LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK KI-2051 FARMASI SEMESTER I 2011/2012 PERCOBAAN – PEMISAHAN SENYAWA ORGANIK : EKSTRAKSI DAN

ISOLASI KAFEIN DARI DAUN TEH Nama : NIM : Tanggal Praktikum : Tanggal Pengumpulan Laporan :

PROGRAM FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS AL - GHIFARI 2011

PERCOBAAN – 03 PEMISAHAN SENYAWA ORGANIK :

Maka dari itu perlu dilakukan pengurangan kadar kafein dalam teh agar aman untuk dikonsumsi setiap saat. delirium. Namun teh ini pula memiliki kandungan alkaloid yang membuatnya sebelum diolah dengan penambahan pemanis memberikan rasa pahit. sehingga hal inilah yang menjadikan minuman yang berbahan teh ini disukai banyak kalangan. merangsang. 2008). alkaloid merupakan suatu senyawa metabolit sekunder dimana alkaloid ini memiliki lebih banyak fungsi eologis daripada fungsi metabolismenya. ekstrasistole. Meskipun kafein aman dikonsumsi.EKSTRAKSI DAN ISOLASI KAFEIN DARI DAUN TEH I. zat ini dapat menimbulkan reaksi yang tidak dikehendaki seperti insomnia. . serta memiliki kemiripan dengan alkali. Pada tumbuhan. Pendahuluan Salah satu tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia pada umumnya sebagai pereda dahaga dan banyak dikonsumsi adalah teh. takikardia. Alkaloid sendiri berasal dari sedikit asam . Aromanya yang harum serta rasanya yang khas manjadi salah satu daya tarik sendiri bagi masyarakat untuk mangkonsumsinya. tremor otot. gelisah. dan diuresis (Misra H et al. Oleh karena itu pada percobaan ini akan dilakukan suatu uji alkaloid dan ekstraksi kafein serta uji kromatografi untuk menganalisis kandungan yang ada di teh. Daun dari tumbuhan ini yang diolah oleh banyak perusahaan-perusahaan sebagai produk minuman mereka . pernapasan meningkat. Alkaloid adalah suatu senyawa organik yang mengandung atom nitrogen dan bersifat basa (karena sifatnya yang basa inilah tumbuhan yang mengandung alkaloid biasanya terasa pahit) dalam cincin heterosiklik. Seperti yang telah beberapa orang ketahui bahwa daun teh ini memiliki kandungan kafein yang dilihat dari segi psikologis dapat memberikan efek ketagihan.

Terdapat tiga jenis ekstraksi. Dalam segi struktur kafein terbangun dari system cincin purin. Tipe alkaloid yang digunakan dalam Percobaan-03 ini adalah kafein yang diekstraksi dari Camellia sinensis sinensis (Teh).amino yakni ornitin dan lisin yang menurunkan alkaloid alisiklik. Pada percobaan kali ini dilakukan ekstraksi padat-cair kafein dari teh dan ekstraksi cair-cair. Metode kromatografi yang dilakukan pada percobaan ini memiliki prinsip untuk memisahkan dua atau lebih senyawa atau ion berdasarkan pada . Kafein itu sendiri adalah sejenis senyawa alkaloid yang termasuk golongan metilxanthine (1. sehingga dapat diketahui apa saja unsur-unsur yang membentuknya. Dari segi rekasi. Kromatografi adalah metode yang digunakan untuk memisahkan senyawa organik dan anorganik sehingga senyawa tersebut dapat dianalisis dan dipelajari kandungannya. yang digunakan untuk mengekstrak zat padat dari zat cair. Ekstraksi adalah metode pemisahan suatu senyawa yang melibatkan proses pemindahan satu atau lebih senyawa dari satu fasa ke fasa lain. Pertama ekstraksi cair-cair. selain itu daun teh juga mengandung tannin dan sejumlah kecil klorofil Pada percobaan kali ini akan dilakukan suatu ekstraksi. yang banyak ditemukan dalam asam nukleat atau DNA kita.Kafein memiliki cukup banyak kandungannya dalam teh yakni 30-75 mg/cangkir. yang memiliki prinsip bahwa suatu senyawa kurang larut dalam pelarut yang satu tapi sangat larut dalam pelarut lainnya (prinsip beda kelarutan). dan triftopan yang menurunkan alkaloid indol. Kedua ekstraksi padat-cair. Terakhir ekstraksi asam-basa merupakan jenis ekstraksi yang didasarkan pada sifat asam dan basa senyawa organik. dan suatu senyawa enol atau fenol.7-trimethylxantine). serta didasarkan kepada prinsip kelarutan. reaksi utama yang mendasari biosintesis senyawa alkaloid adalah reaksi mannich antara suatu aldehida dan suatu amina primer dan sekunder.3. fenilalanin dan tirosin yang menurunkan alkaloid jenis isokuinolin.

analisis fraksi yang diperoleh dari kromatografi kolom. KLT itu sendiri dapat digunakan untuk memisahkan senyawa – senyawa yang memiliki sifat hidrofobik seperti hidrokarbon dan lipida-lipida yang sukar dikerjakan dengan menggunakan kromatografi kertas. Nilai Rf merupakan suatu jarak yang ditempuh oleh senyawa dari titik asal dibagi dengan jarak yang ditempuh oleh pelarut dari titik asalnya juga. Metode ini merupakan metode untuk menguji kemurnian suatu senyawa organik secara cepat dan mudah. Dalam menggunakan metode KLT ini kita perlu memilih pelarut yang tepat sebagai pengembang yng disesuaikan dengan sifat kelarutan senyawa yang dianalisis. senyawa atau ion ini tersebut akan tertahan dan terabsorpsi pada fasa diam. Dimana zat terlarut dalam suatu fasa gerak akan mengalir dalam suatu fasa diam. Untuk mencari eluen untuk kromatografi kolom. pada posisi yang berbeda-beda. Olah karena itu. Metode ini sendiri menggunakan material adsorben pada pelat kaca. identifikasi senyawa secara kromatografi. Dalam hal ini.perbedaan migrasi dan distribusi senyawa atau ion tersebut dalam dua fasa yang berbeda. . dan isolasi senyawa murni skala kecil.0. Data yang diperoleh dari uji KLT ini adalah nilai Rf yang digunakan untuk identifikasi suatu senyawa. Nilai Rf untuk senyawa–senyawa murni dapat dibandingkan dengan nilai Rf dari senyawa standar. Dalam hal ini bilangan Rf selalu lebih kecil dari 1. Dalam hal ini terdapat pula yang berbahan lapisan tipis seperti silika gel yang merupakan senyawa yang tidak bereaksi dengan pereaksi – pereaksi yang lebih reaktif seperti asam sulfat. terdapat fasa gerak dan fasa diam dalam semua jenis kromatografi. Pada percobaan ini. kita dapat menggunakan metode KLT ini. plastik atau alumunium tipis yang memiliki sifat polar. kemudian satu persatu akan terbawa kembali pada fasa gerak yang melaluinya. tipe kromatografi yang digunakan adalah kromatografi lapis tipis (KLT).

kemudian menentukan volume peniter (NaOH 0. . ekstraksi cair-cair dan kromatografi lapis tipis (KLT).325 N) pada 3 kali titrasi dengan perbedaan konsentrasi dari asam asetat glasial pada tiap titrasi.Dalam percobaan kali ini kita akan mengidentifikasi keberadaan kandungan alkaloid dalam Kristal kafein yang merupakan hasil isolasi dengan menggunakan pereaksi Mayer dan pereaksi Dragendorff serta menentukan nilai Rf pada Kristal kafein yang ditunjukan oleh adanya noda di plat KLT . Dilakukan pula beberapa metode yakni metode ekstraksi padatcair.

Terdapat perubahan sedikit warna kuning setelah ditetesi dengan pereaksi Mayer. Keduanya memberikan hasil positif terdapat kandungan Alkaloid pada Kristal kafein yang dilarutkan dengan air.II. Terdapat perubahan warna jingga kecoklatan setelah ditetesi dengan pereaksi Dragendorff. Ekstraksi padat-cair : ekstraksi kafein dari teh Uji Alkaloid 1. . 2. Hasil Percobaan dan Pembahasan Percobaan Pengamatan Diperoleh endapan berwarna putih sebagai hasil dari ekstraksi kafein yang telah direkristalisasi.

Didapat volume peniter = 3.3 mL .325 N sebagai peniter. 1.75 (gambar 1) (gambar 2) Ekstraksi cair-cair Titrasi dengan NaOH 0. Titrasi pertama 5 mL asam asetat glasial dengan NaOH didapat volume peniter = 12.85 mL 2. Titrasi kedua dilakukan terlebih dahulu suatu ekstraksi 5 mL asam asetat glasial + 15 etil asetat kemudian fase cair dari campuran ini di titrasi dengan NaOH.Uji Kromatografi lapis tipis Didapat Rf sebesar 0.

Pembahasan : 1. Didapat volume peniter = 7. Kemudian dilakukan ekstraksi padat-cair dengan menggunakan corong pisah dengan dilakukan pengocokan perlahan untuk mengekstraksi larutan teh tersebut agar terhindar dari adanya emulsi. Ekstraksi ini memakai diklorometana yang mengakibatkan akan . tapi dikarenakan penambahan kedua ini hanya satu fase atau mungkin fase cairnya sudah tidak ada. Dikarenakan tannin merupakan senyawa fenolik yang cukup asam. jadi hanya dilakukan titrasi fase cair dari ekstraksi pertama saja dengan peniter NaOH. Labu ekstraksi yang dipakai ditambah lagi 5 mL etil asetat kemudian dipisahkan kembali fase cair nya.3. maka perlu ditambahkan Na2CO3 yang berfungsi untuk mengikat tannin yang ada pada teh dan memisahkannya dari kafein. Kafein sendiri merupakan senyawa organik. Ekstraksi padat-cair : ekstraksi kafein dari teh Pada percobaan ini digunakan diklorometana untuk mengekstraksi kafein dari air. Titrasi ketiga dilakukan terlebih dahulu ekstraksi 5 mL asam asetat glasial + 5 mL etil asetat kemudian fase cair campuran di saring. sehingga akan terjadi suatu reaksi antara tannin dan Na2CO3 tersebut yang menghasilkan produk yang akan lebih larut dalam air. Namun karena terdapat tannin juga pada teh yang juga larut dalam diklorometana padahal kita hanya ingin mengekstraksi kafein.25 mL.

yakni untuk pereaksi Mayer warna kuning yang dihasilkan sedikit sekali dan pada pereaksi Dragendorff warna jingga agak kecoklatan bukan jingga muda. setalah hasil ekstrak digabung. hal ini terjadi karena pada proses ekstraksi terdapat emulsi pada corong pisah sehingga kemungkinan besar banyak kafein yang masih tertinggal dan tidak terlarut di diklorometana. Uji Kromatografi Lapis Tipis Dilakukan untuk mengetahui kristal kafein yang telah didapat dari ekstraksi padat-cair tersebut telah murni atau belum. Namun terdapat kekurangan pada hasil positif untuk penggunaan kedua peraksi ini dalam percobaan yang kami lakukan. Seperti yang kita tahu. Berdasarkan percobaan. yakni lapisan bawah merupakan fasa organik dan lapisan atas merupakan fasa air. 3.terbentuknya dua lapisan. 2. maka semakin . Kemudian dipanaskan.Semakin atas noda yang dihasilkan pada plat dalam uji KLT ini.diklorometana memiliki titik didih yang lebih rendah dari kafein. Produk yang terbentuk ditambahkan n-heksana yang bersifat non polar untuk menjenuhkan dan mengendapkan kafein agar mendapatkan endapan kafein yang murni. hal ini dilakukan untuk menguapkan diklorometana sehingga nantinya kita hanya mendapat ekstrak pengotor kafein. Ini dilakukan karena mungkin masih adanya air yang tertinggal di larutan yang diekstraksi sebelumnya. Pereaksi Dragendorff mengandung bismuth dan KI yang menghasilkan senyawa kompleks endapan jingga. Pereaksi Mayer mengandung logam Hg dan KI yang akan membentuk senyawa kompleks endapan kuning dengan alkaloid. dihasilkan positif untuk pereaksi Mayer dan Dragendorff. Setelah itu. Uji Alkaloid Pada percobaan ini menggunakan pereaksi Mayer dan pereaksi Dragendorff sebagai pengidentifikasi terdapatnya alkaloid pada Kristal kafein yang dilarutkan air. sehingga diklorometana akan menguap lebih dahulu sekitar 39°C.kemudian ditambahkan CaCl2 anhidrat yang berfungsi sebagai drying agent yakni pengikat air karena sifatnya yang higroskopis. Menurut kami.

Sesuai dengan rumus : E= hcλ. sehingga menunjukkan non polar.75 yang menunjukkan kira-kira noda Rf tersebut berada pada titik ¾ plat dari titik asal (lihat gambar 1 dan 2). menggunakan aluminium bersilika yang merupakan polar.menunjukan ketidakpolaran zat tersebut. Semakin banyak resonansi pada struktur kafein ini membuatnya makin stabil. hal ini dikarenakan adanya ikatan rangkap terkonjugasi pada kafein. Dalam hal ini kita mendapatkan hasil 0. sehingga energi yang dipakai oleh struktur kafein ini makin kecil. Panjang gelombang yang besar ini mempengaruhi kafein (yang merupakan salah satu alkaloid) dapat memberi sinar tampak (berpendar) pada saat diberi sinar UV dan ditambahkan pereaksi Mayer dan pereaksi Dragendorff. Pada gambar 2 terlihat terdapat adanya warna hijau yang berpendar saat disinari sinar UV pada plat yang diberi pereaksi Mayer dan pereaksi Dragendorff bereaksi dengan alkaloid yang terkandung dalam teh. Karena plat yang dipakai dalam uji ini. Ikatan rangkap terkonjugasi pada kafein tersebut membuat ikatan rangkap tersebut satu sama lain dapat melakukan resonansi. . semakin kecil energi maka semakin besar panjang gelombang (λ). sehingga akan susah untuk mengikat yang non polar dan akibatnya noda akan dibiarkan makin jauh dari titik asal.

Hasil yang baik diperoleh jika jumlah ekstraksi yang dilakukan berulang kali dengan jumlah pelarut sedikitsedikit (Khopkar. 2003 : 75). Namun.325 sebagai peniter.4167 mL.25 mL.25/3 mL atau 2. Dari data volume peniter makin lama makin rendah kacuali pada titrasi ketiga tinggi kembali volumenya. Pada percobaan seharusnya semakin menurun jumlah NaOH (volume peniternya) untuk proses titrasi. Berdasarkan uji alkaloid yang diakukan pada percobaan ini. maka efektifitas proses ekstraksi tersebut akan semakin meningkat. kemudian hasil ekstraksi berupa fase cair dititrasi dengan NaOH 0. didapat hasil positif dengan pereaksi Mayer (terdapat endapan . Didapat hasil data seperti pada tabel diatas. apabila titrasi ketiga ini dilakukan ekstraksi triplo. Dalam hal ini perlu dilakukan ekstraksi sebanyak n kali agar diperoleh hasil yang efektif daripada dengan melakukan hanya sekali saja dengan jumlah volume yang sama. Sesuai dengan persamaan efektivitas reaksi : Cn=Co KV1KV1+ V2n Dimana semakin sering ekstraksi dilakukan. Kesimpulan 1. Hal ini disebabkan karena sudah terjadinya satu fasa tanpa fasa cair sehingga harus menggunakan fasa cair pada ekstraksi pertama saja sehingga terjadi volume peniter berlebih dan tidak dilakukannya ekstraksi sebanyak tiga kali pada titrasi ketiga ini yang akibatnya volume peniter yang didapatkan sebanyak 7. Ekstraksi cair-cair Pada percobaan ekstraksi cair-cair ini. Kesempurnaan ekstraksi tergantung pada banyaknya ekstraksi yang dilakukan.4. I. dilakukan ekstraksi asam asetat glasial dengan etil asetat. hal ini mengartikan bahwa semakin sering diekstraksi maka semakin banyak pula jumlah asam asetat glasial yang larut pada etil asetat. akan terjadi rata-rata volume peniter sebanyak 7.

A. Grűner. and S. Extraction of active ingredients from green tea (Camellia sinensis): Extraction efficiency of major catechins and caffeine. F.K. Weinreich. Otto. Volume peniter untuk titrasi pertama adalah 12. International Journal of Green Pharmacy : 47-51.info/ekstraksi-kafein-dari-daun-teh42271503092011 (diakses tanggal 1 Januari 2012 pukul 19.25 WIB) . volume peniter titrasi kedua adalah 3. Škerget.. Food Chem. 3.kuning) dan positif pula dengan pereaksi Dragendorff (terdapat endapan jingga). Mehta.75. Pada uji KLT.chem-is-try.25 mL dengan hanya terjadi 1 kali ekstraksi bukan 3 kali ekstraksi. 96: 597-605. B. Misra H. M. Soni. Study of Extraction and HPTLC – UV Method for Estimation of Caffeine in Marketed Tea (Camellia sinensis) Granules. Daftar Pustaka Perva-Uzunalić. didapat nilai noda Rf untuk Kristal kafein sekitar 0. M. 2006. 2008. Mehta.C. http://www.artikelkimia.3 mL dan volume peniter titrasi ketiga adalah 7. D. 2.06 WIB) http://www.85 mL . B. Jain. Knez. I. Ž. D.org/materi_kimia/kimia-industri/teknologiproses/ekstraksi/ (diakses tanggal 1 Januari 2012 pukul 19.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful