikunto, Suharsimi. 2005. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Angkasa Ngalim Purwanto, M. 2002. Prinsip dan Teknik Evaluasi Belajar, Bandung: Remaja Rosdakarya. Sudjana, Nana. 2001. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Sudirman N. Ilmu Pendidikan. 1998. Bandung: Remaja Rosdakarya. http://www.scribd.com/doc/12469231/Makalah1-PANDUAN-ANALISA-BUTIR-SOAL http://evaluasipendidikan.blogspot.com/2008/06/analisis-butir-soal.html Reliabilitas Instrumen Tes Uraian Menilai realibilitas soa tes uraian tidak hanya dengan menentukan ³benar´ atau ³salah´ seperti tes objektif. Butir soal uraian menghendaki gradualisasi penilaian, hal ini dilakukan bobot penilaian setiap butir soal tidak sama.

Dalam melakukan analisis menentukan tingkat realibitas tes uraian secara keseluruhan juga dilakukan analisis tiap butir soal, rumus yang digunakan:

Keterangan:

Sedangkan, untuk mencari nilai varians (item maupun total) dapat menggunakan persamaan berikut ini:

Reliabilitas Instrumen Afektif Menilai realibilitas soal tes afektif dapat dilkukan dengan cara yang sama dengan menentukan reliabilitas tes uraian, dengan persamaan:

Jika pada tes uraian n adalah jumlah subjek yang memberikan jawaban, maka pada tes afektif n adalah jumlah belahan. Jadi dalam menganalisis tes afektif, maka salah satu cara adalah mengelompokkan tanggapan (sikap) subjek. Misalkan 30 nomor skala sikap, jumlah belahan ada 3 maka tiap belahan memiliki 10 nomor, kemudian skor masing-masing nomor dijumlahkan pada tiap belahan. Nilai hasil analisis validitas kemudian dicocokkan dengan kriteria reliabilitas, berikut ini kriteria validitas yang dikemukakan oleh Gerson, dkk. Koefisien validitas >= 0,80 0,40 - < 0,80 < 0,40 Kriteria Relibilitas Tinggi Relibilitas Sedang Relibilitas Rendah

Reliabilitas Reliabel atau reliabilitas dapat diartikan bahwa suatu alat ukur/tes adalah handal, ajeg, dipercaya. Cara yang terbaik untuk membahas reliabilitas adalah sejauh mana hasil pengukuran dari suatu instrument mewakili karakteristik yang diukur. Menurut Jafar Ahiri (2006:3), reliabilitas adalah seberapa besar konsistensi skor tes yang dicapai peserta tes pada pengujian ulang. Jafar ahiri selanjutnya mengatakan, reliabilitas juga diartikan sebagai indikator ketidakhadiran kesalahan acak. Jika kesalahan acak dapat diperkecil maka skor tes akan lebih konsisten dari suatu pengujian ke pengujian selanjutnya. Reliabilitas adalah tingkat keterpercayaan hasil suatu pengukuran (Anonim: 2006: 2). Pengukuran yang memiliki reliabilitas yang tinggi, yaitu pengukuran yang mampu memberikan hasil ukur yang terpercaya. Menentukan Reliabilitas Soal Tes Uji reliabilitas dilakukan hanya terhadap butir-butir angket yang dianggap valid saja. Selanjutnya skala yang akan dibuat besarnya perkiraan reliabilitasnya dibelah menjadi dua atau tiga bagian, sehingga masing-masing belahan berisi item-item dalam jumlah yang sama banyaknya. Untuk menentukan valid

atau tidaknya butir skor diperoleh dari hasil perhitungan product moment. 8. HASIL DAN PEMBAHASAN 8. 1. Validitas Dan Reliabilitas Soal Tes Materi Attitude PMB STIKOM Dinamika Bangsa R tabel pada 0,05 dengan derajad bebas df = jumlah kasus 2. Pada penelitian ini jumlah kasus adalah 20, jadi df adalah 18 r (0,05 ; 18) pada uji satu arah = 0,2992. Keputusan : Jika r hitung positif dan r hitung > r tabel maka butir tersebut valid. Jika r hitung negatif atau r hitung < r tabel maka butir tersebut tidak valid. R hitung dapat dilihat pada kolom Corrected Item Total Correlation. Dari 20 butir soal tes attitude yang diujikan pada tes PMB STIKOM Dinamika Bangsa, ternyata butir 1, 2, 3, 4, 6, 7, 8, 10, 11, 13, 16, 17,19 dan 20 tidak valid sehingga butir yang tidak valid tersebut perlu dibuang. Selanjutnya akan diuji lagi ke 6 butir pertanyaan yang valid. Karena butir 1, 2, 3, 4, 6, 7, 8, 10, 11, 13, 16, 17,19 dan 20 sudah dikeluarkan, maka r table dilihat pada 0,05 dengan derajad bebas df = jumlah kasus 2. Pada penelitian ini jumlah kasus adalah 6, jadi df adalah 6 2 = 4 r (0,05 ; 4) pada uji satu arah = 0,6084. Pada output dapat dilihat bahwa nilai Corrected Item-Total Correlation (r hitung) semuanya lebih kecil dari r tabel (0,6084), sehingga dapat disimpulkan bahwa ke enam butir pertanyaan tersebut tidak valid. Setelah semua butir pertanyaan ternyata tidak valid, maka selanjutnya adalah menguji reliabilitas butir pertanyaan tersebut. Cara pengambilan keputusannya adalah : Jika r alpha positif dan lebih besar dari r atbel maka reliabel. Jika r alpha negatif atau r alpha lebih kecil dari r tabel maka tidak reliabel. R alpha dapat dilihat pada tabel Reliability Statistics, yaitu bernilai 0,548, sedangkan r tabel seperti yang sudah dicari sebelumnya adalah sebesar 0,6084. Kesimpulan ; r alpha < r tabel, sehingga butir soal tes aptitude PMB STIKOM Dinamika Bangsa tahun 2005 tersebut bersifat tidak reliabel. Validitas Dan Reliabilitas Soal Tes Materi Matematika PMB STIKOM Dinamika Bangsa. R tabel pada 0,05 dengan derajad bebas df = jumlah kasus 2. Pada penelitian ini jumlah kasus adalah 20, jadi df adalah 18 r (0,05 ; 18) pada uji satu arah = 0,2992. Dengan dasar pengambilan keputusan yang sama, maka dari 20 butir soal tes matematika yang diujikan pada tes PMB STIKOM Dinamika Bangsa, ternyata butir 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 11, 12, 13, 16, 18,19 dan 20 tidak valid sehingga butir yang tidak valid tersebut perlu dibuang. Selanjutnya akan diuji lagi ke 4 butir pertanyaan yang valid. Karena butir 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 11, 12, 13, 16, 18,19 dan 20 sudah dikeluarkan, maka r table dilihat pada 0,05 dengan derajad bebas df = jumlah kasus 2. Pada penelitian ini jumlah kasus adalah 4, jadi df adalah 4 2 = 2 r (0,05 ; 2) pada uji satu arah = 0,8000. Pada output dapat dilihat bahwa nilai Corrected Item-Total Correlation (r hitung) semuanya lebih kecil dari r tabel (0,8000), sehingga dapat disimpulkan bahwa ke empat butir pertanyaan matematika tersebut tidak valid. Setelah semua butir pertanyaan ternyata tidak valid, maka selanjutnya adalah menguji reliabilitas butir pertanyaan tersebut. Dengan dasar pengambilan keputusan yang sama, maka R alpha dapat dilihat pada tabel Reliability Statistics, yaitu bernilai 0,276, sedangkan r tabel seperti yang sudah dicari sebelumnya adalah sebesar 0,8000. Kesimpulan ; r alpha < r tabel, sehingga butir soal tes matematika PMB STIKOM Dinamika Bangsa tahun 2005 tersebut bersifat tidak reliabel.

Daya Beda Butir Soal Untuk membedakan antara siswa yang pandai dengan siswa yang kurang pandai, siswa dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok atas 33%, kelompok bawah 33% dan sisanya adalah kelompok tengah. Rumus yang digunakan adalah :

keterangan: D = daya pembeda JA = banyaknya peserta kelompok atas JB = banyaknya peserta kelompok bawah BA = banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab benar BB = banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab benar PA = BA / JA = proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar JB = BB / JB = proporsi kelompok bawah yang menjawab benar kriteria, jika D bernilai: 0,00±0,20 : soal jelek 0,20±0,40 : soal sedang/cukup 0,40±0,70 : soal baik 0,70±1,00 : soal baik sekali 4. Reliabilitas Suatu tes dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes dapat memberikan hasil yang tetap. Jadi pengertian reliabilitas tes berhubungan dengan masalah ketetapan(keajegan) hasil. Rumus yang digunakan untuk menentukan reliabilitas pada tes obyektif adalah K-R.21

keterangan: r11 = koefisien reliabilitas tes secara keseluruhan n = banyaknya soal butir soal M = Mean atau rerata skor soal yang valid S = Simpangan baku Untuk menginterpretasikan besarnya r11 r11 : 0,8±1,0 reliabilitas sangat tinggi 0,6±0,8 reliabilitas tinggi 0,4±0,6 reliabilitas cukup 0,2±0,4 reliabilitas rendah 0,0±0,2 reliabilitas sangat jelek contoh hasil ulangan excel dapat diunduh di sini dan contoh pembuatan tabel produk momen dapat dilihat disini Postingan lain berkaitan dengan excel koreksi pilihan ganda dengan excel mencari hari lahir dan weton dengan excel ulangan harian mengirim jawaban ke hape guru diimpor/diekspor ke file excel

persamaan parabola dengan excel mencetak ukuran kertas folio (33x 21,5 cm) di excel(setting printer) kartu perpustakaan dengan excel

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->