TUGAS JURUSITA PENGADILAN NEGERI DALAM PROSES PERKARA PERDATA

Oleh Mulijanto

PENDAHULUAN
Jurusita merupakan bagian dari pelaksana tugas Pengadilan Negeri dalam memeriksa dan mengadili perkara perdata mempunyai peran yang tidak kalah penting dengan pejabat lain di Pengadilan, karena keberadaannya diperlukan sejak belum dimulainya persidangan hingga pelaksanaan putusan Pengadilan. Sebagai pejabat peradilan, keberadaannya diatur di dalam undang-undang (Peradilan Umum, Peradilan Agama dan Peradilan TUN) sedangkan bekerjanya diatur dalam hukum acara (RBg /HIR). Tidak mudah menemukan Literatur, khususnya yang membahas tentang kejurusitaan, tidak banyak mendapat perhatian dari para sarjana hukum kita dibandingkan dengan bidang tugas hukum lainnya di Pengadilan, disamping itu bidang kejurusitaan ini kurang diajarkan secara mendalam dalam pendidikan ilmu hukum. Padahal, bidang tugas kejurusitaan merupakan hal yang sangat penting dan sangat menentukan untuk memeriksa, mengadili dan menyelesaikan suatu perkara. Suatu perkara tidak mungkin dapat diselesaikan dengan baik dan benar menurut hukum, tanpa peran dan bantuan tugas di bidang kejurusitaan. Hakim tidak mungkin dapat menyelesaikan perkara tanpa dukungan jurusita/jurusita pengganti, sebaliknya jurusita/jurusita pengganti juga tidak mungkin bertugas tanpa perintah Hakim. Keduanya dalam melaksanakan tugasnya tidak mungkin lepas sendiri-sendiri, kedua-duanya saling memerlukan satu sama lain. Pembangunan hukum tidak hanya lahir dari pembentuk Undang-Undang, namum praktik peradilan tidak kecil peranannya untuk pembangunan hukum. Bahkan, pembaharuan hukum kebanyakan lahir dan diciptakan oleh praktik

peradilan. Oleh karena itulah pemahaman dan penguasaan bidang teknis peradilan sangatlah penting dikuasai oleh para pejabat peradilan, termasuk jurusita/jurusita pengganti. Bagi para pejabat peradilan, penguasaan hukum acara dan bidang teknis peradilan merupakan pegangan pokok atau aturan permainan sehari-hari untuk memeriksa dan mengadili serta menyelesaikan suatu perkara. Hukum acara dan teknis peradilan tidak hanya penting didalam praktik peradilan saja, tetapi mempunyai pengaruh yang besar dalam praktik diluar pengadilan. Makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan kepustakaan (literatur) para pejabat peradilan, khususnya para jurusita/jurusita pengganti dalam menjalankan tugas, sehingga melalui makalah ini diharapkan mereka mendapat gambaran yang singkat namum mendalam tentang bidang tugas kejurusitaan yang mesti dilaksanakannya. Disamping itu makalah ini juga dimaksudkan sebagai bahan untuk diskusi dan tanya jawab bagi para peserta Acara Sosialisasi Hukum Untuk Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Negeri se Kalimantan Selatan, yang bertema “Meningkatkan Pelayanan Pengadilan Dengan Penerapan Madiasi an Menyamakan Persepsi alam Pelaksanaan Tugas Kejurusitaan” agar dikemudian hari lebih memahami landasan teoritis dan segisegi praktis praktik kejurusitaan. Oleh karena itulah, dalam makalah ini bukan hanya sekedar menguraikan tentang apa tugas seorang jurusita/jurusita pengganti serta dasar pengaturannya atau pasal-pasalnya, tetapi lebih menekankan pada pokok permasalahan dan penemuan hukum tentang bagaimanakah praktik kejurusitaan mesti dilaksanakan secara baik dan benar berdasarkan peraturan perundang-undangan yang ada. Menyadari bahwa ilmu hukum memerlukan bahan-bahan dari praktik untuk disistimatisir dan dikaji, sehingga memungkinkan lahirnya teori-teori baru.

8 tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. yang pasti ada yang unik dan menarik.Sebaliknya praktik peradilan juga memerlukan dukungan ilmiah yang obyektif. JURUSITA/JURUSITA PENGGANTI SEBAGAI PEJABAT PERADILAN. Jurusita Pengadilan Negeri diangkat dan diberhentikan oleh Mahkamah Agung atas usul Ketua Pengadilan yang bersangkutan. Dalam menjalankan tugasnya kecuali ditentukan lain oleh atau berdasarkan undang-undang jurusita/jurusita pengganti tidak boleh merangkap menjadi wali. Adapun sebagai syarat untuk diangkat menjadi jurusita. pengampu. 8 tahun 2004). dan pejabat yang berkaitan dengan perkara yang didalamnya ia sendiri berkepentingan. Disamping itu. Sedangkan jurusita pengganti diangkat dan diberhentikan oleh Ketua Pengadilan yang bersangkutan (Pasal 41 UU No. Oleh karena itulah berbekal pengalaman praktik kejurusitaan di lapangan oleh para peserta. Selain Hakim dan Panitera. maka makalah ini diharapkan dapat memicu lahirnya pemikiran teoritis yang lahir dari pengalaman praktis para peserta pelatihan. pada setiap pengadilan ditetapkan adanya jurusita (deurwaander) dan jurusita pengganti (Pasal 40 sampai dengan Pasal 43 UU No. sehingga nantinya melalui makalah dan acara pelatihan ini diharapkan dapat dihasilkan panduan bidang tugas kejurusitaan yang ringkas. 8 tahun 2004). ia juga tidak boleh . sorang calon antara lain harus memenuhi syarat berpengalaman sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun sebagai jurusita pengganti. 2 tahun 1986 tentang Peradilan Umum). sedangkan untuk dapat diangkat menjadi jurusita pengganti. seorang calon harus berpengalaman sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun sebagai pegawai negeri pada Pengadilan Negeri (Pasal 40 UU No. jelas dan terang yang dapat digunakan sebagai pegangan bagi kita selaku pejabat peradilan.

Memperhatikan syarat-syarat pengangkatan dan pelaksanaan tugas seorang jurusita/jurusita pengganti yang diatur secara khusus oleh undangundang. Oleh karena itulah pandangan yang meremehkan tugas seorang jurusita/jurusita pengganti tidaklah dapat diterima. 8 tahun 2004). 2. Tugas non justisial (Iurisdictio Voluntaria) . sesungguhnya dapat menyadarkan kita betapa pentingnya kedudukan dan tugas seorang jurusita/jurusita pengganti di pengadilan. tugas Pengadilan itu meliputi : 1. Dengan demikian jurusita/jurusita pengganti adalah pegawai negeri yang diangkat berdasarkan peraturan perundangan-undangan untuk melakukan tugas kejurusitaan di Pengadilan (Negeri) dimana ia bertugas.yang meliputi : a) Administerasi perkara b) Administerasi keuangan perkara . termasuk tugas yang sangat penting. Sebelum memangku jabatannya. Administerasi peradilan (admistration of justice). karena tugas-tugas yang dilakukan oleh seorang jurusita/jurusita pengganti tersebut. mengingat tugas seorang jurusita/jurusita pengganti dapat menentukan berlangsung atau tidaknya suatu pemeriksaan di persidangan. Tugas lain menurut Undang-Undang .merangkap menjadi advokad. Sebagaimana diketahui. Jabatan yang tidak boleh dirangkap oleh jurusita akan diatur lebih lanjut oleh Mahkamah Agung (Pasal 43 UU No. Tugas peradilan teknis justisial (Iurisdictio Contentiosa) . Kedudukan dan syarat-syarat pengangkatan seorang jurusita/jurusita pengganti diatur secara khusus dalam Undang-undang tentang Peradilan Umum. 3. jurusita atau jurusita pengganti wajib diambil sumpah atau janji menurut agamanya oleh Ketua Pengadilan yang bersangkutan (Pasal 42 UU No. 4. 8 tahun 2004).

8 tahun 2004 (bandingkan juga dengan ketentuan Pasal 716 Rbg). yang ditentukan . Administerasi Umum 1 Tugas seorang jurusita/jurusita pengganti merupakan tugas teknis justisial. penyelesaian administerasi perkara. dan pemberitahuan putusan Pengadilan menurut cara-cara undang-undang .Melaksanakan pemanggilan atas perintah Ketua Pengadilan atau atas perintah Hakim . . . tugas jurusita/jurusita pengganti antara lain meliputi : . Jakarta. pengriman atau penerimaan berkas ke Pengadilan Tinggi dan atau Mahkamah Agung (manakala ada upaya hukum banding dan atau kasasi). 2 tahun 1986 tentang Peradilan Umum yang sudah diubah dengan UU No. management (pengelolan) biaya perkara. Tugas pengadilan yang bersifat teknis justisial pada dasarnya dimulai sejak pendaftaran perkara. Sedangkan tugas-tugas yang harus dilakukan oleh seorang juru sita/jurusita penganti terdapat dalam berbagai peraturan perundang-undangan antara lain dalam Pasal 65 UU No. Sedangkan tugas administerasi umum dilakukan oleh pejabat kesekretariatan pengadilan. Tentang Kejurusitaan Dalam Praktik Peradilan Perdata. teguran-teguran.5. 1 Soebyakto. 32. hal.Membuat berita acara penyitaan yang salinan resminya diserahkan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Penerbit Djambatan. Mahkamah Agung RI dalam berbagai petunjuknya pada pokoknya telah membagi tugas di Pengadilan meliputi administerasi perkara dan administerasi umum. Tugas administerasi perkara merupakan tugas teknis justisial yang dilakukan oleh Hakim.Melakukan penyitaan atas perintah Ketua Pengadilan Negeri/Hakim. Berdasarkan ketentuan tersebut. pengelolaan administerasi perkara. serta pelaksanaan putusan perkara perdata. Panitera (Panitera Pengganti) dan jurusita (jurusita pengganti). . 1998.Menyampaikan pengumuman-pengumuman.

4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. proses-cara kerja. dalam Pasal 5 diatur jurusita mempunyai tugas untuk melakukan pemanggilan. membuat berita acara pelaksanaan putusan yang salinan resminya disampaikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. hal. melakukan penawaran pembayaran uang. 2 Selanjutnya. termasuk jurusita. melakukan tugas pelaksanaan putusan. terutama Hakim.. kalau saat ini berdasarkan Undang-undang No. Jadi beda dengan tugas seorang Panitera atau Panitera Pengganti yang melaksanakan tugasnya di gedung Pengadilan.Selanjutnya berdasarkan Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI Nomor :KMA/055/SK/X/1996 tentang Tugas dan Tanggung Jawab serta Tata Kerja Jurusita pada Pengadilan Negeri dan Pengadilan Agama. demikian pula tidak mungkin untuk menyusun suatu tugas dan tanggung jawab serta tata kerja tanpa menyusun organisasinya”. sehingga Mahkamah Agung dapat menentukan struktur organisasi. serta membuat berita acara penawaran pembayaran uang dengan menyebutkan jumlah dan uraian jenis mata uang yang ditawarkan. seorang jurusita/jurusita pengganti justru melaksanakan tugasnya di luar gedung Pengadilan. susunan organisasi peradilan telah berpuncak pada Mahkamah Agung RI. struktur kerja. Haruslah disadari “tidak ada pembentukan organisasi tanpa kaitan organ. Adapun wilayah kerja jurusita/jurusita pengganti adalah di daerah hukum Pengadilan Negeri yang bersangkutan. Makalah disampaikan dalam Pelatihan Teknis Fungsional Peningkatan Profesionalisme bagi Pejabat Kepaniteraan. Jakarta. 7 . Tugas dan tanggung jawab serta pola tata kerja seorang jurusita/jurusita pengganti tentunya akan saling berkaitan serta tidak dapat dipisahkan dengan pejabat peradilan yang lain.2 Adalah suatu hal yang menggembirakan. Peranan Organisasi Dan Managemen Dalam Badan Peradilan. 7 Agustus 2001. berdasarkan Keputusan Mahkamah Agung RI SK Subagyo. pembinaan dan pengawasan pejabat peradilan.

Dalam persidangan perkara perdata. Hal ini diatur dalam Pasal 8 Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI Nomor : KMA/055/SK /X/1996. Tugas Pemanggilan Dan Pemberitahuan. putusan perkara jurusita Sebagai pejabat peradilan tanggung jawab jurusita/jurusita pengganti dalam konteks kelembagaan adalah kepada Ketua Pengadilan. bertugas memberi pelayanan teknis dibidang administrasi perkara dan administrasi lain berdasar undang-undang dan berfungsi antara lain dalam kegiatan pelayanan administrasi perdata perkara dimana dan persidangan tersebut serta terlibat pelaksanaan didalamnya. b) Pemanggilan yang harus dijalankan setelah pemeriksaan (sidang) berjalan.004/SK/11/92 jurusita/jurusita pengganti adalah bagian dari kepaniteraan pengadilan. sedangkan secara administratif tanggung jawab kepada Panitera. . Memperhatikan tugas dan tanggung jawab jurusita yang demikian besar. Untuk memudahkan pemahaman. berdasarkan peraturan perundang-undangan yang ada atau kebiasaan praktik peradilan yang lahir dari sejumlah doktrin dan yurisprudensi. dengan berbagai kendala atau hambatan serta upaya penyelesaiannya. maka tugas jurusita/jurusita pengganti tersebut akan diuraikan mulai tahap sebelum. pada saat dan sesudah pemeriksaan perkara di persidangan. dimulai dengan pemanggilan para pihak yang dapat dirinci dalam 3 (tiga) bagian : a) Pemanggilan yang dijalankan sebelum pemeriksaan (persidangan) di mulai. Kepaniteraan adalah unsur pembantu pimpinan dan bertanggung jawab kepada ketua. A. TUGAS POKOK DAN FUNGSI JURUSITA/JURUSITA PENGGANTI. maka dalam makalah ini pertama-tama akan diuraikan bagaimanakah sesungguhnya peranan dan tugas seorang jurusita/jurusita pengganti tersebut harus dijalankan dengan baik dan benar menurut hukum.

Jakarta. dalam mana harus dijelaskan berbicara dengan siapa dan jika mungkin juga harus memuat tanda tangan masingmasing yang dipanggil (dengan siapa ia berbicara). jika perlu mereka sendiri-sendiri harus diberi surat turunan surat gugat resmi. Pasal 145 ayat (2) RBg . Pemanggilan secara patut juga dirumuskan dalam Pasal 26 PP No. 9 tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU No.(pasal 121 (2) HIR:) (2) Terhadap tergugat pada waktu memanggil menurut pasal 121 ayat (2) harus diserahkan satu turunan resmi dan surat gugatan asli. Tatanusa.Pemanggilan dilakukan terhadap yang bersangkutan atau wakilnya yang sah. a) Pemanggilan Sebelum Pemeriksaan Dimulai Pasal 145 RBg : (pasal 121 HIR. . Menurut Wildan Suyuthi. 3 Soebyakto. Yaitu pemanggilan dilakukan oleh juru sita dengan membuat berita acara pemanggilan pihak-pihak. tindakan mana harus dinyatakan dalam surat panggilan terhadap tergugat.Bahwa yang bersangkutan telah dipanggil dengan cara pemanggilan menurut undangundang. Op.Pemanggilan tersebut dilakukan dengan memperhatikan tenggang waktu (kecuali dalam hal yang sangat perlu tak boleh kurang dari 3 hari kerja lihat Pasal 122 atau 146 Rbg). 2004. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. Biasanya Berita Acara panggilan ini dibuat menjadi satu meskipun mungkin hari pemanggilannya tidak sama.3 Ad. dalam penetapan mana sekaligus diperintahkan kepada pegawai yang ditunjuk untuk memanggil kedua belah pihak supaya hadir pada hari dan jam yang telah ditentukan. PT.) (1) Panggilan baru dapat mulai di jalankan apabila sudah ada penetapan oleh Ketua Pengadilan Negeri (Hakim) tentang hari dan jam pemeriksaan (persidangan). . hal 11 yang dimaksud pemanggilan harus dilakukan dengan patut. artinya : . Sita Eksekusi Praktik Kejurusitaan Pengadilan..c) Pemanggilan yang harus dijalankan setelah pemeriksaan selesai dengan acara putusan Hakim terakhir.Cit. hal 33. tapi panggilannya terpisah juga diperbolehkan. Apabila ada lebih dari satu tergugat. .

Pasal 718 ayat (1) RBg. pokoknya semuanya yang disebut exploit seperti diterangkan diatas harus disampaikan pada orang yang bersangkutan sendiri (yaitu penggugat maupun tergugat) ditempat kediamannya atau ditempat tinggalnya. Pasal 718 ayat(2) RBg. maka atas perintah Ketua (Hakim) Pengadilan dapat dilakukan lagi terhadap yang tidak hadir. kepada Kepala Desanya. pemberitahuan dan sebagainya. Ad. (pasal 121 (2) HIR) : (3) Pada umumnya tiap-tiap panggilan. Pasal 151 RBg. untuk kedua kalinya.(pasal 390 (2) HIR : (4) Apabila yang harus dipanggil ternyata telah meninggal dunia. Pasal 718 ayat (2) RBg. meskipun telah ada panggilan yang sah.(pasal 127 HIR:) . harus disampaikan kepada kepala desanya atau wakilnya yang selanjutnya berkewajiban segera memberitahu pada yang bersangkutan sendiri tentang adanya panggilan tersebut. tetapi jika tidak dapat bertemu sendiri dengan orang yang bersangkutan itu. tapi Hakim memandang perlu untuk memanggil lagi yang tidak hadir.(pasal 126 HIR:) (1) Apabila pada hari pemeriksaan pertama salah satu pihak ataupun kedua-duanya tidak hadir. maka panggilan (exploit) harus disampaikan pada ahli warisnya dan jika ini tidak ada.b Selama Pemeriksaan Sidang Berjalan Pasal 150 RBg.(pasal 390 (3) HIR) : (4) Apabila yang bersangkutan tidak diketahui tempat tinggalnya maka exploit harus disampaikan kepada Bupati Kepala Daerah dimana penggugat bertempat tinggal.

tanpa menyuruh Kuasa atau Wakilnya maka pemeriksaan harus ditunda dengan memanggil tergugat yang tidak hadir pada hari sidang berikutnya.(pasal 139 ayat (2) HIR:) (5) Kemungkinan selanjutnya dapat terjadi apabila bukan pihak yang bersangkutan tetapi Pengadilan sendiri memandang perlu untuk memanggil saksi.(pasal 159 ayat(3) HIR:) (3) Apabila seorang penggugat atau tergugat yang pada hari sidang pertama dan berikutnya hadir tetapi pada saat itu berhalangan hadir. caranya sama dengan panggilan-panggilan untuk pertama kali. Pasal 165 ayat (1) RBg. Ad.(2) Apabila ada dua tergugat atau lebih dan pada sidang pertama ada salah satu tergugat tidak hadir. Demikian macam-macam pengaturan dan kemungkinan yang harus dilakukan selama pemeriksaan sedang berjalan dan belum selesai. maka panggilannya harus dilakukan oleh seorang juru sita. yang tidak hadir harus dipanggil untuk hadir pada hari sidang berikutnya.c Tahap apabila pemeriksaan sudah selesai (sudah ada putusan terakhir). Pasal 165 ayat (2) RBg. maka bila pemeriksaan ditunda.(pasal 139 ayat (1) HIR.(pasal 124 HIR:) . Pasal 186 ayat (3) RBg. yang semuanya harus dinyatakan dalam satu relaas. Pasal 148 RBg. (6) Akhirnya apabila saksi yang telah dipanggil dengan sah tidak datang. hingga harus dipanggil lagi.) (4) Apabila baik penggugat maupun tergugat mengajukan permohonan untuk memanggil saksi-saksinya.

(pasal 125 ayat(1) HIR) (1) jika pada hari sidang yang telah ditentukan tergughat yang telah dipanggil dengan patut tidak datang menghadap dan tidak menyuruh orang lain menghadap untuknya. kecuali apabila Pengadilan Negeri berpendapat bahwa gugatan itu melawan hukum atau tidak beralasan. Semuanya ini seperti apa yang dijelaskan diatas verzet juga harus dinyatakan dalam suatu berita acara. Pasal 149 ayat (1)RBg. Pasal 207 Rbg (Pasal 196 HIR) . maka gugatan dikabulkan dengan verstek. (2) Kemungkinan pemanggilan atau pemberitahuan dapat terjadi apabila pada waktu pengumuman putusan terakhir salah satu pihak atau kedua-duanya tidak hadir. Pasal 152 ayat (1-2) RBg. maka gugatannya dinyatakan gugur dan dan penggugat dihukum untuk membayar biaya acara dengan hak bahwa ia dapat mengajukan kembali gugatan tersebut asal saja telah membayar biaya acara sebelumnya.Jika penggugat yang telah dipanggil dengan patut pada hari yang telah ditentukan tidak datang menghadap di sidang Pengadilan Negeri dan tidak menyuruh seseorang untuk datang untuknya. maka isi putusan harus diberitahukan kepada mereka masing-masing dengan keterangan jika dipandang perlu mereka dapat naik banding.(pasal 128 HIR:) Dalam pemberitahuan (aanzegging) kepada tergugat sebagai pihak yang kalah harus diberitahukan bahwa ia dalam 14 hari terhitung mulai esok harinya setelah pemberitahuan itu dapat mengajukan surat perlawanan atau verzet.

Executorial beslag (Pasal 208. Revindicatoir beslag (Pasal 260 Rbg/226 HIR) c. maka lebih dulu pihak yang kalah harus dipanggil untuk ditegur (aanmaning) supaya memenuhi isinya keputusan. yaitu : a. Dalam menjalankan tugasnya tersebut. Setelah selesai menjalankan penyitaan. Sebelum dilaksanakan. 209 Rbg dan seterusnya. jurusita harus membuat berita acara tentang penyitaan tersebut dengan memberitahukan segala sesuatu kepada si pemilik barang-barang yang disita. jika ia ikut hadir. Conservatoir beslag (Pasal 261 Rbg/227 HIR) Ad. Segala barang milik tergugat . lebih dahulu harus ada permohonan eksekusi dari pihak yang menang. B. maka atas perintah Ketua Pengadilan Negeri pihak yang kalah harus dipanggil untuk mendapat “teguran (aanmaning)” supaya memenuhi putusan (Pasal 207 RBg). jurusita tersebut harus dibantu oleh 2(dua) orang saksi yang sudah dewasa dan dikenalnya.(9) Dalam hal sudah ada putusan terakhir. Apabila ternyata dalam waktu yang ditetapkan. a. bandingkan dengan Pasal 197 HIR) b. yang oleh pihak yang menang dimintakan eksekusi. karena mengenai pelaksanaan suatu putusan Hakim sebagai hasil sengketa perdata. maka Ketua Pengadilan Negeri memerintahkan kepada Panitera atau penggantinya dengan suatu surat perintah agar supaya menyita barang-barang kepunyaan (miliknya) tergugat. Tugas Penyitaan (beslag) Ada 3 (tiga) macam penyitaan (beslag). Executorial Beslag Penyitaan ini merupakan yang terpenting dari ketiga jenis sita yang lain. pihak yang ditegur tetap membangkang tidak mau melaksanakan putusan.

dengan alasan bahwa tergugat berusaha untuk menjual atau menyingkirkan barang-barangnya sebelum ada putusan. karena tidak mau mengembalikan barang tersebut secara sukarela. Ad.boleh disita. Ad. Menurut pengalaman. Revindicatoir Beslag Diatur dalam Pasal 260 RBg (Pasal 226 ayat (1) HIR). Conservatoir beslag Diatur dalam Pasal 261 RBg (Pasal 227 HIR). Setelah selesai melakukan penyitaan barang-barang harus diserahkan atau ditinggalkan kepada pemiliknya. jurusita sebelum melakukan penyitaan sebaiknya terlebih dahulu memberitahukan akan dilakukannya penyitaan kepada Kepala Desa. maka pemilik tersebut dapat mengajukan permohonan kepada Ketua Pengadilan Negeri dalam daerah mana pemegang barang tersebut berada. b. Permohonannya biasanya dibuat bersama-sama dengan surat gugatan. . Cara-cara penyitaannya sama dengan yang telah diterangkan pada bagian Executie beslag tersebut di atas. c. maka Ketua Pengadilan Negeri meminta bantuan kepada Ketua Pengadilan Negeri didalam daerah barang yang harus disita berada (Pasal 206 ayat 2-3 RBg). dalam hal mana jurusita melaporkan kepada Kepala Desa agar barang-barang tersebut tidak dijual/dipindahtangankan. Seseorang pemilik barang bergerak yang berada ditangan orang lain. kecuali hewan-hewan termasuk alat-alat yang digunakan untuk membantu pekerjaannya. Kalau barang-barangnya ada diluar daerah Pengadilan Negeri yang memutus. untuk menyita barang miliknya yang berada ditangan orang lain tersebut. Dapat diajukan terhadap barang-barang bergerak maupun tidak bergerak milik tergugat.

Baik sita conservatoir. 2. sedangkan apabila gugat ditolak atau dinyatakan tidak dapat diterima. dalam hal gugat ditolak atau dinyatakan tidak dapat diterima. Proyek Pembinaan Teknis Yustisial Mahkamah Agung RI. MARI. Sedangkan dalam sita revindicatoir. Dalam rangka eksekusi. tahun 1993. Untuk sita conservatoir harus ada sangka yang beralasan. Apabila gugat dikabulkan. hal 16 5 Ibid . sedangkan barang-barang yang disita dengan sita revindicatoir hanya barang bergerak saja. Kata revindicatoir berarti.5 Masih ada sita lain yang dinamakan marital beslag (Pasal 823 Rv) yaitu seorang isteri yang bersama-sama dengan suaminya tunduk pada hukum Barat mengajukan permohonan untuk bercerai dengan suaminya. kedua sita tersebut akan secara otomatis berubah menjadi sita eksekusi. Untuk sita revindicatoir hal ini tidaklah perlu. dan sita dinyatakan sah dan berharga. termasuk biaya perkara. sita conservatoir akan diperintahkan untuk diangkat. 5.4 Sedangkan persamaannya adalah : 1. yang dikuasai/dipegang oleh tergugat. Jurusita. Apabila gugat dikabulkan. sedangkan barang-barang yang disita dengan revindicatoir adalah barang-barang milik penggugat. Barang-barang yang disita dengan cara conservatoir adalah barang milik tergugat. Oleh karena itu.Menurut Retnowulan Sutantio. Jakarta. Barang-barang yang disita dengan sita conservatoir adalah barang bergerak dan barang tidak bergerak. termasuk tanah. barang-barang tersebut akan dilelang cukup untuk memenuhi putusan. diberi hak juga untuk mengajukan supaya diperintahkan untuk meletakkan sita terhadap barang-barang 4 Retnowulan Sutantio. maupun sita revindicatoir. 4. meminta kembali. Tugas dan Tanggung jawabnya. sita conservatoir akan dinyatakan sah dan berharga dan dalam rangka eksekusi barang-barang tersebut akan diserahkan secara nyata kepada penggugat atau dalam hal yang digugat adalah sejumlah uang. dalam rangka eksekusi barang itu akan diserahkan kepada Penggugat. Untuk sita conservatoir hal itu tidak perlu. 3. akan diperintahkan untuk diangkat. barang yang disita dengan sita revindicatoir harus disebutkan dengan jelas. 2. secara lengkap. perbedaan antara sita conservatoir dan sita revindicatoir adalah : 1. juga ciri-cirinya. bahwa tergugat sedang berdaya upaya untuk menghilangkan barangbarangnya dengan maksud menghindari tuntutan penggugat.

ternyata berada diwilayah hukum Pengadilan Negeri yang lain. Sesungguhnya masih ada dasar pengaturan pelaksanaan tugas seorang jurusita/jurusita pengganti yaitu dibidang pelaksanaan putusan. pada daerah hukum Pengadilan Negeri dimana ia bekerja saja. Cara-cara pelaksanaan sitanya sama dengan yang diuraikan dibagian awal. HAMBATAN PELAKSANAAN JURUSITA PENGGANTI TUGAS JURUSITA/- 1. untuk menjamin barang-barang tersebut tidak dijual dan disembunyikan oleh suaminya. oleh karena dalam pelatihan saat ini tentang hal tersebut akan dibahas dalam sesion tersendiri. maka ia tidak berwenang untuk melakukan tindakan hukum tersebut. bahwa tugas jurusita/jurusita pengganti yang diatur berdasarkan ketentuan undang-undang hanya terbatas. maka dalam makalah ini sengaja tidak penulis uraikan. saat ini batas wilayah didaerah kadang-kadang masih berupa sungai atau jalan desa setapak. Apabila ia menemukan bahwa orang yang dipanggil atau diberitahu atau barang yang akan disita. . maka hal tersebut memerlukan kejelian dari jurusita/jurusita pengganti pada saat melakukan tugasnya tersebut. Namum. Tugas Dan Tanggung Jawab Di Bidang Pemanggilan/Pemberitahuan Telah diuraikan di bagian awal. Padahal. yang seringkali tidak nampak dengan jelas. Jurusita/jurusita pengganti tersebut harus kembali ke kantor agar Ketua Pengadilan Negeri membuat penetapan yang baru dan meminta bantuan Ketua Pengadilan Negeri yang membawahi orang yang akan dipanggil atau diberitahu dan atau barangbarang yang akan disita itu berada.milik sang isteri sendiri maupun milik bersama yang berada dibawah kekuasaan sang suami.

maka jurusita/jurusita pengganti tersebut baru bisa jalan ketika hari sudah malam. dengan catatan salinan gugatan harus diterjemahkan kedalam bahasa Inggris (Surat Direktorat Protokol dan Konsuler Departeman Luar Negeri tertanggal 31 April 1991 Nomor 202/91/45 yang ditujukan kepada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat). misalnya karena kehabisan BBM. pemanggilannya dilakukan dengan cara menyampaikan surat kepada Departemen Luar Negeri untuk meminta bantuan kepada kedutaan besar negara pihak-pihak yang dipanggil untuk memanggil orang tersebut. pemberitahuan dan ataupun penyitaan ataukah harus menunggu keesokan harinya ? Apakah dapat panggilan dititipkan liwat petugas kepolisian atau diserahkan kepada isteri atau suami dari pihak yang dipanggil ? Bagaimana pula dengan uang makan dan penginapan.Manakala yang akan dipanggil adalah para pihak yang tugasnya adalah anggota korps diplomatik di luar negeri. kalau terpaksa ia harus menginap. maka kendaraannya mogok. apakah ia langsung dapat melakukan pemanggilan. apa yang harus dilakukan olehnya dalam menghadapi keadaan tertentu dalam melaksanakan tugasnya harus dapat dijalankan dengan baik. maka cara memanggilnya dengan cara menyampaikan surat kepada Departemen Luar Negeri Dirjen Protokol dan Konsuler dengan permohonan untuk memanggil orang/anggota korps diplomatik tersebut (Perhatikan Surat Menteri Luar Negeri Direktorat Konsuler tertanggal 18 Juli 1990 Nomor : 295/90/07/44 yang ditujukan kepada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat). atau dapatkah pemanggilan dan pemberitahuan dilakukan pada malam hari. apakah dapat dimasukkan dalam biaya . Sedangkan apabila pemanggilan dilakukan terhadap warga negara asing yang berada diluar negeri. apakah pemanggilan dan pemberitahuan dapat dilakukan pada hari minggu atau libur nasional. Misalnya. Seorang jurusita/jurusita pengganti harus benar-benar mengerti dan menghayati batas tugas dan kewenangannya dengan baik dan benar.

dalam perkara tertentu yang memerlukan tindakan khusus yang cepat. memberi perintah untuk itu.. Apabila reglemen ini memakai istilah sebulan. maka ijin tersebut akan dicantumkan dibagian atas surat panggilan atau berita acara pelaksanaan sita. surat pemberitahuan . Apabila hari terakhir untuk melakukan panggilan atau pemberitahuan..... sedangkan apabila ijin diberikan atas permohonan tertulis. Ijin yang dimaksud dalam pasal ini dan dalam pasal sebelumnya.perjalanan dinas ? Ketentuan hukum dalam RBg maupun HIR tidak mengatur halhal tersebut.. dapat diberikan atas permohonan tertulis. maka ijin tersebut akan dicantumkan di bagian atas dari surat permohonan tersebut. maka hal itu berarti 30 hari.maka tugas tersebut dapat dilakukan esok harinya. atau lisan dari pihak yang berkepentingan. kecuali apabila Ketua Pengadilan Negeri yang bersangkutan. Penetapan mengenai pemberitahuan ijin tersebut dapat dilaksanakan dengan serta merta. kecuali berdasarkan perintah khusus dari Ketua Pengadilan Negeri yang bersangkutan. Dalam hal ijin diberikan atas permohonan lisan. Tentang hal itu tidak akan diberitahukan kepada pihak lawan. melainkan akan dicantumkan di bagian atas dari surat panggilan. Pasal 17 Rv menyatakan : Tidak satupun tindakan jurusita dapat dilakukan pada hari minggu. Pasal 18 Rv menyatakan : Tidak satupun tindakan jurusita atau pelaksanaan suatu putusan dapat dilakukan sebelum jam enam pagi dan setelah jam enam sore. Namum ternyata dalam Reglement op de Burgerlijke Rechtsvordering (Rv) yaitu hukum acara perdata pada jaman penjajahan Belanda. yang berlaku untuk beracara di Raad van Justitie ada pengaturan tentang hal tersebut. .

karena suaminya atau isterinya minta cerai atau tiba-tiba jurusita/jurusita pengganti tersebut melakukan penyitaan atas barang-barang milik tergugat. panggilan disampaikan melalui Lurah atau yang dipersamakan dengan itu. tiba-tiba datang seorang jurusita/jurusita pengganti untuk memanggil tergugat agar datang disuatu sidang pengadilan. biarlah Ketua Pengadilan Negeri yang menentukan ijin tersebut dengan arif lagi bijaksana. dengan ijin Ketua Pengadilan Negeri. Penyerahan panggilan kepada Lurah atau Kepala Desa harus terbukti dalam hukum. Panggilan dan pemberitahuan harus disampaikan kepada pribadi yang dipanggil dan atau diberitahu. yaitu dalam keadaan yang sangat mendesak. maka jurusita/jurusita pengganti harus langsung menuju ke kantor desa yang bersangkutan dan menyerahkan bersangkutan. apabila hal itu memang mutlak harus dilakukan. Karena undang-undang telah jelas mengatur. Hendaknya ketentuan tersebut. apabila yang bersangkutan tidak dapat dijumpainya. dengan lain perkataan Lurah atau Kepala desa harus surat panggilan kepada Lurah atau Kepala Desa yang membubuhkan tanda tangannya dalam berita acara panggilan dan adalah lebih . Pengecualian dapat terjadi. atau kepada anak atau pembantu rumah tangga penggugat. diperhatikan dan dilaksanakan dengan sungguh dalam praktik kejurusitaan. jadi tidak boleh disampaikan kepada suami atau isteri pihak tersebut. tergugat atau turut tergugat. (diterjemahkan secara bebas oleh Retnowulan Sutantio).putusan atau berita acara yang bersangkutan. karena adalah hal yang sangat ganjil dan aneh serta tidak manusiawi. ketika pada malam takbiran atau hari raya misalnya. Jadi seandainya panggilan telah tidak dapat disampaikan kepada orang yang dipanggil itu sendiri.

1 tahun 1974 tentang Perkawinan.baik lagi. Tugas dan Tanggung Jawab di Bidang Penyitaan Dan Eksekusi. Dalam ketentuan Pasal 146 RBg jo Pasal 718 RBg (bandingkan dengan Pasal 122 HIR jo Pasal 390 HIR). 9 tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU No. Sita Jaminan . yang jelas berbeda dengan ketentuan dalam Pasal 26 ayat (4) PP No. Sedangkan ketentuan Pasal 26 ayat (4) PP No. Permasalahan lain yang harus diperhatikan adalah mencermati ketentuan Pasal 146 RBg jo Pasal 718 RBg (bandingkan dengan Pasal 122 HIR jo Pasal 390 HIR). hanya menyebutkan Pemanggilan dilakukan dan disampaikan secara patut dan diterima oleh penggugat maupun tergugat atau kuasa mereka selambatlambatnya 3 (tiga) hari sebelum sidang dibuka. Di atas telah diuraikan dasar pengaturan dan macam-macam sita. jelas menyebutkan tenggang waktu antara panggilan dengan hari sidang bukan 3 (tiga) hari. Penyitaan dilaksanakan oleh Jurusita/ .Sita jaminan dilakukan atas perintah Hakim/Ketua Majelis sebelum atau selama proses pemeriksaan berlangsung. Jadi jelas pada hari minggu dan atau libur tidak dihitung. Hakim/Ketua Majelis membuat surat penetapan. apabila tanda tangan tersebut dipertegas dengan cap/ stempel Kelurahan/Desa. 9 tahun 1975 tentang Pelaksanaan UU No. sehingga hari libur tentunya juga dihitung. Dalam Buku Pedoman Pelaksanaan Tugas Dan administerasi Pengadilan Buku (II) diatur sebagai berikut : A. 2. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. Hal tersebut penting diperhatikan. karena ada pengaruhnya terhadap pemeriksaan perkara dengan acara istimewa. tetapi 3(tiga) hari kerja. yaitu gugur atau verstek.

Dalam hal dilakukan sita jaminan sebelum sidang dimulai. maka berita acara penyitaan harus didaftarkan sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam Pasal 227 ayat (3) Pasal 198 dan Pasal 199 HIR atau Pasal 261 jo Pasal 213 dan 214 Rbg. 226 HIR 261. . meskipun jelas adalah milik penggugat yang disita dengan sita conservatoir. b. maka harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut : a. mengalihkan dengan cara apapun atau membebankan/menjaminkan tanah tersebut. . Apabila yang disita adalah sebidang tanah. Barang yang disita itu. Adalah salah untuk menitipkan barang itu kepada lurah atau penggugat atau membawa barang itu untuk disimpan di gedung Pegadilan Negeri. dengan atau tanpa rumah. dan sita revindicatoir (terhadap milik penggugat) (Pasal 227. harus tetap dipegang/ dikuasai oleh tersita. maka sejak didaftarkannya itu tersita dilarang untuk menyewakan. 260 Rbg). c. Apabila penyitaan tersebut telah didaftarkan di Badan Pertanahan Nasional atau Kelurahan. . Tindakan tersesita yang bertentangan dengan larangan tersebut adalah batal demi hukum.Ada dua macam sita jaminan yaitu sita conservatoir (terhadap milik tergugat).Panitera Pengadilan Negeri dengan dua orang pegawai pengadilan sebagai saksi. Penyitaan hendaknya dilakukan terhadap barang milik tergugat (atau dalam hal sita revindicatoir terhadap barang bergerak tertentu milik penggugat yang ada ditangan tergugat yang dimaksud dalam surat gugat) sekedar cukup untuk menjamin pelaksanaan putusan dikemudian hari.

kapan disita dan perkembangannya. Semua tindakan tersita yang dilakukan bertentangan dengan larangan itu adalah batal demi hukum. tersita dilarang untuk menyewakan.Harus ada sangka yang beralasan. . .Sejak tanggal pendaftaran sita itu. .Penyitaan atas tanah harus dicatat dalam buku tanah yang ada di Desa.Tentang penyitaan itu dicatat di buku khusus yang disediakan di Pengadilan Negeri yang memuat catatan mengenai tanah-tanah yang disita. .Apabila yang disita adalah tanah. bahwa tanah tersebut milik tergugat dan luas serta batas-batasnya harus disebutkan dengan jelas (Perhatikan SEMA No. maka harus dilihat dengan seksama. selain itu sita atas tanah yang ada sertifikat harus pula didaftarkan. dan atas tanah yang belum sertifikat diberitahukan pada kantor pertanahan daerah tingkat II kotamadya atau kabupaten. bahwa tergugat sedang berdaya upaya untuk menghilangkan barang-barangnya untuk menghindari gugatan penggugat. 89/K/1018/M/1962 tertanggal 25 April 1962). Untuk menghindari salah sita. mengalihkan atau menjaminkan tanah yang disita itu. Sita Conservatoir . Hendaknya kepala desa diajak serta untuk melihat keadaan tanah. . .Yang disita adalah barang bergerak dan barang tidak bergerak milik tergugat. .B.Kepala Desa yang bersangkutan dapat ditunjuk sebagai pengawas agar tanah tersebut tidak dialihkan kepada orang lain. batas serta luas tanah yang akan disita. Buku ini adalah terbuka untuk umum.

Apabila gugatan dikabulkan sita jaminan dinyatakan sah dan berharga oleh Hakim dalam amar putusannya. . .Apabila gugatan dikabulkan untuk sebagian dan selebihnya ditolak. biarlah tanah/tanah dan rumah milik tergugat yang disita. harus disebut dalam surat gugat secara jelas dan terperinci. setelah mendengar Jaksa Agung (Pasal 65 dan 66 ICW) C. sita harus diperintahkan untuk diangkat.Penyitaan dilakukan terutama atas barang bergerak milik tergugat. juga jangan berlebihan.Yang disita adalah barang bergerak milik penggugat yang dikuasai /dipegang oleh tergugat. kecuali seijin dari Mahkamah Agung. hanya cukup untuk menjamin dipenuhinya gugatan penggugat. . dan untuk bagian yang lain diperintahkan untuk diangkat. Apabila barang bergerak milik tergugat tidak cukup. Sita Revindicatoir . . Namun apabila yang disita itu sebidang tanah dan rumah. dengan menyebutkan ciri-cirinya. . sirta jaminan untuk sebagian dinyatakan sah dan berharga.. yang berarti minta kembali miliknya. apabila gugatan ditolak atau dinyatakan tidak dapat diterima. seandainya gugatan mengenai ganti rugi dikabulkan hanya untuk sebagian. tidaklah dapat diputuskan menyatakan sah dan berharga.Sita Jaminan dan sita eksekusi terhadap barang-barang milik negara dilarang. Kata revindicatoir berasal dari revindiceer. sita jaminan (misalnya 1/3/ tanah dan rumah yang bersangktan). .Gugatan diajukan untuk memperoleh kembali hak atas barang tersebut.Barang yang dimohon agar disita.

sita revindicatoir dinyatakan sah dan berharga dan tergugat dihukum untuk menyerahkan barang tersebut kepada penggugat. .Untuk selanjutnya. sedangkan untuk barang-barang yang lainnya. Sita eksekusi yang langsung. a. . Sita eksekusi yang langsung diletakkan atas barang bergerak dan barang tidak bergerak milik debitor atau pihak yang kalah. 15 tahun 1961 dan Pasal 14 ayat (3) UU No. segala sesuatu yang dikemukakan dalam membahas sita conservatoir secara mutatis mutandis berlaku untuk sita revindicatoir. 16 tahun 1985 jo jo PP No. Apabila hal itu terjadi. Lihat Pasal 7 Peraturan Agraria No. diperintahkan untuk diangkat. 24 tahun 1997). Sita eksekusi lanjutan apabila barang-barang yang disita sebelumnya dengan sita conservatoir. D. yang dalam rangka .Dalam rangka eksekusi barang yang dikabulkan itu diserahkan kepada penggugat.Apabila gugatan dikabulkan untuk seluruhnya. . bahwa gugatan dikabulkan hanya untuk sebagian dan untuk selebihnya ditolak. 1. b. D. maka sita revindicatoir untuk barang-barang yang dikabulkan dengan putusan tersebut akan dinyatakan sah dan berharga.. Sita Eksekusi Ada dua macam sita eksekusi : yang langsung dan yang tidak langsung.Dapat terjadi. Sehubungan dengan pelaksanaan grosse akta pengakuan hutang yang berkepala Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa atau pelaksanaan grosse akta hipotik (berfungsi sebagai grosse akta hipotik adalah sertifikat hipotik yang dikeluarkan oleh Kepala Kantor Pertanahan Daerah tingkat II kotamadya yang bersangkutan.

Perlu diperhatikan. ternyata barang yang hendak disitanya itu adalah barang bergerak yang sebelumnya sudah disita eksekusi untuk orang lain. bahwa yang tidak dapat disita adalah hewan yang benar-benar dibutuhkan untuk mencari nafkah oleh tersita. kucing. ternyata barang yang hendak disita tidak ada. maka jurusita/jurusita pengganti akan membuat berita acara bahwa tidak ada barang yang dapat disita.eksekusi telah berubah menjadi sita eksekusi dan dilelang. anjing. maka akan dilakukan sita eksekusi lanjutan terhadap barang-barang milik tergugat untuk kemudian dilelang. hasilnya tidak cukup untuk membayar jumlah uang yang harus dibayar berdasarkan putusan pengadilan. Sita eksekusi yang tidak langsung Sita eksekusi yang tidak langsung adalah sita eksekusi yang berasal dari sita jaminan yang telah dinyatakan sah dan berharga. burung yang kadang-kadang sangat tingi harganya dapat saja disita. manakala jurusita/jurusita sewaktu hendak menyita menghadapi kenyataan. Dalam rangka eksekusi dilarang untuk menyita hewan atau perkakas yang benar-benar dibutuhkan oleh tersita untuk mencari nafkah (Pasal 197 ayat (8) HIR. diterbitkan MARI. hal 121 s/d 125 .6 Dalam praktik peradilan pelaksanaan sita sering kali banyak menimbulkan permasalahan. Jakarta . 6 Pedoman Pelaksanaan Tugas Dan Administerasi Pengadilan Buku II. Dalam hal yang demikian. Lain lagi halnya. 2. D. Bisa saja pada waktu hendak dilakukan penyitaan. jadi sedang dibebani sita eksekusi oleh Pengadilan atau Badan Urusan Piutang Lelang Negara (BUPLN). Jadi bukan sapi-sapi dari sebuah peternakan. ini selalu dapat disita. dalam rangka eksekusi otomatis berubah statusnya menjadi sita eksekusi. Binatang-binatang yang lain yaitu kuda. jadi satu atau dua ekor sapi/kerbau yang benar-benar dibutuhkan untuk mengerjakan sawah. 211 Rbg).

BI Nomor : . hanya karena tanah yang berbatasan dengan obyek sita telah berubah kepemilikan. Akan tetapi. Manakala jurusita/jurusita pengganti ditugaskan untuk menjalan penyitaan rekening di sebuah bank. Berita acara sita persamaan ini berlaku sebagai suatu sanggahan/pencegahan untuk menyerahkan uang hasil pelelangan barangbarang tersebut kepada penyita yang pertama. dan jurusita/jurusita pengganti hanya bisa menyita barang milik tersita.jurusita/juru sita pengganti tidak diperkenankan untuk menyita lagi barang-barang yang sudah disita itu. yang belum disita (Pasal 463 Rv). (Perhatikan Surat Bank Indonesia kepada Bank Rakyat Indonesia di seluruh Indonesia tanggal 24 Nopember 1987 Nomor : 20/12/UHO/HNI jo ANGKA 2/SE. Lain lagi persoalannya. untuk selanjutnya menuangkan dalam berita acara tanpa menyebutkan jumlah uangnya. manakala ternyata penetapan Majelis Hakim tentang sita jaminan ternyata batas-batasnya berbeda dengan keadaan yang sesungguhnya diketemukan jurusita/jurusita penganti. maka jurusita/jurusita pengganti tersebut harus datang ke Bank mengecek kebenaran tentang rekening tersebut. Dengan lain perkataan yang menyita kemudian akan berbagi hasil lelang itu. akan tetapi ia setelah meminta agar berita acara sita eksekusi yang dipegang oleh tersita diserahkan kepadanya. maka hal ini dinyatakan dalam berita acara sita jaminan tersebut. bila perbedaan batas tersebut tidak mengakibatkan obyek berbeda. Bahkan dapat terjadi. maka penyitaan tidak dapat dilaksanakan dengan dibuat berita acara sita non bevending. ia akan mempersamakan berita acara tersebut dengan barang-barang milik tersita. justru oleh karena memang tagihannya lebih besar atau telah dijamin dengan fiducia umupamanya. karena obyek sita tidak sesuai data-datanya. Bila terdapat perbedaan batas tanah yang mengakibatkan obyek sita berbeda. ia akan memperoleh lebih banyak dari penyita pertama.

Mudah-mudahan dalam pelatihan ini. tidak mungkin dapat diuraikan secara mendetail dalam makalah ini. permasalahan hukum dan hambatan tugas seorang jurusita/jurusita pengganti. ------------------------ . Masih banyak permasalahan hukum dan hambatan-hambatan yang dialami oleh seorang jurusita/jurusita pengganti dalam melaksanakan tugasnya yang mesti dipecahkan.3/507/UPPB/BGB tertanggal 18 september 1970 jo Surat Direksi Bank Indonesia kepada Bank-Bank di seluruh Indonesia tertanggal 20 Oktober 1987). dapat kita diskusikan dan dipecahkan bersama. namun dengan adanya berbagai keterbatasan.