TUGAS JURUSITA PENGADILAN NEGERI DALAM PROSES PERKARA PERDATA

Oleh Mulijanto

PENDAHULUAN
Jurusita merupakan bagian dari pelaksana tugas Pengadilan Negeri dalam memeriksa dan mengadili perkara perdata mempunyai peran yang tidak kalah penting dengan pejabat lain di Pengadilan, karena keberadaannya diperlukan sejak belum dimulainya persidangan hingga pelaksanaan putusan Pengadilan. Sebagai pejabat peradilan, keberadaannya diatur di dalam undang-undang (Peradilan Umum, Peradilan Agama dan Peradilan TUN) sedangkan bekerjanya diatur dalam hukum acara (RBg /HIR). Tidak mudah menemukan Literatur, khususnya yang membahas tentang kejurusitaan, tidak banyak mendapat perhatian dari para sarjana hukum kita dibandingkan dengan bidang tugas hukum lainnya di Pengadilan, disamping itu bidang kejurusitaan ini kurang diajarkan secara mendalam dalam pendidikan ilmu hukum. Padahal, bidang tugas kejurusitaan merupakan hal yang sangat penting dan sangat menentukan untuk memeriksa, mengadili dan menyelesaikan suatu perkara. Suatu perkara tidak mungkin dapat diselesaikan dengan baik dan benar menurut hukum, tanpa peran dan bantuan tugas di bidang kejurusitaan. Hakim tidak mungkin dapat menyelesaikan perkara tanpa dukungan jurusita/jurusita pengganti, sebaliknya jurusita/jurusita pengganti juga tidak mungkin bertugas tanpa perintah Hakim. Keduanya dalam melaksanakan tugasnya tidak mungkin lepas sendiri-sendiri, kedua-duanya saling memerlukan satu sama lain. Pembangunan hukum tidak hanya lahir dari pembentuk Undang-Undang, namum praktik peradilan tidak kecil peranannya untuk pembangunan hukum. Bahkan, pembaharuan hukum kebanyakan lahir dan diciptakan oleh praktik

peradilan. Oleh karena itulah pemahaman dan penguasaan bidang teknis peradilan sangatlah penting dikuasai oleh para pejabat peradilan, termasuk jurusita/jurusita pengganti. Bagi para pejabat peradilan, penguasaan hukum acara dan bidang teknis peradilan merupakan pegangan pokok atau aturan permainan sehari-hari untuk memeriksa dan mengadili serta menyelesaikan suatu perkara. Hukum acara dan teknis peradilan tidak hanya penting didalam praktik peradilan saja, tetapi mempunyai pengaruh yang besar dalam praktik diluar pengadilan. Makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan kepustakaan (literatur) para pejabat peradilan, khususnya para jurusita/jurusita pengganti dalam menjalankan tugas, sehingga melalui makalah ini diharapkan mereka mendapat gambaran yang singkat namum mendalam tentang bidang tugas kejurusitaan yang mesti dilaksanakannya. Disamping itu makalah ini juga dimaksudkan sebagai bahan untuk diskusi dan tanya jawab bagi para peserta Acara Sosialisasi Hukum Untuk Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Negeri se Kalimantan Selatan, yang bertema “Meningkatkan Pelayanan Pengadilan Dengan Penerapan Madiasi an Menyamakan Persepsi alam Pelaksanaan Tugas Kejurusitaan” agar dikemudian hari lebih memahami landasan teoritis dan segisegi praktis praktik kejurusitaan. Oleh karena itulah, dalam makalah ini bukan hanya sekedar menguraikan tentang apa tugas seorang jurusita/jurusita pengganti serta dasar pengaturannya atau pasal-pasalnya, tetapi lebih menekankan pada pokok permasalahan dan penemuan hukum tentang bagaimanakah praktik kejurusitaan mesti dilaksanakan secara baik dan benar berdasarkan peraturan perundang-undangan yang ada. Menyadari bahwa ilmu hukum memerlukan bahan-bahan dari praktik untuk disistimatisir dan dikaji, sehingga memungkinkan lahirnya teori-teori baru.

yang pasti ada yang unik dan menarik. Dalam menjalankan tugasnya kecuali ditentukan lain oleh atau berdasarkan undang-undang jurusita/jurusita pengganti tidak boleh merangkap menjadi wali. 8 tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 8 tahun 2004). pada setiap pengadilan ditetapkan adanya jurusita (deurwaander) dan jurusita pengganti (Pasal 40 sampai dengan Pasal 43 UU No. seorang calon harus berpengalaman sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun sebagai pegawai negeri pada Pengadilan Negeri (Pasal 40 UU No. Disamping itu. Adapun sebagai syarat untuk diangkat menjadi jurusita. 2 tahun 1986 tentang Peradilan Umum). pengampu. JURUSITA/JURUSITA PENGGANTI SEBAGAI PEJABAT PERADILAN. sehingga nantinya melalui makalah dan acara pelatihan ini diharapkan dapat dihasilkan panduan bidang tugas kejurusitaan yang ringkas. Sedangkan jurusita pengganti diangkat dan diberhentikan oleh Ketua Pengadilan yang bersangkutan (Pasal 41 UU No. dan pejabat yang berkaitan dengan perkara yang didalamnya ia sendiri berkepentingan. ia juga tidak boleh . sedangkan untuk dapat diangkat menjadi jurusita pengganti. Jurusita Pengadilan Negeri diangkat dan diberhentikan oleh Mahkamah Agung atas usul Ketua Pengadilan yang bersangkutan. maka makalah ini diharapkan dapat memicu lahirnya pemikiran teoritis yang lahir dari pengalaman praktis para peserta pelatihan. Selain Hakim dan Panitera. jelas dan terang yang dapat digunakan sebagai pegangan bagi kita selaku pejabat peradilan. 8 tahun 2004). sorang calon antara lain harus memenuhi syarat berpengalaman sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun sebagai jurusita pengganti. Oleh karena itulah berbekal pengalaman praktik kejurusitaan di lapangan oleh para peserta.Sebaliknya praktik peradilan juga memerlukan dukungan ilmiah yang obyektif.

Tugas non justisial (Iurisdictio Voluntaria) . Jabatan yang tidak boleh dirangkap oleh jurusita akan diatur lebih lanjut oleh Mahkamah Agung (Pasal 43 UU No. Oleh karena itulah pandangan yang meremehkan tugas seorang jurusita/jurusita pengganti tidaklah dapat diterima. sesungguhnya dapat menyadarkan kita betapa pentingnya kedudukan dan tugas seorang jurusita/jurusita pengganti di pengadilan. Kedudukan dan syarat-syarat pengangkatan seorang jurusita/jurusita pengganti diatur secara khusus dalam Undang-undang tentang Peradilan Umum. 4. 8 tahun 2004). Tugas lain menurut Undang-Undang . jurusita atau jurusita pengganti wajib diambil sumpah atau janji menurut agamanya oleh Ketua Pengadilan yang bersangkutan (Pasal 42 UU No. termasuk tugas yang sangat penting. tugas Pengadilan itu meliputi : 1. Sebelum memangku jabatannya. Tugas peradilan teknis justisial (Iurisdictio Contentiosa) . 2. karena tugas-tugas yang dilakukan oleh seorang jurusita/jurusita pengganti tersebut. 3. 8 tahun 2004). Sebagaimana diketahui.merangkap menjadi advokad. Administerasi peradilan (admistration of justice). mengingat tugas seorang jurusita/jurusita pengganti dapat menentukan berlangsung atau tidaknya suatu pemeriksaan di persidangan. Dengan demikian jurusita/jurusita pengganti adalah pegawai negeri yang diangkat berdasarkan peraturan perundangan-undangan untuk melakukan tugas kejurusitaan di Pengadilan (Negeri) dimana ia bertugas. Memperhatikan syarat-syarat pengangkatan dan pelaksanaan tugas seorang jurusita/jurusita pengganti yang diatur secara khusus oleh undangundang.yang meliputi : a) Administerasi perkara b) Administerasi keuangan perkara .

Melakukan penyitaan atas perintah Ketua Pengadilan Negeri/Hakim. 1998.5.Melaksanakan pemanggilan atas perintah Ketua Pengadilan atau atas perintah Hakim . Tentang Kejurusitaan Dalam Praktik Peradilan Perdata. 1 Soebyakto. 8 tahun 2004 (bandingkan juga dengan ketentuan Pasal 716 Rbg). hal. Sedangkan tugas administerasi umum dilakukan oleh pejabat kesekretariatan pengadilan. penyelesaian administerasi perkara. Sedangkan tugas-tugas yang harus dilakukan oleh seorang juru sita/jurusita penganti terdapat dalam berbagai peraturan perundang-undangan antara lain dalam Pasal 65 UU No. yang ditentukan . Panitera (Panitera Pengganti) dan jurusita (jurusita pengganti). serta pelaksanaan putusan perkara perdata. Penerbit Djambatan. . Mahkamah Agung RI dalam berbagai petunjuknya pada pokoknya telah membagi tugas di Pengadilan meliputi administerasi perkara dan administerasi umum. Berdasarkan ketentuan tersebut. pengelolaan administerasi perkara. pengriman atau penerimaan berkas ke Pengadilan Tinggi dan atau Mahkamah Agung (manakala ada upaya hukum banding dan atau kasasi). Administerasi Umum 1 Tugas seorang jurusita/jurusita pengganti merupakan tugas teknis justisial.Menyampaikan pengumuman-pengumuman. dan pemberitahuan putusan Pengadilan menurut cara-cara undang-undang . Jakarta. tugas jurusita/jurusita pengganti antara lain meliputi : . management (pengelolan) biaya perkara. teguran-teguran. 32. . Tugas pengadilan yang bersifat teknis justisial pada dasarnya dimulai sejak pendaftaran perkara. Tugas administerasi perkara merupakan tugas teknis justisial yang dilakukan oleh Hakim.Membuat berita acara penyitaan yang salinan resminya diserahkan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. . 2 tahun 1986 tentang Peradilan Umum yang sudah diubah dengan UU No.

demikian pula tidak mungkin untuk menyusun suatu tugas dan tanggung jawab serta tata kerja tanpa menyusun organisasinya”. 2 Selanjutnya. Tugas dan tanggung jawab serta pola tata kerja seorang jurusita/jurusita pengganti tentunya akan saling berkaitan serta tidak dapat dipisahkan dengan pejabat peradilan yang lain. pembinaan dan pengawasan pejabat peradilan. seorang jurusita/jurusita pengganti justru melaksanakan tugasnya di luar gedung Pengadilan. Haruslah disadari “tidak ada pembentukan organisasi tanpa kaitan organ. dalam Pasal 5 diatur jurusita mempunyai tugas untuk melakukan pemanggilan. proses-cara kerja. 7 Agustus 2001. Jakarta. membuat berita acara pelaksanaan putusan yang salinan resminya disampaikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. serta membuat berita acara penawaran pembayaran uang dengan menyebutkan jumlah dan uraian jenis mata uang yang ditawarkan. susunan organisasi peradilan telah berpuncak pada Mahkamah Agung RI. kalau saat ini berdasarkan Undang-undang No. struktur kerja. sehingga Mahkamah Agung dapat menentukan struktur organisasi. 7 . Makalah disampaikan dalam Pelatihan Teknis Fungsional Peningkatan Profesionalisme bagi Pejabat Kepaniteraan.2 Adalah suatu hal yang menggembirakan.. hal. Adapun wilayah kerja jurusita/jurusita pengganti adalah di daerah hukum Pengadilan Negeri yang bersangkutan. melakukan tugas pelaksanaan putusan. Jadi beda dengan tugas seorang Panitera atau Panitera Pengganti yang melaksanakan tugasnya di gedung Pengadilan. berdasarkan Keputusan Mahkamah Agung RI SK Subagyo. melakukan penawaran pembayaran uang. terutama Hakim.Selanjutnya berdasarkan Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI Nomor :KMA/055/SK/X/1996 tentang Tugas dan Tanggung Jawab serta Tata Kerja Jurusita pada Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama. 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. termasuk jurusita. Peranan Organisasi Dan Managemen Dalam Badan Peradilan.

dimulai dengan pemanggilan para pihak yang dapat dirinci dalam 3 (tiga) bagian : a) Pemanggilan yang dijalankan sebelum pemeriksaan (persidangan) di mulai. berdasarkan peraturan perundang-undangan yang ada atau kebiasaan praktik peradilan yang lahir dari sejumlah doktrin dan yurisprudensi. A. dengan berbagai kendala atau hambatan serta upaya penyelesaiannya. . sedangkan secara administratif tanggung jawab kepada Panitera.004/SK/11/92 jurusita/jurusita pengganti adalah bagian dari kepaniteraan pengadilan. pada saat dan sesudah pemeriksaan perkara di persidangan. putusan perkara jurusita Sebagai pejabat peradilan tanggung jawab jurusita/jurusita pengganti dalam konteks kelembagaan adalah kepada Ketua Pengadilan. Kepaniteraan adalah unsur pembantu pimpinan dan bertanggung jawab kepada ketua. Hal ini diatur dalam Pasal 8 Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI Nomor : KMA/055/SK /X/1996. Untuk memudahkan pemahaman. maka dalam makalah ini pertama-tama akan diuraikan bagaimanakah sesungguhnya peranan dan tugas seorang jurusita/jurusita pengganti tersebut harus dijalankan dengan baik dan benar menurut hukum. Memperhatikan tugas dan tanggung jawab jurusita yang demikian besar. Tugas Pemanggilan Dan Pemberitahuan. Dalam persidangan perkara perdata. bertugas memberi pelayanan teknis dibidang administrasi perkara dan administrasi lain berdasar undang-undang dan berfungsi antara lain dalam kegiatan pelayanan administrasi perdata perkara dimana dan persidangan tersebut serta terlibat pelaksanaan didalamnya. b) Pemanggilan yang harus dijalankan setelah pemeriksaan (sidang) berjalan. maka tugas jurusita/jurusita pengganti tersebut akan diuraikan mulai tahap sebelum. TUGAS POKOK DAN FUNGSI JURUSITA/JURUSITA PENGGANTI.

Pasal 145 ayat (2) RBg .3 Ad. . Menurut Wildan Suyuthi.. 3 Soebyakto. hal 33. Biasanya Berita Acara panggilan ini dibuat menjadi satu meskipun mungkin hari pemanggilannya tidak sama. dalam mana harus dijelaskan berbicara dengan siapa dan jika mungkin juga harus memuat tanda tangan masingmasing yang dipanggil (dengan siapa ia berbicara).Bahwa yang bersangkutan telah dipanggil dengan cara pemanggilan menurut undangundang.(pasal 121 (2) HIR:) (2) Terhadap tergugat pada waktu memanggil menurut pasal 121 ayat (2) harus diserahkan satu turunan resmi dan surat gugatan asli.Pemanggilan dilakukan terhadap yang bersangkutan atau wakilnya yang sah. Yaitu pemanggilan dilakukan oleh juru sita dengan membuat berita acara pemanggilan pihak-pihak. Op. a) Pemanggilan Sebelum Pemeriksaan Dimulai Pasal 145 RBg : (pasal 121 HIR. 9 tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU No. Sita Eksekusi Praktik Kejurusitaan Pengadilan. Jakarta. . Pemanggilan secara patut juga dirumuskan dalam Pasal 26 PP No. Apabila ada lebih dari satu tergugat. tindakan mana harus dinyatakan dalam surat panggilan terhadap tergugat. jika perlu mereka sendiri-sendiri harus diberi surat turunan surat gugat resmi. PT.Pemanggilan tersebut dilakukan dengan memperhatikan tenggang waktu (kecuali dalam hal yang sangat perlu tak boleh kurang dari 3 hari kerja lihat Pasal 122 atau 146 Rbg).) (1) Panggilan baru dapat mulai di jalankan apabila sudah ada penetapan oleh Ketua Pengadilan Negeri (Hakim) tentang hari dan jam pemeriksaan (persidangan). . hal 11 yang dimaksud pemanggilan harus dilakukan dengan patut. artinya : .Cit. tapi panggilannya terpisah juga diperbolehkan. Tatanusa. dalam penetapan mana sekaligus diperintahkan kepada pegawai yang ditunjuk untuk memanggil kedua belah pihak supaya hadir pada hari dan jam yang telah ditentukan.c) Pemanggilan yang harus dijalankan setelah pemeriksaan selesai dengan acara putusan Hakim terakhir. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. 2004.

(pasal 127 HIR:) .(pasal 126 HIR:) (1) Apabila pada hari pemeriksaan pertama salah satu pihak ataupun kedua-duanya tidak hadir. Pasal 718 ayat(2) RBg.(pasal 390 (3) HIR) : (4) Apabila yang bersangkutan tidak diketahui tempat tinggalnya maka exploit harus disampaikan kepada Bupati Kepala Daerah dimana penggugat bertempat tinggal. untuk kedua kalinya. Pasal 151 RBg. Ad. pokoknya semuanya yang disebut exploit seperti diterangkan diatas harus disampaikan pada orang yang bersangkutan sendiri (yaitu penggugat maupun tergugat) ditempat kediamannya atau ditempat tinggalnya.b Selama Pemeriksaan Sidang Berjalan Pasal 150 RBg. meskipun telah ada panggilan yang sah.(pasal 390 (2) HIR : (4) Apabila yang harus dipanggil ternyata telah meninggal dunia. tetapi jika tidak dapat bertemu sendiri dengan orang yang bersangkutan itu. pemberitahuan dan sebagainya. maka panggilan (exploit) harus disampaikan pada ahli warisnya dan jika ini tidak ada. maka atas perintah Ketua (Hakim) Pengadilan dapat dilakukan lagi terhadap yang tidak hadir.Pasal 718 ayat (1) RBg. harus disampaikan kepada kepala desanya atau wakilnya yang selanjutnya berkewajiban segera memberitahu pada yang bersangkutan sendiri tentang adanya panggilan tersebut. tapi Hakim memandang perlu untuk memanggil lagi yang tidak hadir. kepada Kepala Desanya. (pasal 121 (2) HIR) : (3) Pada umumnya tiap-tiap panggilan. Pasal 718 ayat (2) RBg.

) (4) Apabila baik penggugat maupun tergugat mengajukan permohonan untuk memanggil saksi-saksinya.c Tahap apabila pemeriksaan sudah selesai (sudah ada putusan terakhir). Pasal 186 ayat (3) RBg. Pasal 165 ayat (1) RBg.(pasal 139 ayat (2) HIR:) (5) Kemungkinan selanjutnya dapat terjadi apabila bukan pihak yang bersangkutan tetapi Pengadilan sendiri memandang perlu untuk memanggil saksi. hingga harus dipanggil lagi. yang semuanya harus dinyatakan dalam satu relaas. (6) Akhirnya apabila saksi yang telah dipanggil dengan sah tidak datang. Pasal 148 RBg. tanpa menyuruh Kuasa atau Wakilnya maka pemeriksaan harus ditunda dengan memanggil tergugat yang tidak hadir pada hari sidang berikutnya. yang tidak hadir harus dipanggil untuk hadir pada hari sidang berikutnya. caranya sama dengan panggilan-panggilan untuk pertama kali. Demikian macam-macam pengaturan dan kemungkinan yang harus dilakukan selama pemeriksaan sedang berjalan dan belum selesai. Pasal 165 ayat (2) RBg.(pasal 139 ayat (1) HIR.(pasal 124 HIR:) . maka panggilannya harus dilakukan oleh seorang juru sita.(2) Apabila ada dua tergugat atau lebih dan pada sidang pertama ada salah satu tergugat tidak hadir. maka bila pemeriksaan ditunda.(pasal 159 ayat(3) HIR:) (3) Apabila seorang penggugat atau tergugat yang pada hari sidang pertama dan berikutnya hadir tetapi pada saat itu berhalangan hadir. Ad.

(pasal 125 ayat(1) HIR) (1) jika pada hari sidang yang telah ditentukan tergughat yang telah dipanggil dengan patut tidak datang menghadap dan tidak menyuruh orang lain menghadap untuknya. maka isi putusan harus diberitahukan kepada mereka masing-masing dengan keterangan jika dipandang perlu mereka dapat naik banding.Jika penggugat yang telah dipanggil dengan patut pada hari yang telah ditentukan tidak datang menghadap di sidang Pengadilan Negeri dan tidak menyuruh seseorang untuk datang untuknya. Pasal 207 Rbg (Pasal 196 HIR) . Semuanya ini seperti apa yang dijelaskan diatas verzet juga harus dinyatakan dalam suatu berita acara. maka gugatan dikabulkan dengan verstek. kecuali apabila Pengadilan Negeri berpendapat bahwa gugatan itu melawan hukum atau tidak beralasan. maka gugatannya dinyatakan gugur dan dan penggugat dihukum untuk membayar biaya acara dengan hak bahwa ia dapat mengajukan kembali gugatan tersebut asal saja telah membayar biaya acara sebelumnya. Pasal 149 ayat (1)RBg.(pasal 128 HIR:) Dalam pemberitahuan (aanzegging) kepada tergugat sebagai pihak yang kalah harus diberitahukan bahwa ia dalam 14 hari terhitung mulai esok harinya setelah pemberitahuan itu dapat mengajukan surat perlawanan atau verzet. (2) Kemungkinan pemanggilan atau pemberitahuan dapat terjadi apabila pada waktu pengumuman putusan terakhir salah satu pihak atau kedua-duanya tidak hadir. Pasal 152 ayat (1-2) RBg.

Sebelum dilaksanakan. a. yaitu : a. jurusita harus membuat berita acara tentang penyitaan tersebut dengan memberitahukan segala sesuatu kepada si pemilik barang-barang yang disita. Executorial Beslag Penyitaan ini merupakan yang terpenting dari ketiga jenis sita yang lain. Segala barang milik tergugat .(9) Dalam hal sudah ada putusan terakhir. yang oleh pihak yang menang dimintakan eksekusi. Conservatoir beslag (Pasal 261 Rbg/227 HIR) Ad. karena mengenai pelaksanaan suatu putusan Hakim sebagai hasil sengketa perdata. Tugas Penyitaan (beslag) Ada 3 (tiga) macam penyitaan (beslag). B. lebih dahulu harus ada permohonan eksekusi dari pihak yang menang. Executorial beslag (Pasal 208. 209 Rbg dan seterusnya. maka lebih dulu pihak yang kalah harus dipanggil untuk ditegur (aanmaning) supaya memenuhi isinya keputusan. jika ia ikut hadir. Dalam menjalankan tugasnya tersebut. Apabila ternyata dalam waktu yang ditetapkan. Setelah selesai menjalankan penyitaan. pihak yang ditegur tetap membangkang tidak mau melaksanakan putusan. Revindicatoir beslag (Pasal 260 Rbg/226 HIR) c. maka Ketua Pengadilan Negeri memerintahkan kepada Panitera atau penggantinya dengan suatu surat perintah agar supaya menyita barang-barang kepunyaan (miliknya) tergugat. bandingkan dengan Pasal 197 HIR) b. maka atas perintah Ketua Pengadilan Negeri pihak yang kalah harus dipanggil untuk mendapat “teguran (aanmaning)” supaya memenuhi putusan (Pasal 207 RBg). jurusita tersebut harus dibantu oleh 2(dua) orang saksi yang sudah dewasa dan dikenalnya.

b. c. kecuali hewan-hewan termasuk alat-alat yang digunakan untuk membantu pekerjaannya. Seseorang pemilik barang bergerak yang berada ditangan orang lain. Ad. dengan alasan bahwa tergugat berusaha untuk menjual atau menyingkirkan barang-barangnya sebelum ada putusan. jurusita sebelum melakukan penyitaan sebaiknya terlebih dahulu memberitahukan akan dilakukannya penyitaan kepada Kepala Desa. Dapat diajukan terhadap barang-barang bergerak maupun tidak bergerak milik tergugat. Cara-cara penyitaannya sama dengan yang telah diterangkan pada bagian Executie beslag tersebut di atas.boleh disita. Conservatoir beslag Diatur dalam Pasal 261 RBg (Pasal 227 HIR). Revindicatoir Beslag Diatur dalam Pasal 260 RBg (Pasal 226 ayat (1) HIR). Permohonannya biasanya dibuat bersama-sama dengan surat gugatan. untuk menyita barang miliknya yang berada ditangan orang lain tersebut. . Setelah selesai melakukan penyitaan barang-barang harus diserahkan atau ditinggalkan kepada pemiliknya. Menurut pengalaman. dalam hal mana jurusita melaporkan kepada Kepala Desa agar barang-barang tersebut tidak dijual/dipindahtangankan. maka pemilik tersebut dapat mengajukan permohonan kepada Ketua Pengadilan Negeri dalam daerah mana pemegang barang tersebut berada. Kalau barang-barangnya ada diluar daerah Pengadilan Negeri yang memutus. maka Ketua Pengadilan Negeri meminta bantuan kepada Ketua Pengadilan Negeri didalam daerah barang yang harus disita berada (Pasal 206 ayat 2-3 RBg). karena tidak mau mengembalikan barang tersebut secara sukarela. Ad.

perbedaan antara sita conservatoir dan sita revindicatoir adalah : 1. termasuk tanah. 2. meminta kembali.5 Masih ada sita lain yang dinamakan marital beslag (Pasal 823 Rv) yaitu seorang isteri yang bersama-sama dengan suaminya tunduk pada hukum Barat mengajukan permohonan untuk bercerai dengan suaminya. sedangkan barang-barang yang disita dengan sita revindicatoir hanya barang bergerak saja. 5. kedua sita tersebut akan secara otomatis berubah menjadi sita eksekusi. 4. dan sita dinyatakan sah dan berharga. Apabila gugat dikabulkan. dalam rangka eksekusi barang itu akan diserahkan kepada Penggugat. Kata revindicatoir berarti. barang yang disita dengan sita revindicatoir harus disebutkan dengan jelas. MARI. maupun sita revindicatoir. Untuk sita conservatoir harus ada sangka yang beralasan. Tugas dan Tanggung jawabnya. barang-barang tersebut akan dilelang cukup untuk memenuhi putusan. tahun 1993. Oleh karena itu. hal 16 5 Ibid . Proyek Pembinaan Teknis Yustisial Mahkamah Agung RI. Baik sita conservatoir. Jurusita. Sedangkan dalam sita revindicatoir. Barang-barang yang disita dengan cara conservatoir adalah barang milik tergugat. bahwa tergugat sedang berdaya upaya untuk menghilangkan barangbarangnya dengan maksud menghindari tuntutan penggugat.Menurut Retnowulan Sutantio. termasuk biaya perkara. diberi hak juga untuk mengajukan supaya diperintahkan untuk meletakkan sita terhadap barang-barang 4 Retnowulan Sutantio. secara lengkap. Barang-barang yang disita dengan sita conservatoir adalah barang bergerak dan barang tidak bergerak. Untuk sita conservatoir hal itu tidak perlu. 2. akan diperintahkan untuk diangkat. sita conservatoir akan dinyatakan sah dan berharga dan dalam rangka eksekusi barang-barang tersebut akan diserahkan secara nyata kepada penggugat atau dalam hal yang digugat adalah sejumlah uang. sedangkan apabila gugat ditolak atau dinyatakan tidak dapat diterima. sedangkan barang-barang yang disita dengan revindicatoir adalah barang-barang milik penggugat. sita conservatoir akan diperintahkan untuk diangkat.4 Sedangkan persamaannya adalah : 1. Untuk sita revindicatoir hal ini tidaklah perlu. 3. juga ciri-cirinya. Dalam rangka eksekusi. Apabila gugat dikabulkan. Jakarta. yang dikuasai/dipegang oleh tergugat. dalam hal gugat ditolak atau dinyatakan tidak dapat diterima.

milik sang isteri sendiri maupun milik bersama yang berada dibawah kekuasaan sang suami. HAMBATAN PELAKSANAAN JURUSITA PENGGANTI TUGAS JURUSITA/- 1. Jurusita/jurusita pengganti tersebut harus kembali ke kantor agar Ketua Pengadilan Negeri membuat penetapan yang baru dan meminta bantuan Ketua Pengadilan Negeri yang membawahi orang yang akan dipanggil atau diberitahu dan atau barangbarang yang akan disita itu berada. Cara-cara pelaksanaan sitanya sama dengan yang diuraikan dibagian awal. maka ia tidak berwenang untuk melakukan tindakan hukum tersebut. oleh karena dalam pelatihan saat ini tentang hal tersebut akan dibahas dalam sesion tersendiri. pada daerah hukum Pengadilan Negeri dimana ia bekerja saja. maka dalam makalah ini sengaja tidak penulis uraikan. Padahal. yang seringkali tidak nampak dengan jelas. Apabila ia menemukan bahwa orang yang dipanggil atau diberitahu atau barang yang akan disita. Sesungguhnya masih ada dasar pengaturan pelaksanaan tugas seorang jurusita/jurusita pengganti yaitu dibidang pelaksanaan putusan. . bahwa tugas jurusita/jurusita pengganti yang diatur berdasarkan ketentuan undang-undang hanya terbatas. maka hal tersebut memerlukan kejelian dari jurusita/jurusita pengganti pada saat melakukan tugasnya tersebut. Tugas Dan Tanggung Jawab Di Bidang Pemanggilan/Pemberitahuan Telah diuraikan di bagian awal. saat ini batas wilayah didaerah kadang-kadang masih berupa sungai atau jalan desa setapak. untuk menjamin barang-barang tersebut tidak dijual dan disembunyikan oleh suaminya. ternyata berada diwilayah hukum Pengadilan Negeri yang lain. Namum.

dengan catatan salinan gugatan harus diterjemahkan kedalam bahasa Inggris (Surat Direktorat Protokol dan Konsuler Departeman Luar Negeri tertanggal 31 April 1991 Nomor 202/91/45 yang ditujukan kepada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat).Manakala yang akan dipanggil adalah para pihak yang tugasnya adalah anggota korps diplomatik di luar negeri. pemanggilannya dilakukan dengan cara menyampaikan surat kepada Departemen Luar Negeri untuk meminta bantuan kepada kedutaan besar negara pihak-pihak yang dipanggil untuk memanggil orang tersebut. maka cara memanggilnya dengan cara menyampaikan surat kepada Departemen Luar Negeri Dirjen Protokol dan Konsuler dengan permohonan untuk memanggil orang/anggota korps diplomatik tersebut (Perhatikan Surat Menteri Luar Negeri Direktorat Konsuler tertanggal 18 Juli 1990 Nomor : 295/90/07/44 yang ditujukan kepada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat). Seorang jurusita/jurusita pengganti harus benar-benar mengerti dan menghayati batas tugas dan kewenangannya dengan baik dan benar. apakah ia langsung dapat melakukan pemanggilan. maka jurusita/jurusita pengganti tersebut baru bisa jalan ketika hari sudah malam. apakah dapat dimasukkan dalam biaya . Sedangkan apabila pemanggilan dilakukan terhadap warga negara asing yang berada diluar negeri. apakah pemanggilan dan pemberitahuan dapat dilakukan pada hari minggu atau libur nasional. misalnya karena kehabisan BBM. pemberitahuan dan ataupun penyitaan ataukah harus menunggu keesokan harinya ? Apakah dapat panggilan dititipkan liwat petugas kepolisian atau diserahkan kepada isteri atau suami dari pihak yang dipanggil ? Bagaimana pula dengan uang makan dan penginapan. Misalnya. apa yang harus dilakukan olehnya dalam menghadapi keadaan tertentu dalam melaksanakan tugasnya harus dapat dijalankan dengan baik. atau dapatkah pemanggilan dan pemberitahuan dilakukan pada malam hari. kalau terpaksa ia harus menginap. maka kendaraannya mogok.

kecuali apabila Ketua Pengadilan Negeri yang bersangkutan. Apabila reglemen ini memakai istilah sebulan. Pasal 18 Rv menyatakan : Tidak satupun tindakan jurusita atau pelaksanaan suatu putusan dapat dilakukan sebelum jam enam pagi dan setelah jam enam sore. dapat diberikan atas permohonan tertulis. Apabila hari terakhir untuk melakukan panggilan atau pemberitahuan. Namum ternyata dalam Reglement op de Burgerlijke Rechtsvordering (Rv) yaitu hukum acara perdata pada jaman penjajahan Belanda.. maka hal itu berarti 30 hari. Dalam hal ijin diberikan atas permohonan lisan. yang berlaku untuk beracara di Raad van Justitie ada pengaturan tentang hal tersebut.perjalanan dinas ? Ketentuan hukum dalam RBg maupun HIR tidak mengatur halhal tersebut. dalam perkara tertentu yang memerlukan tindakan khusus yang cepat. surat pemberitahuan . melainkan akan dicantumkan di bagian atas dari surat panggilan. Tentang hal itu tidak akan diberitahukan kepada pihak lawan. kecuali berdasarkan perintah khusus dari Ketua Pengadilan Negeri yang bersangkutan. Pasal 17 Rv menyatakan : Tidak satupun tindakan jurusita dapat dilakukan pada hari minggu.. sedangkan apabila ijin diberikan atas permohonan tertulis.maka tugas tersebut dapat dilakukan esok harinya.. .. Penetapan mengenai pemberitahuan ijin tersebut dapat dilaksanakan dengan serta merta. Ijin yang dimaksud dalam pasal ini dan dalam pasal sebelumnya. atau lisan dari pihak yang berkepentingan.. memberi perintah untuk itu.. maka ijin tersebut akan dicantumkan di bagian atas dari surat permohonan tersebut. maka ijin tersebut akan dicantumkan dibagian atas surat panggilan atau berita acara pelaksanaan sita.

karena adalah hal yang sangat ganjil dan aneh serta tidak manusiawi. diperhatikan dan dilaksanakan dengan sungguh dalam praktik kejurusitaan. atau kepada anak atau pembantu rumah tangga penggugat. (diterjemahkan secara bebas oleh Retnowulan Sutantio). dengan ijin Ketua Pengadilan Negeri. apabila yang bersangkutan tidak dapat dijumpainya. tiba-tiba datang seorang jurusita/jurusita pengganti untuk memanggil tergugat agar datang disuatu sidang pengadilan. maka jurusita/jurusita pengganti harus langsung menuju ke kantor desa yang bersangkutan dan menyerahkan bersangkutan. apabila hal itu memang mutlak harus dilakukan. yaitu dalam keadaan yang sangat mendesak. Hendaknya ketentuan tersebut.putusan atau berita acara yang bersangkutan. panggilan disampaikan melalui Lurah atau yang dipersamakan dengan itu. Jadi seandainya panggilan telah tidak dapat disampaikan kepada orang yang dipanggil itu sendiri. biarlah Ketua Pengadilan Negeri yang menentukan ijin tersebut dengan arif lagi bijaksana. dengan lain perkataan Lurah atau Kepala desa harus surat panggilan kepada Lurah atau Kepala Desa yang membubuhkan tanda tangannya dalam berita acara panggilan dan adalah lebih . ketika pada malam takbiran atau hari raya misalnya. Penyerahan panggilan kepada Lurah atau Kepala Desa harus terbukti dalam hukum. Karena undang-undang telah jelas mengatur. karena suaminya atau isterinya minta cerai atau tiba-tiba jurusita/jurusita pengganti tersebut melakukan penyitaan atas barang-barang milik tergugat. jadi tidak boleh disampaikan kepada suami atau isteri pihak tersebut. tergugat atau turut tergugat. Pengecualian dapat terjadi. Panggilan dan pemberitahuan harus disampaikan kepada pribadi yang dipanggil dan atau diberitahu.

Sita jaminan dilakukan atas perintah Hakim/Ketua Majelis sebelum atau selama proses pemeriksaan berlangsung.baik lagi. Di atas telah diuraikan dasar pengaturan dan macam-macam sita. Hakim/Ketua Majelis membuat surat penetapan. 2. apabila tanda tangan tersebut dipertegas dengan cap/ stempel Kelurahan/Desa. yaitu gugur atau verstek. Permasalahan lain yang harus diperhatikan adalah mencermati ketentuan Pasal 146 RBg jo Pasal 718 RBg (bandingkan dengan Pasal 122 HIR jo Pasal 390 HIR). 9 tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU No. Penyitaan dilaksanakan oleh Jurusita/ . 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. Sedangkan ketentuan Pasal 26 ayat (4) PP No. Sita Jaminan . hanya menyebutkan Pemanggilan dilakukan dan disampaikan secara patut dan diterima oleh penggugat maupun tergugat atau kuasa mereka selambatlambatnya 3 (tiga) hari sebelum sidang dibuka. jelas menyebutkan tenggang waktu antara panggilan dengan hari sidang bukan 3 (tiga) hari. Dalam Buku Pedoman Pelaksanaan Tugas Dan administerasi Pengadilan Buku (II) diatur sebagai berikut : A. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. Dalam ketentuan Pasal 146 RBg jo Pasal 718 RBg (bandingkan dengan Pasal 122 HIR jo Pasal 390 HIR). 9 tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU No. sehingga hari libur tentunya juga dihitung. yang jelas berbeda dengan ketentuan dalam Pasal 26 ayat (4) PP No. Jadi jelas pada hari minggu dan atau libur tidak dihitung. Hal tersebut penting diperhatikan. Tugas dan Tanggung Jawab di Bidang Penyitaan Dan Eksekusi. karena ada pengaruhnya terhadap pemeriksaan perkara dengan acara istimewa. tetapi 3(tiga) hari kerja.

260 Rbg). Apabila penyitaan tersebut telah didaftarkan di Badan Pertanahan Nasional atau Kelurahan. dengan atau tanpa rumah. b. dan sita revindicatoir (terhadap milik penggugat) (Pasal 227. maka harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut : a. harus tetap dipegang/ dikuasai oleh tersita. c. . . Barang yang disita itu. Tindakan tersesita yang bertentangan dengan larangan tersebut adalah batal demi hukum. meskipun jelas adalah milik penggugat yang disita dengan sita conservatoir.Ada dua macam sita jaminan yaitu sita conservatoir (terhadap milik tergugat). Adalah salah untuk menitipkan barang itu kepada lurah atau penggugat atau membawa barang itu untuk disimpan di gedung Pegadilan Negeri.Dalam hal dilakukan sita jaminan sebelum sidang dimulai.Panitera Pengadilan Negeri dengan dua orang pegawai pengadilan sebagai saksi. maka berita acara penyitaan harus didaftarkan sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam Pasal 227 ayat (3) Pasal 198 dan Pasal 199 HIR atau Pasal 261 jo Pasal 213 dan 214 Rbg. 226 HIR 261. . Penyitaan hendaknya dilakukan terhadap barang milik tergugat (atau dalam hal sita revindicatoir terhadap barang bergerak tertentu milik penggugat yang ada ditangan tergugat yang dimaksud dalam surat gugat) sekedar cukup untuk menjamin pelaksanaan putusan dikemudian hari. Apabila yang disita adalah sebidang tanah. maka sejak didaftarkannya itu tersita dilarang untuk menyewakan. mengalihkan dengan cara apapun atau membebankan/menjaminkan tanah tersebut.

bahwa tanah tersebut milik tergugat dan luas serta batas-batasnya harus disebutkan dengan jelas (Perhatikan SEMA No. .Apabila yang disita adalah tanah. Buku ini adalah terbuka untuk umum. dan atas tanah yang belum sertifikat diberitahukan pada kantor pertanahan daerah tingkat II kotamadya atau kabupaten.Tentang penyitaan itu dicatat di buku khusus yang disediakan di Pengadilan Negeri yang memuat catatan mengenai tanah-tanah yang disita. kapan disita dan perkembangannya. Sita Conservatoir . Hendaknya kepala desa diajak serta untuk melihat keadaan tanah.Penyitaan atas tanah harus dicatat dalam buku tanah yang ada di Desa. . . maka harus dilihat dengan seksama. mengalihkan atau menjaminkan tanah yang disita itu. 89/K/1018/M/1962 tertanggal 25 April 1962). .Yang disita adalah barang bergerak dan barang tidak bergerak milik tergugat.B. tersita dilarang untuk menyewakan. selain itu sita atas tanah yang ada sertifikat harus pula didaftarkan. bahwa tergugat sedang berdaya upaya untuk menghilangkan barang-barangnya untuk menghindari gugatan penggugat. . .Kepala Desa yang bersangkutan dapat ditunjuk sebagai pengawas agar tanah tersebut tidak dialihkan kepada orang lain.Harus ada sangka yang beralasan. batas serta luas tanah yang akan disita. Untuk menghindari salah sita. Semua tindakan tersita yang dilakukan bertentangan dengan larangan itu adalah batal demi hukum. .Sejak tanggal pendaftaran sita itu.

Sita Revindicatoir . sita jaminan (misalnya 1/3/ tanah dan rumah yang bersangktan). . apabila gugatan ditolak atau dinyatakan tidak dapat diterima.Apabila gugatan dikabulkan sita jaminan dinyatakan sah dan berharga oleh Hakim dalam amar putusannya.Yang disita adalah barang bergerak milik penggugat yang dikuasai /dipegang oleh tergugat. Apabila barang bergerak milik tergugat tidak cukup. kecuali seijin dari Mahkamah Agung. . dan untuk bagian yang lain diperintahkan untuk diangkat. .Penyitaan dilakukan terutama atas barang bergerak milik tergugat. yang berarti minta kembali miliknya. hanya cukup untuk menjamin dipenuhinya gugatan penggugat. sirta jaminan untuk sebagian dinyatakan sah dan berharga.Gugatan diajukan untuk memperoleh kembali hak atas barang tersebut. Namun apabila yang disita itu sebidang tanah dan rumah. harus disebut dalam surat gugat secara jelas dan terperinci. . . juga jangan berlebihan. tidaklah dapat diputuskan menyatakan sah dan berharga.Apabila gugatan dikabulkan untuk sebagian dan selebihnya ditolak. sita harus diperintahkan untuk diangkat. seandainya gugatan mengenai ganti rugi dikabulkan hanya untuk sebagian. . biarlah tanah/tanah dan rumah milik tergugat yang disita..Sita Jaminan dan sita eksekusi terhadap barang-barang milik negara dilarang.Barang yang dimohon agar disita. dengan menyebutkan ciri-cirinya. setelah mendengar Jaksa Agung (Pasal 65 dan 66 ICW) C. Kata revindicatoir berasal dari revindiceer.

15 tahun 1961 dan Pasal 14 ayat (3) UU No. sedangkan untuk barang-barang yang lainnya. yang dalam rangka .Dapat terjadi. D. Sita eksekusi lanjutan apabila barang-barang yang disita sebelumnya dengan sita conservatoir. bahwa gugatan dikabulkan hanya untuk sebagian dan untuk selebihnya ditolak.. Apabila hal itu terjadi. . segala sesuatu yang dikemukakan dalam membahas sita conservatoir secara mutatis mutandis berlaku untuk sita revindicatoir. 1.Untuk selanjutnya. 24 tahun 1997). . maka sita revindicatoir untuk barang-barang yang dikabulkan dengan putusan tersebut akan dinyatakan sah dan berharga. Sita eksekusi yang langsung diletakkan atas barang bergerak dan barang tidak bergerak milik debitor atau pihak yang kalah. 16 tahun 1985 jo jo PP No. . D. Lihat Pasal 7 Peraturan Agraria No. Sita Eksekusi Ada dua macam sita eksekusi : yang langsung dan yang tidak langsung. Sehubungan dengan pelaksanaan grosse akta pengakuan hutang yang berkepala Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa atau pelaksanaan grosse akta hipotik (berfungsi sebagai grosse akta hipotik adalah sertifikat hipotik yang dikeluarkan oleh Kepala Kantor Pertanahan Daerah tingkat II kotamadya yang bersangkutan. sita revindicatoir dinyatakan sah dan berharga dan tergugat dihukum untuk menyerahkan barang tersebut kepada penggugat. a.Apabila gugatan dikabulkan untuk seluruhnya. b.Dalam rangka eksekusi barang yang dikabulkan itu diserahkan kepada penggugat. diperintahkan untuk diangkat. Sita eksekusi yang langsung.

Jadi bukan sapi-sapi dari sebuah peternakan. Jakarta . hasilnya tidak cukup untuk membayar jumlah uang yang harus dibayar berdasarkan putusan pengadilan. Lain lagi halnya. diterbitkan MARI. dalam rangka eksekusi otomatis berubah statusnya menjadi sita eksekusi.eksekusi telah berubah menjadi sita eksekusi dan dilelang. jadi sedang dibebani sita eksekusi oleh Pengadilan atau Badan Urusan Piutang Lelang Negara (BUPLN). jadi satu atau dua ekor sapi/kerbau yang benar-benar dibutuhkan untuk mengerjakan sawah. kucing. ini selalu dapat disita. burung yang kadang-kadang sangat tingi harganya dapat saja disita. Dalam rangka eksekusi dilarang untuk menyita hewan atau perkakas yang benar-benar dibutuhkan oleh tersita untuk mencari nafkah (Pasal 197 ayat (8) HIR. 6 Pedoman Pelaksanaan Tugas Dan Administerasi Pengadilan Buku II. 2. anjing. Dalam hal yang demikian. maka jurusita/jurusita pengganti akan membuat berita acara bahwa tidak ada barang yang dapat disita. Perlu diperhatikan. Bisa saja pada waktu hendak dilakukan penyitaan. hal 121 s/d 125 . 211 Rbg). D. Binatang-binatang yang lain yaitu kuda. manakala jurusita/jurusita sewaktu hendak menyita menghadapi kenyataan.6 Dalam praktik peradilan pelaksanaan sita sering kali banyak menimbulkan permasalahan. maka akan dilakukan sita eksekusi lanjutan terhadap barang-barang milik tergugat untuk kemudian dilelang. Sita eksekusi yang tidak langsung Sita eksekusi yang tidak langsung adalah sita eksekusi yang berasal dari sita jaminan yang telah dinyatakan sah dan berharga. ternyata barang yang hendak disita tidak ada. ternyata barang yang hendak disitanya itu adalah barang bergerak yang sebelumnya sudah disita eksekusi untuk orang lain. bahwa yang tidak dapat disita adalah hewan yang benar-benar dibutuhkan untuk mencari nafkah oleh tersita.

Bahkan dapat terjadi. maka penyitaan tidak dapat dilaksanakan dengan dibuat berita acara sita non bevending. justru oleh karena memang tagihannya lebih besar atau telah dijamin dengan fiducia umupamanya. Bila terdapat perbedaan batas tanah yang mengakibatkan obyek sita berbeda. maka hal ini dinyatakan dalam berita acara sita jaminan tersebut. hanya karena tanah yang berbatasan dengan obyek sita telah berubah kepemilikan. maka jurusita/jurusita pengganti tersebut harus datang ke Bank mengecek kebenaran tentang rekening tersebut. (Perhatikan Surat Bank Indonesia kepada Bank Rakyat Indonesia di seluruh Indonesia tanggal 24 Nopember 1987 Nomor : 20/12/UHO/HNI jo ANGKA 2/SE. BI Nomor : . Akan tetapi. ia akan mempersamakan berita acara tersebut dengan barang-barang milik tersita. dan jurusita/jurusita pengganti hanya bisa menyita barang milik tersita. karena obyek sita tidak sesuai data-datanya. akan tetapi ia setelah meminta agar berita acara sita eksekusi yang dipegang oleh tersita diserahkan kepadanya. ia akan memperoleh lebih banyak dari penyita pertama. yang belum disita (Pasal 463 Rv). Manakala jurusita/jurusita pengganti ditugaskan untuk menjalan penyitaan rekening di sebuah bank. Lain lagi persoalannya. manakala ternyata penetapan Majelis Hakim tentang sita jaminan ternyata batas-batasnya berbeda dengan keadaan yang sesungguhnya diketemukan jurusita/jurusita penganti.jurusita/juru sita pengganti tidak diperkenankan untuk menyita lagi barang-barang yang sudah disita itu. Berita acara sita persamaan ini berlaku sebagai suatu sanggahan/pencegahan untuk menyerahkan uang hasil pelelangan barangbarang tersebut kepada penyita yang pertama. Dengan lain perkataan yang menyita kemudian akan berbagi hasil lelang itu. bila perbedaan batas tersebut tidak mengakibatkan obyek berbeda. untuk selanjutnya menuangkan dalam berita acara tanpa menyebutkan jumlah uangnya.

permasalahan hukum dan hambatan tugas seorang jurusita/jurusita pengganti.3/507/UPPB/BGB tertanggal 18 september 1970 jo Surat Direksi Bank Indonesia kepada Bank-Bank di seluruh Indonesia tertanggal 20 Oktober 1987). namun dengan adanya berbagai keterbatasan. dapat kita diskusikan dan dipecahkan bersama. ------------------------ . Masih banyak permasalahan hukum dan hambatan-hambatan yang dialami oleh seorang jurusita/jurusita pengganti dalam melaksanakan tugasnya yang mesti dipecahkan. Mudah-mudahan dalam pelatihan ini. tidak mungkin dapat diuraikan secara mendetail dalam makalah ini.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful