P. 1
Teknik Distribusi Tenaga Listrik Jilid 3

Teknik Distribusi Tenaga Listrik Jilid 3

5.0

|Views: 10,966|Likes:

More info:

Published by: Open Knowledge and Education Book Programs on Nov 20, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/28/2014

pdf

text

original

Misalkan gangguan terjadi pada seksi 2A dari jaringan loop (lihat

gambar 6-36.
Untuk gangguan di seksi 2A, koordinasi pengaman sebagai berikut.
a) Relai PMT-A bekerja, memerintahkan PMT-A trip
b) Relai PMT-A bekerja, memerintahkan PMT-A trip
c) Relai PMT-A bekerja, memerintahkan PMT-A trip
d) Karena tidak ada tegangan pada penyulang A, maka AVS-A1 dan
AVS-A2 membuka setelah selang waktu t3.
e) Setelah waktu recloser ke-1 dari penutup balik dicapai, maka PMT-A
masuk setelah selang waktu t1 dan AVS-A1 masuk.
f) Karena gangguan di seksi 2A masih ada (permanen) maka PMT-A
trip lagi
g) AVS-A1 langsung mengunci karena waktu merasakan tegangan
lebih kecil dari t2.
h) Setelah waktu menutup balik ke-2 dari penutup balik tercapai PMT-A
masuk dan seksi 1A bertegangan.
i) Setelah selang waktu t5 dari AVS-L, AVS-L akan masuk sehingga
PMT-B trip karena relai di B merasakan adanya gangguan.
j) Pada penyulang B terjadi buka tutup, sampai AVS-A2 lock-out
sehingga seksi 2A terisolasi dan seksi 3A mendapat suplai dari
penyulang B.

Gambar 6-35 Koordinasi Pengaman pada Jaringan Radial

T = Control Device (kotak pengatur)
PCT = Power Control Transformer

PMT AVS-A1 AVS-A2 AVS-A3

T

T

T

Saklar dan Pengaman

355

GI

1A 2A 3A

AVS-L

PMT B AVS-B1 AVS-B2
1B 2B 3B

6-7 Penutup Balik Otomatis (PBO)

Dalam pola II, penggunaan PBO, SSO dan FCO (pengaman lebur)
dapat dikoordinasikan. Pola ini digunakan dalam sistem jaringan 4 kawat
dengan pentanahan multi grounded.

Keterangan:

T1 = waktu mulai kotak pengatur bertegangan sampai AVS masuk kembali (5-
10 detik)
T2 = waktu yang distel agar AVS terkunci, bila waktu merasakan tegangan
lebih kecil dari setting t2
T3 = waktu mulai kotak pengatur tidak bertegangan sampai AVS masuk
kembali (0,5-2 detik)
T 5 = waktu mulai kotak pengatur tidak merasakan tegangan dari salah satu
sisinya sampai AVS-L masuk secara otomatis t5 > tr +(n+1) t1
tr = waktu penutup balik
n = banyaknya AVS

Gambar 6-37Koordinasi PBO, SSO dan FCO

Gambar 6-36 Koordinasi Pengaman pada Jaringan Loop

PMT AVS-A1 AVS-A2

T

T

T

T

356

a) Koordinasi antara OCR/GFR dengan PBO

Secara fisik PBO ini semacam PMB yang mempunyai kemampuan
sebagai pemutus arus hubung singkat yang dilengkapi dengan alat
pengindera arus gangguan dan peralatan pengatur kerja membuka dan
menutup serta mengunci bila terjadi gangguan permanen.
Untuk melakukan koordinasi antara OCR/GFR di gardu induk dengan
PBO harus dibuat sedemikian rupa sehingga setiap terjadi gangguan
setelah PBO, relai OCR/GFR tidak boleh trip sebelum PBO terkunci (lock
out).

Oleh karena itu, harus dihitung terlebih dahulu waktu reset dan
putaran dari relai OCR/GFR, agar supaya PMT tidak trip. Sebelum PBO
terkunci total putaran relai OCR/GFR diusahakan kurang dari 100% pada
saat PBO terkunci.

b) Koordinasi antara PBO dengan PBO

Koordinasi antara PBO dengan PBO dapat dicapai dengan:
Memilih nilai arus trip minimum yang berbeda antara kedua PBO
(yang menggunakan kontrol elektronik)
Mengatur pemakaian urutan operasi yang terbalik dari masing-
masing PBO dengan cara mempelajari dan memilih karakteristik
kerja dari kurva arus waktu.
Faktor yang penting dalam koordinasi antara kedua bentuk kurva
arus waktu dari kedua PBO adalah perbedaan waktu antara kedua kurva
untuk satu nilai arus tertentu (arus hubung singkat)
Perbedaan waktu minimum antara kedua kurva adalah untuk
mengamankan agar kedua PBO tidak beroperasi secarav bersamaan.

c) Koordinasi antara PBO dengan SSO

Bila terjadi gangguan di sisi hilir dari SSO maka PBO akan bekerja
membuka tutup dengan cepat pertama sampai kedua untuk menghilangkan
gangguan yang bersifat temporer. SSO mengindera arus gangguan dan
menghitung banyaknya buka tutup dari PBO, bila gangguan bersifat
permanen, maka sesuai dengan penyetelan hitungan (count to open) SSO.
SSO membuka pada saat PBO membuka sebelum buka tutup terakhir dan
mengunci dari PBO.

d) Koordinasi antara PBO dengan PL

PBO harus dapat mendeteksi arus gangguan di daerah pengaman
PL koordinasi maksimum antara PBO dan PL dapat dicapai dengan
mengatur urutan kerja PBO dua, cepat atau lambat.
Operasi cepat pertama dan kedua untuk menghilangkan gangguan
temporer sebelum operasi ketiga, yaitu operasi lambat pertama yang
memberikan kesempatan pada PL untuk melebur (putus) lebih dahulu
sehingga gangguan dapat diisolasi.

Saklar dan Pengaman

357

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->